《System Technology and Superpower》 1 Bab 1 : Guru Baru, Murid Baru, Lalu Hal Apa Lagi Yang Baru? "Fuah..." Daniel terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam dinding dan menemukan bahwa ia akan terlambat. "Sial, dimana adek-adekku?" Daniel dengan cepat berlari ke kamar mandi. Tak sampai 5 menit ia selesai mandi. Daniel ditemukan oleh seorang laki-laki paruh baya saat berusia 2 tahun. Kemudian, saat usia 5 tahun, ada 2 orang bayi kembar laki-laki dan perempuan ditemukan persis seperti Daniel ditemukan. Sang kakek sudah tiada sejak Daniel kelas 2 SMP. Sejak saat itu dia mukai bekerja setelah pulang sekolah untuk membiayai sekolah dan biaya makanan adik kembarnya. Nama adik kembarnya adalah Raka dan Rika. Raka untuk adik laki-laki dan Rika untuk adik perempuan. Raka dan Rika sekarang sudah kelas 2 SMP. Sekolah Raka dan Rika tak jauh dari SMK dimana Daniel bersekolah, hanya berjarak 100 meter. Setelah selesai menggunakan seragam, Daniel berlari ke dapur dan menaruh roti dimulutnya. Meski jarak sekolahnya dekat, dibutuhkan waktu 15 menit jika berlari. Daniel berlari melewati berbagai jalan pintas. "Eh, maaf Bu!" Daniel tak sengaja menabrak jemuran ibu-ibu di komplek perumahan. "Daniel! Jangan kabur!" kata seorang ibu-ibu. "Maaf, Bu Surti. Saya lagi buru-buru. Nanti aja marah-marahnya pas saya udah pulang sekolah," kata Daniel setelah berhenti sebentar untuk meminta maaf kemudian ia berlari lagi. "Dasar anak jaman sekarang!" Bu Surti mengambil pakaiannya yang jatuh, lalu menghela nafas, "Daniel, Daniel." *** Sebuah mobil hendak berhenti di depan gerbang, namun sebelum berhenti sang sopir tidak melihat seseorang yang sedang berlari menyebrang jalan. Begitu juga orang yang berlari, tak memperhatikan mobil yang sedang melaju. Sopir dengan cepat menginjak rem, tapi tak sempat karena sudah menabrak anak muda yang berseragam sekolah yang sama seperti yang dikenakan Nona muda yang ia bawa. "Aduh!" Daniel merintih kesakitan dan mencoba untuk berdiri. Di dalam mobil, Nona muda bertanya, "Ada apa pak? Kenapa berhenti?" "Maaf, Non. Tadi tidak sengaja menabrak seseorang. Saya keluar dulu." Sopir dengan cepat keluar dari mobil. Saat keluar dari mobil, Sopir tak menemukan orang yang ditabraknya. Sopir kembali masuk kedalam mobil. "Non, orang yang ditabrak udah kabur. Gimana Non?" tanya Sopir bingung. "Eh? Kok dia yang kabur? Bukannya yang biasa kabur itu yang nabrak?" Nona muda memiringkan kepalanya bertanya dengan kebingungan. "Nona, saya juga tidak tahu. Tapi, dia tadi pakai seragam yang sama seperti Nona," jawab Sopir. "Ayo pak, nanti saya yang akan menemukan dia di sekolah," Nona muda berkata dengan senyuman. "Baik, Non." Sopir mengangguk. *** Daniel menghela nafas, "Siapa sih di dalam mobil itu? Pasti anak orang kaya. Untungnya cepet kabur, kalo nggak, bisa-bisa ngamuk, terus minta ganti rugi deh." Daniel menggerutu sendiri, lalu berkata pada dirinya sendiri seolah menghipnotis dirinya sendiri, "Andalkan dirimu sendiri, Andalkan kemampuanmu, jangan bergantung pada orang lain, bekerja keras demi adik-adikmu." Daniel berjalan menuju Kelas 11-B. Kelas 11-B ada di lantai 1 gedung A. Daniel berjalan dengan tergesa-gesa agar tak terlambat masuk kelas. Karena ia berjalan dengan cepat, Ia menabrak seseorang. Daniel terjatuh, lalu ia melihat orang yang di tabraknya. Orang itu adalah Ketua Osis, Kinar Ramadhani. Namun, Daniel tak mengenalnya. Ketua Osis juga jatuh, tapi ia juga menyalahkan dirinya karena terlalu fokus membaca dokumen-dokumen. "Um, aku juga minta maaf," kata Kinar sambil mengambil kertas yang bertebaran. Daniel juga membantu mengambil kertas yang bertebaran, ia berkata "Maafkan aku." Daniel selesai mengambil kertas yang bertebaran, ia berkata, "Aku duluan," Daniel melambaikan tangannya, lalu melanjutkan, "alamak! Dua menit lagi! Selamat tinggal orang yang tak kukenal." Daniel buru-buru berlari. Kinar tertegun, kemudian ia berbisik, "Hei, aku ini Ketua Osis. Bagaimana kamu tak mengenaliku?" Karena tak banyak waktu lagi, Kinar segera membawa dokumen ke Ruang Osis dan kembali ke kelasnya. *** Daniel masuk kelas tepat waktu. Ia segera duduk di tempat duduknya. Semenit kemudian, seorang guru perempuan muda masuk ke kelas. Ketua kelas berdiri, memimpin untuk memberi salam. Kemudian diikuti oleh demua murid berdiri, tak terkecuali Daniel, untuk memberi salam. Setelah memberi salam, semua murid duduk. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas. Daniel sekarang duduk di kelas 11 SMK. Daniel adalah siswa yang biasa-biasa saja karena ia tak punya waktu untuk belajar. Ia menggunakan semua waktu luangnya untuk bekerja. Seorang guru perempuan berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan dirinya. Mata siswa laki-laki menjadi cerah karena guru didepan kelas sangat cantik. "Selamat pagi anak-anak. Pada tahun ini saya akan menjadi Wali Kelas untuk kelas 11-B ini. Nama Ibu adalah Nia Alicia. bisa dipanggil Bu Nia," Bu Nia berhenti sebentar, lalu melanjutkan "Karena Ibu baru masuk tahun ini. Jadi, tolong perkenalkan diri kalian. Dimulai dari ketua kelas. Setelah perkenalan, kalian baru boleh nanya-nanya sama ibu." "Baik, Bu!" jawab semua siswa-siswi dengan semangat. "Perkenalkan, nama saya Yudhistira, Ketua Kelas." Ketua kelas, Yudhistira memperkenalkan diri dengan singkat namun semua cewek di kelas bersorak. "Perkenalkan, nama saya Hana, Wakil Ketua kelas. Hobiku adalah menonton Drama." Kali ini wakil ketua kelas yang populer, Hana. Dia memiliki banyak fans dikalangan siswa, namun juga memiliki haters yang tak sedikit jumlahnya. "Perkenalkan, nama saya Silvia. Sekertaris kelas. Hobi membaca." Silvia adalah Salah satu kecantikan di kelas dan siswi baik. "Perkenalkan, nama saya Nurul. Bendahara kelas. Hobi jalan-jalan." Nurul, siswi rusuh dan paling banyak omong. "Perkenalkan, Nama saya Ardi..." "Perkenalkan, Nama saya Max..." "Perkenalkan, Nama saya Regi..." Setiap perkenalan, siswa dan siswi selalu bertepuk tangan. sampai pada Daniel.. "Nama saya, Daniel. Hobi bekerja. Terima kasih." Ketika Daniel selesai memperkenalkan diri, hanya 2 orang yang bertepuk tangan. sisanya hanya mengabaikannya. Bu Nia bingung, namun satu siswa dengan cepat mengalihkan topik. Karena Daniel adalah siswa yang duduk paling ujung, itu artinya perkenalan sudah berakhir. Salah satu siswa dengan cepat bertanya, "Bu Nia, ini kan sudah selesai perkenalannya. Saya mau nanya dong. Bu Nia hobinya apa?" "Oh, Hobi saya itu membaca, olahraga, dan menonton. Ada pertanyaan lagi?" jawab Bu Nia dengan lembut. "Usia Bu Nia berapa?" "Nomor HP Bu Nia?" "Facebook?" "Twitter?" "IG?" "Bu Nia udah punya pacar belum?" Pertanyaan didominasi oleh siswa laki-laki. Regi dan Max pun ikut bertanya juga. Hanya satu siswa laki-laki yang tak peduli, Itu adalah Daniel. Bu Nia menjawab pertanyaan satu persatu "Usia saya masih 22 tahun. Facebook, IG, Twitter, saya masih pakai, tapi itu udah jarang. Terus saya juga masih single." Setelah jawaban itu, Para siswa berteriak senang! Bu Nia tersenyum puas dan melihat ke arah para siswa. Ia menemukan Daniel yang acuh tak acuh. Di dalam hatinya ia menggerutu, "Hei, aku ini cantik, single, kenapa murid yang satu ini tak memperdulikanku?" Teriakan itu sampai ke kelas sebelah. Seorang guru botak, maksudnya guru killer, mendatangi kelas 11-B dengan wajah marah. Ia kemudian membentak seluruh murid. "Tolong tenang! Ini sekolah bukan tempat konser Idol! Jadi, jangan berisik!" Setelah pak guru itu selesai, ia pun pergi, dan kelas menjadi tenang. Pak guru botak tak melihat guru baru yang cantik karena emosi yang berlebihan. "Sudah, jangan berisik lagi. Kali ini ibu juga membawa satu murid baru. Ayo, silahkan masuk," Bu Nia melihat ke arah pintu masuk, lalu menganggukkan kepala. Seorang siswi cantik masuk, Rambut keemasan, mata birunya, bibirnya yang mungil, dan wajahnya yang putih membuat seluruh kelas hening. Murid dari luar negeri! Para siswa laki-laki bersiap-siap untuk menanyakan sesuatu menggunakan bahasa inggris. Namun, itu tak diperlukan, karena murid baru tersebut lancar berbahasa Indonesia. Max dan Regi pun tak ingin ketinggalan. Hanya Daniel yang tetap acuh tak acuh. Daniel berkata dalam hatinya, "Guru baru, Murid juga ada yang baru. apalagi yang bakal baru?" "Ayo, perkenalkan dirimu," kata Bu Nia. "Halo semuanya, Namaku Bella van Liestiel. Aku dari Belanda. Ayah dan Ibuku dari Belanda juga, tapi Nenekku berasal dari Indonesia. Kalian bisa memanggilku Bella. Salam Kenal semuanya." Bella mengakhiri perkenalkan diri dengan senyum manisnya. Ketua kelas segera bertanya, "Hobimu apa?" Yang lain juga tak ketinggalan untuk bertanya, "Bella sudah punya pacar?" "Nama Facebookmu apa, Bella?" "Nomor Whatsappmu, Bella!" "Instagrammu apa, Bella? Nanti kufollow!" "Channel Youtubemu, Bella. Nanti aku Subcribe!" "Ukuran sepatu..." "Binatang kesukaan..." "Bunga kesukaan..." "Makanan favorit..." Semua hal yang berkatai kehiduoan keseharian Bella ditanyakan oleh siswa laki-laki. Tetapi, Bella hanya menjawab beberapa. "Um, Bella belum punya pacar. Terus hewan kesukaan Bella itu Kucing, dan-" Belum selesai Bella menjawab, Siswa laki-laki kembali berteriak senang. Di kelas sebelah, dimana pak guru botak masih dalam sesi perkenalan di kelasnya, mendengar teriakan dari kelas sebelah. Urat di dahinya sudah muncul, wajahnya merah karena marah. Ia pun segera ke kelas 11-B. "Kalian ini, sudah dibilangin..." Pak Guru botak melihat Bu Nia, lalu meneruskan dengan lembut, "jangan ribut. Ini sekolah, tolong lebih tenang supaya yang lain tidak terganggu." Setelah mengatakan itu, Pak Botak tersenyum, kemudian ia kembali ke kelasnya. Daniel melihat ini menjadi ragu, "Hei pak, Bapak ini guru killer atau bukan sih?" Siswa laki-laki menjadi tenang dan menghela nafas lega. Dahi Bu Nia berkeringat dingin karena di hari pertamanya menjadi guru, sudah dua kali mengganggu kelas lain. "Karena kalian sudah kenal, perkenalannya disudahi dulu. Nanti baru dilanjutkan lagi. Bella duduk di ujung sana ya, dekat dengan anak itu." Bella mengangguk dan menjawab, "Iya, Bu." Bella yang duduk di samping Daniel, menyapanya, "Halo, aku Bella. Salam kenal." "Daniel, salam kenal." Daniel hanya membalas salam Bella, tapi tak menatapnya. Bella penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Daniel. Namun, karena pelajaran akan dimulai, ia hanya bisa menunggu jam pelajaran selesai. 2 Bab 2 : Jangan Bilang-Bilang Ya Selama pelajaran berlangsung, Bu Nia dan Bella memperhatikan Daniel. Namun, Daniel tetap acuh tak acuh pada dua orang itu karena kepalanya sudah mulai pusing. Ia hanya sibuk sendiri selama jam pelajaran. Bu Nia tak tahan dengan ini, Ia pun bertanya pada Daniel. "Daniel, apa kamu mengerti apa yang Ibu jelaskan?" "Ya," Daniel menjawab dengan singkat. Bu Nia terdiam. Ia melanjutkan, "Ibu ingin bertanya. Apa itu Cerpen?" Daniel melihat Bu Nia, lalu menjawab "Cerpen adalah jenis karya sastra yang dipaparkan atau dijelaskan dalam bentuk tulisan yang berwujud sebuah cerita atau kisah secara pendek, jelas, serta ringkas. Apakah ada pertanyaan lagi, Bu?" Bu Nia tertegun, Ia bertanya lagi, "Unsur-unsur dalam Cerpen ada dua, yaitu Ekstrinsik dan Intrinsik. Sebutkan unsur-unsur Intrinsik dalam Cerpen." Daniel berpikir sebentar, lalu menjawab "Unsur Intrinsik dalam Cerpen ada tujuh. Antara lain : Tema, Alur, Penokohan, Setting atau Latar, Sudut pandang, Amanat, dan Gaya penceritaan." Daniel berhenti sebentar. Daniel kembali menjawab, "Tema adalah suatu pokok yang mendasari sebuah cerita. Alur ialah sebuah langkah atau jalan dari sebuah cerita. Urutan cerita biasanya bisa terjalin atas urutan waktu, kejadian atau hubungan dari sebab dan akibat. Secara garis besar urutan alur atau plot yaitu perkenalan - kemudian mucul sebuah konflik atau masalah - peningkatan masalah atau konflik - puncak masalah (klimaks) - kemudian penurunan masalah atau konflik - dan yang terakhir adalah penyelesaian masalah." "Latar adalah Tempat peristiwa, Waktu, dan Suasana yang ada dalam sebuah cerita ... " Setelah menyebutkan macam-macam unsur intrinsik dalam cerpen, Daniel menjelaskan setiap poin dengan jelas dan lengkap sampai membuat kelas hening. Namun, perkataan terakhirnya membuat Bu Nia malu. "Tapi Bu, ini belum dijelaskan sama Ibu." Wajah Bu Nia memerah, ia berkata, "Belum dijelaskan ya? Makasih Daniel karena sudah menjelaskan." Daniel diam dan mengangguk saja. Banyak tatapan marah mengarah pada Daniel, tapi dia hanya mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. Tak lama setelah itu, bel istirahat berbunyi. "Anak-anak, saatnya istirahat." Bu Nia kemudian dengan cepat mengambil tas dan bukunya kemudian keluar kelas. Beberapa murid laki-laki berdiri, kemudian mendatangi Daniel. "Apa yang kalian inginkan?" tanya Daniel yang tetap sibuk dengan urusannya sendiri. "Kau..." Kata-kata penuh amarah mereka belum selesai, tapi langsung dipotong oleh Daniel. "Apa yang kalian lakukan malah membuat Bella takut," Daniel kemudian menunjuk pada Bella dan menatap orang yang marah padanya. Benar saja, wajah Bella penuh dengan ekspresi ketakutan. Semua murid laki-laki melihat Bella ketakutan, akhirnya menyebar. Ada beberapa orang yang berkata dengan nyaring. "Tunggu aja nanti setelah pulang sekolah." "Aku akan menunggumu nanti." Daniel tak menanggapi mereka dengan serius, ia dengan acuh menjawab, "Ya, apa kata kalian saja." Setelah mengatakan itu, Daniel berhenti menulis. Menghela nafas lega, Bella bertanya pada Daniel, "Apa yang kamu buat, Daniel?" "Tidak ada hal khusus, aku hanya menulis beberapa hal untuk dilakukan di rumah," jawab Daniel sambil menatap Bella. "Daniel, kamu nggak ke kantin?" "Nggak. Kamu nggak ke kantin?" "Nggak. Aku kan murid baru, jadi nggak tau dimana letak kantinnya." "Ah, benar juga. Kemana larinya semua murid di kelas? Biasanya kalo ada murid baru gini, mereka ajak ke kantin," gerutu Daniel "Karena nanti kamu bisa kelaparan karena nggak makan, mari ku temani ke kantin. Meski aku hanya sekali-dua kali ke sana," lanjutnya. "Eh? Benarkah?" Bella terkejut karena keramahan Daniel. Melihat Bella terkejut, Daniel berkata, "Tentu saja." Daniel berdiri, tapi ia malah merintih kesakitan. "Aww..." Daniel memegang paha kanan dan memegang kepalanya. "Daniel, kamu kenapa?" tanya Bella dengan khawatir. "Oh, nggak apa-apa," Daniel melirik ke seluruh kelas, kemudian berkata pelan, "Sebenarnya, tadi aku ditabrak sama mobil orang kaya. Untung aja aku sempat kabur, kalo nggak ... entah gimana nasibku. Kalo kamu ketemu orangnya, jangan bilang-bilang ya." Mendengar ini, Bella akhirnya menemukan siapa yang dia tabrak, tapi entah kenapa orang yang ditabrak malah langsung bilang kepadanya, meski orang itu tak tahu bahwa orang yang diomongkan olehnya tepat didepannya. "Eh? Kamu ditabrak mobil?" Suara Bella menunjukan kekagetannya, ia hendak melanjutkan, tapi sudah sampai di kantin. "Nanti lanjut ceritanya, cari meja dulu yuk," kata Daniel mengajak Bella untuk menemukan meja. Sebelum menemukan meja, kelompok murid perempuan di kelas 11-B sudah memanggil Bella. "Bella, sini sini! Masih ada satu kursi kosong." Hana berdiri untuk menjemput Bella. "Eh? Kenapa cuma satu? Kan ada Daniel?" Setelah Bella selesai bicara, ia menengok ke belakang, tapi ia tak menemukan Daniel. "Daniel? Udah, lupain aja orang itu. Ayo gabung sama kita." Hana menarik Bella tanpa menunggu persetujuan dari Bella. Bella ingin meminta maaf pada Daniel karena sudah menabraknya. Karena itu dia ingin mengajaknya juga. "Bella, disini!" Silvia menepuk pelan kursi kosong menandakan itu kursi untuk Bella. Bella kemudian duduk. Ia kemudian bingung karena baru pertama kali di kantin sekolah ini. "Bella, kamu pesan makanan kayak kita ini. Cocok buat makan siang." Nurul menyarankan makanan favoritnya pada Bella. "Eh, Boleh. Oh iya, gimana pesannya?" tanya Bella. "Kamu duduk disini, biar aku yang memesankan makananmu." Hana langsung berdiri kemudian berjalan ke arah ibu kantin. "Aduh kelupaan. Perkenalkan, Aku Nurul. yang disampingku ini Silvia, lalu itu yang memesankan makananmu itu Hana. Salam kenal, Bella." "Salam kenal, Bella." "Salam kenal, Silvia, Nurul." "Oh iya Bella, tadi kenapa kamu bareng sama Daniel?" Nurul penasaran apa yang terjadi antara Bella dan Daniel sehingga ia menanyakannya dengan mata penasaran. "Oh, habisnya tadi tidak ada orang lain selain Daniel di dalam kelas. Jadi, aku minta tolong sama dia buat antar aku kesini. Memangnya ada apa?" Bella memiringkan kepalanya menandakan ia kebingungan. "Oh, nggak ada apa-apa sih, aku cuma penasaran aja. Ngomong-ngomong, maaf ya karena kita tadi nggak ngajak kamu ke kantin. Jadinya kamu malah jalan sama Daniel deh. Lain kali jangan deketin Daniel." Nurul menghela nafas setelah menyelesakkan kalimatnya. "Emangnya, ada apa sama Daniel?" 3 Bab 3 : Kebangkitan System "Emangnya, ada apa sama Daniel?" "Karena kamu murid baru, aku akan menceritakanmu suatu kisah tentang Daniel." Nurul berdaham, kemudian memulai ceritanya. "Daniel dikenal sebagai anak miskin, belum lagi dia terlalu cuek sama orang di sekitarnya. Dia juga sering nggak dengerin guru, juga agak bermasalah. Dia pun gak punya orang tua. Kalo ada yang mengejek tentang orang tuanya, dia tak segan-segan untuk memukul orang lain. Yah, meskipun dia lumayan cerdas, hanya hal itu yang bisa dimanfaatkan darinya." Nurul menjelaskan dengan panjang lebar. Disisi lain, Silvia juga mendengarkan cerita itu, ia merasa sedikit kesal dengan Nurul. Bella mendengarkan dengan seksama. Ia menganggukkan kepalanya, menandakan bahwa ia mengerti. Ia kemudian menanyakan sebuah pertanyaan. "Jadi, Daniel begitu ya? Hm, apakah Nurul sudah mengenal Daniel lebih dekat?" "Eh? Tentang itu, kami tak pernah berbicara satu sama lain. Meskipun kita telah satu kelas sejak kelas 10, tapi dia tak pernah berbicara sama sekali pada cewek di kelas, dan juga aku tak pernah mendengar tentang dia semasa SMP. Tapi ya, aku tak terlalu tertarik padanya, karena itu aku mengabaikannya." "Jadi, seperti itu..." Bella kembali menganggukan kepalanya. "Daripada membicarakannya, lebih baik mendengar tentangmu. Bella, bagaimana dengan ceritamu? Apakah kamu mempunyai lelaki yang kamu sukai?" Silvia segera mengalihkan topik karena dia tidak suka dengan topik percakapan sebelumnya. "Hm, karena aku baru saja di sekolah ini. Aku rasa belum ada," jawab bel "Teryata Bella belum punya orang yang dia suka. Yudhistira sangat tampan lho. Jika dia berpasangan denganmu, maka itu akan menjadi pasangan terbaik abad ini!" Nurul berkata dengan sedikit nyaring. *** Daniel langsung pergi ketika Hana memanggil Bella. Karena ada yang menemani Bella, maka ia tak diperlukan lagi. Itu adalah apa yang dipikirkan oleh Daniel. Daniel pergi membeli susu dan roti lalu kembali ke kelas untuk memakannya. Biasanya, Daniel membawa bekal dari rumah, tapi karena hari ini dia terburu-buru, ia tak sempat membuat bekal. Daniel hanya memakan roti dan susu yang ia beli, setelah itu dia kembali memikirlan rencana pekerjaan hari ini. Ketika Daniel hendak menulis, sakit di kepalanya makin parah. Ia berpikir kalau ini efek begadang untuk bekerja. Satu menit, dua menit, Daniel masih menahan rasa sakit kepalanya. Kemudian saat 5 menit berlalu, ia pingsan dan tertidur di mejanya. Saat ia tertidur, suara dingin robot terdengar dikepalanya. "System : Menemukan Host ... Menginstall System pada Host ... Host dalam keadaan pusing dan sakit di bagian paha ... Memulihkan kesehatan Host ... Kesehatan Pulih ... Memulai Penginstallan ... 0% ... 10% ... 20% ... 50% ... 70% ... 100%" "System : Penginstallan Selesai. Selamat datang di dunia persisteman." Setelah 10 menit pingsan, Daniel akhirnya bangun. Ia mendengar suara robot di kepalanya, tapi ia tak tahu siapa yang berbicara. "Siapa disana?" Daniel melihat sekitar kelas, namun tak ada siapapun. Suara robot terdengar lagi. "Host, ini aku, Sistem. Nama lengkapku System Technology and Superpower disingkat menjadi Sytas atau panggil saja Sky." Daniel terdiam sesaat, lalu bertanya lagi, "Apa kau benar-benar Sistem?" "Tentu saja. Aku ini Sistem asli, bukan Sistem kaleng-kaleng. Tak perlu berbicara dengan suara, cukup pikirkan saja, Host sudah bisa bicara denganku. Juga, panggil aku Sky!" Daniel merenung beberapa detik, kemudian ia mengangguk dan berkata, "Sky, Apa nama lengkapmu?" "System Technology and Superpower atau disingkat menjadi Sytas. Lalu panggil aku Sky!" "Nama lengkapmu dan nama panggilanmu tidak nyambung sama sekali!" "Benarkah? Yah, aku tak peduli. Panggil saja aku Sky dan yang terpenting, aku memiliki teknologi tinggi dan teknologi masa depan di tanganku bahkan teknologi dari berbagai alam semesta." Daniel yang mendengarkan ini, hanya bisa memutarkan matanya. Ia tak sepenuhnya percaya pada ucapan sistem aneh ini, malah ia lebih mencurigai sistem. Tetapi, ia hanya diam saja dan tak bertanya tentang itu. "Apa aku tak menerima hadiah pemula? Lalu, apa aku bisa melihat statusku?" Sky kemudian menjawab, "Tentu saja bisa. Aku akan menampilkan statusmu." Kemudian, layar virtual muncul didepan Daniel. Ngomong-ngomong, hanya Daniel yang bisa melihatnya. Nama : Daniel Usia : 17 Tahun Level : 0 (0%) Tugas : Tidak Ada Penyimpanan : Tidak Ada Setelah melihat statistiknya, Daniel bertanya, "Kenapa cuma sedikit doang? Beri penjelasan mengenai statistik ini." "Bayar!" "Sky! Aku sedang serius!" "Harus bayar!" "Kalau begitu, pergi dari pikiranku!" "Baiklah, akan kujelaskan padamu. System ini dibagi menjadi dua kategori. Nanti setelah naik level, host bisa membuka dua kategori sistem. Yang pertama adalah Sistem Teknologi. Sistem teknologi nanti akan memberikan hadiah yang berkaitan teknologi dan sains. Semakin tinggi tingkat Sistem Teknologi, semakin tinggi pengetahuan host tentang teknologi dan juga bisa memperluas domain otak host. Yang kedua adalah Sistem Superpower. Sistem superpower nanti akan memberikan hadiah berupa item, kemampuan, dan lain-lain. Semakin tinggi tingkat Sistem Superpower, semakin tinggi pula pengetahuan host tentang kekuatan super dan juga bisa memaksimalkan bagian-bagian tubuh host." "Di Level 0 ini, aku belum bisa mengakses dua sistem tersebut?" "Benar." Setelah mendengarkan Sky, Daniel paham. Ia kemudian bertanya "Sky, bisakah kau hitung bagaimana kekuatanku dibandingkan dengan manusia yang lain?" Sky hening beberapa detik, kemudian menjawab "1,2 kali lebih kuat dari manusia normal. Untuk kecerdasan, Host 1,1 kali lebih cerdas dari manusia normal." Setelah itu, Sky mengambil inisiatif untuk bertanya, "Apakah Host ingin saya memindai kecerdasan adik-adik Host?" Daniel terkejut, "Bisakah kau melakukannya?" Sky menjawab dengan nada sombong, "Sangat mudah." Beberapa saat kemudian. "Pemindaian selesai." 4 Bab 4 : H-Halo Pak, Selamat Siang. Ada Yang Bisa Saya Bantu? "Bagaimana hasilnya?" Daniel penasaran dengan hasilnya. Selama ini, adik-adiknya mendapatkan beasiswa dari sekolah, sehingga beban untuk Daniel berkurang. "Host, Selamat. Kecerdasanmu lebih rendah dari kedua adikmu." "Hei, Kau mengejek kecerdasanku!" Daniel kesal, tapi setelah menelaah kalimat Sky, ia pun melanjutkan, "Tapi, syukurlah kalau kecerdasan adikku lebih tinggi dariku." Daniel berkata dengan bangga. "Host, tenanglah. Dengan hadirnya sistem, kau bisa meningkatkan Kecerdasanmu melebihi Einsten. Bahkan IQ-mu bisa sampai 500!" Sky berkata dengan bangga. Mata Daniel cerah kemudian bertanya "Benarkah?" "Tidak, Aku berbohong." "Sistem Sampah!" "Host, Aku bercanda. Hanya bercanda. Jangan dibawa ke hati, nanti baperan terus, baru tau rasa!" "Kepalamu yang baperan!" Disaat Daniel sibuk berbicara dengan Sky, Bel masuk berbunyi. Murid lainnya memasuki kelas dan duduk dengan rapi menunggu guru datang. Kali ini seorang guru tanpa kepala ... tidak, seorang guru tanpa rambut alias botak, memasuki kelas. Guru ini memandang seluruh ruangan dan menemukan Daniel yang sedang "tertidur". Alisnya berkerut dan mendengkuskan nafas dingin. Ia berjalan ke meja dan meletakkan bukunya dengan keras. Semua murid yang melihat ini tidak bisa tidak terkejut. Kemudian mereka melihat sekeliling dan menemukan Daniel tertidur. Tanpa sadar, mereka menelan ludah dan berkata dalam hati, "Daniel, kau sudah selesai..." Tentu saja diantara mereka, Bella tidak termasuk. Bella malah merasakan kesedihan ketika melihat Daniel tertidur. Dia berpikir bahwa itu semua disebabkan olehnya, meskipun ia salah sangka. Pak Botak melihat ini wajahnya semakin gelap yang menandakan ia marah. Ia bergegas mendatangi meja Daniel dan memukul meja. BAM! Semua murid termasuk Bella, semuanya terkejut. Selain Bella, semuanya berpikir lagi dan berkata dalam hati "Daniel, kau benar-benar selesai. Aku turut berduka..." Daniel tak kunjung bangun meskipun suara keras terdengar. Sementara itu di ruang kesadaran Daniel. "Sky, kapan kau akan memberikan tugas?" "Host, kau ingin tugas segera?" "Iya! Bisakah kau memberiku tugas?" "Tentu saja. Sekarang akan kuberikan kau tugas. Tugasnya adalah mencari seorang pacar!" "Bisakah kau memberiku tugas yang lebih waras lagi? Dasar sistem kaleng, botol, sampah daur ulang!" "Host, kau menebakku dengan benar. Sebenarnya aku di dunia sistem itu dipandang sebagai ... " Tidak mau mendengar cerita Sky yang panjang dan belum lagi keraguannya terhadap kebenarannya, Daniel langsung memotongnya, "Berhenti! Sudah, aku tidak mau mendengarmu. Nanti lagi bicaranya, menurut jam biologisku, sekarang sudah waktunya guru masuk. Sampai nanti, Sytas." Sky mendengar nama itu langsung meneriaki Daniel, "Panggil aku SKY!" Daniel tak membalas ucapan Sky, ia langsung memulihkan kesadarannya. Saat pertama kali dia bangun, dia melihat seluruh murid memperhatikannya. Meskipun dia seorang yang acuh tak acuh, dia tetap merasa risih ketika banyak orang memandangnya sepertinitu. Ia awalnya mengira kalau ia ngiler dan kemudian ia langsung mengusap mulutnya. Namun, ia tak menemukan ilernya. Ia pun bingung kenapa ditatap seperti itu. Daniel pun mengalihkan tatapannya ke samping kanan. Saat itu juga bulu kuduknya berdiri dan dia berkata dalam hatinya, "Ya Tuhan! Aku lupa kalau sekarang jamnya pak kepala botak. Matilah aku. Ini ngapain pula pakai logat batak!" "H-Halo Pak. Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" Dalam hati Daniel berkata "Alamak! Mampus lah aku, kenapa harus bertanya macam pedagang saja. Ini kenapa pula kalo bicara dalam hati pakai logat batak? macam betul ajalah aku ini!" Setelah Daniel mengatakan kalimat itu, seluruh kelas tak bisa menahan tawa. Wajah Pak Botak sekarang berwarna merah dan penuh amarah. "Daniel!" "Iya Pak Bot- Pak Barudi?" Mendengar panggilan dari Daniel, Pak Barudi meninggikan suaranya "Apa kamu panggil tadi?" "Saya tadi panggil Pak Barudi, Pak." Daniel nerkata dengan tegak. Kemudian berkata dengan suara kecil "Meskipun Barudi itu mirip Baldi yang artinya Botak." Ada suatu mitos yang bertebaran di sekolah, jika memanggil Pak Barudi dengan sebutan ''Pak Botak'', maka akan dihukum langsung olehnya. Karena itu Daniel langsung mengubah panggilannya untuk Pak Barudi. Untungnya Pak Barudi tak mendengarkan ocehan Daniel. Pak Barudi menatap Daniel seperti petugas introgasi. "Kamu kenapa tertidur di kelas?" "Tadi malam saya kerja sampai larut Pak. Jadi, saya ketiduran di kelas pak." Meskipun Daniel sering bekerja sampai larut malam, Ia tak pernah sekalipun tidur di kelas. Ini hanyalah alasan acak yang terlintas di otaknya. Mendengarkan alasan yang Daniel buat , Pak Barudi langsung tak percaya. Menurutnya, anak jaman sekarang itu sering dimanjakan. Jadi, kalau berbicara masalah kerja, itu hanyalah alasan untuk kabur dari suaty masalah. Pak Barudi berkata, "Jangan banyak alasan. Sekarang berdiri di depan kelas." "Baik Pak." Daniel hanya bisa menerima hukuman dari Pak Barudi. Pak Barudi memulai pelajaran. Pak Barudi ini seorang guru Matematika sekaligus guru di bidang Sistem Operasi. Di hari ini, dia mengajar matematika. Selama pelajaran, Daniel mendapatkan tatapan cemoohan dari seluruh kelas, kecuali Silvia, Bella, Max, dan Regi. Ketiganya menatap Daniel dengan mata sedih seolah-olah Daniel dihukum mati. Daniel melihat tatapan cemoohan dengan acuh tak acuh. Tapi, ia kesal dengan tatapan Silvia, Bella, Max dan Regi. Daniel menatap mereka bertiga dengan tatapan yang membawa makna "Aku bukan dihukum mati!" Selama dua jam berdiri, Daniel merasakan kebosanan. Kadang-kadang dia menghentakkan kaki untuk mendapatkan irama, tapi langsung ditegur oleh Pak Barudi. Ia kemudian bersiul, tapi juga ditegur Pak Barudi. Ia menggerakan badannya, ia ditegur Pak Barudi. Akhirnya, Daniel diam seperti patung. Untungnya, tak ditegur oleh Pak Barudi. Setelah dua jam merasakan kebosanan, akhirnya bunyi bel pun terdengar. Artinya pergantian jam pelajaran. Saat itu juga suara robot terdengar di kepala Daniel. "Memicu Tugas Acak!" 5 Bab 5 : Tugas Pertama Mendengar suara robot di kepalanya, Daniel segera membenamkan diri pada kesadarannya. "Tugas : Mengumpulkan 1000 sampah botol plastik. Hadiah : 1 Level, Membuka System Technology, Undian 1x. Hukuman : Menghapus semua ingatan Host tentang Sistem. Waktu Penyelesaian : 24 jam." Melihat tugas yang ia dapat, Daniel ingin menangis dan berteriak di dalam hatinya. Kesulitan tugas ini sangat sulit! Daniel dengan terpaksa menerima tugas ini. Bagaimanapun juga, jika menolak tugas ini, maka akan menyebabkan kegagalan yang menyebabkan dia mendapatkan hukuman. Kembali pada kesadaran di dunia nyata, Daniel melihat sekeliling dan menemukan Pak Barudi menatapnya. "Kenapa kau melamun? Kenapa kau tidak memperhatikan pelajaran bapak? Murid jaman sekarang susah dikasih tau ya," kata Pak Barudi sambil menghela napas "Maaf pak, saya nggak akan mengulanginya lagi." Daniel buru-buru minta maaf supaya tidak mendapatkan hukuman tambahan. "Kembali ke tempat dudukmu. Jika sekali lagi bapak lihat kamu tidur di kelas, hukuman kamu lebih berat lagi." "Baik, Pak! Tidak akan saya ulangi." Setelah mendengar jawaban Daniel, Pak Barudi segera keluar dari kelas. Daniel pun kembali ke tempat duduknya. Murid lainnya menatap Daniel dengan pandangan cemoohan, seolah-olah Daniel sampah. Terutama Ketua Kelas, Yudhistira yang menatap Daniel dengan tatapan meremehkan dan merendahkan. Daniel acuh tak acuh dengan tatapan mereka. Ia sudah terbiasa dengan tatapan seperti ini sejak SD. Duduk di tempat duduknya, Daniel mendapat bisikan dari Bella. "Daniel, kamu kenapa tadi tidur? Karena tertabrak mobil ya? Atau emang bener kamu kecapekan karena kerja?" Daniel mendengarkan pertanyaan ini langsung bingung bagaimana menjawabnya. Ia tidak ingin mengumbar kehadiran Sky. Akhirnya ia menjawab dengan alasan acak dan penuh dengan kejujuran, "Iya aku kecapekan habis kerja tadi malam dan juga kepalaku pusing karena tertabrak mobil, ditambah dengan otot paha kananku yang tertabrak mobil. Jadi, aku merasakan rasa kantuk yang berat." Bella merasakan perasaan bersalah. Ia menggap ini semua disebabkan olehnya. Ia kemudian bertanya, "Apakah kau ingin ke Rumah Sakit?" "Tidak perlu. Ini sakit cuma bentar doang kok, nanti juga sembuh. Makasih ya." Daniel tersenyum pada Bella karena Bella ingin mengantar Daniel ke Rumah Sakit. "Tapi..." "Ada guru masuk tuh." Daniel langsung mengalihkan topiknya. Seorang guru pun memasuki kelas dan langsung memulai pelajaran. Waktu pelajaran berjalan dengan sangat cepat, bel pulang pun berbunyi. Daniel dengan cepat mengemas barangnya dan langsung pulang. Ia ingin menyelsaikan tugasnya secepat mungkin. Bella ingin meminta maaf dan menceritakan hal tengang tabrakan itu pada Daniel, tapi Daniel sudah tak ada disampingnya. Ia langsung melihat sekeliling dan menemukan Daniel meninggalkan kelas dengan berlari. Dua orang murid laki-laki berjalan mendekati Bella. "Kenapa kamu merhatiin Daniel?" Orang yang bertanya adalah Max, sedangkan yang lain adalah Regi. "Ah!" Bella terkejut dengan kedatangan Max dan Regi. Dia kemudian berkata, "Aku mau minta maaf sama dia, soalnya tadi pagi mobilku gak sengaja nabrak dia. Jadi, aku pengen minta maaf. Tapi, dia udah pulang duluan." Murid lain yang mendengar cerita Bella kemudian berteriak pada Bella. "Hati-hati, Bella. Daniel suka minta kompensasi yang berlebihan. Dia juga bakal morotin kamu nanti." "Iya, bener tuh. Daniel yang seorang murid miskin itu suka morotin orang." "Mending Bella nggak usah minta maaf aja sama dia, kehadirannya juga nggak penting." ... Banyak murid berkata buruk tentang Daniel. Guru yang masih di dalam kelas tak menghentikan mereka. Yudhistira melihat ini tersenyum puas. Nama Daniel semakin buruk dimata para murid di sekolah ini. Dia kemudian menenangkan para murid untuk mendapatkan kesan baik di mata mereka dan Bella. "Kalian tolong diam. Bagaimanapun juga, Daniel tetap teman sekelas kita. Kalian tidak boleh mengatakan keburukan Daniel seperti itu. Adapun tentang memeras orang, itu masih belum jelas. Jadi, jangan menghasut Bella untuk membenci Daniel." Mendengar perkataan Yudhistira, hampir semua murid segera tenang, meskipun masih ada yang bergumam buruk mengenai Daniel. Sedangkan untuk Max dan Regi, mereka berdua ingin memuntahkan darah. Mereka berdua tahu betul bagaiamana sikap Yudhistira yang sebenarnya. Meskipun mereka berdua pernah dirugikan oleh Yudhistira, tapi mereka tidak separah yang dialami oleh Daniel. "Daniel pasti akan memaafkanmu dan tak akan mengambil keuntungan darimu. Meskipun dia orang miskin, dia tak akan serendah itu untuk memerasmu." "Daniel tadi pulang cepet-cepet buat kerja, cari uang untuk biaya makan kedua adik-adiknya. Terserah kamu mau percaya atau tidak." Kemudian Max dan Regi berjalan keluar kelas. Bella, yang mendengar penjelasan dari berbagai sudut pandang, hanya mengangguk saja. Sedangkan Daniel, orang yang dibicarakan oleh teman sekelasnnya, sekarang ada di jalan. Dia tidak tahu kalau dia sedang digosipkan oleh teman sekelasnya. Kalau pun dia mengetahuinya, dia akan mengabaikannya. Lagi pula, bekerja lebih penting daripada mendengarkan ocehan sekumpulan murid yang mencemoohnya. Daniel memeriksa beberapa tempat sampah dan sudah menemukan 6 sampah botol plastik. Kebetulan tasnya tidak memiliki banyak isi, jadi dia memisahkan antara buku dan sampah botol plastik di dalam tasnya. Tak terasa, Daniel sudah sampai di rumahnya. Ia kemudian mengeluarkan Botol dari tasnya dan menaruh di drum minyak yang tak digunakan. Rumah Daniel sangat sederhana. Hanya berukuran 66m2. Daniel masuk dan langsung ke dapur. Ia belum melihat adik-adiknya pulang. Ia pun segera memasakan makanan untuk kedua adiknya. Keterampilan memasak Daniel lumayan bagus, Ia sudah memasak sejak kecil. Kemampuannya memasak cukup untuk membuka restoran. Sayangnya, Daniel tak memikirkan itu. Apa yang ia masak adalah nasi goreng dan telur mata sapi. Bau harum tercium dari masakan Daniel. Ia kemudian menaruh masakannya di atas meja dan menutupnya dengan tudung makanan. Berganti pakaian dan kemudian memakan nasi goreng bagiannya, ia bergegas mengambil beberapa karung di belakang rumah. Lalu menggunakan topi jerami, ia pun berangkat mencari sampah botol plastik. 6 Bab 6 : Mengumpulkan Sampah Botol Plastik Raka dan Rika telah selesai belajar tambahan di Perpustakaan, saat ini mereka sedang di jalan pulang. Mereka berdiskusi tentang pelajaran yang baru saja mereka dapatkan di sekolah. Saat sibuk berdiskusi, mereka melihat seseorang keluar dari rumahnya. Mengenakan pakaian lusuh, topi jerami, dan membawa karung. "Raka, itu siapa yang keluar dari rumah kita?" "Nggak tau. Mungkin aja pemulung. Tapi ngapain juga datang ke rumah kita? Lagian kita gak punya apa-apa buat diambil." Raka menjawab sambil mengangkat bahunya. "Yuk cek rumah. Mungkin aja ada yang hilang." Rika menarik tangan Raka. Raka hanya mengikuti dan tak menjawab. Ketika mereka berdua sampai di rumah, mereka mencium aroma nasi goreng yang membuat perut mereka bersuara. Raka sudah meneteskan air liurnya. Ia mengusap mulutnya lalu berkata, "Makan dulu yuk, Rika." Mendengar perkataan Raka, alis Rika mengeryit, "Kamu ingetnya makan terus. Kakak mana? Biasanya kalo kita pulang, kakak masih masak di dapur." Raka tak menghiraukan dan berkata, "Makan dulu, biar nanti pas mikir otaknya jalan. Jika berpikir ketika sedang lapar, nanti nggak selesai-selesai apa yang dipikirkan." Rika yang kesel langsung meningkatkan volume suaranya, "Kamu ini! Adek macam apa kamu?" "Aku adek super jenius! Hahaha." Raka menjawab sambil memukul dadanya dengan bangga dan tertawa keras, tak lama berselang ia batuk-batuk. "Kamu itu jenius yang narsistik! Syukurin tuh sampai batuk-batuk. Hahaha." Rika membalas tawa Raka. Ketika mereka berdua sibuk bertengkar, Daniel yang sedang di jalan, memunguti sampah di sekitaran rumahnya. "Susah banget cari botol plastik. Apa perlu ke tempat pembuangan sampah di kota ya?" Daniel mengorek-ngorek tempat sampah sambil mengeluh. Daniel baru saja mengumpulkan 20 buah botol selama 15 menit berkeliling. Jika melakukan hal seperti ini selama 17 jam tanpa henti, maka ia bisa menyelesaikan dengan cepat. Waktu tersisa hanya 23 jam lagi. Daniel harus menyelesaikan tugas ini, jika tidak maka Sky akan menghilang dari dunia ini. Setelah berkeliling di RT 6, Daniel melanjutkan ke RT lainnya. 1 jam kemudian, 100 botol sudah terkumpul, Daniel kembali ke rumah untuk menumpuk hasil sampahnya ke dalam drum minyak bekas. Kemudian menjelajahi RT lainnya sebelum menuju pusat kota. Jam 4:00 sore, Daniel menuju pusat kota. Dia sudah mengumpulkan lebih dari 250 botol. Sepanjang jalan menuju pusat kota, Daniel menemukan banyak sampah botol plastik. Untungnya, Daniel membawa banyak karung sehingga ia tak perlu lagi kembali untuk menempatkan botol yang ia kumpulkan ke rumah. Saat Daniel baru saja memasuki kawasan pusat kota, Sebuah mobil sport Audi A5 sedang melaju. Mobil ini membawa mesin 1984 cc dan dapat menghasilkan 252 tenaga kuda (horse power). Mobil ini dibandrol seharga 1,35 Miliar Rupiah! Ketika melewati Daniel yang sedang memungut sampah, seketika mobil sport itu berhenti. "Daniel?" Suara familiar terdengar ke telinga Daniel. Suara ini sering didengar olehnya sampai-sampai dia bosan. Pemilik suara ini adalah Yudhistira. Daniel yang tau siapa ini, tak menghiraukannya dan tetap memungut sampah botol plastik. Alis Yudhistira mengeryit, ia pindah langsung ke depan Daniel dengan gaya anak orang kayanya dan bertanya dengan sombong, "Hei Daniel, apa kau menjadi pemulung karena kemiskinanmu sampai-sampai harus memungut sampah di sini?" Daniel telah mendengar banyak cemoohan dari Yushistira, tak perlu baginya untuk menanggapi perkataan anak pengusaha kaya ini. Karena diabaikan secara terus-menerus, Yudhistira menjadi marah. Ia meninggikan volume suaranya, "Daniel! Kau berani mengabaikanku? Kau anak miskin seperti itu mengabaikanku? Apa kau tak takut padaku, hah? Kau tak tau siapa yang berbicara padamu saat ini?" Setelah bosan mendengar ocehan Yudhistira, Daniel akhirnya menjawab, "Tak bisakah kau diam, Yudhistira? Ada apa dengan kepalamu hari ini? Tak biasanya kamu marah-marah seperti ini? Jangan-jangan kamu lagi datang bulan ya? Astaga, buruan ambil softex terus pasang deh. Yudhistira cepetan pasang, sebelum kamu bocor." Yudhistira, yang mendengar ini langsung marah, "Kau, Kau..." "Mau nyanyi ya Yudhistira?" "Bimo! Hajar anak ini!" Yudhistira tak tahan lagi menahan amarahnya. "Siap, Den Yudhistira." Bimo melesat maju ke arah Daniel. Daniel tak tinggal diam, ia melemparkan karung penuh botol pada Yudhistira untuk mengalihkan perhatian Bimo. Tapi, karena Yudhistira sudah membangun fisiknya, karung yang Daniel lempar tak ada artinya. Bimo pun tak menghiraukan itu dan fokusnya pada Daniel. Bimo melancarkan serangan dengan tinjunya yang cepat. Respon Daniel tak bisa mengimbangi kecepatan tinju Bimo, ia berusahan menghindar, tapi pada akhirnya, tinju itu memukul Daniel di bagian bahu. Daniel mundur beberapa langkah akibat serangan dari Bimo. Namun, Bimo tak tinggal diam, ia segera melancarkan tendangan pada Daniel. Daniel tak bisa menghindar karena dampak dari tinjuan sebelumbya, dia hanya bisa menahannya. Tapi, karena perbedaan berat badan dan kekuatan, Daniel terbang beberapa meter setelah menahan tendangan Bimo. Kekuatan tendangan Bimo mencapai ratusan kilogram, jika Daniel salah-salah dalam menahan tendangan itu, bisa dikatakan tangan Daniel akan patah. Cukup dua serangan bagi Bimo untuk mengalahkan Daniel. Yudhistira yang melihat ini pun tersenyum puas, kemudian berkata "Inilah akibatnya jika memprovokasiku. Sekarang kau babak belur, kalau di masa depan? Mungkin saja kau akan kehilangan nyawamu." Meninggalkan kalimat itu, Yudhistira dan Bimo meninggalkan area tersebut setelah menghambur-hamburkan botol yang dikumpulkan Daniel. Daniel mengerang kesakitan. Dampak tendangan itu terlalu besar baginya. Daniel bangun secara perlahan dengan memegang tangan kirinya. Kemudian mulai mengumpulkan botol yang berserakan. Saat ia berbalik untuk mengumpulkan botol, ia melihat seorang wanita cantik yang sedang mengumpulkan botol yang berserakan. 7 Bab 7 : Penyelesaian Tugas Kinar melihat sebuah mobil sport berhenti di pinggir jalan, mobil itu berhenti di dekat seorang pemulung. Saat melihat siapa yang keluar dari mobil, ia segera menyadarinya. Orang itu adalah Orang yang mengejar dan sering menyatakan cinta pada dirinya, namanya Yudhistira. Karena penasaran denhan apa yang ingin dilakukan oleh Yudhistira, Kinar diam-diam mendekati tempat di mana pemulung itu berada. Kinar perlahan mendekati tempat kejadian. Ia melihat dua orang sedang beradu argumen, tapi pemulung itu tak terlalu menanggapi Yudhistira. Ia merasa tertarik dengan pemulung tersebut. Tak mudah bagi seseorang untuk tidak takut pada orang kaya, belum lagi pemulung itu melihat Yudhistira membawa mobil sport yang seharga milyaran rupiah dan membawa seorang pengawal. Sikap acuh tak acuh pemulung itu menarik perhatian Kinar. Setelah lama mendengar Yudhistira berbicara, pemulung itu pun akhirnya angkat bicara. Tapi, ucapan pemulung itu membuat Kinar tertawa. Namun, setelah pemulung berkata seperti itu, pengawal Yudhistira langsung bergerak untuk memukul pemulung tersebut. Kinar terkejut dengan perlakuan Yudhistira. Untungnya dia tak menerima Yudhistira, jika ia menerimanya, maka ia tak tahu bagaimana ia akan diperlakukan oleh Yudhistira. Pemulung tersebut tak bisa menahan serangan beruntun dari pengawal Yudhistira dan akhirnya babak belur dan terlempar jauh karena tendangan pengawal tersebut. Kinar mendengarkan teriakan samar dari pemulung tersebut. Ia sangat ingin membantu pemulung tersebut, tapi ia hanya seorang diri, ditambah lagi ia seorang perempuan. Meskipun ia seorang murid dari dojo beladiri, melawan pengawal profesional bukanlah perkara mudah bagi wanita. Setelah selesai berbicara, Yudhistira menghamburkan botol yang telah dikumpulkan oleh pemulung itu. Kinar merasakan iba di hatinya. Pemulung ini hanya ingin mencari uang, tapi ada saja rintangan yang menghadangnya untuk mendapatkan uang. Ia melangkahkan kaki untuk membantu pemulung itu. Ketika dia mulai mengumpulkan sampah botol plastik, pemulung itu berbalik melihatnya. Kinar terkejut dan tak sengaja menjatuhkan botol yang telah dikumpulkan di tangannya. "Kamu..." Kinar mencoba mengingat siapa pemuda pemulung yang ada di depannya ini. "Oh itu kamu." Pemulung itu berkata dengan ringan. Meskipun ada kejutan di matanya, ia tak memperdulikan itu. "Kamu yang menabrakku pagi ini! Itu kamu!" Kinar akhirnya berhasil mengingat siapa pemuda yang ada di depannya ini. "Bingo!" Pemuda di depan Kinar adalah Daniel. Daniel memberi Kinar jempol menandakan bahwa Kinar menebaknya dengan benar. Melihat wajah Daniel yang tetap acuh tak acuh meski sudah dipukuli dengan keras oleh pengawal Yudhistira membuat Kinar terkejut. Kinar bertanya pada Daniel, "Apa yang kau lakukan dengan sampah ini? Apakah kau memang seorang pemulung?" Daniel menatap Kinar, kemudian menjawab, "Tentu saja menjualnya di tempat penjualan sampah daur ulang. Emangnya mau dikemanain lagi?" Daniel berhenti sebentar lalu melanjutkan, "Kemudian, apa salahnya menjadi pemulung? Mereka juga membantu menyortir sampah mana yang bisa di daur ulang dan sampah mana yang tak bisa di daur ulang. Seharusnya masyarakat berterima kasih terhadap pemulung karena telah membantu mereka mengumpulkan sampah." Daniel mulai melontarkan omong kosongnya. Itu hanyalah alasan yang dibuatnya supaya tak dicurigai memiliki sistem di otaknya. Mendengar jawaban Daniel, Kinar merasa malu menanyakan hal yang sensitif tersebut. Ia hanya diam dan mulai membantu kembali sampah botol plastik yang dihamburkan. Setelah beberapa menit, semua sampah yang berhamburan dikumpulkan. Daniel dan Kinar tersenyum. Daniel mengambil karung yang ada pada Kinar dan berterima kasih, "Terima kasih sudah bantuin aku. Juga, aku minta maaf tentang pagi ini." Kinar menyerahkan karung itu pada Daniel, "Sama-sama. Aku juga minta maaf tentang itu. Mari lupakan kejadian pagi ini." Daniel mengatur posisi karung di punggungnya, "Sekali lagi terima kasih. Lain kali aku akan mentraktirmu makan di kantin. Kalau tak ada yang lain, aku akan mencari sampah lain. Sampai jumpa." Kinar tak menjawab. Ia hanya melihat punggung Daniel yang perlahan berjalan pergi. Setelah beberapa langkah, Daniel berhenti. kemudian berbalik pada Kinar. "Ohya, aku baru ingat kalau kamu adalah Ketua Osis, tapi aku tak tau namamu. Jadi, terima kasih, Ketua Osis." Daniel kemudian melanjutkan langkahnya mencari sampah botol plastik. Kinar yang mendengar ini langsung kesal, tapi dengan rasa kesal yang berbeda. Rasa kesal kali ini adalah kesal kebahagiaan. Ia menemukan seseorang yang menarik di lingkungan sekolahnya. Kinar kemudian berteriak "Namaku Kinar Ramadhani. Ingat itu!" Mendengar teriakan Kinar, Daniel juga membalas teriakan itu, "Namaku Daniel. Kinar, salam kenal." Setelah berteriak, Daniel hilang dari pandangan Kinar. Kinar kemudian berbisik, "Bagaimana kamu mau mentraktirku kalau namaku saja kamu tak tau." Kinar tersenyum setelah itu dan berjalan kembali ke rumahnya. Matahari telah terbenam sepenuhnya, malam pun datang. Daniel telah menyelesaikan tugas mengumpulkan sampah botol plastik, meskipun hasilnya ia jadi terluka karena pukulan pengawal Yudhistira. Kemudian suara dering notifikasi terdengar. "Tugas Selesai." "Mulai Membuka System Technology." "System Technology terbuka 0% ... 10% .... 30% .... 50% .... 80% .... 100%." "Selamat, System Technology Terbuka!" "Selamat, System Technology naik Level 1!" "Selamat, Host naik Level 1!" "Selamat, Host mendapatkan hadiah dari membuka System Technology untuk pertama kalinya!" Daniel mengabaikan beberapa notifikasi dari sistem. Ia sudah lelah berkeliling untuk mencari sampah botol plastik di pusat kota. Jadi, ia terlalu malas untuk memperhatikan hal lain. Melangkahkan kakinya pelan-pelan, Akhirnya, Daniel sampai di rumah. Menaruh semua sampah botol plastik pada tempatnya, Daniel mengetuk pintu dan berbicara dengan suara lemah, "Aku pulang." "Kakak!" Rika berlari keluar untuk menyambut kakaknya. Ketika sampai, Rika terkejut dan menangis melihat penampilan Daniel. "Kakak, apa yang terjadi padamu? Kenapa baru pulang jam segini?" Rika segera merangkul kakaknya kemudian berteriak, "Raka! Bantuin kakak sini!" "Iya!" Raka keluar dari kamarnya dan terkejut juga melihat keadaan Daniel. "Kakak, Ada apa denganmu?" Raka juga merangkul kakaknya. Daniel, yang melihat ini, merasakan kehangatan hati adik-adikny. Ia tak tahan melihay keddua adiknya sedih, ia pun berkata, "Nanti saja berceritanya. Kalian belum makan kan? Kakak mandi dulu terus masak buat kalian. Kalian belajar dulu yaa." Rika segera menolak, "Tidak. Aku yang mandiin kakak." Daniel juga langsung menolak, "Rika, kakak sudah besar. Kakak bukan anak kecil lagi." Mendengar jawaban Kakaknya, Raka tertawa keras dan mengejek Daniel, "Rika, kakak malu kalo dimandiin sama cewek. Kakak mana pernah punya pacar. Jadi, Kakak masih malu sama cewek." Daniel kesal dan mulai membalas ejekan Raka, "Mentang-mentang ganteng, ngejekin kakaknya. Kamu sendiri juga nggak punya pacar!" Raka menyangkal kemudian menggoyangkan jari telunjuknya, "Nonono, meski aku tak punya pacar, aku punya banyak penggemar cewek." Raka tertawa nyaring. Rika kemudian berteriak, "Raka!" Raka langsung tak bersuara, ia dengan cepat diam. Daniel melihat ini tertawa, "Haha, katanya banyak penggemar cewek, sama saudari sendiri aja takut." Rika juga berteriak, "Kakak Niel!" Daniel juga terdiam. Melihat ini, Raka ingin tertawa, tapi tak bisa. Terpaksa ia hanya bisa tertawa dalam hatinya. 8 Bab 8 : Red Queen Setelah makan malam bersama kedua adiknya, Daniel langsung terlelap. .... Keesokan harinya. Daniel bangun lebih awal. Ia menggunakan sepatu olahraganya untuk berolahraga. Sepatu yang dipakainya ada pemberian dari Max. Setelah berkeliling beberapa kali, Daniel kembali ke rumahnya, lalu membersihkan diri. Suara robot tapi sedikit manusiawi tiba-tiba terdengar. "Host, kamu punya hadiah. Apa kamu nggak mau buka hadiahnya?" Daniel terkejut, ia kemudian ingat notifikasi dari sistem tadi malam. Ia bertanya Sky dengan santai, "Hadiah apa saja yang aku dapatkan?" "1 kali undian, 1 hadiah dari membuka System Technology. Mau mulai yang mana dulu?" Sky bertanya lagi. Daniel berpikir kemudian memilih untuk memulai undian. "Undian." Suara sistem kemudian terdengar. "Memulai Undian!" "Resident Evil" Universe - A.I Red Queen "Marvel" Universe : Serum Prajurit Super "DC" Universe : Memory Cloth Cape "Felix" Universe : Frost Gun Daniel melihat semua hadiah undian, matanya langsung berbinar. Kemudian berkata dengan senang, "Mulai!" Undian berputar dengan cepat. Setelah banyak berputar, Undian berhenti berputar dan menunjuk pada A.I Red Queen. "Selamat, Host mendapatakn A.I Red Queen. Semoga bermanfaat." "Kecerdasan buatan?" Daniel bergumam, kemudian bertanya pada Sky, "Sky, Red Queen ini apakah Kecerdasan buatan yang maju?" "Tidak. Itu kecerdasan buatan tingkat rendah di alam semesta ini." Sky menjawab dengan enteng. "Yah, setidaknya dapat hadiah daripada tidak sama sekali," Daniel berkata dengan pasrah. "Host, kamu harusnya bersyukur. Setidaknya Red Queen jauh lebih maju daripada kecerdasan buatan yang di buat oleh Google dan Apple." Mata Daniel berbinar "Benarkah? Lalu bagaimana perbandingan dengan Jarvis?" "Satu tingkat diatas Red Queen." "Bisakah aku mendapatkan Jarvis lain kali?" "Tentu saja. Tapi, jika kamu beruntung sih." Sky menjawab dengan nada meremehkan. "Kau meremehkanku. Tunggulah keberuntungan yang melawan langit!" mata Daniel memancarkan kepercayaan diri. "Lalu, buka hadiah lainnya." Kemudian suara dingin terdengar. "Selamat, Host mendapatkan Laptop. Semoga Bermanfaat." "Mana keberuntungan yang melawan langit? Hahaha, dapat hadiah kedua terendah. Keberuntungan host memang payah." Kali ini, suara tawa Sky lebih manusiawi daripada sebelumnya. Tetapi, Daniel tak memperhatikan itu, dia kesal dengan ejekan Sky. "Diam! Ini karena aku belum cuci tangan." Daniel membuka penyimpanan Sistem. Dia menemukan USB Drive yang berbeda dari USB Drive biasanya. Kemudian ada sebuah laptop yang ramping, dengan warna abu-abu gelap dan cerah dan aksesoris yang mewah. "Ini adalah laptop yang aku dapatkan?" tanya Daniel dengan mata berbinar. "Iya. Itu salah satu laptop canggih di galaksi Bima Sakti. Ada fitur keyboard holografik, layar holografik, pelayan cerdas, antivirus canggih, semua fitur lebih maju dari laptop bumi masa kini." Daniel terkejut dan tidak bisa untuk tidak bertanya tentang alien, "Jadi, alien benar-benar ada?" "Tentu saja ada. Kamu kira alam semesta ini hanya ada di galaksi Bima Sakti saja? Host, kamu terlalu dangkal," Sky menjawab. Tak perlu lagi dipertanyakan lagi tentang apa yang dikatakan oleh Sky. Alam semesta memang luas. Tidak hanya ada Bumi, Matahari, ataupun galaksi Bima Sakti. Banyak lagi Bumi yang lain yang ada di jutaan bahkan milyaran alam semesta ini. Tentu saja Daniel terkejut dengan jawaban Sky. Ia mengira di galaksi Bima Sakti ini hanya manusia saja yang hidup. Ternyata masih banyak misteri di Galaksi Bima Sakti. Jangan memikirkan galaksi Bima Sakti, di Bumi saja sudah masih banyak rahasianya. Segitiga Bermuda, Atlantis, Peradaban Lemurian, dan Piramida Mesir. Di Segitiga Bermuda dikatakan bahwa ada pusaran air yang sangat deras. Juga dikatakan bahwa di pusat pusaran air Segitiga Bermuda adalah Alien. Lalu Atlantis, kota paling maju dalam sejarah manusia yang tenggelam. Ada yang menggambarkan bahwa Atlantis ada di Indonesia karena ciri-ciri dari geografis Indonesia mirip dengan kota Atlantis. Namun, masih belum ada informasi pasti. Piramida Mesir. Bangunan paling mustahil di buat oleh manusia zaman modern sekarang. Ada rumor mengatakan bahwa Alien membantu Firaun (Raja Mesir Kuno) untuk membangun banyak Piramida. Alien tersebut seperti manusia pada umumnya, tapi denhan kemampuan berpikir yang jauh berbeda. Juga dikatakan bahwa Firaun di bantu oleh Penyihir agar batu batu kubus yang dibawa lebih ringan daripada berat aslinya. Masih banyak rumor mengenai Piramida di Mesir. Daniel berkata, "Sky, kau benar-benar membuka mataku. Aku hanya tau kalau hanya bumi yang dihuni oleh makhluk hidup. Ternyata masih banyak planet di galaksi Bima Sakti yang berpenghuni." Setelah mendengar banyak infoemasi dari Sky, Daniel kembali ke kamarnya lalu mnguncinya. Ia mengambil laptop dan mulai menyalakannya. Boot Laptopnya hanya 1 detik! Wow! Ia kemudian membuka Video Player, Internet, Antivirus, dan perangkat lunak lainnya. Semuanya lancar dan tidak macet sama sekali. Ini mengejutkan Daniel. Daniel kemudian mengklik fitur holografik. Boom! Layar holografik muncul di depan Daniel. Kemudian, Daniel menyalakan fitur keyboard holografik, dan dia lebih terkejut lagi. Keyboard holografik ini bisa muncul 10 meter dari laptop, begitu juga dengan layarnya. Ini seperti adegan Sci-Fi yang Daniel lihat di film Hollywood dengan efek CGI yang memukau. Daniel menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya dengan lemah. Ini terlalu maju untuk peradaban Bumi sekarang. Jika ini muncul di masyarakat luas, maka Daniel akan mendapatkan bahaya yang tidak bisa dibayangkannya. Setidaknya, saat dia mendapat serum prajurit super, dia bisa merilis teknologi ini satu persatu. "Sky, kau hanya terlalu greget! Laptop ini terlalu maju untukku. Tapi, itu bagus." Daniel kemudian memasukan USB Drive ke slot USB di laptop. Kemudian layar Laptop berubah menjadi baris kode yang sangat banyak serta sangat cepat bergulir kebawah, seperti air terjun. Setelah 10 menit, Ada suara dingin namun seperti suara manusia terdengar. "Selamat pagi, Tuan. Saya adalah Red Queen, Kecerdasan Buatan Anda." Daniel terkejut. Ia tak menyangka bahwa suara dari kecerdasan buatan ini menjadi suara yang manusiawi, seperti suara anak kecil tapi dengan suara dingin. "Selamat pagi, Red kecil. Bisakah kau carikan aku rute paling cepat dari rumahku menuju ke sekolah?" Daniel memulai tes untuk Red Queen. "Baik, Tuan." Red Queen mulai mengeksekusi perintah dari Daniel. Red Queen dengan cepat menggunakan banyak data yang ia dapatkan di internet, lalu menggunakan satelit untuk melihat jalan dengan jarak lebih pendek dan lebih cepat. Selain itu, ia juga menggunakan peretasan di berbagai ponsel di lingkungan sskitar rumah Daniel. KemudianRed Queen selesai mencarinya dan bicara kepada Daniel, "Lewati jalan samping rumah Ibu Surti, kemudian lewat samping rumah pak RT. Tuan akan menempuh ke sekolah dalam 10 menit." "Mantap! Red kecil, kau sangat canggih. Bisakah kau menolongku satu hal?" "Tentu saja, Tuan." "Optimalkan Sistem Operasi yang ada di ponselku," Daniel mengeluarkan ponsel merek Xiaomi. Itu Xiaomi versi lama yang sudah turun harganya. Red Queen hanya perlu koneksi internet untuk memasuki ponsel Daniel. Tak perlu waktu lama untuk memeriksa ponsel Daniel. "Tuan, Sistem Operasi Android ini sangat banyak celahnya. Operasi ponsel jadi terhambat karena banyaknya virus. Tidak hanya itu, koneksi internet, input, output, dan yang lainnya sangat lambat. Saya akan mengoptimalkannya sebaik mungkin. Yang mana akan meningkatkan performa ponsel Tuan menjadi 25% lebih maju!" Red Queen menjelaskan secara rinci. "Berapa lama yang kau butuhkan?" tanya Daniel penasaran. "3 Hari!" Red Queen memberi kepastian. "Tapi, jika Anda memberikan saya lebih banyak waktu maka aku bisa membuat Android lebih optimal lagi. Maksimal sampai 100% dari performa saat ini." "Berapa lama dibutuhkan untuk menyelesaikan 100% optimasi Android?" "Dua bulan!" "Bagus! Selama dua bulan ini ada banyak Tugas yang akan rilis. Juga, aku belum memeriksa System Technology. Semoga dalam dua bulan ini ada banyak hal menarik," Daniel bergumam sendiri, lalu berkata pada Re Queen, "ketika Optimasi 15%, kau pisahkan dan buat file tersendiri. Lakukan tes pada ponsel Androidku. Jika tes selesai, Optimasi Ponselku menjadi 25%. Kemudian rilislah informasi mengenai pengoptimalan Andoird hingga 15% di internet dan buat Dunia tekejut. Ini akan dinamakan sebagai Sky Booster!" Daniel memerintahkan Red Queen mengenai rencana bisnisnya. "Baik, Tuan." Red Queen kemudian mulai menjalankan tugas mengoptimasi Android. Daniel yang mendengar ini mengangguk puas dan bergumam, "Inilah kekuatan teknologi. Aku akan mendaki puncak dunia!" Daniel menyembunyikan Laptopnya dan mulai memasak. Ia kemudian ingat sesuatu. "Kali ini suara Sky lebih mirip manusia daripada sebelumnya." Suara Sky terdengar lagi, "Host, kamu lambat menyadarinya! Host payah!" 9 Bab 9 : Ternyata Kamu Daniel sarapan bersama kedua adiknya dan membuat bekal untuk mereka dan juga unruk dirinya sendiri. Kemudian keduanya lebih dulu berangkat daripada Daniel. Daniel kembali ke kamarnya, membuka ponselnya. "Masih jam 06.35, masih ada waktu." Daniel membuka laptopnya dan mulai menelusuri seluk beluk laptop tersebut. Setelah 30 menit menelusuri, Daniel menemukan banyak hal. Sistem Operasi, Chip, Memori, dan yang lainnya berbeda dengan laptop masa kini. Sistem Operasi laptop ini disebut NeptuX. Daniel menduga bahwa Sistem Operasi laptop ini berasal dari planet Neptunus. Planet yang berwarna biru bagaikan laut dalam. Karena itu namanya di ambil dari nama Dewa laut Romawi, Neptunus. Lalu, spesifikasi laptop yang lainnya jauh berbeda. Daniel mematikan laptop dan menyembunyikannya di tempat paling rahasia, yaitu sebuah kotak di bawah tempat tidur Daniel. Daniel menutupi dengan lapisan papan yang tak digunakan. Hanya butuh 10 menit untuk menyimpan laptop ke tempat yang aman. Kenapa tidak menyimpan di penyimpanan Sistem? Fitur penyimpanan dari sistem memang sangat berguna, namun memiliki celah pula. Sebanyak apapun barangnya, itu bisa masuk ke dalam penyimpanan sistem. Namun, barang yang bisa dimasukan hanyalah barang dari sistem dan fitur penyimpanan ini terputus dari Dimensi Bumi yang artinya di dalam ruang penyimpanan tidak dapat terkoneksi dengan jaringan. Kecuali, menggunakan teknologi pelipatan ruang yang masih mustahil di masa sekarang. Daniel buru-buru berangkat ke Sekolah. Tentu saja dia menggunakan jalur yang di rekomendasikan oleh Red Queen. Saat melewati rumah Bu Surti, dia melihat tak ada jemuran yang membuatnya menghela nafas lega. Ia takut menjatuhkan jemuran Bu Surti seperti kemarin. 10 menit berlalu, ia berjalan ringan karena keadaan tubuhnya masih babak belur. Ketika hendak sampai di gerbang sekolah, ada mobil ingin melintas. Dalam hati Daniel berkata, "Tidak semudah itu, Ferguso!" Daniel dengan cepat menghindar dari mobil, kemudian ia melesat laju masuk ke gerbang sekolah. Sopir terkejut dengan Daniel yang tiba-tiba melintas lagi. Untungnya sopir tak menabraknya kali ini. Di kursi belakang, Bella dengan bingung bertanya, "Ada apa, Pak?" Sang sopir mengusap keringat di dahinya dan menjawab, "Tidak apa-apa, Non. Hanya ada siswa yang hampir tertabrak. Untungnya dia bisa menghindar." Bella mendengar ini langsung tersenyum pahit. "Ini pasti Daniel," tebaknya dalam hati. Daniel yang sudah memasuki area sekolah, kini melewati jalan di belakang gedung sekolah yang sepi. Karena dengan melewati jalan ini, ia bisa sampai ke kelas lebih cepat. Ketika dia melewati jalan tersebut, Daniel menemukan dua orang, seorang pasangan. Daniel langsung marah melihat dua orang tersebut. Dua orang itu adalah Yudhistira dan Mitha, mantan pacar Daniel. Daniel melihat Yudhistira mendekatkan wajahnya ke wajah Mitha. Adegan yang paling menjengkelkan ini berlangsung di depan matanya. Kini ia tahu kenapa Mitha memutuskannya. Daniel mengencangkan genggamannya dan meninju pohon sampai pohon itu bergetar kemudian bergegas meninggalkan tempat itu. .... "Daniel, kau tidak bekerja hari ini?" Suara manis terdengar. Ini adalah suara Mitha. "Tentu saja tidak. Hari ini aku akan menghabiskan waktu denganmu." Daniel tersenyum lembut. "Asyik, sangat jarang sekali bagi Daniel meluangkan waktu untuk pacarnya ini," Mitha berkata dengan ekspresi berpura-pura sedih. Melihat ini, Daniel tertawa dan berkata, "Di masa depan, aku akan meluangkan lebih banyak waktu bersamamu." .... "Daniel. Kau adalah orang ter-absurd yang aku kenal. Tingkah lakumu seperti anak kecil, aneh, dan sangat membuatku kesal. Saat aku takut, kau malah membuatku kesal bukannya menenangkanku. Begitu juga saat aku menangis." .... "Daniel, hubungan kita cukup sampai disini. Kau adalah lelaki paling menyedihkan yang pernah aku kenal. Miskin, aneh, jelek, dan banyak kekuranganmu itu. Terutama keanehan dirimu." .... Daniel mengingat hal yang dikatakan oleh Mitha. Ia menunduk dan bergumam, "Aku dulu bersikap aneh, membuatmu kesal, dan bersikap tak jelas hanya untuk membuatmu tertawa, melarutkan kesedihanmu, dan menghilangkan rasa ketakutan yang kamu alami. Mungkin aku tak romantis dan sering sibuk, tapi semua hal itu kulakukan untukmu." Daniel menggelengkan kepalanya dan menghela nafas. .... Daniel duduk di kursinya, kemudian mengeluarkan buku sesuai dengan jadwal pelajaran. Tak lama kemudian Max dan Regi datang menghampiri Daniel. "Daniel!" panggil Max dan Regi bersamaan. "Max, Regi," Daniel membalas panggilan mereka, "selamat pagi." "Pagi. Niel, Bella kemarin mencarimu. Katanya ada yang ingin dia sampaikan." Max berbicara. Daniel merasa bingung, "Apa yang Bella butuhkan denganku?" pikirnya. "Begitukah? Biarkan aku berbicara padanya nanti." "Daniel, kapan kita bisa mabar lagi? Aku sudah lama tidak mabar untuk push rank bersamamu. Kami butuh player dengan role Tank bagus," kata Regi. Daniel melambaikan tangannya dan berkata, "Kapan-kapan saja. Aku masih memiliki banyak pekerjaan." Bella memasuki pandangan Max dan Regi. Max kemudian berkata, "Jika kau lagi senggang, bilang pada kami biar bisa full-team mainnya." "Siap, Kapten!" Daniel berkata dengan nada bercanda. "Kami kembali ke tempat duduk dulu." Kemudian Max dan Regi kembali. Bella duduk lalu melihat Daniel, "Daniel-" Belum selesai Bella bertanya, Daniel memotongnya. "Bella, apa benar ada yang ingin kau katakan padaku?" "Benar," Bella mengangguk, "Aku ingin memberitahumu kalau aku yang menabrakmu kemarin dan hari ini aku juga hampir menabrakmu." Daniel terdiam. "Maafkan aku. Aku akan mengganti rugi." Daniel terkejut tapi melambaikan tangannya dengan santai dan berkata, "Ternyata kamu ... yah, tak perlu ganti rugi. Itu sudah cukup bagiku ketika kamu meminta maaf padaku." "Tapi..." "Lupakan saja." Guru pun memasuki kelas. Tak ada kejadian penting hingga malam hari. Daniel memasuki kamarnya dengan tenang. Membuka laptopnya dan bertanya pada Red Queen, "Red, bagaimana proses optimasi?" Red Queen kemudaian menjawab, "Saat ini masih 6% optimasi, besok malam akan selesai. Kemudian, saya akan memulai propaganda produk di Indonesia." Daniel yang mendengarkan ini, menganggukkan kepalanya. Sangat bagus jika Sky Booster ini laku di pasar Indonesia. Tiba-tiba ia ingat bagaimana respon Netizen Indonesia. Ia kemudian berkata pada Red Queen, "Jika telah selesai optimasi 15%, Buatlah 3 versi bahasa. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa China. Kemudian lakukan juga propaganda di China." Pasar ponsel di China sangat bagus. Ada banyak pabrikan ponsel berbasis Sistem Operasi Android dari China, misalnya Huawei, Xiaomi, Oppo, Vivo, dan yang lainnya. Juga pabrikan asing punya pasar bagus di China seperti Apple dan Samsung. Pasar ponsel di Amerika Utara dan Eropa di kuasai oleh Apple. Ponsel Apple lebih maju dari Android namun harga ponselnya tidak ramah di kantong. Android lebih murah dan terjangkau, karena itulah di Asia lebih laku ponsel berbasis Android OS (Operating System) daripada iOS. Daniel menghela nafasnya, Ia berkata "Seandainya Indonesia punya pabrikan ponsel, aku tak perlu menggunakan ponsel dari luar negeri dan Indonesia bisa bersaing di pasar ponsel Internasional." Suara Sky tiba-tiba terdengar. "Host, kamu sebenarnya bisa membuat pabrik ponsel sendiri. Dengan sumber daya manusia di negara host sekarang, Indonesia bisa maju. Meskipun masih terbatas sih sumber daya manusianya." Daniel terkejut, tak bisa tidak bertanya pada Sky, "Bagaimana kau bisa tau?" "Tentu saja karena aku sistem!" Sky berkata dengan bangga. "Kau benar. Sumber daya manusia Indonesia masih kurang. Sistem pendidikannya masih belum efesien. Sepertinya harus di perbaiki dari sumbernya." Daniel menghela nafas lagi dan menggelengkan kepalanya. 10 Bab 10 : Apakah Kamu Demam? Keesokan harinya. Di pagi hari, Daniel menelusuri berbagai hal mengenai laptop yang didapatkannya. Daniel kemudian pergi ke sekolah seperti biasa. Hari ini dia berjalan santai. Tak seperti dua hari sebelumnya, Daniel tidak menemui insiden ''tabrakan'' lagi. Datang ke kelas seperti biasanya, duduk kemudian mengobrol dengan Max dan Regi. Obrolan mereka seputar game yang dimainkan mereka. Setelah selesai berbicara, Kebetulan Bella sudah datang. Max menepuk keras bahu kanan Daniel, "Udah ada Bella tuh, sana ngobrol sama dia." Daniel menahan rasa sakit karena kelakuan Max, berkata "Uh ... tak perlu, tak perlu." melambaikan tangannya. "Apa-apaan kau ini, baru ditepuk gitu aja udah kesakitan. Mana nih jagoan kita?" Max berkata sambil tertawa. Regi mengikuti arus dan menertawakan Daniel, "Biasalah Max, kalau jagoan deket sama cewek jagoannya bakal lemah." Daniel merasa jengkel, tapi dia tahu kalau itu hanyalah candaan dari temannya. Ia berpura-pura marah, "Kalian ini! Mau bertengkar? Ayo!" Kemudian mereka bertiga tertawa bersama. Bella, yang melihat ini, langsung tersenyum, tapi juga memiliki jejak kesedihan di matanya. Ia begitu khawatir dengan Daniel karena ia pernah menabraknya. Kebetulan juga Bella melihat Daniel merasa kesakitan saat ditepuk keras oleh Max. Max dan Regi kemudian pergi, Bella sudah duduk di samping Daniel. Bella menyapa, "Selamat pagi." "Pagi." Daniel menjawab dengan sedikit tersenyum. Ia bukannya membenci orang kaya, tapi banyak orang kaya yang arogan. Menindas orang miskin sewenang-wenang. Meskipun Bella orang kaya, Daniel memiliki sedikit terhadap Bella karena sudah mau bertanggung jawab tentang insiden tabrakan. Melihat Daniel tersenyum, tentu saja Bella sedikit senang. Karena selama dua hari ini, Daniel tak pernah tersenyum tulus padanya. "Daniel, apakah bahumu baik-baik saja?" tanya Bella dengan hati-hati. Daniel terkejut dan mengeryitkan alisnya, berkata "Tidak apa-apa, hanya nyeri saja." Alasan Daniel tentu saja bohong. Yang sebenarnya terjadi adalah ia di pukuli oleh pengawal Yudhistira, Bimo. Mendengar penjelesan Daniel, Bella langsung mengira kalau itu terjadi karena dirinya. Ia bertanya, "Apakah karena tabrakan itu?" Daniel akhirnya tahu kenapa Bella menanyakan ini. "Bukan tentang itu. Aku hanya kecapekan karena mengangkut barang-barang saat bekerja. Tak ada hubungannya dengan tabrakan itu." Melihat tatapan tak percaya Bella, Daniel mengalihkan topik, "Bagaimana kau tau kalau bahuku tidak baik-baik saja?" "Aku melihatmu sekilas saat Max menepuk keras bahumu, lalu wajahmu menunjukan kalau kamu kesakitan. Makanya aku tau. Apakah baik-baik saja? Atau kita berdua pergi ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan?" "Apa-apaan! Insting wanita memang menyeramkan!" Kata Daniel di dalam hatinya. "Tidak perlu, tidak perlu. Biaya Rumah Sakit sangat mahal. Aku tak ingin membuang uangku di Rumah Sakit." Daniel melambaikan tangannya. "Aku yang membayarnya." Bella tetap teguh dengan kata-katanya. "Ah!" Daniel terkejut, ia melanjutkan, "tak perlu seperti itu. Itu hanya akan mebghabiskan uangmu. Bahuku ini tidak terluka terlalu parah. Juga ini karena aku sendiri, bukan karena kecelakaan itu kok." "Apa kamu yakin?" Bella bertanya dengan tatapan tajam. Meskipun Daniel kualahan dengan tatapan Bella, ia tetap menolak, "Aku yakin. Bahuku akan baik-baik saja dalam beberapa hari. Terima kasih atas perhatianmu." Wajah Bella kemudian memerah. Ia sadar bahwa ia memberikan perhatian lebih pada Daniel. "I-Itu tak seperti yang kamu pikirkan!" Daniel bingung dengan perilaku Bella yang tiba-tiba berubah. Tentu saja dia tak paham apa maksud Bella, "Hei, aku tak memikirkan apapun yang aneh-aneh. Aku hanya memikirkan kamu bertanggung jawab dan memberi perhatian. Itu saja sudah cukup bagiku." Daniel tak menyadari bahwa kalimatnya membuat wajah Bella semakin memerah sampai ke telinganya pun memerah. "Aku tak perhatian padamu dengan maksud lain. Aku hanya bertanggung jawab karena telah menyebabkanmu terluka, makanya aku perhatian padamu!" Bella berkata sedikit keras. Daniel menaruh tangannya di dagu dan mulai berpikir, "Tentu saja kamu benar. Tapi, kenapa wajahmu memerah? Apakah kamu demam?" Daniel secara naluriah memeriksa dahi Bella. Bella baru kali ini merasakan momen seperti ini. Ia belum pernah disentuh oleh laki-laki lain selain keluarganya. Daniel adalah yang pertama. "A-Aku tidak demam!" Bella berteriak keras. Daniel terkejut karena Bella berteriak, ia segera menarik tangannya dari dahi Bella. Namun, belum sempat Daniel menarik tangannya, ada seseorang yang menggenggam tangannya. Orang itu adalah Nurul! "Berani-beraninya gangguin Bella! Tanganmu itu bekas sampah! Sangat kotor untuk menyentuh Bella yang suci ini. Jauhkan tanganmu darinya!" Nurul melemparkan tangan Daniel. Daniel mengerutkan keningnya. Namun ia tak memperhatikannya, Ia berkata pada Bella, "Maafkan aku. Tak seharusnya aku begitu. Kemudian, bicara lain kali lagi jika ada kesempatan." Wajah Bella kembali normal ketika Nurul datang. Ia merasakan sedikit kemarahan pada Nurul yang terus menghina Daniel, tapi ia tak bisa memarahinya karena Nurul adalah temannya. Bella berkata pada Nurul, "Tidak apa-apa." Kemudian berkata pada Daniel, "Daniel, aku juga minta maaf." Daniel melambaikan tangannya dan tak menjawab. Di sisi lain, Nurul mulai menghina Daniel. "Kau hanyalah makhluk sampah! Sudah miskin, playboy pula. Kemarin kau berbicara mesra dengan gadis lain, sekarang kau berbicara seperti itu juga pada Bella. Miskin, bermasalah, jelek, kampungan bigini mau sama Bella. Ngaca dong ngaca!" Daniel tetap tak menghiraukan Nurul yang sedang berkata tak jelas tengang dirinya. Ia sibuk mengeluarkan buku-buku yang diperlukan untuk pelajaran hari ini. Bella hanya tertawa kecil melihat sikap Daniel terhadap Nurul. Ia kemudian menghentikan Nurul, "Sudahlah Nurul, aku meminta maaf padanya karena kejadian menabrak dirinya, lalu dia hanya menjawab permintaan maafku. Jangan terlalu dibawa ke hati." "Tapi kan dia..." Nurul ingin membantah tapi langsung dipotong oleh Bella. "Tak apa-apa. Abaikan saja masalah ini." Nurul menatap tajam pada Daniel namun tetap diabaikan oleh Daniel. Bella kemudian mengalihkan topik dan berbicara tentang hobi Nurul. Nurul dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya dan dengan senang hati membahas topik yang sama dengan hobinya. Tak lama bel masuk berbunyi dan guru memulai pelajaran. Tak ada insiden penting selama jam pelajaran. Bel istirahat pun berbunyi. Banyak murid pergi ke kantin, ada juga pergi ke tempat lain. Bella memasukan bukunya ke dalam laci meja, kemudian berbalik ke arah Daniel, "Mau ke kantin bareng?" Daniel menolak dengan candaan, "Maaf, aku nggak bisa. Tuh ada yang natap aku dari tadi." Bella memperhatikan sekitar dan melihat beberapa orang menatap Daniel dengan tajam. "Umm ... Baiklah, aku ke kantin dulu." Bella bergabung dengan kelompok Hana kemudian berjalan ke kantin. Daniel membukan kotak bekalnya. Baru saja mengangkat sendok, Seseorang berteriak padanya. "Daniel!" Suara manis ini terasa familiar bagi Daniel. Murid lain yang ada di kelas terkejut dengan suara ini. "Oh, itu ketua osis!" Daniel berseru. "Namaku bukan Ketua Osis, tapi Kinar!" ucap Kinar dengan sedikit kesal menghampiri Daniel. Daniel menepuk kepalanya menandakan bahwa ia baru ingat, "Oh, benar! Namamu adalah Kinar. Aku melupakannya!" Daniel menunjukan akting kepura-puraannya pada Kinar. Kemudian mulai makan. Kinar memutar matanya. Ia menggenggam tangan Daniel dan berkata, "Kau berjanji mentraktirku, kan? Ayo ke kantin sekarang." "Tapi aku punya bekal makanan." Daniel berusaha untuk menolak namun tak didengar oleh Kinar. "Ayo ikut saja denganku ke kantin." Daniel melihat Kinar yang keras kepala ini hanya bisa mengalah. Ia menutup bekal makanannya dan mengikuti Kinar ke kantin. Di sisi lain, Bella sedang makan bersama Hana dan teman-temannya. Tak lama kemudian, suasana kantin menjadi riuh. Bella dan yang lainnya tentu saja penasaran dengan yang terjadi. Kejadian yang membuat riuh adalah ketua osis yang selama ini tak tertarik dengan laki-laki sedang menarik seorang murid laki-laki. Ditambah laki-laki ini adalah murid miskin! Dua orang itu adalah Kinar dan Daniel. Saat ini, Daniel yang ditarik oleh Kinar menjadi pusat perhatian seluruh murid yang ada di kantin. Bella melihat kejadian ini merasakan sesuatu yang pahit di hatinya. Dia diam-diam bergumam, "Apakah ini sebabnya kamu menolak ajakanku?" .... Bonus: Liputan Sky 01 "Kameramen, apakah sudah siap kameranya?" Sky bertanya. Kameramen menjawab dengan acungan jempol. Sky : "Selamat pagi! Saya Sky, dari SkyTV. Pagi ini saya akan melaporkan kejadian langka di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan." Sky : "Setelah pelajaran selesai, seorang Siswa bernama Daniel menolak ajakan makan bareng dari Siswi pindahan yang cantik bernama Bella. Kemudian Daniel itu datang ke kantin bersama dengan Siswi cantik lainnya yang menjabat sebagai Ketua Osis yang bernama Kinar. Bagaimanakah perasaan Bella setelah melihat ini? Apakah Daniel tahu perasaan yang Bella rasakan setelah melihatnya bersama Kinar? Apakah Daniel tahu Kinar tertarik padanya dan alasan Kinar tertarik padanya? Bacalah kelanjutannya hanya di System Technogy and Superpower yang tayang di SkyTV. Acara ini di sponsori oleh Webnovel. Sekian laporan saya dari tempat kejadian." Kameramen kembali mengacungkan jempolnya. Daniel yang di tempat kejadian melihat ini kemudian berteriak, "Sky! Awas kau!" Sky menarik kameramen dan langsung menghilang dari kerumunan. 11 Bab 11 : Sky Booster Kinar menarik Daniel menuju kursi kosong. Setelah duduk, Kinar menunjuk pada makanan dan minuman yang dia inginkan,"Daniel, aku ingin ini, kemudian ini dan ini." Daniel memutarkan matanya, berkata, "Hei ketua osis, aku bukan pelayan di kantin ini. Silahkan pesan sendiri ke ibu kantinnya." Kinar menggelengkan kepalanya, "Hei, kamu mentrakrirku, jadi kamu yang melayaniku. Siapa kemarin lusa yang bilang akan menraktirku?" Daniel menghela napas pasrah dan mengikuti apa yang dinginkan oleh Kinar. Ia kemudian berkata dalam hatinya kalau tidak akan lagi memtraktir seseorang. Beberapa menit kemudian, semua pesanan telah di bawa Daniel ke meja yang ditempati oleh Kinar. Daniel berlagak seperti pelayan, kemudian berkata: "Nyonya ketua osis, pesananmu sudah selesai. Silahkan nikmati makananmu." Daniel menaruh makanan tersebut didepan Kinar. Kinar memutarkan matanya, berkata dengan candaan, "Aktingmu lumayan. Maukah kau kuajak ke sutradara?" Daniel kemudian duduk dan menatap Kinar, "Aku sudah biasa melakukan ini. Bagaimana pun juga menjadi pelayan adalah salah satu pekerjaanku. Meski tempat kerjaku dulu bukanlah restoran mewah." "Wah, kamu sangat terampil. Apa lagi pekerjaan yang kau lakukan selain itu?" "Daripada ditanyai mengenai itu, lebih baik memgobrol tentang hal yang lagi tren dilakukan jaman sekarang. Sama halnya gadis sepertimu, Ketua Osis." "Tidak perlu. Bagaimana kalau mengobrol tentang dirimu?" Kinar melahap makanannya dan menujuk Daniel dengan sendok yang ia gunakan. Daniel sedikit terkejut, kemudian ia mengangkat bahunya dan berkata, "Oh! Tentangku? Aku tak tau kalau ketua osis akan tertarik dengan laki-laki sepertiku." Kinar menatap Daniel dalam-dalam. "Dimataku kau sangat menarik." "Ternyata Ketua Osis suka berondong," Daniel berkata dengan sedikit tertawa. "Kamu! Aku belum tante-tante. Umurku belum menginjak 18 tahun," kata Kinar dengan sedikit kesal. "Baiklah, baik. Jadi, apa yang ingin ketua ossis ketahui tentangku?" Daniel berhenti makan, ia menatap Kinar. "Oh, tatapanmu bagus. Sayang sekali tak bisa membuatku jatuh cinta," Kinar langsung berkomentar, ia melanjutkan, "Daniel, apakah kau sudah mempunyai pacar?" Ketika Kinar selesai bertanya, murid di sekita meja yang ditempati Kinar berhenti melakukan aktivitasnya karena kejutan dari pertanyaannya. "Ternyata Ketua Osis langsung to the point ya," Daniel melihat murid di belakang Kinar berhenti makan, kemudian tatapan mereka berbalik padanya. Ia kemudian melanjutkan, "aku-" Belum selesai Daniel berkata, jawabannya dipotong oleh seseorang. "Daniel!" panggil Bella. Suara Bella membuat banyak murid sekali lagi terkejut. "Oh, Bella. Kebetulan sekali bertemu denganmu di kantin," Daniel berkata dengan jenaka. Kinar memutar matanya, berkata: "Oh, ini murid pindahan dari luar negeri itu ya? Salam kenal, aku Kinar." Bella menatap Daniel kemudian berpindah pada Kinar, ia menjawab dengan senyuman, "Salam kenal, ketua osis Kinar." Saat keduanya bertatapan, ada jejak listrik diantara mata mereka. Daniel mengabaikan ini dan meneruskan makannya. "Ada apa kamu kemari, Bella? Mau ikut bergabung?" tanya Kinar dengan sedikit sarkasme. "Oh, tidak. Hanya sedikit urusan saja dengan Daniel. Bisakah aku menanyakan sesuatu?" Bella berhenti sebentar, lalu melanjutkan "Ketua osis, apa kamu nggak sibuk di masa-masa penerimaan siswa baru ini?" "Oh!" Kinar membuat seruan. Saat keduanya sibuk berbicara, Daniel dengan cepat menghabiskan makanannya dan kemudian membayar makanannya. Tentu saja dia juga membayar makanan Kinar. Kepergian Daniel membuat banyak murid terkejut. Bagaimana bisa ada lelaki yang mengabaikan dua wanita cantik? Ini hanyalah Legenda! Hari ini banyak sekali kejutan. Bisa menjadi hari kejutan internasional. Saat Bella menghampiri Daniel, Nurul terkejut. Tentu saja Silvia dan Hana terkejut, tapi tak sehisteris Nurul terkejut. "Bella ngapain sih hampirin Daniel? Udah tau murid miskin begitu malah didekati." gerutu Nurul kesal. Silvia sedikit kesal ketika mendengar Nurul menggerutu hal tentang Daniel, ia mencoba untuk tak memperdulikan Nurul dan melanjutkan makannya. "Nurul benar. Ngapain Bella deketin Daniel gitu? Apa gara-gara kemarin itu ya, yang dia ngobrol sama Daniel itu?" Hana mulai bergosip dengan Nurul. "Mungkin itu benar! Awas saja kau Daniel!" Nurul menatap Daniel dengan tatapan marah. Jika tatapan bisa membunuh seseorang, Daniel telah terbunuh berkali-kali. Melihat Daniel pergi, Nurul berkata dengan senyum dingin. "Akhirnya sadar diri kalau dia murid miskin dan tidak cocok dengan mereka berdua." Tentu saja Daniel yang sudah kembali tak memperdulikan perkataan Nurul. Daniel lebih memikirkan tentang Sky Booster yang dibuat oleh Red Queen. Saat sampai di kelas, Daniel membuka ponselnya dan mulai membaca hal-hal mengenai manajemen bisnis dan juga mengenai perangkat lunak Android. Daniel dengan cepat menyerap berbagai hal yang ia baca. Ia juga bingung dengan kecepatan membacanya ini. Daniel ingin bertanya pada Sky, namun waktu saat ini lebih berharga daripada dihabiskan dengan Sky. Ia melanjutkan bacaannya. 20 menit kemudian, bel masuk berdering. Daniel membuat ponselnya menjadi silent dan menguncinya. Murid-murid yang dari berbagai tempat istirahat masuk lagi ke dalam kelas dan menunggu guru masuk. Bella dan teman-temannya masuk ke kelas. Pertama kali yang dilakukan oleh Bella saat masuk kelas adalah mencari Daniel. Ia kemudian melihat Daniel dengan tenang menyiapkan buku pelajaran selanjutnya. Bella kemudian berlari menghampiri Daniel. Bella bertanya, "Daniel, Kenapa kamu meninggalkanku dengan Kak Kinar?" Daniel menatap Bella yang kesal, "Oh, kamu sedang asyik bicara dengan ketua osis, jadi aku tak enak hati mengganggu percakapan kalian berdua." "Apakah kamu tau alasan kenapa aku menghampirimu?" tanya Bella dengan serius. "Karena ... kamu ingin berkenalan dengan Kinar?" Daniel menjawab dengan sedikit berpikir. "Dasar cowok nggak peka!" Bella kemudian duduk di kursinya dengan wajah cemberut. Daniel melihat ini tak tahu harus menangis atau tertawa. Ia berkata dalam hati, "Kukira hanya cewek dalam negeri saja yang bilang seperti itu. Ternyata cewek luar negeri juga bisa bilang gitu. Apa cowok di luar negeri juga gak peka?" Daniel menundukan kepalanya seperti kelihatan merenung dan berpikir. Daniel menggelengkan kepalanya kemudian memfokuskan dirinya pada pelajaran. Hari sekolah berlalu seperti biasanya. Bel pulang kemudian berdering. Daniel pulang dengan berlari kencang. Saat pelajaran berganti, ia melihat ponselnya dan Red Queen memberitahunya bahwa Sky Booster versi 15% sudah selesai dibuat. Sampai di rumah, Daniel tak mengganti bajunya, langsung mengambil laptop dari tempat rahasianya dan membukanya. Daniel menghubungkan ponselnya ke laptop. Red Queen kemudian muncul dan berkata, "Tuan, Sky Booster versi 15% optimasi telah selesai. Apakah memulai propaganda di Indonesia?" Daniel dengan semangat berkata, "Lakukan!" Red Queen menjawab, "Baik, Tuan." Kemudian Red Queen melakukan tugasnya. Beberapa menit kemudian, sebuah akun bernama Sky Booster berkomentar di berbagai sosial media dan forum di Indonesia. Setelah beberapa jam, akhirnya menjadi viral. 12 Bab 12 : Pasar Indonesia Di sebuah forum terkenal Indonesia, Kaskus. Ada sebuah artikel dengan judul "Sky Booster! Optimalkan Androidmu 15% lebih cepat, lebih lancar, dan lebih aman!" "Apa kelebihan dari aplikasi ini? Aplikasi ini mampu menguatkan sinyal, membersihkan sampah, membersihkan backlog, menghapus virus yang memperlambat, dan yang paling penting, pengalaman gaming-mu akan menjadi lebih lancar dan tidak lag lagi. Hanya dengan membayar Rp.25.000,- dapatkan pengalaman menggunakan aplikasi ini selama setahun. Sebelum membayar, pihak kami akan memberikan percobaan aplikasi selama 3 hari. Harga spesial! Untuk 10.000 Pengguna baru mendapatkan diskon 10%. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo optimalkan androidmu menjadi lebih optimal lagi bersama Sky Booster! Melaju menembus langit!" Karena akun baru dan juga pertama kalinya membuat sebuah artikel. Segelah satu jam kemudian baru mendapatkan sebuah komentar. Selama menunggu pendapat pengguna, Daniel juga mencoba Sky Booster walaupun ia yakin aplikasi ini sukses dibuat. Daniel mencoba membuka Youtube dan hasilnya tanpa baper! Wait, tanpa buffering! Daniel melanjutkan membuka game Mobile Legend. Game ini butuh koneksi dan ponsel yang stabil. Daniel membuka game ini dengan lancar dan stabil. Komentar 1 : "Seriusan nih? Kagak percaya dah ane. Pantau dulu bosqu." Komentar 2 : "Ajib nih aplikasi. Barusan aja make dan wuss lancar jaya!" Komentar 3 : "Komentar di atas dibayar nih sama developernya." Komentar 4 : "Monggo di atas ane, ente cobain sendiri gimana efek aplikasinya." .... Hal yang sama berlaku di berbagai macam sosial media. Dari Facebook, Twitter, Instagram, dll. .... Daniel menatap laptop, layar laptop dipenuhi dengan data statistik pengunduhan aplikasi Sky Booster. Sebelumnya, Red Queen telah mendaftarkan sebuah akun di Google Play Store. Bagaimanapun juga, untuk mendapatkan penghasilan dari sebuah aplikasi, Daniel harus mendaftar di Google Play Store. Meskipun keuntungannya harus dipotong, tapi Android tak sekejam iOS dari pihak Apple yang mengambil 30% keuntungan dari pembelian dalam aplikasi di Apple Store. Ada beberapa pengguna yang telah membayar penggunaan selama satu tahun. Namun, lebih banyak pengguna gratisan daripada berbayar. Meskipun banyak yang belum membayar, Daniel masih tetap tersenyum. "Rasakan efek aplikasinya selama beberapa hari dan biarkan kalian terbiasa dengan pengoptimalan ini. Saat masa percobaan berakhir, kalian akan merasakan leletnya Android kalian." Meskipun 3 hari itu singkat, tapi perubahan membuat orang bisa lupa bagaimana perasaan sebelumnya. Setelah berubah dan terbiasa, kebanyakan orang akan sulit kembali beradaptasi dari perubahan yang lebih baik ke perubahan lebih buruk. Ini menyebabkan beberapa reaksi kritis pada pengguna. Pengguna akan memiliki beberapa jalan, misalnya mengikuti aturan dan membayar. Yang lainnya adalah pasrah dan bisa juga memprotes pengembang aplikasi untuk menggratiskan aplikasi tersebut. Efek inilah yang ditunggu oleh Daniel. "Red kecil, dalam dua bulan kedepan, buat beberapa paket optimasi menjadi 5%, 20%, dan 30%...." Daniel terus mengatakan rencana masa depannya. .... Keesokan harinya. Daniel melakukan olahraga seperti biasanya di pagi hari. Kemudian, memasak untuk kedua adiknya. Saat di meja makan, Rika ingin bertanya sesuatu pada Daniel, tapi dia sedikit ragu. Setelah beberapa saat, ia menguatkan dirinya dan kemudian bertanya, "Kakak, selama dua hari ini kakak nggak kerja di malam hari. Kakak nggak sakit, kan?" Daniel terkejut dengan pertanyaan ini, tapi dia dengan cepat tersenyum dan menjawab pertanyaan adiknya, "Nggak, Kakak hanya sedang beristirahat aja kok. Kamu khawatir ya sama kakak?" Raka yang diam kemudian berceloteh, "Kak, Rika dari kemaren nanya-nanya tentang Kakak mulu. Kenapa Kakak nggak kerja tadi malam, terus Kakak sakit atau nggak, dan banyak lagi kekhawatiran Rika, Kak. Aku yang dengarnya capek. Untungnya Kakak udah ngasih tau dia, kalo nggak, aku bakal pusing denger dia khawatir terus, Kak." Daniel mendengar jawaban ini langsung tertawa. Melihat reaksi kakaknya, wajah Rika memerah karena malu. Untuk Raka, ia hanya bisa menatapnya dengan marah. Rika akhirnya berbicara, "Kakak, jangan dengerin Raka, dia cuma bercanda." Raka tak menjawab, hanya mengangkat bahunya. Sedangkan Daniel, ia memasang wajah sedih. Ia berkata, "Hanya bercanda ya? Ternyata kekhawatiran adikku cuma candaan doang." Melihat kakaknya sedih, Rika menjadi panik. "Kakak, aku benar-benar khawatir sama Kakak. Nggak bercanda kok. Aku takut Kakak sakit karena Kakak pulang malam itu. Makanya aku khawatir, Kak." Daniel kemudian tertawa, "Kakak tau kok." Kemudian ia mengusap lembut rambut Rika. Raka merusak suasana dengan tertawa keras sambil meledek Rika, "Hahaha, kena tipu sama kakak. Rasain!" Rika yang awalnya malu-malu terhadap perilaku kakaknya, langsung berubah marah dan memukul Raka, "Kau bersekongkol dengan Kakak!" Daniel melihat pertengkaran saudara kembar ini dengan senyum hangat. Ia berkata, "Ayo habiskan makanan kalian. Lalu, berangkat sekolah. Belajar dengan giat. Kakak akan kerja kelas buat kalian kuliah sampai ke luar negeri!" Rika dan Raka berhenti bertengkar dan menjawab secara serempak, "Siap kak, laksanakan!" Kemudian mengahabiskan sarapan mereka. .... Fadil adalah seorang gamer game moba dan survival. Ketika sedang liburan, ia menghabiskan waktunya seharian untuk bermain game. Namun, akhir-akhir ini dia agak kesal dengan ponselnya karena tidak stabil jaringannya. Saat berselancar ria di internet, Fadil menemukan bahwa ada sebuah aplikasi bernama Sky Booster yang bisa meningkatkan performa ponselnya. Awalnya dia ragu, tapi karena tak ada salahnya, ia memasang aplikasi tersebut pada ponselnya. Setelah memasang aplikasi, ia mendapat notifikasi kalau masa percobaan 3 hari telah berjalan. Ia kesal karena aplikasi ini hanya memberinya 3 hari masa percobaan, juga kelebihan aplikasi ini belum dia rasakan sama sekali! "Aplikasi apa-apaan ini!" Fadil menggerutu. Ia hanya pasrah dengan pengaturan pengembang aplikasi ini. Ia membuka aplikasi, kemudian aplikasi meminta untuk me-reboot ponselnya. Beberapa saat kemudian, Booting ponselnya membuat Fadil terkejut. Pasalnya, ponselnya membutuhkan setidaknya lebih dari 10 detik untuk booting. Namun, setelah memasang aplikasi ini hanya membutuhkan 7 detik! Fadil dengan cepat mengoperasikan ponselnya. Ponselnya lebih cepat, stabil dan lag-nya berkurang! Fadil kemudian membuka game Mobile Legends. Boom! Mobile Legends terbuka dengan cepat. Jaringannya menunjukan warna hijau yang artinya stabil! Kemudian Fadil mencoba sekali pertandingan. Ia menggunakan Hero Marksman Miya, seorang Moon Elf pemanah. Setelah menunggu, Ia kemudian masuk pengaturan dan mengubah ke setting high-end yang tak bisa ia lakukan sebelumnya. Saat pengaturan high-end selesai diatur, Ia merasakan bahwa permainannya hanya sedikit lag. Lag terjadi saat notifikasi masuk. Selain hal tersebut, semuanya lancar. Fadil dengan semangat memainkan pertandingan itu. Setelah memenangkan pertandingan, Ia berkata, "Aplikasi ini tidak bohong! Benar-benar asli! Akan kurekomendasikan ke temen streamer-ku." Tanpa basa-basi, Fadil menguhubungi temannya dan mengatakan segala pengalamannya menggunakan Sky Booster. Tentu saja temannya tidak percaya, tapi karena rekomendasi dari temannya, ia kemudian memasang aplikasi dan menggunakannya. Sama seperti Fadil, Gunawan, nama teman Fadil ini sangat terkejut! Ia kemudian mencobanya pada game Mobile Legends dan sangat lancar! Bonus: Liputan Sky 02 Sky : "Halo, Sky disini! Kembali lagi bersama saya Sky di SkyTV. Kali ini saya akan meliput beberapa orang dan bertanya tengang seberapa gregetnya mereka. Kameranmen siap?" Kameramen mengangkat jempolnya menandakan bahwa ia siap. Sky kemudian mendekati salah satu siswa sekolah. Sky : "Seberapa greget kamu?" Siswa : "Kemarin gua direbutin dua cewek." Sky : "Terus?" Siswa : "Ceweknya berantem, gua tinggalin!" Sky : "Host, ternyata itu kau! Pemirsa, jika anda cewek atau anda memiliki anak atau cucu cewek harap berhati-hari dengan siswa bernama Daniel ini. Dia dengan santainya meninggalkan dua cewek yang sedang ''berantem''. Sekali lagi, Waspadalah, Waspadalah!" Daniel : "Dasar Sistem kampret! Sini kau!" Sky menarik kameramen lagi dan menghilang dari keramaian. Sky merapikan pakaiannga dan bertanya pada kameramen. Kameramen mengangguk dan memberi jempol. Sky : "Maaf pemirsa, ada gangguan terhadap simpatisan kita. Kita akan kembali lagi setelah yang satu ini. Kita akan kembali dengan simpatisan berbeda. Tetap di novel ini hanya di SkyTV yang disponsori oleh Webnovel." 13 Bab 13 : Membutuhkan Seseorang Dua hari kemudian, Daniel menatap laptop dengan alis mengeryit. Ia menatap layar statistik pengguna aplikasi Sky Booster. Terlalu banyak hal yang ia lupakan, seperti slot iklan, email perusahaan, dan hal penting lainnya. Ia terlalu fokus pada hal menghasilkan uang hingga melupakan hal penting dalam bisnis. Meskipun kecerdasan emosional Daniel melebihi anak semumurannya, bagaimanapun juga Daniel hanyalah siswa SMK biasa. Lagipula jurusan yang diambilnya bukan manajemen bisnis, dia hanyalah seorang murid dari jurusan TKJ. "Apa yang harus kulakukan?" Daniel merenung. Ia tak pernah berpikir akan menjadi seperti ini. Meskipun dalam tiga hari ini ada puluhan ribu pengguna yang membayar, ia bingung bagaimana mengembangkannya di masa depan. Meski beberapa hal yang dia rencanakan itu baik, tapi dalam bisnis pasti beda dengan hal yang direncanakannya. Dia perlu menjadi pebisnis profesional ataupun membutuhkan seseorang yang profesional. Daniel mendesah ringan, ia menyingkarkan pikiran tentang bisnis untuk sementara, lalu ia berangkat ke sekolah. Dalam dua hari terakhir, tak ada hal khusus yang terjadi pada Daniel. Hanya dapat beragam komentar negatif dari banyak pengguna Sky Booster yang menginginkan Sky Booster gratis, harga pembelian user vip yang mahal dan banyak keluhan lainnya. Daniel tak menanggapi ini, bagaimana pun juga dia membuat aplikasi ini untuk mendapat keuntungan, bukan sebagai sukarelawan yang ingin membuat keuntungan bagi Google. Sky Booster juga semakin diperbincangkan di kalangan gamer. Semua itu terjadi karena Sky Booster bisa mengoptimalkan pengalaman gaming mereka. Beberapa streamer mengiklankan aplikasi ini secara gratis. Untuk sementara ini, tak ada tanggapan khusus dari pihak Google terhadap aplikasi Sky Booster. Daniel telah sampai kelas, ia kemudian duduk sambil termenung memikirkan bagaimana bisnisnya di masa depan. Bella seperti biasa datang setelah Daniel. Tak tahu apakah kebetulan atau memang disengaja, itu terjadi setiap harinya. Meskipun dalam dua hari Bella cuek terhadap Daniel karena meninggalkannya bersama Kinar, tapi ia tak bisa berlama-lama cuek karena ia sebelumnya tak pernah bersikap seperti ini. Bella menghampiri Daniel yang sedang termenung. Bella merencanakan hal jahat pada Daniel yang sedang termenung tak memperhatikannya. Bella mendekatkan wajahnya ke telinga Daniel dan membisikan, "I love you." "Hah?!" Daniel terkejut lalu jatuh dari kursi dan memandang Bella dengan tatapan terkejut. Bella terkikik melihat Daniel yang kaget. Setelah mengingat hal itu, wajahnya pun memerah. Ia dengan cepat berkata: "Tidak-tidak. Aku hanya bercanda." Daniel menghela nafas lega kemudian berkata: "Bella mah ngagetin aja!" Daniel kemudian kembali menatap Bella. Kali ini ada kejutan di hatinya, melihat Bella yang tertawa manis membuat hatinya cenat-cenut. "Tak kusangka kalau Bella semanis ini bila tertawa," ucap Daniel dalam hati. Bella kemudian menjawab, "Kamu sih melamun. Ngapain juga melamun pagi-pagi begini." Daniel terus menatap Bella dan tak memperhatikan Bella yang berbicara padanya. Melihat Daniel tak menjawab perkataannya, Bella melambaikan tangan di depan wajah Daniel dan berkata: "Daniel, Daniel!" Daniel tersadar kemudian menatap bingung pada Bella. "Tuh kan, kamu melamun lagi," Bella kemudian tertawa lagi. "Oh!" Daniel sepenuhnya tersadar dan memperbaiki posisinya kemudian duduk kembali. Adegan ini diperhatikan oleh seisi kelas. Tak terkecuali Yudhistira yang sudah jatuh cinta pada Bella sejak pandangan pertama. Yudhistira menatap Daniel dengan tatapan marah. "Anak ini sepertinya kurang jera. Aku harus memberinya pelajaran lagi." Yidhistira berkata pelan. Ardi, anak buah Yudhistira, ia mendengarkan Yudhistira menggumamkan sesuatu, kemudian bertanya, "Ada apa, Bos?" Yudhistira menggelengkan kepalanya, menjawab, "Tidak apa-apa. Hanya memikirkan sesuatu saja." Sementara itu, Daniel masih mengobrol dengan Bella. Obrolan mereka terpotong oleh bel masuk kelas. Selama jam pelajaran, Daniel masih memikirkan tentang bisnisnya. Ia berkali-kali ditegur oleh guru karena tak memperhatikan pelajaran. Untungnya Daniel masih bisa menjawab beberapa hal yang ditanyakan padanya. Jam istirahat kemudian datang, Bella seperti biasa pergi ke kantin dengan teman-temannya. Sedangkan Daniel, setelah menolak ajakan Bella, ia mengambil kotak makan siangnya dan keluar kelas. Kemudian pergi ke warung di dekat sekolah untuk membeli minuman dan kabur tempat sepi di belakang sekolah. Kinar tak tahu kalau Daniel telah kabur darinya. Bella yang di kantin ditanyai oleh Nurul tentang kejadian tadi pagi. Nurul seolah-olah menjadi wartawan gosip yang mendapatkan berita mengejutkan. "Bella, ada apa kamu sama Daniel tadi pagi? Apa di mengganggumu?" "Oh tidak, dia hanya terkejut karena aku mengejutkannya. Dia tidak menggangguku kok," Bella menjawab dengan wajah sedikit memerah. Silvia memperhatikan Bella yang memerah, aura permusuhan keluar darinya. Ia pun ikut bertanya: "Bella sering bercanda ya sama Daniel?" Bella menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Tidak! Aku hanya menyapanya setiap pagi, itu saja kok." Setelah mendapat jawaban dari Bella, Silvia berhenti mengeluarkan aura permusuhan dan tak bertanya lebih lanjut. Giliran Hana pula yang bertanya pada Bella. "Jadi, apa hubunganmu sama Daniel? Apakah kamu menyukainya?" Bella dengan wajah merah menggelengkan kepalanya dengan cepat menjawab, "Tidak-tidak. Aku tidak menyukainya. Aku hanya menyapanya karena dia duduk disampingku. Itu saja kok." Hana menjawab Bella dengan senyum misterius, "Oh, ternyata begitu." Kemudian Nurul "menceramahi" Bella layaknya seperti orang tua memceramahi anaknya. Di sisi lain, Kinar yang selesai mengurus beberapa hal merasakan lapar. Ia kemudian menuju kelas Daniel dengan tujuan mengajak Daniel makan bersama. Saat sampai di kelas 11-B, Kinar hendak mengejutkan Daniel, tapi tak menemukan Daniel ada disana. "Beraninya dia melarikan diri!" Kinar dengan geram berkata. Daniel yang sedang memakan bekalnya, bersin beberapa kali. "Apakah aku terkena flu?" Daniel makan sambil merenungkan bisnisnya membuat rasa makanan tak dinikmati karena otak sepenuhnya dipakai untuk berpikir. Hari sekolah Daniel berlanjut hingga akhirnya bel pulang berbunyi. Saat menuju rumah, Daniel akhirnya menemukan solusi yang ia butuhkan. Jika kau tak bisa melakukannya, maka cari orang lain yang bisa melakukannya! Daniel kemudian berlari ke rumahnya dan dengan cepat memerintahkan Red Queen untuk mencari manajer perusahaan melalui internet. "Red kecil, carilah seorang manajer perusahaan yang sudah berpengalaman di bidang perusahaan perangkat lunak ataupun perusahaan teknologi. Kalau bisa temukan secepatnya." Red Queen kemudian menjawab, "Laksanakan, Tuan." Meskipun dia membutuhkan secepatnya, Daniel tak bisa berbuat apa-apa. Daniel tak bekerja seperti biasanya. Setelah memerintahkan Red Queen, Daniel memasakkan makanan untuk kedua adiknya. Ia akan menjelaskan hal tentang bisnisnya pada kedua adiknya pada saat yang tepat. Daniel masuk kembali ke kamarnya dan mentransfer uang yang ia dapatkan ke dalam rekening pribadinya sebanyak 10 juta rupiah. Dia akhirnya bisa bernafas lega. Untuk kebutuhan dua bulan kedepan, tidak ada masalah. Bonus: Liputan Sky 03 Sky : "Halo, Sky disini! Kembali lagu di SkyTV! Nah, kita sudah ketemu simpatisan untuk wawancara seberapa gregetnya kamu." Sky berjalan mendekati seorang siswi. Sky : "Halo, Bisa minta waktunya sebentar?" Siswi : "Tentu saja." Sky : "Seberapa gregetnya kamu?" Siswi : "Kemarin gua naik ojek online." Sky : "Terus?" Siswi : "Terus ya bayar lah. Ya kali naik ojek online gak bayar. Ojek online juga kerja, itu adalah profesi yang halal." Sky menatap siswi itu dengan wajah cemberut. Sky mengabaikan siswi tersebut dan menatap kamera. Sky : "Oke pemirsa, sampai disini aja untuk seberapa gregetnya kamu. Simpatisannya gak ada yang bener. Saksikan saya lagi di-" ??? : "Sky! Disana kau rupanya!" Sky menengok ke belakang dan segera ketakutan. Sky : "Permirsa, udah dulu ya. Dadah! Kameramen ayo matikan terus kabur!" ??? : "Jangan kabur kau!" Sky menarik kameramen dengan cepat dan berlari hingga tak terlihat lagi. Daniel : "Itu sistem apa Usain Bolt? kenceng amat larinya!" 14 Bab 14 : Sky Booster Booming Sehari berlalu. Kemarin, Red Queen telah mencari manajer perusahaan profesional, hanya tinggal menunggu pihak manajer perusahaan . Semakin banyak pengunduh Sky Booster di Google Play Store, terutama di kalangan anak muda yang sering bermain Mobile Legends, Arena of Valor, PUBG Mobile atau game yang sedang trend lainnya. Meskipun yang membayar hanya sedikit, Daniel tak mempermasalahkan itu. Setidaknya biarkan mereka merasakan pengalaman yang android dioptimalkan. Untuk rencana lebih lanjut, Daniel membuat website khusus untuk Sky Booster dan juga dia membuat Instagram, Facebook Fanspage, dan Twitter official Sky Booster. Daniel pergi ke sekolah seperti biasanya. Mengobrol dengan Bella di pagi hari, lalu makan siang sendiri di belakang gedung sekolah, dan belajar. Kadang-kadang ia ke perpustakaan saat istirahat kedua. Baru-baru ini, ketika hal berbau tentang teknologi didengar Daniel, ia bisa memahaminya dengan mudah. Bahkan ia bisa memikirkan beberapa teknologi yang tak bisa dilakukan oleh ahli masa kini. Seperti fusi nuklir, kecerdasan buatan, paduan logam, robotika, dan lain sebagainya. Daniel tak bisa memulai melakukan penelitian fusi nuklir, paduan logam dan yang lainnya karena terbatasnya fasilitas, materi, dan kebutuhan lainnya. Tapi, ada hal yang membuatnya tertarik. Hal itu adalah robot medis cerdas, seperti yang ada di Big Hero 6, yaitu Baymax. Bahan yang digunakan oleh Tadashi Hamada bisa ditemukan di masa saat ini. Dan juga, harga bahan-bahannya terjangkau. Untuk hal kecerdasan buatan, Daniel bisa membuatnya. Baik dari Smart Core, Chip Medis, dan lainnya bisa dilakukan Daniel. Untuk membuat kerangka Baymax, Daniel hanya bisa mencobanya. Tapi, itu tak bisa dilakukannya sekarang. Butuh laboratorium pribadi, atau setidaknya ruangan pribadi. Jika tidak, ia akan diganggu oleh kedua adiknya yang tentu saja akan bertanya tentang apa yang dibuatnya. Belum lagi Daniel membuat robot berteknologi tinggi, hal itu akan membut mereka sangat penasaran. Saat ini fokus Daniel terletak pada Sky Booster. Hari ini Daniel ingin merilis Sky Booster di China. Dengan ratusan juta pungguna android di China, Daniel yakin kalau Sky Booster akan sukses disana. "Red kecil, apakah perilisan Sky Booster di China sudah siap?" "Semuanya sudah siap, Tuan," Red Queen menjawab. "Baiklah. Maka, rilislah segera." "Baik, Tuan." Red Queen dengan cepat merilis informasi mengenai Sky Booster di berbagai forum, app store, dan sosial media di China. Untuk harga Sky Booster selama setahun hanyalah 20 yuan untuk region China. Jika dirupiahkan, maka harganya senilai 42 ribu rupiah. Untuk komentar mengenai aplikasinya, Daniel tidak terlalu peduli. Bagaimana pun ia ada di Indonesia, tidak di China, sehingga tekanannya tidak tinggi. Setelah memerintahkan Red Queen, Daniel sekarang mengetik kode-kode kecerdasan buatan. Sebenarnya Daniel bisa menyalin kode dari Red Queen namun kode kecerdasan dari Red Queen sangatlah besar ukurannya dan terlalu boros kode. Kode yang ada dalam pikiran Daniel lebih sederhana daripada kode Red Queen. Jika kode Red Queen 00000001 maka yang Daniel gunakan hanyalah 01. Dengan begitu, kecerdasan buatan yang Daniel buata bisa lebih efesien, cerdas dan lebih manusiawi. Untuk membuat kecerdasan buatan, dibutuhkan banyak waktu. Bahkan jika Daniel menggunakan 24 jamnya untuk menulis kode kecerdasan buatan yang lebih maju tak akan mencapai 1%! "Meskipun kode ini sudah disederhanakan, butuh waktu berbulan-bulan untuk membuat lebih maju lagi," Daniel mendesah. Jika para peneliti kecerdasan buatan mendengar keluhan Daniel, peneliti itu tak akan segan menghantamkan kepala Daniel pada tumpukan server. Membuat kecerdasan buatan tak semudah itu. Bahkan, jika membuat kecerdasan buatan yang sederhana saja lebih susah daripada membuat hati cewek luluh. Apalagi yang ingin dibuat Daniel tidak hanya kecerdasan untuk robotnya, tapi kecerdasan buatan yang lebih maju. Maka, itu hanya akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk para peneliti menelitinya dan membutuhkan biaya milyaran Dollar Amerika! Juga, alasan Daniel tak ingin mendesain ulang Red Queen hanyalah masalah sepele, yaitu karena kodenya terlalu banyak untuk diperbaiki. Hanya membuang-buang waktunya. Jika para peniliti tau, para peneliti itu akan pensiun saat itu juga! Dalam hal penelitian kecerdasan buatan, Google dan Apple di Amerika lebih maju dari negara manapun. Kalau Indonesia? Tentu saja ketinggalan. Bagaimana pun juga, masih banyak keterbatasan fasilitas dan lainnya di Indonesia. Namun, Indonesia perlahan maju ke arah masa depan yang lebih cerah. Daniel menulis kode kecerdasan buatan selama 5 jam. Daniel memasakkan makanan untuk kedua adiknya. Setelah makan, dia mengobrol sebentar dengan kedua adiknya dan kembali bekerja mengetik kode selama beberapa jam dan kemudian tidur dengan nyenyak. Keesokan harinya adalah hari sabtu. Daniel berolahraga seperti biasanya, butuh stamina besar untuk bekerja kasar. Saat jam 7:15, Daniel berangkat ke sekolah. Setelah sarapan dengan kedua adiknya, Daniel sempat melihat statistik untuk pasae China. Respon pengguna di China sangat baik dan banyak yang membayar untuk biaya tahunan. Dengan ini kekayaan Daniel semakin besar. Sampai di sekolah, Daniel mendengar banyak siswa-siswi membuat keributan. Hal yang mereka bicarakan adalah Sky Booster! Aplikasi yang membuat ponsel mereka lebih lancar, cepat dan tak ngelag lagi! Apalagi dikalangan perempuan yang mempunyai banyak aplikasi seperti BeautyPlus, lalu Keyboard foto, Instagram, Facebook, TikTok, dan lain-lain yang membuat ponsel mereka lelet, tapi dengan adanya Sky Booster, Whatsapp dengan belasan grupchat pun tidak akan ngelag! Daniel yang mendengar ini hanya tersenyum dan dengan tenang memasuki kelas. Hari ini ada yang berbeda, yakni Bella sampai lebih dulu daripada Daniel. Daniel datang, kemudian duduk di kursinya. Melihat Bella sedang berbicara dengan Yudhistira, dia tak akan mengganggu. Bella yang sedang berbicara melihat Daniel datang langsung menayapanya, "Pagi, Daniel." Daniel menoleh ke arah Bella dan memberikan senyuman, "Pagi, Bella." Yudhistira sangat kesal melihat ini, tetapi wajahnya masih normal tanpa ekspresi cemburu, kesal ataupun marah. Sedangkan Daniel, ia tak memperdulikan Yudhistira. Hanya dia dan segelintir orang yang tahu bagaimana sikap Yudhistira sebenarnya. Bella kemudian membuka topik, "Daniel, apa kamu sudah tau tentang aplikasi Sky Booster? Itu sangat keren aplikasinya. Aku tak menyangka aplikasi seperti itu ada di Indonesia," kata Bella dengan penuh kejutan di matanya. Daniel tersenyum setelah mendengar ini. Jika Bella tahu bahwa dia yang membuat aplikasi ini, bagaimana ekspresi Bella nantinya? Yudhistira mengikuti obrolan ini, ia dengan bangga mengakui, "Sebenarnya aplikasi ini adalah aplikasi dari perusahaan ayahku. Aplikasi ini dengan susah payah dibuat oleh tim R&D di perusahaan ayahku." Mendengar ini, Daniel ingin muntah. Dengan mudahnya Yudhistira mengklaim kalau Sky Booster adalah aplikasi buatan perusahaan ayahnya! 15 Bab 15 : Teman Masa Kecil "Benarkah?" tanya Bella. "Tentu saja benar," Yudhistira mengangguk dengan senang. Daniel hanya diam melihat Yudhistira mengaku-ngaku. Nanti ada tiba saatnya kebohongan Yudhistira terbongkar. Karena itulah Daniel hanya diam saja. Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Yudhistira, yang telah selesai menyombongkan dirinya di depan Bella, kembali ke tempat duduknya. Daniel duduk rapi menunggu guru masuk. Tak lama kemudian, guru masuk dan memulai pelajaran. Berkat System Technology, otak Daniel menjadi lebih berkembang daripada otak manusia biasa. Jika otak manusia biasa digunakan hanya 5%, maka otak Daniel sudah berkembang ke penggunaan otak 15%. Meski tak bisa dipanggil jenius super, Daniel bisa dikatakan jenius. Pelajaran yang diajarkan guru otomatis masuk ke kepala Daniel dan dengan mudah dipahaminya. Meski begitu, Daniel tak ingin menarik perhatian orang lain. Saat ini dia belum punya kekuatan, baik secara fisik, mental, maupun kekuasaan. Orang tanpa kekuatan hanya akan dilahap oleh kekuatan besar, karena itulah Daniel masih mencoba memperkuat dirinya. Pertama-tama diawali dengan memperkuat di bidang ekonomi. Ketika kekuatan ekonominya sudah mencukupi, dia akan mencoba melindungi keamanan dirinya dan terutama keluarganya. Sky Booster hanyalah sebuah awal. Ketika perusahaan secara resmi didirikan, saat itulah Daniel akan mulai mendaki puncak dunia. Juga, dengan adanya keberadaan System Technology and Superpower atau Sky, Daniel semakin percaya diri. Empat jam lebih masa pelajaran, akhirnya bel istirahat berbunyi. Daniel menyimpan bukunya, ia berpikir hari ini lebih baik pergi ke perpustakaan untuk membaca buku mengenai bisnis. Selain itu, Daniel juga mulai tertarik dengan fisika, biologi, dan kimia. Daniel mengemasi buku, kemudian mengeluarkan kartu perpustakaan. Sebelum menuju perpustakaan, Daniel menengok kiri-kanan, ia tak menemukan Kinar. Kemudian Daniel berjalan menuju perpustakaan. Ketika sampai di perpustakaan, Daniel menuju bagian bisnis. Tepat saat tiba di bagian bisnis, Daniel bertemu dengan Silvia. Daniel dan Silvia memiliki cerita tersendiri di masa lalu. Bagaimana pun juga, mereka pernah dekat. Daniel menghampiri Silvia dan menyapanya, "Silvia, halo." Silvia yang sedari tadi fokus membaca, mendengar suara familiar ini, ia melihat ke arah suara dan menemukan Daniel disana. "Oh, Daniel. Sangat jarang bisa melihatmu di sini," kata Silvia dengan ramah. "Tentu saja. Aku tertarik pada hal-hal berkaitan dengan bisnis, bagaimana pun juga, hanya mengisi waktu istirahat. Tumben kamu tak bersama dengan Nurul dan Hana," kata Daniel bercanda. Silvia memutar matanya, lalu mendesah dan berkata, "Tak perlu juga tiap hari bersama mereka. Toh Nurul selalu menjelek-jelekan dirimu. Aku kadang pusing mendengar ucapannya. Dan lagi, kamu hanya diam saja ketika Nurul berkata seperti itu." "Meladeni kata-katanya hanya akan membuatnya semakin senang. Semakin tak kutanggapi, nanti juga dia akan diam sendiri," Daniel berkata dengan mengangkat bahunya. "Kadang sikap acuh tak acuhmu juga menguntungkan," kata Silvia lalu menghela nafas. "Kamu seperti orang yang tak mengenalku saja. Atau, jangan-jangan kamu mengkhawatirkanku ya?" Daniel tertawa dan bertanya sambil menggoda Silvia. Wajah Silvia memerah, ia berkata dengan sedikit gugup, "Mengkhawatirkanmu? Te-tentu saja tidak! Dasar itu bocah bau nakal!" Daniel semakin tertawa melihat Silvia yang malu-malu. "Melihat Silvia yang malu-malu mirip seperti waktu itu. Mengingat itu, membuatku merasa bahwa waktu itu kamu lebih imut saat malu-malu." Wajah Silvia semakin merah, "K-Kamu malah memgingat hal itu! Jangan ingat itu, please!" Daniel berhenti menggoda, ia tertawa dan berkata, "Baiklah, aku berhenti mengingatnya. Jangan ribut-ribut, nanti ada gosip loh kalo kamu deket sama aku. Kan, nanti malah kamu yang kena marah sama orang tuamu. Yah, bagaimanapun orang tuamu benar." Daniel mengingat hal-hal masa lalu membuatnya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Silvia juga mengingat hal itu. Saat itu, Silvia tinggal tak jauh dari rumah Daniel. Silvia dan Daniel sering bermain bersama, sering juga bermain bersama Rika dan Raka kecil, dan kadang-kadang mereka berjualan keliling bersama. Saat orang tua Silvia mengetahui Silvia mengikuti Daniel berjalan keliling untuk berjualan, saat itu juga orang tua Silvia mendatangi rumah kakek Daniel untuk memarahi Daniel. Sebenarnya, Ayah Silvia tidak keberatan mengenai hal ini, bagaimanapun juga berusaha keras sejak dini itu baik untuk kedepannya, tapi berbeda dengan pemikiran Ibu Silvia yang tidak mau anak perempuannya lelah karena bekerja. Ibu Silvia juga sebenarnya tak mau Silvia bergaul dengan Daniel yang suka mengajak anak perempuannya berjualan keliling, tapi anaknya sangat bawel mengenai pergaulan. Meskipun Ibu Silvia tak ingin anak perempuannya yang cantik bergaul dengan anak miskin seperti Daniel, tapi mereka tinggal di tempat dimana kelas menengah ke bawah. Bagaimana pun, Ibu Silvia jugalah seorang Ibu yang tak ingin anaknya kenapa-kenapa. Seorang Ibu yang ingin anaknya memiliki masa depan cerah. Karena itulah dia khawatir anak perempuannya bermain denhan Daniel yang bisa dianggap nakal karena pikirannya lebih dewasa dari anak-anak pada umumnya. Daniel juga anak yang kreatif dan bekerja keras sejak kecil. Daniel kadang membuat es lalu berjualan keliling, kadang juga bermain seperti anak biasanya. Saat itu kakeknya masih bisa bekerja dan bisa menafkahi Daniel dan adik-adiknya. Banyak hal Daniel dan Silvia lakukan saat masa kecil. Hal yang membuat Silvia malu adalah saat Daniel dan Silvia bermain rumah-rumahan dimana Daniel menjadi Suami, Silvia menjadi Istri, kemudian Rika dan Raka kecil menjadi anak-anak mereka. Saat itu, Silvia bermain-main dengan pisau hingga tak sengaja melukai jarinya. Daniel dengan cepat menghisap darah dari jari Silvia yang terluka. Silvia menjadi malu saat melihat Daniel ''melahap'' jarinya. Meskipun kelihatan jijik, tapi karena mereka masih kecil, mereka tak memperhatikan itu. Daniel juga melakukan pertolongan pertama pada Silvia dengan memberinya obat betadine setelah membersihkan luka dengan air mengalir, lalu merapikan dengan kapas dan memberikan handsaplast1 pada bagian yang terluka. Silvia kecil bertanya, "Kenapa kamu menolongku?" Daniel kecil menjawab dengan bangga, "Karena aku adalah suamimu." Rika dan Raka kecil berkata dengan serempak, "Ayah Daniel, Ibu Silvia." Daniel kecil mendengarkan ini langsung tertawa dan mengusap kepala kedua adik-adiknya. Silvia kecil menatap Daniel kecil dengan wajah merah dan malu-malu. Pada saat Silvia berumur 10 tahun, Silvia dan orang tuanya pindah rumah karena pekerjaan ayahnya. Silvia kecil menangis saat memeluk Daniel kecil dengan sedih karena perpisahan. Silvia takut tak bisa bertemu Daniel lagi. Ia takut karena Daniel telah mengajarkannya banyak hal, kadang juga melindunginya dari gangguan anak-anak lain. Hal itulah yang membuat Silvia sangat dekat dengan Daniel. 2 tahun sebelum kematian kakek Daniel, Daniel dan keluarganya pun pindah karena tak bisa melunasi kontrakan. Namun, disaat kesusahan menerpa, ada seorang dermawan yang menghibahkan rumah kecil pada kakek Daniel karena pernah menolong sang dermawan dan merawat anak yatim-piatu yang ditelantarkan. Keduanya tak menyangka bahwa 6 tahun kemudian mereka berdua bertemu di SMK yang sama dan juga tempat tinggal mereka berdua tak jauh jaraknya. "Kamu membuatku mengingat itu! Daniel bodo!" kata Silvia dengan wajah kesal. "Yang mengingatnya adalah kamu, kenapa malah menyalahkanku," Daniel tertawa. "Daniel bodo! Daniel bodo!" Silvia terus berkata ''bodo''. Daniel akhirnya menyerah, "Baiklah, baiklah. Aku akan berhenti. Ini perpustakaan, jangan ribut. Lihat poster itu," kata Daniel sambil menujuk ke arah poster "Tolong jangan berisik." "Aku ribut karenamu, Daniel bodo! Kau tetap tidak berubah, terus saja menyebalkan seperti dulu!" kata Silvia yang masih kesal. "Oke, oke. Aku memang menyebalkan. Mari baca buku aja," Daniel mengalihkan topik agar Silvia tak kesal. Silvia tak menjawab, ia mentap Daniel dengan kesal dan melanjutkan bacaannya. Daniel hanya tersenyum melihat ini. Dia kemudian mencari buku yang berkaitan dengan bisnis perangkat lunak dan akhirnya ketemu setelah beberapa menit mencari. Daniel duduk di depan Silvia dan membaca dengan tenang, namun kecepatan membacanya jauh lebih cepat daripada orang lain. Hal ini menarik perhatian Silvia. Silvia tak bisa menahan rasa penasarannya dan bertanya, "Daniel, apakah kau membaca buku atau bermain-main dengan buku?" Bonus : Liputan Sky 04 Sky : "Halo, Sky disini! Kembali lagi bersama saya, Sky di SkyTV! Kali ini kita akan intip-intip seseorang yang sedang bermain game. Apakah kalian sudah siap?" Sang kameramen menjawab pertanyaan Sky dengan anggukan kepala dan acungan jempol. Sky : "Ngomong dong kalo jawab! Dari kemaren gitu mulu jawabnya!" Kameramen bingung kemudian dia menjawab. Kameramen : "-" Sky : "Oke, tak perlu berbicara. Mari lanjutkan saja pada liputannya." Kameramen mengikuti Sky dengan wajah sedikit tak puas. Sky : "Kenapa? Mau dipecat?" Kameramen menggelengkan kepalanya dengan cepat menandakan dia menolak. Sky : "Makanya jawab yang bener dong!" Kameramen mengangguk dengan cepat seperti ayam. Sky : "Okay pemirsa. Maaf ada sedikit gangguan." Sky memperbaiki posturnya dan kembali berbicara. Sky : "Pemirsa, kali ini saya menemukan seseorang bermain sebuah game yang menarik. Game ini adalah game moba. Mari kita intip." Sky melihat seseorang menggunakan Hoodie bermain game moba. Sky : "Oh pemirsa. Orang ini menggunakan Layla di Lane atas, lawannya adalah Valhein. Sedangkan di lane tengah dan bawah pertarungan antara Moskov dan Yorn, kemudian Minotaur dan Toro. Sedangkan di lane turtle Kadita dan Wiro sedang ngebuff. Zilong dan Zanis sedang menuju lane tengah!." Setelah Sky mengomentari pertandingan tersebut, ia teringat sesuatu. Sky : "Sejak kapan Mobile Legends dan Arena of Valor bersatu?" ??? : "Sejak aku mencarimu!" Seseorang yang sedang bermain game membuka Hoodienya. Ternyata itu adalah Daniel! Sky : "Oh! Pemirsa, saatnya kabur. Sampai jumpa lagi." Sky menarik kameramen lagi dan menghilang lagi. Sebelum menghilang, kameramen mengacungkan jempolnya pada Daniel! Daniel : "Sky! Kameramennya Sky!" 16 Bab 16 : Bertemu Daniel menghentikan gerakannya, ia menatap Silvia yang penasaran, "Oh, yang kulakukan hanyalah membaca, apakah ada yang salah?" Melihat Daniel yang terlihat biasa saja, pandangan Silvia pada Daniel berubah jadi seperti menatap orang aneh. "Benarkah?" Daniel agak terganggu dengan tatapan Silvia, "Tentu saja benar. Aku membaca seperti itu, meski baru-baru ini." Silvia semakin tak yakin dengan Daniel. "Sini bukunya, aku mau tes kamu. Bener atau gak apa yang kamu baca." Daniel memberikan buku yang ia baca kepada Silvia. Silvia melihat sebentar pada buku, ia kemudian secara acak memilih halaman yang akan dia tanyakan. "Bacakan paragraf 9 di halaman 23." Daniel menyebutkan dengan lancar. Bahkan tanda baca pun tak terlewatkan. Silvia kembali menantang Daniel, "Bacakan seluruh halaman 57." Daniel lagi-lagi membaca seluruh halaman dengan lancar dan tepat tanpa salah sedikitpun. "Daniel," Silvia menatap Daniel, kemudian melanjutkan, "apakah kamu seorang alien?" "Hei, kamu adalah teman masa kecil yang sangat kejam! Bukannya dari dulu kita sudah saling kenal, kenapa sekarang kau mempertanyakan tentang ke-manusia-anku. Aku sedih loh, sedih." Daniel berpura-pura sedih. Bagaimanapun juga, Daniel tak peduli bagaimana dia dianggap dan juga dia sudah tau kalau Silvia akan mempertanyakan ini. Bahkan jika dia adalah seorang alien pun, dia tetap tak akan berubah. Paling banyak, dia akan pulang ke planetnya untuk mencari orang tuanya. Sayangnya, dia bukanlah alien, tapi seorang manusia dengan sistem sebagai partnernya. Melihat Daniel yang sedih, Silvia merasa bersalah, ia kemudian berkata, "Daniel, maafkan aku, bukan maksudku untuk kasar padamu, tapi aku hanya bingung. Bagaimana bisa kamu membaca dengan sangat cepat tapi mengingat seluruh isi halaman dengan tepat." Daniel tertawa melihat Silvia bersedih, "Hei, aku hanya bercanda. Aku tau kok kamu pasti bingung melihatnya, tapi beginilah caraku membaca." Silvia merasa kesal, dia meninju Daniel dengan tinju kecilnya, ia berkata, "Kamu selalu saja menyebalkan." Daniel tertawa melihat ini. Tinju Silvia tak terasa sakit bagi Daniel, tapi lebih terasa manis bagi Daniel. Daniel teringat sesuatu, ia kemudian berkata, "Silvia, jika suatu hari aku membuka perusahaan, maukah kamu menjadi sekertarisku?" Silvia menarik tinjunya dari Daniel dan wajahnya berwarna merah, "I-itu, bagaimana bisa kamu membuka perusahaan sekarang! Tapi, aku mau kok." Daniel tersenyum, "Oh, maka aku akan menunggumu di masa depan." Wajah Silvia semakin merah. Ia tak memperdulikan Daniel lagi dan dengan cepat mengambil buku untuk menutup wajahnya. Daniel juga tak terus menggoda Silvia, ia lanjut membaca buku dengan kecepatan yang cepat. Dalam 30 menit, Daniel membaca 4 buku tebal. Silvia sesekali melirik Daniel, ia dengan heran melihat Daniel yang membaca dengan kecepatan super. Waktu istirahat sudah berakhir, Silvia pergi lebih dulu. Daniel tak mempermasalahkan hal ini. Sampai di kelas, Daniel langsung duduk. Namun, saat baru saja duduk, perutnya berbunyi karena tak makan saat istirahat tadi. Ditambah lagi, dia menggunakan otaknya saat diperpustakaan tadi, perutnya semakin lapar. Bella mendengar suara aneh, ia bertanya pada Daniel dengan tersenyum, "Daniel, apakah kamu belum makan? Kamu kemana saja tadi?" Daniel sedikit merasa malu, tapi di depan seorang wanita, ia harus kelihatan kalem. "Oh, memang belum. Tadi aku ada di perpustakaan, karena keasyikan baca buku, jadi lupa makan deh." Bella sedikit tertarik dengan perpustakaan, "Oh, kamu ke perpustakaan? Besok mau ke perpustakaan bareng?" "Nggak, Besok hari minggu. Besok waktunya libur dan beristirahat," Daniel menolak dengan halus. "Oh, kamu benar. Lain kali saja ke perpustakaan bareng." Daniel hanya mengangguk saja. Pelajaran berjalan seperti biasanya. Daniel hanya mendengarkan guru, kadang dia mencatat apa yang harus dicatat, meskipun ia hapal dengan apa yang ia catat itu. Bel pulang akhirnya berbunyi. Daniel berjalan dengan santai dan juga merasa segar, dia sudah mendapat banyak uang dalam waktu kurang dari satu minggu ini. Semua ini karena System Technology. Dengan adanya Red Queen, Daniel bisa mendapatkan uang dengan jalan tercepat. Ia bisa saja langsung menjual Sky Booster pada Google, namun itu tak menguntungkan baginya. Karena, nilai Sky Booster itu sangat tinggi. Jika dikembangkan lebih lanjut, maka iOs Apple pun akan kalah. Daniel sampai ke rumah dengan senang hati, ia memasakkan makanan untuk kedua adiknya. Kemudian masuk ke kamar untuk mengetik kode kecerdasan buatan yang lebih efesien. Saat masih dengan serius menulis kode kecerdasaan buatan, Red Queen muncul dengan berita baik. "Tuan, ada seseorang yang tertarik untuk menjadi manajer perusahaan Anda. Catatannya pun bersih. Apakah Tuan akan menjawabnya sekarang?" "Sekarang. Katakan padanya bahwa akan bertemu besok di Cafe''99." "Baik, Tuan. Akan saya sampaikan segera." Red Queen kemudian menghilang. Mengirimkan keterangan lebih lanjut, kemudian melanjutkan rencana optimasi Android. Daniel juga melanjutkan menulis kode kecerdasan buatan. Saat malam tiba, Daniel keluar kamar. Kedua adiknya bingung melihatnya karena Daniel mulai jarang keluar dari kamarnya semenjak kejadian malam itu. "Apakah kakak baik-baik saja?" Rika bertanya pada Raka dengan cemas. Raka mengangkat bahunya dan menjawab, "Aku tak tau. Kakak mungkin lagi capek, makanya di rumah terus." "Kasian kakak. Kalo gitu, mulai sekarang aku yang masak kalo malam dan pagi." Raka kemudian berkata dengan cepat, "Oh Rika yang manis, jangan memasak please, jangan." Rika bingung dengan kelakuan Raka, "Kenapa kau melarangku memasak?" Raka menjawab dengan asal, "Karena aku tak ingin saudariku lelah, jadi lebih baik aku yang memasak." Rika berkata dengan senang hati, "Benarkah? Yey, sekarang kak Daniel gak capek lagi." Raka akhirnya bisa bernafas lega. Daniel kembali ke kamar setelah makan malam bersama kedua adiknya. Ia juga senang ketika Raka ingin menggantikannya memasak untuk makan malam. Sedangkan untuk sarapan, tetap Daniel yang memasak. Sampai jam 12 malam, Daniel tidur setelah mengetik kode-kode yang sangat rumit namun lebih sederhana daripada kode-kode yang menggunakan bahasa pemrograman saat ini. Daniel bangun pagi seperti biasa, ia berolahraga kemudian memasak sarapan pagi, lalu menulis kode sampai jam 2 siang. Daniel berhenti menulis kode karena pengingat dari Red Queen kalau satu jam kemudian ada pertemuan dengan calon manajer perusahaannya. Daniel membersihkan diri kemudian menggunakan pakaian kemeja dengan celana kain hitam, lalu menatap cermin dengan senyum narsis. "Ternyata aku tampan juga ya." Suara robot yang telah lama tak terdengar akhirnya terdengar lagi, "Host, kau sangat narsis!" Daniel sedikit rindu dengan suara ini. Jika tak ada Sky, tak ada kekayaan, kecerdasaan, dan banyak hal lainnya yang sekarang Daniel dapatkan. "Lama tak berbicara, Sky! Apakah ada tugas baru kali ini?" "Host, kau tak merindukanku! Kau hanya merindukan tugasnya saja!" kata Sky dengan suara ketidakpuasan. "Hei, tentu saja aku merindukanmu. Aku merasa kepalaku kehilangan sesuatu karena kamu tak muncul," Daniel memusatkan kesadarannya pada Sky. "Oke, oke. Aku juga tak peduli apakah kamu merindukanku atau tidak. Mungkin nanti juga akan ada tugas. Ngomong-ngomong, nggak boleh spoiler misi, nanti nggak seru," kata Sky dengan nada ketidakpedulian. "Sistem macam apa kau ini! Lebih baik aku bertemu seseorang daripada berbicara denganmu," Daniel kembali pada kenyataan. Suara Sky terdengar lagi, tapi kali ini dibarengi dengan kata yang terdengar misterius, "Oh, Host. Kau sangat beruntung." Daniel tak memperdulikan perkataan Sky. Ia tak cukup percaya dengan kata-kata yang Sky ucapkan karena Sky sering bercanda dengannya. Daniel menggunakan sepatu untuk pertemuan dengan calon manajer perusahaan. Saat sampai di Cafe''99, Daniel memesan ruangan khusus, kebetulan juga ruangan khususnya belum dipesan oleh siapapun. Selama menunggu, Daniel memainkan ponselnya. Ada beberapa hal menarik dilihatnya. Berita tentang Sky Booster mulai ramai di internet. Berita ini membicarakan tentang siapa yang ada dibalik kesuksesan Sky Booster, tapi pemilik Sky Booster tak muncul keluar. Setelah berselancar sana-sini, pintu terbuka san seorang wanita memasuki ruangan. "Apakah Anda Daniel?" tanya seorang wanita yang berusia 26 atau 27 tahun dengan sopan. "Anda..." Dalam sekilas melihat, Daniel mengingat siapa wanita ini. 17 Bab 17 : Lia Siyu "Anda..." Dalam sekilas melihat, Daniel mengingat siapa wanita ini. Wanita itu terlihat seperti Dewi, wajah putih seperti susu murni, alis yang tebal, dengan mata agak sipit berwarna kecoklatan dibarengi dengan kacamata, dengan bibir yang merah jambu, rambut hitam terurai, lalu lekuk tubuh yang proposional dengan pakaian Office Lady menunjukan bahwa wanita ini sangatlah cantik. Bahkan jika tak menggunakan make up tipis pun akan jauh lebih cantik daripada wanita biasanya. Wanita itu sadar kalau dia belum memperkenalkan dirinya. "Maafkan saya. Nama saya adalah Lia Siyu." Meskipun di depannya adalah anak muda, Lia Siyu tetap bersikap sopan. Juga, dia berpikir bahwa anak ini memiliki sedikit aura spesial. "Itu dia!" Daniel langsung berdiri dari kursinya. Untung saja yang ia sewa adalah ruang pribadi, jika tidak, ia akan menjadi pusat perhatian. Tentu saja Lia Siyu terkejut dengan teriakan Daniel. Ia bertanya, "Ada apa?" Setelah beberapa detik, Daniel kembali mendapat ketenangannya, ia sedikit malu atas tindakannya. "Maafkan saya karena hal yang tidak sopan," Daniel menundukan kepalanya meminta maaf. Melihat anak muda di depannya berinisiatif meminta maaf, Lia Siyu tersenyum dan menilai bahwa anak ini pasti anak baik-baik. "Tidak masalah." Daniel menghela nafas lega, dia memperbaiki sikap kemudian berkata, "Benar, saya adalah Daniel, seorang siswa SMK. Nyonya Lia Siyu, apakah anda benar-benar ingin bergabung dengan perusahaan saya?" Lia Siyu tersenyum kecil mendengar pertanyaan Daniel. Tentu saja Lia Siyu tak akan langsung bergabung dengan perusahaan yang ditawarkan Daniel. "Tentu saja saya akan bergabung dengan perusahaan Anda jika yang Anda tawarkan adalah hal menarik." Daniel tersenyum percaya diri mendengar ini. Tentu saja dia sangat yakin bahwa Sky Booster akan menarik perhatian Lia Siyu ini. "Baiklah, saya akan memberitahu Anda hal yang membuat anda menarik," Daniel berhenti sebentar, agar terlihat lebih menarik lagi apa yang dia sampaikan. Lia Siyu tersenyum melihat tingkah pemuda ini, ia hanya diam menunggu perkataan Daniel selanjutnya. Daniel merasa bahwa Lia Siyu tertarik pada apa yang ia sampaikan, kemudian ia melanjutkan dengan senyum percaya diri, "Sky Booster, itu adalah proyek pertama perusahaan saya yang telah selesai dikerjakan." Mata Lia Siyu cerah. Ia adalah salah satu pengguna Sky Booster. Dia sangat menikmati fitur yang disediakan oleh Sky Booster. Tak hanya optimasinya, tapi juga kecepatan internet, kelancaran operasi, virus yang mudah dibersihkan, dan banyak hal lainnya. Namun, ada satu kekurangannya, yaitu aplikasi ini hanya ada di ponsel android, tidak ada di sistem operasi komputer. Meskipun sedikit ragu dengan pernyataan Daniel, suaranya terisi dengan sedikit antusias, "Benarkah?" Daniel mengambil laptop yang ia bawa. Daniel sudah memperkirakan akan dipertanyakan seperti ini, juga dia akan mempresentasikan beberapa hal untuk Sky Booster di masa yang akan datang. Daniel tentu saja menyembunyikan mode virtual laptop. Itu adalah senjata di masa depan. Daniel menunjukan pekerjaan Red Queen pada Lia Siyu. Yang ditunjukan Daniel adalah Sky Booster bagian 15% optimasi. "Ini adalah apa yang saya lakukan," jawab Daniel. Lia Siyu terkejut melihat ini. Awalnya ia tak yakin bahwa anak muda di depannya akan membawa bisnis yang menarik. Setelah melihat ini, Lia Siyu semakin tertarik dengan anak muda di depannya. Ketenangan Lia Siyu kembali, ia bertanya, "Bagaimana dengan pengembangan lebih lanjut aplikasi ini?" Daniel mengambil kembali laptopnya, dan menunjukan PPT untuk presentasinya. "Saya akan menjelaskannya. Dalam dua bulan kedepan, saya akan membagi beberapa paket optimasi menjadi 5%, 20%, dan 30%. Kemudian 5% untuk pengguna gratis, 20% untuk anggota yang sudah membayar, dan 30% untuk anggota VIP. Saya akan merilis ini dua bulan kemudian. Dua hari lalu, saya merilis aplikasi ini di China. Untuk pasar Amerika Utara dan Eropa akan dimasuki 1 minggu kemudian. Saat optimasi telah mencapai 75%, saya akan membuat sistem operasi SkyOS. Ini akan diluncurkan dalam 6 bulan kedepan. Kemudian melakukan peningkatan secara perlahan. Yang dimulai dari segi kamera, sinyal, kemudian fitur lainnya. Tentu saja ini proyek lanjutan dari Sky Booster. Untuk Proyek lainnya, itu akan menjadi rahasia perusahaan." Daniel tersenyum, ia menjadi lebih percaya diri lagi. Lia Siyu lagi-lagi terkejut dengan ini. Siswa SMK didepannya mempresentasikan dengan baik, meski masih muda, dia bisa mempresentasikan ini dengan lancar dan baik. "Penyusunan rencana yang sangat bagus. Meskipun masih memiliki celah di dalamnya, saya tertarik untuk bergabung dengan perusahaan Anda." Lia Siyu berkata langsung. Ia memang sangat tertarik dengan proyek ini, juga dengan pemuda di depannya ini. "Oh, benar saja. Di mata pebisnis seperti Anda, rencana saya memang memiliki banyak celah. Baiklah, jika memang tertarik, saya sudah membawa kontrak di sini." Daniel menyerahkan kontrak yang telah ia susun sebelumnya kepada Lia Siyu. Lia Siyu membaca kontrak yang di tangannya. Isinya membuat Lia Siyu puas. Meskipun rencana yang dipresentasikan oleh Daniel itu memiliki celah, tapi kontrak yang ditulis oleh Daniel isinya kompleks. "Juga, bisakah Anda menjadi Presiden perusahaannya?" tanya Daniel. Daniel sadar pertanyaannya agak ambigu, jadi dia melanjutkan, "Oh, tentu saja Ketua perusahaan tetap saya. Saya akan mempercayakan Anda mengatur segala hal tentang bisnis. Sedangkan saya akan melakukan penelitian untik produk perusahaan saya kedepannya." Lia Siyu menatap dalam pada Daniel. Pemuda ini tidak tahu kenapa sangat mempercayainya. Apakah pemuda ini jatuh cinta padanya? Lia Siyu mulai mempertanyakan itu. "Apa alasan Anda mempercayai saya sebanyak ini?" tanya Lia Siyu dengan penasaran. Daniel tersenyum mendengar pertanyaan Lia Siyu, ia menjawab, "Tentu saja ada alasannya. Yang pertama, pengalaman Anda dalam mengurus bisnis perangkat lunak atau perusahaan teknologi sangat kaya. Kedua, tak ada catatan ''hitam'' dalam kehidupan Anda. Dan yang paling penting, 4 tahun lalu, aanda adalah dermawan yang menolong saya dan keluarga saya saat keluarga saya tak bisa membayar biaya kontrakan. Anda memberi kami rumah kecil yang sampai sekarang kami tinggali. Kakek juga sangat berterimakasih kepada Anda karena kebaikan anda yang menolong kami saat kesusahan. Karena itulah saya mempercayai aanda dan mengenali Anda sejak awal. Jika bukan Anda, saya tak akan mempercayai sebanyak itu." Lia Siyu yang mendengar ini seperti tersambar petir. Dia sangat tak menyangka bahwa pemuda di depannya adalah orang yang pernah dia tolong sebelumnya. Juga, pemuda ini sangat mengingatnya. Lia Siyu merasa malu karena mengira bahwa pemuda ini jatuh cinta padanya. Ternyata pemuda ini membalas budinya karena telah menolong keluarga pemuda ini saat-saat kesulitan. Lia Siyu juga tak menyangka bahwa kebaikan yang ia tanam akan menghasilkan kebaikan lainnya, baik untuk dirinya ataupun untuk orang lain. "Saya tak menyangka bahwa bocah itu adalah Anda. Terima kasih telah mempercayai saya sebanyak itu. Saya tak akan mengecewakan Anda." Lia Siyu langsung menandatangani kontrak. Adapun tentang alasan pertama dan kedua, dia tak peduli. Karena di era sekarang, jejak digital bisa dengan mudah ditemukan. Daniel juga sangat senang dengan Lia Siyu. Karena dia bisa mempercayai Lia Siyu sepenuhnya. Meskipun Daniel mempercayai Lia Siyu sepenuhnya, ia juga tetap memasang antisipasi. Daniel bukanlah orang bodoh yang mempercayai orang lain secara membabi buta. Manusia adalah makhluk yang sangat serakah, bahkan jika manusia itu adalah orang baik, jika ia bisa mendapatkan sesuatu yang menurutnya lebih menarik, maka ia bisa saja berkhianat. Kedua orang ini bersalaman kemudian makan bersama dan mengobrol mengenai hal perusahaan. Setelah selesai, Daniel ingin mengantarkan Lia Siyu pulang, tapi apa daya, dia tak mempunyai kendaraan. Malah sebaliknya, Lia Siyu yang mengantar Daniel karena Lia Siyu menggunakan mobil sport berharga ratusan juta rupiah untuk bertemu dengan bos barunya. Mengenai dana operasional, Daniel menyerahkan 2 Milyar rupiah pada Lia Siyu. Ia pikir ini cukup untuk gedung perusahaan, peralatan kerja, dan hal lain mengenai perusahaan. Dana pribadinya sendiri pun masih banyak di akun bank luar negerinya. Ia akan menyimpan uangnya di akun bank luar negeri sampai dia cukup untuk tampil di depan umum sebagai ketua perusahaannya kemudian dia akan mentransfer seluruh uangnya di bank dalam negeri. Saat sampai rumah, itu sudah pukul 7 malam. Daniel tak lupa membawa makanan untuk kedua adiknya. Ketika melihat makanan yang kakaknya bawa, Rika menatapnya dengan aneh, karena kakaknya jarang keluar rumah untuk ke restoran. Bahkan membawa makanan ke rumah. Dipastikan bahwa makanan ini adalah makanan mahal. "Kakak dari mana aja?" tanya Rika penasaran. "Oh, kakak dari Cafe''99 bertemu dengan seseorang," Daniel menjawab santai. "Apakah itu seorang wanita?" suara Rika semakin tajam. "Iya, benar sekali," Daniel merasa agak aneh mendengar pertanyaan Rika. "Apakah kakak yang bayar semuanya?" kali ini tatapan Rika semakin intens pada Daniel. "Oh, tentu saja aku yang membayarnya. Bagaimana pun juga, aku yang mengajak bertemu di sana," meskipun merasa aneh, Daniel tetap menjawab jujur. "Kakak! Kenapa Kakak bertemu seorang wanita tidak bilang-bilang padaku! Aku nggak mau Kakak disakitin lagi sama wanita nggak tau diri kayak Mitha itu," mata Rika memerah menahan amarah sekaligus kesedihan untuk kakaknya. Mendengar ini, Daniel ingin tertawa tapi juga merasa hangat di hatinya, adiknya mengkhawatirkannya sejauh ini. Daniel tersenyum kemudian mengusap rambut adiknya dengan lembut dan berkata, "Rika, yang Kakak temuin bukan seorang yang membuat Kakak jatuh cinta. Tapi, Kakak membicarakan bisnis padanya. Kamu akan tau nanti siapa wanita yang bertemu dengan Kakak." Rika sedikit tak mempercayai perkataan kakaknya, namun ia tetap mengangguk. Ia berkata dengan nada bercanda, "Baiklah, Kak. Kalau Kakak disakitin lagi, mending Kakak sama aku aja." Daniel cukup terkejut dengan pernyataan adiknya, ia pun bergurau, "Adikku ternyata adalah seorang brocon. Aku terharu dengan kebaikan adik perempuanku ini." Keduanya tertawa bersama. 18 Bab 18 : Tugas Kedua Sepekan telah berlalu. Daniel tak melakukan hal spesial dalam sepekan yang telah lalu. Meskipun di sekolah tak bisa kabur dari Kinar, Daniel menikmati waktu itu. Kadang makan bareng Kinar, kadang ke kantin bareng Bella, kadang juga ke perpustakaan bersama Silvia. Daniel mengetik kode kecerdasan buatan dengan lancar. Dia menghabiskan seluruh waktunya, kecuali untuk makan bersama adik-adiknya atau ketika ditelepon oleh Lia Siyu. Daniel juga telah menyerahkan urusan sepenuhnya pada Lia Siyu. Baik dari pendaftaran perusahaan, kepengurusannya, dan produk selanjutnya, sudah Daniel serahkan pada Lia Siyu. Hari ini adalah hari senin, dimana hari dilaksanakannya upacara bendera. Daniel berbaris di barisan kelas XI-B TKJ, di barisan paling belakang. Upacara bendera dengan khitmad dilaksanakan. Saat pengibaran bendera Merah Putih, seluruh peserta upacara menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saat bendera Merah Putih berkibar di puncak tiang bendera, Daniel merasakan kebanggan di hatinya. Setelah itu Daniel juga mendengarkan pidato mengenai perjuangan para pahlawan. Bangga dengan para pejuang yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan perjuangan yang mengorbankan nyawa, waktu, tenaga, dan material. Bangga dengan bangsa Indonesia yang bisa berdiri sendiri. Namun, suasana saat ini benar-benar menyayat hati. Sesama warga Indonesia saling memaki, menyalahkan satu sama lain, saling berkelahi karena alasan yang sepele. Banyak juga yang diadu dengan menggunakan isu suku, agama, ras dan antar golongan yang diluncurkan oleh pihak lain yang ingin menghancurkan negara ini. Daniel mengingat ini membuatnya ingin segera menghancurkan pihak lain yang menghancurkan bangsa ini hanya demi kepentingan pribadinya tanpa memikirkan rakyat Indonesia yang jumlahnya lebih dari 265 juta orang. Daniel tahu, otak dibalik semua ini adalah pihak yang ingin mengambil sumber daya alam yang ada di Indonesia dan menguasainya, yaitu pihak yang ada di luar Indonesia. Meskipun Daniel ingin segera menghancurkan otak dibalik semua kekacauan di tahun politik ini, tapi Daniel juga tak berdaya dengan pola pikir masyarakat Indonesia yang sangat mudah mempercayai sesuatu tanpa mengetahui kebenaran dibaliknya. Belum lagi ditambah dengan warganet yang ceplas ceplos asal ngomong tanpa fakta dan berkata tanpa berpikir panjang. Daniel berpikir, jika ingin mengubah ini, maka harus mengubah dari dasarnya. Dari pendidikan taman kanak-kanak sampai ke universitas. Mengajarkan moral pancasila dan menerapkannya di masyarakat nyata agar aman, damai, dan indahnya negeri ini. Dengan pikiran ini, Daniel mendapat tujuan baru. Yaitu, demi memajukan bangsanya sendiri, Bangsa Indonesia! Upacara bendera tak lama kemudian berakhir, Daniel tersadar dari pikirannya. Daniel segera kembali ke kelasnya, kemudian duduk dengan rapi menunggu guru masuk kelas. Hari ini adalah pelajaran Bahasa Indonesia, yang mengajar adalah guru baru, Bu Nia. Setelah upacara, murid diberi waktu 10 menit untuk beristirahat, selama waktu ini Daniel berkomunikasi dengan Red Queen mengenai perusahaan. Daniel sengaja memasang Red Queen di semua komputer untuk memeriksa keuangan di perusahaan. Selama masih ada internet, Red Queen bisa ada dimana-mana. Bu Nia memasuki kelas, seluruh mata siswa menjadi cerah. Karena lelah beridiri, mereka merasa segar kembali setelah melihat ibu guru cantik ini. "Selamat pagi, murid-murid. Apa kabar kalian semua?" tanya Bu Nia dengan ramah. "Baik bu," semua murid menjawab dengan semangat, terkecuali Daniel yang melihat ini merasa seperti di taman kanak-kanak ketika ibu guru menyapa. Melihat kekompakan seluruh kelas, ia pun ikut menjawab dengan suara pelan. Melihat ini, Bu Nia tersenyum cerah. Ia kemudian melanjutkan dengan memberi materi kepada murid-muridnya. Daniel tak memperhatikan materi yang disampaikan karena semua materi Bahasa Indonesia di SMK sudah dikuasainya. Daniel hanya bisa menulis cerita khayalannya di bukunya. Cerita yang Daniel tulis adalah cerita tentang pemuda dari kalimantan yang meninggal karena perjuangannya melintasi hutan kalimantan menuju tempat tinggal gadis yang ia temui saat masa liburan. Saat melintasi gunung, tak sengaja pemuda itu tergelincir dan meninggal dunia. Namun, Tuhan masih memberinya kesempatan dengan mereinkarnasikan jiwanya 100 tahun kemudian, namun dengan raga setengah robot alias cyborg. Dengan domain otaknya yang diperluas, Daniel dengan mudah menuangkan ide yang ada dikepalanya pada tulisannya, tanpa berhenti dia menulis. Daniel tak menyadari bahwa gerakannya diperhatikan oleh Bu Nia. Namun, Bu Nia hanya berdiam diri ketika melihat Daniel yang sibuk sendiri. Bu Nia merasa aneh dengan murid yang satu ini. Bu Nia menilai bahwa Daniel ini tak tertarik padanya meskipun cantik. Sebagai wanita, jika dipandang sebagai wanita cantik, dia akan sangat senang. Tapi, jika seseorang kurang ajar terhadap wanita cantik, wanita itu tak akan senang. Juga, jika seorang wanita cantik tak menarik perhatian seseorang, ia akan mempertanyakan kecantikannya. Wanita adalah hal paling rumit. Jam pelajaran berjalan dengan cepat, bel istirahat pun berbunyi. Saat istirahat, Kinar datang menjemput Daniel. Kinar membawa sesuatu yang ia bungkus dalam kain. "Daniel!" Kinar berteriak. Meskipun bel istirahat sudah berbunyi, di kelas, seorang guru masih sedikit memberi sedikit materi. Teriakan Kinar membuat pusat perhatian tertuju padanya. Daniel menggelengkan kepalanya melihat adegan ini, terasa sedikit lucu baginya. Kinar yang biasanya terlihat elegan, dingin dan berwibawa, saat ketemu dengan Daniel, dia terlihat 180 derajat berbeda dengan sikap sebelumnya. Banyak siswa terkejut dengan ini dan merasa kecewa. Bu Guru juga melihat Kinar dengan sedikit aneh. Tak biasanya Kinar terlihat seperti ini. Di matanya, Kinar anak yang sopan, berwibawa, kalem, dan kelihatan dingin. Namun, kali ini berbeda. Kinar juga malu karena berteriak saat masih ada guru mengajar. Ia dengan malu berkata, "Maaf, Bu. Silahkan dilanjut mengajarnya." Setelah itu, Kinar berdiri di samping pintu menunggu Daniel. Ibu guru yang sedang mengajar hanya menggelengkan kepalanya, ia melanjutkan, "Baiklah, pelajarannya sampai disini saja. Silahkan kalian istirahat," Bu guru berhenti sebentar, ia menatap Daniel, "Daniel, buruan keluar, nggak baik buat cewek nenunggu." Daniel hanya menatap kosong pada Bu guru di depan kelas. Ia menjawab singkat dan kemudain berjalan keluar, "Baik bu." Yudhistira melihat ini dengan kesal. Sementara Bella dan Silvia merasa sedikit rasa sakit di hati mereka. "Max, sejak kapan Daniel sepopuler ini?" Regi bertanya dengan penasaran. "Mungkin, sejak negara api menyerang?" Max menjawab dengan sedikit konyol. "Kau kira Daniel avatar!" "Dia bukan avatar, tapi dia Aang." Max dan Regi tertawa bersama. Meskipun jarang mengobrol dengan Daniel, tapi keduanya tahu seberapa sibuk Daniel setelah pulang sekolah. Daniel pergi mendatangi Kinar. Daniel dengan tersenyum melihat Kinar yang wajahnya memerah, lalu berkata, "Selamat siang, Kinar." Kinar melihat ke arah sumber suara, dia melihat Daniel yang sedang tersenyum. Seketika dia menjadi kesal karena ekspresi Daniel, "Kamu! Ini semua gara-gara kamu!" Dengan kesal Kinar memukul Daniel. Daniel tak merasakan rasa sakit, perhatiannya tertarik pada bungkusan kain yang dibawa Kinar. "Kinar, apa yang kamu bawa?" Kinar menjawab, "Rahasia! cepat ikuti aku!" "Tunggu. Aku mau ambil kotak makan siangku dulu," Daniel dengan cepat berbalik ke kelas dan mengambil kotak makan siangnya. Kinar menunggu dengan menundukan kepalanya. Ia merasa malu dengan kejadian tadi. Tak lama bagi Daniel untuk mengambil kotak makan siangnnya, "Yuk pergi." Kinar tak menjawab, ia hanya mengikuti Daniel dari belakang. Tempat yang dituju keduanya adalah di belakang gedung sekolah, tempat Daniel biasanya makan siang. Sampai di belakang gedung sekolah, Daniel bertanya pada Kinar dengan penasaran, "Kinar, apa yang kamu bawa itu?" Kinar tersenyum, ia berkata, "Ini kotak bekalku. Kamu mau?" Daniel menggelengkan kepalanya dan berkata, "Itu makanan kamu. Aku punya makananku sendiri. Kita sebagai manusia..." Kinar memutar matanya, Daniel ini sering berakting saat bersamanya. Kinar memotong ceramah Daniel, "Akting terus, sejak kapan kamu sebego ini? Ya saling tukar makanan lah." Daniel tertawa, "Kalo makananmu gak enak gimana?" Kinar berkata dengan sedih, "Ini masakanku sendiri. Kamu belum makan aja sudah bilang gak enak. Apa memang aku gak bakat masak, ya?" Daniel merasa bersalah. Ia hanya bercanda dengan Kinar, tapi candaannya kali ini melewati batas. "Nggak kok, Kinar. Aku hanya bercanda. Sini kotak makan siangmu, Ini kotak makan siangku. Kamu makan gih, rasanya pasti enak!" Keduanya saling bertukar kotak makan siang. Daniel dengan cepat membuka kotak makan siang buatan Kinar. Daniel melihat isi kotak makan siang dan isinya sedikit gosong. Dari telur goreng, ikan, dan sayur gorengnya. Daniel tersenyum nelihat ini, Daniel segera makan dengan lahap makanan yang dibuat oleh Kinar. Meskipun ada rasa sedikit pahit dan sedikit keasinan, Daniel tetap memakannya dengan lahap. Kinar yang melihat ini, langsung tersenyum cerah. Ketika seorang wanita memasakkan makanan untuk lelaki, pasti itu dibuat dengan sepenuh hati. Wanita akan merasa sedih jika makanannya tak sesuai dengan selera lelaki yang ia berikan makanan. Oleh karena itu, lelaki harus berkata enak jika seorang wanita memasakkannya makanan, meskipun tak enak di lidah rasanya. Kinar juga memakan masakan Daniel, ia berkata, "Daniel. Ini masakanmu? Enak banget makanannya!" Daniel terbatuk, ia mengambil air minum dan menjawab sambil tersenyum, "Iya, itu masakanku. Masakanmu juga enak kok." "Kamu gakpapa?" tanya Kinar dengan khawatir. "Gakpapa kok. Aku tadi makannya terlalu cepat, makanya tersedak," Daniel menjawab dengan alasan yang masuk akal. Sebenarnya alasan Daniel tersedak selain keasinan adalah karena pemberitahuan sistem yang tiba-tiba. Pemberitahuan ini adalah tugas kedua. "Memicu tugas acak!" Melihat Daniel masih terbatuk, Kinar kemudian bertanya, "Beneran kamu baik-baik aja?" "Benar," Daniel menjawab, setelah berhenti sebentar, ia kemudian berkata dengan serius, "Kinar, aku mau ngomong sesuatu." "Apa itu?" Kinar bertanya dengan sedikit tertarik. 19 Bab 19 : Menjadi Koki Pribadi "Kinar," Daniel menatap lekat Kinar. "Aku mau ngomong sesuatu." Daniel berkata dengan serius. "Apa itu?" Kinar bertanya dengan sedikit tertarik. Daniel menarik nafas dalam-dalam, kemudian menatap Kinar dengan penuh tekad. "Maukah kau merasakan masakanku selama sepekan?" Ketika pertanyaan Daniel selesai, Kinar merasakan seperti jatuh dari langit. "Bego!" Kinar berteriak pada Daniel. Daniel tertawa dan bertanya sembari menggoda Kinar, "Hei, di bagian mana aku begonya? Ini aku bertanya serius. Aku jadi koki pribadimu selama sepekan kedepan. Aku yang akan memasakkanmu makanan, mulai dari sarapan, makan siang dan makan malam selama sepekan. Mau atau nggak?" Kinar memukul Daniel dengan tinju kecilnya. Wajahnya memerah, "Bego! Daniel bego!" Daniel mengangguk, ia berkata, "Baiklah, kamu setuju. Aku akan mulai masak saat pulang sekolah nanti, mau mampir ke rumah?" "Kapan aku menyetujuinya!?" Kinar berteriak dengan wajah sedikit mengeluh. "Oke, nanti pulangnya ikut aku ke rumah. Tapi, sebelum itu, kamu ikut aku ke pasar, mau?" "Hei! Kamu memutuskannya sendiri! Kapan aku menyetujuinya?" Kinar tak tahan lagi untuk meninju-ninju tubuh Daniel. "Oke-oke. Jadi, kamu mau atau nggak?" Daniel bertanya dengan nada serius. Mendengar ini, Kinar merasa kalau dia tak menjawab, maka kesempatan ini akan hilang. Kinar mengangguk dan bersuara lirih dengan wajah merona merah, "Hm." Daniel melihat ini tertawa terbahak-bahak. Ketua osis yang dikenal dingin kini malu-malu di depannya. Daniel mulai mempertanyakan apakah ia mempunyai pesona semacam ini. Keduanya makan dengan cepat, kemudian kembali ke kelas masing-masing. Alasan mengapa Daniel memasakkan Kinar adalah karena tugas dari sistem. Apa tugas dari sistem? "Tugas : Memasakkan Kinar. Memasakkan makanan yang bisa membuat Kinar berkata ''enak'' selama seminggu, yaitu untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Syarat : Kinar mengatakan ''enak'' di setiap sesi makan. (0/21) Hadiah : Exp 50%, Undian 1x, Jam Tangan Pintar. Hukuman : Menghapus Red Queen dan semua produk yang diciptakan Red Queen, Mengambil Laptop NeptuX, Menghapus keberadaan System Technology and Superpower dan meledakkan otak host. Waktu tersisa : 7 hari, 11 jam, 39 menit." Daniel tahu konsekuensi ini, ia tak masalah bagaimana dihapusnya Red Queen, laptop, ataupun hilangnya Sky, yang ia paling takutkan adalah otaknnya meledak dan kehidupannya akan berakhir. Bahkan jika semuanya hilang selain kehidupannya, Daniel akan berusaha memulainya dari bawah lagi. Daniel memasuki kelas, tapi saat memasuki kelas, ia merasakan ditatap dengan tajam. Orang yang menatapnya dengan tajam adalah Bella, Silvia, dan Yudhistira. Tentu saja murid lain menatapnya namun tak setajam tatapan mereka bertiga, malah ada yang menatap Daniel dengan tatapan mengejek. Orang yang menatap seperti itu adalah Max dan Regi, kedua sahabatnya ini. "Kalian mengejekku!" Daniel langsung mendatangi mereka berdua. "Nggak kok, Daniel. Kita mah nggak ngejek, cuma penasaran." Regi menjawab. Daniel memutar matanya, ia tahu kalau keduanya ini pasti akan mengejeknya. Ia kemudiam bertanya, "Apa yang bikin kalian penasaran?" Max bertanya, "Apa yang kau lakukan dengan Kinar?" Daniel menjawab singkat, "Hanya makan." Regi kemudian lanjut bertanya, "Apa yang kalian makan?" Max menatap Regi dengan cemoohan, ia berkata, "Kau tidak tau apa yang mereka makan?" "Memangnya apa?" tanya Regi. Max mengambil nafas dalam-dalam kemudian berdaham, kemudian, "Sayur koool, Sayur koool, Daniel sama Kinar makan nasi dengan sayur kol." Max mengatakannya dengan nada lagu. Sontak saja ketiganya tertawa keras. Belum lagi nyanyian Max suaranya sedikit keras, hingga murid yang lain pun tertawa. "Ada-ada aja nih anak," Daniel mengejek Max sambil tertawa. Tak lama kemudian bel berbunyi. Namun, mereka masih tertawa. Tetapi, setelah Pak Barudi masuk, kelas senyap seketika. Entah takdir apa, seorang siswa yang melewati kelas 11-B TKJ bernyanyi dengan keras, "Sayur koool, sayur koool, makan daging sehat dengan sayur kol." Semua murid dikelas 11-B TKJ tertawa lagi. Mendengar tertawaan murid kelas 11-B TKJ, siswa itu cepat-cepat pergi. Sementara itu pak Barudi yang hanya diam saja, kemudian berdaham dan seruluh kelas menjadi sunyi. Pak Barudi memulai pelajaran dengan tenang. Pelajaran Matematika berlanjut dengan lancar. ... Bel pulang berbunyi, Daniel buru-buru pulang dan menunggu Kinar di gerbang. Tak lama kemudian, Kinar muncul. "Hei, udah lama nunggu ya?" tanya Kinar. "Udah lama banget, setahun yang lalu!" jawab Daniel dengan nada mengeluh. "Is, udah ah aktingnya. Yuk buruan ke pasar," Kinar langsung menarik Daniel dan memimpin jalan. Daniel berhenti kemudian bertanya pada Kinar, "Enangnya kamu tau dimana letak pasarnya?" "I-itu, aku taulah!" Daniel menyipitkan matanya dan kembali bertanya, "Apa kau yakin?" "Te-tentu saja yakin," Kinar menjawab dengan gagap. Daniel kemudian tertawa, ia berkata, "Daripada kesasar, mending ikutin aku aja. Apa kamu udah bilang sama tukang jemput kamu?" "Gak, aku udah bilang tadi pas abis makan. Tapi, kamu enak banget bilang itu tukang jemput, itu namanya sopir pribadi tau," Kinar memprotes perkataan Daniel. "Yaudah, itu sama aja, emangnya beda?" "Ya bedalah." "Emangnya apa bedanya?" "Ya bedanya itu..." "Mikir nih mikir," Daniel tertawa sambil mengejek Kinar. "Tau ah, biarin," Kinar langsung berjalan cepat meninggalkan Daniel yang tertawa. "Yakin nih arahnya ke sana?" Daniel bertanya dengan tawanya. "Eh, yaudah. Kamu aja yang mimpinnya," Kinar berkata dengan kesal. Daniel hanya terkikik dan memimpin jalan. Pasar agak jauh dari sekolah, mereka berdua naik taksi saat sampai di jalan raya. Taksi yang dinaiki adalah Taksi Online yang sebelumnya sudah dipesan oleh Daniel. Keduanya sampai di pasar dan langsung menuju area sayuran. Daniel sudah akrab dengan pasar ini, dia juga akrab dengan beberapa penjual di area sayuran. "Bibi, beli kangkung dua ikat, terus bawang putihnya setengah kilo," Daniel memilihnya dengan cermat. "Nak Daniel, tumben bareng cewek selain adeknya," tanya bibi penjual sayur. "Mungkin itu pacarnya Daniel," sambut penjual lainnya. Wajah Kinar merona merah. Ini kali pertamanya dia ke pasar bersama anak laki-laki dan juga yang aktif membeli bukanlah dia tapi Daniel, yang membuatnya agak malu. "Bibi mah bisa aja. Ini kakak kelas di sekolah, Bi. Kebetulan diajak mampir ke rumah buat makan bareng. Makanya ke sini beli sayur sekalian," jawab Daniel sambil memperhatikan sayuran di tempat pedagang lain. "Nak, kamu beruntung ketemu Daniel ini. Dia sering ke pasar, Pagi-pagi sering kesini, rajin juga. Pokoknya gak salah deh," kata bibi penjual sayur bak seorang ibu menawarkan anaknya kepada anak perempuan. "Daniel serajin itu, Bi?" tanya Kinar dengan tak percaya. Daniel hanya tertawa dan memilih sayuran lain. "Beneran, Nak. Tak pernah bibi melihat anak rajin seperti dia. Kalo kamu lepasin, pasti kamu nyesel nantinya," bibi berkata dengan senyuman. "Baik, Bi," Kinar mengangguk saja. "Ini semuanya berapa, Bi?" tanya Daniel yang telah memilih banyak sayuran. "Semuanya 50 ribu rupiah," kata bibi penjual sayur setelah menghitung semuanya. Daniel menyerahkan uang lalu mengucapkan terima kasih. Ia juga membayar sayuran yang dia ambil di lapak sebelah bibi penjual sayur. Daniel dan Kinar pergi ke area ikan dan daging, membeli ikan mas dan ayam, semuanya menghabiskan hampir 200 ribu rupiah. Namun, demi menyelesaikan misi dan memuaskan perut Kinar, Daniel rela menghabiskan uang. Setelah semuanya terbeli, Daniel dan Kinar pulang menuju rumah Daniel menggunakan Taksi Online. Saat sampai di rumah Daniel, Kinar merasa bersalah. Rumah Daniel agak kecil, tapi terlihat sangat bersih. Keduanya turun dari Taxi, Daniel kemudian membayar harganya. Daniel membawa belanjaan dan berjalan ke rumah. Ketika belum sampai ke pintu, Rika sudah membuka pintu. "Kakak, kenapa kamu pulang lama sekali?" 20 Bab 20 : Tugas Selesai Rika senang melihat Daniel datang, kemudian ekspresinya berubah ketika melihat seorang perempuan di samping kakaknya. Tapi, dengan cepat kembali tersenyum. "Kak, siapa dia?" tanya Rika. Daniel tak terlalu memperhatikan ekspresi Rika, ia menjawab dengan enteng, "Dia adalah ketua osis di sekolah Kakak, namanya Kinar. Kebetulan dia pernah menolong Kakak, jadi Kakak bawa ke sini untuk makan bareng. Kakak telambat karena ke pasar dulu buat beli bahan-bahan untuk masak. Kamu masuk dulu gih, ajak kak Kinar ke dalam. Kakak akan masak dulu." Daniel menoleh ke Kinar, ia berkata, "Kinar, masuk bareng Rika. Dia salah satu Adek kembarku. Masuklah." "Halo." Rika menyapa Kinar dengan sopan. "Halo juga." Kinar membalasnya dengan sopan pula. Keduanya masuk ke ruang tamu, sedangkan Daniel langsung ke dapur. Kinar duduk setelah Rika mempersilahkan duduk. Bagaimanapun, ini pertama kalinya ia ke rumah seorang siswa laki-laki seorang diri. Kinar melihat-lihat sekeliling rumah, ia terkejut karena rumah Daniel jauh lebih kecil daripada yang ia perkirakan. "Ternyata desas-desus tentang Daniel murid miskin itu benar adanya," pikir Kinar. Tak lama kemudian, Rika datang membawakan segelas air putih dan berkata, "Maaf, hanya ada air putih saja." Kinar mengambil gelas dan meminumnya, air putih ini cukup untuk melepaskan dahaganya. Kinar kemudian berkata, "Nggakpapa kok." Rika kemudian duduk dan segera bertanya secara langsung, "Apa hubunganmu dengan kakak?" Mendengar ini, Kinar tertegun, ia menatap adik Daniel, kemudian terkikik dan berkata, "Langsung tanya ke intinya tanpa basa-basi. Hubunganku sama kakakmu seperti teman biasa kok. Lagian, aku juga baru-baru ini lebih kenal dengan kakakmu." Rika mengangguk, "Jarang-jarang kakak bawa teman biasa ke rumahnya. Apalagi cewek. Hanya satu orang yang pernah dia bawa ke sini." Kinar segera tertarik, ia langsung bertanya, "Siapa orang itu?" Melihat wanita cantik di depannya ini, Rika tak menjawab langsung, ia menjawab dengan sedikit nada amarah, "Hanya seorang yang tak berperasaan." Meskipun penasaran, Kinar tahu bahwa ia tak boleh melewati batas. Melihat bahwa Rika tak akan memberitahunya sepenuhnya, ia hanya bisa menyerah saat ini. Kinar berpikir, jika ia ingin mendekati Daniel, maka dekati dulu adik perempuannya. Adik perempuan ini sangat defensif, Kinar memikirkan rencana bagaimana bisa dekat dengan adik Daniel ini. "Jangan bicara tentang hal ini. Ini hanya membuatmu marah. Mungkin topik lain lebih menarik. Misalnya, Daniel sering banget ya kerja?" Rika mengangguk lagi, ia menghela nafas dan berkata dengan sedih, "Kakak memang sering kerja, tapi akhir-akhir ini sering di dalam kamar. Semenjak hari pertama masuk sekolah, dia sering berdiam diri di kamar, jarang keluar rumah. Aku sering khawatir tentang kakak kalau dia tak kelaur rumah." Kinar mendengar ini tentu saja terkejut. Ia tahu bahwa hari pertama masuk sekolah adalah hari pertama dia bertemu dengan Daniel dan hari dimana dia mulai tertarik dengan Daniel. Dia bertanya-tanya, apakah karena perkelahian dengan Yudhistira membuat Daniel seperti ini? Kinar dengan cepat menceritakan bagaimana dia menolong Daniel kepada Rika. Sementara itu di dapur. Daniel sedang membersihkan ikan. Ia membelah perut ikan mas, kemudian mengeluarkan seluruh isi perut ikan. Daniel membelahnya hingga setengah, seperti tampilan ikan asin. Ia membumbui dengan garam dan asam jawa, kemudian mendiamkannya sebentar. Dia menyalakan kompor, kemudian menuangkan minyak goreng di wajan. Sambil menunggu minyak goreng panas, Dia juga menyiapkan wajan lain untuk menumis kangkung. Selain itu juga, dia menyiapkan bawang putih, bawang merah, sedikit cabai, dan tomat, kemudian memasukkan mentega. Menunggu sampai mentega meleleh, ia menumis Bawang merah, bawang putih dan cabai bersamaan. Bau harum masakan tercium, ia kemudian memasukkan kangkung yang telah ia cuci dan potong sebelumnya, lalu mengaduknya hingga rata. Sambil mengaduk, Daniel merasa bahwa minyak goreng di wajan sebelah sudah panas. Ia menasukkan tiga ikan secara bersamaan. Ikan masnya tidak besar, seukuran telapak tangan Daniel. Setelah memasukkan ikan ke wajan di sebelah, Daniel memasukkan gula, garam, tomat, dan penyedap rasa kaldu ayam, lalu mengaduknya lagi. Setelah beberapa menit mengaduk, tumis kangkung sudah masak. Daniel memasukkannya ke dalam mangkuk besar. Sementara menunggu ikan tergoreng sepenuhnya, Daniel kemudian menyiapkan masakan lain. Masakan selanjutnya adalah Ayam Kecap. Daniel sudah memotong ayam hingga selusin potongan. Ia kemudian melumuri ayam mentah tersebut dengan jeruk nipis dan garam, kemudian mendiamkannya beberapa menit. Ikan mas kini merwarna kuning keemasan yang menandakan akan matang. Daniel menyiapkan sebuah piring besar, setelah waktu yang singkat, Daniel mengangkat ikan tersebut kemudian meniriskan minyak goreng pada ikan. Menunggu beberapa menit, ayam sudah siap untuk dimasak. Pertama-tama, Daniel menggoreng ayam, setelah beberapa menit, Ayam pun matang, kemudian ditiriskan. Ia kemudian menumis bawang merah dan bawang putih sampai harum, memasukkan bawang bombay dan jahe. Ia menumis kembali hingga harum dan berwarna kecokelatan. Daniel memasukkan kecap manis, saus tomat, kecap asin, merica bubuk, dan gula pasir. Selanjutnya ia menuangkan air dan menumis beberapa saat. Lalu memasukkan daun kucai, kemudian menumis kembali beberapa saat. Terakhir, ia memasukkan ayam goreng ke dalam bumbu kecap. Tumis hingga bumbu meresap dan perlahan-lahan terkaramelisasi. Daniel juga menggoreng tempe dan tahu. Akhirnya, selesai juga memasak. Daniel menyiapkan semua masakan di atas meja makan. Lalu menyiapkan alat makan di atas meja makan. Daniel berjalan menuju ruang keluarga, ia melihat Rika dan Kinar sangat akrab. Dia terlihat aneh, perempuan begitu cepat akrab. Ia kemudian memanggil mereka, "Rika, Kinar, ayo makan. Masakannya sudah siap." Keduanya berhenti berbicara, kemudian akhirnya menyadari ada bau harum tercium. Rika jadi bersemangat, ia dengan cepat menjawab, "Oke kak." Kinar hanya mengikuti di belakang. Daniel pergi ke kamar Raka, ia menggedornya dengan kuat. "Raka! Makan dulu, jangan push rank mulu." "Bentar kak, tinggal 1 turret aja lagi kak." "Cepetan, kakak masak makanan favorit kamu nih." Tiba-tiba, pintu terbuka. "Beneran kak?" tanya Raka dengan mata berbinar. "Tentu saja. Ada ayam kecap dan tumis kangkung kesukaanmu. Ayo makan." "Ayo!" Raka melempar ponselnya ke kasur dan pergi ke ruang makan dengan semangat. Daniel menggeleng-gelengkan dengan kelakuan Raka ini. Daniel juga menyusul ke ruang makan. Awalnya, Raka terkejut melihat gadis cantik di meja makan bersama Rika, tapi setelah penjelasan Rika, ia langsung menjadi jaim dan menampilkan sosok sok kerennya. Daniel hanya tertawa melihat ini. Keempatnya kemudian makan. Awalnya Kinar hanya makan sedikit, tapi setelah merasakan masakan Daniel, ia makan tanpa memikirkan tampilannya sendiri. Selain Daniel, ketiganya makan dengan sangat lahap. Selama sepekan, Daniel memasakkan untuk Kinar dan yang lainnya juga, selama itu juga banyak masakan enak ada di meja makan di rumah Daniel. Di hari rabu, Silvia berkunjung ke rumah Daniel, dia menemukan bahwa ada Kinar juga di sini. Ia menjadi waspada. Ketika Silvia ke rumah, Rika dan Raka juga senang. Keduanya sudah lama tak bertemu Silvia. Di hari jum''at, Bella juga ke rumah Daniel bersama Silvia. Suasana di rumah jadi ramai selama seminggu. Daniel menyelesaikan tugasnya setelah memberikan sarapan pada Kinar. Akhirnya Daniel bernafas lega. Ini bukan tentang hadiah, tapi tentang bagaimana hukumannya jika dia tak bisa menyelesaikan tugasnya. Suara robot mekanis terdengar. "Tugas Selesai." "Selamat, Host mendapatkan Exp 50%." "Selamat, Host mendapatkan Jam Tangan Pintar." "Selamat, Host mempunyai kesempatan untuk memulai 1x undian." 21 Bab 21 : Jam Tangan Pintar Ketika mendengar notifikasi dari sistem, Daniel menahan kebahagiannya. Namun, tetap saja perasaan bahagianya tak bisa tertutupi secara sempurna. Dia dengan semangat mendengarkan penjelasan guru hingga membuat guru dan murid lain menjadi heran. Ia tak peduli itu, yang ia pedulikan adalah hadiah dari tugas sebelumnya. Waktu berlalu dengan cepat, bel pulang pun berbunyi. Daniel dengan kecepatan tercepatnya pulang ke rumah dan segera masak untuk kedua adiknya. Apa yang Daniel masak adalah nasi goreng, tempe dan tahu goreng. Setelah itu dia masuk ke kamar. Di dalam kamar, Daniel segera menutup jendela, kemudian membuka penyimpanan sistem dan menemukan jam tangan disana dan sebuah chip berukuran sangat kecil yang tak diperhatikannya. Jam tangan ini menyerupai jam tangan di Bumi, tapi bukan merk mahal seperti jam tangan merk Rolex yang mewah dan mahal, jam tangan ini kelihatan seperti jam tangan ratusan ribu rupiah, sekelas dengan jam tangan mid-end lainnya. Tampilannya sangat stylish, dengan warna abu-abu yang dipadukan dengan warna hitam, sesuai dengan warna favoritnya. Strap yang digunakan adalah strap jenis baru. Ia tak tahu bahan jenis apa ini dan juga, tak ada clasp buckle-nya sehingga ia bingung bagaimana memakainya. Daniel mencoba menggunakannya seperti menggunakan gelang, tapi ketika ia mencoba, strap jam tangan secara otomatis terbuka, kemudian otomatis terkunci ketika digunakan di tangan. Jam tangan ini juga menyesuaikan besarnya sesuai dengan besarnya tangan. Setelah terpasang, Daniel bingung bagaimana menggunakannya. Ia memutar jam tangan itu berulang-ulang, hanya saja tidak mengerti bagaimana menggunakan jam tangan pintar ini. Jam tangan pintar terletak di tangannya, meski sudah mendapat laptop NeptuX, jam tangan ini lebih canggih, sehingga sangat sulit menggunakannya. Daniel menekan tombol yang ada di jam tangan. "Ding!" Suara dering misterius terdengar. "Ya Tuhan!" Daniel terkejut ketika suara dari jam tangan terdengar. Dalam kegelapan kamar, layar holografik virtual muncul di udara di atas jam tangan, sehingga melayang di udara. Layar holografik virtual yang muncul tiba-tiba membuatnya takut. Dia berjongkok dari keadaan duduknya. Meskipun sudah melihat layar holografik virtual, ia masih terkejut ketika melihatnya dari jam tangan. "Sistem dimulai ... otomatis mencocokkan bahasa ... bahasa Indonesia ..." Daniel yang duduk melihat layar holografik virtual dan menemukan logo aneh. "Mungkin itu logo perusahaan," pikir Daniel. Ia kemudian mencoba menyentuh layar holografik virtual. "Jangan menyentuhnya selama sistem dimulai." Daniel terkejut lagi dan langsung menarik tangannya. "Siapa yang berbicara?" Namun tak ada yang menjawab. Daniel mengira kalau jam tangan ini mempunyai kecerdasan buatan. Daniel penasaran dengan kode kecerdasan buatan di dalam jam tangan pintar. Ia menunggu hingga sistem selesai dimulai. "Selamat datang, Jam Tangan Pintar IDN-1708 siap melayani anda!" Teks salam muncul di layar holografik virtual menggunakan bahasa Indonesia. "Bisakah kamu mendengarku?" tanya Daniel dengan penasaran sambil menatap ke arah jam tangan. Suara terdengar lagi. "Mendeteksi ... Menemukan ... Memindai iris mata ..." Jam tangan mengaktifkan kamera dan segera mengunci pada iris mata Daniel. "Pemindaian selesai." Suara kembali terdengar. "Tuan, tolong teteskan darah anda." Daniel terkejut lagi, ia segera menggigit jarinya. Darah pun keluar dan ia meneteskannya pada layar. Darah pada layar segera menghilang, segera suara kembali terdengar. "Pemindaian DNA telah selesai." "Selamat siang, Tuan. Saya adalah kecerdasan buatan dari Planet Rupiya-1945. Nama saya adalah Artifisal-0110." Daniel tersenyum senang. Ia mendapatkan Hadiah yang canggih lagi. "Selamat siang, Artifisal-0110. Bisakah aku mengubah namamu?" "Bisa, Tuan." Setelah mendengar jawaban dari Artifisal-0110, Daniel segera memikirkan nama yang cocok untuknya. "Hmm ... 