《Jenius Yang Nakal》 Chapter 1 - Mesin Sidik Jari Pagi itu sekolah sudah ramai dengan segala kesibukannya, di mulai dari sidik jari sebagai tanda mengikuti apel pagi hingga upacara karena hari itu adalah hari senin. Tampak jelas perbedaan pakaian yang dikenakan oleh siswa baru yang masih sangat putih dan cerah dibanding siswa lain yang sudah sedikit kusam atau menguning namun tetap terlihat bersih. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah 3 hari sebelumnya di adakan masa orientasi siswa yang di laksanakan oleh para senior kelas 11 dan 12. Pelaksanaan upacara sedang di persiapkan dan beberapa pelaksana sedang mengambil posisi sesuai tugas masing-masing sebelum akhirnya kehebohan terjadi. Dari arah gerbang yang sebentar lagi akan ditutup tampak seorang laki-laki berjalan masuk dengan santai melempar senyum ke arah barisan siswa baru yang berada tidak jauh dari gerbang sekolah. "Bukankah itu Adith? tak ku sangka melihatnya secara langsung berbeda sekali, meskipun apa yang di deskripsikan oleh orang-orang selama ini sepenuhnya benar" bisik salah seorang siswa kelas 11 "Tidak dia lebih dari yang dikatakan oleh orang, pokoknya aku bersyukur bisa hadir hari ini" tambah yang lain dengan nada yang tak kalah semangat. "Ya ampun,, lekuk wajahnya begitu sempurna dan lesung pipinya saat tersenyum sungguh melemahkan kaki ketika melihatnya" Se isi lapangan ribut dan heboh karena kedatangan Adith. Namun kemudian menjadi semakin heboh melihat seseorang yang juga menyusulnya beberapa saat kemudian tak jauh dari belakang. Dan kini bergantian dengan para laki-laki yang menjadi semakin ribut. "Wow itu Alisya, aku tak tau kalau dia akan kesekolah ini" Teriak seorang siswa di barisan cowok. "Alisya selamat datang..." teriak yang lainnya. Keadaan semakin tak terkendali karena kedatangan Alisya yang menyebabkan para guru dan anggota osis harus turun tangan untuk menenangkan keadaan. "Hei, kamu... kamu tidak lihat ini sudah jam berapa? kamu tidak di izinkan masuk ke dalam barisan" ucap Siska, senior kelas 11 yang merupakan anggota osis. "Maaf kak, tapi sepertinya saya belum telat dan masih bisa memasuki barisan" jawab alisya sopan tanpa menundukkan pandangannya. "Kamu kalau dibilangi telat yah telat!!" siska membentak dengan suara yang sedikit kasar. "Kakak bisa liat mesin sidik jari di pos jaga itu kan? mesin sidik jari itu sebagai penanda bagi satpam jika lampunya berwarna hijau itu berarti siswa masih bisa melakukan sidik jari dan belum terlambat sedangkan jika lampunya berwarna kuning maka siswa itu akan mendapatkan pinalti namun masih di izinkan untuk memasuki sekolah sedangkan jika berwarna merah maka siswa itu dikatakan terlambat dan tidak dizinkan masuk" ucap alisya menjelaskan dengan suara lembut dan tetap sopan namun terdengar dingin. Semua orang terpaku dengan perkataan Alisya tidak terkecuali Siska. bagaimana dia bisa tahu sampai sedetail itu peraturan sekolah sedang ini adalah hari pertama ia masuk dan belum banyak orang luar yang mengetahui mengenai mesin sidik jari itu karena alat itu barulah dipergunakan pada hari ini sedang sebelumnya hanya berupa absen berjalan saja. "Dia benar siska, sebaiknya kamu jangan terlalu keras. mereka masih baru pertama masuk sekolah, jadi masih banyak penyesuaian yang harus di lakukan" Ucap Firman dari belakang siska yang merupakan ketua osis pada saat itu. Alisya dipersilahkan memasuki barisan dengan semua teriakan para laki-laki yang mengangungkan cara Alisya menangani sikap angkuh Siska. terlebih lagi dengan gaya yang tetap sopan namun dingin. Chapter 2 - Loh.. Ngapain Kamu Disini? Upacara telah selesai dilaksanakan dengan semua siswa sudah beranjak dari posisinya menuju ke ruang kelas masing masing. Begitu pula seluruh siswa baru yang hadir pada pagi hari itu. Hanya Alisya dan Adit yang menuju ke papan informasi untuk melihat ruang kelasnya berada. "Kamu ada dikelas MIA 2 Sya..." ucap Karin menghampiri Alisya yang sibuk melemparkan pandangannya mencari arah kelas yang di tunjukkan. "Lagian kamu sih, kenapa tidak hadir pas masa Taaruf kemarin?"Tambahnya lagi seraya melingkarkan tangan di lengan Alisya dan menariknya pergi. Alisya tidak menjawab pertanyaan karin karena ia rasa itu tidak perlu ia lakukan. Karin adalah sahabat karibnya sejak SMP dan sangat mengenal Alisya melebihi Alisya sendiri. Tanpa sadar ia menurut saja mengikuti langkah Karin meski Ia tidak suka jika ada seseorang melingkarkan tangan di lengannya. Dan untuk Karin, ia adalah pengecualian. Adith yang sedari tadi memperhatikan mereka diam - diam tergerak mengikuti arah langkah kaki karin dan Alisya. Hingga akhirnya langkahnya harus terhenti karena kerumunan siswi menghampirinya namun tetap memasang jarak dengannya. "Adith kamu kelas MIA 1 kan? kita sekelas loh sini aku antar kamu ke kelas" serbu seorang siswi semangat. "Ah,, terimakasih... apa itu berseblahan dengan MIA 2?" tanya adith sambil mencari 2 orang perempuan yang sudah menghilang dari pandanganya. "MIA 2 letaknya agak jauh dari MIA 1, mereka hanya sekumpulan pecundang Dith. sedangkan kita itu kelas elit dengan rata-rata IQ di atas 100" "Tingkat kita berbeda dengan mereka, itulah kenapa ruangan kita memiliki banyak keistimewaan khusus dengan semua fasilitas sendiri yang terpisah dari kelas lainya termasuk di antaranya perpustakaan, kantin, toilet dan gedung olah raga serta ruangan full Ace" tambah yang lain di antaranya "Itulah mengapa kelas kita memiliki kompleks yang sangat luas jauh dari kelas lainnya " Lanjut yang lain dengan tatapan penuh cinta. Adith sudah terbiasa dengan banyaknya siswi yang selalu mengerumuninya terutama tatapan penuh cinta yang dilontarkan mereka. namun karena hal itu pula yang membuatnya kehilangan ketertarikan terhadap mereka. Baginya sesuatu yang mudah tidaklah menarik minatnya. . "Um,,,, kalau begitu maukah kalian mengantarku ke kelas MIA 2? ucapnya mengukir senyum memperlihatkan lubang kecil pada bagian pipi yang langsung di anggukan oleh semua siswi di hadapannya. "Aku baru pertama kali liat senyumnya" teriak seorang siswi dalam bisik "Banyak yang bilang kalau dia kasar, sombong dan arogan. Tapi kalau untuk dia di siksapun aku akan bahagia" terang yang lain setengah berbisik juga sambil berjalan mengarahkan. "Kamu tampak seperti seorang Masokis yang bahagia" tambah yang lain di iringi oleh tawa siswi lainnya. "Nah, ini dia rungannya." ucap mereka hampir bersamaan dengan suara lembut yang merayu. "Oke. terimakasih kalian boleh pergi" ucapnya acuh tak acuh "Kamu ngapain masuk? di dalam kotor dan bau. kamu nggak cocok ada disini". Adith tidak menjawab dan hanya melemparkan pandangan mengancam yang sedetik kemudian membuat kerumunan siswi itu mundur dengan cepat secara bersamaan. Adith langsung memperhatikan Alisya yang duduk sendiri dekat jendela yang sedang menghadap langit. Hembusan angin menerpa rambutnya memperlihatkan pipi dan leher mulusnya yang berwarna kuning langsat cerah dengan hadset putih menutup telinganya. Baru saja Adith masuk, wali kelas sudah berada dibelakangnya menatap aneh para siswi yang ada disana. "Miya, kalian ngapain disini? " Tanya ibu Arni bingung. "Oh itu bu anu, cuman mau liat-liat aja kok" jawab miya sedikit gagap karena masih terintimidasi tatapan Adith. "Ya sudah kembalilah ke kompleks kalian" ucap bu Arni tegas. kompleks memang sebutan yang lebih tepat di banding kelas karena luas dan mewahnya tempat yang diberikan sekolah kepada mereka yang merupakan siswa-siswi elit itu. selain karena jenius, mereka semua juga berasal dari kalangan atas. "Selamat pagi anak-anak" Teriak ibu Arni riang setelah menempatkan barang bawaanya di atas meja. "Pagi bu... " Ucap mereka serentak membalas ibu Arni dengan pandangan bingung. "Hmmm... ada apa? " tanyany bingung sambil melirik ke arah pandangan para siswa. "Loh, kamu ngapain disini? ini bukan kelas kamu" tanya ibu Arni canggung Chapter 3 - Melihat??? "Maaf bu saya hanya kemari untuk menyapa teman saya, tapi sepertinya dia bukan dikelas ini" "Begitu yah,,, Ya sudah kamu bisa balik ke kompleksmu juga" Ibu Arni bisa tau betul siapa yang berada di depan ruang kelas ini. Jika pada seluruh kompleks terdapat banyak elit dari kalangan atas, maka mereka masih berada jauh di bawah Adith, dialah elit yang sesungguhnya. "Baik bu, kalau begitu saya permisi.... " dengan sedikit anggukan dan senyuman yang membuat ibu Arni terpaku sejenak sebelum menjawab. "I Iya... " gagap dan merona karena ketampanan Adith yang terlihat tulus akan senyumnya. "sungguh ketampanan yang tidak bisa aku saksikan setiap hari" pikirnya dan terbatuk malu akan umurnya. Adith berjalan keluar pintu setelah cukup puas untuk setidaknya memastikan wajah yang cukup menarik baginya. bukan karena paras cantik atau pesona tubuhnya, melainkan sesuatu yang berbeda yang ada dalam diri Alisya. "Sepertinya sekolah ini akan menarik" pikirnya mengukir senyum penuh arti melangkah pergi di ikuti para siswi elit yang belum beranjak dari tempat itu. *** "Baiklah, sebagai wali kelas kalian.. pagi ini kita akan mendiskusikan mengenai pemilihan ketua kelas, wakil serta bendahara yang akan bertanggung jawab penuh terhadap kelas kita kedepannya" "Apakah ada yang berencana untuk ambil bagian? " lempar bu Arni ke seluruh siswa di dalam ruangan. "Itu bu, bagaimana kalau Alisya, saya rasa dia bisa jadi pemimpin yang baik" terang Rinto menujuk Alisya yang masih menatap langit dengan mata tertutup. "Saya juga setuju Bu, Alisya cocok untuk posisi ini" tambah Yogi semangat. "Kalian apa apa''an sih, memangnya siapa Alisya? dia tampak seperti seorang pemalas dan pembangkang! mana cocok? " bantah Yuyun sinis. "Lebih cocok Miska, dia cerdas dan sudah banyak pengalaman akan ini. dia juga cantik! di banding yang tidak punya sopan santun itu yang sedari tadi tidak memperdulikan ibu guru yang sudah masuk! " sambung Nely "Adora, sentuh pundak Alisya! pinta ibu arni yang sudah menghafal nama mereka sewaktu absen tadi sebelum perdebatan ini di mulai. Ragu ragu Adora menepuk pundak Alisya lembut. sadar akan tepukkan yang terasa sedikit hangat dan gemetar Alisya berbalik melihat Adora dan memandangnya bingung.. "????" "Ibu guru...." lirik adora kedepan kelas "hmmm... " ikutnya menoleh kedepan kelas "Kamu mau jadi ketua kelas?? wakil atau bendahara? " Ibu Arni hanya menggerakkan bibirnya tanpa bersuara. Alisya juga tidak bersuara dan hanya menggelengkan kepalanya kemudian menoleh ke jendela. "Dasar tidak sopan, sombong sekali dia berprilaku seperti itu dihadapan ibu guru! apa ini yang kalian bilang pemimpin? " geram Yuyun menatap tajam Yogi dan Rinto. "Diam kau, sebaiknya kamu hati-hati dengan apa yang kamu ucapkan jika tidak mengenal siapa Alisya" ancam Rinto. "Ku harap Alisya tidak melihat apa yang kamu katakan! " tambah Yogi yang melirik ke arah Alisya takut. "Melihat??? pfftttt hahahaha... bukannya harusnya yang kamu katakan mendengar? berarti dia tuli yah? makanya itu yang buat ibu guru berbicara tanpa mengeluarkan suara? " ejek Nely dengan cekikikannya yang tak berhenti. Bagi para siswi yang tidak mengenal Alisya dia bukanlah seseorang yang akan mendapatkan perlakuan khusus. dan secara tidak langsung mereka sudah menumbuhkan kebencian di dalam diri mereka. Baru saja Siswa lainnya ingin menjawab, ibu arni sudah menghentikan perdebatan mereka. "Cukup, Nely hati-hati terhadap lidahmu! tegas Ibu Arni. "Kalau begitu Miska yang akan menjadi ketua kelas. sisanya biar Miska yang mengambil keputusan" "Baik Bu! " ucap Miska menunduk memberi hormat. Miska merupaka seorang anak yang cukup cerdas dengan pembawaan yang anggun dan tidak perlu berkata banyak karena dua orang pengikutnya secara tidak langsung sudah bisa mewakilinya. Untuk menjaga Image Anggunnya ia lebih memilih membiarkan dua orang itu saja yang berkotek-kotek untuknya. Setelah Ibu Arni Pamit, suasana rungan kembali ribut namun tidak kembali membahas masalah sebelumnya karena dihentikan oleh Miska. Yuyun dan Nely menjadi Wakil ketua kelas dan bendahara atas keputusan Miska. baginya memilih mereka berdua jauh lebih mudah di atur di banding harus memilih yang lainnya. Chapter 4 - Tapi Aku Suka Pelajaran kedua telah selesai dengan tanda bunyi bel jam istrahat. Alisya hanya terduduk diam di mejanya melemparkan pandangannya keluar jendela. Ia akhirnya menoleh ketika seseorang menepuk pundaknya dan itu adalah Karin. meski berbeda ruangan, Karin sudah terbiasa bersama Alisya sehingga dia datang menjemputnya untuk ke kantin. "Kamu nggak mau makan?" Ia tertunduk setengah berbisik. yang dijawab dengan gelengan kepala Alisya. Menepuk pundaknya lagi "Ayo makan, aku yang traktir" kali ini ia tidak menunggu jawaban Alisya dan langsung menariknya menuju kantin. Tepat ketika mereka sudah disana, kantin ternyata sudah ramai oleh para siswa. tentu saja tidak untuk para elit karena mereka punya kantin sendiri yang bisa disebut sebagai restoran dengan koki yang menghidangkan makanan plus menu yang berganti tiap harinya. "Wah.... sepertinya kita tidak kebagian tempat duduk nih Sya" ucapnya dengan terus melihat kesekeliling kantin. Alisya juga dengan malas melihat ke sekeliling hingga melihat Rinto dan Yogi beserta yang lainnya sedang duduk makan. Tanpa memperdulikan Karin yang sedang sibuk mencari, Alisya bergerak dan menepuk pundak Rinto. Seketika itu pula Rinto dan Yogi langsung mengosongkan tempat di ikuti pandangan bingung dari yang lainnya. "Silahkan duduk Sya, kami akan cari tempat lain saja" bisiknya menatap teman yang lain memberi tanda untuk pergi "Ayo kalian berdirilah! " ucap yogi kepada yang lain. Alisya mengangkat tangannya kepada Karin dan menyuruhnya mendekat. "haaahhhh,,, " desahnya ketika mendekat. "Memang hanya dirimu yang mampu melakukan ini tanpa banyak bicara" entah ini pujian yang baik atau buruk iapun bingung harus bereaksi bagaimana tapi setidaknya mereka akhirnya bisa makan. "Ya sudah aku pesan Bakso dan Nasi goreng kamu Bakso dan Nasi goreng juga kan? " Nafsu makan kedua wanita ini cukup besar untuk bisa menghabiskan makanan itu. "Mie ayam dan Nasi goreng" tatapnya ketus kepada karin. "Dasar! Giliran makan aja baru keluar tuh suara" ledek karin. Ia sebenarnya tau makanan kesukaan Alisya tapi ia sengaja mempermainkannya. Setelah beberapa saat, pesanan mereka akhirnya datang. Karin dan Alisya dengan segera mempersiapkan bumbu bumbu penambah rasa yang sudah tersedia dia atas meja. dengan cekatan mereka menuang kecap, saos sambal, sambal, sedikit garam dan perasan jeruk.. Baru saja Alisya akan menyuap mulutnya tiba-tiba seseorang mengambil tangannya dan memakan Mie ayam di sendoknya. "Ummm.. Ini enak, bagaimana dengan ini? mengambil Nasi goreng menggunakan tangan Alisya. "Tidak buruk, kombinasi yang sempurna dan pecah di lidah meski sedikit pedas, tapi aku suka" ucapnya di belakang Alisya setengah tertunduk untuk bisa memasukkan makanan yang ada di tangan Alisya. Karin yang kaget melihat apa yang di lakukan Adith membuatnya terbatuk-batuk tanpa henti. pedasnya bakso menambah rasa gatal di lehernya. Setelah meminum air dia menoleh keseluruh ruangan kantin dan semua orang juga membeku dengan apa yang mereka saksikan sedang ekspresi Alisya tetap datar. "Ehem.. maaf tapi sepertinya ini bukan tempat untuk elit makan! karena aku pikir makanan ini tidak akan cocok buatmu dan bisa membuatmu sakit perut" Karin sedikit gugup ketika menjelaskan hal tersebut kepada Adith. Apa yang di ucapkan Karin mendapat Anggukan oleh semua siswi yang sedari tadi memperhatikan namun mereka tak berani bersuara karena takut. "Tidak masalah, aku punya banyak dokter pribadi yang akan mengurusku nantinya. Lagi pula aku bosan dengan Rejunk!" duduk di samping Alisya yang kembali fokus untuk makan tanpa memperdulikan Adith setelah mengganti sendoknya. "Aku pikir sebaiknya kamu kembali, disini bukan tempatmu" Ucap Alisya dingin sambil menyeruput kuah dari mie ayam. "Aku bebas kemana saja. Dan kenapa kamu mengganti sendokmu? bukankah kamu harusnya bersyukur memakai bekas sendokq" "Terserah padamu mengenai kemana saja tapi yang aku maksud adalah meja ini. Aku hanya tidak ingin tertular oleh penyakitmu" terus melanjutkan makannya. "Hei.. kau pikir aku memiliki penyakit menular? " "Jika tidak buat apa kamu memiliki dokter yang banyak jika satu saja cukup hanya untuk memastikan kau bisa makan dengan lahap? kau sepertinya memiliki tim dokter dari berbagai bidang yang memeriksa tiap inci tubuhmu" ucapan Alisya memang benar tapi itu terdengar seperti sedang mengejeknya. hanya saja keluarganya memiliki Tim dokter yang sesekali akan melakukan cekup kesehatan agar tubuhnya tetap prima selama menjalankan bisnis keluarga sedang ia masih SMA. selain itu dikarenakan dia memiliki alergi yang tinggi terhadap semua jenis parfum. Chapter 5 - Kau benar benar menggoda "Spertinya kau tidak cocok berada di MIA 2 kau lebih cocok berada di MIA 1". "aku tidak cukup cerdas dan tidak memiliki ayah dengan perut yang besar" Di Indonesia, perut besar melambangkan kesejahteraan atau kekayaan. "hahahahahha,,, kau menggambarkan orang kaya dengan cara yang unik" Adith tertawa lepas dengan besar. "Ka mengingatkanku akan seseorang! " ucapnya sambil mendekati tubuh Alisya Melihat gerak tubuh Adith, Alisya dengan refleks memberikan peringatan tegas. "Sebaiknya kau tidak melakukan hal-hal seperti ini lagi" Ancamnya dengan ujung garpuk sudah berada tepat di leher Adith namun tersembunyi oleh rambutnya dan hanya dapat di lihat oleh Karin yang berada tepat dihadapannya. "Puufffttt... kau benar-benar menggoda" ucapnya tertawa dan menjauh. "Adith, kamu ngapain disini? apa yang terjadi?" Miya datang bersama siswi elit lainnya memandang Alisya dan tatapan permusuhan. "Bukan apa-apa! Ayo pergi.. " Adith melangkah pergi sambil tersenyum licik di ikuti Miya dan siswi lainnya namun memasang jarak yang cukup. Mereka berjalan beriringan keluar dari kantin tanpa ada yang berani berada di hadapannya. kejadian saat itu benar-benar menjadi kejadian yang paling menghebohkan terutama karena kata-kata terakhir yang di lontarkan Adith kepada Alisya telah menimbulkan berbagai persepsi yang berbeda. "Kita belum di izinkan berinteraksi dengan para calon partner hingga acara pemilihannya berakhir Adith! " Jelas Miya ragu-ragu di belakang Adith "Iya, itu bisa mengurangi poin dan juga calon partner akan di diskualifikasi dari pemilihan" Tambah Dinar "Oh Ayolah, aku hanya bosan dengan makanan Rejunk (Kantin yang berada di kompleks disebut Adith Rejunk atau Restoran Junk). Aku hanya mencium aroma yang harum di kantin mereka. lagi pula aku tidak peduli dengan pengurangan poin itu! dan Lagi..." ia berbalik menoleh kepada para siswi itu! "aku tidak suka dengan parfum kalian! mulai besok yang memakai parfum jangan pernah berada di hadapanku!!! " ancamnya dengan tatapan mematikan. Perkataan Adith langsung membuat takut Miya dan Dinar begitu pula yang lainnya. dan hanya menjawab dengan anggukan kepala yang tertunduk. ***** Berita mengenai kejadian di kantin segera tersebar dengan cepat mengalahkan Dispacth yang tidak secara langsung menumbuhkan kebencian kepada Alisya. Bel tanda pulang telah berbunyi namun Alisya masih duduk menghadap jendela. "Alisya,,, pulang yuk? " ucap Karin setelah menepuk pudak Alisya yang di jawab anggukan. "mama pesan hari ini kalau bisa kamu kerumah, kita bisa merayakan hari pertama sekolah setelah sekian lama kamu kembali" jelasnya sambil berjalan keluar yang di ikuti ratusan tatapan mata siswi yang membicarakan Alisya. Tidak menunggu jawaban Alisya, ia melanjutkan kembali kalimatnya meski risih dengan tatapan orang-orang. "Jadi hari ini kamu harus pulang bareng aku! " ucapnya manja sambil melingkarkan tangannya di lengan Alisya. "Kamu tau kan aku tidak bisa naik mobil? aku tidak nyaman dengan bisingnya daerah yang harus kamu lewati! ". tegas Alisya lembut kepada Karin "Aku harap Ayah segera mendapatkan obat yang baik buat kamu secepatnya! " ia menghela nafas sedih. "Sampaikan saja salamku kepada Dokter gila dan Ibumu yang super seksi itu! aku punya jalan lain untk bisa kesana". terangnya menenangkan Karin. Klakson mobil berbunyi begitu mereka keuar dari gerbang sekolah. Alisya sudah memakai jaket bertutup kepala dan hapdhone di kepalanya sewaktu mereka berjalan. "Hai paman Boy?" sapa Alisya kepada supir Karin yang di balas bahasa isyarat olehnya. "Iya saya akan hati-hati" jawab alisya sambil tersenyum dan membukakan pintu buat karin lalu menutupnya setelah ia masuk. "Kamu jangan lupa datang yah... bye bye!" Ia menggerakkan bibirnya dengan lebar yang di balas lambaiyan Alisya. Seluruh penghuni sekolah baik dari kalangan atas, elit dan biasa semuanya menggunakan kendaraan pribadi. Baik yang memiliki supir pribadi maupun mereka yang membawa kendaraan sendiri. Dan ya tentu saja mereka diberi SIM khusus bagi para Elit. Mobil karin tidak terlalu mewah namun cukup mahal dengan tipe Honda Mobilio seharga 243 juta. itu masih tergolong harga yang wajar bagi seorang anak dengan Ayah seorang dokter ternama dan Ibu pegawai kantor yang super sibuk. namun keduanya tetap memiliki waktu buat karin. berbeda dengan yang di alami Alisya. "SMA CENDEKIA INDONESIA." tatap Alisya pada papan gerbang sekolah. Sekolah bertaraf internasional termahal di Indonesia dengan siswa-siswi elit anak millyader mengisi sekolah. sedangkan para siswa/siswi yang mereka sebut biasa adalah anak pegawai negeri sipil atau pengusaha kecil yang bisa di bilang cukup kaya. "Entah apa yang dipikirkan Ayah Karin dengan mendaftarkanku di sekolah ini" pikirnya menghela nafas sambil melemparkan pandangan pada ratusan mobil yang terparkin menunggu putri dan pangeran pemilikinya. Tampak jelas perbedaan Mobil Si Elit dan si Biasa. Para Elit kebanyakan terdiri dari merek merek yang sangat mahal dengan tipe Aston Vaquish seharga 3,4 milyar, Bently Varian Gt seharga 8,5 Milyar atau Ferari Berlineta seharga 12.5 Milyar. Sedang bagi mereka yang membawa kendaraan sendiri memakai Aston Martin Vanquish seharga 11,8 Milyar atau Lamborghini LP 720-4 seharga 14 Milyar. Dan untuk 10 kalangan atas adalah deretan mobil termahal dunia. "Woy,,, ngapain sih kamu disitu minggir nggak?? " Teriak seseorang yang mengendarai Koesnigsegg CCXR trevita seharga 64 Milyar dengan kasar. "Ini dia 10 kalangan besar bermulut besar!" ucapnya sambil berbalik pergi setelah memuaskan matanya yang penggila otomotif. Ia tak memperhatikan apa yang di ributkan oleh si bermulut kasar tersebut. Semua penghuni sekolah keluar dan menghilang satu persatu dengan kendaraanya masing-masing dan hanya Alisya satu-satunya siswi yang berjalan kaki. Chapter 6 - Oke Sudah di Tentukan Tidak seperi kemarin yang hampir telat, hari ini Alisya berangkat lebih awal bersamaan dengan Satpam yang baru saja membuka gerbang sekolah. Ia sengaja datang lebih awal untuk menghindari kebisingan kendaraan para penghuni sekolah itu. Dikelas Alisya terduduk menghadap kejendela dengan Hadset yang terpasang ditelinganya. Hadset itu adalah buatan ayah Karin khusus untuknya. "Alisya,,, " panggil Rinto setelah memberikan sedikit getaran pada meja Alisya agar Ia menoleh. Alisya sudah hafal betul siapa orang ini, dia adalah orang yang pernah di hajarnya habis-habisan sewaktu ia pertama kali kembali ke Jakarta. Waktu itu ia tidak sengaja menabraknya dan Rinto menjambak rambut Alisya lalu menyuruhnya untuk berlutut meminta maaf namun yang terjadi malah sebaliknya. Rinto adalah salah seorang yang cukup di takuti bagi orang biasa yang berada di tingkat 1 dan disekolah lainnya. namun setelah pertengkarannya dengan Alisya dia kehilangan kepemimpinannya dan banyak menjadi incaran dari pelajar sekolah lain. Akan tetapi Alisya lah yang menyelamatkan Rinto beserta kawan-kawanya. Itulah yang menyebabkan Alisya tidak bisa menghadiri acara taaruf sekolah lalu. Hal ini yang membuat Rinto sangat menghormati Alisya. "Aku rasa kamu harus hati-hati. Banyak yang membicarakanmu" Ia mengeluarkan suara seminimal mungkin membuat Alisya merasa aman melepaskan Hadsetnya dan mencoba mendengarkan Rinto. "Aku tidak meremehkanmu, tapi kalangan elit akan cukup sulit untuk di tangani karena mereka memiliki banyak kenalan kelompok gelap yang bisa melakukan apa saja untuk menghancurkanmu. dengan uang dan kuasa yang mereka miliki itu bukanlah hal mustahil bagi mereka" tambahnya lagi lebih pelan dari sebelumnya. "Benar Alisya, terutama orang kemarin yang meneriakimu! " lanjut Yogi dari belakang dengan suara yang sama pelan. "Aku paham. kalian tidak usah takut. terimakasih sudah mengkhawatirkan aku. Aku bisa mengatasinya. Aku hanya minta kalian melindungi Karin untukku" Tegas Alisya menekankan permintaanya. "Tentu saja! aku sudah memberitahu temanku yang berada di MIA 3 untuk melaporkan kegiatan Karin tanpa sepengetahuannya! ". Alisya yang ingin berterimakasih terputus oleh suara orang-orang segera mendekat sehingga Alisya hanya melemparkan senyum tulus dan memberi tanda untuk mereka pergi. kemudian memasang hadsetnya kembali. Senyum Alisya yang tulus di bawah sinar yang tembus dari jendela terlihat sangat menawan dan mendebarkan jantung kedua pria itu. Di tambah angin sepoy yang meniup pelan rambutnya yang hitam panjang menambah kecantikan alami Alisya. "Sungguh pemandangan yang indah"Batin Rinto sambil berbalik menarik Yogi yang masih terpana. ***** Saat istrahat Alisya mengambil kesempatan untuk ke Perpustakaan bukannya ke Kantin. Dan tentu saja di temani oleh Karin, keduanya sedang mencari referensi untuk tugas Biologi. akan tetapi perpustakaan mereka tidak selengkap yang dimiliki oleh para elit meskipun begitu Alisya merasa cukup dengan materi yang di dapatkan karena ia rasa bisa mengembangkannya lebih lanjut. "Oh iya Sya... kamu sudah dengar belum kalau minggu depan akan ada projek presentase yang harus di ikuti oleh setiap siswa baik dari kalangan elit maupun kalangan atas" Jelasnya ketika membuka tumpukan buku yang ada dihadapan Alisya sehingga wajahny bisa terlihat jelas dari seberang. Alisya hanya melangkah pergi ke rak buku berikutnya yang menandakan ia sudah mendengar akan hal itu. "Kamu tau nggak kalau projek itu mengharuskan setiap orang untuk memiliki partner! Dan banyak dari kalangan biasa yang ingin berpasangan dengan para elit" lanjutnya lagi dengan melakukan hal yang sama. Alisya tidak peduli akan hal itu karena baginya hanya akan ada Karin. Ia hanya bergeser lagi ke rak buku berikutnya. Andai bukan karena dirinya Karin tentu saja akan masuk ke kalangan elit. Ia juga menghindarkan Karin untuk tidak sekelas dengannya agar ia terlindungi. namun Karin tetap saja bersikeras untuk tetap berada di samping Alisya. "Jadi kau mau berpasangan dengan siapa? bukankah kalangan elit akan lebih baik? kau akan memiliki Poin yang tinggi sehingga tidak di keluarkan dari sekolah. " Tanya Karin lagi setelah melakukan hal yang sama. Alisya mulai kesal dengan apa yang di lakukan Karin. Seharusnya Karin tidak perlu menanyakan hal itu karena sudah pasti Ia akan memilih dirinya sebagai partnernya. Dengan sabar Ia pindah lebih jauh ke Rak buku yang lainnya. Setelah beberapa saat tampak deretan buku itu akan terbuka dari seberang. Alisya menutup mata karena kesal dan menjawabnya dengan tegas. "Kamu mau ngapain sih sebenarnya??? Aku sudah pasti akan memilihmu sebagi partnerku! jika kau menolak aku akan memaksamu!" ucapnya sambil berbalik ke arah buku yang lain. "Oke sudah di tentukan!" Alisya berbalik ke arah suara yang jelas saja itu bukan suara Karin. Ia terkejut kalau ternyata itu adalah Adith. "Itu, bukan dimaksudkan untuk dirimu! " balasnya jutek. "Kau tidak bisa menarik kembali kata-katamu! Kecuali kau orang yang seperti itu! " ucapnya dengan nada mengejek. Alisya adalah orang yang sangat berpegang teguh terhadap apa yang dikatakannya tapi ia tidak ingin terlibat dengan cowok yang satu ini. "Terserah padamu tapi kata-kataku tidak ku tujukan padamu" tegasnya sambil berbalik melangkah pergi namun tertahan begitu mendengar rekaman suaranya sendiri. "Ini adalah kalimat yang kau ucapkan sendiri! Jadi kau tidak bisa mengindarinya! Ingat aku adalah pasanganmu!!! " Ancam Adith berbalik pergi sambil melambaikan rekamannya ke seluruh ruangan dengan angkuh. Hasil rekaman itu jelas saja di dengar oleh seluruh siswa/siswi yang berada di dalam ruangan itu termasuk Karin yang tertawa cekikikan menahan sakit perutnya melihat tingkah konyol sahabatnya itu. "Aku harap kali ini pertahananmu akan runtuh!!! " ejek Karin sambil menghapus air matanya. "Kamu sengaja melakukan hal itu? " tanya Alisya dengan wajah yang merah padam. "Tidak, awalnya memang aku yang membuka deretan buku itu! Tapi baru saja dia selesai bertanya akan dirimu, kau sudah melabraknya dengan agresif! " Karin tidak sanggup lagi menahan tawanya membuat ia mendapat teguran dari penjaga perpus. "Sial!!! aku harus menjelaskan padanya! Aku hanya ingin menjadi partnermu! " kalimat Alisya terdengar lebih tegas dari sebelumnya. Ia pergi meninggalkan Karin yang masih menarik nafas menenangkan diri. Chapter 7 - Mundurlah Nafasmu Sangat Bau Karin dengan sigap mengejar Alisya. ia tau betul kalau sahabatnya ini sangat berani bahkan terlalu nekat ketika berhadapan dengan seseorang siapapun dia. "Oh Ayolah Sya,,, kamu punya kesempatan yang besar dengan menjadi partnernya!" bujuk Karin namun tidak di perdulikan oleh Alisya. Dia terus melangkah mantap memasuki daerah elit yang tidak semua siswa biasa masuk kesana. Hak akses bisa didapatkan ketika seseorang telah memiliki kartu partner dengan seorang elit. "Baik. pergilah tapi kau harus ingat perjanjianmu dengan Ayah bahwa kamu akan tetap berada di sekolah ini dengan nilai sempurna dan dia tidak akan membocorkan keberadaanmu kepada ayahmu sebagai gantinya! " tegas Karin dengan membesarkan sedikit volumenya agar Alisya tersadar. Alisya bukanlah orang yang gegabah dan akan berbuat yang merugikan dirinya sendiri. Karin juga sebenarnya tau seberapa besar tingkat kemampuan Alisya. sewaktu SD dia memiliki IQ di luar batas anak-anak pada umunya namun karena beberapa hal yang terjadi dalam keluarganya Ia mengubur kecerdasannya itu untuk bisa menarik perhatian orang tuanya. namun kedua orang tuanya terlalu keras padanya. kata-kata Karin sempat menghentikannya sejenak tapi ia tetap melangkah dengan mantap menuju kelas MIA 1. Tepat dihadapan gedung yang tampak bukan seperti kelasnya malah terlihat seperti Vila dengan banyak ruangan elit serta fasilitas lainya. Alisya melewati beberapa ruangan bertuliskan kelas elit dari tingkat 2 dan 3 lalu terus menelusuri gedung hingga berhenti setelah melihat ruangan yang tampak seperti ruang perkuliahan yang memiliki susunan tempat duduk sofa melingkar bertingkat yang sangat mewah dan nyaman. Terlihat pada bagian atas pintu ruangan bertuliskan kelas yang Ia cari. Segera masuk, ia terhenti oleh seseorang yang dengan sigap menghalangi jalannya. "Wooww.. apa yang dilakukan siswa biasa disini! Poin kamu bisa berkurang jika ada guru yang melihatmu" seorang cowok menghalangi jalannya. "Aku mencari Adith! " tegasnya "Kau tidak dengar apa yang dia bilang yah? kau tidak pantas berada disini!!! " tambah yang lainnya dengan nada menghina sambil menunjuk bahu Alisya. Dengan sigap Alisya mengambil telunjuknya dan memutar tangannya membuat cowok itu merintih kesakitan. "Kau sudah gila ya!" Teriak cowok yang menghalanginya dan menaikkan tangannya ingin menampar Alisya. "Cukup!!! " Bentak seseorang dari jauh. Membuat si penghalang menghentikan aksinya. Tentu saja tidak segampang itu tangannya akan menyentuh Alisya. namun Ia sedikit terganggu dengan suara kerasnya yang menyakitkan telinganya. Ia berusaha menenangkan dirinya dan menarik nafas dalam dengan tehnik yang lembut dan tersembunyi. Melihat keadaan itu jelas bagi Alisya kalau para elit ini bisa melakukan apa saja. "Kau orang pertama dari siswi biasa yang berani mengkahkan kakinya ke tempat ini! " Ucap seseorang mendekatinya dengan tatapan dingin. Ia sangat tampan dengan proporsi tubuh yang indah. Rambut landaknya sangat cocok dengan kontur wajahnya. Wajah blasteran Jerman-Indonesia dan sedikit Jepang! "Terimakasih!!!" jawab Alisya jutek. "Hei kau tidak tau lagi berbicara dengan siapa? " si penghalang membentak. Pemilik wajah blasteran itu menggeser si penghalang dan menempatkan dirinya berada tepat dihadapan alisa dengan tatapan mengintimidasi. Mencoba menggoyahkan Alisya dengan mendekatinya dan menundukkan wajahnya tepat di hadapan Alisya. "Mundurlah nafasmu sangat bau!!! " Semuanya tercengang dengan apa yang baru saja dikatakan Alisya. namun tidak ada yang berani tertawa hingga dari belakang wajah blasteran itu muncul seseorang dengan tawa yang terbahak-bahak. caranya tertawa membuat wajahnya terlihat sangat tampan dengan barisan gigi putih kecil dan bibir yang merekah. "Baru kali ini ada seseorang yang menghinamu Zein. hahahahhahaa tak ku sangka ada yang berani pada orang nomor 2 di sekolah ini" ucapnya sambil terus melanjutkan tawanya. "Hei, bukankah aku ganteng dan juga kaya?" Ucapnya penuh percaya diri. "Kau terlihat seperti sampah! " "Aku suka keberanianmu! Siapa namamu? " tanya Zein si tampan blasteran yang menahan rasa kesalnya. bukan karena kata-kata Alisya tapi karena Riyan yang menertawakannya. "Bukan urusanmu! " Jawab Alisya lagi mulai kesal dan melangkah pergi. Riyan semakin terbahak-bahak akan tetapi berusaha mencegah kepergian Alisya. "Hei, jangan dulu pergi, sepertinya aku menyukaimu! Sudah di putuskan aku akan menjadikanmu partnerku! " Ucapnya tanpa bertanya kepada Alisya terlebih dahulu. "Aku tidak mau!!!" Jawabnya tegas. sekarang giliran Zein yang menyunginggkan senyum menertawakan Riyan. "Kau jangan pernah menjadi partner si penjahat kelamin itu! Sebaiknya kau lebih baik menjadi partnerku saja, ini kartumu!" ucapnya dingin sambil melemparkan kartunya. Alisya mulai kesal dengan cara dua orang ini memperlakukannya. Ia tidak menjawab Zein dan malah menginjak kartunya sebagai tanda penolakannya. Baru saja ia akan melangkah pergi, dari belakang seseorang telah memeluk pundaknya dengan lembut. "Dia partnerku! Dia sendiri yang memilihku! " Terangnya kepada Zein dan Riyan yang melongo melihat perlakukan Adith. "Sebaiknya kau menurut kali ini, jika tidak sahabatmu akan menerima imbas atas perlakuanmu terhadap dua ganteng ganteng serigala dihadapanmu itu! Dan lagi aku bisa melindunginya dari keduanya untukmu bagaimana??? " bisiknya di telinga Alisya dengan sangat lembut sehingga tampak kalau Adith hanya menghembuskan nafasnya ke rambut Alisya. Tingkah keduanya sangat inti membuat Zein dan Riyan berpikir bahwa Adith sedang menunjukkan kepemilikannya. Alisya baru ingat kalau Adith dan semua siswi biasa tau kalau Karin adalah sahabatnya. Dan penolakannya kepada kedua orang itu adalah suatu penghinaan besar. Menarik nafas ia hanya mengambil kartu yang berada di saku Adith dan melangkah pergi tanpa pamit. "Ia cukup cerdik untuk mengetahui kalau aku sudah membuatkan kartu atas nama dirinya" Batin Adith dan tersenyum penuh kemenangan. Tentu saja Alisya tau kalau Adith akan segera membuat kartu itu. Hanya butuh 15 menit untuk mencetak kartu dengan nama kepemilikannya dan Alisya sudah berada disana selama 15 menit sedang Adith terlebih dahulu pergi sebelum dia. **** "Jadi bagaimana hasilnya??? " Karin langsung menyerangnya dengan pertanyaan. "Bagaimana mungkin kau masih menungguku disini? " tanya Alisya heran. "Aku penasaran sama hasilnya! jadi bagiamana??? kamu ketemu? batal atau lanjut sih" rengek Karin mengayun ayunkan tangan Alisya. Ia tidak menjawab dan hanya melemparkan sebuab kartu kepada Karin yang dengan sigap Karin menangkapnya. "Elite Card Acces Name : Alisya Quenby Lesham Partner : Radithya Azura Narendra" "Luar Biasa!!! " seru Karin antusias. Melihat itu Karin melompat kegirangan dan segera mengejar Alisya secepat kilat!!! Chapter 8 - Pembully yang Kolot Alisya menjadi topik pembicaraan dimana-mana. Ia yang sebagian besar tidak dikenal bisa memiliki kesempatan besar dengan menjadi Partner seorang Elit nomor 1 bukan hanya di sekolah namun di Indonesia. Baik guru, siswa biasa, para elit dan 10 kalangan besar semuanya mencari Alisya. mereka ingin melihat langsung apa yang membuat Adith bisa berpikir bahwa cewek ini cukup menarik untuk menjadi partnernya namun banyak pula yang tidak menyukainya. Dari pagi hari sudah banyak serangan yang datang padahal Ia sengaja datang sedini hari mungkin ke sekolah untuk menghindari kebisingan. Kepalanya sudah cukup penuh dengan pertanyaan orang yang mendatanginya dengan sinis dan bisikan bisikan yang terang terangan dilakukan di hadapannya. "Hei kau kita perlu bicara!!! " bentak Yuyun memukul meja Alisya dengan keras membuat Alisya harus memegang telinga dan kepala nya yang sakit dengan jam di tangan Alisya yang berbunyi "Pippip". Se isi kelas yang tadi sibuk dengan urusan masing-masing sekarang beralih pandang ke meja Alisya. Bunyi di tangan Alisya membuat Yogi dan Rinto membelalak kepada Yuyun. "Yun!!! apa yang kau lakukan? Rinto menggertakkan giginya sewaktu bertanya dengan suara pelan. "Bukan urusanmu" tidak peduli dengan Rinto dia berbalik ke arah Alisya dengan marah. Rinto ingin menarik Yuyun namun dihentikan oleh Alisya yang memberi isyarat kalau dia baik-baik saja. Kondisi Alisya membuat Rinto dan Yogi sepenuhnya siaga. "Apa maumu?? " tanya Alisya dingin setelah menenangkan diri. "Kamu tidak cukup jadi cewek penggoda yah? " Nadanya sinis dan menghina "Huhhhh pergilah! " Ia merasa sudah malas untuk meluruskan. "Apa Hak kamu menjadi Partner Adith!!! Miska yang harusnya jadi partner Adith" geram nya lagi "Apa hak mu bertanya padaku?? "tatapnya tajam "Cih, kau bahkan tak pantas menjadi Partnernya" "Bukan urusanmu! " "Kamu pikir kamu siapa?? Kau hanyalah penggoda munafik" "Tentu saja Adith tidak mungkin mau menjadi partnernya. itu hanya rumor yang tidak jelas! "tambah Nely tersenyum menghina. "Pembully yang kolot" ucapnya malas sambil mengalihkan pandangan tidak mengganggap keberadaan keduanya. Alisya paham akan maksud keduanya namun merasa tidak ada untungnya menjelaskan kepada mereka berdua. mudah saja baginya untuk tidak terpengaruh emosi karena keduanya. "Kau!!!! " Yuyun yang geram langung mencabut Hadset yang ada di telinga Alisya dan berteriak dengan keras "Kau harus diberi pelajaran" Belum melakukan apa-apa dan hanya mengambil Hadset Alisya. Alisya sudah berteriak dengan keras dan jam di tangannya juga berbunyi sangat keras. "Aaaaaahhhhhh... aaahhhh!!!!!! " teriak Alisya menahan sakit. Reaksi tak terduga Alisya yang tampak, membuat bingung Yuyun dan Nely. Rinto dan Yogi sontak langsung panik. "Gi, Hadphone kamu mana? " Dengan cepat Rinto mengambil Hadphone Yogi dengan ukuran yang cukup besar untuk menutupi seluruh telinga dan dengan cekatan menutup telinga Alisya. "A.. A.. Aku panggil Karin" ucap Yogi panik dan berlari sambil menyingkirkan kursi dengan keras. Rinto yang berusaha menutup telinga Alisya namun dia masih dalam mode yang mengkhawatirkan. muka Rinto pucat pasih dan memberi kode kepada semuanya untuk duduk perlahan dan tidak menimbulkan suara. Yuyun dan Nely bingung dengan apa yang sedang terjadi. Miska yang ingin bersuara untuk berpura-pura memarahi dua pengikut nya langsung di cegah oleh Rinto dengan menutup mulutnya. Tapi bunyi di tangan Alisya tidak berhenti dan malah semakin kencang. Karin datang secepat kilat dengan tehnik yang sangat lembut sehingga tak mengeluarkan suara segera menghampiri Alisya dan mengecek Jam tangannya. Angkanya menunjukkan 85 % tanda bahaya. Dengan sigap Ia menoleh kepada Rinto memberinya tanda. Rinto yang paham segera mengangkat Alisya di bantu oleh Yogi keluar ruangan. Se isi kelas tiba-tiba mengeluarkan nafas hampir secara bersamaan seolah olah telah menaham nafas yang cukup lama. Saling memandang satu sama lain dengan tatapan bingung dan heran. Mereka membawa Alisya ke Ruang UKS yang jauh lebih tenang dan sunyi. Karin mengeluarkan peralatannya dan secepat kilat Ia menyuntik Alisya yang beberapa saat kemudia Alisya menjadi lebih tenang dan bunyi di tangannya segera menghilang. "Sepertinya sekarang dia sudah cukup tenang! " ucap Karin pelan "Syukurlah!!! " Rinto bernafas lega "puaahh!!! " suara Yogi membuang nafas lega namun dengan suara yang sangat pelan dan lembut. terduduk ke lantai lemas dan bersyukur. "Kalian baliklah ke kelas, biar aku yang menemaninya! pinta Karin. "Sebaiknya aku harus memberi pelajaran kepada mereka! " geram Rinto. "Kau tau apa yang harus kau lakukan! Jika ini sampai bocor, kita semua dalam bahaya! dan pastikan mereka tidak merekam kejadian tadi" Karin mengingatkan dengan nada sedikit mengancam menyadari situasi yang sedang terjadi. "Tentu saja aku tau! Aku sudah pernah mengalami hal yang lebih buruk sebelumnya setelah bermasalah dengan Alisya. "Ya... tapi dia tidak tau apa - apa sama sekali! " terang Yogi. "Apa maksudmu? " Karin terkejut. Yakin bahwa ada hal yang tidak di ketahuinya. "Kamu masih ingat kejadian dimana saat itu aku tidak sengaja di tabrak oleh Alisya??? " tanya Rinto. "Aku ingat!!! waktu itu akulah yang menenangkan Alisya" jelasnya setelah yakin mengingat kejadian itu. "Benar! Saat itu kalau bukan karena kedatangan kamu kami mungkin bisa mendapat luka yang lebih buruk lagi" Yogi menambahkan. "Tapi bukan itu intinya. Saat itu aku memiliki dendam terhadap Alisya karena kejadian itu di saksikan oleh beberapa orang dari siswa dari sekolah lain. Begitupula dari geng lain sehingga mereka berpikir kalau aku yang tak bisa dikalahkan bisa dengan mudah dihancurkan! sehingga banyak sekali sekolah lain dan geng lain yang ingin menghancurkan diriku. Hal itu membuatku sangat marah dan ingin mencelakai Alisya. Itulah kesalahan terbesarku! "ucapnya lirih. Karin memandang Rinto dan mendengarkan penjelasannya dengan serius tanpa bermaksud bertanya atau memotong pembicaraanya. "Rinto di culik oleh beberapa orang yang berbaju hitam tepat sebelum ia memiliki kesempatan untuk memukul kepala Alisya! " tambah Yogi. Karin yang mendengar niat Rinto itu sepenuhnya mengepalkan tangan karena marah namun berusaha untuk mendengarkan lebih lanjut. Chapter 9 - Dia memang Anak yang Baik "Mereka menyekapku dan menyiksaku. aku pikir aku akan mati disana pada saat itu. namun kemudian seseorang datang dengan nada mengancam. ia mencoba membuat kesepakatan denganku! " lanjut Rinto menjelaskan dengan tenang. "Aku pikir aku tau siapa mereka" gumam Karin. "Mereka menyebut nama tuan "Ali" yang kemudian aku tau yang mereka maksud adalah Alisya setelah mendengarkan pembicaraan mereka" "Ya kau benar. itu adalah Alisya" karin mengiyakan. "Mereka membiarkanku tetap hidup karena takut jika Alisya tau orang lain mati karena dirinya maka kehidupan mereka akan lebih buruk lagi. mereka mengancam akan berbuat lebih jika ini sampai di ketahui oleh Alisya dan menyuruhku melaporkan kondisi Alisya selama berada disekolah." "Tidak! aku rasa kejadian hari ini jangan sampai diketahui oleh mereka begitupula Alisya tidak boleh tau kalau kau berhubungan dengan mereka". Karin meyakinkan Rinto. "Aku tau!!! " tegas Rinto di ikuti anggukan Yogi karena lirikan Karin dan Rinto dengan pandangan bertanya. "Tapi sepertinya aku melihat kau bukannya takut pada Alisya tapi lebih terkesan sangat menghormatinya. ada apa? tanya Karin yang merasa masih ada hal lain. "Aku di bebaskan mereka setelah mereka merawatku di rumah sakit, namun sekolah dan geng lain masih mengincarku. Saat itu tanpa disengaja Alisya lewat dan menemukanku hampir sekarat dilorong karena dikeroyok. Ia dengan sigap menyelamatkanku dan membawaku kerumah sakit setelah menyapu bersih seluruh pengeroyok diriku. setengah sadar waktu itu aku melihat Alisya yang seorang perempuan biasa tampak sangat keren saat berkelahi. Selain itu dia membayar semua biaya rumah sakit." "Dia memang anak yang baik" ucapnya memandang Alisya penuh sayang. "Aku pikir sebaiknya kita kembali keruangan dan mengamankan situasi" Yogi menepuk pundak Rinto dan menatap Karin. "Pergilah, aku akan tetap disini" ucap Karin mengiyakan. ***** Kembali kekelas Yogi dan Rinto langsung diserang oleh Miska dengan wajah khwatir. "Bagaimana keadaan Alisya, apakah dia baik-baik saja? " suaranya membuat semua ikut memperhatikan. "Hentikan aktingmu yang sangat buruk itu sayang" bisik Rinto yang mendekat ke telinga Miska. Wajah Miska seketika kembali dingin dan tak berekspresi. "Kumpulkan Handphone Kalian sekarang!" pinta Yogi yang berdiri di depan kelas. semua siswa cowok dengan sigap menuruti permintaan Yogi tanpa bertanya karena mereka sudah paham akan situasinya. "Apa maksudmu??? buat apa kamu menyita HP kami?" Nely bertanya dengan marah dan kesal. "Bawalah jika kalian ingin selamat! ancam Rinto menatap tajam Nely. "Aku tidak akan memberimu Handphoneku! " Tegas Yuyun. "Apa kau sadar bahwa kau telah melakukan kesalahan besar hari ini? Kau hampir saja membunuh kami semua, tau!!! " Rinto mulai tidak sabaran mengancam Yuyun dan mencekik lehernya. Yogi dan semua siswa cowok serentak menutup pintu dan tirai jendela agar tidak ada yang melihat ataupun ikut menyaksikan kejadian saat itu. semua orang yang ada didalam ruangn menjadi takut dan semakin bingung. Rinto melepaskan cekikannya ketika Yuyun mulai kehilangan nafas dan terbatuk-batuk. Yuyun menatap ke arah Miska yang mengangguk agar ia menyerahkan HP milikya kepada Yogi. melihat reaksi miska Yuyun menurutinya. "Aku ingatkan buat kalian semua! apa yang terjadi hari ini sebaiknya jangan sampai tersebar dan tutup mulut kalian rapat-rapat! Jika kalian ingin selamat dan masih bersekolah dengan nyaman disini lebih baik kalian mendengarkan apa yang aku katakan" Rinto mengingatkan kepada semuanya terhusus kepada para siswi yang berada dikelas itu. "To, semuanya aman! sepertinya tadi tidak ada yang sempat mengambil rekaman" bisik Yogi setelah memastikan semua HP telah di periksanya. "Bagaimana dengan Siaran Langsung??? " tanya Rinto mengingatkan. Yogi menoleh melihat Dino dan Beni untuk memastikan apakah mereka sudah selesai memeriksa semua akun medsos pemilik HP. "Semua aman" tangan dino memembentuk simbol OK!" "Aku juga tidak menemukan apa-apa" tambah Beni menyakinkan Rinto dan Yogi. "Hmmm... Baiklah! kembalikan HP mereka! " Rinto mengeluarkan nafas lega. Proses belajar mengajar berjalan sebagaimana biasa. Rinto menjelaskan bahwa Alisya tidak sempat hadir karena sedang berada di ruang UKS sebab kondisi tubuhnya yang kurang baik. "Aku semakin tidak menyukai Alisya. memangnya dirinya siapa? " Geram Nely. "Sepertinya Rinto menyukai Alisya makanya dia bersikap seperti itu" Tambah Yuyun sambil memegang lehernya yang masih keram meski tak berbekas. "Tenang saja! aku punya cara untuk membalas dan menyingkirkan Alisya" Senyum Miska sinis. "Apa kau punya ide? " Nely antusias. "Gunakan otakmu bodoh!" Tunjuk Miska. "Apa rencanamu? Yuyun mendekat. "3 hari lagi kita akan ada presentase untuk menentukan apakah kita tetap di sekolah ini atau keluar! Saat itu aku akan buat Alisya dikeluarkan dari sekolah ini." terang Miska. "Aku baru ingat. Apalagi kau berpasangan dengan Zein. meskipun Adith seorang yang jenius, Alisya bukanlah orang yang cukup cerdas dan tidak akan bisa mngalahkanmu!" "Tentu saja! dan tugas kalian berdua adalah membuat Alisya semakin di benci oleh seluruh sekolah terutama. Kak Siska! buat dia semakin membenci Alisya, dengan begitu akan sangat mudah menyingkirkan nya. "Kau sangat Cerdas Miska, aku sangat menghormatimu!" Nely berdiri dan memberi hormat. "Kau yang terbaik!! aku tidak sabar melihat ekspresi Alisya. terlebih lagi kita tau kelemahan dia!" timpal Yuyun. "Sebaiknya kalian jangan mengacaukan rencana ini" ancam Miska. "Tentu saja tidak! aku akan melakukannya sebaik mungkin" Yuyun meyakinkan Miska dengan tatapan mantap. "Bukankah ini bukan pertama kali lagi buat kita??? tambah Nely. Mereka tertawa terbahak-bahak mengingat rencana mereka yang akan sukses besar. padahal mereka tak tau kalau apa yang akan mereka lakukan nanti malah hanya akan berbalik melawan mereka sendiri. Alisya bukanlah lawan yang mudah, meski tanpa bantuan siapapun Alisya bisa dengan mudah untuk menghancurkan mereka. Terlebih lagi Alisya bukanlah orang bodoh seperti yang mereka pikirkan. Alisya sudah memiliki cukup rencana cerdas dalam menghadapi Presentasi minggu depan. Tes itu akan terdiri dari 3 tahap dimana tahap pertama dimulai dari Tes Pengetahuan, Tahap kedua Tes Keahlian atau Kemampuan dan Tahap Final adalah Presentase Sain atau Produk. Chapter 10 - Idiot Tampan Sudah sekitar 2 jam Alisya terbaring karena suntikan dan obat penenang yang diberikan oleh Karin. Karin masih sangat khawatir dengan kondisi mental Alisya, inilah yang menyebabkan Karin selalu sedia membawa peralatan yang telan diberikan oleh ayahnya. Karin menjadi orang yang di percaya ayahnya untuk bisa memberi penangan dasar kepada Alisya. "Bagaimana keadaanya?? " Ibu Arni masuk dengan wajah yang tampak sedikit khawatir. "Dia baik-baik saja, kondisinya sudah lebih stabil sekarang! " Jelas Karin. "Ya sudah saya akan mengurus surat izinnya hari ini, kamu bisa mengambilnya sebentar setelah dia bangun sebaiknya dia harus ke Dokter Hady agar mengecek kondisi mentalnya hari ini! " Ibu Arni yang menjadi wali kelas Alysa telah diberikan informasi lebih mengenai kondisi Alysa dan juga diberi tanggung jawab penuh kepada Alisya selama berada disekolah. "Iya ibu benar, aku akan menghubungi ayah nanti" tambah Karin lesu. "Aku pergi dulu untuk mengurus semua. kamu jangan lupa makan juga! Alisya akan sangat marah jika kamu tidak memperdulikan dirimu sendiri" Ibu Arni menenangkan Karin yang sangat khawatir mengenai kondisi sahabatnya itu. Karin hanya tertunduk lesu dan mengangguk menyaksikan ibu Arni keluar dari ruangan UKS. baru beberapa saat setelah Ibu Arni pergi, pintu UKS kembali terbuka dan Karin terkejut bagaimana ia bisa tau kalau mereka berada disana. "Apa berita mengenai Alisya sudah tersebar hingga ke kompleks elit? " tanya Karin bingung dengan kedatangan Adith. "Jika hanya untuk mengetahui hal mengenai Partnerku, itu bukanlah hal sulit! " terang Adith menenangkan Karin bahwa mengenai Alisya tidak satupun yang tahu selain dia. "Ohhh... " jawabnya pendek membenarkan. "Aku sudah mengurus izinnya selama dua hari tidak bisa lebih! " ucapnya frustasi tidak bisa mendapatkan lebih banyak kesepakatan. "Itu lebih dari cukup! tapi tentu Alisya tidak akan setuju karena dia tidak suka menampilkan kelemahannya. Aku rasa kamu bisa membantunya! " "Apa maksudmu? " Adith menyipitkan matanya penasaran. "Beberapa minggu terakhir kau menjadi orang yang bisa mengacaukan emosinya. entah sejak kapan aku melihatnya bisa memperlihatkan ekspresi dengan begitu jelas. Selama ini dia hidup bagaikan Zombie, tak pernah marah, kesal, kecewa, ataupun senang. Aku tak pernah melihatnya menangis dan tertawa! Tapi semenjak kau selalu mengganggunya, ia dengan jelas memperlihatkan emosinya. " jelasnya panjang lebar. Adith terdiam dan hanya berpikir. mungkin inilah yang membuatnya tertarik pada Alisya. Adith merasa kalau Alisya bukanlah tipe yang murung atau pendiam hanya karena bullyan ataupun pengucilan tapi ada sesuatu di dalam matanya yang memohon untuk mengeluarkannya dan menariknya dari sana. terkadang ia terpesona kepada Alisya terkadang juga ia merasa ada yang aneh dengan Alisya. "Bisakah aku meninggalkan Alisya padamu sebentar? aku ingin menghubungi ayahku!" "Pergilah, aku akan tetap berada disini untuk sementara waktu. kau bisa makan mengambil makan untuk dirimu sendiri juga! " "Terimakasih! " Karin keluar meninggalkan Adith yang duduk menghadap Alisya. "Siapa sebenarnya dirimu? kenapa aku merasa pernah bertemu dengan dirimu? " Adith duduk mendekat memperhatikan wajah Alisya dengan lekat. Wajah Alisya putih bersinar dan sangat menawan. Ia tidak tampak seperti seorang anak kaya yang penuh dengan perawatan ataupun berwajah tebal akan makeup. Manis wajahnya sangat Alami dan menawan. tidak terlihat cantik namun siapapun yang melihatnya tak bisa mengalihkan pandangan untuk bisa terus memuji ciptaan Tuhan yang satu ini. Wajah Alisya terlihat seperti seorang yang ketakutan atau sedang berlari dari sesuatu atau juga menghindari sesuatu yang berbahaya. Wajahnya mulai banjir akan keringat dan tampak mulai gusar. Adith mendekat setengah berdiri mendakti Alisya karena khawatir. "Sya, kamu kenapa?? apa ada yang sakit? tanya Adith mulai panik melihat Alisya. "Uwaaa..." Alisya terbangun dengan cepat menabrak hidung dan bibir Adith. Alisya memegang dahinya merintih kesakitan dan memperhatikan sekitar lalu kemudian diketahuinya kalau sedang berada di ruang UKS. "kamu kenapa? kamu baik-baik saja? " Tanya Adith lagi cemas. Alisya menoleh menatap Adith bingung namun kemudian mengangguk. "Aku lupa kalau hari ini harusnya kita melakukan diskusi mengenai Presentase nanti! " Ucap Alisya tersadar setelah mengingat janjinya kepada Adith. "Tak usah kau pikirkan itu. aku sudah mengurus beberapa hal" memandang Alisya dengan lembut. "hhh??? pppfftttt... hahahahahahahaha. wajah mu itu idiot atau tampan sih? aku tidak bisa membedakannya!!! " Alisya tertawa terbahak bahak sambil menujuk wajah Adith. "Apa maksudmu? kau baru bangun tapi sudah langsung menghina? " Adith kesal dengan kata-kata Alisya. "Maaf, aku tidak menghina tapi wajahmu memang seperti itu "Idiot Tampan" ucap Alisya menekankan 2 Kalimat dengan keras lalu menujuk cermin. Adith masih bingung dengan ucapan Alisya, terlebih dia yang baru siuman dan yang sedang menahan tawa dihadapannya ini sangat berbeda jauh dengan deskripsi yang dijelaskan oleh Karin tadi. apakah wanita itu berbohong atau wanita ini yang sedang beracting. "Hahhhh???? apa yang terjadi disini? anak itu minum apa? apa yang kamu berikan pada Alisya? Dia kelihatan seperti orang mabuk!!!" Karin masuk menyerang Adith dengan banyak pertanyaan melihat kejadian aneh yang sedang terjadi. Karin berbicara kepada Adith yang sedang membelakanginya. Begitu Adith menoleh Karin hanya mampu menahas nafas hingga wajahnya memerah. "Dasar wanita gila!!! Bagaimana bisa kau tertawa??" Maki Karin melihat Alisya yang berani menertawakan Adith. "hehh hehh heh,," lenguh Alisya lelah tertawa. "Tak ku sangka aku bisa menyaksikan ekspresi bodoh itu!!!". "Apa yang sudah kau lakukan sampai hidung berdarah dan bibirnya bengkak seperti itu??" tanya Karin kebingungan. "Dia terbangun secara tiba-tiba dan menabrakku! " Adith segera mengambil tisu membersihkan hidungnya. Ia tidak sadar kalau hidungnya berdarah dan bibirnya bengkak akibat tabrakan tadi. "Bukannya minta maaf! kau hanya tertawa" geleng Karin melihat Alisya. Namun Karin diam diam mengabadikan kejadian tersebut tanpa sepengetahuan Alisya. Ini adalah suatu keajaiban besar baginya terutama bagi mental Alisya. "Apa kau sudah memberitahu ayahmu tentang hal ini? " Ekspersi Alisya kembali dingin setelah mengingat apa yang sudah terjadi padanya. "Tentu saja sudah! Kau tau apa yang terjadi tadi itu bisa saja merenggut nyawamu! " "Aku tau!" Alisya tertunduk menyesal. "Aku akan pindah kekelasmu. setidaknya aku akan memastikan hal yang seperti tadi tidak terjadi lagi dan kali ini kau tidak bisa mencegahku" Karin terdengar sangat tegas. "Aku sudah menyiapkan mobil didepan!" Adith memberi perintah kepada Alisya. "Tidak terimakasih! tapi aku baik-baik saja! " tolak Alisya tegas paham maksud Adith. "Baiklah! terserah padamu tapi kau harus benar benar Fit ketika presentase nanti. masih banyak yang harus kita kerjakan" "Tentu saja! " jawab Alisya yakin. Chapter 11 - Jenius Tampan Dari kejauhan Adith memperhatikan seseorang yang sedang berjalan kaki memakai jaket bertutup kepala ditepi jalan dengan panas matahari yang terik. Ia tak menyangka dimasa serba mesin tingkat tinggi seperti masih ada saja manusia yang berjalan kaki dan itu adalah Alisya partnernya. Sedang dia mengendarai mobil bertipe Mercedes Benz Maybach Exelero seharga 106 Milyar rupiah. Kondisi mereka bagaikan kisah dongeng Cinderella dimana seorang pangeran jatuh cinta kepada wanita miskin. Baru saja Alisya akan memasuki gang yang sempit, Adith segera menahannya. "Masuklah ke mobilku!" Adith menarik lengan Alisya. "Tidak terimakasih! " Tepisnya. "Kau tidak punya waktu untuk berdebat denganku! " Adith langsung mendorongnya dengan kasar mendudukkanya kedalam mobil. Pintu mobil terkunci meski Alisya berusaha keluar dari mobil. "Kau akan menyesal karena sudah memasukkan aku kedalam mobil berhargamu ini" ancam Alisya. "Tidak usah khawatir! aku takkan melakukannya! " "Baiklah! jangan salahkan aku! " Alisya duduk dengan manis sambil melipat kedua tangannya. Adith tidak yakin apa maksud dari Alisya hingga 5 menit kemudian semua kata-kata Alisya terbukti. Alisya yang tidak bisa naik mobil karena mabuk darat super akutnya yang tidak bisa di atasinya itulah yang membuatnya lebih memilih untuk berjalan kaki. "Uwweeeekkkkk!!!" Alisya muntah tepat di baju Adith. "Perasaan mabuk inilah yang paling tidak aku su uummm ka mmm i (Sukai)" tambahnya sambil menahan muntah. "Kenapa kau tidak mengatakannya dari Awal??? " Adith kesal karena hidungnya sangat sensitif terhadap bau meski itu bukan bau parfum tapi muntahan Alisya. "Bukan kah sudah ku katakan kau akan me nyesal.. Uweeeekkkkk" Ia muntah setiap kali membuka mulut. "Yang benar saja! apa kau sedang memuntahkan isi hatimu??? " "Diam kau! sudah kubilang jangan menyalahkan aku! sekarang turunkan akuhhh" Alisya semakin tak sadarkan diri karena kehabisan tenaga. "Mana mungkin!!! dengan kondisimu separah itu! aaragghhhh" Adith semakin frustasi. Mobilnya berhenti di sebuah rumah yang cukup mewah dengan taman luas dan dipenuhi dengan bunga. Alisya sudah tertidur tak sadarkam diri kelelahan mengeluarkan seluruh isi kampung tengahnya. Dua jam berlalu semenjak Alisya tak sadarkan diri. Begitu ia bangun dengan cepat dan langsung dalam posisi duduk ia kaget kalau tempat itu asing baginya. Pakaiannya juga sudah terganti dengan yang lebih bersih. ia melemparkan pandangannya keseluruh ruangan menganalisis apa yang sedang terjadi. Melihat Adith yang terduduk di kursi sofa menghadap dan memandang dirinya membuatnya sedikit mengerutkan dahinya. "Apa kamu masih mual?" Adith yang berada disana tersenyum melihat kebingungan Alisya. "Ini dimana? aku sudah mati?" Tanya Alisya bingung melihat ruangan luas indah yang bertema putih termasuk apa yang dipakainya. "Ini neraka bagian ibu kota!" ucap Adith dan menjitak kepala Alisya. "Aduh!! kenapa neraka bisa seindah ini?" tambahnya lagi meringis. "Bibi,,, bibi.... tolong ambilin kampak dong!!! Teman aku masih belum siuman nih.. " Teriak Adith memanggil pembantunya. "Oh jadi aku masih hidup?" Alisya memegang tubuhnya dan mendekapnya. "Sepertinya otakmu sudah bergeser ke lutut yah? " ucap Adith dengan nada menghina. "Bangunlah proyek presentase kita masih harus di selesaikan! Lusa Tes akan dimulai setidaknya kamu harus mempersiapkan diri. " Ucap Adith sambil melangkah pergi keluar ruangan. Mereka terus bekerja hingga menjelang malam hari tanpa ada yang menyadari bahwa waktu telah berlalu begitu cepat. Alisya takut membuat neneknya khawatir sehingga dia ingin segera pulang secepatnya. "Aku harus pulang sekarang! " Alisya mengingatkan. "Aku akan mengantarmu! " "Tidak, aku sudah tidak sanggup jika harus... " "Aku akan memboncengmu menggunakan motor. apa itu masalah? " potong Adith cepat. "Terimakasih tapi aku... " "Kenapa kau terus menolak? " Adith mulai kesal. "Karena aku tak nyaman dan tidak terbiasa! " bantahnya dengan suara keras. "Baiklah.. apa kamu bisa mengendarai motor matic? " tanya Adith setelah menarij nafas dalam-dalam tak ingin berdebat. "Iya, Aku bisa! " "Kalau begitu kau bisa membawa salah satu motor pembantuku untuk kau kendarai selama menjadi partnerku. kau tak boleh menolaknya karena aku tak ingin kau selalu terlambat kesekolah atau ke tempat pertemuan! " perintah Adith. "hhufffft.. Baiklah" Jawabnya pasrah. "Pakai Ini, biar aku tidak kesulitan berkimunikasi denganmu! " Adith melemparkannya sebuah Handphone bermerek Samsung S8. "Aku tidak butuh ini! " Alisya mencoba menolak karena ia sangat menghindari menggunakan Handphone selain karena ia sedang tak ingin di lacak, ia juga tidak suka karena baginya HP terlalu ribut. "Pakailah karena aku yang membutuhkannya. Aku tidak begitu yakin mengapa kamu tidak suka kebisingan, untuk itu aku buat dalam mode getar dengan kualitas suara yang sangat minim sehingga kau takkan terganggu!" Adith meyakinkan Alisya. Alisya terdiam beberapa saat setelah kemudian pasrah dengan semua keinginan Adith. "Besok kita akan bertemu di lab kompleks jangan terlambat" Adith mengingatkan. "Aku tau! " jawabnya tegas. Alisya memacu motornya keluar dari taman rumah Adith yang sangat indah pada malam hari karena kelap-kelip lampu taman yang menyinari seluruh taman. Karena terlalu serius menikmati pemandangan malam itu ia tidak sadar telah berpapasan dengan mobil yang ditumpangi oleh Ibu Adith. "Berhenti!!!!" Ibu Adith berkata tiba-tiba kepada supirnya. namun motor Alisya terus melaju kencang. "Ada apa nyonya?? " tanya sang sopir yang kaget. "Siapa wanita yang baru saja keluar tadi? " tanya ibu Adith. "Saya juga kurang tau nyonya! sepertinya itu temannya tuan Adith" Ibu Adith terdiam beberapa saat memikirkan seseorang yang baru saja dilihatnya. "Dith,,, Adith.." Panggil ibunya mencari Adith. "Ya ma??? " Adith segera menghampiti ibunya. "Siapa wanita yang baru saja keluar tadi? " "Itu teman Adith ma, Partner Adith di sekolah!" jawab Adith. Ibunya terdiam lagi beberapa saat sambil memikirkan siapa wanita itu. Jelas sekali kalau ia pernah melihat anak itu dan sangat mengenalnya tapi ia masih belum yakin. "Kenapa sih ma? ada apa? " tanya Adith penasaran. "Ah bukan apa-apa kok! mama cuman kaget aja ada cewek keluar dari rumah" Ibunya merasa perlu mencari lebih banyak informasi sebelum memberitahu Adith. **** Alisya yang baru saja keluar kamar setelah mandi melemparkan tubuhnya di atas ranjang di kagetkan dengan getaran tepat di belakangnya. setelah menyalakan HP itu ia melihat 1 pemberitahuan pada satu satunya aplikasi yang tampak pada layar kaca. Alisya yang bingung terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membuka aplikasi WhatsApp itu. "Gunakan Matic itu untuk ke sekolah! " Tampak pada pesan kalau pengirimnya adalah Jenius Tampan dengan fotoprofil berwajah Adith. "Dasar!!! si Narsis ini benar-benar bisa berbuat seenaknya saja!" Alisya yang kesal hanya menutup kembali HP itu dan membuangnya ke tepi ranjang lalu kemudian dalam hitungan detik ia sudah menyelami indahnya pulau kapuk. Adith yang sedari tadi duduk memperhatikan Handphonenya terus saja mengambil lalu kemudian membuagnya kembali menunggu balasan Alisya dengan gengsi yang tinggi namun rasa penasarannya juga tak kalah tinggi. "Sial!!! sudah 2 jam malah hanya di read saja. sepertinya dia sudah tertidur. " Adith yang menunggu balasan pesan dari Alisya membuatnya tidak bisa tertidur dan terjaga sepanjang malam. Chapter 12 - Aku ingin membunuh Manusia itu "Miska, bagaimana rencanamu?" Yuyun penasaran melihat Miska yang tampak santai dan tenang. "Besok kita presetntase, kamu sudah menjalankan rencanamu atau belum? " tambah Nely "Tentu saja sudah!!! aku akan membuatnya di tuduh mencuri bahan presentasiku! " Miska tersenyum sinis. "Maksud kamu?" Nely bingung. "Aku sudah mendapatkan bahan presentasi yang seharusnya akan di presentasikan oleh Alisya dan Adith! Besok Tim aku yang akan menampilkan Bahan presentasi kami terlebih dahulu sebelum Alisya dan Adith. oleh karena itu mereka akan di anggap mengambil atau memplagiat bahan presentase kami" jelas Miska. "Wah gila!!! bagaimana bisa kamu mendapatkan bahan presentase mereka? " tanya Yuyun sambil bertepuk tangan. "Aku menyewa satpam sekolah untuk mengambil data di ruang komputer tempat Alisya bekerja! Dan juga menyuruh Diana untuk mengambil Copyan File yang berada di Laptop Alisya saat ia sedang ke toilet" tambahnya lagi. "Mereka akan benar benar tamat besok! Kau taukan kepala sekolah takkan menerima dan mentoleransi plagiat atau mencontoh presentasi orang lain. bukan hanya di skorsing, tapi mereka bisa mendapatkan hukuman yang lebih berat dan untuk Alisya dia bisa di keluarkan! " Ucap Nely menatap Yuyun semangat. "Bagaimana bisa kau sejahat ini? bukankah ini masih terlalu awal??? " Yuyun tertawa jahat memikirkan kemalangan Alisya. "Kita perlu memperlihatkan Pada Alisya siapa kita dan siapa dia yang berani melawan kita! Cewek bodoh dan miskin yang tidak punya apa-apa beraninya mencari masalah dengan kita" mata Miska berkilat licik. Jika ada yang melihat maka mereka akan berpikir kalau anak ini sangat cocok jadi pemain sinetron Indonesia yang mana yang kaya menjadi pemeran Antagonisnya. "Kau benar" aku sudah tidak sabar melihat kemalangannya besok. mereka tertawa dengan semangat memikirkan apa yang akan diderita oleh Alisya. Mereka tak berpikir bahwa tentu saja Adith takkan membiarkan hal itu terjadi dan juga tidak semudah itu menjatuhkan Alisya yang bahkan mereka tidak tau tingkat kejeniusan dari Alisya. Alisya bukanlah lawan yang mudah ketika dia terpojokkan. ******* "Kau sudah mempersiapkan semuanya? " tanya Zein kepada Miska sesat sebelum memasuki Aula presentase. "Tentu saja kau tidak perlu khawatir, aku bukanlah orang yang bodoh! " seyum Miska yakin. "Presentase kali ini di titik beratkan kepada kemampuan Tim dalam membawakan materi. Aku sudah membacanya semalam dan aku tau ini cukup menarik dan mudah saja bagiku membantumu jika ada masalah nanti" Zein tidak terlalu khawatir dengan kemampuan Miska, karena dia adalah kandidat terkuat yang dimiliki sekolah untuk menjadi seorang partner. sedang Alisya bahkan 10 besarpun ia tidak masuk sehingga dirinya cukup yakin untuk bisa mengalahkan Adith dan Alisya. "Aku tau! aku takkan biarkan mereka mendapatkan poin yang cukup dan dengan mudah akan mengalahkan mereka" Senyumnya lagi. "Baik... presentase akan segera dimulai, kepada para siswa dan partnernya untuk segera memasuki Aula" Seorang guru sudah memanggil para siswa yang telah mempersiapkan diri memasuki Aula yang sangat besar dan luas dengan tatanan tempat duduk layaknya akan ada Drama musical atau konser yang akan di adakan. Ratusan kursi sudah di siapkan untuk di tempati para siswa bersama partnernya dan di bagian depan aula tampak panggung dengan layar putih serta pertalatan lainya sebagai alat presentase dan paling depan baris kursi yang menghadap panggung terdapat barisan meja dengan kursi mewah menghadap panggung seperti akan diduduku oleh para Tim penilai presentase. "Kau tau kali ini yang akan menjadi eksekutornya adalah Pak Amir Guru Sains yang terkenal Killer dan sangat teliti dalam menilai" bisik seorang siswa kepada partnernya. "Bukan hanya itu. penilaian kali ini sangat selektif dan jauh berbeda dari sebelumnya yang berpatok pada individu saja baik ketua atau pasangannya. jadi lebih menitik beratkan kepada kedua belah pihak dalam menampilkan presentase" "Ya kau benar! Tahun lalu Sang ketua yang melakukan semuanya presentase sedangkan si partner hanya menampilkan kesimpulan akhir saja" ucap yang lainnya. "Bukan hanya itu saja! Kali ini akan ada sesi tanya jawab setelah presentase! mirip seperti ujian skripsi pada tingkat kuliahan! " tambah yang lainnya sambil menghela nafas. "Apa??? aku bahkan tidak siap berdiri di sana apa lagi harus kena hantaman anak panah (pertanyaan) dari para juri killer itu! Habislah aku" keluh kesah seluruh murid mulai memenuhi Aula yang sangat besar itu. **** Plaaakkkkkk.... hantaman yang cukup kuat mengenai dahi Alisya membuatnya sangat terkejut dan emosinya tiba-tiba saja menjadi tersulut. "Kau sudah gila ya?? apa kau pikir ini tidak sakit? " Alisya marah menatap tajam Adith yang tersenyum mengolok. "Dengan suara se besar itu, aku rasa cukup sakit! " ucapnya sambil meniup tangannya seolah telah berhasil menepuk nyamuk. "Sial, kau benar-benar ingin di hantam yah? " baru saja Alisya ingin menaikkan tendangannya Pak Amir lewat memasuki gedung dan menyuruh mereka masuk juga berhenti bermain-main. Pak Amir sudah memiliki penilaian yang cukup buruk melihat kelakuan Alisya. Adith hanya tersenyum menang melihat ekspresi Alisya menurunkan tendanganya dengan cepat seperti orang yang sedang menari dengan kaku tampak seperti robot. "Aku hanya ingin kamu tidak usah terlalu gugup. Aku akan terus berada disampingmu apapun yang terjadi" goda Adith sambil mengedipkan matanya. "Aku tidak gugup! aku hanya merasa sangat semangat melihat mulut mereka menganga setelah melihat kemampuanku! Aku akan menyapu rata para Juri termasuk Bakemono yang baru masuk tadi" Tegas Alisya membara. "hahahahahaha... aku suka rasa percaya dirimu! ayo kita masuk" tanpa permisi Adith langsung menggandeng tangan Alisya dan menariknya masuk ke dalam Aula. Alisya berusaha melepaskan genggaman Adith tapi tetap saja ia tak kuasa melepasnya. suasana aula yang semula ribut tiba-tiba menjadi tenang dan semua terkejut melihat pemandangan itu. mereka tampak seperti dua orang yang sedang berkencan dan sekali lagi melihat itu pak Amir menambah nilai negatif Alisya dimatanya. Setelah mendapat tempat duduk di dekat Karin, Alisya langsung melepaskan genggaman Adith dan membuang diri duduk disamping karin sambil menutup wajahnya yang kesal. "Kalian mau datang presentase atau mau nikah sih? goda Karin berbisik di telinga Alisya. "Aku ingin membunuh manusia itu! " geram Alisya yang dibalas cekikikan karin. "Kau memakai peredam suara yang baru di buat ayah kan? itu sangat efektif di ruang seperti ini." tanya Karin khawatir mengingat suasana Aula cukup bising bagi Alisya. "Tentu saja! Jika tidak aku sudah menggila dari tadi. Oh iya aku tak tau kamu menjadi partner siapa?" Alisya yang terlalu disibukkan oleh Adith baru teringat akan siapa pasangan sahabatnya ini. "Kau terlalu sibuk kencan jadi lupa sama aku" goda Karin di balas wajah ngotot Alisya menginginkan jawaban. "Lihat siapa yang datang.. dia partnerku? " tunjuk Alisya dari arah samping kanan Alisya. "Riyan??" mata Alisya membelalak. Karin hanya tertawa melihat ekspresi terkejut Alisya. Ia paham maksud tatapanya itu tapi Riyan adalah pilihan yang paling tepat bagi Karin jika harus menjadi partner karena Riyan juga terkenal kecerdasaannya setelah Adith dan Zein. Chapter 13 - Apa kalian buta??? Seorang guru segera mengambil mic dan membuka acara pelaksanaan presentase yang dijadikan sebagai bahan ujian bagi para siswa. berbeda dengan sekolah lain yang biasanya pertengahan semester akan dilaksanakan ulangan tengah semester, SMA CENDEKIA INDONESIA malah mengadakan ujian dengan cara yang berbeda yang jika tidak memungkinkan memiliki poin yang bagus bisa jadi mereka akan di keluarkan. inilah kenapa sekolah ini memiliki siswa-siswi dengan tingkat kecerdasan yang rata-rata cukup tinggi. "Seperti yang kalian ketahui, bahwa tiap tahun akan di adakan tes dengan 3 tahapan yaitu tes pengetahuan, keahlian dan yang terakhir presentasi. Namun tahun ini kami mengadakan sedikit perubahan dimana 1 tes bisa mencakup ketiga tes tersebut! " pernyataan ini sontak saja membingungkan para murid tidak terkecuali para elit. "Tes kali ini hanya akan di adakan satu tes saja dimana tiap tim yang terdiri dari ketua dan partnernya akan membawakan presentase dimana akan ada sesi tanya jawab dengan para juri/penilai sehingga pengetahuan dan keahlian dalam presentase bisa secara langsung mendapatkan penilain. selain itu akan ada tambahan nilai dari para siswa-siswi yang hadir dengan menekan tombol nilai. silahkan lihat pada bagian bawah kursi kalian". kepanikan segera saja membahana diruang aula presentase. Alisya hanya tesenyum sinis mendengar pengumuman yang mendadak ini. Adrenalinnya seperti terpacu dan tertantang akan gebrakan yang akan terjadi nantinya. melihat sifat tenang alisya, Adith juga menarik senyum tipis dan memperbaiki posisi duduknya yang semula baik baik saja. Ia merasa kalau akan ada banyak kejutan yang akan terjadi nanti. Presentasi yang sudah dimulai dengan beberapa siswa yang beranggotakan tim elit pun kalah oleh serangan serangan yang dilakukan oleh pak Amir. Hal ini memperlihatkan betapa sulitnya tes kali ini yang sedang mereka jalani namun mereka masih bisa menyelesaikan beberapa serangan dari dua juri lainnya sehingga kemampuan mereka tidaklah dapat di anggap remeh. "sekolah ini benar-benar mencari bibit unggul sebagai wajah indonesia dalam tingkat dunia." Karin merasa kagum dengan semua kemampuan para siswa-siswi yang melakukan presentase. "Kau benar, bahkan tema dan bahan yang mereka bawakan semua mengangkat isu serta kejadian yang sedang menjadi pelik pada saat ini" Alisya yang juga merasakan hal yang sama. "Tapi sepertinya itu tidak cukup memuaskan pak Amir. Dari tadi ia selalu memberi nilai dibawah 60 dan selalu memberi serangan mematikan kepada tiap peserta." Timpal Adith "Ia sedang mencari seseorang yang mampu memberikannya serangan balik untuk bisa memberikannya nilai sempurna" tambah Riyan Analisa dari kedua orang itu cukup masuk akal mengingat pak Amir masih menunjukan ekpresi kurang puasnya. "Ya kau benar, bahkan kalian yang mengangkt tema mengenai likuifaksi yang baru saja terjadi di palu dan menampilkan proses terjadinya pun hanya mendapatkan nilai 60 olehnya" Terang Alisya kemudian. Peserta yang tampil sudah hampir semua menyisakan Adith dan Alisya serta Zein dan Miska. mereka menjadi peserta yang sudah ditunggu-tunggu oleh seluruh orang yang ada didalam aula tersebut. "Kedua peserta terakhir ternyata memiliki tema pembahasan yang sama untuk itu kedua tim diharapkan untuk berada di atas panggung" ucap salah seorang juri yang diketahui semunya bernama ibu Yosi. Alisya yang nampak bingung melihat ke arah Miska yang tersenyum dalam diam namun sudut matanya merasa bahwa ia telah menang. "Bagaimana bisa? bukankah kau bilang belum ada yang mengambil tema ini? " tanya Zein kesal setengah berbisik kepada miska. "Aku tidak tau apa yang terjadi, kita akan liat nanti" Miska menenangkan Zein. Zein adalah tipe yang memiliki abisius dan daya saing yang tinggi menyebabkan ia tak begitu suka dengan kejadian yang baru saja terjadi. Alisya menatap kewajah Adith yang hanya diberi isyarat untuk ke panggung saja terlebih dahulu dan melihat apa sebenarnya yang sedang terjadi. "Bagaimana bisa tema kalian sama? bukankah dari awal kalian tidak diperbolehkan mengambil tema yang sama? " tanya Ibu Yosi kepada kedua tim ketika mereka sudah berada di atas panggung. Seisi aula sudah mulai kacau dengan opini masing-masing. "Tolong berikan penjelasan kalian. Dimulai dari tim mu Zein" Tambah Pak Affandi seorang juri lainnya. "Sepertinya ada kesalah pahaman pak, Tim kami sudah memutuskan untuk mengambil tema ini jauh sebelumnya" terang Zein. "Maaf pak, tapi Tim kamilah yang sudah memberi ajuan terlebih dahulu." Alisya memberi penjelasan cepat. "Kau belum disilahkan berbicara" tegur pak Amir dengan nada jengkel. "kalian taukan kalau temanya sama maka akan di diskualifikasi dengan tak mendapatkan poin apapun dan terancam dikeluarkan dari sekolah! kami tidak membutuhkan siswa-siswi yang kurang mampu bersaing. " Ancamnya lagi. Seolah olah merasa terancam, Miska membuka mulutnya. "Ummm... sepertinya Alisya mencuri bahan presentase kami pak! " ucap miska dengan beracting meragukan. "Kamu tau konsekuaensi yang kamu katakan jika tidak benar Miska? " Ibu Yosi mengingatkan. Perkataan Miska menujuk batang hidung Alisya sontak saja menbuat seisi aula menjadi semakin ribut dengan sorakan menghina. "Tentu saja bu, saya punya buktinya kok!" Ucap miska meyakinkan pernyataanya. "Baiklah, silahkan tunjukkan buktinya" tambah pak Affandi. Miska segera menuju ke tempat proyektor dan memasukkan sebuah flash lalu menampilkan sebuah rekaman dimana terlihat potongan video Alisya yang sedang mengambil flash di bawah meja komputer yang digunakan oleh Miska. Melihat video itu sontak saja semua orang menyoraki Alisya dengan penuh hinaan dan melemparinya dengan kertas. Karin mulai panik dengan keributan yang sedang terjadi sedang pak Amir semakin marah dan tidak menyukai Alisya. Rinto dan Yogi yang duduk paling belakangpun segera berdiri mendekat mempersiapkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. "Alisya, perbuatan mu itu adalah tindakan yang sangat buruk!!! " Ibu Yosi meninggikan suaranya. "Kamu bisa di keluarkan dari sekolah dan takkan bisa mendaftar disekolah manapun yang ada di indonesia". Tambah pak Affandi jengkel. "Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu!" tunjuk pak Amir geram. Adith melirik kepada Alisya yang hanya tersenyum penuh arti. Ia bingung bagaimana bisa Alisya hanya berdiri disana sambil tersenyum tenang melihat dirinya sedang mendapatkan fitnah yang sangat berbahaya bagi dirinya nntinya. ketenangan Alisya membuat Adith menantikan sikap Alisya. "Apa kalian buta atau keterlaluan bodoh sih??? " Alisya tersenyum sinis. ucapannya membuat pak Amir semakin marah. Seluruh ruangan juga merasa terhina dengan kata-kata tajam Alisya. "Apa maksudmu berkata seperti itu? " pak Amir berdiri dari tempat duduknya menatap tajam ke arah Alisya. Adith hanya tertawa melihat reaksi yang dilakukan oleh Alisya membuat seluruh ruangan menjadi semakin panas. "Mudah saja untuk mendapatkan kesalahan dari video tersebut, itulah kenapa aku berkata kalian semua buta dan cukup bodoh karena tertipu oleh potongan video ini. Kesalahan kalian dari awal adalah sudah memberikanku penilaian buruk tanpa mengenaliku lebih dalam" terang Alisya sambil melemparkan pandangannya keseluruh ruangan. Chapter 14 - Modusmu Oke juga Zein mendengarkan perkataan Alisya dengan sangat serius lalu sejurus kemudian mencoba melihat tanyangan video yang sedang diputar berulang-ulang untuk memojokkan Alisya. Semakin ia perhatikan, semakin ia tidak menemukan kejanggalan pada video tersebut. Ia merasa kalau Alisya sedang menggali kuburannya sendiri dengan mengeluarkan pernyataan yang salah. Adith mengambil posisi dan berdiri tepat di tempat proyektor berada dan mulai melakukan sesuatu terhadap video yang sedang terputar. Ia tampak paham apa yang di maksud oleh Alisya sehingga bergerak cepat dan membiarkan Alisya mengambil Alih panggung seorang diri. Ia percaya kalau Alisya bisa menanganinya meski tak berdiri di sampingnya. Paham dengan tindakan Adith, Alisya segera menganggukkan kepalanya memberi tanda kepada Adith. "Bisa kalian lihat di video tersebut bahwa aku sedang setengah tertunduk tampak seperti baru selesai mengambil sesuatu dari komputer menggunakan Flash, tapi setelah di perhatikan baik-baik komputer sekolah kita memiliki CPU dengan tipe ProLiant ML15 Gen15. CPU tipe khusus server dengan colokan Flash yang hanya terdapat di bagian belakang CPU saja sedang bagian depannya hanya terdapat tempat Disk dan tombol power" Terang Alisya yang melirik ke arah Adith dan meng zoom posisi Alisya yang berada pada bagian depan CPU. "Selain itu bisa kalian lihat juga Flash yang saya gunakan adalah Flash tipe khusus yang dimiliki oleh Adith dengan lambang Flash A yang tentu saja ini berarti hanya file khusus yang di buat oleh Adith saja yang bisa masuk dan keluar atas se izin si pemilik Flash! Begitu pula bahan yang telah kami rampungkan adalah bahan yang sudah diberi format khusus. terkecuali jika bahan tersebut adalah bahan mentah yang berasal dari komputer saya!" Adith juga memperlihatkan lambang A yg berada di tangan Alisya yang kemudian memandang Alisya kagum karena bisa mendekripsikan sedetail itu barang miliknya tanpa ia beritahu sebelumnya mengenai Flash yang di berikannya kepada Alisya. Sambil tertawa kagum kepada Alisya. Adith melangkah mendekat dan berdiri tepat disisi Alisya. "Untuk itu, dari video itu malah membuktikan bahwa Alisya tidak mengambil apapun dari komputer tersebut atau malah tak menyentuh sama sekali, ia hanya mengambil Flashnya yang terjatuh karena tidak sengaja menabrak meja komputer melihat dari posisi Alisya yang tubuhnya lebih berat berada di sisi sebelah kanan meja yang tampak sedikit tergeser posisinya" jelas Adith menambahkan sambil tersenyum sinis ke arah Zein. Zein tampak terpaku dan kagum terhadap Alisya. Baru kali ini ia melihat seorang perempuan yang dengan setenang itu mampu juga cerdiknya menangani situasi dan tekanan yang cukup besar dari ratusan pasang mata menghina. Miska mulai tampak gusar tidak menyangka kalau Alisya bisa membalikkan keadaan. Rinto dan Yogi serta Karin yang khawatir dengan kondisi Alisya hanya cekikikan menahan tawa melihat ekspresi miska yang kalah. Pak Amir yang semula memberikan penilaian buruk kini mulai berpikir bahwa ia telah salah paham terhadap Alisya mulai meluluhkan sedikit penilaiannya. "Saya tidak begitu yakin bagaimana bisa tema bahan presentasi kami bisa sama, namun tidakkah kami harusnya diberi kesempatan untuk setidaknya melakukan presentase terlepas dari kesamaan atau siapa yang mencuri bahan presentase milik siapa! " Lanjut Alisya menenangkan suasana ruangan. Alisya sebenarnya paham betul akan apa yang sebenanrnya sedang direncanakan oleh Miska namun ia memilih untuk menyembunyikannya dan membuat seolah-olah bahwa tema yang mereka ambil hanya kebetulan saja. "Dengan begitu kami bisa tetap mendapatkan poin kami sesuai dengan kemampuan kami dalam membawakan bahan presentasi yang telah kami siapkan" Lanjut Adith menambahkan. Ia yakin bahwa mereka bisa membalikkan keadaan dan memberikan pukulan telak kepada Miska. "Baiklah, kita akan istrahat dulu 30 menit untuk mendiskusikan hal ini" Ucap Ibu Yosi setelah menghela nafas melihat seluruh ruangan memberikan tatapan untuk memberikan kesempatan karena malu atas perlakuan mereka kepada Alisya. Meski mereka sebenanrnya cukup senang jika mendapatkan sesuatu yang bisa membuat mereka bergosip ria terlepas dari kebenaran yang sesungguhnya. Kedua tim turun dari panggung dengan wajah Miska yang merah padam menahan amarah karena tingkah laku Alisya yang baginya tampak sedang mencari muka dihadapan para penguji dan seluruh orang yang ada di ruangan Aula tersebut. Miska dengan jengkel mengaitkan kakinya ke kabel yang bearada di dekat kaki Alisya untuk membuat Alisya terjatuh dari atas tangga yang tampak seolah ia tidak sengaja terkait oleh kabel tersebut. Alisya yang terkejut karena kakinya terkain oleh kabel berusaha menyeimbangkan tubuhnya dan akan terjatuh kebelakang menindih Zein. Melihat Alisya yang akan terjatuh membuat Zein memajukan tubuhnya untuk menangkap tubuh Alisya namun dengan sigap Alisya mendorong tubuh Zein sehingga membuatnya pasrah dengan memilih jatuh kebawah. Alisya menutup mata bersiap akan benturan ke lantai malah merasakan dua tangan telah menangkap tubuhnya. begitu membuka mata ia melihat wajah Adith yang tersenyum dengan sangat tulus memperlihatkan kontur wajah tampan mempesona dengan rahang kokoh yang memperlihatkan kejantanan seorang laki-laki dan kilatan mata bercahaya menatap lurus sambil membawa tubuh Alisya tanpa menurunkannya. "Kau benar benar punya banyak cara untuk menggodaku" Senyum Adith tidak mengalihkan pandangannya. Tersadar akan posisinya Alisya dengan lihai melompat dari tangan Adith dengan lembut tanpa memberikan dorongan keras kepada Adith. "Modusmu oke juga" Timpal Alisya melangkah seolah olah tidak terjadi apa-apa meninggalkan Adith yang tersenyum gemas melihat tingkah Alisya. Ratusan pasang mata yang melihat kejadian itu bukannya memberikan rasa simpati kepada Alisya karena kejadian sebelumnya, perlakuan Adith malah membuat para wanita menggila dan membenci Alisya. mereka melihat kalau Alisya sengaja melakukan hal tersebut untuk menarik perhatian Adith. Miska yang semula kesal karena ingin mempermalukan Alisya, sekarang tersenyum jahat karena tanpa ia sadari ia telah berhasil membuat Alisya menambah musuh meski tak secara langsung memprovokasi keadaan. melihat ekspresi semua pasang wajah jengkel para wanita bucinnya Adith. "Aku semakin membenci Alisya, tidak ku sangka dia bisa se cerdik itu!" bisik Yuyun setelah mendekati Miska. "Sial... bagaimana bisa??? apa dia sudah tau kalau kita sengaja melakukan semua itu?" tanya Nely dengan suara pelan. "Aku juga tidak tau bagaimana, tapi sepertinya dia sengaja membiarkan kita melakukannya dengan begitu dia bisa membalikkan keadaanya. Dia pikir aku tak bisa melawannya! cih..." cibir Miska semakin kesal. "hahaaha.. dia lupa yah.. kalau kau adalah peringkat pertama di MIA 2! sedangkan dia, nilainya hanya berada di 20 besar saja! " Yuyun tertawa mengingat posisi Miska yang lebih baik di banding Alisya. "Kamu bisa menjatuhkannya pada saat presentase nanti... aku yakin dia hanya bergantung pada kemampuan Adith saja. sedangkan dia bukanlah sesuatu yang harus kamu khawatirkan. " tambah Nely semangat. Mereka tersenyum penuh arti sambil melirik ke arah Alisya dan Karin yang sedang berbincang-bincang di tambah dengan Adith yang terus saja menggoda Alisya sehingga siapapun yang melihat mereka bagaikan Tom & Jerry yang bertengkar dengan cara yang relatif mesrah di mata para bucinnya Adith. Note : Bucin "Budak cinta" Chapter 15 - Reaksi Termit 30 menit kemudian kedua tim kembali ke atas panggung presentase untuk mendengarkan hasil diskusi apakah mereka mendapatkan kesempatan ataukah semua akan berakhir dengan kegagalan saja. "Baiklah, kami sudah buat kesepakatan yaitu kalian tidak akan mendapatkan kesempatan untuk melakukan presentase" ucap ibu Yosi tegas. Semua orang terkejut dengan hasil kesepakatan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Alisya tetap memasang wajah tenang di ikuti tarikan bibir Adith setengah tersenyum mendegar hal tersebut. Sedangkan Miska tampak gusar dan Zein tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Alisya. "Tapi kami akan memberikan ujian sejauh mana kalian menguasai bahan materi kalian untuk melihat apakah memang ini kebetulan atau ada konspirasi di dalamnya" tambah pak Amir dengan nada yang dingin. "Kami harap kalian tidak mengecewakan kami" sambung pak Affandi lembut. Wajah Miska seketika berubah menjadi semangat dan menyunggingkan senyuman yang terlihat sinis dengan tatapan tajam mengarah ke Alisya yang lebih memilih membuang wajah tidak melihat keduanya. "Aku akan mulai dari Tim Zein, apa yang memilih kalian mengambil tema ini? " Ibu Yosi memulai tes dengan pertanyaan yang sederhana. "Seperti yang kalian ketahui, tema presentase kami adalah Reaksi Termit. Reaksi ini biasa digunakan sebagai pengelasan logam dengan bahan Besioksida dan bubuk Aluminium yang bisa menghasilkan panas yang cukup tinggi." Jawab Miska dengan lancar dan lantang. "Selain itu reaksi termit ini rencana kami akan simulasikan sebagai contoh pengelasan yang biasa di lakukan sehari hari oleh para pekerja bengkel, bangunan maupun furniture pagar dan juga simulasi meletusnya gunung merapi yang baru-baru ini terjadi". Tambah Zein mantap. Pak Amir dan 3 juri lainnya menganggap bahwa materi presentase yang mereka tampilkan cukup menarik sehingga tampak mengangguk anggukan wajah tanda setuju mengingat zaman ini adalah zaman dimana segala sesuatunya telah berhubungan dengan mesin serta penciptaan barang barang yang menggunakan besi, logam maupun aluminium telah melakukan proses reaksi Termit sebagai langkah dasar yang banyak orang kenal hanya sebagai proses pengelasan biasa. "Bagaimana dengan Tim kalian Adith??? Apa yang memilih kalian mengambil tema yang sama? " Tanya pak Amir dingin. "Pada dasarnya kami mengambil prinsip kerja yang sama pada reaksi termit seperti yang telah kalian dengar sebelumnya. Akan tetapi titik pembahasan kami lebih mengarah pada Reaksi termit yang bisa menghasilkan daya ledak yang cukup tinggi." Alisya menjawab dengan tenang dan lancar menatap Adith untuk melanjutkan. "Reaksi termit jika dinyalakan akan menghasilkan panas dengan skala lebih dari 3000 derajat selsius. Dan suhu tersebut melebihi titik didih dan titik leleh dari besi atau beton. Yang jika tereaksi dengan air maka akan menghasilkan ledakkan freatik seperti yang terjadi pada letusan gunung berapi. Ini mirip sekali dengan jenis Bom yang meledak pada gedung pemerintahan Indonesia yang baru saja terjadi bulan lalu. pada penyelidikan dikatakan bahwa pada ledakkan terdeteksi reaksi termit." Ucap Adith menambahkan dengan lihai dan tampak seperti seorang yang pro dalam melakukan presentase. "Tidak heran kalau diumur segini dia sudah memegang bisnis keluarga nya! dia memang luar biasa" Batin Alisya kagum dengan kemapuan Adith. Mendengar jawaban dari kedua tim yang jauh berbeda, pak Amir mulai memperbaiki posisi duduknya untuk lebih maju kedepan menandakan bahwa ia tertarik dan penasaran akan apa yang bisa di lontarkan oleh kedua tim selanjutnya. Semua peserta juga merasa kagum dengan tekhnik pembawaan presentasi yang dibawakan oleh kedua tim sehingga dengan antusias memperhatikan dengan serius apa yang akan terjadi selanjutnya dalam persaingan ini. Mendengar adanya Kompetisi dalam presentase kali ini, kepala sekolah beserta para petinggi sekolah tidak ketinggalan untuk bisa menyaksikan kejadian langka ini terlebih lagi melibatkan 2 sosok fenomenal anggota elit tertinggi disekolah itu. "Kembali kepada timmu Zein, bisa kalian jelaskan lebih lanjut mengenai reaksi termit dalam pengelasan atau letusan gunung berapi?" Tanya pak Affandi. "Pada pengelasan bioksidasi dan Aluminium akan dilakukan pembakaran dengan suhu yang cukup tinggi sehingga dapat melelehkan logam yang kemudian bisa dijadikan sebagai sambungan yang sangat kuat terhadap besi atau logam lainnya. Namun reaksi ini cukup berbahaya dan menghasilkan sinar yang cukup menyilaukan sehingga perlu penanganan khusus ketika melakukan kegiatan pengelasan." Miska memperlihatkan prosedur pengelasan secara langsung dan tampak ahli dalam melakukannya. Peralatannya tampak sudah siap mendukung presentasi yang dilakukannya. "Begitupula pada proses letusan gunung berapi, semua material yang terdapat di dalam gunung berapi yang aktif memilki jenis yang sama untuk bisa menghasilkan reaksi termit. dan ledakkan yang terjadi pada saat letusan adalah karena adanya air dari dalam gunung yang bereaksi terhadap reaksi termit. inilah yang di sebut dengan ledakkan freaksi seperti yang baru saja terjadi pada letusan gunung berapi yang baru saja terjadi pada gunung Sumeru" Zein juga menampilkan simulasi secara langsung bagaimana proses letusan gunung berapi karena reaksi termit dan tentu saja dengan jarak yang cukup aman dan penggunaan bahan yang pas sehingga tidak berbahaya. Pak Affandi sangat kagum dengan cara mereka menampilkan presentase dan dengan kemampuan yang baginya dilakukan oleh seorang yang cukup profesional di bidangnya. Miska memperlihatkan pandangan yang puas menganggap bahwa mereka lebih unggul dalam membawakan presentase kali ini. Para peserta dan juga penonton yang lain pun memberikan tepuk tangan yang meriah terhadap hasil presentase yang di lakukan oleh Zein dan Miska. "Untuk kalian berdua!" pak Amir menunjuk ke arah Adith dan Alisya. "Bagaimana bisa kalian mengatakan bahwa Bom itu menggunakan reaksi termit? " Tantang pak Amir masih dingin. "Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut mengenai Bom dengan rekasi termit, perlu kalian ketahui bahwa Bangunan gedung pemerintahan Indonesia memiliki pilar dari penyangga dengan rangka bangunan 4 kali lebih tebal dari bangunan gedung biasa sehingga disebut super pilar karena kekuatannya. Dan tidak sembarang bom biasa bisa menghancurkannya. Ini terlihat dari bekas reruntuhan dari gedung tersebut sewaktu saya melakukan penelitian disana" Ucap Alisya memperlihatkan gambar gambar dari reruntuhan bangunan gedung Pemerintahan Indonesia. "Apakah itu berarti Bom yang di ledakkan bukanlah Bom biasa?" Pak Amir tidak tahan untuk bertanya kembali melihat kemampuan Analisa Alisya yang mengalahkan para ahli riset kepolisian. "Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, itu karena adanya reaksi termit yang melelehkan besi atau beton pada gedung tersebut. Ketika ledakkan terjadi, air dari sprinklepun keluar dan menyebabkan ledakkan freatik yang mirip seperti pada letusan gunung berapi. sehingga pilar sudah tidak mampu menyangga beban dari bangunan dan akhirnya bangunan tersebut runtuh. Substansi ini sebenarnya lebih mudah di dapatkan dari pada bubuk mesiu dan biasa di jual pada daerah ini. " Adith juga menampilkan video simulator bagaimana runtuhnya gedung tersebut akibat ledakkan bom yang menggunakan reaksi termit dan juga peta dari pembelian substansi Bom tersebut. "Melihat dari lokasi perkiraan, berdasarkan bukti yang di tinggalkan maka pembelian bahannya berkisar pada area ini mengingat pelaku terekam cctv hanya berjalan kaki dan tidak menggunakan angkutan umum untuk menghindari pelacakan Identitas" Tambah Alisya sebelum mengakhiri presentasinya. pak Amir terdiam dan terpaku dengan jawabam yang diberikan keduanya. bukan saja mereka berhasil melakukan presentase dengan sangat baik, mereka bahkan telah bisa saja membantu kepolisian dengan Analisis mereka yang terbilang sangat akurat. Hal ini membuat seorang petinggi telah diam diam menghubungi kepolisian tepat setelah Adith memulai analisisnya untuk mengecek kebenaran. ketiga juri dan seluruh orang yang berada di dalam gedung masih terdiam tak tau apa yang harus mereka katakan. mereka masih teroaku dan mencerna bagaimana bisa dua orang anak SMA menganalisis dan memecahkan masalah yang bahkan para kepolisian saja belum menyelesaikannya. Seorang petinggi turun menuju ke panggung dan menyalami Adith serta Alisya dengan suara lantang. "Berkat kalian berdua, kami telah berhasil menangkap pelaku pengeboman dan mendeteksi lokasi Bom selanjutnya! untuk itu kalian akan diberikan penghargaan begitu pula dengan sekolah ini" ucapnya sambil menyalami Adith dan Alisya. Mendengar itu semua orang langsung berteriak dengan gemuruh dan bertepuk tangan dengan keras. suasana mendadak lebih ribut dari sebelumnya membuat peredam Alisya tidak berfungsi dengan baik. Ia segera meminta izin untuk turun dari panggung setelah memberi hormat kepada petinggi tersebut. Melihat reaksi Alisya , Adith langsung mengejarnya sedangkan si petinggi tersebut kembali ke posisi semula dan berbincang kepala sekolah. Adith dan Alisya meninggalkan semua kerumunan yang merasa Aneh karena bintang acara tiba-tiba saja menghilang. Begitu pula dengan para Juri yang saling melihat satu sama lain. Chapter 16 - Dia memang menakutkan Gosip mengenai hasil presentase yang dilakukan oleh Alisya dan Adith telah beredar dengan sangat cepat layaknya virus mematikan yang menggerogoti seluruh isi sekolah SMA CENDEKIA INDONESIA. Kepopuleran Adith sontak saja sampai ke seluruh pelosok Indonesia, siapa yang tidak mengenalnya? seorang pelajar muda berbakat dengan kejeniusan tingkat tinggi dan ketampanan wajah oriental melayu namun begitu gagah perkasa juga berwibawa serta pemegang jabatan tertinggi dalam bisnis yang di jalankannya dalam keluarganya semakin menambah kharisma dari seorang Radithya Azura Narendra. Sedang Alisya menjadi sosok yang populer di kalangan siswa namun sangat misterius dengan latar belakang yang diketahui sebagian besar orang hanya tinggal bersama neneknya selain itu mereka tak menemukan info apa-apa. Akan tetapi kecerdasan Alisya dalam melibas semua pertanyaan guru paling Kiler membuatnya tampak menawan dan mempesona baik di kalangan biasa maupun di kalangan elit. Hanya saja hal ini juga menimbulkan kebencian mendalam bagi para siswi di sekolah itu. "Bagaimana sekarang? bukan saja harusnya dia di permaluka, malah ia akan mendapatkan penghargaan sial!!! " Yuyun menggerutu kesal dengan gosip positif yang terus mengalir ketelinganya. "Aku... a,, aku.. errrrggggh" Nely tidak bisa mngeluarkan kata-kata lagi karena terlalu kesal dan marah. "Tenang saja! aku takkan biarkan dia mendapatkan semua kesenangan ini dengan tenang! 3 hari lagi sekolah akan mengadakan acara penghargaan kepada Adith dan Alisya atas kemenangan presentase mereka dan hasil analisi mereka yang telah membantu kepolisian! " Miska bergumam pelan. Nely dan Yuyun mendengarkan dengan seksama perkataan Miska dan bertanya dalam kalut. "Apa rencanamu kali ini??" "Aku takkan biarkan dia hadir dalam acara itu! dengan begitu dia bukanlah menerima penghargaan melainkan di Cap sombong dan angkuh karena berani tidak datang di acara yang sangat penting bagi wajah sekolah yang terkenal disiplin ini. terlebih lagi dia hanyalah seorang siswi biasa yang tak memiliki latar belakag yang kuat untuk melindunginya" Miska tersenyum licik mengingat rencana lain yang dipikirkannya. "Untuk itu apa yang akan kamu lakukan padanya? kau tau kalau Adith selalu berada di didekatnya bahkan mengawasinya dari jauh. Dia cukup protektif hanya terhadap seorang partner rendahan karena kejadian sebelumnya di kelas. " Nely meyakinkan dirinya sendiri kalau hal itu dilakukan Adith hanya karena kelembutan Adith sajalah dan bukan karena ia teratrik pada Alisya. "Mustahil ia menyukai Alisya" Batin Nely mengutuk Alisya. "Adith mungkin akan mengawasi Alisya, tapi kita tau kelemahan Alisya yaitu Karin dan juga Alat yang terpasang pada telinganya! kalian lihatkan kemarin sewaktu acara belum usai dan mendapatkan sorakan yang begitu riuh, Alisya memegang telinganya tampak kesakitan dan menghambur keluar dengan terburu-buru? " Miska mengingatkan. "Ya, kejadian itu mirip dengan apa yang terjadi di kelas lalu" Yuyun mengangguk cepat membenarkan perkataan Miska. "Sepertinya kita bisa memanfaatkan kejadian tersebut nanti" tambah Miska kemudian. Nely bertatapan dengan Yuyun dan mengangguk pelan sambil tersenyum licik memahami maksud dari Miska. Bagi mereka Alisya adalah tembok besar yang menghalangi mereka dalam mendapatkan ketenaran serta posisi yang penting disekolah serta penghambat terbesar dalam mendapatkan perhatian para elit untuk meningkatkan pamor mereka dan menarik perhatian para elit. **** "Dimana Alisya??? kenapa 3 hari ini dia tidak hadir di sekolah?? dia juga bahkan mengabaikan telponku! " Adith langsung menyerang Karin begitu melihatnya yang sedang berjalan di koridor sendirian. "Alisya punya handpone sejak kapan??" tanya Karin tidak tau mengenai masalah ini. "Tidak kau di ajarkan sopan santun untuk menjawab pertanyaan orang lain terlebih dahulu sebelum bertanya kemudian? " Adith yang terkenal dingin menikam Karin dengan pertanyaannya dalam nada bengis. Karin akhirnya sedikit gemetar melihat tatapan Adith yang menusuk hingga kedalam tulangnya membuat bulu kuduknya berdiri dengan hebat. "Aku tak menyangka ia bisa semenakutkan ini hanya karena mencari Alisya" Batin Karin menenangkan diri. "Dia sudah mengambil izin kepada sekolah karena neneknya sedang sakit dan di larikan ke UGD beberapa waktu lalu! " Karin hanya memberi alasan saja demi menyembunyikan kejadian sebenarnya yang tidak ingin diketahui oleh orang lain. "Rumah sakit mana? katakan padaku!" nada memerintah Adith membuat Karin sedikit gentar. "Terimakasih atas perhatianmu, tapi Alisya tidak suka jika kehidupan pribadinya di usik bahkan olehku sahabat karibnya!" Karin sengaja menekan kalimat Kehidupan Pribadi untuk membuat Adith tidak bertanya lebih lanjut mengenai Alisya. "Lalu, apakah dia akan hadir besok? jika tidak maka biarlah acara besok hancur berantakan" Adith memutuskan untuk tak menghadiri kegiatan besok jika ia harus berdiri seorang diri menerima penghargaan yang tak seberapa baginya. "Kau tak perlu khawatir, besok dia sudah memutuskan untuk tetap hadir demi menyelesaikan sekolahnya disini" Karin meyakinkan Adith. Adith berlalu pergi dengan membawa aura membunuhnya namun masih menyisakan sedikit nuansa mematikan sepanjang koridor tempat Karin berdiri menatap punggung kokoh Adith yang berjalan menghilang di pembelokkan. Melihat tatapan bengis Adith yang berjalan di sepanjang koridor membuat semua siswa maupun siswa menyingkir dengan teratur dan merapat di dinding menyelamatkan diri dari amarah penguasa dingin yang sedang tersulut. Adith tampak seperti gunung semeru yang memperlihatkan keindahannya yang berbahaya dan mematikan yang bisa saja meledak kapan saja jika ada yang berani mengusiknya. "Dia memang menakutkan, tapi ku harap dia bisa melindungimu dengan kekuasaannya Alisya" lenguh Karin menaruh harapan yang tinggi kepada Adith. **** 3 jam lagi acara penghargaan akan segera dimulai. seluruh siswa dan tamu undangan telah berdatangan satu persatu untuk menyaksikan kejadian bersejarah yang ditorehlan oleh sekolah ini terlebih lagi karena acara ini akan di disiarkan secara langsung oleh stasiun Berita Nasional dan swasta. Selain itu banyak sekali pejabat tinggi dan pemimpin perusahaan besar Indonesia ikut menghadiri acara ini sebagai bagian dari trik mereka dalam menarik perhatian keluarga Narendra penguasa tertinggi dari perusahaan terkemuka di Indonesia. Acara ini akan diresmikan oleh presiden secara langsung sebagai pemberi penghargaan. Bukan hanya dari kalangan biasa dan elit tingkat 1 yang hadir, melainkan tingkat 2 dan tingkat 3 pun juga hadir memenuhi Aula utama kompleks Elit sekolah tersebut. Adith yang berjalan masuk dengan pakaian sekolah di balut Jas hitam almamater kebangsaan sekolah lengkap dengan Dasi hitam yang menambah ketampanannya yang sangat mempesona dan bersinar terang di ribuan mata yang melihatnya. Ia bagaikan barang mewah yang tak bisa setiap saat mereka lihat dengan bebas seperti ini. Alisya masih belum tampak di luar maupun di dalam kompleks Aula elit yang sudah dipenuhi oleh banyak wartawan dan tamu undangan membuat Adith sedikit gelisah di tempat duduknya. Ia merasa kesal karena dengan semangat datang ke acara itu karena perkataan Karin yang meyakinkannya bahwa Alisya akan ikut hadir bersama dirinya. "Aku takkan memaafkannya jika dia berani menipuku" Batin Adith mulai gusar. Chapter 17 - Ini Cukup Yuyun dan Nely yang melihat Alisya melenggang menuju ke Aula dengan cepat membuat mereka menghambat langkahnya. "Apa mau kalian? " Alisya merasa ada sedikit tekanan di balik tindakan mereka. "Lihat ini" Nely menyodorkan sebuah gambar dari Handphonenya kepada Alisya. Melihat itu Alisya hampir saja ingin melempar HP itu kewajah Nely yang menatapnya dengan angkuh tapi hanya mengurungkan niatnya dan menggenggam erat HP itu sambil mengikuti langkah dari kedua wanita bengis itu. Alisya paham betul keinginan mereka sehingga berusaha tenang mengikuti langkah mereka meski sebenanrnya acara akan dimulai 15 menit lagi sehingga saat kedua wanita itu mencegatnya tidak ada satupun yang melihat karena semuanya sudah berada di dalam Aula. Setelah merasa sudah berada di tempat yang cukup tersembunyi, HP yang berada di tangan Alisya segera berbunyi dan terlihat nama Miska di panggilan itu. "Halo... " Suara dingin Alisya siap menerkam Miska yang berada diseberang telpon. "hahahaaha,, santai saja sayang..." Miska tertawa mengejek Alisya. "Apa maksud semua ini? " "Oh, ayolah.. kau tau apa maksudku yang sebenarnya" pancing Miska sinis. "To the Point!!! " Alisya yang menggertakkan giginya membuat Nely dan Yuyun tersenyum jahat. "Kau benar tak suka banyak biacara! pffttt,,, Karin akan aku lepaskan jika kamu tidak menghadiri acara hari ini" Ancamnya dengan tegas langsung mematikan telponnya menandakan bahwa tidak ada negosiasi dalam hal ini. Alisya benar benar marah dan langsung meninju tembok sehingga HP yang berada di tangannya ikut retak. Darah mengalir deras di tangannya membuat Nely dan Yuyun hanya semakin tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Alisya yang menunjukkan kemarahannya. "Percuma kau menghancurkan Handphoneku karena aku bisa membeli 2 bahkan 10 lusin barang seperti itu" Nely menatap jijik Alisya. "Kalian akan menanggung akibatnya jika terjadi sesuatu kepada Karin" Alisya menatap keduanya tajam menusuk membuat keduanya sedikit takut karena aura wajah Alisya yang tampak tak biasa. "K.. kau harusnya nelihat posisimu sendiri!!! ucap Yuyun gagap takut oleh aura mengintimidasi yang di keluarkan oleh Alisya. Keduanya pergi dengan senang menuju ke Aula meninggalkan Alisya setelah menabraknya dengan keras. Alisya bisa saja membalas keduanya tapi berusaha menekannya mengingat Karin yang sedang dalam bahaya. Ia tidak yakin harus memilih yang mana, Alisya tau betul kalau Karin tidak akan terima jika dia melanggar perjanjiannya dengan Ayahnya dan lebih memilih untuk mendengarkan ancaman murahan yang diberikan oleh Miska. Tapi jika dia memilih untuk tidak menghadiri acara itu maka Miska akan dengan mudah menindasnya dan memanfaatkannya di kemudian hari. Bagi Miska ini mungkin hanya sebuah permulaan saja, tapi mereka tidak tau kalau bisa saja ini adalah akhir dari kehidupan mereka. Alisya berpikir dengan sangat keras dan berjalan dengan lunglai hingga datang Rinto dan Yogi menghampirinya setelah lelah mencari Alisya di seluruh sekolah. "Kami mencarimu kemana saja! apa yang kamu lakukan disini? " tanya Yogi dengan terengah engah. "Aku punya pesan untukmu dari Karin" ucap Rinto cepat tanpa memberi kesempatan Alisya untuk menjawab. "Pergilah, lalu selamatkan Aku!" itu ada di pesan terakhirnya yang dikirimkan padaku! awalnya aku tidak mengerti tapi setelah melihat note to Ali akhirnya aku paham apa itu" tambahnya lagi setelah mengambil nafas panjang. Sadar bahwa Alisya menahan sakit sejak mereka menghampirinya. Rinto dan Yogi mundur sejauh mungkin secara perlahan dan berusaha menahan nafas lalu menenangkan diri mereka agar bisa mengatur nafas mereka dengan baik. Yogi dengan cepat mengambil Hadphone miliknya yang besar dan memasangkannya ke telinga Alisya yang meringis dalam diam. "Apakah kau baik-baik saja?" Yogi berusaha mengeluarkan suara sepelan mungkin setelah melihat Alisya mulai tenang. "Apa yang terjadi? kenapa kau tidak memakai peredam suaramu? " Rinto bertanya dengan wajah yang sangat cemas. "Dua iblis itu sepertinya mengambil alatku sewaktu menabrakku tadi! " Alisya menahan nafas sewaktu mengeluarkan suara dengan berat. Rinto dan Yogi paham siapa yang di maksud Alisya, karena dua orang itulah yang mereka lihat keluar dari tempat itu dengan tertawa jahat sehingga memberi mereka petunjuk kalau Alisya juga berada di tempat yang sama. "Apa yang akan kamu lakukan?" Rinto tidak yakin dengan keputusan Alisya. "Apa kau punya penyumbat telinga yang lebih tebal dari ini? " Alisya melenguh menunjuk Hadphone di telinganya. Yogi paham maksud dari Alisya. "Aku akan mencarikannya untukmu di UKS secepatnya" Yogi segera berjalan menjauh dan berlari dengan cepat ketika merasa jaraknya sudah cukup. "Kamu bisa berjalan? waktu kita tinggal 5 menit lagi, jadi kita harus berada disana secepatnya" Rinto mengingatkan dan ingin membantu tapi tak berani menyentuh tubuh Alisya. Alisya mengangguk dan mulai berjalan gontai menahan sakit di kepala yang menjalar keseluruh tubuhnya. Rasa khawatir terhadap Karin membuatnya merasakan sakit dua kali lipat dari yang dirasakannya sebelumnya. Adith yang memberi batasan jika dalam waktu 10 menit acara dibuka Alisya tak kunjung muncul, maka ia akan meninggalkan acara tidak peduli sekalipun presiden akan tiba pada acara intinya. Alisya, Rinto dan Yogi tiba bersamaan di depan pintu Aula Kompleks elit. Acara sudah berlangsung selama 10 menit setelah sebelumnya dari kejauhan presiden sudah memasuki Aula tepat sebelum kedatangan mereka bertiga. Alisya terkejut tak percaya melihat rombongan presiden yang memasuki Aula namun sudah tak bisa mundur lagi Alisya membiarkan rombongan itu terlebih dahulu memasuki Aula. Masuknya rombongan itu membuat Miska dan yang lainnya menyunggingkan senyum tanda kemenangan mereka. Mereka yakin bahwa Alisya tidak akan datang dan menghancurkan acara ini sehingga dengan begitu Miska kemungkinan besar bisa saja menggantikan posisi Alisya mengingat dialah pemenang kedua dalam presentase lalu. Dengan kata lain dia dan Zein akan menggantikan posisi Adith dan Alisya. Terlebih lagi ketika Ia melihat Adith berdiri meninggalkan Aula. "Aku tidak yakin ini cukup untukmu" Yogi menyodorkan dua buat buntalan kecil halus yang terbuat dari kain. "Ini cukup!!! " Alisya meyakinkan. Baru saja ia ingin membuka pintu dan masuk, pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya dan tampak Adith berdiri dihadapan mereka. Suara MC dari kejauhan sudah terdengar memanggil mereka berdua membuat Adith tidak sempat bertanya apapun namun langsung menarik Alisya menuju panggung. Dari Jauh Alisya tampak yang berjalan dengan santai dan tenang. Ia tidak sebanding dengan kemewahan Adith namun tetap mempesona dalam kesederhanaanya. Rambutnya terurai rapi mengalun yang ujungnya menepuk lembut pinggangnya. Pemandangan ini membuat Adith menyunggingkan senyum menatap Alisya. Ia yakin bahwa Alisya adalah Batu intan tersembunyi yang masih butuh di poles untuk bisa memperlihatkan kecantikan alaminya. Untuk sejenak ia lupa akan amarahnya yang sejak tadi sudah menguasainya. Melihat Alisya yang hadir pada acara itu sontak saja membuat Miska berdiri tak percaya kalau Alisya mengabaikan ancamannya dan berani hadir di panggung itu. terlebih lagi dia dengan santainya berjalan di iringi oleh Adith membuatnya semakin mengeram dalam diam. matanya terbelalak penuh Emosi. Chapter 18 - Lihat aku jika kau takut Setelah berada di atas panggung, barulah Alisya sadar bahwa banyak kamera sedang menyorot mereka berdua dari segala macam penjuru. Alisya marah dan menggertakkan giginya tak percaya akan hal ini. Ia telah bersepakat dengan Kepala sekolah bahwa ia akan menghadiri acara ini jika sekolah atau siapapun tidak meliput kegiatan itu berlangsung. Tidak cukup ia terkejut karena ia melihat presiden tadi, tapi ketika ia masuk jelas betul jawaban dari keterkejutannya. "Kau harus menjawab pertanyaanku begitu kita selesai nanti" Bisik Adith dengan gerakan lembut tanpa ada yang menyadari apa yang di lakukan Adith. Setelah memperhatikan warna wajah Alisya dari jarak dekat, Adith baru menyadari kalau Alisya sedang berada dalam tekanan yang cukup besar. Peluh mengalir di pelipis Alisya dengan tangan bergetar hebat yang berusaha Alisya sembunyikan. Membelakangi semua orang Adith menyentuh lembut belakang pinggang Alisya dengan cepat namun terasa hangat oleh Alisya sehingga membuatnya menoleh menatap Adith. Adith menatap Alisya dengan lembut dengan tatapan yang meneduhkan dan senyuman yang menenangkan. "Lihat aku jika kau takut, tutup matamu dan dengarkan suaraku!!!" Suara lembut Adith secara perlahan menyembur kedalam telinga Alisya menenangkannya membuat jantungnya kembali berdetak dengan teratur. Alisya merasa pernah mendengar kata-kata ini sebelumnya, tapi tidak tau dimana. namun berkat perkataan Adith suasana hatinya menjadi lebih tenang. Alisya berpikir bahwa ia harus menyelesaikan acara ini secepatnya dan menyelamatkan Karin. Karin jauh lebih penting dibanding ketakutannya saat ini. "Sudah agak mending?" tanya Adith pelan yang di jawab anggukkan lembut Alisya. Gerak gerik Adith dan Alisya yang tampak di hadapan semua orang seperti sedang melakukan percapakan biasa yang ringan. Acara kemudian berlangsung dan memasuki acara inti dengan tanda diberikannya penghargaan kepada Adith dan Alisya sebagai Pemuda Pelajar Berprestasi. Adith dan Alisya juga mendapatkan tawaran melanjutkan kuliah ke Universitas ternama di seluruh negara yang mereka inginkan meski mereka masih baru di pertengahan tahun kelas 1 SMA. "Bagaimana perasaan kalian mendapat penghargaan ini?? " Para wartwan sudah berjejer dihadapan Adith dan Alisya layaknya konfernsi pers dengan ratusan kilatan cahaya menghantam wajah keduanya. "Sebagi seorang pelajar, aku sangat bangga" Jawab Adith dengan tegas namun santun terlihat sangat berwibawa. Ia tampak lebih dewasa di banding umurnya yang masih remaja. Para Wartawan dengan kompak menoleh ke arah Alisya dengan tatapan menunggu jawaban keluar dari mulutnya. Melihat Alisya yang sedikit gusar membuat Adith menggenggam tangan Alisya di bawah meja untuk menenangkannya dan dengan lirikan lembut ia mengarahkan Alisya untuk menjawab. "aku.. aku bersyukur dan tidak menyangka bisa mendapatkan penghargaan ini" Ia sedikit terbata namun tenang. Adith kagum dengan sikap Alisya yang mampu menyembunyikan perasaaanya dengan baik. Dan untuk Adith, Ia terlalu peka jika itu sudah berurusan dengan Alisya entah sejak kapan. Wawancara telah usai dengan sebagian besar tamu undangan mulai meninggalkan ruangan bersamaan dengan Presiden yang di ikuti para wartawan menyisakan para murid yang masih berinteraksi satu sama lainnya. Rinto dan Yogi yang sedari tadi sudah memantau Miska dan yang lainnya melihat mereka mulai melakukan pergerakan. Tanpa disadari oleh semua orang termasuk Adith, Alisya sudah menghilang dari dalam Ruangan itu. Sekarang Adith tidak bisa tenang lalu menghambur keluar mencari Alisya dengan panik. Dari jauh ia melihat Alisya berlari dengan kencang menuju ke belakang sekolah, tanpa pikir panjang Adith mengikuti punggung Alisya yang sudah menghilang di balik tembok. Ia melirik ke arah kiri dan kanan mencari Alisya dengan panik dan melihat pintu gudang setengah terbuka. Adith berdiri di depan pintu gudang yang tampak gelap dari luar dengan gemetar dan tak berani masuk. Kakinya lemas tak bisa melangkah dan jantungngnya berdetak dengan kencang tapi sangat menghawatirkan Alisya. 5 menit kemudian Rinto dan Yogi terengah engah menatap Adith dengan wajah bingung namun takut bertanya. Mereka segera masuk kedalam tanpa memperdulikan Adith yang berdiri terpaku di hadapan gudang. Begitu masuk Rinto dan Yogi melihat Karin sudah lepas dari ikatannya namun menangis histeris melihat Alisya jatuh tersungkur dengan darah segar keluar dari telinga dan hidungnya. Kondisi Karin juga tak kalah mengenaskan dengan pipi lebam dan bibir pecah berdarah namun sudah kering. "Apa yang terjadi??? " Rinto bertanya dalam kebingungan. "Bantu aku membawa Alisya, Cepattt" bentak Karin panik setelah melihat Rinto dan Yogi. "Bagaimana dengan dirimu? lukamu juga parah! " Yogi masih khawatir dengan kondisi Karin. "Jangan pikirkan aku! Ayo keluarkan Alisya dari sini" Karin tetap berbicara dengan suara panik. Rinto dan Yogi marah merasa kurang cukup setelah tadi melayangkan tamparan keras di wajah Miska sebelum kemudian berlari mengikuti punggung Adith. Mereka mengutuk keras perbuatan Miska dan tidak akan memaafkan ketiganya. Rinto dan Yogi tidak berani menyentuh Alisya namun terpaksa membantu Karin yang bersikeras untuk membopong tubuh Alisya. Adith yang mendengar jeritan Karin merasakan sakit hati yang sangat mendalam karena tidak bisa berlari masuk kedalam gudang. Ia masih belum bisa melepaskan diri dari trauma terbesarnya. Dengan setengah sadar Adith mengeluarkan Handponenya dengan gemetar kemudianmenelpon ambulance dari rumah sakit pribadinya. "Datanglah dalam 5 menit jika kalian ingin hidup" Ucapnya sambil berusaha menyembunyikan suaranya yang bergetar. "Siapkan semua dokter pribadiku dan juga ruang VIP" perintahnya lagi dengan nada yang cukup kejam membuat se isi rumah sakit panik serta bingung dengan lampu merah tanda bahaya yang di nyalakan oleh Adith. Kurang dari 5 menit kemudian ambulance tiba lebih awal bersamaan dengan keluarnya Rinto yang membopong Alisya di bantu oleh Karin dan Yogi. Melihat Rinto membopong Alisya, mata membunuh Adith terpancar keluar mencegat langkah kaki mereka bertiga. Dengan lembut Adith mengambil tubuh Alisya dan menaikkanya ke Atas tandu Ambulance. Melihat Adith memperlakukan Alisya dengan sangat lembut membuat hati Karin sedikit tenang dan menghapus air matanya yang tak bisa berhenti mengalir. "Aku akan menemani Alisya! Kalian tolong temani Karin! Adith menjelaskan dengan suara lembut dengan tatapan mata yang sarat akan kesedihan dan kekhwatiran yang mendalam. Wajah Adith yang selama ini hanya memperlihatkan ekspresi dingin dan menngintimidasi membuag kaget ketiganya. mereka dengan kompak mengangguk pelan mengikuti perkataan Adith. "Aku serahkan Alisya padamu! Tapi Ayahku yang lebih tau kondisi Alisya! " Karin mengingatkan. "Katakan padanya untuk datang ke rumah sakit Internasional Indonesia! Naiklah di ambulance yang satunya lagi untuk mengobati dirimu juga! " Adith memberitahu Karin dengan lembut melihat kondisi Karin yang juga tidak kalah parah. Melihat 2 buah mobil ambulance memasuki sekolah dengan leluasa membuat kepala sekolah panik dan langsung menarik perhatian seluruh penghuni sekolah bingung dengan apa yang sedang terjadi. "Periksa apa yang sedang terjadi!" perintah kepala sekolah cepat kepada security sekolah. "Jangan biarkan wartawan meliput kejadian ini" tambah guru penjas yang berada tak jauh dari kepala sekolah. Beruntung saja mereka semua sudah berada di dalam ambulance begitu para siswa berbondong-bondong datang melihat karena penasaran. mereka kecewa karena tidak sempat melihat peristiwa itu karena gerakan mereka cepat dan terorganisir dengan sangat baik. Bahkan pihak sekolah tidak mendapatkan info apapun terhadap apa yang sedang terjadi. Para security sekolah hanya berhasil menghalau para wartawan. Beberapa saat kemudian kepala sekolah mendapat telepon dari Asisten perusahaan Narendra yang mengatakan bahwa itu adalah simulasi keselamatan yang dilakukan oleh rumah sakit pribadi perusahaannya. Dan mengintruksikan kepada kepala sekolah untuk sebaiknya tidak mengeluarkan kalimat yang tidak perlu mengenai kejadian tersebut. Paham akan hal itu kepala sekolah dengan tenang menginformasikan di pengeras suara sekolah bahwa tidak ada kejadian apa-apa melainkan hanya simulasi dari rumah sakit Internasional Indonesia. Dengan begitu keadaan yang semula kacau menjadi kembali tenang dan satu persatu siswa mulai meninggalkan sekolah. Chapter 19 - Memakiku dengan lembut Hati Adith begitu pedih membuat dadanya serasa sesak melihat kondisi Alisya yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Selama perjalanan Adith tidak berani menyentuh seujung jari Alisya meski ia sangat ingin sekali menggenggam tangannya dengan erat. Tidak butuh waktu lama, mereka segera di layani oleh seluruh dokter terbaik yang ada di rumah sakit Internasional Indonesia yang sudah berjejer rapi berharap harap cemas akan kedatangan mobil ambulance yang tidak diketahui mereka siapa yang telah membuat Si penguasa mengaum begitu keras. "Jangan khwatir, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk meninjau kondisinya" Kepala rumah sakit berusaha menenangkan Adith begitu melihatnya turun dengan gontai dari mobil. Adith hanya mengangguk dan berlalu pergi menuju ke toilet mencuci wajahnya untuk kembali memfokuskan dirinya. "Siapa sebenarnya dirimu Alisya? kenapa aku bisa sampai setakut ini jika kehilanganmu" Adith mengingat kembali dirinya yang begitu dingin dan tidak terlalu suka dekat perempuan menemukan dirinya yang tak terkendali di hadapan Alisya. Tanpa ia sadari kalau ia merasa terikat dengan diri Alisya. Ia mendesah begitu keras mengingat ketidakberdayaan dirinya. Ia bahkan tidak mampu bergerak se incipun dan malah bercucuran keringat dingin dihadapan gudang sekolah. Ia merasa marah dengan kelemahannya. Rasa trauma yang tidak hilang meski sudah 10 tahun berlalu. "Pak Dimas, cati tau mengenai kejadian disekolah yang melibatkan Alisya hari ini, beri mereka pelajaran yang membuat mereka takkan pernah menampakkan wajahnya di hadapan Alisya lagi" Suara Adith begitu tegas dan mengintimidasi ketika dia menelpon Asisten keluarga Narendra. "Baik Tuan! " ia tak berani bertanya ketika mendengar suara Adith yang tidak seperti biasanya dan membuatnya sedikit takut. Alisya sudah berada di ruang rawat VVIP kelas 1 yang sudah dipersiapkan oleh Adith sebelumnya. "Bagaimana kondisinya?" Adith berjalan masuk langsung menyerbu para dokter yang berdiri menghadapi Alisya. "Kondisinya baik-baik saja. kamu tidak usah khawatir, dia hanya butuh istrahat yang cukup" seseorang yang berada paling ujung dekat Alisya menjawab dengan wajah lembut. "Apa ruangan ini kedap suara? itu akan sangat berguna bagi kesembuhan Alisya". Tambahnya lagi. "Tentu saja, ruangan ini di rancang khusus untukku karena aku juga tidak begitu menyukai keributan" Jawab Adith sambil memicingkan matanya karena bingung dengan siapa yang di ajaknya berbicara. "Dia ayahku, aku sudah mengatakannya padamu sebelumnya! Dialah yang lebih mengetahui mengenai Kondisi Alisya" Karin datang bersama dengan Rinto dan Yogi setelah mengobati luka-lukanya. "Perkenalkan saya Hady Reynand" ucapnya sambil menjulurkan tangan. "Radithya Azura Narendra! Saya teman Alisya" "Dia dokter terbaik yang dimiliki Indonesia, prestasinya dalam bidang medis bahkan mendapat pengakuan dunia. Namun sekarang dia sudah tidak bekerja dirumah sakit manapun, kemampuannya sangat disayangkan." Terang kepala rumah sakit begitu Adith menjabat tangan dokter Hady. "Terimakasih, saya merasa tersanjung di ingatkan akan hal itu. tapi sudah keputusan saya untuk menjadi dokter pribadi Alisya. Dia sangat berarti bagiku" senyum dokter Hady santun. "Apa kamu baik-baik saja?" matanya sendu melihat kondisi Karin. "Aku baik-baik saja yah, Alisya bagaimana? " suaranya lembut menenangkan ayahnya. "Aku sudah memberinya suntikan penenang, dia akan baik-baik saja seperti yang sudah sudah. Tapi kali ini aku sedikit khawatir dengan kondisi mentalnya. " Suara dokter Hady mengisyaratkan kesedihan yang mendalam. "Dia akan bangun dan melupakan semuanya kembali Yah.. jangan khwatir, dia sudah mendapatkan emosinya kembali" Karin menatap Adith penuh arti. Ayah Karin mengikuti arah tatapan anaknya dan mengerti akan apa yang dimaksud. "Baiklah, aku harus kembali ke lab. Ada hal yang harus ku lakukan secepatnya sebelum Alisya bangun" Dokter Hady berjalan pergi di ikuti oleh semua dokte yang berada disana. Mereka mengantar kepergian dokter Hady dengan sopan dan santun. Setelah kepergian dokter Hady, semua dokter mengeluarkan lenguhan nafas dengar keras. mereka seperti telah menahan nafas selama 30 menit karena kedatangan dokter hebat di indonesia. Mereka takjub tak percaya bisa berada satu ruangan melihat dua orang top Indonesia berbincang satu sama lain begit dekat dihadapan mereka. Bahkan para suster yang melihat dokter Hady pun tak bisa mengalihkan pandangannya karena ketampanannya yang tak lekang termakan usia. ****** "Bagaimana bisa mereka tertidur dengan posisi duduk seperti itu? " Tunjuk Adith melihat Yogi dan Rinto yang sudah meringkuk tertidur karena kelelahan. "Biarkan saja, mereka sudah bekerja keras hari ini" senyum Karin. Ruangan hening beberapa saat lalu kemudian Adith memberanikan diri bertanya akan maksud percakapan Karin dan Ayahnya sebelumnya dan maksud dari tatapan keduanya. "Mengapa ayahmu bisa menjadi dokter pribadi Alisya? dan... apa maksud dari tatapan kalian berdua tadi? " Adith bertanya dengan canggung. "Sepertinya kau sedikit melunak! Aku pikir kau hanya akan bersikap baik pada Alisya saja" Adith mengerutkan dahi mendengar ucapan Karin. "Ehemmm... itu karena alhamarhumah Ibu Alisya! " jawabnya terbatuk melihat ekspresi kelam Adith. "Jadi benar ibu Alisya sudah meninggal? " Adith tak percaya kalau ternyata gosip yang beredar ada benarnya. "Ibu Alisya meninggal karena menyelamatkan aku dari ledakkan Bom di sebuah kafe keluarga tidak jauh dari Monas. Ayahku selalu menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menyelamatkan ibu Alisya karena pecahan kaca yang tertanam di kepala dan jantung ibu Alisya. maka dari itu ia mengaggap kegagalannya sebagai aib terbesar dalam hidupnya yang membuat dia meninggalkan rumah sakit dan memutuskan untuk menjadi dokter Alisya" terang Karin yag berada disisi kiri Alisya dengan suara lembut tidak ingin menganggu Alisya. Adith masih mendengarkan dengan serius tepat di sisi kanan Alisya. "Bagaimana kamu berada di Kafe tersebut? " Adith bersuara lirih. "Ayah Alisya sebenarnya menginginkan seorang laki-laki, itulah kenapa dia sangat disiplin kepada Alisya. Hal itu pula yang membuat Alisya tidak memiliki seorang teman perempuan sampai ia bertemu diriku. Ibu Alisya sangat menyayangi kami berdua dan dia yang mengajak kami untuk makan diluar! Insiden Bom itulah yang menjadi trauma kedua yang di alami Alisya" tambahnya lagi setelah mengusap peluh di dahi Alisya. "Berkat kau Alisya yang sudah kehilangan emosinya, yang bahkan tidak merasakan sakit sama sekali kini mulai dengan mudah menampakkan sedikit ekspresi diwajahnya. Aku sebenarnya bingung, apakah kalian pernah bertemu sebelumnya" Karin memasang wajah serius dan penasaran. Belum sempat Adith menjawab, perut Karin berbunyi dengan hebatnya membuat wajah Karin tertunduk malu dengan kelancangan si kampung tengah. "Sebaiknya kamu makan dulu, aku sempat mengira seseorang baru saja memakiku dengan lembut" Adith tertawa kecil mendengar bunyi perut Karin. "Aku sampai lupa makan! ikutlah bersama kami" Karin memanggil Adith sambil membangunkan Rinto dan Yogi. "Aku masih belum lapar, pergilah! Aku akan menemani Alisya disini" Adith memandangi wajah Alisya dengan lekat. "Baiklah kami pergi dulu. Aku akan membawakanmu beberapa buah nanti" Ucapnya sambil berlalu pergi di ikuti langkah gontai Rinto dan Yogi yang berjalan seperti zombie. Sebenarnya Adith masih memiliki banyak perntanyaan kepada karin. Mulai dari trauma Alisya yang disebutkannya sebagai trauma kedua yang berarti Alisya memiliki trauma yang pertama. Dan mengapa Karin juga menganggap bahwa keduanya pernah bertemu seperti dirinya yang merasa bahwa pernah mengenal Alisya jauh sebelumnya. Namun ia tidak ingin memaksa Karin menceritakan semuanya dalam kondisi lapar seperti itu. "Pak Dimas, Tolong selidiki nama Alisya Quenby Lesham dan cari tahu mengenai ledakkan BOM di sebuah kafe keluarga dekat Monas" Ucap Adith memberi perintah kepada Asistennya dengan suara tenang. Chapter 20 - Jenius yang Nakal "Bagaimana bisa dalam waktu 3 hari ini kamu belum menemukan informasi apapun mengenail Alisya??? Bukankah dia warga negara Indonesia? " Adith berjalan dilorong rumah sakit dengan gusar merasa frustasi segala hal tentang Alisya. "Maafkan aku, tapi bahkan data dia di kepolisianpun tidak ditemukan! Saya pikir dia tidak pernah benar benar mendaftarkan dirinya atau bisa saja dia...." Blum selesai sang Asisten berbicara Adith langsung menyela dengan kasar. "Aku rasa aku tak perlu mengajarkanmu tentang hal ini, kalau begitu biarkan aku yang akan turun tangan langsung! Siapkn ruanganku" Adith sudah tidak sabar menunggu hasil kerja dari Asistennya Dimas. Baru kali ini sang Asisten mengalami kesulitan hanya karena mencari informasi mengenai seseorang. "Baiklah tuan, saya permisi! " Setelah menunduk kepala sedikit Dimas segera berpamitan melaksakan perintah Adith secepatnya. Adith tidak menyangka karena kejadian sebelumnya Alisya bahkan belum sadarkan diri selama 3 hari. Dan sekarang dia sedang berada di depan pintu Alisya berharap kalau kali ini ia akan segera bangun. Begitu memasuki ruangan Alisya, Ia tidak melihatnya terbaring atau berada di dalam ruangan itu. Ia panik mencari kedalam Toilet dan seluruh ruangan namun tidak di temukannya. "Ada apa?? wajahmu pucat sekali.. bisakah kau makan sekarang? kau sudah 3 hari ini belum makan Dith!!! " Karin menghentikan langkah Adith sewaktu akan keluar dari ruangan Alisya. "Alisya, dia tidak ada di dalam!" Adith menjelaskan situasinya kepada Karin. Karin menoleh kearah ranjang yang ditiduri oleh Alisya dan disana nampak kosong dan rapi seperti telah di bereskan oleh seseorang. "Ah... kemana itu anak! " Gumam Karin kesal. "Kita berpencar mencarinya, kau carilah ke arah taman! " Tunjuk Adith cepat sambil berlalu pergi. Karin dengan sigap mengikuti petunjuk Adith dan langsung menuju ke taman rumah sakit. Adith menuju ke atap rumah sakit. Disana tidak terlalu terang hanya ada cahaya bulan yang temaram menyinari seluruh atap rumah sakit. Adith berkeliling, menoleh ke kiri dan ke kanan tapi ia tidak melihat Alisya. Begitu ia akan segera turun, dari sudut matanya ia melihat seseorang sedang berjalan di atas teras memakai Gaun putih rumah sakit yang tampak sedikit transparan disinari cahaya lampu sorot dari bawah. Adith menghentikan langkahnya memandang seorang gadis yang membelakanginya dengan rambut hitam terurai indah dan terkibas oleh hembusan angin malam yang basah. Adith mendekatinya dengan perlahan dan melepas Jaketn tebalnya yang hangat tapi lembut dan menempelkannya di bahu Alisya. Menyadari seseorang sedang berada di belakangnya dengan sigap Alisya melayangkan sikunya mengarah kepelipis Adith yang di tangkis sebelah tangan. "Ya ampun, kamu mengagetkanku! kau tidak apa apa kan? "Alisya kaget begitu mengetahui kalau itu adalah Adith. "Tenang saja pukulanmu terlalu lambat untuk mengenaiku!" Ucap Adith dengan tenang sambil membenarkan posisi jaketnya agar menutupi tubuh Alisya. "Ah terimakasih tapi aku baik-baik saja! " suaranya lembut. "Pakailah, dengan begitu kamu akan merasa lebih hangat" Adith memandang Alisya dengan tatapan yang sopan namun dalam. "Bagaimana kau bisa tau kalau aku ada disini? " Alisya ingat kalau ia keluar tanpa seorangpun melihatnya. "Aku melihat dua buntalan aneh di atas meja! Dan kupikir itu pasti buatanmu, sangat buruk! tapi karena itu aku tau kalau kamu akan berada di atap yang hanya terdengar suara angin di banding berada di taman dengan puluhan orang" Tangannya kemudian menyentuh kepala Alisya membelainya dengan lembut dan memasukkan sesuatu kedalam telinga Alisya. "Apa ini?? " sadar akan sesuatu yang kini berada di kedua telinganya. "Alat ini akan membantumu dengan lebih baik" Jelasnya. "Benarkah? rasanya sama seperti buatan om Hady! tapi ini sedikit lembut dan nyaman di pakai" Alisya tersenyum simpul dengan pemberian Adith. Senyum yang terlintas di wajah Alisya meski tidak begitu jelas, Adith merasa senyuman itu begitu cantik dan indah. Mata Alisya yang memancarkan kebahagiaan ketika menatap Adith membuat darah Adith berdesir kencang dan detak jantungnya berdegup kuat. Ia mundur selangkah lebih jauh menghindari Alisya mendengarkan suara detak jantungnya. "Kau bisa mengatur volume suara yang ingin kau dengarkan atau tidak! selain itu aku sudah menambahkan beberapa vitur seperti pelacak IP, dan juga... coba kau ketuk dua kali" Adith mengsimulasikan pada telinganya sebanyak dua kali sambil memandang ke arah telinga Alisya. Melihat gerakan Adith, Alisya mengetuk telinganya dengan sangat pelan dan terdengan suara intruksi. "Silahkan sebutkan nama kontak yang akan anda panggil" Alisya melihat ke arah Adith dengan mata membelalak. "Sebutkan namaku! " Tambahnya lagi. "Adith! " Alisya berkata dengan pelan. "Bukan panggilanku tapi nama kontakku di HP mu! " Adith tersenyum melihat wajah konyol Alisya. "Jenius tampan! " Alisya mendengus kesal mengingat nama kontak yang tidak sempat ia ganti. 5 detik kemudian suara dering yang berasal dari saku Adith berbunyi. "Aku sudah menghubungkan semua nomor kontak yang ada di handphone mu ke alat yang ada di telingamu! jika kamu mengetuknya sekali saja maka itu akan terhubung ke pesan. kau tak perlu mengetiknya cukup dengan mengatakan isi pesan itu saja! dan jika kau menekan lama maka itu akan terhubung dengan panggilan darurat! " Terang Adith dengan sengaja mengeluarkan suara yang makin lama makin. keras. "Luar biasa! aku bisa mendengar kau meninggikan suaramu tapi aku tak merasakan terganggu sama sekali! Dimana kau membelinya?? Adith hanya mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Alisya. "Jadi kau membuat ini sendiri??? Lanjut Alisya Takjub. Adith hanya terdiam namun Alisya tau kalau tebakannya benar. "Kau benar benar, teramat sangat jenius!!!" Alisya menaikkan kedua jempol tangannya tepat di wajah Adith. "Kenapa aku merasa ini bukan pujian??? " Adith berjalan menuju pintu keluar dari atap rumah sakit. "Aku serius!!! kamu benar2 jenius! tak ku sangka seorang anak SMA tingkat 1bisa menciptakan alat secanggih ini" Alisya berlari mengikuti punggung Adith. "Terimakasih!!!" Jawab Adith jutek. "Tapi sepertinya bukan hanya itu fitur yang ada, Apa!!! kau menaruh pemindai???? bukankah ini sedikit hentai? kau Jenius yang Nakal!!! " Alisya sibuk memainkan alat ditelinganya sambil terus menceramahi Adit. "Itu pemindai lokasi tempat dimana kamu berada! " Adith mulai kesal dengan reaksi Alisya. "Ini hebat!!! aku menyukainya!!! " Alisya berkata dengan lantang. "Kalau begitu pakai dan jangan pernah lepas!!! " Adith berbalik seketika ketika mereka telah berada di dalam lift sehingga membuat Alisya menabrak dada Adith yang bidang dan keras. "Kamprettt!!! ngapain berhenti tiba-tiba sih!!! " Alisya melenguh memegang hidungnya yang sakit lalu berdiri di sebelah Adith. Adith masih tak bergerak karena tabrakan Alisya membuat Adith bisa mencium aroma wangi dari rambut Alisya. Hirupan itu sekali lagi membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Refleks Adith menggeser tubuhnya selangkah lebih jauh dari sisi Alisya. Baru saja Alisya mau memencet tombol lift beberapa orang berpakaian Jas hitam tampak akan memasuki lift. Alisya mengenali orang yang berada paling depan yang tampak seperti ketua di antara yang lainnya. Dengan sigap ia langsung membelakang dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Adith. 5 orang berpakaian serba hitam itu memasuki lift dan mendapati 2 orang muda mudi sedang berpelukkan membuat mereka sedikit terganggu tapi tak bisa menunggu lift selanjutnya dan terpaksa membiarkan saja keadaan itu. "Ali... " Adith yang menyebut nama Alisya dengan cepat mulutnya di tutup oleh tangan Alisya. Si ketua tampak mendengar sedikit namun kemudian tidak bereaksi lebih lanjut melihat kemesraan keduanya. "Anak Zaman sekarang! " Batinnya sambil menggelengkan kepalanya dalam diam. Muka Adith memerah dan tubuhnya memanas. ia tak menyangka kalau Alisya bisa seberani ini, meski Alisya tetap mempertahankan jarak antara tubuhnya dan tubuh Adith, Adith tetap bisa merasakan hembusan nafas Alisya yang mengenai lehernya. 2 orang dari lantai lain memasuki Lift yang sama membuat keadaan di dalam semakin sempit dan Alisya terdorong semakin mendekat dan tanpa di sengaja bibir hangatnya menyentuh tulang selangka leher Adith. Jantung Adith serasa mau copot. sekarang berganti dengan kepalanya yang berdenyut cepat dan telinganya berdengung tak bisa menafsirkan keadaan yang sedang terjadi. 5 orang berpakaian serba hitam itu kemudian keluar tepat di lantai kamar dimana Alisya dirawat. Setelah pintu lift itu menutup kembali Alisya menarik nafas legah. Chapter 21 - Tuan Ali "Kamu kenapa sih??? " karena frustasi Adith melepaskan tangan Alisya dari mulutnya. "Emmm... kita langsung pulang saja yah?? aku tidak suka disini, aku ingin pulang!!! " Alisya menundukkan kepalanya dengan suara memelas. Adith ingin membantah karena Alisya masih harus melakukan pemeriksaan dulu sebelum keluar, tapi tiba-tiba merasa kakinya lemas dan tak bisa berdiri dengan baik. Pintu lift terbuka dan Karin sudah berdiri tepat di pintu lift. "Kamu kenapa? " Alisya kaget melihat wajah Adith yang kelihatan pucat pasih. "Dia sudah 3 hari tidak makan karena menjagamu!" Karin menyerbu masuk di ikuti Rinto dan Yogi yang di hubungi Karin untuk mencari Alisya. Keduanya dengan segera mengambil lengan Adith dan membantunya berdiri. "Apa kamu bodoh??? bahkan anak SD pun tau kalau makanan itu penting bagi tubuh!!! Alisya membentak Adith dengan keras. "Waaah.... bisa marah juga nih anak" Karin mengejek Alisya dengan sangat lembut di balas tatapan tajam Alisya. "Dasar bodoh!! Ini bukan karena makan, tapi karena kau! Balas Adith kesal. "Kau yang tidak makan kenapa malah nyalahin aku sih!!! " Alisya kesal. Adith hanya menepok jidatnya dengan keras. Alisya mungkin tidak sadar kalau apa yang dilakukannya sedari tadi telah benar benar menguras energi dan tenaga Adith. "Ya sudah kalau bagitu kita makan dulu! Tapi aku tidak mau di rumah sakit" Alisya beranjak keluar menuju parkiran mobil dengan tetap memperlambat langkahnya menyesuaikan dengan langkah Adith yang dibopong oleh Rinto dan Yogi. Karin hanya bisa tersenyum senyum melihat tingkah keduanya yang bertengkar dengan menggemaskan. "Masuklah, dan duduk dengan benar! Biar Yogi yang menyetir. Kita akan pergi makan,,, aku juga lapar! " Alisya langsung memotong Adith yang ingin membantahnya. Menyerah dengan ketegasan Alisya, Ia hanya bersandar kekursi dan menutup matanya. "Setidaknya kali ini dengarkanlah aku dulu! " Ucap Alisya sambil memasang sabuk pengaman Adith. "Aku benar-benar tidak bisa membantahmu! " Adith tetap menutup matanya dan memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman. Mobil sudah berjalan selama beberapa saat hingga ia disadarkan oleh suara Karin yang berada di kursi depan. "Kamu masih bisa jalan kan? kita sudah sampai!" Karin membangunkan Adith dengan suara lembut. "Kemana Alisya??? bukannya dia ada bersama kita tadi? " Adith bingung mendapati Alisya tidak berada bersama mereka. "Oh.. dia tidak suka naik mobil! jadi dia di bonceng oleh Rinto menggunakan motor!" Terang Yogi. "Perempuan itu! apa dia tidak tau kalau bajunya... arrghhh!!! bisa-bisanya dia boncengan dengan cowok memakai baju itu" Adith kesal dengan sikap berani Alisya mengingat pakaiannya yang sedikit terbuka. "Jangan khawatir... mereka akan singgah ke swalayan sebentar untuk membeli baju sebelum kesini" Jelas Yogi menenagkan Adith. "Dia cukup dekat dengan Rinto kok, jadi Rinto akan menjaganya dengan baik! " Karin sengaja menekan kata dekat untuk memanasi Adith. Rinto dan Alisya tiba tepat setelah Adith membuka pintu mobilnya. Melihat kedunya Adith dengan keras membanting pintu mobil lalu pergi memasuki restoran tanpa menghiraukan Alisya. "Itu anak lagi PMS yah??? wajahnya kok Bengis banget! " Alisya ngedumel melihat tampang jahat Adith begitu ia tiba. "Sudahlah.. ayo kita masuk dan makan! perut kamu dari tadi sudah bunyi terus! " Rinto menenangkan suasana. Mereka memasuki restoran dan segera memesan makanan. Adith yang tadinya tidak memiliki nafsu makan sudah menghabiskan 3 porsi nasi Padang dengan 4 gelas Air putih. Entah ia makan karena lapar atau kesal karena Alisya. Yang pastinya malam itu mereka makan dengan lahap seolah olah mereka baru saja melewati hari yang cukup berat yang mengharuskan mereka mengisi energi dengan penuh. Setelah merasa cukup mereka keluar dari restoran padang dengan perut yang penuh dan wajah yang sumringah. Adith yang sedari tadi dalam keadaan kesal baru sadar bahwa baru kali ini ia melihat Alisya memakai pakaian biasa bukannya seragam sekolah. Celana jeans biru yang tidak terlalu ketat dan baju kaos cowok tebal berwarna hitam serta topi hitam dan sepatu Sneakers yang dipakainya menambah kesan yang berbeda dari wanita lainnya. Ia tidak telihat tomboy juga tidak begitu feminim namun pakaian Alisya tampak cocok di tubuhnya dan tetap terlihat sopan. Baru saja mereka berdiri tepat di pintu restoran, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan tepat hampir mengenai Bahu Alisya namun meleset. Hal itu sontak membuat panik Rinto dan Yogi serta Adith. Alisya dengan refleks menarik kepala Karin dan menundukkannnya ketanah. Tembakan berikutnya langsung mengenai kaca membuat ketiga pria yang berdiri bengong mengikuti gerakan Alisya. Kaca jendela restoran pecah dan mengenai mereka. Adith dengan cepat melindungi Alisya yang melindungi karin sedangkan Rinto dan Yogi melindungi diri dengan mengambil meja yang berada di dekat restoran tersebut. "Apa ini??? kenapa mereka menembaki kita??" Adith bertanya dengan wajah bingung. "Rinto, Yogi kita berpencar dan bawa karin bersama kalian! Adith kau bisa menyetir mobil kan?? kita harus berpencar! " Rinto dan Yogi dengan refleks mengerti maksud Alisya da segera meraih karin lalu membawanya lari. "Tidak!!! kau harus ikut bersamaku..." Adith dengan cepat menarik Alisya ke arah yang berlawanan dengan arah Rinto, Yogi dan karin menuju ke parkiran mobilnya. Namun tembakan berikutnya langsung mengikis bahu Adith. Tanpa disengaja Adith mendorong Alisya ke arah lain membuatnya terpisah jauh dari dirinya. Melihat itu Alisya tidak yakin kalau mereka bisa terus bersama. Kali ini tampak balasan tembakan dari arah yang berlawanan membuat suasana direstoran itu sangat mencekam dan bising. "Adith!!! ambil mobilmu! aku akan menunggumu disini cepat!!!" Melihat Alisya yang menunduk di seberang jalan sambil menutup telinganya membuat Adith dengan cepat menuju ke mobilnya dan segera memacu mobilnya menuju ke Alisya. Ketika membuka pintu mobilnya, Ia tak mendapati Alisya diposisinya tadi. Ia panik dengan kondisi panik ia mencari keberadaan Alisya. Tiba-tiba suara motor melaju dengan sangat cepat melewatinya dan orang yang berpakaian jas serba hitam yang sedari tadi beardu tembak dengan orang yang menembaki mereka di awal berteriak memanggil si pengendara motor. " Tuan Ali,,, Tuan Ali.... " Adit melihat mereka berteriak menghentikan pengendara motor yang tetap melaju kencang dan menyapu bersih para penjahat yang menembaki mereka tadi. Dari cara dia menembak, Adith bisa menyimpulkan bahwa dia bukan orang sembarangan. Tembakannya tidak mematikan namun mampu membuat lumpuh sekelompok penjahat tersebut. Mereka kemudian berusaha melarikan diri di kejar oleh si pengendara bermotor besar yang memakai jaket kulit serba hitam denga helem yang menutupi seluruh permukaan wajahnya. "Kejar dia,,, jangan sampai tuan Ali celaka!!! Kalau tidak nyawa kita semua juga akan melayang" Teriak seorang berjas hitam lalu memacu mobil mereka mengejar si pengendara motor. Adith yang terdiam membisu menyaksikan kejadian yang begitu luar biasa dan begitu cepat berpikir dengan keras kalau nama tuan "Ali" ini pernah di dengarnya sebelumnya. Dia adalah seorang sahabat yang sudah di cari carinya sejak 10 tahun terakhir. Bagaimana bisa dia melewatkan orang itu pergi begitu saja. dia harus mngejar orang itu sebelum dia benar-benar menghilang. Begitu ia menyalakan mobilnya, ia teringat akan Alisya yang sedang dalam masalah. tuan Ali itu begitu penting namun diatas semuanya Alisya bisa berada dalam keadaaan berbahaya. Ia memukul setir mobilnya lalu menyalakan GPS yang terpasang pada Handphonenya. "Tolong tunjukkan Lokasi Alisya!!! " Adith segera memacu mobilnya begitu ia selesai berbicara. Chapter 22 - Mereka berdua Mirip Dari GPS yang melacak IP yang berada pada telinga Alisya, tampak bahwa Alisya berada pada Jalur yang searah dengan perginya rombongan penjahat, pemotor serta orang-orang yang ber jas hitam tadi. Adith terus berdoa dalam hati semoga Alisya baik-baik saja namun ia tak bisa berhenti memikirkan bahwa mungkin saja Alisya telah di culik oleh mereka. Adith mengejar menggunakan mobil sport mewahnya melewati padatnya kendaraan perkotaan. Dari jauh ia masih bisa melihat mobil yang di kendarai oleh orang-orang berjas hitam tersebut. Dengan seketika ia Menginjak gas mempercepat laju mobilnya mengejar. Dati jauh Adith melihat bahwa lampu merah sebentar lagi akan menyala. Ia memasang persenelan lalu menginjak Gas memacu mobilnya lebih cepat agar bisa melewati lampu merah. Lampu merah menyala dan dengan jarak yang cukup dekat beberapa orang pejalan kaki akan menyebrang. Adith dengan sigap menginjak rem dan menarik rem tangan sehingga mobilnya berputar 360 derajat sekali lalu dengan mulus terparkir di sisi jalan. Beruntunglah di tempat nya berhenti mobil lain belum ada sehingga tabrakan pun terhindarkan. Adith menghela nafas dalam lalu membuka kaca jendela dan meminta maaf. Meski berhati dingin, Adith sangat menghargai nyawa orang lain. Para pejalan kaki sempat merasa kaget dan marah namun begitu melihat bahwa itu Adith beberapa wanita berteriak kagum sedang laki-laki hanya bisa terdiam sambil berlalu pergi. "Sekali lagi lacak lokasi Alisya" Perintah Adith kepada GPS pada Handphonenya yang bertekhnologi tinggi. Melihat ke peta yang ditampilkan oleh GPS, tempat dimana Alisya berada sudah menuju kerumah neneknya. ia bingung namun kemudian memacu mobilnya menuju ke arah yang sama untuk memastikan begitu lampu hijau menyala. Sesampainya di pintu rumah nenek Alisya, Adith membuka mobilnya dan akan menyerbu masuk sebelum akhirnya ia mendengar bunyi motor dibelakangnya. Adith sangat terkejut melihat Rinto sudah memboncengi Alisya sedang pada GPS harusnya ia sudah berada di rumah neneknya bukannya berada di belakangnya. "Bagaimana bisa kamu bersamanya??? " Adith yang marah langsung menggenggam lengan Alisya dengan kuat. "Ummhhh, Adith aku tadi di selamatkan oleh Rinto sewaktu kamu masih mengambil mobil mu! Aku tidak bisa bertahan lebih lama disana... untunglah Rinto datang tepat waktu" Alisya menjelaskan dengan sedikit menahan sakit. Mendengar hal itu Adith melonggarkan pegangannya. "Maafkan aku, aku hanya khawatir kamu dalam bahaya" Ucap Adith setelah melepaskan genggamannya. "Para penembak tadi sepertinya mereka adalah begal atau teroris yang akhir-akhir ini berkeliaran! Mereka sudah seringkali melakukan penembakan salah sasaran. sebaiknya kamu berhati-hati" Terang Rinto mengingatkan Adith. "Kau tak perlu mengkhawatirkan aku! " Nada Adith tampak memberikan tantangan kepada Rinto. "Aku hanya mengingatkan mu! " Tambah Rinto pasrah. "Dimana Yogi dan Karin? kenapa mereka tak bersamamu? " Adith bertanya setelah mengingat kalau mereka tadi bersama. "Yogi sudah mengantarkan Karin kerumahnya" Alisya menengahi ketegangan di antara keduanya. "Mereka berdua baik-baik saja! " timpal Rinto. "Kalau begitu kamu masuklah Alisya, aku akan menyuruh beberapa pengawal mengawasi rumahmu untuk malam ini. aku juga akan menyelidiki kejadian malam ini untuk memastikan saja"Adith masih belum bisa menghilangkan rasa khwatirnya. "Sebenarnya aku tak masalah! Tapi kamu harus mengobati lukamu terlebih dahulu" Alisya khawatir dengan darah segar yang mengalir di tangan kiri Adith. "Aku baik-baik saja! ini cuma luka kecil" Adith meyakinkan Alisya mengenai kondisinya. "Masuklah biar aku coba obati, aku punya peralatan P3K di dalam rumah nenek" Alisya mendorong tubuh Adith memasuki pagar rumahnya. "Hati-hati dijalan! Terima kasih sudah mengantarku" Ucap Alisya kepada Rinto. "Tidak masalah! aku pulang dulu" Rinto segera memacu motor hitam besarnya. Adith berpikir kalau Motor hitam dan jaket yang dikenakan oleh Rinto sedikit mirip dengan motor yang dikenakan oleh orang yang di sebut tuan Ali tadi. Namun motor dengan jaket seperti itu cukup banyak yang menggunakan nya, selain itu ia tidak begitu jelas melihat ciri-ciri si pemotor tadi jadi dia tidak bisa menarik kesimpulan begitu cepat. "Masuklah..." Suara Alisya membangunkan Adith dari lamunannya. "Permisi... " Suara Adith cukup pelan takut membangunkan nenek Alisya. "Beri salam yang benar!" Nenek Alisya menggetok kepala Adith menggunakan sendok sup plastik yang dalam. "Aaahhh,,, Maaf Nek, Assalamualaikum!" Ucap Adith setelah meringis kesakitan. Ia tak menyangka nenek itu masih terjaga dan sudah berada tepat di hadapan mereka berdua. "Wa Alaikum salam! "Jawab neneknya lembut. Alisya hanya bisa tertawa lalu mengangkat jempolnya kepada neneknya dan masuk kedalam rumah setelah memberi salam. Melihat nenek Alisya, Adith kemudian melihat kesamaan keduanya yang terkesan tangguh namun galak. "Mereka berdua mirip! sama sama galak!!! " Gumam Adith pelan. "Tangan kamu terluka??" Nenek Alisya bertanya setengah panik melihat darah segar di tangan Adith. "Nenek..." Alisya hanya memberi tanda yang dimengerti dengan mudah oleh neneknya. Diapun segera kebelakang lalu memanaskan Air dan beberapa peralatan lainnya. "Duduklah dan buka bajumu!"Perintah Alisya mengagetkan Adith. "Apa kau sudah gila??? " Adith memelototi Alisya tak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Kau mau buka sendiri atau aku sendiri yang akan merobek bajumu!" Alisya mengambil posisi seolah-olah siap untuk merobek baju Adith. "Tidak aku bisa membukanya sendiri! Tapi setidaknya beri aku handuk untuk menutupi tubuhku! " Adith menyerah dengan ancaman Alisya. Setelah membuka bajunya di toilet, Adith keluar dengan potongan handuk kecil berwarna putih meliliti tubuhnya. Melihat itu Alisya dan neneknya saling pandang dan tertawa lepas. "Sial!!! kau sengaja yah?? " Adith merasa kesal. "Itu balasan buat kamu yang suka memerintah diriku!" Alisya masih berusaha menahan tawanya. "Duduklah, aku akan membersihkan darah yang mengalir ditubuhmu dengan air panas agar kau tidak mengalami infeksi" Nenek alisya menarik Adith dengan lembut. Saat nenek Alisya sedang membersihkan lukanya, Alisya dengan sigap mengambil alkohol menungkannya di atas luka Adith lalu dengan lihainya Alisya menjahit luka Adith dan membalutnya dengan kain kasa. Adith tak menyangka keterampilan pengobatan seperti ini bisa diketahui oleh Alisya. Terutama luka karena bekas tembakan yang tidak bisa ditangani secara sembarangan. "Aku sudah menelpon Asistenmu untuk menjemputmu" Ucap Alisya ketika selesai mengencangkan balutan luka Adith. "Bagaimana kau tau nomornya?" Adith bertanya dengn bingung. "Handphone kamu! " Alisya menujuk Hp Adith menggunakan keningnya. "Kau tahu sandi HP ku?? " Adith memandangi Alisya dengan terkejut. "Tentu saja tidak, aku melihat kamu membukanya di atap" Alisya berbohong kepada Adith. Alisya bisa dengan mudah meretas Alat yang ada di telinganya jadi bukan hal sulit jika hanya membuka sandi HP Adith yang bisa di tebaknya. Adith memiliki IQ yang cukup tinggi, namun dengan EQ ny yang tidak terlalu tinggi membuat Alisya bisa menebak Adith dengan mudah. Adith segera pulang begitu Asistennya Dimas datang menjemputnya. Malam itu Adith mengerahkan seluruh bawahan dan koneksinya untuk mencari tahu dibalik kejadian yang sudah mencelakainya malam itu. Adith merasa ada sesuatu yang ganjal mengenai kasus penembakan itu. Ia hanya merasa heran, seluruh Indonesia tentu saja bisa mengenalinya dengan mudah dan tak satupun yang berani mencari masalah dengannya namun di malam itu bukan hanya masalah, ia malah mendapatkan tembakan meski tak telak mengenainya. Hal ini menyebabkan ia ingin menyelidikinya sampai bisa menemukan benang merah dari kejadian tersebut agar tidak terulang kedua kalinya yang dapat membuatnya menyesal seumur hidupnya karena kehilangan seseorang yang berharga baginya. Chapter 23 - Ralisya Quenby Lesham Pagi hari di sekolah. "Kau masih suka jalan kaki yah??? Bukannya aku sudah memberi mu motor? " Adith berbicara dari belakang Alisya ketika memasuki gerbang sekolah. " Aku masih nyaman seperti ini! Lagi pula moto maticmu sudah ku kembalikan. Bagaimana bahumu?" Alisya berjalan membelakang sambil menujuk bahu Adith. "Hati-hati kau bisa jatuh jika berjalan seperti itu! Bahuku baik-baik saja! " Ia memperingatkan Alisya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaanya yang membuat Alisya tersenyum. "Apanya yang lucu? " Adith kesal. "Alisyaaa... Kamu kok sudah ke sekolah sih? " Teriak Karin berlari menghampiri Alisya bertanya dengan khawatir. "Aku merasa bosan dirumah! Dan juga kemarinkan hari minggu jadi aku sudah beristrahat yang cukup kok! jadi kamu tidak perlu khawatir, aku sudah cukup sehat untuk hadir kesekolah hari ini. " Terang Karin. "He um.. Bagus-bagus.. " Karin memasang wajah serius. "Kenapa? ada yang salah atau ada yang kamu pikirin? " Alisya memandang wajah Karin tidak kalah serius. "Bicaralah terus seperti ini, aku suka mendengarmu bersuara dan berbicara yang banyak" Karin menujukkan wajah bahagia yang penuh simpati. Seketika wajah Alisya memerah. Ia menggetok kepala Karin dan berjalan lebih cepat meninggalkan karin. Karin mengikutinya sambil tertawa kecil. Alisya juga berpikir entah sejak kapan ia mulai terbiasa berbicara banyak dengan santai dan mulai suka mengobrol dengan orang lain dalam kondisi yang nyaman. "Sial,,, aku di kacangin!!!" Adith menggumam sendirian. ***** "Kamu baik-baik saja Sya? " Rinto bertanya dengan sangat pelan. Ia tidak ingin membuat kaget Alisya dengan suaranya. " Aku baik-baik saja! kau bisa berbicara dengan santai, aku memiliki alat yang takkan terlepas kecuali aku yang menginginkannya! " Alisya mengangkat sedikit rambutnya melingkar dan memperlihatkan alat yang berada di telinganya. Gerakan yang dilakukan Alisya sangat lembut membuat Rinto terpaku dengan kecantikan Alisya di bawah sinar matahari pagi. Selain itu Rinto melihat 3 titik tahi lalat hitam di leher Alisya tepat di bawah telinganya yang membentuk pola seperti bintang yang bersinar indah karena kulit putihnya. "Ah baiklah.. " Rinto langsung memalingkan wajahnya yang memerah dan segera duduk dikursinya. Alisya hanya tersenyum. Posisi duduk Rinto berada tepat di sebelah kanan meja Alisya dan Karin yang memaksa pindah kini berada di sebelah kirinya menggeser Adora. "Sya, kejadian malam itu apa mereka adalah teroris? sepertinya mereka sudah mengenali wajah kamu! " Karin berbisik lembut. Rinto menoleh mendekatkan diri mendengar pembahasan Karin. Yogi yang sedari tadi berada jauh kini sudah berada di hadapan ketiganya. "Dan untuk yang berpakaian Jas hitam itu, bukankah kau mengenali mereka? " Yogi bertanya lagi. "Karin benar, sepertinya mereka mengenaliku karena wawancara di acara penghargaan kemarin. Yang menembaki Adith adalah teroris yang mengincarku sedangkan yang memakai Jas hitam adalah orang-orang yang selama ini aku hindari. Sekarang posisiku sudah di ketahui keduanya" Terang Alisya mengeluarkan nafas kesal. "Apa yang akan kau lakukan sekarang? bukankah itu berarti kau dalam bahaya? " Rinto mengkhawatirkan Alisya. "Kau bisa tinggal dirumahku bersama nenekmu! Kau akan lebih aman disana" Karin mengajukan diri. "Karin, kau tau aku juga tak ingin membahayakan dirimu! " Alisya memegang kepala karin dan membelainya kebelakang. "Tapi kamu... " belum selesai karin berkata bel sekolah telah berbunyi diringi dengan masuknya ibu Arni. "Hari ini kita akan lakukan pemilihan ketua kelas ulang dikarenakan kepindahan Miska, selain itu juga saya punya info penting!" Ibu Arni segera membuka suara begitu melihat para siswa sudah mulai tenang. "Besok libur yah bu? " deni bertanya cepat di sambut tawa seluruh siswa dan siswi. "Iya,,, besok kamu bisa libur setelah pulang sekolah!" Senyum sinis ibu Arni "Savage!!!" tambah yang lain. "Sekolah akan adakan camping di puncak Tanakita Ground sukabumi. untuk itu saya akan menunjuk langsung ketua regu putri dan putra! tapi sebelum itu saya akan menunjuk langsung ketua kelasnya" ibu Arni melihat daftar absen mencari nama yang tepat. "Kar, emang Miska kemana? pindah? " Alisya bingung. Karin tau betul kalau Alisya akan selalu melupakan kejadian yang paling menyakitkan baginya dan Karin akan bertingkah seolah tak terjadi apapum demi melindungi Alisya. "Orang tuanya pindah tugas keluar negeri jadi dia juga ikut pindah" senyum karin masam. "Oh... " Alisya tipe orang yang takkan terlibat dan kalaupun mengganjal maka ia akan mencari tau sendiri masalahnya. "Ralisya Queby Lesaham! kamu jadi ketua kelasnya yah.. berdasarkan hasil presentase mu lalu kamu layak untuk menjadi ketua kelas" Ibu arni tiba2 menyebut nama Alisya yang membuat bola mata Alisya hampir keluat dari sarangnya. Karin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi konyol Alisya yang kaget... "Ummm.. dari pada saya bu, gimana kalau karin saja? diakan peringkat atas di kelas sebelumnya tentunya lebih Pas dong!" tatapan licik Alisya membuat Karin terbatuk salah menelan ludah sendiri. "Baiklah, kalau begitu sudah diputuskan Karin akan menjadi ketua kelasnya!" Alisya tersenyum jahat mendengar itu. "Dan Alisya yang akan menjadi ketua regu untuk putri pada saat camping nanti" Kali ini karin kembali tertawa semakin keras. "Kamu kena batunya juga yah.. " Rinto hanya tersenyum kecil tidak berani menertawakan Alisya. "Rinto kamu yang jadi ketua regu putra! "Tunjuk bu Arni. "Loh kok saya bu? " logat jawa rinto mendadak keluar membuat seisi ruangan ricuh. "Kalau kamu nda mau ya sudah, kamu bisa pindah kelas!!! jawab ibu Arni tegas. "Wowwww... Ibu Arni kereeen... " Alisya bertepuk tangan sambil memperlihatkan 2 jempolnya. Bunyi bibp di telinga Alisya menandakan sebuah pesan masuk begitu ibu Arni keluar dari ruangan. "Temui aku di Atap kompleks sekarang!" sebuah pesan dari Jenius tampan. "Jauh amat! Ngapain juga ketaman bunga di atas atap kompleks sih!! pikir Alisya "Nggak Mau!! bunyi pesan jawaban Alisya. "Dasar keras kepala! " adith lalu mengirimkan gambar. Melihat pesan gambar dari Adith, secara refleks Alisya langsung berjalan keluar menemui adith. "Kamu mau kemana sya? " Karin memegang pergelengan tangan Alisya bingung. "Sepertinya adith mulai menggali informasi tentang diriku. Aku harus menemuinya!" Alisya mengirimkan gambar yang dikirim oleh adith ke Hp Karin. Melihat itu Karin paham dan mengingatkan Alisya untuk tidak berkata lebih banyak. **** "Apa yang kamu inginkan??? " Tanya Alisya begitu sampai. "Katakan siapa dirimu? Bagaimana bisa kamu tidak memiliki catatan sipil apapun dan bahkan data mu di amankan oleh negara!" Adith membalas dengan tegas. "Adith, ada baiknya jika kamu tidak terlalu mencari tau diriku demi keselamatanmu sendiri" "Keselamatan ku?? apa kamu meremehkanku? " Adith maju selangkah mendekati Alisya. "Aku tidak meremehkanmu, aku hanya mengingatkan dirimu! " jelas Alisya. "Kau tak perlu mengkhawatirkan ku, aku bukanlah orang yang mudah atau cukup bodoh untuk berada dalam bahaya! " tambah adith yakin. "Denganmu berada di dekatku itu sudah cukup berbahaya dith! " tegas alisya. "Aku bisa melindungi diriku sendiri!! " Mata Adith menatap tajam Alisya. "Aku tau, kau punya kekuasaan dan seorang CEO perusahaan besar nomor satu di Indonesia! tapi kau hanyalah seorang anak SMA yang belum bisa memegang perusahaan sampai kau berumur 20 tahun dan mendapatkan gelar yang pantas. kau belum cukup terlatih dalam dunia bisnis yang sesungguhnya. Kekuasaan yang kamu pegang saat ini belum lah cukup. " Alisya menerangkan panjang lebar menatap wajah Adith. Adith paham akan maksud Alisya, untuk ukuran seorang Anak SMA Adith memang berada di atas rata-rata. Namun itu tidak menutup dirinya yang tetap saja hanyalah seorang anak SMA. Kuasa yang ia pegang masih sebatas dari kuasa yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Tapi ia memiliki kemampuan, lalu kenapa bagi Alisya itu tidak cukup. Ia kemudian berpikir orang seperti apa Alisya yang butuh lebih dari sekedar kekuasaan hanya untuk mengetahui dirinya. Chapter 24 - Camping Para siswa dan siswi telah berkumpul di Bus masing masing untuk segera diberangkatkan menuju ke lokasi Camping yang telah disediakan oleh pihak sekolah. Tanakita Sukabumi adalah salah satu lokasi Camping pramuka yang cukup terkenal karena keindahannya dan tidak semua sekolah yang bisa melalukan kegiatan pramukanya disana karena tempat yang tergolong elit dan mahal. Namun keindahan tempat dan lokasinya sangatlah strategis sehingga harganya pun sesuai. "Oke,, semuanya sudah siap! Regu perempuan bisa masuk kedalam bus selama regu laki-laki sedang menaikkan barang! kita akan tetap bekerja sama sampai disana!" Tegas Alisya ketika sudah memastikan bahwa semua siswi diregunya telah lengkap. "Kalau sudah selesai, kalian juga sudah bisa naik ke bus! " Perintah Rinto disahut teriakan oleh seluruh siswa. "Ayo kita berangkat kalau semua sudah siap! Ibu Arni segera menepuk pundak Rinto. "Emm.. sebentar bu, Yogi belum sampai. Tolong tunggu 10 menit lagi" pinta Rinto di jawab anggukkan ibu Arni yang tersenyum. 8 menit kemudian Yogi tiba dengan Ngos-ngosan. "Ngapain baru datang sih?? 2 menit lagi kamu kita tinggal" Rinto menyerang kaki Yogi yang kemudian meringis sakit. "Sory to.. saya ketiduran! " Yogi masih memegang kakinya dengan setengah berdiri. "Ya sudah semua naik kita berangkat sekarang!" Teriak Ibu Arni dari dalam Bus Pariwisata yang cukup nyaman. "Maaf bu, Alisya belum naik!"teriak salah seorang siswi. "Tidak apa-apa, dia sudah izin tadi ada hal mendadak jadi dia akan menyusul nanti" Ucap ibu Arni. "Rinto, kamu ngasih motor kamu ke Alisya?" Karin bertanya karena paham betul kalau Alisya tak bisa naik mobil/bus. "Nggak, dia nggak bilang apa-apa!" tatap rinto ke yogi. "Saya juga nggak!" Yogi menggelengkan kepalanya cepat. Sudah sekitar 2 jam Bus mereka berangkat di ikuti oleh kelas lainnya. Baik itu tingkat 1 maupun tingkat 2 dan 3 serta terutama anggota Osis. Dari arah samping mobil Karin melihat seorang berjaket kulit hitam dengan tampilan keren melambai kepadanya. Karin yang terkejut membuka jendela memastikan siapa yang sedang melambai kepadanya tersebut. "Gila!!! Alisya benar-benar parah. Bagaimana bisa dia mencuri motor Karan? mampus sudah diriku!!! " Karin setengah berteriak dan menepok jidatnya dengan keras. Motor yang dipakai Alisya adalah motor kesayangan kakak Karin yang sedang berada di luar negeri melanjutkan studynya. Seorang siswi yang melihat tingkah Karin mengikuti arah pandangannya dan berteriak heboh membuat semua siswi tergerak dan penasaran. "Kyaaaaa... cowok itu keren sekali! Jacketnya itu merek ternama limited edition!" teriak seorang siswi. "Bukan hanya jacket, jam tangan, sepatu dan celananya juga bukan merek biasa! itu merek yang mahal" lanjut yang lainnya "Itu Alisya??? " Bisik Rinto. "Dasar!!!" Karin tidak bisa berkata apa apa melihat Alisya. Alisya membunyikan klasksonnya 2 kali lalu kemudian memacu laju motornya melewati kerumunan Bus lainyya di depan yang sama histerisnya dengan Bus yang mereka tumpangi. "Sepertinya penampilan adalah segalanya" Nyinyir Yogi. Setelah beberapa jam mereka sudah sampai di puncak tempat Camping di adakan, semua siswa biasa yang menaiki Bus terkejut dengan beberapa siswa dan siswi elit dari berbagai tingkat mulai berdatangan. Bukan menggunakan bus seperti yang mereka gunakan, seluruhnya justru menggunakan mobil pribadi mewah mereka. "Kumpulkan semua perlengkapan kalian dan bersegeralah untuk membuat tenda! " Seorang anggota osis sudah mulai mengarahkan peserta camping dengan pengeras suara. "Para elit benar benar beda yah? mereka diberikan hak khusus tiap kali ada kegiatan sekolah" deni mulai berbisik pelan. "Bukan hanya itu saja, mereka tidak perlu repot untuk mendirikan tenda karena para elit akan tinggal di dalam Vila mewah" tambah adora. "Aku iri dengan mereka, dengan begitu nyamuk atau dingin bukanlah masalah!" timpal Erlin "Tapi aku rasa mereka takkan bisa merasakan seninya camping seperti apa! " Jerry mengangkat barangnya dengan tatapan bangga. "Semuanya silahkan ambil barang masing-masing! Kita akan berkumpul 30 menit lagi setelah mendirikan tenda! "Rinto mulai mengarahkan siswa dan siswi kelasnya menuju ke lokasi camping yang sudah di tentukan bagi tiap kelas. Tiap kelas memiliki area yang telah terpatok rapi dengan tiap regu saling berhadapan satu sama lainnya. Dengan cekatan mereka mendirikan tenda dalam waktu singkat di bantu oleh regu laki-laki. Beberapa saat kemudian Alisya datang membawa perlengkapan yang akan mereka gunakan pada malam hari. "Kami sudah selesai mendirikan tenda sya! " ucap karin melihat Alisya yang datang. "Terimakasih! aku juga sudah mendapatkan beberapa kebutuhan untuk kelas kita. Yogi nih ambil... " Alisya menunjuk barang regu laki-laki. Sirine terdengar dari arah lapangan membuat semua otomatis meninggalkan tenda dan vila masing-masing lalu berkumpul di are sumber suara. Dari arah barisan, tampak jelas perbedaan antara siswa/i elit dengan biasa. Para elit mengenakan pakaian yang tampak tebal dan hangat serta mahal sedangkan siswa biasa menggunakam pakaian yang cukup nyaman dan santai. "Kalian mungkim mengira camping ini seperti persami yang biasanya di adakan oleh sekolah lainnya. Memang kegiatan yang akan dilakukan tidak jauh berbeda namun camping kita lebih menitik beratkan dalam pengakraban diri baik sesama kelas, tingkat maupun antara elit dan biasa!" Kak Vernon si ketua osis sekaligus ketua penyelenggara acara memulai kalimatnya. "Untuk itu dalam setiap kegiatan kerjasama dan kekompakkan kalian dalam mengumpulkan poin sangat di perlukan" tambahnya lagi. "Poin lagi??? buat apa? " bisik Alisya pada Karin. "Poin tertinggi akan mendapatkan hadiah 5 Fasilitas yang bisa kalian gunakan selama belajar malam akhir semester" pengumuman ini sontak membuat seisi lapangan riuh. "Dan untuk para elit mereka akan mendapatkan 2 tiket bersama partner liburan ke Malibu plus 2 tiket kapal pesiar!" para elit yang tadinya hanya bersikap biasa saja mulai riuh dan tersenyum lebar. "Karena ini pertandingan para elit tingkat 1, 2 dan 3 sepertinya cukup wajar untuk meningkatkan daya saing kalian! " si ketua osis tersenyum sinis mengetahui sikap cuek para elit yang hanya memikirkan peringkat dan belajar terlepas dari gaya hidup glamour yang tidak bisa lepas. "Untuk itu malam ini kita akan mulai lomba pertama dengan menjelajah malam dan mengumpulkan bola naga berbintang! di tiap bola akan ada quest yang harus kalian selesaikan. Di tiap posko akan dijaga oleh beberapa anggota Osis sehingga tentu saja tidak akan mudah." Siska menambahkan pengumuman dari Vernon "Sampai disitu ada pertanyaan??? " Siska melempar pandangan ke seluruh lapangan. "Maaf.... " Alisya mengangkat tangannya. "Apakah menjelajah malam akan dilakukan secara berregu atau per kelas? " Ia bertanya setelah mendapat anggukan sinis dari Siska. "Sepertinya dia masih membencimu! " Bisik Karin yang di balas senggolan lembut Alisya. "Kalian akan berjalan sendiri dan bisa bekerja sama jika menemukan teman seregu dalam hutan! " Siska menjawab ketus. "Itu berarti tiap sisws dan regu akan disebar di berbagai titik? " Rinto bertanya setelah mengangkat tangannya. "Ya benar, dan kami sudah mendapatkan data dari tiap regu untuk di sebar di 20 belas titik yang berbeda!" Vernon menjawab rinto sopan. "20 belas titik?? itu berarti 14 regu dari biasa dan 6 regu dari elit! " gumam Alisya. "Sepertinya ini akan sangat menarik! " tambah Karin semangat. "Baiklah 30 menit lagi kalian akan di arahkan ketitik masing-masing! " Vernon mengakhiri kalimatnya dan beberapa anggota osis mulai membagikan selebaran berupa peta dan titik yang harus mereka datangi sewaktu memulai kegiatan. "Sya, tau nggak dari tadi aku belum melihat Adith loh! " Karin mencubit Alisya untuk menggodanya. "Apa''an sih! apa hubungannya sama aku? "tanya Alisya kesal karena sakit. Adit yang tak tampak membuat seluruh siswa dan siswi bertanya-tanya. Meski ini bukanlah acara resmi namun mereka sangat berharap bisa melihat wajah tampan Adith. selain itu dengan adanya Adith para elit MIA 1 akan dengan mudah mendapatkan poin. Chapter 25 - Wah.. Kamu Hebat!!! Semua anggota dari tiap regu sudah mulai berada di posisi yeang telah ditentukan begitu pula Alisya yang harus terpaksa terpisah dari Karin karena beda titik masuk. Semua anggota juga sudah diberikan Maps, kompas dan buku Stamp serta senter dalam melakukan perjalanan masuk kedalam hutan. Malam itu tidak begitu gelap, dengan cahaya bulan temaram yang sesekali tertutup awan membuat semua siswa dan siswi tidak begitu takut dan cukup tertantang untuk segera menyelesaikan quest yang diberikan oleh panitia. Malam itu begitu indah dengan ribuan bintang menemani bulan menghiasi langit. Seluruh peserta sudah saling menemukan satu sama lainnya sehinga mereka bekerja sama dan dengan mudah mengerjakan beberapa quet yang tidak terlalu sulit. Berbeda dengan Alisya, ia hanya berputar-putar didalam hutan tanpa menemukan tanda akan keberadaan pos penerima quest. Ia bingung dengan terus memutar balik Maps yang sudah dipegangnya tanpa prasangka buruk apapun. Sehingga sekali lagi ia menelusuri Maps yang sudah diberikan dengan memberi tanda pada tiap pohon atau jalan yang sudah di laluinya. "Karin???" Yogi menyapa karin ketika begitu yakin kalau sosok yang dilihatnya adalah Karin. "Akhirnya, dari tadi aku hanya bertemu dengan regu dari kelas lain!" Karin berlari dengan cepat menghampiri Yogi. "Kamu sendirian dari tadi? jadi sudah berapa quest yang kamu selesaikan?" Tanyanya setengah khwatir dengan Karin yang sendirian dalam hutan. Sebenarnya panitia telah memberikan Maps dengan keakuratan bahwa tiap orang akan bertemu dengan anggota lainnya atau pun anggota dari regu lain ketika telah berada dihutan selama kurang lebih 5 menit untuk mengurangi bahaya yang bisa di timbulkan. "Iya, aku hanya bertemu dengan beberapa anggota lain tapi kelompok mereka sudah cukup 5 orang sehingga aku harus mencari anggota lain dalam membentuk kelompok. kamu juga sendiri???" Karin hanya melihat Yogi sendirian. "Tidak aku bersama Beni, Eci dan Rinto. tapi mereka masih dibelakang menunggu Beni sipenakut sedang buang air kecil." Terang Yogi. "Oh,,, kalau begitu aku bisa sekelompok dengan kalian!" ucap Karin semangat. "Tentu saja bisa!!! Kamu tidak bertemu dengan Alisya???" Yogi khawatir karena disetiap posko quest ia tak bertemu dengan Alisya. "Tidak, aku tidak bertemu dengannya. mungkin dia bersama dengan kelompok yang lain." Jawab Karin yakin. Beberapa saat kemudian, semak-semak tampak bergoyang-goyang membuat Karin sedikit takut dan mendekat kearah Yogi. "I i itu apa''an yah? Harimau bukan? atau jangan-jangan Ular lagi!!!" Karin gagap dan panik. "Jangan khawatir ini daerah hutan yang takkan bisa dimasuki oleh hewan liar karena memiliki pagar jaring listrik disekelilingnya. Selain itu daerah ini dilengkapi dengan CCTV sehingga keamanannya sangat terpercaya jika orang luar mengadakan kegiatan cemping dalam hutan". Rinto muncul dari belakang Yogi menjelaskan dengan lembut mengurangi kepanikan Karin. "Nggak seru kamu To, baru juga mau aku kagetin!!!" Beni muncul dari balik semak. "Dasar! sendirinya aja takut. mau sok ngagetin orang!" Eci memukul bahu Beni dengan keras karena kessal. "Aku pikir kamu bersama Alisya!" Tanya Rinto bingung. "Dari tadi aku nggak ketemu dia, hanya beberapa anggota yang sudah berkelompok dan juga anggota dari regu lain" "Sudah berapa Stamp yang kamu dapatkan Rin?" Eci bertanya dengan semangat. "Aku sudah 5 Stamp kalian berapa?" Tanya Karin kemudian. "Wah... kamu hebat!! Aku 2 Yogi 3 dan Rinto juga 3! Beni malah nggak dapat sama sekali" Ucapnya kesal menatap beni yang hanya cengengesan. "Baiklah... ayo kita kumpulkan lebih banyak dan keluar sebelum waktunya habis!!!" Ajak Beni membara. "Kau juga harus menyelesaikan Quest!!!" mereka mengatai Beni dengan serentak. Karena mereka telah berkelompok, mereka dengan mudah menyelesaikan quest yang diberikan dan keluar dari hutan sebelum waktu berbunyi. mereka telah mengumpulkan banyak stamp dan poin yang cukup banyak. Titik masuk kedalam hutan memang berbeda-beda namun titik keluarnya adalah sama. Karin yang sudah berada di lapangan Alisya namun tidak didapatinya. Ia merasa bingung terlebih lagi bulan sudah mulai tenggelam dan tak terlihat lagi sehingga kondisi didalam hutan akan semakin gelap. "To, kamu sudah liat Alisya belum? Karin bertanya pada Rinto yang sudah duduk manis di dekat tendanya. "Loh.. dia belum balik??" Nada Rinto sedikit gusar. "Belum, aku juga sudah bertanya pada seluruh anggota regu cewek tapi tak satupun yang melihat Alisya selama di hutan." mendengar perkataan Karin dengan cepat Yogi bertanya pada seluruh anggota regunya dan ternyata tak satupun juga pernah bertemu atau melihat Alisya. "Sepertinya dia masih di dalam hutan! Aku akan bertanya kepada panitia!" Rinto dan Yogi segera keposko panitia memberitahu tentang keadaan Alisya yang tak kunjung kembali. Panitia segera mengumumkan bahwa salah seorang dari siswi belum terlihat dan belum kembali dari hutan. semua siswa baik elit maupun biasa juga tak ada asatupun yang sempat berjumpa dengan Alisya sehingga mereka berkesimpulan kalau Alisya telah tersesat jauh kedalam hutan. "Bukankah hutan yang kita masuki masih dalam batas wilayah yang tterdapat CCTV! ini bisa kita tanyakan pada pengelola" Seru Ilyas mengingatkan. "Kamu benar! sebaiknya kita cek CCTV kemungkinan besar kita bisa menemukan Alisya dengan mudah!" Vernon dengan sigap bergerak ke Pos pengelola untuk melihat rekam CCTV. Saat sedang menuju ke Pos, mereka bertemu dengan Adith yang baru datang dengan mobilnya dan masih lengkap dengan baju kemeja putih lengkap dengan Jas hitamnya. Tampilannya malam itu begitu tampan dan seksi karena keringat yang bercucuran keluar dari pelipisnya bersinar karena pantulan lampu mobil. Kulitnya bahkan sebening cahaya rembulan membuat mata Karin tak bisa mengalihkan pandangannya dari Adith. "Apa yang terjadi??" Vernon bertanya bingung melihat Adith yang tampak keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa. "Aku melihat dari GPS posisi Alisya berada jauh dari area Camping yang seharusnya." Adith yang kemudian berjalan menuju ke Pos pengelola di ikuti oleh Vernon yang nampak bingung dengan reaksi Adith. Karin, Rinto dan Yogi serta Ilyas yang sedari tadi berada di belakang Vernon juga sama bingungnya. "Kenapa kau datang dengan pakain seperti ini dan selarut ini?" Karin berlari mengsejajarkan langkahnya dengan langkah Adith. "Aku sedang mengikuti rapat di luar kota jadi tidak bisa datang tepat waktu. tapi begitu aku melihat tanda merah yang sudah aku letakkan di alat yang ada ditelinganya! aku membatalkan semuanya dan menuju kesini." Jawab Adith dengan nada khawatir. "Alisya akan baik-baik saja" Karin yang paham dengan kondisi Adith berusaha menenagkannya. "Kau tak tau betapa bahaya hutan dimalam hari!" Timpal Adith tegas. "Itu akan cukup berbahaya jika untuk orang lain! tapi Alisya berbeda." Karin meyakinkan Adith. "Apa maksudmu Alisya berbeda?" Adith menghentikan langkahnya. "Dia bukanlah wanita biasa yang lemah atau wanita Indonesia pada umumnya! Dia sangat kuat melebihi kekuatan seorang pria dan bahkan dia bisa mengalahkan sepuluh orang tentara muda jika berada dalam hutan!" Terang Karin lagi Adith tercengan dengan perkataan Karin. Bagaimana mungkin seorang cewek seperti Alisya bisa mengalahkan 10 tentara sedang ia sendiri saja memiliki trauma mental yang cukup mendalam. Ia tak bisa menelaah maksud dari perkataan Karin. Namun semakin ia pikirkan semakin ia sedikit menyetujui maksud dari perkataan Karin. Adith masih terlaurt dalam pikirannya ketika mereka memasuki Pos pengelola. "Ada apa?" tanya seorang satpam yang sedang duduk sambil menatap puluhan layar monitor CCTV. "Seorang siswi dari sekolah kami belum kembali dari hutan! kami ingin memeriksa CCTV dari lapangan Camping hingga ke dalam hutan!" Mendengar hal tersebut dengan cepat satpam mencari di seluruh CCTV yang ada. Disetiap CCTV yang terpasang di dalam hutan tak mereka temukan jejak Alisya bahkan di titik yang harusnya Alisya lalui sewaktu dia akan memasuki hutan. Terakhir ia terlihat berada di bagian luar Area yang tidak seharusnya di lewati oleh orang. Hal itu sontak saja membuat panik satpam dan dengan segera membentuk kelompok untuk mencari keberadaan Alisya. Chapter 26 - Dasar Mesuneko!!! "Sepertinya maps yang mereka berikan padaku adalah maps yang salah sehingga aku hanya berputar di area yang sama dan tidak menemukan satu orang pun dari semua peserta Camping!" Alisya mulai sadar ketika tanda yang ia buat sewaktu mengitari arah yang terdapat di dalam maps hanya tempat yang sama berulang kali. "Karena maps ini aku jadi masuk terlalu jauh kedalam hutan! sepertinya butuh waktu lama untuk kembali! Aku harus menyiapkan beberapa ranting atau dahan kayu sebagai persiapan dalam keadaan berbahaya". yang ditakutkan Alisya bukanlah hewan buas seperti harimau atapun serigala dan beruang, melainkan Babi hutan dan ular. karena tentu saja diarea itu kemungkinan besar dia harus berhadapan dengan Babi hutan yang sensitif atau ular yang sangat berbisa. Dengan cekatan dan sangat terampil Alisya membuat alat pertahanan diri dan menemukan beberapa tumbuhan yang dapat dijadikannya sebagai obat anti nyamuk. Ia mengucir rambutnya yang selama ini tak pernah ia biarkan terikat karena rasa takutnya terhadap suara yang berlebih. Hutan dimalam hari tak sesunyi daerah pasar karena di hutan banyak suara-suara hewan dan serangga yang cukup bising. Namun alat yang diberikan Adith sangat berfungsi dengan baik sehingga ia tak perlu khwatir akan suara yang bising. "hhmmm... baru saja khayalkan si binatang sudah muncul!!!" Nada menekan Alisya terdengar mengejek membuat si Babi hutan mengambil ancang-ancang marah karena Alisya berada didaerah teritorialnya. "Biasanya Babi hutan takkan se sensitif ini jika aku menjaga jarak tapi kenapa kamu malah menghampiriku??? ada apa??" Alisya perlahan mengambil langkah mundur dan memegang erat ranting kayu yang cukup lebar memenuhi kepalan tangannya dengan ujungnya yang tajam karena asahannya dari batu. Dengan santai ia mengambil senter yang berada di tanah dan mempersiapkan diri. Begitu Babi hutan itu segera menyerang Alisya, dengan cepat ia berlari mengarah ke pohon yang berada tak jauh dari belakangnya. Untunglah momentnya pas dengan munculnya sinar bulan yang tertutupi oleh awan sehingga ia bisa berlari dengan leluasa dan celana treningnya yang tidak terlalu longgar pun tak mempersulitnya mengambil langkah yang cukup lebar. Ketika berada di depan pohon Alisya menaikkan satu langkah kakinya ke atas pohon dan melompat tepat di delakang Babi yang menyeruduk pohon. Pohon yang diseruduknya membuat Babi hutan itu sedikit linglung karena kekuatannya yang cukup besar untuk melumpuhkan Alisya. Ukuran babi itu cukup besar dan sewaktu Alisya akan menikam Babi itu ia mendengar sayup-sayup suara anak Babi yang masih kecil di belakangnya. Melihat itu membuat Alisya tak tega dan memilih untuk menghindari tubrukan berikutnya. Alisya memilih untuk menjauh dari areanya namun saat ia akan berjalan jauh tiba-tiba saja ular jatuh dari atas pohon tepat di atas bahunya melingkar sempurna di lehernya melilitnya. "Belum selesai satu muncul lagi Hebihime (Ratu ular dalam bahasa jepang)!!!" Alisya berusaha mengendorkan lilitan ular yang jatuh karena tubrukan dari Babi hutan tadi. Ular piton adalah salah satu ular yang paling banyak terdapat dihutan Indonesia. Meskipun tidak berbisa, namun Lilitannya cukup kuat untuk meremukkan tulang seekor sapi. ukuran dan panjangnya bisa mecapai 8,5 meter yang bisa melebihi ukuran ular anaconda. beruntunglah Alisya kalau ular yang melilitnya memiliki panjang kurang lebih 2 meter. Namun tenaganya memilit Alisnya membuatnya sedikit kesulitan bernafas. Menyadari lilitan itu semakin erat, Alisya melepaskan tangannya dan menggenggam erat kepala ular di tangan kirinya lalu memegang erat tombak yang sudah di siapkan kemudian membenturkan diri ke pohon. Beberapa saat kemudian lilitan ular itu mulai mengendor dan Alisya tersadar begitu udara masuk ke tenggorokannya mengisi kembali paru-parunya. Sambil terbatuk-batuk Alisya melihat kepala ular itu telah tertancap tombak kecil yang dibuatnya. ia terduduk lemas menyandarkan tubuhnya di samping pohon tidak jauh dari ular piton yang sudah tidak bergerak tersebut. "Sepertinya aku harus membawamu sebagai oleh-oleh buat seseorang yang memberikanku maps ini!!" Alisya tersenyum licik membayangkan bagaimana reaksinya ketika ia melilitkan ular ini ke leher Siska yang memberikannya Maps yang salah. Alisya memperhatikan langit melihat bintang sebagai penunjuk arahnya. sewaktu ia berada di lapangan Camping ia melihat kelompok bintang biduk (Bintang yang berbentuk seperti gayung) berada tepat di hadapannya dan bintang orion (Bintang yang membentuk sabuk dan pedang, biasa dikenal bintang pemburu) berada di sebelah kirinya. Sedang kini bintang orion tampak berada cukup jauh disebelah kananya. "Sepertinya ini akan sedikit memakan waktu!" Alisya mulai berjalan setelah menenteng tongkat yang masih menancap kepala ular piton dan mengambil senternya yang terjatuh. Kabut sudah mulai tampak menutupi hutan sediki demi sedikit. ****** "Anak ini, kenapa dia tidak pernah tidak terlibat dalam masalah!!" Karin menepok jidatnya melihat rekaman Alisya. Semua orang sudah mulai mempersiapkan peralatan dan dibagi dalam beberapa kelompok untuk segera mencari Alisya sebelum malam semakin larut. Pukul 10.30 malam puncak gunung perlaha-lahan telah mulai tertutupi oleh kabut sehingga hal ini akan mempersulit pencarian. Selain itu kondisi hutan pada malam hari memiliki bahaya yang cukup tinggi dengan banyakknya hewan-hewan nocturnal (hewan yang aktif dimalam hari) berkeliaran. Adith dengan sigap memimpin kelompok pencarian dan telah memberikan intruksi hasil diskusi yang mereka lakukan bersama pengelola dan juga para panitia Camping. Ketika persiapan telah lengkap dan mereka akan menuju kehutan, tiba-tiba Alisya datang dengan berjalan santai seolah-olah tak terjadi apapun dan tak mengalami lecet ataupun luka sedikitpun. ia hanya terlihat sedikit kotor pada bagian sepatunya. "Dasar bodoh! apa yang kamu lakukan dengan memasuki hutan yang salah?" Adith langsung menyerang Alisya yang tampak keluar dari hutan. Dengan santai ia berjalan dan mendekati Siska yang berdiri menatapnya dengan mata yang cukup lebar. "Berkat Maps salah yang kamu berikan aku bertemu teman tak terduga! karena sudah ketemu aku bawa pulang sebagai oleh-oleh!!!" Alisya melingkarkan ular piton yang sudah dibunuhnya ke leher Siska. Tingkah Alisya melingkarkan ular ke leher Siska Bak drama romantis korea yang melingkarkan Syal hangat keleher kekasihnya sewaktu turun salju. Menyadari bahwa itu adalah ular Siska berteriak histeris dan memaki Alisya yang mengeluarkan semua nama penghuni neraka dan penghuni kebun binatang. Alisya hanya tertawa kecil sedangkan yang semua orang yang melihat siska bergidik ngeri dan menjauh. "Kamu tidak apa-apa sya?" Ucap Karin memastikan kondisi Alisya. "Aku cukup bersenang-senang di dalam hutan!" Adith memperhatikan Alisnya dengan lekat. Ia merasa takjub dengan kemampuan Alisya menyembunyikan kebaradan ular tersebut dengan lihai dan baru menyadarinya ketika Alisya mulai melilitkan ular itu ke leher Siska. "Sya, Siska memang salah! tapi sepertinya kamu terlalu berlebihan memberikannya pelajaran" Vernon mengingatkannya agar Alisya mengambil ular yang ada di leher Siska. Tidak peduli Alisya hanya berjalan pergi menjauh dari kumpulan orang-orang yang masih terbengong-bengong menafsirkan keadaan yang begitu cepat terjadi. "Kau hebat!!!" Yogi memuji Alisya dengan menaikkan jempolnya serta matanya membara menatap Alisya. "Apa ini yang kamu maksudkan tadi???" Rinto memandangi Karin mengingat ia mendengar percakapannya dengan Adith yang memberitahunya untuk tidak mengkhawatirkan Alisya. Karin hanya tersenyum licik sambil melangkah mengikuti Alisya tanpa menjawab Rinto. Tatapan Siska tajam dan menusuk siapapun yang melihatnya. "Lepasin ular ini kalau tidak aku akan Mati!!!!" Siska berteriak sekuat tenaga. "Ular ini tidak berbahaya tapi lilitannya cukup kuat!" Zein yang berada di dekat Siska mencoba untuk melepaskan ular yang melilit leher Siska, namun tak disangka ia melihat ular itu telah terkulai lemas dengan kepala yang berdarah. Zein menatap punggung Alisya yang berjalan menjauh dari kerumunan dengan tatapan kagum. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan cewek ini dan itu semakin menarik simpatinya untuk mengenali Alisya lebih jauh. "Menarik, dia sangat menarik!!! Aku menyukainya!" Riyan bergumam dengan lantang sambil tertawa. Vernon segera membubarkan kerumunan dan membuang ular yang sudah mati tersebut kembali kedalam hutan. Cukup jauh dan ditemani oleh petugas satpam pengelola Camping. "Aku sangat lelah tapi melihat ekspresi Siska membuatku cukup senang!" Alisya masih tertawa ketika membaringkan tubuhnya tepat dihadapan tenda regunya. "Dasar Mesu Neko!!! (Kucing betina dalam bahasa jepang). kau seperti punya sembilan nyawa dengan bisa lolos dari segala macam masalah!" Karin memaki Alisya yang terbaring lemas dihadapannya. "Bukankah itu kotor??" Rinto mengingatkan tempat Alisya terbaring. "Aku rasa perlakuan ayahku tidak semua salah! meski aku membencinya tapi adakalanya aku cukup berterimakasih!" Alisya bangun dan terduduk menatap langit. Chapter 27 - Shangkyu Bebebz "Kenapa alatmu mati???" Adith duduk menghadap Alisya dan memegang alat ditelinganya. "Um,,, Dihutan aku tak mendapatkan sinyal" Alisya segera memalingkan wajahnya dan menjauhkan telinganya dari tangan Adith. Melihat reaksi Alisya yang malu membuat Adith tersenyum gemas. Adith baru memperhatikan wajah Alisya dari dekat karena mereka sekarang sudah berada didepan tenda dengan cahaya yang cukup sehingga ia bisa meilhat dengan jelas wajah Alisya yang mengucir tinggi rambutnya memperlihatkan leher jenjangnya yang bersinar. Aroma tubuh Alisya membuat Adith merasa nyaman dan ingin selalu berada di aroma yang cukup akrab baginya itu. Adith terkejut melihat 3 titik tahi lalat dibawah telinga Alisya. Ia merasa pernah melihat tahi lalat ini sebelumnya tapi tak jadi bertanya melihat kondisi alisya yang sedikit kotor dipenuhi dengan keringat. "Sebaiknya kamu mandi dulu!" Ucap Adit lembut. "Ba,, Badanku bau ya???" Alisya panik mendengar perkatan Adith dan dengan refleks mencium seluruh tubuhnya membuat Rinto, Karin dan Yogi tertawa karena Alisya dengan santainya mengangkat keteknya di hadapan Adith. "Kamu tidak punya malu ya???" Karin memukul bahu Alisya membuat Alisya meringis kesakitan karena baru sadar kalau bahunya terkilir karena ia membenturkan tubuhnya dipohon. "Bahumu terkilir???" Rinto bertanya ketika melihat reaksi alisya yang meringis. "Sepertinya begitu" jawabnya terengah. Tanpa bertanya kepada Alisya, Adith mengangkat tubuh Alisya membuat Alisya melebarkan bola matanya. "Oy Oy Oyyy... Aku bisa jalan" tegas Alisya. "AKu Tau!" Adith tidak memperdulikan Alisya. "Kalau begitu turunkan Aku!!!" Alisya memberontak sekuat tenaga. "Diamlah!!! aku akan membawamu ke Vila ku dan mengobati bahumu!" Suara ADith terdengar seperti Ancaman. Semua orang yang melihat kejadian itu menjadi heboh dan ricuh. Beberapa yang lainnya mengutuk Alisya yang tampak menggoda Adith dan memanfaatkan suasana. Zein yang melihat perlakuan Adith kepada Alisya membuatnya merasa terbakar didalam dadanya. Ia cemburu dan merasa tertantang untuk merebut Alisya dari tangan Adith. Sesuatu tentang Alisya semakin membuatnya penasaran dan menggelitik rasa ingin tahunya. "Bersihkan dirimu! Tekan lama alat mu, aku akan berada diluar jika kau membutuhkanku!" Adith menurunkan tubuh Alisya di atas sofa dengan lembut dan berjalan pergi meninggalkan Alisya didalam Vila. "Adith, maaf jika kalimatku di atap membuatmu tersinggung aku... " Adith mengenghentikan langkahnya. "Tidak, apa yang kamu katakan ada benarnya! emmm.. mandilah!!! " Adith memilih untuk menyimpan kata-katany untk sekarang. "Terimakasih!!! " Adith membalas dengan lambaian tangan membelakang. "Wow.... Vilanya mewah sekali" Alisya bergumam menatap takjub vila yang cukup luas itu dengan interior yang indah dan warna tema hitam putih yang sangat disukai Alisya. Setelah cukup puas berkeliling melihat seluruh isi Vila itu, Alisya kemudian masuk ke kamar mandi membersihkan diri dengan air panas sembari mengobati bahunya yang terkilir menggunakan serbet kecil yang sudah dibasahi air panas. Ia menekan dengan kuat bahunya hingga ia merasa cukup nyaman ketika menggerakkan lengannya dan tidak merasa sakit. Alisya keluar dengan rambut basah mengeluarkan uap panas mendapati Karin yang sedang menaruh pakain ganti Alisya di atas kasur. "Bagaimana bahumu?" tanyanya begitu sadar Alisya sudah keluar dari kamar mandi. "Sudah sembuh!" Ucanya sambil menggerakkan bahunya sendiri. "Memangnya kamu robot??? Bagaimana bisa kamu mengobati bahumu sendiri?" Karin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku cukup hebat soal ini!" Alisya menjawabnya sambil tersenyum licik. "Hhhhh... Ya sudah! Keluarlah cepat, pembakaran api unggun akan segera dimulai. Aku tunggu di tenda saja!" Karin berlalu pergi memberikan waktu kepada Alisya. "Shangkyu bebebzz" Alisya tidak butuh waktu lama untuk mengeringkan rambutnya dan bersiap keluar. sebelum keluar ia sekali lagi memandang interior vila tersebut dan tidak berhenti mengaguminya meski sudah berkali-kali melihatnya. Sewaktu akan keluar, Adith sudah berada didepan pintu. "Kamu mau kemana? Bahumu masih perlu di obati!" Adith yang membawa kotak P3K memegang lengan Alisya. "Bahuku baik-baik saja!!! Sebaliknya kita pergi ke pambakaran Api unggun. Ayo!!!" Alisya mengajak Adith dengan mata membara dan dengan lihainya memelintir tangannya berbalik memegang tangan Adith. Melihat Alisya yang semangat membuat Adith dengan Refleks mengikuti langkahnya setelah menaruh kotak P3K yang berada ditangannya. Adith tidak bisa berhenti kagum karena Alisya yang terus saja membuatnya kagum dalam banyak hal. Terlebih lagi dengan gerakan lembut Alisya yang berbalik memegang tangannya itu sungguh bukan gerakan sederhana yang biasa. Itu cukup memberikan kesan yang mendalam mengenai Alisya. Adith yang mengikuti langkah kaki Aliya dari belakang bisa mencium aroma sampo dari rambut Alisya yang membelai lembut wajah Adith karena hembusan Angin. **** Pagi harinya. "hari ini adalah hari terakhir Camping. tapi sebelum kita menghitung keseluruhan poin yang sudah diperoleh maka akan ada acara terakhir yang dijadikan sebagai tantangan bagi semua peserta Camping. Tantangan ini akan diberikan kepada setiap kelas unutk memberikan sebuah persembahan dan tentu saja kan mendapatkan poin yang cukup tinggi apabila banyak yang menyukainya." Edo memulai penjelasannya begitu seluruh peserta Camping sudah berada di lapangan. "Tiap kelas akan memiliki seseorang yang di tunjuk dari tiap regunya untuk menjadi perwakilan dan memberikan persembahan. Taip peserta berhak mendapatkan bantuan dari luar jika orang luar itu melakukannya dengan suka rela. Pemenangnya akan mendapatkan hadiah yang cukup besar loh.... maka dari itu ayo kita mulai acaranya!!!" Suaranya lantang memecahkan suasana membuat riuh seluruh penonton yang melihatnya. Beberapa anggota elit memilih tidak ikut dan hanya menonton saja dari jauh. mereka tidak terlalu tertarik dengan tantangan yang diberikan. Semua peserta dari beberapa regu telah menampilkan persembahan dan penampilan yang cukup menarik sehingga menghibur seluruh peserta yang sedang berkumpul dilapangan pada pagi itu. dan beni menjadi seorang yang menjadi perwakilan regu pria dari kelas MIA 2. Beni memiliki kemampuan dalam bidang musik khususnya memainkan alat musik Drum. Melihat Beni yang kebingungan membuat Rinto dan Yogi berinisiatif mencari beberapa peralatan sederhana yang bisa digunakan untuk menghasilkan irama yang cukup bagi Beni dalam memaikan Drum. Rinto memegang botol dan memukul-mukulnya dengan sendok seedangkan Yogi menggemerincingkan kumpulan sendok. Irama unik yang mereka tampilkan membuat semua orang terhibur dan menggoyangkan tubuh mengikuti irama yang dikeluarkan oleh perlatan sederhana tersebut. "Wooow... Penampilan yang cukup menarik!!! Tepuk tangan meriah mengakhiri penampilan Beni. "Baiklah,,,, penampilan selanjutnya... Thea Last but Not The End.... kita sambut Alisyaa" Teriak edo dengan lantang membahana membuat semua orang berseru ramai. Mendengar namanya disebutkan Alisya yang sedari tadi asyik terbawa suasana tiba-tiba diam membatu. Zen dan Riyan segera mendekat diikuti para elit lainnya. Siska yang sudah menunggu-nunggu hal ini tersenyum dengan liciknya. Adith memperhatikan wajah Alisya yang terkejut hanya tersenyum gemas karena reaksi lucu Alisya. Alisya yang masih berdiri membatu mendapat sorakan dari para siswi yang sengaja ingin menjatuhkan Alisya dihadapan Adith. Mereka ingin meyakinkan bahwa Alisya hanyalah siswa biasa yang kampungan dan tak bisa apa-apa. Alisya tak menyadari seseorang yang mendorongnya hingga berada ditengah lapangan. "Ini balasan atas perlakuanmu kepada Siska!!" Bisik Edo dibelakang Alisya setelah memberikannya Mic. "Oh... Bucin Siska Ternyata!!!" perkataan alisya terdengar jelas karena Micnya menyala membuat semua orang tertawa riuh. Alisya masih terdiam bingung tidak tau harus melakukan apa-apa. Adith segera bangkit dari tempat duduknya ingin membantu Alisya namun terhenti oleh suara batuk Alisya yang menatap tajam Adith untuk tidak mengkhawatirkan dirinya. Semua mulai mengolok-olok Alisya dan menyuruhnya untuk keluar saja. Karin yang ingin membantu Alisya pun dihadang oleh beberapa siswi. Sambil menutup matanya Alisya mulai bernyanyi dengan suara yang halus dan mengalun indah. Lagu I love You 3000 mengalir lembut. Suaranya bening bak cahaya yang menyilaukan. hangat menusuk masuk kedalam telinga membuat semua orang terdiam tak bersuara mendengarkan suara Alisya. Alisya terus bernyanyi sambil menutup matanya ia tenggelam akan setiap bait dan lirik lagu yang terus mengingatkannya akan seorang anak kecil yang bermain bersamanya dan ikut menyanyikan lagu itu bersamanya. Namun hingga kini ia tak mengingat siapa nama anak itu. Begitu ia menyelesaikan lirik terakhir ia membuka matanya menatap kerumunan mata yang melihatnya dalam diam. Note : Shangkyu "Ucapan terimakasih dalam bahasa inggris tetapi menggunakan logat jepang" Chapter 28 - Perjanjian Apa?? "Pagi sya,, " "Hai sya... " "Selamat pagi Alisya" "Pagi Alisya... " Alisya bingung selama perjalananya menuju ke sekolah mendapat banyak sapaan yang tidak biasanya. Mereka yang menaiki kendaraan akan memelankan laju kendaraanya hanya untuk menyapa Alisya. Ia jadi merasa takut dengan semua perhatian yang cukup mendadak itu. Bahkan ketika ia tiba didepan gerbangpun semua yang sudah mengantri untuk sidik jari terlebih dahulu telah membukakan jalan kepada Alisya untuk kemudian menyidikkan jarinya. Kepalanya cukup sesak dengan semua kejadian pagi itu. "Kenapa Sya? " Karin bertanya setelah menempatkan tasnya di samping meja. "Aku tak tau semua orang tiba-tiba bersikap aneh". Alisya memijit pelipisnya. Ia tak terbiasa mendapatakn banyak perhatian dari orang lain. "Kamu nggat tau? Camping kemarin membuat kamu menjadi sangat populer!!!" Karin menjelaskan dengan semangat. "Maksudnya?? " Alisya tak paham. "Kau siswi pertama di sekolah ini yang berani menentang Siska!" Rinto menambahkan begitu ia masuk kelas dan mendengar percakapan Alisya dan Karin. "Banyak yang mengagumimu karena hal itu! " Yogi menambahkan. "Oke! tapi aku masih belum paham akar mulanya. " Alisya menyandarkan tubuhnya kebelakang. "hhhhh,,, kamu itu pinter tapi suka lemot" desah Karin. "Siska, maksud aku kak siska terkenal sebagai seorang perempuan yang suka membully banyak siswa maupun siswi dikalangan biasa. Dia sangat suka merendahkan bahkan sampai menghancurkan bisnis orang tua mereka yang tidak mengikuti perintahnya atau berani menentangnya. Bukan hanya itu dia bisa dengan mudah merusak kehidupan seseorang dan lolos dari tuduhan karena kekuasaan ayahnya yang seorang pejabat tinggi negara!" Rinto menjelaskan panjang lebar. "Dan kamu, kamu bukan hanya berani melawan dan menentangnya. tapi kamu bahkan memberi pelajaran kepada kak Siska dan selalu berhasil lolos darinya" tambah Yogi. "Karena itulah kamu yang seorang siswi biasa yang masih hidup dan baik-baik saja bahkan masih bisa menampakkan diri di sekolah membuat semua siswa dan siswi dari kalangan biasa mengagumimu! " Karin tertawa cekikikan. "Aku paham,, tapi aku lebih suka jika mereka membenciku. dengan begitu aku takkan didekati oleh mereka dan tidak mendapatkan hal menjijikkan seperti ini"Alisya mengeluarkam tumpukkan hadiah yang tergolong mahal dari laci mejanya. "Laciku jadi kotor dengan semua sampah sampah ini!!! Refleks Karin mencubit paha Alisya karena kesal. "Kamu harusnya bersyukur akhirnya sekarang kamu bisa memiliki banyak teman! " Alisya yang sejak kecil selalu tertutup membuat nya hanya memiliki satu orang sahabat saja. "Dengan kalian bertiga sudah cukup!" perkataan Alisya membuat mata Rinto dan Yogi melototi Alisya. Keduanya terkejut tak menyangka masuk hitungan. mereka sangat senang seperti baru saja mendapatkan pengakuan dari seorang kekasih. Beberapa saat kemudian datanglah beberapa peralatan dimulai dari bantalan kursi dan meja, Ac, Freezer berisi minuman, Feendingmachine dengan berbagai jenisbmakanan, layar monitor yang cukup besar serta 1 rak buku pelajaran yang cukup untuk seluruh siswa/i di kelas MIA 2. "Karena kalian menyapu rata semua kegiatan Camping kemarin dan mendapatkan poin tertinggi sehingga kelas kalian bisa memenangkan semua lomba dan quest yang diberikan maka kalian layak mendapatkan hadiah sebagai Fasilitas belajar selama 2 minggu kedepan" Jelas Vernon ketika memasuki kelas MIA 2. "Wowwww... nggak nyangka bisa liat kak Vernon dari dekat! " "Dia tampan sekali... " "Oh ma,, menantumu datang! " "Kak Vernon,,, kamu ganteng! " "Kak Vernon..... aku mencintaimu" Suasana kelas mendadak heboh menarik perhatian kelas kelas lain. Para wanita tak henti hentinya memuji dan meneriakkan nama si ketua Osis tampan dari kalangan Elit tersebut. Begitu selesai berbicara ia mendatangi kursi Alisya menyapanya dengan sopan kemudian pergi. Perlakuan sederhana itu sontak membuat semua siswi berteriak histeris juga merasa cemburu. Semula mungkin akan ada yang membencinya atau iri padanya namun sekarang Alisya adalah Idola mereka sehingga hal itu membuat mereka semakin kagum kepada alisya. "Sya, berkat kamu dan beni kita jadi menang banyak" ucap Vivi teman sekelasnya yang baru pertama kali mengajak Alisya berbicara. "persembahan kalian mendapatkan poin paling tinggi sehingga kita mendapatkan hadih ini" lanjut eva. "Fasilitas ini akan sangat berguna selama 2 minggu depan dimana kita akan menerima pelajaran tambahan dan belajar hingga jam 10 malam sebelum memasuki ujian semester" tambah yang lainnya. Sekolah SMA CENDEKIA INDONESIA adalah sekolah yang sangat ketat dalam menyeleksi siswa maupun siswinya sehingga dalam kurikulum sekolah pun sedikit banyak mengalami pengembangan dibanding dengan sekolah lain. Selain itu ujian yang dilaksanakan diskolah itu untuk melihat hasil siswa/i yan mana pada akhirnya tidak ada sistem tinggal kelas melainkan dikeluarkan dari sekolah. Sekali keluar maka takkan bisa masuk ke sekolah manapun di Indonesia. itulah kenapa 2 minggu kedepan adalah Study neraka bagi seluruh siswa biasa di sekolah itu tidak terkecuali para elit. "Kita buat juga kelompok belajar yuk untuk hari minggu" Ajak Karin. "Aku ikut!!! " Yogi menaikkan jempolnya semangat. "Aku juga setuju! " ketiganya menoleh ke arah Alisya menanti jawaban. "Aku terserah..." ucapnya sambil melambaikan tangan. " Itu tandanya kita tinggal ke rumahnya saja! " Senyum Karin. "Nggak!!! jangan rumahku.. "Bantah Alisya cepat. "Ya, sudah gimana kalau rumah aku! " ajak Karin semangat. "Oke!!! " ketiganya menjawab serempak. Hari itu mereka belajar dari pagi hingga malam hari dan mengmpulkan beberapa ringkasan materi serta menyelesaikan beberapa tugas tambahan yang diberikan kepada Alisya yang melewatkan beberapa mata pelajaran sebelumnya. "Uaaahhhh,,,, aku hampir muntah karena rumus fisika dan matematika yang menari-nari di atas kepala ku" Alisya melakukan gerakan mengusir sesuatu yang mengambang dikepalanya. "Kamu baik-baik saja?" Tanya Rinto sedikit cemas. "Kau tak usah memikirkan dia, dia hanya tidak suka belajar!" jawab Karin sambil menulis. "Kau harus berusaha Sya, kalau tidak kamu tidak akan bisa menjawab ujian dengan baik karena kekurangan materi" Yogi mengingatkan. "Alisya itu akan tetap mendapatkan hasil yang sangat tinggi jika dia mau! wanita ini belajar seperti ini hanya karena perjanjian dia dengan ayahku untuk belajar dengan serius" Karin menghentikan kegiatannya dan menujuk hidung Alisya menggunakan folpen. "Perjanjian apa? " Tatap Rinto dan Yogi serius. "Ayahku membuat kesepakatan dengan ayah Alisya dengan Alisya bisa tetap berada di Indonesia jika dia bisa melindungi dirinya dan mendapatkan nilai yang bagus termasuk bisa bersekolah disini. dan tidak secara langsung kesepakatan itu juga berlajut antara Alisya kepada Ayahku yang mendukungnya karena semua itu adalah keinginan Alisya" Karin menjelaskan tidak kalah serius kepada keduanya sedang Alisya melanjutkan lagi kegiatannya. "Begitu yah, ada satu hal yang membuatku penasaran! kenapa Alisya selalu menyembunyikan keberadaanya?" Yogi bertanya dengan memelankan suaranya karena masih ada beberapa siswa/i yang belum pulang. "Itu karena Alisya sangat membenci Ayahnya dan itu juga untuk melindungi dirinya! " Karin menatap Alisya simpati tapi tidak dipedulikan oleh Alisya. "Siapa sebenarnya ayah Alisya? aku hanya mengetahui seorang Om yang pernah menculikku lalu karena berusaha mencelakai Alisya" Rinto tak sengaja membahas hal yang harusnya tidak di ketahui oleh Alisya. Mata Karin membelalak karena terkejut mendengar perkataan Rinto. Alisya membanting tangannya di atas meja kemudian menatap tajam ke arah Rinto. Melihat tatapan Alisya yang begitu bengis menusuk kedalam tulang Rinto membuat Yogi dan Karin sedikit bergetar. Mata Alisya penuh amarah dan kebencian yang mendalam seolah ia siap untuk membunuh siapapun yang mendekat. "Berati ayah tau kalau aku sekolah disini? " Pertanyaan Alisya bagai pedang yang siap menebas siapa saja tanpa ada pilihan jawaban yang bisa dikeluarkan oleh mereka. "Sya, Rinto tak mengalami masalah apapun. Dan dia baik-baik saja hingga kini" Karin mengingatkan Alisya dengan suara yang bergetar. "I iya sya, mereka memang menculik dan memukul juga menyiksa Rinto, tapi dia baik-baik saja" Karin sontak melemparkan buku ke arah Yogi untuk menhentikan kalimatnya tapi semua sudah terlambat dan alisya sudah mendengar semuanya. Alisya berdiri meninggalkan mereka semua setelah menendang keras kursi membuat beberapa siswa/i yang masih berada didalam ruangan juga sama takutnya dengan wajah tegang Karin, Rinto dan juga Yogi. Wajah Alisya berubah kelam saat melewati koridor sekolah dan keluar menuju parkiran sekolah. Karin dan lainnya berusaha mengejar untuk menghentikan Alisya tapi karena rasa takut mereka kaki mereka lemas beberapa saat sehingga mereka terlambat karena Alisya telah melaju cepat memakai motor Yogi. Chapter 29 - Mama "Kalian berdua kenapa bodoh sekali, bukankah aku sudah mengingatkan kalian untuk menyembunyikan kejadian itu dari Alisya? " Karin menendang kaki Rinto dan Yogi marah. "Maaf, aku lupa dan tidak sengaja mengatakannya! " Rinto meringis kesakitan. "Motor siapa yang digunakannya?" Karin tidak bisa melihat DT motor yang digunakan Alisya karena Ia sudah melesat jauh. "Jacket itu! Itu milikku! "Yogi memeriksa kunci yang ada di kantongnya sudah tidak ada. "Bagaimana dia mengambilnya?" Yogi ingat betul kalau tidak semudan itu mengambil kunci motor yang berada di saku samping celananya. "Sepertinya dia mengambilnya sewaktu kamu masih terkejut karena Alisya membanting kursinya!" Karin berbalik masuk kedalam sekolah. "Alisya, dia akan kemana? " Karin bertanya dengan gagap. "Tentu saja memberi pelajaran kepada seseorang! " Alisya memegang kepala nya karena sakit. Rinto mengambil handphonenya dan membuat panggilan namun kemudian langsung dihentikan oleh Karin. "Kau mencari mati??? mereka akan membunuhmu jika mereka tau Alisya telah mengetahui rencana mereka! Dan sekarang kamu memberitahu Alisya mengenai posisi mereka! padahal aku sudah yakin kalau kemungkinan besar Alisya juga belum mengetahui posisi mereka" Karin terduduk lemas. "Apa maksudmu Alisya bisa mengetahu posisi mereka?? " Rinto bertanya setengah panik. "Tadi pagi apakah kalian ingat Alisya berkata kalau kalian bertiga saja sudah cukup untuk jadi temannya? " Rinto dan Yogi saling berpandangan dan mengangguk pelan. "Itu berarti kalian berdua sudah masuk kedalam daftar orang yang harus di lindungnya" Karin berdiri sambil melanjutkan perkataanya. "Aku masih belum paham! " Yogi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Alat yang diberika oleh Adith memiliki tekhnologi yang sangat tinggi sehingga Alisya dengan mudah mengembangkannya dan meretasnya. Dengan begitu dia memasukkan pelacak dan penyadap kedalam Handphone kita bertiga!" Rinto membelalak mendengar penjelasan Karin. "Apakah Alisya sejenius itu? kenapa selama ini dia memakai alat yang diberikan ayahmu?" Yagi merasakan suara Rinto yang bertanya semakin bergetar antara takut sekaligus kagum dengan Alisya. "Ini semua karena adith! Aku juga masih menyelidiki hubungan keduanya, tapi Adith telah membangkitkan sisi terdalam Alisya! Selain itu kejeniusan Adith telah mempengaruhi Alisya. Alisya akan jauh berkembang sesuai dengan orang yang berada didekatnya! Selama ini Ayahku selalu menahan diri karena potensi yang dimiliki oleh Alisya terlalu berbahaya" Karin mendesah dengan berat mengingat semuanya. "Dan karena Adith yang jenius ini akhirnya mempengaruhi pola pikir dan membangkitkan jati diri alisya yang sebenarnya? " Rinto bergidik mengingat kejadian malam itu. "Benar!!! " mereka bertiga sudah kembali kedalam kelas yang kini telah kosong. "Apa yang akan dilakukan Alisya sekarang??? " Tanya Yogi begitu mereka selesai membereskan barang. "Aku,, aku juga tak tau" Karin tergagap memikirkan segala kemungkinan yang mungkin bisa terjadi. ***** Adith yang sedang berada dalam perjalanan pulang dari bandara karena perjalanan bisnis memacu mobilnya menuju kesekolah untuk sekedar melihat Alisya. Adith mulai merasakan kerinduan yang mendalam setiap kali ia tidak melihat Alisya. Sesaat sebelum masuk ke area sekolah Adith melihat seorang laki-laki mengendarai motor melesat laju melewati mobilnya. Adith merasa pernah melihat tatapan mata yang penuh amarah itu. Ia kemudian mengingat kejadian penembakan lalu dimana laki-laki itu juga muncul tepat dihadapannya dengan tatapan yang sama. "Tuan Ali... " Adith segera memutar balik mobilnya mengikuti arah pergi motor tersebut. Adith dengan susah payah mengejar si pengendara motor dan hampir kehilangannya. Motor itu tampak berhenti di salah satu gedung berlantai yang cukup asing baginya. Cukup lama ia menunggu didalam mobil memperhatikan si pemotor yang tampak belum keluar dari gedung tersebut Akhirnya Adith keluar dari mobilnya ingin memastika mengenai si pemilik motor ini. Sesaat ia keluar, si pemotor juga sudah keluar dari gedung tersebut dengan sedikit lecet yang tampak seperi baru habis melakukan perkelahian. Adith segera menyapa si pemilik motor tersebut. "Maaf,, saya Adith!" Dia menyodorkan tangannya ke si pemotor yang terdiam melihat Adith. Orang itu masih menggunakan helem ninja sehingga sulit baginya untuk melihat wajah sipemotor tersebut. "Maaf... saya hanya ingin bertanya! " Adith belum menyelesaikan kalimatnya si pemotor telah menariknya menaiki motornya. "Tuan Ali,,," beberapa orang segera mengejar si pemotor dengan sedikit tertatih-tatih. Adith yang kebingungan hanya pasrah mengikuti orang yang kini diketahuinya adalah Tuan Ali yang dengan kencang memacu motornya. Adith berpegang dan tanpa disadadarinya ia telah berada di depan rumahnya. "Bagaimana kau tau ini rumahku??? " Adith bertanya dengan wajah penuh kebingungan. Pemotor tersebut tidak menjawabnya dan hanya memutar balik motornya. "Hei setidaknya katakam namamu!!! " Teriak Adith meski si pemotor itu tetap melaju kencang. "Adith,,, siapa dia dan dimana mobilmu?" Ibu Adith datang menghampiri Adith karena mendengar bunyi motor yang tidak dikenalinya. "Ma, akhirnya aku menemukan kak Ali, Kak Ali ma... kak Ali yang pernah menyelamatkan aku dulu!!! " Adith gagap memeluk ibunya. "Ali??? kamu serius dith?" Ibu Adith memastikan perkataan anaknya. "Iya ma, mama ingatkan 10 tahun lalu sewaktu aku di culik dan berhasil lolos?? tapi kemudian dihentikan oleh anjing-anjing si penculik yang menggonggong di dalam lorong buntu tempatku bersembunyi lalu kemudian ada seorang anak kecil yang menyelamatkan aku! " Adith bercerita dengan tubuh yang gemetar. "Aku akhirnya bertemu dengannya ma, setelah 10 tahun aku terus mencarinya kemana-mana. aku sempat melupakannya tapi begitu mendengar nama itu aku jadi ingat kembali. Aku ingin menemukannya lagi ma! " Adith berkata dengan penuh air mata. "Kamu yakin dia anak itu? Anak 10 tahun lalu yang menyelamatkan kamu? " Ibu Adith memastikan perkataan Adith yang dirasa ibunya adalah hal yang belum pasti. "Iya ma, aku yakin itu pasti kak Ali. Aku tau dari aroma yang sama dengan aroma yang 10 tahun lalu! Aroma itu takkan pernah aku lupakan ma! " Suara Adith terdengar tegas berusaha meyakinkan ibunya yang masih bingung. "Tapi Dith, Ali itu... " Adith dengan cepat memotong kalimat ibunya masih dengan nada yang sopan namun terdengar keyakinan yang sangat mendalam. "Aku akan mencarinya dan membawanya kehadapan mama lagi, agar mama bisa percaua padaku! " Ibu Adith yang baru pertama kali mendengar Adith memanggilnya mama setelah sekian lama semenjak ia kehilangan Ali tak bisa berkata apa-apa lagi. "Dith, kamu manggil aku lagi mama?" tanya ibunya berkaca-kaca. "Bukankah selama ini aku selalu manggil mama dengan sebutan mama??? " Adith bertanya bingung. "Tidak Dith, kau selalu memanggilku Ibu! Dan itu terdengar seolah kau memberi jarak padaku. Tidak pernah begitu kental sebutan itu dibanding dengan kamu memanggilku mama" Ibunya menangis tersedu-sedu. Ia sangat bahagia mendengar Adith menaggilnya mama karena pertama kali ia memakai sebutan itu karena Ali lah yang mengajarkanya. Ali berkata bahwa mama adalah panggilan yang paling mulia yang bisa menghubungkan antara seorang anak dengan ibunya. Meski ibu memiliki arti yang sama namun bagi anak itu ibu adalah panggilan untuk ibu orang lain sedangkan mama untuk ibu sendiri. Begitulah pemikiran lembut seorang anak berusia 8 tahun namun membuat hati ibu Adith sangat tersentuh dan lebih menyukai panggilan mama dibandingkan ibu. "Mulai saat ini, bukan hanya ibu! tapi aku akan memanggil terus ibu dengan sebutan mama" Adith memeluk ibunya dengan erat. "Adithh... " Ibunya terisak - isak di dalam pelukan adith. Ia sangat merindukan pelukan anaknya ini. Hatinya luluh dalam tangis kebahagiaan. "Maafkan aku ma, maafkan aku membuat mama begitu lama untuk bisa mendengar aku menyebutmu mama lagi" Tiap paggilan yang dikeluarkan Adith dengan suara lembut membuat Air mata Ibunya tak berhenti mengalir. "Ada apa? kalian baik-baik saja?" Ayah Adith keluar karena mendengar tangisan istrinya. Adith mengusap air mata ibunya dan menuntunnya masuk kerumah diikuti ayahnya. "Ibumu kenapa Dith?? " Tanya Ayahnya masih bingung. "Nggak apa2 kok pah.. mama cuma bahagia saja! Aku naik ke atas yah mau hubungi paman Dimas! " Adith kemudian pamit setelah mencium tangan Ayahnya. "Bu, aku nggak salah dengarkan? dia manggil aku pah, itu artinya bapak kan bu?? iya kan bu? " Istrinya menjawab dengan anggukan lalu memeluk suaminya. Ayah Adith juga mengeluarkan air mata yang mengalir deras, bagi keduanya panggilan itu memiliki arti dan makna yang sangat dalam. 