0110, ini seperti tanggal 1 Oktober. Jadi, nama yang cocok untuknya adalah Oktovia, jadi kupanggil Via. Halo, Via!" "Halo, Tuan. Saya Via siap melayani anda." "Jadi Via, bisakah aku melihat kode sumbermu?" tanya Daniel. "Tentu, Tuan." Setelah Via menjawab, layar holografik virtual bergulir dengan cepat. Daniel kualahan melihatnya. "Berhenti, Via. Lain kali aku akan melihat kode sumber kecerdasanmu," kata Daniel. "Baik, Tuan," jawab Via. "Aku akan menelusuri firur jam tangan ini, jika ada sesuatu, aku akan memanggilmu," kata Daniel yang sedang bergembira. "Baik, Tuan." Setelah menjawab Daniel, Via segera menghilang. Daniel menelusuri antarmuka layar holografik virtual dan menemukan bahwa ada banyak aplikasi pada jam tangan, tetapi versinya sangat menakutkan, dan banyak versi telah diperbarui. Jika bukan karena layar holografik, dia pikir itu jam tangan pintar biasa! Namun, itu mungkin karena pertama kali digunakan, ada beberapa aplikasi di jam tangan pintar, itu adalah beberapa perangkat lunak dasar, kebanyakan saat ini tersedia. Dia juga menemukan browser di jam tangan pintar, ketika dia membukanya, dia menemukan bahwa tidak ada jaringan. Kemudian ia membuka antarmuka pengaturan, dan menemukan bahwa masih ada jaringan 15g, yang merupakan teknologi komunikasi jaringan generasi kelimabelas, untuk sekedar informasi bahwa sekarang 4g beredar luas dan 5g masih dalam tahap pengujian. Dia melihat bahwa tak ada jaringan, ia kemudian mencari-cari slot kartu sim, namun tak menemukannya. "Bagaimana memasukkan kartu simnya?" Ketika Daniel berpikir, sebuah suara terdengar. "Hei Daniel, apa yang kau pusingkan?" Daniel terkejut, ia segera menjawab, "Ini Sky, aku bingung jam tangan ini tak ada slot kartu simnya. Apakah kau tau?" "Hanya ini? Karena aku berbaik hati, aku akan memberimu kartu simnya. Periksa sistem penyimpananmu," Sky berkata dengan mencemooh Daniel. Daniel segera memeriksa sistem penyimpanan dan segera menemukan chip yang sangat kecil. Dia memegangnya dengan hati-hati dan segera bertanya pada Sky, "Ini kartu simnya? Aku rasa ini sudah ada dari tadi. Ini bukan pemberiammu!" Sky tertawa terbahak-bahak, "Ini adalah hadiah dari sistem. Tentu saja dariku!" Daniel memutar matanya dan mengabaikan Sky. Ia segera memanggil Via. "Via, Bagaimana menaruh kartu sim ini?" "Tuan, sebuah slot akan segera muncul. Anda hanya perlu mendekatkan pada jam tangan pintar dan jam tangan pintar akan mengaturnya sendiri." Setelah jawaban Via, sebuah slot muncul kemudian Daniel memasang ke slot itu dan otomatis diperbaiki posisinya. Setelah kartu sim dimasukkan, suara notifikasi muncul di jam. "Kartu Sim telah dimasukkan." "Selamat, kartu sim internet edisi terbatas! Gunakan internet tanpa batas dengan jaringan 15g." "Ini..." Daniel terkejut dengan notifikasi dari jam tangan pintar. Daniel kemudian mencoba berselancar di internet dan sangat kencang internetnya. Selain itu, Kinerja jam tangan pintar ini sangat tinggi dan responnya sangat cepat. Setelah beberapa saat, ia menjadi terbiasa dengan jam tangan pintar ini. Dia kemudian menelusuri jam tangan pintar, dia menemukan bahwa penyimpanan jam tangan pintar 10 exa byte, kurang lebih 10 miliyar giga byte. Ia hanya bisa menghela nafas. Selain itu, Daniel juga menemukan bahwa jam tangan pintar ini bisa digunakan sebagai komputer, bisa juga sebagai ponsel setelah membaca manusia menggunakan jam tangan pintar. Dan juga ada dua game komputer, satu aplikasi komputer, empat game ponsel, dan dua aplikasi ponsel. Untuk game komputer, ukuran gamenya melebihi 30 tera byte. Sedangkan game ponsel melebihi sepuluh gygabyte. Semuanya belum pernah dilihat olehnya. Selain hal itu, ada banyak aplikasi lain yang tak bisa mendapatkan reaksi. Mungkin karena masalah server. Dia yakin bahwa aplikasi yang ada di jam tangan pintar tidak ada di bumi saat ini. Daniel menghela nafas, kemudian berkata, "Teknologi ini sangat maju. Tidak hanya layar holografik virtual, tetapi juga nanoteknologinya, dari nanochip, juga perangkat lunak, permainan, kecerdasan buatan dan berbagai hal lainnya. Sungguh beruntung mendapatkan hadiah ini." Dia berhenti menelusuri, ia akan menelusuri saat waktu luang nanti. Saat ini, ia perlu mengetahui kode sumber dari kecerdasan buatan Via yang membuatnya penasaran. Belum lagi proyek kecerdasan buatan maju yang dibutuhkannya. Setidaknya, ia membutuhkan kecerdasan buatan seperti Skynet yang bisa mengendalikan Dunia. Saat ini, perhatian Daniel tertuju pada undian yang diberikan sistem. Ia memilih untuk menggunakannya. "Mulai Undian!" "Dragon Ball" Universe - Teknologi Pembuatan Capsule. "Marvel" Universe - Serum Prajurit Super. "DC" Universe - Batmobile. "Frix" Universe - Teknologi Penerapan Graphene. "Griload" Universe - Teknologi Pembuatan Printer 4D. Daniel sangat senang setelah melihat daftar undian, yang paling diinginnya adalah teknologi pembuatan capsule dari dunia Dragon Ball yang meliputi banyak teknologi seperti teknologi pelipatan ruang, teknologi nano, dan lain sebagainya. Dia dengan semangat berkata, "Mulai!" Roda undian berputar dengan cepat, setelah dua menit, roda undian secara perlahan berhenti dan menujuk hasil undian yang didapatkannya. 22 Bab 22 : Peningkatan Fisik "Selamat, Anda mendapatkan Serum Prajurit Super. Semoga bermanfaat." Apa yang didapatkan Daniel adalah Serum Prajurit Super dari Marvel universe. Ini juga hal yang ia harapkan untuk didapat. Tapi, Daniel lebih tertarik pada Teknologi Penerapan Graphene, yaitu berbagai hal mengenai teori dan praktek pengembangan bahan baru graphene pada kehidupan sehari-hari manusia. Pada tahun 2010, nobel fisika diberikan kepada Andre Geim dan Konstantin Novoselov yaitu profesor fisika dari University of Manchester, Inggris. Penghargaan nobel ini diberikan atas keberhasilan mereka untuk pertama kalinya memisahkan selembar tipis lapisan karbon dari grafit. Lapisan tipis karbon ini disebut graphene. Graphene merupakan salah satu jenis material baru yang terdiri atas atom-atom karbon dengan bentuk konfigurasi kisi yang datar, dengan jarak antar atom-atom karbon sebesar 0,142 nm. Konfigurasi ini menyerupai struktur sarang lebah dengan ketebalan yang sangat kecil, yaitu dalam orde ukuran atom. Sedemikian tipisnya lapisan graphene ini sehingga merupakan salah satu contoh dari material berdimensi dua. Dibandingkan dengan grafit dengan ketebalan 1 mm, graphene tentu jauh lebih tipis. Dapat dibayangkan, dalam 1 mm grafit, terdapat sekitar tiga ribu lapisan graphene yang menyusun grafit tersebut. Anggap saja terdapat baja dengan ketebalan yang sama dengan ketebalan graphene, maka kekuatan baja tersebut setara dengan 0,084 C 0,40 N/m, maka graphene 100 kali lebih kuat daripada baja yang paling kuat sekalipun! Graphene merupakan material yang bersifat konduktor listrik (dapat menghantarkan listrik), dengan konduktivitas yang sama dengan konduktivitas tembaga. Selain itu, juga bersifat sebagai konduktor panas, dengan kemampuan konduksi yang berada di atas material-material lainnya yang telah dikenal. Graphene juga bersifat transparan meskipun tetap memiliki kerapatan yang cukup tinggi, yaitu sebesar 0,77 mg/m2. Banyak hal yang dapat diaplikasikan oleh graphene ini dalam kehidupan manusia, contohnya, baterai, chip ponsel, chip laptop, dan banyak hal lagi. Untuk baterai, graphene juga bisa diterapkan dengan pengisian baterai menggunakan tenaga surya. Untuk daya tahan baterai sendiri, bisa terus dipakai sampai satu setengah tahun dengan mengisi baterainya selama 20 menit. Ini juga tahap pertama dalam memecahkan masalah energi di bumi. Dalam pemecahan masalah energi ini, Daniel sebenarnya mempunyai teori fusi nuklir, tapi teorinya masih memiliki celah, belum lagi material yang dibutuhkannya. Graphene juga bisa digunakan untuk membuat super komputer yang memiliki komputasi lebih tinggi dari super komputer zaman sekarang, diperlukan chip yang lebih baik lagi, yaitu yang terbuat daei bahan graphene ini. Kekuatan komputasi super komputer digabungkan dengan kecerdasan buatan maka banyak hal yang bisa dihemat dalam hal penelitian ilmiah, ditambah dengan layar holografik virtual maka sangat memudahkan para peneliti. Itu hanyalah impian para peneliti sains di dunia! Sedangkan untuk Batmobile ataupun teknologi printer 4D, Daniel tak begitu tertarik. Daniel membuka penyimpanan sistem dan menemukan sebuah serum di sana. Daniel mengambilnya dan melihatnya dengan sesama. Ia ingat bahwa Captain America menggunakan ini dengan instrumen khusus untuk menggunakan serum ini. Daniel lebih memilih bertanya dulu pada Sky, "Sky, oh Sky!" "Ada apa, host? Kangen ya?" Sky langsung menjawab. "Kangen palamu! Barusan juga tadi muncul. Ini cara gunain serum prajurit super ini gimana?" "Oh, ini? Ya tinggal suntikkan ke tubuhmu. Gitu aja kok repot, haha." "Itu juga aku tau. Tapi, apa perlu gunain berbagai instrumen khusus kayak Captain America?" "Kalau itu tak perlu. Sistem telah memperbaiki serum prajurit super hingga tidak memiliki resiko apapun, bahkan tanpa instrumen khusus seperti yang kamu bilang. Juga, efeknya melebihi yang ada di Captain America." Setelah mendengar jawaban dari Sky, Daniel beryanya dengan mata bersemangat, "Oh benarkah?" "Tentu saja-" Tak menunggu Sky menyelesaikan jawabannya, Daniel sudah menyuntikan serum super ke tubuhnya. Sky berkata dengan lemah, "... Setelah menyuntikkannya ke tubuhmu, kau akan tertidur selama 12 jam. Sel-sel dalam tubuhmu akan bertransformasi. Kau akan merasakan sedikit ketidaknyamanan saat sel-sel dalam tububmu bertransformasi." Serum prajurit super bereaksi dengan cepat, Daniel segera mengantuk. Ia bertanya dengan suara lemah, "Kenapa ... kenapa kau baru bilang padaku?" "Itulah sebabnya. Kalau orang lain lagi ngomong, jangan asal potong seenak jidat," Sky berkata dengan bijak. Daniel tak menjawab, ia langsung tertidur di kasur. 12 jam kemudian, jam 3 dini hari, Daniel terbangun. Ia merasakan aliran kekuatan mengalir dalam tubuhnya. Ia merasa kalau ia bisa menandingi Usain Bolt dalam kecepatan, bisa menandingi Mike Tyson dalam kekuatan, dan bisa menandingi Myweather dalam kelincahan. Belum lagi kecepatan regenerasinya. Juga, kemampuan otaknya sangat meningkat banyak, ditambah dengan peningkatan level sistem teknologi yang memberikan perluasan otak, sehingga IQ Daniel melebihi Albert Einsten. Ia juga bisa dikatakan sebagai manusia paling jenius abad-21. Namun, kejeniusannya masih belum terlihat oleh Dunia. Selain itu, kemampuan panca indranya pun meningkat banyak. Mata semakin tajam, hidung, telinga, lidah dan juga kulit lebih sensitif terhadap bau, suara, rasa, dan perabaan. Setelah beradaptasi dengan kekuatannya, Daniel menengok ke samping dan menemukan Rika yang sedang tidur di sisi kasurnya. Daniel dengan lembut mengusap rambut Rika. Daniel segera bangun dan menggendong Rika ke kamarnya. Setelah menggantar Rika, Daniel merasakan perutnya sangat lapar. Ia pergi ke dapur untuk mencari makanan. Ia menemukan bahwa masih ada sisa makanan, namun bukan masakannya. Tapi, karena lapar, ia memakannya dengan lahap tanpa menghiraukan rasa makanan. Ia menghabiskan semua makanan yang ada di dapur dan akhirnya berhenti makan. Jika masih ada makanan di dapur, maka ia tak segan untuk menghabiskannya. Ia kemudian keluar rumah untuk menghirup udara dan penasaran untuk mencoba kekuatannya. Ia mencoba meninju, menendang, berlari ditempat, push-up dan berbagai metode lainnya. Hasilnya adalah kecepatan tinju, tendangan, larinya sangat cepat. Jumlah push-upnya lebih banyak, bahkan saat dia mencoba 100 kali push-up, ia tak merasakan rasa lelah sedikitpun. Daniel sangat bersemangat dan berseru, "Wow! Luar biasa!" "Serum ini sangat kuat. Tak hanya itu, kelincahan, kecepatan, dan otakku lebih ditingkatkan. Haha, perasaan yang luar biasa! Aku tak perlu menghindar lagi dari pengawal Yudhistira. Tunggulah pembalasanku!" ia mengepalkan tangannya, menatap dengan tajam dan udara di sekitarnya semakin dingin. Daniel menghela nafas, "Mumpung masih belum pagi, sekarang waktunya berlatih." Ia ingin masuk ke rumah, tapi segera menghentikan langkahnya dan menatap tangan kirinya. Ada sebuah jam menempel di tangannya. Ya, itu adalah jam tangan pintar. Daniel menepuk dahinya berkata, "Bagaimana bisa aku melupakannya!" Ia segera membuka browser lalu memasukkan link Youtube. Di youtube, ada berbagai teknik bertarung, Dari Pencak Silat, Tinju, Gulat, Muay Thay, Kungfu, Karate, Taekwondo, Wushu, Wingchun, dan berbagai seni beladiri lainnya. Daniel membuka delapan tab sekaligus dan menontonnya secara bersamaan. Dengan meningkatnya fungsi otak, semuanya secara langsung masuk ke otaknya. Daniel menutup matanya dan mulai memahami seluruh hal yang ia tonton. Ia sekali lagi mempraktikkan gerakan yang ia tonton. Straight! Uppercut! Tangkisan Dalam! Tendangan T! Narae Chagi! (Tendangan ganda ke arah samping, dilakukan secara beriringan. Sasaran tendangan adalah perut dan kepala lawan.) Daniel mempraktikkan segalanya, kemudian ia berhenti saat matahari terbit. Butir-butir keringat berjatuhan di wajahnya, bajunya basah penuh keringat, tapi matanya tajam dan merasa segar. Ia menghela nafas dan segera tersenyum dingin, berkata, "Pembalasan akan segera dimulai!" Ia masuk ke rumah untuk mandi lalu memasakkan sarapan. Rika yang ada di dalam kamar terbangun, ia melihat sekeliling dan langaung bingung karena dalam ingatannya ia tidur di kamar kakaknya, bukan dikamarnya sendiri. Rika segera bangun dan langsung ke dapur, ia melihat kakaknya sedang memasak. "Pagi Rika," Daniel menyapa. "Pagi Kak..." Rika menjawab dengan tatapan kosong, ia kebingungan. "Ada apa, Rika? Apakah ada sesuatu yang aneh di wajahku?" "Nggak, Kak," Rika melanjutkan, "bagaimana aku bisa tidur di kamarku, Kak? Apa Kakak yang gendong aku ke kamar? Kakak baik-baik aja kan?" Daniel tersenyum, ia menjawab, "Kakak yang gendong kamu ke kamarmu, Kakak juga baik-baik aja kok. Mandi dulu gih, terus jangan lupa bangunin Raka dulu biar bisa makan bareng." Rika bertanya lagi, "Kakak yakin baik-baik aja?" Daniel mengangguk beberapa kali dan menjawab, "Baik-baik aja kok. Mandi gih sana." "Oke Kak!" Rika segera mandi. Daniel menyelesaikan kegiatan memasaknya, ia kembali ke kamar untuk memakai seragamnya, namun seragamnya terasa sesak di badannya. Untung saja bajunya lebih panjang, jadi itu masih bisa digunakan untuk hari ini. Semuanya disebabkan oleh serum prajurit super, tingginya bertambah sedikit dan tubuhnya menjadi lebih berisi. Fitur wajahnya menjadi lebih tampan dari sebelumnya, tak ada kerutan dan jerawat di wajahnya, semuanya bersih, matanya juga semakin jernih. Membuat dirinya semakin percaya diri lagi. Dia keluar dari kamar berjalan menuju dapur. Raka baru saja selesai mandi, sedangkan Rika menyiapkan makanan untuk ketiganya. Ketiganya sarapan, Daniel makan lebih banyak dari biasanya. Rika sesekali memandangi Daniel. Raka tak begitu peduli, karena semua fokusnya ada pada ponselnya karena sedang push rank. Rika dan Raka berangkat lebih dulu, sedangkan Daniel masuk ke kamar lalu membuka laptop. Yang ia lakukan bukanlah memasukan kode kecerdasan buatan, tapi berbicara dengan Red Queen dan Via. "Red Queen, Via, keluarlah." Keduanya muncul pada layar holografik virtual. Red Queen berpenampilan anak kecil namun dengan wajah dingin, sedangkan Via berpenampilan ceria. "Selamat Pagi, Tuan," Keduanya menyapa Daniel dengan nada yang berbeda. "Red Queen, bagaimana perkembangan optimasi android?" Daniel bertanya. "Perkembangan baik, Tuan. Saat ini sudah mencapai 50%." "Bagus, lanjutkan pekerjaanmu," Daniel mengangguk. Ia kemudian menatap Via dan bertanya, "Via, apakah permainan di jam pintar ini bisa digunakan untuk sistem operasi Android dan iOS?" "Tuan, itu bisa dilakukan dengan mudah. Berikan aku waktu, aku bisa mengerjakannya dengan sangat cepat, hehe," jawab Via dengan senyum polosnya. Daniel terkejut dengan tampilan ini, ia merasa sangat senang, "Baiklah, kamu kerjakan itu. Ubahlah keempat game itu supaya bisa dimainkan di sistem operasi android dan iOS." Via menjawab dengan memberi hormat, "Siap laksanakan, Tuan." Daniel tertawa melihat ini. Keduanya segera menghilang dan mulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh Daniel. Daniel menutup laptop, kemudian berangkat ke sekolah. ... Daniel sampai di kelas, ia duduk di kursinya, lalu menyapa Bella, "Selamat pagi, Bella." Bella yang sedang membaca menoleh ke Daniel dan menjawab, "Pagi, Daniel." Saat itu, dia memperhatikan bahwa ada sesuatu yang berbeda dari Daniel, dia bergumam, "Daniel, kamu sedikit berbeda. Kamu jadi lebih tampan..." Daniel langsung tertawa mendengar itu dari Bella, ia menjawab, "Oh, tentu saja aku tampan." 23 Bab 23 : Tugas Lagi? Selesaikan! Yudhistira langsung marah melihat Bella dan Daniel bercanda, ia telah melihat ini setiap hari. Kebencian Yudhistira pada Daniel menjadi lebih tinggi lagi saat Kinar berinisiatif mendatangi Daniel ke kelas. Belum lagi sikap ramah Kinar pada Daniel, membuatnya ingin memusnahkan Daniel dari muka bumi. Jika tatapan Yudhistira dapat membunuh seseorang, maka Daniel bisa mati ratusan kali, bahkan ribuan kali! "Aku sudah pintar, ganteng, baik, dan sempurna sebagai lelaki, tapi mengapa mereka tidak memperhatikanku?" pikir Yudhistira Yudhistira sangat marah, bahkan ingin membunuh Daniel sekarang. Ia mengepalkan tangannya dan menatap Daniel tajam. Ia bersumpah bahwa hari ini dia akan memberikan Daniel pelajaran. Membuat Daniel tak bisa berdiri lagi! ... Daniel sedang bersenda gurau dan mengobrol dengan Bella, tapi dia merasakan seseorang menatapnya. Ia mencari-cari siapa yang menatapnya. Ia menemukan Yudhistira menatapnya dengan mata merah. Daniel hanya membalas Yudhistira dengan senyuman sinis. Hal ini membuat Yudhistira makin geram hingga pulpen di tanggannya patah. Daniel hanya tertawa kecil. Bella merasa aneh melihat ini. Ia kemudian bertanya, "Ada apa, Daniel? Apa ada yang lucu?" Daniel mengalihkan perhatiannya pada Bella lagi, ia berkata sambil tertawa, "Nggak ada apa-apa kok. Yang lucu itu wajahmu." Wajah polos Bella merona merah, ia bergumam, "Daniel tukang gombal." Daniel terbatuk mendengar ini, ia mengusap hidungnya seolah-olah tak tau apa-apa. Bel masuk berbunyi, tak lama kemudian guru pun masuk. Guru ini adalah guru olahraga, namanya adalah Pak Jordan. Entah disengaja atau tidak, Pak Jordan ini hobinya bermain basket. "Anak-anak, hari ini kita akan olahraga bola besar - bola basket. Silahkan ganti pakaian kalian. Waktunya hanya 15 menit!" kata Pak Jordan dengan tegas. "Baik, Pak!" jawab semua murid serentak. Ada aturan tak tertulis di kelas 11-B TKJ, yaitu siswi lebih dulu menggunakan kelas untuk berganti pakaian, sedangkan siswa harus menunggu di luar kelas. Aturan lainnya adalah, jika ada siswa yang mengintip, langsung di keroyok oleh para siswi. Pernah sekali saat Daniel terlambat ke sekolah karena membantu seorang nenek. Ia bingung melihat siswa semuanya di luar kelas, ia mengira kalau semua siswa dihukum, ia pun melihat keadaan dalam kelas lewat jendela. Max dan Regi sudah menyarankan Daniel untuk tak melihat ke dalam, namun tak dihiraukan oleh Daniel karena Daniel sering dikerjai oleh mereka berdua. Juga, siswa lain memberitahunya bahwa mereka dihukum. Daniel baru saja melihat keadaan dalam kelas, ia langsung ditatap tajam oleh semua siswi. Keringat dingin langsung muncul di wajah dan punggungnya. Daniel panik dan langsung kabur, hal itu membuat siswi lain tambah salah paham. Semua siswi langsung menyelesaikan berganti seragam dan langsung mengejar Daniel. Daniel tak bisa lari kemana-mana, ia dikepung oleh banyak siswi. Ia pun harus rela wajahnya babak belur. .... Beberapa menit kemudian, siswi sudah selesai berganti, siswa pun memasuki kelas untuk berganti pakaian. Yudhistira meraih tasnya, kemudian mengeluarkan seragam olahraganya. Ia membuka seragam putih abu-abu, dan menujukan bentuk tubuhnya, banyak siswi melihat ini langsung berteriak. "Kyaa! Roti sobek, roti sobek!" "Aku tak pernah bosan melihatnya setiap minggu!" Yudhistira bangga mendengar teriakan teriakan banyak siswi tentang bentuk tubuhnya, ia dengan sengaja memperlambat gerakannya agar lebih banyak siswi memujinya. Bentuk tubuh Yudhistira tak terlalu kekar, hanya saja, otot perutnya baru terbentuk. dengan badannya berkulit putih, menambah nilai plusnya. Daniel hanya tersenyum melihat reaksi siswi di kelas, ia tak terlalu memperdulikannya. Daniel melepas seragamnya secara perlahan karena pakaiannya agak ketat hari ini. Bentuk tubuhnya perlahan-lahan terlihat. Sejak menggunakan serum prajurit super, tubuhnya menjadi lebih terbentuk. Bella saat ini sedang memasukan seragam putih abu-abunya ke dalam tas. Ia berkata, "Daniel-" Ia terkejut hingga tak bisa berkata-kata setelah melihat Daniel. Daniel menghentikan tindakannya, ia menengok pada Bella dan bertanya, "Ada apa, Bella?" Namun, Bella tak menjawabnya. Hanya darah mulai mengalir dari hidungnya. Daniel agak panik, ia langsung memeriksa dahi Bella dan bertanya, "Kamu kenapa, Bella? Kamu sehat, kan? Nggak demam, kan?" Bukannya berhenti mimisan, malah mimisan Bella semakin menjadi. Ia berkata dengan lemah, "Daniel, ah-" Daniel menjadi lebih panik, ia berteriak, "Silvia, Silvia!" Silvia segera menoleh ke arah Daniel dan menemukan Bella yang mimisan. Ia langsung berlari menghampiri Bella. Teriakan Daniel juga menarik perhatian murid lainnya. Perhatian yang tadinya tertuju pada Yudhistira kini berbalik pada Daniel dan Bella. Silvia melihat bentuk tubuh Daniel langsung ikutan mimisan. Daniel terkejut melihat Silvia juga ikutan mimisan. "Hei, apa yang terjadi saat ini?" pikir Daniel. "Max, Regi!" Daniel memanggil dua sahabatnya. "Ada apa, Niel?" tanya Max. "Kalian berdua segera bantu Silvia. Bawa dia ke UKS," kata Daniel yang membantu Bella untuk duduk ke kursi. Ia pun kembali menoleh ke arah Max dan Regi, "Awas saja kalau mencari kesempatan dalam kesempitan." Keduanya terkejut, kemudian menjawab serentak, "Baik, Bos!" "Bos kepalamu! Ayo bantu di ke UKS! Aku akan membawa Bella setelah benganti baju." Daniel dengan cepat berganti baju ke baju olahraga. Saat berganti pakaian, banyak siswi berteriak karena bentuk tubuhnya sangat bagus. Namun, Ia tak memperhatikan itu. Ia segera menggendong Bella yang lemas. Dengan kekuatannya sekarang, mengangkat Bella adalah hal yang mudah. Tak lama kemudian, Daniel dan Bella sampai ke UKS, Daniel kemudian membaringkan Bella di kasur. Daniel kemudian melapor pada seorang dokter wanita yang menjadi penjaga UKS, kemudian pergi ke lapangan bersama Max dan Regi yang sudah menunggunya di luar ruangan. .... Di lapangan, Pak Jordan sudah menunggu semua murid berkumpul. Ia melihat Daniel, Max dan Regi datang terakhir. Namun, itu masih tepat waktu. Pak Jordan kemudian memulai pemanasan dan murid-murid mengikutinya. Saat olahraga, ketiga kelas bergabung, dari kelas 11-A, 11-B dan 11-C TKJ. Totalnya hampir mencapai seratus murid. Pemansan berjalan lancar, kemudian Pak Jordan mulai memberikan materi mengenai bola basket. lebih dari 30 menit penjelasan dan praktek, Pak Jordan berhenti. Ia berkata, "Saatnya game three-on-three, silahkan pilih tim kalian." "Baik, Pak!" jawab semua murid serentak. Yudhistira senang mendengar ini. Ia menatap Daniel dengan provokatif, ia segera berkata, "Daniel, mari bermain three-on-three?" Saat Yudhistira selesai berkata, sebuah suara berdering di kepala Daniel. "Memicu Tugas!" "Tugas : Mengalahkan Yudhistira dalam game three-on-three. Yudhistira adalah kapten tim basket sekolah. Kalahkan dia dan buatlah dia malu. Syarat : Mengalahkan Yudhistira. Hadiah : Exp 25%, Kacamata Pintar, Undian 1x. Hukuman : Mengembalikan tubuh host kembali ke semula (sebelum menggunakan serum prajurit super)." Daniel melihat ini menjadi bersemangat, ia tak menyangka kalau tugas akan segera datang lagi. Ia menatap Yudhistira, kemudian berkata sambil memasang senyum provokatif juga, "Oh, siapa takut!" Dahi Yudhistira berkedut, ia berkata dengan nada sombong, "Bagaimana kalau taruhan? Kalau kalah, traktir seluruh orang di jam olahraga hari ini, gimana?" Daniel tertawa, senyum dingin terbentuk di bibirnya, "Oh, ayo. Semua murid jadi saksinya!" Pak Jordan menjadi tertarik dengan kompetisi keduanya, ia mengambil inisiatif untuk menjadi wasit. Di tim Daniel, ada Max dan Regi. Sedangkan di tim Yudhistira ada Ardi dan Fahri, ketiganya adalah pemain basket sekolah yang sering di kirim ke kompetisi daerah kadang ke kompetisi nasional. Di pinggir lapangan, Silvia yang sudah kembali saat penjelasan materi, menatap Daniel dengan cemas. Ia tahu bahwa Daniel tak mempunyai banyak uang untuk mentraktir seluruh murid. Sedangkan Bella, ia menatap Daniel dengan semangat, kemudian berteriak, "Daniel, semangat Daniel!" Silvia juga bersorak untuk Daniel, sorakannya tak kalah dari Bella. Ia tak memperdulikan lagi bagaimana pandangan murid lain tentangnya. Keduanya seakan-akan sedang berkompetisi untuk menyemangati Daniel. Daniel tersenyum mendapatkan semangat dari mereka berdua. Sedangkan wajah Yudhistira semakin suram. Pak Jordan sudah memegang bola basket di tengah lapangan, kedua tim kemudian mengatur posisi. Untuk mendapatkan Bola saat play-off, Daniel memilih Max, sedangkan dia berada di samping Regi. Sedangkan tim Yudhistira, Yudhistira sendiri yang mengambil posisi di depan. Peluit dibunyikan, Pak Jordan pun melempar bola ke atas. 24 Bab 24 : Slam Dunk! Ketika Pak Jordan baru saja melempar bola ke udara, Max belum siap. Seseorang sudah melompat tinggi dan meraih bola basket. Melihat Yudhistira telah mendarat dan mulai menggiring bola, Max tampaknya belum menanggapi, dan beberapa orang yang hadir berteriak senang. Mendengar teriakan di luar lapangan, Yudhistira bersemangat, kemudian dia dengan cepat berlari ke arah Daniel yang melakukan gerakan defensif. Yudhistira mencoba untuk melewati Daniel menggunakan trik. Namun, belum sempat dia melakukan trik, bola ditangannya sudah hilang dan Daniel dengan cepat berlari di belakanganya. Meskipun dia tidak tahu mengapa Daniel bisa begitu mudah merebut bola darinya, dia tidak berpikir bahwa Daniel, yang jarang menyentuh bola basket, bisa merebut bola dan menerobos pertahan timnya. Yudhistira memerintahkan Fahri untuk menjaga Daniel, sedangkan dia fokus ke pertahanan. Daniel yang melihat Regi berdiri tanpa pengawalan langsung mengoper bola. Regi dengan cekatan menggiring bola ke area pertahanan tim Yudhistira. Fahri juga bergerak cepat untuk mengawal Regi yang sedang bebas. Regi mengetahui bahwa Fahri akan mengawalnya, ia kemudian mengembalikan bola pada Daniel. Yudhistira tak tinggal diam, dia dengan cepat mendekati Daniel dan melakukan gerakan defensif. Melihat Yudhistira dalam posisi defensif, mulut Daniel menunjukkan senyum percaya diri, kemudian kakinya sedikit ditekuk dan tangannya terangkat. "Apa yang dia coba lakukan?" Saat Yudhistira memikirkannya, dia sudah melihat Daniel melompat. "menembak? Ini satu meter dari garis tiga poin. Apakah orang ini gila? " Sekali lagi, dia melihat ke arah Daniel yang melakukan gerakan itu, kemudian bola basket itu melengkung dengan anggun di udara dan langsung masuk ke dalam jaring. Masuk! Tidak ada yang menduga bahwa Daniel benar-benar memilih mencetak tiga poin secara langsung, dan itu masih satu meter jauhnya dari garis tiga poin. Seluruh penonton dibuat terkagum-kagum, bahkan Pak Jordan pun kagum. Baru saja semua orang berpikir bahwa Daniel pasti akan kalah. Dan juga, dia akan kalah dengan sangat dipermalukan oleh Yudhistira. Tetapi, tidak ada yang menduga bahwa Daniel bisa mencetak poin, dan itu adalah mencetak tiga poin yang memukau. Wajah Yudhistira penuh dengan ekspresi terkejut, tetapi kemudian keterkejutannya berubah menjadi kemarahan. "Ini sunggu memalukan. Penghinaan ini datang dari sampah yang telah kupandang rendah," pikir Yudhistira. Yudhistra mengambil bola basket, dan ketika dia berjalan melewati Daniel, suaranya dingin, "Sampah, jangan berpikir bahwa kamu bangga karena mencetak tiga poin. Aku memberitahumu bahwa itu hanyalah keberuntungan semata, sebuah kebetulan saja. Saat berikutnya, aku akan membiarkanmu merasakan rasa penyesalan karena bertaruh denganku. " Mendengarkan ocehan Yudhistira, Daniel memandang ke arah Yudhistira tanpa ragu, dan kemudian berkata dengan nada serius, "Lalu? Aku juga menantikan keahlian basketmu yang luar biasa itu, kapten tim sekolah." Setelah itu, Daniel menggunakan langkah defensif. Dengan pengalamannya sebelumnya, Yudhistira memandang Daniel dengan jijik. Ia menatap lurus ke arah Daniel, menggiring bola dengan berirama, meskipun ia berpikir bahwa kehilangan bola tadi hanyalah keberuntungan Daniel, tetapi ia tidak tahu mengapa di dalam hatinya ada perasaan buruk. Melihat tindakan Daniel tidak menjaga ketat dirinya sendiri, Yudhistira segera bergerak, dan gerakannya dipercepat untuk melewati Daniel, berniat untuk langsung melewati sisi lain. "Hanya ini?" Dalam menghadapi terobosan Yudhistira, Daniel hanya diam saja, tanpa pengawalan dan membiarkan Yudhistira melewatinya. "Daniel benar-benar tidak bisa bermain basket, hanya sedikit keberuntungan." "Itu hanyalah sebuah tindakan pertahanan dasar, tapi dia tak bisa melakukannya." Daniel tak memperhatikan komentar para penonton, tapi Bella dan Silvia sedikit gugup karena Daniel dengan mudah dilewati, tak seperti sebelumnya. Hati Yudhistira agak ragu-ragu. Menurutnya reaksi Daniel tidak terlalu lambat, tetapi dia menyadari bahwa sudah tak ada waktu lagi untuk memikirkannya. Setelah melewati Daniel, Yudhistira tidak berhenti dan berencana untuk melakukan tiga langkah lay-up. Sebelumnya, Daniel telah mempermalukan dirinya, dan sekarang Yudhistira menganggap bahwa dia bisa menyelamatkan wajahnya dari rasa malu melalui lay-up. Yudhistira melopat, ia ingin memasukan bola dalam keranjang. Namun, Daniel tiba-tiba bergerak seperti seekor cheetah yang menyerang mangsanya, sungguh menakjubkan! Yudhistira bahkan merasakan angin dingin datang dari belakang, dan dia terkejut. Namun, sebagai kapten tim sekolah, Yudhiatira juga berpartisipasi dalam banyak pertandingan bola basket dan tidak panik, tetapi mengguncang pergelangan tangannya dan melempar bola basket. Lay-up tiga langkah adalah gerakan spesial Yudhistira, selama dia bisa melakukan langkah ini, tidak akan pernah kehilangan bola. Namun, kali ini, tampaknya sesuatu telah terjadi - Yudhistira dan semua orang yang terkejut, Daniel tiba-tiba muncul di belakang Yudhistira, melambaikan tangan kanannya dan melibas bola basket menjauh dari Yudhistira. Semua yang ada di lapangan tak menyangka Daniel akan menggunakan ide ini untuk merebut bola dari tangan Yudhistira. "Gila, apa Daniel bukan manusia lagi, bagaimana bisa melompat begitu tinggi?" "Sengaja membuat Yudhistira menerobos?" Setelah keheningan, suasana lapangan langsung bersemangat, dan tindakan Daniel menjadi fokus diskusi para murid. Sebelumnya, semua orang tidak bisa memahami terobosan mudah Yudhistira. Tetapi, ketika mereka melihat Daniel mengambil bola dengan cara seperti itu, mereka akhirnya menyadarinya. Angkat setinggi langit, jatuhkan sampai ke dasar neraka! Tak membuang kesempatan, Regi segera mengambil bola yang bergulir bebas. Menggiring bola dan menemukan Daniel tanpa penjagaan, ia segera mengoper bola. Daniel menangkapnya dengan sangat lengket, ia menggiring bola, lalu melihat Max sendirian, ia langsung mengoper dan berlari mendekati ring. Max mengerti pergerakan Daniel, ia menahan bola sebentar dan menggiringnya untuk memancing Fahri. Daniel membuat momentum, dia mengambil ancang-ancang untuk melompat. Semua orang di lapangan yang melihat momentum Daniel menahan napas, menunggu aksi Daniel yang memukau lainnya. Max langsung mengirim bola kepada Daniel. Daniel melompat, menangakap bola di udara. Kemudian, ia menghempaskan bola ke dalam ring. Slam Dunk! Suasana di lapangan menjadi sunyi. tab, tab, tab! Setelah suara pantulan bola basket berhenti, suasana yang sunyi menjadi ramai. Teriakan demi teriakan menggema di lapangan. "Gila! Daniel memang gila!" "Slam dunk terbaik tahun ini!" "Hei! Daniel sangat keren!" "Seharusnya Daniel yang menjadi kapten tim basket, bukan Yudhistira!" Suasana yang ramai ini membuat banyak murid yang sedang belajar di kelas bingung. Yudhistira yang berlari ingin mengejar Daniel langsung berhenti, mulutnya terbuka lebar karena sangat terkejut. Hatinya semakin terasa sakit, harga dirinya semakin terinjak-injak, kemarahannya semakin meluap, kebenciannya semakin kuat. Ia menatap Daniel dengan tatapan membunuh. Bella dan Silvia juga sangat terkejut, terutama Silvia. Ia tak menyangka bahwa teman masa kecilnya akan bermain basket sebagus ini. Daniel melihat sekeliling saat berada berpegangan pada ring basket, dia melihat banyak yang memuji dan berteriak namanya, ini membuatnya jadi gemetaran. Bukan karena takut, tapi karena kebahagiaan. Sudah lama dia tak mendengar teriakan pujian dari orang banyak seperti ini. Daniel mencoba menenangkan dirinya dengan bisikannya, "Hei, tenang saja, teriakan seperti ini akan lebih sering lahi terdengar di masa depan." Setelah melepas pegangan dari ring basket, Daniel mendarat dengan sempurna. Daniel kemudian mengusap keringat di wajahnya menggunakan baju bagian bawahnya yang menyebabkan otot perut hingga otot dadanya kelihatan. Ditambah dengan wajah tampan dan butiran keringat di wajahnya, ini menambah nilai plus ketampanannya. Gerakan dan penampilan Daniel membuat banyak siswi berteriak kegirangan. Daniel telah menjadi pria yang sangat tampan! Ia menjadi merinding mendengar teriakan para siswi. Ia segera menghampiri dua sahabatnya, keduanya tersenyum dan memberikan acungan jempol. Daniel membalas mereka dengan senyuman. Max memukul punggung Daniel dan tertawa, ia berkata, "Slam dunk yang bagus! Melihat kau berada di udara sambil menangkap operanku juga membuatku bangga. Tanpa assistku kau tak bisa melakukan itu, Haha." Regi menggelengkan kepalanya, "Itu semua berkatku. Tanpa aku yang mengambil bola, kalian berdua tak bisa melakukan hal itu." Daniel hanya tertawa tanpa bicara, kedua sahabatnya ini memang seperti ini. Max dan Regi pun beradu argumen, Daniel tersenyum dan menepuk keras punggung mereka dan berkata, "Mari lanjutkan dan makan banyak di kantin!" Keduanya berhenti dan menjadi bersemangat. Semangat tim Yudhistira sangat menurun karena tiga aksi beruntun Daniel yang membuat momentum besar di lapangan. Ini membuat tim Daniel menjadi lebih dominan dalam mengatur tempo permainan. 10 menit three-on-three pun selesai, skor akhir adalah 23-0 untuk kemenangan tim Daniel! .... Wajah Yudhistira menjadi lebih cemberut dan lebih marah, bahkan lebih malu. Ia ingin cepat-cepat meninggalkan lapangan. Namun, ada seseorang yang menepuk bahunya, ia segera berbalik dan mengayunkan tangannya dengan kencang. Namun, ayunan tangannya di tahan dengan mudah oleh orang itu. Orang itu adalah Daniel. Daniel menatap Yudhistira dan mengejek, "Hei, bukannya tadi taruhan ya? Apakah tuan muda ini mengingkari taruhannya?" Mendengar ejekan Daniel, Yudhistira menjadi marah dan malu. Ia mencoba menarik tangannya, namun tak menyangka kalau pegangan Daniel seperti penjepit besi yang sangat kuat. Ia mendengkus dingin dan berkata, "Lepaskan tanganku!" Daniel segera melepaskannga, ia berkata seolah-olah dia ketakutan, "Oh, tuan muda ini sangat seram." Daniel melihat sekeliling dan berteriak, "Kawan-kawan! Hari ini, ketua kelas 11-B TKJ, Yudhistira telah kalah dalam pertandingan basket. Dia dengan senang hati mentraktir kalian di kantin. Setiap orang wajib menghabiskan 50.000 rupiah jatah traktir, kalau kalian ingin nambah pun, Yudhistira tak akan marah." Yudhistira sangat marah, ia ingin menyela tapi mendengar teriakan para murid membuatnya tak berani menyela dan dengan cepat menjawab, "Itu benar." Demi mengembalikan reputasi yang dipermalukan tadi, ia tak segan untuk mentraktir hampir seratus murid ini. Daniel tertawa, ia sangat senang Yudhistira menghabiskan uang lebih dari 5 juta rupiah hanya untuk memberi makan orang lain. Sedikit demi sedikit, dendam di hatinya terbalaskan. Bersamaan dengan itu, dering notifikasi terdengar. "Tugas Selesai!" "Selamat, Host mendapatkan Exp 25%." "Selamat, Host mendapatkan Kacamata Pintar." "Selamat, Host mendapatkan 1x kesempatan untuk memulai undian." Hal ini menambah kebahagian Daniel. Semua murid langsung menuju kantin dan tak memperhatikan olahraga lagi. Selama satu hari ini, banyak tawa terdengar di kantin, terutama murid dari kelas 11 TKJ. Secara total, Yudhistira membayar lebih dari 8 juta rupiah! .... Bel pulang telah berbunyi. Yudhistira yang sudah pulang, memasuki mobilnya dan berkata, "Bimo, selesaikan anak itu. Kali ini jangan beri dia ampun. Patahkan tangan dan kakinya." Bimo langsung mengerti maksud Yudhistira, ia langsung menjawab, "Baik, Den." Mobil Audi A5 segera melaju mengikuti seseorang. 25 Bab 25 : Balas Dendam Setelah pulang, Daniel menuju mal di pusat kota. "Susah juga kalo nggak ada kendaraan sendiri. Pesan taksi online aja deh." Tak lama kemudian, taksi online pun sampai. Selama perjalanan, Daniel tak menyadari bahwa Audi A5 mengikutinya sejak awal. Tapi, bahkan jika Daniel tahu pun, ia tak akan menghiraukan itu. Paling banyak, dia hanya akan menatapnya. Sesampainya di mal, Daniel langsung ke lantai 3, dimana ada berbagai macam toko pakaian, dari pakaian dalam sampai pakaian formal. Daniel sebelumnya sudah mentransfer beberapa puluh juta penghasilan dari Sky Booster. Lia Siyu juga memerintahkannya untuk membeli pakaian formal. Sebagai Ketua perusahaan teknologi tinggi, bagaimana bisa tak mempunyai pakaian formal. Selain itu, pakaian formal ini menunjukan status sebagai Ketua perusahaan. Kalau tidak, ia akan dipandang rendah oleh orang lain pada pandangan pertama. Daniel pertama masuk ke sebuah toko pakaian bernama Hackett. Seorang pelayan wanita melihat seseorang masuk. Ketika ia melihat Daniel, wajahnya langsung berubah jijik. Hei, hanya seorang siswa sekolah menengah dan lusuh begitu, bagaimana bisa membeli baju di toko mahal ini? Namun, sebagai pelayan profesional, ia menunjukan senyum profesionalnya. Ia menghampiri Daniel dan bertanya, "Hei, anak muda, apa yang kamu lakukan di sini?" Daniel mendongak melihat pelayan wanita, ia berkata, "Tentu saja membeli pakaian, apalagi yang kulakukan kalau ke toko pakaian ini?" Alis pelayan perempuan mengeryit, ia tak sabar lagi dan berkata dengan jijik, "Kau hanya seorang siswa miskin dengan pakaian lusuh begitu, bagaimana kau mau membeli pakaian disini yang harganya melampaui jutaan rupiah." Daniel menggelengkan kepalanya dan menghela napas, "Sayang sekali. Toko semahal ini mempunyai pelayan kualitas rendah. Jika aku menjadi manajer toko di sini, pasti sudah kupecat." Daniel mengabaikan pelayan perempuan dan menuju bagain pakaian formal. Ia mengambil 1 set pakaian formal. Ia mencoba memakai pakaiannya dan itu cocok padanya. Setelah itu langsung menuju kasir dan membayarnya. Sementara pelayan wanita tadi sibuk memanggil penjaga keamanan untuk membawa Daniel pergi. "Pak, tangkap anak itu. Dia mencuri pakaian di toko ini," kata pelayan wanita. Dua orang penjaga keamanan dengan cepat menangkap Daniel dengan cara kasar. Daniel melawan sedikit dan kedua penjaga keamanan itu tersungkur. Ia kemudian menyerahkan kartu kreditnya pada kasir. Kasir wanita itu menatapnya dengan wajah heran dan sedikit takut. Ia segera melakukan prosedur pembayaran dan segera selesai. Setelah melakukan pembayaran yang melebihi 20 juta rupiah itu, ia meninggalkan toko Hackett dengan cepat. Namun, seorang pria paruh baya memanggil dengan suara keras. "Hei, Nak!" Daniel menoleh, ia melihat ke kiri dan ke kanan, tapi tak menemukan seorang pun di sekitarnya. Ia kemudian menunjuk dirinya sendiri dengan wajah bertanya. "Iya, siapa lagi selain kau!" Daniel dengan ringan menghampiri pria paruh baya, ia berkata, "Ada apa, pak tua?" "Kenapa kau mengacau di tokoku? Apa kualifikasimu berani-beraninya mengacau di tokoku, hah?" kata pria paruh baya. Daniel menggelengkan kepalanya dan menghela nafas lagi, ia berkata, "Ternyata manajer dan pelayan sama saja, sama-sama sombong." Ia menatap pria paruh baya dan melanjutkan, "Pak tua, pelayanmu sangat sombong. Hanya karena penampilanku seperti orang miskin, dia tak sopan padaku. Dia bahkan mengataiku, apakah itu etika sebagai pelayan profesional? Bahkan kamu sendiri pak tua, begitu sombong. Aku membeli 1 set pakaian ini dan sudah membayarnya dengan lunas. Kamu bisa memeriksanya pada kasir di sana." Pria paruh baya itu menatap sang kasir, dan kasir pun mengangguk seperti ayam mematuk butiran jagung. Pria itu langsung merubah ekspresinya dan meminta maaf, "Maafkan kualitas pelayanan kami. Kami akan memberimu kompensasi." Daniel melambaikan tangannya dan berkata, "Tak perlu. Bagaimanapun itu bukan salahmu sepenuhnya. Itu hanyalah salah pemimpin yang menunjukmu sebagai manajer toko di sini. Sangatlah salah memilihmu karena kualitas pelayananmu sangat buruk." Daniel langsung pergi setelah mengatakan itu. Wajah pria paruh baya itu menghitam karena sangat geram dan kesal. Daniel menghela nafas dan berbisik, "Benar kata Lia Siyu. Kadang, penampilan mengubah penilaian seseorang. pepatah "Jangan menilai buku dari sampulnya" itu setengah benar dan setengah salah." Ia kemudian menuju area pakaian sekolah dan tak membutuhkan waktu lama untuk membelinya. Ia akhirnya bisa bernafas lega. Daniel kemudian menuju toko ponsel dan langsung membeli 3 ponsel Samsung S9+ 6GB/128GB, itu menghabiskan lebih dari 40 juta rupiah. Semua uang yang ia habiskan melebihi 60 juta rupiah. "Hei, menghabiskan uang sangat mudah. Hatiku terasa sakit," kata Daniel sambil tersenyum pahit. Setelah membeli ponsel, ia membeli kantong hitam untuk membawa pakaian dan ponsel yang ia beli kemudian meninggalkan mal. Pada saat ia meninggalkan mal, ia melihat sebuah mobil yang membuatnya sangat akrab. Daniel langsung tersenyum melihat mobil ini. Ia dengan sengaja memilih untuk melewati gang dengan sedikit pejalan kaki dan tanpa kamera pengawas. Bimo dan Yudhistira yang telah menunggu sejak lama segera bergerak mengikuti Daniel yang menuju gang sepi. Keduanya merasa aneh dengan situasi ini, tapi karena ada Bimo, Yudhistira tidak takut. Keduanya turun dari mobil dan akhirnya bisa menyusul Daniel yang sedang menunggu mereka sambil bersandar di dinding. Daniel berkata, "Kalian lama sekali. Aku sudah bosan menunggu. Apakah kalian ingin memulainya sekarang?" Daniel melonggarkan dasinya, menaruh tasnya, dan mengeluarkan pakaiannya dan tersenyum dingin pada keduanya. Daniel berpikir, "Hei, jadi badboy ternyata keren juga, haha." Keduanya terkejut melihat Daniel yang sudah bersiap melawan mereka. Yudhistira tertawa dan menatap Daniel dengan sangar, "Apakah ayam lemah ini mau melawan kami berdua? Hei, Bimo jangan beri ampun anak ini. FINISH HIM!" Bimo tanpa bicara segera melesat maju menyerang Daniel. Sudut mulut Daniel terangkat. Selain untuk membalas keduanya, ia juga bertarung untuk mendapatkan pengalaman bertarung langsung. Jika berlatih tanpa pengalaman, itu tak ada gunanya. Suasana antara latihan dan bertarung langsung itu sangatlah berbeda. Ini sebabnya Daniel tersenyum. Daniel melihat serangan Bimo, itu adalah tinju lurus, ia pun segera menghindar dan melakukan serangan balik. Bimo dengan tangkas menahan menghindari serangan balik Daniel dan memperbaiki kembali posisinya. Ia segera meluncurkan tendangan langsung ke arah dada Daniel, tapi Daniel menghindarinya. Ia kemudian melanjutkan dengan tendangan berputar. Daniel bergerak mundur, ia melakukan tendangan t dalam pencak silat, namun berhasil dihindari oleh Bimo. Keduanya kemudian kembali beradu tinju. Dengan reaksi cepat Daniel, ia dengan mudah mengimbangi Bimo. Ia akhirnya memiliki kesempatan untuk memukul. Pertahanan Bimo terbuka saat ingin meninju wajah Daniel. Daniel dengan cepat melancarkan tendangan ke arah perut Bimo. Bimo tak mempunyai waktu untuk menghindar, ia mencoba mengangkat kakinya untuk menahan tendangan Daniel tapi sudah terlambat. Bimo terhuyung mundur. Daniel tak ingin membuang kesempatan, ia langsung meninju rahang Bimo dengan pukulan sideswipe. "Ah!" Suara Bimo terdengar kesakitan. Kemudian Daniel menindaklanjuti dengan tendangan ke arah kepala, tapi Bimo masih bisa menunduk untuk menghindar. Daniel berputar dengan cepat dan menendang dengan telapak kaki yang lain ke arah dada. Tendangan itu berhasil mengenai dada Bimo. Bimo terpental beberapa meter. Daniel menghampiri Bimo dengan cepat dan meninju perut Bimo. Tinjuan ini sangat kuat hingga membuat mata Bimo terbelalak. Bimo hampir pingsan saat ini. Daniel menatap Bimo dengan tatapan dingin berkata, "Kau ingat beberapa minggu yang lalu saat kau hampir mematahkan lenganku? Oh, waktu itu sangat sakit rasanya. Apakah kau ingin merasakan bagaiamana rasanya lenganmu hampir patah? Baiklah, aku akan mengabulkan permohonanmu." Bimo menatap Daniel dengan rasa ketakutan. Meskipun itu bisa disebut sebagai tentara bayaran, tapi karena ia sudah terlalu lama bermanja dengan wanita tanpa pertarungan, keberaniannya hampir sama dengan preman jalanan. "A-aku tak mau merasakan itu, tolong ampuni aku," Bimo berkata dengan cepat. "Maaf, sudah terlambat." Daniel menginjak lengan Bimo dengan keras hingga suara patah terdengar. "ARGH!" Teriakan rasa sakit Bimo terdengar keras. Daniel kembali menatap Bimo dan bertanya, "Apakah kau menginginkannya lagi? Baiklah, dengan senang hati aku akan memberikannya." Daniel kembali menginjak lengan yang lain. Suara raungan horor kembali terdengar dengan keras. Yudhistira yang menyaksikan keduanya bertarung mejadi merinding ketakutan. Ia menatap Daniel seperti menatap iblis. Ia merasakan tatapan seorang iblis diarahkan padanya. 26 Bab 26 : Kacamata Pintar Yudhistira merasa merinding saat ditatap oleh Daniel. Ia secara tak sadar mundur beberapa langkah. Saat ini, Yudhistira tak melihat Daniel sebagai manusia lagi, tapi sebagai iblis! Melihat Daniel yang secara perlahan mendekatinya, detak jantungnya berdetak semakin cepat, keringat dingin dengan deras mengalir di tubuhnya. Yudhistira menatap Daniel dengan gugup dan berkata, "A-apa yang ingin k-kau lakukan padaku?" Daniel tersenyum dingin, "Apa yang kulakukan? Maka yang kulakukan seperti yang kau lakukan padaku." Yudhistira berusaha mundur, tapi tak tahu mengapa, kaki dan tangannya tak bisa bergerak. Entah ini karena ketakutan atau tekanan psikologis yang di berikan oleh Daniel sehingga dia tak bisa bergerak. Daniel melihat ini tertawa, ia kemudian berjongkok di depan Yudhistira, "Aku adalah orang yang baik hati. Karena itu, aku akan memberimu hadiah." Yudhistira seperti kucing ketakutan, ia mencoba mundur tapi ditahan oleh Daniel. Daniel kemudian menampar wajah Yudhistira dan berkata, "Apakah kau ingin hadiah lagi?" "Aku..." Yudhistira baru saja hendak menjawab, tapi disela oleh tamparan Daniel. PLAK! "Apa? Aku tak mendegarnya." "Aku..." PLAK! "Oh, ingin lagi." PLAK! "Kau!" PLAK! Lebih dari selusin kali Daniel menampar Yudhistira. Wajah Yudhistira bengkak seperti wajah babi sekarang. Daniel ingin menampar lagi, tapi melihat Yudhistira tersenyum seperti babi, Ia tak menghiraukannya dan menampar lagi. PLAK! "Apakah kau ingin lagi?" tanya Daniel. Tapi, suara langkah kaki terdengar, Daniel membalikan badannya dan melihat Bimo berlari ingin menendangnya. Untung saja kelima indranya sudah dipertajam, ia bisa menghindari serangan Bimo. "Sial!" teriak Yudhistira. Bimo tak bisa menggerakkan tangannya secara paksa, ia terhuyung saat menyeimbangkan dirinya. Daniel tak memberi ampun, ia dengan cepat menyapu kaki Bimo dengan sangat kuat hingga Bimo terjatuh. Yudhistira merasakan ada kesempatan untuk kabur, ia berdiri dengan kaki gemetar, ia perlahan-lahan berjalan. Namun, gerakannya sudah diperhatikan oleh Daniel, tak jauh dia berjalan, bahunya sudah digenggam oleh Daniel. Yudhistira berbalik dengan wajah pucat seperti melihat hantu. Daniel menyeret Yudhistira dan meletaknnya di samping Bimo yang sudah terkapar. Daniel menatap Yudhistira dengan senyum dingin dan berkata, "Apakah kau ingin tau akibatnya jika masih menggangguku?" "K-kau! Be-berani-beraninya kau mengancamku! K-kau akan tau akibatnya jika kau mengancamku!" Yudhistira masih menyombongkan dirinya meski sudah terpojok. Daniel menghela nafas dan mengagumi kebodohan Yudhistira ini. "Baiklah, akan kutunjukan bagaimana jadinya jika kau masih menggangguku." Daniel menarik kaki Bimo, kemudian menginjaknya dengan sangat keras. Suara renyah patah tulang terdengar. "AAAAAAAAAAAAA! SAKIT! SAKIT!" Teriakan rasa sakit menggema di gang. Hal ini membuat Yudhistira gemetar ketakutan. Daniel menatap Yudhistira dengan tatapan dingin dan wajah sangar, ia berkata, "Jangan mencari masalah padaku. Aku tak segan untuk mematahkan kakimu seperti aku mematahkan kaki pengawalmu ini. Ini peringatan terakhir, berani menggangguku atau orang di sekitarku, maka kau akan tahu hasilnya." Setelah mengatakan itu Daniel pergi mengambil tasnya, kemudian merapikan pakaiannya, tapi ia kembali lagi ke hadapan Yudhistira. "Maaf, aku melupakan sesuatu." Setelah Daniel mengatakan itu, tamparan lain mengenai wajah Yudhistira. Yudhistira hanya bisa menatap Daniel dengan tatapan niat membunuh. Ia tak berani bergerak atau mengatakan sesuatu. Setelah itu Daniel dengan santai meninggalkan daerah gang. Yudhistira menatap punggung Daniel, ia menggertakkan giginya dan menatapnya dengan penuh kebencian. Yudhistira mengambil ponselnya dan segera memanggil pengawal yang lain. ... Daniel pergi ke bank untuk menarik saldo. Sesampai di bank, ia mengambil nomor antrean, menunggu 10 menit, akhirnya dia pun dipanggil oleh teller. Melihat yang datang adalah seorang siswa SMK yang lusuh, teller itu menatap dengan jijik. "Penarikan atau penyetoran?" tanya teller buru-buru. Daniel menyerahkan buku tabungannya dan berkata, "Penarikan, 25 juta rupiah." Teller itu terkejut, saat dia melihat buku tabungan itu, wajahnya menunjukan kemarahan. "Dek, apa kamu becanda mau narik 25 juta?" "Hei! Disitu memang tertulis 2 juta saja karena aku lama tak menabung ke bank, silahkan diperiksa kembali jumlah saldonya," kata Daniel dengan senyum pahit. Teller itu menatap Daniel dengan cemoohan dan tak menjawab. Gerakannya pun masih cepat untuk memeriksa total tabungan Daniel. Saat melihat hasil pembaruan, wajah Teller itu menjadi terkejut, ekspresinya kemudian berubah drastis menjadi senyuman. "Dek, tunggu sebentar." Teller itu dengan cepat mengambil uang dan menghitungnya secara keseluruhan. Beberapa menit kemudian, uang 25 juta rupiah diserahkan pada Daniel dengan bonus sebuah kertas. Daniel menyerahkan nomor antrian pada teller dan mengambil uang dan buku tabungannya. Ia secara sembarangan memasukan uang ke tasnya. Daniel mengambil kertas bonus tadi dan melihatnya sebentar, kemudian membuangnya di tong sampah. Isi kertas itu hanyalah nomor teller yang sombong. Daniel tak perlu repot-repot berurusan dengannya. Saat sampai di rumah, Daniel menghela nafas dan bergumam, "Hei, menghabiskan banyak uang semudah itu. Sedangkan menghasilkannya, butuh kerja keras dan usaha." Daniel mengetuk pintu, "Aku pulang." Suara langkah kaki terdengar dari dalam, Rika membukanya dan tersenyum bahagia, "Selamat datang, Kak." Daniel mengusap rambutnya dan berkata, "Apa kalian sudah makan?" Rika tersenyum dan menjawab, "Sudah Kak. Kakak dari tadi kemana aja?" "Oh, tadi kakak jalan-jalan sebentar. Panggil Raka, kakak mau ngomong sesuatu." "Baik, Kak!" Rika berlari dengan penuh semangat. Tak lama kemudian, Rika dan Raka keluar dari kamar dan menuju ruang tamu. Rika dan Raka kemudian duduk. Daniel melihat keduanya, ia pun berkata, "Ini Kakak ada sedikit hadiah buat kalian, semoga kalian senang." Daniel membuka tasnya dan mengambil tiga kotak ponsel Samsung S9+ dan berkata, "Kalian mau pilih yang mana?" Keduanya terkejut, melihat Daniel dengan tatapan ragu. Daniel tersenyum dan mengangguk. "Aku yang ini," pilih Rika ke ponsel berwarna biru. "Aku yang ini," pilih Raka ke ponsel berwarna hitam. Daniel mengambil warna tersisa, yaitu abu-abu. "Itu hadiah untuk kalian berdua, gunakan baik-baik ya." Kemudian Daniel mengusap rambut keduanya, bertanya lagi, "Apa kalian berdua senang?" Raka tertawa dan berkata, "Senang banget kak, apalagi Samsung Galaxy S9+ ini RAM 6GB, cocok buat gaming Kak." Rika memeluk dan mencium pipi kakaknya, ia berkata dengan malu-malu, "Seneng banget, Kak. Akhirnya aku bisa menulis novel sendiri di webnovel, hehe. Makasih, Kak." Raka hanya tertawa dan segera bermain dengan ponselnya. Daniel juga tertawa melihat tingkah laku Rika. Daniel kemudian mengingat sesuatu, "Ini uang saku kalian selama bulan agustus, gunakan baik-baik ya. Kalo kuota dan pulsa, nanti Kakak isikan kuota kalian." Daniel memberi keduanya masing-masing 500 ribu rupiah. Raka mengangguk, mengambil uangnya dan segera masuk ke kamar. Sedangkan Rika, ia tertegun melihat uang di depannya. Ia bertanya dengan ragu-ragu, "Kak, ini semua darimana asalnya?" Daniel tahu kalau Rika akan bertanya tentang ini, ia menjawab, "Ini uang Kakak dapatkan sscara legal kok. Kan kakak pernah bilang kalau kakak bertemu rekan bisnis, ini semua hasilnya. Kamu nggak perlu khawatir, kamu fokus belajar aja ya, untuk urusan uang dan rumah, biar kakak aja." Daniel mengusap rambut Rika dan mencium keningnya. Ia bangkit dan berkata, "Kakak mau ganti baju dulu, kamu simpan uangnya." Rika hanya diam seperti patung, mulutnya terbuka dan wajahnya penuh dengan rona merah sampai ke leher dan telinganya. Daniel hanya tertawa dan masuk ke kamarnya. "Sky, apa kau disana?" tanya Daniel. "Ya, aku disini. Ada apa?" "Tunjukan status karakterku, sudah lama aku tidak melihatnya." "Oh kebetulan ada perubahan disana. Akan ku tunjukan." Nama : Daniel Usia : 17 Tahun Level Sistem : 1 (75%) ? Tugas : Tidak Ada Penyimpanan : Kacamata Pintar Kesempatan Undian : Satu kali Atribut : Kekuatan : 120 | Kecepatan : 105 Ketahanan : 100 | Kecerdasan : 125 Roh : 0 Melihat atributnya, Daniel bahagia. Ia bertanya, "Sky, manusia normal, berapa poin atribut?" "10 Poin!" "Berarti aku dua belas kali lipat lebih kuat dari manusia normal." Daniel kemudian melihat ada tombol ?, iya pun menyetuhnya dan muncul dua baris kata. Level Sistem : 1 (75%) ? Level System Technology : 1 (75%) Level System Superpower : (Terbuka saat System Level 5) Daniel bersemangat ketika melihat System Superpower. Ia berkata, "Apakah aku bisa menggunakan sihir nantinya?" Sky menjawab dengan enteng, "Mungkin bisa." Daniel mengabaikan Sky. Menurutnya, apa yang dikatakan Sky kebanyakan adalah omong kosong. Ia memindahkan perhatiannya pada Kacamata Pintar. Ia pun segera mengeluarkan paket kacamata pintar itu. Saat membuka paket kacamata, itu berisi kacamata, tempat kacamata, pengisian, dan petunjuk penggunaan. Kacamata itu sendiri kecil dan sangat ringan, dan Daniel tidak merasakan berat sama sekali. Itu juga tidak memiliki warna, benar-benar transparan. Kacamata pintar hanya memiliki satu bingkai horisontal, di sudut kanan atas lensa, ada struktur bingkai yang sedikit lebih tebal yang tampaknya mengandung sesuatu. Daniel membuka manual, yang berisi: "Kacamata pintar G-551. Layar kristal cair pada kacamata dapat secara langsung memproyeksikan gambar di mata pengguna, memperluas bidang pandang pengguna, dan menampilkan gambar area luas. meningkatkan piksel dan kejelasan pada pandangan pengguna." "Kacamata pintar G-551 berisi chip berkinerja tinggi dan baterai mikro yang dapat mewujudkan pengisian nirkabel dan koneksi nirkabel perangkat pintar seperti ponsel atapun komputer. Kacamata ini juga memiliki fitur augmented reality, komunikasi jarak jauh, transmisi suara, pengenalan iris, navigasi cerdas, komentar cerdas, dan penyesuaian miopia." Juga disarankan dalam petunjuk penggunaan bahwa kacamata pintar G-551 juga dapat dihubungkan ke perangkat pintar untuk melakukan penyesuaian fungsi dan modifikasi pada aplikasi yang dilengkapi dengan kacamata. Alasan mengapa kacamata pintar ini benar-benar transparan adalah karena warnanya juga dapat disesuaikan! Melalui kombinasi warna yang berbeda, pengguna dapat menunjukkan warna lensa yang berbeda. Keren banget! Daniel segera menggunakannya. Ia kemudian mendengar suara, "Mengatur bahasa .... Bahasa Indonesia ... Memindai iris mata ... mengunci pengguna ... penguncian berhasil ... Selamat menggunakan kacamata pintar G-551!" Daniel gembira, ini adalah asisten cerdas! Daniel segera mengekplorasi berbagai fitur kacamata pintar. Ia menemukan banyak fungsi, selain bisa mengatur penyesuaian miopia, itu juga bisa dihubungkan pada ponsel, laptop, atapun jam tangan pintar. Resolusi gambarnya sangat jernih, tajam, dan sangat keren. Selain itu juga ada fungsi analisis, pengumpulan informasi, komunikasi real-time, dan banyak fungsi lainnya. Bingkainya pun bisa diatur sesuai dengan kebutuhan pengguna. Daniel menggunakan warna abu-abu metal. Dan yang lebih penting adalah kacamata pintar ini bisa digunakan berbarengan dengan kecerdasan buatan. Dengan kacamata ini, penelitian menjadi lebih mudah. Daniel sangat senang. Sebelumnya ia merasa rugi membeli ponsel belasan juta rupiah, tapi itu juga berguna pada hal lain. Daniel menghela napas dan berhenti mengeksplorasi, akhirnya perhatiannya tertuju pada kesempatan undian. Ia menaruh tempat kacamata dan pengisian dalam di tempat tidur, ia kemudian mencuci tangan di toilet. Mengunci pintu kamar, ia menarik napas dalam-dalam, kemudian berkata, "Memulai undian!" 27 Bab 27 : Pembelian Sky Booster "Mulai Undian!" "Graxio" Universe - Nightwing Spaceship "Worlten" Universe - Hirkey Levitation Car "Terminator" Universe - Terminator T-800 "Transformers" Universe - Bumblebee "Star-092" Universe - Kucing R-I0ne Daniel bahagia melihat empat hadiah undian awal, tapi setelah melihat hadiah undian kelima, ia mengerutkan kening. Apa gunanya kucing? Aku tak butuh hewan peliharaan. "Mulai!" Roda undian berputar, itu berputar agak lama. Daniel semakin tak sabar melihat hadiah apa yang didapatkannya. Ia berharap mendapatkan Spaceship agar bisa merasakan berkeliling luar angkasa, pergi ke mars, membangun peradaban di sana. Atau, jika dia tidak mendapatkan Spaceship, ia berharap untuk mendapatkam Bumblebee ataupun Terminator. Keduanya sangat kuat sebagai robot yang sempurna! Atau paling buruk ia mendapatkan mobil levitasi magnetik. Meskipun tak lebih kuat dari hadiah lainnya, itu berisi teknologi canggih yang bisa menggemparkan bumi saat ini. "Ya Tuhan, tolong jangan berikan kucing." Akhirnya roda perlahan berhenti, itu perlahan-lahan berhenti pada grid Spaceship. Melihat ini, Daniel bergembira. Namun, kejadian yang tak terduga terjadi. Penunjuk hadiah berhenti 1cm di perbatasan antara grid Spaceship dan grid Kucing. "Selamat, Anda mendapatkan Kucing R-I0ne. Semoga Bermanfaat." Daniel langsung tertunduk lesu, ia tak menyangka malah mendapatkan kucing R-I0ne. Sesosok kucing muncul di penyimpanan sistem bersama dengan sebuah chip. Daniel tak memperhatikan ini, ia mengambil kucing keluar dari penyimpanan dan meletakkannya di dalam kamar. Kucing itu berwarna hitam dengan mata biru langit, tubuhnya kecil seperti anak kucing pada umumnya. Tak berbeda dari kucing lain. Daniel menjadi makin lesu, ia tak memperhatikan mata kucing yang ada didepannya. Mata kucing bersinar sekejap, tiba-tiba bergerak ke arah Daniel dan menggigit tangan Daniel. Tangan Daniel berdarah, tapi dengan cepat dihisap oleh kucing itu. Daniel terkejut, ia kemudian secara reflek mundur dengan posisi siap bertarung. Namun, kucing yang menggigitnya hanya diam saja, lalu meringkuk dan tidur. Daniel menjadi lebih tertekan, Setelah mendapat kucing, digigit pula, suasana hatinya makin buruk. Tiba-tiba suara yang akrab terdengar, suara itu tertawa dengan keras, "Kasian sekali kamu, Host. Bisa-bisanya dapat kucing terus digigit pula. Mana keberuntungan yang melawan langit?" Daniel menjadi kesal dan ia segera menjawab, "Itu hanyalah kesialanku. Di masa depan tak ada hal sial lagi." Sky tertawa, ia kemudian berkata, "Tak perlu sedih, kamu akan tau kucing itu spesial di masa depan." Daniel malas meladeni Sky, ia hanya menjawab, "Kuharap begitu." Daniel membiarkan kucing itu tidur dan dia melanjutkan mengetik kode kecerdasan buatan. Keesokan harinya, 1 Agustus 2018. Daniel pergi ke sekolah seperti biasanya, tapi saat dia baru saja sampai di sekolah, ponselnya berbunyi, ia langsung menyambungkan ponselnya ke kacamata pintar. Melihat informasi kontak di lensa kacamatanya, Daniel langsung mengangkat panggilan itu. "Lia Jie, ada apa?" "Daniel, pergi ke perusahaan sekarang. Gunakan pakaian formal. Jam 9 nanti akan ada tamu dari Google," jawab Lia Siyu yang masih di dalam mobil. "Dari Google?" Mendengar itu, Daniel merenung sebentar, ia kemudian menjawab, "Baiklah, aku akan segera datang ke perusahaan." "Aku akan menjemputmu." "Oke, Lia Jie!" Daniel mengakhiri panggilan, kemudian langsung pulang ke rumah dan segera menggunakan pakaian formal yang baru ia beli kemarin. Sky Booster sebenarnya sudah dibidik oleh beberapa perusahaan perangkat lunak lokal di indonesia dan beberapa perusahaan dari negaea tetangga. Namun, Lia Siyu tak menanggapi mereka karena harga yang ditawarkan terlalu rendah. Hari ini, Google secara langsung mendatangi perusahaan Sky Technology. Tak sopan jika ketua perusahaan tak bertatap muka dengan tamu dari google tersebut. 30 menit kemudian, Lia Siyu sampai di depan rumah Daniel. Daniel membawa laptopnya dan memasuki mobil. Selama di dalam mobil, Lia Siyu mengajarkan beberapa hal pada Daniel, dari cara bersikap, berbicara dan hal lainnya. Keduanya sampai di perusahaan dan langsung masuk ke gedung Tiramisu. Sky Technology menyewa dua lantai di gedung Tiramisu, yaitu lantai 11 dan 12. Ketika Lia Siyu dan Daniel memasuki kantor, para karyawan bingung dan penasaran saat melihat Daniel. Siapa bocah ini? Untungnya, tak ada karyawan yang memandang rendah Daniel, tapi masih menatap Daniel dengan penasaran. Daniel tak terganggu dengan ini, ia mengabaikannya dan langsung ke lantai 12. Kemudian ia pergi ke ruang pertemuan dengan Lia Siyu. .... 09:00 Resepsionis wanita terkejut ketika melihat perwakilan dari Google, ia kemudian mengantar perwakilan Google dengan hati-hati. Ini adalah tamu penting perusahaan. Lia Siyu dan Daniel menunggu di ruang pertemuan. Pintu ruang pertemuan terbuka, seorang pria dengan pakaian formal memasuki ruangan. Saat perwakilan Google itu masuk ruangan, ia dikejutkan oleh orang yang duduk menunggunya. Orang itu adalah seorang bocah laki-laki yang masih sangat muda untuk bertemu dengannya. Ia mengerutkan keningnya. Apakah perusahaan ini ingin bercanda denganku? Sedangkan Daniel juga terkejut dengan kedatangan perwakilan Google ini. Orang itu adalah Sergey Brin, salah satu pendiri Google. Ini sedikit spesial bagi perusahaan muda untuk kedatangan salah satu pendiri raksasa teknologi. Lia Siyu juga terkejut, tapi ia dengan cepat menghampiri Sergey Brin dan mengirimnya untuk duduk. Wajah Sergey Brin pun berangsur normal, ia pun duduk dan tersenyum dengan sopan. Daniel juga dengan sopan membalas senyum Sergey Brin. Keduanya tak segera berbicara, mereka berdua saling memandang mata satu sama lain. Udara di ruang pertemuan menjadi dingin, ini membuat Lia Siyu khawatir dengan Daniel. Ia ingin menyapa Sergey Brin tapi Daniel sudah berbicara. "Selamat Datang di perusahaan Sky Technology, Tuan Sergey Brin. Saya Daniel, Ketua perusahaan Sky Technology" "Ya. Saya tidak menyangka bahwa pendiri perusahaan ini sangatlah muda." "Saya juga tidak menyangka bahwa salah satu pendiri Google yang merupakan raksasa teknologi mengambil inisiatif untuk berkunjung ke perusahaan kecil ini," kata Daniel dengan senyuman santai. Sergey Brin segera tersenyum mendengar perkataan Daniel. Anak ini tidak biasa! "Mari ke intinya, kedatangan saya ke sini adalah untuk membeli Sky Booster. Bagaimana dengan 1 juta US dollar?" Sergey Brin langsung membuka penawaran. Daniel kecewa dengan harga yang ditawarkan oleh Sergey Brin. Harga ini terlalu murah. Ia awalnya tak ingin menjual Sky Booster ini, tapi setelah mendapat berbagai teknologi dari laptop, jam tangan pintar dan kacamata pintar, ia tak segan untuk menjual, tapi juga tak terlalu bodoh untuk menjual denhan harga terlalu murah. "Tuan, harga yang anda tawarkan terlalu rendah. Jika Android Pie menggunakan Sky Booster ini, ini akan meningkatkan 50% kinerjanya. Apakah 1 juta US dollar harga yang pantas?" Sergey Brin terkejut. Awalnya ia mengira bahwa Sky Booster ini hanya bisa meningkatkan 20% kinerja android. "Lalu, 5 juta US dollar?" "Tuan, saya tahu bahwa Google menghabiskan banyak dana untuk meningkatkan kinerja dari Android, apakah 5 juta US dollar ini harga yang tepat?" "10 juta US dollar?" "10 juta?" Sergey Brin mengerutkan keningnya, 10 juta US dollar sudah banyak untuk perusahaan kecil ini, tapi bosnya tidak sesederhana itu. "15 juta US dollar?" kata Sergey Brin. Daniel masih terlihat santai, ia tersenyum dan berkata, "Tuan Sergey Brin yang terhormat, jika dengan 15 juta US dollar bisa menyaingi sistem operasi dari Apple, apakah itu harga yang pantas?" Sergey Brin menggertakkan giginya, ia tak menyangka bahwa anak muda di depannya ini begitu tinggi. Ia menghela nafas dan berkata, "25 juta US dollar, itu adalah harga tertinggi yang bisa saya tawarkan." Daniel tersenyum ia segera bersalaman dengan Sergey Brin, "Sepakat, tapi dengan satu syarat." Dahi Sergey Brin berkedut, ia tak menyangka anak ini terlalu serakah! "Apa itu?" "Setidaknya, sampai pada quartal kedua tahun 2019 Google tak menggunakan ini." Sergey Brin menghela nafas lega, pasalnya Android Pie akan rilis pada 7 agustus mendatang, karena itu dia tak keberatan. "Syarat ini bisa diterima. Sepakat." Keduanya tersenyum, akhir dari pertemuan ini akan diumumkan di konfrensi pers besok. Daniel mengirimkan USB Drive ke Sergey Brin dan Sergey Brin segera mentransfer uang ke rekening perusahaan Sky Technology. Lia Siyu kemudian mengirim Sergey Brin kembali, setelah itu dia kembali ke ruang pertemuan. Daniel juga menghela nafas lega. Ini adalah pertama kalinya ia menemui seorang petinggi dari perusahaan raksasa seperti itu. Lia Siyu kembali ke ruang pertemuan dan melihat Daniel, ia juga lega. Ia tak menyangka anak muda ini berani tawar menawar dengan perusahaan raksasa dari Amerika tersebut. "Lia Jie, semua 25 juta US dollar digunakan untuk perusahaan. Bersiap untuk membangun gedung kita sendiri." "Baiklah. Apakah kamu ingin kembali?" "Ya, biar nanti supir yang mengantarku. Lia Jie kembali bekerja." Lia Siyu mengangguk dan kembali bekerja. Sedangkan Daniel, ia kembali membawa tasnya lalu pulang ke rumah dengan mobil. 28 Bab 28 : Terungkap Setelah pulang, Daniel langsung membuka laptopnya dan memanggil Red Queen dan Via. Keduanya muncul dalam bentuk holografik yang nyata. "Via, bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Daniel. "Sekitar 63%, Tuan. Bentar lagi bakal selesai kok, hehe," jawab Via dengan tertawa kecil. "Lanjutkan," Daniel kemudian menoleh ke Red Queen, ia berkata, "Jangan melanjutkan proyek optimasi android, aku memiliki sesuatu." Red Queen menjawab dengan suara dingin, "Baik, Tuan." "Baiklah, aku mempunyai tugas untukmu, yaitu buatlah Asisten Pintar untuk sistem operasi android. Aku akan membantu juga." "Laksanakan, Tuan." Daniel menatap Via, ia berkata, "Via, setelah selesai, bantu aku dan Red kecil untuk mengerjakan proyek asisten pintar ini. Satu hal lagi. Jangan panggil aku Tuan, panggil saja Kakak, oke?" "Baik, Kak." Meskipun panggilan Tuan berbuah menjadi Kakak, nada Red Queen tetap dingin. "Hehe, baik Kakak, aku akan memanggilmu Kakak." Berbeda dengan Red Queen, jawaban Via seperti anak kecil yang bergembira. "Via, kembali bekerja. Red kecil, ayo kita juga bekerja." Via langsung menghilang, sedangkan Red Queen bersama dengan Daniel memulai proyek asisten pintar. Asisten pintar ini seperti Google Assistant, namun lebih canggih daripada Google Assistant. Asisten pintar ini dapat berganti aplikasi, menelusuri aplikasi, input suara, pencarian, mengobrol, dan bisa mengendalikan seluruh ponsel dengan suara saja. Tentu saja keakuratan suara sangat akurat, dan akan lebih akurat jika perangkat keras mikropon ponsel lebih canggih lagi. Asisten pintar juga sudah memasuki area kecerdasan buatan. Asisten pintar harus memiliki kode sumber inti dan arsitektur sistem operasi, sesuai dengan kode dan desain arsitektur, dapat dijalankan. Tanpa ini, asisten pintar tidak dapat berjalan atau akan dibatasi oleh sistem operasi ponsel sebagai perangkat lunak yang tidak dikenal. Alasan Daniel memilih Android karena bertipe open source, tidak seperti iOS yang close-source sehingga tak bisa memasuki kode sumber iOS. Daniel menggunakan bahasa komputer yang lebih sederhana dan lebih kuat lagi untuk menyusun asisten pintar. Karena ini, Red Queen menjadi bingung. Daniel memperhatikan ini dan akhirnya ia pun membuka mulutnya, "Red kecil, bahasa komputer yang aku gunakan ini lebih sederhana dan lebih kuat daripada bahasa komputer yang digunakan pada kode sumber kecerdasan buatanmu. Aku akan mengajarimu perlahan-lahan." "Baik, Kak," Red Queen membalas. Daniel dan Red Queen terus bekerja, sesekali Daniel mengajarkan beberapa bahasa komputer yang disederhanakan pada Red Queen. Mereka bekerja sampai jam dua siang, perut Daniel terasa lapar. Ia membiarkan Red Queen untuk melanjutkan pekerjaan dan Daniel memasak. Sambil memasak, dia melihat berita online. Ada berita tentang Sky Booster muncul di portal berita online tersebut. "Terkejut! Google membeli sebuah aplikasi booster, Sky Booster dari perusahaan yang baru berdiri di indonesia, PT. Sky Technology. Apakah ini kebangkitan Teknologi Indonesia?" "Google membeli sebuah aplikasi Booster dengan harga jutaan US Dollar!" "Sky Booster, aplikasi yang dibeli oleh Google dari perusahaan baru Sky Technology!" "PT. Sky Technology, Perusahaan baru yang sudah melesat ke perusahaan menengah!" Berbagai berita mengenai transaksi tadi pagi memenuhi berita di berbagai situs berita online, tak hanya di indonesia, kabar itu bahkan berhembus sampai ke negeri China. Daniel tersenyum melihat ini, kepribadiannya semakin berubah, ia awalnya acuh tak acuh, menjadi lebih tenang dan lebih berani lagi. Daniel menyelesaikan masakannya, kebetulan saat itu pintu terbuka. "Kakak, kami pulang!" kata Rika dengan semangat dan masuk ke rumah. Raka tak berbicara, ia langsung melepas sepatunya dan masuk langsung ke kamar. "Selamat datang!" teriak Daniel dari dapur. Rika datang ke dapur, ia ingin membantu Daniel, namun langsung dihentikan Daniel. "Ganti dulu bajumu, setelah itu langsung makan. Kalau mau bantu, cuci piring aja nanti setelah makan." Rika tertawa, ia menjawab, "Oke Kak." Kemudian langsung ke kamar dan berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, Rika memanggil Raka ke dapur, mereka pun makan bersama. Daniel kembali ke kamar setelah selesai makan, ia mengatakan pada Rika bahwa ia tak akan keluar sampai makan malam. ... Keesokan harinya. Daniel bangun tidur dengan wajah segar, meski ia tadi malam tidur jam satu dinihari, dengan tubuh yang sudah diperkuat, bahkan dengan tidur tiga sampai empat jam pun tubuhnya akan segar kembali. Melakukan kegiatan seperti biasanya, Joging, latihan seni beladiri, kemudian masak untuk kedua adiknya, lalu mandi dan berangkat sekolah. Sesampai di sekolah, Daniel duduk di tempatnya, kemudian seseorang menyapanya. "Selamat pagi, Daniel!" Daniel menoleh, ia melihat Bella yang menyapanya, ia berkata, "Selamat pagi, Bella." "Daniel, kamu kemarin kenapa nggak masuk sekolah? Apa kamu sakit?" tanya Bella dengan wajah khawatir. Daniel tersenyum, "Nggak, aku baik-baik aja, hanya sedikit masalah kok." Bella menghela nafasnya, ia berkata, "Syukurlah kamu baik-baik aja." Daniel tertawa, ia berkata dengan sedikit menggoda Bella, "Sepertinya ada yang mengkhawatirkanku ya." Wajah Bella memerah, ia tak membalas perkataan Daniel. Ia segera mengganti topiknya, "Ohya Daniel, apa kamu tau kalau Yudhistira wajahnya bengkak-bengkak? Kata mereka sih dia dipukuli sama orang jahat." "Oh?" Daniel pura-pura terkejut, ia melanjutkan, "Benarkah? Yah, bahkan jika benar, itu bukan urusanku sih." Jika Yudhistira mendengarkan apa yang dikatakan oleh Daniel barusan, dia pasti akan sangat kesal dan sangat marah. Sangat kebetulan sekali, Yudhsitira memasuki kelas, wajahnya yang bengkak sudah sembuh sedikit. Ketika memasuki kelas, Yudhistira bahagia ketika ia melihat Bella. Namun, kebahagiaannya hanya sebentar saja. Saat melihat Daniel mengobrol dengan Bella, tatapannya berubah menjadi tatapan kemarahan dan tatapan dengan niat membunuh. Daniel merasakan tatapan seseorang, ia pun menoleh dan menemukan Yudhistira menatapnya dengan mata merah. Daniel tersenyum, ia menyapa Yudhistira dengan nada ringan, "Oh, ketua kelas. Bagaimana kabarmu ketua kelas?" Seisi kelas terkejut dengan nada Daniel yang santai. Seluruh siswa di kelas 11 TKJ tahu bagaimana rasa saling benci keduanya, puncaknya adalah saat Yudhistira merebut pacar Daniel, Mitha. Sejak saat itu, kebencian antara keduanya semakin kuat. Di mata mereka Daniel adalah orang yang salah, sehingga mereka sering membully Daniel. Namun, semakin mereka membully Daniel, semakin acuh tak acuh dia. Wajah Yudhistira geram, tapi ia tak bisa menunjukan kegeramannya. Ia segera tersenyum dan berkata, "Baik-baik saja, tumben sekali Daniel peduli pada ketua kelas ini." Daniel tak terganggu dengan ucapan Yudhistira. Ia segera membalas, "Aku ini hanyalah siswa biasa yang miskin, bagaimana bisa mengobrol ria dengan tuan muda dari perusahaan besar. Ohya, bagaimana bisa ketua kelas yang di kawal pengawal khusus bisa babak belur, apakah diserang oleh gangster?" Yudhistira tak bisa lagi menyembunyikan wajah geramnya lagi. "Daniel, kau...!" Daniel pura-pura takut, ia langsung berkata, "Oh tuan muda, jangan menakut-nakuti siswa miskin ini. Baiklah, sepertinya itu topik sensitif bagi ketua kelas yang baru saja babak belur." "Nah ketua kelas, bagaimana dengan kabar aplikasi yang dibuat oleh perusahaanmu, Sky Booster?" tanya Daniel dengan sedikit senyum. Bella yang dari tadi memperhatikan akhirnya berbicara juga, "Iya, bagaimana kabar aplikasi itu Yudhistira?" Yudhistira tak memperhatikan berita-berita terbaru, ia hanya fokus pada bermain game. Karena ia merasa sudah sangat lpintar, ia tak mau belajar. Karena Bella sudah berbicara, demi memperbaiki wajahnya didepan Bella, ia pun berkata dengan percaya diri, "Oh, tentu saja aplikasi itu lagi diperbaiki dan ditingkatkan lagi performanya. Aku juga berpartisipasi langsung dalam pembuatannya saat liburan sebulan yang lalu." Daniel segera tertawa, ia bertanya, "Benarkah kau berpartisipasi saat pembuatannya? Sekarang perusahaanmu lagi meningkatkan kinerja aplikasinya?" Yudhistira tak mengetahui niat Daniel, meskupun ia merasa aneh, ia tetap menjawab dengan kebohongan yang sudah dipikirkannya, "Tentu saja benar. Aku juga sudah datang ke perusahaan kemarin sore. Meskipun wajahku bengkak, aku masih bisa membantu mereka." Daniel tertawa lagi, beberapa siswa di kelas bingung kenapa Daniel tertawa, begitu juga Bella yang ada di sampingnya. Namun, ada beberapa lagi yang langsung terdiam dan segera mengerti apa yang dimaksudkan oleh Daniel. Daniel tak tahan lagi, ia pun berkata sambil menujukan berita di ponselnya, "Bukannya Google sudah membeli Sky Booster? Bagaimana bisa kau tak mengetahui berita ini? Perusahaanmu bukan Sky Technology, bukan? Berarti semua yang kau katakan adalah kebohongan dan omong kosong, kan?" Boom! Seisi kelas terdiam. Hanya suara tawa Daniel yang terdengar. 29 Bab 29 : Kejutan Yudhistira belum pernah merasakan dipermalukan di depan umum seperti ini. Ia menundukan wajahnya yang merah karena malu, belum lagi ditertawakan oleh Daniel yang menambah rasa malunya. Namun, rasa malu itu akhirnya berubah menjadi amarah, ia menatap Daniel dengan tajam. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi pintu kelas terbuka. Semua perhatian mengarah pada orang yang membuka pintu kelas. Daniel juga memperhatikan itu, tapi dengan keadaan masih tertawa. Orang yang membuka pintu kelas adalah Max dan Regi. Keduanya bingung kenapa ditatap oleh semua orang di kelas dan juga bingung oleh tawa solo Daniel yang mengisi kesunyian ruang kelas. Keduanya saling bertatap muka Max pun angkat bicara, "Ada apa ini, Regi? Kok pada diam semua?" Regi mengerutkan keningnya, ia berkata, "Ngapain nanya ke aku, kan datangnya tadi sama-sama. Gimana sih?" Max menepuk dahinya, Ia pun bertanya lagi, "Tau nggak kenapa muka Yudhistira merah banget kayak kepiting kena api terus kebakar jadi arang yang akhirnya menjadi debu yang berterbangan?" Suara Max tidak keras, tapi seluruh murid di kelas mendengarnya dengan jelas. Regi juga berpikir, ia berkata, "Tapi kepitingkan terlalu merah, kalo dia itu ada merah mudanya, mukanya bonyok gitu, mirip apa ya?" Max menggelengkan kepalanya, "Ah, aku tau. Kalo mukanya kemerahmudaan, terus pipinya bengkak, itu mirip kayak Chu Fat Kai." Boom! Beberapa siswa tak tahan lagi untuk menahan tawa, akhirnya melepaskan suara tawa mereka yang memenuhi seluruh kelas. Dengan ini Yudhistira menjadi semakin malu. Ia menjadi bahan olokan trio Daniel. Regi memdengarnya juga tertawa, tapi dia dengan cepat memprotes Max, "Hei, itu terlalu kasar untuknya. Maksudku, terlalu kasar untuk Chu Fat Kai, dia lebih mirip babi." Akhirnya, semua murid di kelas tertawa. Yudhistira tak tahan lagi, ia mengebrak meja. Suara nyaring itu menyebabkan semua orang berhenti tertawa. Semuanya terkejut, tapi tidak dengan trio Daniel. Daniel pura-pura takut dan berkata, "Ya Tuhan, ketua kelas sudah ngamuk. Max, Regi, kalian gak takut apa?" Max pura-pura merinding, namun kepura-puraannya terlalu berlebihan, ia berkata sambil menjerit seperti perempuan, "Hii, kalau Tuan Muda sudah marah, habislah kita Daniel! Tuan Muda akan membawa pasukan lumpur bersama-sama untuk menghajar kita." Regi mundur selangkah, ia juga berkata, "Hii, takut!" Melihat ketiga akting seperti itu, Yudhistira semakin marah, ia kembali menggebrak meja lalu berkata dengan suara penuh amarah, "Diam kalian bertiga!" Ketiganya saling menatap satu sama lain, kemudian duduk di kursi mereka masing-masing dan diam. Murid lain pun mengikuti langkah ketiganya untuk kembali ke kursi masing-masing. Yudhistira melihat ini menjadi senang. Kalian takut dengan Tuan Muda tampan ini? Hei! Yudhistira kemudian duduk di meja guru, ia kemudian menggebrak meja beberapa kali untuk menunjukan aura mendominasinya. Namun, ia tak menyangka trio Daniel masih tertawa. Ia sekali lagi menggebrak meja guru dengan seluruh kekuatannya. BAM! Akhirnya, ketiganya berhenti juga tertawa. Yudhistira menunjukan senyum kemenangan, ia tak peduli lagi bagaimana citranya di sekolah, ia kemudian berkata dengan nyaring, "Kalian dengar! Jangan melakukan hal seperti yang dilakukan oleh ketiga orang idiot itu yang berani mengejekku! Jika kalian berani, kalian akan bernasib seperti ketiga orang itu nantinya! Lihatlah akibat bagi mereka yang mengejekku saat pulang sekolah nanti." Semua murid menundukan kepala mereka. Yudhistira menjadi semakin bangga karena menurutnya pidatonya berhasil menakut-nakuti para siswa. Namun, kebahagian Yudhistira tak berlangsung lama, suara serak dengan penuh kemarahan terdengar. "Yudhistira!" Yudhistira kemudian menoleh dan menemukan bahwa seorang guru dengan kepala botak menatapnya dengan mata kemerahan dan telinga penuh asap, seperti banteng yang sedang mengamuk! Yudhistira menelan ludah, keringat dingin mengalir di dahinya. Wajahnya menjadi pucat. "P-pak, i-itu hanya bercanda kok, Pak." Yudhistira berkata dengan terbata-bata. Pak Barudi mendengkus dingin, ia menghampiri Yudhistira lalu menatap seluruh murid dan bertanya, "Apakah benar yang dikatakan Yudhistira?" Max dengan cepat membuat wajah ketakutan yang ekstrim dan berkata dengan penuh kesedihan, "Pak, dia mengancam kami dengan sungguh-sungguh. Katanya kami akan dihabisi setelah pulang sekolah nanti, Pak." Daniel dan Regi hanya mengangguk dengan tatapan sedih. Pak Barudi pun menatap Yudhistira dengan tajam. Namun di sisi lain, Max mendapatkan dua jempol dari Daniel dan Regi yang membuatnya tersenyum bangga. Yudhistira melihat gerakan itu, ia dengan cepat menunjuk dan berkata, "Pak, mereka cuma akting doang!" Pak Barudi tak mendengarkan Yudhistira lagi, dia dengan cepat menarik tangan Yudhistira dan membawanya ke ruang BK. Suasana kelas menjadi normal kembali setelah Pak Barudi dan Yudhistira keluar dari kelas. Bella menatap Daniel dengan ekspresi rumit, ia kemudian berkata, "Daniel, kamu sepertinya berlebihan. Nggak boleh seperti itu, tau." Daniel menjawab dengan enteng, "Ini tidak berlebihan. Kamu saja tidak tau bagaimana sikap dia yang sebenarnya. Juga, bukankah dia sudah membohongimu?" "Memang dia membohongiku, tapi kan...." Daniel menggelengkan kepalanya dan menghela napas lemah, ia berkata dengan nada lembut, "Bella, aku tau maksudmu baik, tapi bagaimana sikap dia terhadapku itu bukan apa-apanya dibandingkan dengan ini. Jika kamu sudah mengetahui semua itu, kamu pasti akan paham dengan apa yang kumaksudkan." Setelah mengatakan itu, Daniel tak lagi memperhatikan Bella. Semua orang di dalam kelas belajar secara mandiri. Sehari sekolah dilalui tanpa kejadian khusus seperti tadi, bel pulang berbunyi. Yudhistira yang sudah kembali setelah mendapat ceramah Pak Barudi cemberut sepanjang pelajaran berlangsung. Ia juga sesekali menatap Daniel dengan tatapan membunuh. Ia langsung pulang dan masuk ke mobil yang telah menjemputnya. Daniel tak menghiraukan Yudhistira sama sekali, ia berjalan pulang dengan langkah yang sangat ringan. Sedikit dendam di hatinya sudah mulai berkurang, meski begitu, masih ada banyak dendam di hatinya. Daniel dengan cepat sampai di rumah, ia disambut oleh seekor kucing. Ia menghela napas setelah melihat kucing didepannya. Ia kemudian menggendongnya dan membawanya ke dalam kamar, kemudian meletakkannya di meja. Daniel membuka laptop untuk menulis kode asisten pintar, tapi ia segera ingat bahwa ia harus memasak. Ia kemudian memasakkan makanan, kebetulan Rika dan Raka sudah pulang, Rika kemudian membantunya memasak. Ketika semua sudah selesai, ketiganya segera makan. Rika membersihkan piring, Raka kembali ke kamar untuk bermain game, sedangkan Daniel juga kembali ke kamarnya untuk melanjutkan menulis kode asisten pintar. Saat membuka pintu kamarnya, ia menemukan kucing sedang bermain-main dengan laptopnya. Ia terkejut dan dengan cepat menghentikan kucing itu untuk mengacau pekerjaan yang ia lakukan. Setelah kucing itu ditangkap, ekspresi kucing itu menjadi kesal, namun kucing itu sama sekali tak bisa melawan Daniel. Setelah meletakkan kucing itu di kasur, ia dengan cepat melihat kode yang ia tulis sebelumnya, namun ia terkejut ketika melihat laptopnya. Bahasa komputer yang ia tak ketahui sama sekali muncul di laptopnya. Awalnya ia mengira itu hanyalah keisengan si kucing. Namun, setelah diperhatikan lebih dalam, bahasa komputer yang digunakan oleh kucing itu sangat maju. Berpuluh-puluh kali lipat melebihi bahasa komputer yang disederhanakan yang dipakai oleh Daniel sebelumnya. Daniel menatap kucing itu dengan heran. Apakah ini masih kucing normal? Saat ia memikirkan itu, sebuah suara muncul dalam pikirannga. Suara robot terdengar, "Halo, Host!" "Oh, itu kau Sky!" Daniel berseru bergembira, ia kemudian bertanya, "Sky, apakah kau tau apa saja fungsi dari kucing itu?" "Tentu saja tau," jawab Sky. Mata Daniel cerah, ia dengan cepat bertanya pada Sky, "Lalu, apa saja fungsi-fungsinya?" Sky dengan sengaja menunda untuk menjawab, ia bertanya, "Apakah kau benar-benar ingin tau fungsinya?" Daniel sedikit kesal, tapi dia menjawab dengan cepat, "Tentu saja aku mau." Sky tersenyum dalam pikiran Daniel, ia kemudian berjata, "Maka kau harus membayar harga untuk mengetahui fungsi-fungsi mengenai kucing itu. Tapi, karena ini hari promo dan aku sedang baik hati, maka harganya adalah 10 ribu triliyun rupiah." Daniel langsung kesal, ia berkata, "Sky, berhentilah bercanda! Aku benar-benar ingin tau tentang kucing ini!" "Oke-oke, karena itu terlalu mahal, maka harganya 1,4 juta rupiah saja," kata Sky menawar. Kemudian, layar virtual muncul di depan Daniel, isinya mengenai transaksinya dengan Sky. Daniel langsung memilih setuju. Setelah menerima uang dari Daniel, Sky langsung berkata, "Sebenarnya, ada sebuah chip di penyimpanan sistemmu, itu semua berisi tentang fungsi-fungsi dan berbagai hal mengenai kucing itu. Cukup tempelkan pada kucing itu dan secara otomatis akan memberitahumu mengenai seluruh hal tentang kucing itu. Kalau hanya itu, maka aku akan pergi. Aku mau push rank dulu, sampai jumpa." Daniel menjadi lebih kesal lagi. Ia ditipu oleh Sky, tapi ia segera menghilangkan kekesalan itu dan memindahkan fokusnya pada kucing di kasurnya. Daniel mengambil chip itu di penyimpanan sistem. Ia sebenarnga heran, bagaimana bisa kucing menerima chip ini? Kucing itu bahkan tak terlihat seperti robot sama sekali. Namun, ia segera menaruh chip di atas kepala kucing. Tepat setelah chip hendak menyentuh kepala kucing, sebuah pemandangan yang mengejutkan terjadi. Daniel sangat terkejut melihatnya. 30 Bab 30 : Kucing R-I0ne Daniel terkejut dengan apa yang dilihatnya. Kepala kucing perlahan terbuka seperti sebuah mesin, lalu ada tangan kecil yang mengambil chip yang ada di tangan Daniel. Setelah chip itu terpasang, keajaiban terjadi. "Kucing" yang awalnya adalah seekor hewan berubah menjadi helm yang terlihat sangat futuristik, berbagai hal banyak tak diketahui Daniel. Sebuah suara terdengar. "Tuan, silahkan kenakan helm ini." Daniel terkejut, ia melihat helm dengan keraguan. Ia kemudian bertanya, "Apakah ini aman bagiku?" Suara itu terdengar lagi. "Tuan, Helm ini sangat aman untuk Anda." Daniel mengangguk, ia mulai mengenakan helm itu. Helm itu tiba-tiba masuk mode terkunci. Daniel mencoba melepas helm itu tapi tak bisa. Ia menjadi panik, ia berusaha keras melepas helm itu, tapi suara kucing yang menjadi helm terdengar lagi. Kali ini kalimat dari helm itu membuatnya takut. "Tuan, tolong tenanglah. Ini hanyalah semacam prosedur yang ditetapkan oleh perusahaan profesor untuk pengguna Kucing R-I0ne. Jika dilepaskan secara paksa, otak pengguna akan rusak dan yang paling parah bisa menyebabkan kematian." Mendengar itu, Daniel terdiam. Ia kembali tenang dan tak lagi mencoba untuk melepaskan helm. "Tuan, silahkan rileks dan tutup mata Anda." "Baik." Daniel mulai menutup matanya. Suara helm itu terdengar lagi. "Verifikasi pengguna dimulai ... Verifikasi DNA Sukses." "Memulai pemindaian iris mata ... pemindaian sukses ... memulai pemindaian gelombang otak ... pemindaian sukses ... mulai menautkan ... menautkan sukses." Daniel merasakan pusing saat ini, ia juga merasa mengambang di udara. Namun, setelah beberapa detik, Ia merasakan gravitasi lagi. Ia membuka matanya dan melihat pemandangan padang rumput yang luas. "Ini..." Daniel bingung, ia kira hanya menautkan seperti menautkan sistem, tapi ternyata hal yang berbeda. Ia merasa sedang di dunia lain. Suara helm terdengar lagi. "Tuan, apakah Anda ingin mulai mengintegrasikan pengetahuan dan fungsi-fungsi Kucing R-I0ne?" Daniel terkejut, ternyata dia juga mendapatkan banyak hal dari kucing ini. Ia bersemangat, ia kemudian berkata dengan gembira, "Mulai!" "Mulai berintegrasi dengan pengguna!" Ketika suara itu berakhir, proses integrasi berjalan. Daniel melihat berbagai fungsi Kucing R-I0ne dan ia terkejut. Bukan terkejut karena fungsinya, tapi terkejut karena pembatasan dari profesor yang membuat Kucing R-I0ne. Fungsi perubahan yang dilihatkan adalah Kucing R-I0ne hanya bisa berubah menjadi Helm VRGame. Ini adalah fungsi perubahan pertama untuk membuka fungsi berikutnya, profesor menyebutanya dengan nama Skill Transformation Fungsi lainnya adalah membantu pengguna untuk menulis kode sebuah program perangkat lunak dasar hingga menengah. Fungsi ini disebut sebagai Skill Lalu, pengetahuan yang didapatkan oleh Daniel adalah Bahasa Komputer yang digunakan oleh profesor untuk membuat kecerdasan Kucing R-I0ne. Fungsi ini disebut sebagai Knowledge Daniel kembali tenang, ia memikirkan ulang dan akhirnya menjadi semangat lagi. Fungsi ini hanyalah awal, jika dia bisa menyelesaikan semua persyaratannya, bukankah itu akan menjadi lebih hebat lagi? Memikirkan itu, Daniel menjadi bersemangat. Lalu suara terdengar lagi. "Proses integrasi pertama selesai. Proses integrasi selanjutnya akan dilakukan setelah menyelesaikan persyaratan." "Pengguna silahkan memberi nama untuk kucing R-I0ne." "Dia terlihat seperti kucing dan robot, bisa menjadi apa saja, dan selalu bisa diandalkan. Berarti namanya adalah Ragdoll." "Penamaan Ragdoll berhasil." Setelah itu Ragdoll muncul didepannya. "Halo, Tuan." Didepannya, seekor kucing berbeda dari sebelumnya terlihat. Itu kucing ras Ragdoll yang keimutannya sangat tinggi. Daniel tertegun, ia kemudian berkata, "Apakah kau bisa berubah menjadi Ragdoll di dunia nyata?" "Bisa, Tuan." "Kalau begitu, jangan berubah menjadi Ragdoll. Lebih baik menjadi kucing biasa saja." "Baik, Tuan." Ragdoll menuruti dan kembali menjadi kucing hitam biasa. "Nah, kalau gini, bisa diajak jalan bareng." Daniel tersenyun puas, ia kemudian membaca persyaratan untuk mendapatkan Skill Transformation, Skill dan Knowledgelainnya. Sebuah layar virtual muncul di depannya, layar itu berisi persyaratan yang dibutuhkan. Persyaratan pertama adalah tugas membunuh 10000 monster mekanik yang muncul di padang rumput. Ternyata ini adalah game virtual reality! Daniel sangat bersemangat kemudian ia mengklik menerima. Cahaya meneyelimuti Daniel, kemudian suara sistem game berbunyi. "Ding!" "Selamat Datang di Awakening" "Selamat, Anda mendapatkan peralatan pemula." Daniel buru-buru membuka storagenya dan menemukan pedang laser pemula, pakaian, celana, sepatu, obat-obatan, dan beberapa barang lainnya Daniel menggunakan semuanya, ia kemudian melihat status karakternya. Nama : Daniel Level : 0 (0/100) Job : Tidak ada Health : 110/110 Energy : 110/110 Stamina : 100/100 Attack : 2-2 Defense : 4 STR : 1 VIT : 1 DEX : 1 AGI : 1 Atribut yang belum di gunakan : 10 Daniel membagi Atributnya menjadi 3 untuk STR, lalu 2 untuk VIT, 2 lainnya diletakkan pada AGI untuk meningkatkan kecepatan gerakan dan kecepatan serangan dan 3 diletakkan pada DEX untuk meningkatkan akurasi serangan dan menambah kapasitas Energy. Setelah itu, semua statusnya meningkat. Daniel menekan ikon Skill, dan ada beberapa skill di sana. Memeriksa: - (Tidak bisa ditingkatkan.) Gunakan skill ini untuk melihat status monster 10 level lebih tinggi dari level anda. Tebasan: Level 1 (Dapat ditingkatkan) Menggunakan pedang dan menebas musuh. Menghasilkan 110% Attack. Cost : 5 Energy. | Cooldown Skill : 5s. Tendangan: Level 1 (Dapat ditingkatkan) Menggunakan kaki untuk memuku mundur musuh. Menghasilkan 105% Physical Attack. Cost : 2 Energy. | Cooldown Skill : 2s. Daniel mengangguk setelah melihat dua skill menyerang. Ia memikirkan bagaimana strategi untuk menghadapi 10000 monster mekanik. Ia kemudian memeriksa tugas yang ia dapatkan untuk memenuhi persyaratan membuka fitur lapisan pertama. "Misi : Kalahkan semua monster mekanik yang menyerbumu. Keterangan Misi : Alien menyerang Bumi, nonster mekanik akan menyerbu tanah ini, setiap monster dibagi menjadi 50 gelombang. Tiap-tiap gelombang memiliki satu Boss. Persiapkan dirimu dan pertahankan Bumi dari serangan Alien. Hadiah Utama : Membuka Fitur Lapisan Pertama. Hadiah Tambahan : Skill Lanjutan, Gold Tier Equipment, 100.000 Koin. Hukuman : Tidak ada. Waktu : Akan dimulai jam 12 malam dalam waktu dunia nyata." Daniel mengerutkan kening, ia kemudian bertanya pada Ragdoll, "Ragdoll, apakah ada perbedaan waktu dengan dunia nyata? Kau paham dengan jam 12 malam dalam dunia nyata?" Ragdoll menjawab, "Ada perbedaan waktu, Tuan. Perbedaan waktunya adalah 1:6, Jika di dunia nyata 1 jam, maka disini sudah 6 jam." Daniel terkejut, ia pun bertanya lagi, "Apakah ada efek samping yang akan terjadi padaku?" "Tidak ada, Tuan. Semua hal mengenai Kucing R-I0ne aman. Tak ada masalah sama sekali." Daniel menghela napas lega. Ia khawatir kalau dia akan cepat tua jika terlalu lama di dalam game virtual reality ini. Daniel lalu mendapatkan ide, ia kemudian bertanya, "Ragdoll, apakah bisa melakukan pekerjaan seperti mengetik, belajar, ataupun meneliti di sini?" Ragdoll menjawab, "Bisa. Namun, semua data akan tersimpan di sistem penyimpanan Kucing R-I0ne. Tuan bisa memindahkannya ke laptop, komputer atau ponsel dan juga jam pintar. Sedangkan untuk belajar, helm akan secara langsung menyimpannya ke dalam memori otak sehingga tak diperlukan waktu dan usaha untuk mengingatnya. Hanya saja, tetap dibutuhkan usaha untuk mengolah semua informasi yang dikirimkan ke memori otak. Tuan juga bisa mentransfer seluruh informasi yang ada diperangkat lain ke helm ini atau jika Tuan ingin, Tuan bisa menjelajah internet melalui helm ini." Mata Daniel bersinar cerah, ia kemudian bertanya dengan semangat, "Benarkah?" Ragdoll mengangguk, "Benar. Namun, Anda harus membuka fitur lapisan ketiga agar bisa menggunakan fitur tersebut." Daniel langsung patah semangat, ia berkata dengan nada lemah, "Ah, baik, baik. Semuanya butuh persyaratan agar bisa terbuka lebih banyak fitur. Aku paham." Setelah beberapa saat, Daniel akhirnya kembali tenang. Daniel bertanya lagi, "Ragdoll, bagaimana aku keluar dari permainan?" Ragdoll menatap Daniel dengan heran, ia berkata, "Tentu saja bisa. Bukannya ada dipilihan menu?" Daniel membuka menu dan menggulirkan ke bawah. Ia menemukan pilihan Log Out disana. Daniel menekan pilihan Log Out, dan akhirnya ia kembali pada dunia nyata. Helm juga sudah melonggarkan kunciannya sehingga Daniel bisa melepas helm itu. Setelah helm itu diletakan di atas kasur, perlahan-lahan helm itu berbuah menjadi kucing hitam, yang saat ini sudah diberi nama Ragdoll. "Ragdoll, kau benar. Aku baru saja menghabiskan satu jam lebih di dunia virtual tersebut, tapi disini baru lebih dari sepuluh menit. Teknologi yang sangat canggih!" kata Daniel yang dipenuhi dengan semangat kembali. Ragdoll menjadi sedikt sombong, ia berkata, "Tentu saja, Tuan. Masih banyak hal menarik lainnya yang berada pada Ragdoll ini." Daniel memutar matanya, ia berkata, "Maka, bantulah aku mengerjakan asisten pintar ini. Lebih cepat pekerjaan ini selesai, lebih banyak waktu lagi aku meluangkan waktu untuk membuka fitur-fitur yang ada padamu itu." Ragdoll bersemangat, ia dengan cepat menghampiri laptop dan langsung ingin mulai mengetik. Tentu saja Daniel menangkap Ragdoll. Ia berkata, "Tunggulah, aku akan membeli komputer baru, saat itu kamu akan mulai membantuku." Ragdoll menunduk menandakan kekecewaan dan kesedihan, "Baiklah, Tuan." Daniel tak memperhatikan apa yang dikatakan oleh Ragdoll. Ia langsung menulis kode asisten pintar dengan bahasa komputer baru yang lebih canggih yang didapatkannya dari Ragdoll. Ia juga tak lupa membawa Red Queen untuk membantunya sambil mengajarinya bahasa komputer baru. Waktu berjalan cepat, Daniel keluar dari kamarnya setelah jam 7 malam. Daniel mandi, lalu memasak untuk makan malam. Kemudian dia kembali lagi ke kamarnya. Daniel mengetik kode sampai jam 11:58, ia kemudian berhenti dan berkata pada Ragdoll, "Ragdoll, berubah menjadi helm VRGame." "Baik, Tuan." Ragdoll merubah tubuhnya langsung menjadi helm VRGame. Daniel mengenakan helm itu dan menutup matanya beberapa saat. Ketika ia membuka matanya, ia masih ada di padang rumput sama seperti sebelum dia log out. Setelah 1 menit, Sistem game berbunyi. "Ding!" "Penyerbuan monster terlah dimulai. Persiapkan dirimu dan musnahkan sampai monster punah sepenuhnya!" Daniel memegang pedang lasernya dan menyatakan persiapannya. Lalu, seekor monster mekanik pun menunjukkan dirinya di hadapan Daniel. 31 Bab 31 : Gelombang Pertama Selesai "Penyerbuan Monster telah dimulai!" Seekor monster muncul di hadapan Daniel. Monster itu berbentuk skeleton, tapi memiliki banyak perbedaan dari skeleton biasa, terutama bagian tulang-tulangnya. Terlihat lebih futuristik. Daniel menggunakan skill Memeriksa dan menemukan atribut monster. Mecha Baby Skeleton- Common Monster Level 0 Health : 25 Attack : 5 Defense : 3 Mecha Baby Skeleton! Daniel terkejut setelah melihat atribut monster. Ia kemudian bergerak menutup jarak antara dia dan mecha baby skeleton. Ia langsung menggunakan Tendanganke arah kepala mecha baby skeleton, tapi tendangannya meleset melewati kepala baby skeleton. Daniel mundur beberapa langkah. Ia kembali maju menyerang menggunakan pedang, tapi ayunan pedang itu meleset lagi. Ia menjadi bingung bagaimana bisa itu terjadi. Ia kembali menyerang dengan tendangan dan berhasil mengenai dada Mecha Baby Skeleton. -7! Baby Skeleton tak tinggal diam, ia juga menyerang dengan tulang-tulang tajam di tangannya. Serangan itu berhasil mengenai Daniel dan mengurangi kesehatannya sebanyak 6 poin. Daniel kemudian melanjutkan serangannya dengan serangan normal. Meski beberapa kali serangannya meleset, ia mulai terbiasa dengan ritme dan tubuh virtualnya. Ia mengayunkan pedangnya, mengenai kepala Baby Skeleton. -6! Lalu ia menindaklanjuti dengan skill Tebasan. -13 (Crit!) Ding! "Selamat, Anda berhasil membunuh Mecha Baby Skeleton. Mendapatkan 5 Exp." Baby Skeleton roboh, kemudian ada barang yang tertinggal disana. Drop Item! Daniel dengan cepat mendekati rongsokan Baby Skeleton dan melihat sebuah barang. Kapsul Stamina Gunakan untuk memulihkan stamina sebanyak 20 poin. Daniel langsung memasukkanya ke tas, lalu melihat ada beberapa Mecha Baby Skeleton menuju kearahnya. Daniel menggenggam pedangnya dan melesat ke arah Mecha Baby Skeleton, dia mengawali dengan Skill Tendangan, lalu dilanjutkan dengan serangan normal dan diakhiri dengan Tebasan. 1 Mecha Baby Skeleton mati. Daniel mengarahkan pandangannya pada Mecha Baby Skeleton yang lain, ia melanjutkan serangannya. Beberapa menit kemudian, levelnya naik jadi level 1. Daniel kemudian menambahkan 5 poin atribut gratis ke STR 3 poin, DEX 1 poin dan AGI 1 poin. Ia meminum Airdan memakan Roti untuk mengembalikan Energy dan Health yang sudah hilang. Setelah selesai, ia kembali masuk ke gerombolan Mecha Baby Skeleton. Dengan kekuatannya meningkat, ia dengan mudah membunuh mereka dengan serangan normal. Pukulan -7! Serangan Pedang -8! Tendangan-10! Ding! "Selamat, Anda membunuh Mecha Baby Skeleton. Mendapatkan 4 Exp." Daniel melihat notifikasi dan tidak terkejut. Bagaimanapun juga Mecha Baby Skeleton adalah monster level 0, jadi sudah sewajarnya Exp akan berkurang ketika level pemain yang melebihi level monster membunuh monster itu. Daniel lalu melanjutkan pembunuhan pada Mecha Baby Skeleton. Setelah puluhan kali membunuh Mecha Baby Skeleton, Daniel menjadi sangat terbiasa dan mulai mencoba berbagai gerakan bela diri di dunia nyata. Daniel berlari mendekati Mecha Baby Skeleton, ia kemudian berhenti tepat di depan Mecha Baby Skeleton, lalu menarik kepala monster dan menghantamkan ke lututnya. -14! (Crit!) Serangan ini menghasilkan kerusakan lebih dari setengah dari kesehatan Baby Skeleton. Daniel lalu mundur beberapa langkah, ia mempraktekan tendangan berputar dan kemudian tumitnya mengenai kepala Mecha Baby Skeleton. -15! (Crit!) Hanya dengan dua serangan fisik langsung membunuh Mecha Baby Skeleton. Daniel sangat senang setelah percobaannya ini. Ia kemudian berpikir, jika tubuh bisa digerakan seperti ini, bisakah pedang laser ini juga bisa digunakan sefleksibel tubuh? Ia kemudian dengan senang hati mencobanya. Ia bergeser ke samping, melihat Mecha Baby Skeleton yang lambat, ia segera menyerang dengan pedangnya. Pedang itu mengenai dada Mecha Baby Skeleton, mengurangi kesehatan monster itu sebanyak 8 poin. Setelah itu, ia berputar dan mengayunkan pedang dengan penuh kekuatan. Akibatnya, itu menyebabkan efek knock back. Daniel tak membuang kesempatan ini, ia kemudian menggunakan gagang pedang menyerang dagu monster itu. -7! Mecha Baby Skeleton pun mati. Daniel kemudian dengan sangat bergembira mencoba berbagai kombo, dari menggunakan kaki, lutut, tinjuan, siku, tumit, telapak tangan, dan berbagai gerakan lainnya. Karena terlalu larut dalam pertarungan, semua Mecha Baby Skeleton mati. Kemudian terdengar dering. Ding! "Boss gelombang pertama akan muncul." Daniel merasakan aura dingin, ia kemudian berbalik dan melihat Boss monster tersebut dengan skill Memeriksa. Mecha Boss-Baby Skeleton- Boss Monster Level : 2 Health : 200/200 Attack : 13 Defense : 8 Boss itu setinggi 2 meter, jauh dari kata Bayi dalam namanya. Daniel menghirup napas dingin, ia kemudian menatap Boss monster dengan semangat. Ia ingin bergerak namun merasa lemah, ia melihat bahwa staminanya berkurang banyak. Ia mengambil kapsul stamina dan kembali merasa segar lagi. Mecha Boss-Baby Skeleton membawa pedangnya mendatangi Daniel dengan tindakan kejamnya. Boss menyerang Daniel dengan cepat, reaksi Daniel memang jauh diatas manusia rata-rata, tapi ia tak bisa bergerak tepat waktu karena terkejut. Serangan itu mengenai Daniel dan mengurangi kesehatannya sebanyak 13 poin. Kecepatan serangan Boss tersebut dua kali lipat daripada Mecha Baby Skeleton yang biasa. Daniel memperbaiki keseimbangannya setelah diserang, ia dengan cepat bergerak maju ke arah Boss dan langsung menggunakan skill Tendangandengan kaki kanannya. Skill itu mengenai bahu Boss. -6! Daniel lalu melanjutakan dengan memutar tubuh, menggunakan tumit kaki kirinya untuk menyerang kepala Boss. Tendangan itu berhasil mengenai Boss. -5! Daniel mundur dengan jarak pendek, ia kemudian menggunakan tendangan T langsung mengarah ke dada Boss. Setelah menerima tendangan itu, Boss terhuyung sedikit. Setelah keseimbanganny stabil, ia mengayunkan pedangnya ke arah Daniel. Daniel menunduk menghindari serangan Boss, lalu menggunakan tinju uppercut menyerang dagu Boss. Serangan itu sukses dan membuat boss terhuyung ke belakang. Ia melanjutkan dengan menggenggam kepala Boss dan menariknya sembari lututnya juga mengarah pada kepala Boss. -10! (Crit!) Ding! "Serangan Anda menyebabkan stun satu detik pada Boss." Karena serangan itu, boss mengalami stun satu detik. Daniel menggunakan kesempatan ini untuk menyerang dengan kedua sikunya secara bergantian. Waktu satu detik sangat singkat, Daniel kemudian bergerak mundur. Kesehatan Boss berkurang seperempat. Boss itu marah, lalu menyerang Daniel dengan brutal dan cepat. Serangan itu menyebabkan Daniel sedikit kualahan untuk menghindar. Meski pikirannya bisa mengikuti serangan itu, tapi tubuhnya tak bisa mengimbangi serangan itu karena kurangnya atribut Agility. Dia berhasil mengindar beberapa serangan, namun juga ia terkena tiga serangan pedang Boss. Kesehatannya turun hingga 60%. Serangan Boss kembali melambat, ini kesempatannya untuk membalas serangan Boss. Daniel menggunakan skill Tendangandengan kaki kanannya menuju lutut Boss. Tendangan itu berhasi mengenai lutut Boss dan membuat kaki Boss sedikit tertekuk. Ia melanjutkan dengan tendangan lutut kiri mengarah ke perut Boss. Setelah terkena tendangan itu, gerakan Boss seperti gerakan memuntahkan darah, membuat Boss sedikit membungkuk. Daniel mengambil langkah ke samping, dan melompat lalu menggunakan kaki kanannya kepala Boss bagian belakang. Namun, Boss itu sempat menoleh ke arah Daniel sehingga yang terkena bukanlah kepala bagian belakang, tapi pipi Boss. Boss tersungkur ke depan, Daniel mengambil langkah berlari lalu melakukan dropkick ke arah kepala Boss. -15! (Crit!) Daniel jatuh terbaring setelah melakukan dropkick pada Boss. Setelah Daniel bangun, Boss pun bangun dan siap untuk mengayunkan pedangnya pada Daniel. Daniel menghindar, ia melesatkan jab langsung pada wajah Boss. Boss itu marah, ia mengayunkan pedangnya lagi. Namun, serangannya meleset. Daniel lalu melanjutkan dengan Straight dan Hook, menyebabkan Boss terkena stun lagi selama satu detik. Daniel lalu menggunakan siku kanan mengarah pada Boss, kemudian berputar dan melanjutkan serangan dengan siku kirinya. Ia menggunakan telapak kakinya untuk mendorong mundur Boss, lalu berlari dua langkah menendang dengan skill Tendanganpada dagu Boss yang menyebabkan knock up pada Boss. -18! (Crit) Kesehatan Boss hanya tersisa 37 poin lagi. Karena kesehatan Boss di bawah 20%, maka Boss otomatis mengaktifkan mode mangamuk. Kecepatan serangan dan kecepagan gerakan Boss meningkat sebanyak 20% saat mode mengamuk. Selain itu, serangan Boss juga meningkat beberapa poin. Daniel menjadi waspada melihat mode mengamuk Boss. Boss mengayukan pedanganya dengan cepat, serangan itu mengenai Daniel dan mengurangi kesehatannya sebanyak 20 poin. Kesehatan Daniel hanya tersisa 45% saja. Boss menindaklanjuti serangan itu dengan mengayukan pedangnya lagi. Kali ini Critical Damage dihasilkan oleh Boss. -40! (Crit!) Kesehatan Daniel hanya tersisa 14 poin lagi. Daniel merasakan bahaya, ia segera meminum obat, yang mengembalikan kesehatannya sebanyak 30 poin. Boss itu menyerang lagi, tapi kali ini Daniel bisa menghindarinya. Setelah menghindar, Daniel melakukan serangan balik. Ia meninju langsung ke wajah Boss. -7! Lalu bergerak dengan cepat menendang lutut bagian samping Boss hingga tertekuk. -6! Ia kemudian menggunakan telapak kaki ke arah Boss dan menghasilkan stun satu detik. -7! Daniel mengambil ancang-ancang, lalu melompat, menggunakan Skill Tendanganke arah kepala Boss. Skill itu mengenai kepala bos dan menghasilkan Critical Damage. -18! (Crit!) Setelah itu, suara dering berbunyi. Ding! "Selamat, Anda membunuh Boss pertama di gelombang pertama. Mendapatkan 700 Exp, Helm Pelindung, 5 Obat Kesehatan, 5 Minuman Energi, 5 Kapsul Stamina." "Gelombang berikutnya akan dimulai dalam 5 menit. Pastikan Anda sudah siap." Mendengar notifikasi dari sistem game, Daniel akhirnya bisa bernapas lega. 32 Bab 32 : Fungsi 『Transformasi』 Waktu istirahat gelombang pertama telah usai, Daniel bangkit dari rumput. Ia kemudian menggunakan helm yang ia dapat dari gelombang sebelumnya. Helm itu meningkatkan defense dan jumlah kesehatannya. Selain itu, ia juga menambahkan semua bonus atribut yang ia dapatkan ke STR. Suara sistem permainan pun terdengar. "Gelombang kedua dimulai!" Setelah suara itu usai, segerombolan monster pun perlahan mendekati Daniel. Daniel meenghirup napas dalam-dalam, lalu dia menatap tajam pada mereka dan tersenyum gembira. Ia tak ingin menghabiskan banyak waktu dan segera berlari ke arah gerombolan monster itu. Setelah mendekati 2 meter dari monster, ia menyiapkan skill Tendangan, lalu meluncurkannya pada monster. -23! Lalu memutar badannya dan melakukan serangan lain. -14! .... 33 jam telah berlalu. Semua monster telah mati, Daniel terbaring di padang rumput dengan banyak rongsokan berasal dari tubuh Boss gelombang terakhir. Ia kelelahan tapi masih bisa tersenyum gembira, "Akhirnya, pertarungan telah berakhir." Setelah itu, suara menggema datang dari langit. "Selamat, Anda telah membunuh Lembuswana. Mendapatakan 2.000.000 Exp, 2 Level, Set Perlengkapan Dark-Gold, Skill Menengah : Bom Laser, Mendapatkan 1.000.000 Koin, 2 x99 Obat Kesehatan Menengah, 2 x99 Minuman Energi Menengah, 2 x99 Kapsul Stamina." Setelah notifikasi sistem selesai, Tubuh Daniel bersinar keemasan empat kali, menandakan bahwa ia naik level. Daniel sekarang sudah Level 51. Setelah cahaya emas berakhir, suara sistem terdengar lagi. Ding! "Selamat, Anda telah menyelesaikan tugas Kalahkan semua monster mekanik yang menyerbu." "Fitur Lapisan Pertama Kucing R-I0ne Terbuka!" "Mendapatkan hadiah tambahan, Skill Lanjutan, Gold Tier Equipment, Koin 100.000." "Apakah Anda ingin memulai proses integrasi Fitur Lapisan Pertama?" Daniel mengangguk, ia menjawab, "Ya!" Saat itu juga, proses integrasi dimulai. Daniel merasakan sakit kepala karena banyak pengetahuan yang masuk ke otaknya. Belasan menit telah berlalu, akhirnya proses integrasi selesai. "Proses Integrasi Selesai. Tugas berikutnya telah dibuka." Daniel menghela napas lega, ia segera memeriksa isi tugas tersebut. "Tugas : Tingkatkan levelmu ke level 50. Deskrkpsi Tugas : Meningkatkan level dengan cara membunuh monster. Hadiah Utama : Membuka Fitur Lapisan Kedua. Hukuman : Penghancuran diri R-I0ne. Waktu : Tidak ada." Setelah selesai melihat tugas, Daniel mendengar notifikasi lagi. "Selamat, Anda telah menyelesaikan tugas Tingkatkan levelmu ke level 50." "Fitur Lapisan Kedua Kucing R-I0ne Terbuka!" "Apakah Anda ingin memulai proses integrasi Fitur Lapisan Kedua?" Daniel yang masih pusing, menggertakkan giginya, ia berkata, "Mulai!" Sekali lagi, kepalanya diisi dengan banyak ilmu pengetahuan, berbagai bidang ilmu. Tak hanya teknologi, tapi juga fisika, biologi, kimia, ekonomi dan lainnya. Daniel merasakan kepalanya ingin pecah. Belum lagi, fungsi TransformationdanSkillyang membuat kepalanya semakin pusing. Setelah satu jam lamanya, proses integrasi pun selesai. "Proses Integrasi selesai. Tugas berikutnya telah dibuka." Daniel berbaring, dia mengambil napas dalan-dalam kemudian mulai mencerna semua pengetahuan yang ia dapat. Beberapa menit kemudian, ia selesai mencerna seluruh pengetahuan. Serum Prajurit Super berperan besar dalam perluasan domain otaknya, sehingga ia dengan cepat bisa mengingat, mencerna dan mengolah pengetahuan yang ia dapat. Daniel langsung memilih untuk log out. Kembali pada dunia nyata, Daniel segera melepas helmnya. Helm itu juga berubah menjadi kucing hitam. Daniel meregangkan tangannya. Tubuhnya terasa segar, tapi mentalnya terasa sedikit lelah. Bagaimana pun juga, setelah bertempur 33 jam tanpa berhenti, pasti banyak mengkonsumsi energi mentalnya untuk mempertahankan fokus saat pertarungan berlangsung. Ia menoleh ke samping, menatap Ragdoll, "Ragdoll, bagaimana dengan fungsi transformasimu? Apa kau bisa berubah menjadi gelang atau kalung?" "Tuan, itu hanya fungsi dasarnya. Saat ini, aku bisa berubah menjadi armormu seperti suit Iron Man. Bahkan lebih canggih daripada suit Iron Man yang berada di planet Bumi galaksi Marvel," jawab Ragdoll. Daniel bertanya dengan mata yang bersinar penuh kegembiraan, "Benarkah?" "Benar. Apa tuan ingin mencobanya?" tanya Ragdoll. Daniel terkejut, tapi ia dengan cepat pulih dari keterkejutannya, ia kemudian berkata, "Mari coba sekarang!" Kemudian ia dengan semangat banguj dari kasurnya dan berdiri di samping kasur. "Baik, Tuan. Saya akan memulainya." Perlahan, Ragdoll berubah menjadi sebuah lencana kepala kucing. Kemudian, Ragdoll berbicara, "Tuan, tolong kenakan lencana ini di dadamu." Daniel dengan cepat meraih lencana itu dan mengenakannya di dadanya. Sebuah sinar memindai tubuh Daniel. Setelah beberapa detik kemudian, sinar itu berhenti memindai. Lencana itu secara bertahap menutupi seluruh badan Daniel dengan armor. Kemudian bergerak ke arah kaki, tangan dan kepala. Akhirnya, seluruh tubuh Daniel tertutup oleh suit armor. "Wah, keren! Di dalam sini juga tidak pengap, sirkulasi udaranga bagus. Terus, tekstur bagian dalam suit armor ini lembut." Daniel sangat bersemangat, ia kemudian bertanya, "Ragdoll, apakah suit armor ini mempunyai senjata?" "Ada dan mempunyai banyak tipe senjata. Ada rudal mini, senjata laser, dan berbagai senjata lainnya. Semua dikompres dengan teknologi supernano-teknologi, teknologi pelipatan ruang, teknologi-atom, dan berbagai teknologi lainnya." Daniel sekali lagi terkejut, ia bertanya, "Seberapa kuatkan rudal mini tersebut?" "Bisa menghancurkan sebuah negara," jawab Ragdoll dengan santai. Daniel menghirup napas dingin, ia bergumam, "Senjata ini sangat berbahaya, akan kugunakan jika Indonesia diancam oleh negara lain." Ia kemudian mencoba bergerak di ruangan sempit kamarnya, dan dengan cepat beradaptasi dengan suit armor ini. Setelah beberapa menit, ia berhenti. Kemudian memerintahkan Ragdoll untuk kembali menjadi kucing. Dalam sekejap, Armor tadi kembali menjadi lencana dan lencana itu berubah menjadi kucing. "Ragdoll, bagaimana dengan keterampilanmu? Apakah kau bisa melakukan hal lain selain membantuku mengetik kode asisten pintar?" tanya Daniel. Ragdoll berpikir, kemudian ia menjawab, "Saya bisa melakukan banyak hal selain membantu Anda mengetik kode asisten pintar. Misalnya, memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, menjadi tutor belajar, dan masih banyak lainnya." Daniel agak bingung, ia langsung bertanya, "Apakah bisa kau memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah dengan bentuk kucing seperti itu?" "Tenanglah, Tuan. Saya bisa mengubah bentuk saya seperti manusia pada umumnya. Anda juga bisa mengatur bagaimana penampilan saya," jawab Ragdoll. Daniel sangat terkejut, ia sedikit meninggikan suaranya dan bertanya dengan tidak percaya, "Bahkan, kau bisa berubah menjadi manusia? Apakah kau terminator!?" "Karena Tuan masih tidak bisa mempercayainya, maka saya akan menunjukannya." Ragdoll kemudian berubah menjadi manusia secara perlahan. Dengan supernano-teknologi, teknologi pelipatan ruang, dan teknologi struktur-atom, Ragdoll berubah menjadi seorang perempuan. Ragdoll berubah menjadi perempuan berusia 19 tahun. Rambutnya hitam pendek sebahu, mata menawan dengan alis sedikit, pipi sedikit tembem dan merah merona, hidung yang mancung dan bibirnya yang merah muda Tatapannya lembut menatap Daniel, ia kemudian berbicara, "Tuan, beginilah penampilanku ketika berubah menjadi manusia. Apakah sesuai dengan keinginan Anda, Tuan?" Daniel hanya menatap Ragdoll yang berubah menjadi seorang gadis cantik. Setelah beberapa saat, akhirnya Daniel kembali sadar lagi, ia berkata, "Sangat sesuai. Tetapi, apakah kamu ingin tetap seperti ini atau ingin kembali menjadi kucing?" Ragdoll menjawab dengan tersenyum manis, "Karena Tuan menyukai penampilan saya seperti ini, maka saya akan tetap seperti ini." Daniel bengong lagi, ia dengan cepat berkata, "Baiklah. Kalau begitu, namamu adalah Nayla. Saat berubah menjadi kucing, namamu Ragdoll." "Terima kasih, Tuan," jawab Nayla. Daniel kemudian teringat, "Jangan panggil aku Tuan, itu nggak cocok. Panggil saja Niel." Nayla tersenyum, "Baik, Niel." "Nay, coba kamu masak dulu. Aku ingin merasakan masakanmu." "Okey, Niel." Nayla kemudian menuju dapur, Daniel mengikuti di belakang. ... Daniel terkejut dengan teknik memasak Nayla. Kecepatan memotong, pengaturan panas api, takaran bumbu, semuanya sangat akurat. Daniel akhirnya percaya dengan keterampilan memasak Nayla. Aroma masakan Nayla menyebar di seluruh ruangan rumah, membuat Raka yang masih tertidur nyenyak segera bangun. Rika juga bangun dari kasurnya, ia mengucek matanya sambil menuju ke dapur. Ketika ia melihat seorang gadis sedang menyiapkan makanan untuk Daniel, ia sangat terkejut. Ia kemudian mengucek matanya berulang kali, tapi pemandangannya tak berbubah. Ia mencoba menyubit pipinya, ia merasakan rasa sakit. Ia akhirnya sadar ini bukan mimpi. Ia perlahan menuju meja makan dan bertanya, "Kak, siapa dia?" .... Rika menatap tajam pada Nayla. Ia masih kurang percaya bahwa Nayla itu asisten Daniel. Sedangkan Raka hanya fokus makan, tak memperhatikan orang di sekitar. Daniel hanya tersenyum melihat kelakuan Rika dan Raka. .... Daniel tak berangkat ke sekolah. Ia pergi ke Kantor Sipil untuk mengurus kartu identitas Nayla agar tak dicurigai sebagai warga ilegal. Sebelum berangkat ke Kantor Sipil, Daniel menerobos sistem keamanan database pencatatan identitas seluruh Indonesia, ia menambahkan Nayla dalam kartu keluarganya. Dengan begitu, banyak masalah berkurang. Daniel juga membawa kartu keluarganya untuk diperbaharui di kantor sipil. .... Setelah beberapa jam mengurus banyak hal di kantor sipil, Daniel membawa Nayla ke mal untuk berbelanja pakaian Nayla. Mereka pergi ke berbagai toko pakaian. Meski baru saja Nayla berubah menjadi manusia, instingnya sebagai wanita sudah muncul. Memborong banyak pakaian, Daniel membawa Nayla kepada Lia Siyu untuk memasukkannya menjadi sekertaris Lia Siyu. Lia Siyu menerima Nayla, ia memberi beberapa pertanyaan, tapi dengan cepat dijawab oleh Nayla. Hal itu membuat ia menjadi bersyukur dan tak perlu membuang waktu untuk memberi tes lanjutan. Pandangan Nayla terhadap bisnis juga membuatnya terkejut, sehingga ia menjadi senang mendapatkan sekertaris handal seperti Nayla. Sebelum kembali, Daniel memberikan rincian tentang proyek yang sedang ia kerjakan, juga dia menitip pesan pada Lia Siyu untuk mencarikan sebuah Villa seharga 2-3 Milyar di kawasan kota. Daniel kemudian pergi ke toko komputer untuk membeli satu set komputer mahal. Setelah itu, Daniel pulang ke rumah dan melanjutkan mengetik kode asisten pintar. 33 Bab 33 : Asisten Pintar Selesai Dua bulan beberapa minggu sudah berlalu sejak Daniel membantu Nayla mendapatkan kartu identitasnya. Selama dua bulan lebih ini, Daniel tak fokus melakukan kegiatan sekolahnya. Ia bahkan pernah beberapa hari tak masuk dan mengambil izin juga. Hal itu membuat beberapa guru termasuk Bu Nia khawatir tentang Daniel. Bahkan, beberapa guru sempat menyelidiki Daniel secara rinci bagaimana kehidupannya. Mereka menemukan bahwa kondisi keluarga Daniel sangat kekurangan. Keadaan ini membuat banyak guru merasa iba dan mulai membantu Daniel. Meski tak seberapa, beberapa guru memberi Daniel bantuan mulai dari 50 ribu sampai 100 ribu rupiah. Daniel sangat terkejut saat ia dipanggil ke kantor. Bukannya dimarahi, sebaliknya, ia dinasehati dan malah mendapatkan uang, ia malah menjadi bingung karena ditatap dengan rasa penuh kasihan dan iba dari para guru. Namun, berbeda dengan guru, pandangan para murid terhadapnya berbalik 180. Mereka mencapnya sebagai murid nakal, murid bermasalah, murid miskin dan sebagainya. Pandangan para murid ini dipengaruhi oleh Yudhistira, yang dilakukan olehnya secara diam-diam. Awalnya, reputasi Yudhistira sudah turun, tapi karena perilaku Daniel yang sering tak masuk sekolah, itu malah memberi peluang pada Yudhistira untuk menambahkan reputasi Daniel yang sudah buruk menjadi lebih buruk lagi. Tetapi, itu tak terpengaruh pada Bella, Silvia, Kinar, dan dua orang sahabatnya. Jauh daripada mencapnya sebagai murid bermasalah, Bella lebih merasa khawatir pada Daniel. Ia sudah tahu bagaimana kondisi Daniel saat berkunjung ke rumah Daniel, tapi ia tak tahu bagaimana cara membantu Daniel. Jika dia langsung memberi Daniel uang, itu akan menyebabkan harga diri Daniel hancur. Jadi, ia hanya bisa memberi Daniel dorongan dan semangat. Ia juga sering mengobrol dengannya. Sedangkan Kinar, ia tak khawatir sama sekali dengan Daniel. Jika disuruh memilih antara khawatir dan bangga, ia memilih bangga. Ia tahu bagaimana Daniel sudah berusaha untuk menafkahi kedua adiknya. Kinar membantu secara diam-diam. Ia memberi 300 ribu sampai 500 ribu pada Rika beberapa kali. Silvia hanya bisa memberi Daniel semangat. Karena Daniel, semangatnya tersulut dan membuatnya semakin giat belajar dalam ilmu komputer dan manajemen perusahaan. Hal itu menyebabkan kedua orang tuanya keheranan, tapi ikut senang dengan semangat anaknya. Tetapi, jika ibu Silvia tahu apa penyebab Silvia jadi semangat belajar, dia akan membanting Daniel sebanyak tujuh kali. Sedangkan Max dan Regi, mereka seperti biasa membantu Daniel. Meskipun bukan bantuan besar, tapi dengan bantuan mereka, Daniel menjadi terbantu. Selain mereka, adik-adiknya, Rika dan Raka juga sangat mengkhawatirkan Daniel. Tetapi, dengan adanya Nayla, tugas memasak dan pekerjaan rumah lainnya tak lagi dilakukan oleh Daniel, tapi dilakukan oleh Nayla. Itu juga membuat rasa khawatir Rika dan Raka berkurang sedikit. Keduanya sudah menerima Nayla seperti keluarga sendiri, tapi tetap saja Rika menatap Nayla dengan kewaspadaan. Namun, selain Nayla dan Lia Siyu, mereka semua tak tahu mengapa Daniel mengambil banyak izin dan juga tak masuk sekolah tanpa keterangan. Daniel secara sengaja tak memberitahu mereka. Bahkan, dalam surat izinnya, Daniel hanya menulis bahwa dia ada keperluan dengan seseorang. Ia tak secara spesifik menuliskan alasan kenapa dia tak sekolah. Seseorang yang ia maksud adalah Lia Siyu. Lia Siyu sendiri yang mengantar surat itu pada guru dan juga menandatanganinya. Karena tindakan Lia Siyu ini, para murid yang tak senang dengan Daniel berpikir bahwa Daniel adalah berondong dari tante cantik tersebut (ditujukan pada Lia Siyu). Beberapa siswa melihat Daniel dengan tatapan jijik. Tapi, Daniel tak menghiraukan bagaimana seseorang memandangnya. Ia merasa bahwa apa yang dikatakan mereka itu tak benar. Jadi, untuk apa dia memperdulikan omong kosong seperti itu? Upayanya selama dua bulan lebih ini tak sia-sia. Ia berhasil menyelesaikan asisten pintar. Ia memberi nama asisten pintar dengan nama Teteh. Ia memilih nama ini agar menjadi lebih khas dengan Indonesia dan membuat Indonesia makin terkenal di pentas internasional. Sebagai antisipasi, Daniel membuat 20 lapisan pertahanan pada asisten pintar "Teteh". Bahkan, jika Daniel tak memberi lapisan pertahanan pun, butuh waktu 30 sampai 50 tahun untuk mengetahui kode sumber dari asisten pintar tersebut karena bahasa komputer yang digunakan bukan berasal dari bumi, tapi dari planet lain. Daniel juga tak berniat untuk mengumumkan bahasa komputer tersebut kepada publik dalam waktu dekat. Daniel secara khusus menyebut nama bahasa komputer itu dengan nama Bahasa Serua. Alasan mengapa dia menggunakan nama ini dikarenakan Serua adalah salah satu bahasa dari maluku yang dinyatakan punah di awal tahun 2018 ini. Meskipun tak mirip dengan bahasa serua, tapi tujuannya untuk mengingat nama bahasa yang sudah dinyatakan punah. Selain dari bahasa Serua, ada juga bahasa daerah yang lain dari Maluku yang dinyatakan punah, yang diantaranya adalah bahasa daerah Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua dan Nila. Juga, bahasa daerah dari Papua yaitu Tandia dan Mawes. Sementara itu, saat larut malam, Daniel memasuki game virtual reality. Selain untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, ia juga memanfaatkan untuk merasakan atmosfir bertempur, berlatih bertempur dan juga merasakan pengalaman antara berdiri di atas garis hidup dan mati. Meskipun yang dia mainkan hanyalah sebuah game, tapi perasaan nyata didalamnya hampir tak bisa dibedakan dengan realitas dunia nyata. Dari indera perasa, penglihatan, penciuman, pendengaran, dan pengecapan, semuanya terasa nyata. Bahkan, rasa sakit yang ia derita karena monster pun terasa nyata. Dengan begitu sering bertarung dalam game, kemampuan Daniel dalam menggerakan tubuh dan kemampuan bertarungnya meningkat tajam. Juga, auranya berubah secara total. Tapi, ia bisa mengendalikan aura mematikan ataupun aura menekannya dengan mudah. Sehingga kehidupan sehari-harinya tak terganggu dengan auranya yang seperti veteran dalam perang. .... Saat ini, Daniel ada di kantor PT. Sky Technology. Selama dua bulan ini, PT. Sky Technology mendapatkan banyak karyawan yang berkualitas. Setidaknya, sudah berpengalaman bertahun-tahun dalam perusahaan teknologi. Selain itu, Lia Siyu juga membawa orang kepercayaannya untuk mengisi kepala bagian Personalia, R&D, Hukum Masyarakat, Propaganda dan bagian Keuangan. Dengan instruksi Daniel, Lia Siyu membeli banyak server. Lia Siyu sudah sejak lama penasaran bagaimana hasil proyek yang telah Daniel kerjakan. Hari ini, Daniel akan mempresentasikan kepada berbagai kepala bagian mengenai hasil proyeknya. "Baiklah, hari ini adalah hari dimana Asisten PintarTetehakan secara luas dikenal oleh orang. Bahkan, akan terkenal di luar negeri." Daniel mengatakannya dengan senyum percaya diri. Daniel mengeluarkan ponsel Samsung Galaxy S9+ lalu membuka aplikasi Asisten Pintar Teteh. "Teh, matikan ponsel." Segera, ponsel itu mati. "Hidupkan ponselnya, Teh." Ponsel itu kembali hidup lagi. Lalu, seseorang yang hadir disana mencoba berteriak, "Matikan ponsel." Namun, tak ada reaksi sama sekali dari ponsel tersebut. Kecuali Nayla, Semua yang hadir menjadi terkejut. Mereka tak berharap bahwa asisten pintar ini begitu canggih. Daniel tak menghiraukan keterkejutan mereka, ia melanjutkan tesnya. "Teh, bisa carikan jalan tercepat menuju SMK Sinar Abadi dari gedung ini?" Beberapa detik kemudian, Teteh secara langsung menampilkan peta jalan yang perlu dilalui dengan cepat di aplikasi peta. Apa yang ditampilkan oleh Teteh bukanlah jalan terpendek, tapi jalan yang bisa dilalui dengan cepat. Yang ditunjukan juga jalan yang bebas dari kemacetan. Selain itu, Teteh juga memberi tahu di mana titik kemacetan di peta. Keakuratan Teteh secara bertahap akan semakin akurat dengan banyaknya data yang direkam. Karena itu, Daniel membiarkan Via untuk membantu merekam data seluruh kondisi jalan di Indonesia dan beberapa negara dengan penduduk yang padat. Semuanya disimpan di server yang telah dibeli oleh Lia Siyu. Daniel juga mencoba berbagai fungsi lainnya, seperti fungsi pada mesin pencarian dan fungsi input dengan suara. Daniel mengucapkan beberapa kata, setelah itu, muncul banyak hal yang berkaitan dengan apa yang diucapkan oleh Daniel muncul pada daftar mesin pencari itu. Karena belum rilis, keakuratan pencarian masih dibawah 70%. Sedangkan untuk fungsi input menggunakan suara, keakuratan dalam Bahasa Indonesia tingkatnya sempurna, 100%. Tapi, dalam bahasa lain juga, seperti bahasa inggris, keakuratannya hampir sama seperti keakuratan menggunakan bahasa Indonesia. Daniel merekam berbagai data tentang bahasa asing melalu Youtube dan juga akan semakin meningkat dengan seringnya interaksi Teteh dengan pengguna. Dengan begitu, Asisten Pintar Teteh akan meningkat banyak. Bahkan, akan menjadi kecerdasan buatan tingkat yang lebih rendah daripada Red Queen. Itu sudah cukup untuk mengalahkan Google Assistant ataupun SIRI. Setelah itu, semua orang yang hadir menatap Daniel dengan tatapan kagum. Awalnya, mereka tak percaya dengan kemampuan Daniel. Mereka semua bekerja di Sky Technology hanya karena Lia Siyu mengundang mereka. Tapi sekarang, mereka akhirnya sepenuhnya percaya pada kemampuan pemuda yang sedang berdiri di depan mereka. Mereka semua merasa terdorong dan menjadi sangat bersemangat untuk merilis aplikasi ini. Jenius! Anak ini Jenius! Daniel tak tahu bahwa karena karyanya, semua kepala bagian menjadi begitu bersemangat. Daniel mengakhiri presentasinya dengan mengatakan perencanaan konfrensi pers tentang Asisten Pintar Teteh ini. "Lia Jie, konferensi pers tentang aplikasi ini akan dilaksanakan dalam 5 hari kedepan, saat bertepatan dengan hari sumpah pemuda." "Laksanakan, Ketua!" Lia Siyu menjawab dengan tegas. Lia Siyu juga mengagumi keputusan Daniel tentang waktu untuk mempublikasikan aplikasi ini. Setelah itu, semua kepala bagian menjadi sibuk. Daniel ditinggal sendirian di ruangan itu. "Akhirnya, teknologi Indonesia akan mengejar negara maju lainnya. Mari lihat bagaimana reaksi orang Amerika." Daniel tersenyum dingin, kemudian menghela nafasnya. Ia berpikir ini hanyalah sebuah tangga dasar, masih ada banyak tangga yang perlu dia naiki untuk mencapai puncak teknologi dunia bahkan alam semesta. Namun, apa yang ia tidak ketahui adalah setelah mempublikasikan Asisten Pintar Teteh ini, akan membuat gelombang yang sangat besar. 34 Bab 34 : Konfrensi Pers Asisten Pintar Minggu, 28 Oktober 2018, di sebuah hotel bintang 4 ternama. Hari ini adalah hari bersejarah bagi Indonesia, karena hari ini, tanggal 28 Oktober, dikenal sebagai hari Sumpah Pemuda. Selain itu, hari ini adalah waktu konfrensi pers peluncuran sebuah produk teknologi tinggi. Daniel sedang duduk, ia memperhatikan pekerja yang sedang menghias panggung dan banyak tempat duduk. Beberapa juga mengatur layar, penataan lampu, dan hal lain sebagainya. Satu jam kemudian, acara konfrensi pers pun dimulai. Lia Siyu mengundang banyak media-media besar seperti MNC Group, Transmedia Group, Viva Group, Metro TV, Kompas, NET Meditama, SCTV, Indosiar, dan berbagai media berita online maupun berita koran. Selain media, ada berbagai pejabat pemerintah yang di undang, seperti perwakilan dari Kemenkominfo, dan pejabat lainnya. Tokoh Masyarakat dan masyarakat umum pun turut hadir dalam acara ini. Lia Siyu berdiri di atas panggung, menatap seluruh audiensi, ia mengambil napas dalam-dalam, kemudian membuka mulutnya. "Selamat pagi. Selamat Datang di acara konfrensi pers peluncuran produk dari perusahaan Sky Technology, Asisten Pintar Teteh." Lia Siyu menjadi titik fokus semua audiensi yang hadir dan titik fokus dari berbagai kamera stasiun TV yang menayangkan secara live. Para audiensi yang hadir bertepuk tangan. Diantara para wartawan, ada berbagai diskusi di antara mereka. "Apa kamu yakin ini produk teknologi maju? Aku rasa perusahaan ini baru saja didirikan, bagaimana mereka bisa membuat produk teknologi maju tersebut?" "Entahlah, tapi aku dengar mereka menjual produk Sky Booster pada Google dengan harga mahal. Apakah mereka anak perusahaan baru Google?" "Kalo mereka anak perusahaan Google yang baru, buat apa Google mahal-mahal bayar Sky Booster? Mikir dong." "Kan bisa jadi kalau itu cuma kamuflase mereka untuk mendirikan perusahaan mereka di Indonesia." "Bener juga, pembelian aplikasi berkedok investasi diam-diam. Aku yakin sebagian besar saham perusahaan ini dimiliki oleh Google." "Kalian kenapa sangat pesimis dengan perusahaan Indonesia? Fokuslah pada produk yang akan diluncurkan." Ada berbagai diskusi dari para wartawan yang sedang meliput. .... Lia Siyu kemudian menunjuk ke arah layar besar yang ada dibelakangnya dan mulai menjelaskan tentang Asisten Pintar. Dia memperkenalkan dirinya dan mulai menjelaskan secara singkat tentang sejarah mengenai asisten virtual. Setelah itu, menjelaskan potensi asisten pintar pada bidang ekonomi dan juga kehidupan sehari-hari. Dan akhirnya, Lia Siyu memperkenalkan Teteh, Asisten Pintar buatan purusahaan Sky Technology. "Produk kami kali ini berkaitan dengan Asisten Virtual, yaitu Asisten Pintar Teteh. Teteh, silahkan beri salam." Langkah yang diambil oleh Lia Siyu membuat para audiensi yang hadir terkejut. Apa yang dilakukan oleh Lia Siyu ini? Kemudian, sesosok wanita muncul di layar besar, suara khas seorang wanita yang manis terdengar sambil melambaikan tangannya. "Halo semuanya." Salam yang dikatakan oleh Teteh membuat mereka semua terdiam. Kamera-kamera wartawan terfokus pada Gambar visual Teteh di layar. Apa semaju ini teknologi Indonesia? "Perkenalkan dirimu, Teteh," kata Lia Siyu. Teteh, yang ada di layar tersenyum manis dan mulai memperkenalkan dirinya. "Perkenalkan, Saya adalah produk dari perusahaan Sky Technology. Saya adalah sebuah asisten virtual yang pintar. Namaku adalah Teteh. Um, kalian bisa memanggilku Teh ataupun Teteh. Salam kenal semuanya, Semoga bisa saling membantu di masa depan!" Sekali lagi, mereka semua terkejut. Penonton acara live streaming maupun di televisi semuanya terkejut. Bahkan, staf dan kepala berbagai bidang dari perusahaan Sky Technology juga terkejut. Bukankah nama ini terlalu tradisional untuk nama teknologi tinggi seperti ini? Apakah ini masih asisten virtual yang sederhana? Bukankah ini sudah masuk ranah kecerdasan buatan? Apakah ini awal dari kebangkitan kecerdasan buatan di Indonesia? Banyak pertanyaan-pertanyaan di benak para audiensi dan pemirsa di rumah atapun yang sedang menyaksikan live streaming. Lia Siyu tersenyum melihat reaksi para audiensi. Ia kemudian melanjutkan, "Lalu, apa fungsimu?" "Fungsi saya termasuk membuka kunci pengenalan suara, mengobrol, mencari, input suara, dan fungsi yang paling penting adalah saya dapat membantu kalian mengendalikan ponsel kalian." "Bagaimana caramu mengendalikannya?" tanya Lia Siyu. "Dengan cara kontrol suara. Ketika kamu bicara, saya bisa melakukan sesuai apa yang kamu instruksikan..." Dialog antara Lia Siyu dan Teteh dengan cepat menyebar melalui siaran langsung. Semua poin kunci ditarik keluar, mengontrol ponsel dengan suara, fitur ini terlalu mirip dengan SIRI milik Apple ataupun Google Assistant milik Google. Mereka yang melihat adegan ini, apa yang muncul dalam pikiran mereka adalah adegan asisten virtual pintar dalam film dan dapat mengendalikan ponsel ketika mereka berbicara. Kemudian, gambar di layar besar beralih ke layar ponsel milik Lia Siyu. Lia Siyu mengklik aplikasi Asisten Pintar di ponselnya. Di layar besar pun menampilkan hal sama. "Sambungkan ke jaringan WIFI." Setelah Lia Siyu berhenti berbicara, ponsel secara otomatis memulai gerakan sendiri. Selama proses berlangsung, Lia Siyu menunjukan ponselnya ke arah audiensi. Ponsel Lia Siyu menjadi fokus kamera dan mata semua audiensi yang hadir. Di ponsel itu, secara otomatis berubah ke pengaturan, memilih opsi WIFI, kemudian mulai menyambungkan ke WIFI yang tersedia di Hotel. "Jaringan WIFI aktif, memilih opsi jaringan WIFI." "Hotel Terbaik." "Berhasil tersambung pada jaringan WIFI yang dipilih." .... Di Konfrensi Pers, kejadian ini membuat banyak keributan. Tidak hanya keributan di lokasi konfrensi pers, orang yang menonton live streaming ataupun menonton tv dirumah semuanya terkejut dan menjadi ribut. Kebanyakan mereka semua berpikir bahwa produk yang diluncurkan oleh perusahaan Sky Technology ini di bawah SIRI milik Apple atapun Google Assistant milik Google, tapi mereka semua salah. Teteh milik Sky Technology ini melampaui kedua aplikasi asisten pintar milik dua perusahaan besar di dunia. Teteh benar-benar membunuh aplikasi asisten pintar SIRI dan Google Assistant. Teteh mengendalikan dengan kontrol suara tanpa menyentuh ponsel sedikit pun! Tepuk tangan di lokasi konfrensi pers bergemuruh. Semua orang yang hadir pada konfrensi pers sangat senang menatap Lia Siyu yang berdiri di panggung. Sementara itu, pada platform siaran langsung. "Mantap jiwa!" "Kapan aplikasi ini rilis? Aku ingin menggunakannya sekarang juga!" "Apa aplikasi ini tidak palsu? Bukankah ada orang di belakang panggung sana?" "Inilah kekuatan anak bangsa Indonesia! Bukan hanya koar-koar dan nyinyir di media sosial tanpa sedikit pun aksi. Dua puluh jempol untuk perusahaan Sky Technology!" "Setuju +1" .... Suasana di komentar sebuah platform live streaming panas. Ada berbagai pendapat yang memenuhi platform live streaming, ada yang mendukung, ada yang memuji, ada yang meragukan aplikasi ini. Tetapi, lebih banyak yang menunjukan dukungannya untuk aplikasi asisten pintar Teteh. Apakah Asisten Pintar Teteh ini lebih baik? Menurut apa yang didemonstrasikan oleh Lia Siyu, kemampuan menelusuri di internet, mangambil video dan foto, memutar video, input suara, ini semua melebihi apa yang semua audiensi dan pemirsa harapkan. Ini semua menandakan bahwa era tanpa sentuhan akan segera datang. Setelah demonstrasi selesai, Lia Siyu membukan file presentasi. Di sana muncul ikon aplikasi cerdas yang merupakan pola sayap garuda. "Ini adalah produk kami, asisten pintar seluler, Teteh. Fungsinya benar-benar melebihi asisten pintar seluler yang di pasar saat ini. Tidak perlu perbandingan data, produk kami tidak perlu dibandingkan, karena produk lainnya tidak sekelas dengan produk kami. " Suara Lia Siyu penuh dengan kepercayaan diri. "Setelah konferensi pers, situs web resmi perusahaan kami akan tersedia halaman untuk mengunduh, cukup unduh aplikasi kami dan instal di ponsel, kalian dapat mengontrol ponsel dengan suara kalian." Di layar besar, kelebihan asisten pintar semuanya ditampilkan, dan Lia Siyu juga memperkenalkan fungsi-fungsi ini dengan hati-hati. Banyak orang media sekarang mengambil foto di layar. Jika fungsi dari asisten pintar seluler benar, ini akan menjadi produk perubahan zaman. Konferensi belum berakhir, dan banyak orang sudah mulai menunggu aplikasi asisten pintar tersedia di situs web resmi perusahan Sky Technology. "Namun, asisten pintar Teteh juga memiliki beberapa kekurangan, itu bukan sebuah produk yang sempurna." Tepat ketika semua orang gembira, keseriusan Lia Siyu menuangkan air dingin ke kepala mereka yang hadir. Banyak orang dengan ragu menatap Lia Siyu. Pada konferensi peluncuran produk, mereka mengatakan bahwa produk perusahaan mereka memiliki kekurangan. Masalah apakah yang sebenarnya terjadi? 35 Bab 35 : Pindah Semua keributan yang sebelumnya terjadi, kini menjadi tenang. Semua ini disebabkan oleh Lia Siyu yang menyebutkan bahwa Teteh adalah aplikasi yang tak sempurna dan mempunyai kekurangannya. Sangat jarang sekali bagi penyelenggara konfrensi sebuah produk yang menyebutkan kekurangan dari produknya. Karena hal ini, Lia Siyu menyebabkan banyak orang menjadi hening. Sebelum melanjutkan ke halaman selanjutnya pada file presentasinya, Lia Siyu berkata dengan tenang, "Tak ada produk yang sempurna, bahkan asisten pintar yang kami luncurkan ini. Kompatibilitas adalah kekurangan pertama ini. Untuk saat ini, sistem operasi yang kompatibel dengan asisten pintar Teteh hanyalah sistem operasi Android. Sedangkan untuk iOS milik Apple, sistem operasi ini tidak cocok dengan asisten pintar Teteh. Jadi, tidak ada apikasi asisten pintar Teteh di Apple Store." Semua orang terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Lia Siyu. Bukankah itu masalah besar jika tidak kompatibel dengan iOS? Jika semua yang dikatakan Lia Siyu adalah kebenaran, maka akan sedikit yang membeli ponsel Apple dikemudian hari. Semua orang tentu saja menginginkan perasaan menggunakan asisten pintar yang bisa memudahkan hidup mereka, baik dalam bidang pekerjaan, pembelajaran, dan berbagai bidang lainnya. Pangsa pasar ponsel global, Apple menempati 12% pangsa pasar. Dan juga memimpin pada pangsa pasar ponsel premium. Ini adalah kerugian besar bagi Apple jika asisten pintar teteh secara resmi rilis di pasar. Semua orang yang hadir, juga yang menyaksikan di layar kaca, bertanya-tanya dalam pikiran mereka. Kenapa tidak kompatibel dengan iOS? Lia Siyu melihat raut wajah semua orang yang hadir, ia mengetahui apa yang mereka pikirkan. Lia Siyu tersenyum tenang di atas panggung, ia menjawab, "Asisten pintar bisa mengontrol ponsel. Jadi, harus mendapatkan akses untuk masuk ke sistem operasi. Sistem operasi Android berbasis open source, sehingga kompatibel dengan Teteh. Sedangkan iOS berbasis closed source, asisten pintar tidak dapat secara otomatis mengontrol ponsel dengan Teteh. Ditambah dengan pihak iOS memiliki SIRI, asisten pintar buatan mereka sendiri, jadi tidak ada aplikasi kami untuk sistem operasi iOS." Akhirnya mereka memahami kenapa tidak kompatibel dengan iOS. Tapi, beberapa yang hadir adalah orang berada sehingga mereka tak terlalu memperdulikan ini. Mereka mempunyai lebih dari satu ponsel, jadi itu tak masalah sama sekali. Setelah keheningan beberapa detik, Lia Siyu melanjutkan. "Kekurangan yang kedua dan terakhir adalah asisten cerdas Teteh ini adalah aplikasi berbayar dan baru bisa dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Biaya berlangganannya sangat murah, 30 ribu rupiah perbulannya. Kami menyediakan masa percobaan selama 20 menit secara gratis. Kami juga akan terus meningkatkan jumlah bahasa untuk asisten cerdas ini." Para audiensi hanya sedikit terkejut dengan kekurangan kedua ini. Sebuah perusahaan tentu saja ingin mendapatkan untung, bahkan perusahaan milik negara pun akan memikirkan keuntungan. Para audiensi menganggap bahwa 30 rupiah itu sangat murah, apalagi itu biaya perbulannya. Dengan fungsi yang disebutkan oleh Lia Siyu tadi, tentu saja 30 ribu adalah harga yang murah. Jika ingin meningkatkan fungsi ponsel yang awalnya layar sentuh ke kontrol suara, harga 30 ribu perbulannya hanyalah harga yang sangat murah. Tak beda dengan reaksi para audiensi, reaksi para warganet pun sangat antusias. "Sky Technology top markotop!" "Aku ingin memasang aplikasinya, kapan rilisnya!" "Berbayar? Mending aku beli kuota aja!" "Harganya begitu murah, mengapa kamu mengeluh!" Ada berbagai tanggapan warganet, banyak yang mendukung Sky Technology, namun tak sedikit juga yang menghujat. .... Setelah penjelasan Lia Siyu mengenai asisten pintar Teteh, sesi tanya jawab, pengalaman penggunaan, dan yang lainnya pun dimulai. Setelah mendapatkan pengalaman menggunakan Teteh, banyak mereka yang terkejut, senang, dan juga bergembira. Berbagai reaksi dialami oleh pengguna. Pihak Sky Technology pun sudah secara resmi merilis di website mereka. Jumlah unduhan asisten pintar Teteh naik secara drastis. Hanya dalam satu jam, jumlah unduhan melebihi 200.000 unduhan dan yang sudah berlangganan lebih dari 150.000 pengguna. Jika dihitung keuntungannya, keuntungan Sky Technology sudah mencapai 4,5 miliar rupiah. Peningkatan unduhan dan juga berlangganan terus naik dan semakin banyak. Kabar tentang asisten pintar ini juga telah sampai ke luar negeri. Hal ini juga menyebabkan semakin banyak yang mengunduh dan berlangganan aplikasi asisten pintar Teteh ini. .... Saat ini, seseorang pemuda yang terlihat tampan tapi sangat biasa, sedang mengemas berbagai barang di rumahnya. Ia hanya mengemasi sedikit sekali barang, sedangkan dua orang lainnya, saudara kembar, sedang mengemas sedikit barang tapi dengan wajah mengeluh. Orang ini adalah Daniel dan dua orang lainnya adalah Raka dan Rika. Daniel sudah pulang dari konfrensi pers setelah Lia Siyu turun dari panggung. Ia tak terlalu tertarik dengan Konfrensi pers tersebut. Mengenai hal kenapa ia berkemas adalah untuk pindah rumah. Ia hanya mengemas berbagai hal yang berkaitan dengan sekolah dan sedikit pakaian. Daniel hanya bisa mendesah karena kelakuan kedua adiknya. Mereka tak mau hanya membawa sedikit barang untuk pindah. Mereka berkata ke Daniel, "Semua ini barang pemberian kakek dan kakak, jadi harus disimpan baik-baik meskipun kita pindah." Daniel pun menuruti apa kata kedua adiknya. Dia juga sudah menyewa beberapa orang untuk membawakan barang-barang keluargannya. Setelah berkemas, Daniel dan kedua adiknya di jemput oleh Nayla menggunakan mobil. Seminggu sebelum konfrensi pers dimulai, Lia Siyu sudah menemukan vila yang cocok sesuai dengan kriteria yang disampaikan oleh Daniel. Hal yang paling sulit yang diinginkan oleh Daniel adalah villa itu harus memiliki ruang bawah tanah. Persyaratan ini sangat menyusahkan Lia Siyu untuk mencarinya. Tapi untungnya, dia bisa menemukannya. Villa ini juga jauh dari keramaian kota, dekat dengan gunung dan sebuah sungai dengan air yang jernih. Sehingga pemandangannya juga sangat bagus. Setelah setengah jam berkendara, akhirnya mereka berempat pun sampai di sebuah villa. Villa itu sangat besar dan megah, lingkungan disekitarnya pun asri dan bersih. Ada beberapa tanaman yang ditanam di sana. Daniel tersenyum melihat lingkungan sekitar villa. Sedangkan Raka dan Rika sangat terkejut Apakah kami akan pindah ke sini? Daniel membuka pintu mobil dan segera turun dari mobil. Raka dan Rika pun mengikuti Daniel. Daniel berdiri di depan vila, merentangkan tangannya sambil tersenyum ceria. "Ini adalah rumah baru kita." Raka dan Rika sangat terkejut dan mulut mereka terbuka lebar. Keduanya saling memandang, kemudian memindahkan pandangan mereka pada Daniel yang tersenyum ceria. "Kak, ini beneran rumah baru kita, kan?" tanya Raka penasaran. "Kak, ini ... ini kakak dapat dari mana uangnya?" tanya Rika dengan khawatir. Daniel tersenyum, ia menjawab, "Tentu saja ini rumah kita yang baru. Untuk urusan uang, nanti kakak bicarakan dengan kalian. Ayo masuk dulu." Daniel menarik kedua adiknya masuk ke dalam vila. Mata mereka penuh dengan kejutan ketika melihat interior vila. Interior vila sangat mewah sekali! Raka dan Rika berlarian, mereka pergi untuk memilih kamar mereka. Daniel ke kamarnya untuk mengatur barang-barangnya, kemudian keluar dari kamar Proses pindah rumah mereka berlangsung beberapa jam. ... Setelah makan malam, Daniel pergi ke ruang bawah tanah. Di ruang bawah tanah vila ini ada berbagai alat laboratorium tingkat menengah. Ini pun sudah sulit didapat oleh Lia Siyu melalui koneksinya. Daniel puas melihat ini, ia tersenyum memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. 36 Bab 36 : Apakah Ada Sesuatu Yang Salah? Keesokan harinya. Daniel bangun jam 5 subuh, dia langsung keluar untuk berolahraga. Dia melakukan peregangan sambil menghirup udara sekitar. Wajahnya terlihat sangat bahagia. "Kualitas udara di sini bagus sekali." Ia kemudian menggerak-gerakkan tubuhnya mengikuti gerakan yang ia lakukan saat bermain game virtual reality. Tendangan! Pukulan! Mengindar! Pukul! Daniel terus berlatih. Satu jam berlalu dengan cepat. Nayla berdiri di pintu memperhatikan Daniel yang sedang berlatih. Dia sudah selesai melakukan tugasnya memasak. Tugas selanjutnya adalah memperhatikan Tuannya. "Niel, sudah jam 6 pagi. Apakah kamu ingin terus berlatih?" tanya Nayla. Daniel menghentikan gerakannya, ia menoleh ke arah Nayla kemudian menjawab, "Tidak, aku akan melakukan pendinginan, lalu mandi." "Baiklah, segeralah melakukan pendinginan. Aku akan menyiapakan air hangat di kamar mandimu.". "Makasih, Nay." "Itu sudah tugasku, Niel." Nayla kemudian meninggalkan tempatnya, bergegas ke kamar mandi Daniel. Daniel juga bergegas melakukan pendinginan. ... Daniel sekarang sudah berseragam, ia duduk di meja makan. Rika dan Raka juga sudah ada di meja makan. Sedangkan Nayla sedang menghidangkan makanan. Daniel menatap kedua adiknya, ia bingung bagaimana menjelaskannya. Ia menghirup napas dalam-dalam. "Rika, Raka, ada yang ingin Kakak katakan pada kalian berdua." "Apwa itwu, Kak?" tanya Raka yang masih mengunyah makanan. Mendengar nada bicara Raka, Rika menjadi marah, "Kalo makan ya makan, kalo ngomong ya ngomong. Jangan makan sambil ngomong!" "Rika, makanan yang dimasak Kak Nayla itu enak, terus nggak sopan kalau nggak jawab Kak Niel, jadi aku jawab sambil makan deh." Raka kemudian meneruskan makannya. "Itu sama aja nggak sopan tau!" Rika dengan marah menggembungkan pipinya. Melihat Rika dan Raka berdebat, Daniel dan Nayla saling menatap, kemudian saling tersenyum. Kecerdasan Nayla tak perlu ditanyakan lagi, itu sudah melampaui manusia di bumi. Ekspresi dan gerak tubuhnya juga sangat alami, tak terlihat seperti robot. Nayla kemudian menghentikan mereka berdua, "Kalian berdua, Niel ingin mengatakan sesuatu. Berhentilah berdebat." Keduanya berhenti, lalu saling memandang. "Hem!" Keduanya memalingkan wajah mereka dan menyilangkan tangan di dada mereka masing-masing. Nayla tertawa kecil. Daniel menggelengkan kepalanya, ia kemudian berkata, "Jadi, seperti ini. Tiga bulan yang lalu, Kakak membuat aplikasi bernama Sky Booster, yang sekarang sudah dimiliki oleh Google. Rika dan Raka sudah pernah pakai, kan? Itu Kakak yang buat. Setelah itu, Kakak juga menciptakan asisten pintar Teteh, yang secara resmi dirilis kemarin. Inilah sebabnya kakak jarang ke sekolah. Kakak juga mendirikan perusahaan bernama Sky Technology. Nay juga bekerja di sana. Itu semua adalah penjelasan Kakak mengenai bagaimana Kakak bisa mendapatkan rumah seperti villa mahal ini." Keduanya terkejut. Apakah semua produk itu benar-benar dibuat oleh Kakak? Keduanya saling memandang, kemudian memandang Nayla dengan takjub, lalu memindahkan pandangan mereka lagi pada Daniel. Mata mereka berbinar, ada tatapan kekaguman, hormat, dan takjub pada Daniel. "Kakak serius, kan? Nggak bohong, kan?" tanya Raka memastikan. "Hei, buat apa Kakak membohongimu, lagian kalian berdua adalah keluarga yang paling kakak sayangi." Rika dengan semangat berkata, "Kakak hebat! Makin sayang sama Kakak!" Rasa sayang dan cinta Rika kepada Daniel tanpa disadari menjadi semakin dalam di hatinya. Seorang adik perempuan yang mencintai kakaknya telah muncul. Raka yang melihat ini, memutarkan matanya. Ia sudah bosan mendengar kata-kata sayang Rika pada Daniel. Dari kecil Rika sudah seperti itu. Daniel tidak tahu perasaan Rika yang sebenarnya, ia menjawab Rika sambil tersenyum, "Aku juga menyayangimu." Daniel juga mengusap lembut kepala Rika. Rika yang menerima usapan lembut dari kakaknya, tertawa dan sangat bahagia. Daniel kemudian menatap Raka. Raka merasakan tatapan dari Daniel, ia menjadi bingung. Daniel tak memperhatikan kebingungan Raka, ia berkata, "Tentu saja aku menyayangimu juga." Raka merinding, ia secara dan sadar memundurkan kursinya, dan menatap Daniel dengan takut. "Kakak, aku masih normal!" teriak Raka dengan nada ketakutan. Rika dengan sigap memukul kepala Raka. Setelah melakukan itu, ia tersenyum bahagia. "Rika! Itu sakit, tau!" Raka mengusap bagian kepalanya yang dipukul oleh Rika. Daniel tersenyum pahit melihat adegan di depannya. Sementara itu, Nayla yang dari tadi diam, menanyakan sebuah pertanyaan. "Apakah Niel juga menyayangiku?" Daniel terkejut dengan pertanyaan Nayla. Ia menjawab, "Ya, aku juga menyayangi Nay." Rona merah muncul di pipi Nayla, ia menundukan kepalanya, berkata, "Nay juga menyayangi Niel." Nayla sudah mempelajari bagaimana tingkah laku dan hubungan antar sesama manusia dengan sangat cepat. Kecepatannya belajar bisa dibandingkan dengan kecepatan cahaya. Juga, ia meneliti berbagai hal tentang manusia berkembang biak. Jika Daniel mengetahui apa yang dipelajari oleh Nayla, Daniel akan sangat terkejut dan memuntahkan darahnya. Raka cepat-cepat menghabiskan makanannya, ia lebih dulu meninggalkan meja makan. .... Sarapan yang harmonis telah selesai, keempatnya sedang dalam perjalanan ke sekolah menggunakan mobil. Daniel, Rika, dan Raka, semuanya menggunakan seragam, sepatu, buku, dan tas baru. Berbagai hal yang berkaitan dengan sekolah pun semuanya baru. Kemarin lusa, Daniel, Rika, Raka dan Nayla ke sebuah mall untuk membeli pakaian baru. Karena ingat tentang keperluan sekolah yang sudah mulai memburuk, Daniel juga membeli keperluan sekolah yang baru. Banyak barang di beli oleh mereka berempat. Setelah setengah jam berkendara, Daniel dan yanh lainnya sampai di SMK Negeri Sinar Abadi, tempat dimana dia belajar. Daniel membuka pintu mobil. Daniel ingin segera turun, tapi tangannya digenggam oleh Rika. Daniel tersenyum pahit, ia berkata, "Rika, Kakak sudah sampai di sekolah. Jika kamu nggak melepas tanganmu, gimana Kakak turunnya?" Rika akhirnya tersadar. Ia merasa sangat aman ketika dekat dengan kakaknya dan juga ketika dia menggenggam tangan kakaknya. Meskipun berat hati, ia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Daniel tanpa menjawab Daniel. "Di rumah kan masih bisa pegang tangan Kakak lagi. Nanti di rumah, kamu bisa puas pegang tangan Kakak." Daniel hanya bisa berkata seperti ini agar Rika tak sedih. Mata Rika berbinar, ia bertanya dengan semangat. "Beneran, Kak?" Daniel mengangguk, "Beneran." "Hore!" Rika bersorak gembira. "Kalo gitu, Kakak turun dulu. Kalian sekolah yang benar, ya." Daniel menyemangati keduanya. Keduanya menjawab dengan semangat, "Tentu, Kak!" Tak lupa juga Daniel menyemangati Nayla, "Nay, hati-hati di jalan. Kamu semangat buat kerja nanti." "Siap, Niel!" Nayla menjawab dengan posisi hormat. Setelah melihat ketiganya, Daniel tersenyum. Ia kemudian turun dari mobil. Setelah beberapa saat, mobil itu melaju ke arah SMP Negeri Sinar Abadi. Ketika Daniel berbalik hendak menuju ke sekolah, seluruh murid menatapnya dengan tatapan tak percaya. Ia menjadi bingung mengapa murid-murid melihatnya dengan tatapan seperti itu. Apakah ada sesuatu yang aneh dengan wajahku? Daniel dalam hati bertanya-tanya. "Ka-kamu Daniel?" seorang siswi tak jauh dari Daniel bertanya dengan penasaran. Daniel bingung, tapi ia tetap menjawab, "Benar, aku Daniel. Apakah ada sesuatu yang salah?" Siswi itu langsung menutup mulutnya dengan tak percaya. Ini adalah Daniel? Dunia bercanda? Pertanyaan itu bergema di pikiran semua murid yang ada di gerbang sekolah. Meskipun sudah mengetahui orang yang sedang mereka tatap adalah Daniel, tetap saja mereka tak percaya. Masih dalam keheningan, tiba-tiba suara perempuan serentak memecahkan suasana sunyi. "Daniel!?" 37 Bab 37 : Terkejut? SMK Negeri Sinar Abadi. Pagi hari yang cerah, banyak siswa-siswi berdatangan ke sekolah. Ada yang menggunakan motor, ada juga yang menggunakan angkutan umum, dan ada juga yang berjalan kaki. Siswa-siswa saling mengobrol dan tertawa, ada juga yang nampak kesal. Namun, mereka semua berhenti berdiskusi ketika sebuah mobil mewah datang. "Siapa tuh yang pakai mobil mewah ke sekolah?" tanya seorang siswi. "Entah. Aku pun tak tau." siswi lainnya menjawab sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian pintu mobil itu terbuka, terlihat seorang murid laki-laki. Mata Siswi itu berbinar ketika melihat yang turun adalah seorang murid laki-laki, ia kemudian memperbaiki penampilannya. "Apakah dia seorang murid baru?" tanya siswi itu lagi. "Aku nggak tau lah, kok malah nanya ke aku." siswi lainnya menjawab secara sembarangan. Fokusnya sudah diarahkan pada murid laki-laki yang hendak keluar dari mobil. Tak hanya kedua siswi ini yang bertingkah seperti itu, tapi banyak siswi yang sedang di gerbang juga seperti kedua siswi ini. Tak lama berselang, Bella dan Kinar juga baru datang. "Non, tumben sekali murid dari sekolah Nona berkerumun di depan gerbang sekolah," kata sopir Bella. Bella kemudian melihat ke arah yang ditunjuk oleh sopirnya dan menemukan kerumunan murid di sana. "Nggak tau juga, Pak. Saya juga baru liat mereka berkerumun seperti ini di depan gerbang sekolah," kata Bella dengan mata penasaran. Kinar pun penasaran seperti yang dirasakan oleh Bella dan yang lainnya. Keduanya buru-buru turun dan mencoba masuk ke kerumunan murid-murid. Setelah beberapa saat, murid laki-laki itu pun turun dari mobilnya dan mengucapkan selamat tinggal pada pengemudi di dalam mobil. Murid laki-laki itu kemudian berbalik ke arah gerbang sekolah. Semua yang hadir di sana terkejut. Rambut yang sedikit acak-acakan, menggunakan kacamata, dengan jam tangan mewah di tangan kirinya, lalu dengan tas dan sepatu mahal, membuat mereka semua terpana melihat murid laki-laki itu. Sangat tampan! Siswi yang awalnya ingin mendekati murid laki-laki itu tiba-tiba bertanya dengan gugup, "Ka-kamu Daniel?" Murid laki-laki itu bingung, tapi ia tetap menjawab, "Benar, aku Daniel. Apakah ada sesuatu yang salah?" Semua orang terkejut, terutama siswi itu. Seorang yang tampan dan baru saja turun dari mobil mewah adalah seorang murid miskin yang selama ini mereka perbincangkan! Siswa tampan ini tidak lain adalah Daniel! Semua orang merasa sedikit malu dengan perilaku mereka sebelumnya. Ketika semua orang terkejut, suara Bella dan Kinar terdengar. "Daniel!?" Suara keduanya tak nyaring, tapi terdengar oleh seluruh kerumunan. Keduanya sangat terkejut ketika seorang siswi bertanya apakah itu Daniel. Mereka berdua juga agak terkejut ketika melihat penampilan Daniel yang rapi dan barang-barang yang dipakainya juga termasuk mewah. Karena keduanya berkata secara bersamaan, mereka saling pandang. Jejak listrik muncul di mata mereka berdua. Daniel berbalik ke belakang, ia melihat Kinar dan Bella memanggilnya. "Halo Kinar, Halo Bella, tumben kalian datangnya bareng." Keduanya berhenti saling menatap. Mereka mengalihkan pandangan mereka pada Daniel dan menatapnya dengan senyuman. "Halo Daniel. Kami nggak sengaja aja bareng. Kamu berubah banget," kata Kinar. "Hn. Kami nggak sengaja bareng. Aku sempat terkejut dengan penampilanmu yang berbeda," Bella berkata dengan semangat. Keduanya menghampiri Daniel. Hal ini tak menjadi kejutan bagi mereka. Selama beberapa bulan terakhir, mereka semua menerima bagaimana perlakuan keduanya pada Daniel, kecuali Yudhistira yang menyukai Bella dan Kinar. Kerumunan yang pada perlahan bubar meninggalkan tiga orang yang sedang ngobrol. Kinar takjub dengan perubahan Daniel, ia berkata dengan semangat, "Kamu hari ini sangat tampan, Daniel." Bella dengan wajah merah juga berkata, "Benar, Daniel hari ini kelihatan lebih tampan dari sebelumnya." Daniel sedikit terkejut. Apakah semua orang menatapku aneh karena ia tampan? Daniel bertanya-tanya dalam pikirannya. "Begitu kah?" Daniel melihat-lihat lagi dirinya. Setelah sedikit berpikir, ia akhirnya paham. Selama ini, dia tak terlalu memperhatikan tampilannya. Tetapi, sejak semakin sering ke kantor perusahaan, Nayla menyuruhnya untuk berpenampilan rapi. Juga, semua yang ia pakai hari ini barang kelas mewah dan dia turun dari mobil mewah. Ia tersenyum, kemudian membalas pujian keduanya, "Terima kasih. Kinar juga terlihat sangat cantik, sangat mempesona. Bella hari ini terlihat manis, sampai-sampai aku merasa ingin mencubit pipinya." Keduanya tersipu malu dan menundukkan kepala mereka. Melihat keduanya menundukkan kepala mereka, Daniel terlihat bingung. Apakah terjadi sesuatu pada mereka? Membuang pikiran tersebut, Daniel mengajak keduanya masuk ke sekolah. "Yuk masuk, bentar lagi bel masuk nih." Keduanya hanya mengangguk. Setelah lebih selusin langkah memasuki gerbang, sesuatu terlintas dalam pikiran Bella dan Kinar. Eh, Daniel memujiku, tapi kenapa harus memuji dia juga? Keduanya saling bertatapan. Keduanya sedikit kesal. Akhirnya mereka berdua secara bersamaan memukul tangan Daniel. Daniel terkejut, ia bertanya, "Ada apa dengan kalian berdua?" "Nggak ada apa-apa. Hum!" Keduanya memalingkan wajah mereka dari Daniel. Daniel bingung dengan tingkah laku keduanya. .... Daniel dan Bella sampai di kelas 11-B, keduanya masuk ke kelas dan langsung jadi pusat perhatian murid yang ada di kelas. Mereka semua sudah mendengar cerita tentang Daniel yang memakai barang mewah. Tetap saja mereka terkejut dengan Daniel. Silvia yang sedang membaca, melihat Daniel dengan tampian baru juga terkejut. Ia ingin menghampirinya, tapi bel masuk sudah berbunyi. Bu Nia memasuki kelas, ia melihat seisi kelas dan memberi salam. Tapi, beberapa saat kemudian, ia mengalihkan tatapannya pada Daniel. Ia sangat terkejut dengan perubahan Daniel. Selama pelajaran berlangsung, Daniel tak lepas dari tatapan Bu Nia. .... Setelah bel istirahat berbunyi, Silvia langsung menghampiri Daniel. "Daniel!" sapa Silvia dengan sedikit nyaring. Daniel menoleh dan menemukan Silvia menyapanya. Ia membalas sapaan Silvia, "Halo." "Kamu terlihat sangat berbeda hari ini. Terlihat lebih elegan dan lebih tampan." Tanpa malu-malu Silvia memberikan pujian pada Daniel. Kali ini Daniel tak terkejut, ia berkata dengan sedikit tawa, "Sepertinya begitu. Mau ke kantin bareng?" Silvia mengangguk dengan cepat. Daniel kemudian beralih ke Bella, "Mau bareng juga?" "Iya." Bella juga setuju. Ketiganya menuju kantin bersama. Belum sampai sepuluh langkah keluar dari kelas, seseorang datang dan memanggil. "Daniel!" Ketiganya berbalik dan menemukan Kinar di sana. Daniel tersenyum. Ia berkata,"Tepat waktu." "Yuk ke kantin," ajak Daniel. Kinar dengan senang hati langsung mengangguk setuju. Awalnya ingin marah pada Daniel karena meninggalkannya, tapi tak jadi. .... Keempat orang itu mengobrolkan banyak hal sambil makan di kantin. Melihat keharmonisan mereka, banyak siswa-siswi yang iri. Untuk kalangan siswa, tak mudah untuk mendekati Bella dan Kinar yang susah didekati. Silvia juga semakin sulit didekati karena kebiasaannya membaca dan belajar. Untuk di kalangan siswi, Daniel yang tiba-tiba berubah tampan dan mengenakan barang-barang mewah membuat mereka menyesal. Jika saja mereka bersikap pada Daniel sebelumnya, mereka pasti akan dekat dengan Daniel saat ini. Berbagai penyesalan menyelimuti hati para siswi. Sedangkan Daniel, ia menghentikan kegiatan makannya, kemudian menatap ketiganya dan berkata, "Mau kah kalian datang ke rumahku setelah pulang sekolah nanti?" "Tentu saja aku ikut." "Aku ikut, hehe." "Aku juga ikut." Mendengar jawaban ketiganya, Daniel tersenyum. .... Ketika Daniel kembali ke kelas, ia langsung menghampiri Max dan Regi. "Max, Regi, kalian ingin mampir ke rumahku nggak? Tadi aku sudah ngajak Bella, Kinar dan Silvia." Max melihat kiri kanan, kemudian berkata, "Ngapain ngajak kita kalau udah ada para cewek yang ikut? Kita nanti aja mampirnya ke rumah kamu, Niel." Regi mengangguk, "Iya, benar apa kata Max. Nggak enak kalo ngumpul sama cewek. Nggak bisa main bareng kita nanti." Daniel menghela napas, "Baiklah. Besok saja kalian ke rumahku. Besok aku tak mengajak mereka." "Bagus. Selain nggak ada gangguan main bareng, kita juga bisa nonton bareng." Ketika Max selesai mengatakan itu, wajahnya seakan membayangkan sesuatu hal. "Mending kita main PUBG Mobile aja, ada adeknya Niel juga. Kalo nonton bareng, apa yang mau kita tonton?" kata Regi. Daniel menggelengkan kepalanya, lalu berkata dengan sedikit mengeluh, "Malas main PUBG sama kalian. Aku baru mau naik mobil, kalian udah jalan aja. Eh, pas aku ngejar malah kalian tabrak." "Bener tuh, mending nonton aja daripada main PUBG," kata Max. "Nontkn mulu dari tadi, emangnya nonton apaan sih?" Regi sedikit tertarik dengan apa yang ingin Max bilang. Pikirannya sudah melayang entah kemana. "Nonton ''itu'' loh, kalian nggak tau apa yang kumaksud?" tanya Max dengan wajah bingung. "Nonton film jepang yang ''itu''?" tanya Regi. "Regi mesum!" Max berkata dengan sedikit berteriak. "Mesum kepalamu! Terus, apa yang akan kita tonton, Max?" tanya Regi dengan sedikit kesal. "Sini dekat-dekat biar gak ada yang dengar." Daniel dan Regi pun mendekat. "Jadi, kita nonton apa, Max?" tanya Regi lagi. "Kita nonton bareng video musik sayur kol pake speaker di rumah Daniel!" kata Max dengan semangat. Daniel langsung tertawa mendengar ini. ... Bel pulang sudah berbunyi. Daniel bersama Bella dan Silvia menunggu Kinar di gerbang sekolah. Beberapa saat kemudian, Kinar datang. Mobil Daniel juga datang hampir bersamaan dengan Kinar. "Yuk masuk," kata Daniel sambil membukakan pintu mobil. Ketiganya kemudian masuk dan duduk di kursi bagian tengah. Rika dan Nayla duduk di depan, sedangkan Daniel duduk di kursi bagian belakang bersama Raka. Rika ingin bertanya, tapi karena ada Kinar, Bella dan Silvia, ia tak jadi bertanya. Baru beberapa meter saja mobil berjalan, sebuah suara gadis kecil nan dingin terdengar di telinga Daniel. "Kakak, server perusahaan Sky Technology diretas." 38 Bab 38 : Saatnya Membalas "Kakak, server perusahaan Sky Technology diretas." Ketika mendengar berita itu, Daniel terkejut. "Diserang?" gumam Daniel. Seisi mobil yang mendengar gumaman Daniel menjadi bingung. Raka, yang berada di sebelah Daniel bertanya, "Kak, apanya yang diserang?" Daniel tersadar, ia kemudian melambaikan tangannya dan menjawab, "Bukan apa-apa." Mendapat jawaban dari Daniel, mereka kembali pada urusan masing-masing. Daniel memainkan ponselnya. Ia mengirimkan pesan pada Red Queen. "Kapan server kita diserang?" tanya Daniel. Hanya berselang sedetik, Red Queen menjawab, "Baru saja, Kak." "Red kecil, lindungi semua data dari basis data, kemudian enkripsi semuanya. Setelah itu, buatlah file palsu seperti file Teteh. Lalu, masukkan kode pelacak dalam file tersebut dan biarkan mereka mengambil file tersebut." ketik Daniel kemudian mengirimkannya. Daniel sebenarnya sudah tahu bahwa perilisan asisten pintar tak akan berjalan mulus dan ia menduga bahwa akan ada yang menyerang server perusahaan Sky Technology. Tetapi, ia tak menyangka kalau penyerangan akan terjadi sehari setelah perilisan asisten pintar Teteh. Tujuan pihak lain pastilah kode sumber dari asisten pintar Teteh. Jika pihak lain mendapatkan kode sumber asisten pintar Teteh, pastinya akan mendapatkan uang yang tak terhitung jumlahnya. Jangan hanya membayangkan tentang penggunaan pada ponsel saja, tapi pikirkan jika kode sumbernya dikembangkan lebih lanjut lagi hingga menjadi kecerdasan buatan yang maju. Itu akan menjadi sebuah terobosan di berbagai bidang. Dan juga, jika pihak lain mempunyai superkomputer, maka tak terbayangkan bagaimana terobosan yang diperoleh oleh pihak lain tersebut. Jadi, tak heran kalau pihak lain tergoda dengan kode sumber asisten pinter Teteh. Kenapa Daniel memberikan data palsu? Karena, jika para peretas pulang dengan tangan kosong, perusahaan Sky Technology akan terus dibombardir sampai mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika terus dibombardir, maka perusahaan merugi jika pekerjaan terganggu. Red Queen mengangguk, "Baik, Kak." Daniel tersenyum dingin, ia kemudian mengetik, "Buatlah mereka sibuk dulu selama beberapa jam. Setelah itu, aku sendiri yang akan mengajari mereka jika berani macam-macam denganku." Untuk sesaat suasana di dalam mobil menjadi dingin. Kecuali Nayla, semua orang dalam mobil menjadi pucat. "Ada apa suasana tadi itu? Serem!" kata Kinar dengan suara bergetar. "A-apa yang sedang terjadi?" Bella bertanya dengan sedikit ketakutan. Sedangkan untuk Silvia, Rika dan Raka, mereka hanya terdiam. Tak mampu mengeluarkan suara untuk sementara. "Tidak apa-apa. Mungkin AC yang kuatur terlalu dingin. Maaf ya." Agar tidak membuat mereka khawatir, Nayla membuat alasan yang sedikit masuk akal. Nayla lalu tersenyum pada Daniel yang terlihat oleh Daniel di kaca spion. Melihat senyum Nayla, Daniel tersenyum meminta maaf. Beberapa menit kemudian, ponsel Daniel berdering. Daniel melihat ponselnya dan menemukan nama Lia Siyu yang memanggilnya. Ia menerima panggilan tersebut. "Halo, Lia Jie." "Halo, Daniel. Gawat, gawat, server perusahaan diserang. Tim teknisi tak bisa menahan serangan itu." Lia Siyu menjawab dengab nada sedikit panik. "Lia Jie, tenangkan dirimu. Biarkan mereka terus bekerja seperti biasanya. Aku akan membantu nanti setelah pulang ke rumah." "Tapi Daniel..." "Lia Jie, percayakan itu padaku." "Baiklah kalau kamu berkata seperti itu." "Lia Jie, nanti aku akan menelponmu lagi. Sampai jumpa." "Sampai jumpa." Daniel memutuskan panggilan. Setelah memutuskan panggilan, Daniel ditatap dengan mata penuh pertanyaan. Melihat ini, Daniel hanya bisa tersenyum. "Daniel, siapa yang menelponmu?" tanya Silvia. "Lia Siyu, dia menelponku karena sesuatu. Hanya masalah kecil," jawab Daniel santai. "Lia Siyu? Tante-tante yang merawat Daniel seperti yang digosipkan itu?" Bella bertanya dengan sedikit penasaran. Mendengar pertanyaan Bella, Rika sedikit merasakan amarah. Dia bertanya, "Eh? Kakak digosipin dirawat oleh tante-tante? Siapa yang gosipin!?" Berbanding terbalik dengan Rika, Raka malah tertawa, "Kakak dirawat tante-tante? Gosip apaan tuh." "Nggak tau. Aku dengernya gitu. Bukan aku yang gosipin Daniel." Bella berkata dengan sedih. "Aku juga dengar gosip itu." Silvia juga menyuarakan pendapatnya. "Di kalangan osis pun Daniel digosipkan. Aku sudah lelah mendengar gosip Daniel di sekolah. Mereka nggak capek apa bergosip terus tiap hari?" Kinar menghela napas. Nayla hanya tersenyum mendengar gosip yang mereka omongkan. Daniel tak terlalu memperdulikan gosip ini, ia mengangkat bahunya dan menjawab, "Bella nggak salah kok. Aku tau siapa yang membuat gosip seperti ini, tapi aku malas mengurusnya. Aku tak punya waktu untuk mengurusnya. Semua gosip itu salah besar." Mendengar kakaknya tahu siapa yang membuat gosip ini, Rika buru-buru bertanya, "Siapa yang berani bikin gosip tentang Kakak?" Daniel melambaikan tangannya, ia berkata, "Bukan siapa-siapa kok. Abaikan aja gosip itu. Nanti juga akan terbongkar kebenaran yang sesungguhnya. Lebih baik sabar, ada saatnya kebohongan itu terbongkar dan akan membuat dia malu sendri." Setelah itu, berbagai gosip tentang Daniel pun dibahas. Hal itu membuat Daniel sedikit tertekan. .... Sesampainya mereka di villa Daniel, ketiga teman wanita Daniel terkejut dengan penampilan ''rumah'' yang Daniel maksud. "Wow! Daniel, kamu baru pindahan ya?" tanya Silvia dengan takjub. "Hn. Aku baru pindah kemarin. Yuk masuk segera." Daniel menjawab dengan santai. Bella merasa takjub dengan rumah Daniel. "Rumahnya indah banget." "Benar, ada tamannya juga. Ah, aku ingin tinggal disini rasanya." Sedangkan Kinar, ia berandai-andai. Kinar kemudian menatap Daniel dengan semangat. Ia kemudian bertanya, "Bolehkah kami menginap?" Daniel terkejut, ia sekali lagi bertanya untuk memastikan, "Eh? Kalian ingin menginap?" "Jika dibolehkan menginap, aku ingin menginap disini." Kinar melihat-lihat sekitar vila. "Aku sih nggak masalah, coba kamu tanyakan ke Rika sama Nayla dulu. Kalian kan cewek, jadi kalian bertanya pada sesama cewek saja." Daniel melemparkannya pada Rika dan Nayla. "Benarkah? Lalu, aku akan bertanya pada mereka." Kinar kemudian berlari mengejar Rika dan Nayla yang sudah di depan pintu. Daniel hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. .... Ketika masuk ke vila, ketiganya terkejut lagi. Interiornya sangat indah yang membuat mereka sangat terkejut. Melihat mereka terkejut, Nayla hanya tersenyum. Ia bertanya, "Kalian ingin makan apa? Aku akan memasakkannya." Silvia sedikit ragu-ragu, ia kemudian bertanya, "Hm... bisakah kami memasak sendiri? Kami ingin membuat kue." Mendengar permintaan Silvia, Rika langsung setuju. "Kak Silvia mau buat kue? Yuk buat kue!" Raka ingin menghentikan Rika, tapi karena sangat antusias sekali, Raka tak tahan menghancurkan antusias tersebut. Ia hanya diam saja. "Aku boleh ikut?" tanya Bella dengan sedikit malu-malu. "Boleh, Kak Bella," jawab Rika dengan gembira. Mendengar mereka ingin memasak kue, Kinar berkata, "Kalau begitu, mari kita beli bahan membuat kuenya." "Karena mereka ingin memasak kue, kamu temenin mereka beli bahan-bahannya di supermarket ya, Nay." Daniel kemudian memberi Nayla kartu kreditnya. Karena Daniel sudah setuju, Nayla juga setuju. Dia menjawab, "Baik, Niel." "Mari kita pergi beli bahannya di supermarket. Niel nggak akan ikut. Kita bawa Raka aja buat bawa-bawa belanjaan kita." "Yuk!" jawab keempat gadis dengan semangat. "Kenapa harus aku yang kena? Kakak, bantuin aku!" Daniel tertawa, ia kemudian berkata, "Pergi sana sama mereka, nanti kamu dimarahi Rika loh kalo nggak ikutin mereka." "Huh!" Raka mendengkus dingin. Melihat ini, Daniel hanya tertawa saja. .... Setelah melihat mereka pergi, Daniel berbalik ke kamarnya. Wajahnya menunjukan senyum dingin, ia bergumam, "Saatnya membalas." 