10 tahun sudah sejak panggilan itu tak pernah lagi terdengar hingga akhirnya suatu keajaibam telah terjadi sehingga malam itu mereka bisa mendengar kembali nama itu disebutkan oleh anak semata wayangnya yang sangat mereka sayangi. Chapter 30 - Iron Man "Halo, paman Dimas, paman bisa cari info mengenai nama Ali di gedung perkantoran di sentral senayan jakarta??? oh iya tolong sekalian mobil saya juga saya tinggalkan di depan gedung sekitar sana" nada Adith berbicara bukan bersikap sebagai atasan melainkan lembut dan sopan seperti seorang keluarga yang membuat pak Dimas tak bisa berkata apa-apa. "Ba... Baik tuan!!! " suara pak Dimas serak dan tercekat menahan tangis. Ia tak menyangka akan mendengar panggilan itu setelah sekian lama. "Saya akan berusaha sebaik mungkin! " Tambahnya lagi setelah menarik nafas dalam. "Terimakasih paman! " Adith menutup telponnya dan membanting tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk. "Jantungku berdetak sangat kencang! setelah sekian lama akhirnya aku menemukanmu kak.. aku tak menyangka bisa melihatmu, mencium aromamu. Aroma yang bisa membuatku melupakan masa itu. Aroma yang...." Adith tiba-tiba menghentikan kalimatnya. Bagaimana mungkin bisa ia menjabarkan seorang laki-laki se spesifik itu dan membuat jantungnya berdetak hebat. Sejak pertama kali ia bertemu dengan Ali 10 tahun yang lalu Adith sangat mengaguminya dan menganggapnya sebagai kakak. Namun seiring berjalannya waktu tak di sangkanya rasa itu berubah menjadi sesuatu yang menggelitik hatinya. Senyum Ali saat mengajaknya main, sikap lembut Ali yang selalu memperhatikannya, lalu lagu yang selalu mereka nyanyikan berdua dimana Ali menganggap Adith sebagai seorang Iron Man. "Aku ingin menjadi kekasihmu" Ucap Ali kepada Adith dengan suaranya yang cempreng. "Ali kita lagi main rumah-rumahan. Aku memang jadi Iron Mannya tapi kamu tidak bisa jadi kekasihku" Adith membantah dengan suara polos. "Tapi aku suka sama Iron Man!!! " Ali berdiri sambil memegang kedua pinggangnya menghadap Adith. "Aku hanya mau sama perempuan cantik" Adith berteriak keras. "Aku akan jadi perempuan cantik kalau besar dan akan menikahimu meskipun kau menolakku" Balas Ali dengan suara yang tak kalah keras. "Tapi kau kan laki-laki jadi takkan pernah bisa jadi perempuan" Adit juga tak mau kalah. "Eh,,, kenapa bertengkar sih??? " Ibu Adith datang menengahi. "Ini nih ma,, masa Adith ngomongin aku...." Suara alaram terdengar memecah ruangan membuat Adith terbangun dari tidurnya. "Aaahh... Sial,, gara-gara kalimat kak Ali sampai sekarang aku masih menganggap serius perkataan itu!" Adith mengusap wajahnya dengan kasar. "Tidak aku suka perempuan!!! ya benar... perempuan! " Adith meyakinkan dirinya dengan mengingat Alisya. Perempuan yang kini mulai menguasai separuh hatinya. Adith berlari dengan semangat sambil bergaya dengan keren di depan cermin sambil memasukkan tangannya di dalam saku celana tidurnya. "Aku sangat keren meski baru bangun tidur! " Pujinya pada diri sendiri. Dengan berlenggak lenggok ia berjalan menuju kamar mandi bersiap untuk ke sekolah. "Dithya, kamu sudah bangun? sarapa dulu..." Suara ibu Adith mengagetkan Adith yang sedang berlenggak lenggok membuatnya terpeleset. Bunyi gedubrak terdengar sangat besar membuat ibu Adith menerobos masuk. "Kamu nggak apa-apa Dith?? " Ibunya segera menuju kesumber suara. Begitu melihat Adith yang sedang menggelepar berusaha melepaskan tangannya dari saku celananya membuat ibu Adith bukannya khawatir tapi malah tertawa melihat anaknya yang tergeletak menutup kepalanya ditembok. "hahahahahaha,,, kamu ngapain sih?? aku pikir kamu terjatuh tapi melihat modelmu yang seperti ini aku tidak tahan" Ibunya dengan cepat mengeluarkan Handphonenya dan memotret model Adith yang tergeletak tapi dengan gaya keren yang cukup konyol karena tangannya yang masih berada di saku celananya sewaktu terjatuh. "Mama ngapain sih... bukannya dibantu malah di foto" Adith mengeluh kesal. "Model kamu menggelepar kayak ikan layur Dith! " Adith yang mengenakan kaos longgar berwarna putih yang kontras dengan tubuhnya yang halus putih bersinar membuat ibu Adith membayangkan Anaknya seperti ikan Layur. ***** "Alisya, kamu baik-baik saja?? " Rinto menyerbu melihat Alisya yang sudah duduk dikursinya. "Iya" jawabnya pendek. "Kamu kemana semalam??? " Karin yang baru masuk juga ikut menyerang Alisya. "Aku hanya memberi mereka sedikit pelajaran! " Alisya cuek dengan nada suara yang sedikit marah. "Rintoo,,, to.... Aku lihat motor aku di parkiran..." Yogi berlari masuk kedalam kelas tidak menyadari kalau Alisya sudah berada dalam kelas juga. "Sya,, maafin aku! aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun dari kamu!" Karin mendekati Alisya dan memasang wajah memelas. "Ini bukan salah Karin Sya, aku yang memintanya untuk menyembunyikannya karena itu bisa membuatku tampak tidak keren! " Rinto tersenyum kecut. "Ayolah Sya,, sudah cukup kamu tidak mengangkat telponku yang sudah sampai 100 kali... aku berusaha minta maaf Sya! tadi juga aku kerumah nenek menjemputmu sambil memakai motor! kamu tau kan aku takut naik motor tapi demi kamu aku beranikan diri loh" Karin menyodorkan kunci motor yang bergantungan doraemon. "Aku akan memaafkanmu jika menceritakan semua yang tidak aku ketahui" Alisya memandang tajam ke arah Karin. "Baiklah!!! aku akan menceritakan semuanya!" Karin menghela nafas pasrah. "Dimulai dari Rinto dan menghilangnya Miska yang aku tau semua menceritakannya bahwa itu berhubungan denganku" Tegas Alisya. Mata Karin seketika membelalak. Ia mungkin bisa menceritakan semuanya mengenai Rinto, tapi untuk masalah Miska, Yuyun dan Nely ini akan membuat Alisya shock. Karin tak yakin harus berkata apa tau bagaimana cara ia menyampaikannya. Ia sangat takut dengan kondisi mental Alisya terlebih lagi dia yang masih dalam keadaan emosi. Karin tau kalau alat yang diberikan oleh Adith telah banyak membatu kondisi Alisya selama ini tapi akan sangat berbahaya bagi Alisya jika mengetahui dan mengingat kejadian saat itu. Alisya akan berada dalam kondisi kritis. Tubuh Karin bergetar hebat tak tahu harus bagaimana. Ia hanya bisa terdiam hingga bel sekolah berbunyi. "Kamu masih punya kesempatan hingga pulang nanti. hari ini kita masih akan belajar hingga larut! " Alisya sengaja memberi waktu kepada Karin. Rinto dan Yogi memandang Karin dengan pandangan bingung. mereka tak mengerti kenapa butuh waktu lama bagi Karin hanya untuk menceritakan yang sebenarnya kepada Alisya. "Kamu baik-baik saja? " Rinto bertanya setengah berbisik. "Aku baik baik saja! " Karin mengangguk pelan. "Ada apa?? kenapa kamu begitu tertekan?" Yogi khawatir melihat wajah pucat Karin. "Alisya ada segalanya bagiku! Aku sangat menyayanginya dan aku juga tak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya!" Suara serak Karin membuat gusar Rinto dan Yogi. "Kamu sungguh sahabat yang baik Karin! " Yogi berusaha menenangkan Karin. "Apa yang kamu takutkan??" Rinto melembutkan suaranya. Karin melirik kearah tempat duduk Alisya memastikan keberadaanya. "Dia sedang ke perpustakaan mengambil buku tugas tambahannya!" Yogi mengingatkan. "Alisya memiliki trauma karena kejadian 10 tahun lalu ketika Alisya mengalami penculikan dan mendapatkan penyiksaan yang luar biasa! Si penculik adalah seorang psikopat yang memiliki gangguan seks dengan melecehkan anak-anak kecil laki-laki. Dan ketika mengetahui Alisya yang seorang perempuan membuag si psikopat itu menyiksa dan memukul Alisya yang masih berumur 8 tahun. Pukulan yang mendarat di pipi Alisya mengakibatkan ia mengalami gangguan mental Misophonia" terang Karin yang suaranya semakin serak. "Misophonia??? " Rinto mengerutkan keningnya. "Misophonia adalah gangguan mental dimana penderita membenci suara orang makan, menguap, mendengkur, batuk bahkan suaru seseorang bernafas. Untuk itulah Alisya sangat sensitif tehadap suara-suara bising" Tambah Karin dengan air mata yang mengalir. Rinto dan Yogi mulai paham dengan kondisi Alisya yang selama ini membuat mereka bingung namun tak berani bertanya mengenai hal tersebut. Rinto dan Yogi masih terdiam terpaku menyerap semua kalimat yang di lontarkan oleh Karin. "Aku takut jika Alisya mengetahui yang sebenarnya mengenai apa yang dilakukan Miska kepadaku dapat membuatnya semakin parah karena perbuatan Miska mirip seperti apa yang di alami Alisya. Terlebih lagi tempat Miska menyekapku adalah gudang yang juga tempat dimana Alisya di culik lalu" Karin menambahkan. Rinto dan Yogi tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mereka tak menyangka seorang wanita yang memiliki kodrat lemah lembut harus melewati begitu banyak penderitaan terlebih lagi harus dialamimya sewaktu ia masih sangat belia dan belum mengerti bagaimana kejamnya dunia. Anak sekecil itu harusnya masih penuh dengan tawa dan bermain sepuas hati tanpa memikirkan apapun. Hati Rinto dan Yogi sesak memikirkan posisi Alisya yang mana dikemudian hari ia juga harus kehilangan ibu yang sangat dicintainya. Chapter 31 - Takahashi Yamada "Loh??? Alisya dimana? " Adith yang muncul di kelas membuat Rinto, Yogi dan Karin terkejut. suasana menjadi sedikit canggung. "Emmm... dia sedang diperpustakaan tadi! " Setengah gagap Yogi menjawab kaku. "Loh ada apa? kenapa wajah Karin se lesu itu? dia habis nangis? " Tanpa basa-basi pertanyaan Adith membuat Karin dengan cepat mengatur emosinya. "Kenapa kamu mencari Alisya? " Tanya Karin setelah bisa menguasai diri. "Eh,, anu aku hanya datang berkunjung saja! " Adith jadi sedikit gugup menyembunyikan tujuannya. "Apakah aku harus memberitahu Adith mengenai Alisya... tapi aku tidak yakin apakah ini akan menjadi tindakan yang benar atau malah akan menyulitkan keduanya. Aku juga belum mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai apa yang membuat Alisya dan Adith seperti terhubung. Terlebih lagi jika memang kedunya saling terhubung, bukankah mereka akan mengenali satu sama lain?? " Karin larut dalam pikirannya sambil memandang Adith. "Karin,,, Karin... kamu baik-baik saja?" Adith memanggilnya beberapa kali. "Ah maaf,,, sepertinya aku sudah mulai mengantuk. sebaiknya aku pulang lebih awal hari ini." Karin mengangkat tasnya. "Ini baru jam 7 loh, apa kamu akan melewatkan pelajaran malamnya? " Rinto mencegah langkah Karin. "Malam ini aku izin yah? tolong katakan pada Alisya kepala ku sakit" pinta karin dengan senyum manis. "Hei,, kau tampaknya ingin melarikan diri dari Alisya... " Yogi mencegat Karin. "Te,, Tentu saja tidak, aku hanya... " Alisya tiba-tiba muncul di dalam kelas. "Karin,, aku mendapatkan pesan dari kakekku! " Alisya datang dengan wajah suram. "Kakek??? kakek yang mana? Karin tidak bisa memyerap perkataan Alisya karena terkejut dengan kedatangannya. Alisya hanya memasang wajah serius tanpa menjawab mengisyaratkan kalau Karin mengetahui siapa yang dimaksudnya tanpa menjelaskan lebih. "kakek Takahashi??? pe.. pesan apa sya" Wajah Karin tak kalah suramnya. Karin selalu takut tiap kali Alisya harus berhadapan dengan kakeknya. "Aku sudah mengirimnya ke HP kamu! " Alisya melirik ke arah tangan Karin yang memegang Handphone. Wajah Karin menjadi pucat pasih melihat bunyi pesan tersebut. Ia tak menyangka kakek Alisya kini menampakkan dirinya setelah sekian lama hanya mengamati Alisya dari kejauhan tanpa mendekati atau menghubungi Alisya sama sekali. "Karin ada apa? " Rinto menepuk pundak Karin yang membuat Karin terduduk lemas. Adith langsung mengambil Handphone di tangan Karin membuat Alisya kaget tidak menyadari kalau Adith berada disana. "Se, sejak kapan kamu disitu? " Alisya bertanya dengan tatapan tajam. Sewaktu Alisya masuk Adith berada di balik tembok sehingga Alisya tidak menyadari keberadaan Adith. "Segitu pentingnya kah temanmu sampai kau berani melawanku? Baik. Aku tak akan menyetuh teman-temanmu dengan satu syarat! Kau harus mendapatkan Nilai paling tinggi di ujianmu kali ini. Bukan juara 1 kelas, melainkan mencapai nilai tertinggi dari seluruh sekolah di Indonesia! Jika tidak, kau akan lihat apa yang akan terjadi." Adith membaca bunyi pesan di Handphone Karin. "Apa maksudnya pesan itu? " Rinto menatap Alisya meminta jawaban. "Siapa yang kamu maksud dengan Kakek Takahasi? " Adith juga melancarkan pertanyaannya. "Takahashi Yamada adalah kakek Alisya. Dia adalah orang yang sangat menyayangi Alisya tapi juga sangat protektif terhadap Alisya. Jika Ayahnya adalah seorang Kesatria Setan Putih, maka kakek Alisya adalah Iblis Bersayap malaikat. Begitulah julukan yang kami berikan pada keduanya karena perlakuan mereka terhadap Alisya" Karin menjelaskan dengan serius. "Jadi yang menculikku dan juga pria-pria berjas hitam sewaktu insiden penembakan tempo hari itu adalah orang-orang dari kakekmu? " Jelas Rinto memastikan. "Aku juga tak menyangka, aku pikir kalau ayahku lah yang mengirimkan mereka! tak kusangka kalau itu malah kakek" Alisya menjawab sambil terduduk lesu. Adith hanya menyimak percakapan mereka tanpa memberikan reaksi mengenai apa yang sedang didengarnya. "Lalu apa yang harus kita lakukan dengan ancaman, maksudku pesan itu?" Yogi bertanya dengan gugup. "Sepertinya hanya aku yang tak mengetahui apapun disini" Adith menaruh HP Karin menatap satu persatu orang-orag yang ada di hadapannya. Ia mulai tak sabar untuk bisa ikut masuk kedalam percakapan itu. "Maaf Adith, aku tak tau harus menjelaskannya dari mana, seperti nya ini bukan saat yang tepat untuk menjelaskan semuanya! " Alisya hanya melirik kearah Adith lalu menatap Karin. "Sepertinya aku tidak cukup sabar untuk bisa menunggu nanti Alisya,,," Adith setengah berbisik mendekati wajah Alisya yang terduduk dihadapannya. "Adith aku serius!!! " bentak Alisya menjauhkan wajah Adith dari pandangannya. perlakuan Adith selalu saja mampu membuat Alisya tak mampu mengendalikan emosinya. "Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Rinto ragu. "Jika hanya nilai tertinggi dikelas itu bukanlah apa-apa bagi Alisya, tapi untuk Se Indonesia, itu berati Alisya harus menyaingimu Adith" Karin menatap ke arah Adith. "Adith bukanlah lawan yang mudah dan tentu saja dia tidak mungkin akan mengalah hanya demi... " Yogi tak berani melanjutkan kalimatnya. "Aku bisa membantumu!" Adith memberikan pernyataan yang menantang merencakana sesuatu. "Apa maksudmu? " tanya Alisya kaget. "Aku akan membantumu mendapatkan nilai tertinggi di Indonesia, meski tentu saja itu berati kau harus menyaingi aku" Adith melipat tangannya sedikit memperlihatkan keangkuhannya. "Tapi tentu saja dengan syarat!!! " Adith kembali mendekatkan wajahnya dihadapan Alisya. "Alisya....." Karin menatap Alisya memberi tanda. "Apa syaratnya? " meski ragu Alisya tidak punya pilihan lain. Kakeknya bukanlah orang yang bisa diajak berkompromi. "Kau harus memberiku semua Informasi mengenai dirimu" Adith tersenyum nakal. Alisya paham betul bahwa Adith dari dulu sangat ingin mengetahui tentang dirinya, namun Alisya tidak yakin apakah setelah mengetahui mengenai kehidupan pribadi dirinya Adith masih akan menerima Alisya atau malah akan menjauhinya. Alisya merasakan sesak dihatinya yang perlahan-lahan mulai terbiasa dengan kehadiran Adith. Tapi cepat atau lambat adith akan mengetahui semuanya meski ia berusaha menyembunyikannya. "Baik itu tidak masalah!!! Aku setuju! " Ucap Alisya tegas. "Kalau begitu kita bisa mulai besok dirumahku! " Adith berlalu pergi. "Adith,,, bisakah aku ikut???" Karin menghentikan langkah Adith. Adith hanya memasang tampang bingung tidak menjawab Karin. "Aku ingin membuktikan kepada kakeknya, bahwa aku adalah teman yang layak bagi Alisya" Jelas Karin mantap. "Kami juga ikut!!! jika karin berkata seperti itu, maka hal itu juga berlaku bagi kami berdua" Rinto dan Yogi menyakinkan Adith. Melihat tatapan serius dari ketiganya membuat Adith tidak bisa menolak keyakinan yang sudah mereka layangkan kepadanya. Terlebih lagi dengan persaingan tingkat tinggi yang dari tahun ketahun selalu terjadi disekolah itu membuat Adith sedikit menaruh rasa kagum kepada ketiganya. "Tidak masalah!!! Besok memang hari minggu, tapi aku takkan membiarkan kalian untuk bisa bersantai-santai" Adith pergi setelah memberikan kedipan mata kepada Alisya. "Karin, setelah ujian selesai kamu juga harus mengatakan yang sebenanrya kepadaku! untuk saat ini sebaiknya kita serius untuk bisa meningkatkan nilai kita! " Alisya menatap lembut kepada Karin agar Karin tidak terlalu merasa terbebani akan perkataannya. "Baiklah, aku takkan menyembunyikan apapun lagi dan memceritakan semuanya kepadamu Sya! " Karin memegang tangan Alisya tersenyum manis. "Rinto, Yogi, maaf karena aku sudah melibatkan kalian dalam kekacauan ini" Alisya menundukkan pandangannya merasa bersalah. "Dari awal kamilah yang sudah melibatkan diri, selain itu aku sangat senang bisa menjadi teman atau sahabatmu Sya! " Rinto menenangkan Alisya. "Terlebih lagi aku semakin mengagumi mu Sya! " Tambah Yogi sambil tersenyum canggung. "Terimakasih, baru kali ini aku merasakan bagaimana rasanya kehidupan sekolah, berkumpul bersama teman, berinteraksi dengan banyak orang, kalian sudah banyak memberi warna padaku" Wajah Alisya memerah memancarkan kebahagiaan. "Ehemmm,,, teruatama Adith yang memberi warna pink bukan hanya di kehidupanmu tapi juga di hatimu kan??? " goda Karin mencubit pipi Alisya. "Ka, Karin apa-apa''an sih!!! " Alisya langsung mengunci leher Karin membuat Rinto dan Yogi tertawa lepas. "Ohhh,,, sepertinya menarik! " Adith yang ternayata dari tadi belum menghilang mendengar seluruh percakapan mereka. "Adith???? " Alisya berteriak keras. Adith dengan santainya pergi meninggalkan Alisya yang gusar menceramahi Karin karena perkataanya. Adith tak menyangka kalau ternayata Alisya juga merasakan hal yang sama. Saat mencari Alisya, Adith memang ingin memastikan perasaanya kalau ia juga memiliki perasaan kepada Alisya yang seorang perempuan. Sedang untuk Ali, mungkin hanya karena rasa kagum yang berlebihan saja. "Aku yakin kak Ali juga akan melupakan perkataanya dulu! Itukan sewaktu kak Ali masih kecil, sekarang pasti semua sudah berbeda! ya pasti berbeda" Adith bergumam meyakinkan dirinya sendiri. Chapter 32 - Hei,, Matikan Lampunya Alisya tak bisa menyembunyikan rasa malunya karena Adith yang mendengar semua perkataan Karin. Ia juga tak menyangka kalau Adith dengan santainya berjalan pergi sambil tersenyum penuh arti meninggalkan mereka tanpa berkomentar apapun. "Kau.... " Alisya menatap tajam ke arah Karin yang cekikikan melihat wajah merah padam Alisya yang malu. "Maaf aku tak menyangka dia masih ada disana! " Karin menjawab ditengah cekikannya yang ia tahan. Pada akhirnya tidak satupun dari mereka yang meninggalkan jam pelajaran malam itu. mereka semakin terpacu untuk belajar dengan lebih serius hingga tak sadar jam sudah menunjukkan jam 10 malam. "Beberapa malam ini kamu juga pulang dengan berjalan kaki??? " Rinto bertanya dengan tampang takjub. "Meskipun malam, jalanan tidak terlalu sunyi kok" mereka bertiga melewati koridor yang cahanya tidak terlalu terang. "Sya, cuma perasaanku saja atau memang tatapan siswa lain padamu sedikit aneh? " Karin berkata setengah berbisik ke telinga Alisya. "Aku juga merasakannya. mereka seperti menatap Alisya dengan penuh kebencian" Tambah Yogi. "Entahlah, dari awal tatapan mereka memang sudah seperti itu" Alisya tidak terlalu memperdulikan mereka dan hanya berjalan dengan santainya. Ketiganya menawarkan tumpangan kepada Alisya namun tetap ditolaknya dengan alasan akan singgah di salah satu swalayan terdekat di jalan pulang dan juga tak ingin merepotkan ketiganya. Karena malam itu adalah malam minggu, jalanan cukup ramai sehingga mereka tidak begitu mengkhawatirkan Alisya. Setelah mengantarkan Karin menuju jemputannya, Alisya yang masih berada di pintu gerbang sekolah akan beranjak pergi namun mobil sport mewah dengan bagian atap yang terbuka berhenti tepat dihadapan Alisya menyilaukan mata Alisya dengan lampu mobilnya. "Hei matikan lampunya" Suara Alisya cukup tegas. "Hai Alisya,,, " suara seorang cowok yang terdengar menggoda. Setelah mengumpulkan cukup sinar dimatanya, perlahan-lahan Alisya bisa melihat siapa mereka. Ada 3 orang cowok dimobil itu. "Kau benar-benar berjalan kaki pulang yah??? bagaimana kalau kamu ikut kami saja! " ajak seorang cowok di kursi belakang. "Tidak terimakasih! " jawabnya ketus dan berlalu pergi. "Tunggu dulu" cowo yang memegang setir menghentikan Alisya dengan memegang tangan Alisya. "Malam minggu berbahaya untuk seorang perempuan!" ucapnya berdiri keluar dari mobilnya. "Tidak lebih berbahaya dari kalian bertiga!" Tegas Alisya. "hahahahaha,,, hei kami hanya ingin mengantarmu saja Alisya! kami tidak bermaksud jahat padamu" seorang dari kursi depan ikut berbicara. "Aku tak mempercayai kalian! " Alisya berusaha untuk tetap sopan melepas genggaman cowok itu. "Kau tidak tau siapa aku?? " tanyanya setelah genggamannya dilepas. "Laki-laki?" jawab Alisya ketus. "Aku tidak menanyakan jenis kelaminku! " terang si cowok mulai kesal karena dua orang temannya yang terbahak-bahak mendengar jawabanya nyeleneh Alisya yang memasang wajah yakin. "Aku tau! cuma memastikan" Kedua cowok itu semakin tak bisa mengendalikan tawa mereka. "Sepertinya kau terlihat cantik dibanding ganteng" tawa keduanya semakin pecah. "Maaf aku belum memperkenalkan diriku dengan baik, namaku Zein Abraham Wijaya!" sembari mengulurkan tangannya dengan sopan. "Aku Anggara Lesmana! " cowok yang duduk di kursi belakang tersenyum manis. "Dan aku Riyan Tri Leginos. kita pernah bertemu di depan kelas MIA 1 sewaktu kamu ke kompleks dan sewaktu aku menjadi Partner Karin" Senyumnya sopan. Alisya baru sadar setelah di ingatkan oleh Riyan, bagaimana mungkin bisa dia melupakan Zein dan Riyan yang sering ditemuinya. Untuk Anggara mungkin ini pertama kali mereka bertemu. "Maaf, aku baru ingat! " ia tetap memasang wajah datarnya. "Kau benar-benar unik yah? untuk wanita lain mereka takkan bisa menatap tajam sepertimu ke arah kami karena takut atapun merasa malu karena status dan wajah tampan kami" Anggara mencondongkan tubuhnya mendekati wajah Alisya. "Aku tidak peduli untuk hal seperti itu" Tegas Alisya. "Maafkan kami jika membuatmu merasa tidak nyaman. kami hanya ingin berniat baik mengantarmu" Zein dengan lembut meminta kepada Alisya. "Ayolah, jalanan mungkin masih ramai. tapi akhir-akhir ini banyak begal yang berkeliaran, tidak baik bagimu berjalan sendiri" Riyan menambahkan sambil bergeser ke arah kursi belakang bersama Anggara. Alisya bisa merasakan ketulusan dari suara keduanya. Namun ia tidak merasa yakin untuk bisa berada di atas mobil terbuka seperti itu. meski ia tau kalau mobil yang terbuka atapnya tidak akan begitu membuatnya mabuk karena terpapar angin, Alisya tetap tak yakin jika saat ini aman baginya untuk bersama mereka terlebih karena ancaman dari kakeknya. "Terimakasih banyak, tapi aku benar-benar tidak bisa naik mobil, aku mabuk darat yang cukup akut" Alisya tersenyum ikhlas kepada ketiganya dengan mengucirkan rambutnya kebelakang telinganya. Gerakan manis Alisya yang sederhana membuat ketiganya terpesona. Alisya memiliki wajah Asli Indonesia yang sangat Oriental. Sederhana namun begitu mempesona membuat siapapun yang melihat wajah Alisya takkan pernah bosan untuk memadangnya. Apalagi senyum manis Alisya yang memperlihatkan deretan gigi datar berwarna putih serta kembagan pipinya yang naik karena senyumnya membuat ketiganya memuji Alisya dalam hati. "Ja Jadi, selama ini kamu berjalan kaki karena tidak bisa naik kendaraan? " tanya Riyan setelah terbatuk jaim. "Bahkan jika itu mobil terbuka seperti ini atau motor sekalipun?? " Anggara setengah terkejut. "Apa itu yang menyebabkan kamu selalu berjalan kaki? " Zein takjub antara merasa aneh atau tak percaya terhadap Alisya. "Begitulah.. motion sicknessku lumayan parah! jadi maaf aku harus pergi sekarang!" Alisya berlalu pergi setelah menolak dengan sopan. Ketiganya hanya saling pandang satu sama lain menyerap kalimat Alisya yang tergolong aneh untuk abad milenial masa kini yang segala sesuatunya sudah serba tekhnologi tinggi. "Apa dia dari jaman purba??? " Riyan bertnya dengan wajah bingung. "Aku bahkan tak pernah melihatnya memegang Handphone!" Anggara menggeleng takjub. "Tak kusangka masih ada wanita seperti itu di dunia ini, itulah kenpa dia tidak begitu memperdulika status ataupun wajah orang lain" Zein tersenyum semakin mengagumi Alisya. Ketiganya berlalu pergi dengan pikiran masing-masing. ***** "Assalamualaikum tante, Adithnya ada???" Karin memberi salam begitu sampai dirumah Adith. "Oh Iya non, tuan Adith ada di dalam sudah siap bareng teman lainnya" Bibi Emi pembantu Adith yang sudah bekerja selama 20 tahun dirumah mereka membuka pintu. "Makasih ya tante!" Karin segera masuk begitu dipersilahkan. Bibi emi tetap diam bingung dengan sapaan Karin yang mungkin sebagian orang malah akan memanggilnya Bi sebagai pertanda bahwa dia adalah seorang pembantu. Namun panggilan Karin membuat bibi Emi merasa sangat terharu. "Permisi tante, saya juga boleh masuk?" Suara lembut Alisya mengagetkan bibi Emi. "oh iya non, maaf bibi nggak liat! " Bibi Emi terkejut namun tidak segera mempersilahkan Alisya masuk. Bibi Emi ingat betul wajah cantik ini, ia dengan mudah bisa mengenali Alisya. Tapi karena kurang yakin bibi Emi segera menutup pintu mencari ibu Adith. "Alisya ayo, kamu udah pernah kesini kan?" Karin menarik alisya yang tampak malu mengingat perkataan Karin yang didengar oleh Adith semalam. "Salah siapa aku jadi canggung kayak gini?" Alisya menatap tajam Karin dengan suara ketus. "Iya, iya maaf deh! Ya sudah, kita masuk yuk Sya, ingat kakek Takahashi kan? " Karin menggoda Alisya dengan memasang nama kakeknya. "Sial!!! kenapa juga aku harus menurutimu memakai pakaian ini sih! " Alisya kurang nyaman dengan pakaian yang ia kenakan. "Kamu cantik kok! " Karin menarik Alisya masuk menuju ruang tengah Adith dan disana sudah terdapat Rinto dan Yogi yang tengah duduk merapikan buku-buku bawaan mereka. "Udah lama?" Karin langsung duduk mendekati Rinto dan Yogi. Keduanya menoleh menatap Karin yang tampak cantik dengan gaya santai namun cukup Stylish dengan baju Kaos oblong putih dibalut blazer hitam dan celana pendek selutut yang tidak terlalu seksi. "Adith mana? " Tanya Karin kemudian karena kedunya terdiam. Karin mengikuti arah tatapan mereka yang sudah terpaku diam melihat ke arah Alisya. "Cantikkan??? " Puji Karin bangga. suara karin membuag kedunya jadi salah tingkah setelah melihat Alisya. Alisya tidak langsung duduk dikursi, ia hanya berjalan menuju jendela rumah Adith yang cukup besar untuk mendapatkan sedikit hembusan angin menghilangkan kegugupannya. Chapter 33 - Nama Kamu Siapa? Adith turun membawa beberapa buku melihat Alisya yang berdiri dekat jendela yang memberi sinar penuh kewajah Alisya yang rambutnya bergelombang mengayun tertiup oleh angin. Baju kemeja putih ia masukkan kedalam rok hitam dibawah lutunya yang cukup lebar membuat Alisya tampak cantik dan Feminim. Adith tak menyangka kalau Alisya bisa berpakaian se cantik itu karena ia terbiasa dengan kesan kuat kepribadian Alisya. "Ehem,, kita ke taman belakang saja yah... biar belajarnya lebib nyaman! " ajak Adith setelah terpaku cukup lama menatap Alisya. Karin yang sedari tadi melihat Adith yang menatap Alisya tersenyum - senyum sendiri melihat tingkah keduanya. Alisya dengan cepat memasang wajah seirusnya setelah mendengat suara Adith. Selama 2 jam Adith memberikan mereka beberapa materi dan juga soal yang harus mereka kerjakan untuk bisa melihat sejauh mana kemampuan mereka dalam memahami materi, dengan begitu ia bisa memberikan metode pembelajaran yang tepat. "Makan dulu yuk, biar bisa lebih fokus! " Ibu Adith membawakan beberapa buah dan minuman dingin. "Uwaaaahhhhh,,, terimakasih tante!" Alisya langsung mengambil Jus Mangga dengan wajah sumringah. "Hei itu punyaku! " Adith berusaha mengambil Jusnya namun sudah di sedot habis oleh Alisya. Ibu Adith tersenyum melihat tingkah keduanya. "Adith kejam tante! " Karin juga mengambil Jus Jeruk secepat kilat. "Terimakasih banyak tante! " Rinto dan Yogi mengambil beberapa buah. "Nama kamu siapa? " Ibu Adith menatap Alisya lembut. "Ah,,, nama saya Alisya tante! " Alisya langsung berdiri memperkenalkan diri lalu mengambil tangan ibu Adith dan menciumnya dengan sopan. "Kalau saya Karin tante!" Karin juga mengambil tangan ibu Adith yang di ikuti oleh Rinto dan Yogi. "Alisya tidak suka jus Jeruk yah? " tanya Ibu Adith yang membuat Alisya gugup. "I, Iya tante... saya nggak suka soalnya agak kecut!" Senyum Alisnya malu. "Kalau gitu kamu bisa minta kapan saja kamu mau! " Ibu Adith membelai rambut Alisya membuat Alisya terharu. "Terimakasih tante! " Suaranya tercekat menahan emosinya. " Ya sudah, kalian boleh lanjut! Tante pergi dulu yah" Ibu Adith berlalu pergi setelah mengambil beberapa gelas kosong untuk di isi kembali. "Bagaimana ma? " Ayah Adith segera menyerang Ibu Adith karena penasaran. "Dia beneran Ali pa,,, Ali anak kecil dulu yang menyelamatkan Adith! " Nada suara ibu Adith tedengar sedih. "Terus kenapa sikapnya biasa saja? " Ayah Adith bingung melihat interaksi mereka. "Aku juga tidak tau, dia seperti tidak mengenaliku! Suara ibu Adith tercekat karena berusaha menahan tangis. "Apa dia lupa akan rumah ini? lupa pada kita dan lupa pada Adith? " Ayah Adith memeluk Ibu Adith untuk menenangkan nya. "Aku rasa dia punya alasan tertentu karena lupa pada kita Pa! Tapi ibu akan memastika sekali lagi." Ibu Adith segera bangkit untuk mengisi beberapa gelas kosong tadi. Setelah beberapa saat kemudian ia kembali dengan Jus mangganya yang cukup banyak untuk bisa di minum oleh semuanya. "Istrahat dulu, kalian udah belajar selama 5 jam loh! " Ibu Adith datang ditemani oleh Ayah Adith. "Oh Iya om, Tante terimakasih banyak! Maaf merepotkan" Karin segera mengikuti langkah Alisya yang sigap mengambil barang bawaam keduanya. "Kamu Alisya? " Tanya Ayah Adith. "Iya om! " senyum Alisya sopan. "Sekelas sama Adith? " tanya Ayah Adith lagi. "Nggak Om, kami semua dari kelas MIA 2" jelas Alisya. "Karin tinggal dimana? " tanya ibu Adith lembut. "Aku di kemang tante! " Jawab Karin sopan. "Rinto dimana?" tanya Ayah Adith. "Aku dikemayoran om! " Rinto gugup tak menyangka berbicara dengan santai bersama orang sehebat Ayah Adith. Ia tak menyangka kalau kedunya begitu ramah. "Kalau Alisya? " Tanya Ibu Adith dengan nada penuh kasih. "Aku di cempaka putih tante" Alisa menundukkan kepala nya tak berani menatap mata Ibu Adith yang penuh kasih. "Sama orang tua disana? " Ibu Adith mengingat betul kalau Alisya atau yang dipikir ibu Adith sebagai Ali tidak tinggal disana. "Nggak tante, saya tinggal sama nenek! Ibu saya meninggal 10 tahun yang lalu dan Ayah saya sedang diluar menjalankan tugas tante" suara Alisya terdengar sedih. "Emmm... Yogi kok nggak ditanya tante? " Karin sengaja mengalihkan pembicaraan. Ia tau kalau sahabatnya akan sangat sedih setiap kali mengingat ibunya. "Loh,,, Yogi kan orang rumah! buat apa ditanya? " Ayah Adith tertawa pelan. "Maksudnya tante? " Tanya karin bingung. "Yogi itu anaknya paman Dimas! " jawab Adith cuek. "Apa???" Karin dan Rinto terkejut. Alisya juga balik menatap tajam ke arah Yogi tak menyangka. "Kok aku tidak tau? padahal aku sering main kerumahmu. " Rinto membelalak ke arah Yogi. "Kamu nggak pernah tanya, lagian ayahkukan jarang dirumah makanya nggak ketemu! " Yogi tertawa canggung. "Berarti kalian sudah saling mengenal sejak kecil???" tanya Karing bingung dengan interaksi antara Adith dan Yogi. "Dulu mereka sangat akrab, bahkan suka tidur bareng. mereka bertiga sering bertengkar hebat tapi setelah salah satu dari mereka menghilang, semuanya jadi berubah" terang Ibu Adith. "Bertiga??? sama siapa tante? " tanya Karin setengah heran. "Dulu ada anak bernama Ali yang suka bermain bersama Adith dan Yogi, Ali adalah anak yang menyelamatkan Adith dari 5 anjing yang menggong ke arah Adith sewaktu Adith melarikan diri dari seorang penculik" Tambah Ayah Adith. Mata Karin membelalak tak percaya. Ia tak menyangka misteri yang selama ini berusaha ia cari telah terpecahkan. Dulu Alisya pernah berkata bahwa ia telah menorang seorang anak bernama Dithya dari 5 ekor anjing. Tapi ia tak menyangka kalau anak yang selama ini dicarinya itu adalah Adith. "Tapi anak itu menghilang 10 tahun yang lalu. Aku hanya pernah bertemu dengan Ibunya sekali karena Ali yang sering bermain bersama Adith. Yang lucu adalah sampai sekarang Adith masih salah paham" Ibu Adith tertawa licik melihat ke arah Adith. Karin melirik Alisya yang mengeluarkan keringat dingin. Karin merasakan kondisi Alisya yang sudah kurang baik dilihat dari jam penunjuk di tangannya yang mulai berdetik cepat. "Kamu nggak apa-apa Sya?" Karin khawatir Alisya memburuk. "Aku ingin ke toilet sebentar... " Alisya memijit kepala nya. "Aku antar ke dalam" Adith segera bangkit di ikuti oleh Alisya yang berdiri lemas. Karin yang memgkhawatirkan Alisya juga berdiri dengan cepat mengikuti langkah keduanya. Tetapi begitu mendengar bisikan Ibu Adith, Karin menghentikan langkahnya. "Aku yakin dia Ali pa? tapi sepertinya dia tidak mengingat apapun!" Suara ibu Adith lirih tak kuasa membendung kesedihannya. "Emmm... maaf tante, bisa tante jelaskan mengenai pertemuan Adith dan Ali? Aku penasaran mendengar cerita tante tadi." Karin duduk menghadap Ibu Adith. "Iya, aku juga dulu hanya pernah bertemu Ali beberapa saat saja jadi tidak begitu mengenalinya" Tambah Yogi. Sejak awal pertemuan Yogi dan Alisya, Yogi sudah menyelidiki lebih dalam tapi tak menemukan informasi apapun. "10 tahun yang lalu Adith mengalami penculikan dimana si penculik ini adalah psikopat yang tidak hanya melecehkan korbannya namun juga membunuh dan mengambil organ-organ dalamnya. Adith bisa meloloskan diri karena ia mengelabui si penculik dengan mengaktifkan penjawab panggilan otomatis yang berada di jam tangan yang ia jatuhkan sebelumnya. Penculik itu panik dan mencari keberadaan jam tangan Adith. Aku yang sebelumnya panik tidak mengingat kalau Adith memakai jam tangan yang bisa melacak IP ketika Handphone yang berbentuk jam tangan itu menjawab panggilan menelponnya di pagi hari" Ibu Adith mengambil nafas mengingat kesalahan kecil yang bisa mengambil nyawa anaknya tersebut. "Berarti sehari setelah Adith di culik? " Karin tidak bisa membayangkan bagaimana kuatnya mental Adith saat itu. "Iya benar, berkat itu karena si penculik yang bersiap melangsungkan aksinya sudah melepas penutup mata dan kaki Adith sehingga Adith bisa melarikan diri namun dikejar oleh 5 ekor anjing miliknya. Saat itu di Gang kecil Ali muncul membawa kayu balok untuk mengusir kumpulan Anjing itu sehingga mereka terselamatkan karena pengawal Ali yang mendengar teriakan Ali langsung sigap mengusir anjing-anjing itu. Berkat jam tangan Adith dan keberania Ali kami bisa menemukan gudang tempat persembunyian Si penculik yang telah kabur. " Lanjut Ibu Adith. "Tapi setelah itu, keduanya terus menangis ketakutan dan Ali lah yang paling besar menangis meraung-raung sambil memegang tangan Adith. " Ayah Adith tertawa mengingat hal tersebut. "Tante, Alisya... " Karin yang ingin berkata terhenti karena kedatangan Adith dan Alisya. Karin bermaksud untuk menceritakan informasi mengena Alisya agar bisa mendapatkan info lebib tapi tertahan oleh kedatangan keduanya. Chapter 34 - Aku punya Motor Kok "Kamu baik-baik saja Sya???" Adith curiga melihat gaya jalan Alisya yang tak karuan keluar dari toilet. "Aku sedikit pusing Dith, tapi sepertinya nggak apa-apa! " Jawab Alisya lembut. "Ya sudah hari ini sampai disini saja dulu, aku akan memberikan beberapa materi yang bisa kamu pelajari saat jam malam" jelas Adith membiarkan Alisya menenangkan dirinya sebelum berjalan. "Terimakasih Dith! " suara Alisya lirih. Adith mendengar bunyi jam tangan Alisya yang makin cepat membuatnya khawatir terhadap kondisi Aliaya. Dengan lembut ia menaikkan rambut Alisya dan melingkarkan kebelakang telinganya lalu mengatur alat yang berada ditelinga Alisya. "Aku akan atur agar kamu merasa nyaman!" Jelas Adith sambil terus mengatur Alat yang berada di kedua telinga Alisya. Karena terlalu lemas, Alisya tak punya kekuatan untuk melawan sehingga membiarkan Adith begitu saja. Wajah Adith yang tampak serius mengatur alat pendengar ditelinganya membuat Alisya terpesona dengan ketampanan Adith. Saat Adith mendekatkan wajahnya dan Nafasnya dengan lembut meniup Rambut Alisya, jantung Alisya berdetak dengan kencang membuat kepala nya semakin berdenyut sakit dan jam tangannya berbunyi kencang. "kamu beneran nggak kenapa-napa??" Tanya Adith kaget melihat wajah Alisya yang memerah. "Aku baik-baik saja! " jawab Alisya dengan kesal menjauhkan tubuhnya. "Tapi wajah kamu merah begitu. kamu demam" Adith dengan cepat menaikkan tangannya di kepala Alisya untuk memeriksa suhu tubuh Alisya. Alisya tidak menjawab Adith dan langsung pergi tanpa memperdulikan Adith. Mereka berdua berjalan menuju taman belakang rumah Adith dengan posisi Adith sedikit di belakang Alisya karena menghawatirkan kondisinya. Adith takut kalau sewaktu-waktu Alisya akan pingsan. "Tante,,, saya pamit pulang dulu yah? sepertinya saya kurang enak badan! " Alisya pamit menyalami orang tua Adith. "Kamu sakit? " tanya AYAH Adith. "Kalau gitu kamu biar istrahat aja dikamar! " Pinta Ibu Adith. "Nggak apa-apa kok tante! aku cumab pusing saja" Jawab Alisya sopan "Aku antar Sya.."jawab Adith mengkhawatirkan Alisya. "Nggakkk!!! " tegas Alisya. "Kondisimu mengkhawatirkan tau! " suara Adith tak kalah tegas. "Tapi aku nggak bisa naik mobil Dith! " Suara Alisya lemah. "Aku punya motor kok!" terang Adith. "Iya Sya, kamu sama Adith saja. Biar motor aku dibawa sama Yogi" Pinta Karin lembut. "Kami pamit dulu yah tante, Om" setelah menyalami keduanya mereka segera pamit pulang. "Maaf tante, lain kali lagi kami main kesini" Karin berpamit sopan. "Sering - sering datang yah! Soalnya tante kesepian dirumah sendirian" Pinta ibu Adith. "Iya tante,, tentu saja" ucap Rinto Karin pulang diantar oleh Yogi menggunakan motor Karin sedangkan Rinto mengikuti keduanya sehingga Yogi bisa balik bersamanya nanti. "Sya, kalau kamu duduk dengan posisi seperti itu kamu bisa jatuh! " Adith mengingatkan Alisya yang duduk terlalu menjauh dari tubuhnya terlebih lagi karena tinggi motor Ducati yang di pakai Adith. "Aku nggak papa kok Dith, cuman pusing dikit saja". Alisya menepuk pundak kiri Adith dengan sedikit mendekat agar suaranya bisa terdengar oleh Adith. Moment yang sangat pas dengan cepat Adith mengambil tangan Alisya dan melingkarkannya di tubuhnya dengan begitu Adith bisa menjaga Alisya untuk tidak jatuh. "Kalau begitu biarkan aku memegang tanganmu agar kau tidak terjatuh. Setidaknya dengan begini aku tidak khawatir" Tubuh Alisya yang kini cukup dekat dengan Adith membuat Alisya sulit untuk bergerak bebas. Untuk menjaga jarak tubuhnya Alisya menyenderkan kepalanya dibelakang Adith. Adith sengaja mengantung helem Alisya agar dia bisa lebih nyaman karena kepalanya yang sakit dan hanya dia saja yang mengenakan helem Standar berwarna hitam. "Hush hushhh, pergi pergi... pergi pergi.. " Ali mengusir kawanan Anjing yang mengonggong ke arah anak kecil yang terluka di dalam Gang. "Mengapa kamu disini? " Tanya anak itu. "Aku melihatmu berlari dikejar anjing-anjing ini jadi mengikutimu kesini" Ucap Ali gemetar ketakutan. "Bodoh!!! kamu bisa dalam bahaya. " Anak itu memaki Ali. "Kamu bisa berdiri??? " Ali bertanya lagi setelah berhasil sedikit menjauhkan anjing-anjing itu namun mereka masih menatap tajam keduaanya. "Aku,, aku terlalu takut jadi tidak bisa berdiri! selain itu kakiku sepertinya terkilir" Jawabnya lemas. "Lihat aku jika kamu takut" Ali mengambil tangan anak itu dan membantunya berdiri. Anak itu berusaha bediri meski ia tau bahwa anak yang ada didepannya juga merasakan ketakutan yang sama besarnya. Namun ia kagum karena anak itu bisa menyembunyikan ketakutannya meski suaranya terdengar bergetar karena rasa takut. "Tuan Ali,,, tuan baik-baik saja? " Sekumpulan pria berjas hitam dengan cepat mengusir para Anjing dan menyelamatkan mereka berdua. "Paman.... hikk,,, paman kenapa lama sekali??? " Ali langsung menangis begitu melihat Pria berjas hitam tersebut. Melihat Ali yang menangis, anak disampingnyapun ikut menangis hebat. Ia merasa kalau posisinya sudah cukup aman sekarang. Beberapa saat kemudian orang tua anak itu datang dan langsung memeluk anak yang meringis sakit karena terluka pada bagian kakinya. Ali hanya terdiam sesaat lalu kemudian menagis lagi tak kalah hebat. "Ahhh...." Alisya tersadar. "Kamu hampir terjatuh!" Adith berusaha menahan tubuh Alisya yang kini kedua tangannya telah melingkar sempurna di tubuh Adith. Suara Adith membangunkan Alisya dari tidurnya. "Sudah berapa lama aku tidur? " Alisya segera melepaskan tangannya dan kaget karena hari sudah mulai gelap. Ia sudah berada di depan pintu rumah neneknya. "Sekitar 3 jam! " Jawab Adith sambil membenarkan dan merenggangkan posisi tubuhnya yang pegal. "3 jam??? " Alisya turun dari motor Adith dengan terkejut. Adith hanya mengangguk pelan. "Kamu kenapa nggak bangunin aku? aku kok nggak sadar! " Alisya mengomel jengkel. "Aku lihat kamu tidurnya nyenyak jadi aku nggak berani mengganggumu! kepalamu gimana masih sakit nggak? " tanya Adith kemudian. "Kamu bodoh ya?? kenapa masih mengkhawatirkan aku? " Alisya memaki dengan kesal. "Apa sih bukan bilang terimakasih juga!" suara Adith ketus. "Ya,, itu karena... " Adith langsung memotong kalimat Alisya. "Karena hari ini kamu cantik sekali jadi aku nggak tega! " Adith mencodongkan wajahnya ke wajah Alisya. Ia Gemas melihat tingkah Alisya yang marah-marah dihadapannya. "hah kau.... " perkataan Alisya terhenti karena bibir Adith telah menyentuh dahinya dengan Hangat dan tangannya yang lembut memegang pipi Alisya. "Aku balik yah! Titi salam buat nenek maaf nggak masuk! " Adith melesat pergi meninggalkan Alisya yang terdiam membatu. Alisya terdiam beberapa saat dihadapan pintu gerbang rumah neneknya yang memancarkan cahaya temaram menelaah apa yang baru saja terjadi. Mukanya memerah padam lalu berlari masuk kedalam rumah. "Wahhhh,,, romantis banget yah? " Nenek Alisya langsung menggoda Alisya yang baru masuk. "Nenek dari tadi liatin??? kok malah dibiarin sih? " Alisya kesal dan merengek. "Mau lihat sekalian nguji itu anak! nggak nyangka juga kalau dia bisa bertahan dari kepalamu yang besar itu selama 3 jam" neneknya berlalu pergi. "Nenek apa-apan sih!!! nenek kok tega sih sama Alisya" Alisya mengikuti neneknya dari belakang. "hmmmm... sebenarnya Nenek juga mau membangunkan kamu, tapi begitu melihat wajahmu yang begitu nyenyak ya sudah.... nenek biarin deh" Neneknya membuka tudung makanan di atas meja. mengajak Alisya untuk makan malam. "Tapi kan kasian Adith nek, masa iya dia bertahan sampai 3 jam sih" Alisya duduk dihadapan neneknya. "Soalnya sudah lama nenek melihat kamu bisa tidur begitu nyenyak sejak kepergian ibu kamu Alisya" Nada suara neneknya lembut menenangkan hati Alisya. "Maaf yah nek, sudah buat nenek khawatir selama ini! " Alisya tertunduk sedih. "Nggak Sya, ini semua karena nenek sayang sama kamu. "Nenek Alisya berdiri memeluk kepala Alisya dan membelai lembut rambut Alisya. Mereka larut dalam haru sendu dan makan dalam suasana diam. Alisya tidak terlalu bersemangat untuk makan meski kelezatan masakan neneknya adalah penarik besar nafsu makannya. Alisya terbaring setelah sebelumnya ia mandi menggunakan air panas untuk menyegatkan tubuhnya. Pikirannya larut dalam menelaah mimpinya tadi, ia tidak mengingat siapa dan bagimana bisa ia bertemu dengan anak itu. Mimpi yang sama terus berulang dan kali ini semakin nyata. Pikirannya terus melayang hingga ia tak sadarkan diri dan tertidur dalam lelap. Chapter 35 - Pemimpin Upacara Terbangun dari tidurnya Alisya kaget melihat jam yang hampir menunjukkan pukul 6.00 Tanpa basa basi lagi ia melompat dari atas kasurnya dan bersiap untuk segera mandi. Setelah berpakaian cukup rapi karena hari itu adalah hari senin, Alisya tergesa-gesa karena akan terlambat. Apalagi dia harus berjalan kaki. "Nekkk,,,, nenek kok nggak bagunin aku sih?? Alisya jadi telat nih.. " Alisya keluar dari kamarnya melihat Adith yang sedang memegang gelas ditangannya. Karena kaget ia kembali masuk dan menutup pintu kamarnya. "Oke!!! Ini bukan dejavu atau mimpi, tapi itu Adith? " Alisya tak percaya kalau wajah yang pertamakali ia lihat setelah bangun pagi adalah wajah Adith yang tersenyum manis dihadapannya. Karena penasaran Alisya membuka pintunya lagi namun sudah tak menemukan Adith yang berdiri disana tadi. "Ya ampun,,, Alisya.. masih pagi tapi kamu sudah menghalu ria!!! mana mungkin sih Adith ada disini sepagi ini" Alisya memukul kepalanya untuk menyadarkan dirinya. Saat ia akan memukul kepalanya untuk yang ketiga kalinya tangannya dihentikan dari belakang. "Buat kamu semua hal aku mungkinkan, jangan pukul lagi" Bisik Adith pelan di belakang Alisya. "Adith???? kamu kok bisa ada disini? " Alisya terlonjak kaget begitu menoleh ternyata memang benar itu dia. Dia langsung terhuyung kebelakang untunglah ada dinding sehingga ia tak terjatuh. Adith melangkah mendekati Alisya perlahan-lahan hingga wajah keduanya sangat dekat. Alisya menutup matanya karena tak bisa menatap wajah Adith yang begitu menyilaukan dan mempesona. Jantung Alisya mau copot rasanya. "Adith kamu mau ngapain sih?? " Alisya bertanya kesal masih dengan mata tertutup. Karena Adith yang tidak langsung menjawab Alisya membuka matanya. "Kamu bisa jatuh kalau tali sepatumu tidak kau ikat dengan benar!" Adith yang sudah setengah berjongkok merapikan tali sepatu yang dikenakan Alisya. Wajah Alisya kembali memerah karena malu atas apa yang dipikirkannya. Ia mengira kalau Adith akan menciumnya sehingga ia menutup matanya karena takut. "Kalian sudah siap? sarapannya aku masukkan saja kedalam kotak bekal biar nggak telat! " Nenek Alisya memasukan kotak makanan khas jepang yang biasa disebut dengan bento. "Nenek sempat buat bento tapi nggak sempat bangunin aku???" Alisya merengek secepat kilat menghilang dibelakang neneknya menutupi rasa malunya. "Sudah kalian kesekolah sana! udah telat kan? " Neneknya segera menepuk pundak Adith tersenyum penuh arti. Setelah menyalami neneknya, keduanya segera berangkat kesekolah menggunakan motor Triumph Tiger Explorer yang cukup besar dan keren. Gaya Adith saat menaiki motornya sangat menawan dan keren membuat Alisya menatap tak berkedip. "Kamu mau upacara disitu? " Adith tersenyum licik. "Kenapa pake acara jemput??? " Alisya tetap duduk meski sedikit risih dengan perlakuan Adith. "Nenek kamu yang nelpon, dia yakin kalau kamu akan telat bangunnya jadi aku datang pagi-pagi sekali" jawabnya sembari menoleh kebelakang untuk memakaikan Alisya helem. Alisya yang gugup tal bisa berkutik dan memasang jarak yang cukup jauh dari Adith. Dari belakang sebuah truck besar membuat kaget Alisya dengan klaksonnya yang cukup menggelegar. Telinga terasa sakit dan tanpa sadar tangannya sudah memegang pinggang Adith. "Jangan dilepas, kamu bisa jatuh kalau kaget lagi nanti" Adith langsung memegang tangan Alisya yang ingin melepaskan genggamannya dari pinggangnya. Karena cukup malu Alisya hanya memegang erat kantong jacket Adith membuat Adith tersenyum gemas dengan tingkah Alisya. Adith sengaja masuk melalu pintu darurat sekolah yang digunakan sebagai pintu evakuasi jika terjadi bencana untuk menghindari banyak perhatian. "Aku sebenanrnya ingin masuk dari pintu depan. Tapi aku tidak ingin membuat kamu jadi pusat perhatian yang bisa membuat kamu kerepotan nantinya" ucap Adith begitu Alisya turun dari motornya. "Terimakasih! " Alisya yang malu langsung beranjak pergi. "Mau upacara menggunakan helem? bukannya topi? " Adith mengingatkan. "Oh ini,,,, " Alisya lupa kalau ia masih menggunakan helem. Adith segera turun dari motornya. sambil tersenyum ia melepaskan helem Alisya dan menaruhnya dispion motor. selanjutnya merapikan rambut Alisya yang terangkat oleh helem tadi. "Dasimu agak longgar!" Adith lalu membenarkan posisi dasi Alisya. "A aku pergi dulu! " Alisya langsung beranjak pergi karena sudah tak bisa menahan diri lagi. "Adith kenapa sih? masih pagi udah buat orang jadi panas dingin gini. " Alisya menaruh tasnya dengan kasar. "Panas dingin mana dengan aku yang nunggu kamu kelamaan karena kamu yang jadi pemimpin upacaranya??? " Karin berbisik horor dibelakang Alisya dengan tatapan tajam. "Astaghfriullah hal adzim, audzubillahi minasyaitoni rojim... Karin!!! apa-apan sih!!!! " Alisya beristighfr keras dan membentak Karin. "Lagian, kamu di cari''in sama bu Arni tuh! buruan upacaranya udah mau mulai nih. Hari ini kan tugas kelas kita yang jadi pelaksana upacara!" Karin mengambil tangan Alisya dan menuntunnya ke lapangan. "Kok aku sih yang jadi pemimpin upacaranya? " tanya Alisya heran. "Loh kan ibu Arni yang udah nunjuk! Aku, Rinto ama Yogi jadi Pengirik benderanya. Masa lupa sih! " Karin kesal karena sikap pelupa Alisya. "Aduh ya ampun! iya aku lupa" Alisya mengikuti Karin dengan cepat untuk segera ke lapangan upacara. Upacara yang dilaksanakan oleh kelas MIA 2 berlangsung penuh hikmad dan sukses tanpa kesalahan apapun. Ibu Arni bangga mereka bisa melaksanaknnya dengan baik meski tanpa latihan sebelumnya. Gaya Alisya memimpin upacarapun tak kalah kerennya dari seorang laki-laki. Suaranya lantang dan tegas menggema di seluruh lapangan upacara. Melihat anak perwaliannya yang tampak keren membuat ibu Arni mengambil kesempatan untuk memotret mereka. Terutama Alisya yang mempin upacara dengan sangat baik. "Kamu keren Sya! " Puji Yogi begitu selesai upacara. "Kita hampir kekurangan orang! ada apa? yang lain kemana? " Alisya bertanya karena kelas mereka tak sebanyak biasanya. "Aku juga tidak tau, beberapa dari mereka berhalangan masuk karena sakit!" Ucap Karin memeriksa absennya. "Ada yang aneh karena terlalu bersamaan! " tambah Rinto memperhatikan seisi kelas. "Karin, temani aku ke ruang wali kelas! " Karin mengangguk mengikuti langkah Alisya. "Aku akan bertanya ke teman-teman yang lain! " Ringgo dengan segera menghampiri teman sekelasnya. Sepanjang perjalanan Alisya merasa semakin kurang nyaman dengan tatapan kebencian yang dilayangkan kepadanya. Untuk beberapa alasan Alisya mulai peduli dengan maksud dari tatapan mereka. "Aku merasa ada yang nggak beres!" Ucap Alisya memegang tangan Karin. Karin melangkah cepat mengikuti langkah Alisya yang tampak gusar. Setelah sampai diruang guru Alisya segera menanyakan keberadaan teman-temannya namun ibu Arni juga hanya mengetahui kalau mereka tidak masuk karena sakit. "Bagaimana? kamu dapat info nggak? " tanya Rinto begitu melihat Alisya dan Karin kembali ke kelas. "Nggak, ibu Arni juga bilang kalau mereka semua sakit! " Ucap Karin ragu. "Ini terlalu bersamaan! kamu dapat info dari teman-teman yang lain??? " Alisya bertanya sambil menatap kelas yang terlihat sedikit kosong. "Tidak, mereka juga mengatakan hal yang sama! " Rinto menyandarkan pinggulnya ke meja. "Ada yang aneh dengan sikap mereka ketika kita bertanya tadi" Ucap Yogi sambil bepikir. "Aneh gimana? " Karin penasaran. "Mereka seperti ketakutan dan menyembunyikan sesuatu!" Jawab Rinto. "Ya, mereka tak berani menatap sewaktu aku dan Rinto bertanya!" tambah Yogi kemudian. "Kalau begitu aku akan menyelidiki lebih lanjut permasalahannya! "Alisya tampak berpikir serius. "Aku punya daftar no Handphone dan alamat mereka! " Ucap karin sambil menyodorkan map berisi kontak dan alamat seluruh siswa/i dikelasanya. "Apa kamu mau menghubungi mereka?" Rinto melihat daftar kontak siswa yang tidak hadir. "Sepertinya akan lebih baik jika kita langsung mendatangi alamat mereka saja! " Alisya mulai menghitung jumlah siswa yang tidak hadir. "Ya betul, kita bisa sekalian menjenguk mereka dan memastikannya! " Karin mengangguk yakin. "Ujian tinggal beberapa hari lagi, aku khawatir kalau mereka tidak bisa ikut" Yogi menambahkan. "Kita bisa membagi kelompok agar lebih efisien dan cepat!" Rinto memandang Alisya serius. "Ya, aku dan karin akan mengunjungi para siswi sedang kamu dan Yogi akan mengunjungi para siswa! " Tegas Alisya. "Kita bisa mulai sebentar sore dengan melewatkan jam pelajaran malam!" tambah Rinto. "Aku akan meminta izin kepada Ibu Arni dan berkoordinasi dengannya agar lebih mudah" Karin dengan cepat memasukkan beberapa kontak siswi yang tidak hadir. Mereka mengikuti pelajaran dengan lebih serius dan fokus. mereka tidak ingin melewatkan satu materipun dan menyalin beberapa kopian yang bisa mereka gunakan untuk diberikan kepada teman-temannya yang tidak sempat hadir pada hari itu. Chapter 36 - Mau Kemana Kamu? Jam pelajaran malam sudah dimulai tetapi Alisya dan yang lainnya memilih untuk berada di dalam perpustakaan untuk mendiskusikan hasil penyelidikan mereka hari ini. "Aku tak mendapatkan hasil apapun, Emi, Feby dan Nina menolak untuk bertemu dengan kami berdua" Jelas Alisya mendesah. "Bahkan orangtuanya tampak marah kepada Alisya dengan berkata bahws Alisya tak tahu malu dengan memberanikan diri untuk datang kerumah mereka! "Tambah Karin dengan suara lemah. "Aku juga sama! mereka juga menolak untuk menemui kami! Jelas Yogi menatap wajah lesu Karin. "Tapi Beni memberanikan diri untuk menemuiku. Dia memperingtkan aku untuk menjauh dari Alisya jika aku tidak ingin berada dalam masalah! " Terang Rinto melipat kedua tangannya. "Alisya, sepertinya ada seseorang yang memfitnahmu dengan melibatkan mereka. Hal ini cukup aneh karena seminggu yang lalu mereka sangat menyukaimu namun seminggu kemudian mereka kembali membencimu lebih besar dari sebelumnya!" Karin menganalisa segala kemungkinan yang bisa terjadi. "Benar apa kata Karin, aku rasa ada seseorang dibalik ini semua! " Tambah Rinto. "Aku tidak peduli mengenai mereka yang ingin menyerang atau mencelakaiku, tapi aku hanya tak ingin orang lain dirugikan karena diriku. Untuk itu besok aku akan cari cara bagaimana meyakinkan mereka setidaknya mereka harus mengikuti UAS kali ini" Alisya menatap tajam yakin akan apa yang akan di lakukannya. "Kami akan membantumu!" Jelas Rinto menatap Alisya yakin. "Tentu saja, tapi bukan dengan meyakinkan mereka, kalian bisa membantuku dengan cara lain" Senyum Alisya membuat bingung ketiganya. "Tolonglah Sya,,, senyuman licikmu membuat bulu kudukku merinding!" Karin menjauhkan posisi duduknya dari Alisya. "Ayo kita pulang! aku akan membantumu mencukur seluruh bulu itu agar kau baik-baik saja! " Wajah Karin seketika suram mendengar kalimat Alisya yang terderngar menyeramkan. Karin mencubit pipi Alisya dan memonyongkannya membuat Rinto dan Yogi tertawa. "Jadi dengan cara apa kami bisa membantumu?? " Rinto berusaha mengendalikan dirinya. "Kalian harus tetap berada disekolah dan mencatat dobel setiap mata pelajaran yang dilewatkan mereka lalu memperbanyaknya. Itu akan aku gunakan untuk menyakinkan mereka. Selain itu materi yang diberikan oleh Adith dapat kita jadikan kartu As lain untuk membujuk mereka" Alisya menjelaskan kembali setelah membenarkan posisi wajahnya yang diperas dengan gemas oleh Karin. "Baiklah, itu masalah gampang buat kami. tapi bagaimana denganmu? Apa kau yakin bisa menanganinya sendiri? " Tanya Yogi bukan ragu melainkan ia khawatir dengan keselamatan Alisya. "Tenang saja,,, aku akan baik-baik saja! Ujian tersisa 3 hari lagi itupun jika kumasukkan dengan hari minggu, oleh karena itu aku harus bergerak cepat! masalah si pembuat kekacauan akan aku urus belakangan setelah perjanjian aku dan kakekku selesai" Jelas Alisya melirik jamnya. "Alisya benar, dengan menang taruhan dari kakeknya maka Alisya bisa melakukan apapun yang dia mau" Tambah Karin sambil membereskan buku-bukunya. "Seberkuasa apakah kakek Alisya? " Rinto berbisik pelan kepada Karin. "Kau akan tau begitu semua ini selesai, persiapkan saja mentalmu agar kau tak mengalami shock yang luar biasa" Senyum Karin berjalan mengikuti Alisya yang mencoba menggunakan sedikit waktu untuk mengikuti kelas malam. Rinto dan Yogi yang masih saling menatap bingungpun mengikuti langkah keduanya. Dari belakang Rinto dengan jelas memperhatikan pundak Alisya yang jalan dengan santainya seolah tak memiliki beban apapun dengan sejuta kemisteriusan yang dimilikinya. Ia tak menyangka kalau dikehidupan nyata yang di alaminya bisa berhadapan dengan sosok Alisya yang memiliki karakter bak tokoh dunia komik dengan Autor super jenius dan terampil dalam menciptakan karakter Alisya yang sangat misterius itu. Bahkan Yogi yang belakangan ini mengetahui bahwa Alisya adalah seorang yang dikenalnya sejak dulu pun masih tak dapaf dibacanya meski juga telah melakukan banyak hal untuk menggali informasi seputar Alisya yang hanya seorang anak SMA biasa di Indonesia. "To,,, akhir-akhir ini, kita lagi syuting drama Indosiar ya??? " Yogi berbisik kearah Rinto dengan wajah Serius. "Kamu tanya aja sama autor yang bikin novel ini!" Jawab Rinto tak kalah serius. "Nggak ah, aku masih mau ada sampai tamat!!! " Wajah Yogi suram mendengar saran Rinto. Meski mereka menyisakan satu mata pelajaran malam, mereka tetap mengikutinya dengan serius dan berusaha untuk bisa memahami setiap materi pelajaran yang masuk dan meringkas seluruh materi dengan rapi dan mudah dimengerti sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Adith bagaimana cara meringkas catatan dengan baik. Esok harinya hanya terdapat 5 siswa dan siswi termasuk didalamnya Karin, Rinto dan Yogi. Ketiganya semakin merasa aneh begitu memasuki kelas yang semakin sunyi dan tak berpenghuni itu. "To salah masuk kayaknya! sepertinya ini kuburan!" Yogi berbalik ingin pergi. "Mau kemana kamu? Nda liat ibu Arni sudah di depan? " Tunjuk Rinto setelah menarik kerah belakang Yogi. "Maaf bu, kami akan berusaha sebaik mungkin" Karin menatap Ibu Arni dengan mata sendu. "Tak apa Karin! Aku percaya sama kalian" Ibu Arni seolah paham maksud dan tujuan perkatannya yang pasti saja berhubungan dengan suasana didalam kelasnya. "Terimakasih bu! " Alisya menunduk pelan mengirmati kebijakan ibu Arni. "Alisya mana? " Tidak melihat Alisya membuatnya bingung. "Alisya memiliki sesuatu yang harus dikerjakan, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya saat menelpon ibu semalam" Jelas Karin meyakinkan Ibu Arni. Ibu Arni sudah mengerti semua rencana dan niat baik yang akan dilakukan oleh keempat siswanya tersebut dan memberi dukungan penuh terhadap tindakan mereka. **** "Kamu masih berani kembali kesini? belum puas kamu buat keluarga om berantakan???? " ayah Adora membentak Alisya dan mendorongnya dengan keras. Alisya yang terluka berusaha bangkit dan meyakinkan ayah Adora dengan suara yang tetap sopan. "Maaf om, tapi saya benar-benar tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Karena saya juga tidak mengetahui permasalahannya apa. Namun demikian saya kesini mau meminta maaf dengan tulus" Alisya memasang wajah serius akan apa yang dikatakanya. "Pergilah,,, maafmu bahkan takkan merubah apapun sekarang!" Ayah Adora membentak Alisya keras. "Om,, bisakah om menjelaskan semuanya?? Ayah Emi dan Feby juga mengatakan hal yang sama padaku! Adora sudah sangat baik padaku Om, setidaknya jelaskan apa yang terjadi" Alisya memohon dengan lembut. "Lalu jika kami menjelaskan semuanya apakah kamu bisa mengembalikan semua yang sudah terjadi pada kami??? kamu yang hanya seorang anak SMA biasa bisa apa??? hahhhh??? " Ibu Adora mulai melampiaskan emosinya kepada Alisya. "Saat ini aku mungkin bisa melakukan apa-apa, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin tante. Tolong biarkan saya membahasnya dulu bersama Adora! Tolonglah.. " Alisya memegang kedua tangan ibu Adora. "Pulanglah... Adora bahkan tak ingin melihat wajahmu! Jangan buat hidup kami lebih susah dari ini... pergilah... " Ibu Adora mendorong Alisya dengan cukup keras. "Baiklah tante, saya akan pulang. tapi tolong berikan ini pada Adora. Ini adalah catatan materi pelajaran yang sudah kami rangkum untuk mengejar ketinggalannya" Alisya berdiri dengan lutut yang memerah. Ayah dan Ibu Adora masih memandang wajah Alisya dengan penuh amarah. Alisya yakin pasti ada alasan mengapa mereka begitu marah dan membencinya. Seperti kata pepatah, tak mungkin ada api jika tak ada Asap. Alisya akan terus berusaha membuktikan dirinya bahwa dia tak bersalah dan akan memperbaiki semua yang sudah terjadi seperti sedia kala. Dari ayah Adora, Alisya akhirnya bisa tau bahwa atasannya telah memecat Ayah Alisya dengan cara yang tidak hormat tanpa memberikan sedikitpun gaji yang seharusnya bisa terimanya selama 1 tahun. Berkat Ayah Adora, Alisya memiliki rencana tersendiri dalam menyelesaikan masalah ini, tapi untuk itu ia harus membuat semua orang yang dirugikan olehnya untuk setidaknya menjalani UAS terlebih dahulu sebelum rencannya bisa terealisasikan dengan baik. Alisya berpikir jika sekali dia belum mendapatkan hasil, maka pantang baginya untuk mundur tanpa mencoba untuk yang kedua, ketiga atau sampai puluhan kali. "Aku takkan menyerah dengan mudah hari ini mungkin aku tak bisa, tapi hati manusia gampang luluh dengan kegigihan dan ketulusan!" Alisya meyakinkan dirinya. Alisya pulang dengan lututnya yang terluka. Butuh waktu lama ia berjalan karena lukanya yang sudah mengering tertiup angin. Kedua lutunya lebam dan rok sekolahnya yang kotor membuat orang-orang memperhatikan Alisya dengan khawatir. "Uwaaah... hei kalo berhenti jangan mendadak dong! " Alisya menabrak seseorang yang duduk membelakang bertopi hitam dengan pakaian casual serba hitam dan sepatu putih. Karena lututnya yang terluka Alisya tidak bisa mempertahankan keseimbangannya dan dengan santainya orang itu sudah membopong Alisya dibelakangnya. Chapter 37 - Lebay Amat!!! Alisya yang meronta turun dari punggung orang itu tapi genggaman tangannya begitu kuat membuat paha Alisya sangat sakit. "Diamlah!!!" Suaranya membentak marah. "A,, adith??? kamu ngapain disini? kok kamu bisa disini? " Alisya merasakan nada amarah dalam suara Adith membuatnya sedikit gugup. "Aku sudah memperhatikanmu semenjak kamu meninggalkan sekolah. Aku mengikutimu sampai kesini. " Adith masih meninggikan suaranya. "Kamu melihat semuanya? bisa turunkan aku? aku malu sekali.. " Suara Alisya lirih membuat Adith menghentikan langkahnya dan mendudukkan Alisya di tempat duduk dekat supermarket. "Tunggu disini" Aura jahat Adith membuat Alisya tak berkutik dan hanya mengikuti arahan Adith. Alisya sebenarnya bingung apa yang membuat Adith begitu marah. namun untuk saat ini sebaiknya dia tidak menyulut emosi Adith lebih dalam. Setelah beberapa saat Alisya menunggu, Adith datang membawa sebotol alkohol, betadine dan kain kasa untuk mengobati lukanya. Alisya hanya membiarkan dan mengamati apa yang dilakukan oleh Adith. Malam semakin gelap membuat apa yang dilakukan oleh Adith tidak begitu jelas dilihat orang sehingga mereka tidak menarik banyak perhatian. "Adith, aku baik-baik saja! kenapa kamu begitu marah? " Alisya membuka suara setelah hampir setengah jam suasan mereka sunyi senyap. "Jika bukan karenamu aku mungkin akan menghancurkan rumah Audora! " Adith membuang botol dan sisa kain kasa ke dalam tong dengan kasar. Mendengar itu Alisya akhirnya paham. Adith sangat marah terhadap perlakuan kedua orang tua Adora yang membuat Alisya terluka. "Hmmm... Aku hanya terluka kecil, terimakasih sudah mengkhawatirkan aku Dith! " Alisya berdiri semampunya memegang pundak Adith untuk menenangkannya. "Apa yang kamu lakukan sebenarnya? kamu bukan tipe orang yang membiarkan orang lain menginjak-injak dirimu! " Adith berbalik menceranahi Alisya. "Aku punya alasan dibalik semua ini, bisakah kali ini aku melakukannya sendiri??? " Alisya tau betul jika sebenanrnya dengan bantuan Adith akan lebih mudah namun Alisya tidak ingin terus mempersulit dan membebani Adith. "Baiklah, kalau begitu aku ingin tau permasalahannya! " Adith memandang Alisya serius. "Tapi kamu percaya padaku kan? kau akan membiarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri iya kan? " Alisya mengingatkan Adith. "Oke! " ucapnya setelah beberapa saat. Alisya menceritakan semua permasalahan yang sedang diselidikinya dengan nada suara yang lembut agar Adith bisa mendengarkan dengan tenang dan bisa mempercayai Alisya. Setelah semua jelas Adith mengangguk pelan dan memberikan Alisya kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Sikap Adith membuat Alisya sedikit bingung dengan perlakuannya. Adith tidak bisa membawa Alisya menaiki mobilnya tapi juga tidak bisa membiarkan Alisya pulang berjalan kaki dengan lututnya yang terluka. "Yog, sorry, aku bisa minta tolong kamu bawain motor nggak?? nanti kamu bawa pulang mobil ku saja! " Adith menelpon Yogi yang masih berada di jam pelajaran malam. Tidak butuh waktu lama, Yogi sudah berada ditempat yang di minta oleh Adith. Yogi kaget melihat kaki Alisya yang dibalut oleh kain kasa. "Kamu kecelakaan Sya? " Tanya ny khawatir. "Nggak kok cuman luka aja karena jatoh! " Jawab Alisya pelan. "Mobil aku ada disebelah sana. ini kuncinya" Adith menunjukkan tempat ia memarkir mobilnya. "Parah amat lukanya sampe di kasa gitu! " Ucap Yogi setelah menerima kunci dari Adith dan melihat kearah yang ditunjuk oleh Adith. "Sebenannya sih enggak, tapi tuh... " Alisya menunjuk Adith dengan bibirnya yang mungil. "Lebay amat!!! " Yogi berbisik kepada Alisya yang sengaja ia perbesar agar didengar oleh Adith. "Udah pergi sana!!! " Adith yang malu langsung mengusir Yogi. "Iya, iya, siap bos!!! Kalian hati-hati yah, aku harus balik lagi kesekolah" Yogi melambai sambil memutar mutar kunci mobil. "Ayo, aku antar pulang! " Ajak Adith menaiki motor Yogi. Alisya berjalan mendekati Adith. Ia kesusahan menaiki motor Thunder milik Yogi yang cukup tinggi karena lukanya yang sudah mengering sempurna sehingga ia tidak bisa melipat lututnya dengan baik. Melihat Alisya yang kesusahan, Adith dengan cepat menggendong Alisya dan menaikkanya ke Atas motor. Alisya yang kaget berusaha mengatur nafasnya agar detak jantungnya tak terdengar oleh Adith. Setelah posisi duduk Alisya sudah benar, Adith kemudian memakaikan helem kepada Alisya. ***** "Gimana Sya kemarin??? " Karin yang baru masuk kelas langsung datang bertanya dengan tatapan menggoda. "Ekspresimu masih pagi udah menjijikkan kayak gitu sih? " Alisya hanya mengeluarkan buku yang ada di dalam tasnya. "Sial,,, hhh.. kemarin aku dengar kamu terluka dan Adith yang nolongin kamu! " Jelas Karin mendesah. "Yogi ember amat sih! " celetuk Alisya. "Kalau soal kalian berdua, kita emang suka kepo!" jelas Karin. "Alisya, aku dengar kamu terluka? " Rinto yang baru datang langsung menyerang Alisya. "Cuma luka kecil kok! " Jawab Alisya pelan. "Jadi bagaimana hasilnya kemarin? " tanya Yogi dari belakang Rinto. "Aku belum dapat info yang banyak tapi sebentar aku akan datang lagi. catatannya sudah kalian siapkan? " Alisya memandang serius ketiganya. "Sudah dong,,, Rinto juga sudah memberikan kepada siswa yang tidak hadir!" Jelas Karin dengan wajah sombong. "Bagus, terimakasih banyak! " Alisya memandang haru. "Nggak usah acting! " Ucap Karin memegang Wajah Alisya gemes. Alisya hanya tertawa menghindari tangan Karin. Karin melihat Alisya dengan seksama. Ia tak menyangka sahabat yang selama ini hanya memiliki wajah suram dengan pandangan kosong mulai bisa tertawa dengan riuh dan wajah yang berseri. Karin membalikkan badannya sewaktu air matanya akan mengalir jatuh. Ia merasa terharu karena Alisya akhirnya tampak seperti hidup. Alisya tak pernah menyerah untuk terus meyakinkan kedua orang tua Adora, Emi dan Feby agar mereka bisa hadir pada hari senin untuk mengikuti UAS. ketika hari senin telah tiba Alisya sudah berada didepan gerbang pagi sekali untuk menunggu kedatangan Adora, Emi dan Feby. Begitupula dengan Rinto yang menunggu kedatangan Beni. Karin dan Yogi juga melakukan hal yang sama. Ujian akan dimulai dalam waktu 10 menit lagi tapi tidak satupun dari mereka yang muncul. Ibu Arni sudah datang memperingati mereka untuk segera masuk ke kelas. "Sya, aku akan menjemput Beni. Kalian tunggulah disini sampai yang lainnya datang! " Rinto bergegas mengambil motornya. Tak disangka ternyata Beni mengalami masalah karena jalan yang dilaluinya mengalami macet parah. Ia kemudian berlari sampai ke penyebrangan lampu merah beriktunya dan bertatap wajah dengan Rinto dari arah Sebrang. Melihat beni yang sudah Ngos-ngosan dengan waktu tersisa 5 menit lagi, Rinto mengambil ancang-ancang. Tepat setelah lampu hijau menyala, Rinto langsung menghampiri Beni. Beni melompat cepat dan dengan halus Rinto memutar balik arah motornya memasuki lorong-lorong rumah menghindari lampu merah. Alisya memandang jalanan dengan putus asa karena tak satupun dari mereka yang muncul sampai akhirnya dari kejauhan motor Rinto yang memboncengi Beni terlihat. Tepat semenit sebelum waktu ujian dimulai dan pintu gerbang ditutup keduanya telah masuk. "Maaf,, pintu gerbangnya sudah harus ditutup karen ujian sudah akan dimulai!" Pak satpam mulai menekan tombol menutup gerbang. "Pak tolong tunggu semenit saja lagi dong pak! teman saya belum datang... dia masih di jalan" Pinta Alisya menghalangi Satpam menekan tombol tutup. "Tapi ini sudah aturan dek, bapak bisa dipecat kalau tidak menjalankan tugas dengan baik!" Ucap pak satpam menekan tombol tutup. Perlahan-lahan pintu gerbang mulai tertutup lalu seseorng tiba-tiba saja menerobos masuk disela-sela gerbang yang belum tertutup sempurna di ikuti dua orang lainnya. "Emi, Adora, Feby??? syukrulah kalian datang!!! " Karin berteriak membuat Alisya menoleh kaget. "Bukan waktunya bengong ayo cepat kita masuk kekelas! " Mereka semua berlari secepat yang mereka bisa menuju kekelas. Ibu Arni yang melihat mereka dari jauh berusaha menahan pengawas memasuki kelas agar Alisya dan yang lainya bisa tiba terlebih dahulu. Mereka menerobos masuk dari pintu belakang tepat beberapa detik sebelum pengawas masuk. Se isi kelas hanya bisa tersenyum dalam diam. "Aku hampir menuju ke ruang kelas kita! " bisik Yogi kepada Rinto. "Bodoh,,, ujiannya sekarang menggunakan komputer... bukan kertas pensil seperti dulu!" Rinto membalas dengan suara yang berat. "Semua sudah siap??? komputernya juga sudah dinyalakan? " Ucap si pengawas setelah membenarkan posisi mejanya. Alisya tak menyangka kalau teman-teman yang lain sudah menyalakan komputer yang akan dilakukan mereka sehingga mereka tidak ketahuan baru saja memasuki ruang kelas. karena jika itu diketahui maka bisa jadi poin mereka akan dikurangi atau tidak di ikutkan. Mereka saling memandang dengan pandangan saling mendukung satu sama lain membuat Alisya menarik nafas dalam karena lega. Chapter 38 - Kertas Hasil Ujian Sudah seminggu mereka semua bertarung dengan semua barisan huruf huruf dan angka yang menari di kepala mereka memperlihatkan keangkuhan pembuat soal bahwa hal ini mudah sedang bagi yang melihat ini tak kalah dari sebuah pertarungan hidup dan mati masa depan seorang siswa. "Uweeeekkk,,," Beni keluar dengan perut mual karena terlalu memaksakan otaknya dalam mengambil strategi hebat. "Keluarkan saja semua,,, hari ini ujian sudah selesai." Yogi datang memukul kecil punggung Beni. "Aku merasa lega sekali akhirnya hari ini sudah selesai" Tambah Adora yang keluar dengan wajah lesu. "Kalian habis bergulat di dalam?" Ibu Arni memandang satu persatu siswanya yang keluar dari ruang ujian. "Bu, didalam horor...." Beni menghampiri Ibu Arni memasang wajah memelas. "Mukamu lebih horor,,," Ibu Arni menjetik kepala Beni dengan telunjuknya. "Sekarang yang utama adalah hasilnya!" Karin menatap Alisya yang berjalam keluar dengan santai. "Aku yakin Alisya bisa menyelesaikan tantangan itu" Rinto dan lainnya memperhatikan Alisya dengan penuh harap. "Aku sudah berusaha, hasilnya bisa kita lihat besok!" Tatap Alisya sedikit ada keraguan dimatanya. "Aku yakin kamu pasti bisa! sebagai gantinya hari ini aku ajak kalian makan diluar!" Adith muncul dari belakang alisya dan berbisik di telinga Alisya yang ia buat sedikit keras untuk di dengar oleh yang lain. "Makan??? ada yang bilang makan??? traktir????" Muka Beni bersinar cerah. "Gila! Tanduk iblisnya muncul kalau soal makan" Yogi nyengir melirik ke arah Beni. Karin tertawa melihat ekspresi Beni yang sudah berlumuran liur karena perkataan Adith. semuanya menatap adith penuh harap berharap mendapat tiket ajakan. "Ibu tau tempat yang bagus! kebetulan ibu sengaja datang kesini buat menyemangati kalian" Ibu arni memberi tanda kepada Adith. "Semuanya bisa naik ke mobilku! Yogi kunci.." Adith mengambil motor Yogi agar bisa bersama Alisya. Wajah Adora tak kalah terkejut mendengar ucapan Adith. mereka tak menyangka akan bisa menaiki mobil Adith yang super mahal dam Vanci tersebut. Mata mereka segera berbinar-binar dan berlomba menuju parkiran. "Kenapa kau selalu muncul dimana saja?" Alisya menghadap Adith dengan tatapan tajam. "Karena aku bisa mencium aromamu yang membutuhkanku!" Adith sengaja mendekatkan tubuhnya dan menghirup aroma Alisya untuk menggoda Alisya. Alisya ingin membalas kalimat Adith namun Adith sudah menarik tangannya dengan cepat melewati kerumunan mata yang kini melihat mereka dengan terheran-heran. Semua orang tak menyangka kalau kali ini Adith sudah lebih terang-terangan memperlihatkan kedekatannya bersama Alisya. Bahkan tak tanggung-tanggung meski itu dihadapan para guru ataupun kepala sekolah yang tak sengaja lewat tak jauh dari mereka. Alisya hanya bisa menepuk matanya dan memijit kepalanya yang tidak sakit. ***** "Alisya dimana?? Dia sudah menerima kertas hasil ujiamnya?" Rinto bertanya kepada Karin yang teduduk lemas. "Kamu kenapa Karin?" Yogi menghadap wajah Karin yang terlihat lesu. "Aku... Yogi, Rinto,, Aku..." Karin hanya menunjukkan kertas miliknya. "Wow... kamu juara 1 umum sekolah???" mengalahkan para elit?" Rinto membalik-balikkan kertas hasil ujian milik Karin. "Kamu hebat Karin.. selamat!" Yogi menepuk pundak Karin bangga. "Punya kalian bagaimana?" Karin bertanya dengan wajah yang penuh harap. "Aku tak berani membuka kertas milikku! paling seperti biasa hanya menjadi yang terakhir meski lulus!" Rinto menatap kertas hasil ujian ditangannya. "Aku juga sama!" Yogi melihat kertasnya dengan mata yang bergetar. "Karin,, Alisya mana? alisya mana? aku mau nunjukin kertas hasil ujian milikku!" Beni masuk menyerbu di antara Yogi dan Rinto. "Kami juga Karin,, kami ingin berterimakasih kepada Alisya!" Adora, emi dan Feby juga tak kalah semangatnya. "Aku juga belum melihat Alisya sejak tadi! entah dia kemana!" Karin yang terlalu terpaku dengan hasil miliknya tak mengetahui keberadaan Alisya. "Ada apa sebenanrnya?" Tanya Yogi penasaran. "Lihat ini!!!" mereka berempat segera memberikan kertas hasil ujian masing-masing. "Beni juara satu kelas??? adora kedua, Emi ketiga dan Feby ke empat??? ini serius??" Yogi membaca hasilnya tak percaya. Mendengar hal itu karin dengan cepat mengambil kertas milik Rinto dan Yogi karena penasaran. "Kalian berdua masuk sepuluh besar juara umum sekolah! Rinto 3 dan Yogi 5..." Mata Karin membelalak tak percaya. "Ini semua karena ringkasan materi yang kalian berikan kepada kami benar-benar sangat membantu kami" Jelas Feby dengan wajah haru. "Kopian yang kalian berikan sangat mudah dipahami sehingga kami tidak begitu kesulitan dalam mengejar materi yang ketinggalan" tambah Emi yang mulai meneteskan air matanya. "Aku sangat berterimakasih kepada kalian dan Alisya yang sudah membantu kami sampai sejauh ini" Lanjut Adora tertunduk malu mengingat perlakuan kedua orangtuanya kepada Alisya. "Bukan hanya bisa lulus dan tidak dikeluarkan, kami malah mendapatkan nilai yang lebih baik dari sebelumnya!" Beni menggenggam erat kertas hasil ujiannya. "Terimakasih karena kalian sudah mempercayai Alisya dan berani untuk datang ke sekolah" Karin mencoba mencairkan suasana. "Sekarang yang perlu kalian lakukan adalah menjelaskan semuanya kepada Alisya mengenai masalah yang sebenarnya kalian hadapi" Jelas Rinto. "Yang terpenting sekarang adalah kita harus mencarinya!" Lanjut Yogi. "Masalah itu, aku tidak begitu yakin tapi sepertinya..." Emi tidak berani melanjutkan kalimatnya. "Alisya mungkin akan berada dalam bahaya" Adora berani membuka mulutnya. Tanpa pikir panjang mereka semua segera keluar dan berhambur mencari Alisya. "Kalian mau kemana??? Dimana Alisya?" Wajah Adith cerah bersinar seolah ingin memberitahukan sesuatu. "Sejak menerima kertas hasil ujiannya, aku tak melihat Alisya." Ucap Karin. "Kami juga sudah memghubunginya beberapa kali tapi dia tidak mengangkatnya" Wajah Rinto menunjukkan ke khawatiran. Adith langsung mengambil Handphonenya dan melacak keberandaan Alisya melalui GPS miliknya namun ia tidak bisa mendapatkan keberadaan Alisya. "Sepertinya GPS miliknya sengaja dimatikan" Adith kesal membanting tangannya keudara. "Jadi bagaimana sekarang? Aku takut kondisinya kambuh!" Karin menatap dengan cemas. "Begini saja, kita berpencar dan mencari disemua sudut sekolah!" Pinta Rinto menenangkan. "Aku akan pergi bertanya ke Ibu Arni" Ucap Karin mantap. "Kami akan mencari di bagian belakang" Beni segera berlalari di ikuti Emi dan Feby. "Kalau begitu kami akan ke arah kompleks" Rinto segera bergerak ditemani Yogi dan Adora. Melihat mereka semua sudah memencar, Adith dengan cepat menuju ke arah Pos tempat monitor CCTV sekolah berada. Dari situ Adith bisa melihat Alisya yang berjalan meninggalkan kelas dengan wajah yang sangat serius. Adith terus melihat kearah Alisya berada dan menghilang di Area parkiran, akan tetapi Adith tidak melihat kalau Alisya keluar dari parkiran tersebut karena ada satu titik buta dimana CCTV yang berada disana terhalang oleh laba-laba yang bersarang tepat dihadapan kaca lensa CCTV. Beberapa saat kemudian mereka semua berkumpul ditengah lapangan dengan wajah penuh keringat dan nafas terengah engah. "Bagaimana kalian menemukan Alisya?" Tanya Beni setelah berhasil mengatur nafasnya. "Jika kami menemukannya, kami takkan kembali kesini!" Jawab Yogi tegas. "Aku melihat Alisya menuju parkiran tapi setelah itu tidak ada tanda dia keluar ataupun kembali kekelas" Adith datang dengan langkah berat. "Kemana sebenanrnya anak itu?" Rinto mulai gusar karena cemas. "Alisya pergi menemui kakeknya!" Karin yang baru muncul langsung menjelaskan situasinya. "Katakan padaku dimana dia pergi menemuinya?" Adith langsung berdiri tepat dihadapan Karin dan Menatap tajam ke arah Karin. "Adith, ini tidak semudah yang kau bayangkan!" Jelas Karin menenangkan Adith. "Apa maksudmu?" Adith kesal dengan perkataan Karin yang terdengar meragukannya. "Kakeknya bukanlah orang yang bisa kamu hadapi" tambah Rinto. "Apa yang kalian katakan sebenanrya? sepertinya hanya aku yang tak mengetahui apapun mengenai Alisya!" Adith mencengkram Handphone di tangannya dengan kuat. "Tidak Dith, kami semua juga tidak tau seperti apa kakek Alisya, tapi dia melarang kami untuk mencari tahu lebih lanjut demi keselamatan kami" Yogi berusaha menenangkan Adith. "Bukankah Alisya sudah mengingatkanmu untuk percaya padanya? Biarkan kali ini kita percayakan masalah ini kepada Alisya!" Lanjut Karin. "Tapi bagaiman jika dia berada dalam bahaya?" Adith mendengus kesal. "Dia tidak akan apa-apa! percayalah padanya" Pinta Karin. "Setelah dia kembali, dia akan menepati janjinya padamu untuk menjelaskan siapa dirinya" Yogi mengingatkan perjanjian keduanya. Perkataan Yogi membuat pikiran Adith lebih tenang meski hatinya masih belum yakin dan terus merasa resah sebelum bisa melihat keadaan Alisya secara langsung. Mereka semua hanya bisa saling pandang dipenuhi dengan segala macam pemikiran masing-masing. Mereka hanya berharap Alisya akan kembali tanpa terjadi apapun. Chapter 39 - Tentu Saja Tidak Setelah sekitar satu jam lebih mereka menunggu didalam kelas yang kini telah sunnyi dengan penuh cemas, Alisya muncul dengan wajah ceria dan tersenyum lembut. "Alisya???" Adora berteriak melihat Alisya yang berjalan masuk. "Kau baik-baik saja?" Tanya Rinto bangkit dari duduknya. "Ba,,, bagaimana hasilnya?" Yogi tergagap. "Kamu mendapat nilai tertinggi se Indo nggak? terus gimana dengan kakek Takahashi?" Serang Karin mendekati Alisya. "Semua aman!!!" Alisya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih sambil mengangkat tangan kanannya membentuk tanda V. Adith tak berkata apapun dan hanya memeluk Alisya dari belakang dan melingkarkan tangannya si kepala Alisya. "Sepertinya aku mulai terbiasa dengan kemunculanmu yang selalu mendadak!" Alisya berbalik melepaskan dengan lembut pelukan Adith karena malu. "Kau tak pernah berhenti membuatku khawatir" ucap Adith sambil membelai kepala Alisya. "Adith, berkat kamu aku sudah berhasil menyelesaikan tantangan kakek dengan baik, untuk itu akan menepati janjiku!" Ucap Alisya menundukkan kepalanya menatap berat kearah Adith. "Tidak perlu, aku percaya padamu! kamu bisa menceritakan kepadaku kapanpun kamu siap!" Adith berusah mengurangi kegundahan hati Alisya. Alisya tersenyum menatap Adith berbinar-binar tak percaya kalau Adith bisa dengan sabar dan tenang seperti itu. "Adith, aku mendapatkan nilai tertinggi se Indonesia. itu berati aku mengalahkanmu?" Mata Alisya membara berharap bisa mengalahkan Adith dalam hal ini. "Tentu saja tidak!!!" Alisy bingung dengan ucapan Adith. Karena dirinya yang mendapatkan nilai tertinggi seindonesia, sudah tentu Alisya telah mengalahkan Adith. Namun Adith hanya tersenyum sembari menyodorkan kertas hasil ujiannya. Kertas miliknya sedikut berbeda dengan kertas yang mereka miliki. Kertas Adith terlihat berkelas dan sedikit tebal. "Kamu mendapat nilai tertinggi di seluruh siswa tingkat SMA se Internasional???" Alisya tak percaya membaca kertas hasil ujian tersebut. "Otak kamu kumpulan dari para Ahli yang jenius yah?" Alisya menatap Adith dengan takjub. Reaksi Alisya yang polos dan menggemaskan membuat Adith mencubit lembut pipi Alisya dan tersenyum mengambil kertas miliknya dengam bangga. "Ehemmm... sampai kapan kita harus melihat kemesraan ini??" Karin membuka suara tidak tahan dengan suasana romantis dihadapan mereka. "Mataku,, aduh mataku sakit banget liatnya!" Ejek Yogi. "Sepertinya mual aku kambuh lagi" Beni berlari menuju ke arah jendela untuk mendapatkan angin segar. Sedangkan yang lainnya hanya bisa tersenyum-senyum merasakan kebahagiaan. "Alisya, terimakasih banyak berkat dirimu dan Adith kami bisa mendapatkan nilai yang lebih baik" Ucap Adora lembut. "Terimakasih juga karena kalian sudah memberikanku kesempatan dan mempercayai aku!" Alisya menatap mereka semua secara bergantian. "Sebenanrnya, kami juga tidak tau bagaimana awal mulanya tapi orangtua kami bilang mereka semua dipecat dikarenakan oleh orang suruhanmu!" Feby menjelaskan dengan yakin "Benar Alisya, mereka juga mengancam kami untuk jangan dekat-dekat denganmu ataupun berbicara denganmu!" Tambah Adora. "Mereka bahkan memberikan teror kepada kami jika berani mendekatimu!" suara emi bergetar takut. "Awalnya kami berpikir apa salah kami sampai kamu berbuat segitunya, tapi setelah melihat pengorbananmu kami jadi berpikir kembali bahwa tidak mungkin kamu bisa melakukan hal tersebut" Tambah Beni setelah mendapatkan angin segar. "Terlebih lagi kamu tidak punya cukup kekuatan dan kekuasaan untuk melakukan itu, kecuali..." Adora tidak berani melanjutkan ucapanya. "Kecuali Adith yang membantuku melakukannya, iya kan?" Alisya berbalik dan menatap Adith. Adith hanya tersenyum nakal melihat tatapan Alisya yang menuju ke arahnya. Adith kagum dengan kemampuan Alisya dalam menebak pola pikir mereka yang sedikit picik karena permasalahan itu. "Tapi kami tau Adith bukanlah orang yang akan menggigit orang lain jika orang itu tidak memulai serangannya!" Tegas Beni. "Dan kami semua serta yang lainnya adalah orang-orang yang jangankan untuk menyerang, menyebut nama Adith saja adalah hal yang cukup menakutkan bagi kami" Jelas Feby. "Tenanglah aku punya cara untuk bisa memancing orang itu keluar!" Terang Alisya tersenyum tipis. Semuanya saling menatap bingung dan hanya Adith yang tertawa melihat keyakinan Alisya. "Alisya, orang yang kamu lawan bukanlah orang biasa!" Rinto mengingatkan. "Orang ini dengan gampangnya memecat beberapa petinggi sebuah perusahaan yang bisa dibilang merekalah yang paling senior dan paling berpengalaman dibidangnya. Jadi orang ini bukanlah orang biasa!" Tambah Yogi meyakinkan Alisya. "Apa kamu punya cukup kuasa?" Beni bertanya dengan kaku dan ragu. "Dia punya kartu As,,, Kartu kuasa yang sangat berbahaya!" Karin memandang Alisya Licik. "Kalian tidak perlu khawatir, pulanglah..." Pinta Alisya lembut. "Kau tak pernah berheni membuatku terkejut!" Adith tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya yang dalam dan menggoda. "Kita akan lihat besok, apa yang akan terjadi" Karin sudah tak sabar melihat orang itu panik dan meminta maaf kepada Alisya. "To, besok kan minggu kita mau kesekolah lagi yah?" Yogi bertanya dengan setengah berbisik. "Besoknya orang jawa Yog.. yang artinya itu bisa berarti besok-besok!!!" Rinto menggertakkan giginya kesal membuat suasana kembali riuh dan hangat. "Ya sudah kalau begitu kami pulang dulu yah? aku sudah tidak sabar memberitahukan hasil ujian kami" Emi dan Feby juga Adora saling berpandangan memberi tanda untuk keluar bersama-sama. "Aku juga deluan,, ini harus dirayakan bersama orang tuaku! Aku penasaran dengan wajah terkejut ibuku! tambah Rinto yang melambaikan tangan keluar kelas diikuti oleh Emi, Feby dan Adora sambil tersenyum manis ke arah Alisya. "Sepertinya mereka tidak berterimakasih kepadaku! Padahal aku kan yang sudah memberikan tips dalam membuat ringkasan materi itu!" Adith setengah berteriak membuat keempat orang yang masih berada di depan pintu mengerem langkah mereka dan terdiam membatu. Sejurus kemudian badan mereka kaku dan tidak bisa melangkah maju sehingga Beni dengan cepat berbalik menyalami tangan Adith dan mengayunkannya dengan cepat sambil mengucap terimakasih. Ketiga wanita itupun tak mau ketinggalan. "Laki-laki ini benar-benar menakutkan" Ucap Yogi melirik ke arah Adith. "Dia sangat licik" tambah Karin "No comment" lirih Rinto. "Dasar Jenius yang Nakal! Dia paling suka berbuat seenaknya" Lanjut Alisya. "Aku bisa mendengar semuanya!!!" Aditg menatap tajam mereka. "Ahhh,,, maaf!!!" mereka kompak mengucapkannya tapi dengan nada mengejek yang kaku. "Kalau begitu kita juga sudah bisa pulang!" Karin bersiap melangkah pergi. "Mau kemana kau? kau masih punya urusan denganku!" Alisya menangkap kerah baju Karin dari arah belakang membuat Karin sedikit tercekik karenanya. "Dasar wanita bar-bar" Karin terbatuk-batuk menghadap Alisya. Adith kembali terduduk di lemari kelas menghadap mereka seolah sedang menonton sebuah pertunjukkan drama remaja kolosal. "Aku tidak ingin ikut-ikutan yah!" Ucap Rinto melangkah keluar. "Aku punya urusan mendadak jadi..." Yogi juga melangkah secepat kilat. "Sebaiknya kalian berdua tetap disini!" Alisya menatap tajam keduanya membuat mereka seketika membeku. Adith tertawa melihat tingkah konyol Rinto dan Yogi. Karin tidak yakin bagaimana harus membuka mulutnya terlebih lagi karena ada Adith disana. "Pertama jelaskan mengenai penculikan yang di alami Rinto" Tegas Alisya mantap. Mendengar namanya disebutkan, Rinto berbalik dan berdiri disamping Karin. "Itu terjadi karena aku yang marah dan malu telah dikalahkan olehmu berusaha untuk mencelakaimu dengan memukulmu dr bgaian belakang! Namun tepat sebelum aku melancarkan Aksiku padamu seseorang berpakai serba hitam telah berhasil menangkapku dan memberiku pelajaran" Jelas Rinto dengan suara gentar. "Pada akhirnya mereka melepaskan Rinto dan memberikan tugas kepadaa Rinto untuk mengawasi setiap gerakanmu Sya"Tambah Karin. "Baiklah aku mengerti itulah kenapa sekarang kakek dan ayah akhirnya menemukan keberadaanku!" Ucap Alisya lemah. "Kamu tidak bisa terus-terusan menghindari mereka Sya," Karin berdiri menatap Alisya khawatir. "Aku tau Karin, tapi aku tak ingin nenek, kamu dan orang d sekitarku!" Tegas Alisya. "Tapi..."Alisya langsung memotong Karin. "Tidak usah khawatir, kali ini aku akan menghadapi mereka secara langsung dan tidak melarikan diri lagi" Alisya mengusap lembut rambut sahabatnya yang sangat disayanginya tersebut. "Alisya...." Karin dihentikan oleh gelengan kepala Alisya. Karin hanya menunduk tak berdaya. "Sekarang jelaskan apa yang terjadi pada Miska dan kenapa itu berhubungan denganku?" "Itu karena mereka mencelakaiku dan mengurungku digudang kemudian mengancammu!" Suara Karin serak memperhatikan Alisya khawatir. Alisya terdiam beberapa saat dan mencoba memgingat. Nafas Alisya memburu dan ia terdorong kebelakang. Kakinya lemas mengingat kondisi Karin yang terikat dikursi didalam gudang, tempat yang paling menakutkan bagi Alisya. Adith bereaksi dan dengan segera menangkap tubuh Alisya yang lemas. Wajah Alisya pucat pasih dan tubuhnya bergetar hebat dengan telinga yang berdengung kuat. Alisya memegang erat telinganya yang meronta dalam diam. Adith memeluknya dan melepaskan genggaman Alisya lalu kemudian ia pingsan di hadapan Adith. Chapter 40 - Kamu sudah mengetahuinya? Melihat Alisya yang sudah terbaring membuat kekhawatiran Karin menjadi kenyataan. Ia sudah menduga kalau Alisya pasti tidak akan suka dan tak sanggup jika harus mengingat dirinya yang terikat dalam gudang karena itu akan mengingatkannya pada trauma masalalunya. Rambut Alisya terurai kebelakang memperlihatkan lehernya yang jenjang dan putih. Adith bisa melihat jelas 3 tahilalat yang terdapat dibawah telinga Alisya. Adith tau betul kalau ia tak salah pernah melihat tahi lalat ini. "Karin, bantu aku membawa Alisya ke UKS!" Pinta Adith menatap Karin yang terduduk lemas. "Yog, kamu bantu Karin. Ayo Adith!" Rinto mengambil insiatif melihat Karin yang tak bisa menggerakkan tubuhnya. Rinto dan Adith segera membawa Alisya ke UKS sedangkan Karin menelpon ayahnya untuk bisa segera mengecek kondisi Alisya. Butuh beberapa waktu agar ayahnya bisa berada didalam UKS dimana Alisya terbaring dan Karin terduduk di sudut menerenungi kesalahnnya karena mengingatkan Alisya mengenai trauma terdalamnya. "Ayah,, aku sudah berusaha untuk tidak menceritakannya tapi Alisya maksa ingin tahu!" Karin dengan cepat menjelaskan ke ayahnya. "Tidak apa sayang, mungkin sudah saatnya Alisya tau yang sebenanrnya!" "Maksud ayah???" Karin bingun dengan perkataan ayahnya. "Selama ini, semenjak Ia bertemu dengan Adith, Ia selalu mengalami mimpi buruk mengenai masalalunya. Mungkin keberadaan Adith telah membangkitkan kenangan masa lalunya" Jelas ayah Karin. "Jadi selama ini dia cerita ke Ayah?" Karin merasa sedikit kecewa karena Alisya tak pernah memberitahunya. "Lebih tepatnya nenek Alisya yang memanggilku untuk memberinya pil agar ia tenang karena semenjak kau diculik ia tak pernah bisa tertidur sedetikpun. Tapi Adith, hanya di pelukan Adith dia bisa tertidur." Ayah Alisya melirik ke arah Adith yang menatapnya bingung. "Maksud Om???" Adith mengerutkan keningnya meraba-raba perkataan Ayah Karin. "Ayahku dan aku merasa kalau kalian berdua tehubung satu sama lain. Baik sekarang maupun dimasa lalu" Terang Karin. "Tapi sebelum itu, sebaiknya kita menunggu Alisya sadarkan diri dulu barulah kami bisa menjelaskan duduk perkaranya" Ayah Alisya memberikan suntikan penenang dan obat yang selama ini sering digunakan oleh Alisya. "Tapi apakah dia tidak akan apa-apa?" Karin khawatir mengenai kondisi Alisya. "Alisya lebih baik mengetahui bahwa mimpinya adalah sebuah kebenaran, dengan begitu dia harus siap untuk menerima semuanya dan belajar menghadapinya" Tegas Ayah Karin. "Kalau begitu kami keluar dulu" Rinto takut kalau kehadiran mereka akan sedikit mengganggu. "Tidak, kalian tetap disini. kalian bisa ikut mendengarkan agar bisa membantu Alisya lebih banyak nantinya" Pinta Ayah Karin. "Akan sangat membantu jika kalian juga bisa mengetahuinya. Alisya sangat berterimakasih kepada kalian berdua selama ini" Karin menatap Rinto dan Yogi. Setelah beberapa saat mereka terdiam dalam pikiran yang tak karuan Alisya mulai membuka matanya. "Alisya, kamu tidak apa-apa? Maafkan aku karena aku kamu..." Karin terisak melihat Alisya yang sudah sadarkan diri. "Kamu nggak salah Karin, aku yang memintamu menjelaskannya. Terimakasih karena selama ini kamu sudah menjagaku!" Alisya membelai lembut kepala Karin. "Alisya, ada beberapa hal yang harus kamu ketahui" Ayah Karin menatap Alisya serius. "Apa itu ada hubungannya dengan mimpiku selama ini om?" Ayah Karin mengernyit mendengar pertanyaan Alisya. "Kamu sudah mengetahuinya?" Tanya Ayah Karin ragu. "Aku tau selama ini om selalu datang kerumah untuk memberiku pil penenang agar aku bisa tertidur, tapi itu hanya membuat aku semakin jelas melihat mimpi-mimpiku!" Jelas Alisya lemah. "Itu artinya kamu sudah siap untuk mengetahui yang sebenarnya?" Ayah Karin ingin memastikan. "Iya om. itulah kenapa aku meminta Karin untuk menjelaskannya. tapi begitu mengingat Karin yang terikat digudang aku tak bisa menahan diri" Suara Alisya tak pernah terdengar selemah itu. Adith mendekati Alisya dan memegang pundaknya untuk menguatkan Alisya. "Alisya, om sudah melakukan beberpa penyelidikan mengenai keterikatan kalian satu sama lain tapi om tidak bisa mendapatkan info lebih selain dari kalian mungkin saling mengenal satu sama lain jauh sebelumnya" Ayah Karin menatap Alisya dan Adith secara bergantian. "Aku juga sudah melakukan hal yang sama om! tapi aku tak bisa mendapatkan informasi apapun mengenai Alisya. Kenapa dia begitu misterius dan semua informasi mengenai dirinya seolah tak pernah ada. apa maksud dari semua itu?" Nada Adith terdengar bergetar. "Itu karena Kakek dan Ayah Alisya!" Ucap Karin tegas. "Ada apa dengan Kakek dan Ayah Alisya?" Adith menyipitkan matanya tak mengerti maksud Karin. "Kakek Alisya adalah Takahasi Yamada, Seorang bisnisman terkemuka Jepang yang memiliki kekuasaan yang sangat besar terhadap kelompok Yakuza disana maupun di Indonesia, dan nenek Alisya adalah pensiunan seorang Sniper wanita pertama anggota khusus di Indonesia yang keberadaanya sangatlah rahasia. Itulah menjadi salah satu faktor mengapa keberadaan Alisya disembunyikan untuk melindungi Alisya" Terang Ayah Karin dengan nada serius. Mata Adith membelalak tak percaya begitu mendengar nama Takahasi Yamada disebutkan. Ia tak percaya bahwa Alisya ternyata anak dari seorang yang paling berkuasa dan berbahaya di jepang. Kakeknya itu juga merupakan saingan utama bisnis keluarga mereka di Indonesia yang memiliki perusahan terkemuka di Indonesia. "Takahashi Yamada? aku pernah bertemu dengannya beberapa kali sewaktu mengikuti perjalanan bisnis bersama ayahku. lalu bagaimana dengan ayah Alisya?" Adith mulai meraba-raba siapa Alisya sebenanrnya. "Ayah Alisya tidak berbeda jauh dari nenek Alisya, Ayahnya adalah seorang menteri pertahanan Indonesia yang juga merupakan Komandan tertinggi dari pasukan khusus Kopaska yang juga bersifat sangat rahasia. Aku tidak bisa menceritakannya lebih detail dari ini karena akan berbahaya bagi kalian. Keberadaan Alisya sangat dirahasiakan karena banyaknya teroris yang ingin membunuh dan menagkap Alisya untuk dijadikan sandra bagi para teroris. Hal inilah yang menyebabkan ibu Alisya terbunuh oleh serangan Bom 10 tahun lalu" Ayah Karin mendekap kedua tangannya mengingat kejadian tersebut. "Ibu Alisya mengambil jejak Ayahnya Takahashi Yamada dalam bidang bisnis sehingga Ibunyalah yang memiliki perusahaan sentral senayan jakarta dan pemilik saham terbesar di Telkom" Tambah Karin. Rinto dan Yogi hanya saling pandang tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Mereka tak menyangka orang sesederhana Alisya adalah seorang cucu dan puteri dan orang-orang ternama di Indonesia. Tubuh mereka bergetar antara kagum dan takut terhadap Alisya. Mereka akhirnya paham bagaimana Alisya begitu misterius dan tak mengenal rasa takut sekalipun. "Itu berarti kejadian penembakan lalu ada hubungannya dengan teroris yang ingin mencelakai Alisya?" Adith menatap Ayah Karin serius. "Benar, itulah kenapa sejak kecil Alisya sudah diajarkan untuk bisa melindungi dan mempertahankan dirinya. tapi Alisya tumbuh dan berkembang lebih dari sepengetahuan Ayah dan Kakeknya. Alisya melebihi perkiraan mereka dimana kepribadiannya akan sangat berbahaya dalam tahap ekstrim. Ini mungkin berhubungan dengan trauma masa kecilnya sehingga secara tak sadar ia selalu melupakan hal-hal yang dianggapnya berbahaya." Jelas ayah Karin. "Maksud om, kepribadianku akan sangat berubah jika aku mengalami kondisi ekstrim dimana kemampuanku menjadi sangat tajam dan sangat ahli?" Ucap Alisya setelah menganalisa dirinya. "Kamu tidak sadar jika kemampuanmu meningkat dari segi kecerdasan maupun kemampuan fisik. Sama ketika pertama kali kamu berhadapan dengan para teroris yang membunuh ibumu. Kau tak sengaja menemukan mereka kembali disebuah swalayan yang sudah bersiap untuk menaruh bom disebuah dos di sekitar toilet pria. Kau yang masih SMP dengan insting dan pendengaranmu yang sangat tajam dengan mudah menemukan keberadaan bom tersebut dan menjinakkanya. Aku tak yakin bagaimana kau melakukannya dan bagaimana kau bisa mengetahui cara menjinakkan bom, tapi kau yang bersama Karin saat itu melihatmu menjinakkan bom seperti orang yang sangat ahli dan berkat dirimu pula banyak orang yang bisa terselamatkan. Mungkin saat itu kau bereaksi dengan penuh amarah terhadap bom yang sama dengan bom yang pernah membunuh ibumu!" Jelas Ayah Karin. Alisya hanya terdiam membatu. Ia tak mengingat kejadian apapun mengenai hal tersebut. Selama ini yang ia ketahui kalau ibunya meninggal karena sakit bukan karena Bom. Tapi mimpi-mimpinya memperlihatkan sebuah kenyataan yang menyakitkan baginya sehingga ia tak begitu terkejut lagi mendengar Ayah Karin menceritakan kebenaran yang sesungguhnya. Namun hati Alisya merasakan kepedihan yang sangat mendalam. Chapter 41 - Sangat Cocok! Semenjak mengetahui kebenaran mengenai Alisya yang sesungguhnya dengan kerumitan dan tingkat bahaya yang bisa di hadapi oleh mereka, Adith tak pernah lagi menampakkan dirinya dihadapan Alisya. Alisya paham bahwa siapapun takkan mengambil resiko untuk bisa terus berada disampingnya apalagi dengan semua hal berbahaya yang bisa mengancam nyawa mereka kapanpun dan dimanapun. "Adith tidak pernah lagi menghubungimu?" Tanya Karin setelah sekian lama berputar-putar mengajak Alisya keluar dari kamarnya yang gelap. "Tidak! mungkin dia akhirnya sadar kalau nyawanya lebih berharga dibanding seorang cewek seperti aku." Jelas Alisya lemah. "Tapi aku tak menyangka ia akan bersikap seperti itu!" langkah Kaki Karin berhenti disebuah Kafe kecil yang nyaman. "Tidak, dari awal memang seharusnya aku tak membiarkan siapapun berada dalam lingkaranku! kau ingatkan penembakan tempo hari?" Alisya mengikuti Karin yang memasuki Kafe tersebut. "Aku tau, tapi ini semua bukanlah salahmu Sya! kau juga tak menginginkan hal ini" Karin mencoba memberikan motivasi kepada Alisya. "Aku sudah mengambil keputusan Karin!" Alisya duduk dan menatap karin serius. "Keputusan??? maksud kamu?" Karin sedikit ragu dengan pemikiran Alisya. "Aku sudah terlanjur diketahui oleh semuanya, aku juga sekarang sudah tak bisa menyembunyikan keberadaanku dari kakek dan Ayah. Nenek juga sudah cukup tua untuk mengurus dan mengikutiku berpindah-pindah tempat setiap kali kakek menemukan kami!" Alisya memandang jauh keluar jendela. "Apa kamu yakin? kamu tau kan resiko apa yang akan kamu hadapi?" Karin membelalakkan matanya tak percaya. Ia tau betul selama ini ia terus menyembunyikam keberadaannya kepada kakeknya karena saudara-saudara kakeknya ingin melenyapkan Alisya yang menjadi pewaris saham terbesar sepeninggal Ibunya. Karena kakeknya juga lah hidup Alisya tak pernah tenang dan orang disekitarnya selalu mendapat masalah. Kakeknya terlalu posesif terhadap kehidupan Alisya sehingga ia tak membiarkan satupun orang untuk mendekati Alisya. Alisya yang menginginkan kehidupan normal terpaksa menyembunyikan dirinya dari kakeknya. Selama liburan akhir semester, Alisya melakukan banyak kesepakatan dengan kakeknya dan tak ingin lagi bersembunyi dari ayah dan kakeknya. Alisya sadar dengan semakin ia terus menghindari keduanya ia semakin mempecundangi dirinya sendiri yang kemudian takkan bisa berguna apa-apa. "Apa kau sudah bisa memaafkan ayahmu???" Karin bertanya kembali kepada Alisya yang sedang menikmati eskrim coklatnya. "Aku takkan pernah bisa memaafkan dia yang sudah meninggalkan Ibu yang bahkan tak pernah kembali sampai Ibu pergi ke peristirahatannya yang terakhir. Dulu aku berharap setidaknya sekali saja ia muncul dan memberikan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah sekaligus seorang suami, tapi itu tak pernah terjadi. Aku juga tak bisa memaafkannya karena memang dari dulu Ayah tak pernah menganggapku sebagai seorang anak hanya karena aku bukanlah laki-laki yang bisa meneruskan obsesinya" Jelas Alisya menekan-nekan eskrimnya. "Alisya, kau tau aku akan terus berada disampingmu tak perduli resiko apa yang terjadi. kau selalu melindungiku selama ini dan selalu menjagaku. aku tau ibumu berpesan agar kita selalu bersama tapi aku tak ingin kau terus terbebani olehnya" Karin menatap Alisya dengan penuh haru. "Karin kau satu-satunya sahabatku, dan aku tau demi bisa melindungi dirimu dan melindungiku, kamu pergi keberbagai pelatihan beladiri. Tapi kau tau aku tetap ingin melindungimu karena hanya kamu dan nenek yang aku miliki sekarang" Terang Alisya memegang tangan Karin. "Tidak Sya, biarkan kali ini kami yang melindungimu! kamu tak perlu khawatir tentang kami, aku juga sudah mendapatkan lisensi" Karin menaikkan kartu lisensinya. "Lisensi asisten dokter dan apa ini??? lisensi ahli menembak (Sniper) kamu sudah gila yah? sejak kapan kamu melakukan ini? tunggu dulu apa maksudmu dengan kami?" Alisya menyerang Karin secara bertubi-tubi. "Karena kami tak ingin kemapuan kami kalah darimu Alisya,,," Bisik seseorang dibelakangnya sambil mengambil eskrim coklat dari tangan Alisya. "Kak Karan??? kapan kakak kembali???" Alisya kaget melihat Karan dihadapannya. "Kemarin!!! Karin yang menelponku berkata hampir sebulan selama liburan kamu tak pernah keluar dari kamarmu" Karan memberikan kecupan ke jidat Karin. "Apa''an sih kak, aku tuh sudah SMA tingkat 2! bukan anak kecil lagi yang pakai dikecup-kecup segala" Karin kesal dengan perlakuan Karan yang selalu memanjakannya. "Apa''an sih,, Alisya diam aja tuh aku kecup!" Lirik Karan ke Alisya. "Ya itu karena Alisya lagi shock dengan kedatangan kakak, selain itu Alisya juga kan ada pera..." Mulut Karin seketika disuapi eksrim oleh Alisya. "Hai Alisya,,," Adora, Emi dan Feby menyerobot duduk disamping Alisya. "Ngapain kalian ada disini?" Alisya terpojok didekat jendela. "Karin yang menghubungi kami" Rinto, Yogi dan Beni muncul dari balik kursi. "Karin??" Alisya membelalakkan matanya dengan rencana karin. "Ya ampun Sya, ini tuh hari minggu terakhir kiya liburan! Yah... seharusnya liburan bareng teman-teman dong!" Karin tersenyum nakal memandang Alisya. "Kami sudah lama merencanakan ini, kami temanmu Sya, jadi biarkan kami melakukan hak kami sebagai temanmu!" lanjut Yogi tersenyum manis. "Kau tak perlu khawatir, mereka akan aman jika ada kamu, aku dan Karin disini. aku sudah menyebar orang untuk memantau dari jauh jika ada hal yang mencurigakan" Tambah Karan menunjukkan benda hitam ditelinganya. "Aku juga sudah menyiapkan ini agar kamu bisa lebih nyaman! Wajah kamu sudah gampang dikenali maka dari itu kau harus pakai ini" Karin mengeluarkan pakaian perempuan dan Wig pirang sebagai alat penyamaran Alisya. Alisya menatap mereka tak percaya. Ia tak menyangka kalau mereka sampai menyiapkan rencana sampai sematang itu. Alisya pasrah dan mengikuti semua rencana mereka. Dia yang sebelumnya sudah memakai topi dan kacamata hitam sebagai bentuk penyamarannya kini berubah menjadi seorang wanita cantik dengan rambut palsu pirang dan gaunnya yang sangat anggun dan menawan. Semua mata melihat Alisya dengan tak berkedip. Mereka tak bisa memalingkan pandangan mereka dari wajah Alisya yang sangat cocok dengan gaun yang di pakainya dan juga kontras dengan warna kulit putih cerahnya. "Ehem... aku cocok nggak pake ini???" tanya Alisya malu-malu. "Co..." Karan mencoba membuka mulut. "SANGAT COCOK!!!" semuanya kompak membuka mulut dengan keras. Alisya terkejut dengan reaksi spontan mereka membuat karan tertawa terbahak-bahak. Karan yang tertawa memperlihatkan rahangnya yang kokoh membuat Adora, Feby dan Emi terpesona. "Adora,, hari ini kita beruntung banget yah???" Bisik Emi ditelinga Adora. "Bonus pemandangan yang lebih indah" Tambah Feby. "Kar, bisa aku bawa pulang nggak???" Adora mendekati Karin tanpa mengalihkan pandangannya dari Karan. "Coba aja kalau kalian bisa mengalahkan Alisya!" Bisik Karin. "Jadi kak Karan juga milik Alisya???" sungut Feby lemas. "Auto pasrah! kita nggak sebanding ama Alisya!" Tambah Emi. "Maju aja,,, dia bukan hak milik siapa-siapa kok" Alisya setengah berbisik di belakang Emi sambil memainkan matanya. "Beneran nih Sya???" Feby meraih tangan Alisya semangat. "Tentu saja, apa-apan sih kalian ini" Alisya tertawa lepas melihat tingkah ketiga orang yang sudah terpana akan ketampanan Karan. "Kita nggak dapat bagian kayaknya To!" Nyegir Yogi pelan. "Aku sih santai, tau dirilah kalau kurang...." Jelas Rinto sambil berpose keren. "Emang kamu kurang apa To?" Tanya Yogi heran karena Rinto bisa dibilang tampan dan memiliki cukup banyak uang karena orang tuanya tergolong mampu. "Aku kurang suka sama mereka" Rinto menutup mulutnya ketika tertawa. Para wanita mendengar jelas kalimat yang dikeluarkan oleh rinto dan serempak berbalik menatap tajam kearahnya. "Berhati-hatilah dengan Modus teman yang butuh. Terkadang yang tersenyum penuh justru menyimpan sifat pembunuh" Seru Karin dengan tatapan sinis. "Hahahahahaha,,, kena kan kamu???? muna sihh..." Yogi mengejek Rinto yang memerah karena malu. Hari itu mereka bersenang-senang dengan mengunjungi beberapa toko pakaian, toko kecantikan juga toko aksesoris yang terdapat didalam Lippo Plaza Senayan Jakarta. Hingga mendekati pukul 19.00 mereka segera menuju ke Bioskop dan segera memesan tiket Filem Horor yang tentu saja memacu adrenalin mereka selama didalam. Alisya benar-benar menikmati kebersamaan mereka hari itu dan melupakan sejenak kegundaan hatinya ketika terus saja mengingat Adith. Baru kali itu Alisya bisa dengan leluasa keluar bersama teman yang lebih banyak, bercanda dan tertawa tanpa harus merasa terbebani dan takut akan sesuatu. Teman-temannya benar-benar memberikan kenangan yang takkan pernah Alisya lupakan sampai kapanpun. Chapter 42 - Emang lagi Manja Pagi hari Alisya terbangun dengan wajah yang sudah tampak lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Ia tersenyum melihat neneknya yang sudah menyiapkan sarapan pagi didapur. "Nenek nggak usah repot-repot.. kan aku bisa buat sendiri" Suara Alisya manja setelah keluar dengan pakaian seragam sekolah yang lengkap. "Nggak apa sayang, nenek pengen saja buatin kamu. Hari inikan kamu pertama masuk sekolah!" Neneknya memberikan piring berisi sandwich dan segelas susu putih. "Makasih ya nek, tapi mulai besok biar Alisya aja yang buatin buat nenek!" Pinta Alisya sambil menggigit rotinya. "Nggak sayang, nenek suka kalau hanya buat sarapan untuk kamu! Biarkan nenek melakukanya yah.. nenek bosan kalau hanya duduk nonton saja!" Jelas neneknya lagi ikut sarapan bersama Alisya. "Ya sudah, tapi jangan dipaksain yah? aku nggak mau nenek sakit" Alisya meminta dengan serius. Baru saja ia mengangkat gelasnya, ia mendengar bunyi motor yang cukup familiar baginya. Hampir saja susu itu masuk kehidungnya karena terkejut. Dengan cepat ia langsung menerobos menuju kepintu dan membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. "Pagi Alisya,,, kamu sudah nggak sabar liat aku yah?" Karan muncul dengan sumringah. Alisya menutup pintunya tanpa mempersilahkan Karan masuk kedalam rumah. "Kok pintunya ditutup lagi Sya???" Neneknya bingung dengan reaksi Alisya. "Tau nih nek, Alisya kok jahat amat!"Karan menyelipkan kepalanya sedikit. "Eh,, nak Karan kapan balik??? ayo masuk!" Neneknya dengan ramah membukakan Karan pintu. "Aku udah 3 hari balik nek... cuman baru sempat kesini" Karan masuk dan menyalami nenek Alisya. Alisya segera menuju ke kamarnya dan mengambil tas serta topi sekolahnya. "Kamu lagi nunggu orang lain yah? mukamu kecewa amat!" Karan menggoda Alisya yang tampak suram. "Tumben kakak kesini" Sungutnya. "Aku mau ketemu nenek sekalian jemput kamu!" Terang Karan masih memeluk nenek Alisya. "Tuh nek, jagoan nenek lagi pengen dimanja!" Tunjuk Alisya dengan bibir mungilnya. "Emang lagi manja, lagi pengen dimanja!" Karan berjoged menyanyikan lagu dangdut dengan lincah membuat nenek Alisya tertawa lembut. "Kamu tidak berubah yah nak Karan, suka ngelawak dari dulu" Nenek Alisya memgelus wajah karan menahan tawanya. "Ya udah, nek aku jalan dulu yah!" Alisya mencium tangan neneknya. "Lah, tungguin napah..." Pinta Karan cepat. "Bukannya kakak masih mau manja-manja''an sama nenek?" tanya Alisya bingung. "Aku kan tadi udah bilang sekalian jemput kamu!" Jelas Karan. "Oh itu beneran?" mata Alisya menyipit menggoda. "Nggak, aku lagi ngelawak!" Karan memasang wajah cemberut. "Ya sudah, aku pergi!" Alisya bergerak menuju pintu. "Woyyy!!! aku pergi dulu ya nek, lain kali kesini lagi" Karan menyalami nenek Alisya yang tertawa melihat tingkah kedunya. "Hati-hati di jalan yah..." Nenek Alisya melihat Karan yang mengejar Alisya. **** "Karin, Alisya sudah datang?" Adora langsung menyerbu begitu memasuki kelas. "Belum, sebentar lagi datang kok!" Karin duduk setelah merapikan roknya. "Karin Alisya mana?" Feby bertanya dengan wajah serius. "Kayaknya masih dijalan" Karin menjawab sambil melirik ke arah jendela yang menghadap ke pintu gerbang. "Loh Karin, Alisya mana?" Kali ini Emi yang menanyakan Alisya. "Belum datang, sebentar lagi mungkin masih di jalan" Karin mulai kesal karena pertanyaan yang sama. "Kar, Karin, Karin.... Alisya, Alisya, Alisya???" Beni masuk langsung menyebut nama Alisya dengan ekspresi sedang mencari Alisya. "Kalian kenapa sih??? kenapa pada kompak nyari Alisya?" Suara karin terdengar ketus. "Kami ingin mengucapkan terimakasih kepada Alisya!" mereka saling pandang mengangguk pelan memberi tanda kalau tujuan mereka sama. "Terimakasih? terimakasih buat apa?" Alisya masuk diikuti oleh Rinto dan Yogi. "Wow,,, tumben pagi-pagi kalian udah ngegosip!" Yogi menaruh tasnya lalu mendekati mereka yang mengelilingi Karin. Mereka tidak segera menjawab dan membukakan jalan untuk Alisya bisa menuju ketempat duduknya yang berada disebelah Karin. "Sya, ayahku dipanggil bekerja disebuah perusahaan elektronik Miyako" Terang Adora dengan semangat. "Ayahku juga di panggil kembali bekerja dan diberikan posisi yang baik di toyota" tambah Emi "Ayahku diberikan ganti rugi dan ditempatkan di posisi yang sama ditempat dia bekerja sebelumnya diperusahaan yang sama dengan ayah Adora" Lanjut Feby. "Ayahku, ayahku kembali mendapatkan jabatanya di pemerintah setelah terbukti tidak salah" Rinto menatap Alisya dalam. "Dan kami semua tau, meski kali ini mereka tidak memyebutkan kenapa dan bagaimana semua hal tersebut terjadi..." Adora menoleh kearah emi dan Feby. "Kami yakin ini pasti karenamu Alisya" Tambah Beni tersenyum manis. "Untuk itu kami mengucapkan terimakasih banyak!!!" Mereka serempak menundukkan kepalanya sedikit. "Bukan hanya diberi posisi yang baik, tapi nama baik ayahku juga telah dikembalikan karena tidak terbukti bersalah" Adora mulai bersuara serak. "Gaji mereka yang tidak dibayarkan sebelumnya juga sudah diberikan serta perusahaan telah memohon maaf serta membersihkan nama baik Ayahku!" Lanjut Feby. "Terimakasih banyak Alisya!!! Maafkan perlakuan orang tua kami..." Kali ini emi tak bisa lagi membendung air matanya yang tumpah. "Wahh... Alisya jahat ih,,, sudah buat mereka menangis dan tak mau berkomentar" Suara mengadu domba Yogi membuat mereka tertawa. "Apa''an sih Yog" Alisya menendang kaki Yogi. "Sya, itu bukannya kolega-kolega dari perusahaan kakek yah?" Karin setengah berbisik ke Alisya dan dibalas anggukan kecil. Alisya sengaja meminta kakeknya untuk bisa mengembalikan posisi atau membersihkan nama baik teman-temannya yang telah dirugikan karenanya dengan tidak secara langsung meminta kakeknya memasukkan mereka di perusahaan mereka sendiri melainkan melalui perusahaan kolega kakeknya. sehingga dengan begitu Alisya takkan diketahui terlalu banyak ikut campur dalam hal ini untuk menghargai orangtua teman-temanya namun memang karena mereka sama sekali tak bersalah dan hanya mengalami pemfitnahan saja. "Sudahlah, aku tak melakukan apapun. itu semua karena Ayah kalian memang tak melakukan kesalahan!" Alisya memeluk Emi hangat membuat emi membalas memeluk Alisya dengan lebih erat. Tangisannya sedikit reda tapi belum menghilang. "Kau tau, perusahaan yang sebelumnya mengalami masalah karena memperlakukan karyawan mereka dengan seenaknya saja!" mata Feby menyala ketika menceritakannya. "Perusahaan ayahku juga mengalami hal yang sama, saham mereka menurun drastis dan banyak pemilik saham memcabut kepemilikan dan saham mereka disana" Lanjut Adora. "Mereka semua mendapat balasan yang setimpal atas perlakuan mereka dan atasan ayahku telah pindahkan ketempat lain" tambah Beni. "Aku bersyukur akhirnya semua bisa terselesaikan dengan baik!" Rinto memegangi pundak Beni. "Sekarang, yang penting semuanya sudah baik-baik saja!" Yogi menepuk pundak beni yang sebelah lagi. "Gayamu Sok keren!" Karin tertawa tipis. "Memang aku keren kan?" Yogi bertanya dengan tampang serius. "Kalau dilihat dari ujung pipet!" Terang Alisya. Semua tertawa melihat Yogi yang bersungut manja. wajah Yogi tidak setampan Rinto namun dia memiliki kharisma sendiri dan tampak manis dengan kulitnya yang sedikit kecoklatan. "Pagi semuanya..." Ibu Arni masuk menyapa seluruh siswa. "Pagi bu,,," Jawab semuanya serempak lebih antusias. "Wow... ibu senang kelas ini kelihatan lebih hidup dibanding sebelumnya!" Ibu Arni melempar pandangannya ke seluruh siswanya. Mereka hanya tersenyum-senyum penuh arti membuat Ibu Arni merasa gemas dan cukup penasaran. "Oke, ibu mau memberitahu kalau sebentar lagi akan ada pemilihan ketua osis! jadi ibu harap kelas kita ada yang ikut serta dalam pencalonan" Ekspresi wajah ibu Arni begitu bersemangat ketika menyampaikan hal tersebut. "Tenag saja bu, kelas kita sudah memiliki calon bu..." Yogi berdiri dengan suara setengah berteriak agar bisa didengar semunya. "Bagus,, ibu suka semangat kalian! Ibu harap kalian bisa menang dan memimpin dengan baik. Ibu takan bertanya siapa calon yang sudah kalian pikirkan, karena ibu yakin pada pilihan kalian" Terang Ibu Arni dengan nada yang menyemangati. "Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk mendukungnya bu" teriak yang lainnya. "Ibu senang kalian lebih antusias. sebelum pemilihan Osis, sekolah akan mengadakan Porseni (Pekan Olah Raga dan Seni) antar kelas". Semuanya semangat dan berteriak antusias. "Ibu harap kalian semua bisa mengikuti semua kegiatannya dan menunjukkan kekompakkan kelas kita!" tambahnya lagi. Seisi kelas menjadi ribut karena penyampaian ibu Arni. bagi mereka porseni adalah ajang persaingan untuk menunjukkan bakat serta kemampuan mereka dan lebih penting lagi bisa menaikkan citra dan rasa percaya diri mereka sekaligus ajang hiburan terbaik ketika bersekolah. Porseni adalah salah satu kegiatan sekolah yang seperti festival untuk di SMA CENDEKIA INDONESIA karena sekolah akan membuka gerbang mereka bagi khalayak umum untuk melihat seluruh kegiatan yang ada dan tentu saja bisa menjadi ladang bisnis bagi para siswa dengan membuka Stan-stan makanan serta jualan yang berhubungan dengan sekolahnya. Chapter 43 - Kamu Bisa Masak?? Jam Istrahat... "Oke teman-teman, tolong perhatiannya sebentar" Karin berdiri didepan sebagai ketua kelas yang sedang mengarahkan seluruh anggota kelasnya didampingi Rinto. Rinto berdiri sambil memegang secarik kertas brosur porseni yang baru saja diberikan oleh ibu Arni sewaktu mereka dipanggil ke ruang walikelas. "Kita akan membahas mengenai anggota yang akan mengikuti kegiatan Porseni nanti, untuk diharapkan perhatiannya sebentar" Karin menarik perhatian sekelasnya sekali lagi. "Aku sudah memegang brosur yang berisi kegiatan-kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan dalam kegiatan porseni nanti, untuk itu kita akan buat dalam 3 tim yang terdiri dari tim olah raga, tim seni dan terakhir adalah tim untuk penjaga stand kelas" Jelas Rinto menempelkan brosur di papantulis yang cukup besar seukuran kertas A4 yang dapat dilihat oleh semunya. Karin dengan cekatan membagi papan tulis dalam 3 bagian dan menuliskan keterangan tim pada tiap bagian. "Tiap orang berhak mengikuti semua kegiatan yang di inginkan tetapi khusus untuk Tim Stand, kami mengharapkan orang yang tetap berada di tempat untuk terus berjaga yang dengan kata lain tidak bisa mengikuti kegiatan olah raga maupun seni." Karin mengingatkan teman-temannya. Seluruh kelas tampak antusias namun kemudian sedikit berfikir untuk memilih dengan baik demi meningkatkan citra kelas mereka dengan lebih baik. "Kita akan mulai dari sekarang untuk Tim olah raga, ada beberapa kegiatan dimulai dari Folly putra/putri, basket putra/putri, bulu tangkis putra/putri, tenis meja putra/putri, catur putra/putri, lomba lari putra/putri, lompat jauh putra/putri dan khusus putra saja adalah Futsal. Bagi yang memiliki kemampuan ini bisa mengajukan nama kalian!" Pinta Rinto sembari mulai menuliskan cabang-cabangnya disertai dengan jumlah anggota yang akan dituliskan namanya. Tak disangka semua dengan semangat mengajukan diri sesuai dengan bidang yang mereka kuasai secara antusias tanpa perlu ada paksaan dari orang lain. Melihat ini Karin tersenyum membara karena ia tak menyangka kalau mereka bisa se antusias ini untuk mengikuti sejumlah kegiatan yang ada. Tidak butuh waktu lama bagi Rinto untuk menuliskan sejumlah nama2 yang akan mengikuti seluruh kegiatan yang ada. "Untuk pentas seni, sekolah telah me list kegiatan diantaranya yaitu pembacaan puisi, paduan suara, lomba menyanyi pop dan dangdut, serta di puncak kegiatan di akhir acara seluruh kegiatan akan ada pemilihan ratu dan raja sekolah. untuk yang terakhir pemilihan pesertanya masih dirahasiakan dari panitia untuk lebih memeriahkan acara nanti" Jelas Karin memegang spidol siap untuk menuliskan nama anggota yang ingin ikut serta. Beni yang sudah tak di ragukan lagi memiliki bakat dibidang seni dengan cekatan memilih anggota paduan suara yang dirasa cukup mampu hanya dengan latihan 3 hari saja. Beni adalah seorang pelatih handal yang dikemudian hari bisa dipastika bahwa dia memiliki masa depan yang cerah dalam bidang entertaiment. Untuk bidang seni lainnya para anggota yang namanya masuk kedalam tim olah raga pun tak ketinggalan ambil bagian. untunglah saja waktu antara pelaksanaan kegiatan olah raga tak bertepatan dengan pelaksanaan kegiatan seni dimana jika olah raga dari pagi hingga sore hari, maka seni dimalam hari. Inilah mengapa Porseni di sekolah SMA CENDEKIA INDONESIA sangat dinantika tiap tahunnya karena orang luarpun dapat menyaksikan pertunjukkan bakat yang bagaikan festival megah memukau mata dan sangat menghibur bahkan menerima orang luar datang dan melihat dengan bebas kegiatan itu dilaksanakan. Semua siswa sudah mengambil bagian yang tersisa hanyalah Alisya yang terdiam terpaku tak tau apa yang harus dilakukan karena ia tak pernah mengikuti satu kegiatan apapun sewaktu ia masih SD dan SMP sebelumnya. Alisya melongo melihat semua mata kini yang tadinya sibuk dan antusian mengajukan diri dalam setiap kegiatan beralih menatap Alisya serius yang sedang makan dengan lahap tanpa menghiraukan kericuhan teman-temannya. "Kenapa?" Tanya nya acuh tak acuh. "Kamu sadar nggak dari tadi kamu sibuk sendiri?" Karin menatapnya dengan nada mengejek. "Aku nggak ikut semua itu! aku nggak suka keributan dan keramaian!" Ucapnya sambil menyedot coca cola dengan bunyi yang melecehkan. Karin menepok jidatnya lupa dengan kebiasaan sahabtnya yang satu itu. untuk alasan itu ia tak bisa memaksa alisya untuk mengikuti kegiatan yang akan banyak menarik perhatian. "Kalau begitu kamu bisa menjaga Stand! kamu hanya perlu melayani pelanggan saja sedang aku yang akan menjadi kokinya" Rinto membuat semua mata melongo dengan ucapannya. "Kamu bisa masak??" Adora penasaran. "Kalian bisa jadi pelanggan pertamanya untuk membuktikan kemampuan memasakanya" Jelas Yogi dengan sunggingan senyum. "Baiklah, karena sisa kita berempat yang belum memiliki posisi berati maka kita berempat bisa menjaga stand sembari aku dan Rinto mengurus beberapa hal yang kalian perlukan besok" Karin memandang Yogi dan Alisya mengisyaratkan orang yang di isyaratkan adalah Alisya, Yogi, Rinto dan dirinya. "Apa tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan???" pinta Alisya mencari alasan. "Tentu saja ada!!! kamu bisa menjadi SPG penyebar brosur agar semua orang datang mengunjungi stand kita!" Tantang Karin dengan senyuman licik. Mata Alisya membelalak pasrah dengan warna hitam bola matanya yang menghilang karena kesal. "Tidak, tidak, tidak!!! aku akan menjadi pelayan saja" Alisya cepat menolak hak otoriter Karin sebagai seorang ketua kelas membuat Alisya tak bisa membantah dengan penuh arti. "Bagus!" Senyum licik Karin membuat bulu kuduk teman-teman sekelasnya bergidik ngeri. mereka tak percaya Karin dengan mudahnya mampu mengontrol Alisya. Seorang Alisya yang tak memperlihatkan kelemahannya dihadapan siapapun yang bahkan terkadang mampu membuat Karin juga terdiam membeku. Melihat ini mereka yakin kalau hubungan kedunya sudah sangtlah erat dan kuat. **** Di ruang wali kelas ibu Arni sudah siap menunggu kedatangan Karin dan Rinto untuk melaporkan hasil rapat mereka dalam menentukan anggota-anggota yang ikut dalam 3 kegiatan inti dalam Porseni yang diadakan tahun ini. Bunyi ketukan membuat Ibu Arni menoleh kesumber suara dan melihat Karin dan Rinto tersenyum sopan melangkah masuk keruang guru. "Permisi bu, maaf sudah lama ibu menunggunya!" Sapa Karin lembut. "Maaf Bu, tadi ada sedikit keperluan dengan panitia sebelum kesini" Rinto menunduk meminta maaf. "Tidak apa-apa, kebetulan masih ada yang ibu kerjakan!" Ibu Arni membereskan beberapa barang sebelum menghadap kembali ke arah Rinto dan Karin. "Semua teman-teman sekelas ikut serta dalam kegiatan Bu, tidak menyisakan satupun yang menganggur! Karin tersenyum menyodorkan nama-nama peserta yang mengikuti seluruh kegiatan. "Alisya juga ikut? lalu kalian? bukannya menjadi pengurus kegiatan sudah cukup merepotkan?" Ibu Arni bertanya dengan penuh Antusias. "Alisya ikut kok bu, jangan khawatir... dia hanya bertugas di stand yang tidak terlalu menarik perhatian dan keramaian! Setidaknya tidak seperti jika dalam kegiatan olah raga maupun seni yang banyak menarik perhatian dan keributan tentunya." Jelas Karin menenangkan ibu Arni. "Kami berdua dan Yogi juga akan ikut membantu menjaga stand jadi tidak perlu khawatir mengenai Alisya" tambah Rinto yakin. Ibu Arni terharu melihat kedua orang remaja yang begitu cekatan dan perhatian terhadap temannya. Mereka berdua dengan terampilnya menangani semua hal kegiatan yang akan dilaksanakan dan mengatasi semuanya dengan baik sehingga menunjukkan kekompakkan kelas mereka yang sebelumnya sedikit terpecah belah. "Kalau begitu ibu bisa percayakan semuanya kepada kalian!" Tegas ibu Arni. "Tentu saja bu! kami tidak bergerak sendiri, melainkan semua teman-teman bergerak dan bekerja sama dalam setiap kegiatan dan saling mendukung satu sama lain meski mereka mengambil kegiatan yang berbeda!" Karin dengan bangga menjelaskan kondisi kelas yang sekaran dilihatnya. "Bukan hanya itu, sekarang tidak ada satupun dari mereka yang meninggalkan kelas. mereka dengan semangat membahas dan menyiapkan hal-hal yang perlu mereka lakukan selama kegiatan nanti" Lanjut Rinto dengan mata berbinar. "Terimakasih, berkat kalian suasana kelas kini lebih hidup dari sebelumnya! Ibu sudah tidak lagi melihat adanya jarak satu sama lain dan terlihat sangat akrab dan hangat dibanding sebelumnya. Ibu sempat takut dan tak tahu harus berbuat apa demi kalian" Ibu Arni memandang tumpukan berkas yang sebelumnya harus ia laporkan karena banyaknya masalah yang timbul. "Ini bukan berkat kami bu, tapi berkat Alisya! Alisya memang dingin dan acuh tak acuh, tapi sebenarnya dia begitu perhatian terhadap orang lain. Selain itu berkat bantuan ibu jugalah kami bisa menemukan dan menyelesaikan masalah dengan baik. bahkan ibu harus sampai melakukan banyak hal demi menutup dan menyelamatkan kami dari berbagai masalah yang timbul" Jelas Rinto dengan nada yang menenangkan. Chapter 44 - Saint Saiya Muncul Pagi dini hari sekolah telah dipenuhi oleh para siswa yang melakukan persiapan dimulai dari mendirikan Tenda Stand yang berjejer sepanjang jalan masuk gerbang sekolah, umbul-umbul bendera merah putih dan berbagai macam hiasan warna warni menggantung dilangit-langit menambah keindahan sekolah yang kini menampakkan suasana fetivalnya. Lapangan olah ragapun sudah mulai berkumpul para peserta lomba dan beberapa penonton serta pendukung menduduki kursi-kursi stadion sekolah yang cukup besar dan luas. "Gimana persiapannya???" Rinto datang membawa beberapa barang yang digunakan untuk memasak. "Udah rapi kok, tempat duduk pelanggan juga udah sedia''in" Tunjuk Yogi memperlihatkan barisan kursi taman yang cantik namun sederhana. Merasa tak asing dengan kursi tersebut membuat Rinto mengernyitkan keningnya. "Dapat dari mana? nyewa???" Ia menaruh barang bawaannya sambil memperhatikan kursi dan meja tersebut. "Hasil nyolong kursi mami" Tatap Yogi dengan wajah bangga. "Kamu sudah gila yah??? mami kamu kan paling sayang sama kursi ituh! mana mami kamu galak lagi" Rinto menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Soalnya aku benar-benar ingin membuat Stand kita bisa ramai pengunjung" Yogi nyengir kuda. "Nih menu yang sudah aku buat!" Alisya datang menyodorkan kertas menu makanan dan minuman yang akan mereka jual. "Wwooowww... Mantap Sya, seksiihhh!!" Rinto dengan refleks menampol kepala Yogi karena ucapannya. "Makasih To,,, kalau aku yang nampol, gigi depannya bisa tandas semua!" Alisya sudah menolak keras ide Karin yang memaksanya memakai baju Maid dengan rok yang tidak terlalu minim tapi memberikan kesan yang kuat. terlebih lagi karena Alisya yang memakainya. Rinto dan Yogi masih tertegun melihat pakaian Alisya berwarna hitam dan putih dengan Stoking panjang sampai pahanya dan telinga kelinci diatas kepalanya. Kali itu aura kecantikan Alisya keluar begitu sempurna membuat keduanya tak bisa memalingkan wajah. "Woy kerja!!! udah mulai rame nih.." Karin membangunkan fantasi liar kedua pemuda yang sedang dalam masa pertumbuhan tesebut. Rinto terbatuk-batuk keras salah menelan air liurnya sendiri. "Ohok,, ohok ohhhokkkk!!! Ka,, karin???" Rinto membelalak tak percaya melihat kostum yang dipakainya. "Ngapain kamu pake kostum kelinci?" Senyum tipis Yogi sedikit naik melihat Wajah imut Karin tampak kecil karena kostumnya yang besar. "Aku akan bertugas buat manggil pelanggan masuk ke Stand kita, kita harus bisa memenangkan penjualan terbesar dan pelanggan terbanyak!" Mata Karin membara dengan seluruh api terlihat membakar kostumnya. "Saint Saiya muncul" gumam Yogi. "Nggak, itu Goku" gumam Rinto. "Salah, itu Kyubi" Gumam Alisya. Karin tidak perduli dengan gumaman ketiga orang yang melongo menatap dirinya. Dengan semangat dia melatih beberapa gerakan untuk menarik perhatian pelanggan. Teriakan teriakan kecil yang ia ciptakan terdengar sangat imut dan lucu. "Oke, orang sudah pada berdatangan tuh! pertandingan juga sudah dimulai, stadion sekarang sudah tampak riuh dan bergelora. Kita juga tak boleh kalah dari mereka yang sedang berlomba! Kalian siapkan menunya aku akan kembali dengan membawa banyak pelanggan" Karin berteriak penuh semangat menghilang dalam kerumunan orang dan tersisa suaranya. "Ehem,, aku baru sadar dengan baju Maid pria yang kalian kenakan! sangat cocok dengan kalian" Puji Alisya membuat Rinto dan Yogi tersipu malu. Mendapat pujian dari Alisya membuat Rinto dan Yogi lebih percaya diri dan segera mengambil posisi dan melakukan tugas masing-masing. Pengunjung mulai ramai datang satu persatu dimulai dari beberapa kerabat dekat Rinto yang sangat antusias ingin mencoba Nasi goreng buatan Rinto yang mereka tahu kalau buatannya tak kalah dengan Nasi goreng buatan Koki restoran ternama. Yogi dan Alisya mulai sibuk melayani mereka satu persatu dan Rinto dengan cekatan bak Koki profesional mengayun ayunkan spatula dan kualinya. Gaya Rinto saat memasak menjadi pertunjukan tersendiri bagi para pelanggan yang hadir. Selain karena wajah Rinto yang tak kalah tampan, caranya ketika mengayunkan kuali berisi nasi goreng dengan tangan kekarnya yang menampilkan urat-urat terlihat sangat menawan dan seksi sehingga tak peduli jika mereka harus menunggu lama, pemandangan itu seolah cukup untuk mengenyangkan mata mereka. "Rinto udah mulai beraksi tuh! Giliranmu..." Goda Alisya menatap Yogi. "Belum saatnya, biarkan dia menyelesaikan tugasnya dulu!" Senyum Yogi seolah menyiapkan suatu pertunjukan. Alisya tersenyum manis tidak sabar menunggu pertunjukkan yang akan disuguhkan oleh Yogi. Rinto dengan cekatan menyediakan Nasi goreng dan menghiasnya diatas nampan sekali pakai sehingga mereka tak perlu repot-repot untuk mencuci piring. Alisya segera menyediakan nampan-nampan yang sudah mengeluarkan aroma sedap tersebut keseluruh meja pelanggan. Rinto melempar pandangan ke arah Yogi mengangguk pela memberi isyarat untuk bersiap melakukan pertunjukkan. "Mumpung masih panas, kalian bisa menunggu 3 menit agar bisa disantap dengan lebih nikmat. untuk itu, bisa kalian liat pertunjukkan berikut ini!" Rinto menarik perhatian pelanggan dengan menunjuk ke arah Yogi. Setelah mengangguk, Yogi memutar musik Dj yang fungky membuat orang bergoyang dengan ketukkan iramanya. kemudian melangkah kemeja yang menyediakan minuman. Menggulung lengan bajunya, ia kemudian mulai mengocok minuman layaknya bartender yang sedang menyediakan minuman koktail berwarna cerah. Dengan lincahnya dia melempar dan menari tanpa menumpahkan minuman yang ada di dalamnya. Gerakan Yogi sangat lihai dan sangat profesional membuat mereka jadi pusat perhatian sehingga menarik banyak pelanggan mengunjungi stand mereka. "Si**, aku jadi kerepotan karena terlalu banyak pelanggan! Karin mana lagi nih. Kasir kan nggak ada yang jaga karena Rinto juga sibuk melayani sambil masak" Alisya melemparkan pandangannya sibuk mencari-cari Karin ditengah keramaian. "Alisya, butuh bantuan???" Adora, Emi, Feby dan Beni datang memberi bantuan setelah selesai dari kegiatan olah raga. "Kalian udah selesai? gimana hasilnya?" Alisya merasa tertolong dengan kehadiran mereka tapi cukup mengkhawatirkan hasil pertandingannya. "Karena sistem gugur kami menang kok! masuk semi final" jelas Beni bangga. "Foly dan basket juga aman!!!" Feby menaikkan jarinya membentuk V,,, "Kalau gitu bantu aku nyari Karin dong, dia pakai kostum Kelinci." Pintanya pada Adora dan Emi. "untuk Feny dan Beni bisa bantu aku buat melayani pelanggan" tambahnya lagi. Adora dan Emi segera melesat menghilang ditengah keramaian mencari Karin. Mereka tak menyangka kalau hari pertama kegiatan sekolah sudah menghadirkan begitu banyak pengunjung bahkan dari sekolah lain yang masih lengkap dengan seragam sekolahnya. Sekolah lain yang mengetahui bahwa SMA CENDEKIA INDONESIA melaksanakan ferstival berbondong-bondong datang begitu jam pelajaran usai. Dari kerumunan Adora dan Emi mendengar teriakan histeris para cewek dengan tampang terpana dan wajah merah merona melihat kesosok seorang cowok tampan berjalan dengan gaya dinginnya. "Lihat, cowok itu tampan sekali" teriak seorang cewek membuat puluhan pasang mata menoleh kearah yang dintunjukkan "Ya ampun, apakah aku mimpi???" terang cewek lain. "Bagaimana bisa seseorang memiliki tampang surga seperti itu?" tambah yang lain. "Apa dia artis??? atau dia anggota Boyband?" Lanjut yang lain lagi. "Ketampanan yang hakiki, dia tampak sangat berkelas!" pujian demi pujian silih berganti mengiringi tiap langkah cowok tersebut. Mereka satu persatu memuji cowok tersebut tanpa berani mendekatinya dan hanya memotret dengan kamera dan handphone mereka. mereka tampak sedang menyaksikan seorang artis papan atas dari jarak yang cukup dekat. Cowok itu memakai setelah Jas yang cukup mahal dan sangat menawan. Sebelah tangannya ia masukkan kedalam sakunnya dan berjalan dengan begitu santai seperti sedang melakukan peragaan model catwalk internasional. Sungguh ketampanan yang sangat menarik perhatian membuat pandangan semua orang melekat padanya seperti sebuah daya tarik magnet yang sangat kuat. Chapter 45 - Dasar Laki-laki "Silahkan mampir ke Stand Elite" Tunjuk Dinar kearah stand mereka yang cukup mewah dan elegan. Stand para elite tampak sangat mencolok dengan gaya barat dan kostum ala kelas atas yang mereka tampilkan membuat mereka terlihat jelas dari kalangan atas. Sehingga tak sedikit banyak dari kelas atas dan juga beberapa artis jakarta tampak beekunjung. Terlihat juga dari pagar yang memakan halaman cukup besar serta para bodyguard yang berdiri sepanjang pagar untuk mengamankan setiap kalangan atas lainnya yang datang berkunjung. Pria itu terus memperhatikan stand milik para kalangan elit dan berdecak kagum dengan interior mahal yang mereka sajikan. "Tempatmu keren dan lumayan!" Ucapnya melihat kesekeliling stand. "Ayo, kami akan mengantarmu kesana!" Dinar segera menarik tangan pria itu. "Kami yakin tempat itu cocok buatmu!" tambah Cecil. Pria itu dengan santai mengikuti langkah mereka dan tetap melihat kesekeling stand-stand lain. Adora dan Emi terkejut begitu menyadari bahwa orang itu adalah orang yang sangat dikenalnya. Bertatapan mata dengan pria tersebut, mereka tersenyum canggung. Melihat senyuman itu Dinar melangkah kedepan si Pria"Berhentilah menggoda, dia adalah tamu special kami" Dinar tidak suka dengan senyuman manis Adora dan Emi. Ini membuat dia berpikir adalah suatu kesempatan besar baginya untuk menjatuhkan para siswa biasa dihadapan banyak orang. Dinar berpikir bahwa Pria itu akan jijik dengan gaya menggoda Adora dan Emi. Adora kesal dengan perkataan Dinar yang tiba-tiba. "Dia bahkan tak berkomentar apapun mengapa kau begitu marah?" "Heh,,, kau pikir dia akan suka jika kau menggodanya?" Balas Cecil tak kalah ketus dari Dinar. "Oh ya? dari mana kalian bisa tau?" tambah emi. "Lihat saja penampilannya,, dia adalah kalangan atas yang tak sepantasnya bisa kalian dekati apa lagi kalian lihat dengan mata!!! Dinar maju memeragakan 2 jarinya seolah ingin menusuk mata Adora. "orang biasa seperti kalian lebih cocok dengan sesama kalian saja, sampah!!!" lanjut Cecil Perkataan Dinar dan Cecil langsung saja mengundang perhatian orang banyak. mereka yang semula juga ingin mendekati pria itu mengurungkan niatnya karena mereka sadar bahwa orang itu berada di level tinggi yang sebaiknya tak perlu disentuh. Mereka menertawakan Adora dan Emi yang dengan bodohnya memercikkan air ke arah platinum yang tidak sebanding. mereka mencemooh sikap tak tau diri Adora dan Emi. Adora dan Emi malu dengan desas desus dibelakangnya yang terdengar mulai tak normal. "Aku baru tau kalau kalian beralih profesi jadi seorang peramal!" Karin muncul ditengah kerumunan dengan kostum kelincinya yang cukup besar. Tingkah Karin yang seperti seorang pahlawan membuat semua orang tertawa sini dan menusuk. Lingkaran penuh mengelilingi mereka menyaksikan kejadian yang cukup menarik. "Pfffttt,,, lihatlah dirimu! kau terlihat cocok untuk jadi seorang badut!" Cemooh Dinar. "Datang lagi si penyelamat sampah! kau tau kalau kau bukanlah siapa-siapa!" tambah Cecil mendorong tubuh Karin dengan kasar. "Kalian adalah orang hina yang tak mampu memberi perhatian! Tapi wajah kalian cukup laku jika oplas 70%!" Dinar dan Cecil tertawa dengan semangat. Si Pria hanya terdiam mendengar pertunjukkan yang menurutnya cukup menarik itu. Ia melipat tangannya sedang serius melihat adegan demi adegan. Tampilan Karin saat itu memang sangat lusuh dan dekil dikarenakan ia harus menggunakan kost yang begitu tebal sembari berkeliling menyebar brosur dihari yang cukup terik. Adora dan Emi pun tak kalah biasanya pakaian yang mereka kenakan. "Aku rasa penampilanku ini cukup membuat Pria itu tersenyum dan terpesona!" Karin menoleh ke arah pria yang tampak terdiam namun terpancing oleh ucapan Karin sehingga ia tersenyum gemas. Melihat Karin yang terlalu percaya diri membuat Dinar kembali tertawa dengan nada menghina. "Sebenarnya aku tak ingin mengatakan ini di hadapan banyak orang, Kostummu tercium seperti Septiktank! aku hampir muntah dari tadi" Dinar sengaja mengatakannya dengan cukup keras agar di dengar oleh semua orang. Beberapa dari mereka yang berada dibelakang dan sebelah karin refleks mundur sembari menutup hidundung. "Aku pernah mendengar anjingku mengentutkan hal yang lebih pintar dari itu!" Balas Karin merendahkan Dinar. Kalimat karin seolah menyulut emosi Dinar karena menganggap dinar tidak lebih pintar dari anjingnya. Pria itu mulai terdengar tertawa dengan keras. "Ada apa ini?" Miya datang dengan sinis tetapi anggun. Mata Pria itu sejurus menatap miya dengan pandangan dalam yang terpesona. "Dasar laki-laki, lihat yang bening langsung goyang ekornya!" Sungut Karin menatap si Pria. "Mereka menggoda dan mencoba mengambil pelanggan sepecial kami Miya!" Dinar menjelaskan situasinya. Miya melirik ke arah pria yang dimaksud dan menemukan bahwa pria ini adalah seorang yang dikenalnya. pria ini adalah orang yang sangat di idolakanya. "Pergilah, tempatnya bukanlah di stand kotor kalian" Miya menekan kata kotor mengingatkan Karin. "Tempat kalian juga tak lebih layak dari kumpulan para iblis!" Adora mulai tak sabar dengan semua cemoohan para Elit. "Hei,, Miya mencoba meperingatkanmu dengan baik!" bantah Cecil. "Sepertinya kalian perlu disadarkan yah... Apa kalian tau dia siapa???" Tanya Miya dengan sinis. "Apa pedulimu kami tau dia siapa???" tantang Karin. "Puffft,,, dia adalah orang yang takkan bisa berdiri sejajar dengan kalian. kalian bahkan hanyalah sampah. Dia adalah seorang dokter muda yang masuk sampul majalah forbes edisi terbatas dan juga merupakan seorang kepala rumah sakit ternama di jakarta! Mana pantas dia duduk di tempat kumuh dan berada di tengah-tengah sampah seperti kalian". Cemooh Miya. Kalimat Miya membuat semua orang semakin ribut dibelakang menghina Karin dan yang lainnya yang terlalu lancang untuk mengajak seorang yang ternama yang pada akhirnya hanya membuat mereka semakin merendahkan diri mereka sendiri. Alisya yang sedari tadi tidak melihat Adora dan Emi kembali memutuskan untuk mencari mereka dan melihat kerumunan dimana dari jauh Alisya bisa melihat telinga kelinci milik Karin. Dengan lincahnya ia masuk ketengah kerumunan dan mendapati Miya yang sedang menatap Karin dengan tatapan yang sangat merendahkan. Kalimat Miya membuat Alisya cukup panas dan menerobos masuk. "Sedih sekali melihat kamu mencoba dan menyusun seluruh kosa kata kamu dalam satu kalimat. kamu sangat dangkal dan tak berguna" Alisya datang memandangi Miya dengan pandangan yang tak kalah menghina dan menirukan getar tubuhnya yang jijik. Pria itu maju dengan senyuman menggoda dan terpesona sepenuhnya dengan kedatangan Alisya yang menggenakan baju Maid sedikit seksi dan telinga kelincinya yang menggemaskan. "Sayang, kamu cantik sekali memakai ini" Puji pria itu. "Mati saja kau!!!" bentak Alisya. "Kejam amat sih... tapi aku suka!" godanya. "Ini semua gara kau!!!" Karin menendang betis pria tersebut. "Dasar perempuan bar-bar kamu sadar tidak apa yang kamu lakukan?" Suara Dinar benar-benar terdengar keras membentak Karin. "Kalian tidak tau sedang berhadapan dengan siapa??? dia adalah Karan Reynand!!!" Wajah Miya merah padam setengah membentak Karin dan Alisya. Kali ini Adora dan Emi tak mampu menahan tawa mereka. mereka tertawa dengan keras akibat kekonyolan yang telah diciptakan oleh para Elit yang terkenal dengan kecerdasan mereka. Tak disangka EQ mereka benar-benar telah merendahkan mereka dengan sangat baik. Miya semakin kesal melihat adora dan emi yang tertawa terbahak-bahak. huh, huh,, huh,," Adora mencoba mengatur nafasnya. "IQ kalin bisa disebut sebut memiliki tingkat kalangan atas" Alisya menyunggingkar bibirnya tersenyum sinis. "Tidak di sangka EQ kalian tidak lebih baik dari keledai" tambah Karin. Miya melayangkan tangannya ingin menampar Karin namun dicegah oleh Karan. "Apa kalian tau siapa yang akan kamu tampar???" Wajah Karan tak kalah bengis melirik ke arah Miya. "Apa maksudmu????" Miya meringis kesakitan karena cengkraman Karan. "Dia adalah Karin Reynand! Adikku..." Melempar tangan Miya dengan kasar. Mata Dinar, Cecil dan Miya melebar tak percaya. Orang-orang yang semula mencemooh Karin kini memasang jarak takut dan segan sembari menutup wajah mereka dengan berbagai alat yang dipegangnnya. Karan memajukan wajahnya tepat berada didepan wajah Miya yang gemetar ketakutan."Aku rasa mereka jauh bermartabat dibanding para elit yang sesunghuhnya! Selain itu mulut kalian benar-benar berbau seperti neraka!" Senyumnya dingin. Alisya dan Karin sudah tak peduli dengan mereka dan berlalu dengan akuh tanpa menatap Miya yang membuat kerumunan membukakakn jalan dengan sangat patuh. Chapter 46 - Ini belum Seberapa Karan melangkah pergi namun kembali dan berbisik ke telinga Miya. "Oh iya, jika kamu begitu takut karena ku maka kamu salah! Orang yang harusnya kamu takuti adalah perempuan berkostum Maid tadi. Kau tau?? dia bisa saja memotong lidahmu dan lidah seluruh keluargamu jika dia mau. Dialah orang yang tidak berada pada level yang sama dengan kalian" Bisikan itu sangat dingin dan menusuk ketulang membuat tubuh Miya bergetar hebat. Baru kali itu ia merasakan aura mengintimidasi yang sangat kuat dan begitu menakutkan. Karan berlalu pergi meninggalkan Miya yang terduduk lemas di tanah dengan pandangan kosong dan sangat ketakutan. Mata nya basah dan tubuhnya tak berhenti bergetar hebat. "Aku kok di tinggal sih!" Karan mengejar Alisya dan Karin. "Kakak ke Elit saja sonoh..." Tunjuk Karin kesal. "Apa''an sih dek,, sampai cemburu gitu!" ledek Karan. "Kakak kan tadi suka sama Miya kan? ampe matanya hampir copot mandang dada ama...." Mulut Karin langsung di bekap karan. Alisya melipat kedua tangannya berhenti melihat tingkah kakak beradik itu. "Cowok kok sukanya mandang cewek dari dada ama bokong sih???" Alisya risih dengan tatapan-tatapan merendahkan seperti itu. "Itu normal kali Sya, malah bahaya kalau yang dipandang dada ama bokongnya itu cowok" Yogi datang menambahkan dengan bergidik ngilu. Karin menggigit tangan Karan karena kesal. "Maaf maaf deh,,, sebagai gantinya kakak akan buat tempat kalian ramai! gimana?" tatap Karan dalam. Karin tampak berpikir dalam dan merasa itu bukanlah ide yang buruk, dengan begitu dia bisa melepas kostumnya dan berpakaian nyaman. Terlebih lagi ia tau akan kemapuan kakaknya. "Oke, setuju" Karin segera melepas kostumnya dan melirik ke arah Alisya. "Sepertinya sudah saatnya kita buat lebih heboh!!!" Senyum Alisya melirik ke arah karan. "Apa yang akan mereka lakukan???" tanya Rinto penasaran. "Lihat saja nanti, untuk sekarang buat mejanya memanjang dan kursinya di singkirkan aja dulu!" Karin bergerak cepat tak sabar melihat aksi keduanya. Alisya melirik kearah Yogi untuk memutarkan musik hiphop yang Fungky dan mulai menggerakkan kepala seiring ketukan bas.. Dengan lincahnya karan memotong motong beberapa sayur-sayuran dan wortel dan berterbangan lalu jatuh dan berbaris rapi. Tangan Karan bergerak sangat cepat sehingga mereka tak dapat melihat gerakan tangannya. Karan kembali menggerakkan pisau menggeseknya dengan pisau yang lain menghasilkan bunyi sssiiing yang menarik perhatian orang. Karan menambah beberapa ketukan lalu melempar dan terus memainkan pisaunya dengan sangat lincah. "Karin kak Karan tampak sangat seksi dibalut celemek putih itu!" Adora tak bisa melepaskan padangannya. Posisi mereka semakin terhimpit kedepan karena semakin lama mereka semakin ramai dan semakin banyak pula berdatangan. "Caranya memaikan pisau itu benar-benar sangat ahli" tambah Rinto kagum. "Ini belum seberapa! sebentar lagi kalian akan lihat" Karin memperingatkan penonton lainnya untuk menjaga jarak. Penonton yang bingung tetap mengikuti arahan dari Karin untuk mencegah semua kemungkinan yang terkadi terlebih jika alat yang mereka gunakan tergolong dapat membahayakan si pemakai dan juga orang-orang yang berada disekitarnya. Setelah merasa jarak mereka sudah cukup aman, mereka tidak diberi kesempatan untuk berkedip karena tiba-tiba saja Karan telah melempar Pisau melewati Karin menuju Alisya. Semua yang melihat berteriak karena takut kalau itu akan mencelakai Karin. Namun setelah mereka perhatikan ekspresi Karin terlihat biasa saja dan tampak bangga sambil menujuk ke arah Alisya. Mata mereka membelalak dan bertepuk tangan riuh begitu melihat pisau itu telah mendarat sempurna di tangan Alisya tanpa melukai Karin juga Alisya. "Bagaimana bisa???" seorang penonton berteriak penasaran. "Kamu juga melihatnya kan? pisau itu harusnya sudah menacap di leher Karin" Terang yang lainnya. "Apa mereka hanya bermain trik?" tambah yang lain. "Aku rasa Cowok itu hanya mengumpan lemparannya dengan menggertak dan begitu kita berteriak semuanya menutup mata takut untuk melihat kejadian selanjutnya" jelas penonton lain. "Tidak kalian salah! Coba lihat Pisau yang di pegang Alisya, Pisau itu adalah pisauku yang aku gunakan khusus untuk memotong sayur-sayuran dan bumbu agar kualitas potongannya sangat baik dan rapi itu dapat terlihat dari gagang yang berbeda dengan gagang pisau untuk daging. Jadi pisau yang dipegang Alisya adalah benar pisau yang dilemparkan oleh cowok sebelumnya. Selain itu jika kalian tidak menutup mata, maka kalian akan melihat bagaimana pisau yang sedikit lebar itu, begitu tipis melewati samping leher Karin dan menepis rambutnya. Dan Alisya hanya berputar sedikit memgikuti arah datangnya pisau untuk menghindari tabrakan yang berarti ketika dia menangkap pisaunya!" Rinto menjelaskan dengan kekaguman yang tinggi terhadap ketiga yang juga menonton dan tak berkedip sedetikpun untuk melewati sebuah pertunjukan spektakuler seperti itu. "Hal ini jangan ditiru di rumah yah???" Yogi muncul menambahkan sambil tersenyum. "Mereka bisa melakukannya selain karena tentu saja mereka telah banyak berlatih sebelumnya, tapi karena rasa kepercayaan yang tinggi satu sama lainnya." tambahnya lagi. Adora, Emi dan Feby tak bisa berkomentar apa-apa. mata mereka terpaku kepada 3 orang yang begitu mempesona dengan gerakan mereka yang begitu indah dan lembut setiap kali mereka saling bertukar pandang untuk aksi beikutrnya. Pisau yang sudah berada ditangan Alisya kemudian langsung saja menjadi begitu cepat dan tak terkendali dalam membelah-belah bawang merah dan bawang putih serta lombok yang ada dinampannya. Setelah itu nyala apo yang cukup besar membuat bunyi minyak yang sudah berada di kuali yang cukup besar memanas seketika lalu terdengarlah suara khas minyak yang terisi oleh bawang yang sudah di potong-potong dengan halus tadi. Dengan satu ketukan, Alisya bergerak berganti dengan posisi Alisya sambil melempar pisau dan spatula yang berputar-putar di udara. Begitu jatuh kedua alat tersebut telah berada di tangan Karan dengan halusnya yang kemudian dengan gerakan seksi Karan mengoyang-goyangkan spatulanya dan kuali panas yang menyembur-nyemburkan api memperlihatkan kokohnya tangannya yang berurat. Penonton dibuat terpaku dan terpesona oleh keseksian dan ketampanan Karan. Kali ini mereka tak memberi kesempatan mata mereka untuk berkedip. Alisya mengubah musik menjadi lebih selow tapi memmiliki ketukan irama yang keras dan R&B, Karin yang hanya terdiam kini mulai menari dengan gerakan yang pelan namun halus dan sangat lihai. Gerakannya sangat lembut yang sangat kontras dengan pakaiannya berwarna Pink ke unguan membalut tubuhnya yang putih merona. Ia yang semula dilihat oleh banyak orang memakai celana kaos yang tida begitu ketat dan tidak begitu menampakkan lekuk tubuhnya semakin terpaku karena dengan luwesnya Karin memutar tubuhnya yang ramping dan bajunya berubah menjadi gaun panjang menutupi celana kaos tadi. Gaun itu sangat indah dengan warna yang senada dengan bajunya dimana bagian bawahnya terdapat ukiran kupu-kupu yang menari-nari di atas kelopak bunga ungu yang sangat indah. "Karin cantik sekali, aku tak menyangka dia bisa menari se lincah dengan gerakan sehalus dan selentur itu" Mata Adora berkaca-kaca karena gerakan indah yang mungkin hanya dapat dilihat jika mereka membayar dengan jumlah besar. "Bajunya, Bajunya sungguh indah. warnanya, kainnya, motifnya terlihat sempurna di tubuh Karin" tambah Emi. "Aku merasa sedang berada di festival jepang!" Jelas Yogi yang ikut terpana. "Lihat Rambutnya yang bergelombang mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh Karin, begitu ia memutar rambutnya langsung terurai cantik karena ikat rambutnya yang terputus oleh kikisan pisau yang dilempar oleh Kak Karan" Tambah Feby menangkup kedua tangannya memandang ketiganya. Begitu ketukan irama musik telah mulai cepat dan riuh, Alisya sedikit menari santai melempar telur dengan kecepatan tinggi melewati Karin yang menari dengan lincah menghindari telur tersebut. Sedang Karan tanpa melihat dan terus memasak dan sambil mengambil beberapa bahan lain atapun memotong-motong dengan tepat menangkap semua telur yang dilemparkan oleh Alisya. Semua penonton riuh yang dengan kompak bertepuk tangan mengikuti ketukan irama musik hingga di penghujung musik Alisya melempar nampan-nampan sekali pakai di atas meja yang dengan rapinya mereka berbaris untuk siap diberikan hidangan Yang tentu saja nampan itu melewati Karin yang menari menghundari lemparan Alisya. Dengan satu gerakan pasti, karan mengangkat kualinya dan memutarnya di tengah meja yang mana Nasi goreng buatannya tidak terhambur keluar malah hanya menunggu sampai si tuan dengan lembut menyediakan dan menempatkan mereka di atas nampan yang sudah tersedia. Tanpa di duga porsi yang disajikan Karan cukup memenuhi 10 nampan yang ada di atas meja. Chapter 47 - Kamu Cantik Hari Ini Alisya melempar kembali tomat dan timun serta beberapa daun cemangi ke arah karan yang tidak melihat arah lemparan Alisya dan sibuk untuk terus menyiapkan bahan-bahan di atas meja. Sedang Karin melempar pisau yang lebih kecil dan menancap sempurna di atas meja. Karan mencabutnya yang dengan cepat memotong dan mengukir bahan-bahan tersebut lalu menyediakannya di atas meja. Sebelum musik berakhir, Karan memutar tubuh bertukar Posisi dengan Alisya. Akan tetapi keduanya malah hampir bertubrukan dengan wajah Alisya berada tepat berjarak 1 jengkal dengan wajah Karan. penonton yang melihat itu bukannya melihatnya sebagai sebuah kesalahan, malah berseru dan mengira bahwa itu adalah sebuah kegagalan yang romantis. Karan menepuk kepala Alisya dan bergerak ke arah samping lalu berbisik tepat setelah musiknya berakhir. "Kamu cantik hari ini Sya!!!" hembusan nafas lembut Karan membuat Alisya memerah merona dan sedikit sulit untuk menyembunyikan dan mengendalikan ekspresi itu. Penonton yang tidak mendengar ucapan Karan hanya melihat Alisya yang malu karena ia hampir saja melakukan kesalahan yang manis itu. Mereka sangat menikmati pertunjukan yang dibawakan oleh ketinganya. Setelah mereka dibuat terpesona oleh pertunjukan ketiganya, tanpa mereka sadari Aroma Nasi goreng yang dibuat oleh Karan begitu menggugah selera yang baunya sangat sedap membuat perut mereka spontan berbunyi. Semua penonton langsung berbondong-bondong datang untuk makan dan sebagian lainnya mengantri karena tak kebagian tempat. sedangkan sebagian lain terpaksa harus meminta untuk dibungkuskan saja. Berkat pertunjukan mereka, stand mereka yang semula tak begitu ramai namun masih tetap memiliki pengunjung itu kini membludak ramai dan berisik yang mengharuskan Karan dan Rinto bekerja sama sebagai koki dan seluruh penghuni kelas turun tangan ikut membantu yang tanpa mereka sadari Ibu Arni juga ikut membantu mereka menjaga Kasir. Hari itu mereka selesai hampir larut sekali dan semuanyabterduduk karena kelelahan. Mereka tak menyangka kalau hari pertama stand mereka akan seramai itu. "Kalian telah bekerja keras sampai hanya sempat memakan buah untuk mengganjal perut kalian" Karan tersenyum melihat mereka semua yang berpencar mengambil tempat ternyaman untuk merebahkan diri. "Penghasilan kalian hari ini luar biasa!" Ibu Arni semangat meski suaranya juga serak karena kelelahan. "Aku tak menyangka hari ini bisa sampai seramai itu!" Adora berkata dengan malas. Yogi membalik badannya menatap Karan. "Kau hebat! Karin juga, Alisya, Alisya.." Yogi melemas kembali setelah menaikkan dua jempolnya yang tampak lusuh dan kapalan. "Yang lain kemana? bukannya seluruh isi kelas ikut membantu tadi?" Rinto bertanya begitu melihat beberapa dari mereka sudah tidak berada ditempat tersebut. "Mereka mengikuti lomba karaoke dangdut dan pop, sedangkan yang lainnya mewakili kami untuk mendukung!" Jelas Zizi salah satu teman sekelas mereka yang meringkuk di atas meja. "Sebentar lagi mereka akan kembali, mereka sudah selesai tampil. Meski cukup kelelahan setelah seharian ikut olah raga dan membantu disini, mereka tetap berusaha menampilkan yang terbaik" Yana datang dengan gontai dan wajah lemas. "Apa sudah selarut ini sampai mereka sudah selesai tampil secepat itu..." Adora melirik tangannya yang tidak berjam tangan dan melenguh lemah karena lupa. "Gani dan Gina berduet menyanyikan lagu dangdut dengan sangat merdu dan lincah" terang Dino yang berada dibelakang Yana. "Gani dan Gina???" tanya Karin belum menghafal wajah semua teman sekelasnya tersebut karena belum lama pindah. "Si kembar imut yang satu laki-laki dan satu perempuan yang selalu berdebat di papan tulis" suara Khair lemas berusaha mengingatkan Karin. Karin mengangguk setelah mengingat kedua orang kembar yang selalu berdebat namun saling memperhatikan satu sama lain tersebut. Dari kejauhan Beni datang bersama beberapa temannya dengan wajah lesu yang sama-sama mengisyaratkan kelelahan. Tapi cukup profesional dengan tampil energik dalam pentas seni malam itu. "Oke semuanya, karena kalian sudah bekerja keras dan sangat kompak hari ini. aku akan buatkan menu spesial untuk kalian semua!" Karan segera menuju kedapur membuat warna wajah semua orang yang datang dan yang terbaring berseru dengan semangat. "Aku juga akan mengambil daging sapi yang sengaja aku siapkan buat kalian. aku akan membantu kak Karan menyiapkan panggangan" Rinto bangkit menuju ke belakang. Kelelahan mereka seketika luntur karena mendengar hidangan istimewa Karan dan Rinto yang sangat ahli memasak itu. seharian mereka sudah berusaha keras menahan diri untuk mencicipi masakan keduanya karena lebih mengutamakan pelanggan. Melihat Karan dan Rinto yang semangat, mereka semua bangkit dan ikut membantu menyiapkan tempat sedang yang lainnya juga merapikan stand agar bisa lebih nyaman dan leluasa. "Huuhhhh,,, seharian juga aku memandangi Stand elit tapi aku tak melihat Adith berada disana!" Karin bangkit melihat Alisya yang terus saja memandangi Stand para Elit. "Apa yang kau katakan?" Alisya mengalihkan pandangannya berpura-pura. "Aku sudah memperhatikanmu seharian selalu melirik kiri dan kanan berharap bisa melihat Adith! Aku juga tidak melihat Adith seharian ini,,," Karin menyilangkan tangannya . "Apa begitu terlihat?" Alisya bertanya dengan wajah konyol. Karin menepuk kepala Alisya lembut. "Aku kan sahabatmu, aku bisa melihat perubahan ekspresimu dengan mudah" Karin mengajak Alisya duduk. "Aku,, Kar..." Karan datang tepat sebelum Alisya mulai membuka mulutnya. "Kenapa? kau mau mengungkap ke aku? wajah kamu serius gitu!" Karan menyela sembari menyodorkan makanan kesukaan Alisya. "Nasi goreng sari laut???" Mata Alisya teralihkan oleh makanan yang di bawa oleh Karan. "Yup, Nasi goreng berisi cumi dan udang serta super pedas kesukaanmu!" ucapnya sambil menaruhnya dihadapan Alisya. "Kalau aku kak??" Karin bertanya dengan antusias. "Tuh bagi dua ama Alisya!" tunjuknya ke piring Alisya yang hanya cukup untuk seorang saja. Alisya yang semula senang kembali muram karena porsi kecil karan yang tidak cukup untuk mereka berdua. "Dasar pria jahat!!! ku doakan kau jomblo semumur hidup" Kutuk Alisya dan Karin bersamaan. "Gampang! aku akan mengguna gunai Alisya untuk menjadi istriku!" Karan cuek tak peduli sambil berlalu pergi. "Kau,,,, jika dia kemari lagi bawa dengan sebungkus kopi" Alisya mencekik Karin melampiaskan rasa kesalnya. "Diam kau! cepat makan atau aku yang akan menghabiskan semuanya! Karin melepaskan cekikan Alisya dan mengambil sendok. "Ahhhhh,,,," Alisya membuka mulut protes dan dengan cepat Karin menutup mulut Alisya dengan satu suapan penuh. Mereka tertawa sambil saling menyuapi satu sama lainnya. "Tidak perlu khawatir, aku masih punya beberapa daging untuk membuat kalian kenyang!" Rinto datang dengan sepiring penuh daging. "Tidak lengkap kalau tidak minum dengan ini..." Yogi mengangkat 2 botol besar minuman bersoda. Teman-temannya juga ikut bersama mereka dengan membawa beberapa hidangan yang dalam seketika meja mereka penuh dengan berbagai jenis makanan. Ibu Arni sangat terharu dan bahagia dengan suasana hangat mereka pada malam itu. mereka semua makan dan bercanda ria melepas seluruh penat dan lelah setelah bekerja seharian penuh. Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam sehingga lingkungan sekolah perlahan-lahan mulai gelap dan sunyi. semua orang sudah berberes beres dan beberapa temannya sudah mulai beranjak pulang satu persatu. "Alisya, kami balik deluan yah..." Izin yang lainnya di balas lambaian oleh Alisya. "Hati-hati di jalan" teriak Karin. Karan yang belum beranjak pulang mendekati Alisya yang sedang membersihkan meja. "Kau sudah tidak terpengaruh dengan suara bising lagi. Tak ku sangka perubahanmu bisa sebaik ini" Suara lembut Karan mengagetkan Alisya. "Tidak kau salah, ini semua berkat Alat yang diberikan Adith kepadaku!" Alisya menunjukkan telinganya dengan gerakan halus dan senyuman manis yang sangat dalam akan makna. Tanpa bertanya lagi Karan tau bahwa Alisya yang jarang memperlihatkan senyumnya itu menandakan bahwa Adith adalah orang yang sudah mengambil posisi penting dihati Alisya. Meski Alisya terlalu bodoh dan angkuh untuk mengakui perasaan milikinya. "Aku rasa dia orang yang sangat hebat karena bisa menciptakan alat secanggih itu untukmu. Alat secanggih itu tentu saja memiliki biaya yang tidak sedikit tapi sepertinya itu sepadan dengan kegunaanya" Tetang Karan memandnag lekat wajah Alisya. Ia tidak ingin melewatkan sedetikpun ekspresi Alisya kali itu. "Sering seringlah seperti itu!" tambah Karan. Alisya "...." terdiam dengan wajah bingung. " Kau sangat manis dengan wajah yang tersenyum!" Ucap Karan disamping telinga Alisya dengan hembusan nafas yang hangat. Chapter 48 - Jadi Alisya pernah terjebak??? Sudah 2 hari berlalu sejak acara Porseni diadakan disekolan SMA CENDEKIAN INDONESIA itu berlangsung dengan sangat ramai dan megah, bahkan para turis manca negarapun tidak melewatkan kesempatan langka ini untuk ikut hadir menyaksikan berbagai pertunjukkan hiburan sekaligus kuliner yang terdapat di setiap Stand-stand kelas. Mereka benar-benar sedang merasa seolah-olah berada di Festival musim panas terbaik di Indonesia. Hari ketiga adalah puncak dari seluruh acara yang ada sehingga stasiun televisi dari swasta dan nasionalpun berramai-ramai antusias untuk datang meliput acara pada malam itu. Selain karena banyaknya hiburan-hiburan megah, malam itu akan menjadi malam pemilihan Raja dan Ratu sekolah yang tingkat kepopuleran mereka bisa melebihi selebtriti papan atas nantinya. Sepert biasa rating acara televisi akan meningkt tajam setiap kali malam puncak di tayangkan. Hal ini karena SMA Cendekia Indonesia adalah sekolah nomor satu di Indonesia. "Ada yang liat Alisya???" Karin yang tidak melihat Karin karena menjaga Stand seharian kebingungan mencarinya. "Nggak, aku kan dari tadi disini" Jawab Rinto sibuk karena banyaknya pengungjung. "Aku khawatir sama itu anak, tadi siang dia izin untuk ke toilet tapi sampai sekarang dia tidak muncul!" Karin cemas dengan wajah pucatnya. "Alisya sudah kembali sebelumnya, tapi begitu mendengar kamu yang pingsan dia jadi pergi lagi mencari dirimu!" Jawab Yogi sambil terus bolak-balik membawa nampan. "Kamu sudah mendingan???" Karan datang menaruh telapak tangannya di jidat Karin. "Iya kak, maaf yah kak. kakak jadi ninggalin pekerjaan lagi dan malah kerepotan masak disini" Suara Karin terdengar lemah. "Aku nggak papa kok, lagipula aku sudah gantian shift dengan teman kakak!" Jelas Karan kembali ke dapur setelah melihat Karin baik-baik saja. "Tapi kak, Alisya mana yah?" Karin mengikuti langkah Karan. "Aku pikir dia bersamamu saat mendengar kamu pingsan tadi, soalnya begitu mendengar kami pingsan dia langsung menuju ke UKS" Karan melanjutkan pekerjaannya dengan serius. "Ya sudah, aku cari Alisya aja dulu kak! sekarang terlalu bising untuk dia sendirian" Karin meminum air putih segelas penuh karena merasa dehidrasi sebelum beranjak pergi. "Hati-hati, hubungi kakak kalau ada apa-apa!" wajah Karan tampak serius ketika mengingatkan Karin. Karan sudah mendengar kejadian lalu yang menimpa Karin dan Alisya. Karan sangat marah dan menyesali saat dia tidak berada diantara dua orang yang sangat dikasihinya tersebut. Karena hal itulah Karan menyelesaikan studynya dengan cepat dan kembali ke Indonesia. "Iya kak," Karin tersenyum manis menenagkan Karan. Karin berjalan kesana kemari hampir menghabiskan seluruh tempat yang ada disekolah tapi tak menemukan Alisya disana. Karin mulai frustasi karena setiap bertemu dengan teman sekelasnya mereka juga tak melihat ataupun berpapasan dengan Alisya. "Gimana Kar, udah ketemu Alisya nya?" Adora datang menghampiri Karin yang baru saja dari ruang kelas tempat penyimpanan barang mereka. "Aku ke kelas, ku pikir dia akan ada disana tapi dia tidak ada!" wajah Karin cemas. "Ya sudah, aku akan minta bantuan ke teman-teman yang lain untuk mencari Alisya!" Adora menenangkan Karin. "Iya, biar kami yang mencarinya. kamu kan harus menjadi perwakilan kelas untuk ajang pemilihan Raja dan Ratu sekolah!" Feby mengingatkan Karin yang hampir kehabisan waktu karena terus mencari Alisya. "Itu sudah tidak penting lagi, sekarang yang terpenting adalah Alisya!" Tegas Karin. "Tapi Riyan sudah menunggumu Karin, kalian kan harus tampil sebagai partner!" Adora berkata dengan canggung. "Aku tau, aku akan menjelaskan padanya begitu ini selesai dan bisa menemukan Alisya. aku takkan tenang jika belum menemukannya dengan keadaan yang terlalu ramai seperti ini" Karin tau betul kalau Alisya akan menghindari tempat yang terlalu ramai atau malah terjebak di tengah keramaian. "Kalau begitu sebaiknya kita bergerak sekarang sebelum tambah ramai" Feby segera mengikuti langkah Karin keluar dari gedung kelas menuju ke taman. Mereka terkejut bukan main ketika keluar keadaan sekitar sudah menghitam oleh banyaknya orang-orang yang datang untuk menyaksikan pertunjukan. Butuh lebih dari sekedar usaha untuk mereka bisa kembali ke Stand. Begitu mereka sampai, stand kelas sudab mulai berbenah untuk tutup. "Apa yang kalian lakukan?" Tanya Karin bingung karena mereka tutup saat stand masih ramai akan pengunjung. "Kami tidak bisa membuka stand sedang Alisya tak diketahui keberadaanya!" Jelas Rinto gusar. "Benar, kami takut Alisya akan seperti terakhir kali kami temukan saat dia harus terjebak di tengah keramaian yang membuat kondisinya kambuh!" Jelas Yogi mengingat kejadian yang pernah terjadi pada Alisya sebelumnya. " Jadi Alisya pernah terjebak? kenapa kalian tidak meberitahuku?" Karin marah karena tidak mengetahui hal ini. "Alisya pasti melarang mereka agar kamu tidak terlalu khwatir terhadapnya!" Karan menepuk kepala Karin dari belakang menenangkannya. "Lagi pula kebanyakan dari pengunjung pasti sekarang sedang berbondong-bondong menuju ke taman kompleks untuk melihat pertunjukan Raja dan Ratu sekolah"Jelas Rinto menyelesaikan pekerjaanya. "Untuk itu kita bisa mencari Alisya disekitar sana" tambah Yogi cepat. "Sebaiknya kita bergerak cepat, lingkungan sudah semakin ramai dan lebih bising dari sebelumnya karena acara sudah mulai" Adora mengingatkan ketika melihat keadaan sekitar sudah semakin dipadati oleh banyak orang. "Ka, Alisya baik-baik saja kan?" Suara Karin serak. "Tentu saja! kau taukan, dalam keadaan apapun Alisya akan berusaha untuk bisa menyelamatkan dirinya. Dia sudah dilatih untuk bisa seperti itu!" Karan berusaha menenangkan Karin meski dia juga sebenarnya begitu khawatir dan berkecamuk memikirkan begitu banyak kemungkinan yang bisa terjadi pada Alisya. Tapi karena tidak ingin Karin menjadi lebih khawatir, ia dengan baik menyembunyikan perasaanya. Mereka berpencar dengan membagi tim yang terdiri tas 3 orang di tiap tim. Karin bersama Rinto dan Karan masuk kedalam keramaian berharap bahwa Alisya mungkin berada disekitar sana sedang yang lainnya kembali mencari Alisya di dalam kelas atapun seluruh gedung disekitar sekolah. Malam puncak yang sudah dimulai sejak setengah jam lalu dibuka dengan megah dengan menampilkan artis-artis papan atas ibu kota dipandu oleh MC ternama Indonesia. Begitu meriah dan megah sehingga taman kompleks dengan lapangan yang sangat luas hampir sama dengan gelora bungkarno pun muntah oleh banyaknya penonton. Karin tidak memperdulikan acara yang sedang berlangsung dengan terus menyisir keramaian meski susah payah. untunglah Rinto dan Karan dengan tanggap membuka jalan dan melindungi Karin agar tidak terpisah dari mereka. "Kamu baik-baik saja???" mata Rinto tertuju pada wajah Karin yang terlihat berpeluh karena kepanasan. "Kamu mau istrahat dulu Karin?" Tanya Karan lembut. "Aku baik-baik saja kak, hanya kepanasan. tapi aku masih bisa lanjut" Tegas Karin Yakin. Acara utama yang ditunggu-tunggu oleh seluruh pengunjung yang datang telah dimulai, para siswa dan siswi perwakilan kelas berjalan berpasangan dengan gaun dan Jas yang menampilkan aura kecantikan dan ketampanan bak model profesional diringi oleh penampilan penyanyi terkenal Indonesia menambah meriahnya acara yang sedang berlangsung. Penonton bersorak riuh tiap kali pasangan tiap perwakilan muncul dan berjalan di atas panggung penampilan mereka memperlihatkan pesona tersendiri yang cukup berbeda dengan peserta lainnya hingga ketika tiba-tiba saja suara sorakan penonton menjadi begitu ramai dan menggelegar karena pasangan terakhir muncul. Pasangan itu terlihat megah dan sangat mempesona dengan pakaian yang dikenakan oleh keduanya jauh berbeda dengan banyak pasangan lain yang sudah muncul sebelumnya. Keduanya begitu menarik perhatian seluruh penonton yang ada karena kecantikan dan ketampanan mereka. Seluruh penonton bersorak ria begitu mengenali siapa pasangan laki-laki tersebut dan tidak sedikit pula memuji pasangan perempuan yang jalan bersamanya. "Keduanya serasi sekali, sungguh menawan dan mempesona!" Terang seorang penonton. "Meski terlihat sederhana, Jas hitam yang dipakainya adalah branded ternama sangat pas dengan kemeja putih dan dasinya terliebih karena itu dikenakan oleh Adith jadi tentu saja akan tampak sangat berbeda" tambah yang lain. "Tapi siapa pasangan Adith??? wanita itu sangat beruntung bisa menjadi pasangan Adith dan berjalan menggandeng tangannya!" jelas yang lainnya. "Kau bisa lihat wanita itu tak kalah cantik, kesederhanaan pada makeup yang dia pakai membuat dia nampak sangan anggun dan mempesona!" lanjut yang lain. Mendengar nama Adith disebutkan, Karin dan Rinto segera memusatkan perhatian mereka ke atas panggung lalu ke layar monitor yang menampilkan keduapasangan tersebut. Karin dengan jelas bisa melihat wajah Adith di layar monitor yang sangat besar itu. Namun begitu ia memperhatikan seorang perempuan disampingnya mata Karin membelalak tak percaya. Chapter 49 - Menggantikan Karin 2 jam sebelumnya... "Loh kak Karan kok ada disini... bukannya kakak ada shift yah malam ini?" Alisya heran melihat Karan yang harusnya masih berada dirumah sakit karena shift malamnya. "Aku kesini pas dengar Karin jatuh pingsan karena kelelahan" Karan berusaha menjawab lembut dengan semua kesibukan yang dia hadapi. "Karin pingsan? kapan? kok aku nggak tau sih! terus sekarang dia dimana?" Alisya menyerang Karan dengan wajah khawatir. "Dia baik-baik saja Sya, cuman kelelahan!" Karan membelai kepala Alisya untuk menenangkannya. "Karin Pingsan sewaktu kamu ambil peralatan di kelas" Rinto membantu Karan menjelaskan. "Dia sekarang ada di UKS...." tambah Yogi yang belum menyelesaikan kalimatnya Alisya sudah beranjak pergi. "Apa cuma aku yang ngerasa kalau dua perempuan itu seperti sepasang kekasih yang mencintai dengan sangat hebatnya?" Yogi berbisik ke arah Rinto dengan dua nampan besar yang Full di kedua tangannya. Karan tersenyum mendengar ucapan Yogi dan melihat ke punggung Alisya yang berlari menjauh. Bagi Karan, kasih sayang antara Alisya dan Karin jauh melebihi sebuah persahabatan. Mereka bagaikan saudara kembar yang saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain melebih siapapun. Alisya yang tidak memiliki saudara sudah menganggap Karin seperti adiknya sendiri. Karena itulah Karan memperlakukan keduanya sama meski kadang ia sedikit bingung dengan perasaannya terhadap Alisya yang perlahan-lahan terdapat getaran menggelitik di hatinya. Senyum Karan membuat banyak pengunjung stand memerah merona karena terpana akan ketampanan Karan. Di tambah lagi Rinto dan Yogi yang tidak tergolong biasa saja dari segi wajah, ketiganya memiliki pesona tersendiri bagi setiap yang melihat. Alisya yang sampai di UKS yang berada cukup jauh dari stand mereka langsung menerobos masuk. UKS yang digunakan sekolah berbeda dengan UKS yang di sediakan oleh sekolah bagi pengunjung yang datang sehingga ruangan itu sedikit sunyi dan kosong. Disana hanya terlihat Karin yang terbaring pucat ditemani ibu Arni. "Gimana keadaanya bu?" Alisya setengah berbisik. "Dia baik-baik saja Sya! cuma kelelahan, dia mengambil banyak sekali kegiatan demi tanggung jawabnya sebagai ketua kelas. sepertinya selain karena kelelahan dia pingsan karena seharian belum makan dengan baik terlebih suhu udara saat ini sangat panas sehingga orang-orang akan gampang dehidrasi" Jelas ibu Arni menceritakan kondisi Karin. Alisya ingat betul kalau Karin harus bolak balik antara meninjau kegiatan olah raga, seni dan juga stand mereka. Dia juga tidak memperhatikan Karin karena sama-sama sibuk dan Alisya juga makan dengan tidak teratur sama seperti Karin. Akan tetapi Alisya sudah terbiasa dengan kondisi ekstrim yang di rasakannya. Berbeda dengan Karin yang sejak dulu terbiasa dimanja oleh kedua orang tuanya dan Karan. "Oh kamu disini Sya???" Beni datang membawa peralatan pembersih debu dengan tekhnologi uap. "ummm" Alisya menjawab seadanya sambil membelai wajah Karin yang pucat pasih. Kelelahan sangat terlihat dari raut wajahnya. "Gimana kondisi Karin?" Gina masuk terburu-buru. "Tidak ada yang perlu di khawatirkan, ada apa?" Ibu Arni bingung dengan ekspresi Gina. "Karin kan harus jadi perwakilan kelas sebagai Ratu Sekolah bu, gimana dong? semuanya sudah pada siap lagi!" Gina bingung harus bagaimana melihat Karin yang terbaring lemas. "Ya udah, Karin nggak bisa ikut!" Jawab Alisya santai. "Gila kamu,,, kelas kita bisa kena pinalti lah... pengurangan poin akan didepatkan oleh seluruh siswa bagi kelas yang tidak mengikuti kegiatan yang diadakan" Beni melirik Alisya heran yang dibalas lirikan tajam Alisya membuat Beni seketika menangkupkan kedua tangannya meminta maaf atas ucapannya yang pertama. "Terus gimana? Karin kan masih sakit!" tegas Alisya lagi. "Gini aja, Alisya kamu ganti in Karin buat jadi perwakilan sekolah!" Pinta ibu Arni lembut. "Tapi bu saya... " Alisya berusaha menolak. "Ayolah Sya, kamu nggak liat Karin berusaha semampunya demi kita semua.. Karin pasti akan lebih terbatu jika kamu bersedia menggantikannya" Bujuk Gina. "Dengan begitu dia bisa beristirahat lebih banyak" tambah Beni lebih lembut dari sebelumnya. Alisya sebenanrya merasa tidak enak terhadap Karin yang harus mengambil bagian semuanya demi mencegah dirinya agar tidak terlibat pada kegiatan sekolah yang akan menuntut dirinya berhadapan dengan banyak orang. Tapi karena itu pula Karin akhirnya jatuh kelelahan. Alisya berpikir mungkin sebaiknya dia juga bisa membantu Karin setidaknya hanya untuk berdiri di panggung saja. Meski harus berhadapan dengan ratusan orang, akan lebih baik jika harus memaksakan kondisi Karin. "Ibu akan tetap disini menjaga Karin sampai dia bangun, jadi kamu tidak perlu khawatir mengenai kondisinya!" Bujuk Ibu Arni menenangkan Alisya. "Baiklah bu!" jawab Alisya pasrah. "Ya sudah Ayo kita pergi sekarang! waktu kita tinggal sedikit untuk kamu berhias" Ajak Gina cepat. "Tapi tunggu dulu, Alisya... Kamu kan partner Aidth jadi kamu harus berpasangan dengannya!" Beni menahan langkah Alisya dan Gina. "Aku belum pernah bertemu dengan Adith, dia juga tidak mengangkat panggilanku!" Alisya berkata dengan canggung. "Hmmm... tidak masalah, Riyan bisa menjadi pasangan mu karena kamu harus menggantikan Karin yang sakit!" Terang Gina setelah berpikir keras. "Kalau begitu aku akan ke Ibu Wina untuk meminta surat keterangan agar Alisya bisa turut di ikutkan menggantikan Karin" Jelas Beni mantap. "Oke tolong secepatnya sebelum acaranya di mulai yah..." Pinta Gina sambil menggandeng Alisya berlari menuju ke ruang Rias. "Semangat!!!" Ibu Arni memberikan dukungan kepada Alisya yang dibalas lambaian tangan dan senyum manis Gina dan Alisya. Alisya didandani senatural mungkin agar bisa memancarkan inner beauty yang dari awal memang tak membutuhkan polesan karena wajah Alisya yang sudah mempesona. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan terurai indah dengan sedikit kepangan membentuk dari pelipis kiri dan kanannya membalut kebalakang rambutnya yang terurai. Bagian depan menggantung tipis rambutnya serta poninya yang juga menggelombang tipis menghias wajahnya yang putih merona. Bibirnya yang berwarna merah merekah cukup diberi sedikit pelembab saja sedang alisnya yang hitam tak disentuh sama sekali. Gaunya berwarna Krim di balut sulaman kupu-kupu hitam yang berterbangn di atas mawar putih menambah kecantikan Alisya. Bahkan Gina yang sejak awal meriasnya tak berhenti terpana akan kecantikan Alisya. " Dari mana gaun ini berasal? Hiasan bunga dan kupu-kupu di gaunnya tidak merusak warna gaunnya, malah menambah kecantikan si pemakai" Ucap Yana yang masuk dan terpana dengan kecantikan Alisya. "Aku juga tak tau, seseorang mengirimnya masuk tadi dan berpesan kalau gaun ini yang akan dikenakan oleh Alisya!" terang Gina masih terpana. "Hei sudah giliran Alisya naik tuh, ayo keluar!" Gani masuk mengingatkan namun kemudian terhenti karena terpana oleh kecantikan Alisya. Alisya dengan malu-malu keluar dari ruangan rias dan berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Mana Riyan?" Alisya tidak melihat Riyan di belakang panggung. "Tadi dia menunggumu disini, kemana dia... aku akan mencarinya dulu" Gani panik karena mendapati Riyan tidak ada di tempatnya. Dibelakang panggung yang sedikit remang-remang panitia mengingatkan agar Alisya harus naik sekarang jika tidak maka dia akan di diskualifikasi. Namun Gani belum kembali membuat Alisya menjadi semakin gusar. Sulit baginya jika dia harus berdiri sendiri di atas panggung dengan ribuan mata yang akan menatapnya. "Aku tidak menemukan Riyan dimanapun!" Gani kembali dengan nafas tersengal-sengal. "Jadi gimana dong??? kok Riyan gitu sih!" Gina memaki dengan kesal. "Ya sudah tidak apa-apa, biar aku naik sendiri saja!" jawab Alisya menengkan teman-temannya. "Kamu yakin Sya?" Yana mengkhawatirkan Alisya. "Jika aku mundur kelas kita bisa mendapat pinalti kan? apa lagi kalian sudah susah payah menandani aku seperti ini" Senyum Alisya melangkah mantap berdiri di bawah panggung bersiap untuk naik. Ketika namanya disebutkan oleh panitia untuk segera naik, Alisya merasakan darahnya mengalir deras membuat kepalanya sedikit berkedut. Ia merasa seolah keyakinannya yang tadi perlahan-lahan mulai menghilang tapi ia juga sudah tidak bisa mundur lagi. Alat ditelinganya terasa tak berfungsi dengan baik. Kegugupannya membuat langkahnya sedikit gontai kebelakang dan tiba-tiba sebuah tangan yang hangat memegang pinggangnya dari belakang seolah menahannya agar tidak terjatuh. "Adith???" Alisya kaget begitu melihat Adith yang berdiri disampingnya sudah siap memakai Jas Hitam yang senada dengan gaunnya. "Ayo naik!!!!" Ucapnya mengambil tangan Alisya lalu mengaitkannya di lengannya dan menuntun Alisya untuk naik ke atas panggung. Chapter 50 - Tidak Buruk "Alisya???" Karin berteriak tak percaya akan apa yang dilihatnya. "Bagaimana bisa dia berada disana?" Karan juga tak kalah kagetnya. "Apa ini perbuatan Adith?" pikir Rinto. "Anak itu!!! Aku sudah mengkhawatirkannya dan dia malah.... " Karin tak tau kalimat apa lagi yang bisa dia ucapkan. Dia kesal khawatir tanpa alasan yang jelas karena ternyata Alisya baik baik saja dan dia malah dengan senyum manis dan begitu mempesona tampil di atas panggung ditemani Adith. Karin bingung apakah harus menangis atau tertawa bahagia. "Adith... " Karan mengepalkan tangannya dalam diam. Karin langsung pergi ke belakang panggung masih dengan wajah kesal di ikuti oleh Rinto dan Karan. Disana mereka bertiga bertemu dengan Ibu Arni, Beni, Gina, Yana dan Gani yang menonton dengan ekpresi yang sangat membara. "Karin, ibu tadi mencarimu karena kamu sudah tidak ada di kamar begitu ibu kembali dari toilet" Ibu Arni menghampiri Karin cepat begitu melihat Karin yang datang mendekat. "Maaf bu, karena tidak melihat siapapun di UKS aku langsung keluar menuju stand" jelas Karin menenangkan ibu Arni. "Gimana kondisimu?" tanya Gani sopan. "Aku baik-baik saja!" jawab Karin lembut. "Kalian dari mana saja?" tanya Beni. "Kamu sudah lihat Alisya??? dia cantik sekali kan? terlebih lagi ketika dia berdiri disamping Adith! mereka seperti sudah ditakdirkan untuk berjodoh" Gina begitu semangat. "Mereka sangat cocok!!! aku tak menyangka Adith yang sibuk bisa hadir mendampingi Alisya." tambah Yana. "Bagaimana dia bisa berada disana?" Karin tak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi. "Karena kami melihat kamu yang pingsan dan terlihat sangat lemah, kami jadi membujuk Alisya untuk mau tampil menggantikan kamu!" Jelas Ibu Arni memegang lembut tangan Karin. "Awalnya dia menolak karena tidak yakin, tapi karena melihatmu yang terbaring karena sudah berjuang keras, Alisya akhirnya mau menggantikan dirimu setelah kami yakinkan!" Tambah Beni. Karin mendesah mengerti akan situasinya kini, pantas saja baginya untuk tidak bisa menemukan Alisya ternyata semua itu karena dia sedang di dandani karena dirinya. Selain itu Alisya yang tidak suka keramaian pun berusaha keras tersenyum diatas panggung demi menggantikan dirinya agar kelas juga tidak mendapatkan pinalti. Alisya dan Adith turun dari panggung menuju ke tempat mereka sedang berdiri dan berdiskusi. "Kamu baik-baik saja? bukannya kamu..." Karin bertanya dengan serius begitu Alisya sampai. "Dia baik-baik saja" tegas Adith. Alisya tidak tahu harus berkata apa, dia masih belum bisa melepaskan rasa gugupnya karena keramaian di tambah dengan kehadiran Adith yang begitu mendadak. "Selama dia baik-baik saja kita tidak perlu khawatir" Senyum Karan sambil memperhatikan Alisya yang tidak dapat dipungkiri olehnya kalau kala itu Alisya tampil mempesona meski dengan dandanan sederhana. Alisya dan Karin saling memastikan kondisi satu sama lain sebelum akhirnya keduanya pergi menuju ke ruang ganti untuk bisa kembali berpakaian dengan nyaman. "Bagaimana bisa Adith bersamamu di atas panggung?" Tanya Karin di dalam ruang ganti. "Aku juga tidak tau bagaimana, aku seharusnya menggantikan kamu yang berarti aku akan berpasangan dengan Riyan tapi tak disangka Riyan menghilang dan ketika aku memilih untuk maju sendiri, Adith sudah berada tepat di sampingnku dan mengandengku di lengannya berjalan di atas panggung!" Jelas Alisya masih linglung. "Bukan hanya mengagetkan seluruh sekolah, kalian juga berhasil memenangkan posisi Raja dan Ratu sekolah!" Karin menggelengkan kepalanya. "Aku juga tak menyangka kalau aku bisa memenangkan posisi itu, aku hanya ingin tampil saja agar kelas kita tidak kena pinalti. Makanya aku menyuruh Gina mendandaniku se sederhana mungkin dan tidak mencolok. tapi tak kusangka aku malah memenangkan Ratu sekolah. Ini semua karena Adith dan gaun yang diberikannya." Alisya melihat ke arah Gaun indah yang tergeletak nyaman di atas kursi. "Adith selalu penuh dengan kejutan bahkan aku pun tak bisa mengetahui apa yang dipikirkannya! Tambah Alisya lagi. "Dia yang tidak pernah muncul bahkan menjawab panggilan telpon mu kini muncul dengan begitu mencolok" Karin melirik ke ara pintu dimana Adith dan Karan mungkin saja sedang berada disana menunggu mereka berdua keluar dari ruang ganti. "Kar, aku mau balik deluan yah! kepalaku sedikit sakit, aku ingin mencari ketenangan" Alisya memijat pelipisnya yang berkedut sakit. Semua tekanan yang dirasakannya membuat dia mengeluarkan banyak energi. Karin dapat melihat bagaimana Alisya terlalu terburu-buru dalam membuat kemajuan sehingga tentu saja kini dia akan mengalami kelelahan. **** "Aku Karan kakak Karin!" Karan menyalami Adith yang duduk bersandar di kursi ruang ganti. Dengan sopan dan teguh Adith berdiri membalas salaman Karan. "Aku Adith, senal berkenalan denganmu!" Senyum Adith sopan. "Aku sudah mendengar banyak hal tentangmu dari Karin dan Alisya. Aku cukup terkejut orang nomor 1 di Indonesia ini ternyata seorang anak SMA" Tatapan Karan bukan merendahkan melainkan mengagumi sosok Adith yang tidak biasa untuk anak seumurannya. "Aku juga terkesan denganmu yang masih muda tapi sudah memiliki karier cemerlang dengan menjadi seorang pemilik salah satu rumah sakit ternama Indonesia dan dokter spesialis yang sangat berbakat!" Balas Adith dengan suarany yang berat namun menghangatkan. "Tidak buruk..." Karan tersenyum simpul. "Tak kusangka Alisya bisa berteman dengan orang penting sepertimu!" tambanya lagi. "Karin tidak pernah memamerkan mengenasi siapa dirinya, begitu mengetahui betapa luar biasanya latar belakang yang dimilikinya. Harusnya dia bukanlah seorang siswa biasa. tapi apa yang membuat dia masuk sebagai siswa biasa? apakah ini karena ada hubungannya dengan Alisya? Alisya membuatku tertarik dalam banyak hal. Dia selalu menarik minatku untuk terus bersamanya dan pada akhirnya aku tak sadar sudah semakin dekat dengannya!" Jawab Adith menganalisa Karan. Dari cara Karan menyebut nama Alisya, Adith bisa mengambil kesimpulan pasti untuk itu dia menyunggingkan senyumnya. Alisya selalu penuh dengan kejutan yang terus dan terus membuatnya ingin masuk lebih dalam. Mendegar kalimat Adith yang terakhir Karan tertawa senang. Karan mengakui kejelian Adith dalam melihat situasi dan kondisi. Karan tak menyangka kalau Adith yang masih seorang anak SMA memiliki kejeniusan yang mumpuni. Suara pintu terbuka, Alisya dan Karin berjalan keluar dengan wajah pucat dan lemas. "Apa yang terjadi???" Karan melihat kondisi kedunya yang lemah. "Sepertinya Alisya mengalami sedikit shock karena...." Karin tidak menyelesaikan kalimatnya karena Karan sudah mengangguk paham. Karan dengan cepat mengambil tangan Alisya lalu membutnya duduk dengan nyaman untuk memastikan kondisinya. Dia memeriksa denyut nadinya dan pupilnya serta memegang telinga Alisya untuk memastikan suhu tubuhnya baik-baik saja. Chapter 51 - Kelelahan??? Melihat Alisya yang seolah sudah terbiasa dengan perlakuan Karan, Adith mengepalkan tangannya namun tetap berdiri tenang dengan ekspresi sedingin Es. Karin yang merasa merinding langsung memperingatkan Alisya yang linglung. "Sya, kamu pulang saja. Biar disini teman-teman yang lain yang mengurusnya! Kakak Karan akan mengantarmu, tapi sepertinya dia membawa mobil..." Karin sengaja untuk memancing inisiatif Adith. "Aku akan mengantarnya, aku membawa motor!" Tegas Adith cepat. Karin tersenyum melihat tingkah Adith. Sijenius yang akan melunak jika sudah berhadapan dengan Alisya. Senyum Karin membuat Karan paham akan maksudnya. "Aku lebih nyaman berjalan kaki Kar, biar bisa menikmati udara segar! Aku ingin menghindari jalan Raya..." Alisya berdiri dengan malas. "Nggak Sya, tidak dengan kondisi kamu yang..." Karin mencoba mencegah Alisya. "Karin, aku pengen sendiri. Kak Karan Makasih yah aku balik deluan" Alisya menepuk pundak Karan melewati Adith. "Alisya tidak baik jika seorang perempuan pulang sendiri" Karan memasang ekspresi serius. "Sejak kapan sih kak aku pulang sendiri?" Alisya tersenyum nakal. Alisya tau betul kalau ia memang berjalan sendirian namun sebenarnya ia tidak betul-betul sendiri. Selama ini neneknya selalu memantau Alisya entah dari mana tapi begitu tiba dirumah neneknya akan mengomentari tingkah Alisya selama di perjalanan pulang. Alisya tak paham bagaimana neneknya masih memiliki ketajaman seorang prajurit sejati di usianya yang sudah renta. Namun fisik dan Insting neneknya Alisya jadi sudah terbiasa. "Alisya, keberadaanmu sekarang bukan rahasia lagi, dan itu akan..." Karan terus membujuk Alisya. "Kak, keberadaannya itu juga yang membuat Alisya semakin di perketat!" Karin mengingatkan Karan mengenai Ayah dan Kakek Alisya yang tentu saja kini sudah mengetahui Alisya. Setelah mendengar ucapan Karin, Karan hanya menghela nafas pasrah. Alisya adalah tipe orang yang takkan mundur jika bujukannya memiliki alasan yang lemah. Adith hanya terdiam menyaksikan perdebatan mereka. Tak disangka pertahanan mereka yang longgar membuat Adith semakin banyak menganalisa situasi yang ada. Alisya berjalan pulang dengan langkah yang pelan dan nafas yang berat. Otaknya terus memflash back kemunculan Adith dan kejadian di atas panggung yang heboh dengan ratusan pasang mata yang menatapnya. Dengan itu Alisya berhenti menggetarkan tubuhnya merinding. Adith yang sudah berganti pakaian dengan lebih nyaman berjalan mengikuti langkah Alisya. Adith memang sudah mendengar semua percakapan mereka yang mungkin saja Alisya tetap akan di Awasi selama dia pulang tapi Adith tidak akan membiarkan Alisya pulang sendirian. Adith tak menyangka kalau jalan yang akan dilalui oleh Alisya adalah lorong-lorong rumah dengan kondisi penerangan jalan yang sedikit remang-remang. Melihat langkah Alisya yang pelan lalu terhenti dan menggetarkan tubuhnya Adith mengernyitkan kening. Ia tak tahan lagi harus berjalan melihat Alisya terus mengeluarkan nafas berat. Adith yang berjalan cukup jauh dari Alisya kini mempercepat langkahnya. Alisya sudaj berada dekat dengan rumahnya. Melihat rumahnya yang tamanya kini sudah terang di penuhi lampu-lampu taman, Alisya berhenti menyaksikan pemandangan itu dari luar rumah. "Tak ku sangka taman rumah indah seperti ini, ditambah dengan lampu-lampu taman itu! Kapan nenek membuatnya?" Alisya berbisik pelan. Tanpa disadari Alisya, Adith secara perlahan mendekati Alisya dan memasangkannya Jacket tebal yang cukup hangat. "Kenapa masih berdiri disini? tidak dingin?" Adith memandangi wajah Alisya lembut. "A,,, Adith??" Alisya kaget melihat Adith ada di sekitar itu dan dia tak menyadarinya sama sekali. Spontan saja ia melihat kesekelilingnya. "Tenang saja, nenek mu sudah menelponku ketika dia melihatku mengikutimu dan menyuruhku untuk menemanimu dulu selama dia pergi berbelanja sebentar." Senyum Adith manis menarik tangan Alisya masuk kedalam rumah. Alisya menoleh kebelakang memastikan apa yang dikatakan Adith dengan melepas sejenak alat ditelinganya untuk memastikan. Beruntunglah malam itu sudah cukup larut hingga ia tidak akan begitu tersiksa dan bisa mendengarkan dengan baik. "Masuklah, nenek sudah menyingkirkan mereka. nenek akan kembali begitu selesai berbelanja" Alisya bisa mendengar suara neneknya meski bercampur dengan bunyi-bunyi yang ada disekitar. Alisya kaget dan menarik tangannya membuat Adith juga ikut terkejut. "Ada apa???" Adith bertanya heran. "Ahh,, tidak... aku..." Alisya memegang telinga kirinya sakit karena suara motor yang lewat. Adith melihat alatnya yang terjatuh di tanah. "Mengapa kamu melepaskan alatmu?" Adith dengan cepat memungut Alat kecil itu dan segera memasangkannya ke telinga Alisya setelah membersihkannya. "Sebentar...." Alisya memegang tangan Adith untuk memastikan. "Kamu kenapa sih?" Adith kebingungan. "Diam dulu..."Alisya membungkam mulut Adith dengan wajah serius. Adith terdiam melihat ekspresi serius diwajah Alisya, dia dengan sopan menuruti reaksi Alisya dan terdiam membatu. Adith berdiri bagaikan patung dengan jantung yang berdetak hebat. Adith menggenggam erat Alat yang dipakai Alisya. Alisya terus memusatkan pendengarannyan lalu mendengar suara detakan jantung Adith yang berdegum hebat di hadapannya. Dengan cepat dan malu Alisya melepaskan tangannya dan masuk kedalam rumah. Adith melongo tak mengerti. Ia kemudian teringat akan alat yang masih berada ditangannya kemudian mengejar Alisya masuk kedalam rumah. Didalam rumah Alisya masih berusaha membuka sepatunya dengan terburu-buru membuat tali sepatunya semakin kusut dan semakin erat mengikat sepatunya. Adith duduk dihadapan Alisya yang terlihat panik dan dengan santainya ia membuka tali sepatunya yang sudah terlilit tak karuan. Setelah itu ia berdiri memasangkan alat yang ada ditangannya ketelinga kiri Alisya. Alisya malu berbalik badan ingin menghindari Adith namun dengan cepat dicegah oleh Adith. Adith memeluk Alisya dari belakang sambil menutup matanya. "Adith, kamu apa-apan sih?" Alisya berusaha menolak dengan keras. "Aku sangat merindukanmu Sya, sangat! aku sangat ingin menemuimu beberapa hari ini" Suara Adith lemah. "Lepasin nggak!" tegas Alisya. "Tolong biarkan aku seperti ini 5 menit, cukup 5 menit saja!"Suara lemah Adith membuat Alisya terdiam. mereka terdiam cukup lama dengan suara nafas Adith yang terdengar lebih berat dan teratur dibanding sebelumnya. Alisya menoleh mendapati Adith telah jatuh dalam lelap. Alisya membalik badan untuk menangkap tubuh Adith yang gontai berbarengan dengan neneknya yang masuk kedalam rumah. "Adith.. kamu kenapa??" suara Alisya terdengar panik. Melihat itu neneknya langsung meletakkan barang belanjaanya dan membantu Alisya menahan tubuh Adith. "Tidak usah khawatir, dia sepertinya tertidur karena kelelahan!" Ucap nenek Alisya menenagkan Alisya. "Kelelahan?" Alisya heran tak percaya tapi setelah ia memperhatikan wajah Adith yang tertidur barulah ia sadar bahwa raut wajahnya begitu lemah dan pucat. "Ayo, kita angkat dan tidurkan dia diatas sofa biar dia bisa beristirahat dengan nyaman" Neneknya berusaha menarik lengan Adith di bantu Alisya. Mereka berusaha untuk bisa membopong tubuh Adith dan tidak menjatuhkannya. Chapter 52 - Nenek Tidak Makan?? Dengan susah payah mereka membopong tubuh Adith yang tidak terlalu berat. Namun karena tinggi Adith yang mencapai 180 dengan otot yang padat membuat mereka sedikit kesulitan. Alisya sampai terhuyung kesofa dan Adith jatuh tepat dipangkuannya. Alisya berusaha berdiri namun tangan Adith sudah memeluk kedua pahanya seolah memeluk bantal yang sangat empuk dan berharga. Mata Alisya membelalak bingung. Alisya langsung menepis dan berusaha meloloskan diri. "Jangan buat dia terbangun, sepertinya dia sudah tidak tidur dengan baik dalam beberapa hari kemarin" nenek Alisya menperingatkan. "Tapi kan nekkk" bantah Alisya sopan. "Tidak apa-apa, kamu duduk saja. nenek akan masak dulu makanan hangat yang bisa membuat tubuh kalian berdua segar. Begitu selesai nenek akan memanggil kalian dan kamu bisa membangunkannya" Jelas neneknya lembut. Alisya mengangguk paham dan terdiam dengan penurut. Ia menggeser posisinya agar sedikit nyaman dan menyandarkan badanya kesofa. Dengan lembut ia membelai-belai rambut adith dan memperhatikan wajah Adith yang tertidur lelap. "Kau terlihat sangat tampan saat tidur seperti ini" Bisik Alisya sambil memegang hidung Adith gemas. Sekitar setengah jam kemudian nenek Alisya kembali untuk memastikan keadaan keduanya. Dia tersenyum penuh kasih sayang begitu melihat Alisya juga tertidur lelap dengan tubuh memeluk bantal kursi sofa yang besar dengan Adith yang berada di pangkuannya. Tidak ingin membangunkan keduanya, neneknya hanya mengalungkan selimut ke Alisya dan Adith lalu menuju dapur untuk menyelesaikan pekerjaanya. Adith membuka matanya dan melihat langit-langit rumah yang Asing baginya. Ia menoleh ke arah kiri dan tersadar kalau ia berada di pangkuan Alisya. Dengan sangat pelan ia berusaha bangkit agar tak membangunkan Alisya yang tertidur lelap. Adith menggeser posisi Alisya dan membaringkannya dengan nyaman lalu memperhatikan wajahnya dalam. "Aku sangat merindukanmu Sya!" Bisik Adith mencuri kecup di dahi Alisya. Mendengar bunyi dari arah dapur, Adith segera menuju ke dapur dan mendapati nenek Alisya sedang memasak. "Kamu sudah bangun? bukannya kamu butuh istrahat?" Tanya nenek Alisya lembut sambil terus sibuk dengan pekerjaannyaa. "Satu Jam sudah lebih dari cukup nek! aku merasa jauh lebih segar sekarang" Adith menaruh tangannya menghadap nenek Alisya. "hm, syukurlah kalau begitu" neneknya tersenyum hangat. "Kenapa nenek belum tidur?" Adith melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 23.40 malam. "Aku menyiapkan ini agar kalian bisa lebih segar kembali" nenek Alisya mengaduk-aduk sayur beningnya. "Kelor???" tanya Adith takjub. "Iya, tunggulah beberapa saat lagi" senyum nenek Alisya. "Ummm,, terimakasih nek tapi aku harus kembali secepatnya karena masih ada yang harus diselesaikan!" Adith melihat pesan di handphonenya. "Makanlah, setelah itu kamu bisa pulang" tegas nenek Alisya sambil menyodorkan dia semangkuk besar sayur bening yang masih hangat. "Nenek tidak makan?" tanya Adith sopan. "Nenek sudah makan tadi, nenek sengaja menyediakan ini hanya untuk kalian berdua!" Jawab neneknya lembut. "Terimakasih nek, tapi sebaiknya Alisya jangan dibangunkan dulu. dia kelelahan seharian karena kegiatan sekolah!" Lirik Adith ke arah Alisya yang sedang tertidur. "Kamu menyukai Alisya yah???!" tanya nenek Alisya dengan wajah nakal. Adith terbatuk-batuk hebat mendengar dan melihat ekspresi nenek Alisya. Tak di sangka nenek Alisya bisa seterus terang itu. "Makanlah,,, nenek cuma becanda kok! Tapi nenek berharap kamu menyukai Alisya" Nenek Alisya tertawa sambil menyediakan segelas air minum untuk Adith. Dengan lahap Adith menghabiskan makanannya tanpa menyisakan sehelai daun atau setetes air yang ada di mangkukknnya. Dia begitu puas dengan masakan nenek Alisya. Tubuhnya terasa lebih ringan dan lebih segar begitu meneguk segelas penuh Air putih. Nenek Alisya duduk dihadapan Adith memperhatikan ekspresi lugu Adith yang sedang makan dengan lahap. Adith pulang setelah Pak Dimas datang menjemputnya. "Bagaimana Paman? apakah sudah ada perkembangan?" Tanya Adith sopan ketika sudah berada dalam mobil. "Belum, sepertinya mereka menutupi semuanya dengan sangat rapi" terang Pak Dimas. "Kalau begitu mari kita lihat sampai mana mereka akan bertahan!" Adith tersandar kekursinya menarik nafas dalam. Saat menutup matanya, wajah Alisya yang sedang tertidur nyenyak melintas membuatnya tersenyum dan tertawa pelan. Wajah Alisya sangat manis saat tertidur. Adith belum bisa menenangkan pikirannya dari rasa rindunya kepada Alisya tapi tak mungkin baginya untuk terus berada disamping Alisya, tidak sampai apa yang menjadi targetnya keluar dari persembunyiannya. untuk saat ini, dia akan menahannya beberapa saat lagi. Meski malam ini dia telah melanggar, Adith yakin kalau hal itu pasti akan membuahkan hasil. Pagi hari saat terbangun dari tidur, Adith melihat layar monitornya dan mengetahui bahwa Alisya masih berada dirumahnya. Adith menjadi semakin berjaga-jaga semenjak kejadian terakhir sewaktu camping. Baginya Alisya sudah mengambil seluruh pusat perhatiannya dan memonopoli dirinya. Setelah berpakaian, dia yang biasanya akan di antarkan oleh supir kini memilih megambil kunci motor dan membuka bagasinya. Baru saja dia menyalakan bunyi motornya, suara alarammya berbunyi hebat. Adith tau bahwa ini artinya jam tangan Alisya juga mengeluarkan bunyi yang sama yang berarti Alisya dalam keadaan genting. Adith memacu laju motornya menuju ke tanda merah tempat Alisya berada.Tidak butuh waktu lama bagi Adith untuk menemukan lokasi yang dikirimkan oleh GPS Alisya. Adith bingung ketika melihat tempat itu, tempat itu merupakan bangunan gedung bertingkat yang sudah lama tidak diteruskan pembangunanya. "Apa yang dilakukan anak itu disini? ini bukanlah tempat yang akan dikunjungi oleh Alisya terlebih karena akses masuknya yang sulit tadi." Pikir Adith turun dari motornya. Tanpa pikir panjang lagi Adith langsung naik beberapa tingkat sampai ia mendengar kegaduhan perkelahian. Setelah sampai ia tidak bisa membayangkan bagaimana 5 orang laki-laki dengan postur tubuh yang lebih besar dari Alisya telah berhamburan terkapar dilantai satu persatu. Disudut gedung ada Miya, Dinar dan Cecil yang masih berpakaian sekolah terkejut dengan kemampuan Alisya yang bisa melawan 5 orang preman yang sudah disewanya. "Apa yang kalian lakukan??? kenapa hanya seorang perempuan seperti dia tidak bisa kalian lumpuhkan!!!" bentak Miya emosi "Kau harusnya bersykur kalau aku masih sedikit bersabar denganmu" ucap Alisya santai. "Kau pikir siapa dirimu?" Dinar mentap tajam Alisya dari jauh. "Kau pikir aku akan takut terhadapmu???" Miya menatap Alisya penuh kebencian. Setelah membersihkan tangannya yang tidak berdebu, Alisya mengambil tasnya yang terjatuh. "Jangan,,, kalau kau takut ini semua tidak akan menarik" senyum Alisya menantang balik. "Tempat ini berada dalam daerah kekuasaan ayahku! Tak satupun yang akan menemukanmu disini" tantang Miya lagi. "Miya benar, tak ada seorangpun yang akan menyelamatkanmu disini" "Benarkah???" senyum Alisya terlihat meremehkan yang membuat mereka waspada. Chapter 53 - Zero Alpha "Miya, kau harus menelpon ayahmu sekarang dan menyuruhnya untuk membereskan Alisya jika tidak dia akan membocorkan semuanya!" "Jangan terburu-buru, permainan masih belum menarik!" Pancing Alisya. "Permainan??? ciihhhh,,, kita lihat siapa yang akan bermain-main denganmu sekarang!" Miya tertawa melecehkan sambil mengangkat telponnya membuat panggilan. Adith berjalan masuk dari arah belakang Miya yang tidak di sadari oleh Cecil dan Dinar. "Aku sempat berpikir bagaimana bisa Alisya berada di tempat ini, ternyata ini semua ulah kalian? pantas saja aku sedikit kesulitan mencari tempat ini dan harus menggunakan sedikit kekuasaan untuk bisa masuk ke wilayah ini. tak disangka" Ketiga wanita itu langsung pucat begitu melihat Adith yang datang. mereka langsung melangkah mundur dan tak berdaya. "Bagaimana bisa???" Miya tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. "Butuh waktu juga untuk bisa menemukan kalian yah? pantas saja aku sedikit kesulitan untuk mencari informasi mengenai pelaku pemecatan terhadap orang tua Beni dan yang lainnya. tak ku sangka itu karena Ayahmu yang seorang wakil menteri pertahanan". Tunjuk Adith di wajah Miya. "Adith sengaja tidak berada di dekatku dan menghilang beberapa waktu lalu untuk bisa membuat kalian setidaknya keluar dari persembunyian. tapi ternyata itu tidak berjalan dengan baik. Rupanya dengan kejadian kalian dipermalukan oleh Karan dan munculnya Adith di malam puncak semakin menyulut emosi kalian sehingga dengan cerobohnya kalian menunjukkan diri!" Alisya tertawa nyeleneh. "Bukannya Adith membencimu?" Bentak Dinar dengan suara gemetar. Alisya memandang ke wajah Adith dengan tatapan konyol membuat Adith tertawa pelan. Miya yang tak sengaja telah menekan tombol panggilan terdengar suara tegas namun lembut di ujung sana. Dengan suara yang berat Miya mengangkat telponnya dan berkata "Ayah, tolong aku, Adith sudah mengetahui perbuatanku!" Suara bergetar putrinya yang sangat disayanginya itu membuat sang Ayah khawatir dan menunjukkan sedikit keangkuhannya untuk membela anaknya. "Tidak perlu khawatir, aku akan membereskan semuanya. Adith hanyalah seorang anak SMA yang belum memiliki hak paten terhadap kekuasaan Narendra". Terang sang ayah untuk menghibur anaknya. "Tapi Ayah,,, ada seorang anak lagi yang mengetahuinya!" tambah Miya dengan suara yang sedikit tenang. "Berikan Handphonenya kepada dia dan juga Adith!" Tegas Ayahnya. "Ini..." sodornya ke pada kedunya. Miya mulai tersenyum angkuh. "Puufffttt,,, kau takkan bisa menghadapinya!" ucap Dinar meremehkan yang di ikuti cekikikan Cecil. Alisya saling bertatapan dengan Adith mengernyitkan kening karena bingung. Adith kemudian mengambil handphone itu lalu menempelkannya ke telinganya. "Halo???" suara Adith terdengar dingin namun tetap sopan. Belum sempat mendapat jawaban, Alisya langsung menarik handphone itu cepat. "Aku punya sesuatu yang bisa membuatnya panik!"senyum manis Alisya yang terlihat menakutkan membuat Adith terpaku lalu menyilangkan tangannya untuk melihat hal mengejutkan apa lagi yang akan di lakukan oleh Alisya. Suara di dalam handphone. "Kau pikir dirimu siapa hah??? kekuasaan apa yang kamu miliki sampai kau berani memojokkanku?" Bentak ayah Miya yang terdengar di telinga Alisya. "Ehemmm,, paman... bukankah terlalu berlebihan jika paman memanjakan Miya seperti ini?" Suara Alisya sopan. "Siapa kau???" suara Ayah Miya masih terdengar tegas. "Maaf karna kurang sopan! Aku Zero Alpha paman, paman pasti mengenalku dengan sebutan itu!" "Zero Alpha???" suaranya terdengar sedikit bingung. "Iya paman, Zero Alpha dari Black Falcon" terang Alisya lagi. "Jadi kau... kau adalah... " suaranya terbata-bata mengingat sebutan itu. Alisya tersenyum mendengar suara ayah Miya. "Sepertinya paman sudah ingat! kalau begitu telponnya saya kembalikan!" Alisya melirik ke arah Miya dengan tatapan tajam. Miya masih tersenyum sombong tak peduli. namun sesaat kemudian warna wajahnya berubah kelam lalu terduduk karena lututnya melemas dan tak bersuara. "Apa aku dejavu?? sepertinya aku pernah melihatnya seperti itu!" Bisik Alisya ke Adith yang terus memperhatikan Alisya sambil bersandar di tiang gedung. "Si,,, siapa kamu Alisya???" suara Miya bergetar hebat bersamaan dengan tubuhnya. "Apa yang terjadi Miya?" Dinar panik. "Kamu kenapa?" tanya Cecil lagi. "Aku hancur, bukan hanya aku keluargaku juga bisa hancur! apa yang sudah aku lakukan..." Miya meronta ketakutan. "Kamu kenapa sih? kenapa kamu jadi seperti ini?" Dinar terus menggoyang tubuh Miya. "Alisya,,, Alisya maafkan aku!!!" Miya merangkak meminta maaf. "Adith, ayo kita pergi" Alisya tanpa sadar mengambil tangan Adith untuk menghindari Miya. Alisya berpikir sebaiknya ini bisa dijadikan pelajaran yang paling berharga bagi Miya. Alisya yang lebih dahulu berinisiatif mengambil tangan Adith membuatnya tersenyum manis mengikuti langkah Alisya tanpa bertanya banyak. Adith sudah memiliki kata kunci yang bisa dia gunakan untuk mencari informasi lebih banyak mengenai Alisya. "Zero Alpha.... Black Falcon!!! sepertinya menarik. Aku tak pernah merasa bosan terhadaomu Alisya! Kau adalah magnet terbesar dalam mencuri perhatianku!" Batin Adith kemudian memutar posisi menjadi dia yang berada di depan Alisya. Putaran Adith mengejutkan Alisya namun ia tersenyum malu begitu sadar tangannyalah yang terlebih dahulu mengambil inisiatif. Tepat di tempat dimana motor Adith berada, Alisya bingung tak tau harus bagaimana. Saat ini ia memakai Rok SMA sedikit di atas lutut dan itu bisa membuat pahanya tersingkap jika naik motor Adith yang sedikit tinggi itu. "Kenapa??? apa yang kau tunggu ayo naik!" Sambil menyodorkan helem yang sengaja ia sediakan untuk Alisya. Alisya terdiam sambil memperhatikan Roknya. Melihat gerakan Alisya, Adith tersenyum menggoda. "Kau ingin menggodaku dengan pahamu?" pancing Adith. "hahhhhh????" Alisya memicingkan matanya mendengar perkataan Adith. "Itu tidak akan cukup! aku sudah mengikuti rencanamu dengan tidak pernah muncul didekatmu selama hampir seminggu ini dan kau ingin membalasku menggunakan pahamu?" Tatap Adith ke tubuh Alisya dari atas hingga ke bawah. "Apa maksudmu???" Alisya melayangkan tendangan bawahnya ke betis Adith yang dengan halusnya Adith bisa menghindari tendangan Alisya lalu berpindah posisi di belakang Alisya. "Aku hanya memandang cewek dari wajah, dada dan bokongnya!" goda Adith sambil terus memghindari terjangan Alisya yang emosi tiap kali mendengar suara Adith. "Kau...." Alisya bukanlah pendebat unggul terlebih lagi ketika lawannya adalah Adith. Begitu dia mengeluarkan pukulan yang dia buat sedikit kuat, Adith berhasil meraih tangannya dan mendekatkan tubuhnya kepada Alisya meski masih ada beberapa jarak di antara mereka. Alisya kemudian sadar bahwa di pinggangnya kini sudah terbalut oleh jacket hitam yang sebelumnya dipakai oleh Adith. "Ini,,, sejak kapan???" Alisya terkejut karena tak menyadari saat Adith memasang jaket itu dipingganya. "Naiklah..." senyum Adith tidak memperdulikan wajah terkejut Alisya. Alisya hanya menggeleng tak percaya dengan sikap Adith. Chapter 54 - Si Terbaik yang Hilang Alisya tak bisa berkomentar apapun lagi, ia dipenuhi banyak pertanyaan sejak kapan Adith bisa melakukan beberapa gerakan halus yang bisa membutnya menghindari semua pukulan Alisya. Meskipun pukulannya tidak mematikan, tetapi pukulan Alisya bukanlah pukulan yang bisa dengan mudah di hindari. Alisya berpikir bahwa mungkin saja selama ini ia belum terlalu mengenal siapa Adith sebenanrnya. Adith memacu motornya dengan sangat laju agar Alisya tidak ketinggalan banyak matapelajaran. untunglah ketika mereka sampai lewat gerbang belakang sekolah, Jam kedua baru saja dimulai sehingga mereka hanya ketinggalan 1 mata pelajaran saja. "Bagimana kamu bisa merekam itu semua?" serang Karin begitu melihat Alisya masuk kedalam kelas. "Aku juga tidak tau bagaimana, aku hanya menjawab panggilan videomu yang ternyata terhubung dengan apa yang aku lihat dan langsung terekam olehnya" Alisya juga tidak begitu mengerti bagaimana itu bisa terjadi. Sebelumnya alat yang digunakannya hanyalah alat peredam dengan tekhnologi canggih yang bisa terhubung pada panggilan telepon. Alisya kemudian membuka alat yang berada ditelinga sebelah kirinya sembari menutup cepat dengan sebelah tangannya karena tak ingin mendengar suara berisik lainnya. Alat itu ditaruhnya di atas meja membuat semua yang melihat Alisya terkejut dan kebingungan. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Rinto panik. "Apa kau tidak apa-apa melepas alatmu begitu saja?" tambah Yogi juga sama paniknya. Beberapa dari mereka yang tak mengerti hanya bisa melihat dan menyimak ketiganya. Beni memandang serius kewajah panik Yogi dan Rinto sedang Adora, Feby dan Emi saling berpandangan satu sama lain. "Apa ada yang salam dengan alat ini?" Karin bertanya karena ekspresi serius Alisya. "Adith sudah mengganti alat ini dan menambah beberapa vitur tertentu di dalamnya" Ucap Alisya setelah yakin bahwa itu bukanlah alat yang sebelumnya. Tapi Alisya tidak mengingat kapan dan dimana Adith memasangkannya. "Ahhhhh,,," Teriakan Alisya membuat semua orang terkejut. Alisya mengingat Adith memasangkan kembali Alat yang dilepasnya sewaktu semalam ia sengaja memusatkan pendengarannya. "Kamu kenapa sih???" cubit Karin kesal yang hanya dibalas cengengesan Alisya yang malu. "Jangan tertawa, kamu harusnya meminta maaf kepada kami semua karena sudah berbohong dan mempermainkan kamj soal Adith yang menghilang" gerutu Karin masih kesal. "Iya, Iya, aku minta maaf.. itu aku lakukan karena Adith bisa menghalangi kemunculan orang itu karena dia terus berada disekitarku!" Jelas Alisya. "Jadi semua ini adalah perbuatan Miya?" tanya Adora jengkel. "Iya, dan sepertinya dia akan mendapat balasannya sekarang!" senyum Alisya dengan ekspresi jahat mengingat warna wajah Miya. "Dia memamg harus mendapat pelajaran karena sudah semena-mena!" sungut Emi. **** "Halo, paman Dimas, bagaimana hasilnya??" tanya Adith cepat begitu mengangkat panggilan pam Dimas. Adith sudah menceritakan apa yang didengarnya dan segera menelpon pak Dimas sesaat sebelum dia masuk kedalam kelas. "Mungkin kamu akan sedikit terkejut mendengarnya!" Pak Adimas sudah tidak menggil Adith dengan sebutan Tuan sejak terakhir kali dia memanggil pak Adimas dengan sebutan Paman. Adith merasa kurang sopan hanya karena dia adalah atasan. Baginya pak Dimas sudah lebih dari keluarga karena telah lama dan setia bersamanya. sehingga dia menyarankan untuk pak Dimas bersikap biasa saja. "Benarkah? jelaskan paman..." pinta Adith penasaran. "Aku akhirnya harus membobol sistem Informasi Indonesia setelah berhasil mengetahui bahwa ternyata Black Falcon merupakan sebuah daerah rahasia yang diciptakan oleh para teroris dalam mengembangkan para anggota mereka sebagai seorang ahli dalam pembunuhan. Black Falcon adalah tempat dimana pengembangan itu dilakukan kepada anak-anak hasil penculikan dari seluruh dunia yang kebanyakan mereka berumur antara 6 hingga 15 tahun dan selama bertahun-tahun mereka akan mendapat pelatihan keras yang pada akhirnya anak-anak tersebut yang tidak bertahan beguguran satu persatu menyisakan yang terbaik diantaranya!" Terang Pak Dimas antusias. "Dan yang terbaik di antara semua itulah yang disebut sebagai Zero Alpha?" Tebak Adith. "Benar! tapi faktanya adalah Zero Alpha merupakan sebutan bagi anak terbaik menghilang dalam tes bahkan lolos dari daerah Black Falcon yang bahkan tak diketahui lokasi keberadaanya. Tempat itu sangat rahasia dan seorang anak berusia 13 tahun bisa meloloskan diri dari sana itulah kenapa disebut sebagai Zero Alpha! "Si terbaik yang hilang"!!!" Terang Pak Dimas menjelaskan tebakan Adith yang sedikit meleset. "Itu artinya anak itu kini sangat dilindungi oleh pemerintah Indonesia karena bisa menjadi Aset dalam sistem pertahanan Indonesia! Itulah kenapa identitas Alisya tidak bisa kita dapatkan dalam data base Indoensia" Ucap Adith setelah menganalisa semua informasi yang diberikan oleh pak Dimas. Adith tak percaya dengan informasi yang kini ditemukannya, dan ini melebihi dari apa yang diperkirakannya. Ia tak menyangka bahwa Alisya telah banyak melewati penderitaan hebat yang tidak terbayangkan terlebih bagi dia yang berasal dari negara yang cukup damai ini. Disudut sana Adith merasa takjub dan masih tidak ingin mempercayainya namun kemudian ia paham dengan semua misteri yang terjadi disekitar anak itu. Adith merasakan kepedihan yang mendalam membayangkan bagimana Alisya berjuang untuk mempertahakan kehidupannya. "Dan taukah kau apa yang terjadi pada semua anak-anak yang gugur dalam pengembangan itu???" suara pak Dimas lirih dan serak sarat akan kesedihan yang mendalam. Adith terdiam tak mengerti maksud dari pertanyaan pak Dimas. Ia berpikir bahwa tentu saja mereka mati terbunuh dan dikuburkan. "Mereka semua akan dimutilasi dengan bagian-bagian tubuh dan organ-organnya diperjual belikan!!!" terdengar nada marah yang pedih dalam suara pak Dimas. Adith terkejut dan tak sengaja meneteskan air matanya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya penderitaan anak-anak itu dan bagaimana sedihnya orang tua mereka yang kehilangan anak-anaknya. Adith kemudian paham bagaimana informasi itu ditutupi dengan sangat rapat untuk menghindari duka mendalam kedua orang tua semua anak dan menghindari amarah dan gejolak yang lebib besar lagi. "Paman,,, jika Black Falcon adalah sebuah tempat rahasia yang masih belum diketahui bahkan oleh dunia, bagimana bisa Indonesia mengetahui semua informasi ini? suara Adith serak karena menahan kesedihannya. "Anak yang lolos dari Black Falcon itulah yang memberikan semua informasinya. Dengan kata lain Alisya..." pak Dimas tak sanggup menyebutkan nama Alisya mengingat bagaimana Alisya yang seorang perempuan bisa bertahan hidup dalam semua itu. "Adith,,, apa kamu yakin Alisya menyebut dirinya Zero Alpha dari Black Falcon??" pak Dimas tidak meragukan Adith, melainkan ingin memastikannya sekali lagi. Chapter 55 - Itu Bunyi Apa Yah? "Benar paman, aku yakin sekali Alisya menyebut dirinya sebagai Zero Alpha dari Black Falcon sewaktu berbicara dengan ayah Miya yang seorang wakil menteri pertahanan Indonesia" tegas Adith meyakinkan pak Dimas. "Kita ngapain kerumah Adith sih???" Alisya kesal karena Karin mengajaknya jalan tanpa arah. Di akhir pekan yang ingin dimanfaatkan untuk Alisya tidur seharian didalam kamarnya karena kelelahan oleh Porseni kemarin membuatnya sangat malas untuk bergerak. "Aku juga nggak tau Sya,,, Adith bilang ada hal penting yang harus dilakukan dan kita semua disuruh kumpul dirumah Adith" terang Karin yang mulai bosan dengan semua pertanyaan Alisya. "Semuanya juga ikutan kumpul? maksud aku teman-teman yang lain.." tanya Alisya lagi. "Udah,,, masuk aja dulu biar kamu liat sendiri.. cerewet ama sih! sejak kapan kamu menjadi banyak berbicara seperti ini? aku senang kamu bisa berbicara dengan santai tapi lama-kelamaan aku jadi kesal dengar kamu bertanya terus." Karin Judes. Begitu masuk beberapa teman-temannya sudah bersiap di dalam rumah dengan hamparan berbagai macam makanan diatas meja yang menggugah selera. Meja hampir penuh tak menyisakan tempat lagi untuk piring lain. "Wow,, mana yang lain? kok cuma kamu sama Emi saja!" tanya Alisya kepada adora yang sedang menata makanan diatas meja dibantu oleh seorang bibi yang biasa membantu pekerjaan rumah tangga dirumah Adith. "Yang lain lagi menata taman buat kita main disana, akan lebih seru kalau kita makan-makan ditempat terbuka!" jelas Emi sambil membawa nampan lain. kedus tangannya penuh dengan tumpukkan kue-kue tradisional. "Oh gitu... Kar kita ke,,, loh kok Kar?? Karin?" Alisya menoleh ke kiri dan kanan tapi tak menemukan Karin. Karin sudah menghilang tepat ketika mereka masuk kedalam rumah. "Tadi aku liat dia ke ruang tengah!" tunjuk Adora menggunakan matanya. "Oh,,, orang tua Adith kemana? Adithnya juga dimana?" tanya Alisya karena tak melihat sosok Adith maupun ibunya. "Orang tua Adith tadi masih keluar sebentar, kalau Adith sih lagi diatas aman Beni beres-beres" Ucap Adora masih terus sibuk. "Ya sudah,,, kalau begitu Aku cari Karin dulu yah, terus kesini lagi buat bantu-bantu" ucap Alisya cepat mencari Karin. "Disini sudah selesai kok, tinggal angkatnya aja buat dibawa ketaman!" jelas Emi. "Oh iya, panggil ama Feby sekalian buat bantu-bantu ngangkatnya!" Pinta Adora sopan. "Siipp" senyum Alisya sambil berlalu pergi. Alisya berkeliling diruang tengah rumah Adith tapi tidak menemukan siapapun, ia kemudian menuju ke taman dan memantau dari jauh. Disana terlihat Gani dan Gina yang sibuk memindahkan tempat untuk lingkaran memanggang daging. Alisya mendekat sembari membantu Feby yang kesusahan menarik meja yang cukup besar dan menyusunnya bersama dengan satu meja panjang yang lain yang lebih besar diangkat oleh Rinto dan Yogi dengan memperlihatkan otot dan urat dileher mereka. "lihat Karin tidak? tadi aku pikir dia kesini, soalnya dia nggak ada diruang tengah" tanya Alisya setelah berhasil menyusun dan merapikan posisi meja. "Dia ke depan untuk mengambil sesuatu" jawab Feby dengan nafas berat. Dia cukup kewalahan mengangkat meja dan sedikit mengeluarkan keringat karena langit menampilkan matahari yang sedikit panas. "ummm..." angguk Alisya paham. dia tetap berada disekitar sana untuk membantu namun Karin tak kunjung datang hingga terdengar suara gaduh dari dalam rumah. "Itu bunyi apa yah???" Feby memasang wajah panik begitupula yang lainnya. Alisya hanya berpikir bahwa mungkin saja mereka tidak sengaja menjatuhkan barang. Berdasarkan bunyinya itu bukanlah sesuatu yang cukup berbahaya karena bunyinya seperti sebuah mangkok berisi yang jatuh kelantai sehingga ia tidak bereaksi berlebihan. "Aku liat ke dalam dulu yah?" Feby melangkah masuk ke dalam rumah secepat kilat dan sedikit tergesa-gesa. "Kalau begitu aku ke depan dulu melihat Karin" Alisya tidak bertanya lebih lanjut tehadap kesibukan yang dilakukan teman-temanya karena tampak jelas bahwa ini hanya acara makan-makan biasa. Ia hanya bingung untuk apa acara makan-makan itu diadakan. Melihat kursi yang diletakkan disekitarnya Alisya melihat itu bisa mencapai 20 orang. "Oke,,, sekalian nanti bawain kita es buah yah? panas nih.." Ucap Yogi yang mengipas-ngipas pipinya. "Siip" sambil melambai Alisya pergi menuju kedepan tapi tidak menemukan Karin disana. Alisya akhirnya kembali kedalam rumah dimana tempat Emi dan Audora sibuk menyediakan makanan di atas meja. "Anak itu kemana sih???" Alisya masuk sambil menekan alat ditelinganya untuk menelpon Karin. Begitu masuk Alisya melihat semangkuk penuh Es buah jatuh ke lantai dan tak dibersihkan. Disana juga tidak ada siapun membuat Alisya bingung kenapa mereka meninggalkan barang yang seharusnya di bersihkan terlebih dahulu. Alisya akhirnya berinisiatif membersihkan tumpahan es buah tersebut dan memisahkan beling kaca mangkok yang berhamburan pecah. "Masih nggak di angkat, anak ini kemana sih?" Alisya mulai kesal. Ia akhirnya berkeliling rumah untuk mencari Karin dan yang lainnya sambil terus menelpon Karin. Lalu tanpa disengaja ia melihat Handphone Karin tergeletak di lantai ruang tengah rumah Adith. "Kenapa handphonenya ada disini? Kar... Karin???" Alisya mencoba memanggil beberapa kali. Alisya tidak berani harus berkeliling lebih jauh kedalam rumah Aidth dimana Alisya belum bertemu Adith sejak tadi sehingga dia memilih kembali ketaman. "Kemana lagi mereka?" Alisya tidak menemukan Yogi ditempat mereka semula dan hanya menemukan bara api ditungku yang sudah menyala dan meja yang terbalik. Bahkan sikembar yang sering berdebat itupun tak terlihat disana. Alisya mulai memasang wajah serius dan khawatir kalau ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Dia akhirnya menekan panggilan kenomor Adith namun nomornya tidak dapat dihubungi. Kebingungan, Alisya akhirnya kembali kedalam dan masih terlihat kosong tak satupun dari mereka yang terlihat. "Audora, Emi, Feby, Rinto, Yogi, serius deh ini nggak lucu tau!!!" Alisya mulai mengeluarkan suara kesal. "Beni, Gani, Gina??? pada kemana sih???" Alisya mulai tak sabar. "Aditthhh,,, Kariiinnnn!!!" kali ini terdapat amarah dalam suara Alisya. "Kalian apa-apan sih??? kalau kalian begini terus aku nggak ikut permainan kalian dan memilih pulang!!!" Ancam Alisya namun tak ada reaksi sama sekali. "Karin kau tau kan aku paling nggak suka dengan permainan seperti ini?" ancamnya lagi. Karena mulai jengkel ia akhirnya hendak berjalan keluar sebelum tanpa sengaja ia melihat beberapa jejak sepatu laras tampak di depan pintu masuk. Alisya ingat betul kalau diantara teman-temanya tak ada satupun dari mereka yang menggunakan sepatu dengan model Alas seperti sepatu laras. Alisya akhirnya melangkah mundur perlahan-lahan dan berpura-pura seolah-olah ia sudah pergi meninggalkan rumah dan menutup pintu dengan sedikit bantingan keras sebagai tanda bahwa ia pergi dengan kesal. Chapter 56 - Jangan Pernah Lakukan itu Lagi Menuju dapur dengan sangat halus Alisya mengambil beberapa pisau yang tergeletak dengan tak mengeluarkan bunyi apapun. Alisya tidak yakin akan apa yang sedang terjadi namun Alisya memiliki satu kekhawatiran yang sangat mendalam. Alisya takut bahwa kemungkinan besar posisinya yang kini telah diketahui meski ia sudah merubah penampilannya dengan lebih feminim, video wawancara sewaktu dia berhasil melakukan presentasi dan memenangkannya kemungkinan besar telah beredar dan tersebar yang tentu saja akan membuatnya untuk semakin mudah di lacak. Alisya mengutuk dirinya sendiri ketika memikirkan keegoisannya yang kini mungkin bisa berdampak pada orang disekitarnya. Alisya melangkah sepelan mungkin dengan tidak mengeluarkan suara sambil berjaga-jaga agar bersiap terhadap apapun yang akan terjadi. Alisya menuju keatas dimana kamar Adith berada dan tak menemukan siapapun disana. Alisya akhirnya melepas alat ditelinganya untuk memusatkan pendengarannya agar bisa mendengar apapun namun hanya bisa mendengar bunyi horden yang tertiup angin, bunyi gemericik bara api serta bunyi mesin Ac dan kulkas. Alisya sangat terganggu namun terus berusaha untuk bisa menemukan suara sekecil appun itu. Tidak menemukan apapun, Alisya terpaksa memasang kembali alatnya karena semakin tak nyaman dengan seluruh bunyi yang didengar oleh telinganya. "Surpriseeee!!!!" Teriak semua orang keluar dari salah satu ruangan dibalik tangga. Alisya yang kaget langsung melempar pisaunya tepat mengarah ke Karin yang sedang memegang kue tar berisi lilin yang sudah menyala. Untunglah Adith dengan cepat bisa menangkap pisau yang dilemparnya tersebut. "Hei, kau mau membunuhku???" Tanya Karin dengan wajah sinis. "Apa maksud dari semua ini???" Alisya bertanya tak kalah sinis. "Ini bukan ideku!" balas Karin. "Iya Sya, kami juga tidak tau kalau ternyata hari ini kamu ulang tahun!" ucap Adora dengan senyum lebar. "Maaf Alisya, ini semua ide tante!" Ibu Adith muncul dari belakang Adith dan Karin. "Tante? tapi kenapa???" Tanya Alisya sopan dan bingung. "Ehemmm..." Karin terbatuk mengingatkan Alisya tidak bertanya dan lebih baik untuk menghargai niat baik Ibu Adith. "Ibuku sudah menyukaimu sejak pertama kali bertemu denganmu, aku juga tidak tau bagaimana dia bisa mengetahui ulang tahunmu. tapi begitu melihat nenekmu disini kamu pasti paham!" Nenek Alisya muncul begitu dia disebutkan. "Ibu Adith datang mngunjungi nenek kemarin dan tanpa disengaja dia mengetahui hari ulangtahunmu dari mulut nenek. Nenek tau kamu tidak menyukai perayaan ulang tahun tapi Ibu Adith bersikeras untuk membuatnya. Jadi anggap saja kamu tidak berulang tahun tetapi lagi syukuran!" senyum nakal nenek Alisya sambil memeluk manja Alisya. "Nenekk..." Alisya merasa sesak dengan pelukan erat neneknya. "Woyyy,, tangan aku pegal nih" teriak Karin. Alisya langsung mencabut lilin yang berada di kue tar tersebut membuat semua yang ada terkejut dan bingung. Alisya tersenyum nakal. "Aku nggak mau makan lilinnya, aku mau kue tarnya doang" Ucapnya mengambil pisau di tangan Adith. Semua orang tertawa dengan kalimat konyol yang dikeluarkan oleh Alisya. "Kamu tak pernah berubah yah Sya!" Karan muncul memberikan sebuket bunga yang isinya penuh dengan berbagai jenis eskrim. "Kak Karan???" Alisya tidak bisa menghindari kecupan hangat karan yang dipikirnya takkan dilakukannya dihadapan semua orang. "Saingan Muncul tuh!!" bisik ayah Adith ke telinga Adith yang wajahnya memerah padam melihat Karan mengecup dahi Alisya. Ibu Adith tersenyum menggoda Adith. "Kita nggak makan nih? aku sudah kelaparan..." Yogi tak bisa menahannya lagi. "hahhahahaha,,, ayo keluar semua! actingnya sudah berakhir sekarang!" seru Ibu Adith. "Kalian semua keterlaluan!" sela Alisya kesal. Semuanya segera makan dan menghabiskan hampir seluruhnya karena tak disangka Adith mengundang seluruh siswa kelas MIA 2 serta orang-orang terdekat Alisya. Alisya merasa bersyukur bahwa apa yang ditakutkanya tidaklah terjadi dan malah mendapatkan momen berharga yang takkan pernah bisa dia lupakan sebelumnya. Adith tersenyum puas menyaksikan ekpresi wajah bersyukur Alisya yang tampak berkaca-kaca. "Jangan ditahan, kalau mau menangis. menangislah dipelukanku!" goda Adith setengah berbisik. Alisya berbalik dan melirik tajam ke arah Adith. "Aku bisa menebak bahwa acara ini memang dipersiapkan oleh ibumu tapi semua yang terjadi tadi pastilah ulahmu!" Alisya menghadap dihadapan Adith serius. "Bukankah tidak seru jika kejutan diketahui dengan mudah?" senyum Adith menggoda Alisya. "Jangan pernah lakukan itu lagi" tatapan Alisya tajam dengan wajah yang serius dan meyakinkan. Adith melihat tatapan ini bukanlah sebuah perintah melainkan sebuah permintaan yang benar-benar harus dilakukan apapun yang terjadi. "Maafkan aku!!!" Elus Adith kekepala Alisya menenangkannya. Adith paham jika itu orang lain mungkin hanya akan berlalu begitu saja dan meninggalkan sedikit kenangan special tapi Alisya berbeda. Apa yang dilakukannya tadi mungkin saja terjadi dan Alisya akan berada di posisi dimana ia akan dengan mudah kehilangan orang-orang terdekatnya. Setelah mengetahui Alisya lebih dalam, Adith seperti bisa mengetahui dan memahami Alisya lebih baik lagi. "Alisya,,," Ibu Adith datang menghampiri ditemani ayah Adith. "Iya tante,,," Nada suara Alisya lembut dan menghangatkan. "Maukah kamu memanggilku dengan sebutan Mama?" pinta ibu Adith memandangi Alisya penuh kasih. Alisya bingung menatap Adith yang membuang muka dan neneknya yang membalas dengan anggukkan pelan. "Tapi tante..." Alisya tidak paham maksud ibu Adith. "Alisya, saya sejak dulu menginginkan seorang anak perempuan dan saya merasakan kedekatan emosional yang sangat tinggi terhadapmu. Bisakah saya menjadi pengganti Ibumu, meski saya tau saya tidak cukup baik untuk menjadi seorang ibu untukmu!" suara ibu Adith terdengar serak. "Tidak tante aku berterimaksih banyak karena tante mau menganggapku sebagai anakmu!" Alisya mengambil tangan ibu Adith cepat untuk menenangkannya. "Jadi aku bisa menjadi ibu mu?" tanya ibu Adith dengan tatapan hangat. "Iya, tentu saja tante... maksudku mama" Ibu Adith langsung memeluk Alisya begitu mendengar panggilan itu. "Terimakasih,,, akhirnya aku bisa memelukmu kembali Quenby ku sayang" bisik ibu Adith ditelinga Alisya. Alisya kaget mendengar panggilan ibu Adith kepadanya. "Mama kok..." Alisya menatap dengan wajah bingung begitu ibu Adith melepas pelukannya. "Itu panggilan sayang dari ibumu kan?" ucap ibu Adith menjepit dagu Alisya. Alisya kemudian paham maksud dari panggilan dari ibu Adith. sudah lama sejak terakhir kali nama itu disebutkan olehnya sehingga ketika dia mendengar nama itu dia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Melihat sikap Alisya dan ibunya. Adith tersenyum manis sambil membuang pandangannya ke langit yang tampak semakin larut. "Bapak juga senang kalau Alisya menjadi menantu bapak!" Goda ayahnya ke telinga Adith. Adith hanya tersenyum melepas pandangannya ke Alisya yang kini tengah bercengkrama heboh dengan teman-temanya. sedangkan nenek Alisya dan ibunya kembali kedalam rumah memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk bersantai. Chapter 57 - Ibu Yul "Bapak tau kamu masih memikirkan tuan Ali, tapi bapak harap kamu bisa mengambil keputusan lebih baik demi masadepanmu nanti!" Ayah Adith mengingtkan Adith terhadap kesepakatan mereka sebelumnya menengenai impian dan cita-cits yang akan dikejarnya dengan tidak mengesampingkan perusahaan nantinya. "Tentu Pa," tatap Adith meyakinkan ayahnya. Ayah Adith tersenyum menepuk pundak Adith dan berjalan masuk meninggalkan mereka ditaman. Pagi hari dirumah Alisya. "Kamu mau kemana sudah rapi gitu???" tanya nenek Alisya melihat Alisya yang sudah berpakaian rapi. "Yah kesekolah nek, kemana lagi?" tanya Alisha bingung dengan reaksi neneknya sambil memasang sepatunya. "Oh gitu, tolong nenek dong liat kalender ini hari sudah tanggal berapa? nenek mau ke bank buat ngurus sesuatu!" pinta neneknya lembut. "Tanggal 13 nek, hari ini tanggal merah jadi bank nya tutup!" teriak Alisya pelan. "Oohhhh..." nada suara neneknya terdengar mengalun mengejek. "Nenek...!!!!!" tawa neneknya pecah mendengar rengekan Alisya yang sadar kalau hari itu tanggal merah yang berarti sekolah libur. "Ganti baju sana! bantu nenek berikan ini ke kakekmu! Dia sedang berada di indonesia sekarang. Dia akan paham ketika membukanya!" Neneknya memasang wajah serius. Alisya mengangguk pelan. selama ini neneknya berusaha menyembunyikan keberadaanya demi dirinya namun sekarang ia tak perlu bersembunyi lagi karena Alisya sendiri yang memilih untuk menunjukkan diri dan merasakan kehidupan normal layaknya anak SMA lainnya tanpa harus terus bersembunyi. Alisya bersyukur karena selama ini neneknya lah yang membantunya bersembunyi dengan baik. "Tapi nek, jarak dari sini kesana kan jauh... aku harus menelpon Karin dulu untuk meminjam mototrnya!" "Bukannya kamu punya motor?" neneknya melirik ke arah kunci motor yang sudah lama tidak dipakainya. "Sudah 3 tahun ini aku tidak memakainya!" "Tak perlu khawatir, nenek selalu menghangatkannya dan dan merawatnya dengan baik!" jelas neneknya menyodorkan kunci ke tangan Alisya. Motor Alisya adalah Kawasaki Ninja H2R yang merupakan salah satu motor produksi dari Kawasaki terbaru yang diklaim memiliki teknologi supercharged, yang hanya ada satu di dunia. Motor yang dijual dengan harga selangit ini, memiliki teknologi terbaik untuk kelas motor sport. Sudah lama sejak terakhir kali dia menggunakan motor hadiah pemberian kakeknya itu. Bagi Alisya motor itu terlalu mahal untuk di pakai seorang anak SMA sehingga ia tak pernah memakainya. Motor itu dibelikan kakek Alisya jauh sebelum Alisya melarikan diri dari kakeknya karena membenci sifat kakeknya yang terlalu keras terhadapnya yang memaksakan dirinya untuk mengambil Alih perusahaan ibunya. Alisya berangkat menggunakan motornya dengan berpakaian serba hitam. Tubuhnya yang tinggi membuatnya tampak sangat keren memakai motor itu terlebih lagi karena dia memakai helen Ninja yang kontras dengan warna motornya. Pakaian yang digunakan Alisya memiliki spesialisasi khusus yang dapat dengan mudah dilepas dan dipakai. Benar-benar pakaian khusus yang biasa dia gunakan ketika mendapat misi khusus. "Tu,,, Tuan Ali..." Alisya berhenti tepat di mobil pengawal kakeknya yang selalu sedia 24 jam setiap saat demi mengawasi sekaligus melindungi Alisya. "Ikut Aku!!!" Alisya membuka helemnya dan meminta dengan nada sopan yang tegas. Alisya langsung memacu motornya cepat menuju ke tempat dimana kakeknya berada. Begitu ia memarkirkan motornya, semua pengawal dan beberapa staf penting sudah berada di depan gedung menanti kedatangan Alisya. Alisya melirik ke semua pengawal yang mengikutinya tadi dengan tatapan tajam. Melihat Alisya sedang menuju ke tempat kakeknya para pengawal yang mengikuti Alisya dengan cepat menghubungi perusahaan mengenai kedatangan Alisya. "Kembali ke posisi kalian semua,,, aku tidak datang secara resmi jadi jangan perlakukan aku dengan terlalu berlebihan!" suara Alisya dingin tapi tetap menggunakan nada yang sopan. Para pengawal dibelakang Alisya dengan cepat mengarahkan semuanya untuk segera bubar dan tidak terlalu memperdulikan keberadaan Alisya. Namun tetap saja kehadiran Alisya memberikan Aura tersendiri yang sedikit membuat semuanya sedikit canggung dan menjaga jarak. "Tante masih sering makan roti yah??" Ucap Alisya kepada seorang ibu cleaning service yang sudah sangat lama bekerja disana. Dia terduduk tepat di kursi pintu masuk sewaktu dia sedang membersihkan. "Alisya... maaf maksud saya tuan Ali" Ibu itu sudah sangat akrab dengan Alisya selama ia sering mengunjungi perusahaan bersama ibunya dulu. Tapi karena kehadiran para pengawal dibelakangnya membuat Ibu itu sedikit tertekan. "Bersikaplah seperti biasa Ibu Yul, Alisya akan sangat senang jika kamu melakukan itu!" Pak Azwar si kepala pengawal sekaligus tangan kanan kakek Alisya muncul dan berkata dengan lembut. Mendengar kalimat pak Azwar, Alisya tersenyum sopan sehingga Ibu Yul menjadi lebih nyaman dan dengan cepat memberi Alisya pelukan hangat. "Dia masih di ruang rapat! Apa kamu mau aku memhubunginya?" pak Azwar dapat memahami tatapan Alisya yang tentu saja ia takkan datang jika bukan sesuatu yang penting. "Tidak, aku masih ingin bersama ibu Yul! kalian juga beristirahatlah, untuk hari ini aku akan berada disini seharian jadi kalian bisa mengambil libur sehari ini" muka para pengawal kelam tak berani melakukan perintah Alisya. "Anggap saja ini hadiah dariku yang kemarin berulang tahun! kalian tidak perlu mengkhawatirkan kakek. aku yang akan berbicara dengannya!" Pinta Alisya lembut. Setelah mendapat anggukan dari pak Azwar, semua pengawal akhirnya bisa tersenyum hangat dan segera berhamburan keluar setelah memberi hormat dengan tertunduk dalam. "pak Azwar, tolong bawa ibu Yul ke Kantin perusahaan" pinta Alisya sopan. "Tidak Alisya, pekerjaan ibu belum selesai. Ibu akan pergi setelah pekerjaan ini selesai" jelasnya dengan suara yang sangat lembut. "Ibu Yul, biar yang ini Alisya selesaikan. setelah selesai Alisya akan menyusul dan kita bisa makan bersama! pak Azwar tolong bawa di tempat yang biasa..." senyum Alisya manis meyakinkan ibu Yul. "Ayolah ibu Yul, kalian sudah lama tidak bertemu.. biarkan dia yang menyelesaikannya dan ibu Yul bisa beristirahat sejenak!" terang pak Azwar ikut meyakinkan ibu Yul. pak Azwar tau betul kalau Alisya cukup keras kepala terhadap hal-hal seperti ini. "Baiklah,,, aku akan makan jika kamu sudah datang!" ancam ibu Yul dengan senyuman nakal. "Iya bu,, siap laksanakan!" Alisya menghormat menggoda ibu Yul. Setelah keduanya pergi, Alisya dengan cepat mengepel dan membersihkan beberapa bagian yang sempat di tinggalkan ibu Yul. Chapter 58 - Alis Tebalnya "Gedubrakkkkkk!!!!" suara seseorang terjatuh dengan sangat keras tepat dimana Alisya sedang membersihkan lantai tersebut. Alisya berbalik dan langsung membantu perempuan itu bangun. "Mbak baik-baik saja?" ucap Alisya yang langsung berusaha membantunya untuk berdiri dengan memegang lengan perempuan yang meringis kesakitan karena terjatuh dengan cukup kuat. "Adduhhh.. gimana sih mbak! kalau ngepel yang bener dong..." bentaknya marah menepis tangan Alisya dengan kasar. "Saya sudah bener kok mbak!" terang Alisya. "Kalau benar kenapa saya bisa jatuh? mana basah lagi..." ucapnya sinis. "Kalau ngepel kan emang agak basah mbak.. Nggak ada ngepel kering krontang kayak padang pasir..." jelas Alisya. "Kalau salah ituh nggah usah banyak ngeles..." tuduhnya dengan suara keras. Beberapa orang yang berlalu lalang seketika berhenti dan mulai memperhatikan mereka. "Maaf mbak tapi sepertinya mbak yang salah, disanakan sudah ada peringatannya! masa papan segitu besarnya mbak nggak liat sih." tunjuk Alisya masih berusaha untuk tetap sopan. "Kamu berani menyalahkan aku? memangnya kamu siapa? kamu itu cuman cleaning service rendahan!" bentaknya sambil mendorong dan menunjuk Alisya dengan telunjuknya. Alisya terdiam dengan prilaku yang ditunjukkan oleh perempuan tersebut. "Wahhh... ini lagi muncul pemain filem antagonis di Indosiar" pikir Alisya sambil tersenyum lucu. "Apa yang kamu tertawakan? kau pikir aku sedang bercanda???" bentaknya lagi semakin emosi. "Saya tidak bermaksud seperti itu, tapi reaksi anda terlalu berlebihan!" Alisya tetap tenang menghadapinya. Alisya merasa bodoh jika harus meladeni orang seperti dia karena itu hanya akan merendahkan dirinya sendiri sebab gampang terpancing untuk hal-hal yang cukup sepele. "Berlebihan kamu bilang??? Baju ini tuh mahal, edisi terbatas. Gaji kamu setahun tidak akan cukup untuk menggantikan gaunku yang basah... tau nggak!!!" ia kesal melihat Alisya yang menanggapinya santai yang kemudian membuatnya ingin melayangkan tamparan namun tiba-tiba saja pintu lift terbuka membuat perempuan itu sedikit tergugup dan menurunkan tangannya. Melihat terdapat banyak petinggi dari arah lift perempuan itu membereskan pakaiannya lalu dengan cepat berakting seolah seperti seorang perempuan terhormat dan tidak terjadi apa-apa. Kakek Alisya dan beberapa petinggi yang keluar terkejut melihat Alisya yang sedang memakai kaos tangan pembersih dan memegang kain pel. Hanya kakek Alisya dan 2 orang petinggi lain yang mengenali Alisya. Melihat tampilan Alisya seperti itu seketika membuat mereka kaget dan terdiam membatu. "Ada apa ini???" tanya seorang petinggi dengan nada yang sinis mengarah kepada perempuan yang baru saja berhadapan sengit dengan Alisya. "Tidak ada apa-apa pak, aku hanya memberi sedikit pelajaran kepada cleaning service muda ini" senyumnya merendahkan Alisya. "Ada apa?? Apa yang sudah dilakukannya dengan kenapa dengan pakaianmu itu???" tanya salah seorang lagi dari mereka bingung. Ia heran dengan pakaiannya yang basah namun sudah bisa mendunga bahwa ia terpleset jatuh karena lantainya yang basah sedang dia memakai sepatu hak yang cukup tinggi. Kakek Alisya tidak menyangka melihat Alisya datang ke perusahaannya dan tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut sekaligus bahagianya. namun melihat Alisya yang menggelengkan kepala kepada sebagai pertanda untuk tidak bersikap lebih membuat kakeknya mau tidak mau mengikuti keinginan cucu kesayangannya itu. Bersikap seolah tidak mengenali Alisya, kakeknya terbatuk pelan mengalihkan perhatian semua yang berada didalam lift. "ehemmm... tidak apa-apa! mari kita lanjutkan saja!" ucap kakeknya memimpin jalan. Setelah mereka berlalu si wanita yang sedikit basah tadi langsung mengikuti langkah mereka dengan terlebih dahulu mengancam Alisya. "Kali ini kau selamat, jika aku bertemu denganmu lagi.., aku akan memberimu pelajaran yang takkan pernah kamu lupakan seumur hidupmu, dan sebaiknya kau bersiap-siap akan hal itu." bisiknya dengan nada sinis lalu pergi meninggalkan Alisya. "Alis tebalnya sangat mendukung wajahnya yang jahat!!!" Alisya tertawa mengingat wajah perempuan tadi yang terlihat sedikit menor karena riasannya yang sangat tebal sambil terus menyelesaikan pekerjaanya secepat mungkin. Fikirannya untuk segera bersama dengan Ibu Yul membuatnya mempercepat gerakannya sehingga tidak butuh waktu lama Alisya sudah bisa menyelesaikan semua pekerjaannya dengan mudah. "Ibu Yul..." sapa Alisya lembut mendatangi Ibu Yul yang duduk dengan canggung serta pandangan yang tampak gusar karena berada disana sendirian. "Nak Alisya, kita pindah saja yah.. saya tidak nyaman duduk di kursi VIP ini!!!" Ibu Yul gelisah karena banyak yang memperhatikan mereka dengan tatapan heran sekaligus menghina dan mencemooh. Alisya memang hanya dikenali oleh beberapa pengawal khusus dan beberapa staf khusus saja sehingga banyak dari mereka tidak mengenalinya dan hanya menganggap Alisya sebagai pegawai cleaning service baru yang mungkin merayu pak Azwar untuk bisa duduk di tempat VIP yang biasanya digunakan oleh keluarga pemilik perusahaan saja. Mereka hanya mengetahui bahwa cucu perusahaan ini bernama Tuan Ali yang belum pernah mereka lihat dan dan mereka temui yang itu adalah seorang laki-laki. Begitulah pikir mereka. "Ibu Yul, aku tidak masalah duduk dimana saja, tapi karena kemarin aku ulang tahun aku juga ingin berbagi bersama ibu Yul, apalagi ini adalah pertemuan pertama kita setelah sekian lama kita tidak pernah bertemu, masa ibu Yul menolak keinginanku yang sangat sederhana ini sih!!" Pinta Alisya duduk dihadapan Ibu Yul. Alisya menunjukkan ekspresi wajah yang sengaja ia buat sedikit manja untuk menarik perhatian Ibu Yul. Melihat niat tulus Alisya Ibu Yul akhirnya pasrah mengikuti keinginan Alisya, Ibu Yul juga tau kalau Alisya sudah lama tidak duduk makan di kursi ini semenjak kematian ibunya. Sehingga dengan penuh kasih sayang Ibu Yul segera memberikan Alisya makanan lalu menyuapi Alisya. Alisya hanya tersenyum manis melihat reaksi Ibu Yul yang menatapnya dengan penuh kelembutan. Ibu Yul sudah mulai tampak sangat tua namun wajahnya tetap memberikan kesan cantik di masa mudanya. Alisya dengan cepat membuka lebar mulutnya dan melahap suapan ibu Yul yang kemudian tersenyum puas. "Terimakasih Ibu Yul, Nah..., Sekarang biar biar giliran aku yang menyuapi Ibu Yul!" Alisya menyodorkan sendok yang berisi makanan kepada Ibu Yul. Melihat gerakan Alisya Ibu Yul dengan cepat membuka mulutnya dan melahap seluruh makanan yang berada disendok tersebut. Ibu Yul sangat bahagia karena bisa bertemu kembali dengan anak kecil manja dan ceria itu setelah sekian lama sehingga dengan sangat lembut ia mengelus kepala serta pipi Alisya. Alisya merasa hangat akan perlakuan Ibu Yul kepadanya. Chapter 59 - Sayur Kelor??? "Adith, kita ada pertemuan dengan pak Takahashi Yamada untuk penadatanganan kontrak kerja sama!" Pak Dimas menelpon Adith yang masih tertidur pulas. "Jam berapa pertemuannya paman?" Adith belum bisa membuka matanya dengan benar. "Pertemuannya pukul 10 pagi" jawabnya. "Sekarang jam berapa?" tanya Adith mengucek lembut matanya. "Sekarang sudah pukul 8 pagi" Adith yang bekerja keras semalaman hanya tertidur selama 2 jam saja. "Baiklah paman, aku akan turun sebentar lagi!" suara Adith masih terdengar sedikit serak. "Aku akan datang menjemputmu secepatnya" tutup pak Dimas. Setelah bersiap-siap, Adith turun kebawah dan melihat ibunya yang sudah menyediakan sarapan untuknya. "Mama masak apa?" tanya Adith duduk di meja makan yang menghadap dapur. "Bubur ayam kesukaanmu! semalam kan kamu sudah bekerja keras dan tidak tertidur dengan lelap, jadi mama buatkan ini" Setelah sudah cukup masak ibunya lalu mengambil mangkok dan menyediakannya kepada Adith. "Terimakasih banyak mama..." Adith bangkit mengecup manja pipi Ibunya. Ibu Adith sangat bahagia dengan perubahan Adith yang kini bersikap lebih hangat dan menyayanginya. "Sebentar, masih ada tambahan lagi" Ibu Adith segera mengambil sebuah mangkok yang masih mengeluarkan uap panas. "Sayur kelor???" Adith kaget melihat hidangan itu. "Aku mengetahuinya dari nenek Alisya, dan dia mengajarkanku dimalam ulang tahun Alisya!" senyum ibunya bangga. Tanpa bertanya lagi Adith langsung menyendok dan makan dengan lahap. Masakan ibunya tidak pernah berubah, selalu memberikan sensasi rasa syukur tiada tara yang tidak bisa dia rasakan ditempat lain. "Bagaimana dengan pertemuan mu hari ini?" tanya Ayah Adith duduk disampingnya dengan pakaian santai. "Jangan khawatir, kami sudah melakukan perjanjian untuk bertemu 1 jam lagi" terang Adith setelah meneguk air minumnya. "Aku harap kamu bisa mendapatkan kontrak kerja kali ini, tuan Takahashi tergolong orang yang cukup sulit untuk diajak kerja sama. Tetapi dia akan sangat solid jika sudah mempercayai sesuatu!" jelas Ayahnya mengingatkan. "Apa Bapak yakin Adith yang melakukan pertemuan dengannya? bukankah kurang sopan jika aku yang masih muda dan tidak berpengalaman untuk datang dan melakukan kontrak kerja sama dengannya?" Adith tidak meragukan dirinya hanya saja ia tidak yakin apakah ini benar atau akan ada keterisnggugan yang dapat terjadi. "Tentu saja tidak masalah, justru pak Takahashi sendirilah yang memintaku untuk mengutusmu melakukan kontrak kerja sama dengannya. Meskipun kamu masih anak SMA dan masih muda, dia sangat terkesan dengan kemampuanmu dalam menangani masalah perusahaan dan mengembangkan ide-ide menarik yang dengan cepat menaikkan saham perusahaan" Ayah Adith berkata dengan penuh kebanggaan. "Baiklah, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakannya dan tidak mengecewakan Bapak serta perusahaan pastinya!" Ucap Adith tegas. Ayahnya tersenyum penuh kebanggaan sambil memegang pundak anaknya. "Kau sudah semakin baik dan dewasa Adith!" "emmm.. apa Bapak tau kalau dia itu kakek Alisya?" tanya Adith ragu-ragu. "Ya, aku mengetahuinya dari nenek Alisya" Ucap ayah Adith membuang muka seolah menyembunyikan sesuatu. Adith sedikit curiga dengan rekasi ayahnya. Biasanya jika dia berbohong, dia akan membuang wajah dan tidak menatap. Namun saat Adith ingin bertanya, pak Dimas sudah datang menjemput. "Kalau begitu aku pergi dulu, Pa.. Ma..." Adith menyalami keduanya sebelum meninggalkan rumah mengkuti langkah pak Dimas menuju mobil. Ayah Adith dan Ibunya mengantarkan Adith didepan pintu dan melambai ketika mobilnya berjalan menjauh. **** "Motor ini??" Adith melirik ke arah motor Alisya yang terparkir dengan baik di depan gedung Central Senanyan dengan rapi. "Ada apa?" tanya pak Dimas bingung. "Bagaimana bisa motor ini berada disini? ini adalah motor satu-satunya di dunia dari kawasaki! aku pikir motor ini tidak akan mungkin dibeli oleh orang indonesia. jadi ini.." Adith terus memperhatikan motor itu dengan serius begitu keluar dari mobilnya. Ia akhirnya teringat akan pertemuannya dengan tuan Ali di gedung yang sama sehingga tanpa pikir panjang ia segera masuk dan mencari keseluruh ruangan. Pak Dimas yang bingung memilih untuk diam setelah melihat ekpresi Adith yang begitu serius. Rasa penasarannya yang sangat tinggi terpaksa ia pendam sambil terus mengikuti langkah Adith. "Anda sudah datang???" Pak Azwar datang menghampiri dengan senyum manis. Setelah mengatur ekspresinya Adith segera tersenyum sopan kepada pak Azwar. "Saya sangat mengharapkan kerja sama ini.." Adith mengulurkan tangannya. "Tentu saja,, begitu pula dengan kami! Direktur sedang ada urusan, masih ada skitar 20 menit lagi sebelum pertemuan. Izinkan saya mengantar anda untuk berkeliling sebentar melihat sekitar gedung dan mengenalkan beberapa petinggi kami yang mungkin bisa anda lihat dan cocok dalam kontrak kerja sama kali ini" jelasnya lebih lanjut kepada Adith. "Terimakasih banyak atas pujiannya, saya sangat merasa tersanjung. tapi kurang sopan rasanya karena kita belum melakukan penandatanganan kontrak kerja bukankah itu akan menyinggung Direktur?" Adith tidak yakin jika dia diberikan kepercayan sampai segitu besarnya. pak Azwar tersenyum sopan mendengar kerendahan hati Adith. "Direktur percaya terhadap penilaian anda, untuk itu saat dia meninggalkan tempat dia memberitahukan kepada saya untuk melakukan hal itu. Dan soal penandatanganan kontrak, anda bisa segera melakukannya bersama Direktur, dia sudah memeriksa semua perjanjian yang tertera" terangnya meyakinkan Adith. "Direktur sangat berbaik pada saya!!!" Adith menunduk pelan dan sopan. Terlepas dari Adith yang SMA dan sangat muda dalam industri bisnis, mereka sangat mengagumi kecerdasan dan kepiawaian Adith dalam mengelola maupun menyelesaikan masalah perusahaan terhadap perusahaan Narendra dan berhasil menjadi orang nomor 1 di Indonesia. "Ini adalah aula kantin perusahaan" tunjuk pak Azwar yang mengajak keduanya berkeliling perusahaan. "Anda terlalu merendah, bukankah ini sangat layak untuk menjadi sebuah restoran bertaraf Imternasional dengan semua furniture, ornamen dan juga interior yang sangat indah juga tentu saja mahal. Perusahaan ini benar-benar sangat mengutamakan kenyamanan karyawannya" Adith terkagum terhadap kemewahan tempat yang disebut sebagai kantin oleh pak Azwar. "Direktur memang tak salah dalam menilai orang, anda bisa melihat hal yang tak dilihat oleh orang lain. sebagian besar menilai bahwa kami terlalu membuang uang untuk ini" senyum pak Azwar penuh ketersanjungan kepada Adith. pengetahuannya yang luas bukanlah suatu yang bisa di anggap remeh dan itu sangatlah dibutuhkan dalam dunia bisnis. "Aku berkata hanya berdasarkan apa yang tampak!" senyumnya sopan. Selang Adith dan pak Azwar sedang berdiskusi dari kejauhan terdengar suara keras dari seorang wanita dengan wanita lain bersama seorang wanita yang lebih tua dimana punggung bajunya bertuliskan cleaning service. "Sepertinya ibu itu membuat sedikit kesalahan!" tunjuk pak Dimas yang juga ikut memperhatikan kekacauan yang mereka buat. Chapter 60 - Tidak Sopan "Aku sudah lama tidak makan bersama ibu Yul, rasanya benar-benar seperti nostalgia!" mata Alisya penuh akan kerinduan mendalam. "Ibu sangat berterimakasih kamu masih mengingat ibu, ibu sangat kaget begitu melihatmu! Quenbyku yang polos kini sudah besar dan menjadi wanita yang begitu manis juga cantik!" Ibu Yul membelai Alisya dengan penuh kasih sayang. Ibu Yul merasa sangat terharu terhadap Alisya yang dulu selalu bermain bersama saat ibunya sedang rapat meski ia hanyalah seorang cleaning service biasa. Ketulusan hati Alisya membuat ibu Alisya tidak bisa melarang pertemanan yang terjalin terhadap keduanya. Selain itu ibu Alisya sangat menghargai Ibu Yul yang juga sudah menjaganya selama ini ketika ia juga berada di perusahaan karena hal yang sama dimana ayahnya juga sibuk dalam rapat. "Queby sayang... kamu senang sekali bermain bersama ibu Yul sampai tidak menyadari kehadiran ibu yah??" Ibunya menunduk memelas dihadapan Alisya. "Alisya sayang sama ibu Yul, tapi Alisya mencintai mama sepenuhnya! jangan sedih lagi yah ma???" suara polos Alisya yang mengahapus air mata ibunya yang tidak jatuh membuat Ibu Yul tertawa lembut. "Mama kamu tidak nangis Alisya,, tapi cemburu!" tawa Ibu Yul. Alisya langsung memeluk dan mengecup ibunya dengan penuh kehangatan dan pandangan dalam bagai seorang pria yang sedang menenangkan hati kekasihnya. Ibu Alisya tersenyum penuh haru, ia tak menyangka kalau Alisya begitu menyayanginya. Tatapan anaknya membuatnya luluh dan tak bisa melanjutkan Actingnya lagi. ***** "Apa yang kalian berdua lakukan disini???" bentak seorang perempuan kepada Alisya dan Ibu Yul. "Tentu saja makan" jawab Alisya cuek. Ibu Yul yang kaget segera bangkit namun ditahan oleh Alisya. Ibu Yul bukannya takut pada perempuan itu tapi malah ingin menyelamatkannya. "Kamu tidak tau yah? kalau tempat ini adalah area private khusus keluarga perusahaan!" suaranya terdengar sinis dan tajam. "Aku pikir semua tempat disini adalah area yang bisa digunakan oleh semua karyawan maupun tamu, tidak ada pembagian wilayah!" Alisya masih cuek tidak melihat ke arah wanita itu. Sejatinya apa yang dikatakan oleh Alisya memang benar bahwa tidak ada pembagian tempat didalam kantin itu namun entah sejak kapan rumor mengenai kursi dan meja yang di tempati oleh Alisya hanya bisa di tempati oleh orang-orang dari keluarga perusahaan saja. "Itu artinya kau tidak mengetahui apapun, Minggirlah!!! ini bukan tempatmu.. kamu tidak pantas berada ditempat ini" ucap wanita itu lantang. "Oh,,, ternyata kamu lagi?" terang Alisya lembut menoleh ke arah suara yang memarahinya terus. Dia adalah wanita yang terpleset jatuh dihadapannya. Wanita itu kini memakai baju dress pedek selutut yang ketat dan memamerkan tubuhnya. Wajah Alisya semakin datar dan tak berekspresi. "Tidak sopan. tidak kah kau diajar sopan santun ketika berbicara dengan yang lebih tua???" seorang wanita lain juga datang menghakimi Alisya. "Kau tidak punya orang tua yang mengajarkan kamu untuk bersikap sopan santun yah???" wanita lain ikut menghakimi Alisya. Wanita yang terpleset itu tersenyum jahat. ia merasa puas berhasil mengkompori teman-temannya. sehingga ia tidak perlu memperlihatkan prilakunya lebih jauh. Wanita itu berpikir untuk membalas Alisya. "Sebaiknya kalian berhati-hati atas apa yang akan kalian ucapkan!" seru Ibu Yul memperingatkkan mereka. "Diam kamu! tau apa kamu atas apa yang kami ucapkan?? kamu itu hanya cleaning service rendahan!" bentak wanita yang berdiri disebelah wanita yang terpleset tadi. "Puufftttt... kalian bilang aku tidak punya sopan santun, sedangkan kalian dengan tidak sopannya berbicara terhadap yang lebih tua seperti itu" Alisya tertawa memancing mereka. "Buat apa kami sopan terhadap orang rendahan seperti dia? kami memiliki kedudukan lebih tinggi di banding cleaning service rendahan ini" ucap wanita itu memeriksa bajunya dan menepis baju ibu Yul dengan kasar. Alisya marah melihat perlakuan wanita itu kepada ibu Yul namun tetap tenang dan dengan sengaja ingin memancing emosi mereka. Alisya berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang dapat dengan mudah dipancing untuk menghancurkan diri mereka sendiri. "Aku melihat kalian justru lebih rendah dari pada binatang, sikap kalian justru tak sebanding dengan binatang" suara Alisya dingin. Ibu Yul yang merasa hawa sekitar semakin dingin segera mengingatkan mereka kembali. "Manejer Jenni, Sebaiknya kalian meminta maaf sebelum terlambat!!! Alisya ibu tidak apa-apa kok, ibu baik-baik saja..." ibu Yul panik sekali lagi mengingatkan wanita yang terpleset tadi. "Apa???? minta maaf? memangnya dia siapa!!! berhenti memegangku dasar wanita tua bau!" wanita itu mendorong tubuh Ibu Yul sehingga terjatuh ke lantai. Mereka bertiga tertawa dengan penuh kepuasan. "Yang seharusnya meminta maaf itu kamu!!! jika kamu bersikap baik, maka aku tidak akan melakukan ini padamu!" Wanita yang terpleset tadi langsung menyiramkan air kekepala Alisya yang sedang berusaha mengangkat tubuh ibu Yul. Wajah ibu Yul semakin kelam melihat kebodohan yang dilakukan oleh ketiga wanita sombong itu. "Aku sudah mengingatkan kalian beberapa kali dan sekarang aku tidak bisa menyelamatkan kalian lagi!" suara ibu Yul pasrah. "Ibu Yul, aku tidak suka jika ibu Yul bersikap sok akrab denganku! ibu Yul harusnya paham status ibu Yul disini tuh apa? lagi pula aku tidak takut sama anak bau kencur ini!" Ucap wanita yang bernama Jenni tersebut sambil menarik rambut Alisya dengan kuat. Alisya paling tidak suka direndahkan, ia terdiam dan berusaha tenang agar tidak terlalu menarik banyak perhatian sehingga dari tadi ia berusaha untuk menyelesaikannya dengan baik namun tetap saja akan ada manusia didunia ini yang terbutakan oleh kesombongan mereka. Begitu rambutnya ditarik Alisya tidak tahan lagi dan langsung menarik kaki Jenni hingga terjatuh dengan keras. Pak Azwar dan Adith yang bersama dengan pak Dimas yang baru saja datang kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Mereka hanya memperhatikan dari jauh kalau wanita itu sedang menuang air dikepala seorang wanita yang lebih muda dan menjambaknya lalu dengan cepat berubah dengan jatuhnya wanita yang menyiram air tersebut. "Kesombongan anak itu akhirnya mendapatkan balasannya! aku sudah mengingatkannya untuk lebih bersikap santun agar suatu hari sikapnya tidak menjadi bumerang untuknya dan tak ku sangka dia sedang memasukkan dirinya sendiri di mulut harimau hari ini" pak Azwar mendesah memegang kepalanya. Disisi lain Adith dan Pak Dimas juga sama terkejutnya melihat Alisya menjatuhkan wanita itu. Adith tak menyangka kalau ia akan menemukan Alisya disana dalam keadaan seperti itu. Meskipun keberadaan Alisya disembunyikan, bukankah harusnya akan ada beberapa orang di perusahaan yang akan mengetahui siapa Alisya. Ketiganya terdiam membeku beberapa saat sebelum akhirnya bergerak maju serentak. Chapter 61 - Minggir Paman Berdasarkan kamera pengawas, para pengawal yang melihat dari monitor segera berkumpul secepat kilat tepat sebelum kedatangan pak Azwar dan Adith sehingga mereka hanya terdiam membatu tepat dihadapan Alisya. Dengan tangan yang gemetar beberapa pengawal dengan cepat memberi Alisya serbet untuk mengeringkan rambut dan wajah Alisya yang basah namun dia hanya mengabaikan mereka semua. "Hei apa yang kalian lakukan??? aku lagi jatuh disini,, kenapa kalian malah memperhatikan dia??" Jenni masih belum menyadari situasi dan membentak dengan meringis sakit. "Alisya kamu baik-baik saja?" pak Azwar langsung bertanya dengan kaku. Ia takut kalau Alisya akan sangat marah. "Paman,, perempuan jala** ini sudah mencelakaiku paman" Jenni dengan cepat merayu pak Azwar yang merupakan pamannya. Alisya sontak menatap tajam ke arah Jenni memancarkan aura membunuh yang dahsyat yang membuat para pengawal memundurkan langkah mereka dan pak Azwar langsung berdiri membelakangi Jenni yang gemetar ketakutan saat dia dan Alisya beradu mata. Jenni bisa menyadari akan amarah yang sangat mendalam dimatanya yang mampu menghancurkan siapapun dihadapannya saat ini. Semua orang yang melihat dari jauh hanya bisa melihat kalau Alisya menatap marah kepada Jenni tanpa mengetahui bahwa tatapan yang ditujukan adalah tatapan yang biasanya dikeluarkan oleh seorang pembunuh profesional. Adith terdiam terpaku melihat kemarahan Alisya, berbeda dengan yang lainnya. Adith bisa merasakan besarnya tekanan yang diciptakan oleh Alisya. Aura yang dikeluarkannya bahkan cukup pekat untuk bisa menaklukkan seekor harimau hanya dengan tatapannya. Untuk beberapa alasan dia hanya berdiri dibelakang sambil terus memperhatikan. Dalam keadaan takut, karena merasa dilindungi oleh pamannya ia jadi sedikit angkuh lagi untuk memfitnah "Pa,, paman,,, perempuan itu tidak punya sopa..." "Diam kau!!!! minta maaflah cepat!!" Pamanya dengan cepat menghentikan celotehan Jenni melihat amarah Alisya. semua orang yang melihatnya dengan tatapan jijik membuatnya marah dan berkata dengan keras. "Tidak!! aku tidak salah.. buat apa aku minta maaf kepada anak ingusan sepertinya???" "Minggir paman!!!" Alisya membuat satu lagkah pasti yang dengan cepat dihentikan oleh ibu Yul. pak Azwar bergetar tetapi berusaha tetap tenang. "Alisya, Ibu baik-baik saja, terlalu banyak orang yang melihat!" Ibu Yul berusaha menenangkan Alisya dengan mengusap lengannya lembut "Tidak Ibu Yul, dia harus diberi pelajaran karena kesombongannya itu!" Alisya menggertakkan giginya untuk tetap berbicara dengan sopan kepada ibu Yul. "Memberiku pelajaran??? memangnya kau siapa?" Jenni tidak tahan dengan tingkah Alisya yang merasa seolah-olah bisa melakukan apa saja kepadanya. Dia adalah manager perusahaan sekaligus keponakan dari sekretaris penting tangan kanan direktur sedang Alisya hanyalah seorang Cleaning service rendahan dimatanya. "Bukankah sudah ku ingatkan kau untuk menghilangkan kesombonganmu itu!!! Segeralah minta maaflah sekarang juga sebelum terlambat!!!!" pak Azwar membentak sangat tajam. Jenni yang sangat takut pada pamannya bergetar hebat namun ia tetap mempertahankan harga dirinya dihadapan semua orang lalu dengan santai berkata. "Aku akan meminta maaf, setelah dia juga meminta maaf padaku! dia pikir siapa dirinya bersikap seperti itu??? kenapa paman terus membelanya?" meski dengan nada gemetar ia tetap saja bersikeras. Jenni berpikir bahwa jika seorang Cleaning service bisa melawannya dengan mudah seperti itu maka kedepannya akan banyak yang melakukan hal tersebut sehingga ia masih tetap mempertahankan diri. Alisya sudah tidak bisa mentoleransi kebodohan wanita itu. Keangkuhan dan kesombongannya membuatnya lupa akan hati nuraninya dan kehilangan rasa malu demi mempertahankan harga dirinya dihadapan seluruh karyawan perusahaan meski ia salah. Kali ini Alisya dengan cepat mengambil sendok Garpu disamping mejanya dengan satu gerakan yang tidak diperhatikan oleh kebanyakan orang. Adith bisa membaca gerakn tubuh Alisya lalu dengan cepat mendekatinya untuk mencegah Alisya memberikan pelajaran berharga yang tak bisa dilupakan oleh Jenni maupun semua orang. Adith melihat bahwa Alisya sudah cukup menahan diri dihadapan Ibu Yul dan semua orang. Kontrol emosi yang sangat baik dengan ketenangannya. "Hai..." sapa Adith lembut memajukan wajahnya tepat di samping kiri telinga Alisya. "A adithhh???? kamu ngapain ada disini???" Alisya sangat terkejut dengan kemunculan Adith. Lebih terkejut dibandingkan dengan kemunculannya yang sebelum-sebelumnya. terlebih lagi karena itu di perusahaan kakeknya. Melihat reaksi Alisya terhadap Adith, pak Azwar menghela nafas lega. Tekanan yang diciptakan olehnya dengan cepat mereda dan menghilang membuatnya tenang lalu kemudian menatap tajam ponakan manjanya itu begitu pula dengan dua orang karyawan yang ikut membantu Jenni. Ia berpikir bahwa akan ada ganjaran berat yang sudah menanti mereka kedepannya. Tatapan pamannya itu dapat dengan mudah di mengerti oleh Jenni sehingga dia terdiam masih dengan wajah angkuhnya karena merasa tak bersalah. "Kamu juga ngapain disini???" tanya Adith setengah mengejek melihat pakaian santai yang dikenakannya serta celemek dipinggannya yang belum dilepasnya. "pantas saja jika orang akan salah paham melihatnya, anak ini selalu saja dengan mudah membuat orang salah paham!" Batin Adith sembari tersenyum nakal. Tatapan Adith ke arah pingangnya membuat Alisya sadar bahwa ia belum melepas celemek pembersihnya lalu dengan sedikit terburu-buru dia melepas ikatannya yang malah semakin kuat. "Jika kau melepasnya seperti itu, kau akan memutuskan pinggangmu!!" ucap Adith langsung membantu Alisya melepas tali celemek yang mengikat pinggang Alisya dari arah depan namun tetap menjaga jarak aman. Alisya memerah seketika dan gugup. "Apa yang kau lakukan??? aku bisa melepasnya sendiri!!!" Alisya selalu saja tidak bisa memprediksi gerakan Adith sehingga selalu terjebak dihadapannya. Pak Dimas tersenyum simpul melihat aksi Adith dalam menenangkan Alisya. Pak Azwar terkejut meski tetap menyembunyikan ekspresinya dalam ketenangan. Ibu Yul merasa bahagia melihat mereka berdua dan tatapannya penuh dengan kasih sayang. Semua karyawan membelalakkan matanya. bagaimana mungkin seorang karyawan rendahan bisa mendapatkan perlakuan special dari orang nomor satu di Indonesia itu. Diantara mereka diam-diam mengambil foto lalu dengan cepat menyebarkannya di Dumay. Sungguh ledakkan yang sangat hebat sedang terjadi saat ini terlebih karena Adith tidak pernah terlihat berdekatan dengan seorang perempuan selain tentang keseriusannya dalam sekolah dan perusahaanya. "Adith,, kenapa kau bersikap seperti itu kepada karyawan rendahan yang tidak punya sopan santun sepertinya???" Nada sinis yang keluar dari mulut Jenni membuat Pak Azwar semakin murka. Jenni mengenal Adith lewat karena bisnis yang sebelumnya dia geluti jauh sebelum tawaran kontrak kerja dibuka. Chapter 62 - Maafkan Aku Alisya "Kau..." tatap pak Azwar tajam. Ia sangat marah terhadap kelakuan sombong ponakannya itu yang sudah membuatnya malu karena perbuatan bodoh ponakannya tersebut kepada Alisya. "Dia bukanlah karyawan rendahan, dia adalah cucuku Alisya!" Kakek Alisya muncul dibelakang kerumunan orang dan berkata dengan tegas dan suara yang dingin. "Ma,,, maksud kakek, maaf... maksud direktur???" Nada suara Jenni tercekat oleh air ludahnya sendiri. "Selama ini kau mendapat perhatian yang cukup baik dari pamanmu dan dariku karena aku sudah menganggapmu cucuku sebab selama ini kamulah yang sering memghiburku jika aku merindukan cucuku. Aku menganggapmu sebagai cucuku karena pak Azwar adalah tangan kananku yang sangat aku percayai tetapi ternyata hal itu membuatmu menjadi sangat sombong dan bertingkah semena-mena kepada semua karyawan." Ucap Kakek Alisya dengan suara berat yang tegas. "Pantas saja, ternyata karena dia merasa memiliki perlindungan yang cukup kuat!" Gumam paman Dimas yang sedari tadi hanya diam memperhatikan semua kejadian itu dengan nyaman seolah sedang menonton filem. Melihat kakeknya yang muncul dan melangkah mendekat membuat Alisya dengan cepat berdiri dihadapan Adith memblock serta memasang pertahanan seolah tampak melindungi Adith dari kakeknya. Genggaman tangannya sangat kuat dan bergetar membuat Adith bingung dengan reaksi Alisya. Reaksi Alisya seolah sedang melindunginya dari bahaya besar yang sangat mengancam hidup Adith. Pak Dimas juga terkejut dengan tatapan tajam Alisya kepada Direktur yang merupakan kakeknya sendiri. Dari tatapan itu mengalir sebuah kebencian yang cukup besar bersamaan dengan rasa takut. pak Dimas merasa ada sesuatu yang tak beres dengan sikap Alisya dengan membuat Adith berdiri dibelakangnya. "Ada apa Alisya??? Kenapa tubuhmu bergetar seperti itu?" Adith tak menyangka kalau reaksi Alisya akan sampai se protective itu kepada dirinya dihadapan kakeknya saat ini. "Bagaimana kau bisa ada disini??? apa yang kau lakukan disini???" Bisik Alisya masih dalam keadaan membelakangi Adith dan tersimpan nada marah dalam suaranya. Belum sempat Adith menjawab perntanyaan dari Alisya, sang Direktur langsung memberi pengumuman yang mencengangkan. Dari balik punggung Alisya, Adith dapat melihat sang Direktur yang tampak belum begitu tua dengan wajah khas jepangnya dan ketegasan pada kontur wajahnya memperlihatkan aura kepemimpinan yang penuh dengan kharisma. Benar-benar aura seorang penguasa besar yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Tatapan matanya hangat namun tegas dan mempesona. "Alisya adalah cucu saya satu-satunya!! Cucu saya yang selama ini tidak pernah saya tampilkan dihadapan orang banyak maupun media, dia adalah Ralisya Quenby Lesham..." tunjuk kakeknya kepada Alisya. Alisya terdiam membatu ditempatnya dengan tatapan menusuk dan marah. Ia tak menyangka kalau kedatangannya ke perusahaan itu malah membuatnya berada dalam situasi dan kondisi seperti itu. Terlebih dengan pengumuman kakeknya yang membuka jati diri Alisya yang sebenarnya dihadapan semua orang dan dihadapan Adith. Semua orang tercengang tak percaya beberapa diantaranya bahkan tidak bisa menutup mata dan mulut mereka dalam keterkejutan dan untuk Jenni, sekarang ia terjatuh lemas tak berdaya. Sekarang ia baru menyadari kesalahan besar yang sudah dia lakukan. bahkan kesempatannya untuk hidup sudah berada jauh dibawah ambang batas kehidupan. Ia akhirnya merasa jatuh ke neraka paling dalam di hidupnya. "Apa yang sudah aku lakukan??? tidak mungkin! jika dia adalah cucu direktur.. kalaupun benar, kenapa baru dia muncul saat ini??? Direktur selalu memanggil cucunya Quenby bukan Alisya!!!!" tiba-tiba ia sadar bahwa nama yang disebutkan oleh direktur sebelumnya adalah memang benar nama cucunya dan nama perempuan yang disebutkan tadi juga mirip dengan nama panggilan perempuan itu. "Tidak direktur pasti telah ditipu oleh perempuan ini!!! ia bangkit dan langsung mendekati Alisya. "Jika benar kau adalah cucu direktur maka seharusnya kau punya 3 tahi lalat dibawah telingamu di leher kananmu!!!" sambil berbicara dia langsung menepis rambut Alisya dengan kasar untuk membuktikan kebenarannya. Alisya sebenarnya dapat dengan mudah menghindar dan menepis tangan kasar Jenni namun dia dengan sengaja membiarkan Jenni melakukannya untuk mempermalukan Jenni karena sikapnya sendiri. Jenni melihat 3 tahi lalat itu bersemayam dileher Alisya yang bersinar cerah karena kulitnya. Jenni terperangah kaget bukan main bahwa ternyata Alisya adalah benar cucu direktur. Ia kemudian mengingat segala macam hal informasi mengenai Alisya yang kemudian ia hampir tak bisa menahan kencing karena rasa takutnya. Jenni merasa bahwa ia seharusnya bersyukur masih dalam keadaan hidup setelah memperlakukan Alisya seperti tadi. Dia menatap Alisya dengan tatapan penuh rasa takut serta memelas. Tangan serta tubuhnya bergetar hebat dan suaranya terdengar tak kalah bergetarnya. "Maafkan aku, Alisya... namamu Alisya kan??? bukan namamu Quenby, maafkan kesombongan dan keangkuhanku!!! maafkan aku" Jenni memohon sembari memeluk lutut Alisya. Alisya tidak bergeming dan membeku dengan tatapan dingin menusuk ke tulang Jenni. Dia memilih diam sebagai bentuk pelajaran kepada Jennie yang sudah berlaku sombong dan sembrono kepada Ibu Yul. "Jenni, kau dipecat dan aku masukkan namamu ke dalam daftar hitam seluruh cabang perusahaan kami hal yang sama yang akan terjadi pada kedua temanmu. Dan tentu saja Aku memasukkan rekomendasi daftar hitam nama kalian diperusahaan Narendra!" suara dingin dan berat Direktur membuat Jenni bergetar semakin hebat. Begitupula dengan semua orang yang melihat seluruh kejadian tersebut. "Tidak!!! jangan, jangan seperti itu,, kakek... paman tolong aku, berikan aku 1 kesempatan!" pinta Jenni sambil menangis meraung-raung. "Jadikan ini sebagai pelajaran berharga buatmu Jenni. Jangan memandang orang rendah dan menyombongkan diri terlalu tinggi" Suara pak Azwar terdengar berat tapi tegas. Dia tak mampu menyelamatkan ponakannya, tidak dengan kesalahannya yang cukup besar saat itu. "Apa yang akan terjadi pada kita? jika kita masuk daftar Hitam perusahaan Yamada, dan perusahaan Narendra, bukankah itu artinya karier kita dalam dunia bisnis telah berakhir???" Wajah teman wanita Jenni yang turut menghina Alisya menggelap seketika. "Kita bahkan tidak akan diterima di seluruh perusahaan di Indonesia..." Tambah yang satunya lagi dengan air mata yang menetes. Ketiganya tersungkur dalam penyesalan yang sangat besar terhadap kebodohan yang sudah mereka lakukan dan tak ada satupun yang mampu menyelamatkan mereka saat ini meski mereka harus memohon dan mengemis. Sungguh sebuah pelajaran yang sangat membekas yang telah mereka alami pada saat itu. Chapter 63 - Apa Yang Kau Rencanakan?? Di ruang kantor Direktur. Alisya terduduk cemas di kursi tamu kakeknya. Ia duduk dan berdiri sambil terus melihat kearah pintu menanti kedatangan Adith dan kakeknya. Setengah jam kemudian pintu terbuka menunjukkan wajah kakeknya yang tersenyum ramah bersamaan dengan masuknya Adith. "Apa yang kau lakukan kepada Adith??" Alisya langsung menyerang dengan agresif. "Alisya, tenanglah! aku dan Direktur memiliki kontrak kerja sama dan kami bertemu untuk menandatangani kontrak kerja sama tersebut!" jelas Adith menenangkan Alisya. "Tidak Dith! kau tidak tau betapa liciknya direktur yang ada dihadapanmu ini!" mata Alisya penuh dengan amarah. "Kamu tidak usah khawatir, semua ini murni urusan bisnis. peluang kami untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan Narendra yang merupakan perusahaan nomor satu di Indonesia sangatlah menguntungkan kedua belah pihak dalam mengusai ekonomi pasar dunia!" Terang kakek Alisya tegas. Penjelasan kakek Alisya dapat dengan mudah dipahaminya, tentu saja selama ini ia cukup heran jika mereka tidak melakukan kerja sama maka kedua perusahaan ini telah membuang kesempatan yang sangat besar. Selain itu kerjasama ini akan sangat memberikan keuntungan yang besar bagi kedua belah pihak. "Apa yang kau rencanakan???" Alisya masih mengeluarkan suara mengintimidasi. "Tidak kah kau ingat jika ini kedua kalinya kau begitu bersikeras melindungi Adith???" Ucap Kakeknya memancing Alisya. "Apa maksudmu???" Alisya bingung tak mengerti. "Aku tak bisa menjelaskan lebih karena kau harus mencari tau sendiri" tegas kakeknya. Bukan hanya Alisya, Adith juga tak begitu mengerti apa yang dimaksudkan oleh kakek Alisya namun ia mengetahui akan adanya pesan tersirat yang disampaikan oleh kakeknya. "Aku takkan pernah tertipu lagi oleh kata-katamu!" Suara Alisya tidak melembut sama sekali. "Itu terserah padamu! tau kah kau apa yang akan diberikan oleh nenekmu kepadaku???" pancingnya seolah mengetahui tujuan dari kedatangan Alisya. "???" Alisya memicingkan matanya siaga. "Bukalah sendiri, selama ini dia terus berusaha untuk melindungimu dengan menutup semua kebenaran yang ada karena kamu yang hilang ingatan!" kakek Alisya terus memancing pikiran Alisya. Ia sengaja karena keberadaan Adith dapat dengan mudah memicu ingatan Alisya yang hilang karena rasa traumanya. "Hilang ingatan??? apa maksudnya???" Alisya sedikit gusar dengan apa yang diucapkan oleh kakeknya. "Aku tak bisa menyampaikan lebib dari itu, sisanya kau bisa cari sendiri!" kakeknya membelakangi Alisya yang mengenggam erat Amplop titipan dari neneknya. Alisya langsung berlari keluar dengan penuh amarah tidak mengerti apa maksud dari kakeknya. Jika apa yang dikatakan oleh kakeknya adalah benar, maka selama ini neneknya telah membohonginya. Tapi tentang apa? Alisya tidak bisa menemukan penjelasana dalam kegundahannya. Adith yang berada disituasi tersebut juga bingung dengan situasi tersebut. Ia tak mengerti mengapa kakek Alisya memancing Alisya sedang ia berada disana dan mendengar semua penjelasan yang ada. "Alisya...?" teriak Adith mencoba menghentikan Alisya. "Adith,,," suara kakek Alisya menghentikan Adith. Adith terdiam membatu memperhatikan sang Direktur yang bernafas berat seolah ingin mengatakan sesuatu yang lebih serius. "Ada hal yang harus aku beritahukan kepadamu! ini berhubungan terhadap kalian berdua!" Suarany penuh akan kekhawatiran. Adith memilih diam untuk terus memberikan kesempatan kepada Direktur melanjutkan perkataanya. "Sebelumnya aku meminta maaf kepadamu, untuk yang kini maupun apa yang sudah kulakukan terdahulu! Seperti yang kau lihat bahwa Alisya sangat membenciku, selain karena kekejamanku terhadap Alisya, itu juga karena dirimu!" Suaranya penuh kelembutan mengisyaratkan ketulusan dalam tiap kalimatnya. "Maaf Direktur, tapi aku tak begitu mengerti apa yang anda katakan!" Adith melangkah maju dalam kebingungan. "Kau dan Alisya sudah mengenal sejak lama! untuk saat ini hanya itu yang bisa aku jelaskan, karena kalian berdua harus menghadapi semuanya sendiri!" tambahnya lagi. "Sepertinya Direktur telah salah paham, saya pamit dulu. Untuk kedepannya saya sangat mengharapkan kerja sama anda!" Ucap Adith sambil menunduk menghormati sang Direktur. "Adith... Aku titipkan Alisya dalam perlindunganmu! Cepatlah berkembang dan kuat!" Jelas sang Direktur tepat sebelum Adith keluar mengejar Alisya. **** Pagi hari di sekolah "Pagi Sya...." Sapa Emi "Selamat Pagi Alisya!!!" Adora tak kalah semangat. "Pagi Alisya... apa yang kau pikirkan???" Feby masuk menghampiri Alisya yang duduk termenung menghadap jendela. "Bukannya ini terlalu pagi untuk melamun yah?" Tambah Emi menaruh tas nya menghawatirkan Alisya. Beberapa bulan belakangan mereka dengan mudah melihat banyak ekspresi Alisya yang lebih bersahabat dan mulai jarang terlihat sendiri karena mereka yang sudah lebih sering mengajaknya bercengkrama. Alisya melirik sekilas namun hanya memberi senyum seadanya. Ekspresi Alisya terlalu sulit untuk mereka terjemahkan dan senyumnya bukannya terlihat lemah dan tidak ikhlas melainkan ia lemparkan seadanya sehingga mampu membuat mereka berpikir bahwa Alisya baik-baik saja. "Jadi bagaimana??" tanya Adora menaruh wajahnya di atas meja Alisya. Alisya terdiam tak mengerti pertanyaan Adora. "Kamu jadi salah satu kandidat dalam pemilihan ketua Osis" Terang Adora membaca ekpresi bingung Alisya. "Kenapa Aku???" tanya Alisya datar. "Itu karena banyak yang merekomendasikan kamu setelah melihat kemampuan kamu!" Ucap Karin sembari memasuki kelas di ikuti Rinto dan Yogi. "hah??" Alisya masih tidak begitu peduli. "Sepertinya Rinto dan Yogi semakin tampak seperti pengawalmu yah Karin!" Alisya menangkup dagunya dengan sebelah tangan. "Kami selalu saja berpapasan di depan sebelum masuk kekelas. Jadi bukan berarti mereka terus mengikutiku yah... Jangan salah paham!" Ketus Karin "Jadi pengawal yah??? Tidak buruk!" seru yogi memikirkan dengan serius ucapan Alisya. "Sepertinya dia menanggapinya dengan serius" bisik Emi terkikik kecil. "Jadi bagaimana??? Kamu sudah memikirkan mengenai kamu yang dierkomendasikan sebagai salah satu Kandidat Ketua Osis???" Goda Karin. "Aku tak mengerti mengapa mereka merekomendasikan aku sebagai calon Ketua Osis!" ucap Alisya acuh tak acuh. "Sewaktu kamu memenangkan presentasi, membuat orang mengakui kecerdasanmu dan kelihaianmu dalam menghadapi masalah ditambah lagi sewaktu kamu berhasil menjadi Ratu sekolah membuat kepopuleran dirimu meningkat tajam sehingga banyak yang merekomendasikan kamu" Jelas Rinto. "Sistem pemilihan kandidat calon Osis disekolah kita sedikit berbeda dibanding dengan sekolah-sekolah lainnya. Selain mempertimbangkan Kemampuan dalam hal kecerdasan, Kecantikan dan kepopuleran merupakan hal tambahan yang sangat mendukung dalam pemilihan" tambah Yogi. "Sebuah aturan yang cukup konyol dari sekolah elit. Tapi tidak mengherankan" ucap Alisya yang tak berpikir bahwa pemilihan ketua Osis yang harusnya menitik beratkan dalam hal Kemampuan Akademis, keterampilan serta Atitude calon ketua Osis malah menjadikan Kecantikan sebagai salah satu kriterianya. Tapi setelah memikirkan kembali bagaimana sekolah Elit ini dipenuhi dengan seluruh siswa yang lebih banyak menitik beratkan perbandingan sosial dalam hal penampilan dan harta membuatnya cukup memahami bahwa hal itu mungkin saja terjadi. Chapter 64 - Rekomendasikan? "Jadi siapa yang kamu rekomendasikan???" pancing Adora. "Benar! meskipun banyak yang merekomendasikan kamu, kamu pasti merekomendasikan seseorang juga kan?" tambah Febi "Rekomendasikan???" Alisya tampak berpikir lalu dengan cepat memandang Rinto dan Karin secara bergantian kemudian berkata "Aku akan memilih Karin!" "Akan???" Rinto mengernyitkan dahinya. "Kok Akan???" tanya Yogi. "Kenapa akan???? Kamu tidak melihat papan rekomendasi yang ada didepan lobi gedung sebelum memasuki kelas yah?" Emi memandang serius Alisya "hahahahahaha... Mana peduli dia akan hal seperti itu!". Karin tertawa melihat wajah Alisya yang polos. "Maksudnya???" Adora tak mengerti. "Alisya cenderung tidak memperdulikan apa yang sedang terjadi disekitarnya selama itu tidak mengusik dirinya. Selain itu ada dan tidaknya lobi sekolah selama ini Alisya tentu tau namun lebih memilih tidak memperdulikan wilayah yang selalu bising oleh banyaknya siswa yang selalu bekumpul untuk mendapatkan dan melihat berbagai macam informasi yang ditampilkan oleh layar LED lobi tersebut." Jelas Karin sambil memegang pundak Alisya. Alisya tersenyum memahami kebingungan mereka. "Maafkan aku! Tapi aku memang tak begitu tertarik untuk menjadi kandidat ketua Osis!" Tegas Alisya. "Tapi nama kamu menduduki peringkat Atas papan pemilihan rekomendasi Sya" suara Adora terdengar tidak ikhlas setelah mendengar ucapan Alisya. "Dan Nama Karin berada di Posisi kedua sedangkan Posisi ketiga di tempati oleh Aurelia dari kelas sebelah". Tambah Emi "Dari mana kalian mengetahuinya?" tanya Karin bingung. "Kamu tidak memperhatikan nama kamu sendiri???" tanya Yogi bingung. "Dia hanya memperdulikan Alisya" tegas Rinto. "Kalian berdua ini benar-benar hanya memperdulikan satu sama lainnya yah?" Senyum Feby. Alisya dan Karin saling memandang dan tersenyum nakal. Mereka berdua memang sangat mehamami pikiran dan perasaan masing-masing. "Sedari tadi kalian hanya membahas mengenai Calon Ketua Osis, bukankah biasanya pemilihan Ketua Osis akan dipasangkan dengan Wakil ketua Osis yang dalam artian kandidat Calon seharusnya akan berpasangan antara Ketua dan Wakil? Lalu apakah cara yang dilakukan oleh kelas biasa akan sama dengan para Elit?" Tanya Alisya masih belum memahami sistem sekolah. "Tentu saja tidak sama!" Jelas Karin. "Para Elit memiliki sistem yang sedikit berbeda, mereka tidak merekomendasikan calon melainkan langsung menentukan kandidat berdasarkan strata atau tingkat pada kelas Elit" Jelas Rinto. "Yang pastinya 3 besar elitlah yang otomatis menjadi para kandidatnya" Tambah Adora. "Kandidat pertama tentu saja Adith di ikuti Zein dan Riyan. Sedangkan untuk wakilnya, akan dipilih langsung oleh orang yang akan menjabat menjadi ketua Osis nantinya!" Terang Yogi. "Jika seperti itu, bukankah berarti para elit akan dengan mudah memenangkan pemilihan nantinya?" ucap Alisya ragu. "Kau masih belum mengerti juga yah???" Karin menepok jidatnya melihat Alisya. "Kandidat dari kelas biasa bukanlah kandidat utama dalam pemilihan calon Ketua Osis, melainkan kandidat yang akan menjadi wakil dari ketua Osis!" Jelas Rinto setengah berbisik. "lalu apa maksud kalian yang dari tadi mengatakan kami sebagai calon kandidat dari ketua Osis??" lanjut Alisya. "Itu karena hanya sebagian besar orang saja yang mengetahui semua proses seleksi Ketua Osis ini" bisik Karin. Alisya tidak begitu yakin namun ketika melihat ekspresi terkejut dari Adora, Emi dan Feby. Alisya akhirnya tertawa kecil. "Alisya selamat.... kamu terpilih menjadi kandidat no 1 calon Ketua Osis!!! Luar biasa!!! Aku sangat terkejut begitu melihat nama dan wajahmu terpampang di monitor Lobi" Beni menerobos ditengah Rinto dan Yogi. "Muncul lagi orang konyol berikutnya!!!" senyum Alisya kecut. Mereka semua tertawa melihat ekspresi heboh Beni yang terlalu mengharu biru tanpa mengetahui apa-apa. Beni melemparkan padangannya kepada semua teman-temannya memasang ekspresi bingung dan tak bersalah yang sangat konyol membuat semua sahabatnya tertawa lebih hebat dari sebelumnya. "Selamat!!! Kau adalah Kandidat utama calon Ketua Osis" Riyan berkata dengan penuh semangat kepada Adith. "Aku tidak begitu peduli dengan hal-hal seperti itu! Aku sudah cukup banyak urusan terhadap perusahaan!" Terang Adith dengan suara malas. "Meski Alisya adalah calon kandidat no 1?" pancing Zein yang datang menghampiri Adith dan Riyan. Adith langsung membuka matanya dan memasang ekspresi serius. "Alisya masuk sebagai Kandidat?" Tanya Adith kurang Yakin meski sebenarnya ia bisa menduga kemungkinan tersebut. "Benar! Jika kamu tidak begitu berniat untuk mengikuti pemilihan Anggota Osis, Biarlah aku dan Zein yang ikut Andil! Jika aku menang tentu saja aku akan memilih Karin sebagai wakilku." tegas Riyan. "Jika Aku menjadi ketuanya aku akan memilih Alisya sebagai Wakilku. Dan taukan kau jika apa yang terjadi jika dia menjadi wakilku???" panving Zein dengan wajah serius. Tanpa menjawab pertanyaan dari keduanya Adith segera keluar dari kelas meninggalkan Riyan dan Zein yang saling pandang kaget dengan reaksi gerakan Adith yang begitu halus dan ringan melompati deretan Meja susun dan sudah berada di depan kelas dengan mantap. "Sejak kapan dia bisa melakukan hal seperti itu???" Tanya Riyan penuh semangat mengagumi Adith yang kini sudah menghilang. "Adith keren sekali,, dia sangat luar biasa!!!" teriak seorang siswi dibelakang Riyan dan Zein. "Apa yang terjadi? Aku tak sempat melihatnya.." Histeris yang lain dengan memasang ekspresi sedih. "Aku... Aku melihatnya!!! Dia seperti terbang melewati deretan meja dan kursi ini" Jelas yang lain. "Apa kau bercanda??? Adith berada di deretan ke 5 dan ketinggian nya sekitar 10 meter!" Seru seorang siswa tak percaya. "Diam kau!!! Jika kau tak melihatnya lebih baik tutup mulut" Ucap siswi yang hampir serentak membentaknya karena meremehkan Idola mereka. "Apa yang sudah dilakukan oleh Adith sampai dia menjadi seperti itu??? Bukan hanya fisik tubuhnya yang kelihatan berbeda dari sebelumnya, Tapi Sorot mata Adith jauh berbeda dibanding pertama kali aku melihatnya disekolah ini" Tegas Zein memikirkan sosok Adith yang sudah tidak dilihatnya namun masih membekas bagaimana sosoknya yang kini sudah banyak berubah. Begitu mendengar nama Alisya disebutkan, Adith dengan cepat menuju ke ruang Lobi gedung kelas biasa dan melihat wajah serta nama Alisya terpampang disana. Kedatangan Adith sontak saja membuat heboh para siswa yang berada disekitar sana namun mereka tetap memasang jarak aman mengingat kepribadian Adith yang membenci bau Parfum mereka. "Apa yang dilakukannya disini???" tanyanya lagi polos. "Tentu saja melihat siapa kandidat dari kelas-kelas kita!" tegas yang lain. Adith sudah berlalu menghilang tanpa disadari oleh kerumunan para wanita yang berdebat karena kedatangannya. Mereka yang heboh tak menyangka Aura kedatangannya yang begitu pekat seketika menghilang ditengah keramaian dengan cepat membuat mereka yang tak menyadari kepergian Adith segera heboh mencarinya. Chapter 65 - Ada Sesuatu Yang Berbeda Denganmu "Dimana Alisya?" Tanya Adith begitu memasuki kelas Mia 2 dan tak menemukan Alisya maupun Karin disana. "Alisya bersama yang lainnya ke kantin" Ucap Gina lembut. "Kamu akan menemukan mereka di bagian pojok dekat jendela" Tambah Gani cepat. "Terimakasih!" suara Adith yang terdegar cukup ramah membuat Gani dan Gina tersipu. Mereka tak menyangka kalau Adith bisa menunjukkan sikap seperti itu. Selagi keduanya saling pandang, Adith sudah menghilang dari hadapan mereka. Suasana kantin yang cukup ramai tidak menyulitkan Adith untuk menemukan Alisya yang memilih duduk di pojok kantin yang cukup jauh dari kerumunan siswa-siswi yang berseliweran dan riuh bercanda ria bersama dengan teman-temannya. Alisya tampak duduk sendirian sedang Karin tampak sibuk memesan makanan bersama yang lainnnya. Alisya tidak menyadari kedatangan Adith dan masih terduduk melayangkan pandangannya ke arah jendela kaca kantin yang cukup besar sehingga memperlihatkan langit biru yang luas serta seluruh pemandangan sekolah. Alisya terlalu larut dalam pikirannya sehingga tidak begitu menyadari Aura kehadiran Adith yang selalu saja pekat dimana-mana. Semua siswa dan siswi yang melihat kedatangan Adith pun segera menghentikan sejenak aktivitas mereka untuk memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Adith di Kantin mereka yang sedikit terbilang cukup Fantastis jika dapat dikunjungi oleh orang nomor satu di Indonesia itu. "Kau semakin terbiasa dengan keramaian yah..." bisik Adith sedikit membungkuk ke wajah Alisya yang menyamping menghadap jendela. Alisya yang terkejut segera menoleh dengan cepat yang membuatnya tampak seperti menampar dahi Adith menggunakan dahinya. "Sejak kapan kamu berada disini????" Alisya hanya memegang dahinya santai tak merasakan sakit. "Apa kepalamu terbuat dari baja sampai kau tak merasakan sakit?" Adith mengelus pelan dahinya yang memerah. "Maaf jika itu menyakitimu, kau mengagetkanku!" suara Alisya sedikit bergetar. "Benarkah? Bukankah harusnya kau sudah mulai terbiasa dengan kehadiranku?" Adith duduk tepat disamping Alisya memandangnya lekat. Alisya segera mundur namun tertabrak dinding sehingga posisi mereka cukup dekat satu sama lain. Kehadiran Adith membuat Alisya sedikit memicingkan matanya, baru kali ini Alisya tidak begitu merasakan hawa kehadiran Adith. Dia seolah dapat menekan hawa keberadaanya dengan sangat baik lebih baik dari sebelumnya. "Ada sesuatu yang berbeda denganmu!!!" Tegas Alisya kini mendekati wajah Adith karena sedikit penasaran. Tingkah Adith dan Alisya yang sedari tadi terus menarik banyak perhatian orang banyak membuat Karin menoleh ke arah pandangan mereka yang terus menganga tak bersuara dengan berbagai macam makna dalam sejumlah tatapan. Satu arah pasti yang disadari Karin bahwa itu mengarah ke lokasi tempat duduk mereka sehingga Karin dengan cepat menoleh ke arah yang sama. "Luar biasa!!! Mereka bahkan bermesraan dengan hangat tidak peduli dimanapun mereka berada" Karin menggelengkan kepala dengan menyunggingkan senyuman. "Alisya seolah tak peka dengan keadaan sekitar setiap kali perhatiannya teralihkan oleh Adith!" Sambung Rinto membawa nampan berisi berbagai jenis makanan. Tangannya sedikit bergetar karena menahan berat nampan dikedua tangannya. "Begitu pula yang terjadi pada Adith" Yogi menyela dengan membawa setumpuk minuman dingin. Karin yang melihat Rinto yang kesulitan dengan segera mengambil salah satu nampan ditangannya lalu melangkah menuju ketempat dua sejoli yang menjadi pusat perhatian seluruh pasang mata dikantin. "Alisya,,, tidakkah kau terlalu agresif jika ingin melakukan itu disini?" Goda Karin melihat ekpresi Alisya yang memandang Adith lekat-lekat. "Itu apa????" Alisya sontak berdiri membuat meja terangkat dan berbunyi dengan keras. Adith tertawa melihat wajah Alisya yang terkejut menyembunyikan rasa malunya. Reaksi Alisya membuat Karin terkikik berhasil menggodanya. "Kalian terlalu mesrah sampai tidak memperdulikan sekitar." Ucap Yogi menaruh nampan minuman ke atas meja yang sedikit berantakan sembari merapikannya. Alisya yang melihat sekeliling baru menyadari bahwa sedari tadi ia masih berada dikantin karena paksaan Karin untuk bisa makan bersama. Dengan sedikit batukan halus Alisya berusaha menenangkan diri lalu terduduk dengan tenang. Adith tertawa pelan melihat seluruh pasang mata yang melihat kearah Alisya dengan tatapan lucu. Melihat Adith yang melemparkan pandangan kearah mereka membuat semua orang segera mengalihkan padangan lalu dengan canggung melanjutkan kegiatan mereka sambil sesekali melirik kearah Adith dan Alisya. "Maaf Adith, aku tak sempat memesankan makanan untukmu!" Jelas Adith meletakkan nampan makanan dari tangannya dan dengan cepat mengambil nampan yang berada di tangan Karin. "Tidak masalah!" terang Adith santai. "Jadi apa yang kamu lakukan disini? Tidak mungkin jika datang hanya untuk menggoda Alisya saja kan?" Karin duduk dengan nyaman menghadap Alisya sembari memberikan mangkok mie Ayam pesanan Alisya. "Disana terlalu membosankan!" jawab Adith memundurkan tubuhnya karena aroma menyengat dari mie ayam. "Adith tidak begitu menyukai segala hal yang memiliki aroma yang cukup pekat!" seru Yogi menyodorkan segelas minuman dingin kocok beraroma mint. "Terimakasih!" Ucap Adith dengan cepat mengambil minuman itu lalu meminumnya sembari mnghirup aroma mint dari gelas itu untuk meminimalisir aroma mie ayam yang menusuk hidungnya. "Sejak kapan kamu memesannya?" tanya Rinto tak menyadari pesanan Yogi. "Tepat setelah aku melihat Adith mendekati Alisya. Dia tidak begitu banyak menyukai jenis makanan, tapi untuk minuman, Adith cukup menyukai jenis minuman ini" Jelas Yogi mengambil makanannya. "Benarkah??? Sayang sekali dia tidak bisa merasakan nikmatnya makanan ini" seru Alisya mengambil garpu dan menyeruput mie ayam dengan semangat. "Kami berdua sudah sangat menyukai mie ayam dan Nasi goreng sedari dulu. Alisya akan memesan mie ayam dan aku akan memesan nasi goreng kemudian berbagi makanan karena kami tidak bisa menghabiskan seporsinya namun sangat menyukai dua kombinasi ini. Alisya adalah pecinta daging sejati dan semua jenis makan yang beraroma kuat yang mengundang selera" Jelas Karin memandang Adith dengan senyuman nakal seolah sedang memberikan informasi sederhana namun cukup berharga kepadanya. "Jika seperti itu, aku ingin mencoba rasanya!" Adith segera mencondongkan wajahnya ke piring Alisya dimana Alisya sedang tertunduk makan. Alisya terbatuk hebat karena kuah mie ayam yang cukup pedis sedikit masuk kedalam hidungnya sewaktu ia menarik nafas saat Adith mendekati wajahnya. Mereka semua tertawa riuh melihat wajah merah Alisya yang tak sengaja mengambil minuman dingin Adith dan menghabiskan semuanya. "Sebagai ganti minumanku yang sudah kau habiskan, aku akan mengambil mangkokmu!" Adith segera mengambil mie ayam milik Alisya dan dengan perlahan menyeruputnya mengikuti tingkah yang dilakukan Alisya sewaktu makan. Sebelumnya juga Adith pernah mengambil makanan milik Alisya sewaktu pertama kali bertemu dikantin yang sama. Dan kali ini sekali lagi makanan Alisya bisa membuat Adith menikmatinya yang tak disadari dengan cepat makanan itu habis dilahapnya. Chapter 66 - Aurelia Waktu istrahat hampir habis membuat Alisya dan teman-temannya yang lain segera beranjak pergi meninggalkan kantin diikuti oleh Adith yang berada di tengah-tengah mereka. Banyak pasang mata yang melihat mereka dengan tatapan kagum sekaligus iri, mereka mengagumi kumpulan orang yang keluar dari kantin itu bagaikan sekelompok anggota Elite khusus yang dimiliki sekolah karena tidak terbatas hanya dari segi kekayaan, namun juga dari segi kecantikan dan ketampanan mereka. "Sampai jumpa lagi Quenby..." bisik Adith dengan tersenyum nakal ditelinga Alisya. "Ku pikir kamu tidak akan kembali lagi kekelasmu!" goda Karin melihat Adith yang ingin beranjak pergi. "Jika Alisya menahanku pergi, aku akan tetap berada disini!" serunya sambil menghalangi jalan Alisya yang mengacuhkannya. Tangan kekar Adith menahannya dari arah samping lalu Adith menjatuhkan tubuhnya bersandar kedinding dan memandangi Alisya meminta sebuah respon. "Tidak, baliklah ke kelasmu!" tegas Alisya melewati Adith dengan santai. "Aku tetap cerdas meski tidak mengikuti pelajaran hari ini!" sela Adith masih melakukan kembali gerakan yang sama. "Seseorang yang cerdas tak kan pernah puas. Dia akan terus merasa haus akan ilmu bukan malah mengabaikannya!" Jelas Alisya memandang Adith dengan yakin. "Berhentilah menggodanya! Kau adalah salah satu contoh pasti dari apa yang telah di katakan oleh Alisya!" terang Yogi menepuk pundak Adith. Adith menyunggingkan senyum melihat Alisya yang melewatinya tanpa suara. "Sampai jumpa Quenby....." teriak Adith kepada Alisya yang sudah memunggunginya. "Brakkk...." buku berhamburan tumpah begitu Adith tidak sengaja menabrak seseorang tepat setelah dia akan berbelok melewati koridor yang terhalang oleh tembok. "Kau baik-baik saja???" Adith segera menunduk membantu berdiri seorang perempuan berkaca mata yang terjatuh. Melihat itu Karin segera menarik Alisya yang baru saja melangkahkan kakinya memasuki kelas. "Ada apa Kar???" tanyanya bingung. "Tuh liat...." tunjuk Karin menggunakan bibirnya. Adith ikut membantu mengambil beberapa kertas yang berterbangan. Dari apa yang dilihatnya itu adalah kertas hasil kumpulan tugas para siswa dikelas Mia 3. "Maaf, aku tidak sengaja!" ucap Adith sambil menyodorkan kertas yang sudah dipungutnya. "Adith... ngapain kamu disini?" suaranya lembut dan sedikit heboh. "Aurelia??? kamu sekolah disini?" Tanya Adith kaget dengan suara dingin. Adith tidak memperhatikan wajahnya sebelumnya saat membantunya berdiri karena wajahnya ditutupi oleh rambutnya yang panjang. "Yah... begitulah!" ucapnya sopan dengan mengangkat sedikit bahunya. "Aurelia? Kau benar-benar Aurelia kan? Sejak kapan kau pindah kesini?" serbu Yogi dengan tangan yang penuh dengan buku-buku. "Sekitar 3 bulan yang lalu!" Jawabnya santai dengan senyuman ceria. "Benarkah? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya!" tambah Adith tetap dingin. "Maaf, ketika aku pindah kesini sekolah mengadakan festival dan aku diminta untuk menjadi ketua kelas yang mengurus semuanya sehingga aku cukup sibuk!" terang Aurelia. Alisya dan Karin hanya memperhatikan mereka dari jauh dan terus menyimak. Dari percakapan mereka Alisya tau bahwa mereka tampaknya sudah cukup lama mengenal satu-sama lain sebelumnya dan cukup akrab. Tapi reaksi Adith kepada Aurelia sedikit berbeda meski setiap kali ia mengeluarkan kata-kata dengan dingin. "Jadi siapa wanita ini?" bisik Karin menghampiri Yogi yang dikuti Alisya dibelakangnya. "Oh iya, kenalkan dia Aurelia sepupu jauh Adith. Meksi begitu dia dan Adith sangatlah akrab sebelumnya sampai...." Aurelia segera menginjak kaki Yogi dan tersenyum dengan ramah. Yogi meringis sakit dalam diam sambil terduduk memegang kakinya yang tertutupi oleh sepatu. "Aku Aurelia!!!" ia menyodorkan tangannya ke arah Alisya. Karin bingung kenapa Aurelia melewatinya begitu saja padahal dialah orang yang bertanya mengenai siapa dirinya. Wajah Karin menatap Alisya dengan tatapan bingung dan memicingkan keningnya. Alisya tersenyum mengerti maksud dari tatapan Karin namun mencoba untuk mengabaikannya saja. "Aku Alisya, dan orang yang menanyakanmu tadi adalah sahabatku Karin!" ucap Alisya menyalami Aurelia dan sengaja menunjuk ke arah Karin. "Ah maaf, bukan maksudku bertindak tidak sopan! Aku tertarik begitu melihat layar LED sekolah yang menampilkan wajah Alisya dan menjadi nomor 1 kandidat ketua Osis!" suara Aurelia terdengar gugup dan sedikit terbata-bata saat mencoba menjelaskan. "Aku juga tak menyangka kau yang baru 3 bulan sudah menduduki posisi ke 3 sebagai calon kandidat ketua Osis" Tambah Rinto sembari menyodorkan beberapa buah lembar kertas yang dipungutnya. "Oh, jadi kau menyadari itu aku yah?? Kau Rinto kan??? Terimakasih atas bantuannya!" senyumnya mengambil semua yang dipegang oleh Rinto. "Benarkah? Aku tidak melihatnya!!!" ucap Yogi memandang Adith bertanya hal yang sama. "Aku juga" geleng Adith. "Kalian jahat... kita hanya tak bertemu selama 2 tahun dan kalian sudah semudah itu melupakanku?" Serunya dengan suara kesal yang dibuat terdengar manis. "Kau cukup hebat dan populer sampai bisa menjadi salah satu orang yang direkomedasikan!" tegas Karin dengan senyum sinis yang terlihat ramah. "Ah... tidak, aku hanya beruntung saja! Tidak seperti kalian berdua yang disukai oleh semua orang meski awalnya aku mendengar banyak orang yang tidak berani mendekati Alisya karena dia tampak seperti seorang perempuan yang...." Aurelia sengaja tidak ingin melanjutkan kalimatnya. "Tidak masalah... aku tidak masalah jika mereka menganggapku seperti itu!" ucap Alisya lembut. "Tapi aku tidak!" Ucap Adith mengelus kepala Alisya. "Aku kembali kekelas dulu. Sampai nanti semuanya." Adith tersenyum hangat kepada Alisya dan melambai kepada yang lainnya melewati Aurelia. "Adith.... apakah kau masih marah kepadaku dengan mengabaikanku seperti itu?" Aurelia menghentikan Adith dengan suara manja. "Aku pergi dulu!" Ucap Adith tetap membelakanginya dan menjauh pergi. "Aurelia, jangan terlalu dipikirkan! Kau tau kan Adith seperti apa?" Yogi mencoba untuk menenangkan Aurelia yang matanya sedikit terlihat berkaca-kaca. Aurelia terdiam memandangi punggung Adith yang sudah meninggalkan mereka. Yogi berdiri menemani Aurelia dan menarik Rinto yang ingin meninggalkan mereka. Alisya yang tidak begitu peduli meninggalkan mereka bertiga di koridor masuk kedalam kelas yang dikuti oleh Karin. "Apa yang sedang terjadi???" gumam Karin. "Mana aku tau!" tegas Alisya "Kamu harusnya tau dong???" ketus Karin. "Ayolah Kar, semua orang punya urusan pribadi yang tidak ingin diketahui oleh orang lain! lagi pula apa hak ku untuk ikut campur? Jangan terlalu melebih-lebihkan. Aku dan Adith hanya...." Alisya tak tahu kalimat apa yang benar untuk bisa di sampaikan. Sejauh ini ia belum tau pasti apa hubungan mereka. Jika teman Alisya merasa belum cukup dekat untuk menjadi teman Adith dan jika itu pacar atau hubungan spesial lainnya pun juga tidak. Selama ini Adith hanya mendekatinya untuk menghilangkan rasa bosan jenuhnya saja. Karin yang ingin membantah ucapan Alisya tertahan oleh Bel masuk yang menggema diseluruh ruangan diikuti dengan masuk seorang guru. Chapter 67 - Terimakasih Tante "Apa yang kau lakukan disini?" Adith kaget melihat Aurelia berada didapur rumahnya. "Hai Dith,, oh.. itu aku.." Aurelia ragu dengan apa yang akan dikatakannya. "Loh, Adith.. jadi kamu sudah tau kalau Aurelia sudah balik ke Indonesia? kok kamu nggak kasi tau mama sih..!" sela ibu Adith membawa nampan berisi buah segar. "Oh nggak tante, Adith juga baru tau tadi pagi kok!" ucap Aurelia cepat mencoba untuk menyelamatkan Adith. "Oh gitu.. mama pikir Adith udah lama tau! ya udah sayang, sana ajak Aurel main ke belakang yah.. nanti mama nyusul setelah nyuci buah ini" pinta ibu Adith lembut. Adith tak bergeming dan berdiri dengan malas menatap dingin ke arah Aurelia. "Emmm.. aku bantu aja yah tante!" Aurelia yang canggung mencari alasan. "Sudah... nggak apa apa kok kamu biar sama Adith saja. kalian sudah lama kan tidak main sama sama!" jelas Ibu Adith menolak Aurel dengan lembut. "Ummm.. kalau sama Adith bisa kapan aja kan tante? toh kita juga satu sekolah jadi biar Aurel sama tante saja! sudah lama saya nggak bantuin tante" terangnya mengambil alih mencuci buah dengan cekatan. "Jadi kamu pindah disekolah yang sama dengan Adith? berati kalian sekelas dong??" Ibu Adith bertanya dengan semangat. "Nggak tante, aku tidak begitu nyaman jika harus masuk kelas Elite! Selain itu kelas biasa jauh lebih baik dan menyenangkan." jelasnya sopan. Ibu Adith memandangnya dengan penuh kasih sayang "Dari dulu kamu memang tidak suka menjadi pusat perhatian atau memperlihatkan kekayaan kedua orang tuamu dan selalu tampil dengan sederhana! Erna pasti sangat bangga memiliki anak seperti mu" Ibu Adith membelai lembut kepala Aurelia. "Terimakasih tante!" Aurelia menunduk malu. Adith segera meminta izin tidak memperdulikan kehadiran Aurelia disana. "Aku pergi dulu yah ma, nanti makan saja! jangan tunggu Adith" Ucapnya sambil mencium kening ibunya. Aurelia membelalakkan matanya melihat sikap Adith yang jauh berbeda dari sebelumnya yang tatapannya selalu dingin dan tidak begitu memperdulikan ibunya yang kini dipanggilnya dengan sebutan mama. "Sejak kapan kamu memanggil tante dengan sebutan mama Dith???" tanya Aurelia dengan ekspresi yang sangat terkejut tak menduga. Tidak menjawab pertanyaan Aurelia, Adith segera berjalan melewatinya menuju bagasi rumah lalu memacu motornya dengan cepat. "Adith punya motor tante? Sejak kapan Adith punya motor tante, bukannya selama ini dia lebih suka kalau naik mobil??" tanya Aurelia begitu ia mendengar bunyi motor. "Oh... dia bilang motor memberikannya suasana yang jauh berbeda dan lebih nyaman karena bisa merasakan angin secara langsung. Meski tante tau ada alasan lain" Ibu Adith tersenyum mengingat bahwa Alisya lah sebenarnya alasan Adith membeli motor. "Alasan lain??? apa tante???" tanya nya lagi. Ibu Adith hanya tersenyum sambil memotong motong buah-buahan yang sudah dikupas sebelumnya. "Bukan apa-apa kok! jadi bagimana sekolahmu?" Ibu Adith mengalihkan pembahasan. Aurelia merasa tak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Ibu Adith namun ia lebih memilih untuk tak bertanya lebih lanjut lagi. "Lumayan tante, aku kan sudah sekitar 3 bulan disana jadi sudah punya banyak teman! mereka semua juga cukup ramah terhadapku.." Terangnya dengan wajah ceria. "Syukurlah, semoga kamu bisa betah dan menetap disini. Apa ayahmu masih di Jepang sekarang?" Ibu Adith duduk menghadap Aurelia di meja dapur. "Ayah mungkin masih akan menyelesaikan beberapa hal sebelum mengambil perusahaan yang ada di Indonesia tapi katanya akan kembali dalam waktu dekat karena pekerjaanya sudah hampir rampung." jelas Aurelia sopan. "Baguslah dengan begitu kamu bisa sering-sering mengunjungiku. Tante kadang bosan dirumah sendirian!" Ibu Adith mengambil segelas jus yang diberikan kepada Aurelia. "Tentu saja tante, ummm... Adith kemana yah tante? aku pikir dia tidak begitu suka jalan disore hari dan selalu berada dikamar belajar sendirian atau bersama dengan Om mempelajari seluruh hal yang berkaitan dengan perusahaan!" Aurelia masih belum bisa menghilangkan rasa penasarannya dan bertanya dengan suara yang sedikit ragu. "Jika menggunakan motor maka dia akan menuju ke rumah temannya. sejak kemunculan temannya Adith menjadi lebih hangat dan bergaul dengan baik. Bahkan karena temannya itu pula dia akhirnya memanggilku kembali dengan sebutan mama yang sudah lama tidak ku dengar!" Mata Ibu Adith terlihat berkaca-kaca penuh rasa syukur dan bahagia. "Teman yang tante maksud itu apa Alisya?" tanya Aurel cepat. "Kamu mengenalnya? oh iya Alisya berada dikelas biasa! apa kamu sekelas dengan dia?" Ibu Adith bertanya dengan penuh antusias. "Nggak tante, aku dan Alisya berbeda kelas. Alisya berada dikelas Mia 2 sedangkan aku berada dikelas Mia 3!" geleng Aurel cepat. "Ketika kamu menyebut namanya aku pikir kalian kenal dekat!" suara Ibu Adith terdengar kecewa. "Ummm.. itu, tadi pagi aku melihat sikap Adith kepada Alisya dan tatapan yang dia berikan kepadanya hampir sama seperti apa yang aku lihat Dia memperlakukan tante!" terang Aurel lembut. "Kamu pasti bingung kenapa Adith bisa memperlakukan Alisya seperti itu kan??" tanya Ibu Adith penuh antusias. "Iya tante, sebelumnya Adith tidak pernah memperlakukan Aku seperti apa yang ia lakukan kepada Alisya. Bahkan sekarang perlakuan dia kepadaku jauh lebih dingin dari sebelumnya. Aku memang salah karena sudah menolaknya dan menepis tangannya sewaktu menghentikanku untuk pergi ke Jepang. Tapi karena itu aku kembali tante... Aku menyesal sudah meninggalkan Adith dulu" Aurel tersedu menangis menyesali perbuatannya. "Sudahlah Aurelia, jangan menangis! Baik kau maupun Adith masih terlalu muda untuk memahami permasalahan hidup. Kalian masih belum bisa mengendalikan emosi dengan baik jadi tidak perlu dipikirkan lagi apa yang sudah berlalu. Sekarang yang paling penting adalah bagaimana kalian menghadapi hari esok dan memperbaiki semuanya dengan lebih baik!" Ibu Adith mencoba menenangkan Aurelia. "Iya Tante, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk meminta maaf kepada Adith dan mendapatkan hati Adith kembali" Aurelia berseru dengan suara serak. Ibu Adith hanya tersenyum kecut tak tau bagaiamana menanggapi kalimat Aurelia. Ia hanya bisa membelai-belai lembut kepala Aurelia untuk menenangkannya. Chapter 68 - Adith Mesum "Oh iya, tante.. kalau boleh aku tau, apa alasan di balik perlakuan hangat Adith kepada Alisya? mengapa Alisya bisa merubah gletser sedingin Adith? apa karena Alisya selalu bersama Adith dan menemani Adith selama ini?" Aurelia sudah meredakan tangisnya dan bertanya dengan penuh antusias. Ibu Adith tersenyum dengan tingkah kekanakan Aurelia yang dengan cepat merubah suasana hatinya. "Alisya adalah teman masa kecil Adith yang selama ini terus dicari-carinya! Kau pernah mendengar hal ini kan sewaktu kalian masih SMP" tegas ibu Adith. "Apa??? jadi maksud tante Alisya adalah Tuan Ali yang merupakan orang yang sudah menyelamatkan Adith sewaktu dia mengalami penculikan itu? bukannya Tuan Ali yang selama ini dimaksud oleh Adith adalah seorang laki-laki? kenapa Tuan Ali adalah Alisya tante? aku tidak mengerti" Aurelia memberi pertanyaan bertubi-tubi karena tidak yakin akan apa yang sedang dimaksudkan oleh ibu Adith. "Alisya adalah benar Tuan Ali yang menyelamatkan Adith. Selama ini Adith sudah salah paham karena saat itu Alisya yang masih kecil memang memiliki tampilan seperti seorang anak laki-laki. Selain itu semua penjaga dan pengawal dari Alisya juga senantiasa memanggil Alisya dengan sebutan Tuan Ali karena Alisya merupakan anak satu-satunya yang mana Ayah Alisya sangat mengharapkan seorang anak laki-laki. makanya Ia selalu berpakaian seperti seorang laki-laki untuk mendapatkan perhatian ayahnya." Jelas Ibu Adith menceritakan semuanya kepada Aurelia dengan mudah. "Apa Adith mengetahui Alisya adalah Tuan Ali makanya sikap Adith bisa sampai selunak dan seperhatian itu kepada Alisya?" Aurel sebenarnya sudah mulai paham akan kenyataan yang sebenarnya namun ia masih ingin memastikannya sekali lagi. "Tidak, Adith tidak menyadari Alisya adalah tuan Ali karena yang ia tahu tuan Ali adalah seorang laki-laki bukan seorang perempuan. Dan untuk sikap Adith kepada Alisya, aku rasa itu terjadi dibawah alam sadarnya" terang Ibu Adith. "Lalu bagaimana dengan Alisya? aku tidak melihat Alisya tau bahwa Adith adalah orang yang pernah diselamatkannya dan dikenalnya jauh sebelumnya. Aku melihat Sikap mereka cukup canggung satu sama lainnya seolah baru pertama kali bertemu!" Aurel masih tidak mengerti dengan jelas situasinya. "Untuk masalah Alisya, Tante tidak begitu yakin tapi sepertinya masalah yang mereka alami hampir sama hanya saja Alisya sama sekali tak mengingat sedikitpun mengenai Adith. Tante tidak tau apa yang sudah dialami oleh Alisya selama ini sampai dia benar-benar lupa akan semua hal yang sudah mereka jalani bersama Adith!" suara ibu Adith terdengar lemah dan bersedih. "Kalau begitu, kenapa tante tidak memberitahu mereka? maksudku memberi tahu Adith mengenai Alisya atau memberitahu Alisya mengenai Adith?" Aurelia memajukan tubuhnya menggenggam tangan ibu Adith memberi sedikit dorongan. "Tante sudah memiliki niat untuk memberitahu mereka baik Adith maupun Alisya, tapi tante tidak yakin apakah itu benar untuk dilakukan? tante berpikir bahwa dari alam bawah sadar mereka, Adith dan Alisya melupakan semua hubungan dari keduanya karena luka yang sangat dalam yang telah mereka alami. Tante juga berpikir bahwa mereka masih belum siap menghadapi semua kennyataan itu sehingga tante memilih untuk menyembunyikan semuanya sementara waktu sampai mereka sendiri siap atau mampu menemukan kebenaran itu sendiri" Ibu Adith menarik nafas dalam menerawang jauh keluar jendela. "Aku yakin akan ada suatu hari nanti Adith siap mengahadapi kenyataan dan melupakan rasa sakit dimasa lalunnya tante!!" Aurelia terus menepuk nepuk punggung tangan ibu Adith lalu kemudian berdiri memberikannya segelas air putih. "Terimakasih Aurelia, tante sedikit lega karena bisa menceritakan masalah ini kepada seseorang. Tapi tante harap kamu dapat menyimpan semua ini dengan baik-baik sampai keduanya sudah benar-benar siap" pinta Ibu Adith lembut. "Tentu saja tante! tante bisa mempercayaiku!" Ucapnya meyakinkan ibu Adith. Aurelia larut dalam pikirannya dan terdiam dalam waktu yang lama. Ia tak pernah berpikir kalau masih banyak hal yang tidak diketahuinya mengenai Adith. ***** "Baru bangun tuan putri???" Adith setengah berbisik di belakang Alisya yang baru bangun dan berjalan dengan malas yang matanya masih setengah tertutup. Karena kaget Alisya langsung melayangkan tinju ke arah Adith yang dihindari oleh Adith lalu dengan cepat Adith memegang kepalan tangan Alisya memutarnya membuat tubuh Alisya terbentur ke tubuh Adith membelakanginya dengan tangan yang terkunci dibelakangnya. "Kau selalu saja memiliki respon yang tak terduga!" goda Adith dengan senyum nakal. "Benarkah???" Alisya lalu memutar tanganya dengan lembut membuat Adith terbanting kedepan melewati tubuh Alisya. Adith terbentur dengan sangat keras dan terbaring dibawah sedang Alisya dalam posisi menunduk karena menggunakan tubuhnya untuk menghempaskan tubuh Adith. "Kenapa kau menutup matamu? apakah kau merasa sesakit itu hanya karena bantingan kecil ini?" Alisya tertawa meremehkan. "Oh yah? jika kau mengizinkanku untuk melihatnya aku akan dengan senang hati menatapnya di setiap inci!" Adith menyunggingkan senyum yang sangat licik membuat Alisya bergetar dengan cepat menyusuri setiap bilik rumah lalu kembali ke dirinya. "Aaahhh.... Adith mesum!!!!" Alisya langsung melayangkan tamparan keras ke pipi Adith lalu masuk kembali kedalam kamar. Alisya yang tidak sadar tidur dengan baju kaos putih tipis transparan yang cukup bisa memperlihatkan warna bra nya dan lekuk tubuhnya. "Ada apa???" nenek Alisya keluar membawa sepiring kue puding coklat dan segelas jus mangga. Adith hanya tertawa tipis sedikit tersipu malu dilihat dalam keadaan seperti itu. Nenek Alisya melihat Adith yang berusaha bangun sembari mengelu ngelus pipinya yang merah dengan tanda telapak tangan. "hahahahahaha,,, Pasti dia keluar dengan baju kaosnya kan??? dia memang terbiasa memakai baju seperti itu.. katanya jika untuk tidur pakaian itu sangat nyaman baginya! Tapi hari ini aku lupa mengingatkan kalau kamu ada disini dan malah kamu yang kena batunya..." nenek Alisya tertawa membayangkan wajah konyol Alisya yang kedapatan berpakaian sedikit transparan. "Nenek kok malah ketawa???" Adith heran dengan reaksi nenek Alisya. "Sudah lah, ayo duduk bukannya ada yang ingin kamu bicarakan???" ajak nenek Alisya sambil menyediakan Adith barang bawaannya tadi. Setelah duduk dan menyeruput jus mangga buatan nenek Alisya dan menyantap puding coklat lalu berbicara santai dengan neneknya, Adith Butuh beberapa saat sampai akhirnya Adith menarik nafas untuk membuka suaranya kembali. Chapter 69 - Kau Terlalu Ge Er "Kau membuat nenek takut!" nenek Alisya menengkupkan kedua tangannya seolah sedang memeluk tubuhnya sendiri. "Ah,,, hahahahha... maaf nek! sebenarnya ini hanya tentang rasa penasaranku saja! Aku sudah bertemu dengan kakek Alisya sewaktu kontrak kerja sama dan tanpa diduga kakek Alisya berkata bahwa aku dan Alisya sudah mengenal sejak lama sebelumnya. Aku ragu jika menanyakan hal ini kepada mama jadi aku lebih memilih untuk bertanya langsung kepada nenek! Apakah nenek mengetahui sesuatu tentang ucapan kakek Alisya? aku benar-benar tidak bisa menemukan benang merah antara aku dan Alisya!" Suara Adith berat dengan ekspresi wajah yang sangat serius. "Apa kakek Alisya yang langsung memberitahumu atau kau yang memancingnya terlebih dahulu?" neneknya menunjukkan sedikit ketertarikkan. "Tidak nek,, kakek Alisya yang memberitahukanku! Aku merasa dia sengaja melakukan itu dan hal ini membuatku sangat penasaran." tegas Adith. "Tsch,,, sepertinya si tua bangka itu mulai sedikit melunak karena dibenci oleh cucu kesayangannya selama beberapa tahun terakhir!" nenek Alisya tersenyum dengan licik setelah menggumam pelan. "Lalu apa tidak ada hal lain lagi yang dia ucapkan kepadamu?" tanyanya kembali. "Ada,,, Dia juga bilang bahwa hanya itu yang bisa dia sampaikan untuk saat ini. Seolah dia berharap untuk aku mencari tahu sendiri informasi lebih lanjutnya. Tapi Alisya terlalu misterius bagiku! aku tak menemukam sedikitpun data mengenai dirinya. kalaupun ternyata akhirnya aku bisa menemukan sebuah informasi, itupun tidak berhubungan dengan antara aku dengannya. Aku malah hanya bisa mengetahui orang seperti apa sebenarnya Alisya". "Kau memang takkan bisa menerima informasi mengenai benang merah antara kamu dan Alisya, karena luka kalian terlalu dalam sehingga alam bawah sadar kalian secara otomatis menghapus memori yang ada untuk menyelamatkan,,, bukan lebih tepatnya melarikan diri dari masalah" "Maksud nenek? itu artinya alam bawah sadarku tanpa di sengaja menghapus sebagian memori dalam ingatanku segala hal yang mungkin saja berhubungan dengan Alisya?? kenapa???" Adith memajukan tubuhnya meminta jawaban. Baru saja neneknya akan menjawab, Alisya sudah datang menghampiri mereka. "Jadi kenapa kau kemari??" Alisya keluar dari kamarnya setelah mandi dan berpakaian lebih sopan dari sebelumnya. Kaos oblong warna hitam sebahu yang tidak terlalu ketat dan celana trening dengan warna yang senada membuat dia terlihat cukup casual. Sederhana namun tetap cantik. Adith langsung menyunggingkan senyumnya begitu melihat Alisya. Ia sejenak terlupa akan kegundahannya dan perhatiannya teralihkan kepada Alisya. "Karena aku tersiksa dalam rasa rindu yang begitu kuat!" ucap Adith sambil memandang tajam ke arah Alisya yang kini duduk disebelah neneknya. Alisya menarik senyum sedikit namun dengan cepat memasang wajah santai. "Kau benar-benar laki-laki penggoda yah? rindu apa''an bukannya kau sudah bertemu denganku disekolah?" Suara Alisya dingin mengambil garpu untuk menyendok puding. "Aku tidak merindukanmu... aku merindukan masakan nenek!!!" Adith tersenyum nakal melihat Alisya dan memainkan keningnya ke arah neneknya. "hahahahaha.. Alisya, kau terlalu GE ER!!!" neneknya sengaja menekannya membuat Alisya memerah marah. Tanpa disadari, Alisya dengan cepat menghujamkan Adith garpu yang cukup cepat dihindari oleh Adith dan menancap kuat di sofa tepat disebelah Adith. "Kau ingin membunuhku??" tanya Adith masih tersenyum licik. "Kau semakin handal menghindari seranganku!" terang Alisya. "Apa kau gila??? serangan yang kau berikan itu cukup untuk membunuh seekor beruang!!!" nenek Alisya langsung menjitak Alisya dengan sangat kuat membuat Alisya meringis sakit. "Apa kau semarah itu karena tidak aku rindukan???" Adith bertanya sambil bersembunyi dibalik nenek Alisya. "Diam kau!!!" Alisya semakin marah karena malu. Malam itu mereka akhirnya makan bersama dipenuhi dengan candaan Adith yang selalu menguji perasaan Alisya yang membuat neneknya tertawa terbahak-bahak karena belum pernah Alisya memperlihatkan ekspresi yang benar-benar apa adanya. **** Esok Harinya "Hasilnya sudah keluar..." teriak gina saat masuk kelas lalu berlari kembali keluar dari kelas. Semua orang sontak saja berlari mengikuti Gina begitu pula yang terjadi dengan seluruh kelas yang lainnya. "Hasil apa???" Alisya bingung tak mengerti akan kegaduhan yang sedang terjadi. "Aku juga tidak tau bagaimana kalau kita pergi melihat!" ajak Karin cepat. "Ah tidak,, disana pasti sangat ribut dan gaduh! aku bisa mendengar suara teriakan mereka dari sini! sebaiknya kalian saja yang pergi biar aku disini saja" terang Alisya menolak dengan cepat. "Ya sudah kami kesana dulu!" Karin segera berlari di ikuti oleh Rinto dan Yogi. "Kau tidak ikut Sya??" Teriak Febi dari luar melihat Alisya yang tidak bergerak dari tempat duduknya. Alisya menggeleng cepat dan melambaikan tangan untuk tidak usah mengkhawatirkannya dan menyuruh mereka pergi melihat. Seisi kelas sekarang sudah tidak ada lagi dan menyisakan Alisya didalam ruangan seorang diri. Meski lobi cukup jauh, Alisya bisa mendengar suara teriakan mereka yang sangat heboh. Meski penasaran, teriakan mereka dari jauh sudah membuatnya sedikit merasa tidak nyaman. "Apa kau tidak penasaran akan apa yang sedang terjadi diluar???" Aurelia bersandar menyamping dipintu masuk kelas. "Tidak!" ucapnya tersenyum canggung karena merasa belum terlalu akrab dengan Aurelia untuk berada dalam percakapan. "Benarkah?? apa kau yakin tidak ingin mengetahui siapa ketua dan wakil ketua osis nya?" lanjut Aurelia lagi dengan suara yang dibuat untuk menarik minat Alisya. "Oh,, berarti kehebohan disana mengenai itu? pantas saja" Ucap Alisya acuh tak acuh. "Bahkan jika yang mendapatkan posisi ketua osis adalah Adith?" Aurelia tersenyum sinis. "Tentu saja! dari awal aku tidak begitu tertarik mengenai kandidat Calon Ketua ataupum wakil ketua Osis itu! ucap Alisya lagi yang kali ini berdiri dari kursinya lalu duduk bersandar di atas meja menghadap ke arah Aurelia. "Apa yang kau inginkan sebenarnya? aku rasa kau kemari bukan hanya untuk memberiku informasi yang tidak begitu penting seperti itu terus mencoba menarik minatku?" tanya Alisya serius mengetahui niat dari Aurelia. Aurelia merasa terpancing dengan kalimat Alisya dan dengan sedikit menekan emosinya ia menarik nafas dan berkata "Jika mengenai siapa yang menjadi kandidat Ketua dan Wakilnya tidak begitu penting untukmu, maka jika sesuatu mengenai Adith pastinya akan menarik minatmu bukan??? tentu saja bukan mengenai dia menduduki posisi sebagai ketua osis, tetapi mengenai aturan khusus yang diterapkan oleh para elit terhadap wakil ketua osis!" jelas Aurelia sekali lagi mencoba memancing Alisya. "Benarkah? aku tidak yakin!" Alisya mengambil tasnya merasa semakin tidak nyaman dengan Aurelia. Aurelia marah karena merasa Alisya begitu sombong sampai berani mengacuhkannya. Aurelia tau banyak mengenai dia dan Adith dan itu membuatnya cemburu terlebih karena perlakuan Adith kepada Alisya yang jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Adith kepadanya. Chapter 70 - Mengundurkan Diri "Ketua Osis dan Wakil Ketua Osis akan dijadikan sebagai Pasangan disekolah! dan tau kah kau siapa wakilnya?" ucap Aurelia dengan senyum yang lebih licik dari sebelumnya. Alisya berhenti sejenak dan hanya tersenyum tak peduli. "Akulah wakil dari ketua Osis yang berarti pasangan dari Adith! secara tidak langsung aku dan Adith akan menjadi pacar" Aurelia berkata dengan cepat sebelum Alisya melangkah lagi. Alisya hanya terdiam dan masih membelakangi Aurelia lalu berbalik dan tersenyum manis. "Kalau begitu selamat yah..." Alisya menyampaikannya dengan nada suara yang sangat tulus. Melihat Alisya yang tulus seperti itu membuatnya semakin tak bisa menahan rasa jengkelnya dan dengan cepat berkata "Adith adalah kekasihku jauh sebelumnya!" terang Aurelia dengan nada tegas. Alisya memicingkan matanya bingung. "Tujuanku sebenarnya kemari adalah untuk mengingatkanmu agar mulai dari sekarang jauhi Adith, Aku yakin kau bisa melihat bagaimana mata Adith memandangku dikoridor lalu. Itu karena dia masih sangat mencintaiku tapi masih marah karena aku pergi meninggalkannya ke jepang. Kehadiranmu memang sejenak membuat Adith goyah, untuk itulah aku bukan memerintahkanmu tetapi ingin memintamu agar kamu bisa membantuku kembali bersama Adith lagi." Ucap Aurelia dengan nada suara yang dibuat setulus mungkin. Alisya kini paham dengan semua maksud dari perkataan Aurelia. "Huuhhh,,, sepertinya kamu salah paham! antara aku dan Adith tidak terjadi apa-apa dan tidak ada hubungan apa-apa! jadi kau tak perlu khawatir." Alisya menarik nafas pendek. Suara kerumunan yang datang memenuhi koridor yang segera satu persatu melewati mereka dan memasuki kelas tanpa menaruh curiga tentang situasi mereka. "Baiklah, kalau begitu terimakasih banyak" Aurelia tersenyum dan berlalu pergi. Karin yang datang bisa membaca suasana berat diantara mereka berdua terlebih saat dia dan Aurelia berpapasan dan Karin melihat sunggingan licik dan matanya yang tajam membuatnya merasa ada yang sedikit aneh. "Kenapa Kar?" tanya Rinto yang bingung karena Karin berhenti dan memandangi Aurelia yang melewatinya. "Sepertinya Saingan Licik muncul!" ketus Karin jengkel. "Apa maksudmu???" tanya Yogi bingung. Karin hanya berlalu mendekat ke arah Alisya tanpa menjawab pertanyaannya. "Apa yang dilakukannya disini?" tanya Karin pada Alisya dengan wajah menggoda. "Hentikan ekspresi licikmu itu! kau pasti sudah bisa menebaknya dengan melihat layar lobi kan?" pancing Alisya mencubit wajah Karin. "Oh wow,,, ternyuata benyar! (Ternyata benar)" ucap Karin dengan pipi yang tembem karena cubitan Alisya. Rinto dan Yogi tertawa melihat ekspresi lucu yang di timbulkan oleh wajah Karin dan Ekspresi gemes Alisya yang sedang mencubit dan memainkan wajah Karin seperti anak kecil. "Aku tidak bisa menyangka kalau Aurelia mengalahkan Alisya!" Adora datang dengan wajah kecewa. "Ada apa sebenarnya? kenapa tiba-tiba sudah dilakukan pengumuman? bukannya harusnya ada pidato yang harus disampaikan oleh tiap calon dulu?" tanya Febi bingung dengan situasi yang serang terjadi. "Berdasarkan apa yang aku dengar tadi, pemilihan dan penghitungan suaranya telah dimulai sewaktu kita memberikan rekomendasi sebelumnya!" Ucap Beni ikut larut dalam percakapan. "Jika memang seperti itu, Alisya kan harusnya menang karena dia berada di posisi atas dalam tahap rekomendasi kemarin. tapi kenapa jadi Aurelia yang menang menjadi wakil?" sela Emi tak terima. "Itu karena Aurelia direkomendasikan langsung oleh kepala sekolah!" terang Beni. "Haruskah kalian membahas ini didepan Alisya??" Cegat Yogi. Mereka tak sadar kalau dari tadi Alisya mendengarkan pembahasan mereka. Yogi yang merasa kurang nyaman dan menjaga perasaan Alisya serta Karin dengan segera mengingatkan mereka. "Ma maaf, Maafkan kami Alisya, kami bukannya bermaksud... " Suara Adora tercekat dan gagap. "Tidak masalah... santai sajalah, aku tidak akan terbawa perasaan untuk hal-hal seperti itu. lagi pula dari awal sudah ku katakan bahwa aku tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu. Dan aku sudah mengajukan mundur kepada ibu Arni" jelas Alisya. "Jadi kau juga mengajukan mundur???" Karin kaget mendengar kalimat Alisya. "Kau juga?? jadi kamu..." Alisya langsung menepuk jidatnya lalu berpandangan dengan Karin dan tertawa berdua. Semua yang melihat Karin dan Alisya tertawa kebingungan tak mengerti. Alisya dan Karin tertawa terbahak-bahak karena Aurelia ternyata menang begitu saja karena tak memiliki lawan dalam pemilihan meski dia bahkan harus bersusah payah mendapatkan rekomendasi dari kepala sekolah. "Sudah ku duga kau pasti akan mengundurkan diri" Adith muncul ditengah kerumunan siswa lain yang berdatangan menuju kelas. "Kamu bisa nyempil dimana saja yah?" ucap Karin takjub dengan kelihaian Adith menyembunyikan dirinya ditengah keramaian. "Aku cukup kerepotan menghindari para siswi yang yang bersedih!!!" terang Adith menarik nafas lega. "Bersedih? kau menolak mereka?" tanya Alisya polos. "huhh!! dibanding mereka semua, aku lebih merasa kasihan pada Aurelia!" Karin tertawa pelan. "Kenapa kamu melakukan itu Adith?" tanya yogi penasaran. "Kenapa? ada apa?" tanya Alisya semakin bingung. "Kamu tau kenapa lobi tadi ribut? kau pasti mendengar sorakan yang heboh kan?" tanya Karin yang dijawab anggukkan oleh Alisya. "Itu karena kandidat calon Osisnya meleset jauh dari prediksi semua siswa dimana Kandidat pemenang ketua Osisnya adalah Adith yang kemudian dipastikan Wakilnya adalah dirimu Alisya. Namun ternyata yang menjadi ketua Osis adalah Zein dan wakilnya adalah Aurelia! mereka akan dinobatkan sebagai pasangan utama sekolah!" Jelas Rinto dengan suara tegas. Mata Alisya melebar sempurna. "Pantas saja semuanya melewatiku dengan tatapan penuh tanya dan kebingungan! apa yang kau lakukan Adith?" tanya Alisya penasaran dengan tawa yang tercekit. "Dari awal aku mengetahui bahwa kamu tidak begitu tertarik untuk mengikuti pemilihan ini. Akupun yang dari awal juga memiliki pemikiran yang sama, memutuskan untuk memastikan sendiri kemarin. Jika kau benar-benar ingin tetap lanjut dalam pemilihan maka aku tidak masalah jika menjadi ketua Osis. Tapi setelah memastikan bahwa kau tidak mengikutinya, akupun mengundurkan diri dari pemilihan" Adith tersenyum licik karena memiliki pemikiran yang tak jauh beda dengan Alisya. "Kau jahat!!!" bentak Aurelia masuk di tengah krumunan membuat semua orang sontak melihat ke arah mereka. Melihat wajah Aurelia yang merah padam membuat Alisya sedikit Iba kepada Aurelia. "Aku tidak melakukan hal kejahatan apapun" jawab Adith dingin. "Jika tidak kenapa kau mengundurkan diri?" suara Aurelia sedikit tercekat. "Dari awal aku memutuskan untuk tidak menjadi ketua Osis karena Perusahaan akan membuatku tidak terfokus terhadap tanggung jawabku sebagai ketua Osis. Dan perusahaan menuntutku untuk tidak bisa memiliki waktu terhadap kegiatan lain yang lebih menyibukkan. Aku rasa Zein cukup mampu melakukan hal tersebut. Terlebih karena dia jauh memiliki kemapuan dalam hal ini." Jelas Adith tanpa menjatuhkan atau menyudutkan orang lain. Chapter 71 - Dasar Contoh Yang Buruk Meski sudah mendengar penjelasan Adith, Aurelia tetap tak ingin percaya. "Benarkah??? kenapa aku merasa kau melakukan ini karena menghindariku? kau melakukan ini karena kau tidak ingin bersamaku sebab aku pernah menolakmu cintamu dulu dan meninggalkanmu, iya kan???" Aurelia sengaja menekan kalimatnya dengan jelas. Ia sangat terlihat sengaja menampilkan informasi ini di khalayak banyak bahwa orang yang di cintai Adith sebelumnya adalah dirinya Aurelia dan karena masih memiliki perasaan yang sama dari sebelumnya maka Adith melakukan hal tersebut. Beberapa dari mereka yang menyaksikan perdebatan itu berpikir bahwa Adith tampak sangat mencintai Aurelia karena ia tak pernah terlihat begitu terang-terangan menghindari seorang wanita dengan cara yang halus. Ia biasanya akan menghadapinya secara langsung tanpa menghindari ataupun melarikan diri darinya dan seperti itulah selama ini ia menghadapi ribuan wanita yang terus menghampiririnya tanpa henti. Berbeda dengan yang ditunjukkannya kepada Aurelia, Adith tampak menghindari Aurelia dengan cara yang sangat halus sehingga apa yang dikatan oleh Aurelia mendapat pembenaran dari mereka. Tapi bagi mereka yang mengenal dekat kepribadian Adith yang sebenarnya, kalimat yang dikeluarkan oleh Aurelia tampak seperti lelucon kuno yang membuat Alisya dan Karin tersenyum licik. Tak tahan dengan drama kolosal yang sedang di tontonnya Alisya segera pergi meninggalkan mereka tanpa disadari oleh yang lainnya dan hanya Karin yang melihat Alisya pergi. "Apa yang kamu lakukan disini???" Adith berbisik pelan. "Drama kalian sudah selesai? aku pikir masih ada beberapa episode yang akan terus ditampilkan!" jawab Alisya pelan dengan suara dingin. "Drama? kau sedang bercanda?" balas Adith dengan suara sedikit tinggi. "Kau ingin aku dihukum disini? kau tidak tau aturah didalam perpustakaan?" Alisya kesal karena Adith membuat keributan sehingga mereka mendapatkan peringatan. Setelah beberapa saat mereka terdiam dan Adith terus memperhatikan Alisya yang sangat serius membolak balikkan halaman bukunya tampak mencari sebuah materi. "Sekarang sudah bel masuk apa yang kau lakukan disini? bukannya kau harus kembali ke kelas?" Alisya heran dengan Adith yang masih berada diruang perpustakaan bersamanya. "Apa kau mengusirku? kenapa dari tadi nada suaramu terus dingin?" Adith sedikit bingung dengan Alisya yang tampak sedang kesal padanya tanpa alasan yang jelas. "hum?? aku biasa aja dari tadi. kembalilah kekelasmu!" Alisya mengeluarkan suara lembut yang tertahan. "Sepertinya aku mengerti, kamu kesal karena kalimat Aurel tadi?" pancing Adith tersenyum nakal. "Apa??? apa apa''an itu? cih... ya nggak lah!" Alisya bangkit dengan suara yang sangat besar menggema diseluruh ruang perpustakaan. "Apa yang kalian berdua lakukan disini? bukannya sekarang sudah masuk jam pelajaran?" seorang guru penjaga perpustakaan menghampiri mereka dengan wajah yang gelap. "Maaf pak, saya perlu sedikit materi untuk mata pelajaran saat ini maknya saya membutuhkan sedikit waktu lebih lama untuk mencari materi pak!" Alisya mencoba membuaf alasan lalu menatap tajam ke arah Adith dengan wajah emosi. "Jangan becanda, kalian taukan apa hukumannya bagi mereka yang berada diluar saat jam pelajaran?? sebagai peringatan dan hukuman pertama kalian harus keliling lapangan sebanyak 50 kali. Jika saya mendapatkan kalian berikutnya maka Poin kalian akan saya potong sebanyak 50!" tegas nya memarahi Adith dan Alisya. "50 Poin pak??? itu pemerasan namanya!" Alisya tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Maaf pak, tapi kami tidak melakukan kesalahan yang cukup fatal untuk mendapatkan pemotongan poin segitu besarnya!" Adith mencoba membantu dengan suara lembut untuk meluluhkan penjaga perpustakaan. "Jika kalian berdua paham bahwa ini adalah kesalahan, sebaiknya kalian berdua melaksanakan hukuman itu sekarang sebelum aku melaporkan kalian berdua! Dan kau Adith, bukankah harusnya kau menjadi contoh?" pancing sang penjaga dengan tatapan serius. "Maafkan saya pak!" Adith meminta maaf dengan tulus dan segera keluar menuju lapangan diikuti oleh Alisya dan sang guru penjaga untuk memastikan bahwa mereka melakukan hukuman itu dengan baik. "Dasar contoh yang buruk!!!" goda Alisya sambil berlari kecil mendahului Adith. "Ehem.. jadi bagaimana apa kau benar cemburu?" pancing Adith lagi. "Tentu saja tidak! aku rasa kau dan Aurelia memang cocok untuk bersama, dia Cantik dan Feminim! berbeda denganku yang terlihat sangar dan biasa saja!" jelas Alisya mempercepat larinya. "Ternyata kau benar benar cemburu yah!!!" Adith berlari kebelakang dihadapan Alisya sambil tersenyum nakal. "Aku bilang tidak!!! buat apa?" bentak Alisya kesal dengan Adith yang selalu menggodanya. "Lakukan dengan benar!!!!" penjaga perpus memperbesar suara memarahi Adith dan Alisya yang masih tampak bermain meski diberi hukuman. Suara keributan yang mereka keluarkan dari lapangan sekolah membuat semua orang dengan segera melirik dari jendela memperhatikan Adith dan Alisya yang sedang berlari dan tampak kejar-kerajaran berlomba satu sama lain dengan guru penjaga perpus yang memegang kayu menujuk kearah mereka berdua. "Hei lihat, apakah Adith dan Alisya mendapat hukuman???" tanya Adora yang bingung mirik ke arah jendela. "Adith mendapat hukuman??? kok bisa?" teriak Febi berlari ke arah jendela. Mereka yang tau Adith adalah orang nomor 1 yang selalu taat dan disiplin bisa mendapatkan hukuman adalah suatu pemandangan luar biasa. Bukan hanya Adora dan Febi saja yang takjub dengan apa yang mereka lihat, bahkan seluruh siswa dari kelas lain pun ikut heboh termasuk para guru yang tak percaya Adith mendapat hukuman. Karena Adith, semua orang tiba-tiba saja bersorak riuh memberi semangat kepada Adith. Adith berlari sambil melambai ke arah kelas membuat mereka semakin heboh. "Hei tukang tebar pesona!!! aku deluan yah..." Ucap Alisya telah menyelesaikan hukumanya dalam waktu yang cepat. Penjaga perpus melepaskan Alisya dengan tatapan takjub tak percaya karena Alisya menyelesaikan hukuman lari 50 kali keliling lapangan hanya dalam waktu 3 menit. Sedang Adith menyelesaikannya dalam waktu 10 menit. Itupun penjaga tak melihat keringat ataupun nafas tersengal dari Alisya sedang Adith tampak tersengal-sengal pelan. Chapter 72 - Hanya Kau yang Dibutuhkannya "Dimana Alisya???" Adith berlari kecil menghampiri Rinto dan Yogi yang sudah bersiap pulang di parkiran motor. "Dia sudah pulang sendirian tadi!" Ucap Karin yang berjalan dibelakang Adith. "Kenapa dia selalu pulang sendirian?" keluh Adith. "Kau belum pulang?" tanya Rinto melihat Adith yang masih berdiri ditempat itu tak bergeming. "Huhhh... sia-sia aku bawa motor!" Adith menarik nafas dalam. "Eh??? jadi kamu bawa motor? sejak kapan?" tanya Rinto heran. "Sejak dia tahu Alisya lebih suka naik motor dari pada mobil" Ucap Karin dan Yogi hampir bersamaan. Rinto tersenyum simpul seolah memahami kondisinya. "Kamu mau kemana?" tanya Aurelia dengan suara lembut mengehentikan Adith. "Bukan urusanmu!" jawab Adith dingin. "Kamu masih marah? harus dengan cara apa kamu memaafkanku? aku sudah berusaha sebaik mungkin dengan terus meminta maaf kepadamu setiap saat dan kau selalu saja menghindariku!" Aurelia berkata dengan gusar sambil terus menghetikan gerakan Adith. "Tidakkah kau merasa bahwa kau terlalu berlebihan? bukankah sudah ku katakan jika itu sudah tidak ada hubungannya lagi?" Adith mulai tak sabar menghadapi Aurelia. "Lalu kenapa kau terus menghindariku? kenapa kau tak bisa bersikap seperti sebelumnya kepadaku?" tanya Aurelia dengan suara tinggi. "Karena semua tak seperti dulu lagi, ingatkan apa yang aku katakan dulu? jika semua takkan bisa sama lagi jika suatu saat kau akan kembali dan kau tidak mendengarkanku lalu pergi begitu saja!" jelas Adith kesal. "Tapi bukankah kau mencintaiku?" Aurelia menurunkan nada suaranya dengan lembut. "Maaf Aurelia, aku sudah tidak memiliki perasaan itu sekarang! berhentilah menggangguku!" Adith membunyikan motornya kembali. "Apa semua ini karena Alisya?" Teriak Aurelia karena bunyi motor Adith yang cukup besar. "Benar, Alisya!!!" ucapnya tersenyum dan dengan satu tarikan Gas Adith pergi meninggalkan Aurelia sendirian. Aurelia menitikkan air matanya. Ia tak pernah melihat Adith memperlihatkan ekspresi seperti itu sebelumnya. Mata Adith saat menyebut nama Alisya sungguh sangat berbeda seolah matanya menggambarkan sebuah danau biru yang luas dimana hanya ada Alisya yang dapat berenang didalamnya dan tak ada tempat baginya karena itu hanya ada untuk Alisya saja. Tidak butuh waktu lama, Adith sudah berada didepan rumah Alisya. "Siang nek, Alisya sudah pulang?" tanya Adith begitu neneknya membuka pintu. "Harusnya sih sudah, tapi nenek juga heran kenapa dari tadi dia belum pulang yah?" ucap neneknya memastikan jam yang ada ditangannya. "Oh gitu, ya sudah nek.. kalau gitu aku coba cek dijalan sekali lagi, siapa tau dia masih dijalan!" Adith langsung berpamitan lalu pergi menyusuri jalan serta tempat yang biasanya dikunjungi oleh Alisya sewaktu berjalan pulang namun tidak ditemukannya. "Ahh,,, kamu kemana sya??? kenapa kamu mematikan alat yang ada ditelingamu lagi???" gumam Adith yang frustasi tak menemukan Alisya karena sudah sekitar 2 jam mencarinya. Putus asa, Adith menghubungi Karin dan yang lainnya namun mereka tak mengetahui keberadaan Alisya. Sejam kemudian Karin menelpon Adith yang masih terus berada di atas motor. "Kau masih mencari Alisya?. Sebaiknya kamu pulang saja dulu, Karan sedang bersama Alisya sekarang!" Terang Karin agar Adith menghentikan pencariannya. "Kenapa Alisya bisa bersama Karan???" Adith bertanya dengan nada dingin. "Alisya meminta Karan untuk menemaninya. Hari ini adalah hari dimana ibunya meninggal sehingga dia pergi menziarahi kubur Ibunya dan ditemani oleh Karan!" Adith segera menghentikan laju motornya mendengar perkataan Karin. "Alisya tidak mengajakku karena aku akan selalu menangis setiap kali kesana dan hari ini aku benar-benar lupa. untunglah Karan mengingatnya dan menggantikanku menemani Alisya kesana!" lanjut Karin. "Baiklah,, terimakasih infonya Karin!" suara Adith lemah. "Iya sama-sama! pulanglah dan beristirahatlah" tegas Karin mengingatkan lalu kemudian mematikan telponnya. Adith memukul setirnya dengan keras menyesali kebodohannya karena tak mengetahui hal tersebut. Dengan hati yang sangat berat, Adith kembali ke rumah Alisya dan menemukan Karan yang sedang berpamitan kepada nenek Alisya. "Kau disini??? masuklah dan temui Alisya tapi jangan membangunkannya. Dia masih tertidur saat ini tapi sepertinya kehadiranmu akan membuatnya tenang!" Ucap Karan begitu berpapasan dengan Adith. "Terimakasih karena sudah menemani Alisya!" Suara Adith terdengar lemah namun tulus. "Hanya kau yang dibutuhkannya sekarang!" bisik Karan. "Maksud kamu???" Adith bertanya dengan bingung tak mengerti maksud Karan. "Masuklah,,, kau akan mengerti begitu masuk!" tujuk Karan kedalam kamar Alisya. "Kau mengetahui sesuatu? apa ini ada hubungannya dengan masa lalu aku dan Alisya?" Adith menatap Karan dengan wajah serius. Karan hanya terdiam menepuk pundak Adith lalu sekali lagi berpamitan kepada nenek Alisya dan Adith kemudian pergi. Adith masuk kedalam kamar dengan sedikit berjalan perlahan agar tidak membangunkan Alisya. Alisya tertidur dengan mata sembab dan peluh yang mengalir disepanjang tubuhnya. Nafasnya berat seperti sedang dalam mimpi buruk karena ekspresi wajah Alisya syarat akan kesedihan yang mendalam. Hati Adith terasa sakit dan sesak melihat ekspresi wajah Alisya. Dengan perlahan-lahan Adith mengambil tisu untuk mengelap keringat Alisya dan berusaha untuk tidak membangunkannya. Gerakan lembut Adith membuat Alisya menangkap memegang tangan Adith. Adith terkejut karena ia pikir sudah membangunkan Alisya tapi ternyata mata Alisya masih dalam keadaan tertutup. Secara perlahan, nafas Alisya semakin teratur dan genggaman Alisya ditangan Adithpun juga semakin erat. Tidak ingin membangunkannya, Adith tetap duduk disisinya dengan posisi tangan berada dalam dekapan Alisya tepat di pipi sebelah kanannya untuk waktu yang cukup lama. setelah dirasanya cukup aman, Adith perlahan-lahan melepaskan genggamannya dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 1 malam. "Butuh waktu 5 jam untuknya melepas genggamannya, 5 menit lagi keadaanya akan sangat berbahaya karena aku akan jatuh tertidur!" bisik Adith sambil memandang wajah Alisya yang kini jauh lebih tenang. Ia kemudian berdiri untuk segera berpamitan kepada nenek Alisya yang sedang berjaga diluar karena terus memastikan kondisi Alisya. Namun sesaat ia akan keluar dari kamar Alisya, tepat di atas meja Adith melihat foto dengan wajah yang sangat Familiar baginya, wajah itu adalah wajah yang sangat dikenalinya dimasa lalu. "Kenapa foto tuan Ali ada disini??? apa hubungannya Alisya dengan tuan Ali???" Adith berbicara dalam keheningan dengan suara yang tertahan. Adith mengambil foto itu tanpa pikir panjang lalu keluar dari kamar Alisya dan tetap membiarkan kamarnya setengah terbuka. Adith pulang dengan pikiran yang campur Aduk, bagaimana mungkin ia melupakan hal terpenting yang selama ini dia cari. Hari ini terlalu banyak kesalahan yang ia lakukan sehingga kepalanya terasa berat dan dadanya terasa sesak. Sesampainya dirumah, ia tertidur dengan wajah lelah dipenuhi oleh banyak beban pemikiran. Chapter 73 - Ganteng "Makasih kak Karan" Karin melambai ke kakaknya Karan yang mengantarnya. "Belajar yang baik jangan banyak main!" teriak Karan dari dalam mobil. "Memangnya aku anak kecil??? pergi sana!" Usir Karin kesal diperlakukan seperti anak kecil. "Masih pagi sudah bertengkar!" Alisya datang sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik kakak tersebut. Karin hanya tersenyum licik melipat tangan seolah menunggu kejadian selanjutnya. "Halo Quenbi cengeng! kalau mau nangis jangan lupa bahu Oppa (Panggilan sayang untuk laki-laki dalam bahasa korea) siap sedia dengan kode 86" Teriak Karan setengah keluar dari pintu mobil sebelah kanan menggoda Alisya. Alisya yang jengkel langsung saja menendang ban mobil Karan. "Pergi sana sebelum ku hancurkan mobil kesayanganmu ini" Bentak Alisya dingin. "Galak amat sih, yang ada Adith bakal lari loh..." godanya lagi dengan menyebut nama Adith yang membuat beberapa orang yang sedang memasuki gerbang ikut menoleh. "Karin, kamu bawa suntik nggak??? gue minta yang dosis tinggi dong!" Alisya meminta tanpa melirik ke arah Karin dan menatap tajam lurus ke arah Karan. Karan yang tertawa terbahak-bahak lalu dengan cepat membunyikan mobilnya dan berlalu pergi. "Bukannya kau yang mengataiku masih terlalu pagi untuk bertengkar??" Goda Karin dengan senyum sinis. "Kakakmu itu benar-benar menyebalkan dari dulu! Sini kamu... biarkan aku melampiaskan rasa kesalku padamu!" Alisya tersenyum jahat mengejar Karin yang dengan sekuat tenaga berlari dari Alisya. Karin yang berlari kalang kabut menghindari keganasan Alisya membuatnya tak begitu memperhatikan keadaan yang berada dihadapannya. Sehingga dengan cepat dia menabrak seseorang. "Kau tak apa-apa??" Alisya berusaha membangunkan Karin yang tersungkur di tanah. "Ini gara-gara kamu! wajah mu yang tersenyum licik itu benar benar teror horor yang sangat sempurna. Aku jadi menabrak orang tau!" bentak Karin sambil berusaha bangun. "Ahhh,," seseorang berusaha keluar dari semak belukar yang menjadi pagar tanaman. "Bantuin tuh..." pukul Karin kepada Alisya menunjuk kepada orang yang kesulitan tersebut. "Ppuhaaahhh... kenapa ada banteng disekolah kita???" tanya nya bernafas legah setelah keluar dari semak taman. "Riyan??? Maaf,, aku tidak sengaja!!!" Karin berusaha membantu Riyan untuk duduk sedang Alisya hanya tertawa kecil. "Oh jadi kamu Karin, tidak apa-apa aku baik-baik saja selama wajahku tidak lecet dan kotor!" Ucapnya sambil mengelus wajahnya mencari apakah ada sesuatu yang salah. "Wajahmu baik-baik saja kok! Aman..." Karin tersenyum canggung. "Benarkah?? Bagaimana Alisya? Wajahku tetap ganteng?" Riyan bertanya dengan penuh percaya diri. "Iya Ganteng,,, Gagal karena ke tabrak baNteng" Alisya tertawa kecil. "Alisya!!! nggak kok, nih liat wajamu aman!" bentak Karin sambil menyerahkan cermin. Karin bukannya takut melainkan dia tidak ingin membuat orang nomor 3 ini memusuhinya karena kesalahan konyol. Karin berusaha membersihkan sisa-sisa dedaunan yang menempel ditubuh Riyan lalu kemudian dengan lembut membersihkan daun yang menempel di pipi dan dahinya. Sesaat setelah Karin mengambil daun di tepi bibirnya, Jantung Riyan langsung berdetak dengan kencang terlebih saat Karin meniup kotorang di rambutnya. Melihat tingkah Karin, Alisya berdiri dengan mengatupkan kedua tangannya sambil memperhatikan adegan romantis yang ada didepannya. Tanpa sepengetahuan Karin, Alisya mengambil Handphonenya lalu dengan cepat merekam kejadian tersebut dan mengirimkannya ke ruang Obrolan Grub mereka. "Wow... apa yang mereka lakukan?" tanya Adora. "Mereka pacaran?" tambah Emi. "Tunggu dulu siapa yang mengirim ini?" lanjut Beni. "Bukankah itu Riyan??" sela Febi. "Sepertinya Adikku sudah semakin dewasa" imbuh Karan. Ruang obrolan seketika meledak heboh. Alisya memicingkan matanya begitu melihat Karan masuk sebagai anggota grub mereka. "Tidak cocok!" Adith muncul dengan emoticon love yang retak. "Setuju!!!" Rinto muncul dengan emoticon marahnya. Alisya tertawa jahat melihat seluruh komentar yang bermunculan. "Apasih.. bantuin tau!!!" Karin kesal melihat Alisya tertawa sendirian. Alisya menahan nafas mengambil Tas Riyan yang terjatuh. "Kamu bisa berdiri kan???" tanya Alisya dingin. "Maaf yah, aku benar-benar tak sengaja!" Karin memperlihatkan ekspresi tulusnya yang membuat wajah Riyan memerah. Baru kali itu dia dibuat terpesona oleh seorang wanita. "Tidak apa-apa! aku juga baik-baik saja dan kamu sudah tulus meminta maaf!" Terang Riyan lembut. "Syukurlah, kalau begitu kami pergi dulu" Karin ingin segera pergi berlari menjauh karena terlalu canggung. "Sebentar!" Riyan menghentikan Karin. "Ada apa?" Karin berbalik dan tersenyum canggung. "Ayolah santai saja, Aku akan menerima permintaan maafmu dengan cara kamu harus hadir ke pesta ulang tahunku malam ini. Kamu bisa mengajak Alisya dan teman-temanmu yang lain agar semakin meriah!" Riyan menyodorkan undangan kepada Karin. Sebuah kartu undangan eksklusif yang tampak seperti sebuah ATM platinum mewah. Sungguh Elite memang luar biasa dalam hal kemewahan. "Apa kami benar harus pergi kesana?" Alisya bertanya dingin. "Tentu saja, jika kalian benar-benar meminta maaf dengan tulus. selain itu aku mengundang Karin karena dia adalah Partnerku! bukankah begitu?" Ucap Riyan menunjuk ke arah Karin. "Iya benar, akan kami usahakan!" terang Karin. Meski dia adalah partner dari Riyan, karena kesibukan Riyan mereka jadi jarang terlibat satu sama lain setelah acara festival lalu. Sehingga ia tidak merasa begitu akrab untuk datang kepestanya terlebih karena pesta dari orang elite adalah suatu tangga yang cukup berbeda dari apa yang mereka bayangkan. ***** "Paman dimas, bisakah sekali lagi paman mencari tahu mengenai tuan Ali yang pernah aku temui didepan gedung perusahan kakek Alisya. Aku ingat bahwa paman bilang tuan Ali adalah cucu dari pemilik perusahan itu, sedangkan Alisya merupakan cucu satu-satunya tuan Takahashi. Tolong pastikan sekali lagi" Adith menutup telpon begitu ia selesai meminta bantuan dari pak Dimas. Tepat setelah ia selesai, ruang obrolannya berbunyi tak henti-hentinya. setelah ia melihat isinya, ia tersenyum mengetahui siapa pelaku dari kejahilan tersebut. Sesaat kemudian Adithpun ikut berkomentar pendek. "Adith, malam ini ulang tahun Riyan, kamu akan hadirkan? dia pasti sudah mengirimkan undangannya padamu!" tanya Zein duduk tepat disamping Adith. "Dia bukan mengirimkan undangan padaku, melainkan sebuah ancaman dan aku tetap tak peduli dengan hal tersebut." Ucap Adith dingin. "Ayolah, sudah lama sejak terakhir kali kita kumpul bersama, kamu selalu saja menghindar setiap kali kita ada acara kumpul. Riyan mengundang Karin kali ini" Zein masih berusaha membujuk Adith. "Itu takkan merubah keputusanku meski dia mengundang artis sekalipun!" jawab Adith masih dingin. "Benarkah? meski itu berarti Karin akan datang bersama Alisya?" pancing Zein. "Alisya bukanlah tipe orang yang akan datang diacara seperti itu!" lanjut Adith lagi masih tak memperhatikan Zein dan bersikap acuh padanya. Chapter 74 - Pokoknya Kamu Harus Ikut "Tidak masalah jika kamu tidak datang, tapi jangan menyesal jika mengetahui kalau ternyata Karin hadir bersama Alisya di pesta ulang tahun Riyan malam ini jam 8" Zein berdiri dengan sengaja menekan suara ketika menyebut nama Karin dan Alisya. Zein pergi meninggalkan Adith yang terduduk memandangi Handphonenya. Adith tersenyum lebar melihat foto Alisya yang tertidur pulas semalam. beberapa saat kemudian teleponnya berdering. "Adith, aku sudah bertanya kepada beberapa orang staf dan petinggi yang ada setelah tentu saja dengan memberikan beberapa hadiah kecil barulah mereka berbicara dengan gamblang bahwa orang yang selama ini mereka sebut sebagai tuan Ali merupakan Alisya" Jelas pak Dimas dengan suara berat yang menahan rasa terkejutnnya. "Paman tidak bercanda kan? maksud aku paman benar-benar menerima informasi ini dari orang yang bisa dipercaya kan? Adith sedikit ragu dan tak percaya karena tuan Ali yang selama ini dikenalnya adalah seorang laki-laki. "Kali ini paman bisa memastikan kebenarannya!" Tegas pak Dimas dengan suara yang penuh keyakinan. Adith terdiam beberapa saat menyerapi setiap perkataan yang terucap dari pak Dimas lalu memutar balik semua kejadian yang telah terjadi sebelumnya. Ia ingat betul bahwa saat itu ketika bertemu dengan tuan Ali ini, dia mengantar dirinya sampai tepat didepan rumahnya. Bagaimana Alisya selalu saja memperlihatkan ciri-ciri yang sama persis dengan tuan Ali ini. "Mama,, mama sepertinya sudah mengetahui bahwa tuan Ali adalah Alisya!" Adith teringat dengan bagaimana ibunya memperhatikan Alisya dan memperlakukannya dengan sangat baik seolah memang sudah lama mengenalnya. Dengan cepat dia bediri berlari keluar kelas ingin segera menemui ibunya untuk mengkonfirmasi sebelum menemui Alisya secara langsung. **** "Pokoknya kamu harus ikut!!!" desak Karin masih memperdebatkan masalah ulang tahun Riyan. "Kamu kan tau kalau aku nggak suka sama acara begituan!!!" elak Alisya menolak untuk ikut. "Nggak,, gara gara kamu aku jadi menabrak Riyan jadi kamu harus tanggung jawab!" Karin tak kalah ngotot. "Huuuhhh,, oke! tapi aku nggak jamin bakal lama disana!" Alisya pasrah karena Karin sudah membujuknya selama 5 jam sejak mata pelajaran pertama hingga pulang sekolah. Bahkan Karin mengikuti Alisya pulang berjalan kaki. "Terserah!!! sekarang ikut aku belanja buat entar malam" Karin langsung mengambil tangan Alisya dan menariknya berjalan ke arah lain. Alisya pasrah mengikuti keinginan Karin. "Kenapa kita malah kesini??" tanya Alisya ketika berada di Senayan City. "Mau kemana lagi?? ngapain beli di tempat lain kalau ada tempat sendiri?" Karin menarik lengan Alisya masuk kedalam dan langsung menerobos kebeberapa toko. "Gimana ini cocok nggak??" Karin mengambil gaun one piece berwarna pink lembut. "hum.. cocok kok!" Jawab Alisya duduk bersandar melihat Karin yang sibuk memilih milih pakaian. "Kalau yang ini???" Karin mengambil gaun lain yang berwarna biru tosca yang tidak terlalu pendek. "Lumayan!!" Jawab Alisya acuh tak acuh. "Ayolah Alisya, aku nggak tau harus pilih yang mana. Kamu mau aku terlihat memalukan dipesta Riyan? Aku yang selalu bergaul denganmu telah banyak menolak undangan orang sehingga aku belum pernah ke pesta Ultah sebelumnya!" Suara Karin memelas dengan lemah. Alisya tau betul kalau sahabatnya ini sedang beracting, namun apa yang dikatakannya adalah suatu kebenaran yang selama ini terus saja membuatnya merasa bersalah. Alisya menarik Nafas dalam dan menaruh seluruh pakaian yang dipegang oleh Karin. "Hentikan actingmu yang jelek itu dan ikut aku!!!" Alisya beranjak keluar dari toko diikuti Karin yang tertawa cengengesan. "Kamu memang yang terbaik!!! Jadi? kita akan kemana???" puji Karin. "Ke Lantai Paling Atas!" Terang Alisya ketika pintu tangga lift terbuka. "Woww.. Lift khusus untuk VVIP memang beda yah??? baru kali ini kamu mengajakku naik kesini" Karin terkagum dengan Lift yang biasanya digunakan sebagai pelanggan VIP yang sangat luas dan interior yang begitu menyenangkan serta langit-langit lift yang tak kalah begitu megah dengan tampilan pemandangan yang kontras dengan warna dinding Liftnya. "Aku juga baru kali ini menaikinya sejak terakhir kali bersama mama!" Alisya memegang gagang Lift keemasan tempat dimana ibunya biasa bersandar. "Ummmm...." Karin mengangguk tak ingin bertanya lebih dan melayangkan pandangan keseluruh ruangan. "Sampaikan pada mereka untuk tidak perlu mengikutiku, biarkan mereka beristirahat dulu!" Lirik Alisya ke arah CCTV memerintahkan para pengawalnya untuk tidak mengikutinya saat sedang ingin menghabiskan waktu berbelanja dengan nyaman bersama Karin. "Wow... Seharusnya aku sudah terbiasa tapi kamu selalu terlihat sangat berkharisma kalau sudah dihadapan bawahanmu!" Karin bertepuk tangan pelan bersamaan dengan terbukanya pintu lift. Toko pada lantai atas adalah wilayah pertokoan dengan barang-barang yang berasal dari desainer ternama dan merek termahal yang siap memanjakan mata bagi mereka para Elit yang menggilai Fashion. "Maaf,, anak SMA dilarang masuk disini" Seorang karyawan menghalangi jalan Karin dan Alisya. Alisya dan Karin lupa kalau mereka belum bergantian baju. peraturan ditempat ini memang sangat ketat terlebih bagi mereka yang tidak begitu dikenali untuk mencegah berbagai kemungkinan yang terjadi meski lantai ini memiliki keamanan yang cukup canggih dan mutakhir. "Tapi kami ingin membeli barang" Karin sengaja menekan kata membeli untuk mendapatkan izin masuk. "Haahahahaha,,, pulanglah dik, tempat ini bukan tempat yang bisa dijangkau oleh anak SMA seperti kalian" karyawan itu memandangi Alisya dan Karin dari atas sampai bawah. Sekali lagi tampilan mereka memang akan membuat orang salah paham karena pakaian seragam mereka yang terlihat sangat sederhana meski memiliki lambang sekolah nomor 1 di Indonesia tersebut. "Bisakah kakak memanggil manager yang mengelola tempat ini? dia tentu akan mengerti" Alisya berusaha sopan mengingat karyawan wanita tersebut berusia cukup tua diatasnya dengan kisaran 25 tahun. "Tunggu disini, jangan masuk sebelum aku memberi izin!" Setelah memerintah dia masuk kedalam mencari sang manager. "Bukannya beberapa manager harusnya ada disini???" Karin merujuk kepada pengawas CCTV yang seharusnya sudah mengumumkan kedatangan Alisya. "Aku tidak ingin membuat kehebohan!" Alisya tersenyum menepuk telapak tangan Karin untuk bersabar. Karin teringat dengan peringatan Alisya sewaktu didalam lift yang meliburkan pengawalnya. Itu artinya dia benar benar tidak ingin diganggu. "Maafkan aku,,, aku tidak tau kalau tuan akan kesini!" sang menager berlalari dengan wajah ketakutan sambil menunduk dalam. Melihat sang manager ketakutan seperti itu membuat sang karyawan yang awalnya menunjuk ke arah mereka dengan angkuh seketika wajahnya menggelap dan gemetar ketakutan. Baru kali ini sang manager begitu ketakutan menghadapi seorang pelanggan sedang sudah banyak jenis pelanggan VIP dan VVIP yang dapat dengan mudah dihadapinya. Chapter 75 - Kakak Dava "Kakak Dava,,, jangan begitu! nggak apa-apa kok!" Alisya tersenyum ceria melihat sang manager yang sudah lama tidak dijumpainya. "Kamu sudah semakin besar Alisya, Kenapa masih diluar? ayo masuk!" Ajak Dava cepat. "Tadi dilarang sama... aakkhhh" Alisya menyikut perut Karin cepat. "Aku akan menghukum pegawai itu secepatnya!" Begitu mendengar ucapan dari sang manager si pegawai yang sedari tadi memperhatikan dari jauh dengan cepat berlutut meminta maaf. "Maaf kan aku pak,, aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu aku hanya menjalankan tugas sebagaimana biasanya!" suaranya serak dan pipinya basah karena air mata. "Lain kali seharusnya kamu mencari tau dulu sebelum bertindak!" Dava membentak dengan nada rendah. "Kak Dava,,, biasa aja kali kak... kan memang begitu peraturannya!" Alisya membantu karyawan wanita itu berdiri dari tempatnya. "Terimakasih, terimakasih banyak! Maafkan saya sekali lagi" ucapnya masih terisak isak. beberapa pegawai lain memperhatikan dengan seksama kejadian tersebut untuk mengingatkan diri agar lebih berhati-hati. "Jadi apa yang kalian cari? mau aku temani?" Dava menawarkan diri dengan sopan. "Kak Dava kaku amat,,, Biar kami melihat-lihat saja dulu kesekeliling, kak Dava cukup memberi pendapat saja nanti okeh?" Karin langsung menyebarkan pandangannya kesuruh ruangan tersebut. "Tentu saja, saya siap kapanpun itu!" Ucap Dava sambil undur diri memberi kesempatan kepada Karin dan Alisya untuk melihat-lihat dengan nyaman dibantu oleh beberapa pegawai lain. Meski takut akan membuat kesalahan, senyum Alisya yang ramah dan Karin yang ceria membuat mereka sedikit mencair dan tak begitu kikuk saat melayani mereka berdua. Seketika tempat itu seolah menjadi wisata bagi Karin dengan berkeliling dari satu tempat ketempat yang lain. Alisya membiarkan Karin menikmati waktunya sambil memilih milih beberapa gaun yang akan dipakai olehnya dan Karin. "Aku rasa ini akan sangat cocok untuknya, dia pasti akan sangat cantik memakai ini" Alisya tersenyum mengambil sebuah gaun berwarna hijau toska dengan untaian berlian Swarovski dibagian dadanya. "Sepertinya anda sangat hebat dalam memilih baju, ini adalah branded ternama dan hanya satu-satunya di dunia. harganya cukup mahal tapi ini adalah pilihan yang tepat jika ingin menghadiri sebuah pesta ulang tahun karena desainnya yang tampak sederhana namun sangat elegan. Sebuah kemewahan yang tersembunyi" Seorang pegawai yang setia menemani Alisya tanpa bersuara sekarang dengan riang memuji ketajaman mata Alisya. "Aku akan ambil yang itu! Bungkuskan secepatnya!" Seorang pelanggan muda yang memakai kaca mata langsung menunjuk ke arah gaun yang sedang dipegang Alisya. "Maaf, tapi aku yang terlebih dahulu melihat Gaun ini" Alisya berusaha mempertahakan gaun ditangannya dengan sopan. "Maaf nona Kanya,, tapi nona ini yang mengambilnya terlebih dahulu!" Ucap sang karyawan dengan sangat sopan. Pelanggan itu membuka kacamatanya dengan angkuh. "Aku bilang bungkus yah bungkus!!!!" bentak Kanya dengan ganas. "Tapi...." Tamparan tiba-tiba saja melayang dipipi sang karyawan membuat pipinya memerah padam dan jatuh tersungkur. ****" "Ma,,, mama...." Adith langsung menerobos masuk kedalam rumah mencari ibunya. "Kenapa Ditya??? kamu kok baru pulang sudah triak triak sih?" Ibunya datang dengan wajah bingung. "Ma... ada yang ingin aku tanyakan!" Adith langsung mengajak ibunya duduk di sofa dengan nyaman. "Kamu kenapa sih?? kok serius amat!" Ibu Adith semakin penasaran. Setelah mengambil nafas cukup dalam dan menenangkan diri, Adith mengatur nafasnya kemudian menatap dalam kearah ibunya. "Apa benar tuan Ali adalah Alisya???" suara Adith tegas dengan sorot mata yang sangat serius. Ibunya kaget bukan main dan tak bisa menyembunyikan ekspresinya kemudian seketika tubuhnya bergetar hebat. "Jadi benar???" Mata Adith seketika memerah dan suaranya serak. "Dari mana kamu mengetahuinya Dith?" Suara ibu Adith terdengar lemas. "Kenapa mama nggak bilang selama ini???" Adith merasa sesak akan sebaris kekecewaan terhadap ibunya. "Maaf akan mama nak, tapi mama sudah berusaha untuk memberitahumu selama ini hanya saja mama belum menemukan waktu yang tepat!" suara lembut ibu Adith berusaha menenangkan Anaknya. "Apa Bapak juga tau? paman Dimas? Yogi?" suara Adith terdengar lebih berat dari sebelumnya. Ibunya mendekatkan tubuhnya untuk memeluk Adith. "Ayahmu sudah tau karena ibu memintanya untuk menyelidiki Alisya lebih dalam untuk memastikan kebenarannya, Pak Dimas dan nak Yogi sama sekali tak mengetahui apapun!" ucapnya sambil memukul mukul pelan pundak Adith. "Kalau begitu ceritakan semuanya ma, kenapa Alisya tidak mengenaliku jika dia memang tuan Ali yang selama ini aku cari??? aku fikir tuan Ali adalah seorang anak laki-laki?" Adith melepaskan pelukan ibunya dengan lembut. "Baiklah, sepertinya mama sudah tidak bisa menyembunyikannya lebih lama lagi" Ibu Adith menarik nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Karena traumamu ketika mengalami penculikan dan menghilangnya tuan Ali, kedua hal itu membuat ingatanmu bercampur aduk sehingga tak mengingat dengan pasti kejadian yang sesungguhnya. Kau pertama kali bertemu dengan tuan Ali adalah sekitar 10 tahun yang lalu, bukannya terakhir kali kalian bertemu" jelas ibunya dengan perlahan-lahan sembari terus memperhatikan kondisi Adith. "10 tahun yang lalu aku bertemu dengan Alisya?" tanya Adith dengan wajah bingung. "Benar, Alisya yang mendapat didikan sangat keras dari ayahnya yang menginginkan seorang anak laki-laki membuat Alisya berpenampilan seperti seorang anak laki-laki yang kemudian ia sering dipanggil tuan Ali oleh para pengawalnya. Saat itu Alisya tak sengaja menemukanmu dikejar oleh anjing si penculik yang dengan beraninya menghadang kumpulan anjing itu agar tidak menggigitmu. Dan beruntunglah para pengawal Alisya tidak berada jauh disana sehingga mereka bisa menyelamatkan kalian berdua dengan mudah! Sejak saat itu kamu dan Alisya saling berteman satu sama lain!" Lanjut ibunya tak mengalihkan pandangannya dari anaknya. Adith mengatupkan kedua tangannya menunduk dalam meresapi tiap perkataan ibunya. "Lalu kapan terakhir kali kami berpisah? kenapa Alisya tak mengingatku sama sekali?" Tanya Adith lirih. "5 tahun yang lalu, lebih tepatnya saat kamu berusia 10 tahun ketika kamu masih duduk dikelas 5 SD, Alisya menghilang karena mengalami penculikan yang dilakukan oleh orang yang sama dengan orang yang menculikmu sebelumnya. Orang itu ternyata melihat Alisya yang menyelamatkanmu sehingga dalam beberapa waktu dia terus membuntuti Alisya. Alisya yang hanya terlihat bersama para pengawal yang untuk menyembunyikan identitas Alisya, saat itu mereka tidak menggunakan tanda pengenal seperti yang mereka gunakan sekarang sehingga si penculik hanya mengetahui bahwa Alisya hanyalah seorang anak dari orang kaya membuatnya semakin ingin membalaskan dendam kepada Alisya sehingga setelah membunuh dua orang pengawal Alisya, Dia berhasil menculik Alisya!" Kali ini suara Ibu Adith seolah tak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya membayangkan bagaimana takutnya Alisya seorang anak kecil melihat pembunuhan terjadi didepan matanya. Chapter 76 - Masa Lalu Alisya "Selama masa penculikan, orang itu memukul dan menyiksa Alisya karena dendam sebab Alisya menggagalkan aksinya lalu. Dia seorang psikopat pedofilia yang biasa melecehkan anak laki-laki dibawah umur lalu dijual ke pasar gelap Black Falcon. Sama seperti dirimu, ia juga mengira kalau Alisya adalah seorang laki-laki sehingga begitu dia mengetahui Alisya adalah seorang perempuan, dia memukul Alisya dengan tongkat bisbol yang tepat mengenai telinganya. Itulah kenapa Alisya menjadi sangat sensitif terhadap suara sepelan apapun itu!" Jelas ibunya memandang wajah Adith dalam. Hati Adith merasakan perih yang amat sakit, dada dan kepalanya seolah-olah akan meledak menahan rasa sedihnnya. Karena dirinya Alisya mengalami semua kejadian tersebut. "Alisya kemudian dijual ke Black Falcon dan mengalami banyak penyiksaan serta penelitian dimana setiap anak yang dikirim kesana akan dilatih dan dijadikan sebagai senjata pembunuh. 2 tahun kemudian mereka semua akan dikumpulkan dalam suatu wilayah untuk menentukan siapa yang terbaik dan menyisakan 1 orang yang selamat dan itu adalah Alisya. Sedangkan yang tidak selamat dan terbunuh organ-organnya akan diperjual belikan. Akan tetapi Alisya bukan hanya berhasil selamat, namun juga dengan kemampuannya dia berhasil melarikan diri dari Black Falcon dan kembali ke Indonesia" Jelas ibunya dengan suara serak. Adith masih terus berusaha mempertahankan kesadarannya untuk membuat ibunya terus melanjutkan kalimatnya. "Akan tetapi, beberapa bulan setelahnya Black Falcon ternyata mampu menemukan keberadaan Alisya sehingga mereka menaruh BOM untuk meledakkan tempat dimana Alisya dan Ibunya berada, Alisya berhasil selamat sedangkan ibunya tidak. Kematian Ibunya membuat Alisya sangat terpukul dan kehilangan sebagian ingatan. Trauma mental Alisya bertambah parah dengan kematian ibunya dan membuat Alisya sangat membenci ayah dan kakeknya yang sangat berkuasa namun tidak bisa melindungi dirinya dan ibunya!" Ibu Adith meminum segelas Air setelah merasa tenggorokannya kering karena menahan kesedihan yang sangat mendalam. Adith yang mengeluarkan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya membuat ibunya bertanya dengan panik. "Adith,, kamu nggak apa-apa? kamu mau kemana?" Ibu Adith sangat khawatir melihat tubuh Adith yang hampir jatuh. "Nggak apa-apa kok ma, kepala Adith hanya sedikit sakit! Aku ingin menemui Alisya sekarang!" Adith menekan dadanya dengan air mata yang mengalir deras tak mampu menahan kesedihan. "Jangan memaksakan diri, sebaiknya kamu istrahat dulu. Dan untuk Alisya, kamu jangan memaksanya untuk mengingatmu Dith. Mama yakin dia tidak akan sanggup mengetahui kejadian yang sebenarnya terlebih tentang ibunya!" Ibu Adith mencegah dan mengingatkan Adith agar tidak bertindak gegabah. "Jangan khawatir ma, aku hanya ingin menemuinya saja. Adith sangat merindukannya saat ini, Adith ingin melihat wajah Alisya ma" pinta Adith menenangkan ibunya dan meminta izin dengan sangat lembut. "Oke, kamu boleh pergi tapi tidak dengan keadaanmu yang seperti ini. Apa yang akan Alisya pikirkan jika kamu menemuinya dengan keadaan seperti ini? tidak kah kamu terlalu ceroboh Adith??? kamu harus menenangkan dirimu terlebih dahulu! Gantilah pakaianmu dan bersikaplah apa adanya seperti yang biasa kamu lakukan padanya" Pinta ibunya dengan suara penuh kasih sayang untuk menenangkan Adith. Setelah menghapus air matanya dan menenangkan diri, Adith naik menuju kamarnya untuk sejenak merebahkan diri beberapa saat lalu mandi dan berganti pakaian dengan cepat. "Makanlah ini, setidaknya kamu harus makan ini sebelum pergi jika tidak, mama tidak akan mengizinkanmu menemui Quenby ku!!!" ancam ibu Adith yang sudah berdiri tepat di pintu masuk kamar Adith yang sudah siap ingin keluar. "Mama...." Adith tersenyum melihat ibunya seolah memberi perhatian lebih besar kepada Alisya dibanding terhadap dirinya. Ibunya tersenyum hangat penuh kasih begitu melihat Adith menghabiskan Jus Mangga dan sepiring roti goreng buatannya. ***** "Kau baik-baik saja??? " Alisya dengan cepat membantu karyawan itu untuk berdiri dan memastikan keadaannya. "Itu ganjaran buat karyawan kurang ajar seperti kamu yang berani melawanku!" Terangnya mengipas ngipas tangannya yang kebas karena menampar dengan sangat kuat. "Pergilah selagi aku masih memberimu kesempatan!!!" Mata Alisya menatap tajam melirik kearahnya yang membuat Kanya seketika bergetar bergidik nyeri melihat tatapan Alisya. Meski takut, keangkuhan karena diberi tatapan oleh Alisya membuatnya semakin marah dan bengis. "Memangnya kau siapa berani mengusirku???" Bantahnya dengan suara setengah gagap. "Apa yang terjadi?" seorang ibu sosialita dengan mantel berbulu dan kaca mata hitamnya bertanya kepada Kanya. Dia didampingi oleh dua orang pengawalnya dan 3 lainnya berada didepan pintu. "Ini tante,, aku mau ambil baju ini tapi dia berani menghalangiku!" Kanya dengan cepat merangkul lengan ibu itu. "Ada apa Alisya???" Karin dengan cepat berlari kearah Alisya di ikuti oleh Dava dengan wajah setengah panik. "Bagaimana kamu mengajari karyawanmu?? Apa dia tidak tau siapa kami hahhhh??? " Bentak ibu itu dengan bengis setelah melepaskan kacamatanya. "Maaf nyonya Hanzel, sepertinya ada kesalahpahaman disini. Tolong tenang dulu!" Dava melirik canggung ke arah Alisya yang dibalas senyuman dan anggukan agar Dava melakukan tugasnya sebagaimana biasa. "Salah paham??? Jelas-jelas anak ingusan seperti mereka belum tentu bisa membeli gaun ini sudah berlagak angkuh mengahalangi Kanya. Apa kamu pikir kamu bisa membelinya?" Matanya melotot tajam dengan pandangan merendahkan. Karin dan Alisya saling berpandangan satu sama lain sambil melihat penampilan masing-masing lalu saling menertawakan. Alisya bukan hanya mampu membeli, tapi dialah pemilik dari seluruh isi yang ada di tempat itu. Dan bisa dengan mudah mengambil apapun yang dia mau. "Apa yang kalian tertawakan hahhh??? Kalian pikir aku sedang bercanda? Dava sebaiknya kau usir mereka sebelum aku memberi mereka pelajaran!" Tegasnya lagi. "Maaf nyonya, tapi dia... " Dava berusaha untuk menjelaskan namun cepat dihentikan oleh Alisya. "Tidak apa kak,, " Karin tersenyum tidak ingin memperpanjang masalah karena orang-orang sudah semakin banyak berkumpul dan memperhatikan mereka dan itu membuat Alisya tak nyaman dan ingin segera pergi. "Mau kemana kamu? Kamu bisa pergi jika sudah meminta maaf dengan benar" ucap Kanya menghalangi jalan Alisya. "Maaf?? Maaf untuk apa?" Alisya tidak yakin atas dasar apa Kanya menyuruhnya meminta maaf. "Karena kau sudah berani menatapku dan mengahalangiku!" senyumnya dengan licik. "Pufftttt,,," Karin tertawa mendengar kalimat Kanya. "Dasar bodoh! Kamu harusnya bersyukur kalau saat ini Alisya dalam mode tenang!". Batin Karin. "Huuuhhh,,, tidak kah kau pikir kau sudah cukup berlebihan??" Alisya menatapnya dingin. Para pengawal yang semula berdiri diam menghampiri Alisya yang dengan satu gerakan tepat sebelum mereka melakukan yang lebih, pengawal Alisya sudah lebih dahulu berada tepat dihadapan Alisya menghalangi para pengawal si ibu sosialita dan seorang yang pengawalnya hampir saja menyentuh Alisya sudah meringis kesakitan. Chapter 77 - Tante Prily Tidak ada yang melihat betapa cepat gerakan tangan Alisya sewaktu ia mematahkan tangan si pengawal yang hendak menyentuhnya karena terfokus oleh kedatangan para pengawal Lesham. "Apa yang terjadi??? Apa yang sudah kalian lakukan hah??" si ibu tergagap melihat para pengawal dengan logo Lesham di jas yang begitu dikenalnya. "Maaf, sepertinya ada kesalah pahaman disini!" pak Azwar muncul entah dari mana. "Pak Azwar??? Aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran pada mereka" Ucapnya sambil tergagap. "Itu adalah tugas kami, khususnya jika itu mengenai Karyawan ataupun Pelanggan kami. Dan bukankah kami sudah memberikan peringatan untuk tidak berbuat semena-mena terhadap Karyawan kami? Ini akan menjadi peringatan kami yang terakhir" senyum pak Azwar dengan tatapan dinginnya. Sang ibu merasa kalah dan tak bisa memberikan pembelaan lagi lalu memilih pergi begitu saja meninggalkan mereka semua disana. Kanya yang terbingung dengan cepat melarikan diri mengikuti langkan ibu Hanzel. "Alisya, apa kau baik-baik saja?" tanya pak Azwar dengan wajah khawatir. Semua karyawan yang berada disana terkejut melihat ekspresi pak Azwar yang seperti itu dan baru kali itu mereka mengetahui kalau ternyata pak Azwar bisa memperlihatkan ekspresi setulus itu. "Aku baik-baik saja paman!" Alisya tersenyum kecut. Karena ia yakin kalau pak Azwar tau bahwa ia lebih dari baik-baik saja. Karyawan yang berada begitu dekat dengan mereka terbingung akan apa yang sedang terjadi, kenapa Alisya memanggilnya paman? Jika hanya seorang ponakan, lalu kenapa dia tampak sangat khawatir dalam ketakutan. Siapakah sosok Alisya ini, mereka masih belum bisa menemukan titik terang mengenai siapa dia. "Tuan Ali, maafkan kami!!!" para pengawal Alisya menunduk penuh ketakutan karena datang terlambat dan hampir saja terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. "Tidak, terimakasih karena sudah datang diwaktu yang tepat! Jika tidak aku bisa melakukan hal yang lebih berbahaya lagi! " Alisya menenangkan mereka yang bergetar ketakutan. "Seperti menusuk mata kedua pengawal tadi dibanding mematahkan kedua tangannya?" pancing Karin yang dibalas sumpalan oleh Alisya. Semua karyawan langsung bergidik ngeri. Mereka tau betul siapa orang yang bernama Tuan Ali ini, tetapi mereka tak menyangka kalau sosok orang yang disebut sebagai tuan Ali adalah seorang perempuan. "Maafkan saya,, saya tidak tau kalau anda... " Sang Karyawan tergagap meminta maaf kepada Alisya. "Apa kau baik-baik saja? Bagaimana pipimu? " tanya Alisya khawatir karena bibirnya yang mengeluarkan darah segar. "Lumayan sakit, tapi saya baik-baik saja! Terimakasih banyak " ucapnya gugup. Ia takjub karena Alisya tak memperdulikan permintaan maafnya dan hanya memperhatikan dirinya yang terluka. "Jadi apa yang kalian lakukan disini? " pak Azwar melihat Alisya dan Karin bergantian. "Kami mencari gaun untuk sebuah acara ulang tahun!" seru Karin dengan semangat. "Kalau begitu kalian tidak perlu mencari lagi, kami sudah menyediakan semua kebutuhannya beserta hadiah yang akan diberikan. Mari ikut saya!" pak Azwar langsung menunjuk ke arah luar. "Kepekaan kalian melebihi seorang kekasih! " Alisya menggetarkan tubuhnya. Pak Azwar selalu mengetahui setiap detail apapun yang terjadi pada Alisya karena laporan dari para pengawalnya. "Kekasih yang tak di anggap!!! " senyum Karin menyinggung Alisya yang tak pernah ingin menganggap kakeknya namun sebenarnya ia masih memiliki rasa sayang dihatinya. Mereka kemudian mengikuti pak Azwar yang ternyata menyediakan sebuah mobil lamborghini dengan atap terbuka di mana terdapat seorang sopir yang siap mengantarkan mereka. "Silahkan, jika mobilnya terbuka seperti ini tentu tidak akan membuatmu mual bukan? " pak Azwar tersenyum melihat wajah Karin yang terkejut dan wajah Alisya yang bingung tak tau harus berkata apa. "Ini luar biasa paman!!!" teriak Karin senang. "Untuk kali ini aku menurutimu!" Alisya memandang tajam ke arah Karin. "Tentu!!!!" Karin tersenyum jahat sembari naik kedalam mobil setelah dibukakan pintu oleh pengawal Alisya. Alisya mengikuti Karin yang sudah tersenyum bahagia. Mereka dengan cepat tiba disuatu tempat yang diketahui oleh Alisya adalah salon dimana ibunya dulu biasa datang setiap kali dia membutuhkan perawatan mengenai kecantikan dirinya. "Kita beneran kesini???" Karin sudah tau banyak mengenai kehidupan Alisya tapi tetap saja ia tak pernah berhenti kagum. "Aku sudah menunggumu Alisya, sudah lama aku menantikan hal ini. Tak ku sangka akhirnya kamu datang menemuiku setelah 3 tahun berlalu!" suara seorang wanita seksi dan cantik datang menghampiri mereka. Alisya memicingkan matanya karena tak begitu mengenali siapa orang yang sedang menghampirinya tersebut. Wanita itu tampak sangat cantik dengan kemeja putih dan rok kuning ketatnya yang membelah hingga kepaha putihnya yang mulus. "Quenby ku sayang,, kau berani melupakanku yah???" wanita itu mencubit hidung Alisya dan menggoyangkannya. "Tante Prily???" setengah kaget dan bingung Alisya menyebut namanya membuat Karin juga terlonjak tak percaya. "Itu beneran tante Prily?? Sahabat mama kamu yang seorang make up artis ternama itu???" Karin mengenali sosok cantik tersebut karena tak sengaja pernah bertemu dengannya beberapa kali sewaktu dulu sering bersama dengan ibu Alisya. "Bagus kalau kalian sudah ingat!!!! Aku masih pengen ngobrol banyak, tapi sepertinya kalian akan terlambat jika kita tidak mulai secepatnya. Aku sudah tidak sabar ingin melakukan sesuatu dengan kalian! " Prily menatap keduanya dengan penuh kegirangan dan langsung menarik keduanya tanpa memperdulikan pandangan heran dan takjub dari Karin dan Alisya. **** Adith memacu motornya dengan cepat membelah jalan jakarta yang selalu ramai akan kemacetan. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang yaitu Alisya. Begitu sampai dirumah Alisya, neneknya membukakan pintu dengan tatapan penuh kasih sayang. "Nek, Alisya ada???" tanya Adith seusai menyalami wanita tua yang tetap cantik itu. "Alisya tadi habis nelpon dia bilang dipaksa oleh Karin untuk menghadiri sebuah acara ulang tahun!" ucapnya dengan penuh kelembutan. Melihat tatapan Adith yang begitu dalam dan suaranya yang bergetar ketika menyebut nama Alisya, nenek Alisya akhirnya paham bahwa Adith sudah mengetahui siapa Alisya sebenarnya. "Adith,,, " nenek Alisya menggengam tangan Adith dengan lembut serta mengusap pelan punggung tangan Adith. "Aku yakin kalian akan bisa melalu ini semua dengan baik, seiring berjalannya waktu kalian pasti bisa lebih dewasa dalam menghadapi semua nya. Dan untuk Alisya, jangan terlalu memaksanya untuk mengingatmu dia mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama darimu tapi nenek berharap kamu mau sabar dan membantunya dengan perlahan-lahan" jelas neneknya lemah lembut. "Iya nek, nenek tenang saja! Aku akan berusaha sebaik mungkin. Aku pergi dulu yah! " Adith memeluk erat nenek Alisya. Nenek Alisya tersenyum malu karena yang tadinya ia berniat untuk menenangkan Adith malah ditenangkan kembali oleh Adith. Chapter 78 - Lagi PMS kali... "Siapa yang sangka kalau Riyan harus mengadakan pesta di hotel berbintang lima seperti ini?? " bisik Karin pelan melihat hotel mewah tempat Riyan mengadakan pesta ulang tahunnya. Hotel itu memiliki restoran mewah yang menyediakan berbagai jenis menu makan dan minuman yang mereka sediakan. Ragam makanannya sangat bervariasi, mulai dari Japanese , Thai, Indonesia, Chinese, Indian, Western, dan masih banyak lagi. Sushi dan Sashimi station di tempat ini juga tak kalah lezatnya. Bahan yang mereka gunakan fresh semua! Dessert dan Indian station juga terasa mantap dan autentik. Hotel ini menjadi pilihan utama para Elite dalam mengadakan pesta ulang tahunnya. "Karin, terimakasih karena sudah datang ke acara ulang tahunku!" Riyan datang menemui mereka. "Sama-sama, ini hadiah dari kami berdua!" sodor Karin menyerahkan kado yang tak terlihat besar itu. "Oh,, terimakasih! Kedatangan kalian sudah cukup sebenarnya, terlebih karena malam ini kalian begitu cantik! Semua tamu undanganku terpana sejak kedatangan kalian!" Riyan memuji Karin dan Alisya yang nampak begitu anggun sewaktu berjalan masuk. Alisya melirik kesegala arah dan menemukan banyak pasang mata yang sedang memperhatikan mereka tepat seperti apa yang dikatakan Riyan. Bagaimana tidak, Alisya dan Karin memakai gaun yang terlihat sederhana namun nampak mempesona dan sangat pas ditubuh mereka. Alisya memakai gaun berwarna merah maroon dengan sedikit ornamen berkilau yang menempel pada bagian kiri dadanya berbentuk bunga mawar yang indah dan gaunnya sopan menutupi seluruh tubuhnya dan tidak memperlihatkan bagian atas dadanya dan sedikit menegaskan kontur lehernya yang putih mulus dan seksi. Sedangkan Karin memakai Gaun berwarna Hitam yang meliui indah di tubuhnya terbentang jatuh kebawah Dilengkapi resleting belakang dan self-tie fastening, gaun berwarna hitam ini membentuj kerah berbentuk bulat, regular fit, lined, dan detail berupa slit. Sangat pas dipakai oleh Karin. Keduanya sangat sederhana dengan make up naturalnya namun siapapun yang melihat mampu membuat mereka meneteskan liurnya karena terlalu lama menatap. "Pandangan mereka seakan menelanjangiku!" Karin berbisik risih. "Baru kau rasa??? Bisakah kita pergi?" Alisya ingin meninggalkan pesta itu secaptnya. "Riyan,, apa yang kau lakukan disini?" Kanya datang menghampiri Riyan, jika gaun yang dikenakan Karin dan Alisya sederhana namun terlihat seksi dan mempesona, berbeda dengan gaun yang dipakai oleh Kanya. Terlihat sangat seksi dengan menampilkan belahan dada dan paha mulusnya. Kanya memang terlihat sangat cantik malam itu, tapi kehadiran Karin dan Alisya mampu mengalihkan perhatian mereka. Kanya cemburu dan cepat menghampiri Riyan. "Buat apa kamu kemari?"Riyan terdengar dingin dan tak menyukai kehadiran Kanya. "Tentu saja untuk bertemu denganmu dan memberimu hadiah!"Rayunya dengan melingkarkan lengannya kepada Riyan yang tampak risih. "Siapa mereka berdua?"Kanya menatap tajam Karin dan Alisya dari atas sampai bawah. "Bukan urusanmu!!!" Riyan menunjukkan ekspresi tak perdulinya. "Tumben nih setan jutek ama cewek, biasanya juga pecicilan! Padahal nih cewek lumayan seksi loh.. " bisik Karin kepada Alisya. "Lagi PMS kali!" Jawab Alisya pelan dengan senyuman nakal yang hanya terlihat oleh Karin. Karin dan Alisya tertawa dalam diam dan menarik nafas dalam agar tak terlihat mencolok. "Riyan,,,, Kanya kan calon tunangan kamu! Kamu harus memperlakukan dia dengan baik dong!" ibu Riyan datang menghampiri Riyan dan mengelus lembut bahu anaknya. Riyan tak menjawab dan hanya menghela nafas dengan berat. Fikiranya hanya tertuju kepada Karin yang malam ini terlihat sangat mempesona dan mendebarkan hatinya. Bagi sebagian orang Kanya memang tak kalah dari Karin, tapi tetap saja Riyan merasa sangat tertarik kepada Karin sejak tabrakan tak sengaja yang terjadi disekolah. Ibu Riyan melihat Karin dan Alisya dengan seksama. "Kau,,, kau anak yang di toko tadi??? Ngapain kalian kesini? Siapa yang mengizinkan orang rendahan seperti kalian masuk kedalam pesta anak saya?" Ibu Riyan bertanya dengan nada angkuh begitu mengenali wajah Alisya. Make up nya yang tidak begitu tebal tentu saja tidak akan merubah jauh wajahnya. Tapi wajah Alisya yang terlihat lebih cantik dengan sedikit polesan tipis mampu membuat ibu Riyan sedikit ragu. Alisya tersenyum kecut. Tak disangka Ibu Hanzel yang ditemuinya tadi adalah ibu Riyan. Make Up Kanya dan Ibunya yang terlihat sedikit tebal membuat Alisya tak berpikir bahwa mereka adalah dua orang wanita bar-bar yang ditemuinya tadi siang. "Riyan yang mengundang mereka Mom,, dia Alisya dan dia Karin teman sekolahku!" tunjuk Riyan sopan. "Kami hanya hadir untuk memberikan ucapan selamat tante!" Terang Karin sopan. "Kami cuma sebentar dan karena kami sudah bertemu Riyan, kami akan berpamitan sekarang!" tambah Alisya tetap menjaga sopan santunnya. "Oh,, tidak, tidak, acara belum dimulai. Jangan menyia-nyiakan gaun cantik yang sudah kalian kenakan! Kalian harus tetap berada disini sampai akhir acara" ibu Riyan menyela dengan cepat membuat Alisya dan Karin terbengong dengan perubahan ekspresi ibu Riyan yang sangat cepat. "Meski gaun yang kalian pakai hanyalah bekas pinjaman saja!" Kanya tertawa sinis. Alisya dan Karin mengerutkan kening bingung. "Aku tak percaya anakku sangat murah hati dengan mengundang orang rendahan datang kepestanya. Pakaian yang kalian kenakan tidak buruk, tapi tetap terlihat murahan! Ibu Riyan menekan dengan baik setiap kalimat yang dia ucapkan untuk mempermalukan Alisya dan Karin. "Mom,,, momy kenapa sih?" Riyan mencoba menghentikan ibunya. "Hahahahhaha. Kalian selalu saja berbuat heboh dimanapun kalian berada!" Karan muncul entah dari mana mengagetkan Karin dan Alisya. "Nak Karan, kau kenal dengan mereka?? Aku rasa kamu salah orang. " Ibu Riyan bertanya dengan sopan. "Tentu saja tidak tante, ini Karin, Karin Reynand! Adikku yang paling cantik!" Karan memeluk bahu adikknya akrab. "Kakak kenapa bisa ada disini?" Karin tak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya. "Jadi dia adikmu kak?" Kanya bertanya dengan wajah terkejut. "Yuppp!!! Dan dia adalah Aliysa, Ralisya Quenby Lesham! Tante tentu kenal nama belakangnya tadi, "Lesham"!" Ucap Karan menekan lama Alisya yang membuat Alisya menatap tajam Karan karena membawa nama ayahnya. "Tidak mungkin, bukankah anak Lesham adalah seorang laki-laki???" suara ibu Riyan sedikit ragu. "Itu yang di ketahui semua orang!" Karan menatap Alisya yang penuh emosi. "Ayolah sayang,, kau tau kenapa semua orang selalu salah paham denganmu??? Itu karena kamu selalu saja menampilkan kesederhanaan dalam semua kemewahan yang kau miliki" lanjutnya berpindah posisi ke sisi Alisya. "Huh,,, aku tak percaya jika dia anak Lesham!!!" ibu Riyan terdengar sangat angkuh. Saat semuanya terbingung dengan jati diri Alisya, Adith tiba-tiba saja menerobos masuk melewati Riyan dan Ibunya langsung menuju ke Alisya lalu menciumnya tepat dibibirnya. Chapter 79 - Sial!!! Alisya yang kaget dan shock menutup mata dengan erat. Iya ingat betul kalau orang yang menghampirinya adalah Adith. Nafas Adith menyapu wajahnya dengan hangat. Semua orang membelalakkan matanya hampir meloncat keluar tak percaya akan apa yang sedang mereka lihat. Alisya masih menutup rapat matanya, dia merasakan tangan Adith memegang kedua pipinya dengan lembut. Butuh beberapa menit sampai Alisya membuka matanya sadar bahwa ia tak merasakan apapun, ia hanya merasa kalau bibirnya tertutup oleh kedua jempol Adith yang berarti Adith tidak menciumnya. Tapi hanya mereka yang berada dekat dengan keduanya yang bisa melihat kejadian sesungguhnya. Sedangkan mereka yang berada jauh, melihat bahwa Adith sudah melayangkan sebuah ciuman hangat di bibir Alisya. Sebuah tindakan berani yang membuat banyak wanita meleleh dibuatnya. Adith perlahan-lahan menjatuhkan kepalanya di bahu Alisya. "Maafkan aku Alisya,,, maaf karena aku hampir tak bisa menahan diriku!!!" suara Adith terdengar lembut namun lemah. Alisya mundur selangkah merasa lemas dan jantungnya seakan meledak dalam dentuman yang sangat keras. Darahnya mengalir cepat membuat tubuhnya sangat panas. Adith jatuh terduduk di kaki Alisya karena Alisya yang mejauhkan tubuhnya. Karan mengepalkan kedua tangannya. Meski ia telah merelakan Alisya, tetap saja melihat Alisya wanita yang sangat dicintainya itu hampir tercium oleh Adith langsung membuat hatinya memanas. Karan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembunyikan perasaanya. Ibu Riyan menutup mulutnya dengan kedua tangannya tak percaya. Ia kenal betul dengan orang yang kini terduduk berjongkok dihadapan Alisya. Orang nomor 1 di Indonesia yang takkan mungkin merendahkan dirinya dihadapan seorang perempuan. Kecuali jika memang perempuan ini memiliki sebuah kekuasaan yang sangat besar sehingga mampu meluluhkan seorang Narendra. Kanya melotot dengan mulut terbuka sedang Riyan yang shock menjatuhkan Hadiah dari Karin dan Alisya ke lantai. Zein yang baru saja melirik ke arah merekapun membeku ditempatnya tanpa bisa mengartikan kejadian didepan matanya. "Adith, kamu kenapa?" Alisya khawatir dengan prilaku Adith yang sedikit aneh. Adith menyapu kasar wajahnya untuk menyadarkan diri lalu berdiri dan menggenggam erat tangan Alisya dengan kuat menariknya keluar dari tempat itu. "A,,, Adith,, Adith kamu kenapa sih?" berontaknya namun tak bisa menghentikan langkah Adith karena sendal heelsnya. "Hei, bagaimana dengan diriku?" Karin berteriak panik. "Kau pulang bersamaku!"tarik Karan berusaha tersenyum pahit. "Sial!!!" Maki Zein pada dirinya sendiri karena kalah dari Adith. Sejak presentase terakhir kali ia sudah tertarik kepada Alisya dan ketika malam ini ia melihat Alisya lagi, pesona Alisya mampu meruntuhkan benteng dingin dihatinya dan sekali lagi perasaanya kepada Alisya semakin besar. Beberapa orang yang melihat Adith menggenggam tangan Alisya dengan cepat memotret kejadian tersebut dengan heboh. Mereka seketika bersorak ramai mengakui kejantanan Adith saat menggenggam tangan Alisya dan menariknya lembut. Beberapa wanita merasa iri terhadap Alisya. Kanya melihat hadiah yang jatuh dilantai yang mana hadiah itu adalah hadiah pemberian dari Karin dan Alisya. Karena penasaran ia membukanya dengan cepat dan kaget begitu melihat isi didalamnya. "Apa benar ini hadiah dari wanita tadi??? Maksud aku dari Alisya? " tanya Kanya kepada Riyan dengan wajah terkejut. "Ya benar, kenapa?" ucap Riyan bingung. "Ini adalah jam tangan keluaran terbaru dari merek ternama. Karena itu harganya sangat mahal dan masih dalam tahap promosi, butuh lebih dari sekedar mampu untuk bisa mendapatkannya sebelum barang ini di luncurkan ke pasaran" jelas Kanya takjub tak percaya. Ibu Riyan mengambil jam tersebut dari tangan Kanya dengan kasar untuk memastikannya. "Bukankah ini jam tangan dari Jacob dan Co??? Merek Jam tangan yang hanya akan di miliki oleh segelintir miliuner saja? Jika dia benar anak Lesham bukankah ini sedikit berlebihan?" suara ibu Riyan bergetar karena takut. Kini ia semakin tak bisa mengendalikan dirinya dan rasa takutnya. "Yang seperti itu adalah hal biasa bagi Alisya!" Karin berucap dengan angkuh. "Itu karena dia adalah pewaris utama perusahaan Senayan City dan merupakan Cucu satu-satunya dari Takahasi Yamada" tambah Karan tersenyum licik. "Apa???? Pantas saja tadi siang dia..." Ibu Riyan dan Kanya bergetar hebat mengingat apa yang sudah mereka lakukan. Dimana mereka cukup beruntung karena pak Azwar hanya memberikkan mereka peringatan terakhir. "Lalu jika benar seperti itu, kenapa dia menyembunyikan dirinya?" tanya Riyan penasaran. "Ada banyak hal yang sudah terjadi, tapi Alisya memang lebih memilih untuk hidup sederhana tanpa dibayang banyangi oleh nama ayah maupun kakeknya" Jelas Karin tegas. Mereka yang semua tak mengenali Alisya langsung memasang wajah serius sekaligus takjub. Terlalu banyak kejadian yang menghebohkan terjadi dihadapan mereka, terlebih mengenai kebenaran siapa Alisya sebenarnya. Kejadian malam itu dengan cepat menyebar keseluruh jejaring sosial yang ada dan meledakkan rasa penasaran seluruh Indonesia. Alisya yang diseret oleh Adith hanya bisa terdiam menunggu waktu yang tepat untuk bisa bertanya kepada Adith. Asliya sudah sangat penasaran mengenai sikapnya yang aneh dan wajahnya yang sangat serius. "Tunggu disini!!" Adith mendudukkan Alisya dikursi taman hotel. Dia kemudian melangkah ke dekat kolam Air mancur dan membasuh wajahnya dengan kasar untuk menyadarkan dirinya. Merasa jengah, Alisya bangkit dari kursinya mendekati Adith. "Kau baik-baik saja??" Alisya menyodorkan beberapa lembar tisu kepada Adith. Adith menoleh dengan cepat membuat cipratan air terlempar dari rambut dan dagunya. Alisya tertegun melihat pemandangan indah tersebut. Wajah tampan Adith yang basah karena air terlihat sangat berkilau karena pantulan sinar bulan yang membuatnya terlihat sangat seksi dan menawan. Alisya terbatuk pelan dan menggelengkan kepalanya. Susah payah ia menelan ludahnya yang entah kenapa mengering. "Terimakasih, aku baik-baik saja!" Adith tersenyum lembut memperlihatkan deretan giginya yang putih membuat Alisya sekali lagi terpesona. "Ummmm,, apa yang terjadi sebenarnya?? Kau,,, mengejutkan aku!" Alisya bertanya dengan canggung. "Kau terlihat sangat cantik dan seksi membuatku hampir tak bisa menahan diri!" kali ini senyum Adith terlihat nakal. "Dasar gila!!!" tendang Alisya tepat ke tulang kering Adith. "Ya,,, aku gila karena kamu!!" senyumnya lagi meringis kesakitan. Adith menyembunyikan perasaanya yang sesungguhnya. Tidak mungkin baginya untuk memberitahu Alisya yang sebenarnya. Bahwa karena beberapa alasan dan kenyataan yang ia dapatkan hari itu, Adith merasakan dadanya membuncah akan kerinduan yang amat teramat besar kepada Alisya. "Tau tidak kalau kau hampir membuatku jatuh pingsan karena kelakuanmu tadi?" Alisya marah dalam keadaan merona. "Kau marah apa kecewa karena tidak jadi ku cium???" goda Adith nakal. "Kau mau ku bun... " Alisya tak melanjutkan kalimatnya karena Adith sudah menempelkan bibir lembutnya tepat ke kening Alisya dan mengecupnya hangat. Chapter 80 - Mesuneko Sejati Setelah mencium kening Alisya hangat ia kemudian menatapnya lembut. "Akan ada waktu yang tepat untuk itu! Tapi jika kamu memaksa akan aku lakukan sekarang." ucap Adith dengan suara yang dibuat buat. Alisya yang jengkel dengan sikap Adith dengan segera melayangkan tendangan yang dihindari oleh adith. "Kemari kau!!!" bentaknya mengejar Adith yang melarikan diri. Alisya yang marah dan kesal mengejar Adith dengan susah payah dikarenakan Hellsnya yang tinggi dan gaunnya yang lumayan sempit membuat langkah kakinya seketika goyah dan dia kehilangan keseimbangannya. "Aahhhhh" Alisya terjatuh sambil menutup matanya. Adith yang melihat Alisya lunglai dengan cepat menghampiri Alisya dan menangkapnya. Adith menahan pinggang Alisya dan mencondongkan tubuhnya kebelakang untuk menjaga jarak dari tubuhnya ke tubuh Alisya. Sikap Adith yang sangat menghargai Alisya membuat Alisya tak bisa berbuat hal yang lebih dan tanpa disadari Alisya, perasaanya kepada Adith perlahan-lahan semakin kuat. "Ehemmmm, Kau cukup agresif juga yah. Modusmu menggemaskan" goda Adith menyadarkan Alisya. "Ini karena kamu!" Tinju Alisya mengenai tepat diperut Adith karena malu. Untunglah Adith sudah bersiap sehingga pukulan Alisya tidak memberi dampak yang terlalu besar diperutnya. Alisya melepas hells tingginya agar bisa lebih leluasa bergerak. Dan saat ia mengangkat wajahnya, Adith dengan lembut melingkarkan jacketnya ketubuh Alisya. "Aku akan berusaha lebih keras lagi agar bisa melindungimu dan ketika waktunya tiba, kau akan ku buat untuk mengingatku lagi! Karena kau sudah berjanji untuk menikah denganku!" Gumam Adith sembari membenarkan posisi jacketnya agar menutupi tubuh Alisya dengan baik. "Apa maksud dari yang kau katakan???" tanya Alisya bingung tak mengerti ucapan Adith. "Tidak ada. Disini dingin, ayo aku antar pulang!" Ucap Adith sambil menggenggam tangan Alisya dengan erat. Melihat gaun Alisya, Adith dengan lembut mengikat beberapa untaian gaunnya agar tak menghalanginya saat menaiki motor. Heels Alisya ia ambil dan masukkan kedalam bagasi lalu mengeluarkan sepasang sepatu boots wanita yang terbuat dari kaos mantel bulu yang tebal dan hangat. "Kau selalu penuh persiapan yah? Sudah berapa wanita kau perlakukan semanis ini?" pancing Alisya kaget melihat sepatu cantik dan mahal itu. Adith tidak menjawab dan langsung duduk mengambil kaki Alisya, membersihkannya kemudian memakaikan sepatu yang pas di kaki Alisya. "Baru kau, dan hanya kau untuk selamanya!" Belai Adith di pipi Alisya yang membuat jantung Alisya berdebar lagi tak menentu. ***** Alisya berjalan dengan kepala tertunduk lesu karena semalaman ia tak bisa tertidur terus memikirkan kalimat Adith dan perlakuan Adith yang terkesan manis kepadanya. "Kamu kenapa sayang?, Mata kamu menghitam seperti itu." nenek Alisya kaget melihat lingkaran hitam di mata Alisya yang terlihat lesu. "Nggak apa apa kok nek, aku hanya tidak bisa tidur semalam!" suara Alisya terdengar serak. "Bukannya selama ini kamu sudah bisa tidur dengan baik?" nenek Alisya yakin betul, Alisya dengan mudah tertidur dengan lelap semenjak keberadaan Adith yang sudah mendominasi dirinya. "Emang begitu? Sejak kapan Alisya bisa tidur dengan baik? Alisya selama ini masih tidak bisa tertidur dengan nyaman" tanya Alisya bingung "Semenjak Adith hadir dalam hidupmu, kehadirannya mampu menghilangkan kecemasanmu yang membuatmu dengan mudah tertidur!" jelas nenek Alisya yang selalu mengamati mereka selama ini. "Kayaknya nenek terlalu berlebihan.. " elaknya dengan wajah merona. Nenek Alisya hanya tersenyum melihat tingkah malu cucunya yang dengan cepat menghabiskan susu putih hangat yang sedikit mampu membakar lidah jika diteguk dalam satu kali helaan nafas, tapi Alisya tak merasakan itu karena fikiran dan hatinyalah yang lebih panas. "Alisya, semalam kamu bertemu dengan Adith? adakah yang Adith katakan padamu?" neneknya bertanya dengan ragu. Alisya batuk dan tak bisa mengendalikan ekspresinya. "Nenek kenapa sih? Nggak ada apa-apa kok, emang Adith mau bilang apa ke Alisya?" suara Alisya bergetar dan langsung mengipas ngipas wajahnya. Melihat ekspresi malu Alisya, neneknya yakin kalau Adith sepertinya belum memberitahukan yang sebenarnya kepada Alisya. Selama perjalanan kesekolah, Alisya hampir saja terlambat karena berjalan tanpa arah dan berputar-putar. Bukan karena ia tidak fokus melainkan hati dan perasaanya memberikannya emosi yang tidak stabil. Begitu masuk pintu gerbang sekolah, suasana dan tekanan yang dirasakan oleh Alisya begitu kuat dan berat. Alisya tak mengerti apa maksud dari tatapan dan bisikan semua orang yang seolah olah dirasanya menghujam keseluruh tubuhnya begitu pula saat ia menuju ke kelasnya. "Ehemmm. Morning princess, jadi gimana semalam?" Karin langsung menghalangi jalan masuk Alisya ke kelas "Istimewah!" tegas Alisya dengan suara yang dibuat semangat untuk membuat Karin kesal. Karin adalah tipe pembuat onar yang semakin berusaha menganggu jika Alisya nampak malu-malu atau menghindari masalah. Untuk itulah ia seolah sengaja membuat Karin jengkel dan cemburu. "Mesuneko sejati!" Karin ngedumel kessal. "Alisya, jadi itu beneran??" pandang Adora dengan wajah penasaran yang berbinar-binar. "Apanya yang beneran?" tanya Alisya malas dan melemparkan tubuhnya duduk di atas kursi. Ia merasa perjalanan yang di laluinya hari ini menuju ke sekolah bukanlah melewati jalan beraspal yang mulus, melainkan mendaki ke puncak gunung yang berbatu. Entah sejak kapan terakhir kali ia merasa sampai selelah itu. "Kamu udah jadian sama Adith?" serang Beni sedikit takut. "Jadian? Pacaran maksudnya?" Emi maju selangkah dengan semangat. "Jadi kalian udah pacaran, sejak kapan?" tambah febi Alisya terbatuk menghela nafas, pertanyaan yang mereka lontarkan bahkan mengalahkan kecepatan kilat di langit dan tanpa spasi membuat Alisya menatap tajam ke arah Karin. "Bukan aku!" Karin membuang wajahnya cuek membuat Alisya mendekap leher Karin dan memelintirnya dengan kuat. "Ohhok, ohokkk! Bukan aku wanita bar-bar!!" Karin berusaha melepaskan diri dari dekapan Alisya di lehernya dengan memukul-mukul tangannya. "Bukan Karin, tapi liat ini. Sepertinya saat Adith menciummu ada beberapa orang yang memotret dan menyebar luaskannya di media sosial" terang Rinto setelah yakin bahwa Alisya sudah melihat foto dirinya yang tampak di cium oleh Adith. Alisya melepaskan kaitan tangannya dileher Karin dan membeku dalam diam. Alisya kaget melihat gambar tersebut yang mana wajahnya tak terlihat sepenuhnya namun dengan mudah dikenali oleh teman-teman sekelasnya. "Tapi berita itu pada akhirnya sudah di hapus dan di hentikan, dan aku rasa itu adalah ulah Adith!" tambah Yogi. Setelah merasa bisa bernafas dengan mudah, Karin memperhatikan dengan lekat wajah Alisya. Karin bisa mengetahui ekspresi khawatir diwajah Alisya. Jika wajahnya sudah dengan mudah beredar di dunia maya, maka kemungkinan besar Black Falcon akan menemukan dirinya. Meski Alisya sudah berusaha untuk mengubah dirinya menjadi lebih feminim dengan rambut panjangnya yang selalu ia biarkan terurai indah. Chapter 81 - Rezeki Nomplok Alisya mengepalkan tangannya dengan kuat membuat kukunya tertanam dan merobek kecil telapak tangannya mengeluarkan darah yang cukup kental. "Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Bisik Karin dengan wajah serius. Alisya hanya terdiam tak tau apa yang harus ia katakan kepada Karin. Fikirannya kosong dan tak tau dari mana ia harus memikirkan tentang semua itu. Alisya menarik nafas dalam. Karin tau betul apa yang Alisya risaukan, Alisya selama ini terus berusaha menyembunyikan keberadaan dirinya untuk melindungi dirinya dan juga orang disekitarnya dari Black Falcon. Dan sekarang tanpa disadarinya, dia telah membuka jembatan untuk dapat ditemukan dengan mudah. Beritanya mungkin sudah dihapus Adith tapi Alisya belum yakin apa tujuan Adith melakukan hal tersebut. "Alisyaaaa...." teriak seseorang dari luar kelas yang mengarah ke jendela. Mendengar suara itu beberapa dari mereka langsung menghambur melihat kejendala. suara heboh mereka memekakkan telinga Alisya yang dengan cepat ia memegang kedua telinganya karena merasa sakit. Semua orang yang tadinya cuek begitu mendengar teriakan mereka dengan cepat mencari sumber suara diluar kelas dan serentak menuju ke jendela. "Kamu baik-baik saja Alisya?" Karin menghampiri Alisya yang memegang telinganya. "Kamu kenapa?" tanya yogi khawatir. "Aku juga tak tau, entah sejak kapan aku merasakan sakit pada telingaku saat mendengar suara! Jelas Alisya meringis kesakitan dan menekan telinganya dengan kuat. Wajah Karin seketika menggelap, ia takut kalau Karin akan mengalami trauma yang lebih besar lagi karena sebelumnya kondisi Alisya sudah membaik, dan jika Alisya mengalami hal yang lebih parah lagi maka akan berdampak buruk bagi nyawanya. Rasa takut Alisya lah yang dapat membuat kondisinya semakin memburuk. "Alisya,, itu bukannya Adith??" teriak Adora dengan mata membelalak ke arah jendela. "Adith? Mau apa dia disini? Bukannya bel masuk sudah berbunyi?" Rinto bingung menghampiri jendela melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Adora. "Alisyaaaahhh.... " teriak Adith sekali lagi dengan lebih keras menggunakan pengeras suara. Mendengar suara Adith, Perlahan-lahan Alisya mengatur nafasnya dengan tenang dan rasa sakitnya semakin menghilang. Alisya merasa suara Adith Bagai senandung instrumen yang menetralisir dengungan sakit ditelinganya. Semua siswa semakin heboh karena Adith berdiri dengan gagah menanti kedatangan Alisya. Alisya yang belum terlihat dijendela membuatnya sekali lagi mengangkat pengeras suaranya untuk memanggil Alisya namun beberapa saat kemudian ia muncul dengan tatapan bingung. Adith hanya terdiam menyaksikan wajah Alisya cukup lama membuat Alisya jengah tak mengerti apa maksud Adith memanggilnya. "Apa sih???" teriak Alisya kesal. "Aku merindukanmu,,, dan rasanya legah karena sudah melihat wajahmu!!!" teriaknya sambil berlari tak memperdulikan teriakan semua siswa yang mendengar kata-katanya. Seluruh kelas mendadak heboh dengan sikap manis Adith. Baru kali ini mereka bisa melihat langsung ekspresi Adith yang tersenyum bahagian dan tulus. Senyum yang bukan untuk mereka namun mampu melelehkan hati mereka. "Orang lain yang diberi vitamin, tapi aku gregetan dan panas dibuatnya!" seorang siswi dengan heboh menempel erat di jendela. "Uaahhhh... Rezeki nomplok! Terimakasih Alisya, berkatmu aku bisa melihat senyuman di wajah super mustahilnya!" celoteh yang lainnya dengan gerakan tubuh meleleh penuh syukur. Aurelia melihat Adith dengan tatapan sedih dan cemburu tepat di jendela kelas sebelah. "Apa mereka sudah berpacaran???" wina berbisik pelan kepada Aurelia. Wina yang sudah semakin dekat dengan Aurelia memberanikan diri bertanya karena tahu betul bahwa Aurelia masih mencintai Adith dari cara dia memandang Adith. Aurelia tak menjawab wina dan hanya pergi dengan mata yang memerah basah. Sementara dikelas sebelah, suara gemuruh antara iri sekaligus cemburu Terhadap Alisya. Alisya memegang kepalanya yang tak sakit dan memijitnya pelan. "Apa sebenarnya yang di inginkannya?" suara Alisya terdengar sedikit kesal. "Kalian sudah semakin transparan sekarang yah... " goda Karin mengalihkan perhatian Alisya mengenai kekhawatirannya dan ketakutannya mengenai Black Falcon. Karin mngerlink kepada Rinto untuk membantunya namun Rinto hanya terdiam di tempat tak bergerak dan terbengong melihat Karin yang berkedip padanya membuat jantungnya berdetak cepat dan darah mengalir cepat yang seketika tubuhnya memanas. Rinto yang hanya terdiam membuat Karin kembali melirik ke arah Yogi dan berbisik pelan. "Yogi..." kode Karin lagi, namun Yogi hanya tertawa melihat reaksi Rinto. "Apakabar semuanya??? Ada apa? Kenapa wajah kalian sumringah itu? Wajah kalian tampak horor satu persatu" ibu Arni masuk mengalihkan perhatian seluruh kelas. Alisya terduduk dengan lemas sedangkan yang lainnya hanya tersenyum-senyum menerima pertanyaan ibu Arni. "Sebulan lagi kalian akan melaksanakan ujian penaikan kelas 3, dan kali ini aturannya akan berbeda dengan tahun sebelumnya yang berdasarkan presentase kalian bersama partner!" Pengumuman ibu Arni membuat seisi kelas meronta penuh rasa khawatir dan takut. Ibu Arni tidak memperdulikan teriakan siswanya yang dengan kasar menarik rambutnya dan menyapu wajah mereka. "Kalian akan menghadapi tes pada bidang olah raga, kesenian dan praktikum! Untuk itu, saya datang memperingatkan kalian agar kalian bisa mempersiapkan diri dengan sebaik-baik mungkin" lanjut ibu Arni penuh semangat. "Tidak terasa kita sudah berada di penghujung perjalanan masa remaja yah???" Yogi mengangkat kakinya keatas meja berpose keren setelah ibu Arni keluar dari kelas. "Turunkan kakimu!!! Pelajaran selanjutnya akan dimulai" bentak Karin acuh tak acuh dengan kalimat Yogi. "Karin,,, kau terlalu cuek! Tidak kah kau berpikir bahwa masa SMA harusnya tidak kita lalui dengan terus belajar? Kau harus bisa menikmati masa ini dengan baik" sela Yogi dengan suara lirih. Alisya tersenyum mendengar kalimat Yogi. Ia berpikir bahwa selama ini ia tak begitu merasakan bagaimana kehidupan sekolah dan bagaimana rasanya sebuah persahabatan. Masuknya ia ke sekolah ini membuat banyak perubahan dalam hidupnya yang tidak ingin ia lewatkan dan sia-siakan begitu saja. "Tentu saja aku menikmati masa ini, tapi ingat dimasa ini kita tidak terfokus terhadap hal-hal kecil yang bisa nembuat kita melupakan tujuan awal dalam meniti pendidikan seperti geng-gengan, bolos, pacaran, buat contekan pas besok ujian, comblang sana sini, dan yang lain sebagainya! tapi dengan pendidikan, kau bisa memiliki senjata paling ampuh untuk mengubah dunia dan peluru peluru yang kau butuhkan adalah dengan belajar!" terang Karin mengingatkan. "Kau kaku sekali" cela Yogi mendengus berat. Karin menghela nafas mendengar perkataan Yogi. Chapter 82 - Kami Tidak Bertengkar "Maksud aku adalah waktu takkan bisa terulang kembali, penting bagi kita untuk bermain dan belajar diwaktu yang sama! bukankah akan sangat berharga waktu yang kita lalui jika segala macam hal kenakalan yang kita lakukan semasa sekolah tidak melunturkan semangat kita dalam meraih cita-cita? dimana kita bisa menjadi manusia yang lebih berarti dengan ilmu yang kita punya?" Karin masih dengan sopan mengingatkan teman-temannya untuk tidak hanya bersikap arogan namun bisa menjadi seorang yang meraih impian dengan tetap menyeimbangkan kedua hal yang selalu jadi kebiasaan disetiap orang semasa sekolah. Alisya tersenyum bangga mendengar kalimat yang dituturkan oleh Karin. Ia merasa kalau seiring berjalannya waktu, pola pikir mereka menjadi lebih dewasa dan terasa dalam menjalani hidup. terlebih ketika mereka akan menghadapi masa dimana mereka harus sudah berani memutuskan untuk memilih apa yang akan dilakukan oleh mereka demi masa depannya. "Bagi mereka yang tidak ingin merasakan pahitnya belajar, maka ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya!!" tambah Alisya menguatkan argumen Karin. Mereka semua terdiam menyesapi tiap kata yang telah diucapkan oleh Alisya dan Karin. "Akan ada saat dimana ketika kita semua akan pergi mengejar cita-cita atau cinta, namun sebaiknya kita bisa pergi dengan semua kenangan dan menjadi orang yang lebih berharga!" tambah Rinto. "Maka dari itu, Karin ingin agar kita bisa melewatkan masa ini tanpa ada rasa penyesalan!" lanjut Adora dengan semangat. "Jadi gimana kalau kita buat kelompok belajar sebelum masa ujian tiba? aku ingin selalu berada bersama kalian, seperti yang dikatakan oleh Karin dan Yogi. Dengan begitu kita bisa bercanda ria, bermain menciptakan kenangan tapi tidak melewatkan setiap pelajaran yang ada disekolah!" Emi semangat melemparkan pandangannya keseluruh kelas. "Benar, dengan begitu banyak hal yang bisa kita lakukan bersama! aku yakin teman-teman sekelas juga mengharapkan hal yang sama, terlebih karena sekolah kita adalah sekolah Elite se Indonesia yang mengharuskan tiap siswa adalah contoh teladan bagi siswa yang ada disekolah lain" Febi tak mau kalah. memikirkan hal itu saja sudah membuatnya merencanakan banyak hal. "Aku setuju, akan sangat membanggakan jika kita semua bisa kompak dalam segala bidang. Dan lihat, tidakkah kami yang mendapat nilai bagus lalu telah menjadi motivasi dan kecemburuan yang besar bagi mereka untuk bisa menjadi orang yang lebih baik?" tunjuk Beni yang melihat seluruh isi kelas sedang memperhatikan mereka yang sedang berdiskusi. "Aku sih tidak masalah, malah aku lebih termotivasi saat kita semua memiliki daya saing satu sama lain. Kenapa tidak?" tantang Karin melemparlan senyumnya kepada semua orang. Sejak pertama kali bertemu semua orang yang berada dikelas Mia 2 memang menaruh jarak dan tidak begitu peduli terhadap kehadiran Alisya dan Karin. SMA Cendekia Indonesia memang sangat mementingkan nilai pelajaran yang dimiliki oleh tiap siswa yang membuat mereka terkadang bagaikan robot yang hanya terus belajar dan tak menikmati masa-masa SMA mereka. Mereka hanya sibuk menjatuhkan satu sama lain atau bahkan menganggap bahwa nilai adalah segalanya. Namun begitu mendengar diskusi Karin dan Yogi mereka jadi sadar bahwa penting bagi mereka untuk belajar bukan untuk menjadi keren tetapi menjadi berharga. **** "Hai,,," Adith berbisik pelan kepada Alisya yang begitu serius mencari beberapa materi yang bisa ia jadikan referensi. "Apa yang kamu lakukan disini?" Alisya kaget melihat Adith yang berada diperpustakaan mereka. "Seorang elite yang memiliki hak akses dimanapun dia suka!" batin Alisya. "Tentu saja bertemu denganmu!" senyum Adith menaruh tangan didagunya memperhatikan wajah Alisya. "Oke stop!! aku lagi serius!!!" tegas Alisya. "Aku juga!" Sela Adith. "Bisakah kalian tenang?? Aku heran pada kalian berdua, kalau bukan bertengkar yah romantisan! konflik remaja alay" Karin datang melerai Alisya dan Karin. "Kami tidak bertengkar!" Alisya menaikkan volume suaranya. "Ya!! kami hanya berdebat!" seru Adith. Alisya dengan cepat menendang kaki Adith karena kesal. Alisya merasa aneh dengan sifat kekanakan Adith kepadanya yang anehnya selalu ia tunjukkan setiap kali mereka bersama. Sedang ketika berhadapan dengan orang lain, sikap Adith akan sangat jauh berbeda dengan tatapan mata yang tajam dan fokus. "Kalian berdua sama saja!!!" bentak Karin dengan senyuman licik. "Adith, bukankah kalian juga mendapatkan konsep yang sama dalam ujian kali ini? dan aku lihat para elite yang lain memiliki aura sangat kuat! sepertinya mereka sangat serius kali ini. Tapi kenapa kau begitu santai?" Rinto duduk tepat disebalah kiri Adith yang berhadapan dengan Alisya. "Aku sudah merencanakan semuanya sebelumnya, untuk itu persiapanku sudah selesai" Adith hanya membolak-balikkan buku yang dibaca oleh Alisya. "Dia tidak berada dilevel yang sama untuk mengkhawatirkan masalah ujian penaikan kelas!" Yogi membawa beberapa buku dan duduk disebelah kanan Adith. "Kamu membaca buku ini??? bukankah ini seharusnya materi yang ada pada tingkat S2?" Adith takjub begitu mengetahui bahwa buku yang dibaca oleh Alisya seharusnya merupakan referensi yang dipakai oleh para mahasiswa tingkat strata 2 dalam menyusun Tesisnya. "Benarkah??" Rinto tak percaya dan mengambil buku ditangan Adith. "Wow,,, Kalian berdua sama persis!" Yogi tertawa melihat persamaan ketertarikan Alisya dan Adith. "Maksud kamu? Adith juga mempelajari materi tingkat atas?" tanya Karin penasaran. "Benar, tapi ia lakukan saat dia masih duduk dikelas 1 SMP! rasa penasarannya terhadap ilmu pengetahuan sangat tinggi, bahkan dia membaca buku-buku yang biasanya tidak akan mudah dipahami oleh anak SMP seperti buku bisnis, hukum, maupun kedokteran" jelas Yogi tersenyum mengingat Adith yang begitu tekun belajar sampai tak memperdulikan lingkungan sekitarnya. "Pantas saja ia disebut sebagai Jenius dan di usianya yang masih muda dia sudah menjalankan perusahaan yang dipegang oleh Ayahnya!" Karin merasa Adith memiliki kharisma yang sangat kuat sejak pertama kali ia melihatnya. "Bukankah itu buku tentang Saraf???" tunjuk Adith melihat buku yang berada ditangan Alisya. "Benar, cita-cita Alisya adalah menjadi seorang dokter! dia mungkin tak sejenius kamu Dith, tapi Alisya juga seorang anak yang cerdas. karena beberapa hal yang terjadi dengannya Alisya tak sempat mengenyam bangkuk pendidikan sekolah menengah pertama, namun ia bisa lulus dengan nilai terbaik disetiap mata pelajaran sewaktu mengikuti tes ujian akhir. Semua guru dan kepala sekolah merasa takjub dengan apa yang ditorehkan oleh Alisya dan karena nya sekolah kami menjadi sangat populer!" terang Karin semangat. Ucapan Karin mengingatkan Adith terhadap penculikan Alisya yang membuatnya harus bertahan hidup selama 3 tahun dimasa dimana seharusnya anak-anak seumuran dia masih merasakan indahnya masa remaja dan masa sekolah. Chapter 83 - Rumus Helmotz "Wowww,,, Alisya kau hebat! tak ku sangka kau ternyata sangat cerdas!" puji Yogi yang membuat Alisya melirik tajam ke arah Karin. Rinto terbatuk canggung, ia ingin bertnya tapi ragu namun rasa penasarannya sangat tinggi membuatnya memberanikan diri untuk bertanya. "Lalu apa yang terjadi? kenapa Alisya tidak bersekolah sebelumnya? aku cukup penasaran! sedangkan yang aku ketahui Alisya adalah siswi yang sangat ditakuti sewaktu SMP karena kemampuannya dalam berkelahi. Bahkan saat pertama kali bertemu dia menghajarku habis-habisan!" "Apakah ini ada hubungannya dengan Black Falcon???" Adith memandang Alisya dengan sangat serius. Mendengar pertanyaan Adith, Alisya seketika menutup bukunya dan mengengganya dengan erat. "Black Falkon? apa itu?" tanya Yogi bingung. "Sepertinya aku pernah mendengarnya!" tambah Rinto. Karin terpaku dengan pertanyaan Adith. Ia langsung melirik ke arah Alisya dan merasakan aura Alisya yang berubah menjadi waspada. "Dari mana kau mendengarnya?" Alisya merasa tak pernah membahas hal ini bersama Adith. "Kau pernah mengatakannya sewaktu kau berbicara dengan ayah Miya!" tegas Adith. Alisya lupa kalau ternyata ia memang pernah mengatakan hal itu sewaktu memperkenalkan dirinya kepada Ayah Miya. Alisya tak menyangka kalau Adith akan memperdulikan apa yang dia katakan saat itu. Nama yang harusnya tidak dengan mudah ia ungkapkan, tapi mengetahui kemampuan Adith. Alisya yakin bahwa Adith pasti telah mengetahui informasi mengenai organisasi tersebut. **** Adith berjalan gontai dengan fikiran penuh mengenai Alisya. Adith merasa banyak hal yang masih harus ia selidiki mengenai Black Falcon ini, Adith takut jika suatu saat organisasi ini akan mengincar Alisya kembali. "Berhenti!!!" cegat Karin tepat sebelum ia melewati koridor yang sedikit sepi karena sebagian siswa sudah memasuki ruangan mereka. "Karin, ada apa?" tanya Adith bingung terhadap Karin yang berada di kompleks elit. "Apa yang akan kau lakulan sekarang?" Karin memandang Adith dengan tatapan tajam. Adith tidak menjawab dan hanya mengerutkan keningnya yang tebal dan hitam. "Aku yakin kau paham apa yang aku katakan. Dari cara mu memeluk Alisya malam itu dan hari ini, aku berkesimpulan bahwa kau sudah mengetahui siapa Alisya sebenarnya." Karin melipat kedua tangannya di depan Adith menantikan tanggapannya. "Jadi kau juga sudah mengetahui mengenai aku dan Alisya? pantas saja Karan menanyakan hal yang sama tepat seperti yang kau lakukan saat ini!" Adith tak menyangka kalau dua kakak beradik ini akan bereaksi se posesif ini terhadap Alisya. "Kamu tentu sudah mencari tahu lebih banyak mengenai apa yang sudah kau tanyakan kepada Alisya tadi, dan kau paham betapa besar resikonya yang harus dihadapi oleh Alisya begitupula dengan dirimu. Untuk itu aku kesini untuk memperingatkanmu Dith, Black Falcon adalah organisasi hitam yang saat ini sedang dalam tahap penyelidikan Ayah Alisya dan kau harus berhati-hati terhadap keduanya." Karin menepuk lembut pundak Adith dan berlalu pergi memberikan Adith kebebasan untuk berpikir dan menyesapi setiap kalimatnya. **** Alisya terus memikirkan pertanyaan Adith sehingga tak menyadari guru Fisika sudah memanggil namanya berkali-kali. Setengah menunduk Karin menguncangkan tubuh Alisya. "Alisya... Alisya,,, Alisya!!!" suara Karin semakin keras ketika Alisya masih larut dalam pikirannya. "Apa yang kau pikirkan??? kenapa kau tidak memperhatikan pelajaran saya?maju kedepan dan selesaikan soal ini!!!" guru Fisika marah dan memberikan Alisya soal turunan rumus yang cukup sulit untuk menghukumnya. "Maaf pak, saya kurang fokus tadi!" Alisya meminta maaf dan menurut maju kedepan kelas untuk menyelesaikan soal yang diberikan. "Pak guru tega sekali, kenapa memberikan soal sesulit itu?" bisik Adora kepada Febi yang berada disebelahnya. "Aku bahkan tak tahu rumus apa yang sedang dia gunakan!" Yogi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bukankah itu seharusnya materi untuk mahasiswa?" tanya Gina ragu. "Aku rasa iya, bahkan setelah membuka internet pun aku tak menemukan jawabannya!" lanjut Yana. Alisya hanya terdiam dan terus mengerjakannya dengan lancar. "Sudah pak!" Alisya meletakkan spidolnya dan berlalu duduk. Sang guru hanya melirik ke arah Alisya dan tersenyum meremehkan kemampuannya, mustahil baginya untuk menyelesaikan soal yang bahkan dirinya saja belum bisa menyelesaikannya. Sejak awal dia tidak yakin kalau Alisya takkan bisa menyelesaikan soal tersebut sehingga dia tidak memperhatikan Alisya dan hanya mengutak atik handphonenya. "Waaahhh.. yang kamu tulis cukup ringkas dan aku bisa mngerti kenapa bisa mendapat hasil seperti itu! Teriak Beni setelah melihat catatannya dan papan tulis. "Benar, aku tak menyangka kalau soal itu bisa semudah itu diselesaikan! bahkan aku bisa memahaminya dengan baik." tambah Emi tak kalah takjub. "Jangan bercanda kalian, mana mungkin dia bisa menyelesaikan soal yang aku saja tidak bisa!" pak guru Fisika mencoba bangkit dari kursinya untuk melihat jawaban Alisya. "Jawabannya 100 persen benar!" ucap Karin membenarkan jawaban Alisya. "Ya betul, sedari tadi kami berusaha mencari contoh soal yang sama dan tak disangka kalau soal yang digunakan adalah rumus Helmoltz yang sedang menggegerkan dunia baru-baru ini! Soal pemecahan rumus ini sedang dikerjakan oleh seorang mahasiswa Strata 3." terang Adora setelah lama berselancar didunia internet. Matanya memerah karena menahan diri untuk berkedip saking fokusnya ia mencari jawaban mengenai soal yang ada dipapan tulis. "Bagimana kau bisa menyelesaikan persaman ini dan mengetahui mengenai rumus Helmoltz?" tantang pak guru Fisika yang merasa harga dirinya sedikit terluka. Alisya berdiri kembali ditempat duduknya lalu menepian rambutnya degan lembut. "Saya menggunakan persamaan matematika karena persamaan matematika dalam bentuk diferensial mampu memecahkan rumus Helmholtz, hal itu adalah pengubahan persamaan yang menjadi persamaan linear aljabar biasa. Begitu dikerjakan dengan teliti kemudian tahap berikutnya adalah penyelesaian dengan metode direct atau iterasi." terang Alisya dengan yakin. "Tapi memang soal itu masih belum ditemukan jawabannya maka saya hanya bisa menyelesaikan sampai disitu saja!" tambah Alisya kembali duduk dikursinya. Semua orang tertegun mendengar penjelasan Alisya baru kali ini mereka bisa melihat sisi Alisya yang begitu keren dalam menyelesaikan sebuah soal dipapan tulis, selama ini ia selalu saja berusaha tak menarik perhatian sehingga para guru pun tidak terlalu memperhatikan dia ataupun menyuruhnya untuk menyelesaikan sebuah soal. "Aku tak menyangka kalau Alisya bisa secerdas ini!" Gina berdehem keras bertepuk tangan mengagumi sosok Alisya yang membuat seisi kelas bersorak riuh dengan tepuk tangan yang cukup keras. "Alisya keren..." teriak Yogi memecahkan tenggorokannya sehingga ia terbatuk-batuk dengan sangat hebat. "Aku pikir ada seseorang yang menginjak leher bebekku!!!" Teriak Rinto yang membuat semua orang tertawa melihat ekspresi menyedihkan Yogi yang meringis memegang lehernya. Chapter 84 - Cendekian Street Alisya pulang dengan ekspresi wajah datar yang membuat sahabat serta teman-temannya tak mengerti apa yang harus mereka lakukan pada Alisya. "Karin, apa yang sedang terjadi pada Alisya?" Rinto mendatangi Karin yang berpisah dengan Alisya di depan gerbang. "Aku juga tak yakin!" terang Karin melihat pundak Alisya yang telah menjauh. "Apa ini ada hubungannya dengan dirinya yang selama ini? dari sikap Alisya yang sangat berbeda dari anak SMA kebanyakan, serta bagaimana dia mendapatkan pengawalan super ketat dari ayah dan kakeknya membuatku berpikir bahwa Alisya memiliki rahasia yang lebih dari ini" Rinto sudah banyak melihat hal-hal yang terlalu berada diluar nalarnya jika itu berhubungan dengan Alisya, terlebih karena Alisya bukanlah orang sembarangan. Saat mereka masih bercerita, pak Bimo supir pribadi Karin datang menghampiri. "Aku sama mereka aja yah pak,,, mau ke rumah Alisya dulu!" Karin memunculkan wajahnya kejendela pintu mobil tepat disamping pak Bimo berada. Mendengar hal itu pak Bimo menurut saja dan segera berlalu pergi. "Ada apa???" tanya Yogi heran karena Karin malah membiarkan supirnya pergi tanpa Karin. "Ada beberapa hal yang harus aku bahas dengan kalian, karena kalian sudah terlanjur mengetahui banyak hal maka aku pikir dengan adanya kalian. Kalian bisa memberikan bantuan lebih meski dalam hal yang sederhana!" Karin berjalan mengikuti punggung Alisya yang masih tampak dari kejauhan diikuti oleh Rinto dan Yogi yang memilih menyimpan motor mereka digarasi sekolah. "Rinto, apa yang kamu katakan tadi sedikit berhubungan satu sama lain. Ingat apa yang Adith tanyakan mengenai Black Falcon?" Rinto mengikuti langkah Karin dengan mantap sambil terus mendengarkan Karin serius. "Ya, apa yang aku pikirkan mengenai Black Falcon sepertinya berbeda dengan apa yang Adith tanyakan kepada Alisya!" terang Rinto. Karin akhirnya menceritakan beberapa informasi yang bisa membuat Yogi dan Rinto mengerti mengenai situasi Alisya saat ini. Rinto dan Yogi menghentikan langkahnya tersentak tak percaya. "Untuk itu Alisya sangat khawatir kalau suatu saat nanti Black Falcon akan menemukan keberadaan Alisya dimana akan sangat berbahaya baginya terutama bagi orang disekitarnya!" Karin menghela nafas ringan sembari terus melihat ke arah Alisya yang sudah berbelok dan menghilang. "Dan kamu memberitahu informasi ini agar kami meningkatkan kewaspadaan kami bukan terhadap apa yang terjadi pada Alisya melainkan pada diri kami sendiri dan juga..." Rinto ragu namun segera di lanjutkan oleh Yogi. "Teman-teman sekelas yang kini Alisya anggap sangat berharga baginya! Iya kan???" Karin mengangguk membenarkan ucapan Yogi dan Rinto. Tepat saat mereka akan berbelok Adora dan yang lainnya langsung mengagetkan mereka. karena refleks Karin langsung menempelkan leher Adora dan melayangkan tendangan tepat di wajah Emi karena kaget. Beruntunglah Karin masih memiliki kendali atas tubuhnya sehingga keduanya tidak mendapatkan dampaknya. "Apa yang kalian lakukan???" Karin melonggarkan cekikannya di leher Adora dan menurunkan tendangannya yang menyisakan jarak 5 centi meter dari wajah Emi. Rinto dan Yogi kaget melihat gerak refleks Karin yang sangat lihai. Rinto dan Yogi akhirnya paham mengapa pribadi Karin dan Alisya tampak begitu mirip, itu karena demi Alisya. Karin juga sudah meningkatkan kemampuan dirinya jauh sebelum mereka saling berkenalan. "Tekhnik yang digunakan Karin bukanlah seperti apa yang biasa kita lakukan dengan hanya mengandalkan pukulan dan ketahanan!" Yogi mengepalkan tangannya melihat kelihaian Karin. "Selama ini kita hanya bermasalah dengan para preman yang tidak seberapa sedang yang dihadapi Karin dan Alisya memiliki kemampuan diatas bayangan kita!" Rinto tersenyum merendahkan dirinya sendiri. "Apa sih Karin,,, dari mana kamu bisa melakukan hal ini?" suara Adora serak karena lehernya yang sedikit merasakan sakit akibat cekikan Karin. "Karin memang seperti itu, dia paling tidak suka di kagetkan! jadi kalau kalian tidak ingin mati terbunuh sebaiknya jangan lakukan itu lagi" Alisya datang bersama dengan romobongan teman sekelasnya. "Aku bisa melihat celana dalamnya!" goda Emi meski tubuhnya bergetar karena takut untuk menghilangkan rasa malunya. "Kau mau kubunuh???" Karin yang merasa kesal membuat mereka semua tertawa terpingkal-pingkal karena ekspresi bodoh Emi yang sempat-sempatnya mengatakan hal itu dalam keadaan bergetar takut. "Ada apa?? kenapa kalian berkumpul disini semua?" Rinto kaget melihat seluruh isi kelas berada dibelakang Alisya saat ini. "Mereka mencegatku hanya untuk pergi ke tempat karaoke!" ucap Alisya tersenyum kecut tak bisa berbuat apa-apa. "haaahhhh????" Yogi mengerutkan keningnya bingung. "Seperti yang kamu bilang kan, kita harus membuat kenangan sebanyak yang bisa kita lakukan!" Beni melingkarkan tangannya di pundak Yogi yang memandang aneh. "Jika setiap hari kita hanya pulang begitu saja, bukannya takkan begitu menyenangkan?" tambah Febi. "Rasanya membosankan, dan aku juga ingin bersenang-senang dengan kalian diluar!" lanjut Gina dan Gani kompak. "Ketika kami melihat kalian bertiga jalan bersama, aku pikir kalian akan bersenang senang tanpa kami lagi." Yana melipat kedua tangannya meminta pertanggung jawaban. "Untungnya dia mengumpulkan kami semua sehingga begitu melihat Alisya kami dengan cepat berkumpul disekitarnya setelah menerima pesan grub dari Yana" jelas Dino tak kalah semangat dari yang lainnnya. "Jadi, dari pada langsung pulang kerumah masing-masing! Bagaimana kalau kita ke tempat karaoke atau nonton dibioskop dan makan-makan dulu???" ajak Fani dengan tatapan berbinar-binar. "Sepertinya akan sangat menyenangkan!" seru Yogi mengiyakan usulan teman-temannya. "Tapi kita masih berpakaian sekolah, tidak baik bagi kita berkeliaran dengan pakaian seperti ini" Rinto mengingatkan mereka semua. "Masalah itu tidak usah khawatir, serahkan saja pada kami!" Gani dan Gina berpandangan dengan penuh antusias. Karin dan Alisya berpandangan dan hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu teman-temannya yang begitu semangat dan antusias. "Nikmatilah waktu ini dengan baik!" bisik Karin kepada Alisya agar dia tidak terlalu merasa terbebani sehingga melewatkan banyak waktu berharga yang sedang ia jalani. "Kamu benar, kapan lagi!!!" senyum Alisya langsung meraih leher Karin dan memeluknya erat lalu melangkah cepat. Rinto dan Yogi tersenyum melihat perubahan ekspresi Alisya yang lebih tenang. Semuanya segera mengikuti Alisya dan Karin dengan penuh semangat. Mereka sampai didaerah pertokoan dimana butik ibu Gani dan Gina berada didaerah tersebut. Daerah itu adalah kompleks dimana Tempat belanja barang branded terpopuler di Cendekian Street. Di jalanan ini berjejer banyak sekali berbagai macam toko, kurang lebih ada sekitar 300-an toko yang ada disini. Tidak hanya barang-barang merk biasa saja, Cedekian Street ini juga ada berbagai toko yang menjual berbagai merk branded seperti misalnya selfridges dan juga merk lainnya. Cendekian street ini merupakan area perbelanjaan paling ramai yang ada di Jakarta. Chapter 85 - Sayang "Kalian serius kita masuk kesini???" mereka semua kaget melihat butik megah milik ibu Gina dan Gani yang penuh dengan banyak sekali pakaian-pakaian yang tampak mahal dan berkelas. "Jangan khawatir, ibu sudah tau kalau kita akan datang. Baju didaerah ini memiliki harga yang cukup terjangkau sehingga kalian tidak perlu merogoh kocek yang banyak. selain itu ibu juga bisa sekalian menjadikan kalian model butiknya dengan tidak secara langsung dapat mempromosikan mereknya!" Jelas Gani dan Gina bergantian. "Kalian bisa memilih apa saja yang ingin kalian gunakan, pakaian untuk Pria berada di bagian sebelah kanan sedangkan Wanita berada disebelah kiri" Ibu Gani dan Gina datang menghampiri dan langsung menunjukkan tempat kepada semuanya yang mendapat sambutan hangat dari mereka. "Terimakasih banyak tante, maaf sudah merepotkan!" Alisya menyalami dengan sopan. "Kamu Alisya kan, Gani dan Gina sudah banyak menceritakanmu! Gani dan Gina selalu bersemangat bercerita tentang mu dan mereka bilang kamu banyak membantu mereka sekarang!" Ibu Gani dan Gina tersenyum hangat mengelus rambut Alisya lembut. "Ah, tidak tante. mereka hanya melebih-lebihkan saja!" Alisya malu karena perlakuan hangat ibu Gani dan Gina. Ibu Gani dan Gina melihat Karin lalu memegang pipi Karin hangat membuat Karin merona. "Terimakasih juga kepada ketua kelas yang baik hati" Pujinya kepada Karin. Didampingi oleh Ibu sikembar dan dibanru oleh Gani dan Gina, mereka semua dengan cepat mengganti seragam mereka ke pakaian santai yang lebih nyaman sesuai selera masing-masing. Banyak waktu telah mereka habiskan dengan penuh canda tawa karena mereka mencoba satu persatu pakaian yang ada yang tampak seolah-olah sedang ada acara peragaan busana oleh model muda-mudi yang tak kalah heboh. Jumlah mereka yang sebanyak 20 orang lebih membuat butik ibu Gani dan Gina penuh dan tumpah ruah. Sontak saja mereka menjadi pusat perhatian semua orang sehingga Gani dan Gina mengajak beberapa dari mereka untuk langsung melakukan peragaan busana didepan butik ibunya. Para pengunjung tertarik dengan pertunjukan mereka karena Gani adalah pemuda yang tak kalah tampan dengan cara berpakaiannya yang sangat keren dan populer serta Gina yang tak kalah Cantiknya. Selain itu diantara mereka semua Karin dan Alisya lah yang paling menarik perhatian mereka. "Kamu yakin bisa berada diruang karaoke?" Karin mengkhawatirkan kesensitifan Alisya terhadap suara meski sebenarnya Alisya sudah memiliki kondisi yang lebih baik sejak ia memakai alat yang diberikan oleh Adith. "Tenang saja. jika memang aku tak bisa, aku bisa keluar!" tepuk Alisya di bahu Karin untuk menenangkannya. "Baiklah, aku juga ingin sekali-kali kau bisa merasakan hal yang dilakukan oleh anak-anak pada umumnya!" Goda Karin kepada Alisya yang terbilang retro karena selama ini ia selalu mengurung dan terkurung. "Oke, karena kau sudah bilang seperti itu maka kau harus menemaniku hari ini!" senyum Alisya licik membuat Karin bergidik ngery. "Waahhh... tempatnya luas dan mewah sekali, ini cukup untuk kita semua!" Teriak Adora memasuki ruang karaoke yang sangat luas dengan layar yang sangat besar dan kerlap kerlip khas tempat karaoke pada umumnya. "Saatnya memilih lagguuuuu..." Beni langsung menyerbu kearah layar monitor yang menampilkan ribuan menu lagu yang siap untuk diputarkan. Semuanya dengan semangat mengambil beberapa alat tambahan serta berbagai macam hiasan yang bisa mereka gunakan dalam memperindah suasana dan meningkatkan semangat. Beni dan Yogi dengan semangat berduet menyanyikan lagu dangdut "Gadis atau Janda" yang seharusnya dinyanyikan bersama perempuan membuat mereka tertawa heboh karena acting keduanya. "Aku keluar dulu ke kamar kecil" Teriak Alisya di telinga Karin. Karin yang khawatir dan ingin ikut dihalangi oleh Alisya. Alisya sebenarnya tidak berniat ke kamar mandi, tetapi karena ia sudah tidak sanggup bertahan mengendalikan rasa sakit yang menderanya selama berada didalam. Alat yang ia gunakan tidak cukup untuk meredam suara heboh dan keras yang mereka ciptakan terlebih karena ruang karaoke yang kedap suara meredam semua kebisingan itu didalam sana. Sungguh keajaiban yang dirasakan Alisya karena mampu bertahan setidaknya 30 menit. Alisya duduk tidak jauh dari kantin tempat karaoke tersebut sehingga membuatnya bisa menikmati secangkir kopi mocha yang hangat. Alisya duduk menghadap jendela dimana saat itu hujan menghantam dengan deras. "Alisya,,," seseorang berdiri disampingnya dengan pandangan heran. "Oh,, Zein.." Alisya berdiri begitu mengenali orang tersebut. "Hai Alisya,,, kau juga ada disini ternyata?" Riyan menyapa dengan ramah. Alisya hanya tersenyum canggung. "Kau sendiri???" tanya Rinto karena tidak melihat Karin atapun yang lainnya disekitar Alisya. "Ummm, tidak. Aku bersama Karin dan yang lainnya. Mereka ada di kamar no 5!" Alisya menunjuk ruangan yang berada paling ujung. "Benarkah? lalu apa yang kamu lakukan disini sendirian?" Zein sekali lagi memeriksa sekitar yang tampak tak seorang pun dikenalinya. "Aku hanya...." Alisya berhenti karena tubuhnya tiba-tiba saja sudah dibalut Jas tebal yang hangat. "Kamu sudah lama menunggu??? Maaf diluar hujan deras sekali!" Adith mengarahkan Alisya untuk duduk kembali. "Jadi kamu bersama Adith?" ucap Riyan bingung karena tak biasanya Adith akan berada ditempat seperti itu. "Kau kesini karena Alisya? seperti apa sebenarnya hubungan kalian?" pancing Zein karena tau betul bagaimana sifat Adith. Adith selalu saja menolak setiap kali mereka mengajaknya untuk berkumpul dan kali ini hanya karena Alisya, Adith menerobos hujan deras yang selama ini Zein tau betul kalau Adith tidak begitu menyukai air hujan dimalam hari. "Seperti apa itu tidak ada hubungannya denganmu!" tatap Adith tajam. Alisya hanya tersenyum melihat wajah posesif Adith yang tampak sedang menahan emosi karena cemburu. "Oke,,, oke,, aku paham! tapi jika kalian tidak memiliki hubungan apapun, itu artinya aku memiliki kesempatan!" Senyum Zein sembari berlalu pergi. Adith mengepalkan tangannya karena kesal. "Sepertinya ada yang cemburu!!" goda Alisya sambil membenarkan posisi jas dengan nyaman. "Dan sepertinya kau menikmatinya!" Adith memajukan wajahnya dan tersenyum manis. Alisya langsung merona kaget melihat perubahan ekspresi Adith yang sangat drastis. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Alisya mengalihkan pembicaraan. "Sayang,,, kau tega sekali bersenang-senang tanpa diriku!" Adith menyentuh kedua pipi Alisya membuat wajah Alisya membengkak menggemaskan. "Apa sih, hentikan panggilanmu itu!" tepis Alisya menjauhkan tangan Adith. Alisya sedikit merasa risih dengan sikap Adith yang ambigu. "Sikapmu ini yang membuatku semakin menginginkanmu!" Adith membelai lembut rambut Alisya dan mengalungkannya di telinganya. Alisya menjadi panas dingin dibuatnya. Saat ia ingin menepis tangan Adith karena malu, tangan Adith sudah terlebih dahulu mengeluarkan Alat ditelinganya dan memasukkan alat yang baru. Alisya mengerutkan keningnya bingung. Chapter 86 - Aku Menyukai Alisya "Apa ini???" Alisya menepuk alat itu pelan. "Ungkapan perasaanku padamu!" Alisya mengeram dan inging membuang alat itu. Adith dengan cepat menghentikan tangan Alisya dan tertawa kecil. "Pakailah, alat itu dapat kamu gunakan dengan sangat baik terutama diruang karaoke yang memiliki pengeras suara yang sangat besar!" ucap Adith tersenyum nakal. "Kau mengembangkan alat mu lagi? hebat!!!" puji Alisya tulus. Reaksi polos Alisya membuat Adith tertawa puas. Adith langsung menarik tangan Alisya masuk kedalam ruangan dimana Alisya tidak merasa risih lagi dengan suara bising itu. Kedatangan Adith sejenak membuat semuanya sedikit canggung namun karena Yogi dan Karin suasana jadi lebih cair. "Hebattt!!! tak ku sangka kau benar-benar mau datang kemari." Yogi setengah berteriak begitu melihat Adith. "Aku sudah menyiapkan baju dan sepatu untukmu!" Rinto menyerahkan sebuah baju Kaos polos dan jacket tebal untuk diberikan kepada Adith yang masih menggunakan kemeja lengkap karena dari kantor. "Terimakasih!!!" senyum Adith mengambil tas belanjaan tersebut. "Hei... kalian tidak lapar? sudah hampir 3 jam kita berada disini!" Rinto mengingatkan waktu mereka yang tak terasa sudah lama berlalu. "Yang lain juga sudah pada pulang dari tadi!" Yogi melihat ruangan yang sudah sepi karena yana dan yang lainnya sudah kelelahan dan pulang satu persatu. "Sudah selama itu kalian berada disini???" tanya Adith takjub tak percaya. "Benar, karena terlalu banyak orang tadi akhirnya mereka tidak sadar waktu sudah berlalu. Berkatmu semua bisa bersenang-senang dengan nyaman!" Yogi mematikan volume yang semula dikecilkan oleh rinto tapi masih belum mendapat tanggapan dari teman-temannya karena terlalu asik. "Tidak seru, Alisya bahkan belum memilih satu lagupun dan menyanyikannya" Adora berbicara menggunakan mick yang masih menyala. "Ummm... aku jadi penonton saja!" Alisya masih belum terbiasa dengan kehebohan mereka. "Ayolah Alisya,,, kita kan baru kali ini kumpul bersama!!!" bujuk Feby manja. "Aku rasa satu lagu tidak akan membutmu pingsan!" tambah Karin. Baru saja Alisya ingin menjawab, perutnya sudah berbunyi dengan keras karena lapar. Sedari tadi mereka hanya memesan makanan ringan yang tidak membuat Alisya kenyang. Suara perut Alisya yang terdengar cukup keras memecah kesunyian ruangan karena menanti jawaban Alisya. Adith tersenyum puas dimana yang lainnya juga ikut tertawa karenanya. "Sepertinya perut Alisya lebih utama!!!" Adith bangkit dari tempat duduknya. "Benar,, sebaiknya sekarang kita keluar cari makan dulu!" ajak Karin setelah menarik nafas dengan tenang karena perutnya juga ikut keroncongan. "Apa bunyi perut bagi perempuan sekarang adalah sebuah kode biar para laki-laki bisa peka???" Cela Yogi mendengar suara perut Karin. Karin yang malu dengan cepat memukul bahu Yogi cukup kuat membuatnya meringis kesakitan sedang yang lainnya tertawa pelan. Mereka kemudian keluar dari tempat karaoke tersebut menuju lobi namun tertahan karena hujan masih cukup deras turun sehingga mereka menunggu hujan reda di lobi sembari menunggu Adith yang masih berganti pakaian agar lebih nyaman. "Maaf aku tidak sengaja!!" Alisya kaget seseorang menabraknya dan menumpahkan satu gelas jus ke pakaiannya. "Aduh mas, lain kali hati-hati dong!" Karin mengingatkan sambil membantu Alisya membersihkan tumpahan Jus di bajunya. "Kau tidak apa-apa Alisya??" Rinto menghampiri Karin dan Alisya yang duduk tak jauh dari mereka. "Aku tidak apa-apa! Syukurlah Jas Adith tidak terkena cipratannya!" Alisya langsung melepaskan jas Adith dari tubuhnya agar tidak terkena kotoran jus yang tumpah. "Biar aku bantu bersihkan!" orang itu langsung setengah jongkok mencoba untuk membersihkan baju Alisya. Rinto dengan cepat menepis tangan orang tersebut. Alisya tersenyum jika Rinto tidak menghentikan tangan orang itu, bisa saja ia mematahkan tangan pria tersebut. "Jangan berani menyentuhnya, pergilah dari sini biar kami yang mengurusnya!" tatap Rinto tajam dengan menggenggam erat tangan si penabrak. Rinto marah melihat tampang bajingan pria tersebut yang seolah ingin melecehkan Alisya. "Hei,, santai bung. Aku hanya ingin membantu! Jika kau tak ingin di bantu mungkin ini cukup untuk membeli baju baru." Pria tersebut melempar uang puluhan lembar dengan arogan. Alisya tersenyum melihat tingkah pria bodoh itu. "Jika itu kurang, aku bisa memberimu lebih! Dengan kau tidur denganku." Matanya menggerayangi tubuh Alisya dan Karin dengan liar. Karin tertawa lebar mendengar ucapan pria itu. Sedang Rinto hampir saja melayangkan tinju ke arah orang itu namun dihentikan oleh Alisya. "Terimakasih, tapi aku tidak membutuhkan uangmu apa lagi dirimu!!!" Alisya balik memandang pria itu dengan senyuman licik yang sangat menghina harga diri si pria. Melihat Yogi, Beni serta Doni yang berjalan mendekat membuat sang pria tersenyum angkuh dan berlalu pergi melangkah dengan penuh percaya diri. Mengangkat kedua jarinya memberntuk huruf V dengan terus berjalan memperlihatkan punggungnya. "Apa sebenarnya yang di inginkan pria itu???" Yogi terlihat marah dan dengki melihat si pria arogan berjalan pergi. "Sungguh Arogan sekali!!!" Maki Emi jengkel. "Abaikan saja!!! Kita hanya akan terlihat bodoh jika mudah terpancing oleh pria mabuk sepertinya" Tegas Alisya acuh tak Acuh bangkit dari kursinya. "Mabuk??? aku tak mencium bau alkohol darinya!" Rinto ingat betul saat ia dengan pasti berhadapan muka dengan pria itu, ia tidak mencium bau alkohol dari mulutnya. "Bukan minuman, tapi narkoba!" terang Karin yakin melihat ekspresi dan bola mata dari pria itu sebelumnya. "Narkoba???" Beni tidak yakin apa yang dimaksudkan oleh Karin. "Benar, Narkoba jenis baru dimana orang yang menggunakannya tidak terlihat sedang mabuk atau sakau seperti jenis narkoba yang lainnya, tapi narkoba jenis itu memberikan efek halusinasi yang cukup tinggi dimana penggunanya akan dengan mudah merasakan gairah yang sangat tinggi dengan efek nge Fly yang rendah. Jenis ini yang sedang populer karena cukup aman digunakan sebab orang-orang pada umunnya takkan bisa mendeteksinya dengan mudah mengenai gejala-gejala pemakainya" Jelas Yogi ketika mengingat jenis narkoba itu sedang marak beredar saat ini. Karin mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Yogi. "Jika benar seperti itu, dari mana kalian bisa mengatakan bahwa pria sebelumnya tadi menggunakan narkoba?" Beni penasaran karena tidak begitu jelas melihat ciri-ciri yang dimaksudkan oleh Yogi. "Bola mata pria tadi terlihat memerah dengan lingkaran biru disekitar kelopak matanya serta sikapnya yang lebih terlihat agresif dibanding Arogan. itu tandanya dia mengkonsumsi narkoba jenis baru yang berjenis Fleks "Flying S*ks" yang bisa berakibat sangat fatal jika dikonsumsi berlebihan!" Karin menambahkan penjelasan yang diberikan oleh Yogi. Chapter 87 - Aku Menyukai Alisya "Selain itu, bisa terlihat dari telinga si pemakai akan berwarna sangat merah dan juga tampak bercak-bercak lebam di sekitar lehernya bukan hanya pada bola matanya saja. Rinto yang berada dihadapannya takkan bisa melihat dengan jelas karena lebih terfokus kepada wajah pria tadi" lanjut Yogi lagi karena posisinya yang berada disamping, sehingga dia dapat melihat dengan jelas telinga dan leher pria itu. "Aku tak menyangka kau bisa mengetahui hal tersebut" Puji Adora takjub dengan Analisis Yogi yang terlihat keren. "Selama ini ia selalu terlihat seperti seorang pelawak yang membuat kita lupa kalau Yogi adalah seorang pria yang cukup cerdas!" sanjung Emi dengan tersenyum malu-malu. "Si*l, kalian anggap apa aku??" Yogi kesal mendengar ucapan mereka yang terdengar seperti ejekan. Alisya kemudian pergi menuju toilet untuk membersihkan sisa-sisa kotoran Jus yang masih menempel di pakaiannya ditemani oleh Karin. **** "Adith,,," Zein menghentikan Adith yang baru keluar dari toilet. Adith memang melihat Zein yang sudah berdiri didepan pintu toilet namun memilih mengabaikannya. Tapi begitu Zein memanggilnya, ia kemudian menghentikan langkahnya tanpa menoleh dan tetap memperlihatkan punggungnya yang kokoh. "Apa kau menyukai Alisya???" mendengar nama Alisya keluar dari mulut Zein, Adith menoleh dan menatapnya tajam. "Buat apa kau menanyakan hal itu??? Soal perasaanku terhadap Alisya tidak ada hubungannya denganmu!!!" Tegas Adith panas. Adith merasa Zein sedang memancingnya. "Aku tau betul kalau kau tidak pernah memperlakukan wanita seperti itu, itu artinya kau memang menyukai Alisya!" Lanjut Zein memancing jawaban Adith. "Bukan Urusanmu!!!" bentak Adith melangkah pergi tidak perduli akan apa yang sedang Zein coba katakan. "Aku menyukai Alisya!!!" Teriak Zein melihat kenaifan Adith yang sedari dulu selalu tak pernah berani mengungkapkan dan menunjukkan perasaanya. "Apa maksudmu???" Adith mengepalkan tangannya dengan erat mencoba menahan diri. "Kau selalu saja naif Adith, sama seperti apa yang kau lakukan kepada Aurelia dulu. Kau tidak mengungkapkan perasaanmu dan malah menahannya tanpa ada alasan yang pasti. Dan kali ini sikapmu sama kepada Alisya!" Zein melangkah maju dengan pandangan mengejek. Adith yang marah karena ucapan Zein langsung melayangkan tinjunya dengan keras tepat ke wajah Zein. "Tau apa kau tentang aku!!!" Ucap Adith memegang kerah baju Zein dengan kasar. "Lepaskan!!! ada apa sih,,, kenapa kalian bertengkar disini??" Riyan datang melerai Adith dan Zein. Zein terbatuk keras begitu Adith melepaskan cengkramannya. "Kau tau, kau selalu saja takut mengakui perasaanmu sendiri dan bersikap layaknya pengecut dengan alasan terbayang-bayang oleh trauma masa lalu. Oleh karena itu Aurelia sengaja meninggalkanmu agar kau bisa memberanikan diri, tapi nyatanya kau malah membencinya sedang dia sangat mencintaimu!!!" Suara Zein serak namun terus berusaha berkata dengan suara lantang. "Itu semua tidak ada hubungannya denganmu!!" bentak Adith mengingatkan Zein agar dia tidak melangkah terlalu jauh. "Aku bisa merelakan Aurelia untukmu, tapi tidak untuk Alisya!!! dan sudah ku katakan padamu kalau aku menyukainya, tidak perduli apa yang akan kau lakukan!" Tegas Zein berlalu pergi meninggalkan Adith dan Riyan. "Adith,, Aku rasa Zein cukup serius dengan kata-katanya! Tapi kalian berdua dulu sahabat, aku tidak ingin kalian bertengkar hanya karena seorang perempuan. Dan benar apa yang Zein katakan, Kau harus lebih berani menyatakan sikapmu dan jangan melepaskan segala sesuatunya dengan mudah. Jika tidak kau akan menyesal kembali lagi nanti. Aku harap kita bisa kumpul seperti dulu lagi" Riyan menepuk pundak Adith untuk memberikan dukungannya dan berlalu pergi mengikuti arah Zein. Adith terdiam terpaku menyadari betul apa yang sedang terjadi. Karena frustasi ia menghempaskan kepalanya dengan kasar menggunakan kedua tangannya dengan gerakan yang tampak menggaruk kepalanya secara kasar dan meninju tembok dengan kuat. **** Alisya dan Karin keluar dari toilet setelah merasa cukup bersih meski masih sedikit lembab karena pengering toilet yang tidak bekerja dengan begitu baik. "Loh Adith belum datang?" Karin heran melihat Adith masih belum berada disana. "Belum, kami juga bingung kenapa dia berganti pakaian sampai selama itu!" jawab Adora berdiri melihat kedatangan Alisya dan Karin. Wajah Alisya merasa sedikit khawatir menyadarkan Rinto dan Yogi untuk pergi menemui Adith dan memastikan apa yang sedang dilakukannya sehingga memakan waktu lama hanya untuk berganti pakaian. "Ayo, kita bisa tunggu di luar!" Ajak Karin mengarahkan teman-temannya. "Oke, lagi pula mereka pasti takkan lama!" seru Feby semangat karena sudah tak sabar menahan rasa lapar. Begitu mereka sudah berada tepat di depan pintu, tangan seseorang menghentikan dan menutupi pintu dengan kasar. "Eitsss... mau kemana cantik??" pria yang sebelumnya menumpahkan Jus ke pakaian Alisya kini menghalangi pintu mereka keluar. "Oh jadi dia cewek yang kamu bicarakan tadi? Boleh juga!" seorang pria dengan postur tegap datang di dampingi oleh beberapa orang lainnya yang tampak kekar. "Iya Kak Bray, lihat teman-temannya. Tak kalah cantik juga kan???" tunjuk pria itu ke teman-teman Alisya. "Apa yang kalian inginkan?" Alisya dan Karin meningkatkan kewaspadaanya. "Bagaimana ini??? kenapa si brengsek itu kembali lagi sih?" Bisik Emi khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. "Jangan ganggu mereka!" Beni mencoba memberikan mereka ancaman. "Bresng***! lebih baik kamu diam jika masih ingin hidup." Beni langsung mendapat hantaman keras tepat di wajah dan perutnya. Beni meringkuk dan meringis menahan sakit diperutnya. "Beni,,, kamu tidak apa-apa??? Kamu baik-baik saja kan???" Teriak Adora dan menghampiri Beni yang terbatuk-batuk menggeleng pelan. Gani yang berusaha menyelamatkan Beni pun tak luput dari hantaman mereka. "Hummm... kamu boleh juga, tidak rugi Ikbal memaksaku untuk kemari" pria itu meremas bokong Adora dengan kasar membuat Adora marah dan refleks menaikkan tamparan namun di hentikannya dengan mudah. "Kurang ajar,,, berani sekali kamu!!!" Adora masih berontak. Tangannya di genggam dengan sangat kuat membuat dia merasa kesakitan. "Lepaskan dia!!!" Karin menghardik marah melihat kejadian itu. Fikiran Karin kalut mendapatkan kejadian tak terduga seperti itu. Jika disana hanya ada mereka berdua dengan Alisya, maka akan dengan sangat mudah Karin melumpuhkan mereka. Namun Karin berusaha menahan diri untuk melindungi teman-temannya yang kebanyakan adalah perempuan. "Saat kau menumpahkan minuman di bajuku dan menghinaku aku mungkin takkan marah, tapi aku takkan memaafkan orang yang sudah berani menyentuh dan menghina teman-temanku!!!" Alisya menggertakkan giginya dengan kuat. Karin dengan cepat mencoba menenangkan Alisya karena takut kalau Alisya mungkin dapat dengan mudah membunuh mereka. Karin berharap agar setidaknya Adith dan yang lainnya segera muncul secepatnya sebelum keadaan semakin parah. Chapter 88 - Asbak Keramik! "Alisya, ini tempat umum! jangan menarik perhatian lebih besar lagi. Lihat, bahkan pengaman dan juga para karyawan tempat ini sepertinya takut dengan mereka!" Alisya melihat kesekelilingnya dimana para karyawan menatap dengan rasa khawatir dan takut sedang satpam tempat itu hanya berdiri membeku. Alisya merasa kesal karena ditempat umum seperti ini para pengawalnya tidak akan mungkin menghampiri Alisya terlebih karena banyaknya teman-teman Alisya di sekelilingnya. "Siapa pemilik tempat ini??? kenapa mereka membiarkan orang-orang brengsek seperti mereka masuk ke tempat ini?" Alisya semakin tak bisa menahan amarahnya. "hahahahahaha,,, memangnya apa yang bisa kau lakukan jika bertemu dengan pemiliknya hah???" Ucapnya memegang erat tangan Adora yang terus berusaha melepaskan diri. "Lepaskan dia!!!" Beni berontak memukul keras wajah Ikbal dengan keras yang kemudian Beni di ringkuk oleh anggota pria tersebut. "Beni.... akhhhh!!!" Rambut Adora sudah ditarik oleh Bray yang sebelumnya di sebut kakak oleh pria yang wajahnya lebam terkena tinju Beni. "Bukan saatnya kamu mengkhawatirkan orang lain!" ucapnya sambil menjambak rambut Adora dengan keras. Alisya yang marah dengan cepat menedang dada si pria dengan keras mematahkan 3 tulang rusuknya melepaskan genggaman eratnya di rambut Adora. Alisya menyelamatkan Adora dari genggaman si pria itu. Adora langsung lari menepi dan memeluk Emi karena ketakutan. "Alisya dibelakangmu!!!" teriak Emi ketakutan. Dan tiba-tiba saja pecahan beling sudah berhamburan melewati kepala Alisya. "Nice Karin! kemampuanmu sudah cukup meningkat ternyata." Alisya berbagi tepukan dengan Karin yang tersenyum keren setelah menendang botol yang akan mengenai kepala Alisya dan menghempaskan anggota si pria tersebut. "Kak, kakak baik-baik saja??" Pria yang menghentikan Alisya dengan cepat membantu pria itu berdiri. "Sia**n!!! kau harus membayarnya" Pria itu langsung mengeluarkan sebuah senjata pistol dan menodongkannya kepada Alisya. "Alisyaaa...." semua teman-temannya berteriak kaget melihat pria itu sudah mencoba menarik pelatuknya. Lalu kemudian suara tembakan dengan besar berbunyi memekakkan telinga bersamaan dengan Adith yang datang melompat ingin melindungi Alisya. Adith terpental jauh dan terkapar seketika saat tubuhnya membentur lantai dengan sangat keras. "Adiiithhhh..." Gina dan yang lainnya berteriak keras. Alisya melesat melompat dengan kaki langsung melingkar ditangan Bray dan mematahkannya lalu merebut pistol tersebut dan memasukkanya kemulut Bray di lanjutkan dengan sebuah tendangan keras menghantam telinga kanan Ikbal. Karin dengan sikap menambahkan pukulan beruntun di perut dan di lanjutkan dengan hantaman lututnya kekepala Ikbal membuatnya jatuh terkapar lalu menghantam seluruh anggota lainnya dibantu oleh Beni, Gani, Rinto dan Yogi tepat setelah Alisya memasukkan pistol tersebut dan mengambil ancang-ancang menarik pelatuknya. "Alisya, kendalikan dirimu!!!" Karin takut kalau Alisya akan menarik pelatuknya. Alisya hanya menoleh dan tersenyum. Melihat senyuman Alisya, Karin menghembuskan nafas lega. Karin yakin Alisya punya alasan dibalik tindakan beraninya itu, namun Adora dan yang lainnya takut melihat tindakan Alisya tapi tidak berani berkata apa-apa. "Jauhkan pistolmu dari bang Bray!" seorang pemuda yang cukup berwajah tampan namun garang balik menodongkan pistol ke kepala Alisya. "ck ck ck,," Alisya berdecak dingin tak bergeming meski sebuah pistol juga sekarang sudah berda dikepalaya. "umh, ummh,,mmhh" Bray berusaha menyelamatkan diri namun Alisya menekan pistol di mulutnya dengan kuat kearah dinding. "Aku takkan melakukan itu jika jadi kau!" Alisya menunjuk ke arah jantungnya yang terdapat cahaya berwarna merah. "Penembak jitu???" Kagetnya namun masih belum menurunkan pistolnya dari kepala Alisya. "Sudah ku bilang aku takkan memaafkan siapapun yang berani menyentuh teman-temanku!" tatap Alisya tajam mengacuhkan pistol yang masih berada dikepalanya. "Jangan bergerak!!!" ancam pemuda itu. "Kau harus membayar apa yang sudah kau lakukan!" Alisya mematahkan tangan kiri Bray membuatnya meringis kesakitan dan berteriak dalam diam. "Wanita Jal**g" Pemuda itu mencoba menarik pelatuknya, namun tepat sebelum suara tembakan menggelegar tanganya sudah bersimbah darah dan menjatuhkan senjata yang dipegangnya. "Bukankah sudah ku ingatkan? jika kau masih ingin hidup meringkuklah dulu disitu!" ancam Alisya dingin. Tatapan dan Aura yang dikeluarkan oleh Alisya bukan hanya membuat takut Bray dan pemuda itu, tetapi juga teman-teman Alisya yang lain. Tetapi setelah melihat ekspresi Karin yang datar mereka jadi bingung. "Bagaimana mungkin Karin bisa setenang itu melihat Alisya seperti itu?" suara Emi bergetar hebat dengan kejadian yang sedang dilihatnya itu. "Itu karena Karin percaya kepada Alisya!" tegas Rinto menenangkan mereka meski ia juga baru kali itu melihat tatapan menakutkan Alisya. Rinto yakin kalau Alisya sudah cukup sabar dalam menahan diri sejak tadi. "Alisya memang sempat hilang kendali setelah melihat Adith yang terkapar, tetapi begitu melihat tidak ada darah yang keluar dari tubuh Adith jadi dia masih bisa mengendalikan dirinya" tambah Yogi yang tak bisa memalingkah pandangan matanya dari Alisya. "Tepat saat Adith melompat untuk melindungi Alisya, Alisya dengan kuat menendang dada Adith. Dan beruntunglah tidak satupun dari kita yang mendapatkan tembakan itu" Jelas Karin setelah memeriksa kondisi Adith dengan baik. "Apa yang terjadi???" tanya Adora bingung. Jika tembakan itu tidak mengenai Adith, maka seharusnya akan mengenai salah satu dari mereka atau malah melesat menghantam apapun disekitar mereka. Karin menaikkan sebuah Asbak tebal yang terbuat dari Keramik. "Keramik??? Bagaimana mungkin keramik bisa menahan peluru?" ujar Gani tak menyangka sebuah keramik bisa menyelamatkan nyawa Adith dari peluru. "Keramik memiliki berat yang ringan namun memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan logam. Jika logam (dengan ketebalan tertentu) masih mengalami deformasi saat dikenai peluru (karena sifat elongasinya yang tinggi), keramik akan menghancurkan peluru. Kekerasannya yang cukup tinggi membuat peluru tidak mampu untuk menembusnya" Jelas Karin memperlihatkan bekas putaran peluru di asbak tersebut. "Lalu bagaimana bisa asbak itu bisa menyelamatkan Adith?" tanya Yogi masih tak mengerti. "Saat Alisya menendang dada Adith ia menempelkan Asbak itu tepat didadanya. Adith pingsan karena tendangan sekaligus tekanan yang dihasilkan oleh tembakan peluru tersebut!" saat mereka sedang berbicara, polisi akhirnya menyerbu masuk kedalam tempat karaoke tersebut dan menangkap Ikbal yang sedang terkapar berikut dengan anggotanya. "Jatuhkan senjatamu!!!" bentak seorang polisi kearah Alisya dengan menodongkan senjatanya. "Alisya,, cukup! kau sudah bisa melepaskannya" bujuk Karin kepada Alisya. Melihat polisi menangkap Ikbal dan komplotannya yang lain dan meringkus si pemuda yang berlumuran darah tersebut membuat Karin paham bahwa karyawan tempat itulah yang melaporkan kejadian tersebut kepada polisi. Chapter 89 - Negosiasi??? Alisya yang belum mengeluarkan senjata dari mulut Bray membuat Karin sedikit khawatir. Karin paham betul kalau Alisya masih terus berusaha mengendalikan dirinya, namun karena Adith yang tidak kunjung sadar membuat emosi Alisya semakin tidak stabil. "Alisya,,, Adith baik-baik saja! aku sudah memastikan kondisinya dengan baik. Dia tidak mengalami luka apapun!" bujuk Karin sekali lagi. "Pak, tolong keluarkan mereka yang berada di dalam tempat ini. Dengan begitu saya bisa lebih leluasa membujuknya dengan nyaman!" Pinta Karin kepada salah seorang Polisi yang mengawasi Alisya dengan ketat. "Alisya... tenanglah, kau bisa mendengarku???" Karin berusaha membujuk Alisya yang masih belum melepaskan tangannya dari senjata pistol milik Bray yang masih berada di mulutnya saat semua orang sudah keluar satu persatu. "Kau yakin bisa membujuknya?" tanya seorang polisi khawatir kalau Alisya akan berani melepaskan tembakannya. "Tolong beri kami waktu, keberadaan kalian bisa mengintimidasinya!" Karin meminta para polisi untuk menunggu mereka didepan pintu masuk agar bisa memudahkannya membujuk Alisya. Para polisi itu tidak yakin akan apa yang bisa dilakukan oleh Karin yang masih terlalu muda, namun ketika dia menunjukkan lisensi resminya dalam bidang militer yang di akui oleh negara kepada pemimpin mereka. Mereka akhirnya perlahan-lahan keluar namun masih tetap terus waspada. Ada sekitar 10 mobil polisi dan 1 mobil barak yang sudah berjaga diluar sana menunggu mereka keluar dengan cemas. "Apa yang terjadi? kenapa kalian bisa berada diluar sini?" seorang komandan muncul menerobos keramaian. "Kami sedang menunggu mereka bernegosiasi pak Jonatan!" hormat pemimpin sebelumnya sebelum menjelaskan situasinya. "Negosiasi?? apa kau tau kalau mereka masih pelajar? bagaimana bisa kau biarkan seorang pelajar bernegosiasi dengan senjata ditangannya???" Pak Jonatan membentak dengan keras tak percaya akan apa yang dilakukan oleh anggotanya. Tidak sabar, ia segera melangkahkan kaki masuk kedalam. "Maaf pak, sebaiknya jangan lakukan itu jika anda tak ingin ada yang menjadi korban!" Karan menghalangi jalan masuk pak Jonatan dengan sopan. "Karan, kau tau siapa yang ada didalam? dia adalah pemimpin preman paling berbahaya yang selama ini kami cari, dan seorang pelajar yang sedang memegang senjata!" tegas pak Jonatan dengan nada keras. Ia hanya tak ingin membuang-buang waktu dalam menangani hal tersebut secepatnya. "Zero Alpha!" Bisik Karan mendekati pak Jonatan dengan sopan dan tenang. "Apa maksudmu?" Pak Jonatan terkejut tak percaya. "Aku yakin anda pernah mendengarnya, dan pelajar yang sedang berada didalam memegang senjata adalah orang yang aku sebutkan tadi, Dia mungkin jauh lebih berbahaya dari apa yang bisa anda bayangkan tapi jangan khawatir adik saya Karin berada disana. untuk itulah kalian memerlukannya dalam bernegosiasi. Dan jangan khawatir, saya juga akan masuk kedalam membantunya! terang karan mencoba menenangkan pak Jonatan. "Kak Karan,,, tolong selamatkan mereka!!!" Adora dan yang lainnya datang menyerbu begitu mengenali Karan dari kejauhan. "Tentu saja jangan khawatir, apakah kalian baik-baik saja?" Karan memperhatikan mereka dengan pandangan khawatir. "Kami baik-baik saja, Beni dan Gani mengalami beberapa hantaman tadi! dan Adith..." Emi berusaha menjelaskan, Karan menepuk pundak mereka lembut. "Adith dan yang lainnya baik-baik saja! Aku sudah melihatn kondisinya. aku minta kalian tetap berada disamping Adith sekarang agar dia sadar ada yang bisa menjelaskan situasinya kepada dia." Pinta Karan cepat. "Aku dan Yogi akan segera kesana!" tegas Rinto meyakinkan Karan. "Kami akan melihat Beni dan Gani" ucap Adora melangkah pergi setelah mendapat anggukan dari Karan. "Baiklah, aku akan beri waktu 15 menit! Jika dalam waktu itu kalian tidak berhasil maka kami akan masuk melumpuhkannya!" Pak Jonatan mengingatkan Karan setelah lama berpikir. "Anda pasti tau betul bahwa itu tidak perlu. Jika itu terjadi, maka anda akan kehilangan seluruh pasukan Anda. Selain itu, keberadaanya bukanlah sesuatu yang bisa diungkapkan dan posisi anda akan berada dalam bahaya" Terang Karan tersenyum penuh keyakinan bahwa pak Jonatan tidak akan berani mengambil tindakan bodoh tersebut. Karan Akhirnya masuk kedalam dan menemukan Karin yang masih menjaga jarak dari Alisya dan terus membujuknya sedang Alisya terdiam mematung tak bergeming dengan senjata pistol yang menempel di mulut seorang pria yang terlihat berusia sekitar 30 an melekat rapat di dinding. "Kak Karan, aku perlu mendekati Alisya untuk menyuntiknya. Tanda merah di jam tangannya sudah menunjukkan angka 95%. Ini akan sangat berbahaya baginya!" Karin langsung bercucuran air mata saat melihat kakaknya datang. "Jangan gegabah, jika kau menyuntiknya dalam keadaan seperti itu maka akan jauh lebih berbahaya! Otaknya akan mengalami kematian permanen karena shock! tenanglah, aku akan coba membujuknya!" Karan menenangkan Karin yang hampir saja mengambil langkah yang sangat ceroboh. Karin mungkin bisa menyelamtkan Alisya namun tanpa disadarinya dapat membuat sahabatnya berada dalam bahaya karena tindakannya tersebut. "Alisya... kau bisa mendengarku? tolong jauhkan senjatamu dari mulutnya. Semua teman-temanmu baik-baik saja, kau sudah melindungi mereka dengan baik!" Bujuk Karan dengan sangat hati-hati. Karan bisa melihat kalau pria itu sudah terengah engah menahan sakit dikedua tangannya. "Alisya,,,," Karin bersuara serak karena Alisya masih tetap dengan posisinya. "Sssttt... tak apa, biar aku saja!" Karan menghentikan Karin dengan cepat. Baru kali ini ia melihat Karin tidak bisa membujuk Alisya dengan mudah. "Apa ini ada hubungannya dengan Adith??" Batin Karan memikirkan kemungkinan terbesar yang membebani Alisya. "Alisya Adith....." Alisya tergerak saat Karan menyebutkan nama Adith. "Aku tak bisa melindunginya kak, aku tak bisa melindungi siapapun! Aku tak bisa melindungi Ibu dan sekarang aku tak bisa melindungi Adith! Aku bahkan membiarkan teman-temanku disakiti dengan mudah dan aku hanya berdiam diri melihat semua itu! Suara Alisya berat dan dingin. Chapter 90 - Dengarkan Suaraku! "Tidak Alisya, kamu hanya menahan diri agar mereka tidak melihatmu berbuat lebih. Dan apa yang kamu lakukan itu sudah sangat benar, Adith juga tak mengalami luka sedikitpun! Dia hanya tak sadarkan diri karena tekanan peluru yang menekan dadanya sangat kuat akibat jarak tembak yang cukup dekat namun hal itu tak melukai organ vital Adith dan memberikannya dampak yang besar" Jelas Karan dengan nada lembut yang hangat mencoba menenangkan Alisya. Jam di tangannya berdecik menunjukkan angka 90%. "Tapi itu tidak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa aku tak bisa melindunginya!!!" Bentak Karin marah menendang Bray jatuh terduduk dengan senjata menempel kembali di kepalanya. Karan sadar betul kalau Alisya masih belum bisa mengendalikan diri sepenuhnya. "Alisya..." Adith menerobos masuk memegang dadanya yang terasa keram. "Quenby..." sekali lagi Adith mencoba memanggil Alisya dengan sebutan lain namun tatapan Alisya masih kosong dan penuh amarah. Karan dan Karin terdiam tak ingin mengganggu Adith yang sedang membujuk Alisya. Karin bahkan menutup mulutnya dengan sangat erat karena tangisnya yang masih belum berhenti. Melihat Adiknya menderita Karan dengan segera memeluk erat Adiknya dan menenangkannya. Alisya masih tidak bereaksi dengan senjata yang menempel erat ditangannya. Adith maju perlahan-lahan sambil bersenandungkan lagu "I Love You 3000". Lagu yang sering mereka nyanyikan bersama dulu sewaktu mereka kecil. Senandung Adith perlahan-lahan meresapi Alisya yang tampak melemahkan genggamannya pada pistol tersebut. Begitu melihat angka di tangan Alisya perlahan-lahan menurun, Adith memperbesar langkahnya menghampiri Alisya lalu dengan cepat memeluknya erat. Pelukan hangat Adith dan desahan nafas lembut Adith secara perlahan menyadarkan Alisya membuat Alisya menjatuhkan pistol tersebut dari tangannya. Adith dengan sigap menendang pistol tersebut kearah Karan. "Tidak apa, tutup matamu jika kau takut! Dengarkan suaraku!" ucap Adith menenagkan Alisya yang sudah jatuh kedalam pelukannya. "Adith,,, aku lapar!!!" suara Alisya sudah terdengar lebih jernih dari sebelumnya. Adith tertawa kecil mendengar ucapan Alisya. "Oke, kita keluar cari makan yukk!" Ajak Adith membantu Alisya berdiri. "Kami akan keluar melalui pintu samping karena di depan begitu banyak orang dan kamera!" Adith menatap Karan tegas. "Baiklah, aku akan menjelaskannya pada Jonatan!" terang Karan masih memeluk Karin erat. Karin mulai tenang begitu melihat Alisya telah perlahan sadarkan diri. Adith dan Karan akhirnya memutuskan untuk keluar dari pintu yang berbeda. Begitu melihat Karan yang keluar pak Jonatan langsung memerintahkan bawahannya untuk masuk dan mereka mengeluarkan Bray yang setengah sadar. "Apa yang sedang terjadi? kenapa hanya kalian berdua yang keluar dari sana?" Pak Jonathan bingung karena tak melihat orang lain yang keluar selain Karan dan Karin serta Bray. Sedang ia melihat Adith juga ikut menerobos masuk setelah sadarkan diri begitu pula dengan Zero Alpha yang telah disebutkan oleh Karan di Awal. Karan menjelaskan semuanya sedetail mungkin kepada pak Jonatan dan dia mengangguk paham lalu membubarkan seluruh kerumunan yang ada. "Aku tak bisa melakukan apapun untuk Alisya kak!" Suara Karin lirih kembali meneteskan air matanya. "Tidak Karin, kamu sudah melakukannya dengan baik!" Karan mendudukkan Karin untuk membuatnya tenang. "Tapi suaraku tidak mempengaruhinya sama sekali. kakak bisa lihat sendiri bagaimana Alisya tadi?" suara Karin mengeras seiring dengan penjelasannya. "Benarkah? aku malah melihat yang sebaliknya!" senyum Karan duduk disamping Karin dan merenggangkan tubuhnya. "Apa maksudmu???" Karin tak paham apa maksud dari perkataan Karan. "Sepertinya sebelum Alisya kehilangan kontrol atas dirinya, dia sudah mengosongkan peluru yang ada di pistol yang dipegangnya. Selain itu, karena suaramulah Alisya masih tetap bisa mempertahankan dirinya dilihat dari angka yang ada di jam tangannya yang tetap berada di angka 95% dibawah tekanan seperti tadi!" Jelas Karan sambil mengelus lembut rambut adiknya. Karin mengerutkan keningnya masih belum yakin arah pembicaraan Karan meski ia terkejut karena tak tahu kalau Alisya sempat mengosongkan peluru yang ada di pistol tersebut. Tapi Karin yakin kalau Karan takkan berbohong hanya untuk menenangkannya karena ia melihat Adith menendang pistol yang dipegang Alisya. Meski ia tidak memperhatika pistol itu dengan baik. "Kau taukan kalau Alisya sangat menyayangi dirimu begitu juga dengan orang yang berada disekitarnya. Ketika ia merasa tak mampu berbuat apa-apa Alisya berada dalam sebuah beban yang cukup berat terlebih saat orang yang dicintainya jatuh terkapar dihadapannya. Tertembaknya Adith membuat kondisi Alisya semakin parah karena hal itu telah mengingatkannya kepada ibunya! Tapi berkat kamu, berkat suara kamu, Alisya bisa bertahan sedikit lebih lama dengan kondisinya yang tak stabil tadi." Jelas Karan lebih lanjut. "Jadi maksud kakak, Alisya masih mendengarku?? maksud aku, dia masih menganggap kehadiran kehadiran aku?" suara Karin lirih menatap Karan dalam-dalam. "Iya sayang.... Aku yakin Alisya sangat mengkhawatirkanmu sekarang!" Jitak Karan ke dahi Karin yang putih mulus dan memberiannya sapu tangan menghapus air matanya. "Puuffffrrrrtttttt!!!!!" Karin mengambil sapu tangan Karan dan mengeluarkan lendir dihidungnya lalu bernafas legah. Chapter 91 - Jadi dont Worry! "Anjay,,, sapu tangan kesayanganku!!" Karan berteriak keras melihat tingkah Karin. "Kakak sayang sama sapu tangan apa sama aku sih??? ini doang juga!!!" Karin menyodorkan kembali saputangan Karan. "Yah sayang kamu lah..." senyum Karan membujuk Karin yang merajuk karena dibandingkan dengan sebuah sapu tangan. Sebenarnya Karan tidak mempermasalahkan lendir yang menempel di sapu tangan tersebut namun karena sapu tangan itu adalah pemberian dari Alisya sehingga itu sangat berharga baginya karena itulah satu-satunya pemberian dari Alisya kepadanya. "Karin, kau baik-baik saja???" Adora dan yang lainnya datang menghampiri dengan wajah yang sangat khawatir. "Aku baik-baik saja! kenapa kalian kembali kesini? aku pikir kalian sudah pergi kerumah sakit bersama Beni dan Gani" Karin kaget melihat mereka kumpul dihadapannya. "Kami baik-baik saja! tidak mengalami luka yang cukup parah" Beni dan Gani datang tak jauh dari mereka. "Meski begitu, kalian seharusnya masih mendapatkan pengobatan kan??" Karin terdengar ketus dan ngotot. "Aku rasa mereka sudah mendapatkan pengobatan makanya kesini" senyum Karan melihat mereka. "Mereka kesini juga untuk mendapatkan makanan!" Emi berkata dengan semangat. "Hahhh??? makan???" Karin mengerutkan keningnya heran. Rinto menunjukkan gambar Sarilaut yang dikirim oleh Adith yang berada di pinggir jalan yang tak jauh dari tempat mereka. "Kami sudah terlalu banyak mendapatkan wawancara dari pak polisi untuk itu kami sangat kelaparan dan Adith mengajak kami ketempat ini" seru Feby sudah tak sabar. "Ayo kita juga kesana, kita semua juga belum makan terlebih karena kejadian tadi!" ajak Beni cepat. "Benar, aku sudah sangat lapar nih! Gani dan Gina kompak. Wajah positif yang ditunjukkan oleh teman-temannya membuat Karin tersenyum penuh syukur. "Oke kita kesana, Alisya juga pasti sudah menunggu kalian disana!" Karan bangkit dari tempat duduknya dan merapikan pakainnya yang tidak kusut ataupun kotor. "Sebelum kita kesana, ada hal yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua!" Karin menarik nafas dalam. "Jangan memberitahu Alisya dan jangan menyinggung tentang apa yang baru saja terjadi. iya kan" ucap mereka hampir bersamaan dengan penuh semangat. "Dari mana kalian mengetahui itu?" tanya Karin takjub. "Rinto yang memberitahukan kepada kami" Tegas Gani. "Jangan khawatir, kami memang sangat berterimakasih kepada Alisya karena sudah menyelamatkan kami dan ingin mengucapkan hal itu kepada Alisya!" tambah Yana lembut. "Tapi kami juga tidak ingin Alisya malah tersakiti olehnya!" timpal Feby. "Oleh karena itu kami setuju untuk merahasiakannya!" seru Yogi. "Dan takkan menyinggung apapun dihadapan Alisya!" imbuh Beni. "Jadi dont Worry!!" senyum Gina cerah. Karin memeluk Adora dan Emi di ikuti Gani dan Feby yang juga ikut memeluk Karin. Karin bersykur karena diberikan teman-teman yang penuh perhatian dan kasih sayang seperti mereka. Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai dan takjub dengan semua hidangan yang tak kalah mewah begitu melihat berbagai jenis makan yang tersedia diatas meja. "Tempat ini tidak sesuai dengan bayanganku!" seru Adora yang berpikir bahwa Sarilaut yang mereka kira takkan semewah dan sebesar itu. "Karin!!!" Alisya menghampiri Karin secepat kilat membuat Karin takut jika Alisya mengingat apa yang baru saja terjadi. "Kamu kemana saja sih?? Aku sudah lapar dari tadi, Adith hampir menjualku jika kau terlambat beberapa menit karena hidangan ini terlalu banyak untukku!" celoteh Alisya setelah melepaskan pelukannya. Karin tertawa mendengar ucapan Alisya yang sedang mengadu kepadanya. "Aku malah mengkhawatirkan Adith yang akan jadi tulang belulang karena kamu lapar!" goda Karin mendorong bahu Alisya centil. "Apa kau bilang???" Alisya langsung mengunci leher Karin karena ucapannya. "Berthengkharlah Yebih Yama harna hami hudah hapar "Bertengkarlah lebih lama karena kami sudah lapar" Karan menyantap makanan dengan cepat membuat yang lainnya duduk dengan penuh semangat. "Hanjutkhan!!! (Lanjutkan)" tambah Adith yang sudah duduk persis seperti apa yang sedang dilakukan Karan. "Woyy,,, kalian tega sekali!!!" Alisya dan Karin marah hampir bersamaan. "Besok kita lanjut! sekarang perutlah yang utama!" seru Alisya langsung duduk makan. "Hoke!!! (Oke)" ucap Karin dengan mulut penuh. Mereka semua tertawa karena kecepatan tangan Karin saat meraih makanan diatas meja saat Alisya masih mencoba duduk. Mereka makan sambil sesekali bercanda dan bercerita dengan penuh heboh. "Kami balik dulu yah???" Gani dan Gina masuk setelah mobil jemputannya datang. Begitu pula dengan Adora dan yang lainnya. Di ikuti oleh Karin dan Karan. "Aku serahkan Alisya padamu! Lindungi dia" pesan Karan tepat sebelum ia masuk kedalam mobil. "Hati-hati dijalan" ucapnya tanpa membalas kalimat Karan. Adith hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Karan. "Adith,,, tolong temani Alisya dan jangan biarkan dia jalan sendirian yah???" teriak Karin dari dalam mobil. "Memangnya sejak kapan aku sendirian?" ketus Alisya. Alisya melambai melihat kepergian Semua teman-temannya dan tiba-tiba saja hujan turun dengan deras. Adith menarik tangan Alisya untuk menepi namun Alisya tak bergeming dan diam mematung ditempat. Hujan deras mengguyur keduanya yang masih berada di pinggir jalan. Chapter 92 - 7 Nyawa "Alisya,,, kau kenapa? kau bisa sakit jika berlama-lama terkena hujan!" Adith khawatir dengan kondisi Alisya yang belum membaik jika harus terkena hujan lagi. Suara Adith seketika membuat Alisya jatuh terduduk memeluk kedua lututnya dan menangis hebat. Adith kaget melihat tingkah Alisya seperti itu, ia tidak mengerti mengapa Alisya tiba-tiba saja menangis sekeras itu. Beruntulah saat itu sedang hujan deras sehingga suara tangisnya teredam oleh suara deru hujan. Jalanan yang mulai sepi membuat tak banyak orang yang melihat apa yang sedang dilakukan oleh Alisya. Adith memberikan waktu kepada Alisya untuk terus menangis. ia bingung tak tau harus bagaimana caranya menenangkan wanita yang sedang menangis hebat. Namun begitu dirasa Alisya sudah menangis sekitar 15 menit barulah Adith duduk dan mengguncangkan tubuh Alisya. "Alisya, kamu baik-baik saja? ke.. kenapa kamu menangis? apa yang membuatmu menangis??" Adith bertanya dengan penuh keraguan. Alisya menarik nafas dalam menatap Adith penuh kemarahan lalu berdiri dan pergi meninggalkan Adith. "Kamu kenapa sih Sya? kamu marah?" Adith terus mengejar Alisya ditengah derasnya hujan. Alisya tak menjawab dan malah memperlebar langkahnya kemudian berlalari. Melihat Alisya yang berlari Adith kemudian mengejarnya dengan sekuat tenaga karena lari Alisya yang sangat cepat. butuh usaha lebih bagi Adith untuk bisa mengejarnya. "Apa yang kamu lakukan??? kenapa kamu seperti ini?" Adith agak susah bernafas ditengah hujan deras yang menghalangi rongga hidungnya untuk mengambil nafas banyak. Alisya hanya menepis tangan Adith dan berlalu pergi. "Hentikan tingkah mu ini!!!! jelaskan padaku apa yang terjadi!!!" bentak Adith dengan suara keras menahan gerakan Alisya dengan membenturkan tubuh Alisya ketengah dinding dengan sangat kuat. "Kau yang harus menghentikan tingkahmu!!! suara Alisya tak kalah keras membentak Adith. Adith tetap tak melepaskan genggamannya dari Alisya takut ia akan melarikan diri lagi tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan terus menyapu air yang membasahi seluruh wajahnya berusaha untuk melihat perubahan ekspresi diwajah Alisya. "Kau pikir siapa dirimu??? pahlawan? super man? apa yang akan kau lakukan dengan melompat seperti orang bodoh? kau pikir kau memiliki 7 nyawa ditubuhmu? atau kau pikir kau akan terlihat sangat keren di mata semua orang saat kau menerjang seperti tadi?" Alisya berteriak sekuat tenaga mengeluarkan seluruh emosinya yang membuatnya mengalami kesulitan bernafas karena luapan yang sedari tadi ditahannya. "Jadi kau bisa mengingat semuanya? Karin memberitahuku bahwa kau akan melupakan segalanya saat kau sudah tersadar kembali karena tekanan besar yang selalu kau hadapi saat ini??" Adith tak percaya kalau ternyata Alisya bisa mengingat semua kejadian itu dengan baik. "Apakah itu yang penting sekarang???" tatap Alisya tajam yang dengan mudahnya ia melepaskan diri dari genggaman Adith dan menampar Adith dengan sangat keras. "Alisya aku..." Adith berusaha untuk menjelaskannya kepada Alisya. "Jangan pernah lakukan hal itu lagi. Aku bisa melindungi diriku sendiri!!!" mata Alisya kembali berderai Air mata mengingat wajah Adith yang terkapar tak berdaya dihadapannya. Tubuh Alisya bergetar hebat kembali mengingat kejadian tersebut yang juga mengingatkan dirinya akan kematian ibunya tepat didepan matanya. "Lalu apa yang harus aku lakukan??" bentak Adith menghentikan Alisya yang akan bergerak pergi. "Apa aku harus diam melihat kau mati tertembak? meski aku tau kau mungkin bisa melindungi dirimu sendiri, tapi tubuhku bergerak mengikuti kata hatiku sebelum alam bawah sadarku menyadari apa yang sudah aku lakukan. Aku tak ingin melihat orang lain terluka apa lagi terbunuh terlebih jika orang itu adalah kau Alisya!" Adith mendekat dan memeluk Alisya dengan melingkarkan tangannya di atas bahu Alisya. "Begitu pula aku Adith, aku tak ingin kehilangan siapapun. Aku tak ingin seseorang mati karena melindungiku lagi, aku tak ingin...." Alisya tak mampu melanjutkan kalimatnya. Pelukan hangat Adith membuat hatinya semakin sakit dan tak berdaya. Air matanya tumpah kembali lebih deras bagaikan hujan yang masih terus mengguyur. Sudah lama sejak terakhir kali Alisya menangis, saat kepergian ibunya yang meninggalkan dia untuk selamanya sedikitpun Alisya tak mengeluarkan Air matanya dan hanya menampungnya dalam amarah serta kebencian yang mendalam dan untuk pertama kalinya Alisya menangis sejadi-jadinya karena Adith. "Apa yang terjadi???" nenek Alisya kaget melihat Adith tengah menggendong Alisya di balik punggunya yang sedang tertidur. "Alisya tertidur karena terlalu banyak menangis! Jadi aku menggendongnya sampai kesini" Adith tetap tegap dihadapan nenek Alisya dengan suara lembut tak ingin membangunkannya. "Menangis???" nenek Alisya membelalak tak percaya. Ia takjub dengan semua perubahan besar yang dilakukan oleh Alisya semenjak kehadiran Adith dalam kehidupannya. "Emmmmm.. aku tak tau bagaimana menjelaskannya nek, aku..." Adith takut nenek Alisya akan marah baik kepadanya maupun kepada Alisya. "Masuklah dulu! baringkan Alisya ke atas ranjang dan keringkan tubuhmu! malam ini kau harus tetap berada disini untuk menjelaskannya" nenek Alisya sebenarnya sudah mengetahui apa yang sedang terjadi namun sengaja menahan Adith. Chapter 93 - Mode Killer On Adith membaringkan Alisya di tempat tidur kemudian keluar menunggu nenek Alisya mengganti pakaian Alisya dengan pakaian kering dan menghangatkan ruangan untuknya. "Masuklah dan mandilah air panas agar tubuhmu lebih hangat, setelah itu keringkan tubuhmu dan pakai baju yang sudah aku sediakan!" nenek Alisya langsung mengarahkan Adith masuk kedalam satu kamar kosong yang mana air di kamar mandi sudah ia panaskan serta di atas ranjang sudah tersedia pakaian untuk Adith. "Tapi aku masih harus menjelaskan semua tentang Alisya!" Adith berbicara setengah menggigil karena pakaiannya yang masih basah. "Itu tidak penting sekarang, kamu akan sakit jika masih berlama-lama dengan pakaianmu yang basah! jadi sekarang uruslah dirimu sediri terlebih dahulu" nenek Alisya mendorong Adith masuk kedalam kamar dan menutupnya dari luar. Pasrah dengan permintaan neneknya, Adith dengan segera berjalan masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan diri serta membungkus dirinya dengan handuk tebal yang hangat lalu kemudian berganti pakaian. "Sepertinya ini pakaian ayah Alisya, tak kusangka pakaian ini cukup pas dengan tubuhku!" Adith melihat dirinya dicermin memuji tubuh tegapnya lalu berbaring sebentar di kasur. Adith merasa lelah dengan segala hal yang sudah terjadi, tak disangka kalau Alisya bisa menghadapi berbagai macam situasi menegangkan yang mengancam nyawa seperti tadi. Baru kali itu ia berurusan dengan senjata namun Adith sudah merasakan ketakutan yang cukup hebat. Adith tak bisa membayangkan bagaimana Alisya bisa dengan santainya seolah tak terjadi apa-apa. "Bukannya Karin dan ayah Karin pernah berkata kalau Alisya akan melupakan semua hal yang terjadi ketika dia mendapatkan tekanan yang sangat besar. Tapi ketika melihat reaksi Alisya tadi, itu artinya dia sebenarnya mengingat semuanya tapi dia memilih untuk bersikap seolah-olah melupakannya untuk membuat orang lain melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan!" Adith bertengkar dengan pemikirannya sendiri sambil menatap langit-langit kamar yang memiliki penghangat ruangan tersebut. "Kau benar-benar sesuatu Alisya" Suaranya menghilang seiring dengan kesadarannya yang sudah mulai berlayar di alam mimpi. Adith akhirnya tertidur setelah semua pertengkaran dan konflik yang ada dalam kepalanya. *** Alisya bangun dengan kepala yang sedikit pening akibat hujan dan tangisan yang menjadi-jadi semalam. Dengan berat ia melangkah pergi menuju ke luar kamarnya mencari kotak P3K mengambil obat untuk sekedar meringankan rasa sakit dikepalanya. "Setengah 6 pagi, masih ada waktu. Aku tak perlu bergegas ke sekolah!" Alisya bersuara serak memijit-mijit kepalanya pelan. "Kamu sakit kepala???" Adith bertanya dengan suara ngos-ngosan mengagetkan Alisya. "Apa yang kau lakukan dirumahku???" susah payah Alisya menelan ludahnya. Alisya yang kaget langsung melemparkan gelas dari genggamannya kearah Adith. Beruntunglah Adith memiliki refleks yang cepat dan gelas yang Alisya pegang adalah gelas Aluminium. Mata Alisya terbelalak kaget melihat roti sobek Adith yang terpahat sempurna ditubuh Adith. Dadanya yang bidang berkilauan karena peluh membanjiri tubuhnya membuat Adith tampak sangat seksi dimata Alisya. "Baru bangun mode Killer sudah On saja, bisa hati-hati dikit nggak sih? kalau gelas kaca kan susah juga urusannya!" Adith berjalan mendekati Alisya yang menatap membeku. Alisya tak bergerak dari posisinya karena masih tak mempercayai apa yang sedang ia lihat dihadapannya. Perlahan tapi pasti Adith mendekati Alisya, semakin dekat sampai Alisya mulai bisa mencium aroma khas tubuh Adith yang berbau wangi. Adith sudah berada tepat dihadapan Alisya menyisakan jarak beberapa sentimeter dari tubuh Alisya. Alisya menutup matanya kuat-kuat bahkan menahan nafas lalu kemudian membuka matanya saat nafasnya sudah mulai habis. Karena menarik nafas tanpa persiapan, Alisya kehabisan nafas yang membuat wajahnya merah menyala. Alisya bingung karena tidak terjadi apapun dan hanya melihat Adith meneguk minumannya dengan cepat. "Sepertinya kau menginginkan hal lain, kau tidak malu dilihat sama nenek???" senyum nakal Adith dengan ekspresi licik membuat Alisya seketika merasa sangat malu dan langsung menaikkan tendangannya ke arah Adith. Adith dengan sigap menepis tendangan Alisya yang dilanjutkan dengan kepalan tinju kemudian tendangan lagi. Adith melompat tinggi melewati meja disebelah meraih Apel kemudian duduk manis sambil menggigit apel dengan senyuman licik. Alisya yang merasa kesal tak menyangka ia bisa dengan mudah dipermainkan oleh Adith, terlebih karena dirinya yang seorang Zero Alpha. Merasa harga dirinya terluka, Alisya menyerang Adith sekali lagi dengan serangan yang beruntun untuk memberikan pelajaran kepada Adith. "Masih pagi kalian sudah bersemangat, masa muda yang membuatku sangat iri. Apa yang kalian lakukan saat ini persis seperti waktu Aku dan kakekmu masih muda dulu!" neneknya bersandar didinding menangku tangannya memandang Alisya dan Adith dengan kedua tangan yang terpaku berikatan erat karena kemunculan neneknya. Adith dan Alisya menatap neneknya bingung dan tak percaya dengan tingkah neneknya yang tersenyum penuh semangat. "Jadi, sampai kapan kalian akan pegangan tangan terus??? hm? hm?" nenek Alisya menopang dagunya keatas meja dihadapan tangan Alisya dan Adith yang masih bergenggaman erat. "Ahhhh,, nenek apa-apa''an sih...." Alisya yang malu dengan refleks mendorong keras Adith sehingga ia terdorong keras dan jatuh tersimbah di atas kursi sofa. Chapter 94 - Olah Raga Gabungan "Jalanya kok cepat-cepat amat sih??? bisa santai dikit napah?" Adith mengejar langkah Alisya yang sangat cepat. "Kamu kenapa malah ikutin aku sih? aku nggak mau orang liat kesekolah bareng kamu!" tegas berbalik marah membuat langkah Adith terhenti. "Jangan berhenti mendadak, hal yang tidak diinginkan bisa terjadi" Adith berada pada posisi yang sangat dekat dengah tubuh Alisya. Alisya kaget tak ingat kapan terakhir kali ia berdiri disamping Adith, tubuh Adith terlihat lebih tegap dan tinggi sampai sekarang matanya tertancap lurus di leher Adith yang jenjang. Ia mundur beberapa langkah karena grogi dan jantungnya berdetak sangat cepat membuat tubuhnya seketika memanas. "Dari mana kamu mendapatkan baju seragam sekolahmu?" tanya Alisya mengalihkan pembicaraan. "Puffttt,, bukankah kau melihat pak Dimas datang memberikanku baju ini?" tawa Adith menggoda Alisya yang berusaha menenangkan diri. "Oh,,, ummm... iya aku lupa! lalu kenapa kamu tidak ikut bersama pak Dimas saja? bukankah akan lebih baik? dengan begitu kamu tak perlu capek-capek dan bisa sampai dengan cepat ke sekolah!" Alisya berbalik dan berjalan lagi tanpa menoleh kebelakang. "Karena kamu juga pasti tidak akan ikut naik ke mobil bersamaku! selain itu,, aku ingin jalan bersama denganmu seperti ini, ini cukup klasik dan romantis" ucap Adith mengejar langkah Alisya. "Kamu kenapa sih sejak pagi su...." ucapan Alisya terhenti karena bibir hangat Adith sudah mendarat hangat didahinya. "Sudah ku bilangkan jangan berhenti mendadak!" Adith melepaskan ciumannya dan tersenyum nakal. "Dasar mesum!!!" Alisya menendang keras tulang betis Adith dan berlari dengan wajah memerah malu meninggalkan Adith yang meringis kesakitan. Melihat Alisya yang berlari kencang, Adith hanya tersenyum simpul puas dan merasa menang dari Alisya sekali lagi. Tidak butuh lama untuk mereka sudah berada di depan gerbang sekolah. Setelah sidik jari mereka langsung menuju ke tempat apel sekolah yang membuat semua mata tertuju kepada mereka berdua. Alisya datang dengan Melihat Alisya yang sangat menawan datang bersamaan dengan pangeran berkharisma membuat mereka tak bisa mengalihkan pandangan mereka dari keduanya. "Wow... apa nih??? kenapa mereka datang bersamaan?" Bisik Adora ke telinga Emi dengan menutup mulutnya. "Apa menurutmu dia semalam tidak pulang?? maksud aku tidur dirumah Alisya!" terka Emi melakukan hal yang sama dilakukan oleh Adora. "Kau gila!!!" tampar Adora dipunggung Emi karena tebakan beresikonya. "Bagaimana mungkin dia tidur dirumah Alisya dan memakai pakaian seragam sekolah?" Ucap Febi menggetarkan mata Emi dan Adora yang tampak seperti ibu-ibu sosialiya yang sedang bergosip ria lalu bergetar karena ketahuan. "Adith memang tidur dirumah Alisya karena semalam hujan deras dan nenek Alisya menahan Adith pulang. Untuk seragamnya, pak Dimas membawakannya pagi tadi tapi Alisya sudah pasti akan menolak untuk naik mobil bersma Adith dan pak Dimas!" Karin menyusup ditengah mereka membuat ketiganya berteriak kaget. "Kenapa aku merasa ikutan ketahuan bergosip!!!" sungut Feby pada dirinya sendiri malu. Teriakan heboh mereka segera mendapat panggilan dari guru penerima apel sehingga mereka mendapatkan hukuman dengan membersihkan taman sekolah. Sedangkan Karin menghilang secepat kilat menuju kelas meninggalkan mereka. "Karin, kamu kok tega sih ninggalin kita disana?" Adora menerobos masuk melihat Karin yang sedang membereskan mejanya. "Bukannya memang hanya kalian yang kena hukum?" Alisya bertanya bingung dengan keluhan Adora. "Karin juga ikut ngegosipin kam..." mulut Adora secepat kilat dibekap oleh tangan halus Karin yang mungil. "Kamu mau dibunuh Alisya karena ketahuan ngegosip???" ancam Karin ketelinga Adora. Emi dan Feby yang melihat hanya bisa menertawakan tingkah keduanya. "Ke ruang ganti yuk, jam masuk sudah bunyi tuh..." ajak Feby mengalihkan pembicaraan. "Ruang ganti? kita ada pelajaran olah raga hari ini?" Alisya melemparkan pandangan bingung dengan wajah serius. "Loh, kamu lupa sama roster hari ini?" Emi memandang serius ke arah Alisya. "Buruan, kalian sudah ditunggu sama pak guru di lapangan!" Rinto mengingatkan dengan pakaian seragam yang sudah berganti dengan pakaian olah raga. "Iya, iya, ini juga sudah mau kesana!" ketus Adora masih kelelahan karena membersihkan taman sekolah yang cukup luas. "Tau sendiri kan pak guru olah raga tidak suka dengan mereka yang datang terlambat ke lapangannya. Jika tidak kalian akan kena hukuman lagi" Yogi mengingatkan dengan memunculkan kepalanya di jendela koridor agar mereka mempercepat langkahnya. "Aku masih disini gara-gara nungguin kalian nih!" terang Karin menebus kesalahan meninggalkan mereka saat kena hukuman. "Oh iya, hari ini kita akan ada pelajaran olah raga gabungan, Mia 1 dan Mia 2 akan olah raga bersama hari ini!" lanjut Rinto dengan tersenyum licik mengingatkan mereka. Beberapa dari mereka langsung berhamburan keluar menuju ke ruang ganti dan bergantian secepat kilat agar tak terlambat dan tidak mendapat hukuman. Terkena hukuman dihadapan para Elit adalah beban malu yang tidak pernah bisa mereka bayangkan. "Buruan aku nggak mau kena hukuman!!!" Teriak Karin melihat mereka masih saling berpandangan bingung. Setelah itu dalam hitungan detik Yogi dan Rinto terhempas jauh akibat serbuan dari kelima cewek luar biasa tersebut. Chapter 95 - Berpasangan Lapangan sekolah sudah terisi oleh semua siswa elit serta beberapa dari kelas Mia 2, Alisya dan yang lainya datang belakangan namun belum terlalu telat karena pak guru olah raga juga datang bersamaan dengan mereka. "Sudah semua?? Masih ada yang belum datang di lapangan?" Pak Anto datang membawa beberapa peralatan untuk olah raga gabungan pagi itu. "Sudah pak.. semua sudah hadir di lapangan" ucap semuanya serempak. Sejak kedatangan Alisya, Adith sudah memperhatikan Alisya dan terus melemparkan senyum liciknya. Saat Alisya datang Adith berdiri di baris paling depan di bagian kelompok Mia 1. Melihat Adith berada di baris depan dan kelompok Mia 2 sengaja memberikan tempat kosong tak jauh dari sana malah membuat Alisya melarikan diri dan mendorong Karin mengisi barisan depan lalu dengan cepat meluncur ke barisan belakang. "Si*l, Alisya malah meninggalkanku didepan sekarang!" ketus Karin tak bisa bergerak karena pak Anto sudah memulai intruksinya. "Oke, kita lakukan pemanasan awal dulu sebelum memulai rangkaian pelajaran olah raganya hari ini." pak Anto memulai pelajarannya setelah mengabsen kedua kelas secara acak. Adith hanya bisa tersenyum melihat tingkah Alisya yang sengaja menghindarinya. Zein terus memperhatikan tingkah Adith yang tampak sedang menggoda Alisya. Sedang Riyan pandangannya lurus kearah Karin tanpa berkedip. "Oke, sekarang pemanasan gabungan. untuk mengakrabkan diri, Kelompok dari kelas Mia1 bisa berpasangan dengan kelompok dari Mia 2!" belum selesai pak Anto memberikan intruksinya semua orang sudah berhamburan mencari pasangan masing-masing. Karin kaget saat melihat Riyan sudah berada tepat dihadapannya dengan senyum canggung yang terukir diwajahnya. Sedang Zein sudah berhadapan dengan Adora karena kecepatan kilat Adora menyambar semua jejeran wanita lain yang ingin berpasangan dengan Zein. "apa yang sedang terjadi??" Alisya bingung melihat kekacauan ditengah lapangan sehingga ia memundurkan langkahnya. Posisinya yang berada jauh dibelakang serta kecepatan pergerakan semua teman-temannya membuatnya tak bisa mendengar dengan jelas intruksi yang diberikan oleh pak Anto. Alisya hanya melihat beberapa dari temannya sudah mulai berpasangan satu sama lain termasuk Rinto dan Yogi. Didadapan Rinto dan Yogi telah berdiri siswi elite yang cukup cantik dan menarik namun wajah datar kedua temannya membuat Alisya tersenyum licik. "Sayang, kau sedang melihat ke arah mana?" Adith berbisik di belakang Alisya membuat Alisya kaget dan berusaha menjauh. Refleks Adith langsung menarik Alisya agar tidak menjauh dan menempatkannya dibalik punggungnya dengan punggung Alisya. Adith memimpin Alisya dalam melakukan pemanasan berpasangan membuat Alisya tak bisa berkutik karena monopolinya. "Tak ku sangka kau akan datang berpasangan denganku!" Karin menatap tajam ke arah Riyan. Tatapan Karin semakin membuat Riyan tertarik karena biasanya tatapan yang diberikan oleh tiap wanita yang melihatnya adalah tatapan penuh harapan dan hasrat yang kadang membuat Riyan risih karenanya. "Tidak masalah jika aku berpasangan denganmu kan? lagi pula aku masih partnermu juga!" tegas Riyan tersenyum penuh arti. "Yah, kau benar juga!" pasrah Karin langsung membelakan untuk melakukan pemanasan. "Apa yang kau lakukan?" Zein menatap tajam ke arah Adora yang telah menghalangi langkahnya. Zein berencana untuk menghampiri Alisya dan mengajaknya untuk berpasangan namun Adora sudah lebih dahulu berada dihadapannya. "Aku tau kau pasti akan menuju ke Alisya, tapi kau tau kan Adith akan berada disana meski kau datang untuk berpasangan dengan Alisya!" senyum Adora licik setelah melihat Adith sudah berada di sisi Alisya. "Meski begitu aku takkan mau berpasangan denganmu!" Zein berkata dengan dingin menjauhkan Adora hadapannya. "Baiklah jika itu maumu, tapi apa kamu bisa melakukannya sendiri? semua orang sudah berpasangan atau kamu mau berpasangan dengan pak Anto?" tunjuk Adora melihat hampir semuanya telah memiliki pasangan. Zein melihat pak Anto yang menatapnya garang membuatnya langsung melingkarkan kedua tangannya ke Adora dilajutkan dengan pemanasan berpasangan dari balik pungguung keduanya. Adora tertawa penuh kemenangan melihat ekspresi wajah Zein. "Selanjutnya sit Up, dimulai dari para laki-laki dulu! Gunakan matras yang sudah disiapkan." Pak Anto meniup peluitnya dengan keras karena kehebohan para siswa untuk memberikan intruksi berikutnya. "Jadi, bisakah kau memegangnya dengan baik???" Adith menujuk ke arah kakinya melihat Alisya yang masih tampak gugup karena posisi mereka. "Tentu saja!!! aku bahkan tak yakin apakah kamu bisa melakukannya dengan benar." tantang Alisya duduk dan langsung menahan kakinya dengan erat. "Benarkah?? apa yang akan kamu berikan jika aku bisa melakukannya lebih dari yang kamu duga?" tantang balik Adith mendekatkan posisinya sehingga wajahnya sangat dekat dengan wajah Alisya. Alisya paling tidak suka kepada orang yang memberinya sebuah tantangan terlebih jika orang itu adalah Adith yang sedari awal selalu saja menggodanya dan membuatnya menjadi salah tingkah. Adith adalah seorang cowok pertama yang selalu mendekatkan diri kepada dirinya dalam jarak yang sangat intim. Selama ini ia hanya bersama Karin dan Karan. Karan mungkin pernah memberikaan perasaan yang sama seperti yang dirasakanya saat ini namun baru kali ini Alisya merasakan suatu getaran yang selalu membuatnya bingung akan perasaanya sendiri. Chapter 96 - Pertandingan "Lihat, Zein bahkan bisa melakukannya dengan baik dari pada dirimu!" Alisya sengaja mengambil Zein sebagai bahan perbandingan untuk memanas-manasi Adith. "Kau akan menyesal karena sudah menyebut namanya!" senyum Adith licik tak menyangka kalau Alisya akan menyebut nama Zein dengan lembut. Adith kemudian melakukan sit up sebanyak 50 kali dengan gerakan yang cukup halus sehingga Alisya bahkan tak perlu menggunakan kekuatannya untuk menahan kaki Adith. Setelah selesai ia bangkit dan pergi meninggalkan Alisya dengan ekspresi datar tanpa menoleh. Adith kesal saat mendengar Alisya menyebut nama Zein yang teringiang-ngiang ditelinganya ditambah dengan ingatanya akan Zein yang terang-terangan mengatakan kalau ia menyukai Alisya. Sedang Adith, ia yakin akan perasaanya kepada Alisya tapi ia masih belum yakin untuk mengungkapkannya karena takut jika Alisya akan terluka olehnya. Alisya hanya menatap punggung Adith bingung karena perubahan ekspresinya yang sangat cepat. Kepergian Adith membuatnya berpikir bahwa akhirnya ia bisa terlepas dari Adith yang selalu saja menggodanya namun kemudian Alisya merasa seolah ada sesuatu dari dirinya yang juga ikut pergi bersama kepergian Adith. "Ada apa? kenapa dia pergi dengan ekspresi wajah yang kelam seperti itu?" tanya Karin mengagetkan Alisya dari lamunannya. "Entahlah.. tapi sepertinya dengan begitu dia tidak akan mengangguku lagi" jawab Alisya dingin. "Apa sekarang lagi main tarik ulur?" gumam Karin yang sengaja ia perbesar suaranya agar lebih jelas didengar oleh Alisya. "hummm.. kau sepertinya sedang menikmati sebuah pertunjukan atau sedang melarikan diri dari sebuah pertunjukan hahh???" goda Alisya mengingat Karin yang sempat berpasangan dengan Riyan. "Apa yang kau maksudkan?? senyuman licikmu itu selalu saja mejadi teror utama saat aku tertidur di malam hari" ketus Karin melihat senyum Alisya yang sangat licik. "Benarkah? terimakasih! aku tak menyangka kalau itu akan sangat menarik, apa harus aku lakukan tiap saat?" Alisya tak peduli dengan ucapan Karin yang terdengar sedang mengejeknya. Baginya Karin sedang memujinya dengan tulus. "Dasar Maniak!!!" ketus Karin langsung berlari sebagai bagian dari pemanasan Akhir mereka. Setelah berlari mereka semua akhirnya diarahkan menuju ke gedung olah raga yang memiliki fasilitas lebih lengkap untuk pembelajaran yang diberikan oleh pak Anto. "Baiklah, sesuai dengan pasangan yang sebelumnya kalian akan melakukan...." pak Anto terhenti saat melihat Adith sedang mengangkat tangannya. "Maaf pak.." Adith maju kedepan untuk bisa berbicara dengan nyaman kepada pak Anto. "Ada apa Adith, kenapa kau mengangkat tanganmu? ada yang ingin kau tanyakan atau kau ingin meminta izin?" tanya Pak Anto bingung melihat tindakan Adith yang tiba-tiba. "Oh tidak pak, saya hanya ingin memberikan saran. Daripada berpasangan bagaimana kalau kita lakukan pertandingan antara kelompok dari kelas Mia1 melawan kelompok dari kelas Mia2? bukankah itu akan lebih menyenangkan ketimbang harus melakukan pembelajaran yang cukup membosankan karena rutinitas yang hampir sama?" Adith sengaja memancing pak Anto. "Sepertinya tidak buruk, dengan sebuah pertandingan tentu kalian akan bisa menjadi lebih akrab satu sama lainnya sehingga dengan begitu kalian tidak akan bersikap kaku satu sama lainnya. Terlebih karena imej para elite yang lebih mementingkan tingkat sosial dan pelajaran ketimbang bersenang-senang sebagaimana anak SMA pada umumnga. Aku rasa dengan ini semangat kompetitif kalian bisa lebih ditingkatkan." terang pak Anto menyukai saran yang diberikan oleh Adith. "Apa yang sedang direncanakannya?" Rinto berbisik ketelinga Yogi. "Aku juga tak yakin, Adith biasanya tidak begitu peduli terhadap orang lain kenapa merepotkan masalah minat orang lain?" Yogi menatap Adith tak mengerti. "Apa yang sedang dipikirkannya? aku kira dia lebih suka jika dipasangkan dengan Alisya ketimbang harus melawannya!" Zein bergumam merasa ada yang aneh dengan sikap Adith. "Kalau aku sih tidak masalah, dengan begitu aku bisa memperlihatkan kemampuanku dihadapan mereka!" Riyan sudah tak sabar ingin memperlihatkan kehebatannya dalam bidang olah raga dihadapan Karin. "itu anak serius??? jika dibidang akademik mungkin kelas kita akan kalah melawan para kaum elite yang mendominasi dengan adanya 10 orang tingkat atas ditambah dengan si jenius Adith, tapi jika dalam bidang Olah raga, aku rasa kita bukanlah tanding seimbang mereka yang banyak menghabiskan waktu didalam ruangan empuk mereka!" Karin bersuara pelan menatap Alisya dalam menunggu pendapatnya. "Jangan remehkan mereka, kita tak tau kenapa julukan elite diberikan kepada mereka khususnya 10 orang yang mana beberapa diantaranya berada dikelas Mia1 itu. Tidakkah kau lihat bagaimana mereka sedang membara melihat kesini? entah apa yang sudah dikatakan oleh Adith kepada mereka sampai sorot mata mereka berubah drastis dari sebelumnya" Alisya mengingatkan Karin agar waspada dengan tidak terlalu meremehkan para siswa yang berada di kelas Mia1. "Kita akan lakukan pertandingan pada 10 cabang olah raga. Untuk yang pertama, pertandingan lomba lari 100 meter untuk para putra kemudian dilanjutkan para putri. Poin dari kecepatan kalian akan muncul dilayar begitu kalian melewati garis finish. Poin yang ada akan dikumpulkan dengan poin yang lainnya untuk kemudian akan langsung bisa disaksikan kelompok pemenang pada setiap cabang yang akan kita pertandingkan nanti." jelas pak Anto memulai pertandingan dengan penuh semangat. Chapter 97 - Kaum Elite VS Kalangan Biasa Pertandingan pertama terdiri atas 10 orang dimana terdapat 5 orang dari kelas Mia1 dan 5 orang dari kelas Mia2. Tiap orang mengisi line secara berselang seling dan Adit berada pada line 1, Rinto line 2, Zein line 3, Yogi Line 4, Riyan line 5, Beni line 6, Angga line 7, Doni line 8, Dirga line 9 dan Gani line 10. Saat peluit dibunyikan mereka yang sudah bersiap di posisi masing-masing dengan sekuat tenaga berlari sekencang-kencangnya. Diantara mereka bersepuluh tampak bahwa Adith dan Zein bersaing sangat ketat meninggalkan yang lainnya. Kecepatan mereka berlari sangat luar biasa seolah sedang mengejar sesuatu dengan tekad yang begitu besar sedang Rinto harus berusaha lebih untuk bisa menyamakan kedudukan. Namun pada akhirnya Adith bisa dengan mudah mengalahkan Zein yang berada di posisi kedua dan Rinto yang berada di posisi ketiga. "Adith keren sekali, baru kali ini aku melihat dia sekompetitif itu! dengan begini Mia1 bisa memenangkan pertandingan dengan mudah!" Elsa tersenyum meremehkan Mia 2 dengan memandang licik ke arah Alisya dan yang lainnya. Elsa juga dengan sengaja mengambil handuk serta botol minuman dengan gerakan yang ia buat agar menarik perhatian mereka lalu dengan cepat berlari kecil memberikannya kepada Adith. "Luar biasa, sepertinya kita bisa mengalahkan mereka semua!" Elsa memberikan handuk dan air kepada Adith dengan senyuman menggoda. Adith tersenyum simpul lalu memajukan tubuhnya untuk berbisik ditelinga Elsa. "Tentu saja, aku yakin kamu juga bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Kalahkan Alisya untukku!" ucapnya memberi semangat kepada Elsa. Elsa merasa takjub saat mendengar ucapan Adith, belum pernah ia melihat Adith tersenyum dan memberikan mereka dorongan seperti itu sehingga ia menjadi sangat bersemangat untuk mewujudkan keinginan Adith. "Apa yang sedang mereka lakukan? tumben Adith bersikap seperti itu kepada perempuan lain selain kamu Sya!" Karin heran melihat Adith yang sedang berbisik dengan senyuman yang tak bisa ditafsirnya. "Entahlah, sejak ia melakukan sit up tadi ekspresi wajahnya terhadapku langsung berubah!" Alisya juga tak bisa menerjemahkan sikap Adith yang mendadak berubah. "Berikutnya, dari peserta putri untuk mengisi line!" pak Anto mengintruksikan perwakilan dari kedua kelas untuk mengisi jalur lari 100 meter. Satu persatu para siswi dari kelas Mia1 dan Mia2 mengisi jalur. Elsa tampak kaget karena Alisya hanya terduduk di lantai dan tak terlihat menuju area perlombaan. "Aku sudah cukup jika untuk mengalahkanmu, Alisya hanya akan membuang-buang energi jika ikutan!" Karin sengaja memanas-manasi Elsa. "Cihhh,,, kau pikir aku akan kalah? jangan mengira kami hanya peduli terhadap harta dan tahta! Kami punya banyak pelatihan melebihi apa yang kalian bayangkan!" Cela Elsa dengan suara sombong. "Benarkah? kalau begitu ayo kita buktikan!" tantang Karin memasang kuda-kuda dan menatap lurus dengan senyuman menyeringai. Tepat setelah bunyi peluit berbunyi, mereka semua berlari dengan cepat meski tak secepat para laki-laki sebelumnya namun para perempuan memiliki aura kompetitif lebih tinggi dari sebelumnya. Karin tak menyangka kalau dia harus menggunakan 90% tenaganya untuk bisa mengalahkan Elsa. Sedangkan Adora dan yang lainnya juga harus berusaha keras. "Bagaimana?" Karin datang dengan suara yang sedikit tercekat memandang Alisya serius. "Aku rasa kita jangan meremehkan mereka sekarang! Terlihat kalau kalangan elite yang melekat pada diri mereka sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Tapi sepertinya hanya beberapa dari mereka saja jadi aku bisa menemukan lawan yang sesuai bagi mereka diantara kalian." Alisya sengaja tak mengikuti pertandingan untuk bisa mengukur kemampuan mereka dan memasang strategi berikutnya. Dari seberang Alisya bisa melihat kalau Adith tampak memberikan arahan dengan ekspresi wajah yang cukup tenang dan santai. Pertandingan yang mereka lakukan ternyata dengan cepat menyebar keseluruh sekolah sehingga yang awalnya hanyalah olah raga gabungan seketika berubah menjadi pertandingan olah raga antara Kaum Elite melawan para siswa/i dari kalangan biasa. "Ayo cepat kegedung olah raga, kelas Mia1 dan Mia2 sedang melakukan pertandingan!" seorang siswa menghambur dalam kelas menginformasikan. "Benarkah? sepertinya akan sangat seru! Ayo kita lihat bagaimana para kalangan biasa mengalahkan para Elite!" ucap yang lainnya tak kalah semangat. Berita itu tak hanya menarik perhatian para siswa melainkan juga para guru serta kepala sekolah sehingga degan cepat mereka datang menuju ke gedung olah raga untuk melihat pertandingan yang sedang berlangsung antara Mia1 dan Mia2! Tak butuh waktu lama gedung olah raga kini penuh dengan banyak penonton baik dari kalangan elite maupun dari kalangan biasa sudah begitu semangat bersorak ria mendukung kedua kelas yang sedang bertanding. "hahahahaha,,, aku tak menyangka kalau pertandingan ini berubah menjadi semenarik ini" Yogi tertawa melihat semua orang telah berkumpul untuk menyaksikan mereka. "Ini terlihat hampir seisi sekolah sedang menonton pertandingan ini" Rinto melemparkan pandangannya keseluruh gedung yang telah penuh. "Apa yang terjadi?" Zein bingung dengan situasi yang sudah mendadak ramai. "Sepertinya pertandingan ini akan sangat menarik!!!" senyum Adith sambil mengangkat botol minumannya. Chapter 98 - Lari Estafet "Kau baik-baik saja?" Karin khawatir karena keadaan gedung sudah lebih ribut dibanding sebelumnya! "Ya tentu saja, ini tidak seberapa dibanding kegilaan kalian saat diruang karaoke!" tawa Alisya mengingat kegilaan yang sangat heboh sewaktu mereka berada diruang karaoke lalu. "Syukurlah kalau begitu!" Karin sekarang mengalihkan pandangannya ke arah pak Anto yang bertindak sebagai juri sekaligus wasit pertandingan hari itu. "Pertandingan selanjutnya adalah Estafet, tiap kelas terdiri atas 6 orang dengan 3 cowok dan 3 cewek sebagai perwakilan!" pak Anto mengintruksikan dibantu dengan beberapa siswa yang membawa 2 tongkat estafet. "Bagaimana? apa kau akan ikutan?" Zein bertanya kepada Adith yang menatap tajam kearahnya. "Tentu saja!" senyum Adith licik. "Sepertinya Adith akan ikutan lagi Sya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Karin melihat Adith sudah bersiap-siap. "Kali ini aku ikutan, biar aku yang melawannya kali ini!" tegas Alisya tak sabar bersaing bersama Adith. "Kau yakin ingin melawan Adith? bukankah lebih baik jika aku yang melakukannya?" Rinto menawarkan diri dengan yakin. "Tidak, aku ingin kamu menghadapi Zein di garis start. Dia lawan yang cukup kuat. Dan untuk Yogi, kau bisa melawan Elsa. Jangan kau remehkan kemampuan larinya." Alisya mengarahkan teman-temannya dengan serius. "Sisanya biar kami yang tangani" ucap Karin memandang Adora dengan wajah tersenyum. "Sepertinya akan sangat sengit kali ini" Adora memijit-mijit tangannya siap. "Semua keposisi masing-masing!" pak Anto siap memberikan intruksi lebih lanjut. Rinto dan yang lainnya sudah mengambil posisi seperti apa yang telah dikatakan Alisya yang ternyata benar seperti apa yang telah diprediksikan oleh Adith sebelumnya. "Alisya melawan Adith untuk mencapai garis finish??? hahahaha apa dia yakin bisa menang melawan kecepatan pria?" seorang siswa dari penonton tertawa meremehkan. "Kepercayaan diri yang sembrono! Adith takkan mungkin berbaik hati meski Alisya hanyalah seorang perempuan!" celoteh yang lainnya. "Dasar pencari perhatian! Dari mana datangnya harga dirinya itu?" tambah seorang yang lain. "Mereka akan kalah dengan mudah, kemampuan Zein hampir sebanding dengan kemampuan Adith! Mia 2 tak memiliki seseorang yang sesuai dengan kemampuan mereka!" ketus yang lainnya lagi. Keputusan Alisya seperti itu membuat semua penonton berseru meremehkan membuat Rinto dan yang lainnya hanya tertawa pelan. "Kalian akan lihat siapa sebenarnya Alisya sekarang!" senyum Emi licik sambil terus menyemangati teman-temannya. "Jangan remehkan Alisya!" Feby menatap dengan tatapan sinis kesemua kalangan elite. "Tenanglah, bukan hanya Alisya. Disana juga ada Karin, mereka akan kaget melihat kalau ternyata kita memiliki 2 kartu As yang sangat sempurna!" Gina dengan semangat berseru menenangkan Feby yang sudah panas mendengar kalangan elite meremehkan mereka. Suasana riuh memenuhi seluruh gedung dimana tampak semua siswa serta kepala sekolah sudah mengambil posisi dimana kamera gedung serta monitor besar telah dinyalakan untuk memantau seluruh aktifitas pertandingan mereka. "Aku tau kalau kau akan berdiri disini melawanku!" Adith memandang Alisya dengan senyuman menggoda. "Tentu saja, karena diantara mereka akulah lawan yang sesuai denganmu!" ketus Alisya jengkel melihat senyuman nakal Adith. "Aku tak menyangka kalau kau akan melawanku, tapi maaf aku takkan mengalah meski kau adalah seorang perempuan!" Goda Riyan kepada Karin. "Oh tentu, aku justru ingin kamu mengerahkan semua kemampuanmu!" tantang Karin dengan senyuman tipis. Darah Riyan seketika mendidih saat ia melihat senyum tipis Karin, senyumannya mampu membuat jantung Riyan seketika berdebar kencang. Riyan tak bisa menyembunyikan wajahnya yang begitu tertarik menatap senyuman Karin. "pufffttt... apa yang dipikirkan oleh Alisya dengan dia melawan Adith sedang kau harus berhadapan denganku?" Elsa menatap remeh kearah Yogi. "Sebaiknya lihat dan perhatikan apa yang akan terjadi nanti" balas Yogi acuh tak acuh. "Bersedia... siap,,, priiittttttt!!!!" pak Anto meniup keras peluitnya memulai pertandingan. Rinto dan Zein yang berada di garis start tiba pada orang kedua hampir bersamaan. Karin menangkap tongkat yang diberikan oleh Rinto dengan satu langkah yang detik kemudian telah melesat cepat. Riyan kaget melihat Karin yang sudah berlari melewatinya dengan cepat. Karenanya Riyan mengeluarkan tenaga yang cukup besar untuk bisa menyamakan posisinya dengan Karin sehingga mereka tiba dengan jarak yang sangat tipis. "Kauhhh.... he... bat ju gah!" Riyan kehabisan nafas saat berhenti pada orang ketiga dan menyerahkan tongkatnya pada Chaca. Karin hanya tersenyum tak memperdulikan Riyan dan terus menyaksikan Beni yang mencoba melawan Chaca. Chaca yang bertubuh atletis dan juga tinggi ternyata bukanlah lawan yang mudah bagi Beni. "Riyan bisa dikalahkan dengan mudah oleh Karin? bagaimana bisa?" seorang penonton kaget melihat pertandingan itu. "Karin hebat juga ternyata!" tambah yang lainnya takjub. Beni kalah beberapa detik dari Chaca saat menyerahkan tongkatnya kepada Adora. Riyana yang berlari lebih dahulu menyisakan jarak yang cukup lebar diantara mereka namun Adora tak mau kalah dengan menggertakkan giginya untuk bisa mengejar Riyana sehingga jarak mereka sangat tipis saat Adora menyerahkan tongkatnya kepada Yogi. Chapter 99 - Sahabat Kampret Elsa berlari dengan sangat cepat membuat jarak yang kembali melebar antara dirinya dengan Yogi namun Yogi masih bisa terus menyusul mempersempit jarak yang ada. Saat melihat Alisya yang telah siap, Elsa menatap tajam dan mempercepat langkahnya dengan ceroboh sehingga tanpa sadar kakinya tersendung dan hampir terjatuh. "Kau tidak apa-apa? usaha yang bagus!" Adith dengan sigap menangkap Elsa yang hampir terjatuh kemudian mengambil tongkat dengan lembut. Melihat reaski Adith yang begitu cepat menangkap Elsa dan bersikap mesrah membuat hati Alisya panas. Yogi tiba tepat setelah Adith melepas pelukannya pada Elsa yang dengan cepat Alisya mengambil tongkat dari tangan Yogi. Alisya dan Adith mulai berlari secara bersamaan setelah mendapatkan tongkat di tangan mereka. Melihat ekspresi kesal diwajah Alisya Adith tersenyum nakal dan terus memacu kecepatannya melewati Alisya. Adith merasa puas sudah mengacaukan hati Alisya sehingga kecepatan Alisya menjadi tidak teratur yang membuat Adith bisa dengan mudah menang tipis darinya. "Luar biasa!!! Alisya bisa mengejar Adith dengan jarak sepersekian detik???" teriak seorang guru yang sudah tegang menyaksikan dari tadi. "Alisya ternyata tidak bisa di anggap remeh!" seorang siswa dari penonton berteriak riuh menyaksikan pertandingan seru itu. "Ada apa dengan Alisya? kenapa kecepatan larinya sangat kacau dan tak teratur?" Rinto kaget menatap Karin dan Yogi bergantian. "Apa yang terjadi???" tanya Karin begitu Alisya mendekat kearah mereka. "Sepertinya Adith sengaja memeluk Elsa untuk mengacaukan perhatianku!" Alisya memegang tongkat estafet dengan sangat erat sampai terdengar suara retakan dari tongkat yang terbuat dari besi berongga tersebut. "Dia bisa menggunakan trik se licik itu?" tanya Yogi heran tak percaya. "Masa sih?" Adora tak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Alisya. "Ayo kita ikuti permainannya!" Alisya menyeringai licik. Melihat itu Karin yakin akan melakukan hal yang lebih licik lagi dibanding dengan apa yang di lakukan oleh Adith. Alisya tampak mengambil kapur yang biasa digunakan agar cengkraman tangan para atlit tidak licin lalu menaruhnya ke kepalanya. Ia kemudian berjalan menuju ke arah Zein. "Ternyata kamu cukup atletis juga yah... kamu juga cukup perhatian dengan mengambilkan minuman untuk teman-temanmu!" Alisya menghampiri Zein yang sedang menaruh botol minuman kedalam kotak pendingin. "Aku malah takjub denganmu, aku kaget melihat kamu bisa menyamai kecepatan Adith dengan mudah!" puji Zein tulus kepada Alisya. "Terimakasih banyak, aku jadi tersanjung!" Alisya menunduk malu melingkarkan rambutnya ketelinganya memperlihatkan leher putih mulus dengan tahi lalat dilehernya yang berbentuk bintang. "Sebentar!" Zein tampak mengambil handuk putih yang masih bersih. "Ada apa?" tanya Alisya bingung. "Rambutmu putih karena kapur, biar aku bantu bersihkan!" pinta Zein langsung menaikkan handuk kecil itu mulai membersihkan kapur dari kepala Alisya. "Ahh,,, terimakasih! kau membuatku grogi" senyum Alisya lembut memegang tangan Zein yang berada dikepalanya. "Oh maaf, aku hanya ingin membantu saja!" Zein malu dan kikuk saat Alisya menyentuh tangannya. Melihat tingkah Alisya dan Zein dari jauh membuat Adith memecahkan botol kaca plastik yang berada ditangannya menatap tajam kearah Zein dan Alisya. Adith teringat mengenai ucapan Zein kepadanya, ia takut kalau sekarang Zein sedang menyatakan perasaanya kepada Alisya. "Adith, kau baik-baik saja?" Elsa kaget melihat tatapan penuh amarah Adith. "Aku baik-baik saja!" tegas Adith mengambil handuk mengeringkan peluh di wajahnya yang tak sengaja pipinya menyentuh tangan Elsa yang juga mengambil handuk. "Kau yakin??? tubuhmu panas sekali!" Elsa cukup terkejut saat tangannya tak sengaja menyentuh pipinya yang sangat panas membara. "Tidak usah khawatirkan aku, fokus saja untuk memenagkan pertandingan ini" suara Adith bergetar dingin dan nafas yang mulai tak teratur. Adith duduk untuk menenangkan dirinya. "Ada apa?" Riyana dan Chaca menghampiri Elsa yang memandang Adith dengan penuh khawatir. "Sepertinya Adith sedang mengalami demam tinggi!" Elsa berbicara pelan agar tidak terdengar oleh orang lain. Alisya kembali ke tempat Karin dan yang lainnya setelah berpisah dari Zein. "Woww,,, dari mana kau pelajari Trik seperti itu?" Karin menatap penuh takjub melihat Alisya memperlihatkan sebuah kepribadian yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. "Setiap perempuan harus memiliki kemampuan seperti itu!" terang Alisya datar namun penuh percaya diri. "Aku tak menyangka kau ternyata bisa memperlihatkan ekspresi malu-malu seperti itu!" puji Adora dengan tatapan berbinar. "Belum lagi bahasa tubuhnya yang sangat menjijikkan! Aku ngilu melihatmu seperti itu!" Karin bergidik ngery mengingat ekspresi wajah Alisya yang tak biasanya. "Sahabat Kampret!!! kau seharusnya memperhatikan ekspresi Adith dibanding asik menonton diriku!" Alisya mengambil leher Karin menjepitnya dan mencubit pipi Karin dengan gemas. "Manya myungkin haku meyewathan kehadian syeperhi yadi... (Mana mungkin aku melewatkan kejadian seperti tadi)" racau Karin karena pipinya yang tertekan oleh Alisya. "Aku juga hanya fokus menatapmu!" tawa Adora melihat wajah jelek Karin. "Saat kau berbicara dengan Zein, aku langsung menatap kearah Adith yang begitu murka saat Zein membersihkan kepalamu. Adith tampak marah melihat tingkahmu dengan Zein!" Terang Rinto masih mencuri liat kearah Adith. "Bagus!! Itu artinya trik ku berhasil dengan baik, takkan ku biarkan kamu memenangkan semuanya. Terlebih karena kamu sudah berani memainkan permainan ini" Ucap Alisya melepaskan Karin dengan lembut setelah cukup puas menyiksa sahabatnya itu. Chapter 100 - Kau Milikku Poin yang diperoleh oleh kedua kelas adalah 2:2 karena Mia 1 sudah memenangkan 2 pertandingan pada lomba Lari putra dan Lomba Estafet, sedangkan Mia 2 memenangkan 2 pertandingan Lomba Lari Putri dan Lari Rintang. "Apa yang terjadi, kenapa ketahananmu sudah menurun?" Zein menghampiri Adith yang tampak terengah-engah karena pertandingan Lari Rintang sebelumnya. "Pergilah!!!!" bentak Adith tajam kepada Zein. "Ada apa? kenapa dengannya? keringatnya terlalu banyak dan langkahnya terlihat gontai" tanya Riyan melihat Adith berjalan pergi meninggalkan Zein. "Ummm,,, sebenarnya Adith..." Elsa datang ingin memberitahu Zein dan Riyan mengenai kondisi Adith namun peluit untuk pertandingan berikutnya telah berbunyi dengan sangat keras. Semua orang semakin riuh dan heboh karena pertandingan mereka yang sangat sengit. Olah raga gabungan yang berubaha menjadi sebuah pertandingan harga diri itu sangat menarik perhatian semua orang yang terus bersorak mendukung kedua belah pihak. para elite yang sebelumnya meremehkan Alisya dan teman-temannya kini menaruh perhatian besar kepada mereka. Pertandingan terakhir adalah Basket. Pertandingan ini akan menentukan kelas mana yang akan memenangkan pertandingan dari olah raga gabungan hari itu. Selama pertandingan, Adith terlihat menguasai seluruh alur pertandingan dengan baik. Dia bahkan terlihat memonopoli bola basket dan mencetak poin yang banyak. Tepat ketika Adith mendribel bola berusaha melewati Rinto, Yogi dan Beni juga Gani dan Doni Adith bertabrakan dengan Rinto karena terlalu memaksakan diri tanpa mengoper bola ke arah Zein sehingga Adith jatuh terjerembab ke lantai. Semua orang panik dan kaget dengan kejadian itu terlebih karena Adith terdiam tak bergerak sama sekali. Keadaan yang semula terus meneriakkan nama Adith dengan riuh tiba-tiba saja terdiam penuh kesunyian. "Adith,,, kau baik-baik saja?" Rinto langsung mendekati tubuh Adith yang terbaring di lantai. "Adith,, dith Adith??? tubuhnya panas sekali, sepertinya dia demam!" teriak Zein melihat Adirh bernafas dengan berat. "Apa demam?? sejak kapan?" tanya Riyan kaget. "Sepertinya dia sudah demam sejak lari Estafer sebelumnya!" seru Elsa panik. "Apa? jadi kamu tahu? kenapa kau tak menghalanginya?" Zein marah geram kepada Elsa. "Aku,, a aku sudah mencoba semaksimal mungkin tapi dia terus saja mengacuhkanku!" Elsa berbicara tergagap karena takut. "Sudahlah! bantu aku membawanya ke UKS." Ajak Rinto mengingatkan mereka agar tidak berdebat. Pertandingan itu berakhir tanpa adanya pemenang. Alisya yang melihat mereka tengah membopong Adith menuju ke UKS seketika membuatnya sangat khawatir dan berlari menuju kearah mereka secepat kilat. "Kondisinya baik-baik saja, berikan dia ruang untuk beristirahat. Aku sudah memeriksa kondisinya dengan baik" Seru Karin memakai peralatan yang ada pada UKS tersebut. "Bagaimana dengan demamnya?" tanya Zein dengan wajah khawatir. "Ibu Naima sedang mengambilkan obat yang sebelumnya harus ia konsultasikan dulu dengan dokter yang selama ini menangani Adith! jadi kalian tidak perlu khawatir." Ucap Karin memandang ke wajah Alisya yang menatap kosong. Alisya masuk kemudian duduk disamping Adith yang masih bernafas dengan berat karena demam tingginya. Karin dan yang lainnya meninggalkan mereka didalam ruangan UKS agar Adith bisa beristirahat dengan nyaman. "Dasar bodoh!!! kau menantangku untuk mengikuti semua permainanmu sedang kondisimu dalam keadaan seperti ini" Alisya memukul pelan dada Adith. Adith tanpa sadar menggenggam tangan Alisya dengan erat dan mengigau menyebut nama Ali. Alisya menatap Adith dengan pandangan bingung tak tau siapa yang sedang disebut oleh Adith. Alisya mengambil handuk hangat dan mengelap peluh Adith yang masih terus membanjiri. "Tuan Ali, tu.. tuan Ali!" racau Adith. Alisya membelalakkan matanya kaget karena Adith memanggil namanya sewaktu ia kecil dengan nada yang sama seperti ibu Adith pernah memanggilnya lalu. Alisya kemudian bangkit dari tempat duduknya ingin memcari tahu tentang sesuatu namun tertahan oleh tangan Adith. "Mau kemana kamu? jangan berani tinggalkan aku lagi" ucap Adith berusaha bangun dari tempatnya. "Apa maksudmu? aku hanya..." Alisya langsung tertarik masuk kedalam pelukan Adith yang basah dan hangat karena demamnya. "Kamu milikku Alisya, aku takkan biarkan orang lain mengambilmu dariku!" suara Adith terdengar serak dan berat. "Kamu kenapa sih Dith,,, aku..." Adith semakin mengeratkan pelukannya saat Alisya berusaha melepaskan dirinya. "Aku mencintaimu Alisya, dan perasaanku ini sudah ada sejak kita pertama kali bertemu!" Suara Adith lirih "Lebih tepatnya 10 tahun Lalu!" batin Adith tak berani mengucapkannya. "Aku tak suka melihat kau bermesraam dengan orang lain!" lanjutnya lagi dengan nafas yang mulai teratur. Alisya terdiam tak tahu apa yang harus ia katakan, namun kemudian melemaskan tubuhnya dan memeluk Adith dengan erat. Alisya kembali terbayang betapa takutnya ia saat Adith terbaring tak bergerak dilantai. "Aduh mataku!!! aku sudah khawatir setengah mati mereka hanya bermesraan disini! Yogi datang bersama Karin dan Rinto serta Zein dan Riyan. Membuat Adith melepaskan pelukannya kepada Alisya yang sudah memerah malu. "Demamnya bahkan sudah turun hanya dengan satu pelukan dari Alisya! Sia-sia aku mengkhawatirkanmu!" Karin membanting obat Adith dengan keras melihat kondisi Adith sudah jauh lebih stabil dibanding sebelumnya. "Kalian sungguh luar biasa! Menggunakan kami sebagai batu jembatan!" Ucap Zein sambil menangkup kedua tangannya. Chapter 101 - Gila!!! "Pagi Alisya..." Adora menyapa dengan suara lemah. "Yo! Pagi Sya..." Yogi menyapa dengan gaya fungky ditengah desahan Emi dan Feby yang masuk melewati Yogi. "Kenapa mereka?" Alisya bukannya menjawab sapaan malah bertanya kepada Karin yang hampir bersamaan masuk kelas dengan mereka. "Selalu saja kau tidak pernah memiliki rasa khawatir, makanya kau tak tau apa yang sedang mereka rasakan!" ucap Karin sembari membanting dirinya keatas kursinya dengan desahan nafas yang cukup berat. "Karin,,, aku serius! kalau aku tau aku nggak akan tanya!" Alisya menekan kalimatnya meminta jawaban dari Sahabatnya yang paling rese'' itu. "Ya ampun Sya,,, minggu depan tuh kita Ujian penaikan kelas! Itu artinya pertempuran sampai keringat darah dan mimisan harus dilakukan demi mendapatkan nilai yang bagus untuk bisa naik kelas, tau sendiri sekolah ini adalah sekolah no 1 di Indonesia yang sangat mengutamakan kecerdasan serta keterampilan yang harus dimiliki oleh tiap siswa!" Jelas Karin panjang lebar memegang pundak Alisya seolah sedang mengajari anak SD. "Dan sekolah kita hanya melihat orang yang memiliki kualifikasi nilai yang baik. Bagi mereka yang tidak mencapainya akan di depak dari sekolah ini" Tambah Yogi menggeser tempat duduknya menghadap Alisya. "Untuk itulah mereka sangat khawatir kalau mereka takkan bisa lolo seperti terakhir kali" lanjut Rinto memandang teman-teman sekelasnya yang menunjukkan ekspresi terbebani. "Oh,,,," seru Alisya cuek. "Eh buset, segitu saja reaksi kamu? kejam amat! kamu yang cerdas mana paham sih?" keluh Karin kesal. Meski Karin tau bahwa ia bisa lolos dengan nilai yang baik, ia tetap saja takut kalau tidak bisa melakukannya dengan baik. "Loh,,, bukannya kemarin kita sudah sepakat untuk kerja kelompok dan belajar bersama? kenapa masih khawatir?" Alisya memperbesar volume suaranya untuk menarik perhatian teman-temannya. "Whatt!! kamu serius Sya???" Beni menerobos masuk dengan tatapan semangat. "Beneran kamu mau bantu kita lagi?" teriak Adora menoleh dengan cepat hampir memelintir lehernya sendiri. "Kamu nggak becanda kan Sya?" Feby dan Emi berdiri hampir bertabrakan. "Kami juga bisa ikutan kan???" Gani dan Gina memimpin teman-temannya yang lain memohon ikut. "Sebentar sebentar, jika hanya terdiri dari 5 orang aku mungkin bisa bantu. tapi kalau udah sampai sekelas yang ada malah tidak maksimal nantinya!" Alisya gugup melihat semua teman-temanya memohon ikut. "Benar apa yang dikatakan Alisya, dia akan kesulitan jika harus membimbing kita semua untuk itu kita butuh tambahan orang!" Rinto tau betul akan kemampuan Alisya dalam membimbing seperti terakhir kali ia lakukan. Alisya membimbing sekaligus belajar sehingga tidak akan mengganggu performa belajarnya namun tetap saja akan sulit baginya jika harus mengatasi puluhan orang dan itu akan membuat hasil yang tidak maksimal untuk tiap orangnya. "Aku tau siapa orang tambahan kita!" lirik Karin nakal dengan senyuman licik. "Aku punya pemikiran yang sama, tapi apakah dia mau?" Yogi mengelus-elus dagunya berpikir keras. "Tentu saja! Alisya bisa melakukan Trik yang ia gunakan saat merayu Zein lalu!" Karin menyeggol bahu Alisya menggodanya. "Gila!!! nggak... kalian pikir siapa aku!" geram Alisya membelakangi Karin. "Ya elah Sya, dicoba aja dulu. kemarinkan sudah ada acara peluk pelukan tuh..." Karin sengaja berkata dengan suara yang lantang. Alisya yang kaget dengan kalimat Karin dengan cepat membekap mulut Karin lalu mengunci lehernya kuat. "Sepertinya selama ini aku terlalu lembut kepadamu yah Kar? Apa aku harus kasi kamu sebuah bimbingan yang bisa membuatmu ingat bagimana aku selalu menyiksamu?" Alisya menggertakkan giginya karena mulut ember sahabatnya ini yang tak tanggung-tanggung. Karin menutup kedua tangannya sambil tertunduk-tunduk mohon ampun agar bisa dilepaskan oleh Alisya, namun Alisya malah membuat wajah Karin semakin memerah bukan karena kehabisan nafas, tapi karena kuncian Alisya membuat lehernya sangat gatal dan ingin terbatuk-batuk. "Kau ingin membunuhku???" Karin berusaha melonggarkan kuncian Alisya yang memiliki tekhnik cukup berbeda dengan kuncian leher yang biasanya digunakan untuk membuat lawan tak bisa bernafas dengan baik. "Aku takkan puas jika melakukan itu!" ucap Alisya melepaskan kunciannya setelah yakin kalau Karin akan mengalami gatal leher selama beberapa jam kedepan. "hahahahha,,, aku tak menyangka kalau Alisya bisa semenakutkan ini!" tawa Adora bergidik nyeri memasang jarak takut melakukan kesalahan. "Tapi bagaimanapun juga, apa yang dimaksudkan Karin ada benarnya Alisya. Meski aku tidak membenarkan cara yang dia inginkan! Terang Rinto setelah memberikan sebotol minuman kepada Karin yang masih berdehem untuk menghilangkan rasa gatal di lehernya. "Aku tau, aku hanya suka menyiksanya!" jawab Alisya cuek. "Bagaimana bisa kau menyebut dirimu sahabatku???" Karin berkata dengan suara serak. "Dalam persahabatan, kau akan sering mengalami hal seperti ini dimana hanya sahabatlah yang akan tertawa keras saat kau jatuh dan hanya dia juga yang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkanmu!" tegas Alisya tersenyum licik kearah Karin. "Oh tuhan... dari sekian banyak sahabat yang harus kau berikan, kenapa si Iblis berdarah dingin ini yang masuk dalam kehidupanku?" Karin beracting memelas memohon doa. "Karena aku menyiksamu sebesar rasa cintaku padamu!!!" Alisya mengerling manja ke arah Karin sembari melempar ciuman. Tingkah keduanya membuat suasana jadi lebih hangat untuk sejenak lupa akan kekhawatiran mereka. Chapter 102 - Sudah ku duga Hari pertama mereka mulai dengan belajar dengan serius dibawah bimbingan para guru di siang hari dan Alisya juga Karin disore hari. Karin berusaha membantu semampunya saat beberapa temannya memiliki kelemahan dalam memahami pelajaran yang mereka dapatkan di siang hari. "Karin, bagaimana kamu menyelesaikan persamaan ini? Adora melihat soal matematika yang sedikit sulit untuk ia selesaikan sendiri. "Oh yang ini, kamu bisa lihat dihalaman ke 35 disitu akan ada persamaan yang menjadi awal untuk bisa menemukan persamaan ini kemudian untuk bisa memahaminya maka kamu harus melihatnya dengan cara seperti ini lalu masukkan rumus persamaan yang ini!" Karin membimbing Adora secara lebih sederhana dengan menyesuaikan tingkat pemahaman yang dimampuinya. Emi dan Feby menghentikan sementara apa yang sedang mereka kerjakan untuk tidak ketinggalan melihat informasi yang didapatkan oleh Adora. Sedang Yogi dan Rinto ditambah Beni dengan sigap memberi memo pada halaman yang dimaksudkan oleh Karin untuk memudahkan mereka dalam mengingatnya. "Alisya, bagaimana cara kamu memahami persamaan linier ini?" tunjuk Gina pada buku catatannya. Suara Gina membangunkan kesadaran teman-temanya yang lain untuk memperhatikan Alisya. "Pertama tama kalian harus tau bahwa persamaan linier dapat digambarkan dalam sebuah grafik dalam sistem koordinat kartesius . Suatu Persamaan akan tetap bernilai benar atau EKWIVALENT ( ) , Apabila ruas kiri dan ruas kanan ditambah atau dikurangi dengan bilangan yang sama. Persamaan linier dapat diselesaikan dengan cara ini..." Alisya menjelaskan dengan sangat sederhana menggunakan modul yang ada dihadapan mereka masing. Ekspresi wajah mereka terlihat sangat bersemangat saat mereka bisa memahaminya dengan baik berkat penjelasan yang diberikan oleh Alisya. "Sudah ku duga!" Adith muncul setelah menggeser pintu dengan pelan. "Adith,,,," Gina dan Yana dengan cepat menyerbu dihadapan Adith namun tetap memasang jarak karena teringat akan kebiasaan Adith yang tak menyukai bau parfum. "Aku heran kenapa lampu dikelas kalian masih menyala saat yang lain sudah balik sejak sore tadi, ternyata benar kalian. tapi sepertinya kalian semakin berusaha seperti ujian tahun sebelumnya!" Adith melewati tumpukan wanita dihadapanya dan duduk dengan manis dihadapan Alisya. "Kelas lain sudah pulang?" Adora kaget melihat keadaan diluar sudah mulai menggelap. "Ya ampun, ternyata sekarang sudah jam 9 malam. baru kali ini kita larut dalam belajar sampai tak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat!" Emi berseru heboh saat melihat jamnya yang sudah semakin larut. "Jadi, apa yang kau lakukan disini? sudah jam segini kenapa kau kemari bukannya pulang kerumah?" Alisya bertanya sembari menunduk bersikap cuek karena malu mengingat saat Adith dengan jantan mengatakan cinta padanya. "Aku punya beberapa hal yang harus aku selesaikan untuk minggu depan. Aku penasaran apa yang sedang dilakukan oleh kelasmu dengan lampu yang masih menyala, selain itu aku ingin melihatmu juga!" goda Adith dengan senyuman mempesonanya. "Ehem... aku bingung saat melihat Adith menuju kesini ternyata itu karena Alisya? apa yang kalian lakukan sampai tidak pulang sementara malam sudah semakin larut?" Riyan masuk kedalam kelas melihat semua orang dikelas Mia2 lengkap. Riyan se sekali mencuri pandang melihat ke arah Karin. Ia datang bersama Zein. "Um.. tidak seperti kalian yang memiliki kecerdasan tinggi, kami harus melakukan belajar ekstra pada sore hari sebagai tambahan untuk siap mengikuti ujian minggu depan!" Karin sengaja menjawab mewakili teman-temannya yang tentu saja akan takut bersuara dihadapan para elite itu. Adith tidak memperdulikan mereka dengan larut bersama Alisya membahas masalah penyelesaian linier yang bisa menggunakan 4 metode salag satunya menggunakan metode substitusi. Alisya dan Adith larut dalam perdebatan sedang yang lain hanya memandang dengan tatapan bingung. "Pasangan yang cocok! kami sudah se canggung ini tapi dengan santainya mereka berdebat!!!" Adora menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sepertinya menarik, mungkin sedikit berbera dengan kalian. para Elite hanya melakukannya selama 2 hari saja untuk seluruh mata pelajaran yang akan diujikan, namun dibanding kami semua dia lebih cepat. Kami bahkan memerlukan waktu lebih lama sedang dia hanya menyelesaikannya dalam 2 jam." terang Zein duduk bersandar di meja bagian depan. "Hal yang seharunya dikerjakan selama seminggu dia lakukan dalam waktu 2 jam? Aku tau dia jenius tapi wowww..." puji Feby tak tau kalimat apa lagi yang bisa dia ucapkan karena kagum. "Dia manusia kan???" bisik Emi takjub dengan kejeniusan Adith yang luar biasa. "Para Elite benar-benar sesuatu! meski tak sebanding dengan Adith, waktu dua hari adalah waktu yang cukup cepat! sedang kita harus mengerjakan semuanya dengan 2 waktu dalam seminggu!" tambah Gina lemas. "Lalu kenapa dia belum pulang?" Yogi berkata sambil melihat kearah Adith. "Aku juga tak tau, sepertinya itu karena ia tidak melihat Alisya keluar dari kelasnya dan memilih menunggu sampai Alisya keluar!" Riyan mulai mengambil tempat duduk melihat ke arah meja yang penuh dengan tumpukan buku. "Apa kami boleh membantu?" Zein tertarik untuk memberikan mereka bimbingan melihat keseriusan mereka dalam belajar. "Benar, selain membimbing kalian kami bisa mengilas balik materi-materi yang sudah ada!" tambah Riyan semangat. "Bagaimana? apa kalian tidak mau?" Zein bingung dengan reaski terkejut mereka. "Tentu saja kami mau!!!" jawab mereka serempak membuat Adith dan Alisya menoleh ke arah mereka. Chapter 103 - Sistem Roling Sudah seminggu lebih kelas Mia 2 mendapatkan bimbingan dari 3 orang top Elite Adith, Zein dan Riyan ditambah dengan Alisya dan Karin yang merasa sangat terbantu dengan kehadiran 3 orang tersebut. "Uwaaahhh,, akhirnya kita selesai juga hari ini!" Emi meluruskan badannya yang sudah pegal setelah merasa telah cukup untuk menyelesaikan seluruh materi yang diberikan oleh Adith. "Sistem roling dalam pembimbingan yang mereka lakukan ternyata sangat berpengaruh besar terhadap minat belajar kita!" Gina menyandarkan tubuhnya mendengar kalimat Emi. "Benar, dengan begitu kita tidak akan bosan karena di ajar oleh orang yang sama secara berulang-ulang. Selain itu teknik yang digunakan oleh tiap orang berbeda-beda!" tambah Yana merasa puas dengan seluruh materi yang telah di ajarkan. "Cara Adith dan Alisya dalam memahami tingkat kemampuan kita dalam beberapa mata pelajaran sangat luar biasa, sehingga mereka dengan mudah memberikan kita ringkasan dan penjelasan yang membuatku dapat memahami semua penjelasan mereka dengan baik!" lanjut Adora tak kalah semangat. "Tapi sayang, hari ini kita tidak mendapat pembimbingan dari mereka! padahal aku sangat ingin di bimbing oleh mereka sampai akhir!" keluh Feby menaruh dagunya ke atas meja dengan suara malas. "Kalian kan tau sendiri kalau mereka bukan hanya berperan sebagai siswa disekolah, tapi juga seorang pebisnis di perusahaan mereka masing-masing. Dan sungguh luar biasa mereka bisa menyempatkan waktu untuk memberikan kalian bimbingan selama beberapa hari ini. Cukup katakan terimakasih akan sangat membuat mereka berharga ketimbang mengeluh seperti itu!" Karin mencoba mengingatkan teman-temannya mengenai keluh kesah mereka yang malah hanya akan membuat segala bantuan yang sudah diberikan oleh Adith, Zein dan Riyan menjadi tak dihargai ataupun dihormati sehingga bisa saja mereka akan merasa tak bernilai akibat keluh kesah mereka. "Karin benar, selain ucapan terimakasih kita bisa membuktikan kepada mereka bahwa segala hal yang telah mereka berikan selama ini sangat membuahkan hasil yang baik dengan mendapatkan nilai serta poin diatas dari ketentuan dan meraih rata-rata nilai yang terbaik!" tambah Rinto yang sebenarnya juga sedang memotivasi dirinya sendiri. "Sepertinya kalian lebih dewasa dalam berpikir yah!" Alisya tersenyum menggoda membuat Rinto dan Karin memerah merona karena malu. "Dan karena kalian sudah bekerja dengan sangat keras selama ini, maka hari ini kita pulang lebih awal untuk mengistrahatkan seluruh tubuh juga otak kita! seperti yang dikatakan oleh Adith, Belajarlah semampunya setelah itu tidurlah sepuasnya! Agar tubuh kita bisa lebih rileks dan siap untuk bertempur nanti!" Seru Yogi dengan penuh semangat. Mereka semua akhirnya pulang dengan seluruh tubuh yang sudah cukup lelah dan terbebani sehingga apa yang dikatakan oleh Yogi membuat mereka melangkah gontai dengan segera menuju rumah masing-masing. Seperti biasa, Alisya selalu saja memilih pulang berjalan kaki dibanding menuruti tawaran paksa dari semua teman-temannya termasuk Karin. Alisya tidak langsung menuju rumah melainkan mampir ke sebuah minimarket yang berada tak jauh dari rumahnya. "Wah,, Neng kliatannya lemas sekali. Sekolahnya sulit yah Neng.. lagi banyak tugas?" seorang tante penjaga Kasir yang sudah kenal dekat dengan Alisya karena sering mampir menyapanya dengan ramah. "Oh iya tante, ada sedikit yang harus diselesaikan karena mulai minggu depan kami semua akan melakukan ujian penaikan kelas!" Alisya tersenyum ramah dan hangat dengan memberikan barang belanjaannya. "Tidak terasa sekarang neng Alisya sudah mau naik kelas 3 yah? waktu cepat sekali berlalu. Wajah neng sekarang sudah terlihat lebih ekspresif dibanding pertama kali saya liat neng disini" racau tante penjaga kasir dengan sangat heboh membuat beberapa pelanggan juga ikut tertawa melihatnya. "Ah tante bisa aja! saya bersyukur kalau ternyata benar seperti yang tante katakan. Itu artinya tante cukup perhatian kepada saya!" Alisya tersenyum lembut. Alisya juga ingat betul bagaimana dirinya dulu. Kaku dan bahkan terlihat sangat dingin. Setelah berpamitan dengan penjaga kasir, Alisya melangkah keluar sambil tersenyum merasa lucu tiap kali ia mengingat tentang dirinya dimasa lampau. Tepat saat ia sudah berada didepan pintu minimarket, senyum Alisya seketika menghilang berubah menjadi tatapan membara penuh rasa benci yang amat besar. Alisya menggenggam tangannya dengan sangat erat melihat sosok yang cukup dikenalnya berada dihadapannya. "Mau apa kau kemari?" tatap Alisya tajam penuh amarah. "Aku tau kau sangat membenciku Alisya, tapi walau bagimanapun aku masih Ayahmu. Selain itu ada yang harus aku bicarakan dengan dirimu!" Suara ayah Alisya lembut dan penuh kehangatan namun berat dan sangat berwibawa. "Tapi aku tak punya waktu untukmu tuan Lesham yang terhormat! Jadi sebaiknya anda pergi saja dari sini!!!" Alisya menggertakkan giginya karena jengkel. Ia tak bisa menyembunyikan emosi yang sedang ia rasakan sekarang dan juga ia memang sengaja tak ingin menyembunyikan perasaan yang sebenarnya sehingga ia biarkan menguap dengan sangat keras. "Meski ini akan berhubungan dengan Ibumu juga masalalumu?" Pancing ayah Alisya dengan penuh hati-hati menghentikan langkah kaki Alisya yang sudah bersiap ingin beranjak pergi tanpa memperdulikan orang yang sangat di bencinya itu. Chapter 104 - Bajingan Lesham Alisya yang terpancing dengan kalimat Ayahnya membuatnya terpaksa untuk mengikuti keinginan ayahnya untuk berbicara dengannya. Agar lebih leluasa dan nyaman, Alisya mengajak ayahnya ketempat anak-anak biasa bermain-main karena suasana pada malam hari cukup sunyi. Namun lampu taman itu bersinar dengan cukup terang membuat Alisya bisa melihat wajah tua Ayahnya yang tegas dan tubuhnya yang bidang. Ayah Alisya tampak sederhana penuh wibawa dengan kemeja putih yang menempel pada tubuh kekarnya berdiri santai mengaitkan jas hitam mahal ditangannya melonggarkan dasinya dengan nyaman. Ia cukup gugup setelah sekian lama tak pernah bertatapan langsung dengan anak satu-satunya yang sangat dia sayangi. "Aku rasa tempat ini tidak akan membuatmu terlihat mencolok, selain itu para pengawalmu juga bisa memantau dengan mudah!" Alisya berkata dengan suara dingin gerah melihat tingkah ayahnya. "Kau selalu waspada bahkan terhadap Ayahmu sendiri?" senyum Ayah Alisya tampak kecut dan canggung. Ia bahkan seolah tampak tak bisa mengeluarkan suara dan bernafas dengan baik. "Bicaralah, aku hanya akan memberimu waktu sebanyak 15 menit. banyak hal yang harus aku kerjakan. terlebih untukmu tuan yang terhormat!" Ucapan Alisya yang terdengar tenang sedikit memberikan rasa sakit yang sangat dalam dihati Ayahnya. Meski Alisya yang mengatakannya, pada akhirnya ia menggigit bibirnya dengan cukup kuat. "Baiklah, apa kamu mengingat taman ini? tidakkah kamu merasa cukup kenal dengan taman ini? suasana seperti ini?" Alisya mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan ayahnya. "Apa maksudmu?" Alisya merasa tidak paham dengan apa yang dimaksud dari ayahnya. Tak pernah terfikir olehnya bahwa ia memiliki kenangan tentang apa yang dikatakan oleh Ayahnya. "Kamu dan aku selalu bermain ditaman ini sewaktu kamu masih kecil, kamu selalu saja memaksaku untuk pergi bermain ditempat ini sewaktu ayah baru kembali berlibur dari tempat tugas. Kamu bahkan merengek sampai semua orang kewalahan mengatasimu!" Ayahnya tersenyum penuh kasih saat mengingat segala hal tentang Alisya sewaktu ia masih kecil. "Apa anda sedang bermimpi? anak mana yang anda sebutkan? yang aku ingat bahwa kau tak pernah bersamaku dan selalu saja memberiku pelatihan-pelatihan mengerikan meski aku hanyalah seorang anak-anak yang masih sangat belia yang seharusnya lebih banyak bermain diusinya!" Alisya menggenggam erat tangannya penuh amarah mendengar ucapan ayahnya yang ia rasa seperti sebuah karangan dan bualan semata. "Tidak Alisya,, aku sangat menyayangi dan mencintaimu. Bahkan sama besarnya dengan apa yang kutumpahkan kepada ibumu!" Ayah Alisya memajukan langkahnya ingin menyentuh Alisya. Alisya berjalan mundur menatap ayahnya dengan sangat tajam. "Jangan pernah menyebut ibuku, kamu bahkan tak pantas meski itu hanya mengingat wajah saja! Menyayangi dan mencintaiku? kau hanya menginginkan seorang anak laki-laki yang karena itu pula kau sangat membenciku jika terlihat seperti seorang perempuan sehingga dengan begitu kerasnya mendidikku sebagai seorang laki-laki. Dan sekarang kau berkata bahwa kau menyayangi dan mencintai aku juga ibuku??? hahhhh.. jangan bercanda!!!" suara Alisya perlahan semakin tinggi meluapkan amarah yang sebelumnya selalu ia tahan. "Aku tau, kamu tak akan mempercayai apa yang aku katakan setelah semua hal yang sudah aku lakukan padamu. Tapi aku punya alasan terhadap apa yang sudah aku lakukan padamu yang dibalik itu semua aku benar-benar menyayangimu Alisya. Aku sangat menyayangimu Quenbyku sayang!!!" Ayah Alisya mengeluarkan air matanya dengan deras. Hatinya sakit dan pilu tiap kali memandang wajah anaknya yang selalu memandang benci kepada dirinya. Tapi ia tak pernah ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Memberitahu Alisya bagaimana perasaannya kepada anaknya sudah lebih dari cukup dibanding kenyataan yang juga terdapat kepahitan didalmnya. "Hentikan bualanmu dan tangisan palsumu itu! tak ku sangka kau hanya membuang-buang waktuku saja dengan mendengarkan semua omong kosongmu ini!" Alisya pergi meninggalkan Ayahnya seorang diri ditaman dengan penuh amarah dan tak menoleh sedikitpun kebelakang. Ayah alisya jatuh berlutut menangkup wajah penuh penyesalan. Hati rapuhnya semakin sakit seiring menghilangnya Alisya dari pandangannya, tangisan yang selalu ia pendam selama berpuluh-puluh tahun semenjak kelahiran Alisya tumpah membasahi tanah tempatnya berpijak. Sebuah tangisan penyesalan dan rasa rindu yang amat teramat sangat terhadap anak semata wayangnya itu. Alisya masuk dan mebanting diri dengan keras disofa. Ia masih tak percaya akan apa yang baru saja dilakukan oleh ayahnya. Alisya menganggap tangisan ayahnya hanyalah sebuah kepalsaun munafik yang membuatnya semakin marah. "Alisya, kamu kenapa? buaknnya beri salam kamu malah langsung menerobos masuk dengan wajah seperti itu! Siapa yang membuat marah sampai seperti ini?" nenek Alisya bingung melihat wajah marah Alisya yang sangat menakutkan. "Tadi aku bertemu dengan seorang bajingan Lesham yang ingin mencekokiku dengan sebuah kebohongan yang besar!!! Dia pikir bisa membodohiku dengan semua kebohongan itu.. hahahaha tidak akan! aku takkan pernah memaafkanmu!!!" Seru Alisya dengan penuh marah saat menyebut Ayahnya. Wajah nenek Alisya seketika kelam dan menghitam. Ia tak menyangka kalau Alisya akan menyebut nama Ayahnya dengan sangat tidak sopan bahkan menghinanya. Setelah terpaku untuk beberapa detik, Nenek Alisya mendaratkan tamparan yang sangat keras di pipi Alisya dengan tatapan marah sekaligus sedih. Chapter 105 - Kenangan Tamparan yang diberikan oleh nenek Alisya memberikan rasa membakar yabg sangat panas di pipi juga hati Alisya. Alisya bahkan tak bergerak saat neneknya sudah mundur selangkah karena kaget telah refleks menampar Alisya dengan sangat kuat. Alisya bahkan tak pernah menyangka kalau neneknya akan menamparnya dengan sangat keras. "Kenapa nenek menamparku?" Mata Alisya memerah menahan amarah sekaligus rasa sedihnya. Alisya menatap neneknya dengan penuh kesedihan yang sangat mendalam namun tetap tertuju dengan sangat tajam. "Sebenci apapun dirimu kepada ayahmu, tidakkah kau sadar bahwa apa yang sudah kau ucapkan tadi sangat tidak pantas? Dia masih seorang ayah yang harus kau hormati!!!" suara neneknya parau tercekat berusaha untuk berbicara dengan lancar. "Menghormati? apa orang seperti dia pantas untuk aku hormati? Aku sudah kehilangan rasa hormatku untuknya!!!" Alisya berkata dengan penuh emosi dan suaranya makin berat. "Alisya, kau akan sangat menyesali apa yang sudah kau lakukan malam ini. aku sudah tak bisa mentoleransi semua kebencianmu yang tak beralasan itu!" neneknya mengenggam tangannya yang masih kebas dan keram karena menampar Alisya. "Alasan nek??? bukankah nenek tau aku punya seribu alasan untuk membecinya? Dia tidak menyukaiku karena aku seorang perempuan. Dia mendidik dan melatihku dengan sangat keras seperti seorang laki-laki. Dia juga tak mampu melindungi ibu juga diriku. Apa dia masih punya hak untuk dihormati sebagai seorang ayah?" Alisya mengeluarkan nafas berat. "Tidak Alisya, semua yang kau ingat dari sisimu memang itulah yang mungkin terlihat. Tapi kebenaran yang sesungguhnya telah ayahmu sembunyikan dan tahan dengan sepenuh hati. Ayahmu tak seperti apa yang kamu bayangkan sayang" neneknya berusaha mendekati Alisya untuk mendapatkan simpatinya. "Kebenaran?? kebenaran seperti apa? aku sudah cukup jelas mengingat semua kebenaran pahit dalam ingatanku nek. Aku bahkan masih tak bisa dan tak mampu jika terus mengingat semua kenangan itu lagi. Aku sangat membecinya seumur hidupku!!!" Alisya berkata dengan kuat menggertakkan giginya geram. "Sepertinya aku harus menyadarkanmu. Ayahmu ingin memberitahumu secara langsung tapi aku yakin dia pasti tak mampu mengatakannya melihat dari reaksimu ini. Hadiah yang harusnya kuberikan padamu di ulangtahun yang ke 18 sebaiknya aku beri sekarang saja!" neneknya pergi menuju kamarnya mengambil sebuah amplop merah cantik yang tampak sudah cukup lusuh namun masih terawat baik. Alisya hanya terdiam membeku ditempatnya dipenuhi dengan berbagai macam pemikiran yang semakin lama membuat kepalanya semakin berat sedang telinganya semakin berdengung. "Ambil ini, usiamu yang sudah memasuki usia 18 tahun sepertinya sudah bisa melihat kebenaran yang sesungguhnya ketimbang harus menunggu lebih lama lagi" neneknya masuk memberikan Alisya ruang untuk bisa membuka hadiah itu dengan nyaman. Alisya duduk memandang apa yang sedang dipegangnya saat ini. Alisya bingung sekaligus takut tak tau harus bagaimana namun setelah menarik nafas dalam Alisya memberanikan diri untuk membuka amplop merah itu. Beberapa lembaran foto-foto yang terdapat didalam amplop itu jatuh berhamburan diatas lantai. Alisya duduk berjongkok memungutnya satu persatu dengan cuek namun kemudian matanya membelalak kaget melihat sebuah foto dimana Ayahnya menggendong seorang bayi dengan tangis penuh kebahagiaan tapi tertawa dengan sangat lebar. "Ini aku???" Alisya melihat namanya tertulis pada bagian bawah foto. "Ralisya Queenby Lesham". tepat ia membali foto itu Alisya melihat tulisan ibunya. "Bapakmu menangis sekaligus tertawa dengan sangat antusias saat hari kelahiranmu! Dia bahkan bersyujud syukur sampai beberapa kali dan berteriak diseluruh gedung membuat semua orang jadi heboh karenanya" Tulis ibunya dengan menambahkan emotikon tertawa pada bagian akhir. Alisya langsung jatuh terjerembab di atas lantai melihat tulisan ibunya tersebut. Itu artinya ayahnya sangat menginginkan kehadiran dirinya meski dia seorang perempuan, bukan laki-laki. Ia kemudian dengan cepat membalik gambar saat ia baru pertama kali berjalan. "Bapakmu sampai harus jatuh bangun menangkapmu yang baru berjalan. Ia takut kau akan terluka tapi ternyata kau malah mendekat lalu kemudian putar arah melarikannya. Kalian selalu saja bermain-main seperti itu" dari gambar Alisya bisa melihat seragam ayahnya yang tampak sobek pada bagian lututnya. Bisa Alisya lihat kalau ayahnya sedang mengambil libur untuk bisa bertemu dengan dirinya. "Queenby yang bersekolah dan Bapak yang jadi komandan satuan khusus!" Terlihat alisya yang baru memakai seragam taman kanak-kanak berada dipundak sang Ayah menggunakan topi baret milik ayahnya sedang ayah Alisya memakai topi sekolah miliknya yang tampak kekecilan namun keduanya tertawa dengan sangat lebar. Leher Alisya mulai mengering dan terasa panas melihat semua foto-foto dirinya bersama ayahnya ditambah dengan tulisan ibunya. 3 Foto yang sudah dilihat oleh Alisya masih menunjukkan keakraban dirinya dengan ayahnya sedang beberapa foto lainnya terlihat sang ayah memilih berdiri pada jarak yang cukup jauh dari dirinya. Tulisan ibunya pun sudah tak terdapat pada foto itu sehingga Alisya dengan panik membalik-balikkan semua foto yang dipegangnya lalu kemudian mengguncang-guncangkan amplop merah sebelumnya berharap ada foto bertuliskan lain yabg terjatuh, namun ternyata yang jatuh malah sebuah surat bertuliskan tangan ibunya. Chapter 106 - Janji kepalsuan "My Beloved Quenby" Tulis ibu Alisya pada bagian pojok atas kertas yang bagian sampingnya terdapat tanggal sehari sebelum kematian ibunya. Alisya merasa sangat sesak melihat tanggal itu karena ternyata surat ini ia tulis untuk pertama dan terakhir kalinya sebelum ia pergi untuk selama-lamanya meninggalkan dirinya. Alisya memeluk surat itu dengan sangat erat didadanya merasakan kerinduan yang teramat mendalam karena paanggilan Queenby yang kini sudah tak didengarnya lagi. "Quenbyku sayang, jika kamu membuka surat ini itu artinya kamu sudah cukup dewasa untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya mengenai Bapakmu. Harus kau tau sayang, Bapakmu sangat mencintai kamu sepenuh hati bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi dirimu. Bahkan jika kau harus membencinya. Karena Bapakmu yang mendapatkan promosi jabatan sebagai komandan satuan khusus, Bapakmu mendapatkan banyak sekali tekanan baik dari dalam maupun dari luar. Terlebih saat mereka menargetkan dirimu sebagai ancaman." Alisya membersihkan air mata yang menggenang menutupi penglihatannya. "Bapakmu yang sangat rapuh terhadapmu pada akhirnya memilih melatihmu dengan sangat keras agar kau bisa melindungi diri sendiri juga melindungi mama. mama juga memiliki banyak sekali musuh karena sebelum bertemu dengan bapakmu, mama adalah ketua kelompok geng Yakuza dibawah pengawasan kakekmu. Oleh karena itulah keberadaan dirimu disembunyikan" Alisya melihat foto ibunya yang sedang berdiri dengan sangat anggun ditengah gerombolan pria yang sangat menyeramkan. "Bapakmu harus menangis secara sembunyi-sembunyi tiap kali ia membentakmu dengan sangat keras saat melakukan pelatihan yang dibantu oleh kakemu. Hatinya sangat pedih saat kau menatapnya dengan penuh kebencian kepadanya, begitupula apa yang dirasakan oleh kakekmu. Bapakmu berkata bahwa kebencianmu adalah kekuatanmu dan karena itulah semakin besar kebencianmu kepada bapakmu maka kamu berkembang dengan sangat pesat bahkan melebihi kemampuan rata-rata orang dewasa pada umumnya. Kemampuanmu hampir setara dengan seorang anggota pertama pasukan khusus pertahanan negara!" Alisya mengenggam erat suart dari tangannya merasakan seolah ada sebuah batu besar sedang menghalangi tenggorokannya sehingga ia dengan susah payah menelan liurnya. "Untuk itu sayang, janganlah kau membenci Bapakmu dengan begitu besar karena dia sangat mencintaimu dengan sepenuh hati, kami sangat mencintaimu Qeunbyku sayang, Nenekmu mencintaimu, begitu pula kakekmu yang sangat memanjakan mu sebagai cucu semata wayangnya. Semoga kamu tidak terpukul dan bersedia memaafkan semua kesalahan Bapak dan kakekmu. Aku mencintaimu selamanya sayang!" Tutup ibunya dengan penambahan tanda bibir pada akhir kalimatnya. Alisya bernafas dengan sangat berat. Semua kenangan tentang Ayahnya perlahan mulai terlintas memenuhi kepalanya membuatnya oleng dan bersandar ke sofa. penglihatannya mulai buram dengan jam ditangannya yang berbunyi dengan sangat keras. **** "Terimakasih, berkatmu saya bisa bertemu dengan Alisya meski saya tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Tapi ketika mengatakan bagaimana perasaanku terhadapnya sebagai seorang ayah sudah sangat berharga bagiku" Ayah Alisya mengucapkan rasa syukur dengan sangat tulus. "Nak Adith, saya titipkan Alisya padamu. Jaga dan lindungi dia sepenuh hati, dan.... oh iya. Kamu belum dibolehkahkan untuk berbuat yang macam-macam pada Alisya!" ucap ayah Alisya dengan santai namun tegas. "Bujan hanya wajah, gaya bicara serta pembawaan mereka sangat mirip sekali. Terlebih saat dia mengancam dengan penuh senyuman itu. Sangat mirip!!! sungguh benar Ayah dan anak. " Adith membartin tersenyum canggung kepada Ayah Alisya. "Tentu saja Om, om bisa...." kalimat Adith terhenti karena Ayah Alisya sudah menepuk keras pundanknya. "Percaya padamu kan? hahahahaha... Adith, om juga seorang laki-laki. Dan kalimat dari laki-laki adalah sebuah manisan yang bertabur janji kepalsuan" tawa Ayah Alisya pecah menebak kalimat yang akan dikatakan oleh Adith. "tapi Om, saya.." Adith ragu tentang apa yang harus ia katakan. Benar apa kata Ayah Alisya, terlebih karena ucapan itu keluar dari mulut seorang anak SMA yang belum tentu bisa bertanggung jawab penuh terhadap dirinya sendiri terlebih terhadap orang lain. "Aku percaya padamu kok!!! jika tidak aku bahkan akan sangat menyesali seumur hidupku sampai akher hayatku jika tak mengatakan perasaanku terhadap Alisya! jika tidak mengikuti paksaanmu untuk kesini." ucap Ayah Alisya menggenggam erat bahu Adith menandakan dukungan penuhnya kepada Adith yang menatap dengan penuh kebingungan. "Terimakasih banyak Om!!!" seru Adith dengan suara lantang. "hahahahahha,,, tidak tidak, justru Om yang berterimakasih kepadamu!" Ayah Alisya tertawa melihat Adith yang terlihat sama persis seperti dirinya saat masih muda dulu. Ayah Alisya ahirnya beranjak pergi meninggalkan Adith yang tersenyum lebar padanya. "Hati-hati dijalan Om!" Adith setengah menunduk memberi hormat kepada Ayah Alisya. "Aku menyukai anak ini!" batin ayah Alisya dengan tersenyum penuh kasih. Setelah kepergian ayah Alisya dari hadapan Adith, Adith dikejutkan dengan bunyi alaram di HP nya yang menandakan sensor Alisya yang sangat tidak stabil. Adith dengan cepat menaiki motornya memacunya dengan sangat cepat membelah jalan raya yang sangat ramai menuju kerumah Alisya. "Nek, Alisya mana? apa yang terjadi padanya?" Adith langsung menerobos begitu melihat nenek Alisya berada didepan gerbang rumahnya. "Syukurlah nak Adith kamu kesini, nenek minta tolong kejar Alisya! nenek melihatnya berlari keluar dengan sangat terburu-buru!" setelah mendengar ucapan nenek Alisya, Adith langsung membuang kasar helemnya berlari menuju arah yang ditunjuk oleh nenek Alisya. Chapter 107 - Naiklah Adith berlari dengan penuh rasa khawatir terhadap Alisya, dia terus saja mencari dan menoleh kekiri kekanan berharap dapat melihat Alisya namun tetap tidak bisa menemukannya. "Alisya... Alisya,,, Alisya???" Adith terus berteriak memangggil nama Alisya sembari terus mencarinya disetiap jalan dan lorong rumah mereka. "Oh iya, alat peredam telinganya!" Adith ingat kalau alat yang berada pada telinga Alisya terdapat alat pelacak yang dipasangnya sendiri. Karena terlalu panik ia akhirnya melupakan hal yang sangat penting itu. "Taman???" Adith bingung bagaimana bisa Alisya berada ditaman yang sebelumnya menjadi pertemuan antara dirinya dengan ayahnya sebelumnya. Bagaimana mungkin Alisya bisa bersebrangan jalan saat kesana, Adith tidak bisa menemukan titik temu antara persebrangan jalan mereka. Adith langsung berlari kembali menuju taman dengan terburu buru. "Alisya.. Alisya..." teriak Adith ketika sampai di taman namun tak menemukan Alisya disana. Dari GPS adith bisa melihat alat itu berada dititik tepat dimana ia berdiri namun dsthu Alisya tak terlihat. setelah menajamkan matanya Adith melihat Alat itu tergeletak diatas tanah. "Kamu dimana Alisya...." suara Adith terdengar putus asa. Dia sangat takut dan khawatir terhadap kondisi Alisya terlebih karena dia melepas Alatnya. Adith tidak bisa menemukan Alisya dimanapun meski ia telah mencari diseluruh taman. Adith bingung sekaligus marah pada dirinya sendiri karena tak bisa berada disisi Alisya saat ini. Setelah beberapa saat, Adith yang hampir pasrah segera ingin melangkah pergi segera mencium aroma yang sangat dikenalinya. Aroma itu terbawa oleh hembusan angin malam yang membuatnya segera menoleh kearah sumber aroma. "hufffhhh huuuffhhh hufffhhh" dari arah pohon ditepi taman yang gelap Adith mendengar desahan suara yang berat serta terdengar terisak isak. Dengan perlahan Adith berjalan menghampiri sumber suara itu, setelah dekat barulah ia bisa menerka siapa dibalik pohon yang gelap itu. Alisya memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya didalam lututnya bersimpuh menyembunyikan diri. Mendengar tangisan Alisya yang begitu pilu, Adith hanya bisa duduk dibalik pohon sebelah tak ingin menganggu Alisya. Adith ingin memberikan Alisya waktu agar ia bisa menumpahkan segala perasaanya dan kesedihannya saat ini. Tangisan Alisya membuat setitik Air mata Adith juga ikut mengalir deras. Adith menyandarkan kepalanya menengadah keatas langit yang bertabur bintang. Malam itu begitu indah dan cerah namun tak bisa menutupi kesedihan seorang gadis cantik. "Kau tau??? setiap kali aku sedih, aku selalu berada ditempat ini!" Alisya membuka suara dengan nada yang berat dan serak. Adith kaget mendengar suara Alisya yang seolah sedang berbicara. Adith berpikir bahwa mungkinkah ada orang lain yang sedang bersamanya sekarang. Adith tidak memberanikan diri untuk menoleh kebelakang sehingga ia memilih untuk mendengarkan lebih lanjut apa yang akan dikatakan oleh Alisya. "Setiap kali aku merasa aku tak mampu menghadapi juga tak mampu menahan semua beban berat dan kebencianku yang semakin membesar kepada ayahku, aku akan selalu kesini untuk menumpahkan semuanya. Memukul dan menendang pohon ini sebagai pelampiasan dan juga menangis tersedu-sedu seperti yang saat ini aku lakukan. Takkan ada satupun yang bisa menemukan aku, tak kusangka kau bisa dengan mudah menemukanku" Alisya melanjutkan kalimatnya lagi dengan nafas yang sudah lebih tenang. Adith masih terus memfokuskan pendengarannya berharap bisa mendengar suara orang yang bersama Alisya. "Sekarang setiap kali melihatmu aku seperti memiliki seseorang untuk menjadi tumpuan. Bahumu yang bidang selalu saja siap sedia untukku bersandar, kehidupanku jadi banyak berubah dan bahkan kepribadianku pun kata nenek sudah semakin membaik. Kedatanganmu kembali dalam kehidupanku memberikan aku warna tersendiri. Dan saat kau tak ada, aku jadi menyadari bahwa hatiku sudah terketuk olehmu" mendengar kalimat itu, Adith sudah tidak tahan lagi sehingga dengan segera memutar tubuhnya untuk melihat siapa sebenarnya yang sedang Alisya ajak berbicara. Bayangan Karan sontak terlintas dalam benak Adith, apakah Alisya sedang bersama Karan sekarang sehingga Ia yang semula ingin melihat dibalik pohon segera menghentikan langkahnya. Adith masih belum bisa menerima kebenaran jika benar bahwa yang dimaksudkan oleh Alisya adalah Karan. Adith mengepalkan tangannya dengan sangat kuat tak berani menampakkan diri, namun ia tak cukup tahan untuk lebih memilih menghadapi kenyataannya. "Alisya, kau..." Adith segera berbalik melihat kearah balik pohon namun ia tak menemukan siapapun disana. Alisya sudah menghilang dari tempat duduknya yang tadi dilihat oleh Adith. Adith bingung karena Alisya sangat cepat menghilang dari sana. Adith seketika panik berkeliling mencari keberadaan Alisya disana. lalu tiba-tiba saja sebuah tangan terulur dari atas pohon. "Naiklah!!!" Alisya tersenyum dengan wajah sembab dan mata bengkaknya, mengulurkan tangan ke arah Adith yang menyambutnya dengan sepenuh hati lalu memanjat naik. Adith seketika tertegun diatas pohon melihat pemandangan kota pada malam hari sangat indah, mirip seperti langit yang bertabur bintang. Alisya bersadar dibahu Adith dan melingkarkan tangannya dilengan Adith lalu menggenggam tangan Adith dengan hangat. Barulah Adith paham kalau orang yang dimaksud oleh Alisya adalah dirinya. Mereka berdua terdiam menikmati pemandangan malam itu tanpa ada dari keduanya memulai berbicara atau membahas apa yang sedang terjadi. Bagi Alisya, Adith seolah seperti obat yang cukup baik baginya. Chapter 108 - Analisis Bodoh "Alisya??? tumben hari ini kamu telat! Ada apa?" Karin merasa aneh dengan keterlambatan Alisya. Meski Alisya biasanya berjalan kaki, dia tidak pernah terlambat dan selalu lebih dahulu berada dikelas dibanding yang lainnya. "Tidak ada apa-apa, aku hanya telat bangun saja!" Alisya tersenyum manis menghilangkan rasa khawatir Karin. "Kamu yakin?" Karin bertanya dengan wajah serius saat melirik jam di tangannya menunjukkan angka yang tidak stabil meski belum sampai membuatnya berbunyi keras. "Tentu saja!!!" Alisya terduduk langsung melempar pandangannya jauh kearah jendela. "Ujiannya akan segera dimulai, kalian harus segera bersiap selama beberapa hari kedepan. Untuk itu saya harapkan kalian semua tetap menjaga kesehatan untuk bisa mengikuti ujian dengan maksimal" Ibu Arni masuk untuk memberikan sedikit motivasi kepada para siswanya. Selama beberapa hari mereka bahkan tak sempat bercanda atau berkomunikasi satu sama lainnya karena lebih terfokus terhadap ujian yang sedang berlangsung hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat. "Alisya mendapatkan nilai 100 pada setiap mata pelajaran???" bukankah ini terlalu berlebihan? apa dia mendapat bocoran soal sehingga bisa mendapatkan nilai sempurna seperti itu? seorang siswa kaget melihat layar monitor yang memperlihatkan Nilai hasik ujian dimana Alisya berada pada tingkat Atas di gedung sekolah siswa biasa. "Jangan berkata sembarangan jika kau tidak memiliki bukti, saat staf sekolah mendengar apa yang kau katakan dan tidak terbukti benar maka riwayatmu akan tamat!" bantah yang lain menoleh kekiri dan kekanan saat mendengar kalimat temannya itu. "Tidak kah kau merasa aneh, dari mana dia bisa mendapatkan nilai 100 pada setiap mata pelajaran kalau tidak mendapatkan bocoran soal?" jawabnya lagi ingin menambahkan argumennya. "Jika bukan mendapatkan bocoran soal, maka dia sudah mencuri atau bahkan melihat soal ujian sebelumnya!" tambah yang lainnya yang semula hanya mendengarkan saja. "Hentikan analisis bodoh kalian. Perkataan kalian menandakan kebodohan kalian yang amat teramat akut! Kalian yang iri dan tak mampu melakukannya hanya bisa mencari kesalahan orang lain. Jika tak mampu kalian tidak usah membual dengan penuh sampah dimulut kalian!!!" Aurelia tidak bisa menahan bibirnya untuk segera menyemprot mereka sedari tadi. "Bodoh??? cihhh.. tau apa kau? apa kau yakin kalau Alisya bisa mendapatkan nilai 100 disetiap mata pelajaran tanpa mendapatkan bocoran soal atau mencurinya?" siswa itu tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Aurelia. "Selain itu, jika nilainya sempurna itu artinya dia menyamai tingkat Adith. Tentu saja mustahil, Adith adalah orang yang paling jenius disekolah ini. Bahkan Zeinpun tak mampu menyamai rekor Adith dengan hanya mendapatkan nilai kurang 3 poin dr Adith. Itu artinya Alisya pasti melakukan kecurangan" tambah yang lainnya dengan nada sombong. Aurelia dengan akuh melangkah maju kemudian melihat lambang kelas di baju para siswa itu. "Mia 5 dan Mia 6! pantas saja.. kalian berada jauh dari kelas Mia 2 sehingga tak tau apapun. Bahkan kebodohan kalian yang mendekati taraf Idiot!" Aurelian memandang mereka dengan pandangan merendahkan. "Apa maksudmu??? Kau..." mata mereka membesar dengan penuh kesal namun seketika terhenti oleh tatapan tajam Aurelia. "Tentu saja aku mengatakan kalian bodoh juga idiot. Sekolah kita memiliki tingkat keamanan dan kerahasiaan sangat tinggi yang bahkan mendapatkan pengakuan dari Cybercrime indonesia. Metode ujian serta pemaketan soal menggunakan komputer yang hanya berada pada ruang kepala sekolah dan hanya dibuka oleh kepala sekolah saja yang bahkan tak memberikan seekor lalat masuk sudah sangat tidak mungkin untuk Alisya melakukan kecurangan. Apalagi untuk mencuri soal tersebut karena ruang kepala sekolah yang terbuat dari bahan-bahan luar biasa yang digunakan sebagai pembuatan brangkas terketat dunia" Ucap Aurelia menyilangkan kedua tangannya dengan senyuman sinis. "Bisa jadi Alisya mungkin memiliki kedekatan dengan kepala sekolah sehingga dia..." siswa itu dengan cepat menutup mulutnya yang sudah semakin melenceng jauh. "Itulah kenapa aku bilang kalau kalian idiot! jika kau berkata bahwa Alisya curang, apakah kau bisa memberikan bukti untuk membuat argumenmu itu lebih kuat? tidak kah kau berpikir bahwa jika Alisya memang telah berbuat curang tentu saja dia akan segera ditemukan dan nilainya takkan dipajang di monitor sekolah ini." senyum Aurelia sinis. Mereka akhirnya terdiam seribu bahasa mendengar apa yang dikatakan oleh Aurelia. "Benar, dia pasti akan segera dilaporkan atau dipanggil ketimbang nilainya di umumkan seperti ini!" jelas yang lain mulai ragu terhadap apa yang sudah mereka pikirkan mengenai Alisya. Mereka akhirnya pergi dengan kesal tak bisa menang dalam perdebatan itu. "Apa aku tak salah dengar? kenapa kau membela Alisya? Aku fikir kau sangat membencinya karena sudah merebut Adith dari dirimu." ucap Wina heran yang sedari tadi menyimak perdebatan Aurelian dengan 3 orang siswa dari kelas lain. "Aku juga tak tau kenapa aku melakukan hal ini!" Aurelia mentup wajahnya bingung. Ia bahkan melakukan hal tersebut secara tak sadar meski begitu ia tak menyesali apa yang sudah dia lakukan. untuk sesaat Aurelia merasa bangga pada dirinya sendiri. "Ternyata hatimu lembut juga!" ucapnya mengelus kepala Aurelia yang membuat Aurelia risih. Chapter 109 - Taruhan "Alisya,,, kau sudah melihat hasil ujianmu??? monitor di lobbi sudah memperlihatkan hasilnya!" Beni menerobos masuk kedalam kelas penuh semangat. Alisya hanya tersenyum melihat reaksi Beni yang sedikit berlebihan. "Alisya tak melihatnyapun aku yakin dia pasti sudah bisa menebak hasilnya!" Adora datang menghampiri tempat duduk Alisya. "Bukan hanya itu, nilainya dalam pelajaran olah raga dan praktikumpun tidak dapat diragukan lagi nilainya pasti sempurna!" Emi juga ikut nimprung ditengah mereka "Sepertinya kalian sudah sangat nyaman berkumpul disekitar Alisya!" Karin masuk ditemani Rinto melangkah dengan penuh senyuman. "Bukan hanya Alisya, nilai terendah yang sudah dikumpulkan oleh kelas Mia 2 adalah 85. Kelas kita juga mendapatkan poin terbaik dari seluruh kelas yang hampir setara dengan poin yang didapatkan oleh kelas Elite!" Ibu Arni masuk menatap siswanya dengan penuh kebanggaan. Semua orang terdiam dan hanya bisa tertawa tak percaya. "hahhaahahaha,, Ibu Arni sepertinya sangat mengasihani kita! Terimakasih bu, kata-kata motivasi yang sangat membakar!" teriak Doni penuh semangat. "Benar, Mana mungkin kelas biasa bisa menyamai Poin dari kelas elite? selama beberapa abad ini kelas biasa hanya bisa mendapatkan nilai tertinggi 80!" Gina ingat betul bahwa tingkat kesulitan yang diberikan oleh sekolah no satu bukanlah hal biasa bahkan sangat luar biasa bagi orang pada umumnya. "Jika benar, aku akan berteriak keliling lapangan sambil berteriak kencang menyatakan perasaaku kepada seseorang!" Ucap Yogi bukan tak mempercayai perkataan ibu Arni, namun karena merasa hal tersebut memiliki kemungkinan yang cukup mustahil. "Aku, aku akan mentraktir kalian semua!" ucap Gani yang mendapatkan sorakan dari seluruh siswa. "Hati-hati,,,, Sebaiknya kalian memegang ucapan kalian itu!" pancing Rinto setelah melihat senyuman Alisya dan Karin yang tampak licik. "Tentu saja!!! Kau bisa memegang kata-kata kami" Seru Yogi dengan penuh keyakinan. "Kau mau bertaruh? lagi pula mana mungkin poin dikelas kita bisa menyamai poin kelas elite?" tambah Beni dengan tatapan yang sama dengan apa yang sudah dilakukan Yogi. "Baik, Aku akan memegang kalimat yang dilontarkan ibu Arni. Jika dia salah maka aku yang akan melakukan semua hal yang sudah kalian katakan, namun jika ibu Arni benar maka kalian lah yang harus melakukan semuanya sekaligus!" tantang Rinto dengan penuh semangat. "Bagaimana nih sya? kira-kira kamu akan memihak kepada siapa?" Feby dan Yana mendengarkan suara Gina yang sedang menoleh berbisik ragu kepada Alisya. "Kar, bagaimana menurutmu?" tanya Adora bingung. "Oke... karena kalian sudah begitu semangat! Maka ibu akan ikuti permainan kalian. Sebentar lagi setiap wali kelas akan mendapatkan hasil rekapan poin untuk tiap kelas yang akan ditampilkan pada monitor kelas. Jadi kalian bisa melihat secara bersama-sama hasil yang sudah kalian peroleh selama ini. Kalian sudah berusaha dengan sangat baik bahkan sangat keras sampai beberapa dari kalian mimisan, jadi kenapa kalian tidak bersikap sombong sedikit?" Ibu Arni menaruh sikunya dan memandang siswanya dengan tatapan yang membuat semua siswa merasa terbakar oleh motivasinya. Selama ini mereka sangat bersyukur memiliki seorang wali kelas yang sangat perhatian kepada mereka. Ibu Arni bahkan memohon perlakuan khusus kepada pihak sekolah untuk memberikan kenyamanan siswanya selama memakai kelas dimalam hari yang dingin. Terlebih karena Ibu Arni selalu saja datang membawakan mereka makanan selama mereka melakukan pelajaran tambahan ekstra keras. Mereka yang semula begitu yakin dengan taruhannya kini menjadi sangat gusar melihat ketenangan Alisya dan Karin serta senyuman Ibu Arni yang tak bisa mereka tafsirkan. Entah karena kepercayaan ibu Arni kepada mereka sudah begitu tinggi, atau karena apa yang sedang dikatakan ibu Arni akan mengalami kenyataan. Monitor sekolah tiba-tiba saja menyala dan menampilkan layar yang membuat mata dan hati serta tubuh mereka bergetar dengan sangat drastis. Beberapa dari mereka bahkan menutup mata dan telinga mereka tidak siap menerima kenyataan hidup. Terlihat dimonitor kelas menampilkan layar kolom Kelas sekolah yang bagian atasnya kelas elite Mia 1 diikuti oleh kelas lainnya. "Waaauuuhhhhhhh..." beberapa dari mereka kaget melihat hasil yang tertera di layar monitor kelas. Mereka bahkan mengusap mata beberapa kali untuk memastikan apa yang sedang mereka lihat. "Selamat!!! Kerja keras kalian Akhirnya membuahkan hasil yang fantastis!" Adith muncul dari balik pintu bersandar dengan tangan yang terlipat. Pose yang dia lakukan begitu menawan dan sekali lagi para siswi mengusap mata mereka dengan kasar karena seorang Adith yang dingin mengucapkan selamat kepada seisi kelas meski padangan matanya lebih tertuju pada Alisya. "Prestasi kalian cukup memberikan kami ancaman, presentase nilai kalian semua cukup tinggi dengan nilai terendah yang diperoleh adalah 87!" Zein ikut menambahkan. "Dan itu artinya apa yang sudah kami berikan membuahkan hasil yang fantastis. Aku jadi sedikit terintimidasi oleh kalian!" Riyan masuk melempar Rinto agar ia bisa duduk di dekat Karin. Seisi ruangan hanya terpaku tak bisa menyesapi keajaiban yang sedang terjadi ditambah kemunculam 3 orang elite yang harusnya masih berada dikelas masing-masing. "Ehemm... kita semua akan makan enak karena mendapat traktiran dari Yogi, Gani, dan Beni!!!!" Teriak karin membangunkan lamunan mereka semua. Setelah beberapa detik akhirnya mereka semua berteriak heboh penuh suka cita dan tangis haru. "Jangan lupa, ada yang akan mengungkapkan perasaanya hari ini. Kau bisa mengambil Mic dan Podiummu sobat!" Rinto menarik kerah baju Yogi yang ingin melarikan diri. Senyum Rinto membuat bulu kuduk Yogi terasa bergoyang senggol dan rontok. Chapter 110 - Pacar Sekarang & Istri Selamanya Sesuai perjanjian pada taruhan yang sudah dikatakan oleh Yogi, mereka semua mendorong Yogi dengan sangat keras menuju ketengah lapangan sekolah yang menjadi penghubung antara wilayah kalangan Elite dan Kalangan Biasa. "Lakukan apa yang sudah kau katakan tadi dengan bangga. Sudah ku ingatkan untuk berhati-hati, namun kepercayaan dirimu itu sekarang menjadi bumerang untukmu!" Rinto tersenyum licik melihat penderitaan dan tekanan yang didapatkan oleh Yogi. Yogi berdiri ditengah lapangan sekolah sedangkan teman-temannya yang lain menunggu dengan penuh Antusias berkumpul melihat dari arah Jendela mengamati Yogi. "Apa kamu mau disebut pecundang??? Ayo cepat lakukan Yogi.." teriak Karin tak sabar melihat Yogi hanya berdiam diri ditengah lapangan seperti tiang bendera. "Sepertinya dia sedang mempersiapkan dirinya!" Alisya memandang serius ke arah Yogi. Alisya mengangumi keberanian Yogi meski ia belum menyelesaikan apa yang sudah ia janjikan. "Kau cukup tertarik dengan hal-hal seperti ini? apa kau mau aku melakukannya juga?" bisik Adith ditelinga Alisya yang gemas memperhatikan tingkah Yogi dari tadi. "Kau tau! kau tak perlu melakukannya karena detak jantungmu sudah menjelaskannya dengan sangat keras. Lagi pula aku ingin hanya aku saja yang mendengar kalimat itu!" balas Alisya sembari tersenyum manis bersembunyi menghindari tatapan menusuk Adith yang sedang shock. "Woyyy... kalau nggak bisa, balik sinih buang-buang waktu saja. kami sudah lapar nih!" tantang Rinto kesal karena yogi masih terdiam. "Apa dia butuh pengeras suara?" tanya ibu Arni mulai tak sabar. " A....." Teriak Yogi dengan sangat keras mengalahkan pengeras suara buatan. Kata pertama yang terucap membuat semua orang seketika melirik ke arah Alisya dengan tatapan bingung sekaligus penasaran. "Nggak, mana mungkin orang yang Yogi maksud adalah Alisya!" Karin menggeleng keras yakin bahwa huruf pertama yang keluar dari mulut Yogi bukanlah nama Alisya. "Apa dia cari mati?" Adith mengepalkan tangannya tidak bisa menerka apa yang akan dikatkan oleh Yogi namun sejenak untuk pertama kali ia sangat takut. "Sepertinya hari ini akan menjadi hari sialnya!" Zein tertawa pelan melihat ekspresi kelam diwajah Adith. "Apa aku juga harus melakukan hal seperti yang sekarang dilakukan oleh Yogi? Dia tampak sangat keren!" Riyan memandang kearah Yogi dengan mata berbinar penuh kekaguman. "A!!!!!!!" Teriak Yogi untuk yang kedua kalinya. Kali ini pandangan mereka yang awalnya tertuju pada Alisya kini beralih pada Adora. Adora yang tak menyadari bahwa ia menjadi target selanjutnya seketika memanas penuh amarah. "Sepertinya aku harus membunuhnya sekarang juga!!!" suara Adora dingin saat menyadari semua orang sudah beralih melihat kearahnya. Saat Adora melangkah dengan sangat agresif ingin menuju ke arah Yogi dan membungkamnya, dengan semangat teman-temannya yang lain menghentikan Adora. "A....u....re....lia!!!!" Teriakan Yogi yang ketiga kalinya kini mendapat perhatian dari seluruh kelas bahkan staf serta guru yang ada dalam lingkup sekolah SMA CENDEKIA INDONESIA. Seisi kelas yang sudah harap-harap cemas akan siapa yang dimaksud oleh Yogi membuat mereka serempak jatuh tersungkur kelantai setelah mendengar bukanlah nama Alisya maupun Adora melainkan Aurelia. "Aurelia... aku mencintaimu!!!! jadilah Pacarku sekarang dan Istriku selamanya..." lanjut Yogi membuat seluruh sekolah berteriak dengan sangat keras menggema diseluruh wilayah sekolah. "Breng**k, aku hampir saja meng Hadshot Yogi saking penasarannya!" Rinto mengeluh dengan memijit area matanya. Suara teriakan serta tepuk tangan menggema diseluruh sekolah. Yogi terus menatap lurus kearah jendela kelas Mia 3 yang semakin heboh begitu mengetahui orang yang dimaksud adalah Aurelia. Aurelia langsung menghambur keluar menghampiri Yogi dengan wajah penuh amarah. "Woww... lihat!!!! Au... Aurelia datang menghampiri Yogi" tunjuk Emi dengan penuh semangat. "Apa yang akan terjadi??? apakah Yogi akan diterimana atau bagaimana yah?" Feby melihat dengan cemas apa yang akan terjadi selanjutnya. "Aku berani bertaruh kalau dia pasti akan diterima" Beni berkata dengan penuh keyakinan. "Dia pasti akan mendapatkan Ta...." belum selesai Zein berkata, Aurelia sudah melayangkan sebuah tamparan yang cukup keras ke pipi Yogi. Suara tamparan yang terdengar bahkan membekas pedih dipipi setiap orang yang mendengarnya. Sekolah yang semula heboh mendadak menjadi sunyi senyap. "Dasar bodoh!!!! apa yang kau lakukan??? kau sudah membuat ku malu tau nggak!!!" bentak Aurelia menatap tajam wajah Yogi yang sedang memegang pipinya yang memerah dengan bekas tangan Aurelia. Untuk beberapa saat Yogi terdiam tak menyangka kalau respon Aurelia akan sampai semarah itu. "mparan....." lanjut Rinto dalam keheningan yang kemudian mendapat tatapan tajam dari teman-temannya. "Kau pikir kami tidak melihat???" Feby menoleh dengan kesal. Meski tindakan Yogi terlalu klasik, namun mereka sangat mendukung apa yang sedang dilakukan oleh Yogi dengan sepenuh hati. "Maaf-maaf, aku juga tidak sengaja! Aku hanya melanjutkan apa yang sebelumnya aku katakan!" Rinto mundur selangkah menjaga jarak jangan sampai mendapatkan tendangan berputar beruntun dari teman-temanya yang masih menatapnya ganas. "Pipiku terasa terbakar!!" Riyan memegang pipinya yang putih mulus merasa seolah dialah yang mendapat tamparan itu. "Oke, aku tidak akan melakukan itu!!!" mata Adith terbuka dengan sangat lebar melihat Aurelia menampar wajah Yogi dengan sangat bengis. "Aku takkan menamparmu, aku akan melakukan hal yang lebih dari itu!" senyum Alisya menggoda Adith. Melihat itu Adith seketika bergidik ngery, jika seorang Alisya yang memberikan sebuah ancaman dengan tersenyum maka tidak ada kebaikan didalamnya. Saat mereka saling berdebat satu sama lain sehingga tidak terlalu memperhatikan Yogi, tiba©\tiba saja seluruh kelas berteriak dengan sangat keras. Dari kejauhan mereka melihat Aurelia dan Yogi sekarang sudah berpelukan. dilanjutkan dengan teriakan Yogi yang lebih membahana dari sebelumnya. "Aku Berhasil!!!!!" Yogi memeluk Aurelia sambil berputar sedang Aurelia mengelap matanya yang berlinang penuh haru. Chapter 111 - Karena Nenek Memaksaku "Mau kemana nek pagi-pagi begini?" Alisya terbangun dengan mata setengah tertutup karena membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang masuk melalui jendela rumahnya. "Ke kantor kakekmu, dia baru balik dari Jepang setelah menyelesaikan beberapa bisnis disana" Neneknya kini tak segan lagi menyebut suaminya dihadapan Alisya sejak terakhir kali ia tau bahwa Alisya akhirnya mengetahui kebenarannya. Saat ini yang neneknya inginkan adalah Alisya bisa menerima semua secara perlahan-lahan. "Jadi selama ini nenek selalu berhubungan dengan kakek??? pantas saja mereka selalu bisa menemukan kita dengan mudah!" Alisya merasa dibihongi karena ia ingat betul bahwa neneknya adalah seorang penembak jitu yang sangat ahli dalam menyembunyikan diri namun dengan mudah ditemukan. "Kakekmu sudah lama tidak makan masakanku jadi aku ingin memberinya makan dulu, selama ini dia ke Indonesia harus memakan makanan hotel jadi..." nenek Alisya sengaja tak menjawab pertanyaan Alisya. Neneknya ingin Alisya bisa lebih dewasa dalam hal bertindak dan bepikir. Dan hal seperti ini lebih baik Alisyalah yang merasakannya langsung dan menilainya. "Ya sudah, jika kau memaksa aku ikut!!!" ucap Alisya dengan sangat pelan. "ummmm?? apa kau bilang??? nenek nggak dengar!" neneknya mendengar jelas apa yang dikatakan Alisya namun sengaja. "Jika kau memaksa aku akan ikut. Aku akan mengantarmu!" Suara Alisya lantang menggema diseluruh rumah. "Oh,,, tidak apa! aku bisa pergi sendiri" tolak nenek Alisya sengaja menantang Alisya. "Karena nenek me ma k sa!!! aku... i .. ikut...." Alisya menekan kata katanya dengan geram namun berusaha tetap sopan. Neneknya tertawa sekaligus menangis disaat yang bersamaan membuat Alisya malu dan berlari masuk tak memperdulikan neneknya. Alisya keluar setelah berpakaian cukup rapi dan terlihat manis. Neneknya melihat Alisya seperti berpakaian dengan penuh semangat untuk mendapat perhatian dari kakeknya. "Cekrrekkkk!!!" nenek Alisya memotret Alisya yang terlihat manis lalu mengirim foto itu ke ayah dan Kakek Alisya. Nenek Alisya bisa membayangkan bagaimana ekspresi terkejut kedua orang tua itu melihat foto Alisya. "Nenek, senyumanmu mengerikan!" ucap Alisya yang mendapat cubitan gemas nenekny karena kalimat Alisya. "Pegang ini!!!" sodor neneknya kepada Alisya untuk memegang rantang makanan untuk kakeknya. "Nenek gimana sih, aku kan mau bawa motor!" Alisya menunjuk kearah motor yang sudah berada di depan mereka. "Biar aku, aku sudah lama ingin mencoba keluar menggunakan motor ini!" nenek Alisya menyambar naik dan memegang setir motor Alisya dengan penuh percaya diri. "Emang nenek bisa??? nenek juga tidak punya SIM kan? nenek juga sudah tua jadi biar yang muda ini melayani sepenuh hati" Alisya menunduk dan merentangkan tangan seperti seorang pelayan inggris kepada ratunya. Nenek Alisya hanya memperlihat kartu SIM tanpa menjawab yang membuat Alisya terbelalak kaget. Alisya akhirnya pasrah dan naik diboncengan motor. Neneknya memacu motor canggih Alisya yang berbadan besar namun tidak menyulitkannya untuk terus melesat jauh. Alisya duduk dengan mata bergetar kagum terhadap kepiawaian neneknya membawa motor canggihnya. Sesampainya dikantor, Alisya masih belum bisa menemani neneknya masuk kedalam kantor kakeknya sehingga ia memilih mencari ibu Yul. "Kamu kok jarang ngunjungi ibu sih Sya.." ibu Yul memukul bahu Alisya dengan gemas. "Maaf yah bu, kemarin Alisya sibuk mengikuti pelajaran tambahan untuk ujian penaikan kelas!" senyum Alisya memeluk hangat ibu Yul untuk menghiburnya. "Kamu sekarang sudah masuk kelas akhir? Jadi gimana hasilnya???" tanya ibu Yul penuh Antusias. "Nilai sempurna pada setiap pelajaran baik olah raga maupun praktikum!" Alisya menyengir menaikkan kedua jarinya membentuk huruf V. "Aku senang mendengarnya!!!" Suara kakek Alisya mengagetkan Ibu Yul juga Alisya. Alisya mendadak kikuk tak tau harus berbuat apa, yang terlintas dipikirannya adalah bagaimana ia melarikan diri dari situasi itu. Ia bahkan menatap tajam kearah neneknya yang sengaja membawaka kakeknya kehadapannya. "Eits,, bukan aku!! begitu mengetahui kamu ikut bersamaku, dia memaksa untuk bertemu denganmu!" bantah neneknya mendapat tatapan tajam Alisya. Mereka kemudian terdiam dan saling memandang satu sama lain tanpa ada yang berani memulai pembicaraan kembali. "Sebaiknya aku balik saja sekarang!" seru Alisya pelan. "Sekarang kamu sedang libur kan?" tanya kakek Alisya menghentikan langkah Alisya cepat. "Ummm.." angguk Alisya masih belum terbiasa berbicara sopan. "Apa kamu mau jika kita liburan di Tokyo? kamu mau melihat rumah kelahiran ibumu?" Kakeknya bertanya dengan penuh keraguan ia takut akan mendapat Alisya marah karena menyebut tentang ibunya. Alisya terdiam seribu bahasa dan tak bergeming dari tempatnya ia berdiri. Fikirnya melayang tak tentu arah tak bisa menafsirkan apa yang baru saja didengarnya. Jepang adalah tempat yang selama ini ia ingin datangi, melihat langsung tempat kelahiran ibunya juga bisa merasakan langsung bagaimana ibunya hidup disana. Selama ini ia selalu menyembunyikan diri dan kali ini kakeknya menawarkannya langsung. "Makanlah dirumah dengan nyaman, masakan hotel tidak baik bagi kesehatan orang tua sepertimu!" ucap Alisya tanpa menjawab pertanyaan Alisya. Kalimat Alisya yang seperti itu membuat kakeknya mengalirkan air mata tak menyangka. Meski Alisya tak menjawabnya secara langsung ia mengerti akan apa yang dimaksudkan oleh Alisya. Kakeknya menangis tersedu-sedu masih tak percaya. "Berhentilah menangis, kau akan mempermalukan dirimu sendiri!!!" Alisya menjadi kikuk melihat wajah shock seluruh kantor melihat direktur mereka rebah dihadapan Alisya menangis. Chapter 112 - Akiko Rumah kakek Alisya berada di daerah Aoyama-itchome terletak dekat satu sama lain dengan Gaienma dan Omotesando. Keduanya merupakan lingkungan kelas atas dengan jalan-jalan yang mengesankan seperti Icho Namiki Avenue yang juga dikenal sebagai "Golden Street" karena terdapat pohon-pohon ginkgo kuning emas di sepanjang jalan tersebut. Rumah bagi beberapa orang terkaya di Jepang seperti keluarga Honda dan beberapa perusahaan internasional terbesar seperti Oracle Jepang, lingkungan ini berdiri sebagai lambang perkembangan Tokyo. Tempat-tempat tersebut tidak hanya memiliki butik mewah, restoran, dan rumah modern, tapi juga taman hijau yang mengesankan dan memiliki bisnis futuristik. Sudah sekitar 4 hari Alisya berada dijepang, ia tak pernah keluar rumah karena begitu ingin menikmati rumah tempat kelahiran ibunya. Keberadaan Alisya yang selama ini disembunyikan oleh kakeknya cukup menghebohkan seluruh keluarga besarnya yang berada di Tokyo akibat kemunculannya di jepang untuk pertama kali sejak 17 tahun yang lalu. "Apa kau tak bosan berada di rumah terus Sya?" tanya neneknya melihat Alisya duduk bersandar di ayunan taman rumahnya. "Nggak nek, aku kan belum pernah kesini sebelumnya. Jadi aku merasa waktu disini berlalu terlalu cepat. Oh iya nek? mama punya beberapa tempat yang suka ia kunjungi tidak? Saya ingin melihat jejak-jejak dimana ia selalu melihat dan berpijak!" Alisya terpikir untuk mengenali kehidupan dan kesukaa ibunya selama berada dijepang. "Tentu saja, untuk itu aku sudah menyiapkan itu agar kamu bisa menikmatinya dengan sebaik mungkin!" nenek Alisya memainkan matanya dengan genit. "Nenek yang terbaik!!!" Alisya mencium neneknya dengan sangat kuat karena gemas. "Oh iya, kamu sudah kenalan sama akiko kan? gimana kalau dia yang anterin kamu? kamu juga tidak tau jalan kan? biar aman?" neneknya menyarankan teman jalan untuk Alisya sebagai tur gaetnya. "Akiko yang cucu dari kakek kedua?" Alisya menerka karena ia ingat sebelumnya pernah bertemu dengannya. "Iya benar! bagaimana kalau kamu jalan sama dia?" tanya neneknya lagi. "Jalan sendiri sih sebenarnya aku tidak masalah nek..." rengek Alisya kepada neneknya. "Alisya...." neneknya mendesah melihat Alisya yang ngotot untuk pergi sendiri. "Ya sudah, kalau Akiko yang ikut aku sih tidak masalah." Alisya pasrah karena menurutnya Akiko mungkin akan banyak mambantunya dalam mencari arah maupun tempat. "Kau sudah dengar kan???" nenek Alisya tiba-tiba saja berbahasa jepang pada seseorang. "Waahhh,, terimakasih! aku pikir kamu tidak akan mau jalan bersamaku!" Akiko muncul dengan logat jepangnya yang manis. Akiko memiliki perawakan seorang gadis muda yang manis dengan kecantikan seperti seorang yang berada dalam karakter Anime dengan Rambut panjang hitam, kulit putih mulus, dengan mata yang tidak terlalu sipit dan cara berpakaian yang sangat feminim. Berbeda jauh dengan Alisya yang lebih nyaman memakai celana panjang agak longgar yang memiliki banyak kantong dan baju Kaos oblong. "Sejak kapan dia berada disana?" Alisya kaget dengan kemunculan Akiko yang sekarang sudah berada dihadapannya dan memegang tangannya. "Sejak tadi pagi, dia sangat ingin mengajakmu jalan tapi takut kalau itu akan menganggumu!" nenek Alisya mengelus rambut Akiko yang tertunduk malu. "Ma u I kut?" Akiko berusaha menggunakan bahasa Indonesia. Alisya mengertukan keningnya mendengar Akiko yang berusaha berbahasa indonesia. "Selama 2 hari penuh Akiko belajar Indonesia agar bisa akrab dan berkomunikasi dengan baik denganmu! Akiko senang akhirnya memiliki keluarga seorang perempuan. Semua anggota keluarga ini adalah laki-laki, sehingga Akiko jarang bermain dengan anak gadis lainnya." Terang neneknya melihat kesungguhan dan ketulusan Akiko kepada Alisya. "Tidak apa-apa Akiko, aku bisa berbahasa jepang!" ucap Alisya dalam bahasa jepang yang membuat mata Akiko bebrbinar-binar kagum. Alisya tersenyum melihat wajah imut Akiko yang setahun lebih muda darinya sehingga tidak secara langsung Alisya menganggap Akiko sebagai Adiknya. Pada akhirnya mereka berdua pergi dengan Akiko yang ceria menuntun langkah Alisya menyusuri jalan tokyo yang selalu ramai. Tujuan mereka saat itu adalah Shibuya dimana terdapat patung Hachiko yang sangat disukai oleh ibunya karena karakter dari Anjing Hachiko itu sendiri. selanjutnya mereka menuju Ginza untuk mencari makanan halal ala jepang untuk Alisya. Akiko yang cekatan membuat Alisya begitu menikmati perjalananya bersama Akiko. "Sudah malam, bagaimana kalau kita pulang?" ajak Alisya melihat Akiko yang terlihat menyembunyikan kelelahannya. Akiko mengangguk patuh tersenyum penuh pengharapan. Alisya tertawa pelan melihat tingkah Akiko yang manis dan lucu. Barang bawaan mereka cukup banyak dan Alisya yang sudah terbiasa berjalan kaki sepertinya sedikit menyulitkan Akiko meski sebenarnya Akiko juga sering berjalan kaki saat menyusuri daerah disekitar Tokyo. "ummm,, tunggu disini. aku akan masuk membeli sesuatu!!!" Alisya segera masuk kedalam toko untuk menemukan sesuatu yang nyaman dipakai oleh Akiko yang tampak memerah kakinya karena sepatu hak tingginya. "Ahh...." Akiko sempoyongan menabrak seorang pria berbaju hitam yang kemudian basah karena tumpahan minuman yang masih panas. Akiko dengan cepat meminta maaf dengan menunduk-nunduk dalam. "Kurang ajar, apa kau tak punya mata?" bentaknya dalam bahasa jepang yang membuat Akiko bergetar ketakukatan. Akiko mengangkat kepalanya menatapnya dengan penuh keyakinan. "Bukankah aku sudah meminta maaf???" ucapnya lantang karena merasa sudah melakukannya dengan benar. "Hei gadis manis, ucapan maafmu takkan cukup untuk membayar baju mahalku yang sudah kau kotori dengan noda kopi ini" pria itu menyambar dagu Akiko dengan sangat kasar. "Jadi kalian butuh uang?" Akiko mengeluarkan seikat uang lalu diletakkan ke tangan pria itu dengan kasar kemudian berlalu pergi melewatinya. "Tunggu sebentar, kau juga harus membayar rasa panas ditubuhku yang terkena kopi juga!" beberapa temannya yang sedari tadi terdiam segera berdiri mendekati Akiko. Chapter 113 - Yakuza "Apa yang kalian inginkan? bukankah uang yang aku berikan sudah lebih dari cukup? tidak ku sangka kalian cukup serakah" Akiko berkata dengan dingin mulai kehilangan kesabarannya. "Uang yang kamu berikan tidak akan cukup, karena tubuhku yang panas maka kau harus mendinginkannya dengan tubuhmu." pria itu menatap Akiko dengan pandangan melecehkan dari bawah hingga keatas yang membuat Akiko merasa risih. "Bagaimana jika aku saja yang melakukan itu untuk kalian? Dia tidak akan mampu untuk melayani kalian berlima." Alisya menaruh barang-barangnya di atas meja kemudian menarik Akiko dan mendudukkannya lalu menggantikan sepatu hak tingginya dengan sendal kelinci berbulu yang nyaman dan hangat. " Alisya jangan, mereka itu jahat! kamu jangan mau mengikuti kelicikan mereka." Akiko berusaha mencari terjemahan bahasa Indonesia sewaktu Alisya sibuk memasangkannya sepatu dan berbicara dengan terbata-bata. Akiko tidak ingin Alisya terlibat karena kesalahannya sehingga ia lebih memilih untuk menyelesaikannya sendiri. "Tidak apa-apa jangan khawatir ini tidak akan lama! kamu tunggu saja disini.." ucap Alisya menggunakan bahasa Indonesia sembari tersenyum mengelus lembut rambut Akiko. Akiko tak paham apa perkataan Alisya tapi dari senyuman Alisya ia berpikir untuk tidak mengkhawatirkannya, namun Akiko tidak yakin karena Alisya belum tau banyak hal tentang jepang. "Kak,,, dia lumayan juga. Bodynya lebih mantap dan cantik di banding dia!" seorang pria lain menatap Alisya dengan tatapan berliur. beberapa orang lainnya tertawa dengan penuh semangat sudah tidak bisa menahan diri lagi. "Jadi kau mau menggantikan dia? tidak buruk! sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang untukmu" Pria itu memegang dagunya menilik tubuh Alisya. Saat itu Alisya memakai Gaun one piece yang tidak terlalu pendek bermotif bunga dan sepatu gladiator yang merupakan saran dari akiko untuk membuat Alisya terlihat seperti wanita jepang pada umumnya. Alisya yang memiliki darah jepang dari ibunya membuatnya terlihat cantik dan manis ketika menggunakan gaun itu. "A alisya,,, mereka itu gang suter" Akiko berusaha memperingatkan Alisya dengan mengatakan mereka gangster dalam bahasa Indonesia. "Tidak apa-apa! Aku bisa menanganinya" terang Alisya memberi isyarat untuk tetap menunggunya disana. "Jangan kemana-mana" lanjutnya lagi dengan menggunakan bahasa jepang yang sangat fasih. Gangster yang dimaksudkan Akiko dijepang sebenarnya merujuk pada geng Yakuza yang memang masih banyak terdapat di wilayah jepang. Ada dua fraksi besar Yakuza, yaitu Yamaguchi-gumi yang dipimpin Kazuo Taoka, dan Tosei-kai yang dipimpin Hisayuki Machii. Dan ibu Alisya menjdi pemimpin utama dari kedua fraksi tersebut lalu mengangkat kembali tujuan pembuatan Yakuza masa lampau yang asalnya untuk melindungi masyarakat. Namun setelah sepeninggal ibu Alisya tujuannya berubah menjadi menakuti masyarakat. Alisya mengetahui informasi ini selama dia berada di Jepang. "Bagaimana kalau di lorong yang gelap itu? sepertinya tempat itu bagus! kau tentu tak keberatan kan? dilihat dari wajahmu akan sulit untuk membawamu masuk kedalam hotel atau motel" Ajak si pria yang kemudian memegang pinggang Alisya dengan sensasual. Alisya hanya tersenyum dan mengikuti langkah mereka. Akiko bingung dan panik melihat Alisya melakukan hal itu, ia yang hanya mengetahui Alisya hanyalah cucuk kakek pertama yang dimanjakan dan tidak mengetahui banyak hal mengenasi yakuza menjadi sangat panik. Akiko tak menyangka kalau Alisya bisa setenang itu mwngikuti para Yakuza yang bertubuh lebih besar dan sangar dari Alisya. Akiko yang lelah memikirkan apa yang harus dia lakukan, dengan terburu-buru dia mengambil telepon setelah ragus beberapa saat untuk kemudian memberanikan diri menelpon kakek Alisya. "Halo, kakek... Alisya, Alisya dibawa oleh kelompok Tosei-kai dan dia..." Akiko sangat takut saat melaporkan hal ini kepada kakeknya yang ia tau betul bahwa kakeknya ini sangat menyayangi Alisya. Tosei-kai adalah fraksi yang kini selalu bertentangan dengan kakek Alisya semenjak putrinya meninggal. "Tenanglah, Alisya akan baik-baik saja! Aku akan menghubungi Yoshio soal ini... Alisya akan membuat mereka jadi porak poranda dengan kemunculannya! jangan khawatir dan tetap tunggu ditempat itu sampai Alisya kembali" Kakek Alisya paham betul apa yang akan dilakukan oleh Alisya sehingga dengan cepat ia menghubungi Yoshio yang merupakan Asisten ibu Alisya selama menjadi pemimpin kedua fraksi. "Baiklah kek!" Akiko menuruti perintah kakek pertama namun masih kebingungan, bagaimana mungkin dia begitu santai menyikapi Alisya cucu kesayangannya seperti itu. Ia masih tidak habis pikir dengan sikap tenang keduanya. "Ada apa??? ada sesuatu yang sedang terjadi?" nenek Alisya mendengar suara panik Akiko dari hadphone. "Alisya, entah bagaimana dia sedang berhadapan dengan kelompok Tosei-kai sekarang dan Akiko sangat panil saat melihat Alisya ikut bersama mereka." kakeknya tertawa mengingat apa yang akan terjadi dengan kelompok tersebut. "Luar biasa, kenapa kamu bisa tertawa sesantai itu saat mendengar cucumu sedang dalam keadaan genting? apa kau tak mengkhawatirkan Alisya?" neneknya tak habis pikir, meskipun Alisya memiliki kemampuan yang cukup untuk melindungi diri, ia ingin melihat reksi suaminya yang khawatir. "Alisya lebih suka dipercayai ketimbang di khawatirkan! sikapnya persis seperti ibunya, aku pikir kau lebih tau akan hal itu!" terang kakeknya masih tertawa pelan. "Aku hampir lupa kalau mereka berdua adalah turunan darimu! Jadi apa yang akan kamu lakukan? apa kamu akan membiarkan dia mengacau sendirian?" neneknya paham betul jika kesolidan anggota Yakuza adalah hal mutlak yang jika satu orang mengalami penyerangan maka seluruh anggota akan bergerak serentak. "Tentu saja tidak!!! Meskipun umur Alisya bru akan beranjak 18 tahun, dia sudah memiliki kemampuan melebihi ibunya untuk mengembalikan kejayaan ibunya lebih baik dari pada sebelumnya. Dan ini akan menguatkan perusahaan kita nantinya!" tatapan kakek Alisya berubah menjadi lebih serius. Chapter 114 - Aniki... "Kau seperti sedang menggunakan cucumu sekarang!" neneknya menatap wajah kakek Alisya dengan sinis. Meski paham akan maskud dari kakek Alisya, tetap saja ia merasa tidak begitu setuju dengan pemikiran suaminya itu. "Jangan berpikir seperti itu, kau tau Alisya selama ini merasa terkekang karena kita terus saja berusaha menyembunyikannya. Maka dari itu, ini saat yang tepat untuk menambah kekuataan Alisya untuk menekan kemunculan Black Falcon sekitarnya. Akhir-akhir ini aku merasa kehadiran mereka semakin dekat dan aku yakin Alisya menyadari itu sehingga dia memintamu untuk memberinya tempat yang sering ibunya kunjungi" jelas kakek Alisya yang membuat neneknya terdiam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tidak bisa dipungkiri, begitu kakek Alisya menyebutkan mengenai organisasi gelap itu, kehadiran Alisya dalam Yakuza akan sedikit memberikan pengaruh yang cukup besar. 5 menit kemudian Alisya datang tak kurang satu apapun dan pakaiannya masih terlihat rapi seperti sebelumnya. Terlalu cepat ia kembali jika hanya bernegosiasi saja dengan 5 orang sangar itu yang kemudian melepaskan Alisya begitu saja dengan mudah sehingga Akiko berlari kencang dengan sekuat tenaga menghampiri Alisya. "Apa yang terjadi? mereka sudah melepaskanmu begitu saja? bukankah paman Yoshio belum datang? Akiko bertanya dengan penuh khawatir sambil memastikan tubuh Alisya. melihat secara berkali-kali depan belakang serta atas dan bawah. "Sudah ku bilang aku baik-baik saja! Ayo kita pulang, kamu pasti sudah sangat lelah.." ajak Alisya setelah menggetok manja kepala Akiko. menghilangkan rasa khawatirnya. "Kamu beneran tidak apa-apa?" tanya Akiko sekali lagi memastikan keadaan Alisya. Akiko masih belum yakin apa yang sudah dilakukan oleh Alisya sehingga bisa lolos dengan mudah dari 5 orang sebelumnya terlebih karena mereka adalah salah satu anggota kelompok Yakuza dari Tosei-kai yang sangat berbahaya. Alisya hanya tersenyum dan mengangguk pelan memimpin jalan dan mengambil barang belanjaan mereka. Tepat saat mereka mencoba akan pergi sederetan mobil-mobil mahal berhenti dihadapan mereka. Seseorang berkas putih dari atas sampai bawah keluar dengan elegan dari mobil yang juga berwarna senada dengan bajunya. "Paman Yoshio???" Akiko mengenali seorang yang keluar dari mobil yang dikelilingi oleh puluhan orang lainnya yang menunduk saat ia keluar. Puluhan orang lainnya berpakaian serba hitam yang menandakan bahwa mereka termasuk dalam kelompok Yakuza. "Aku kemari setelah mendapat laporan dari kakek pertama bahwa akan ada sesuatu yang menarik disini, tak ku sangka ia hanya membuang-buang waktuku dengan menjemput dua gadis ini!" Yoshio mengeluh dengan kasar mengeluarkan aura mengintimidasi yang sangat besar. Akiko bahkan sampai bergetar karena suara dingin paman Yoshio. "Kalau begitu jangan menghalangi jalan kami, apa yang kalian lakukan dengan berjejer seperti bebek di jalanan yang ramai seperti ini, kalian terlalu mencolok!" ucap Alisya santai. Akiko membelalakkan matanya melihat Alisya yang tampak tak bergeming dengan aura berat yang sudah dikeluarkan oleh paman Yoshio tersebut. Akiko yakin kalau sebenarnya Alisya pasti merasakan Aura pekat dari paman Yoshio ini tapi Akiko juga kagum dengan sikap dan ekspresi santai Alisya. "Breng***!!! Apa yang sudah kau katakan! apa kau tidak tau siapa dia??? kau sedang menggali kuburmu sendiri Gadis Kecil, maafpun takkan bisa menarik kembali apa yang sudah kau katakan tadi!!!" bentak seseorang dari belakang mendengar ucapan Alisya. Mereka merasa Alisya sudah sangat berani mengusir Bosnya dan bersikap santai dihadapannya. Yoshio kaget dengan keberanian wanita muda dihadapannya itu yang telah mengusirnya dengan santai. Belum pernah ada seorang yang tak bergetar berhadapan dengan dirinya sehingga ia merasa tertarik dengan keberanian Alisya. Ia pun mendekatkan langkahnya untuk bisa melihat dengan jelas wajah Alisya. Alisya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengenali siapa paman Yoshio yang sedang berada dihadapannya. Orang itu pernah ia lihat difoto ibunya yang berada pada Aplop merah dari ibunya. Tampak pada foto itu kalau paman Yoshio ini masih cukup muda dengan tatapan sangar dan garang. Sekarang Aura itu masih ada namun terkesan lebih lembut dimata Alisya. Mungkin karena penampilannya yang sudah jauh lebih rapi. "Sepertinya kau sudah mengalami banyak perubahan yah, Tak ku sangka mama pernah bekerjasama dengan orang sepertimu!" tambah Alisya lagi yang membuat paman Yoshio mengerutkan Alisnya mendengar ucapan Alisya. Paman Yoshio tak yakin apa yang dikatakan oleh Alisya sampai beberapa detik kemudian wajahnya terkejut bukan main dan memerah padam. Beberapa orang yang berada di belakang paman Yoshio bingung dengan tingkah bosnya yang sudah mundur selangkah melihat wajah Alisya. Tepat setelah Alisya mengucir rambutnya dan mengikatnya tinggi Mereka juga akhirnya langsung menatap Alisya dan dengan cepat menunduk rendah. Beberapa dari mereka mengenali 5 tahi lalat dileher Alisya yang sebelumnya pernah dikirim ibunya kepada mereka semua. "Aniki!!!!" ucap mereka yang kemudian serentak di ikuti oleh beberapa orang lainnya. mereka serempak menunduk dalam membuat semua orang melihat ke arah Alisya dengan tatapan menakutkan. "Aku seorang perempuan!!!!" bentak Alisya yang tidak suka dengan sebutan itu. Aniki adalah panggilan sopan kepada saudara laki-laki yang sangat mereka hargai sedang Alisya adalah seorang perempuan sehingga sontak saja Alisya menjadi kesal daripada sebelumnya. "Apa ini??? bagaimana mungkin anak ini bisa menyembunyikan Auranya dengan sangat baik? bukankah harusnya dia masih berusia 17 tahun? lalu kenapa aku tak merasakan aura apapun darinya? Akiko yang tak jauh berbeda darinya bisa mengeluarkan aura keberadaan yang jelas sedang dia...." Yoshio tenggelam dalam pikirannya sendiri menyaksikan Alisya yang selama ini sudah sangat dinantikannya namun sesuatu dalam diri Alisya membuatnya tertarik sekaligus merasa takut kepadanya. Chapter 115 - NCR MACHIA "Maafkan aku karena tidak mengenalimu! Kami sudah lama menantikan kehadiranmu nona Quenby." Paman Yoshio menunduk dalam memanggil Alisya dengan nama Quenby sesuai yang tertera pada foto yang dikirimkan oleh ibu Alisya. "Tidak apa-apa paman, kau bisa memanggilku Alisya saja. Lagi pula kita baru pertama kali bertemu jadi tentu saja kau takkan mengenaliku!" Alisya tidak terlalu nyaman di panggil Quenby oleh orang yang baru pertama kali ditemuinya. "Ikutlah bersama kami, kami akan mengantarkan Anda pulang!" bahasa paman Yoshio terdengar lebih sopan dari sebelumnya. "Ummm... paman, Alisya tidak terlalu suka naik mobil!" Akiko berusaha menjelaskan setelah mendengar alasan Alisya selalu menolak diantar menggunakan mobil atau diajak naik Bus. "Kakek pertama sudah mengatakannya kepada kami, untuk itu kami sudah menyediakan sebuah sepeda motor untuk nona Alisya. sebentar lagi motor itu akan tiba! mohon tunggu sebentar" belum selesai paman Yoshio berkata, sepeda motor itu sudah sampai dan mendarat dengan mulus. "Bos saya sudah sampai!" seorang pemuda yang cukup tampan turun dari motor dan menunduk memberi hormat pada paman Yoshio. Akiko memandang laki-laki itu dengan tatapan penyesalan. "Orang setampan kamu kenapa terlibat dengan Yakuza??" Akiko menghembuskan nafas berat membuat Alisya tersenyum mengerti akan tatapan dan desahan nafas Akiko. "Dia sepertinya cukup baik, berbeda dari yang lainnya!" bisik Alisya yang membuat Akiko memerah dengan cepat. Bahkan telinganya lebih merah dibanding pipinya. "Motor ini sebelumnya adalah milik ibumu, dan sekarang, motor ini adalah milikimu! Kami selalu merawatnya dengan sangat baik sampai hari kedatanganmu disini" Paman Yoshio segera menjelaskan tentang motor itu setelah melihat keduanya mulai tenang. Melihat motor itu Alisya segera mendekat dan menilik motor itu dengan seksama tanpa memperdulikan paman Yoshio. Jiwa otomotif Alisya kembali bangkit saat melihat motor itu. "Bukankah ini NCR Machia? tapi tampaknya sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga body lebih sporty. NCR Macchia sendiri merupakan sebuah motor hasil tune up dari Ducati, dan kali ini motor Ducati Testastretta yang mendapatkan polesan tambahan dari NCR. Motor ini memiliki kapasitas mesin yang cukup tinggi yakni 1.700 cc, mesin ini disinyalir mampu menghasilakan tenaga maksimum sebesar 500 Hp. Selain itu motor ini juga memiliki disain yang cukup agresif dan lebih fress, dengan kombinasi rangka yang terbuat dari titanium dan karbon." Alisya memandang kagum dengan hasil modifikasi motor tersebut. "Kalian ternyata sangat mirip, kemampuan kalian hanya dengan sekali melihat itu sangat luar biasa! Ibumulah yang mendesainnya dan melakukan modifikasi terhadap motor itu!" kali ini paman Yoshio merasa akrab dengan suasana yang ditimbulkan oleh Alisya saat menilik motor itu dengan sangat teliti. "Alisya? kau tau banyak soal motor? kau hebat sekali..." puji Akiko yang kagum terhadap Alisya. Meski masih muda Alisya sudah menaruh ketertarikan pada otomotif dan mengetahui banyak hal dalam bidang itu. "Yang lebih mengejutkan lagi kalau nona bisa berbahasa Jepang dengan sangat fasih sedangkan nona saja belum pernah ke Jepang sebelumnya!" terang paman Yoshio yang masih tersenyum melihat antusias Alisya saat melihat motor tersebut. "Ibu dan neneklah yang selalu mengajarkanku berbahasa jepang sewaktu aku kecil!" jawab Alisya tersenyum manis. "Kamu bisa bawa motor? kamu kan pake Rok Sya!" tunjuk Akiko pada gaun yang dikenakan Alisya. "Aku tak tau apakah hari ini kebetulan atau takdir, tapi aku sudah membeli baju yang sangat cocok dengan motor ini" Alisya mengeluarkan jaket kulit hitam yang bermotif pinggiran warna sama persis dengan motor itu. "Kau penuh persiapan!" Akiko tertawa pelan melihat Alisya yang begitu antusias. Alisya dengan cepat masuk kedalam mobil untuk berganti pakaian. Semua orang dengan cekatan berdiri membelakangi mobil tempat Alisya bergantian untuk menutupinya. Mobil yang ia masuki sebenarnya memiliki kaca berwarna hitam sehingga orang luar akan sulit untuk melihat kedalam namun tetap saja mereka ingin melakukan pencegahan. "Puahhhh..." Alisya keluar setelah memakai Baju kulit berwarna hitam dan jelana jeans semi kulit yang senada serta sepatu gladiatornya yang menambah penampilan Alisya terlihat sangat keren. "Kau menahan nafas selama didalam??" Akiko bertanya saat melihat Alisya bernafas lega keluar dari mobil. "Aku tak begitu menyukai aroma mobil meski aku sangat menyukai mobil dan otomotif!" Alisya tersenyum malu ketika menjelaskan hal tersebut. "Kamu mau bunuh diri? bukankah kamu berada didalam hampir 15 menit?" Akiko khawatir melihat melihat wajah merah Alisya yang menahan nafas. "hahahaha... tidak apa-apa! aku bisa mengatasinya!" Alisya sekali lagi tertawa dengan sikap tulus Akiko padanya. "Anak ini..." batin paman Yoshio. Dia merasa bahwa Alisya memiliki kemampuan yang lebih dari apa yang dia bayangkan setelah melihat 5 orang geng Tosei-kai yang mengalami luka cukup parah saat Alisya serang bergantian didalam mobil. "Jadi? kamu mau ikut paman Yoshio, bersamaku menaiki motor ini atau... Sepertinya dia bisa mengantarmu!" Alisya sengaja mendorong Akiko kepada pemuda yang ditatapnya sebelumnya. "A chan...?" Akiko selalu memanggil Alisya dengan sebutan itu tiap kali ia selalu mendapatkan tekanan dari Alisya. Tingkah lugu Akiko membuatnya selalu gemas untuk menggoda dan menganggunya. "Jadi kamu mau ikut bersamaku?" tantang Alisya yang sudah siap menaiki motor kesayangan ibunya. "Tidak tidak tidakk.. aku masih ingin hidup!!! Authornya terlalu jahat membuat karaktermu se mengerikan ini, aku baru muncul satu episode sudah mau hilang! Ngakk...." tolak Akiko penuh semangat membuat Alisya tertawa pelan. "Kalau begitu aku serahkan dia padamu!" Alisya menengadah kepada pemuda itu meminta helem yang dipegangnya. "Iya Aniki, saya akan mengantarnya dengan sangat hati-hati!" tunduknya sambil menyerahkan helem setelah mendapat penjelasan dari paman Yoshio yang membuat matanya bergetar hebat saat memandangi Alisya. Chapter 116 - A Chan. "huuuhhhh,,, sepertinya aku harus terbiasa dengan panggilan itu!" desah Alisya memakai helem ninja yang menutupi seluruh kepalanya yang membuatnya tampak seperti seorang laki-laki sekarang. "Sampai jumpa di rumah!" Alisya melambaikan tangannya memacu kencang motornya. "Kamu tau jalan pulang???" teriak Akiko mengingat Alisya belum tau betul mengenai seluk beluk jalanan kota tokyo. Alisya hanya melambai membuat Akiko jadi bingung dengan arti lambaiannya itu. Dengan pasrah Akiko masuk kedalam mobil dan diantar oleh rombongan anggota dari paman Yoshio kerumah kakek pertama namun Alisya masih belum sampai disana. Beberapa saat kemudian Suara motor yang terhenti di depan rumah membuat neneknya keluar dengan terburu-buru. "Plakkkk!!!" pukul neneknya dipundak Alisya membuat Alisya meringis kesakitan sekaligus bingung dengan sikap mendadak neneknya. "Aduh,, sakit nek... kenapa sih? aku baru tiba sudah dapat tabokan cinta dari nenek?" Alisya mengeluh dengan suara yang tenggelam dibalik helem ninjanya yang belum sempat dilepasnya. "Kamu kemana saja sih? Akiko dari tadi menangis mengkhawatirkanmu!!! Kau sudah membuatnya menangis selama beberapa jam tau nggak!!!" nenek Alisya mengomel dengan keras karena Alisya tidak kembali selama hampir 3 jam. "Maaf nek,, tapi lihat ini??? ini motor kesayangan ibu! motor ini sangat...." Alisya penuh semangat menjelaskan mengenai motor yang baru saja dinaikinya itu namun belum selesai ia bersuara neneknya sudah menjewer telinga Alisya dengan sangat keras. "Aku tau segala hal tentang motor ini dibanding dirimu, tapi sebelum itu kau harus meminta maaf kepada seseorang terlebih dahulu!" nenek Alisya menarik Alisya masuk kedalam rumahnyan tanpa melepas tangannya dari telinga Alisya. "Iya, iya aku masuk nek sakiiittt!" neneknya dengan cepat melepas cubitannya pada telinga Alisya setelah memperhatikan kalau telinga Alisya tidak terpasang alat peredam. "Kamu melepas alatmu? sejak kapan? kenapa nenek tidak menyadarinya? apa yang kamu lakukan dengan melepas alat peredammu?? kamu sudah bisa mendengar suara sekarang?" kali ini suara nenek Alisya terdengar bersalah dan sangat khawatir. ia tak menyangka kalau Alisya akan dengan percaya diri melepas alat peredam dari telinganya. "Nanti aku jelaskan yah, sekarang aku harus menenangkan Akiko dulu! Suara tangisannya sangat keras membuat telingaku cukup sakit sekarang!" Alisya menuntun neneknya masuk kedalam rumah. "Tidak, kamu harus menjelaskannya dulu kepada nenek! apa yang sedang kamu lakukan sebenarnya?" neneknya masih belum bisa menghilangkan rasa khawatirnya. "Nek, aku baik-baik saja! jangan khawatir, jika tidak aku mana mungkin berani melepaskannya!" Alisya berusaha menjelaskan dengan lembut. "Apa ini ada hubungannya dengan Adith? kau bahkan tak memberitahu Karin saat kemari!!!" terka nenek Alisya memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi. Alisya hanya tersenyum memeluk neneknya. Dengan pasrah neneknya mengikuti langkah Alisya tanpa menanyakan alasan Alisya lebih lanjut. "A channn..." Akiko menghambur kearah Alisya begitu melihat Alisya masuk sedang ia sudah cukup lama menangis. Alisya bukannya menenangkan Akiko dengan memeluknya, namun malah langsung memelintir lehernya dan menjepitnya dilengan kirinya. "Siapa yang menyuruhmu menangis ha??? bukankah aku menyuruhmu untuk tidak perlu menghawatirkan aku?" Alisya memarahinya menggunakan bahasa jepang dengan suara yang dingin. "Maaf, maaf,, tapi aku sangat khawatir!" Akiko bersuara serak dalam kuncian lengan Alisya. "Kenapa kau harus menyiksa setiap orang yang menyayangimu sih!" pukul nenek Alisya gemas dengan sikap yang dilakukan Alisya. Pukulan nenek Alisya yang dijatuhkan secara beruntun di atas tubuh Alisya membuat Alisya melepaskan kunciannya dari leher Akiko. Akiko yang sebelumnya menangis tersedu-sedu akhirnya tertawa melihat keakraban Alisya dan neneknya. Bahkan kakeknya yang baru datang pun ikut tertawa melihat tingkah nenek dan cucu yang seperti kucing dan tikus itu. "Alisya..." suara kakeknya terdengar berat menghentikan langkah Alisya yang berlari menghindari neneknya yang sudah terjatuh di atas sofa karena kelelahan. Alisya memandang wajah serius kakeknya sedangkan Akiko dengan cekatan mengambilkan nenek Alisya air minum untuk melepaskan lelahnya yang sudah terbatu-batuk pelan karena mengejar kelincahan Alisya. "Ikutlah keruangan denganku, ada yang harus aku bicarakan denganmu!" ajak kakek Alisya menuju ke ruangan kerjanya. Alisya memandang lekat ke arah neneknya dan mengikuti langlah kakeknya setelah mendapatkan anggukan persetujuan dari neneknya. "Kau tahu apa resiko yang sudab kau lakukan malam ini kan?" Kakeknya membuka suara saat mereka sudah berada didalam ruang kerjanya. Alisya hanya mengangguk pelan memahami arah pembicaraan yang dimaksudkan oleh kakeknya. "Dengan kehadiranmu di jepang serta kemunculanmu hari ini sudah mendapat perhatian yang sangat mencolok di semua organisasi dan tentu saja selain karena wajahmu yang sangat mirip ibumu, kehadiranmu juga telah lama membuat mereka menaikkan waspada sejak pertama kali ibumu mengirim fotomu dulu!" jelas Kakeknya lagi setelah melihat ekspresi Alisya yang sudah siap untuk mendengarkan semuanya. "Tapi aku baru naik kelas 3 SMA kek? mana mungkin aku bisa memimpin seperti Ibu? kakek bermaksud untuk segera mengumumkan kehadiranku kan?" Alisya sudah mengetahui mengenai hal ini saat ia mencari tahu banyak hal tentang ibunya. Setelah melihat reaski paman Yoshio, Alisya paham betul mengenai apa yang akan terjadi kedepannya. "Aku tau, tapi apa yang kamu lakukan hari adalah sebuah ledakan besar yang dapat membuat seluruh organisasi dalam kepanikan! Yoshio sudah mengatur beberapa hal namun sepertinya itu akan sulit baginya jika kau tak membantunya dengan menghadapinya secara langsung!" ucap kakeknya lagi dengan penuh kelembutan dan pertimbangan. "Baiklah, aku akan mempertanggung jawabkan apa yang sudah aku lakukan! tapi aku tak ingin terlibat terlalu dalam dengan organisasi ini, biarlah paman Yoshio yang menangani semua ini. paman Yoshio lebih berpengalaman dibanding diriku!" Alisya yakin betul bahwa dia belum dan tidak mampu berurusan dengn organisasi seperti apa yang sudah dilakukan ibunya. Chapter 117 - Pamali.. "Kamu yakin mau balik sendirian ke Indonesia?" nenek Alisya duduk ditepi ranjang memperhatikan cucunya yang sedang berbenah. "Iya nek,, kakek sama nenek kan sudah lama tidak bersama semenjak nenek selalu bersamaku! untuk itu nikmatilah waktu seminggu ini bersama kakek di Jepang!" Alisya memandang ke arah Kakeknya yang menatapnya khawatir. "Tapi Alisya bukankah kamu sudah terbiasa dengan nenekmu selama ini? bagaimana kamu bisa mengurus dirimu?" Kakeknya masuk dan berdiri disamping istrinya dengan canggung. "Datanglah bersama permaisurimu saat bulan madu kalian selesai, aku akan menunggu kalian datang! Gunakan hadiah libur yang aku berikan untuk kalian berbulan madu oke???" Alisya berkedip kepada kakeknya membuat neneknya malu dengan tingkah cucunya itu. Kakeknya terpaku dengan ucapan Alisya yang merupakan tandq bahwa dia akhirnya bisa tinggal bersama dengan cucunya di Indonesia. "Apakah kau harus menangis tiap kali cucumu mengeluarkan kata-kata??? nenek Alisya memukul pundak suaminya yang sudah berlinang air mata. Hal yang selama ini dinantinya akhirnya bisa terwujud. "Oke aku berangkat sekarang!!!" Alisya melangkah pasti saat melihat kakeknya sudah mulai menitikkan air mata lagi. Kakeknya yang diketahui oleh banyak orang begitu berwibawa dan terkesan kejam serta sangat ditakuti dapat dengan mudah menangis hanya dengan satu kata yang dikeluarkan oleh Alisya membuatnya risih dan segera bergegas keluar untuk tetap mempertahankan harga diri kakeknya dihadapannya sendiri. "A channn,,, Jangan pergi, aku tak ingin A chan pergi, aku masih ingin bermain denganmu!!! kita belum menghabiskan banyak waktu dan kamu sudah mau pergi? bahkan kau tak ingin pamit kepada ku!!!" Akiko datang menghambur dipelukan Alisya dengan mata yang penuh linangan Air mata. karena suaranya yang serak Alisya hampir tak bisa menerjemahkan apa yang dikatakan oleh Akiko dalam bahasa jepangnya. "Akiko, aku tuh hanya kembali ke Indonesia, bukan kerahmatullah... jadi kamu tak perlu se histeris itu!" Alisya menjepit pipi Akiko dengan kedua tangannya membuat Akiko menangis dengan pipi dan bibir yang maju kedepan. "Plakkkk!!! kalau ngomong jangan suka sembarangan, pamali tau..." nenek Alisya menabok Alisya dengan sangat keras membuat Akiko terlepas dari jepita Alisya. "Pamali?? iya pamali A chan!!!" Akiko mengulang ucapan nenek Alisya yang tidak dipahaminya namun karena Alisya melepaskannya ia pikir itu adalah sebuah kata keramat yang mampu membuat Alisya takut. "Tau apa kamu soal pamali???" ucap Alisya dalam bahasa indonesia kembali menjepit kepala Akiko dilengan kananya. "Oba.. chan..." Akiko meminta tolong kepada nenek Alisya dalam cekikan Alisya. "Berhentilah bermain-main, kamu akan ketinggalan pesawat nanti. Dan lepaskan Akiko, kenapa kau selalu saja menyiksanya sih..." nenek Alisya selalu bingung dengan cara Alisya menunjukkan kasih sayangnya. Mungkin pengaruh ayah dan kakeknya sudah tertanam dalam dirinya dan mendarah daging sehingga tanpa disadari ia selalu melakukan hal seperti itu kepada siapapun yang disayanginya. "Iya nek, aku pergi sekarang yah!" Alisya menyalami neneknya dan dengan malas kembali masuk untuk menyalami kakeknya. Dan sekali lagi sikap Alisya yang seperti itu mau tidak mau membuat kakeknya kembali menangis. "Berhentilah menangis!!! apa kau tidak malu???" nenek Alisya mulai kesal dengan tingkah suaminya meski sebenarnya ia bisa memaklumi hal tersebut. "Sudah lah nek,, biarkan saja! aku berangkat yah.. jangan lupa 1 minggu" Alisya mencium neneknya sekali lagi sebelum melangkah keluar. "Sya, kamu lupa alatmu!" nenek Alisya tak sengaja mengaktifkan alat peredam miliknya. "ahhhh,,, kenapa nenek mengaktifkannya?" Alisya menyambarnya dengan cepat. "Loh kenapa? sampai kapan kamu akan bersembunyi dari Adith? bukankah dia sudah mengetahui banyak hal mengenai dirimu?" nenek Alisya mendekati Alisya dan bertanya dengan lembut. "Aku tidak mengindarinya ataupun bersembunyi darinya nek, hanya saja aku tak ingin Adith terlibat terlalu jauh dalam kehidupanku. Dia terlalu baik untukku, aku takut kalau suatu saat nanti aku akan membahayakan dirinya!" Suara Alisya pelan dan serak tiap kali membayangkan Adith. Tidak bisa dipungkiri selama ia berada di Jepang Adith selalu menghadirkan kekosongan yang sangat mendalam dihatinya karena ketidak beradaanya. Akiko hanya terbengong melihat Alisya dan neneknya sedang berbicara satu sama lain. Meski tak paham, Akiko seolah mampu memahami perasaan dari keduanya setelah melihat ekspresi mereka. "Akiko akan mengantarmu sampai kebandara menggunakan mobil sport jadi kamu tidak akan mengalami phobia mobil!" nenek Alisya sengaja mengalihkan pembicaraan secepat kilat. "Mohon bantuannya Akiko!" ucap neneknya dalam bahasa jepang. "Siap nek, jangan khawatir!" seru Akiko dalam bahasa Indonesia yang masih kental dengan logat Jepangnya. "Ohhh,,, bahasa Indonesiamu semakin baik!!!" puji Alisya dalam bahasa jepang yang membuat Akiko mengangkat dagu, bangga. Tepat seperti apa yang sudah dikatakan neneknya, Alisya berangkat di antar oleh Akiko menggunakan mobil sporty yang terbuka sehingga phobianya terhadap mobil sedikit tertasi karena bagian atasnya terbuka lebar. Alisya menikmati semilir angin dan sinar matahari serta harum bunga sakura disepanjang perjalanan menuju bandara. "Aniki!!!! Semoga perjalanan anda menyenangkan dan sampai jumpa lagi!!!" suara anggota paman Yoshio langsung menggema di seluruh bandara tepat saat Alisya baru saja melangkah masuk. "Siapa dia?? apa dia adalah pemimpin geng yakuza?" bisik yang lain melihat semua anggota organisasi menunduk kepada Alisya. "Mana mungkin, dia masih terlihat sangat muda untuk menjadi pemimpin Yakuza!" bisik yang laiinya di ikuti dengan sejumlah pasang mata seluruh penumpang lain yang saling berbisik satu sama lain memandang Alisya dengan tatapan takut. "Ahhhhhhh,, apakah kalian harus muncul dengan cara yang mencolok seperti ini?" Alisya memegang kepalanya sakit setelah melihat seluruh orang memperhatikannya dengan sangat tajam. "Maaf nona, tapi biarkan kami memberi hormat kepadamu sebelum kamu benar-benar pergi meninggalkan kami lagi!" paman Yoshio menunduk sekali lagi untuk memberi pernghormatan kepada Alisya sebagai pemimpin Asli yang telah memberikannya jabatan sepenuhnya. Chapter 118 - Jet Pribadi "Kamu baik-baik saja Alisya?" Akiko terlihat khawatir dengan Alisya yang sudah terduduk sambil memegang kepalanya. "Akiko, tadi organisasi sudah membuatku sakit kepala, lalu kenapa sekarang pesawatku harus mengalami penundaan keberangkatan? apa aku berangkat di hari yang sial?" Alisya mendesah karena lelah menunggu selama 2 jam lebih di ruang tunggu. "Jangan berbicara seperti itu, aku sudah menanyakan kepada pihak penerbangan dan mereka bilang semua penerbangan yang menuju ke Indonesia mengalami penundaan karena cuaca buruk!" Akiko mencoba menenangkan Alisya yang mulai kehilangan kesabaran. "Huhhhh,, aku juga heran bagaimana mungkin aku tak melihat satu orangpun dari Indonesia! Aku tidak yakin jika bandara sebesar ini tidak memiliki seorangpun dari Indonesia yang memiliki tujuan yang sama denganku!" Alisya sudah memperhatikan keadaan bandara semenjak pertama kali ia duduk setelah membeli tiket penerbangan ke Indonesia. "Mu mungkin mereka mengetahui cuaca buruk di Indonesia makanya mereka tidak melakukan penerbangan hari ini" Akiko terlihat sedikit gelagapan tapi Alisya tak menaruh curiga apapun padanya. Alisya memang akan ketinggalan banyak informasi karena dirinya yang tidak menggunakan handphone. "Ah,,, sudahlah.. tak ada gunanya aku mengeluh!" Alisya memilih merebahkan diri pada kursi panjang menutup kepalanya dengan buku majalah yang di ambilnya saat melewati tumpukan majalah gratis yang biasa disediakan pihak bandara lalu melipat kedua tangannya. "Aku akan membelikanmu air bagaimana?" tanya Akiko cepat sebelum Alisya jatuh tertidur. "Oke, Tolong yah... aku butuh yang dingin untuk mendinginkan kepalaku! Kebisingan bandara sudah membuatku semakin tak karuan." ucap Alisya sedikit membuka majalah yang menutupi wajahnya. "Oke, tunggu disini yah..." Akiko langsung menghilang secepat kilat setelah memberikan senyum sumringah kepada Alisya. Akiko yang tujuan awalnya ingin membeli minuman dingin langusng mengambil handphonenya lalu menelpon seseorang dengan ekspresi wajah yang sangat panik. "Halo, kakek pertama! sepertinya Alisya sudah mulai kehilangan kesabaran, aku sudah mencegahnya berulang-ulang kali untuk membuatnya tidak berbicara dengan seorangpun dari pihal bandara. Tapi aku tidak yakin sampai kapan aku bisa menahannya kek!" Suara Akiko bergetar saat menelpon Kakek pertama yang sangat ditakutinya itu namun ia tak punya pilihan lain lagi. "Akiko tenanglah, mereka sudah berada disana sekarang! Aku sudah menghubungkanmu dengan mereka. Biar mereka yang ambil alih setelah ini! Oh iya, Terimakasih banyak. Maaf sudah merepotkan dirimu!" ucap kakek Alisya sebelum mengakhiri pembicaraan mereka. "Tidak, tidak , tidak kek! aku merasa sangat senang bisa membantu!" Akiko menunduk dengan sopan meski tak berada dihadapan kakek pertamanya. "Baiklah, kalau begitu bersenang senanglah kalian!" tutup kakeknya yang membuat Akiko mengeryitkan kening tak paham apa maksud dari kalimatnya yang terakhir. Akiko hanya mendapat permintaan dari kakek pertama untuk menghentikan Alisya mendapatkan penerbangan sejak 2 jam yang lalu dan tak mengetahui akan apa sebenarnya yang sedang ia rencanakan. Handphonenya tiba-tiba saja berbunyi saat ia masih terus memikirkan apa yang harus dia lakukan setelah ini dalam menghadapi Alisya. Alisya yang sudah mulai kehilangan kesabaran membuat Akiko jadi panik dan bingung. Ia tak ingin Alisya menganggapnya sebagai pembohong. "Halo, ini Akiko kan?" suara seseorang yang berbahasa jepang dengan sangat fasih dan lembut membuat Akiko merasa tenang saat mendengar suaranya. "Iya benar, kamu siapa?" tanya Akiko dengan gugup mendengar suara pria itu dari balik handphonenya. "Aku Zein, kakek Alisya pasti sudah memberitahumu bahwa akan ada yang menghubungimu nanti" Zein kembali bersuara lembut namun tetap dengan ciri khasnya yang dingin. "Iya benar!" Akiko langsung mengagguk cepat mengingat kakek pertama mengatakan hal itu sebelum mengakhiri percakapan mereka. "Kamu jangan khawatir, sekarang kamu bisa arahkan Alisya untuk masuk menuju ke platform yang ke 5 setelah itu.." Zein menjelaskan panjang lebar mengenai apa yang harus dilakukan oleh Akiko. Setelah selesai melakukan pembicaraan, Akiko dengan cepat kembali ke tempat Alisya setelah sebelumnya membelikan Alisya minuman dingin dengan logo halal. "Kenapa kau lama sekali? aku hampir saja menyusulmu karena khawatir!" Akiko kaget saat melihat Alisya sudah berdiri dari tempat ia terbaring sebelumnya dan memegang tasnya untuk melangkah pergi. "Maaf, aku harus ke toilet sebentar tadi sebelum mencarikanmu minuman dingin yang halal" Akiko memberi alasan dengan keringat dingin. Melihat tingkah Akiko Alisya mengira kalau Akiko sudaj berjuang keras karena mencari minuman halal di tempat yang mayoritas bukanlah muslim. Akiko bahkan terlihat sangat kelelahan karenanya. "Maafkan aku, aku hanya mengkhawatirkanmu!" Alisya mengelus kepala Akiko dengan lembut untuk membuatnya tenang dan mengambil minuman yang dipenganya. "Alisya, kakek sudah menyediakan jet pribadi untukmu agar bisa kembali ke Indonesia jadi kamu bisa kesana sekarang!" Akiko menatap Alisya penuh was-was saat ia sedang terduduk untuk meneguk minumannya. "Benarkah? dari mana kake..." Alisya teringat bahwa kakeknya mempunyai kekuatan dan kekuasaan untuk mengetahui hal sekecil ini terlebih jika itu berurusan dengan dirinya. Tanpa berbicara lagi Alisya mengikuti Akiko yang menuntunnya ke tempat jet pribadi yang disediakan untuknya. Saat Alisya masuk, ia tak bisa menghentikan rasa takjubnya saat melihat pesawat jet pribadi yang disediakan untuknya itu. Sangat mewah dan elegan sehingga Alisya merasa kalau pesawat itu terlalu luar biasa untuk dinaikinya sendiri. "Apa kakek tidak berlebihan? pesawat jet pribadi ini bahkan bisa menampung orang sekitar 20 penumpang!" pesawat itu sangat besar dan cukup luas. Semua yang ada di dalam pesawat ini benar-benar mewah. Bahkan di dalam pesawat itu, ada sebuah tangga spiral yang bentuknya mirip tangga di dalam rumah. Pesawat ini memiliki lounge yang nyaman layaknya sebuah lounge di hotel bintang lima. Kamarnya pun sangat mewah. "Woaaah... kakek benar-benar tak main-main jika sudah berhubungan denganmu! Akiko sejenak lupa akan kekhawatirannya dan fokus mengagumi apa yang sedang dilihatnya itu. Meski Akiko memiliki banyak hal mewah, baru kali itu ia melihat sebuah kemewahan yang sebenarnya. Chapter 119 - Mencari Adith??? Setelah puas berkeliling untuk memanjakan mata mereka mengagumi kemewahan pesawat jet pribadi yang disediakan oleh kakeknya, Alisya dan kembali terduduk disofa yang interiornya seperti ruang keluarga untuk bersantai namun terkesan mewah. "Akiko, bagaimana kalau kamu ikut bersamaku ke Indonesia??" pancing Alisya menghentikan Akiko yang ingin pamit pergi. "Tentu saja aku sangat ingin, tapi aku harus mendapatkan izin dari kakek dan ayah serta ibu terlebih dahulu!" Akiko sangat antusias mendengar ajakan dari Alisya namun tetap saja ia tidak bisa memutuskan hal itu sendiri. "Aku akan meminta tolong kepada kakek untuk mengurusnya, aku yakin teman-temanku akan sangat senang bertemu denganmu! terlebih karena kamu adalah keluargaku yang sangat manis!" puji Alisya tulus, Ia sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Rinto, Yogi dan Beni saat melihat Akiko nanti. Melihat wajah Alisya yang sangat antusias memikirkan para sahabatnya membuat Akiko tak tahan untuk bertanya kepada Alisya. "Kamu punya banyak teman di Indonesia???" tanya Akiko duduk dengan manis menghadap Alisya seolah siap untuk mendengarkan ceritanya. "Ummm.... awalnya aku hanya memiliki Karin, dia selalu ada disampingku kapanpun dan dimanapun! Bahkan jika aku harus mandi, dia ingin mandi bersamaku." Alisya tertawa saat mengingat betapa lengketnya Karin bersama dirinya. "Dan sepertinya sekarang kau sudah memiliki banyak teman.." pancing Akiko lagi. "Ya kau benar, entah bagaimana aku yang awalnya hanya bersama Karin pada akhirnya mendapatkan teman-teman yang sangat baik dan juga selalu berada didekatku! mereka selalu membuatku tersenyum bahkan tertawa dengan tingkah konyol mereka. Aku tak sabar ingin mengenalkanmu kepada mereka, mereka pasti akan sangat senang bertemu dengan dirimu! Alisya sangat antusias saat menceritakan teman-temannya kepada Akiko sehingga tak menyadari kalau pesawat yang ditumpanginya itu belum bergerak sama sekali. "Aku juga tidak sabar ingin bertemu dengan mereka, terlebih karena mereka adalah teman-temanmu!" ucap Akiko tak kalah antusias. "Andai saja kamu bisa ikut bersamaku ke Indonesia sekarang, semua pasti akan lebih mudah!" Alisya mengeluh mengingat Akiko masih harus bersekolah juga meski saat ini ia sedang dalam liburan musim panas. "Bagaimana kalau kamu kenalkan aku saja sekarang?" pancing Akiko semangat melihat Alisya yang mulai kehilangan semangatnya. "Kamu mau ikut aku ke Indonesia?" tanya Alisya belum memahami maksud dari ucapan Akiko. "Bukan, maksud aku disini di pesawat ini!" ucapan Akiko membuat Alisya langsung waspada dengan sekitarnya. "Benar!!! bagaimana jika kamu lakukan itu sekarang???" Zein masuk keruangan Alisya ditemani oleh Karin dan Riyan. "Dasar Sahabat kampret!!! kamu menganggapku sahabat tapi kamu pergi kejepang tanpa mengabariku terlebih dahulu? bahkan kamu menyembunyikan kepergianmu! Keterlaluan!!!" Karin langsung menerobos memukuli Alisya karena kesal. Alisya tak bereaksi dan hanya terdiam kaget melihat Zein dan Riyan berada disana. Alisya tak pernah menyangka kalau mereka bertiga akan menyusulnya kejepang. Nenek Alisya bahkan sudah berjanji untuk tidak memberitahu mereka bahwa mereka akan ke Jepang. "Bagaimana kalian berada disini? dari mana kalian mengetahui kalau aku di jepang? aku bahkan akan pulang sekarang!!!" Alisya mengelus keras bekas pukulan Karin yang terasa panas dilengannya. "Bukan hanya kami saja, tapi teman-teman yang lain juga ikut! ini semua adalah hadiah dari kakekmu untuk kita semua yang sudah membantumu menang darinya lalu!!!" Karin melambaikan tangan kepada pramugari untuk segera memanggil teman-temannya. "Alisyaaaa!!!!" Emi, Febi, Adora dan Gina berteriak dengan sangat kencang saat memasuki ruangan mereka. Dibelakangnya ada Gani, Rinto, Yogi dan Beni serta Karan ditambah dengan Aurelia. Alisya mundur selangkah karena terkejut melihat mereka semua sudah berada diatas pesawat yang sama dengannya sekarang. Pantas saja Jet yang diberikan untuknya sangat besar jika hanya untuk dirinya sendiri. "Kau keterlaluan sekali, liburan sendirian tak mengajak kami!!!" Adora mengeluh dengan kesal. "Tapi untunglah kakekmu sangat berbaik hati untuk mengundang kami kesini!" tambah Emi melayangkan pandangannya keseluruh ruangan yang mewah itu. "Kau selalu saja membuat orang khawatir!" Karan maju mendekati Alisya dengan tatapan tajam. "Kak Karan?? kak Karan juga ikut? rumah sakit bagaimana?" Alisya terkejut melihat Karan yang seharusnya sibuk dengan pekerjaannya malah berada dijepang saat ini. "Aku mengambil cuti karena Karin memaksaku ikut dengannya! Apalagi karena kamu menghilang begitu saja" Karan segera mencubit pipi Alisya gemas karena Alisya selalu saja membuat khawatir semua orang meski Alisya juga berusaha untuk tidak merepotkan orang lain. "Aku tak percaya kalian semua bisa berada disini!" Alisya merasa sangat senang dengan kehadiran mereka namun tiba-tiba saja hatinya menjadi pedih saat melihat Adith tak bersama mereka sehingga ia terus melihat kearah pintu dimana teman-temannya datang. "Mencari Adith???" tanya Zein melihat wajah kecewa Alisya yang tak melihat Adith diantara mereka semua. "Ummm... tidak, aku tidak berharap dia akan datang! mungkin saat ini dia sedang sibuk menghadapi pekerjaan diperusahaannya!" Suara Alisya terdengar kuat namun matanya bergetar saat mengucapkannya. "Kau benar!!!" tambah Riyan. Meski Alisya yakin kalau Adith harusnya menjadi orang pertama yang dilihatnya, tapi saat setelah beberapa saat Adith tak muncul akhirnya harapan Alisya jadi pupus. "Anooo... kalian tidak melupakan aku kan???" Akiko yang sudah berada disudut terpojokkan karena kehadiran teman-teman Alisya yang membuatnya tak bisa pergi atau berpindah tempat dari letak ia berdiri sebelumnya saat Zein masuk. "Ah.... Sumimasen,, maafkan kami!!! Adora berekasi cepat dengan menggandeng tangan Akiko. Membawanya ke tengah-tengah mereka dan memberikannya ruang. Akiko sedikit gugup berhadapan dengan semua teman-teman Alisya padahal dia begitu semangat mendengar cerita Alisya sebelumnya. Alisya tersenyum lalu memeluk Akiko dan mengenalkan Akiko kepada mereka semua. Dan yang paling antusias berkenalan dengannya adalah Beni dan Rinto. Sedang mata Akiko lurus tertuju pada Karan sejak pertama kali Karan memasuki ruangan itu. Chapter 120 - Rapat Direksi 3 Jam Sebelumnya,,, Handphone Adith berbunyi sangat kencang mendapat pemberitahuan dari alat peredam Alisya yang sempat Aktif kembali. Ditengah rapat direksi dimana Adith yang ditunjuk sebagai CEO sekaligus direktur sementara dalam penunjukannya dalam beberapa tahun kemarin menggantikan Ayahnya mendapat banyak pertimbangan dari dewan perusahaan. Adith yang masih harus terus menghadiri rapat segera memanggil pak Dimas dengan wajah serius. "Lacak posisi terakhir dari alat peredam Alisya! Temukan dia bagaimanapun caranya!!!" Pinta Adith dengan penuh harapan sembari berbisik dengan sangat pelan. "Tentu saja! kau bisa menyerahkan semuanya kepadaku!" Pak Dimas menepuk pundak Adith untuk menenangkannya agar bisa kembali fokus dalam rapat direksi yang sedang dijalaninya. Rapat direksi itu terdiri atas 2 kubu dimana Adith yang berada pada bagian tengah yang berhadapan dengan ayahnya sebagai direktur utama sekaligus pemilik utama perusahaan yang diberikan oleh ayahnya yang merupakan kakek dari Adith sedang memimpin jalannya rapat. Sedang bagian kiri adalah sejumlah mereka yang menentang posisi Adith dan yang kanan adalah mereka yang mendukung penuh posisi Adith. Rapat itu bermula karena adik kandung Ayah Adith pak Hendro memiliki seorang anak bernama Elvian berusia 27 tahun lulusan S3 dari Harvard Graduate School Of Bussines kembali ke Indonesia yang kemudian mengajukan diri sebagai Direktur yang lebih mumpuni dibanding Adith yang masih seorang anak SMA saja. "Aku rasa Adith belum memiliki pengalaman yang penuh terhadap memimpin perusahaan terlebih karena Usianya yang masih sangat muda!" seorang dewan berbicara dengan wajah yang menopang dagunya tinggi. "Bukan hanya itu, dia juga belum memiliki pendidikan yang cukup untuk bisa memimpin perusahaan, bukankah perusahaan yang hanya dipimpin oleh seorang anak SMA akan sangat membuat malu kita semua?" tambah seorang lainnya. "Benar, terlebih karena sekarang akhirnya kita memiliki kandidat yang lebih baik dari pada Adith, dia bahkan menjadi lulusan terbaik disana dan ini akan sangat berpengaruh bagi para Investor dalam meningkatkan kemampuan perusahaan kita dalam bidang bisnis baik di Indonesia maupun di luar negri nantinya!" seorang yang lain tak kalah semangat menambahkan pendapatnya. "Kak, kau harus lebih bijak dalam menyikapi ini. Kami paham jika kamu sangat menginginkan Adith dalam mengambil posisi ini karena selama dialah yang telah berjasa menaikkan saham perusahaan namun tetap saja posisi Adith juga sangat terpengaruh terhadap pendidikan dan kemanpuan dia selama memimpin perusahaan ini!" Adik ayahnya memberikan nasihat kepada Adith dengan nada lembut yang sangat mendoktrin. Adith semakin tak sabar semenjak handphonenya terus mendapatkan signal lokasi Alisya meski hanya sebentar namun sudah cukup membuatnya tidak tenang untuk berlama-lama mengikuti rapat direksi ini. Adith berusaha memberikan waktu menunggu kabar dari paman Dimas sebelum bergerak dengan sangat gegabah. "Diatas semua itu, meski Adith terbilang sangat muda dan pendidikan yang masih SMA, selama ini dia bisa memimpin perusahan dengan sangat baik dibawah pengawasan direktur utama!" ucap seseorang memberikan dukungan kepada Adith. "Bukan hanya itu, dia bahkan bisa dengan mudah mendapatkan kontrak-kontrak kuat dan bekerja sama dengan berbagai perusahaan yang lainnya. Kemampuannya dalam berbicara sekaligus memanage investor asing dan luar sudah tidak diragukan lagi dan mereka sangat puas terhadap kerja Adith." tambah yang lain. "Terlebih mereka juga mengakui kemampuan Adith yang meski masih seorang SMA, kemampuannya setara dengan seseorang berpendidikan tinggi dalam bidang MBA!" Tegas yang lainnya. "puftttt... hahahaha,,, jangan buat saya tertawa paman! ah Maaf, mana mungkin Adith seorang anak SMA bisa mengalahkan saya dalam hal itu? kau terlalu melebihkan paman!" Elvian tertawa pelan dengan nada sinis merendahkan Adith yang sedang terduduk diam tak bergeming. "Jika kau tak mengetahu apapun mengenai Adith, sebaiknya kau berhati-hati nak Elvian!" ucap seseorang memperingati Elvian yang tampak sombong karena pendidikannya. "Hati-hati, ayolah paman! dari segimanapun aku bahkan memiliki kemampuan jauh melebihi dirinya!" bantah Elvian dengan kesal mengepalkan tangannya yang kemudian Pak Hendro berusaha menenangkannya. "Kak.. bagaimana kalau,,," belum sempat pak Hendro melanjutkan kalimatnya seseorang masuk kemudian berbisik kepada ayah Adith. "Maaf sepertinya rapat ini akan di ikuti oleh direktur dari perusahaan Takahashi Yamada! silahkan nyalakan monitornya." semua orang segera tertegun termasuk Elvian dan pak Hendro begitu mendengar nama Takahashi Yamada akan ikut dalam rapat kali ini. "Ayah, bukankah dia adalah direktur dari perusahan besar yang bukan hanya Di Jepang saja melainkan di beberapa negara termasuk di Indonesia? banyak perusahaan besar lainnya yang ingin bekerja sama dengannya! kenapa dia ikut dalam rapat ini?" Elvian tak bisa menyembunyikan kekagumannya melihat pak Takahashi Yamada akan ikut dalam rapat. "Terimakasih karena kalian sudah memberikan kesempatan bagi saya untuk mengikuti rapat ini!" ucap pak Takahashi dalam bahasa jepang melalui panggilan Video. Semua orang seketika menunduk memberi hormat kepada pak Takahashi dengan sangat sopan termasuk Adith yang tak kalah terkejutnya. "Apa yang kami bisa bantu tuan Takahashi??" Ayah Adith berbahasa jepang dengan sangat fasih. Saat ini ia juga tak mengetahui apa tujuan dari pak Takahashi untuk ikut dalam rapat direksi yang sedang mereka laksanakan. "Saya mewakili beberapa direktur perusahaan besar lainnya ingin memastikan bahwa rapat direksi yang kalian lakukan akan memilih seorang pemimpin perusahan dengan benar dan baik, tentu saja bukan karena ikut campur tangan tapi kami ingin pemimpin perusahan berikutnya dapat memberikan kontribusi yang sangat baik dalam kontrak kerja sama kami terlebih karena kami adalah perusahaan yang sangat pemilih dalam kontrak kerja sama yang berarti kami tidak ingin seseorang yang menjadi pemimpin peusaahaan atau direktur selanjutnya tidak bisa bekerja sama dengan baik bersama kami" Takahashi berbahasa jepang dengan pelan namun sangat menusuk yang membuat Elvian sedikit terintimidasi. Melihat sikap Adith yang tampak tenang dan tak bergeming membuat rasa ego Elvian meningkat drastis. Elvian merasa bahwa ia lebih hebat dibanding Adith. Chapter 121 - Arti Pemimpin "Untuk itu, kami akan memberikan sedikit tes yang mungkin nanti akan menjadi pertimbangan kalian juga seluruh perusahaan besar lainnya!" tambah pak Takahashi dengan sangat tegas. "Kami sangat berterimakasih dalam hal itu, lalu apakah tes yang sudah anda maksudkan itu?" tanya Ayah Adith penuh rasa penasaran. perasaan yang sama yang dirasakan oleh semua orang termasuk pak Hendro dan Elvian sedang Adith masih terfokuskan menunggu kabar dari paman Dimas mengenai keberadaan Alisya. Meski Adith sudah tak bisa menahan diri untuk bertanya pada pak Takahashi kakek Alisya, ia memilih untuk menahan diri untuk tidak mengacaukan segalanya. "Hanya satu pertanyaan dari kami semua, apa arti seorang pemimpin bagimu???" ucap pak Takahashi dengan senyum khas nya yang tampak penuh wibawa. Elvian tersenyum penuh kemenangan mendengar pertanyaan itu, pertanyaan yang sering ia dengarkan sewaktu berada diharvard dan selalu mendapata sambutan hangat setiap kali ia selesai memberikan retorikanya. "Bolekan aku menjawabnya lebih dulu?" pinta Elvian dengan bahasa jepangnya penuh kesombongan menatap ayah Adith dan juga pak Takahashi kemudian. "Silahkan!!!" pak Takahashi dengan cepat memberinya kesempatan. "Seorang pemimpin bagi saya adalah pemimpin yang mendahulukan apa yang penting dengan Pengelolaan yang efektif serta disiplin, dalam melaksanakan apa yang telah diputuskan. Pemimpin akan menjadi orang yang sangat diandalkan oleh para pengikutnya dan Mereka akan dijadikan panutan oleh para pengikutnya. Setiap pemimpin harus memiliki visi yang jelas dan nyata sehingga bisa melakukan suatu tindakan yang nyata." Jelas Elvian dengan penuh percaya diri menggunakan bahasa jepang yang sangat Fasih dan lancar. Adith tidak bereaksi terhadap apa yang sedang dikatakan oleh Elvian karena masih terus terfokus dengan handphonenya menunggu kabar dari paman Dimas. "Jawabanmu sangat luar biasa, tidak buruk!" puji pak Takahashi dengan senyuman tipis. "Bagaimana dengan mu Adith? apa arti seorang pemimpin bagimu?" tanya pak Takahashi kepada Adith dengan wajah datar mengamati Adith yang kehilangan fokus. Ekspresi kurang yakin dari pak Takahashi membuat Elvian tersenyum bangga dan menjadi lebih sombong. "Adith, giliranmu memberikan pendapatmu!!!" Ayah Adith mulai gusar melihat tingkah Adith yang terus-terusan memandang handphonenya. "Nak Adith,,," seseorang menepuk pelan lengan kanan Adith untuk membangunkannya dari lamunannya. "Ting..." sebuah pesan masuk dan dengan secepat kilat Adith membukanya. "Dia berada dijepang! Tokyo!!" Tulis paman Dimas dalam pesannya. Adith kemudian mengerling penuh senyuman setelah melihat pesan dari paman Dimas. "Maafkan saya, saya kehilangan fokus karena saya harus menemukan seseorang yang sangat penting dalam hidupku. Dan barusan saya sudah menemukan dirinya!" Adith langsung menunduk 95¡ã untuk meminta maaf atas keteledorannya. "Cihhhh, bagaimana bisa kau memimpin perusahaan dengan sikap konyol seperti itu??" Batin Elvian mencela sikap Adith yang tidak profesional. "Tidak masalah, sekarang berikan pendapatmu mengenai pertanyaan kami tentang arti seorang pemimpin bagimu!" tegas pak Takahashi tersenyum lembut mengetahui maksud Adith. "Seorang pemimpin adalah seorang yang mampu menyentuh hati orang lain sebelum meminta mereka melakukan sesuatu!" Jawaban Adith cukup singkat dan tenang dalam berbahasa inggris. Elvian tertawa kecil mendengar jawaban Adith karena selain menggunakan bahasa inggris kepada seorang yang berbahasa jepang, jawaban Adith terlalu ambigu baginya. Setelah mendengar jawaban Adith, pak Takahashi dengan cepat menampilkan sebuah kurva pemilihan sekaligus video yang ternyata menayangkan jawaban keduanya secara langsung diseluruh perusahaan-perusahaan besar dunia yang dalam waktu singkat segera meledak karena ikut andil dalam pemilihan. pak Takahashi ternyata melakukan hal ini sebagai pembelajaran bagi seluruh dunia dalam melihat secara langsung bagaimana pemikiran para pemimpin perusahaan dalam menilai diri mereka sendiri dimana para masyarakat serta pegawai perusahaan dan pemimpin direktur lain terlibat dalam proses voting. Terlihat disana bagaimana kurva Adith meningkat tajam melebihi 100 persen dari target seharusnya. sedang Elvian hanya berada dibawah 15 persen saja. "Sepertinya kita tidak memerlukan lagi pertimbangan dalam penentuan Direktur perusahaan Narendra dalam rapar direksi kali ini" Tegas Ayah Adith tersenyum tak menyangka akan rencana besar yang sudah dipersiapkan oleh pak Takahashi. Pak Hendro dan Elvian sejenak terdiam tak bisa memahami maksud dari semua itu namun ia tetap tak bisa menerima kalau Adith bisa dengan mudah memenangkan jawaban itu sedang ia merasa kalau jawabannya adalah yang terbaik. Layar yang menghubungkan antara pak Takahashi dengan para dewan dalam rapat direksi terhubung kembali menampilkan sejumlah direktur dari perusahaan besar. "Pak Adith, jawaban singkat Anda mengubah pola pikir kami yang juga merupakan seorang pemimpin perusahaan! bukan hanya itu, kami yang juga merupakan seorang pemimpin dalam sebuah rumah tangga tentunya haru memiliki pola pikir yang sama. Dengan menyentuh hati seseorang maka apapun bisa diraih dan dilaksanakan dengan sangat mudah terlebih jika dalam bekerja sama, untuk itu kami sangat mengharapkan kerja sama dengan anda kedepannya!" seorang Direktur besar dari perusahaan perangkat lunak mewakili direktur lain memberikan dukungan kepada Adith dengan sangat tulus. Semua orang yang berada dalam rapat direksi dengan cepat bertepuk tangan serta memberikan selamat kepada Adith termasuk pak Takahashi dan semua pemimpin direktur perusahaan besar dunia yang juga ikut terhubung dalam rapat direksi yang dipimpin langsung oleh Ayah Adith selaku direktur utama Narendra yang kini telah diserahkan kepada Adith kembali. Rapat itu berakhir dengan keputusan bahwa Adith tetap akan menjadi direktur utama perusahaan dan akan diresmikan saat ia berusia 25 tahun dan mendapatkan gelar yang pantas sesuai yang di ingikan oleh dewan direksi lainnya. Sebelum menutup panggilan videonya, pak Takahashi berbicara dalam bahasa Indonesia kepada Adith yang hanya dapat dipahami oleh Adith dan Ayah Adith saja. "Alpha berada pada titik balik dan kau harus menggunakan JAL!!!" ucapnya tersenyum dan menghilang. Sedang semua orang terbelalak tak percaya kalau ternyata pak Takahashi bisa berbahasa Indonesia dengan sangat Fasih. Chapter 122 - Tangkap Karin Adith segera keluar ruangan setelah memberi tanda kepada ayahnya. Mengetahui maksdu dari bunyi pesan dari pak Takahashi, ayah Adith langsung mengangguk pelan. Semua orang tidak menyadari kepergian Adith karena ayah Adith dengan cekatan mengambil Alih seluruh rapat dan membubarkannya. "Adih, pak Takahashi,,," paman Dimas langsung menghampiri Adith yang baru saja keluar dari ruang rapat Direksi. "Aku tau paman, Alisya akan kembali ke Indonesia untuk itu dia menyuruhku untuk mengugunakan pesawat JAL (Japan Air Lines) yang memiliki waktu tempuh hanya 1 jam 40 menit untuk sampai ke sana secepatnya!" ucap Adith melonggarkan dasinya yang membuatnya serasa sesak dari tadi. "Bukan hanya itu saja, pak Takahashi juga sudah membuat rencana untuk mencegat rencana kepulangan Alisya dan memberikan hadiah dengan mengatur liburan bersama sebagai hadiah atas keberhasilan semua dalam membantu Alisya menang darinya lalu!" tambah Paman Dimas mengikuti langkah Adith dengan sangat cepat untuk segera menuju ke bandara. "Kalau begitu aku harus menghubungi teman-teman yang lainnya! Jam berapa sekarang?" tanya Adith dengan cepa saat akan memasuki mobilnya. "Kurang 20 menit jam 12 siang! Dan hari ini adalah hari jum''at nak Adith!" ucap paman Dimas mengingatkan Adith dengan lembut. "Aku hampir lupa!!! kita pulang dulu paman, aku harus meminta izin kepada mama sebelum pergi dan bergantian untuk sholat jum''at... Aku akan berangkat jam 1 siang" tegas Adith tersenyum hangat masuk kedalam mobil dan memasang sabuk pengamannya. "Biarkan paman mengantarmu sampai ke bandara, kita bisa sholat berjama''ah dimesjid!" terang paman Dimas memacu mobilnya kencang. "Terimakasih banyak paman!!! Maaf merepotkanmu..." Adith menunduk dalam memijit kepalanya yang terasa sakit karena mendapat banyak tekanan ditambah dengan pikirannya yang terus melayang kepada Alisya. Tanpa menjawab paman Dimas terus memacu kencang mobilnya namun tetap berusaha melembutkan kemudinya agar Adith tetap merasa nyaman di dalam mobil. Sesampainya dirumah Adith segera mandi dan berganti pakaian menggunakan baju kokoh dan sarung serta kopiah hitam juga memakai wewangian. Mengambil sejadah lalu turun kebawah meminta izin kepada ibunya dan menjelaskan situasinya. "Adith, ibu sangat mendukung semua hal yang kamu lakukan selama kamu tidak pernah melupakan semua kewajiban seperti saat ini, karena dengan ini kamu akan belajar untuk terus mendisiplinkan diri dan mengendalikan diri dengan sangat baik!" tegas Ibunya mengingatkan Adith dan menciumnya sebelum pergi. Karena tak sempat berganti pakaian dan terlalu terburu-buru, Adith hanya sempat berganti sarung menggunakan celana kain panjang berwarna hitam yang biasanya ia taruh dibelakang sebagai persiapan setelah selesai melakukan kewajibannya sebagai muslim dan diantar oleh paman Dimas. "A... Adith??? kamu yakin berangkat dengan pakain itu? tunjuk Yogi melihat Adith masih menggunakan baju kokoh berwarna putih tulang yang sangat kontras dengan kulitnya yang bersinar cerah. "Tidak apa-apa Adith, kamu malah kelihatan sangat tampan dengan baju itu!" Adora memperbesar matanya untuk bisa melihat adith secara full layar melalui pupilnya. "Laki-laki Idaman!!!" lanjut Emi yang tak berkedip bahkan sedetikpun sejak kedatangan Adith. "Tampan, Jenius, Baik hati, Seorang Direktur, " Feby menatap dengan tajam. "Berbakti dan Sholeh juga!!!" Sambung Gina meleleh melihat Adith yang mengalihkan dunia mereka. "Semua milik Alisya!!!!" Ucap Karin dengan suara dingin. Suara retak kaca tiba-tiba saja memecah bayangan mereka di ikuti tatapan para wanita yang patah hati yang kembali bangun dari dunia khayalnya yang menyakitkan. "Tangkap Karin!!! dia perlu diberi pelajaran untuk tidak boleh mengganggu para Fans yang sedang menghalu ria" teriak Adora jengkel kepada Karin. Yogi dan Beni tertawa terbahak-bahak mendengar kata mematikan yang dikeluarkan oleh Karin sedangkan Rinto hanya tersenyum tipis melihat tingkah mereka semua. Bukan hanya Adora dan yang lainnya yang terpesona dengan kemunculan Adith dibandara yang masih menggunakan baju kokoh namun juga hampir seluruh perempuan yang berada dibandara tak bisa mengalihkan pandangan mereka dari Adith bahkan sampai ada beberapa suami dan pasangan lain yang harus bertengkar dengan istri serta pasangannya karena tingkah mereka. Bahkan ada beberapa ibu-ibu yang berteriak histeris saat melihat Adith. Adith yang bahkan harus kerepotan mendapatkan salam dari mereka yang sempat mengenalinya saat acara siaran langsung yang menjadi salah satu rencana PaknTakahashi Yamada dalam pertimbangan pemilihan Direktur dalam perusahaan Narendra berikutnya. "Apakah semua sudah lengkap??? bisakah kita berangkat sekarang?" tanya Adith setelah selesai bertarung dengan para ibu-ibu yang super heboh dan merasa keram diwajahnya karena harus tersenyum santun saat melayani mereka. "Tunggu sebentar, aku lagi menunggu satu orang lagi" Ucap Karin setelah berhasil lolos dan melumpuhkan teman-temannya yang berusaha mengejarnya. "Bukan satu tapi 3 orang!" Adora menambahkan dengan suara ngos-ngosan karena kelelahan dan kesakitan akibat kuncian Karin. "Sial,, aku lupa kalau Karin seorang Pro!!!" Feby mengatur rahangnya seolah mengalami pergeseran persendian. "Bahkan kita berempat sampai keringat dingin dan kelelahan hanya untuk menangkapnya saja!!!" tambah Emi yang tak kalah mengenaskan. "Kalian baik-baik saja? tak ku sangka kalian masih sempat bermain-main!!!" ucap Adith kesal melihat mereka yang bersikap santai. "Kami tidak sedang main-main!!!!" teriak mereka bersamaan membuat Adith terkejut karena bentakan mereka. "Kau harus belajar memahami perempuan lagi Dith!!" Karan datang menepuk pundak Adith dari belakang. "Kau harus ingat kalau perempuan tidak pernah salah!!!" Tambah Zein dengan membawa tiket JAL. "Dan Pria akan selalu salah!!!" Ucap Riyan tak mau kalah. "Oke cukup para pujangga!!! sekarang kita berangkat secepatnya!!! Alisya mungkin akan menyadari semuanya sekarang.." tegas Adith tak memperdulikan ucapan mereka. "Tidak perlu khawatir, Akiko sudah mencegah Alisya sampai kita berada disana tepat waktu jadi tugas kita sekarang adalah mengurus semua itu!!!" tunjuk Zein menenangkan Adith sambil menunjuk barang bawaan para gadis. "Kapan mereka punya waktu mengerjakan ini semua?? Perempuan memang sangat luar biasa dengan segala kerumitannya!!!" wajah Adith menggelap saat barang bawaan teman-temannya. Chapter 123 - Berikan Pasportmu Selama berada di atas pesawat tak pernah sedetikpun Adith bisa menutup matanya meski hanya sekedar untuk menenangkan pikiran dan hatinya. "Istrahatlah Dith, bapak tadi sudah memperingatkanku untuk memastikanmu tertidur meski hanya sebentar dipesawat. Kamu suda seminggu ini tak bisa tertidur dengan benar karena banyaknya pekerjaan kantor yang harus kamu selesaikan selama liburan ditambah karena fokusmu yang terus saja teralihkan pada Alisya!" Yogi menepuk pundak Adith yang melayangkan pandangannya kearah jendela dengan tatapan nanar. "Aku baik-baik saja Yog, aku hanya merasa marah sekaligus kesal padanya saat ini. Ini adalah yang kedua kalinya Alisya pergi tanpa memberitahu keberadaanya. Banyak hal yang membuat Alisya selalu menempatkan dirinya dalam bahaya. Aku bahkan tau betul bahwa kemampuan Alisya jauh di atas dan melebihi diriku yang membuatku tak bisa mendekati selangkah juga tak mampu menggapainya. Tapi meski begitu aku masih tetap ingin melindunginya meski itu harus bertaruh nyawa.. aku,," Yogi memegang pundak Adith kuat menghentikan ucapan Adith yang terlalu pesimis. "Kau dan Alisya sangat terhubung satu sama lain, dan kau tau??? Alisya takkan pernah mengizinkanmu melakukan hal itu! kau sudah melihatnya sendiri di tempat karaoke tempo hari, bagaimana rapuhnya dia saat kau terbaring tak sadarkan diri. Dibanding bertaruh nyawa, kenapa kau tidak mencoba untuk lebih kuat lagi? jika itu harus melebihi kemampuan Alisya, maka lampauhilah dia dan lindungi dia!!!" Tegas Karan terbangun dari tidurnya saat mendengar Yogi dan Adith berdiskusi disebelahnya. "Tapi Alisya...." Suara Adith terdengar parau karena kelelahan dan tidak memiliki tenaga yang cukup. "Bukankah hari ini kamu sudah memiliki satu kekuatan yang cukup besar? sebuah kekuasaan yang dapat membantumu untuk bisa melindungi seseorang!" Yogi mengingatkan posisinya yang kini jelas telah dimilikinya. "Aku yakin kau bisa Dith!!!" Tegas Zein dengan nada dingin namun terdengar mendukung. "Karena kami tau betul bahwa jika kau sudah memutuskan maka takkan ada kata berhenti sebelum kamu berhasil mencapainya" tambah Riyan dengan penuh senyuman. "Tak ku sangka akhirnya kita bisa berkumpul berempat lagi seperti ini" Yogi merasa terharu melihat kondisi mereka saat ini, mereka terpecahkan satu sama lain karena perempuan. Dan terhubungkan kembali juga karena seorang perempuan. "Jangan lupakan aku!!!" teriak Aurelia yang merasa dirinya bagian dari kelompok masa lalu. "Yogi, amankan dia sebelum ada perpecahan disini" tunjuk Riyan yang membuat Yogi tertawa gemas melihat Aurelia murung dan memonyongkan bibirnya karena ucapan Riyan. "Anehnya si pemecah berada di pesawat bersama kita dan sekarang kita dengan begitu antusias pergi ke si penghubung!!!" Zein menutup matanya dengan majalah. "Sungguh persahabatan yang rumit!!! Manusia memang akan dengan mudah untuk memaafkan karena mereka masih menginginkan kehadiran orang itu dalam kehidupannya dengan memberinya kesempatan!" seru Karan kembali keposisi tidurnya. Adith tidak terlalu fokus terhadap apa yang mereka katakan dimana ia kembali melayangkan pandangannya kearah jendela menggengam erat tangannya tak sabar ingin bertemu dengan Alisya. Sesuai jadwal, pesawat JAL yang ditumpangi oleh Adith dan yang lainnya tiba tepat waktu di Tokyo setelah menempuh waktu selama 1 jam 40 menit. Zein yang telah berbicara dengan Akiko dengan cepat mengarahkan semua teman-temannya untuk menuju ketitik pertemuan mereka. Namun tiba-tiba saja pihak bandara menghentikan Adith dan meminta paspornya dengan tatapan tajam dan penuh curiga. "Berikan pasportmu!!!" bentak si petugas menggunakan bahasa inggris. "Ada apa??" tanya Adith bingung tak memahami situasi apa yang sedang terjadi. "Aku katakan sekali lagi berikan pasport mu!!!" bentaknya lagi lebih ganas yang mengundang perhatian banyak orang dan petugas lainnya untuk datang mendekat. "Oke,, oke.." ucap Adith tetap tenang merogoh kantong bagian belakangnya. "Hentikan!!! angkat tanganmu ke atas!!!" petugas polisi itu langsung menodongkan senjata kearah Adith yang membuat Adith kebingungan kemudian mengangkat tangannya. Semua orang mendadak berteriak dengan sangat keras saat melihat polisi itu menodongkan senjata dengan tatapan waspada petugas lainnya yang juga menodongkan senjatanya masing-masing. "Ada apa ini? apa yang sedang kalian lakukan?" Ucap Karan menggunakan bahasa Jepang. Karan tampak marah dengan sikap dari para petugas polisi bandara tersebut, namun bukannya mendapat jawaban Karan malah dihalangi seolah mereka sedang melakukan perlindungan. "Apa yang terjadi dengan Adith?" Adora melihat kearah Adith dengan penuh rasa khawatir. "Sepertinya mereka salah paham kepada Adith karena baju kokohnya!!!" terang Karin memikiran jalan keluarnya. Seorang petugas yang lainnya merogoh kantong bagian belakang Adith dan memeriksanya dari atas sampai kebawah. Adith mulai kesal tetap berusaha tenang dan menganalisis situasi yang sedang terjadi. "Bawa dia!!!" tegas nya memerintah rekannya untuk membawa Adith keruang pemeriksaan. "Hentikan,,, lepaskan dia! Apa kesalahannya?? teriak Emi menggunakan bahasa Indonesia yang hanya dianggap angin lalu oleh para petugas itu. "Adith... apa yang sedang terjadi???" teriak Riyan melihat Adith telah dibawa pergi. "Riyan, biarkan saja! mereka hanya salah paham dan lihat sikap Adith, dia dengan santai mengikuti mereka karena yakin bahwa ia bisa menyelesaikannya sendiri." cegah Zein tepat ia selesai menyelesaikan seluruh urusan mereka dengan Akiko. "Ulur waktu untukku!!! Aku akan menyusul secepatnya, jangan khawatir.. usahakan agar dia tidak menghilang lagi" ucap Adith berhenti sejenak sebelum kemudian didorong dengan kasar menuju ruang pemeriksaan. Setelah memasuki ruang pemeriksaan, Adith mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan dimana para petugas itu meminta Adith untuk melepas pakaiannya secara menyeluruh namun kemudian tidak mendapatkan apa-apa! "Apa yang sudah kalian lakukan???" paman Yoshio masuk dan menerobos kedalam ruang pemeriksaan membuat mereka semua langsung tertunduk takut sedang Adith kembali memasang bajunya. "Tuan, Yoshio kami mencurigai dia adalah seorang teroris dan...." pukulan keras menghantam petugas polisi yang dari awal melakukan semua hal yang tidak mengenakkan kepada Adith. "Berhentilah dari pekerjaanmu sebagai seorang polisi jika kau hanya melihat seseorang dari pakaiannya saja!!!" bentak kepala Komandan Polisi bandara yang datang bersamaan dengan paman Yoshio. Chapter 124 - Iam Muslim But Not a Terorist "Maaf atas ketidaknyamanan anda!" kepala polisi menunduk dengan sangat dalam meminta maaf atas perlakuan yang telah didapatkan Adith. "Tidak apa-apa! Sangat baik jika mereka memperketat keamanan bandara ini tapi tetap saja meskipun saya berpakaian muslim bukan berarti saya seorang teroris. Jangan melihat segalanya hanya dari penampakan luarnya saja. Teroris bukanlah pengikut Islam. Membunuh orang lain dan meledakkan orang lain dan menaruh bom di beberapa tempat dan hal-hal ini tidak sesuai dengan kaidah-kaidah Islam. Jadi, orang-orang sekarang sadar bahwa muslim bukanlah teroris." Jelas Adith menggunakan bahasa Jepang dengan sangat fasih yang membuat mereka semua yang telah jahat kepada Adith merasa sangat malu. Adith yang memberitahu mereka dengan sangat tenang dan lemah lembut dalam menjelaskan mengenai pakaian serta kepercayaannya seketika menusuk hati mereka dengan sangat tajam bagaikan seribu tamparan peringatan keras. Namun terasa sejuk karena suara Adith yang memberi penekanan dengan cara yang santun. "Ya,,, I''am Muslim But Not a Terorist" Gani muncul dengan wajah berkeringat dan lelah. Ucapan Gani langsung mendapat permintaan maaf dari semua pihak petugas bandara termasuk kepala polisi bandara yang berdiri tepat di sebelah paman Yoshio meminta maaf untuk yang kesekian kalinya. "Sebagai permintaan maaf kami, kami akan memberikan pelayanan yang lebih baik lagi kedepannya tanpa melihat tampilan yang dikenakan oleh masing-masing dan tetap waspa serta menjadikan hal ini sebagai sebuah peringatan bagi kami" Tegas kepala polisian dengan penuh rasa tanggung jawab. "Terimakasih, mohon kerja sama anda dalam melindungi semua masyaratak tanpa terkecuali" Tegas Adith tetap santun. "Tuan Adith, mari saya antar ke tempat nona Alisya berada!" Ajak paman Yoshio dengan sangan santun membuat Adith merasa kurang enak karena dirinya yang lebih tua. "Bersikap bisasa saja paman, orang tua kami mengajarkan untuk tetap menghargai orang yang lebih tua apapun kedudukannya!" pinta Adith untuk paman Yoshio menyamankan diri. "Terimakasih banyak atas pengertiannya!" mereka keluar ditemani oleh kepala polisian dan Gani serta paman Yoshio sehingga tak mendapatkan hambatan selama perjalanan menuju lokasi titik pertemuan mereka terlebih karena bandara Tokyo selalu ramai dan sibuk. "Kamu disini?? kenapa aku tak menyadarimu? Seingatku di beberapa chapter sebelumnya author tak menyebutmu." tanya Adith kaget melihat Gani yang tidak disadarinya kalau ternyata Gani ikut bersama mereka. "Itu karena aku selalu memisahkan diri beristirahat karena barang Gina dilimpahkan kepadaku! Aku cukup kelelahan harus mengikuti langkah kalian semua dan bahkan hampir ketinggalan pada penerbangan sebelumnya" terang Gani sudah lebih bernafas legah karena Adith membantunya mengambil sebagian barang bawaanya. "Lalu kenapa kau tak ikut bersama Zein dan yang lainnya?" Adith ingat betul kalau tak ada seorangpun yang mengikutinya saat dirinya ditangkap. "Aku sebenarnya sudah bergerak pergi, namun karena aku lihat ada sesuatu yang tidak beres aku langsung mencari kantor official bandara ini dan melaporkan apa yang sedang terjadi. Tak ku sangka aku bertemu dengan kepala komandan yang sedang mengadakan inspeksi dan..." Gani melihat ke arah paman Yoshio dengan tatapan bingung. "Pak Takahashi menyuruh saya untuk memastikan kalian semua tiba dengan selamat dan mendapatkan pelayanan dengan sangat baik. Tepat sebelum kami beranjak pergi dari bandara ini saya melihat kalau Gani san terlihat sedang melaporkan sesuatu sehingga saya membantunya menjelaskan dalam bahasa jepang kepada kepala Komandan kepolisian bandara!" Terang paman Yoshio yang seolah mengerti tatapan dari Gani. "Maaf sudah merepotkan kalian semua, terimakasih banyak atas segala bantuannya!" ucap Adith berhenti di platform 5 tempat pesawat jet pribadi mereka berada. "Tidak usah sungkan! sebelum itu Tuan Takahashi ingin berbicara dengan Anda!" Paman Yoshio menyodorkan sebuah handphone yang sudah terhubung dengan kakek Alisya. "Halo Adith, sepertinya kau mengalami perjalanan yang cukup berat hari ini. Maaf karena tidak bisa menjamu mu dengan sangat baik!" ucap Kakek Alisya lembut menggunakan bahasa Indonesia yang Fasih namun masih dengan logat Jepangnya. "Jangan terlalu merasa terbebani pak Direktur!" terang Adith sedikit canggung untuk berbicara dengan nyaman. "Ada hal yang harus kami sampaikan kepadamu, ini mungkin akan sangat membebanimu tetapi kai yang sudah jauh terhubung dengan Alisya sudah tidak bisa melepaskan diri lagi karena keberadaan kalian berdua telah hampir diketahui dan itu semua akan menjadi sangat berat bagi Alisya!" terang Kakek Alisya dengan sangat hati-hati menjelaskan kepada Adith. "Maksud Anda diketahui??" Adith berusaha menganalisis arah percakapan kakek Alisya. "Black Falcon telah bergerak!!!" tegas Kakek Alisya yang membuat Adith mengerutkan keningnya menahan rasa terkejutnya. "Itu artinya kalian tidak bisa kembali ke Indonesia saat ini karena Ayah Alisya sedang berusaha menghapus beberapa jejak kalian semua di Indonesia. Karena dia tidak bisa mennyelesaikannya semua maka Kakek Alisya terpaksa mengirim kalian keluar negeri dengan alasan memberikan hadiah liburan" Nenek Alisya mulai ikut berkomentar dari belakang kakek Alisya. "Untuk itu kalian memintaku yang secara kebetulan sedang menghampirir Alisya untuk mengalihkan perhatiannya selama kami akan melakukan liburan kali ini" Tebak Adith yang mulai memahami situasi yang sedang dimaksudkan oleh kakek dan nenek Alisya. "Sudah ku duga kau sangat cerdas!!!" Puji Kakek Alisya bangga. "Semenjak bersamamu Alisya selalu menurunkan tingkat kewaspadaannya sehingga ia tak mudah menjadi curiga namun sebaliknya jika kau dalam bahaya. Untuk itu aku ingin kamu mengalihkan perhatian Alisya dengan mengajaknya ketempat yang selama ini selalu di impikannya sewaktu kecil. Alisya sangat menyukai kebun binatang dan peswat jet pribadi kalian akan diterbangkan langsung kesana!" Pinta nenek Alisya dengan sangat tulus. "Aku juga sudah mengirimkan beberapa pengawal terlatihku untuk menemani perjalan kaliam disana dan mereka yang akan mengurus seluruh perjalanan kalian. Adith... ku serahkan Alisya padamu saat ini" Kakek Alisya terdengar sangat serius sebelum akhirnya menutup teleponnya setelah mengucapkan salam perpisahan dengan Adith. Chapter 125 - Siapa Kau "Dimana Karin?" Tanya Alisya kepada Adora yang sedang membaca majalah fashion jepang yang memiliki terjemahan bersama emi. Alisya yang baru saja kembali setelah selesai menaruh barangnya dengan aman tak menemukan Karin saat berada diruang yang bisa dibilang mirip seperti ruang keluarga dengan kursi sofa mewah panjang mengisi sebagian badan pesawat ditambah dengan segala fasilitasnya yang juga tak kalah mewah. "Dia menemani Akiko diruang sebelah sana!" Tunjuk Adora diruang cafe tempat mereka mengambil berbagai minuman dan makanan. "Akiko??? Anak itu belum pulang? Kenapa juga pesawat ini belum lepas landas sedari tadi?" Alisya mulai tak nyaman untuk menunggu lebih lama lagi. "Pramugarinya bilang pesawat masih dalam tahap pengisian untuk itu kita diberikan kesempatan untuk bersenang-senang terlebih dahulu! Mereka akan memberitahu jika pesawatnya sudah siap.." Jelas Emi tetap fokus dengan sejumlah barang yang ditunjuk oleh Adora dalam majalah. Melihat teman-temannya yang tampak menikmati waktu mereka, Alisya tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya saat melihat teman-temannya dengan nyaman dan santai mencari kesibukan masing-masing. Hanya Karan yang terlihat duduk manis dengan majalah kesehatan ditangannya sedang Zein, Riyan, Beni dan Rinto bermain bliard yang diwasiti oleh Feby dan bagian sudut terdapat Yogi yang mengajarkan Aurelia dan Gina melempar dart. "Nikmati waktu kalian, aku akan mencari Karin!" Seru Alisya yang dibalas senyuman ceria Adora dan Emi penuh semangat. Tepat setelah Alisya memasuki ruang kafe, disana tidak terlihat Karin dan Akiko maupun pramugari yang bertugas untuk melayani dibagian kafe tersebut. "Kemana mereka? Apa di toilet?" Alisya yang baru saja akan memutar tubuhnya untuk mencari Karin tiba-tiba saja langsung ditarik masuk kedalam ruangan sempit yang terbatasi oleh tirai yang membuat Alisya kaget dan segera meningkatkan kewaepadaanya karena ia tak mengetahui siapa yang telah menariknya saat itu. "Karin???? Karin ini tidak lucu tau!!!!" Bentak Alisya kesal karena tubuhnya tertarik dengan sangat keras. Alisya mengira bahwa Karin sedang mencoba mempermainkannya namun kemudian mendengar suara Karin dari arah luar sedang berbicara dengan Akiko melewati tempatnya. "Siapa kau??? apa yang kau inginkan?" Alisya mulai menarik sehelai kain yang akan digunakannya sebagai senjata pertahanan diri. "Berani sekali kau menghilang dari hadapanku!!!" terdengar suara dingin yang Alisya rasa ia pernah mendengar nada suara itu. "Adith???" lirih Alisya mengetahui siapa pemilik suara tersebut meski masih ragu. "Adith kau kah itu?" panggil Alisya sekali lagi yang kali ini memundurkan langkahnya kebelakang. Tanpa diduga tubuh Alisya telah terhenti karena bertubrukan dengan tubuh seseorang yang Alisya duga kalau orang itu adalah Adith. Dengan cepat Alisya ingin memutar tubuhnya menghindar namun dengan cepat pula tangannya tertarik kebelakang menyisakan jarak yang sangat tipis antara dirinya dan Adith. "Kenapa kau selalu menghilang dariku Alisya???" ucap Adith dengan nada dingin dan penuh amarah. Merasa kalau Adith mengenggamnya dengan sangat erat, Alisya berusaha melepaskan diri dengan melakukan gerakan mengendorkan sumbu tubuhnya lalu mendorong untuk mengacaukan keseimbangan tubuh Adith namun Adith dengan mudah menyesuaikan diri. Alisya berbalik dengan sangat lihai sehingga berhasil membuat keadaan terbalik dan lepas dari kuncian Adith namun Adith kembali menekannya ke dinding namun Alisya menedang ke arah belakang agar tidak tertekan, memegang pinggang Adith dan membalikkannya mendekati dirinya mendorongnya kedinding. "Kau tampan memakai baju ini" Alisya tersenyum nakal tak bisa menahan godaan ketampanan Adith. Membuat Adith melesat mengambil Kain di tangannya menarik Alisya dengan kedua tangan yang dengan cepat Alisya memberikan punggungnya. "Sepertinya kau jadi lebih terbuka dan sedikit nakal sekarang!" Adith berbisik ditelinga Alisya nakal membalikkannya dan menjauhkan tubuh Alisya darinya. "Dan sepertinya kau jadi lebih baik!!!" tatap Alisya saat Adith mulai melepaskannya dengan sangat lembut. Melihat Alisya yang menatapnya dengan sangat dalam Adith tak mampu menahan diri lalu menarik tangan Alisya dan memeluknya dengan sangat erat seolah ia telah pergi lama sekali. "Adith,, kau kenapa?" Alisya khawatir karena mendengar desahan nafas Adith yang tidak teratur dan berat. "Sudah kubilang jangan pernah pergi dariku Sya, ini sudah kedua kalinya kamu menghilang dariku dan aku sudah seperti zombie. Aku tak bisa membayangkan bagaiman gilanya aku jika kau menghilang lagi untuk yang ketiga kalinya. Berjanjilah padaku untuk tidak mengulanginya???" Adith mengeratkan pelukannya. Dadanya sesak dan kepalanya berat saat memikirkan kalau ia tak bisa melihat Alisya lagi untuk waktu yang sangat lama. Alisya bagaikan sebuah candu berat yang sudah mendominasinya tanpa ampun. "Maaf Adith tapi Aku.." Alisya tak yakin harus menjawab apa, tidak semudah itu untuk mengucapkan sebuah janji yang Alisya paham betul bahwa ia takkan mampu menpatinya. "Berjanjilah... jika tidak Aku yang akan membuatmu untuk menepatinya!" Adith melonggarkan pelukannya mencium kening Alisya dengan sangat lembut lalu kembali memeluknya. "Adith,,, kau tau aku bukanlah..." Alisya mencoba ingin menjelaskan sesuatu kepada Adith mengenai dirinya yang mungkin tak diketahui oleh Adith yang dirinya selalu berhadapan dengan bahaya. Namun Adith semakin tenggelam dalam leher Alisya masih dengan nafas yang berat. "Aku akan membuatmu menepatinya karena kau hanya milikku A.. Li... Sya" suara Adith semakin pelan dan menghilang bersamaan dengan tubuhnya yang semakin melemas dan berat. Merasakan tubuh Adith tertopang pada dirinya Alisya langsung memasang kuda-kuda memperkokoh dirinya agar tidak roboh bersama tubuh Adith yang sangat bidang sehingga cukup berat meski itu untuk seorang Alisya. "Kar,, Karin... kak Karan... tolong Aku!!!" teriak Alisya yang dengan cepat Karan dan Karin melesat kesumber suara Alisya yang berada dalam ruang ganti para Pramugari. "Apa yang terjadi???" Karan langsung menangkap tubuh Adith yang sudah hampir jatuh dan dengan sangat lembut Karan membaringkannya kelantai untuk melihat kondisinya. "Ada apa dengan Adith kak???" tanya Karin kaget membantu Karan menurunkan kepala Adith. "Sepertinya dia kelelahan!!! Dia hanya tertidur saja" tatap Karan untuk menghilangkan kekhawatiran Alisya. Chapter 126 - Gila,, Sakit Tau!!! Adith sudah dibaringkan kedalam kamar berkat bantuan Karan dan Zein tepat setelah pesawat telah lepas landas. Alisya yang melihat raut wajah Adith yang perlahan-lahan membaik membuatnya ingin beranjak keluar namun tangannya dihentikan oleh Adith. "Tetaplah disini!!!" pinta Adith langsung menarik Alisya yang kemudian terduduk diranjang yang di tiduri Adith. Adith menggeser kepalanya dan menempatkannya diatas paha Alisya memeluknya erat seolah tak mengizinkan Alisya untuk pergi jauh dari sisinya. Adith kembali tertidur dengan pulas sehingga mau tidak mau Alisya mengambil posisi bersandar agar lebih nyaman. Alisya terus membelai dan mengelus lembut kepala Adith untuk memberikannya ketenangan. "Siapa sebenarnya dirimu? kenapa aku merasa kau begitu dekat seolah darahku berdesis kencang saat bersamamu!!! Alisya tak bisa menjelaskan bagaimana perasaanya dan entah sejak kapan hatinya telah melekat erat kepada Adith. Meski ia mencoba menyangkalnya dengan sekuat tenaga maka bagai magnet yang sangat kuat pula dirinya terikat kepada Adith. "Kau sudah bangun???" Adith tersenyum membelai hangat pipi Alisya. Alisya yang kaget segera bangkit dari posisinya, beruntunglah Adith menekan kuat kepala Alisya agar tidak membenturkan kepalanya dengan kepala Adith. "Adith,,, kenapa aku yang..." Alisya tak menyangka kalau malah ia yang terbaring lelap diatas tempat tidur. "Sepertinya kau belum bisa tidur setelah bekerja dengan sangat keras! Paman Yoshio sudah menjelaskan kepadaku bahwa kau belum tidur selama 3 hari kemarin karena berurusan dengan kelompok Tosei-kai" terang Adith mengambilkan Alisya air putih yang hangat. "Jadi kau sudah tau kalau Aku,,," Alisya yang ingin menyembunyikannya dari Adith mengenai dirinya karena tak ingin Adith menjauhinya kini malah sudah tak bisa lagi menghindarinya. "Aku tak peduli bagaimana kamu, tentang apa dirimu dan siapapun kamu karena bagiku kau hanyalah Alisya. Dan aku takkan memaafkanmu lagi jika kau menghilang dari hadapanku!" Adith menjitak gemas jidat Alisya yang seketika memerah karena jitakan Adith. "Gila,, sakit tau!!!" Alisya menguluh dan meringis kesakitan. "Itu hukuman karena kau sudah menghilang! Dan ini hukuman karena kamu sudah baring ditempatku tertidur! Adith mengangkat tubuhnya dengan sangat mudah lalu menurunkannya kemudian mencium kening Alisya. "Ini hukuman atau sebuah Hadiah sebenarnya?" tantang Alisya melipat kedua tangannya menatap wajah Adith dengan senyuman nakal. "Bukan ini hadiah yang akan aku berikan, ada Hadiah lain yang akan aku berikan kepadamu!" Ucap Adith menarik tangan Alisya keluar dari kamar pesawat jet pribadi mewah itu. "Mana yang lain? pesawatnya sudah mendarat? kenapa cepat sekali. Ini kan bukan JAL!" Alisya kaget saat melihat ruangan telah kosong dan tidak terdapat teman-temanya disana. "Kau akan mengerti begitu keluar!!!" tarik Adith lembut agar Alisya tetap berada disisinya. Tepat setelah Alisya keluar dari pesawat, Alisya kaget karena mereka masih belum berada di Indonesia melainkan di Hokaido, Jepang. "Kenapa kita berada disini? bukankah harusnya kita pulang ke Indonesia?" tanya Alisya bingung tak mengetahui apa yang sedang mereka rencanakan. "Pertama tama sebaiknya kita keruang tunggu dulu, teman-teman sudah menunggu disana!" Ucap Adith terus menarik tangan Alisya yang memasang wajah penasaran. "Akhirnya si Quen sudah bangun!!!" Karin menghampiri ketika melihat kedatangan Adith dan Alisya. "Ada apa ini? kenapa kalian semua berada disini? Akiko dan eh?? Ryu san???" Alisya kaget melihat Akiko dan anak buah Paman Yoshio yang membawa motor ibunya lalu ada bersama mereka. "Aku mengajak Ryu, makin banyak orang akan makin seru liburan kita!" jelas Akiko penuh semangat. "Terbaik!!!!" Emi menaikkan jempolnya diikuti tatapan penuh rasa terimakasih dari Feby dan Gina. "Liburan??" Alisya mengerutkan keningnya tak yakin maksud Akiko. "Iya Liburan, sudah ku bilangkan kami diberi hadiah oleh kakekmu karena berhasil membantumu memenangkan tantangannya lalu??" terang Karin memajukan wajah kepada Alisya dan bertolak pinggang. "Kakek mu, maksudku pak Takahashi Yamada sudah mengatur liburan kita selama di Hokaido bersama semuanya. Kau juga ingin mengunjungi kebun binatang bukan?" tanya Adith mengelus kepala Alisya yang seolah masih belum terbangun dari tidurnya sehingga butuh waktu lama untuk bisa memahami keadaan yang sedang terjadi. "Benarkah???" Alisya menatap dengan penuh Antusias saat Adith menyebutkan kebun binatang yang selama ini ingin sekali dia datangi. terlebih karena itu adalah kebun binatang Hokaido yang selama ini selalu saja diceritakan oleh ibunya. Kebun binatang Hokaido terkenal karena beragam jenis satwanya yang memiliki koleksi 700 satwa dari 124 spesies. Kita bisa melihat satwa ini lebih dekat tanpa perlu khawatir akan faktor keselamatan. Tak hanya pinguin, kita dapat melihat anjing laut, beruang kutub, burung hantu, dan Macan Amur. "Tuan, bisnya sudah siap!!!" Ryu memecah khayalan Alisya dengan Bis yang merupakan salah satu kendaraan roda empat yang sangat tidak disukainya. "Semuanya kita bisa berangkat!!!!" Teriak Beni penuh semangat. "Umm... kenapa harus Bis???" wajah Alisya muram memikirkan harus menumpangi bis. "Ya ampun, kita lupa satu hal!!! Alisyah..." desah Yogi yang mengetahui kelemahan Alisya. "Kau tak perlu khawatir, karena obat mu ada disini bersamamu dan takkan pernah lepas da... ri'' muh....! Adith seketika menggendong Alisya dengan cepat dan menaikkanya ke dalam Bis lalu menempatkannya disamping jendela. Semua orang hanya terbengong melihat kejantanan Adith yang mengangkat Alisya tanpa permisi sehingga mereka tak sadar kalau mereka sedang terbengong dengan apa yang sedang terjadi. Bunyi klakson bis yang dibunyikan oleh Adith langsung mengejutkan mereka dari keter Shockkan yang luar biasa sedang Alisya hanya memijit kepalanya yang tidak sakit karena malu. "Apa aku akan tahan melihat adegan romantis mereka selama liburan disini? Rinto menangis dalam dia yang disetujui oleh Yogi, Beni, Riyan dan Gani. "Apa aku harus menyuntikkan serum anti gila agar kebal???" sela Karan bergidik ngilu. "Ide bagus!!!" tambah Zein yang dibalas tawaan oleh para wanita yang merasa kalau tingkah Adith begitu romantis dan membuat iri. Berbeda dengan Karin yang setuju dengan para Pria yang mematung disana. Chapter 127 - Onsen "Permandian Air Panas" Sebelum menuju ketempat kebun binatang bis mereka pergi menuju ke sebuah Vila yang bergaya tradisional yang cukup mewah dan memiliki permandian air panas disekitarnya. Untuk mengistrahatkan diri terlebih dahulu sebelum kemudian bersiap-siap untuk menikmati liburan mereka pada esok hari. "Alisya, kita sudah sampai" Adith membangunkan Alisya dari lamunanya yang sedari tadi terus memperhatikan pemandangan Hokaido dari jendela. "Apakah ini suatu keajaiban? Bagaimana mungkin seorang Alisya tak merasakan mabuk sama sekali?" goda Karin yang berada dikursi bagian belakang Adith dan Alisya. "Diamlah sebelum aku menyiksamu! Kau tau, aku benar-benar ingin memakanmu sekarang..." Sela Alisya kesal karena diganggu oleh Karin. "Ayo kita turun, penginapan kita berada di tempat yang sama tetapi ruangan para pria berada disebelah kanan sedangkan yang wanita berada disebelah kiri" terang Riyu setelah memastikan tempat penginapan mereka. "Terimakasih Ryu, kerjamu sangat cepat!!" ucap Zein kepada Ryu yang ternyata umur mereka tak berbeda jauh dari yang lainnya. "Tidak usah sungkan, saya seperti merasa kehadiran saya tidak begitu berguna karena ternyata kemampuan bahasa jepang kalian sangat Fasih" Ryu merasa rendah hati tak membayangkan orang asing bisa menguasai bahasanya dengan mudah diusia yang cukup muda. "Tentu saja tidak, jika kau tidak ada maka para wanita ini akan merasa sangat suram. Kau berhasil membangkitkan semangat liar mereka" tunjuk Zein pada para wanita yang kini masih memandangi Ryu dengan tatapan berliur. "Terimakasih banyak, mohon bantuannya dari sekarang!" tegas Ryu menunduk kepada para wanita menggunakan bahasa Indonesia meski logat jepangnya cukup kental namun mampu membuat para Ledis menyerbu dengan cepat. "Hei, hentikan itu! kalian membuat Ryu jadi ketakutan.. ambil barang kalian dan pergilah kesebelah kiri. Kalian bisa membersihkan diri terlebih dahulu dengan mandi air panas sebelum akhirnya kita akan berkumpul di tengah sana untuk makan dan pesta barbekyu!" Karan mengingatkan para wanita yang tampak histeris ingin melahap Ryu. Sopan santun Ryu dan wajah Ryu yang gagah mirip seorang aktor muda Kento Yamazaki secara langsung tak bisa dipungkiri oleh Karan kalau para wanita akan dengan mudah menggila. Wajah tampannya memang sangat memikat hati dengan satu kelopak mata dan bibirnya yang mungil merekah. "Ayolah teman-teman, aku sudah sangat lapar nih!" ajak Karin yang sudah tak sabar ingin masuk kedalam penginapan. "Tidakkah kalian penasaran bagaimana rasanya mandi Air panas??" pancing Aurelia mengalihkan perhatian mereka yang tanpa diduga mereka akhirnya menyerah untuk saat ini dan mengikuti arahan Aurelia. "Ummm... Adith, bukankah kali ini kau sudah harus melepas tanganku?" Alisya yang ingin bergabung bersama teman-temannya masih belum biwa bergerak dengan leluasa karena Adith belum bisa melepaskan dirinya. "Aku masih belum ingin melepasmu!!!" Adith menatap Alisya lekat yang sedang memandanginya dengan tatapan nakal. "Kalau begitu bagaimana kalau kita mencari tempat menginap untuk kita berdua???" Alisya berbisik manja ditelinga Adith untuk memancingnya. "Ctikkkkkk!!!" Adith menjitak jidat Alisya yang sudah sangat berani menggodanya. "Kau sudah sangat berani sekarang yah!!!" Oke, aku akan melepaskanmu tapi kau harus muncul dihadapanku satu jam kemudian. Jika aku tak melihatmu, jangan salahkan aku jika aku berniat nekat padamu!" Ancam Adith melepas Alisya dengan berat. "hahahahahaha,," Alisya yang merasa bersalah kepada Adith hanya bisa tertawa melihat wajah merah merona Adith yang berhasil masuk dalam jebakannya. Setelah Adith melepaskan tangan Alisya, kini gantian Alisya menggenggam erat tangan Adith dan menatapnya dengan wajah yang serius. "Emm.. mendekatlah ada yang ingin aku bisikkan!!!" pandang Alisya yang membuat Adith merasa khawatir dengan apa yang akan diucapkan oleh Alisya. Sebuah kecupan lembut namun hangat melekat cepat di pipi Adith membuat Adith tak bergerak dan tak bergeming dari posisinya karena perlakuan Alisya yang sangat mendadak itu. "Itu hadiah pertama untukmu! Selamat ulang tahun Radithya Azura Narendra!!!" Bisik Alisya berlalu pergi meninggalkan Adith yang masih belum bisa menyerap apa yang sedang terjadi pada dirinya. "Kenapa kau semakin berbahaya Alisya!!!!" gumam Adith setelah berhasil menenangkan hatinya yang hampir saja meledak keluar dari persembunyiannya. "Jika kau seperti itu terus, entah sampai kapan aku bisa menahan diri lagi. Ini terlalu berbahaya, perasaanku seolah tak bisa mengontrolnya lagi" tambahnya memegang kepalanya yang mulai berdenyut sakit seolah menahan perasaan yang sudah mendekati puncaknya dan memaksa untuk mengobrak keluar dari dasarnya. ***** "Waahhh.... hebat!!! tempat ini sangat luar biasa, Alisya aku berterimakasih banyak kepadamu!!!" Adora memandang Alisya dengan penuh rasa syukur. "Ini akan menjadi pengalaman yang takkan pernah aku lupakan!!!" tambah Emi. "Alisya,,, kau terlalu memiliki banyak hal yang tidak kami ketahui" lanjut Feby yang telah berganti pakaian untuk mandi. "Tetapi diatas semua itu kami bersyukur telah bertemu dan berteman dengan dirimu!!!" ucap Gina tak kalah semangatnya berdiri ditepi permandian air panas yang berada dihalaman sehingga dengan bebas mereka juga bisa memandang bintang dilangit Hokaido yang sedang cerah. "Puffftttt ... kalian berjejer seperti anak SD yang sedang mengantri masuk mandi dengan pakaian seperti itu!" Karin tertawa melihat teman-temannya yang memakai baju renang saat memasuki permandian Air panas. Permandian air panas di jepang lebih terkenal dengan permandian yang dapat dimasuki secara bersama-sama dimana semua wanita dapat masuk tanpa menggunakan pakaian sehelaipun untuk menutupi tubuh mereka. "Oyyy,,, aku nggak bisa tau menyesuaikan diri dengan budaya mereka. Kau sendiri dan Alisya bahkan menggunakan baju bikini yang...." Adora ingin membantah namun merasa takjub dan tak melihat kekurangan dari dua wanita cantik yang memakai pakaian dalam yang tidak terlihat seksi namun sangat memikat. Celana pendek berwarna Alisya yang melekat sepaha membuat teman-temanya terpesona karena kecantikan dan kemulusan tubuhnya. Karin yang juga memakai pakaian yang senada namun lebih feminim juga tak kalah menarik mata. Dan kemunculan Akiko yang hanya memakai handuk terlihat sangat sangat indah dan seksi membuat mereka berempat seketika suram. Chapter 128 - Kau juga teman Kami Di tempat permandian panas para pria, mereka menikmati permandian itu dengan lebih tenang dibandingkan dengan para wanita yang heboh. "Sepertinya kau sangat percaya diri!!!" lirik Adith pada tubuh Karan yang hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. "Dan kau terlalu sangar untuk bersikap malu-malu seperti itu!" Ucap Karan santai melebarkan tangannya bersandar pada batu permandian dengan nyaman yang sempat melirik Adith dengan kolor pendek hitamnya. "Ini lebih nyaman bagiku!" Adith membenamkan diri dan bernafas lega saat tubuhnya hampir seluruhnya masuk kedalam air. "Kalian terlihat lebih akrab sekarang!" goda Yogi yang sedang menarik Ryu dengan sangat kuat dibantu oleh Beni dan Gani. "Ada apa dengannya??" Adith menatap Yogi tak paham dengan tingkah mereka yang tampak seperti sedang menculik seseorang dengan ganas. "Kami melihatnya akan memisahkan diri makanya dengan cepat kami menangkapnya untuk mandi bersama!" Tarik Beni yang seketika melepaskan genggamannya karena handuknya yang hampir terlepas. "puuffttt,,, bokongmu seksi juga!" Riyan mendorong Beni hingga tercebur masuk kedalam Air dengan terus berusaha memegang handuknya yang cukup pendek dengan sangat erat. "hahahaah itulah kenapa aku lebih memilih memakai celana pendek saja!" Gani tertawa keras lalu melepas genggamannya pada Ryu kemudian masuk kedalam Air mengikuti langkah Yogi dan Riyan. " Masuklah!" Ajak Zein menggunakan bahasa jepang kepada Ryu. "Maaf tuan, tapi sepertinya lebih baik saya disebelah saja!" ucap Ryu menolak tawaran Zein dengan santun. "Kau adalah bagian dari kami lalu kenapa kamu memisahkan diri?" Rinto mencoba membujuk Ryu agar bergabung bersama mereka. "Tidak terimakasih, sepertinya akan lebih nyaman jika..." Ryu masih tetap ingin menolak. "Kau juga teman kami!!!" tegas Adith pendek. "Kau tak perlu mengkhawatirkan masalah apapun, untuk sekarang kenapa kau tak menikmati ini bersama kami!" terang Karan menghilangkan rasa kurang nyaman Ryu. Setelah berdiam diri sesaat, diapun akhirnya masuk kedalam air dan duduk diantara Yogi dan Beni. "Tubuhmu oke sekali, sangat Atletis! Puji Beni melihat tubuh ramping Ryu yang berotot membentuk roti sobek yang seksi. "Apakah mereka semua disini adalah manusia??? kenapa pahatan tubuh mereka begitu sempurna, begitu pula dengan wajah mereka yang juga sama sempurna!" tambah Gani yang melirik ke arah Adith, Karan, Zein dan Ryu serta Rinto melewati Riyan dan Yogi. "Hei kenapa tatapanmu seperti itu?" cela Riyan merasa ia tidak masuk kriteria. "Meskipun aku tubuhku tidak sebagus mereka, setidaknya aku tidak memiliki perut yang buncit!!!" ucap Yogi menatap perut Beni yang sedikit nyembul ke permukaan air. Karan dan Adith hanya tertawa mendengar perdebatan mereka. Sedang Ryu hanya bisa tersenyum tipis dengan tingkah mereka. Malam itu setelah membersihkan diri dan berpakaian santai mereka menuju ketempat diamana acara makan dan barbekyu akan dilaksanakan. Alisya datang dengan mengucir tinggi rambutnya memperlihatkan lehernya yang cerah bersinar sedang Karin dan Akiko memilih mengurai jatuh rambut mereka. Untuk yang lainnya author akan lewati saja karena mereka berpakaian terlalu heboh untuk berlomba menarik perhatian Ryu. Saat para wanita tiba, Adith sudah mengatur meja dibantu oleh Ryu dan Beni sedang Rinto dan Karan bekerja sama untuk membakar daging serta memasak beberapa menu lain dibantu oleh Yogi dan Gani. "Ada yang perlu kami bantu???" Alisya tersenyum manis menatap Adith yang memakai kaos biru yang membuatnya terlihat cerah dan tampan. "Tentu!!! bisa kau pegang ini???" ucap Adith mengulurkan tangannya yang disambut oleh Alisya dengan wajah kebingungan. "Apa maksudnya ini? Alisya mengernyitkan keningnya tersenyum lucu melihat Adith yang sedang menutup matanya dengan sangat khusyu. "Aku sedang meng Cas energiku!!! Dengan begitu aku bisa tidur pulas malam ini..." terang Adith membuka matanya dan melepas lembut tangan Alisya saat merasa cukup. "Kalau begitu aku akan mengenggam tanganmu untuk malam ini dimanapun kamu berada!" Alisya kembali menggenggam tangan Adith. "Aku takkan bisa fokus jika seperti ini. Selain itu akan sulit bagiku bekerja dengan satu tangan." Adith mengangkat tangan kirinya yang bebas. "Aku akan menjadi tangan Kananmu!" tegas Alisya tanpa melihat Adith dan membantunya dalam mengatur meja dengan cekatan. "Mulai Lagi..." Melihat kemesraan mereka Karin memilih pergi dan mengajak Akiko untuk melihat Karan yang sedang membakar daging. Sedang Aurelia mendekati Rinto dan Yogi yang sedang memasak menu lain. "Apa kalian sudah sangat lapar?" tanya Karan melirik ke arah Karin. Pandangan Karan seketika terhenti saat melihat Akiko yang tampak sangat cantik dengan rambutnya yang terurai. "Kak, ini halal nggak???" Karin khawatir karena mereka berada di tempat yang akan susah untuk mendapatkan makanan yang halal. "Tentu saja halal, kami harus jauh-jauh membelinya!" Zein dan Riyan datang membawa beberapa tas belanjaan makanan yang semuanya berlogo halal. "Cukup mudah untuk mendapatkan makanan halal disekitar Hokaido!" tambah Riyan menaruh barang belanjaan diatas meja yang langsung di eksekusi oleh Beni dan Gani. Berkat Zein dan Riyan, Karan merasa terselamatkan karena Karin tak melihat bagaimana ekspresinya saat takjub melihat lurus kearah Akiko. "Ryu, tolong dong buka ini" Emi datang memberikan botol cocacola ukuran besar kepada Ryu. Dengan sangat mudah Ryu membuka tutup botol tersebut lalu memberikannya kembali kepada Emi tanpa melihatnya. Emi kembali ketampat Feby dan Gina karena gagal menarik perhatian Ryu, bergantian dengan Feny. Giliran Feby melayangkan serangannya. "Ryu, Bantu aku mengangkat ini!" Feby meminta kepada Ryu untuk memindahkan Boks gabus yang berisi minuman dingin dari arah pintu kedekat meja. Ryu pun dengan sangat cekatan mengambil boks minuman itu tanpa melihat kearah Feby. Feby yang gagal kembali bergantian dengan Gina namun sama saja. "Ryu..." panggil Karin pelan yang membuat Ryu langsung menatap lurus ke arah Karin. Melihat reaksi Ryu mereka akhirnya tenggelam dalam kekecewaan. Malam itu mereka menikmati makan malam dengan penuh gembira ditengah taman yang luas dan langit yang cerah. Saling bercanda satu sama lainnya. Chapter 129 - Mogu-mogu Times Seperti yang sudah mereka rencanakan, esok harinya tepat jam 9 pagi mereka sudah berada dikebun binatang Asahiyama Hokaido. Tempat itu sudah ramai akan pengunjung dan Alisya sangat menikmati kesempatan itu terlebih karena ia bersama teman-temannya. Dikebun biantang itu Alisya dan yang lainnya bisa melihat Ada banyak hewan di antaranya rusa, elang, bangau, serigala asli Hokkaido yang hampir punah. Selain itu, ada juga beruang kutub, kera dan orang utan, singa, harimau, jaguar, kuda nil, monyet hutan, dan jerapah. Berbeda dengan kebun binatang lain di Jepang di mana para pengunjung melihat hewan-hewan yang dikurung dalam kandang, di Kebun Binatang Asahiyama Alisya dan yang dapat mengamati hewan dengan dekat dan dari berbagai sudut dalam habitat asli hewan-hewan tersebut. Lewat terowongan pipa transparan akuarium atau jembatan di atas kandang kita seakan-akan dibawa untuk hidup, berjalan, atau berenang bersama dengan hewan-hewan itu. "Aku ingin mencoba yang itu!!!" tunjuk Alisya melihat kubah kecil transparan ditengah kandang Beruang kutub. "Kamu serius??" tanya Karin merinding menyaksikan Beruang yang tampak tinggi dan besar. "Sepertinya seru ayo kita masuk!!" ajak Adith yang dikuti oleh Beni, Emi serta Gani dan Gina. sedang Karin memilih masuk kedalam kubah transparan yang memperlihatkan serigala hitam dari jarak yang cukup dekat ditemani yang lainnya. Setelah cukup puas mereka menuju ketempat pameran yang menampilkan pameran Anjing laut, Beruang kutub dan kuda Nil. Selanjutnya tepat dipintu depan Akiko mengajak mereka untuk melihat "Mogu-Mogu Times". "Mogu-mogu???" Apa maksudnya???" tanya Beni tak paham dengan apa yang sedang mereka lihat. "Mogu-mogu ini adalah penunjuk waktu makan para binatang yang ada diseluruh kebun binatang ini" terang Karan menerangkan kepada mereka satu persatu waktu yang ditunjukkan pada Mogu-mogu times tersebut. "Apa kamu berani memberi makan singa secara langsung?" tantang Yogi kepada Beni dengan senyuman yang licik. "Tentu saja aku berani!!! selama ada pawangnya disana.." ucapnya setelah merasa yakin sebelumnya. "Aku penasaran bagaiman jika kita memberi makan para ikan di akuarium?" ajak Karin dengan penuh semangat. "Benar, aku setuju jika kita ke akuarium!" lanjut Adora tak kalah semangat menyetujui ide Karin. "Aku ikut bersamamu!!!" Emi dan Feby juga Gina menangapi dengan tatapan antusias. "Akiko, apakah ada yang ingin kamu lihat?" tanya Alisya melihat Akiko yang hanya menurut mengikuti mereka terus menerus. "Tidak, aku lebih suka mengikuti kalian saja!" Adora menolak dengan sangat santuan membuat Karan melirik melihat wajahnya yang tersenyum manis. "Aku tidak sabar ingin memberi makan Dolphin, ayo kita segera kesana!" Ajak Aurelia yang sudah tak sabar ingin segera pergi. "Sebentar, jika hanya melakukan itu bukankah di Ancol juga kalian bisa melakukannya??? kenapa kita tidak mencoba sesuatu yang lebih ekstrim?" ucap Riyan dengan penuh keyakinan. "Aku tidak masalah selama para wanita menyetujuinya!" Tegas Adith tidak peduli akan apapun yang akan mereka lakukan. "Oke, bagaimana kalau kita memberi makan Gorila! Orang pertama yang berhasil memberinya makan dengan jarak yang sangat dekat dan bisa berfoto dengannya akan mendapat hadiah!" Jelas Zein memberikan tantangan dan juga motivasi. "Benarkah?? kalau begitu akupun akan mencobanya!!!" tegas Feby dengan tatapan penuh semangat. "Oke, kita akan bagi dalam 3 kelompok dengan bermain hompimpa untuk menentukan 3 orang pertama yang akan memilih anggotanya!" Adith mengantarkan mereka untuk segera ikut dalam bermain dan 3 orang yang berhasil menang adalah Karin, Ryu dan Akiko. "Aku pilih Alisya, Adith, Rinto, Yogi dan Aurelia" Ucap Karin merasa yakin akan pilihannya. "Aku pilih Karan, Zein, Adora, Riyan dan Feby!" lanjut Akiko tersenyum malu setelah selesai memilih anggotanya. Riyan tak bisa menyembunyikan kekecewaannya karena terpisah kelompok dan tak dipilih oleh Karin. "Itu artinya Aku akan bersama Emi, Gani, Gina dan Beni" Terang Ryu. Setelah pembagian kelompok selesai, mereka dengan segera menuju ketempat dimana Kandang Gorila berada. Kelompok pertama yang maju adalah kelompok Karin yang berhasil melakukannya dengan sangat cepat dan berfoto dengan baik tanpa ada hambatan apapun. Dilanjutkan dengan kelompok Akiko yang mendapat hambatan dari Riyan dan Feby yang ternyata tak cukup berani untuk berdiri didekat gorila saat berfoto bersama sehingga mereka menghabiskan waktu yang cukup lama dan hasil foto yang cukup kacau. Kelompok Ryu menyelesaikan tantangan dengan cukup mudah meski tak bisa menyamai waktu tercepat yang telah didapatkan oleh kelompok Karin. Tepat saat mereka sedang berdiskusi mengenai waktu tempuh dan melihat foto masing-masing, tiba-tiba saja kilatan Flash dari handphone pengunjung lain membuat gorila itu menjadi terkejut dan mengamuk. Semua pengunjung berlarian satu-persatu dan berteriak histeris membuat sang Gorila semakin mengganas. Gorila itu melempar sang pawang yang sedang berusaha menenangkannya begitupula yang terjadi dengan pawang yang lainnya. "Jangan begerak!!!" Karan segera maju dan menempatkan Akiko juga Feby dibelakangnya. Akiko yang ketakutan hanya berusaha diam dan menutup mulutnya karena nafasnya yang terdengat memburu. "Jangan lakukan tindakan yang gegabah yang akan memancing perhatian si Gorila!" Adith juga memasang badan untuk melindungi Alisya dan Karin sedang Yogi langsung mendekat secara perlahan kearah Aurelia yang mematung ketakutan. Respon Ryu pun tak kalah cepat saat melindungi Gina sedang yang lainnya terus memperhatikan sang Gorila penuh waspada. "Okaasaan,,,!!!" Seorang anak kecil laki-laki yang terpisah dari orang tuanya muncul tak mengetahui sistuasi yang sedang terjadi. Melihat anak Kecil itu membuat Gorila berteriak dengan ganas memukul-mukul dadanya lalu kembali memperhatikan sianak dengan penuh amarah. Mereka semua mendadak semakin panik saat anak itu terlihat sangat terkejut kemudian menangis. Gorila tersebut akhirnya berlari menuju kepada si anak kecil dengan sangat cepat. "Adith, bawa mereka pergi dari sini!!!" Teriak Alisya melesat dengan sangat cepat kearah si anak kecil bersamaan dengan Ryu yang mencoba menarik perhatian si Gorila namun tak berhasil. Alisya menarik anak itu lalu melemparnya ke arah Karan. Chapter 130 - Gorila "Alisya!!!" Teriak Adith saat melihat Alisya diterjang oleh Gorila itu dengan sangat ganas. Zein kemudian bereaksi cepat dengan menyingkirkan teman-temanya ketempat yang lebih aman dibantu oleh Rinto dan Yogi. "Beni gendong anak itu dan bawa dia, cepat!!!" Teriak Karan karena Beni yang terdiam terpaku karena takut. "Karin kau juga pergi dari sini!" Panggil Riyan menggandeng tangan Karin. "Aku baik-baik saja! Kalian pergilah dulu,,," Karin mendorong Riyan menjauh dari tempatnya. "Tidak kau ikut bersama mereka!!" Tegas Karan mengkhawatirkan Karin. "Tidak kak, aku ingin membantu kalian disini" Ucap Karin tak kalah tegas. "Disini berbahaya dan Kau bisa terluka Karin!!!" Bentak Karan dengan tatapan yang sangat tajam. "Jangan meremehkanku! Aku bukanlah Karin yang dulu yang terus menangis untuk kau dan Alisya lindungi, aku juga bisa melindungi kalian sekarang kak!!!" Pinta Karin meyakinkan karan untuk mempercayainya. Begitu melihat teman-temannya sudah berada pada tempat yang aman. Pihak kebun binatang berekasi dengan sangat cepat dengan mengamakan seluruh pengunjung yang ada dan menaikkan pembatas besi di sekitar kandang untuk mencegah agar si Gorila tak melarikan diri dari kandang. "Kita harus menahannya sampai para pihak kebun binatang datang membawa senapan bius!" Tukas Ryu karena mereka telah berada didalam Kandang yang sama dengan Gorila yang sedang mengamuk tersebut. Karin, Karan, Adith dan Ryu bereaksi cepat dengan mengelilingi Gorila yang sedang menindih tubuh Alisya dengan tubuhnya yang cukup besar sehingga mereka tak bisa melihat dengan jelas tubuh Alisya. "Alisya..." Teriak Adith dengan penuh rasa khawatir karena melihat Alisya masih belum tampak sedang Ryu dan Karan terus berusaha mengalihkan perhatian mereka pada Si Gorila. Gorila itu perlahan bangkit dan melihat ke arah Karin yang kemudian dengan sangat cepat berlari ingin menyerangnya. Alisya berusaha bangkit lalu dengan sigap mengambil tali yang berada di pinggang sang pawang yang jatuh tak jauh dari dirinya kemudian melemparkannya ke arah Adith. Adith yang paham langsung melompat ke sisi lain sedang Karin mencoba tetap berada di posisinya. "Adith, tarik yang kuat!!!" Teriak Alisya sudah memasang kuda-kuda dengan mengaitkan kakinya pada tiang lampu. Tepat sebelum Gorila itu sampai kepada Karin tubuh Gorila itu tertahan oleh Tali yang direntangkan oleh Alisya dan Adith. Karin dengan cepat meluncur dibawah kaki Gorila yang berdiri tegap itu dan menghindari serangannya saat tangannya mencoba menangkap Karin. Karena tubuhnya yang besar dan sangat kuat Adith terlempar dengan sangat keras kearah sang Gorila. Posisi Adith sangat dekat dengan si Gorila sehingga Alisya dengan sangat cepat memutar tali itu agar melilit si Gorila dan menarik sekuat mungkin akan si Gorila tak mencapai tubuh Adith. "Uhuk... uhukk,, uhukk!!!" Adith memegang dadanya yang sakit karena cukup keras terbentur ditanah. "Adith,, bangun!!!" Teriak Alisya masih terus berusaha menahan dan menarik si Gorila. Karan dan Ryu yang kembali membawa tali setelah memindahkan tubuh terluka para pawang langsung ikut membantu Alisya dan Adith. Namun saat mereka sedang melemparkan tali untuk melilit tubuh si Gorila, Alisya sudah kehilangan tenaganya karena si Gorila juga berusaha menarik Alisya. Dan dengan satu hentakan keras Gorila itu menarik Alisya dengan sangat kuat sehingga Alisya terlempar ke atas dengan cukup tinggi. Melihat tubuh Alisya melayang Adith dengan segera bangkit dan menangkap Alisya namun mereka bertubrukan dengan sangat keras dan jatuh membentur tanah. Karin juga merespon dengan sangat cepat dengan menarik tali yang terlepas dari tangan Alisya dibantu oleh Karan dan Ryu. "Adith, pergi dar... i,,,sana!!!" Teriak Karan sekuat tenaga menahan amukan si Gorila. "Aku sudah tak bi.. sah.. lagi mena... hannyahh..." Teriak Karin terus berusaha menarik si Gorila yang sedang menuju ketubuh Adith dan Alisya yang terbaring menahan sakit. Alisya dan Adith yang masih oleng karena tubrukkan yang cukup keras masih belum bisa mengendalikan diri dengan baik sehingga butuh waktu untuk mereka bisa bangkit dan menjauh. "Arrgggg,,, aku tak bisa menahannya lagi" Teriak Ryu menggunakan bahasa jepang yang tersengal-sengal. Tepat sebelum Gorila itu mencapai Adith dan Alisya suara tembakan menghentikan amukan si Gorila secara perlahan-lahan sehingga Karan, Karin dan Ryu jatuh terduduk dengan lemas. "Terimakasih banyak, kalian sudah melakukannya dengan sangat baik!!!" Kepala pihak pengelola langsung menghampiri mereka menunduk berkali-kali mengucapkan rasa syukur. Mereka yang kelelahan sudah tak memiliki tenaga yang cukup untuk dapat merespon kepala pihak pengelola tersebut. Karan menghampiri Karin dan membantunya berdiri kemudian memeluknya dengan sangat erat. Karinpun membalas pelukan Karan mengingat betapa besar bahaya yang telah mereka hadapi saat itu. Pihak pengelola akhirnya memindahkan si Gorila yang sudah tertidur dengan sangat tenang kedalam kandang kemudian membereskan beberapa kekacauan yang sudah ditimbulkan oleh amukan Gorila tadi dan membuka kembali kurungan yang sebelumnya mereka naikkan. "Kau baik-baik saja???" Tanya Adith tak melepaskan pelukannya dari Alisya. "Aku baik-baik saja! Bagaimana dengan dirimu?" Tanya Alisya meneteskan sedikit Air mata merasa lega. "Aku juga tak apa-apa!!!" Peluk Adith sangat erat penuh rasa syukur. Banyangannya terus melintas bagaimana saat Alisya diterjang oleh Gorila, Bagaimana Alisya berusaha menyelamatnya dan Bagaimana saat Alisya terlempar dengan sangat kuat. "Kalian bisa berdiri??" Tanya Ryu untuk membantu mereka keluar dari tempat itu. Adith melonggarkan pelukannya meraih uluran tangan Ryu dan membantu Alisya bangkit. Karin dan Karan pun ikut membopong Alisya disebelah Adith dan berjalan keluar. Teman-temannya dengan cepat menghambur mendekati mereka dan membawakan beberapa botol air minum untuk menenangkan mereka dan melepas dahaga akibat pertarungan yang sangat hebat itu. Chapter 131 - Syarat Karin "Apakah kalian baik-baik saja???" Adora memandang mereka yang kelelahan dengan penuh rasa khawatir. "Kami baik-baik saja, tapi Adith dan Alisya.." Karin melihat kearah dua orang yang terlihat cukup mendapatkan benturan yang keras. "Tenang saja, tubuhku tidak mengalami luka yang cukup parah namun sedikit terkelupas karena bergesekan dengan rumput dan tanah" jelas Alisya tersenyum lembut untuk menghilangkan rasa khawatir mereka semua. "Tapi kau perlu antibiotik untuk membuatnya tidak terasa pedih dan tidak infeksi" Ucap Adith mengingatkan Alisya untuk merawat luka-lukanya. "Ummm.. tentu!!" tegas Alisya yang membuat teman-temannya merasa lega. Adith dan Alisyq kemudian mendapatkan pertolongan pertama di klinik untuk melihat apakah ada beberapa luka dalam selain luka luar yang sudah mereka dapatkan, namun untunglah tidak ada yang mengalami luka parah diantara mereka berdua. Semuanya sangat bersyukur dan berterimakasih kepada Alisya yang sangat sigap saat menyelamatkan seorang anak kecil dan juga Adith serta Karan, Karin dan Ryu yang tak kalah lihai dalam membantu sehingga tak ada satupun dari mereka yang mendapat bahaya. "Kendaraannya sudah siap, kita bisa pulang sekarang!" Ryu sudah kembali setelah menyiapkan lagi kendaraan untuk mereka semua. "Ummm.. Adith, aku rasa sebaiknya kita tidak langsung pulang!" pinta Alisya dengan sedikit berbisik agar tidak didengar yang lainnya. Karin yang mendengar ucapan Alisya langsung menjawabnya dengan kesal. "Tapi Sya, kamu mau kemana lagi? pakaian kamu dan Adith itu kotor sekali dan kamu malah memiliki sedikit sobekan disana sini ditambah kamu tuh penu luka-luka yang masih diperban!" celoteh Karin mengingatkan Alisya karena tak paham maksudnya. "Aku tau Karin, tapi maksud aku adalah jika kita pulang sekarang maka memori yang tersimpan hari ini itu akan menyisakan trauma yang cukup dalam bagi teman-teman kita. Jujur aku yang baru pertama kali ke kebun binatang sedikit bergetar setiap kali mengingat momen tadi kau tau maksud aku kan?" "Iya tapi kan Sya.." Karin masih ingin membantah namun dihentikan oleh Karan yang memiliki pemikiran yang sama dengan Alisya. "Karin, kau bisa lihat mata mereka yang terus bergetar karena rasa takut? mental kita jauh berbeda dengan mereka! Dan sepertinya aku setuju dengan Alisya.." Karan mencoba membuat Karin mengerti. Melihat ke wajah teman-teman mereka yang terlihat cemas dari jauh membuat Karin sedikit terenyuh dengan ekspresi mereka yang berusaha mereka sembunyikan dengan baik. "Aku juga setuju. Alisya mengatakan itu karena sebenarnya malam ini akan ada Festival musim panas yang di adakan tidak jauh dari sini, selain itu kita bisa mengajak mereka untuk berbelanja dan menikmati acara Festival Hokaido yang selalu ditunggu-tunggu tiap tahunnya!" Terang Adith menyetujui maksud dari permintaan Alisya. "Dengan begitu memori yang baru saja mereka alami dapat dengan mudah terobati dengan apa yang akan mereka nikmati nanti" Tanpa mereka sadari Zein menghampiri mereka yang berada dipintu klinik yang ternyata mendengar percakapan mereka. "Saya setuju dengan semuanya, acara Festival ini mungkin akan meringankan sedikit perasaan mereka!" tambah Ryu dengan tersenyum hangat memberikan rasa tenang kepada Karin yang sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu. "Baiklah kalau begitu!!! Tapi aku punya syarat.." tegas Karin menatap tajam ke arah Alisya. "Kok pake syarat sih Karin???" keluh Alisya tak percaya Karin memberinya sebuah syarat. Karan dan Adithpun terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Karin. "Kalau nggak mau ya sudah!!!" ucap Karin yang dengan santai ingin pergi meninggalkan Alisya dan yang lainnya. "Oke, oke, oke!!! apa syaratmu!" Alisya pasrah karena Karin terlalu keras kepala jika harus dibujuk kembali. "Pertama kau tidak boleh melakukan hal gegabah lagi tanpa memberitahu kami, kedua kau juga tidak boleh pergi begitu saja tanpa sepengetahuan kami dan yang terakhir..." Karin berbicara dengan menggertakkan giginya sudah tidak bisa menutupi rasa kesalnya kepada Alisya yang selalu saja meninggalkan mereka dibelakang. "Ummmm... okeh,, yang terakhir???" Alisya cengengesan mendengar Karin yang meminta dengan kesal. Ia paham betul maksud dari permintaan pertama dan kedua yang di ajukan oleh Karin. "Aku yang akan memilihkan baju untukmu!!!" ucap Karin dengan tegas langsung membuang muka menandakan ia tak butuh bantahan ataupun penolakan dari Alisya. Sebuah permintaan mutlak yang harus disetujuinya. "Loh emang kenapa dengan pilihanku sendiri" Alisya bertanya dengan kesal seolah selera berpakaiannya dianggap buruk oleh Karin. Karan tertawa melihat wajah Alisya yang mengeluh tak percaya dengan sikap Karin sedang Ryu dan Zein hanya bisa tersenyum simpul. "Nice!!! aku percayakan dia padamu!!" Adith menaikkan tosnya kepada Karin. Adith paham bahwa yang dimaksud olehnya adalah membuat Alisya terlihat sedikit lebih feminim dibanding dengan pakaiannya saat ini yang terlihat kuat. Merekapun menghampiri teman-temannya yang menunggu dengan penuh rasa khawatir dan tidak mengetahui apa yang sudah direncanakan oleh Alisya dan yang lainnya. Setelah memastikan kondisi Alisya dan yang lainnya merekapun naik kedalam Bis dengan ekspresi yang masih terlihat tegang dan suram. "Loh??? kita tidak pulang???" Adora kebingungan saat tahu mereka berhenti disekitar pertokoan jalan yang ramai dan terang benderang. "Tidak, kita akan berbelanja sedikit pakaian yang bisa di pakai untuk Alisya, selanjutnya kita bisa makan dulu sebelum pulang! Makanan disini cukup enak dan pastinya halal." Karan menjelaskan sambil mengajak semua turun dari bis. Meski tak begitu semangat, mereka terpaksa turun setelah mengingat pakaian Alisya yang terlihat kotor dan begitu pula pada Adith. Terpikir oleh mereka bahwa bisa saja mereka bergantian ditempat penginapan, namun mereka memilih diam dan mengikuti arahan dari Karan. Mereka terbagi dalam dua kelompok yaitu laki-laki dan perempuan. Pusat perbelanjaan yang mereka datangi memang memberikan kemanjaan mata yang terbagi atas dua tempat dimana yang wanita disebelah kiri sepanjang jalan dan yang laki-laki berada diseberangnya atau sebelah kanan. Chapter 132 - Dunia Perempuan Melihat Karin dan Alisya yang begitu santai memilih milih baju membuat Adora dan yang lain menjadi sejenak tenggelam dengan kegiatan mereka memilih serta mencoba banyak baju. Pilihan baju dan outfit yang bagus dengan harga yang terjangkau membuat mereka menggila dalam seketika. "Karin,,, kamu serius aku pakai baju ini??? aku sudah capek nih gantian terus..." Alisya mengeluh karena Karin terus saja mengerjainya dengan mencoba berbagai macam baju mulai dari pakaian Cosplay hingga Harajuku Style. "hahahhaahhaha,, iya serius... kali ini yang terakhir! kita juga sudah selesai milih nih!" Ucap Karin dari kamar ganti yang sebelah. "Buruan keluar,,, aku sudah nggak sabar ingin liat!!!" Teriak Adora penasaran melihat mereka bergantian. "Bentar!!! aku agak kesusahan nih.." Aurelia berusaha menarik resleting bajunya yang berada dipunggungnya. "Akiko sudah siap belum?? Akiko chan???" Teriak Feby tak mendengar suara Akiko yang berada didalam ruang ganti. Mendengar namanya dipanggil, Akiko akhirnya yang keluar pertama dengan malu-malu dan tersenyum manis. "Uwaaaahhhhh,, imut sekali... cocok,, sangat cocok!!!" Feby langsung menyerbu Akiko yang keluar memakai baju gaun pendek berwarna pink lembut dengan kembangan bunga pada bagian dadanya yang dan Topi berwarna merah maroon menambah kecantikan Akiko. "Mantap!!!" Seru Emi menaikkan jempolnya. Akiko meniru gerakan Emi dengan senyuman yang malu-malu. "Jadi gimana?" Aurelia keluar dengan memakai baju biru sepaha dan Sepatu bots hitam yang menutupi sebagian dari pahanya. "Wahh... kamu juga tak kalah cantik!!!" Seru Gina mengagumi kecantikan Aurelia. "Kalian udah siap belum sih???" Adora sudah merasa sesak karena penasaran dengan tampilan Karin dan Alisya. "Oke bentar,,, Sya keluar bersamaan Yuk!!!" ajak Karin merasa malu jika harus keluar Sendiri. "Oke siap,, 1, 2 , 3!" Seru Alisya keluar dari ruang ganti bersamaan dengan Karin. "Gimana?" tanya Karin dan Alisya hampir bersamaan. Dalam beberapa saat mereka terdiam tak bisa mengatakan apa-apa terhadap penampilan 2 orang yang terlihat bagaikan dewi rembulan itu. Karin memakai dress pendek selengan yang menutupi pahanya berwarna hitam dengan motif bunga berwarna putih yang sangat indah melekat pas ditubuh Karin. Sedang Alisya tak kalah membuat mereka takjub dengan dress berukuran sama dengan dengan Karin bermotif bunga-bunga berwarna merah dan ungu yang tersulam di dress berwarna putih tulang yang berlapis warna krem lembut. "Oke,, aku ganti!!" Alisya tidak bisa sabar lagi melihat reaksi diam teman-temannya. "Kau cantik!!! Kalian berdua sangat Cantiikkkkkk" Teriak Akiko dengan sangat menghentikan Alisya. Karena terlalu semangat Akiko sampai terbatuk-batuk membuat mereka sadar dan tertawa terbahak-bahak. ***** "Mereka lama sekali sih... kita sudah menunggu disini lebih dari sejam!!!" Beni duduk mengeluh karena kelelahan menunggu. "Kau tak tau dunia perempuan!!!" Ucap Riyan santai meneguk minumannya. "Mereka akan mampu melupakan pedihnya hidup saat mata mereka dimajakan oleh pria atau uang!!!" tambah Yogi. "Biarkan mereka bersenang-senang!!! kapan lagi mereka bisa menikmati liburan dijepang seperti ini" lanjut Karan tenang. "Lagi pula masih ada satu jam sampai acara Festival itu dimulai" Zein membawa beberapa minuman yang dengan cepat diserobot oleh Beni dan Gani. "Aku sudah memesan makanan, sebentar lagi mereka akan tiba!!!" tambah Adith yang datang membawa cemilan. "Kalian bisa bersabar sejenak nggak sih!" sungut Rinto kesal melihat Beni dan Gani yang tidak sabaran. "Mereka tau nggak sih kita nunggu di kafe ini? Aku sudah lapar nih.. pesan sekarang juga bakal dingin kelamaan menunggu mereka!" tambah Gani sudah merasa sangat lapar mencium aroma enak dari Kafe halal yang mereka masuki. "Jangan kahwatir, Akiko bersama mereka!" terang Ryu menenangkan Beni dan Gani. Tepat setelah Ryu selesai berkata, para Wanita muncul mengejutkan seluruh pengunjung yang berada dikafe. Mereka yang baru saja dimanjakan dengan para pria tampan yang menghiasi sudut kanan dekat jendela itu kini lebih dikejutkan lagi dengan masuknya para wanita yang tak kalah cantik dan menawan. "Apa mereka semua bagian dari karnaval malam ini? seru seseorang yang melihat Alisya dan Karin serta yang lainnya masuk dengan senyuman manis. "Sepertinya tidak, pakaian mereka bukan konsep karnaval tapi mereka sangat indah..." tambah yang lainnya setengah berbisik. "Dari mana mereka? tadi kumpulan pangeran tampan, sekarang kumpulan para dewi. Apa sekarang aku sedang di syurga??" lajut yang lainnya. "Ahhhh,, sepertinya malam ini aku bisa tidur dengan nyaman!!!" celoteh yang lain. "Mereka semua seperti sebuah vitamin yang candu!!!" bisik-bisik serta tatapan semua orang membuat Adora jadi salah tingkah. Meski ia tak paham apa perkataan mereka, namun ekspresi kagum mereka bisa menjelaskannya. "Kalian sudah pesan makanan belum?" tanya Karin yang menghampiri mereka. Tak satupun dari mereka yang menjawab karena masih tekagum dengan tampilan mereka yang sangat menarik mata dan mengalihkan fokus mereka. "Aku lapar nih.." Aurelia mengambil minuman yang berada ditangan Yogi yang terbengong. "Kalian sangat cantik!!!" puji Ryu yang membangunkan lamumanan mereka. Karan bahkan hampir tak bisa berkedip melihat tampilan Akiko yang manis. Riyan lebih parah lagi karena jantungnya tak bisa berhenti berdetak dengan elegan ketika melihat Karin. Reaksi yang sama dengan Rinto. Sedang Zein tersedak ketika melihat Adora yang sudah duduk manis didekatnya. "Menunggu lamapun tak masalah selama mata kita bisa terpuaskan seperti ini" Beni dan Ganipun tak menyangka kalau mereka akan secantik itu. "Indah dan Cantik!!!" puji Adith lembut ditelinga Alisya. Ia yang sempat tertegun ketika melihat Alisya menjepit sebelah rambutnya dengan poni tipis yang menutupi dahinya tersadar begitu Aroma Alisya mendekat secara pasti disisinya. "Kau juga sama!!! Menawan!" senyum Alisya nakal lalu duduk dengan elegan. Merekapun makan dengan lahap begitu pesanan mereka tiba, lidah mereka termanjakan dengan makanan halal khas Hokaido yang sangat menggugah selera dan mengisi energi serta mental mereka malam itu. Tidak lama berselang jalanan semakin ramai dan semakin banyak yang berkerumun menandakan Fertival segera dimulai. Chapter 133 - Cahayaku "Hei hati-hati kalau tidak kalian bisa terpi.... sah,,," Karin sudah terlambat saat mengingatkan mereka agat tak terpisah karena ramainya fetival saat itu. "Disini ribut sekali, mereka takkan mendengarkanmu!!!" Ucap Riyan disebelah Karin memperhatikan Feby dan Gina dari kejauhan. "Jangan Khawatir, Akiko ada bersama mereka!" tambah Ryu yang melihat Akiko bersama keduanya. "Aduh Sya gimana nih??" Karin menoleh namun tak menemukan Alisya disana. Adith dan Karanpun tak dilihatnya. "Mereka juga menghilang!!!" Riyan mencari Zein dan yang lainya. Tanpa disadari, karena kerumunan orang yang begitu antusias ingin melihat festival tersebut membuat mereka jadi terpisah pisah. "Awas!!!" Karan menarik Akiko yang hampir tersundul oleh hiasan dari karavan yang lewat. "Ah... terimaksih banyak!!!" Akiko menunduk malu kepada Karan. "Akiko, Karin dan yang lainnya mana???" tanya Feby setelah sadar kalau mereka telah terpisah dari yang lainnya. "Iya benar!!!" Gina melirik kesana kemari dengan panik "Kenapa jalan kalian cepat sekali, aku hampir tak bisa mendekati kalian karena keramaian ini" Rinto muncul setelah berupaya meneroboa mendekati Akiko dan Feby. "Aku yang berencana untuk mengingatkan malah ikut terjebak sekarang!" tambah Beni melihat keadaan sekitar mereka yang menghitam karena ramainya orang. "Hei yang lain kemana???" Gani terlihat panik saat ia menyadari kalau ternyata mereka kini telah terpisah. "Sepertinya kita terpisah dengan yang lainnya karena keramaian ini" Jelas Zein melihat keadaan sekitar mereka. "Jadi apa yang harus kita lakukan?" Emi tampak mulai khawatir akan tersesat. "Apalagi??? nikmati dulu sampai fetsival ini sampai selesai!!!" Ucap Adora semangat terus menikmati acara festival yang menampilkan berbagai macam seni dan budaya dari Jepang tersebut. "Benar,, setelah selesai kita akan bertemu kembali di Bis bersama yang lainya!" seru Zein menenangkan mereka. Dalam festival itu ada pertunjukan energik yang menampilkan kostum dan riasan yang cerah dan terkadang rumit, melambai kuatnya bendera besar, nyanyian dan musik yang didorong suara keras. Serta menampilkan kuil-kuil yang dihiasi dengan lampu-lampu lampion yang berwarna cerah dengan corak yang sangat unik menambah indahnya malam itu. "Apa tidak apa-apa membiarkan mereka terpisah-pisah dalam keadaan begini?"Tanya Yogi berbisik keras ditelinga Adith. "Akan sulit bagi kita untuk berkelompok ditengah banyak orang seperti ini, sehingga dengan kelompok kecil akan cukup aman!" Balas Adith setengah berteriak. "Dith... Alisya,,," Teriak Aurelia mengingatkan karena Alisya terlihat kesusahan saat berusaha mencoba menerobos. Adith yang berusaha untuk mendapatkan Alisya malah terdorong semakin menjauh darinya. "Bagaimana bisa dia berada disana??? bukankah dia berada tepat disampingku tadi?" Tanya Adith saat ia ingat betul tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Alisya. "Alisya tak sengaja terpojok saat kau sedang berbicara dengan Yogi karena dia terlalu Asyik melihat penampilan diatas kuil tadi" Aurelia hampir kehabisan nafasnya ketika berteriak menjelaskan kepada Adith. "Apa yang harus kita lakukan???" Yogi panik mengingat Alisya yang belum pulih dari luka-lukanya terpisah dari mereka. "Argggkkhhh... anak itu sudah kukatakan jangan pernah menghilang dari hadapanku!!!" Adith fristasi dengan keadaan mereka. Adith terus berjalan mencari Alisya yang kini mengarahkan mereka ketempat acara puncak dari festival itu akan dimulai di ikuti oleh Yogi dan Aurelia yang saling berpegangan erat satu sama lain. "Adith!!!!" Suara seseorang menggema dari atas kuil yang terlihat sebagai panggung dengan teras luas yang menjadi tempat acara pertunjukan menari para penari festival. Jarak yang tidak terlalu jauh membuat Adith mengenali siapa yang sedang berada diatas sana memegang Mic saat memanggil namanya. "Alisya???? Bagaimana dia bisa berada diatas sana?" Yogi tak mengira kalau Alisya akan bisa berada diatas sana. Karena posisi Alisya yang berada di bagian puncak parade festivalpun membuat semua teman-temanya dengan mudah mengenali serta melihatnya meski dari kejauhan sehingga mereka pun juga bisa berkumpul di bagian sisi kanan depan panggung kuil tersebut. Kembang Api meletus dilangit hokaido menambah indah dan meriah acara festival tersebut dan tepat setelahnya sebuah musik mengalun indah. Alisya menyanyikan Lagu "Let It Go! dengan begitu merdu dan mempesona membuat semua pengunjung sangat terhibur akan suara indahnya yang melengking lembut membuai telinga setiap orang yang mendengarnya. "Radithya Azura Narendra!!! Selamat Ulang Tahun..." Tepat saat ia mengucapkan itu langit dengan kembang Api bertuliskan nama Adith serta ucapan selamat menghiashi langit dengan indah. "Sejak kapan dia menyediakan semua itu???" Adith tak percaya kalau Alisya bisa melakukan itu semua. "Oh iya aku lupa kalau hari ini ulang tahunmu!!!" Teriak Yogi memukul jidatnya. "Ini semua idenya! Meski aku tak tau dimana ia akan membuatnya!" Terang Zein setelah mendekati Adith dari arah Kanan. "Dia bekerja semalaman penuh untuk melakukan semua itu!" Terang Riyan yang membantu Alisya dalam menyiapkannya. "Butuh usaha yang keras untuk bisa melaksanakannya disini" tambah Ryu dari belakang Adith. "Aku hampir mengira kalau akan gagal karena kita semua terpisah! tapi syukurlah kalau semua berhasil" Karin tersenyum bahagia melihat sahabatnya yang melambai dengan ceria. "Kau beruntung mendapatkannya!!!" tambah Karan dengan suara yang tegas. "Adith.. meski kau tak mencariku dan menemukanku, aku akan selalu ada disisimu, aku yang akan mencari dan menemukamu selama kau tetap ditempatmu menungguku datang menghampirimu!!!" Tegas Alisya dengan suara lembut. "Kare Shi? (Apakah dia pacarmu)???" tanya seseorang yang juga memegang mic yang merupakan seorang host acara ferstival malam itu. "Iyee,,, Atashino Hikari desu (Bukan dia cahayaku)!!!" kata Alisya memandang hangat kearah Adith yang langsung mendapat teriakan dan dukungan heboh para penonton dan pengunjung. Adith langsung menerobos naik keatas panggung menghampiri Alisya. "Bagaimana kalau kau menyanyikan satu lagu untuknya?" pinta si host dengan semangat. Tanpa penolakan, Adith langsung memegang tangan Alisya dan menyanyikan lagu "Whe Were Young" yang dengan anenhya membuat Alisya melihat kembali potongan masa kecilnya sehingga membuatnya menangis karena tatapan sedih Adith. Chapter 134 - Wajah Melamun Sudah sekitar seminggu sejak mereka kembali dari jepang dan Adith kembali disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan kantor karena liburan selama 4 hari membuat pekerjaan di perusahaan menumpuk semakin banyak. "Paman, apakah kamu menemukan informasi terbaru mengenai Black Falcon?" Adith yang belum mendapatkan banyak informasi mengenai organisasi gelap itu menjadi merasa begitu khawatir dan tidak tenang. "Sampai saat ini aku belum mendapatkan apapun, sepertinya akan sedikit sulit namun bukan berarti tidak mungkin! no kontak ketua geng yakuza yang kau berikan tenpo hari seperti menemukan titik terang mengenai hal tersebut namun masih butuh waktu untuk memastikannya. Hal yang sama juga terjadi dengan tim yang ada di Indonesia!" jelas Paman Dimas yang berdiri disamping Adith membukakan dokumen-dokumen yang harus ditanda tanganinya. "Itu artinya aku harus menunggu lagi!!!" terang Adith mendesah pasrah. "Pulanglah.. bukankah besok kalian sudah masuk sekolah lagi" paman Dimas menutup dokumen itu setelah melihat lingkaran hitam di mata Adith. "Bukankah itu dokumen terakhir yang harus aku selesaikan?" Adith menatap dokumen itu dengan lekat ingin segera menyelesaikannya. "Apa kau tak sadar bahwa kau sudah menyelesaikannya?" Paman Dimas melihat Adith dengan bingung. "Benarkah??? aku rasa belum!" Adith terlihat tidak yakin dengan ucapan paman Dimas. "Semenjak kau kembali, kau terus bekerja dengan sangat giat dan tekun tetapi fokusmu selalu saja melayang ditempat lain. Untunglah semuanya bisa kau kerjakan dengan benar, meski begitu kau selalu saja lupa kalau ada beberapa pekerjaan yang sudah kau selesaikan!" jelas paman Dimas mengingatkan apa yang sudah dilakukan Adith dalam beberapa hari ini. "Aku selalu kepikiran sesuatu paman!" Ucap Adith menengadah keatas langit-langit kantor menatap plafon kayu yang terukir indah diatas sana. "Apa yang kamu pikirkan?" paman Dimas menatap wajah Adith yang berubah lebih serius. paman Dimas sebenarnya bisa menebak apa yang dipikirkan Adith, namun tidak mengetahui apa alasannya. "Saat aku menyanyikan lagu When Were Young diatas panggung kepada Alisya, Alisya menangis dalam diam dengan tatapan kepedihan yang sangat mendalam. Aku merasa kalau ia mungkin mengingatku dimasa lalunya namun setelah itu ia bersikap biasa saja seolah tak terjadi apapun!" jelas Adith mengingat kejadian diatas panggung kuil festival Hokaido di jepang beberapa hari yang lalu. "Lalu kenapa kau tak bertanya padanya saja?" paman Dimas paham dari kegundahan yang sedang dialami Adith namun ia merasa kalau akan lebih baik jika Adith berani menghadapinya saja secara langsung ketimbang harus bersembunyi dan menunggu. "Aku tak yakin paman, tapi aku masih menunggu saat yang tepat dengan terus melihat situasi yang sedang kami hadapi" Adith berdiri menatap jauh kearah jendela yang memperlihatkan kondisi kota jakarta pada malam hari. ***** "Apa yang kau lakukan? kenapa dipagi hari yang cerah ini kau buat suram dengan wajah melamunmu itu!!!" Karin menyenggol Alisya yang duduk pada baris ketiga pojok dekat jendela. "Dan kau terlalu menyilaukan dengan tebaran pesonamu itu!" Sindir Alisya dengan wajah datar. "Apa itu sebuah pujian?" Karin mengerutkan keningnya melihat Alisya berbicara kepadanya tapi pikirannya seolah berada ditempat lain. "Pagi,, nggak nyangka pagi ini kalian sudah sesemangat itu!" Adora masuk dengan penuh senyuman. "Kita bisa sekelas lagi yah?" Seru Emi langsung mengambil tempat di belakang Alisya. "Eitsss... ada yang lebih mengejutkan nih.. Lihat siapa yang sekelas bersama kita!" Feby membawa masuk Aurelia dan mendudukkannya dihadapan Karin. "Bagaimana bisa? bukannya dia berada dikelas sebelah?" Alisya bukannya tak menerima kedatangan Aurelia, ia hanya beranggapan kalau Aurelia mungkin pindah kekelasnya karena ia ingin sekelas dengan mereka. "Sebenarnya anak ini sekolah dimana sih??? kenapa segitu cueknya dengan lingkungannya sendiri!" Karin menepuk jidatnya dengan pelan. "Alisya,,, sekolah melakukan perombakan peringkat kelas ketika siswa mendapatkan nilai yang cukup tinggi sehingga akan ada beberapa siswa yang masuk kekelas Mia 2 yang merupakan kelas tertinggi setelah Mia 1 dan akan masuk kekelas terendah jika nilai mereka tidak mencukupi" Jelas Adora panjang lebar. "Itulah kenapa ada beberapa teman kita yang turun tingkat karena ada beberapa siswa yang naik tingkat!" lanjut Emi menambahkan begitu melihat Aurelia masuk maka ada salah seorang dari mereka tergeserkan. "Dan aku berhasil maju ke tingkat Mia 2 karena memiliki nilai yang cukup tinggi" terang Aurelia yang tersenyum canggung. "Okeh,,, itu artinya sekarang kau adalah bagian dari kami" seru Feby tersenyum manis menyambut kedatangan Aurelia. "Kita yang sudah menaiki kelas 3 akan merasakan nerakanya dunia pembelajaran selama beberapa bulan kedepan!" Rinto masuk menempati kursi yang tak jauh dari mereka. "Yup benar, sejumlah les, pengayaan serta simulasi harus kita lakukan demi bisa lulus dalam Ujian Nasional" tambah Yogi yang datang bersama Beni. "Ujian yang akan dilaksanakan oleh sekolah SMA Cendekia sungguh tak bisa dianggap remeh" Beni menaruh tasnya mendesah mengingat apa yang akan mereka hadapi kedepannya. "Iya aku dengar soal itu, Ujian yang dilaksanakan oleh sekolah kita bukan hanya sebagai ujian pelulusan dari sekolah melainkan juga menjadi ujian masuk sebuah Universitas tinggi baik luar maupun dalam negri" Jelas Adora setelah beberapa hari lalu bertanya-tanya kepada senior mereka yang telah lulus. "Aku juga dengar bahwa Kak Siska tidak perlu lagi melakukan pendaftaran apapun untuk bisa diterima di universitas-universitas elit dan besar dunia karena dia akan langsung mendapatkan tawaran dari mereka sebab nilai ujiannya yang cukup tinggi" tambah Karin melonggarkan tubuhnya. "Itu artinya siswa yang tidak lulus tidak bisa mengikuti ujian persamaan disekolah manapun dan tidak akan diterima bekerja diperusahan manapun atau instasi manapun di Indonesia!!!" tegas Feby merinding membayangkannya. "Aku yakin kita semua bisa melakukannya, tapi tentu saja cara belajar kita harus lebih tingi dan keras dibanding dengan apa yang sudah kita lakukan kemarin." Kalimat Alisya seolah menjadi sebuah pembakar semangat yang sangat membara. Chapter 135 - Tantangan Didalam perpustakaan. "Ummhh,,,," Alisya terbangun karena sesuatu yang dingin menempel dipipinya. "Sejak kapan perpustakaan beralih fungsi menjadi ruang untuk tidur???" Adith duduk dan membuka kaleng minuman kopi susu yang dingin lalu menyodorkannya kepada Alisya. "uhhhh.. Adith!!!" sapa Alisya meluruskan badannya dan meneguk pelan minuman dari Adith. "Apa yang kau lakukan disini? Sekarang sudah malam kenapa kau tak pulang dulu?" Adith membelai lembut rambut Alisya dan menepikannya ke telinganya. "Ada beberapa laporan praktikum yang aku cari, tanpa sadar aku sampai tertidur. Karin dan yang lainnya sudah pulang?" Alisya melirik dimana teman-temanya sudah tak berada disana. "Iya, mereka sudah pulang sejak 1 jam yang lalu! Mereka ingin membangunkanmu ketika aku datang, tapi melihatmu cukup pulas aku melarang mereka dan membiarkan mereka pulang tanpa dirimu!" Jelas Adith membereskan buku-buku yang berada diatas mejanya. "1 jam yang lalu??? kenapa kau tak membangunkanku? lalu apa yang kau lakukan selama itu?" Alisya segera membereskan barang-barangnya bersiap untuk pulang. "Menatap wajah polosmu yang tertidur dengan damai" senyum Adith nakal memberikan beberapa folpen miliknya. Godaan Adith mendapatkan pukulan lembut dari Alisya. Setelah selesai berbenah, keduanya keluar berjalan kaki menuju rumah Alisya. Adith sengaja ikur berjalan kaki dengan Alisya untuk mendapatkan waktu lebih banyak berdua dengannya. Kesibukan mereka berdua dalam belajar serta Adith yang sesekali harus kekantor Ayahnya membuat mereka semakin jarang untuk bertemu meski sering berkirim pesan atau foto tetap saja mereka saling merindukan satu sama laiinya. "Adith,," Alisya membuka suaranya pelan sembari terus berjalan ditrotoar yang tidak begitu ramai oleh pejalan kaki. "Ummm???" pandang Adith mendehem memeluk tas Ransel Alisya didadanya karena ia juga memiliki tas Ransel dipunggungnya. "Cita-cita kamu apa??? maksud aku mungkin seorang CEO diperusahaan ayahmu, tapi aku yakin kamu pasti punya cita-cita atau impian yang ingin kamu lakukan sendiri sesuai keinginanmu!" Alisya berjalan sedikit kedepan menghadap Adith penasaran dengan apa yang akan dikatakannya. "Memangnya kamu punya impian atau cita-cita atau hal yang ingin kamu lakukan sendiri?" tanya Adith balik sambil terus melirik kebelakang Alisya memastikan agar ia tak tersandung. "Kamu apa-apa''an sih.. kan aku yang tanya deluan! Harusnya kamu jawab dulu sebelum bertanya!!!" Alisya berhenti dan membanting kakinya kesal. "hahahhaha,, tapi aku mau jawab kalau kamu dulu yang kasih tau aku tentang cita-cita kamu!" Adith mencubit pipi Alisya dengan gemas karena wajah kesalnya. "Kok nggak adil banget sih.. ya sudah gimana kalau kita taruhan? yang kalah harus menceritakan terlebih dahulu cita-citanya dan mengikuti 1 permintaan dari yang kalah!" tantang Alisya dengan penih keyakinan pada Adith. "Taruhan? Oke, aku suka taruhan! Jadi apa taruhannya?" Adith merasa begitu semangat menerima tantangan yang diberikan oleh Alisya. Alisya tidak menjawab pertanyaan Adith dan hanya mengenggam erat tangannya dan membawanya kesebuah lapangan basket. Disana ada beberapa anak kecil dan remaja yang masih bermain basket. "Waahhh.... ada kak Ali,,," Teriak seorang anak berlari menghampiri Alisya dengan penuh semangat ketika melihatnya datang. "Kak Ali ayo kita main basket lagi!!! Kali ini kami nggak akan kalah, dan yang kalah harus mentraktir semua orang!" tantang seorang anak yang lainnya. "Boleh siapa takut!!! tapi setelah itu kalian harus menuruti perintahku..." ucap Alisya penuh semangat. "Sepertinya kau suka sekali menantang orang, bahkan anak kecilpun kau sikat? bagaimana dengaku?" bisik Adith dengan senyuman yang nakal. "Puuuffttt,,, maaf aku jadi melupakanmu! oke teman-teman.. perkenalkan dia Adith te..." Alisya dengan santai memperkenalkan Adith. "Pacar kak Alisya yah?" sambar seorang anak dengan cepat. "...man kakak disekolah! Plakkkk.... dengerin dulu kalau orang ngomong!!!" Alisya menjitak anak itu dengan keras karena malu. "Kok tau!!!" Adith menunduk melihat kearah anak itu tersenyum menggoda. "Adith.. jangan buat mereka salah paham!" Alisya mencoba menghentikan Adith berkata yang lebih lagi. "Anak sekolah mana boleh pacaran??? belajar dulu yang utama!!!" tegas Alisya memandangi mereka semua. "Habis.. dia membawakan tas kak Ali!!!" ucap anak yang lain. " Lagi pula, kak Ali kan tidak pernah membawa atau berjalan dengan cowok sebelumnya!!! tambah seorang anak yang lebih besar. "Kan sudah kakak bilang dia itu tem..." Alisya masih mencoba untuk menjelaskan kepada mereka. Mengingat umur mereka yang masih terbilang remaja membuat Alisya tak ingin mereka berpikiran yang aneh-aneh. "Kak Adith ganteng, cocok sama kak Ali" seorang anak yang lain tidak memperdulikan Alisya lagi. "...an kakak disekolah!!! Ptak, ptakkk!!!" Alisya menjitak anak itu sebanyak dua kali dengan cepat. "Sudah kakak bilang dengarkan dulu kalau orang lagi ngomong! Kalau kalian masih nggak sopan kakak tidak akan pernah main kesini" Alisya marah dan ingin beranjak pergi namun dihentikan oleh mereka semua. "Tapi kakak harus hati-hati, kak Alisya galak!!! bisik dua orang anak yang sudah mendapat jitakan Alisya. Adith tertawa terbahak-bahak melihat tingkah mereka dan mengusap kepala mereka dengan lembut. Alisya bermain bersama kumpulan Anak-anak itu yang pada akhirnya Alisya lah yang menang. Melihat ekspresi bahagia dari Alisya juga anak-anak itu membuat Adith begitu bahagia. Tiba-tiba saja bola basket melayang dengan keras ke arahnya. "Giliranmu tuan Jenius!!! Taruhannya adalah permainan basket, dan mereka yang akan menjadi saksinya!" tantang Alisya dengan senyum sinis. Membuka pakaian sekolahnya menyisakan baju kaos putih Adith dengan gagah memasuki lapangan. Memandang Alisya dengan tatapan tajam dan mengedipkan mata nakal menantang Alisya sembari mendribel bola beberapa kali. "Ayo kak Adith... jangan mau kalah sama kak Ali" teriak seorang anak dengan sangat keras di ikuti teriakan teriakan heboh lainnya. "Wow.. Tuan Jenius, tak ku sangka pesonamu begitu kuat sampai-sampai penggemarku seketika beralih pihak sekarang!!!" Senyum Alisya sinis sambil memasang kuda-kuda pertahanan. Semua anak-anak itu sontak saja mendukung dan menyemangati Adith dengan sangat antusias yang seketika lapangan menjadi sangat ramai. Chapter 136 - Impian Pertandingan antara Alisya dan Adith cukup sengit sehingga semua yang menontonpun ikut merasakan ketegangan yang sedang berada dilapangan, terlebih cara main mereka yang tidak seperti cara main pemain basket biasanya. "Apa kita sedang menonton Adegan Action?" tanya seorang anak tak bisa melepas pandangannya dari lapangan. "Mereka berdua hebat sekali, bagaimana mungkin mereka bisa bermain sekaligus beradu tinju serta tendangan seperti itu?" tambah yang lain tak ingin berkedip meski hanya sedetik demi bisa melihat secara jelas. "Aku tak menyangka kak Adith juga bisa mengimbangi kak Ali" lanjut yang lainnya. "Aku tau kak Ali sangat hebat dalam hal urusan berantem sewaktu ia menyelamatkan kita dari para preman yang menganggu kita disini itulah kenapa sekarang lapangan ini bisa kita gunakan dengan sangat nyaman. Tapi ternyata kak Adith juga tak kalah hebat yah!" Puji anak lainnya dengan penuh rasa kagum. "Tapi kak Ali selalu bisa mencuri bola dari kak Adith dan terus menerus mencetak poin!" seru yang lain yang terus menghitung poin yang dimasukkan oleh Alisya. Pada akhirnya Alisyalah yang memenangkan pertandingan dengan penbedaan yang sangat tipis. Adith sudah berkeringat cukup banyak dan sedikit mengeluarkan nafas berat sedangkan Alisya masih santai dan berlompat-lompat penuh kegirangan memenangkan semua pertarungan malam itu. "Karena aku kalah, maka sebagai gantinya aku yang akan mentraktir kalian semua sebagai rasa terimakasih karena sudah mendukungku dengan penuh semangat dan juga permintaan maafku tak bisa mengalahkan tante jahat dibelakang sana!" mendengar ucapan Adith, Alisya dengan cepat melempar Adith dengan bola basket yang berada ditangannya namun dengan mudah dihindari oleh Adith. "Beneran kak??? jadi kita nggak perlu traktir kak Ali dong??" tanya seorang bocah dengan sangat polos membuat Adith tertawa mendengarnya. Dia mengelus lembut rambut anak-anak itu. Baru kali ini Adith bisa berkomunikasi dengan banyak orang terutama dengan mereka yang lebih muda. Selama ini pekerjaan Adith selalu menuntutnya untuk berhubungan dengan orang yang lebih tua sehingga ia terkesan dingin kepada mereka yang lebih muda. Dan berkat Alisya, Adith bisa tertawa dan berekspresi lebih banyak bersama mereka. "Tuan, ini pesanannya!!!" seorang kurir telah membawakan pesanan Adith, terlihat bahwa kuris itu sudah mengenal Adith dengan sangat baik. "Wahahh... burger, pitza dan coca-cola" teriak beberapa anak memeriksa kantungan yang dibawa kurir itu. Dibawah pengawasan Alisya, mereka mendapatkan burger dan cola sesuai jumlah mereka masing-masing serta menikmati pitza secara bersama-sama ditengah lapangan bola. Sebuah hal sederhana yang sangat di syukuri oleh Adith dan Alisya malam itu. Adith menatap Alisya dengan penuh kehangatan bersyukur karena sekali lagi mereka dipertemukan kembali. "Aku nggak nyangka kamu bisa kenal dengan mereka!" tanya Adith dalam perjalanan pulang kembali. "Awalnya sih aku hanya suka ngeliat mereka main basket, tapi ada sedikit kejadian yang akhirnya buat aku jadi dekat dengan mereka!" Alisya tertawa mengingat tingkah lucu, lugu, polos serta tidak karuan mereka. "Bersama mereka aku serasa berada didunia yang berbeda!" Terang Adith juga tertawa pelan. "hahahaha,, kamu bisa kok terus datang dan bermain bersama mereka saat kamu lagi bosan! mereka akan sangat senang jika bersamamu seperti tadi.." Alisya melirik sekilas melihat pahatan rahang Adith yang tersinari lampu sorot. Tampan dan mempesona, susah bagi Alisya untuk tidak tergelitik melihat merayapi tiap sudut wajahnya. "Aku akan dengan senang hati datang!!! Dan... sesuai janjikuh...." Adith langsung mengangkat Alisya dan mendudukkannya di pagar pembatas jalan trotoar. "Apa sih.. bkin kaget tau!" Alisya memukul pundak Adith sambil mempertahankan keseimbangannya. "Rumahmu sudah dekat, jadi aku akan mengatakan Impian dan cita-citaku padamu disini karena kalah darimu di taruhan tadi." Adith langsung duduk disamping Alisya melihat Alisya yang gugup saat berhadapan wajah. "Aku pikir kau melupakannya, Jadi, Apa impian dan cita-citamu?" Alisya memandang Adith dengan serius. "Awalnya aku tak terpikir akan apa yang akan aku lakukan nanti, tapi setelah melihatmu juga senyuman anak-anak tadi aku terpikir untuk menjadi seorang dokter! Seorang dokter yang bisa menjaga senyum itu tetap terus ada dan terkembang dalam kesehatan mereka dan membantu mereka yang memiliki trauma seperti kita!!!" Jelas Adith menceritakan Impiannya yang membuat Alisya memandang Adith dengan tatapan kagum dan berbinar-binar. "Kau juga memiliki trauma??" Alisya penasaran dengan maksud dari kalimat terakhir Adith. "Ya, aku trauma terhadap tempat-tempat gelap seperti gudang dan juga bau parfum!" Adith memandang langit yang memperlihatkan bulan sabit yang sedang membentuk emoticon senyum. "Aku tau kau pernah sekali tidak berani masuk saat ingin menyelamatkan kami sewaktu berada digudang sekolah. Begitu pula dengan rumor dirimu yang tidak menyukai bau parfum tapi tak pernah berani menanyakan alasannya kenapa!" Ucap Alisya mengingat kembali apa yang sudah terjadi selama mereka bersama lalu. "Jadi benar kau sebenarnya mengingat semua hal itu, kau hanya tak ingin Karin dan yang lainnya mengingat kejadian buruk seperti yang kamu alami!" batin Adith tersenyum penuh kasih kepada Alisya. "Jadi apa alasannya sehingga kamu merasa trauma terhadap gudang dan parfum?" tanya Alisya serius. "Sebelum kau bertanya itu, bukankah seharusnya kau menceritakan tentang impianmu??" Adith turun dan berdiri sangat dekat menatap wajah Alisya. "Aku kan yang menang, buat apa juga aku cerita!" Ucap Alisya menolak dan turun karena gugup akan pandangan Adith. "Sebenarnya aku mungkin tau apa impianmu, tapi aku ingin kamu mengatakan langsung padaku, selain itu taruhan kita hanya untuk siapa yang bercerita terlebih dahulu bukan berati tidak bercerita" Jelas Adith mengingatkan. Alisya terdiam beberapa saat lalu berkata. "Kau bisa menebaknya secara bersamaan dengan aku yang menjawabnya!" tegas Alisya penasaran. "Impianmu adalah..." seru Adith lembut "Impianku adalah..." seru Alisya juga lembut "Bisa Bersama Selamanya" batin Adith dan Alisya tidak ada satupun dari keduanya yang bersuara sampai paman Dimas membunyikan klaksonnya untuk menjemput Adith. Chapter 137 - Praktikum Di dalam laboratorium Kimia. "Perhatian semuanya, praktikum yang akan kita lakukan ini akan sedikit berbahaya dibanding dengan praktikum lainnya yang dulu kalian pernah dapatkan sewaktu kalian masih berada dikelas 10 ataupun 11 sebelumnya. Untuk itu bapak harapkan kehati-hatian kalian ketika pelaksanaan praktikum nanti" Pak Yuda guru kimia mengarahkan semua siswa dengan penuh perhatian dan waspada. "Baik paaak..." Jawab semuanya serentak memahami maksud dari pak Yuda. "Sekarang silahkan maju kedepan untuk mengambil nomor. Nomor yang sudah didapatkan nanti akan otomastis menjadi nomor kelompok kalian masing!" ucap pak Yuda sambil mengabsen satu-persatu nama siswa untuk mengambil nomor. Adora menjadi orang pertama yang maju kedepan untuk mengambil nomor diikuti siswa lainnya hingga nama siswa yang terakhir. "Kelompok 1 menempati meja sebelah kiri terus selanjutnya sampai ke kemeja sebelah kanan berturur turut kebelakang hingga ke kelompok 5. Jika sudah mengambil nomor kalian bisa melihat nomor yang sudah dipegang selanjutnya menuju ke meja kelompok masing-masing" jelas pak Yuda kembali setelah menunjukkan bagian bagian meja yang harus dituju tiap pemegang nomor. "Oh,, aku kelompok satu" Adora melihat nomornya dan menuju ke meja satu bersamaan dengan datangnya Alisya serta Aurelia. "Aku tak menyangka kita akan tau kelompok!" Aurelia memandang Alisya dan Adora bergantian. Alisya hanya bisa tersenyum melihat keduanya. "Jadi, apakah kita bisa mulai???" Beni datang dengan penuh percaya diri bersikap seolah telah resmi menjado ketua kelompok. "Apa yang bisa dimulai olehmu? kau bahkan tidak tau apa yang akan kita lakukan pada praktikum kali ini" Cela Gani melihat kepercayaan Beni yang berlebihan. "Jadi siapa yang akan menjadi ketua kelompoknya?" tanya Adora harus cepat memutuskan secepatnya. "Tentu saja Alisya, dia lebih tau apa yang harus dilakukan!" tegas Gani melirik kearah Alisya. "Tidak, aku rasa beni lebih cocok!!! kepercayaan dirinya sangay bagus dalam kelompok dia bisa memberi semangat lebih kepada kita semua." Tegas Alisya dengan senyumannya yang nakal. "Apa yang sedang direncanakan anak itu?" gumam Karin saat melihat senyuman Alisya yang sangat dikenalinya jika sudah merencanakan sesuatu atau mendapatkan sesuatu. Namun Karin belum bisa mengetahui taraf bahaya dari senyuman itu karena Alisya dengan cepat mengubah ekspresinya. "Kau yakin menunjuk dia sebagai ketua?" Aurelia tak mengerti apa maksud Alisya. "Tentu saja!!!" tegas Alisya penuh keyakinan. "Energi positifnya bisa membuat kita semua menjadi lebih semangat, selain itu aku takut kurang fokus karena mengantuk dan kelelahan makanya akan lebih baik jika Beni yang menjadi ketua kelompoknya. Aku akan mengawasi dan mengarahkannya nanti" Jelas Alisya meyakinkan teman-temannya. "Baiklah semuanya, jika semua anggota sudah berada diposisi masing-masing tulislah alat dan bahan yang akan kalian gunakan pada praktikum kali ini berdasarkan modul praktikum yang sudah kalian pegang beserta nama penanggung jawab dari pengambil" terang pak Yuda mengarahkan dengan penuh ketegasan. "Biar aku yang menulisnya!" Seru Gani mengambil folpen dan kertas yang sudah disediakannya. "Barang alat berada di gudang sebelah kiri dari pintu masuk lab, sedangkan untuk bahan-bahan berada disebelah kanan. Pertama yang harus kalian lakukan adalah mengambil alat-alatnya terlebih dahulu. Setiap kelompok bisa mengirimkan dua orang anggotanya sebagai perwakilan" pak Yuda membuka gudang tempat penyimpanan alat-alat praktikum. "Biar aku yang menemaninya, karena cukup mengantuk sebaiknya aku harus menggerakkan tubuhku!!!" Alisya bangkit dari tempat duduknya dan sedikit melakukan perenggangan untuk merilekskan tubuhnya yang sedikit kaku. "Apa kau baik-baik saja Sya? Kau terlihat cukup lelah!" Karin melihat lingkar hitam dimata Alisya dan wajahnya yang lemas. "Aku baik-baik saja! hanya entah kenapa semalam aku tidak bisa tertidur dengan baik!" senyum Alisya yang terlihat seolah tak memiliki jiwa. "Apa yang kau pikirkan? bukankah selama ini kau sudah tidak bermimpi buruk lagi?" Karin memeriksa jam ditangan Alisya namun terlihat normal dan tidak menunjukkan gejala apapun. "Kau ingat lagu yang dinyanyikan oleh Adith saat malam fetsival di jepang lalu?" Alisya setengah berbisik saat mereka akhirnya sampai dihadapan pak Yuda untuk mengambil alat-alat praktikumnya. Karin hanya mengangguk pelan mengingat bagaimana reaksi Alisya pada saat itu. "Ada apa dengan lagu itu?" tanya Karin bingung meski ia takut kalau Alisya mungkin berpikiran yang sama dengan dirinya saat ini. "Entah kenapa, lagu itu seolah terus membangkitkan kenangan masa kecilku, aku terus saja bermimpi seolah bertemu seorang anak dan aku melihat ada kemiripan dia dengan Adith. Sedang kau tau sendiri sejak kecil aku hanya memilikimu dan kak Karan!" penjelasan Alisya sontak saja membuat rasa khawatir Karin menjadi kenyataan. Yang paling ditakutkan oleh Karin adalah jika pada akhirnya Alisya bisa membedakan itu bukanlah mimpi melaikan kilas balik memorinya, Karin takut jika Alisya tak mampu menanganinya. "Bisakah kalian berhenti untuk berbicara dan ambil peralatan kalian???" pak Yuda memarahi mereka berdua dengan tatapan dingin yang tajam. "Maaf pak..." ucap Alisya dan Karin bersamaan. Tepat saat Alisya melihat Gani berjalan kepintu masuk untuk mengambil peralatan, Alisya melihat sebuah kotak yang berada disudut ruangan tak jauh dari sana. Mengetahui keterangan berbahasa jepang yang menggunakan huruf katakana di kotak tersebut, Alisya dengan segera menarik Gani lalu dengan cepat membekap mulutnya dan mendekatkan posisinya ke arah Gani. "Jangan bergerak banyak!!! mundurlah secara perlahan-lahan sepelan mungkin yang bisa kamu lakukan!" bisik Alisya ditelinga Gani. Gani yang sudah terbiasa dengan sikap waspada Alisya mengangguk pelan dan mundur sesuai arahan Alisya. Melihat tingkah Alisya yang diluar dugaan dan tatapan Alisya yang berubah begitu tajam membuat Karin seketika menoleh pada Rinto dan Yogi memberi tanda kalau ada yang tidak beres. Pak Yuda yang masih sibuk memeriksa bahan dan peralatan yang diberikan oleh siswa dari kelompok lain tidak memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Alisya kepada Gani. Chapter 138 - Omega Di ruang labaoratorium kimia kelas Elite. "Sepertinya hari ini kelas Mia 2 juga melakukan praktikum dilaboratoriumnya!" Zein mencampir larutannya sembari mengajak Adith berbicara. "Kau jadi semakin dekat dengan mereka yah.." pancing Adith sambil terus melakukan pencampurannya. "Secara tak sengaja aku terus saja terlibat dengan mereka. Ini juga berket seseorang!!!" lirik Zein yang bermaksud untuk menyinggung Adith. "Apa yang sedang kalian buat???" Riyan datang menghampiri dengan tatapan penasaran. Berbeda dengan praktikum yang dilaksanakan oleh kelas Mia 2 yang harus melalui pembimbingan oleh guru, kelas elite sudah terbiasa melakukan segala sesuatunya secara mandiri dan bahkan mereka mampu menciptakan larutan-larutan maupun produk-produk kimia baik yang dapat berguna bagi manusia sampai yang bersifat racun bagi manusia. "Aku sedang membuat Racun, dan sepertinya ini akan cocok denganmu!" Tegas Adith ingin membuat Riyan mencicipi campuran yang ia buat. "Kau ingin membunuhku??" Riyan merinding disko melihat senyuman Adith yang penuh bahaya dari balik maskernya. Meski sebagian wajah Adith tertutupi oleh maskernya, Riyan seolah bisa melihat senyuman iblis dari tarikan dan tatapan mata Adith. "Sejak kapan kau mulai pintar bercanda seperti itu?" Zein menatap Adith penuh keheranan. Seingat dia selama mereka bersama sikap Adith cenderung dingin bahkan tak begitu menyukai ketika harus berkomunikasi dengan orang lain apa lagi sampai bercanda satu sama lain sehingga dia yang terlihat bisa bercanda seperti itu membuat Zein merasa takjub. "Aku juga tak tau, aku bahkan tidak pernah ingat sejak kapan kita bisa berkomunikasi dengan baik seperti ini." Adith melepas pegangannya dari tabung reaksi dan membiarkan alat yang mengaduk-aduknya sendiri. Zein dan Riyan terpaku sejenak mendengar kalimat Adith. Meski sejak dulu Adith selalu bersikap dingin, Adith selalu saja bisa berkomunikasi cukup baik dengan mereka. Namun suara Adith saat mengucapkan itu membuat hati mereka sedikit bergetar. "Semoga kita bisa berteman dengan lebih baik lagi dan... Hentikan percobaan membuat parfum aroma terapimu itu. Aku sudah mencoba menahannya tapi aku tidak tahan lagi" Adith berlalu pergi membuka sarung tangan karetnya menuju keluar lab. "Dari mana kau tau ini parfum aroma terapi? ini bukan..." Zein mencoba membantah Adith tetapi ia sudah menghilang secepat kilat dari hadapannya. "Huuuffhh huufff,,, aku tak mencium bau parfum tapi ketika aku masukkan hidungku ke arah sini rasanya lebih ringan! Riyan mengendus-ngendus larutan yang dicampur oleh Zein. "Jangan terlalu dekat, itu belum sepenuhnya tercampur kau akan merusak hidungmu sendiri tau!" Zein menarik tabung reaksi dari tangan Riyan. "Loh aku kan pake masker jadi harusnya nggak masalah kan!" Riyan mencoba membela dirinya. "Em... aku lupa Riyan kalau punyaku berhenti tolong bawakan aku keruang penyimpanan! Dan kau.. lebih baik jika kau tambahkan beberapa tetes jeruk nipis alami dibanding kau menggunakan Asam sitrat, itu akan menghilangkan bau yang kau inginkan setelah bercampur dengan larutan kau buat!" Seru Adith menjelskan sembari membereskan beberapa alat yang sudah dia gunakan. "Kau sudah selesai membuat larutanmu? Bukankah ini terlalu cepat? Bagaimana kamu bisa melakukannya?" tanya Riyan kaget karena baru berjalan sekitar 15 menit berlalu saat ia membuatnya. "Sudah ku bilang ini bukan..." Adith sudah berlalu pergi meninggalkan Zein tanpa mendengarkan ucapan Zein yang terdengar kesal. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Riyan dan Zein segera menyusul Adith yang sedang membereskan beberapa hasil produk mereka dengan memberikan label pada tiap botol dan tempatnya. "Ini milikmu!!!" Riyan memberikan larutan yang sebelumnya sudah dibuat oleh Adith. "Terimakasih!!!" Seru Adith sambil terus merapikan buatannya. "Sepertinya kau bekerja cukup keras! Apa yang ingin kau lakukan dengan semua itu?" Zein masuk membawa beberapa produk miliknya dan menempatkannya dilemari penyimpanan khusus miliknya. "Untuk saat ini aku masih suka mengumpulkannya saja sebagai hasil dari praktikum kimia, selebihnya aku belum tau pasti" Adith telah selesai membereskan barang-barangnya. Mereka kemudian menuju ke tempat ganti setelah sebelumnya selesai membersihkan diri. Tepat saat mereka sedang keluar dari ruang ganti setelah berganti pakaian dari baju laboratorium ke baju seragam sekolah, tiba-tiba saja sebuah batu kecil mengarah dengan sangat keras hampir mengenai Adith. "Ada apa?? kenapa batu itu bisa melayang dan bahkan tertancap disana???" Riyan kaget dan langsung melihat batu yang tertancap di dinding. Adith dan Zein langsung menyusuri arah datangnya dan siapa pelaku yang telah melemparkan batu itu namun tak menemukan apapun. "Syukurlah batu itu tidak mengenaimu dan meleset!" ucap Zein melihat batu yang tertancap itu dengan penuh ngeri karena jika tembok saja bisa ditembus hanya menggunakan batu kecil, maka akan sangat berbahaya jika batu itu mengenai tepat ditubuh Adith. "Apa kau pikir itu meleset??? perhatikan baik-baik jarak antara aku dengan tempat menacap batu itu sedikit bergeser meski tidak jauh itu artinya ia sedang memberiku peringatan dengan sebuah ancaman yang jika aku maju selangkah maka akan ada bahaya lebih yang akan aku dapatkan!" tegas Adith mengingat ia hanya berhenti sejenak tanpa menghindari arah datangnya batu. "Sepertinya dibatu ini ada kertasnya!" Riyan yang terlalu penasaran mencungkil batu yang menancap pada dinding dan membukanya yang ternyata terdapat sebuah kertas kecil dibaliknya. "Kertas?? kertas apa maksudmu?" tanya Zein bingung dengan apa yang sedang dikatakan oleh Riyan "Hai,,,," Tulis kertas kecil itu dengan bagian akhirnya terdapat simbol omega. Riyan dan Zein tidak apa maksud dari kertas tersebut, namun Adith berpikir bahwa mungkin maksudnya adalah untuk menyapa Adith. Perasaan Adith menjadi tidak nyaman karena belum paham apa maksud simbol omega yang menjadi footnote dari kertas tersebut. Chapter 139 - Azidoazide Azide "Apa yang terjadi???" Adora bertanya dengan nada yang sangat pelan karena merasa takut akan sikap yang dilakukan oleh Alisya yang terlihat sangat serius dan waspada. "Ssussttt" Rinto menaikkan tangannya memberi tanda kepada Adora untuk tetap diam menunggu perintah dari Alisya. Rinto yakin jika Alisya sudah bersikap seprotektif itu maka ada hal besar yang sedang dihadapinya. Alisya memandang dengan penuh rasa khawatir yang sangat dalam melihat semua teman-temannya berada didalam Lab itu memperhatikan Alisya dengan tatapan bingung. Alisya memberi tanda untuk Karin mengarahkan semua teman-temannya agar menunduk secara perlahan-lahan. Karin langsung meminta tolong kepada Rinto dan Yogi untuk segera melakukannya dengan cepat dan memberikan pengertian kepada mereka untuk mendengarkan apa yang dikatakan Alisya terlebih dahulu. "Semuanya, tolong menunduk sepelan mungkin dan jangan lakukan gerakan yang gegabah!" Pinta Rinto kepada semua teman-temannya. Meski tak paham, melihat wajah kelam Rinto dan tingkah serius Alisya serta Karin membuat mereka mau tidak mau mulai menunduk secara perlahan. "Apa yang sedang kalian lakukan??? kenapa kalian menunduk seperti itu? kalian tidak ingin melakukan praktikum?" Pak Yuda bertanya dengan keras bingung melihat siswanya sedang bergerak turun kebawah dengan sangat pelan. Ia kemudia memadang kearah Karin dan Alisya yang berwajah tegang. "Ada apa Alisya???" Karin ingin memastikan apa yang sedang di lihat oleh Alisya sehingga membuatnya begitu waspada dan tampak ketakutan karena hal itu. Alisya terlihat mundur dengan lambat. Setelah posisi mereka cukup dekat dan Gani berada di posisi belakang Alisya dan Karin, Gani di perintahkan untuk berlindung di balik meja bersama yang lainnya. "Apa yang sedang kalian lakukan??? bukannya kalian harus mengambil alat untuk praktikum?" pak Yuda semakin kesal ketika melihat Alisya dan Karin hanya mematung dipintu masuk ruang Alat Laboratorium. "Maaf pak, tapi sebaiknya kami tidak masuk kedalam ruangan itu untuk sekarang!" terang Alisya meminta dengan sopan. "Apa maksudmu? memangnya kenapa jika kalian masuk kedalam?" pak Yuda mulai kesal dan marah merasa Karin dan Alisya sedang membuat alasan. "Aku rasa kotak itu berisi Azidoazide Azide!!!" terang Alisya memikirkan bagaimana caranya untuk mengeluarkan kotak itu dari sana. "Apa?? Azidoazide Azide??? mana mungkin kotak itu berisi barang itu? itu adalah kotak yang berisi gelas kaca, labu erlenmeyer dan juga tabung reaksi!" kata pak Yoga membantah apa yang dikatakan oleh Alisya. "Aku tidak tau bagaimana barang itu bisa diberikan kepada bapak, tapi yang jelas tulisan jepang pada kotak itu menjelaskan bahwa itu adalah Azidoazide Azide yang akan dengan sangat mudah meledak!" tegas Alisya yakin apa yang ia lihat pada kotak itu. "Tapi kami tidak pernah memesan zat itu! Zat seperti itu sangat dilarang jika digunakan dalam praktikum sekolah karena sangat berbahaya!!!" pak Yuda berusaha membela diri karena ia hanya menerima apa yang sudah dikirimkan kepada mereka. "Azi... Azdo apa?? kenapa dengan itu?" Tanya Beni sangat penasaran dengan posisi kembali berdiri karena bingung atas apa yang sedang mereka hadapi. "Azidoazide Azide adalah zat kimia paling mudah meledak dan bereaksi, Nitrogen jika berikatan dengan nitrogen lain merupakan molekul yang paling stabil di dunia, tetapi tidak bagi Azidoazide Azide. Nitrogen memiliki ikatan 3 rangkap yang kuat yang bearti ketika dia akan berikatan ia akan mengeluarkan banyak energi, akan tetapi pada Azidoazide Azide atom nitrogen saling berikatan sedemikian rupa sehingga tidak ada yang berikatan rangkap 3 dan membuatnya sangat tidak stabil sehingga ia sangat ingin menstabilkan dirinya yang sekaligus akan mengeluarkan banyak sekali energi alias BOOM!" Jelas Karin memberikan mereka peringatan agar mereka lebih waspada. "Seberapa mudah zat ini dapat meledak?" Tanya Rinto mengambil posisi yang cukup aman. "Mengerakannya, Menyentuhnya, Meninggalkannya di atas piring kaca, Mengeksposnya dengan cahaya terang, Mengeksposnya dengan sinar x-rays, Memasukannya ke dalam spektrometer, Menyalakan Spektrometernya, Dan TIDAK MELAKUKAN APAPUN!!!!" Tegas Alisya yang semakin frustasi dengan keberadaan barang berbahaya tersebut di Lab praktikum dengan kemungkinan paling berbahaya dapat meledak kapan saja. "Kau bermain-main denganku??? apa kau pikir aku tidak mengetahuinya?? jangan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal. Mana mungkin sekolah memasukkan alat seberbahaya itu disekolah?" pak Yuda membentak dengan sangat keras merasa harga dirinya sedang direndahkan oleh Alisya yang seolah bersikap tau tentang segala hal. "Maaf pak, tapi itu...." tak mendengar ucapan Alisya pak Yuda dengan sombong ingin membuktikan bahwa apa yang dia katakan adalah benar sehingga ia dengan cepat membuka pintu untuk masuk kedalam. pak Yuda yang hanya bermaksud untuk membuka pintu tanpa disadarinya gerakannya memberikan hentakan yang sangat keras didinding. Alisya yang melihat gerakan pak Yuda langsung menariknya dengan sangat keras namun terlambat, hentakkan keras yang ditimbulkan oleh pak Yuda seketika membuat kotak itu meledak dengan sangat keras menghancurkan kaca, peralatan sekaligus membakar ruangan itu dengan sangat cepat. Seluruh siswa panik dan berteriak bahkan beberapa dari mereka ada yang mendapatkan luka yang sedikit parah karena percikan pecahan kaca yang berhambur. Alisya yang berhasil membuat pak Yuda terlempar ke bawah meja dengan hentakkan yang sangat keras menghantam Karin membuat keduanya aman dari ledakkan. Kedua tangan Alisya yang sibuk menyelamatkan pak Yuda dan menjatuhkan lemari untuk melindungi mereka membuatnya terhempas bersama lemari dengan sangat keras serta mendapatkan luka yang cukup parah. Telinga Alisya berdenging dengan sangat keras membuat kepalanya sakit dan tak bisa bergerak untuk beberapa saat. Beruntunglah saat itu ia menggunakan alat peredamnya sehingga tidak memberikan dampak yang lebih namun tetap saja Alisya tak bisa mengatasinya dengan baik. "Alisya!!!, kau baik-baik saja???" Teriak Karin karena posisi mereka yang terpisah oleh besarnya lemari sehingga tak bisa melihat jelas tubuh Alisya. "Keluarkan mereka semua sebelum Api menyebar lebih luas!!!" teriak Alisya berusaha menahan sakit kepada Karin. "Bagaimana bisa?? bagian pintu tempat kita keluar sudah tertutup oleh Api dari pintu lab itu!" Teriak Emi panil sambil memegang lengan Feby membantunya berdiri karena luka yang ia dapatkan saat kaca melesat dan menancap di pahanya. "Beni, buka horden jendela itu dan basahi dengan Air!!!" Rinto bergerak memecahkan beberapa kaca jendela yang berada dibagian belakang kareba api sudah membakar bagian depan kelas. "Basahi masker kalian dengar air juga agar kalia bisa bernafas dengan baik!!!" tambah Karin membantu pak Yuda untuk keluar. Asap yang mengepul membuat mereka cukup kesulitan untuk bernafas. jendela yang pecah belum mampu mengeluarkan sejumlah asap yang terdapat didalam kelas. Chapter 140 - Ledakkan "Booommmm... Braaaakkkkhhhhh" suara ledakkan keras menggemuruh diseluruh sekolah memberikan sedikit guncangan kuat karena getaran serta tekanan udara yang sangat hebat. "Apa itu??? apa yang sedang terjadi??" Teriak Riyan kaget sambil menundukkan kepalanya untuk melindungi diri. Reaksi yang sama yang dilakukan oleh Zein dan Adith. "Arahnya dari luar!" Zein dengan cepat berlari keluar gedung laboratorium untuk melihat apa yang sedang terjadi. "Itu suara ledakkan, bukan kah arahnya dari laboratorium kelas biasa??" mata Adith terbelalak sempurna saat melihat laboratorium terbakar dan kacau karena ledakkan. Tanpa pikir panjang ketiganya langsung berlari sekuat tenaga bercampur dengan perasaan takut serta khawatir kepada seluruh orang yang berada didalam laboratorium tersebut terlebih karena mereka tau bahwa tempat itu sedang digunakan oleh kelas Mia 2 untuk praktikum kimia. "Apa yang terjadi kenapa laboratorium itu bisa meledak??" Teriak beberapa siswa yang sedang belajar. "Bagaimana dengan para siswa dari kelas mia 2?" Tambah yang lainnya tak kalah paniknya. "Aku belum melihat siapapun dari mereka yang keluar dari sana!" lanjut yang lain mengkhawatirkan seluruh siswa dari kelas Mia 2. "Hei lihat,, bukankah itu Rinto? dia sedang memecahkan kacanya!" teriak seorang siswa yang menengadah keatas melihat Rinto yang harus memecahkan kaca dengan melempar kursi namun belum berhasil menghancurkan kaca. "Minggir dari sana, dia akan mengulanginya lagi. Jangan berada di bawah jendela!" teriak yang lain. "Menjauh dari sana jika kalian tidak ingin terluka!!!" teriak seorang guru mengamankan para siswa yang mulai berkerumun menyaksikan laboratorium yang meledak dan tengah terbakar tersebut. "Pihak sekolah sudah menelpon pemadam kebakaran untuk itu sebaiknya kalian bisa memberikan jalan untuk tidak menghalangi mereka dengan berkerumun di depan gerbang seperti itu!" Seorang guru segera membawa pengeras suara untuk bisa mengarahkan seluruh siswa yang berkerumun tak karuan. Adith dan Zein serta Riyan tiba dan langsung memperhatikan Rinto yang berhasil memecahkan kaca jendela laboratorium setelah percobaan yang ketiga kalinya begitupula dengan Yogi yang mencoba membantu Rinto untuk memecahkan jendela. Tepat setelah pecah beberapa dari mereka bergantian untuk bisa menghirup udara segar. Adith yang melihat itu dengan cepat berpikir tenang dan melihat keadaan itu agar bisa memberikan bantuan sebelum pemadam tiba. "Zein, arahkan para siswa untuk mengambil matras dan menyusunnnya di dekat jendela. Riyan kau bisa mengarahkan beberapa siswa untuk secepatnya mengumpulkan pasir di karung yang akan kita gunakan untuk memadamkan Api sebelum Api itu menyebrang masuk kedalam ruang Lab yang lainnya!" Tegas Adith yang kemudian dengan cepat mereka bertiga bepencar untuk melakukan segalanya yang bisa digunakan untuk membantu. "Karin,, mereka sudah menyusun matras yang bisa kita gunakan untuk keluar dari sini. Apa yang harus kita lakukan???" Teriak Rinto dengan sangat keras. Bunyi ledakkan itu membuat pendengaran mereka sedikit terganggu sehingga tanpa mereka sadari cara mereka berbicara jadi setengah berteriak. "Pertama, mereka yang tidak terluka bisa melompat kearah jendela. Kedua Berikan Jas Lab kalian dan susun menjadi beberapa bagian basahi dengan air untuk bisa melindungi yang terluka dari Api dan yang Ketiga tetaplah berpikir tenang karena kita akan baik-baik saja!" Terang Karin dengan penuh keyakinan menenangkan teman-temannya yang menangis dan meringis ketakutan serta kesakitan karena terluka. "Untuk semua pria, lepaskan Jas kalian dan basahi berikutnya utamakan dulu para wanita. Bantu mereka untuk melompat agar tak ada yang terluka!" Tegas Yogi mengarahkan teman-temannya yang lain. "Gani kamu bisa membopong Beni dan keluar dari sini kan? horden basah ini cukup tebal dan basah sehingga bisa melindungimu dari api, tapi tentu saja ini akan memberikan sedikit beban berat kepadamu!" Rinto sudah siap dengan horden basahnya untuk mengarahkan Gani yang membopong Beni kearah Pintu yang sedang tersulut oleh Api. "Tentu saja!!! Aku pasti bisa melakukannya!" Dalam keadaan seperti itu, Adrenalin Gani terpaci dengan sangat hebat. Reaksi cepat teman-temanya yang lebih mementingkan orang lain dibanding diri sendiri membuat Gani juga ingin melakukan satu hal untuk melindungi mereka. Terlebih ketika nelihat Beni yang terluka karena mencoba melindungi Adora dan Aurelia. "Bagus,, kalau begitu keluarlah sekarang!!!" Rinto berusaha membantu Gani dan Beni keluar dengan mengarahkan mereka yang tertutup oleh selimut sepenuhnya. Laboratorium mereka yang berada dilantai dua membuat semua orang terlalu takut untuk naik menyelamatkan namun begitu melihat ada yang keluar para siswa yang sedang melaksanakan praktikum disekitat lab langsung membuka tutup selimut yang menutupi tubuh Gani dan Beni kemudian membawa mereka keluar dari gedung itu. Gani melihat kesibukan mereka memadamkan Api disekitar area Lab dengan Pasir dan Air untuk mencegah agar Api tak menyebar. Springkel Air diluar ruangan Lab bahkan dibeberapa Lab telah menyembur dengan sempurna namun pada Lab kimia springkel air tidak menyembur sama sekali. "Kamu bisa melompat kan?? tanya Karin kepada Aurelia dan Adora yang masih ketakutan. "Kenapa kita tidak keluar menggunakan pintu saja? bukankah akan lebih aman jika keluar dari sana?" tanya Feby melihat Gani dan Beni dapat keluar dengan mudah. "Tentu saja kalian bisa keluar disana dengan mudah tapi lihatlah persedian kain basah hanya tersisa tiga saja 1 sudah digunakan oleh Gani dan Beni sedang yang lainnya kita gunakan untuk mereka yang mengalami luka-luka!" Terang Rinto mencoba untuk menjelaskan dengan baik. Rasa panik kadang menghadirkan rasa ego yang tinggi dan hal ini tidak membuat Rinto marah dan emosi karena memahaminya. "Sekarang yang harus kita lakukan adalah menyelamatkan kalian secepat mungkin sebelum Api semakin membesar. Karena kita tidak bisa mengeluarkan kalian semua maka kami terpaksa harus membuat kalian melompat dari sini." Karin juga berusaha membantu membuat mereka mengerti dengan terus menjelaskan dengan suara tenang. "Kita juga tidak mungkin membuat mereka untuk melompat dari sini, lagi pula lihatlah mereka! Zein dan Riyan akan memastikan kalian mendaray dengan sempurna dibawah sana!" Tambah Yogi lagi untuk menenangkan mereka. "Cepatlah keluarkan mereka dari sini!!!" Teriak Alisya begitu melihat Api dan percikan listrik segera mendekati beberapa alat lab yang akan dengan mudah menyulut ledakkan. "Cepatlah kita tidak punya waktu lagi, jika tidak ini akan berbahaya bagi kita semua!" Karin setengah berteriak meminta kepada mereka dengan wajah yang sangat serius. Chapter 141 - Hallon "Aku akan melompat bersama mu!!! jika kau masih ingin hidup kita harus melompat sekarang!!!" Emi membentak Feby dengan sangat keras untuk menyadarkannya. Melihat Emi yang sudah bertekad, membuat Feby menampar dirinya dengan keras untuk menyadarkan dirinya sendiri. Setelah cukup ragu akhirnya tanpa aba-aba Feby sudah melompat dengan sekuat tenaga menutup matanya karena takut. Melihat Feby yang takut ketinggian sudah mengertakkan diri untuk melompat membuat Emi serta yang lainnya tak terluka melompat dari jendela. Bahkan Gina tak ragu-ragu lagi untuk segera melompat secepat mungkin tepat setelah Emi mendarat dengan sempurna di atas matras. "Kalian baik-baik saja?" tanya Zein begitu melihat Adora telah mendarat tanpa terluka sama sekali. "Aku baik-baik saja tapi ada beberapa dari mereka yang terluka dan Rinto serta Yogi yang akan membantu mereka keluar dari sana!" Jelas Adora untuk mengamankan diri agar yang lainnya bisa melompat lagi. "Bagaimana dengan Karin dan Alisya?" Riyan bertanya dengan wajah yang sangat khawatir. Belum sempat Adora menjawab, Suara ledakkan kembali terdengar bersamaan dengan jatuhnya Aurelia yang melompat meski tak begitu besar namun cukup menambah ketakutan mereka. "Alisyaaaahh,,!!!" teriak Karin melihat ledakkan Api yang cukup kuat sedangkan posisi Alisya masih terlalu dekat dengan kobaran Api. "Aku baik-baik saja!!! Sebaiknya kalian bergegas keluar secepatnya, Aku akan mengamankan beberapa hal terlebih dahulu untuk mengurangi dampak yang lebih besar lagi" Teriak Alisya untuk menenagkan Karin. Karin yang paham kalau Alisya bisa melindunginya sendiri tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa khawatirnya namun ia lebih memilih untuk menyelamatkan pak Yuda yang pingsan karena kepalanya terbentur meja saat Alisya menariknya. "Gedubrakkkk!!!" Adith menerobos masuk melewati kobaran Api tanpa pengaman apapun. "Apa yang kau lakukan disini?" Karin kaget melihat Adith sudah menerobos masuk. Belum sempat Adith menjawab suara retakkan terdengar keras membuat Adith segera mengingatkan mereka. "Sebaiknya kalian keluar dari sini secepatnya!!" Tegas Adith menggeser lemari sekuat tenaga untuk menutupi sebagian kobaran Api yang keluar dari ruang Alat. "Yogi, Rinto.. kalian bisa kan mengangkat pak Yuda? sepertinya dia perlu perawatan secepatnya karena pelipisnya terus mengeluarkan darah dari tadi! Yana biar aku yang membawanya! Karin meminta kepada Rinto dan Yogi sembari membopong Yana yang terluka pada bagian betisnya. "Apa kalian bisa melompat dari jendela? Kain basahnya sudah tidak cukup lagi" Rinto mengkhawatirkan Doni dan Firman yang mengalami sedikit luka pada bagian lengan dan bahu mereka. "Tidak apa-apa, luka kami tidak parah! kami akan mengarahkan kalian terlebih dahulu sebelum keluar! Ucap Doni sambil memberikan baju Jas lab basah menutupi bagian belakang tubuh Rinto dan Yogi serta tubuh Pak Yuda. Mereka cukup kesulitan karena tubuh pak Yuda yang cukup berat namun tetap berusaha untuk bisa keluar dengan mudah. Bersamaan dengan itu Karin pun menyusul keluar. "Masih ada berapa orang yang tertinggal didalam? Kenapa Alisya masih belum keluar juga?" Tanya Zein yang melihat Api makin kian membesar membakar langit-langit lab. Riyan segera membawa Yana ke tempat yang lebih aman terlebih dahulu untuk memberikannya perawatan. "Dia baik-baik saja! tapi aku yakin dia mengalami sedikit luka didalam." Terang Karin sembari terus memperhatikan keadaan didalam dengan penuh rasa khawatir. "Bagaimana dengan yang lain? kenapa Adith menerobos masuk kedalam?" Pak Fahri bertanya dengan kesal saat melihat Adith membahayakan dirinya. "Apa dia pikir dia itu pahlawan? tidak bisakah dia menunggu pemadam datang?" tambah pak Amir tak kalah panik. Tiba-tiba saja suara retakkan plafon jatuh menutupi pintu masuk sekaligus merupakan pintu keluar dari ruang lab tersebut. Adith melompat naik keatas lemari dan jatuh dihadapan Alisya dengan sangat keras membuat Alisya kaget dengan kemunculan Adith. "Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Doni dan Firman hampir bersamaan. "Kami baik-baik saja! melompatlah dari sana sekarang, apinya sudah semakin membesar!" Teriak Adith mengingatkan mereka berdua. "Bagaimana dengan kalian??" Doni tak yakin mereka bisa keluar dengan mudah sekarang. "Kami akan baik-baik saja! lompatlah dan menjauh dari jendela secepat mungkin!" Teriak Alisya lagi untuk meyakinkan mereka berdua. Setelah mendengar ucapan Alisya, mereka dua akhirnya memberanikan diri untuk melompat sembari mengamankan bahu serta lengan mereka yang terluka. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Alisya panik bukan main dengan kehadiran Adith disana. "Kau pikir aku akan dengan tenang menunggumu keluar? aku yakin kau butuh seseorang untuk setidaknya mengamankan ruang bahan sebelum Api ini masuk dan meledakkan bagian dalam sana!" terang Adith melihat kondisi Alisya yang terlihat tidak mengalami luka parah dan terus mengahalangi membesarnya api menggunakan alat pemadam yang berisi pasir. "Kenapa kau tak menggunakan alat pemadam kebakaran yang ini saja??" tanya Adith bingung sambil mengambil Drychemical powder dari balik dinding tak jaub dari mereka. Suasana panas semakin membuat mereka berketingat dengan deras. "Tidak jangan gunakan itu!!!" teriak Alisya saat Adirh akan menggunakan Drychemical Powder untuk memadamkan Api disekitar mereka. "Apa maksudmu? ini akan lebih cepat untuk mematikan Apinya!" Adith bingung terhadap Alisya yang sedang menghalanginya. "Lihatlah disekitarmu!!!" Alisya mencoba mengingatkan Adith. Disekitar mereka berhamburan bahan dan benda-benda yang akan sangat berbahaya jika terkena oleh Drychemical Powder karena sifat korosifnya yang sangat tinggi sehingga bisa menyebabkan mereka mengalami bahaya yang lebih parah lagi. Perlahan Adith menjauhkan tempat itu kemudian dengan cepat masuk kedalam ruang bahan menggunakan kunci yang terjatuh dibawah meja untuk mencari sesuatu. "Apa yang akan kau lakukan?" tanya Alisya melihat Adith yang tengah sibuk mencari sesuatu. " Aku akan menciptakan hallon, Halon dapat memadamkan api dengan sangat cepat karena mengikat oksigen disekitar area kebakaran. Hallon tidak bersifat korosif, bukan penghantar listrik, bersih dan tidak akan meninggalkan bekas karena mudah menguap. Tapi aku tidak yakin apakah aku bisa membuatnya dengan alat-alat ini." terang Adith mulai mnegerjakannya secara cepat dengan menggunakan alat-alat sederhana yang terdapat disana. "Aku yakin kau bisa, aku akan mengulur waktu untukmu! Aku harap kau bisa segera bergegas!" Alisya langsung bergegas mengamankan beberapa bahan berbahaya agar tidak terkena Api dan membuat kondisi mereka menjadi lebih memprihatinkan. Tidak butuh lama buat Adith menciptakan Hallon dan membiarkannya memenuhi ruang bahan yang membuat keduanya dengan cepat melompat keluar dan mendarat dengan sempurna diatas tanah meski tak memakai matras. Pemadam kebakaran segera datang dan memulai upaya penyelamatan terlebih dahulu dengan cepat dengan menyiram disekitar lab yang mulai tampak akan terbakar. Chapter 142 - Tekni Penghentian Aliran Darah "Apa kalian baik-baik saja?" Zein dan Rinto mengampiri Alisya serta Adith yang melompat disekitar pagar tanaman sekolah. "Aku baik-baik saja!" pandang Adith kepada Alisya menanti jawaban yang ditanggapi dengan anggukan pelan. Fikiran Alisya masih melayang kepada bagaimana Zat yang sangat berbahaya tersebut bisa berada diruang alat, jika memang seseorang yang mengirimkan itu barang bermaksud untuk membunuh mereka atau mencelakai mereka secara sengaja, maka Zat tersebut harusmya akan berada diruang bahan namun karena Zat itu berada diruang alat maka berarti itu merupakan suatu peringatan. Alisya terus memikirkan segala kemungkinan yang timbul karena mustahil untuk Zat berbahaya seperti itu dikirimkan kepada Laboratorium sekolah. "Alisya,,, Alisya,, Alisyaaahh..." Karin mengguncang hebat tubuh Alisya yang terlalu terfokus akan apa yang sedang dipikirkannya sehingga tidak mendengarkan panggilan Karin. "Kau yakin ?? benar baik-baik saja??" tanya Adith memastikan keadaan Alisya karena wajah Alisya yang terlihat semakin pucat dan mengkhawatirkan. "Iya aku baik-baik sa... jah!" Alisya yang hampir terjatuh langsung di tangkap oleh Adith. Dengan penuh rasa khawatir Adith membalikkan tubuh Alisya secara perlahan lalu membuatnya terduduk untuk membuatnya nyaman. "Apa yang terjadi?? bukannya dia baik-baik saja?" Zein menatap penuh curiga melihat kondisi Alisya yang terlihat kurang baik. "Tunggu sebentar!!!" Karin membuka Jas putih yang melapisi tubuh Alisya dan betapa kagetnya ia melihat kalau di bagian dada Alisya tertancap sebuah batang besi pendek. "Alisya kau...." Adith tak menyangka Alisya bisa menyembunyikan luka didadanya dengan sangat baik. Adith menggepalkan tangannya dengan sangat kuat sampai kukunya mampu menggores tipis tangannya. "Tapi jika tertancap seperti itu, bukankah harusnya sekarang baju Jas maupun dadanya sudah banjir akan darah? di dadanya bahkan tak mengalir darah sedikitpun!" Tanya Rinto penasaran tak melihat seberkaspun darah mengalir didada Alisya. "Dia menghentikan Aliran darah disekitar luka agar darahnya tidak mengalir namun akan sangat berakibat fatal pada dirinya!" Tegas Karin dengan suara bergetar. "Apa maksudmu? bukankah harusnya dia akan baik-baik saja karena dengan begitu dia tidak akan kehilangan banyak darah!" Adith semakin takut dengan suara Karin yang bergetar. Itu Artinya Alisya memang dalam bahaya. "Saat kau menghentikan Aliran darahmu, maka Jantung akan mengalami sedikit paksaan saat memompa darah karena penghentian tersebut. Selain itu kau tidak bisa bergerak terlalu banyak dan melompat dari kaca adalah pilihan yang bisa mengakhiri hidupmu!" Wajah Karin semakin menunduk saat Nafas Alisya perlahan semakin menghilang. "Tidak,, tidak akan aku biarkan! kalau begitu kenapa kau tidak mencoba mengembalikan penghentian darah disekitar luka agar bisa kembali mengalir? bukankah kau juga seorang dokter yang sudah memiliki lisensi? apa yang kau lakukan dengan hanya menatap Alisya seperti itu?" Adith terlihat sangat panik sampai menaikkan suaranya memarahi Karin yang hanya terdiam ditempatnya. "Apa yang terjadi?? ada apa dengan Alisya???" Yogi datang melihat Alisya yang sudah setengah terbaring dipangkuan Adith. "Kalau begitu kita bawa saja dia ke UKS, aku akan memanggil ambulance kemari" Rinto segera pergi namun terhenti saat mendengar suara Karin yang lemah. "Aku tidak bisa Adith!!! Alisya tidak bisa menahan guncangan sekecil apapun sekarang! Sedikit gerakan saja akan membuat nyawanya melayang!" suara Karin lirih menggigit bibirnya dengan sangat kuat. "Apa maksudmu tidak Kar? kau ingin melihat Alisya mati dihadapanmu?" bentak Zein semakin khawatir. "Kenapa kau sudah pasrah? kau harusnya berusaha untuk mengobatinya sekarang!!!" Adith semakin frustasi dengan sikap menyerah Karin. "Kau pikir aku tidak ingin menyelamatkannya??? Aku sangat ingin menyelamatkannya!!! tapi ini bukanlah hal yang mudah bagiku, penghentian Aliran darah yang dilakukan Alisya adalah teknik khusus yang hanya diketahui oleh beberapa orang saja! Dan Alisyalah satu-satunya yang menjadi orang terakhir yang mengetahui teknik tersebut. Jika aku membuka penghentian darahnya dengan gegabah maka sama saja aku mencoba membunuh Alisya dengan tanganku sendiri" Jelas Karin dengan suara yang serak menahan kesedihannya yang mendalam tak bisa berbuat apapun untuk bisa menyelamatkan Alisya sekarang. "Jika begitu siapa orang selain Alisya? kita bisa menghubunginya secepat mungkin!" Suara Adith semakin tak terkendali. "Ibu Alisya, tapi dia sudah meninggal dan satu lagi yang mengetahuinya!" Karin tak yakin kalau orang tersebut akan berada disana. "Siapa??" tanya Zein mengerutkan keningnya dengan kepalan tangan yang semakin menguat karena rasa takut yang semakin membesar. "Ayah Alisya!!! Ibu Alisya yang mengetahui teknik penghentian itu mengajarkan kepada Alisya dan memberitahu Ayah Alisya juga. Tapi aku tidak Yakin Ayah Alisya bisa berada disini tepat waktu!" Karin mulai tak bisa menghentikan aliran air dimatanya yang sudah mengalir deras membasahi wajah dan tanah dihadapannya. Tubuh Karin bergetar dengan sangat hebat karena rasa takut akan kehilangan Alisya terlebih karena ia tidak bisa melakukan apapun kepada Alisya untuk menyelamatkannya. "Alisyah..." Adora dan yang lainnya datang bersamaan tanpa sengaja mendengar penjelasan Karin yang membuat mereka saling berpelukan satu sama lain tak mampu melihat kondisi Alisya yang semakin mengkhawatirkan. Tempat Alisyah dan Adith melompat sudah dikosongkan oleh pemadam kebakaran untuk mwnghindari kemungkinan yang terjadi sehingga tak satupun guru atau siswa lain yang berada diarea tersebut sedangkan teman-teman Alisya tidak memperdulikan tanda larangan yang sudah dipasang dan menerobos dengan cepat tanpa diketahui untuk segera melihat kondisi keduanya. Tim pemadam yang sibuk mengurus pemadaman Api serta Ambulance yang sibuk merawat siswa dengan kondisi luka-luka tak menyadari Adith dan Alisya yang melompat. "Lalu apa yang harus kita lakukan? apa kita harus berdiam diri saja disini tanpa melakukan apapun dan menonton Alisya dalam kondisi seperti itu?" Riyan mulai gusar dan marah kepada semua orang dan kepada diri mereka sendiri yang hanya bisa melihat Alisya seperti itu. Perlahan-lahan kesadaran Alisya mulai menghilang dan hembusan nafasnya perlahan-lahan semakin menghilang. Adith serta yang lainnya mulai mengeluarkan Air mata berteriak meminta tolong kepada siapapun namun karena kebisingan yang terjadi disekitar area kebakaran membuat suara mereka teredam oleh kebisingan tersebut. Dengan Frustasi mereka berteriak sekuat tenaga dan berlarian kesana kemari untuk mencari seseorang yang bisa menyelamatkan Alisya. Tepat saat itu Adora bertabrakan dengan seseorang yang juga sedang berlari seolah sedang mencari seseorang. "Kau tau dimana Alisya???" Tanyanya dengan penuh rasa cemas setelah membantu membangunkan tubub Adora. Tanpa pikir panjang Adora langsung menariknya tanpa mengetahui siapa orang tersebut. Suaranya yang telah habis membuatnya segera berlari kearah Alisya terbaring berharap bahwa orang yang sedang mencari Alisya bisa mengetahui sesuatu. Chapter 143 - Aura Membunuh "Karin aku... " Belum sempat Adora menjelaskan kepada Karin orang itu sudah melesat dengan cepat kehadapan Alisya dan melakukan sesuatu kepadanya yang membuat Alisya bangun dan memuntahkan darah yang cukup banyak. "Alisya... kenapa dia melakuan itu????" Rinto dan Yogi panik melihat Alisyah sudah memuntahkan darah sedangkan Adith hanya memegang tubuh Alisya dengan wajah yang kelam. "Kau baik-baik saja???" ucapnya setelah melihat Alisya bisa bernafas dengan baik. "Siapa dia kenapa dia memukul dada Alisya dengan kuat seperti itu?" Bentak Riyan tak kalah takut namun Karin menghalanginya untuk mendekati orang itu. "Biarkan dia,, dia adalah ayah Alisya! Tak kusangka dia bisa datang secepat ini!" Karin yang meragukan kehadiran ayahnya tepat waktu membuatnya terkejut dengan kehadiran Ayah Alisya disana. "Om..." Adith menatap ayah Alisya dengan mata nanar dan gelisah. "Aku datang tepat setelah pengawal yang mengawasi Alisya menghubungiku akan masalah ini, Aku bisa datang tepat waktu dengan memakai landasan helikopter di gendung atap kepala sekolah!" Jelas Ayah Alisya menepuk pundak Adith. Karena Adith, Alisya mampu bertahan hidup dengan menekan Aliran darahnya. "Apa??? jadi dia ayah Alisya???" Zein tak menyangka kalau Alisya adalah seorang anak dari menteri pertahanan negara. Sudah cukup baginya dikejutkan dengan Alisya yang seorang cucu dari Takahashi Yamada yang merupakan CEO elite perusahaan besar skala dunia sekarang ia dikejutkan dengan sebuah kebenaran baru mengenai Alisya. Karin hanya mengangguk dan langsung memeriksa denyut nadi Alisya dengan sangat teliti. "Bagaimana kondisinya Om?" Wajah Adith lebih kelam dari yang sebelumnya saat ia terus melihat Alisya masih mengalirkan darah segar dari mulutnya. "Untuk sekarang saya sudah membuka Aliran darahnya. Aliran darah yang menumpuk disekitar dadanya karena penghentian itu akan membuatnya memuntahkan darah sebagai reaksi bahwa penumpukkan darah itu yang kemudian berhasil dikeluarkan!!!" Jelas Ayah Alisya dengan tenang sambil terus menekan-nekan Area tubuh tertentu Alisya untuk memastikan kondisinya. "Lalu kenapa sekarang nafasnya masih tetap pelan seperti yang sebelumnya??" Melihat hembusan nafas Alisya yang belum teratur membuat Adith tidak bisa menenangkan diri. "Itu karena ketika saya telah membuka aliran darahnya maka seluruh pembuluh darah Alisya melebar untuk memberikan ruang bagi aliran itu mengisi daerah-daerah penghentian sehingga pada bagian luka tentu sekarang akan mengalirkan peredaran darahnya dan keluar. Kondisi ini membuat Alisya masih belum bisa mengembalikan pernafasannya tapi tenang saja secara perlahan dia akan dengan mudah mengaturnya dibanding sebelumnya!" Ayah Alisya segera mengendurkan Kancing bagian dada Alisya untuk memberikan ruang lebih agar Alisya bisa mengatur nafasnya. "Bagaimana keadaanya???" Pak Hadi menerobos Riyan dan Zein yang kini membelakang untuk menghargai privasi Alisya. "Bisakah kita mengangkatnya ketempat yang lebih baik??" tanya Karan yang datang bersamaan dengan ayahnya. "Aku rasa tidak, lukanya akan semakin melebar jika kita harus memindahkannya. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi, kita harus melakukannya disini!!!" Jelas Ayah Karin melihat kondisi Alisya yang tidak memungkinkan. "Tapi jika disini kita tidak bisa melakukannya dengan baik terlebih karena kita membutuhkan banyak alat..." Tegas Karan mengingatkan ayahnya. "Apa yang harus kami lakukan untuk membantu???" Adith setengah menoleh ke arah Karan meyakinkan Karan kalau dia bisa melakukan apapun saat itu. "Kami memiliki semua peralatan kami dimobil yang terparkir di depan gedung. Karena terlalu banyak orang kami tidak bisa membawanya masuk untuk itu salah seorang dari kalian harus mengemudikan mobil sedangkan yang lainnya bisa mengamankan jalan masuknya!" Jelas Karan mengeluarkan beberapa alat yang bisa digunakan untuk pertolongan pertama sedang Ayah Karin sudah mulai merobek baju Alisya dibagian area besi yang menancap didadanya. "Kita juga membutuhkan sesuatu untuk bisa memanaskan besi yang menancap ini agar kita bisa memotongnya menjadi lebih pendek namun tetap mengusahakannya agar tidak mengalami pendarahan parah!" Jelas pak Hadi mulai mengeluarkan alat pemotong kecil dari dalam tasnya. "Aliran listrik disekitar sini sedang dimatikan karena kebakaran tersebut! Apa yang harus kita lakukan??" tanya Karin melihat daerah sekitar mereka yang tidak terdapat Aliran listrik karena pemadaman. "Aku akan membuat alatnya menggunakan peralatan yang terdapat dilab fisika! Kalian tidak perlu mengkhawatirkan itu,," Terang Adith segera melangkah untuk menuju ke lab namun tiba-tiba saja Alisya berdiri tepat dibelakang Adith memegang pisau bedah yang akan digunakan oleh pak Hadi. Alisya yang berdiri dengan mata tertutup itu dengan pasti membelokkan sebuah peluru menggunakan pisau bedah pak Hadi dengan memanfaatkan kelenturan dari pisau sehingga dengan sangat Ahli dia mampu membelokkan peluru tersebut. Sembari terus mempertajam pendengarannya Alisya mampu menemukan keberadaan seseorang yang akan menembak mereka untuk yang kedua kalinya namun dengan menarik nafas penuh Alisya mengambil ancang-ancang dan melempar pisaunya ke atas gedung sekolah. Adith tak pernah merasa begitu takut sebelumnya sejak kejadian terakhir kali saat dia mengalami penculikan, namun kali ini hidungnya yang tidak pernah mencium bau apapun dari tubuh Alisya dan bahkan selalu mencium aroma yang sangat disukainya pada Alisya kini mencium aroma membunuh yang sangat kuat yang mampu membuat hidungnya sakit dan lehernya tercekat. Aura membunuh Alisya didasarkan akan amarah yang sangat besar dan ingin melindungi, selain itu bau membunuh yang justru sangat menganggunya berasal dari atap gedung dengan aura membunuh Alisya yang mengarah ke atap sana. "Sial!!! kita hampir saja kecolongan.. tak ku sangka secepat ini mereka akan menemukan Alisya!" Ayah Alisya sudah berdiri tegap kembali yang sebelumnya memukul tunduk Riyan dan Zein saat terjadinya tembakan yang pertama sedang mereka baru saja turun dari mobil Van pak Hadi. "Apa yang sedang terjadi?" Riyan melihat ke arah gedung dan tampak seseorang memegang bahunya melompat dari satu gedung kegedung yang lain. "Bagaimana mungkin dia masih bisa bangkit dengan kondisi tubuh seperti itu?" Zein takjub melihat Alisya yang masih memusatkan kewaspadaanya meski dalam keadaan setengah sadar. "Itu karena Alisya sudah terbiasa dalam memakai instignya terhadap situasi dimana ia mampu merasakan bahaya terlebih ketika akhirnya dia mampu meningkatkan kemampuan dan kesensitifan pendengarannya!" Ucap Karan bangkit setelah melindungi Adora dan Karin. "Meski Alisya tak menyadarinya, alam bawah sadarnya sekarang sepenuhnya dalam mode waspada sekaligus membunuh. Sehingga dia mampu merasakan aura membunuh seseorang yang juga mungkin... " pak Hadi juga bangkit perlahan dengan tangan yang berada di atas kepala Rinto dan Yogi yang dengan cepat membuat mereka tertunduk untuk berlindung. "Membuat Alisya mampu mendengar detak jatung dari orang yang akan membunuh tersebut!!!" tegas Karin melihat Alisya yang masih berdiri goyah dengan mata tertutup dan berlumuran darah. Chapter 144 - Membangunkan Iblis "Apa yang baru saja terjadi??? aku tidak mengingat apapun tapi begitu sadar aku sudah berada dibawah dan terbaring menelungkup!!!" tanya Adora bingung terhadap kejadian yang baru saja dia alami. Kejadian penembakan itu sangat cepat namun sebanding dengan respon kewaspadaan dari Keluarga Karan serta ayah Alisya. Terlebih dengan Alisya yang dengan kondisi parahpun masih bisa merasakan adanya bahaya. "Gerakan mereka sangat cepat dan halus sehingga kita tak menyadari apa yang baru saja terjadi" Jelas Rinto menganalisis kejadian yang baru di alaminya. Adith yang sedari tadi berdiam diri kini sudah berdiri menghadap tubub Alisya yang sedang membelakanginya. Adith masih kaku mengamati Alisya dihadapannya yang sedang dalam mode membunuh namun entah kenapa Adith merasa aura itu tidak ditunjukkan kepada mereka dan aura itu penuh dengan perlindungan yang tetap saja tetap membuat Adith bergetar selama merasakannya saat ia membelakangi Alisya sebelumnya. "Bahkan dengan keadaan seperti itu kau secara tak sadar akan berusaha melindungi orang lain terlepas dari siapapun orang itu. Aku selalu saja dilindungi olehmu!!!" suara Adith lirih menyesali dirinya yang tak punya kekuatan apapun untuk melindungi Alisya. "Alisya memiliki pendengaran yang sangat sensitif sehingga Sepertinya Alisya sudah mengenali kalian satu persatu dalam hatinya dengan menandai ritme jantung kalian masing-masing yang membuat alam bawah sadarnya menanamkan alaram perlindungan penuh." Jelas Ayah Alisya secara perlahan mulai mendekati Alisya namun merasarakan aura lain Alisya bergerak dengan penuh waspada. Melihat itu Adith perlahan mendekati Alisya dan mendekapnya. Alisya yang awalnya sudah menancapkan tangannya ke batang leher Adith secara perlahan mendengar ritme jantung Adith yang penuh kehangatan dan juga bercampur dengan kesedihan mulai melemas tenang. Tangannya kemudian ia jatuhkan dari leher Adith mengarah ke dada Adith tepat dimana ritme yang menenangkan itu mengusik telinganya. Dengan mata tertutup dan tak sadarkan diri secara perlahan mampu menggapai alam bawah sadarnya yang kemudian dirasakan oleh Adith bahwa aura membunuh yang dikeluarkan oleh Alisya perlahan-lahan mulai menghilang. "Mereka yang sengaja untuk memberikan peringatan kepada Alisya ternyata sekarang sedang membangunkan Iblis dalam dirinya!" Ayah Alisya menatap dengan penuh rasa sedih yang mendalam. "Apakah karena ini Alisya mampu lolos dari black Falcon dan mendapatkan julukan Alpha?" tanya Karan dengan tatapan serius ke ayah Alisya yang hanya dibalas anggukan. "Alisya mendapatkan banyak luka-luka karena ia memilih melindungi banyak orang. jika saja bukan karena kecerobohan seseorang maka ini takkan mungkin bisa terjadi. Alisya mungkin takkan mengalami luka separah ini" Karin tertunduk dalam kekesalan akan dirinya yang selalu saja berada dibawah Alisya dan selalu saja menjadi orang yang terus dilindungi oleh Alisya sedang dia dengan bangga berkata ingin melindungi Alisya namun selalu saja terjadi sebaliknya. Melihat wajah murung Karin Ayahnya menghampirinya da mengelus lembut kepala Karin. "Kau sudah melindungi teman-temanmu dengan sangat baik! Ayah yakin kalau Alisya sudah menganggap kamu juga melindungi teman-temanmu menggantikan dirinya!" Tatapan pak Hadi membuat setitik sinar dihati Karin yang kelam. "Alisya akan sangat berterima kasih ketika kamu melindungi yang lain dibanding harus mementingkan ego mengorbankan yang lain untuk melindunginya!" Karan menepuk kepala Karin untuk menyemangatinya. Alisya yang perlahan-lahan jatuh melemas karena pelukan Adith dengan cepat Karan dan pak Hadi menariknya masuk kedalam Van dan melakukan operasi pada besi yang menancap di dada Alisya. Semua orang menunggu dengan penuh rasa khawatir yang sangat tinggi dan masih belum dapat menghilangkan rasa takutnya. ***** "Quenbyku sayang, ingatlah satu hal! Kau memiliki kemampuan melebihi semua anak seusiamu. Mungkin saat ini kamu akan membenci ayah dan kakekmu karena telah memberikan pelatihan yang sangat keras terhadapmu, tapi ibu yakin suatu saat nanti kemampuanmu akan sangat berguna untuk melindungi seseorang termasuk orang-orang yang sangat kamu cintai!" Ibu Alisya memeluk hangat tubuh Alisya yang masih dibasahi oleh peluh karena latihan keras yang tengah dijalaninya. "Apa itu artinya aku juga bisa melindungi ibu???" tanya Alisya polos dengan tatapan yang mampu melelahkan siapaun yang melihat tatapan polos itu. "Tentu saja!!! jika kamu terus berusaha menjadi kuat maka bukan hanya ibu yang bisa kamu lindungi, kamu bisa melindungi siapapun yang ingin kamu lindungi dalam hidupmu" senyum ibunya dengan penuh rasa kasih sayang. "Tapi ingat!!! kekuatan yang kamu miliki adalah untuk melindungi bukan untuk membunuh ataupun menyalahgunakannya, okeh??? dan misi kamu saat ini adalah menjalankan perintah untuk melindungi mereka yang kau cintai." Ibu Alisya menaikkan jari kelingkingnya memohon janji Alisya. "Iya, Ali janji!!! Ali akan menjalankan misi dengan sangat baik dan membuatmu bangga ma!!!" senyum Alisya melingkarkan kelingkingnya ke kelingking ibunya. Kelingking imut Alisya hampir tidak mampu melingkari jari ibunya yang lebih besar sehingga ibu Alisya tertawa gemas. **** "Kau sudah melakukannya dengan baik, kamu sudah melindungi teman-temanmu dengan sangat baik!" Ibu Alisya membelai rambut Alisya lembut di pangkuannya. "Tapi waktu itu aku tak bisa melindungi mama, aku bahkan tak cukup kuat untuk melindungi mama, aku..." Alisya menangis tersedu-sedu dipangkuan ibunya. "Alisya... lihatlah senyum mereka yang berhasil kau lindungi, mereka sekarang bisa hidup karena perlidungan darimu. Seseorang akan semakin bertambah kuat jika memiliki seseorang untuk di lindungi" Wajah Adith serta teman-temannya terlintas dalam bayangan saat ibunya melirik kearah seseorang. "Tapi ma aku,,," Alisya bangun dari pangkuan ibunya menatap dengan penuh kesedihan. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri terhadap apa yang sudah terjadi. Mama tau kau bisa melindungi mama, tapi diatas semua itu orang tualah yang punya tanggung jawab lebih untuk melindungi anaknya. Untuk itu jangan pernah sesali apa yang sudah mama lakukan, karena mama sangat bahagia saat mampu melindungimu! Dan sekarang..." ibu Alisya membantu Alisya bangkit dengan memegang bahunya lembut. "Pergilah karena ini bukan waktunya untukmu berada disini. Kau punya banyak orang yang harus kau lindungi, dan mereka sudah menunggumu dengan penuh rasa khawatir" Adith sudah berdiri menghadap kearah Alisya mengulurkan tangannya. Hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Karin dan teman-temanya, Karan, Nenek, kakek juga ayahnya serta semua orang yang dicintainya menjulurkan tangan mengharap kedatangan Alisya. "Aku mencintaimu ibu!!! aku sangat mencintaimu, aku sangat mencintaimu, sangat sangat sangat mencintaimu!!!" Alisya mengatakannya berkali-kali sampai nafasnya hampir habis dan suaranya serak. "Pergilah dan tunaikan misimu dengan baik! ingat kau sudah berjanji pada ibu. Ibu bangga padamu Quenbyku sayang...." ibu Alisya melepaskan gengaman tangannya dengan lembut dan mendorong Alisya kearah teman-temannya dengan senyuman hangat yang kemudian membuat Alisya memberanikan diri dan menyambut uluran tangan Adith. Chapter 145 - Kusam dan Jelek Satu Bulan Kemudian "Kau mau kemana Dith? mama barusan dapat telpon kalau Alisya sudah sadarkan diri!" Ibu Adith menghentikan Adith yang sudah bersiap akan pergi. Adith yang tidak pernah lagi kembali menjenguk Alisya sejak dia masuk rumah sakit sebulan yang lalu membuat ibutnya khawatir terhadap Adith terlebih karena ekspresi wajah Adith terlihat kelam setiap harinya. "Maaf ma, Adith punya urusan lain!" jawab Adith mengecup kening ibunya sebelum mengikat sepatunya meninggalkan rumah. "Bukankah kamu selalu menunggu Alisya sadarkan diri? sudah sebulan berlalu sejak dia tak sadarkan diri dirumah sakit karena pendarahan serta tekanan yang dialaminya waktu itu. Mama tau kamu selalu menyalahkan dirimu karena kejadian itu, tapi Alisya sangat menginginkan kehadiranmu saat ini" Kalimat yang dilontarkan oleh ibunya sejenak menggerakkan hati Adith. Namun saat ini Adith belum memiliki cukup keberanian untuk melihat wajah Alisya. "Kamu yakin tidak ingin pergi melihat Alisya?" Ayah Adith bertanya sekali lagi untuk memastikam keputusan Adith. Tanpa menjawab pertanyaan ayahnya, Adith berbalik dan tersenyum menyalami keduanya. "Adith pergi dulu yah, mama sama bapak jangan lupa makan! Adith akan pulang cukup larut jadi tidak usah menunggu Adith!" Ucapnya sambil berlalu pergi memakai motornya yang sudah terparkir rapi didepan pintu gerbang rumahnya. Adith memacu motor besarnya dengan sangat laju membelah keramaian kota yang semakin memadat disore hari karena semua orang yang berlomba-lomba ingin kembali kerumah setelah lelah dengan segala aktivitasnya seharian. Fikiran Adith terus melayang kepada kejadian dimana Alisya yang terluka parah mampu menyembunyikan rasa sakitnya dan terus masih saja menyelamatkannya dan melindungi dirinya sedangkan dirinya hanya terdiam melihat seluruh kejadian itu tanpa berbuat apa-apa. "Sial!!!! apa setidak berguna itu diriku sampai kau harus melindungiku?" Adith memukul setir motornya dengan sangat keras sampai menimbulkan sedikit rasa keram ditangannya karena lebam. Adith terus saja memikirkan bagaimana ia selalu dilindungi oleh Alisya sejak ia kecil hingga saat ini dimana seharusnya ia telah mampu melindungi Alisya. Ibu Adith menatap anaknya pergi dengan perasaan khawatir juga sedih. Punggung Adith sudah menghilang dari pandangannya namun ia masih belum beranjak dari tempatnya berdiri melihat anaknya pergi. "Jangan khawatir, Adith anak yang kuat! Dan dia tau akan apa yang harus dia lakukan. Kita sebagai orang tua harus memberikan sedikit ruang baginya dan terus mendukungnya dengan sepenuh hati terlebih dengan keadaan yang seperti ini" Ayah Adith memeluk pundak istrinya dan menuntunnya masuk kedalam rumah. "Iya pa,, Maaf karena sudah buat papa khawatir, maaf juga saya jadi kurang memperhatikan papa karena selalu sibuk merawat Alisya!" Terangnya dengan senyuman yang lembut. Ibu Adith yang mengetahui bagaimana usaha Alisya sewaktu melindungi Adith membutnya tak pernah bergeser dari ranjang Alisya karena rasa syukur serta takut akan kehilangannya lagi. Alisya sudah masuk menjadi bagian dari hati Ibu Adith sehingga ia merawat Alisya seperti anaknya sendiri. "Saya tau kamu begitu mencintai Alisya dan sangat menyayanginya. Tapi ingat kondisimu juga, Alisya pasti takkan senang jika mengetahui kamu terlalu memperhatikannya sampai-sampai melupakan dirimu sendiri." Ayah Adith mengambilkan segelas air minum kepada istrinya. Hari itu ia meliburkan diri dari pekerjaan kantor untuk mengurus istrinya yang kelelahan karena kurang tidur selama menjaga Alisya dirumah Sakit. "Tapi seandainya kemarin saya tidak pulang, hari ini mungkin saya bisa berada disana saat Alisya sadarkan diri." Ibu Adith kembali berbicara setelah meneguk segelas air putih sampai ludes untuk menenangkan diri. "Kamu kan bisa melihatnya hari ini, sekarang mandilah terlebih dahulu agar Alisya senang melihatmu dalam keadaan segar. Bukan 5 L seperti sekarang ini!!!" tawa Ayah Adith melihat wajah kusam istrinya yang biasanya terlihat selalu cantik dan bersih. Keadaan ibu Adith sangat dipahami suaminya karena kekhawatiran seorang ibu kepada anaknya kadang membuatnya tidak mengurus diri dan hanya mementingkan anaknya saja. **** Alisya tengah terduduk setengah bersandar memandang kearah jendela saat Ibu Adith masuk kedalam ruangannya. Alisya yang semula berada diruang yang penuh dengan peralatan yang membantunya melewati masa kritisnya kini telah berada diruang yang lebih nyaman dan luas dengan hanya selang infus yang masih melekat ditangannya. "Kamu sendirian? tidak ada yang menjagamu?" ibu Adith menyerbu masuk saat melihat tak ada satupun orang yang berada diruangan tersebut sembari meletakkan bunga dan buah yang ia bawa. "Tante, Om,!!!" Alisya langsung memperbaiki posisinya ketika melihat Ayah dan Ibu Adith masuk menghampirinya. Ia bermaksud untuk menyalami keduanya namun dihentikan oleh Ayah Adith dengan suaranya yang berat dan wibawa. "Kau sudah terlihat lebih segar sekarang!!! Tidak usah memaksakan diri, duduklah dengan nyaman." Sapa Ayah Adith dengan penuh senyuman khas seorang ayah. "Iya om terimakasih, tadi ada Ayah bersama nenek disini tapi mereka semua Alisya suruh keluar karena wajah mereka kusam dan jelek! Butuh usaha sih untuk membuat mereka segera pergi membersihkan diri,,," Alisya tertawa cekikikan melihat ekspresi Ayah dan neneknya sewaktu Alisya baru saja sadar dan langsung mengomentari wajah Ayah dan neneknya. "Kita bisa sehati yah? Om juga tadi langsung mengomentari wajah Ibu Adith karena terlihat kusam dan jelek!" senyum Ayah Adith dengan mengerling nakal kearah Alisya yang disambut tawa cekikikan Alisya yang tak menyangka kalau Ayah Adith yang berkesan tegas penuh wibawa ternyata bisa juga bercanda dengan baik. "hahahahaha, bagus Om!!! Om memang mantuuull" Alisya menaikkan jempolnya dengan senyuman lebar yang mengukir di wajahnya yang pasih. "Plakkk... anak ini, sudah sebulan baru sadar kau hanya bisa mengatakan itu??? apa kau tidak tau kalau kami sangat mengkhawatirkan dirimu??" Ibu Adith memukul Alisya pelan karena kesal melihat wajah sumringah Alisya yang tampak seolah tak terluka parah dan tak pernah mengalami kejadian mengerikan sebelumnya. "Tante,, orang lagi sakit masa dipukul sih.. harusnya kan dimanja-manjain begituhh" seru Alisya protes mengelus bahunya yang tak merasakan sakit namun sengaja berakting manja untuk menarik perhatian ibu Adith. "Ohh... jadi kamu bisa merasakan sakit yah??? sini tante tambahin lagi biar kamu tau gimana rasanya sakit!!! ini rasain yang ini, ini juga, ini lagi..." ibu Adith menghujani Alisya dengan banyak cubitan-cubitan lembut yang membuat Alisya tertawa karena geli. Melihat ekspresi wajah istrinya yang terlihat bahagia dan tertawa membuat ayah Adith pun ikut tertawa karenanya. Rasa syukur didalam hatinya tak pernah habis karena Alisya telah membawa sebuah sinar di kehidupan mereka dan keselamatan Alisya adalah sebuah keajaiban yang tak pernah disangkanya. Chapter 146 - Dadamu Bisa Tumpah "Bolehkah kami masuk???" Adora setengah mengintip kedalam ruangan Alisya. "Masuklah!" Seru ibu Adith menggeser posisinya ke arah Sofa dekat ayah Adith mengambil bunga dan mengaturnya di pot. "Kau sudah sadar?" suara Adora setengah tercekat mengkhawatirkan Alisya yang masih tampak pasih. "Aku baik-baik saja! Maaf sudah membuatmu khawatir. Bagaimana keadaan teman-teman yang lain? apakah mereka baik-baik saja?" tatapan lembut Alisya membuat Adora meluluh seketika. "Mereka tidak mengalami luka yang cukup berat. mereka sebentar lagi akan mun... cul" belum selesai Adora berkata Karin sudah muncul bersama yang lainnya memenuhi ruangan yang sebelumnya tampak luas kini dipenuhi oleh banyak orang. "Hentikan wajah sumringah mu itu. Kau membuatku kesal melihat wajah tak berdosa mu itu!!!" Kalimat kejam Karin seketika memurungkan Alisya. "Aku kan senang melihat kalian datang menjengukku, aku bosan sedari pagi sendirian dikamar!" Sungut Alisya menundukkan pandanganya tampak terluka dengan kata-kata Karin. Adora dan yang lainnya tersenyum melihat interaksi akrab kedua orang bersahabat tersebut. "Kau tidak perlu menundukkan wajah berakting untuk mengambil simpati kami, kamu tidak akan lagi bisa membohongi kami dengan wajah mu ini" Karin memegang kedua pipi Alisya dengan penuh gemas dan berkata dengan menggertakkan giginya kesal. Karin membuat wajah Alisya terlihat monyong seperti apa yang biasanya Alisya lakukan kepadanya ketika gemas. "Kau Syudah syukup beyani yah??? (Kau sudah cukup berani)" Alisya kemudian mengambil wajah Karin dan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Karin pada Wajahnya. "Bagaimana keadaanmu? sepertinya kau sudah cukup segar sampai bisa bercanda seperti itu." Zein masuk ditemani Riyan menerobos diantara Rinto dan Yogi. Karin dan Alisya yang masih menjepit pipi satu sama lain menoleh dengan tatapan sipit yang aneh. "Buakakakka, aaakakakkakaa,, ahahaahaaha" Riyan tak sanggup melihat wajah konyol Karin dan Alisya sehingga dengan cepat tertawa penuh desah dan besar. Mereka yang tadinya masih sedikit takut untuk tertawa mengingat kondisi Alisya yang baru tersadar setelah kritis selama sebulan mau tidak mau meledak seketika saat melihat wajah Alisya dan Karin yang terlihat memonyongkan kedua bibirnya karena jepitan kedua tangan mereka dan mata yang memyipit karena tekananya. Karin dan Alisya melepas kedua tangan mereka dan berpandangan lalu tersenyum puas. "Aku lebih suka kalau kalian datang dengan wajah tertawa seperti itu dibanding kalian muncul dengan wajah yang muram. Lagi pula kita kan tidak sedang berduka!" Alisya memandang hangat kesemua teman-temannya. "Benar,, aku cukup frustasi melihat wajah suram kalian setiap hari disekolah!" sambung Karin merasa berhasil mengembalikan ekspresi wajah ceria teman-temannya. "Tapi, Alisya terluka parah dan harus kritis selama sebulan karena melindungi kami!" Emi kembali murung mengingat kejadian yang lalu. "Kalau bukan karena kami, kamu mungkin tidak akan mendapatkan luka separah itu!" tambah Feby menundukkan kepalanya penuh penyesalan. "Bahkan nyawamu hampir melayang karena kami" lanjut Adora tampak mulai menitikkan air mata mengingat Alisya yang lebih mementingkan orang lain dibanding dirinya sendiri. "Kalau saja kami bisa lebih mampu melindungi diri sendiri,,,," Rinto menambahkan dengan wajah serius. "Kami tentu tidak akan menghambatmu dan membebanimu saat itu!!!" Yogi juga larut dalam kenangan mereka sebulan yang lalu. Ayah dan ibu Adith yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya bisa tersenyum melihat mereka. Tidak bisa dipungkiri, mereka yang masih muda sudah menghadapi kejadian yang cukup memilukan yang bisa saja membuat mereka cukup trauma karenanya. "Kalian hanya akan membuat Alisya semakin terbebani jika berkata seperti itu!" Ibu Adith berdiri dari tempat duduknya menaruh pot bunga yang sudah cantik dan rapi ke meja dekat ranjang Alisya. "aaaaaah... apa yang aku lakukan bukannya mendapat ucapan terimakasih ternyata malah dapat rasa penyesalan!!" Alisya membanting dirinya ke atas kasur mendengar semua ucapan teman-teman mereka. "Tante benar, sekarang yang harus kalian lakukan adalah bagaimana kalian lebih semangat dan kompak lagi, bukan hanya tentang bagaimana melindungi diri sendiri ataupun orang lain tapi bagimana kalian bekerja sama dalam menyelesaikan masalah dan melewatinya. Apa yang sudah terjadi jadikan pelajaran dan jangan pernah tenggelam dalam penyesalan yang tak ada artinya. Om yakin kejadian itu akan membuat kalian lebih dewasa lagi dalam bertindak dan bepikir." Ayah Adith mengelus kepala Adora dengan lembut untuk menasehati mereka. "Selain itu, apa yang sudah kalian lakukan dan yang Alisya lakukan sudah merupakan jalan yang terbaik untuk semuanya. Kalian tidak perlu mengingat kejadian itu dari sisi buruknya saja!!!" tambah Ibu Adith dengan penuh senyuman. "Lagi pula, Alisya akan sangat bahagia jika kalian selamat dan tetap ceria seperti biasanya!" Ayah Alisya masuk kedalam ruangan dan menaruh tas yang berisi pakaian ganti Alisya. "Aliisyaaaah.... Queeennby ku Shaayaaangg...." seorang wanita dewasa menerobosa masuk dengan teriakan yang sangat heboh. Alisya bangkit dengan wajah yang terkejut bukan main. "Hati-hati, nanti dadamu bisa tumpah!!!" Teriak Alisya mengingatkan wanita itu yang berlari sangat semangat dengan dada besarnya yang bergoyang kiri dan kanan. Tak mendengar peringatan Alisya, ia dengan cepat memeluk Alisya dengan sangat erat. "Kamu sudah sadar? kamu baik-baik saja kan?? tante Loly sangat menghawatirkanmu... hik, hik, hik, tante kaget ketika mendengar kamu kritis selama sebulan dan ayah kamu baru memberitahukannya kepadaku kemarin sehingga tante Loly baru sempat datang hari ini, maafkan tante yah...." Tante Alisya memeluk sangat erta Alisya dengan menenggelamkan seluruh wajah didadanya. Alisya memberontak dengan sangat kuat mendorong pelan tubuh tantenya agar tidak terjatuh. "Pppuhaaahh.... tante mau membunuhku lagi???" Alisya mengambil nafas dalam karena hampir saja kehabisan oksigen karena pelukan erat tantenya. "Bagus tante,,, lakukan saja lagi!!! Besi yang menancap di dadanya saja sudah tidak membuatnya mati apa lagi jika tante menancapkan kepalanya di dada tante!!!" Karin dengan penuh kesal menyuruh tante Alisya melakukannya sekali lagi sedang Alisya uring-uringan menghindari keagresifan tantenya. "Loly, Alisya belum benar-benar pulih, kau bisa membunuhnya jika mendekapnya seperti itu! Jangan dulu mengajaknya bermain, dan ingat dengan umurmu itu! apa kau tidak malu disini banyak teman-teman Alisya???" Suara ayah Alisya menghentikan tante Loly yang masih memeluk Alisya dengan sangat kuat karena rindunya. "Kakak terlalu dingin, dulu kau bahkan tak peduli dengan kondisi Alisya. Lagi pula aku yakin Alisya juga sangat merindukan aku. Benar kan???" Tanya tante Loly menghadap wajah Alisya dengan penuh manja. Bukannya menjawab pertanyaan tante Loly, perut Alisya berbunyi dengan sangat keras membuat semua orang terkejut mendengarnya. Mereka akhirnya tertawa dengan sangat keras memenuhi ruanga rumah sakit yang ditempati oleh Alisya. Chapter 147 - Makanan Tradisional Jakarta Nenek dan kakek Alisya masuk di ikuti oleh Beni dan sikembar yang membantu mengangkatkan barang yang dibawa oleh nenek Alisya. "Sudah kuduga kalau kalian akan berkumpul disini dan bukannya pulang kerumah terlebih dahulu. Untunglah saya menghubungi Karin dan dia sudah menginformasikan kepadaku sebelumnya sehingga aku bisa bersiap-siap kalau kalian sudah berkumpul disini!" nenek Alisya mendekati Alisya dan mengelus lembut rambutnya tanpa mengatakan apapun. "Kami membawakan makanan kesukaanmu, Bubur Ase dengan banyak toping daging diatasnya!!!" Kakek Alisya tersenyum mengangkat tinggi kotak makanan yang ditunjukkan untuk Alisya. "Ini kami harus taruh dimana nek? berat sekali..hhh" Beni dan sikembar mendesah kuat karena tangan mereka yang penuh akan barang-barang!. "Letakkan saja dibawah, yang lainnya kok belum sampai?" Neneknya mengarah ke pintu menanti kedatangan seseorang. "Kau membawa terlalu banyak barang, sampai sampai orang yang berada dirumah sakit mengira kau akan melaksanakan piknik disini!" Kakek Alisya menggeleng dengan apa yang dipikirkan oleh istrinya dengan membawa banyak barang. "Nekk... ini serius mau di taroh dimana???" Aurelia masuk membawa tikar tergulung yang cukup tebal dilanjutkan dengan diujung lain Akiko membopong tikar yang sama dengan wajah menggelap. Zein dan Riyan langsung mengambil Tikar yang berada di tangan Aurelia dan Akiko. "Maafkan aku, tapi ini jauh lebih berat dari yang aku duga!!!" Ryu masuk dengan mengangkat Termos Jumbo yang sangat besar beserta dengan Galon berkeran disebelah kirinya. Rinto dan Yogi dengan cepat membantunya menurunkan barang tersebut dibawah. "Aku seperti merasa dihukum karena terlambat!!! kenapa aku tidak ikut bersama kalian saja tadi???" Aurelia menangis tersedu membuat para wanita kasihan dan tertawa melihatnya. "Apa kalian sedang melakukan pindah rumah??? ya ampun nek,,, bagaimana nenek menyuruh para wanita dengan otot ber air seperti itu mengangkat tikar setebal itu? lagi pula untuk apa semuanya dibawa kesini???" Alisya shock dengan semua barang yang tak berhenti masuk kedalam kamarnya. Kamarnya seketika hampir saja sesak dengan semua barang bawaan neneknya. "Karena kau yang tertidur nyenyak sampai sebulan, mereka semua tidak bisa makan dengan enak! untuk itulah nenek menyiapkan semua ini agar semuanya bisa makan dengan enak bersama!!!" neneknya segera menyiapkan makanan di atas meja yang sudah terdapat didalam ruangan Alisya setelah membentangkan karpet tebal yang di bawahnya dibantu oleh para pria. "Sepertinya nenekmu sangat berniat untuk piknik!!!" tante Loly dengan semangat membantu nenek Alisya ditemani ibu Adith. Alisya hanya memperhatikan mereka yang tengah sibuk menyiapkan meja makanan dan juga minuman dingin yang segar yang baunya segera membuat perut semua orang yang berada disana berbunyi sahut-sahutan. Menu makanan yang dibawa oleh nenek Alisya selain ada Nasi putih, neneknya membawa Nasi Ulam, Gado-Gado dengan lauk Soto Tangkar, Gabus pucung, Sayur Besan, Sayur Bening Kelor, Tumis Kangkung dan Rendang ditambah dengan beberapa jenis kue seperti Cucur, Kue Pancung, Kembang Goyang, Kue Cincin, Onde-onde, dan juga es doger. Beberapa jenis makanan yang dibawa oleh nenek Alisya merupakan makanan tradisional khas jakarta kesukaan Alisya. "Apa yang kalian tunggu?? makanlah!!!" seru nenek Alisya. "Bukk bukkk plakkk!! kamu baru sadar jadi makan saja Bubur Ase ini" nenek Alisya dengan cepat memukul tangan Alisya sewaktu dia berusaha memgambil beberapa makanan yang lain. "Sudah kuduga kalau kalian semua pasti berada disini, tapi tak ku sangka aku hampir ketinggalan acara syukuran ini" Karan masuk bersama Ayahnya dengan tatapan yang lapar. "Kemarilah pak Hadi, biarkan yang muda melantai disitu!" Ajak ayah Alisya dengan senyuman yang cerah di sofa bersama Kakek Alisya, Loly, serta Ayah dan Ibu Adith. Melihat Karan nenek Alisya dengan cepat mengambilkan makanan untuk Karan yang sebelumnya sudah ia pisahkan. "Apakah Adith tidak akan datang???" nenek Alisya bertanya setelah memberikan Karan makanananya. Alisya sedikit tersedak mendengar pertanyaan neneknya. "Umm... mungkin sebentar akan datang, dia lagi ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan!" Jawab ibu Adith dengan sedikit rasa canggung. "Minumlah, aku tau sedari tadi matamu berkeliling mencari Adith!" Seru Karin memberikan minuman kepada Alisya dengan senyuman nakal. Mengalihkan pandangannya, Alisya langsung mengarah tajam kepada Akiko dan Ryu yang berada disana. "Apa yang terjadi? kenapa kalian bisa berada disini?" tanya Alisya dalam bahasa jepang kepada keduanya yang dengan asyik duduk makan bersama yang lainnya. "Akiko dan Ryu sudah pindah kesekolah kita! Ryu sekelas dengan kita sedangkan Akiko junior kita!" ucap Adora dengan mulutnya yang penuh. "Sebulan yang lalu ternyata mereka sudah mengajukan pindah dan baru 2 minggu kemarin mereka masuk setelah selesai mengurus berkas-berkas mereka!" tambah Rinto yang dengan cepat mengambil lauk berdaging. "Aku merasa sangat akrab bersama kalian makanya aku langsung pindah ke Indonesia dan segera masuk kesekolah kalian!" Terang Akiko menggunakan Indonesia yang berlogat jepang dengan suara imutnya. "Dan aku harus ikut ditarik oleh Akiko karena ia takut tidak bisa menyesuaikan diri disini" tambah Ryu yang dengan semangat menyantap satu persatu makanan yang ada seolah mereka sedang berlomba. "Tak kusangka bahasa Indonesia kalian sudah bekembang pesat. Bahkan Ryu sudah tidak terdengar logat jepangnya lagi!" Alisya menatap kagum ke arah Ryu dan Akiko yang semakin fasih berbahasa Indonesia dalam waktu yang singkat. "Ah.. Maca!!!!" seru Akiko dengan tatapan senang. "Ah masa!!!" seru semuanya membenarkam bahasa Akiko. "Hue serius Amir belajar bahasa Indonesia!!!" seru Akiko lagi. "Gue serius amat!!!" seru mereka kompak membenarkan ucapan Akiko lagi. "Bahasa indonesia aku makin anjay kan???" seru Akiko lagi merasa senang karena berhasil berbahasa Indonesia dengan baik. "Keren!!!" sambung yang lainnya tak kalah kompak membenarkan namun terus makan seolah sudah terbiasa dengan kesalahan bahasa yang dilakukan Akiko. "Siapa yang mengajarimu menggunakan bahasa itu??" tanya Karan dengan tertawa kecil. "Si kampret Karin!!!" seru Akiko dengan penuh rasa bangga. Suara lantang Akiko langsung saja membuat batuk ayah Karin, Karan, Alisya serta Karin sendiri. "Senjata makan tuan nih!!!" seru tante Loly dengan pandangan menggoda kearah Karin. Semua teman-temanya tertawa puas akibat ulah Karin yang mendapat balasannya. Sedangkan Ayah Karin melempar Karin dengan buah yang dia tangkap dengan lihai. Akiko hanya terbengong-bengong tak tau apa yang sedang mereka tertawakan sedangkan Karan terlihat gemas kepada Akiko yang tampak polos dengan tatapan bingungnya itu. Malam itu berlalu dengan penuh canda tawa dan perut yang kenyang. Kelelahan serta kesedihan mereka serasa menguap dengan cepat dan tak meninggalkan bekas. Chapter 148 - Pura-pura Tidur Didepan pintu ruang kamar Alisya dirawat, Adith hanya berdiri tak tau apa yang harus dilakukannya. Meski ia sangat marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi Alisya yang membuatnya tak mampu menunjukkan mukanya kepada Alisya namun rasa rindunya seolah tak bisa terbendung lagi. Adith membelakang dan menyenderkan kepalanya tak mampu mengambil keputusan untuk masuk. Kamar Alisya sudah tampak gelap karena semua orang sudah pulang dan hanya nenek Alisya saja yang tak sengaja bertemu didepan lobbi yang kemudian menitipkan Alisya kepadanya karena ia harus mengambil beberapa keperluan Alisya untuk kepulangannya besok sebab Alisya sudah diperbolehkan pulang. Tepat saat Adith menyandarkan kepalanya dipintu, Alisya langsung membuka alat peredamnya dan memusatkan pendengarannya kearah pintu. Ia mengenali ritme jantung seseorang yang berada dibalik pintu tersebut. Mendengar ritme jantung yang ragu-ragu itu Alisya terpikir sebaiknya ia berpura-pura untuk tidur saja. "Srttt,,," Adith membuka pelan pintu geser ruangan Alisya dengan sangat pelan agar tidak membangunkannya sampai Adith harus mencicilnya saat membukanya. Alisya tertawa dengan tingkah Adith yang mencicil membuka pintu itu sedang tiap kali ia menggesernya pelan, tetap saja bunyi gesekan itu terdengar. "Dasar bodoh!!!" maki Alisya dalam hatinya. Ia tertidur menghadap ke arah Adith agar bisa mendengarkan ritme jantungnya lebih akurat lagi saat Adith mencoba mendekatinya. Alisya sengaja memasang longgar peredamnya sehingga Adith mengira kalau ia sedang tertidur lelap saat itu. "Wajahmu terlihat lebih segar sekarang, sepertinya mereka memberikanmu makan dengan baik" Adith tersenyum saat melihat wajah tersenyum Alisya yang memeluk erat bantal yang sebelumnya dibawa oleh nenek Alisya. Wajah Alisya terkena sinar cahaya lampu remang-remang terlihat damai dan tenang. "Aku hampir menghabiskan semua makanan yang dibawa oleh nenekku, bahkan tempat makanannya hampir aku gerogoti karena kesal kau tak datang!" jawab Alisya kesal dalam diam dengan terus mempertahakan ekspresi wajahnya. Alisya sengaja berpura-pura tidur untuk bisa mendengarkan apa saja yang mungkin akan disampaikan oleh Adith saat dia mendengar ritme jantungnya yang penuh keraguan. Melihat Alisya yang tertidur lelap Adith mendekatkan langkahnya dan kini duduk dihadapan Alisya memandanginya lekat-lekat dan membelai rambutnya lembut menuju telinga Alisya dan mendekatkan tubuhnya untuk bisa mencium aroma yang selama ini dirindukannya. "Apa yang akan dia lakukan? apa aku harus bangun sekarang? tapi sepertinya akan canggung kalau aku terbangun sekarang! Dasar bodoh kenapa juga aku harus beracting konyol seperti ini" Wajah Alisya sempat mengerut saat Adith telah mencapai dekat leher Alisya namun tetap berusaha menjaga jarak. Jantung Alisya terasa seakan melompat keluar dan menampar Adith yang sedang membutnya panas dingin saat ini. "Kau merupakan candu yang tak bisa aku hindari, tau kah kau bagaimana takutnya aku jika kau tak terbangun? Aku mungkin takkan pernah memaafkan diriku sendiri. Aku terlalu malu untuk menunjukkan wajahku padamu, tapi rasa rinduku padamu adalah candu yang sangat kuat, aku tak sanggup lagi harus menahan rasa untuk tidak datang melihatmu" Adith sengaja bersuara dengan sangat pelan sampai-sampai nadanya seolah selaras dengan detak jantungnya yang beritme cukup pelan sehingga tampak hanya dirinya saja yang mendengarnya. "Adith bodoh, bodoh, bodoh, justru karena dirimu aku berusaha untuk sadarkan diri. Aku tau tiap malam saat tidak ada siapapun yang datang atau hanya tersisa nenek kau selalu menyuruhnya pulang dengan beralasan akan menjagaku meski pada akhirnya nenek selalu melihatmu berada di depan lobi menunggunya, tapi ritme jantungmu yang selalu berada didekatku tiap malam hari seperti saat ini selalu menarik alam bawah sadarku untuk segera bangkit dan sadarkan diri. lalu kenapa pada saat aku sudah sadarkan diri kau malah ingin lari dariku??? Oh ya Ampunn... aku benar-benar ingin bangun dan menghajarmu sekarang!" Alisya memeluk erat bantalnya seolah tak tahan ingin segera membuka matanya, tapi ia tidak menemukan alasan yang tepat untuk dia terbangun. Keringat dingin mulai membasahi wajah dan tubuhnya menahan emosi yang meluap-luap. "Aku sangat mencintaimu Alisya, untuk itulah aku menyalahkan diriku sendiri karena tak bisa melindungimu. Kemapuanmu terlalu berada jauh diatas diriku, namun jika kau berikan aku kesempatan, aku akan berusaha untuk bisa lebih kuat darimu kemudian aku bisa melindungimu dan takkan pernah aku biarkan kamu terluka lagi. Takkan pernah!!!" Adith mencium kening Alisya dengan penuh kelembutan. memandang lekat wajah Alisya yang tampak cantik dan polos membuatnya tak mampu menahan diri. Apa???" Alisya kaget saat keningnya dikecup Adith dengan bibirnya yang hangat dan lembut. Rasa rindunya telah membuatnya begitu frustasi, Adith mendekatkan wajahnya menempatkan bibirnya tepat dihadapan bibir Alisya. "Tunggu sebentar, kenapa aku merasa wajah masih sangat dekat? tunggu, tunggu!!! apa yang akan kamu laku...??" Belum selesai Alisya bergelut dengan fikirannya yang penuh rasa khawatir. Adith yang Menahan nafasnya dan menutup matanya dengan sangat erat lalu tinggal beberapa centi kemudian Adith menempatkan jempolnya diatas bibir Alisya yang hangat dan menciumnya. "Hahhhh??? Jempol lagi??? Ehh?? apa yang kamu pikirkan Alisya, nyebut-nyebut... haram tau!!! Anjrit aku jadi terbawa suasana. Aduh Adith yang ketiga itu setan, bisa gawat kalau aku pura-pura tidur terus nih! pikiranku makin tak terkontrol" Alisya semakin tak mampu mengontrol dirinya saat ini. Adith sudah mendaratkan tangannya dibibirnya membuat Alisya merasakan hembusan nafas Adith menerpa lembut bibirnya yang sudah membuat tubuhnya semakin kepanasan. "Huhhhhh,,, mungkin sebaiknya aku pergi sekarang! Aku sudah tak sanggu menahan pesonamu Sya,,," Adith menggeram keras berusaha menenangkan diri. "Bukan kau, tapi aku yang sudah hampir gila karenamu sekarang!!!" Alisya memaki Adith dengan bengis dalam tidurnya. "Kenapa dengan Aroma tubuhmu?? Aku mencium aroma kegusaran dan kegundahan apa kau sedang mimpi buruk lagi? Bahkan keringatmu semakin banyak saat ini" Adith melihat wajah Alisya yang tampak gusar lalu dengan cepat mengambi tisu dan membersihkan peluh didahi serta leher Alisya. Mendengar pertanyaan Adith, Alisya langsung terdiam yang kemudian membuat jatung serta nafasnya seketika menjadi tenang. Ucapan Adith mengenai Aroma tubuhnya membuatnya terpikir kalau mungkin saja indra penciuman Adith semakin berkembang tepat seperti apa yang terjadi pada pendengarannya. Namun sepertinya Adith belum menyadari hal tersebut yang membuat Alisya sangat ingin mengujinya. Setelah melihat Alisya yang tampak mulai tenang dan kembali terlelap dalam tidurnya, Adith kemudian membereskan tisu yang dipakainya lalu bersiap untuk pergi. "Sampai jumpa lagi" bisik Adith lembut lalu berbalik badan membelakangi Alisya. Tepat saat ia akan menuju ke pintu, ia langsung mencium bau menyengat yang sangat merusak indra penciumannya yang membuatnya merasa sakit. Namun entah kenapa Aura itu lebih teras penuh akan kesedihan bukan aura pekat yang seperti ia rasakan pada orang yang berada diatap sekolah tempo lalu. Tak bergeming, Adith mencoba menenangkan diri dan menganalisa arah datangnya aroma itu. "Aroma membunuh ini??? Alisya???" Adith berbalik dengan cepat begitu mengetahui bahwa aroma itu adalah aura membunuh yang dikeluarkan oleh Alisya. Alisya sudah berada tepat dihadapan Adith sangat dekat yang kemudian memojokkan Adith kepintu sedang Alisya sengaja mendekatkan dirinya untuk bisa mendengarkan detak jatung Adith yang ketakutan. Bukannya mendengar detak jantung yang ketakutan yang harusnya dikeluarkan oleh Adith, Alisya malah mendengar detak jantung penuh waspada dan perlindungan penuh yang hangat serta menenangkan. Chapter 149 - Kau Takut Padaku??? "Sudah ku duga, hidungmu mampu mencium aura yang aku keluarkan!!! Awalnya aku berpikir kalau kau hanya sensitif pada bau parfum saja, tapi ternyata tanpa kamu sadari hidungmu menjadi sangat peka bahkan terhadap bau Aura tubuh seseorang!" Alisya berbisik ditelinga Adith dan tersenyum dengan sangat sinis. Posisi Adith yang sudah terhimpit didinding membuatnya tertekan tak bisa melakukan apa-apa karena Alisya mempersempit jarak antara tubuh mereka yang membuatnya mampu mencium aroma Alisya dengan sangat pekat. "Apa yang kau lakukan???" Adith menutup hidungnya dan jantungnya berdebar tak karuan dengan sangat cepat dan besar. Alisya yang berada cukup dekat dengannya seolah mendengar bunyi dentuman beduk yang dipukul keras tepat sebelum adzan dibunyikan. Mendengar dentuman jantung Adith, Alisya langsung memundurkan langkahnya kebelakang memberikan ruang bagi Adith untuk bernafas nyaman dan membelakangi Adith. "Kau takut padaku???" Senyum Alisya masih sinis namun matanya sarat akan kesedihan. Adith terdiam beberapa saat mendengar apa yang dikatakan oleh Alisya, mustahil baginya tidak takut terhadap aura membunuh yang dikeluarkan oleh Alisya. Sebab aura membunuh yang dikeluarkan oleh Alisya begitu pekat dan sangat kuat. Namun entah bagaimana aura yang dikeluarkannya tak sebusuk dengan aura membunuh seperti yang dikeluarkan oleh seseorang yang ingin membunuhnya di atap tempo lalu. "Iya benar, aku takut kepadamu!" Adith melangkah maju mendekati Alisya yang membelakanginya. Dengan perlahan dia melingkarkan kedua tangannya dibahu Alisya dan mendekapnya erat. Alisya kaget dengan apa yang dilakukan Adith namun tak tahu harus bereaksi seperti apa sehingga ia memilih untuk mencoba menghindar namun Adith semakin mengeratkan lingkaran tangannya. Dagu Adith kini bersandar di bahu Alisya dengan lembut. "Aku takut, kalau aku akan kehilanganmu lagi. Bukankah sudah aku peringatkan untuk jangan pernah pergi dan menghilang dariku? Aku tak suka jika kau selalu melakukannya sendirian!!!" Suara Adith berat mengelir masuk kedalam telinga Alisya membuta hati Alisya terasa sakit dan pedih karenanya. Alisya seperti bisa memahami bagaimana rasa sakit dan frustasinya Adith dari setiap hembusan kata-kata yang ia ucapkan. Setelah Adith terdiam, Alisya memegang tangan Adith dan mendekapnya. Alisya juga tak ingin kehilangan siapapun juga sehingga tentu saja ia sangat memahami apa yang dirasakan oleh Adith saat ini. "Maafkan aku!!!" Alisya mendekap tangan Adith dengan sangat erat. "Ku terima maaf mu dengan syarat kau harus menceritakan semuanya kepadaku!!!" Adith segera melepas genggamanya begitu Alisya mengatakan hal itu. "Buset!!! ekspresinya cepat amat berubah!!!" Gumam Alisya begitu mendengar nada suara Adith yang berubah menjadi lebih hangat dan semangat. "hummm? Apa yang kau katakan???" tanya Adith tidak begitu jelas mendengar ucapan Alisya. Alisya dengan cepat menggeleng sedang Adith sudah menuju sofa mencari posisi nyaman untuk bisa mendengarkan semua yang akan dikatakan oleh Alisya. "Ini anak siapa sih sebenarnya? kelihaiannya mengendalikan orang melebihi kemampuanku! oh Alisya.., kau belum berinteraksi dengan banyak orang sebelumnya jadi wajar saja kau kalah sedang dia seorang CEO perusahaan besar yang mengharuskannya untuk berinteraksi dengan banyak orang. Kau pasti akan kalah jika berlawanan dengan si Jenius Nakal ini" Alisya berbicara menggunakan ekspresinya dengan menggertakkan giginya sembari tersenyum manis ke arah Adith yang sedang duduk nyaman memperhatikan dirinya. "Tunggu apa lagi??? bukankah kau ingin meminta maaf?" tanya Adith membuka kedua tangannya yang ia pangku diatas lututnya. Adith sebenarnya sengaja mengalihkan topik karena setiap kali ia mencium aroma Alisya, ia merasakan magnet pemikat yang sangat berbahaya. Adith yang selama ini selalu dingin kepada semua wanita tidak yakin dengan sikap yang harus ria tunjukan kepada Alisya, terlebih karena ia tak ingin membuat Alisya tersinggung karena perbuatannya. "Jadi waktu itu aku melihat sebuah zat di dala..." "Bukan itu yang aku maksudkan!!!!" Adith memutus omongan Alisya dengan nada yang sangat serius. Alisya tau betul apa yang ingin diketahui oleh Adith tapi besar resikonya jika Adith mengetahui hal tersebut sebab hal ini akan berdampak pada keselamatan Adith dan keluarganya dan Alisya tak menginginkan itu. Hanya saja, Adith adalah tipe Jenius yang keras kepala sehingga ia merupakan orang yang cukup teguh terhadap apa yang diinginkannya. "Ayolah Dith, aku baru sadar dan kau sudah menanyakan sesuatu yang cukup berat seperti itu???" Alisya berbicara dengan ekspresi yang sengaja ia buat-buat untuk mendapatkan simpati Adith. "Tak ku sangka kau bisa juga melakukan ekspresi seperti itu, tapi itu tidak akan mempan denganku!!!" Alisya langsung merenggut dan memonyongkan bibirnya mendengar ucapan Adith. Adith langsung terbatuk-batuk melihat eskpresi wajah Alisya yang manja seperti itu. "Kenapa?" Alisya bingung melihat ekspresi memerah wajah Adith. "Oh Iya, apa kamu sudah makan? nenek menyisakan makanan ini tadi" Alisya dengan cepat berusaha mengalihkan perhatian Adith dengan mengambil sekotak makanan didalam lemari penyimpanannya. "Aku sudah makan! Krrruuyyyuuukkkk....." Perutnya yang tak bisa berbohong menjawab pertanyaan Alisya dengan sangat nyaring. Adith seketika kikuk dan merasa malu, wajahnya semakin memerah karena perutnya itu. "Perutmu lebih jujur dari yang aku pikirkan,,," Alisya tertawa pelan dan menyediakan makanan tersebut diata meja dihadapan Adith. "Jika kau malu untuk makan, mau kah kamu menemaniku makan? Aku juga sangat lapar karena nenek hanya memberiku bubur saja. Dan aku tak suka makan sendirian, seenak apapun itu makanan rasanya akan hambar jika makan seorang diri." Senyumnya kepada Adith yang membuat Adith mengangguk malu menuruti Alisya. Mereka berdua akhirnya makan dengan sangat lahap terlebih Adith yang ternyata baru pertamakali itu merasakan yang namanya gado-gado sehingga Adith makan dengan sangat lahap sedangkan Alisya hanya menatap dan sesekali mengambil makanan. Alisya mencubit pahanya sendiri untuk menyadarkan dirinya saat ia mulai terbuai oleh ketampanan Adith. "Eheemmm,, seperti apa Black Falcon itu???" tanya Adith setelah melihat wajah tenang Alisya. "huh?? ohok ohok ohok..." Alisya terbatuk dengan sangat keras membuat leher serta kepalanya cukup sakit akan itu. Adith dengan santai mengambilkan Alisya air minum lalu memandangnya dengan penuh kasih. "Aku sudah mengetahui banyak hal mengenai Black Falcon dan juga Zero Alpha, kau tidak perlu menyembunyikan semua itu kepadaku lagi. Aku ingin kamu lebih terbuka denganku Sya, jika kamu terus menyembunyikan apapun padaku aku..." Suara Adith semakin tenggelam dan tercekat. Alisya terdiam sesaat memikirkan bagaimana ia harus menannggapi ucapan Adith, namun beberapa saat kemudian Alisya mulai menceritakan segalanya kepada Adith. Alisya paham akan resiko yang akan didapatkan oleh Adith namun ia berpikir kalau dengan mendengar kebenarannya Adith mungkin akan menjauhinya dan itu akan membuat Adith lebih aman dibanding berada disekitarnya. Chapter 150 - Bionano "Akan lebih aman jika kau tak terus terusan berada di dekatku, kau sudah mengetahuinya dari beberapa kejadian lalu yang bisa saja mengambil nyawamu." Alisya berdiri mendekat kearah jendela melemparkan pandangannya keseluruh kota dimalam hari. Setelah menceritakan semua hal yang menyangkut dirinya dan juga Black Falcon, Alisya tak yakin bagaimana sikap Adith kedepannya namun ia dengan sadar untuk tak memaksa Adith terus berada disisinya. Meski sakit dan sudah semakin terbiasa dengan keberadaan Adith disampingnya, tapi Alisya tak ingin egois dengan hanya mementingkan dirinya sendiri dibanding dengan keselamatan Adith. "Aku akan melindungimu kali ini." Ucap Adith tertunduk dengan menggenggam erat kedua tangannya. Alisya berbalik cepat tak menyangka Adith akan berkata seperti itu. "hah??? Adith, ini itu tidak sesimpel yang kamu ucapkan. Kau tau tidak ini tuh akan sangat membahayakan nyawa kamu!" Alisya berusaha menjelaskan resiko yang akan didapatkan oleh Adith jika berhubungan dengan Black Falcon. Organisasi hitam tersebut adalah sebuah rahasia yang sangat berbahaya jika diketahui oleh orang dari luar organisasi. "Aku tau!!! aku lebih dari tau, tapi aku tak ingin kehilanganmu dan tak sanggup melihatmu terus menghadapi segala hal sendiri. Saat aku melihatmu marah ditempat Karaoke karena diriku dan saat kau juga melindungiku sewaktu kebakaran disekolah membuatku sangat frustasi akan itu, tapi aku sudah membuat keputusan kalau kali ini aku yang akan melindungimu. Meski..., yah tentu saja aku mungkin takkan bisa sekuat dirimu namun akan aku pastikan untuk bisa melampauimu!" tatap Adith serius akan apa yang sedang ia katakan. Alisya tak tahu apa yang harus ia katakan kepada Adith. Fikirannya melayang kepada seluruh kejadian yang selama ini terus saja menimpanya dengan sedikit langkah yang selalu saja membuat kemampuannya seolah menumpul karena selama ini berharap bisa hidup normal sehingga Alisya mulai terlena dan menikmati hari-hari normalnya. "Sebelum itu, ada beberapa hal yang harus kau ketahui mengenai diriku! Ini mungkin akan merubah pola pikirmu saat ini." Alisya melangkah duduk bersandar di ranjang rawatnya menghadap kearah Adith. Alisya dengan penuh keberanian dan rasa malu yang sangat tinggi ia perlahan mengangkat bajunya. Adith langsung memalingkan wajahnya tepat sebelum gerakan Alisya mendekati arah bagian dadanya. "Apa yang kau lakukan??" Adith tak yakin dengan apa yang ingin ditunjukan oleh Alisya. "Lihatlah sendiri..." Ucap Alisya mengenggam erat bajunya karena rasa malunya. Dengan berat hati Adith perlahan melihat kearah Alisya yang sudah memalingkan wajah karena malu tapi tidak menurunkan genggamannya pada bajunya yang sedikit terangkat naik. Meski hanya menampilkan sebagian dari tubuhnya Alisya sudah sangat malu karenanya. Adith melihat luka tepat dibagian 3 tulang rusuk Alisya terlihat telah menutup sempurna meski masih menyisakan bekas namun luka yang harusnya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa sembuh dengan sempurna bisa menghilangkan jejaknya hanya dalam waktu singkat. "Bagaimana mungkin luka ini bisa sembuh hanya dalam waktu satu bulan???" Adith maju untuk bisa melihat dengan lebih jelas. " Benar, Itu karena di dalam tubuhku terda... Plakkkk!!!" tamparan keras mengenai pipi Adith karena berada terlalu dekat dengan tubuhnya. "Didalam tubuhku terdapat partikel bionano, partikel ini disuntikkan kepada kami selama dalam masa pelatihan sebagai kelinci percobaan untuk meningkatkan daya tahan tubuh kami terhadap serangan apapun. Namun hanya tubuhku yang mampu bertahan dengan semua serum bionano yang dimasukkan ketubuhku, hal ini mungkin karena sejak kecil tubuhku sudah terbiasa dilatih oleh ayah dan kakekku. Karena itu aku juga tahan terhadap racun termasuk racun dari ular berbisa." Jelas Alisya melanjutkan kalimatnnya setelah Adith kembali duduk dengan manis di sofa sembari memegang pipinya yang mengebas karena tamparan keras dari Alisya. "Lalu bagaimana bisa Bionano itu menyembuhkan lukamu hanya dalam waktu satu bulan?" tanya Adith masih terus mengelus elus pipinya yang terasa panas. "Bionano memproduksi Kolagen didalam tubuhku dengan jumlah yang sangat banyak. Keberadaan kolagen mendorong tepi luka untuk menyusut dan menutup. Selanjutnya, pembuluh darah kecil (kapiler) terbentuk di luka untuk memberi asupan darah pada kulit yang baru terbentuk. Produksi Kolagen yang terus menerus bertambah membuat jaringan yang rusak pulih perlahan-lahan. Proses pematangan yang biasanya bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun bisa disembuhkan dalam waktu singkat karena adanya Bionano tersebut." Alisya menjelaskan dengan sangat rinci kepada Adith yang mampu memahaminya dengan sangat baik. "Meski demikian, penampilan kulit bekas luka tetap akan berbeda dengan kulit normal. Hal itu karena kulit tersusun atas dua protein, yakni kolagen yang memberi kekuatan kulit, dan elastin yang memberi kelenturan kulit. Pada bekas luka, kulit tidak dapat memproduksi elastin baru, sehingga bekas luka seluruhnya terbuat dari kolagen. Kulit pada bekas luka akan kuat, namun kurang lentur daripada kulit di sekitarnya. Itulah kenapa kulit pada area luka tetap memperlihatkan bekasnya." Adith paham apa maksud dari Alisya menunjukkan dan menjelaskan hal ini kepada dirinya. "Tapi ini juga...." "Tapi bukan berarti itu akan mencegahmu dari kematian Alisya!" Adith berdiri dari tempat duduknya menatap Alisya serius. "Aku tau, tapi aku bisa melindungi diriku sendiri dengan sangat baik! kau tau kan apa maksudku untuk..." "Penjelasanmu mengenai semua hal itu hanya akan semakin membuatku kesal dan marah!!!. Bagaimana mungkin mereka setega itu melakukan uji coba kepada anak kecil? Berapa besar penderitaan yang selama ini sudah kau alami? Aku bahkan tak sanggup membayangkan bagaimana sakitnya jika kau harus terus merasakan puluhan suntikan yang dimasukkan kedalam tubuhmu! Semua itu membuatku..." suara Adith terdengar penuh amarah yang seolah telah lama tersimpan dan ingin meledak. Adith tak mampu melanjutkan kalimatnya karena suaranya semakin serak membayangkan bagaimana penderitaan Alisya sehingga tanpa ia sadari Air matanya jatuh membasahi pipinya. Alisya kaget melihat sikap Adith yang berkebalikan dengan apa yang di perkirakannya. Alisya pikir bahwa Adith mungkin saja akan mulai menjauhinya malah sedang marah dan menangis karena dirinya. "Adith... Aku,,," Alisya berusaha mendekat kepada Adith. Alisya bingung dengan reaksi Adith yang diluar dugaannya. Adith menunduk dalam tak ingin memperlihatkan wajah tangisnya dihadapan Alisya. "Tidak Sya, takkan ku biarkan kamu menjalani semua itu sendirian lagi. Mulai saat ini, akulah yang akan melindungimu!!!" Tegas Adith dengan tatapan tajam kearah Alisya. Alisya mendekat dan duduk disamping yang masih memegang dadanya sesak menahan kesedihannya. Tangisan yang dikeluarkan oleh Adith seolah mewakili semua tangisan penderitaan yang selama ini dialami oleh Alisya sehingga tanpa sadar Alisyapun menitikkan Air matanya dalam diam. Chapter 151 - Q and A Maaf kepada Readers pecinta Novel Jenius Yang Nakal... Karena Kondisi Author semakin kurang baik dan tidak sehat, untuk itu beberapa hari kemarin Author tidak sempat nulis setelah dilihat daftar chapter yang ada sudah habis.. Maaf yah,, hari ini Thor ingin libur nulis dulu biar bisa Fit dan besok bisa lanjut nulis lagi. Nah... Hari ini kita buat Quest and Answer aja.. entah itu seputar Novel atau Authornya... Jadi yang mau tanya- tanya... silahkan masukkan di kolom komentar yah... Author akan berusaha menjawab semua pertanyaan yang masuk kemudian Author akan buat dalam bentuk Chapter besok. Siapa tau para Readers semua punya Ide untuk Author buat novel selanjutnya ataupun di Novel ini juga. Kritik dan saran yang membangun sangat di butuhkan... Terimakasih banyak Readers setiaku... Aku Padamu Ful Ful Gas Deh .... hehehehe Pukul 15.00 Author akan Post sejumlah pertanyaan yang sudah masuk berikut jawabannya. Pertanyaan yang masuk di atas Pukul 15.00 akan Author Post di Jam 10 Malam lagi yah... Skalian temani Author bosan juga di kamar tidak bisa bangun ... ^_^ Chapter 152 - Author Answer Waaah .... Tidak disangka Banyak yang sudah semangat untuk bertanya... Kita Mulai Yah... Question : @Hendro_Pratama Lv4 : eemm mw tw dong.. tu Black falcon organisasi dr bentukan Indo atau Luar atau seperti teroris gt? Aswer : Author : Black Falcon adalah nama dari sebuah Organisasi hitam yang dibentuk dari seluruh organisasi hitam belahan dunia dimana tujuan mereka Melakukan penelitian dan pengembangan kepada anak-anak yang selanjutnya dilatih untuk dijadikan sebagai pembunuh bayaran (Senjata berbentuk manusia/mutan) yang kemudian dipasarkan secara global. Selain itu anak-anak yang mati dalam penelitian tersebut organ2ny juga akan dipasarkan. Black Falcon bekerja sama dengan Mafia, Kejaksaan dan juga Politisi tinggi diseluruh negara di dunia. Pertanyaan dari @Ramona_Windya LV4 yang penasaran sama Black Falcon. ***** Question : @D_endah LV4 : Thor kenapa up nya cuman satu biasanya 2 up. Asnwer : Author : Pertama karena kesibukan yang banyak Thor jd jatuh sakit sehingga yang awalnya ingin hiatus dulu barang seminggu tapi melihat antusias pembaca Author jd milih Up saja biar cuman 1 agar kalian tidak lari.. T_T. Thor bisa Up banyak kalau udah diresmikan kok, karena disitu pihak weebnovel punya aturan untuk mengejar target dan itu semua kalau target Power Stone nya cukup. Jadi terus dukung thor dengan Power Stone, Bintang dan Juga Giftnya yah.. Terimakasih @Dey21_21LV4 sudah bantu Thor jawab... Love You deh... **** Question : @cikkalliis LV3 : Thor kok bisa bikin cerita keren gini, terinspirasi dri mana? Answer : Author : Inspirasi utama dari kehidupan Author yang sehari-hari mengajar di tingkat Mts (SMP) dan MA (SMA). Zaman Thor dulu sekolah di SMP/SMA kita belum mengenal yang namanya pacaran yang seVulgar zaman sekarang, dan Siswa zaman Thor dulu persaingan dalam hal Akademik sangat kuat. Ada sih.. rasa suka-suka gitu, tapi yah itu, cowok dulu kita liatnya Ganteng kalau Cerdas, Athletis dan juga Agamis. Maka dari itu lahirlah novel Jenius yang Nakal yang didalamnya memuat tentang kisah anak SMA yang selalu memikirkan akademik meski kadang suka nakal dan juga pacaran. Suka yang bisa diperlihatkan dengan cara yang sederhana. Intinya Thor ingin memberikan pesan kepada para remaja dalam hal sekolah dan Akademik. Untuk konflik dan yang lain-lainnya Thor berimajinasi dan mencari banyak referensi yang bisa membuat novel ini menjadi lebih menarik dan tidak membosankan. Yah... lebih ke Imajinasi Thor yang suka nonton sih.. utamanya filem Anime dan Drakor atau Fantasi Hollywood. Di gabung dah tuh... Jawaban yang sama yah... buat pertanyaan dari... @Sylvia_Anggraeni LV2 : cerita nya terinspirasi dari mana thorr? ceritanya bagus" dan banyak nambah pengetahuan saya. @Erita_Rahman LV4: Ceritanya kereeen... Dapat ide dari mana. @Ramona_Windya LV4: Akak Author dapat ide cerita bagus ini dari mana??? @R_Rosidah LV3: Dpet ide dr mana thir bikin novel sebagus ini? @achaardity LV3: Terinspirasi dari mana menulis cerita ini hingga sedetail ini ?? atau ada kisah mirip di dunia nyata?? "Dari dunia nyata sih nggak tau juga,,, Author hanya menghalu Ria. imajinasi Author terlalu tinggi yah??? " ***** Question : @Hoquita_Aky_Aky LV3 : Lw bleh tau sampai brp nich endingnya thoor Answer : Author : Awalnya sih nggak kepikiran mau buat sampai ratusan episode, malah kemarin sudah rencana mau saya tamatkan. Tapi pihak Weebnovel ingin meresmikan novel saya sehingga ceritanya jadi berlajut deh... Sya kepikiran mau buat sampai Volume 2, dan di cerita selanjutnya akan banyak menampilkan yang romantis, action dan juga sainsnya. Pokoknya Thor usahakan di buat seru biar kalian makin Cinta deh.... ***** Question : @Vitri_Anggun LV4 : Terinspirasi dari mana kok bisa nulis novel seperti ini, black Falcon,yakutza,zero alpha,dan ini keren,keren banget malahan, semangat ya thorrr,smg lekas sehat dan bisa up2 selanjutnya,selalu penasaran dgn kelanjutan cerita ini, oh iya thor nantai kalu ngunci bab2 selanjutnya jangan mahal2 ya untuk buka kuncinya,saya sih berharap malah gak dikunci,,,heheee Semangat thor smg lekas sehat kembali. Answer : Author : Diatas sudah dijelaskan mengenai inspirasinya, untuk Black Falcon author terinspirasi sama pesawat tempur milik america serikat yang jika mengudara memiliki kecepatan yang sangat tinggi bahkan tidak terdeteksi oleh radar serta sangat canggih dan tidak memiliki suara. Untuk Yakuza, itu adalah Organisasi gelap dijepang, banyak filem yang menceritakan tentang organisasi ini loh... Dan Zero Alpha itu karena Alpha memiliki arti sebagai pertama yang biasanya dipakai sebagai kode dalam bidang militer sebagai pemimpin atau mereka yang memiliki kemampuan yang cukup tinggi. nah Arti Zero itu karena Alisya lolos dari Black Falcon sehingga mereka menyebutnya sebagai Aib yang kemudian disebut Zero (Kosong atau menghilang). Kalau untuk Kunci itu karena Novel Thor akan diresmikan sehingga pihak Weebnovel ingin Novel tidak langsung berakhir begitu saja tapi lebih dikembangkan dulu dan menjadi sebuah penghargaan kepada Hasil karya Thor.. Thor usahakan untuk tidak mahal dan tetap seru. hitungan kuncinya sih 200 kata itu 1 SS. Jadi Thor buat minimal 1000 kata (5 SS) biar tidak terlalu pendek juga chapternya. Jawaban yang sama juga yah.. buat pertanyaan dari @Dedeh_Kurniasih LV4: Semoga lekas sembuh ya thor saya selalu mendo'',akan sehat selalu,author mau nanya apakah kedepannya novel ini dikunci? Saya mohon jangan ya! @Ramona_Windya LV4: emang yakuza itu beneran ada gak sih??? "Adaloh... banyak juga di filemkan". **** Question: @Esge LV4 : Thorr.. anak chemistry yah? :v kok paham bener buat ramuan2 di bagian lab kebakar :v Answer: Author : Saya anak Sains (Biologi) waktu kuliah dlu bnyak praktek di lab kimia, selain itu Thor cri referensi juga sih soal zat-zat yang berbahaya. . Thor sekaligus belajar banyak gara2 buat Novel. **** Question : @unenksaripah LV4 : Apa author nya msih sekolah? Kayanya trmasuk anak jenius juga yah? soalnya ceritanya banyak kaya tentang teori pelajaran gitu, yg ju2r aku ga ngerti krena masa sekolahku dulu udah jaman dlu bgt. Answer : Author : Thor seorang guru IPA di tingkat MTs (SMP) dan Biologi tingkat MA (SMA). Sisanya thor banyakin referensi aja kok untuk ilmu pengetahuannya. **** Question: @Yanche LV4: Thor utk black Falcon sendiri itu hancurnya gimana,,,? Utk teman2 adith n alisya,,,setelah lulus dari sekolah apakah mereka bergabung dgn alisya n adith dlm memberantas teroris n black Falcon dengan kepintaran mereka sama lain,,, utk meringankan beban yg ada di pundak alisya,,,seperti Karin yg SDH mulai belajar bela diri walupun Tdk sehebat Zero alpha,,,q harap mereka ttp bersama2,,, N utk authorr sendiri cepat sehat ya,,,dan melanjutka novel "jenius yg nakal",,, karena novel ini sangat bagus,,, TKS ya Thor ditunggu upnya lgi. Answer : Author : Jujur, author belum kepikiran mereka lulus SMA akan kayak gimana, soalnya dari awal thor kepikiran mau tamatin saja secepatnya. Tapi berhubung pihak Weebnovel ingin meresmikan novel Author, Author jadi sedang mencari ide-ide lagi untuk nanti di buat di Volume 2 cerita stelah mereka lulus. Dukung terus Novel Author yah... ***** Question: @aasyiq LV4: Cepat sembuh authorrr... Nama panggilan author siapa ini???? Biar lebih kenal. Answer : Author : Waahhh,,,. Author terharu ada yang nanyain nama... nama Author "Hasrah" salam kenal yah,,, Terimakasih banyak sudah mau baca Novel Author yang masih pemula ini. ****** Terimakasih Author ucapkan kepada seluruh pembaca setia yang sudah mencintai Novel Author dan memberikan doa serta semangat nya kepada Author, Author jd pengen cepat-cepat sembuh... jangan lupa dukung dengan Power Stone, Bintang juga Giftnya yah. Terimakasih doa dan semangatnya kepada @Rasti_Kinar LV3 @Cha_Eka_Maharani LV3 @kusriyanibudi LV4 @Khotimah_Noura LV3 @Herni_Naing LV3 @Mmh_Nnenk LV1 @amnahinalika LV5 @Kartikawati LV5 @Qoiry_Waroch LV3 @Myhrima_Algazza07 LV2 @Rahma_Wati_6875 LV2 @dhekira LV3 @ajwa LV4 @Daraturna LV5 @Mila_Mila_0942 LV3 @qhb LV4 Love You All... Love kepada semua Readers yang setia membaca Novel ini. Chapter 153 - Sulfhemoglobinaemia Adith terbangun dan mengusap matanya pelan melihat sekeliling yang tampak asing baginya. Setelah cukup sadar, Adith kemudian teringat kalau ia berada di ruang rawat Alisya sehingga dengan cepat pandangannya mengarah ke ranjang tempat Alisya namun matanya tidak menemukan Alisya di sana. "Ali...." baru saja ia ingin beranjak berdiri kepala Alisya sudah terjatuh bersandar di bahu Adith. Alisya tertidur dengan sangat pulas disampingnya. Rambut Alisya menutupi sebagian wajahnya yang membuat Adith dengan lembut melingkarkan rambut hitam Alisya ke telinganya dan tersenyum hangat melihat wajah lebih jelas lagi. "Pufftt, Bagaimana bisa kamu dengan pasrah tertidur seperti ini di samping laki-laki hah???" cubit Adith gemas karena Alisya tertidur dengan sangat pulas disampingnya. Tepat setelah itu ia melihat tulisan panjang di lengan kanannya. "Pulanglah dan rawat ibumu, dia sudah sangat kelelahan karena merawat diriku selama ini. Gantikan aku untuk mengucapkan terimakasih dengan berikan dia ciuman dan makanan yang banyak agar dia bisa tertidur dengan sangat pulas!!!" Tulisan Alisya memenuhi sepanjang lengan kanannya dengan spidol merah yang entah dari mana ia mendapatkannya. Adith tersenyum melihat emoticon yang Alisya bubuhkan dibagian akhir. Adith kemudian menggendong Alisya dan menempatkannya di atas ranjang dengan sangat pelan lalu menyelimutinya. Adith membelai hangat pipi Alisya yang masih tertidur dengan pasrah. "Aku akan menjemputmu besok!" bisik Adith ditelinga Alisya dan memberikannya kecupan di dahinya. Adith berusaha keluar dari kamar dengan melangkah pelan agar tidak membangunkan Alisya dan tidak menghasilkan suara berisik. Tepat setelah Adith menutup pintu kamar Alisya, hembusan Angin bertiup kencang menghempaskan horden yang menutupi jendela yang tak terkunci. "Debukkkk!!!" sebuah pisau sudah melayang menancap di gagang pintu geser kamar Alisya. "Oucchh,, kejam sekali" suaranya terdengar dingin dengan desahan yang tidak merasakan sakit. "Kau akan merasakan lebih jika berani menyentuhnya!!!" Alisya sudah bersandar dengan nyaman di ranjangnya. "Ouuhh,, aku melihatmu masih tertidur pulas jadi melihat dia keluar dari kamarmu membuatku penasaran!" Ucapnya lagi mencabut pisau yang menancap cukup dalam ditangannya. "Siapa kau!" Alisya berkata tanpa melihatnya dan bergeser ketepi ranjang menangkupkan kedua tangannya dengan suara dingin. "Oh ayolah... kau tentu tau siapa aku! bukankah kau sudah mengetahuinya karena menancapkan pisau ini ke tanganku. Jika itu orang lain tentu kau takkan langsung melakukan itu bukan?. Siapa pria tadi? pacarmu? wah ganteng sekali???" serunya penuh semangat meski ekspresi wajahnya tampak di buat-buat. "Apa yang kau inginkan???" tanya Alisya menatap tajam ke arahnya. "Kau ternyata kaku sekali yah!!! Nggak seru nih.." ucapnya duduk di Sofa menggigit buah yang dia ambil dari meja disamping Alisya. "Gerakannya cepat!!! aku bahkan tak sempat melihat ia mengambil buah itu, auranya sangat berbahaya!!!" batin Alisya seperti bisa mendengar desiran aura yang meliputi seluruh tubuhnya. "Oh ini??? dari tatapanmu kah sepertinya kaget melihatku mengeluarkan darah berwarna hijau yah???" ucapnya sambil mengangkat tangannya yang berdarah. Darah yang menetes dari tangannya terkihat berwarna hijau yang membuat Alisya sedikit memicingkan matanya ketika melihat darahnya tersebut. Alisya hanya terdiam dengan ekspresi datar tak memperdulikan ucapannya. "Aku mengidap kondisi dimana darahku berwarna hijau yaitu kondisi Sulfhemoglobinaemia dimana warna hijau yang tercipta akibat darah banyak mengandung belerang atau sulfur. Aku terlalu banyak mengonsumsi obat-obatan yang mengandung sumatriptan untuk menghilangkan rasa sakit di kepalaku selama disuntikkan serum Bionano. Tubuhku tidak sekuat dirimu sehingga aku harus berkorban banyak!" tegasnya sambil mengusap darahnya dengan santai. "Aku tidak peduli dengan apa yang ingin kau katakan!" seru Alisya acuh tak acuh dengan ocehannya. "Apa yang kau inginkan di kamarku?" tanya Alisya dengan tatapan tajam dan dingin. "ck ck ck ck,,, tentu saja kau harus peduli!!! karena kamu, kami harus mendapatkan pelatihan lebih keras dan kejam serta berbagai penelitian yang diharapkan bisa melampauimu dan aku berhasil melakukan itu!" Tegasnya tak kalah dingin dengan aura mencekam yang ia keluarkan. Alisya tak merasa tertekan dengan aura mengintimidasi yang dikeluarkannya sehingga ia tetap diam dan duduk dengan tenang di tepi ranjangnya. Alisya menekan auranya dengan sangat baik sehingga dia hanya santai melihat Alisya. "Jadi kau yang berkode Omega?" tanya Alisya datar. "Ya benar!!! aku tersanjung kau bisa mengingatku dengan sangat cepat. Terlebih oleh seorang elite seperti dirimu. Waahhh,, rasanya sangat luar biasa. Aku pikir kau serius tidak mengetahuiku karena bertanya siapa aku tadi, wahhh... terimakasih banyak kau sudah mengingatku! Hanya kau yang bisa melihat simbol yang aku selipkan pada kebakaran di lab itu." cerocosnya tanpa henti dengan ekspresi menjijikkan yang membuat Alisya mual melihatnya. "Bagaimana organisasi bisa menemukanku???" Alisya masih menatap dingin datar tak berekspresi. "Ummm... Bukan organisasi yang menemukan mu, tapi aku. Aku yang menemukanmu tapi belum melaporkannya. Karena aku masih ingin memastikan beberapa hal sebelum akhirnya melaporkannya ke organisasi. Mengetahui umurmu yang tak berbeda jauh denganku membuatku berpikir bahwa mungkin saja kau akan masuk ke sekolah dan aku akhirnya mendaftar disekolah negeri berharap menemukanmu. Benar saja seorang teman memperlihatkan fotomu yang sedang berada diatas panggung tampil dengan sangat cantik. Awalnya Aku tak mengira kau begitu terang-terangan memperlihatkan dirimu. Butuh waktu untuk menemukan informasi mengenai dirimu karena beberapa berita lainnya atau apapun tidak kutemukan." jelasnya bangga karena bisa menemukan Alisya dengan sangat mudah. "Sepertinya kau sudah salah dengan tidak melaporkan kepada organisasi mengenai keberadaanku!" terang Alisya tersenyum sinis. "Tidak, tidak aku hanya tak ingin organisasi menganggu kesenanganku. Selain itu apa yang bisa kau lakukan? aku pikir kau yang masuk daftar kode hitam organisasi adalah seseorang yang sangat berbahaya. Ternyata hanyalah anak SMA biasa yang tak berguna sama sekali. Cukup mudah untuk membunuhmu yang hanya dengan sedikit peringatan saja sudah membuatmu terbaring kritis selama sebulan!" Ia melangkah mendekati Alisya dan memperhatikan wajah Alisya yang terlihat lemah. "Terimakasih sudah membuatmu mengkhawatirkan ku!!! Tapi aku rasa kau kemari bukan karena mengkhawatirkan keadaanku bukan? aku rasa akan lebih baik jika kau membunuhku dengan cepat disini saat tubuhku masih cukup lemah" senyum Alisya melihat tingkahnya yang memandang remeh dirinya. Mungkin karena sesama perempuan Alisya merasa bahwa ego yang dimilikinya sangatlah tinggi sehingga dengan mudah ia menyombongkan dirinya. Chapter 154 - Garis Tangan "Membunuhmu??? oh tidak, tidak! Aku tidak suka melakukan dengan cara yang cepat, aku suka dengan permainan tarik ulur! Apalagi ekspresi kesakitan dan memohon maaf kepadaku. Aku sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana ekspresi dari seorang Alpha menderita dan memohon kepadaku". Ekspresi wajahnya membuat Alisya mual. Ia terlihat seperti seorang psikopat berbahaya yang menyukai hal-hal berbau sadis. Alisya merasakan ancaman darinya. "Membunuh bukanlah soal Nafsu ataupun kekerasan belaka, tetapi ini soal rasa ingin memiliki. Dan aku begitu terobsesi dengan dirimu!" tambahnya lagi. "Oh iya, apa kamu tau apa maksud dari omega???" tanyanya dengan penuh antusias mendekat ke arah Alisya. "Kode Alpha yang diberikan padaku sebagai adalah sebagai tanda bahwa akulah orang pertama yang mampu melewati serangkaian tes dan lolos dalam tiap tahap pelatihan dengan nilai sempurna. Alpha dalam bahasa Yunani memiliki arti Yang Pertama dengan demikian Omega yang kau maksudkan jika dalam bahasa Yunani adalah Yang Terakhir" terang Alisya dingin tanpa menjauhkan posisinya dari perempuan itu. "Ummhh,,,, tidak salah aku mengagumimu, kau sangat luar biasa. Tidak hanya kemampuan tapi juga kecerdasan kau menjadi yang paling utama. Semua yang kau katakan itu benar, Kau yang Pertama dan Aku yang Terakhir bukankah kita adalah pasangan yang cocok?" Desahan nafasnya berat sambil menggenggam erat tangan Alisya. Tangannya dingin dan memiliki garis tangan yang cukup dalam dan sedikit tebal dan halus. Garis tangan seorang pembunuh profesional pada umumnya. "Wah,,, garis tanganmu tipis dan terlihat biasa. Jadi benar kau keluar dari Organisasi tanpa membunuh satu orangpun? kau hanya mampu melumpuhkan mereka dan tidak memberikan mereka luka yang cukup fatal. Apa kau benar Alpha? aku kecewa kau tidak membunuh sama sekali, aku bahkan harus membunuh satpam rumah sakit ini karena tidak di izinkan masuk!" jelasnya dengan nada santai sambil terduduk memperhatikan garis tangan Alisya dengan sangat dekat. "Apa yang kau inginkan sebenarnya??" Alisya melepaskan genggaman tangannya dengan risih. "Kau sangat mengecewakan, kau bahkan tak tertarik kepadaku. Apa karena pria yang tadi keluar dari kamarmu?" Ucapnya mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat dengan desiran yang cukup menganggu telinga Alisya. "Apapun yang ingin kau lakukan, aku takkan biarkan kau mengambil panggungmu dihadapanku. Dan kau takkan mendapatkan apapun!!!" tegas Alisya tetap menekan Auranya dengan sangat baik. "Yah, begitu. Aku suka seperti itu! Sesuatu yang penuh dengan kesulitan itu sangat menggairahkan, permainan tidak akan seru jika diselesaikan dengan mudah!" ekspresi wajahnya kembali merasakan gairah yang membucah ruah. "Kau akan merasakan akibatnya!!!" Nada Alisya pendek dengan suara yang dalam dan redup. Tubuh omega sedikit bergetar mendengar ucapan Alisya karena penasaran dengan aura kosong yang terus terpancar dari tubuh Alisya sedangkan ia terus saja memancingnya dan mengeluarkan Aura membunuh yang mampu menundukkan seekor banteng karenanya. "Apakah itu sebuah peringatan???" senyumnya masih dengan tatapan penuh gairah. "Tentu saja tidak. Oh maafkan aku, anggap saja itu sebagai nasehat dari seorang senior kepada Juniornya!" senyum Alisya lembut dan hangat. "Aku malah berharap jika kau memberikanku sebuah peringatan, karena kedatanganku kemari bukan hanya untuk melakukan reuni ataupun sebagai perkenalan dari seorang junior". Ia kembali terduduk disofa dengan angkuh dan seksi. "Seperti yang kau katakan, jika kau adalah yang Pertama maka Aku yang Terkahir. Yang artinya akulah yang akan membunuhmu dan menghapus mu dari dunia ini. Bukan hanya dirimu tapi juga semua orang yang berada dekat denganmu, aku akan menghabisi mereka satu persatu secara perlahan-lahan sampai kau merasakan penderitaan itu dengan semaksimal mungkin!!!" kali ini tatapan serta nada suaranya menghasilkan tekanan yang sangat besar didalam ruangan itu yang membuat Alisya merasakan sesak didadanya dan gendang telinganya. "Dan aku akan menjadi orang pertama yang akan menghentikanmu!!!" Alisya berusaha meloloskan diri dari tekanan yang dibuatnya. Tepat saat ia memindahkan posisi kakiknya suara kakek dan nenek Alisya yang sedang mengobrol di luar terdengar mendekat. "Sepertinya pertemuan kita harus berakhir disini, kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat. Sampai saat itu, aku harap kau sudah cukup siap! senyumnya melangkah ke jendela kamar Alisya. "Siapa namamu? Omega hanyalah kode buatan Organisasi saja dan kau tentu memiliki nama. Aku Alisya meski kau mungkin sudah mengetahuinya!" Alisya berdiri tegap tepat dibelakangnya yang sudah mengambil posisi dijendela. "puffttt,, hahahahaha... kau lucu sekali, bisa-bisanya kau menanyakan nama musuhmu. Apa itu sangat penting kau cukup aneh yah?" ucapnya menghadap Alisya dengan tubuh yang sudah berada diluar jendela. "Baiklah... Orang-orang biasa memanggilku Zyn. Kurasa kau juga bisa memanggilku dengan itu!!!" Seketika ia menjatuhkan dirinya kebawah dan menghilang dibalik gedung rumah sakit. Alisya menghampiri jendela dimana ia melihat Zyn yang melompat tersebut bergelantungan pada tali lalu menghilang dibalik gedung rumah sakit. Caranya bergelantungan sangat profesional karena melihat gerakannya yang lincah dan santai melewati barisan jendela pintu rumah sakit yang setengah terbuka. "Orang-orang???" Alisya tersenyum mengingat perkataannya yang tak diduga. Dia begitu terbiasa membunuh orang lain namun masih tetap menganggap keberadaan orang lain. Alisya tidak menganggap semua tingkah dan perkataannya sebagai ancaman, namun Alisya malah merasa iba padanya. Alisya menganggaap bahwa dia juga seorang korban yang dimanfaatkan oleh organisasi dan Alisya paham betul akan apa yang dirasakannya. Alisya menganggap bahwa Zyn tentu saja merasa iri padanya karena mendapatkan kehidupan normal yang selalu di inginkan oleh semua orang yang berada dibawah pelatihan Organisasi. "Aku berharap, aku bisa membuka hatimu dan menyelamatkanmu suatu hari nanti!" Ucap Alisya melemparkan pandangannya keseluruh pemandangan kota yang terlihat dari jendela kamarnya. Dari atas itu pula ia bisa melihat dan mendengar mobil polisi yang sudah berkumpul di sekitar Pos Satpam. "Apa yang kau lihat???" tanya kakeknya masuk kedalam ruang Alisya bersama dengan neneknya. "Jadi apa yang sudah dilakukannya dikamarmu?" neneknya terlihat santai menaruh beberapa keperluan yang bisa ia gunakan untuk mengumpulkan pakaian dan barang-barang Alisya selama berada dirumah sakit. "Nenek memang luar biasa!!! Selalu Jeli dan Peka. Tak ada yang penting, hanya sebuah pertemuan antara senior dan junior." Ucap Alisya tersenyum manis memeluk neneknya. Nenek Alisya paham betul kalau sebenarnya sudah terjadi perang dingin diantara mereka namun melihat sikap santai Alisya, neneknya merasa kalau Alisya tampak lebih santai dalam menghadapinya yang berarti Alisya punya rencana tersendiri sehingga ia tak perlu terlalu mengkhawatirkannya dan tetap memberikan dukungan penuh padanya. Chapter 155 - Kereta Bawah Tanah "Jadi kau juga disini? Aku pikir kamu akan menjemput Alisya dirumah sakit pagi ini" Adora menatap Karin dan Ryu secara bergantian. Adora mengira kalau keduanya mungkin akan bolos hari ini demi menjemput pulang Alisya. "A chan tidak mengizinkan kami membolos hanya untuk menjemputnya maka dari itu dia mengambil jadwal keluar siang karena ada beberapa pemeriksaan yang harus dia jalani untuk memastikan kalau kondisinya baik-baik saja!" Akiko muncul disamping Karin dengan suasah payah untuk bisa berbicara kepada Adora dengan lebih leluasa. "ohh.. seperti itttuh???" Adora semakin terdorong merapat karena semakin banyaknya orang yang masuk. Hari itu karena adanya demo membuat beberapa jalur lalu lintas yang harus dilalui oleh mereka menuju ke sekolah mereka mengalami pengalihan dan juga penutupan jalan sehingga sebagian besar dari mereka terpaksa menggunakan kereta bawah tanah sebagai angkutan untuk bisa tiba ke sekolah tepat waktu dibanding mengambil jalan memutar yang cukup jauh. Kereta bawah tanah seketika penuh oleh banyaknya siswa siswi dan berbagai sekolah dan juga para pekerja yang berlomba satu sama lainnya untuk bisa datang tepat waktu ketempat kerja masing-masing. "Oh, kalian disini?? bagaimana mungkin kita bisa berkumpul digerbong yang sama hari ini?" Beni masuk bersama Rinto dan juga Yogi sembari menjaga Emi serta Feby agat tidak terhimpit oleh banyak orang. "Aku seperti sedang dalam kondisi Dejavu!" Akiko berkata dengan susah payah karena keadaan semakin sempit. "Bukankah harusnya kau sudah terbiasa? Dijepang seperti ini kan?" tanya Karin menarik lengan Akiko agar bisa mendekat kepada dirinya. "Justru saat hari kerja, jepang lebih padat dibanding dengan saat ini." Terang Ryu yang membalikkan badannya dan menyandarkan tangannya menghalangi kerumunan orang yang membuat Akiko dan Karin bisa berdiri lebih leluasa berkat Ryu. Melihat perlakuan Ryu, Rinto merasakan panas yang cukup membara dihatinya. Hal yang sama yang sedang di alami oleh Karin dimana dia bahkan harus menahan nafas karena posisinya yang lebih dekat dengan Ryu dibanding Akiko. "Ouchhh,, aku merasakan tingkat rasa iri sekaligus cemburu yang sangat tinggi menekan hati dan perasaanku melihat kau hanya melindungi mereka berdua saja Ryu!!!" Adora melepaskan tangannya memukul bahu Ryu karena kesal yang membuatnya langsung terpental karena dorongan beberapa orang. Adora yang menutup mata dan melindungi kepalanya yang hampir terbentur tiang penyangga kereta tidak merasakan apapun melainkan pada bagian perutnya ada telapak tangan hangat yang sedang menopang tubuhnya dari belakang. "Jangan melepaskan genggamanmu jika dalam keadaan seramai ini!" Zein tidak bermaksud untuk tidak sopan pada Adora, namun jika dia tidak memegang perutnya maka tentu saja Adora akan mengalami benturan yang tidak terelakkan yang dapat melukai dirinya sendiri. "Oke,, sekarang kami berdua semakin panas!!! Kenapa pemandangan indah ini merusak moodku sih!" Emi mendengus kesal melihat tingkah mereka. "hahahaha, Aku seperti sedang menonton drama Korea saat ini" Riyan tertawa melihat apa yang sedang terjadi. "Apa yang kau lakukan???" Emi bertanya dengan malas saat melihat beni sekarang beralih mencoba melindungi dirinya. "Aku hanya ingin melakukan tugasku sebagai seorang laki-laki!" terang Beni dengan tatapan bangga. "Jangan bercanda!!!" Emi meninju kuat perut Beni yang berlagak sok keren dihadapan mereka. Mereka tertawa riuh melihat Beni yang gagal melakukan aksinya untuk terlihat keren. Kereta yang tiba di stasiun berikutnya sedikit melonggarkan posisi mereka sehingga bisa bernafas dengan cukup baik namun hal itu tidak lama karena orang-orang yang masuk kedalam kereta justru lebih banyak dari yang biasanya. Kereta mereka yang harus berhenti pada stasiun berikutnya membuat mereka terpaksa harus bertahan dalam situasi yang padat seperti itu. Berbeda dengan sebelumnya mereka sudah mendapatkan kursi untuk bisa duduk dengan nyaman dibanding sebelumnya mereka harus berdiri karena banyaknya orang. "Sepertinya sesekali berkumpul seperti ini untuk menuju kesekolah tidak ada salahnya yah???" Gani dan Gina masuk bersama puluhan siswa siswi lainnya dari berbagai macam sekolah. "Baru kali ini aku melihat hampir semua siswa yang biasanya terbagi oleh kasta dan tingkatan harus rela berdempetan untuk mendapatkan tempat di satu angkutan umum yang sama. Biasanya kita bisa bisa duduk dengan nyaman di kursi mobil mewah masing-masing!" lanjut Gina menambahkan. "Sesekali seperti ini bisa memberikan pelajaran berharga bagi semua siswa bahwa seperti apapun mereka semuanya akan mendapatkan situasi dan tempat yang sama!" Terang Karin menggeser sedikit tempat untuk memberikan ruang bagi Gina bisa duduk. Mereka duduk secara berdampingan dimana semua wanita sudah mengambil tempat dengan nyaman begitu pula para laki-laki yang berada tak jauh dari sisi mereka hanya dibatasi oleh tiang penyangga kereta. "Kar, lihat apa yang sedang dilakukan oleh pria itu!" Feby mencolek Karin dan menunjukkan seseorang dengan matanya. Karin serta yang lainnya menoleh kearah yang ditunjukkan oleh Feby dan melihat kalau Pria itu terlihat sedang menaruh ponselnya dibawah yang mengarah masuk kedalam Rok seorang wanita yang tampak berprofesi sebagai pekerja kantoran. "Breng...." baru saja Karin ingin melabrak pria tersebut Ryu sudah berdiri dan memberikan tempat duduknya kepada wanita tersebut lalu mengambil handphone si pria dan membantingnya dengan kasar. "Hei,, apa yang baru saja kau lakukan hah? Dasar penjajah brengsek balik sana kenegaramu itu kau tak diterima di Indonesia!!!" ucapnya membentak Ryu dengan kasar yang membuat semua orang menatap Ryu dengan penuh amarah ketika melihat Ryu dengan sengaja membanting handphone milik pria itu. "Apa ini cukup???" Zein melemparkan beberapa lembar uang pecahan 100 ribu tepat diwajah pria itu. "Indonesia juga tidak butuh seorang sampah sepertimu yang dengan busuknya melakukan hal tak senonoh kepada seorang perempuan!!!" Zein berbalik acuh menarik Ryu agar tidak meladeninya. "Memangnya siapa yang kau maksud sampah? Dia yang sudah membanting HP ku, apa kau mau berkhianat dengan membela penjajah Indonesia hahh???" bukannya sadar diri pria itu malah semakin bringas dan tak tahu diri. Dia memegang kerah Ryu dengan kasar dan bersiap-siap menaikkan tinjunya. Semua orang menatap benci kepada Zein dan Ryu karena tak mengetahui kejadian yang sebenarnya. "Sudah cukup kami menyelesaikan semuanya dengan damai dan sepertinya kau orang yang tak tahu diri" Riyan menahan Tinju yang akan dilayangkan olehnya. Ryu bukannya tidak bisa menghindari atau menghadapinya namun ia sengaja memilih diam untuk tidak menimbulkan kesalah pahaman lagi. Chapter 156 - Berlaku Tidak Sopan "Hei teman kamu sudah melakukan kesalahan dengan membanting Hp milik pemuda ini tanpa meminta maaf!" Seseorang yang lain mencoba untuk membela pria itu. "Dan kau pikir uangmu bisa membeli segalanya hah??? aku bahkan tak membutuhkan uangmu! Aku takkan puas jika tak memberikan pelajaran kepada anak muda seperti kalian yang tak memiliki sopan santun sama sekali." Terang si pria menepis genggaman Riyan dengan sangat kasar. Tangannya masih mencengkram leher Ryu sedangkan Ryu tak bergeming dan tertawa melihat pria tersebut. "Anak zaman sekarang sepertinya tidak memiliki sopan santun kepada yang lebih tua!" omel seseorang yang lain. "Mereka dari sekolah bergengsi tapi lihat kelakuan mereka, seperti seorang yang tak terpelajar sama sekali." tambah yang lainnya dengan nada menghina. "Bukan hanya sekolah, saya rasa orang tua mereka juga tak mengajarkan sopan santun sama sekali" ucap pria itu dengan sombong. Keadaan kereta bawah tanah yang cukup ramai dan sempit itu membuat ia berpikir bahwa takkan ada yang melihat apa yang sudah dia lakukan sehingga ia dengan sombong dan angkuhnya membalikkan keadaan bahwa dialah korban disana. Posisinya saat melakukan aksi memang sangat meguntungkan dirinya karena beberapa orang yang tanpa sengaja memberikan ruang yang cukup baik untuk melakukan aksinya karena dihalangi oleh banyaknya orang yang sedang berdiri. Wanita yang mengalami pelecehanpun tak terhadap pelecehan yang sedang ia alami. "Maaf anak muda ini tadi berdiri dan memberikan tempat duduk kepadaku sehingga mungkin pada saat ia berdiri ia tak sengaja menjatuhkan handphone milikmu" ucap wanita kantoran itu mencoba membela Ryu yang telah berbaik hati kepadanya memberikan tempat duduk untuknya. "Tidak, aku dengan jelas melihatnya dia dengan sengaja mengambil handphone milik pemuda ini dan membantingnya dengan sangat keras dan berlagak seolah-olah tak melakukan apapun." "Handphone miliknya yang jatuh mungkin bisa kau bayar dengan uang milikmu, tapi ketidak sopanan kalianlah yang menjadi permasalahan!!!" tambah yang lainnya sehingga keadaan semakin panas karena mereka merasa bahwa Ryu dan yang lainnya sudah berlaku tidak sopan kepada yang lebih tua terutama saat Zein dengan kasar melemparkan uang kewajah si pria tersebut. "Apa karena kalian anak orang kaya sehingga kalian berlaku tidak sopan seperti itu hah???" bentak pria itu semakin tak terkendali mendorong Ryu dengan kasar yang membuat si wanita kantor hampir tertabrak oleh Ryu. Ryu yang memiliki respon yang bagus dengan mudah mempertahakan posisi tubuhnya agar tidak terjatuh. "Awalnya kami tidak ingin membeberkan kejadian yang sebenarnya demi melindungi harga diri korban, namun jika kejadiannya sudah seperti ini maka tidak ada jalan lain!" Karin berdiri mendekati mereka ingin menunjukkan sesuatu. Keadaan kereta yang cukup sesak membuat Karin harus memita izin untuk diberikan jalan agar bisa menghamipiri mereka. "Apa Korban??? puffttt hahahahaha... yang korban disini adalah saya? Handphone saya yang dibanting kenapa tiba-tiba kalian semua membela yang tidak benar?" si pria meremehkan Karin dengan penuh ke angkuhan. "Benarkah? lalu bagaimana dengan ini." Karin menunjukkan bukti rekaman hologram saat dia sedang diam-diam merekam bawah selangkangan si wanita kantoran dengan posisi terlihat disela-sela himpitan banyak orang. Rekaman itu sengaja diambil oleh Akiko sebagai bukti jika terjadi hal yang tak diinginkan dan benar saja apa yang diperkirakannya. "wooooohhhhh woooohh,,," suara ricuhan orang orang mencemooh apa yang sudah dilakukan oleh sang pria. Wajah pria itu memerah seketika karena rasa malu dan marah. Si Wanita kantoran yang tak terima melihat rekaman itu dengan segera menampar wajah pria itu dengan sangat kuat. Tidak terima akan hal itu dia dengan lantang mencoba membela diri. "Tidak, itu tidak benar! saya memang sedang memainkan handphone saya, tapi tidak merekam seperti apa yang mereka maksudkan dengan menunjukkan video ini. Justru karena terlalu banyak orang sehingga posisi wanita ini mendekat kearah saya sehingga tampak seperti saya sedang merekam bawah selangkangannya! ini Fitnah, saya sudah di fitnah." Tegasnya membela diri dan tak terima. "Itu tak bisa dijadikan bukti bahwa pria ini sedang melakukan hal tak senonoh tersebut. Apa yang kaliam pikirkan sebenarnya? kalian sudah berlaku tak sopan dan sekarang kalian memfitnah pemuda ini?" seorang yang lain masih membela pemuda teresebut dengan tak kalah bringas. "Tak sopan? Fitnah? sepertinya kalian sudah dibutakan oleh hal yang namanya harga diri. Kami memang masih muda tapi bukan berarti kami dengan bodohnya akan membanting handphone seseorang tanpa alasan yang jelas." Ucap Rinto yang sedari tadi diam menyaksikan semuanya. "Benar, selain itu kami melihat semua yang dilakukan oleh pria itu saat melakukan pelecehan pada mbak itu!" kali ini teman-temannya berusaha untuk menjelaskan. "Kalian terlalu angkuh hanya karena merasa diri paling tua dan mengatas namakan sopan santun sehingga tak peduli terhadap apa yang sedang terjadi sebenarnya. Bahkan jika salah kalian ingin membela harga diri kalian seperti itu!" terang Yogi berusaha tetap sopan meski ia semakin jengkel dengan para orang tua yang menatap benci kepada mereka. "Sudah, sudah.., bagaimana jika urusan ini kita serahkan kepada pihak keamanan saja! jika benar apa yang dituduhkan oleh maka tentu saja dihandphone milik pemuda ini" seorang bapak mencoba melerai pertikaian mereka yang tak ada habisnya. "Benar, ayo kita buktikan pada petugas. Jika hal ini tidak benar maka saya akan menuntut denda 100 juta sebagai pencemaran nama baik kepada kalian!" ucapnya dengan penuh percaya diri. Melihat handphonenya yang rusak membuat dia berpikir bahwa anak-anak itu tidak akan bisa melakukan hal lebih. Situasinya membuat dirinya semakin percaya diri dan memberikan tuntutan yang menguntungkan dirinya. Tidak butuh lama mereka keluar dari kereta bawah tanah dan langsung memanggil petugas yang tak jauh berada disekitar mereka. Pria itu ditemani oleh beberapa orang tua yang yakin sedang membela kebenaran sedangkan Ryu ditemani oleh teman-teman yang lain bersama wanita kantor serta beberapa orang lain yang sebelumnya menyaksikan dari awal perdebatan mereka. "Apa yang terjadi???" Adith yang tak disengaja melihat keributan yang sedang terjadi dan mengenali seragam yang dikenakan oleh anak-anak sekolah itu segera masuk ketengah kerumunan dimana pria itu menjelaskan situasinya dengan penuh amarah. "Adith???" Emi kaget melihat Adith yang sudah berada disisinya namun kemudian menceritakan semuanya kepada Adith. Adith yang mengerti segera mendekat kepada pria yang sedang marah tersebut. Wanita kantor yang berada disekitar mereka terkejut melihat kedatangan Adith. Dari ekspresinya Karin bisa menilai kalau Adith adalah atasannya dimana ia bekerja sehingga dengan cepat ia menunduk penuh hormat kepada Adith. Chapter 157 - Perangkat Lunak Melihat kedatangan Adith, si pria mesum itu melirik dengan angkuh. Dari penglihatannya ia dapat mengira bahwa orang yang sedang berada dihadapannya saat ini adalah bukan orang biasa namun melihat ia memakai seragam yang sama dengan yang lainnya membuatnya berpikir bahwa Adith adalah salah satu dari mereka terlepas dari keberadaan Aura Adith yang begitu mendominasi. "Oh... jadi wanita ini dan kalian semua sengaja bersekongkol untuk menjebak saya yah???" terang si pria dengan pandangan menuduh yang membuat semua orang juga membenarkan apa yang dikatakan oleh pria mesum itu mengingat saat kemunculan Adith wanita kantoran itu menunduk hormat kepadanya. "Maaf, bisa saya melihat ponsel anda?" tanya Adith tanpa memperdulikan ucapannya si pria. "Handphonenya sudah rusak dan tidak bisa dinyalakan lagi, sepertinya ini akan butuh waktu untuk bisa memperbaikinya!" ucap seorang petugas keamanan dengan memperlihatkan handphone itu kepada Adith. "Cihhh,,, anak SMA seperti mu tau apa tentang tekhnologi hah? paling kau hanya pengguna saja yang tau tak tau apapun tentang perangkat keras atau lunak pada handphone!" sang pria mesum yakin betul kalau pemuda yang berada dihadapannya ini adalah anak biasa yang berlagak sok tau. "umm,,, Tak ku sangka orang seperti dirimu benar-benar sangat cerdas dalam membeli handphone. Merek HP ini memiliki perangkat lunak yang berbeda dengan lainnya karena kebanyakan dipasaran menggunakan Android dan Handphone miliknya memiliki jenis perangkat lunak iOS tercanggih saat ini." jelas Adith sambil membalik-balikkan handphone milik pria itu. "Ba... bagaimana kau bisa mengetahuinya?? upphh..." pria itu langsung menutup mulutnya sadar bahwa ia membenarkan apa yang sedang dikatakan oleh Adith. "Apa dia memiliki mesin scanner di matanya?" bisik Adora pada Karin yang tersenyum melihat tingkah sombong Adith. "Aku tau Adith memang sangat jenius, tapi bagaimana mungkin dia bisa mengetahui perangkat lunak dari Hp itu hanya dengan sekali lihat pada cassingnya saja?" Emi tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya saat melihat pemandangan yang luar biasa dihadapannya. "Dari semua itu, yang ingin aku tanyakan adalah kenapa anak itu selalu bisa muncul dimanapun berada? Kadang menghilang dan kadang muncul pada waktu dan tempat yang tak terduga!" Beni menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Selain itu, kenapa seorang nomor 1 di Indonesia ini rela berhimpit-himpitan dengan para rakyat jelata?" tambah Rinto penuh kebingungan menatap Adith yang masih membolak balikkan HP pria mesum itu. "Apa sang raja telah kehilangan taringnya karena mahkota hatinya sedang sakit saat ini?" lanjut Yogi yang membuat Adith hampir saja menjatuhkan Handphone si Pria mesum. "Bisakah kalian bergosip dengan lebih berkelas dan tidak dengan suara yang sebesar itu dibelakangku???" Adith menatap tajam kepada Yogi karena mulai kesal mendengar mereka semua berbicara dengan keras. "Sepertinya dugaan kita benar!!!" ucap Zein menatap Adith serius. "Yup, aku tidak pernah melihat dia perduli akan apa yang kita bicarakan!!!" tambah Riyan lagi. Adith menggenggam erat HP ditangannya yang membuat si Pria semakin marah melihat sikap santai yang tampak seolah-olah sedang bercanda dengan dirinya. "Brengsek, apa kalian pikir aku itu lelucon hahhh?? kalian patut mendapat pelajaran atas sikap kalian ini" ucapnya kesal sembari memberi peringatan kepada polisi dan melimpahkan semua kesalahan kepada mereka semua. Beberapa orang yang melihat hal itu juga semakin tidak sabar dan kesal karena mereka harus terlambat akibat kejadian tersebut. "Kalian harus mempertanggung jawabkan apa yang su...." belum selesai sang petugas berbicara dan mengeluarkan ikatannya yang tidak menggunakan borgol karena mereka semua dibawah umur, sebuah hologram dari HP tersebut menyeruak keluar. Sang pria mesum itu panik melihat Adith berhasil menyalakan Hp miliknya dengan sangat mudah. Namun mengingat HP miliknya berteknologi canggih, ia masih memiliki kesombongan kalau Adith tidak akan menemukan apapun disana. "Hebat... bahkan HP yang sudah hancur seperti itu bisa dinyalakannya kembali???" Adora berseru dengan penuh semangat. "Dia benar-benar jenius!!!" ucap Ryu dan Akiko hampir bersamaan menggunakan bahasa Jepang. Mereka memuji kemampuan Adith yang cukup luar biasa meski dirinya masih seorang anak SMA. "Tentu saja, pak Adith sangat menganggap remeh jika berhubungan dengan tekhnologi itu karena sebenarnya dialah yang menciptakan perangkat lunak HP tersebut!!!" sang wanita kantor tertawa penuh bangga kepada atasannya tersebut. "HP iOS ini memiliki pengamanan tingkat tinggi yang bahkan akan cukup sulit untuk dibobol oleh FBI sekalipun. Tidak heran jika dia begitu penuh percaya diri dengan HP miliknya ini" senyum Adith mencoba mengutak-ngatik HP milik si pria mesum. "Buhhahaha,, kau takkan menemukan apapun didalam..." tepat saat ia masih berbicara dengan tertawa sebuah video keluar dari layar hologram HP miliknya. Dari video itu terlihat bagimana wajahnya penuh bahagia bisa merekam selangkangan milik wanita kantoran tadi. Bukan hanya itu, Adith juga menemukan banyak gambar dan video lain yang ia rekam secara diam-diam lalu menyebarkannya ke dunia maya. Sontak saja ia mundur dan berusaha ingin melarikan diri namun orang-orang yang semula membelanya kini sudah berdiri dibelakangnya dengan penuh amarah. Terlihat salah seorang dari mereka merupakan salah satu dari orang dimana video tentang dirinya juga diambil diam-diam sebelum wanita kantor tersebut. Pria itu dengan cepat diringkus dan dibawa pergi setelah sebelumnya mendapat tamparan dan juga bogem mentah karena beberapa orang yang merasa kesal sudah percaya kepadanya. "Nak,,," panggil seorang bapak mengehentikan mereka yang pandangannya mengarah kepada Ryu yang sudah akan beranjak pergi begitu permasalah sudah selesai. "Maafkan kami telah salah paham dan menuduh kalian yang tidak-tidak juga..." Dengan penuh rasa malu seorang bapak-bapak yang lain berusaha meminta maaf. "Kami tidak seharusnya bersikap seperti tadi hanya karena melihat kalian lebih muda dari kami, seharusnya kami memberikan kesempatan kepada kalian untuk menjelaskan dan tidak menilai kalian hanya dari tampilan luar saja!" terang seorang Ibu-ibu yang sedari tadi ikut menyaksikan kejadian itu dan memberi dukungan kepada sang pria mesum. "Tidak apa-apa pak, siapapun bisa salah paham terhadap kejadian seperti tadi,," terang Ryu dengan senyuman lembut menunduk hormat menghargai usaha bapak tersebut untuk meminta maaf. Tingkah Ryu yang menunduk hormat membuat yang lainnya tersenyum dan ikut menunduk hormat lalu menyalami tangan mereka satu persatu meminta izin pergi. Dengan penuh rasa malu mereka tersenyum kecut dengan tingkah manis dan sopan Ryu serta yang lainnya. Chapter 158 - Kebaikan Tersembunyi "Maaf den Adith, saya tidak bisa membuka gerbangnya. Aturannya kalau terlambat kalian tidak di izinkan masuk dan mendapatkan pemotongan poin sebanyak 65 poin! jelas pak satpam dengan nada suara lembut berusaha memberikan pengertian kepada mereka. "Iya pak, tidak apa-apa! maaf sudah membuatmu susah.." ucap Zein menenangkannya. Mereka sadar bahwa apapun alasannya mereka sudah terlambat ke sekolah karena kejadian tadi dan harus mendapat hukuman karena itu. "Aku sudah menduga kalau akan seperti ini, tapi tak mengira kalau kalian semua murid teladan terutama 3 elit sekolah ini juga bisa terlambat ke sekolah Apakah kalian harus selalu bersama dalam berbagai hal? Ibu heran di setiap keadaan kalian selalu saja bersama!" ibu Arni muncul tepat ketika melihat gerbang tutup dan sudah menunggu kedatangan mereka disana. Ia cukup kesal dengan mereka yang terus-terusan berada dalam masalah secara berjamaah. "Maaf bu, tapi kami punya alasan kenapa bisa terlambat. Selain itu, kami tidak secara langsung bisa bersama karena pengalihan jalan akibat dari demontrasi yang menutup hampir beberapa akses jalan sedangkan yang lainnya cukup jauh jika harus mengambil jalan memutar." Terang Yogi berusaha menjelaskan situasi mereka. "Maaf, karena aku kalian semua jadi terlibat dalam masalah!" Ryu merasa bersalah kepada semua teman-temannya yang karena dirinya mereka sekarang harus mendapatkan pinalti. "Jangan berpikir seperti itu, apa yang kau lakukan tidak salah!" Rinto mencoba menenangkan Ryu yang merasa tidak enak kepada mereka. "Bahkan jika kau tidak melakukannya, kami semua pasti sudah menghajar pria itu!!!" Karin tersenyum manis membuat Ryu merasa tenang melihatnya. "Jika itu demi kebenaran, tentu saja kami akan mendukungmu dengan sepenuh jiwa!!!" Zein memukul pundak Ryu agar ia tak merasa terbebani oleh keadaan mereka saat itu. "Mantap Jiwaaa!!!" Seru Yogi dan Gani hampir bersamaan yang membuat mereka tertawa karenanya. "Oke, ibu akan paham jika itu yang terjadi pada kalian! tapi kenapa pria nomor satu ini juga ada bersama kalian?" tunjuk ibu Arni menggunakan lirikan matanya. Zein dan Riyan langsung cekikikan melihat ekspresi wajah malu Adith. Tentu saja, dia yang selama ini selalu menjadi orang paling teladan harus mengalami kejadian memalukan dimana ia dikunci di depan pintu gerbang dan tak di izinkan masuk. "Aku hanya manusia!!! Meski aku merupakan nomor 1 di Indonesia, tidak bisa menyembunyikan kodrat kalau aku juga manusia. Meski aku punya kekuasaan untuk bisa menembus jalan itu dengan sombong, tapi aku tak ingin menyusahkan pak Dimas ditambah meski aku tak bisa membantu mereka dalam menyuarakan aspirasi rakyat, bukan berarti aku tak mendukung suara yang mereka teriakkan! Setidaknya dengan memberikan mereka ruang untuk lebih leluasa itu akan sangat baik meski kadang zaman sekarang apa yang mereka suarakan sudah terdapat permainan politik di dalamnya, tapi tidak semuanya. Dan bagiku mereka adalah pejuan rakyat, ujung tombak rakyat, lidah rakyat dan juga... kenapa aku masih berdiri disini????" Adith bergumam pelan dengan suara yang masih di dengar oleh semua orang. Adith tertunduk membenturkan kepalanya merasa malu pada dirinya sendiri. "Apa yang sedang terjadi padanya?" tanya ibu Arni takut dengan wajah murung Adith yang sedang menyalahkan dirinya sendiri. "Baru kali ini aku lihat wajah gusarnya seperti itu!"Bisik Emi kepada Adora. "Dia sangat tampan meski dengan eskpresi wajah seperti itu!" Lanjut Feby memuji wajah mustahil Adith. Selagi mereka sedang memperhatikan Adith, dari kejauhan kepala sekolah beserta para asistennya dan stafnya datang menghampiri mereka semua. Melihat kerumunan petinggi itu membuat mereka sedikit memundurkan langkah kebelakang sedang Adith masih dengan posisi yang sama. "Aku tidak mengira kalau kalian bertiga terlibat dalam hal ini termasuk dua murid baru itu!" wajah kepala sekolah terlihat serius dengan tatapan datar. Suara berat dan penuh wibawa dari kepala sekolah membuat mereka cukup merasa terintimidasi. Adith mendongakkan kepalanya dengan acuh tak acuh dan datar namun tetap menunjukkan rasa hormat. "Kami tidak ingin membela diri, tapi kami terlambat karena kejadian tak terduga yang menahan kami.. Selain itu.." Belum selesai Riyan mencoba untuk menjelaskan, kepala sekolah mengangkat tangan memberi tanda berhenti kepada Riyan. Reaksi kepala sekolah seperti itu membuat mereka berpikir bahwa kepala sekolah tak menerima alasan apapun karena keterlambatan mereka tetaplah sebuah kesalahan mereka sendiri. "Tamat riwayat kita!!!" bisik Adora kepada Karin yang membuat mata Akiko membelalak khawatir karena mendengarnya. "Tidak apa-apa!!!" senyum Karin untuk menenangkan Akiko. Bagi Karin kesalahan yang mereka perbuat adalah suatu kebaikan tersembunyi yang ia percaya akan ada hikmah dibalik semua itu. "Aku sudah mendapat telepon dari pihak kepolisian mengenai apa yang sudah kalian lakukan di kereta bawah tanah tadi. Dan mereka menjelaskan mengenai situasi yang sebenarnya. Pria yang sudah kalian serahkan kepada pihak berwajib tadi ternyata memiliki rekaman kriminal yang cukup tinggi dimana dia tidak hanya melecehkan wanita dengan merekamnya, dia juga salah satu pelaku yang melakukan pembunuhan sekaligus pemerkosaan yang mana semua itu terbongkar berkat semua file yang sudah dibobol oleh Adith!" Jelas kepala sekolah yang wajahnya terlihat sudah mulai melunak. "Untuk itu kami sudah melakukan rapat dadakan mengenai kejadian tersebut dan memberikan pengecualian terhadap apa yang sudah terjadi hari ini dan rekam keterlambatan kalian akan dihapus serta pengurangan poin pada kalian tidak diberikan!" tambah wakil kepala sekolah dengan penuh semangat dan rasa bangga kepada mereka semua. "Untuk itu, kalian diizinkan masuk dan diberikan poin tambahan sebagai bentuk penghargaan telah mengharumkan nama sekolah dan juga mewakili sekolah dalam lomba seni dan debat se Indonesia di bulan depan!" Kepala sekolah tersenyum hangat dan memberi tanda kepada satpam untuk membukakan gerbang kepada mereka. Adith dan yang lainnya terdiam tak tahu harus berkata apa-apa. Sedang yang lainnya juga sama kagetnya mendengar hal tersebut tidak terkecuali ibu Arni. "Apa yang terjadi? apakah itu sebuah keburukan???" tanya Akiko bingung dengan ekspresi diam teman-temannya. "Ini luar biasa!!! Aku mewakili sekolah di tingkat nasional???" Adora menunduk melihat dirinya. "Itu bukan keburukan Akiko, itu adalah sebuah keajaiban!!!" Teriak Beni penuh semangat. "Aku tak mengerti apa maksudnya!!!" Ryu masih menatap kebingungan. "Bagi mereka yang terpilih sebagai perwakilan sekolah, maka semua universitas ternama akan memperebutkan kita sebagai mahasiswanya ditambah lagi merekalah yang akan membayar kita!" jelas Rinto tak kalah semangat. Akiko tak menyangka kalau pengaruh sekolah ini begitu besar. Siswa lulusan SMA Cendekia Indonesia sudah tak diragukan lagi kemampuan mereka namun diatas itu semua siswa perwakilan sekolah lah yang menjadi incaran. Chapter 159 - Vivian Anggara Putri Di Ruang Kelas Elit. "Bagaimana mungkin siswa elite yang mewakili sekolah hanya 3 orang saja! Sedangkan siswa kelas biasa diwakili oleh hampir setengahnya? apa yang sebenarnya terjadi? kenapa diantara kalian tidak ada yang terpilih?" pak Irhan membanting tangannya ke atas meja dengan keras. Ia tidak terima karena siswa yang menjadi perwakilan dari kelasnya hanya 3 orang saja. "Kalian tau kan kalau kinerja seorang guru juga dilihat dari keberhasilan dia membawa muridnya mewakili sekolah dalam pertandingan apapun ditingkat nasional? tiap tahun kelas elite selalu mengarahkan semua siswanya namun kenapa tahun ini hanya 3 orang saja di antara kalian?" lanjutnya lagi dengan nada yang dingin namun menusuk. "Kalian hanya mempermalukan ku saja. Bagaimana bisa kalian kalah dengan orang-orang seperti mereka?" ucapnya lagi sinis yang terdengar sangat menghina. "Maaf pak, tapi sepertinya bapak terlalu meremehkan mereka!!!" Riyan tidak terima dengan cara pak Irhan membicarakan teman-temannya. "Oh ya??? bukankah ini salah kalian? jika saja kalian tidak memberikan bimbingan bodoh itu, maka tentu saja nama mereka bahkan takkan berada di 50 besar peringkat sekolah! Mereka bahkan tidak akan bisa naik kelas. Tapi karena kecerobohan kalian akhirnya peringkat kelas kita selalu turun dan kalian membuatku malu!!!" pak Irhan semakin meradang mendengar perkataan Riyan yang membela siswa dari kelas Mia 2. "Tidakkah bapak berpikir jika benar kemampuan mereka dibawah rata-rata atau seperti apa yang bapak maksudkan maka mereka tentu takkan bisa mengikuti dan menerima materi yang kami berikan?" Adith kemudian ikut berkomentar dengan santun untuk meredakan emosi pak Irhan. "Mereka bisa mengikuti dan menerima semua materi yang kami berikan yang bahkan para siswa elite sedikit kesulitan dalam memahaminya. Itu artinya mereka benar-benar bekerja dengan sangat keras sehingga mereka mampu melewati serangkaian tes yang diberikan oleh sekolah!" tambah Zein mengingat bagaimana kerasnya perjuangan para siswa kelas Mia 2 untuk bisa mendapatkan peringkat besar disekolah dan lolos dengan nilai tinggi di setiap mata pelajarannya sehingga mereka bisa naik kelas. "Itulah yang aku katakan mustahil. Mereka semua bukanlah para siswa dengan tingkat IQ yang tinggi namun bagaimana bisa mereka mendapatkan nilai yang tinggi? apakah mereka melakukan cara yang curang?" pak Irhan melipat kedua tangannya dengan sombong. "Hati-hati pak, jika ada yang mendengar hal tersebut maka bukan hanya para siswa kelas Mia 2 yang mendapatkan penyelidikan tetapi bapak juga akan mendapatkan hal yang sama!" suara Adith terdengar berat dan memberikan peringatan. "Apa kalian pikir saya takut??? baik, akan saya buktikan kalau mereka tidak layak untuk mewakili sekolah ini di pertandingan nanti dan kalian akan mendapatkan balasannya! Satu hal lagi, aku tidak suka akan kekalahan yang tidak bisa aku terima." Ucap pak Irhan sebelum keluar dari kelasnya. Pak Irhan merupakan wali kelas dari Mia 1 yang terkenal sangat ambisius dan sangat perfeksionis sehingga ketika mendapat saingan dari kelas sebelah ia merasakan kemarahan yang cukup tinggi. Baginya jika siswa yang ada dikelasnya mewakili sekolah lebih banyak ketimbang dari kelas Mia 2 tentu saja ia tidak masalah namun karena hanya 3 orang dari kelasnya ia menjadi tak terima. Bukan hanya para siswa saja yang diberikan perlakuan khusus jika mendapatkan nilai sempurna dan mewakili sekolah ditingkat nasional, namun para guru juga mendapatkan penilaian dan perlakuan khusus jika siswa mereka berhasil meraih sesuatu yang membuat mereka bahkan akan diberikan bonus sebagai bentuk penghargaan dan kenaikan posisi serta gaji. Hai tersebutlah yang mungkin membuat pak Irhan meradang karena bisa saja ia mendapatkan penurunan posisi serta gaji karena kalah dari wali kelas Mia 2. ***** "Tetap ditempat kalian dan dengarkan pengumuman ibu. Ada hal penting yang harus ibu sampaikan!" Ibu Arni masuk dengan wajah serius yang membuat semua siswanya terduduk kembali. "Ada apa bu? tidak biasanya ibu datang pada saat jam istirahat seperti ini." Yogi merasakan hal yang sangat serius akan disampaikan oleh ibu Arni. "Mulai saat ini ibu akan digantikan oleh seorang guru baru." Ibu Arni menoleh kearah pintu dan seorang wanita yang terlihat masih muda masuk dengan anggun dan cantik. "Sebentar bu, ada apa ini? kenapa bisa ibu digantikan?" Adora langsung menyerang dengan tatapan bingung. "Apa salah kami bu? bukankah kami semua sudah melakukan hal yang baik?" tanya Beni tak kalah kaget dengan apa yang disampaikan oleh ibu Arni. "Benar, kami sudah menjadi perwakilan sekolah yang harusnya ibu juga mendapatkan penambahan poin sehingga tidak ada alasan bagi ibu digantikan!" lanjut Karin tak terima dengan pengumuman mendadak itu. "Kami tidak terima jika ibu harus digantikan tanpa ada alasan yang jelas. Ibu jangan khawatir, kami akan menuju komite untuk mempertanyakan alasan dibalik pergantian ibu!" tegas Rinto dengan suara yang lantang. "Hei,,, hei,,, hei,,, segitu tidak terimanya kalian dengan diriku yah?" guru pengganti ibu Arni duduk bersandar diatas meja dengan seksi dan penuh percaya diri. "Tentu saja! kami tidak menginginkan siapapun datang untuk menggantikan ibu Arni. Wali kelas kami adalah ibu Arni bukan..." Emi menatap tajam tak mengetahui siapa orang yang berada dihadapannya. "Bisakah kalian tenang dulu? Dia adalah Vivian Anggara Putri, putri kepala sekolah lulusan Oxford University. Dia masih terlihat muda namun baru saja menyelesaikan kuliah S3 nya dengan predikat cumlaude terbaik di tahun kelulusannya. Dia juga sahabat ibu yang akan menggantikan ibu untuk sementara selama ibu cuti hamil." jelas ibu Arni sembari merangkul bahu sahabatnya itu dengan hangat. "Yup, panggil Aku Vivi saja!!" ucapnya sembari membentuk simbol V. "Kami tak peduli dia berasal dari mana dan anak siapa yang kami tau..." Gani berhenti setelah sejenak menyerap kalimat terakhir ibu Arni. "Hahhhhhhhhhh????????" Teriak mereka semua hampir bersamaan karena kaget. Mereka saling bertatapan satu sama lain masih tak memahami situasinya. "Benar!!! saya hanya menggantikan dia selama Ibu guru kesayangan kalian ini mengambil cuti untuk bisa melahirkan dengan baik!" seru Vivian menunjuk wajah ibu Arni dengan meletakkan tangannya dibawah dagunya. "Ibu ha.... hamm..." Yogi tergagap masih tak percaya akan apa yang didengarnya. "Ibu Hamil???" Karin bertanya cepat melambung omongan Yogi. "Benar!!!" ibu Arni menaikkan dua Jarinya sedangkan Vivian menarik baju longgar ibu Arni untuk memperlihatkan usia kehamilannya yang sudah mencapai 5 bulan. Melihat itu mereka semua langsung menghambur kedepan menyerang ibu Arni dengan banyak pertanyaan. Chapter 160 - Kemampuan Fotografis "Okeh,, karena serangan pertanyaan kalian, Ibu Arni harus beristirahat sebentar agar tidak kelelahan. Untuk itu mulai dari sekarang aku yang akan mengambil alih kelas ini" tegas Vivian setelah sebelumnya mengantar Ibu Arni pergi ke ruang UKS untuk bisa mengistirahatkan diri. "Ibu Arni tega, waktu nikah juga dia tidak mengatakan apapun dan menikah saat kita semua sedang berlibur ke Jepang!" Bisik Feby kepada Adora tak terima mengingat semuanya terjadi tanpa pemberitahuan dari ibu Arni sebelumnya. "Kalian merasa kesal juga? Aku pikir hanya diriku saja yang merasa seperti itu. Tau tidak saat dia bilang akan menikah itu tepat sehari sebelum hari H, sementara saat itu aku harus mengikuti ujian Disertasi untuk mendapatkan gelar Doktor di kampusku sehingga karena dirinya aku bahkan harus meminta seseorang mengirimkan jet pribadinya untukku jika tidak aku mungkin takkan bisa menghadiri acara pernikahannya. Meski sebenarnya aku harus terlambat melihat prosesi pernikahannya, setidaknya aku bisa hadir di resepsi pernikahannya. Tapi karena itu aku harus mengomel padanya selama 1 Minggu !!!" Ucap Vivian dengan penuh semangat dan terdapat rasa kesal di dalamnya. Karina dan yang lainnya menatap dengan wajah heran serta takjub dengan kepribadian Ibu Vivian yang tampak sangat ceria dan penuh semangat. "Ehem... Maaf, aku terpancing dengan apa yang sedang kalian bahas! Okeh, sekarang kembali ke pembahasan penting." Vivian terbatuk pelan untuk mengembalikan kesadarannya karena telah terlalu semangat sebelumnya. "Kepribadiannya mirip seperti Ibu Arni" gumam Adora tersenyum melihat ibu Vivian yang memiliki tingkah yang hampir sama dengan ibu Arni. "Bukan hanya kepribadian, wajah mereka bahkan terlihat mirip. Saat dia masuk aku hampir menduga kalau dia adalah saudara ibu Arni" gumam Emi menambahkan. "Kau tahu, sahabat yang karena sudah terbiasa bersama maka kepribadian dan juga wajah tampak akan terlihat mirip di mata banyak orang!" tambah Karin memajukan posisinya berbisik pelan agar bisa didengarkan oleh mereka. "Kalian benar, meski dia terlihat sedikit tua dan Vulgar!" ucap Gani memajukan tubuhnya kearah Adora dan yang lainnya. Pakaian Vivian memang terlihat sedikit ketat namun tetap sopan. Akan tetapi kecantikan serta paras dan body line nya membuatnya tampak seksi dan mempesona. "Hei aku mendengar semuanya!!!" Teriak ibu Vivian ketika ia mendengar jelas suara Gani. "Bisakah kalian fokus dulu?" pintanya tegas yang membuat semua orang dengan sopan mengikuti arahan dari Ibu Vivian. "Aku diberitahu bahwa sebagian dari kalian akan mewakili sekolah dalam perlombaan antar sekolah di tingkat nasional nanti, selain nama-nama yang sudah diberikan padaku ada satu nama yang sepertinya tak berada disini. Aku tak melihat seorang yang bernama Ralisya, ibu Arni juga sepertinya lupa memberitahu ku mengenai siswa satu ini" ucap Vivian melihat absen ditangannya dengan serius. "Bagaimana dia tahu kalau Alisya yang tidak hadir hanya dengan sekali melihat ke Absen?" Bisik Rinto kepada Yogi. "Sepertinya ia melihat papan nama di dada kita dan segera menghafal keseluruhan siswa yang berada ditempat dengan sangat akurat. Bahkan ia tidak perlu lagi melihat wajah kita karena sudah mengenalinya dengan sekali lirikan." Jawab Karin dengan tatapan tajam melihat takjub dengan kemampuan ibu Vivian. "Apa itu sama seperti kemampuan Fotografis? kemampuan mengingat peristiwa hanya dengan satu kali penglihatan?" tanya Beni dengan tatapan penuh akan rasa kagum dan terpesona. "Alisya sedang sakit dan sekarang dia masih berada di rumah sakit bu, tapi hari ini dia akan dipulangkan!" Seru Gina menjawab pertanyaan ibu Vivian. "Ralisya adalah salah satu dari siswa yang akan menjadi perwakilan sekolah pada perlombaan nanti jadi kita harus menunggu kehadirannya untuk bisa mendiskusikan langkah apa yang harus kita ambil pada perlombaan nanti. Kalian tidak perlu khawatir, karena aku akan membantu kalian semua dengan semaksimal mungkin untuk bisa memenangkan semua perlombaan nantinya dan kalian tentu tak ingin jika mereka meremehkan kalian hanya karena kalian berada di kelas Mia 2!" suara Vivian terdengar santai namun terdapat semangat membara dan penuh akan keyakinan didalamnya. "Apa ibu yakin? awalnya kami merasa senang karena berhasil menjadi perwakilan sekolah namun kemudian kami jadi merasa terbebani karena kami merasa tidak pantas untuk mewakili sekolah!" Gani terdengar pesimis mengingat besarnya pertandingan yang akan mereka hadapi nantinya. "Tentu saja!!! Aku yang akan membuat kalian membuktikan semua itu, selain itu bukankah kalian memiliki 3 orang elite dan 3 orang peringkat 10 besar disekolah? kenapa kalian ragu?" ibu Vivian mengarah kepada 4 orang elite sekolah yang ditempati oleh Adith, Zein dan Riyan serta 4 orang peringkat 10 besar sekolah yaitu Alisya, Karin, Rinto dan juga Yogi. "Benar, selama ini mereka selalu membantu kita sehingga kita bisa berhasil sampai sekarang dengan begitu percaya diri!" ucap Adora membenarkan apa yang dikatakan oleh ibu Vivian. "Ditambah dengan adanya ibu Vivian, semuanya pasti akan baik-baik saja selama kita berusaha seperti yang biasa kita lakukan sebelumnya!" tambah Emi meyakinkan teman-temannya termasuk dirinya. "Aku rasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan lagi" Senyum Karin melihat semangat dari teman-temannya. "Yang terpenting dari semuanya adalah jika kamu berani memulai, berusaha dan satu lagi percaya diri!!!" tegas ibu Vivian meyakinkan mereka semua. **** "Bukkk, Bakkkk,,, Bukkkk,,, " suara ribut terdengar dari luar pintu kamar Alisya. Alisya sejenak terdiam mendengarkan dengan seksama apa yang sedang terjadi diluar namun kemudian cuek dan melanjutkan aktifitas nya untuk membereskan barang-barangnya. "Aku melihat dia sedang mencoba mengendap-endap diluar. Apa kamu mengenalinya?" nenek Alisya masuk dengan membawa seseorang yang tangannya sudah terkunci kebelakang dan rambut yang dijambak tertarik dengan sangat keras kebelakang. Alisya tak bisa melihat jelas wajah pria yang ditangkap oleh neneknya karena dari arah depan Alisya hanya bisa melihat dagu serta lobang hidungnya yang cukup besar serta berbulu lebat. Alisya sedikit merinding melihat itu. "Dia siapa nek???" tanya Alisya bingung tidak mengenali pria tersebut. "A,,, Ali,,, Alisya... tolong...." pria itu berkata dengan terbata-bata berusaha mendongakkan kepalanya dari cengkraman nenek Alisya. Karena jambakkan nenek Alisya yang cukup kuat membuat matanya membesar keatas. "Pak guru????" teriak Alisya begitu mengenali orang yang sedang ditangkap neneknya. Mendengar teriakan Alisya yang menyebut pria itu sebagai pak guru, nenek Alisya langsung melepaskan cengkramannya dan mendorongnya dengan sangat kuat karena kaget yang membuat pria itu jatuh tersungkur mencium karpet lantai kamar Alisya. Chapter 161 - Pak Yuda "Ummm,,, pak,, pak guru baik-baik saja?" Alisya menarik nafas dalam menahan tawanya. Posisi pak Yuda yang jatuh tersungkur dengan wajah tenggelam kelantai dan sedikit nungging membuat Alisya mau tidak mau berusaha keras untuk tidak tertawa. Alisya membantu pak Yuda bangkit dengan suasah payah karena pak Yuda merasa sangat malu dengan kejadian tersebut. Umur pak Yuda yang baru 28 tahun membuat Alisya tidak merasakan jarak yang cukup jauh sehingga Alisya bersikap santai padanya. "Aduh,,, maaf pak.. saya kira bapak tukang intip atau yang punya niat jahat kepada cucu saya!" Seru nenek Alisya cepat kemudian membantunya berdiri. "Apa yang bapak lakukan disini?" Tanya Alisya bingung dengan kedatangan gurunya tersebut. "Ummmmm,, Bapak mau minta maaf! Karena kesalahan dan kecerobohan bapak kamu jadi mengalami kritis selama sebulan. Selain itu teman-temanmu juga mengalami banyak luka-luka karena ke egoisan bapak yang tidak mendengarkanmu hanya karena kamu adalah murid bapak. Bapak merasa sangat bersalah, bapak tidak tau apakah bapak bisa mendapatkan permintaan maaf darimu!" Terang pak Yuda tertunduk dalam dengan posisi terduduk lantai memohon maaf. "Apa yang bapak lakukan???" Alisya memundurkan langkahnya kebelakang menghindari perlakuan pak Yuda. Alisya langsung mengangkat tubuh pak Yuda untuk memberikan penghormatan kepada dirinya. Bagi Alisya, meski pak Yuda bersalah, dia tidak seharusnya menunjukkan sifat tidak sopan santun dengan tetap berdiri sedangkan gurunya yang lebih tua sedang berlutut dihadapannya. "Semua itu bukan kesalahan bapak, ketidak sadaran Alisya selama sebulan juga bukan kesalahan bapak. Bapak tidak perlu merasa bersalah karena itu!" Nenek Alisya tersenyum menyilahkan dia untuk tak bersikap canggung karena semua hal yang sudah terjadi. "Semua kejadian itu diluar kuasa kita pak, bapak juga hanya menjalankan tugas bapak. Tentu saja zat itu tak seharusnya berada di Lab sekolah karena bahayanya dan karena hal itulah bapak yakin bahwa itu tidak mungkin zat yang berbahaya terlebih karena pihak sekolah yang memasukkannya kedalam. Selain itu semua barang yang masuk akan melewati pemeriksaan ketat sekolah yang sudah memiliki scanner barang sehingga semua ini bukanlah kesalahan bapak!" Terang Alisya menenangkan gurunya yang tertunduk menahan air matanya. "Tapi jika sekali saja bapak mendengarkan omonganmu maka tentu saja semua ini tak terjadi!" Pak Yuda meneteskan air matanya mengingat bagaimana banyak orang hampir kehilangan nyawa karena kesombongan dan keangkuhan dirinya. "Maaf yah pak, andai saja saya sadar lebih cepat maka bapak tentu tidak akan merasa tersiksa dan semenderita ini terlarut dalam kesalahan!" Alisya memegang tangan pak Yuda menggenggamnya erat untuk menenangkannya. "Alisya terbaring selama sebulan juga atas kesalahannya sendiri yang bersikap seperti seorang pahlawan padahal dia hanya seorang perempuan nakal yang pemalas! Apa kau pikir badanmu yang kurus krempeng itu memiliki tulang baja???" Jitak nenek Alisya yang membuat pak Yuda tertawa melihat interaksi keduanya. "Terimakasih Alisya, terimakasih banyak karena..." Ucapnya dengan suara serak. "Kami yang harusnya berterima kasih, perawat selalu bilang kalau bapak datang setiap hari untuk mengganti penghangat ruangan serta bunga dikamarku dan bahkan membayar semua biaya operasinya. Meski sebenanrnya bapak tidak perlu melakukan itu semua." Terang Alisya sambil merangkul neneknya dengan senyuman manis. "Benar, aku sudah beberapa kali bertanya namun pihak rumah sakit selalu mencoba merahasiakannya. Namun Alisya dengan mudah mendapatkan informasi itu dari seorang perawat yang selalu berpapasan dengan bapak disini" jelas neneknya mengusap pundak pak Yuda sebagai ucapan rasa terimakasihnya. "Tidak, bapak hanya melakukan apa yang seharusnya bapak lakukan!" Ucap pak Yuda dengan suara yang masih tercekat. "Jadi bapak disini? Wahh,, bapak ternyata gigih sekali yah?" Adora masuk tanpa permisi karena pintu kamar Alisya yang sudah terbuka. "Plakkkk, Apa maksudmu!" Karin menggeplak bahu Adora dengan cepat untuk membuatnya diam. "Maaf, aku tak bermaksud apa-apa. Hanya saja pak Yuda bahkan mendatangi semua siswa di kelas Mia 2 untuk meminta maaf. Dia juga yang membayar biaya pengobatan semua siswa yang mengalami luka-luka!" Jelas Adora mengelus pundaknya yang panas. "Pak Yuda bahkan menerima semua bentakkan dan amarah yang dilontarkan oleh orang tua kami, meski sebenarnya kami juga sudah menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada mereka!" Tambah Emi masuk mengikuti langkah Karin dan Adora. "Bapak bahkan sampai mendapat tamparan karena Beni mendapatkan luka yang cukup parah lalu!" Jelas Feby menatap dengan rasa bersalah karena perlakuan orang tuanya kepada pak Yuda yang mana pak Yuda termasuk salah satu korban juga. "Apa nenek juga melakukan hal yang sama?" Tanya Karin melihat wajah kacau pak Yuda dengan rambut acak-acakan. "Yup!!! Nenek melakukannya dengan sangat profesional..." Alisya menaikkan kedua jarinya. "Buk,,," pukul nenek Alisya tepat diperut Alisya. "Itu karena nenek salah paham dan mengira dia seorang penjahat!" Jelas neneknya lagi merasa kesal. "Sudah ku duga!" Karin tertawa cekikikan.. "Ketawa dosa nggak yah???" Wajah Aurelia memerah menahan tawanya. Pak Yuda langsung tertawa mengingat kenyolonyan yang terjadi sebelumnya serta bagaimana dia dengan mudah dilumpuhkan oleh seorang nenek-nenek. Hal itu membuat yang lainnya pun ikut tertawa sembari menyalami pak Yuda. "Apakah bapak baik-baik saja?" Rinto masuk bersama dengan para pria lainnya. Alisya memicingkan alisnya bingung akan ekspresi serius Rinto saat bertanya kepada pak Yuda. Alisya merasa ada yang tidak beres dengan pak Yuda. "Kami sudah mendengar semuanya, bapak sudah dikeluarkan dari sekolah karena kejadian kemarin!" Aurelia memandang pak Yuda dengan tatapan sendu. "Bapak juga sudah menghabiskan semua tabungan bapak karena kami" tambah Yogi merasa tidak enak dengan keadaan pak Yuda saat ini. "Bapak memang belum menikah saat ini, tapi bukan berarti bapak menghabiskan semua uang bapak karena kami!!!" Beni langsung berdiri tepat dihadapan pak Yuda yang terdiam. "Bapak tau kan? Sekolah SMA Cendekia memang sekolah elite dengan bayaran termahal di Indonesia, akan tetapi ke keluar dari sekolah itu juga memiliki resiko yang sepadan. Bapak akan kehilangan karir mengajar bapak!" Tegas Adora menyalahkan sikap pak Yuda yang mengundurkan diri dari sekolah dengan ceroboh. "Sekarang apa yang akan bapak lakukan?" Tanya Rinto lagi. Pak Yuda hanya terdiam tak tau harus berkata apa, baginya ia harus melakukan semua itu dan mempertanggungjawabkan kesalahannya. Memang resikonya besar, namun ia rasa itulah jalan yang benar demi menjaga nama baik sekolah yang selama ini terus dipertahankan. Chapter 162 - Dasar Pengganggu "Semuanya sudah siap, kita sudah bisa pergi sekarang!" Adith datang bersama Pak Hadi yang ingin mengantar Alisya keluar dari rumah sakit. "Hasil pemeriksaan selanjutnya akan saya kirimkan nanti" ucap pak Hadi penuh senyuman seorang ayah. "Kau beruntung memiliki banyak teman sekarang!" Ucap pak Hadi senang melihat Alisya yang selama ini selalu saja menutup diri bisa memiliki banyak teman yang sedang bersamanya saat ini. "Kami yang beruntung berteman dengan dia Om!" Terang Adora cepat. "Bagaimana perasaanmu saat ini?" Karan datang memakai baju jas Dokternya. "Kakkoi,,, Iyaa.. ano... (Keren sekali... Oh tidak,, itu...)" Akiko tergagap melihat ketampanan Karan yang memakai baju Jas Dokternya. Tanpa sadar ia memuji ketampanan Karan menggunakan bahasa Jepang, namun begitu mengingat bahwa Karan juga mengetahui maksudnya Akiko menjadi gugup seketika. Karan tertawa melihat wajah malu dan tingkah kikuk Akiko. "Apa kalian semua harus datang sekampung??? Sepertinya kalian semakin akrab satu sama lain selama aku tertidur lelap! Jadi apa saja yang sudah terjadi heh heh???" Alisya tak menjawab pernyataan Karan dan malah menggoda Karin saat melihat Ryu tanpa sadar berdiri disisi Karin. Adith yang datang bersama Zein dan Riyan membuat ruangan itu seketika penuh karena mereka. "Demi menjemput tuan putri manja, kami semua langsung kemari dan melewatkan pelajaran sore hari, dan sekarang yang kau lakukan adalah menggodaku dengan mata nakalmu itu?" Karin langsung mencubit Alisya dengan sangat kuat. "Cihhh,,, aku kira ada perkembangan yang begitu signifikan!" Seru Alisya mengoceh pelan. "Kkkrrryuukkk!!!" Bunyi perut Alisya yang sedari tadi menolak makan karena tidak selera dengan makanan yang disediakan oleh rumah sakit. "Oke! Sekarang kita pulang dulu!!!" Alisya langsung keluar dari kamar dengan wajah malu. Ia melewati Adith dengan menunduk menerobos Zein dan Riyan yang menghalangi pintu keluar. Adith hanya tertawa simpul melihat ekspresi wajah Alisya. "Perut anak zaman sekarang lebih tidak tahu malu yah?" Ucap nenek Alisya tertawa melihat cucunya yang sudah menghilang karena malu. Mereka semua tertawa tak menduga akan melihat tingkah Alisya yang sekonyol itu. Setelah membersihkan beberapa barang, semuanya segera berangkat menunju ke rumah Alisya menggunakan kendaraan masing-masing. "Aaa,,, ahh.... Kamu mau kemana?" Adith menghalangi Alisya yang sedang bergerak menuju ke mobil Karin dimana neneknya berada. "Mobil Karin tentu saja, emang kemana lagi?" Alisya tak mengerti apa maksud dari Adith yang menghentikannya. Dengan santai ia berlalu pergi namun Adith menarik tangannya cepat. Alisya berputar agar tidak kehilangan keseimbangan dan berada tepat membelakangi punggung Adith. Adith tak mau kalah, dia dengan cepat memegang pinggang Alisya memutar tubuhnya lalu dengan cekatan ia mengunci tubuh Alisya menggunakan tangan kanannya kemudian dengan sangat cepat mengangkat Alisya lalu mendudukkannya ke atas mobil. Alisya yang kaget seolah tak menduga dengan gerakan lincah yang dilakukan oleh Adith. Untuk sesaat ia terbengong memikirkan apa yang barusan terjadi karena begitu cepat terlebih karena gerakan Adith sangat santai dan lembut. "Sejak kapan Adith seberkembang ini? Bagaimana dia bisa mengungguli gerakanku bahkan dengan sangat mudah? Apa yang barusan terjadi?" Alisya bertengkar dengan pikirannya sendiri sambil menatap Adith dari jarak dekat. Bukan hanya Alisya, semua orang yang melihat mereka pun seolah tak bisa mengikuti setiap gerakan yang telah dilakukan oleh keduanya. Bahkan Karin dan Zein tak berkedip menatap mereka berdua saat sedang bertempur lembut. "Kau harus tetap bersamaku sayang, aku sudah sengaja membawa mobil sport ini hanya untukmu dan kau ingin meninggalkan ku sendirian?" Ucap Adith sembari memasangkan sabuk pengaman ditubuh Alisya. Melihat rahang Adith dari jarak yang cukup dekat membuat Alisya berdetak sangat cepat. Rahang Adith yang membentuk kontur V line terukir kokoh diwajahnya. Hidungnya yang mancung serta Alis tebalnya menambah indah setiap pahatan yang tercipta dengan semburna. Ditambah bibirnya yang mereka merona membuat Alisya menelan liurnya dengan susah payah. "Apa yang aku pikirkan!" Alisya menampar pipinya cukup keras untuk menyadarkan dirinya. "Sepertinya setelah operasi otakmu sedikit bergeser yah...?" Adith tersenyum dengan nakal seolah paham akan apa yang sedang dipikirkan oleh Alisya. Senyuman Adith sontak saja membuat pipi dan telinga Alisya memerah malu. "Kau...." Alisya melayangkan tinju karena kesal namun Adith mengelak. Alisya memajukan tubuhnya namun tertahan oleh sabuk pengaman yang sudah dipasangkan oleh Adith sehingga ia tidak bisa meraihnya. Adith tertawa dan beralih ke sebelah kanan untuk menyetir dan tidak memperdulikan Alisya yang sedang gusar karena rasa malunya. Tepat saat dia membunyikan mobilnya Rinto dan Yogi datang menghampiri. "Oy couple,,, kami ikut!!!" Ucap Yogi yang sudah duduk dikursi penumpang bagian belakanh bersama dengan Aurelia. "Izin tuh harusnya sebelum naik!" Ucap Adith kesal menoleh kebelakang. "Oke terimakasih..." Ucap Yogi dan Aurelia bersamaan dan tersenyum penuh pengharapan. "Dasar penganggu!!!" Gerutu Adith lagi. "Anggap saja kami tidak ada, iya kan sayang?" Suara Aurelia membuat Adith kesal sedangkan Alisya hanya tertawa pelan. "Kemesraan kalian membuatku jijik!!!" Terang Adith memacu laju mobilnya dengan satu kali pijakan gas dan mengganti persenelan dengan cepat. Yogi dan Aurelia yang belum sempat memasang sabuk pengaman mau tidak mau harus terlempar kedepan dan kebelakang. "Kau pikir kami tidak jijik dengan kemesraan kalian???!" Aurelia dan Yogi berteriak kesal kepada Adith. "Siapa yang bermesraan???" Adith mengerem mendadak mobilnya. Alisya dan Adith dengan kompak berbalik menatap tajam mereka membantah apa yang dikatakan oleh Yogi dan Aurelia. Sekali lagi mereka berdua terpental kedepan menabrak kursi Adith dan Alisya. "Dassaar!!! Karena dunia milik berdua semua orang di anggap ngontrak." Aurelia memukul jok milik Alisya. "Nih buktinya... Harusnya kalian tidak boleh bersikap seperti ini dihadapan umum! Apa lagi kamu masih pake baju sekolah. Kau mau merusak citra anak SMA???" Yogi memperlihatkan video yang sempat direkamnya sebelumnya. Adith dan Alisya yang ingin membantah terhenti karena ramainya klakson mobil yang berhenti akibat dari ulah mereka yang berhenti di tengah jalan. "Piiipp pipppp pippp piiiiiiiiip.... Woy, mau jalan nggak sih? Bukan lampu merah nih!!!" Teriak seorang pengguna jalan yang sudah mulai kesal karena mereka. "Kamu pikir ini jalannya bapakmu???" Teriak seorang pengguna jalan lain yang mengambil jalan disisi sebelah kanan mobil Adith. "Masih SMA sudah sombong!!!" Teriak yang lainnya. Karena merasa bersalah, Adith hanya menunduk-nunduk meminta maaf di ikuti oleh Alisya dan yang lainnya. Dengan cepat Adith memacu mobilnya kembali setelah sebelumnya mereka harus tertawa karena tingkah konyol mereka. Chapter 163 - Assasin Semua "Selamat datang Alisya..." Tante Loly membuka pintu masih dengan pakaian dapurnya. Meski sedang memakai celemek dapur, tante Alisya terlihat sangat seksi dan menawan. Gambar celemek dapurnya yang berbentuk bikini yang sangat seksi membuat penampilannya tampak vulgar untuk pandangan anak-anak SMA. "Buka Nggak!!!! Tante ngapain sih pake celemek kayak gitu?" Alisya kesal tantenya membuka pintu dengan pakaian seperti itu. "Apa sih,, ini kan bagus! Dateng-dateng sudah ngajak perang!" Tante Alisya ngedumel malas. "Hmmm... masih standar kok!!! Miss good Job,,," Adith menaikkan kedua jempolnya memuji kecantikan tante Alisya. "Aku suka kok... terlihat sangat cantik dan mempesona" tambah Riyan penuh semangat. "Tante,,,, kami semua tuh masih SMA! Nggak usah dipancing juga... tolong biarkan kami menikmati masa kami dengan nyaman!!!" Alisya meminta dengan sopan namun dengan keras menggertakkan giginya. "Ya sudah, tante buka deh... Alisya kampungan!!!" Ucap tantenya dengan geram. "Biar..... in.....!!!!!" Alisya dengan cepat mencolok mata Adith tanpa permisi yang beruntung Adith masih sempat berkedip sehingga tangan Alisya hanya menekan kelopak matanya namun cukup membuat matanya pedih. "Aahhh..." serentak semua laki-laki menjerit seketika. Gani menutup mata Gina, Akiko mendorong Ryu menjauh, Adora langsung menghalangi pandangan Zein, Aurelia mengunci kepala Yogi dipinggangnya, Emi menampar keras mata Beni dan Karin membanting Rinto dan Riyan dengan kasar agar tak melihat tubuh tante Alisya yang hanya memakai baju kaos putih yang ketat dan transparan serta tak memakai bra. "Taaaaannnnnteee!!!" Alisya berteriak dengan sangat kesal langsung membungkus tantenya dengan menarik horden jendela rumahnya. "Pletakkk Bukkkk...!!!! Kebiasaaan,, kau ingin aku kremasi???" nenek Alisya datang menghampiri dengan kesal sambil memukul kepala tante Alisya dengan gemas. Setelah puas dan membungkus tantenya seperti kue dadar, Alisya masuk masih dengan wajah yang bersungut-sungut marah. Para pria masih meringis kesakitan tak tahu akan kejadia apa yang barusan terjadi pada mereka, terakhir mereka hanya sempat melihat kalau tante Alisya sedang melepas celemeknya dihadapan mereka namun sedetik kemudian semuanya berubah gelap dan kacau. "Dasar Tante ini tidak pernah berubah dari Dulu. Pantesan saja tante Loly tidak menjemput, ternyata lagi masak.... Sekampung????" Alisya masuk dan kaget melihat makanan yang sangat banyak sudah tersedia diatas meja dan memenuhi 2 meja panjang yang d buat berbaris. "Kau sudah menahan diri cukup lama selama dirumah sakit bukan?. Terlebih semua teman-temanmu juga belum makan sepulang sekolah jadi nenek ajak saja semua kesini" nenek Alisya masuk diikuti oleh semua teman-temannya. "Rapikan dulu barang-barangmu dan kembali kesini" Ayahnya keluar memakai pakaian dapur begitu pula kakeknya. "Pantas saja kalian berdua tidak datang, aku pikir kalian sedang sibuk!" Ucap Alisya tersenyum melihat pakaian dapur yang terlihat lucu dipakai oleh dua orang bertubuh kekar itu. "Jadi kita makan banyak nih???" Karin segera menuju kemeja dan takjub dengan makanan mewah yang sudah tersedia. "Apa ada yang bisa kami bantu tante Loly?" Beni bertanya memastikan apakah ada yang bisa mereka lakukan. "Stop,,, aku belum nikah jadi jangan panggil aku tante!!! Saat ini umurku masih 27 tahun jadi jangan macam-macam dengan menyenutku tante..." Tante Loly menunjuk tajam hidung Beni yang sekarang wajahnya menjadi gugup. "Lalu kenapa Alisya memanggilmu tante??? Apa karena dia adalah ponakamu?" Tanya Yogi penasaran kenapa tante Alisya marah pada Beni karena di panggil tante. "Itu karena Alisya yang keras kepala memanggilnya tante dibanding dengan kakak, meski mereka harus bertengkar tiap saat hanya untuk sebuah nama panggil yang pada akhirnya tante Loly menyerah terhadap Alisya." Jelas Karin sambil tertawa mengingat pertempuran mereka dengan Alisya. "Trrreeeennngggg" Sebuah garpu sudah mendarat tepat di antara jari-jari Karin. Bergetar dengan sangat cepat dan menancap diatas meja. Tante Alisya memandang Karin dengan tatapan tajam karena kesal ia masih menyebut dirinya tante. "Iya, iya maaf... Miss Loly!!!" Karin mengangkat kedua tangannya menyerah terhadap ancaman tante Loly. "Itu artinya kami juga harus memanggil dengan sebutan yang sama?" Tanya Adora dengan sedikit gugup. "Jika kalian tak ingin garpu itu menancap indah di jidat kalian, maka turuti saja apa kemauannya!" Karan masuk setelah melihat semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga. "Mulai sekarang panggil aku Miss Lo Ly!!!" Ucap tante Alisya mengeja dengan keras namanya. Melihat tatapan tajam dan aura mengintimidasi tante Alisya membuat Beni dan yang lainnya mengangguk dengan sangat keras. "Apa keluarga ini isinya Asasin semua?" Bisik Riyan ditelinga Adith. "Aku rasa mereka melebihi itu!" Senyum Adith langsung menuju ke arah Ayah Alisya untuk membantunya mengambil beberapa barang. "Apa kita salah masuk rumah???" Bisik Riyan lagi yang berbalik kepada Zein yang hanya dia menyaksikan tingkah mereka semua. "Diamlah jika kau tak ingin pulang tinggal nama!" Seru Zein pergi meninggalkan Riyan sendirian. "Eh buset,, auto kena kick dong dari novel ini??? Oke... Mode kalem On!" Riyan mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. "Kamu tidak akan mati kok, tapi kulit wajahmu sangat cocok untuk menjadi pajangan rumahku!!!" Alisya mengendap berbisik dengan suara pelan yang serak yang membuat Riyan seketika teriak dengan kencang. "Sejak kapan anak itu berubah jadi se mengerikan itu?" Karin memicingkan matanya melihat tingkah Alisya yang baginya cukup terlihat aneh. "Aku rasa itu bagus! Selama ini Alisya hanya bermain bersama aku dan dirimu, sehingga selama ini wajah selalu saja datar seperti ini" Karan menghampiri Karin sembari menirukan wajah datar Alisya yang selama ini mereka lihat. Akiko tersenyum simpul melihat ekspresi wajah Karan, meski dengan ekspresi datar yang ditirukan nya, wajah Karan tetap terlihat ganteng dan mempesona. Melihat interaksi Alisya yang lebih hidup dengan teman-temannya yang lain membuat Karin tanpa sadar menitikkan air mata. "Kamu kenapa Kar?" tanya Ryu heran saat melihat air hangat itu mengalir deras. "Ahhh,,, maaf aku tidak apa-apa!" Karin dengan segera menghapus cepat air matanya. "Karin, aku penasaran sejak dulu bagaimana kamu..." belum selesai Rinto berbicara, Adith sudah berteriak kepada mereka untuk segera berkumpul makan. Mengurungkan niatnya, mereka semua langsung menuju ke tempat dimana ruang keluarga yang awalnya terlihat seperti satu lapangan basket itu penuh oleh banyak orang. Disana juga sudah terdapat Ayah dan Ibu Adith serta pak Hadi yang sudah mengambil tempat dan posisi masing-masing. Mereka semua dengan penuh semangat dan riang menyantap masakan nenek Alisya dan tante Loly yang sudah tidak diragukan lagi kenikmatannya. Chapter 164 - Weekend Setelah sebulan lebih terus berada dirumah sakit, Karin mengajak Alisya dan yang lainnya untuk setidaknya menikmati akhir pekan mereka dengan berjalan-jalan disekitar Cendekia Street sambil berburu belanja sembari mencari hadiah untuk ulangtahun Zein di malam hari. "Oke, jadi kalian akan kemana dulu nih?" tanya Riyan memandang semua teman-temannya dengan penuh antusias. "Ummm... pertama-tama dan yang paling utama, kita harus mencari tempat yang menyediakan banyak pakaian bagus untuk berpakaian casual entar malam! Senayan City akan lebih bagus, namun aku tetap memilih untuk ketempat ibu Gani dan Gina!" Seru Karin tidak sabar ingin segera mendandani Alisya dan Akiko. "Yup, benar!!! Setelah dari sana kita bisa menuju ke beberapa tempat untuk membelikan sebuah hadiah untuk Zein..." terang Adora ingin segera pergi. Tanpa buang waktu lama, mereka dengan segera pergi dan membuat seisi tempat ibu Gani dan Gina teracak acak oleh kelakukan mereka yang mencoba berbagai jenis pakaian. Para priapun tidak ketinggalan antuasias untuk mencoba beberapa pakaian dan saling menilai satu sama lain. Setelah cukup puas, merekapun segera mencari cafe untuk melepas lelah dan mengisi perut terlebih dahulu sebelum bergerak ke tempat yang lain. Adith dan Alisya berjalan memimpin teman-temannya yang masih bercanda ria. Adith dan Alisya tak sengaja bertemu dengan seorang laki-laki yang menepis seorang cewek dengan kasar. "Ada apa?" tanya Karin melihat Adith dan Alisya tiba-tiba berhenti dan terdiam. Tidak mendapat jawaban, ia dengan segera menoleh kearah tatapan Alisya dan Adith sedang melihat. Karin dan yang lainnya juga ikut menyaksikan bagaimana laki-laki itu mendorong seorang cewek dengan keras dan membentak bentanknya dengan kasar. "Dan akan selalu ada manusia sampah seperti dia!" Yogi menatap dengan penuh rasa emosi. Meski tak mengenali cewek itu, ketika melihat kejadian itu sontak saja membuat mereka cukup kesal karenanya. "Apa kau memikirkan seperti apa yang aku pikirkan?" Alisya memandang Adith dengan senyuman nakal. Melihat lirikan Alisya, Adith paham akan apa yang sedang dipikirkan olehnya sehingga ia melonggarkan sedikit pakaiannnya dan sedikit merapikan pakaiannya. Ia segera mendekati wanita itu bersiap untuk beracting layaknya seorang pangeran penyelamat. Adith merangkul pinggang si cewek dengan sopan dengan hanya menaruh tangannya ke pinggang wanita itu dengan memberi jarak agar tidak benar-benar menyentuhnya. "Apa yang kamu lakukan disini? Bukankah sudah ku bilang jangan temui dia lagi? Kenapa kamu masih tidak bisa meninggalkan dia?" Ucap Adith dengan penuh mesrah. "Siapa kau? Jangan ikut campur urusan orang sembarangan yah?" Bentak pria itu dengan kasar. "Ikut campur??? Puhahaaha... Jangan bercanda!!! Kau pikir hanya karena kau laki-laki jadi kau bisa bertindak lancang dan kasar seperti itu pada perempuan? Apalagi kepada wanita cantik seperti dia!" Adith memandang cewek itu dengan penuh cinta. Alisya tersenyum melihat acting Adith yang tampak seperti seorang Actor Korea ternama. Wajah gantengnya sangat mendukung perannya sebagai seorang pangeran penyelamat. "Karin, kau tau apa yang harus kau lakukan bukan?" Alisya melirik dengan tatapan penuh kelicikan. "Jangan berbuat sesuatu yang aneh. Serahkan saja padaku, biar aku yang menyelesaikannya nanti!!!" Karin segera bergerak pergi sedang yang lainnya terbengong tak paham. "Kita mau kemana? bukannya mau makan?" tanya Akiko tak paham situasinya. "Ikutlah, nanti juga kau akan tau!" ucap Ryu antusias. "Sepertinya akan menarik. Aku selalu suka dengan cara kalian menyelesaikan masalah!" Ucap Riyan berlalu pergi meninggalkan Alisya dan yang lainnya mengikuti langkah kaki Karin. Si cewek hanya terdiam tak bisa berkata apa-apa. Dari cara Adith memperlakukan dirinya dengan tetap menjaga jarak membuatnya tak bisa memikirkan apapun dan otaknya seolah ngeblank untuk waktu yang cukup lama. "Apa yang kamu bilang??? Dia cantik? Kau bisa lihat bagaimana dekilnya dia? Selama ini aku mau dekat dengan dia karena dia selalu membantuku tapi lama kelamaan ia seolah mengira kalau aku benar-benar mencintainya. Apa zaman sekarang sedikit perhatian sudah dikatakan suka? Cihhh... Tidak sudi aku menjadi pacarmu!" Ucap pria itu langsung membuang ludahnya dengan tatapan menghina. "Apa yang kamu lakukan disini? Aku sudah menunggumu sedari tadi di cafe, dan... Apa-apa''an pakaianmu ini? Dari mana kamu mendapatkan pakaian ini?" Alisya datang menghampiri mereka dan menatap cewek itu dengan tatapan Aneh. "Huhhh??? Aku.. Aku,,," cewek itu bingung tak tahu harus berkata apa. Ia bingung dengan Adith dan Alisya yang tiba-tiba datang padanya dan bersikap seolah mengenalinya. "Hahahahahha... Dia itu cewek miskin yang hanya punya otak tentu saja dia punya pakaian lusuh satu lemari full dikamarnya!" Ucap pria itu dengan angkuh. "Oh ya? Apa kau sudah pernah kerumahnya?" Tanya Adith mencoba menganalisa pria dihadapannya itu. "Kerumahnya? Buat apa? Dari penampilannya saja semua orang bisa menebak kalau dia itu miskin!!! Tiap kali ada acara kumpul dia selalu saja beralasan dan menghindar. Hahahahaa... Mana sanggup dia mengikuti gaya hidup kami?!!!" Nadanya semakin lama semakin angkuh membuat Alisya jadi jengah. "Sayang,,, kamu ngapain sih lama amat!!!" Terial seorang perempuan dari kejauhan. "Woy,, sudah belum sih? Pestanya udah dimulai nih.." Teriak temannya yang seorang cowok. "Buruan... Ngapain sih lo ngurusin cewek begitu? Lu mau ketinggalan pestanya si Zein? Dia orang kedua di Indonesia loh? Kita bisa kehilangan moment kalau telat!" Teriak yang lainnya. Mendengar mereka menyebutkan nama Zein, Adith dan Alisya tersenyum simpul. Sepertinya mereka baru saja berbelanja dengan menghabiskan semua uang yang sudah susah payah dikumpulkan oleh cewek ini dilihat dari cara ia menangis dan tidak diizinkan ikut bersama mereka. "Kau akan menyesal karena sudah menilai seseorang dari penampilannya!" Ucap Alisya dingin dengan senyuman yang menawan. Laki-laki itu langsung terpesona dengan senyuman Alisya dan lambaian rambut Alisya yang menampar lembut pipinya. "Eehem... Siapa sebenarnya kalian? Kalian tampak berada dilevel yang sama! Berbicara dengan kalian hanya membuang-buang waktuku saja." Ucapnya berbalik menuju ketempat teman-temannya. Tepat saat ia melangkah, sebuah mobil sport mewah edisi terbatas berhenti tepat dihadapannya. Ia takjub dengan mobil itu dan langsung melotot mengaguminya. "Buruan naik, yang lainnya sudah nungguin! Ucap Yogi mengklakson mobilnya dengan pelan. Beberapa saat kemudian deretan mobil-mobil mewah lainnya berjejer rapi dimana Karin, Gani, Riyan serta Ryu sudah ikut parkir bersama yang lainnya. Adith dengan lembut mengajak cewek itu naik ke mobil Yogi yang berplat A D1 TH. Si pria melongo kaget melihat mereka berlalu dengan serentak meninggalkan dirinya berdiri diam dipinggir jalan. Chapter 165 - Acara Syukuran? Pria itu masih terbengong melihat mereka melesat pergi membawa cewek yang sudah ia tolak dengan kasar serta ia manfaatkan tersebut. "Kamu kenal sama mereka? Kenapa Yona bisa bersama mereka?" Tanya temannya yang sedari tadi melihatnya dari kejauhan. "Aku juga tidak tau, aku tidak pernah mengenal mereka dan tidak pernah melihat mereka bersama Yona sebelumnya. Ah... Sial, aku terlalu terpesona dengan mobilnya sampai lupa melihat plat mobil itu!" Terangnya merasa frustasi. "Aku juga terlalu terpaku dengan penampilan mereka, terlihat sederhana tapi entah kenapa sangat berkelas!" Seorang yang lain ikut datang menghampiri. "Aku seperti pernah melihat orang yang merangkul Yona itu, tapi aku lupa dimana pernah melihatnya!" pacar si pria masih terus saja berusaha mengingat orang yang baru saja pergi dari sana. "Aku rasa mereka hanya sekumpulan kacung yang sedang berlagak kaya menggunakan mobil rental! Sekarang mobil seperti itu banyak dipakai dan disewakan hanya untuk sebuah trend gaya. Sudah abaikan saja mereka, sebaiknya sekarang kita bersiap-siap!" Ajaknya cepat karena tak sabar ingin segera hadir ke pesta Zein dengan tamu undangan eksklusif. "Benar, lebih baik kita abaikan saja mereka. Tujuan kita untuk hadir di pesta Zein adalah untuk mendapatkan muka dihadapannya, terlebih karena Ayahku sudah memperingatiku untuk melakukan yang terbaik untuk bisa mendekati Zein" Ucapnya dengan penuh kesombongan sembari merangkul erat pacarnya. "Malam ini kita bisa berpesta bersama dengan lebih puas lagi, iya kan???" Tanya pacarnya dengan manja. "Oh jelas,, aku sudah membawa barang itu! Kita bisa menggunakannya sebentar!" terang temannya dengan penuh antusias. Mereka sudah tidak sabar untuk segera pergi menuju ke tempat Zein. **** Pekarangan Rumah Zein. "Zein, Apa Adith akan datang ke pestamu? sudah lama ibu tidak bertemu dengannya. Jangankan melihatnya ke rumah, Ibu bahkan belum pernah lagi mendengar kamu bercerita tentangnya." Ibu Zein datang menghampiri anaknya yang tampak sibuk menerima beberapa tamu yang sedang masuk. Wajah keibuannya yang sarat akan kerinduan terhadap sahabat anaknya yang sudah ia anggap sebagai anak juga itu membuat hati Zein meluluh. "Bu, Zein juga tidak tau apakah mereka akan datang atau tidak. Sebaiknya ibu menikmati saja acara malam ini, kan Ibu sendiri yang ngotot mau ngerayain. Meski sudah aku larang ibu masih aja tetap bersikeras untuk mengadakannya, jadi ambillah beberapa kue dan berbahagialah!!! Zein tidak suka ibu memasang wajah seperti itu..." Zein mendorong ibunya dengan lembut agar ia tidak begitu khawatir. "Tapi Ze, Ibu rasanya rindu melihat tingkah kalian yang sangat akrab seperti dulu. Ibu pernah tanya Riyan dan bukankah kalian juga sudah pernah ke Jepang bersama?" tanya Ibunya lagi untuk memastikan. "Hmmmm... Ya sudah, aku akan hubungi Riyan apakah dia datang bersama Adith atau tidak, jadi Ibu tidak perlu khawatir lagi yah?" Zein berusaha membujuk ibunya dengan lembut. "Bu, Ayah dan Ibu Adith sudah datang dari tadi mencari Ibu, Ibu kenapa ada disini?" Ayah Zein datang menghampiri istrinya. "Loh kok, Ibu nggak tau kalau mereka sudah datang?" Ibu Zein menatap Suaminya dan anaknya secara bergantian. "Mana ibu tau kalau yang dipikiran ibu cuma bambang Adith?" Adik Zein melipat kedua tangannya dengan gemas. "Bagus!!! kalian lagi sekongkol yah???" Ibunya mencubit pipi anaknya yang kemudian ditarik pergi oleh anaknya menuju ketempat Ayah dan Ibu Adith berada. Sejak kecil, meski mereka terlahir sudah berkecukupan dan bahkan bisa disebut berlebihan. Mereka mendidik anak mereka untuk tetap bersikap rendah diri, sopan dan santun serta tidak memaksakan nilai akademik kepada anaknya saat masih sekolah dasar. Mereka lebih memilih menanamkan pelajaran moral terlebih dahulu yang bisa sedikit diselingi dengan beberapa ilmu pengetahuan lainnya. Cara orang tua mereka terbilang sukses mengingat selain cerdas dan berbakat, anak-anaknya sangat patuh dan mencintai mereka sebesar rasa cintanya kepada anak-anak mereka. "Hai Zein, kami tidak terlambat kan?" seru pria yang sebelumnya ditemui Adith dipinggir jalan. "Oh Hai Jody, thanks bro sudah datang.. Have Fun saja yah sama yang lain, mereka juga sudah didalam!" ucap Zein mengenali pria tersebut. "Tentu, ini hadiah dari kami untukmu! Ayah titip pesan karena tidak bisa datang, dia masih menyelesaikan beberapa hal di perusahaan!" Ucapnya dengan penuh kebanggaan. "Oh terimakasih banyak, saya senang ayahmu bekerja dengan keras!" Zein tersenyum simpul melihat pemberian mereka yang cukup mahal. Bukan karena ia merasa senang namun cukup tidak nyaman dengan apa yang diberikan. Zein memang selalu memakai barang-barang elite, namun itu selalu ia dapatkan dari hasil kerja kerasnya sendiri. Berteman dengan Adith banyak memberinya pengaruh positif akan kepribadiannya sendiri. Melihat senyuman Zein mereka merasa puas bahwa telah berhasil menarik perhatian darinya. "Semoga kau menyukainya!" Ucap pacar Jody dengan senyuman menggoda. "Oh kenalkan dia pacarku Cenia, dan aku datang bersama teman-temanku!" tunjuk Jody yang sekaligus secara otomatis membuat mereka bergantian menyalami Zein satu persatu. "Aku pikir pesta ulang tahunmu akan terlihat sangat mewah dan memiliki lantai dansa" ucap teman Jody melihat sekeliling dengan pandangan bingung. "Aku juga berpikir seperti itu, tapi begitu berada disini ini seperti...." ia tak yakin harus melanjutkan kalimatnya. "Acara syukuran??? puffttt" Zein tertawa melihat eskpresi mereka yang tak menduga kalau acara pesta ulang tahunnya terlihat sederhana dan dipenuhi oleh banyak anak-anak yatim serta orang tua yang memenuhi pekarangan rumah. Serang mereka datang dengan dandanan yang tak kalah berkelas dengan gaun dan jas mahal. "Ummmm... maaf aku tidak bermaksud!" ia dengan cepat meminta maaf takut akan membuat Zein tersinggung. "Aku hanya mengundang seluruh karyawan perusahaan untuk setidaknya berbagi rezeki bersama mereka yang sudah bekerja keras demi perusahaan dan juga membahagiakan orang lain itu lebih baik ketimbang berpesta dengan tak berfaedah!" Ucap Zein dengan penuh senyuman dan nada suara yang hangat. "Sepertinya kau sudah semakin jauh berubah sekarang, wajahmu ternyata bisa memperlihatkan ekspresi hangat seperti itu!" ucap Jody heran melihat perubahan besar pada Zein yang sebenarnya pernah ia lihat saat dulu disekolah dasar mereka pernah bertemu. "Perubahan kearah yang lebih baik patut untuk dibanggakan bukan? Ummm.. Ayo kita masuk, sepertinya teman-temanku yang lain akan datang terlambat. Kita tidak bisa membuat mereka menunggu lebih lama lagi!" ucap Zein mengajak mereka masuk kedalam halaman rumahnya yang tampak seperti taman bunga berhias lampu-lampu berwarna warni yang memiliki luas seperti 1 lapangan sepak bola. Meski cukup risih, mereka pada akhirnya menurut masuk kedalam dan berusaha untuk tidak memperlihatkan wajah tidak nyaman mereka. Chapter 166 - Apa kalian Mengenal Zein? "Apa yang membuatnya memperlakukan seperti tadi?" tanya Aurelia tak bisa menahan rasa penasarannya lagi. "Itu... mungkin karena aku terlalu bodoh! Hanya karena dia selalu bersamaku dan membutuhkanku membuatkan tugasnya serta sedikit perhatiannya sudah membuatku berpikir bahwa Jody mencintaiku. Aku bahkan mengeluarkan semua tabunganku dan kuberikan padanya karena berharap kalau dia akan menerimaku karena itulah syarat yang diberikan. Namun setelah yang semua aku lakukan, tak ku sangka dia hanya ingin memanfaatkan ku saja!" Ucapnya dengan suara serak dan menunduk malu karena kebodohannya yang berpikir bahwa perlakuan manis laki-laki itu adalah cinta. "Oke, aku takkan bertanya lebih lanjut lagi. Maafkan aku. Sepertinya dia memang harus diberikan pelajaran!" Aurelia merasa sangat panas mendengar cerita Yona. Demi mengembalikan mood Yona, Karin bertanya mengenai asalnya serta hal-hal kecil lainnya yang kemudian mereka ketahui kalau Yona adalah seorang siswa yang berasal dari sekolah SMA Negeri Harapan Jakarta. Begitupula dengan Jody yang ternyata merupakan kakak kelasnya disekolah yang sama. "Aku rasa kau cukup cerdas sampai bisa mengerjakan tugas satu tingkat di atasmu yah?" puji Beni dengan sangat tulus. Tepat saat sedang berbincang-bincang mereka segera masuk kedalam sebuah butik terkenal yang terbilang mahal karena hanya sederet Artis saja yang selalu berada disana ketika ingin memanjakan diri. "Terimakasih karena kalian sudah banyak membantuku, tapi aku tidak yakin apakah aku bisa berpakaian seperti ini?" Yona terlihat gugup dengan pakaian yang sedang dikenakannya. Yona masih belum terbiasa dengan pakaian serta dandanan soft yang di lukiskan diwajahnya. Memakai Midi Skirt (Jenis Rok yang memiliki panjang dibawah lutut) berwarna pink lembut dengan sedikit tambahan renda yang membentuk sayap Rok tampak terlihat pas d pinggul rampingnya. Pahanya tertutup dengan sopan ditambahkan dengan stocking Opaque (Stocking berbahan tebal dan tidak transparan). yang menutup kakinya yang jenjang menambah kecantikannya. Yona juga memakai baju Ruffled yang mampu memberikan kesan feminim, girly, dan seksi padanya. Selain itu detail yang bertumpuk-tumpuk pada ruffled juga terlihat mengubah tampilan pada bentuk tubuh Yona yang terlihat sedikit kurus. "Itu malah terlihat sederhana, kamu sangat cocok memakainya!" Ucap Karin penuh semangat merasa puas akan hasil kerjanya. "Ya, kau terlihat cantik dan manis, sepertinya kau harus sekali-kali berpenampilan seperti ini. Memanjakan dirimu dengan sangat baik dan mencintai dirimu sendiri" Jelas Alisya lemah lembut. Kalimat yang dikeluarkan Alisya sontak membuatnya menitikkan air mata penuh rasa haru. "Kalau ngomong itu yang bener dong Sya..." Karin menatap Alisya tajam. Alisya mengerutkan keningnya berusaha mengingat bagian mana dari kalimatnya yang salah. "Kenapa malah membuat orang jadi menangis sih?" Adora mengoceh kesal dan cepat. "Loh... aku salah apa??" Alisya tak tahu apa maksud dari cercaan Adora dan Karin kepadanya. "Tidak, hikzzz, kak Alisya tak salah,, Aku hanya terharu dengan semua perlakuan kalian kepadaku. Padahal kalian semua tak mengenal siapa diriku tapi kalian..." Yona tak bisa melanjutkan kalimatnya karena terharu akan apa yang sedang terjadi pada dirinya. "Awalnya kami ingin langsung memberikannya pelajaran sebelumnya, tapi begitu mendengar bahwa dia akan ke pesta Zein, aku jadi berniat untuk memberikannya pelajaran lebih!" Terang Adith datang bersama dengan Ryu dan Riyan yang memegang berbagai jenis sepatu wanita yang sangat cantik namun sederhana. "Kami tak suka dengan cara dia menolakmu, meski bagaimanapun juga seorang laki-laki takkan dibenarkan jika melakukan kekerasan kepada seorang wanita!" Rinto duduk untuk memakaikan Sepatu dikakinya. Dengan kikuk dan gugup Yona berusaha untuk memasukkan kakinya kedalam sepatu. "Apa lagi terhadap wanita yang penuh akan kelemah lembutan seperti dirimu!" Yogi menambahkan sembari memberikan sebuah tas tangan yang cocok dengan dirinya. Alisya dan para wanita lainnya akan menggeleng cepat jika sepatu dan tas yang diberikan mereka kepada Yona tampak kurang cocok dengannya. "Sebenarnya untuk apa aku berpakaian seperti ini? bukankah ini semua barang-barang mahal? Aku tak bisa menerima ini semua!" Yona masih tak yakin apa yang sedang terjadi padanya saat ini. Ia serasa sedang bermimpi dilayani oleh banyak pangeran gagah serta putri cantik yang membuat dirinya diperlakukan bak ratu sehari. "Kami, kami adalah sekumpulan orang bodoh yang sangat mencintai sebuah arti persahabatan!!!" ucap mereka kompak satu-sama lain dengan senyuman yang indah. "Kita akan pergi ke pesta Zein dan memberikannya sebuah pelajaran berharga disana" Jawab Adora membawa beberapa tas tangan yang lain. "Dan semua barang-barang ini tentu tak kan kau dapat dengan gratis!" senyum Feby yang seketika membuat Yona takut. "Maksud dia adalah kau harus membayar semua yang sudah kami lakukan padamu hari ini dengan menjadi lebih berani." Aurelia menyenggol Feby yang coba menakut nakutin Yona. "Dan mulai hari ini, kamu harus lebih mencintai dirimu sendiri dan orangtuamu ketimbang mencintai orang lain yang salah!" tambah Beni yang memberikannya tisu untuk mengelap keringatnya yang bercucuran karena ucapan Feby. "Apa aku sedang bermimpi saat ini? Aku serasa sedang mengalami mimpi yang sangat indah, aku tak ingin terbangun dari tidurku." Yona menarik nafas dalam menutup matanya berharap kalau semua itu adalah mimpi indah yang tak ingin ia sia-siakan meski hanya sedetik saja. "Cetakkk...." suara keras berbunyi ditengkorak kepala Yona membuatnya meringis kesakitan. "Sudah sadar? ini bukan mimpi dan jangan berharap kamu sedang mimpi!" Alisya berkata dengan dingin kepada Yona untuk menyadarkannya. "Kau harus sadar bahwa ini adalah sebuah kenyataan pahit. Dan kami hanya ingin memberikanmu sebuah motivasi yang nantinya bisa membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik lagi!" tambah Karin tersenyum lucu melihat Alisya yang selalu tegas kepada siapapun tak peduli terhadap apa yang akan terjadi pada orang itu selama ia berbuat demi kebaikannya. "Dan kau jangan menyia-nyiakan apa yang sudah kami lakukan untukmu malam ini" Tambah Gani dan Gina secara bersamaan. "Oke, sepertinya kita sudah terlambat. Sebaiknya kita pergi sekarang!" Ajak Adith melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 20.00. "Kamu benar, aku rasa Zein sudah memulai acaranya saat ini" ucap Riyan cepat sembari memberikan tangannya untuk Yona berpegang. "Tunggu dulu, dari tadi ada satu hal yang membuatku penasaran!" Yona menghentikan mereka semua yang kini sudah tertuju menatap dirinya. "Ada apa?" tanya Beni bingung. "Apa kalian mengenali Zein?" ucapnya dengan nada yang sangat polos. Alisya dan Karin langsung terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Yona. Mereka sudah bersama selama hampir 4 jam dan dia masih tidak yakin terhadap mereka. Adora dan yang lainnya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah tertusuk dimuka Adith dan Riyan. Chapter 167 - Yona "Masuklah, kami akan berada di belakangmu, Adith dan Riyan akan berjalan mengisi kedua sisimu!" Alisya segera memotivasi Yona setelah mereka tiba di rumah Zein. "Apa aku tidak terlalu mencolok?" Yona masih meragukan dirinya sendiri. Ia yang terbiasa memakai pakaian sederhana kini terlihat sangat jauh berbeda. Yona terlihat sangat anggun dengan pakaian yang melekat ditubuhnya. Tidak mewah dan menor, Yona tampak natural dan apa adanya karena Karin hanya ingin mengeluarkan inerbeauty miliknya. "Kau hanya akan terlihat bodoh jika kau bersikap kaku seperti itu!!!" Nada suara Alisya yang rendah dan dingin seketika menusuk kedalam hati Yona. "Perempuan ini, dia selalu membantu dengan cara yang dingin!" Karin mencubit Alisya yang terlalu terang-terangan saat mengatakan apa yang ada dipikirannya. "Maaf, dia memang suka seperti itu! Jika kamu tidak bisa melakukannya, kita bisa pulang sekarang. Biar kami mengantar mu!" Rinto mendapat tatapan tajam Alisya akibat perkataannya. "Tidak, kak Alisya benar! Selain itu, kalian sudah melakukan banyak hal jadi aku akan melakukan apa yang harus aku lakukan juga!" ucap Yona meyakinkan dirinya sendiri. "Bagus!!! perempuan akan terlihat sangat cantik jika penuh rasa percaya diri." Ucap Riyan menyemangati Yona. "Bisa kita masuk sekarang?" ajak Adith kepada mereka semua. "Sebentar!!!" Yona menarik nafas dan menghembuskannya beberapa kali sebelum akhirnya mengangguk mantap. Dengan penuh percaya diri dia melangkahkan kakinya masuk menuju pekarangan rumah Zein didampingi oleh Adith dan Riyan serta diiringi oleh Alisya dan yang lainnya. Semua orang yang melihat mereka terkejut dan terkagum-kagum dengan sekumpulan pangeran dan putri yang sedang mengawali ratunya yang terlihat mempesona. "Jod, Jody... Jody!!!" panggil temannya kepada Jodi yang sibuk berpacaran. "Apa sih mengganggu saja!" bentak Jody dengan kasar. Ia tak suka karena temannya sedang mengganggu kesenangannya. "Kamu liat siapa yang datang!" tambah temannya yang lain dengan tatapan terkejut bukan main. Jody yang tak peduli masih bermesrah mesraan dengan pacarnya masih tak memperdulikan apa yang sedang ingin ditunjukkan oleh teman-temannya. "Liat dulu kenapa sih, kau akan menyesal jika tidak melihat ini." ucap temannya lantang membuat Jody dengan malas melihat kearah yang ditunjukkan oleh temannya itu. Untuk beberapa saat ia tidak mengenali siapa yang sedang ditunjukkan oleh temannya namun ketika melihat dengan lebih seksama, ia akhirnya mengenali senyuman yang tampak diwajah manisnya itu. "Yona??? Bagaimana bisa... Apa yang dilakukannya disini?" ucap Cenia kaget begitu mengenali wajah Yona yang sangat jauh berbeda dari yang selama ini selalu mereka lihat. Dimata mereka Yona adalah wanita cupu dan pemalu yang terlihat kolot dan sangat mudah dimanfaatkan ketika mereka menginginkan apapun karena Yona sangat ingin berteman bersama mereka, namun saat ini Yona dengan penuh percaya diri melangkah dengan anggun memimpin jalan. Semua mata yang berada dipesta tertuju kepada mereka kagum dan takjub secara bersamaan muncul dari wajah mereka. Zein yang melihat kedatangan mereka dengan segera menghampiri dengan senyuman hangat namun tiba-tiba saja Jody sudah melewatinya dengan cepat. "Apa yang kau lakukan disini? kau hanya akan membuatku malu, pakaian mu saat ini takkan pernah merubah jati dirimu yang seorang anak miskin! Tau tidak???" bentak Jody dengan sangat keras membuat semua orang merasa heran dengan apa yang sedang terjadi. "Puffttt.. Aku kemari dan berpakaian seperti ini bukanlah urusanmu! Lagi pula kau tak tahu seperti apa diriku selama ini, aku tak menyangka karenamu aku akhirnya mendapatkan kepercayaan diri untuk mencintaiku lebih baik dari sebelumnya!" terang Yona dengan penuh percaya diri dan tatapan dingin. Alisya dan Karin kagum dengan sikap yang sedang ditunjukkan oleh Yona. Mereka tak menyangka kalau Yona bisa mengeluarkan aura yang sangat kuat seolah dia orang yang sangat berbeda dari sebelumnya. "Apa dia benar Yona yang tadi??" bisik Adora kepada Alisya dan Karin yang sedang tersenyum kagum. "Dia sangat berbeda dari sebelumnya, apa kita sudah membangkitkan iblis seseorang dalam dirinya?" Aurelia juga tak kalah kaget melihat ekspresi Yona yang sangat kuat dan tegas. "Kenapa aku sedang merasa kalau dia tidak sedang beracting namun mengeluarkan jati dirinya yang sebenarnya?" lanjut Feby melihat Yona dari bawah hingga keatas. "Perempuan ternyata bisa sangat menakutkan saat berhadapan dengan mangsa mereka yah?" Beni menambahkan dengan rasa kagum yang sama. "Ummm,,, sepertinya aku harus berhati-hati mulai dari sekarang!" terang Yogi bergidik ngery yang langsung mendapat tendangan rendah dari Aurelia. Kata-kata yang dilontarkan Yona membuat Jody sedikit panas. "Cihh,, apapun yang ingin kau tunjukkan saat ini takkan merubah statusmu itu. Kau takkan pernah mendapatkan apa yang kamu inginkan!" ucap Jody dengan sangat sombong. "Oh ya? apa kau pikir kau tahu apa yang aku inginkan saat ini?" tanya Yona dengan nada dingin. "Kau pikir aku tidak tahu? kau berdandan dan berpakaian seperti ini bukannya hanya untuk menarik perhatianku bukan? hahahha... sayang sekali aku tak pernah sudi untuk sekilas melihat kearahmu. kehadiranmu dihadapanku saja sudah membuat mataku sakit!!!" Jody masih saja bersikap sombong dihadapan Yona. Zein datang menghampiri mereka dengan tatapan bingung namun mulai mengerti apa yang sedang terjadi. Melihat lirikan Riyan dan Adith membuatnya semakin paham akan apa yang sedang terjadi sehingga ia tersenyum dengan cara yang sangat licik. Adith dan Riyan bahkan baru pertamakali melihat senyuman Zein yang seperti itu. "Sepertinya kau sudah salah menilaiku selama ini, aku memang sudah terbiasa hidup sederhana dan apa adanya bukan karena aku miskin atau tak memiliki apa-apa, tapi aku merasa malu bersikap sombong dengan keringat darah yang dikeluarkan oleh orang tuaku dan dengan gampangnya aku menguras uang mereka dan mengatas namakan harta kekayaan mereka hanya untuk mendapat tempat! Uang yang aku berikan padamu semua adalah hasil kerja kerasku hanya dalam waktu 3 hari. Tapi itu tidak masalah, berkat mu aku bisa bertemu dengan orang-orang hebat yang mungkin takkan pernah aku temukan jika bukan karena keangkuhan dan kebodohanmu!" jelas Yona panjang lebar sembari melirik kearah Adith dan yang lainnya. "Haaahh??? hahahahahaha kau pikir siapa dirimu bisa mendapatkan 10 juta hanya dalam 3 hari? orang miskin seperti dirimu paling harus menabung selama 10 tahun untuk bisa mendapatkan 10 juta!!!" Jody tertawa dengan angkuh. Yona hanya tersenyum melihat tingkah bodoh yang sedang ditunjukkan Jody dihadapan semua orang. Tingkahnya ditengah keluarga Zein dan tamu undangan itu mendapat cemoohan yang membuatnya semakin tak peduli. Dalam pikiran Jody saat ini adalah membuat malu Yona dan memperlihatkan perbedaan status yang sangat jauh diantara mereka. Chapter 168 - Sampah memang cocok dengan Sampah "Sepertinya aku harus menunjukkan sesuatu untuk membuka matamu!" tegas Yona dengan senyuman liciknya. "Membuka mataku? harusnya aku yang bilang seperti itu padamu, aku adalah seorang anak dari petinggi sebuah perusahaan ternama sedangkan dirimu tak lebih hanya sekedar mendapatkan sedikit bantuan untuk.. puhhaha.. berpakaian seperti ini" ucap Jody dengan nada menghina. "Kau benar, jika bukan karena mereka aku mungkin takkan sadar kalau aku bisa lebih dari apa yang kau inginkan. Jika bukan karena mereka juga maka aku takkan pernah mengetahui tentang siapa diriku sebenarnya dan bagaimana aku seharusnya. Untuk itu aku ingin berterimakasih denganmu, Terimakasih karena sudah mempertemukan aku dengan mereka." Yona masih bersikap santai dengan hinaan Jody. "Pergilah dari sini, kau tak pantas berada di tempat ini. Selain itu kau bahkan tidak tahu malu masuk kedalam tempat ini tanpa mendapat undangannya!" Jody mendorong bahu Yona dengan kasar karena sebal Yona terus saja menyikapinya dengan santai. "Hei Bro.. tidak kau pikir sikapmu terlalu berlebihan kepada seorang perempuan?" Riyan segera maju geram dengan sikap kasar Jody. "Hentikan, kau lihat Yona hanya tersenyum dengan itu? itu artinya dia sudah merencanakan sesuatu!" terang Adith menghentikan langkah Riyan. "Sepertinya ini akan semakin menarik!" ucap Alisya dan Karin bersamaan. Mereka tak sabar melihat kejutan apa yang akan diberikan oleh Yona dalam pertunjukkan kali ini. "huuuhhh,,, tadinya aku memberikanmu kesempatan namun sepertinya hatimu sudah terisi oleh Jin sehingga matamu juga hatimu tak mampu melihat dan merasa dengan baik!" ucap Yona dengan senyumannya yang manis. "Baiklah... karena kamu selalu membanggakan masalah kedudukan orang tuamu dan mengambil nama atasnya maka aku juga perlu mengatakan tentang hal ini padamu. Namaku yang sebenarnya adalah Zinandria Velyona Bisma. Seorang anak pemilik perusahaan dimana ayahmu bekerja karena dikenalkan oleh Zein. Awalnya aku tak mengetahuinya namun ketika mendengar informasi dari Adith dan Riyan, aku langsung menelpon ayahku untuk mencari tahu dan ternyata benar." terang Yona yang membuat Adith dan Riyan menatap Zein dengan pandangan tajam. Mereka tak menduga kalau cewek lusuh yang mereka temui sudah membuat mereka salah paham hanya karena pakaian yang dikenakannya. Yona dengan jelas melemparkan sebuah kenyataan pahit dimuka Jody namun Jody merasa tak yakin dengan apa yang sudah dikatakan oleh Yona. "Kau pikir kau bisa mempermainkanku? puhahaaha hei lihat, ada seorang cewek miskin yang seketika mengakui dirinya seorang kaya hanya karena orang lain telah merubah penampilannya lucu sekali." teriak Jody kepada semua orang yang hanya mendapat tawaan menghina dari teman-temannya. "Sampah memang sangat cocok dengan sampah!!!" ucap Yona tersenyum menghina karena Jody hanya mendapat perhatian dari teman-temannya saja sedang yang lain sudah menatap jengkel pada dirinya. Jody yang marah mendengar kalimat Yona dengan segera melayangkan tamparannya kearah pipi Yona. Yona hanya menatap dengan datar tanpa berekspresi ataupun menghindari tamparan yang dilayangkan oleh Jody. "Lepaskan!!! apa yang kau lakukan Zein? aku harus beri pelajaran pada wanita ini untuk menyadarkannya." Bentak Jody kepada Zein yang sudah menghentikan tangan Jody. "Oh ayolah, kau hanya akan semakin mempersulit dirimu! Aku sedang menyelamatkanmu sekarang mengingat kebaikan hati ayahmu!" Tegas Zein langsung menepis tangan Jody dengan kuat. "Apa maksudmu dengan menyelamatkan aku?" Jody melirik kearah Yona dan melihat bahwa Adith, Riyan serta Ryu sudah berada lebih dekat kesisi Yona yang membuatnya berpikir bahwa mungkin saja ia akan dihajar balik oleh mereka. "Oh tidak, tidak, tidak, bukan mereka yang membuatku menyelamatkanmu tapi dia!" tunjuk Zein kepada Yona dengan penuh penghargaan. "Aku tak paham apa.." tepat saat itu handphone miliknya berdering dengan sangat keras. "Apa yang sudah kau lakukan sampai aku harus mendapatkan peringatan keras dari atasanku?" bentak seseorang dari balik telepon. "Haaaahh? apa sih Yah... baru telpon sudah marah-marah!" Jody masih belum menyadari situasinya. "Kau tau kalau orang yang sudah kau permainkan adalah anak dari CEO tempat ayah bekerja? aku sudah memberikanmu peringatan untuk tidak bermain-main dengan perempuan dan fokus dengan sekolahmu dan sekarang kau malah menyakiti hati orang lain apa lagi orang itu adalah... hhhhhh, mulai saat ini aku akan menarik semua fasilitas yang kuberikan padamu." Ayah Jody seolah tak mampu melanjutkan lagi kata-katanya dan langsung memberikan peringatan keras kepada adanya. Dengan tatapan pucat dia memandang kearah Yona. Terlalu besar rasa gengsi yang dimilikinya sehingga ia masih tak sudi untuk meminta maaf kepada Yona. "Ayo kita pergi sekarang!!!" ajaknya kepada teman temannya. Mereka segera pergi dan keluar dari tempat itu masih dengan pandangan dendam. "Apa yang sedang terjadi?" tanya Emi melihat mereka pergi begitu saja. "Sepertinya mereka sudah mendapatkan balasannya." ucap Gina melihat ekspresi kelam diwajah Jody yang masih tak terima akan perlakuan dari Yona. "Wow,, hebat kau benar-benar hebat!!!" Adora datang menghampiri Yona dengan penuh semangat. "Tidak, aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sudah sejak lama!" jawab Yona malu-malu. "Kami tak menyangka kalau ternyata kau orang yang cukup..." Alisya hanya menaikkan sebelah keningnya. "Ya benar, semua orang memang selalu salah paham terhadap penampilan luar ku. Bukannya aku bermaksud untuk membohongi semua orang tapi aku hanya tak ingin menampilkan kemewahan yang bukan dari kerja kerasku sendiri. Lagi pula berpakaian sederhana dan apa adanya lebih nyaman dan aman ketimbang berpakaian yang mewah. Indonesia saat ini memiliki tingkat kriminalitas yang cukup tinggi karena sebagian dari individu selalu saja mengutamakan penampilan luar dan memberikan kesempatan untuk pelaku kejahatan melakukan aksinya!" jelas Yona panjang lebar kepada mereka semua. "Kau lebih dewasa dari yang terlihat!" senyum Karin mengangumi pola pikir dari Yona. "Lalu jika benar kau anak dari perusahaan Bisma, kenapa kau tak masuk ke sekolah SMA Cendekia Indonesia dan malah memilih sekolah lain?" tanya Yogi penasaran. "SMA Cendekia Indonesia memang sekolah yang sangat menjadi incaran oleh banyak orang dari kalangan bawah lewat beasiswa sampai dengan kalangan atas lewat usaha mereka atau ayah mereka, namun aku lebih memilih SMA Harapan Jakarta yang lebih dekat dan tak sesibuk sekolah itu agar bisa selalu sedia merawat ibuku yang kondisinya semakin memburuk!" senyuman pahit Yona terukir jelas diwajahnya. Mereka akhirnya paham mengapa Yona terlihat sangat sederhana dan biasa saja, itu karena ia lebih memilih memusatkan perhatiannya merawat ibunya. Dia yang selama ini selalu meras tertekan dan sendirian akhirnya merasakan sandaran berkat Jody namun ternyata yang dia dapatkan tidak seperti hayalannya. "Tapi seperti yang kalian bilang, tidak ada salahnya berpakaian seperti ini! Aku rasa ibuku akan sangat senang melihatku berpakaian seperti ini" Yona tersenyum puas sembari membolak balikkan tubuhnya untuk memuji penampilannya. "Yup! Kamu sangat cantik dengan pakaian seperti itu, dan aku rasa ia lebih sangat bahagia jika dia melihatmu tersenyum dengan penuh bahagia seperti saat ini" ucap Alisya memberikan motivasi kepada Yona. "Kakak benar, karena selalu takut akan kehilangan ibu. Aku jadi semakin lupa untuk tersenyum dan selalu murung setiap kali berhadapan dengannya. Ummm.. sebaiknya aku pulang sekarang, aku ingin segera menunjukkan ini pada ibu" Yona segera beranjak pergi meninggalkan mereka. "Biarkan kami mengantarmu!!!" Teriak Riyan menawarkan bantuan. "Tidak perlu aku bisa sendiri, Oh iya,, Terimakasih banyak! Aku tidak akan pernah melupakan kalian... Sampai jumpa!!!" Teriak Yona setelah berhenti sesaat untuk mengucapkan terimakasih dan menghilang dengan cepat. Chapter 169 - Ayo kita berlomba "Ya sudah, kita abaikan saja apa yang barusan terjadi! Untuk sekarang kalian harus membayar keterlambatan kalian." Zein langsung menarik Riyan dan Adith di ikuti oleh teman-temannya. "Tunggu dulu, kami tidak sengaja ingin terlambat tapi tadi itu,,," Riyan berusaha menjelaskan. "Tidak ada alasan. telat yah telat! Jadi sekarang ikutlah bersamaku!" Ucap Zein tegas. "Kak Zein, kakak mau bawa kemana kak Adith?" teriak adik Zein dari kejauhan dengan suara manja. "Bentar yah Zizy,, kak Zein masih ada perlu sama kak Adith! Anak SMP nggak boleh manja!" teriak Zein dengan tegas. "Apa sih??? kan aku cuma nanya!!!" Zizy tak suka dianggap manja dihadapan Adith dan teman-temannya. "Kita mau kemana nih?" tanya Riyan bingung dengan ajakan Zein yang sudah menuju ke bagian belakang rumahnya. "Kemana lagi yah disini!" ucap Zein setelah tiba didepan pintu gudang penyimpanan barang. Zein langsung memimpin masuk kedalam gudang diikuti oleh Riyan dan yang lainnya hingga tersisa Adith, Alisya dan Karin. "Kalian berdua lebih baik kepekarangan saja untuk mengatur para anak Yatim yang sudah kita undang! ucap Karin menatap Adith dan Alisya yang terdiam membeku. Karin paham betul kenapa Adith dan Alisya tak bisa masuk kedalam gudang, meski keduanya sudah bertemu. Masalah diantara keduanya belum selesai sehingga trauma masa lalu merekapun belum hilang dengan mudah. "Terimakasih!" ucap Adith dan Alisya bersamaan. Alisya pikir bahwa Adith tidak masuk kedalam gudang hanya untuk menemaninya. Awalnya ia ingin menyuruh Adith untuk bersama mereka saja namun begitu sampai ia melihat lautan anak kecil yang bercanda ria dan berlarian kesana kemari tak tentu arah. "Sepertinya ini akan menjadi pekerjaan berat!" Terang Adith menarik nafas dalam melihat mereka yang sangat banyak. "Bagaimana bisa kita tidak melihat kalau mereka sebanyak ini tadi??" tanya Alisya bingung karena sewaktu mereka masuk ia tak melihat kumpulan anak-anak ini. "Pekarangan ini dibagi menjadi dua bagian, bagian pintu masuk tadi menjadi tempat dimana semua tamu undangan bisa mencicipi makanan sedangkan disebelahnya sengaja Zein buat seperti taman untuk para anak-anak ini!" Jelas Adith sambil terus matanya berkeliling melihat kekiri dan kekanan mencari seseorang. Setelah melihat pembina dari para anak Yatim, Adith segera meminta bantuan kepada mereka untuk segera mengatur semua anak-anak ke tempat duduknya masing-masing untuk segera membagikan beberapa barang yang sebelumnya mereka sudah kumpulkan untuk acara Zein yang semuanya merupakan ide Zein sendiri. "Whhattttt???? serius barang yang akan di bagi sebanyak ini? siapa yang sudah mengerjakan ini semua?" Riyan kaget melihat tumpukan barang yang melewati kepalanya. "Jangan mengeluh, kau harusnya bersyukur para pembantuku sampai harus keletihan untuk mengemas semua barang-barang ini! Mereka semua terpaksa aku liburkan karena sudah bekerja 3 hari tanpa istirahat, jadi sekarang adalah tugas kita" ucap Zein mengangkat 2 barang yang sudah berbentuk tas kotak tersebut. "Jadi bagaimana dengan ka...lian??" Riyan kaget melihat teman-temannya sudah keluar membawa barang-barang itu. Para pria langsung mengangkat 2 bingkisan sedangkan yang wanita hanya mampu mengangkat 1 bingkisan karena cukup berat. "Talk Less Do More Riyan,,," Teriak Yogi sambil membawa dua barang dengan gagah melewati Aurelia. "Dasar tukang pamer!!!" Ucap Beni mengikut dibelakang Yogi. "Bisakah kita kerja dengan benar?" ucap Rinto sembari membawa 3 barang yang berada di kedua tangannya dan satu di kepalanya. "Kau sangat cocok dengan pekerjaan seperti ini yah to..." ucap Emi dengan susah payah menggendong barangnya. "Akhirnya tenaga preman itu bisa dipakai ditempat yang benar!" Adora dan Feby tertawa mengingat bagaimana kenakalan Rinto yang sebenarnya. "Aku butuh bantuan disini..." Akiko yang terbiasa dimanjakan cukup asing dengan pekerjaan berat seperti itu. "Biar kita membawanya berdua, setidaknya kita bisa melakukan apa yang bisa kita lakukan!" ucap Gina langsung menyambar barang Akiko dan menopangnya bersama-sama. "Arigatouuu" Akiko terharu dengan bantuan dari Gina. "Ayo kita berlomba!!!" Gani berlari dengan penuh semangat melewati mereka semua. "Dasar bodoh, kau akan cepat capek jika bekerja dengan cara seperti itu! Aurelia berkata dengan dingin. "Biarkan saja, mereka pasti sangat senang bisa melakukan pekerjaan yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya!" Karin tersenyum melihat tingkah Gani yang penuh semangat. "Beri aku jalan!!" Ryu meminta dengan lembut karena Karin dan Aurelia menutup jalan ia lewat. "Dia benar-benar laki-laki sejati!!!" ucap Aurelia memuji kekuatan Ryu yang langsung membawa 4 di kedua tangannya. "Dimana Alisya dan Adith? kenapa dua sejoli itu meninggalkan kita disini? jangan jangan..." Adora mulai bereskpestasi dengan liar. "Mereka mendapat pekerjaan yang lebih berat dibanding dengan apa yang sedang kita lakukan sekarang!" Terang Karin sambil tersenyum membayangkan bagaimana wajah Alisya melihat banyaknya anak-anak yang harus dia urus. "Maksud kamu?" Aurelia tak paham maksud dari Karin. "Mereka harus mengatur anak-anak Yatim!" ucapan Karin seketika membuat mereka tersenyum simpul memahami derita yang sedang dihadapi oleh keduanya. Melihat semangat teman-temannya, Riyan dengan segera mengambil 2 barang dengan penuh semangat dan segera berlari menuju ketempat pembagian. Ryu dan Karin yang terlebih dahulu kembali dari pengantaran pertama. Keduanya sangat serius memisahkan beberapa barang serta menurunkan barang-barang yang berada pada ketinggian untuk mempermudah teman-temannya. Karin terlihat sedikit kesulitan saat akan mengambil barang yang berada ditumpukkan paling atas karena terkait oleh paku. Melihat barang itu berada di rak paling atas, Karin mencari cara dan menemukan ide setelah melihat rak barang itu yang saling berhadapan satu sama lainnya. Karin dengan segera melompat dari satu rak yang berada disebelah kiri lalu ke rak lain yang berada disebelah kanan dengan lihai dan ringan. Dan dengan satu tenaga dorongan keatas, ia berhasil meraih bingkisan paling atas tanpa masalah. Lalu ia mendarat dengan sempurna bersama bingkisan yang cukup berat ditangannya. "Ah.. ini jadi sobek, sepertinya aku menariknya terlalu keras!" Karin melihat sobekan yang cukup besar pada bingkisan yang ia ambil. Rak tempat Karin menarik barang tersebut seketika bergoyang karena Karin menariknya terlalu keras sedang tumpukan bagian bawah sudah kosong hanya menyisakan tumpukkan di beberapa rak diatasnya sehingga keseimbangan dari rak tersebut goyah. Karin yang tidak menyadari itu dengan santai membetulkan sobekan bingkisan yang berada ditangannya lalu sedetik kemudian dari tempatnya duduk, ia melihat kaki rak-rak itu patah. Saat ia menoleh keatas barang-barang dengan segera berjatuhan menindihnya. Ia berusaha berdiri dari tempatnya untuk menghindar namun tiba-tiba saja sesuatu jatuh menimpanya dengan sangat keras. Karena merasakan bahaya Karin dengan refleks melindungi kepalanya dan menutup rapat-rapat matanya. Chapter 170 - Dasar Bodoh Karin membuka matanya karena tak merasakan apapun. Dan begitu ia membuka mata Ryu sudah setengah terduduk melindungi dirinya dari beberapa barang yang jatuh dan menahan dengan kuat rak yang sudah sedikit miring tersebut. Karin mendongak keatas melihat wajah Ryu yang terus menahan sakit setiap kali tubuhnya terhantam oleh barang yang jatuh. Berat barang yang jatuh tersebut sedikit membuatnya goyah namun berusaha untuk tetap bertahan demi menyelamatkan Karin. Melihat Ryu kesulitan, Karin dengan segera bangkit membantu Ryu dan merapatkan posisi rak kedekat dinding. "Kalian baik-baik saja?" Rinto dengan cepat membantu Karin merapatkan Rak yang membuat Ryu bisa melepaskan pegangannya dan terduduk meringis sakit. "Ryu... Karin apa yang terjadi?" Riyan datang secepat kilat melewati tumpukan barang yang berserahkan. Ryu segera membantu Ryu dengan membopongnya dan mengeluarkannya dari gudang sedang Karin menatap dengan pandangan khawatir. "Yogi, ambil pengganjal dong.." pinta Rinto dengan suara tercekat menahan berat Rak. "Bentar!!!" Yogi langsung berlari kesana kemari mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengganjal kaki Rak barang yang patah. "Apa Rinto terluka? Bagaimana dengan dirimu Karin?" Adora dan Gani dengan cepat membantu Rinto menahan Rak barang yang sudah kosong tersebut. "Aku baik-baik saja tapi sepertinya Ryu mendapat luka yang cukup dalam karena beberapa barang yang jatuh tepat mengenai tangan dan punggungnya." terang Karin dengan tatapan sendu. "Aku hanya menemukan ini, semoga ini bisa digunakan!" kata Yogi sembari membawa sebuah Balok besar yang kemudian ia masukkan dibawah kaki rak barang tersebut. "Bisa kalian lanjutkan? Sebaiknya aku segera mengobati Ryu sekarang!" ucap Karin seraya berlari keluar dari gudang. "Biar aman kita butuh sesuatu yang bisa digunakan untuk mengikat Rak ini agar tidak miring lagi." Tegas Rinto sembari memperhatikan langkah-langkah yang harus dia kerjakan. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Karin kepada Ryu yang duduk disofa ruang tengah keluarga Zein. "Aku baik-baik saja tidak ada yang perlu di khawatirkan, Riyan sudah memeriksaku tadi" terang Ryu tersenyum menyembunyikan rasa sakitnya. "Oh yaah..?? bagaimana kau seyakin itu?" Karin memegang punggunggnya dengan lembut namun itu sudah cukup membuat Ryu meradang menahan rasa sakit di bahunya. "Apa kau mau membunuhnya?" Riyan memicingkan matanya melihat Karin yang sedang memegang punggung Ryu yang sedang terluka. Riyan membawa loyang yang berisi air panas ditemani ibu Zein yang terlihat panik. "Aku baik-baik saja! kalian tidak perlu khawatir..." seru Ryu tidak ingin merepotkan banyak orang. "Lukamu perlu diobati secepatnya. Memang tidak begitu fatal namun bisa akan menyebabkan peradangan dan juga kau akan kesulitan dalam kegiatanmu sehari-hari!" Zein datang membawa sebuah kain tebal yang bisa digunakan untuk mengkompres luka lebam Ryu. "Luka ini akan sembuh dengan sendirinya jadi kalian tidak perlu khawatir! Ucap Ryu mencoba untuk menenangkan mereka. "Meskipun luka memar itu akan hilang dengan sendirinya, sebaiknya pengobatan juga harus dilakukan untuk mempercepat proses penyembuhan!" ucap Zein yang memasukkan kain tebalnya kedalam air panas untuk mengkompres lukanya. "Zein, tak apa. Aku yakin aku baik-baik saja saat ini" tegas Ryu merasa tak nyaman jika orang lain harus repot karena dirinya. Ryu yang selama ini sudah mengalami banyak sekali luka lebam ataupun luka memar yang bahkan jauh lebih parah dari ini dan selalu merawat dirinya sendiri merasa kurang nyaman ketika sekarang ada yang memperhatikannya. Meski rasa hangat menyelimuti hatinya yang selama ini tak pernah merasakan indahnya persahabatan ataupun kekeluargaan namun ia merasa sangat bahagia. "Jangan menggunakan air hangat, luka lebam yang terjadi karena benturan dari benda keras menyebabkan pecahnya pembuluh darah kecil atau kapiler sehingga pada saat setelah benturan kulit akan terlihat berwarna merah dan terasa sedikit nyeri serta bengkak, untuk itu yang harus diberikan adalah mengkompresnya dengan menggunakan Es. Setelah dia berwarna biru atau keunguan esok hari barulah bisa dikompres menggunakan Air hangat. Air hangat ini digunakan untuk memperlancar peredaran darah pada area lebam untuk mengisi kekurangan asupan oksigen dan menurunkan pembengkakkan yang terjadi, jadi kau harus..." Karin menceramahi Ryu yang sedang bersikap baik-baik saja. "Oke-oke,, biar aku melakukannya sendiri" ucap Ryu pasrah dengan apa yang mereka inginkan. Ibu Zein kembali dengan sekantung Es yang sudah dibalut oleh Kain sesuai petunjuk dari Karin. Ryu dengan susah payah mencoba menaruh Es dibagian punggungnya namun ia tak bisa mencapainya. "Berikan padaku!!!" Karin kesal melihat Ryu yang terus saja mencoba untuk mengurus segalanya sendirian. Ryu langsung meringis sakit setiap kali sentuhan lembut Karin menyentuh punggungnya menggunakan Kompresan Es tersebut. "Jika masih ada yang kalian butuhkan, panggil aku saja, aku harus kembali kesana untuk mengurus yang lain!" Ibu Zein memohon pamit setelah melihat keadaan sudah lebih terkendali. "Iya tante, terimakasih banyak! ucap Karin sedang Ryu hanya menunduk dengan menahan rasa sakitnya. "Kar, kau bisa merawatnya sendirian kan? Aku harus menyelesaikan semuanya. Tidak enak membuat mereka menunggu lebih lama lagi" Zein memandang Karin dengan serius. "Tentu saja, kalian bisa pergi sekarang! Biar si Bodoh ini aku yang tangani" ucap Karin menatap tajam kepada Ryu. "Baiklah.. kami serahkan padamu! Jika ada hal lain kamu bisa melihatnya sendiri dikotak P3 K diujung sana!" Tunjuk Riyan berjalan pergi mengikuti langkah Zein. Tepat setelah mereka menghilang, Karin dengan kuat memukul tubuh Ryu yang membuat Ryu bingung dengan apa yang sedang dilakukan oleh Karin. "Dasar bodoh!!! kau pikir siapa dirimu? kenapa kau melakukan hal yang tidak perlu seperti itu? kau taukan aku mampu menghindari semua barang yang jatuh tadi?" Karin menatap dengan penuh kesal sambil menekan keras kompresan ditangannya. Ryu tersenyum dengan tingkah Karin entah sedang marah atau sedang mengkhawatirkannya namun ia merasa wajah marah Karin terlihat manis dan cantik. "Aku tau, tapi entah kenapa aku secara tak sadar tergerak untuk langsung melindungimu begitu melihat Rak barang itu jatuh. Aku hanya refleks untuk menyelamatkan mu!" ucap Ryu sambil menekan nekan pelan tangannya yang ia rasa cukup sakit. "Kau dan Alisya sama saja! Menyelamatkan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri, untuk apa kau melakukan itu semua? Meski kau sudah tahu jika kau bisa menghindarinya!" Karin masih belum bisa menyembunyikan rasa kesalnya. "Itu karena,, aku tak ingin kamu terluka!" Suara Ryu terdengar tenang namun hangat ditelinga Karin. Untuk beberapa saat Karin duduk terdiam tak tahu harus berkata apa terhadap apa yang baru saja dikatakan oleh Ryu. Dia tak tahu apakah harus menangis atau bahagia saat ini dengan ucapan mendadak Ryu. Chapter 171 - Patahkan Ginjal Di pekarangan rumah. Rinto yang baru saja selesai memindahkan semua barang-barang yang akan mereka bagikan segera menuju ketempat Adora yang sedang mengambil beberapa piring yang berserahkan dimana-mana karena telah selesai digunakan. "Dimana Alisya dan Adith? aku tak melihat mereka sejak tadi!"Rinto melihat sekeliling mencari keduanya. Adora yang baru saja mendongak ingin menjawab sudah disambar oleh Gani yang datang langsung mengambil segelas air minum dan menghabiskannya dalam satu tarikan nafas. "Mereka berada disebelah, mereka sedang bergulat dengan para anak-anak! Anak kecil memiliki tenaga monster, mereka seolah tak pernah lelah! Perangkat keras apa yang mereka tanamkan disetiap ototnya?" Gani terduduk melepas lelahnya membantu Adith dan Alisya mengatur para anak-anak. "Kau bisa membunuh dirimu jika minum seperti itu bodoh!!!" pukul Adora dibahu Gani memperingatkan dirinya. "Kata ayahku mereka itu adalah malaikat-malaikat syurga, tanpa tawa mereka maka syurga akan terasa hampa!"Ucap Emi dengan senyuman manis menghampiri mereka. "Benarkah? kalau begitu pas, kita sedang membutuhkan tenaga lebih!" ucap Gani menarik Emi tanpa memperdulikan usahanya menolak. "Bukan, bukan itu maksud aku!!!" Emi terus saja berusaha melarikan diri namun kerah baju belakangnya sudah digenggam erat oleh Gani. Dengan tetap menjaga keseimbangan Emi, Gani terus saja menarik Emi menuju ketempat Adith dan Alisya yang sedang kerepotan. "Syukurlah aku tak mengatakan apa-apa!" wajah tegang Rinto melihat Gani menarik Emi dengan penuh semangat membuat Adora tertawa pelan. "hahahaha... aku rasa sebentar lagi giliranmu akan tiba!" Adora tertawa dengan renyah tak sadar kalau ada yang sedang menatapnya tajam. "Kamu kak Adora kan?" Tanya Zizy dengan tatapan tajam kepada Adora. "Iya dek, ada apa?" Adora melirik kearah gadis kecil yang ia taksir baru saja masuk kesekolah menengah pertama. "Ohh... jadi kakak yang suka sama abang Zein?" ucapnya dengan tatapan tajam. Kalimatnya membuat Adora menelan liur dengan susah payah. "Ummm... sepertinya giliranku sudah lewat!" Gumam Rinto menatap menyelidik kearah Zizy. Baru kali itu dia melihat adik Zein secara langsung dan dilihat dari wajah memandang Adora, sepertinya anak ini memiliki kekuasaan yang cukup untuk menundukkan Adora. "Dari mana kamu tahu?" Adora masih berusaha tersenyum manis meladeni adek Zein yang sangat jutek. "Woww.. Bahkan sikap adeknya lebih ganas dari pada Zein! Bisik Rinto kepada Adora yang sudah panas dingin dibuatnya. "Tadi kak Feby bilang kalau kak Adora itu suka sama abang Zein. Tapi kakak tidak cantik, body kakak krempeng, dadanya rata lagi." Setiap kata yang diucapkan oleh anak itu membuat ribuan pacul memukul keras kepala Adora. "Akan ku patahkan ginjal anak itu!!! Buat apa juga dia menceritakan hal seperti ini pada anak kecil?" Batin Adora mengutuk pedas Feby. Tanpa alasan yang jelas Feby merasakan rasa dingin yang menyetrum seluruh tubuhnya dengan hebat. Tubuhnya yang bergetar membuatnya bingung karena ia sedang berhadapan dengan bara api membakar beberapa daging untuk menu makan mereka ditemani Gina dan Beni. "Kamu kenapa Feby? mau pipis?" tanya Gina melihat tubuh bergetar Feby. "Apa tubuh bergetar itu artinya kita mau pipis???". Feby menarik bibir Gina yang berbicara terlalu keras dihadapan Beni. "Aku juga seperti itu setiap kali menahan pipis atau setelah lega mengeluarkan pipis! seru Beni dengan lembut. "Kau yang bersuara lembut dengan rahang keras berbentuk segi empat itu sudah cukup untuk membuatku merinding siang dan malam!" Bukan hanya Gina dan Feby yang bergetar mendengar kalimat Beni, anak-anak yang baru saja datang dan mendengar ucapan Beni juga ikut merinding dibuatnya. "Anak ini cukup pintar menilai" Rinto menaikkan jempolnya kepada Zizy yang mengatakan semua kekurangan Adora dengan santai. "Diam kau dan pergilah jadi obat nyamuk Yogi dan Aurelia sana!!!" Usir Adora kesal meski ia terus berusaha menahan rasa malunya. Rinto hanya terbahak-bahak melihat situasi Adora yang sedang dijinakkan oleh seorang anak kecil. "Adek, kakak tau kalau kakak tidak memiliki apapun yang bisa kakak banggakan. Kakak juga sadar kok kalau Zein belum tentu menyukai kakak, tapi perasaan kakak kepada Zein itu tulus. Kakak juga tidak pernah memaksa Zein untuk menyukai kakak!" Ucap Adora sambil tersenyum manis kepada Zizy. Tatapan Zizy langsung melembut mendengar ucapan tulus dari Adora. "Ouuhhh,, so sweet!!!" Terang Rinto menggoda Adora. Adora yang sudah tidak tahan lagi dengan segera menendang pantat Rinto sehingga ia terpental cukup jauh dari hadapan mereka. Rinto tertawa terbahak-bahak sembari meringis sakit karena pantat nya panas akibat dari tendangan kuat yang diberikan oleh Adora. "Ada apa???" Tanya Yogi melihat Rinto datang sembari tertawa dengan ekspresi wajah yang cukup aneh. "Lihat, Adora menemukan lawan yang cocok baginya!" Tunjuk Rinto menggunakan gelengan kepalanya kearah adik Zein dan Adora. "Apa yang sedang mereka bicarakan? kenapa terlihat sangat serius?" Aurelia ikut melihat kearah Adora dan adik Zein. "Lihat saja, sebentar lagi kita akan melihat drama yang begitu menakjubkan mengalahkan drama antara orang nomor satu dan wanita terkuat disekolah!" Rinto merujuk kepada Adih dan Alisya. Dari kejauhan, mereka terus melihat kearah Adora dan adik Zein yang terlihat semakin larut dalam perbincangan mereka. "Itu artinya cinta bertepuk sebelah tangan??" katanya tegas. Ia menyunggingkan senyuman sinis yang dirasa menusuk tajam ditubuh Adora. "Bisa dibilang seperti itu!!" Adora tersenyum pahit membenarkan apa yang dikatakan oleh anak SMP tersebut. Adora selalu jujur akan apa yang sedang ia rasakan sehingga dengan mudahnya ia berkata jujur kepada adik Zein. "Kakak Bodoh atau idiot? kenapa kakak semudah itu menyerah akan perasaan kakak? bukannya cinta itu harus diperjuangkan?" Suaranya sinis dan meninggi. Ia melipatkan kedua tangannya bersikap seperti orang dewasa. "Ini anak maunya apa sih? Tadi dia tidak suka kalau aku sama kakaknya, sekarang malah dia marah tidak jelas apa maunya sih?" gumam Adora pelan tak mengerti kenapa dia bisa berhadapan dengan anak yang satu itu. Adora bahkan tak percaya harus mendapat nasehat dari anak semuda dia yang seolah sudah mengetahui tentang kehidupan percintaan. "Maksud kamu???" Adora mengerutkan keningnya bingung tak paham apa maksud dari perkataannya. "huuhhhhh,,, kalian berdua sama saja!!!" Zizy menepis jidatnya merasa kesal dengan sikap Adora yang mudah pasrah dan sikap Zein yang terlalu cuek. "Ibu memanggilmu katanya ada beberapa hal yang harus dilakukan!" Ucap Zizy dingin dan menunjuk ke arah ibunya berada. "Kenapa nggak bilang dari tadi??? ibumu kan jadi harus menunggu lama!" Wajah Adora panik karena waktu berlalu cukup lama sewaktu mereka sedang berbincang-bincang. Chapter 172 - Upah Lebih Begitu melihat ibu Zein yang terlihat kerepotan mengurus barang-barang yang sudah siap untuk dibagikan, Adora dengan cepat menghampirinya dengan setengah berlari kecil. "Tante memanggil saya?" tanya Adora dengan sopan kepada ibu Zein yang berbalik mengambil satu barang dan barang yang lain. "Kamu kemana saja sih? kamu kan dibayar untuk membantu semua pekerjaan disini, bukannya malah kelayapan nggak jelas. Liat tuh teman-teman kamu sudah mulai kerepotan memisahkan barang yang akan dibagikan!!!" bentak ibu Zein kesal karena merasa bahwa Adora adalah pegawai sewaannya yang lalai. "Kampret tuh bocah aku dikerjain,, sepertinya kita harus mengikuti alur permainannya!" Batin Adora menggertakkan giginya kesal karena dikerjai oleh Adik Zein. "Maaf tante, saya tadi diberikan pekerjaan didepan!" jawab Adora mengikuti arahan dari ibu Zein. Adith dan Alisya segera datang dengan memimpin barisan dimana Adith memimpin barisan para anak laki-laki dan Alisya memimpin barisan para anak perempuan. Mereka yang sebelumnya terlihat kesulitan mengendalikan kereaktifan para anak-anak itu kini terlihat sangat patuh terhadap perintah Adith dan Alisya bagaikan prajurit-prajurit kecil yang dikomandoi dengan mantap. "Kita mulai yah, pertama baris paling depan dari laki-laki yang akan maju terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan barisan paling depan dari perempuan yah?" Teriak Adith lantang seperti sedang melatih dan berlagak seperti komandan pasukan. Pasukan Adith seketika menghormat dilanjutkan dengan pasukan Alisya. "Bukannya harusnya Perempuan dulu yang maju kak? Perempuan kak harus selalu diutamakan! ucap seorang anak kecil yang masih berusia sekitar 5-6 tahun. "What??? dari mana anak ini belajar?" Adith mencubit pipinya dengan gemas karena ucapannya yang terbilang cukup dewasa dibanding dengan usianya. "Kamu benar, sebagai laki-laki kamu harus bisa mengutamakan perempuan. Tidak masalah jika perempuan atau laki-laki yang lebih dahulu maju, tapi jika kalian mengambil barang kalian terlebih dahulu kemudian menaruhnya ditempat yang aman maka kalian bisa membantu perempuan untuk mengambil barangnya nanti. Jadi kalau perempuan yang maju terlebih dahulu, maka takkan ada yang membantu mereka. Iya kan???" ucap Alisya penuh lemah lembut. Alisya menjelaskan dengan sangat sederhana agar mampu dipahami oleh anak-anak berusia dibawah 8 tahun. Mereka mengangguk pelan memahami perkataan dari Alisya. Anak-anak dengan patuh mengikuti arahan dari Adith dan Alisya menuju Adora mengambil bingkisan dan memeluknya dengan sangat erat karena ia tak cukup kuat untuk memegangnya dengan sebelah tangannya. Zein yang berada pada Barisan lain dengan anak yang jauh lebih besar tertawa melihat tingkah polos mereka. Sudah sekitar 10 barisan anak-anak itu datang silih berganti mengambil semua bingkisan yang diberikan kepada mereka. Adora sudah merasakan pegal yang cukup berat namun masih terus berusaha untuk memberikan bingkisan itu sampai habis. Setelah selesai ibu Zein langsung menyuruhnya untuk segera berlari ke arah meja makanan dipekarangan agar semua mendapatkan bagiannya. Meja yang sebelumnya ia lihat hanya berisi kue-kue dan makanan manis sekarang sudah berganti menu dengan makanan yang lebih berat dan bergizi besar bagi masa pertumbuhan anak-anak. "Kau baik-baik saja? wajahmu terlihat pucat pasih! ucap Emi melihat wajah Adora yang tampak kelelahan dengan nafas yang tersengal-sengal. "Aku baik-baik saja, hanya sedikit kelelahan. Aku hanya berharap agar semua ini secepatnya berakhir, dengan begitu aku bisa merebahkan tubuhku dengan nyaman!" Adora menghayalkan ranjang dikasurnya yang empuk dan nyaman. Bagi Adora tempat paling nyaman untuk melepas segala penat dan lelah setelah seharian beraktifitas adalah kasur ranjang empukmu. Setelah mereka berbincang sejenak untuk melepas letih, dengan segera mereka melanjutkan semua pekerjaan yang ada hingga akhirnya semua tamu undangan dan para anak Yatim mulai pulang satu persatu meninggalkan rumah Zein yang dipenuhi dengan keterkacauan layaknya tingkah anak-anak pada umumya. "Kerja kamu bagus, saya suka! saya akan memberikan upah lebih pada managermu nanti" ibu Zein datang menghampiri Adora dan Emi. Emi menatap bingung tak paham dengan perkataan dari ibu Zein. "Maaf tante, tapi Adora ini teman sekelas kami disekolah" Emi mencoba meluruskan kesalah pahaman ibu Zein. "Loh terus kenapa tadi dia yang menghampiri ibu? Ibu pikir dia salah satu part time yang ibu pesan! ucap ibu Zein tak kalah bingung dengan pertanyaan Emi. "Masalah itu ibu bisa tanyakan sama anak manja ibu yang satu ini, dia sengaja mengerjai Adora dengan menggunakan ibu sehingga Adora berpikir kalau ibu yang memanggilnya! Zein membawa adiknya bersama dirinya dan menunjukkannya kepada ibunya. "Zizy, kamu kenapa berbuat seperti itu? Ibu harus membuatnya bekerja tanpa henti karena ibu pikir ibu sudah membayarnya sangat maha sehingga ia harus kerja sesuai dengan bayaranya. Jangan ulangi hal itu lagi!!!" Ibu Zein menjewer anaknya dengan cukup kuat untuk memberinya pelajaran. "Aaa... ampun bu, Ampun bu, Aku cuman mau ngetes kak Adora kok, soalnya kak Adora!! Adora langsung berteriak menghentikan kalimat yang akan dikeluarkan oleh Zizy. "Aahhh,, nggak apa-apa kok tante, saya juga ikhlas melakukan semuanya. Jadi tante tidak perlu merasa tidak enak seperti itu!" Adora menatap tajam kearah Zizy dan memberikan peringatan melalui bahasa matanya. "Minta maaf kepada kak Adora!!! Perintah ibu Zein dengan sangat tegas. "Maaf kak Adora, aku tidak bermaksud untuk mengerjai kakak atau yang lainnya! Zizy tertunduk dalam menyesali apa yang sudah ia lakukan kepada Adora. "Tidak apa-apa Zizy!" ucap Adira merasa iba dengan ekspresi Zizy yang sudah menyesali akan apa yang sudah ia lakukan. "Ya sudah, tante ucapkan terimakasih banyak karena sudah membantu tante dengan sangat baik. Sebaiknya kalian istrahat saja dulu sekarang biar sisanya pembatu dirumah ini yang akan menyelesaikan semuanya esok hari" ucap ibu Zein dengan penuh senyuman hangat. Karena merasa cukup kepanasan dan letih, Adora keluar pekarangan dan duduk bersandar ditembok pagar. Adora bersandar sembari mendongakkan kepalanya memandang langit yang cerah dan bertabur bintang. Adora menarik nafas dengan sangat kuat. "Jika kau bernafas dengan kuat seperti itu, kau kan melukai paru-parumu dan kau bisa membuat kami semua kekurangan oksigen karena sedotan mu! Zein muncul membawa segelas Jus jeruk yang dingin dan segar. Zein kemudian menyodorkannya kepada Adora dengan wajah datar namun sudah cukup membuat Adora merasa sangat tersanjung karena perhatian yang diberikan pertama kali oleh Zein kepada dirinya. "Ada angin barat dari ini? kenapa kau tiba-tiba baik seperti ini?" Adora sengaja ingin menggoda Zein. "Kalau kau tidak mau ya sudah!" Zein berbalik ingin meninggalkan Adora namun dengan cepat dihentikan oleh Adora. "Apa sih sensi amat! Aku mau kok, kebetulan aku sangat haus karena terlalu sibuk sampai aku lupa untuk minum! Adora kemudian dengan cepat mengambil gelas jus jeruk ditangan Zein dan meneguknya secara perlahan - lahan karena ingin menahan kepergian Zein. Chapter 173 - 8 3 Tak melihat Alisya dikerumunan teman-temannya, Adith segera mencarinya kemana-mana. Dari kejauhan Adith melihat Alisya yang masuk kedalam rumah Zein. Adith dengan cepat mengikuti Alisya dan segera menuju ketempat dimana Alisya sedang berada. Setelah masuk, Adith akhirnya melihat Alisya sedang mengambil segelas air minum dan terduduk ke kursi lalu langsung meneguknya dengan cepat. Saat Alisya kembali berdiri untuk mengembalikan gelasnya, Adith sudah berada dibelakangnya ingin mengejutkan dirinya. Adith datang mengendap endap dibelakang Alisya untuk membuatnya terkejut. Dengan perlahan ia mengambil satu buah pisang dan menodongkannya tepat di bagian tulang lumbalesnya (Ruas tulang belakang diatas pinggang). Alisya yang kaget dengan refleks langsung menarik tangan Adith dan memasang posisi untuk membantingnya. Adith melayang keudara dengan posisi bagian belakang akan menyentuh lantai namun Adith dengan lincah mendaratkan kakinya kebawah terlebih dahulu. Adith yang tak mau kalah juga melakukan hal yang sama dengan berputar arah lalu dengan sedikit teknik bantingan paha yang dengan memperkuat kuda-kudanya agar Alisya tidak benar-benar jatuh kelantai namun mendarat sempurna dihadapannya. "Kenapa kau selalu saja bersikap usil padaku?" Alisya dengan cepat memutar tubuhnya dengan menyerang kepala Adith yang dapat dihindari oleh Adith dengan cepat meski ia bisa merasakan kuatnya tamparan angin yang mengikis dagunya. "Kau selalu menarik perhatianku untuk selalu menggodamu!" Adith dengan cepat berada dihadapan Alisya saat Alisya sudah berdiri dengan tegak dari tendangan memutarnya. Alisya yang kaget melihat Adith sudah berada dihadapannya membuat Alisya dengan cepat memegang garpuk yang kemudian ia tusukkan kearah Adith yang dengan susah payah Adith hindari. Alisya kembali melayangkan serangannya. Kecepatan Alisya yang hampir tak bisa ditandingi oleh Adith membuat Adith dengan cepat meraih piring keramik yang berada tak jauh dari sisinya yang ternyata dapat dengan mudah hancur karena tekanan dari perlindungan Adith dan Tusukan kuat dari Alisya. Alisya tersenyum melihat garpunya yang membengkok seketika dan keramik Adith yang terbelah menjadi beberapa bagian, saling berpandangan sejenak mereka berdua melirik kearah yang berlawanan. Alisya melihat pisau disisi belakang Adith dan Adith melihat nampan besi yang berada disisi belakang Alisya. "hemmm,, aku tau dalam hal keahlian, aku mungkin takkan bisa mengalahkanmu!" ucap Adith sambil terus menjaga jarak agar bisa dengan cepat mengambil nampan nya. Jika ia mengambil pisau dibelakangnya maka Alisya akan dengan mudah melebihi kecepatannya dan menghentikannya. "Dan aku takkan bisa menang dari kelicikkanmu!" Alisya seolah bisa mengetahui apa yang akan dilakukan Adith ketika melirik barang yang berada dibelakangnya. Dengan satu gerakan kecil Alisya dengan cepat menendang nampan yang akan diambil oleh Adith dan berhasil meraih pisau dibelakang Adith setelah sebelumnya sempat dihentikan oleh Adith. Alisya dengan cepat menodongkan pisaunya keleher Adith dan tersenyum puas. "8 : 3 , meski aku pernah kalah dari mu beberapa kali, sepertinya kau takkan mampu mengalahkanku dalam hal ini" ucap Alisya masih dengan pisau yang ujungnya melekat pelan dileher Adith. "Planngggg.... Plaaaang...." sebuah pukulan nampan mendarat dikepala Adith dan Alisya dengan keras. "Jangan bermain-main dengan barang kesayangan ibu-ibu! Jika kalian ingin saling menyerang biar ibu perlihatkan seperti apa itu menyerang yang sebenarnya!" Ibu Zein sudah memegang sapu ijuk yang cukup panjang. "The power of emak-emak!!! hahahahahhahaha" Riyan tertawa dengan terbahak-bahak melihat Adith dan Alisya yang tunduk dan takluk dihadapan ibu Zein. "Romance Action nya berakhir gagal karena Nampan!!!" Zein tak bisa menahan tawanya melihat tingkah keduanya yang tampak oleng dan bingung dengan situasi yang sedang berada dihadapan keduanya. "Apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan didapurku, tidak mungkin kalian hanya ingin berpacaran ala India disini kan?" tanya Ibu Zein menunjuk-nunjuk menggunakan sapu ijuknya. "Ah... maaf tante, karena kehausan aku jadi mencari Air minum di kulkas untukk.... Kruuuuyuuuuukkkk,,," perut Alisya berbunyi dengan sangat keras. Dengan rasa malu Alisya dengan cepat menutup perutnya berbalik kebelakang ingin melarikan diri. "Mau kemana kau, perutmu lebih jujur dari mulutmu ternyata! Apa yang kau lakukan sedari tadi sampai tak memakan makanan yang sudah aku susah-susah hidangkan?" Ibu Zein dengan cepat meraih kerah baju belakang Alisya untuk menghentikannya. Adith tertawa pelan melihat tingkah tercyduk Alisya. "Zein, Ibu mu lebih mengerikan dari nenekku!!!" Ucap Alisya menggunakan bahasa bibirnya yang dapat dengan mudah dibaca oleh Zein dan Riyan. Bukannya menolong Alisya, keduanya hanya tertawa terbahak-bahak. "Maaf tante, bukannya aku tak suka dengan masakan tante! Tapi karena tadi terlalu sibuk aku sampai lupa untuk mengisi kampung tengahku." ucap Alisya setelah menghadap wajah ibu Zein yang kemudian ibu Zein melepas cengkramannya melihat ekspresi tulus Alisya. "Ya sudah, aku akan memasakkan kalian semua makanan. Kalian semua pasti belum makan jadi untuk sementara makanlah dulu buah ini" Ibu Zein mengeluarkan beberapa potong pepaya segar dari dalam kulkas dan ditaruh diatas meja. Melihat ekspresi wajah Alisya yang mengerut membuat Zein paham akan apa yang ada dipikiran Alisya. "Bu, Alisya tak terlalu menyukai pepaya! Kami akan menunggu masakan ibu saja, karena masakan ibu adalah masakan paling enak yang mengalahkan restoran di Indonesia loh?" puji Zein mengalihkan perhatian ibunya. Ibu Zein terkesan tegas terhadap makanan sehingga ketika dia sudah menawarkan sesuatu maka takkan ada alasan untukmu menolak makanan tersebut. "Makanlah, pepaya bisa mencegah asam lambung meningkat dan mencegah mag kambuh! apa kamu tidak tahu kandungan pepaya?" tanya ibu Zein ketika mendengar bahwa Alisya tak menyukai pepaya. "Pepaya memiliki kandungan kalium yang dapat meredakan asam lambung yang sedang naik. Dengan adanya kandungan ini, pepaya dapat menyeimbangkan keasaman PH atau derajat keasaman didalam lambung yang terjadi ketika Maag kambuh!" Terang Zein menjelaskan maksud dari ibunya. "Selain itu juga, pepaya mengandung papain, yaitu enzim pencernaan yang dapat membantu pecahan protein sehingga hal ini sangat baik untuk pencernaan." tambah Adith menjelaskan lagi sembari mengambil potongan pepaya diatas meja dan memakannya dengan lahap. "Itu adalah ilmu paling berharga yang akan kamu dapatkan setiap kali ibu Zein mengeluarkan buah pepayanya. Untuk itu sebaiknya kamu mengambil sepotong pepaya itu sebelum dia mengulang apa yang sudah dijelaskan Adith dan Zein sampai tanpa sadar yang timbul bukanlah rasa lapar mu terisi penuh oleh omelan ibu Zein" ucap Riyan sambil tertawa renyah yang kemudian mendapatkan pukulan gemas dari Ibu Zein. Ibu Zein tak bisa berkata apa-apa ketika melihat interaksi dari ketiganya yang sudah lama ia rindukan. Meski Riyan dan Zein tak terlibat konflik, namun sejak Adith bermasalah dengan Zein membuat Riyanpun ikut jarang menujukkan diri mereka. Chapter 174 - Itu Bau Tau!!! Lelah memberi salam dan tidak mendapatkan jawaban, Karan segera masuk kedalam rumah dan langsung menuju dapur ketika mendengar suara berisik dari sana. Dari belakang Karan bisa tahu kalau itu adalah Akiko yang tampak sedang menyiapkan sarapan dengan seragam sekolah yang lengkap dibalut celemek yang biasa dipakai oleh tante Loly. "Dimana nenek Alisya?" tanya Karan yang seketika membuat Akiko terkejut dan melayangkan telur yang dipegangnya. Melihat itu Karan dengan cepat melompat melewati meja yang tingginya sepinggang dan mengamankan telur-telur yang melayang diudara dengan mengambil kotak telur dan menangkap satu persatu telur tersebut meski ada satu telur yang tak bisa ia tangkap karena Akiko menghalanginya untuk menangkap telur yang berada dibelakang Akiko. Jarak mereka sangat dekat sampai Akiko berusaha menahan nafasnya karena bingung. Karan juga kaget melihat celemek yang dipakai oleh Akiko entah kenapa sangat pas ditubuhnya sehingga Karan langsung membuang pandangannya ke arah lain. Dengan gugup Akiko melangkah kebelakang namun hampir terpleset jatuh karena menginjak telur yang pecah tadi. Dengan cepat Akiko menarik baju Karan dikedua sisinya sedang Karan yang kaget langsung mengangkat kotak telurnya setinggi mungkin diatas kepala Akiko. Keduanya terdiam membeku dengan situasi tak terduga mereka dan tak tahu harus bagaimana sehingga Karan dengan cepat mencairkan suasana canggung mereka. "Maafkan aku sudah membuatmu terkejut!" ucap Karan yang mundur perlahan-lahan agar Akiko bisa mendapatkan keseimbangannya dan memperlebar jarak mereka sehingga Akiko menarik nafas dalam karena merasakan jantung nya seolah berdetak cepat dengan getaran yang hebat. "Ahhh,,, iyee.. Daijoubu desu (Tidak, tidak apa-apa)" Akiko yang gugup dan kikuk langsung berbicara menggunakan bahasa Jepangnya. Akiko tak sadar kalau ia berbicara menggunakan bahasa Jepang. Karan tersenyum melihat tingkah menggemaskan Akiko, dia lalu menaruh kotak telur itu keatas meja dan mengambil serbet yang tak jauh berada di sebelah kiri Akiko lalu duduk untuk membersihkan pecahan telur sebelumnya. "Wuaaaa...!!!" Akiko semakin kaget ketika melihat Karin dan Ryu yang sudah duduk manis melihat Akiko dan Karan. Akiko kemudian memundurkan langkahnya yang malah menabrak Karan yang sedang membersihkan pecahan telur sehingga Akiko terpleset dan jatuh. Karan dengan cepat menangkapnya dan melindungi kepala Akiko agar tidak terbentur ke lantai. "Hummmm,,, humm... Nice Catch kak Karan!" Karin memangku wajahnya melihat kebawah dan memberikan 2 jempol kepada kakaknya. "Kamu memiliki keahlian yang cukup mantap juga ternyata yah...!" tambah Ryu mengikuti gerakan Karin sembari tersenyum melihat wajah memerah Akiko. Dengan santai Karan mengangkat Akiko dan mendudukkannya dikursi dengan nyaman. "Kau hampir saja membuat seseorang terluka dengan diam-diam sudah berada disitu!" omel Karan dengan melempar-lempari kain bekas lap telur yang pecah dihadapan Karin. "Apa sih kak,,, itu bau tau!!!" tepis Karin yang mencium bau busuk dari serbet yang dipegang oleh Karan. "Iya benar, sepertinya telurnya busuk!" tambah Ryu yang dengan cepat menutup hidungnya tak tahan dengan bau busuk tersebut. "Bagaimana mungkin telur itu bisa busuk? padahalkan telur itu baru aku ambil dari dalam kulkas!" Akiko langsung memeriksa beberapa butir telur lain yang masih berada dikotak telur. "Itu artinya sebelum dimasukkan dalam kulkas telur ini hanya didalam ruangan meski pada suhu dingin. Akibatnya telur jadi cepat busuk dan hanya bisa bertahan selama 3 minggu saja. Berbeda tempat penyimpanannya, beda juga masa kadaluwarsanya. Telur sebaiknya ditaruh ditempat yang memiliki suhu yang pas, dan telur sangat cocok jika suhuhnya dibawah 7 derajat Celsius. Telur yang disimpan dalam kulkas seharusnya bisa bertahan 4-5 minggu!" Terang Karan sembari membersihkan tangannya. "Jadi apa yang harus aku lakukan dengan telur-telur ini?" tanya Akiko tak tega jika harus membuang semua telur itu. "Kita akan memecahkan beberapa untuk melihat bagaimana kondisinya. Kalau masih bagus, kita akan memakainya untuk membuat Omlet. Dengan begitu tak ada yang sia-sia!" Karan langsung mengambil kotak telur yang ada disana lalu mulai memecahkannya satu persatu dengan memisahkan bagian telur yang sudah busuk dan masih bagus. "Pemandangan yang indah, aku serasa melihat sepasang pengantin baru yang sedang memulai rumah tangga mereka dengan harmonis!" Karin tersenyum senyum menggoda Karan yang sedang memimpin Akiko memasak. "Apa kau tidak melupakan hal yang lebih penting?" Karan tetap melanjutkan kegiatannya saat sedang memperingatkan Karin. "Oh iya, aku baru sadar!!! apa yang membuat kalian kemari?" tanya Akiko penasaran menatap Karin dan Karan secara bergantian. "Kenapa malah kamu yang tersinggung dengan ucapanku? hahahah... Aku kemari untuk memberikan hasil pemeriksaan Alisya lalu. Dan makhluk cerewet itu berusaha memaksaku untuk ikut membawanya kemari, dia bilang ada hal penting yang harus dia lakukan untuk menebus kesalahannya!" Jelas Rinto mulai menyalakan kompor listriknya. "Aku kemari untuk memberikan salep dan mengkompres punggung Ryu yang lebam semalam, sepertinya sekarang warnanya sudah berubah menjadi biru atau ungu sehingga akan mempercepat penyembuhan lebam jika dia mengkompresnya dengan menggunakan air hangat!" ucap Karin setelah melihat tanda tanya di mata Akiko yang sedang menatapnya meminta jawaban. "Dan kau kemari untuk memastikan apakah Ryu melakukannya atau tidak?" goda Akiko yang melihat Ryu tak berekspresi dengan wajah datarnya. "Aku hanya ingin bertanggung jawab kepada Ryu, makanya aku datang kemari untuk memberikan Ryu obat dan mengobatinya!" Elak Karin cepat meski apa yang dikatakan oleh Akiko 100 persen benar. Ryu hanya terdiam tak menghalangi Karin karena ia tahu kalau Karin tetap akan keras kepala untuk mengobatinya dan merasa bersalah karenanya. Karin dengan cepat memasak Air yang ia buat sedikit hangat dan mengambil kain yang lebih tebal untuk ia gunakan dalam mengkompres punggung milik Ryu. Alisya yang baru keluar dari kamarnya yang baru bangun akibat keletihan dari pekerjaan semalam sedang melihat 2 pasang sejoli yang sedang melakukan kegiatan mereka masing-masing. Karan bersama Akiko sedang memasak di dapur dan tak jauh dari mereka Karin sedang mengobati Ryu yang sedang cidera. Mereka tampak sibuk sampai tak memperdulikan Alisya yang sedang menatap mereka dalam diam. "Sepertinya ini harus diabadikan!" pikir Alisya yang kemudian dengan cepat masuk kedalam kamarnya dan mengambil sebuah kamera digital hologram lalu memotret mereka tanpa disadari oleh mereka semua. Alisya tersenyum puas melihat mereka disana. Sudah lama sejak terakhir kali Alisya merasa rumahnya jadi lebih hidup berkat kedatangan Akiko dan Ryu serta Tante Loly yang membuat pagi hari bisa sangat heboh dibandingkan dengan motor bogar yang sedang dipanaskan. Chapter 175 - Kita sudah cukup terlambat Setelah selesai mandi, Alisya keluar dari kamar mandinya dan kaget saat melihat jam yang hampir mendekati angka 7. Alisya yang kaget langsung menghambur segera berpakaian dengan super cepat. "Ahhh,,, aku terlalu keasikan mandi sih tadi!!! Tank ku sangka aku hampir menghabiskan waktu selama satu jam didalam sana." Alisya mengutuk dirinya yang terlalu lama menghabiskan banyak waktu untuk mandi. Alisya yang sudah terbiasa mandi dengan cepat tak menyangka dirinya bisa menghabiskan waktu selama sejam lebih hanya untuk mandi saja tanpa berkeramas. Karena terburu-buru Alisya langsung memasukkan tangan dan kepalanya sekaligus kedalam bajunya namun kejadian tak terduga membuatnya tak bisa meloloskan kepala karena ia lupa membuka kunci baju bagian atas sedang tangannya sudah menyangkut ditubuhnya dan tidak bisa meloloskan diri. Jika dia memaksa untuk membuka bajunya dengan kuat maka kemungkinan besar kancing bajunya akan putus dan bajunya juga akan sobek. Alisya tidak yakin jika ia harus memaksa membukanya karena waktunya sudah tidak cukup lagi untuk memperbaiki bajunya itu. "Aduh,,, neeeekkk,, Akikoooo,,,, tante Lolyyyy.... bantuin Alisya dong!!! Alisya nyangkut nih..." Teriak Alisya meminta pertolongan kepada orang rumahnya. "Kalau harus mencari baju yang satu lagi akan butuh waktu lama dan baju itu masih belum tersetrika!". Alisya pasrah dan mencari cara untuk segera meloloskan diri. Tidak mendengar jawaban dari luar, Alisya ingat kalau Akiko dan Ryu sudah berangkat menuju ke sekolah karena Alisya sudah mengizinkan mereka pergi terlebih dahulu karena ia pikir neneknya akan segera pulang dari kantor kakeknya membawakan sarapan pagi karena semalam kakeknya tidak akibat banyaknya pekerjaan yang ia tinggalkan selama Alisya berada di rumah sakit. Alisya dengan susah payah menggeser pintunya untuk menuju ke kamar tantenya yang sedang berolah raga pagi. Suara dentuman musik yang tak terlalu keras membuatnya berteriak kencang sekali lagi. "Tante,,, Tante Loly, bantuin Alisya dong... Alisya nyangkut nih!!" setelah beberapa saat Alisya mendengar musik Yoga tantenya berhenti. "Anak ini kenapa kelakuannya semakin konyol seperti ini sih? hampir setengah jam aku menunggu dan dia keluar dengan model seperti ini?" Adith mulai menutup matanya saat Alisya semakin dekat dihadapannya. Seseorang sedang membukakan kancing yang membuat kepalanya tersangkut lalu membuat Alisya bisa meloloskan kepalanya sehingga dengan mudah ia bisa meloloskan kedua tangannya dan memakai bajunya dengan baik. "Makasih tante,, aku terlalu terburu-buru saat..." Alisya baru sadar kalau yang membantunya membuka kancingnya bukanlah tantenya melainkan Adith. Alisya sedang melihat Adith yang baru saja membuka matanya dan melihat kearah dirinya. "Kau,,," Alisya langsung berlari masuk kedalam kamarnya tanpa melihat pintunya yang setengah tertutup. Adith yang melihat refleks malu Alisya langsung menuju pintu kamar Alisya dan menaikkan tangannya ke dahi Alisya yang menghantam pintu dengan keras. "Ummhhh,," Alisya hampir saja melukai dahinya sendiri. Tante alisya yang baru keluar dengan pakaian olah raganya yang seksi langsung tertawa melihat kekonyolan Alisya. "hahahahha,,, apa yang kamu lakukan sya? bunyinya keras sekali seperti banteng yang serang menyodok pintu rumah!" ucap tantenya yang tak bisa menahan tawanya. "Masuklah cepat, aku akan menunggu mu didepan! Waktu kita hanya tinggal 10 menit lagi" ucap Adith sambil mengusap dahi Alisya dengan lembut dan tersenyum nakal. Adith segera keluar untuk memberikan Alisya kesempatan untuk bisa berpakaian dengan nyaman. Alisya merasa bersyukur karena memakai pakaian dalam sebelumnya. Namun karena terlihat transparan sehingga Adith menutup matanya untuk menghargai Alisya. "Tante gimana sih, kalau tante keluar dari tadi kan Alisya nggak perlu malu..." sungut Alisya kesal pada tantenya. Tantenya hanya tertawa melihat wajah Alisya yang terlihat kesal. Ia langsung menuju ke depan kulkas dan mengambil susu lalu meneguknya cepat. Setelah mengambil tas dan memakai sepatunya, Alisya langsung keluar menuju Adith yang sudah siap dengan jacket hitam dan helem ninjanya yang kemudian dengan tersenyum manis ia dengan cepat memakaikan helem kepada Alisya. "Kita sudah cukup terlambat, untuk itu berpeganglah dengan erat!" pinta Adith dengan segera membunyikan motornya dan memacunya dengan sangat cepat membelah jalanan Jakarta yang sangat ramai. Adith dengan lincah menghindari kendaraan yang berada dihadapannya dengan tetap memperhatikan kondisi Alisya yang sedang memakai rok. Kurang dari 30 detik mereka tiba dan melesat masuk saat pintu gerbang perlahan-lahan mulai menutup. Motor Adith berhenti tepat di depan posko tempat vinger print masih berwarna hijau. Satpam yang mengenali mereka dengan cepat membukakan penutup vinger print itu yang kemudian Alisya dan Adith langsung menaruh tangan mereka dengan cepat yang tercatat bahwa kurang dari 5 detik mereka akan dianggap terlambat. "Waahhh... Nyaris saja nak Adith!!!" ucap si satpam yang merasakan ketegangan diantara mereka berdua. "Terimakasih pak sudah membantu membukakan kami, jika tidak kami pasti tidak akan sempat!" ucap Alisya merasa sangat bersyukur atas bantuan pak satpam itu. "Tidak masalah neng, senang bisa membantu! sebaiknya kalian segera masuk, apel pagi baru saja berakhir 1 menit yang lalu! pak Satpam memperingatkan mereka. "Iya pak, terimakasih yah pak!" ucap keduanya langsung menancap gas menuju ke tempat parkir sekolah mereka. "Kamu masih bisa lari kan?" tanya Adith mengingat Alisya yang bru 2 hari keluar dari rumah sakit. "Tentu saja!!!" ucap Alisya dengan penuh keyakinan. Setelah memasang ancang-ancang keduanya langsung berlari kearah yang berlawanan. Adith dan Alisya melesat dengan cepat saat mendengat bunyi bel masuk sudah berbunyi keras sedang mereka masih berada di luar gedung sekolah. Dan Adith harus mengambil jalan memutar agar bisa masuk melalui jendela ruang kelasnya. Alisya menang selangkah lebih cepat saat memasuki ruang kelasnya. Tepat saat ia duduk, guru biologi masuk kedalam kelas mereka. "Aku pikir kau takkan datang karena tak melihatmu dari tadi!" bisik Karin sembari bersiap menyalami guru mereka. "Terimakasih kepada si Jenius usil itu aku tak terlambat sekarang!" ucap Alisya yang adrenalin nya masih terpacu dengan hebat karena berlari dengan sangat kencang. "Hummmm.... ternyata pangeran berkuda putih datang disaat yang tepat!!!" senyum Karin menggoda Alisya yang mendapatkan tendangan pelan dibagian bawah mejanya. Setelah cukup menenangkan diri, Alisya perlahan mengontrol dirinya. Meski nafasnya tak tersengal-sengal namun ia bisa merasakan bagimana panas tubuhnya saat ini membakar seluruh otot-ototnya yang bisa saja membuatnya mengalami dehidrasi ringan. Chapter 176 - Palnkton Guru biologi memberikan penjelasan kepada mereka dengan penuh semangat dan sangat menarik. Dia bahkan lebih memilih untuk mengadakan diskusi ketimbang harus terus memberikan penjelasan yang hanya berpusat pada dirinya sendiri. "Dari manakah oksigen diperoleh paling besar?" pancing ibu Hijrah dengan memulai menarik perhatian mereka. "Tumbuhan kan bu? tumbuhan melakukan proses fotosintesis dimana pada akhir dari prosesnya akan menghasilkan glukosa dan oksigen!" jawab Beni dengan penuh semangat yakin akan jawabannya. "Yang lain?" pancing ibu Hijrah untuk mendapatkan lebih banyak jawaban dari siswanya. "Laut, laut adalah penghasil oksigen terbesar dibumi" Ucap Yogi dengan lantang. "Kenapa Laut menjadi penghasil okesigen terbesar?" tanya ibu Hijrah sembari menuliskan gambaran siklus dari pembentukan oksigen. "Laut mengambil wilayah paling besar dimuka bumi sehingga laut dikatakan sebagai penghasil okesigen terbesar dibumi" jawab Adora dengan menaruh perhatian terhadap apa yang sedang mereka diskusikan. "Jawaban kalian semua benar yah... tapi aku ingin mengantar pemahaman kalian lebih dalam lagi. Lalu apa yang membuat laut bisa menjadi penghasil oksigen?" tanya ibu Hijrah sekali lagi dengan senyumannya yang manis. Bagi ibu Hijrah, pemahaman lebih penting dibanding dengan menghafal. Banyak dari mereka mengira bahwa Biologi adalah salah satu pelajaran yang berpusat pada menghafal namun sebenarnya Biologi lebih menitik beratkan pada pemahaman. "Didalam laut terdapat banyak plankton, rumput laut, tetapi yang paling khusus adalah fitoplankton." Jawab Rinto mengingat penjelasan yang diberikan oleh Adith kepada mereka lalu. "Oh iya benar, aku ingat Adith pernah memberikan informasi ini" Emi dengan cepat mencari catatannya namun kesulitan saat menemukannya karena catatannya tumpang tindih. "Ada yang bisa menjelaskan bagaimana plankton bisa menghasilkan okesigen?" tanya ibu Hijrah yang matanya tertuju pada Karin dan Alisya mengharapkan jawaban dari salah satu diantara mereka berdua. "Plankton memiliki kemampuan berespirasi dimana ia akan menghasilkan gelembung gelembung oksigen yang terdapat di dalam laut, oksigen tersebut terlepas ke udara dan menjadi gas yang bisa kita nikmati sekarang!" ucap Karin memahami maksud dari ibu Hijrah. "Seperti yang sudah dijelaskan oleh Karin, kemampuan plankton inilah yang membuatnya menjadi penyumbang sebesar 80 persen oksigen di bumi. Pepohonan juga tetap penting bagi kehidupan manusia meski perannya menyumbang oksigen hanya sekitar 20 persen saja, namun..." Alisya berbalik melihat kearah Aurelia yang sedang menatapnya dan mendengarkan dengan sangat serius. "Namun pepohonan juga memiliki fungsi lain yaitu selain menghasilkan oksigen, pepohonan juga berfungsi sebagai penyerap karbon dioksida." tambah Aurelia dengan penuh percaya diri. "Yup benar sekali, itulah kenapa laut merupakan penghasil oksigen terbesar dimuka bumi. Ibu senang kalian bisa saling berbagi ilmu seperti ini ketimbang menyimpan semua ilmu yang kalian dapatkan sendiri." terang ibu Hijrah dengan sangat senang karena bisa mendapatkan perhatian penuh dari para siswanya untuk bisa menikmati mata pelajaran yang sedang dibawakannya. Beberapa saat setelah itu bel jam berikutnya telah berbunyi sehingga ibu Hijrah langsung saja membereskan barang-barangnya dan keluar dari kelas setelah disiapkan oleh Karin. "Hei, kalian dengar tidak kalau anak-anak dikelas sebelah satu persatu siswanya mulai tak masuk?" Beni bertanya kepada Rinto mengenai info yang baru saja ia dapatkan dari kelas sebelah. "Tidak, ada apa? apa yang terjadi" ucap Rinto dengan penuh penasaran. "Aku mendengarnya, entah sejak kapan beberapa siswa disekolah ini mulai menghilang satu persatu. Kejadian seperti ini biasa terjadi setiap tahunnya pada anak kelas akhir karena besarnya tekanan yang mereka dapatkan!" terang Yogi dengan setengah bersandar ke dinding kelasnya. "Apa maksudmu?" tanya Alisya mendengar percakapan mereka. Karena guru pada jam pelajaran selanjutnya belum menunjukkan diri sehingga mereka dengan lancar melanjutkan apa yang sedang mereka diskusikan. Beberapa temannya pun ikut memberi perhatian kepada Yogi ingin mendengar informasi lebih lanjut. "Tiap tahun sekolah akan mengadakan jam pelajaran tambahan untuk persiapan ketika para siswa akan melaksanakan ujian kelulusan nantinya. Seperti yang kalian ketahui Ujian Nasional memiliki jenis soal yang hampir sama di seluruh Indonesia meski memiliki paket yang berbeda beda, namun sekolah kita memiliki standar kelulusan yang cukup tinggi yaitu 85 untuk setiap mata pelajarannya!" Ucap Karin menjelaskan maksud yang ingin dikatakan oleh Yogi. "Oleh karena itu, ada beberapa siswa yang merasakan tekanan yang cukup berat sehingga beberapa dari mereka akan mengalami stres yang cukup berat dan melakukan beberapa tindakan yang menyimpang jauh atau bahkan beberapa tindakan kriminal" jelas Yogi menambahkan penjelasan Karin dengan lebih seksama. "Itulah kenapa beberapa dari mereka banyak yang menghilang atau melarikan diri?" tanya Adora memandang Karin dan Yogi secara bergantian. "Ya benar, tapi sepertinya ada hal lain yang membuat hampir sebagian besar dari teman-teman kita mulai menghilang satu-persatu saat jam malam belum dimulai dan akan dimulai pada satu bulan kedepan setelah perlombaan tingkat Nasional diadakan!" Terang Yogi yang kini sudah berdiri dari tempat duduknya dan maju kedepan agar semua teman-temannya mendengar ucapannya. "Apa yang dikatakan Yogi benar!!!" Guru Vivian masuk menggantikan guru mata pelajaran bahasa Inggris yang seharusnya mengajar pada kelas mereka saat ini. "Apa yang terjadi bu? apa ibu mengetahui sesuatu?" Tanya Rinto melambai kepada Yogi untuk kembali duduk di kursinya. Ibu Vivian segera berdiri didepan kelas untuk memberi tahu beberapa informasi yang sudah ia dapatkan sebelumnya. "Aku hanya mendengar bahwa ada beberapa siswa yang menghilang secara misterius saat pulang dari sekolah. Siswa-siswa ini menghilang saat mereka yang seharusnya pulang ke rumah malah menyempatkan diri untuk singgah kebeberapa tempat tertentu yang masih dalam penyelidikan sekolah. Untuk itu kegiatan pembelajaran akan dihentikan sampai pada jam ini untuk mencegah beberapa hal yang tidak diinginkan sehingga rapat tertutup bersama seluruh orang tua siswa akan diadakan hari ini" terang ibu Vivian dengan tatapan yang sangat serius. Beni yang biasanya sangat berbahagia saat satu pelajaran tidak masuk apalagi sampai mereka harus diliburkan itu kini terdiam membeku. Ia tak yakin akan apa yang sedang terjadi saat ini terlebih dengan banyaknya tindak kriminal yang melibatkan anak seusia mereka. "Kalian akan dipulangkan pada hari ini bersama dengan orang tua kalian setelah rapat ini selesai, untuk itu tidak ada satupun dari kalian yang akan diizinkan keluar dari sekolah tanpa izin! Sinar Infra merah yang mengelilingi sekolah sudah dipasang sehingga kalian harusnya tahu seberapa genting keadaan sekolah saat ini" tambah ibu Vivian lagi sebelum akhirnya ia meninggalkan siswanya yang saling berpandangan satu sama lain tak paham akan situasi yang sedang terjadi. Chapter 177 - Pita Putih Setelah ibu Vivian keluar dari kelas menuju ke Aula sekolah, Alisya bisa melihat dengan jelas bagaimana sekolah dijaga dengan sangat ketat dimana sekolah yang biasanya hanya memiliki sekitar 2 satpam untuk 1 satpam pada gerbang depan dan 1 lagi di gerbang belakang sekolah kini tampak ada sekitar 20 bahkan lebih yang sedang berjaga-jaga didalam sekolah. "Ada apa ini? kenapa satpamnya banyak sekali? tidak mungkin kan rapat yang hanya dihadiri oleh para orang tua bisa sampai seketat ini. Kalau seperti ini sih artinya orang yang lebih penting sedang mengunjungi sekolah." Adora yang melihat Alisya menatap serius ke jendela dengan cepat mengikuti arah penglihatan Alisya. "Bahkan pintu kelas sekarang dikunci otomatis oleh pihak sekolah. Mereka benar-benar tak mengizinkan kita untuk keluar meski hanya untuk buang air kecil". Gani berusaha membuka pintu kelasnya yang terkunci dengan sangat rapat. "Jangan bercanda, buat apa mereka mengunci pintu kelas? Aku sudah berada diujung tanduk saat ini, dari awal pelajaran aku sudah merasakannya tapi karena pembahasan ibu Hijrah terlalu bagus aku jadi lupa sejenak. Tapi begitu kau membahasnya tiba-tiba saja ada yang menekan kuat untuk keluar!" Beni sudah menggeliat seperti ular didepan pintu kelasnya karena sedari tadi dia sudah menahan rasa buang air kecilnya. Rinto yang penasaran ikut mencoba membuka pintu bagian depan namun hasilnya sama saja, pintu kelas mereka sudah terkunci dengan sangat rapat ditandai dengan warna merah di bawah gagang pintunya. "Sepertinya kelas lain juga mengalami hal yang sama dengan apa yang sedang terjadi pada kita! Aku bahkan tidak bisa mendengar suara mereka dari sini karena pintu yang tertutup ini!" ucap Rinto mengintip dari jendela dan melihat koridor sangat sunyi senyap. Mereka yang mulai bingung bertanya satu sama lain karena merasa cukup panik dengan keadaan darurat yang sedang menimpa mereka. Bingung akan kejadian yang belum pernah mereka alami sebelumnya cukup membuat mereka jadi sedikit ketakutan dan semakin panik. "Perhatian!!! Kepada seluruh siswa, diharapkan untuk tenang didalam ruangan berhubung ada beberapa hal yang sedang diselidiki oleh pihak sekolah sehingga kalian tidak diizinkan untuk keluar dari ruangan. Jika ada yang kalian butuhkan, maka kalian bisa memencet tombol hijau pada gagang pintu kelas kalian dan para pengurus OSIS yang akan menghampiri kalian. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih!!!" suara dari pengeras itupun menghilang setelah selesai menyampaikan informasi. "Itu adalah suara ketua Osis periode saat ini, namanya Syams" ucap Emi mengenali suara yang keluar dari pengeras suara di dinding kelasnya. Ia ingat betul suara itu karena pernah mendengarnya melakukan pidato dihadapan banyak orang saat ia telah terpilih menjadi ketua Osis. "Tunggu dulu, kalian dengan apa yang dia ucapkan tadi???" tanya Feby ketika dengan jelas telinganya mendengar dan menangkap suatu informasi yang diberikan oleh Syams. "Aku mendengar ia mengatakan ada beberapa hal yang harus diselidiki, apakah itu Artinya akan ada inspeksi mendadak yang dilakukan oleh sekolah? Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini..." Terang Yogi yang mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. "Jika benar seperti itu, maka seharusnya tidak akan sampai seketat ini bukan? Menurut ku ini terlalu berlebihan hanya karena untuk melakukan inspeksi mendadak! terang Gina menganalisis keadaan mereka. "Kecuali jika memang benar ada hal yang sangat penting saat ini" tegas Karin. Mereka semua kalut dengan pikiran masing-masing masih belum mengetahui akan apa yang sedang terjadi di sekolah yang terbilang sangat ketat dan protektis. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Karin setengah berbisik mencoba bersikap santai agar tidak membuat panik teman-temannya. "Untuk sementara, kita lihat dulu apa yang sedang terjadi. Kita tidak bisa bertindak gegabah karena aku yakin jika terdapat seseorang melanggar dalam situasi seperti ini maka tentu saja pinalti yang cukup berat akan kita terima nantinya" ucap Alisya sembari terus melihat keadaan sekitar mereka. Saat Karin dan Alisya yang sedang berdiri didepan jendela dengan serius mengamati pergerakan para satpam sekolah, tiba-tiba saja beberapa orang masuk kedalam kelas dengan berpakaian seragam serta memiliki pita berwarna merah dilengan kiri mereka yang menandakan sebagai anggota keamanan elite sekolah. "Kau lihat pita merah di lengan mereka?" tunjuk Karin yang sudah kembali ke kursinya kepada 5 orang yang masuk kedalam ruangan kelas mereka. Alisya hanya mengangguk pelan tanpa menimbulkan gesture yang akan membuatnya terlihat mencolok. "Pita merah yang mereka kenakan artinya kasus yang sedang mereka hadapi saat ini sudah memasuki tindak berat. Jika pita yang mereka kenakan berwarna hitam maka kasus yang mereka hadapi masuk dalam kategori tindakan kriminal. Mereka akan menempelkan warna sesuai dengan kasus yang mereka dapatkan jika kelas itu masuk dalam kategori mereka. Namun jika tidak maka pita Putih akan ditempelkan ke pintu sebagai tanda kalau kelas kita bersih!" terang Karin panjang lebar kepada Alisya. Bukannya Alisya tak mengetahui apapun mengenai sekolah, namun karena Alisya tidak terlalu peduli akan apa yang berhubungan dengan sekolah dan terlalu cuek kepada hal lain selain dirinya dan pelajarannya. Para petugas keamanan tersebut meminta mereka untuk menaikkan tas mereka ke atas meja kemudian berdiri sedikit menjauh dengan memasukkan kursi kedalam meja mereka masing-masing. Inspeski itu dilakukan dengan sangat cepat dari depan hingga kebelakang. Mereka melakukan isnpeksi tanpa mengeluarkan sedikitpun suara. Setelah selesai dengan cepat mereka menuju ke pintu kelas mereka dan menempelkan pita berwarna putih. "Kelas kita bersih!" ucap Karin begitu para keamanan itu keluar dari ruangan mereka dan pintu ruangan kembali terkunci. "Alisya,,, Alisya..." panggil Adith dari alat peredam yang berada di telinganya. "Jika kau mendengar ku maka ketuklah alat peredam mu sebanyak 2 kali untuk ya dan 1 kali untuk tidak! Usahakan agar apa yang kau lakukan tidak begitu terlihat dan teruslah berbicara dengan Karin" Ucap Adith dengan begitu serius membuat Alisya yang bingung dengan pasrah mengikuti arahan Adith. Alisya mengetuk dua kali sebagai tanda bahwa ia mendengar apa yang di katakan oleh Adith sehingga Adith bisa melanjutkan kembali apa yang ingin dikatakannya, sambil terus berbicara dengan Karin yang wajahnya berubah aneh karena tak mengerti ucapan dari Alisya yang mendadak tidak nyambung. Melihat gelagat Alisya yang sedang memegang telinganya seolah sakit ia akhirnya bisa membaca situasi dari lirikan mata Alisya yang ia sembunyikan dari balik rambutnya. Karin akhirnya tertawa memukul Alisya pelan bersikap seolah sedang bercanda satu sama lain seperti yang kini sedang dilakukan oleh teman-temannya untuk mencairkan suasana. Chapter 178 - Hologram "Kau lihat CCTV pada ruanganmu apakah CCTV tampak sedang menyala?" suara Adith sekali lagi memberi petunjuk kepada Alisya untuk melihat kearah CCTV ruang kelasnya. Namun Alisya dengan cepat memikirkan cara lain, jika Alisya langsung mencari kearah jendela untuk dapat melihat pantulan dari CCTV bgian depan kelas dan dibelakang kelas. Alisya mengetuknya sebanyak 4 kali yang artinya ada 2 CCTV yang sedang menyala. Itulah kenapa Adith menyuruhnya untuk tidak berbicara agar CCTV tak merekam pembicaraan mereka. Jika ia berbicara, maka pengawas akan mengetahui apa yang sedang mereka rencanakan. "Oke, mendekatlah ke arah jendela, apakah kau bisa menemukanku?" Adith mengangguk pelan kearah Zein. Zein langsung memberi tanda dengan membuat kilatan cahaya kearah Alisya yang bisa Alisya lihat berada diatas gedung olah raga. Alisya dengan cepat kembali mengetuk 2 kali alat peredam telinganya. Alisya berpikir bahwa kemungkinan besar Adith mengetahui sesuatu sehingga Adith berencana untuk mengajak Alisya ketempat mereka berada untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Adith yang mengetahui kemampuan Alisya dengan cepat menghubungi Alisya lewat alat peredamnya. "Oke, aku akan mencoba meretas CCTV sekolah. Begitu pula dengan jendela kelas mu yang terkunci secara otomatis tersebut, setelah itu datanglah ketempat yang aku tujukan tadi bersama Karin. Jangan dulu bergerak sampai aku memberikanmu aba-aba!" ucap Adith dengan nada yang serius. Alisya yang paham dengan segera mengetuk lagi 2 kali alat peredamnya. "Bagaimana? kita tak punya banyak waktu karena rapatnya akan segera dimulai, Aku melihat kepala sekolah sudah keluar dari rungannya mendekati gedung Aula!" Ucap Riyan yang berada di ujung sebelah gedung memakai kacamata yang diberikan Adith sedang mengamati kepala sekolah mereka. "Aku akan menyelesaikannya dengan cepat, Zein jalankan robot tikus dan Drone berbentuk burung yang sudah aku berikan." terang Adith langsung memberikan remote kontrol kepada Zein. Zein dengan cepat mengarahkan semua robot dan drone pada titik-titik buta yang sudah ditunjukkan oleh Adith. Mereka bekerjasama dengan sangat cepat dan saling mempercayai kemampuan masing-masing. "Adith, aku sudah masuk!" ucap Zein yang menandakan bahwa semua alat kontrolnya sudah berada pada posisinya masing-masing. Setelah mengatakan itu, Zein dengan cepat menghubungkan gambar yang diambil oleh alat-alat kontrolnya ke monitor yang lebih besar. "Adith, Kepala sekolah sudah masuk kedalam gedung Aula! Penjagaan disana lebih ketat dibanding disini, posisi beberapa tempat sudah mengalami kelonggaran karena pengamanan pada kepala sekolah. Sepertinya kejadian kebakaran lalu membuat kepala sekolah lebih protektif saat ini." terang Riyan mengingatkan Adith sekali lagi. Mendengar hal itu Adith mempercepat pekerjaannya dan dengan segera mampu menyelesaikannya dengan tepat waktu. Alisya tampak seperti terbatuk-batuk pelan namun sebenarnya ia sedang berbisik-bisik kepada Karin menjelaskan situasinya. Karin yang paham langsung bertepuk tangan dua kali tanda setuju dengan apa yang akan mereka lakukan nanti. Beberapa saat kemudian Adith memberi tanda kepada Alisya bahwa CCTV kelasnya sudah ia retas sehingga Alisya dapat bergerak lebih leluasa sekarang. "Teman-teman, aku ingin kalian berdiam diri dulu ditempat ini sekarang dan tidak menimbulkan hal-hal yang tampak mencurigakan. Aku dan Karin akan keluar menyelidiki akan apa yang sedang terjadi. Untuk itu aku harap kalian tidak melakukan suatu hal yang mencolok" ucap Alisya kemudian menaruh sebuah alat berbentuk bulatan ke atas kursi mereka. Dari kursi itu sebuah hologram berbentuk Alisya keluar begitu pula dengan Karin. Hologram yang ia tempatkan diatas kursi tampak sebagai kamuflase akan keberadaan mereka. Hologram ini sudah sering digunakan oleh Karin setiap kali Alisya tak masuk beberapa kali didalam kelas agar mengecoh CCTV didalam ruangan kelas mereka. "Tapi bagaimana kalau ketahuan? kalian bisa mendapatkan penalti yang sangat berat." Adora mencoba untuk mengingatkan keduanya. "Ini sangat berbahaya, terlalu beresiko jika kalian pergi disaat seperti ini" tambah Aurelia lagi tak ingin mereka dalam keadaan bahaya. "Aku yakin kalian pasti bisa mengatasinya. Setidaknya kalian sudah jauh lebih berpengalaman saat ini. Kalian tentu tau apa yang harus kalian lakukan, dengan begitu kami akan merasa sangat terbantu." ucap Alisya dengan penuh keyakinan kepada mereka semua. Alisya paham betul bagaimana teman-temannya yang selama ini tak ingin kejadian sebelumnya terulang karena mereka tak bisa melakukan apapun. "Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu kepada kalian? apa yang sedang kalian ingin lakukan sebenarnya?" tanya Beni masih dengan ekspresi menggeliat menahan rasa buang air kecilnya yang semakin tak tertahankan. "Gunakan ini agar kita bisa terhubung secara terus menerus. Aku rasa handphone kita sedang diretas oleh sekolah sehingga ini akan lebih aman untuk kalian gunakan!" Karin menyerahkan sebuah kacamata pada masing-masing temannya agar terus terhubung dengan mereka jika terjadi sesuatu yang tak di inginkan. "Coba pakai, kalian akan tahu setelah memakainya." Alisya langsung mengikat tinggi rambutnya memperlihatkan sebuah alat peredam ditelinganya yang terlihat berkedip-kedip seolah sedang merekam sesuatu. Alat yang sama juga terdapat ditelinga Karin. "Dari mana kalian mendapatkan alat canggih seperti ini? Aku tak tau kalau Indonesia sudah memiliki tekhnologi seperti ini." Rinto mencoba memakai kacamata itu dan bisa melihat bahwa pada kaca mata itu terhubung dengan apa yang sedang dilihat oleh Alisya. "Sepertinya aku tau siapa yang menciptakan semua alat-alat ini, ini pasti alat yang dibuat oleh Adith! Aku sudah beberapa kali melihatnya memakai alat ini." tegas Yogi mengingat betul akan kemampuan Adith dalam menciptakan alat-alat tekhnologi yang ia gunakan sendiri. Alisya hanya memiliki 8 alat yang diberikan oleh Adith kepada Karin setelah kejadian kebakaran lalu untuk digunakan pada hal-hal tak terduga seperti saat ini. 2 alat telah Alisya dan Karin pakai, sisanya ia berikan kepada Rinto, Yogi, Beni, Gani, Adora, dan Aurelia. "Tekan sekali untuk mengganti layar milikku dan milik Alisya. Kita tidak bisa pergi berbondong-bondong karena itu akan sangat merepotkan dan kalian belum punya cukup keahlian untuk bisa meloloskan diri dari pengamanan sehingga aku rasa dengan memberikan ini akan cukup untuk membuat kalian tidak mengikuti kami" ucap Karin yang tahu betul kalau teman-temannya kemungkinan besar akan berbuat nekat dengan mengikuti jejak Karin dan Alisya. Mereka tersenyum mendengar perkataan Karin yang menancap benar pada pikiran mereka. Untuk menghindari situasi seperti itu, beruntunglah Karin selalu saja menyiapkan alat tersebut dan membawanya kemana-mana untuk bisa digunakan kapanpun mereka inginkan. Chapter 179 - Cepat Periksa! Setelah selesai mengarahkan teman-temannya, Alisya dengan cepat melompat ke pohon berayun dari satu dahan ke dahan yang lain lalu mendarat dengan sempurna dibalik pohon dan duduk senyap didekat pagar rumput. Alisya melihat kearah depan dan belakang serta sekitarnya, ada sekitar 2 penjaga dibagian kiri dan 2 lagi disebelah kanan serta satu tak jauh dari hadapannya. Dengan tanda yang diberikan oleh Alisya, Karin langsung melompat kearah pohon dan meluncur dengan cepat menuju ketempat Alisya berada. Kelas mereka yang berada dilantai atas membuat mereka terpaksa harus menggunakan pohon yang berada tak jauh dari jendela, namun bagi yang tak berpengalaman melompat kesana adalah pilihan yang cukup berbahaya. Sesaat sebelum Alisya melangkah, tiba-tiba saja Rinto dan Yogi mengikuti langkah kaki keduanya. Karena terburu-buru, Yogi langsung menindih Rinto yang terlebih dahulu melompat yang membuat beberapa penjaga menoleh kearah mereka. Rinto yang merintih kesakitan begitu pula yang dirasakan oleh Yogi seketika bungkam dan merintih dalam diam karena dibekap oleh Karin dan Alisya. Para penjaga tidak merasa curiga karena tidak melihat pergerakan aneh disana. Alisya dan Karin masih belum bergerak dari tempatnya karena ingin memastikan bahwa semua baik-baik saja saat ini. Alisya terus mengawasi gerak gerik para penjaga sambil perlahan-lahan melepas tangannya dari mulut Rinto. "Kau...!!!" Rinto menendang Yogi karena kesal. "Maaf, aku tak sengaja! Aku pikir kau sudah berada jauh dariku tadi." terang Yogi masih berusaha menahan sakit akibat mendarat dengan ceroboh diatas tubuh Rinto. "Kenapa kalian ikut? kalian ingin kita tertangkap??" Karena kesal Karin dengan kuat menarik kedua bibir Yogi dan Rinto yang tak menuruti perkataan mereka. "Karin...." Alisya dengan cepat memberi tanda kepada Karin untuk segera menunduk karena penjaga melihat kearah mereka. Karin yang kaget langsung menunduk sedang kedua tangannya masih berada dimulut Rinto dan Yogi sehingga mereka secara bersamaan menunduk rapat di rerumputan, bedanya bibir Yogi dan Rinto yang monyong karena tarikan Karin mendarat sempurna dengan keras di atas rumput Jepang liar. Merasa sakit karena tertusuk-tusuk oleh tajamnya rumput jepang liar, Rinto dan Yogi meronta-ronta untuk menaikkan kepala mereka. Melihat itu Alisya dengan cepat menekan kuat kembali kepala mereka berdua agar tak terlihat oleh penjaga. Setelah beberapa detik, penjaga itu akhirnya kembali melihat kearah lain dan menuju ketempat penjaga yang lain untuk berbincang-bincang. Merasa sudah aman, Alisya dan Karin melepaskan pegangan mereka untuk memberikan ruang kepada Rinto dan Yogi. "Okeh, kalian boleh ikut tapi dengan syarat jangan tertinggal dari kami! Jika tidak aku akan mengunci kalian di gudang belakang." Ancam Alisya langsung menyuruh mereka untuk bergerak menuju ke samping gedung dimana disana terdapat satupun penjaga dan Adith sudah meretas CCTV nya. Rinto dan Yogi yang kepalanya masih merapat dengan rumput menaikkan jempolnya kemudian bangkit mengikuti Karin yang sudah lebih dahulu berlari kearah samping gedung diikuti oleh Yogi sedang Alisya berada ditempat sambil terus memperhatikan penjaga dari jauh. Melihat Yogi yang telah menghilang dibalik tembok Alisya segera berdiri dari tempat duduknya menuju kearah mereka. saat ia sedang posisi melangkah suara debukkan yang sangat besar berbunyi dengan keras dibelakangnya. Alisya yang kaget menoleh kebelakang dan melihat Beni sudah jatuh terlentang melekat rapat diatas rumput. "Bunyi apa itu?" ucap si penjaga yang kaget dengan suara yang sangat keras itu. "Aku juga tak tau, tapi arahnya dari pohon sana!" ucap penjaga yang lain. "Cepat periksa, jika ada sesuatu kita bisa dihukum!" perintah seseorang dengan tetap pada posisinya untuk melihat keadaan sekitar. Para penjaga yang kaget dengan cepat langsung menuju ketempat sumber suara bersama dengan yang lainnya. Tidak ada waktu lagi dan Karin serta yang lainnya sudah berada dari balik tembok, Alisya terpaksa menyeret paksa Beni karena hanya mampu meraih kakinya saja. "Apa itu???" Karin dengan cepat berbalik arah ingin melihat ketempat Alisya yang mana suara keras itu berasal dari sana. Ketika ia menoleh, Rinto sudah berada tepat dibelakangnya dengan wajah kacau dan merah-merah serta bibir yang memble akibat tusukan dari rumput jepang liar yang cukup tajam. "Uaaaa... pppppp!!!! Rinto membekap mulut Karin yang ingin berteriak keras karena kaget saat melihat wajah dan bibir bengkak Rinto dan Yogi yang sangat mengejutkan. "Kau mau kita ketahuan???" Ucap Rinto yang kemudian melepas perlahan-lahan bekapannya pada mulut Karin. Karin mengangguk dengan mata berair. Baru kali itu Karin merasakan takut yang amat hebat hanya karena wajah merah dan bibir bengkak keduanya. "Bagaimana mungkin wajah kalian bisa sekacau ituuhhh" Karin berbisik dengan menggertakkan giginya antara takut dan juga kesal yang tiada tara. Yogi yang penasaran langsung mencoba mengintip dari balik tembok namun ia sudah melihat Alisya yang dengan santainya menyeret Beni yang setengah pingsan karena jatuh dari atas pohon. "Kenapa si bodoh ini ikut kemari juga!!!" Karin memukul jidatnya melihat Beni ikut-ikutan bersama mereka sekarang. Rinto langsung membantu Alisya dengan cepat untuk langsung ikut menarik tubuh Beni hingga berada dibalik tembok. "Apa yang harus kita lakukan??? para penjaga itu sekarang mengarah kesini" Bisik Karin melihat penjaga yang semakin mendekat ke arah pohon. "Adith, bisa kau buka pintu belakang gedung kolam renang tidak? kami dalam situasi yang berbahaya saat ini!" ucap Alisya menekan alat peredamnya menghubungi Adith. "Masuklah, aku sudah membukanya sedari tadi" Ucap Adith cepat terus memperhatikan gerak gerik mereka dari kamera tikus. Alisya langsung memberi tanda kepada Rinto untuk membuka pintu belakang gedung kolam renang. Sedang Ia dengan cepat membopong tubuh Beni menuju pintu belakang itu. "Tidak ada apa-apa disini!" ucap seorang penjaga tak melihat apapun disana selain dedaunan dan ranting yang berjatuhan dari atas pohon. "Tidak mungkin tidak ada apa-apa! Dari mana arah datangnya sumber suara itu kalau bukan karena sesuatu yang cukup besar terjatuh dari atas pohon! ucap seorang penjaga yang lain. Mendengar ada suara-suara yang cukup aneh, iapun dengan segera menuju kebalik tembok tepat dimana Alisya dan yang lainnya berada. "Cepatlah, Penjaga itu menuju kemari! Mana Yogi" tanya Karin begitu ia sadar kalau Yogi sedang tak bersama mereka. Tiba-tiba saja Yogi berlari pelan dengan tangan yang sedang memegang kucing. Kucing itu ia lemparkan menuju ke wajah salah seorang penjaga yang akan menghampiri mereka dibalik gedung. Kucing itu dengan bringas mencakar wajah si penjaga yang membuat teman-temannya yang lain tertawa melihat kejadian tersebut. Chapter 180 - Mission Imposible. Beni yang setengah pingsan langsung terbangun dengan tiba-tiba saat Alisya dan Rinto masih mengangkatnya masuk kedalam gedung kolam renang. Mengenali tempat itu, Beni dengan segera bangkit dan berjalan aneh karena sudah tak sanggup lagi menahan rasa ingin buang air kecilnya. Ia dengan cepat menuju ke ruang toilet yang harus dengan cepat Adith buka ketika melihat gelagat Aneh Beni yang sudah tak tahan. "Uuuwaaaaahhhhh,,,," lenguhan Beni cukup terdengar oleh Alisya dan lainnya yang terbengong dengan apa yang baru saja terjadi. "Nikmat dunia mana lagi yang kamu dustakan jika kau dengan leganya mengeluarkan semua hal yang kamu tahan dengan susah payah!!! hahahahha" tawa Beni saat keluar dari toilet dengan wajah sumringah yang polos dan bahagia. "Bukkkk!" Rinto memukul punggung Beni karena kesal dengan tingkahnya yang sudah beberapa kali membuat mereka ketahuan karenanya. "Aku sudah tak tahan lagi, aku pikir kandung kemihku akan pecah saat aku terjatuh tadi!" wajah Beni terlihat memelas membuat Alisya hanya menyapu mukanya untuk mencari kesabarannya yang hampir meledak kemana-mana. "Adith, selanjutnya bagaimana? Aku dan Karin bisa dengan mudah mencapaimu tak perlu waktu lama, tetapi berbeda dengan mereka! Tempatmu masih ada beberapa gedung lagi yang keamanannya lebih ketat karena dekat dengan ruang Aula jika dari sini" tanya Alisya yang kini harus terhambat karena adanya 3 orang pemula yang sedang mengekorinya. "Jangan khawatir, aku akan buka beberapa akses masuk dari satu gedung ke gedung lain dari dalam, tapi kalian harus hati-hati. Aku akan meretas CCTV disitu untuk bisa melihat pergerakan kalian karena tikus robotku akan mudah ditemukan jika masuk bersama kalian. Akan ku gunakan tikus itu untuk mengecoh mereka saat kalian keluar. Kita tidak punya waktu lagi, pembukaan sudah dimulai" jelas Adith memulai kerjanya dengan sangat cepat. "Oke baikhlah, aku akan mempercepat pergerakan kami!" tegas Alisya dengan cepat. "Jadi? apa kau akan tetap membawa mereka bertiga?" tanya Karin menatap Ketiganya yang masih saling pukul dalam diam menyalahkan satu sama lainnya. "Kita tidak bisa meninggalkan mereka disini, mereka terlalu ceroboh untuk bisa ditangkap. Rinto mungkin akan dengan mudah mengikuti kita, tapi Beni dan Yogi mungkin akan sedikit menghambat." jelas Alisya melihat mereka bertiga yang sudah saling tindih satu sama lainnya dengan tetap berusaha tak bersuara. "Berhentilah bermain-main!!!!" Karin menatap mereka dengan ganas yang membuat ketiganya langsung meringkuk takut. "Kau terlihat sangat cocok sebagai induk untuk anak-anak anjing seperti mereka!" tawa Alisya melihat Karin yang mampu mengendalikan mereka dengan baik. "Oke ikut aku, biar Karin berada dibelakang kalian bertiga agar aman dan Rinto kau ditengah!" ucap Alisya mengarahkan mereka. ketiganya dengan cepat mengangguk patuh karena tak ingin menyusahkan Alisya lagi. Setelah itu merekapun mau tidak mau harus berjalan sendiri-sendiri dengan Alisya memimpin jalan. Mereka melakukannya agar derap langkah kaki mereka tidak menarik perhatian. Begitu Alisya membuka pintu keluar, hampir saja Alisya berhadapan dengan seorang penjaga yang untunglah Alisya bisa bersikap cepat. "Bagaimana? kenapa kau tidak keluar? beberapa penjaga sudah memasuki gedung sekarang!" ucap Yogi melihat Karin yang setengah menunduk dimana Beni hampir saja ketahuan saat para penjaga itu masuk. Alisya membuka sekali lagi pintu itu dan melihat kalau si penjaga telah Adith kecoh menggunakan robot tikusnya sehingga ia pergi meninggalkan posnya. "Cepat kita tidak punya banyak waktu!" Ucap Alisya yang langsung mengarahkan Yogi untuk terlebih dahulu keluar dan masuk melalui pintu belakang gedung disebelahnya. "Bagaimana dengan Beni?" tanya Rinto saat ia sudah berada didekat pintu keluar. " Pergilah, biar aku dan Karin yang akan menyelamatkannya!" ucap Alisya langsung bertukar posisi dengan Rinto. Rinto segera keluar dengan cepat berlari hingga ke pintu gedung sebelah tempat Yogi berada. "Beni, kau bisa merayap kan? lakukan seperti apa yang akan dilakukan Karin!" ucap Alisya memberi tahu Karin untuk melakukannya dan memimpin Beni. "hahhhh?? kau gila? aku pakai Rok!!!" sungut Karin menunjuk roknya. Alisya menarik nafas dalam lupa kalau saat ini mereka sedang memakai baju seragam sekolah. "Apa kita sedang dalam Mission Impossibel?" tanya Beni dengan wajah sumringah. Mendengar kalimat Beni, Alisya memiliki ide yang entah kenapa cukup mustahil untuk dilakukan kepada orang seumur Beni namun lebih baik mencobanya terlebih dahulu. "Oke, kamu adalah Tom, emm... maksudku kamu adalah Ethan yang memiliki keahlian yang lihai untuk bisa menghindar dari pengawasan penjaga. Misi kamu yang sederhana, yaitu dengan...." belum selesai Alisya berkata Beni sudah menatap dengan penuh keyakinan. "Melewati para penjaga dengan tak terlihat dan senyap!!!" ucap Beni dengan penuh keyakinan. Alisya tak yakin kalau Beni akan sanggup melakukannya namun ia bertaruh kepada kemampuan imajinasi Beni. Dengan cepat Beni melakukan Rol belakang, bersandar di dinding, berguling kearah belakang penjaga, merayap dengan cepat dan sampai kepada Alisya dengan aman. Semua dilakukan Beni dengan tidak mengeluarkan suara cekit sama sekali. Bahkan Alisya sampai dibuat takjub oleh tingkah Beni. "Apa dia Denis?? (Teman Adit di animasi Indonesia Sopo dan Jarwo yang harus diberikan imajinasi tinggi oleh Adit agar Denis bisa melewati masalahnya)" Karin menggeleng heran. Dengan lihai dan tak butuh waktu lama Karin pun segera sampai ketempat mereka dengan mata Beni yang menyala sempurna sedang menanti sesuatu. "Kerja ba.. bagus Ethan, Misi selesai! Kita akan beralih kepada misi selanjutnya!" puji Karin dengan terbata-bata tak kuat jika harus melakukan itu. "Kau yakin dengan apa yang sedang kau lakukan sekarang?" tanya Karin disela-sela usaha mereka untuk ke gedung sebelah. "Apa kau punya ide lain?" tanya Alisya yang juga putus asa karenanya. "Tetap lakukan seperti itu, aku rasa pilihan itu akan lebih baik bagi mereka!" ucap Adith menahan tawanya saat Alisya mengarahkan imajinasi Beni. "Ohh,, Terimakasih banyak atas pujiannya tuan Jenius! Karena kau yang mengarahkan kami maka bertanggung jawablah!!!" Alisya menatap tajam menembus kearah Adith dengan aura yang sangat kuat. "Woow.. wowww... sabar princess, aku tidak bercanda kok!. lihatlah mereka sudah berada di gedung olah raga sekarang tanpa ada hambatan apapun berkat Beni yang seolah mampu mengeluarkan bakat terpendam nya!" tunjuk Adith pada Rinto dan Yogi yang sudah mengarah ke gedung sebelah dengan lancar berkat bantuan Beni. "Apa tadi ada yang meragukan Beni?" ucap Karin saat mengingat Alisya yakin betul bahwa Yogi dan Beni bisa menjadi penghambat. "Oke, aku tarik kata-kataku! tapi bagaimana bisa mereka sudah melewati 1 gedung dan sudah berada pada posisi kalian?" tanya Alisya bingung karena ia ingat betul kalau mereka baru saja memasuki gedung sebelah. "Mission Impossible!!!!" Ucap Zein dengan nada naik dan turun menaikkan remotenya seolah sedang memegang senjata dan meniupnya. Riyan dan Adith langsung tertawa terbahak-bahak kembali mengingat bagaimana hebatnya Beni melewati semua setelah mendapat doktrin dari Alisya. Chapter 181 - Karantina "Jadi, informasi apa yang ingin kau perlihatkan dengan memanggilku kemari?" tanya Alisya begitu mereka sudah sampai ditempat yang ditunjukkan oleh Adith. "Kerja bagus Ethan!" ucap Zein sambil tertawa mengingat tingkah Beni yang konyol. "Mission Impossible!!!" ucap Riyan yang langsung mendapat pukulan menyamping tangan Karin ditenggorokannya. Riyan terbatuk-batuk keras karena pukulan lemah itu. "Dimana Ryu? Aku pikir dia akan ikut bersama kalian!" tanya Adith yang tak melihat Ryu bersama mereka. "Aku menyuruhnya untuk tetap disana melindungi yang lain juga Akiko. Kau bisa melihatnya dari tower disebelah sana!" terang Alisya menunjuk sebelah kanan mereka. Dari jauh Adith bisa melihat Ryu yang sedang siaga memantau teman-teman mereka dari kejauhan. "Alisyah... kau hebat sekali, sepertinya Beni sudah menjadi anggota Elite dibawah kepemimpinanmu sekarang!!!" ucap Adora yang melihat Beni sudah berada disamping Riyan melakukan pengamatan. Alisya baru sadar kalau ternyata sedari tadi mereka sudah terhubung dengan kacamata yang ia berikan kepada Adora dan yang lainnya termasuk pada Ryu. Teman-temannya berusaha menahan tawa mereka karena tak ingin mengganggu konsentrasi Alisya dan Karin. Ryu yang biasanya bersikap tenang pun tertawa mengingat hal tersebut. "Dari awal pak Irhan masuk memperingati kami, aku curiga ada sesuatu yang sedang tidak beres terjadi di sekolah, dan benar saja! Beberapa siswa yang dinyatakan hilang ternyata ditemukan terbunuh dengan cara yang mengenaskan!" terang Adith dengan menunjukkan gambar dari hasil peretasannya pada komputer kepala sekolah. Alisya langsung mematikan kameranya ketika melihat gambar yang ditujukan oleh Adith dengan kondisi yang sudah sangat tak manusiawi. Adith kembali melihat ke layar monitornya dimana kepala sekolah sudah mulai berbicara kepada para orang tua yang hadir. "Adith, tidakkah kau rasa posisi kamera itu sedikit aneh?" tanya Karin yang mendekat kearah layar monitor yang berada di laptop Adith. "Benar, kenapa dia bisa berada ditempat strategis itu tanpa diketahui oleh orang lain? terlebih jika itu adalah robot tikus!" Alisya mendekatkan diri untuk bisa melihat dengan jelas namun tetap saja sama. "Aku juga tak tau, tapi berkat itu kita bisa mendapatkan gambar dengan sangat baik dan suara yang cukup jernih" Adith langsung melakukan Zoom untuk bisa melihat lebih jelas seluruh kegiatan yang sedang berlangsung tersebut. Alisya kembali menyalakan kameranya agar bisa terhubung kembali dengan teman-temannya. Awalnya mereka ingin bertanya akan apa yang terjadi, namun mendengar dari kamera Karin mereka memahami apa yang sedang dilakukan oleh Alisya. Rinto dan Yogi terus membantu Zein untuk mengontrol beberapa robot tikus dan drone yang sudah mereka terbangkan sebelumnya. Sedang Beni bersama Riyan untuk terus memantau keadaan sekitar mereka. "Terimakasih karena kalian sudah bersedia datang meski sedang dalam keadaan yang sangat sibuk. Sebelum mulai, perkenalkan nama sya Richard Karason kepala sekolah SMA Cendekia Indonesia. Demi kebaikan kalian semua, saya harus segera melakukan rapat tertutup ini akibat dari kasus beberapa siswa yang hilang dan salah satu dari mereka sudah ditemukan tewas mengenaskan!" ucap pak Richard dengan sangat tenang. "Berdasarkan hasil penyelidikan kami, kami menemukan bahwa beberapa siswa yang ada kemungkinan besar ada yang menggunakan narkoba yang berdosis cukup tinggi sehingga kami melakukan inspeksi mendadak kepada semua siswa untuk menemukan bukti lebih rinci mengenai dugaan kami" ucap pak Richard yang seketika membuat semua orang tua siswa menjadi riuh dan berbantah-bantahan. "Jadi karena ini sekolah jadi masuk Karantina?" seru Aurelia yang langsung menarik kesimpulan. "Sepertinya begitu, sekolah ini memiliki reputasi yang sangat tinggi sehingga masalah apapun akan ditangani dengan sangat ketat bahkan tak membiarkan informasi itu bocor!" tambah Gani dengan terus mengamati penjaga yang berada diluar kelas mereka disepanjang koridor. "Sampai saat ini kami belum menemukan informasi dan bukti lebih lanjut namun kami akan terus melakukan penyelidikan, oleh karena itu kami sangat membutuhkan bantuan kalian sebagai orang tua dalam menyelidiki anak-anak kalian sebelum mereka semakin terjerumus kejalan yang salah!!!" tambah pak Richard sekali lagi yang membuat para orang tua meradang akibat kalimatnya. "Aku tak menuduh anak kalian, tapi jika kalian tidak memperhatikan anak kalian dan hanya mengharapkan pihak sekolah maka jangan salahkan saya jika klian akan menyesal nantinya. Aku hanya meminta kalian menyelidikinya!" jelas pak Richard sekali lagi mengingatkan. "Hati-hati kalau berbicara, dengan kau mengatakan seperti itu sudah sama saja menuduh anak kami menggunakan narkoba. Anak saya adalah anak yang patuh dan takkan berani melakukan hal-hal seperti itu! Kami tidak sudi jika kau mengatakan hal seperti itu pada anak kami." teriak seorang ibu dengan sangat lantang. "Aku bahkan sampai harus membatalkan penerbanganku hanya untuk mendengarkan omong kosong seperti ini, jika hal ini terjadi disekolah maka seharusnya menjadi tanggung jawab kalian sebagai pihak sekolah. Tidak ada urusannya dengan kami, ini artinya kalian tidak bertanggung jawab sama sekali." Ucap seorang bapak dengan nada dingin dan angkuh. "Kami sudah membayar mahal pada sekolah ini untuk memberikan pendidikan yang sangat baik kepada anak kami. Dan kalian malah lari dari tanggung jawab? cih.... berhentilah jadi kepala sekolah jika kau tak sanggup memimpin!" tambah yang lainnya dengan sangat kasar. Kepala sekolah hanya tersenyum melihat tingkah mereka semua yang meradang tak karuan. Ia sudah memprediksi bahwa akan terjadi hal-hal seperti itu dimana akan ada saja beberapa orang yang berpikiran sempit meski sebenarnya mereka semua adalah orang-orang terpandang. "Bapak-bapak dan ibu-ibu semua mohon tenang! Apa yang kalian katakan itu memang tidak ada salahnya, tetapi tidakkah kalian berpikir jika sekolah sudah mengambil langkah yang benar dengan melakukan penyelidikan dan membagi informasi ini kepada kita? Berpikirlah rasional, sekolah sudah melakukan tugas mereka dengan sangat baik dengan memberikan kualitas pendidikan yang takkan mudah kalian dapatkan disekolah lain. Akan tetapi sebagai orang tua kita juga memiliki peran yang sangat besar dalam mendidik karakter anak kita masing-masing!" ayah Adith yang sedari tadi hanya terdiam mulai mengeluarkan pendapatnya. "Sekolah dan orang tua harusnya bisa bekerja sama ketika menghadapi masalah seperti ini tanpa saling menyalahkan atau tuduh menuduh terhadap satu sama lainnya. Jika kalian tak setuju maka anak kalian yang akan menjadi korbannya, peran orang tua disini sangat dibutuhkan. Saya juga tidak mengatakan bahwa anak saya tidak mungkin akan melakukan perbuatan seperti itu, tapi sebagai orang tua kita juga patut memberi perhatian kepada anak kita terhadap masalah ini. Terlebih jika sudah berhubungan dengan masalah nyawa!" tegas ayah Adith sekali lagi yang membuat mereka semakin tenang dan mulai memahami maksud dan tujuan dari kepala sekolah. Chapter 182 - Mati Aku "Terimakasih banyak pak Narendra, berkat bantuan anda semua orang tua murid akhirnya bisa diarahkan dengan baik meski sebenarnya tetap saja akan ada beberapa dari mereka yang masih tak bisa memahaminya!" pak Richard menyalami ayah Adith yang berdiri tak jauh dari tempat dimana kepala sekolah berada. "Sudan seharusnya seperti itu pak, dan saya senang jika bisa membantu pihak sekolah dalam mengatasi ini semua!" terang ayah Adith menyalami pak Richard dengan hangat. "Mereka sudah selesai rapat, para orang tua akan segera menjemput anak-anak mereka untuk pulang bersama. Kita sebaiknya kembali ke kelas sekarang. Kita akan melanjutkan diskusi kita kembali setelah pulang nanti" tegas Adith dengan cepat ingin membereskan barang-barangnya namun kemudian terhenti. "Ada apa ini? kenapa kami masih belum di izinkan pulang? apakah ada sesuatu yang tidak beres? atau anak kami melakukan kesalahan?" tanya ayah Karin saat dirinya ditahan oleh penjaga lainnya secara rahasia dan tanpa diketahui oleh orang tua lainnya. Bukan hanya ayah Karin yang berada disana, nenek Alisya, Ayah dan ibu dari sebagian besar kelas Mia 2 serta kelas Mia 1 dan juga kelas IIs 1 dan 2 ikut dikumpulkan disana. Melihat ayah dan ibu (+nenek) mereka yang ditahan oleh kepala sekolah membuat Adith dan yang lainnya kebingungan. Mereka tak menduga bahwa orang tua mereka belum diizinkan pulang dan beranjak dari sana. "Apa yang sedang direncanakan oleh kepala sekolah?" gumam Alisya melihat situasi yang tak terduga tersebut. "Apakah kita sudah ketahuan?" ucap Ryu yang baru saja ingin kembali kekelasnya. "Adith, tidak ada waktu lagi! akan lebih berbahaya jika kita berdiam diri disini terus. sebentar lagi penjaga akan segera ke atap ini untuk melakukan pemeriksaan jadi sebaiknya kita harus meninggalkan tempat ini sebelum terlambat." Zein memperingatkan Adith yang masih terdiam untuk terus melanjutkan pengamatannya. "Tunggu dulu, sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi, Riyan terus amati para penjaga yang terlihat aneh dan segera laporkan! Aku rasa kepala sekolah sudah mengetahui apa yang sedang kita lakukan!" Wajah Adith tampak serius tak menduga kalau kepala sekolah posisi mereka. "Sebentar!" ucap pak Richard langsung mengambil sesuatu dari bawah kursi tak jauh dari posisi mereka berada. Melihat gerakan dari kepala sekolah Adith dengan cepat mengarahkan Zein. "Zein, ada apa dibawah kursi nomor 15, bisakah kau mengarahkan robot tikus kesana?" Zein tak menjawab pertanyaan Adith dan hanya memperlihatkan radar posisi robot tikusnya yang sudah berada di tempat kepala sekolah menunduk. Remote control robot itu dipegang oleh Rinto yang dengan cepat Rinto jalankan untuk menghindar namun dengan mudah tertangkap.oleh kepala sekolah. "Ehemmm.. cek, cek, saya tau kalian semua ada disana! bisakah kalian mendengarku? Teknologi ini tidak buruk!" ucap kepala sekolah dengan menaruh wajahnya memenuhi kamera robot tikus milik Adith. Meski Alisya dan teman-temannya sudah mendengar dugaan Adith sebelumnya, mereka tetap saja sangat terkejut saat melihat kepala sekolah mengetahui keberadaan mereka. Bahkan para orang tua merekapun terkejut bukan main saat melihat kepala sekolah memperlihatkan sebuah robot yang memiliki lensa kamera dimatanya. "Mati aku!" ucap Gani menjambak rambutnya sendiri. Bukan hanya Gani yang menjadi panik, teman-temannya yang lainpun merasakan kepanikan yang sangat mencemaskan tidak terkecuali Adith dan Alisya. "Apa yang terjadi?" tanya ayah Beni melihat kepala sekolah yang sedang berbicara dengan tikus namun menyebut nama Adith. "Maaf pak Richard, bisa anda jelaskan apa yang sedang anda rencanakan saat ini?" tanya Ayah Zein yang mulai tak sabar. "Benar, jika aku melihat. Kamu sedang mencoba mengumpulkan orang tua dari 10 elite atas sekolah ini Namun setelah menyaksikan lebih lagi, sepertinya ada beberapa orang tua dari kelas lain sehingga aku tak mengerti untuk apa ini semua" ucap Ibu Riyan yang selalu saja bersikap heboh namun berkelas. "Benar, ada hal yang ingin aku sampaikan kepada mereka dengan meminta izin dari kalian semua sebagai orang tua siswa!" ucap kepala sekolah dengan tulus. "Izin? izin untuk apa?" tanya nenek Alisya yang masih bingung dan tak bisa membaca pikiran dari pak Richard karena dia mampu menekan auranya hingga ketitik yang sangat tenang. "Anak-anak kalian memiliki kemampuan luar biasa yang sangat dibutuhkan oleh sekolah. Mungkin akan beresiko namun mereka akan sangat membantu dalam menyelesaikan masalah ini ketimbang pihak berwajib!" terang kepala sekolah dengan sangat serius. "Maksud anda? anak kami akan anda libatkan dalam penyelidikan masalah yang sedang terjadi saat ini?" tanya ibu Riyan dengan wajahnya yang datar namun sinis. "Benar, awalnya aku akan mengadakan rapat ini secara terbuka namun kemudian sengaja aku tutup dan menghadirkan banyak pengawal untuk menguji kemampuan anak-anak kalian dan ternyata mereka mampu bekerja sama untuk melewati semua penjagaku dan mengecohnnya! Bahkan bukan hanya 1 tim saja melainkan 2 tim berbeda dari kelompok Mia dan Iis." jelas kepala sekolah sembari mengeluarkan sebuah kamera kecil yang bukan berasal dari ciptaan Adith. "Untuk itu saya akan membentuk Tim penyelidik yang terdiri dari para siswa yang nantinya akan bekerja sama dengan para aparat kepolisian. Jika kemudian penyelidikan ini memiliki resiko yang sangat tinggi maka saya akan membubarkan tim ini dan tetap mengutamakan keselamatan mereka!" tegas kepala sekolah dengan tatapan yakin. "Dan karena hal itulah bapak membutuhkan izin dari kami untuk mengizinkan anak kami ikut dalam penyelidikan ini?" tanya Ibu Gani dan Gina. "Benar. kemampuan mereka sangat dibutuhkan terutama kemampuan Adith yang mampu menciptakan alat-alat tekhnologi dengan sangat cepat, kemampuan Alisya dalam mempimpin anggotanya, kemampuan Zein dalam pengendalian jarak jauh, kemampuan Karin sebagai suport yang mengetahui banyak hal tentang medis, kemampuan Riyan dengan ketajamannya dalam melakukan pengamatan, serta kemampuan teman-temannya dalam bekerja sama sangat kami butuhkan!" terang kepala sekolah menjelaskan dengan lebih rinci mengenai kemampuan anak-anak mereka yang tak mereka ketahui selama ini. "Baiklah, aku akan sangat bersyukur jika kemampuan dan keahlian mereka dapat digunakan dengan baik demi sekolah dan demi teman-teman mereka!" ucap Ayah Adith memahami maksud dan tujuan dari kepala sekolah. "Aku tak menyangka kalau anak kami yang selama ini ternyata memiliki kemampuan seperti itu dan bisa berkontribusi kepada sekolah!" ucap seorang ibu yang tak diketahui oleh Adith dan yang lainnya. "Kami mengizinkan untuk mereka berpartisipasi dalam penyelidikan masalah tersebut!" ucap nenek Alisya setelah sebelumnya melakukan diskusi dengan yang lainnya. Adith dan Alisya yang sedari tadi ikut menyaksikan mengira bahwa mereka akan mendapatkan pinalti sekarang saling berpandangan bingung. Chapter 183 - Flakka Setelah mendapatkan izin dari seluruh orang tua siswa, Adith dan Alisya beserta yang lainnya langsung dikumpulkan di ruang kepala sekolah. Pak Richard duduk dengan santai dikursi nya tanpa ada yang menemani karena ia ingin membahas beberapa hal penting yang ia rasa cukup dirinya saja yang menghadapi semua itu. "Kalian susah tau apa tujuanku memanggil kalian semua kesini bukan??? Kita akan membahas semuanya begitu yang lain sudah tiba!" meski belum paham betul akan situasinya mereka mengangguk pelan mengiyakan apa yang dikatakan oleh pak Richard. "Permisi" Ucap seseorang yang membuka pintu dan masuk setelah mendapatkan tanda dari pak Richard. Dibelakangnya terdapat 4 orang yang mengikuti langkahnya dengan mantap. "Ouuhh,, mereka adalah 10 besar kalangan elite" bisik Karin ditelinga Alisya. Aura menekan mereka saat bertatapan dengan Alisya hanya di abaikannya dengan mudah. Karin yang sudah terbiasa dengan aura kuat 3 elite terataspun sudah tak bergeming lagi dengan kehadiran mereka. "Kalian bisa melihat Aura dingin serta hujaman listrik dari mata mereka? entah kenapa mereka berdiri dihadapan Adith dan yang lainnya dengan sengaja mengibarkan bendera perang!" terang Yogi yang sedang menatap 10 besar kalangan elite dengan 3 besar berada di jejeran Alisya dan Karin yang tak memancarkan aura apapun dan 3. lainnya bersinar sangat terang berhadapan dengan 5 lainnya yang memancarkan Aura menekan dengan sangat kuat. "Kau benar, aku bahkan sampai tak merasakan keberadaan Alisya dan Karin disana! sangat luar biasa karena Alisya yang bahkan memiliki kemampuan melebihi Adith mampu menekan Auranya dengan sangat baik sampai ketahap minim begitu pula dengan Karin. 2 orang yang sangat berbahaya!" terang Rinto setengah berbisik menyaksikan mereka dengan tatapan kagum. Beni yang sedari tadi diam dan tak paham apa yang dikatakan oleh Yogi dan Rinto mengenai Aura, melihat tatapan mereka yang tajam kepada Adith dan yang lainnya membuat Beni bisa melihat bagaimana energi panas membakar keluar dari tubuh keduanya. "Saint Saiya!!!" Beni menyebutnya dengan penuh semangat. "Plakkkkk... hentikan imajinasi bodohmu itu!!!" Rinto dan Yogi secara bersamaan memukul kepala Beni mulai kesal dengan tingkah Beni. "Apa otaknya sudah bergeser jauh semenjak ia jatuh dari pohon tadi?" ucap Yogi kesal melihat kearah Beni yang berada diantara mereka berdua. "Susstt.. diamlah!" Rinto menganggukkan kepalanya menunjuk kepada pak Richard yang akan berbicara. "Karena kalian sudah lengkap mari kita mulai pembahasannya!" ucap Pak Richard begitu mereka sudah mengambil posisi masing-masing berhadapan satu sama lain. "Maaf pak, tapi sebelum mulai sepertinya posisi mereka berdua dan yang lainnya itu tidaklah seharusnya diikutkan dalam penyelidikan ini. Mereka bahkan tidak memiliki kemampuan apapun untuk bisa ikut dalam misi ini" seorang siswa yang sedang berhadapan dengan Adith menunjuk ke arah Alisya dan Karin serta teman-temannya yang berada tak jauh dari mereka. "Ya benar, aku tak sudi bekerja sama dengan kalangan biasa seperti mereka! untuk apa mereka di ikutkan dalam misi berbahaya seperti ini? mereka hanya akan menghambat kami saja!" Ucap siswa lain yang berhadapan dengan Karin dengan tatapan sinisnya. "Aku rasa hanya karena mereka mampu berhasil menyelamatkan teman-temannya sewaktu kebakaran lalu tidak bisa menjadi patokan bahwa mereka mampu. Itu hanya kebetulan saja!" tambah yang lain yang sedang berhadapan dengan dengan Alisya. Tatapan mengejek dan menusuknya hanya membuat Alisya acuh tak acuh. "Tidakkah kalian terlalu gegabah dengan menganggap remeh orang lain? Aku kira dibanding mereka semua kau lebih rasional Ubay." suara dingin Adith menciutkan dua orang yang paling nyolot dihadapan Alisya dan Karin. "Kami tau apa yang sedang kami ucapkan! Jika hanya melawan kalian bertiga, kami berlima cukup mampu untuk terus mencoba. Jangan lupa kalau kami adalah 10 besar kalangan elite" ucapnya dengan penuh keyakinan. "Meski peringkat kami berada pada 5-10, kemampuan kami jauh diatas kemampuan kalangan biasa itu!" tegas seseorang yang berhadapan dengan Riyan. "puffttr hahahaha Bahkan kalian berlima bukanlah tandingan Alisya!" tawa Riyan yang membuat mereka memanas karenanya. "Sudah hentikan!!! Tidak masalah jika kalian tidak ingin bekerja sama, melihat kalian seperti ini sepertinya aku punya ide lain. Bagaimana jika kalian bersaing satu sama lain. Adith akan tetap dengan kelompoknya sekarang dan kalian bisa menciptakan kelompok kalian sendiri bagaimana? Dengan begitu Erik dan Gery bisa melihat kemampuan mereka dalam menyelesaikan kasus ini." pak Richard begitu bersemangat melihat tingkat persaingan diantara mereka. "Sudah ku duga akan seperti ini, bapak sengaja mengumpulkan kami karena bapak sangat suka akan sebuah pertarungan!" siswa yang sedari tadi diam kini angkat bicara. Dari mereka berlima, Alisya dapat melihat bahwa seorang yang berhadapan dengan Zein memiliki ketenangan yang cukup kuat. Alisya kagum dengan sikap tenangnya dan Auranya yang teratur sejak tadi. "Terimakasih, aku akan memberikan sebuah hadiah bagi mereka yang berhasil menyelesaikan kasus ini dengan sangat baik! terang pak Ridhard merasa telah mendapat pujian. Rinto dan yang lainnya hanya menatap dengan tatapan heran dan bingung. "Baiklah, langsung kita mulai saja! Seperti yang sudah kalian dengar, beberapa siswa didapatkan menggunakan narkoba. Jenis narkoba yang mereka gunakan adalah Jenis Flakka yang kalian tentu tau jenis narkoba apa ini!" terang pak Richard dengan tatapan menyelidik. Tatapan pak Richard seolah sedang menguji pengetahuan mereka. "Narkoba Flakka mengandung alpha-pyrrolidinopentiophenone dan disingkat Alpha PAP diproduksi di China. Kebanyakan narkoba jenis ini karena itu berasal dari negara tersebut." ucap Gery menatap Karin dengan penuh kesombongan. "Narkoba flakka termasuk jenis katinona yang bentuknya menyerupai garam mandi dan diketahui sudah masuk di daftar obat yang dianggap terlarang di Amerika Serikat dan Inggris. Efek obat ini memberi energi berlebihan sekaligus efek cemas yang melewati batas. Bahkan penggunanya disebut bisa mengalami efek seperti menggunakan kokain. Akan tetapi efek stimulan dari flakka ini 10 lebih kuat daripada kokain. Inilah kenapa penggunanya akam terlihat seperti seorang zombie." Tambah Erik dengan tatapan tajam ke arah Alisya. "Kasus flakka ini pertama kali menjadi ramai karena dikaitkan dengan pembunuhan dua orang oleh seorang pemuda di Florida pada tahun 2014. Penyelidikan kasusnya berlanjut hingga tahun 2015. Pemuda mengalami penyimpangan prilaku yang menabrakkan dirinya sendiri kearah mobil yang sedang melaju juga melakukan kekerasan pada diri sendiri maupun orang lain. Mereka bergerak layaknya Zombie yang tak merasakan sakit pada tubuh mereka lagi. Prilaku seperti ini sangat menyimpang dan membahayakan banyak orang." Lanjut Ubay melihat Adith dan yang lainnya hanya terdiam tak berkata-kata. "Benar, dan kali ini kasus seperti ini sudah semakin banyak masuk ke Indonesia. Tugas kalian adalah menyelidiki siapa pemakainya, dan pemasoknya sebelum ada korban yang lebih banyak lagi! Hal pertama yang harus kalian selidiki tentu saja para siswa dan siswi disekolah ini." pak Richard lalu menunjukkan bagaimana sebuah rekaman yang memperlihatkan seorang pengguna narkoba yang tampak berubah seperti zombie dan salah satu dari mereka yang mati mengenaskan. Setelah melihat ulang rekaman itu, Adit menemukan kasus narkoba itu berbeda dengan kasus matinya seorang siswa yang lain. Adith yang sudah menunjukkan rekaman serta gambar tersebut pada teman-temanya sudah memikirkan rencana selanjutnya yang akan mereka lalukan. Alisya dan Karin saling berpandangan satu sama lain menyadari ada sesuatu pada salah satu gambar yang ditunjukkan oleh pak Richard. Chapter 184 - Memahami Wanita PMS Beberapa saat kemudian, Suara pintu kepala sekolah mulai terbuka. Adora dan yang lainnya yang sedari tadi sudah berada didepan pintu kepala sekolah dengan tatapan panik dan gusar terlihat tak sabar menunggu mereka keluar dari sana. "Jadi bagaimana hasilnya?" Adora langsung menyerbu Adith dan lainnya yang baru saja keluar dari ruangan kepala sekolah. Ekspresi santai di wajah Adith dan Alisya membuat Adora sedikit bingung saat melihat mereka. "Alisya, apa kita akan mendapat hukuman? kami tidak melihat percakapan kalian karena ibu Vivian sudah masuk kedalam kelas! Beruntung saja kami bisa melepas kacamata kami pada waktu yang tepat, atau malah bisa dibilang nyaris." tanya Feby penasaran. Perasaan campur aduk Adora tak jauh berbeda dengan yang dirasakan oleh Feby. "Apa yang harus aku katakan pada ibuku jika kami mendapatkan hukuman!" Gina terlihat panik dan hampir meneteskan air mata karena takut. Belum sempat Alisya menjawab, Ubay dan teman-temannya keluar berjalan dengan gaya yang angkuh. Meski mereka berada pada peringkat 5 hingga 10, Aura mereka cukup terasa kuat di mata Adora dan yang lainnya. "Baru kali ini aku melihat para Elite yang berkumpul bersama para pecundang, kalian sangat cocok satu sama lain sekarang!!!" ucap Ubay sambil berlalu dan tertawa sinis. Teman-temannya pun ikut tertawa penuh bahagia. Hanya Mizan yang tetap melangkah tanpa ekspresi. "Mulut sampah!!!"ucap Aurelia dingin dan sinis sambil menyilang kedua tangannya memandang datar. "Apa kau bilang???" Ubay meradang dengan apa yang dikatakan oleh Aurelia. Aurelia bahkan tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri dan menatap datar. "Sudahlah, hentikan!" kita masih punya banyak hal yang harus diselesaikan. Kenapa malah kau yang terpancing hanya dengan kalimat seperti sedang kau sendiri yang memancing mereka!. Mizan menghentikan Ubay untuk tidak terpancing oleh Aurelia. Mizan dengan mudahnya menenangkan Yuda dan membawa mereka pergi dari sana sedang Adith dan yang lainnya hanya menatap datar. "Apa sampai sehebat itu peringkat 5 hingga 10 besar?" tanya Emi kesal dengan tingkah mereka. "Kenapa kamu menyebut mereka 10 besar? mereka hanya terdiri atas 5 orang, bukankah itu Artinya mereka harusnya masuk dari 6-10?" tanya Ryu yang tak mengerti maksud dari Emi. "Peringkat mereka sudah menanjak naik dari 4 hingga 8, sedangkan 2 lainnya tak diketahui. Peringkat mereka naik setelah keluarnya Miya dan Dinar!" terang Adith menjelaskan. "Okeh, what ever!! peduli setan sama mereka, jadi bagaimana hasilnya?"ucap Aurelia cepat. "Ada dengan dia? kenapa sikapnya jadi sangat sinis?" tanya Beni heran dengan perubahan sikap Aurelia. "Dia lagi PMS!!!" Ucap Adith dan Yogi hampir bersamaan. Mereka yang sudah cukup mengenal satu sama lain paham betul mengenai perubahan sikapnya yang menjadi sangat emosional dan bahkan tergolong sadis. "Sebenarnya apa yang menyebabkan para wanita mudah marah hanya dengan alasan PMS mereka menuntut kita untuk memahami mereka? Gina juga seperti itu kadang dan terus memakai kata PMS sebagai senjatanya untuk ia dimengerti." tukas Gani kesal mengingat sikap Aurelia sama persis dengan adiknya jika dalam keadaan PMS. "Kamu bilang hanya??? kau tidak tau bagaimana sulitnya jadi perempuan kau bilang hanya???" Adora meradang akibat kalimat Gani yang dirasa tidak menghormati mereka sebagai perempuan. "Wanita memang terkenal dengan suasana hati yang lebih sensitif ketika haid. Bad mood, mudah tersinggung, gampang marah, sampai tiba-tiba sedih dan ingin menangis tanpa sebab yang jelas. Sebagian besar wanita setidaknya mengalami satu gejala premenstrual syndrome (PMS) secara rutin." Terang Zein memukul pundak Gani pelan untuk membuatnya paham tentang situasi wanita. Mereka berbicara sembari berjalan menjauhi area kantor kepala sekolah agar bisa berbicara dengan nyaman. Melihat tanda dari Zein untuk mengikutinya membuat mereka dengan patuh mengikuti sedang Adith dan Riyan tersenyum melihat Zein yang telah berubah cukup drastis dari sebelumnya yang begitu cuek dan dingin terhadap orang lain. "Ada beberapa alasan yang membuat perempuan itu gampang marah dan emosian contohnya seperti Perubahan Hormon. Pada saat haid, proses ovulasi mengakibatkan turunnya hormon estrogen yang memiliki peran penting dalam proses reproduksi wanita. Di sisi lain, hormon progesteron menjadi sangat naik sehingga menyebabkan suasana hati yang tidak menentu." Ucap Zein sembari terus menarik Gani dari cengkraman Aurelia. "Yang kedua Kurang Istirahat. Dampak lain turunnya hormon esterogen adalah bisa menimbulkan rasa tidak nyaman dan membuat susah tidur." tambah Yogi mendekat kearah Gani dan Zein. "Yang ketiga, Hormon serotin yang turun. Rendahnya hormon serotin di otak mengakibatkan kita menjadi merasakan rasa depresi, mudah marah, dan tingginya keinginan untuk mengonsumsi karbohidrat." lanjut Riyan disisi sebelah kanan Zein. "Dan berikutnya adalah Daya tahan tubuh mereka. Ketika sedang haid, tubuh wanita tidak kuat untuk menahan rasa sakit yang mereka rasakan karena daya tahan tubuh menurun. Perjuangan melawan rasa sakit ini juga bisa menyebabkan adanya kecenderungan menjadi lebih sensitif saat haid, misalnya gampang marah." tambah Ryu dengan sangat sopan. "Maka dari itu kita sebagai laki-laki harus memahami sikap mereka yang seperti itu karena mereka terlahir special." Jelas Rinto lagi. Beni yang terdiam akhirnya manggut-manggut memahami hal tersebut sedangkan Adith hanya bisa tertawa kecil dengan tingkah mereka. "Tak kusangka mereka bisa tahu sebanyak itu mengenai perempuan!" ucap Alisya kagum melihat opini mereka terhadap perempuan. "Hanya sebagian dari mereka yang benar-benar tau apa artinya belajar!" Karin melihat Beni dan Gani yang tampak sedang mendapatkan pembimbingan kilat. "Hei... Ayolah, kalian belum menjawab pertanyaan kami!" teriak Aurelia kesal. "Jangan khawatir, kita tidak akan mendapat hukuman apapun!" ucap Alisya lembut menenangkan mereka. "Kita malah mendapatkan tugas lain dari kepala sekolah sehingga kami sudah merencanakan sesuatu untuk membahas itu nantinya!" tambah Karin lagi dengan tersenyum simpul. "Loh kok?? kenapa bisa ada apa?" Adora yang tak paham terus mencoba bertanya. "Sebentar sore kita akan berkumpul ditempatku, aku akan berikan alamatnya setelah sepulang sekolah dan aku akan menjelaskan lebih lanjut mengenai apa yang akan kita lakukan disana. Untuk saat ini, kalian tak diizinkan untuk pulang sendirian atau hanya berdua saja. Kalian harus pulang secara berkelompok untuk mencegah hal-hal yang tak terduga terjadi" tegas Adith mengingatkan mereka. Dari tatapan mereka, bisa Adora lihat kalau hal yang lebih serius saat ini sedang terjadi pada mereka yang membuat Adith sangat berhati-hati. Chapter 185 - Kafe Bawah Tanah Seperti yang sudah direncanakan, sekitar pukul 4 sore mereka sudah berada disebuah kafe bawah tanah yang cukup tersembunyi. Mereka cukup kesulitan untuk menemukan tempat itu sehingga Riyan harus berada di depan jalan untuk menjadi petunjuk dan menjemput teman-temannya. "Luar biasa, bagaimana kalian bisa menemukan tempat ini? Tempat ini hampir saja tidak aku temukan jika aku tak melihat Riyan di atas sana!" Adora dan Feby yang melihat Zein dan Adith yang sudah berada disana terlebih dahulu. "Tempat ini sudah menjadi markas tersembunyi kami setiap kali kami ingin bermain-main dan melepas penat. Kami sering berkumpul disini bersama teman-teman yang lain dan hanya sebagian besar yang mengetahui tempat ini" terang Zein sembari memberikan kursi kepada Adora dan Emi untuk duduk. "Ini....???" Tangan Feby menunjuk meja Bar yang sepengetahuan dia menyediakan minuman beralkohol. "Yup... Itu bar, tapi bar itu hanyalah sebuah kamuflase, tampak seperti deretan rak yang berisi berbagai macam minuman keras namun sebenarnya itu adalah berbagai contoh racikan minuman jus dan lain sebagainya yang sama sekali tak beralkohol" jawan Zein tersenyum melihat tingkah kepolosan mereka. "Aku dan temanku pernah ketempat ini sebelumnya saat seorang mengenalkannya padaku, tempat ini seperti jadi tempat berkumpulnya orang-orang yang suka game online untuk berkumpul" Karin masuk bersama Alisya, Ryu dan Akiko. "Ya benar, tapi tempat ini sudah mulai jarang dikunjungi sejak makin banyaknya tempat-tempat nongkrong yang lebih banyak bertema Instagram able!" Tambah Adith tanpa menatap Alisya dan membukakan kursi disebelahnya. "Saat kami datang dia bahkan tak melirik meski aku bertanya, tapi begitu Alisya yang datang signalnya langsung On!" Sungut Adora melihat perlakuan manis Adith yang tak memperdulikan orang lain selain Alisya. "Hahahaha,, kau seperti seorang tante-tante yang butuh belaian kalo ngomong kyak gitu!" Emi masuk bersama Beni dan Sikembar Gani dan Gina. "Apa semua sudah berkumpul?" Rinto dan Yogi serta Aurelia masuk secara bersamaan. "Sepertinya semuanya sudah hadir!" Riyan masuk bersama mereka setelah memasang tanda close didepan jalan. "Apa yang kalian ingin minum? Silahkan pesan saja!" Seorang Bartender yang masih terlihat muda keluar dengan seragam khas bartender yang terlihat begitu mempesona didepan mata Adora dan yang lainnya. "Bolehkah aku datang setiap hari kemari? Apa kamu bekerja setiap hari disini?" Tanya Emi dengan tatapan terpesona olehnya. "Hei... Bisakah kita fokus sedikit sekarang? Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan pada kalian semua!" Terang Adith setelah selesai dengan apa yang dia sibukkan sedari tadi dengan laptopnya. Para wanita memesan minuman menggunakan lirikan mata selagi mereka sesekali menghadap kearah Adith untuk mengikuti penjelasannya. "Baiklah, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, bahwa aku akan menjelaskan semua yang sudah ditugaskan oleh pak Richard kepada kita. Pak Richard tidak memberikan kita hukuman melainkan tugas yang harus dilakukan oleh kita semua untuk menyelesaikan sebuah kasus. Ini ada hubungannya dengan kejadian di sekolah tadi. Kasus ini melibatkan beberapa siswa dari sekolah kita yang terjerat kasus narkoba, untuk itu kepala sekolah secara khusus mengarahkan kita untuk mencari tahu mengenai siapa pengguna dan dari mana mereka mendapatkannya!" Terang Adith dengan penuh tatapan serius kepada mereka semua. "Ini tidak akan mudah dan mungkin saja akan berbahaya bagi kalian, terutama untuk para wanita. Namun dalam hal ini wanita memiliki keahlian yang cukup tinggi dalam hal mengajak orang lain berbicara. Kami akan membagi kalian dalam beberapa kelompok. Riyan dan Gani bersama Feby pergi ke arah Mol yang tak jauh dari sini, Rinto dan Yogi bersama Aurelia akan menuju ketaman, Beni dan Emi bersama Gina ke taman hiburan, sedang aku, Adora dan Akiko akan tetap berada disini untuk memantau keberadaan dan menghubungkan setiap informasi yang masuk!" Terang Zein membagi tugas kepada masing-masing orang. "Bagaimana dengan Adith, Alisya, Ryu dan Karin? Apa yang akan mereka lakukan?" Tanya Akiko saat ia tak mendengar Zein menyebut nama mereka. "Aku dan yang lainnya punya kasus lain yang harus diurus jadi untuk saat ini kami sangat mengandalkan kemampuan kalian dalam membantu kami, jika terjadi sesuatu yang tak bisa dihindari Alisya sudah mengirim 1 pengawal ditiap kelompoknya untuk mengamati kalian dari jauh jadi kalian tidak perlu khawatir!" Terang Adith menjelaskan. Melihat kelompok yang dibentuk hanya terdiri atas dua orang dengan kesemuanya berpasangan dengan mereka yang memiliki kemampuan cukup tinggi membuat Adora berpikir bahwa kasus yang sedang mereka hadapi jauh lebih berbahaya dengan apa yang diberikan kepada mereka. Selain itu agar tidak menjadi penghambat sekaligus beban, kelompok mereka sudah lebih dari cukup dengan beranggotakan dua orang saja. "Kalian tidak usah terlalu memaksakan diri jika kalian merasa sudah berada dalam bahaya. Dan aku harap kalian juga tidak gugup, anggaplah kalian sedang menghabiskan pekan dengan bersenang-sennag bersama yang lainnya. Nikmati saja tempat yang kalian tuju dan jangan terlalu mencolok" tambah Alisya mengingatkan mereka. "Ini mungkin akan sedikit sulit bagi kalian, tapi aku yakin mental kalian sudah lebih kuat dari sebelumnya karena semua pengalaman yang sudah kalian alami" lanjut Karin dengan tatapan yang membuat mereka jadi yakin akan diri mereka sendiri. "Aku merasa kita sudah seperti agen detektif yang semuanya beranggotakan anak SMA" ucap Feby merasa bangga dengan dirinya. "Benar, aku merasa sangat bersemangat melakukan ini. Selama ini aku hanya melihatnya dalam filem saja, tak kusangka kalau aku akan melakukan hal seperti ini" ucap Gani tak kalah antusias. "Pakailah ini, ini akan membuat aku bisa terhubung terus bersama kalian dan terus informasikan jika kalian mendapatkan sesuatu yang mencurigakan! Zein dengan cepat memberikan sebuah alat komunikasi berbentuk potongan kepala hadset yang berwarna hitam. "Selain itu, pin ini memiliki kamera tersembunyi yang akan merekam semua yang kalian lihat. Akan aneh jika kalian semua harus memakai kaca mata maka ini akan sangat berguna!" Riyan memberikan sebuah pin kepada mereka dengan cepat. Setelah mendapatkan semua peralatan yang diberikan oleh Zein dan Riyan, mereka segera menuju ke area masing-masing yang sudah ditunjukkan. Begitu pula dengan Adith dan Alisya serta Karin dan Ryu. Mereka berempat sudah berencana untuk menyelidiki kasus tentang anak SMA yang menghilang secara mendadak kemudian di temukan mati mengenaskan. Dan ternyata kasus itu bukan hanya terjadi pada siswa disekolah mereka saja, namun juga pada beberapa sekolah lainnya. Target yang dituju oleh mereka berempat adalah daerah-daerah sepi yang biasa menjadi tongkrongan muda-mudi untuk berpacaran serta beberapa tempat yang menjadi tempat tewasnya para siswa tersebut. Chapter 186 - Kembali Beraksi Sudah hampir malam hari, mereka tak menemukan petunjuk apapun. Meski sudah mencari petunjuk dengan bahkan memberanikan diri berada sangat dekat dengan para preman yang terlihat mencurigakan, namun tetap saja tak ada petunjuk penting yang bisa dijadikan sebagai tambahan informasi bagi mereka. Dengan putus asa mereka kembali ketempat perkumpulan mereka, Adith memang tak ingin mereka sampai harus melakukan penyelidikan dimalam hari karena akan sangat berbahaya sehingga saat matahari mulai tenggelam, Adith mengarahkan mereka untuk kembali ketempat mereka semula. "Bagaimana ini? Kita bahkan takkan mendapatkan apapun jika pulang sekarang!" Seru Adora yang menyesalkan penyelidikan mereka yang tak membuahkan hasil sama sekali. "Tidak apa-apa, dalam setiap penyelidikan tentu saja takkan semudah itu kita akan mendapatkan informasi. Kita bisa mencobanya lagi esok disekolah, untuk sekarang akan sangat berbahaya jika kalian semua melakukan penyelidikan dimalam hari." Terang Zein menenangkan Adora yang terlihat putus asa. "Melihat situasi ini, kemungkinan besar kita akan memerlukan beberapa hari untuk dapat memecahkan kasus ini. Kita tidak boleh menyerah karena ini baru hari pertama!" Tambah Akiko menyemangati Adora. "Akiko benar, memang awalnya akan sulit. Tapi kita tidak boleh menyerah hanya karena tidak mendapatkan apapun hari ini" Riyan masuk bersama Gani dan Feby setelah memutuskan untuk kembali. Satu persatu teman-teman mereka kembali ke kafe bawah tanah yang sekarang sudah menjadi markas sementara mereka termasuk Ryu dan Karin yang datang lebih lama dibanding dengan yang lainnya. "Bagaimana dengan Adith dan Alisya?" Aurelia tak melihat keduanya kembali setelah sekian lama waktu berlalu. "Masih ada yang harus mereka lakukan dan kami harus mengantarkan kalian pulang terlebih dahulu. Zein akan tetap berada disini bersama Riyan sedangkan aku dan Ruu akan mengantarkan kalian semua pulang!" Ucap Karin dengan tatapan yang sangat serius. "Kami bisa pulang sendiri, orang tua kami yang akan menjemput kami sebentar lagi karena kami juga mendapat izin hanya sampai pada jam 8 malam!" Gani melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 7 malam. "Baiklah, bagaimana dengan kalian?" Ryu melihat kearah Rinto, Yogi dan Beni yang membawa kendaraan mereka sendiri. "Rinto akan bersama aku!" Jawab Yogi cepat. "Kalian tidak perlu mengkhawatirkan diriku, aku juga bisa pulang sendiri. Lagi pula jalanan masih sangat ramai saat ini dan aku tidak berencana untuk mampir kemanapun jadi aku bisa langsung pulang! Jawab Beni meyakinkan mereka. "Aku rasa kalian terlalu protektif, maaf... Bukan maksudku tidak menyukai apa yang sedang kalian lakukan. Hanya saja aku merasa ada yang aneh dengan sikap kalian!" Ucap Adora yang merasa curiga dengan sikap protektir teman-temannya. Adith dan Alisya sengaja tidak membeberkan informasi lebih detail mengenai kasus terbunuhnya seorang siswa yang bukan karena narkoba melainkan karena hal lain yang masih belum pasti demi tidak membuat mereka ketakutan dan panik akan hal itu. "Saat ini kita masih belum mengetahui siapa yang kita hadapi, maka dari itu aku ingin kalian berhati-hati sebab kasus ini sangat berbahaya karena melibatkan bandar Narkoba dan tentu saja mereka takkan segan untuk melakukan hal yang tak diinginkan pada kalian. Jadi aku harap kalian bisa mengerti" jelas Zein mencoba membuat Adora dan yang lainnya paham. "Maafkan aku, aku hanya tak ingin kalian menjadi terbebani karena kami." Adora mengambil nafas dalam mendengar penjelasan Zein. "Adora, jangan berpikiran seperti itu! Kita adalah sahabat, dan sudah seharusnya sahabat memperdulikan satu sama lain. Bukan sahabat namanya jika kita saling mengabaikan satu sama lain. Meski dalam kecil apapun, sahabat kan berbagi dan saling melindungi. Tidak peduli dia siapa dan dimanapun!" Suara Karin yang lembut menenangkan mereka semua. Beberapa saat kemudian, mereka dijemput oleh orang tua masing-masing sedang Rinto dan Yogi serta Beni yang bersikeras ingin berada disana dipulangkan paksa oleh Karin dan pada Akhirnya Ryulah yang pulang bersama Beni sedang Karin bersama Akiko. "Karin, apa mereka semua sudah pulang?" Alisya menghubungi Karin untuk memastikan keadaan teman-temannya. "Ya, mereka semua sudah dijemput oleh orang tua mereka semua. Aku mengantar mereka sampai ke mobil untuk memastikan keselamatan mereka. Aku juga menyuruh mereka untuk terus mengaktifkan alat komunikasi yang diberikan oleh Adith untuk terus memastikan keadaan mereka. Sekarang aku sedang bersama Akiko menuju rumahmu!" Jawab Karin menatap Akiko yang sudah tertidur karena kelelahan. "Oke terimakasih, pastikan sekali lagi saat mereka sudah sampai. Aku takut sekarang kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih berbahaya dari sekedar bandar Narkoba saja!" Jelas Alisya dengan nada suara yang terdengar berat. "Apa maksudmu? Apa yang sudah kalian berdua temukan?" Tanya Karin cepat dengan suara yang kecil agar tak membangunkan Akiko. "Aku rasa kita sedang berhadapan dengan pembunuh berantai, dari orang tua siswa yang kami temui. Kami menemukan fakta bahwa siswa yang meninggal tersebut pada saat ditemukan tubuhnya disobek dan organ dalam tubuhnya menghilang. Kau taukan ini artinya apa?" Ucap Adith dengan suara yang sangat frustasi karena tak menyangka kalau kasus ini akan menjadi lebih sulit dari yang mereka duga. "Black Falcon, mereka kembali beraksi? Tapi kenapa sekarang target mereka berubah? Bukankah biasanya mereka akan menggunakan anak-anak karena mereka masih belum terkontaminasi?" Karin ingat betul bagaimana cara operasi dari organisasi gelap tersebut. "Itulah yang masih kami cari tahu saat ini, aku masih belum bisa mengaitkan apakah ini semua perbuatan dari Black Falcon atau bukan. Tapi aku rasa kasus ini sudah masuk kedalam tingkat SS" jelas Alisya lagi. Karin paham betul apa maksud dari perkataan Alisya, selama ini mereka selalu membuat tingkatan dalam hal masalah yang sedang mereka hadapi. Tingkat SS adalah tingkat dengan bahaya yang sangat tinggi dan pertaruhan nyawa dan hanya Alisya yang mampu menyelesaikannya. Sedangkan tingkat S adalah tingkat dengan masalah yang masih dapat diatasi oleh Karin maupun Karan karena masalah pada tingkat ini hanya melibatkan beberapa kasus yang tidak sampai mengancam nyawa namun tidak menutup kemungkinan untuk mereka mengalami cidera parah karenanya dan bahkan bisa sampai pada tahap mengancam keselamatan hidup mereka. Untuk tingkat A masalah yang dihadapi tidak sesulit tingkat S ataupun SS, namun pada tingkat ini minimal yang harus dimiliki seseorang adalah pertahanan diri ketika menghadapi situasi tak terduga. Tingkat yang tergolong menengah dan bisa diselesaikan dengan mudah adalah B dan C sedang D adalah tingkatan yang paling mudah dan tidak memiliki resiko yang cukup tinggi dan semua orang mampu untuk menyelesaikannya. Chapter 187 - Ryu, Kamu Dimana? "Lalu apa hubungannya dengan kasus narkoba ini? Apakah..." Karin berusaha menghubungkan keduanya namun yang ia temukan hanyalah sesuatu yang belum pasti. Ia juga tak tahu bagaimana harus menjelaskan apa yang ingin ia katakan. "Kami juga masih belum yakin, tapi sepertinya kasus ini akan kami naikkan menjadi kasus tingkat A. Berdasarkan kemampuan yang sesuai dengan tingkat itu, Adith, Ryu, Riyan, Zein dan Rinto saja yang mampu untuk ikut membantu! Sisanya kita hanya akan membawa mereka kedalam situasi yang berbahaya!" Terang Alisya menatap Adith yang sedari tadi sudah memghubungkan percakapan mereka dengan Riyan dan Zein serta Ryu dan Rinto. "Ada apa To?" Yogi bingung dengan sikap diam Rinto yang tak seperti biasanya. Rinto terlalu terfokus akan pembicaraan mereka sampai lupa kalau ia sedang bersama Yogi saat ini. Rinto hanya menggeleng pelan sembari terus mendengarkan pembahasan Adith dan yang lainnya. "Kalian yakin dengan apa yang kalian maksudkan ini? Tanya Zein ingin memastikan sekali lagi. Meski paham betul maksud dari Adith dan Alisya, Zein berharap bahwa semua itu hanyalah praduga keduanya. Ia tak ingin hal ini bisa menyebabkan banyak masalah baginya maupun bagi teman-temannya. "Ya, karena bukan hanya satu siswa saja yang sudah ditemukan mengalami hal seperti ini. Karena penasaran dan merasa curiga, aku dan Alisya menghubungi paman Dimas untuk mencari tahu informasi mengenai hal ini kepada pihak kepolisian dan paman Dimas bilang bahwa ada sekitar 10 kasus yang sama persis terjadi" terang Adith dengan suara yang sangat serius. Zein tak mengira kalau kasus itu bisa melebihi perkiraan mereka. "Dan letak sekolah mereka satu sama lainnya tidak berjauhan dan bahkan terang-terangan. Ia seperti sedang meminta untuk ditemukan atau sedang menantang seseorang!" Terang Alisya lagi yang membuat dia mengenggam erat tangannya memikirkan Omega. "Alisya..." Suara lembut Karin memanggil nama Alisya membuat Adith sadar kalau bau Aura Alisya tercium sangat cemas. "Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Adith melemaskan genggaman tangan Alisya mengenggamnya dengan hangat. Alisya tersenyum melihat kepekaan dua orang terkasihnya itu. Seolah mereka tahu betul kalau saat ini emosinya menjadi tidak stabil. Senyuman Alisya membuat Adith cukup lega namun tetap waspada. "Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang??" Tanya Karin setelah mendengar desahan Alisya yang kembali tenang. " Akiko, kita sudah sampai. Bangunlah dan tidur didalam kamarmu! Ryu akan pulang setelah selesai mengantar Beni" lanjut Karin begitu mereka telah sampai di rumah Alisya. "Kita akan melanjutkannya lagi besok, untuk saat ini kita melaporkan kepada kepala sekolah seadanya saja dulu dan tidak memberikan informasi lebih untuk memastikan kebenarannya. Karena jika benar ini berhubungan dengan organisasi, maka akan sangat berbahaya jika sampai orang lain tahu. Dan untuk kalian, jangan pernah menyinggung nama organisasi ini kepada orang tua kalian sekalipun" Tegas Alisya yang ditunjukan kepada Zein, Riyan dan Rinto. "Untuk kepala sekolah, biar aku yang mengatasinya. Aku hanya meminta kalian mencari cara untuk tidak melihatkan Adora serta yang lainnya kedalam kasus ini lagi" tambah Adith mengingatkan mereka semua. "Alisya,," suara Ryu yang serak terdengar menahan nafas panjang. "Ryu?? Ada apa? Apa yang terjadi padamu?" Alisya merasa ada yang tidak beres dengan suara Ryu. "Aku bertemu seseorang yang cukup mencurigakan di gang sempit sewaktu kembali dari mengantarkan Beni. Dia sudah berhasil mendapatkan seseorang tersebut dan saat aku menyorotnya dengan sinar motorku, ia hanya terdiam menatap dengan senyuman mengerikan. Ia terlihat tidak takut dan bahkan tak bergeming dari tempatnya. Beruntunglah tanpa sengaja ada mobil patroli yang tak sengaja lewat dan bingung ketika melihatku menyorotkan lampu kearah gang. Mereka berhenti dan langsung menembakkan tembakan ketika melihat orang itu sedang memegang leher seorang anak yang dengan mudah ia tepis menggunakan pisau tipisnya." Terang Ryu dengan suara setengah tercekat. "Apa yang terjadi kenapa kami tak mendengar apapun? Dimana kau sekarang?" Tanya Karin dengan suara panik. Ia yakin betul kalau saat ini Ryu sedang dalam masalah. "Ryu, kau dimana? Bagaimana denganmu dan anak yang diserang itu?" Suara Alisya makin tidak sabaran. Mendengar Ryu yang kesusahan, Zein dengan cepat melacak keberadaan Ryu dan langsung menginformasikannya kepada Adith dan Alisya. "Anak itu baik-baik saja karena orang itu tak sempat untuk berbuat lebih. Aku sempat melakukan pengejaran dan beradu dengannya namun kemampuannya sangat tinggi. Aku... Uhukkkk" Ryu yang berusaha untuk terus menjelaskan kepada Alisya seketika tak mampu melanjutkan kalimatnya. "Ryu, bertahanlah. Aku sudah hampir sampai! Dimana kau?" Tanya Karin cepat tak melihat Ryu disekitar tempat yang dikatakan oleh Zein. "Aku berada di bawah tiang listrik di.. uhukkkk... Simpangan sebelah jalan 500 meter dari lokasi sebelumnya!" Mendengar itu Karin berlari dengan cepat mencari keberadaan Ryu. Adith dan Alisya serta Zein dan Riyan langsung bergerak menuju ketempat Ryu tepat setelah Karin terlebih dahulu sampai. "Kau kenapa lagi sekarang???" Yogi kaget saat melihat Rinto membelalakkan matanya dan memukul jok mobil dengan kuat. "Ryu,," Karin berhasil menemukan Ryu yang sudah mengalami pendarahan yang cukup banyak. "Uhuukkk..." Sekali lagi Ryu memuntahkan darah yang cukup parah. "Karin,,, bagaimana?" Tanya Alisya saat mereka baru sampai bersamaan dengan Zein dan Riyan yang langsung mengarah ketempat yang ditunjukan Ryu pada Karin. "Ryu mendapatkan satu tusukan yang cukup dalam, tapi untunglah dia tidak mengenai alat fitalnya. Aku sedang berusaha menutup lukanya untuk memberikan penanganan awal. Kita harus membawanya kerumah sakit secepatnya, kak Karan sudah mengirimkan ambulance kemari tapi itu akan membutuhkan waktu!" Karin dengan tenang menjelaskan situasinya sambil terus memberikan pertolongan pertama kepada Ryu. "Karin...." Alisya dan yang lainnya datang bersamaan langsung menghambur disisi Karin. Mendengar suara Alisya, Karin secara tak sadar menitikkan Air matanya namun tetap terus melanjutkan pekerjaannya untuk segera menyelamatkan Ryu. Persimpangan yang sepi dan dibawah tiang listrik yang cukup terang itu membuat Karin dengan mudah melakukan pekerjaannya dengan sanagt cepat. Beberapa saat kemudian sebuah ambulance datang dan dengan cepat Adith serta Zein dan Riyan langsung mengangkat Ryu ke tandu dan memasukkannya kedalam mobil. Mereka segera meluncur cepat menuju rumah sakit. Alisya menemani Karin didalam Ambulance sedangkan Adith dan yang lainnya membuka jalan agar Ryu bisa tiba dengan cepat dirumah sakit. Chapter 188 - Percayalah Padaku Tidak butuh waktu lama hingga mereka tiba di rumah sakit milik Karan, mendengar Ryu yang mengalami luka parah akibat tusukan pisau Karan dengan cepat meluncur ke bawah untuk secara langsung menjemput mereka. Ryu langsung diturunkan dari mobil dan dengan cepat dibawa ke ruang IGD. "Bagaimana keadaannya?" Karan bertanya sambil terus membawa Ryu dengan sangat cepat. "Aku sudah menekan sirkulasi peredaran darahnya, tapi darah yang keluar dari tubuhnya cukup banyak. Aku sudah memberikan penanganan awal sebelumnya, tapi aku hanya punya kain kasa dan alkohol karena terburu-buru. Aku..." Karan seketika menghalangi Karin yang ingin masuk bersamanya melakukan operasi pada Ryu. "Biarkan aku yang tangani, tenangkanlah dirimu disini. Jika kau masuk dalam keadaan kacau seperti ini, kau hanya akan mengacaukan semuanya. Percayalah padaku!!! okehhh..." Karan mengusap lembut pipi adiknya untuk membuatnya tenang. Alisya langsung mendekap Karin yang hampir jatuh melemas karena tubuhnya bergetar penuh ketakutan. Karin yang sudah terbiasa menghadapi Alisya pada akhirnya tak mampu jika melihat orang lain mendapatkan hal yang sama. Karin masih belum berpengalaman menghadapi orang terdekatnya yang terluka sehingga ia masih dengan mudah terbawa perasaan. "Kau masih sangat muda Karin, tentu saja melihat orang terdekatmu terluka di hadapanmu akan membuat mentalmu jatuh." batin Alisya terus memeluk Karin yang bergetar ketakutan. "Alisya,,, Bahkan kau yang sudah aku ketahui memiliki ion nano yang dapat membuat lukamu cepat sembuh sudah cukup membuatku bergetar ketakutan. Dan kali ini Ryu, aku..." Karin berkata lirih. "Kau tau kenapa kau seperti itu?" tanya Alisya duduk dihadapan Karin yang melihat ke arah tangannya yang terluka. "Hatimu belum cukup kuat!!! Aku tau kau memiliki mental sekuat baja, tapi hatimu masih sangat rapuh. Ini memang bagus, tapi akan sangat berbahaya jika kau dihadapkan oleh situasi yang kurang menguntungkan. Bukan berarti aku tak punya emosi, hanya saja hal yang lebih utama adalah bagaimana menyelamatkan Ryu. Meski dengan tubuh bergetar kau terus berusaha memberikan pertolongan pertama pada Ryu, aku cukup bangga dengan itu! Sangat bangga malah... Tapi Kar, aku tak ingin melihat kamu tertekan seperti ini. Jika kau bisa menghadapi dengan tenang, maka kau akan bisa menyelamatkan banyak nyawa tanpa terkecuali siapapun itu dan takkan kehilangan siapapun lagi." kata-kata lembut Alisya perlahan menenangkan hati Karin, Ia sadar bahwa sikap kerapuhannya itu bisa saja membuat orang lain akan meregang nyawa terlebih karena ia punya kemampuan untuk menyelamatkan mereka. "Terimakasih Sya, akan aku ingat kata-katamu! Kamu benar, aku memiliki lisensi seorang dokter dan jika aku menjadi seorang dokter resmi maka seharusnya aku memiliki mental dan perasaan lebih kuat lagi agar aku tak kehilangan siapapun dan bisa menyelamatkan siapapun." Karin tersenyum lalu mencubit pipi Alisya. Karin bangga pada keteguhan Alisya, meski ia yang lebih takut akan kehilangan seseorang namun ia masih bisa bersikap tenang. Alisya hanya tersenyum dalam pahit. Rasa marah dan emosi yang meluap-luap menekan dadanya dengan sangat kuat. Adith bisa mencium aroma Alisya yang tidak stabil saat itu. kemarahan dan kebencian berkobar dalam matanya yang redup. Untuk tidak membuat khawatir Karin, Alisya memusatkan seluruh aura kemarahannya keluar bersama hawa panas tubuhnya. Karin yang tidak stabil itu, tidak bisa membaca aura Alisya yang ia tekan dengan sangat baik. Namun Alisya tak bisa membohongi Adith karena Indra penciumannya yang sangat kuat dan mengenal aroma Alisya sehingga setiap perubahan hati dan emosi yang dikelurkan oleh Alisya dari auranya bisa dirasakan dengan mudah oleh Adith melalui hidung sensitifnya. "Jangan khawatir, Ryu pasti akan baik-baik saja! Dia lebih kuat dibanding dengan kami" Adith mendekati Alisya saat merasakan aura Alisya yang semakin tak karuan. Ketika Adith menggenggam tangan Alisya dengan lembut, aura Alisya yang membara seketika menghilang. Ritme detakkan jatung Adith seperti sebuah metronom yang secara pasti dengan satu detakkan langsung menenangkan Alisya. "Sepertinya kau sudah terbiasa mengendalikan hidungmu!" Alisya tersenyum melihat tatapan Adith yang hangat menenangkan. "Dan sepertinya alat peredamku sudah tidak berguna lagi untukmu?" Adit mengucir lembut rambut Alisya kebelakang telinganya yang memperlihatkan telinganya yang kosong. "Oh ini aku, tak sengaja melepasnya tadi!" Alisya dengan gugup mencari alasan. "Aku tau apa yang akan kau lakukan. Aku harap kau tak melakukan hal ceroboh karena semua ini!" ucap Adith lagi mengusap lembut kepala Alisya. Alisya takjub dengan kemampuan Adith yang sudah semakin sensitif membaca setiap perubahan emosi dari dalam dirinya sedang bagi Alisya, dia hanya mampu mendengarkan suara ritme jantung yang terus menenangkan untuknya. Adith hanya menjadi obat setiap kali ia kehilangan kendali. "Bagaimana keadaanya???" Rinto yang berhasil memulangkan Yogi dengan susah payah karena rasa penasaran yang cukup tinggi dari anak itu membuatnya cukup kesulitan. Dengan tergesa-gesa Rinto bertanya kepada Riyan dan Zein yang berada tepat dihadapannya saat melewati belokan. "Sudah sejam lebih dia berada disana, tapi masih belum ada kepastian bagaimana kondisinya!" Zein menggenggam kedua tangannya dengan erat. "Apa yang terjadi? aku tak bisa mendengarkan apapun tadi karena sibuk berdebat dengan Yogi." Rinto merasa kesal mengingat sikap ngotot Yogi yang membuatnya tak bisa mendengar apapun dan datang terlambat. "Dia mengalami penusukan dan sepertinya ini ada hubungannya dengan kasus yang sedang kita selidiki. Berkat Ryu seorang anak bisa diselamatkan, tetapi dia malah melukai dirinya sendiri." Riyan merasa frustasi dengan kejadian yang baru saja mereka hadapi. Melihat Ryu yang terluka parah membuat mereka sadar akan resiko besar dari kasus yang sedang mereka selidiki tersebut. Kasus yang sudah tidak bisa lagi ditangani oleh anak SMA. Mereka semakin sadar bahwa hal ini akan sangat membahayakan jika mereka terus membuat teman-temannya terlibat lagi dalam kasus ini. Mereka terdiam dalam keheningan. Semua hanya bisa berharap dan terus berdoa untuk keselamatan Ryu. Waktu berlalu terasa begitu lambat dan semakin menekan. Rinto terus berjalan kesana kemari tak tentu arah karena cemas. "Aku ke toilet dulu, tolong jaga Karin disini!" pinta Alisya kepada Adith yang berdiri dihadapannya. Tak merasa curiga, Adith dengan patuh mengangguk kecil kepada Alisya. Alisya tersenyum melihat mata cemas Adith yang bergetar. "Jangan lama-lama!" tegas Adith khawatir, namun melihat Alisya yang tersenyum dan auranya yang stabil membuat rasa khawatir Adith menghilang. "Aku akan kembali secepatnya!. Lagi pula cuman mau buang air kecil sama cuci muka aja kok. Jaga dia untukku!." pinta Alisya sebelum berjalan pergi dan menghilang dari balik koridor rumah sakit. Chapter 189 - Ophelia Alisya berjalan dalam diam, menekan auranya semaksimal mungkin sampai Adith tak menyadari dan mencium bau yang menyengat dari auranya. Setelah mendekati taman belakang rumah sakit, Alisya memusatkan energinya dan dengan satu lemparan kuat ia berhasil mengenai seseorang yang bersembunyi dibalik semak. "Ohhhh,, kau masih cukup tajam. Tapi ini tidak akan cukup untuk membunuhku!" Omega keluar dari balik pohon sembari melempar kembali batu yang dilemparkan oleh Alisya. Alisya menghindarinya dengan sangat mudah. "Aku lupa kalau Black Falcon adalah organisasi paling kotor yang tidak peduli akan nyawa orang lain!". Alisya menatap tajam ke arah Omega dengan tatapan penuh amarah dan kebencian. "Oh ayolah, kau sudah tau bagaimana cara operasi Black Falcon sebenarnya, tapi caramu menatapku sepertinya sedang menuduhku. Aku takkan berbohong jika aku tak pernah membunuh orang, tapi aku tak melakukan apapun pada temanmu." Omega dengan santai duduk dikursi taman dekat Alisya dan melambaikan tangan untuk duduk disampingnya. Alisya hanya menatapnya dingin dan tak bergeming. Omega duduk dengan seksi dan sangat menggoda, jika saja Alisya adalah seorang pria maka mustahil baginya untuk tidak tertarik dengan pesona yang dipancarkan oleh Omega saat ini. "Aku tau kau pasti tak akan mengakuinya!" Alisya tak mempercayai setiap kata-katanya, tapi entah mengapa Alisya merasa ada yang aneh dengan aura omega sejak terkahir mereka bertemu. Aura omega tampak tak ada keinginan untuk bertarung ataupun berbohong. "Ya ampun,, sudah ku bilang aku menyukaimu. Kenapa kau setakut itu padaku? padahal sewaktu di rumah sakit lalu kau bahkan tak mendekatiku dan menatapku dengan tatapan lembut dan sekarang tatapan itu penuh amarah!" ucapnya seolah sedang merasa kecewa atas sikap Alisya kepada dirinya. "Lalu buat apa kau datang kemari?" Alisya mulai melunakkan pandangannya merasa Omega takkan memiliki prinsip akan setiap kata-katanya. "Kau meloloskan diri dari organisasi terlalu dini sehingga tak mengetahui banyak hal mengenai organisasi. Kau seharusnya berpikir bahwa tidak mungkin kalau kau adalah orang pertama yang berhasil mengikuti semua ujian dan bertahan hidup dengan semua tes yang dilakukan oleh organisasi" Omega mulai berbicara dengan dengan santai kepada Alisya saat dia mulai duduk disisi sebelah kanan kursi taman yang cukup panjang itu, sehingga menyisakan jarak yang sedikit lebar. Meski begitu Omega merasa cukup senang. "Apa itu artinya ada beberapa orang yang mampu bertahan hidup sebelum diriku?" tanya Alisya datar. "Benar sekali, sebelum dirimu organisasi sudah lama melakukan tes yang sama kepada banyak anak-anak. Dan anehnya semua yang lolos hanyalah anak perempuan saja kau tau kenapa?" Omega sengaja ingin berdiskusi dengan Alisya lebih banyak. "Karena suntikan nano yang entah kenapa lebih stabil saat masuk kedalam tubuh wanita dibanding laki-laki. Laki-laki tidak memiliki kesabaran yang cukup tinggi dan tubuhnya tak mampu menahan perubahan pada tubuh mereka karena suntikan nano sangat tidak cocok dengan tubuh mereka!" terang Alisya menganalisis informasi yang selama ini diterimanya. "Kau benar-benar mengagumkan, tapi tahukah kau kalau ternyata beberapa angkatan sebelum kau 1 orang laki-laki mampu bertahan hidup setelah berjuang dengan sangat keras yang menjadi angkatan pertama dan ada lagi 2 wanita pada angkatan kedua dan ketiga. Tetapi hanya kaulah yang berhasil melarikan diri pertama kali pada angkatan ke 4, itulah kau disebut sebagai Zero Alpha. Si terbaik yang menghilang. Dan aku Omega sebagai yang terakhir." jelas Omega dengan penuh semangat. "Bagaimana kau mengetahui itu semua?" tanya Alisya yang mengingat betul bagaimana sistem kerahasiaan dari Black Falcon. "Mereka mengirimku kedalam misi untuk membunuhmu karena statusmu sebagai pengkhianat dan aib dari organisasi. Dari situ aku mendapatkan semua informasi ini, kau harus berhati-hati pada Organisasi. Mendengar perburuan tentangmu dengan jaminan kebebasan, 3 orang teratas serta merta begitu semangat untuk memburumu. Angkatan pertama adalah seorang pria bernama Artems, angkatan kedua adalah seorang wanita bernama Ophelia dan angkatan ketiga bernama Rafaela. Dan kau harus berhati-hati pada Ophelia, dia sangat rakus dan haus pertumpahan darah dalam pertarungan. Tidak peduli nyawa rekannya atau siapapun, yang ada dipikirannya hanyalah nafsu memburu." terang Omega yang terus menatap haus ke arah Alisya. "Mengapa kau memberitahuku semua informasi ini? "Sudah ku bilang aku menyukaimu. Aku hanya terobsesi padamu seorang, tujuanku adalah dirimu. Akulah yang akan membunuhmu. Tapi kau yang sekarang masih tertidur dan belum terbangun. Aku ingin kau menghadapiku dalam kondisi kekuatan penuh. Jika kau seperti itu terus maka takkan ada satupun yang akan bisa kau lindungi, termasuk kekasih hatimu itu! Sepertinya aku harus pergi sekarang." Omega seketika berdiri dari tempatnya bersiap untuk pergi. "Zy,,,," Panggil Alisya dengan lembut kepada Omega yang sudah memunggunginya. "Terimakasih banyak!" ucapnya lagi dengan sangat tulus. "puhahahahahha,, kau benar-benar aneh. Kau membuatku terlihat seperti orang baik. hummm... sepertinya tidak buruk. Sensasinya seperti ini ternyata kalau kita sedang berbuat baik? puffttt sampai jumpa Alisya... Dan jangan mati, karena kau adalah milikku!!!" ucapnya dengan cepat menghilang menyisakan suara tawanya yang menggema di taman belakang rumah sakit. ***** "Rinto, Riyan, Zein..." panggil Adith pada ketiganya dengan tatapan tajam. "Tetaplah disini, aku ingin menyusul ketempat Alisya!" Zein dapat melihat betul ketegangan diwajah Adith sehingga dengan cepat ia mengangguk pelan. "Ada apa? apa Alisya dalam masalah?" tanya Riyan yang mendengar nada berat pada suara Adith. "Aku tidak tahu, tapi aku hanya ingin memastikan keadaanya saja! Tunggulah disini dan perhatikan kondisi Karin." jawab Adith sambil berlalu pergi. "Alisyaaaa... kenapa tadi aku tak memahami arti kata-katamu?" gumam Adith sambil terus berlari mencari letak toilet yang mungkin saja Alisya tak berada disana. "Meski sekilas aku bisa mencium Auramu yang kacau balau. Apa yang sedang kau pikirkan dan kau lakukan sekarang?" Adith terus saja mencari dari satu tempat ke tempat lain karena Adith yakin kalau Alisya sudah terlalu lama jika masih berada dalam toilet. Fikiran Adith kacau, takut kalau Alisya takkan kembali karena terus terngiang-ngiang akan perkataan Alisya untuk menjaga Karin selama ia pergi. Meski Alisya sudah berjanji untuk kembali, Adith masih tidak bisa menghilangkan kekhawatirannya. Lelah mencari ke seluruh rumah sakit, Adith memutuskan untuk kembali mencari di toilet. Ia berdiri beberapa saat disana tak berani masuk karena takut akan kemungkinan bahwa Alisya tak berada disana. Suara pintu terbuka membuat Adith mengangkat wajahnya cepat dan menemukan Alisya yang keluar dengan kepala tertunduk mengibas-ngibas bajunya yang basah. Adith menarik tangan Alisya dan langsung membekapnya erat dalam pelukannya. Pelukan Adith sangat erat membuat Alisya tak mampu bergerak dan pasrah. Chapter 190 - Bolehkah Aku Menciummu? Alisya sebenarnya sangat terkejut dengan tarikan Adith, Ia hampir saja melayangkan pukulan dan tendangan. Namun setelah mendengar Ritme jantung yang sangat dikenalinya itu berdetak cepat dan penuh kekhawatiran, Alisya pasrah dan balas memeluk Adith dengan hangat untuk menenangkan Adith. "Kenapa kau selalu saja membuatku khawatir?" suara Adith lemah dan bergetar. "A... Adith,, terlalu e,, erat!!" Alisya mulai kehilangan nafasnya karena Adith semakin mengeratkan pelukannya. "Ini hukuman untukmu karena sudah membuatku khawatir!" Adith semakin mengeratkan pelukannya kepada Alisya seolah Alisya akan melarikan diri lagi jika dia melepaskan pelukannya itu. Mendengar Alisya tak bersuara, Adith melonggarkan pelukannya dan menatap Alisya dengan senyuman nakal. "Huh huh huh huuuhhhh... kau,, inginhhh membunuhku yah? aku sudah hampir kehabisan nafas tadi!" ucap Alisya mendesah berusaha menarik nafas dalam-dalam. "Kau takkan mati hanya karena sebuah pelukan. Akan jelek judulnya jika seorang Zero Alpha mati hanya karena dipeluk kekasih.. hahahaha" tawa Adith melihat pipi merah Alisya yang menahan malu. Kekhawatirannya seketika menghilang dan menguap di udara setelah melihat wajah cantik Alisya yang memerah dan merona. "Bisakah kau lepaskan sekarang? ini rumah sakit, bukan tempat untuk bermesraan! Malu kalau diliat orang tau..." ucap Alisya merasa khawatir akan dilihat orang lain mengingat mereka sedang berada di rumah sakit saat itu. "Lalu kenapa??? inikan rumah sakit Karan, Dia akan memahaminya!" jawab Adith santai. "Sial... kenapa kondisinya sangat mendukung gini sih? masa iya rumah sakit se sunyi ini! Authornya keterlaluan!!!" maki Alisya karena melihat keadaan sekeliling yang seolah sedang mendukung mereka untuk bermesraan di depan toilet itu. Karena kesal Alisya mencubit pinggang Adith berharap untuk Adith melepaskannya. Namun Adith hanya tertawa kecil karena cubitan Alisya yang dirasa menggelitik. Alisya tak bisa mencubit dengan benar pinggang karena roti sobek Adith yang padat sehingga meski ia berusaha untuk meraih daging Adith, tangannya terus tergelincir dan tak bisa menemukan dagingnya yang kenyal. "Aku akan melepasmu jika kau menjawab semua pertanyaanku!" ucap Adith dengan tatapan penuh kasih sayang memberikan sebuah syarat kepada Alisya yang terus memberontak ingin melepaskan diri. "Baiklah... tapi kau harus melepaskan ku jika aku menjawab semua pertanyaan mu!" tegas Alisya dengan penuh ancaman. Ia akhirnya pasrah dan menuruti permainan Adith agar bisa lepas dengan cepat dari pelukan Adith. "Oke, pertanyaan pertama. Kau harus menepati janjimu untuk tidak pernah menghilang dari hadapanku dalam waktu yang lama!" Tanya Adith menatap ke mata Alisya yang hitam dan bening. "Iya, aku janji! tapi itu bukan pertanyaan" jawab Alisya singkat dengan tatapan kesal. "hahahah... oke oke, apakah aku tampan?" tanya Adith nakal. "huh,, Iya" jawab Alisya pasrah. "Apakah kau mencintaiku?" tanya Adith lagi dengan tatapan lembut. "mmm. Iya!" jawab Alisya lagi mantap. Suara detak jantung Adith membuat Alisya tersenyum manis. "Bolekah aku menciummu?" tanya Adith lagi. "Iya... ehhh.. apa??? kau sudah gila.. nggak!!!" jawab Alisya cepat. Adith tidak memperdulikan Alisya yang memberontak menolak. Masih dalam pelukan Adith, Adith memegang dagu Alisya mendekatkan wajahnya secara perlahan-lahan kemudian menutup matanya. Alisya yang panik dengan cepat menutup matanya dan susah payah menelan ludahnya. Merasa ada yang aneh Alisya langsung dengan cepat menendang betis Adith dengan cukup kuat. "Auuuhhhh,,,, ummmhhhh,,, maaf-maaf aku hanya bercanda!!! maaf maaf.. auhh... tega amat sih! sakit tau.." Adith melompat-lompat ke kiri dan ke kanan merasakan sakit yang sangat luar biasa pada kakinya. "Biarin, itu hukuman untuk orang yang suka bercanda!!!" Alisya langsung berlalu pergi meninggalkan Adith yang masih merintih penuh kesakitan. "Alisya..." panggil Adith pada Alisya yang pergi dengan penuh amarah. "Jangan cepat-cepat dong, masa gitu aja marah sih? tunggu..." Adith berusaha menghentikan langkah kaki Alisya yang makin ia percepat. "Huuu.... uh!!!!" Alisya berhasil menangkap Adith dan dengan segera mencium kening Alisya hangat. "Apakah kau lupa kalau kau sudah berjanji untuk tidak menghilang dari hadapanku?" tanya Adith setelah melepas ciuman hangatnya. "Bisakah kau berhenti untuk bercanda denganku???" tatap Alisya kesal namun emosinya sudah mulai melunak. Adith hanya tersenyum hangat melihat wajah kesal Alisya. Tanpa menjawab pertanyaan Alisya, Adith dengan menggenggam tangannya dengan erat dan menuntunnya berjalan menuju ketempat Karin dan yang lainnya berada. Baru saja mereka sampai, Kakek dan nenek Alisya datang bersama Ayahnya dan tante Loly. Dibelakangnya ada Akiko yang tampak kaget saat terbangun dari tidurnya. Wajah mereka tampak sangat khawatir. "Bagaimana dengan Ryu?" tanya Akiko dengan bahasa Jepangnya yang bergetar. "Kau tidak usah khawatir, dia akan baik-baik saja!" ucap Alisya menenangkan Akiko yang sudah mulai menitikkan air mata saat melihat Alisya. "Jika Ryu tidak ikut denganku, maka dia pasti takkan terluka seperti itu!" suara Akiko masih bergetar dan terus berkata-kata dengan bahasa Jepangnya. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri, kalian tidak boleh berpikiran seperti itu. Jika Ryu mendengar ucapanmu dan mengetahui bahwa kalian juga menyalahkan diri sendiri, maka Ryu akan sangat merasa kecewa. Sekarang lebih baik kita berdoa agar Ryu bisa berjuang untuk tetap hidup!" Kakek Alisya memandang satu persatu anak-anak yang wajahnya kelam diruangan itu. Mereka semua terdiam meresapi kata-kata yang diucapkan oleh kakek Alisya. Nenek Alisya langsung memeluk Akiko dengan erat dan Alisya mengusap Air mata Akiko yang tak berhenti mengalir. "Jadi bagaimana??? Ryu baik-baik saja kan kak?" Karin langsung menyerbu Karan yang baru saja keluar dari ruang IGD. "Bagaimana keadaanya?" tanya Akiko cepat yang berlari sekuat tenaga kearah Karan. "Dia baik-baik saja! Kalian tidak perlu khawatir, lukanya tidak terlalu dalam dan tidak mengenai alat vitalnya. Kalian sudah bisa tenang sekarang." jawab Karan cepat mengusap lembut rambut adiknya untuk menenangkannya. Dan menatap hangat ke arah Akiko. Mendengar jawaban dari Karan semuanya langsung bernafas lega. Alisya jatuh melemas ke kursi dengan tatapan nanar. "Jangan khawatir, Ryu adalah anak yang kuat!" ayah Alisya duduk disamping Alisya dan menenangkannya. Melihat tatapan lembut ayahnya, Alisya dengan cepat memeluknya erat. Kakek Alisya membelai lembut rambut Alisya untuk menunjukkan dukungannya, meski terasa canggung. "Kakek yakin, kalian akan mampu melewati ini semua. Persahabatan kalian akan semakin kuat jika kalian bisa melewati masalah ini bersama-sama!" terang Kakek Alisya lagi dengan suara rendah yang menenangkan. Ryu kemudian dikeluarkan dari ruang IGD untuk dibawa ketempat ruang rawat. Karan sudah menyediakan ruang paling luas dan nyaman agar mereka semua bisa beristirahat dengan nyaman sebab Karan yakin mereka takkan pulang sampai Ryu sadarkan diri. Chapter 191 - Laporan "Jadi apa yang bisa kau laporkan pada kami? ku dengar salah satu dari teman kalian mengalami penusukan dari orang tak dikenal, apa ada hubungannya dengan kasus yang sedang kalian tangani? Jika benar maka sepertinya aku akan menghentikan kasus kalian sekarang juga!" ucap kepala sekolah setelah mendapat laporan salah satu siswanya yang mengalami penusukan. Adith terdiam tak tahu dari mana ia harus memulai tanpa mengaitkan masalah ini dengan organisasi. Terlebih karena semua masalah ini akan sangat berbahaya jika diketahui oleh banyak orang. "Kasus Narkoba yang sedang kami selidiki sepertinya lebih sulit dari dugaan. Penyelidikan kami hentikan saat melihat tak ada tanda pergerakan para siswa di luar sekolah, untuk itu kami akan mulai menyelidiki dari dalam sekolah. Dan karena itu kami membutuhkan izin dari bapak dan mendapatkan akses kebeberapa tempat dan gedung!" terang Adith memulai laporannya. "Dan untuk Ryu, itu tidak ada hubungannya dengan kasus kami karena dia hanya tak sengaja bertemu dengan kejadian itu dan menyelamatkan seorang anak yang hampir saja mengalami pembunuhan. Ryu yang berusaha mengejar ternyata tak sadar saat pisau mendarat di tubuhnya sedang penjahat berhasil melarikan diri" tambah Adith lagi dengan tatapan serius berusaha meyakinkan kepala sekolah. Semua yang dilaporkan oleh Adith bukanlah kebohongan karena sebenarnya mereka juga belum menemukan benang merah antara kasus yang sudah mereka dapatkan dengan kasus yang terjadi pada Ryu. "Baiklah kalau begitu, aku akan memberikan semua akses itu untukmu! Meski sebenarnya aku tahu permohonan izinmu itu hanyalah formalitas belaka karena kamu lebih dari mampu untuk membobol semua akses disekolah ini" senyum Pak Richard yang tahu betul bagaimana kemampuan Adith dalam bekerja. "Permisi...." Ubay masuk kedalam untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang sudah selesai dikatakan oleh Adith. "Ohhh,, apa kau sedang melaporkan temanmu yang berlagak menjadi super hero dan berakhir dengan tertikam?" Ubay melihat ke arah Adith dengan sinis. Adith hanya menggeleng tertawa. Tak pernah terpikirkan baginya akan ada karakter manusia tengil super ceroboh dengan kepedean tingkat dewa yang asal bunyi dengan suara besar namun tak bermakna itu. Karakter yang akan selalu ada dalam 10 orang di suatu kelompok. "Jadi? apa kau memiliki sesuatu untuk dilaporkan?" pak Richard tidak perduli dengan konflik yang terjadi di antara mereka. "Tentu saja, dari informan yang bekerjasama dengan kami. Kami menemukan bahwa ada sebuah organisasi yang terlibat dalam penyelundupan Narkoba ini. Mereka menargetkan anak SMA karena pada masa ini beberapa anak sudah mulai memiliki banyak problematika kehidupan dan kerapuhan mental yang dapat dengan mudah dibujuk dan dipengaruhi untuk mencoba Narkoba. Sikap saling saing dan pansos juga menjadi daya tarik mereka dalam melakukan aksinya!" terang Ubay dengan penuh kesombongan. Ubay sengaja membeberkan informasi nya karena ia yakin kalau Adith tak menemukan apapun dan sengaja berhenti ditengah penjelasannya memancing reaksi Adith. Adith yang tak peduli segera undur diri dari hadapan kepala sekolah merasa tak ada yang penting dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Ubay. "Dan taukah bapak mengapa mereka menargetkan anak SMA??? Organisasi itu sedang melakukan perburuan terhadap seorang siswa dengan tanpa terkecuali menghabisi siapa saja yang mereka temui. Dan Narkoba hanyalah sebuah kamuflase untuk menyamarkan aktivitas organisasi tersebut."Tambah Ubay cepat dengan suara lantang bermaksud untuk menyombongkan sejumlah informasi yang bisa ia laporkan kepada pak Richard disaat Adith hanya bisa melaporkan tentang temannya yang terluka. Adith yang sudah membuka setengah pintu tiba-tiba berhenti dan membelalakkan matanya. Adith tak menyangka kalau Ubay bisa mendapatkan Informasi sampai sedetail itu dalam waktu singkat. Terlalu mudah informasi itu mengalir, seolah itu datang dari orang yang tahu banyak akan pergerakan Organisasi. "Organisasi apa yang kamu maksud?" tanya Pak Richard penasaran dengan semua laporan Ubay. "Dia tak memberitahuku lebih lanjut mengenai nama organisasi itu. Tapi semua informasi ini sangat akurat!" jawab Ubay dengan mantap. Adith berbalik dan kembali kehadapan kepala sekolah dan menatap tajam kearah Ubay. "Dia? dia siapa? Dari mana kau mendapatkan semua informasi itu?" tanya Adith dengan suara dinginnya. Aura menekan Adith membuat Ubay sedikit bergetar namun merasa diri memiliki apa yang tidak dimiliki oleh Adith, dia menjadi tak peduli dan acuh tak acuh. "Untuk apa aku memberitahu informasi ini kepadamu?" tantangnya dengan tatapan penuh keangkuhan. Adith setengah menunduk dihadapan pak Richard lalu dengan cepat dia menarik kerah baju Ubay karena kehilangan kesabaran. "Kalau bukan karena sedang berada didepan pak Richard dan didalam kantor kepala sekolah saat ini, aku bisa saja membuatmu berlutut dihadapanku karena keangkuhanmu ini. Kau tau, tadinya aku berniat untuk mengingatkanmu tapi sepertinya kau sudah tak tertolong lagi." Adith berkata dengan sangat mengintimidasi yang dengan cepat membuat tubuh Ubay cukup bergetar karenanya. Masih dengan gaya sombong dia menepis tangan Adith namun tangan Adith tak bisa lepas dari genggaman kerahnya. Dia berusaha sekali lagi namun kemudian Adith melepaskannya setelah diminta oleh pak Richard. "Akan lebih baik jika kalian bekerja sama dalam melakukan penyelidikan ini, Kau membutuhkan semua kemampuan dan peralatan Adith dan Adith juga membutuhkan semua informasimu!" terang pak Richard berharap keduanya mau bekerja sama. Adith hanya terdiam menekan emosinya yang liar. Sedang Ubay masih bersikeras untuk tidak mau melakukannya jika Adith masih bekerja sama dengan para siswa biasa. "Baiklah terserah pada kalian. Tapi aku ingin bertanya satu hal untuk memastikan kebenaran informasi yang kau berikan ini, dari siapa kamu mendapatkan informasi serinci ini dalam waktu singkat?" kepala sekolah merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Ubay. Ubay terdiam beberapa saat sampai kemudian membuka mulutnya ketika mendapat tatapan tajam dari pak Richard. "Aku tak bisa mengatakannya atau membocorkan informasi mengenai dirinya karena sudah berjanji. Tapi bisa dipastikan bahwa semua informasi ini benar adanya!" jawab Ubay mantap yang bisa dilihat pak Richard bahwa Ubay juga memiliki pendiriannya. Adith larut dalam pikirannya menerka-nerka semua hal yang bisa terjadi dan dari mana semua bermula serta bagaimana mereka mendapatkan informasi serinci itu. "Baiklah, tidak masalah jika kamu tidak bisa memberitahuku. Tapi aku harap kalian semua berhati-hati dalam menangani kasus ini" pinta pak Richard mengingatkan mereka berdua. Setelah selesai keduanya keluar secara bersamaan dengan Adith terus berjalan mantap keluar dari ruang kepala sekolah menuju ke ruang kelasnya. Begitu pula dengan Ubay yang langsung menghilang dari balik tembok. Chapter 192 - Salah Paham "Bagaimana keadaan Ryu sekarang? Kenapa kalian tidak memberitahukan hal sepenting ini pada kami?" Adora langsung menyerbu saat melihat Karin dan Alisya masuk kedalam kelas. Tampak disana semua teman-temannya sudah menatap mereka dengan tatapan khawatir sekaligus kecewa karena baru mengetahui informasi itu dipagi hari dari Rinto. Yogi dan Rinto bahkan sempat beradu tinju karena merasa Rinto tak menganggap Yogi sebagai sahabat dengan mengabaikannya semalam. "Maaf semuanya, bukan maksud kami tidak menghargai kalian... tapi,,,," Melihat wajah mereka membuat Karin langsung bereaksi untuk menjelaskan kepada mereka. "Lalu apa maksud kalian tidak menjelaskan kepada kami mengenai apa yang menimpa Ryu? apa kalian tidak menganggap kami sebagai sahabat atau karena kami orang lemah sehingga kami tidak bisa selalu bersama kalian disaat genting seperti semalam?" ucap Adora dengan nada suara yang penuh kekecewaan. "Aku merasa kalian sudah keterlaluan!" tambah Emi lagi. "Aku tak tau harus berkata apa, tapi kami berhak kecewa jika tidak dilibatkan dalam keadaan seperti ini" Beni juga merasakan kekecewaan yang sama karena Ryu mengalami semua itu setelah balik dari mengantarkan dirinya pulang. "Aku paham akan kekecewaan kalian, tapi kami melakukan semua itu demi kebaikan kalian sendiri. Kami tidak ingin kalian tanpa pikir panjang langsung datang kerumah sakit!" jelas Karin sekali lagi. Alisya masih terdiam mengamati perubahan emosi pada semua teman-temannya mencari kesempatan untuk bisa menjelaskan dengan baik. "Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu disaat seorang sahabat sedang dalam keadaan sekarat???" Feby memandang tajam kepada Karin. "Karena aku tidak ingin lagi ada yang terluka seperti Ryu!!! Aku tak ingin kalian membahayakan diri dengan datang ke rumah sakit saat penjahat nya masih berkeliaran di luar sana." Teriak Karin dengan suara serak. Karin tak mampu lagi membendung perasaanya saat semua teman-temannya memandangnya dengan tatapan menuduh. "Apa yang dikatakan Karin benar, bukan maksud kami tidak mengabarkan tentang Ryu kepada kalian semua, tapi itu semua demi melindungi kalian. Kalian sudah mendengar sendiri bagaimana Ryu yang kalian sendiri tahu bisa melindungi diri namun dengan mudahnya mendapatkan luka tusuk diperutnya. Besar resikonya jika kalian semua juga memaksa diri untuk keluar pada malam hari" terang Alisya berusaha menenangkan mereka semua. "Tapi kami kan..." Adora masih ingin berkata namun dengan cepat dihentikan oleh Aurelia. "Maafkan kami, bukan maksud kami untuk menjudge kalian hanya saja kami ingin kalian tidak membunyikan apapun kepada kami terlebih lagi dalam hal seperti ini" Aurelia merasa bersalah melimpahkan semua kekecewaan mereka pada Alisya dan Karin yang selalu melindungi mereka dengan cara yang lembut. "Aku paham dengan kekecewaan kalian, kami juga minta maaf karena harusnya bisa memberitahu kalian dan memberikan kalian pemahaman. Tapi situasi semalam membuat kami tidak bisa berpikir jernih atau memikirkan hal lain selain keselamatan Ryu!" jawab Karin lagi dengan nada suara yang lebih stabil. Mereka paham betul bagaimana frustasinya Karin dan Alisya karena merasa bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Ryu. Oleh karena itu mereka yang semula merasa penuh akan kekecewaan berubah menjadi rasa bersalah terhadap Karin dan Alisya. "Maafkan kami..." mereka serentak memeluk Karin yang terlihat tertekan dan berusaha menahan air mata. Yogi yang awalnya tak menatap Rinto dan mendiamkannya, setelah mendengar penjelasan Alisya dan Karin, dia akhirnya mengerti dan segera meminta maaf karena sudah memukul Rinto. "Jadi apakah dia sudah sadarkan diri?" tanya Gina setelah perasaannya mulai stabil. "Karena banyak mengeluarkan darah, Ryu belum sadarkan diri sampai saat ini. Tapi melihat kondisinya yang sudah semakin stabil, dia akan segara sadar dalam waktu dekat." Alisya tersenyum melihat mereka yang sedang berpelukan seperti kumpulan teletabies yang menggemaskan. Mendengar ucapan Alisya, mereka langsung bernafas lega berharap Ryu secepatnya bisa sadar kembali. "Lalu bagaimana dengan penyelidikan selanjutnya?" tanya Gani setelah ia berpikir bahwa kemungkinan besar penyelidikan mereka akan dihentikan. "Penyelidikan akan tetap berlanjut namun kami tidak bisa lagi mengikuti sertakan kalian lagi didalamnya. Resiko yang diambil terlalu besar dan sudah berhubungan dengan masalah nyawa. Aku tak ingin kalian terlibat lebih jauh lagi karena ini sudah sangat berbahaya dan diluar batas kemampuan kalian!" Jelas Karin dengan nada suara dan tatapan yang sangat serius. "Aku tau kalian semua ingin membantu kami, tapi jika kalian terlibat maka fokus kami bisa terbagi dan tak bisa menyelesaikan masalah ini dengan benar!" tambah Alisya lagi tak kalah seriusnya. "Tapi bukankah kami bisa membantu dari jauh seperti yang dilakukan oleh Zein?" tanya Emi dengan suara memelas. "Tidak, bahkan keberadaan Zein seperti itu masih akan sangat mudah untuk ditemukan. Apa yang sedang kami hadapi saat ini jauh lebih berbahaya yang bahkan Ryu tak mampu mengatasinya.!" Jawab Alisya lagi dengan mengingatkan mereka akan kondisi Ryu yang mereka tahu seperti apa kemampuannya namun bisa dengan mudah dilumpuhkan. "Apakah tidak ada yang bisa kami lakukan?" tanya Adora sekali lagi. Mereka masih berharap dan mencari cara untuk tetap bisa membantu meski dalam hal sekecil apapun itu. "Adora, kau taukan dengan kehadiran kita disekitar mereka hanya akan membebani mereka dan memperlambat proses penyelidikan mereka. Selain itu keberadaan kita disekitar mereka hanya akan mengundang bahaya yang lebih besar lagi sehingga itu akan berdampak buruk bagi semuanya!" terang Aurelia mengingatkan mereka semua. "Aurelia benar, mungkin saat ini tak ada yang bisa kita lakukan untuk mereka. Tapi kita bisa mendukung mereka dengan tidak membebani mereka. Iya kan?" tambah Beni lagi memberi semangat pada teman-teman mereka. "Ingat, kita masih punya tugas lain yaitu perlombaan tingkat nasional. Mungkin tidak akan banyak membantu, tapi jika kita belajar dengan sungguh-sungguh aku yakin kita bisa membantu mereka nanti dan tidak akan mempermalukan mereka dan juga diri sendiri!" lanjut Yogi yang sudah menjernihkan pikirannya. "Selain itu, masih ada satu hal yang bisa kalian lakukan untuk kami. Kunjungilah Ryu setiap hari dan tidak boleh pulang dimalam hari. Kami mungkin takkan bisa terlalu sering melihatnya di rumah sakit maka dari itu tugas kalian adalah menghiburnya selama kami tak ada. Ryu akan merasa sangat senang jika kalian bisa berada disana menemaninya di rumah sakit yang sangat membosankan itu!" ucap Alisya mengingat jelas bagaimana ia merasa jenuh meski hanya berada sehari saja disana. Kata-kata Alisya membuat mereka tertawa karena memahami apa yang sedang dipikirkan oleh Alisya. Rumah sakit memang menjadi tempat yang paling membosankan bagi para pasien. Sehingga ketika mendapatkan pengunjung, rasa sakit serta bosan seolah menguap diudara. Chapter 193 - 3 Srikandi "Hai, bagaimana dengan yang lain?" tanya Zein saat Karin dan Alisya masuk kedalam kafe bawah tanah. "Mereka semua langsung menuju ke rumah sakit begitu bel pulang berbunyi" jawab Alisya duduk dihadapan Zein yang sedang mengutak atik laptopnya. "Apa kau sudah menjelaskan kepada mereka?" Riyan merujuk pada kesepakatan mereka untuk tidak melibatkan teman-temannya yang lain. "Sudah, awalnya mereka tak terima. Namun setelah aku dan Alisya jelaskan baik-baik, akhirnya mereka bisa memahaminya." jawab Karin tersenyum kecut dengan sifat keras kepala mereka. "Dimana Adith?" tanya Alisya yang tak melihat Adith didalam kate tersebut. "Dia sedang laporan ke kepala sekolah, sebentar lagi dia akan tiba. Seharusnya memang dia sudah berada disini karena terkahir kami menghubunginya, dia berkata sudah menuju kemari." jawab Zein melihat jam ditangannya. Baru saja mereka membicarakannya, Adith masuk dengan wajah masamnya. Zein dan Riyan menatap bingung, tidak biasanya Adith bersikap terlalu jelas mengekspresikan emosinya. "Apa yang terjadi? kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Zein merasa ada yang tidak beres. Melihat ada Alisya dan Karin disana, Adith dengan cepat merubah ekspresinya tepat sesaat sebelum Alisya melihat kearahnya. "Kenapa?" tanya Alisya menatap bergantian Zein dan Adith. "Ada yang harus aku bicarakan dengan kalian!" ucapnya dengan tatapan serius mengambil tempat duduk di samping Alisya. "Apakah ini ada hubungannya dengan Black Falcon?" tanya Riyan mencoba menebak. Karin langsung menatap tajam dan mengerutkan keningnya menoleh ke arah Adith dan Alisya. Alisya hanya terdiam menunggu jawaban Adith. "Melihat ekspresi wajah mu yang serius seperti itu membuat kami berkesimpulan bahwa sepertinya kau mendapatkan informasi yang tak terduga." ucap Zein setelah melihat Adith masih terdiam tak tahu harus memulai dari mana. "Aku bertemu dengan Ubay sewaktu sedang melaporkan Ryu kepada kepala sekolah. Dari mulutnya tanpa sengaja dia membocorkan sebuah informasi yang sangat berguna sekaligus berbahaya untuk Alisya. Aku pada awalnya tak ingin memberitahu mu tentang ini, tapi sepertinya organisasi telah mengirim seseorang untuk mencarimu. Tapi aku belum tahu pasti apa tujuannya, namun yang pasti aku merasakan bahaya yang sangat besar!" jelas Adith setelah menghela beberapa saat untuk menekan emosinya. "Darimana ia mendapatkan informasi itu?" tanya Karin penasaran. Mereka yang bahkan punya sumber informasi yang lebih kuat tak menemukan apapun namun dia dengan mudahnya menemukan informasi sampai sedetail itu. Adith menggeleng pelan dengan ekspresi kecewa. "Aku juga tak tahu, aku bahkan hampir menghajarnya dengan sangat keras namun dia tetap tidak bisa memberikan informasi itu kepadaku karena perjanjian mereka!" terang Adith merasa kesal karena tak mendapatkan apapun. "Aku rasa seseorang yang memberi informasi kepada Ubay adalah orang yang cukup berpengaruh padanya. Dia sengaja memberikan informasi ini untuk memancingku keluar, meski sebenarnya aku tak menyembunyikan diri. Ayahku dan Adith yang berhasil menghapus semua jejak digitalku membuat mereka harus melakukan cara manual seperti ini" jelas Alisya menganalisis informasi yang diberikan oleh Adith. "Apa yang akan kau lakukan? bisa saja ini adalah sebuah jebakan. kita masih belum tahu pasti dari mana dia mendapatkan informasi itu, ini akan sangat berbahaya bagimu!" Karin mencoba mengingatkan Alisya. "Jangan khawatir, aku sudah punya rencana untuk menghadapi mereka. 3 srikandi sadis dirumahku sudah melakukan banyak hal padaku semalam." Alisya berkata sambil meregangkan otot tubuhnya yang kaku dan pegal. "3 Srikandi?" Adith menatap bingung tak paham akan maksud dari perkataan Alisya. "Kakek dan nenek Alisya ditambah Ayah Alisya!" ucap Karin cuek. "Kenapa mereka disebut Srikandi? bukannya itu untuk perempuan? lalu apa yang sudah mereka lakukan padamu?" Tanya Riyan yang mempermasalahkan penyataan Alisya. "Ya ampun Riyan, itu nggak penting tau! Alisya hanya asal menyebut mereka karena neneknya." Karin menepuk jidatnya melihat wajah serius Riyan yang mempermasalahkan hal sepele. "hahahahha, Mereka memberiku beberapa pelatihan untuk membangunkan kembali otot-otot ku yang sudah tertidur tapi yang aku rasakan hanya pegal-pegal saja!" jawab Alisya memegang ototnya yang terasa sakit dan nyilu. "Alisya, kau tau ini sangat berbahaya untukmu kan?" Adith memandang Alisya lekat-lekat. "huuhhh,,, Adith.. kau tenang saja! Aku takkan melakukan sesuatu yang berbahaya yang bisa membuatmu khawatir lagi okeh?" Alisya memegang pipi Adith dengan lembut untuk menenangkannya. Tatapan sendu Adith membuat Alisya tak sadarkan diri dengan apa yang sedang dilakukannya. "Woy!!! Ini lagi serius bukan saatnya pandang pandangan!!!" Karin memutar kursi Alisya dengan sangat kuat. "Good Job!!" ucap Riyan dan Zein secara bersamaan. "Dimana Rinto?" Adith baru sadar kalau mereka hanya berlima saja didalam ruangan itu. "Oh iya benar, aku lupa kalau seharusnya Rinto ikut bersama kita!" Riyan langsung mencoba menghubungi nomor Rinto. "Dia sedang menemani yang lain di rumah sakit, biarkan saja. Dengan dia berada bersama mereka, dia bisa menjaga dan memberikan informasi jika terjadi apapun pada kita!" ucap Alisya cepat menghentikan panggilan Riyan. "Baiklah, kalau begitu bisa kita mulai sekarang?" tanya Karin dengan penuh semangat. Karin benar-benar ingin segera menemukan orang itu secepatnya sebelum ada lagi yang terluka. "Semangat itu bagus, tapi tidakkah kita harus berganti pakaian dulu? terlalu mencolok jika kita keluar dengan pakaian seperti ini." tunjuk Adith pada bajunya dan baju mereka. "Aku lupa kalau kita baru pulang dari sekolah!" Zein tertawa pada dirinya sendiri. Saat mereka akan beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba saja telpon Adith berdering dengan keras. Nama ibu terlihat dilayar handphonenya. "Assalamualaikum ma, ada apa?" ucap Adith lembut. "Loh,, kamu gimana sih nak? bapak dari tadi tuh hubungi kamu terus tapi kamu nggak angkat! Hari ini kan kamu ada rapat, pak Dimas juga tadi kesekolah buat jemput kamu sudah nggak ada. kamu dimana nak?" suara lembut ibunya yang khawatir membuat Adith jadi merasa bersalah. "Ahhh,, maaf ma. Adith lupa! karena bawa motor sendiri Adith jadi nggak ingat sama pak Dimas! Ya sudah Adith hubungi bapak sekarang yah?" setelah berpamitan dengan ibunya Adith dengan cepat menghubungi ayahnya untuk meminta waktu memundurkan rapatnya namun dengan cepat dihentikan oleh Alisya. "Kau taukan perusahaan itu sangat penting bagimu dan bagi ayahmu, kau tidak seharusnya dengan semena-mena menghentikan rapat itu hanya karena urusan pribadi. Pergilah, kami bisa menyelesaikan ini semua sendiri." ucap Alisya berusaha meyakinkan Adith. "Alisya benar, kau adalah seorang pemimpin sekarang. Banyak orang yang berada dalam tanggung jawabmu jadi jangan egois." tambah Karin lagi. "Pergilah, kami akan menyelesaikan beberapa hal mudah saja sambil menunggu kau selesai rapat." lanjut Zein yang membuat Adith tersenyum lalu dengan yakin ia keluar menuju ke perusahaan. Chapter 194 - Yup, benar!!! Adith pergi setelah mendapatkan jemputan dari Pak Dimas. Alisya dan yang lainnya yang harus bekerja tanpa Adith yang sedang melaksanakan rapat sebisa mungkin tak ingin mengganggu fokus Adith dengan memutuskan komunikasi mereka untuk sementara. Mereka bersepakat akan menghubunginya jika memang ada hal penting yang harus mereka laporkan pada Adith, namun Adith bersikeras untuk medapatkan kabar dari Alisya dan melarang Alisya untuk mematikan alat peredamnya. "Pertama, aku akan menemui anak yang semalam diserang untuk bisa mendapatkan informasi lebih lanjut apakah ia melihat ciri-cirinya atau tidak!" ucap Alisya setelah selesai berganti pakain dengan pakaian yang nyaman. Pakaian itu sudah disiapkan mereka sebelumnya demi mempersempit waktu agar tak ada wktu yang terbuang percuma dan meminimalisir korban dengan sebaik mungkin. Target mereka adalah untuk menemukan pelaku secepatnya dan menghentikan pengedaran Narkoba khususnya disekitar mereka. "Sebelum kamu berangkat, Kami juga punya informasi yang sangat penting!" ucap Zein memandang Riyan dan menatap Karin serta Alisya bergantian. "Ada apa?" Alisya melihat ekspresi mereka jauh lebih tegang dari sebelumnya. "Aku sudah menemukan siswa-siswa yang menggunakan Narkoba jenis Flakka ini. Meskipun baru sekali mereka menggunakannya, efek ketergantungannya ternyata sangat kuat sehingga para orang tua mereka langsung memasung mereka dirumahnya dan tak memberikan izin untuk siapapun melihatnya. Mereka menganggap anak itu sebagai aib yang harus disembunyikan sehingga akan sulit bagi kita untuk bisa bertemu dengan mereka." Terang Zein memperlihatkan data siswa-siswa pemakai narkoba. "Tapi aku rasa dengan lisensi sebagai dokter, dia bisa menggunakannya sebagai kedok untuk pemeriksaan dan pengobatan. Meski yah.... kau tentu tau mereka akan sangat sulit untuk di obati, tapi karena mereka baru sekali menggunakan maka masih ada kemungkinan untuk kembali namun tentu saja kau butuh lebih dari sekedar usaha untuk meyakinkan mereka!" tambah Riyan menghela nafas dalam. "Sepertinya aku bisa menduga siapa orang tua mereka!" terang Alisya dengan tersenyum kecut. "Yup, kau benar! mereka adalah para orang tua yang dengan lantang bersih keras bahwa anaknya tidak mungkin menggunakan narkoba. Oleh karena itu orang tua akan sedikit merepotkan." Riyan menjentikkan jarinya membernarkan dugaan Alisya. "Oleh Karena itu, kalian sebaiknya bekerja sama dalam hal ini. Meski aku tau kemampuan kalian, tapi aku merasa akan lebih baik jika kalian memprioritaskan masalah ini." ucap Zein dengan penuh tatapan membara. "Apa maksudmu? kenapa ini menjadi hal yang kau prioritaskan?" tanya Alisya bingung dengan perubahan rencana mendadak mereka. "Awalnya aku tak menduga akan terjadi hal seperti ini, namun setelah kami melihat datanya secara rinci, beberapa siswa yang disekap oleh orang tua mereka ditemukan terbunuh dikamarnya." jawab Zein memperlihatkan foto dari siswa yang tewas. "Pola dan cara pembunuhannya hampir sama dengan yang kita lihat pada komputer milik kepala sekolah, apakah ini...." Karin ingat betul akan gambar dari mayat siswa yang terbunuh lalu dimana jasadnya tersobek-sobek dan organ dalamnya menghilang. "Sekali lagi benar! Dari semua data yang kami temukan, semua mayat ini memiliki kasus yang sama yaitu jasadnya dirobek dan organ dalamnya di ambil. Kalian taukan pembunuh legendaris bernama Jack The Riper?" tanya Riyan memancing ingatan mereka berdua. "Jack The Riper pembunuh berantai yang lebih satu abad tidak diketahui identitasnya sampai saat ini yang nama Riper itu diambil dari kebiasaanya merobek jasad dan mengambil organ tubuhnya?" jawab Karin setengah ragu karena tidak mengingat betul. "Benar dia. Dari situlah kami menduga bahwa orang ini sengaja mengambil kebiasaan dari Jack The Riper yang dia tunjukkan bahwa dia tak mudah untuk ditemukan." jelas Zein mantap. "Bukan hanya itu, dilihat dari semua daftar siswa pemakai narkoba ini, mereka semua meninggal dengan kasus yang sama yang berarti pembunuhnya adalah satu orang yang sama juga. Dan sepertinya dia membunuh mereka satu persatu untuk para siswa ini tidak membocorkan informasi mengenai pada siapa dan dari mana mereka mendapatkan obat-obatan ini sekaligus memancingmu keluar." tambah Riyan lagi. "Untuk itulah kalian meminta kami untuk bekerja sama sampai dimana kami bisa mengetahui siapa dan mengapa serta mengukur kemampuan orang ini karena kita belum mengetahuinya sama sekali dan Karin bisa mencari petunjuk lebih banyak dengan melakukan penelitian pada jasad dari mereka yang meninggal ini" tebak Alisya dengan tatapan datar. "Ironis memang, tapi itulah yang harus kita lakukan demi mendapatkan izin dan bisa mendapatkan bukti lebih banyak lagi dari para siswa yang sudah meninggal itu!" Ucap Riyan dengan wajah yang tak bisa ia ungkapkan sendiri. "Dengan begitu kita juga bisa sedikit meringankan beban orang tua mereka dengan menemukan kebenaran dibalik kematian anak mereka sebab mereka menduga bahwa anak mereka meninggal bukan karena terbunuh melainkan karena bunuh diri. Sebuah aib yang benar-benar sulit untuk diterima setiap orang tua kepada anak yang sangat mereka cintai." terang Zein dengan wajah sedih memikirkan bagaimana perasaan sedih dan sakit orang tua yang kehilangan anaknya. "Baiklah kalau begitu, memang ada baiknya jika kami bekerja secara bersama ketimbang harus terpisah. Sudah cukup bagiku melihat Ryu yang terluka, aku tak ingin ada lagi yang mengalami hal yang sama terlebih jika itu terjadi pada Karin, aku takkan pernah bisa memaafkan diriku sendiri."Alisya memandang Karin dengan mata yang penuh akan kekhawatiran dan kasih sayang yang teramat sangat dalam. "Aku juga sama, aku takkan mampu melihat siapapun lagi terluka. Kali ini aku tau bagaimana perasaan Alisya ketika melihat orang yang kita kasihi dalam keadaan terluka yang cukup parah dan hampir kehilangan nyawanya." tambah Karin lagi memadang Alisya dengan tatapan yang sama. "Sebaiknya kami berangkat sekarang, kami akan memakai motor Adith agar lebih gampang untuk bisa menembus jalan yang sebentar lagi akan macet karena semua orang sudah mulai pulang dari kantor!" Alisya dengan cepat mengajak Karin. Melihat antusias keduanya, Zein dan Riyan hanya bisa tersenyum kecut karena merasa tak bisa melakukan apapun selain mendukung mereka berdua. "Level kemampuan kita memang berada jauh dibawah mereka. Aku sangat mengagumi mereka, tapi tetap saja rasanya hatiku getir saat melihat mereka terlalu jauh untuk aku gapai." ucap Riyan dengan tatapan nanar. "Mari kita berjuang lebi keras lagi untuk melampaui mereka berdua termasuk Adith!" jawab Zein menyemangati Riyan dan dirinya sendiri. Meski kemampuan bertarung mereka tidak dapat diragukan, ketika melihat kemampuan Alisya dan Karin mereka merasa sangat rendah dibandingkan dengan kemampuan keduanya. Bahkan Adith yang sudah banyak mengalami perubahan dan peningkatan kemampuanpun masih belum bisa menyamakan kedudukan mereka dengan Alisya dan Karin. T Chapter 195 - Avamanggala "Apa benar ini tempatnya?" tanya Karin setelah sampai didepan gerbang rumah siswa yang mereka cari. "Benar, jika merujuk pada maps yang ditunjukkan oleh Zein" ucap Alisya setelah melihat kembali maps yang ditunjukkan oleh Zein. "Jangan khawatir, aku sudah mengeceknya beberapa kali dan memang benar itulah alamat rumahnya!" jawab Zein dari balik alat komunikasi mereka. Karin langsung melakukan pemindaian dengan menggunakan kacamatanya untuk melihat apakah ada orang didalam rumah itu atau tidak, melihat keadaan rumah yang sangat sepi dan tak satupun dari pintu jendela rumahnya yang terbuka. Dari hasil pemindaiannya, Karin melihat ada seorang yang sedang berdiri diruang dapur dan seorang lagi terbaring dikasur di lantai 2. "Bukankah harusnya tempat ini masih ramai akan pelayat? kenapa tempat ini sudah sesunyi ini" tanya Alisya bingung melihat suasana sepi dan suram dirumah mewah tersebut. Sudah beberapa kali Alisya menekan bel rumah itu, namun tak ada jawaban dari dalam "Aku ragu jika langsung masuk, sepertinya akan lebih baik jika kita bertanya lebih dahulu kepada tetangga!" Ajak Karin saat Alisya sudah menggedor-gedor beberapa kali namun tak mendapat jawaban. Setelah berkeliling cukup jauh, akhirnya mereka bisa menemukan seorang tetangga tidak jauh dari rumah itu. "Maaf bu, numpang tanya!" ucap Alisya meminta izin kepada seorang ibu-ibu yang sedang mengambil jemurannya. "Iya neng ada apa?" jawabnya dengan begitu ramah. "Ini bu, kami udah beberapa kali nekan bel pintu rumah itu. Tapi tidak mendapat jawaban orangnya kemana yah bu?" tanya Karin dengan suara yang sopan meski ia tau kalau dirumah tersebut memiliki penghuni di dalam rumahnya. "Oh... rumah itu toh dek?? kalau siang gini emang sunyi, mereka juga belum bisa nerima tamu. Biasanya sih nggak gitu, tapi karena malam ada Avamanggala jadi ramenya pas malem aja. Nanti malam baru adek balik aja lagi kerumah itu, mereka pasti bakalan buka pintu kok kalau malam dek." jelasnya dengan senyuman yang terlihat ramah. "Gitu yah bu, kalau boleh tau Avamanggala itu apa yah bu?" tanya Karin tak paham dengan apa yang dikatakan oleh ibu tersebut. "Aduh, kalau itu saya juga kurang tau neng, soalnya ibu biasanya dengar mereka bilangnya gitu." jawabnya lagi dengan ekspresi yang bingung. "Ya sudah bu, terimakasih banyak yah..." Ucap Karin sambil berlalu pergi kembali kemotor mereka berdua. "Avamanggala??? sepertinya aku pernah mendengarnya disuatu tempat. Zein bisa tolong cek apa kepercayaan mereka? maksud aku agama dari siswa itu!" pinta Alisya setelah merasa tidak asing akan apa yang baru saja didengarnya. "Budha Sya, emang ada apa?" tanya Zein bingung tak paham juga. "Ya ampun, kenapa aku tak melihat Altar yang berada disamping rumah itu tadi? Pantes saja aku merasa seolah tidak asing mendengarnya." Alisya memukul jidatnya begitu melihat Altar tidak jauh di samping halam rumah itu, Rumah itu begitu besar dengan halaman yang cukup luas juga dengan banyaknya pepohonan dan bunga-bungaan yang akan terlihat menutupi Altar itu jika dilihat dari arah gerbang rumah. Karena bergaya moderen, Alisya jadi tak menduga kalau mereka adalah keluarga yang beragama Budha. "Emang apa arti dari Ava... Ava apa tadi?" tanya Riyan yang cukup kesulitan menyebutkan namanya. "Avamanggala... Itu artinya adalah kebaktian kedukaan, Bentuknya seperti kebaktian bersama dan ceramah. Pada kebaktian ini, orang-orang akan berkumpul untuk menghibur keluarga yang sedang berduka, melakukan gotong royong ketika memasak, membaca paritta yang merupakan bacaan ajaran Buddha, dan ada yang ceramah soal makna perkabungan. Semua kegiatan ini biasanya dilakukan pada malam hari." Terang Alisya setelah mengingat akan maksud dari kata Avamanggala tersebut. "Oh iya, aku baru ingat juga, biasanya kegiatan wajib mereka lakukan pada hari ke 3, 7, dan hari ke 49. Karena mereka meyakini bahwa arwah yang meninggal masih beredar di bumi selama 49 hari sebelum kealam berikutnya. Ini harusnya ada dalam pelajaran sejarah meski tak dibahas terlalu dalam." jelas Karin menambhakan setelah mendengar penjelasan Alisya. "Aku merasa pahit sekarang, sekolah yang terlalu berpusat kepada nilai dan kemampuan akademik serta persaingannya yang ketat terkadang membuat kita menjadi tak begitu peduli akan orang disekitar kita. Padahal sekolah kita adalah sekolah umum yang terdiri atas beragam agama yang seharusnya untuk hal seperti ini dapat kita ketahui." Riyan menyesali dirinya yang selama ini tak pernah begitu peduli kepada orang lain. Sekolah terketat dan terelit di seluruh Indonesia mengajarkan kepada mereka untuk mendapatkan nilai sempurna dan hanya mementingkan orang-orang yang memiliki IQ yang tinggi dan status sosial yang tinggi juga. Mereka jadi tak peduli terhadap apa dan bagaimana orang lain dan bahkan mereka tidak bergaul dengan benar. "Aku juga sama, tapi Karinlah yang tak pernah berhenti untuk membuka pintu hatiku. Aku merasa masa sekolah kita akan berlalu dengan sia-sia jika kitaa hanya berfokus pada nilai dan status sosial seseorang saja. Kita takkan pernah merasakan indahnya persahabatan, manisnya percintaan dan ketirnya sebuah pertengkaran yang membuat kita semakin mencintai satu sama lainnya." Alisya merasa dunia masih terlalu luas untuk mereka jelajahi jika hanya terpaku dan tidak bersosial dengan baik. Mendengar kata-kata Alisya, mereka semua tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Mereka merasa menjadi orang yang paling jahat karena tak melihat sisi lain dari orang-orang yang berada disekitar mereka. "Jadi? apa yang harus kita lakukan?" tanya Karin mencoba mencairkan suasana. "ehemmm... ada seorang siswa lagi tapi dari sekolah lain namun memiliki kasus yang sama dengan kasus yang sedang kita selidiki, karena dia beragama kristen maka biasanya selama 3 hari dia akan di semayamkan dirumah duka. Aku sudah mencari alamat rumah duka itu dari salah seorang temannya. Aku akan menandainya di mapsmu agar kau bisa mengarah kesana." ucap Zein terbatuk pelan menyadarkan dirinya sendiri. "Tunggu sebentar, jika siswa itu masih berada di rumah duka maka seharusnya kita memakai pakaian duka. Warna bajuku sudah benar, tapi aku memakai celana Jins biru." Karin dengan cepat melihat kepakaiannya yang berbaju kaos hitam di balut kajet hitam namun memakai warna celana Jeasn yang cukup mencolok. "Benar. Aku rasa tidak sopan jika kita kesana memakai celan Jeans seperti ini. Bukannya mendapat simpati dari mereka, kita bisa saja diusir karena berlaku tak sopan". Ucap Alisya melihat ketubuhnya yang memakai pakain khusus untuk berkendara. Tanpa pikir panjang lagi mereka dengan segera menuju ke toko pakaian untuk membeli kemeja dan rok dibawah lutut yang cukup sopan untuk bisa mereka kenakan saat berada dirumah duka. Chapter 196 - La Flaca "Tempatnya berbeda dari yang aku bayangkan!" suara canggung Alisya bergetar saat melihat banyaknya orang berada dalam rumah duka. "Ini seperti kebalikan dari tempat yang kita datangi tadi, disini banyak sekali orang. Atau bisa aku bilang sangat ramai" tambah Karin yang seketika membeku saat berada dihadapan rumah duka yang terlihat sangat ramai akan pelayat. Tampak terlihat ada beberapa kelompok dimana sebelah kanan terlihat suram dan penuh tekanan sedangkan sebelah kiri terlihat sedikit hangat dengan candaan dan tawa. Alisya dan Karin bahkan tak tahu harus bersikap seperti apa. "Apa yang harus kita lakukan? apakah kita akan ke kiri atau ke kanan?" tanya Karin tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Ia berdiri dengan tatapan canggung dan bingung. "A... aku tak tahu!" Alisya seketika gugup. Alisya bukanlah orang yang terbiasa dengan keramaian. Melihat orang yang berlalu lalang dihadapan mereka sudah membuatnya mual. "Oy... apa kalian baik-baik saja?" teriak Riyan menyadarkan mereka. Alisya dan Karin seketika terkejut karena teriakan Riyan yang cukup keras terlebih untuk Alisya yang memiliki telinga yang cukup sensitif. Alisya melepas peredamnya yang tidak berguna karena alat komunikasi mereka terhubung dengan alat peredam yang dimiliki oleh Alisya. "Eh apa? apa? apa???" Karin langsung tersadar dari lamunannya. "Kami sudah memanggil kalian hampir sebanyak 10 kali dan kalian mengabaikan kami dengan bergumam sendiri. Lihat dihadapan kalian ada seorang ibu yang terus mengajak kalian bicara!!!" ucap Zein yang langsung melingkari seorang ibu yang menatap bingung ke arah mereka berdua. "Ahh... maaf bu, sepertinya kami melamun!" terang Alisya langsung menunduk meminta maaf dengan sopan. "Maafkan kami bu..." ucap Karin juga menunduk pelan. "Oh iya, tidak apa-apa, jadi kenapa kalian berdua berdiri didepan pintu masuk dari tadi? kalian menghalangi orang yang ingin keluar dan masuk loh .." ucap ibu itu dengan wajah bingung dengan kelakuan Alisya dan Karin. "Uwaah.. maaf bu, maaf kami tak sengaja melakukannya. Maaf sekali lagi" teriak Karin dan Alisya hampir bersamaan langsung menyingkir dari pintu masuk duka ke sisi ibu itu dengan cepat. "Siapa kalian? sepertinya saya belum pernah melihat kalian disini sebelumnya. Apa kalian teman Bella?" tanya ibu itu dengan tatapan hangat. "Bella?" Alisya memicingkan keningnya. Karin dengan cepat memukul pundak Alisya dengan sangat keras karena Alisya masih belum kembali pada titik fokusnya. "hahahahahah... iya, bu kami teman Be.. Bela!" Karin nyengir kuda dengan canggung. "Aku Alisya" Alisya dengan cepat menyalami tangan ibu Bella dengan lembut. "Dan aku Karin bu" ucap Karin dengan sopan dan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Alisya. "Jadi kalian juga datang melayat? terimakasih karena sudah datang yah.. saya ibu Bella mari duduk disana!" ajak ibu Bella kepada mereka berdua. "Iya bu, terima..." Bahu Karin ditabrak oleh seorang perempuan yang tak dikenalinya. "Maaf..." ucapnya dengan tersenyum tipis dan berlalu pergi. "Ah iya, tidak apa-apa!" jawab Karin cepat. Alisya sejenak memperhatikan perempuan itu yang berjalan dengan begitu anggun. Dari pakaian yang dikenakannya, bisa Alisya nilai bahwa dia tampak berasal dari keluarga terhormat. "Apa kalian sudah makan?" tanya nya dengan ramah kepada Karin dan Alisya yang membuat Karin langsung beralih fokus kepada ibu Bella. "Riyan, kau lihat wajah yang menabrak Karin tadi?" tanya Zein masih penasaran dengan orang yang menabrak Karin sebelumnya. "Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Bahkan saat aku memutarnya beberapa kali, wajahnya juga tidak terlihat jelas karena tertutup oleh Bucket hat hitamnya dan rambut panjangnya." jawan Riyan yang terus memutar ulang rekaman yang mereka dapatkan dari kamera yang berada pada Alisya dan Karin. "Ibu kenal sama cewek yang barusan tadi?" tanya Alisya penasaran. Karin memicingkan matanya melihat Alisya yang sedang bertanya dengan wajah serius. "Oh, yang cewek tadi? Dia bilang kalau dia juga teman Bella. Dan dia kemari untuk mengambil barang yang di pinjam sama Bella. Karena ibu tidak tahu apa itu, jadi ibu suruh saja dia kerumah. Kebetulan dirumah ada Adik Bella, Bryan yang jaga." jawabnya dengan senyuman ramah. "Siapa namanya tante? soalnya kami kok kayak belum mengenalinya. Apa dia bilang barang yang di pinjam sama Bella bu?" tanya Alisya sekali lagi. "Ehemm... Nama Lia, trus barang yang dipijam Bella apa yah tadi dia sebutnya, katanya la Flaca kalau nggak salah" ucap ibu Bella dengan menekan huruf c dengan sangat jelas. "La Flaca???" ucap Karin, Riyan dan Zein hampor bersamaan. "La Flaca (Flakka)" ucap Alisya dengan mengubah pengucapan ca menjadi ka. Seketika wajah mereka menggelap. "Ah.. tante, kami boleh ikut kerumah? kebetulan tujuan kami hampir sama dengan cewek tadi. Bryan sudah mengenali kami kok tante" ucap Alisya cepat namun berusaha untuk tetap tenang. Alisya sengaja mengubah panggilannya kepada ibu Bella untuk mendapatkan simpatinya dan mencoba lebih akrab. "Oh iya, tentu saja. Kalian bisa pergi, tunggu sebentar saya tuliskan alamatnya." Ibu Bella segera mencari kertas dan folpen yang bisa ia gunakan untuk menulis alamat rumahnya. Tidak ingin terburu-buru dan membuat ibu Bella curiga, Alisya dan Karin memilih untuk diam dan menunggu dengan tenang meski sebenarnya mereka bisa meminta ibu Bella menyebutkannya saja. "Nah,, ini Alamatnya. Saya juga sudah menghubungi Bryan kalau kalian akan datang, jadi dia tahu kalau kalian akan kesana." ucap ibu Bella dengan penuh senyuman. "Apa tante menyebut nama kami pada Bryan?" tanya Alisya memastikan karena jika benar maka harusnya Bryan akan kebingungan. "Ah... saya lupa! tapi ibu sudah memberitahu Bryan kalau kalian akan datang." ucapnya lagi dengan nada terkejut. "Tidak apa-apa kok tante.." Alisya tersenyum lega. "Oh iya tante, bisa kami minta no Bryan sekalian? soalnya selama ini kami nggak save no dia!" ucap Alisya dengan nada canggung. "Boleh" Ibu Bella menuliskan nomor Bryan di kertas yang sebelumnya ia berikan. "Terimakasih banyak tante. Kami akan kembali lagi ketika sudah selesai mengambil barang milik kami tante!" ucap Karin cepat dan dengan segera mereka berpamitan kepada ibu Bella. Fikiran Alisya dan Karin tertuju kepada Bryan yang kemungkinan besar kini sedang berada dalam bahaya. Meski mereka tak tahu pasti berapa umur Bryan dari adik Bella, mereka bisa menebak bahwa umur Bryan kemungkinan besar berada pada jenjang sekolah menengah pertama. Mereka dengan segera menuju ketempat yang ditunjukkan oleh ibu Bella. Dengan bantuan Zein, mereka dengan cepat menemukan posisi rumah Bella dari maps yang sudah ditandai oleh Zein. Alisya memacu motornya dengan sangat cepat. Chapter 197 - Bryan Alisya dan Karin dengan cepat menuju ke rumah Ibu Bella seperti yang sudah ditunjukkan pada kertas yang diberikan kepadanya. Berdasarkan maps yang diberikan Zein, mereka juga bisa menemukan jalan yang tidak banyak memiliki lampu merah sehingga mereka dengan mudah dapat menghindari kemacetan. Alisya juga sudah mencoba menghubungi Bryan secara terus menerus namun masih belum mendapatkan jawaban. "Ahhh... sial,,," Alisya memukul setir motornya saat teleponnya masih juga belum terhubung pada Bryan. "Bagaimana?" tanya Karin setengah berteriak ditengah lajunya motor yang dibawa oleh Alisya. Laju motor yang dibawa oleh Alisya saat ini bahkan bisa menyamai laju kecepatan motor pada moto GP jika saja dia tidak harus mengerem mendadak untuk menghindari mobil yang semakin memadat karena sudah semakin sore dan semakin ramai. Jika tidak memakai alat komunikasi di telinganya, Alisya mungkin takkan bisa mendengar suara Karin karena kencangnya angin dan lajunya motor yang ia bawa serta helemnya yang menutupi telinganya. "Dia masih belum mengangkatnya!!!" Jawab Alisya dengan nada frustasi. "Belok kanan!!!" Zein memberikan petunjuk agar Alisya bisa memotong jalan untuk bisa segera berada di rumah Bella. Gerakan refleks Alisya sontak membuat Riyan membelalakkan matanya. "Dia manusia??? ini sudah kayak syuting filem Hollywood saja!" puji Riyan takjub dengan kemampuan Alisya mengendarai motor. "Alisya, aku tau kau sedang terburu-buru. Tapi kau harus berhati-hati. Jika kau mengalami kecelakaan maka takkan ada artinya!" Zein mengingatkan Alisya dengan tegas. Alisya paham maksud dari Zein namun ia memilih untuk bersikap keras kepala mengingat nyawa Bryan dalam bahaya. "Hubungi dia sekali lagi!" pinta Karin setelah jalan menjadi sedikit lebih lengang. "Halo???" suara seorang anak terdengar di ujung telpon. "Halo... Bryan?? Kamu dimana?" Alisya meninggikan suara begitu Bryan menjawab telponnya. Mendengar telpon Alisya sudah terhubung dengan Bryan, Zein bekerja secara cepat untuk melacak lokasi Bryan berada dan menscan denah rumah Bella dengan sangat cepat. "Ya, Halo... Ini dengan siapa?" Ucap Bryan kepada nomor baru yang memanggil di handphone miliknya. "Aku Alisya, ibumu sudah menelpon untuk memberitahukan kedatangan kami bukan? Kamu dimana sekarang?" Ucap Alisya lagi cepat sambil menancap gas saat dari kejauhan melihat waktu digital rambu lalu lintas lampu hijau akan berganti. "Oh iya benar, ibu sudah menghubungi ku tadi. Tapi aku pikir kakak sudah di depan pintu, jadi sekarang aku udah di depan gerbang loh kak." Ucapnya dengan suara cemprengnya yang masih belum menunjukkan tanda-tanda kedewasaan. "Bryan dengarkan kakak yah... Jangan dulu buka gerbangnya, orang di depan..." Alisya berhenti berkata saat mendengar Bryan sudah tidak lagi mendengarkannya berbicara dan terdengar sedang membuka gerbang rumahnya. "Kakak yang namanya kak Alisya?" Tanyanya pada orang yang berada didepan gerbang. Suara Bryan terdengar dari kejauhan dan kemudian telepon mereka tiba-tiba saja terputus setelah pertanyaan dari Bryan. "Halo... Bryan... Haloo... Bryannnn!!!" teriak Alisya memanggil nama Bryan berungkali. "Alisya..." Teriak Karin mengingatkan Alisya untuk menaikkan tarikkan gasnya. Dengan satu tarikan kuat, motor itu tampak mengikis aspan dengan keras dan menggulung jalanan itu dengan udara yang menghambur dari tabrakan kecepatan motor Alisya. Fikiran Alisya dengan cepat terarah pada kepada keselamatan Bryan. Karin hanya berpegang dengan kuat dan memeluk Alisya dengan sangat erat agar tidak terjatuh. Tidak butuh lama mereka sudah berada di rumah Bella. Alisya melihat gerbang rumahnya sudah setengah terbuka yang berarti cewek yang mereka lihat sebelumnya di rumah duka sudah berada di dalam rumah. Karena takut terjadi apa-apa, Alisya meminta Zein untuk menghubungi polisi terdekat di sekitar wilayah tersebut. "Apa yang harus kita lakukan? Aku bahkan tak sempat untuk membawa senjata apapun!" Ucap Karin frustasi karena tak membawa apapun saat ini. "Kalian yakin akan masuk seperti itu? kita tidak tau musuh kita menggunakan senjata, akan sangat berbahaya jika kalian berdua masuk hanya dengan tangan kosong!" Zein mengingatkan mereka berdua yang tak mengira kalau keadaan bisa berubah menjadi se berbahaya itu. "Tidak masalah... apa kamu membawa suntikan kotakmu?" tanya Alisya kepada Karin yang selalu sedia dengan kotak suntiknya yang biasanya ia selipin di bagian pahanya untuk berjaga-jaga kepada kondisi Alisya yang tiba-tiba berubah. "Aku membawanya. Apa yang akan kau lakukan dengan suntikan itu?" tanya Karin merasa curiga dengan rencana Alisya. "Kau taukan jika cairan yang kau suntikkan kedalam tubuhku akan sedikit menghambat energi dalam tubuhku untuk keluar dengan menekan ion nano serta menurunkan adrenalinku!" Alisya berkata sembari perlahan masuk kedalam rumah yang terlihat sunyi. "Ya.." Jawab Karin mengikuti langkah kaki Alisya masuk kedalam rumah dengan penuh waspada. "Cairan itu akan bekerja sebaliknya jika itu ditusukkan kedalam tubuh orang lain yang tidak memiliki ion nano didalam tubuhnya, maka ia akan meningkatkan energi pemakai dan meningkatkan kecepatannya. Dan ini akan baik untukmu meski hanya akan bertahan dalam waktu 15 menit saja!" ucap Alisya yang tanpa disadari oleh Karin, Alisya berhasil meraih suntikan yang sudah berisi cairan itu dan langsung menusukkan cairan itu kepada Karin tanpa memberi Karin kesempatan untuk bereaksi. "Alisya,, kau tau apa yang kau lakukan ini?" tanya Karin dengan tatapan kesal karena Alisya tak memberitahunya terlebih dahulu. Suntikan Alisya yang mendadak sedikit memberikan rasa sakit pada lehernya. "Aku tau kau takkan menggunakannya, tapi ini hanyalah satu-satunya cara agar kau bisa menyelamatkan Bryan dan untuk dia, biar aku yang mengurusnya!" Jawab Alisya dengan tatapan serius meyakinkan Karin. Tatapan Alisya membuat Karin paham seberapa berbahayanya musuh yang sedang mereka hadapi saat ini sehingga begitu ia membuka pintu dan menuju kedalam rumah dapat ia lihat bagaimana Aura Alisya berubah menjadi sangat waspada. "Bryan? kamu dimana? Maaf kak Alisya telat soalnya tadi ibu nyuruh sesuatu!" ucap Alisya untuk mengalihkan perhatian orang yang mungkin sudah menyekap Bryan saat ini. Alisya sengaja memanggil nama Bryan untuk membuat orang itu mengira kalau Alisya dan Bryan sudah saling mengenali satu sama lain sehingga Bryan atau dia akan keluar dari persembunyiannya. "Kak Alisya...." teriak Bryan dari balik tembok yang membuat Karin dengan cepat berlari ke arah datangnya suara. "Karin!!! Jangan itu jebakan..." Alisya dengan cepat menarik Karin dari tempatnya berlari dan secepat kilat sebuah lilitan kawat berduri langsung melesat menghantam Alisya setelah berhasil melempar Karin kearah lain agar tidak terkena kawat berduri tersebut. Alisya langsung terlempar kebelakang dengan tubuh terlilit oleh kawat berduri membuat darahnya mengalirkan darah segar sedang Karin jatuh membentur meja makan dengan sangat kuat. Chapter 198 - Kalian Berdua Hebat "hummm... Ternyata reaksimu cepat juga yah???" ucapnya keluar dengan santai sambil menyeret Bryan yang sudah terikat dengan sedikit darah pada bagian wajahnya. Alisya sempat bingung saat ia berbicara menggunakan bahasa inggris. "Siapa kau? apa yang tujuanmu melakukan semua ini? lepaskan dia." Bentak Karin dengan suara serak menahan sakit akibat benturan yang cukup keras ia rasakan pada meja. "Siapa??? dia dari angkatan berapa? kedua kah? atau ketiga?" Batin Alisya terus mengingat apa yang pernah omega katakan padanya. Jika ternyata yang berada dihadapannya adalah Ophelia dari angkatan kedua, maka Karin dan Bryan sedang dalam masalah sekarang. Dia yang haus akan pertarungan pasti tidak akan perduli terhadap Karin dan Bryan. Tujuannya bukan hanya untuk menemukan Alisya saja, tapi juga untuk bersenang-senang. Namun jika dihadapannya ini adalah Rafaela, maka seharusnya tujuannya hanyalah untuk mendapatkan Alisya saja dan akan memperdulikan Karin dan Bryan. "Sepertinya dari baumu kau adalah orang yang selama ini aku cari-cari. hahahahahaha tak ku sangka kau akan muncul dihadapanku seperti ini,, ahhh ini hebat. Luar biasa!!!" iya tertawa dengan nada yang dingin yang membuat Bryan meronta-ronta ketakutan. Untuk saat ini dia tidak memperdulikan kehadiran Karin dan masih berfokus pada Alisya. "Alisya..." Karin kaget saat menyadari kalau tubuh Alisya sudah terlilit oleh kawat berduri yang cukup tajam. "Karin, ini kesempatanmu untuk menyelamatkan Bryan. Sepertinya dia tidak terlalu memperdulikanmu dan hanya tertarik kepada Alisya. Dia masih belum memprediksi kemampuanmu, dengan begitu bisa kau gunakan untuk menyelamatkan Bryan tepat waktu!" Zein dengan cepat mengingatkan Karin untuk lebih terfokus kepada Bryan terlebih dahulu. "Lepaskan mereka jika aku yang kau incar!" Tegas Alisya menawarkan kesepakatan. "Melepaskan mereka? aku tak melakukan apapun kepada mereka, mereka hanya kebetulan saja berada dalam jangkauan mataku." jawabnya dengan tidak masuk akal. Suaranya yang santai dan tenang membuat Karin dengan cepat berpikir bagaimana ia menyelamatkan Bryan. Fokus Karin saat ini adalah menyelamatkan Bryan terlebih dahulu sedang Alisya, dia tau akan apa yang ia harus lakukan. Dengan satu tolakan yang cukup kuat, Karin melesat cepat menangkap Bryan yang terbaring meronta yang berada tak jauh dari wanita tersebut. "ehhh?? Bagaimana caramu melakukan itu?" wanita itu kaget saat melihat Bryan lepas dari tangannya tanpa ia sadari. Cairan yang disuntikkan oleh Alisya ke leher Karin tampaknya sudah mulai bereaksi dengan sangat cepat sehingga ia bisa mendapatkan Bryan dengan sangat mudah. Bahkan Karin juga tak menduga kalau ia bisa menyelamatkan Bryan dengan sangat cepat. Suatu keberuntungan karena wanita itu tak terlalu memperdulikannya. "Sepertinya aku sudah meremehkanmu!!!" ucapnya lagi dengan nada sinis yang sangat suram namun terdengar santai. "Bawa dia pergi dari sini cepat!!!" teriak Alisya dengan terus berusaha melepaskan diri dari kawat duri yang sedang melilit tubuhnya erat. "Untuk apa kau mengkhawatirkan orang lain? bukankah seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri?" Ia menginjak tangan Alisya yang diatasnya terdapat kawat berduri yang menancap. Alisya tak bersuara dan hanya mengeram dalam diam untuk membuat Karin dengan cepat mengambil keputusan. Melihat Alisya tidak menunjukkan ekspresi apapun, Karin dengan cepat berbalik badan ingin membawa Bryan keluar dari rumah itu. "Uppsss... kau pikir aku akan melepaskanmu?" sebuah kawat berduri dengan cepat menangkap kaki Karin sehingga Karin terjatuh dan melepaskan tubuh Bryan. Bryan langsung terguling menjauh darinya namun masih dalam jangkauannya saat ia berhenti ketika membentur dinding cukup kuat. "Kau tidak apa-apa??" tanya Karin cepat memastikan keadaan Bryan. Bryan langsung mengangguk dengan nafas terengah-engah. Melihat sebuah meja kaca di sampingnya, masih dalam posisi terbaring, Karin berpikir dengan cepat untuk memecahkan kaca itu untuk ia gunakan memutuskan tali yang mengikat Bryan. "Kau bisa mendekat kemari? pelan-pelan saja!" Melihat Karin yang memegang pecahan kaca, Bryan kemudian berguling dan menggeliat mendekati Karin. "Aaahh,, benar... seperti ini... aku suka pemandangan haru seperti ini. Sudah lama aku tak menyaksikan kejadian seperti ini, biasanya ketika manusia sadar tak bisa menyelamatkan orang lain maka dia dengan seketika meninggalkan orang itu dan pergi melarikan diri. Apakah kalian akan melakukannya seperti itu juga?" tanyanya dengan desahan yang tampak sedang mendapatkan kenikmatan yang luar biasa. "Lari cepat,, selamatkan dirimu dulu!" teriak Karin setelah berhasil memutuskan tali yang mengikat erat Bryan. Secara perlahan, wanita itu menarik kaki Karin kearahnya sembari tertawa dengan sangat menakutkan. "Tapi kak...." Meski ketakutan dan menitikkan air mata karena tubuhnya yang bergetar hebat, Bryan tidak ingin meninggalkan mereka disana. "Bodoh!!! kau hanya akan menjadi beban disini, pergilah cepat!!!" Bentak Karin menyadarkan Bryan bahwa tak ada yang dapat ia lakukan jika terus berada disana. Dengan berat hati Bryan langsung berbalik badan menuju pintu keluar untuk menyelamatkan diri. "hahahaahaha,, ya harusnya seperti itu! manusia memang seperti itu. Memiliki kejahatan di dalam dirinya.. Tapi tidak akan seru jika kau lolos begitu saja!" Ia tertawa dengan keras sambil melemparkan kawat berduri lagi kearah Bryan yang sedang berlari. Melihat itu Karin mendorong dadanya menggunakan kedua tangannya agar bisa melompat ke atas dan meraih kawat berduri tersebut dengan tangannya. Meski berdarah, karena ia menghentikan lemparan kawat berduri tersebut Bryan bisa lolos dari sana. "Hebat!!! kalian berdua hebat!!! mengorbankan diri sendiri demi orang lain... aahhhh,, aku sangat menyukainya!!!" desahnya lagi menikmati setiap momen jeritan yang keluar dari mulut Karin saat ia menarik sebelah kakinya yang terkena kawat berduri. "Lepaskan dia!!!" Alisya kesulitan melepaskan kawat duri yang melilit tubuhnya tersebut namun sudah mendapatkan sedikit celah. "Ummmm... bagaimana kalau kita bermain game?" Tanya nya menghentikan tarikan kawatnya pada kaki Karin. "Kau pikir nyawa manusia adalah sebuah permainan? kau hanya mengincarku bukan? lepaskan saja dia!!!" bentak Alisya sekali lagi dengan tatapan tajam. "Oh... aku tak meminta persetujuan mu jadi kau harus mengikuti apa yang aku katakan, jika tidak aku akan membunuhnya dengan segera!" ucapnya lagi langsung menghempaskan kawat durinya ke leher Karin yang sedang berusaha melepaskan kakinya dari kawat berduri itu. Kaki Karin sudah mengeluarkan darah segar karena kawat duri yang menancap cukup dalam sehingga Karin sedikit kesulitan melepaskan lilitan di kakinya. Alisya berpikir keras, ia masih belum tahu tentang permainan apa yang sedang direncanakan oleh wanita ini. Alisya masih belum mengetahui siapa dia, namun bisa di tebak oleh Alisya bahwa wanita dihadapannya saat ini adalah Ophelia. Melihat dari caranya yang sangat menikmati setiap kejadian itu membuat Alisya yakin bahwa dia adalah Ophelia. Chapter 199 - Pergi dari Sini "Baiklah... aku akan mengikuti permainanmu! Apa yang ingin kamu lakukan?" Alisya pasrah akan mengikuti keinginannya agar ia memiliki kesempatan untuk menyelamatkan Karin. "Nah... gitu dong, jadi kita main menyelamatkan teman. caranya adalah aku akan bertarung dengan dia. Tentu saja aku akan menyesuaikan dengan kemampuannya, tetapi kau harus bisa meloloskan diri dari kawat itu secepatnya, karena setiap kali waktu berjalan aku akan meningkatkan kekuatanku. Cepat loloskan diri dan selamatkan sahabatmu, jika tidak kau yang akan menyesalinya sendiri." ucapnya dengan melemaskan lilitan kawat pada leher dan kaki kari sehingga Karin dengan cepat melepas lilitan itu darinya. Alisya sudah menduga kalau permainan yang ingin dimainkannya pasti akan berhubungan dengan nyawa karena Ophelia sangat menyukai pertarungan nyawa. Akan tetapi jika dia tidak melakukannya maka hal yang lebih buruk juga tetap akan terjadi. Setidaknya dengan caranya dia masih punya kesempatan. "Siap... Mulai" ucapnya memberi aba-aba pada saat Karin baru saja berdiri dari tempat duduknya. Ia melesat dengan cepat melayangkan satu hantaman lurus menggunakan pisaunya yang mengenai bahu Karin yang belum sempat menghindar. Kakinya yang terluka menjadi penghambat gerakannya. "Apa yang harus kita lakukan? kita sudah tak bisa melihat semuanya karena wanita itu menghancurkan alat yang ada pada Karin. Kacamata keduanya juga sudah lepas dan dihancurkan sehingga kita tak bisa menyaksikan semuanya!" Ucap Riyan panik saat sambungan mereka terputus namun masih bisa mendengar jeritan mereka dari alat peredam yang berada ditelinga Alisya. "Kita tak punya jalan lain. Aku sudah melaporkan pada polisi tapi mereka hanya mengirimkan dua orang disana. Itu tidak akan cukup, mereka malah berpikir aku sedang mengirimkan panggilan main-main. Kita harus menghubungi Ayah Alisya dan juga Adith." ucap Zein cepat mengingat Alisya dan Karin sudah berada dalam bahaya. "Bergeraklah cepat, loloskan dirimu dan selamatkan temanmu." ucapnya lagi yang kemudian maju melayangkan sebuah tendangan yang masih bisa ditepis oleh Karin. Alisya sudah mulai bisa melonggarkan tali kawat duri yang melilit tubuhnya, namun masih tergolong lambat karena kawat itu cukup menancap dalam disekitar tubuhnya. "Ah...." sebuah hantaman keras mengenai dada Karin. Meski ia terus berusaha menghindari semua tinju dan tendangan yang dilayangkan kepadanya, gerakannya tetap saja terlambat untuk bisa menghindar. Ophelia bukanlah lawan yang mudah bagi Karin. "Kau bertahan lebih lama dari yang ku duga, kalau begitu saatnya menaikkan seranganku!" ucapnya menatap Karin dengan penuh semangat. Kali ini ia melesat lebih cepat dari sebelumnya dengan segera melangkah kesana kemari dengan kecepatan tinggi menyayat-nyayat tubuh Karin sedikit demi sedikit. Gerakannya sangat cepat untuk bisa di ikuti oleh Karin sehingga ia susah untuk menghindari setiap hujaman pisau yang mengarah pada dirinya. "Satu..." hitungnya sambil menghujamkan Pisau Belatinya tersebut ke tubuh Karin dengan sangat cepat namun masih dihindari oleh Karin dengan baik. Alisya juga mempercepat gerakannya saat melihat Karin yang masih bisa menghindar sehingga secara perlahan kawat duri itu lepas dari bagian tangannya. "Dua..." Ia melesat lagi cepat disamping kanan Karin dan Pisau belatinya menghujam di paha Karin dan langsung merobek pahanya cukup dalam. Karin langsung bertekuk sebelah kaki karena merasakan sakit. "Tiga..." sebuah hantaman yang cukup keras kembali mengenai perutnya dan menyobek baju serta perut Karin. Bajunya cukup tebal sehingga hanya memberi kikisan yang cukup tipis. "Empat... hahahahah!" ia mulai tertawa saat melihat Karin sudah semakin banyak mengalami luka-luka namun tak menghindar dan tak menjerit lagi seperti sebelumnya untuk membuat Alisya fokus meloloskan diri. "Aku suka, ini sangat luar biasa! bahkan dia tak bergeming dan membiarkan tubuhnya tersayat-sayat agar kamu bisa meloloskan diri secepat mungkin. Ahh,, indah.. indah sekali. Daras segar itu terlihat indah sekali!!!" ucapnya yang dengan satu tendangan kuat Karin terlempar membentur dinding dengan sangat keras. "Polisi... hentikan dan angkat tanganmu!!!" ucap nya sembari menodongkan senjatanya ke arah Ophelia. "Pergi dari sini!!!!" teriak Karin berusaha mengingatkan polisi itu namun Ophelia bergerak terlalu cepat sehingga tanpa disadari oleh polisi itu, Ophelia sudah berdiri dibelakangnya dan lehernya sudah tersayat memancarkan darah yang segar. "Aku tak suka ada yang mengganggu kesenanganku" ucapnya saat beberapa mobil polisi tampak sudah mulai berkumpul di depan rumah Bela dengan sangat cepat. "Kau terlalu lambat, kau membuat semuanya jadi terlihat membosankan. Sepertinya sudah saatnya membunuh sahabatmu ini yah..." ia melangkah perlahan menghampiri Karin yang sudah tak mampu bergerak lagi. Karin berusaha menjauh dari Ophelia dengan menyeret tubuhnya. Saat Ophelia sudah melewati Alisya, kawat duri itu terlilit cukup kuat pada bagian kakinya sehingga Alisya cukup kesulitan melepasnya. "Akkkhhh,,,," Ophelia sudah menjambak rambut Karin dengan sangat kasar dan menaruh pisau belatinya pada leher Karin. Karin terbatuk-batuk saat jambakan Ophelia semakin memperlihatkan lehernya yang mulus. Ophelia sengaja mengarahkan leher Karin dihadapan Alisya untuk membiarkan Alisya melihat Ophelia menyayat leher Karin. Karin meneteskan air matanya melihat Alisya yang sudah berteriak keras melepas dengan kasar kawat yang menancap di kakinya tersebut saat ia sekilas melirik ke arah Karin. "Aahhh,, sebuah persahabatan yang sangat indah. Tapi semuanya harus berhenti sampai disini dulu." Ophelia langsung menguatkan sayatannya yang membuat leher Karin tampak sedikit mengeluarkan sedikit darah. Dengan tersenyum senang ia mulai menggores leher Karin dari arah samping lalu tiba-tiba saja ia terhantam dengan keras melayang membentur dinding tembok dengan sangat kuat. Hantaman itu meretakkan tulang rusuk serta dinding disekitarnya berdiri. "Alisya..." ucap Karin dengan pelipis yang sudah berdarah menutup sebelah matanya sembari memegang lehernya yang sudah tersayat tipis namun tidak terlalu dalam. Alisya berdiri dengan menatap tajam ke arah Ophelia. Energi tubuh Alisya keluar dengan begitu dahsyatnya membuat tekanan udara disekitar tubuhnya berhembus kuat menyelimuti tubuhnya. "Alisya... jangan biarkan ion nano itu mengambil alih tubuhmu! Sadarlah Alisya..." Karin ingat bagaimana ion nano yang berhasil menguasai tubuh Alisya membuat Alisya menjadi sangat mengerikan dengan kecepatan, kekuatan dan keahliannya semakin bertambah besar namun membuat Alisya menjadi tak sadarkan diri dan bisa membunuh siapapun yang berada dekat dengannya. Alisya tak mendengar ucapan Karin, ia perlahan maju dan membuang dengan kasar kawat duri yang melilit kakinya tadi. Karin bisa melihat bagaimana Kaki dan tubuh Alisya yang penuh akan sayatan lebih banyak dari pada tubuhnya mengalirkan darah yang membanjiri lantai. Ion nano ditubuhnya terlihat menutupi luka-luka ditubuh Alisya dengan membentuk benang-benang fibrin yang tampak jelas di mata Karin. Amarah Alisya sepertinya membuat ion nano ditubuhnya berevolusi dengan sangat cepat membuat tubuh Alisya tak merasakan sakit lagi. Chapter 200 - Mutan Pembunuh "Uhukkkk..." Ophelia terbatuk dengan sangat keras karena benturan itu. Namun matanya memancarkan sinar kenikmatan yang tiada tara. Ia tertawa terbahak-bahak seolah telah berhasil mencapai sesuatu. "Bagus, Bagussss.. ini yang aku mau. Mari kita mulai pertarungan yang sebenarnya." Ophelia langsung melayangkan tendangan dengan sangat keras ke arah Alisya yang membuat Alisya terlempar dengan sangat kuat menghancurkan lemari kaca yang berada tak jauh dari sana. " Alisya....hhhhh" Teriak karin saat melihat Alisya jatuh terungkur dengan pecahan kaca yang berjatuhan menimpa dirinya. "Sepertinya kekuatanmu sedang tertidur. Apa yang mereka lakukan padamu sehingga Ion nano ditubuhmu tak memancarkan energinya dengan baik? semua energimu kacau balau. Alirannya terihat menekan pembuluh darahmu dengan sangat kuat seolah sedang mendorong keluar dan terus berusaha menghancurkan apa yang sedang menghambatnya sekarang. Luka luar takkan membuatmu merasakan sakit, tapi revolusi ion nano ditubuhmu memberikan efek seribu jarum menusuk seluruh inci tubuhmu." Ia menghampiri Alisya yang sudah bergeser dengan setengah posisi bediri. Tak memberi kesempatan kepada Alisya, Ophelia dengan cepat melancarkan serangannya lagi. Ia melompat menghampiri Alisya dan dengan kuat ia melayangkan tendangan kebawah membuat Alisya dengan keras membentur ke lantai. Alisya terbatuk berusaha bangkit dan melayangkan pukulan dan tendangan ke arah Ophelia namun tidak memberikan dampak yang cukup kuat. "Pukulan mu lemah, tendanganmu tak bertenaga dan tubuhmu bergetar. Apakah tadi hanya sebuah kebetulan saja?" tanya nya sembari terus menghujam tubuh Alisya dengan tendangan dan pukulan yang cukup kuat. "Jangan lupakan aku!!!" Karin berhasil melayangkan sebuah tendangan yang dengan kuat mengarah ke kepala Ophelia yang membuatnya sedikit terlempar dan menjauh dari Alisya. "Ah... kalian benar-benar membuatku muak!!" bentaknya sembari meludahkan darah akibat dari tendangan Karin yang cukup kuat. "Alisya sadarlah...." Karin duduk bertekuk memegang wajah Alisya yang sedang memberontak melawan dirinya sendiri. Karin tau Alisya masih berusaha keras melawan peredaran energi nano dalam tubuhnya namun kesadarannya perlahan menghilang yang terlihat tubuhnya mulai memperlihatkan perubahan pada bagian kulitnya. Karin tak tau pasti perubahan apa yang akan terjadi namun ia ingat betul Alisya pernah berkata bahwa nano dalam tubuh mereka yang tak terkendali akan membuat mereka berubah menjadi Mutan pembunuh. Karin mencoba mengambil suntikan cairan penenang Alisya namun sudah tak berada di pahanya. Karin tak menyadari kalau kotak suntikan itu sudah tak berada disana. Seingat dia, Alisya hanya mengambil satu buah yang berarti masih ada dua buah lagi. Karin melihat kesekelilingnya namun tak melihat apapun disana. "Kau mencari ini??? jadi ini cairan yang kalian gunakan untuk menghambat ion nano ditubuhnya?" Ophelia memegang dua buah suntikan yang sedang dicarinya lalu menghancurkannya hanya dengan menggunakan tangannya. "Arrgggghhhhh....." teriak Alisya saat tubuhnya semakin bergetar hebat tak terkendali. Karin tak tahu apa yang sedang terjadi karena belum pernah ia melihat Alisya seperti ini sebelumnya. "Alisya,,,, kau.... Bruuuakkkkk!!! Karin terlempar sangat keras karena tendangan Ophelia yang berhasil mendarat dipinggangnya mematahkan 3 tulang rusuk palsu milik Karin. "Ini akan lebih baik dari pada suntikan yang sebelumnya!!!" Ophelia menancapkan suntikan dengan cairan berwarna biru menyala keleher Alisya dengan kasar. Alisya berteriak meradang berguling-guling dengan tubuhnya memancarkan uap panas. Ia berteriak cukup keras saat cairan itu perlahan menjalar masuk kedalam tubuhnya. "A,,, pa yang sudah kau la.. kukan pada nya??" Karin terbata-bata berusaha bangkit dari tempatnya. "Aku memberinya suntikan anti nano yang akan memakan tiap inci nano didalam tubuhnya yang kemudian anti nano ini akan menembus membran otaknya dan meracuni jantung serta otaknya dan memacu aktifitas sel dalam tubuhnya yang kemudian dapat membuat tubuhnya menjadi.. BOOM!!!" Ophelia melebarkan tangannya yang membuat Karin paham bahwa maksudnya adalah tubuh Alisya akan meledak dan tercerai berai. Saat ia sedang bercerita dan mendekat kearah Karin, beberapa kendaraan terdengar berhenti disekitar rumah Bella. "Aku sudah cukup membuang banyak waktu. Sepertinya akan banyak orang berkumpul sebentar lagi, Pembantaian akan segera dimulai." ia tersenyum dengan sangat menakutkan yang membuat Karin merinding membayangkan apa yang sedang dipikirkan oleh Ophelia. "Berhenti!!!" teriak seorang polisi yang berhasil masuk kedalam rumah Bella yang langsung melesatkan tembakannya kearah Ophelia. Ophelia mampu menghindarinya dengan cepat dan melayang ke arah Polisi tersebut dan langsung memutar lehernya. Melihat ada lagi yang masuk, dia dengan cepat menendang tangan polisi lain yang baru saja melewati pintu masuk dan mematahkan tangannya dan menendang tubuhnya dengan keras. Melihat anggotanya berhasil dilumpuhkan, mereka langsung melayangkan banyak tembakan menembus pintu dan dinding kaca dari rumah Bella. Tembakan mereka tak terarah dan memecahkan semua barang yang berada didalam rumah bela. Karin cukup kesulitan menghindari setiap tembakan yang tak tentu arah masuk kedalam rumah Bella, untunglah ia masih sempat membuang diri kearah dapur dan bersembunyi di balik meja tembok. Karin sekilas melirik Alisya yang dalam keadaan meronta-ronta tak terkendali, untunglah posisinya yang terbaring membuat dia tidak terkena tembakan. Rumah Bella seketika berubah menjadi area pertempuran yang membuat warga sekitar cukup panik. "Tahan tembakan kalian, didalam masih ada masyarakat sipil. Mereka bisa terkena tembakan sembrono kalian!" teriak Ayah alisya yang baru saja datang karena kemacetan dan kerumunan yang membuatnya tak bisa menembus dengan cepat. Melihat komandan tertinggi datang, mereka dengan cepat menghentikan tembakan mereka. "Lesham!!!" nenek Alisya berteriak keras ke arah Ayah Alisya agar bisa mendapat akses masuk. Ia datang bersama kakek Alisya dan Riyan, Rinto serta Zein. "Biarkan mereka masuk!!!" Teriak ayah Alisya kepada anggotanya yang sedang berjaga pada Garis Polisi. "Bagaimana keadaan didalam sana?" tanyanya begitu sampai dihadapan ayah Alisya sedang Zein langsung membuka laptopnya dan mengirimkan drone yang dikendalikan oleh Riyan serta robot tikusnya yang dikendalikan oleh Rinto kedalam rumah Bella. "Aku juga tidak tau bu, begitu aku datang keadaanya sudah sekacau ini. Aku juga tak bisa memastika bagaimana keadaan Karin dan Alisya didalam." ayah Alisya menatap penuh rasa khawatir ke arah rumah Bella. "Bagaimana?" Tanya riyan yang tak bisa melihat dengan jelas dari pengendali Drone yang ia pegang. "Arahkan lebih dekat lagi ke jendela rumahnya!!!" pinta Zein cepat ketika tak bisa melihat dengan jelas karena asap yang ditimbulkan dari bekas hujaman tembakan yang bertubi-tubi dirumah Bella. Riyan dengan segera mengarahkan dronenya lebih dekat ke arah jendela rumah Bella namun baru saja ia terlihat sudah berada posisi yang pas, drone miliknya tiba-tiba meledak dan rusak. Hal yang sama yang terjadi pada robot yang dikendalikan oleh Rinto yang rusak satu-persatu. Chapter 201 - Keluarlah Cepat! "Booommhhh,,,, braaakkkk!! Prang... Tssssss" sebuah ledakan besar terdengar dari dalam rumah Bela bersamaan dengan hembusan angin yang sangat kencang. "Apa yang sedang terjadi di dalam?" tanya Kakek Alisya dengan suara yang bergetar. Ia tak menduga kalau ledakkan angin sebesar itu terjadi di dalam sana. "Alisya,,," nenek Alisya langsung berlari mengambil senapan jarak jauh SPR-3 dimana varian SPR-3 memiliki sistem penglihatan teleskopik 10x5, dengan penglihatan malam yang mampu membuat nenek Alisya bisa melihat pada rumah Bella yang mulai tampak gelap karena matahari sudah mulai terbenam. Dari situ dia bisa melihat kalau Alisya sedang tertunduk tak bergerak. Namun dengan jelas bisa melihat Alisya bernafas terengah-engah akibat ledakkan energinya yang cukup besar. Neneknya khawatir dengan perubahan tubuh Alisya yang terlihat volume otonya sedikit membesar. "Alisya... kau baik-baik saja???" tanya Karin berusaha bangkit dari tempatnya berlindung. Karin tidak melihat Ophelia disana, ia mungkin terlempar cukup keras saat energi dari Alisya meledak cukup kuat keluar dari tubuhnya. Melihat itu Karin sangat khawatir dan berusaha untuk mendekatkan diri memastika bagaimana kondisi Alisya saat ini. Karin bisa melihat uap tubuh Alisya yang cukup panas keluar dari tubuhnya dengan mengeluarkan bunyi desiran yang perlahan menghilang bagai uap di udara. Alisya kemudian mengeram dengan sangat keras yang memekakkan telinga membuat semua orang dan yang lainnya yang berada diluar rumah mereka menekan telinga mereka karena lengkingan suara Alisya. Hal yang sama dengan juga dirasakan oleh Karin yang berada sangat dekat dengan Alisya. "Apa? bagaimana bisa? kenapa kau tidak meledak? dan apa-apan dengan energi mu itu? kenapa semakin membesar?" Ophelia keluar dari runtuhan sembari memegang batang besi yang cukup besar. Dia tak menyangka bawa suntikan anti nano yang seharusnya menghancurkan tubuh Alisya saat ini malah berefek sebaliknya. "Kau..." Alisya menatap marah kearah Ophelia. Kemarahan Alisya dikarenakan sikap Ophelia saat ia dengan santainya menggerek leher Karin di depan matanya secara langsung. Dalam ingatan Alisya, Karin sudah tidak bisa ia selamatkan sehingga begitu melihat Ophelia kemarahannya sudah tak tertahankan lagi. Karin tidak bisa keluar dari tempatnya bersembunyi karena kepalanya masih bergetar dengan hebat dan telinganya sakit akibat lengkingan suara teriakan Alisya. Karin oleng dan berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya. Meski terseok-seok, Karin tetap berusaha menggeser tubuhnya untuk memperlihatkan dirinya kepada Alisya bahwa dirinya masih baik-baik saja. "Sepertinya aku harus membunuhmu sekarang! Jika tidak kau hanya akan memberikan kesulitan padaku kedepannya." Ophelia melesat maju dengan melayangkan batang besinya ke arah Alisya. Alisya dengan cepat menghindar memegang tangan Ophelia dan memutar tangan Ophelia bersamaan dengan memutar tubuhnya sendiri lalu dengan satu hantaman keras dia memukul tangan Ophelia yang menghempaskan besi ditangannya. Alisya kemudian menaikkan pukulan yang sangat keras ke kepala Ophelia dan melompat memberikan tendangan memutar ke kepala Ophelia lagi sehingga Ophelia terlempar membentur meja dan menggesernya ke arah dinding. Melihat besi di lantai, Alisya menendang ujungnya sehingga terangkat keatas lalu menaikkan tendangannya lagi pada besi tersebut yang melayang langsung menancap kuat di bahu Ophelia. Ophelia dengan cepat berusaha mencabut besi itu sekuat tenaga dan melemparkannya kembali ke arah Alisya yang bisa menepisnya dengan mudah menggunakan tangannya. Ophelia bangkit dengan susah payah namun Alisya sudah melesat melompat di atas meja yang membuat pot bunga yang sudah dalam posisi terbaring itu terangkat ke atas. Alisya langsung menendang pot bunga itu hingga mengenai wajah Ophelia dengan sangat keras. Ophelia terdorong ke belakang namun kemudian dengan cepat melayangkan tendangan ke kaki Alisya yang berada di atas meja. Alisya terjatuh lalu kemudian Ophelia langsung mengambil kesempatan menendang perut Alisya dengan sangat kuat sehingga Alisya terlempar membentur dinding yang kemudian rubuh menimpa Alisya. Alisya berusaha bangkit dan Ophelia dengan cepat melemparkan kursi ke arah Alisya dan Alisya masih bisa menepis dengan menendang kursi yang dilempar tersebut namun kemudian Ophelia melompat bersama tepat dibelakang kursi dan melayangkan tendangan lututnya ke leher Alisya. Alisya kembali ditimpa oleh reruntuhan batu dinding itu. "Karin, kau baik-baik saja???" Adith masuk melalui jedela rumah Bella yang sudah hancur berantakan. "Kenapa kau masuk kesini? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Karin dengan susah payah begitu melihat Adith yang berada dihadapannya. Adith yang melihat tanda vital yang ia sematkan pada alat peredam Alisya mengalami perubahan yang sangat tinggi hingga mencapai nagka 125% membuatnya panik dan langsung meninggalkan rapat yang sementara berlangsung setelah meminta Izin kepada ayahnya. Untunglah saat itu Adith telah menyelesaikan tugasnya sebagai CEO dalam rapat sehingga Ayah Adit tanpa ragu langsung mengizinkan Adith pergi. "Maaf karena aku terlambat, aku...." Adith berusaha menjelaskan situasinya. "Bodoh!!!! Bukan itu masalahnya sekarang, kau bisa dalam bahaya jika masuk kesini disaat seperti ini. Keluarlah cepat!" Karin mendorong Adith dengan sisa tenaganya untuk membuat Adith sadar bahwa keadaan ini sudah sangat berbahaya baginya dan bagi mereka berdua. "Tidak, aku takkan pergi dari sini. Apa yang terjadi? dimana Alisya??? Untuk saat ini sepertinya aku harus menyelamatakanmu terekbih dahulu, lukamu cukup parah!" Adith tetap ngotot untuk berada disana dan malah sedang menanyakan tentang kebradaan Alisya. "Tidak,,,, pergilah sebelum..." Karin masih terus mencoba untuk mengusir Adith namun terlambat. "Ohh... ada penyusup rupanya?" Ophelia datang menghampiri mereka berdua dengan duduk di atas meja dapur. Karin sangat kaget melihat Ophelia saat Adith masih berada disana. Ophelia langsung melayangkan tendangan ke dada Adith yang masih bisa dihindari Adith dengan cepat. Melihat Adith diserang oleh Ophelia, nenek Alisya melakukan perlindungan dari jauh dengan melesatkan tembakannya dari atas atap rumah warga yang berhadapan dengan rumah Bella. Ophelia yang kaget masih bisa menghindari tembakan dari nenek Alisya. "wah,,, wah,,, ternyata kau berani masuk setelah memiliki banyak dukungan dari luar ternyata!" ucap Ophelia sembari bersembunyi dari jarak pandang nenek Alisya. "Dimana Alisya? apa yang sudah kau lakukan padanya?" Adith bertanya dengan tatapan tajam ke arah Ophelia. "Dari tadi wanita disana itu terus memanggilnya dengan nama yang sama. Jadi namanya Alisya? wah... aku kira kalian akan memanggilnya Alpha!" Pandangnya ke arah bagian tubuh Alisya yang tertimbun oleh reruntuhan. "Alisya...." Teriak Adith melihat tubuh Alisya yang tertimbun. Adith dengan cepat menuju ke arah Alisya bersamaan dengan Ophelia yang ingin menghentikan Adith namun langkahnya tertahan karena nenek Alisya berhasil melesatkan tembakannya beberapa kali untuk menghentikan Ophelia. Chapter 202 - Alisya Hentikan!!! "Alisya!!!" panggil Adith lagi dengan keras sambil menarik tubuh Alisya dan menyingkirkan reruntuhan yang menimbunnya. Ophelia yang melihat Adith sedang berusaha menyadarkan Alisya lagi dengan cepat melayang dan berguling menghindari tembakan nenek Alisya dan berhasil selangkah mendekati mereka berdua. "Alisya.. Alisya!!! Sadarlah Alisya...." panggil Adith sambil menguncang-guncang tubuh Alisya dan menampar pelan pipi Alisya. Meski melihat perubahan cukup besar pada tubuh Alisya yang terasa sangat panas ditangannya, Adith tetap tidak melepaskan Alisya dan mendekapnya erat. Ophelia melompat dan melayang langsung mendaratkan tendangan berputar ke tubuh Adith sehingga Adith terlempar cukup kuat menjauh dari tubuh Alisya yang berguling jatuh kelantai. "Jika yang disana adalah Sahabatnya, maka melihat dari reaksimu kepadanya dan tatapan sendumu itu berarti dia adalah kekasihmu? waahhh.... ini luar biasa! Aku bisa membunuh kekasih sekaligus sahabatnya secara bersamaan!" mendengar Ophelia yang tertawa saat menyebut akan membunuh keduanya membuat Alisya sadar dan bangkit yang kemudian langsung mendaratkan tendangan yang sangat keras melempar Ophelia menjauh dari Adith. "Alisya kau tidak apa-apa?" Adith berusaha medekati Alisya yang sedang membelakanginya sekarang. Karena kaget Alisya langsung memukul Adith dengan kuat yang membuat Adith jatuh berguling didekat Karin. "Adith, dia sudah kehilangan kesadarannya. Sulit baginya untuk kembali maka dari itu dia akan menghantam siapapun yang dilihatnya dan Alisya merasakan ancaman yang sangat besar dari Ophelia untuk itulah Alisya terus saja menyerangnya saat ini." Karin bersuara dengan lirih. Tubuhnya sudah tidak bisa ia gerakkan dengan lebih leluasa karena semua luka yang sudah dideritanya. "Apa kalian baik-baik saja?" Ayah Alisya masuk dengan cepat menghampiri Adith dan Karin sedang beberapa pasukan khusus lainnya sudah mengelilingi seluruh rumah Bella. "Om... tolong bawa Karin keluar dari sini dulu, dia butuh pertolongan. Kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan saat ini" pinta Adith dengan setengah terbatuk pelan menahan sakit akibat pukulan dari ALisya dan tendangan dari Ophelia. Tanpa pikir panjang, Ayah Alisya langsung memerintahkan 1 orang anggotanya untuk menyelamatkan Karin terlebih dahulu. Dengan cekatan ia langsung menggendong Karin dan mengangkatnya pergi dari sana. "Kau juga sebaiknya keluar dari sini, biar kami yang mengatasinya!" ucap Ayah Alisya mengingatkan Adith untuk tidak memaksakan dirinya. "Tidak Om, Karin bilang ALisya saat ini sudah tidak bisa mengendalikan diri, jika seperti ini maka pasukan Om saja tidak akan cukup untuk mengalahkan dia yang seperti itu saat ini." Terang Adith menjelaskan situasi yang sudah dikatakan oleh Adith. "Aku tau, tapi dengan adanya kamu disini, justru akan membuat kondisi Alisya lebih parah lagi" tegas ayah Alisya sambil memegang pundak Adith untuk menenagkannya. Tepat saat itu Alisya dan Ophelia sudah saling bertempur dengan sangat dahsyat. Ophelia menaikkan pukulan dan tedangan sambil terus tertawa terbahak-bahak menikmati pertarungannya dengan Alisya, sedang ALisya menatap dengan penuh kebencian dan kemarahan yang sangat besar. Setiap kali dentuman pertempuran mereka terjadi, tekanan energi yang mereka berdua keluarkan dengan seketika membuat udara disekitar mereka melesat menekan semua yang berada disekitar sana kesulitan untuk melihat semua pertempuran mereka. Alisya mendarat dengan posisi tangan dan kaki mengikis lantai dengan kasar begitu pula yang terjadi pada Ophelia. Begitu melihat Ophelia menjauh dari Alisya, ayah Alisya memberi tanda untuk menyerang Ophelia. Tembakan yang mengarah padanya dengan mudah ia tepis menggunakan batang besi yang tak jauh dari dirinya lalu berlari kesana kemari mengindari setiap hujaman tembakan itu dan menghampiri mereka satu persatu dan melumpuhkannya. Alisya yang dipenuhi oleh amarah juga membuatnya dengan cepat berlari menghamipir Ophelia yang kemudian menghindar dengan cepat dan melemparkan sebilah besi dengan tendangannya. Besi itu menancap dalam dipaha kiri Alisya. Melihat itu Adith dengan wajah khawatir menghampiri Alisya saat Ophelia sudah siap mendaratkan tendangannya yang malah mengenai tubuh Adith sehingga mereka terpental bersama Alisya. Melihat Adith yang jatuh trseungkur dihapannya, Alisya sejenak tersadar dan mendekap tubuh Adith dengan erat. "Adith???" panggil Alisya dengan lembut. "Alisya.. kau sudah... uhukkkk uhukkk!!!" Adith memuntahkan darah di paha Alisya yang membuat Alisya membelalakkan matanya melihat keadaan Adith yang seperti itu. Seketika saja energi Alisya semakin bertambah besar menekan seluruh tubuhnya dengan sangat hebat. Alisya berteria sekali lagi dan melesat langsung menerjang Ophelia melayangkan pukulan secara beruntun dan tendangannya yang setiap hantaman menhasilkan dentuman yang lebih keras dari sebelumnya. Ophelia terlihat kewalahan mengatasi serangan Alisya yang sangat cepat. Satu tendangan langsung membuatnya membentur dinding dengan sangat keras. Alisya langsung melompat dan mencabut besi di pahanya lalu menacapkannya di jantung Ophelia. Ophelia terbatuk mengeluarkan dalam sebelum akhirnya jatuh lemas dan tak sadarkan diri lagi. "Alisya!!!" teriak ayah Alisya saat Alisya sudah memegang kepala Ophelia karena merasa tak puas. "Alisya hentikan!!!" nenek Alisya yang sadar akan Alisya yang sudah semakin kehilangan kendali akhirnya mmutuskan untuk datang ketempat mereka dan mengentikan Alisya, namun Alisya tak mendengarkan mereka. Seorang anggota yang berada tak jauh darinya mencoba untuk menghentikan Alisya namun Alisya malah balik menyerang mereka dengan ganas. Meski tidak fatal, namun kaki dan tangan mereka mengalami patah karena kekuatan Alisya yang sangat besar. "Bagaimana bisa Alisya sampai sekuat itu?" tanya kakek Alisya yang terkejut melihat Alisya yang sedang dalam keadaan mengamuk. "Itu karena energi nano yang berada dalam tubuhnya sudah melebihi batas kemampuan Alisya. Alisya sudah tidak bisa menekan energi yang ada dalam tubuhnya sehingga itu keluar melupa dengan sangat hebat. Aku tak tau apa yang sudah memicunya meski faktor utama adalah kemarahan yang sangat besar dalam diri Alisya tapi ia tak pernah sampai pada tahap ini." ucap nenek Alisya menjelaskan kepada kakek Alisya yang tidak tahu banyak mengenai kondisi Alisya yang sebenarnya. "Apa karena dia melihat Adith yang memutahkan darah di pahanya?" tebak Ayah Alisya melihat kejadian sebelumnya sesaat energi Alisya semakin membesar. "Tidak, bukan itu!!! aku rasa pemicu awalnya bukan yang itu." ucap nenek Alisya melihat dari kondisi Alisya yang tak stabil hanya karena amarah. "Ophelia menyuntikkan cairan Anti nano didalam tubuh Alisya, yang entah kenapa cairan itu malah berefek sebalikny kata Karin" Zein dan Rinto juga Riyan masuk kedalam bersama dengan nyala lampu sorot yang mengelilingi rumah Bella. Mendengar hal itu, kecurigaan nenek Alisya ternyata benar. Sekarang yang harus mereka pikirkan adalah bagaimana cara mengembalikan kesadaran Alisya yang sekarang masih bertempur dengan dirinya sendiri. Riyan dan Zein segera mendekat ke arah Adith dan membantunya untuk bangkit. Chapter 203 - Mundurlah Bu "Alisya,,, ayah tau kamu masih disana. Sadarlah sayang!!!" teriak ayahnya mencoba untuk menarik kesadaran Alisya kembali. "Quenby,,, ini nenek sayang! kita pulang yuk!" nenek Alisya berusaha mendekati Alisya yang masih berada disekitar anggota ayah Alisya yang meringis kesakitan karena tangannya yang patah. "Tahan tembakan kalian, serahkan dia pada kami. Biar kami menenangkannya!" Alisya bereaksi saat beberapa pasukan tambahan datang mengelilingi Alisya. "Quenby .." nenek Alisya semakin mendekat kearah Alisya yang berdiri dengan nafas terengah engah. Bobot tubuhnya yang tampak berisi karena Volume ototnya yang sedikit membesar membuat neneknya terlihat kecil di hadapan Alisya. Tidak merasakan adanya bahaya dari nenek Alisya, Alisya bereaksi dengan pelan mundur dari posisinya. Namun karena sudah terlalu dekat, dan terpojok Alisya langsung melayangkan pukulan yang dengan cepat ayah Alisya melompat untuk menyelamatkannya. "Alisya... sampai kapan kau akan membiarkan dirimu dikendalikan seperti itu?" Adith berteriak dan marah kepada Alisya. Alisya kaget dan melihat ke arah Adith dengan tatapan kebencian. Aura Alisya yang sangat tajam cukup mengganggu indra penciuman Adith. Namun ia melepaskan diri dari bahu Riyan dan Zein kemudian berjalan mendekati Alisya. "Aku tau kau bisa mengendalikannya!" kali ini suara Adith terdengar lembut. Alat peredam Alisya yang sudah tidak berada di telinganya membuat Alisya dengan jelas bisa mendengar ritme jantung Adith. Ritme jantung Adith yang terdengar ditelinganya mengacaukan pendengarannya. Melihat itu Adith kemudian maju secara perlahan lagi untuk menarik perhatian Alisya. Bau aura Alisya perlahan berkurang meski masih tetap pekat. Merasa ada yang aneh, Adith melangkah lagi lebih dekat kepada Alisya. "Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk tidak membuatku khawatir? Ingat bagaimana kau juga sudah berjanji untuk tidak terluka?" ucap Adith terus berusaha menarik kesadaran Alisya. Alisya semakin gusar mendengar ritme jantung Adith dari jarak yang semakin dekat karena Adith memperpendek jarak diantara keduanya. Melangkah perlahan-lahan untuk terus mendekati Alisya. "Adith itu berbahaya... " Ayah Alisya mencoba untuk mengingatkan Adith. Melihat perubahan tingkah laku dari Alisya, nenek Alisya menghentikan Ayah Alisya untuk memberikan kesempatan bagi Adith mencoba menenangkan Alisya. "Kau ingat lagu yang sering kita nyanyikan bersama?" Adith sekarang berada semakin dekat dengan tubuh Alisya yang kemudian dengan lembut mendendangkan lagu I love You 3000 dengan nada yang sangat romantis. Alisya kaget saat Adith berhasil menyentuh tangan kananya, yang dengan cepat dia menaikkan tinjunya ke wajah Adith. Adith hanya terdiam tak bergeming dari tempatnya dan hanya menatap lurus saat kepalan tangan Alisya sudah berada tepat diwajahnya. "A... Adith,,," suara serak Alisya memanggil nama Adith disaat tangannya menghalangi pandangan Adith. Setelah Adith melihat dengan jelas, ternyata tangan kanan Alisya menghentikan tangan kirinya yang ingin melesat meninju wajah Adith. "Kau baik-baik saja?" tanya Adith lembut dengan tersenyum hangat seolah tidak terjadi apa-apa. Adith langsung memeluk tubuh Alisya dengan hangat yang perlahan membuat tubuh Alisya melemas dan jatuh pingsan dalam pelukan hangat Adith. Alisya yang sudah mengeluarkan energi terlalu banyak membuatnya jatuh melemas. Adith merasakan panas ditubuh Alisya yang mengeluarkan uap dan suhu yang cukup tinggi namun tetap berusaha memeluknya terus dan tak melepaskannya. Hingga tubuh Alisya kembali ke ukuran normalnya. Volume otot Alisya yang sebelumnya membesar perlahan menyusut dan menguap ke udara sedang ekspresi wajah Alisya kembali terlihat lebih tenang dalam dekapan Adith namun air mata Alisya mengalir deras di pipinya. Alisya sedang bermimpi tentang bagaimana ia melihat Karin yang sebelumnya lehernya tergerek ternyata dalam keadaan baik-baik saja dan Adith yang dia pikir mati karena memuntahkan darah dihadapannya juga ternyata baik-baik saja dan sedang memeluknya dengan hangat saat ini. Melihat itu, ayah Alisya langsung mengarahkan para anggotanya untuk segera mengumpulkan teman-temannya dan menyelamatkan beberapa anggota mereka yang terluka. Karena kejadian itu, Ophelia berhasil membunuh sebanyak 8 orang polisi dengan beberapa lainnya mengalami luka yang cukup parah dan ada juga yang mengalami luka ringan. "Kau masih bisa bergerak?" tanya Riyan melihat luka-luka Adith yang cukup banyak ditubuhnya. "Ya, aku tidak separah luka Karin, jadi tidak apa-apa! Biar aku yang membawanya keluar." ucap Adith sambil menggendong Alisya dan membawanya keluar dari Rumah Bella yang sudah terlihat setengah berantakan akibat pertempuran sebelumnya. "Apa yang sedang terjadi? kenapa sampai rumah saya seperti itu? anakku bagaimana dengan anakku" ibu Bella datang dengan wajah terkejut bukan main melihat rumahnya yang hancur berantakan. "Mundurlah bu, disini sangat berbahaya!" ucap salah seorang polisi yang berada pada Garis Polisi yang mengahalangi setiap masyarakat yang ingin menyaksikan dari dekat kejadian saat itu. "Tapi anak saya ada didalam pak!!!" bentak ibu Bella mengingat anaknya Bryan masih berada disana. "Ibuuu...." teriak Bryan ditengah kerumunan orang-orang. "ohhhh,, Bryan... syukurlah kamu tidak apa-apa. Apa yang terjadi? kenapa rumah bisa sampai sehancur itu?" tanya ibunya setelah melihat anaknya selamat. "Aku juga tak tahu bu, tapi kakak yang bernama Alisya menyelamatkan aku dari seorang penjahat. Berkat mereka berdua aku bisa keluar dengan mudah dan tak mendapatkan luka sedikitpun!" ucap Bryan menjelaskan kejadian yang telah dia alami sebelumnya. "aaahhh,, syukurlah! Ibu tak tahu lagi harus bagaimana jika kehilangan dirimu lagi." ucapnya sambil memeluk anaknya dengan sangat erat. "ahhhh, itu bu kakak itu tadi salah satunya yang menyelamatkan aku." tunjuk Bryan kepada Alisya yang sedang digendong oleh Adith menuju kedalam Ambulance. Melihat wajah dan pakaian Alisya dari jauh, ibu Bella ingat akan dua orang wanita cantik yang sebelumnya datang melayat kerumah duka untuk melihat Bella namun tiba-tiba harus segera pergi dari sana dengan alasan bahwa ada yang harus mereka ambil dari Bella. "Maaf, apa benar ini rumah ibu?" tanya kakek Alisya melihat ibu Bella yang memaksa menerobos garis polisi sebelumnya. "Iya benar pak! ini rumah saya..." ucapnya menatap sedih ke arah rumahnya yang sudah setengah hancur. "Maaf bu karena kami rumah ibu jadi hancur seperti itu, kami akan membantu ibu untuk memperbaiki dan mengganti rugi semua kerusakan yang sudah terjadi." ucap kakek Alisya mengeluarkan sebuah kartu nama dan menyodorkannya kepada ibu Bella. "Tidak pak, tidak usah!!! Saya bersyukur anak saya masih selamat berkat bantuan dari dua gadis itu, jika tidak saya mungkin akan kehilangan anak saya yang tinggal satu-satunya sekarang ini. Untuk itu saya ucapkan terimakasih banyak kepada mereka berdua!" ucap ibu Bella dengan tulus sembari memeluk tubuh Bryan dengan sangat erat dan berderai air mata. Baginya keselamatan anaknya lebih dari utama dan cukup dibandingkan dengan hancurnya rumahnya itu. Chapter 204 - Tolong Keluarkan Aku Dari Sini "huhhh Kaaaa .. Plakkkkkk!!!!" Teriak Alisya yang terbangun dari tidurnya meriakkan nama Karin karena terkejut yang langsung mendapat tepisan di dahinya oleh Adith yang sedang terduduk mengetik di laptopnya tanpa melirik ke arah Alisya. Ryu yang berada disamping Alisya langsung saja terkejut bukan main karena teriakan Alisya yang cukup keras dan tepisan Adith yang berdesis di dahi Alisya seolah dapat dirasakannya. Ryu menatap bingung dengan situasi mereka saat ini. Mereka yang dibuat sekamar agar bisa dipantau berdua membuat Ryu harus merasakan kecanggungan yang sangat tinggi. Satu jam berlalu bagaikan sehari penuh bagi Ryu. "Aku dimana?" tanya Alisya menatap bingung disamping Adith. "Rumah sakit. Berbaringlah sebentar lagi, aku masih harus mengerjakan urusan kantor sedikit lagi." Adith terus mengetik di laptopnya dengan penuh konsentrasi. Melihat Adith yang duduk di dekat jendela dengan sinar senja yang masuk kedalam kamar menyinari wajah Adith yang putih bersinar membuat Alisya seolah sedang berada di Syurga. Seorang malaikat duduk dihadapannya sedang memanjakan dia. Mata Adith yang tidak terlalu besar dan meruncing tajam meski tak sipit, keningnya yang tebal, hidungnya yang mancung kokoh dan bibirnya yang merekah memerah membuat Alisya melayang saat sedang menatapnya. "Cttaakkk!!! Huuhhh,, aku takkan bisa berkonsentrasi jika kau memandangku dengan penuh cinta seperti itu." Adith langsung menutup laptopnya setelah sebelumnya menyimpan terlebih dahulu hasil pekerjaannya. "Jadi, bagaimana perasaanmu??" tanya Adith setelah selesai menyingkirkan laptopnya lalu memandang Alisya tajam dengan melipat kedua tangannya. Mata hitam legam Adith langsung menusuk jauh kedalam jantung Alisya. "Perasaanku semakin bertambah besar. Aku sangat mencintaimu Adith!" ucap Alisya dengan penuh perasaan. Tatapan Alisya penuh kasih dengan pandangan merona karena rasa malu mengungkapkan seluruh perasannya kepada Adith yang ia pikir sedang berada didalam dunia mimpi. Adith mengerutkan keningnya bingung mendengar pengakuan mendadak dari Alisya. Adith langsung melirik ke arah Ryu yang wajahnya lebih aneh dari ekspresi miliknya saat ini. "Apa yang sedang dipikirkan nona saat ini? Apakah karena dia salah minum obat atau kepalanya terbentur oleh sesuatu?" Ryu berkata dalam bahasa Jepangnya dengan nada Khawatir. Dia merasa sangat aneh dengan sikap manis dan menggoda dari Alisya yang biasanya terlihat dingin dan keren. Mendengar ada suara Ryu, Alisya menoleh dengan senyuman yang paling manis yang pernah ia sunggingkan dalam hidupnya. "Eh, ada Ryu.. Hai Ryu... eheemm" tawa Alisya bahagia melihat Ryu ada disampingnya. Adith hanya terdiam menyaksikan tingkah Alisya yang ia rasa sedikit aneh namun menikmati pertunjukan itu. Adith tersenyum dan memberi tanda kepada Ryu untuk bertanya kepada Alisya. "Kau baik-baik saja kan?" tanya Ryu melihat tingkah aneh Alisya. "Tentu saja Ryu,, aku tak per.. nah .. Ryu??? kenapa kamu ada disini? bukannya kamu ada dirumah sakit? kamu sudah sadar? bagaimana dengan tu...buh mu,,,??" Alisya melirik ke arahnya sendiri mulai sadar akan situasinya di saat dia juga sedang memakai baju pasien. "Kau sudah sadar?" tanya Adith pada Alisya yang sedang membelakanginya. "Aaaa diitthhhh??? jadi aku nggak di Syurga?? maksud aku, aku nggak mimpi???" Alisya membelalakkan matanya berteriak sepenuh hati saat sadar bahwa dia berada dalam kenyataan saat ini. "Apa kau sering memimpikan ku? kata-katamu yang sebelumnya sempat aku rekam!" Adith memperlihatkan video hologram saat Alisya bergumam memuji setiap inci wajah Adith. "Uaaaa,, aaaaa!!!" teriaknya sekali lagi dimana kali ini teriakan Alisya lebih kencang karena malu dan melompat berusaha merebut handphone Adith. "Wajahmu saat memujiku bahkan terlihat seperti ingin memakanku hidup-hidup, hahaha" Adith tertawa terus menghindar dari serbuan Alisya. Melihat ada kesempatan Alisya berusaha melompat dan meraihnya namun tertahan oleh selang infus yang berada ditangannya sehingga dia tak berhasil meraihnya dan meringis kesakitan. "Sepertinya kondisimu baik-baik saja, sampai kau masih punya energi untuk menyerang Adith saat ini." Karin masuk kedalam ruang Alisya dan Ryu dengan tersenyum simpul. "Tolong keluarkan aku dari sini!" pinta Ryu yang tak tahan melihat adegan romantis Adith dan Alisya dihadapannya. "Tahanlah, kau akan terbiasa juga pada akhirnya. Jika kau ingin pulang, makan semua obat-obatmu itu!!!" ancam Karin kepada Ryu yang selalu mencuri waktu untuk tidak menelan obat-obatnya. "Karin,, kenapa aku berada di sini? Apa yang terjadi dengan tangan dan kakimu?" tanya Alisya yang lupa akan kejadian yang telah ia alami sebelumnya. Ia cukup kaget saat melihat Karin masih dibalut oleh kain meski terlihat Karin sudah cukup membaik. "Sepertinya kau melupakan apa yang sudah terjadi lagi yah.." Karin langsung duduk memandang Alisya dengan tatapan serius. Karin merasa hal sepenting itu tak perlu ia sembunyikan dari Alisya agar Alisya bisa mengenali dirinya sendiri lebih dalam. Selain itu Karin bertujuan agar Alisya bisa mengambil pelajaran dari pengalamannya menghadapi Ophelia. Alisya terdiam beberapa saat, namun setelah melihat luka-luka pada tubuh Karin terlebih pada balutan di leher Karin, ia akhirnya mulai memflash back semua ingatannya kembali dan larut dalam semua memori yang berputar di kepalanya termasuk saat Adith menerjang melindungi dirinya dan memuntahkan darah dihadapannya serta saat ia mengalami perubahan drastis di dalam tubuhnya. Alisya tersandar lemas di sudut ranjang mengingat semua itu, kini ia dengan tatapan nanar memalingkan wajahnya dari Adith. Ia tak sanggup menunjukkan wajahnya dihadapan Adith yang melihat semua perubahan mengerikan pada dirinya sebelumnya. Adith hanya tersenyum melihat tingkah Alisya. Ia gemas ingin mengganggunya namun memilih terus menyimak apa yang akan mereka bahas selanjutnya. "Bagaimana dengan Ophelia? apa yang terjadi padanya? Lalu Bryan... Bryan selamat kan?" tanya Alisya setelah mengingat tujuan mereka ke rumah Bella untuk menyelamatkan Bryan. "Kau tak perlu mengkhawatirkan Bryan. Meski umurnya masih 14 tahun, dia memiliki mental yang sangat kuat sehingga kejadian lalu tidak memberikannya trauma mental. Dia malah bermimpi untuk menjadikan kita sebagi contoh bagi dia menjadi penyelamat orang lain nantinya." ucap Karin sambil tersenyum mengingat bagaimana ekspresi polos Bryan saat mengucapkan hal itu kepada Karin. ''hahahahaha... anak yang kuat!!!" Alisya tertawa canggung mendengar hal itu. "Dan untuk Ophelia, aku rasa kau bisa mengingat sendiri bagaimana kau menghujam jantungnya menggunakan besi." lanjut Karin lagi mengingatkan Alisya mengenai kejadian sebelumnya. Alisya akhirnya tersenyum kecut mengingat dirinya yang menghujam Jantung Ophelia seketika berdetak karena pada besi itu terdapat anti nano yang berada di darah Alisya yang melekat pada besi yang ia cabut dari pahanya. Anti nano itu seketika meledakkan jantung Ophelia seperti apa yang ia katakan sebelumnya saat menusukkan cairan itu pada Alisya. Chapter 205 - Pindah Ke Rumah Sakit Begitu lama Alisya tenggelam dalam pikirannya memikirkan semua yang sudah terjadi pada dririnya yang kini telah banyak melalu banyak hal semenjak masuk kedalam SMA Cendekia Indonesia. Ia yang awalnya berpikir bisa hidup seperti orang normal pada umumnya ternyata harus melalui banyak kejadian yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bahkan bukan hanya dirinya saja, namun juga karena dirinya semua teman-temannya menderita hal yang sama. Melihat Alisya yang tenggelam dalam pikirannya, Adith hanya bersandar sambil terus menyaksikan setiap perubahan ekspresi yang dimiliki oleh Alisya. Adith tau kalau sekarang Alisya sedang menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang sudah terjadi pada orang-orang yang berada disekitarnya, terlebih karena Alisya bahkan tak melirik kearah dirinya saat ini. "Oh... Jadi kau sudah sadar? Tak ku sangka kalau wajahmu sudah sesegar itu! Kau seperti orang yang baru bangun dari tidur lelapnya." neneknya masuk seolah sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan Alisya yang selalu saja berada dirumah sakit. Baginya saat ini adalah bagaimana Alisya bisa kembali sadar setelah melalui penderitaan yang sangat berat selama hampir 3 hari. "Kenapa kau selalu saja masuk rumah sakit, ini sudah yang keberapa kalinya kamu masuk rumah sakit? Apakah aku harus memindahkan semua barangmu saja kerumah sakit?" Tante Loly masuk dengan membawa beberapa barang yang bisa digunakan oleh Alisya. "Aku setuju tante, sepertinya idemu cukup bagus. Aku akan memberitahu Karan mengenai hal itu, dia akan sangat senang dengan adanya Alisya disini. Setidaknya dengan begitu dia jadi memiliki seseorang yang bisa dia ganggu saat sedang bosan dengan semua kesibukannya!" Karin dengan cepat menaikkan jempolnya kepada tante Alisya menyetujui ucapannya. "Sepertinya kami juga harus memindahkan sekolah kami ketempat ini saja!" tambah Adora yang masuk bersama dengan yang lainnya secara berurutan tanpa henti. "Belum selesai kami mengunjungi Ryu, sekarang kami harus bolak-balik kerumah sakit lagi" tambah Aurelia menempatkan beberapa buku pelajaran. "Untuk apa semua buku itu dibawa kemari juga?" tanya Alisya yang kaget melihat tumpukan buku yang dibawa oleh Aurelia. "Tentu saja untuk Ryu yang sudah banyak ketinggalan pelajaran, sulit baginya untuk menyesuaikan dengan pelajaran kita yang mayoritas bertuliskan bahasa Indonesia sehingga aku harus mencarikan buku materi berbahasa jepang dibantu oleh ibu Vivian" jelas Feby sembari menambahkan beberapa tumpukan buku dimeja mereka. "Tau tidak, kami sudah terlalu sering berada dirumah sakit ini sampai para perawat dan dokter yang ada dirumah sakit ini menjadi hafal dengan muka kami satu persatu." Lanjut Gani masuk bersama Gina membawa sebuah gitar. "Sepertinya kita juga sudah semakin sering berkumpul disini yah... orang seolah mengira bahwa kita sedang bermarkas dirumah sakit sampai-sampai pihak rumah sakit memberika syarat kepada kami untuk melakukan pertunjukan." Beni langsung jatuh merebahkan dirinya pada sofa. Wajahnya tampak lesu dan kelelahan. "huh?? Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian terlihat lemas sekali dan untuk apa gitar itu?" tanya Alisya melihat ekspresi lelah mereka. "Demi bisa membantu kalian dengan hal lain, kami semakin berusaha keras dengan belajar! Semua itu karena perlombaan menuju tingkat Nasional sebentar lagi akan diadakan, untuk itu agar tidak tertinggal dengan kalian yang tergolong cerdas, kami harus merangka, berjalan hingga berlari dalam belajar." Emi juga melakukan hal yang sama dengan Beni dengan membanting dengan kasar tubuhnya ke sofa. "Untuk gitar ini, Kami ingin menunjukan sesuatu yang spesial untuk menghibur semua pasien yang berada dirumah sakit ini sebagai kompensasi atas kedatangan kami yang tiap hari berlalu-lalang mengganggu kenyamanan rumah sakit ini. Atau bahkan kami sedang dijebak oleh kakak Karin!" ucap Gina dengan mengeluarkan biolanya untuk melihat persiapan biolanya sebelum tampil. "Jika memang seperti apa yang membuat kalian semua berkumpul kesini bukannya pergi untuk menghibur mereka?" tanya Karin bingung dengan mereka yang malah berkumpul diruangan itu yang semakin sesak karena kedatangan mereka. "Karena yang menjadi bintang dan highlight dari acara kami berada disini dan sabagian lagi malah berakhir dengan mengenasakan!" Pandang Aurelia pada Karin, Ryu dan Alisya. "Eeeh???" Ryu langsung mengerutkan keningnya merasakan ada dirinya dalam pandangan Aurelia. "Apa yang kalian lakukan disini? Kami sudah selesai men set panggungnya, Alisya bersiaplah secepatnya!" ucap Yogi sambil berlalu pergi meninggalkan Alisya yang menatap penuh kebingungan. "Aku??? Aku kan baru sadar, kenapa kalian berbuat seperti ini padaku?" Alisya merasa tak adil dengan perlakuan teman-temannya yang seharusnya memikirkan dan mengkhawatirkan dirinya. "Aapa kau tak tahu arti sahabat???" ucap Aurelia tidak perduli dengan keluhan Alisya. "Sahabat adalah orang yang paling berbahaya yang harus kamu hindari saat kamu dalam keadaan kesulitan dan menderita, karena yang ia lakukan bukanlah perhatian melaikan kutukan!" ucap Karin yang pasrah berjalan mengikuti mereka yang sudah bersiap untuk segera menampilkan pertunjukan. "Kenapa mereka sekejam ini padaku???" Alisya mengeluh dengan melirik ke arah tante Loly dan neneknya. Saat semua temannya perlahan mulai menghilang dari ruangan itu, nenek Alisya menatap Alisya dengan lembut. "Terimalah nasibmu, mereka sangat menghkawatirkanmu bahkan sangat marah padamu karena kamu selalu saja membahayakan nyawamu sendiri. Namun mereka sudah berusaha dengan sangat baik untuk menyembunyikan kesedihan mereka dihadapanmu." Ucap nenek Alisya dengan penuh kelembutan untuk memberikan Alisya pemahaman. "Setiap kali mereka kesini, kamu yang tidak bangun selama 3 hari selalu saja membuat mereka merasakan emosi yang menekan dada mereka dengan sesak saat kau berjuang sendiri untuk memulihkan diri akibat efek dari cairan yang dimasukkan kedalam tubuhmu." Ryu berusaha menjawab kebingungan Alisya mengenai temantemannya yang bersikap terlalu santai. "Mereka bahkan selalu berada didekatmu menemanimu setiap saat ketika kau terus saja mengeram menahan sakit akibat dari cairan itu. Hari ini mereka sengaja tak ingin menunjukan kesedihan mereka dihadapanmu karena mereka bersyukur kamu masih bisa tersadar kembali dan terlihat segar seolah tak mengalami kejadian mengerikan sebelumnya." Terang Adith yang sedari tadi berdiam diri dibelakang Alisya menyaksikan semua percakapan mereka. "Maka dari itu, sekarang tugasmu adalah membuktikan kepada mereka bahwa kau baik-baik saja dan akan seperti itu selamanya!" tambah tante Loly yang langsung memeluk hangat Alisya. Alisya terdiam sejenak meresapi setiap kalimat yang dikatakan padanya. Tentu saja meski sahabat adalah orang yang paling kejam, tetap saja mereka menyembunyikan rasa takut dan khawatir mereka dibalik senyuman dan kutukan yang mereka katakan pada sahabatnya. Alisya bahkan bisa melihat bagaimana mereka dengan keras berusaha untuk bersikap dan berekpresi biasa saja. Chapter 206 - Pertunjukan Saat semua sudah bersiap di atas panggung yang dibuat oleh Zein, Riyan dan Rinto dengan ukuran yang tidak terlau besar, beberapa pasien sudah mulai berkumpul setelah mendapatkan informasi langsung dari kepala Rumah Sakit yaitu Karan sendiri. Tampak disana Beni mulai memainkan drum untuk mengetes bunyi dan kesiapannya, Riyan yang memetik metik gitar untuk menyesuaikan dengan kuncinya dan disebelahnya ada Zein yang sedang menekan tuts demi tuts piano itu. Melihat mereka berempat sudah berada di atas panggung sudah membuat seisi rumah sakit terpana karena ketampanan mereka. "Kapan mulainya? Kita udah nggak sabar nih..." Ucap seorang pasien anak dengan suaranya yang nyaring. "Bentar yah dek.. kalau semuanya tidak di setel... Nanti suara dari musiknya sumbang dan yang lainnya malah jadi malas ngedengerinnya." Gina duduk disamping si pasien untuk mencoba menjelaskan dengan lembut. "Kakak main biola? Emang kakak bisa?" Tanyanya dengan nada meremehkan. Gina hanya mampu menggertakkan giginya mendengar ucapan anak itu dan tak bisa menjawab. "Sabar, sudah begitu anak-anak!" Ucap Gani mencoba untuk menenangkan Gina. "Woow... Kakak ini kan gitar listrik, iya kan?" Tanya anak lain dengan penuh antusias. "Iya benar, kamu juga tau tentang gitar ternyata!" Puji Gani dengan penuh semangat. "Hebat, kakak bisa memainkan ini itu artinya kakak hebat sekali... Aku pengen bisa main musik seperti kakak!" Ucapnya lagi dengan memandang gitar di tangan Gani dengan tatapan membara. "Tentu saja kamu bisa jadi pemain gitar handal nanti, tapi untuk sekarang kamu harus rajin minum obat biar kamu bisa sembuh dan bisa keluar dari rumah sakit ini terus belajar bermain gitar dan menjadi gitaris terkenal sedunia!" Suara Gani yang lemah lembut setengah terduduk saat berbicara dengan anak-anak itu sangat membuat mereka menjadi semangat. "Aku,, aku juga,, aku akan melakukan hal yang sama dan muali hari ini aku akan semakin rajin minum obat!" Jawab yang lain tak kalah antusias. "Aku juga, aku takkan kalah dari dia!" Ucap yang lainnya. Semua anak-anak yang mendengar kalimat Gani seketika menjadi sangat bersemangat dan berjanji untuk menjadi anak yang baik dengan menuruti para suster saat memberi mereka obat. "Kau hebat juga bisa membakar semangat mereka!" Emi tersenyum dengan tingkah Gani yang sangat menyentuh dengan kata-katanya kepada para anak-anak pasien yang sedanang duduk untuk menyaksikan mereka. Agar tak meresa jenuh dan menunggu lama, Gani mulai mengajari mereka satu persatu lagu anak-anal yang membuat para orang tua yang melihat tingkah mereka tak berhenti tertawa dan tersenyum bahagia. "Sepertinya dia ada bakat jadi guru PAUD!" ketus Gina yang dengan gampangnya tertolak oleh para anak-anak itu sedangkan Gani malah disenangi dengan mudahnya. "Yang lainnya sudah siap?" tanya Aurelia saat melihat beberapa dari mereka belum ada yang datang. Mereka akan menampilkan sebuah paduan suara mengenai lagi... Lagu yang sengaja mereka persipakan untuk membuat semua pasien yang ada dirumah sakit ini dari yang tua hingga yang muda merasa lebih terhibur dan bersemangat. "Baiklah semua, berhubung semuanya sudab berkumpul disini. Maka acaranya segera kita mulai untuk itu para suster dan perawat yang lain bisa tolong diarahkan mereka untuk menempati beberapa tempat yang masih kosong dan kalian juga di persilahkan untuk ikut bersenang-sennag bersama!" ucap Zein membuka acara sebagai MC. "Daan.. yang buka acara kita pada hari ini, mari kita sambut dokter ganteng sekaligus kepala rumah sakit Reynand. Dokteeerrr... Kaaraaannn!" Teriak Rinto dengan penuh semangat yang menyilahkan Karan untuk naik ke atas panggung untuk membuka acara pada hari itu. "Okeeh,,, terimakasih semuanya, semoga acara hari ini akan sangat menghibur bagi kalian semua. Karena kita disini untuk menghibur maka tidak perlu dramatis dan formalis dalam membuka acara jadi kita langsung saja... Maiinkan musiknyaaa!!!!" ucap Karan setengah berteriak untuk langsung memuali acara mereka. "Nyanyikan sebuah lagu untuk kami Dookk!" Teriak anak-anak yang di setujui oleh bapak serta ibu-ibu yang menonton. Karan tersenyum sebentar namun kemudian beterpuk tangan sambil.menyanyikan sebuah lagu bertema kanak-kanak yang sangat terkenal dan musiknya yang membuat semua orang perlaha larut dalam permaina suara Karan untuk menghibur. Setelah selesai, Karin serta beberapa dari teman-temannya langsung naik ke atas panggung menggantikan Karan untuk memuli pertunjukan berikutnya. Mereka dengan cepat menciptakan drama komedi yang membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak karena acting Beni dan Feby yang menggelitik. Setelah itu dilanjutkan degan Yogi yang menyanyikan sebuah lagu dangdut yang semangat yang membuat beberapa ibu-ibu pasien serta bapak-bapak pasien ikut bergoyang sesemangat goyangan Yogi karena pemilihan lagunya yang tepat. "Wah... siapa mereka? kenapa tampan sekali? baru kali ini aku melihat pria setampan itu." seorang perawat berkata dengan tatapan terpesona saat melihat Adith datang bersama Ryu. "Apa yang terjadi hari ini? kenapa daun muda telihat begitu menyegarkan? Oh ya ampun aku nyesel udah lahir lebih dulu!" ucap perawat lain tak kalah antusiasnya. "Apa yang harus aku lakukan??" seorang wanita menatap penuh lapar. "Ada apa?" tanya wanita lain yang melihat dengan tatapan bingung pada wanita disebelahnya. "Aku sepertinya ingin kembali kemasa muda ku skearang biar bisa bersma mereka!" ucapnya memeganh kedua pipinya seolah merasa malu. "Susterrr... ibu ini saraf otaknya putus!!!" teriak wanita dengan penuh semangat yang seketika membuat mereka semua tertawa karena tingkah mereka berdua. Alisya juga datang setelah berganti baju dengan memakai baju kaos putih panjang dengan bawahan Rok lebat berwarna merah yang sangat pas ditubuhnya sehingga ia terlihat anggun dan menawan. Ketiganya naik ke atas panggung degan Adith memegang mik bersama dengan Alisya dan Ryu. Ketiganya melirik kepada semua teman-temannya yang sudah siap memainkan alat musik masing-masing. Zein bermain Piano, Gina bermain Biola, Gani bermain gitar listrik, Rinto bermain Gitar bas, Beni bermain Drum, dan Yogi bermain seruling. Aurelia memainkan kerincing, Adora bermain cello,, Feby memainkan saksofon dan Emi memainkan harpa dan Akiko memainkan harmonika. Mereka semua bermain dengan harmonisasi layaknya sebuah pertunjukan orkestra. Mereka bertiga langsung menyanyikan lagu "Jangan Menyerah" yang membuat mereka larut dalam kemerduan suara Adith dan Alisya serta Ryu. Suara ketiganya seolah merasuk kedalam tubuh mereka, mereka mengangkat kedua tangannya dan melambai ke kiri dan ke kanan mengikuti setiap irama lagu yang mengalun dengan indah. Nenek dan tante Alisya ikut larut didalam pertunjukan mereka, begitu pula seluruh orang yang berada dirumah sakit saat itu bersyukur karena bisa menyaksikan sebuah pertunjukan yang mungkin akan sulit mereka saksikan dan harus membayar mahal karenanya. Chapter 207 - Persahabatan "Apa kau melihatnya? Meskipun mereka satu panggung dan bernyanyi bersama, Alisya tampak selalu menghindari Adith. Apa cuman perasaanku saja?" bisik Aurelia kepada Karin yang sedang membereskan kembali barang-barang hasil pertunjukan mereka. "Kau juga bisa melihat itu ternyata, aku pikir hanya aku yang melihat tingkah aneh Alisya." jawab Karin sambil terus melakukan pekerjaannya. "Apa yang sedang terjadi diantara mereka berdua?" Adora pun datang menghampiri Aurelia dan Karin karena merasa aneh dengan sikap Alisya yang selalu terus saja menghindari Adith. "Aku juga tak tau kenapa, tapi sepertinya Alisya memiliki masalah tersendiri. Untuk saat ini biarkan saja dulu mereka seperti itu, mungkin Alisya butuh waktu untuk memulihkan dirinya sendiri." ucap Karin yang berusaha mengangkat karpet yang mereka gunakan sebagai alas panggung mereka yang dengan cepat diambil oleh Ryu. "Oyy,,, aku bisa melakukannya sendiri" Karin mengikuti Ryu sambil terus berusaha mengangkat karpet itu. "Pekerjaan ini biarkan kami yang laki-laki melakukannya, kalian yang wanita cukup membersihkan yang ringan-ringan saja!" tegas Ryu terus mengangkat karpet itu tanpa menghiraukan Karin yang berusaha mengejarnya. "Aku tau, tapi aku juga ingin melatih ototku yang keram karena 3 hari tidak diizinkan bergerak. padahal tubuhku tidak mengalami luka yang cukup berat." Meski telah dilarang oleh Ryu, Karin tetap berusaha untuk mengangkat karpet itu bersama Ryu. "Apa pahamu baik-baik saja?" Ryu menengok ke balutan paha Karin yang tampak lebih tebal dibandingan dengan balutan ditempat lainnya. Sepertinya tidak separah yang kamu kira. Bagaimana dengan dirimu? harusnyakan luka bekas tusukanmu itu masih basah.." tanya Karin dimana mereka masuk kerumah sakit tepat sehari setelah Ryu dirawat sehingga Ryu baru memasuki hari keempat saat ini. ''Aku juga tak tau, mungkin karena lukanya tidak terlalu dalam sehingga aku bisa aembuh lebih cepat dari dugaanku. Lagipula karpet yang kita angkat ini bahkan tidak memiliki berat hingga 2 kilo," Ryu tertawa melihat dua orang yang bekerja sama untuk mengangkat karpet yang tergolong sangat Ringan bagi keduanya. "Yah.... itu artinya kita masih memiliki tubuh yang manusiawi, tidak seperti anak itu!" tunjuk Karin menggunakan bibir mungilnya ke arah Alisya yang sedang mengangkat susunan kursi kedekat dinding rumah sakit. Ryu dan Karin tertawa bersama menyaksikan bagaimana semangatnya Alisya dalam membereskan barang-barang bekas pertunjukan. "Oh ya ampun,, satu pasangan lain sedang konflik, satu pasangan lain sedang pendekatan, satu pasangan lain sedang curi-curi pandang dan satu pasangan lain sedang mengumbar-umbar!" Emi berbisik kepada Febi yang sedang menatap Alisya yang terus menghindari Adith kapanpun dan dimanapun mereka berada, Ryu dan Karin yang mulai tampak saling menunjukkan perasaan satu sama lain, Karan yang dari jauh terus memperhatikan Akiko dan Yogi yang tak ragu menunjukkan kemesraannya kepada Aurelia begitupula sebaliknya. "Di banding semua itu, aku suka dengan kerja mereka berdua. Entah aku lihat mereka sangat cocok satu sama lain karena Adora selalu saja fokus terhadap apa yang ia kerjakan begitu pula dengan Zein. Meksi mereka tidak menunjukkan perasaan masing-masing, aku merasa mereka sedang melakukan komunikasi lewat apa yang sedang mereka kerjakan." Jelas Feby dengan tatapan iri melihat teman-temannya yang sudah memiliki pasangan masing-masing. "Apa yang harus kita berdua lakukan?" Emi melirik ke arah Beni yang terlihat sedang membersihkan drum nya sangat cermat, kemudian mengarah ke Gani yang sedang perang dengan adiknya kemudian pada Rinto yang terlihat dingin sangat membereskan sisa-sisa kursi disana, serta satu lagi si elite yang sudah pasti takkan pernah bisa ia raih. "Sepertinya kita hanyalah figuran yang takkan bisa mendapat peran banyak apa lagi sebuah kisah percintaan, sebaiknya kita menikmati peran ini saja selama kita masih sering disebut didalam Novel ini" terang Feby mengingatkan Emi yang berharap terlalu banyak akan dirinya. "Tapi tunggu dulu, apakah kau tak merasa kalau author menciptakan karakter kita masing-masing yang tampak seolah sangat mendukung satu sama lainnya sebagai sahabat? padahalkan kau tau didunia sekarang ini kita tidak bisa tau akan hati seseorang yang gampang berubah-ubah. Hari ini mungkin dia adalah sahabatmu, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa besok dia adalah musuh terbesar mu!" tanya Emi yang merasa penggambaran persahabatan mereka terlau sempurna. "Tentu saja tidak, author punya alasan dibalik penciptaan karakter dan cerita persahabatan yang dia tuangkan kedalam Novel ini." jawab Feby seolah bisa menebak apa yang sedang diragukan oleh Emi. "Maksud kamu apa?" Emi masih tak paham dengan apa yang sedang dimaksud oleh Feby. "Seperri sebuah filem yang terkadang memberikan dampak yang cukup besar bagi setiap orang yang menontonnya, sebagian besar masyarakat cenderung akan terinspirasi dari apa yang sudah ditontonya. Author juga ingin memberikan sebuah pembelajaran dan penyampaian pesan bahwa sebuah hubugan yang murni dapat terjadi jika setiap orang mampu menyingkirkan rasa iri dan dengki dari dalam dirinya. Sebuah cerita persahabatan remaja yang mungkin sekarang sudah tidak ada, namun dengan melihat dan membaca cerita dari Novel ini dan bagaimana solidnya persahabatan kita, itu mungkin bisa memberikan contoh yang baik bagi para pembaca!" jawab Feby panjang lebar. Feby tersenyum melihat bagaimana kompaknya mereka dalam bekerja dan menolong satu sama lainnya dalam sebuah persahabatan yang semakin akrab setelah mereka mampu melewati banyak waktu, banyak masalah dan banyak penderitaan maupun kesenangan secara bersama. Persahabatan akan terjalin semakin kuat seiring dengan kebersamaan mereka dalam melewati tiap waktu bersama-sama. "Kau benar, aku berharap bahwa suatu ketika saat mereka membaca semua kisah persahabatan kita nantinya, mereka akan merubah pola pikir mereka terhadap arti dari persahabatan yang sesungguhnya." Emi tersenyum manis membayangkan bagaimana indahnya sebuah persahabatan jika segalanya bisa dilalui bersama dalam sebuah kesetiaan. "Persahabatan bukan tentang harta dan kekuasaan, tetapi persahabatan adalah tentang kebersamaan dan kesetiaan. Persahabatan tidak pernah diajarkan pada materi pelajaran di sekolah, tetapi apabila kamu belum memahami arti persahabatan, itu berarti kamu belum memahami arti kehidupan itu sendiri iya kan?" senyum Feby kepada Emi dengan penuh kehangatan yang mengungkapan bagaimana rasa syukurnya bagimana ia bisa bertemu dab bersahabat dengan mereka. "Berhentilah berpandangan dan cepat bantu. Kita harua segera membersihkan semua ini agar bisa beristirahat secepatnya!" Bentak Beni yang kesal melihat Feby dan Emi yang sedang terbengong-bengong menyaksikan mereka bekerja. ''Meskipun pada akhirnya dalam sebuah persahabatan akan ada sahabatmu yang miliki sifat yang paling kampret seperti dia'' bisik Feby kepada Emi yang membuat keduanya segera tertawa terbahak-bahak memikrikan hal tersebut. Chapter 208 - Toilet Perempuan Putus asa, Alisya menuju toilet umum dengan berjalan gontai. Ia masuk bukan karena ingin buang air kecil namun karena ingin menghindari Adith. Alisya mencuci wajahnya dengan kasar dan frustasi. Fikirannya tidak pernah bisa fokus sejak ia memikirkan bagaimana Adith melihat tampilannya saat mengalami perubahan yang tentu akan membuat siapapun ngeri dan takut padanya. Alisya memukul westafel dengan sangat kuat yang membuat westafel itu jadi sedikit miring dan setengah rusak. Alisya kaget dan langsung mencoba memperbaiki westafel itu. ia tidak menduga bahwa hanya dengan kekuatannya bisa menghancurkan westafel tersebut. "Apa ini? apa ini efek dari perubahan drastis kemarin? atau efek lain? Bagaimana cara memperbaiki westafel ini... ughh!." keluh Alisya saat akhirnya bisa memperbaiki westafel tersebut keposisinya sedang untuk sebagian yang rusak ia berpikir untuk harus bersujud pada Karan. Alisya bersiap untuk keluar dari toilet namun malah tertahan dan bersandar di pintu masuk toilet. "Arrghhhh,, aku masih tidak bisa menatap Adith saat ini. Aku tak bisa terus menghindarinya, aku tidak yakin bagaimana perasaanya saat melihatku saat itu mungkin saja dia merasa ngeri atau mungkin lebih dari itu sedang aku, aku malah terpesona setiap kali melihatnya!" Alisya menutup wajahnya dan jatuh meluncur memikirkan kebodohan dirinya. "Jantungku tak pernah berhenti berdetak setiap kali aku melihatnya, tapi fikiranku juga tak pernah berhenti mengingat semua peristiwa tentang perubahan itu. Ahhhhh... aku ingin bertanya kepadanyaaa!!!! Tapi bagaimana? gggrrrrr aku bingungng!!! Alisya berdiri lagi dari tempatnya dan menyemangati dirinya sendiri. Dia gusar dan kacau sendiri didalam toilet. "Oke, untuk beberapa hari ini anggap saja dia tidak ada! kita bisa menanyakannya nanti kan? tenangkan dulu dirimu, sekarang saatnya... eh eh eh.." Alisya terdorong kebelakang ketika seseorang membuka pintu toiletnya. Dia segera menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh kebelakang dan langsung menghadap kepintu masuk. "Aku lelah menunggumu mengomel dari balik pintu itu!" Adith masuk kedalam toilet dimana Alisya sedang menatap dengan mata yang membesar tak menyangka kalau Adith akan menyusul dirinya disana. Alisya yang kaget mundur selangkah dari hadapan Adith yang sudah mengunci pintu dari dalam. Pintu toilet itu adalah pintu geser yang memiliki sistem tekhnologi tinggi yang akan tekunci jika seseorang mengaktifkan tombol close dari dalam sehingga orang luar takkan bisa membuka pintu itu. "Aku bingung kenapa seharian ini kau terus saja menghindariku bahkan terlihat menghindari juga tatapanku! Adith maju selangkah mendekat kepada Alisya dengan tatapan kesal. Tatapan Adith nampak menusuk kedalam jantung Alisya yang membuat Alisya bersusah payah untuk menelan ludahnya karena takut. "Awalnya aku hanya merasa kalau kau mungkin masih belum terlalu tersadar dengan baik sehingga aku membiarkannya dalam waktu lama!" Adith maju lagi selangkah yang membuat Alisya menjadi lebih takut dan tubuhnya bergetar hebat. "A... Ad.. Adith sadarlah, ini toilet perempuan! ka.. kauhh tak seharusnya masuk kesini." Ucap Alisya gagap mendengar ritme jantung tegas dari Adith. Alisya mundur lagi selangkah setiap kali Adith maju lebih dekat dengan dirinya. "Tapi sepertinya aku melihat kau hanya menghindariku saja dan dengan santainya kau mengajak orang lain berbicara!" Adith semakin membuat Alisya terpojok di tembok tanpa memperdulikan Alisya yang sudah bergetar. Melihat dirinya sudah terpojok dan tak bisa kemana mana lagi, Alisya membentuk pertahanan diri dengan menaikkan tangannya untuk menjaga agar tubuhnya tak terlalu berada dekat dengan dirinya. "Waahh... sejak kapan anak ini memiliki dada yang sebidang ini? woww.. otot-ototnya kuat dan..." batin Alisya terus meremas perlahan dada Adith yang cukup bidang. Dia yang tak pernah menyentuh orang lain sebelumnya menjadi sangat tertarik dengan dada bidang Adith. Adith tersenyum dengan nakal lalu memajukan tubuhnya untuk berbisik ke telinga Alisya. "Jika kau memegang dadaku seperti itu, kau bisa membuatku tidak akan mampu mengendalikan diriku lebih lama!" suara Adith yang lembut namun terdengar sedang meledek membuat Alisya sadar dan langsung mendorong dada Adith dari hadapannya. Adith terdorong kebelakang mengikis lantai menggunakan sepatunya. Beruntunglah dia mampu menjaga keseimbangannya sehingga tak terjatuh. Kekuatan Alisya tampak belum bisa ia kendalikan. Adith cukup terkejut akan kekuatan Alisya saat mendorongnya namun dengan cepat mengatur ekspresinya agar Alisya tak merasa tak nyaman. "Ah,, maaf... aku tak bermaksud untuk..." Alisya dengan cepat menghampiri Adith untuk meminta maaf. "Sepertinya kau harus diberi hukuman hari ini." Adith langsung mengambil tangan Alisya dan menempatkannya ke dinding toilet lalu mengunci kebebasannya untuk bergerak. Adith dengan cepat memajukan wajahnya mendekati leher Alisya. Alisya tdk tau apa yang harus ia lakukan karena jika dia berontak maka kemungkinan besar ia bisa menyakiti Adith lagi, namun jika ia membiarkan Adith, Alisya tak tahu apa yang akan dilakukannya. "Adith, sadarlah... apa yang akan kau lakukan?" Alisya berusaha untuk mengingatkan Adith agar tidak bertindak terlalu jauh. Adith tidak mendengar dan hanya terus mendekatkan diri kepada Alisya dengan seketika yang membuat Alisya bisa merasakan hembusan nafas Adith dilehernya. Tak tahan lagi Alisya langsung memfokuskan dirinya dan dengan sedikit dorongan dia langsung membalikkan Adith. Posisi mereka berubah dimana Adith kini terpojok di dinding. Menatap wajah Adith yang tampan dan mempesona karena senyumannya, Alisya tak bisa menahan diri lagi dan langsung berlari menuju ke pintu toilet. Adith lari tepat dibelakang Alisya dan menekan tombol close sehingga Alisya masih belum bisa meloloskan diri. Tidak mau kalah, Alisya berusaha mencoba sekali lagi dan kembali berhasil menekan tombol opennya. Tapi Adiht juga tak memberikan kesempatan untuk Alisya keluar sehingga pintu yang belum sempat terbuka malah tertutup kembali. "Ku mohon biarkan aku pergi Dith..." Alisya memohon kepada Adith untuk meloloskan dirinya dari sana. "Tidak, kau masih punya utang untuk menjelaskan padaku apa maksud dari sikapmu itu, jika tidak aku takkan pernah membiarkan kamu keluar dari sini." tegasnya kepada Alisya yang terus berontak menghindarinya. "Kenapa kau keras kepala sekali sih?" bentak Alisya dengan kesal kepada Adith. Melihat ada sedikit peluang, Alisya dengan kekuatan penuh langsung menekan kembali tombol open pada pintu toilet yang malah menjadi rusak karena dirinya. "hhaaahhh?? kenapa? masa iya rusakkk? ucap Alisya dengan kejadian tak terduga itu. Awalnya Adith cukup terkejut akan hal itu, namun kemudian tersenyum penuh kemenangan. Ia menaruh tangannya menghalangi pintu dan bersandar menghadap kearah Alisya. "Apa yang akan kau lakukan sekarang? sepertinya nasib sedang memihak kepada kita saat ini" Adith tertawa melihat wajah putus asa Alisya yang menatap kosong pada pintu yang sudah terlihat koslet dan memercikkan kembang api. Chapter 209 - Dag Dig Dug Alisya menatap Adith dengan tajam dengan kesal. Karena kenakalannya dan keusilannya mereka berdua akhirnya terkunci berdua di toilet perempuan. Alisya tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang-orang saat menemukannya bersama dengan laki-laki didalam toilet perempuan. "Kau bawa hp nggak?" tanya Alisya pada Adith sembari memeriksa Adith dari depan dan belakang. "Hei, hei hentikan! kau bisa salah pegang nanti" ucap Adith memperingatkan Alisya dengan cara menggodanya. "Kau mau kita terjebak disini terus? cepat berikan hp mu!" Alisya meminta dengan tidak sabar. "Iya, iya, oke. Bentar ..". Adith memeriksa kantong celana depan serta belakang dan bagian dalam kemejanya namun tak menemukan apapun. Iya baru ingat kalau tadi saat menyingkirkan laptopnya, tanpa dia sengaja ia menaruh Hp nya juga disana. "Apa? bagaimana?" tanya Alisya melihat Adith hanya terdiam membeku ditempatnya. "Aku tidak membawanya, tadi aku menaruhnya bersama dengan laptop yang aku singkirkan!" ucap Adith sambil tersenyum konyol. "Jenius sekali, sekarang karena kamu kita malah terjebak didalam toilet. Entah siapa yang akan kemari karena toilet ini adalah toilet khusus pegawai cleaning service sedang mereka sekarang sementara membersihkan tempat acara tadi. Dan tidak ada yang bisa memastikan kalau mereka akan masuk kemari." Alisya bersandar diding pasrah. "Kenapa kau sampai sepasrah itu? bukankah ada alat peredam di telingamu?" Adith maju mendekati Alisya dan langsung mengucir rambutnya ke telinga Alisya untuk bisa melihat alat peredam ditelinganya namun tidak ada. Tindakan Adith yang terlalu mendadak membuat jantung Alisya berdetak dengan sangat kencang. Aura Adith yang semakin kuat dan tubuhnya yang semakin kokoh terpancar keluar menampilkan seorang laki-laki yang sangat maskulin membuat Alisya seolah tak bisa mengendalikan perasaannya kepada Adith. "Dag, dig, dug, dag, dig, dug!" bunyi jantung Alisya yang sangat kencang membuat Adith bisa mendengarnya dengan jelas saat dia berada sangat dekat dengan Alisya. Adith tersenyum mendengar detak jantung Alisya. Ia merasa gemas dengan tingkah Alisya yang terlihat berusaha keras mengendalikan dirinya saat ini. "Apa sih.. kenapa kau tiba-tiba bertingkah seperti itu?" Alisya langsung bergeser menjauhi Adith karena malu. Alisya mulai jengah dengan sikap Adith yang profokatif. Ia ingin sekali membalas sikap Adith namun masih belum bisa memikirkan tindakan apa yang tepat untuk membalasnya. "Apa yang kau pikirkan sebenarnya dengan terus menjauhi ku seperti itu? tidak kah kau lihat kita sedang berada didalam toilet yang tidak begitu luas dan hanya berdua saja tanpa bisa keluar dari arah manapun?" Adith kembali melangkahkan kakinya mendekati Alisya. Dan lagi-lagi Alisya harus terpukul mundur karena sikap Adith saat ini. Alisya merasa harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan perhatian Adith namun semakin Adith mendekati dirinya, semakin sulit untuk ia mencari sebuah penyelesaian. Saat ia semakin terpojok ke dinding untuk yang kesekian kali, Alisya langsung bersuara lirih. "Apa kau tidak takut padaku?" tanya Alisya dengan tatapan tajam yang langsung mengarah ke mata Adith. Adith bisa mencium aura Alisya yang lebih tegas dibanding sebelumnya. Adith hanya terdiam meski tau arah pembicaraan Alisya, ia merasa tak perlu menjawab apa yang sedang dibicarakan oleh Alisya. "Kau sudah melihat bagaimana perubahanku bukan? apa kau tidak takut padaku? kau tak merasa ngeri berteman dengan seorang monster seperti diriku!" Alisya sengaja menyerang Adith dengan banyak pertanyaan untuk mengalihkan perhatian Adith. "Kenapa kau menanyakan itu?" Adith langsung memalingkan wajahnya. Alisya tersenyum kecut melihat reaksi Adith saat itu. Tidak bisa dipungkiri kalau dia juga mungkin akan melakukan hal yang sama setelah melihat perubahan besar yang terjadi pada dirinya terakhir kali. "Sudah ku duga, kau pasti tetap akan memikirkan hal itu meski sekarang kau berusaha keras untuk mencoba berada didekatku. Kau talk perlu berusaha dengan sangat keras untuk menyembunyikan semua ekspresi itu. Aku paham kau akan menghindariku karena hal tersebut. Aku sangat bahagia meski saat ini kau hanya sedang berusaha keras untuk berpura-pura, tapi aku rasa kau sudah terlalu berlebihan. Sebaiknya kau hentikan saja semua itu dan kau bebas mengambil jalanmu dan melakukan apapun yang kau mau tanpa..." kalimat Alisya langsung terhenti karena Adith sudah menarik tangannya lalu membungkam mulut Alisya dengan bibirnya. Adith tidak menggerakkan bibirnya dan hanya menempelkannya begitu saja karena refleks. Bahkan Adith pun terkejut dengan apa yang sedang ia lakukan. Mendengar semua ocehan Alisya yang tanpa henti membuat Adith tidak mampu menahan diri lagi sehingga tanpa sadar ia langsun mencium bibirnya. "Maafkan aku,, aku tidak bermaksud untuk..." Adith sadar akan kesalahannya yang sudah mencium Alisya secara tiba-tiba. Wajah Alisya memerah membuat wajahnya terlihat seperti udang rebus dan hawa tubuhnya meningkat dengan drastis. Alisya merasa kepalanya akan segera meledak akibat apa yang baru saja dilakukan oleh Adith. "A,, Alisya.. ummm... Alisya!!! kau baik-baik saja kan? maafkan aku, aku..." Belum selesai Adith berkata sebuah ketukan terdengar dari luar karena memaksa ingin masuk kedalam toilet. Alisya yang terdiam membeku membuat Adith semakin panik. "Ada orang didalam?? buka pintunya...?" ucap seseorang lagi. Adith bingung akan apa yang harus dilakukan sedang dirinya sedang berada didalam toilet perempuan saat ini. Tak punya pilihan lain, Adith meninggalkan Alisya yang masih berdiri dalam dia menuju ke pintu toilet. "Maaf, bisa buka pintunya? kami terjebak didalam.. aku datang untuk membantu teman saya membuka pintu ini karena tadi sempat terkancing tapi kami malah jadi terjebak bersama didalam!" pinta Adith yang sempat membuat bingung seroang cleaning service itu. Merasa ada yang kurang beres, Ia dengan cepat menuju ke keamanan rumah sakit dan menghubungi kepala rumah sakit. Mereka akhirnya datang secara bersama-sama untuk membuka pintu toilet tersebut. "Kalian baik-baik saja?" tanya Karan ingin memastikan keadaan mereka meski penasaran kenapa seorang pria bisa terjebak didalam toilwt perempuan. "Ummm.. kak Karan, kami baik-baik saja tapi kuncinya rusak dari dalam!" suara Adith langsung membuat Karan bingung. "Adith bagaimana kamu bisa terjebak disitu? apa kau bersama Alisya? karena yang lain sudah mencarinya dari tadi." tanya Karan setelah mengenali suara Adith. "Ya, aku sedang bersamanya sekarang, tapi aku tak tahu apa yang sedang terjadi dengannya sekarang. Dia hanya terdiam ditempatnya tak bergerak." ucap Adith yang panik melihat Alisya. Mendengar itu Karan dengan segera meminta keamanan untuk membuka paksa pintu toilet itu meski harus menghancurkan pintu toiletnya. Setelah 3 kali gebrakan, pintu itu akhirnya roboh yang membuat Karan bisa melihat Alisya yang sedang berdiri dengan ekspresi terkejut sedangkan Adith memandang dengan ekspresi panik. Chapter 210 - Bagaimana Kalian Tahu? "Apa yang terjadi dengan Alisya?" Karan masuk melihat ekspresi Alisya yang masih berdiri membeku dengan tatapan Shock. "Aku juga tidak tau, tadi ada sesuatu dan tiba-tiba dia sudah seperti itu!" ucap Adith panik tak tahu bagaimana ia harus menjelaskannya kepada Karan. "Tapi kalian tidak terluka atau bagaimana kan?" tanya Karan sekali lagi sambil menyelidik dari atas sampai kebawah pada Adith dan Alisya. "Aku baik-baik saja, tapi Alisya belum bergerak dari tadi. Aku takut terjadi apa dengan dia!" Adith semakin bingung dengan sikap ambigu yang ditunjukkan oleh Alisya. Tidak mungkin baginya untuk menjelaskan kepada Karan kalau Alisya dalam keadaan seperti itu setelah dia menciumnya. Karan mengira kalau tubuh Alisya sedang kaku dan tak bisa bergerak, namun setelah ia mencoba untuk mengangkat, Alisya langsung berjalan dengan sendirinya. Karena tak tahu apa yang harus dilakukan, Adith dan Karan hanya mengikuti Alisya dari belakang dengan tatapan waspada, bingung sekaligus khawatir. Orang-orang yang masuk bersama Karan kedalam toilet pun hanya saling pandang tak mengerti akan apa yang sedang terjadi. Alisya terus berjalan dengan tatapan kosong dan ekspresi yang tak bisa diterjemahkan oleh orang yang melihatnya. Bahkan nenek yang tak sengaja berpapasan dengannya saat mencari Alisya juga kebingungan dengan ekspresi Alisya. "Apa yang terjadi? Dari mana saja dia?" tanya nenek Alisya melihat sikap Alisya yang aneh. "Aku menemukan dia terjebak didalam toilet bersama Adith." Ungkap Karan yang terus menatap Alisya dari belakang punggungnya. Alisya tiba-tiba terhenti dan berbalik kepada Adith, Karan dan neneknya. "Stoppp, biarkan aku sendiri dulu!!!" ucap Alisya datar. Melihat Alisya yang pergi berjalan gontai membuat neneknya membuntutinya dari jauh karena khawatir. Mendengar itu Adith merasa semakin panik tak tahu apa yang harus ia lakukan, bagaimana kalau Alisya sudah membencinya sekarang, bagaimana kalau dia tak mau lagi bertemu dirinya keran sudah berbuat tak sopan pada Alisya dan bagaimana jika Alisya mengalami shock mental yang sangat kuat dan menjadi trauma karenanya. Adith larut dalam pikirannya sendiri saat Karan terus memanggil namanya. "Kalian berdua kenapa sih???" tanya Karan semakin bingung melihat tingkah mereka berdua. "A... aku baik-baik saja kak! Maaf karena sudah membuatmu khawatir, a ha ha ha... sebaiknya aku mencari udara segar dulu sekarang!" Adith pamit dari Karan dengan tertawa canggung yang membuat Karan merinding. "Hahhhh??? Sejak kapan kamu memanggilku kakak? Hei kamu mau kemana, jelaskan dulu apa yang terjadi?" Karan berusaha menghentikan Adith yang pergi tanpa menjelakan apa yang sedang terjadi sebenarnya. "Kenapa kak?" Karin muncul bersama Aurelia dan Adora saat yang lainya sedang memberikan pelajaran tambahan kepada Ryu sebagai persiapan untuk mengikuti perlombaan tingkat Nasional nantinya. "Adith dan Alisya, aku menemukan mereka terjebak didalam toilet bersama dan sekarang sikap mereka sangat Aneh. Bahkah Alisya lebih parah lagi." Ucap Karan memikirkan ekspresi keduanya. "Aneh? Aneh gimana kak? Tapi kenapa kakak tidak periksa aja tadi? Kakak tau kan Alisya punya trauma terhadap Gudang? Jangan sampai dia seperti itu karena itu!" Tegas Karin mengingat bagaimana Alisya sangat trauma jika terkunci atau terjebak didalam suatu tempat. "Kenapa aku melewatkan itu tadi? Tapi entah kenapa dia tak terlihat seperti itu. Ekspresinya jauh lebih berbeda dengan apa yang kamu khawatirkan!" terang Karan mengingat persis bagaimana reaksi Alisya jika dia sedang dalam keadaan mengalami trauma mental akibat terkunci atau terjebak di dalam gudang. Karin terdiam memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi sampai Karan terlihat sangat khawatir dengan Alisya. Namun entah kenapa ia tak bisa menemukan kemungkinan itu hanya berdasarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya saja karena Alisya hanya memiliki satu masalah yaitu traumanya terhadap masa lalunya, atau jika ada kemungkinan lain dan itu adalah... "Adith???" ucap Karin setelah teringat bagaimana Alisya selalu kelabakan setiap kali berhadapan dengan Adith begitu pula sebaliknya. "Adith juga memiliki ekspresi yang tak jauh berbeda, namun jika kau lihat wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang sangat tinggi entah karena apa!" lajut Karan lagi. "Apa Alisya memiliki ekspresi seperti ini?" tanya Aurelia sambil memberi contoh pada wajahnya. "Iya persis seperti itu, tapi ekspresi Alisya jauh lebih kuat dan lebin tertekan lagi." Ungkap Karan mengingat wajah Alisya sebelumnya. "Apa ekspresi Adith juga seperti ini?" tanya Yogi yang tiba-tiba muncul padahal sedari tadi dia sudah berada disana mengamati dari jauh pembahasan mereka. Namun ketika melihat Aurelia menebak seperti apa yang dipikirkannya, dia langsung tertarik untuk ikut mencontohkan ekspresi Adith. "Bagaimana kalian tahu? Apa kalian juga tahu apa yang sedang terjadi kepada mereka?" tanya Karan membenarkan Aurelia dan Yogi. "Apa kau memikirkan seperti apa yang sedang aku pikirkan sekarang melihat apa yang sedang di tunjukkan oleh Aurelia dan Yogi?" bisik Adora ditelinga Karin setelah mengamati pembahasan mereka. "Aku sudah menebaknya sejak tadi, tapi tidakkah kau merasa ini terlalu konyol?" tambah Karin lagi yang sudah mulai tak bisa menahan tawanya. Mendengar Karan yang mengiyakan tebakan Aurelia dan Yogi membuat Aurelia dan Yogi berpandangan dengan tatapan Blush yang kemudian membuat keduanya tertawa renyah. Karin dan Adora pun tak bisa menahan rasa tawanya lagi setelah melihat ekspresi malu pada Yogi dan Aurelia. Karan yang bingung hanya menatap mereka secara bergantian, namun karena ia tak bisa memahami apa yang sedang mereka tertawakan membuat Karan jadi merasa kesal. "Ada apa sih??? Kenapa kalian malah tertawa sekarang? Apa kalian tidak mengkhawatirkan Adith dan Alisya sekarang? Terlebih Alisya yang baru saja melewati masa kritisnya. Aku tau kalau sahabat terkadang bisa bersikap sangat menyebalkan, tapi cara kalian ini sudah sangat keterlaluan. Kamu juga!!!" Karan menceramahi mereka dengan ekspresi serius dan mencubit pipi Karin karena jengkel. "Auhhh,, apa sih kak. Sakit tau! Kakak sih kurang peka, yah... mau gimana lagi, kakak kan taunya hanya pelajaran, pekerjaan dan Karier jadi tentu saja kakak tak akan peka terhadap hal ini" ucap karin menahan tawanya karena tak ingin membuat Karan tersinggung. Adora dan yang lainnyapun ikut berhenti tertawa mengingat Kara sedang menganggap serius masalah Adith dan Alisya. "Maaf yah... kakak itu seorang dokter spesialis bedah, bukan dokter syaraf atau psikologis. Itu urusan ayah!" tegas Karan mengelus pipi Karin sembari menggertakkan giginya semakin geram. "Kakak nggak usah khawatir, biar kami yang menemui mereka." Ucap Karin mencoba menenagkan Kaakaknya. "Untuk Adith, sepertinya aku tau apa yang harus dilakukan!!!" senyum Yogi yang membuat Karin dan Adora serta Aurelia ikut tersenyum simpul sedang terpaksa Karan mengikut saja. Chapter 211 - Ciuman Pertamaku "Dasar bodoh!! Apa yang baru saja dilakukan oleh Adith, ya ampun... Dia membuat ku gila! Selama ini aku sudah mempersiapkan jantungku, tapi kenapa dia melakukannya dengan tiba-tiba seperti itu sih?" Alisya terus berjalan dengan fikiran yang kalut yang kemudian kosong tak tahu apa-apa lagi dalam otaknya sekarang. Yang ia pikirkan hanyalah rasa hangat dari bibir Adith yang menyetrum seluruh tubuhnya. "Otakku dan Syarafku rasanya sudah menghangus sekarang!!!" batin Alisya lagi berjalan menuju ke kamarnya. "Nenek... mana Alisya?" tanya Karim saat menemukan nenek Alisya sedang berjalan bolak balik di koridor rumah sakit. "Ada di dalam kamarnya! Apa yang sedang terjadi sebenarnya? kenapa dia seperti itu?" tanya neneknya khawatir. "Nenek tidak usah khawatir, dia baik-baik saja kok! Biar kami yang menemuinya!" tegas Aurelia menenangkan nenek Alisya. Karin mengangguk pelan untuk meyakinkan nenek Alisya. Melihat tatapan lembut Alisya yang tak memperlihatkan rasa khawatir, nenek Alisya menjadi cukup yakin akan hal itu. "Apa yang kalian lakukan disini?" Adora heran dengan semua orang yang sedang menatap bingung ke dalam kamar. "Kami di usir sama Alisya! dia kenapa sih? aku nggak yakin dengan ekspresi dia saat masuk. Tapi ketika kami tanyakan kenapa dia hanya masuk dan langsung terbaring menutup tubuhnya seperti itu setelah mengsuir kami semua termasuk dia!" tunjuk Feby kepada Ryu yang terduduk dibawah masih dengan buku-buku yang berada di pangkuannya. Ryu terlihat begitu serius bahkan sampai melanjutkan pelajarannya meski berada diluar kamar dan dikoridor sekolah. "Apa yang terjadi padanya?" tanya Emi merasa khawatir dengan sikap Alisya yang tak wajar. "Ummm.. kami sedang ingin menemuinya sekarang! Apa dia mengunci pintunya?" tanya Karin melihat kedalam kamar. "Sepertinya tidak, tapi melihat ekspresi wajahnya membuat kami tak berani untuk mengganggunya." terang Beni yang memilih duduk bersama Ryu. "Oke!" Karin langsung masuk bersama Aurelia sedang Adora membiarkan mereka untuk mendapatkan sedikit privasi dengan mengajak semua teman-temannya ke tempat yang lebih nyaman untuk mereka bisa berdiskusi dengan baik. "Dimana Zein dan Riyan? apa mereka sudah pulang kerumah?" tanya Adora saat tak melihat mereka disana setelah pertunjukan selesai. "Mereka sudah pulang lebih dulu karena ada yang harus mereka kerjakan!" jawab Gani membantu Ryu mengangkat semua buku-bukunya di bantu oleh Akiko dan Gina. Adora hanya terdiam setelah mendapatkan jawaban itu. ia hanya terfokus untuk membantu Ryu mengejar ketinggalannya dalam belajar. "Ehemmm .. apa yang kau lakukan dengan menutup dirimu seperti itu huh??" goda Karin saat sudah berhasil masuk kedalam kamar Alisya saat Alisya dalam keadaan menutup seluruh tubuh menggunakan selimut. "Karin??" Alisya langsung terbangun kaget saat mendengar suara Karin. Alisya kaget saat melihat kalau disana juga ada Aurelia sehingga ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. "Tidak usah khawatir, kau bisa bertanya padanya mengenai apa yang baru saja kamu alami, sebab ku rasa dia yang lebih tahu pasti akan apa yang sedang kamu alami sekarang!" senyum Karin menggoda Alisya. Karin memang belum tahu pasti akan apa yang sedang terjadi antara dia dengan Adith, namun banyak hal yang membuat Karin menebak nebak dengan liar. "Jadi bagaimana perasaanmu?" tanya Aurelia kepada Alisya. Alisya tidak langsung menjawab dan malah melirik ke arah pintu karena takut ada yang mendengar. "Adora sudah mengirim mereka menggunakan Pos! Tak ada yang bisa mendengar mu selain kami berdua disini" tegas Karin membuat Alisya tenang. "Jadi??" tanya Aurelia terduduk disisi ranjang sebelah Karin. " A... ummm... Adith... dia..." Alisya tak tahu bagaimana harus menjelaskan situasinya. "Apa yang terjadi? dia kenapa?" Karin menaikkan suaranya mulai tak sabaran. "Dia menciumku!" ucap Alisya dengan ekspresi malu. "Lalu apa yang kamu lakukan?" tanya Karin datar yang langsung dicubit oleh Aurelia karena ingin memberikan kesempatan kepada Alisya untuk bercerita lebih. "Aku hanya terdiam karena terlalu terkejut. Dia melakukannya secara tiba-tiba, jantungku rasanya mau copot!" jelas Alisya lagi. "Oh ayolah,, aku pikir akan ada sesuatu yang lebih seru dari itu!" ucap Karin kesal karena merasa Alisya bereaksi terlalu berlebihan. "Karena itu ciuman pertama ku bodoh!!!" Alisya memaki Karin kesal karena tidak memahami perasaanya. Karin kemudian berpikir bahwa benar saja Alisya akan bereaksi seperti ini karena sebelumnya ia tak pernah dekat dengan cowok lain selain Karan yang sudah dianggapnya juga seperti kakaknya sendiri. "Oke,, aku paham sekarang. Jadi bagaimana rasaya?" tanya Karin lagi dengan nada menggoda. "Huuhhh?? kau mau ku hajar???" Alisya sudah bersiap ingin melakukan penyiksaannya lagi seperti yang selama ini biasa ia lakukan kepada Karin. "Sudah, berhenti menggodanya. Alisya, kau membuat semua khawatir tau nggak!" Aurelia langsung menghentikan tingkah Karin yang terus saja menggoda Alisya. "Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang? Melihat dari reaksimu yang seperti ini, sepertinya kau akan menjauhi Adith lagi." Ucap Karin menatap Alisya serius. "Aku tak tau, meski dia sudah menunjukan perasaannya dengan menciumku seperti itu, aku tetap tak bisa menghilangkan pikiran bahwa dia bukan mencintaiku melainkan sedang mengasihaniku atau malah sedang takut padaku atau mungkin karena hal yang lain yang tidak aku ketahui" terang Alisya yang kalut akan semua pikirannya yang terus menghubungkan Adith dengan perubahannya yang lalu. "Aku mungkin tidak bisa mengetahui perasaan Adith secara pasti padamu, tapi menurutku dia sangat tulus padamu. Aku mengatakan ini bukan karena aku seolah merasa tau banyak tentang dia namun karena yang selama ini aku tahu dia tak pernah segitu khawatir kepada orang lain. Dan kamu adalah orang pertama yang berhasil membuka hatinya." Terang Aurelia dengan suara lembut. "Adith bahkan tak tidur selama 2 hari untuk terus berada disamping mu sampai semua pekerjaan kantornya ia lakukan dirumah sakit ini. Ayah Yogi bahkan sampai kewalahan saat harus terus bolak balik antara kantor, rumahnya dan rumah sakit" tambah Karin dengan senyuman hangat. "Berilah kesempatan kepada Adith untuk menunjukkan perasaanya kepadamu begitu pula sebaliknya. Aku tau kalian saling mencintai, tapi rasa takut akan kehilangan satu sama lain diantara kalian yang tanpa sadar membuat kalian menjadi menutup diri untuk saling memiliki" lanjut Aurelia lagi. "Kau hanya terlalu takut sekarang, fikiranmu terus menolak sedang hatimu menjawab semua keinginanmu. Apa yang sudah terjadi tak bisa merubah keadaan bahwa Adith memang tulus menyukai mu apa adanya. Jadi berhentilah menyiksanya dengan terus menjauhinya." ucap Karin berusaha meyakinkan Alisya. Alisya terdiam meresapi setiap kata yang dilontarkan oleh Karin dan Aurelia. Alisya berpikir bahwa biarkan semua yang terjadi mengalir apa adanya. Chapter 212 - Sepertinya Dia Benar Alisya Pagi hari di sekolah. Jam pelajaran pertama baru saja selesai tapi Alisya tak pernah bisa fokus setiap kali mengingat kejadian kemarin. Dia yang seharusnya belum diizinkan untuk ke sekolah sudah memaksakan diri untuk bisa segera ke sekolah karena tidak tahan berada di rumah sakit. "Aaaahhhhhh.... dasar Si Jenius sialan!!! bodoh, kampret, IQ mu boleh tinggi tp EQ mu rendah Ad.." Alisya kaget saat dia sadar kalau tidak berteriak dalam batinnya namun dia mengatakannya dengan sangat keras sampai-sampai semua orang menatap dengan penuh ketakutan padanya. Bahkan Rinto dan Ryu sampai menempel di dinding saking kerasnya Alisya berteriak. "Ohookkkm ohookkk ohookkkk!!!!" Adith terbatuk-batuk dengan sangat keras. "Kalau minum pelan-pelan. Kenapa kau tiba-tiba batuk, kau sakit???" tanya Zein yang tau betul kalau Adith bukanlah tipe orang yang gampang merasa sakit. "Sepertinya ada seseorang yang sedang memakiku dengan keras!!!" ucap Adith dengan suara seraknya. "Kau baik-baik saja kan?" tanya Riyan menatap dengan khawatir. Adith hanya mengangguk pelan sambil memegang lehernya yang terasa gatal. "Apa yang sedang kau lakukan? kau membuatku kaget dengan berteriak tiba-tiba seperti itu." Karin menatap Alisya tajam dengan memegang dadanya karena terkejut. "Apa aku berteriak dengan sangat kencang?" tanya Alisya tersenyum simpul. "Apa?? kau bahkan hampir meledakkan telingaku karena teriakanmu itu. Kau kenapa sih? masih pagi sudah ke sambet setan!" terang Karin jengkel dengan tingkah Alisya yang meledak-ledak. "Apa memang dari dulu Alisya suka seperti ini?" Aurelia datang menghampiri sambil tertawa pelan. "Entahlah.. aku tak tahu siapa dia! Sepertinya dia bukan temanku, aku tak punya Alisya yang sepertinya!" Karin mengatakannya dengan nada mengejek yang membuat Alisya menjadi jengkel lalu dengan cepat dia mengambil kepala Karin dan menjepitnya dengan keras. "Tap.. tap... " Karin menepuk-nepuk punggung tangan Karin sebagai tanda untuk menyerah. Muka Karin memerah karena menahan nafas saat lehernya dicekik oleh Alisya. "Sepertinya dia benar Alisya!!" ucap Adora yang membuat semua orang tertawa karena tingkah konyol Karin yang tak pernah menyerah untuk mengganggu Alisya meski ia terus mendapatkan siksaan dari Alisya. Baginya seolah hiburan tersendiri untuk selalu menggoda Alisya yang kaku. "Waahhh... masih pagi kalian sudah se semangat ini yah?" ibu Vivian masuk kedalam kelas disaat mereka masih tertawa ramai. "Apa kabar Alisya, sepertinya kamu sudah sembuh yah? cepat sekali." ucap ibu Vivian melihat Alisya yang sedang bertempur pandang dengan Alisya. "Dia terlalu sehat malah bu, nggak akan pernah sakit! Sekalipun sakit, dia akan tetap kembali sehat lagi." teriak Karin dengan penuh semangat meski suaranya masih serak. Mereka tertawa sekali lagi akibat ulah Karin. Hanya Karin seorang yang mampu mengolok olok Alisya dengan sangat santai karena sudah bersahabat sejak lama. Sedang yang lainnya, meski mereka sudah dekat dengan Alisya, mereka tetap saja tidak akan berani mengolok-olok Alisya seperti apa yang dilakukan oleh Karin. "Oke-oke... nah, ibu punya pengumuman buat mereka yang akan mengikuti perlombaan Nasional. Kalian mungkin akan meninggalkan sekolah selama 1 minggu dan setelah kalian kembali kita akan mengadakan ujian tengah semester untuk itu, sebelum kalian pergi maka kalian akan mendapatkan pelajaran tambahan dulu. Kalian akan mengikuti pelajaran di pagi hari, ektra kurikuler di sore hari dan pelajaran tambahan di malam hari. Untuk yang malam hari kita akan laksanakan selama 2 malam saja karena pada hari berikutnya kalian sudah akan berangkat mewakili sekolah!" terang ibu Vivian panjang lebar. "Belajar malam? apa itu artinya kita akan menginap disekolah selama 2 hari 2 malam bu?" tanya Adora memastikan perkataan ibu Vivian. "Yup benar, kita akan melakukannya secara gabungan antara kelas Mia 1 dan Mia 2 serta Iis 1 dan Iis 2." jelas ibu Vivian lagi. "Kenapa harus bergabung dengan mereka bu?" tanya Aurelia merasa tidak nyaman jika harus bergabung dengan mereka. "Maksud ibu Vivia adalah belajar malamnya akan digabung antara kelas Mia 1 bersama 2 sedang Iis 1 bersama Iis 2. bukan semua kelas di gabung bersama!" terang Yogi mencoba menjelaskan. "Tch,,, itu aku tau! Maksud aku kenapa para Iis juga ikut dalam pelajaran kelas malam sedangkan yang ikut ke tingkat Nasional kemarin cuman dari kita yang ditunjuk!" terang Aurelia menjelaskan maksud pertanyaannya. "Itu karena ada beberapa lomba yang bukan hanya tentang mata pelajaran Sains saja namun ada beberapa pelajaran Sosial juga diadakan. Selain itu kalian semua yang pergi juga merupakan pilihan dengan berbagai bakat yang bisa kalian tunjukkan dalam acara lomba lainnya sehingga tambahan anggota sangat diperlukan." ucap ibu Vivian dengan penuh kesabaran menjelaskan kepada mereka semua. "Bu, apa kami juga bisa mengikuti pelajaran tambahan itu? kami merasa tidak ingin ketinggalan dari mereka meski mungkin kami bisa mendapatkan pelajaran itu juga namun jika bersama mereka, sepertinya kami lebih bersemangat untuk belajar." terang Egi meminta untuk ikut bersama dengan mereka. Ada beberapa anak yang memang tak menjadi perwakilan di kelas Mia 2, namun jika harus belajar tanpa beberapa teman yang lainnya mereka merasa akan cukup bosan sehingga dengan cepat mereka menawarkan diri. "Ummm, makin banyak sepertinya akan makin bagus. Yang kusukai dari kelas ini adalah semangat kalian bersaing dalam pelajaran. Selain itu aku rasa ini bisa menjadi moment yang penting buat kalian jadi kenapa tidak? kalian semua boleh ikut. Aku akan membuatkan surat izin lebih untuk kalian. Biar aku yang akan bertanggung jawab!" ucap ibu Vivian dengan penuh keyakinan. Perkataan ibu Vivian langsung mendapat sorakan antusias oleh semua orang yang berada dalam kelas tersebut tidak terkecuali Alisya. Alisya merasa setiap moment kebersamaan dia bersama teman-temannya adalah sesuatu yang tak boleh ia lewatkan sehingga hal itu sangat memacu semangatnya. "Oke, sebentar kalian jangan dulu pulang. Kalian harus mengambil surat izin untuk orang tua terlebih dahulu untuk bisa mendapatkan akses masuk kedalam sekolah sebentar malam. Jika tidak, maka tentu saja kalian tidak boleh ikut!" tambah ibu Vivian lagi mengingatkan mereka. "Yahhh... ibu sudah buat semangat sekarang malah patah semangat lagi." jawab yang lainnya dengan suara lesuh. "Ibu akan mencoba menghubungi orang tua kalian satu persatu untuk memberikan pengertian akan kegiatan yang kita laksanakan, jadi tidak perlu khawatir." Ibu Vivian tersenyum dengan hangat. Kelas seketika kembali menjadi kacau lagi sehingga ibu Vivian pamit untuk undur diri dan setelah itu bel untuk jam istirahat berbunyi dengan sangat kencang dan seketika koridor sekolah menjadi sangat ramai karena semua anak-anak keluar dari kelasnya menuju ke kantin sekolah. Chapter 213 - Korban Gosip "Seperti yang sudah kalian ketahui, kalian bertiga akan mewakili sekolah untuk mengikuti lomba pada tingkat Nasional nantinya, oleh karena itu sekolah sudah membuatkan jam pelajaran tambahan pada malam hari." ucap pak Irhan kepada Adith, Zein dan Riyan yang dipanggil keruangannya. "Pelajaran tambahan?" Riyan kaget saat mendengar ucapan pak Irhan. "Ya benar. Kalian sebenarnya tidak perlu melakukan hal itu, tapi sekolah sudah menetapkan agar kalian bisa sekalian memberikan bimbingan kepada kelas Mia 2, untuk itulah pelajaran tambahan diperlukan oleh mereka!" tegas pak Irhan dengan nada yang kurang mengenakkan bagi Adith. "Aku rasa bapak salah paham, saya yakin tujuannya bukalah itu..." ucap Zein mencoba untuk meluruskan pikiran pak Irhan yang sudah cenderung tidak suka dengan kelas Mia 2. "Terserah.. intinya aku akan memberikan kalian surat izin orang tua agar kalian bisa datang sebentar malam. Jadi kalian bisa kembali lagi kemari sebelum pulang sekolah" terang pak Irhan acuh tak acuh dengan perkataan pak Irhan. Setelah selesai memberikan arahan, Adith langsung keluar dari ruangan pak Irhan setelah sebelumnya meminta izin. Melihat ekspresi kesal Adith, Zein segera ikut keluar dari ruangan tersebut bersama dengan Riyan. "Hei kau mau kemana?" tanya Zein dengan cepat menghampiri Adith yang langsung mempercepat langkahnya. "Kantin, mood ku berantakan karena pak Irhan. Aku harus mencari seseorang yang terus saja mengabaikan ku. Aku mau lihat sampai mana dia akan mengabaikan ku terus." tegas Adith mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi seseorang. Adith bukanlah orang yang selalu menyimpan permasalahan ataupun kesalahan pahaman dalam waktu yang berlarut larut. "Kantin? kantin yang mana? kamu salah jalan.. kantinnya sebelah sana...!" tunjuk Riyan setengah berteriak karena Adith yang semakin menjauh. "Berisik!!! ngapain teriak-teriak di ruang guru sih..." ucap seorang guru keluar dari ruangan merasa terganggu karena teriakan Riyan. "Maaf pakk... Maaf..." Riyan langsung menunduk pelan meminta maaf. "Aku rasa, aku tau kantin mana yang ia maksud. Aku juga penasaran bagaimana rasanya berada di kantin sana. Bagaimana kalau kita ikut?" tanya Zein dengan wajah yang penuh semangat. "Maksud kamu di kantin kelas biasa??? Nggak... makanan disana itu nggak berkualitas tau. Aku nggak ikut!" Riyan langsung berbalik pergi karena tak ingin ikut bersama Zein. "Tau apa kau kalau belum pernah melihat dan mencobanya langsung? jangan menjadi korban gosip. Tidak ada salahnya jika kita membuktikan langsung. Buktinya Adith terlalu sering kesana dibanding dengan restoran gedung kita!" Zein dengan cepat menangkap kerah baju Riyan untuk menghentikannya. "Itu karena ada Alisya disana. Pokoknya aku nggak mau ikut!" tegas Riyan yang perutnya sudah mulai kerocongan karena lapar. Riyan berusaha keras untuk lepas dari cengkraman Zein dan menuju ke Restoran mereka untuk secepatnya mengisi kampung tengahnya. "Kau takkan kemana-mana. Aku yakin kau akan ikut jika masih ingat kalau dimana ada Alisya, disana juga ada Karin." pancing Zein untuk menarik minat Riyan. Zein tau betul kalau Riyan menyimpan perasaan kepada Karin. Setelah diam beberapa saat, Riyan langsung berlari menghampiri Adith yang belum terlalu jauh berjalan dari mereka. Zein hanya bisa tersenyum melihat Riyan yang cukup gampang untuk dipengaruhi dan segera ikut berlari menghampiri keduanya. ***** "Jadi kau mau pesan apa?" tanya Adora kepada Alisya yang sudah duduk dengan tatapan kosong. "Hei... aku tau kau terus terganggu karena kejadian kemarin, tapi setidaknya kau harus mengisi perutmu!" Aurelia mencoba menyadarkan Alisya untuk kembali fokus. "Perutmu butuh energi banyak untuk menghadapinya, jadi jangan lewatkan makanmu!" ucap Karin menepuk pundak Alisya lembut. Kali ini Karin serius akan perkataannya karena ia memang sangat memperhatikan Alisya. "Aku pesan yang biasa saja, Mie ayam dan segelas es jeruk!" ucap Alisya tersenyum hangat. Semua teman-temannya dengan cepat pergi memesan makanan di depan kantin sedang Alisya hanya duduk terdiam di tempat melemparkan pandangannya ke jendela kantin. Dia selalu suka dengan posisi di pojok kantin karena suka berada didekat jendela. "Nih makan..." sodor Karin setelah mengambilkan pesanan Alisya. Mereka dengan cepat duduk di meja panjang dan kursi panjang yang cukup untuk 5 orang di tiap barisnya. Karin duduk di samping Alisya sambil mengambil beberapa bumbu-bumbu tambahan lainnya yang berada di meja lain tak jauh dari mereka. Setelah selesai mencampur kecap, saos, sambal dan sedikit perasan jeruk nipis, Alisya dengan semangat menyeruput mie ayamnya. "Aahhh.. bahkan sekarang aku melihat Adith ada dihadapanku!" Alisya yang mengangkat kepalanya dan melihat Adith duduk dihadapannya. Setelah berusaha menelan mie ayamnya, Alisya melihat wajah Adith lekat-lekat. Rambut hitamnya yang berkilau disinari matahari, kulit wajahnya yang putih bersinar, Alisnya yang tajam namun tebal, bola matanya yang hitam legam dan terlihat jelas ada dirinya disana, hidungnya yang mancung seperti tembok China yang kokoh, dan.... bibirnya yang merekah bak delima. "Bibirmu benar-benar magnet yang sangat kuat!!!" kata Alisya dengan sedikit keras membuat semua teman-temannya langsung terbatuk-batuk hebat akibat kalimat Alisya. "Kauhh...ohokkkk,, ohooookkk! kenapa kau mengatakannya dengan sejelas itu?" Karin menangis karena pedisnya sambal yang ia batukkan dan masuk kedalam hidungnya. "Apa kau sadar dengan apa yang barusan kau katakannnnnhh ohokkkk!" batuk Aurelia lagi yang tak kalah kagetnya. Aurelia langsung mengambil air minum sambil memijit kepalanya karena sakit. "Apa aku mengatakannya dengan keras lagi?" tanya Alisya dengan tatapan bingung. "Apa yang sedang terjadi dengannya? kenapa dari kemarin tingkah lakunya aneh seperti itu?" tanya Feby yang harus membersihkan mukanya karena muntahan Emi dihadapannya. "Kau tak sadar dengan berkata seperti itu dihadapan dia?" tanya Emi mengetuk pundak Alisya dan menunjuk ke arah Adith. "huuhh??" Alisya mengikuti arah telunjuk Emi yang mengarah dihadapannya dia duduk. Alisya mengedipkan matanya beberapa kali karena tak percaya. Ia tidak pernah berpikir kalau itu benar-benar Adith dihadapannya karena sejak tadi pagi bayangan Adith terus saja muncul dan menggodanya, sehingga saat Adith benar-benar muncul dihadapannya Alisya tak menyadari itu. Karena grogi, Alisya langsung mengambil gelas yang berisi es jeruknya yang dingin dan meminumnya perlahan-lahan. "Sayang, aku pikir kau akan menghindariku dan membenciku karena kejadian kemarin, tapi melihat dari sikapmu ini sepertinya kau cukup ketagihan denganku yah!" ucap Adith dengan santai sambil memandang Alisya dengan gemas. "puuuuffffrrrrrrrhhh..." Alisya menyemburkan minumannya ke wajah Karin karena ia meminum minuman nya dengan menyamping. Karin seketika basah kuyup sedang yang lainnya membelalakkan mata mendengar Adith yang berbicara dengan santainya seolah mereka semua tak berada disana. Bahkan Rinto dan yang lainnya yang berada di meja sebelah langsung menatap dengan takjub. Chapter 214 - 3 Elite "Bisakah kalian tidak membuat novel ini menjadi Vulgar?" Zein datang dan duduk di antara mereka semua. "Entah apa yang sedang mereka berdua pikirkan sebenarnya." Aurelia langsung membersihkan meja mereka yang kotor karena semua tumpahan makanan mereka. "Meja ini jadi kelihatan jorok sekali" Akiko langsung beranjak pindah ke meja sebelah dimana Rinto dan yang lainnya melanjutkan acara makan mereka sambil mengamati teman-temannya. "Akiko beruntung sekali berada jauh dari yang lainnya." Adora membersihkan bajunya yang sedikit kotor karena semburan Alisya sebelumnya. "Kau tidak apa-apa?" Riyan dengan cekatan menghampiri Karin yang basah karena semburan Alisya. "Aku merasa sedang diberi injeksi vitamin biar makin tumbuh!" ucap Karin yang membuat mereka tertawa karena merasa konyol. "Kau!!! apa yang kau lakukan disini? ohokkkk ohooookkk..." Alisya kembali terbatuk-batuk karena mulutnya masih terisi penuh oleh Air minumnya. Ia berbicara di saat mulutnya masih penuh sehingga tentu saja epiglotisnya (Katup yang menutupi saluran tenggorokan) terbuka yang membuat minumannya masuk melewati saluran yang salah. "Seperti biasa, aku kesini untuk makan mie ayam milikmu." terang Adith sambil menarik mie ayam yang sudah dimakan oleh Alisya. "Kau bisa memesannya sendiri tanpa mengambil mie ayam milikku kan?" tanya Alisya dengan kesal menatap Adith yang sedang menyeruput mie ayam miliknya tanpa memperdulikan ucapannya. "Apa itu masalahnya sekarang? bukankah aku seharusnya mendapatkan sebuah permintaan maaf yang tulus???" Karin mendekat ke telinga Alisya berbisik dengan horor untuk mendapatkan perhatiannya yang sedang memasang mode tempur kepada Adith. "huuhhh?" Alisya berbalik karena rasa geli ditelinganya memadang Karin dengan tatapan bingung. "Ya ampun.. anak ini sudah tidak terselamatkan lagi." Karin menepuk jidatnya dan menekan dadanya dengan kasar untuk menyabarkan dirinya sendiri. Aurelia dan yang lainnya hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat kemalangan Karin karena sikap Alisya yang benar-benar telah kehilangan fokusnya karena Adith. "Itu beneran enak Dith? ada makanan layak yang bisa dimakan nggak? aku kelaparan sekali nih?" tanya Riyan merasa ngiler juga ngilu melihat mie ayam yang sedang diseruput oleh Adith dengan lahapnya. "Bagaimana cara kami untuk mendapatkan ini?" tanya Zein yang bingung karena tidak melihat ada meja yang mengantrikan semua menu makanan itu. Zein dan Riyan tentu saja tak tahu cara kerja Kantin kelas biasa. Mereka sudah terbiasa dengan Restoran mereka yang hanya cukup dengan mengambil piringan makanan kemudian mengarah ke meja makanan yang sudah menyiapkan berbagai macam menu yang tentu saja mewah. Riyan dan Zein melihat kesana kemari tak memahami sistem yang ada dikantin itu, mereka hanya melihat beberapa anak berdiri di depan kantin, memberi uang lalu kembali dengan menu yang sudah mereka inginkan. "Apa yang sedang terjadi? bukankah itu Riyan dan Zein? A.. Adith juga ada bersama mereka!" seorang perempuan yang sedang makan tiba-tiba tersadar akan keberadaan 3 elite sekolah yang berkumpul disana. "Waaahhhh" teriak yang lainnya yang seketika membuat semua orang berhasil menemukan arah alasan teriakan itu menggema hampir disemua pelosok kantin saat itu. "Bisa kalian bayangkan? ada 3 elite atas sedang duduk makan di kantin ini" tanya seorang kepada temannya yang sedang mengantri. "Apakah ini hari keberuntungan ku? Bisa melihat mereka dalam jarak sedekat ini adalah sebuah keajaiban!" tambah yang lainnya lagi. "Oh tidak... Jiwa kebucinanku berteriak keras!!!" tambah yang lainnya yang sudah merasa sangat bahagia melihat Zein, Riyan dan juga Adith di tempat yang sama. "Kalian benar serius ingin makan disini?" tanya Karin memastikan apa yang baru saja didengarnya. "Iya,, aku mau yang seperti dia. sepertinya itu enak! Biarkan aku mencobanya juga." terang Riyan yang perutnya semakin keroncongan. "Ya sudah, kalau begitu kami akan memesankan kalian menu yang sama dengan menu yang sedang dimakan oleh Adith!" Rinto dan Yogi segera bangkit tak sabar ingin melihat reaksi mereka saat merasakan makanan yang selama ini mereka konsumsi dikantin mereka yang selalu di anggap sampah oleh para elite. "Aku harus membersihkan bajuku dulu, tolong pesankan aku juga makanan yang baru. Aku baru memasukkan 2 sendok saja tadi dan sekarang perutku masih lapar!" terang Karin bangkit dari tempat duduknya. "Aku ikut bersama mu, sepertinya aku harus membersihkan otakku terlebih dahulu." Alisya dengan cepat mengikuti Karin untuk melarikan diri dari Adith. Melihat Alisya yang sedang melarikan diri, Adith hanya tersenyum sambil melambai. Adith sengaja melepaskan Alisya untuk saat ini agar dia bisa menggodanya lagi nanti. "Sepertinya kita semua harus memesan makan lagi, makanan ini sudah tidak bisa diselamatkan!" Aurelia menatap jijik dengan makanan mereka yang sudah bercampur satu sama lainnya karena tingkah mereka sendiri sebelumnya. "Kau yakin masih ada niat makan?" tanya Adora seolah mulai kehilangan makannya. "Jika kalian tidak makan, bagaimana kami bisa menikmati makanan kami?" tanya Zein yang merasa canggung jika harus ditinggal makan. "Baiklah, pertama kita harus pindah meja dulu, perutku juga masih lapar karena semua pelajaran tadi. Setidaknya perut kita harus terisi karena sebentar masih ada kegiatan ekstrakurikuler." terang Emi mengingatkan mereka untuk memesan makanan lagi sebelum semua makanan yang ada dikantin itu benar-benar habis. "Eh, kau mau kemana? bukannya kau mau ke toilet bersama ku?" tanya Karin saat melihat Alisya yang sudah menuju ke arah yang berlawanan. "Bukan air yang ada di tolilet yang aku butuhkan, sebaiknya aku harus mencari air dari keran di luar sana untuk menjernihkan pikiranku!" Tunjuk Alisya pada Keran yang berada di dekat halaman untuk membersihkan diri. Karin hanya mengangguk karena diapun mulai merasa tak nyaman karena bajunya yang mulai terasa lengket. Saat Alisya sudah berlalu pergi, Karin dengan cepat menuju ke toilet untuk membersihkan bajunya yang basah dan menguning. "Ini, pakai ini. akan tidak nyaman jika kamu hanya membersihkan dan langsung mengeringkannya!" ucap Ryu yang memberikan pakaian cadangan olah raganya kepada Karin yang baru saja keluar dari toilet dengan mengibas-ngibas kan bajunya yang sudah ia keringkan dengan pengering tangan didalam toilet. "Kapan kamu mengambil ini? bukannya tadi kamu masih makan dikantin bersama yang lainnya?" tanya Karin mengingat ia meninggalkan mereka yang masih menghabiskan makanan mereka. "Tidak lama setelah aku menghabiskan semua makananku!" ucap Ryu dengan nada yang santai. "Terimakasih!!!" ucap Karin dengan tulus. Karin hanya tersenyum lalu kemudian masuk kedalam toilet lagi untuk berganti pakaian sedang Ryu tetap menunggu diluar untuk memastikan tidak ada satupun yang masuk. Meski sebenarnya dia tidak perlu melakukan itu, tapi Ryu merasa perlu berjaga-jaga saja. Chapter 215 - Sistem Reproduksi Pria "Mana Alisya? Bukannya kau pergi bersamanya? kenapa sekarang kau malah kembali bersama Ryu?" Akiko heran saat Karin kembali ke kantin bersama Ryu dan bukannya Alisya. "Tadi dia bilang mau mencuci wajahnya diluar, aku pikir dia sudah kembali kemari saat aku sedang berganti baju!" terang Karin tak menduga kalau Alisya tak berada disana. "Sepertinya dia sedang melarikan diri dari seseorang!" pandang Zein yang kini sudah mengarah kepada Adith. Adith hanya tersenyum gemas. Ia sangat senang menggoda Alisya terlebih karena sikap Alisya yang terlalu terang-terangan dengan ekspresinya. Meski kadang sikapnya terasa dingin, namun keluguannya membuat Adith selalu ingin terus menggodanya. "Baju itu terlihat sedikit lebih besar, apa itu baju Ryu?" tanya Adora melihat Karin yang tampak tertelan baju karena tubuh mungilnya. "Aku memiliki baju cadangan di lokerku makanya aku meminjamkannya. Bajunya mungkin akan kering, tapi aku rasa lebih nyaman jika memakai baju yang bersih!" terang Ryu mencoba untuk bersikap biasa saja dihadapan teman-temannya. "Ehehmmm.. Ryu sepertinya peka sekali yah, apa seharusnya aku membiarkan diri diguyur oleh Alisya saja tadi?" Emi merasa cemburu dengan perhatian Ryu kepada Karin. Riyan menelan nafas dalam merasakan panas dalam dirinya. Dia dengan cepat membukakan tempat duduk disampingnya. "Duduklah, makananmu akan dingin jika tidak segera dimakan!" Riyan tak ingin kalah dalam memberi perhatian. "Kapan aku bisa mendapatkan perhatian seperti ini?" Feby berbisik kepada Adora yang hanya tersenyum simpul melihat petir dikedua mata Riyan dan Ryu yang kadang tak sengaja bertatapan. "Bagaimana pesananmu?" tanya Karin bersikap seperti biasa tak tahu apa yang sedang terjadi. "Pas betul kau sudah datang, kami baru saja bisa mendapatkan pesanan mereka berkat seseorang!" Rinto menyinggung Adith karena hal itu. Melihat pandangan Rinto, Karin menatap dengan pandangan bingung tak paham apakah Rinto sedang memuji ataukan sedang menyindir Adith. "Mereka yang melihat Adith makan Mie ayam langsung membuat kerepotan bapak penjual Mie ayam itu. Semua siswa langsung berbondong-bondong untuk membeli makanan yang sama yang hampir saja terjadi keributan karenanya. Beruntunglah kami masih diberi beberapa mangkok!" terang Yogi terlihat penuh dengan peluh saat meletakkan pesanan mereka. "Untuk menyiasati agar tidak semua berada pada satu tempat yang sama, pesanan yang seharusnya untuk Karin dan yang lainnya kami gunakan nama Zein dan Riyan sebagai pemesannya sehingga sekitar 10 sampai 15 persen dari mereka memutus Antrian dan berada ke tempat yang kami pesan." tambah Beni dengan suara serak kehabisan nafas karena berteriak. "Kalian benar-benar gebrakan besar dengan berada disini, bahkan para junior pun semuanya dengan semangat mengantri sesuai dengan menu pesanan kalian." tambah Gani yang terduduk lemas seperti yang lainnya. "Nakkk.." 2 orang ibu dan 3 orang bapak-bapak datang menghampiri Adiht dan yang lainnya sembari membawa makanan yang berasal dari warung masing-masing. "Bapak sama ibu tidak tau apakah kalian akak suka dengan makanan dan minuman ini atau tidak, tapi sebagai ungkapan rasa terima kasih kami... Kami harap kalian mau mencicipi masakan ini" seru salah seorang dari mereka sebagai perwakilan dari mereka. "Ahhh,,, kalian seharusnya tak perlu melakukan ini. Kami kan tidak melakukan apapun, kami hanya ingin makan saja pak, bukan untuk menilai masakan ini enak atau tidak. Tapi memang benar masakan yang ada disini cukup menggugah selera saya sehingga saya sering kemari untuk makan bersama yang lainnya." Adith berdiri dari tempat duduknya merasa tidak enak dengan kebaikan mereka. "Tidak nak, berkat kamu banyak yang selalu datang kemari untuk makan. Padahal biasanya mereka lebih suka makan makanan yang berada diluar sekolah ini, maka dari itu kami sangat bersyukur karena sejak nak Adith makan disini, kantin ini jadi semakin ramai." tambah ibu lainnya dengan cepat. "Kalau begitu terimakasih banyak, kami akan menikmati dan memakannya dengan lahap." Zein yang tak ingin mereka berlama-lama memegang nampan makanan pemberian mereka dengan cepat mengambil nampan itu. "Terimakasih banyak yah pak.. saya akan buat mereka untuk sering datang makan disini deh!" ucap Yogi sambil mengambil nampan yang lain. "hahahaha.. terimakasih buat nak Rinto dan Nak Beni yang sudah membantu tadi" tambah seorang bapak yang lainnya. "Diamkan yah.. maaf bapak cuman bisa nyuguhin segini saja!" sodor yang lainnya kepada Gani. "Terimakasih banyak pak, bu... Kami akan menghabiskan semuanya sampai tak menyisakan sedikitpun!" Adith tersenyum lembut. Ryu yang memberi hormat kepada mereka membuat Adith langsung menyalami mereka satu persatu. Bapak serta ibu-ibu itu terharu dengan sikap sopan santun mereka yang mereka kira selama ini bahwa para elite takkan sudi untuk makan makanan mereka atau menyalami mereka seperti itu. Setelah mereka pergi, Adith yang sudah menghabiskan 1 porsi mie ayam milik Alisya merasa kembali lapar setelah melihat semua makanan itu. Mereka dengan semangat menyantap semua makanan itu tidak terkecuali Zein dan Riyan. Riyan yang semula merasa tak yakin dengan rasanya malah hampir menghabiskan dua mangkok dalam waktu yang singkat. ***** "Apa yang kau lakukan disini?" Adith setengah berbisik kepada Alisya yang sedang terbaring termenung diatas tumpukan buku-buku didalam perpustakaan. "Huaaappp!!!" Alisya yang ingin berteriak seketika mulutnya dibungkam oleh Adith. Karena mereka sedang berada dalam perpustakaan,. Adith memberi tanda dengan menunjuk papan pengumuman bertuliskan "Dilarang Ribut" yang kemudian mendapatkan anggukan dari Alisya. Melihat Alisya yang menurut patuh, Adith kemudian menurunkan tangannya dari bibir Alisya. Bukannya melepaskan tangannya dengan cepat, Adith malah teringat dengan kejadian kemarin saat dia dengan tiba-tiba mencium bibir Alisya. Begitupula dengan Alisya yang mengingat hal yang sama. "Eheemmm.. emm, aku.. ah,, apa yang sedang kau pelajari?" Adith langsung gugup dan berusaha untuk mencairkan suasana. "oh ahh.. itu,, ini..." Alisya yang canggung tak tahu harus berkata apa dan hanya mengambil sebuah buku dan menunjukkannya kepada Adith. "Sistem Reproduksi Pria???" Adith heran dengan buku yang di ambil oleh Alisya. Ia tak menduga kalau disiang bolong seperti itu dengan tatapan termenung seperti sebelumnya karena membaca buku itu. "Uwaaahh... bu, bukan ini, aku bukannya.. anu.. ahhh,,,!!!" Alisya panik karena salah mengambil buku. Tak tahu harus bagaimana, Alisya memilih untuk pergi dari sana namun dengan cepat dihentikan oleh Adith yang langsung menyandarkan Alisya pada rak-rak buku. Adith berusaha untuk menghentikan Alisya yang akan melarikan diri darinya lagi. Adith merasa ia harus segera meluruskan masalah diantara mereka berdua secepatnya dan tak ingin membiarkan masalah itu semakin berlarut-larut. Bagi Adith, jika dia tidak melakukannya sekarang maka dia akan kehilangan moment lagi. Chapter 216 - Wa Ni Ta !!! "Kau tau jika sikapmu seperti ini kau akan semakin membuatku terus menggodamu. Aku cukup paham akan perasaanmu sekarang, jadi kau tak perlu malu dengan semua itu. Aku berterimakasih kau tak membenciku atas apa yang sudah aku lakukan padamu!" suara Adith terdengar serius dan langsung menjatuhkan kepalanya ke bahu Alisya karena kelelahan memikirkan kalau Alisya mungkin saja akan membencinya karena itu. Meski rasanya jantungnya sedang mengujinya lagi, Alisya berusaha untuk mengembalikan fokusnya saat ia mendengar perkataan Adith. "Kenapa kau seperti ini padaku?" tanya Alisya penasaran dengan sikap Adith kepadanya. "Maksud kamu?" Adith mengangkat wajahnya menatap Alisya. "Kau sudah sering mendapat kesulitan dan bahaya setiap kali bersamaku, kau juga bahkan sudah melihat bagaimana perubahan diriku seperti apa, tapi kenapa kau seperti ini? Orang normal pada umumnya tentu saja akan menjauhi demi menyelamatkan nyawanya. Bukan malah mendekatkan diri pada bahaya." tegas Alisya yang merasa tak masuk akal dengan sikap Adith kepada dirinya. "Karena kau yang sudah mengubah hidupku, kau yang mengembalikan semua banyak hal kepadaku termasuk dirimu!" ucap Adith menatap mata Alisya dengan penuh rasa cinta. "Diriku? maksud kamu?" tanya Alisya tak paham dengan maksud Adith yang mengembalikan dirinya kepada Adith. Adith lupa kalau Alisya masih belum mengingatnya sampai saat ini, Adith rasanya tak tahan lagi karena Alisya tak mengenalinya dan mengingatnya. Ia tak sabat jika harus menunggu waktu lama sehingga dia berpikir mungkin sebaiknya memberitahu Alisya saat itu. Terserah jika dia ingat atau tidak, setidaknya dia harus berusaha membuat Alisya ingat akan dirinya. Meski sebenarnya Adith tak perlu melakukan apapun, hati Alisya selalu berdetak berbeda jika berhadapan dengan Adith. Hati Alisya tak pernah melupakan bagaimana perasaanya yang sudah lama terpupuk hanya untuk Adith seorang. Adith menatap Alisya sampai membuat Alisya merasa sesak akan tatapan Adith yang terlalu mempesona. "Aku adalah... " Adith tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena waktu untuk jam pelajaran selanjutnya sudah berbunyi dengan cukup keras. "Ummm.. sepertinya aku harus masuk sekarang, karena aku sudah melewatkan pelajaran ketiga tadi. Sekarang jam terakhir, ibu Vivian mungkin sebentar lagi akan kesana!" Alisya dengan cepat ingin menghindar tak tahan lagi dengan kuatnya pesona Adith. Meski penasaran, ia lebih memilih untuk menenangkan perasaanya terlebih dahulu. "Alisya,,," Adith langsung menghentikan langkah kakinya lalu mencium kening Alisya sebelum kemudian menarik tangannya untuk bersama-sama keluar dari perpustakaan. Alisya melihat bagaimana tangan Adith memegangnya dan memimpinnya jalan memberikan getaran tersendiri di hatinya. Ia merasa sangat bersyukur telah dipertemukan dengannya. **** "Seperti yang sudah ibu bilang sebelumnya, kalau ibu akan memberikan kalian semua surat izin..." ibu Vivian memberi kode kepada Karin untuk ke depan. "Jadi kalian akan menerimanya kemudian mengembalikannya dengan berisi tanda tangan orang tua kalian sebagai bukti persetujuan." Ibu Vivian melirik ke arah Karin untuk membagikan surat izin yang sudah tertera nama-nama masing-masing siswa. Dibantu oleh Rinto, Karin segera membagikan surat mereka masing-masing termasuk kepada Alisya yang hampir saja terlambat masuk tepat 15 detik sebelum ibu Vivian masuk kedalam kelas. "Kalian sudah bisa pulang sekarang, dan bawalah barang-barang yang diperlukan saja, tapi tentunya yang utama adalah buku-buku pelajaran!" terang ibu Vivian sebelum akhirnya keluar dari kelas dengan senyuman yang manis. **** Semuanya sudah hadir untuk mengikuti kelas malam seperti yang sudah direncanakan, mereka dengan segera menerima materi untuk mata pelajaran tambahan matematika sebagai awal jam pelajaran mereka. Mereka sangat serius saat melaksanakan pembelajaran tidak terkecuali 3 orang elite yang sama-sama ikut belajar bersama mereka. Mereka sengaja mengambil ruang kompleks di Mia 1 sebagai tempat mereka belajar untuk mendapatkan kenyamanan ketika belajar. "Bagaimana menyelesaikan soal yang ini?" tanya Adora kepada Karin yang berada disampingnya. Setiap kali ada yang sedang bertanya mereka akan berhenti sejenak untuk melihat penjelasan dari Karin, Alisya maupun 3 orang elite yang semuanya bisa memberikan pemahaman dengan baik. "Nah, kalau persamaan integral tuh kamu harus menyelesaikannya seperti ini, jika integral f (x) dx = K dilanjutkan dengan ini maka penyelesaiannya adalah U = g (x) dan U = ... ini maka diperoleh persamaan seperti ini..." Karin langsung mengarahkan secara perlahan kepada mereka satu persatu. Egi yang sebelumnya merasa ketinggalan dengan mereka akhirnya lebih bersemangat dibanding dengan yang lainnya saat belajar. Justru dialah yang paling cepat dalam memahami penjelasan dari Karin. "Ummm... ada yang mau ke toilet nggak? aku sudah nggak tahan nih,,, dan dari tadi rasanya aku sudah berada di ujung tanduk!" terang Feby yang tidak bisa lagi menahan rasa ingin buang air kecilnya. "Ibu Vivian mana yah? klw dia ada kan kamu bisa minta ditemani sama dia aja. Akiko juga tidak ada, bukannya dia juga ikut bersama kita yah untuk ke tingkat Nasional nanti?" tanya Adora saat tak melihat ibu Vivian dan Akiko diruang Mia 1. "Jadiiiiihhhhh???" Feby mulai menjepit pahanya. "Ayo aku antar, aku juga sudah mulai sedikit mengantuk! Jadi skalian pengen cuci muka juga!" terang Alisya berdiri dari tempat duduknya untuk menolong Feby yang sudah menatap nanar. "Aku juga ikut!!! biar sekali saja... jangan sampai entar malah jadi nggak ada yang mau pergi lagi." Aurelia langsung menawarkan diri untuk ikut bersama mereka. "Bentar, biar sekalian!!!" Karin dan yang lainnya pun dengan semangat menempel mengikuti Alisya dan Feby. "Aku kira sholat saja yang berjamaah, ternyata kencing juga bisa berjamaah!" ucap Yogi dengan suara lantang sengaja untuk menggoda mereka semua. "Perempuan memang sesuatu!" tambah Beni mengiyakan tingkah mereka yang luar biasa aneh bagi para laki-laki. Mendengar ucapan Yogi dan Beni, mereka secara serentak berhenti. "Tau pasal tentang perempuan nggak?" tanya Aurelia kepada mereka menatap dengan sinis. "Ya tau lah.. yang tentang ini kan..." Beni mencoba menjawab. "Salah!!!" Aurelia ngegas.. "Apa sih belum dijawab juga, sudah salah aja!" ucap Beni protes. "Pasal 1 Wanita nggak pernah salah, Pasal 2 Wanita selalu Benar dan Pasal 3 kalau wanita salah, kembali pada pasal 1" jawab Karin dengan tersenyum sinis. "Siapa yang buat pasal seperti itu??? Aku belum pernah dengar tuh??" tambah Rinto juga tidak menyetujui ucapan dari Karin. Rinto merasa ada diskriminasi pada kalimat yang mereka lontarkan. "Wa Ni Ta!!!!" ucap mereka serentak dan ngegas poll yang membuat Beni dan Rinto terkejut bukan main karena teriakan kompak mereka. Adith dan yang lainnya hanya tertawa kecil mendengar ucapan mereka yang terasa lucu dan memonopoli. Chapter 217 - Tuan Lion dan Nana Pagi Hari. Mereka kembali melanjutkan mengerjakan soal yang semalam diberikan oleh ibu Vivian kepada mereka setelah sholat subuh secara berjamaah, kemudian menuju ke ruang Mia 1 setelah sebelumnya bersiap-siap membersihkan diri. "Serius kita belajar subuh gini? aku masih ngantuk tau..." Emi setengah mengeluh saat ia sudah dipaksa beraktifitas oleh ibu Vivian dan teman-temanya setelah sholat subuh. "Belajar di pagi hari itu banyak manfaatnya!" ucap Karin mencoba membuat semangat Emi yang terus menguap meski wajahnya sudah tersiram air wudhu sebelumnya. "Belajar di dini hari itu mempercepat proses berpikir. Hal ini disebabkan saat subuh udara masih kaya akan oksigen. Oksigen diperlukan untuk membuat energi di otak sehingga proses berpikir menjadi lebih lancar. Pada malam hari, tumbuhan mengeluarkan karbondioksida yang kurang baik untuk otak sehingga proses berpikir ikut lambat." Jelas Alisya yang memberikan pijatan lembut pada bagian kepala Emi untuk membuatnya tidak mengantuk. "Selain itu, belajar di dini hari dapat membuat kita berkonsentrasi penuh. Konsentrasi mutlak diperlukan saat belajar. Ketika tidur, tubuh memproduksi hormon noreadrenalin sebagai pembangkit konsentrasi. Bila kita belajar saat subuh, kadar serotonin dan noreadrenalin dalam jumlah tinggi sehingga dapat dengan mudah berkonsentrasi." tambah Zein yang muncul dan mendengar percakapan mereka. "Ada lagi, Berhasil memecahkan soal sulit. Pada saat tidur, tubuh kita memproduksi hormon serotonin yang berfungsi menurunkan stres. Efek dari hormon ini adalah peningkatan kemampuan dalam memecahkan suatu masalah secara dingin. Nah, dengan demikian kita dapat memecahkan berbagai soal sulit saat subuh." Adith muncul dengan baju kokohnya yang tampak putih bersinar di wajah Adith. Setiap yang melihat Adith, mereka akan merasa adem dan nyaman. Kau sudah selesai???" Adith menghampiri Alisya dan bertanya dengan setengah berbisik. "Ummm.. masih ada beberapa yang belum selesai, ada apa?" tanya Alisya bingung kepada Adith yang tiba-tiba bertanya padanya. "Hmm, simpan saja dulu. Kita bisa lanjutkan itu nanti, sekarang ada hal yang sangat penting. Ibu meminta aku pulang secepatnya dengan membawamu. Tidak akan lama kok!" pinta Adith kepada Alisya dengan memperlihatkan pesan dari ibunya. "Pergilah, biar kami yang akan mengarahkan sisanya. Tapi jangan lupa untuk meminta izin terlebih dahulu kepada pak Irhan atau Ibu Vivian." tegas Zein mengingatkan mereka berdua. Zein dan yang lainnya pun mengangguk untuk mengiyakan kepergian keduanya. Melihat teman-temannya yang sudah memberi kelonggaran, Alisyapun menurut keinginan Adith. ***** Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, Adith sudah memaksa Alisya untuk memakai gaun berwarna merah muda dengan gaya rambut yang dikucir kuda sedang dirinya memakai jas navy tidak dikancing dengan dalaman berwarna putih. Karena kesal kepada Adith yang sudah membohonginya, Alisya langsung memaksa turun namun dihentikan oleh Adith dengan cepat. Alisya kembali pasrah dan duduk tanpa ekspresi. "Silahkan keluar tuan putri! " ucap Adith setelah membuka pintu mobil. Setelah Adith membukakan pintu untuknya, Alisya segera keluar dengan anggunnya dan berdiri tepat di samping Adith. "Adith, bukannya ini salah satu hotel termewah disini ya? terus kenapa kamu malah membaku kesini? bukanya kamu bilang ibumu sakit?" tanya Alisya seraya memutar bola matanya kesemua penjuru Hotel itu. Adith tersenyum licik seraya menarik lengan Alisya tanpa pemberitahuan, tentu saja Alisya kaget dan kesal karena dia merasa tidak siap untuk berjalan, sedang ia malah main tarik saja. "Adith lepasin! " Alisya berusaha melepas genggaman tangan Adith di lenganya. Tak peduli dengan Alisya, Adith hanya terus menariknya memasuki hotel. Adith menyesuaikan tempo langkahnya dengan langkah Alisya yang sedang memakai gaun yang cantik. Alisya benar-benar dibuat bingung sekaligus kesal oleh Adith. Meski begitu dia tetap mengikuti Adith dengan patuh. Sesaat kemudian Adith dan Alisya akhirnya sampai di depan Aula. Alisya masih dengan kebingunganya karena Adith belum juga mau memberitahunya kemana mereka akan pergi. "Selamat pagi menjelang siang nenek muda yang paling cantik he he " sapa Adith ketika dia sudah berdiri tepat di depan nenek Glow. Melihat bocah tengil itu berdiri di depanya, nenek Glow lansung tersenyum lebar seraya berkata, "Kamu anak nakal, bagaimana kamu bisa datang kesini? dimana Mama mu?" Adith cengengesan dan menatap jahil kearah nenek Glow. " Mama ku lagi tidak enak badan makanya dia gak bisa datang, dan aku disuruh datang sama gadis tidak jelas di sampingku ini" "Tidak jelas tapi kok dibawa ke undangan yang benar saja? kalau tidak, sama aku yang jelas aja ya! " goda Gabriel yang seumuran dengan Adith dan bisa dikatakan kalau Gabriel adalah musuh bebuyutanya di keluarga. Raut wajah Adith berubah gelap, dia benar-benar kesal dengan perkataan Gabriel, sedang Alisya hanya terdiam karena tidak mau terlibat dengan dua manusia koyol yang hanya membicarakan hal tidak penting. "Gadis ini memang tidak jelas, meskipun begitu perasaanku padanya sangat jelas, karena dia adalah jantung hatiku" ucap Adith sambil menoleh kearah Alisya yang ekspresinya sangat sulit untuk ditebak oleh Adith. Apa dia senang? apa dia sedih atau bahkan marah? itu bisa dikatakan diluar kuasa Adith. "Sudah, jangan adu mulut lagi! " kata nenek Glow yang tau betul watak dua pemuda itu. "Adith, tadi kamu bilang Mama mu tidak enak badan? memamgnya dia kenapa? dan juga kenapa dia tidak memberitahuku? " lanjut nenek Glow dengan ekspresi yang rumit. "Mama malu ngasih tau orang kalau dia lagi sakit," jawab Adith. "Tidak bisa begitu. Bagaimana pun juga Mama mu adalah keponakan nenek satu-satunya dari adik kandung nenek yang terakhir. Oleh karena itu dia harus memberitahuku apapun yang terjadi dengannya. " ucap nenek Glow dengan kesal. "Nenek cantikuh tolong jangan marahi Adith, harusnya Mama yang nenek marahi bukanya Adith. lagi pula kan Mama yang salah" sahut Adith sambil menatap nenek Glow dengan jahil. Melihat sikap jahil Adith yang tidak bisa diajak ngomong serius itu membuat nenek Glow tidak bisa menahan senyumanya, "Dasar, kamu itu ya bisa aja kalau ngejawab. Ya sudah sebaiknya kamu ajak pacarmu ke dalam." Adith langsung mengangguk dan tanpa ragu dia mencium pipi nenek Glow dengan senyum yang merekah. "Ehh ...?" ucap nenek Glow seraya memegang pipinya yang di cium Adith. "Terimakasih nenek cantik karena sudah mengijinkanku mencium mu. Karema katanya kalau kita mencium pipi orang tua maka kita akan awet muda he he he... " kata Adith sambil terkekeh. "Iiiik .... dasar anak nakal kamu dapat teori dari mana? ya sudah kamu ajak pacarmu masuk segera! " ucap nenek dengan tegas, meskipun dia ingin berlama-lama dengan Adith dan kejahilanya. Tapi nenek Glow tidak bisa beralama-lama sebab dia harus menyambut tamu lainya. Alisya segera tersenyum manis menunduk sopan untuk pergi setelah menyalami nenek glow. Tepat saat itu, Adith merasa kesal ketika menyadari kalau Gabriel terus-terusan menatap Alisya. Dan sudah tentu Adith cemburu akut sama Gabriel yang dikenal tampan dan banyak disukai wanita itu. "Jadi? Nikahan siapakan yang sedang kita hadiri ini?" tanya Alisya setelah paham bahwa ibunya sedang bekerja sama dengan Adith untuk mengaturnya menemani Adith ke pesta tersebut. "Ini adalah Pesta dari Tuan Lion dan Nana. Dia adalah seorang pengusaha asal Korea Selatan. Ibu sudah di anggap seperti ponakan sendiri oleh nenek dari Tuan Lion." terang Adith setelah melihat Alisya cukup cerdas yang dengan cepat beradaptasi terhadap semua itu. Setelah itu Alisya dan Adith duduk di bangku tengah-tengah dengan patuh sambil menikmati suasana hotel ini. Sesekali Aditth menoleh kearah Alisya. Dia beraharap kelak dia dan Alisya bisa menggelar pesta pernikahan seperti ini. Chapter 218 - Tuan Randi dan Kasih Saat Adith dan Alisya sedang fokus menatap kemegahan pesta dari tuan Lion dan Nana, seseorang tiba-tiba saja datang menghampiri mereka berdua dengan pasangannya. Cukup aneh memang jika kursi yang seharusnya di duduki oleh 6 orang itu masih belum terisi sedang acara akad nikah sudah akan dimulai. "Boleh kami duduk bersama dengan kalian?" tanyanya dibelakang Adith dengan nada suara yang rendah. Adith dan Alisya seketika menoleh dan terkejut saat menemukan tuan Randi yang merupakan seorang pengusaha sukses. "Oh, tuan Randi.. silahkan, senang bisa bertemu dengan seorang pengusaha sukes disini." ucap Adith langsung berdiri dengan sopan karena ia tahu bahwa dirinya masih lebih muda dari tuan Randi. "Aduh, anda terlalu rendah diri. Bahkan saya tidak tau bagaimana harus berkomunikasi dengan ada yang merupakan seorang CEO dalam perusahaan Narendra meski terbilang umur anda masih sangat belia jika dibandingkan dalam dunia bisnis ini. Kecerdasan anda dalam mengelola perusahaan benar-benar sangat menjadi contoh pagi pemuda zaman sekarang untuk bisa berkarya dan berusaha." puji tuan Randi yang paham betul seperti apa kinerja Adith dalam dunia bisnis ini. Dia bisa tetap menaikkan kinerja perusahaan hingga ke level ia bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar yang terdapat di Indonesia meski dibilang usianya masih cukup muda. "Anda terlalu memuji, anda bisa bersikap lebih santai bersama saya. Silahkan duduk, anda bisa membuat ibu guru yang terhormat menjadi keram jika kita berbincang terlalu lama." Kasih tersenyum mendengar kalimat Adith yang terlihat seperti seorang yang dewasa. "Rasanya cukup aneh aku berhadapan dengan seorang CEO yang juga masih seorang anak SMA." Kasih duduk setelah suaminya membukakan kursi kepadanya. "Siapakah yang berada di sampingmu itu?" tuan Randi mempersilahkan Adith duduk setelah ia juga duduk dengan nyaman. Alisya tersenyum dengan manis dan menunduk hormat kepada Randi dengan Anggun. "Dia Alisya, orang yang memiliki kekuasaan tertinggi di hatiku." ucapnya memandang hangat kepada Alisya. Dia menggenggam erat tangan Alisya dibalik meja. Alisya membelalakkan matanya mendengar Adith berkata seperti itu dengan santainya. "Wah.. wah.. jika benar seperti itu, sebaiknya segera dihalalkan setelah kalian berdua lulus." pancing Randi sambil memandang istrinya yang tersenyum melihat reaksi Alisya yang kaget. "Kau membuat gadis itu jadi salah tingkah, berhentilah menggoda mereka. Aku yakin mereka sudah punya rencana sendiri untuk itu." Kasih mencoba mencairkan suasana. Ia paham bahwa tentu saja sebagai seorang perempuan yang masih muda, akan sangat tertekan baginya jika berada disekitar orang dewasa dengan pembahasan yang cukup berat seperti itu. Lirikan mata dari Kasih membuat Alisya tersenyum memahami perhatian dari Kasih kepadanya sehingga ia menunduk hormat kepadanya. Terlebih ketika Alisya mengetahui bahwa Kasih ada seorang ibu guru. Merekapun berbincang-bincang dengan menyesuaikan pembahasan masa mereka yang masih muda yang terkadang juga Adith bisa dengan dewasanya memahami pembahasan Randi dan Kasih. Melihat cara mereka berinteraksi, Randi dan Kasih menjadi paham bagaimana lugasnya sikap mereka dan cerdasnya pikiran mereka dalam membawa diri. Kemunculan ustadz Somad menandakan bahwa prosesi ijab kabul dari tuan Lion yang akan mempersunting Nana sebentar lagi akan segera dimulai. Saat dari jauh mereka menyaksikan tuan Lion segera mendatangi ustadz Somad, seseorang juga datang menghampiri mereka bersama dengan pasangannya. "Aku tak menyangka bisa menemukan kalian disini..." Karan datang bersama Karin sebagai pasangannya. Mendengar suara yang tak Asing itu, Alisya menoleh dengan cepat dan langsung tersenyum hangat dan wajah yang bersemangat karena bisa bertemu dengan orang yang dia kenal saat berada di pesta yang sangat megah itu. "Kak Karan? Karin? aku senang sekali bisa bertemu dengan kalian disini." ucap Alisya dengan tatapan yang penuh semangat. "Aku pikir kau sedang dibawa lari menuju ke KUA bersama Adith, ternyata kau berakhir mengenaskan disini?" Karin yang terlihat sangat anggun dan cantik datang menghampiri mereka dengan kalimat pedasnya kepada Alisya. Alisya yang sebelumnya begitu senang dengan kedatangan sahabatnya itu, seketika berubah menjadi ingin memelintir mulut dan lehernya karena kesal. "Puftttt.. hahahaha Akan ada yah sahabat yang bersikap menyebalkan seperti dia. Dan pastinya hanya sahabat akrab saja yang akan bersikap seperti itu padamu." ucap Randi tertawa dengan renyah melihat interaksi antara Karin dan Alisya yang begitu akrab. "Benar, andai saja kita tidak sedang memakai gaun yang cantik disini. Mungkin aku bisa melakukan sesuatu kepada bibir mungilnya itu." tatap Alisya tajam ke arah Karin yang sudah duduk dengan manis disisinya. Alisya langsung mencubit pinggang Karin dengan gemas yang membuat Adith tersenyum hangat melihat sikap Alisya yang sudah lebih rileks dibanding sebelumnya. "Bersikaplah santai saja, kau tak perlu tegang. Ekspresi wajahmu yang seperti ini lebih cantik dari semua wanita yang datang disini termasuk sahabat kampret mu itu". Bisik Adith cepat ditelinga Alisya yang tersenyum dengan pujian dan cercaan Adith. "Melihat kalian seperti ini benar-benar mengembalikan ingatan tentang masa masa SMA yang penuh dengan kenakalan juga keindahan sebuah persahabatan. Terkadang orang dewasa iri dengan kalian yang masih bisa bersikap bebas" senyum Kasih yang merasa lucu dengan tingkah mereka. "Tidak anda salah besar, sikap mereka berdua kadang terlalu bar-bar jika dikatakan sebagai anak SMA" terang Karan yang seketika membuat mereka tertawa renyah dan begitu hangat. "Senang bertemu dengan Anda tuan Randi" Karan langsung menyalami tuan Randi dengan hangat. "Saya juga senang bisa bertemu dengan anda disini, sepertinya banyak sekali dokter muda berbakat yang menghadiri acara pernikahan dari tuan Lion ini." ucap tuan Lion menerima uluran tangan dari Karan. "Saya juga merasa ini seperti sebuah pertemuan juga reuni dari semua pengusaha sukes se Indonesia dan juga banyak dari kalangan kalangan elite atas termasuk para dokter muda berbakat lainnya. Sungguh terhormat juga saya bisa bertemu dengan dokter Dirga dan pasangannya Winda." terang Karan dengan penuh takjub atas semua kemegahan pesta yang takkan habis membuat takjub tersebut. "Dokter Dirga dan Winda?" tanya tuan Randi merasa tidak asing dengan yang disebut oleh Karan. "Ya, Dirga seorang dokter muda dari anak pemilik rumah sakit terbesar di Yogyakarta, semua keluarganya (Viantara) bergerak dibidang Rumah sakit yang kesemuanya menjadi dokter. Sedang Winda, anak dari pengusaha ternama keluarga (Hermawan) yang merupakan seorang perawat dirumah sakit keluarga Viantara." jelas Karan sedikit menaikkan suaranya karena keadaan semakin ramai. "Ah... pantas saja saya merasa tidak asing mendengarnya, ternyata memang benar mereka!" ucap Randi dengan tatapan yang bangga bisa melihat anak-anak muda berbakat di tempat itu. Beberapa saat kemudian acara ijab kabul termegah itu dimulai. Chapter 219 - Kombinasi Sempurna Sepulang dari pesta, mereka tidak langsung kembali ke sekolah melainkan kerumah Adith atas permintaan Alisya yang ingin bertemu dengan ibu Adith. Sudah cukup lama baginya tidak bertemu dengan ibu Adith. Ia akan merasa sangat bersalah dan kurang nyaman jika tidak mengunjungi Ibu Adith yang sedang sakit. "Bagaimana keadaan tante?" Alisya masuk dengan tatapan nanar yang penuh akan kekhawatiran. "uhhh,,, Pa,, aku pikir hanya tubuhku saja yang sakit. Ternyata sekarang hatiku juga lebih sakit!" ucap ibu Adith menoleh kepada suaminya yang tersenyum hangat. Alisya mengerutkan keningnya tak paham akan perkataan dari ibu Adith. "Ah,, maaf saya kemari tidak sempat bawa apa-apa, saya..." Alisya mencoba menjelaskan situasinya kepada ibu Adith. "Peka lah sedikit, bukan itu yang mama maksud. Aku rasa dia sudah pernah mengatakannya sebelumnya saat kau memanggilnya tante!" Adith duduk disamping Alisya sembari memijat-mijat tubuh ibunya. "Ohh.. Maaf, ma... ma..." ucap Alisya masih agak canggung. Sudah cukup lama saat lidahnya mengucap kalimat itu sehingga ia tercekat penuh haru dengan kelemah lembutan dan kehangatan serta keramahan ibu Adith yang penuh kasih sayang kepada dirinya. "Saya sudah sangat menyayangi mu sejak dulu Alisya, Saya berharap kamu bisa mengingatku dan melepas masa trauma mu itu!" gumam ibu Adith yang hanya bisa didengar oleh Adith yang berada di sisi ibu nya. Adith merasakan pilu dibalik suara ibunya itu. "Saya sangat senang kamu memanggilku seperti itu. Dan tentu saja akan menjadi sangat senang jika kamu bisa menjadi anakku yang sesungguhnya. Dengan menjadi pasangan Adith tentunya." ucap Ibu Adith secara tiba-tiba yang langsung saja membuat Jantung Alisya berdetak dengan sangat cepat bahkan kali ini jam di tangannya sudah berbunyi cukup keras karena sudah melampaui kuasa Alisya. Alisya seketika menjadi sangat gugup dan memerah karena permintaan mendadak ibu Adith. Melihat tingkah Alisya, Adith tidak bisa menyembunyikan tawanya. "Perkataan mu itu hampir saja membuat Alisya menelan lidahnya sendiri" ucap ayah Adith sembari tersenyum ingin membela Alisya. Mendapat perlindungan dari ayah Adith, Alisya menatap ayah Adith dengan senyuman terimakasih. "Tapi sepertinya aku juga akan sangat bahagia jika benar Alisya menjadi istri dari Adith dan menghadirkan cucu yang banyak dirumah ini, biar nggak sepi!!!" tegasnya sambil melirik ke arah Adith. Adith langsung menaikkan jempolnya kepada Ayahnya yang sudah mendukungnya penuh... "Wuuaaahhh... sepertinya kalian semua sedang bekerjasama dengan sangat baik saat ini, aku sampai merasa sangat terharu!!" Alisya ingin menangis rasanya berada ditengah mereka yang sedang bersekongkol atas dirinya. Mereka semua tertawa dengan renyah melihat Alisya yang sudah tampak tidak merasa canggung lagi. Sikap ramah dan lembuh ibunya menurun kepada Adith yang selalu perhatian kepada Alisya. Dan sikap nakal serta jahil ayahnya juga menurun kepada Adith. Semua kombinasi sempurna yang diturunkan kepada anaknya yang sangat mereka kasihi itu. Rumah itu memang terlihat sangat besar namun ibu Adith tentu akan merasa kesepian setiap kali ditinggal oleh suaminya yang pergi bekerja dan anaknya yang pergi ke sekolah. Hanya para pembantu dan Asisten rumah tangga saja yang biasa menemaninya. "Aku akan sering berkunjung kemari untuk menemani mama saat kami sudah kembali dari lomba tingkat Nasional nanti" ucap Alisya sebelum memohon diri untuk kembali ke sekolah. "Tentu saja, saya akan sangat senang jika kamu benar melakukannya." ucap ibu Adith dengan suaranya yang sedikit serak karena demam. "Jangan khawatir, aku pasti akan menepati janjiku padamu, Mama!" kali ini Alisya memanggil ibu Adith dengan mantap yang memberikan energi cukup besar bagi dirinya. "Aku rasa kau harus mengganti bajumu terlebih dahulu, aku hampir mengira kalian baru selesai melakukan pesta pernikahan tadi." seru ayah Adith dengan senyuman nakalnya. "hahahahha... sepertinya aku harus mulai terbiasa dengan sikap anak dan ayah yang hampir sama persis ini." ucap Alisya dengan raut wajah yang tertekan. Ia tak menyangka ayah Adith yang begitu berwibawa dan bahkan sangat dihormati oleh banyak orang itu memiliki sisi hangat saat berhadapan dengan anak dan istrinya. Kalimat Alisya sekali lagi membuat mereka tertawa dengan hangat sedang Adith sengaja tidak ingin menambahkan bumbu agar Alisya lebih banyak berinteraksi dengan orangtuanya. Setelah menyalami ibu dan ayah Adith, Adith mengajak Alisya untuk berganti pakaian dengan seragam sekolah yang mereka kenakan sebelumnya dengan membawa Alisya menuju ke kamarnya. Adith kemudian keluar setelah mempersilahkan Alisya masuk untuk memberikan privasi kepada Alisya agar ia merasa nyaman. "Umm... tak kusangka anak itu ternyata rapi juga!" ucap Alisya sebelum ia berganti pakaian. Melihat jam tangannya, ia dengan segera berganti pakaian lalu meletakkan gaun indahnya diatas ranjang milik Adith dengan sangat rapi. Masih penasaran, ia kemudian berkeliling melihat foto-foto yang berjejeran dengan sangat rapi dimeja belajar Adith. Sampai pada sebuah foto yang ia rasa pernah melihatnya atau bahkan memiliki foto yang sama. "A... anak ini Adith?? dia benar-benar Adith? aahhh..." kepala Alisya seketika sakit saat melihat foto itu yang ia rasa pernah melihatnya dial suatu tempat. Erangan Alisya seketika membuat Adith mengetuk pintu kamarnya, namun karena tidak mendapat jawaban dari Alisya. Dia langsung masuk dan menemukan Alisya sedang berdiri tak jauh dari foto dirinya sewaktu kecil. "Alisya..." Adith berlari menghampiri Alisya sembari menutup foto itu dengan cepat. Alisya merasakan sesak sekaligus sakit di kepala dan dadanya yang membuat Adith perlahan mendudukkannya di atas kasurnya. Adith melihat ke arah Alisya dari bawah dengan pandangan khawatir. "Ssiapa.... kau sebenarnyyyyahhh!" Alisya bertanya dengan terus mengerang sakit. Jam ditangan Alisya berbunyi dengan sangat keras yang sudah mencapai batas kemampuan Alisya. Adith bahkan melihat Karin yang sudah menghubunginya karena itu. "Adith, apa yang terjadi???" tanya Karin dengan suara yang sangat panik. Karena mendapat monitor pemberitahuan dari jam Alisya yang sudah cukup lama tidak dalam keadaan seperti itu. "Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, dia..." Adith langsung melepas handphonenya saat melihat Alisya semakin mengeram kesakitan. Adith dengan cepat memeluk Alisya dengan sangat erat, ia menempatkan Alisya di dadanya dengan penuh rasa khawatir. Alisya yang berontak tak membuat Adith melepaskan pelukannya. Adit dengan cepat melepas peredam ditelinganya yang setelah mendengar detak jantung Adith, Alisya perlahan melemah dan jatuh pingsan dipelukan Adith. "Ada apa??" Karan melihat Karin yang sudah terburu-buru mengambil peralatannya yang biasa ia gunakan untuk Alisya. "Alisya, aku tidak tau kenapa tapi tanda vitalnya menunjukkan perilaku tidak normal, ini bahkan lebih parah dari yang selama ini dia alami." belum selesai ia menjelaskan, Adith sudah kembali menelponnya. Chapter 220 - Dia Jatuh Pingsan Mendengar Handphonenya berbunyi, Karin dengan cepat meraih Handphone itu dan mengangkat telpon Adith. "Halo Dith? Aku akan segera kesana secepatnya, bagaimana keadaannya sekarang?" Karin terus mengambil beberapa peralatannya. "Dia sudah jatuh pingsan, tapi sepertinya kondisinya sudah cukup lebih baik dari sebelumnya. Aku bisa merasakan denyut nadi dan pernafasannya sudah lebih stabil" jelas Adith sambil melirik kearah Alisya yang sudah terbaring diatas ranjangnya dengan nyaman. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia bisa mengalami trauma nya kembali? Sudah lama sejak terakhir kali dia mengalami itu. Apa yang memicunya?" Karin penasaran sebab Alisya tak mungkin akan mengalami trauma jika dia tidak mendapatkan sesuatu. "Sepertinya karena dia melihat fotoku sewaktu kecil. Foto itu adalah foto yang sama dengan foto yang ada di kamarnya. Dan aku juga mengambil foto tersebut karena ingin memastikannya dan menaruhnya disamping foto ku. Aku cukup beruntung dia masih belum melihat Foto yang lain yang aku tampilkan dalam bentuk digital yang akan berganti setelah waktu tertentu." terang Adith menjelaskan pemicunya kepada Karin sambil terus menggenggam tangan Alisya. "Dan untuk dia bisa kembali tenang, aku tahu. Yang aku lakukan hanya memeluknya dengan sangat erat karena takut dan panik." jelasnya lagi menaruh punggung tangan Alisya di pipi kanannya. "Baiklah, aku serahkan Alisya padamu. Aku rasa dia akan melupakannya kembali saat ia bangun nanti, untuk itu kau bisa mengalihkan perhatiannya saat ia terbangun." ucap Karin yang kemudian mengakhiri teleponnya dengan Adith. "Jadi bagaimana?" tanya Karan setelah melihat adiknya sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya. "Dia jatuh pingsan. Tapi kondisinya sudah lebih stabil dari sebelumnya. Kakak bisa mengantarku ke sekolah sekarang, masih banyak pelajaran yang harus aku ikuti. Aku yakin setelah sadar Alisya juga akan segera menuju kesana. Biar aku memberikan sedikit suntikan setelah ia kembali ke sekolah." pinta Karin kepada Karan dengan tatapan sendunya. Karan yang paham akan ketakutan Karin dengan cepat menghampiri adiknya itu. "Jangan khawatir, aku yakin dia akan baik-baik saja. Mungkin secepatnya kau tidak akan dibutuhkan lagi." ucap Karan dengan senyuman nakal yang seketika memancing emosi Karin. Karin dengan ganasnya memukul kakaknya itu karena kesal. Meski ia tahu itu mungkin akan terjadi suatu saat nanti, tapi ia tetap akan selalu menjadi sahabat terbaik bagi Alisya. "Bagaimana keadaannya? apa kau juga baik-baik saja?" Ayah Adith datang setelah sebelumnya Adith turun mengambil minuman dan menceritakan kejadian mengenai Alisya. "Seperti yang Bapa'' liat, kondisinya sudah cukup membaik. Aku tak menyangka trauma mental yang dialaminya masih sangat kuat sehingga ia tidak mampu menahannya." terang Adith dengan suara yang rendah. "Berbeda dengan mu, Alisya sudah banyak mengalami kejadian mengerikan yang memberikan trauma yang sangat mendalam baginya. Meski kau sekarang sudah lebih baik, kamu masih belum bisa sembuh terhadap rasa takutmu akan gudang. Hal yang sama yang sedang di alami oleh Alisya sekarang." terang Ayah Adith memberikan penguatan kepada Adith untuk memahami kondisi Alisya yang meski tubuhnya sangatlah kuat, namun hati dan mentalnya bisa dikatakan cukup rapuh. "Iya Pa'',, Aku juga salah karena tidak mengingat mengenai foto itu sebelumnya. Jika aku terlebih dahulu menyembunyikan foto itu, mungkin ini juga tidak akan terjadi kepadanya." Adith menyesali keteledorannya yang membiarkan Alisya masuk ke kamarnya tanpa membersihkan hal yang bisa memicu ingatannya. "Ini mungkin sudah jalannya, kau juga tak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Mungkin dengan begitu Alisya bisa mendapatkan potongan-potongan memorinya yang hilang sedikit demi sedikit. Jadi kau jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri atas kejadian ini." tepuk nya sekali lagi kepada anaknya untuk memberikan dukungan. "hmmm... Iya, terimakasih banyak Pa''!" Adith melihat ke arah ayahnya dan menyalaminya dengan hangat karena dukungan ayahnya. "Ya sudah, kamu temani saja dia dulu. Aku harus segera melihat kondisi ibu mu juga. Melihat kondisi kita sekarang, sepertinya sudah ada 2 kepala keluarga dirumah ini." ucapnya dengan tertawa sembari berjalan pergi meninggalkan Adith. Adith jadi tersenyum melihat tingkah Ayahnya itu. Beberapa saat kemudian, Alisya terlihat tersadar memijit kepalanya yang sakit. Dia terduduk memandang ke arah Adith yang sedang menatapnya dengan angkuh. "Kau sudah sadar tuan putri?" tanya Adith kepada Alisya yang sedang mengumpulkan kesadarannya. "Ummhhhh,, bagaimana aku bisa tertidur disini!!!"?? Alisya langsung berkata dengan nge gas dan bangun karena terkejut. "Apa kau tidak sadar dengan apa yang sudah kau lakukan?" tanya Adith dengan tatapan menggoda kepada Adith. "Apa maksudmu? kenapa ekspresi mu terlihat mengenaskan seperti itu? apa yang sudah aku lakukan padamu?" tanya Alisya bingung tak paham dengan maksud Adith yang sedang memprovokasinya sekarang. "Kau tidak ingat atau sedang berpura-pura tidak ingat?" pancing Adith lagi sembari berjalan mendekati Alisya. "A... a .. apa maksudmu???" Alisya menggeser duduknya dari Adith. "Kau benar-benar tidak ingat? lalu bagaimana dengan ini?" Adith memperlihatkan bekas cakaran dan hantaman yang ia hujamkan saat ia sedang memberontak sebelumnya. Adith sengaja membuat Alisya salah paham dengan memperlihatkan tangan dan leher serta bagian atas tulang belikatnya yang memerah karena cakaran dan hantaman Alisya. "Kau gila?? mana mungkin aku melakukan hal seperti itu. Kau sudah tidak waras yah?" bentak Alisya karena kesal dengan tingkah Adith yang sudah tidak wajar itu. Adith menggeser tempat duduknya menjauhi Alisya dan membelakanginya. "Aku juga tak menyangka kau melakukan itu? tapi semua luka-luka itu adalah bukti saat kau berusaha menarik diriku kedalam pelukanmu. Aku berusaha menolak tapi kau terus memaksaku untuk melakukannya. Kau tertidur karena kelelahan." ucap Adith dengan lirikan yang seolah-olah bahwa semua itu benar-benar terjadi di antara mereka. "Huuhh??? mana mungkin, aku... aku tadi,,," Alisya tidak ingat apapun lagi setelah ia selesai berganti pakaian. Ia juga melihat pakaiannya memang terlihat sedikit acak-acakan. Alisya menduga bahwa itu mungkin saja terjadi sebab perubahannya beberapa waktu lalu membuat kondisinya belum bisa ia kendalikan dengan baik. Adith hanya terdiam dan mulai menyunggingkan senyum seolah berhasil memperdaya Alisya. Meski Alisya terbilang cerdas, melihat segala sesuatu yang cukup mendukung dengan kasur yang terlihat berantakan itu mungkin bisa membuat Alisya percaya. "Maa.. mana mungkin,, aku.. aku.. aahhh aku tak percaya ini,,, kenapa bisa aku melakukan itu... aahhh haaa...." Alisya mengeluarkan air mata menangis meraung menyalahkan diri sendiri dan memukul mukul dirinya karena kebodohannya. Mendengar suara serak Alisya Adith langsung duduk bersimpuh dihadapan Alisya bingung dengan reaksi Alisya yang diluar dugaannya. Ia tak menyangka kalau Alisya akan menangis meraung-raung seperti itu sedang ia hanya bermaksud untuk bercanda saja. Chapter 221 - Putri di Keluarganya Melihat Alisya seperti itu, Adith langsung merasa sangat bersalah dan langsung mencoba untuk menghentikan apa yang dilakukan oleh Alisya. Dengan tatapan sendunya Adith perlahan-lahan menghampiri Alisya. "Hentikan,,, apa yang kau lakukan??" Adith menatap dengan ekspresi serius. "Akuu,,, aku tidak bisa menerima semua ini,,, bagaimana mungkin... bagaimana bisa!" Alisya terus memberontak sambil memukul dirinya. "Alisya... hentikan dengarkan aku!!!" bentak Adith untuk menyadarkan Alisya. "Tidak Dith,,, aku... tidak akan memaafkan diriku sendiri... aaahhhh" ucap Alisya lagi dengan air mata yang sudah berderai jatuh membasahi pipinya yang putih. "Alisya Stopppp!!!! Stoppp!!! Dengarkan aku!!!" Adith dengan keras menghentikan Alisya dengan mengangkat wajah Alisya untuk menatap dirinya. "Kau pikir aku laki-laki apa ha??? tidak mungkin aku melakukan itu kepadamu! Aku akan mencintaimu dan aku menghargaimu dengan sangat tinggi. Kehormatan mu adalah kehormatan ku juga. Maafkan aku, aku hanya bercan.. da..." Adith langsung dibanting Alisya sehingga ia terbaring di atas tempat tidur dengan Alisya yang sedang berada tepat disampingnya menatapnya dari atas. "Fuuhhhh,,, kau tau kan, kalau caramu bercanda itu sudah sangat keterlaluan? tapi yah... sepertinya aku harus menghadapi mu secara langsung untuk bisa mengalahkan mu. Kau sepertinya sedang menikmati kegugupanku beberapa hari ini." Alisya menunduk mendekati wajah Adith yang masih dalam keadaan Shock karena bantingan Alisya. "Aku bisa berbuat lebih menakutkan dari ini jika kau melakukannya lagi." Alisya berbisik manja ditelinga Adith yang membuat Jantung Adith berdetak dengan sangat cepat. Adith tak menyangka kalau Alisya akan menyerangnya balik seperti itu dengan sangat berani. "Ehemmm... BTW... aku suka kata-kata mu!" ucap Alisya sambil bangun beranjak pergi meninggalkan Adith yang wajahnya memerah akibat serangan balik Alisya. Alisya yang tersenyum manis saat meniup rambutnya untuk bisa melihat wajah Adith, membuat Adith terus terbayang akan itu. Darah Adith berdesir cukup kencang membuat Jantungnya seolah tak ingin berhenti bersuara kencang mengalahkan Bas pada Salon Simbada yang besar. "Uaaahhh,,, pesonanya berbahaya juga!!! Sial... aku sampai dibuat membeku olehnya" Adith terbangun dan menertawakan dirinya sendiri. Kali ini dia yang kalah atas pertarungannya melawan Alisya. "Saya permisi dulu yah, masih banyak yang harus kami lakukan karena seharusnya hari ini kami masih mendapatkan pelajaran tambahan di sekolah." Alisya menghampiri Ayah dan Ibu Adith setelah sebelumnya merapikan tubuh dan bajunya serta membersihkan air matanya. "Bagaimana keadaanmu? kepalanya tidak sakit?" tanya Ayah Adith yang sengaja memastikan bahwa Alisya kemungkinan hanya pingsan karena kelelahan saja. Alisya tau betul bahwa dia bukanlah orang yang mudah pingsan. Namun karena melihat dirinya tak sadarkan diri sehingga ia berpikir bahwa Adith sedang menyembunyikan suatu hal dari dirinya. "Uhh,,, Iya! Saya sudah baik-baik saja sekarang. Mungkin butuh istrahat yang cukup karena baru keluar dari rumah sakit sudah semangat untuk belajar." senyum Alisya hangat menampilkan ekspresi agar mereka tak khawatir akan dirinya. "Ya sudah... hati-hati dijalan, jangan terlalu memaksakan diri. Belajar memang penting, tapi kesehatan jauh lebih penting dari apapun!" tegas Ibu Adith yang mengingatkan Alisya sekaligus memberi kode keras kepada Adith yang datang dari belakang Alisya. "Iya ma,, Adith akan ingat pesan mama!" cium Adith di kening ibunya dan menyalami ayahnya. Alisya melakukan hal yang sama sebelum akhirnya pergi menuju ke sekolah. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang yang menandakan semua siswa sudah akan bersiap-siap untuk melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler. Sedang mereka akan memasuki ruangan Mia 1 yang tampak seperti gedung perkuliahan bertingkat itu untuk menerima pelajaran tambahan dari guru pembimbing. "Alisya...." Adora dan yang lainnya langsung menarik tubuh Alisya kehadapan mereka semua. "Ada apa?" tanya Alisya bingung dengan reaksi mereka yang super excited. "Ini kamu bukan??? kamu dan Adith sama Karin dan kak Karan pergi menghadiri acara pernikahan dari tuan Lion?" tanya Adora dengan penuh antusias. "Tuan Lion yang pengusaha sukses asal Korea Selatan yang gantengnya bikin jiwa kebucinaku berteriak itu? Yang dia nikah sama seorang wanita berhijab cantik yang dia temui selama di Korea itu?" tanya Aurelia yang tak kalah antusiasnya karena melihat hasil rekaman mereka dari sosial media. "Gercep juga gerakan kalian melebihi emak-emak lambe turah." terang Alisya dengan reaksi dinginnya. "Kalian hebat bisa bertemu dengan orang-orang besar seperti dirinya, aku dengar banyak sekali para pengusaha sukses dari perusahaan besar serta orang-orang elite lainnya menghadiri acara akad nikah yang digelar dengan sangat megah itu." tambah Emi yang menatap membayangkan dengan penuh rasa penasaran. "Aku sangat iri dengan Nana, dia bisa mendapatkan seorang pria tampan seperti tuan Lion yang merupakan idaman setiap wanita. Mendapatkan acara akad nikah yang super megah.. aaahhh.. sungguh impian semua wanita!" lanjut Feby yang sedang menghalu ria. "Kalian sepertinya sangat menginginkan dan bermimpi menjadi seorang putri di siang bolong yah..." goda Yogi yang sedari tadi mendengar percakapan mereka. "Sampai kapanpun juga kalian nggak akan bisa menjadi putri, jangan menghayal terlalu tinggi. Sakit nanti jatuhnya." tambah Beni yang mencoba untuk mengingatkan mereka. Adora dan Aurelia menatap mereka dengan tatapan yang tajam. Mereka segera membuka mulut dengan kompak untuk melabrak keduanya namun Emi sudah berkata dengan keras. "Meski kau berkata seperti itu, kami ini merupakan seorang Putri di keluarganya tau nggak!!!" tegas Emi dengan tatapan penuh keyakinan. Seketika para lelaki langsung tertawa terbahak-bahak sedang teman-temannya hanya menepuk jidat mereka masing-masing dengan pandangan melongo karena keabsurd an jawaban Emi. "Ya ampun, aku nggak nyangka kamu akan menjawab seperti itu." Kali ini Aurelia tak bisa menahan tawa mengingat bagaimana wajah Emi yang penuh keyakinan saat menjawab Yogi dan Beni. "Perkataan mu tidak ada salahnya dan sangat benar tapi entah kenapa terdengar cukup klise." ucap Feby yang berusaha menahan tawanya. "Kalau aku ketawa dosa nggak yah?" Adora menatap dalam pada Emi. Tepat saat mereka sedang berinteraksi satu sama lain, seorang guru biologi yaitu Ibu Hasrah masuk kedalam ruangan mereka untuk memberikan pembimbingan. Melihat itu mereka dengan sopan dan rapi langsung mencari posisi dan duduk dengan nyaman. Karin masuk bersamaan dengan datangnya ibu Hasrah dan langsung duduk disamping Alisya. "Bagus, melihat kalian yang seceria ini membuat saya berharap kalian tidak akan tertidur selama penjelasan saya yah... Bagaimana sudah siap?" tanya Ibu Hasrah yang sudah berada dihadapan meja guru. Bersamaan dengan pertanyaan ibu Hasrah, sebuah monitor hologram langsung naik dihadapan mereka sebagai wadah yang mereka gunakan untuk mengikuti pelajaran Biologi yang banyak menuntut untuk menampilkan animasi dalam setiap pembelajaran jika mereka tidak menggunakan mikroskop. Chapter 222 - Sel Bunuh Diri "Jadi kali ini kita akan membahas mengenai proses pembelahan pada sel." Ibu Hasrah memulai penjelasannya mengenai mata pelajaran Biologi. Dia mulai melakukan gerakan memperlihatkan Slide yang menggambarkan proses pembelahan pada sel mitosis dan meiosis secara menyeluruh hingga kemudian pada proses pembentukan sel telur dan sel sperma. "Sel tubuh manusia memiliki rentang hidup berbeda, tergantung pada jenis dan fungsi sel. Sel-sel tersebut dapat hidup antara beberapa hari hingga satu tahun. Sel-sel tertentu pada saluran pencernaan hidup hanya beberapa hari, sementara beberapa sel sistem kekebalan tubuh dapat hidup sampai enam minggu. Sel pankreas diketahui dapat hidup selama satu tahun." tambah ibu Hasrah sebagai informasi tambahan dalam penjelasannya. "Sebelum saya akhiri, berdasarkan pada penjelasan saya sebelumnya, apakah penyebab dari matinya sel?" Ibu Hasrah sengaja memancing pengetahuan mereka semua untuk membuat kelas menjadi lebih aktif. Adora dengan cepat mengangkat tangannya begitu pula dengan Beni dan Gani. "Ya Adora, silahkan!" Ibu Hasrah mempersilahkan Adora terlebih dahulu. "Sel tubuh dapat mengalami kerusakan dan bahkan sampai mati karena beberapa faktor penyebab yaitu terlalu sering mengkonsumsi makanan berlemak tinggi, tercemar polusi, dan pencemaran Air." terang Adora dengan sangat lancar. Ibu Hasrah tersenyum mendengar jawaban dari Adora. Setelah itu, ibu Hasrah mengangguk kepada Gani untuk menambahkan. "Selain itu, kerusakan sel dapat terjadi karena mengalami stress yang berlebih dan menjalani pola hidup tak sehat." jawab Gani dengan penuh keyakinan. "Bagus,,, hebat kalian semua sudah menjawabnya dengan benar. Ya itulah penyebab atau faktor yang dapat merusak dan mematikan sel. Nah... apa kalian tahu kalau sel juga melakukan bunuh diri?" tanya ibu Hasrah sekali lagi kepada mereka. Tak ada satupun dari mereka yang menjawab mereka saling melirik satu sama lain tak menyangka kalau ternyata sel juga bisa melakukan bunuh diri. "Beneran selnya bunuh diri?" bisik Adora kepada Aurelia. Bukannya menjawab, Aurelia malah melirik ke arah Karin dan Alisya. "Maaf bu, tapi apa iya sel melalukan bunuh diri?" tanya Beni dengan serius. "Ada,, sel yang sudah tidak tahan sama bullying nya netizen!" ucap Yogi yang membuat ibu Hasrah ikut tertawa karenanya. "Siapa yang bisa jawab?" tanya ibu Hasrah melempar terlebih dahulu pertanyaan Beni. " Ketika mengalami kerusakan atau infeksi, sel akan membinasakan dirinya sendiri melalui proses yang disebut apoptosis." terang Riyan mencoba untuk menjawab. "Apoptosis terjadi untuk memastikan perkembangan sel yang tepat dan untuk menjaga proses mitosis tetap berjalan baik." tambah Zein menatap kearah Beni. "Ketidakmampuan sel melakukan apoptosis dapat menyebabkan perkembangan kanker." tutup Adith. Mendengar penjelasan mereka semua, ibu Hasrah langsung memberikan kesimpulan dan penjelasan yang ia bawa dan kemas dengan sangat sederhana menggunakan tampilan slide hologram membuat mereka dapat melihat langsung bagaimana proses pembelahan itu terjadi dalam bentuk Animasi yang di tarik secara bertahap olehnya. Pembelajaran mereka berlangsung hingga malam hari dengan semua rangkuman mata pelajaran yang dikemas dengan sangat baik sehingga semuanya dapat memahaminya dengan baik. Mereka hanya sempat beristirahat untuk ke toilet, makan dan sholat. Setelah itu mereka terus melanjutkan pembelajaran mereka. "Kalian sudah bekerja keraaaas!!!" Akiko masuk dengan membawakan mereka 3 kotak Pizza dengan rasa yang berbeda, sekantung penuh burger dan beberapa kaleng minuman bersoda. "Wwowowww.. hebat!!! makan besar..." teriak Gani dengan penuh semangat menghampiri Akiko dan membantunya. "Kalian boleh istrahat cepat malam ini, kalian juga bisa menikmati mandi air panas yang sudah kami sediakan di dalam kompleks ini" terang Ibu Vivian masuk bersama pak Irhan yang menatap dengan dingin. "Apa??? Kompleks ini memiliki tempat permandian air panas?" tanya Beni kaget mengira bahwa tempat itu akan sama seperti Onsen yang berada di jepang. Zein dan Riyan tertawa seolah sudah bisa menebak maksud dari ibu Vivian. "Kalian boleh menggunakan semua fasilitas yang berada didalam kompleks dengan catatan, jangan sembarang menyentuhnya atau menggunakannya, dan Jangan merusak!!!" tegasnya dengan tatapan tajam. Mereka dengan semangat melahap semua makanan yang dibawa oleh Akiko dan ibu Vivian. "Waaah... aku nggak habis pikir, ternyata permandian air panas yang dimaksud adalah bak mandi ini?" Ekspetasi Beni seketika hancur lebur saat melihat sebuah bak mandi yang cukup besar dengan air panas yang menguapkan asap panas. Mereka yang sudah paham tidak peduli dan langsung naik ke atas bak mandi dan berendam dengan hangatnya. "Apa kau pikir kita akan berada di sebuah halaman belakang yang memiliki kolam-kolam kecil berisi air panas?" tanya Zein yang sudah duduk dengan manisnya ditepi kolam. "Masuklah, meski tidak seperti permandian air panas di jepang. Kau harusnya menghargai usaha Akiko yang sudah menyiapkan ini semua demi kita!" tambah Riyan yang masuk dengan santainya. Meski harapannya hancur, melihat 3 elite itu dengan nyaman masuk kedalam bak bersama dengan Rinto dan Yogi membuat Beni tidak punya pilihan lain. Ryu pun merasa hal itu bukanlah masalah selama yang mengerjakannya sudah melakukan hal itu dengan sepenuh hati. "Uaahh.. rasanya segar sekali setelah mandi air panas dimalam hari" Adora yang sudah selesai mandi dan berpakaian meluruskan tubuhnya. "Benar, rasanya peredaran darah di tubuhku jadi lebih lancar dan otakku jadi sedikit lebih fresh." tambah Emi yang wajahnya lebih segar dari sebelumnya. "Eh, tau tidak kalau sekolah kita ini punya sebuah cerita legenda?" seru Feby setengah berbisik kepada mereka. "Legenda? legenda apa?" Karin datang bersama Alisya yang juga baru saja selesai mandi. Mereka semua tidur di satu ruangan kelas yang memiliki penghangat ruangan apabila suhu lingkungan terasa lebih dingin dan juga pendingin ruangan apa bila suhu lingkungan panas, sehingga meski hanya memakai matras yang sudah mereka selimuti, hal itu sama sekali tidak mengganggu tidur mereka. "Ada sebuah legenda yang katanya di sekolah ini dulu ada seorang siswa yang katanya bunuh diri karena tidak tahan dengan sistem sekolah ini yang mengharuskan siswanya memiliki nilai tinggi di setiap mata pelajarannya. Dia sangat tertekan dengan semua sistem itu sehingga ia memutuskan untuk lompat dari lantai 5 gedung sekolah. Dan gedung itu adalah..." mereka yang mendengarkan cerita Feby tiba-tiba mendekatkan diri karena merasakan ada sesuatu yang membuat mereka terasa merinding dan dingin. "Gedung itu yang mana?" tanya Aurelia yang sudah duduk sangat dekat dengan Feby. Feby menelan ludahnya dengan susah payah karena mulai merasakan dingin yang menusuk ke dalam tubuh mereka masing-masing. "Gedung tempat dia bunuh diri adalah Gedung yang sekarang sedang kita tempati" lanjut Feby dengan sedikit bergetar karena merasakan dingin yang menjalar di setiap tubuhnya. Chapter 223 - Legenda Sekolah Merasakan ada sesuatu yang aneh, mereka serentak menoleh ke arah jendela kelas dengan sama-sama memutar bola mata mereka secara perlahan-lahan. Dari arah sana mereka sedang melihat jendela itu tertutup dengan sangat rapat. Mereka bingung dengan suhu ruangan yang tiba-tiba semakin dingin itu. Jika bukan dari jendela, lalu dari mana arah datangnya desiran angin dan suhu dingin yang tiba-tiba menusuk dan menjalar masuk kedalam tubuh mereka. "Karin, ngapain AC nya di nyalain sampai gas pol sih??? ini tuh sudah dingin sekali. Kamu mau membuat kita semua membeku?" Alisya langsung merebut remote AC dari tangan Karin. Alisya sudah tidak tahan dengan suhu ruangan itu yang semakin dingin karena kerjaan Karin. "Ya ampun Sya, kamu kan tau aku nggak bisa tidur kalau nggak pake AC... Bagaimana aku bisa tidur malam ini kalau kamu matikan AC nya?" Karin merengek karena tahu Alisya tidak tahan dengan suhu lingkungan yang sangat dingin. "Aku tau, tapi nggak sampai kamu nyalain 3 AC sekaligus juga kan? lagi pula kita semua itu ada di ruangan yang sama dengan kamu. Yang lain juga belum tentu bisa se tahan itu terhadap dingin tau!" seru Alisya kesal dengan tingkah Karin yang tanpa mereka sadari sudah ingin menyalakan AC yang ke empat. Karin yang sudah terbiasa tidur dengan ruangan Full AC membutuhkan lebih dari sekedar dingin untuk membuatnya nyaman karena ruangan itu cukup besar sedang baginya suhu ruangan itu cukup panas. Adora dan yang lainnya seketika membeku melihat dua orang itu dengan santainya mempertengkarkan hal lain sedang mereka sedang dalam mode horor. "Aku sudah ketakutan setengah mati mereka dengan santainya berebut remote AC." seru Adora dengan pandangan yang tajam ke arah Alisya dan Karin "Aku bahkan sempat mengira kalau gendre novel ini tiba-tiba berubah menjadi gendre Horor yang dari sebelumnya Romance Foction!" tambah Aurelia menghela nafas panjang melihat pertengkaran dua wanita monster di sekolah mereka itu. "Kasi nggak tuh remote!!!" ancam Karin yang langsung menghambur ke tubuh Alisya. "Nggak... kamu jangan egois dong, aku nggak suka dingin, yang lain juga nggak suka dingin. Denger nggak sih??" Karena kesal, Alisya yang mendorong wajah Karin dengan kuat seketika menarik kedua kedua lobang hidung Karin ke atas yang membuat Karin meringis memohon ampun. Melihat pandangan teman-temannya sudah mengarah ke mereka berdua, Alisya dan Karin langsung menoleh menatap mereka. "Kalian berdua mengganggu kesenangan kami saja. Aku pikir hantunya beneran muncul karena aku ceritakan." ketus Feby yang perhatiannya teralihkan karena Karin dan Alisya. "Berhentilah memperebutkan remote itu. Karin, kau hanya bisa memasang 1 AC yang dekat dengan tempat tidurmu. Sedangkan di tempat lain tidak usah kau nyalakan, dengan begitu semuanya bisa tertidur dengan nyaman." serang Aurelia dengan suar dingin. "Tapi jika seperti itu aku tidak bisa tidur dengan lelap." rengek Karin berusaha mendapatkan kenyamanannya. "Kau mau tidur dengan memakai pendingin AC itu atau aku masukkan kau kedalaman frezeer dan kulkas?" ancam Alisya dengan suara dingin yang seketika membuat Karin meringkuk ngeri. "Lalu kenapa itu dikatakan dengan legenda sekolah ini?" tanya Gina masih penasaran karena cerita Feby belum sampai pada klimaksnya. Tidak peduli dengan perdebatan Alisya dan Karin yang takkan pernah bisa mereka lerai. Egi dan beberapa murid perempuan lainnya terlihat tertarik dengan cerita yang dibicarakan oleh Feby sehingga dengan segera mereka mendekat dan berkumpul untuk ikut mendengarkan. "Asal kalian tahu saja, pelajaran tambahan seperti ini dulu sangat sering diadakan oleh pihak sekolah bagi mereka yang memiliki nilai dibawah target. Dan arwah penasaran dari siswi itu selalu datang menganggu mereka saat mereka sedang berjalan di koridor sekolah, berada di toilet ataupun sedang tidur. Dia akan mengajak salah satu dari mereka dan membawanya bersamanya yang tanpa mereka sadari mereka telah melompat dari lantai gedung ini seolah sedang bunuh diri." cerita Feby semakin membuat mereka merinding. Kali ini bukan karena suhu AC yang dinyalakan oleh Karin melainkan rasa bergidik takut yang sesungguhnya. Mendengar suara langkah kaki dari koridor sekolah seketika membuat mereka membeku dan saling menatap satu sama lain. Mereka langsung melihat ke arah Alisya yang sudah setengah terbaring membelakangi mereka, Karin yang asyik bermain dengan handphonenya sedang para pria berada disebelah ruangan. "Siapa yang malam-malam seperti ini masih menggunakan sepatu?" Adora ingat betul kalau pak Irhan sudah masuk menggunakan pakaian santai dan memakai sendal swalow sedang ibu Vivian tidak bisa ikut menemani karena ada yang harus ia kerjakan. "Apa itu ibu Vivian yang kembali untuk menemani kita?" tanya Aurelia dengan setengah berbisik. Mereka perlahan-lahan berbalik melihat ke arah pintu sambil berpegangan satu sama lainnya yang kemudian lampu ruangan tiba-tiba mati. Karin menyalakan handphone nya yang sinarnya menyinari wajahnya dari bawah. "Tidurlah, sampai kapan kalian akan bercerita mistis terus???" ucapnya santai yang membuat semua teman-temannya seketika berteriak dengan sangat kencang. "Ada apa??? apa yang terjadi?" tepat saat Riyan yang berada di ruang sebelah mereka membuka pintu dengan menggesernya cepat, semua wanita sudah menghambur menabrak Riyan dan menindihnya satu-persatu. Adith dan yang lainnya yang terkejut dengan suara teriakan mereka pun seketika keluar dari ruangan menuju ke kamar sebelah. "Apa yang sedang terjadi?" tanya Zein yang menghampiri mereka yang sudah sesegukkan menangis karena takut. Adith membantu Akiko dan yang lainnya untuk berdiri. "Apa sih... sudah malam tahu, kenapa kalian berteriak sekencang itu?" Karin keluar dengan wajah yang sudah memakai masker berwarna putih. Beni dan Gani yang melihat wajah Karin seketika berteriak dengan sangat nyaring karena kaget. Bahkan Karin pun juga ikut ketakutan karenanya. Saat Karin masih berdiri di depan pintu kelas, tiba-tiba saja dari atas kepalanya ada sebuah tangan menarik kepala Karin dan tubuhnya masuk kedalam ruang kelas yang gelap. Sekali lagi mereka berteriak dengan sangat kencang melihat kejadian itu. Merasa khawatir, Adith perlahan-lahan masuk kedalam kelas untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Ia dengan sedikit kesulitan mencari switch lampu digital yang menggunakan sidik jari itu sehingga ia harus meraba dan kemudian menyalakan lampu ruangan kelas. "Sudah kubilang kebiasaan bodoh mu itu bisa membuat semua orang mati berdiri tapi kau sempat-sempatnya mash menggunakan masker putih ini di sekolah yah!!!" Mereka sudah melihat Alisya yang sedang mengunci leher Karin menggunakan kakinya sedangkan tangannya ia kunci dengan tangannya. Alisya melepaskan kunciannya setelah merasa cukup puas memberikan pelajaran kepada Karin yang sedari tadi terus membuatnya kesal. Chapter 224 - Taruhan "Bisakah kalian berge...serh? Aku sudah tidak bisa lagi menahan be...ban berat kali...anhhh!" suara Riyan hampir tak terdengar karena ia kehabisan nafas. Bukannya meminta maaf Adora dan yang lainnya langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi ke tubuh Riyan yang terbaring. "Kenapa kalian malah menyiksaku alih-alih meminta maaf??" tanya Riyan kesal yang dirinya sudah ditindih tapi masih juga mendapatkan pukulan. "Harusnya kau tak membicarakan masalah berat badan seorang wanita, apa kau tak tahu hal sensitif seperti itu?" ketus Adora kesal dengan ucapan Riyan. "Uwaaaahhhh... wanita memang sesuatu!" Riyan tak bisa berkata apa-apa dengan ucapan Adora dan tatapan tajam lainnya. "Apa yang sedang terjadi???" para anak IIS yang berada di lantai bawah langsung menghambur naik ke atas karena penasaran dengan teriakan mereka. "Oh... maaf sepertinya teriakan mereka sampai juga kesana yah!" terang Riyan yang tentu saja ia tahu kalau teriakan Adora dan yang lainnya bahkan akan sampai ke pintu gerbang sekolah. "Ah,, mereka hanya ketakutan sedikit karena suatu kesalahan pahaman. Tidak perlu khawatir!" terang Rinto mencoba menjelaskan. "Tch,, aku rasa pasti hanya karena sebuah legenda bodoh yang sedang kalian maksudkan. tak ku sangka kalian hanya sekumpulan pecundang dan pengecut rupanya." ucap Ubay sinis dan terdengar menghina. Zein langsung mengerutkan keningnya bingung dengan maksud dari Ubay atas perkataanya. "Apa maksudmu? Bukankan dia sudah bilang kalau ini hanyalah sebuah kesalahpahaman saja? atau kau tidak mengerti bahasa Indonesia dengan benar?" Yogi tidak suka dengan cara bicara Ubay yang terkesan angkuh. "Sudah hentikan, sebaiknya kalian kembali ke tempat kalian masing-masing. Ini sudah cukup larut malam." seru Adith menengahi mereka. "Puft cih..." Gery membuang ludah dengan maksud menghina mereka. "Aku sudah bosan dengan sikap angkuh kalian yang seolah bisa memiliki semua akses dan mendapatkan perlindungan dari sekolah sedang kalian hanyalah sampah mainan dari orang tua kalian." seru Ubay lagi dengan tingkahnya yang masih tetap angkuh. "Jangan pikir kami tidak tahu apa yang sudah kalian lakukan, semua hal yang kalian lakukan itu hanyalah sebuah rekayasa untuk mendapatkan perhatian lebih saja." terang Erik dengan wajah yang tak kalah tengilnya. "Sedang yang terjadi sebenarnya adalah kalian hanya meringkuk tak melakukan apapun. Kekayaan bahkan mampu membuat kalian melakukan apapun, apa kalian tidak malu dengan semua yang sudah kalian bohongi?" tambah Gery dengan senyuman yang mengerikan saat memandang tubuh Aurelia di balik kaos tipis dan celana pendeknya. Yogi merasa sangat marah dengan pandangan mata menjijikkan dari Gery ke tubuh Aurelia. Ia dengan segera menarik horden jendela yang tak jauh dari mereka lalu menutupkannya ke seluruh tubuh Aurelia dan yang lainnya. "Bukan hanya mulut saja yang sampah, bahkan otak dan moral mereka lebih busuk dari pada sampah." Adora melihat dengan tatapan jijik sembari memegang erat kain yang dililitkan pada tubuh mereka. "hahahahahaha... kau yang dari kelas biasa bahkan tak cocok untuk diriku kau merasa bangga dengan tubuhmu itu? puffftt!" Gery tertawa dengan senyuman yang sangat menghina. Adith mulai tidak tahan dengan sikap provokasi mereka. Alisya dan Aurelia menjadi tertarik mendengar suara mereka dan ikut keluar. "Apa sebenarnya tujuan dari apa yang sedang kalian ucapkan itu?" Alisya bertanya dengan tatapan datar dan dingin. "Aku rasa kalian tidak sedang memancing kami saja, kenapa tidak langsung saja? Aku yakin kalian sedang merencanakan sesuatu sekarang!" tegas Karin dengan senyuman yang manis dan dibuat-buat. "Pas sekali, ternyata kau lumayan cerdas." Erik mendekat ke arah Karin memandangnya dengan penuh menyelidik. Tentu saja wajah Karin dan Alisya adalah magnet yang sesungguhnya, meski Adora dan yang lainnya juga tak bisa dibilang jelek atau biasa sja. "Aku sudah muak dengan semua hal yang kalian dapatkan. Bagaimana kalau kita buktikan saja. Kita akan bertaruh untuk mendapatkan posisi elite atas dan tentu saja sebagai imbalan lain mereka harus menjadi pacarku selama sebulan." seru Ubay menatap Alisya dengan tatapan provokasi. Alisya hanya tersenyum mendengar ucapan dari Ubay sedang Adith tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Ubay. Alisya memandang Adith yang Adith paham akan apa yang sedang dipikirkan olehnya. "Waah... kalian sudah mengajak orang yang salah!" ucap Akiko yang tersenyum menghina. "Sabar yah sayang, sebentar lagi kau akan menjadi milikku. Yah... meski hanya selama sebulan, tapi kau harus berbangga hati karenanya." ucap mereka dengan penuh kesombongan ingin mengelus lembut pipi Akiko. Ryu yang marah langsung menghentikan gerakan tangan dari Erik dengan sangat kuat. "uhhh,, uuhhh.. Siapa dia? kenapa aku tak bisa menarik dan menggerakkan tanganku?" batin Erik yang tak bisa melepaskan tangannya dari cengkraman Ryu. Ryu langsung membuang tangan Erik dengan kasar. "Sepertinya memang tak ada jalan lain untuk menyadarkan kalian." ucap Riyan yang mulai gerah dengan sikap mereka. "Tapi apa kalian yakin dengan apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Beni yang kembali memprovokasi mereka "hahahahhaha, jangan khawatir. Kami akan bersikap sedikit lembut dengan kalian. Tentu saja cidera yang kalian rasakan tidak akan sampai membuat kalian berhenti menjadi perwakilan sekolah, karena itu akan cukup merepotkan juga bagi kami." seru Ubay dengan penuh keyakinan. "Baiklah, aku tidak masalah. Jadi dengan cara apa kalian ingin melawan kami?" tanya Zein tak yakin dengan apa yang sedang dilakukan oleh Ubay terhadap mereka sebenarnya. "Sederhana, kita akan melakukan lomba untuk mencapai tingkat ke 5 dari gedung ini. Kita akan berlomba menaiki setiap gedung ini dan melihat siapa yang terlebih dahulu tiba dan turun dari atas sana dialah pemenangnya." ucap Ubay dengan senyuman seolah sudah menang melawan mereka semua. "Jangan bilang kalian akan takut hanya karena legenda konyol itu. Kalian bukan pengecut dan pecundang bukan? hahahhaha? Pancing Erik yang membuat ketiganya tertawa dengan terbahak-bahak. "Sepertinya boleh juga, tapi kalian ingin melawan 3 orang dari kami atau kalian memiliki rencana selain itu lagi?" terang Rinto balik melakukan hal yang sama dengan memancing mereka. "Cih,,, tentu saja jika hanya bertiga sepertinya acara tidak akan terlalu ramai meski kami bertiga saja sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan kalian semua. Kami akan memanggil yang lain sesuai dengan jumlah kalian biar lebih fair." terang Ubay dengan senyuman sinisnya. "Tidak masalah, kami akan mengikuti cara permainan kalian" seru Adith dengan santai dan tenang. Adith sebenarnya tidak terlalu berminat menghadapi kesombongan mereka namun jiwa kompetitifnya membuat dirinya merasa bahwa dengan memberikan mereka sedikit pelajaran berharga dapat merubah cara pandang mereka terhadap orang lain untuk tidak meremehkan orang. Chapter 225 - Kau terlalu baik Mizan Setelah selesai melakukan kesepakatan, mereka semua turun kebawah untuk memulai lombanya. Kelompok Ubay yang sebelumnya kekurangan anggota sudah mengumpulkan anggotanya yang sesuai dengan jumlah dari Adith dan teman-temannya. "Baiklah, dalam pertandingan ini tidak ada aturan penting. Kalian bisa melakukan apapun selama itu tidak membahayakan nyawa lawan main mu." seru Ubay menjelaskan terlebih dahulu Alur dari pertandingan itu. "Kalian bisa mengirimkan tiap perwakilan tim kalian sebagai juri di atas untuk melihat siapa yang lebih dahulu sampai. Tentu saja, orang yang memiliki keberanian cukup tinggi untuk berada disana dalam waktu yang lama." tambah Erik yang sudah menyiapkan seorang temannya yang laki-laki untuk berada disana. "Tapi sepertinya sekarang kalianlah yang sedang kekurangan orang. Kalian butuh 2 orang pria lagi untuk bisa menjadi juri pada garis start dan garis finish nantinya. Terlebih yang cukup berani disana. hahhaahhaha" Gery tertawa dengan terbahak-bahak memandang remeh Adith dan yang lainnya. "Tidak perlu laki-laki untuk berada disana, aku dan Karin sudah cukup untuk menjadi jurinya. Biar Karin yang dibawah dan Aku yang akan berada di atap gedung lantai 5." seru Alisya menawarkan diri yang membuat mereka kembali tertawa karena Alisya mencoba berani untuk naik. "Tidak masalah, Mizan... Karena kau tidak ingin ikut, maka setidaknya kau harus menjadi juri. Kau bisa naik ke lantai 5 sekarang." seru Ubay yang langsung memerintahkan Mizan dengan kasar. Adith langsung mengangguk kepada Alisya memberi tanda bahwa dia juga bisa ikut naik. "Mizan... nikmati waktumu bersamanya dengan baik. Dan kau, jika takut kau bisa berteriak sekencang kencangnya karena Mizan akan langsung melindungi mu dengan sepenuh hati." ucap Gery dengan setengah berteriak untuk membuat Alisya yang sudah lebih dahulu berjalan mendengar suaranya. Tidak memperdulikan mereka, Alisya dan Mizan segera naik ke atas menggunakan tangga darurat ketimbang Lift untuk terlebih dahulu memastikan keadaan adaan dan keamanan sekitar tangga saat mereka melakukan perlombaan. Gedung komplek elite sudah memiliki sistem tekhnologi yang cukup tinggi dimana untuk akses dari satu lantai ke lantai berikutnya sudah menggunakan lift yang terlihat nyaman dan mewah. "Maafkan teman-temanku, aku harap kamu tidak tersinggung dengan apa yang sudah mereka katakan." ucap Mizan dengan nada yang lembut kepada Alisya. Alisya tersenyum mendengar suara sopan dari mulut Mizan. "Aura mu berbeda dengan mereka, kau terlihat lebih bersih dan hangat. Auramu memancarkan kasih sayang, tapi mengapa kau terjebak dengan orang-orang yang memiliki ritme jantung mengerikan seperti mereka?" Mizan mengerutkan keningnya mendengar kalimat Alisya yang sedikit membingungkan. "Baru kali ini ada orang yang menilai dengan cara yang berbeda, biasanya orang lain akan bilang mengapa kamu bersama dengan orang-orang brengsek seperti mereka. Seperti itulah yang biasanya aku dengar." Mizan tertawa kecil karena penilaian Alisya yang jauh lebih detail dari perkiraannya. "Itu karena aku memang merasa mereka memiliki banyak alasan dibalik sikap mereka. Di setiap perkataan mereka, tersirat akan sebuah kemarahan dan kekesalan yang ingin mereka keluarkan. Tapi aku tak yakin akan sikap mereka seperti saat ini." jelas Alisya terus naik hingga sudah mencapai lantai ke 3 gedung itu. "Aku rasa sebaiknya kau mengingatkan mereka untuk menghentikan pertandingan ini sebelum terlambat, mereka akan melakukan segala cara untuk bisa memenangkan pertandingan ini. Mereka itu licik, kau jangan menganggap remeh mereka." ucap Mizan mencoba memberikan peringatan kepada Alisya yang meski dia adalah seorang lawan, dia masih berusaha untuk melihat sisi baik dari seseorang. "Kau terlalu baik Mizan, aku memang tidak salah menilai mu sejak awal aku melihatmu. Jangan khawatir mereka justru bukanlah lawan yang mudah juga, meski ada beberapa dari teman-teman ku yang akan kesulitan menghadapi mereka, tapi aku yakin mereka akan baik-baik saja." terang Alisya yang merasa senang dengan sikap Mizan yang mencoba untuk memperingatinya. Mereka berdua sudah berada di atap gedung lantai 5 melambai ke bawah menggunakan senter sebagai tanda bahwa mereka sudah siap. "Sepertinya mereka sudah siap, kita bisa memulainya sekarang." seru Erik setelah melihat tanda dari Mizan dengan senter berwarna biru dan Alisya berwarna merah. Karin kemudian mengambil langkah menuju ke garis start untuk memberikan aba-aba ketika mereka akan melakukan perlombaan. "Kita mulai dulu dengan pemanasan, kami akan mengirim Fery sebagai peserta awal pertandingan kali ini. Sepertinya kami harus sedikit berbaik hati." Ubay segera menunjuk Fery sebagai perwakilan awal mereka dalam perlombaan pertama. Rinto langsung maju setelah mendapatkan tanda dari Adith untuk menjadi lawan dari Fery. "Siap????" Karin menaikkan kain sapu tangan berwarna putih sebagai tanda aba-aba dimulainya perlombaan. "Mulai!!!!!" teriak Edo menggunakan pengeras suara hologramnya. Fery dan Rinto langsung melesat dengan sekuat tenaga menaiki anak tangga dengan cepat satu persatu. Adith dan yang lainnya bisa melihat semua kegiatan mereka dari CCTV sekolah yang mereka hubungkan langsung dengan monitpr hologram yang layarnya cukup besar meski tak mengeluarkan suara. Fery memulai serangannya dengan memberikan tendangan tepat setelah mereka menaiki lantai ke dua. Rinto mampu menghindarinya namun ia malah jadi turun hingga beberapa tangga karenanya sedangkan Fery langsung memanjat naik ke tangga berikutnya mengambil kesempatan dari Rinto yang salah langkah sebelumnya. "Sial, aku tak menyangka kalau aturan bebas yang mereka maksud seperti ini, apa aku harus melakukannya juga?" Rinto mengambil ancang-ancang dan langsung naik beberapa tangga dengan melakukan hal yang sama dengan Fery yaitu memanjat tangga satu dengan yang lainnya dengan begitu cepat. Tak disangka Fery sudah terlihat begitu mencapai tangga ke 8 menuju ke tangga ke 9 yang sedikit lagi akan masuk ke pintu atap lantai 5. Tepat di lantai 9 mereka berdua tiba dengan Rinto sekali lagi menghindari tendangan berputar dan serangan tinjunya yang langsung menunduk dan meluncur dari bawah hingga akhirnya ia bisa membuka pintu dan lolos dengan mudah. Karena kesal dengan Fery, tepat saat Fery akan melangkah menuju pintu keluar di atap lantai 5, Rinto dengan cepat menutup pintu itu sehingga Fery dengan keras menabrak pintu yang kemudian membuat Fery hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan. Ia terdiam sejenak karena linglung. "Puffftttt,, tidakkah kau terlalu kejam dengan melakukan itu?" tanya Alisya saat melihat Rinto melangkah dengan gagah menghampiri Alisya dan Mizan. Alisya langsung memberi tanda yang berarti bahwa Rinto lah pemenang dari perlombaan yang sudaj mereka adakan itu. Mereka yang melihat dari monitor hologram hanya bisa mencapai pada lantai ke 5 namun mereka tak bisa melihat siapa yang berhasil membuka pintu karena titik buta dari CCTV tersebut. Chapter 226 - Iblis melawan Iblis Melihat tanda dari Alisya tidak menyulutkan keangkuhan yang ada pada Ubay dan teman-temannya. Bisa menang tipis dan sedikit unggul dalam pertandingan sebelumnya membuat Ubay merasa bahwa mereka bukanlah tandingan yang sulit untuk dikalahkan. Mereka sengaja mengutus Fery yang mereka anggap lemah hanya untuk mengukur kemampuan mereka. Sedang Rinto bertujuan untuk melihat gaya pertandingan mereka dengan menjadi peserta pertama terlebih dahulu agar tidak ada yang terluka karena ungkapan Ubay mengenai aturan bebas tersebut. "Bisa kalian lihat apa yang mereka lakukan bukan? aku sengaja menyuruh Rinto untuk turun tangan lebih dahulu agar aku bisa menganalisis pola pikir mereka. Sekarang yang perlu kalian lakukan adalah jangan terluka." bisik Adith kepada teman-temannya menggunakan Alat komunikasi hologram kecil yang ia kembangkan sendiri sehingga ia bisa mengarahkan teman-temannya dengan baik. Jika Ubay dan teman-temannya akan menggunakan cara licik dalam pertandingan, maka Adith akan menggunakan cara cerdik dalam pertandingan mereka. "Hahahhaha, aku tak menyangka Fery bisa menandingi Rinto yang terkenal sebagai pemimpin preman disekolah ini sebelumnya. Fery yang lemah itu bahkan beberapa kali mampu melayangkan tinju dan tendangan yang dapat membuat Rinto sedikit kesulitan. Sekarang kalian sudah tahu bukan apa yang harus kalian lakukan?" Ubay mengerling licik kepada teman-temannya dengan maksud lain. Adith sudah memperkirakan apa yang akan di lakukan oleh mereka sehingga dengan sedikit petunjuk dari Adith mereka paham apa yang harus mereka lakukan. "Kau yakin tidak masalah bagi kami untuk merebut kemenangan?" tanya Gani karena ia setidaknya ingin membungkam mulut mereka dengan kemenangan. "Aku bukannya tidak percaya pada kalian, tapi bagiku yang utama adalah keselamatan kalian. Aku hanya ingin kalian meminimalisir cedera yang mungkin bisa timbul pada perlombaan, sisanya kalian bisa mempercayakannya kepada kami." seru Adith menepuk pundak Gani untuk membuatnya percaya diri. "Tidak masalah, serahkan saja padaku. Sepertinya aku ingin membuat mereka besar kepala dulu sebelum akhirnya membuat mereka jatuh dalam kenyataan." Yogi tersenyum dengan tatapan menakutkan. "Aku hampir lupa, kalau di antara kita semua ada yang memiliki pola pikir sama seperti mereka." Zein tertawa mengingat bagaimana Yogi adalah seorang elite yang membuang gelarnya demi mendapatkan kebebasan. "Kau benar, aku tak tau apa yang akan terjadi jika iblis akan berhadapan dengan sesama mereka." tambah Riyan yang bergidik ngery dengan senyuman menyeringai Yogi. "Maksud kalian? memangnya ada apa dengan Yogi?" tanya Beni tak paham dengan perkataan mereka. "Kau akan lihat sendiri bagaimana mengerikannya dia ketika berhadapan dengan orang-orang yang berpikiran sama tapi menggunakannya dalam menindas orang lain." terang Aurelia yang memandang dengan yakin ke arah Yogi. Peserta berikutnya yang akan turun adalah Gani melawan Boby. Keduanya sudah bersiap untuk berlomba setelah mendapat aba-aba dari Karin dan melesat berlari menaiki tangga setelah mendengar suara dari Edo dari speaker hologram yang sangat keras. Tepat saat mereka berlari, Gani jatuh tersungkur karena Boby menghalau kaki Gani. Sudah menduganya Gani hanya tersenyum karena mampu mendarat dengan tangannya meski mendapatkan sedikit lecet. Gani segera berlari dan memanjat tangga sedang Boby sudah berada pada tangga ke 3. Dengan sedikit usaha yang keras, Gani bisa menyamakan kedudukan pada tangga ke 7. Melihat Gani yang sudah menghampiri, Boby melakukan aksinya dengan menyerang perut Gani dengan sangat kuat yang di hindari oleh Gani dengan menempel pada bibir pagar tangga. Gani langsung menepis tangan Boby pada serangan berikutnya lalu menaikkan tendangan yang mengarah ke dada Boby namun bisa dihindarinya dengan sangat mudah. Tangan Boby langsung ingin meraih kepala Gani yang dengan cepat Gani menghindar lalu dengan satu dorongan Ringan mereka berdua jatuh terbaring ke lantai 4. Boby bangun dengan sigap dan melayangkan tendangan dengan sangat keras ke perut Gani yang langsung tergeser pada dinding. Beruntunglah Gani sempat melindungi perutnya dengan tangannya namun karena itu Gani merasakan kebas pada bagian tangannya. Boby yang tertawa segera naik ke atas dan berhasil mencapai lantai 5 dengan baik sedang Gani harus susah payah bangun dari tempatnya. "Sialan,, cara mereka kotor sekali." Adora marah melihat kelakuan Boby kepada Gani. "Brengsek,, kakak berhasil melindungi perutnya tapi aku yakin dia sangat kesulitan untuk menggerakkan tangannya dalam beberapa hari nanti." seru Gina juga tak kalah marah saat melihat kakaknya terbaring di lantai. "Ayo, kita harus membantu Gani secepatnya dengan membawanya ke Ruang UKS untuk memberikan perawatan." Emi dengan cepat mengajak Gina untuk menghampiri Gani. "Biar aku saja yang pergi, aku lebih tau apa yang harus dilakukan. Sebaiknya kalian disini saja untuk melihat lebih lama situasinya." Karin dengan segera berlari menuju tangga. Melihat Karin yang pergi itu, Ubay dengan segera meminta kepada seseorang untuk naik dan menghalau Karin. Dari monitor hologram mereka tidak melihat Karin menaiki tangga setelah lantai ke tiga dan juga tak melihatnya menaiki lift. Bahkan Gani yang sudah berusaha bangkit pun tak bisa dilihat dari monitor manapun. "Kenapa? apa yang terjadi? Dimana Karin... Gani juga tak terlihat." Akiko tak melihat mereka dari arah manapun di CCTV setiap lantai gedung. "Apa yang sudah kau lakukan pada mereka??" Gina berteriak ke arah Ubay dengan sangat geram. "Wo wo woww.. santai, kamu punya bukti kalau kami yang melakukannya?" seru Ubay dengan senyuman penuh arti. "Hanya kalian yang memiliki cara yang kotor seperti itu! Dimana mereka?" teriak Aurelia merasa sangat khawatir akan keduanya. "Sayang,,, kita sedang dalam pertandingan. Bisa kau lihat kan tak ada satupun dari kami yang mengikuti temanmu itu saat menaiki tangga?" ucap Gery dengan tatapan sinisnya. "Bisa saja kan kau menyuruh orang yang sudah kau sediakan berada di dalam gedung untuk melakukan sesuatu pada mereka." bentak Feby semakin kesal dengan tingkah kotor mereka. "Sudah... kalian tau kan Karin bisa melindungi diri sendiri, sebaiknya kita kembali ke pertandingan dan menyelesaikan ini secepatnya agar kita bisa segera mencari dan menemukan mereka." Adith mencoba menghentikan teman-temannya agar mereka tetap tenang dan tidak terpancing oleh kelakuan mereka. "Tapi Dith, Gani tadi tuh terluka. Aku tidak yakin kalau dia akan baik-baik saja, aku khawatir kalau semua ini adalah akal-akalan mereka." Gina tidak terima jika mereka hanya berdiam diri disana menyaksikan satu persatu teman mereka mengalami luka-luka. "Jangan khawatir, aku bisa jamin kalau mereka berdua baik-baik saja." Adith menunjuk pada alat komunikasi yang masih melekat ditelinga mereka begitupula pada Karin dan Gani sehingga mereka semua bisa menemukan keberadaan mereka berdua. Melihat gerakan Adith, merekapun akhirnya mengerti dan mundur. Chapter 227 - Yogi Melawan Jiza Peserta berikutnya adalah Yogi setelah Beni yang juga mengalami luka-luka yang cukup berat karena mendapat dua kali tendangan dan jatuh terguling di lantai atas tepat sebelum mereka membuka pintu menuju ke atap Lantai 5. Melihat lawan Beni yang memiliki proporsi yang lebih tegap, Riko mampu mendaratkan beberapa pukulan fatal pada Beni meskipun Beni juga berhasil melayangkan beberapa serangan padanya. Keduanya seimbang namun Beni harus terjatuh karena ia mengalami keram kaki saat sudah hampir mencapai finish. "Sepertinya sudah saatnya untuk sedikit membuat mereka melambung." senyum Yogi yang membuat Adith merasakan bahaya yang keluar dari aura tubuh Yogi. Belum pernah Adith mencium aura berbahaya dari orang lain selain Alisya namun yang dikeluarkan oleh Yogi tidak lain masih berupa warna abu-abu tua yang hanya masuk pada taraf berburu tingkat A saja. "Kau harus hati-hati" Adith sebenarnya bermaksud untuk menyinggung lawan Yogi, namun Ubay dan teman-temannya mengira kalau Adith sedang memperingati Yogi sehingga dalam pandangan mereka kalau Yogi lebih lemah dari pada Jiza lawan Yogi. "Siapa dia? tubuhnya lebih besar dari pada Yogi dengan semua otot-otot nya itu, dia bisa membuat Yogi kalah dengan sangat mudah. Apakah Yogi akan baik-baik saja?" Akiko sangat khawatir setelah melihat Yogi yang terlihat memiliki kekuatan yang cukup besar. "Jangan khawatir, itu semua hanyalah gumpalan daging yang ada gunanya dihadapan Yogi. Meski terlihat berotot, kekuatannya takkan sebanding dengan kelicikan Yogi nantinya." seru Aurelia dengan tersenyum sinis. "Oyy,, Wanita... kau bermaksud menunjukkan pada siapa kata-katamu barusan hah???" Jiza menoleh ke arah Aurelia dengan murka karena tidak suka dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Aurelia. "Oh... Maaf, aku tadinya sudah mencoba untuk berbicara dengan sepelan mungkin. Tak ku sangka akan terdengar dengan sangat keras." ucap Aurelia tenang dan tak merasa terintimidasi oleh tubuh besar Jiza. "Kau....." Jiza yang marah langsung mendatangi Aurelia namun dihentikan oleh Ubay. "Sudah hentikan, kau tak perlu meladeni perempuan. Kau takkan pernah menang melawan lenturnya lidah perempuan. Bagaimana jika kau patahkan saja kaki dari lawan mu itu?" nyengir Ubay ke arah Jiza yang membuat Jiza seketika terbakar penuh semangat. "Buhahahahha,,, sebaiknya kau perhatikan langkahmu cungkring." ancamnya kepada Yogi. Yogi hanya terdiam dan tak terpancing oleh perkataan mereka dan dengan tenang bersiap di garis start. "Jangan terlalu keras kepada mereka Say,,," seru Aurelia dengan penuh semangat yang membuat mereka semakin emosi karena dukungan Aurelia. Jiza tampak panas dan penuh dengan kemarahan sehingga dengan satu hentakan aba-aba dimulai, Jiza langsung menghambur kedepan melesat mendahului Yogi. Yogi tak ingin kalah dari Jiza sehingga dengan satu helaan nafas dia berusaha untuk mendekati Jiza dan tak tertinggal selangkah pun dari dia. Begitu menyadari posisinya dengan Yogi tidak terlalu jauh, Jiza langsung menendang dada Yogi sehingga ia jatuh membentur dinding dengan sangat keras. Jiza tertawa dan kembali naik kelantai berikutnya. "Yogi,,, apa yang sedang terjadi dia bisa mati karena tendangan itu." teriak Adora kaget melihat keadaan itu. "Puhahahhaaha... ahahaha,,, aku pikir saat kalian membanggakannya dia akan sangat kuat dan sedikit berguna. ternyata dia hanyalah sebuah kacung yang tak berarti." tawa Gery melihat Yogi yang sedang berusaha bangkit dari tempatnya. Adith dan yang lainnya hanya menatap dengan tenang tak melakukan apapun. Mereka terdiam tanpa ekspresi begitu pula dengan Aurelia. Tapi Adora dan yang lainnya tak mampu menatap lagi saat Yogi harus mendapatkan pukulan di bagian tubuh dan perutnya. "Adith, apa kau yakin tidak akan menghentikan mereka? mereka sudah keterlaluan." Emi berteriak dengan cukup keras tak sanggup melihat semua yang di derita Yogi. "Tenanglah, aku yakin mereka tau apa yang sedang mereka hadapi saat ini" Ryu berusaha menenangkan mereka sedang Akiko sudah mulai menangis dalam diam karena khawatir. "Hei Adith,,, apa kau akan membiarkan teman-teman mu kalah satu persatu? kau sepertinya sudah siap yah untuk menerima semua kekalahan mu?" seru Ubay memancing kemarahan Adith namun Adith hanya menunjukkan wajah tanpa ekspresi. "Cihhh,,, mari kita lihat sampai kapan kau akan membiarkan dirimu terus berdiam diri seperti itu." ucap Erik menatap dengan penuh percaya diri bahwa mereka semua sudah memenangkannya dengan mudah. Pertandingan berakhir dengan Jiza yang memenangkan pertandingan itu, sedangkan Yogi tampak meringkuk dibawah tampak jatuh pingsan dan tak bergerak. Hal itu membuat Ubay dan teman-temannya merasa sangat senang dan penuh percaya diri kalau mereka bisa mengalahkan Adith dan yang lainnya. Pertandingan selanjutnya adalah Ryu melawan Denis. Pertandingan mereka tak kalah sengit dan menegangkan karena beberapa kali pertarungan mereka terlihat mendominasi dibanding dengan tujuan mereka yaitu menuju ke lantai 5 dengan cepat. Meski sedikit kesulitan, Ryu mampu menangani semua dengan memperkecil dampak dari pertarungan mereka sehingga ia tidak mengalami luka yang cukup banyak. Akan tetapi itu tidak cukup untuk mengalahkan Denis. Denis berhasil memenangkan pertandingan sehingga Denis memberikan 4 kemenangan berturut-turut kepada Ubay. "Sebaiknya kita akhiri saja pertandingan ini, karena tidak ada gunanya lagi jika dilanjutkan. Kami sudah menguasai semua alur pertandingan dan akan sulit bagi kalian untuk bisa memenangkan pertandingan ini." ucap Ubay dengan gaya tengilnya. "Dengan begitu kamu bisa melindungi teman-teman mu dari luka-luka yang lebih para lagi nantinya." tambah Erik tersenyum puas. Ia melihat kalau Adith dan yang lainnya sudah tak memiliki peluang lagi untuk menghadapi mereka. Meski masih tersisa 3 pertandingan lagi, mereka merasa bahwa sudah tidak ada gunanya lagi. "Bukankah ini lebih sederhana, kamu cukup memberikan gelar Elite mu secara resmi kepada Ubay dan membiarkan teman-teman mu menjadi pacar kami hanya dalam sebulan. Aku akan pastikan mereka akan menikmatinya dan bersenang-senang dengan kami." lanjut Gery sudah tak sabar melihat Adith mengaku kalah atas kemenangan mereka. "Brengsek, kau pikir kami ini apa ha??? Otak kalian sudah terlalu banyak menonton filem porno yah sampai bisa berbicara dan berpikiran kotor seperti itu?" Adora memaki dengan marah tak terima dengan perkataan dari Gery. "Bagaimana mungkin seorang anak SMA bisa memiliki fikiran sekotor dan sepicik ituh. Moral kalian benar-benar rusak, pergaulan kalian benar-benar salah dan sudah menjerumuskan manusia kalian ke arah yang tak bisa diselamatkan lagi." tambah Aurelia yang merasa geram karena ucapan Gery yang menganggap mereka seperti barang. "Dasar perempuan,,, jangan sok jual mahal kau. Jika bumi ini dipenuhi oleh orang baik buat apa orang harus repot-repot mendirikan kantor polisi ha???" tantang Gery mendekati Aurelia namun dihalangi oleh Adith yang langsung berdiri dihadapan Aurelia. Chapter 228 - Paku Payung "Uppsss... Masih ada 3 pertandingan lagi melawan kami, segala hal bisa terjadi pada 3 pertandingan itu. Kecuali kalau kalian terlalu pengecut untuk menghadapi kami." seru Adith yang sudah tersenyum manis menghadapi Gery. "Puffttt,, jangan kira kami takut melawan kalian bertiga. Kami tidak takut dan bahkan sudah tidak sabar lagi untuk segera membuat kalian bertekuk ltutu di kaki kami." Ubay merasa terpancing dengan ucapan Adith kepada mereka. Selanjutnya adalah pertandingan antara Gery melawan Riyan. Meski Adora dan yang lainnya sudah tak bisa menahan emosi dan tak mampu melihat derita teman-temannya lagi, mereka tetap berada disana untuk melihat sampai akhir dan mendukung mereka semua hingga akhir seperti apa yang sudah dikatakan oleh Karin kepada mereka. Dengan menggertakkan gigi, Adora memberikan aba-aba kepada mereka dan Edo mengerling nakal sambil berteriak pada speaker hologramnya. Mereka berdua langsung melesat naik dengan pertarungan sudah terjadi saat mereka akan menaiki tangga lantai pertama dimana Gery dengan kuat menarik kaki Riyan sehingga ia terjatuh membentur ke tangga. Riyan yang sebelumnya memberikan kesempatan kepada Gery ternyata malah disia-siakan sehingga dengan satu hentakkan penuh Riyan bangkit, dan menatap tajam ke arah Gery. "Sepertinya takkan ada maaf untuk kalian lagi. Sebaiknya aku harus memberikan pelajaran berharga untukmu." tegas Riyan mengepalkan erat kedua tangannya. Dengan cepat ia menaiki anak tangga dengan melompat langsung melewati 3 hingga 4 tangga untuk bisa mencapai Gery. tidak butuh waktu lama untuk dia bisa mencapai Gery sehingga ketika dia mencapainya Ryan langsung melakukan serangan secara tiba-tiba. Dengan begitu kedudukan mereka sama pada tangga ke-8. Gery yang melayangkan pukulan langsung ditangkis oleh Ryan. Ryan dengan keras kembali membalikkan pukulan dengan menghantam dada Gery sehingga Gery terdorong kebelakang. cara Rian masih tergolong halus dibandingkan dengan cara mereka yang sangat kotor. tujuan Ryan hanyalah memberikan sedikit pelajaran kepada Gery dengan tidak melakukan hal-hal kotor seperti yang mereka lakukan pada teman-temannya yang lain. "Brengsek, beraninya kau memukul dadaku aku akan memberikan pelajaran yang lebih berat lagi. Tunggu saja nanti." Gery menyadari kesalahannya dan malah semakin berulah. Riyan hanya menatap dengan iba dan langsung menuju ke lantai berikutnya. Melihat Riyan yang sudah berada di lantai atas kiri langsung melemparkan paku payung di area sekitar lantai Riyan berjalan. Rian yang sudah menduga akan hal tersebut dengan cepat mampu menyesuaikan langkahnya dengan hamburan paku yang telah disebarkan oleh Gery. "Apa paku payung? bukankah itu tidak adil kurang ajar kalian benar-benar keterlaluan. Ini tidak bisa lagi dibiarkan. "ucap Feby marah dengan sangat obat keras berteriak ke arah Ubay dan dan Erik. "Apa tidak adil? hahaha... Bukankah dari awal aku sudah bilang bahwa pertandingan ini adalah pertandingan bebas tanpa aturan, jadi kenapa itu kau bilang tidak adil? kalianlah yang terlalu picik dengan mengira ini akan berjalan sesuai keinginan kalian. Jangan harap kalian akan menang dengan mudah " Ubay tertawa dengan sangat keras mendengar ucapan dari Febby yang sedang marah. "Apa benar kalian manusia? sepertinya hanya wujud kalian saja yang manusia tetapi hati kalian melebihi iblis yang sangat kejam. aku kasihan dengan ibu kalian yang telah melahirkan kalian, sungguh anak-anak Yang Malang." Aurelia menyemir dengan sangat merendahkan memandang jijik ke arah Ubay dan Erik. "Hai perempuan, tutup mulutmu jika kau tak ingin aku merebaknya dengan sangat keras sehingga merusak wajah yang cantik itu. "Ubay terlihat tersinggung dengan ucapan yang dikatakan oleh Aurelia. Riyan yang berhasil melepaskan diri dari semua paku payung di yang dihamburkan oleh Gery, dengan santainya menuju ke lantai berikutnya sehingga dia menjadi pemenang dari pertandingan itu. "Tidak kusangka Gery bisa kalah dari Riyan. Erik sekarang giliranmu, kau tidak boleh kalah jika tidak kau akan tau akibatnya." Seru Ubay memberikan ancaman kepada Erik. "Tentu saja, kau jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkan mereka memenangkan pertandingan ini dengan mudah." ucap Erick dengan penuh percaya diri sembari menatap Zein dengan licik. "Apakah aku harus melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Rian???" tanya Zein kepada Adith dengan tatapan yang sangat serius. "Tidak, kita tidak perlu melakukan hal kotor seperti itu. Aku yakin kau bisa menghadapinya tanpa melakukan hal seperti itu. Kau hanya perlu memenangkan pertandingan ini tanpa terluka sedikitpun." Adit mengingatkan kepada Zain untuk tidak melakukan hal yang sama dengan mereka. Meski merasa sangat marah, Adith tidak ingin kehilangan jati diri hanya karena hal tersebut. Bagi Adith apapun yang sedang terjadi hanyalah sebuah pertandingan biasa saja karena ia tahu hal ini bisa terjadi kapanpun dan dimanapun kepada setiap orang. Jika dia menghadapi mereka dengan melakukan hal yang sama buruknya, maka itu artinya dia sama saja dengan mereka. "Baiklah aku percaya padamu. "ucap Zein sambil menaikkan kepalan tangannya yang dibalas juga dengan kepalan tangan oleh Adit. Pertandingan antara Zein melawan Erik terjadi sangat sengit dibandingkan dengan sebelumnya. Kemampuan mereka terlihat seimbang namun cara Erik terlihat lebih fair dibandingkan dengan cara Gery. Mereka berdua hanya terlibat pertarungan dengan hanya saling mendahului dan menghalau satu sama lainnya dengan adu kekuatan bela diri. "Erik adalah salah satu orang terkuat dalam hal bela diri. Meski terlihat seperti itu, dia adalah orang yang akan bertarung secara adil dengan lawannya. Tapi tentu saja dia tidak akan melakukannya secara setengah-setengah, pukulan dan tendangannya akan sangat berakibat fatal jika lawannya adalah orang yang tidak memiliki pertahanan." terang Ubay menatap monitor dengan serius. "Meski begitu, Zein bukanlah lawan yang mudah bagi Erik. Dari cara Zein yang melakukan serangan kepada Erik terlihat bahwa Erik sedang kesulitan melakukan pertahanan diri bahkan sekarang Zein sudah melangkah lebih dulu ke lantai 4." ucap Adora terus menatap layar dengan perasaan lebih tenang karena percaya kepada sahabat-sahabatnya. "Pukulan dan tendangan yang dilayangkan Erik selalu saja hanya mengenai bibir pagar tangga dan tembok sedangkan Zein mampu mengembalikan pukulan dan tendangan Erik kembali memukul dirinya sendiri." tambah Emi yang terlihat makin percaya diri setelah kemenangan Riyan. "Melihat kemampuan Erik seperti itu, aku yakin kau pun takkan bisa mengalahkan Adith. Terlebih karena kau sudah menganggap remeh lawanmu tanpa mengetahui kemampuan mereka yang sebenarnya. Rasa percaya dirimu itu akan menjadi bumerang bagi dirimu sendiri." tambah Feby dengan penuh Antusias. Ucapan mereka sedikit memberikan getaran di hati Ubay, namun karena kesombongan dan keangkuhannya ia merasa bahwa dirinya tidak akan sama seperti Erik sehingga dia bisa mengalahkan Adit dengan mudah. Chapter 229 - 4 4 setelah pertandingan antara Zein melawan Erik, pertandingan terakhir antara Adit dan Ubay langsung menjadi sorotan utama. Adit dan Ubay segera berdiri pada garis start untuk segera bersiap melakukan pertandingan yang paling ditunggu-tunggu. Setelah mendapatkan tanda dimulainya pertandingan dari adora dan Edo, Ubay segera melesat laju kencang menaiki tangga dan Adit berada di belakangnya. tempat saat berada pada lantai ke-3 Ubay langsung melakukan serangannya. "Jangan harap kau bisa mengalahkan ku dengan mudah... heiittthhh,,," Ubay melayangkan tendangan berputar kearah Adith yang berada di bagian belakangnya yang membuat Adith harus berpegang pada bibi pagar dan mencondongkan tubuhnya kebelakang sehingga ia bisa melihat dengan jelas kaki Ubay yang berada di atas wajahnya yang hampir mengikis hidung mancungnya. "Begitu pula denganmu, aku takkan membiarkan kamu menang dengan kesombongan mu itu." Adith melompat dengan naik ke atas bibir pagar besi yang licin lalu berpegang pada bibir pagar pada tangga berikutnya dan menghindari Ubay dengan mudahnya. Ubay segera mengejar dan menarik baju Adith dengan sangat kuat sehingga Adith harus berhenti sejenak memutar tubuhnya dibawah lengan Ubay, lalu memukul tangan Ubay agar bisa melepaskan kerah bajunya. Ubay tak berhenti disitu saja tapi dia langsung menaikan sikunya untuk menghancurkan leher Adith, namun Adith menghindarinya dengan memalingkan tubuhnya yang membuat Ubay membenturkan sikunya ke arah dinding. Tidak berhasil mendaratkan pukulannya pada Adith membuat Ubay yang mengingat bahwa Gery sebelumya sudah menyebar paku di sekitar tangga membuatnya ingin mencekal langkah kaki Adith namun Adith dengan lihainya kembali menendang kaki Ubay dan menginjaknya sehingga kakinya lah yang mendarat sempurna di atas paku payung tersebut. "Aaarrrghhhh,,, Brengsek!!!!" Teriak Ubay merasakan sakit pada telapak kakinya. Dia dengan cepat melepaskan paku payung yang berada di sepatu nya dan menatap Adith dengan tajam penuh dendam. Semakin marah Ubay melayangkan tendangan yang sekali lagi di hindari oleh Adith dengan melompat naik ke atas bibir pagar sehingga kaki Ubay dengan keras menendang siku beton pagar pada pembelokan untuk naik ke tangga berikutnya. "Jangan mengira kau bisa melayangkan serangan mu dengan mudah, aku bisa saja membalas semua yang kau lakukan sekarang tapi aku hanya kasihan pada rasa iri kalian yang salah." seru Adith yang hanya tertawa pelan melihat Ubay meringis kesakitan karena tendangan sebelumnya. Ubay pada akhirnya mengalami kesulitan saat menaiki tangga karena siku kanannya yang kebas dan sakit saat membentur tembok dengan sangat keras dan tulang keringnya yang mengenai tembok belokan tangga. "Hahahhaha,, melihat kau se santai ini, membuatku kasihan terhadap Ubay saat ini." Riyan datang menghampiri Adiht yang sudah berhasil mencapai atap lantai 5 tanpa hambatan yang pasti. "Bagaimana mungkin Ubay bisa kalah? bukankah dia seharusnya bisa mengalahkan mu dengan mudah karena dia memiliki sebuah rencana." tanya Erik kaget saat melihat Adith terlihat bersih dan tak mengalami hal apapun di tubuhnya. "Apa yang kau maksud ini?" Adith mengeluarkan sebuah bubuk yang akan digunakan oleh Ubay untuk membutakan mata Adith. "Ba.. bagaimana bisa?" Gery terlihat gagap begitu melihat bubuk itu berada ditangan Adith. "hhaahaha, mudah saja. Sifat kalian yang mudah meledak-ledak dapat dengan mudah di analisis sehingga aku bisa tau hal kotor apa yang sudah kalian persiapkan." terang Adith sambil tersenyum menghampiri Alisya yang bersandar pada teras atap menatap Adith dengan bangga. "Kau sudah menang, tapi posisi kita seri dengan 4 : 4 sama. Itu artinya kita harus melakukan pertandingan sekali lagi. hahahaaha timmu sudah mengalami cidera parah sedangkan timku baik-baik saja." seru Ubay yang dengan susah payah menaiki tangga menuju ke atap lantai 5. Meski mengalami banyak luka, kesombongannya tak menghilang dari dirinya. "Kau kekurangan anggota sekarang. Lihatlah, aku memiliki semua anggota disini. Sedangkan kalian kekurangan 4 anggota." terang Ubay dengan cengiran liciknya. Adith memang hanya melihat Rinto, Riyan, Zein dan Alisya disana sedangkan teman-temannya yang lain entah kemana. Komunikasi mereka sempat terputus namun Adith hanya tersenyum dan tertawa pelan dengan ucapan Ubay. "Baiklah, kita akan memulai pertandingan berikutnya. Kau bebas memilih siapa yang ingin kau tunjuk untuk tim mu dan lawannya dari tim kami. Dan jika kau kalah, maka kalian harus menuruti setiap perintah dari kami. Bagaimana?" Adith sengaja memberikan jebakannya kepada Ubay untuk bebas memilih melihat dari cara kotornya. "Puhhaaahaha... jangan menyesal karena kau sudah berkata seperti itu. Tentu saja aku akan mengutus Jiza untuk melawan wanita itu." terang Ubay dengan penuh percaya diri. "hahhh??? yang benar saja. Apa kau tak malu menyuruh Jiza melawan wanita?" Rinto beracting panik untuk membuat Ubay semakin menggila. "Bukankah itu kesepakatan yang sudah diberikan oleh Adith, aku rasa dia tidak akan menarik kembali kata-katanya." Erik menekan nama Adith sebagai alasan mereka. "Apa kau takut melawan Jiza? atau biar aku saja yang melawan mu?" seru Ubay sambil memegang lembut tangan Alisya. "Okeh,, itu terserah dari dia. Bagaimana sayang? apakah kamu bersedia? kamu harus berhati-hati, jangan sampai kau menghancurkan gedung ini saat melawannya." Adith memegang pinggang Alisya dengan nakal yang membuat Alisya menjauh dari Ubay. Gerakan Adith yang intens itu dilakukan oleh Adith untuk memprovokasi Ubay. "Tidak masalah, aku akan mencoba dengan sebaik mungkin." tegas Alisya sambil berdiri dari tempatnya. Alisya tersenyum dengan tingkah Adith yang protektif terhadap dirinya. "Jiza, kalian hanya perlu turun dari lantai 5 hingga kebawah. Aturan yang sama berlaku seperti saat naik yaitu bebas. Kau bisa melakukan apapun kepada dia jika itu diperlukan." seru Gery memberikan perintah kepada Jiza yang memiliki bobot tubuh yang cukup besar dengan semua otot-ototnya. "Tidak, biar aku yang melakukannya. Dia milikku dan tak ada yang boleh menyentuhnya selain diriku." seru Ubay dengan menatap penuh kerlingan mata ke arah Alisya untuk membuat Adith marah. "Tidak masalah, jika itu bisa kau lakukan!" ucap Alisya sembari berkeliling mengelus pundak Ubay yang membuat Ubay semakin bersemangat untuk mengalahkan Alisya. "Baiklah, pertandingan ini akan berakhir jika kalian bisa mengambil sapu tangan yang dipegang oleh Adora. Kalian bisa lihat, Alisya berdiri dibelakang garis start yang berarti dialah penentu garis finishnya." jelas Erik setelah memastikan posisi Adora. Zein segera memberi tanda kepada Adora untuk tetap berada ditempatnya dengan berteriak cukup kencang, meski sebenarnya ia tak perlu melakukan itu karena sudah mendengar semuanya dari alat komunikasi mereka. Adora melambaikan sarung tangannya dan berdiri ditengah tengah dibelakang garis start sebagai tanda bahwa ia paham atas apa yang sudah mereka rencanakan. Chapter 230 - Apa Legenda itu Benar? Ubay segera bersiap di pintu atap Lantai 5 dengan mengerling nakal ke arah Alisya yang berada disebelahnya. "Kau yakin ingin melawan Ubay? kau harus berhati-hati terhadapnya." bisik Mizan kepada Alisya sebelum memulai pertandingan mereka berdua. Alisya hanya terdiam dan tersenyum manis ke arah Mizan sehingga Mizan tak tau harus bagaimana yang kemudian dengan tatapan bingung ia segera memberikan aba-aba kepada mereka berdua. Ubay segera berlari menuruni tangga sedang Alisya hanya terdiam di tempatnya. Sudah menuruni beberapa tangga, Ubay menyadari Alisya tak berada disana membuat dia sempat bingung namun kemudian dia hanya tertawa mengira kalau Alisya takut menghadapi dirinya. "Sepertinya dia takut menghadapi ku, tak masalah. Kau ikut atau tidak pun aku yang akan memenangkan permainan ini." Ubay segera berlari meski dengan Kakinya yang sakit dan telapak kakinya yang berdarah. Fikirannya untuk mendapatkan Alisya dan kedudukan Adith membuat Adrenalinnya meningkat sehingga untuk beberapa saat dia tidak merasakan sakit ditubuhnya. "Kau yakin tidak turun sekarang?" tanya Mizan yang bingung dengan Alisya yang hanya berdiri ditempatnya. "Kau tau tidak apa tujuan kami dari tadi melawan kalian dengan sepenuh hati meski kalian terus saja melakukan banyak kecurangan. Tapi yah... benar, seperti yang kalian katakan. Aturan dari pertandingan ini adalah bebas yang artinya bisa menggunakan cara apapun bukan?" tanya Alisya sambil naik ke atas teras Atap lantai 5 dengan santai. Adith tersenyum melihat tingkah Alisya yang ia paham akan apa yang selanjutnya dilakukan oleh Alisya. Adith melipat kedua tangannya sembari melihat ke arah Alisya dengan tenang. "Sepertinya mereka sudah menyerah untuk menang sehingga mereka terlihat tertekan seperti itu." seru Jiza melihat Adith dan yang lainnya hanya terdiam melihat tingkah Alisya yang sedang berjalan di atas teras atap lantai tersebut. "Tidak, lihatlah dengan baik-baik, mereka bukannya sedang terlihat tertekan melainkan terlihat sangat tenang seolah mereka tau bahwa merekalah pemenang dalam pertandingan ini." ucap Mizan yang melihat jelas bagaimana ekspresi Adith dan teman-temannya. "Jangan berbicara omong kosong, mana mungkin dia bisa mengalahkan kita sedang dia hanya berdiam diri di atas teras itu tanpa melakukan apapun?" bentak Gery dengan penuh amarah kepada Mizan karena tampak Mizan seolah berpihak kepada mereka. "Kau sudah membuatku muak, sudah cukup dengan kau tidak mengikuti perlombaan ini. Kau juga malah berpihak kepada mereka sekarang?" Erik memegang kerah Mizan dengan sangat kasar. "Aku tak memihak kepada siapapun. Tidak kah kalian lihat mereka terlalu tenang? aku rasa mereka sedang merencanakan sesuatu." tegas Mizan membela dirinya. "Kenapa kalian tidak turun juga sekalian untuk melihat pertandingan kami? melihat luka-luka pada Ubay, sepertinya dia sekarang masih berada di lantai ke 6. Jika kalian menggunakan Lift, kalian mungkin akan bisa sampai tepat waktu." terang Alisya tersenyum melihat kearah mereka dengan senyuman meremehkan. "Pufffttt... apa yang bisa kau lakukan dengan berdiri disitu? jika kau turun sekarang pun sudah terlambat, karena dia pasti sudah berada di lantai 4 sekarang. Kau pun tak mungkin bisa loncat dari gedung ini, atau kau ingin membuat legenda itu menjadi benar?" ucap Gery melihat Alisya dengan tatapan meremehkan. "Siapa bilang tidak mungkin?" tantang Alisya yang tersenyum manis lalu menghadap mereka dan menjatuhkan diri. "Alisya... apa dia sudah gila?" Mizan dengan segera melihat kebawah gedung namun tak melihat Alisya disana dan dimanapun karena keadaan yang cukup gelap. Erik dan yang lainnya pun langsung melihat kebawah namun tetap tak bisa melihat apa-apa. "Apa legenda itu benar?" tanya Fery mulai ketakutan dan tubuhnya bergetar saat melihat Alisya yang menjatuhkan diri dari sana. Ketika mereka menoleh, Adith dan yang lainnya sudah berjalan dengan santai menuju lift tanpa menoleh ke belakang yang membuat mereka seketika merinding karenanya. Karena penasaran, mereka dengan cepat menuju ke arah Lift yang lain untuk bisa melihat keadaan di bawah. "Apa yang barusan kita lihat? Aku,,, aku hanya ingin melakukan pertandingan ini karena kalian bilang bahwa ini hanyalah sebuah pertandingan biasa." seru Fery dengan tubuh bergetar masih membayangkan Alisya yang menjatuhkan dirinya dari lantai 5 yang cukup tinggi tersebut. "Aku,, a... a aku tak ingin menjadi saksi dari kejadian ini" terang Jiza yang tak kalah takutnya karena tak menyangka hal tersebut bisa terjadi. "Bodoh diamlah!!! semua legenda itu hanyalah sebuah omong kosong, itu tidak benar-benar terjadi." Bentak Erik terhadap mereka yang dengan mudahnya percaya akan legenda sekolah tersebut. Tepat saat itu, lift mereka berhenti dan pintu lift itu terbuka dengan sangat lebar di lantai ke 3. "Siapa yang menekan tombolnya? kenapa kau membuka pintu linftnya sekarang? ini bukan saatnya bercanda!!!" betak Gery kepada Boby yang berada dekat dengan pintu lift. "Tidak, aku bahkan tak melakukan apapun disini" Boby membantah tuduhan dari Gery karena merasa tak melakukannya. Lampu lift seketika mati dan menyala begitu pula lampu pada lantai 3 tersebut. Mereka terus menekan tombol linft namun pintu itu tak juga mau tertutup seolah sedang terkancing oleh sesuatu. "Brengsek, siapa yang sedang bermain-main dengan kita sekarang?" Gery keluar dari lift untuk memastikan keadaan dan begitu ia keluar lampu lift dan lantai tiba-tiba padam. Fery dan Boby berteriak dengan sangat kencang sehingga Gery langsung berbalik badan menghadap pintu lift dan begitu lampu kembali menyala, dibelakang Gery sudah berdiri seorang wanita berseragam dengan rambut terurai acak dan pakaiannya yang terlihat lusuh menatap mereka dari balik uraian rambutnya. "Uaaaahhhhh,,,, Gery masuk cepat!!!" teriak Jiza memperingatkan Gery untuk segera masuk. "Dibelakang mu, Dibelakang mu ada...." Fery menutup matanya dan menunjuk dengan tangan yang bergetar. Gery langsung kembali menoleh ke belakangnya melihat sosok wanita itu dengan tatapan penuh amarah. "Cuih,,,, kalian bilang bahwa cara kami kotor? tak ku sangka cara kalian seperti lebih kotor lagi. Kau pasti perempuan yang menghilang tadi, kau harus ku beri pelajaran!" Gery yang mengira wanita itu adalah Karin dengan cepat melangkahkan kaki dan menaikkan tangannya untuk memukul wanita tersebut. Baru satu langkah kaki, lampu lantai kembali mati lalu kembali menyala dengan cepat dimana si wanita sudah berada tepat dihadapan Gery dengan tatapan mengerikan yang membuat Gery langsung membuang diri kedalam lift karena sangat terkejut. Erik dan Mizan dengan cepat menekan pintu lift tanpa henti sampai pintu lift itu kembali terbuka ketika sampai di lantai bawah dan mereka segera berhamburan keluar dengan teriakan dari Boby, Fery serta Jiza yang sangat keras menuju garis start tempat mereka awalnya melaksanakan pertandingan sebelumnya. Chapter 231 - Mereka Kalah Kaget bukan main saat Mizan dan yang lainnya melihat Alisya dengan santainya mengibar-ngibarkan sapu tangan yang sebelumnya dipegang oleh Adora. Dengan melihat Alisya yang sudah memegang saputangan itu, merekalah yang berhasil memenangkan pertandingan. "Alisya, kau baik-baik saja? kau melompat dari ketinggian seperti itu dan kau benar tak terluka sedikitpun?" tanya Mizan langsung menghampiri Alisya karena khawatir. "Aku baik-baik saja, aku hanya menggunakan tali saat melompat tadi sehingga aku bisa mendarat dengan baik di tanah." Seru Alisya yang sedikit canggung dengan sikap perhatian yang dilakukan oleh Mizan. "Sepertinya kami lah pemenang dalam pertandingan ini, itu artinya kalian harus mengikuti semua perintah kami." Yogi datang bersama yang lainnya dengan keadaan yang segar bugar tak terlihat mengalami luka yang berarti. "Tunggu sebentar, bukankah kau jatuh tersungkur di tangga tadi, seharusnya kau masih meringkuk pingsan di suatu tempat!" ucap Jiza yang tak menyangka kalau Yogi tak terlihat kesakitan sama sekali. "hahahahaha... apa kau tak sadar jika semua serangan mu itu hanya kembali kepadamu dan tak memberiku dampak yang berarti, apa kau sudah mencoba untuk memegang kaki dan tanganmu sendiri" Yogi terlihat menunjuk ke arah kaki dan tangan Jiza. Setelah Jiza memperhatikan kaki dan tangannya, tanda merah sudah membekas dan sakit saat ia menyentuhnya. "Aahhh,, bagaimana bisa?" tanya Jiza meringis kesakitan tak tahan dengan rasa sakit yang ia rasakan. Lebam yang di derita oleh Jiza dikarenakan tepat sebelum Jiza mengenai dada dan tubuh Yogi, Yogi sudah membuang diri dengan memanfaatkan tenaga yang diberikan oleh Jiza untuk mengembalikan serangannya. Bukan hanya Yogi, Karin dan yang lainnya pun tak mendapatkan cidera yang cukup parah sehingga hal tersebut membuat Ubay meradang karenanya. "Kalian,,, bagaimana bisa kalian lolos dari semua itu? brengsek!!! Kalian ternyata melakukan cara yang sangat licik." Ubay menatap Adith dengan penuh kebencian karena kekalahannya dan juga karena merasa bahwa ia harusnya bisa menggulirkan Adith. Melihat ia menatap dengan penuh kebencian, Alisya langsung menangkap leher Ubay dan menekannya ke pohon taman dengan sangat keras sampai dia tidak bisa bernafas karenanya. "Kau mengatakan cara kami licik? Apa kau tahu betapa liciknya dirimu? hah? kami hanya mengikuti apa yang kalian lakukan. Kau bahkan sempat menculik teman-temaku dengan menyekap mereka, tapi kau salah karena Karin adalah orang yang takkan bisa kalian kalahkan. Tapi aku tetap tak suka dengan cara mu melakukan itu, jika sekali lagi aku mengetahui kau berbuat hal yang sama, maka aku akan membuat kau menyesalinya seumur hidupmu!!!" tekan Alisya dengan sangat kuat yang membuat Ubay merasa kesulitan melepaskan tangan Alisya dari lehernya. Ubay jatuh melemas karena aura mengintimidasi yang dikeluarkan oleh Alisya sehingga tubuh dan kakinya sudah tak mampu untuk menopang tubuhnya lagi. Setelah berada dibawah, Ia baru bisa merasakan sakit setelah ia melihat akan kenyataanya yang sebenarnya. Bahkan Erik dan Gery yang melihat Alisya menjadi sangat takut dan tubuhnya bergetar hebat. Alisya mengeluarkan sedikit auranya sehingga dengan hebat desiran darah mereka mengalir dengan sangat deras karena ketakutan. Setelah merasa cukup puas, Alisya segera melepaskan cekikan nya dan melangkah menghampiri yang lainnya dengan senyuman. "Mulai hari ini hingga beberapa hari kedepan selama perlombaan nasional, kalian harus menuruti semua aturan dan perkataan dari kami. Jika tidak kalian bisa mengundurkan diri sekarang." ucap Adith memberikan peringatan kepada mereka semua. Ubay dan yang lainnya langsung terkejut bukan main, mereka tidak sedang dihadapkan dalam 2 pilihan melainkan dalam pilihan hidup atau mati. Jika ia ingin hidup, maka ia harus menuruti apa yang dikatakan oleh Adith dan juga yang lainnya. Dan jika ia ingin mati maka pengunduran diri dari perlombaan tingkat nasional akan menghancurkan masa pendidikannya selamanya. "Tidak, biar kami melakukan seperti apa yang kalian inginkan!" Ucap Gery cepat karena tak ingin terlepas dari perwakilan sekolah. Erik hanya terdiam sedang yang lainnya dengan mengikuti apa yang dikatakan oleh Gery. Ubay mengepalkan tangannya kuat-kuat tangannya karena tak punya pilihan lain lagi. Gery dan Erik akhirnya pergi meninggalkan Adith dan yang lainnya dengan membopong Ubay karena sudah tak mampu untuk bergerak lagi dikarenakan kakik nya yang kebas dan keram. "Kau baik-baik saja?" tanya Gina cepat kepada kakaknya Gani dengan khawatir meski sebenarnya Gani tidak mengalami cidera yang cukup berat. "Aku baik-baik saja, kami memang sempat disekap, tapi berkat Karin aku bisa lolos dengan mudah. Ubay memanfaat titik buta monitor CCTV di setiap tangga sehingga ia bisa memerintahkan teman-temannya yang lain. Aku tak tau apa tujuannya" ucap Gani sambil memegang tangannya yang cukup sakit karena serangan Boby sebelumnya. "Lalu kenapa komunikasi kalian juga ikut terputuskan karena itu?" tanya Adora bingung karena ia sudah beberapa kali menghubungi mereka namun tidak mendpatkan jawabannya. "Itu karena Adith sengaja agar kalian bisa membuat mereka percaya dengan reaksi kalian yang marah dan khawatir akan hilangnya kami, dengan begitu rasa percaya diri mereka semakin meningkat karena berhasil mengambil alih seluruh alur pertandingan." terang Ryu dengan tatapan meminta maaf karena sudah membuat mereka khawatir. "Cara yang paling ampuh dalam menghadapi orang yang permainannya kotor adalah dengan membuat mereka sepenuhnya percaya bahwa mereka sudah berhasil akan memenangkan seluruh pertandingan sehingga rasa percaya diri mereka yang begitu tinggi akan membuat mereka lengah dan kita bisa dengan mudah membalikkan keadaan" tambah Riyan memberikan penjelasan sembari mengajak teman-temannya yang mengalami cidera ringan untuk mendapatkan perawatan dari Karin. "Ini adalah salah satu strategi yang biasanya digunakan oleh orang ketika dia mendapatkan lawan yang sangat tangguh melebihi dirinya atau jika lawan tersebut adalah orang yang melakukan segala cara demi memenangkan pertandingan bahkan hal kotor sekalipun." tambah Rinto yang mengarahkan Beni bersama Yogi kedalam UKS karena meski sudah menjalankan rencana itu, ada beberapa hal yang cukup sulit untuk bisa dihindari. "Pantas saja aku melihat sikap Adith, Riyan dan Zein terlihat tenang dan tidak menunjukkan ekspresi apapun, meskipun memang sebenarnya mereka selalu menunjukkan ekspresi itu. Tapi untuk kita yang sudah mengenal dekat dengan mereka, ekspresi itu adalah ekspresi bahwa mereka lah yang memegang semua alur pertandingan itu." terang Aurelia mengingat betul bagaimana sikap ketiganya saat melihat monitor hologram yang memperlihatkan satu persatu teman-temannya mengalami kekalahan. "Tapi aku masih belum bisa menerima perbuatan Ubay dan teman-temannya. Aku masih tidak bisa memaafkan mereka semua." ucap Emi serak yang harus beberapa kali menangis saat melihat teman-temannya mengalami hal yang cukup mengerikan didepan matanya. Chapter 232 - Ini Adalah Perintah Melihat teman-temannya yang sudah menuju masuk kedalam gedung, Alisya dengan segera mengikuti langkah kaki mereka dari belakang namun tiba-tia terhenti karena Adith sudah menahannya dengan menggenggam erat pergelangan tangan Alisya. Tatapan Adith begitu dalam namun penuh emosi, yang dari denyut jantungnya bisa Alisya dengar akan kegusaran dan emosi Adith yang sedang memuncak. "Kenapa aku tak menyadarinya sebelumnya, detak jantung Adith dipenuhi akan amarah. Entah apa yang sudah membuatnya seperti itu, tidak mungkin hanya karena aku melompat dari atap gedung lantai 5 itu." Batin Alisya saat melihat ekspresi wajah Adith yang memperlihatkan rahangnya yang mengeras seolah sedang menahan emosi yang sangat tinggi. Seingat Alisya, Adith cukup tenang saat menghadapi seluruh perlakuan dari Ubay dan teman-temannya. Namun jika itu memang benar, dia seharusnya sudah menghajar mereka habis-habisan bukannya menahan Alisya disana. Alisya masih tak menemukan jawaban dari detakan jantung Adith yang masih terus bergetar penuh amarah dan rahang yang mengeras. "Ada apa? Apa yang membuatmu marah?" tanya Alisya langsung pada intinya karena wajah Adith masih belum dapat kembali ke mood awal meski Alisya sudah berdiri dihadapannya untuk waktu yang cukup lama. "Apa kau tak punya sesuatu yang ingin dikatakan padaku?" genggaman tangan Adith semakin mengeras dan kuat dipergelangan tangan Alisya yang membuat Alisya merasakan sakit tanpa alasan yang jelas. "Katakan jika ada sesuatu yang sedang menganggumu bukan menghakimiku dengan tak jelas seperti ini. Aku tak tau apa yang sedang membuatmu marah saat ini dan genggamanmu terlalu erat ditangaku Dith." Ucap Alisya mencoba melepas tangan Adith namun ia tak mampu dan tak ingin menggunakan kekuatan berlebih yang dapat mencederai tangan Adith. Dengan tatapan tajam, Adith langsung menarik Alisya kehadapannya sehingga posisi mereka sangat dekat bahkan sampai Alisya bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Adith yang menerpa lehernya. "Adith, kamu kenapa sih? Kenapa sikapmu jadi seperti ini? Aku takkan mengerti jika kau tak menjelaskannya padaku!" ucap Alisya sekali lagi berusaha untuk melepaskan diri dari genggaman Adith. "Apa aku perlu mengingatkan akan apa yang sudah dia dan kau lakukan diatas atap?" tantang Adith dengan tatapannya yang penuh amarah. Alisya yang masih menerawang dan menyerap semua yang baru saja dikatakan oleh Adith seketika kaget saat Adith langsung menggendongnya dan membawanya kehadapan keran air. Dia mendudukkan Alisya dengan lembut kemudian menyalakan keran dan mengambil tangan kanan Alisya lalu mencucinya dengan lembut hingga menyeluruh. "Apa ini artinya kau sedang cemburu?" Alisya langsung bertanya dengan menatap wajah Adith lekat-lekat setelah ia paham apa maksud dari kemarahan Adith dengan ia yang mencuci tangannya dengan air. Adith marah karena saat berada di ata gedung lantai 5 sebelumnya, Ubay sempat memegang tangan Alisya yang kemudian dibalas oleh Alisya dengan menggoda dan menantang Ubay. Mendengar ucapan Alisya, Adith mematikan keran air itu membersihkan telapak tangan Alisya dengan baju kaosnya lalu dengan lembut menatap wajah Alisya. Ia secara perlahan mendekati wajah Alisya yang membuat Alisya harus mencondongkan tubuhnya kebelakang untuk menghindari Adith yang semakin mendekatkan wajahnya kepada Alisya. Jantung Alisya berdebar sangat kencang dan tak menentu karena perlakuan Adith seperti itu. "Oke-oke,,, a... aku minta maaf.. aaaahhhh" Alisya hampir terjatuh karena sudah tak bisa lagi mempertahankan posisi tubuhnya yang langsung mendapat tangkapan dari Adith. Adith menopang tubuh Alisya dengan tangan kanannya sedang matanya masih terus menatap lurus dan tajam kewajah Alisya lekat-lekat. "Dengar, kau hanya boleh melihatku, tersenyum padaku, menyentuhku, menggodaku, menagis padaku dan tertawa padaku. Kau adalah milikku dan takkan ku biarkan seorangpun untuk memilikimu." Adith langsung memajukan wajahnya dengan sedikit memiringkan wajahnya ingin mencium Alisya yang membuat Alisya menutup mata dan tubuhnya bergetar hebat berusaha menjauhi Adith. "Jangan pernah mengujiku lagi!!!" Tegas Adith mengembalikan posisi Alisya kemudian melepaskan pegangannya pada pinggang Alisya dan meningalkan Alisya disana. Adith masih belum bisa menghilangkan amarahnya yang meletup-letup dihadapan Alisya. "Adith... jika kau seperti itu terus, aku akan semakin terbiasa dengan kehadiranmu. Bahkan mungkin aku takkan pernah bisa lepas darimu dan takkan mampu lagi lepas darimu. Aku bukannya tak ingin membalas semua perasaanmu padaku, tapi aku tak ingin jika suatu hari kau akan terluka ketika aku menghilang lagi." Alisya langsung melayangkan pandangannya bersandar pada tempat duduknya melihat jauh ke atas langit dimana ia masih bisa melihat sedikit bintang karena terangnya perkotaan dimalam hari. Bulan yang tersembunyi oleh awanpun terlihat mulai memperlihatkan sinarnya yang tak begitu menyinari bumi karena hanya setengah dari tubuhnya yang terlihat bersinar. Malam itu tak terasa begitu dingin sehingga Alisya melangkah ketaman sebelah dimana terdapat pohon yang ia biasa gunakan untuk duduk-duduk menghindari kebisingan yang selama ini terus menganggunya. "Apa yang nona lakukan disini?" tanya Ryu kepada Alisya yang sedang terbaring melihat bulan diantara dedaunan. Ryu yang menyadari Alisya tak berada disekitar mereka segera memutuskan untuk mencarinya melihat Karin yang masih sibuk mengurus teman-teman mereka yang mengalami cedera ringan. "Ryu san? hhmmmm aku hanya ingin mencari tempat untuk menyendiri." Ucap Alisya setelah menyadari kalau Ryu lah yang sedang menghampiri dirinya. "Apa aku perlu meninggalkanmu untuk memberimu kebebasan?" Ryu tak ingin membuat Alisya tidak merasa nyaman karena kehadiranya disana. Alisya hanya terdiam tak tahu apa yang harus dikatakannya. Melihat kegundahan hati Alisya, Ryu memutuskan untuk pergi tanpa meminta izin lagi kepada Alisya. "Ryu, terimakasih karena kamu sudah jauh-jauh datang ke Indonesia untuk melindungiku. Aku tau bahwa kau kesini karena ingin melindungi dan menemani Akiko, tapi dibalik itu semua juga aku tau bahwa kau melakukan itu semua karena perintah. Iya kan?" Alisya merasa bersalah kepada Ryu yang harus meninggalkan negri dan tanah air kelahirannya serta keluarganya ke Indonesia. Mendengar ucapan Alisya yang terasa akan kepedihan, Ryu segera duduk disamping Alisya yang terbaring menatap lurus ke atas langit. "Aku sudah tidak memiliki siapapun dan tempat untuk tinggal bahkan aku juga tak memiliki seorang teman. Tapi berkat ketua, aku kembali bisa menemukan tujuan hidupku setelah sebelumnya aku hampir seperti seekor kucing liar yang selalu saja melakukan pertempuran disana sini. Ke Indonesia awalnya merupakan suatu misi yang sulit bagiku, namun begitu aku kemari aku menyadari kehangatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Pada akhirnya aku bersyukur karena sudah berada disini, terlebih jika itu untuk melindungi nona." Jelas Ryu dengan suaranya yang dalam dan tenang untuk sedikit meringankan kegundahan hati Alisya. Alisya menutup kedua matanya dengan lengan kanannya untuk menutupi kesedihannya dan rasa syukurnya telah memiliki banyak orang yang peduli disampingnya. Melihat itu Ryu memutuskan untuk pergi dan memberikan ruang kepada Alisya. "Ryu,,, Terimakasih banyak! Aku punya satu permintaan padamu." Ucap Alisya bangkit dari tempatnya terbaring dan duduk menatap lurus ke arah Ryu. Ryu yang berbalik menatap Alisya dengan tatapan bingung dan takut akan apa yang akan dikatakan olehnya karena ekspresi Alisya yang begitu dalam dan sarat akan kesedihan. Ryu merasakan Alisya seolah sedang menyimpan beban yang sangat berat saat ia menghembuskan nafas saat berkata kepada dirinya. "Aku ingin, jika suatu saat nanti terjadi sesuatu padaku, aku ingin kamu harus lebih memilih melindungi Karin ketimbang melindungi diriku. Kau harus melindungi Karin dan yang lainnya dan mengabaikan diriku meski aku berada dalam bahaya sekalipun." Tegas Alisya yang menatap lurus kearah Ryu. "Maaf nona, sepertinya aku tak bisa menerimanya. Jika saat itu terjadi, aku akan tetap berada pada misiku yaitu melindungimu!" tegas Ryu yang tetap memegang janji dan misinya. "Kalau begitu aku ubah misimu untuk melindungi Karin dan yang lainnya. Ini adalah Perintah!!!" tegas Alisya sekali lagi menatap Ryu tajam tak ada tawar menawar lagi dengan apa yang dikatakannya. Ryu sejenak terdiam yang kemudian menyanggupi dan menunduk dalam meninggalkan Alisya di sana. Chapter 233 - Mabuk Kendaraan "Bagaimana dengan yang lainnya??? Ada yang mabok juga nggak selain Alisya?" tanya ibu Vivian saat menuju ke bus meninggalkan Alisya ditepi jalan dimana Alisya harus mengeluarkan seluruh isi hatinya yang tersimpan di lambungnya. "Apa dia dari kampung? hanya dengan menaiki kendaraan bus saja sudah membuatnya mabuk!" Pak Irhan yang mengemudikan Bus berbicara dengan nada kesal karena harus berhenti ditengah perjalanan untuk Alisya. "Anak itu,, se kuat apapun dia, pasti musuh terbesarnya adalah Mobil. Dan kenapa dia harus kalah setiap kali berhadapan dengan mesin beroda empat ini?" Karin menepuk jidatnya tak paham dengan reaksi tubuh Alisya yang selalu kalah jika itu berurusan dengan mobil atau bus. "Apa yang harus kita lakukan padanya? jika seperti ini terus, kemungkinan besar kita akan terlambat menuju ke tempat pembukaan perlombaan." seru Aurelia yang melirik ke arah jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 08.00 pagi sedang acara pembukaan akan dimulai dalam waktu 1 jam lagi yaitu pukul 09.000. "Aku tak menyangka dengan Bus yang se elite dan senyaman layaknya rumah mewah inipun masih juga membuatnya mabuk." Yogi berkata dengan setengah berbisik kearah Rinto yang dengan jelas dapat di dengar oleh Adith yang berada dihadapannya. "Melihat wajahnya yang sangat pucat dan lemah membuatku tak tega jika memaksakan dirinya untuk terus melanjutkan perjalanan ini menggunakan Bus." tambah Rinto lagi yang sengaja ia buat dengan sangat khawatir. "Apa tidak ada cara lain untuk membuat dia mengatasi rasa mabuknya itu?" lanjut Riyan bertanya pada Karin yang berada dihadapannya. "Ah.. entahlah, dia melarang ku mengikutinya karena ia tau kalau aku akan mengalami hal yang sama jika melihat dan mencium bau muntahan orang lain. Tapi aku sepertinya punya suntikan yang bisa membuat perasaanya sedikit lebih baik meski ini tidak akan menghilangkan rasa mabuknya." Karin dengan segera mengambil tasnya yang memiliki suntikan yang bisa ia berikan kepada Alisya. Melihat hal tersebut, Ryu yang berada di sebelahnya segera berdiri membantu Karin memberikan suntikan tersebut kepada Alisya. Tidak bisa berdiam diri lebih lama didalam bus, Adith segera mengambil suntikan dari tangan Ryu dan turun dari bus. "Kalian bisa pergi lebih dahulu, aku dan Alisya akan menyusul begitu rasa mabuknya sudah berkurang. Akan aku usahakan untuk tepat waktu." ucap Adith kepada ibu Vivian dan pak Irhan yang berada didalam Bus tersebut. Setelah merasa cukup yakin, pak Irhan akhirnya menuruti apa yang dikatakan oleh Adith. Meski ia tidak yakin bahwa Adith dan Alisya tidak mengalami hal apapun, namun pak Irhan sengaja agar bisa melimpahkan semua kesalahan itu kepada Alisya dan ibu Vivian nantinya. "Tuuu,,, tunggu..." Alisya berusaha mengejar bus yang sudah pergi meninggalkan dirinya. Karena rasa mualnya masih belum hilang, ia kembali ke tepi jalan mengeluarkan isi perutnya yang sudah kosong sekali lagi. Alisya tak tahu kalau Adith sudah berada disana sebelum ia mengejar bus tersebut. Melihat Alisya yang kesulitan bernafas membuat Adith segera memberikan Alisya sebotol minuman untuk meredakan rasa mualnya. "Teri... ma Kasih." ucap Alisya kaget saat mengira kalau orang itu bukanlah Adith melainkan orang lain yang iba melihat dirinya muntah-muntah dipinggir jalan. "Apa kau tak bisa berhenti membuatku khawatir?" Adith berbicara dengan suara yang dingin namun sinis. Dari ekspresi wajahnya Alisya yakin kalau saat ini Adith masih marah terhadap dirinya karena kejadian beberapa hari lalu saat mereka selesai melakukan perlombaan. "Aku tak memintamu untuk khawatir, jadi buat apa kau ikut turun kemari." seru Alisya ketus jengkel dengan sikap Adith yang kekanak-kanakan. "A.. aku juga tak ingin turun. Tapi,, Karin... ya Karin menyuruhku untuk memberikanmu ini agar kau bisa meredakan rasa tidak nyaman mu itu." ucap Adith berbohong kepada Alisya untuk mencari alasan. "Baiklah, terimakasih. Kau sudah bisa pergi sekarang." Alisya berdiri dengan cepat mengambil suntikan itu dari tangan Adith. Namun karena rasa pusing dan mualnya membuatnya oleng dan hilang keseimbangan sehingga Adith dengan segera menangkap tubuh Alisya cepat. "Bisa tidak sih kau berhati-hati??" Adith berkata dengan meninggikan suaranya yang membuat Alisya jengkel karena ucapan Adith yang terdengar kasar ditelinganya. Tubuh Alisya bahkan sampai bergetar karena terkejut. "Apa yang tejadi denganmu sih??? aku kan sudah minta maaf!!! Kenapa kau jadi sekasar ini padaku? Lepaskan! Tinggalkan aku sendiri." Alisya langsung berjalan meninggalkan Adith dengan kesal. Matahari sudah kian terik saat Alisya berjalan menyusuri jalan raya yang sangat ramai itu meski baru menunjukkan jam 08.15 pagi. Karena tak memiliki kendaraan juga tak ingin menaiki taksi ataupun angkutan umum, Alisya terpaksa terus berjalan tanpa sedikitpun berhenti. Suntikan yang diberikan oleh Karin sudah sedikit memberikan rasa nyaman diperutnya sehingga ia bisa dengan mudah terus berjalan sambil sesekali melihat kendaraan lain yang mungkin bisa dia tumpangi selain mobil. "Becak atau delman kok nggak ada sih? biasanya juga keliatan di sekitar sini." Alisya kesal saat melihat jalan yang ramai akan kendaraan itu malah tidak terdapat becak ataupun delman. Putus asa, ia terus berjalan berharap akan mendapatkan sebuah keberuntungan. Tepat sebelum ia berbelok, sebuah kendaraan bermotor sudah berhenti didepannya menggunakan seragam sekolah yang sama dengan dirinya. "Naik!!!" ucap Adith memberi perintah kepada Alisya dengan nada dingin tanpa melihat ke arah Alisya. Alisya yang kesal dengan tingkah laku Adith membuatnya tak ingin mengikuti perintah Adith. Ia langsung melangkah menghindari Adith namun dengan cepat Adith menghentikannya. "Mau kamu apa sih?" Alisya mulai kehilangan kesabarannya dengan tingkah Adith yang seharian itu tampak dingin dan kasar kepada dirinya. "Ma... Maaf, Maafkan aku karena sudah kasar padamu, aku tak bermaksud untuk seperti itu.. aku hanya..." Adith tertunduk dalam menyesali apa yang sudah dia lakukan kepada Alisya. Adith paham bahwa ia tidak seharusnya marah kepada Alisya dan bertindak kasar seperti tadi sehingga setelah membeli motor pada salah seorang masyarakat yang memarkirkan motornya dihalaman rumahnya membuat Adith dengan cepat menghampiri Alisya. Melihat sikap tulus Adith, Alisya akhirnya tak bisa mengalahkan sikap Adith kepada dirinya karena semua itu dia lakukan karena dirinya juga sehingga tanpa berkata apapun lagi, dia langsung naik ke atas motor dan duduk dengan nyaman. "Pakai ini..." Adith melepas seragamnya untuk menutupi paha Alisya yang sedang menggunakan Rok yang memamerkan pahanya yang putih saat duduk diatas kendaraanya. Alisya kembali tersenyum saat mendengar nada suara Adith lebih lembut dari sebelumnya. Adith dengan segera membunyikan motornya dan melaju dengan kencang untuk bisa mengejar ketinggalan waktu mereka. Chapter 234 - Yumna Hanifa Adiwijaya Adith yang melesat cukup kencang membuat Alisya mau tak mau langsung memegang pinggang Adith dengan erat. Adith tersenyum puas saat merasakan tangan Alisya sudah berada dipinggangnya. "Pegang yang erat, aku akan mempercepat lajunya lagi agar kita tidak ketinggalan acara pembukaan." Ucap Adith memegang tangan Alisya dengan hangat agar Alisya mengeratkan pegangannya pada pinggang Adith. Posisi motornya yang sedikit menunduk membuat Alisya cukup kesulitan untuk duduk dan tidak menyandarkan diri kepada Adith. Namun karena rasa malunya ia memilih posisi bertahan sehingga punggung Alisya terasa pegal karenanya. Adith yang paham dengan situasi Alisya, ia kemudian menarik satu tangannya yang sebelah kanan untuk memeluk lebih dalam sedang yang satu ia lepaskan sehingga dengan begitu Alisya bisa melintangkan tangannya ke belakang Adith untuk memberi jarak antara dadanya dengan punggung Adith. Tidak butuh waktu lama sampai mereka tiba di tempat pembukaan. "Aku sudah mengulur waktu pada panitianya selama 10 menit. Lebih dari itu kita akan di diskualifikasi dari peserta lomba. Cepatlah masuk karena acara sudah akan dimulai sebentar lagi." Ibu Vivian berlari menjemput Adith dan Alisya didepan gedung. "Terimakasih banyak bu, maaf kami sudah merepotkan mu." ucap Alisya merasa bersalah karena dirinya sekolah dan teman-temannya hampir saja mendapatkan pinalti. Adith dengan cepat memakai kembali baju seragam sekolahnya yang sebelumnya ia berikan kepada Alisya. Tepat saat mereka masuk, teman-temannya yang lain sengaja mengambil tempat duduk yang berada di bagian paling belakang untuk memudahkan Adith dan Alisya masuk kedalam barisan dan menyamarkan kedatangan mereka yang sedikit terlambat. "Bagaimana perasaanmu?" tanya Karin yang langsung bergeser tempat untuk memberikan tempat duduk kepada Alisya. "Lebih baik dari sebelumnya!" ucap Alisya yang langsung mengambil tempat dan memasang tanda pengenalnya yang sebelumnya sempat terlepas karena terburu-buru. "Ini baju almamater Osis kalian, ini akan menjadi tanda pengenal sekolah kalian." pak Irhan segera membagikan baju jas berwarna biru lembut yang hampir saja ia lupakan. Karena posisi mereka yang berada pada bagian paling belakang, tak ada satupun dari para peserta lain yang menyadari kedatangan mereka. "Baiklaj semuanya, acara pembukaan yang sebelumnya ditandai dengan pemukulan gong sudah berakhir, maka selanjutnya kita melangkah kepada pemberian pita pendidikan pada beberapa perwakilan siswa yang menandakan perlombaan dapat segera dimulai. Untuk itu kami panggilkan perwakilan siswa dari sekolah SMA Cendekia Indonesia atas nama Radithya Azura Narendra dan juga siswi dari sekolah SMA Satu Nusa atas nama Yumna Hanifa Adiwijaya untuk naik ke atas podium." seru sang MC menyebutkan nama Adith yang membuat seluruh gedung jadi gadung karena hal tersebut. Para peserta wanita dengan kompaknya berteriak dengan nyaring memanggil nama Adith dengan lembut sedangkan para lelaki semua bertepuk tangan dengan keras saat Yumna berdiri dari tempat duduknya. "Gadis berhijab itu cantik juga, dia terlihat serasi dengan Adith!" seru seorang wanita dengan gaduh tak jauh berada dihadapan Karin dan Alisya. "Waahhh... Adith tampan sekali, dia tinggi, cerdas, ditambah lagi di adalah seorang calon direktur di perusahaan ayahnya." seru seorang temannya dengan suara yang terpesona. "Apa kali ini kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa mendekatinya?" tanya seorang yang lainnya dengan penuh antusias. "Apa kau sedang mencari mati? Adith terkenal berhati dingin kepada perempuan. Aku tak tahu apa alasan dibalik dia tidak menyukai ada perempuan yang mendekatinya." jelas yang lainnya mengingatkan temannya. "Jadi selama ini belum pernah ada wanita yang mendekatinya?" tanyanya dengan wajah penasaran. "Belum pernah, dia dulu pernah duduk bersama seorang anak perempuan di sekolahnya saat wawancara dengan stasiun televisi namun hubungan mereka hanya sebatas partner dalam presentasi saja." jelasnya sembari sesekali menatap Adith dengan penuh antusias. "Kabarnya wanita itu ditolak oleh Adith dan hanya dianggap sebagai pelayannya saja selama proses pembelajaran. Wanita itu ternyata seorang preman yang berhasil melumpuhkan beberapa geng dari sekolah lain. Wanita seperti itu tentu saja tidak akan disukai oleh Adith" ucapnya lagi sambil terus meneriakkan nama Adith dengan lantang. "Benar-benar Bucin sejati. Sukanya menghalu ria nggak jelas." ketus Aurelia dengan suara yang sedikit keras. Mendegar ucapan Aurelia, mereka serentak menoleh karena tersinggung dengan ucapan Aurelia. Namun ketika melihat baju seragam Osis yang dipakai oleh Aurelia sama dengan Adith, mereka tidak jadi berkata apa-apa. "Siapa sih dia? sewot amat!" ketus salah seorang dari mereka. "Nggak mungkin pacar Adith, paling salah satu fans fanatik penggila Adith juga!" seru yang lainnya sambil tertawa terbahak-bahak. "Bukan, dia salah satu orang yang sudah ditolak kali sama Adith!" tambah yang lainnya dengan kembali tertawa terbahak-bahak dengan suara berbisik agar tidak terdengar oleh panitia. "Aku harus memberikan mereka pelajaran!" Aurelia segera bangkit dari kursinya namun dihentikan oleh Karin. "Kau bisa menghajar mereka di perlombaan nantinya, tidak sekarang! seru Karin mengingatkan Aurelia agar tidak bertindak gegabah dalam kegiatan pembukaan tersebut. "Itu Yumna kan? dia adalah pemenang lomba MTK tingkat nasional tahun lalu. Dia cantik juga yah?" ucap Beni yang terpesona dengan cantik paras wajah Yumna yang memikat hatinya. "Apa yang dikenakan itu adalah hijab?" tanya Ryu yang masih agak asing dengan apa yang dikenakan oleh Yumna meski ia sudah mulai sering melihatnya di Indonesia. "Yup benar, kamu pasti sudah pernah melihat Alisya sholat menggunakan kain yang lebih besar kan? itu namanya kerudung sedangkan yang dipakai Yumna adalah hijab. Hijab ini digunakan oleh mereka yang sudah dianggap dewasa oleh umat muslim. Meskipun akan ada sebagian dari mereka yang belum siap untuk melakukannya seperti Yumna." jelas Yogi sambil melirik kearah teman-temannya yang tidak mengenakan hijab. "Yumna kabarnya sudah memiliki seorang tunangan, namanya Arka. Dan mereka akan menikah setelah lulus SMA nanti" ucap Rinto mengalihkan pembicaraan Yogi sebelum ditendang keluar dari gedung tersebut oleh Karin dan Alisya. "Menikah? secepat itu? hebat sekali mereka!" seru Gani tak menyangka kalau Yumna yang cerdas juga cantik akan menikah dengan begitu cepatnya. "Menikah lebih baik dari pada pacaran, dengan begitu mereka bisa terhindar dari fitnah dan juga Zina. Aku salut pada Arka yang sudah memiliki pemikiran yang dewasa. Sebagian dari kita malah berpikir bahwa menikah muda itu sangat membebani karena belum mapan dan masalah lainnya sehingga nyaman dengan pacaran." jelas Zein dengan bertepuk tangan karena penyematan pita pada Adith dan Yumna telah selesai. Ucapan Zein segera meresap masuk kedalam pikiran Yogi yang saat ini sedang berpacaran dengan Aurelia. Dari awal pacaran, Yogi sudah kepikiran untuk melanjutkan kejenjang yang lebih serius. Chapter 235 - Siapa wanita itu? "Apa kalian semua sudah siap?" tanya pak Irhan kepada Adith dan yang lainnya untuk memastikan kesiapan mereka dalam mengikuti lomba. "Iya pak!" jawab mereka singkat. "Lomba pertama adalah pelajaran sains dan Sosial. Fisika akan diwakili oleh Adith, Kimia oleh Zein, Biologi oleh Alisya. Sedangkan Sosiologi diwakili oleh Gery, Geografi oleh Erik dan Ekonomi oleh Ubay." terang Ibu Vivian saat melihat anak Iis sudah berkumpul didekatnya bersama wali kelas mereka. "Pelajaran berikutnya adalah umum yang mana Matematika akan di wakili oleh Riyan, Bahasa inggris Oleh Karin dan Bahasa Indonesia oleh Mizan." sambung pak Irhan memberikan penjelasan kepada mereka pada tiap tahap yang harus mereka lakukan pada hari pertama. "Untuk itu, kalian dipersilahkan untuk istrahat dan kegiatannya akan dilaksanakan setelah pukul 12.30 sehingga kalian memiliki kesempatan lebih untuk mempersiapkan diri." ucap Irhan sekali lagi. "Kami akan menghubungi kalian beberapa saat lagi, sekarang kalian bisa ke aula dulu untuk makan siang bersama." terang pak Sarwo memberikan arahan kepada kelas IIS yang terlihat lebih tenang dan tidak banyak mengatakan apapun saat itu. Mereka seketika berpisah dan membubarkan diri setelah selesai mendapatkan arahan dari para wali kelas yang sekaligus menjadi pembina. "Mereka terlihat lebih tenang dari dugaan ku" Riyan melihat Ubay dan teman-temannya berlalu tanpa banyak bicara dan hanya berjalan ke tempat yang di tunjuk oleh pak Irhan. "Biarkan saja mereka, kita hanya cukup memantau apa yang akan mereka lakukan. Selama mereka tidak berbuat yang merugikan, maka kita hanya perlu melakukan yang terbaik untuk memenangkan perlombaan yang ada." jelas Adith menatap Ubay dan teman-temannya menghilang masuk kedalam resto. Adith dan yang lainnya pun langsung menuju ke arah yang sama dengan tempat Ubay dan teman-temannya menghilang. Begitu mereka memasuki tempat itu, mereka sedikit terkejut melihat semua orang sudah berada disana dan sedang makan dimeja bundar yang memuat sekitar 5-10 orang. "Hai, kamu Adith kan? apa kami bisa berkenalan dengan mu?" beberapa wanita datang menyerbu Adith yang masih berdiri menatap ke seluruh tempat mencari meja yang kosong. Alisya berjalan melewati mereka langsung menuju ke salah satu meja yang panjang agar ia bisa duduk bersama dengan teman-temannya. Melihat itu Adith dengan cepat berlalu tak memperdulikan mereka ikuti oleh Zein dan yang lainnya. "Siapa wanita itu? kenapa Adith malah menuju kesana?" tanya wanita itu yang mendapat penolakan dari Adith. "Aku tak tau, aku tak punya info mengenai dia. Tapi mungkin dia hanyalah salah satu dari tim Adith saja makanya Adith bersikap baik kepadanya." jawab yang lain melihat Adith sedang duduk disamping Alisya. "Jika benar seperti itu, maka seharusnya Adith takkan duduk disamping wanita itu. Adith kan sangat tidak suka berada terlalu dekat dengan perempuan. Aku saja bahkan harus menjaga jarak darinya saat berbicara dengannya tadi." ucapnya dengan nada putus asa. Semua orang melihat Alisya dengan tatapan cemburu sekaligus iri karena Adith yang mereka puja duduk dengan sangat dekat dengan Alisya. "Ummm... Jenius tampan,, bisakah kau tidak membuat keadaanku jadi lebih menyesakkan? Aku semakin tidak suka dengan tatapan mereka yang menusukku dengan tajam saat ini" pinta Alisya dengan penuh pengharapan agar Adith mau berpindah tempat dari sisinya. "Apa kau terganggu hanya karena tatapan mereka? aku rasa kau cukup kuat untuk melawan mereka semua dan tidak peduli dengan tanggapan mereka terhadapmu." ucap tersenyum hangat menatap wajah Alisya. "Ahhhh... terserah apa yang kalian berdua ingin lakukan, tapi aku sudah cukup lapar. Bisakah kita mengambil makanan sekarang?" tanya Karin yang merasa perutnya semakin keroncongan. "Apa kalian masih mau bermesraan dihadapan kami para rakyat yang sedang kelaparan?" tanya Riyan yang merasakan hal yang sama dengan Karin. Tanpa aba-aba, Alisya dari tempatnya duduk menuju ke meja yang menyajikan banyaknya makanan di ikuti oleh Karin dan yang lainnya. Adith dan yang lainnya juga melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Alisya dan yang lainnya. Setelah mengambil cukup makanan dan menjelaskan beberapa menu makanan kepada Akiko, Alisya kembali kemeja yang sebelumnya mereka tempati namun begitu ia berjalan sebuah kaki sengaja keluar dan memanjang seolah sedang merenggangkan kaki Alisya yang paham akan maksud dari kaki tersebut yang ingin mencegat Alisya untuk terjatuh dengan santai melewati kaki itu yang pada akhirnya dia sendiri yang kesakitan karena Alisya menginjak kaki wanita itu. "Hei.... apa yang sudah kamu Lakukan? kamu nggak punya mata yah berjalan sampai menginjak kaki orang lain seperti itu?" tanya temannya yang kesal kepada Alisya. "Hah??? kamu bisa liat posisi aku? tidakkah kaki itu terlalu panjang untuk berada dijalan ini?" aku pikir tadi batang kayu yang sedang melentang sehingga aku menginjaknya untuk memastikan kebenarannya." ucap Alisya dengan santai yang membuat wanita sebelumnya menjadi sangat malu karena kesalahannya sendiri. "Kau... sudah salah masih mencari kesalahan orang lain bukannya meminta maaf!!!" tegasnya lagi memarahi Alisya. Adith hanya tersenyum gemas melihat kearah Alisya yang dengan tenang menghadapi mereka. "Aku akan meminta maaf setelah mendapatkan permintaan maaf dari dia yang sedang berusaha mencegat kakiku." Alisya tanpa basa-basi langsung menaikkan hologram yang berisi rekaman wanita itu yang sedang memanjangkan kakinya untuk mencegat Alisya. "Kau....!!!!" mereka tak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya menanggung malu akibat apa yang baru saja mereka lakukan disaat semua orang sudah melihat ke arah mereka. Alisya hanya tersenyum sini dan berlalu pergi. "Wanita mu memang hebat! Dia tau membungkam orang lain dengan cepat. Caranya yang dingin dan cepat cukup membuatku merinding" ucap Riyan tepat di samping Adith yang sudah tertawa kecil masih memegang piringnya yang penuh dengan makanan. "Aku selalu suka cara dia menyelesaikan suatu masalah, menarik dan tak pernah takut akan apapun." Adith segera berjalan melewati mereka dengan santai menuju ke meja Alisya yang sudah duduk makan dengan nyaman. "Mereka berdua adalah orang-orang yang sangat menakutkan tidak perduli siapapun yang mereka hadapi, mereka akan melawannya secara terang-terangan. Sepertinya beberapa hari kedepan kita akan menghadapi banyak pertempuran." Yogi menerawang jauh mengingat mereka sedang berada ditempat dimana setiap orang adalah musuh sekaligus lawan yang harus mereka semua hadapi. "Bukankah itu bagus? artinya semangat kita untuk bersaing tak boleh kalah dari mereka dan kita juga bisa membuktikan kepada Alisya bahwa kita juga bisa lebih baik dari sebelumnya." ucap Rinto menepuk pundak Yogi dan berlalu pergi menuju ke meja mereka. Yogi menghela nafas panjang mengikuti langkah kaki dari Rinto. Chapter 236 - Meminta Maaf "Sebentar...." seseorang menghentikan Alisya yang sudah keluar dari ruang resto menuju ke tempat mushola untuk melaksanakan kewajibannya. "Ya?" Alisya menjawab dengan tatapan bingung karena tak mengetahui siapa yang sedang menghentikannya tersebut. "Ohhh.. maaf, kenalkan saya Arka, Arkana Alfarezi Pratama. Saya dari sekolah SMA Satu Nusa" ucapnya sambil mengulurkan tangannya. Bukannya tak bermaksud tidak sopan dengan Arka, hanya saja Alisya memang tidak terlalu terbiasa dengan bersikap terbuka kepada orang lain. "Ah,,, kau tunangan dari Yumna bukan?" tanya Karin mencoba untuk tidak membuat Arka tersinggung karena sikap dingin sahabatnya itu. "Uhum, bisa dibilang seperti itu." jawab Arka menurunkan tangannya dengan kerutan kening. Ia mengira bahwa Alisya mungkin membencinya atau karena hal lain. "Saya Karin, dan dia Alisya. Maaf,,, dia memang tak terbiasa bersikap terbuka dengan orang yang belum dikenalnya. " terang Karin menatap sinis ke arah Alisya yang membuang muka acuh tak acuh. "Dia tidak hanya bersikap seperti itu saja padamu, tapi pada semua orang disekitarnya. Jadi kau tidak perlu merasa tersinggung karena sikapnya" Adith datang menghampiri mereka yang sedang Asik mengobrol depan resto. Arka tersenyum mendengar Adith yang begitu dingin dan cuek kepada perempuan bisa menggoda Alisya dengan akrabnya. Dari tatapan Adith kepada Alisya, Arka bisa mengambil kesimpulan bahwa tatapan itu mirip seperti bagaimana menatap Yumna. "Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Karin mengingat Arka menghentikan mereka tentunya karena sesuatu. "Kau sangat tampan, sayang kau sudah bertunangan. sungguh cepat sekali." Bunyi Gina yang tiba-tiba muncul disamping Karin dengan tatapan terpesona kepada Arka. "hahahaha... terimakasih, aku tidak menduga kalau berita itu tersebar begitu cepat. Oh Yah.. hampir lupa, aku kemari untuk meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan oleh teman sekolahku kepadamu." ucap Arka yang tertawa memamerkan giginya yang rapi dan putih bersinar. "Kenapa kau meminta maaf atas apa yang tidak kau lakukan?" Alisya kembali berkata dengan dingin. "Anak ini sifatnya tak bisa berubah tiap kali bertemu orang baru!" geram Karin langsung mencubit pinggang Alisya dengan keras karena kelakuannya. "Kau tidak usah memperdulikan hal tersebut, Alisya bukanlah orang yang akan mudah tersinggung karena hal seperti itu. Dia lebih tangguh dari apa yang kamu bayangkan." seru Adith sambil tersenyum puas dengan sikap Alisya yang terlihat cuek meski sedang berhadapan dengan seorang Arka yang bisa dibilang cukup mampu membuatnya terpesona karena ketampanannya. "Meski begitu, kami datang kemari tidak untuk mencari keributan dengan orang lain. Jika memang diperbolehkan, maka kami ingin memiliki teman sebanyak mungkin sekalipun itu adalah saingan dalam perlombaan nanti" Yumna bersama teman-temannya dari 2 orang yang baru saja mengusik Alisya datang menghampiri mereka. Melihat tatapan Arka kepada Yumna yang baru saja datang menghampiri mereka membuat Alisya tersenyum karena ia bisa melihat bagaimana tatapan Arka itu sangat mengisyaratkan kekagumannya kepada wanita itu. Detak jantung Arka dan Yumna mengeluarkan frekuensi yang hampir sama persis meski terdengar sedikit kuat pada Arka dan ada sedikit penolakan pada Yumna, namun bisa dilihat bahwa keduanya saling berikatan satu sama lainnya. "Puffft,, kalian tidak perlu melakukan permintaan maaf itu, aku sudah terbiasa dengan sikap seperti itu dan memakluminya berkat seseorang." pandang Alisya kepada Adith yang dengan cepat Adith membuang muka kearah Zein. "Kami minta maaf, kami tidak bermaksud untuk melakukan hal memalukan seperti tadi." ucap keduanya berbarengan dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Aku harap sikap mereka berdua tidak memutus tali silatuhrahmi diantara kita berdua untuk menjadi teman." Yumna mengulurkan tangannya kepada Alisya sebagai bentuk tanda persahabatan. Hal yang sama dilakukan oleh Arka kepada Adith juga yang lainnya. Melihat Yumna yang begitu lembut dengan parasnya yang manis, Alisya bisa mendengar detak jantung yang penuh dengan ketulusan sehingga ia dengan cepat mengambil tangan Yumna mendekat ke arahnya dengan hangat. "Tentu saja, menambah banyak teman sepertinya akan membuat perlombaan ini akan semakin menarik terlebih jika saingannya adalah orang-orang seperti kalian" ucap Karin menyalami Yumna dengan hangat. Aurelia dan yang lainnyapun tak ikut ketinggalan untuk bertukar nama dan saling sapa satu sama lain. "Suatu kebanggaan bisa menjadi salah satu teman dari orang nomor 1 di Indonesia ini" Arka merujuk kepada kemampuan Adith yang sudah sangat diakui oleh banyak orang karena kejeniusannya dan kemampuannya yang pada umur yang masih terbilang muda, Adith sudah berhasil memberikan dampak yang sangat besar terhadap perkembangan perusahaan Ayahnya. "Jangan terlalu merendah, setiap orang punya potensi dan kemampuan masing-masing. Aku juga sangat senang bisa mengenal orang-orang yang memiliki potensi yang sangat besar seperti dirimu." terang Adit berjalan meninggalkan Resto yang hampir mereka tutupi pintu keluarnya tesebut. "Jadi kau akan mengambil lomba apa pada perlombaan kali ini?" tanya Alisya kepada Arka yang berjalan disisinya dengan Adith berada disisi Yumna. "Aku mengambil Fisika dan Yumna mengambil matematika. Kami berdua bersaing cukup panas dibidang matematika karena sangat menyukan bidang yang sama." seru Arka tersenyum mengingat bagaimana perseteruan antara dia dan Yumna "Sepertinya kau memiliki lawan yang sulit." Alisya memandang kearah Adith untuk memberi petunjuk kepada Arka. "Jangan bilang dia.... Wowww,,, ini semakin menarik! Semakin sulit lawannya maka persaingan ini akan semakin menantang untuk dimenangkan." seru Arkan memandang penuh membara kearah Adith. "Dan akan ada seseorang yang mengalami kemalangan karena harus bersaing dengan Yumna." senyum Adith menatap ke arah Yumna yang terlihat mungil saat berjalan disisinya. "Alisya kau mengambil Matematika juga?" tanya Yumna dengan penuh semangat berharap kalau ia mendapatkan lawan yang tepat. "oh... hahahaha, maafkan aku karena aku tidak terlalu suka dengan hal yang terlalu rumit seperti itu. Aku mengambil Biologi." Alisya tertawa melihat wajah antusias Yumna yang begitu manis. "Bukan dia tapi seseorang yang berada di belakangku yang tingkat kepedeannya melebihi gunung Fujiyama." ucap Adith tersenyum penuh arti. "Hacccihhh,,, sruurp srurrp!" Riyan bersin dengan tubuh seolah terasa dingin karena sesuatu. "Apa kau sakit?" tanya Karin merasa aneh dengan perubahan suhu tubuh Riyan yang mendadak. "Sepertinya tidak, tapi aku merasakan sesuatu yang tidak enak pada bagian telingaku!" Riyan sedikit menekan telinganya yang terasa gatal dan geli. "Lihatlah mereka, apa aku sedang berkhayal atau memang mereka terlihat seperti beberapa malaikat dan bidadari yang sedang turun ke bumi untuk memberikan kita dukungan?" Feby menatap 4 orang yang berjaln dihadapannya dengan penuh kekaguman. Bukan hanya mereka berempat yang menarik banyak perhatian, namun karena pertemuan antara dua sekolah yang tekenal kuat itu sangat menarik perhatian semua orang. Chapter 237 - Semangat!!! "Bagaimana? Kau sudah siap dengan lombanya?" Arka langsung menyapa Alisya yang sedang memandang papan informasi berisikan pemberitahuan mengenai nomor peserta dan tempat yang harus mereka duduki. "Kau berada diruang mana?" tambah Yumna yang datang bersama dengan teman-tamannya yang lain. "Sains B. Kau dan Adith berada di Sains A sedang Yumna berada di Umum A bersama dengan Riyan" Jelas Alisya sambil menunjukkan ruang tempat nama mereka berada. "Bagaimana dengan dirimu?" Arka sudah menoleh kepada Karin yang terlihat serius melihat ruangannya. "Aku pikir kalian hanya perduli pada Adith dan Alisya saja." seunym Karin yang tak menyangka kalau Yumna akan bertanya pada dirinya. "Bagiku kalian semua harus diperhatikan. Kalian yang berasal dari sekolah ternama Indonesia merupakan suatu hal yang patut untuk diperhitungkan tidak terkecuali siapaun itu. Bukan hanya kami yang mewaspadai kalian, semua yang berada disini menjadikan kalian sebagai targetnya." Ucap Yumna sambil melemparkan pandangannya kepada seluruh peserta lomba yang tengah menatap mereka dengan tatapan menyelidik. "Dan sepertinya bukan hanya kami yang menjadi pusat perhatian!" Adith datang bersama yang lainnya setelah selesai dari mushola. "Oke, aku tidak begitu terbiasa dengan menjadi pusat perhatian." seru Gani merasa mual karena gugup. "Bagaimana kalian menghadapi ini semua? seharian ini menjadi pusat perhatian sudah cukup membuatku merasa pusing." tambah Emi merasa tak nyaman dengan bisik-bisikan dari orang lain yang terus menatap mereka penuh arti. "Kalian harusnya bangga, disekolah kita mungkin kita terlalu terpaku dengan sistem sekolah yang menuntut kita untuk mendapatkan poin dalam setia kondisi sehingga kita terlihat cuek satu sama lain." Terang Rinto menepuk pundak Gani. "Kita sudah terbiasa berhadapan dengan orang-orang yang lebih terang sehingga kita tidak sadar kalau lampu yang berada dalam diri kita juga cukup terang bagi orang lain. Meski tetap saja Matahari dan Bintang yang bersinar seperti mereka takkan pernah bisa kita capai, namun bagi yang lain kita sudah termasuk salah satu bintang yang bisa bersinar dengan terang." jelas Yogi menambahkan. "Untuk itulah terlepas dari siapaun kalian, kalian yang bisa bersekolah di SMA Cendekia Indonesia haruslah berbangga diri karena tidak semua orang bisa masuk ke sekolah bergengsi kalian yang super mahal dan supeerr ketat itu." ucap Arka yang didalam hati ia juga mengagumi mereka yang berasal dari sekolah itu. "Perlombaan akan segera dimulai, kalian harus memasuki ruang masing-masing." pak Irhan segera memperingatkan Adith dan yang lainnya untuk segera mempersiapkan diri. "Sepertinya kita akan berpisah disini dan.... selamat berjuang!!!" ucap Arka kepada Alisya dan teman-temannya dengan penuh semangat. Sedang kepada Yumna, Senyuman Arka sudah cukup jelas bahwa ia memberikan dukungan dengan cara yang spesial. "Semangat!!! kami akan menunggu kalian disini sampai kalian selesai." seru Adora kepada Alisya dan yang lainnya yang sudah menuju ke ruang masing-masing. "Siap bertarung?" tanya Arka kepada Adith yang sudah berada didepan pintu. Adith memiringkan kepalanya tersenyum kepada Arka dengan memainkan keningnya menantang Arka. Melihat tingkah Adith yang sangat percaya diri tersebut, Arka memandang kedepan tersenyum puas kemudian melangkah masuk bersama. Alisya yang sudah berada dihadapan ruangannya segera melempar kepalan tinjunya kepada Karin untuk memberinya dukungan karena ruangan mereka yang berjauhan. Kari membalas dengan tersenyum penuh semangat. "Jangan patahkan leher orang yang berada didalam, cukup ratakan semua soal dengan jawaban terbaikmu." ucap Karin menggoda Alisya dengan senyuman manjanya sambil berlalu pergi dengan tawa yang dirasa Alisya terdengar mengerikan banginya. "Anak itu sepertinya semakin hari otaknya sudah sedikit bergeser ke belakang!" Alisya masuk sembari menggeleng-geleng mengingat tingkah konyol Karin yang sebelumnya. Mereka secara serentak memasuki ruang tempat mereka mengikuti lomba dan duduk sesuai dengan nomor yang sudah mereka dapatkan dan duduk dengan tenang. Begitu soal yang diberikan pada tablet hologram diberikan, dan tanda bel berbunyi, semua peserta lomba dengan cepat memulai mengerjakan setiap soal yang muncul. Satu persatu peserta yang sudah menyelesaikan soal keluar dari ruangan menyisakan Adith dan Arka yang masih duduk dengan nyaman menyelesaikan soal dengan tenang tanpa terpengaruh satu sama lain yang memang bel tanda berakhirnya loma dibunyikan. Tepat setelah bel tanda berhenti berbunyi dengan sangat kencang, Adith juga sudah berhasil memberikan jawaban terakhirnya yang kemudian ia mundur dari depan tablet dan berdiri dari tempatnya. Adith memandang Arka yang juga baru selesai dengan pekerjaanya. Begitu mereka keluar dari pintu ruangan, sepanjang gedung ruang lomba Alisya dan yang lainnya juga baru saja keluar bertepatan dengan yang lainnya. Saling berpandangan satu sama lainnya, mereka akhirnya tertawa karena sebuah kebetulan yang terasa seperti sebuah magic dan magnet telepati yang dirasa mereka cukup menggelikan. Merekapun akhirnya berkumpul dibagian tengah dan tertawa bersama. Ubay dan yang lainnya langsung pergi dari sana tanpa menoleh sedikitpun kepada Adith dan Alisya. "Aku mengira kalian adalah orang-orang yang akan keluar pertama kali dengan tidak menyia-nyiakan waktu yang banyak untuk melihat kedalam soal." Yumna bersuara dengan sangat lembut. "Bahkan teman-temanmu yang lain juga melakukan hal yang sama yah?" ucap Karin yang memadang ke arah teman-teman Yumna. "Kita seperti orang-orang yang baru saja dikeluarkan dari penjara setelah mendapatkan masa pengurangan hukuman!" ucap Arka tertawa melihat wajah-wajah lega mereka setelah berhasil keluar dari ruang ujian. "Ada yang butuh Aqua???"Rinto datang membawa beberapa botol minuman dingin kepada mereka semua. "Riyan, kau tampak grogi karena satu ruangan dengan Yumna." Goda Yogi yang melihat Riyan seolah terlihat tertekan padahal Riyan terlihat sangat rileks dan santai. "Tidak