39 Bab 39 : Serangan Balik Dengan senyuman dingin di wajahnya, Daniel kembali ke kamarnya. Ia kemudian menghidupkan laptopnya dan tersambung dengan Red Queen. "Red kecil, bagaimana situasi saat ini?" tanya Daniel. Red Queen menjawab, "Semuanya terkendali, Kak. Ada peretas lain yang menyerang server kita." Alis Daniel mengeryit, ia tidak bisa tidak bertanya, "Benarkah? Ada berapa jumlahnya?" "Ada dua puluh peretas. Semuanya menggunakan IP palsu." Daniel menghela napas panjang, ia kemudian berkata, "duapuluh ya? Lacak lokasi spesifik mereka." "Baik, Kak. Red kecil mengerti." Setelah menjawab, Red Queen melaksanakan perintah Daniel. Daniel tak menyangka perusahaannya diserang dua puluh peretas. Meskipun ia tahu bahwa asisten pintar Teteh ini adalah sepotong kue yang menggiurkan, tapi ia tak menyangka sepotong kue yang ia punya menarik banyak serigala lapar. Daniel menggelengkan kepalanya. Saat Daniel sedang berpikir, Red Queen telah menyelesaikan tugasnya. "Kakak, semua alamat IP palsu telah ditemukan alamat sebenarnya. Ada 5 dari Amerika Utara, 7 dari Eropa, 2 dari Jepang, 2 dari India, 2 dari China, dan 2 dari Korea Selatan. Untuk lokasi spesifiknya ...." Daniel kemudian merenung setelah mendengar laporan dari Red Queen. Setelah beberapa saat, dia bangun dari renungannya. "Biarkan mereka menerobos secara perlahan. Jika keamanan kita terlalu mudah diterobos, mereka akan ragu dengan apa yang ambil dari kita." Daniel kemudian berpikir sebentar dan berkata, "Kamu bermain dulu bersama mereka. Aku akan menerobos komputer mereka secara diam-diam dan mencari tahu untuk siapa mereka bekerja." Red Queen pergi bermain dengan para peretas. Sedangkan Daniel, dia dengan cepat menekan keyboard seperti seorang master piano yang menekan tuts piano dengan cepat dan merdu. Setelah lebih dari selusin menit mengetik, dia akhirnya mendapat semua informasi yang dibutuhkannya. Tapi sayang, ada berbagai bahasa di dalam informasi tersebut. Daniel ingin memanggil Red Queen, tapi karena sedang bermain dengan para peretas, Daniel hanya bisa memanggil Via. "Via, bisakah kamu kemari?" Setelah beberapa saat, suara anak kecil yang ceria terdengar, "Halo, Kak. Sudah lama tidak bertemu. Apa yang Kakak butuhkan dari Via?" Daniel menunjukan berbagai informasi, kemudian ia berkata, "Via, bantu aku menerjemahkan semua informasi ini ke dalam bahasa Indonesia." "Siap Kak, laksankan!" Sebelum melakukan tugasnya, Via memberi hormat dulu. Melihat tingkah laku Via, Daniel tersenyum. Setelah beberapa saat, informasi yang muncul sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. "Sudah selesai, Kak. Apakah Kakak butuh bantuan Via lagi?" "Terima kasih, Via. Untuk saat ini, tidak ada. Jika aku membutuhkan bantuanmu lagi, aku akan memanggilmu. Lanjutkan pekerjaanmu." "Baiklah, Kak. Via akan kembali. Dadah!" "Dadah!" Setelah kepergian Via, Daniel kembali melihat informasi yang ditampilkan di laptopnya. Tak ada informasi penting yang terlewat saat Daniel mengambilnya. Baik itu nomor pin bank, informasi transaksi, ataupun kata sandi akun media sosial, semuanya didapat oleh Daniel. Setelah membaca beberapa informasi Daniel menemukan sesuatu. "Google, Apple, Samsung? Teteh ternyata sangat menggoda." Melihat potongan informasi ini, Daniel tidak terlalu terkejut. Sudah sewajarnya bagi perusahaan elektronik besar seperti mereka ingin mendapat semi kecerdasan buatan ini. Jika mereka mendapatkan ini, mereka pasti akan mendapatkan. keuntungan yang tak ternilai harganya. Daniel terus membaca informasi yang ia dapatkan. Setelah lebih dari satu jam. "Kak, peretas dari Jepang telah menerobos firewall dan memasuki basis data. Dia juga telah berhasil menyalin file palsu tersebut." Red Queen tiba-tiba memberikan laporan pada Daniel. "Biarkan saja dia mendapatkan informasi itu. Aku salut dengan kecepatan mereka menembus pertahanan perusahaan kita." Daniel terkagum-kagum dengan kecepatan peretas tersebut, ia kemudian berkata lagi, "Red kecil, salin semua file yang ada di komputer peretas ini. Buat folder baru dan taruh di drive e." Red Queen membalas dengan cepat, "Baik, Kak." Setelah beberapa saat, banyak folder lainnya di folder yang baru dibuat. "Buka folder tersebut," kata Daniel sambil bersandar di kursi khusus game di kamarnya. Daniel tersenyum setelah merasakan sensasi bersandar di kursi tersebut. Selain itu, Daniel juga ingin melihat apa sebenarnya isi dari komputer peretas yang menyerang perusahaannya. "Aahh~ Aahh~ ..." Sebuah video ditampilkan dengan suara erangan yang manis terdengar. Daniel terkejut melihat video ini, ia dengan cepat menutup matanya dan wajahnya langsung memerah. Ia dengan cepat bertanya, "Bagaimana yang kamu tampilkan seperti ini? Siapa ini?" "Bukankah Kakak yang meminta menampilkan informasi, Apakah ini salah? Orang itu adalah Maria Ozawa atau Miyabi." "Siapa itu Maria Ozawa atau Miyabi ini?" tanya Daniel bingung. "Miyabi adalah seorang aktris film dewasa. Dia pertama kali dikenalkan pada industri AV melalui temannya yang bekerja pada perusahaan AV..." Mendengar alasan dan penjelasan Red Queen, Daniel tak tahu harus tertawa atau menangis. Ia dengan cepat mengalihkan topiknya. "Tampilkan informasi lainnya." Mendengar perintah dari Daniel, Red Queen dengan cepat melaksanakannya. Tak butuh waktu lama, video lain ditampilkan di laptop Daniel. Pemerannya masih sama, yaitu Maria Ozawa. Tetapi, menggunakan kostum lain. Daniel hampir muntah darah melihat ini. Diperkirakan bahwa peretas ini adalah penggemar berat Maria Ozawa. Ia kemudian mengalih topik lagi. "Salin semua informasi di komputer peretas." "Baik, Kak." .... Sementara itu di supermarket aprilmaret. Mereka berlima membeli mentega, cokelat batangan, tepung, dan berbagai hal lainnya. Selain itu, mereka juga membeli banyak makanan serta minuman ringan. Kinar memperhatikan hal-hal yang mereka beli, kemudian ia berkata, "Sepertinya sudah lengkap semua, yuk balik." "Yuk balik." Silvia, Rika, dan Bella menjawab dengan gembira. Sementara itu, Raka yang membawa banyak tas mengeluh, "Tak bisakah kalian membantuku membawa semua ini?" Meskipun ia berkata dengan keras, tak ada yang membantunya. Ia tak tahu harus tertawa atau menangis dengan nasib yang ia alami ini. Di sisi lain, Nayla hanya tersenyum saja. .... Lia Siyu menatap komputer dengan mata merah. "Apakah serangan sudah berakhir?" tanya Lia Siyu. "Sudah berakhir, Nyonya," ucap seorang teknisi dengan wajah lelah. Meskipun hanya beberapa jam, banyak energi mental yang mereka gunakan. Belum lagi serangan itu sangat intens. "Apakah banyak data hilang?" tanya Lia Siyu lagi. "Tidak ada data yang hilang, Nyonya." teknisi itu menjawab dengan wajah senang. Lia Siyu penuh dengan wajah bersyukur, ia berkata, "Syukurlah tak ada yang hilang." "Bocah itu sangat tenang sekali. Aku tak tau apa yang ada di otaknya sampai ia setenang itu." Lia Siyu menghela napasnya. .... Setelah menyalin semua informasi, Daniel sedikit menambahkan virus kecil yang sangat cepat menyebar di komputer. "Saatnya menunggu kejutan dari mereka." Daniel bergumam dengan senyuman dingin. "Red Queen, lebih perketat lagi pertahanan kita dengan bahasa komputer baru yang kuajarkan padamu. Mereka tak akan pernah menembusnya dengan bahasa komputer yang kuno ini." "Baik, Kak. Aku akan mengerjakannya dengan cepat." Red Queen kemudian menghilang. .... Di sebuah kantor perusahaan besar. "Bagaimana dengan peretasan yang kau lakukan? Apakah sudah selesai?" tanya seorang pria paruh baya dengan rambut berwarna pirang. "Sudah selesai, Tuan. Meski mereka hanyalah perusahaan baru, keamanan mereka juga lumayan kuat. Tapi, dengan kemampuanku saat ini, hanya sedikit sulit untuk menerobosnya dan mendapatkan data tersebut." seorang pria muda tampan menjawab dengan santai sambil memberikan sebuah USB Drive. "Baiklah. Untuk sisa bonusmu, aku akan mengirimnya secepat mungkin. Pastikan bahwa file di USB drive ini belum dibuka oleh siapa-siapa." Pria paruh baya itu berkata dengan serius. Tekanan dari tubuhnya membuat pria muda tampan itu tak berani menatapnya. "Tentu, Tuan." pria muda itu menjawab dengan singkat. Setelah mendapatkan USB drive, pria paruh baya itu dengan cepat pergi ke kantor R&D perusahaannya. Ia berkata pada kepala bagian R&D, "Cepat, buka file di flash drive ini. Datanya sangat penting, pastikan kerahasiannya." "Baik, Pak." kepala bagian R&D dengan cepat melaksanakan perintah dari pria paruh baya tersebut. Setelah memasukan flash drive ke usb port, kepala bagian R&D dengan cepat membuka kata sandi file dari flash drive tersebut. Beberapa saat kemudian, kata sandi terbuka. Namun, apa yang tidak diharapkan adalah komputer yang dipakai oleh kepala bagian R&D tersebut layarnya berwarna hitam. Tak hanya sampai di situ, Komputer lain di kantor R&D pun semuanya berwarna hitam. Sebuah tulisan bahasa inggris muncul di setiap komputer. Are you wanna play with me? Let''s play and have fun together:) Setelah lebih dari selusin detik, tampilan di komputer kembali seperti semula. Tetapi, sebuah tab video player muncul. Video yang muncul adalah seorang pria paruh baya berambut pirang sedang ''bermain'' dengan seorang gadis cantik. Tiba-tiba, wajah pria paruh baya itu muram. Ia menghantam layar komputer dengan kuat. "Fuck Sky Technology! Tunggu saja kalian. Aku akan membalasnya cepat atau lambat!" Pria paruh baya itu berkata dengan penuh amarah. Tak hanya pria paruh baya itu saja yang marah, baik dari Google, Apple, maupun Samsung mendapatkan hal serupa dan mereka juga sangat marah. Sedangkan, orang yang membuat mereka marah, sedang asyik membuat kue dengan keluarga dan teman-temannya. Apa yang tidak ia ketahui adalah badai besar akan segera datang. 40 Bab 40 : Daniel, Berhenti! Empat hari telah berlalu semenjak serangan peretas terjadi pada Sky Technology. Daniel sudah memasang berbagai pemantau untuk memperhatikan oknum yang ingin mengacaukan Sky Booster jika mereka bergerak, tapi tak ada peringatan yang ia dapatkan dari pemantau tersebut. Ia juga sudah memasang antisipasi untuk keamanan jaringan dirinya dan perusahaannya. Selain itu, aplikasi asisten pinter Teteh semakin ramai pengguna. Hingga saat ini, sudah lebih dari 30 juta pengguna yang telah mengunduh dan berlangganan aplikasi asisten pintar Teteh. Asisten pintar Teteh sangat membantu para pengguna, tak hanya mengontrol ponsel menggunakan suara, tapi juga membantu mereka dalam mengetik menggunakan suara ataupun mengobrol dengan Teteh. Karena pengguna yang melonjak ini, perusahaan Sky Technology memasok banyak server untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Meskipun ada beberapa masalah saat memasang server, Daniel telah menyelesaikan masalah sepele itu. Beberapa oknum nakal dengan sengaja menanam sesuatu pada server agar bisa mengakses kode sumber asisten pintar Teteh. Dengan semakin banyak pengguna yang mengunduh asisten pintar Teteh, semakin banyak pula pendapatan yang didapat oleh Sky Technology. Tak sampai di situ, beberapa perusahaan juga telah menghubungi Sky Technology. Tak hanya perusahaan dalam negeri, tapi juga beberapa perusahaan dari luar negeri telah menghubungi Sky Technology untuk berinvestasi di dalamnya. Di antara perusahaan yang berkunjung untuk melakukan kerja sama dengan Sky Technology, ada perusahaan e-commerce yang ingin melakukan kerja sama dalam kecerdasan buatan. Perusahaan ini adalah Bukalapak, yang saat ini telah melajukan kerja sama dengan ITB dalam bidang Kecerdasan Buatan dan Komputasi Awan. Namun, semua itu ditolak oleh Daniel. Bahkan jika raksasa seperti Google, Apple, ataupun Samsung ingin bekerja sama dengannya, Daniel tetap akan menolak itu. Alasannya adalah ia tak ingin perusahaannya dimiliki oleh beberapa orang. Ia hanya ingin mengendalikannya secara pribadi. Jika perusahaan yang dibangunnya dengan susah payah dimiliki orang lain, apa gunanya dia mendirikan perusahaan ini? Daniel tak terlalu khawatir tentang dana perusahaan. Ia memiliki banyak kartu dilengannya. Tidak hanya berbagai game yang akan mengguncang para penggemar game, tapi ia juga memiliki teknologi holografik yang akan membuat banyak orang akan tertarik pada perusahaannya. Belum lagi dana dari penjualan Sky Booster pada Google, sekarang perusahaan memiliki lebih dari 2 triliun rupiah setelah dikurangi berbagai hal yang dibutuhkan perusaahan. Selain itu, Dana pribadi Daniel dari hasil Sky Booster pun hampir menembus 100 miliar. Dan harga berlangganan asisten pintar Teteh di luar negeri sedikit lebih mahal. Jika di Indonesia berlangganan hanya butuh 20 ribu rupiah, di luar negeri berkisar antara 40 ribu sampai 60ribu rupiah. Bahkan, di Amerika Serikat, Daniel mematok harga 10 dollar amerika. Jika dikonversikan ke rupiah, maka harganya adalah 140 ribu rupiah untuk berlangganan perbulannya. Banyak pengguna di Amerika Serikat mengeluh pada perusahaan Sky Technology, tapi Daniel tak memperhatikan itu. Melihat bagaimana banyak yang mengeluh, banyak warganet Indonesia senang dan bangga. Akhirnya bisa menekan Amerika Serikat! Dengan ini, prestise perusahaan Sky Technology di mata rakyat Indonesia jadi lebih tinggi lagi. .... Saat ini Daniel berada di sekolah. Ia duduk dengan rapi memperhatikan penjelasan dari guru. Meskipun kelihatannya sedang memperhatikan guru, apa yang dilakukannya sebenarnya berbeda. Matanya fokus pada layar di kacamata pintar. Ia sudah menghubungkan kacamata pintar pada jam tangan pintar untuk membaca berbagai hal data yang ia peroleh dari database Kucing R-I0ne. Saat sedang fokus membaca, ia merasa ada seseorang yang menatapnya. Namun, setelah beberapa saat, ia merasakan ada seseorang ingin ''menyerang''nya, ia dengan reflek yang cepat menggengam tangan tersebut. Namun, apa yang dirasakan oleh Daniel adalah sebuah tangan yang lembut. Ia kemudian menoleh dan menemukan tangan Bella yang ia genggam. "Daniel...." Wajah Bella merah merona karena tangannya digenggam oleh Daniel. Awalnya ia hanya ingin bercanda dan mengejutkan Daniel yang terlihat sedang fokus memperhatikan pelajaran, tapi siapa sangka bahwa reaksi Daniel yang cepat. "Bella..." Daniel melihat Bella dengan sedikit terkejut. Pasalanya, penampilan Bella yang malu-malu kelihatan sangat imut. Apalagi untuk seorang Bella yang polos. Ia secara tak sadar terus menatap Bella dan tak melepaskan genggamannya. Wajah Bella semakin merah, ia menjadi lebih gugup dan tak berani menatap mata Daniel langsung. Seorang guru yang sedang mengajar di depan kelas melihat Daniel dan Bella saling menggenggam tangan, langsung menegur mereka dengan cara berdaham. Daniel kembali pada kesadarannya, ia dengan cepat melepas genggamannya dari tangan Bella. Meskipun ia cepat melepaskan tangannya, kejadian ini telah disaksikan oleh Silvia dan Yudhistira. Silvia merasakan sedikit kecemburuan pada Bella karena tangannya digenggam oleh Daniel. Sedangkan Yudhistira, ia sangat geram dengan tingkah laku Daniel yang berani menggenggam tangan Bella. Matanya memancarkan niat membunuh pada Daniel. Daniel yang sedang duduk rapi setelah memperbaiki posisinya merasakan tatapan tajam yang ditujukan padanya. Daripada menyebutnya sebuah tatapan dengan niat membunuh, Daniel lebih suka menyebut ini hanyalah sebuah tatapan biasa. Aura membunuh yang ia rasakan di permainan Awakeninglebih besar daripada yang ia rasakan daripada niat membunuh yang Yudhistira arahkan padanya. Di Awakeningsangatlah realistis, sangat mirip dengan dunia nyata. Bahkan aura membunuh pun bisa membuat Daniel berhenti bergerak. Tapi, setelah mengalami 3 bulan di ambang hidup dan mati melawan monster, pengalaman bertarung Daniel menjadi lebih menakutkan. Dimatanya niat membunuh dari Yudhistira seperti tatapan biasa. .... Bel istirahat berbunyi. Daniel dengan cepat memasukan buku-bukunya ke laci meja. Ia kemudian menatap Bella dan berkata, "Bella mau ke kantin bareng?" Bella menoleh ke arah sumber suara, ia menemukan Daniel berbicara padanya. Ia segera teringat kejadian saat jam pelajaran, wajahnya memerah. Ia dengan cepat menjawab, "En." Daniel juga mengajak Silvia dan langsung menyutujuinya. Setelah itu ia juga mengajak Max dan Regi ke kantin. Awalnya keduanya menolak, tapi setelah dibujuk oleh Daniel, mereka akhirnya menerima tawaran tersebut. Kinar muncul tak lama kemudian. Mereka kemudian ke kantin. .... "Hei, kalian sudah dengar berita terbaru belum?" tanya Max dengan misterius. Kinar sedikit penasaran. Ia pun bertanya balik, "Berita apa?" "Ini berita yang telah menyebabkan banyak orang terkejut," kata Max yang semakin misterius. Melihat ini, Daniel memutar matanya. Ia sudah sering kali ditipu dengan berita yang dikatakan oleh Max. "Aku tau berita mengejutkan apa itu," Regi menepuk dadanya dengan bangga. Max tersenyum mengejek. Ia berkata, "Lalu, apa berita yang ingin kusebutkan ini?" Regi sedikit terprovokasi dengan senyuman Max. Ia menjawab, "Berita itu adalah kau telah mendapatkan seorang pacar, kan?" "Hei! Bukan itu. Masalah mendapatkan pacar itu hal mudah," Max berkata dengan bangga. "Begitukah? Mengapa kau tak menyatakan cinta pada seorang gadis saat ini juga?" Regi langsung memprovokasi Max. Max langsung terprovokasi. Ia pun berkata, "Lihat bagaimana cara menyatakan cinta yang sebenarnya!" Melihat ini, ketiga gadis itu heran. Bella merasa ini berlebihan. Ia segera berkata, "Daniel, bukankah ini sedikit berlebihan?" Daniel tampak acuh tak acuh. Ia menjawab dengan santai, "Ini adalah hal biasa baginya. Lihatlah bagaimana aksinya." Mendengar jawaban dari Daniel, ketiganya memperhatikan Max. Max berjalan ke meja dua orang siswi, ia segera menampilkan wajah sok tampannya. Ia menyapa dengan senyuman, "Halo, cewek cantik." Kedua siswi tersebut menoleh ke arah Max, Alis keduanya mereka mengeryit. Siswi itu bertanya, "Apa maumu?" "Maukah kalian menjadi pacarku?" tanya Max. "Apa?!" keduanya segera terkejut. Salah satu siswi dengan cepat berkata, "Hei, kau itu teman murid miskin, bagaimana mau menjadikanku pacar. Urusi saja teman miskinmu yang sok kaya itu. Pergi sana!" Siswi lainnya hanya menatap Max dengan cemoohan. Tiba-tiba tangan Max melayang ke arah pipi siswi yang berbicara kasar. Plak! Suara tamparan terdengar di kantin. Semua murid yang hadir terkejut dengan kejadian ini. Bahkan Daniel pun terkejut dengan apa yang dilakukan Max. Tetapi, setelah melihat siapa yang ''ditampar'' oleh Max, ia hanya tertawa. "Bukankah kau terlalu berlebihan?" siswi lainnya bertanya dengan marah. "Oh, ini tidak berlebihan. Aku hanya menepuk nyamuk yang ada di pipinya. Apakah ini salah?" Max berkata tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Kau! Dasar miskin, bau, sampah!" siswi yang ditampar tak menahan makiannya. Max tak peduli lagi. Ia segera berbalik dan kembali ke meja Daniel dan yang lainnya. Wajahnya suram ketika melihat tatapan mengejek Regi. "Katanya mudah mendapatkan pacar, tapi menyatakan cinta saja salah. Malah nembak dua-duanya lagi," Regi tertawa terbahak-bahak melihat wajah Max yang suram. "Huh!" Max tak menjawab, ia hanya mendengkus dingin. Regi semakin tertawa melihat ini. Sedangkan ketiga gadis itu tertegun ketika Max ''menampar'' siswi yang melontarkan kata-kata kasarnya. Siswi tersebut adalah Nurul, dan yang lainnya adalah Hana. Melihat ini, Daniel menggelengkan kepalanya. Ia segera mengingatkan mereka untuk memakanan makanan yang telah mereka pesan. .... Selama makan, Daniel dan yang lainnya bercanda dan tertawa. Meskipun Max sebelumnya ngambek, hanya butuh waktu singkat untuknya segera kembali baikan. Lawakan Max dan Regi-lah yang membuat mereka tertawa. Setelah makan, mereka semua kembali ke kelas. Namun, baru saja mereka berjalan kembali ke kelas, seorang siswi menghentikan Daniel. "Daniel, Berhenti!" Setelah itu, Daniel tiba-tiba berhenti. 41 Bab 41 : Bolehkah Aku Datang Ke Rumahmu? "Daniel, Berhenti!" Daniel yang sedang berjalan bersama yang lainnya langsung berdiri tegak. Setelah beberapa detik, ia pun berbalik. Ia melihat seorang gadis cantik. "Mitha?" Daniel bertanya dengan linglung saat melihat Mitha. Setelah Daniel menggumamkan nama itu, Bella dan yang lainnya juga menoleh ke arah Mitha. Mereka tertegun dengan kehadiran Mitha. Apa yang dilakukan Mitha mendatangi Daniel? Pertanyaan itu menggema di pikiran mereka. Sedangkan Mitha, ia tersenyum manis pada Daniel. Ia pun menjawab, "Iya, aku Mitha. Apakah kamu sudah melupakanku?" Daniel menundukan kepalanya. Setelah beberapa detik, ia mendongak menatap Mitha dan tersenyum. Ia berkata, "Tentu saja tidak. Bagaimana bisa aku melupakanmu?" Mendengar jawaban ini, mata Mitha berbinar. "Hehe, pesonaku masih bisa meluluhkan hatinya," pikir Mitha Sedangakan Max dan Regi khawatir Daniel jatuh ke pelukan nenek sihir ini, begitu juga dengan Silvia. Sedangkan Bella dan Kinar, mereka hanya khawatir kalau Daniel lebih memilih Mitha. Baru saja Mitha membuka mulutnya ingin berbicara, Max langsung berbicara. "Astaga, ternyata Mitha. Kukira tadi Bu Kantin yang manggil karena Daniel belum bayar." Tanpa memberi kesempatan Mitha berbicara, Regi membalas perkataan Max. "Mana mungkin Daniel tak membayar ketika makan di kantin. Dia nggak kayak kamu yang sering makan di kantin tapi nggak bayar, tapi juga minta kembalian sama Bu Kantin." Max sedikit malu, tapi dengan wajahnya yang setebal tembok China, ia menjawab, "Hei, itu bukan akunya yang nggak bayar. Tapi, aku menganggap Bu Kantin bersedekah padaku." Regi memutar matanya. Ia menjawab, "Terserah apa katamu. Maling mana mau ngaku. Kalau maling ngaku, perjara udah kehabisan room buat penjarain maling. Mungkin kalo Max yang ngaku, roomnya bakal pindah ke server alam lain." Max kemudian berpikir, "Berarti aku ke isekai dong? Bolehlah kalo begitu. Tapi...." "Tapi apa?" tanya Regi. Dengan keyakinanannya ia berkata, "Lebih baik pindah server ke isekai lewat truk. Lebih indah isi server didalamnya. Daripada lewat penjara, isi servernya api doang." "Dasar wibu!" Regi tidak bisa menahan ucapannya. Dengan sok polosnya, Max bertanya, "Wibu itu apa? Suara ambulan?" "Suara ambulan ndasmu!" kata Regi dengan kesal. Ketiga gadis cantik yang bersama Daniel hanya tertawa melihat ini. Sedangkan Daniel sendiri, ia terlihat seperti merenungkan sesuatu. Lalu Mitha, semenejak omongannya dipotong oleh Max, ia sudah kesal. Keduanya ini selalu ikut campur ketika ia masih berpacaran dengan Daniel sebelumnya. Ia memasang wajahnya dengan senyuman dan suaranya ditinggikan, ia berkata, "Daniel ternyata nggak lupain aku. Berarti masih sayang dong sama aku? Aku juga masih sayang sama kamu, Daniel. Mau berpacaran denganku lagi?" Max, Regi, Bella, Silvia dan Kinar terkejut dengan pernyataan Mitha. Nenek sihir ingin balikan dengan Daniel! Tak bisa dibiarkan! Seketika Max dan Regi berkata secara bersamaan. "Sayang ndasmu! Padahal kau yang...." Belum sempat mereka menyelesaikan kalimat mereka, tangan Daniel menyentuh bahu mereka masing-masing. Keduanya tertegun dengan tingkah laku Daniel. Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Daniel? "Apa tadi yang kau bicarakan? Bisakah kau ulangi?" tanya Daniel dengan suara datar. Sekali lagi Mitha berkata mengulang kalimat sebelumnya, "Aku berkata bahwa kamu ternyata nggak lupain aku. Kamu masih sayang sama aku, kan? Aku juga masih sayang sama kamu. Gimana kalau kita pacaran lagi? Kamu mau, kan?" Daniel terkekeh mendengar ini. Ia kemudian berkata dengan dingin, "Ya, aku tidak melupakanmu. Aku tidak melupakan bagaimana sakitnya saat kau berkhianat. Aku tak melupakaan saat kau membuangku begitu saja." Daniel berhenti sebentar, ia melanjutkan, "Aku masih menyayangimu? Aku akan menjadi seorang idiot sepertimu jika aku masih menyayangimu. Balikan denganmu adalah hal paling menjijikan di dunia ini. Mengetahui bagaimana mudahnya kau ''bermain'' dengan Yudhistira saja sudah membuatku tak ingin melihatmu lagi." Mendengarkan kata-kata Daniel, Mitha, Max, dan lainnya terkejut. Sementara Mitha terkejut dan marah mendengar ini, Max dan yang lainnya malah senang dengan ini. Entah karena malu atau marah, wajah Mitha merah padam. Ia kemudian bertanya, "Kamu ... bagaimana kamu tahu itu? Mendengar Mitha tak membatahnya, Daniel tersenyum sinis, "Tumben sekali kau berkata jujur. Biasanya mulutmu yang berbisa itu sering melontarkan kalimat dengan penuh kebohongan. Untuk videomu yang ''bermain'' dengan Yudhistira, itu sudah tersebar di grup whatsapp sekolah ini. Kau bisa cek ponselmu." Saat Daniel selesai berbicara, enam orang lainnya segera membuka aplikasi whatsapp dan melihat ada sebuah video terkirim di grup kelas 11-TKJ yang dikirim oleh Yudhistira sendiri. Setelah melihat siapa yang ada didalam video itu, semuanya terkejut. Apa yang dikatakan oleh Daniel adalah kebenaran. Itu adalah video ''bermain'' Mitha dan Yudhistira. Tak hanya mereka yang terkejut melihat itu, para murid lainnya pun terkejut ketika melihat video itu terkirim ke grup whatsapp lainnya. Bahkan, Yudhistira ''mengirim'' video tersebut pada guru. Kejadian ini memggemparkan seluruh sekolah. Kebetulan, tersangka yang ''mengirim'' video lewat dan melihat Mitha dan kelompok Daniel. "Mitha?" Yudhistira bergumam. Ia pun menghampiri Mitha dan menyapanya dengan mesra di depan Daniel dan kelompoknya, "Halo sayang." Setelah menyapa Mitha, ia melihat kelompok Daniel dengan senyum cemoohan. Namun, tidak sesuai harapannya yang ingin membuat Daniel marah. Justru sebaliknya, Daniel malah tertawa terbahak-bahak melihatnya bermesraan dengan Mitha, mantan pacar Daniel. Yudhistira bingung dengan tawa Daniel. Tetapi sebelum ia menyadarinya, sebuah telapak tangan melayang ke pipinya. Plak! Yudhistira terkejut dan bingung kenapa ia ditampar oleh Mitha. Segera, amarahnya terpancing dan langsung memarahi Mitha, "Kenapa kau menamparku?!" Melihat Yudhistira marah-marah, Mitha balik memarahi Yudhistira, "Apa maksudnya ini? Kenapa kau menyebarkan video kita?" Yudhistira bingung dengan pertanyaan Mitha. Ia bertanya lagi, "Video apa? Aku sama sekali tak tahu ini!" "Pura-pura tidak tahu? Dasar cowok bangsat, bajingan, sampah!" Mitha menampar Yudhistira lagi. Namun, tamparan Mitha bisa ditahan oleh Yudhistira. Ia kemudian merebut ponsel Mitha dan melihat video apa yang dimaksud. Setelah melihat video itu, wajah Yudhistira menghitam. Marah, malu, putus asa, keinginan membunuh, dan berbagai emosi lainnya bercampur aduk. Ia meremukkan ponsel Mitha tanpa bersalah sedikitpun. Daniel! Itu pasti Daniel! pikir Yudhistira dengan penuh anarah dihatinya. .... Semua ini dilakukan oleh Daniel, atau lebih tepatnya Red Queen. Sebenarnya Daniel sudah lama menemukan video itu saat iseng meretas ponsel Yudhistira. Awalnya ia sangat marah, tapi setelah berpikir beberapa saat, kemarahannya perlahan pudar dan berakhir seakan-akan tak terjadi apa-apa. Red Queen melakukan ini hanya dalam waktu kurang dari 1 menit. .... Daniel, dalang semua ini, sudah kembali ke kelas. Sebelumnya, ketika mereka kembali saat Yudhistira dan Mitha bertengkar, Max sedikit ngambek karena dia ingin melihat perkelahian pasangan yang menggemparkan. Tapi sayang, Daniel menyeretnya untuk kembali ke kelas. Saat sedang mengobrol dengan Bella, tiba-tiba saja Daniel bersin. "Hm? Seseorang membicarakanku?" Daniel bergumam. Bella, yang sedang mengobrol dengan Daniel, mendengar Daniel tiba-tiba bersin, ia langsung bertanya, "Daniel, apa kamu baik-baik saja?" Daniel melambaikan tangannya dan menjawab dengan tersenyum, "Tidak ada apa-apa, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Bella menghela napas lega. Ia berkata, "Syukurlah kamu baik-baik saja." Daniel ragu-ragu sebentar. Setelah beberapa detik ragi-ragu, ia memberanikan diri bertanya, "Bella, bolehkah aku datang ke rumahmu?" Bella terkejut dengan pertanyaan Daniel. Ia berkata dengan sedikit kegembiraan, "Boleh saja." Daniel akhirnya menghela napas lega. Ia berkata, "Baiklah, aku akan ke rumahmu hari ini. Aku akan pulang bersamamu." Bella sangat senang karena Daniel akan ke rumahnya. Ia sangat mengagumi Daniel karena Daniel sangat pintar dalam berbagai hal. Baik itu dalam pelajaran biasa ataupun pelajaran produktif(sesuai jurusan), Daniel sangat baik dalam hal itu, dan yang lebih penting lagi, Daniel itu baik dan ramah terhadapnya. Jika dia tahu bahwa Daniel-lah yang membuat aplikasi Sky Booster dan asisten pintar Teteh, dia akan lebih mengagumi Daniel lagi. Sementara Daniel dan Bella sedang mengobrol, Max dan Regi sedang beraksi di depan kelas. Kenapa Max dan Regi beraksi di kelas? Karena mereka berdua bosan dengan jam kosong. Semua guru melakukan rapat darurat karena masalah video Yudhistira dan Mitha. Di setiap kelas SMK N Sinar Abadi pun kosong tanpa ada pelajaran. Max dan Regi saling membelakangi punggung masing-masing. Kemudian membentuk tangan mereka seolah-olah itu pistol. Daniel mengalihkan tatapannya ke depan kelas dan melihat Max dan Regi seolah-olah sedang melakukan aksi duel koboi. Daniel tersenyum pahit melihat ini. ia berkata, "Dia kayaknya balas dendam karena kuseret dia sebelumnya. Harus sabar kalau punya temen kayak gini." Bella juga memgalihkan tatapannya ke depan kelas. Ketika ia mendengar perkataan Daniel, ia hanya tersenyum. Setelah beberapa detik aksi saling membelakangi punggung, keduanya bergerak maju tiga langkah kemudian menghadap ke seluruh murid dengan dua tangan ''pistol'' mereka. Kemudian, suara nyanyian keduanya terdengar. "Hit you with that ddu ddu ddu." Setelah itu mereka menari sesuai dengan tarian yang ada pada lagu tersebut. "Aye aye." "Hit you with that ddu ddu ddu." Seisi kelas melihat ini langsung tertawa. Pasalnya, gerakan tarian Max dan Regi sangat mirip dengan tarian Ddu ddu ddu dari BlackPink. Daniel yang melihat ini ingin segera bersembunyi di bawah meja karena malu dengan kelakuan kedua temannya. Bella tertawa terbahak-bahak melihat ini. 42 Bab 42 : Bella Dalam Bahaya Bel pulang sudah berbunyi. "Bella, apa kamu sudah menyimpan semuanya?" tanya Daniel yang sudah mengendong tasnya. "Sudah semua, tak ada yang tertinggal. Yuk pulang," jawab Bella. Daniel mengangguk, "Yuk." Keduanya berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Seorang pria paruh baya keluar dari mobil. "Nona, silahkan masuk." Pria paruh baya itu membukakan pintu mobil. "Terima kasih, Pak. Hari ini temanku akan ikut, ini dia," kata Bella sambil menunjuk pada Daniel. Daniel dengan sopan menyapa pria paruh baya itu, "Halo, Pak. Saya Daniel, teman sekelas Bella." "Halo, saya adalah kepala pelayan dari keluarga Liestiel. Panggil saja pak Bram." Dengan sedikit kewaspadaan, kepala pelayan itu memperkenalkan dirinya dengan sopan. Pak Bram bukanlah sopir yang mengantar Bella sebelumnya. Entah karena alasan apa, pak Bram sendiri yang menjadi sopir menggantikan sopir sebelumnya. Bella menepuk tangannya sekali. Ia berkata, "Karena sudah saling berkenalan, sudah saatnya untuk ke kota." Setelah mengatakan itu, Bella menarik Daniel masuk ke mobil. "Ke kota?" Daniel bingung. ia bertanya lagi, "Kita ke kota mau ngapain?" "Kita ke kota ya buat jalan-jalan. Sebenarnya, hari ini aku mau jalan sendirian. Kebetulan kamu mau ke rumah aku. Jadi, sebelum ke rumah, kita jalan-jalan dulu ke taman hiburan," jawab Bella sambil menggunakan sabuk pengaman. Mendengar ini, Daniel akhirnya memahami sesuatu. Ia berkata, "Jadi begitu. Yaudah, kita jalan-jalan dulu. Kebetulan hari ini weekend, ada banyak hiburan di taman hiburan." Dengan penuh semangat Bella berkata, "Pak, ayo jalan." "Baik, Non," pak Bram menjawab dengan ekspresi datar. Sebelum mobil melaju, pak Bram menatap Daniel lewat spion di dalam mobil. Daniel hanya membalas dengan tersenyum. .... Sebelumnya, Daniel sudah menghubungi Nayla untuk tidak menjemputnya. Dengan ini, dia bisa bergerak leluasa. Balik lagi saat Daniel bertemu Mitha di kantin. Alasan mengapa Daniel tiba-tiba berdiri tegak saat Mitha memanggilnya adalah notifikasi dari sistem. Notifikasi bahwa ada tugas baru dirilis. Karena itulah Daniel terkejut ketika dipanggil Mitha. Alasan dia tak sepenuhnya memperhatikan perkataan Mitha adalah isi dari tugas tersebut. "Tugas : Menjaga Bella dari Bahaya. Hari ini, sekelompok orang sedang menargetkan Bella. Jagalah Bella dari segala bahaya yang sedang mengincarnya. Syarat : Mengantar Bella dengan selamat ke rumahnya. Hadiah Tugas : Exp 25%, Pedang, 1x Undian. Hukuman : Kucing R-I0ne akan diambil kembali, Mengembalikan tubuh Host ke semula(Sebelum menggunakan Serum Prajurit Super)." Isi dari tugas ini mengharuskan dia mengantar Bella ke rumah dengan selamat. Karena tugas ini dirilis saat di sekolah, Daniel tak bisa mempersiapkan banyak hal. Itulah sebabnya Daniel ingin ke rumah Bella sendirian. .... Selama di dalam mobil, Bella dan Daniel bercerita banyak hal. Tak terasa mereka sampai di kota. Melihat ada toko baju perempuan di pinggir jalan, Bella dengan cepat menyuruh pak Bram menghentikan mobil. "Pak Bram, berhenti." Dengan cepat pak Bram menginjak rem. "Apakah di sini, Nona?" tanya Bram. Bella mengangguk dengan gembira, "Benar, Pak." "Oh iya, Pak. Pak Bram pulang aja duluan. Aku nanti pulang sama Daniel. Kami mau pergi ke taman hiburan dulu setelah berbelanja," lanjut Bella. "Tapi, Non...." Belum sempat pak Bram menyelesaikan kalimatnya, Bella berkata dengan tersenyum, "Tidak apa-apa, Pak. Selama ada Daniel, aku tetap aman kok." Melihat Bella sudah memutuskan, pak Bram hanya bisa menurutinya. "Baiklah, Non. Ketika Nona membutuhkan sesuatu, silahkan telepon saya. Saya akan segera menemukan Nona." Setelah mengatakan itu, pak Bram menatap tajam pada Daniel. Namun, Daniel hanya mengacuhkan tatapan tajam itu. Dengan gembira Bella berkata, "Siap, Pak. Nanti kalau ada apa-apa akan kutelepon pak Bram." Masih dengan ekspresi datarnya, pak Bram berkata, "Baiklah, Non. Kalau begitu saya pulang lebih dulu. Hati-hati, Nona. Sampai jumpa." "Sampai jumpa, Pak." Bella berteriak dengan melambaikan tangannya. Setelah mobil itu menjauh, Bella menarik tangan Daniel ke arah toko pakaian wanita. Ketika masuk ke toko, seorang pelayan wanita menyapa dengan sopan. "Selamat datang." Daniel dan Bella membalas sapaan pelayan itu dengan senyuman. Keduanya berjalan ke deret pakaian. "Bella, apa yang ingin kamu beli?" tanya Daniel. Sambil melihat-lihat pakaian Bella menjawab, "Aku ingin membeli jaket atau sweater." "Oh itu." Daniel menganggukan kepalanya, ia kemudian melajutkan, "Kalau sweater, kamu cobain yang itu." Daniel menunjuk pada sweater berwarna abu-abu. "Daniel, sebegitu sukanya kamu sama warna abu-abu, ya?" tanya Bella terkikik. "Eh? Kok Bella bisa tau?" tanya Daniel heran. "Itu hampir semua barang kamu warnanya abu-abu. Ponselmu, kacamatamu, jam tanganmu, jaketmu, bahkan tasmu semuanya berwarna abu-abu." Bella tertawa, ia menjawab sambil mengambil baju yang ditunjuk oleh Daniel. "Oh, kamu benar." Daniel tertawa, ia berkata, "Kamu coba dulu sweaternya." "Okay." Bella langsung masuk ke tempat berganti baju. Setelah beberapa menit, ia keluar dan berpose memamerkan bajunya. Ia kemudian bertanya, "Bagaimana menurutmu Daniel?" Daniel berhenti sebentar, menatap Bella dari atas sampai ke bawah. Saat ini Bella menggunakan rok sekolah selutut berwarna coklat dan sweater abu-abu. Jujur saja, ini bukanlah warna kombinasi yang cocok. Tapi, tetap saja, Daniel melihat Bella sangat cantik hari ini. Lupakan warna roknya, fitur wajahnya yang bulat dengan mata birunya dan rambut pirangnya, sweater abu-abu sungguh cocok di badannya. Setelah beberapa saat, "Bagus. Bella sangat cantik menggunakan sweater ini." Setelah mendengar jawaban dari Daniel, Bella segera ke meja kasir dan membayarnya. Daniel terkejut dengan ini. Apakah semua cewek seperti ini? Ketika Daniel berbelanja dengan Rika dan Nayla pun seperti ini. Ketika Rika dan Nayla dipuji oleh Daniel, keduanya langsung memilih pakaian yang mereka coba saat itu. Daniel hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghampiri Bella. Setelah menyelesaikan prosedur pembayaran, keduanya keluar toko dan pergi ke taman hiburan. Kebetulan taman hiburan tak jauh dari toko pakaian wanita. Itu hanya berjarak sekitar 400m. Saat keduanya sedang berjalan, seorang pria menggunakan hoodie melewati mereka. Pria menggunakan hoodie itu diam-diam menggenggam pisau dan ingin menusuk Bella. Daniel, yang ada disamping Bella menyadari ada sesuatu yang salah. Ia menjadi lebih waspada dari sebelumnya setelah mengingat isi tugas. Sepertinya mereka sudah bergerak, pikir Daniel. Setelah bergerak beberapa langkah dari Bella dan Daniel, pria itu kemudian berbalik dan bersiap untuk menusuk Bella dari belakang. Daniel merasakan gerakan dari pria itu. Ia dengan cepat menarik Bella ke samping dan menyapu kaki pria itu dengan kuat. Bella terkejut ketika Daniel menariknya. Wajahnya memerah karena saat ini berada di pelukan Daniel. Sedangkan pria itu, dia jatuh tersungkur. Pisau ditangannya nampak dan menyebabkan keributan diantara pejalan kaki. "Ada seseorang membawa pisau!" seorang ibu-ibu berteriak histeris. Mendengar itu, banyak pejalan kaki mengalihkan perhatian mereka ke arah yang ditunjuk oleh ibu-ibu tersebut. Melihat apa yang dikatakan oleh ibu-ibu itu benar, segera, banyak pejalan kaki yang berani mendekati pria itu dan menahan pria itu agar tak bergerak. Dihadapkan dengan banyak orang yang menahannya, pria itu hanya bisa marah dan menatap ke arah Daniel pergi dengan tajam. Sementara itu, Daniel dan Bella sudah pergi jauh. Bella bertanya pada Daniel dengan mata penasaran, "Daniel, kenapa kamu menarikku tadi?" Daniel dengan santai menjawab, "Tadi itu ada batu sedikit besar di depanmu. Karena aku tak mau kamu jatuh tergelincir, makanya aku menarikmu." Wajah Bella merona merah. Ia berkata dengan lega, "Kukira tadi ada sangkut pautnya dengan seseorang yang membawa pisau tadi." Daniel meyakinkan Bella lagi, "Bukan itu kok." Keduanya pun berjalan menuju taman hiburan. Sesampai mereka di sana, keduanya langsung pergi ke berbagai wahana yang ada di sana setelah membayar tiket masuk. Keduanya naik rollercoster, setelah itu pergi membeli permen kapas, bermain di wahana komidi putar, lalu naik biang lala, setelah itu masuk ke rumah setan. Saat masuk ke rumah setan, Bella terus menempel pada Daniel setelah ditakuti oleh salah satu setan yang ada disana. Meskipun dia mengetahui bahwa itu palsu, tetap saja itu mengagetkannya. Sedangkan Daniel, dia hanya menanggapinya dengan biasa saja. Setan di rumah setan ini tak semenakutkan dengan Alien yang ada di Awakening. Pernah saat itu, saat dia sedang mengerjakan salah satu misi sulit di Awakening, saat di hutan yang gelap, dengan hanya sinar bulan, dia melewati hutan. Berpuluh-puluh kali dia mati di hutan tersebut karena serangan diam-diam dari Alien di permainan itu. .... Setelah lelah berkeliling dan bermain di taman hiburan, Daniel mengajak Bella duduk di sebuah kursi taman. "Daniel, kamu nggak capek apa setelah bermain dan berkeliling?" tanya Bella penasaran. Setelah memikirkan sebentar, Daniel menjawab dengan alasan ini, "Tidak, itu tak seberapa dengan saat aku bekerja dulu. Ini hal biasa." "Daya tahanmu luar biasa!" kata Bella terkagum-kagum. Daniel sedikit senang saat dipuji. Ia kemudian berkata, "Apakah kamu ingin minum? Aku akan membelikannya." "Aku ingin. Tapi, apakah itu tak merepotkanmu?" "Tidak kok. Itu hanya masalah kecil. Kamu tunggu di sini ya, jangan kemana-mana." Kemudian Daniel bangkit dari bangku dan pergi membeli minuman. Namun, belum sampai sepuluh langkah, Bella menjerit. Daniel dengan sigap berbalik dan menemukan sekelompok orang menculik Bella. 43 Bab 43 : Pertarungan Dengan Para Penculik Bella duduk dengan tenang melihat punggung Daniel yang perlahan pergi. Ia merasa senang karena Daniel hari ini lebih perhatian padanya. Namun... Bella tiba-tiba saja ditangkap oleh sekelompok orang. Dia langsung menjerit. Daniel dengan cepat berbalik setelah mendengar jeritan Bella. Dia menemukan Bella diculik sekelompok orang. Melihat ini, Daniel tanpa sadar memusatkan kekuatan pada kakinya dan melesat terbang ke arah para penculik. Berawal dari kecepatan nol langsung ke kecepatan maksimal. Hanya perlu 1 detik untuk mengejar para penculik yang sudah membawa Bella dengan cepat. Daniel tak menahan diri lagi. Setelah dekat dengan para penculik, ia kemudian memusatkan kekuatannya ke tangannya dan langsung memukul penculik. Salah satu penculik tak bisa menghindar lagi karena kecepatan Daniel terlalu cepat. Pukulan Daniel yang dipenuhi kekuatan langsung meluncur ke kepala penculik itu. Saat pukulan keras Daniel menabrak kepala penculik... Kepala penculik itu pecah bagaikan balon yang ditusuk. Darah, potongan tengkorak, pecahan otak, mata, dan berbagai organ kepala terciprat di sekitar Daniel. Bahkan bajunya pun berlumuran darah si penculik. Tubuh penculik itu tak memiliki kekuatan lagi dan akhirnya terjatuh. Para pengunjung taman hiburan semua terdiam dan terkejut. Bahkan Bella dan para penculik lainnya terkejut melihat ini. Tangan Daniel gemetaran. Ini adalah pertama kalinya dia membunuh manusia. Bahkan jika dia sudah terbiasa dalam pertarungan hidup dan mati di Awakeningpun, tetap saja dia hanya pemuda biasa yang tak mempunyai pengalaman membunuh seseorrang. Selain itu, dia juga terkejut dengan kekuatan tinjuannya dan kecepatan bergeraknya. "Ini...." Daniel melihat tangannya yang berlumuran darah. Meskipun masih terkejut, ketika Daniel mengingat Bella diculik, ia mengalihkan tatapannya pada si penculik. Ia langsung berlari ke arah penculik lain. Dengan kecepatan yang begitu cepat, si penculik lain tak bisa merespon tepat waktu. Daniel melesatkan tendangan ke arah penculik itu. Menyebabkan penculik itu terbang lebih dari selusin meter. Saat ini, hanya tersisa beberapa penculik yang sedikit jauh dari Bella. Daniel dengan cepat mengangkat Bella dan menggendongnya dipelukannya. Kemudian berlari menjauh dari kerumunan. Kejadian itu hanya berlangsung beberapa detik. Setelah beberapa detik Daniel kabur dari para penculik, akhirnya mereka sadar kembali. "Sial! Kenapa kalian diam saja? Kejar mereka!" seorang penculik dengan kepala botak segera memerintahkan. "S-siap bos!" Para penculik itu berlari mengejar Daniel dan Bella sambil membawa pistol. Hanya kurang dari 10 detik, Daniel sudah berlari lebih dari 100 meter dari tempat kejadian. Baru saja Daniel ingin menyebrang, sebuah mobil serba hitam berhenti di depannya. "Astaga, mereka cepat juga ternyata." Daniel tersenyum pahit melihat ini. "Berhenti!" kata seorang pria berpakaian serba hitam sambil menodongkan pistol. Daniel tak menghiraukan ini. Ketika jarak antara dirinya dan mobil hanya 3 meter saja lagi, Daniel melompati mobil. Ketika dia mengijakkan kaki diatap mobil, atap mobil itu langsung retak seperti jaring laba-laba. Beberapa orang yang mengejar Daniel terkejut ketika melihat bekas injakan Daniel. Daniel mengambil kesempatan ini untuk terus menjauh dari para penculik itu. Setelah pulih dari keterkejutan mereka, Daniel sudah berlari lebih dari 50 meter. "Tembak dia!" perintah seorang pria berpakaian serba hitam. Dor! Peluru melesat ke arah punggung Daniel. "Daniel!" Bella berteriak histeris. Daniel hanya tersenyum membalas teriakan Bella yang ada di dalam pelukannya. Dia dengan cepat berjongkok, menghindari peluru itu. Kecepatan reaksi Daniel sangat cepat. Dia bisa menghindari peluru ini dengan sedikit usaha. "Tembak lagi!" Dor! Dor! Kali ini Daniel bergerak dengan gesit menghindari peluru-peluru yang diarahkan padanya. "Sial! Anak itu terlalu cepat. Kejar mereka!" Pria berpakaian serba gitam segera memerintahkan. Pria itu mengambil dua pistol yang ada di dalam mobil kemudian mengikuti yang lain mengejar Daniel. Masyarakat sekitar yang menyaksikan ini semuanya ketakutan. Bahkan ada ibu-ibu yang pingsan ketika mendengar suara tembakan. Beberapa orang juga menelpon ke kantor polisi. .... "Daniel, kita mau kemana?" tanya Bella dengan suara gemetaran. "Kita ke gang-gang sepi saja dulu. Lebih baik ke sana untuk bersembunyi," jawab Daniel sambil melihat ke belakang. Ia tidak menemukan orang berhasil mengejarnya. Setelah melihat situasinya. Daniel menjelaskan rencanya dengan tenang pada Bella,"Ketika bersembunyi, kamu langsung mengirim pesan pada pak Bram untuk membantu. Mereka sedang menargetkanmu. Selama waktu itu, aku akan mengalihkan perhatian mereka." "Tapi, Daniel..." "Tenanglah, itu hal kecil bagiku." Daniel tersenyum pada Bella untuk menenangkannya. Bella hanya bisa menuruti apa yang Daniel perintahkan padanya. Setelah agak jauh memasuki gang, Daniel menemukan tempat bersembunyi yang baik. "Bella, kamu bersembunyi di sini saja," kata Daniel sambil mengambil potongan kayu yang kebetulan dia lihat. "Okay...." Daniel menggenggam erat potongan kayu tersebut. Tangannya sedikit gemetaran. Melihat ini, Bella merasakan sakit dihatinya. Ia merasakan penyesalan karena telah membawa Daniel masuk ke dalam kekacauan ini. Setelah beberapa kali menarik napas, akhirnya Daniel bisa menenangkan dirinya. Kemudian, suara hentakan kaki terdengar dari ujung gang. "Masuk ke sana dan cari mereka!" teriak pria yang berpakaian serba hitam. Beberapa penculik dengan hati-hati memasuki gang dengan pistol di tangan mereka. 10 meter .... 20 meter .... 50 meter Ketika mereka mendekati tempat di mana Daniel dan Bella bersembunyi.... Daniel menyergap mereka. Dia dengan kuat mengayunkan potongan kayu langsung ke kepala salah satu penculik. Setelah itu, dia bergerak ke penculik yang lain. Menggunakan tendangan ke arah kepala penculik lain tersebut. "Sial, kita disergap! Kalian, serang dia menggunakan senjata tajam!" Penculik yang lain mengambil pisau, celurit, parang. Mereka kemudian menyerang Daniel secara bersamaan. "Ah, beraninya keroyokan," kata Daniel mencemooh mereka. Ia mundur beberapa langkah untuk menghindari serangan senjata tajam mereka. "Bocah nakal! Rasakan ini!" seorang penculik mengayunkan prangnya. "Banyak gerakan sia-sia, juga ada banyak celah saat menyerang," kata Daniel menceramahi penculik itu. Ia dengan mudah menghindari ayunan parang dari penculik itu. Ia kemudian menyerang balik dengan kayu yang hampir pecah ditangannya. Satu lagi penculik tumbang. Setelah itu, para penculik lain mulai menyerangnya. Kali ini, Daniel tak bisa melancarkan serangan balasan. Dia hanya bisa mengelak dari berbagai serangan. Setelah beberapa menit lamanya para penculik menyerang secara membabi buta, mereka akhirnya kelelahan. Stamina akan cepat berkurang jika menyerang dengan gerakan sia-sia, apalagi ditambah dengan serangan membabi buta. "Saatnya giliranku." Daniel melesat terbang ke arah para penculik, satu persatu serangan ia gunakan untuk menyerang para penculik itu. Lebih selusin penculik jatuh setelah lebih menit Daniel menyerang. "Sakit juga ternyata kalau tergores senjata tajam," kata Daniel sambil mengusap darah dipipinya. Daniel dengan santai mengumpulkan beberapa senjata tajam yang bergeletakan di tanah. Kebetulan ia juga menemukan senjata api. Ia mengambil senjata api itu. Kemudian memeriksanya dan beberapa kali berpose mencoba senjata. Setelah merasakan kecocokan, dia mengarahkan senjata api tersebut ke arah pria berpakaian serba hitam yang terkejut. Ya, pria berpakaian serba gitam itu terkejut dengan gerakan Daniel yang dengan cepat mengalahkan anak buahnya. Saat Daniel mengacungkan senjata apinya ke arahnya, pria berpakaian serba hitam itu ketakutan. "Cepat, tembak dia dengan pistol kalian!" Ketika mendengar perintah dari pria berpakaian serba hitam itu, penculik yang masih disampi pria itu segera tersadar. Mereka dengan cepat membidik Daniel secara sembarangan dan menembakan pistol mereka. Dor! Dor! Daniel dengan cepat berguling ke samping menghindari tembakan itu. Dia kembali ke tempat persembunyian Bella sambil menghindari tembakan dari para penculik. "Bella, apa kamu sudah mengirim pesan pada pak Bram?" tanya Daniel dengan napas terengah-engah. Melihat Daniel kelelahan, Bella dengan gugup menjawabnya, "Su-sudah. A-aku sudah menghubungi pak Bram. Dia berkata bahwa akan sampai dalam lima belas menit sejak aku mengirim pesan." "Baguslah," balas Daniel. Ia kemudian memindahkan tatapannya pada pria berpakaian serba hitam yang waspada. "Sepertinya aku perlu mengulur waktu lagi," kata Daniel sambil bersiap-siap. Namun, saat ia hendak keluar dari persembunyiannya, keributan dari ujung gang terdengar. 44 Bab 44 : Pertarungan Dengan Para Penculik 2 Jauh di Greenvilla, Villa No. 3. Sudah beberapa jam sejak pak Bram meninggalkan Bella dan Daniel di pusat kota. Pak Bram saat ini sedang duduk. Ia mendengar ponselnya berbunyi. Ia dengan cepat membukanya dan menemukan itu pesan dari Nona Mudanya, Bella. "Pak, bantu saya dan Daniel. Kami diserang oleh orang yang ingin menculikku. Cepat pak, aku ketakutan." Wajah pak Bram langsung muram. Ia tak menyangka bahwa ada kelompok penculik yang berani mencoba menculik Bella. Dia dengan cepat menjawab pesan tersebut: "Tolong tenang, Nona. Saya akan sampai di sana dalam waktu 15 menit. Bertahanlah." Setelah pesan itu terkirim, pak Bram mengirim menelpon ke ayah Bella untuk melaporkan hal itu. .... Di sebuah ruangan markas militer. "Hm, jadi seperti itu situasi di sana," kata seseorang yang mengenakan kacamata sambil berpikir. "Ya, beberapa organisasi di Belanda mulai gelisah karena suatu hal beberapa bulan yang lalu. Jika aku tidak salah, mereka mulai gelisah karena bocah Indonesia yang bekerja sama dengan Google mengenai Android. Saat ini, mereka semakin gelisah karena asisten pintar dari Sky Technology. Aku tak tahu kapan mereka akan bergerak." Pria keturunan Belanda ini mendesah setelah mengatakan itu. Mendengar kekhawatiran kedua pria di depannya, seorang pria dengan tubuh besar tertawa dan berkata, "Bocah itu sendiri sangat berani memprovokasi salah satu perusahaan di sana dengan mengirim video pribadi dari masing-masing ketua perusahaan." Pria keturunan Belanda itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba suara ponselnya berbunyi. "Bram?" gumam pria keturunan Belanda tersebut. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada dua orang dari kemiliteran, "Aku akan mengangkat telepon dulu. Sepertinya suatu hal sedang terjadi." Kedua pria dari dengan pakaian militer hanya memgangguk dan tersenyum. "Halo, Bram?" tanya pria keturunan Belanda. "Tuan Bryan, sebuah kelompok sedang mencoba menculik Nona. Saat ini Nona sedang dilindungi oleh teman laki-lakinya. Untuk situasi spesifiknya, saya masih belum mengetahuinya." pak Bram menceritakan semuanya tanpa terburu-buru. Mendengar anaknya sedang dalam bahaya, Bryan dengan cepat memerintahkan Bram dengan sedikit berteriak. "Cepat, selamatkan Bella dan temannya! Mereka dalam bahaya!" "Baik, Tuan." pak Bram langsung memutuskan panggilan. Setelah beberapa saat, Bryan menenangkan pikirannya. Ia kemudian berbalik dan berkata, "Aku akan segera kembali. Percobaan penculikan terjadi pada anak perempuanku. Bantu aku untuk menyelesaikan semua prosedur yang melelahkan." Seseorang yang mengenakan kacamata berkata, "Akan kami bantu." "Baiklah, selamat tinggal." Bryan langsung meninggalkan ruangan. Melihat Bryan meninggalkan ruangan, Pria bertubuh besar menghela napas dan menggelengkan kepalanya. Ia berkata, "Dia tak berubah sedikitpun meski sudah lama tinggal di Belanda. Tetap saja keterampilan menutupi jejak dan penyamarannya paling hebat di generasi kita." "Sudahlah, lebih baik kita mencoba membantunya menyelesaikan masalah ini." Pria berkacamata itu berdiri dan langsung menghubungi pihak kepolisian. "Tunggu aku!" "Kau seperti anak kecil saja!" .... Pak Bram dan pengawal lainnya sudah sampai di gang tempat dimana Bella memberi tahu mereka. "Laksanakan tugas!" Ketika kalimat pak Bram selesai, beberapa pengawal yang ia bawa langsung beraksi. .... Pria serba hitam itu kesal ketika target misinya berhasil bersembunyi. Ia juga tak menyangka bahwa anak muda yang terlihat biasa saja bisa membuatnya kerepotan begini. "Sial Sial Sial! Bocah sialaaaaan!" Pria serba hitam itu berteriak kencang. Seorang pria dengan kepala pelontos bueu-buru melaporkan suatu hal. "Bos, gawat! Para pengawal gadis itu sudah datang kemari." "Sial! Rencanaku gagal total karena bocah itu. Ayo mundur!" Pria serba hitam itu berkata dengan penuh kebencian. Ketika baru saja mereka mundur, suara tembakan terdengar. "Kau kira bisa dengan mudah mundur setelah ingin menculik Nona muda?" pak Bram mengacungkan senjata apinya pada pria serba hitam tersebut. "Sial! Serang mereka! Ulur waktu untukku agar kubisa kabur!" pria serba hitam itu panik, ia dengan cepat berguling sambil mencari tempat berlindung. "Baik bos!" Belasan anak buah pria serba hitam itu menyerang pak Bram dan pasukannya sambil melindungi pria serba hitam. "Maju!" pak Bram juga memerintahkan pengawal lain bertarung. Keributan besar terjadi di ujung gang. Pria serba hitam itu dengan waspada kabur ke dalam gang. .... Daniel dan Bella mendengar keributan di ujung gang. "Sepertinya pak Bram sudah sampai ke sini. Sekarang kamu bisa tenang," kata Daniel sambil menenangkan Bella. "En." Bella hanya menjawab singkat. Tubuh Bella masih gemetaran karena takut. Daniel kemudian mengintip keramaian di ujung gang dan menemukan pria serba hitam berjalan dengan kewaspadaan tinggi. Ia kemudian kembali bersembunyi lagi. Awalnya ia berniat langsung menyerang pria serba hitam itu, tapi setelah mengingat kejadian saat ia meninggalkan Bella sendirian saat ingin membeli minuman, ia mengurungkan niatnya itu. "Bella, kamu tetap di belakangku." Daniel mengacungkan senjata api ke arah depan. Sesaat, tatapannya pindah ke tas yang ada di depannya. "Sepertinya ini akan berguna," pikir Daniel. Daniel mendengar suara langkah kaki perlahan mendekat. Ia memusatkan konsentrasinya pada suara langkah kaki itu dan senjata api yang ia pegang. Tap! Tap! Suara langkah kaki kian mendekat. Bella semakin gugup melihat Daniel yang sangat berkonsentrasi. Sementara Daniel, ia juga merasakan hal sama. Ini adalah pertama kalinya dia menggunakan senjata api di dunia nyata. Setelah selusin detik berlalu, sosok pria serba hitam itu muncul. Dor! Suara tembakan dari senjata api Daniel terdengar. Namun, tembakan itu meleset. "Benar saja, pengalaman di game virtual reality dan dunia nyata masih memiliki kesenjangan," pikir Daniel "Sial! Hampir saja aku dibunuh oleh bocah nakal ini!" pria serba hitam mengumpat. Pria serba hitam itu dengan cepat mengacungkan senjatanya dan langsung menembaknya. Dor! Dor! Daniel ingin menghindari peluru yang ditembakkan, tapi ada Bella dibelakangnya. Jika Bella sekali saja kena tembakan, tugas yang diberikan oleh sistem akan gagal. Selain itu, yang lebih penting adalah jika Bella terkena peluru tembakan, nyawanya akan terancam. "Apa boleh buat," pikir Daniel. Daniel berbalik memunggungi peluru dan memeluk Bella. Untung saja, sebelum dia berbalik, ia sudah mengenakan tasnya. Kemudian, dua peluru itu menembus tas dan tubuh Daniel. Badan Daniel seketika lemas, darah segar mengalir dimulutnya. "Bella ... maafkan aku, a-ku, aku tak bisa menjagamu dengan bai....." Tubuh Daniel yang lemas masih memeluk Bella. Dunianya seakan sudah runtuh. Ekspresi ketakutan dan putus asa muncul di wajah Bella. Tatapannya juga kosong. Kalimat terakhir Daniel terus bergema di telinganya. "TIDAK! Daniel, jangan bercanda denganku! Bangun Daniel, bangun!" Jeritannya sangat keras, suaranya dipenuhi dengan kesedihan dan keputusasaan. Sambil berurai air mata, Bella melepaskan pelukannya dari Daniel. Ia membaringkannya dan terus mencoba membangunkannya. "Sayang sekali, Nona Muda. Tidak ada manusia yang bertahan dari peluru senjata api, bahkan jika dia sudah mencoba memperlambat kecepatan peluru dengan tasnya, itu akan tetap menembus tubuhnya." pria serba hitam ini sudah menganggap Daniel mati. "Tidak, tidak! Daniel tidak mati. Ini hanya mimpi, kan?" Bella dengan tatapan putus asa bertanya pada pria serba hitam itu. "Mimpi?" pria serba hitam itu menyeringai, "Benar, ini mimpi burukmu!" Pria serba hitam itu menginjak tubuh Daniel dengan keras. Setelah injakan yang keras itu, tak ada reaksi apapun dari Daniel yang terbaring di tanah. "Tidak!" Bella menjerit keras, aliran air matanya semakin deras. "Nona, apakah kau sudah percaya bahwa anak laki-laki ini sudah mati?" pria serba hitam itu menyeringai jahat. Tubuh Bella lemas setelah mengetahui kenyataan ini. Air matanya tak berhenti mengalir, pandangannya kosong melihat tubuh Daniel yang terbaring di tanah. 45 Bab 45 - Membalas "Hm?" Daniel menatap tasnya yang ada di depan mata. "Sepertinya ini akan berguna," katanya dalam hati sambil menggunakan tas itu. Daniel berkonsentrasi penuh. Saat pria serba hitam itu datang, ia langsung menembakan peluru dari senjata apinya. Tapi sayang, peluru itu meleset dari pria serba hitam itu. "Benar saja, pengalaman di game virtual reality tetap saja berbeda dengan di dunia nyata. Sepertinya kuharus berlatih lagi," pikirnya. Pria serba hitam hitam itu dengan cepat membalas tembakan Daniel. Daniel melihat arah lintasan peluru itu. Ia kemudian berkata dalam hati, "Jika aku menghindari ini, pasti akan mengenai Bella. Apa boleh buat." Dia berbalik dan memeluk Bella. Tembakan itu mengenai buku tebal yang ada di tasnya, tapi tetap saja itu menembus sampai ke tubuhnya. Merasakan peluru mengenainya, Dia tak menjerit. Ia berkata dalam hati, "Ternyata sakit juga ya terkena peluru ... meski tak sesakit peluru laser di game virtual reality." "Sepertinya aku harus berakting kali ini," lanjutnya berpikir. Dengan kontrol tubuhnya meningkat, ia berpura-pura lemas dan jatuh dalam pelukan Bella. Ia menggigit bibirnya hingga berdarah agar aktingnya terlihat lebih natural. "Bella ... maafkan aku, a-ku, aku tak bisa menjagamu dengan bai....." dengan senyuman yang berlumur darah, ia berkata dengan suara serak seakan maut sudah menjeputnya. Dengan ini dia menutup matanya perlahan. Bella yang melihat ini, langsung berteriak dengan histeris. Air mata Bella mengalir deras diwajahnya. Daniel yang berpura-pura mati, saat mendengar teriakan dan tangisan Bella, tumbuh penasaran di hatinya. "Astaga, tak kukira dia akan menangis dan berteriak sehisteris seperti ini. Bagaimana ya reaksinya saat dia tahu aku berpura-pura mati? Aku jadi penasaran." Dia terus mendengarkan percakapan antara Bella dan pria serba hitam. Saat pria itu berkata, "Mimpi? Benar, ini mimpi burukmu!" Daniel merasakan sesuatu, "Perasaanku tak enak." Pria serba hitam itu menginjak tubuhnya dengan keras. Daniel kesal tubuhnya diinjak-injak, tapi demi kealamian aktingnya, dia harus rela terinjak seperti ini. "Tunggu saja kau, akan kubalas lebih parah dari ini." dendam sudah berkobar di dalam hatinya. Setelah menginjak Daniel dengan keras, pria serba hitam itu mulai melemahkan mental Bella dengan cara terus menerus menekannya tentang kematian Daniel yang bagi Bella, dia tak bisa menerima ini. Bella menutup wajahnya dan menangis sejadi-jadinya. Sedangkan pria itu, dia hanya tertawa terbahak-bahak melihat mental Bella telah runtuh. "Sepertinya aku harus memulainya sekarang." Setelah beberapa lama hanya mendengarkan pecakapan mereka, Daniel sudah memutuskan waktunya untuk beraksi. .... Sebuah mobil mewah melaju dengan cepat ke arah gang yang sepi. "Semoga saja aku sempat menyelamatkan Bella," kata pria dengan rambut pirang. Pria ini adalah Ayahnya Bella, Bryan van Liestiel. Saat sampai di sebuah gang yang ramai, dia segera turun. Melihat Bram yang sedang bertarung, dia langsung berlari dan ikut terjun bertarung. Bram terkejut saat melihat Bryan ikut bertarung. Ia dengan cepat menyapa, "Tuan, bagaimana bisa Anda ikut bertarung juga?" Bryan sedang memukul salah satu penculik. Mendengar pertanyaan dari Bram, ia menjawab sambil menghindari serangan dari para penculik, "Bagaimana bisa aku hanya diam saja, sementara anakku sedang diculik?" Setelah Bryan menyelesaikan kalimatnya, suara teriakan putus asa seorang wanita terdengar dari dalam gang. Mendengar ini, wajah Bryan dan Bram langsung pucat. Salah seorang penculik tertawa gembira. Ia berkata, "Haha, kami sudah menyelesaikan misi kami." Kemudian, wajah Bryan berubah menjadi warna merah penuh dengan amarah. "Beraninya kalian menyentuh anakku!" Bryan beraksi memukul para penculik dengan ganas agar bisa masuk ke gang. Meski begitu, berapa kalipun ia menjatuhkan para penculik itu, ada penculik lain yang menahannya untuk tak masuk ke kedalaman gang. Salah seorang penculik yang jatuh karena pukulan Bryan tertawa mengejek. Ia berkata dengan nada mencemooh, "Tidak akan kami biarkan kau memasuki gang. Tidak semudah itu, Ferguso!" Salah seorang pengawal keluarga Liestiel terpancing emosinya. Ia kemudian membanting musuhnya kepada orang yang memanggil Tuannya Ferguso dan berkata, "Nama Tuanku adalah Bryan, bukan Ferguso! Dasar Esmeralda!" Penculik yang berbicara sebelumnya juga terpancing emosinya. "Aku bukan lah Esmeralda, tapi Aku Pulgoso oh Marimas!" "Marimar, bukan Marimas!" jawab pengawal keluarga Liestiel itu. Akhirnya, mereka berdua pun bertarung sambil menyebutkan nama tokoh di salah satu telenovela tahun 90-an. .... ? (Ilustrasi dalam gang) Pria serba hitam itu menyeringai sambil terus melemahkan mental Bella yang telah runtuh. "Bagaimana rasanya orang yang kamu cintai mati tepat di depanmu? Teruslah bayangkan kematiannya yang hanya melindungi cewek merepotkan sepertimu. Kau hanyalah beban baginya. Jika dia bisa berbicara padamu saat ini, yang dia katakan pastilah penyesalan karena membuang nyawanya sia-sia hanya untuk gadis sepertimu." Bella semakin tertekan, putus asa, dan semakin bersedih. Dia terus bergumam menyalahkan dirinya sendiri. "I-ini semua salahku. Jika saja Daniel tak kuajak, a-aku, aku yakin dia tidak alan mati seperti ini. I-ini adalah salahku...." Melihat ini, pria serba hitam itu semakin tertawa gembira. Namun, tawa gembira akan segera terhenti. .... Daniel yang sedang berbaring mengerakkan kakinya dengan kekuatan dan kecepatan maksimum menuju ke arah kaki pria serba hitam itu. Dengan kecepatan dan kekuatannya yang terfokus pada kakinya, pria serba hitam itu akan lambat merespon, bahkan jika dia akan mengetahui bahwa Daniel akannya menyerangnya, itu tetap akan terlambat. Tapi sayangnya pria serba hitam itu telah mengabaikan keberadaan Daniel sepenuhnya hingga dia tak menyadari bahwa Daniel sudah menyerangnya. Tubuh pria serba hitam itu terbang beberapa saat, kemudian terjatuh dengan kepala lebih dahulh. "AAAAA!" pria serba hitam itu berteriak kesakitan. Sudah dipastikan kakinya retak karena tendangan Daniel dan juga lehernya berbunyi ketika dia jatuh. Bella tak menghiraukan teriakan kesakitan pria serba hitam itu. Dalam pikirannya kini hanyalah berisi penyesalan karena telah ''membunuh'' Daniel secara tak langsung. "Yah, bagaimanapun juga, bahkan jika aku mati dan bisa berbicara pun aku tak akan menyesali telah melindungi Bella. Ternyata susah juga berakting pura-pura mati." celotehan ringan Daniel itu membuat Bella dan pria serba hitam itu terkejut. "Kau ... bagaimana bisa kau masih hidup?" pria serba hitam itu bertanya dengan wajah penuh dengan ketakutan. "Tentu saja aku masih hidup. Apa hakmu bertanya seperti itu padaku?" tanya Daniel dengan nada mencemooh. Sedangkan Bella, ia menghentikan gumamannya. Ia kemudian menyingkirkan tangannya dari wajahnya dan menemukan Daniel sedang menepuk-nepuk celananya yang kotor karena tanah. "Daniel, kamu ..." Daniel teringat sesuatu dan menepuk dahinya. Ia bergumam, "Astaga, bagaimana bisa aku membersihkan celanaku yang kotor sementara bajuku berlumuran darah." "Anak bodoh," kata pria itu sambil mengarahkan senjata api pada Daniel yang sedang membersihkan pakaiannya. "Yah, aku tidak sebodoh itu." Daniel menghilang dari pandangan pria serba hitam itu. Daniel menendang pergelangan tangan pria serba hitam itu. Suara patah tulang terdengar. "ARGH!" pria serba hitam itu berteriak kesakitan sekali lagi. "Ini balasan karena telah menginjakku dengan keras." Daniel kemudian menganggkat kakinya tinggi-tinggi. Lalu, dengan cepat jatuh ke dada pria serba hitam itu. Teriakan kesakitan yang sangat menyeramkan terdengar sekali lagi. Tulang rusuk pria itu patah dengan bunyi yang keras. "Aku akan memberikanmu hadiah lain." Daniel kemudian mencekik pria serba hitam dan mengangkatnya dengan lancar seolah-olah pria hitam itu seringan kapas. Pria serba hitam itu tak tinggal diam, ia memcoba berontak dengan tangan kirinya yang masih sehat. Namun, perlawanannya tak menghasilkan apa-apa. "Ini untuk kau yang telah membuat mental Bella runtuh." Daniel mengambil ancang-ancang, kemudian dia melemparnya dengan keras sampai menyentuh dinding gang. Pria serba hitam itu memutahkan banyak darah. Suara keramaian di ujung gang tak lagi terdengar. Tapi, Daniel tak memperdulikan itu. Dia berlari dengan cepat dan menginjak kepala pria serba hitam itu. "Ini untukmu yang telah berani mencoba membunuhku." Kepala pria serba hitam itu tertanam ke dalam dinding gang. Daniel kemudian mengambil sebuah pisau yang terletak di tanah. Ia mengarahkan pisau ke leher pria serba hitam dan bergumam, "Aku takkan sebodoh dirimu yang tak memastikan dengan akurat apakah musuhmu telah mati atau belum. Selamat jalan, semoga perjalanan manismu di neraka menyenangkan." Daniel kemudian menusuk leher pria serba hitam. Darah merah terciprat ke bajunya yang sudah penuh dengan darah. Kemudian, seorang pria dengan nada berat bertanya padanya, "Nak, siapa kau?" Daniel menoleh ke arah sumber suara dan menemukan seorang pria berambut pirang menatap tajam padanya. Daniel juga membalas dengan nada mengancam, "Kamu siapa? Apakah kamu adalah teman pria ini?" Kemudian Daniel mengembalikan posisi tempurnya dan bersiap menyerang pria berambut pirang itu. Udara di sekitar menjadi dingin dan suasananya menjadi berat. Tetapi, saat keduanya saling menatap tajam, Bella yang sedari tadi terdiam kini berlari ke arah Daniel. Bella kemudian berteriak dan memeluk Daniel dengan erat. Dia kemudian menangis dan mengatakan, "Daniel bodoh! Kamu membuatku sangat khawatir. Dasar bodoh!" Daniel menerima pelukan itu dan membalas pelukan Bella dengan erat juga. Suasana yang berat berubah menjadi suasan hangat. Pria berambut pirang itu kembali rileks dan menghela napas lega. 46 Bab 46 - Tugas Selesai dan Kenaikan Level Teriakan kesakitan seorang pria terdengar di kedalaman gang. Pak Bram langsung khawatir mendengar ini. Ia mengira bahwa ini adalah suara teman Bella. "Tuan, ini terdengar seperti suara temannya nona Bella. Sepertinya dia melindungi nona Bella," kata pak Bram sambil menendang seorang penculik. Bryan tak menjawab perkataan pak Bram. Dia terus bertarung dengan para penculik. Beberapa saat setelah teriakan seorang pria sebelumnya, sebuah tubuh terlempar kencang ke arah dinding. Suara dinding yang keras menyebablan kesunyian antara para penculik dan Bryan beserta pasukannya. Tak lama kemudian, seorang anak muda berlari dengan sangat cepat dan menginjak kepala pria dengan pakaian serba hitam hingga kepalanya menembus dinding gang. "Bo-boss dikalahkan?" seorang penculik yang tak jauh dari Bryan bergumam dengan suara gemetaran. Melihat ada sebuah kesempatan, Bryan tak ingin membuangnya begitu saja. Dia dengan cepat memberi kode pada pasukannya untuk segera menghabisi para penculik ini. Bryan juga beraksi dengan sangat baik. Tiga musuh di depannya dengan cepat ia kalahkan dengan tendangan tunggal pada setiap musuh. Setelah menyelesaikan itu, dia kemudian memindahkan pandangannya pada anak muda yang sebelumnya mengejutkan dirinya. Bryan melihat anak muda itu mengambil pisau dan mengarahkan pisau itu pada leher pria serba hitam. Menurut Bryan pribadi, tak ada manusia yang bisa selamat ketika tubuhnya dengan keras menghantan dinding dan kepala yang diinjak hingga menembus dinding gang. Bukankah anak ini sudah berlebihan? Pertanyaan itu bergema dalam pikirannya. Sebelum anak muda itu menikam leher pria serba hitam, ia bergumam sebentar lalu menusuknya hingga darah terciprat dimana-mana. Melihat hal ini, Bryan menghampiri anak muda itu dengan langkah berat. Dengan suara berat dan penuh tekanan, Bryan bertanya, "Nak, siapa kau?" Anak muda yang dari tadi memperhatikan pakaiannya menoleh ke arah Bryan. Tanpa rasa takut, anak itu balik bertanya dengan nada yang mengancam pada Bryan. "Kamu siapa? Apakah kamu adalah teman pria ini?" kata anak muda itu sambil menunjuk pada mayat pria serba hitam yang masih tertempel di dinding. Setelah mengatakan pertanyaannya, anak itu kembali memasang pose siap bertempur dan tatapannya lebih tajam dari sebelumnya. Merasa sedikit terprovokasi terhadap tatapan anak muda di depannya, Bryan juga berpose siap bertempur. Udara disekitar mereka menjadi dingin dan suasana menjadi berat. Pak Bram yang sedang membersihkan para penculik terkejut dengan udara yang mendingin dan suasan berat di sekitarnya. Ia mengalihkan pandangannya pada Bryan dan menemukan Bryan sedang saling bertatapan dengan anak muda. Setelah memfokuskan tatapannya sedikit, pak Bram sedikit panik. Bagaimana bisa teman nona Bella malah ingin bertarung dengan Ayah dari nona Bella? Belum sempat pak Bram mengatakan sesuatu, seorang gadis berlari ke arah anak muda itu dan memeluknya. Hal ini membuat pak Bram dan Bryan terkejut. Kemudian suasana dingin dan berat tadi berangsur-angaur menjadi normal kembali. Pak Bram menghela napas lega setelah melihat ini. Sedangkan Bryan, dia menjadi rileks fan bisa menghela napas lega. Namun, wajahnya juga menunjukan sedih dan iri, juga mengandung sedikit amarah pada anak muda dan seorang gadis itu. Apalagi gadis itu memeluk anak muda itu dengan erat dan anak muda itu juga membalas pelukan dengan erat, Bryan ingin menangis ketika melihat ini. Anak muda dan seorang gadis itu adalah Daniel dan Bella yang sedang memeluk erat satu sama lain. .... "Daniel bodoh! Kamu telah membuatku khawatir. Daniel bodoh!" Bella mengatakan itu sambil menangis dalam pelukan Daniel. Daniel tersenyum, ia kemudian memeluk Bella dengan erat juga. Ia berkata, "Tenanglah, semuanya telah berakhir sekarang. Aku masih hidup dan bisa memelukmu di sini." Bella menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Daniel. Daniel tak berbicara selama Bella menangis. Sedangakan Bryan dan pak Bram juga hanya mengamati Bella yang sedang menangis dalam pelukan Daniel. Setelah beberapa menit menangis, akhirnya Bella kembali tenang. Daniel kemudian mengusap air mata di wajah Bella dan tersenyum padanya. Bella memggembungkan pipinya. Ia kemudian bertanya, "Kenapa kamu pura-pura mati!?" Daniel mengalihkan pandangannya menggaruk pelan pipinya. Ia menjawab, "Itu semuanya hanya akting..." "Kenapa?" tanya Bella lagi. Daniel menghela napasnya, "Supaya orang itu kehilangan kewaspadaannya terhadapku. Jika tidak, dia akan terus menembaki kita berdua dan pada akhirnya kita berdua akan terbunuh. Aku tak akan membiarkan orang itu menyentuhmu sedikitpun, bahkan jika itu hanya menyentuh seheleai rambut, aku tak akan membiarkannya." Bella menundukkan kepalanya. Ia kemudian berkata, "Kamu tau, aku sangat takut jika kamu benar-benar mati. Aku benar-benar tak tau lagi apa yang bisa kulakukan jika kamu terbunuh karena melindungiku dari tembakan peluru itu. Jika kamu benar-benar nati, aku akan menghabisi sisa hidupku dengan penuh penyesalan." Dia kemudian mendongak menatap Daniel dengan mata berair. Ia berkata, "Berjanjilah padaku untuk tidak melakukan hal ini lagi." Daniel tidak bisa tidak tersenyum setelah mendengar kalimat Bella. Dengan permintaan Bella, Daniel berjanji. "Baiklah, aku berjanji. Maafkan aku telah membuatmu khawatir." Bella kemudian memeluk Daniel dengan suasana hati yang bahagia. Ia tak sadar bahwa ada sosok Ayahnya yang memperhatikannya dari tadi. "Ehem." Bryan menegur keduanya dengan berpura-pura batuk. Bella kemudian tersadar mendengar suara yang akrab di telinganya. Ia menoleh ke samping dan menemukan Ayahnya dan pak Bram sedang menatapnya memeluk Daniel. "Ayah?" gumam Bella. "Iya, ini Ayah. Ayah jauh-jauh datang ke sini untuk menyelamatkanmu. Jadi ... itu ya...." kata Bryan dengan wajah merona sambil menatap ke arah lain. Pak Bram yang memperhatikan ini menggelengkan kepalanya. Daniel terkejut setelah mengetahui bahwa Pria dengan rambut pirang ini adalah Ayah Bella. Tapi melihat bagaimana perilaku Ayah Bella seperti ini, Daniel hanya bisa tersenyum pahit. Bella kemudian melepaskan pelukannya dari Daniel dan memeluk Ayahnya. Setelah dalam pelukannya, Bryan berkata dengan tangis dan wajah khawatir, "Bella, kamu baik-baik saja? Apakah kamu diperlakukan kasar sebelumnya? Apakah kamu merasakan sakit?" "Ayah, aku baik-baik saja," kata Bella sambil tersenyum. "Syukurlah kamu baik-baik saja," kata Bryan sambil mengusap air mata di wajahnya. "En. Semua itu berkat Daniel yang telah melindungiku dari berbagai penculik yang mencoba menculikku. Dia juga hebat bisa menggendongku sambil menghindari peluru. Setelah itu ...." lanjut Bella menjelaskan dengan wajah bahagianya. JLEB! Sebuah panah khayalan menusuk jantung Bryan. Padahal ia ingin memamerkan bagaimana ia menyelamatkan Bella tapi Bella terus berceloteh tentang Daniel yang mnyelamatkannya. "Aku senang Ayah menyelamatkanku dan mempertaruhkan nyawanya. Aku sayang Ayah." Dengan erat Bella memeluk Ayahnya. Bryan terharu setelah mendengar kalimat Bella. Air mata mengalir di wajahnya. Ia berkata, "Ayah juga menyayangi Bella." Pak Bram yang dari tadi berdiam ikut meneteskan air matanya. Sedangkan Daniel, dia begitu iri dengan Bella yang bisa memeluk Ayahnya dan bercerita banyak pada Ayahnya. Dia sangat ingin tahu mengenai kedua orang tuanya, tapi belum ada kabar mengenai hal itu bahkan setelah ia menayakannya pada kakeknya sebelum kakeknya meninggal. Setelah beberapa saat berpelukan, keduanya berpisah. Daniel kemudian menghampiri Bryan dan menundukan kepalanya. Ia berkata, "Pak, saya minta maaf karena sudah bersikap lancang sebelumnya." "Huh, sebagai anak muda itu-" "Ayah!" Bella memotong kalimat Ayahnya sambil menggembungkan pipinya. "Tidak apa, harusnya aku yang meminta maaf padamu. Juga, aku berterima kasih padamu karena telah menyelamatkan anak semata wayangku yang cantik dan imut ini," kata Bryan sambil memegang bahu Daniel. "Baik, Pak. Itu sudah seharusnya saya menjaga Bella," jawab Daniel. "Tuan, sebaiknya kita segera membersihkan tempat ini." pak Bram yang dari tadi diam, berbicara. "Aku melupakannya. Baiklah, kalian bertiga pulanglah dulu ke villa. Aku akan mengurus tempat ini," kata Bryan sambil melihat sekeliling. "Ayah, kenapa kita tak pulang bersama? Apa Ayah tidak lelah?" tanya Bella dengan wajah khawatir. Bryan mengusap rambut Bella dengan lembut, "Ayah baik-baik saja. Ada teman Ayah yang akan membantu nantinya." "Karena Ayah telah mengatakan itu, aku harap Ayah jangan terlalu keras bekerja dan terus berhati-hati. Aku sayang Ayah." Bella sekali lagi memeluk Ayahnya kemudian dia pergi bersama pak Bram. Sebelum Daniel pergi mengikuti Bella dan pak Bram, Bryan mendekatinya dan menepuk punggungnya dengan keras. "Nak, sepertinya akan ada banyak hal yang perlu kita bicarakan." "Yah, kita akan berbicara banyak hal ketika saya mempunyai waktu," kata Daniel. Kemudian ia meninggalkan Bryan sendiri. Bryan menghela napasnya melihat punggung Daniel yang perlahan pergi. "Anak ini terlalu luar biasa. Bahkan setelah aku menekan bahu ataupun menepuk bahunya dengan keras, dia tetap tenang seolah-olah tak ada apa-apa." Ponsel Bryan kemudian berbunyi dan dia memgangkatnya. .... Daniel beserta Bella dan pak Bram menuju Greenvilla. Selama di perjalanan, Daniel dan Bella mengobrol banyak hal tentang berbagai topik. Daniel sengaja berbicara banyak topik agar terhindar dari pertanyaan Bella tentang kekuatannya. Hasilnya adalah sukses. Untuk sementara, dia bisa menyiapkan jawaban mengenai pertanyaan tentang kekuatannya. Selain itu, pandangan pak Bram terhadap Daniel berubah banyak. Apalagi setelah mendengar bagaimana Daniel melindungi Bella dari tembakan senjata api. Setelah sampai, Bella tertidur saat di perjalanan ke Greenvilla. Secara fisik dan mental dia sudah lelah, apalagi setelah menghadapi kejadian yang mempertaruhkan hidup dan mati seperti itu. Daniel hanya mampir sebentar untuk membersihkan dirinya, kemudian ia meminjam pakaian pak Bram untuk sementara. Setelah itu, dia pulang menggunakan taksi online. Saat ia berjalan menuju taksi online, ia merasakan nyeri di pinggangnya. "Harusnya aku pulang dengan cepat supaya ini peluru bisa keluar dari tubuhku dan tak merasakan nyeri lagi," gumam Daniel. Ia kemudian menaiki taksi online. Saat di perjalanan, sebuah notifikasi terdengar. "Tugas Selesai!" "Selamat, Host mendapatkan Exp 25%." "Selamat, Host mendapatkan Pedang." "Selamat, Host mendapatkan 1x kesempatan untuk memulai undian." Daniel akhirnya bernapas lega setelah mendapatkan notifikasi dari sistem. Kemudian, sebuah suara notifikasi terdengar lagi. "Selamat, System Technology naik ke Level 2." "Selamat, Host naik ke Level 2." "Selamat, Host mendapatkan Hadiah kenaikan ke Level 2." Daniel sangat senang mendengar berbagai notifikasi dari sistem. 47 Bab 47 : Pedang Daniel sudah sampai di rumahnya. Ia membuka pintu dan berkata, "Nay, aku pulang." Beberapa detik kemudian, suara seorang gadis terdengar dari dalam. "Selamat datang kembali, Niel," kata Nayla sambil membawa handuk di tangannya. Daniel menerima handuk itu. Ia berkata, "Nay, ke kamarku sebentar." "Baik, Niel," kata Nayla mengikuti Daniel ke kamarnya. Sambil berjalan menuju ke kamarnya, Daniel bertanya pada Nayla. "Bagaimana situasi perusahaan saat ini?" "Semua baik-baik saja. Meski ada beberapa masalah kecil, perusahaan tetap berada pada jalurnya," jawab Nayla. Mendengarkan itu, Daniel berpikir sesaat. Kemudian ia berkata, "Baiklah, liburan sekolah nanti aku akan mengunjungi perusahaan. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada Lia Jie dan semua atasan di sana mengenai proyek selanjutnya yang harus kita kerjakan." "Baik. Aku akan mengatakannya pada Lia Siyu dan para atasan nantinya." Daniel mengingat sesuatu, ia bertanya, "Ngomong-ngomong, bagaimana dengan gedung perusahaan yang dibangun?" "Gedung hampir selesai dibangun. Awal 2019 nanti kita bisa pindah ke sana." Daniel tersenyum senang, ia berkata "Seperti yang diharapkan dari Lia Jie. Dia bergerak dengan cepat." Keduanya sudah sampai di kamar Daniel. "Nay, masuk. Setelah itu kunci pintunya," kata Daniel sambil melepas semua pakaiannya. "Baik," jawab Nayla singkat. Nayla menutup dan mengunci pintu. Ia kemudian berbalik dan melihat Daniel sedang melepaskan pakaiannya satu persatu. Nayla menjerit kecil dan menutup matanya, wajahnya penuh dengan rona merah. Ia buru-buru bertanya, "Niel, apa yang ingin kamu lakukan? Mengapa kamu melepas semua pakaianmu? Apakah kamu ingin berkembang biak?" Daniel yang sedang melepaskan pakaiannya hampir memuntahkan darahnya. Hei, sejak kapan robot bereaksi seperti ini? Pertanyaan itu bergema dalam pikiran Daniel. "Nay, dimana kamu belajar tentang itu?" Masih menutupi wajahnya yang memerah, Nayla menjawab dengan nada polosnya, "Di internet. Selain itu, di internet ada banyak video tutorial manusia berkembang biak." Daniel tak tahu harus tertawa atau menangis. Ia sangat tidak menyangka bahwa Nayla sangat manusiawi sampai tahu pada tahap ''perkembangbiakan'' manusia. Melihat Daniel tak menjawabnya, Nayla bertanya lagi, "Apakah Niel ingin berkembang biak sekarang juga?" Daniel tak bisa berkata-kata mendengar pertanyaan dari Nayla. Ia membeku menatap Nayla. Diamnya Daniel membuat Nayla berpikir bahwa Daniel memang benar ingin ''berkembang biak'' dengannya sekarang juga. Nayla melepaskan pakaiannya satu persatu, Daniel dengan tatapan kosong menatap Nayla. Ketika Nayla ingin melepas branya, darah mengalir dari hidung Daniel. Melihat Daniel mimisan, Nayla dengan cepat menghampiri Daniel. *Boing Boing* "Niel, apa kamu baik-baik aja? Kenapa kamu mimisan begini?" tanya Nayla sambil mengusap darah dari hidung Daniel. Daniel akhirnya tersadar. Ia dengan cepat mundur beberapa langkah menjauhi Nayla. Daniel dengan buru-buru menjelaskan, "Nay, cepat pakai pakaianmu lagi. Lupakan tentang mimisanku, aku menyuruhmu masuk ke kamar untuk membantuku mengeluarkan peluru dari dalam tubuhku." Dia kemudian menunjuk ke arah pinggang bagian belakangnya. Nayla terlihat sedikit kecewa mendengar perkataan Daniel. ia bertanya dengan suara lemah, "Apakah Niel tidak tertarik pada tubuhku ini? Aku bisa mengubahnya lagi." Daniel dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Bukan itu maksudku! Tubuh Nay sangatlah mempesona, itu membuatku bergairah. Tapi, sekarang bukanlah saatnya! Lain kali saja melakukan perkembangbiakan itu. Saat ini ada dua peluru bersarang ditubuhku, jika tidak cepat dikeluarkan, aku khawatir itu akan menyebabkan hal yang tak diinginkan." Setelah mengatakan itu, dia segera berbalik. Dia duduk di kasur menghadap ke dinding. Mendengar jawaban Daniel, Nayla tersenyum gembira lagi. "Baiklah. Karena Niel berkata seperti itu, aku akan dengan cepat mengeluarkan peluru dari tubuhmu itu." Nayla segera mengubah tangannya menjadi alat yang digunakan untuk mengeluarkan peluru dari tubuh. Proses pengeluaran peluru pun di mulai. .... Setelah selesai melakukan proses mengeluarkan peluru dari tubuh, Daniel dan Nayla menyiapkan makan malam bersama. Setelah makan malam bersama, Daniel kembali ke kamarnya. Ia penasaran dengan peningkatan level sistemnya. Setelah mengunci pintu dan menutup seluruh gorden di kamarnya, Daniel memeriksa statusnya. Nama : Daniel Usia : 17 Tahun Level Sistem : 2 (0%) ? Tugas : Tidak Ada Penyimpanan : Pedang, Peti Hadiah Peningkatan Level. Kesempatan Undian : Satu kali Atribut : Kekuatan : 140 | Kecepatan : 125 Ketahanan : 120 | Kecerdasan : 170 Roh : 0 .... Setelah melihat status dan atributnya satu persatu, Daniel kemudian mengerti sesuatu. Jika meningkatkan level sistem, akan ada bonus atribut yang didapatkan. Selain itu, perluasan otaknya jauh lebih signifikan jika sistem dan sistem teknologinya meningkat bersama. Namun, hal yang masih membuatnya bingung adalah atribut Roh masih 0. Tetapi, ia tak memikirkan itu berlarut-larut, ia memindahkan minatnya pada pedang yang ia dapat. Membuka penyimpanan sistemnya, ia melihat sebuah pedang gaya eropa. Terlihat tajam dan mengkilap. Daniel mengambil pedang itu. Tapi, saat dia memegang pedang itu, ada sebuah tombol disana. Daniel penasaran dan dia menekan tombol itu. Namun, apa yang terjadi mengejutkannya. "Aiyaiya, bang Doni tukang tepas1." Sebuah nyanyian dari pedang mainan terdengar sebanyak tiga kali. "Sky!" Daniel berteriak kesal pada Sky yang saat ini sedang santai dalam ruang pikirannya. Sky terkejut mendengar teriakan Daniel. Ia dengan cepat menjawab, "Oh, Host. Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?" Daniel dengan kesal bertanya, "Jelaskan padaku, apa gunanya pedang dengan nyanyian seperti itu?" "Ingin penjelasan penggunaannya? Bayar dulu. Aku mau beli skin legendaris Dracula dari Moba Legends. Hanya tiga juta rupiah," kata Sky dengan mata penuh dengan uang. Mendengar ini, Daniel tak akan tertipu lagi. Ia dengan tegas berkata, "Tidak, aku tidak akan membayar kali ini." Menghela napasnya, Sky berkata, "Baiklah. Karena hari ini aku baru saja naik ke rank mitos untuk pertama kalinya, aku akan berbaik hati menjelaskan sedikit fungsi tentang pedang ini. Sebagai System yang baik, pintar dan rajin menabung, tak baik kalau memanjakan Host. Tapi kali ini aku akan memberitahumu sedikit." Daniel memutar matanya setelah mendengar Sky memuji dirinya sendiri sendiri. Sky dengan senyum cerah menjelaskan, "Fungsi pedang ini adalah untuk digunakan sebagai senjata saat pertarungan. Sekian dari penjelasanku, selamat tinggal." Sky menghilang dari pandangan Daniel. Urat di dahi Daniel berkedut. Ia berteriak, "Sky!" Tiba-tiba Sky muncul lagi. Ia berkata, "Satu lagi, fungsi lagu tadi hanyalah sebuah lelucon saja. Yah, pencipta senjata itu suka membuat lelucon yang tidak jelas. Jadi, selamat menggunakan pedang itu." Setelah mengatakan itu, dia menghilang lagi. Daniel tak tahu harus menangis atau tertawa, pencipta pedang ini kemungkinan besar seorang penikmat komedi, namun tak bisa melawak. Dia menggelengkan kepalanya. Ia kembali pada dunia nyata. Dia menatap pedang di tangannya, kemudian mengayunkannya beberapa kali. Perasaannya mengayunkan pedang seperti mengayunkan tangannya sendiri. Pedang ini seakan menyatu dengan tubuhnya. Seperti anak kecil mendapatkan mainan barunya, Daniel memainkan pedang itu dengan sangat gembira. Tanpa sadar, dia telah membelah kursi yang ada di kamarnya. Daniel sangat terkejut melihat ini. Ketajaman pedang ini melampaui imajinasinya. Pedang ini membelah kursi besi seperti memotong mentega. Daniel menghentikan tindakannya. Ia kembali menatap pedang lagi. Ia melihat tombol itu lagi. Dengan rasa penasaran yang tumbuh, ia menekan tombol itu lagi. "Selamat datang di fitur Pedang Ajaib. Silahkan pilih fitur yang ingin Anda gunakan." Bersamaan dengan suara itu, sebuah layar virtual holografik muncul di gagang pedang itu. Selain dari fitur pemilihan model senjata, ada juga fitur lainnya. Seperti Jenis Pedang, Warna, Efek Khusus, dan juga Transformasi. Daniel memeriksa fitur yang tersedia satu persatu. Dia mencoba mengubah pedang menjadi pedang laser. Pedang yang sebelumnya terlihat tajam dan mengkilap, kini perlahan tenggelam ke gagang pedang. Kemudian, pedang gagang pedang itu memancarkan laser berwarna kemerahan. Daniel melihat pedang ini dengan takjub. Pedang canggih! Apakah pedang ini menggunakan teknologi pelipatan ruang seperti capsul di Dragonball? Atau menggunakan nanoteknologi seperti di Ironman? Berbagai pertanyaan muncul di benak Daniel. Daniel kemudian mencoba berbagai fitur Pedang Ajaib ini. Ada berbagai pedang di sana. Misalnya, Katana, Parang, Keris, dan masih banyak jenis pedang lainnya. Selain itu ada berbagai efek khusus, antara lain; Efek berapi, listrik, es, dan efek-efek lainnya. Dia kemudian mencoba fitur transformasi. Di situ hanya ada satu pilihan, yaitu kalung. Selain teknologi penggunaan virtual holografik, pedang ajaib ini juga bisa menggunakan suara ketika berubah menjadi kalung. Ia mengetahui ini dari petujuk yang ada dibagian ujung layar virtual holografik. Pedang ajaib itu menyusut menjadi kalung dengan simbol pedang. Daniel kemudian bergumam, "Berubah menjadi pedang." Kalung itu perlahan berubah menjadi sebuah pedang normal. Setelah mencoba lebih dari satu jam, Daniel menyimpan pedang itu di penyimpanan sistem. Menurutnya, saat ini ia tak memerlukan pedang ini. Daniel kemudian memindahkan perhatiannya pada peti hadiah peningkatan level. Ia mengkliknya dan ada sebuah gambar helm di layar sistem di depannya. "Helm Animasi?" Daniel kemudian berpindah pada penyimpanan sistem dan menemukan sebuah helm yang mirip dengan helm game virtual reality. 48 Bab 48 : Helm Animasi dan Undian "Helm Animasi?" Daniel menatap sebuah helm seperti helm game virtual reality. Dia mengambil helm tersebut dan membolak-baliknya. Namun, dia masih tak tahu bagaimana mengaktifkan helm ini. Tanpa berpikir panjang, dia mengenakan Helm Animasi. Untuk sesaat, pandangannya gelap. Namun, setelah beberapa detik, seluruh pandangannya berubah menjadi warna putih. "Apa ini?" Daniel bergumam. Ia tak tahu bagaimana menggunakan Helm Animasi ini. Kemudian, sebuah layar biru muncul di depannya. Di sana terdapat beberapa pilihan. Diantara semua pilihan itu, Daniel mengklik baru. Kemudian, layar biru yang ada di depannya menghilang. Daniel tak tahu harus berbuat apa, ia mencoba menggerakkan badannya tapi tak terjadi apa-apa. Setelah lama mencoba berbagai hal, Daniel berbaring di tempat serba putih itu. Karena bingung, ia pun menutup matanya dan membayangkan kalau dia sedang berbaring di padang rumput dengan disejukan oleh angin sepoi-sepoi. Setelah beberapa saat, ia merasakan sedang berbaring di padang rumput dan merasakan angin sepoi-sepoi menerpa dirinya. Ia segera membuka matanya dan menemukan bahwa perasaannya benar-benar nyata. Dia berada di padang rumput dan ia menyaksikan rumput bergoyang-goyang karena tertiup angin. Daniel diam, kemudian dia berpikir sejenak. "Ini ... apakah ini benar-benar mencitrakan khayalan menjadi sebuah animasi?" Setelah itu, dia kemudian membayangkan seekor naga di depannya. Setelah selesai membayangkan, ia membuka matanya dan menemukan seekor naga di depannya sedang mendenguskan nafas panasnya. Karena kaget, Daniel mundur beberapa langkah. "Ternyata dugaanku benar! Dengan ini, aku bisa membuat bebagai animasi baik movie ataupun series sesuai dengan keinginanku. Tapi, tampaknya helm ini hanya mencitrakan sebuah gambar, tidak dengan suara." Setelah itu, sebuah teori terlintas di kepala Daniel. "Berarti teknologi yang dipakai ini sangat maju! Helm Animasi ini bisa membuat penggunanya seperti mengalami Lucid Dream atau memang mengalami Lucid Dream dimana penggunanya bisa mengendalikan hal yang diinginkan dalam mimpinya. Begitu juga yang bisa dilakukan menggunakan Helm ini. Tampaknya Helm Animasi ini menggunakan teknologi yang bisa menghasilkan sebuah gelombang yang merangsang sel neuron yang bisa menyebabkan manusia mengalami Lucid Dream. Ini adalah teknologi yang terinspirasi dari Lucid Dream! Pantas saja aku merasa sedikit familiar." Setelah mengatakan itu, Daniel mencoba berbagai hal. Ia juga dengan cepat membayangkan naga di depannya menghilang. Setelah itu, dia membayangkan berbagai hal. Seperti gedung, jalanan, matahari, dan lainnya. "Hm, cerita apa yang akan aku buat?" gumam Daniel. Sebuah ide cerita melintas di otaknya. Ia kemudian membayangkan perjalanan cerita itu dari awal hingga akhir. Cerita yang ada di kepala Daniel adalah cerita tentang seorang anak yatim piatu di dunia fantasi yang mendapatkan sebuah ingatan dari seorang pegawai di sebuah dunia modern. Anak yatim piatu tersebut menggunakan ingatan itu untuk memajukan teknologi di dunia fantasi tersebut, tapi banyak rintangan yang menghadang. Setelah berjam-jam membayangkan cerita tersebut, durasi animasi yang didapatkan 6 jam. Daniel kemudian memanggil layar biru dan menekan tombol simpan. Setelah itu, dia memilih untuk menonton animasi tanpa suara tersebut. Setelah menonton animasi itu beberapa menit, Daniel melihat banyak kekurangan pada animasi yang ia buat. Ia menghela napas, lalu bergumam, "Sepertinya aku harus menulis skenario ceritanya, kemudian merekam lagi bagian yang kurang bagus. Sepertinya Sky Technology akan berubah dalam waktu dekat." Ia memanggil layar biru, kemudian memilih untuk keluar. Daniel melepas helmnya. Tapi, setelah beberapa saat, ia merasakan bahwa baru dua jam berlalu sebelum ia memakai Helm Animasi. "Ini ... Apakah sama seperti helm game virtual reality?" Daniel bergumam memikirkan berbagai kemungkinan mengenai perbedaan waktu saat memakai Helm Animasi ini. Setelah berpikir beberapa saat, Daniel menyerah untuk saat ini. "Masih ada waktu lain untuk memikirkannya," Daniel kembali memasukan Helm Animasi ke dalam penyimpanan sistem. "Saatnya undian dimulai," gumam Daniel saat memperhatikan kesempatan undian. "Mulai Undian!" "Upin Ipin" Universe - Gasing Energy "Boboiboy" Universe - Jam Tangan Gopal "Marvel" Universe - Serum Hulk "Marvel" Universe - Baymax "Gailefru" Universe - Jalur Produksi Ponsel Gail-1 Melihat daftar undiannya, Daniel tersenyum. Semua hal pada undian itu mengandunh teknologi yang dibutuhkannya saat ini. Misalnya, Gasing Energy, itu dibutuhkannya untuk penggunaan listrik pada perusahaannya sebelum dia membuat Reaktor Fusi Nuklir yang canggih. Menurut pengetahuan dari Upin Ipin episode Sersan Husin dimana Profesor Jarjit membuat sebuah terobosan mengenai masalah energi, yaitu Gasing Energy yang bisa memasok energi listrik ke seluruh kota. Selain itu, energi dari Gasing Energy bisa digunakan untuk menghasilkan perisai energi yang digunakan oleh profesor Sally saat melawan Metrobot. Selain perisai, itu juga bisa membentuk tangan, rantai, dan hal lainnya. Mendapatkan Gasing Energy adalah hal yang menguntungkan bagi Daniel. Lalu Jam Tangan Gopal, ini juga merupakan teknologi canggih yang bisa mengubah suatu partikel ke partikel lain. Seperti yang diketahuinya, Gopal bisa mengubah suatu benda jadi makanan. Ini merupakaan penggunaan yang boros. Jika saja Gopal bisa merubah suatu benda yang mudah di produksi menjadi paduan paduan logam yang kuat, maka akan menghasilkan mekayaan yang berlimpah. Selain itu, paduan logam yang kuat bisa membuat senjata, ataupun tank, pesawat, atau kapal yang kuat. Tentu saja Daniel membutuhkan pengetahuan mengenai paduan logam tersebut. Jika dia tidak mengetahui partikel dan susunan atom yang ada pada paduan logam yang ingin dia buat, bagaimana bisa paduan logam itu akan terbentuk? Meski dia mendapatkan ini, dia tak bisa menggunakannya dengan mudah untuk saat ini. Selain itu, Jam Tangan Gopal ini juga memiliki kekurangan lain, yaitu tak bisa mengubah partikel dan susunan atom pada makhluk hidup. Kecuali makhluk hidup itu telah mati, mungkin saja bisa mengubah partikel dan susunan atom pada makhluk tersebut. Kemudian ada Serum Hulk. Daniel tak tahu apakah ini Serum Hulk yang sempurna atau Serum Hulk yang masih belum sempurna dimana penggunanya bisa berbubah menjadi raksasa dengan kulit berwarna hijau dan tak bisa mengendalikan amarahnya. Jika itu adalah Serum Hulk yang tak sempurna, ia hanya bisa menyerah untuk saat ini. Tapi, sama seperti Serum Prajurit Super yang sempurna, Daniel mengira Serum Hulk ini pastilah bentuk yang sempurna seperti Serum Prajurit Super yang ia dapatkan dari Undian sebelumnya. Mengenai hal itu, Daniel hanya bisa bertanya pada Sky jika dia mendapatkan Serum Hulk tersebut. Setelah itu ada Baymax. Baymax adalah robot kesehatan yang imut dan lucu. Meski begitu, kemunculan Baymax untuk bumi saat ini pasti akan menyebabkan sensasi yang besar. Selain dilengkapi dengan berbagai metode perawatan pasien dan juga database mengenai banyak penyakit di dunia Marvel, Baymax juga memiliki berbaga keunggulan lainnya. Diantaranya adalah algoritma kecerdasan buatannya dan juga pergerakan Baymax itu sendiri. Meski Baymax hanya berfokus pada kesehatan, tapi jika dikembangkan lebih lanjut, maka akan menghasilkan robot tempur yang kuat. Meskipun Daniel bisa membuat kecerdasan buatan setara dengan Baynax, tapi data-data tentang keperawatan dan tentang penyakit bukanlah kemampuan Daniel saat ini. Karena itulah, jika dia bisa mendapatkan robot kesahatan ini, dia bisa membuat kejutan bagi dunia lagi dan bisa berkontribusi pada teknologi di indonesia. Dan yang terakhir adalah Jalur Produksi Ponsel Gail-1. Dengan Jalur Produksi Ponsel Gail-1 yang bisa berproduksi secara otomatis, banyak hal bisa di hemat. Diantaranya adalah biaya pekerja dan juga bisa meningkatkan kecepatan produksi ponsel Gail-1. Meski Daniel tak tahu bagaimana bentuk dan spesifikasi dari Ponsel Gail-1 ini, ia tetap yakin bahwa Ponsel Gail-1 memiliki teknologi yang sangat maju. Setelah berpikir banyak, Daniel memilih untuk memulai undian. "Mulai!" Begitu selesai mengatakan itu, jarum pada undian dengan berputar cepat. Setelah beberapa saat, putaran itu berhenti pada grid Jalur Produksi Ponsel Gail-1. Daniel merasa senang mendapatkan hal ini. "Sepertinya, aku harus membuat sistem operasi baru untuk ''membunuh'' Google dan Apple," kata Daniel sambil menatap sepuluh Jalur Produksi Ponsel Gail-1 di penyimpanan sistem. Setelah itu, dia membaca spesifikasi ponsel Gail-1 dan menemukan sesuatu yang luar biasa. Ponsel Gail-1 menggunakan chip dan baterai berbahan grafena (Graphene). Nama dari baterai itu adalah Graphene-Ball, yang kapasitas baterainya 40.000mAh dan mengisinya sampai penuh hanya membutuhkan kurang dari selusin menit. Selain itu juga, berbagai hal lainnya juga sangat maju. Baik itu kamera, layar, mesin dan lainnya. Tapi, hal ini juga menyebabkan Daniel sakit kepala. Bahan yang digunakan mungkin bukan bahan langka, tapi grafena sangat mahal di pasaran. "Sepertinya aku harus mencari cara agar bisa mendapatkan grafena dengan harga murah," kata Daniel sambil menghela napas. Setelah membuka hadiah dari Sistem, Daniel menulis sebuah cerita untuk animasi yang dibuatnya menggunakan Helm Animasi nantinya. Untuk urusan grafena, ia akan memikirkannya nanti. 49 Bab 49 : Orang Tak Dikenal Sehari berlalu sejak Daniel fokus menulis cerita lengkap untuk animasi yang sedang ia kerjakan. Hari ini, Daniel pergi ke sekolah seperti biasanya bersama Nayla dan dua adik kembarnya. Untuk masalah perkelahiannya dengan para penculik, Daniel tak menceritakan pada Rika dan Raka. Ia khawatir itu akan membuat keduanya shock dan cemas terhadap keselamatan Daniel. Daniel ke kelasnya dan tak melihat Bella. Ia berpikir Bella akan datang nanti. Namun, sampai bel masuk berbunyi pun Daniel tak melihat Bella. Daniel tak terlalu banyak berpikir, ia mengikuti Upacara Bendera dengan murid lainnya. Selama upacara berlangsung, pikiran Daniel masih memikirkan cerita animasi yang akan dibuatnya. Setelah upacara selesai, Daniel langsung kembali ke kelas. Tapi, ia tetap tak menemukan Bella. Ia sedikit khawatir mengenai kesehatan mental Bella. Tak lama berselang, Bu Nia memasuki kelas dengan wajah rumit. Setelah menjawab salam, Bu Nia berkata, "Murid-murid, Gita akan menjadi ketua kelas baru kita. Lalu, Bella hari ini tak masuk sekolah karena sakit." Siswi dengan nama Gita terkejut. Ia dengan gugup bertanya, "Sa-saya, Bu?" "Iya, kamu yang akan jadi ketua kelas selanjutntnya," jawab bu Nia. "Ba-baik, Bu." Gita hanya bisa menerima amanah dari bu Nia. Untuk masalah ketua kelas, kebanyakan dari mereka tidak terlalu peduli. Lebih baik ada yang dengan sukarela jadi ketua kelas. Sedangkan untuk kabar Bella sakit, beberapa murid sedih, terutama teman Bella. Daniel juga merasakan kesedihan. Menurutnya Bella pasti mengalami trauma, apalagi setelah mentalnya hampir runtuh oleh orang serba hitam itu. Bu Nia berkata lagi, "Ada kabar duka lainnya. Ayah Yudhistira mengabari sekolah kita kalau Yudhistira menghilang secara misterius kemarin sore. Sampai saat ini, tak ada kabar mengenai Yudhistira sampai saat ini. Jika kalian melihat Yudhistira, cepat laporkan pada bu guru, nanti bu guru akan langsung melaporkan pada ayah Yudhistira." Kabar ini mengejutkan murid di kelas. Meskipun mereka tahu bahwa Yudhistira tak akan masuk sekolah lagi, tapi kalau kabar dia hilang itu benar-benar mengejutkan mereka. Mereka tahu bahwa Di Indonesia, melakukan sex yang statusnya bukan suami-istri sah adalah hal tabu dan paling dilarang. Apalagi Yudhistira adalah seorang anak dari pengusaha kaya Indonesia, itu mejadi sebuah ironi dari seorang anak pengusaha. Apakah Yudhistira ini sangat malu hingga dia kabur karena telah tersebar Videonya? Pikiran itu bergema di pikiran semua murid. Sedangkan untuk Daniel, ia tak terlalu memperdulikan hilangnya Yudhistira. Menurutnya, Yudhistira masih bersikap kekanakan karena lari dari masalah. Setelah itu, pelajaran berlangsung seperti biasa. .... Dua pekan berlalu sejak saat itu. Hanya kurang dari sebulan lagi untuk melaksanakan Ujian Semester Ganjil. Selama dua peka ini, pengguna Teteh semakin banyak. Hanya kurang dari sebulan, pengguna Teteh telah mencapai 80 juta pengguna yang berlangganan. Hanya dengan 80 pengguna yang berlangganan, penghasilan Sky Technology mencapai lebih dari 2 triliun rupiah. Namun, ini hanyalah langkah awal. Kedepannya, lebih banyak lagi kekayaan yang akan didapat Sky Technology. Selain itu, cerita karangan Daniel hampir selesai. Proses animasi juga hanya memerlukan sedikit pengeditan sebelum masuk ke tahap pengisi suara lalu akan ditayangkan di website resmi Sky Technology. Daniel juga merasakan hal aneh pada Bella selama beberapa hari terakhir semenjak kejadian itu. Hal ini membuatnya sedikit tertekan. Pasalnya, setiap dia memanggil Bella, respon Bella selalu saja kaget. Belum lagi saat sedang mengobrol, Bella selalu menundukkan kepalanya seperti menghindari tatapan Daniel. Selain itu, setiap Daniel mengajaknya ke kantin, Bella selalu menolaknya. Semakin hari, semakin sedikit obrolan antara Daniel dan Bella. .... Bel pulang berbunyi. Daniel baru saja ingin mengatakan sesuatu pada Bella, tapi Bella sudah buru-buru pergi tanpa memberi Daniel kesempatan berbicara. Melihat ini, Daniel menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tak tahu alasan mengapa Bella bersikap seperti ini. Sebuah tangan menepuk bahunya. Ia menengok ke belakang dan menemukan Max dan Regi menatapanya. "Niel, apa kamu baik-baik aja?" tanya Max dengan sedikit khawatir. "Tenang, aku baik-baik saja. Hanya sedikit bingung dengan sikap Bella," jawab Daniel. "Jangan terlalu tertekan masalah cewek. Mungkin dia lagi ada sesuatu yang mendesak," kata Regi menghibur Daniel. "Terima kasih, Max, Regi. Aku pulang lebih dulu." Daniel buru-buru pergi. "Ya, hati-hati di jalan. Ada banyak begal berkeliaran!" kata Max. Regi memutar matanya, "Kan kamu begalnya." Max dengan bangga berkata, "Iya, aku begal. Orang yang membegal hatinya dia ... tunggu, kalo aku begal hatinya dia, berarti dia mati dong?" Regi menggelengkan kelalanya, "Dia yang bikin, dia yang nggak yakin. Dasar ogeb!" Max sedikit marah dikatai ogeb. Ia bertanya, "Hei, apa itu ogeb? Kau mengataiku ya?" Melihat Max terprovokasi, Regi tersenyum. Ia menjelaskan, "Ogeb itu artinya Orangnya ganteng banget." "Haha, tentu saja!" dengan bangganya Max berkata sambil bergaya narsis. .... Alasan Daniel pergi buru-buru adalah ia mendapatkan sebuah tugas dari Sistem. "Tugas : Bertahan hidup dari serangan yang akan datang. Host akan diserang oleh orang misterius dalam waktu dekat. Syarat : Host bertahan hidup. Hadiah Tugas : Exp 25%, Electromagnetic Handcannon, 1x Undian. Hukuman Kegagalan : Kematian Host." Dengan resiko besar semacam itu, Daniel tak ingin membahayakan teman-temannya dan keluarganya. Karena itu dia buru-buru pergi dan menghubungi Nayla untuk menjaga Rika dan Raka. Untuk keselamatannya, ia tak perlu khawatir. Dengan Serum Prajurit Super yang telah digunakannya dan peningkatan sistem, ia yakin bahwa di dunia ini tak ada yang bisa menandinginya kecuali senjata nuklir. Namun, Daniel yang penuh keyakinan itu adalah katak di dalam sumur. .... Daniel saat ini pergi menjauh dari kota untuk meminimalisir hal yang tak diinginkan. Ia juga tak ingin menimbulkan keributan dan korban yang tak bersalah saat ia bertarung dengan orang misterius ini. Tapi, tak semua yang diinginkannya akan berjalan lancar. Saat ia sedang berlari pergi menjauh dari kota, tiba-tiba saja seseorang menyerangnya. Daniel segera berguling ke depan menghindari serangan orang yang tak dikenal itu. Serangan orang yang tak dikenal menyebabkan sebuah mobil yang sedang diparkir meledak. Hal ini membuat Daniel terkejut. "Apakah ini orang misterius yang dimaksud isi tugas?" gumam Daniel sambil memperhatikan orang tak dikenal yang menyerangnya tiba-tiba. Orang tak dikenal itu telah melepaskan diri dari puing mobil yang meledak. Ia menatap Daniel dengan mata merah darahnya. Dengan tatapan ganas itu, Orang tak dikenal itu tertawa gembira. Gigi-gigi tajamnya terlihat. Melihat Daniel, orang tak dikenal itu tertawa gembira dan berkata, "Akhirnya, akhirnya, akhirnya, akhirnya, akhirnya nyahaha, balas dendamku, balas dendamku, balas dendamku, balas dendamku akhirnya bisa kulakukan juga. Aku, aku, aku, aku, aku, sudah menantikan ini sejak lama. Sejak dia mempermalukanku dan berani menentangku!" Kali ini, Daniel benar-benar merasakan yang namanya perasaan krisis dimana kehidupan dan kematian diputuskan dalam waktu singkat. Meskipun ia tak tahu apa yang dimaksud oleh orang tak dikenal itu, ia tetap waspada. Ia melempar tasnya ke samping dan bersiap bertarung melawan orang tak dikenal itu. Postur tubuh orang tak dikenal itu sangat tinggi. Menurut Daniel, tinggi orang tak dikenal itu mencapai 2,2m. Selain itu, dengan badan yang besar dan berotot, menambah kesangarannya. "Daniel, matilah!" 50 Bab 50 : Keinginan Kuat Balas Dendam "Tuan." panggil seorang pria terbaring di rumah sakit dengan kaki dan tangan yang patah. Seorang pria berusia sekitar 40 tahun memandang pria yang sedang berbaring di kasur rumah sakit. Tanpa perasaan, dia memaki pria yang ada di depannya, "Dasar tak berguna. Tak bisa menjaga anakku dengan benar. Lebih baik kau mati saja." Pria itu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh pria paruh baya tersebut. Ada jejak kemarahan di matanya. "Pak tua ini jika saja bukan karena melindungi anaknya, sudah dipastikan anaknya akan berbaring di ranjang rumah sakit ini. Dan juga, pemuda yang diprovokasi oleh anaknya juga adalah seorang monster. Aku tak pernah menyangka bahwa pemuda itu memiliki kekuatan yang luar biasa besar," pikir pria itu. "Kau akan kupecat. Urusan rumah sakit, kau sendiri yang akan membayarnya." Setelah mengatakan hal itu, pria paruh baya itu pergi meninggalkan pria yang berbaring di ranjang rumah sakit. Melihat pria paruh baya itu keluar dari kamar perawatannya, pria itu mendengkus dingin. Dengan mata merah dan tatapan membunuh, ia bersumpah, "Membuangku begitu saja setelah terluka parah begini? Dasar bajingan tua! Tunggu saja, aku akan membuatmu menderita! Setelah itu, aku akan membuat pemuda itu menderita karena telah berani membuat tulang-tulangku patah." . Setelah dua bulan dirawat di rumah sakit, pria itu bisa pulang ke rumah dengan kondisi sedikit pincang. Selama di rawat, dia merenungi apa yang telah ia lakukan di masa lalu dengan tuan muda yang ia jaga dan juga pada masa ia masih menjalani pekerjaan sebagai tentara bayaran. Tapi, tetap saja rasa ingin membunuh dan kebencian pada keluarga pria paruh baya dan pemuda itu tak pernah hilang. Ia dengan penuh kebahagiaan pulang ke rumahnya. Ia sangat merindukan keluarganya yang ada di rumah. Namun, ia tak akan menyangka bahwa hal yang akan ia alami sangat tragis. Ketika sampai di rumahnya, ia membuka pintu rumah dengan sangat bersemangat. Namun, ketika dia membuka pintu rumah, yang ia lihat adalah rumah dengan penuh cairan kental berwarna merah dengan bau seperti bau besi berkarat. Setelah beberapa saat, ia bangkit dan dengan cepat mencari-cari istri dan anak-anaknya di semua tempat yang ada di rumah. Ia ke dapur, tapi hanya menemukan bercak darah di dinding. Kemudian ia pergi ke toilet. Namun, hasilnya tetap sama. Lantas ia pergi ke kamarnya. Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya di kamarnya. Seluruh isi kamar penuh dengan warna merah dari darah dan bau darahnya menyengat. Menurut pengetahuan tentara bayarannya, semua ini terjadi kurang dari satu jam sebelum ia sampai ke rumah. Kemudian, ia melihat mayat seorang wanita dan dua anak-anak. Mayat wanita itu memeluk anak-anaknya untuk melindungi mereka. Seketika saja, pikiran pria itu runtuh. Air mata mengalir di wajahnya. Sebuah kilas balik senyuman istri dan anak-anaknya terlintas di pikirannya. Hal itu membuat hatinya semakin perih dan tangisannya semakin deras. Ia tertunduk lesu dan berteriak sejadi-jadinya sambil memeluk istri dan anak-anaknya. Berbagai penyesalan terus berdatangan melintasi pikirannya. Semakin dia menyesali perbuatannya di masa lalu, semakin banyak air matanya yang mengalir di wajahnya. Rasa sakit, kebencian, keputusasaan, penyesalan, dan perasaan lainnya saling bercampur aduk dalam benaknya. Ia sangat ingat ketika dia memarahi istrinya karena ketahuan bahwa ia selingkuh dengan wanita lain, tapi dirinya malah mengkasari istrinya. Bukannya melapor pada polisi, istrinya ini malah tersenyum dengan uraian air mata di wajahnya dan berkata, "Maafkan aku karena tak menjadi istri yang baik untukmu." Kemudian, ketika dia memarahi dan memukuli anak-anaknya hanya karena mereka meminta dia untuk pulang lebih cepat dan menemani mereka bermain. Ia juga ingat saat ia membawa seorang gadis muda ke rumah dan istrinya hanya bisa tersenyum padanya. Setelah ia mengantar wanita tersebut pulang, istrinya berkata padanya dengan berurai air mata, "Kamu boleh berselingkuh, tapi pikirkanlah anak-anakmu yang membutuhkan sosok seorang ayah. Mereka juga membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Tolonglah lebih banyak meluangkan waktu untuk mereka." Namun, apa yang didapat oleh sang istri itu hanyalah sebuah tamparan keras. Pria itu berkata, "Apa hakmu untuk menyuruhku meluangkan waktu untuk anak-anak? Selama ini aku banyak kerjaan dan juga menghasilkan uang. Jadi, jangan banyak protes dan urusi saja anak-anakmu itu." Ia juga sangat mengingat ketika ia kehabisan uang untuk selingkuhannya, sang istri pulang dengan wajah lelah sambil membawa uang, ia dengan kasarnya merampas uang hasil jerih payah sang istri. Padahal, uang itu sangat dibutuhkan sang istri untuk kebutuhan rumah tangga. Sedangkan dia, uang itu digunakannya untuk bersenang-senang dengan selingkuhannya. Alasan mengapa sang istri tidak menggugat cerai dia adalah karena sang istri tak mau anak-anaknya tumbuh tanpa kehadiran sang ayah di sisi mereka. Dan juga, hingga saat terakhir hidupnya, semua biaya hidup anak-anaknya dari sang suami. Hingga akhir hayatnya, sang istri dengan kuat tersenyum melindungi anak-anaknya sampai akhir. Hal ini membuat pria itu semakin menangis. Entah berapa lama ia menangis, ia tak bisa melupakan perilakunya terhadap keluarganya sampai sekarang. Ia juga tak bisa meminta maaf lagi pada semua anggota keluarganya yang sekarang sudah menjadi mayat. Ekspetasi kehidupan bahagia yang ia pikirkan ketika kembali ke rumah hancur berkeping-keping. . Setelah menenangkan dirinya, ia melihat sebuah surat yang ada di atas kasur. Surat itu berlumuran darah. Ia dengan cepat mengambil surat itu dan membacanya. Isinya adalah : Selamat siang, emm, atau selamat sore? Jadi, bagaimana kesehatanmu, Bimo? Apakah sudah keluar dari rumah sakit? Yah, kutahu kau akan keluar dari rumah sakit sekitar 1 jam dari sekarang. Bagaimana perasaanmu setelah disambut dengan mayat keluargamu yang tak berharga yang pernah kau katakan padaku dahulu? Apakah kau senang? Bahagia? Atau kau malah tertawa? Yah, yang kutahu, pasti kau sedang memikirkan siapa aku, bukan? Yah, daripada memikirkan itu, aku akan memberitahumu langsung. Aku adalah kepala keluarga Wirawan, kurasa. Atau, lebih tepatnya adalah Arjuna Wirawan, Ayah dari Yudhistira Wirawan. Maafkan aku kalau hadiah ini tak seindah hadiah yang kau harapkan dariku. Aku hanya bisa memberimu hadiah seperti ini. Semoga kau senang menerimanya. Aku tak ingin berbasa basi lagi. Ini adalah balasan jika kau membiarkan anakku terluka lebam di wajahnya. Dasar tentara bayaran tak berguna, sampah masyarakat, bajingan dan tentu saja, seorang brengsek. Memikirkan balas dendam? Kemarilah ke kantor perusahaanku. Aku akan membiarkanmu masuk dan bertarung denganku, pincang! Salam, Arjuna Wirawan .... Setelah membaca surat tersebut, Bimo langsung marah. Tubuhnya memancarkan aura membunuh. Ia tahu benar tulisan tangan di surat itu adalah tulisan tangan Arjuna sendiri. Ia sudah sering kali melihat tulisan tangan itu sampai muak. Ia meremukkan surat itu dengan tangannya. Mata penuh amarah dan tatapan dingin, ia berkata, "Arjuna, Yudhistira, tunggu saja pembalasan dariku. Aku akan membuat kalian lebih menderita dari apa yang aku rasakan." Setelah mengatakan itu, ia membaringkan tubuh istri dan kedua anaknya. Setelah berdiam beberapa menit dari tubuh keluarganya, ia pun pergi tanpa member tahu warga lain mengenai pembunuhan yang menimpa keluarganya. Ia juga sudah memikirkan bagaimana membalas dendam pada keluarga Wirawan untuk masalah ini. Ia menghilang untuk beberapa hari ke depan. .. Beberapa jam setelah kepergian Bimo dari rumahnya, seorang warga mencium bau darah dan bau busuk dari rumah keluarga Bimo. Ia dengan penasaran mengetuk rumah keluarga Bimo dan terkejutnya dia ketika dia melihat isi rumah keluarga Bimo. Banyak barang dan dinding mempunyai bercak darah. Ia dengan cepat melapor pada Ketua RT dan Ketua RW. Hal ini membuat kehebohan pada warga sekitar. Pak RT dan juga Pak RW dengan cepat melaporkan kasus ini pada piah yang berwajib. Setelah beberapa saat, pihak Kepolisian pun dating dan mulai pemeriksaan di TKP dan mencari penjelasan pada saksi-saksi. Ahli forensik juga memeriksa mayat korban dan menemukan sidik jari pelaku. Dan pemilik sidik jari tersebut adalah Bimo. Setelah mereka bertanya-tanya pada warga mengenai Bimo, pihak Kepolisian pun semakin yakin kalau Bimo adalah pelakunya. Selain itu, mereka juga mendapat petunjuk dari pihak rumah sakit mengenai Bimo yang baru saja keluar. Dan dengan kebetulan ahli forensik berkata kalau sang istri dan anak-anaknya dibunuh tak lama setelah Bimo keluar dari rumah sakit. Hal ini membuat mereka semakin yakin lagi. Sayangnya, barang bukti penting seperti surat dari Arjuna tadi dibawa oleh Bimo/Jika dia meninggalkan surat itu, bukan dia yang akan dijadikan seorang tersangka. Tapi, apa yang mereka sangkakan adalah sebuah kesalahan. Semua ini sudah direncanakan sedemikian rupa oleh pelaku sebenarnya. Bimo menjadi seorang buronan. Tetapi,bahkan jika dia tahu dia menjadi buronan pun, dia tak peduli. Tapi yang ia sayangkan adalah ia dituduh membunuh keluarganya sendiri. . Beberapa hari telah berlalu. Kini Bimo tahu bahwa dirinya telah menjadi seorang buronan. Namun ia tak bereaksi banyak. Ia juga akan membalas dendam hari ini. Ia mengetahui informasi bahwa hari ini Arjuna akan ada di rumahnya. Ia berpikir ini adalah waktu yang tepat untuk membunuh Arjuna terlebih dahulu. Ia telah mempersiapkan berbagai hal yang dibutuhkan. Ia berangkat ke villa dimana Arjuna tinggal. Villa itu tak jauh dari keramaian kota dan juga tak jauh dari hutan kota. Ia menggunakan jaket dan topi beserta kacamata hitam. Selain itu, ia juga membawa tongkat untuk membantunya berjalan. Dengan ini, penyamarannya semakin tak kelihatan. Setelah berpuluh-puluh menit menggunakan mobil taksi ke area villa, Bimo sampai ke tujuan. Ia turun dan langsung menuju villa. Penjaga keamanan area villa tak menyadari bahwa itu adalah Bimo. Mereka menganggap dia hanyalah orang biasa yang iseng lewat area villa. Setelah berhasil menyusup ke dalam, Bimo masuk ke villa Arjuna tanpa ada penjaga seorang pun. Bimo bingung dengan kekosongan penjaga villa Arjuna. Saat ia bertugas dulu, ada beberapa penjaga keamanan yang akan berkeliaran di sekitar area villa Arjuna. Namun, hari ini tak ada seorang pun. Ia menjadi lebih waspada. Ia tahu bahwa kamar Arjuna ada di lantai tiga. Ia juga tahu bahwa setiap Arjuna sedang beristirahat di villanya, Arjuna akan ''bermain'' dengan satu atau dua wanita. Dengan hati-hati Bimo naik ke lantai tiga lewat bangunan luar. Setelah beberapa menit, ia sampai pada balkon. Sesampainya di sana, ia disambut oleh suara desahan dari dua orang wanita yang mendesah dengan suara kencang. Ia dengan hati-hati melihat keadaan di dalam kamar lewat jendela. Setelah merasa bahwa tak ada penjaga yang ada didalam kamar, Bimo beraksi dengan memecahkan jendela kaca kemudian ia melesat maju ke ranjang Arjuna. Tak butuh waktu lama baginya untuk menyingkirkan dua wanita tersebut. Setelah ia, ia menarik sebuah pisau di dalam jaketnya dan menusuk Arjuna. Tapi, Arjuna dengan sigap berguling ke samping untuk menghindari tusukan itu. Arjuna berdiri dengan cepat, ia kemudian memindahkan tatapannya pada Bimo yang menatapnya dengan mata merah dan wajah penuh amarah. Namun, Arjuna tak takut sama sekali. Daripada mereasa takut, dia malah tersenyum mengejek pada Bimo. Hal ini membuat Bimo sedikit terkejut, tapi ia tak memikirkan terlalu banyak. Ia kemudian melemparkan pisau ditangannya ke arah Arjuna. Setelah melakukan itu, ia kemudian melesat cepat ke arah Arjuna dan melepaskan sebuah tendangan ke arah kepala Arjuna. Namun, sebelum pisau itu sampai pada Arjuna, seorang pengawal muncul dari dalam lemari besar. Pengawal itu membelakangi Bimo, ia menggunakan punggungnya untuk melindungi Arjuna dari pisau. Kemudian, untuk tendangan yang dilepaskan oleh Bimo secara otomatis batal karena kejutan dari pengawal Arjuna. Ia mundur beberapa langkah dari Arjuna untuk membuka jarak. Setelah satu pengawal muncul, beberapa pengawal lain juga muncul. Setelah melihat ini, Bimo akhirnya mengerti mengapa Arjuna tak takut dan mengejeknya. Setelah berpikir sedikit, Bimo memilih untuk kabur dan mencari kesempatan lain untuk membalas dendam pada Arjuna. Ia mengambil beberapa pisau lagi dan melemparkannya secara acak ke arah depan. Setelah itu dia mengambil langkah mundur. "Setelah menyerangku, kemudian kabur seenak jidatmu? Tidak semudah itu Ferguso! Kejar dia!" Arjuna dengan cepat memerintahkan pengawalnya untuk mengejar Bimo. Sedangkan dia, dia menggunakan pakaiannya dengan rapi dan keluar dari villa dengan santainya. Untuk kedua wanita yang ia ''pakai'' sebelumnya, ia hanya melemparkan ratusan lembar uang seratus ribu pada mereka dan mereka berebut satu sama lain untuk mendapatkan uang itu. "Benar saja ucapan orang itu kalau Bimo akan melakukan pembunuhan terhadapku. Untung saja aku sudah mempersiapkan semuanya sehingga aku masih bisa selamat. Hm, hukuman apa yang pantas untuk Bimo kali ini?" gumam Arjuna sambil menuruni tangga dengan santai. Sementara itu, Bimo mati-matian melarikan diri dari pengepungan pengawal Arjuna. Meskipun sudah menyingkirkan beberapa pengawal, ia tetap saja tak bisa melarikan diri dan akhirnya ditangkap oleh pengawal Arjuna. Bimo babak belur dihajar oleh beberapa pengawal Arjuna. Setelah beberapa menit, Arjuna pun datang menghampiri Bimo yang sudah babak belur. Ajuna melihat wajah Bimo yang babak belur, kemudian ia melemparkan senyum mengejek Bimo yang membuat Bimo memberontak ingin memukul Arjuna. Tapi sayangnya ia sudah ditahan oleh beberapa orang sehingga dia tak bisa melarika diri ataupun membalas perbuatan mereka. Melihat Bimo yang memberontak, Arjuna melepaskan tamparan pada Bimo. Arjuna kemudian berkata, "Mau membunuhku, tapi pas gagal mau kabur begitu saja? Tuman!" Tamparan melayang lagi ke pipi Bimo yang sudah memar. "Sudah pernah dikasih pekerjaan yang baik malah mau membunuhku, Tuman!" Belasan kali Bimo terkena tamparan dari Arjuna. Wajah Bimo bengkak seperti wajah babi. Arjuna berhenti menampar Bimo, ia berkata, "Lepaskan dia, buat kakinya patah lagi, kemudian-" Belum selesai Arjuna berkata, sebuah gumpalan darah mengenai wajahnya. Bimo tersenyum lebar hingga gigi ompongnya kelihatan karena ini. Kejadian ini membuat pengawal Arjuna marah dan memukuli Bimo lagi. Bukannya meraung kesakitan, dia malah tertawa terbahak-bahak. "Dikasih kesempatan untuk melanjutkan hidup, malah dibalas seperti ini. TUMAN!" Kali ini, Arjuna menampar Bimo dengan seluruh kekuatannya. Tapi, tetap saja Bimo tertawa. Ia kemudian meludahkan darah lagi pada Arjuna. "Lumpuhkan dia, buat dia sekarat. Biarkan dia mati secara perlahan kemudian buang dia di hutan kota bagian tempat yang sepi." Arjuna memrintahkan itu kemudian pergi meninggalkan tempat. Para pengawal melaksanakan tugasnya untuk melumpuhkan Bimo. Mereka membuat patah tangan, kaki, hidung, jari tangan, dan oragan lainnya. Kemudian, mereka menembakkan peluru pada tubuh Bimo hingga banyak darah mengalir dati tubuhnya. Setelah itu, mereka mengangkut di mobil dan membawanya ke hutan kota. Bimo ditinggalkan berbaring sendirian dengan tubuh penuh luka dan darah. "Jika saja ... jika saja aku diberi satu kesempatan lagi, akan kuhancurkan seluruh keluarga Arjuna Wirawan!" matanya memancarkan kemarahan dan kebencian yang mendalam. Kemudian, ia mendengar suara langkah kaki menuju ke arahnya. "Tatapan yang bagus," ucap sesosok orang misterius. Meskipun sudah sekarat, dia tetap saja waspada. Ia berkata, "Siapa kau? Apa yang kau inginkan?" "Aku? Hanyalah orang biasa yang kebetulan lewat. Jika kamu ingin membalas dendam, aku akan memberikan sebuah kesempatan padamu. Sebagai bayarannya, kamu akan bekerja untukku. Bagaimana?" orang itu menawarkan penawaran yang menggoda. Setelah mendengar apa yang dikatan sosok misterius tersebut, Bimo tergiur. Ia tak perduli ia dijadikan boneka atau semacamnya, asal kesempatannya untuk balas dendam diberikan. Ia berkata, "Bisakah kau? Jika memang benar-benar bisa, maka aku akan melakukan apapun yang kamu suruh." "Makanlah pil ini. Ini pil terakhir yang aku punya." Sosok misterius itu menaruh obat tersebut di mulut Bimo. Bimo langsung memakannya tanpa memperdulikan hal lain lagi. Seluruh hatinya hanyalah berisi balas dendam pada keluarga Wirawan. "Sepertinya dendammu cukup dalam. Aku akan membawamu ke markas." Sosok misterius itu hilang di hutan kota yang sepi. 51 Bab 51 : Profesor Sesua-tuya dan Eksperimen Bimo terbangun dari koma-nya setelah menelan obat yang diberikan oleh sosok misterius tersebut. Ia membuka matanya, melihat-lihat sekitarnya dan terkejut dengan ruangan serba putih tersebut. Sempat tersirat di dalam kepalanya kalau ini adalah alam setelah kematian. Namun, setelah mengingat-ingat sesaat sebelum ia pingsan, ia ingat bahwa ia memakan sebuah pil dan dibawa oleh sesosok orang misterius. Kemudian, ia memeriksa tubuh-tubuhnya karena mengingat hal sebelum ia pingsan. Ia menggerakkan tangannya dan ia tak merasakan rasa sakit apapun. Setelah itu, ia melihat-lihat kondisi bagian tubuh yang lain dan semuanya sudah sembuh kembali ke sedia kala. Ia bingung dengan pil yang ia makan. Pil apa sebenarnya yang kumakan ini? Bimo tercengang dengan efek pil yang ia makan. Sambil terus berpikir tentang pil yang ia makan, seseorang membuka pintu. "Oh, ternyata kau sudah bangun. Bagaimana kondisi tubuhmu?" tanya seorang pria bertubuh langsing dengan jas putihnya. "Apakah kau yang membantuku sebelumnya? Jika itu benar-benar kamu, aku mengucapkan terima kasih banyak padamu." Kemudian, Bimo menundukan kepalanya manandakan bahwa ia tulus berterima kasih pada pria yang ada di depannya. Ada kejutan di mata pria langsing tersebut, ia berkata dengan sinis, "Oh, aku tak menyangka bahwa seorang mantan tentara bayaran akan berterima kasih seperti ini. Sepertinya ada sesuatu hal yang membuatmu berubah menjadi lebih lembut. Yah, aku tak memperdulikan itu. Karena kamu sudah sadar seperti biasanya, apa hal yang ingin kau lakukan?" "Yang ingin kulakukan? Membalas dendam pada keluarga Wirawan!" jawab Bimo dengan mata merah yang menyeramkan. Melihat ini, alih-alih ketakutan, pria langsing itu malah tersenyum. Ia berkata, "Karena kamu sangat bersemangat, ikutlah denganku. Seperti yang kubilang, jika kau ingin balas dendam, kau harus mengikuti apa yang kuperintahkan. Tak peduli apapun itu." Bimo menjawab tanpa berpikir panjang, "Iya, aku setuju." "Baiklah, ikuti aku." Pria langsing itu memimpin Bimo keluar ruangan. Bimo megikutinya di belakang. Setelah berjalan kaki agak lama, kedua orang tersebut sampai pada satu ruangan yang pintunya berlapis logam yang terlihat sangat kuat. Pria langsing tersebut meletakan kartunya pada sensor di samping pintu. Setelah beberapa saat kemudian, pintu yang tebal terbuka. "Ayo masuk," ajak pria langsing tersebut. Bimo tak menjawab dan mengikutinya. Setelah masuk beberapa meter, ia disambut dengan berbagai tabung transparan yang berisi organ manusia dan juga ada beberapa yang berisi tubuh manusia utuh dari tubuh bayi hingga manusia dewasa. Hal ini membuat Bimo terkejut dan juga sedikit merinding. Apakah organku akan diambil? Pertanyaan ini menggema di pikiran Bimo. Bimo terus memperhatikan sekeliling dan melihat banyak orang berpakaian serba putih. Pria langsing itu meninggalkan Bimo yang sedang meihat-lihat. Ia menghampiri seorang pria tua mungil berwajah licik. Setelah beberapa menit mereka berbincang-bincang, Pria langsing tersebut memanggil Bimo, "Bimo, kemarilah!" Mendengar seseorang memanggilnya, Bimo melihat ke arah sumber suara dan langsung menghampiri tanpa menjawab panggilan pria tersebut. Pria langsing itu melihat Bimo, kemudian ia berkata, "Ikutilah pria tua bangsat ini. Jika kamu mengikutinya, kamu akan mendapatkan kekuatan yang luar biasa. Tentu saja kamu harus membayar banyak harga untuk mendapatkan kekuatan tersebut." Dengan wajah penuh tekad, Bimo berkata, "Baik, aku akan menyanggupi apa yang diinginkan oleh pria tua bangsat ini." Mendengar panggilan dari kedua orang tersebut, pria tua licik protes. "Hei, beraninya kalian memanggilku bangsat, dasar bajingan," ucap pria tua licik dengan kesal. "Panggil aku profesor super duper cetar membahana ulalala khatulistiwa sesuatu syantik, atau disingkat mejandi Profesor Sesua-tuya," lanjutnya sambil tersenyum bangga. Pria langsing itu memutar matanya. Ia berkata, "Lihat bagaimana pria tua bangsat ini memilih nama. Karena itulah aku memanggilnya pria tua bangsat yang bajingan. Sebaiknya kau memanggilnya profesor Sesua-tuya." "Dasar laki-laki banci!" kata pria membalas dengan kesal. "Lihat? Penamaannya buruk sekali. Baiklah, bersenang-senanglah dengan pria tua bangsat yang bajingan ini." Pria langsing itu tertawa sambil meninggalkan ruanga itu. Profesor Seasu-tuya mendengkus napas dingin. Ia kemudian menatap Bimo yang tersenyum canggung dari tadi. Ia berkata, "Nak, kalau kau berani memanggilku pria tua bangsat lagi, aku akan mengambil matamu, gigimu, bahkan ''bolamu'' juga akan kuambil." "Ahshiap, profesor Sesua-tuya!" kata Bimo spontan. "Ahshiap? Kata-kata yang bagus," profesor Sesua-tuya berkata dengan mata berbinar. Ia kemudian tertawa dan berkata, "nak, kau benar-benar jenius sastra. Ahshiap! Aku akan memberikanmu bonus nantinya!" Bimo tersenyum canggung melihat perilaku profesor Sesua-tuya ini. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mengikuti profesor Sesua-tuya. .... Profesor Sesua-tuya membawa Bimo masuk ke ruangan yang ada di dalam ruangan tadi. Di ruangan ini cukup kecil, namun banyak barang yang terlihat canggih bagi Bimo. "Prof, kita akan melakukan apa?" tanya Bimo sedikit gugup. "Tidak banyak yang dilakukan. Hanya memeriksa kondisi tubuhmu. Pekan depan baru kita akan memulai eksperimen," jawab profesor Sesua-tuya dengan santai sambil mengenakan sarung tangan. "Kamu ke sana, aku akan memeriksa kondisi fisikmu. Cukup berbaring saja dan jangan memberontak," lanjutnya. Bimo menuruti semua apa yang diinginkan oleh profesor Sesua-tuya. Ia berbaring di atas satu-satunya ranjang di ruangan kecil itu. Setelah itu, profesor Sesua-tuya memasang berbagai instrumen pada tubuh Bimo. Kemudian, profesor Sesua-tuya kembali ke depan komputer dan mulai menjalankan sebuah program khusus yang sudah di desainnya. Setelah beberapa saat, berbagai angka di muncul di layar komputer yang digunakan profesor Sesua-tuya. Angka-angka itu mewakili berbagai hal mengenai tubuh Bimo. Sementara itu, Bimo merasakan rasa sakit pada seluruh tubuhnya. Profesor Sesua-tuya tersenyum gembira melihat angka-angka yang ada di layar komputer. Ia berkata, "Tak kusangka kau akan sekuat ini. Kekuatanmu 3 kali lebih besar dari manusia biasa. Tetapi, daya tahan dan kecepatanmu 3,5 kali lebih kuat dari pada manusia biasa. Bagaimana bisa kau babak belur ketika sampai ke sini sepekan yag lalu?" Bimo terkejut dengan apa yang dikatakan oleh sang profesor. Benarkah aku tiga kali lebih kuat daripada manusia biasa? Bimo bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan professor Sesua-tuya. "Itu ... aku tak merasakan tiga kali lebih kuat daripada manusia biasa. Sebelum aku babak belur, kekuatanku hanya sedikit lebih kuat daripada manusia biasa karena terlalu banyak mengkonsumsi minuman keras dan juga sering banyak bermain dengan wanita. Aku tak yakin kekuatanku sebanyak itu...." Setelah beberapa saat menggali ingatannya, pikiran Bimo terfokus pada sebuah pil yang diberikan oleh pria langsing itu. Ia bergumam, "Pil itu...." Mendengar gumaman Bimo, profesor Sesua-tuya membelalakkan matanya. Ia dengan buru-buru mendekat pada Bimo dan bertanya, "Pil, Pil apa yang kamu makan? Siapa yang memberikan pil itu padamu?" "Itu ... pria langsing itu yang memberikan pil itu padaku." Mendengar jawaban dari Bimo, profesor Sesua-tuya membuang langsung membuang muka. Ia berkata, "Cih, ternyata si banci yang memberikannya padamu. Pantasan saja kekuatanmu meningkat jauh. Yah, ini akan memberikanku kemudahan untuk bereksperimen dengan tubuhmu." Setelah satu jam selesai pemeriksaan kondisi tubuh Bimo, keduanya keluar dari ruangan kecil. "Tubuhmu benar-benar akan membantuku dalam bereksperimen nantinya. Sepekan lagi kau akan datang ke ruangan ini lagi. Selama sepekan kedepan, kau boleh melakukan apa saja yang kau inginkan termasuk bermain dengab wanita, meminta uang ataupun hal lainnya. Aku akan memberikanmu seorang pelayan yang bisa kau suruh-suruh." Setelah mengatakan itu, profesor Sesua-tuya meninggalkan Bimo sendirian di luar ruangan kecil, sementara dia masuk ke ruangan kecil itu. Tak lama kemudian, seorang wanita datang menghampiri Bimo. Bimo tertegun dengan apa yang dilihatnya. Wanita ini sangatlah cantik. Dengan rambut panjang bergelombang, wajah bulat, mata yang mempesona, dan bibir yang seksi membuat Bimo terpesona dengan kecantikan ini. Selain itu, lekuk tubuh wanita ini juga sangat seksi, dada yang berukuran Cup-D, dan juga kaki yang panjang. Bimo menjadi tak berkedip dan menelan ludahnya. "Tuan Bimo, mari ikuti saya untuk pergi ke kamar Tuan," dengan suara yang lembut itu, wanita cantik itu menggengam tangan Bimo. Bimo tertegun. Ia dengan buru-buru melepaskan tangannya dari wanita canrik tersebut dan berkata, "Ah, terima kasih. Aku akan mengikutimu. Maafkan perlakuan kasarku." Wanita cantik itu tersenyum. Ia berkata, "Tidak apa-apa, Tuan. Sebelum itu, saya adalah pelayan Tuan. Nama saya adalah IER-43, Tuan bisa memanggil saya dengan nama apapun yang Tuan inginkan." Bimo agak terkejut dengan nama wanita cantik di depannya ini. Ia berkata, "Aku akan memanggilmu Maya dan juga jangan memanggilku Tuan. Aku tak menyukai panggilan itu, pangil saja dengan namaku." "Baiklah, Bimo. Sekarang namaku adalah Maya," kata Maya sambil menundukan kepalanya. Setelah itu mereka berdua pergi ke kamar. .... Sepekan telah berlalu. Apa yang dilakukan Bimo selama sepekan tak jauh dari berolahraga dan melakukan latihan bertempur dengan pembunuh-pembunuh yang ada di tempat itu. Bimo mengetahui hal itu dari pelayannya yang cantik. Meski tak semua hal dijelaskan oleh Maya, Bimo mendapatkan banyak informasi mengenai tempat ini. Bimo juga sesekali membaca buku mengenai bela diri dan teknik bertempur. Sisa waktunya dihabiskan untuk istirahat dan makan. Bermain dengan wanita? Bimo tak mempunyai waktu untuk melakukan hal itu. Ia juga sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak bermain dengan wanita lain dan ingin menghormati istrinya yang belum sempat ia hormati selama hidupnya. Pria langsing dan juga profesor Sesua-tuya sesekali berbincang dengannya mengenai eksperimen yang akan dilakukan nanti. Hari ini adalah hari dimana dia akan menjalani eksperimen dengan profesor Sesua-tuya. Ia sudah berada di sebuah ruangan kecil profesor Sesua-tuya. "Apakah kamu siap?" tanya profesor Sesua-tuya. "Aku siap!" jawab Bimo dengan penuh tekad. 52 Bab 52 : Eksperimen Berhasil Setelah mengatakan bahwa ia siap menjadi ''Tikus'' dalam eksperimen profesor Sesua-tuya, Bimo dipasangkan berbagai instrumen eksperimen diseluruh tubuhnya. Beberapa menit berlalu, semua instrumen terpasang pada tubuh Bimo. Selain itu, profesor Sesua-tuya juga sibuk menyetel berbagai alat yang digunakan untuk melakukan eksperimen. Setelah semuanya selesai, semua orang kembali pada posisi mereka masing masing meinggalkan Bimo sendirian yang penuh dengan instrumen di tubuhnya. "Kamu sudah siap?" tanya profesor Sesua-tuya sekali lagi untuk memastikan jawaban Bimo. "Ya!" Bimo sekali lagi menjawab dengan penuh tekad. Setelah itu, profesor Sesua-tuya membuka sebuah koper yang ia bawa secara khusus. Koper ini berbeda dari koper biasa dimana koper ini memiliki alat pendingin di dalamnya untuk memastikan kelembaban objek yang ada di dalam koper tersebut. Yang ada di dalam koper tersebut adalah sebuah tabung kecil berisikan ciaran berwarna merah darah. Mengambil serum merah darah tersebut, profesor berjalan ke arah Bimo. Kemudian menyuntikan Serum merah darah tersebut pada bagian perut. Bimo tak merasakan apapun dari Serum merah darah tersebut. Ia merasa seperti disuntik cacar saat dia masih SD. Setelah menyuntikkan Serum pada Bimo, profesor Sesua-tuya mundur 30 meter jauhnya dari Bimo. Profesor Sesua-tuya kemudian memberi komando, "Mulai!" Setelah mengatakan itu, aliran listrik ringan mengalir ke arah tubuh Bimo. Beberapa saat kemudian, Bimo berteriak kencang hingga membuat telinga para peneliti lainnya sakit. Ini menandakan bahwa Serum merah darah sudah mulai bekerja. Kemudian, seorang peneliti melihat di layar komputer. Ia melaporkan sesuatu dengan buru-buru, "Tuan, emosi subjek Lebah-M0 mulai tidak terkendali...." Suara raungan dari Bimo terdengar lebih nyaring. "Tuan, persentase kehidupan subjek Lebah-M0 semakin lama semakin menurun..." Sekali lagi, raungan Bimo terdengar nyaring. "Tuan, tubuh jika semakin lama ini terjadi, maka dia akan..." Profesor Sesua-tuya mengelus-elus jenggot putihnya. Ia berkata, "Sekarang masih sesuai dengan apa yang kuperhitungkan... jangan hentikan eksperimen ini." Beberapa menit kemudian. "Tuan, proses penyatuan serum dengan organ tubuh sudah mencapai 50%. Tapi, kesehatan Lebah-M0 semakin menurun. Jika terus seperti ini..." Tanpa menunggu peneliti lain selesai berbicara, profesor Sesua-tuya berkata, "Tetap lanjutkan eksperimen." .... Di sisi lain, Bimo terus berjuang melawan rasa sakit yang dirasakannya setelah aliran listrik mengalir di tubuhnya. Dia merasakan sesuatu yang terus memanas dalam tubuhnya. "Apakah ini reaksi dari Serum merah darah yang yang profesor suntikkan padaku?" pikirnya. Benar saja apa yang ia pikirkan. Serum darah merah yang dibuat oleh profesor Sesua-tuya memang mengharuskan elemen listrik dalam tubuh dan elemen listrik dari luar tubuh untuk saling bergabung sehingga bisa mengaktifkan Serum merah darah. Begitu Serum merah darah diaktifkan, sel-sel dalam tubuh menjadi resah. Serum merah darah ini dianggap sebagai virus oleh sistem kekebalan dalam tubuh manusia hingga membuat sel-sel menjadi resah. Namun, Serum merah darah masih bisa meberobos sistem kekebalan tubuh. Kemudian, Serum merah darah ini membuat sel meregenerasi dengan sangat cepat, hingga membuat 5x lebih cepat daripada manusia biasa. Selain itu, berbagai organ di dalam tubuh juga bertransformasi secara bersamaan. Alasan inilah yang membuat Bimo meraung kesakitan. Tapi, ia terus berjuang melawan rasa sakit ini. Intuisinya mengatakan bahwa jika dia menyerah saat ini, dia akan mati. Ketika di layar menunjukan angka 25%, rasa sakit luar bisa dirasakan semakin kuat. Bimo menggertakkan giginya dan mencoba sekuat mungkin bertahan. Waktu perlahan berlalu, angka pada layar menunjukkan angka 50%. Bimo sudah hampir meneyrah. Ia merasakan setiap selnya mulai mati. Tatapan matanya semakin redup seakan-akan bisa mati kapan saja. Tapi, ketika sebuah ingatan senyum istri dan anak-anaknya saat mereka masih hidup terlintas dipikirannya, keinginannya untuk hidup semakin kuat. Matanya memancarkan tekad yang kuat dan ia masih bisa menahan rasa sakit yang sama seperti ratusan pisau menusuk tubuhnya secara terus menerus. Sinar tekad di matanya kemudian berubah menjadi tatapan membunuh. Ini terjadi karena ia mengingat isi surat dari Arjuna, dendam di dalam hatinya langsung berkorbar. Rasa sakit yang ia rasakan semakin berkurang. .... Di sisi lain, para peneliti lain terkejut dengan perkembangan yang terjadi pada tubuh Bimo. Persentase kehidupan Bimo yang awalnya rendah kini semakin meningkat. "Tuan, Tuan, Tuan ... i-ini persentase kehidupan Lebah-M0 semakin lama semakin meningkat. Selain itu, emosi Lebah-M0 semakin lama semakin stabil..." seorang peneliti dengan penuh kejutan melaporkan pada profesor Sesua-tuya yang sedang mengamati tubuh Bimo dari awal. Profesor Sesua-tuya tertawa. Ia berkata, "Sepertinya, eksperimen ini akan berhasil." Kemudian, semua peniliti terus memperhatikan layar di komputer dan mencatatnya untuk refrensi penelitian Serum merah darah. Waktu berlalu secara perlahan. Saat layar menunjukan proses Serum merah darah 75%, para peneliti mulai bergembira. Pasalnya, tak ada msalah sama sekali pada kesehatan maupun stabilitas emosi Bimo. Semakin tinggi kemajuan proses, semakin stabil keadaan Bimo. Saat layar menunjukan 85%, tubuh Bimo bereaksi hebat. Tiba-tiba tubuh mulai menjadi lebih tinggi dan lebih besar. Kecepatan pertumbuhan tinggi dan membesarnya otot-otot Bimo bisa dilihat dengan mata telanjang. Selain itu, tatapannya semakin tajam dan warna pada matanya berubah menjadi warna merah darah. Peneliti merasa sedikit takut pada hasil penelitian mereka. Namun, di lain sisi, mereka juga senang dengan efek yang dihasilkan oleh Serum merah darah ini. Saat layar menunjukan angka 90%, taring tajam tumbuh di gigi Bimo. Para peneliti menjadi sedikit khawatir karena pada layar yang menunjukan stabilitas emosi menunjukan penurunan. Mereka khawatir kalau Bimo akan menyerang mereka. Saat layar menunjukan angka 95%, kulit Bimo perlahan berubah warna. Kulit bimo yang awalnya berwarna sawo matang berubah menjadi warna merah darah. Saat layar menunjukan angka 100%, semua alat elektronik yang ada di dekat Bimo meledak. Selain itu, suara raungan Bimo membuat para peniliti ketakutan. Para peneliti buru-buru mundur untuk menghindari kontak dengan Bimo. "Roar!" sekali lagi raungan Bimo terdengar. Beberapa saat kemudian, asap hasil ledakan menghilang. Bimo dengan tinggi 2,5m berdiri tegak disana sambil menatap tajam dan menunjukan taringnya yang tajam. "Ini ... Penilitian ini berhasil!" seorang peneliti tua berteriak gembira. Setelah satu teriakan gembira dari peneliti tersebut, teriakan lainnya pun terdengar. Seluruh peneliti ini bersorak gembira. Merasa terganggu dengan keributan yang dibuat oleh para pebeliti, Bimo meraung dengan keras. "Roar!" Seketika saja raungan itu membuat para peneliti terdiam. Setelah itu, para peneliti bekerja dalam diam selama mencatat catatan hasil eksperimen kali ini. Tapi, profesor Sesua-tuya tak puas dengan hasil ini. Menurutnya, masih ada banyak kekurangan dalam Serum merah darah yang ia buat. Serum ini masih belum sempurna. Ada berbagai kekurangannya dari Serum merah darah yang belum sempurna ini. Pertama, jika manusia yang digunakan dalam eksperimen ini adalah manusia biasa bukan orang kuat seperti Bimo, maka dipastikan orang itu akan meninggal. Tapi, bahkan jika orang itu mempunyai kekuatan yang sebanding dengan Bimo pun juga belum tentu bisa sukses dalam eksperimen seperti ini karena tekad dan kemauan untuk bertahan hidup juga sangat dibutuhkan. Dengan tekad dan kemauan untuk bertahan hidup, otak akan mengirimkan sinyal pada organ yang ada dalam tubuh untuk terus kuat sampai ekperimen selesai. Dengan ini, manusia bisa memaksimalkan potensi pada tubuh mereka. Juga, dengan mengalami keadaan hidup dan mati atau bisa dibilang keadaan hidup diujung tanduk, potensi manusia akan keluar sepenuhnya. Hal-hal seperti ini juga yang menentukan faktor kesuksesan dalam bereksperimen pada Serum merah darah yang masih memiliki kekurangan ini. Selain itu, kekurangan lainnya adalah seperti yang dialami Bimo saat ini, yaitu ada perubahan pada fisik. Perubahan fisik yang positif adalah bertambahnya tinggi badan dan membesarnya otot-otot pada tubuh, namun yang dialami oleh Bimo ini juga membawa efek negatif seperti seluruh kulit berwarna merah dan juga tumbuh taring besar pada giginya. Matanya juga berubah warna menjadi warna merah darah. Selain dari efek negatif yang terlihat, masih ada berbagai efek negatif yang tidak terlihat. Tapi, profesor Sesua-tuya juga sedikit bahagia karena keberhasilannya membuat Bimo menjadi jauh lebih kuat. Ini selangkah lebih maju untuk membuat tentara yang sangat kuat. Dengan ini, langkah menuju sang raja penguasanya semakin dekat. .... Sepekan waktu berlalu. Selama waktu ini, Bimo belajar untuk mengendalikan emosinya, kekuatannya, dan kendali atas tubuhnya. Dalam periode ini, ia beberapa kali menghancurkan pintu, dinding, dan berbagai benda lainnya. Bahkan, lantai pun rusak juga olehnya dikarenakan saat ia belajar untuk mengontrol kekuatan genggamannya pada gelas, tapi batu saja ia memegangnya, gelas itu segera hancur. Sudah ribuan kali ia mencoba namun selalu gagal. Akhirnya, emosinya tak terkendali dan memukul lantai hingga lantai itu hancur. Tidak seperti Hulk yang bisa berubah kembali menjadi manusia biasa, Bimo selalu dalam wujud manusia berkulit merah. Tapi, dengan kekuatan semacam ini, ia tak mempermasalahkan penampilannya. Toh, penampilan tak diperlukannya untuk kehidupan kali ini. Selain itu, nafsu makannya semakin meningkat. Butuh 30kg beras dan butuh masing-masing 5kg daging dan juga sayur untuknya sekali makan. Dan, selama satu hari, ia makan tiga kali. Ia juga menjalankan tugas yang diberikan oleh Pria Langsing dan juga profesor Sesua-tuya. Beberapa kali ia membunuh dan menghancurkan markas sebuah organisasi gelap. .... Pertengahan bulan November tahun 2018. Di hari minggu, Bimo ditugaskan untuk mencari "Tikus" percobaan baru untuk eksperimen selanjutnya dari profesor Sesua-tuya. Dalam tugas ini, persyaratan untuk menjadi "Tikus" dari profesor Sesua-tuya haruslah muda, energik, dan juga kuat. Untuk target kali ini, ia sudah tahu siapa yang akan diambilnya. 53 Bab 53 : Tikus Tertangkap Dalam tugas kali ini, Bimo ditemani oleh Pria Langsing sebagai asistennya. Selain itu, selama tugas ini Bimo bisa melakukan apa saja yang diinginkannya selama ia bisa mendapatkan seseorang untuk dijadikan sebagai ''Tikus'' percobaan. Bimo menggunakan pakaian serba hitam. Dengan tingginya 2,5 meter, harus dibuatkan pakaian khusus untuknya. Di sisi lain, Pria Langsing hanya menggunakan pakaian modis. Meskipun ia berperan sebagai asisten pada tugas kali ini, yang ia lakukan hanyalah membawa "Tikus" kembali ke markas. "Apakah kau sudah siap, pria besar?" tanya Pria Langsing yang sedang mengunyah permen karet. "Aku sudah siap. Tapi ... apakah kau benar-benar akan keluar seperti ini?" Bimo agak sedikit bingung dengan gaya berpakaian dari Pria Langsing ini. "Apa yang salah dengan pakaianku? Bukannya aku lebih can- um, tampan dengan pakaian ini?" kata Pria Langsing sambil berpose narsis. Bimo memutar matanya. Meskipun Pria Langsing ini adalah orang yang narsistik, tapi ia juga penuh dengan misteri. "Apa katamu saja. Mari berangkat," kata Bimo sambil melangkahkan kakinya yang besar dan panjang. "Bukannya aku memang can- tampan ya? Kacamata, kemeja denim chamray, topi New York Yankee''s, lalu pakai Sneaker Adidas, bukannya ini ganteng banget ya? Lupakan. Si kulit merah tak bisa memahami dunia ketampanan seorang pria," Pria Langsing itu menggerutu sendiri sambil berjalan mengikuti Bimo. .... Keduanya sudah sampai di kota Banukarta1, provinsi Jawa Barat. Mereka berdua tentu saja tak melewati jalur yang ramai penduduk. Keduanya melewati hutan yang masih rimbun di pinggiran kota ini. Di sebuah gubuk tua, mereka berdua sedang berdiskusi. "Jadi, apakah kau sudah tau siapa yang akan kau culik kali ini?" tanya Pria Langsing sambil memainkan ponselnya. Mendengarkan pertanyaan dari Pria Langsing, Bimo memancarkan tatapan penuh dendam di matanya. Ia menjawab, "Sudah. Dia adalah anak dari mantan bosku. Kalau ketemu, aku juga akan membawa bonus untuk profesor dengan membawa seorang pemuda yang kuat yang pernah membuat tulang-tulangku patah, pemuda ini adalah musuh dari anak mantan bosku." "Hm, seseorang yang membuat pria besar patah tulang? Menarik," gumam Pria Langsing sambil mengerutkan keningnya. Setelah hening sebentar, Pria Langsing melanjutkan, "Jadi, kau akan balas dendam saat ini juga? Yah, ini juga bukan urusanku. Urusanku adalah membawa mereka yang kau culik untuk membawanya dengan aman sampai ke markas. Lakukanlah sesukamu." Bimo tersenyum saat ini. Ini bukan senyum bahagia, tapi senyum karena akhirnya ia bisa membalaskan dendam untuk meluarganya. "Baiklah, kau tunggu disini. Bantu aku mengendalikan cctv agar mereka tak mempunyai bukti. Jika foto tentangku tersebar pada masyarakat luas, ini akan menambahkan minyak pada api saat-saat di tahun politik seperti ini," kata Bimo dengan tegas. Pria Langsing tak menanggapi Bimo dengan serius. Ia melambaikan tangannya dan berkata, "Baik, baik. Aku akan mendukungmu dengan mematikan cctv nantinya. Lakukan yang terbaik dan semoga beruntung." Bimo mengangguk, ia kemudian keluar dari gubuk tua. Baru saja ingin melangkah kakinya untuk pergi dari gubuk, Pria Langsing memanggil Bimo. "Bimo!" panggilnya, "jika kau ingin mencari anak dari mantan bosmu, dia saat ini akan menuju sebuah bar dekat dengan hutan di pinggiran kota Banukarta. Sepertinya ada kejadian besar yang menimpanya." Bimo menoleh ke belakang, "Darimana kau tahu itu?" "Instagramnya. Ada banyak kiriman galau dia di instagram dan dia ingin pergi ke bar sambil mengirim foto selfie yang menjijikan ini," kata Pria Langsing dengan wajah jijik. Bimo terdiam dengan jawaban dari Pria Langsing tersebut. Ia pergi tanpa suara meninggalkan Pria Langsing di gubuk tua. Setelah Bimo pergi jauh, Pria Langsing mengehentikan tindakannya bermain ponsel. Ia dengan malas berkata, "Daripada aku menunggunya di sini, mending aku berjalan-jalan mencari wanita." Pria Langsing juga menghilang dari gubuk tua itu. .... Bimo menyelinap menuju bar yang didatangi oleh targetnya. Ia dengan mudah melewati banyak rumah warga tanpa ketahuan. Meskipun Banukarta ini adalah sebuah kota di provinsi Jawa Barat, tapi ini tak sepadat kota Bandung. Jadi, hanya sedikit tempat yang memiliki cctv. Sedangkan untuk rumah warga, masih ada ruang untuk menyelinap hingga bar yang dituju. Bimo juga sangat familiar dengan jalan ini karena sering menemani anak mantan bosnya pergi ke bar. Kurang dari 30 menit, Bimo sudah sampai bar yang dituju. Ia melihat sebuah mobil yang familiar. Karena tubuhnya yang terlampau besar dan sedikit aneh, jadi ia tak masuk secara normal karena dia tidak mau membuat keributan yang terlalu besar. Ia rela menunggu lama untuk menculik Yudhistira saat dia sendirian. Bimo saat ini telah berubah menjadi sosok yang lebih baik. Meski ia memiliki dendam yang dalam pada keluarga Wirawan, ia tak ingin membuat keributan besat untuk negara yang ia cintai. Bimo dengan sabar menunggu Yudhistira sendirian. Ia menunggu di dekat jendela, hanya beberapa meter jauhnya dari toilet. ..... Yudhistira berpesta dengan gila. Untuk melupakan kesedihannya dari ditendangnya dia dari sekolah, ia melakukan pesta gila di bar langganannya. Meskipun sudah mencemarkan nama baik ayahnya, ia hanya dihukum dengan sebuah tamparan saja. Kirana Wirawan, IbuYudhistira selalu memanjakan Yudhistira dan tak ingin anaknya terlalu disakiti oleh ayahnya. Dia juga yang menyebabkan Bimo dipecat karena telah membiarkan wajah Yudhistira bengkak. Meski yang sebenarnya adalah Bimo sudah melindunginya namun gagal. Karena dimanjakan sejak kecil, jadilah kepribadian Yudhistira yang manja, dia menjadi seseorang yang ingin mendapatkan apa yang dia mau dengan segala caranya dan harus mendapatkan hal tersebut. Tentu saja, sebagai anak orang kaya, Arjuna dan Kirana ingin anaknya menjadi yang terdepan. Karena itulah mereka menyuruhnya untuk berlatih basket dan juga belajar dengan giat. Dalam bidang pendidikan, olahraga, maupun ketampanan dan juga latar belakang, Yudhistira sebenarnya adalah yang terbaik. Tapi sayang, sifatnya terlalu busuk. Saat ini Yudhistira meminum anggur merah dengan rakus. Ia meneguk sebotol anggur merah hingga habis tanpa sisa setetes pun. Teman-teman yang lain pun bersorak gembira melihat Yudhistira yang ''perkasa''. Beberapa menit kemudian, ia merasa bahwa kantung kemiihnya sudah penuh. Ia buru-buru keluar dari kamar pribadi yang disewanya. Dengan terhuyung-huyung, ia menuju toilet di bar. Saat menuju toilet, dia melihat seorang wanita cantik yang lewat. Dengan hasrat seksualnya yang meningkat dan juga pengaruh alkohol dari anggur merah, ia dengan berani mendatangi wanita tersebut di toilet perempuan. Namun, belum sampai ia masuk ke toilet perempuan, sesosok tubuh besar yang menyeramkan muncul di depannya. ..... Bimo dengan sabar menunggu. Ia tahu betul kalau Yudhistira akan ke toilet setelah minum anggur merah dengan porsi yang besar. Karena itulah dia menunggu di dekat toilet. Setelah lama menunggu, ia melihat seorang pemuda dengan terhuyung berjalan menuju toilet. Ia bergerak cepat dan segera muncul di depan pemuda tersebut. Karena gerakannya yang tiba-tiba, Bimo membuat pemuda tersebut terkejut. "Siapa kau?" tanya pemuda itu dengan kesal. "Tuan muda, aku ini Bimo, pengawalmu yang pernah melindungimu," kata Bimo dengan sinis. Pemuda didepan Bimo ini adalah Yudhistira. Wajah Yudhistira penuh dengan kejutan. Ia bertanya dengan heran, "Oh, ternyata Bimo. Bagaimana bisa kau ada disini? Dan juga, sepertinya kau akhir-akhir ini gemukan? Bukannya kau sudah tak punya uang lagi dan tak punya pekerjaan, bagaiamana bisa kau gemuk seperti ini?" Sambil mengatakan hal tersebut, Yudhistira menyentuh tubuh Bimo. Karena dalam keadaan mabuk, Yudhistira tak sepenuhnya sadar dan mengabaikan tubuh Bimo yang besar dan tinggi. "Yah, kau akan menemukan jawabannya nanti." Setelah mengatakan itu, Bimo langsung memukul tengkuk Yudhistira dan membuatnya pingsan. Meski tubuhnya besar, jendela di bar itu juga besar. Jadi ia dengan mudah dan cepat bisa membawa Yudhistira keluar dari bar tersebut. Namun, Bimo tak tahu bahwa wanita cantik yang ada di toilet melihatnya menculik Yudhistira. ..... Bimo dengan cepat membawa Yudhistira ke gubuk tua, tapi ia tak menemukan Pria Langsing di dalam gubuk tersebut. "Kemana lagi dia ini? Selalu saja menghilang saat sedang bertugas." Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya. ..... Sementara itu, di sebuah toko, Pria Langsing sedang berbicara dengan seorang gadis polos berambut pirang. "Jadi Nona, bolehkah aku tahu siapa namamu?" tanya Pria Langsing dengan lembut. 54 Bab 54 : Rasa Ingin Melindungi Ketika Bimo sedang menangkap Yudhistira, Pria Langsing masih sibuk mencari gadis di kota Banukarta. Dengan wajah tampannya, ia dengan mudah memikat seorang gadis. Setiap gerakannya diperhatikan oleh banyak gadis saat ia berjalan-jalan di kota Banukarta. Ia telah berbincang dengan berbagai gadis ketika berjalan-jalan. Setelah lebih dari satu jam, ia kembali berjalan-jalan bebas sendirian di jalanan kota Banukarta. Saat ia sedang berjalan santai melihat-lihat isi kota, ia melihat mobil yang di dalamnya ada seorang gadis berambut pirang dengan tampilan polos. Matanya yang sebiru langit dan tatapannya yang murni membuat hati Pria Langsing bergetar. Mata Pria Langsing langsung berbinar. Dengan tatapan tertarik dia bergumam, "Sangat jarang bisa menemukan wanita yang polos dan murni sepertinya." Meskipun mobil itu melaju dengan cepat, tetapi mata Pria Langsing bisa melihat dengan jelas. Ini adalah salah satu kemampuannya. Ia kemudian memainkan ponselnya, dengan cepat ia membuka browsernya. Hanya dalam dua menit, ia menemukan kemana mobil itu akan pergi. Ia mengikuti jalan munuju pemberhentian dari mobil yang ditumpangi gadis itu dengan santai. Setelah lebih dari selusin menit berjalan, ia menemukan mobil yang ditumpangi oleh gadis polos berambut pirang. Ia melihat gadis itu sedang kebingungan memilih buku. Ia tersenyum dan masuk ke toko buku. .... Bella terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Daniel. Ia masih syok ketika mengingat Daniel membunuh orang demi menyelamatkannya. Dua kali ia melihat seseorang terbunuh di depan matanya. Pertama adalah saat Daniel memecahkan kepala seorang penculik yang mencoba menculiknya. Yang kedua adalah seorang pria serba hitam yang mencoba membunuhnya, namun Daniel menjadi perisai untuk melindunginya dari tembakan peluru. Daniel membunuh pria serba hitam itu dengan sangat brutal. Ini adalah pertama kalinya ia melihat langsung adegan pembunuhan nyata. Meskipun ia terlihat baik-baik saja saat pertarungan Daniel melawan para penculik, tapi setelah mengingat lagi kejadian itu, ia menjadi sangat ketakutan dengan apa yang dilakukan Daniel. Dan juga, kekuatan Daniel juga membuatnya takut. Bagaimana bisa manusia biasa bisa selamat dari tembakan peluru yang sangat laju? Dan lagi, itu adalah dua peluru senjata api. Ditambah dengan kekuatan tangannya yang kuat sampai-sampai kepala manusia pecah hingga seluruh isi kepala berhamburan. Selain itu, Bryan juga menyarankan Bella untuk tidak terlalu dekat dengan Daniel karena kekuatan Daniel yang begitu misterius. Hingga saat ini, Bryan masih belum menemukan mengapa Daniel memiliki kekuatan seperti itu. Namun, hasil lain yang ditemukannya adalah Daniel, anak muda ini adalah bos perusahaan Sky Technology yang membuat berbagai organisasi Dunia heboh dengan aplikasi asisten pintarnya yang melebihi Google Assisstant. Penemuannya ini membuatnya semakin tak ingin putri kesayangannya terlalu dekat dengan Daniel meskipun Daniel telah menyelamatkan putrinya. Dua kejadian itu membuatnya semakin takut. Meskipun ia takut, ada bagian dalam dirinya yang ikut bahagia karena Daniel membunuh orang lain demi menyalamatkan dirinya. Meskipun rasa kebahagian itu tertumpuk oleh rasa takutnya, perlahan-lahan itu terbuka, tapi ia tak sadar akan hal itu. Hari ini, dia mengunjungi toko buku untuk membeli sesuatu hal yang bersangkutan dengan memgatasi rasa takutnya. Sebelumnya, ia mencari di internet tentang mengenai rasa takut dan ia menemukan bahwa itu mengarah pada ilmu psikologi. Dia dengan bingung mencari buku-buku mengenai pengendalian rasa takut, tapi masih belum menemukannya juga. Ketika dia dengan bingung mencari buku, ia tak sengaja menabrak seseorang. Orang yang ditabraknya adalah seorang pemuda yang terlihat cantik seperti seorang wanita. Dengan cepat, ia mengulurkan tangannya pada Pemuda tersebut. Pemuda tersebut mengambil tangan Bella sambil tersenyum. Bella dengan cepat berkata, "Aku minta maaf. Apa kamu baik-baik saja?" Pemuda tersebut tersenyum, ia melepaskan tangan Bella dan berkata, "Aku tidak apa-apa. Apa yang membuatmu begitu bingung?" "Umm, aku sedang mencari buku psikologi yang bersangkutan dengan emosi rasa takut, tapi nggak ketemu dari tadi," kata Bella dengan penuh kebingungan. "Oh, ternyata itu." Pemuda itu pergi mencari buku pada rak psikologi dan mengambil sebuah buku. Kemudian, ia menyerahkan buku itu pada Bella. "Ini bukunya, ada yang menjelaskan rasa takut di sana," ujar pemuda itu setelah menyerahkan buku pada Bella. Mata Bella cerah melihat ini. Ia tersenyum cerah dan berkata, "Terima kasih banyak." Pemuda itu tersenyum. Ia melambaikan tangannya, "Bukan apa-apa. Tapi, mengapa kamu mencari buku mengenai rasa takut? Apakah kamu fobia terhadap suatu hal?" "Ini...." Bella ragu-ragu untuk menjelaskannya. Ia berpikir, bagaimana bisa ia menjelaskan bahwa Daniel adalah pembunuh di depan Pemuda yang baru saja yang ia temui? Bahkan jika itu adalah seseorang yang ia kenal dekat pun, ia tak akan menceritakan hal tersebut. Setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya ia pun mendapat cara untuk menjelaskan alasan ia mencari buku psikologis. "Sebenarnya aku mencari buku ini karena aku takut sama seseorang. Dia dekat sih sama aku, tapi sejak terakhir kali dia secara brutal memukul orang yang jahat padaku, aku jadi takut padanya. Ketika melihatnya, aku jadi teringat kejadian itu. Aku juga jadi jarang mengobrol dengannya," kata Bella menjelaskan alasannya. Pemuda itu tersenyum. Ia kemudian berkata, "Kamu seharusnya tak begitu. Kamu tau, dia akan sakit hati jika kamu terus memperlakukannya seperti itu. Dia berani memukul orang lain demi dirimu, dia juga pasti sudah tau resikonya jika dia memukul orang lain secara brutal. Saat ini dia pasti bingung karena kamu jarang mengobrol dengannya. Apakah kamu ingin terus memperlakukannya seperti ini?" "Aku...." Bella menundukan kepalanya dengan sedih. "Kamu tahu mengapa dia menghajar orang jahat itu secara brutal?" tanya pemuda itu. "Dia bilang kalau aku penting baginya...." jawab Bella dengan kepala tertunduk. "Apakah dia terluka parah setelah kejadian itu?" tanya pemuda itu lagi. "Dia ... dia terluka parah. Tapi...." Bella masih menjawab dengan kepala tertunduk. "Dia bilang kalau dia baik-baik saja, ''kan?" "Itu benar..." jawab Bella dengan nada sedih. "Itu berarti dia tak ingin membuatmu khawatir tentang lukanya," kata pemuda itu. Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah sedih. "Lalu, bagaimana reaksinya jika dia mengetahui kalau kamu takut padanya?" lanjut pemuda itu. "Itu...." Bella tak menjawabnya. Setelah mendengar pertanyaan dari pemuda itu, akhirnya Bella menyadari sepenuhnya, air matanya sudah hampir mengalir di sudut matanya. Alasan dia takut pada Daniel terlalu konyol menurutnya. Jika saja Daniel mengetahui ini, apakah Daniel benar-benar akan membencinya? Bagaimana caranya untuk meminta maaf pada Daniel tentang masalah ini? Saat Bella memikirkan hal itu, pemuda itu menepuk bahunya. Hal ini membuatnya terkejut dan mundur selangkah. Pemuda itu tersenyum malu. Ia berkata, "Maaf karena telah berani-beraninya menyentuhmu." Pemuda itu berpose meminta maaf. Kemudian ia melanjutkan, "Tak terlambat untuk meminta maaf padanya. Jika ia memang mengatakan hal tersebut, ia tak akan marah padamu. Tetapi, jika kamu terus takut dan tidak meminta maaf, orang yang benar-benar berharga di hatimu akan menjauh dan hilang. Kamu benar-benar akan kehilangan seseorang yang berharga. Kamu akan menyesalinya." Setelah mengatakan apa yang pemuda itu katakan, air mata mulai mengalir di matanya. Bella benar-benar tersentuh dengan apa yang dikatakan oleh pemuda yang ada di depannya ini. "Terima kasih atas nasehatmu. Aku akan mengingatnya. Terima kasih banyak." Setelah mengatakan itu, Bella meninggalkan tempat untuk mengunjungi kasir. "Nona, bolehkah aku tahu siapa namamu? Namaku adalah Rio," kata Rio dengan sedikit berteriak. "Namaku adalah Bella. Sampai jumpa, Rio!" Bella kemudian dengan cepat membayar dan kembali ke mobilnya. Ia dengan semangat pulang ke rumah. Melihat Bella pulang dengan semangat, Rio tersenyum. "Gadis ini ... dia benar-benar gadis yang murni. Sepertinya aku harus menyelidiki latar belakangnya. Entah kenapa, ada rasa ingin melindungi gadis ini," gumam Rio. Setelah menghela napas panjang, ia melihat jam di ponselnya. "Sepertinya Bimo sudah kembali. Yah, saatnya ke titik pertemuan. Aku penasaran dengan orang yang dibawa oleh Bimo." Setelah mengatakan itu, Rio dengan cepat menghilang dari toko buku tersebut. 55 Bab 55 : Salah Siapa? Sudah lama Bimo menunggu, namun Pria Langsing belum juga menunjukan batang hidungnya. Dia dengan sabar menunggu sambil memperhatikan keadaan Yudhistira. Meski ia tahu bahwa Yudhistira tak bersalah mengenai pembantaian yang terjadi pada keluarganya, tetap saja ia memiliki dendam pada keluarga Yudhistira. Ini adalah alasannya untuk membawa Yudhistira ke markas untuk melakukan eksperimen pada tubuhnya. Ini juga merupakan kesempatan kedua yang diberikan oleh Bimo kepada Yudhistira untuk merubah dirinya. Jika Yudhistira berhasil, maka ia masih bisa melanjutkan hidupnya. Sebaliknya, jika dia gagal bereksperimen pada tubuhnya, maka itu adalah takdirnya untuk segera meninggalkan dunia ini. Setelah banyak merenungi perilakunya di masa lalu, Bimo menyadari bahwa sifat Yudhistira ini karena dimanja dan juga kurang hadirnya orang tua dalam mendidik seorang anak. Yudhistira pernah berkata pada Bimo kalau ia melakukan semua kenakalannya karena ingin diperhatikan oleh kedua orang tuanya, namun kedua orang tuanya selalu saja sibuk. Untuk Arjuna, dia sibuk dalam mengurus bisnis dan juga bermain dengan perempuan sehingga waktu untuk Yudhistira sangat minim. Untuk Kirana, dia selalu berpergian ke luar negeri untuk mengurus bisnis yang dirintisnya sendiri. Tapi, bukannya menyemangati anaknya, mereka hanya menambah beban pada Yudhistira dengan menyuruhnya belajar semua mata pelajaran di sekolah dengan sangat giat dan melatih basket hingga Yudhistira hebat dalam bermain basket. Ibunya memanjakan Yudhistira dengan semua hal yang Yudhistira inginkan, baik itu barang maupun hal lainnya. Sifat Yudhistira ini terjadi karena dia adalah korban dari kurang hadirnya orabg tua dalam mendidik anaknya. Memikirkan bagaimana keadaan Yudhistira di masa lalu, Bimo menjadi sedih. Selagi ia memikirkan itu, suara rumput terinjak terdengar di telinga Bimo. Ia dengan cepat mengalihkan perhatiannya ke luar rimah. Wajah waspada Bimo berubah menjadi pura-pura kesal. Ia berkata, "Akhirnya kamu kembali juga. Cepat bawa anak ini ke markas, aku tak ingin melihatnya lebih lama. Wajahnya membuatku muak." "Haha, baiklah orang besar tsundere, aku akan membawanya sekarang juga. Semoga balas dendammu berhasil," ucap Pria Langsing dengan tersenyum. Pria Langsing kemudian membawa Yudhistira di punggungnya, ia kemudian berkata, "Aku akan membawanya sekarang. Cepatlah kembali, misi selanjutnya akan diberikan lusa." Setelah itu, ia menjauh dari gubuk tua itu. Tapi, setelah beberapa meter menjauh, ia menoleh ke belakang dan berkata, "Mulai saat ini, panggil aku Rio." Dia kemudian pergi keluar kota Banukarta melewati hutan yang mulai gelap. Bimo dengan wajah bingung melihat punggung Rio yang perlahan menhilang di hutan. Ia tak menyangka bahwa pria langsing yang sering bersamanya di markas akhirnya memberi tahunya tentang namanya. Selain itu, ia juga merasakan aura pembunuhan yang disembunyikan oleh Rio semakin berkurang. Dengan tersenyum ia berkata, "Aku tak tahu kejadian apa yang membuatnya berubah seperti ini. Aku juga tak tau apakah keterampilan menyembunyikan auranya yang meningkat atau aura pembunuhannya menurun. Aku berdoa semoga dia berubah ke arah yang lebih baik lagi." Ia kemudian menatap ke arah kota, "Biarkanlah malam ini kalian berdua beristirahat. Keesokan harinya, aku akan membuat kalian menyesal telah dilahirkan di dunia ini." Ia menatap ke arah kota dengan wajah dingin. .... Keesokan harinya, Arjuna bangun dengan wajah lesu. Pada tengah malam, pengawal yang bersama Yudhistira mengatakan bahwa kemarin Yudhistira menghilang. Ia awalnya mengira bahwa Yudhistira hanya bermain dengan wanita di hotel, tapi ternyata dugaannya salah. Ia telah menyuruh pengawalnya untuk memeriksa di setiap hotel kota Banukarta, namun tak menghasilkan informasi yang berguna. Ia kemudian memeriksa bar yang terakhir dikunjungi Yudhistira, dan menemukan sedikit petunjuk. Yudhistira terlihat kemarin di bar sedang berpesta bersama temannya. Setelah ditanyai tentang Yudhistira, mereka mengatakan bahwa setelah Yudhistira meminum banyak anggur merah, dia keluar menuju ke toilet. Namun, setelah keluar lama, Yudhistira tak kunjung kembali. Mereka semua juga mengira bahwa Yudhistira bersama dengan perempuan lain untuk menyewa kamar di hotel, karena itu mereka tak khawatir sedikitpun karena Yudhistira sering melakukan hal ini. Selain itu, semua pengunjung bar tersebut ditanyai oleh pengawal keluarga Wirawan dan juga karyawan Bar. Namun, tak mendapatkan petunjuk mengenai Yudhistira. Ini menyebabkan Arjuna menjadi lesu. Meskipun ia tak memperhatikan anaknya, tapi itu tetaplah darah dagingnya bersama dengan Kirana. Malam itu juga ia langsung mengabari Kirana bahwa Yudhistira hilang. Mendengar kabar tersebut, Kirana dengan cepat membeli tiket pesawat ke kota Banukarta. Untung saja ia hanya di Surabaya, jadi itu tak jauh dari Banukarta. Arjuna duduk termenung di kursinya memikirkan bagaimana nasib anaknya. Ia tahu bahwa ia memiliki banyak musuh bisnis. Ia tahu bahwa jika ia ingin anaknya dilepaskan, mereka akan langsung menghubunginya untuk membayar tebusannya. Namun, hilangnya Yudhistira ini tak ada kabar apapun dari musuh bisnisnya. Kemudian, seseorang terlintas dalam pikirannya. Orang yang membuat anaknya hilang adalah Bimo. Namun, setelah berpikir ulang lagi, Arjuna menghilangkan pikiran itu. Bimo sudah mati, bagaimana bisa dia menculik Yudhistira? Tak ada keajaiban di dunia ini yang bisa menghidupkan orang yang telah mati. Jika itu ada, aku akan memborong itu semua. Begitu pikir Arjuna. Ketika Arjuna masih sibuk memikirkan siapa pelakunya, suara mobil terdengar. Seorang wanita cantik keluar dari mobil dengan panik. Wanita cantik ini langsung membuka pintu tanpa permisi, ia juga berlari dengan cepat menuju Arjuna yang sedang duduk di sofa ruang keluarga. "Sayang, apakah ada kabar terbaru mengenai Yudhistira?" tanya wanita itu dengan nada yang panik. Arjuna mendongak, ia melihat bahwa wanita ini adalah istrinya. Dengan suara lesu dia menjawab, "Oh, Kirana. Masih belum ada kabar lebih lanjut mengenai Yudhistira." "Kau ini! Sebagai seorang Ayah, tak bisakah kau menjaganya dengan baik? Bagaimanapun juga, dia adalah anak kita satu-satunya!" dengan kesal, Kirana mengatakan hal itu. Mendengar apa yang dikatakan oleh Kirana, emosi Arjuna tersulut. Ia dengan kasar berkata, "Dasar wanita jalang! Kau sebagai Ibu juga tak becus mengurus anak. Kau malah bermain dengan berondongmu yang ada dimana-mana itu! Sedari Yudhistira kecil, kau tidak memperhatikannya dan lebih memilih untuk bermain dengan para gigolo!" "Kau, kau, kau! Berani-beraninya kau menuduhku seperti itu! Bukankah kau yang benar-benar melakukan hal itu, bermain dengan berbagai wanita saat aku tak ada di rumah? Aku menitipkannya padamu untuk kau mengurusnya sementara aku akan mencari uang untuk kelak dia di masa depan. Tapi, kau malah mengbaikannya!" dengan penuh air mata Kirana mengatakan hal itu. "Kau! Seharusnya kau percaya padaku dalam mencari nafkah! Bukannya mengurus anak dan rumah, kau malah kesana kemari mencari uang seolah-olah kau tak mempunya suami!" Setelah mengatakan itu, Arjuna menampar wajah Kirana dengan keras. Kirana memegangi pipinya, ia menundukan kepalanya. Dengan suara terisak ia berkata, "Kau laki-laki bajingan! Aku melakukan semua ini untuk mengurangi bebanmu, dan lagi bisnis yang kau jalani saat ini adalah bisnis ilegal yang bisa membuatmu tertangkap kapan saja. Kau ... benar-benar laki-laki dan suami yang sangat buruk!" Arjuna kembali menampar wajah Kirana tanpa menjawab lagi apa yang dikatakan oleh Kirana. Dia dengan penuh amarah berteriak, "Pengawal, usir wanita ini!" Kirana menatap Arjuna dengan mata penuh amarah, ia dengan suara dingin berkata, "Berani-beraninya kau! Aku ini istrimu!" Dengan wajah menghina dan tatapan menjijikan yang ditujukan pada Kirana, ia berkata, "Huh? Istriku? Mulai saat ini, kau bukan lagi istriku!" Kirana membeku, ia tak menyangka bahwa Arjuna akan mengatakan hal ini. Ia menatap Arjuna dengan penuh kekecewaan. "Baiklah! Aku juga sudah memikirkan ini sejak lama. Aku bertahan padamu hanya karena aku tak ingin Yudhistira mempunyai orang tua yang sudah bercerai. Tapi, pada akhirnya aku tak tahan lagi. Jika sejak dulu aku memutuskan hal ini, aku tak akan melihat Yudhistira yang seperti sekarang!" ucap Kirana dengan penuh kekecewaan. "Tak perlu kau mengusirku, aku akan pergi dari rumah ini. Selain itu, aku akan mengurus surat cerai. Untuk harta, aku tak membutuhkannya karena aku mempunyai hartaku sendiri," lanjutnya. Setelah mengatakan itu, dia pergi dari vila Arjuna sambil menyentuh pipinya yang bengkak. "Wanita sialan! Akan kubunuh kau nanti!" ucap Arjuna sembari menatap punggung Kirana. .... Satu jam lamanya telah berlalu sejak kepergian Kirana, Arjuna telah memerintahkan seluruh pengawalnya untuk mencari informasi mengenai Yudhistira. Ia juga telah melaporkan ke polisi, namun untuk pelaporan orang hilang harus menunggu 2x24 jam1. "Sial! Kemana anak gila itu pergi? Menambah bebanku saja!" Arjuan menggerutu penuh kekesalan. Meski menggerutu seperti itu, ia tetap khawatir dengan keadaan Yudhistira Namun, baru saja ia selesai mengatakan kekesalannya, keributan dari luar vila terdengar keras. Arjuna terkejut mendengar suara ini. "Siapa yang buat keributan pagi-pagi begini?" Dengan penuh kekesalan, Arjuna berjalan keluar dari vilanya. Namun, baru saja melangkahkan kaki, seseorang bertubuh besar dengan pakaian serba hitam muncul di depannya. "Akhirnya aku bisa membalaskan dendamku padamu. Kau yang membunuh istri dan anak-anakku dengan kejamnya. Kau juga sudah membuatku hampir mati dan mempermalukanku." Arjuna penuh dengan ketakutan menatap pria besar di depannya. Ia tak menyangka, bahwa apa yang dipirkannya benar-benar terjadi. Bimo, yang telah ia siksa sampai sekarat kini hidup kembali dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. "Bimo....?" Bimo menatapnya dengan kejam, tubuhnya bergetar. Dengan suara kegembiraan, dia berkata, "Ya, ini adalah aku." 56 Hiatus @@ Halo semuanya, saya Dony Aulia atau bisa dipanggil Alienaru. Seperti judulnya, saya mengumumkan untuk hiatus selama satu hingga dua pekan. Saya hiatus untuk meninjau kembali cerita ini dari awal. Ingin memperbaiki beberapa bagian yang memiliki plot hole. Tentu saja ini akan memakan waktu lama, jadi saya akan memperbaiki secara bertahap. Selain itu, saya mau membuat kerangka cerita ini lebih matang lagi. Sejujurnya, dari bab 1-55 saya tidak membuat kerangka cerita, jadi agak susah untuk menulisnya karena memang tidak ada kerangka. Maka dari itu, saya ingin menulis ulang kerangka dari bab 1 hingga cerita ini tamat, sekaligus memperbaiki bagian cerita yang salah. Intinya adalah, saya ingin memperbaiki cerita ini supaya lebih dinikmati kalian. Oleh sebab itu, saya butuh semangat dan dukungan kalian. Terima kasih~@@ 57 Bab 56 : Pembalasan Dendam Mendengar jawaban Bimo, Arjuna sangat terkejut. Butiran keringat dingin muncul di dahinya. "A-apa yang kau inginkan dariku?" tanyanya dengan gugup. "Bukannya tadi sudah kubilang kalau aku kesini untuk membalaskan dendamku kepadamu karena kau telah membantai istri dan anak-anakku!" kata Bimo dengan suara penuh amarah. "Mem-membantai? A-aku benar-benar-" Belum selesai Arjuna berbicara, Bimo langsung memukul tubuh Arjuna dengan keras. "Ack!" Suara nyaring Arjuna kesakitan karena pukulan Bimo. Akibat dari pukulan Bimo, Arjuna terpental beberapa meter dan ia dihentikan oleh tembok rumahnya. Selain memuntahkan darah, punggungnya pun berdarah akibat dampak dari hantaman tembok dan juga pukulan Bimo. Tembok di rumahnya pun menjadi retak layaknya jaring laba-laba. Jika saja tembok itu tidak tebal, maka Arjuna sudah menembus tembok itu. "Hm?" Bimo mengerutkan alisnya setelah mengetahui bahwa Arjuna masih bisa bernapas. Namun, setelah beberapa saat, ia kemvalu tersenyum. Ia melangkah mendekati Arjuna yang dalam posisi telungkup. Dengan kasar dia mengangkat tubuh Arjuna seperti ia mengangkat tubuh boneka yang sudah rusak. "Aku ingin jawaban jujur darimu. Katakanlah, kenapa kau membantai keluargaku?" tanya Bimo dengan nada asuara yang berat. "A-aku ... a-aku ..." Arjuna ingin mengatakan faktanya, namun akibat dari dampak pukulan tadi membuatnya terengah-engah hanya untuk berbicara. "Aku apa? Katakan dengan jelas!" Bimo membentak Arjuna dengan suara keras tepat di depan wajah Aruna yang penuh kesakitan. "A-aku tak mem-membantai-" Bimo langsung menampar wajah Arjuna dengan tangan yang lain. Dengan nada yang sangat marah, ia bertanya lagi, "Kutanya sekali lagi. KENAPA KAU MEMBANTAI KELUARGAKU? KENAPA?!" Suasana hening sebentar setelah Bimo melayangkan pertanyaannya. Setelah mengumpulkan tenaganya untuk bicara, Arjuna berkata, "A-aku tidak me-melakukan hal tersebut. Uh, a-aku juga ti-tidak tau mengenai hal itu. Aku-" Sekali lagi Bimo menanpar wajah Arjuna di bagian pipi yang lain. Wajah Arjuna hampir hancur. Wajah yang dulunya tampan kini bengkak seperti wajah babi. "A-aku-" Bimo menampar wajah Arjuna lagi. Setelah Bimo menampar Arjuna, dia diam dan menatap Arjuna menunggu jawaban darinya. Namun, setelah beberapa saat ia menunggu, Arjuna pun tak kunjung menjawab. "Sepertinya kau butuh sesuatu yang menstimulasimu untuk menjawab pertanyaanku," kata Bimo dengan senyum sadisnya. Arjuna hanya menatap Bimo dengan wajahnya yang sudah bengkak. Air matanya tak berhenti mengalir, darah dari hidung dan mulutnya sudah mengotori wajah bagian bawahnya. Arjuna sangat ingin berbicara, tapi mulutnya tak bisa lagi bergerak. Begitu juga suaranya, tak bisa keluar dan hanya tersangkut ditenggorokan. Luka di organ bagian dalamnya semakin parah. Hanya menunggu waktu untuknya mati, tetapi entah mengapa, Arjuna merasakan malaikat maut bermain-main dengannya. Sebelum melanjutkan aksinya, Bimo menatap wajah Arjuna yang penuh penderitaan. Tetapi, bukannya sedih atau kasihan, ia malah bahagia. Ini adalah apa yang aku inginkan, yang aku inginkan adalah meihatnya menderita. Sangat menderita hingga dia berharap untuk mati. Begitu pikir Bimo setelah melihat wajah penderitaan Arjuna. "Mari kita mulai," ucap Bimo. Mendengar Bimo mengatakan hal itu, Arjuna menatap Bimo dengan enggan. Ia mengelengkan kepalanya dengan pelan, namun Bimo tak memperdulikannya. Menurut Bimo, bahkan jika Arjuna menggelengkan kepalaya sampai patah pun, ia tak peduli. Malah, itu akan lebih membantunya untuk membut Arjuna tersiksa. Bimo mengambil tangan Arjuna kemudian memegang jarinya. Dengan santainya dia mematahkan jari Arjuna. Karena stimulasi dari rasa sakit, Arjuna mengerang kesakitan dengan sangat keras. Ia menatap Bimo dengan mata berair untuk meminta Bimo berbelas kasih padanya. Namun, itu malah membuat Bimo terpicu untuk membuatnya tersiksa. "Masih tak mau berbicara?" tanya Bimo. "Bu-bukan aku yang melakukan itu," jawab arjuna dengan suara sangat parau. Meskipun dia sudah mengetahui bahwa jika dia menjawab seperti itu dia akan disiksa, dia tetap mengungkapkan kejujurannya. Bimo tak tahu apa yang dipikirkan Arjuna, ia terus melanjutkan penyiksaan pada Arjuna sampai dia benar-benar mengakui kalau dirinya yang membunuh keluarga Bimo. .... Kini, semua bagian tubuh Arjuna terluka parah. Semua jari di tangan dan kakinya semuanya patah dan hancur karena siksaan Bimo. Begitu juga lengan, bahu, lutut, paha, tulang kering, semua dipatahkan oleh Bimo. Selain itu, seluruh tubuhnya berdarah. Namun, ia masih bisa bernapas. Arjuna tak bisa bergerak lagi. Dengan satu mata yang tersisa, ia menatap Bimo dengan tatapan kosong, tatapan yang tidak lagi mengandung harapan untuk hidup. Saat ini, dalam pikirannya hanyalah menginginkan kematian. Di sisi lain, wajah Bimo menunjukan ekspresi buruk. Ia terus bertanya pada Arjuna tentang pembantaian keluarganya dan jawaban Arjuna selalu sama, bahkan setelah seluruh tubuhnya rusak jawabannya masih tetap sama, yaitu "Bukan aku yang melakukan itu." Apakah benar yang dikatakan olehnya kalau dia bukanlah pelaku tersebut? Mengapa ada tulisan tangan dari Arjuna? Berbagai kemungkinan terlintas di dalam pikiran Bimo. "Jangan bilang, anak itu yang melakukan semua ini?" gumam Bimo memikirkan kemungkinan ini. Karena dalam keputusasaan, pikirannya mengarahkan bahwa pelaku yang membantai keluarganya adalah anak itu. "Akan kubunuh kau!" teriak Bimo dengan putus asa. Tanpa mempedulikan kehidupan ataupun kematian Arjuna, Bimo meninggalkannya terbaring di rumahnya. .... Bimo sudah jauh meninggalkan villa Arjuna. Selama diperjalanan, dia merenungkan kesalahpahamannya pada Arjuna, yang dia anggap sebagai pelaku yang membantai istri dan anak-anaknya. Sambil berlari, ia menatap langit biru yang dihiasi oleh awan putih yang sangat cerah. Saat memandangi langit, Bimo memikirkan bagaimana ia membalas dendam kepada pelaku yang sebenarnya. Tanpa ia sadari, ia telah sampai di sebuah gedung sekolah bertuliskan "SMK Negeri Sinar Abadi" .... Bimo menunggu dengan sabar. Ia menunggu dalam kegelapan di sebuah gang yang sepi. Ia terus memperhatkan gerbang sekolah sampai bel pulang berbunyi. Beberapa jam kemudian, bel ulang pun berdering. Banyak siswa SMK keluar dari sekolah menuju rumah masing-masing ataupun pergi nongkrong ke suatu tempat. Ia memperhatikan setiap murid laki-laki yang keluar dari gerbang sekolah, tapi ia tak melihat pemuda yang ia cari. Matanya memerah menunggu kehadiran pemuda itu. Ia telah menunggu beberapa jam dengan sabar, tapi karena stimulasi dari bel sekolah, ia menjadi tak sabaran untuk membalas dendam kepada pemuda itu. Kemudian seorang pemuda berlari dengan terburu-buru menuju pinggiran kota. Melihat itu, Bimo tersenyum gembira. Ia merasakan darah di dalam tubuhnya mendidih karena semangat untuk membalaskan dendamnya. Ia mengikuti pemuda itu di balik bayang. Semakin jauh dia mengikuti anak itu, semakin tak sabar ia ingin memukul anak tersebut. Akhirnya, sampai pada suatu jalan yang sangat sepi, saat pemuda itu akan melewati sebuah mobil, Bimo langsung menyerang pemuda itu tanpa sepatah katapun. Sayangnya, pukulannya itu berhasil dihindari pemuda itu dengan berguling ke arah depan. Meskipun begitu, Bimo tak kesal sedikit pun. Semakin lama targetnya bertahan hidup, semakin lama juga ia bisa menyiksanya. Ia menatap pemuda itu dengan seringai, sedangkan pemuda itu menatapnya dengan waspada sambil menggumamkan sesuatu. "Akhirnya, akhirnya, akhirnya, akhirnya, akhirnya nyahaha, balas dendamku, balas dendamku, balas dendamku, balas dendamku akhirnya bisa kulakukan juga, Aku, aku, aku, aku, aku sudah menantikan ini sejak lama. Sejak kau membuatku patah tulang dan juga telah membantai keluargaku!" Bimo mengatakan itu dengan tawa keras yang menyeramkan. Pemuda itu terlihat bingung menatap Bimo yang ingin membalas dendam padanya. Namun ia tetap bersikap waspada meskipun ia tak paham apa yang dimaksud oleh Bimo. Pemuda itu melemparkan tasnya kemudian memasang kuda-kuda tanda siap bertarung dengan Bimo. Bimo juga bersiap-siap. Setelah beberapa saat, ia kemudian melesat maju dan berteriak nyaring. "Matilah kau, Daniel!" 58 Bab 57 : Daniel vs Bimo Daniel dengan bingung menatap orang misterius di depannya yang mengatakan kepadanya bahwa ia ingin membalas dendam. Selama ini, ia dengan hati-hati dalam bertindak untuk tak menimbulkan masalah apapun selain pada Yudhistira dan beberapa orang asing. Tapi pria di depannya saat ini mengatakan bahwa ia ingin balas dendam kepadanya. "Siapa sebenarnya orang ini?" pikirnya. Berbagai jawaban muncul di kepalanya. Namun, ia tak menemukan satupun yang cocok dengan ciri-ciri orang yang ada di depannya. "Apakah...." Baru saja ia ingin mengumamkan nama seseorang- "Matilah kau, Daniel!" Teriakan dari pria itu membangunkan Daniel dari pikirannya. Ia melihat orang itu melesat ke arahnya dengan sebuah kepalan tangan besar. Dengan kecepatan itu, Daniel dengan buru-buru menyingkir ke samping. Tak berhenti disitu, setelah Daniel berhasil menghindari pukulannya, pria itu kembali mengirim pukulan lain ke arah dadanya. Daniel menggeser kakinya untuk menghindari pukulan pria itu, tapi pria itu melesatkan tendangan berputar dengan cepat setelah mengetahui pukulannya dihindari. Tendangan itu mengenai perut Daniel. Daniel tak bisa menghindari kecepatan serangan dari pria itu. Ia terpental beberapa meter akibat tendangan itu dan terhenti karena menabrak tembok. Tak sampai di situ, pria itu dengan cepat melesat ke arah Daniel kemudian melancarkan tinjuannya. Untung saja pada detik terkahir Daniel bisa berguling ke samping menghindari pukulan pria itu. "Tak kusangka kau masih bisa mengindari seranganku meski sudah terkena tendanganku," ucap pria itu setelah dia menarik tangannya dari reruntuhan tembok karena dampak dari pukulannya yang meneyebabkan tembok itu hancur. Daniel tak menjawab apapun yang pria itu katakan karena ia sangat waspada dengan serangan mendadaknya. "Apa kau masih tak mau mengakui bahwa kau yang membantai keluargaku?" tanya Bimo sambil bersiap-siap menyerang. "Sudah kubilang-" Tak sempat menyelesaikan kalimatnya, Daniel mendapati pria itu sudah bergerak dengan cepat kearahnya dengan sebuah pukulan. Kali ini pria itu menggunakan tinjuan lurus ke arah Daniel. Dia dengan mudah menepis pukulan dari pria itu dan melancarkan serangan balik dengan serangan uppercut. Pria itu tak menyangka akan mendapat serangan balasan dengan cara seperti ini. Ia dengan mencoba mundur tapi terlambat sehingga pukulan uppercut Daniel menyerempet dagu pria itu yang menyebabkan dia mundur beberapa langkah. Daniel tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia langsung maju dengan cepat dengan menendang menggunakan teknik tendangan berputar dengan kaki kirinya sebagai kaki penyerang. Karena dampak dari uppercut Daniel, pria itu sedikit kehilangan pijakannya sehingga ia sempat lengah bebeberapa saat sampai sebuah tendangan mengarah pada kepalanya. Ia berusaha secepat mungkin melindungi kepalanya dengan tangan kirinya. Pria itu berhasil menahan tendangan Daniel dengan tangan kirinya sebagai penghalang, tapi Daniel melancarkan tendangan susulan dengan kaki kananya. Meski tetap mengenai tangan kiri pria itu, tendangan susulan ini memberikan dampak pada pria itu. Pria itu merasakan sedikit mati rasa pada tangannya dan juga ia bergeser puluhan centi meter dari posisi awalnya akibat tendangan Daniel. Daniel mendarat dengan tangan kirinya, lalu mengambil langkah mundur untuk memperlebar jaraknya dengan pria itu. ''Pertahanan pria ini sangat kuat. Tubuhnya tidak seperti manusia biasa...'' Sambil memikirkan itu, dia menganalisis kekuatan musuhnya. Tapi saat Daniel melakukan itu, pria itu meregangkan tangan kirinya untuk mengusir rasa sakit. "Tak kusangka kau bisa membuat tanganku mati rasa," kata pria itu dengan suara ketertarikan. "Ayo bertarung lagi. Aku lebih suka bertarung seperti ini daripada hanya menyiksa satu sisi!" lanjutnya dengan bergerak cepat ke arah Daniel. Daniel juga tak tinggal diam. Ia juga berlari ke arah pria itu dengan memfokuskan kekuatannya pada tangan kanan. Pria itu juga melakukan hal sama. Kedua lengannya mengembung menandakan banyak kekuatan difokuskan pada otot-ototnya. Kedua tangan mereka saling bertabrakan. Efek dari tubrukan kedua tangan itu menyebabkan gelombang udara yang lumayan kencang. Meski sempat hening dalam sekejap, Pria itu mengayunkan pukulan dengan tangan yang lain mengarah pada perut Daniel. Tetapi, hal itu dengan cepat direspon oleh Daniel. Ia mundur sebentar, lalu maju lagi melayangkan tendangan dengan kaki kiri pada perut pria itu. Pria itu mundur menghindari tendangan Daniel. Karena konfrontasi dengan pukulan Daniel tadi, ia mengetahui level kekuatan Daniel. Daniel juga tak memaksakan diri untuk kembali menyerang dan sekali lagi ia memperlebar jarak meraka. Keduanya saling menatap satu sama lain. Belasan detik mereka saling menatap, kemudian bergerak lagi untuk bertarung lagi. Daniel menghindari pukulan pria itu, lalu menyerang balik dengan tendangannya tapi bisa ditahan oleh pria itu. Mundur sejenak, ia kembali maju dan melompat tinggi. Dengan memfokuskan berat badannya pada kaki kanan, dia mengangkatnya lalu menjatuhkannya pada targetnya. Tapi, siapa yang mau menahan tendangan itu setelah tahu kekuatannya? Pria itu menghindari serangan itu secepat mungkin. *Boom* Tendangan Daniel membuat dampak besar, tanah di sekitarnya menjadi kawah kecil. Pria itu sedikit terkejut dengan kekuatan itu. Kekuatan kaki Daniel lebih mengerikan daripada kekuatan tangannya. ''Kekuatannya benar-benar melebihi apa yang kubayangkan. Jika seperti ini....'' Pria itu mulai bertindak lebih serius. Ia tidak sebodoh itu untuk terus bermain-main dengan musuhnya yang memiliki kekuatan diluar dari apa yang dia prediksikan. Ia segera melesat maju sampai-sampai tempat dimana ia berpijak meninggalkan bekas. Daniel cepat kembali fokus setelah terpana dengan kekuatannya. Ia kembali berdiri dan melihat pria itu sudah hampir mencapainya. Pria itu melakukan tendangan samping ke arah Daniel dengan kaki kanannya, tapi Daniel berhasil mundur tepat waktu. Meskipun tendangan sampingnya dihindari, pria itu kembali memutar tubuhya dan menendang lurus dengan kaki kirinya. Daniel tak bisa menghindari ini, ia terpaksa menyilangkan tangannya. Akibatnya, ia terbang beberapa meter, tapi dengan cepat ia menyeimbangkan dirinya. Tangannya merasakan sakit. Ia sangat enggan bertarung tanpa sebab seperti ini. Ia berkata, "Siapa sebenarnya kau? Aku tidak mengerti apa yang kau katakan tentang balas dendammu!" Pria itu mendecakkan lidahnya dengan kesal. Ia berkata, "Aku? Aku adalah kepala keluarga dari keluarga yang kau bantai dengan kejam!" "Tak bisakah kau mengatakan namamu saja? Aku sudah bilang dari tadi kalau aku tidak tau siapa kau!" "Aku Bimo!" teriak Bimo dengan geram. "Bimo?" Daniel tertegun mendengar nama itu. Ia berkedip beberapa kali menatap orang yang menyebut dirinya Bimo. Setelah beberapa saat, ia menghela napas. "Ternyata kamu Bimo," ia menggelengkan kepalanya. "aku tak membantai keluargamu seperti apa yang kau tuduhkan padaku. Baru kali ini aku mendengar tentang keluargamu dibantai," lanjutnya. Dia ikut berduka dengan apa yang dialami Bimo. Dia merasa bahwa dia juga akan melakukan hal yang sama dengan Bimo, membalas dendam jika keluarganya dibantai. "Hentikan omong kosongmu! Pasti kaulah yang melakukan itu jika bukan Arjuna yang melakukannya!" Bimo berteriak dengan putus asa meskipun telah mendengar jawaban Daniel. Pertarungan yang lama membuatnya semakin emosional hingga dia tak bisa menerima fakta yang sebenarnya. Bimo langsung menyerang lagi setelah meneriakan itu. Ia dengan putus asa menyerang Daniel. Daniel hanya menggelengkan kepalanya melihat Bimo yang sudah menggila. Alih-alih menyerang balik ketika ada kesempatan, ia memilih untuk menghindarinya. Beberapa menit mereka bertarung seperti itu, Bimo mulai kelelahan. Dengan tubuhnya disuntikkan dengan serum merah darah, ia memiliki stamina dan ketahan yang luar biasa. Ditambah dengan dasarnya sebagai tentara bayaran, penggunaan staminanya semakin efesien. Tapi, karena ia sangat emsional saat bertarung, bahkan dengan hal itu, dia tetap saja cepat kelelahan. "Berhentilah bertarung seperti ini. Aku benar-benar tak ingin bertarung denganmu tanpa sebab seperti ini," kata Daniel setelah memperlebar jaraknya dengan Bimo. "Aku sudah mengatakan kalau aku bukanlah orang yang membunuh keluargamu! Terimalah kenyataan itu!" lanjutnya. "Omong kosong!" teriak Bimo. Kali ini bukanlah teriak penuh amarah, tapi dicampur dengan teriakan kesedihan yang mendalam. Daniel melesat maju setelah melihat Bimo lengah. Ia menendang dada Bimo yang sudah tak fokus lagi bertarung, Bimo tidak menghindari ini, sebaliknya dia malah menyerang balik. Daniel berhasil menendang dada Bimo dan Bimo berhasil memukul perut Daniel. Keduanya sama-sama mundur akibat serangan mereka masing-masing. Daniel kembali menyerang, tapi kali ini dia menyerang dengan pukulan terus menerus yang cepat sampai-sampai Bimo lambat meresponnya dan membuat Bimo mundur langkah demi langkah akibat dampak pukulan Daniel. Sebagai pukulan penyelesaian, Daniel melayangkan pukulan uppercut. Bimo terbang beberapa meter dan akhirnya jatuh terbaring. Dia tak berusaha untuk bangkit lagi. Kini, ia tak mempunyai niat untuk bertarung lagi. 59 Bab 58 : Perubahan Bimo Setelah menyelesaikan pukulannya, Daniel melihat Bimo yang terbaring tanpa keinginan untuk bertarung lagi. Sebenarnya, ia pun tak punya niat bertarung lagi dengan Bimo karena semua ini hanyalah kesalahpahaman belaka. Tapi, karena Bimo masih tak bisa menerima jawabannya, ia dengan terpaksa merobohkan Bimo hingga Bimo tidak memiliki keinginan bertarung lagi. Daniel berjalan ke sisi Bimo dan duduk di sana. Ia dan Bimo tak mengucapkan sepatah katapun untuk beberapa menit. Merasakan suasana seperti ini, Daniel akhirnya berbicara. "Hei Bimo. Aku minta maaf sebelumnya, tapi bisakah kau ceritakan tentang kejadian pembantaian keluargamu itu?" tanyanya menatap langit yang mulai mendung. "Kau...." Bimo menatap Daniel, lalu menghela napasnya. Ia melanjutkan, "Yah, sepertinya kau bukanlah pelakunya. Aku akan menceritakannya...." Akhirnya, Bimo menceritakan semuanya. Dari awal dia bertarung dengan Daniel di gang sepi beberapa bulan yang lalu sampai pada dia membalas dendam pada Arjuna. Untuk beberapa hal mengenai kekuatannya sampai rekan-rekannya yang ada di laboratorium misterius, dia tetap merahasiakannya. Daniel mendengarkan setiap apa yang dijelaskan oleh Bimo. Semakin dia mendengarkan, semakin dia mengerti mengapa Bimo seperti ini. Apa yang dialami Bimo sangatlah menyedihkan. Ketika seseorang ingin berubah menjadi lebih baik lagi demi seseorang yang dia sayangi, tapi takdir berkehendak lain. Daniel kemudian membayangkan bagaimana jadinya ketika dia kehilangan Rika, Raka, Nayla dan yang lainnya. Jika benar itu terjadi, dia mungkin akan bertindak seperti Bimo saat ini, mencari orang itu sampai benar-benar terbalas. Ia menggelengkan kepalanya ketika memikirkan ini. Ia menghela napas dan melihat Bimo. "Kehidupanmu sungguh berat. Aku juga mungkin akan melakukan hal yang sama, tapi setelah melihatmu, aku tahu bahwa itu benar-benar tak baik ketika kita dibutakan oleh dendam," katanya sambil melihat awan mendung. Bimo, yang saat ini sudah duduk, menundukkan kepalanya. Ia diam tak menjawab apa yang Daniel katakan. Ia memikirkan lagi kata-kata itu. Suasana hening lagi. "Apakah istri dan anak-anakmu menginginkan kamu seperti ini?" tanya Daniel memecahkan suasana hening. Bersamaan dengan itu, hujan mulai turun seakan langit benar-benar bersedih dengan apa yang dialami oleh Bimo. Bimo menatap langit, wajahnya mulai basah karena hujan. Dia berkata, "Aku tidak tau. Tapi, kurasa istri dan anak-anakku tak menginginkanku seperti ini." Keduanya terdiam lagi sembari menatap air hujan yang berjatuhan. Daniel mulai berdiri. Sambil melakukan itu, dia berkata, "Kau tau bahwa keluargamu tak ingin kau menjadi seperti ini, maka janganlah lakukan hal ini lagi. Jadikan ini sebuah pelajaran dan lakukan hal-hal yang tak membuat keluargamu sedih. Aku yakin, mereka akan selalu memperhatikanmu. Aku juga yakin Kakek dan Orangtuaku memperhatikanku selama ini." "Yah, kau benar. Aku akan membayar semua yang kulakukan saat ini dan juga yang kulakukan di masa lalu," kata Bimo yang masih menatap air hujan. Kemudian, ia menutup matanya dan tersenyum. "Hei, bocah ingusan sepertimu berani-beraninya menasehati orang dewasa sepertiku," lanjutnya sambil berdiri mengikuti Daniel dan menepuk punggungnya dengan semangat. Daniel terkejut dengan ini, dia hampir jatuh karena tepukan Bimo ini luar biasa kerasnya. Namun, alih-alih marah, ia tersenyum. Ia berkata, "Ei, itu sangat kuat. Jika itu manusia biasa, aku khawatir dia akan terbang beberapa meter karenamu!" Daniel juga membalas dengan menepuk punggung Bimo dengan kekuatan yang sama. Bimo tertawa melihat ini. "Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Daniel sambil mengambil lagi tasnya. "Yah, kurasa aku akan membimbing Yudhistira kembali ke jalan yang benar dan juga melakukan sesuatu yang berguna untuk bangsa ini," jawab Bimo. Daniel sedikit terkejut mendengar ini. Tapi, setelah beberapa saat, wajahnya normal lagi. "Yah, lakukan apa yang kamu mau selama tidak membahayakan orang-orangku dan juga negara ini. Untuk Yudhistira, kuharap dia tak menyentuh orang-orangku, kalau tidak, aku tak akan bersikap sopan padanya." Bimo tersenyum canggung mendengar ini. Meskipun Daniel baik, tapi dia masih dendam pada Yudhistira. Ia berkata, "Masalah itu, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menimbulkankan masalah padamu." "Sepertinya kita akan berpisah disini," kata Daniel. Ia kembali menatap tubuh Bimo yang besar dan melanjutkan, "Kuharap kita bertemu lagi dengan keadaan dan suasana yang berbeda. Meskipun aku penasaran dengan kekuatanmu, aku tak ingin membongkar rahasiamu. Semoga saja kau bisa menjelaskannya di suatu hari nanti," katanya sambil meninju pelan ke tubuh Bimo. Bimo tersenyum canggung lagi. Perubahan sikap Daniel membuatnya agak kualahan. Ia berkata, "Yah, aku juga penasaran dengan kekuatan yang ada dalam tubuhmu. Semoga kita bertemu lagi." Mendengar ini, Daniel segera berbalik. Tetapi, setelah beberapa langkah, dia berhenti dan berkata, "Aku minta maaf telah membuatmu patah tulang beberapa bulan yang lalu. Jika bukan karena ini, kurasa pembantaian tak akan terjadi..." suara Daniel berat menahan kesedihan dan rasa bersalahnya. Bimo memandang langit hujan lagi dan berkata, "Jika itu aku yang sebelumnya, kurasa kita akan bertarung sampai titik darah penghabisan. Tapi, setelah apa yang kau katakan tentang keinginan keluargaku, aku tak akan melakukannya. Aku juga berpikir bahwa ini adalah jalan takdir yang kutempuh karena apa yang kulakukan di masa lalu." dia kemudian berjalan menghampiri Daniel yang berdiri dan menepuk punggungnya sekali lagi dengan semangat. Daniel yang menundukkan kepalanya terkejut dengan perlakuan Bimo. Ia tersenyum lagi dan berkata, "Kurasa kau benar-benar berubah." ia bersukyukur Bimo benar-benar berubah. "Oh iya, satu hal lagi. Jangan lupa mengabari Ibu Yudhistira tentang keadaan Yudhistira. Kurasa dia benar-benar khawatir padanya. Bagaimanapun, dia adalah orang tua Yudhistira dan kau sendiri tau bagaimana rasanya terpisah dengan buah hatimu." setelah mengatakan itu, dia berjalan pergi. Bimo tersenyum juga dan menjawab, "Kau benar. Aku akan memberitahu Ibu Yudhistira tentang keadaannya. Sampai jumpa." Bimo langsung berbalik setelah mengatakan itu. "Ya, sampai jumpa," kata Daniel sambil melambaikan tangannya. "Ding!" "Tugas selesai!" "Selamat, Host mendapatkan 25% Exp." "Selamat, Host mendapatkan Electromagnetic Handcannon." "Selamat, Host mendapatkan 1x kesempatan Undian." Daniel tak memperhatikan sisa bunyi notifikasi sistem selain bunyi notifikasi tugas selesai. Setelah bertemu Bimo, ia merasakan rasa bahaya. Ia membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya untuk menjaga adik-adiknya, tapi ia kesulitan untuk mencari orang yang benar-benar dia percayai. Dia menggelengkan kepalanya. Dia melihat bajunya yang robek dan juga kotor ditambah dengan basah karena hujan, dia memilih untuk memanggil Nayla untuk menjemputnya. Tentang bodyguard kedua adiknya, ia bisa memikirkannya nanti. Ia membuka kunci pada jam tangan pintarnya, lalu mencari kontak Nayla dan memanggilnya. Setelah beberapa saat, panggilan tersambung. Layar virtual hologram berwarna biru muncul dari jam tangan Daniel. "Nay, jemput aku. Aku akan mengirimkan lokasinya," kata Daniel singkat. Nayla, yang ada di kantor PT. Sky Technology terkejut melihat baju Daniel yang basah, robek dan kotor. Selain itu, ia juga melihat bekas darah di tepi bibir Daniel. Tanpa berpikir panjang dia menjawab, "Baiklah. Nay akan menjemput Niel secepatnya." Setelah mendapatkan jawaban dari Nayla, Daniel mematikan panggilan, lalu mengirimkan lokasinya. Dia menghela napas dan tersenyum. Wajah Nayla yang khawatir sangat manusiawi sekali. Hal ini membuat Daniel terkagum-kagum pada pencipta kucing R-I0ne. Tiba-tiba sebuah ide terlintas dalam pikirannya. Jika Nayla bisa dia percayai, berarti ''seorang'' seperti Naylalah yang dia butuhkan. Dia tersenyum gembira karena ini. Tapi, setelah beberapa saat, kegembiraannya menghilang. "Benar saja, banyak hal yang harus kulakukan jika aku benar-benar menginginkan ''seseorang'' seperti Nayla," kata Daniel tersenyum lemah. Sambil menunggu Nayla sampai, Daniel memikirkan rencana itu. Saat ini, kecerdasan buatannya masih dalam tahap pembuatan. Beberapa hal tentang masslah perusahaan membuat kemajuan proses pembuatan kecerdasan buatannya sedikit tertunda. Belum lagi, tentang rencana ponsel dan juga produk lainnya, hal ini membuatnya sakit kepala. Selain itu, ia sedikit merasa kehilangan karena sikap Bella yang terkesan dingin padanya. Memikirkan masalah ini, ia menghela napas lagi. "Sepertinya aku akan sibuk pada liburan kali ini," gumamnya. Tidak lama setelah itu, sebuah mobil muncul di depannya. Seorang wanita cantik muncul dari jendela mobil dan berkata, "Niel, masuklah. Nanti kamu demam kalau kena hujan lama-lama." Wanita cantik itu adalah Nayla. "Ya, aku akan segera masuk," jawab Daniel. Meskipun dia sangat yakin bahwa demam tak akan terjadi padanya, tapi karena wajah khawatir Nayla, ia cepat-cepat masuk mobil. Keduanya kemudian melaju ke arah villa Daniel. 60 Bab 59 : Kekhawatiran Rika "Niel, kamu baik-baik aja, ''kan?" tanya Nayla dengan khawatir ketika dia melihat jejak darah di sisi bibir Daniel lewat kaca spion. "Sungguh, aku baik-baik saja. Tadi hanya masalah kecil," jawab Daniel dengan senyum sambil menggaruk pelan pipinya. "Masalah kecil yang sampai membuatmu menyuruhku untuk tidak menjemputmu dan melindungi adik-adikmu!" jawab Nayla menggembungkan pipinya. Tampilan Nayla ini membuatnya tambah imut. Daniel tersenyum lemah melihat Nayla seperti ini, tapi di lain sisi, dia merasakan kehangatan di hatinya. Hal ini juga menyebabkan dia mengingat ketika dia pertama kali bertemu dengan ''Nayla'' dan dia tersenyum. "Lupakan masalah itu, oke? Aku sudah baik-baik saja sekarang, hanya sedikit memar karena pukulan," katanya tersenyum pada Nayla. Nayla melihat senyum ini membuatnya merasa tenang dan kekhawatirannya berkurang banyak. "Bagaimana kondisi perusahaan hari ini?" lanjut Daniel bertanya. "Semua baik-baik saja meski ada beberapa orang yang berusaha membobol sistem pertahanan perusahaan. Selain itu, mulai hari ini, tim R&D melakukan penelitian untuk perusahaan dengan arahan dari Lia Jie. Masalah keuangan semua aman, para karyawan juga aman. Pengguna ''Teteh'' semakin meningkat. Meski ada beberapa keluhan dan percobaan menjatuhkan citra Teteh dan perusahaan, itu masih sangat lemah karena basis pengguna yang sangat puas dengan fitur yang disajikan. Tentang kecerdasan Teteh, itu juga semakin meningkat karena interaksinya dengan manusia. Hanya menunggu waktu sebelum dia menjadi kecerdasan buatan yang matang...." Nayla terus menjelaskan tentang kondisi perusahaan saat ini. Di sisi lain, Daniel mendengarkan dengan hati-hati. Setelah mendengarkan beberapa menit, Daniel menghela napas lega. Perusahaan saat ini masih berada pada jalurnya. Karena hal ini, ia juga menjadi bingung dengan produk apa yang akan diproduksi oleh Sky Technology kedepannya. "Nay, aku akan beristirahat sebentar," katanya lalu dia menutup matanya. Nayla tak menjawab dan mengurangi kecepatan mobil agar tidak membuat Daniel terganggu. .... "Nay, kembalilah ke kantor perusahaan. Mereka lebih membutuhkan kamu. Masalah lukaku, itu masih ada Rika yang bisa merawat lukaku. Jangan terlalu khawatir tentangku," jawab Daniel tersenyum, wajahnya menunjukan seolah-olah di wajahnya tertulis bahwa dia baik-baik saja. Ssbelumnya, saat Daniel turun dari mobil, Nayla menawarkan diri untuk merawat lukanya, tapi Daniel menolak itu karena akan membuang waktu Nayla. Meskipun agak enggan meninggalkan Daniel, ia hanya bisa menuruti apa yang Daniel katakan untuk pergi ke kantor membantu Lia Siyu. Di lain sisi, dia lega kalau luka Daniel tidak parah. "Baiklah," balasnya lalu berbalik memasuki mobil. "Hati-hati di jalan," kata Daniel dengan nada penuh perhatian. Nayla tersenyum cerah mendengar ini. Ia melambaikan tangannya kepada Daniel dan berkata, "Ya, aku akan berhati-hati. Dadah." "Dadah," balas Daniel dengan melambaikan tangannya juga. Mobil yang dibawa Nayla melaju menjauh dari villa Daniel. Daniel berbalik dan teringat kalau sekarang masih hujan. "Astaga, aku makin kehujanan!" gumamnya sambil berjalan dengan cepat ke villanya. Setelah sampai, dia membuka pintu villanya. "Aku pulang," kata Daniel begitu dia membuka pintunya. "Kakak?!" suara manis dengan kekhawatiran terdengar di seluruh ruangan. Rika berlari ke arah pintu dengan terburu-buru dan menemukan Daniel kotor, babak belur dan juga ada jejak darah ditubuhnya. "Kakak, apa yang Kakak lakukan? Kenapa Kakak babak belur gini? Lihat, baju kakak basah, kotor dan juga kakak berdarah begini. Jelasin, Kak!" Daniel tersenyum canggung, tapi merasakan kehangatan dari kekhawatiran adiknya. "Tenanglah. Kakak hanya berkelahi dengan seseorang. Tapi sekarang kakak baik-baik saja. Kamu tak perlu khawatir lagi," kata Daniel tersenyum lalu mengusap lembut rambut Rika. Daniel tak memberitahukan yang sebenarnya pada Rika karena takut Rika khawatir berlebihan dan syok nantinya. "Kakak, berhentilah berkelahi. Kakak dari dulu sering pulang babak belur begini. Aku tak mau kakak belur kayak gini lagi," kata Rika dengan matanya penuh air mata yang bisa tumpah kapan saja. "Baiklah, kakak akan berhenti berkelahi. Tapi, jika seseorang berani menyakiti Rika, Raka dan orang-orang yang Kakak sayang, Kakak akan bertarung dengan mereka," kata Daniel yang suaranya penuh dengan tekad. "Kalau itu, aku tak akan melarang Kakak," balas Rika dengan lembut. Ia sangat senang dengan ucapan kakaknya dan pergi memeluknya. Meskipun tahu bahwa seragam kakaknya basah, Rika tetap memeluknya untuk beberapa saat. Daniel membalas dekapan Rika dengan lembut sambil terus mengusap rambutnya. Setelah beberapa saat, Rika melepaskan pelukan itu. "Kakak abis ini mandi, ya. Nanti kakak sakit kalau tidak mandi setelah kehujanan. Tunggu di sini, aku ambilin handuk Kakak," katanya usai dia melepas pelukan lalu berbalik berjalan ke kamar Daniel. Tak lama kemudian, Rika kembali dengan membawa handuk ditangannya. Ia menyerahkan handuk itu pada Daniel sambil berkata, "Kakak lepas baju yang basah. Biar aku yang urus seragam kakak." Daniel mengambil handuk itu dan menganggukkan kepalanya menandakan dia setuju. Dia menaruh handuk yang ia terima di kepalanya, lalu mulai melepas kancing seragamnya satu persatu. Setelah melepas kancing terakhir, Daniel melepas seragamnya dan menunjukkan bentuk tubuh atletisnya. Wajah Rika memerah melihat ini. Ia menundukkan kepalanya supaya tidak ketahuan oleh Daniel kalau wajahnya merona merah. Daniel hendak menyerahkan seragamnya pada Rika, tapi melihat Rika menundukkan kepalanya, dia menjadi bingung. Dia menunduk juga dan melihat wajah Rika memerah. Dengan nada khawatir dia bertanya, "Rika, kamu baik-baik aja, ''kan? Kamu tidak demam, ''kan?" Daniel menempelkan telapak tangannya pada dahi Rika. Ini menyebabkan wajah Rika semakin memerah. Ketika dia melihat tubuh atletis Daniel, jantungnya berdetak kencang. Tapi, setelah mendapat perlakuan ini, jantungnya berdetak semakin kencang, wajahnya semakin panas. Jika tidak ada Daniel di depannya, Rika mungkin saja akan pingsan dengan darah mengalir dari hidungnya. Rika mencoba untuk menenangkan dirinya, tapi tetap saja tidak bisa. Dengan gugup dia berkata, "Ti-tidak, Kak. A-aku tidak apa-apa." Setelah mengatakan itu, dia mengambil seragam Daniel dan pergi menuju kamarnya. Daniel mengangkat bahunya karena dia tidak mengerti apa yang terjadi pada Rika. Tapi, dia senang kalau Rika baik-baik saja. Sambil berjalan menuju kamarnya, dia mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Sedangkan Raka, yang melihat adegan komedi romantis itu hanya bisa terdiam saja. Kemudian ia menggelengkan kepalanya dan bergumam, "Kak Rika Brocon akut, Kak Daniel tak peka-peka." Dia pergi ke kamarnya lagi untuk melanjutkan push ranknya. .... Setelah Daniel selesai mandi, Rika datang lagi ke kamar Daniel untuk merawat lukanya. Meski selama proses merawat luka itu jantungnya terus berdegup kencang, ia bisa menyelesaikan tugas tersebut. Setelah itu, keduanya berdebat tentang besok sekolah atau tidak, tapi melihat bagaimana khawatirnya Rika, Daniel memilih untuk mengalah dan menuruti kalau besok dia tak akan pergi ke sekolah. Setelah itu, Rika keluar untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya. Daniel kemudian masuk lift pergi ke labnya yang ada di ruang bawah tanah. Yang dia lakukan di lab pribadinya adalah untuk mengedit Animasi yang telah dibuatnya. Meskipun semakin mudah dengan adanya Helm Animasi ini, tetap saja membutuhkan konsentrasi besar. Jika tidak berkonsentrasi penuh, imajinasi akan segera buyar. Karena itu, sekarang Daniel perlu mengedit beberapa kesalahan saat ia membuat animasi dari ceritanya. Animasi ini bercerita tentang seorang seorang siswa SMK yang sedang bermain game bersama teman-temannya di kelas saat jam pelajaran kosong. Tetapi, sebuah kejadian aneh terjadi. Sebuah portal layaknya blackhole muncul di kelas itu dan menghisap seisi kelas. Setelah merasakan mereka terhisap ke dalam portal itu, mereka muncul di sebuah hutan asing. Namun, beberapa dari mereka mulai menyadari bahwa mereka berada di sebuah tempat mirip dengan game yang mereka mainkan. Daniel terus memperbaiki kesalahannya secara bertahap. Karena fokus mengerjakan itu, waktu sudah menunjukan pukul 6 sore. Ia menyimpan hasil editannya lalu melepaskan helm animasi. Daniel mandi kemudian makan malam bersama Rika, Raka dan Nayla lalu kembali ke kamarnya untuk melanjutkan mengetik kode untuk kecerdasan buatannya. .... Keesokan harinya, di SMKN Sinar Abadi. Saat jam pelajaran pertama dimulai, Guru mengumumkan bahwa Daniel tak bisa sekolah karena diserang oleh orang misterius saat pulang sekolah. Pengumuman ini mengejutkan seisi kelas, terutama duo Max dan Regi, Silvia, lalu Bella. Setelah mengumumkan hal itu, Guru mengingatkan semua murid untuk berhati-hati saat pulang sekolah nanti, lalu memulai pelajaran. Saat istirahat, Max dan Regi berdiskusi untuk menjenguk Daniel setelah pulang sekolah nanti. Keduanya memilih untuk mengajak teman lainnya untuk menjenguk Daniel. Keduanya menghampiri Bella. Max lalu bertanya, "Hai Bella. Kamu mau nggak ikut kami jenguk Daniel setelah pulang sekolah?" Bella membalas sapaan Max dengan anggukan. Mendengar pertanyaan Max, Bella jadi sedikit ragu-ragu. "Aku...." 61 Bab 60 : Menjenguk Daniel Hari ini, Bella dengan semangat berangkat ke sekolah. Alasannya adalah dia ingin mengobrol lagi seperti biasa dengan Daniel tanpa ketakutan sedikitpun. Kemarin dia meninggalkan Daniel tanpa sepatah kata karena dia benar-benar belum siap untuk meminta maaf pada Daniel. Sesampainya dia di sekolah, dia berjalan cepat menuju kelasnya sambil berharap ada Daniel di sana. Tetapi, begitu dia sampai, Daniel tidak ada di sana. Semangat yang membara, perlahan mulai menurun. Ia kemudian duduk di kursinya dan menunggu kedatangan Daniel. Ia sesekali menatap pintu kelas, lalu menatap kursi Daniel. Beberapa menit kemudian, Max dan Regi masuk ke kelas. Bella, yang daritadi memperhatikan pintu masuk, matanya memancarkan secercah harapan. Tetapi, setelah Max dan Regi memasuki kelas, dia tak melihat bayangan Daniel sedikitpun. Semangatnya sekali lagi menurun. Ia menundukkan kepalanya tanpa ada semangat. Max dan Regi memperhatikan Bella setelah duduk di kursi mereka. Keduanya bingung dengan keadaan Bella seperti ini, tapi mereka tak terlalu ingin ikut campur karena keduana berpikir Bella sedang memiliki masalah yang menyangkut privasinya. Sesaat sebelum bel masuk berbunyi, seorang siswa masuk ke kelas dengan napas terengah-engah. Dengan sisa kekuatannya, dia berkata, "Selamat pagi." Mata Bella berbinar. Suara ini agak familiar baginya, dia pun segera mengangkat kepalanya, melihat-lihat ke arah sumber suara. Dengan penuh semangat dia memanggil siswa itu, "Da...." Namun, suaranya berhenti di situ. Orang yang datang bukanlah Daniel, melainkan siswa lain. Hal ini menyebabkan semangat Bella sangat menurun. Suara Bella mendapatkan perhatian seluruh siswa, tapi ia tak memperhatikan ini karena fokusnya tak lagi di kelas, melainkan di dalam pikirannya ketika dia mengingat sikapnya pada Daniel setelah kasus penculikan beberapa pekan yang lalu. "Apakah Bella baik-baik saja?" gumam Silvia sambil memperhatikan Bella yang menundukkan kepalanya. Tak lama kemudian, guru memasuki kelas. Gita, ketua kelas baru, memimpin teman-temannya untuk memberi salam kepada guru. Setelah menjawab salah dari murid di kelas, guru tersebut memberikan sebuah pengumuman. "Murid-murid, teman kalian, Daniel, tidak bisa menghadiri kelas hari ini karena kemarin dia diserang oleh orang tak dikenal setelah pulang sekolah. Saat ini Daniel dirawat di rumah oleh adiknya," kata guru. Setelah jeda beberapa saat, dia melanjutkan, "Kalian harus hati-hati saat pulang sekolah nanti. Lebih baik kalian pulang bersama-sama agar tidak terjadi seperti penyerangan terhadap Daniel." Setelah guru mengumumkan itu, seluruh murid terkejut mendengarnya. Kemudian, diskusi antar murid pun dimulai. "Daniel diserang? Kasihan dia. Dahulu dia sering dibully Yudhistira, sekarang dia masih saja diserang oleh orang misterius," kata murid A. "Iya, kasihan banget dia," jawab murid B. "Eh, kalian tau nggak? Beberapa waktu lalu, ada murid SMK juga yang diserang oleh orang misterius saat lagi di taman hiburan. Apakah Daniel diserang oleh seseorang dari organisasi mereka?" kata murid C. Teorinya membuat diskusi semakin panjang. Bella yang mendengar ini merasakan rasa bersalah. "Apakah orang yang menyerang Daniel adalah orang yang mencoba menculikku waktu itu?" begitu pikirnya. Bella terus memikirkan itu sampai-sampai membuatnya tak fokus selama oelajaran berlangsung. Kemudian, bel istirahat berbunyi. Ketika dia sedang berpikir, Max dan Regi menghampirinya. Max lalu bertanya padanya, "Hai Bella. Kamu mau nggak ikut kami jenguk Daniel setelah pulang sekolah?" Bella terkejut mendapat sapaan dari Max. Ia kemudian membalas sapaannya dengan anggukan. Namun, setelah mendengar pertanyaan Max, Bella jadi sedikit ragu-ragu. Ia menundukan kepalanya dan bergumam, "Aku...." Awalnya ia juga berencana untuk menjenguk Daniel. Tapi, setelah dia teringat dengan sikapnya kepada Daniel, dia ragu-ragu untuk ikut. Selain itu, serangan pada Daniel juga kemungkinan besar dilakukan oleh organisasi yang menculiknya. Jika bukan karena Daniel melindunginya, Daniel mungkin tidak akan diserang oleh orang tak dikenal ini. Rasa bersalah kepada Daniel semakin menghantuinya. "Dia yang menolongku sampai mempertaruhkan nyawanya, tapi aku membalasnya seperti ini. Karenaku, dia menjadi terluka sekali lagi, dan aku...." Itulah isi pikiran Bella saat ini. Setelah hening beberapa detik, dia menundukkan kepalanya. Dia menjawab, "Maaf, aku tidak bisa." Jawaban Bella membuat keduanya terkejut. "Baiklah, tidak apa-apa," ucap Max dengan nada santai. "Aku tak tahu apa yang terjadi antara kamu dan Daniel, tapi dia mengkhawatirkanmu. Kemarin saja, dia sangat khawatir kepadamu karena kamu tiba-tiba saja pergi tanpa berkata apapun padanya. Setelah itu, dia pergi dengan terburu-buru," lanjutanya. "Aku harap kamu berbaikan lagi dengan Daniel. Aku tak ingin dia bersedih dan khawatir tak jelas seperti kemarin," katanya dengan nada dan wajah serius. Kemudian dia berbalik membelakangi Bella. Regi tersenyum. Setelah beberapa saat, dia memukul punggung Max dengan sedikit keras dan berkata, "Berhentilah berlagak sok keren di depan cewek cantik. Bella tak akan jatuh cinta denganmu meskipun kau sok keren seperti itu!" dia tertawa setelah mengatakan itu. Sedangkan Max, kekesalannya terpicu. "Setidaknya aku keren, tidak seperti kamu yang tidak keren! Meskipun Bella sangatlah mustahil untuk jatuh cinta kepadaku, setidaknya banyak cewek lain yang akan jatuh cinta padaku!" ucapnya dengan wajah sombong dan penuh kebanggaan. "Hah?! Keren dari Hongkong! Aku lebih keren darimu!" kata Regi membantah ucapan Max. Max tertawa. Dia membalas, "Haha, Hongkong lebih keren! Daripada kamu, keren dari cikampek!" "Kamu salah, Indonesia lebih keren. Karena itu, cintailah ploduk-ploduk Indonesia!" ucap Regi dengan nada meniru suara bintang iklan dari iklan Mba''spion. Keduanya kemudian saling menertawakan satu sama lain. Di sisi lain, Bella dari tadi menundukkan kepalanya. Yang dikatakan oleh Max semakin membuatnya semakin merasa bersalah. Hatinya seperti diserang oleh sebuah panah tajam setelah mendengar Max. Menggigit bibirnya, dia berkata, "Aku..." Tapi, belum selesai dia mengatakan kalimatnya, itu dipotong oleh kalimat Regi. "Max, Bella bilang dia tak bisa ikut. Dia mungkin punya kesibukan, jadi jangan memaksanya. Bagaimana kalau kita mengajak Silvia dan Kinar? Mereka berdua juga akrab dengan Niel." Max menganggukkan kepalanya, "Ah, baiklah." Keduanya kemudian pergi menghampiri Silvia dan mengajaknya menjengguk Daniel setelah pulang sekplah. Silvia setuju dengan keduanya. ".... menitipkan salam untuk Daniel," gumamnya dengan lemah. Di sudut matany, air mata mengalir. .... Kinar, Silvia, Max dan Regi menjenguk Daniel menggunakan mobil Kinar. Sebelum mereka mendatangi villa Daniel, mereka terlebih dahulu membeli bahan untuk membuat kue dan juga membeli buah-buahan. Mereka sampai pada villa Daniel. Keempatnya turun dari mobil dan datang ke pintu villa bersama. Ketika Kinar hendak menekan bel rumah, Max sudah berteriak "Danieeeeeeeel" dengan nada khasnya. Regi menepuk bahu Max dan berkata, "Kita bukan lagi diwarung oy!" Max tertawa malu, "Kebiasaan, hehe." Mereka lalu tertawa mendengar jawaban Max. Beberapa saat kemudian, pintu villa terbuka. Sesosok gadis cantik muncul. Wajahnya terkejut ketika melihat mereka, "Teman Kakak! Masuklah. Aku akan memanggil Kakak," ucap Rika. Mereka kemudian mengikuti Rika. "Rika, kita mau bikin kue buat Daniel, boleh?" tanya Silvia. "Boleh, Kak. Aku panggil Kak Niel dulu, Kak Silvia sama Kak Kinar duluan aja ke dapur," jawab Rika dengan senang. Dia kemudian buru-buru memanggil Daniel. Setelah mendapatkan izin dari Rika, Silvia dan Kinar langsung ke dapur. Max dan Regi hanya duduk di ruang tamu sambil bermain ponsel. Tak lama kemudian, seseorang datang membuka Pintu. "Aku pulang," kata Raka. "Oh, Raka! Selamat datang," jawab Max dan Regi bersamaan. "Kak Max, Kak Regi!" Raka bersemangat mendengar suara mereka. "Jenguk Kak Niel, ya? Main Mobile Legend bareng yuk!" lanjutnya. "Oke, nanti kita main, ganti pakaianmu dulu," kata Daniel yang baru saja datang di ruang tamu. "Oke, Kakak!" jawab Raka bersemangat. Ia dengan terburu-buru kekamarnya mengganti pakaian. Hanya beberapa menit, dia datang lagi dengan mata yang sangat bersemangat. "Ayo mulai, Kak!" ajak Raka. Mereka berempat memainkan Ranked bersama dengan teman game Max. Saat memilih hero, Daniel memilih Akai, Max memilih Lunox yang tidak di banned oleh musuh, lalu Regi mengginakan Kaja, Raka memilih Moskov. Sedangkan teman lainnya menggunakan Thamuz untuk solo lane atas. Keempatnya bermain dengan sangat bersemangat. .... Setelah bermain beberapa game, mereka pun berhenti. Jika bukan karena Rika yang menyuruh mereka berhenti, mereka akan terus push rank sampai sore. Selain itu, kuenya juga sudah matang, jadi mereka makan kue itu bersama-sama sambil bercerita banyak hal. Setelah lebih dari 2 jam bercerita, mereka yang menjenguk Daniel berpamitan pulang. "Daniel, cepat sembuh ya," kata Kinar. Silvia dengan penuh perhatian berkata, "Daniel, kamu banyakin istirahat, jangan telat makan, dan jangan begadang. Cepat sembuh, ya." Kinar memasang wajah kekalahan mendengar kalimat yang dikatakan Silvia. Dia memberikan perhatian pada Daniel dengan kalimat yang terlalu singkat. Kini giliran Regi yang berbicara. "Niel, cepatlah sembuh. Kalau tidak, Max akan menggila jika tak ada kamu di kelas." Kekesalan Nax terpicu oleh ucapan Regi. "Itu kamu yang butuh pawang, bukan aku!" ucapnya. Ia kemudian menatap Daniel dan berkata, "Niel, cepatlah sembuh. Kalau tidak Regi akan jadi orang sok keren di kelas kita," lanjutnya. Dahi Regi berkedut. "Itu kamu yang sok keren!" Daniel tertawa melihat keduanya berdebat. Keduanya sudah ia anggap sebagai saudara sendiri karena telah membantunya saat dia susah dulu sampai sekarang. "Baiklah, aku akan cepat sembuh agar kalian berdua tidak menggila," ucapnya. Kini, keduanya kesal dengan ucapan Daniel. "Tunggu saja kau, Niel! Kami akan membuatmu malu!" Semua yang hadir di pintu tertawa bersama. Kinar berpamitan, "Niel, kami pulang dulu." "Ya, terima kasih doa dan juga kunjungan kalian. Hati-hati di jalan," kata Daniel dengan senyum hangatnya. Mereka saling melambaikan tangan, lalu pergi dengan mobil Kinar. "Bella tidak datang," gumam Daniel lalu berbalik masuk ke villanya. Setengah jam setelah Max dan yang lainnya pergi, Nayla pulang. Nayla kemudian memasakkan makanan untuk makan malam mereka. Setelah semuanya selesai, mereka makan malam bersama. Berbincang sebentar dengan Rika, Raka dan juga Nayla, dia kembali ke kamarnya untuk melanjutkan produksi animasi yang dia buat. Namun, saat jam 8 malam, dia mendapat pesan dari Rika bahwa ada seseorang datang mencarinya. "Siapa yang datang mengunjungiku di malam hari?" 62 Bab 61 : Maafkan Aku "Ding! Sebuah pesan diterima." Suara notifikasi pesan dari helm animasi membangunkan Daniel dari fokusnya mengedit animasi yang dia buat. Dia mengklik dan muncul pesan : "Kak, ada seseorang yang ingin bertemu Kakak." "Siapa yang datang mengunjungiku di malam hari?" gumamnya. Ia bingung karena sangat jarang sekali ada orang selain Lia Siyu yang datang berkunjung ke rumahnya di malam hari. Karena dia tak tau siapa itu, ditambah lagi dia masih memiliki sedikit yang perlu di edit, dia mengirimkan pesan, "Aku akan segera datang, masih ada sedikit hal yang kulakukan." kemudian dia menekan tombol kirim dan melanjutkan lagi mengedit animasinya. .... "Ayah, apa yang akan kamu lakukan ketika kamu membalas perbuatan baik seseorang dengan sikap yang buruk?" tanya seorang gadis pada Ayahnya yang sedang menonton TV. Sang ayah mengerutkan keningnya ketika mendengar pertanyaan putrinya. Tapi, setelah beberapa saat, wajahnya kembali normal lagi. Dengan senyum lembut di wajahnya, sang ayah berkata, "Tentu saja Ayah akan berterima kasih padanya lalu meminta maaf padanya karena telah bersikap buruk. Kemudian, Ayah akan membawakannya hadiah sebagai tanda permintaan maaf yang tulus." Mata gadis itu cerah setelah mendapatkan jawaban positif dari Ayahnya. Ia berkata, "Terima kasih, Ayah. Aku sayang Ayah," kemudian dia mencium pipi Ayahnya dan pergi dengan wajah bahagia. "Gadis ini...." sang Ayah menghela napas, lalu tersenyum kepada putrinya. Ia mengambil sebuah foto di sampingnya. Di foto itu ada seorang laki-laki tampan, lalu wanita cantik yang lembut, dan seorang anak perempuan dengan senyum lebar di wajahnya. "Sayang, Bella sekarang sudah besar dan semakin dewasa," gumamnya sambil mengusap-ngusap foto dengan lembut. .... "Pak, kita berhenti di toko pakaian. Mau beliin sesuatu buat teman," kata Bella dengan semangat kepada Pak Bram. Pak Bram juga ikut bahagia melihat ekspresi semangat Bella. Setelah kejadian percobaan penculikan, Bella tak pernah sebahagia ini. Dia selalu murung, apalagi saat membicarakan kejadian itu. Dengan senyumnya yang lembut, pak Bram berkata, "Baik, Nona." Tak lama kemudian, keduanya berhenti di sebuah toko pakaian disamping toko pakaian wanita yang pernah Bella kunjungi bersama Daniel. Meskipun tempat ini berdekatan dengan tempat yang mengingatkannya pada kejadian penculikan, tapi dia menyisihkan kenangan itu karena kenangan dia bersama Daniel memilih sweter lebih besar daripada kenangan tentang penculikan. Dia masuk ke toko lalu ke bagian sweater. Ia menghampiri pelayan untuk menanyakan sweater yang sama dengan apa yang dipakainya. "Ini, Nona. Ini sedikit berbeda dengan apa yang dikenakan oleh Nona, tapi ini adalah sweater bagus buat seorang cowok," kata pelayan menjelaskan. "Apakah Nona membeli ini untuk pacar Nona?" tanya pelayan itu dengan senyuman. Bella tersipu malu mendengar pertanyaan pelayan toko. Ia menggelengkan kepalanya, tapi pelayan itu malah menganggukkan kepalanya sambil bergumam, "Anak muda sekarang malu-malu kucing." "Aku memilih ini," kata Bella menunjuk pada sweater berwarna abu-abu yang mirip dengan apa yang dia kenakan. Setelah Bella mengatakan itu, pelayan toko itu langsung membungkusnya. Bella mengikuti pelayan itu lalu membayar sweater itu. Bella kemudian memasuki mobil dan menuju villa Daniel. .... Rika sedang belajar di kamarnya, tapi saat dia pergi ke dapur untuk mengambil minuman, dia mendengar seseorang menekan bel villa. Dia kemudian membuka pintu dan menemukan ada Bella di sana. "Kak Bella! Masuk, Kak," ajak Rika masuk ke villa. "Ada apa Kakak datang malam-malam begini?" tanya Rika. "Ingin menjenguk Daniel, sekaligus berterima kasih padanya," jawab Bella. "tapi, bisakah kamu merahasiakan kalau orang yang datang itu adalah aku? Kumohon," lanjut Bella. "Oke, Kak. Kakak mau kasih kejutan ya buat Kak Niel?" tanya Rika. "Ya, aku ingin memberinya kejutan," kata Bella tersenyum. "Kakak tunggu sebentar, ya. Silahkan duduk, Kak. Rika mau ambilin minum buat kakak sekalian panggil Kak Niel," kata Rika, kemudian dia meninggalkan ruang tamu ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Daniel. Setelah itu dia membuatkan minuman untuk Bella. Tak lama kemudian, Rika membawa dua jus jeruk dan kue kering. Setelah menghidangkan jus dan kue kering, Rika mulai mengobrol dengan Bella sambil menunggu Daniel datang. Namun, setelah 15 menit menunggu, Daniel tak kunjung tiba juga. "Apakah Daniel masih marah padaku?" pikir Bella. Namun, ia segera menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan itu dengan pikirannya. Meskipun begitu, dia tetap murung. Melihat Bella seperti itu, Rika merasa tak enak. Ia sudah memikirkan bahwa dia akan memarahi Daniel ketika Bella pulang nantinya. Dia kemudian mengajak Bella mengobrol lagi sambil menunggu kedatangangan Daniel. .... "Akhirnya selesai juga!" seru Daniel yang menekan tombol save lalu menunggu prosesnya selesai. Ia kembali melirik pesan yang dikirim oleh Rika dan menemukan bahwa dia terlalu lama mengedit animasinya. Setelah beberapa detik proses penyimpanan, dia langsung keluar dari helm animasi. Dia langsung membawa helm animasi ditangannya kemudian masuk ke lift kembali ke kamarnya. Tanpa memperdulikan pakaiannya yang hanya memakai baju santai dan celana olahraga berwarna abu-abu, dia langsung keluar dari kamarnya setelah dia meletakkan helm animasi di kasurnya dan pergi menuju ruang tamu. Begitu dia sampai di ruang tamu, dia melihat bahwa seorang tamu telah berdiri dan bersiap untuk pergi. Daniel buru-buru menghampiri tamunya. "Maaf membuatmu menunggu. Aku sedang mengerjakan sesuatu sampai lupa ada orang yang datang ke rumahku," katanya sambil menundukkan kepalanya meminta maaf. Bella berbalik, melihat Daniel yang meminta maaf padanya, perasaan marah, kecewa, bersalah, dan senang saling campur aduk. Dia berkata, "Tidak apa-apa, Daniel." Mendengar suara familiar ini, Daniel mengangkat kepalanya. Ia melihat Bella yang sedang berdiri menatapnya dengan bendungan air mata di matanya yang bisa mengalir kapan saja. Ia tertegun melihat pemandangan ini. Rika langsung meninggalkan mereka tanpa bersuara. Ia tak ingin mengganggu momen mereka meski ia tak ingin kakaknya berduaan dengan gadis lain. Ia membiarkan ini sebagai kompensasi atas terlambatnya Daniel. Kalau tidak, dia akan terus menempel disamping Daniel. "Bella...?" kata Daniel dengan nada tidak percaya. "Ya, aku mengunjungimu untuk menjenguk sekaligus berterima kasih dan meminta maaf kepadamu," katanya dengan suara lemah. Meskipun suaranya lemah, Daniel bisa mendengarnya dengan jelas. Air matanya mulai mengalir di wajahnya. "Aku... aku berterima kasih kepadamu karena telah menyelamatkanku dari para penculik waktu itu. Terima kasih juga telah mengkhawatirkanku," kata Bella dengan suara serak. "Lalu... aku meminta maaf karena menyeretmu ke masalahku hingga membuatmu diserang oleh organisasi penculik itu. Aku juga minta maaf karena bersikap buruk kepadamu meskipun kamu sudah rela berkorban nyawa untukku... tapi aku... aku...." Bella tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Ia menutup wajahnya dan menangis sejadi-jadinya. Tak lama kemudian, dia merasakan kehangatan di tubuhnya. Akhirnya, dia tak menahan lagi tangisannya dan suara tangisan terdengar di seluruh vila. "Maafkan aku," suara lembut terdengar di telinganya. 63 Bab 62 : Hadiah "... Aku juga minta maaf karena bersikap buruk kepadamu meskipun kamu sudah rela berkorban nyawa untukku... tapi aku... aku...." Mendengarkan bagaimana kesedihan dan perasaan bersalah dari Bella membuatnya tersadar akan sesuatu. Daniel langsung memeluk Bella begitu Bella menangis. Mendekatkan wajahnya di telinga Bella, dia berbisik, "Maafkan aku." Bisikan Daniel membuat Bella menangis lebih kencang lagi. Dia memeluk Daniel lebih erat lalu membenamkan wajanya di dada Daniel. Semua perasaannya selama dua pekan terakhir tumpah seluruhnya saat dalam dekapan Daniel. Daniel tersenyum. Dia tersenyum karena memikirkan betapa menggelikannya mereka berdua karena masalah ini. Saling takut satu sama lain. "Sungguh lucu," gumam Daniel sambil terkikik. Bella tak menjawab gumaman Daniel, tapi dia memukul pelan dada Daniel sambil terus menangis. Butuh beberapa menit untuk Bella berhenti menangis. Sementara Daniel, dia sesekali terkikik yang membuat Bella kesal. "Baiklah Nona, apakah kamu sudah tenang?" tanya Daniel sambil terkikik. "Hmph!" Bella memalingkan wajahnya. "Baik Nona, aku minta maaf karena tertawa ketika kamu sedang menangis," ucap Daniel mengusap air mata di wajah Bella. "Kamu udah tenang?" lanjutnya. Sebagai jawaban, Bella menganggukan kepalanya. Dia kemudian melepaskan tangan Daniel dari wajahnya, lalu berbalik. Daniel terkejut dengan gerakan yang dilakukan oleh Bella. Saat Bella melangkahkan kakinya, Daniel mencoba mengejarnya, tapi ia segera berhenti saat Bella mengambil sebuah tas belanja dan berbalik ke arahnya. Wajah Daniel memerah, ia telah salah paham karena dia berpikir bahwa Bella akan meninggalkan rumahnya, padahal tidak. Di sisi lain, Bella terkikik melihat wajah Daniel yang memerah. Ia mendekati Daniel dan memberikan tas belanjaan itu padanya. Dia berkata, "Ini, hadiah untukmu sebagai permintaan maaf yang tulus dariku." Daniel menatap tas belanjaan itu dengan wajah rumit. Tetapi, setelah melihat mata Bella yang tulus, dia akhirnya menerima itu. "Baiklah, Nyonya. Kuterima hadiah darimu," katanya dengan senyum lembut. "Tak bisakah kamu tidak terus mengganti panggilan untukku?" tanya Bella dengan wajah kesal, tetapi dengan suara yang lembut. "Baiklah, sesuai keinginanmu, Nyonya," jawab Daniel. Dia kemudian membuka tas belanjaan itu dan melihat ada sebuah sweater berwarna abu-abu. "Kamu mengenal diriku," katanya tersenyum. "Bolehkah aku mengenakannya sekarang?" "Tentu," jawab Bella bersemangat. Daniel langsung memakainya begitu mendapat persetujuan dari Bella. Setelah beberapa saat, Daniel selesai mengenakan sweater hadiah dari Bella. "Bagaimana?" tanyanya sambil bergaya. "Apakah aku tampan?" lanjutnya bertanya lagi dengan gaya narsisnya. Bella terkikik dengan Daniel saat ini. Sebab, dia tak pernah melihat Daniel senarsis ini sebelumnya. "Iya, kamu sangat tampan, Komandan," kata Bella. Daniel senang mendengar pujian darinya. Tapi... "Tapi, aku tak tau kamu senarsis ini. Ternyata Daniel punya keunikan tersendiri, ya," ucapnya sambil tertawa. Daniel terbatuk mendengar ini. Ia kembali ke posenya yang tenang. "Itu tandanya aku senang," katanya dengan dilanjuti tawa. Keduanya kemudian berbincang-bincang. Setelah hampir kehabisan topik pembicaraan, Daniel menawarkan sesuatu. "Karena kamu telah memberiku hadiah, aku pun ingin memberikanmu hadiah. Apakah kamu mau datang ke kamarku?" Bella terkejut dengan undangan dari Daniel. Dia tak pernah menyangka Daniel akan mengundang dirinya untuk masuk ke kamarnya. Karena pertanyaan itu, imajinasi menjadi liar. Ia terbayangkan adegan di mana Daniel dengan wajah tenangnya yang tampan mengendong dirinya yang malu-malu. Kemudian.... Wajahnya langsung merona merah, lalu dia langsung menggelengkan kepalanya untuk membuyarkan imajinasinya tersebut. Dia kemudian menatap Daniel lagi dan ia mulai membayangkan lagi hal sebelumnya. Daniel yang melihat ini menjadi kebingungan. "Bella, apakah kamu baik-baik aja?" tanya Daniel melambaikan tangannya di depan wajah Bella. "En. A-aku baik-baik saja," jawabnya dengan sedikit gugup. "Jadi, apakah kamu mau ke kamarku?" tanya Daniel sekali lagi. "Iya," jawab Bella dengan wajah tertunduk. Daniel tak memperhatikan ekspresi Bella saat ini. Dia menggenggam tangan Bella, lalu berjalan menuju kamarnya. Saat Daniel melakukan itu, imajinasi Bella semakin liar. "Kita sampai," kata Daniel begitu sampai di kamarnya. "Ayo masuk," lanjutnya. Bella tak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya. "Kamu duduk sebentar di sini, aku akan segera kembali," kata Daniel menunjuk pada sisi ranjangnya. Bella semakin gugup sekaligus gelisah. Pikirannya kini hanya mengarah pada hal-hal yang diimajinasikannya dari tadi. Daniel tentu saja tidak memperhatikan ini, dia dengan cepat mengambil helm animasi yang ada di kamarnya, kemudian masuk ke mode pembuatan animasi. Dia membuat sebuah adegan dimana dia sedang mengajak seseorang mengikutinya ke suatu tempat. Dia membuat sebuah pemandangan penuh dengan bunga. Kemudian, setelah beberapa menit, dia kemudian mengatur kembang api yang indah saat langit malam. Dia membuat kembang api bertuliskan ''Terima kasih atas hadiah dan kedatanganmu''. Setelah beberapa menit mengedit, animasinya selesai. Dia kemudian membuat sebuah pengaturan pada helm animasi. Pengaturan yang dia buat adalah mode bebas dimana pemakai bisa menyentuh apapun yang mereka mau pada latar animasi yang dia buat. Setelah itu dia melepaskan helm animasi. Dia menghampiri Bella yang duduk di kasurnya dengan membawa helm di tangannya. Ia berkata, "Ini, pakailah helm ini. Sesuatu yang luar biasa akan kamu lihat." Bella mendongakkan kepalanya, melihat sebuah helm ditangan Daniel. Jantungnya yang berdegup kencang dari tadi mulai kembali normal. Imajinasinya yang liar mulai buyar. Dia kemudian mengambil helm itu dan memandanginya untuk beberapa saat. Dia sebenarnya tak mengerti apa fungsi dari helm ini, tapi karena Daniel menyuruhnya menggunakan helm ini, dia segera menggunakannya. Tapi, saat dia mengenakan helm itu, pandangannya menjadi gelap. Jantungnya kembali berdegup kencang dan imajinasi liarnya kembali. "Apakah Daniel akan melakukan itu ketika aku tak bisa melihat apa-apa?" sebuah pikiran liar terlintas di pikirannya. Namun, setelah beberapa saat, pandangannya berubah menjadi sebuah pemandangan indah dimana ada seorang pria yang berdiri di depannya. "Daniel?" gumam Bella memastikan. Pria itu berbalik dan itu adalah sosok Daniel. "Ayo, ikuti aku," ucap Daniel mengajak Bella yang masih berdiri dengan linglung. Bella kemudian mengikuti Daniel setelah linglung beberapa saat. Dia bingung melihat pemadangan indah ini karena dia ingat betul bahwa dia ada di kamar Daniel dengan menggunakan helm di kepalanya. "Apakah ini dunia virtual?" gumamnya memandang ke sekeliling sambil terus mengikuti Daniel ke suatu tempat. Karena terlalu fokus melihat sekeliling, dia tak sadar bahwa ia telah sampai di suatu tempat. "Selamat datang di taman bunga!" kata Daniel membentangkan tangannya. Suara Daniel membuat Bella kembali tersadar. Dia kemudian memandang ke arah Daniel dan menemukan taman bunga yang luas dengan berbagai jenis bunga di dalamnya. "Indah," begitu gumam Bella ketika dia melihat pemandangan taman bunga yang indah. Dia mendekati bunga-bunga itu dan menyentuhnya. Karena dia bisa menyentuhnya, dia menjadi terkejut akan hal itu. Kemudian dia memetiknya dan menghirup harumnya wangi bunga. "Ini sangat nyata," gumamnya dengan penuh kekaguman. Dia kemudian berkeliling di sana. Setelah beberapa menit, langut biru berubah menjadi gelap yang penuh dengan bintang-bintang. Sesaat kemudian, pertunjukan kembang api dimulai. Berbagai keindahan kembang api ditampilkan. Kemudian, sebuah kembang api yang sangat besar meluncur ke langit dan meledak. Ledakan itu membentuk sebuah kalimat. Terima kasih atas hadiah dan kunjunganmu. - Daniel "Sangat indah!" kata Bella penuh kekaguman. Ia juga terharu dengan hadiah Daniel ini. Ini adalah pemandangan langka untuknya. Pikiran liarnya tentang Daniel hilang seketika saat melihat pemandangan yang begitu indah. Setelah beberapa saat, kembang api itu menghilang. Pandangannya kembali menjadi gelap. Dia kemudian bisa menggerakkan tangannya lalu melepas helm di kepalanya. "Bagaimana menurutmu? Apakah kamu menyukainya?" tanya Daniel begitu Bella melepas helmnya. "Sangat indah! Sentuhan, bau, perasaan, dan penglihatan di sana terasa sangat nyata! Apalagi bunga-bunganya, aku sangat suka!" kata Bella menjelaskan dengan penuh semangat. Melihat Bella begitu bersemangat, Daniel tersenyum. Meskipun dia tahu ini membuat dirinya terekspos, dia tak menyesalinya. Lagipula orang yang melihatnya adalah Bella, dia yakin Bslla tak akan membocorkan tengang helm ini. Selain itu, ini hanyalah sebuah teknologi yang sedikit maju. Dia berkata, "Karena kamu menyukainya, aku akan mengizinkanmu untuk melihat taman itu lagi. Tapi, berjanjilah padaku untuk tidak memberitahu siapapun tentang hal ini. Oke?" "Oke!" kata Bella setuju. "meskipun aku penasaran dengan ini, tapi ini rahasia Daniel, bukan? Karena itu, aku tak akan bertanya tentang hal ini," lanjutnya. Daniel tersenyum. Kemudian dia berkata, "Terima kasih, Bella. Sepertinya sudah waktunya untukmu pulang. Sekarang sudah larut malam, Ayahmu pasti khawatir saat ini." Bella kemudian mengambil ponselnya dan memeriksa jam. Ia menemukan bahwa sudah jam setengah sepuluh, ia terlalu lama di sini. "Aku akan segera pulang. Tapi, sebelum itu kita berdua selfie dulu," kata Bella sambil membuka aplikasi kamera di ponselnya. Keduanya berfoto beberapa kali, lalu Daniel mengantar Bella hingga gerbang villanya. "Daniel, terima kasih telah menyelamatkanku dan juga telah memberikanku kesempatan melihat pemandangan indah itu," ucap Bella menundukkan kepalanya. "Bella, aku juga berterima kasih atas hadiahmu. Sweater ini keren," balas Daniel menunjuk pada sweaternya. "Daniel, kamu tahu, di tempatku ada sebuah tradisi di mana kita harus memberikan tanda terima kasih pada orang yang kamu sayang. Oleh karena itu, terima kasih," kata Bella. Kemudian, dia menatap wajah Daniel dan mencium pipinya. "selamat malam, Komandan," kata Bella tersenyum lalu berbalik pergi. "Selamat malam, Nyonya," jawab Daniel seperti tanpa nyawa. Dia sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Bella. Dia kemudian tersadar ketika mobil yang ditumpangi Bella telah pergi jauh. Dia menyentuh pipi di bagian di mana dia dicium, dan dia tersenyum. "Gadis ini...." gumam Daniel lalu berbalik mengunci gerbang villanya. Ketika dia kembali ke kamarnya, dia menemukan ada Rika dan Nayla di sana menunggunya. Melihat ini, dia tersenyum lemah. "Kak, bisa Kakak jelaskan semua ini?" tanya Rika dengan nada tajam. "Baiklah, akan kujelaskan pada kalian," kata Daniel dengan nada lemah. 64 Bab 63 : Menyelamatkan Lia Siyu 1 Dua hari telah berlalu. Daniel sekarang berada di sekolahnya, dia di kelas sedang mendengarkan penjelasan dari pak Barudi tentang sistem operasi komputer. "Unix merupakan sebuah sistem operasi yang dibuat dan dikembangkan oleh Ken Thompson, Dennis Ritchie dan beberapa programmer lainnya. Kemudian Unix terus dikembangkan oleh salah satu perusahaan telekomunikasi di Amerika Serikat, yaitu AT & T Bell Labs. Sistem operasi yang satu ini sengaja dibuat dan dirancang untuk digunakan secara multiuser, portable dan juga bisa melakukan multitasking." Pak Barudi kemudian menunjuk pada salah satu sistem operasi lainnya, yaitu Linux. "Selanjutnya, Sistem operasi Linux adalah varian dari sistem operasi Unix, karena pada awalnya Linus Torvalds, sang pencipta dan penggembang Linux, membuat Linux untuk mengakses server dari universitas tempatnya belajar yang berbasis Unix. Dikatakan juga bahwa Linux adalah pengembangan atau kloning dari versi Unix yang lain, yaitu Minix." Max mengangkat tangannya. Dia bertanya, "Pak, saya ingin bertanya. Karena Linux adalah bentuk varian dari Unix, apakah keduanya memiliki banyak kesamaan?" Pak Barudi tersenyum. Ia puas dengan pertanyaan Max. Dia menjawab, "Benar, keduanya memiliki banyak kesamaan karena pengembangan Linux berasal dari Unix. Meski begitu, banyak juga perbedaannya. Salah satunya adalah Unix ini lebih banyak digunakan pada kebutuhan server, berbeda dengan Linux yang digunakan pada kebutuhan komputer personal layaknya sistem operasi Windows." Max penuh perhatian mendengar penjelasan dari pak Barudi. Sambil mendengarkan, dia juga mencatat penjelasan dari pak Barudi. Selain Max, Regi dan murid lainnya juga mencatat berbagai penjelasan dari pak Barudi. Sementara Daniel, dia ikut mencatat meski di dalam pikirannya dia masih memikirkan kejadian dua hari yang lalu. .... Setelah dia menjelaskan tentang penculikan Bella dan juga pertarungannya dengan Bimo, dia mendapatkan sebuah tamparan dari Rika. Meskipun tamparan Rika tidaklah kuat, tapi Daniel merasakan sakit di pipinya. Begitu selesai menampar Daniel, Rika menangis dan memeluk Daniel dengan erat. "Kakak ... Kakak membuatku sangat khawatir! Bagaimana kalau orang itu bisa menembak lebih dari dua kali?! Lalu bagaimana kalau orang yang bernama Bimo membunuh Kakak?! Siapa yang mengurus aku dan Raka jika kakak meninggal?! Aku nggak mau kehilangan Kakak! Aku nggak mau kehilangan orang yang kucintai!" jeritnya dengan suara penuh kesedihan. Mendengarkan ini, Daniel memikirkan lagi keputusannya. Ia merasakan rasa sakit melihat Adik yang dicintainya menangis seperti ini. Dia membalas pelukan Rika, kemudian berbisik di telinganya, "Maafkan aku. Maaf telah membuatmu khawatir." Dia juga menatap Nayla, "Aku juga minta maaf karena memberitahumu." Malam itu, villa Daniel dipenuhi dengan tangisan. Butuh waktu lama untuk membuat Rika tenang. Begitu dia sudah tenang, dia langsung tertidur. Daniel mengendong Rika ke kamarnya, tapi setelah dia menurunkan Rika di kasur, Rika tak melepaskan pegangannya di tangan Daniel. Daniel takut gerakannya membangunkan Rika, dia pun akhirnya memilih tidur bersama dengan Rika. Hal ini membuat Rika tersenyum meski dia masih dalam keadaan tertidur. Sementara itu, Raka sedang asik Live Streaming di kamarnya tanpa merasakan kebisingan dari luar karena kamarnya kedap suara. .... Memikirkan hal itu lagi membuat Daniel tersenyum pahit. "Host!" Suara familiar terdengar di benaknya, suara ini membuatnya terkejut. Ia berhenti memikirkan hal itu, lalu tersenyum gembira. "Sky! Lama tidak mengobrol," kata Daniel. "Benar, sudah lama tidak mengobrol. Saat penjelasan kegunaan pedang itulah terakhir kali kita mengobrol," kata Sky mengangguk setuju. "Apanya yang disebut penjelasan, kau hanya menjelaskan dasar kegunaan pedang, yaitu sebagai senjata. Setelah itu, kau kabur entah kemana," ucap Daniel membantah Sky. Menurutnya, yang Sky jelaskan bukanlah kegunaan pedang. "Itu juga merupakan penjelasan dari kegunaan pedang," kata Sky. "Terserah apa katamu," kata Daniel menyerah berdebat dengan Sky. "ngomong-ngomong, setiap kamu muncul, pasti ada tugas, bukan?" tanya Daniel memastikan maksud dari kedatangan Sky. "Pintar seperti biasanya," ucap Sky dengan nada mengejek Daniel merasa ini bukanlah sebuah pujian. Ia kemudian bertanya, "Aku tak merasa itu sebuah pujian. Tugas macam apa kali ini?" "Kau akan tau nantinya," kata Sky. "ternyata kau merindukanku," lanjutnya dengan suara santai yang antusias. "Kepalamu!" Daniel berteriak kesal. "Kepalaku ada di sini," jawab Sky santai. Sikapnya seperti ini membuat Daniel tambah kesal. Keduanya terus berbicara hingga bel istirahat berbunyi. Begitu mendengar bel istirahat, Daniel meninggalkan Sky. "Bella, ke kantin bareng?" tanya Daniel singkat. "Ya," balas Bella tersenyum. "ajak Silvia dan Kinar juga," lanjut Bella yang setelah itu dibalas anggukan setuju dari Daniel. Saat Daniel sedang makan bersama temannya, sesuatu akan terjadi pada perusahaan Sky Technology. .... Di sebuah bangunan di pinggiran kota Banukarta. "Bagaimana tanggapan mereka?" tanya seorang pria berkulit hitam dengan wajah sangar. "Mereka berkata, selama kita bisa mendapatkan kode inti dari aplikasi tersebut, mereka akan membayar mahal usaha kita," jawab pria berbadan kurus. Mendengarkan jawaban itu, pria berwajah sangar bertanya lagi, "Berapa yang mereka tawarkan?" "Jika kita berhasil, kita akan dibayar 1 juta-" belum selesai pria kurus beekata, perkataannya dipotong oleh pria berwajah sangar. "Hanya 1 juta?" alis pria berwajah sangar itu naik menandakan dia tak puas. "Bos, bukan 1 juta Rupiah, melainkan 1 juta Dollar Amerika. Menurut perhitunganku, itu setidaknya 14 milyar Rupiah," kata pria kurus dengan suara lemah. Bosnya ini terlalu implusif. "Ah, itu yang kumaksud," kata pria yang dipanggil Bos dengan sedikit malu. "hanya umtuk membayar isi kode atau apalah itu, mereka berani membayar kita 14 milyar rupiah. Sungguh, mereka bodoh sekali," lanjutnya dengan nada mencemooh. Pria kurus tersebut tidak tau harus berkata apa. Meski tidak terlalu tahu apa kegunaan kode inti aplikasi tersebut, dia tahu seberapa berharganya itu hingga dihargai sampai dengan 14 milyar Rupiah. Namun, jika dia membantah apa yang dikatakan bosnya, dia kemungkinan akan dihajar. "Iya, Bos. Mereka bodoh," jawab pria kurus itu mengikuti apa yang dikatakan oleh si bos. "Target kita adalah wanita pemimpin di perusahaan itu. Kita akan beraksi," kata Bos itu memerintah. "Baik, Bos!" jawab pria kurus. .... Lia Siyu sekarang sedang bersama dengan sopir dan asisten dari ketua divisi periklanan. Dia sedang menuju tempat pertemuan dengan ketua dari perusahaan lain untuk berbincang tentang kerja sama. Lia Siyu masih sibuk dengan beberapa hal ditangannya hingga membuat tak sadar bahwa sang sopir membawanya ke tempat yang aneh. Asisten yang dibawa Lia Siyu memperhatikan bahwa ini bukan jalan untuk tujuan tempat pertemuan yang sudah dijanjikan dengan bos perusahaan lain. "Pak, kita akan kemana?" tanya asisten itu. Mendengarkan pertanyaan dari asisten uyang dia bawa, Lia Siyu menghentikan tindakannya dan memperhatikan sekitarnya. "Ke suatu tempat," kata sopir itu dengan nada mengejek lalu tersenyum jahat. Melihat senyum jahat dari sang sopir, asisten di sebelah Lia Siyu panik. Sementara Lia Siyu, wajahnya masih tenang. "Apakah kau mengkhianati perusahaan?" tanya Lia Siyu dengan nada tenang. "Nyeh! Apanya yang mengkhianati. Ini dinamakan sebuah keuntungan besar! Jika aku membawa nona Lia ke markas mereka, aku akan mendapatkan banyak uang daripada menjadi sopir perusahaan," jawab sopir sambil mengejek profesinya. Baru saja Lia Siyu ingin membalas ucapan sopir, beberapa mobil hitam muncul di belakang mereka. Sopir itu tersenyum senang. Dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan segera keluar. Namun, begitu dia keluar dari mobil, dia ditembak oleh orang yang keluar dari mobil hitam. "Ingin mendapatkan keuntungan dariku, itu hanyalah sebuah mimpi!" ucap seorang pria berkulit hitam dengan wajah sangar. "Bos, target ada di dalam mobil," lapor seorang pria kurus. "Segera tangkap dan bawa ke markas," perintah bos itu kepada anak buahnya. "Siap bos!" jawab anak buahnya dengan tegas. Lia Siyu masih menampilkan wajah tenang, tapi di hatinya dia sudah panik. Asisten yang ada disebelahnya sudah sangat panik dan menjerit ketakutan ketika mendengar suara senjata api dan juga melihat mayat sopir. "Ikuti kami!" ucap seorang gangster lalu menarik keduanya dengan kasar. Lia Siyu tak melawan saat dibawa ke mobil hitam gangster, tapi asisten yang dibawanya menjerit terus-terusan hingga gangster yang membawa asisten itu melepaskan tembakan untuk membuatnya diam. Lia Siyu mencoba diam-diam menghubungi Daniel, tapi gerakannya ditemukan oleh gangster yang membawanya. gangster itu mengambil ponselnya dan membawa itu kepada bosnya. Kemudian, keduanya dibawa ke markas gangster. Sedangkan mayat sopir, itu dibuang ke tempat yang sepi. .... Daniel, di kantin SMK N Sinar Abadi, sedang mengobrol dengan Bella, Silvia dan Kinar. Saat sedang asyik mengobrol, sebuah notifikasi dari sistem. "Mendapatkan sebuah tugas!" Saat selesai membaca isi tugas yang didapatnya, Daniel membelalakkan matanya. Hal ini membuat ketiga gadis di dekatnya heran. "Daniel, ada apa?" tanya Silvia khawatir. "Sepertinya aku melupakaan sesuatu yang penting. Aku akan pergi dulu. Kemungkinan besar dari jam selanjutnya hingga bel pulang aku tak masuk," kata Daniel terburu-buru. Ia kemudian meletakkan uang di meja, "Tolong bayarkan makananku," lanjutnya kemudian dia berlari terburu-buru. Ketiga gadis itu mengungkapkan ekspresi khawatir. Hal apa yang membuat Daniel yang tenang jadi terburu-buru seperti ini? Mereka tak bisa membantu, dan yang bisa mereka lakukan hanyalah mendoakan keselamatan Daniel. .... Tugas : Menyelamatkan Lia Siyu dan Ritha dari gangster. Lia Siyu dan Ritha diserang oleh gangster saat di perjalanan menuju tempat pertemuan. Syarat : Menyelamatkan Lia Siyu dan Ritha dalam keadaan hidup. Hadiah : Sesuai dengan keadaan Lia Siyu dan Ritha. Hukuman Kegagalan : Kehilangan efek Serum Prajurit Super. 65 Bab 64 : Menyelamatkan Lia Siyu 2 Daniel dengan buru-buru meninggalkan kantin. Dia kembali ke kelas mengambil tasnya kemudian segera meninggalkan sekolahnya tanpa izin dari pihak sekolah. Saat ini dia tidak peduli dengan konsekuensi dari yang dilakukannya ini, yang dia pedulikan hanyalah keselamatan Lia Siyu dan Ritha, asisten yang dibawa oleh Lia Siyu. Melihat Daniel mengambil tas dengan terburu-buru, Gita merasa terkejut dan juga penasaran. "Apa yang terjadi pada Daniel? Kenapa dia terburu-buru seperti itu?" gumamnya melihat kepergian Daniel. .... Setelah meninggalkan sekolah, Daniel langsung mengaktifkan kacamata pintarnya. Dia langsung menghubungi Red Queen. "Red kecil, lacak lokasi ponsel Lia Jie," perintahnya dengan nada tegas. "Baik," suara dingin Red Queen terdengar. Tak butuh waktu lama untuk Red Queen melacak lokasi ponsel Lia Siyu. "Kak, Lia Jie ada di lokasi ini," kata Red Queen sambil menampilkan peta di kacamata Daniel. Daniel segera menghentikan ojek yang kebetulan lewat. "Pak, ke barat Banukarta. Nanti saya bayar lebih," kata Daniel sambil buru-buru naik dan menggunakan helm. Ketika pak ojek diberhentikan oleh Daniel secara tiba-tiba, dia merasa agak kesal. Kemudian dia mendengar Daniel memintanya untuk mengantarkannya ke barat Banukarta, dia tambah kesal lagi. Tapi setelah mendengar Daniel akan membanyarnya lebih, ekspresi di wajahnya berubah 180. Dia tersenyum dan berkata, "Sudah siap? Aku akan mengantarkanmu dengan cepat!" Daniel menyadari ekspresi pak Ojek tersebut, tapi dia tak terlalu menghiraukannya. .... Sementara itu, di Markas Gangster Ayam Hitam. "Masukan mereka ke ruangan khusus, aku akan secara pribadi mengintrogasi mereka nanti. Namun sebelum itu, biarkan mereka beberapa menit di ruangan itu," kata seorang pria berkulit hitam dengan wajah sangar. "Baiklah, Bos." setelah menjawab kalimat bos mereka, dua orang yang bertanggung jawab atas Lia Siyu membawa Lia Siyu ke ruangan kotor dan juga berbau busuk. Namun, baru saja kedua anggota gangster membawa mereka, pria kurus menghentikan mereka dan membisikkan sesuatu. Setelah beberapa saat, mereka melanjutkan tugas dari bos. "Uh, sangat busuk," keluh Ritha, asisten yang dibawa oleh Lia Siyu ketika sampai di ruangan yang dimaksud. "Diam!" anggota gangster yang membawa Ritha langsung membentak Ritha karena terlalu berisik. Mendapat bentakan dari gangster, Ritha langsung terdiam meski wajahnya masih menunjukan ekspresi enggan dan juga jijik dengan ruangan. Sementara Lia Siyu relatif tenang. Keduanya dimasukkan ke ruangan itu kemudian kedua gangster itu mengunci ruangan dari luar. Menurut apa yang diinstruksikan oleh bos dan juga seorang petinggi gangster, keduanya sengaja dimasukkan ke ruang busuk tersebut untuk menurunkan keadaan mental mereka. Dengan tekanan yang mereka dapat dari anggota gangster, ditambah dengan dikurung di dalam ruangan yang kotor dan berbau busuk, hal itu bisa membuat tekanan psikologis kepada keduanya. "Berikan kode inti dari aplikasi Teteh pada kami! Cepat!" kata seorang anggota gangster sambil menggedor-gedor pintu besi. Hal ini membuat Lia Siyu dan Ritha terkejut dan juga makin tertekan. "Ka-kami tidak tau! Ka-kami tidak tahu menahu tentang ma-masalah itu!" jawab Ritha dengan panik. "Kau berbohong!" kata anggota gangster tadi dengan suara nyaring. Dua anggota gangster secara bergantian memberi tekanan pada mereka dengan bertanya dan membentak mereka selama beberapa menit. Lia Siyu menjawab sesekali pertanyaan dari mereka dengan nada yang masih tenang. Meski dia tak pernah merasakan diculik oleh gangster atau lawan bisnis ditempatnya bekerja dulu, ia beberapa kali diintimidasi oleh sesama rekan kerjanya ataupun lawan bisnisnya, karena itulah dia masih bisa sedikit tenang dengan tindakan kedua anggota gangster ini. Hal ini berlangsung beberapa menit, setelah itu bos gangster memasuki ruangan kotor dan bau busuk tersebut. .... Seorang guru wanita memasuki ruangan kelas. Seperti biasa, ketua kelas memipin murid lainnya untuk memberi salam kepada guru. Setelah itu, guru kemudian mengabsen murid-murid di dalam kelas. Ketika guru menyebutkan nama murid, ada balasan dari murid tersebut. Namun, ketika sampai pada nama Daniel, tak ada jawaban dari Daniel. Guru itu pun sekali lagi memanggil nama Daniel, "Daniel." Tak ada jawaban lagi. Silvia dan Bella sama-sama ingin memberikan alasan ketidakhadiran Daniel, tapi keduanya didahului oleh Gita. "Bu, tadi Daniel memiliki hal yang mendesak. Wajahnya agak pucat lalu panik dan pergi dengan terburu-buru. Sepertinya Daniel memiliki masalah besar, Bu," kata Gita melaporkan situasi Daniel dengan nada yang tenang. "Cih, Daniel cuma bikin alasan itu, Bu. Bilang aja dia enggak mau belajar, makanya pake alasan itu segala," kata Nurul mencemooh, entah bagaimana dia masih membenci Daniel meski Daniel sudah berubah. Tapi, meskipin Daniel tahu bahwa Nurul membencinya, dia tak akan peduli. Mengurusi satu orang tak menyukaimu hanya akan membuang waktumu untuk orang-orang yang menyukaimu. "Nurul, tidak baik berkata seperti itu. Daniel tadi memang lagi dalam keadaan mendesak. Daniel juga sudah izin padaku," ucap Gita tersenyum. Nurul hanya mendecakkan lidahnya karena tidak puas dengan jawaban Gita yang membela Daniel. Guru yang melihat ini tahu siapa yang benar. Setelah sekian lama diam mendengarkan muridnya berdebat, dia berkata, "Baiklah. Gita, besok kasih tau Daniel untuk pergi ke ruangan Ibu, ya." "Iya, Bu," jawab Gita mengangguk. Ia lega bahwa alasannya cukup diterima oleh Guru. Bella dan Silvia juga menghela napas lega. Keduanya diam-diam memberikan acungan jempol untuk Gita. .... "Jadi kamu tidak tau kode inti dari aplikasi itu meski kamu adalah CEO perusahaan itu? Kau ingin aku menggunakan kekerasan atau ... kau ingin pacarmu melihat kau sedang dipermainkan olehku?" ketika mengatakan kalimat terakhir, Bos gangster Ayam Hitam, Matih tersenyum cabul. Sebelumnya, Lia Siyu telah mengatakan bahwa dia tidak tahu kode inti dari aplikasi Teteh, namun bos gangster, Matih tak mempercayai itu. Ketika dia melihat senyum cabul dari Matih, wajahnya langsung pucat. Ritha yang ada di sampingnya pun juga pucat mendengar ini. Matih tersenyum puas melihat Lia Siyu dan Ritha, CEO dan karyawan dari perusahaan teknologi yang mengguncang dunia teknologi ketakutan padanya, ada kebanggan tersendiri yang muncul di hatinya. Belum lagi keinginannya yang ingin melucuti pakaian Lia Siyu satu persatu, dia semakin kegirangan. Dia berkata, "Sepertinya akan ada kegembiraan dari pacarmu ketika melihatmu dipermainkan olehku." Matih mengambil ponsel Lia Siyu dari saku celananya dan menelpon nomor orang yang sering dihubungi oleh Lia Siyu. Dia menebak ini adalah pacarnya. Matih melirik lagi wajah Lia Siyu yang pucat, dia tersenyum puas. Begitu panggilan tersambung, dia langsung menyapa seorang yang dipanggilnya, "Halo, Sobat. Pacarmu dan asistennya sekarang ada dalam genggamanku. Dia tak mau memberiku kode inti dari aplikasi perusahaannya, jadi aku akan menyiksa keduanya sampai dia memberikanku kode inti itu. Apakah Tuan ingin menyaksikan kesenangan ini?" "Tak perlu menyiksa mereka, aku yang akan memberikanmu kode inti aplikasi itu. Aku adalah pembuat aplikasi itu. Jangan pernah menyentuh dia dan asistennya atau kau akan menyesalinya." suara dari ujung ponsel itu sangat dingin. Matih yang mendengar ini semakin tertarik untuk membuat penelpon ini marah. Sedangkan Lia Siyu, matanya memancarkan secercah harapan dan juga kegembiraan. Namun, beberapa saat kemudian dia takut ketika memikirkan bagaimana gangster ini begitu mudahnya membunuh seseorang. "Benarkah? Bagaimana jika kau membawa polisi bersamamu? Kuharap kau datang sendirian, kalau tidak, pacar cantik kesayanganmu dan asistennya akan ''beteriak'' sepanjang hari," kata Matih dengan nada main-main. "Aku tak akan terlalu bodoh melakukan hal itu untuk membuat pacar kesayanganku dipermainkan olehmu." setelah mengatakan itu, telepon itu langsung diakhiri. Matih hanya tertawa dengan respon dari pacar dari CEO cantik yang dia sandra saat ini. "Hei, cantik. Lihatlah respon pacar kecilmu yang begitu dingin sampai-sampai dia tak mengizinkanku menyentuhmu dan juga asistenmu. Tapi, siapa yang peduli padanya? Kau dan asistenmu sekarang ada dalam genggamanku, jadi aku bisa berbuat apapun yang kuinginkan." setelah mengetakan itu, Matih melemparkan ponsel itu ke arah Lia Siyu, kemudian dia mendekati Ritha dan Lia Siyu lalu mulai melucuti pakaian mereka secara bergantian. Wajah Ritha dan Lia Siyu pucat dan penuh keputusasaan. Pertama-tama, seluruh pakaian Ritha dilucuti oleh Matih hingga hanya meninggalkan pakaian dalamnya. Setelah menyelesaikan itu, dia melirik Lia Siyu dan mulai melucutinya juga. Baru saja dia selesai melucuri baju Lia Siyu, suara seorang anggota gangster mengganggunya. "Bos! Ada yang menyerang markas kita!" lapor anggota gangster itu dengan nada tergesa-gesa. Mendapati berita yang mengganggu, Mayih mengerutkan keningnya. Dia bertanya, "Siapa yang berani menyerang markasku?! Berapa orang jumlahnya?" Mengingat jumlah orang yang menyerang markas, anggota gangster itu menggaruk kepala bagian belakanganya dan berkata, "Anu, Bos. Hanya satu orang yang menyerang markas kita. Selain itu, yang menyerang kita hanyalah seorang siswa SMK. Tapi...." Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Matih segera memotongnya dengan nada penuh amarah. "Sekelompok sampah! Hanya melawan satu orang dan itu adalah siswa SMK saja kalian tidak bisa! Benar-benar tidak berguna!" setelah mengatakan itu, dia menampar anggota gangster itu. Matih kemudian secara pribadi mengurus bocah pengganggu ini. Matih tidak lupa membawa pistolnya. Dia ingin mengakhiri ini secepat mungkin dan bermain dengan Lia Siyu dan Ritha sambil menunggu pacar Lia Siyu datang. Satu yang tidak diketahui olehnya, orang yang datang menyerang markasnya adalah orang yang dia tunggu. Tak butuh lama untuk dia sampai di tempat kejadian. Dia melihat banyak anak buahnya sudah terkapar di lantai. Ia mengerutkan keningnya melihat tidak bergunanya mereka melawan seorang bocah. Kemudian dia melihat beberapa anak buah melawan bocah itu secara bergantian dan akhirnya mereka kalah. Melihat itu, Matih merasa kesal. Dia dengan nada kesal berkata, "Apa yang kalian lakukan?! Bagaimana bisa kalian seperti seorang idiot yang menyerang dia secara bergantian?! Ini bukanlah syuting film laga! Serang dia secara bersamaan!" Mendapatkan instruksi dari bos, mereka bangkit kemudian menyerang bocah itu secara bersamaan. Sebagai tanggapan, bocah itu hanya mendengkuskan napas dingin. Matih tak tinggal diam. Dia menyiapkan pistolnya untuk menembak. Ketika melihat bocah itu sedang mengurus anak buahnya, dia mengambil kesempatan ini untuk menembak. Dor! 66 Bab 65 : Menyelamatkan Lia Siyu 3 "Ini Pak, uangnya," kata Daniel menyodorkan uangnya kepada pak Ojek. Pak Ojek itu tersenyum senang melihat uang berwarna biru. Dengan senang hati dia berkata, "Makasih, Nak. Jika butuh ojek lagi, hubungi saja saya." setelah mengatakan itu, Pak Ojek pergi. Daniel hanya tersenyum dan mengangguk saja. Setelah pak Ojek pergi jauh, wajahnya agak kesal dan bergumam, "Kalau naik ojek sama bapak terus setiap hari, bisa-bisa saya bangkrut, Pak." Daniel menggelengkan kepalanya dan kembali fokus memikirkan cara menyelamatkan Lia Siyu. Namun, ketika dia baru saja dia berpikir, sebuah notifikasi panggil di kacamata pintarnya muncul. "Lia Jie?" Daniel menatap nama itu dengan bingung. Setelah beberapa detik, ia akhirnya paham. Ini bukanlah Lia Siyu, melainkan orang lain. Dia kemudian memilih opsi menjawab. "Halo, Sobat. Pacarmu dan asistennya sekarang ada dalam genggamanku. Dia tak mau memberiku kode inti dari aplikasi perusahaannya, jadi aku akan menyiksa keduanya sampai dia memberikanku kode inti itu. Apakah Tuan ingin menyaksikan kesenangan ini?" suara main-main terdengar ditelinga Daniel. Meski sempat bingung, Daniel menyadari bahwa seseorang yang menelponnya mengira bahwa dia adalah pacar Lia Siyu. Dia tak sebodoh itu untuk tiba-tiba berkata ''Dia bukan pacarku!''. "Tak perlu menyiksa mereka, aku yang akan memberikanmu kode inti aplikasi itu. Aku adalah pembuat aplikasi itu. Jangan pernah menyentuh dia dan asistennya atau kau akan menyesalinya," jawab Daniel dengan dingin. Di sini dia berusaha mengulur waktu agar ia bisa menyelamatkan Lia Siyu dengan selamat. Namun sayang, karena dia mengancam peculik tersebut, bukannya penculik tersebut akan menurutinya, tapi penculik itu akan semakin memprovokasinya. Ini adalah bukti bahwa Daniel masih belum berpengalaman dalam hal ini. "Benarkah? Bagaimana jika kau membawa polisi bersamamu? Kuharap kau datang sendirian, kalau tidak, pacar cantik kesayanganmu dan asistennya akan ''beteriak'' sepanjang hari," jawab penelpon. Daniel semakin kesal dengan kalimat penculik ini. "Aku tak akan terlalu bodoh melakukan hal itu yang akibatnya akan membuat pacar kesayanganku dipermainkan olehmu," jawab Daniel lalu mengakhiri panggilan telepon dari penculik itu karena merasa kesal. Setelah mengakhiri panggilan telepon, dia langsung berpikir cara untuk menyelamatkan Lia Siyu. Jika dia masuk ke markas gangster yang memiliki puluhan anggota tanpa sebuah rencana, itu sama saja dengan bunuh diri. Tetapi, jika dia terus berpikir seperti ini tanpa aksi, dia akan menghabiskan banyak waktu dan akhirnya tak bisa menyelamatkan Lia Siyu. Belum lagi dia tak percaya kepada bos gangster itu akan menepati janji untuk tidak menyentuh Lia Siyu selagi dia ke sana. "Kenapa tidak menerobos saja?" suara Sky tiba-tiba terdengar di benak Daniel ketika dia fokus memikirkan sebuah rencana. Daniel langsung berhenti meikirkan rencananya. "Menerobos puluhan anggota gangster? Kau kira aku Jackie Chan yang bisa melawan banyak musuh?" kata Daniel dengan nada tidak puas. "Meskipun Host bukanlah Jackie Chan, tapi Host telah menggunakan Serum Prajurit Super. Meskipun Host tak seahli Jackie Chan dalam beratrung, setidaknya fisik Host bisa menutupi kekurangan itu. Ini hanya saran dariku," kata Sky menjelaskan analisanya pada Daniel. Daniel mengerutkan kening pada jawaban ini. Meskipun awalnya dia menjawab Sky dengan candaan, ia tak mengira analisa Sky sedikit masuk akal. Ia memikirkan ini lagi. Merasa semakin membuang waktu, dia akhirnya mengambil sebuah keputusan. "Langsung terobos markas gangster. Aku tidak peduli lagi resikonya selama Lia Siyu selamat!" Daniel langsung menuju markas gangster tersebut dengan petunjuk dari peta yang ditampilkan oleh Red Queen pada kacamata pintarnya. Namun sebelum dia melancarkan aksinya, dia memerintahkan Red Queen untuk mematikan seluruh cctv yang ada di markas gangster itu. Setelah semua selesai, dia menyimpan laptop, kacamata pintar dan juga jam tangan pintarnya ke penyimpanan sistem lalu memulai aksinya. Saat di depan markas, dia melihat dua orang anggota gangster sedang berjaga. Karena keduanya sedang mengobrolkan sesuatu yang mengasyikan, sehingga mereka berdua tak sadar akan kehadiran Daniel. Daniel bergerak secara diam-diam menuju arah keduanya. Tapi, dia dengan tak sengaja menginjak kaleng minuman bersoda yang menyebabkan dirinya terekspos. Tanpa menunggu keduanya bereaksi, Daniel segera berlari mendekati anggota gangster yang ada didekatnya lalu menendang perut anggota gangster itu dengan keras. Anggota gangster itu terpental jauh akibat dari tendangan Daniel. "Wow, tendangan yang bagus," komentar Sky atas tendangan Daniel yang menakjubkan baginya. "Sejak kapan kau berkomentar begini? Ini bukan pertandingan bola!" keluh Daniel pada Sky. Anggota gangster lainnya terkejut melihat tendangan Daniel. Selama Daniel berbicara dengan Sky, anggota gangster itu menatap tubuh temannya yang terpental jauh. Ketika dia sadar dan berbalik ke arah Daniel, dia melihat sebuah tinjuan mengarah pada wajahnya. Meskipun ia ingin menghidari itu, tapi tubuhnya tak bisa mengikuti kecepatan tinju itu. Tanpa perlawanan, wajahnya terkena tinjuan keras. Menindak lanjuti tinjuannya, Daniel meninju gangster itu dengan tangan kirinya, kemudian mengambil kepala anggota ganggster lalu menariknya kebawah. Bersamaan dengan itu, Daniel mengangkat lututnya untuk menghantam kepala anggota gangster itu pada lutunya. Brak! Suara tabrakan tulang terdengar. "Ouh!" seru Sky dengan nada ngeri. "kurasa dia akan gegar otak dan amnesia karena tubrukan itu. Gerakan yang kejam," lanjutnya mengomentari Daniel yang sedang bertarung. "Berhentilah mengomentari kayak Valentino Simanjuntak," kata Daniel. "Baiklah," jawab Sky dengan nada ringan. Kemudian melanjutkan, "Daniel sedang meninju bagian pipinya, Bung. Dan, dan, dan akhirnya jebret, tinjuan itu mengenai pipi musuhnya." Urat dahi Daniel berkedut. Ia mulai kesal dengan Sky. Tapi, dia tak punya waktu menanggapi itu. Dia kemudian berjalan ke arah pintu dan menendangnya dengan keras. Ketika pintu markas hancur, para anggota gangster yang sedang bermain kartu dan minum-minum semuanya menatap Daniel yang baru saja memasuki markas mereka dengan kasar. Suasana yang sebelumnya ramai jadi tenang sepeeti air di danau. "Gaya membuka pintu yang menakjubkan, sangat bagus jika momen ini direkam," kata Sky dengan mata berbinar. Melihat respon Sky yang berlebihan, Daniel memutar matanya. Dia berkata, "Berhentilah berpura-pura terkesan seperti itu." "Host jahat! Aku benar-benar terkesan dengan tindakanmu," kata Sky dengan nada sedih. Dia seolah-olah berwajah cemberut dengan melipat kedua tangannya di dadanya. Daniel yang mendengar ini tak bisa tidak menghela napas, dia tak berdaya dengan sikap Sky yang tidak tepat pada waktunya. Dia berkata, "Tak ada hal lain kah yang bisa kau lakukan selain mengomentari pertarunganku?" "Tidak. Saat ini, aku hanya ingin mengomentarimu karena aku sedang latihan untuk jadi seorang caster di turnamen e-sport nanti," kata Sky santai, sangat berbeda dengan nada yang dipakai sebelumnya. Dengan nada tak berdaya Daniel berkata, "Lakukan apapun yang kau mau." Setelah berbicara dengan Sky, Daniel mendengar ejekan dari seorang anggota gangster. "Apa yang ingin kau lakukan datang ke sarang harimau, Nak?" tanya seorang anggota gangster kemudian diikuti dengan tawa dari anggota gangster lainnya. "Sepertinya anak ini tersesat. Kenapa kamu tidak menelpon ibumu, Nak? Ibumu pasti sekarang sedang mencari bayi besarnya yang hilang." "Hei, hei! Kalian kejam sekali kepada bayi besar ini. Apakah kalian akan memberinya susu ketika dia menangis karena ejekan kalian?" "Biarkan ibunya datang dan kita juga akan ikut menyusu ramai-ramai bersamanya." Kemudian, seluruh anggota gangster tertawa. "Kurasa mereka menginjak ekor harimau," gumam Sky prihatin. Meskipun ada di benaknya, Daniel tidak mendengar ini karena ia tersulut api amarah. Daniel menundukkan kepalanya terdiam mendengar ocehan para anggota gangster tentang ibunya. Dia mendatangi anggota gangster yang berbicara tentang ibunya. Dengan penuh amarah dia memukul meja yang hasilnya membuat meja itu hancur. Tetapi, bukannya takut, para anggota gangster tertawa terbahak-bahak. "Hei, lihatlah, dia jadi marah dan menghancurkan meja karena kalian ingin menyusu pada Ibunya. Harusnya kalian meminta lebih, misalnya-" Begitu anggota gangster itu ingin menyelesaikan kalimatnya, botol kaca terbang ke kepalanya dan suara botol yang pecah itu membuat seisi ruangan menjadi sunyi. Darah perlahan mengalir dari kepala gangster itu. Karena serangan kejutan ini, semua anggota gangster terdiam beberapa saat. Sky tak bisa menahan helaan napasnya. Para gangster ini telah membangunkan harimau yang sedang tidur. Dia bergumam, "Amukan harimau telah dipicu." Daniel tak mengatakan sepatah kata pun. Seperti mendengar sebuah mantra dari gumaman Sky, dia langsung menendang meja ke arah para gangster yang sedang duduk. Kemudian berlari ke kerumunan dan memukul mereka satu persatu. Para gangster tak bisa merespon tepat waktu. Karena itu, Daniel bisa menjatuhkan tiga gangster dalam waktu singkat. Dia menendang wajah seorang gangster yang ada didekatnya, kemudian menariknya lalu melemparkannya ke arah kerumunan gangster. Gangster lain tak tinggal diam, mereka bertarung dengan Daniel secara bergantian. Daniel menunduk menghindari sebuah pukulan lurus dari gangster, kemudian mengambil tangan gangster itu dan memutar lengannya. Gangster itu berteriak kesakitan dan memegangi lengan yang diputar oleh Daniel. Daniel melanjutkan dengan menginjak bagian belakang lutut gangster itu hingga dia berlutut di tanah. Kemudian Daniel menendang kepala gangster itu hingga dia berputar di udara. Seorang anggota gangster lain berlari mendekati Daniel dengan botol di tangannya. Dia menghantamkan botol itu ke bagian belakang kepala Daniel. Tetapi, sebelum dia berhasil mengenai kepalanya, Daniel berhasil menunduk menghindari botol itu, lalu memggunakan sikunya menyerang perut anggota gangster. Dia berputar ke samping lalu menendang kaki gangster itu hingga dia jungkir balik ke depan. Kemudian dua orang lagi maju menyerang Daniel secara bersamaan. Tetapi karena Daniel bisa melihat lintasan serangan keduanya, dia berhasil menghindari serangan mereka. Daniel menangkap lengan salah satu dari mereka, dia memutar lengannya lalu menginjak punggungnya dengan keras. Satu orang yang lain menyerang Daniel lagi, tapi berhasil ditahan oleh Daniel dengan tangannya, dia meninju dada gangster itu hingga terbang beberapa meter jauhnya. Daniel membalikkan badannya bersiap untuk bertarung dengan musuh selanjutnya, tetapi tiba-tiba dia mendapati sebuah pukulan tepat di pipinya. Daniel tak bisa menghindari itu dan akibatnya dia mundur beberapa langkah. Daniel trsenyum dingin ke arah para gangster. Dia berlari ke arah orang yang menyerangnya, dia menendang pukulan orang itu dengan keras, kemudian mengambil kesempatan ini untuk berputar dan menendang kepala orang itu hingga terbang beberapa meter. Tindakan Daniel membuat beberapa gangster ketakutan, tetapi seseorang dengan tubuh besar keluar dari kerumunan dengan tampilan percaya diri membuat ketakutan mereka menghilang dengan kata-katanya, "Lawan yang menarik. Kalian jangan takut, kita ada banyak orang di sini! Semuanya, serang!" Mendapat aba-aba dari seseorang yang kuat, para anggota gangster bergerak maju menyerang Daniel. Ada beberapa yang menggunakan tongkat baseball, ada juga dengan botol miras, dan beberapa dengan tangan kosong. Sebagai balasan, Daniel mendengkuskan napas dingin. Dia memasang kuda-kuda yang menandakan bahwa dia siap bertarung! Para gangster datang secara bergantian dengan dua orang pertama menyerang Daniel, tapi mudah bagi Daniel untuk menyingkirkan keduanya. Kemudian, datanglah anggota gangster dengan tongkat baseball. Daniel terus menghindari ayunan tongkat baseball tanpa melawan balik. Tindakannya ini menyebabkan gangster lain memiliki kesempatan menyerangnya. Tanpa sebuah pilihan yang lebih baik, Daniel menahan ayunan tongkat baseball menggunakan lengannya, kemudian menyerang balik pemegang tongkat baseball itu. Daniel merasakan sedikit mati rasa pada lengannya. Setelah menyelesaikan satu pemegang tongkat baseball, sebuah botol kaca mendarat di kepalanya yang membuatnya mundur beberapa langkah. Serangan berlanjut, tongkat baseball lain mendarat pada tubuhnya. Dua botol kaca menghantam kepalanya lagi. Darah merah mengalir dari kepalanya terus mengalir di mata kirinya. Tongkat baseball lain menyerang kepala Daniel, tapi tangannya dengan cepat menangkap tongkat itu. Dia mengambil alih tongkat dia dan mengayunkannya secara acak untuk memukul mundur para gangster. Setelah mendapat waktu untuk bernapas beberapa saat, dia menyerang pemegang tongkat baseball lain dan berhasil menjatuhkannya. Dengan cepat Daniel mengambil tongkat lawannya. Dengan dua tongkat di tangan, rasa percaya dirinya tumbuh. "Ayo maju!" kata Daniel dengan wajah berdarah dan berkeringat. Anggota gangster berbadan besar terlebih dahulu menyerang Daniel, kemudian diikuti oleh anggota gangster lainnya. Ketika anggota gangster itu dan Daniel saling bertemu, keduanya langsung saling menyerang. Setelah beberapa detik, anggota gangster itu kualahan karena tak bisa mengimbangi kecepatan Daniel. Saat Daniel ingin memberikan pukulan akhir, anggota gangster yang lain datang menyerangnya, dia menghindari serangan ini dan memilih mundur memperlebar jarak dengan anggota gangster. Mengambil napas sebentar, Daniel melanjutkan pertarungan dengan mereka. Dengan kedua tongkat baseball ditangannya, dia melawan belasan anggota gangster tersisa. .... Beberapa menit telah berlalu. Daniel berhasil mengalahkan anggota gangster dengan bayaran beberapa luka di tubuhnya. Sedangkan musuh-musuhnya, hanya sedikit yang tidak terluka, beberapa bahkan berdarah-darah yang disebabkan oleh tongkat baseball Daniel. Daniel sekarang mengambil kesempatan untuk bernapas. Dia menggunakan tongkat baseball sebagai tumpuan berdiri untuk beristirahat sebentar. Namun, istirahatnya tak berlangsung lama. Seorang laki-laki berkulit hitam dan berwajah sangar berteriak nyaring sehingga waktu istirahatnya terganggu. "Apa yang kalian lakukan?! Bagaimana bisa kalian seperti seorang idiot yang menyerang dia secara bergantian?! Ini bukanlah syuting film laga! Serang dia secara bersamaan!" teriak lelaki itu dengan nada kesal. Anggota gangster yang masih bisa bertarung kemudian bangkit, lalu berlari kearah Daniel untuk menyerangnya. Sebagai tanggapan, Daniel mendengkus napas dingin. Dia mengambil kedua tongkatnya dan bersiap untuk bertarung. Beberapa saat kemudian, Daniel menggerakkan kedua tongkatnya memukul para gangster. Namun setelah beberapa pukulan, tongkat baseballnya hampir hancur. Dia melemparkan kedua tongkat itu ke arah para gangster. Hilangnya senjata membuat Daniel menggunakan kepalan tangannya meninju para gangster. Saat Daniel sedang sibuk bertarung, lelaki yang berteriak kesal tadi telah menyiapkan pistolnya. Ketika sebuah kesempatan datang, dia menembakannya ke arah Daniel. Dor! 67 Bab 66 : Menyelamatkan Lia Siyu Akhir Daniel merespon dengan cepat. Ketika dia mendengar suara tembakan, dia menarik seorang anggota gangster dan menjadikannya sebagai tameng. Dia awalnya tidak ingin menggunakan cara ini, tapi karena mereka memulainya lebih dulu yang mana menggunakan seseorang sebagai tameng untuk memcapai tujuan mereka, dia pun melakukan hal yang sama. Sejak kecil, dia sering melihat dan merasakan ketidakadilan seperti ini. Ketika dia menolong seseorang, dia malah diperlakukan seperti seorang penjahat. Meskipun begitu, hal itu tak mengubah kepribadian Daniel menjadi dingin. Kebaikan atau kejahatan seseorang itu berasal dari sudut pandang mana kau melihat! Itulah yang dipahami oleh Daniel sejak dia kecil. Suara tembakan itu membuat anggota gangster tekejut dan terdiam. Mereka tak mengira bahwa bos mereka akan mengorbankan mereka hanya untuk mendapatkan kekayaan. "Ah, aku tertembak?" kata anggota gangster dengan wajah tak percaya. Dia menatap bosnya. Tatapannya dipenuhi dengan kekecewaan pada bosnya. Setelah kalimat itu berakhir, perasaan marah dan terkhianati bergejolak di hati mereka. Dengan pikiran yang dipenuhi kemarahan, target kemarahan mereka tidak hanya pada Daniel, tapi juga pada bos mereka. Saat ini, hanya satu tujuan di hati mereka. Bunuh keduanya! Tak lama setelah itu, suara tembakan lain menyusul. Daniel masih menggunakan tubuh anggota gangster untuk menjadi perisainya. Setelah tembakan berakhir, Daniel membuang tubuh yang digunakannya sebagai perisai ke samping. Sedangkan lelaki yang menggunakan pistol mundur kembali memasuki bagian dalam markas. Karena bos di luar jangkauan mereka, mereka langsung memfokuskan kebencian kepada Daniel. Mereka menyerang dengan penuh amarah. Pertarungan antara Daniel dan gangster kembali pecah. .... Daniel telah selesai bertarung dengan mereka. Dia duduk di lantai dengan napas terengah-engah menandakan bahwa dia kelelahan. Dia belum terbiasa bertarung seintens ini, ditambah dengan bau darah yang menyengat berceceran di ruangan, ini membuatnya merasa dia kurang pengalaman dalam bertarung sungguhan. Daniel sekarang merasa dia akan kehilangan kesadarannya karena rasa lelah dan kekurangan darah. "Bocah!" Teriakan itu membuat Daniel tersadar. Ia menggigit lidahnya untuk menghilangkan pandangan berkunang-kunang. Dia tahu bahwa bos terkahir telah datang. "Kau akan membayar semua ini! Merusuh di markasku dan juga membuat banyak kerugian untukku! Atas nama Matih, aku akan membunuhmu!" teriak bos gangster Ayam Hitam, Matih dengan penuh amarah sambil mengangkat tinggi celurit yang ia bawa. Daniel bangkit dari duduknya, dia membalas ucapan bos gangster dengan senyuman. Ia tak ingin membuang sisa tenaganya hanya untuk mengatakan omong kosong. Matih langsung menyerang Daniel begitu dia ada di hadapan Daniel. Ia mengayunkan celuritnya ke arah Daniel yang mana bisa Daniel hindari dengan sempurna. Matih terus melanjutkan serangannya dengan tebasan lain dari celuritnya. Daniel terus menghindarinya sambil terus mencari celah untuk menyerang balik. Ketika Matih mengayunkan celuritnya ke arah leher Daniel, Daniel segera menyerang lengan kanan Matih yang memegang celurit. Dia memutar tangan Matih hingga celurit terlepas dari tangannya, lalu menendang celurit itu sejauh mungkin. Matih langsung melepaskan genggaman Daniel dan menendang perutnya yang menyebabkan Daniel melangkah mundur. Matih berlari ke arah celuritnya, sambil mengambil sesuatu di lantai yanh bisa dia lempar, kemudian melemparkannya kepada Daniel yang sudah mengejarnya. Daniel menghindari botol pecah yang dilempar ke arahnya, tapi ia tak menyangka bahwa Matih akan berbalik lalu menyerangnya saat dia menghindari botol itu. Hasilnya dia terkena tendangan Matih di perutnya dan terpental beberapa meter. Matih menggunakan kesempatan ini untuk mengambil celuritnya yang ditendang jauh oleh Daniel. Daniel langsung bangkit setelah mendarat di tanah. Dia melihat ke arah Matih dan menemukan Matih telah mendapatkan celuritnya kembali. Daniel sakit kepala memikirkan ini. Saat memikirkan langkah apa yang harus diambil- "Bukankah Host memiliki pedang dari hadiah misi sebelumnya?" suara Sky menggema di benaknya membuat dia berhenti memikirkan langkah yang dia ambil. Benar! Bagaimana bisa aku melupakan teknologi canggih itu?! Daniel kemudian memikirkan kalung pedang muncul. Detik beeikutnya, kalung itu muncul di tangannya. "Berubah menjadi pedang," gumam Daniel. Kemudian, pedang itu berubah menjadi longsword dengan bilah tajam di kedua sisinya. Matih terkejut dengan pedang yang entah darimana muncul di tangan Daniel. Tapi, setelah beberapa saat, dia berhenti memikirkan hal itu. Toh, nanti setelah dia membunuh Daniel dia bisa mendapatkan pedang aneh itu. Matih berlari maju memperpendak jarak dengan Daniel yang baru berdiri. Dia mengayukan celuritnya dan kemudian disambut oleh pedang longsword Daniel. Pertarungan dua orang dengan senjata tajam telah dimulai. Suara tabrakan dua senjata tajam menggema di seluruh ruangan. Daniel mengayunkan pedangnya, tetapi ditangkis oleh celurit Matih. Daniel melanjutkan serangannya, tapi tetap saja bisa ditangkis oleh celurit Matih. Keadaan ini terus berlanjut hingga serangan Daniel ditahan untuk kesekian kalinya, tetapi Matih melayangkan serangan balasan. Celuritnya mengenai paha Daniel, kemudian dia menendang dada Daniel hingga terbang beberapa meter ke belakang. Matih tertawa terbahak-bahak setelah dia berhasil melukai Daniel. Dengan sombongnya dia berkata, "Bocah, sekarang tamat sudah riwayatmu. Sekarang, katakan padaku siapa yang mengirimmu? Kenapa kau menyerang markasku?" Daniel hanya memegangi kakinya yang terluka. Dia berkata, "Untuk menyelamatkan pacarku!" Wajah Matih dipenuhi dengan kejutan. Ia tak menyangka pacar CEO Sky Technology adalah bocah SMK ini. Ketika dia menatap Daniel lagi, tawanya kembali terdengar. "Ternyata selera CEO itu adalah berondong," katanya tertawa sambil memegangi perutnya. Matuh terus berceloteh mengejek Daniel karena ia merasa telah mengalahkan Daniel dan bisa dia bunuh kapan saja. Sedangkan Daniel, dia memikirkan bagaimana caranya untuk mengalahkan Matih dengan keadaan seperti ini. Ia berpikir untuk mengubah pedangnya menjadi panjang dan langsung menusuk Matih. Tapi, pedangnya tak bisa diubah secara instan. Membutuhkan pengoperasian manual untuk mengubah bentuk dari pedang. Jika dia mengubahnya saat ini juga, virtual holografik yang muncul akan menyebabkan perhatian yang tak diperlukan. Karena memikirkan hal ini, sebuah harapan terlintas di matanya. Dia berdoa semoga ada barang yang bisa digunakannya untuk melawan Matih di penyimpanan sistemnya. Daniel buru-buru mengecek isi dari penyimpanan sistem. Dia menemukan barisan jalur produksi ponsel pintar Gail-1, kacamata pintar, jam tangan pintar, laptop NeptuX dan sebuah senjata api. Ya, senjata api! Daniel sangat bersemangat sampai-sampai ia buru-buru melihat keterangan senjata api itu. [Electromagnetic Handcannon] [Sebuah senjata yang digunakan untuk menghancurkan dan melumpuhkan sinyal jaringan komunikasi elekrtronik. Senjata jenis ini sering digunakan untuk melumpuhkan jaringan GSM, GPS, GLONASS, Galileo (ketiga terakhir adalah tipe sistem navigasi satelit)]? Daniel langsung patah semangat, padahal ia sangat berharap pada senjata api ini, tapi harapannya dikhianati oleh kejamnya kenyataan. Wajah Daniel terlihat sangat putus asa. Matih tertawa terbahak-bahak melihat wajah Daniel yang putus asa. Dia berpikir bahwa keputusasaan Daniel disebabkan olehnya, tapi nyatanya tidak. Karena hal ini, dia terus berceloteh untuk menyiksa Daniel secara psikologis. Tentu saja Daniel tidak terpebgaruh dengan ini. Daniel benar-benar tak peduli dengan celotehan Matih. Ia melihat lagi keterangan Electromagnetik Handcannon, dan masih menemukan penjelasan yang sama. Ketika melihatnya lagi untuk ketiga kalinya, ia akhirnya menemukan tanda panah disamping penjelasan kegunaan dari Electromagnetic handcannon. [Electromagnetic Handcannon] ?[Mode Darurat: Ketika merasa teracam oleh sesuatu, Mode darurat bisa digunakan. Ketika mode darurat diaktifkan, sistem senjata akan membentuk sebuah pulse-energy yang bisa ditembakkan kepada musuh.] [Butuh waktu 60 detik untuk membentuk pulse-energy setelah menekan mode darurat. Pulse-energy akan ditembakan secara otomatis setelah pembentukan selesai] [Senjata akan meledak dalam waktu tiga detik setelah melepaskan pulse-energy] Daniel sangat bahagia melihat fungsi ini. Dia tak peduli kalau senjata ini akan hancur, yang dia pedulikan adalah senjata ini bisa dipakai untuk pertahan diri. Tapi ada satu masalah, yaitu waktu pembentukan pulse-energy membutuhkan waktu 60 detik penuh. Ia memikirkan cara agar ia bisa mengalihkan perhatian Matih selama masa pembentukan pulse-energy. Datanglah sebuah ide dalam pikirannya. Meskipun ide ini agak beresiko, dia hanya bisa menggunakan ide ini untuk mengalahkan Matih. Daniel memasukkan tangannya ke saku, kemudian secara diam-diam mengeluarkan Electromagnetic Handcannon dari penyimpanan sistem. Daniel menodongkan senjata itu kepada Matih dan berkata, "Kau kalah!" Bersamaan dengan mengatakan itu, dia menekan tombol mode darurat dan pembentukan pulse-energy diaktifkan. Proses pembentukan pulse-energy tak terlihat oleh Matih. Dia hanya terkejut karena Daniel memegang senjata persis sama dengan yang dia pakai sebelumnya. "Bagaimana bisa kau mendapatkan senjata apiku?!" tanyanya dengan ekspresi terkejut. Tapi setelah beberapa saat, ekspresi terkejut itu menghilang, digantikan dengan senyum kemengangan. "Haruskah aku menjawab pertanyaanmu dengan jawaban jujur seperti orang idiot?" kata Daniel mengejek, berusaha untuk mengulur waktu untuk pembentukan pulse-energy. "Tak perlu menjawab pertanyaanku. Coba saja tembakkan senjata itu," kata Matih dengan santai seolah-olah itu bukan apa-apa. Alasannya menjadi santai seperti ini karena senjata yang dia gunakan sebelumnya sudah tidak memiliki peluru lagi. Selain itu, tak mumgkin bocah SMK yang ada didepannya membawa sekotak peluru tanpa mbawa senjatanya ditambah dengan tak ada waktu bagi bocah SMK itu untuk mengisi kembali pelurunya. Dengan alasan ini, dia tak perlu takut. Daniel terkejut melihat Matih tersenyum tanpa ketakutan di matanya. Tapi tak butuh waktu lama untuknya memahami ini. Dia pun menggunakan ini sebagai momen yang cocok untuk mengulur waktu. "Seperti yang kau minta!" Setelah mengatakan itu, Daniel menarik pelatuk senjata itu, tapi tak ada hal yang terjadi setelahnya. Wajah Daniel langsung berubah putus asa, tapi ini hanyalah aktingnya. Matih tertawa Terbahak-bahak melihat ini. "Lihatlah, tak ada yang terjadi. Senjata itu telah kugunakan sebelumnya dan tak ada sisa peluru di dalamnya. Sebuah pistol tanpa peluru hanya akan menjadi sebuah sampah. Seperti dirimu saat ini," kata Matih dengan nada sarkas. 40 detik relah berlalu sejak Daniel menekan tombol mode darurat. Tangannya mulai gemetaran karena proses pembentukan pulse-energy mencapai tahap akhir. Namun, dari sudut pandang Matih, dia mengartikam ini sebagai kegugupan Daniel karena tak ada lagi kesempatan untuknya bertahan hidup. "Tunggu! Lihatlah ini! 5, 4, 3, 2, 1, tembak!" teriak Daniel seolah-olah berharap sesuatu akan terjadi, tapi tentu saja tak ada yang terjadi. Matih tertawa keras menatap Daniel yang masih berharap hal ajaib terjadi. "Sekali lagi!" kata Daniel penuh harapan. Dia tahu bahwa sebentar lagi pulse-energy akan segera selesai dibentuk dan akan ditembakkan. Cahaya kebiruan mulai muncul pada senjata itu. "Lima..." "Empat..." "Tiga..." "Dua..." "Satu..." Ketika Daniel menyelesaikam hitungan mundurnya, sebuah bola energi berwarna biru melesat ke arah dada Matih. Bola itu tak berhenti setelah menembus dada bagian kiri Matih. Itu terus melesat menembus dinding bangunan dan meledakkan energi yang terkandung di dalamnya. Ledakan itu membuat suara bising dan juga membuat jaringan yang ada dikisaran 5km lumpuh total. Untung saja markas gangster ini di pinggiran kota Banukarta. Jika dekat dengan pusat kota, pasti akan membuat perekonomian lumpuh sementara. "Kau..." Matih hanya bisa menggumamkan itu sebelum dia akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Daniel tak memperhatikan ini, karena dia terpana oleh pemanadangan ledakan itu. Sedetik kemudian dia ingat kalau senjata di tangannya akan meledak juga. Dengan panik dia melemparkan senjata itu ke arah pintu markas sekuat tenaganya. Detik berikutnya, senjata itu membuat ledakan besar yang lain. "Syukurlah aku bisa melemparkan itu tempat waktu," gumam Daniel dengan tangan yang benar-benar gemetar karena ketakutan dari ledakan itu. Dia memindahkan pandangannya kepada Matih yang sudah tak bernyawa. Dia menghela napas lega. Dia kemudian merebakan seluruh tubuhnya untuk beristirahat sejenak, tapi suara retakan dari area pintu masuk tak mengizinkannya untuk beristirahat. Dengan sisa tenaganya yang sedikit, berdiri dan kabur ke bagian dalam markas. Ketika Daniel mencapai bagian dalam markas, suara bangunan runtuh terdengar di telinga Daniel. Dia memaksakan kakinya bergerak lebih cepat ke tempat yang lebih aman. .... Lia Siyu dan Ritha sangat khawatir dengan Daniel yang datang untuk menyelamatkan mereka. Ketika ada anggota gangster yang melaporkan bahwa ada seorang siswa SMK datang menyerang markas mereka, Lia Siyu sudah menebak bahwa siswa ini adalah Daniel. Dengan penuh harapan mereka berharap Daniel datang menyelamatkan mereka. Ketika mereka dengan cemas menunggu kedatangan Daniel, dua ledakan beruntun mengejutkan mereka. Sosok Daniel dalam ledakkan langsung terbayang oleh Lia Siyu. Keputuasaan merasuki hatinya. Ketika ledakan ini berkahir, mereka merasakan getaran di ruangan mereka. Keduanya dengan pasrah menutup mata, mereka berpikir mereka akan mati tertumpuk oleh reruntuhan bangunan. Tetapi tebakan mereka salah. Rasa sakit dari tertimbun reruntuhan bangunan tak kunjung datang. Keduanya memberanikan diri membuka mata mereka, ruangan di mana mereka disandera masih utuh. Ketika mereka berpikir bahwa semua baik-baik saja, pintu ruangan terbuka dengan keras. Sosok seorang pemuda yang memegang pedang di tangannya dengan badan penuh luka dan darah berdiri di sana. Lia Siyu menatap pemuda ini dengan ekspresi wajah rumit. Ekspresi sedih, gelisah, senang, bahagia, malu dan juga bersalah beecampur aduk menjadi satu. "Daniel!" teriak Lia Siyu. Saat ini Ritha mengerti siapa pemuda ini. "Lia Jie, maafkan aku karena datang terlambat," kata Daniel berjalan menghampiri Lia Siyu dan Ritha, kemudian memotong tali yang mengikat mereka. "Akhirnya aku bebas," teriak Ritha dengan wajah gembira. Daniel hanya tersenyum melihat karyawannya bergembira seperti ini. Lia Siyu juga senang, namun rasa khawatirnya lebih besar dibandingkan dengan rasa senangnya. Dia menatap tubuh Daniel yang penuh luka. "Daniel, kamu-" Belum selesai Lia Siyu mengatakan sesuatu, sosok kurus muncul dibelakang Daniel dan menikam Daniel dengan pisau. Mata Lia Siyu terbuka lebar, terkejut dengan adegan ini. "Kamu...." Lia Siyu tak dapat menyelesaikan kalimatnya karena terkejut dengan sangat tiba-tiba. "Tidak!" teriak Lia Siyu dengan penuh kesedihan. Dia tak bisa menahan air matanya yang tanpa sadar mengalir. Sosok pria dewasa kurus tersenyum kejam kepada Lia Siyu, menunjukkan bahwa hidup mereka akan berakhir ditangannya. Daniel merasakan sakit sebentar, lalu dia langsung kehilangan kesadarannya. "Darurat! Darurat! Darurat!" Suara sistem dengan bgm tanda bahaya bergema di dalam pikiran Daniel. "Mode darurat diaktifkan." 68 Bab 67 : Koma Catatan : Latar novel ini merupakan latar Indonesia di Bumi alternatif. Ingat, ada banyak perbedaan dengan kenyataan, meski ada banyak kesamaan pula. Selamat menikmati~ ------------------------------------------ Bejo adalah orang kepercayaan Matih yang sering memberikan informasi pada Matih. Setelah memberikan perintah untuk menyiksa psikologis Lia Siyu dan Ritha kepada dua anggota gangster, dia pergi ke ruangannya untuk beristirahat sambil kembali memeriksa kesepakatan dengan klien yang menginginkan kode inti. Dia memeriksa semua isi kesepakatan untuk mendapatkan keuntungan tambahan. Tak butuh waktu lama baginya untuk mendapatkan celah untuk mendapatkan keuntungan, karena celah itu adalah pihak mereka bisa dengan bebas bisa menyalin kode inti aplikasi itu dan di jual ke berbagai perusahaan lainnya dengan harga yang mahal. Dia tertawa terbahak-bahak memikirkan itu, tapi segera terganggu oleh suara ledakan yang membuat ruangannya bergetar. Khawatir dengan rekan-rekannya, dia buru-buru keluar dari ruangannya dengan berbekal pisau untuk pertahanan diri, dia menuju ruang depan markas. Namun ketika dia sampai di sana, betapa terkejutnya dia melihat banyak teman-temannya terbaring di lantai karena telah tertimbun reruntuhan bangunan. Dia sangat ingin menolong mereka, tapi reruntuhan berat itu telah menimbun beberapa rekannya. Ketika dia melihat sekeliling mencari seseorang yang bisa diselamatkan, dia menemukan seorang pemuda dengan seragam sekolah yang berlumuran darah. Awalnya dia berpikir untuk menyelamatkannya, tapi setelah beberapa saat, dia maupun Matih tak pernah mengizinkan seorang siswa SMK untuk masuk dalam gangster mereka. Hanya satu kemungkinan di dalam pikirannya, yaitu bocah ini adalah penyebab ledakan ini. Memikirkan hak ini, gejolak amarah memenuhi isi hatinya. Dia melihat bocah itu memasuki area di mana Lia Siyu dan Ritha disandera. Ia diam-diam mengikuti bocah ini untuk mengetahui tujuan sebenarnya. Setelah mengikuti bocah ini berkeliling, bocah tersebut berhenti di ruangan Lia Siyu dan Ritha disandera. Bocah itu memukul kunci pintu ruangan sandera dengan pedang yang dia bawa, lalu membuka pintu dan berbicara sesuatu pada kedua sandera. Terbayang-bayang dengan kematian rekannya, Bejo memutuskan untuk pelan-pelan mendekati ruangan itu dan menunggu kesempatan untuk membunuh ketiganya. Saat ini uang bukan lagi prioritas dari Bejo, tapi membalaskan dendam teman-temannya! Bejo mengintip ke dalam dan menemukan bocah ini masih berbicara kepada kedua sandera tanpa kewaspadaan. "Inilah saatnya!" pikir Bejo. Memegang pisau di tangannya, dia kemudian bergerak dengan cepat. Jarak antara pintu dan bocah itu berdiri tidak jauh, jadi Bejo dengan sangat cepat sampai di punggung bocah itu hingga bocah tersebut tak bisa bereaksi sedikitpun. Dia memegang leher bocah itu, bersamaan dengan itu, dia menikamkan pisau ke pungung bocah itu. Beberapa saat kemudian, tubuh bocah itu lemas dan Bejo mendorongnya ke depan. Lia Siyu terkejut, melihat Daniel ditikam, dia langsung berteriak histeris. "Tidak!" Kakinya kemudian melunak, dia berlutut di lantai sambil menangis. Di dalam hatinya, dia terus menyalahkan dirinya sendiri. Ritha tidak lebih baik dari Lia Siyu. Dia yang tadinya berekspresi gembira, seketika berubah setelah dia mendengar jeritan Lia Siyu dan membalikkan badannya. Saat itu, dia melihat seorang pria kurus dengan wajah tersenyum, namun bukan senyum hangat, melainkan senyum kebahagiaan karena berhasil membunuh seseorang. Hasilnya, dia juga berteriak histeris melihat ini. Namun, pada detik berikutnya, tiba-tiba saja sebuah pedang dengan sangat cepat menebas kepala Bejo. sedetik kemudian, pedang yang digunakan untuk menebas Bejo menghilang dan Bejo pun terjatuh ke lantai. Tak berselang lama, tubuh Daniel pun ikut terjatuh karena kehabisan kekuatan. Aksi ini hanya terjadi dalam waktu tiga detik. Lia Siyu dan Ritha tak memperhatikan aksi Daniel menebas kepala Bejo Lia Siyu terus menangis, setelah berangsur-angsur tenang, dia menyadari sebuah keabnormalan situasu saat ini. Dia memberanikan dirinya untuk membuka matanya. Begitu matanya terbuka, dia sangat terkejut melihat tubuh Bejo tanpa kepala. Kemudian dia melihat Daniel terbaring tak jauh dari Bejo, dia buru-buru mendekati dan langsung memeriksa kondisinya. Lia Siyu memeriksa nadi dan jantung Daniel. Dia menemukan bahwa nadi dan jantung masih berdetak, tapi semakin melemah tiap menitnya. "Ritha, Ritha! Berhentilah ketakutan, kita selamat. Ayo bantu aku membawa Daniel ke rumah sakit," pinta Lia Siyu buru-buru takut akan jantung Daniel berhenti berdetak jika dia terlambat. Ritha terkejut mendengar Lia Siyu memanggilnya. Medengar permintaan Lia Siyu, dia mengangguk keras tanpa bersuara. Keduanya membawa Daniel dalam rangkulan mereka, lalu berjalan keluar ruangan. .... IndoNews : [Terjadi ledakan di Banukarta Barat!] Berita6 : [Meledak! Sinyal elektronik di kota Banukarta Barat tak berfungsi!] TerbaruNews : [Terjadi ledakan di Banukarta! Jumlah korban belum diketahui!] Berbagai portal berita online mengabarkan kondisi saat ini di kota Banukarta. Warga yang ada di dekat lokasi ledakan juga melihat lokasi ledakan dengan penasaran seakan-akan sedang melihat sebuah pertunjukan. Polisi yang telah datang menertibkan warga sekitar. Kemudian, Antrakhu menyisir area ledakan untuk mencari petunjuk sumber ledakan. Antrakhu adalah singkatan dari Pasukan Tentara Khusus yang bertindak untuk kejadian khusus seperti penyanderaan, terorisme, kerusuhan, dan kejadian membahayakan lainnya. Saat pasukan Antrakhu sedang menyisir area ledakan, mereka mendengar suara langkah dari dalam bangunan yang masih belum hancur. Dengan reflek mereka menodongkan senjata mereka ke arah sumber suara. Sang kepala pasukan mengangkat tangannya untuk bersiaga. Ketika dia menjatuhkan tangannya, itu adalah sebuah tanda untuk melepaskan tembakan. Wartawan dan warga sekitar merasa tegang mrlihat aksi mereka. Beberapa warga dengan panik meninggalkan tempat kejadian. Kemudian, siluet tiga orang terlihat. Dua orang wanita sedang merangkul seorang pemuda yang telihat tak sadarkan. "Berhenti! Katakan identitas kalian!" teriak kepala pasukan Antrakhu dengan nada galak. "CEO Sky Technology, Lia Siyu. Yang lain adalah Asisten divisi Periklanan, Ritha. Pemuda ini adalah adik angkat saya, Siswa SMK Sinar Abadi," jawab Lia Siyu dengan buru-buru. Kepala pasukan Antrakhu tak menjawab. Dia memberikan sinyal untuk mengkonfirmasi identitas tiga orang ini. Tak lama kemudian, seorang prajurit datang mengkonfirmasi hal itu, dia mengatakan bahwa hal itu adalah benar. Kepala pasukan Antrakhu memberikan sinyal untuk menurunkan senjata mereka. Dia dan beberapa prajurit lain maju mendekati Lia Siyu dan keduanya. Ketika kepala pasukan Antrakhu mendekat, dia melihat siswa di dalam rangkulan keduanya sedang terluka parah. "Ambil tandu dan juga bawa seorang Dokter untuk memeriksa kondisinya!" perintah kepala pasukan Antrakhu terburu-buru. Tak butuh waktu lama untuk Dokter dan tenaga medis untuk datang. Mereka membaringkan Daniel di tandu dan Dokter mulai memeriksanya. Wajah Dokter pucat ketika dia memeriksa tubuh Daniel. "Dia butuh perawatan segera! Detak jantungnya mulai melemah, dia juga kekurangan darah. Segera bawa dia ke mobin ambulan dan langsung berangkat ke rumah sakit!" Para prajurit ragu untuk menjalankan perintah dari Dokter, tapi setelah mendapat sinyal dari kepala pasukan, mereka langsung melaksanakan tugas. "Kalian berdua ikuti kami untuk menuliskan laporan keterangan kejadian ledakan ini," ucap kepala pasukan Antrakhu. Keduanya mengikuti dengan patuh tanpa ada penolakan. .... Rumah Sakit Umum Banukarta. Seorang remaja perempuan buru-buru menuju ruangan IGD, namun dihentikan oleh perawat yang ada di sana. "Aku ingin melihat keadaan kakakku! Kenapa kau malah menghentikanku?!" Rika berteriak dengan emosi. "Dek, Kakakmu sedang ditangani. Bersabarlah," jawab perawat itu dengan sabar menjelaskan. "Tapi aku ingin melhatnya sekarang!" paksa Rika ingin memasuki ruangan IGD. Raka, yang terlambat datang, langsung menghentikan Rika yang memaksa ingin memasuki ruangan. "Raka! Lepaskan aku! Aku ingin melihat Kakak di dalam, lepasin! Kalau enggak, aku akan memukulmu!" Rika meronta-ronta dengan air mata mengalir di wajahnya. Raka tak menjawab keluhan Rika. Dia tak mau melepaskan meski melihat Rika menangis seperti ini. Dia terus menahan Rika meski Rika terus meronta-ronta untuk masuk ke dalam ruangan. Perawat yang menahan Rika tadi masih berdiri di posisi yang sama memperhatikan tingkah laku dua remaja kembar ini dengan senyum canggung di wajahnya. Setelah belasan menit berlalu, Rika telah tenang dan kini duduk di kursi tunggu untuk menunggu kabar dari Dokter mengenai kondisi Daniel. Raka duduk di sebelahnya sambil menghela napas lega melihat Rika yang telah tenang. Suasana di kursi tunggu hening, tak ada dari mereka yang berinisiatif memulai obrolan karena keduanya sangat khawatir dengan kondisi Daniel sekarang. Rika dan Raka telah menunggu lebih dari dua jam. Rasa khawatir mereka telah memuncak, keduanya berpikiran untuk menerobos ruang IGD. Tapi, keduanya segera menghilangkan pikiran itu karena pintu ruang IGD telah terbuka dan sosok dokter muncul di sana. Rika langsung berdiri, dia tak sabaran mendatangi Dokter itu dan bertanya, "Dokter, bagaimana kondisi Kakakku? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana dengan tubuhnya? Jawab Dokter, jawab!" Raka juga tidak sabaran untuk mengetahui bagaimana kondisi Daniel sekarang. Dokter paruh baya menatap kedua remaja kembar ini dengan mata sedih. Dia tersenyum dan menyentuh kepala keduanya dan berkata, "Kalian ini adik kembarnya, ya?" "Iya, Dok!" jawab keduanya serempak. "Masa kritisnya udah berhasil dia lewati, tubuhnya tidak terluka parah dan telah diobati. hanya saja kondisi tubuhnya saat ini lemah dan dia koma. Menurut pemeriksaan saya, masa koma ini tidak berlangsung lama, dia pasti akan bangun secepatnya," jawab Dokter paruh baya itu menghibur keduanya. Keduanya lega kalau Daniel berhasil melewati masa kritisnya, tapi keduanya tetap khawatir karena Daniel dalam keadaan Koma. "Bisakah kami menjengguknya, pak Dokter?" tanya Raka. "Bisa," jawab Dokter. Keduanya sangat senang mendengar ini. Setelah beberapa saat menunggu, mereka pun bisa masuk menjenguk Daniel. Daniel terbaring tanpa daya di ranjang rumah sakit dengan alat bantuan pernapasan di mulutnya. Keduanya menatap Daniel dengan sedih. Rika mendekati Daniel, menggenggam tangganya dan berkata, "Kakak terus membuat diri Kakak terluka. Kemarin Kakak terluka ringan, sekarang Kakak sampai koma begini. Jika aku dan Raka kehilangan Kakak, siapa yang akan menjaga kami, Kak? Siapa?!" Air mata Rika berjatuhan di pipinya yang lembut. Raka juga ingin menangis, tapi harga dirinya sebagai lelaki tak mengizinkannya. Jika Rika tau alasan Raka ini, dia akan memukul kepala Raka sampai benjol. "Hei, berhentilah bersedih," kata Raka mengusap punggung Rika untuk menghiburnya. Rika tak menjawab perkataan Raka. Dia terus menangis sambil menggenggam tangan Daniel di pipinya. "Cepat bangun, Kak!" lirih Rika. .... Hari demi hari berlalu, Daniel tak kunjung bangun juga. Setiap hari Rika dan Raka menjaganya setelah melaporkan izin mereka ke sekolah. Teman sekelas Daniel juga mengunjungi Daniel yang koma, tak terkecuali Nurul yang masih membenci Daniel sampai saat ini. Selain mereka, guru-guru sekolah pun ikut menjenguk Daniel dan memberikan sumbangan untuk Daniel yang sedang koma. Ini adalah tradisi yang sering dilakukan oleh SMK N Sinar Abadi untuk memberikan sumbangan ketika ada muridnya yang tertimpa musibah besar. Lia Siyu juga datang setiap harinya untuk menjenguk Daniel. Bersama Bella, Silvia, dan Kinar, Duo Max dan Regi, setiap harinya juga datang menjenguk Daniel dan juga menghibur Rika dan Raka. Selain dari teman-temannya, Polisi juga datang untuk meminta keterangan dari Daniel atas peristiwa ledakan di Banurkarta Barat. Karena Daniel belum bangun, mereka hanya bisa menunggu hingga Daniel bangun dan kembali fit. Tanpa diketahui oleh Daniel, notifikasi sistem nuncul. [Karena telah memenuhi syarat untuk meningkatkan sistem, apakah Host akan meningkatkan sistem?] --------------------------------------------- Pengumuman : Halo semuanya, selamat malam. Seperti yang ditulis di pengumuman, saya akan memberikan pengumuman penting. Tak bisa dipungkiri bahwa cerita ini memiliki banyak sekali kekurangan di dalamnya. Mulai dari plot hole, karakter yang tidak konsisten, perkembangan terlalu cepat, sistem terlalu kuat, hubungan tokoh utama di sekolah, konflik-konfliknya, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, saya ingin menulis ulang cerita ini. Jika cerita ini di tulis ulang, pastinya akan ada banyak perbedaan di dalamnya nantinya. Seperti Sistemnya, perkembangan tokoh utama, konflik tokoh utama dengan lingkungan sekitar dan juga di sekolah, lebih banyak misi dan masih banyak lagi. Apakah kalian setuju jika cerita ini ditulis ulang? Atau terus dilanjutkan? Tuliskan pendapat dan pilihan kalian di komentar. Pengumuman lainnya adalah, cerita ini masuk tahap akhir di Arc 1 : Teknologi. Jadi, setelah beberapa bab, arc pertama cerita ini akan berakhir segera. Jika sesuai rencana, Arc 2 akan di publish pada bulan September nanti atau jika cerita ini ditulis ulang, maka arc 2 akan dimulai setelah arc satu hasil tulis ulang selesai. Pilihan kalian akan menentukan kelanjutan cerita ini~ Pengumuman yang terakhir adalah, saya ingin menulis cerita baru. Rencananya, saya ingin menulis projek kisah pahlawan super asal Indonesia. Tetapi, kerangka utama cerita ini belum kutulis, jadi saya rasa akan lama. Oleh karena itu, saya akan menulis cerita lain yang saya tulis selagi ada mood bagus. Setujukah kalian dengan cerita baru ini? Atau lebih memilih untuk memfokuskan pada System Technology and Superpower? Tuliskan pendapat kalian di komentar~ Ada lagi satu pertanyaan! Apakah kalian menikmati Sistem dengan Level atau tanpa Level? Jika tanpa level, maka akan ada banyak perubahan nantinya untuk pengaturan sistem. Akan saya tunggu pendapat kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya~ 69 Bab 68 : Peningkatan Sistem 10 hari telah berlalu sejak Daniel koma. Selain teman dan pihak kepolisian datang ke ruangannya, para wartawa juga sering datang untuk mengetahui kondisi terbaru dari Daniel, korban dari ledakan oleh teroris dengan kedok gangster di Banukarta Barat. Rika senantiasa menjaga dan merawat Daniel, dia dengan sabar menunggu Daniel bangun dan dia selalu tidur di samping Daniel. Kecintaannya kepada kakakmya dituangkannya saat ini. Dalam sepuluh hari ini juga, dia menyaksikan bagaimana penyusutan otot-otot yang ada pada tubuh Daniel. Dia sudah melaporkan kepada Dokter tentang kondisi Daniel itu, namun Dokter memberitahunya bahwa tak ada kondisi seperti itu dan menganggap bahwa itu hanyalah ilusi Rika semata. Rika bersikeras berkata bahwa itu adalah apa yang dia lihat sendiri tapi Dokter malah menganggap perkataannya hanya sebuah bentuk khawatir yang berlebihan kepada Daniel. Pada akhirnya, Rika hanya bisa pasrah dan terus merawat Daniel hingga sekarang. Rika sekarang sedang duduk di samping ranjang Daniel sambil mengupas apel. Dia sedang berbicara dengan Daniel yang masih terbaring lemah. "Kak, ingat tidak, waktu itu Kakak nolongin aku dari gangguan anak-anak di tempat kita tinggal dulu karena mereka menganggapku dan Raka aneh karena kita enggak punya orang tua, lalu mengatai kita anak pungut dan kata kasar lainnya. Aku sampai menangis karena mereka. Terus nih Kak, Raka berantem sama mereka dan akhirnya dia kalah karena jumlah mereka lebih banyak. Setelah kalah, dia menangis keras-keras. Mengingat ini membatku tertawa..." Rika langsung tertawa ketika dia mengingat kejadian itu, Raka menangis dan berguling-guling di tanah karena kalah bertarung, bukan karena kesakitan. Raka saat ini sedang ada di ambang pintu masuk ruangan. Ketika dia mendengar Rika bercerita kepada Daniel yang masih koma, dia berhenti dan memilih untuk tidak mengganggu Rika. Dia dengan tenang bersandar di sana sambil mendengarkan Rika bercerita. Tapi, saat Rika menceritakan bagian dia menangis, dia langsung kesal, tapi dibarengi dengan tawa. Dia kesal karena dia teringat dengan kejadian memalukan itu, namun juga tertawa karena itu. Raka bersandar di sana sebentar, kemudian dia mengepalkan tangannya dan bergumam, "Aku akan menjadi lebih kuat untuk melindungi Rika dan Kakak." Dia kemudian berdiri, menatap sebentar pintu ruangan, lalu berjalan pergi meninggalkan Rumah Sakit dengan mata penuh tekad. Sementara itu, Rika terus bercerita dan memakan apel di tangannya. Saat itu, tangan Daniel sedikit bergerak. Kelopak matanya sedikit bergerak. Rika yang makan apel kembali memandangi wajah Daniel yang sedang koma. Beberapa detik dia memperhatikan wajah Daniel, dia menemukan bahwa kelopak mata Daniel mulai bergerak. Merasa bahwa itu hanyalah ilusinya, dia mengucek-ngucek matanya beberapa kali, tapi dia tetap menemukan kelopak mata Daniel bergerak lagi. Rasa bahagianya tak bisa dia bendung, dia langsung berdiri dari kursinya. "Kakak!" teriaknya sambil berurai air mata. .... [Ding!] [Sistem Diperbarui!] Ketika dia mendapatkan lagi kesadarannya, hal pertama kali yang dia dengarkan adalah dering notifikasi sistem. "Selamat, Sistem telah diperbaharui." Suara Sky yang begitu lama tak didengar oleh Daniel akhirnya bisa terdengar lagi di telinganya. "Sistem diperbaharui?" tanya Daniel dengan nada penasaran. "Apa saja fitur-fitur barunya?" lanjutnya bertanya. "Mau tau aja atau mau tau banget?" Sky balas bertanya dengan nada bercandanya seperti biasa. "Aku tau, aku tau. Aku akan mencari tau sendiri tak perlu dirimu untuk menjelaskannya," jawab Daniel memutarkan matanya megingat bagaimana sebelumnya Sky bersikap seperti ini kepadanya. "Anak pintar!" puji Sky layakny orang tua memuji anaknya. "Karena Host begitu baik seperti ini, maka aku akan memberimu hadiah yang bagus. Cukup dengarkan ini," lanjut Sky. Perbaruan Sistem: Membuka Fitur Superpower Sistem Undian Terbaru Reset Level Perubahan Dalam Sistem Level Perubahan Tugas dan Penambahan Kategori Tugas Pembaruan Penyimpanan Sistem Toko Sistem dibuka Mendengarkan hal-hal apa saja yang diperbarui oleh sistem, Daniel bahagia. Namun hal selanjutnya yang dikatakan oleh Sky mengejutkannya. "Satu hal lagi, Host," kata Sky. "Sebenarnya, tugas terakhir host itu gagal dan berhasil. Tapi sistem utama memutuskan untuk memberikan hadiah exp namun kehilangan seluruh hadiah lainnya dan host kehilangan efek serum prajurit super." "Aku kehilangan efek serum prajurit super? Terus bagaimana efeknya di tubuhku?" Daniel sebenarnya tak terlalu khawatir jika dia kehilangan serum prajurit super karena sistem kekuatan super telah resmi dibuka. Dengan terbukanya sistem kekuatan super, dia bisa mendapatkan banyak kekuatan super layaknya di film-film superhero. Tapi dia khawatir dengan kesehatannya jika tiba-tiba dia kehilangan serum prajurit super. "Tak ada banyak efek, host hanya koma selama 10 hari karena sel-sel host harus beeradaptasi dengan keadaan semula. Ditambah lagi beban sel-sel host karena sistem dengan terpaksa menggunakan sistem darurat yang mana penggunaan sistem darurat ini bisa menyebabkan kematian host," jawab Sky. "Koma 10 hari?! Dan juga itu disebabkan karena aku sekarat?" Daniel terkejut mendengar ucapan Sky. "Bagaimana keadaan adik-adikku kalau aku koma 10 tahun?" "Lihatlah sendiri," kata Sky yang kemudian menghilang dalam alam bawah sadar Daniel. Sementara itu, Daniel telah membuka matanya. Yang pertama kali dia lihat adalah wajah penuh air mata bahagia dari adiknya yang dibarengi dengan senyuman. "Kakak!" panggil Rika dengan teriakan kebahagiaan. Melihat Daniel membuka matanya, ia tak bisa menahan kebahagiaannya. "Iya, aku sudah bangun," jawab Daniel dengan suara lemah. Kondisinya begitu lemah karena efek dari kehilangan serum prajurit super dan juga efek sel-sel yang digandakan untuk bergerak sangat cepat saat sistem darurat berlangsung. "Kak, kakak tunggu di sini. Aku akan memanggil dokter," kata Rika yang kemudian buru-buru meninggalkan ruangan rawat Daniel. .... Empat hari telah berlalunya sejak Daniel bangun dari komanya. Beberapa teman sekelasnya juga atang untuk menjenguknya, para petinggi perusahaan dan Lia Siyu juga datang. Selain keluarga dan teman-temannya, beberapa media online juga datang mencarinya untuk mewawancarainya tentang ledakan di Banukarta Barat itu, dan juga pihak kepolisian khusus yang mencari dirinya untuk mendapatkan kejelasan tentang ledakan tersebut. Setelah semuanya selesai, Daniel akhirnya mendapatkan kebebasannya lagi. Saat ini, dia sedang duduk di kasurnya, menatap perubahan yang terjadi pada sistemnya. "Sky, tampilkan statusku," perintah Daniel. Setelah update ini, tak perlu bagi Daniel untuk masuk ke dalam kesadarannya dulu untuk berbicara dengan sky. Cukup pikirkan saja apa yang dia ingin bicarakan, Sky bisa mendengarnya. "Nama : Daniel Usia : 17 Tahun Level : 0 Kekuatan Super : Tidak Ada. Undian : 2 Penyimpanan : Laptop, Kacamata Pintar, Jam Tangan Pintar, dll. Misi : Acak (0), Mingguan (1), Perjalanan (Terkunci)." "Tak banyak perubahan di sini. Mari kita mulai undian barunya," gumam Daniel dengan semangat. "Undian!" Tak lama kemudian, sebuah layar berbentuk lingkaran dengan berbagai warna di dalamnya terbagi dalam beberapa kategori. Ada 6 kategori di sana yaitu, warna abu-abu yang mengisi 75%, warna Biru dan Hijau masing-masing mengisi 7,5%, Hitam dan Merah mengisi 4,95% dan juga warna Ungu yang hanya mengisi 0,1% tersisa. Warna abu-abu mewakili barang biasa, hijau mewakili materi layaknya emas, perak, dan lain-lain. Kemudian warna biru mewakili pengetahuan seperti pengetahuan tentang teknologi, kimia, fisika, ekonomi, dll. Selain itu, warna hitam mewakili teknologi tinggi dan juga warna merah mewakili obat-obatan seperti serum dan juga obat-obatan maju lainnya. Kemudian warna ungu mewakili kekuatan super. "Bukankah ini terlalu tak masuk akal?!" keluh Daniel ketika melihat opsi barang biasa yang mengisi ? lingkaran undian. Sky tak menanggapi keluhan Daniel, dia hanya diam dan memperhatikan Daniel dengan senyum mengejek di wajahnya. "Tak perduli sekecil apapun kesemptan mendapatkan kekuatan super, aku pasti akan mendapatkannya karena aku mempunyai keberuntungan menentang surga," Daniel bergumam dengan penuh percaya diri. Ia kemudian menekean opsi undian di sana. "Undian dimulai!" suara Sky terdengar begitu Daniel menekan tombol mulai. Jarum yang ada di roda undian mulai berputar. Beberapa detik telah berlalu, gerakan jarum semakin perlahan. Tapi, jarum itu berhenti di warna abu-abu. Dengan tangan di mulutnya, Sky tersenyum mengejek dan berkata, "Mana keberuntungan menentang surga yang penuh percaya diri tadi? Pffft!" "Argh!" Daniel berteriak kesal karena ejekan dari Sky. Catatan: Selamat malam semuanya~ Akhirnya update lagi nih setelah 2 pekan lebih tak update. Rencananya nih senin pekan lalu mau update, tapi karena tiba-tiba dapat tawaran pekerjaan dan akhirnya keterima, saya fokuskan untuk kerja dulu sehingga cerita ini jadi terbengkalai dan pelajaran PUEBI yang saya rencanakan hancur sudah. Sebelumnya saya pengangguran dan hanya membaca serta menulis novel saja. Eits, tapi tenang, saya masih lanjut menulis kok. Meski masih ada beberapa kendala, tapi saya usahain buat update. Dan tahukah kalian? Segudang ide terus-terusan berkumpul di kepala saya dan akhirnya saya bisa menulis lagi~~ Nantikan terus kelanjutan kisah ini dan kisah-kisah lainnya. Spoiler! Hanya beberapa bab saja lagi menuju berakhirnya fase 1! Fase kemunculan superhero dan supervillain akan segera datang! Selamat malam dan terima kasih telah membaca! 70 Bab 69 : Hasil Undian Setelah terpilihnya warna abu-abu, sebuah barang muncul di penyimpanan Daniel. Barang itu adalah sebuah benda berbentuk seperti pita suara. Dengan pilihan info di sudut atas benda tersebut, Daniel mengkliknya. [Super-Microphone Exd-A] Sebuah produk dari Planet XDdraig. Microphone ini mempunyai banyak fungsi di dalamnya, antara lain; Pengubah suara, memperhalus suara, meningkatkan intensitas suara, dan banyak fungsi lainnya. Super Microphone Exd-A ini secara mandiri meletakkan dirinya di area pita suara, yang mana fungsi microphone hampir mirip dengan pita suara, yang mana fungsinya untuk memotong aliran udara dari paru-paru menjadi pulsa suara yang membentuk sumber suara laring. Otot-otot laring menyesuaikan panjang dan ketegangan dari pita suara untuk ''menghaluskan'' tala dan nada. Kemudian artikulator akan mengartikulasikan dan menyaring suara yang berasal dari laring dan untuk beberapa derajat dapat berinteraksi dengan aliran udara laring untuk memperkuat atau melemahkannya sebagai sumber suara. Untuk penggunaannya, microphone ini akan menempel pada pita suara penggunanya. Selain itu, daya tahan microphone ini sangat kuat, bisa diinstruksikan fungsinya langsung melalui sinyal otak. Melihat infonya, Daniel mengerutkan keningnya. Meskipun barang ini berguna, tapi tak begitu berguna untuk pertahanan diri. "Yah, tak apalah, ini juga berguna nantinya," kata Daniel pasrah sambil mengambil sebuah benda sangat kecil di jarinya kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya. Menunggu beberapa detik setelah itu, Daniel tak merasakan perubahan apapun. "Mari ke .... Suaraku berubah!" Daniel begitu terkejut ketika mendengar suaranya. Suaranya yang agak besar tanpa terkontrol, diperhalus oleh Super-Microphone Exd-A, sehingga suaranya terdengar lebih merdu daripada biasanya. "Kurasa ini adalah hadiah yang bagus," gumam Daniel tersenyum sambil memikirkan berbagai kegunaan mikropon ini untuknya. "Berhentilah tersenyum seperti itu, kalau tidak, Host akan disangka orang gila oleh orang lain," kata Sky memperingatkan Daniel untuk menenangkan dirinya. "Uhuk aku hanya senang mendapatkan hadiah yang berguna, bukan berarti aku gila," kata Daniel tak setuju dengan Sky. "Berhentilah membahas itu, mari mulai ke undian selanjutnya!" ucap Daniel bersemangat. "Memulai Undian!" suara Sky bergema dalam kepala Daniel. Jarum putih dengan cepat berputar pada lingkaran undian. Puluhan detik telah berlalu, gerakan putaran jarum putih itu semakin perlahan. Daniel melihat jarum putih itu dengan tegang, jantungnya berdegup kencang. Kemudian, terlintas sebuah pertanyaan di dalam pikirannya. "Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?" gumam Daniel sambil memperhatikan gerakan jarum putih. Sky hanya menggeleng ketika mendengarkan gumaman Daniel. Pergerakan jarum putih semakin melambat. Karena takut akan ketidakberuntungannya kembali terulang, Daniel menutup matanya sembari berdoa mendapatkan apa saja selain warna abu-abu. Pada akhirnya, jarum putih itu berhenti pada warna merah, yang mewakili hadiah obat-obatan. "Selamat, Anda mendapatkan Serum Prajurit Super V2!" Suara pengumuman sistem mengejutkan Daniel. Ia tak menduga bahwa ia mendapatkan Serum Prajurit Super lagi, bahkan, ini adalah versi yang diperkuat! "Aku tau bahwa keberuntunganku memang menentang langit, haha!" Daniel tertawa bahagia sekaligus menampilkan kenarsisannya. Sky pura-pura tak mendengar dan hanya diam saja. Tanpa menunggu lama, Daniel langsung mengambil Serum Prajurit Super V2 dari penyimpanan sistem. Serum ini berwarna biru yang sangat cerah, berbeda dengan warna serum sebelumnya. "Aku tahu ini akan menyakitkan, tapi aku sudah siap dengan ini!" Daniel kemudian mengetikkan sesuatu di ponselnya kemudian mengambil napas dalam-dalam. Dengan wajah penuh tekad, Daniel menggenggam serum dan menyuntikkan kepada dirinya sendiri. "Ugh - sakit sekali!" Daniel menjerit kesakitan, tapi setelah beberapa detik, dia kehilangan kesadaran dan terbaring di ranjang rumah sakit. .... Rika telah kembali dari sekolahnya. Ia awalnya pulang ke rumah untuk memasakkan makanan, kemudian ia langsung ke Rumah Sakit sambil membawa makanannya. Sedangkan Raka, dalam waktu empat hari ini, dia berlatih dengan keras dan menjadi lebih pendiam. Meski begitu, tetap saja kegiatan gimnya tak bisa berhenti, tapi ia telah mengurangi waktu untuk bermain gim dan live streaming-nya. Rika membuka pintu ruangan Daniel, tapi begitu pintu terbuka, Rika terkejut melihat Daniel tertidur pulas. Dengan senyum lembut di wajahnya, dia membantu meletakkan selimut ke badan Daniel. Sambil menunggu Daniel bangun dari tidurnya, Rika bermain ponsel. Namun, bukan sembarang bermain ponsel, tetapi dia menulis novel lewat ponselnya. Novel yang ditulisnya di ponsel berjudul "My Brother is My Superhero", yang mana berkisah tentang seorang adik perempuan yang selalu dilindungi oleh kakak laki-lakinya saat bahaya mengancam dirinya. Kisah ini berdasarkan apa yang dia imajinasikan tentang Kakaknya, Daniel. .... Keesokan harinya, pukul 05:00. Mata Daniel terbuka, dengan penuh semangat dia tersenyum lagi. "Aku merasakan sel-selku penuh gejolak," gumam Daniel. Setelah menggumamkan itu, Daniel mencoba untuk bangun dari ranjang Rumah Sakit, tapi baru saja ia ingin bangun, ia merasakan seseorang memegang tangannya. Melihat ke kiri, ia menemukan Rika tertidur di samping ranjang. Dengan perlahan ia mengusap rambut Rika dan memindahkan tangan Rika pelan-pelan. Setelah selesai, Daniel pergi dari ranjang Rumah Sakit secara perlahan, kemudian meninggalkan ruangan dia dirawat. Ia berjalan-jalan di area Rumah Sakit dan berhenti di lapangan bola kecil dekat Rumah Sakit. "Aku penasaran dengan kekuatanku sekarang. Mari mulai pemanasan," gumam Daniel bersemangat. .... Jam 09:00, Gedung Tiramisu, Kantor PT. Sky Technology. Kali ini, Sundar, selaku CEO Google sekarang, bersama dengan Sergey Brin, kembali mendatangi perusahaan Sky Technology. Keduanya datang dengan niat yang sama seperti sebelumnya. "Good morning, Mr. Brin, Mr. Sundar," sapa Lia Siyu pada keduanya. "Selamat pagi, Ms. Siyu," jawab Sergey Brin dalam bahasa Indonesia yang masih kaku dengan senyum kaku di wajahnya. "Good morning, Ms. Siyu," balas Sundar dengan bahasa Inggris sambil tersenyum karena ucapan kaku dari Sergey Brin. Alasan mengapa Sergey Brin mengucapkan salam menggunakan bahasa Indonesia adalah karena kebanyakan masyarakat Indonesia akan senang jika bahasa Induk mereka, bahasa Indonesia, dipakai oleh orang luar negeri. Bahkan, beberapa orang akan sangat bangga, atau, bisa dibilang overproud hanya karena hal ini. Agar bisa mendapatkan dukungan dari masyarakat Indonesia, itulah alasan dia menyapa dengan bahasa Indonesia. "Mari kita ke ruangan pertemuan," ajak Lia Siyu pada keduanya dalam bahasa Inggris. Keduanya langsung mengangguk dan mengikuti Lia Siyu masuk ke ruangan pertemuan. Lia Siyu mempersilahkan keduanya untuk duduk, kemudian ia juga duduk. Dia menatap keduanya dan bertanya, "Ada apa gerangan kedua orang penting dari perusahaan raksasa seperti kalian datang langsung ke perusahaan kecil seperti kami ini?" Sundar menatap Lia Siyu sebentar, kemudian membuka mulutnya, "Langsung saja, kami ingin membeli aplikasi kalian lagi, yaitu, asisten pintar "Teteh" yang sedang booming dipakai saat ini." Lia Siyu tersenyum, ia membuka mulutnya unruk berbicara. Tetapi, belum sempat ia mengucapka sepatah katapun, Sundar langsung berkata, "Harganya US$100 Juta, bagaimana?*" Lia Siyu tertegun mendengar harganya, tapi setelah mengingat pendapatan yang perusahaan dapatkan dalam satu bulan, harga ini bukanlah harga mahal, melainkan terlalu murah untuk aplikasi sekelas "Teteh". "Maaf, untuk penjualan kode sumber aplikasi teteh bukanlah otoritas saya. Selain itu, harga untuk produk kita terlalu rendah," jawab Lia Siyu dengan senyum tegas. "Apakah itu benar?" bukannya kecewa, Sundar malah tersenyum senang, seolah-olah jawaban Lia Siyu sudah ditebaknga dengan benar. "Bagaimana kalau ''Teteh'' adalah aplikasi yang rentan?" lanjutnya. "Aplikasi Teteh sangat aman, bahkan beberapa serangan hacker berhasil dicegah," jawab Lia Siyu dengan penuh percaya diri. "Kurasa kau masih belum mengerti maksudku. Aku dan Brin akan datang lagi besok hari, siapkanlah keputusanmu dan bosmu dan pahamilah kalimatku sebelumnya," ucap Sundar yang lalu berdiri dari kursinya, diikuti oleh Sergey Brin, kemudian berjalan keluar dari ruang pertemuan meninggalkan Lia Siyu yang merenungkan kalimat dari Sundar tersebut. .... "Sudah bisa keluar dari Rumah Sakit ini, ''kan, Dok?" tanya Daniel kepada Dokter yang sedang memeriksa tubuhnya. "Kenapa tiba-tiba tubuhmu sangat sehat? Ini benar-benar tidak logis untuk ilmu pengetahuan sekarang. Kami pihak Rumah Sakit benar-benar tidak pernah salah dalam mendiagnosa pasien," keluh Dokter yang menangani Daniel. Melihat ini membuat Daniel tersenyum canggung. "Karena saya sudah baik-baik saja, saya akan meninggalkan Rumah Sakit. Untuk biaya, saya akan melunasinya," kata Daniel, kemudian dia berterima kasih kepada Dokter dan meninggalkan ruangannya dirawat bersama dengan Rika. "Kak, apa Kakak benar-benar baik-baik saja?" tanya Rika untuk memastikan sekali lagi meski sebelumnya dia telah menanyakan ini berkali-kali. "Benar, aku baik-baik saja," jawab Daniel sambil mengusap rambut Rika. Rika tak mempertanyakan lagi tentang keadaan Daniel. Keduanya ke bagian administrasi untuk membayar biayanya, kemudian langsung kembali ke vila tanpa memperdulikan wartawan dari berbagai portal berita. Setelah sampai di vila, Daniel mendapatkan telepon dari Lia Siyu. Setelah berbicara sebentar, Daniel mengerti alasan mereka datang. "Jadi, mereka akan datang lagi besok, ya?" kata Daniel tersenyum dingin. 71 Bab 70 : Ancaman Google Keesokan harinya, pukul 9 pagi, Daniel sudah berada di kantor Sky Technology. Dia menunggu kedatangan Sundar dan Sergey Brin. Tak butuh waktu lebih lama, Sundar dan Sergey Brin sudah datang bersama dengan Lia Siyu. "Selamat pagi, Mr. Sundar, Mr. Brin," sapa Daniel dengan tenang pada keduanya. "Silakan duduk, mari dengarkan apa keinginan kalian berdua," lanjut Daniel. Keduanya bersalaman dengan Daniel kemudian duduk. Sundar berkata, "Mr. Daniel, kedatangan saya ke sini adalah mengakusisi seluruh perusahaan Sky Technology ini, beserta dengan seluruh karyawannya. Kemarin, saya datang hanya ingin aplikasi asisten pintar "Teteh", tapi saya berubah pikiran setelah melihat Anda." Daniel masih tenang mendengarkan ocehan dari Sundar. "Berapa harga yang bisa Anda keluarkan untuk perusahaan ''kecil'' ini?" tanya Daniel. "US$500 Juta!" ucap Sundar dengan tegas. Kemudian, dia berkata, "sejujurnya, harga itu terlalu tinggi untuk sekelas perusahaan berbasis internet seperti ini. Tapi, karena spesialnya dirimu, aku mengeluarkan harga ini." Sergey Brin yang ada di sampingnya memberikan tatapan setuju kepada Sundar. Menurutnya, perusahaan ini masihlah perusahaan muda yang bisa bubar kapan saja jika diterjang oleh ''ombak''. Di belakang Daniel, wajah Lia Siyu sudah tidak tenang lagi, ia merasa kesal karena perusahaan yang dia pimpin diejek oleh kedua orang itu. Sementara Daniel masih menatap keduanya dengan tenang. Dia mengetuk satu jarinya ke meja, lalu berkata, "Jika aku menolak?" "Maka ''Teteh'' akan dinilai rentan oleh Android," kata Sundar santai sambil menyeruput teh yang baru datang. "Maka keputusanku adalah menolaknya," jawab Daniel dengan tegas. "Apa kau tak takut dengan konsekuensinya?" nada Sundar mulai meninggi setelah mendapatkan penolakan dari Daniel. "Apa yang perlu ditakutkan oleh penolakan Android terhadap Teteh?" tanya Daniel tersenyum. "Berpikir untuk menjual kepada Apple atau perusahaan lainnya di AS? Bermimpilah. Bahkan jika kau menjualnya pada Apple, kami bisa membaginya masing-masing untuk kami karena itu adalah kepentingan bagi negara Amerika Serikat, bukan hanya untuk perusahaan pribadi semata. Asal kau tau saja, sistem di tempat kami lebih kompleks dibandingkan dengan yang ada di negaramu," jawab Sundar sambil tertawa, tawanya itu ditujukan untuk meremehkan Daniel. "Lalu, kau pikir Indonesia lima tahun kedepan akan kalah dari Amerika Serikat? Lihatlah akibatnya jika kau meremehkan Indonesia," suara Daniel sangat dingin. Ini semua dipengaruhi oleh pita suara yang didapatkannya, suaranya menjadi lebih dalam lagi dalam menyampaikan emosinya. Sundar dan Sergey Brin sempat bergidik, tapi setelah beberapa saat, keduanya kembali tenang. Dengan nada mengejek Sundar berkata, "Jika saja Presiden terkorup di dunia tidak korupsi pada masa jabatannya, maka negaramu ada kesempatan untuk mengejar ketertinggalan. Sayangnya dia telah melakukan korupsi yang merugikan negara dalam jangka waktu panjang. Teruslah bermimpi, Nak!" "Tidak hanya itu, masyarakat negaramu sangatlah mudah dipengaruhi oleh orang luar jika itu menyangkut soal agama. Belum lagi terlalu memakan informasi palsu, bahkan sekelas CEO perusahaan pun bisa disinformasi mengenai negaranya ssndiri. Ditambah dengan minat baca masyarakatnya yang rendah, hanya menunggu ombak besae datang untuk menghapusnya," kata Sergey Brin dengan ekspresi ironis melihat kepada Daniel. Crack! Suara kayu retak terdengar, tempat di mana suara itu terdengar ada di tempat di mana Daniel mengetukkan jarinya. "Anak muda tetaplah anak muda," lanjut Sergey Brin, kemudian menyeruput tehnya. Meskipun berkata dengan tenang seperti itu, sebenarnya dia merasakan ketakutan. Bagaimana tidak, kayu yang tebalnya belasan centi meter dengan mudah diretakkan oleh Daniel dengan satu jari. Alasan dia langsung meminum tehnya setelah berbicara adalah untuk menutupi kegugupannya, begitu juga yang di rasakan oleh Sundar. Daniel menghirup napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya. Emosinya yang terkumpul sudah berhasil ditenangkannya. Dia berkata, "Tapi, kalian melupakan satu hal penting dari masyarakat Indonesia." "Silakan keluar," kata Daniel dengan tenang. "Teruslah bersikap seperti itu. Hingga suatu saat nanti, kau akan datang dan memohon kepada kami untuk membeli perusahaanmu," ucap Sundar dengan tenang, kemudian berdiri dan berjalan pergi meninggalkan ruang pertemuan. "Selamat tinggal, bos kecil," kata Sergey Brin, kemudian juga berdiri dan meninggalkan ruang pertemuan. Setelah pintu tertutup, Lia Siyu yang diam meluapkan seluruh emosinya. Bahkan Daniel terkejut melihat betapa emosinya Lia Siyu saat ini. Daniel tersenyum memperhatikan bagaimana Lia Siyu meluapkan seluruh emosinya. .... "Rencana kita gagal! Bocah itu keras kepala sekali!" keluh Sundar sekaligus meluapkan kekesalannya saat berada di mobil. "Sudah kubilang kalau bocah itu bukan bocah biasa. Kurasa rencana itu adslah satu-satunya cara," kata Sergey Brin menghela napas, "kita akan kehilangan satu orang jenius lagi," lanjutnya. "Ya, hanya dengan rencana itu," jawab Sundar dengan senyum dingin. "Aku tak akan memberinya ampunan meskupun memohon-mohon kepadaku," lanjutnya. .... "Red kecil," panggil Daniel. Tak lama kemudian, sosok gadis kecil di layar holografik jam tangan pintar Daniel muncul. "Iya, Kakak?" tanya Red Queen. "Lakukan perawatan darurat pada aplikasi ''Teteh''. Perbarui fitur-fiturnya, terutama pada fitur obrolan dan fitur kontrol suara. Karena pembaruan dari aplikasi ini, harga berlangganan untuk wilayah Amerika Utara dinaikkan menjadi US$100/bulan. Untuk wilayah lain, tetap pada harga diskon 10%. Untuk wilayah Indonesia, diskon jadi Rp.20.000/bulan," perintah Daniel pada Red Queen. Alasan mengapa ia menaikkan harga di wilayah Amerika Utara adalah karena Google memberikan pengumuman bahwa aplikasi ''Teteh'' rentan akan penyerangan virus dan hal lainnya pada Android. Hal itu memicu perdebatan antar pengguna yang pro dan kontra terhadap pengumuman Google tersebut. Pihaknya sendiri sudah memberikan pengumuman di website resminya bahwa ''Teteh'' adalah aplikasi yang sangat aman digunakan oleh pengguna. "Baik, Kak," jawab Red Queen lalu memberikan hormat dengan tubuh mungilnya, tak lama kemudian dia menghilang dari layar holografik. Daniel tersenyum melihat tingkah lucu dari Red Queen ini. .... Empat hari kemudian. Daniel telah pulang dari sekolahnya dan langsung ke ruang bawah tanahnya. Dalam beberapa hari terakhir, dia telah berhasil menyelesaikan misi-misi kecil dan misi minggian dari sistem. Meskipun hadiahnya hanya poin sistem dan sekali undian, itu masih cukup berguna baginya untuk membeli bahan dan barang-barang biasa di toko sistem. Hasil yang didapatkan dari undian adalah Kacamata Pintar V2. Untuk bentuk dan ukuran dari Kacamata Pintar V2 ini bisa disesuaikan sesuai keinginan pengguna dan fitur di dalamnya sangat kaya. Saat ini, Daniel menggunakan Kacamata Pintar V2. [Misi Acak telah didapatkan] Notifikasi sistem membangunkan Daniel dari penilitiannya tentang mini reaktor layaknya dibuat oleh Tony Stark. "Misi apa kali ini?" tanya Daniel dalam benaknya. [Selamatkan dirimu dan keluargamu dari Pembunuh Bayaran!] "Pembunuh bayaran?!" seru Daniel yang kemudian wajahnya menjadi dingin. "apakah ini langkah lain dari Google?" gumam Daniel sambil memikirkan sesuatu. [Selamatkan dirimu dan keluargamu dari Pembunuh bayaran | Tipe : Misi Acak] Penjelasan : Seseorang telah memerintahkan salah satu organisasi pembunuh bayaran terkenal di dunia untuk membunuhmu atau orang terdekatmu. Teruslah waspada dan kalahkan pembunuh bayaran ini. Kondisi Keberhasilan : Host selamat. Kondisi Kegagalan : Host Mati. Hadiah : 1) Pokok : 25.000 Poin Sistem, 1x Undian, 1x SkyPhone. 2) Pembunuhan : Setiap seorang pembunuh bayaran dikalahkan, mendapatkam 1.000 poin. 3) Terselamatkan : Setiap orang yang bisa diselamatkan, mendapatkan 2500 poin sistem. Hukuman : Pengurangan 5.000 poin sistem setiap kematian orang. Daniel langsung memecahkan gelas kimia yang ada ditangannya setelah membaca isi dari misi yang ia terima. "Host, tenanglah," suara Sky terdengar dipikiran Daniel untuk menenangkannya. "bernapaslah seperti air mengalir, di sore hari, berwarna biru, sebiru hatiku," lanjutnya sambil bernyanyi. "Sky!" teriak Daniel kesal. Meskipun begitu, amarah di hatinya sudah mulai tenang. "Oh, Host, kita bertemu lagi," sapa Sky. Daniel menghela napasnya. Dia berkata, "Sejak pembaruan sistem, kita bisa berkomunikasi setiap hari. Tak perlu sapaan seperti itu." "Ngomong-ngomong, terima kasih untuk lagunya," lanjut Daniel tersenyum, kemudian merapikan pecahan kaca yang ada di lantai. "Tidak apa-apa, sudah tugasku bernyanyi, apalagi suaraku yang indah nan mempesona ini bisa direkam, maka itu akan menjadi penyanyi yang hits di kancah musik Indonesia dan Internasional," kata Sky dengan gaya narsisnya seperti biasanya. "Tak bisakah kau menghilangkan sikap narsismu itu?!" protes Daniel. Bukannya berhenti, Sky malah menyerang Daniel kembali, "Bukannya Host juga narsis?" "Uh itu tak seperti yang kau pikirkan," Daniel merasa bahwa dia tak bisa lagi berargumen dengan Sky. "Host, sebaiknya kau berhati-hati. Kali ini, mereka benar-benar menargetkanmu. Dan lagi, permasalahanmu dengan Google akan berbuntut panjang, kau harus butuh persiapan yang sangat banyak," ucap Sky. "Aku tau itu," jawab Daniel tersenyum santai. Ia membuang serpihan kaca ke tong sampah dan berkata, "karena itulah aku sudah sedikit mengumpulkan poin sistem dari beberapa misi terakhir. Setidaknya, untuk persiapan awal aku sudah siap." Melepaskan jas putihnya, Daniel berkata, "Ini pertama kalinya kau mengkhawatirkanku, Sky." "Aku akan mati jika kamu mati, sesederhana itu," jawab Sky dengan wajah malu-malu. Daniel tentu bisa melihat ini lewat pikirannya. .... Di sebuah rumah, malam hari, saat sebuah keluarga sedang makan malam. "Eksekusi mereka!" kata seseorang misterius yang sedang bersembunyi di dalam rumah. "Laksanakan!" jawab yang lainnya menanggapi orang itu.