buruk!!!" ucap Riyan yang membuat mereka segera tertawa kembali. "Kalian sudah melakukan yang terbaik!" Akiko datang bersama ibu Vivian dan pak Irhan. "Kau benar-benar sudah berusaha menjadi manager kami dengan baik yah... Kali ini apa yang sudah kau lakukan?" Alisya melipat kedua tangannya melihat Akiko seperti sudah bekerja cukup keras demi kenyamanan mereka semua. "Tak banyak! tapi aku harap aku bisa mendukung kalian dengan benar. Lagi pula lomba seni masih akan dimulai esok harinya, jadi aku punya banyak hal yang bisa dikerjakan." seru Akiko bangga. "Baiklah, Adith... sepertinya kami juga harus segera kembali ketempat kami. Oh iya, asrama kalian berada digedung mana?" Arka yang sudah sempat berpamitan kembali menanyakan asrama tempat Adith dan yang lainnya menginap. "Resort A." jawab Adith singkat. "Benarkah? meski aku sudah menduganya tapi aku tak menyangka kalau tempat kita akan berada di satu kompleks yang sama." ucap Yumna dengan penuh semangat. "Kami berada di Resort B, tepat disebelah kalian." seru Arka. Chapter 238 - Satu Putaran Malam menjelang, mereka semua berada pada kamar yang berbeda namun dihubungkan oleh pintu yang sama dimana pada satu pintu terdapat 2 ruang kamar didalamnya. Pada kamar nomor 1, Adith sekamar dengan Ryu disebelahnya terdapat Zein yang sekamar dengan Riyan. Sedang dikamar nomor 2, Rinto sekamar dengan Yogi dan disebelahnya lagi ada Beni yang sekamar dengan Gani. Merasa bosan, Adith langung menuju keluar karena malam hari tak ada kegiatan yang dilaksanakan sehingga para peserta bisa memanfaatkan waktu untuk sekedar bermain dengan yang lainnya atau beristirahat didalam kamar dengan nyaman. Setelah cukup berkeliling, Adith melihat seseorang sedang bermain basket pada area samping gedung resort yang hanya memiliki area setengah lapangan saja. Setelah semakin mendekat, Adith mengenali sosok yang sedang bermain basket tersebut. "Aku pikir siapa yang sedang mengdribel bola dengan sangat kuat." Adith bersandar pada dinding sembari memperhatikan Arka yang sedang bermain basket dengan lihainya. Melihat Adith disana, ia dengan cepat melempar bola itu kearah Adith yang dapat ditangkap oleh Adith dengan mudahnya. "Bagaimana kalau satu putaran?" tantang Arka kepada Adith saat ia sudah dipenuhi oleh peluh. Adith segera masuk kedalam sembari se sekali membanting bola basket itu ke lantai dengan malas. "Dari mana kau mendapatkan ini?" tanya Adith tak mengira kalau akan ada Bola basket disana. "Aku sendiri yang membawanya dari rumah. Aku sangat suka bermain basket sehingga tanpa sadar bola itu juga aku masukkan sewaktu akan berangkat kesini." Arka segera memasang posisi defense saat Adith sudah siap melakukan dribble untuk menembus dirinya. "Lalu apa yang membuatmu bermain basket di tempat ini?" tanya Adith memulai posisi menyerangnya yang dengan cepat bermain taktik dengan melakukan pola zig-zag saat menggiring bola, Adith berhasil memasukkan bola kedalam keranjang setelah melakukan lay up. "Aku hanya merasa sedikit bosan berada di dalam kamar sehingga sedang mencari udara segar." berganti posisi dengan Adith yang berada pada posisi defense dan Arka yang menyerang membuat Arka cukup sulit untuk menembus pertahanan Adith sehingga saat ia memaksakan diri untuk Shooting, bolanya memantul dengan keras mengenai bibir ring. "Yah... meskipun aku tau kau sudah membawa bola ini, melihat kau bermain dengan sangat serius membuatku berpikir bahwa ada hal lain yang sedang menganggumu sekarang." ucap Adith sambil melakukan Bouncepass dengan cepat dari tangan kiri ke tangan kanannya untuk mengelabuhi Arka yang sekali lagi ia bisa melewati pertahanannya dengan mudah. "Kau benar-benar seperti yang mereka katakan. Kemampuan mu dalam menganalisis lawan benar-benar tak bisa dipahami." Arka mendribbel bola dengan cepat sudah merasa cukup panas untuk menunjukkan kemampuannya. Super dribbelnya memberikan bunyi yang cukup kuat pada lantai karena benturannya dengan bola. "Dan apa yang mereka katakan tentangmu yang sudah bertunangan dengan Yumna menjadi topik panas pada hari pertama." Adith mencoba merebut bola dengan sedikit memberikan tekanan pada Arka. "hahahaha... hhhh,,, aku sangat bangga dengan hal itu. Dengan begitu, Aku ataupun Yumna menjadi lebih terlindungi dengan tidak ada satupun wanita yang medekatiku begitupula dengan Yumna." Arka berhasil melewati Adith setelah memperlebar jarak antara dia dengan tubuh Adith yang dengan cepat ia ubah haluan lalu melakukan shooting dengan mudah. "Aku salut dengan keberanianmu mengambil langkah tersebut. Tidak mudah bagi seorang yang masih muda mengambil jalan seperti itu." terang Adith sambil terus berusaha mengelabui Arka yang kecepatannya semakin meningkat. "Aku punya alasan dibalik itu semua, cukup panjang ceritanya sampai pada akhirnya pilihanku mantap untuk melangsungkan hal tesebut." Adith dengan cepat melakukan pivot dengan bertumpu pada satu kakinya sebagai poros untuk memutar tubuhnya. Adith sekali lagi berhasil memasukkan bola kekeranjang setelah cukup kuat memberikan dorongan pada tubuh Arka. Kelelahan, Arka yang sudah bermain sejak awal pada akhirnya kalah dari Adith. Mereka berdua langsung terbaring kelantai karena kelelahan. Adith yang belum pernah bermain secara maksimal kali ini sedang berhadapan dengan lawan yang cukup berat sehingga ia juga terlihat basah kuyup karena keringatnya yang mengucur deras. "Apa yang sudah kau rencanakan?" tanya Arka setelah cukup lama mereka mengambil nafas. "Maksudmu?" Adith tak yakin akan apa yang sedang dimaksudkan oleh Arka. "Alisya, Terlihat jelas dari caramu memandangnya itu menandakan bahwa Alisya adalah orang yang saat ini bertahta dihatimu. Aku memang mendengar banyak hal mengenai sikap cuek dan dinginmu kepada perempuan, tapi sepertinya itu tidak berlaku bagi Alisya." terang Arka menoleh ke arah Adith yang sedang berabring disampingnya. Adith terdiam beberapa saat meresapi apa yang sudah terjadi sejak pertama kali ia bertemu dengan Alisya. "Sampai saat ini aku masih belum yakin akan apa yang akan aku lakukan kedepannya. Aku juga belum yakin dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Alisya saat ini tapi yang pasti aku ingin berada disampingnya dan melindunginya." Ucap Adith sembari bangkit dan duduk ditempatnya. "Dari suaramu yang berat, aku merasakan kalau kehidupan yang sedang kalian berdua jalani saat ini sangat berat dan rumit. Meski begitu, ikatan diantara kalian terlihat sangat erat satu sama lainnya. Tetapi masih banyak keraguan didalamnya." Arkapun bangkit dan duduk dengan nyaman disamping Adith yang sudah bertumpu pada tangannya memandang lurus kearah langit yang menghitam. "Banyak hal yang harus kami hadapi kedepannya. Dia yang Sekarang dan aku yang sekarang masih sama-sama belum bisa menghadapi kenyataan yang sebenarnya. Aku dan dia sama-sama memiliki trauma yang berasal dari masalalu kami yang masih sangat sulit untuk kami lupakan." Terang Adith dengan senyuman yang terlihat putus asa. "Apa kau percaya padanya?" tanya Arka memandang Adith dengan tatapan serius. Perntanyaan yang dilontarkan oleh Arka sengaja ingin memacing rasa percaya diri Adith terhadap perasaan yang dimilikinya saat ini. "Tentu saja aku percaya padanya." Ucap Adith mantap dan penuh percaya diri terhadap apa yang sedang dikatakannya. "Maka itu sudah cukup!. Seperti kamu yang percaya dengan Alisya, maka Alisya juga sama. Aku mengatakannya bukan karena semata-mata ingin menghibur dirimu melainkan karena aku bisa melihat ada kamu di mata Alisya. Aku bisa merasakan ikatan kalian yang bahkan tidak sebanding dengan ikatan perasaan yang aku miliki dengan Yumna. Kalian sudah memulainya sejak kecil, dan aku rasa itu sudah cukup untuk kalian saling mempercayai satu sama lainnya." Terang Arka Panjang lebar. "Tapi hanya aku yang sadar akan ikatan yang sudah lama ini berlangsung. Alisya yang trauma masih belum bisa mengembalikan ingatannya akan masa lalu." Adith menarik nafas dalam. Dari ucapan Adith, akhirnya Arka paham akan kegundahan hatinya. Chapter 239 - Lomba Seni Hari kedua adalah perlombaan seni tingkat SMA. Beni yang sangat lihai memainkan Drum dan Juga Gani yang tak kalah hebatnya bermain gitar serta Yogi dengan gitar basnya segera melakukan persiapan untuk segera menampilkan persembahan mereka. Dengan penuh semangat mereka menampilkan permainan musik solo yang sangat memukau. Aurelia bahkan tak bisa mengalihkan padangannya dari Yogi karena begitu terpesona dengan penampilan Yogi yang sangat menarik perhatian tersebut. "Hebat, apakah mereka sehebat itu selama ini? atau memang aku yang tak menyadari kalau mereka memiliki sisi keren seperti ini?" tanya Akiko yang merasa baru kali itu dia melihat sisi lain dari Beni, Gani dan Yogi. "Entahlah, kami juga tak menyangka kalau mereka bisa menampilkan sesuatu dengan keren sekali. Selama ini kita hanya melihat sisi konyol dan urakan mereka sehingga kita tidak menyadari potensi yang ada dalam diri mereka." jelas Adora terhadap kemampuan 3 orang temannya tersebut. "Melihat sisi mereka yang seperti ini membuatku berpikir bahwa tidak semua apa yang kita lihat dari luar sudah merupakan jati diri masing-masing, melainkan setiap orang pasti memiliki sisi lain dari dalam dirinya tanpa menilai dan menjudge seseorang secara sepihak." jelas Karin merasa kagum akan penampilan mereka yang cukup memuaskan. "Sebentar lagi kau akan melihat sesuatu yang lebih mengagumkan." ucap Zein setengah berbisik kepada Alisya. Alisya hanya memiringkan keningnya tak paham akan apa yang sedang dimaksudkan oleh Zein sehingga ia tetap melihat ke arah panggung. Alisya hanya terus melihat tanpa ekspresi yang setelah itu seseorang muncul dengan tampilan rapi dan berjas hitam. Paras tampannya serta senyum manisnya seketika membuat seluruh gedung seni membahana heboh. Semua wanita yang melihat dia duduk dengan maskulin membuat semua orang berteriak hingga serak. Dia duduk dihadapan piano berwarna putih bersinar yang dengan satu kali lirikan matanya saat melihat kearah bawah panggung langsung membuat semua wanita yang sedang menontonnya meleleh sempurna. "Woww... Sepertinya dia sudah mengambil Alih seluruh panggung ini yah!!!" Arka muncul bersama Yumna yang berada disampingnya. Alisya langsung tersenyum hangat dengan kedatangan keduanya. Arka yang sedang menggoda Alisya menjadi kehilangan fokus sehingga ia hampir tidak memperhatikan Yumna yang sempat tertabrak oleh beberapa wanita yang sudah berlari menuju panggung. "Yumna!!!" teriak Alisya yang secara bersamaan Alisya menarik Yumna kearahnya dan Arka yang memasang tubuh untuk melindungi Yumna. Tubuh Arka beberapa kali ditabrak dengan sangat keras oleh mereka yang berlarian menuju ke arah panggung karena ingin melihat lebih dekat. "Sepertinya aku seharusnya tidak merusak moment romantis kalian berdua yah?" tanya Alisya kepada Arka yang masih harus memperbaiki posisinya yang sempat kehilangan keseimbangan karena tabrakan para bucin yang menghalu gila. Mereka berhamburan dengan teriakan yang cukup kencang. Zein serta Rinto juga segera memasang tubuh untuk melindungi Alisya dan Yumna sedangkan Riyan dan yang lainnya juga melakukan hal yang sama demi melindungi teman-teman mereka karena mereka sudah terjebak di lautan manusia yang sudah memenuhi tempat untuk melihat penampilan seseorang yang tak disangka-sangka. "Maafkan aku, aku.. " Ryu meminta maaf karena tubuhnya yang tertabrak membuat posisinya dengan Karin sangat dekat bahkan Karin bisa merasakan dada Ryu yang menempel di bagian punggungnya dengan hangat. "Ah... tidak masala... lah!!!" Karin yang menoleh ingin menjawab ucapan Ryu seketika terhenti karena Ryu yang sekali lagi tertabrak membuat dia mencondongkan tubuhnya kedepan sehingga bibir Karin menempel hangat di pipi Ryu. Mata Karin langsung membelalak dengan sangat besar. Keduanya membeku beberapa saat sampai langsung dengan cepat Karin memalingkan wajahnya. Jantung Karin berdetak begitu cepat dan tak karuan. Hati dan pipi Karin seketika memanas menguapkan ekspresinya yang penuh malu. Ingin rasanya ia menghilang dari tempat itu. Bahkan Ryu yang masih belum bisa mengembalikan fokusnya merasa linglung dengan keadaan yang baru saja terjadi sampai beberapa saat setelah piano berdentang keras. Dentangan piano itu langsung saja membuat semua penonton yang gaduh menjadi diam untuk bisa menyaksikan pertunjukan dengan lebih nyaman. "Alisya....This Song Is For You!!!" suara Adith yang dalam lembut langsung merasuk masuk kedalam hati Alisya dan menggetarkan seluruh tubuhnya. Semua orang berteriak dengan sangat histeris begitu Adith menyebut nama Alisya sehingga Zein yang tadinya sedang memegang bahu Alisya untuk membuatnya tetap berdiri karena semua tubrukan itu secara perlahan menurunkan tangannya. Zein tersenyum melihat dirinya yang masih belum bisa melepas Alisya meski itu demi sahabatnya. Namun melihat ketulusan Adith dan tatapan mata Alisya, Zein sadar bahwa tidak ada posisi spesial lain baginya selain sahabat untuk bertengger di hati Alisya. Ketika tangan kekar dan kokoh Adith perlahan menekan tuts piano dengan lembut seperti sedang bermain dengan seorang kekasih dan memperlakukannya dengan sangat romantis, Adith langsung mengalunkan melodi melodi romantis yang dengan satu helaan nafas dia menyanyikan sebuah lagu. "I found a love for me... Darling, just dive right in and follow my lead Well, I found a girl, beautiful and sweet Oh, I never knew you were the someone waiting for me..." suaranya mengalun indah membuai semua terasa ikut masuk kedalam lagu. "''Cause we were just kids when we fell in love Not knowing what it was I will not give you up this time But darling, just kiss me slow, your heart is all I own And in your eyes you''re holding mine..." Adith mulai melirik kearah penonton dengan lirikannya yang sangat menawan. "Baby, I''m dancing in the dark with you between my arms. Barefoot on the grass, listening to our favorite song. When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath. But you heard it, darling, you look perfect tonight" Adith terlihat tersenyum manis ditempatnya dengan tangan yang masih menekan tuts mengiringi suaranya. "Well I found a woman, stronger than anyone I know She shares my dreams, I hope that someday I''ll share her home I found a love, to carry more than just my secrets To carry love, to carry children of our own We are still kids, but we''re so in love Fighting against all odds I know we''ll be alright this time Darling, just hold my hand Be my girl, I''ll be your man I see my future in your eyes...." Lirikan Adith masih terus bermain dengan indah. Semua wanita merasa hati merekalah yang sudah berada didalam lagu tersebut. "Baby, I''m dancing in the dark, with you between my arms Barefoot on the grass, listening to our favorite song When I saw you in that dress, looking so beautiful I don''t deserve this, darling, you look perfect tonight" Suara lembut Adith perlahan mengusik hati terdalam Alisya yang tanpa ia sadari dadanya terasa sesak akan kerinduan. Adith berdiri dari tempat duduknya berjalan lurus menatap Alisya. Mereka yang berdiri dihadapan Adith secara perlahan membuka jalan karena tidak berani berada dekat dengan Adith terlebih karena pandangan Adith lurus ke arah lain. "Baby, I''m dancing in the dark, with you between my arms Barefoot on the grass, listening to our favorite song I have faith in what I see Now I know I have met an angel in person And she looks perfect, no I don''t deserve this You look perfect tonight" Ia berhenti tepat dihadapan Alisya sembari memegang tangannya dengan hangat. "Oke ini bukan malam, tapi bagiku kau yang saat ini terlihat sangat sempurna di mataku." ucap Adith dengan nakal mencoba menganggu Alisya. Alisya yang membeku tanpa sadar menitikkan air matanya. Sebuah bayangan ingatan melintas di benaknya. Ia tidak tahu siapa yang sedang ia ingat dan mengapa bisa itu terlintas di dalam kepalanya, namun Alisya merasakan kerinduan dan rasa sakit yang sangat mendalam. Chapter 240 - 120 % Setelah pertunjukan Adith selesai, Adith segera keruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang jauh lebih nyaman. Alisya dan yang lainnya terus melanjutkan menonton pertunjukkan seni dimana Akiko, Adora, Feby dan Emi sudah siap untuk melakukan pertunjukan tari. Setelah kepergian Adith, Alisya masih tak bisa memfokuskan fikirannya karena nyanyian dan ekspresi wajah Adith saat berjalan mendatanginya. Melihat teman-temannya yang masih asik menonton sekaligus mendukung teman-temannya dengan penuh semangat. "Umhhh,,, kepalaku rasanya sakit sekali, siapa anak kecil dalam ingatanku itu? dimana aku melihatnya?" Alisya keluar dengan kepala yang sakit dan linglung. Pikirannya dipenuhi akan semua ingatan yang dirasanya agak asing. Seorang anak kecil yang terus saja ia kejar dan ia datangi, anak kecil yang selalu saja ia tolong setiap kali anak itu terjatuh dan terluka, setiap kali ia berhadapan dengan anak-anak lain yang menganggunya, si anak kecil yang sudah memikat hatinya. "Pokoknya aku akan menjadi istrimu saat besar nanti." ucap si anak kecil dengan lantang. Alisya lunglai seolah mendengar kalimat itu secara langsung keluar dari kepalanya. Hatinya sakit dan pedih saat sekali lagi mengingat itu semua. Penanda yang berada di jam tangan Karin tidak dilihat olehnya karena terlalu asik menonton pertunjukan teman-temannya. Sedangkan Adith yang sudah selesai berganti pakaian pun tak sengaja melupakan handphonenya yang ia masukkan kedalam baju jas nya sehingga keduanya tak ada satupun yang sadar akan tanda vital yang digetarkan oleh alat mereka masing-masing. "Kau baik-baik saja?" Zein sudah memegang lengannya yang hampir terjatuh. "Aku tak tahu, kepalaku rasanya sakit sekali." Ucap Alisya sambil terus memperbaiki posisinya dengan tidak memberatkan tubuhnya kearah Zein. "Apakah kau membutuhkan sesuatu?" tanya Zein yang bingung melihat kondisi Alisya seperti itu. Rasa sesak dan sakit dikepalanya membuat Alisya merasakan tekanan yang sangat kuat pada telinganya yang entah kenapa dia yang sudah memakai alat peredam Adith masih bisa mendengarkan semua suara yang ada didalam gedung seni tersebut dengan sangat jelas. Telinga Alisya berdengung yang membuatnya semakin tak nyaman dan jam tangannya berbunyi dengan sangat kencang. Zein yang melihat tanda pada jam tangan Alisya yang sudah melebihi 120 % tersebut semakin bingung dengan terus berusaha menghubungi Karin ataupun Adith. "Karin, mana Alisya? bukannya tadi kalian bersama-sama disini?" Adith yang bingung tak melihat keberadaan Alisya disamping Karin segera mencarinya ditengah keramaian orang yang sedang menonton dengan heboh. "Aku pikir dia ada disini tadi, Zein sama Ryu juga nggak ada!" Karin segera mencari kesana kemari berharap menemukan mereka bertiga. "Ada apa?" tanya Riyan yang baru keluar dari ruang ganti bersama dengan Beni dan juga Yogi. "Sejak kapan mereka tak ada? aku bahkan tak menyadari kepergian mereka!" ucap Rinto juga kaget karena tak menyadari kepergian Alisyam Zein dan juga Ryu. "Maaf, aku juga tidak memperhatikan kepergian mereka." ucap Yumna yang segera menoleh ke arah Arka bertanya dengan tatapan matanya. "Sama! sepertinya kita cari saja di luar. Mungkin saja dia sedang mencari udara segar." terang Arka yang dengan cepat mengajak mereka untuk keluar. Saat Adith sedang mengambil Handphone miliknya yang berada di Jas hitam miliknya yang sebelumnya sempat dipakainya, Adith melihat panggilan telepon dari Zein sebanyak 5 kali. "Bagaimana bisa aku tak menyadari ini?"Adith kaget saat melihat panggilan dari Zein tersebut. "Ada apa?" tanya Karin melihat wajah tegang dari Adith. "Zein sudah mencoba menghubungiku beberapa saat lalu, tapi aku tak menyadarinya." Tegas Adith mencoba untuk menelpon balik Zein. Deringan pertama Zein tidak mengangkat telepon dari Adith hingga sampai pada akhir deringan dan Zein masih belum menyadari panggilan dari Adith. "Jleb....." sebuah jarum yang ditusukkan pada leher Alisya membuat Zein kaget. Namun setelah ia menoleh ia melihat Ryu yang sudah menekan kuat suntikan itu dan membantu Alisya untuk duduk dengan nyaman. "Apa yang sudah kau lakukan? dan dari mana kau mendapatkan itu?" tanya Zein yang bingung dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Ryu kepada Alisya. Namun melihat kondisi Alisya yang secara berangsur-angsur mulai membaik membuat Zein sedikit menurunkan rasa khawatirnya. "Suntikan penenang yang ayah Karin buat khusus untuk Alisya. Alisya memiliki trauma mental yang aku pikir itu takkan pernah muncul kembali, namum untuk berjaga-jaga aku meminta beberapa suntikan kepada Karin. Saat ini mereka takkan bisa mendengarkan panggilan teleponmu karena masih terfokus dengan pertunjukan tarian yang dialakukan oleh Adora dan yang lainnya." Jelas Ryu yang dengan cepat memberikan botol minuman miliknya. "Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Ryu yang tertuduk dihadapan Alisya yang tertunduk masih mencoba menemukan kesadarannya. Suntikan Ryu secara perlahan memang memberikan rasa tenang pada emosi Alisya namun tidak menghilangkan rasa sakit dikepalanya dan rasa sesak didadanya. Handphone milik Zein kembali bergetar yang membuatnya dengan cepat mengangkat telepon yang sekilas bisa ia lihat itu dari Adith. "Dith... Alisya..." Zein bingun bagaimana menjelaskan kondisi Alisya yang saat ini sedang berada dihadapannya. "Dimana kalian?" tanya Adith cepat menerobos kerumunan semua orang. Karin yang melihat wajah serius Adith seketika dengan cepat mengikutinya dari belakang setelah menyuruh Riyan dan yang lainnya untuk tetap berada disana agar tidak membuat yang lain khawatir. Yumna dan Arka yang semula ingin ikut, memutuskan untuk memberikan mereka ruang dan terus mendukung teman-teman sekolahnya. "Sepertinya kau ingin ikut bersama mereka." tanya Arka melihat wajah khawatir dari ekspresi yang timbul di wajah Yumna. "Tidak, meskipun aku sangat mengkhawatirkan Alisya, melihat hanya Adith dan Karin yang mengarah kesana membuatku berpikir bahwa ini mungkin bukan saat yang tepat jika kita berada disana." terang Yumna dengan tersenyum kecut. Meski Yumna baru mengenal Alisya dalam waktu 2 hari ini, ia merasa sudah cukup akrab dengan mereka sehingga ia juga merasakan khawatir kepada Alisya. Namun bagi dia ada batasan bagi mereka yang baru bersama untuk terlibat lebih dalam sehingga ia memilih untuk tetap berada disana. "Kau baik-baik saja?" tanya Adith yang sudah duduk berjongkok dihadapan Alisya dengan ekpresi yang sangat khawatir. "Siapa dirimu sebenarnya Adith? Kenapa aku merasa bahwa kau adalah orang yang sudah lama aku kenali sejak dulu? Kenapa kau terasa begitu dekat dan akrab melebihi ini sebelumnya?" batin Alisya memikirkan semua kejadian-kejadian dimana Adith selalu memberinya sebuah tanda dalam setia tindakannya tepat seperti yang ia lakukan sewaktu di Festifal Hokaido. Melihat wajah Adith, Alisya hanya tersenyum mengangguk pelan. Alisya merasa bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Adith sehingga ia memutuskan untuk mencarinya sendiri. Chapter 241 - Tukang Pamer Alisya yang sudah memutuskan untuk mencari sendiri jawaban mengenai rasa traumanya yang seolah terus berhubungan dengan Adith memilih menyembunyikan apa yang sudah dialaminya kemarin sehinga ia memilih untuk menikmati waktu-waktu kebersamaan mereka seperti saat ini. Namun karena masih memikirkan kejadian tadi siang, Alisya memilih untuk mencari udara segar demi mengembalikan moodnya agar lebih baik. Tak jauh dari tempatnya berjalan, Alisya mendengar bunyi cekitan kaki seseorang yang sedang berada di lapangan basket. Ketika Alisya mendekat, ternyata ia melihat Arka yang sedang bermain basket dengan penuh semangat. Tidak ingin mengganggu, Alisya yang berbalik arah ingin meninggalkan tempat itu dengan cepat merasakan ada sebuah bayangan yang segera mengarah kepada dirinya dengan cepat. Ia menghindar dan menangkap bola basket tersebut. "Mau kemana kamu? kenapa tidak sekalian kita ikut bermain juga?" tanya Adith kepada Alisya yang berdiam diri memegang bola basket tersebut. Alisya menimang nimang bola basket tersebut dari kiri ke kanan dan mengingat kejadian lalu dimana mereka pernah melakukan taruhan dalam pertandingan bola basket dan Adith kalah terhadap Alisya. "Apakah ini sebuah tantangan?" tanya Alisya dengan tersenyum sembari berjalan dan mendribble bola dengan pelan. Ia segera memasuki lapangan bersama dengan Adith. Lapangan basket tersebut benar-benar lapangan basket yang biasanya dipakai untuk para pemain training dalam melakukan latihan sebelum akhirnya mereka melakukan pertandingan yang sebenarnya. "Wow... aku tidak menyangka kalau kalian berdua akan datang kesini." ucap Yumna yang ternyata sudah berada disana sambil menonton Arka yang sedang bermain basket. Yumna nampak memakai jacket cowok yang terlihat kebesaran ditubuh mungil Yumna. "Apa yang kalian berdua lakukan? kenapa kau hanya duduk disini sambil melihat Arka bermain? Kau tidak ingin ikut bermain?" tanya Alisya yang kaget melihat Yumna hanya duduk dengan manis dan tersenyum malu. Alisya tak menyangka kalau Yumna sedang berada disana karena sebelumnya ia tak melihat dirinya yang duduk tidak terlalu jauh dari bibir lapangan. "Aku sudah mengajaknya, tapi dia lebih memilih untuk duduk disana. Melihatmu mendribble bola seperti itu, sepertinya kau cukup ahli dalam bermain basket yah!" ucap Arka yang bisa melihat bagaimana dribble bola yang dilakukan oleh Alisya tampak sangat stabil dan mantap. "Kau akan lihat sendiri, dia justru lebih jago dalam bermain bola basket dibanding dengan diriku. Bahkan aku ingin membalas kekalahanku yang sebelumnya." ucap Adith merebut bola dari tangan Alisya bermaksud untuk menantangnya. Melihat insteraksi hangat antara Alisya dan Adith membuat Yumna tersenyum senang. Mereka yang sedang asyik berbicara satu sama lainnya tiba-tiba saja didatangi oleh beberapa orang yang juga mengarah ke lapangan tersebut. Mereka lalu memandang Adit dan Arka serta Alisya dengan tatapan angkuh dan sinis. "Jika kalian hanya berbicara saja, sebaiknya tinggalkan lapangan ini sekarang juga. Kami ingin memakai lapangan ini untuk bermain." ucap salah seorang dari mereka dengan tatapan sinis. Adith yang tak suka dengan cara berbicara pria itu dengan segera ingin memberikan tanggapan. Namun langsung disela oleh Alisya yang berbicara dengan dingin. "Benarkah??? tapi maaf, kami sudah memakai lapangan ini terlebih dahulu." ucap Alisya dengan tatapannya yang tak kalah angkuh dan senyumannya yang terlihat meremehkan. "Apa dia memang memiliki ke pribadian seperti itu?" bisik Arka yang kaget melihat perubahan ekspresi dan sikap dari Alisya. Meski ia sudah pernah melihatnya sebelumnya sewaktu di resto tersebut, namun Arka cukup kaget saat melihat cara Adith menangani mereka dengan sangat baik dan tidak terlihat bergetar karena takut. "Itu tergantung siapa yang sedang dia hadapi." ucap Adith sambil tersenyum senang. Dia yang sudah terbiasa dengan sikap dingin Alisya tersebut hanya melipat tangannya memperhatikan bagaimana sikap Alisya dalam menghadapi mereka semua. "Alisya keren sekali, bagaimana bisa dia berani berbicara sesantai itu dengan mereka semua?" seru Yumna yang muncul ditengah-tengah Adith dan Arka. Yumna merasa sangat mengagumi Alisya yang tak bergeming meski sedang berhadapan dengan orang-orang yang terlihat cukup sangar. "hahahahah,,, memakai lapangan ini? buat apa menari? atau kau hanya sekedar selfi saja ditempat ini?" ucap seseorang yang lain tertawa dengan angkuhnya. "Kau bahkan sama sekali tak bisa memegang bola dengan benar dan kau bilang sedang memakai lapangan ini?" ucap yang lainnya lagi. "Apa karena dua orang dibelakangmu itu? Yang salah satunya hanyalah seorang tukang pamer dan suka tebar pesona?" ucapnya meremehkan Adith dan Arka. "hahahaha¡­ kalian cukup hebat karena berani berkata seperti itu!!! Jika meremehkan aku mungkin kalian bisa saja benar, tapi kalian sudah salah dengan mengaggap remeh mereka berdua!" Alisya tersenyum sinis. "Puhahahaha¡­ kau piker saya akan kami akan taku dengan mereka berdua?" ucapnya tertawa dengan terbahak-bahak. "Baiklah¡­ aku akan membuktikan bahwa kalian bukanlah apa-apa melainkan hanya sekumpulan orang yang suka menebar pesona saja!" ucap orang pertama yang mengusir mereka terlebih dahulu sebelumnya. "Wow... sepertinya ini akan seru!" Karin datang bersama Ryu dan yang lainnya ingin menyaksikan pertandingan mereka. "Kami hampir saja melewatkan sesuatu yang sangat seru yah..." Adora dengan santainya langsung mengambil tempat duduk dipinggir lapangan. "Dengan ini anggota yang bermain sudah lengkap!" Zein dengan segera berdiri bersama Adith dan Arka. "Oke, sebaiknya aku mengambil posisi yang nyaman juga!" Yumna dengan cepat melangkah menuju Adora dan yang lainnya bersama Karin dan Alisya. "Bisa kita mulai sekarang?" ucap Riyan dengan senyuman menantangnya. "Dengan atau tidak adanya tambahan anggota sekalipun, kalian tentu kalian dapat kami kalahkan dengan mudah." ucapnya dengan nada sombong. Postur tubuhnya yang cukup tinggi dan besar benar-benar terlihat seperti seorang pebasket profesional yang mungkin karena hal itulah dia menjadi bersikap sedikit sombong. Adith dan Arka saling berpandangan dan tersenyum merasa bahwa malam ini akan menjadi sebuah permainan yang sangat menarik terlebih karena mereka mendapat tantangan tak terduga. Di lapangan, Adith bertindak sebagai Shooting guard yang merupakan penembak utama, Arka sebagai point guard karena kemampuannya dalam mendribble bola dan pasing, Ryu yang bertugas sebagai Center, lalu Riyan yang bertidak sebagai power forward karena kemampuan fisiknya saat akan melakukan rebound dan Zein yang akan bertugas untuk menembus pertahanan lawan. Pertandingan itu dimulai dengan lawan yang berhasil merebut bola dengan sangat baik. Mereka dengan cepat melakukan dribbling dan melakukan penyerangan. Arka segera bergegas menghentikan seorang point guard lawan. Tanpa menunggu lagi dia dengan cepat melakukan passing ke arah temannya. Mereka melakukan penyerangan dengan sangat. cepat tanpa memberikan celah untuk Ryu maupun Riyan dan Zein melakukan pertahanan sehingga dengan cepat mereka mencetak skor dengan mudah. Chapter 242 - Pemanasan Setelah selesai melakukan serangan pertama dan mereka berhasil memasukkan bola kedalam keranjang di kelompok Adith dan Karin, kepercayaan diri mereka meningkat tajam yang membuat mereka yakin bahwa Adit dan yang lainnya bukanlah sesuatu yang dapat dijadikan sebagai tandingan mereka. "Hebat,,, caramu melakukan shooting itu sangat keren Dewa"ucap salah seorang dari mereka memuji pria yang posisinya berhadapan dengan Arka. "ternyata apa yang dikatakan oleh orang lain itu tidak benar kalian sama sekali bukanlah tandingan bagi kami." ucap Dewa dengan membuang tawanya yang masih meremehkan. "Riamo, apakah kamu sudah siap untuk melakukan teknik terbaikmu? aku rasa kau tidak perlu menahan diri lebih lama lagi untuk melakukan serangan terbaikmu kepada mereka." ucap Dewa kepada Riamo yang berada di bagian belakangnya. "Apa kau yakin kita akan melakukan teknik itu sekarang, tidakkah itu terlalu cepat?" tanya Riamo kepada dewa yang ia rasa sekarang terlalu sangat gegabah jika mereka sudah mengeluarkan teknik terbaik mereka. "Tentu saja, kita perlu membuktikan kepada mereka bagaimana kemampuan kita yang sebenarnya." tatap Dewa kepada seluruh anggota timnya. Dewa merasa cara bermain Adit dan yang lainnya terlihat sangat amatir. permainan mereka tidak memiliki teknik sama sekali dan hanya berposisi pada pertahanan saja. Dewa sangat ingin mengakhiri permainan mereka secepat mungkin sehingga dengan begitu mereka mampu membuktikan kekuatan mereka yang lebih unggul dibandingkan dengan adil dan yang lainnya. "Bagaimana, apa yang harus kita lakukan? "tanya harga menghadap ke arah Adith. "Untuk saat ini kita tidak perlu melakukan apa-apa, kita hanya cukup mengamati cara bermain mereka sebelum akhirnya kita akan mengambil suatu strategi yang baik dalam menghadapi mereka semua. "ucap Adit yang diarahkan kepada seluruh teman-temannya. Langkah terbaik saat menghadapi musuh yang baru pertama kali bertemu adalah dengan mempelajari terlebih dahulu cara bermain mereka serta tekhnik dan emosi mereka. Arka yang memegang bola segera mendrible bola dengan santai sembari memperhatikan situasi yang ada pada kelompok lawan. Lalu dengan cepat berlari mengarah ke sebelah kanan Riamo yang dengan cepat dicegat olehnya. Tepat saat mata Arka sedang bertatapan dengan Riamo, Dewa dengan lihainya mencuri bola yang sedang di pegang Arka saat melemparnya kebawah sewaktu mendribble bola. Dewa yang menghadap kearah Adit dan menatapnya dengan sangat tajam mulai mendrible bola dengan secara perlahan-lahan, mereka segera bergerak cepat dengan Riamo yang berada di sampingnya. Arka berusaha cukup cepat untuk mencegat Dewa, namun teknik Dewa saat melewati Arka dan berputar melewati Adith segera langsung mengoper bola ke arah Riamo terlihat cukup profesional. Riamo menerima operan bola dari dewa yang sangat cepat bahkan sampai mengeluarkan bunyi yang sangat keras saat menyentuh tangan Riamo. "Waww.. tak ku sangka mereka bermain dengan sangat hebat juga rupanya. Sepertinya mereka tidak hanya membual saja." Karin mengomentari gaya bermain Dewa yang sudah terlihat seperti atlet basket pemain nasional. "Caranya mendribble bola seolah bola itu bersatu dengan tangannya. Apa tangan mereka memiliki lem? Bola basket itu kan besar dan bahkan akan terasa licin, lalu bagaimana cara dia memegang bola tersebut dengan baik?" ucap Yumna yang kagum dengan permainan dari lawan Arka dan yang lainnya. "Sepertinya kau cukup tau banyak soal basket!" tuduh Alisya sambil tersenyum menggoda Yumna. "Aku sering melihat dan mendengar Arka membahas berbagai hal tentang basket, sampai aku bisa menghafal semua hal yang sudah ia beritahukan kepadaku." Yumna menjawab sambil terfokus melihat pertandingan mereka. "Sepertinya pertandingan ini menarik banyak perhatian orang!" ucap Adora melihat daerah sekeliling mereka yang tampak mulai ramai oleh beberapa peserta lomba yang merasa tertarik oleh bunyi cekit di lapangan. "Tentu saja ini sangat menarik, mereka adalah tim terkuat dari SMA Tunggal Ika yang selalu memenangkan pertandingan bola basket tingkat nasional dan selalu berhasil meraih juara pertama." terang Rinto yang duduk memperhatikan Adith dan yang lainnya yang semakin panas dalam pertandingan. "Mereka yang sudah sangat terkenal kuat bertemu dengan SMA elite Cendekia Indonesia yang Timnya belum diketahui kekuatannya ini tentu saja akan sangat menarik banyak perhatian terlebih karena besok adalah pertandingan yang sebenarnya." ucap Yogi yang terlihat sedang memperhatikan sekeliling mereka. "Bagi mereka ini hanyalah sebuah latihan dan pemanasan saja untuk esok hari." tambah Beni lagi duduk disamping Gina menonton dengan nyaman. Riamo masih mendribble bola dengan santai sambil memperhatikan formasi dari tim Adith yang terlihat kacau namun entah kenapa ia melihat sebuah pertahanan yang sangat kuat. "Vino..." Riamo mengoper bola ke arah Vino karena mendapat penjagaan dari Ryu dan Arka, sedang Adith langsung berhadapan dengan Dewa. "Apa ini? pertahanan mereka terlihat biasa saja, tapi kenapa Riamo malah terlihat ragu untuk menembus mereka? apa dia punya firasat yang lain mengenai mereka?" batin Vino mendribble bola dengan pelan memandang Riyan yang berdiri kokoh dihadapannya. Ia terlihat sulit untuk bergerak karena Riyan terus membayanginya. "Pertahanan kalian memang bagus, tapi Riamo adalah orang yang sangat cepat menemukan jalan meski dalam keadaan tertekan sekalipun." ucap Dewa menatap Adith dengan senyum sinis. "Dan kepercayaan diri kalian ternyata sesuai dengan kemampuan kalian. Aku sudah melihat review tentang kemampuan kalian yang tak ku sangka kita akan bertemu di situasi tak terduga seperti ini" setelah berhadapan cukup dekat dengan mereka, Adith kemudian mengingat akan review yang sebelumnya sudah diberikan oleh pak Irhan kepada mereka semua sebelum akhirnya memulai perlombaan bola basket pada hari ketiga. "Tidakkah kau terlalu lambat???" Dewa mundur dari posisinya dan langsung melompat seolah yakin bahwa Riamo akan segera mengoperkan bola kepadanya yang dengan satu lemparan dari Vino, Riamo dengan cepat menangkap dan melemparkan bola basket tersebut ke arah Dewa. Dewa berhasil mencetak angka dari sudut yang cukup jauh sehingga membuat mereka mendapatkan poin 3. "Jika kalian tidak segera bermain dengan benar, maka tentu saja kalian akan dipermalukan sesaat lagi. Pertandingan tidak akan seru jika kalian berakhir dengan dibantai." ucap Dewa yang kembali ke posisinya semula. "Apa kau susah cukup panas sekarang?" tanya Arka kepada Adith yang terlihat mulai mendapatkan ritme bermainnya. "Sepertinya sudah saatnya untuk kita menunjukkan kemampuan kita!" tambah Zein berdiri disamping Adith. "Oke, aku juga sudah merasa cukup pemanasannya, bagaimana dengan tanganmu? Aku tau kau punya teknik super dribling mu itu. Apa menurutmu kau bisa menggunakannya pada lawan seperti mereka?" tanya Adith kepada Arka yang terlihat melemaskan tangannya. "Aku siap kapanpun kamu ingin kita mulai. Mari beri pelajaran kepada mereka." Arka melirik tajam. Chapter 243 - Slam Dunk "Bagaimana dengan kalian? apakah kalian juga sudah siap.. Jika sudah berarti kita akan mulai semua permainannya dari sekarang." Adith melirik ke arah Riyan, Ryu dan Zein. Tanpa dia bertanya pun, Adith yakin kalau mereka sudah mulai ingin beraksi dan memperlihatkan kemampuan mereka. "Oke permainan yang sebenarnya segera akan kita mulai. "ucap Ryan dengan penuh semangat. Riyan sudah tidak sabar untuk melakukan serangannya kepada mereka. Bola segera berpindah ke tangan Arka. Secara perlahan Arka mulai mendribel bola menuju ke arah gawang, namun begitu mereka mulai bergerak anggota dari Dewa dengan segera menghalangi pergerakan mereka satu persatu dengan posisi satu lawan satu saat melakukan defense (Pertahanan). "Jika seperti ini, sepertinya aku akan sulit melakukan operan." Arka melihat ke semua temannya yang sudah mendapatkan penjagaan ketat sembari mendribble bolanya dengan pelan. "Percayalah kepada tim mu jika mereka melakukan defense yang sangat ketat. Ryu yang akan langsung mengambil operanmu dengan cepat. Meski ini hanyalah sebuah permainan biasa, kita perlu membuat mereka sadar bahwa mereka telah melakukan kesalahan besar dengan meremehkan orang lain." Arka mengingat ucapan Adith yang membuat mereka semakin bersemangat sesaat sebelum mereka melakukan serangannya. "Baiklah,,, aku percayakan taruhan kali pada apa yang kamu katakan!" ucap Arka yang membuat Riamo bingun mendengar perkatannya. Dengan sedikit gerakan menggertak yang mempercepat Foot worknya (gerakan kaki), Arka langsung berputar dengan sangat cepat lalu mengoper bola ke arah titik buta lawan yang tanpa diduga oleh mereka, Ryu sudah berada disana. Ryu langsung melakukan pasing dari arah belakang defense yang membuat Vino kaget dan tak bisa melihat kalau bola itu sudah berpindah tangan kepada Riyan. Menerima Passing Ryu, Riyan langsung melakukan Medium Shoot (Tembakan yang dilakukan dari jarak sedang) yang seketika masuk kedalam ring basket setelah berputar mengelilingi mulut ring. "Bagaimana caranya melakukan pasing dari belakang defense?" Vino merasa kecolongan dengan apa yang dilakukan oleh Ryu, "Kepercayaan mereka terhadap tim ternyata cukup kuat juga sehingga mereka tidak ragu untuk memberikan bola kepada siapapun." ucap Riamo yang melihat cara bermain mereka. "Apa yang barusan terjadi? aku bahkan tak bisa melihat dengan jelas gerakan Arka dan Ryu tadi. Begitu aku sadar bolanya sudah berputar di ring basket dan mereka berhasil mencetak poin" seru Gani kaget dengan alur yang terdapat dalam pertandingan tersebut. "Aku tak menyangka Ryu juga sangat ahli dalam bermain basket!" Rinto menatap dengan rasa kagum kepada Ryu. "Hebat, bahkan tembok pertahanan yang selama ini sulit di tembus dapat dengan mudah mereka runtuhkan." ucap seorang penonton melihat permainan itu dengan tatapan takjub. "Siapa mereka? bagaimana mungkin mereka bisa menghadapi tim SMA Tunggal Ika dengan sangat santai?" tambah salah seorang yang lainnya "Aku mengenal mereka, 3 orang itu adalah 3 anggota elit teratas di SMA Cendekia Indonesia yaitu Adit, Zein dan Riyan. Dan yang sedang berdiri berhadapan dengan Adith adalah Arka, kapten dari tim sekolah SMA Satu Nusa. Dia juga merupakan pemain yang sangat handal dalam timnya." seru yang lain dengan tak kalah semangat menjelaskan kepada orang-orang disampingnya. "Lalu siapa orang jepang itu? cara bermainnya bukanlah suatu hal yang patut untuk diremehkan. Sungguh luar biasa rasanya kita bisa menyaksikan pertandingan ini." tambah yang lain yang penasaran akan siapa sebenarnya Ryu. "Hummm... Tidak buruk, aku pikir Ryu tidak begitu jago dalam bermain basket." guman Karin yang masih dapat didengar dengan jelas oleh Alisya. "Jangan terlalu tajam natapnya, mata kamu bisa lepas!" ucap Alisya menggoda Karin yang terus menatap Ryu lekat-lekat. "Sial... apa yang baru saja terjadi?" tanya Bima yang kaget dengan apa yang baru saja terjadi. "Tidak usah pikirkan, tetap lakukan serangan." ucap Dewa mengarahkan teman-temannya untuk segera maju menuju gawang lawannya. "Gerakan mereka cepat sekali..." seru Zein yang tak sempat memberikan defense dengan maksimal. Tepat saat Zein sedang mencoba untuk berbalik, Bima sudah melakukan pasing kearah Dewa dengan sangat cepat dan mencoba untuk melakukan Short Shoot (Tembakan yang dilakukan dari jarak dekat) namun dengan cepat Adith melakukan Block. "Lost ball....." teriak Adith cepat untuk mengingatkan kepada Zein mengenai bola yang lepas kendali. Arka dengan cepat mendapatkan bola tersebut dan berbalik melakukan penyerangan. Seluruh anggota teman-temannya bergegas menyerang secara kompak. "Ayyoooo.... kalian pasti bisa!!!" teriak Adora dengan sangat keras dan penuh semangat. Bola berhasil masuk berkat dari Long Shoot (Tembakan yang dilakukan dari jarak jauh) Arka. Dengan cepat Dewa melakukan serangan balik lagi dengan melakukan passing ke arah Riamo. Riamo berlari mendribble bola dengan cepat namun Ryu langsung melakukan Intercept (Gerakan memotong bola) yang berhasil merebut bola dari tangan Riamo. "Nice..." teriak Zein yang dengan cepat mengambil bola tersebut dan memberikannya kepada Adith. Dengan langkah pasti, Adith langsung melompat sangat tinggi dan melakukan Slam Dunk (Memasukan bola ke dalam keranjang dengan cara melompat). "Waaahhh... kereeeennn..." teriak Akiko dengan sangat heboh diikuti oleh tepuk tangan Yogi dan yang lainnya tak kalah semangat. Permainan pertama berakhir dengan poin 19 sama antara tim Adith dan tim dari Dewa. Mereka segera ke arah bangkuk untuk sekedar mengambil air minum karena tekanan permainan yang cukup kuat membuat mereka mengeluarkan seluruh kemampuan mereka. "Sial,,, kita sudah salah karena meremehkan mereka!" gerutu Bima dengan kesal. "Jika seperti ini kita akan mempermalukan diri kita sendiri." ucap Vino melihat kearah seluruh lapangan yang sudah dipenuhi oleh banyak orang yang menonton. "Bukankah sudah ku katakan untuk tidak membuat masalah sebelum pertandingan?" seseorang datang mendekat. Berjalan mendekat dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku. "Oh... Ar... Maaf, kami hanya melakukan sebuah pertandingan kecil saja." Dewa terlihat gagap begitu melihat Ar datang menghampiri mereka. "Kalian yang hanya cadangan jangan berani merusak reputasi kami." ucapnya dingin dengan tatapan tajam. "Tidak,, kami.... Buuuukkkkkkk!!!!" belum sempat Bima mencoba menjelaskan, Ar sudah menghantamnya dengan sangat keras. Adith dan yang beserta seluruh penonton yang sedang melihat mereka seketika kaget dan menatap bingung. Mereka tidak percaya akan apa yang sedang dilakukan oleh orang yang baru saja datang tersebut. "Apa yang sedang dilakukan oleh pria itu, kenapa dia memukul orang begitu saja?" Yogi menatap kearah pria itu yang secara perlahan berjalan menghampiri mereka semua. "Maafkan kelakukan anggota kami, sebaiknya pertandingan kalian dihentikan sampai disini saja!" tegasnya dengan tatapan dingin. Melihat pria itu datang menghampiri mereka, wajah Alisya seketika menegang yang dengan cepat ia berdiri dari tempat duduknya menggenggam tangan Karin dengan sangat erat. Karin yang bingung dengan cepat memahami ekspresi waspada Alisya yang sedang membuang muka. "Apa maksudnya ini? apa kalian sedang meremehkan kami?" ucap Beni kesal karena pria itu tiba-tiba saja menghentikan permainan mereka. "Tentu saja tidak! Melihat cara kalian bermain, sudah bisa membuktikan bahwa kalian adalah pemain yang handal. Tapi sebaiknya kalian menyimpan tenaga kalian dengan baik saat berhadapan dengan tim Inti kami. Bukan menyianyiakan tenaga dengan bermain sepenuh tenaga dengan para cadangan." Dia tersenyum melirik ke arah Alisya sekilas lalu menatap ke arah Adith. "Cara bicaramu sangat sombong,,, kau..." Gani yang ingin menyelanya dengan cepat dihentikan oleh Adith. Adith mencium aura yang sangat berbahaya dari pria yang berada dihadapannya itu. "Tidak masalah!" ucap Adith singkat tidak ingin berkomentar banyak. "Sampai jumpa pada pertandingan resmi, Aku harap kalian bisa mengeluarkan kemampuan kalian dengan lebih baik dibanding malam ini." ucapnya berbalik pergi dengan tersenyum meninggalkan Adith dan yang lainnya dengan penuh tanda tanya. Dia berjalan melewati Dewa dengan tatapan menusuk lalu dengan tiba-tiba ia berhenti. Dewa yang kaget langsung menjaga jarak karena takuk akan mendapat hantaman dari Ar. "A... Ada apa?" tanya Ar yang menoleh ke arah yang dilihat oleh Ar. "Sepertinya hanya perasaanku saja" gumam Ar langsung melanjutkan perjalananya. Chapter 244 - Ada Aku Bersamamu Dengan perginya Dewa bersama dengan pria yang bernama Ar tersebut, perlahan-lahan orang-orang juga mulai Melihat wajah tegang Alisya yang belum hilang setelah kepergian pria tersebut membuat Karin setengah berbisik kearahnya. "Ada apa? kenapa kau tiba-tiba seperti ini?" tanya Karin dengan memajukan tubuhnya ke arah Alisya. Yumna yang melihat tingkah keduanya pun merasakan ada sesuatu dari ekspresi Alisya yang terlihat kaku dan tegang. "Bawa yang lainnya pergi dari sini sekarang juga. Cepat!!!" tegas Alisya dengan tatapan penuh waspada ke arah Karin. Alisya merasakan ada sesuatu yang tidak beres dari kedatang pria tersebut. Dia seolah mengenali Aura miliknya yang tak asing bagi Alisya. Tanpa bertanya lagi, Karin langsung mengarahkan teman-temannya untuk kembali ke kamar mereka. Karin paham betul, jika Alisya sudah terlihat begitu waspada, maka tentu saja Alisya sedang menyadari akan bahaya yang sedang menghampiri mereka saat ini. "Haaahhh... permainannya sudah berhenti, bagaimana kalau kalian beristirahat saja sekarang. Besok kalian akan melangsungkan pertandingan yang sebenarnya bukan?" ajak Karin kepada Rinto dan teman-temannya yang lain. Karin menatap dengan senyuman canggungnya karena tidak tahu bagaimana menarik perhatian mereka. "Apasih Karin, kalau pertandingannya selesai yah biarin aja. Aku masih pengen lihat Ryu dan Arka main sekali lagi" ucap Adora menolak ajakan Karin. Adora yang masih ingin melihat performa dari Ryu dan Arka menolak untuk balik lebih awal. "Iya nih, kamu kenapa sih? lagi pula ibu Vivian kan sudah memberi izin jika kita kembali pada pukul 10 malam." Emi yang setuju juga segera menolak ajakan Karin. "Dan sekarang belum pukul jam 10 malam. Bisakah kita menikmati malam ini lebih lama dengan melihat pertandingan mereka?" tambah Feby setelah melihat ke arah jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 08 malam. Karin langsung menoleh kearah Adith dan Ryu menampilkan ekspresi yang dapat dengan mudah dipahami oleh mereka. Bahkan Rinto yang tak sengaja melihat keduanyapun langsung merasakan akan ada sesuatu yang tidak beres. "eheemmm... Kami sudah cukup lelah, jika kita tidak pulang sekarang besok bisa jadi kami tidak akan bermain secara maksimal" ucap Rinto cepat setelah memahami situasi yang sedang terjadi sembari menyikut Yogi yang berada disebelahnya. "Benar, sebaiknya kalian juga beristirahat sekarang. Dengan begitu kalian bisa mendukung kami dengan sekuat tenaga esok hari." tambah Ryu dengan suaranya yang tenang dan lembut namun tegas. "Kalian beneran sudah mau selesai sekarang? ini juga belum tengah malam." Arka merasa terlalu cepat jika mereka harus kembali kekamar mereka masing-masing saat ini. "Arka, bawa pergi Yumna dari sini sekarang. Aku tidak bisa menjelaskannya secara lebih rinci, untuk saat ini ku harap kau mau mempercayai aku sekali lagi." tegas Adith setengah berbisik ke arah Arka. Arka yang sebenarnya masih tak paham melihat ekpresi serius dari Adith akhirnya ia memilih pergi. "Aku akan menemuimu di kamarmu setelah selesai mengantar Yumna kekamarnya. Aku tak tahu ada apa, tapi melihat Alisya yang terdiam seperti itu tentu kalian punya sesuatu yang disembunyikan." bisik Arka kepada Adith sembari melirik Yumna untuk segera datang ke arahnya. "Aku tak yakin, tapi aku harap kau tidak ikut terlibat dalam hal ini" Adith tidak ingin membuat siapapun terlibat lebih jauh dengan mereka yang selalu saja berurusan dengan bahaya setiap saat. Terlebih saat melihat ekspresi diam Alisya saat ini. Arka hanya mengangguk pelan dan segera membawa pergi Yumna dari sana. Meski Yumna sedikit bingung dengan apa yang sedang terjadi, Yumna tetap mengikuti langkah Arka. "Ya sudah, kita semua juga balik. Sepertinya kami sudah sangat gerah ingin segera mandi." ucap Adith memancing teman-temannya untuk mau pergi dari tempat itu secepatnya. "Ya sudah.. Kalau begitu kita balik saja sekarang. Setidaknya memang saat ini Adit dan yang lainnya butuh waktu untuk istirahat agar besok bisa lebih fit dalam menghadapi pertandingan." Aurelia yang sudah merasa mengantuk langsung mengikuti arahan dari Adith dan yang lainnya. Mereka secara serentak bergerak pergi dari lapangan menuju ke kamar masing-masing. Ryu menghadap ke arah Adith mengangguk pelan untuk menyerahkan Alisa kepadanya sedangkan mereka dengan cepat bergegas mengantar teman-temannya menuju ke kamar masing-masing. "Apa yang terjadi? Kenapa ekspresimu seperti itu? apakah ada sesuatu yang salah? " Adith segera memegang tangan Alisya untuk memberikan kenyamanan dan mengurangi rasa khawatirnya. "Aku belum bisa menjelaskannya sekarang. Tetapi aku merasakan sesuatu yang tidak beres dari kehadiran pria yang sebelumnya tadi." ucap Alisya setelah kepergian teman-temannya. "Aku memang mencium sesuatu yang berbahaya dari dirinya. Tapi aku pikir itu hanya perasaanku saja." Adith langsung menarik tangan Alisya pergi dari lapangan tersebut menuju ke tempat yang lebih nyaman. "Ya kau benar, tetapi Aura yang dikeluarkannya tidak terlalu kuat, hanya saja aku merasakan sesuatu dari dirinya. Sepertinya akan ada sesuatu yang akan terjadi esok hari, aku takut jika kalian harus berhadapan dengan mereka. Aura yang dikeluarkannya bukanlah Aura yang biasanya dikeluarkan oleh orang biasa pada umumnya." terang Alisya mengingat bagaimana pria tersebut berjalan menghampiri mereka dengan sangat tenang sampai Alisya tak bisa mendengar detak jantung milik pria tersebut. "Kau tak perlu khawatir, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak bertindak gegabah pada esok hari. Kau pasti tau kalau kami sudah memiliki banyak pengalaman terhadap apa yang sudah terjadi selama ini" jelas Adith menggenggam tangan Alisya dan mendudukkannya di sebuah gazebo taman tak jauh dari gedung kamar mereka. "Aku tau, mereka juga takkan berani melakukan hal lebih saat berada dalam pertandingan yang ditonton oleh banyak orang. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau mereka sudah merencanakan sesuatu." jelas Alisya sekali lagi meyakinkan Adith. "Kalau begitu aku akan mencoba mengingatkan yang lainnya. Sekarang biarkan aku mengantarmu ke kamar. Jika kau tak kembali sekarang, mereka pasti akan mengkhawatirkan mu." ucap Adith membujuk Alisya untuk tidak terlalu terbebani. "Adith,,," Alisya terlihat ingin mengatakan sesuatu kepada Adith namun ia berhenti dan terdiam. "Ada apa? apa kamu masih memikirkan kejadian tadi siang?" tanya Adith kepada Alisya karena ia tiba-tiba terdiam. "Emmm.. tidak, bukan apa-apa." Alisya segera berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ingin pergi. "Alisya.. " Adith dengan cepat menahan tangan Alisya. Adith tau akan kegalauan dan ke khawatiran Alisya saat ini, namun melihat dia yang belum membuat Adith hanya tersenyum hangat. Adith secara perlahan mendekati Alisya, mendekatkan wajahnya ke arah Alisya lalu mengecup dahinya dengan hangat yang membuat Alisya kaget dan jantungnya berdetak dengan sangat cepat karena perlakuan Adith yang tiba-tiba tersebut. Chapter 245 - Mati Berdiri Suara teriak sorak-sorakan sudah membanjiri gedung olah raga. Semua gedung terisi penuh dengan berbagai jenis perlombaan yang sengaja panitia laksanakan dalam satu kali kompetisi dengan menggunakan sistem gugur. Dari pagi hari, Adith beserta semua teman-temannya yang lain sudah mengikuti banyak kompetisi. Tidak terkecuali para elit dari kelas IIs. Beberapa dari jenis lomba dapat dimenangkan oleh mereka dengan penuh perjuangan sehingga mereka cukup kehabisan energi. Namun mereka membagi tim dengan sangat baik yang membuat mereka bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat. "Kalian hebat, bisa menyelesaikan pertandingan ini dengan cepat. Apa kalian baik-baik saja? Sedari pagi hari kalian sudah mengikuti banyak kompetisi dan terus menenangkan pertandingan sehingga kalian akan terus bermain sampai babak final" Aurelia datang menghampiri Karin dan Alisya yang berada di ruang ganti yang baru saja menyelesaikan beberapa pertandingan. "Kami baik-baik saja." ucap Alisya tersenyum melihat mereka yang khawatir sekaligus antusias dalam waktu yang bersamaan. "Meskipun melelahkan, kami sangat menikmati saat-saat seperti ini" lanjut Karin sekali lagi sambil menyeka keringatnya dengan handuk. "Terlebih jika kami memiliki tim Sorak paling heboh dan cantik-cantik seperti kalian." goda Alisya yang merasa bersyukur karena Aurelia dan yang lainnya tak berhenti memberi mereka sorakan dan dukungan. "Tentu saja!!! kami mengeluarkan segenap hati kami untuk mendukung kalian semua, tapi maaf karena kami tidak bisa memenangkan beberapa pertandingan yang lain." Gina terlihat sedih karena tak memberikan performa terbaiknya hari itu. "Kau sudah berusaha dengan cukup baik. Dan itu sudah cukup bagi kami." terang Karin memberikan semangat kepada Gina. "Kau tau, terkadang hasil itu tidak begitu penting selama kamu sudah memberikan yang terbaik dan yang terpenting adalah..." Alisya datang menghampiri Gina. "Tidak terluka ataupun cedera!" ucap mereka cepat memotong kalimat Alisya. "Oke, ternyata kalian sudah hafal yah!" ucap Alisya langsung mundur dan tidak jadi mendekat ke arah Gina. Mereka semua tertawa melihat wajah merajuk Alisya yang makin sering mereka lihat dibanding dengan wajah datar dan dinginnya. "Aku membawakan es buah nih, pasti kalian semua sudah kelelahan bukan? Jadi sekarang kalian bisa beristirahat terlebih dahulu disini." Akiko masuk bersama 2 buah termos yang cukup besar dan terlihat berat. "Kau membawa semua ini sendirian? yang lain mana?" Alisya dengan cepat menghampiri Akiko untuk membantunya. "Oh.. yang lain semuanya sedang sibuk, aku hanya ingin sedikit berguna bagi kalian. Lagi pula aku sudah terbiasa melakukan ini sewaktu masih di jepang." jawab Akiko dengan penuh semangat. "Ya sudah, kalau begitu duduklah bersama kami, kita makan es buah ini terlebih dahulu secara bersama-sama." panggil Emi kepada Akiko sambil terus menyediakan es buah itu untuk teman-temannya. Akiko hanya tersenyum dengan aneh karena ia merasa harus menyelesaikan pekerjaannya dengan membawa es buah untuk Adith dan teman-temannya yang lain. Jika tidak, dia akan merasa tidak enak karena sudah membuat mereka menunggu lebih lama. "Jadi kamu mau membawa ini ke ruang ganti para cowok lagi?" tanya Alisya dengan menatap tajam. "A chan... aku kan,," Akiko merengek ingin menyelesaikan pekerjaannya secepatnya. "Baiklah, aku akan membantumu. Dan jangan menolak!" tunjuk Alisya di wajah Akiko. Meskipun Akiko datang ke Indonesia atas kemauannya sendiri, Alisya merasa memiliki tanggung jawab yang penuh sebagai kakak bagi Akiko. Akiko hanya tertawa cengengesan mendapat perhatian lebih dari Alisya yang jarang memberikannya perhatian tersebut. Pasrah karena permintaan Alisya, dia akhirnya hanya mengambil beberapa handuk lain yang bisa digunakan untuk mengganti handuk yang sudah terpakai. "Kalian makanlah dulu es buahnya, aku akan membantu Akiko membawa ini dulu... " kata-kata Alisya terpotong saat melihat teman-temannya sudah penuh semangat menghabiskan es buah mereka tanpa memperhatikan perdebatan antara Alisya dan Akiko. "Wahh.... kadang aku suka menyesal memiliki sahabat seperti kalian." ucap Alisya yang sengaja menyindir kelakuan mereka yang sudah menyantap habis es buah dan bahkan berebutan untuk menambah. "Uwaahhh,, hanya karena satu gelas es buah kata-kata itu bisa keluar dari mulutnya." Karin membeku ditempatnya saat ia sudah bersiap menyendok es buah sekali lagi. "Dia bahkan mengatakan hal semengerikan itu dengan wajah tersenyum." tambah Aurelia juga dengan posisi yang sama dengan Karin. "Aku rasanya ingin menangis mendengar kata-katanya." ucap Emi sembari mengisap sendok plastiknya dengan kuat. "Kenapa tiba-tiba ruangan ini menjadi suram seketika?" ucap Adora merasa seolah ada asap hitam yang tiba-tiba menguap keatas memenuhi ruangan karena kata-kata Alisya. "Sebentar, aku jadi susah menelan. Bagaimana ini?" karena tercekat oleh omongan Alisya, Feby seolah tak mampu menelan es buahnya dengan baik. "Aku merasa bambu runcing sedang bertengger masuk kebagian jantungku. Ada yang sakit tapi tak berdarah." tambah Gina yang memeriksa dadanya secara menyeluruh. Alisya dan Akiko hanya tersenyum penuh kemenangan dan keluar dari ruangan itu tanpa memperdulikan mereka. "Woyyyy... tarik kembali kata-katamu!!!!" teriak mereka secara bersamaan protes dengan ucapan Alisya. Alisya hanya menutup pintu ruangan itu dengan senyuman yang sangat licik sembari perlahan-lahan menutup pintu seperti sebuah adegan psikopat yang baru saja mengeluarkan sebuah ancaman pembunuhan. "Gila, anak itu semakin membuatku merinding!" ucapan Karin seolah listrik yang menjalar ke tubuh mereka yang membuat mereka bergetar merinding secara bersamaan. Alisya pergi meninggalkan suara tawanya yang menggema di seluruh ruang ganti mereka. Bahkan Akiko juga ikut cekikikan karena ulah Alisya. "Meksipun kau berkata seperti itu, aku tau kau pasti sangat bersyukur sudah diberi kesempatan untuk bertemu dengan mereka. Iya kan?" Akiko memandang Alisya dengan hangat begitu mereka selesai tertawa dengan kejam kepada Karin dan yang lainnya. "Benar, jika bukan karena mereka aku mungkin takkan pernah bisa merasakan hari-hari seperti ini. Aku mungkin masih menutup dan mengurung diriku dengan Karin yang harus setiap saat membujukku keluar dari kandang persembunyianku yang kokoh." Senyum Alisya terlihat bagaimana rasa syukurnya yang dalam kepada teman-temannya. "Dan karena kamu tidak bisa menunjukkan perasaanmu dengan benar, kamu jadi mengeluarkan kata-kata yang cukup sadis dan kejam. Terlebih kata-kata itu seolah terdengar sangat manis karena ekspresi dan kata-kata yang keluar dari mulutmu sangat bertentangan dengan ekspresi wajah penuh syukur mu itu." terang Akiko sambil berjalan sedikit lebih cepat untuk menghindari pukulan Alisya karena dirinya yang berkata dengan apa adanya. "Sepertinya kau sudah semakin dewasa yah... kemari kau, jangan berusaha menghindariku." panggil Alisya karena Akiko semakin mempercepat langkahnya. Alisya merasa sangat gemas karena mendengar Akiko bisa mengatakan yang dirasa Alisya biasanya dilakukan oleh orang dewasa pada umumnya. "Uwaaa..." Akiko yang panik berlari dengan sepenuh hati karena tak ingin tertangkap oleh Alisya. Secepat kilat Akiko berbelok dan berlari masuk kedalam ruang ganti para laki-laki. Melihat perjuangan Akiko yang sedang melarikan diri semakin membuat Alisya ingin menangkapnya sehingga dia juga memperlebar langkahnya untuk bisa menangkap Akiko dan memberinya pelajaran. Begitu sampai, Alisya yang tidak melihat keberadaan Akiko dengan cepat masuk kedalam ruang ganti para laki-laki. Ia tidak tahu kalau Akiko berbelok ke arah kiri sedang dia berbelok ke arah kanan mengira kalau posisi ruang ganti mereka akan sama dengan ruang ganti milik pria. Alisya berjalan pelan sambil memeluk termos yang berisi es buah yang cukup penuh. Ia sengaja mengendap-endap untuk memberikan kejutan kepada Akiko dan mengerjainya. Begitu ia sudah berada pada lorong loker terakhir, Alisya melihat Adith yang sedang bertelanjang dada untuk mengganti pakaiannya. Alisya membeku seketika seolah tubuhnya tidak bisa bergerak dan membelalakkan matanya karena kejadian hal tersebut. Otaknya tiba-tiba kosong dan masih loading memproses apa yang sedang terjadi sehingga kakinya yang seharusnya bergerak dan pergi dari tempat itu tak mampu melangkahkan kakinya. Alisya menelan ludahnya dengan susah payah dan jantungnya yang tak bisa berhenti berdetak dengan cepat. "Eh busettt,,, Woy jantung!!! pelan-pelan napah... Bisa mati berdiri saya gara-gara roti sobek! eh apa?" otak Alisya makin tidak logis. Chapter 246 - Barang Bagus Adith yang sedang berganti pakaian tak mengetahui kalau Alisya sedang berada disana. Dia dengan santai menyeka keringatnya karena hari itu sangatlah panas. Alisya melihat bagaimana tubuh Adith yang terlihat lebih berotot dibanding dengan sebelumnya, Otot-ototnya terlihat sangat kokoh. Bahunya yang lebar, dadanya yang bidang dan perutnya yang sixpack membuat Alisya tak bisa mengalihkan pandangannya karena tubuhnya begitu indah. Seolah terpahat dengan sempurna bak porselen mahal yang terawat dengan baik. "Dilihat dosa, nggak di lihat barang bagus!" gumam Alisya dengan matanya yang terpana. Ia dengan cepat menutup mulutnya dan ingin menghindar pergi sebelum ketahuan oleh Adith, namun termos es buah yang di peluknya malah mengenai loker dengan sangat keras. Adith langsung menoleh karena itu sedang Alisya dengan cepat menutup wajahnya menggunakan termos es buah yang di pegangnya. Melihat itu Adith langsung gemas dan menutup lokernya dengan keras serta melangkah perlahan-lahan. "Nggak mau lihat barang bagus???" goda Adith yang mencoba melihat wajah Alisya yang sudah memerah malu setengah mati kedapatan oleh Adith. Apalagi Adith mendengar apa yang baru saja dia gumamkan. "Pengen Ngillaaanng!!!" teriak Alisya dengan menekan suaranya berdesir kuat. Adith yang menari termos es itu agar bisa melihat wajah Alisya, namun Alisya masih terus berusaha mempertahankan diri. "A... aku tidak melihat apapun,!" ucap Alisya dengan suara gugup dan terbata-bata. "Benarkah? bukankah kamu tadi bilang barang bagus?" Adith membuat Alisya menempel di loker dengan termosnya yang berat. "Termos,,, itu termos ini yang barang bagus! Aku pergi dulu." ucap Alisya cepat ingin segera melarikan diri dari sana secepat mungkin. "Bukankah kau tadi mengintip ku sedang membuka celana?" goda Adith lagi tak ingin melepas Alisya dari sana. Telinga Alisya seketika panas karena perkataan Adith. "Apa? kau bahkan belum sempat membuka celana. Jangan berbicara yang tidak-tidak." bantah Alisya cepat tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Adith. Alisya menurunkan termos itu dari wajahnya dan menatap Adith tajam namun malah matanya semakin membesar karena melihat tubuh Adith. "Berati benar, kamu melihat tu.. buh ku tadi?" Adith kembali melirik ke arah tubuhnya yang masih belum memakai baju karena kedatangan Alisya. Alisya kembali menaikkan termos itu untuk menutupi wajahnya. "Sepertinya kau sedang sengaja sekarang yah.." Alisya mulai kesal dengan tingkah Adith sehingga dia dengan cepat melangkah pergi namun Adith menahan termosnya. Karena jengkel, Alisya langsung melepas termos itu yang membuat Adith kaget dan menangkap termos itu dengan cepat. "Kauu!! mau ke ma.. na? Kenapa termos ini berat sekali? Aku mengira tadi isinya tidak Ada!" ucap Adith yang tak menyangka kalau termos yang sedang di pegang Alisya itu ternyata lumayan berat. "Akiko,,, aku akan membunuhmu!. Awas kau kalau aku sampai menemukan..... mu!" ucapan Alisya terpotong saat ia melihat Riyan menuju kearahnya yang membuat dia harus berputar balik dan bersembunyi. Ia yang baru saja ingin pergi dari hadapan Adith kembali dengan cepat dan bersembunyi. Meski ia tidak sengaja berada di ruang ganti laki-laki, tetap saja salah jika Riyan melihat dirinya berada disana. Itu akan membuat dirinya terlihat sangat aneh sehingga ia harus bersembunyi. "Adith, kau melihat Alisya tidak???" tanya Beni sambil berjalan mendekati Adith. Mendengar suara Riyan, dengan cepat Adith membuka satu pintu loker untuk bisa menyembunyikan Alisya di balik loker dan dirinya. "Oh,, iya. Tapi dia hanya menitip ini saja tadi, setelah itu dia langsung kembali ke ruangannya." ucap Adith cepat sembari menyerahkan termos itu dengan menggesernya menggunakan kakinya agar ia bisa tetap berada di tempatnya menutupi Alisya. "Kenapa dia hanya menaruhnya padamu? lalu apa yang kau lakukan disini? kau termos ini dengan tampilan seperti itu?" Riyan yang curiga merasa ada yang aneh dengan tingkah Adith saat itu. Karena penasaran, Riyan dengan segera mencoba mengintip di balik loker yang sedang dibuka lebar pintunya oleh Adith. "Tentu saja tidak, aku akan mengganti pakaianku sebelum menuju ketempat kalian untuk memberikan termos ini" Adith berkata sambil terus berusaha menutupi penglihatan Riyan. Begitu melihat kebelakang loker tak ada siapapun, Riyan langsung mengerutkan keningnya. "Aku pikir ada apa dengan sikap anehmu itu!" terang Riyan langsung mengambil termos tersebut. "Pakailah bajumu dan kembali ke ruang tunggu agar kita bisa makan es buah ini bersama-sama." terang Riyan sembari berjalan pergi dari sana. Adith bingung tak menyangka kalau Alisya sudah tak berada disana, sehingga ia dengan cepat mencarinya dan dari kejauhan ia melihat sepatu Alisya yang sedang bersembunyi di sisi loker yang berada di ujung ruangan dekat tembok. Adith tersenyum melihat Alisya yang menunduk menutupi wajahnya karena takut ditemukan dan takut jika Riyan berhasil melihatnya disana. Adith duduk setengah berjongkok di hadapan Alisya dan menaruh tangannya ke dinding di samping kepala Alisya. "Kau mau sampai kapan disitu untuk mengintip ku?" tanya Adith sembari memandang ke arah Alisya. "Ini semua karena kau..." Alisya mengangkat wajahnya yang langsung saja ia hentikan karena wajah mereka hampir bertemu saat ia mendongak ke atas dengan cepat. Wajah Alisya seketika memerah seperti udang rebus dengan telinga yang memanas karena wajah Adith yang sangat dekat dengannya. Jantungnya yang berdebar kencang membuatnya dengan cepat menekan dadanya karena merasa jantungnya segera copot. "Bi.. bisakah kau menjauh dariku??" Alisya semakin menempelkan kepalanya ke arah dinding untuk menghindari tatapan Adith yang menusuk tajam. "Kenapa? bukankah kau sangat ingin melihatku tadi? sekarang barang bagus ini sedang berada dihadapan mu dan kau malah berpaling?" goda Adith yang terus saja merasa gemas dengan tingkah Alisya. "Ber... berhentilah menggodaku!" Alisya mendorong tubuh Adith dengan sangat kuat yang membuat Adith terjatuh kebelakang. Alisya yang kaget berusaha untuk memegang tangan Adith yang membuatnya ikut terbawa oleh berat tubuh Adith dan jatuh tepat diatas dada Adith yang bidang. "ehemmm.. jika kau terus terbaring seperti itu di dadaku, aku takut hal yang berbahaya akan terjadi." ucap Adith yang berdebar kencang karena merasakan hawa panas dari hidung Alisya yang menyapu tubuhnya. Alisya yang sadar langsung terbangun dengan cepat dan menghindari Adith. Tanpa memperdulikan Adith yang masih terbaring disana, Alisya langsung berlari keluar dari ruangan mereka dengan cepat. "Anak itu benar-benar semakin sering menggoda ku. Awas saja kau nanti, aku akan membalas mu suatu saat nanti. Tunggu saja pembalasanku!" ucap Alisya yang terhenti sejenak diluar ruangan sebelum akhirnya ia melangkah pergi dari sana. Alisya kesal karena sikap Adith yang selalu saja menggodanya yang membuatnya memikirkan rencana untuk membalasnya. Chapter 247 - Aku Ikut Bersamamu Alisya yang kembali ke ruang tunggu mereka dengan segera menghampiri Karin dan yang lainnya yang masih menunggu dirinya. Disana sudah ada ibu Vivian bersama Akiko. Ingin sekali rasanya Alisya menangkap Akiko disana yang karena dia Alisya harus menghadapi kejadian memalukan seperti tadi. "Kau dari mana saja? bukannya kalian berdua pergi bersama tadi?" tanya Karin yang bingung saat melihat Akiko kembali hanya sendirian saja saat ia seharusnya bersama Alisya. "Berkat seseorang aku harus tersesat di suatu tempat." tatap Alisya gemas ke arah Akiko. "Pertandingan final kita akan dilaksanakan pada malam hari dengan begitu kita bisa beristirahat dan menyaksikan pertandingan dari Adith dan yang lainnya." ucap Karin setelah mendapat informasi dari ibu Vivian. "Berarti Adith sudah berhasil menang dari sekolah Arka?" ucap Alisya yang mengingat bahwa Adith mungkin saja sudah berhadapan dengan dengan Adith dan yang lainnya. "Tidak, mereka tidak berhadapan dengan sekolah kita. Mereka berhadapan dengan sekolah lain dan mendapatkan kekalahan yang cukup merugikan." terang Karin tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. "Lebih tepatnya sekolah Arka berhasil dikalahkan dengan sangat brutal oleh tim dari sekolah SMA Tunggal Ika. Arka bahkan harus dilarikan ke UKS karena cidera yang dia alami." ucap ibu Vivian dengan tatapan penuh khawatir. "Apah?? mereka bukannya melawan sekolah kita tapi malah berhadapan dengan sekolah SMA Tunggal Ika?" tanya Alisya sekali lagi untuk memastikan ucapan ibu Vivian. "Benar, ibu sangat khawatir karena bisa jadi Adith dan yang lainnya akan mengalami hal yang sama karena mereka. Lawan mereka itu bahkan melakukan segala cara untuk menang." jelas ibu Vivian dengan wajah yang sangat khawatir. "Kalau begitu kita harus mengingatkan mereka dan mengehentikan mereka. Bukannya berdiam diri disini dan membiarkan mereka terluka karena hal tersebut." Alisya dengan cepat berbalik ingin memberikan peringatan kepada mereka. Ia ingat betul bagaimana Aura berbahaya yang diciptakan oleh pria yang semalam dilihatnya. Karin langsung menghentikan Alisya. "Ibu Vivian dan pak Irhan juga sudah menghentikan mereka, tapi mereka memutuskan untuk tetap berhadapan dengan tim dari SMA Tunggal Ika." ucap Karin agar membuat Alisya paham akan keputusan yang sudah di ambil oleh mereka. "Adith bahkan sangat marah saat mendengar bahwa Arka dan teman-temannya terluka parah karena permainan mereka melawan SMA Tunggal Ika tersebut, sehingga ia menjadi sangat ingin memberikan mereka pelajaran atas perlakuan mereka itu." ucap Vivian mengingat bagaimana kelamnya wajah Adith saat mendengar tentang Arka yang terluka. "Kenapa aku tidak menyadarinya?" gumam Alisya yang langsung berbalik ingin pergi menemui Adith namun kemudian ia terhenti. Jika ia kesana sekarang, kemungkinan besar ia hanya akan membuat Adith merasa tak berharga atau tak berguna. Alisya menyesali dirinya yang tak bisa mengetahui perasaan Adith sedang Ia malah hanya memperdulikan dirinya sendiri. Alisya kemudian bisa memahami mengapa Adith terus menggodanya sebelumnya. Adith berusaha menghibur dirinya dan mengusir amarahnya untuk menenangkan diri agar tidak terlalu terbawa emosi saat melakukan pertandingan nanti. "Kapan pertandingan mereka akan dimulai?" tanya Alisya kepada ibu Vivian. "Sekitar sejam lagi dari sekarang, kamu mau kemana?" tanya ibu Vivian merasa curiga akan apa yang akan dilakukan oleh Alisya. "Jangan khawatir, aku tidak akan pergi mencegat Adith. Karena dia sudah memutuskan untuk melanjutkan pertandingan itu maka aku akan mendukung nya dengan sepenuh hati." ucap Alisya dengan penuh keyakinan sembari melepas baju olah raganya dengan cepat dan berganti pakaian dengan nyaman. "Lalu kau mau kemana dengan terburu-buru seperti itu?" tanya Adora dengan tatapan bingung dengan apa yang sedang dilakukan oleh Alisya. "Aku akan mengunjungi Arka, setidaknya aku ingin memastikan bagaimana keadaanya sekarang." tegas Alisya yang sudah kembali memakai sepatunya dengan cepat. "Arka mungkin sudah dibawa ke Rumah sakit saat ini untuk mendapat perawatan lebih lanjut, kau tidak akan sempat jika kau harus kembali kesini dalam waktu satu jam!" ucap ibu Vivian mengingatkan Alisya. Jarak antara Rumah sakit dengan tempat mereka berada saat ini memang cukup jauh terlebih karena area tempat pelaksanaan itu yang sangat luas. Belum lagi dengan kemacetan yang mungkin saja ia dapatkan saat keluar dari sana. "Adith memiliki kendaraan yang ia parkir didekat asrama. Aku akan memakai itu dan kembali kesini dengan tepat waktu untuk menonton pertandingan mereka." ucap Alisya mengingatkan mereka akan motor yang tak sengaja dibeli oleh Adith saat mereka harus terburu-buru menuju ke tempat pembukaan beberapa hari yang lalu. "Aku ikut bersamamu." Karin menawarkan diri dengan cepat untuk ikut bersama Alisya. "Tidak perlu, aku ingin kamu disini untuk memastikan keadaan teman-teman yang lain. Hanya kau yang bisa aku percaya untuk menjaga dan melindungi mereka. Kau ingat pria yang semalam bukan? aku ingin kau membuat teman-teman tidak berpapasan dengan mereka." tegas Alisya dengan tatapan serius. Karin terdiam sejenak sebelum akhirnya mengikuti ucapan Alisya karena takut bahwa teman-teman mereka mungkin akan mendapat masalah atau dalam bahaya jika dia dan Alisya pergi. "Baiklah, kalau begitu kembali tepat waktu dan berhati-hatilah" ucap Karin mengingatkan Alisya dan pasrah dengan keadaan mereka. "Tentu saja!" tunjuk Alisya pada telinganya yang ia maksudkan untuk mereka bisa menghubunginya jika terjadi sesuatu. Alisya langsung pergi setelah berpamitan kepada ibu Vivian dan teman-temannya. "Kau yakin membiarkan Alisya pergi?" tanya Aurelia yang merasa bahwa keputusan Alisya pergi saat pertandingan akan dilaksanakan itu adalah suatu kekeliruan. "Kau tau Alisya bisa memenuhi janjinya kan? aku percaya dia akan kembali tepat waktu!" tegas Adora yang langsung bersiap membantu Akiko menyiapkan beberapa barang untuk pertandingan Adith dan yang lainnya. Alisya yang sudah berlari dengan sekuat tenaga keluar dari gedung dengan cepat. Tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya saat menyadari akan seseorang yang sedang berada dibelakangnya. "Keluarlah, bagaimana bisa kau berada disini dan aku tak menyadari kehadiranmu?" tanya Alisya saat ia tak menyangka kalau Omega juga berada ditempat itu. "Tentu saja kau takkan menyadarinya, aku baru bergabung hari ini karena mengikuti pertandingan olahraga yang tak kusangka kita tidak dipertemukan pada perlombaan tersebut." ucap Omega muncul dari persembunyiannya. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Alisya yang merasa kalau Omega sedang berada disini, maka bisa jadi bahwa orang yang semalam itu adalah Artems. "Awalnya aku tidak begitu tertarik untuk mengikuti perlombaan ini, namun begitu mendengar bahwa kau menjadi salah satu pesertanya aku jadi tertarik untuk ikut. Dan coba tebak hal menarik apa yang sudah aku temukan disini?" pancing Omega sambil melirik ke arah Alisya yang matanya segera bergetar marah. Chapter 248 - Unit dan Arya Alisya menatap ke arah Omega dengan tatapan mengerikan. Tatapan Alisya terlihat sangat marah dan sarat akan kebencian terhadap Black Falcon dan kepada mereka yang sudah melakukan hal buruk kepada teman-temannya. Meskipun bukan terhadap Omega, dengan kemunculannya ditempat itu bisa menjadi tanda akan keterlibatan dari Black Falcon. Dan Alisya sudah merencanakan sesuatu yang sangat mengerikan karenanya. "Apa yang kau maksud adalah Artems? Apa dia ada disini? apa ini semua ada hubungannya dengan Black Falcon?" tanya Alisya sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Artems??? apa karena mereka memanggilnya Ar sampai kau berpikir bahwa itu Artems?" tanya Omega kembali kepada Alisya. Tak menjawab dan hanya menatap dalam diam, Omega akhirnya menarik nafas dalam-dalam karena tatapan Alisya. "Kau memang benar, kalau ini semua ada hubungannya dengan Black Falcon. Tapi kau salah mengira jika dia adalah Artems. Dia bukanlah Artems seperti yang kau fikirkan, tetapi semua adalah unit yang dikeluarkan oleh Black Falcon karena kejadian terakhir kali saat kau berhasil membunuh Ophelia." ucap Omega dengan penuh semangat merasa sangat senang karena Alisya berhasil membunuh salah seorang dari mereka. "Unit? apa maksudmu? Black Falcon belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Apa karena mereka melakukan itu untuk memaksaku keluar dari persembunyian ku?" tanya Alisya yang mengira-ngira semua kemungkinan yang bisa terjadi karena Black Falcon tidak pernah bergerak secara terang-terangan sebelumnya. "Hummm... Yup benar sekali, taraaaa" Omega bertepuk tangan seolah Alisya telah berhasil menebak sebuah kuis. "Mereka memang masih belum menemukanmu, begitupula dengan Unit yang sudah Black Falcon keluarkan. Namun semalam sepertinya salah satu dari mereka mulai merasakanmu diantara beberapa orang perempuan semalam. Ia yang awalnya ragu jadi ingin memastikan dengan melakukan pertandingan yang sangat berat kepada teman-temanmu." terang Omega panjang lebar. "Berapa banyak yang sudah dikeluarkan oleh Black Falcon hanya untuk menangkap ku? Kenapa mereka melakukan banyak hal hanya untuk menemukanku? Selain itu apa tujuanmu sebenarnya membocorkan informasi mereka terhadapku?" tanya Alisya yang melirik dengan tajam ke arah Omega yang terus saja mengelilingi dirinya. "Aku tidak tau berapa banyak yang sudah dikeluarkan oleh mereka, tapi mereka semua bukanlah lawan yang mudah bagi teman-temanmu. Black Falcon tidak ingin kau membocorkan informasi mengenai mereka dan berbalik menyerang mereka. Selain karena kemampuanmu itu, mereka juga masih sangat ingin meneliti tubuhmu yang sepesial itu. Dan aku juga terobsesi kepada mu, oleh karena itu aku dilatih dengan sangat berat untuk membunuhmu." terangnya masih dengan posisi mengelilingi Alisya dari depan hingga belakang. "Lalu apa yang membuatmu terlihat sedang menikmati semua pertempuran kami dibanding menghadapiku atau membunuhku secara langsung?" Alisya masih tidak mengerti bagaimana pola pikir Omega yang sebenarnya. Dia memiliki banyak kesempatan untuk membunuhnya, namun hingga kini tak ia lakukan. "Bukankah sudah ku bilang bahwa aku tak tertarik untuk membunuhmu saat ini. Mereka hanyalah pion yang dapat membantuku untuk membangkitkan dirimu yang sedang tertidur saat ini. Aku bisa melihat bahwa kau memiliki lebih dari apa yang ada sekarang, terlalu mudah untuk membunuhmu sekarang dan aku tak suka itu." terang Omega yang dengan perkataannya seperti itu ia langsung pergi dan menghilang. Alisya yang masih ingin bertanya banyakpun terpaksa menyerah. Mungkin benar apa yang sedang dikatakan oleh Omega, dia yang saat ini begitu rapuh tidak akan mungkin bisa menang melawannya. Ketika semakin banyak yang harus di lindungi, makan akan semakin rapuh orang tersebut terlebih jika dia masih memiliki banyak keraguan dalam hatinya. Tak berpikir panjang lagi, Alisya segera berlari menuju motor Adith yang terparkir dan memngendarainya dengan sangat kencang. Begitu ia sampai di Rumah Sakit tempat Arka di rawat, setelah bertanya pada perawat yang bertugas Alisya melihat Yumna yang baru saja masuk entah dari mana. Alisya dengan segera mengikutinya masuk kedalam ruangan dan terkejut melihat seseorang yang sudah dalam keadaan dipenuhi dengan perban pada bagian kakinya dan Gips pada bagian lehernya. "Arka... Apa dia baik-baik saja? Bagaimana keadaanya sekarang? Maaf karena aku kalian jadi seperti ini. Aku sangat minta maaf..." ucap Alisya cepat kepada Yumna yang melihat dengan tatapan bingung. "Huhhh??" mereka serentak menoleh bingung dengan apa yang dikatakan oleh Alisya termasuk orang yang lehernya sedang di gips harus bersusah payah saat menoleh. "Dia bukan Arka??? Arka dimana Yum?" tanya Alisya lagi setelah mengenali kalau pria tersebut bukanlah Arka. "Jika kau se khawatir itu, orang akan mengira kau sudah jatuh cinta padaku dan kau akan membuat Yumna jadi cemburu karenanya." ucap Arka dari balik tirai yang berada diranjang sebelah. Arka yang membuka tirai menaik turunkan alisnya menggoda Alisya yang membuat Yumna tertawa dan Alisya memerah malu. "Kau baik-baik saja? Bagaimana keadaanmu?" tanya Alisya cepat berpindah kedepan ranjang Arka. "Oy,,, denger nggak sih orang ngomong apa?" ketus Arka karena Alisya malah mengabaikannya. "Plakkkk,,, kau pikir Yumna akan percaya dengan apa yang kamu katakan? AKu sudah punya seseorang yang sepcial dihatiku dan itu adalah...." Alisya langsung teringat bagaimana hari ini emosinya sudah mulai gampang sekali meledak-ledak sehingga kadang ia tidak bisa mengontrol mulutnya sendiri. "Adith??" Ucap Yumna dan Arka bersamaan dengan tersenyum menyindir Alisya yang memang dari awal mereka juga sudah mengetahuinya. "Tutup mulutmu!!!" bentak Alisya dingin. "Galak amat, pantesan saja Adith...." Arka tidak melanjutkan kalimatnya karena Alisya sudah menunjukan kepalan tinjunya. "hahahaha,,, kamu tau dari mana kami ada disini?" tanya Yumna cepat sembari memberikan kursi kepada Alisya untuk dia duduk tenang terlebih dahulu. "Ibu Vivian yang memberitahuku. Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kalian mengalami ini semua?" tanya Alisya melihat Arka yang tidak begitu mengalami cidera, namun melihat kakinya yang dibalut membuat Alisya tetap merasa bersalah karenanya. "Kau ingat pria terakhir yang datang ke pertandingan malam itu dan menghentikan pertandingan kita melawan dewa?" tanya Arka dengan tatapan menyelidik yang dianggukan pelan oleh Alisya. "Dia ternyata adalah Kapten basket tim Inti SMA Tunggal Ika dan mereka memanggilnya Arya. Malam itu kami cukup kesulitan untuk melawan Dewa dan teman-temannya yang lain meskipun mereka hanyalah cadangan dalam tim mereka. Namun kemampuan mereka bahkan berada jauh dibawah tim inti yang sebenarnya." lanjut Arka yang Alisya dan Yumna terdiam mendengarkan penjelasan Arka. "Awal pertandingan semua baik-baik saja sampai tiba-tiba Arya bertanya kepadaku apakah aku mengenali seseorang perempuan yang memiliki tahi lalat berbentuk bintang pada bagian bawah telinganya. Aku sempat berfikir mengingat semua orang-orang yang pernah aku temui tak memiliki tahi lalat itu sampai aku mengingat kejadian malam itu dimana kamu terlihat sedang menyembunyika sesuatu. Aku yang berkata tidak ternayata malam membuatnya semakin curiga." ucap Arka mengingat semua kejadian yang begitu cepat terjadi. "Setelah itu aku melihat mereka berdua serentak melihat kearahku yang sesaat kemudian aku melihat Arka terlihat sangat marah karenanya." terang Yumna saat melihat bagaimana ekspresi marah dari Arka. "Apa yang dikatakannya padamu?" Alisya menggenggam tangannya dengan sangat kuat menekan amarah dan auranya. "Dia mengancamku dengan melibatkan Yumna jika aku tidak memberinya jawaban yang bagus. Meski begitu aku juga tidak bisa mengorbakan temanku hanya demi keselamatan Yumna, karena aku yakin bahwa jalan yang terbaik adalah dengan melindungi kalian berdua. Aku tau kita belum lama bertemu, tapi bukan berarti aku adalah sampah. Pertandingan itu kemudian menjadi lebih brutal dan keras!" jelas Arka lagi sembari tersenyum kecut kepada Alisya "Kami yang berada dikursi penonton bahkan tak bisa mengatakan hal itu sebagai pelanggaran karena cara mereka yang bermain cukup halus. Arka dan yang lainnya malah terlihat seperti sedang beracting yang lama kelamaan para panitia mulai jengah dengan sikap mereka. Namun pertandingan tetap berlangsung hingga akhir dengan skor yang memilukan. 30 untuk sekolah SMA Tunggal Ika dan 5 poin dari SMA Satu Nusa." tambah Yumna sendu. Chapter 249 - Ingat Tujuan Kita "Priiiit priiiittt prrriiiit...." bunyi pluit tanda pertandingan pertama segera dimulai. Adith masih belum bisa memfokuskan dirinya karena tidak bisa melihat Alisya dimanapun di tempat kursi penonton. Hanya ada Karin dan yang lainnya disana bersama dengan ibu Vivian. "Akiko, Alisya dimana? kenapa dari tadi aku belum melihatnya?" teriak Adith kepada Akiko yang berada di kursi dekat pelatih mereka. "Alisya tadi pergi ke Rumah sakit untuk menemui Arka, seharusnya dia akan kembali dalam beberapa saat lagi." jawab Akiko setengah berteriak mendekatkan diri ke pinggir lapangan. "Adith, kau harus memfokuskan dulu pikiranmu pada pertandingan ini. Aku yakin Alisya akan kembali secepatnya. Jangan buat dia kecewa dengan sikapmu yang seperti itu." ucap Zein mencoba mengingatkan Adith yang masih terus melihat ke arah luar lapangan saat mereka sudah siap bermain. "Ingat tujuan kita untuk tetap melanjutkan permainan ini." tegas Riyan menepuk pundak Adith dengan keras untuk menyadarkannya. "Sepertinya kalian akan berakhir sama dengan teman-temanmu yang sebelumnya." ucap seorang lawan yang sebelumnya belum pernah mereka temui. "hahahahahah.. kita akan mengalahkan mereka dengan telak seperti sekolah SMA Satu Nusa. Apakah kita perlu membantai mereka dengan skor 50 : 5?" ucap Bima dengan tatapan merendahkan. "Apa maksudmu???" Riyan yang marah langsung menghampiri Bima dan ingin memberi mereka pelajaran. Riyan seketika panas mengingat Arka yang mengalami cedera yang parah karena pertandingan melawan mereka. "Ryan, hentikan.. kau akan mendapatkan sanksi jika melakukan serangan terlebih dahulu." Adith menghentikan Riyan untuk tidak melakukan hal yang ceroboh sebelum pertandingan. "Apakah mereka tim inti? aku hanya mengenali si kapten itu yang sudah pernah kita temui pada malam itu. Dia terlihat cukup tenang dan santai." tambah Zein memperhatikan orang yang mereka ketahui di panggil dengan sebutan Ar sebelumnya. "Sepertinya begitu, tetapi mereka hanya menampilkan sebagian dari timnya sebab Bima yang seharusnya nya seorang cadangan sudah dimainkan pada babak pertama. Aku rasa mereka ingin melihat kemampuan kita terlebih dahulu sebelum akhirnya melaksanakan rencana mereka." ucap Adith menganalisa situasi yang sedang mereka hadapi saat ini. Begitu mendapat tanda dari wasit mereka segera langsung melakukan pertandingan pertama. Bola berhasil direbut oleh tim dari sekolah SMA Tunggal Ika. Zein yang mencoba merebut bola tampak terlempar dengan sangat jauh dan itu tidak terlihat seperti mereka telah melakukan pelanggaran. "hahahahaha... apa itu hanya dengan sedikit senggolan sudah membuatmu terlempar seperti itu, Bukankah kau terlihat lebih lemah hanya karena sedikit dorongan?" ucap salah seorang dari mereka yang belum diketahui namanya. "Raffa,,, berhentilah bermain-main dan lakukan tugasmu dengan serius." ucap Arya dengan tatapan tajamnya yang seketika membuat Raffa tersenyum sini. Raffa dengan cepat mendribble bola menuju ke gawang milik Adith setelah menerobos pertahanan dari Riyan dan Ryu dengan mudah. Tepat berhadapan dengan gawang, Rinto mencoba memblokir Raffa namun hal yang sama pada Ryu terjadi padanya. Rinto terlempar dengan sangat keras ke arah tiang Ring. "Apa yang baru saja terjadi? kenapa kamu bisa terlempar seperti itu? bahkan Ryu juga mengalami hal yang sama!" tanya Riyan yang bingung dengan apa yang sedang terjadi kepada mereka. "Aku juga tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja tubuhku terlempar dengan sangat keras." ucap Rinto memegang pinggangnya yang terasa sakit karena terhantam dengan keras pada lantai. "Sama aku juga, aku hanya merasa tiba-tiba saja rasanya ada sesuatu yang mendorong dengan sangat kuat. Tetapi aku tidak bisa melihat gerakan tangannya ketika mendorongku." ucap Ryu memasang ekspresi yang sama dengan Rinto. Poin pertama didapatkan oleh sekolah SMA Tunggal Ika. Para penonton berteriak heboh saat melihat kejadian itu. Penonton berpikir bahwa aura mengintimidasi dari Raffa lah yang membuat kaki mereka saat berhadapan dengannya. Pertandingan berikutnya berjalan dengan kejadian yang hampir sama persis, dengan Zein dan Riyan yang terlempar ataupun terjatuh dengan keras. Mereka pun bahkan tidak bisa menjelaskan apa yang sedang mereka alami. "Bagaimana pertandingannya? aku sementara sedang berada di jalan sekarang." Alisya menghubungi Karin melalui alat peredam nya. Suasana gedung yang cukup ramai hampir saja membuat Karin tidak bisa mendengar dengan baik apa yang sedang dikatakan oleh Alisya. Namun karena memakai teks pada panggilan hologram mereka, Karin dengan cepat langsung mengarahkan kameranya menuju ke lapangan. "Butuh berapa waktu lagi untuk kau bisa datang kemari secepatnya?" tanya Karin yang tak yakin kalau Alisya bisa tiba tepat waktu. "Aku akan berusaha tiba tepat waktu sebelum pertandingan babak kedua dimulai. Terus arahkan kamera mu kepada tim lawan Aku ingin melihat semua gaya bermain mereka." Ucap Alisya dengan terus memacu motornya untuk lebih kencang sembari sesekali melihat video hologram yang di tampilkan dari balik telinganya. Alicia bisa membawa motornya dengan lebih lancar berkat GPS yang memperlihatkan jalan yang senggang dan ketika ada kendaraan lain yang lewat maka akan berwarna merah sebagai tanda bahwa jarak mereka cukup dekat untuk mendapatkan tabrakan dengan kecepatan tertentu sehingga Alisya atau tidak ragu-ragu membawa motor itu dengan sangat cepat. **** "Sebenarnya, apa yang membuat mereka sampai mencari mu dengan melakukan segala cara saat mengancam ku?" tanya Arka dengan wajah yang cemas akan apa yang sudah dilakukan oleh Alisya sampai membuat mereka terlihat begitu kejam dan bengis untuk bisa mendapatkan Alisya. "Maafkan aku, aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu secara lebih detail tetapi aku harap kamu mau memaafkan ku dan percaya padaku." Alisya tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan kepada Arka dan Yumna.Dia tidak ingin melibatkan mereka berdua lebih jauh lagi. "Maaf juga karena aku sudah menanyakan hal ini, aku percaya padamu tetapi aku juga merasa khawatir kepadamu. aku takut mereka akan melakukan sesuatu yang buruk kepadamu." ucap Arka yang merasa kalau Alisya mungkin saja dalam bahaya saat ini mengingat bagaimana kejam dan bengisnya mereka tanpa ragu-ragu saat melukai orang lain. "Apa kau yakin kita tidak pernah melakukan laporkan kepada polisi? Aku takutnya wa kamu sedang dalam bahaya sekarang." tegas Yumna mengingatkan Alisya. "Percaya percayalah padaku.Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku. maaf karena aku tidak bisa berlama-lama berada di sini sekarang mungkin pertandingan mungkin sudah dimulai." terang Alisya berdiri dari tempat duduknya. "jadi mereka akan melawan sekolah SMA Tunggal Ika sekarang? Kau harusnya mencegah mereka. Setidaknya dengan begitu mereka tidak akan mengalami hal yang sama seperti kami, meski itu berarti kalian harus kalah dalam pertandingan." terang Arka penuh rasa khawatir terhadap Adith dan yang lainnya. Alisya hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Arka dan Yumna setelah berpamitan. Chapter 250 - Rencana Babak pertama telah selesai dan Alisya baru saja datang memasuki gedung olahraga tempat pertandingan basket sedang berlangsung. Dari kejauhan bisa dapat Alicia lihat bagaimana Adit dan yang lainnya terlihat kesulitan menghadapi sekolah SMA Tunggal Ika. "Kenapa kau baru datang sekarang? kau sudah melewatkan satu babak pertandingan." Karin dengan cepat menyambut kedatangan Alisya dengan memberikannya tempat disisinya. Alisya tidak menjawab pertanyaan Karin dan hanya langsung memperhatikan papan skor pertandingan. Dari papan bisa dia lihat bahwa skor dari pertandingan itu adalah 5 untuk SMA Cendekia Indonesia dan 20 untuk SMA Tunggal Ika. Skor yang sudah sangat jauh untuk Adit dan yang lainnya harus kejar. Adith langsung melihat kearah Alisya yang baru saja datang. Mereka saling bertatapan mata dan Alisya menaikkan tangan kanannya menuju ke telinganya yang memberikan tanda kepada Adith untuk memakai alat pendengar mereka. "Akiko apakah kamu membawa peralatan yang aku berikan kepadamu?" Adith langsung dengan seketika menghampiri Akiko yang selama beberapa hari ini bertugas menjadi manajer mereka. Sehingga beberapa peralatan yang ada pada Adiht diberikan kepada Akiko. "Iya, aku membawanya!" karena ukurannya yang unik dan bentuknya yang kecil, orang tidak mengira kalau mereka sedang memasang alat komunikasi ditelinga masing-masing. Penonton berpikir kalau Adith dan yang lainnya sedang menggunakan penyumpal telinga untuk bisa lebih fokus dalam pertandingan karena suasana gedung yang cukup ribut. "Dari mana saja kau?" tanya Adith cepat begitu ia sudah terhubung dengan Alisya. Ia sengaja menghadap ke arah Zein untuk bisa menyamarkan dirinya saat sedang berbicara dengan Alisya. "Rumah Sakit, aku pergi melihat keadaan Arka. Aku sudah melihat semua pertandingan kalian, mereka bukanlah lawan yang bisa kalian kalahkan dengan mudah." ucap Alisya dengan cepat menjelaskan setelah sebelumnya memberitahu Adith kemana ia pergi. "Maksud kamu?" tanya Zein yang juga terhubung bersama mereka. "Ryu, aku yakin setelah beberapa kali pertandingan kau pasti menyadari mengapa kau tiba-tiba saja jatuh dan terlempar kebawah dengan cepat!" Alisya langsung menuju ke arah Ryu yang sudah memiliki banyak pengalaman dalam hal pertempuran sebelumnya. "Teknik mereka saat menjatuhkan lawan, gerakan tangan mereka yang cepat dan tersembunyi membuat kita tidak menyadari kalau gerakan yang dilakukannya hanyalah sebuah gerakan biasa namun dilakukan dengan cepat." ucap Ryu mencoba mengingat situasi yang dia hadapi selama dilapangan. "Awalnya aku hanya berpikir bahwa itu adalah sebuah halusinasi saja tetapi sepertinya aku memang benar-benar melihatnya. Mereka melakukan gerakan mendorong atau menjatuhkan dengan memanfaatkan titik buta yang diciptakan dari defense yang dekat dan juga bola ditangan mereka. Setiap kali mereka sudah berhasil mendapatkan bola, maka kita akan kesulitan dalam melakukan pertahanan." jelas Adith yang merasa ia melihat setiap gerakan lawan yang sedang mereka hadapi. "Anak ini,,, aku pikir dia hanyalah seorang jenius biasa yang tidak tahu banyak hal mengenai pertempuran. Sepertinya instingnya semakin tajam setiap kali berhadapan dengan orang lain sehingga tanpa ia sadari kemampuannya semakin meningkat pula." gumam Alisya pelan yang dapat di dengar oleh Alisya yang berada disampingnya saat Alisya melepas sejenak hubungan komunikasi mereka. "Alisya, kau yakin dengan apa yang sedang kau rencanakan ini?" mendengar gumaman Alisya, Karin menjadi langsung mengkhawatirkan Adith yang bisa saja sekarang mereka akan tertarik kepada potensi yang pada diri Adith saat ini. Alisya yang tidak tahu pasti bagaimana kedepannya, hanya menggenggam tangan Karin bahwa dia cukup yakin atas apa yang dilakukannya saat ini. "Ya kau benar, untuk itu jika kalian ingin bermain cepat dan mengejar ketinggalan poin kalian dengan memenangkan pertandingan, kalian membutuhkan Yogi. Yogi yang akan menghadapi mereka yang mendapatkan bola, sedang Ryu akan bertugas untuk memblokir setiap tembakan mereka dengan memanfaatkan kekuatan lawan." Alisya mulai memberikan mereka cara bagaimana menghadapai SMA Tungkal Ika yang bermain halus namun sebenarnya bisa berakibat fatal jika mereka tak memiliki pertahanan yang baik. "Adith yang akan bertugas menyerang sedang aku dan Riyan yang akan melakukan defense dengan menjaga jarak dan memperluas area sehingga titik buta tidak tercipta disekitar mereka." ucap Zein menganalisa maksud Alisya. "Ya, tetapi pada awal pertandingan kau dan Riyan tidak boleh ikut dulu. Kita akan membutuhkan kalian berdua di permainan berikutnya untuk membalikkan keadaan." tegas Alisya kembali yang kemudian peluit babak kedua sudah dimulai. "Itu Artinya memasukkan Yogi karena diantara kita Yogi lah yang memiliki teknik memanfaatkan daya serang lawan dan membalikkan serangan tersebut kepada lawan" terang Adith sudah bersiap diri sembari melingkar untuk melakukan yel-yel. "Dengan begitu mereka akan terkejut saat kita bisa menghadapi setiap serangan mereka yang dapat membuat pola serangan mereka segera kacau dan mungkin akan berubah." terang Zein saat ia mulai mengerti situasinya. "Benar. Selain itu, kita membutuhkan Ubay dan Erik dalam melaksanakan semua rencana itu. Mereka akan bingung dengan formasi mendadak yang kita buat" tegas Alisya yakin. "Bermainlah dengan aman, kunci utamanya adalah ekspresi kalian. Wajah tanpa ekspresi kalian akan membuat mereka tak mengerti apa yang akan kalian lakukan selanjutnya." terang Alisya memberikan senyuman dukungannya kepada mereka. Alisya segera bertepuk tangan dengan heboh yang dilihat oleh orang lain sedang memberikan dukungan, yang sebenarnya adalah memancing Arya untuk melirik ke arahnya. Melihat itu Adith seketika menjadi panik dan kaget. "Apa yang kau lakukan?" tanya Adith saat melihat Alisya dengan terang-terangan ingin menghadapi Arya. Meksi tak tahu pasti, tetapi Adith merasa bahwa orang yang bernama Arya ini memiliki hubungan dengan Alisya. "Jangan terluka!" ucap Alisya tegas yang memberitahu Adith bahwa ia akan baik-baik saja. Arya yang sudah berdiri ditepi lapangan dengan seketika melihat Alisya dan langsung menaruh curiga padanya. Adith dan semua anggota tim sudah berdiri di tepi lapangan. Arya bingung melihat tingkah dari Anggota Adith. Ia tidak mengerti kenapa semua anggota tim Adith berkumpul bersama dengan anggota tim Inti. Tepat setelah wasit mempersilahkan mereka masuk kedalam lapangan, Adith, Ubay, Ryu, Erik dan Yogi masuk kedalam sedangkan Gery, Mizan, Beni, Gani, dan Zein serta Riyan mundur dengan tersenyum sinyi kearah Arya. "Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Anggotanya kepada Arya yang hanya tersenyum simpul. "Tidak perlu, kita lakukan seperti biasa saja. Sejauh ini masih belum pernah ada yang mengetahui dan menang dalam melawan rencana kita." terang Arya yakin bahwa tidak mungkin Adith memiliki rencana lain. Mereka langsung memasuki lapangan dan mengambil poisis yang dengan itu dimulailah pertandingan babak kedua antara sekolah SMA Cendekia Indonesia melawan SMA Tunggal Ika. Chapter 251 - Rebound "Untuk kali ini, sebaiknya kita bisa bermain dengan kompak. Jika tidak kita akan mengalami kekalahan yang cukup memalukan." Adith menghampiri Ubay dan Erik yang sudah bersiap ditengah lapangan. "Karena kita memiliki tujuan yang sama yaitu mengalahkan mereka, maka aku terima tawaranmu!" ucap Ubay sambil menyalami tangan Adith sebagai persetujuan. "Tak kusangka hari ini kita akan bekerja sama.!" Ucap Yogi menghampiri mereka bertiga. "Jangan menjadi beban jika kau tak bisa bermain dengan benar." Erik sudah mengambil posisi bertahan dengan cepat. "Lihat saja nanti!" seyum Yogi penuh percaya diri pada kemampuannya. Perebutan bola telah dimulai, Raffa berhasil merebut bola dengan sangat mudah dari Ryu, Raffa dengan cepat mampu mengendalikan alur pertandingan dengan memanfaatkan tubuhnya yang terbilang tinggi dan besar. Seolah tubuhnya hanya dilapisi oleh Otot yang padat disekujur tubuhnya. "Yogi..." Ryu langsung bertukar posisi dengan cepat yang membuat Yogi kini sudah berhadapan dengan Raffa. "Cihh,,, anak kecil seperti kamu beraninya melawan diriku." maki Raffa yang tak suka saat melihat tubuh Yogi yang terlihat lebih kecil darinya, berani melangkah dengan tatapan datar dihadapannya. Raffa mendrible bola dengan susah payah dan tak bisa memberikan tekanan kepada Yogi. Yogi memiliki pertahanan yang kuat sehingga dorongan dan tekanan yang ia beriak kepada Yogi tak membuat pertahan Yogi melonggar. Dengan terapksa dia segera melempar bolanya ke pada Arya. "Sial, tehnik apa yang sudah dilakukannya, bagaimana mungkin dia bisa menerima semua tekanan yang aku berikan dengan wajah datarnya itu?" gumam Raffa sambil terus berusaha meloloskan diri dari pertahanan Yogi. "Aku tak tahu rencana apa yang sudah kalian lakukan, tapi itu tidak akan merubah kenyataan sama sekali!!!" Arya berputar dengan sangat cepat setelah memberikan tekanan yang sedikit membuat Adith salah langkah dan hampir kehilangan keseimbangan karena dia lupa untuk menjaga jarak. Karena Arya yang mencondongkantubuhnya membuat Adith terdorong kebelakang yang dengan memusatkan kembali fikirannya Adith bisa mengembalikan posisinya. "Kami juga takkan tahu kalau belum mencobanya." Adith dengan baik melakukan pertahanan penuh untuk menghentikan Arya dengan mengikuti setiap gerak langkah kakiknya. Lapangan terlihat sibuk dan ribut karena cekitan dan hentakan kaki dari para pemain yang sedang bertempur didalam lapangan. Gerakan mereka yang sangat aktif membuat penonton duduk dengan nafas yang tercekat akibat panasnya pertandingan Final ini. "Tidak ku sangka ada 3 orang dalam satu unit yang ada di sekolah SMA Tunggal Ika, diantara yang lain hanya mereka bertiga saja yang terlihat memiliki enegi nano dalam tubuh mereka sedangkan yang lainnya adalah siswa biasa." gumam Alisya sambil terus memperhatiak mereka dengan saksama. "Apa yang kamu maksudkan?" Karin masih tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh sikap Alisya yang sedari tadi terlihat sangat waspada. "Black Falcon mengirimkan unit nya untuk menangkapku kembali atau membunuhku jika diperlukan. Hal ini karena mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan mereka untuk mendapatkan penelitian lebih lanjut mengenai tubuhku karena mereka tau dari kemampuan sewaktu aku berhasil membunuh Ophlia lalu." terang Alisya yang tak melepaskan pandangannya dari lapangan. "Itu artinya yang kamu maksud itu adalah 3 orang siswa itu?" tunjuk Karin yang matanya mengarah pada Arya, Raffa dan Satu lagi yang sangat diam dan tak memiliki ekpresi apapun sama sekali. Arya langsung menggiring bola dengan melewati Adith serta memperpendek jarak diantara keduanya sehingga dengan sedikit bantingan siku yang langsung menekan keras tulang rusuk Adith membuat Adith melonggarkan pertahanannya yang kemudian membuat Arya dengan mudah melakukan Slam Dunk (gerakan memasukkan bola ke dalam ring/keranjang dengan tubuh melayang) untuk memberi mereka poin. "Kau baik-baik saja?" tanya Ryu cepat membantu Adith berdiri dengan tegap. "Aku baik-baik saja, aku masih bisa sedikit menghindarinya tadi sehingga tidak berdampak cukup besar!" Adith dengan cepat membuat tubuhnya tegap untuk memberi tanda kalau dia baik-baik saja. Bola kini sudah berpindah tangan kepada Ryu yang mulai menggiring bola dengan cukup tinggi sebagai persiapan untuk melakukan serangan ke daerah pertahanan lawan. "Sepertinya apa yang kita cari ada di atas sana!" tunjuk Arya kepada Alisya yang sedang menatap mereka dengan tajam. Meski Aura dan energi Alisya masih belum dikeluarkannya, namun mereka bisa melihat tatapan langsung dari Alisya yang membuat mereka yakin bahwa orang yang mereka cari adalah Alisya. "Aku tak melihat energi apapun dari dia, dia terlihat normal sepenuhnya!" ucap Raffa sembari melihat kearah Alisya. "Dia menekan energinya dengan cukup baik. Sepertinya dia berada di level yang tinggi di atas kita, atau mungkin berada di bawah level kita." terang Eros berjalan melewati mereka berdua. "Meski sedetik, aku bisa merasakan sedikit energi nano saat aku memberikan serangan pada dia!" tunjuk Arya kepada Adith yang kembali ke posisi sebelumnya. "Kita bisa melihat kemampuannya jika kita melakukan sesuatu pada anak ini,,," Eros dengan cepat menggantikan posisi Arya dalam posisi defense. "Screen" ucap Adith dengan cepat yang membuat Yogi dan Erik membuka ruang pergerakan teman satu tim tersebut yakni dengan memberi jalan melewati belakang keduanya saat melakukan screen. Gerakan ini dilakukan keduanya untuk menutup arah pergerakan Eros dan menjaga satu sama lainnya. Sehingga Adith terbebas dari penjagaan Eros yang membuat Ryu dengan cepat melakukan pasing ke arah Adith yang dapat ditangkap dengan baik. Dengan beberapa gerakan cepat, Adith sudah sudah berada pada posisi Lay Up yang dengan cepat juga diblokir oleh Arya dan Raffa secara bersamaan yang membuat Adith ditabrak dan diapit oleh keduanya. "Rebound ( Gerakan mengambil bola yang gagal masuk kedalam ring)." Teriak Adith sembari memegang tulang rusuknya yang mendapat hantaman untuk kedua kalinya. Kali ini Adith merasakan rasa sakit yang cukup perih namun masih tetap melanjutkannya dengan baik. Bola yang melayang itu dengan cepat di langkap oleh Ryu yang kemudian melakukan Short Shotingnya dengan tepat. Mereka berhasil mendapatkan poin dari sekolah SMA Tunggal Ika. Meski begitu Adith merasa cukup sakit di bagian tulang rusuknya, untuk saat ini dia belum mendapatkan luka atau patah tulang. Begitu pula dengan teman-temannya yang lain yang beberapa kali mendapatkan sedikit hantaman yang tak bisa mereka hindari. "Meski aku sudah mengatakan kepada mereka untuk menjaga jarak, sepertinya mereka memanglah bukan lawan yang mudah. Mereka tetap saja akan mendapatkan beberapa hantaman yang tidak berdampak namun tetap saja itu terasa sakit." Alisya memandang mereka semua dengan tajam. "Apa yang harus mereka lakukan setelah ini? Yogi sudah mulai kehabisan staminanya. Dan masih terlalu jauh untuk mengejar" tanya Karin yang semakin khawatir kepada teman-temannya. "Sepertinya sudah saatnya untuk kita menggunakan seluruh kekuatan tim kita. Jika tidak, kita takkan bisa memenangkan pertandingan ini. Aku tak sangka orang seperti mereka masuk dalam tim basket ini" Alisya mengepalkan tangannya dengan kesal. "Apa itu ada hubungannya dengan kau yang seorang anak SMA?" tanya Karin memastikan bahwa jalan tercepat untuk bisa menemukan Alisya adalah dengan mencarinya pada saat semua sekolah sedang berkumpul. Dengan metode seperti ini mereka jadi bisa mempersempit area pencarian mereka dan juga bisa dengan mudah mendapatkan informasi mengenai Alisya. Namun tidak disangkanya, Alisya malah berada dihadapan mereka sendiri. "Aku juga berpikir seperti itu, jika tidak maka mereka pasti akan menemuiku secara langsung bukan dengan mencari informasi menggunakan cara kotor seperti ini" tegas Alisya kini memegang alat peredamnya dengan satu ketukan sehingga bisa terhubung dengan semua teman-temannya. Alat komunikasi masih terpasang ditelinga mereka dengan kuat. Meski mereka sedang bergerak dengan cepat pun alat itu takkan mudah terlepas kecuali mereka mengaktifkan pelepasannya. "Bersiaplah, kita akan melakukan pergantian pemain setelah 1 putaran. Bertahanlah sedikit lagi." ucap Alisya memberikan pengumuman kepada mereka. Tepat saat itu, Ubay terjatuh kebelakang dengan sangat keras. Semua orang tak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi namun Ubay memegang dadanya dengan wajah yang meringis kesakitan. Chapter 252 - Tidak Menahan Diri Lagi Melihat ada keanehan pada wajah Ubay, sang wasit langsung meniupkan peluitnya untuk memberhentikan pertandingan sementara. Ubay langsung di arahkan ke tepi lapangan mengingat ia terlihat sedikit sesak karenanya. Tim medis dengan cepat mendatangi Ubay untuk memberikan pemeriksaan sedang Adith dan yang lainnya hanya bisa menatap dengan rasa khawatir. "Dia harus dibawa ke klinik karena sepertinya ada penyumbatan pada pembuluh darahnya karena benturan yang sebelumnya." ucap salah seorang perawat setelah melihat lebam pada bagian dada Ubay. "Kenapa ini terlihat sudah lebam dalam beberapa hari sebelumnya? dan sepertinya tubrukan membuat luka lebamnya semakin parah." tambah seorang perawat lainnya yang melihat luka lebam itu sudah terlihat berwarna hitam. Mendengar itu Alisya langsung memberikan instruksi kepada Ryu, untuk segera mendekati Ubay untuk memberikan penekan pada sekita pembuluh darah di bagian dadanya agar peredaran darah di area itu bisa lebih lancar. Teknik telah di ajarkan Alisya kepada Ryu untuk kejadian mendadak seperti ini. Karin yang ingin turun langsung terhenti setelah melihat kecepatan penanganan para tim medis itu kepada Ubay sehingga dia masih tetap harus berada disana untuk kemungkinan lain yang bisa terjadi. "Bahkan hanya dengan sedikit dorongan sudah cukup membuatnya sekarat seperti itu." gumam Raffa yang sengaja ia keraskan agar didengar oleh Adith dan teman-temannya yang lain. "Apa kau bilang? cara kalian yang kotor seperti itu benar-benar membuatku muak!" Yogi sudah menghambur ingin memukul Raffa namun dengan cepat dihalangi oleh Adith. "Aku sudah tidak sabar untuk mematahkan semua tubuh kalian untuk melihat bagaimana reaksi dia saat melihat teman-temannya berguguran satu persatu." ucap Eros memandang ke arah Alisya dengan senyuman jahatnya. "Alisya, sepertinya sudah saatnya memberikan mereka pelajaran." Adith mengepalkan tangannya dengan penuh kesal. "Aku tau, kalian tidak perlu menahan diri lagi. Aku akan memberikan intruksi dengan sangat cepat, untuk itu aku harap kalian bisa mengikuti ku dengan baik!" tegas Alisya yang mulai berdiri dari tempatnya untuk melangkah lebih dekat ke pinggir pagar lantai 2 tempatnya berada. Mereka dengan cepat segera berganti pemain, dimana Adith, Zein, Riyan, Ryu dan Rinto sudah bertekad untuk memberikan mereka tekanan permainan yang sebenarnya. "Mungkin mereka memiliki kekuatan dan kelicikan, tapi kita masih memiliki kekompakkan untuk bisa melawan mereka dengan baik." Ucap Adith memberikan semangat kepada teman-temannya. "Ingat, jangan berhadapan dengan mereka terlalu dekat. Kalian bisa terus melakukan screen untuk melindungi teman yang lain." ucap Alisya yang mulai menghilang dibalik ramainya penonton. Raffa yang terus memperhatikan Alisya tiba-tiba kehilangan Alisya dan tak bisa menemukannya didalam ruangan tersebut. "Apa yang direncanakan oleh perempuan itu, kenapa dia menghilang begitu saja dan meninggalkan teman-temannya di sini?" ucap Raffa karena bingung ketika dia tidak menemukan Alisya di sana. "Tidak masalah, kita cukup memancingnya dengan teman-temannya itu. Terlebih untuk si kapten yang kulihat dia menerima perhatian yang cukup besar dari perempuan itu." terang Eros yang menatap Adith dengan nafsu membunuh yang tinggi. "Adith..." Alisya langsung menyebut nama Adith dengan cepat untuk memperingatkan dirinya setelah merasakan Aura membunuh dari Eros yang mengarah kepada Adith. "Aku tau, aku bisa mencium Auranya dengan sangat pekat. Jangan khawatir, aku yakin bisa menangani ini dengan baik." ucap Adith mencoba meyakinkan Alisya. "Tapi mereka bukanlah lawan yang sesuai bagimu, mereka akan dengan mudah membunuhmu dan.. " Alisya yang panik langsung menunjukkan dirinya lagi. "Alisya,,, aku tau kemampuan mereka berada jauh di atas ku, tetapi saat ini aku tak sendiri. Lagi pula dia takkan berani membunuh ku ditengah lautan manusia seperti ini" terang Adith sembari memandangi teman-temannya yang sudah tersenyum ke arahnya. "Kami akan saling mendukung satu sama lain, jangan khawatir. Kami akan usahakan untuk menjaga jarak." terang Zein memberikan kepalan tangannya untuk saling memberi semangat. Alisya kemudian terdiam setelah melihat mereka menatap dengan penuh keyakinan kearahnya. Alisya mencoba untuk yakin kepada mereka karena saat ini hanya itu yang bisa dia lakukan untuk mendukung mereka. "Lihat, sepertinya dia memang bisa merasakan aura membunuh dari Eros sehingga karena itu dia kembali menunjukkan dirinya sekarang" ucap Arya yang tertawa karena kelemahan hati Alisya. Pertandingan segera dimulai dengan pemain dari SMA Cendekia Indonesia yang sudah berganti menjadi Adith, Zein, Riyan, Ryu dan Rinto. Sedang pada SMA Tunggal Ika ada Arya, Eros, Raffa, Wira dan Hary. Adith sudah bersiap untuk melakukan serangan setelah Ryu dengan cepat berhasil merebut bola. Dengan metode zig-zag dan screen dari teman-temannya, Ryu dapat melemparkan bola ke arah Adith dengan passing yang sangat akurat. Tepat berada di area lawan, Adith sedikit memutar posisinya lalu melempar bola dengan kasar sembari menghindari tumbukan dari Arya dan Eros. Bola itu melayang mengenai papan ring dan memantul masuk ke dalam Ring dengan sangat cepat. "Apa-apa''an tembakan itu?" teriak penonton yang sangat antusias melihat tembakan Adith yang sangat cepat tersebut. "Hebat!!! Baru kali ini aku bisa melihat tembakan super cepat itu." teriak penonton yang lainnya. "Dia bahkan melakukannnya sembari menghindari 2 pemain yang akan melakukan blocking kepadanya!" tambah yang lainnya lagi tak kalah antusias. Semua penonton menjadi sangat heboh dan menggila saat Adith berhasil memasukkan bola dengan cara yang sangat mengagumkan. Mereka semua berbalik mendukung Adith dan yang lainnya melihat perjuangan mereka yang begitu keras untuk bisa mendapatkan poin dari sekolah SMA Tunggal Ika. "Tak ku sangka dia bisa menghindari kita berdua." ucap Arya yang melihat tajam kearah Adith. Pertandingan dengan cepat berlangsung kembali dengan Ryu mendribble bola dengan sangat keras memunculkan suara gedebum yang bisa terdengar jelas hingga ke bangku penonton. "Dia selalu saja berhasil merebut bola dengan cepat dan sekarang lihat caranya mendrible bola itu dengan keras.!" Raffa melihat tajam ke arah Ryu yang dirasakannya kalau Ryu bisa menjadi orang yang cukup berbahaya bagi mereka. "Biar aku yang menghadapinya!" Eros dengan cepat melakukan defense kepada serangan Ryu. Ryu yang tersenyum sinis segera melakukan pasing nya dengan secepat kilat kearah Rinto yang dengan mudahnya melakukan Short Shooting tanpa penjagaan yang berarti dari Arya, Raffa dan Eros. Arya yang terfokus kepada Adith dan Raffa yang mendapat penjagaan ketat dari Riyan dan Zein sedang Eros berhadapan langsung dengan Ryu yang bisa dengan mudah menahan pukulan siku milik Eros dengan telapak tangannya membuat Rinto dengan mudahnya memasukkan bola ke gawang karena Wira dan Hary tak memberi tekanan yang cukup berarti seperti pada ketiga orang unit tersebut yang memiliki kekuatan luar biasa. Chapter 253 - Adrenalin "Wow... Gila!!! Pertandingan ini seru sekali, mereka bermain menggunakan dua taktik sekaligus." ucap Adora penuh semangat. "Mereka bermain dengan menyerang sekaligus bertahan diwaktu yang bersamaan. Taktik yang bisa dilakukan jika klian saling percaya kepada teman masing-masing. Selain itu taktik itu tentu saja akan menguras banyak tenaga." terang Karin yang melihat teman-temannya sudah mulai sedikit kehilangan tenaga mereka karena kelelahan. Mereka yang sudah berhasil menaikkan skor menjadi 30 untuk SMA Cendekia Indonesia dan 35 untuk SMA Tunggal Ika membuat Adith dan yang lainnya menjadi lebih semangat. "Sudah saatnya kita memberikan mereka pelajaran basket yang sebenarnya." ucap Eros dengan menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk melemaskan persendiannya. "Tak ku sangka kita harus mengeluarkan kekuatan kita yang sesungguhnya untuk bermain basket ini. Baiklah, presentase 65% sepertinya cukup untuk membuat mereka sadar." Aura Raffa menguat seketika yang membuat Alisya menjadi semakin waspada begitu pula dengan Karin dan Ryu. Adith yang tiba-tiba mencium bau menyengat dari 3 arah dengan cepat menoleh kepada mereka yang sudah menggerak-gerakan badan mereka satu persatu seolah sedang melakukan pemanasan. "Sepertinya mereka baru memulai pertandingan yang sebenarnya." ucap Zein yang sudah melihat kearah apa yang sedang di lihat oleh Adith. "Kita yang sudah mengeluarkan kekuatan penuh bahkan bukan apa-apa bagi mereka bertiga." tambah Ryu yang merasakan bahaya yang sebenarnya baru saja akan dimulai. "Dan kita harus mengandalkan analisis cepat dari Alisya untuk menghadapi mereka." tegas Adith yang sedari tadi teman-temannya bisa menghadapi setiap hujaman pukulan dari ketiga orang tersebut berkat bantuan Alisya. "Karin, berapa banyak suntikan yang sedang kau bawa saat ini? tanya Alisya cepat kepada Karin setelah menyadari situasi dari teman-temannya. "Aku cuma membawa 3 buah. Tapi Ryu memiliki 3 buah juga namun 1 buah sudah ia pakaikan padamu kemarin." Karin paham maksud Alisya menanyakan suntikan khusus yang diberikan kepada Alisya. Suntikan penenang yang diberikan kepada Alisya berdampak sebaliknya pada mereka yang tidak memiliki energi nano dalam tubuh mereka. Hal ini sudah pernah di pakai oleh Karin sewaktu menghadapi Ophelia dirumah Bella lalu. "Itu cukup! Ryu kau mendengar ku kan? Bisa kau berikan pada mereka dengan cepat tanpa disadari oleh banyak orang?" tanya Alisya menaruh harapan pada kemampuan Ryu. "Tentu saja, tapi bagaimana aku mengambil 2 suntikan lain yang sedang berada di tas pada bangkuk pemain saat ini?" tanya Ryu sembari melirik ke arah tasnya. "Akiko, kau tau apa yang harus kau lakukan bukan?" Akiko hanya mengangguk dan segera berlari ke tepi lapangan untuk memberikan handuk kepada Ryu yang di dalamnya sudah terdapat suntikan cairan khusus tersebut. "Alisya, apa yang kamu maksudkan dengan suntikan itu?" tanya Riyan cepat tak paham apa yang dimaksud kan oleh Alisya dan yang lainnya. "Jlebbb... Kau akan tau kalau itu sudah bekerja!" Ryu langsung memberikan Suntikan itu kepada Riyan dengan cepat tanpa ada yang menyadarinya. "Kau yakin ini akan baik-baik saja?" tanya Zein ingin memastikan sebelum dengan cepat mengenainya. Tubuhnya memberikan reaksi dengan terkejut karena tak terbiasa dengan suntikan mendadak tersebut. "Bisakah aku lewat saja?" tanya Rinto yang melihat Ryu sudah menuju ke arahnya. Rinto memperlihatkan tangannya yang kosong, yang kemudian membuat Rinto merasa lega. Ryu tersenyum licik yang ternyata Alisya melesatkan suntikan tersebut dengan cepat kearah jari-jari Ryu yang langsung ia tusukkan kepada Rinto tanpa aba-aba. Dua suntikan berikutnya melayang dengan sangat cepat yang dengan gerakan lihainya Ryu berhasil menyuntikkan pada Adith dan juga dirinya. "Aa.. apa kah ini aman?" tanya Rinto pasrah akibat suntikan dari Ryu yang cukup lembut pada dirinya. "Apa yang akan terjadi setelah ini?" tanya Adith memastikan akan reaksi yang akan mereka dapatkan setelah menerima suntikan tersebut. "Kalian akan merasakannya sendiri dibanding harus aku jelaskan!" tegas Alisya karena tidak cukup waktu untuk melakukan hal tersebut. Permainan segera berlangsung kembali dengan Arya yang sudah memegang bola dan mendriblenya dengan cepat. Dribling bola yang dilakukan oleh Arya malah terlihat lambat di mata Adith dan yang lainnya karena suntikan itu sudah bereaksi dengan cepat. "Bola itu terlihat melambat atau hanya perasaanku saja?" tanya Riyan yang merasa bola itu terlihat melambat sepersekian detik. "Fokus, mereka akan melakukan serangan!" teriak Adith yang juga mulai merasakan efek dari suntikan yang diberikan oleh Ryu. Melihat pergerakan mereka yang terasa aneh karena bisa menyesuaikan dengan kecepatan mereka, Arya dan yang lainnya akhirnya menambah 5 % kekuatan mereka. Namun dengan cepat Ryu mampu merebut bola dari tangan Raffa tepat setelah ia akan mengopernya kepada Eros. Bola yang melayang itu dengan cepat ditangkap oleh Zein yang langsung di passingkan menuju ke arah Adith lalu dengan cepat melakukan defense untuk menghadang Arya. Adith yang sudah menyerang ternyata dengan cepat di blok oleh Raffa. Bertahan dan menyerang terus berlangsung di lapangan. "Tujuan awal kami hanyalah untuk menemukan perempuan itu dan bersenang-senang dengan pertandingan ini tanpa berpikir untuk menang." ucap Raffa yang terus memblokir Adith dengan sangat ketat. "Tapi melihat kalian begitu ingin memenangkan pertandingan ini membuat kami jadi tertarik untuk memenangkan nya juga dan menunjukkan kepada kalian rasa kecewa karena tidak bisa memenangkan pertandingan ini." tambahnya lagi masih terus membayangi Adith. Meninggalkan penjagaannya, Ryu langsung menerobos dari arah belakang yang membuat Adith bisa mengoperkan bola dengan cepat yang disambut Ryu dengan gaya Lay Up nya. Ryu berhasil mencetak poin sekali lagi yang membuat jarak mereka semakin tipis dengan skor 32:35. Pertandingan berikutnya juga berlangsung dengan sangat cepat yang membuat Adith bisa mencetak poin lebih awal dengan sangat mudah. "Sepertinya obat ini bekerja lebih baik daripada yang aku duga." Zein merasakan kekuatannya yang meluap-luap. "Jangan lengah, suntikan yang diberikan oleh Alisya hanya menaikkan Adrenalin kita sehingga kita bisa mengeluarkan kemampuan kita secara maksimal." ucap Ryu cepat untuk membuat Zein tetap fokus. Adith yang sedang menggiring bola ke arah area lawan langsung di hadang oleh Eros dengan niat membunuh yang sangat tinggi. Adith sampai harus terhenti karena bau aura yang sangat menusuk hidungnya. Sesaat kemudian, Adith yang berusaha melesatkan tembakannya karena tak tahan diblokir dengan sangat kuat oleh Eros yang menyebabkan Adith sekali lagi terkena sikuan Eros. Adith terkapar seketika menunduk memegang tulang rusuknya. Melihat itu, Alisya langsung mengeluarkan seluruh energinya menatap tajam ke arah Eros. Bahkan energi yang dikeluarkan oleh Alisya mampu membuat Eros bergetar ketakutan begitupula Arya dan yang lainnya. Chapter 254 - Buzer Beat Alisya yang melihat Adith jatuh terkapar dan menunduk memegang tulang rusuknya yang dirasanya cukup sakit akibat 3 kali sikuan yang cukup keras menghantam dadanya itu membuat Alisya tak mampu menahan amarahnya lagi. Aura membunuh yang dikeluarkan oleh Alisya begitu pekat dan mengerikan sampai orang disekitarnya merasakan tekanan yang sangat kuat akibat energi nano yang dilepaskan Alisya seketika membuat orang-orang disekitarnya mengalami kesulitan pernafasan. "Adith ka..uh.. baik,, baik saja?" Zein yang ingin menghampiri Adith seketika tak bisa bergerak dengan baik karena merasakan tekanan yang sangat kuat. "Nona Alisya.." Ryu menyadari kalau tekanan itu berasal dari lepasan energi nano Alisya. Energi yang sama dia rasakan saat pertama kali Alisya sadarkan diri sewaktu dirumah sakit meski tidak sebesar yang saat ini dirasakannya. "Apa ini?" Aurelia tak bisa melihat dengan baik karena tekanan itu. Meski sudah berusaha sebaik mungkin, ia merasa kesusahan saat membuka matanya. "Aku tidak bisa bernafash de.. ngan baik!" ucap Adora merasa tersiksa dengan tekanan tersebut. "Alisya.. Alisya!" Karin mencoba mengguncang tubuh Alisya namun nihil, mata Alisya sudah menatap penuh amarah kearah Adith yang sedang meringkuk kesakitan. Adith yang mencium bau Aura menyengat milik Alisya yang ia sudah mulai terbiasa dengan baunya membuat Adith dengan cepat mengetahui bahwa Alisya sekarang sedang menunjukkan amarahnya. "Alisya,," Adith berusaha mendongakkan kepalanya untuk melihat Alisya dengan susah payah. Dapat dilihat Adith kalau Arya dan yang lainnya yang penuh percaya diri kini sudah menatap dengan cucuran keringat yang membasahi seluruh tubuh mereka. Wajah mereka seketika pucat pasih dan tak bergerak karena tubuh mereka yang bergetar hebat. Melihat semua orang yang terlihat semakin kesulitan, Adith dengan cepat berusaha bangkit dari tempatnya dan berteriak dengan kencang. "Alisya a a a a!!!!" teriakan Adith seketika mengembalikan kesadaran Alisya yang membuat energi nano Alisya yang tersebar juga ikut menguap. Semuanya sudah kembali normal seolah-olah tidak terjadi apapun dan mereka semua kebingungan atas apa yang sedang terjadi. Mereka saling bertatapan satu sama lain menanyakan tentang apa yang baru saja terjadi. Tidak satupun dari mereka yang mengetahui dan Adith dengan cepat mengambil perhatian mereka. Adith berdiri di tepi lapangan, memandang Alisya dengan tatapan kasih dan dia berdiri dengan tegap. Waktu pertandingan sudah hampir habis saat di detik-detik terakhir Adith kembali mendrible bolanya dengan susah payang lalu dengan satu lemparan kuat, bola itu melesat dengan sangat cepat menabrak papan Ring dengan sangat keras dan langsung masuk kedalam Ring tepat sebelum tanda permainan berakhir. "Buzer Beat??? (Tembakan yang dimasukkan pada detik-detik terakhir)" teriak salah satu penonton yang melihat semua kejadian itu dari awal hingga akhir saat Adith berhasil memasukkan bolanya. Teriakan penonton itu seketika membuat penonton yang lainnya menjadi lebih heboh dengan teriakan-teriakan yang terus berkelanjutan memenuhi seluruh gedung olah raga. "SMA Cendekia Indonesia menang tipis, skor mereka adalah 3 poin di atas SMA Tungkal Ika yaitu 38 : 35 pada detik-detik terakhir." teriak seorang penonton yang sangat heboh. "Hebattt,,, mereka bisa mengalahkan sekolah SMA Tunggal Ika yang terkenal brutal dan bisa memenangkan semua pertandingan dengan perbandingan yang cukup besar." teriak yang lainnya lagi. "Aku tak menyangka kalau mereka harus mati-matian untuk memenangkan pertandingan ini." ucap Arelia merasa haru dengan pertandingan mereka. "Benar, mereka berjuang dengan sangat keras hari ini." Adora melihat ke arah Yogi dan yang lainnya yang sudah menghambur ria menghampiri mereka yang berada di lapangan. "Kita... ki.. ta menang!" ucap Riyan yang menatap papan skor permainan dengan tatapan tak percaya. Saat semua sedang heboh meneriakkan kemenangan mereka yang dramatis, Adith hanya mencari satu orang yaitu Alisya. Alisya sudah tidak berada disana begitu pula dengan 3 orang unit yang sebelumnya masih berdiri di lapangan itu. "Alisya.. " Adith memanggil nama Alisya pelan sembari terus mencari dirinya di seluruh gedung namun tidak ditemukannya. Bahkan Karin yang berada di samping Alisya sebelumnya juga tak menyadari kepergian Alisya. "Mau kemana kalian?" tanya Omega kepada Arya, Raffa dan Eros yang sudah berencana melarikan diri. "Kau...??? Omega?!!!" ucap Arya yang dengan cepat mengenali simbol pada bagian punggung tangannya. "Kenapa kalian berlari dengan tatapan ketakutan seperti itu hm?" tanya Omega perlahan-lahan mendekati mereka bertiga. "Monster, dia itu monster! Dia bukanlah lawan yang pas buat kami." ucap Raffa dengan suara yang bergetar tiap kali mengingat tatapan Alisya yang sangat tajam ke arah mereka. "Kami tidak akan menang melawannya. Black Falcon sudah menciptakan seorang monster." tambah Eros juga dengan tatapan yang sama. "Bukankah kalian itu sama? seorang monster yang melakukan segala cara pada orang normal yang bahkan kalian tak segan-segan mengeluarkan kekuatan penuh kalian untuk membunuh secara perlahan. Iya kan?" tanya Omega dengan tatapan kesal kepada ketiganya. "Sebentar... Kenapa ada dua elite Black Falcon di satu tempat yang sama? Bukankah kau juga memiliki tujuan yang sama dengan kami? benar jika bersamamu mungkin kita bisa mengalahkan dia." ucap Arya cepat mengetahui kekuatan sebenarnya dari Omega. "Benar, kita berempat bisa bekerja sama untuk menangkapnya. Tidak, kita tidak akan bisa menangkapnya. Kita harus membunuhnya demi organisasi." tegas Raffa dengan penuh percaya diri. "Ya, jika kamu setuju. Kita bisa melakukannya malam ini. Bagaimana?" tanya Eros dengan tatapan penuh antusias. "pufftt hahahahhaha... kalian lucu sekali. Apakah kalian tidak sadar bahwa kalian hanyalah pion bagiku? Beraninya kalian mencoba bernegosiasi denganku!" Omega dengan kecepatan tinggi menghajar mereka satu persatu tanpa jeda bahkan tak sedetikpun mereka bisa bernafas atau pun melawan. "Oh, hampir lupa! Terimakasih karena kalian sudah membantuku membangkitkan Alisya, sekarang dia sudah menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Dengan begini aku bisa mendapatkan pertarungan yang sesungguhnya dari dia! ahh... aku sungguh tidak tahan lagi." Omega memeluk dirinya sendiri dengan penuh hasrat. "Kau.. ohokkk,,, apa tujuanmu sebenarnya? iblis sebenarnya.." tanya Arya dengan penuh susah payah karena tubuhnya sudah terlihat hancur dengan mudah karena serangan Omega. "Krekkkk!!!!" Omega dengan cepat mematahkan tulang leher dari Arya. Sedang dua orang lainnya sudah tak sadarkan diri. Mereka bertiga mati ditangan Omega dengan sangat mudah. "Bersihkan mereka, jangan biarkan satupun kabar dari mereka keluar. Katakan saja kalau mereka telah melarikan diri dan akulah yang membunuh para pengkhianat ini" ucap Omega melirik ke arah dinding yang terlihat sekilas beberapa bayangan yang langsung dengan cepat membersihkan mayat-mayat mereka. Tepat saat tempat itu sudah cukup bersih, Adith muncul dihadapan Omega dengan setengah berlari sedang mencari Alisya. Ia yang mencium bau menyengat dengan cepat menghampiri tempat itu tanpa rasa takut sama sekali. Oh, hai... Rezeki anak Solehah nih bisa ketemu pria tampan seperti mu!" Sapa Omega dengan penuh ceria dan sopan kepada Adith. Bau Aura yang sebelumnya dicium oleh Adith tiba-tiba menghilang begitu saja hanya menyisakan bau yang cukup samar-samar namun kemudian perlahan menghilang seperti menguap bersama udara dan diterbangkan oleh angin. "Melihat dari ekspresi mu sepertinya kau sedang mencari Zero Alpha yah?" tanya Omega dengan tersenyum manis. Jantung Adith berdegub dengan kencang saat mendengar ucapan dari perempuan dihadapannya ini yang meski dia mencoba ingat, dia tak mengenalinya sama sekali. "Kau... " Adith memicingkan matanya seolah mengetahui siapa orang yang berada dihadapannya saat ini. "Kau memang jenius, sepertinya aku tak perlu memperkenalkan diri yah?" ucap Omega langsung mendekati Adith dengan satu hentakan yang ia maksudkan untuk menggertak Adith. Adith tidak bergeming dan hanya menatap dingin ke arah Omega. Dia tidak merasakan takut sama sekali karena fikirannya saat ini hanya terfokus pada Alisya semata. "Aku menyukaimu, kau orang pertama yang tidak bergeming saat aku melakukan ini. Apa karena kau sudah terbiasa dengan Alisya?" ucapnya tak lagi berbasa-basi mengenai Alisya. Omega terlihat tertarik dengan Adith yang tak merasakan takut terhadap dirinya. Chapter 255 - Emak-emak Adith yang entah kenapa tidak merasakan adanya suatu yang mengancam nyawanya ketika ia berhadapan dengan Omega saat ini membuatnya hanya menatap dengan datar. Atau mungkin memang belum saatnya ia merasa terancam oleh aura yang dikeluarkan oleh wanita dihadapannya karena ia tak menemukan aura yang dapat mengancam hidupnya saat itu. "Apa yang kau lakukan disini?" Adith masih menatap dingin memundurkan langkahnya karena tidak suka berada terlalu dekat dengan Omega. Bau parfumnya terasa menusuk hidung Adith sehingga kepalanya sedikit pusing olehnya. "Dari caramu memandang, sepertinya kau hanya berekspresi hangat didepan Alisya saja yah?" tanya Omega sekali lagi ingin menggoda Adith dengan kecantikannya. Adith hanya menatap dingin dengan wajah datar yang tak bisa diterjemahkan oleh Omega meski ia sudah memperlihatkan aura kecantikan miliknya. "Aku tak tahu persis siapa kau, tapi sepertinya kau memiliki hubungan dengan Black Falcon." seru Adith tanpa basa-basi yang dengan cepat membuat Omega menghampirinya menutup mulut kecil Adith dengan jari telunjuknya. Adith langsung menghempaskan tangan Omega dengan kasar. "Hati-hati sayang, kau bisa membuat dirimu terbunuh dengan cepat jika menyebutkan nama Organisasi ditempat keramaian seperti ini." Omega memegang pipi lembut Adith dengan sensual. "Jangan berbasa-basi lagi." tepis Adith cepat. Adith benar-benar memperlihatkan sikap yang sangat dingin kepada Omega karena sikapnya yang terlihat sedang merayunya terus. "Pufttt, Namaku Zy, kau mungkin akan mengenaliku dengan nama Omega. Aku kemari hanya untuk memperingatkan Alisya." terangnya dengan tatapan hangat kepada Adith. "Memperingatkan? Apa maksudmu?" Adith bisa menebak bahwa maksudnya dalah 3 orang yang ia hadapi sebelumnya. "hummmm, kau penuh rasa ingin tahu ya? aku bisa memberitahumu jika kamu..." Omega sekali lagi mencoba untuk merayu Adith dengan memegang bahunya lembut. "Hentikan, aku tau kau hanya ingin mengelabuhiku saja. Sekarang, katakan apa tujuanmu." tatap Adith sekali lagi dengan auranya yang dingin. "hahahahaha,,, kau memang menarik. Baiklah, aku takkan menjawab dirimu tapi sebagai gantinya, aku akan membantumu menemukan Alisya. Dia berada di toilet wanita dengan aura membunuh yang sangat besar. Jika kau terlambat, dia yang tidak sadarkan diri jika berada jauh darimu bisa membuatnya membunuh seseorang yang masuk didalam toilet itu." ucap Omega sambil menunjukkan tempat yang ia maksud. "Bagaimana kau mengetahuinya? Siapa sebenarnya dirmu?" tanya Adith lagi tak menyangka kalau Omega bisa sampai tahu se detail itu antara dirinya dan Alisya. "Aku sebenarnya sudah lama memperhatikan kalian, dan aku tak tahu juga kenapa kau bisa mengontrol kekuatan Alisya. Oh... bukan, hanya kau yang bisa membuat emosinya menjadi kacau. huuufftt... aku masih ingin beralama-lama denganmu, tapi sepertinya sudah ada orang yang akan menuju ke toilet itu sekarang juga." Omega kecewa saat merasakan akan ada seseorang yang memasuki toilet itu. Bukan bermaksud untuk menyelamatkan Alisya, dia hanya tak ingin karena kejadian tersebut Alisya dapat dengan mudah terekspos oleh Black Falcon yang membuat dia tidak bisa memiliki kesempatan lebih lagi untuk membunuh Alisya. Tidak ingin mendengarkan ucapan dari Omega lagi, Adith dengan segera berlari pergi meninggalkan Omega tanpa menoleh sedikitpun. "Sebentar!!!" cegat Adith saat seorang ibu-ibu sudah berada didepan pintu toilet dan sudah mencoba untuk menggeser pintu itu. "A... ada apa yah?" Ibu-ibu itu merasa malu terhadap Adith yang mengejarnya. Ia mengira Addith sengaja memberhentikan dirinya karena ingin mengatakan sesuatu kepada dirinya saat ia menoleh ke kiri dan ke kanan namun tidak ada siapapun. "Maaf, sepertinya anda tidak bisa masuk kedalam dulu saat ini." ucap Adith lembut agar ibu itu mengerti. Ia sangat takut jika harus berhadapan dengan ibu-ibu. Namun terkadang ia juga harus bersyukur karena wajah gantengnya itu bisa membuat mereka kehilangan fokus. "Loh kenapa? Toiletnya tidak ada pemberitahuan bahwa ini tidak bisa digunakan kok!" ucapnya merasa aneh dengan perkataan Adith yang sedang melarangnya. "Emmm,,, itu,,, sa... saya mendapat laporan kalau di dalam ada... ular,, iya ular!!!" Adith harus menelan nafas dengan susah payah karena harus berbohong kepada ibu-ibu itu dan sedikit rasa bersalah karena sudah mempermainkannya. "Apaaa??? aaaahhhh." ibu-ibu tersebut langsung melompat kepelukan Adith setelah menjerit cukup histeris. Adith yang mendapat serangan mendadak dari ibu-ibu seketika itu langsung keringat dingin karenanya. "Maaf bu, tapi akan lebih baik kalau ibu tidak menjepitku seperti ini dan melepaskanku sekarang juga." Adit yang tak bisa bernafas karena jepitan si ibu yang mengambil kesempatan dalam kesempitan itu hampir saja menghabiskan nafasnya. "Oh,,, maaf! kamu sih.. ngagetin kayak gitu. Sengaja yah?" ucapnya melepas Adith dengan mengerling nakal. Kesempatan untuk bertemu cowok ganteng muda seperti ini mungkin takkan pernah lagi sehingga ia ingin memanfaatkan kesempatan yang ada, terlebih karena ia merasa bahwa pria itu sendiri yang mendatanginya. "Tentu saja tidak, saya hanya ingin menyelamatkan ibu!" ucap Adith semakin tak mampu mengendalikan tingkah ibu-ibu itu. "Jujur aja, saya nggak apa-apa kok!" ucapnya sekali lagi mencubit dagu Adith dengan gemas. "Saya mau nangkap ular, ibu mau ikut?" tanya Adith mulai gerah dengan tingkah emak-emak yang satu ini. "hahahaha... Nggak!!! Terimakasihh...." uapnya dengan cepat melarikan diri dari Adith karena memang ia juga sangat takut akan ular. Tanpa disadari oleh Adith, dari kejauhan ada Omega yang masih terus memperhatikannya dengan tertawa pelan sekaligus sakit hati. "Aku yang memberikannya aura membunuh yang cukup besar tidak dapat membuatnya takut. Tapi hanya dengan satu pelukan dari ibu-ibu itu sudah cukup untuk membuatnya keringat dingin. Entah apa yang merasukimu..." Omega beralu pergi dengan senyum pahit dan sedikit bingun namun ia tidak bisa pungkiri kalau daya tarik Adith adalah suatu magnet tersendiri baginya. "Adith, kau berada dimana sekarang?" tanya Zein panik saat mendapatkan alat komunikasi mereka yang sempat terputus saat Adith sedang berbicara dengan omega. "Zein,bisakah kau membantuku untuk memblokir tempat ini?" Adith segera mengirimkan gambar hologram mengenai posisinya kepada Zein secepatnya. Zein yang tak tahu apa yang sedang terjadi segera menunju ketempat Adith secepat mungkin. Adith yang tak pernah meminta tolong kepadanya sebelumnya sangat membuat Zein menjadi sangat bersemangat, karena ia merasa bahwa saat ini Adith memang sangat membutuhkan bantuannya. "Oh iya, kau akan kerepotan saat menghadapi emak-emak. Ajak Ryu untuk membantumu" Ryu yang mendengar itu merasakan bahaya yang sangat besar sedang menantinya. Zein yang tak perduli aura wajah Ryu dengan cepat menarik Riyan dan Ryu pergi dari sana. Mereka bertiga pergi dengan alasan Riyan yang sakit perut setelah sebelumnya memberikan pukulan yang sangat keras pada perut Riyan tanpa aba-aba sama sekali. Chapter 256 - Berharap pada. Adith Tanpa menunggu kedatangan teman-temannya, Adith segera masuk kedalam toilet dan langsung merasakan energi hebat yang sangat menekan dan aura membunuh yang sangat kuat. Adith perlahan masuk dan mendapai Alisya dibalik wetafel dengan tubuh yang sudah basah. Alisya sudah membasahi tubuhnya untuk mengembalikan kesadarannya namun energi nano yang terlepas dari tubuhnya masih belum bisa menghilang dan itu sangat membuat Alisya mulai melemas. "Alisya¡­ Alisya,,, kau baik-baik saja?" Adith dengan cepat memegang wajah Alisya yang suhu tubuhnya begitu dingin dan nafas yang memburu. "huhhh¡­ hhuuuhh.. huhhh" Alisya tak bisa mengendalikan dirinya dengan baik dan langsung mencekik leher Adith dengan keras dan membantingnya ke lantai. Saat ini energi Alisya yang keluar sudah terlalu banyak yang membuatnya semakin tak sadarkan diri dan penuh akan emosi yang sangat membuncah. Alisya yang sempat melarikan diri saat tersadar karena teriakan keras dari Adith langsung melarikan diri setelah melihat sekelilingnya tampak tertekan karena energinya. Ia berusaha untuk mengendalikannya namun karena rasa marahnya yang sangat besar, ia tak bisa mengendalikan emosinya dengan baik. "A¡­ Alisya,, Alisya.. sadarlah¡­" Adith memegang pipi Alisya dengan lembut dan memandangnya dengan penuh rasa khawatir yang sangat mendalam kepada Alisya. Kaget Alisya langsung menjauhkan tubuhnya dari Adith dan bersiap ingin melarikan diri, namun Adith dengan sigap menarik tangannya dan memeluknya dengan sangat erat. Alisya yang memberontak ingin lepas malah semakin membuat Adith memeluknya dengan erat dan tak melonggarkan tangannya. Mendengar bunyi detak jantung Adith seketika saja langsung menyadarkan Alisya secara perlahan-lahan yang kemudian kakinya sedikit demi sedikit melemas tak mampu berdiri dengan baik. Adith mencoba menopang tubuh Alisya masih dalam pelukannya. "Adith, kenapa kau mendatangi ku lagi? Kau tau aku bisa membunuh mu bukan?" suara Alisya terdengar lemah dan serak dengan nafas yang semakin melemah. "Tidak, tentu karena aku tau kau takkan pernah membunuhku!" Suara Adith terdengar hangat ditelinga Alisya. "Tapi tadi aku bahkan mencekik lehermu dengan sangat kuat, aku takkan tau hal apa lagi yang bisa aku lakukan nantinya." tambah Alisya yang kini keduanya sudah terduduk karena kaki Alisya sudah sepenuhnya tak bisa menopang tubuhnya lagi. "Maka aku yang akan memastikan kalau hal itu takkan pernah terjadi lagi." ucap Adith mencoba untuk meyakinkan dan menenangkan Alisya. Alisya yang sudah basah kuyup dengan tubuh yang semakin menggigil hebat membuat Adith sangat khawatir. Adith kemudian menyandarkan Alisya di dinding toilet. "Tunggu sebentar disini, aku akan kembali secepatnya." Adith yang ingin pergi mengambil pakaian dan handuk untuk Alisya langsung dicegat oleh Alisya dengan cepat. "Tidak, kau jangan kemana-mana. Jika kau pergi aku... aku,," Alisya merasa sulit untuk mengucapkan kata-katanya karena lidahnya yang mulai kelu. Adith tak lagi berdiri dan langsung memeluk Alisya dari samping menempatkan tubuh Alisya di dadanya yang dirasakan oleh Alisya begitu hangat dan menenangkan. Alisya memeluk tubuh Adith dengan erat untuk bisa memberikan sedikit rasa hangat pada tubuhnya yang perlahan-lahan mulai menguapkan es yang sudah membanjirinya. Adith seolah penawar paling ampuh untuk Alisya. "Apa-apa''an sih... masa kita tidak bisa masuk ke toilet itu." ucap beberapa ibu-ibu yang lewat dengan kesal. "Meski kita harus mencari toilet yang lebih jauh lagi, anak-anak muda tampan tadi membangkitkan semangat muda ku!" ucap salah satu dari mereka. "Benar, sayangnya aku terlalu cepat lahir. Makanya aku jadi nggak ketemu ama mereka." tambah yang lainnya dengan cekikikannya yang khas dari seorang ibu-ibu. Mendengar canda tawa para ibu-ibu tersebut membuat Karin tau siapa yang sedang mereka maksudkan. Ketika mereka menuju ke arah toilwt pun, ada beberapa dari mereka yang seolah merasakan kemenangan karena berhasil mendapatkan foto bersama Zein dan yang lainnya. "Bagaimana keadaan mereka??" Karin langsung datang menghampiri Zein dan yang lainnya yang sedari tadi sudah kerepotan untuk mengatasi para wanita dan ibu-ibu yang ingin menuju ke toilet tersebut. "Aku juga tidak tau, sedari tadi mereka belum keluar." jawab Zein seolah melihat Karin serta Adora sebagai penyelamat mereka. "Adith dan Alisya juga mematikan alat komunikasi mereka!" tambah Ryu lagi yang berulangkali mencoba menghubungi mereka namun tetap saja tidak bisa menyambungkan. "Aku sudah kehabisan stok suntikan ku, begitupula dengan yang ada pada Ryu. Kita hanya bisa berharap kepada Adith sekarang." terang Karin penuh harap kepada Adith untuk bisa memenangkan Alisya saat ini. Tepat saat mereka masih membahasnya, Adith sudah menggeser pintu dengan Alisya yang berada dalam gendongannya. Alisya yang basah kuyup begitu pula Adith karena memeluk Alisya dengan baju basket nya yang tipis membuat keduanya terlihat basah. "Apa yang terjadi? kenapa kalian sampai basah kuyup seperti ini?" tanya Adora cepat sembari memberikan ruang kepada Adith agar ia bisa keluar dengan mudah. "Dia sepertinya menggunakan air untuk menyadarkan diri tapi itu tidak berguna sama sekali." tegas Adith yang memeluk Alisya dengan erat. "Sepertinya dia tertidur dengan nyenyak sekarang, sebaiknya kita membawanya ke kamar sekarang dan mengganti bajunya dengan yang lebih hangat." tegas Karin cepat setelah memeriksa denyut nadi serta suhu tubuhnya dan pernafasan Alisya. Mereka dengan cepat membawa Alisya pergi menuju ke kamar Karin dan yang lainnya. Karin langsung menggantikan pakaian Alisya telat setelah Adith dan para pria lainnya keluar dari kamar lalu kemudian dipersilahkan masuk setelah Karin dan Adora selesai. Ibu Vivian pun juga datang ke kamar mereka setelah melihat dari kejauhan Adith dan yang lainnya berkumpul didepan kamar wanita. "Apa yang kalian lakukan disini?" ibu Vivian masuk bingung melihat 3 orang pria berada didalam kamar wanita, namun setelah melihat Alisya yang terkapar dengan wajah pucat membuatnya paham. "Apa yang terjadi padanya?" tanya ibu Vivian lagi tak tahu apa yang sedang terjadi pada Alisya yang sudah terbaring diatas ranjang itu. "Sepertinya dia kelelahan bu, aku menemukannya pingsan di toilet." Adith berasalan kepada ibu Vivian. "Apakah dia baik-baik saja?" tanya Aurelia yang masuk bersama teman-temannya yang lain dengan tatapan khawatir. "Untuk saat ini dia sedang tertidur. Ia hanya butuh istrahat saja agar bisa memulihkan kondisinya." jelas Karin sembari membenarkan posisi selimut Alisya agar bisa menutupi seluruh tubuhnya dengan hangat. "Ya sudah kalau begitu kalian juga harus berganti pakaian sekarang. Malam ini kita akan mengikuti acara penutupan sekaligus pengumuman pemenang pada setiap jenis lomba!" terang ibu Vivian cepat kepada Adith dan yang lainnya yang masih menggunakan baju basket. Adith yang tak ingin meninggalkan Alisya terpaksa harus pergi karena tak ingin membuat ibu Vivian menjadi curiga. Chapter 257 - Netizen Nyinyir Mereka yang sudah berganti baju menggunakan pakaian seragam sekolah dan Almamater sekolah berencana untuk segera berkumpul kembali ke kamar Karin. Betapa terkejunya Karin saat melihat Alisya sudah tidak berada didalam kamarnya sampai melihat Karin yang panik seketika membuat yang lainnya juga ikut panik bukan main. "Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Aurelia melihat Karin yang panik. "Alisya, dia tidak berada di kasurnya!" terang Karin yang membuat teman-temannya yang baru saja menuju kamarnya juga ikut panik mencari. Keadaan dimalam hari membuat mereka cukup kesulitan untuk mencari Alisya. Karin yang terus mencari ke berbagai arah namun tidak menemukan Alisya, diapun segera kembali lagi ke kamarnya. "Kamu lihat Alisya nggak? Dia tidak ada di atas kasurnya." Karin yang melihat Akiko diluar kamar dengan cepat datang dan menghampiri Akiko untuk menanyakan keberadaan Alisya. "Kak Alisya kan ada di dalam, kenapa malah mencarinya diluar sini?" tanya Akiko bingung sedang ia melihat Alisya berada di belakang Karin. "Aku sudah mencarinya tadi, tapi dia tidak... Uaawaaaaaaa!!!" Karin yang terkejut saat melihat Alisya sudah berada dibelakangnya saat ia menoleh hampir saja membuatnya menangis. Rambut Alisya yang panjang menutupi seluruh tubuhnya dan pakaiannya yang serba putih membuat Karin ketakutan luar biasa, sedang Akiko malah bergetar hebat karena teriakan Karin yang begitu kencang. "Ada apa?" Adith dan yang lainnya langsung menghampiri Karin ketika mendengar suara teriakannya. Tidak bisa menjawab, Karin hanya menunjuk ke Alisya yang sedang berada di belakangnya dan reaksi yang sama di tunjukkan oleh Aurelia dan teman-temannya yang lain. "Sial!!! kamu ngapain sih disitu, dari mana saja? aku sudah menunggumu dari tadi." Karin menatap Alisya dengan jengkel. "Dia kenapa sih? kenapa modelnya seperti itu?" Adora meringis menahan rasa terkejutnya dengan mengelus dadanya karena ketakutan. "Ribut amat! Kalian kenapa sih teriak-teriak seperti itu?" tanya Alisya kesal merasakan sakit pada telinganya karena teriakan mereka. Dia yang baru sadarkan diri merasa sedikit linglung karenanya. Mendengar suara Alisya yang tampak baik-baik saja langsung membuat Adith menghampiri Alisya dan memegang dahi serta pipi Alisya dengan sangat intens yang membuat jantung Alisya kembali berdegub kencang. "Kenapa kalian tidak pacaran saja sih?? bikin sakit mata aja liatnya!" ketus Karin yang kesal karena dikejutkan oleh Alisya namun mereka malah bermesraan dihadapannya. "Bisakah kalian tidak melakukan itu dihadapan kami? Jiwa jomblo kami berteriak kencang." ucap Zein juga kesal dengan perlakuan Adith kepada Alisya. Alisya yang tadinya merasa malu dengan apa yang sudah dilakukan oleh Adith menjadi tersenyum licik ketika melihat teman-temannya sedang menghujat mereka dengan gemas. Alisya segera memberi tanda kepada Adith yang awalnya membuat Adith bingung namun terdiam melihat tingkah manja Alisya. "Waah.. tangan kamu hangat yah..." Alisya langsung menggenggam tangan Adith dengan erat menempatkannya di pipinya kiri dan kanan dengan suara yang ia buat se manja mungkin. Reaksi Alisya seperti itu seketika membuat Karin dan yang lainnya seketika merinding hebat. Alisya yang mereka ketahui bersikap dan berperilaku kuat dan keras tidak akan disangka bisa bersikap se manja itu. "Dasar Netizen Nyinyir!!!" senyum Alisya jahat kepada teman-temannya yang sedang menghujatnya. "Dasar! sampai kapan aku bisa terbiasa dengan tingkah mereka saat ini." terang Aurelia dengan nada mengeluh. "Kamu juga sama!" ucap mereka secara bersamaan yang membuat tubuh Aurelia bergetar karena kaget. Mereka seketika tertawa melihat tingkah Aurelia seperti itu. Jika orang lain yang melihat Adith memperlakukan Alisya dengan manis seperti itu mungkin akan membuat mereka merasa iri dan berteriak heboh bahkan memuji sikap Adith namun tentu saja berbeda jika itu ada sahabat-sahabatnya. Dijamin 100% malah akan menerima hujatan. Mungkin memang itulah yang mendarah daging pada sikap seorang sahabat yang lebih apa adanya. "Sepertinya kalian semua sudah berkumpul yah, seperti yang saya katakan bahwa malam ini penutupan lomba maka sudah pasti pertandingan Final yang harusnya dilaksanakan pada malam ini tidak lagi dilaksanakan karena sekolah SMA Tunggal Ika yang menjadi lawan kalian di pertandingan Final sudah di diskualifikasi." jelas pak Irhan yang datang bersama dengan Akiko dan Ibu Vivian. "Apa itu artinya kami menang tanpa adanya perlawanan?" tanya Riyan dengan nada tak puas karena kemenangan tersebut. "Bukankah itu bagus? mereka juga sudah mendapatkan pelajaran karenanya." ucap Arka datang bersama dengan Yumna yang tersenyum dengan hangat. "Oke, aku masih belum terbiasa dengan senyuman manis yang sudah menjadi milik orang itu." terang Beni tak tahan melihat senyuman manis dari Yumna yang sudah menjadi tunangan Arka tersebut. "Selain itu, 3 orang siswanya juga sudah menghilang dalam kegiatan ini sehingga mereka sedang kerepotan mencari anggotanya." tambah Ibu Vivian yang mereka bertiga baru saja keluar dari ruang meeting. Adith langsung teringat akan kejadian tadi siang saat ia bertemu dengan Omega dimana sebelumnya ia sempat mencium aura dari ketiga orang yang dimaksud oleh ibu Vivian tersebut. "Bersiap-siaplah, acara penutupannya akan dimulai sekitar jam 8 malam ini." terang pak Irhan dengan tatapan kelelahan karena kesibukannya dalam mengatur semua keperluan para siswanya. "Emmm... aku membutuhkan beberapa orang untuk mengambil beberapa keperluan dan mengaturnya. Bisakah kalian membantuku?" pinta Akiko dengan penuh harap. "Beni dan Gani akan membantumu mengambil keperluan dan Biar Feby dan Emi juga yang akan membantumu untuk mengaturnya." terang Karin cepat seolah memberi tanda kepada mereka untuk sejenak pergi membantu Akiko meski yang sebenarnya adalah Karin ingin menjauhkan beberapa orang saja. Tepat setelah semua pergi tanpa rasa curiga, mereka yang tersisa segera berkumpul kembali didalam kamar Karin. "Kau tau apa yang sudah terjadi sesat sebelum kau jatuh tertidur?" tanya Karin dengan penuh kehati-hatian kepada Alisya setelah memastikan sikap tenang Alisya. Adith dan yang lainnya juga sudah berada didekat mereka untuk mendengarkan semua hal yang sedang dibicarakan oleh Karin saat ini. "huhh,, Kalian pasti sudah merasakan apa yang baru saja terjadi. Kalian yang mendapat suntikan penenang pasti akan lebih peka terhadap energi nano yang sudah aku lepaskan dengan tidak sengaja." Alisya memulai kalimatnya untuk menjelaskan semua situasinya agar bisa dengan mudah dipahami oleh mereka. Mereka mengangguk paham namun tak ada yang berkomentar karena lebih ingin mendengar penjelasan Alisya. "Aku rasa apa yang terjadi karena kemarahan yang sangat besar. Dan ini juga yang awalnya pernah terjadi saat aku melihat ibuku yang meninggal lalu. Aku rasa semua ini juga ada hubungannya dengan apa yang sudah pernah disuntikan oleh Omega padaku." tambah Alisya lagi. "Apa karena itu yang membuat energi nano mu menjadi semakin membesar dan tak bisa kau kendalikan?" tanya Adith dengan nada suara yang berat. Adith hanya ingin memastikan segala hal yang ada pada Alisya meski masih banyak yang sangat ingin di tanyakannya. Begitu pula dengan teman-temannya yang lain namun mereka memilih diam untuk saat ini mengingat kondisi Alisya yang memang belum stabil sepenuhnya. "Dari awal sebenarnya aku memang belum bisa mengendalikan energi nano dalam tubuhku karena energi nano ini sangat terhubung dengan emosi yang ada dalam diriku. Semakin besar rasa marah dan kebencian ku terhadap sesuatu maka akan semakin membuncah juga keluar dari tubuhku tanpa terkendali." jelas Alisya lagi dengan tertunduk mendesah. "Dan entah kenapa Adith yang selalu bisa mengembalikan emosimu dengan baik bukan?" ucap Karin memandang Adith dan Alisya secara bergantian. "Kau..." Alisya membelalakkan matanya karena ucapan Karin yang langsung to the point. Karin sengaja ingin mencairkan suasana agar Alisya tidak merasa terbebani dengan semua yang sedang di alaminya saat ini. Karin sengaja menyuruh yang lainnya pergi karena apa yang akan dia bahas saat ini adalah sesuatu yang sangat rahasia dan memang selama ini hanya diketahui oleh beberapa orang saja. Tidak ingin meningkatkan resiko membuat Karin mengurangi sejumlah orang yang mengetahui mengenai keadaan Alisya yang sebenarnya. Chapter 258 - Penutupan 1 Mereka segera kembali berkumpul di aula untuk mengikuti acara penutupan lomba tingkat nasional SMA Se Indonesia. Aula yang mereka datangi sudah tampak ramai dan dipenuhi oleh banyak orang namun acara penutupan belum dimulai sehingga masih banyak siswa dari berbagai sekolah memanfaatkan situasi untuk saling bertegur sapa atau memberi salam perpisahan dengan sekolah lainnya. Terlihat mereka berbincang-bincang begitu akrab untuk sekedar menambah kenalan dan juga menjadi kekasih jika memungkinkan bagi mereka. "Apa tempat ini seketika berubah jadi acara Take Me Out?" ucap Adora saat mereka melihat semua peserta lomba sudah mulai tampak akrab satu sama lainnya secara berpasangan. "Sepertinya seru, bagaimana kalau kita juga ikutan?" Emi seketika menghilang ditengah keramaian setelah menarik Feby dengan sangat cepat masuk kesalah satu kerumunan yang mana terlihat ada seorang cowok tampan disana. "Apa tidak masalah membiarkan mereka lepas seperti itu?" tanya Aurelia menatap Karin yang wajahnya sarat akan kemarahan. "Apa kita harus mengadakan barier untuk para pria kita? Atau mematahkan tulang mereka karena sudah berani melirik wanita lain dihadapan kita?" Karin terlihat tersenyum dengan licik yang membuat Alisya bingung dengan apa yang sedang dikatakannya. Karena penasaran, Alisya melirik ke arah tempat dimana Karin sedang menatap dengan penuh amarah dan dapat dilihatnya kalau Karin sedang menatap ke arah Ryu yang sudah dikelilingi oleh banyak wanita yang sudah melancarkan aksinya untuk berkenalan dengan Ryu dan ada juga yang dengan terang-terangan menembak Ryu secara langsung didepan banyak orang. "Kau benar, rasanya aku ingin mematahkan leher mereka sekarang!" tambah Adora yang melihat Zein sudah berada disituasi yang sama dengan Ryu. Bukan hanya Ryu dan Zein saja, tetapi semua pria yang berada dalam kelompok sekolah mereka sudah mencuri semua perhatian dari seluruh peserta lomba wanita yang berada didalam Aula tersebut, tidak terkecuali dengan pangeran nomor satu sekolah itu. Adith bahkan merasa sesak karena bau mereka yang menyengat sehingga meski ia berusaha menjauh dan menatap mereka dengan dingin, mereka malah semakin merasa tersanjung dan menempel dengan jarak tertentu. "Pergilah!!! Jangan mendekatinya, dia ini adalah pacarku!" ucap Aurelia langsung membentak mereka yang sedang berusaha mendekati Yogi. Yogi seketika menjadi salah tingkah dan segera pergi membawa Aurelia dari sana sebelum ia semakin mengamuk lebih besar lagi. "Waaah... anak itu ternyata berani sekali yah?" Ucap Alisya mengakui keberanian Aurelia yang sedang mempertahankan prianya. Alisya menoleh ke arah Karin yang kini sudah dipenuhi oleh para laki-laki yang juga ingin berkenalan dengannya. Tepat sebelum para pria yang maju munddur untuk mendekatinya, Alisya sudah menghilang secepat kilat ditengah keramaian para wanita yang sedang mengerubuni Adith untuk menyamarkan diri. Alisya berdiri ditengah-tengah mereka membelakangi Adith sembari terus mengindari tatapan dari para laki-laki yang sedang mencarinya. Alisya yang tak terbiasa berinteraksi dengan banyak laki-laki membuatnya merinding setengah mati. "Ihhh.. Siapa sih? Menhalangi saja" ucap seorang wanita yang terganggu dengan Alisya yang sedang berdiri menghadap dirinya. Ia dengan cepat menghindari Alisya dengan mendorongnya keluar dari barisan karena kesal. "Ah itu dia Alisya!!!" Ucap seorang pria yang menemukan Alisya dibalik kerumunan para wanita. Alisya yang merasa ditemukan seketika menjadi sangat takut dan tak tau harus bagaimana sehingga ia hanya tersenyum dingin ditempatnya. "Ah.. sudah kepalang basah! Bahkan Karin juga sudah tidak mungkin untuk membantuku sekarang." Gumam Alisya bingung menghadapi situasi dimana ia seolah sedang kedapatan melarikan diri dari sesuatu yang menakutkan. "Dia.. dia mau kemana?" gumam beberapa wanita saat Adith berjalan mendekati Alisya yang sedang membelakanginya. Alisya tak tahu kalau Adith tidak sengaja mengetahui dirinya yang sedang bersembunyi dibalik kerumunan wanita yang mengerubuni dirinya. "Sayang, kenapa kamu baru datang sekarang? Aku sudah menunggumu dari tadi. Kau lihat, karena kamu membiarkanku sendiri terlalu lama mereka akhirnya mengira aku ini masih jomblo loh?" Adith langsung memegang pinggang Alisya dengan akrab yang membuat para wanita seketika menjadi marah dan menatap penuh kebencian. "Urus dulu uranmu sendiri, aku sedang dalam situasi yang menegangkan nih!" ucap Alisya cuek karena ia merasa masih harus berhadapan dengan para pria yang sedang mendatanginya itu. "Bodoh! Aku juga sedang membantumu sekarang, tidak bisakah kau bekerja sama sekarang?" Bisik Adith lembut ditelinga Alisya. Alisya yang heran saat melihat para pria yang tadinya berjalan mendekati dirinya sudah pergi membubarkan diri membuatnya menoleh kearah Adith yang tersenyum dengan manis dan mempesona. "Bekerja sama? Untuk apa? Bukankah pria sangat suka saat dia kerubuni oleh lalat?" ucap Alisya dingin yang tanpa disadari olehnya, dia sudah mendapatkan banyak hujatan kebencian dari para wanita yang sedang melihatnya. "Tapi aku lebih suka dengan lalat sepertimu, meskipun jika kamu adalah lat Tse-tse!" ucap Adith sembari tertawa pelan melihat wajah merungut Alisya yang jengkel disebut lalat Tse-tse oleh Adith. "Baiklah, karena kau sudah membantuku maka akan ku lakukan sesuatu yang lebih untuk membalas perbuatanmu." Ucap Alisya mengerling nakal dengan memainkan alisnya dengan cepat. "A... Adith,,,, apa dia pacar kamu?" tanya seorang perempuan sudah tak bisa melihat lebih lama lagi kemesraan mereka. "Bukankah kau selama ini tidak pernah memiliki seorang pacar?" tanya yang lainnya merasakan rasa penasaran yang sama dengan wanita yang lainnya. Meski sangat ketakutan saat bertanya, ia memberanikan diri saat ada salah satu dari yang lainnya juga ikut bertanya lebih dahulu. "Pergilah, kalian bahkan tak tahu malu mengira dia masih jomblo tanpa mencari tahu dulu siapa orang yang sedang berada di sisinya saat ini. Apakah sikapnya yang seperti ini masih kurang jelas? Apa kalian pernah melihat atau mendengar dia berada kurang dari satu meter dengan seorang perempuan? Bahkan posisi kami sekarang hanya bejarak 5 cm. Apa ini juga masih kurang jelas?'' Alisya menatap mereka secara langsung dengan penuh percaya diri dan dengan tatapan yang dingin. Adith tidak bisa menahan tawanya saat mendengar apa yang sudah ditakan Alisya. Bukan karena apa yang dikatakannya adalah sebuah kekeliruan, melainkan karena saat ia berbicara terdengar seperti sedang menghadang cewek lain untuk mendatangi kekasihnya saat itu. Adith tidak bisa menyembunyikan wajah bahagianya meski ia sudah mencoba menutup wajahnya dengan tangannya namun Adith tetap tertawa pelan karenanya. Mereka yang semula ingin membantah apa yang sudah dikatakan oleh Alisya tidak bisa berbuat apa-apa setelah melihat Adith yang senyum-senyum sendiri dibelakang Alisya. Mereka akhirnya pasrah dan menyerah pergi meninggalkan Adith yang semakin tertawa dengan puas melihat Alisya mampu mengalahkan mereka semua hanya dengan satu kalimat saja. Chapter 259 - Penutupan 2 Ryu yang melihat Karin sedang kerepotan saat menangani beberapa pria yang sedang mengajaknya berkenalan dan bahkan meminta nomor telpon dan alamat media sosialnya dengan cepat menghampiri Karin dan langsung berdiri dihadapan Karin menghadapi semua pria itu dengan tatapan dingin. "Maaf, sebaiknya kalian pergi dari sini. Dia adalah milikku." tegas Ryu dengan tatapan mantap dan penuh percaya diri. "Apa milikmu? kau pikir siapa dirimu?" seorang pria dengan kuat mendorong bahu Ryu. "Kami sudah mencari tahu, Karin itu tak memiliki seorang pacar sekalipun." tambah pria lainnya mencoba mendorong Ryu dari sana namun posisi Ryu bahkan tak bergeser sedikitpun. "Sekarang dia adalah milikku." Rangkul Ryu cepat dimana Karin hanya terpana memandang wajah Ryu lekat-lekat tanpa berpaling. "Karin, apa benar yang di katakan?" tanya mereka dengan tegas. "Karin, kau mendengar kami tidak?" ucapnya sekali lagi dengan suara yang lebih lantang. "Sudahlah! kau bisa lihat sendiri bagaimana reaksi Karin terhadapnya. Jika tidak benar, dia pasti sudah di hajar dari tadi." ucap seorang lain yang sadar saat melihat tatapan terpesona Karin terhadap Ryu. Mereka dengan penuh rasa malu segera bergegas meninggalkan mereka disana. Riyan yang baru saja bisa melepaskan diri dari para wanita yang mengerubuninya dengan begitu agresif langsung terhenti. Ia yang sebelumnya ingin mengungkapkan perasaanya kepada Karin dihadapan semua orang langsung menelan ludah pahit karena telat beberapa detik dari Ryu yang bisa dengan mudah menolak semua perempuan yang menghampirinya dengan mantap dan tanpa basa-basi. Ryu yang ingin bersikap baik dengan menolak mereka secara sopan pada akhirnya malah membuatnya harus kehilangan satu kesempatam yang sangat berharga baginya. "Terkadang terlambat dalam mengambil keputusan dapat membuatmu kehilangan sesuatu yang berharga." Batin Riyan tersenyum atas lambatnya ia saat mengambil keputusan. Berbeda dengan Ryu yang langsung menanggapi perasaannya dengan cepat. Sehingga keberuntungan pun menghampiri dirinya. "Zein... zein... zein.... ka... kami bisa menjadi temanmu kan?" tanya seorang perempuan menyerbu Zein yang terus melarikan diri. Mereka terus memanggil nama Zein dengan penuh nafsu. "Bisakah kalian hentikan itu? apa kalian tidak lihat bagaimana dia kewalahan menghadapi kalian semua? laki-laki itu paling benci dengan wanita yang agresif." bentak Adora mulai kesal dengan tingkah mereka yang seperti cacing kepanasan. "Apa urusanmu? dia bahkan bukan siapa-siapa mu." bentak seorang perempuan melawan ucapan Adora. "Kalian yang dari sekolah lain juga kenapa begitu sibuk mengganggu pria dari sekolah lain? apa sekolah kalian sudah kehabisan stock orang ganteng?" Adora menatap dengan sinis tak ingin kalah. "Puftttt hahahah... kau cemburu karena kami mendekati dia? Dia bahkan tidak menolak kami dan kau terlihat seperti seorang gorila yang diambil makanannya." terang yang lainnya tak kalah sinis menatap Adora dengan tajam. "Ha??? Cemburu? buat apa saya cemburu pada orang seperti kalian? lagi pula Zein juga takkan mungkin menyukai orang seperti kalian." Adora menyunggingkan senyuman jahat dengan penuh percaya diri. "Orang seperti kami? Orang seperti kami juga masih penuh percaya diri. Lihat dulu dirimu sebelum bicara, memangnya dengan kau berkata seperti itu Zein juga akan menyukai mu?" serang yang lainnya dengan lebih lantang. "Setidaknya dia lebih tau cewek yang bermartabat dibanding model murahan seperti kalian." tegas Adora kesal dengan sikap mereka. "Kau!!!" seorang perempuan mencoba ingin menampar Adora namun dengan cepat dihentikan oleh Zein dengan menangkap tangannya dengan kuat dan menepisnya dengan kasar. Zein yang tak menyangka Adora begitu penuh percaya diri menghentikan mereka dengan sangat berani membuatnya tersenyum dan cukup senang karena itu. Melihat Adora yang terdiam karena hal tersebut membuat Zein menjadi greget untuk membantu Adora. "Gimana yah? sepertinya aku lebih tertarik kepada dia, dia begitu berani membelaku dan tau banyak tentang diriku. Dia bahkan berani membelaku meski dia tak tahu apa yang aku rasakan karenanya. Untuk itu, dia sudah membuatku cukup tertarik." terang Zein dengan cepat merangkul bahu Adora dengan sangat akrab. Mendapat perlakuan manis dari Zein seketika membuat Adora berdebar kencang. Ia yang selama ini hanya bisa saling komunikasi dalam pertemanan tak pernah menyangka kalau Zein akan merangkul pundaknya se erat itu. Melihat apa yang sedang dilakukan oleh Zein kepada Adora segera membuat mereka semua pergi secara teratur dengan makian dan hinaan didalam hati mereka mengutuk Adora. "Ummm... Zein, kamu sudah bisa lepas. Mereka juga sudah pergi semua kan." terang Adora yang merasakan sesak di dadanya karena bahagia juga miris karena bagi Adora, kata-katanya yang ia ucapkan hanyalah sebuah kebohongan untuk mengusir mereka pergi. "Terimakasih! Anggap saja ini Fan Service. hmmm Sepertinya disini cukup kacau juga yah karena acaranya belum dimulai." terang Zein melepas rangkulannya setelah ia rasa cukup dan melirik ke segala arah memperhatikan semua hal yang sedang terjadi disana. Adora langsung melarikan diri karena merasa wajah serta kepalanya panas karena bisikan hangat Zein ditelinganya. "Rasanya tubuhku akan meleleh dibuatnya." Adora sudah berada diluar gedung untuk menenangkan dirinya. Saat dia sedang memegang pipinya dengan erat, dia melihat seorang anak kecil berjalan dengan sebatang es krim di mulutnya. Anak itu adalah seorang anak dari salah satu perwalian yang datang pada kegiatan lomba tersebut. "Hei, dimana kamu membeli es krim itu?" Adora tak sadar kalau ia bertanya dengan wajah yang menyeramkan kepada seorang anak kecil sehingga anak tersebut menangis dengan hebat. "uaaaahhh aaaahhh., aaaaaa" teriaknya ketakutan karena wajah Adora. "Nih..." Adora menaikkan satu lembar uang 50 ribu yang diberikannya kepada anak tersebut. "Disana..." Jawabnya cepat setelah melihat uang tersebut. "Kampret,, anak zaman sekarang tau aja namanya uang. Tangisnya berhenti seketika dan ekspresi wajah langsung berubah jadi ceria. ckckckck" Adora berdecak takjub dengan tingkah anak kecil tersebut. Anak yang sebelumnya menangis dengan hebat itu segera menari-nari dengan girang mengambil uang milik Adora sambil berlalu pergi. Adora menuju ke arah yang ditunjuk oleh anak sebelumnya untuk membeli es krim kemudian duduk di teras tidak jauh dari pintu masuk gedung aula penutupan tersebut. "Huuhhh,, aku pikir kau kemana! Ternyata disini. Kau membuatku khawatir" Zein datang dengan terengah-engah karena mencari Adora yang melarikan diri. Melihat Adora sedang menyendok es krim, Zein langsung memajukan wajahnya dan memakan es krim yang berada ditangan Adora. Wajah Adora Kembali memerah merona dan memanas. Ia menjadi salah tingkah dan tak tahu apa yang harus dia perbuat sehingga ia salah menelan ludahnya yang malah masuk ke tenggorokan karena ia mendesah. "Kau tidak apa-apa?" Zein sekali lagi menyerang Adora dengan wajah tampannya. Chapter 260 - Pengumuman Setelah Seluruh kekacauan yang terjadi sebelumnya, akhirnya acara penutupan segera dimulai. Para peserta lomba serta para pelatih dan segenap yang berperan dalam kegiatan tersebut berkumpul di aula untuk mengikuti acara penutupan pada malam itu. "Acara akan segera dimulai, untuk itu diharapkan kepada semua peserta lomba beserta seluruh staf dan pihak yang terkait dalam acara ini diharapkan untuk mengambil tempat yang telah disediakan." ucap salah seoang panitia memberikan arahan agar semua mulai duduk sesuai dengan tempat-tempat yang sudah diberikan tanda sekolah sebelumnya. Adith dan yang lainnya yang semula duduk dibagian paling akhir kini duduk diagian kursi paling depan sekelas tamu VVIP acara tersebut berhubung kepala sekolah mereka pak Richard ikut hadir menyaksikan acara penutupan tersebut. Setelah serangkaian acara awal dalam penutupan pada malam itu, sampailah pada acara yang ditunggu-tunggu yaitu acara pengumuman juara dalam setiap lomba. Nama sekolah SMA Cedekia Indonesia menjadi yang paling sering disebut dalam memenangkan banyak lomba. Sekolah SMA Satu Nusa berada diurutan kedua dengan perolehan yang hampir mendekati perolehan sekolah Adith serta juara ketiga yang harusnya dimenangkan oleh sekolah SMA Tunggal Ika yang medapatkan diskualifikasi diberikan kepada pemenang selanjutnya yaitu sekolah SMA Garuda Nusantara. "hah.. hahh.. hah... rasanya suaraku hampir habis karena berteriak terus menerus saat mendengar nama sekolah kita disebutkan sebagai pemenangnya." Emi terduduk saat merasakan sesak dan sakit pada bagian lehernya karena terus berteriak tanpa henti. "Kau membuatku malu karena teriakanmu itu." ucap Adora yang sedari tadi menunduk karena tingkah Emi dan Feby yang tidak ketulungan hebohnya. "Ya ampun,, kamu kok gitu sih! ini tuh hasil perjuangan kita selama beberapa hari sebelumnya" ucap Feby merasa kesal dengan apa yang dikatakan oleh Adora mengenai mereka. "Tapi sikap kalian seperti itu tidak memperlihatkan kedermawanan kita." ucap Adora sekali lagi yang sebebnarnya tak menyalahkan sikap mereka hanya saja ia ingin teman-temannya bisa lebih rendah hati kepada peserta lain yang tentu saja sudah berjuang keras untuk bisa memenangkan semua lomba yang mereka ikuti. "Sudahlah... tidak apa-apa! lagi pula mereka tidak berteriak sekencang itu kok! dan aku rasa itu masih wajar." ucap Karin yang merasa tak masalah dengan sikap kedua teman-temannya terlebih setelah mengingat bagaimana perjuangan mereka untuk bisa memenangkan semua itu. "Maafkan aku, aku tak bermaksud untuk membuat kalian jadi merasa seperti..." Adora merasa tidak enak atas apa yang sudah di ucapkannya kepada mereka berdua. "Sudahlah,,, kau harus mentraktir kami berdua es krim sebentar!" ucap Emi sembari mengerling nakal kepada Feby. "Dari mana kalian?" Adora kaget dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Emi yang itu artinya kedua sahabatnya itu melihat apa yang terjadi antara dia dengan Zein. "Teman-teman... Adora tadi Ummphhh" Feby yang ingin berteriak kencang untuk mengatakan semuanya seketika dibungkam dengan cepat oleh Adora yang wajahnya juga sudah memerah malu. Pengumuman mengenai juara pada tiap lomba sudah selesai saatnya untuk penerimaan piala penghargaan dimana juara lomba yang dipanggil untuk pertama kali adalah sekolah dari SMA Garuda Nusantara. "Berikutnya berikan tepuk tangan yang sangat meriah kepada juara ke 2 yang dipegang oleh sekolah SMA Satu Nusa untuk segera ke atas panggung bersama dengan yang terhormat bapak kepala sekolah SMA Satu Nusa." panggil seorang MC pria dengan penuh semangat. "Selamat yah, maaf aku tak sempat pergi ke rumah sakit untuk mengunjungimu." ucap Adith kepada Arka yang sudah bersiap untuk maju keatas panggung sebagai perwakilan penerima penghargaan bersama Yumna. "Terimakasih, Alisya sudah mewakilimu untuk mengunjungiku hari itu. Dan aku sangat senang karena kau berhasil memberikan mereka pelajaran yang dengan begitu aku cukup puas meski kau tak datang!" senyum Arka sembari melambai kearah Alisya dengan hangat. Setelah cukup berbicara dengan Adith, Arka segera naik keatas panggung dan menerima piala penghargaan sebagai perwakilan sekolah dan Yumna mendapatkan sertifikat pelajar sebagai salah satu perwakilan mereka juga dan Kepala sekola mereka mendapatkan uang tunai sebagai hadiah dari pemenang lomba. Yumna yang sudah mendapatkan medali sekaligus piala sebagai juara 1 untuk bidang matematika sudah semakin menarik perhatian banyak orang ditambah dengan Arka yang mendapatkan posisi ke dua setelah kalah 20 Poin dari perolehan nilai yang didapatkan oleh Adith tidak membuatnya berkecil hati, ia malah semakin bangga karena bisa menyamai posisi Adith meski terpaut sejauh 20 poin. "Sudah tidak sabar lagi, mari kita sambut Pemenang juara 1 dari sekolah SMA Cendekia Indonesia." ucap si MC singkat namun dengan teriakan yang lebih besar dan heboh dibanding dengan sebelum-sebelumnya. Seluruh peserta lomba yang sudah mengetahui bagaimana sepak terjang semua nggota peserta lomba dari sekolah SMA Cendekia Indonesia merasa mereka pantas mendapatkan gelar tersebut terlebih saat melihat bagaimana perjuangan mereka dalam memenangkan tiap pertandingan. Mereka yang mengira bahwa sekolah elite tentu dapat memenangkan dengan mudah semua pertandingan dengan memandang remeh peserta lain mengaku salah akan penilaian mereka. Memang benar bahwa semua peserta dari sekolah Elite Indonesia merupakn kandidat terkuat dalam lomba tingkat nasional kali itu, namun setelah melihat adith dan yang lainnya yang terlihat begitu bersungguh-sungguh membuat mereka juga paham bahwa ternyata siapapun bisa mendapatkan hasil yang baik jika melakukan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh. Usaha tidak akan menghianati hasil. "Adith naiklah ke panggung sebagai perwakilan dari sekolah kita bersama dengan Alisya." Ucap pak Irhan malas. Ia masih saja merasa sensi setiap kali menyebutkan nama Alisya. Adith hanya menatap dingin namun dengan cepat menghampiri Alisya yang sedang duduk berdampingan dengan Karin. Tanpa aba-aba, Adith langsung menariknya dengan lembut yang membuat Alisya bingung namun dengan terpaksa mengikuti langkahnya setelah melihat kepala sekola yang sudah memandang kearah mereka berdua. "Sial! Kenapa selalu saja kau menjebakku seperti ini?" ketus Alisya dibelakang Adith yang hanya tersenyum puas. Semua yang melihat Adith memperlakukan Alisya dengan begitu akrab membuat semua orang menjadi merasa begitu iri sekaligus takjub. "Selamat pak atas kemenangannya." Ucap Menteri Pendidikan memberikan piagam penghargaan kepada pak Richard. Begitupula penyerahan piala kepada Adith yang dibantu oleh Alisya karena ukurannya yang cukup besar dan berat. Setelah saling bersalaman, Kepala sekolah segera turun dari panggung di ikuti oleh Adith dan Alisya dari belakang namun tiba-tiba sang MC dengan cepat menghentikan Alisya dan berbisik kepadanya untuk tetap berada dipanggung. "Pufffttt¡­ pasti dia tidak tau apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Aku sudah tidak sabar melihat dia mempermalukan dirinya sendiri setelah ini." Ucap seorang peserta lomba perempuan yang sebelumnya harus dipukul mundur oleh Alisya saat mendekati Adith. "Mari kita lihat apa yang bisa dilakukan. Ini adalah balasan karena kau sudah mempermalukan kami" tambah temannya yang memiliki perasaan yang sama. "Kalian yakin ini tidak masalah? Bagaimana jika dia meengatakan semuanya kepada panitia." Ucap salah seorang dari mereka yang merasa ragu atas apa yang sudah mereka lakukan pada Alisya. "Jangan khawatir, Ketua panitia dalam pelaksanaan lomba ini adalah ayahku sehingga mereka tentu akan membela dan menyembunyikan kesalahanku dan akan menyerahkan semua kesalahan pada Alisya." Ucapnya tertawa dengan penuh kesombongan. "Tapi bagaimana jika ternyata orang yang sedang kita jebak sekarang adalah orang yang sangat penting? Kau tau kan sekolah SMA Cendekia itu semuanya berasal dari keluarga yang berada dan penting? Jangan sampai dia adalah¡­" "Diamlah, jika kau takut maka pergi saja dari sini dan tutup mulutmu!" ucap temannya yang lain dengan kesal karena kesal dengan temannya yang penakut tersebut. "Huhhh¡­ tidak usah khawatir, aku sudah mencari Informasi tentang dirinya dan tidak satupun yang mengetahui mengenai siapa dia dan dari mana asalnya. Dia hanya dimasukkan oleh ayah Karin disekolah tersebut." Dia yang mendapatkan informasi dari pak Irhan merasakan sebuah kemenangan mutlak yang sedang menanti dihadapannya. Namun seperti itulah Informasi dari Sekolah. Chapter 261 - Mendadak Dance Alisya yang kebingungan hanya berdiri ditempatnya sedang Adith yang tak mengetahui apa-apa hanya terus berjalan meninggalkan Alisya sendirian diatas panggung sampai ia mendengar nama Alisya disebutkan. "Kita akan istrahat sebentar sembari menyaksikan hiburan yang akan dipersembahkan oleh Ralisya Quenby Lesham perwakilan dari sekolah SMA Cendekia Indonesia!!! Berikan tepuk tangan yang sangat meriah." Teriak si MC dengan begitu menggelegar memperkenalkan Alisya. Mendengar hal tersebut Alisya hanya memicingkan matanya dan mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang baru saja dikatakan oleh MC tersebut. "Maaf, sepertinya anda sudah salah paham. Saya tidak pernah menawarkan diri untuk memberikan sebuah persembahan." Alisya langsung berbisik kepada sang MC untuk memberikan karifikasi. "Apa??? Seseorang tadi datang setelah merekomendasikan kamu. Kamu mau mempermalukan kami? Aku sudah terlanjur mengumumkannya kepada mereka semua sekarang lakukan apa yang harusnya kamu lakuakan dan jangan bermain-main." Ucapnya kesal karena tak ingin disalahkan karena sudah memberikan pengumuman palsu. Alisya hanya pasrah karena sang MC segera bergerak kebelakang meninggalkan dirinya sendirian di atas panggung. Namun yang lebih membuatnya bingun adalah taka da satupun dari staf yang memberinya mikrophone jika memang memungkin dia terpaksa harus menyanyi. Adith melirik kepada Alisya dari jauh dengan tatapan bertanya yang hanya mendapat jawaban anggukan bahu dari Alisya yang tak tahu apa-apa. "Kau yakin membiarkan Alisya sendirian disana?" tanya Arka mendekati Adith yang terlihat menatap Alisya dengan melipat kedua tangannya dari kejauhan. "Aku ingin lihat bagaimana dia mengatasi situasi ini sendirian. Dia selalu saja menghadirkan sesuatu diluar perkiraanku dan itu yang menarik dari dirinya." Terang Adith penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Alisya. "Adit, kenapa dengan Alisya? Kenapa dia bisa berada disana?" tanya Karin bingung dengan apa yang sedang terjadi pada Alisya. "Aku sudah bertanya kepada para panitia dan katanya ada yang sudah merekomedasikan Alisya untuk memberikan sebuah persembahan!" Akiko yang tau bahwa Alisya bukanlah orang yang suka menonjolkan diri dengan segera mengkonfirmasi apa yang sedang terjadi. "Adith, apa kau lupa kalau Alisya tidak suka berada dihadapan keramaian? Tadi diam au ikut karena kau berada disampingnya. Tapi sekarang kau berada disini sedang dia sendirian disana." Ucap Karin mengingatkan. "Sial!!! Bagaimana bisa aku melupakan hal sepenting itu?" Adith dengan cepat berlari kearah panggung untuk menyelamatkan Alisya namun tiba-tiba saja sebuah lagu India sudah diputar dengan sangat besar untuk mengiringi Alisya yang sedang berdiri di atas panggung. Untuk beberapa saat Alisya masih terdiam terpaku tak menyangka kalau hal itu akan terjadi padanya. Ia yang semula sudah berusaha untuk mengendalikan diri seketika buyar ketika banyak kilatan cahaya kamera menyorot dirinya. Tubuh Alisya seketika bergetar dan bingung akan apa yang harus dia lakukan dengan music India yang diawali dengan bunyi gitar merdu yang sudah teputar dengan keras tersebut. Semua yang menontonnya pun mulai bertanya-tanya dan berbisik-bisik dengan keras melihat Alisya yang hanya terdiam membeku diatas panggung. Adith kemudian berjalan perlahan mendekati Alisya yang berada diatas panggung membuat semua orang semakin bingung akan apa yang sedang terjadi namun melihat tatapan Adith kepada Alisya, mereka seolah tenggelam dengan lirik lagu yang berada pada bagian layer dibelakang mereka berdua. "Tutup matamu dan dengarkan suaraku jika kau takut!" ucap Adith berbisik lembut kepada Alisya langsung memegang tangan dan pinggangnya lalu memutar Alisya dengan lembut mengendalikan tubuh Alisya dengan begitu gemulai mengajaknya dance secara perlahan-lahan. Alisya yang kaget hanya menatap Adith tanpa berpaling. Adith langsung memegang kepala Alisya membuatnay tertunduk dihadapannya menggerakkan lengannya dengan gemulai sembari terus mengikuti lirik lagu itu dengan penuh ekspresif. Begitu part bagian perempuan mengalun dengan indah, Adith mengangkat Alisya ke atas tubuhnya melemparnya dengan lembut kemudian membuatnya terduduk di pahanya dengan manis. Tatapan mata Adith dan Alisya tak pernah lepas satu sama lainnya selama lagu tersebut mengalun dengan indahnya. Bahkan Adith memperlakukan Alisya dengan sangat lembut serta manis setiap kali bagian part itu semakin terdengar romantis. Alisya yang mundur perlahan tersenyum melihat Adith yang mampu mengendalikan dirinya dengan begitu lihai dan bisa mengetahui semua lirik lagu itu. "Sudah ku bilang bukan? Percayalah padaku" ucap Adith menghampiri Alisya memeluk pingganya dari belakang menggerakkannya dengan begitu cepat namun gemulai memegang pipinya sembari tersenyum penuh cinta lalu menarik tangannya dan membuat Alisya berngoyang dengan gemulai. Gerakan keduanya begitu indah sampai semua orang yang menonton mereka terpaku karena keindahan dan chemistry yang sangat kuat dari keduanya. Setelah lagu itu berakhir dengan Adith yang menempatkan Alisya dibelakangnya dan meraih kepala Alisya hanya dengan lirikan yang membuai membuat semua orang hanya menatap diam dan terpaku karenanya. Tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarka suara sampai Karin terbatuk dan sadarkan diri karena sama terbuai dengan pertunjukan dari Adith dan Alisya. "Wahhh¡­ hebat sekali, kita semua bahkan sampai terpaku karena pertunjukannya hebat! Teriamaksih kepada Alisya dan Adith yang sudah memberikan sebuah pertunjukkan yang spektakuler malam ini.. Tepuk tangan semuanya!" MC yang tersadar segera menuju ke panggung dan mengawali tepuk tangan itu dengan begitu meriah yang membuat semua orang juga ikut bertepuk tangan dengan keras. "Bagaimana ini? Bukankah rencana kita untuk mebuatnya malu? Dia malah semakin mendapatkan perhatian yang lebih dari Adith." Dia yang semula ingin menjebak Alisya malah tidak mendapatkan hasil yang diinginkannya. "Apa-apa''an itu? Apa itu artinya bahwa Adith memang benar-benar menyukai Alisya?" ucap salah seorang lagi dari mereka yang mulai menyadarkan dirinya. "Kita sudah salah dalam menjebak orang, aku yakin setelah ini mereka akan mencari tahu siapa penyebab sehingga dia bisa dijebak disana." Seorang perempuan yang sebelumnya sudah menghalangi teman-temannya. "Sudah ku bilang kau tak perlu khawatir, dia takkan bisa berbuat apa-apa karena hal itu. Panitia pasti akan menyembunyikannya." Ucapnya dengan kalimat yang terbata-bata karena ragu. "Ohh¡­ jadi kalian dalang dari semua ini? Pantas saja aku merasa curiga dengan sikap kalian sedari tadi." Aurelia muncul Bersama dengan Yogi dibelakang mereka bertiga menatap dengan dingin. "Kalau I iya.. memangnya kenapa? Tak ada yang bisa kalian lakukan karena ayahku adalah orang yang sangat penting dalam acara ini." Dia tetap berkata dengan sinis menggunakan ayahnya untuk membela diri. "Ohh,, kalau begitu seharusnya kau tahu siapa ayah Alisya." Pancing Aurelia dengan senyuman yang sangat menakutkan bagi mereka. "Dia bukanlah anak dari seseorang yang penting." Ucapnya santai. Merasa jengkel, Aurelia langsung membisikkan nama Ayah Alisya yang seketika membuatnya membelalakkan mata bergetar dengan hebat karena rasa takut. Chapter 262 - Kau Mau Bunuh Diri? "Wow... apa yang baru saja terjadi? Bagaimana kalian bisa melakukan semua itu dengan begitu mudahnya?" tanya Karin tak menyangka kalau Alisya dan Adith bisa melakukan pertunjukan mendadak dengan sekeren itu. "Kau hebat Dith. Aku tak mengira kalau kau begitu jago dalam menari." puji Adora dengan penuh semangat. "Kami malah sahabat baiknya juga tak menyangka kalau dia akan sehebat ini." terang Riyan yang masih belum bisa menghilangkan bayangan bagaimana mereka bisa menguasai panggung dengan sangat baik. Mendengar pujian dan pertanyaan dari teman-temannya Adith hanya tersenyum simpul. "Kau baik-baik saja?" tanya Adith kepada Alisya yang terlihat masih mengerutkan keningnya dengan kuat. "Bisa kita keluar? kepalaku rasanya sakit!" Alisya semakin tidak nyaman dengan semua keributan yang sedang terjadi didalam aula tersebut. Melihat wajah kurang nyaman Alisya membuat yang lainnya mengangguk pelan memberikan Alisya ruang untuknya keluar dari acara penutupan tersebut berhubung acara penutupan itu telah selsai dilakukan dan sekarang hanya ada beberapa pertunjukan yang sudah dipersiapkan oleh para panitia. "Rasanya puas sekali setelah memberikan mereka pelajaran dengan telak." seru Aurelia datang menghampiri mereka dengan wajah yang sumringah. "Ada apa?" tanya Adora kepada Yogi yang datang dengan wajah lesunya setelah lelah menenangkan Aurelia yang terus mengamuk. "Aku juga tak tau, tapi malam ini dia jadi gampang sekali marah." ucap Yogi lesu. "Apa dia lagi dalam periodenya?" ucap Feby yang menerka masa menstruasi dari Aurelia. "Jangan membicarakan ku yang tidak-tidak, aku hanya sedang kesal saja" jawab Aurelia kesal mendengar percakapan mereka yang sangat jelas. "Dia lagi menopause dini." Karin berjalan melewati dengan santai. "Karinn... ya nggak lah apa''an sih!" protesnya yang malah mendapatkan tawaan renyah dari sahabat-sahabatnya sedang Yogi langsung membelai lembut rambut Aurelia yang langsung bertingkah manja. Setelah merasa cukup jauh, Adith dan Alisya segera duduk di taman sekitar area perlombaan yang terlihat sedikit sunyi karena semuanya masih berada di dalam gedung. "Bagaimana perasaanmu?" tanya Adith lagi setelah Alisya bisa duduk dengan nyaman. "Sudah lebih baik dari sebelumnya." jawabnya pelan. "Maafkan aku karena meninggalkan mu diatas sana sendirian." ucap Adith merasa bersalah kepada Alisya. "Apa kau akan datang setiap kali aku selalu dalam kesulitan?" tanya Alisya menatap Adith dalam. "Tentu saja, kapanpun dan dimanapun aku akan datang setiap kali kau kesulitan. Bahkan aku akan tetap meski kau tak kesulitan sama sekali." jawab Adith meyakinkan Alisya. "Tapi sikapmu yang seperti ini justru akan semakin membuat ku kesulitan." Alisya tertunduk tak bisa menatap mata Adith. "Alisya, lihat aku! Pinta Adith duduk berjongkok dihadapan Alisya. "Apa maksudmu dengan aku membuat mu kesulitan?" tanya Adith bingung tak paham maksud dari perkataan Alisya. "Kau tau sikapmu yang seperti ini hanya akan membuatku sangat ketergantungan terhadap dirimu. Aku akan kesulitan jika sehari saja tanpa dirimu." jelas Alisya dengan air mata yang mengalir mengingat bagaimana leganya perasaannya saat melihat Adith datang menghampirinya tadi. "Lalu kenapa? jadikan saja aku sebagai obat candumu. Kau bisa bergantung padaku, bahkan jika kau tak mau sekalipun aku akan membuat kau bergantung padaku." terang Adith dengan suara beratnya yang lembut. Tapi Dith..." Alisya ingin membantah apa yang dikatakan Adith, namun Adith menggenggam tangan Alisya dengan sangat erat. "Bukan hanya kau yang bergantung padaku, tapi aku pun bergantung kepadamu Sya. Kita itu saling membutuhkan satu sama lainnya jadi kau tak perlu khawatir." Adith mengusap Air mata Alisya dengan penuh kelembutan. Alisya hanya bisa terdiam menunduk dalam mendapat perlakuan manis dari Adith. Akiko yang sedang membawa beberapa keperluan berkas sebagai laporan atas kegiatan lomba pertandingan beberapa hari kemarin kerepotan berjalan keluar dari gedung aula setelah meminta tanda tangan dari pak Richard. Dia yang berjalan tak tahu kalau sudah berada di dekat tangga hampir saja jatuh namun perutnya ditarik dengan lembut dari belakangnya. "Kau mau bunuh diri? Aku sudah memanggilmu beberapa kali tadi." seru Karan dengan posisi memeluk Akiko dari belakang. "Ah... maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk..." jantung Akiko langsung berdebar dengan sangat kencang ketika ia menolehkan kepalanya kebelakang dan melihat wajah Karan dari jarak yang sangat dekat. "Ehemm... kenapa barang bawaan mu sebanyak ini?" tanya Karan melepas pelukannya cepat lalu mengambil semua berkas dari tangan Akiko untuk membantunya meringankan bebannya. "Oh.. itu pak Irhan yang menyuruhku untuk membawa ini kembali ke kamar dan... tunggu sebentar, kenapa kak Karan bisa ada disini?" Akiko tersadar karena ia tak menyangka kalau Karan akan berada disana. "Mari ku antar membawa berkas-berkas ini." Ajak Karan cepat belum menjawab pertanyaan Akiko. Akiko pun mengangguk menutut menunjukkan jalan kepada Karan. "Jadi apa yang membuat kakak berada disini?" tanya Akiko sekali lagi sembari berjalan pelan. "Karin yang menghubungi ku mengenai kondisi Alisya yang sempat memburuk sebelumnya. Sehingga aku kemari membawakan beberapa suntikan khususnya." jawab Karan berjalan beriringan dengan Akiko. "Melihat kalian yang sangat baik kepada kak Alisya membuat ku jadi bertanya-tanya, kenapa kalian semua begitu baik kepadanya?" Akiko memandang Karan dengan tatapan penuh antusias. "Ini semua karena ibu Alisya dulu pernah menyelamatkan hidup Karin dan Karin yang dulu begitu introvert dan punya phobia berhadapan dengan banyak orang menjadi sangat ceria dan murah senyum kepada siapapun berkat Alisya." terang Karan mengingat bagaimana menggemaskannya Karin sewaktu kecil. "Kak Karin penyendiri? tidak terlihat seperti itu." Akiko yang bertemu dengan Karin yang saat ini sudah jauh berbeda. "Itu karena Alisya lah yang mengajarkan Karin banyak hal. Bahkan dulu Karin mendekati Alisya karena sikap Alisya yang seperti cowok yang membuat Karin jatuh cinta pada Alisya karena Alisya yang selalu menyelamatkan dia setiap kali dia di bully sejak kecil." ucapnya lagi sembari menahan langkah Akiko yang goyah karena berjalan mundur untuk bisa melihat wajah Karan saat sedang menjelaskan. "Aku bahkan tak pernah mengira kalau kak Karin bisa melewati masa-masa mengerikan seperti itu." Akiko segera berbalik membelakangi Karan sembari memikirkan bagaimana Karin memiliki alasan yang kuat bersama Alisya. "Tentu saja, karena sekarang dia sudah jauh lebih baik." terang Karan dengan suaranya yang menawan "Kak Karan? kok kakak bisa ada disini..." panggil Alisya setelah mengenali siapa yang sedang bersama Akiko. Karan hanya tersenyum melihat Alisya yang tampak baik-baik saja meski wajahnya masih terlihat kurang baik. Setelah membantu Akiko membawa beberapa berkas laporan yang ada, Karan segera memberikan suntikan kepada Alisya untuk mengendalikan energi nano didalam dirinya yang tidak teratur yang membuatnya kehabisan energi tubuh. Chapter 263 - Rasa Saling Percaya Di sekolah "Pagi semuanya...." Ibu Vivian masuk kedalam kelas tepat sebelum jam pertama dimulai. "Pagi Bu.....!!!!!" teriak mereka dengan penuh semangat dan ceria. "Wow... mantap!!! Kelas kita bisa jadi lebih hidup ternyata setelah kedatangan semua anggota yah? Saya dengar beberapa hari kemarin dari guru-guru yang melapor kalian tidak begitu semangat karena merasa sunyi." ucap Ibu Vivian kepada para siswa yang tidak mengikuti perlombaan Nasional dan harus belajar dengan kelas yang terlihat sunyi. "Benar bu, kami bahkan sangat malas dan setiap kali masuk kelas selalu saja terlihat sangat suram." jelas Syam yang mukanya jauh lebih semangat setelah kehadiran seluruh teman-temannya. "Iya bu, adanya teman-teman yang lain sekarang kelas sudah benar terasa seperti kelas yang benar-benar kelas bu!" tambah Fani dengan senyum lebar. "hahahaha... Syukurlah kalau begitu. Nah untuk kalian yang baru bergabung lagi, silahkan melihat catatan dari teman sekelas kalian untuk melihat sejauh mana ketinggalan kalian." tegas ibu Vivian mengingat mereka sudah pergi hampir sekitar seminggu yang tentu saja membuat mereka bisa ketinggalan beberapa pelajaran. "Asshyiiiaappp Bu!!!!" teriak Beni sembari memberi hormat. Mereka pun tertawa melihat tingkah Beni yang seperti itu. Meski hanya seminggu mereka pergi, melihat kelas yang kembali semangat seperti itu membuat teman-temannya merasakan kehangatan yang sempat menghilang. "Lanjutkan pembelajaran kalian, Karin bisa ke ruang guru bersama saya? Ada beberapa hal yang harus kita selesaikan mengenai kegiatan kemarin" panggil Ibu Vivian yang langsung di ikuti dengan anggukan Karin keluar dari kelas. "Jadi? apa bisakah kami melihat catatan kalian?" tanya Yogi tepat setelah ibu Vivian dan Karin keluar dari kelas. "Catatan???" Syam hanya tersenyum sembari memandang teman-temannya yang lain. "Ada apa? apa kami memiliki banyak ketinggalan pelajaran?" tanya Rinto merasa aneh dengan pandangan teman-temannya. "Tidak, justru kami sudah merangkum semua pelajaran yang bisa dibagikan kepada kalian semua." jawab Fina sembari mengeluarkan tabletnya yang dengan satu sentuhan saja semuanya sudah masuk ke setiap handphone mereka masing-masing. Penasaran, Alisya lalu menampilkannya dalam bentuk hologram menatap dengan takjub hasil pekerjaan teman-temannya yang begitu detail dalam merangkum semua mata pelajaran itu. "Bagaimana kalian bisa melakukan ini semua?" tanya Aurelia juga merasa bahwa catatan mereka sangat detail dan mudah dipahami dengan beberapa penanda pada tiap baris katanya. "Sebelum kalian pergi, kami memohon kepada Adith untuk memberikan kami cara meringkas yang baik." terang Egi dengan senyumannya yang manis. "Kami juga ingin memberikan sedikit bantuan, dan setidaknya dengan ini kami merasa bisa mendukung kalian selama disana." tambah Bair dengan tatapan tulus. "Benar, kalian juga sudah banyak membantu kami sebelumnya dalam hal pelajaran jadi...." Egi malu untuk melanjutkan kalimatnya. "Terimakasih banyak... ini sangat berharga bagi kami semua." Alisya langsung memeluk pundak Egi dengan hangat yang membuat Egi tersenyum penuh kepuasan dan malu-malu. "Baru kali ini aku melihat kita bisa se kompak ini." bisik Yogi kepada Rinto yang juga merasakan kehangatan yang mendalam dari teman-temannya. "Rasa saling percaya dan saling melindungi ini muncul karena Alisya yang selalu berbuat tanpa memikirkan dirinya sendiri. Dan tanpa mereka sadari, merekapun jadi meng contohi sikap dari Alisya." jelas Rinto memandang mereka dengan tersenyum senang. Saat mereka masih berbincang-bincang satu sama lainnya, tiba-tiba saja Egi keluar dengan terburu-buru dan terlihat menghindar dari teman-temannya. "Ada apa dengan dia? aku melihatnya keluar sebanyak 5 kali pagi ini." Adora yang bingung dengan sikap Egi dengan cepat bertanya kepada Syam dan yang lainnya. "Kami juga tidak tau, sudah sebulan ini sikapnya seperti itu. Pergi dengan terburu-buru dan kembali dengan wajah yang murung." ucap Syam yang juga merasa bingung dengan sikap Egi. "Aku juga sudah mencoba bertanya kepadanya, tapi dia tidak mau menjawab dan hanya bilang kalau dia sering mules saja." Fina tak yakin dengan apa yang sudah dikatakan oleh Egi kepada mereka. "Dan karena penasaran juga khawatir, aku pun mengikutinya ke toilet. Tapi setelah beberapa saat dia tidak keluar-keluar dari sana dalam waktu yang cukup lama." tambah Bair yang juga merasa khawatir terhadap Egi. "Terimakasih, sepertinya aku juga mengkhawatirkan dia saat ini. Kalau begitu biar aku saja yang mengikutinya." ucap Alisya yang langsung memberi tanda kepada teman-temannya untuk tetap disana dan tidak membolos mengikuti dirinya. Alisya dengan cepat bergerak mengikuti Egi secara diam-diam yang kemudian diketahuinya berjalan menuju belakang gedung sekolah dengan gerak gerik mencurigakan setelah sebelumnya membeli beberapa makanan dan minuman dari kantin. "Kenapa dia membeli semua barang sebanyak itu?" batin Alisya yang merasa Egi begitu ketakutan sembari berjalan dengan sangat terburu-buru bahkan sesekali berlari-lari kecil yang beberapa kali harus membuat barang-barangnya berjatuhan satu persatu dan dipungutnya dengan cepat pula. "Apa-apa''an sih??? lama amat tau nggak!!!" bentak seorang perempuan yang duduk diatas tumpukan kursi yang sudah rongsok. Alisya melihat disana ada sekitar 5 orang perempuan dengan satu orang yang terlihat seperti pemimpin mereka yang sudah membentak Egi dengan begitu ganasnya. "Kau mau membuat kami harus menunggu berapa lama hah???" ucap salah seorang dari mereka lagi sembari menendang betis Egi dengan keras. Egi langsung jatuh tersungkur karenanya dan barang-barangnya jatuh berhamburan dari tangannya. "Ma... Maf Cit,,, tadi Ibu Vivian masih berada di dalam kelas" ucap Egi langsung memungut semua barang-barang yang dibelinya dengan cepat tanpa merasakan sakit sama sekali di kakinya. "Terus? apa urusannya denganku? kamu harusnya datang ketika aku memanggilmu!" ucap Citra dengan ganas langsung menginjak tangan Egi yang sedang memungut makanan ringan yang berjatuhan tersebut. "Aaahhhh... Citra sa sakiit... " ringis Egi merasakan rasa sakit yang teramat sangat karena tangannya yang diinjak menggunakan sepatunya yang berdasar keras. Alisya yang sebelumnya hanya ingin melihat bagaimana reaksi Egi mengatasi semua itu, namun melihat dia hanya pasrah dengan semua perlakuan mereka membuat Alisya terpaksa keluar dari persembunyiannya karena tidak tahan lagi. Alisya langsung duduk menghampiri Egi dan memegang kaki Citra dengan sangat kuat lalu memindahkannya yang tidak bisa dilawan oleh Citra. "A... Alisya??? Bagaimana kau bisa berada disini?" tanya Egi panik melihat Alisya yang sudah berada di depannya. "Kau baik-baik saja? Maaf aku mengikuti mu secara diam-diam." Alisya membantu Egi bangkit dari tempatnya dan membersihkan pakaian Egi dengan lembut. "Apa''apan ini? Siapa dia?" bentak Citra dengan kesal karena Alisya menyelamatkan Egi dari sana. "Apa mereka sering melakukan ini padamu?" tatapan mata Alisya yang lembut memang sedikit menenangkan Egi, namun nada suaranya yang kuat membuat Egi menjadi sedikit takut karenanya. "Hei kau pikir siapa dirimu???" teman citra yang lain dengan cepat ingin menjambak rambut Alisya karena marah namun malah tak mendapatkan apa-apa dan hanya menarik angin. "Sialan berani juga kau yah??" temannya yang lain juga ingin menyerang Alisya dengan ganas dengan mengambil sebuah balok kecil disekitarnya. Alisya dengan santainya menghindar sembari menarik Egi kearahnya dan melewati mereka dengan mudah yang bahkan dia hanya menendang kaki mereka untuk mengacaukan keseimbangan mereka. "Apa akan masalah jika aku melakukan sesuatu kepada mereka?" tanya Alisya sembari terus menghindari mereka bersama Egi. Mendengar Alisya yang masih memikirkan dirinya membuat Egi tersenyum dengan senang dan mengangguk pelan. Matanya terlihat mulai menitikkan air mata merasakan haru karena perlakuan Alisya yang lembut padanya. "Tapi aku bisa mematahkan tangan mereka dengan mudah jika kau mau. Terlebih karena mereka juga sudah melakukan hal ini padamu." terang Alisya sekali lagi mencoba meyakinkan Egi kalau ia bisa dengan mudah melakukannya. "Tidak Sya, aku baik-baik saja!" jawab Egi tertunduk pelan. Egi terlihat tak ingin menambah masalah karena tau betul akan apa yang bisa dilakukan oleh Alisya. "Baiklah, tapi kau harus menceritakan nya kepadaku! Oke?" seru Alisya tanpa banyak bertanya lagi. Alisya merasa kalau Egi mungkin punya alasan khusus sampai dia bisa berbuat seperti itu. Chapter 264 - LGBT "Maaf bu, kami baru saja¡­" Alisya yang masuk bersama Egi sudah terlambat beberapa menit saat ibu Hasrah sudah berada didalam kelas. "Masuklah, bagaimana denganmu Egi? Apakah perutmu masih sakit?" tanya ibu Hasrah dengan penuh perhatian. Alisya menoleh ke arah teman-temannya yang sudah tersenyum simpul karena berbohong demi menyelamatkan mereka berdua. "Oh.. I¡­ Iya bu, sekarang sudah agak mendingan." Jawab Egi cepat dengan wajah yang terlihat gugup. "Ya sudah, silahkan duduk. Kita akan lanjutkan diskusi kita yang sebelumnya." Ibu Hasrah yang tanpa rasa curiga langsung mempersilahkan Alisya dan Egi untuk duduk dikursi mereka masing-masing. "Kita akan mengobati tanganmu setelah selesai mata pelajaran ini, untuk mengetik, kamu masih bisa menggunakan suara saja." Alisya berbisik kepada Egi pelan karena mereka tak bisa meninggalkan pelajaran itu karena mereka harus mendapatkan poin dari ibu Hasrah sebagai tambahan untuk nilai mereka sebelum memasuki ulangan tengah semester. Dan poin itu sangat penting bagi Egi sehingga ia yang terus menolak Alisya yang terus memaksanya untuk merawat tangannya terlebih dahulu. Egi mengangguk pelan kemudian menuju ke tempat duduknya dengan terus menyembunyikan rasa sakit pada tangannya akibat di injak oleh Citra sebelumnya. "Kita lanjutkan yah¡­ karena Alisya baru masuk maka saya akan ulang materi kali ini yang berhubungan dengan LGBT. Apakah LGBT dapat dikatakan sebagai kelainan Genetis atau masalah Kejiwaan?" Ibu Hasrah sengaja mengulang kembali pembahasan mereka agar Alisya dan Egi bisa memahami materi apa yang sudah dibahas sebelumnya. "Kalau berbicara genetis, maka yang dimaksudkan adalah jenis kelamin laki-laki atau perempuan." Jelas Adora mencoba mengingat apa yang sudah ia pelajari selama ini. "Itu artinya seharusnya memang tidak ada istilah LGBT dalam penentuan jenis kelamin atau secara genetis tidak ada istilah LGBT yang berarti LGBT itu merupakan masalah kejiwaan." Tambah Beni sembari mencari beberapa artikel yang membahas tentang hal tersebut dari tablet yang disediakan. Ibu Hasrah hanya terus memperhatikan mereka berbicara satu sama lainnya dengan mempersilahkan mereka berbicara setiap kali mereka mengangkat tangan. "Lalu, apakah LGBT bisa disebut sebagai penyimpangan?" pancing ibu Hasrah agar diskusi mereka semakin melebar dan mendalam. "Penentuan jenis kelamin itu ditentukan saat fertilisasi terjadi menjadi sebuah zigot. Setiap sel tubuh perempuan membawa 2 kromosom X dimana pada setiap pembentukan ovum, hanya menghasilkan ovum yang mengandung satu kromosom X." jawab Alisya menganalisa maksud dari materi yang sedang mereka diskusikan. "berbeda dengan laki-laki, yang membawa kromosom X dan Y, sehingga dalam pembentukakan gametnya (Sperma) ada dua tipe yaitu gamet yang membawa X dan Yang membawa Y." Sambung Karin setelah mendapatkan referensi dari buku digital yang dilihatnya. "Itulah mengapa dalam pembentukan Zigot, jenis kelamin Zigot ditentukan oleh tipe sperma yang membuahi Ovum (sel telur)." Tambah Syam dengan penuh percaya diri. Ibu Hasrah tersenyum dengan kemampuan mereka yang sangat cepat dalam mencari materi dan jawaban yang cocok dengan materi yang sedang mereka diskusikan saat itu. "Bila terjadi kesalahan dari proses fertilisasi (Pembuahan sel sperma dan sel telur) normal, maka akan menghasilkan komposisi genetic yang berbeda dari semestinya. Hal ini akan menghasilkan suatu keadaan yang disebut sindrom." Tambah Yogi cepat setelah berhasil mendapatkan materi yang cocok. Mereka semua berebut untuk bisa mendapatkan poin sehingga tak ada satupun dari mereka yang berdiam diri selama kelas berlangsung. "Nah¡­ contoh sindrom yang umum muncul biasanya seperti Sindrom Turner yang menyebabkan Ovarium sukar untuk tumbuh, Sindrom Klinefelter dimana testis mengalami penyusutan atau mengecil, Sidrom Jacob dapat membuat penderita bertindak kasar, agresif, dan sering berbuat criminal." Jelas Fani mencoba memberikan jawabannya. "Selain itu ada juga Sindrom Wanita super dimana seorang wanita memiliki tubuh yang tinggi, Sindrom Down yang mana penderitanya memiliki IQ yang rendah, Sindrom Edwards dimana terjadi kelainan pada alat tubuh, Sindrom Patau dimana penderita meinggal pada usia kurang dari satu tahun." sambung Rinto yang tak ingin ketinggalan. "Wowww¡­ sepertinya anak itu sudah mengalami banyak perubahan yah?" bisik Gani kepada Yogi yang langsung mendapat perhatian dari Ibu Hasrah karena keduanya. "Gani, bagaimana menurutmu?" tanya ibu Hasrah kepada Gani yang sedang menggrecoki Yogi dan Rinto. "ah ,,, anu bu,,,!" ucap Gani gagap karena teguran dari ibu Hasrah yang secara mendadak. "Anu?" ibu Hasrah mengerutkan keningnya karena ucapan abstrak dari Gani. Sontak saja mereka semua tertawa dengan lepas karena Gani. Setelah merasa cukup puas, mereka kemudian sejenak terdiam untuk memberi kesempatan kepada Gani. "Ehem¡­" Gani menenangkan diri sebelum memulai penjelasannya. "Dari semua yang sudah dikatakan oleh teman-teman, dapat dikatakan bahwa LGBT bukanlah masalah genetis sebab secara genetis hanya ada dua jenis kelamin pada manusia, yaitu laki-laki dan perempuan" lanjut Gani setelah kembali menemukan jawaban yang tepat. "Dalam ilmu psikiatri juga dikenal orientasi seksual seperti homoseksual yaitu kecenderungan ketertarikan secara seksual pada jenis kelamin sama seperti lesbian dan gay, Bisesksual yaitu kecenderungan ketertarikan seksual kepada kedua jenis kelamin dan Transeksual yang mana gangguan identitas jenis kelamin berpa Hasrat untuk diterima sebagai anggota dalam kelompok lawan jenisnya." Jelas Gina dengan Panjang lebar. "Dalam pemetaan gen HUGO (Human Genom Project) juga tidak ada gen secara khusus yang mengkode untuk ekspresi LGBT." Sambung Emi cepat untuk bisa mendapatkan poin dengan jawabannya. "Dengan demikian, sudah jelas bahwa LGBT adalah masalah kejiwaan." Ucap Feby sembari tersenyum menyimpulkan hasil diskusi mereka pada saat itu. "Luar biasa, cara kalian meberikan materi ini sangat terstruktur dan baik dalam penyampainnya. Kalian semua berhak mendapatkan poin yang bagus dariku. Dan benar seperti yang sudah kalian bahas semua bahwa LGBT bukanlah masalah genetis, melainkan masalah kejiwaan. Ekspresinya diarahkan oleh lingkungan yang menyertai selama perjalanan tumbuh kembang yang bersangkutan." Jawab Ibu Hasrah menyimpulkan seluruh hasil diskusi pada hari itu. Baru saja ibu Hasrah selesai berbicara, bel pelajaran berikutnya sudah menggema dengan nyaring yang membuat iu Hasrah segera bersiap memberi kode kepada semua siswa yang sudak ikut berpartisipasi dalam memberikan jawaban dengan baik. Pelajaran kedua pun berlangsung lebih tenang karena mata pelajaran Bahasa inggris hanya mengharuskan mereka untuk membaca teks drama dengan penuh penghayatan dan tak ada salah satu dari mereka yang menertawakan teman-temannya saat sedang mencoba berbicara karena semua dapat berbahasa inggris dengan lancer dan mudah. Hanya saja akan selalu ada biang kerok yang selalu menciptakan suasana konyol dan gaduh di dalam kelas dimana Gani dan Beni membacakan naskah drama tersebut dengan ekspresi yang terlalu lebay dan bahkan terlalu menjiwai secara berlebihan. Chapter 265 - Cerita Egi "Aucchhh¡­" Egi meringis kesakitan setiap kali Karin memegang tangannya meski dengan gerakan yang cukup sederhana. "Siapa yang suruh sih tangan kamu ditaruh dibawah kaki orang." Sindir Aurelia dengan tatapan sinis. "Anak ini, kalau khawatir yah terus terang saja nggak usah sok jaim gitu!" senggol Adora kepada Aurelia yang berbicara terlalu terang-terangan. "Loh.. emang bener kan? Lagi pula bagaimana bisa tangan dia sampai terkilir begitu parah?" ketus Aurelia sekali lagi yang masih tetap berada disana meski sudah di usir pergi. "Jangan dengarkan dia, abaikan saja kaleng rombeng satu ini." Ucap Feby yang langsung mendapat bekapan kuat dari Aurelia yang kesal. "hahahaha,,, Terima Kasih, maaf sudah membuat kalian semua khawatir. Tapi aku benar baik-baik saja." Egi merasa sangat bersyukur karena memiliki teman-teman sekelas seperti Alisya dan yang lainnya. Mereka yang selama ini tak saling menyapa karena Egi yang bersikap malu-malu lama kelamaan mau membuka hatinya setelah beberapa hari lalu diberi kesempatan untuk ikut dikelas belajar tambahan bersama mereka. "Sepertinya jari tanganmu mengalami trauma. Aku takt ahu apakah terjadi keretakan tulang atau pergeseran tulang namun karena adanya trauma pada tubuh akan menyebabkan nyeri karena rangsangan saraf yang terjadi." Terang Karin mencoba menjelaskan kondisi tangan yang sedang di alami oleh Egi. "Apa itu artinya jari-jari tangannya mengalami luka yang parah?" tanya Emi khawatir terhadap Egi. "Biasanya akan terjadi bengkak akibat adanya pecahnya pembuluh darah akibat trauma. Tapi jika jarimu mengelami keterbatasan gerak, apalagi nyeri hebat saat digerakkan, maka kamu bisa berkonsultasi kak Karan untuk menilai adanya kemungkinan patah, retak atau bergeser." Jawab Karin sembari memberikan alcohol pada luka permukaan kulit disekitar jari-jari Egi yang ditambahkan betadine agar luka goresannya tidak mengalami infeksi. "Untuk sementara hal yang dapat kamu lakukan yakni kompres dengan kompres dingin selama 2 hari pertama dan dilanjutkan dengan kompres hangat." Tambah Alisya mengingatkan Egi. Ia yang sudah terbiasa mengalami hal tersebut tau betul apa yang harus dilakukan. "Semoga saja tanganmu tidak mengalami luka yang cukup parah" ucap Gina yang sedari tadi mengerutkan mukanya setiap kali menatap wajah Egi yang sedang berusaha menahan sakitnya. "Melihatmu seperti itu seolah membuatku ikut merasakan sakitnya."ucap Fani yang memandang serius kea rah Egi. "Apa kalian tidak lapar? Kenapa kalian semua berkumpul disini." Karin mulai terganggu dengan kehadiran mereka yang mengahambat pergerakannya karena memenuhi ruang UKS tersebut. "Oh iya, aku hampir lupa kalau ada satu kampung yang harus aku isi." Emi merujuk kepada perutnya yang selalu ia sebut sebagai kampung tengah. "bagaimana dengan kalian?" tanya Adora kepada Alisya dan Karin yang terlihat tak bergerak dari tempat duduknya meski telah selesai memberikan perban pada tangan Egi. "Kami akan menyusul, kalian pergi lebih dahulu. Aku harus meminta Karin untuk mengurut pundakku yang terasa sedikit pegal." Alisya sengaja beralasan dengan menatap tajam kearah Karin. Hanya dengan melihat mata Alisya saja, Karin sudah paham akan apa yang sedang ingin dilakukan oleh Alisya. "Baiklah, kalau begitu kami akan ke kantin terlebih dahulu." Terang Adora keluar dari ruang UKS diikuti oleh Aurelia dan yang lainnya. Setelah beberapa saat, Alisya mengatur tempat duduknya dengan lebih nyaman untuk berada cukup dekat dengan posisi Egi. "Jadi, apakah kamu bisa menceritakan tentang apa yang terjadi tadi pagi?" Alisya sudah menopang kedua tangannya menunggu penjelasan dari Egi yang sudah berjanji kepada Alisya. "Ummm¡­ itu,,, pertama Namanya adalah Citra Paputungan. Dia berasal dari kelas Elite IIS 1 dan juga dia adalah bos dimana ayaku bekerja. Keluargaku sudah berhutang budi yang cukup banyak terhadap keluarganya." Terang Egi memulai penjelasannya dengan menjelaskan siapa sebenarnya Citra yang sudah berbuat cukup kejam kepadanya. "Apa ini ada hubungannya dengan luka yang sedang kau alami saat ini?" tanya Karin yang masih belum paham akan apa yang sedang dibahas oleh Alisya dan Egi. Egi mengangguk pelan kepada Karin dengan senyuman yang terlihat putus asa. "Apa yang membuatnya berbuat seperti ini padamu!" tatapan mata Alisya yang sarat akan kemarahan atas tidakan Citra kepada Egi bisa dirasakan oleh Egi dengan begitu tulus. "Dia memang anak yang sudah terbiasa dimajakan oleh keluarganya sehingga tempramennya lama kelamaan semakin menjadi jadi, meski awalnya dia tidak separah ini tapi entah kenapa sekarang malah dia semakin kasar dan kejam. Dia menganggapku seperti seorang pelayan atas alasan orangtuaku yang berutang budi kepada orang tuanya." Jawab Egi kembali menjelaskan apa yang sedang di hadapinya. "Sudah seberapa sering dia berbuat seperti ini?" tanya Karin yang merasa khawatir dengan kondisi mental Egi akibat perundungan yang dia alami. "Terkadang sehari ia bisa memanggilku sebanyak 5 ¨C 10 kali." Egi menunduk putus asa setiap mengingat kelelahan yang harus dia hadapi setiap kali ia harus terburu-buru untuk mengikuti perintah Citra. "Apa saja yang ia lakukan setiap kali kau terlambat selain apa yang baru saja dia lakukan tadi?" Alisya mulai mengepalkan tangannya mencoba untuk meredam amarahnya. "Untuk menginjak tanganku dengan kuat memang baru tadi ia lakukan, namun selama ini ia kadang menjambak rambutku atau menyiramku dengan air yang berasal dari kloset toilet sekolah." Egi terlihat ragu-ragu saat bercerita tentang hal tersebut kepada Alisya. Egi yang selama ini sudah sekelas dengan Alisya meski tak begitu akrab dan jarang berkomunikasi satu sama lainnya paham betul bagaimana tingkat kepedulian Alisya kepada orang-orang yang berada disekitarnya. Meski pertama kali Alisya terkesan cuek dan juga menakutkan, tapi tetap saja Alisya akan ikut campur untuk menyelesaikan masalah teman-temannya jika itu memungkinkan baginya. "Lalu kenapa kau tidak melaporkan perbuatan mereka kepada ibu Vivian atau guru-guru lainnya agar mereka berhenti untuk melakukan hal ini lagi padamu." Terang Karin mencoba memberikan solusi kepada Egi terhadap apa yang dia alami. "Tidak semudah itu, jika aku melaporkan hal ini kepada guru-guru ataupun ibu Vivian, maka aku takut Citra akan melakukan sesuatu kepada ayahku. Maka dari itu mencegah Alisya untuk berbuat sesuatu kepadanya." Seru Egi menatap penuh harap kepada Alisya. "Tapi kamu tidak bisa seperti ini terus!!!" bentak Karin yang mulai kesal dengan sikap positif yang salah dari Egi. "Aku tau, tetapi aku lebih memikirkan nasib kedua orang tuaku. Dan bagiku ini tidak seberapa." Karin yang medengar ucapan Egi hanya bisa menghela nafas pasrah. "Kenapa dimana-mana selalu saja aka nada orang-orang yang berprilaku kolot seperti ini hanya untuk mendapatkan kesenangan tanpa memikirkan orang lain!" Karin merasa sangat kesal sedang Alsiya hanya terdiam. Chapter 266 - Selamat Pagi Sayang... Adith yang sudah berkeliling hampir kesemua tempat untuk mencari Alisya akhirnya dapat menemukannya sedang terbaring. "Apa yang kau lakukan di....sini?" Adith menghampiri Alisya yang sedang terbaring malas pada meja di dalam perpustakaan. Adith mengira kalau Alisya tidak sedang tertidur namun begitu menatap ke arah wajahnya, ternyata Alisya sudah berlayar ke dunia mimpinya. Tidak ingin membangunkannya, Adith menarik kursi dengan sangat pelan lalu duduk pada kursi di bagian depannya. Ia duduk dimana ia bisa merebahkan kepalanya menatap wajah Alisya yang sedang tertidur. "Bagaimana bisa kau jadikan perpustakaan sebagai tempat tidurmu?" Batin Adith sembari memindahkan rambut Alisya yang menutupi sebagian wajahnya. Alisya tertidur begitu pulas yang membuat Adith berpikir bahwa dia memiliki banyak pikiran yang membuatnya tidak tidur semalaman sehingga ia menjadi tertidur pulas di jam istirahat. "Aku ingin sekali kau mengingatku secepatnya, tapi jika kau mengingatku apakah kau masih akan bersama denganku? berada di sisiku dan memandangku dengan penuh rasa cinta?" Batin Adith lagi sembari mengelus pipinya dengan sangat pelan yang sesekali ia lepas agar tidak membangunkan Alisya. Adith tersenyum saat Alisya menghembuskan nafas dengan begitu kuat. Mata yang tertutup membuat bulu mata atas dan bawah terlihat saling bertaut erat, Alisya yang cukup tebal, pipinya yang putih merona, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang tipis dan mungil. Bel jam pelajaran berikutnya berbunyi dengan cukup keras membuat Adith spontan berdiri dari tempatnya dan menutup telinga Alisya agar tidak terganggu dengan suara sirine itu. Semua siswa yang berada di perpustakaan satu persatu mulai keluar dari sana. "Suara bel itu membuatku kaget saja. Apa ini akan mengganggunya?" bisik Adith masih dengan posisi menutup lembut telinga Alisya. Ia pun menoleh ke arah Alisya yang masih tertidur pulas tanpa terganggu dengan bunyi bel yang cukup keras tersebut. Melihat wajah Alisya yang damai, membuat Adith menjadi gemas sehingga ia secara perlahan-lahan mendekati wajah Alisya. Dengan satu tarikan nafas lembut saat menatap wajah Alisya lekat-lekat dalam jarak yang cukup dekat, Adith kemudian mencium bibirnya dengan lembut dengan mata tertutup. Kehangatan bibir Adith yang mengecup bibir Alisya membuat Alisya terbangun dari tidurnya dan menatap dengan pandangan kaget tak percaya. Adith yang melihatnya terbangun saat ia baru saja selesai mencium bibirnya, hanya memandang dengan gemas dan tersenyum manis. "Selamat pagi sayang..." ucap Adith dengan tatapan mata yang tajam kepada Alisya yang sudah setengah terduduk karena bingung kemudian Adith perlahan-lahan kembali mendekatkan wajahnya ke bibir Alisya dan mengecupnya sekali lagi. Alisya membelalakkan matanya masih dalam keadaan bingung tapi setelah itu dia menutup matanya dengan cepat menerima ciuman Adith dengan terdiam. Setelah beberapa saat, ia membuka matanya dan kaget karena tak menemukan Adith disana. "What??? aku mimpi apa sih.. Masa iya aku mimpi basah disiang bolong gini... Gila setan apa yang sudah merasuki ku?" gumam Alisya sembari menampar pipinya dengan sangat keras mengira kalau dia baru saja bermimpi yang aneh. Adith tertawa pelan mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Alisya. Merasa detak jantungnya terlalu kuat, Adith dengan sangat perlahan bersembunyi ke arah rak buku yang lebih jauh lagi sembari memperhatikan Alisya yang sedang gusar dari jauh. "Aahhhh ya ampun Sya,, bisa nggak sih kamu menahan diri? kamu nggak punya malu apah? Bagaimana kalau ada orang yang liat tingkah tadi???" Alisya menggaruk kepalanya dengan kasar menyalahkan dirinya sendiri yang sedang memikirkan hal-hal yang sangat tidak wajar baginya. "Sepertinya bukan kamu yang tidak bisa menahan diri Sya, tapi aku. Semakin aku bersamamu semakin aku tak bisa menahan diri dengan baik." Adith memegang dadanya yang jantungnya masih terus berdetak keras mengalirkan darahnya dengan kencang. "Apa aku juga sebaiknya mengambil langkah dengan menikahi mu setelah lulus nanti. Dengan begitu kau bisa menjadi milikku sepenuhnya dalam keadaan halal." lanjutnya lagi mengingat akan sebuah keputusan yang diambil oleh Arka untuk menjadi tunangan Yumna demi mencegah hal-hal buruk seperti yang baru saja ia lakukan. "Huhhh,,, bahaya.. ini bahaya sekali" Alisya mendesah kelelahan setelah cukup puas menyiksa dirinya sendiri yang sudah berpikiran aneh. "Jam berapa sekarang?" ia melirik ke arah jam tangannya yang dengan satu gerakan cepat dia bangkit dari kursinya. "Apa... Ya ampun, aku ketinggalan pelajaran berikutnya. Alisyaaaa.... kamu ngapain sih!!!!" Alisya dengan cepat membereskan barang-barangnya sebelum akhirnya meninggalkan perpustakaan dengan wajah yang penuh kesal kepada dirinya. Adith hanya bisa tertawa pelan mengamati Alisya dari kejauhan yang sudah meninggalkan ruangan perpustakaan dengan sangat terburu-buru. Tepat saat ia akan melangkah keluar, Handphonenya bergetar dengan cukup keras. "Halo, Assalamualaikum paman. Ada apa?" tanya Adith begitu melihat nama pak Dimas pada layar handphone hologramnya. "Bisakah kau ke kantor sepulang sekolah? ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani dan ada juga sedikit masalah yang harus kita selesaikan di kantor." suara pak Dimas terdengar ragu-ragu karena takut akan menggangu konsentrasi Adith dalam belajar. "Baiklah, aku akan kesana sekarang jika memang ada hal yang mendesak." tegas Adith cepat melangkah keluar dari perpustakaan setelah merasa kalau Alisya sudah cukup jauh dari sana. "Tidak, kau bisa datang sepulang sekolah. Dengan begitu kau tidak perlu meninggalkan jam pelajaran sekolahmu. Paman tau kalau perusahaan ini sangat penting bagimu, tetapi di atas semua itu, sekolah mu lah yang lebih utama." pak Dimas mencoba mengingatkan Adith agar tidak perlu meninggalkan sekolah hanya demi urusan pribadi saja. "Paman,,,, Paman tidak usah khawatir. Aku sudah cukup belajar dan aku juga belum pernah meminta izin kepada pihak sekolah jadi ini tidak masalah. Meskipun ini bukanlah urusan yang mendadak, Aku ingin segera menyelesaikannya agar bisa menenangkan pikiran." jelas Adith menenangkan pak Dimas. "Baiklah kalau begitu, aku akan menyediakan semua keperluan mu di kantor. Jangan lupa untuk meminta izin kepada wali kelas mu sebelum berangkat." pak Dimas pasrah dengan keputusan Adith. "Iya Paman. Paman,,, Terima kasih karena sudah menghubungiku. Pagi ini aku melihat bapak yang terlihat melemas saat ku temui. Namun ketika aku bertanya dia hanya menggeleng pelan. Dia mungkin tak ingin mengganggu sekolahku." terang Adith sudah berada dekat dengan ruangannya untuk mengambil tas dan jacketnya sebelum pergi ke kantor. "Sama-sama nak!" ucap pak Adith dengan penuh senyuman yang meski tak dilihat oleh Adith, namun Adith bisa merasakannya. "Aku akan tiba dalam waktu 15 menit lagi paman." ucap Adith cepat sembari berlari-lari kecil. Adith menutup teleponnya setelah sebelumnya memberi salam. Ia kemudian berjalan masuk kedalam ruangannya disaat guru jam pelajaran selanjutnya belum sempat masuk kedalam ruangan. "Eh??? kamu mau kemana?" tanya Riyan cepat menghentikan langkah kaki Adith. "Kau mau membolos? ada apa?" tanya Zein yang khawatir karena tak menyangka kalau Adith akan meninggalkan pelajaran. "Ada yang harus aku selesaikan cepat, untuk itu tolong izinkan aku pada jam selanjutnya. Aku juga akan meminta izin kepada pak Irhan sebelum pergi." Adith menepuk pundak Riyan meminta tolong sebelum pergi meninggalkan ruangan tepat sebelum guru bahasa inggris masuk. "Urusan apa yang membuatnya pergi ditengah jam pelajaran seperti ini?" tanya Riyan kepada Zein karena setahu dia, Adith tidak pernah meninggalkan kelas sekalipun sehingga ketika tiba-tiba ia keluar membuat Riyan jadi cukup kaget dan bingung. "Perusahaan. Tidak ada hal lain yang lebih penting jika dia sampai meninggalkan kelas, jika Alisya juga masih dalam keadaan baik-baik saja saat ini." Zein merasakan bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi dengan perusahaan Adith sampai Adith benar-benar terburu-buru pergi meninggalkan kelas. "Kau benar!" Riyan mengangguk pelan membenarkan apa yang dikatakan oleh Zein mengenai Adith yang sangat teladan tersebut. Mereka yang sudah lama bersama dengan Adith itu sudah mengenalnya dengan cukup baik sehingga ketika dia tidak mengatakannya sekalipun, Riyan dan Zein bisa memahami hal tersebut. Chapter 267 - Ciuman "Hei¡­ apa yang sedang kamu lamunkan?" Karin yang sedari tadi memperhatikan Alisya yang sedang melamun langsung menyikutnya kuat. "Ciuman¡­." Ucap Alisya masih dengan setengah sadar. "HAH????" mereka serempak menoleh ke arah Alisya yang langsung kaget mendengar suara teriakan teman-temannya. "Kau masih mengingat kejadian dirumah sakit tempo hari?" teriak Aurelia dengan suara yang cukup keras sehingga Alisya langsung menutup mulutnya dengan cepat. "Eh??? Rumah Sakit? Kenapa dengan Rumah Sakit?" tanya Rinto bingung tak tahu apa-apa mengenai apa yang baru saja dikatakan oleh Aurelia. "Bukan apa-apa! Iya kan??? Hahahahaha" Alisya menatap tajam kearah Aurelia yang membuat Aurelia merinding karena tatapannya. "Apa hidupku hampir berakhir tadi?" bisik Aurelia kepada Karin yang sudah ceikikian Bersama Adora dan yang lainnya. "Bersyukurlah dia masih ingat untuk mengampuni nyawamu." Ucap Adora sembari memegang Pundak Aurelia untuk memberinya dukungan. "Benar yang orang bilang, Jatuh cinta bisa membuat orang jadi bodoh dan terlihat konyol bahkan keluar dari jati diri mereka yang sebenarnya." Terang Karin sembari melewati Aurelia yang terdiam membeku dengan tubuh yang bergetar karena tatapan membunuh dari Alisya. Mereka terus berjalan menuju ke gerbang sekolah sampai menemukan Riyan dan Zein yang sedang berjalan beriringan menuju gerbang sekolah mereka karena hari itu mereka tidak membawa mobil masing-masing dan jemputan mereka sudah menunggu didepan sana mengantri dengan rapi sesuai urutan elite untuk menunggu tuan mereka. "Kenapa kalian cuma berdua saja? Dimana Adith?" Alisya memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan untuk mencari Adith di sekitar mereka. "Dia sudah pulang terlebih dahulu karena ada yang harus dia kerjakan!" jawab Zein cepat dengan mata yang dulu pernah tertuju tajam kepada Alisya, kini sudah berpindah ke mata Adora. "Benarkah? Ummmm¡­ Apa hari ini dia pernah keluar dari kelas atau ke perpustakaan misalnya?" pancing Alisya untuk memastikan mengenai mimpinya tersebut. "Ummm¡­ se ingatku dia hanya keluar saat mendapat telpon dari paman Dimas, selanjutnya dia masuk ke dalam kelas untuk mengambil tas dan jacketnya kemudian meminta izin kepada pak Irhan." Riyan menggaruk kepalanya saat mengingat hal tersebut meski ia tahu bahwa maksud Alisya adalah Adith mungkin saja menemuinya di Perpustakaan Gedung siswa biasa, bukan di kompleks. "Ada apa?" tanya Zein mengira ada sesuatu yang cukup penting yang sedang ingin dikatakan oleh Alisya kepada Adith. "Ah¡­ Tidak, aku hanya bertanya saja!" ucap Alisya cepat sembari menggeleng kuat. "Hemmmm¡­ Sepertinya ada yang kangen nih? Baru tak melihat sehari saja kau sudah se kangen itu?" Karin mulai menggoda Alisya yang wajahnya langsung memerah karena ucapan Karin. "Ahhh,,, I.. itu karena tumben saja. Biasanya kan mereka suka berjalan bertiga. Makanya aku tanyakan." Alisya langsung berjalan pergi menghindari tatapan licik teman-temannya. Mereka semua hanya tersenyum senym melihat tingkah gugup Alisya yang berjalan pergi menjauhi mereka. "Oh iya, aku lupa memberitahukan kalian sesuatu!" seru Karin cepat saat mereka sudah berada di pintu gerbang dengan Feby serta yang lainnya sudah tidak berada disana karena beberapa dari mereka membawa kendaraan sendiri. "Ada apa?" tanya Alisya yang sengaja belum beranjak pergi untuk bisa melihat Karin pulang ketika dijemput oleh paman Boy. "Ibu Vivian mengatakan kepadaku bahwa sebagai hadiah buat kita semua yang sudah memenangkan lomba di tingkat nasional kemarin, kita akan diberikan kesempatan libur selama 2 hari 1 malam pada pekan ini." Ucap Karin dengan wajah terkejut karena melupakan hal sepenting itu. "Kenapa pak Irhan belum memberitahu kami?" Riyan mengerutkan keningnya bingung karena tak mendapat info apapun dari pak Irhan. "Ah¡­ ini adalah inisiatif dari ibu Vivian sendiri. Dia yang guru pengganti sementara ingin menghabiskan beberapa waktu Bersama kita." Jawab Karin lagi dengan mata yang bersungguh-sungguh. "Benarkah? Itu artinya kita akan berangkat lusa? Wah¡­ ini bisa menjadi sangat menyenangkan sekali." Seru Adora dengan penuh antusias. Zein tersenyum melihat tingkahnya. "Dimana tempat yang kan menjadi tempat kita berlibur?" tanya Alisya memastikan keamanan tempat yang akan mereka datangi. "Masih rahasia. Ibu Vivian ingin memberikan kalian sebuah kejutan disana." Akiko langsung menjawab ketika ia datang Bersama dengan Ryu. "Ini akan sangat menarik, aku sudah tidak sabar ingin segera berlibur." Yogi langsung memarikir motornya disamping mereka yang masih asik mengobrol. Dia yang tak sengaja melihat mereka sedang mengobrol serius meski jejeran mobil sudah menanti mereka membuat dia dan Rinto menjadi penasaran. "Kau benar, kita sudah mengalami banyak hal yang cukup sulit selama beberapa bulan terakhir. Aku rasa liburan sebelum UNBK juga bisa membuat kita lebih segar dalam menghadapinya nanti." Tambah Rinto yang berada dibelakang Yogi. "Kapan kita berangkat?" Zein ingin memastikan jadwal mereka agar tidak bertepatan dengan pekerjaan mereka di kantor atau malah bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan terlebih dahulu sebelum akhirnya ikut berlibur bersama mereka. "Lusa! Saptu pagi, kita akan berkumpul di sekolah ini sebelum akhirnya pergi menuju ke tempat yang di maksud oleh ibu Vivian." Jawab Karin cepat. "Hummm¡­ kalau begitu kami masih memeliki beberapa waktu untuk bisa menyelesaikan beberapa hal sebelum pergi." Riyan mulai merasa antusias mengingat mereka memang membutuhkan libur saat ini. Tidak bisa mengobrol lama, mereka akhirnya berpisah satu sama lainnya menyisakan Ryu, Alisya dan Akiko yang memilih berjalan kaki seperti biasanya menemani Alisya. "Ini bisa menjadi kesempatan untuk kami mengenal Indonesia lebih dalam lagi." Akiko berjalan mundur menatap Alisya dengan tatapan penuh antusias. Alisya baru ingat, selama Akiko dan Ryu berada di Indonesia, ia belum pernah sekalipun mengajak mereka berdua berkeliling untuk mengenalkan Indonesia kepada mereka berdua. Padahal selama ia berada di Jepang, Akiko bahkan mengajaknya ke beberapa tempat tanpa mengenal Lelah sekalipun. "Maafkan aku karena tidak mengajak kalian jalan selama kalian berada disini." Alisya menatap Ryu dan Akiko dengan pandangan merasa bersalah. "Nona, kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Karin serta teman-teman yang lain sudah mengajak kami ke beberapa tempat disini." Ucap Ryu mencoba untuk menenangkan Alisya. "A Chan,,,, aku berbicara seperti itu bukan berarti aku menunjuk ke arah dirimu. Hanya saja kita bertiga belum pernah jalan atau berlibur Bersama selama di Indonesia. Dan berkat liburan nanti, kita bisa menikmati liburan kita secara Bersama- sama" Akiko berhenti berjalan demi menjelaskan maksudnya kepada Alisya. Alisya tersenyum hangat ke arah Akiko yang meski ia masih terlihat manis dan lugu, dia sudah cukup memiliki pemikiran yang dewasa bahkan mampu menyelesaikan beberapa tugas sulit yang diberikan kepadanya selama mereka berada di perlombaan tingkat Nasional lalu. Chapter 268 - Masuklah "Wa''alaikum salam¡­" jawab seseorang dari dalam rumah dengan hangat. "Sore tante¡­ Maaf Mama¡­" sapa Alisya kepada ibu Adith yang membukakan pintu. "Alisya???? Masuk-masuk. Saya pikir kamu tidak akan pernah mengunjungiku lagi." Ibu Adith sengaja ingin menyinggung Alisya yang tak pernah muncul lagi untuk mengunjunginya sebelumnya padahal Alisya sudah pernah berjanji kepadanya. "Maaf Ma, beberapa hari kemarin Alisya cukup sibuk karena¡­." Alisya menjelaskan dengan wajah yang panik merasa tidak enak dengan ibu Adith. "Iya, Saya tau kok. Adith juga bahkan jarang dirumah karena alasan yang sama denganmu." Seru ibu Adith cepat dengan senyuman yang menenangkan. "Terima Kasih banyak,, Oh iya¡­ ini saya bawa oleh-oleh dari nenek buat tante sama Om. Saya juga bawa beberapa teman saya Ma, mereka¡­" Alisya menoleh kebelakangnya dan tak melihat Ryu dan Akiko disana. Bagaimana bisa ia melupakan dua orang itu." Alisya tersenyum canggung dan langsung berlari ke depan untuk menemukan Ryu dan Akiko. Ibu Adith tersenyum melihat tingkah Alisya yang tak disangkanya bisa terlihat begitu manis dan lugu. "Gomen!!! (Maaf)" Alisya langsung membukakan pintu untuk Ryu dan Akiko yang sudah tertawa cekikikan melihat sikap kaku dan gugup Alisya sampai melupakan mereka berdua. "Kau begitu kejam kepadan kami." Akiko sengaja beracting manja dihadapan Alisya. "Ternyata ada hal yang tak bisa nona hadapi juga yah?" Ryu tersenyum manis sembari masuk kedalam rumah. "Akiko chan??? Ryu kun?" teriak ibu Adith merasa sangat senang dengan kehadiran mereka berdua. "Halo tante¡­" sapa Akiko dan Ryu yang langsung menunduk dalam sebelum akhirnya memnyalami kedua tangan ibu Adith. "Waaah¡­ Terima Kasih banyak karena sudah datang kerumahku. Aku sangat senang kalian datang kemari, rumah ini terasa sangat sunyi karena hanya dihuni oleh 3 orang saja diaman dua orangnya sedang sibuk dengan urusan kantor dan meninggalkanku sendirian dirumah." Ketus ibu Adith menyinggung suaminya dan Adith yang sedang berada di kantor meninggalkannya sendirian di rumah. "Untuk itulah Alisya memaksa kami untuk ikut bersamanya mengunjungi tante karena ia tau kalau saat ini tante sedang sendirian." Bisik Akiko memprovokasi Alisya. "Aku tak menyangka dia bisa se peka itu. Dulu saya selalu memintanya untuk datang tapi ia tidak pernah sempat." Balas ibu Adith menatap dengan tajam ke arah Alisya. Alisya dan Ryu saling berpandangan melihat sikap akrab Akiko dan ibu Adith yang tak diketahuinya. "Itu karena dia merasa sangat grogi ketika berhadapan dengan calon mertuanya." Ucap Akiko dengan tertawa lembut. "Apa selama aku dirumah sakit mereka bisa menjadi semakin akrab seperti ini?" gumam Alisya ke arah Ryu dengan menekan rahagnya dengan kuat. "Kau tak tau apa yang akan terjadi selama kau tak sadarkan diri." Seru Ryu yang menandakan Alisya akan banyak kehilangan moment jika dia selalu dalam kondisi tidak sadarkan diri. Mereka menghabiskan malam dengan makan bersama dan bercanda menemani ibu Adith hingga larut malam. Ibu Adith merasa sangat Bahagia dan senang dengan kehadiran mereka dirumahnya, dimana ia yang biasanya menunggu dalam kesunyian akhirnya bisa sedikit bersantai dan tertawa lepas berkat Alisya, Ryu dan Akiko yang bahkan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah untuknya. **** "Halo?" Alisya yang baru saja berganti pakaian dengan baju tidur setelah selesai mandi tiba-tiba mendapat telpon dari Adith. Melihat alat peredamnya yang berkedip-kedip dengan cepat Alisya mengambilnya dan memasangnya ke telinganya. "Turunlah.. Aku ada di depan rumahmu!" ajak Adith kepada Alisya yang sedang berada di lantai 2 kamarnya. Alisya dengan cepat membuka tirai kamarnya untuk melihat Adith. "hhhhh??? Bagaimana bisa dia berada disini di jam segini?"ucapnya kaget. Alisya yang baru pulang dari rumah Adith yang sudah agak larut itu melirik jam tangannya dengan kaget. Saat itu sudah menunjukkan pukul 11.30 malam. "Masuklah¡­" Adith membukakan pintu mobil kepada Alisya. "Sebentar¡­" tambahnya lagi dengan cepat membukakan baju Jasnya untuk dipasangkan kepada Alisya yang masih memakai baju tidur karena turun dengan terburu-buru. "Kau mau membawaku kemana?" Alisya bertanya dengan tubuh yang sudah didorong masuk kedalam mobil. Adith yang tidak mendengarkannya hanya membawanya masuk kedalam mobil dengan melindungi kepala Alisya agar tidak terbentur pintu mobil. Dia dengan cepat beralih ke kursi kemudi untuk menjalankan mobilnya membelah jalan raya yang masih tampak ramai meski sudah agak larut tersebut. Adith sengaja menurunkan jendelanya sedikit agar Alisya tidak begitu merasakan mabuk kendaraan karena ia tidak bisa membuka kap mobilnya lebar-lebar pada malam hari yang sudah mulai tampak berkabut dan dingin tersebut. Alisya mengeluarkan kepalanya untuk bisa merasakan angina segar malam itu dan agar ia tidak terlalu merasakan mabuk kendaraan. Harum tubuh Alisya yang baru saja selesai mandi membuat Adith cukup terganggu konsentrasinya. "Kenapa kau mandi di jam segini?" dia yang sedari tadi terdiam sambil terus mengemudikan mobil akhirnya tak tahan untuk bertanya. Dia sengaja berbicara untuk mengusir pikirannya yang mulai tak terkendali. "Ah¡­ itu, karena aku baru saja pulang dari rumah ibumu." Terang Alisya yang kembali memasukkan kepalanya kedalam mobil. "Hmmm¡­ Mama pasti sangat senang saat kau datang mengunjugninya." Adith tersenyum mengingat bagaimana reaksi heboh ibunya saat Alisya datang mengunjunginya. "Iya, dia jadi tidak merasa bosan karena aku juga menajak Ryu dan Akiko kesana. Tapi,,, kita mau kemana Dith?" tanya Alisya masih takt ahu arah jalan yang sedang di tuju oleh Adith. "Ke suatu tempat, kamu akan tahu jika kita sudah berada disana." Terang Adith sembari mempercepat laju kendaraanya. 15 menit kemudian, mereka akhirnya tiba disuatu taman yang situasinya terlihat remang-remang. Alisya langsung keluar menghambur dengan kepala yang sudah mulai oleh dan mual. "Jika kau mengendarai mobil lebih lama lagi, aku akan menumpahkan semua isi perutku disini." Alisya melenguh pelan saat semua isi perutnya sudah semakin tak terkendali karena perasaan mabuknya. "Kemarilah, biar aku membuatmu nyaman." Adith langsung menariknya dengan lembut membawanya ke suatu tempat yang tak jauh dari dinding pagar yang mampak tidak begitu tinggi. Semakin mendekat Alisya semakin bisa melihat cahaya yang cukup terang dari balik dinding pagar tersebut. "Hahhhh??? Ini dimana? Aku tak tahu kalau Jakarta bisa memiliki tempat seindah ini." Alisya langsung beralri kecil menghampiri dinding pagar yang tingginya hanya mencapai bagian perutnya. Dari balik dinding itu, Alisya bisa melihat pemandangan langit malam Jakarta yang dihiasi oleh banyak lampu-lampu jalanan serta perumahan yang cukup indah, berkeliap-kelip dan bersinar terang. Alisya yang sangat menyukai cahaya dari lampu-lampu itu menatap takjub dengan mulut yang menganga sambil melompat-lompat dengan penuh kegirangan. Chapter 269 - Jurus Pengendalian Adith secara perlahan mendekati Alisya memperbaiki posisi Jas kantornya agar menutupi tubuh Alisya kemudian memeluknya dari belakang dengan hangat. Untuk beberapa saat Alisya hanya bisa terdiam membeku karena Adith semakin menenggelamkan kepalanya di bahu Alisya. Nafasnya yang berat dan lemah membuat Alisya paham kalau Adith sepertinya sudah bekerja cukup keras 2 hari ini. "Apa pekerjaan kantor cukup membebanimu?" tanya Alisya lembut memeluk kedua tangan Adith yang dingin diterpa angin malam. "Tidak, hanya sedikit melelahkan." Adith menggeleng pelan di bahu Alisya. Meski ia berbicara seperti itu, Alisya bisa mengetahuinya dari detak jantungnya yang terdengar melemah dan deru nafasnya yang juga melemah. Ia seperti tak tertidur selama 2 hari ini. "Kau harusnya beristirahat dulu di rumah, bukannya malah membawaku kesini." Alisya membalikkan badannya ingin melihat wajah Adith dari dekat. "Karena aku sangat merindukanmu." jawab Adith dengan suaranya yang berat dan lembut. Lingkar hitam dan kelelahan terlihat betul diwajahnya. Alisya merasa bahwa Adith benar-benar seorang jenius dimana anak-anak pada usia seperti dia, mereka masih menikmati hidup mereka dengan nyaman dan hanya memikirkan tugas sekolah bukannya urusan kantor. "Mana ada sih siswa SMA yang sudah bekerja di kantoran seperti dirimu. Ini tidak normal Dith." Alisya menyayangkan Adith yang harus bekerja keras di usianya yang masih muda. Adith tersenyum manis mendengar ucapan Alisya sehingga ia memajukan kepalanya ingin membisikkan sesuatu ke telinga Alisya. "Mana ada siswa SMA yang sudah memiliki kemampuan super dan menjadi ketua geng Yakuza. Ini tidak normal Sya." Adith tersenyum nakal saat membisikkan hal tersebut. Alisya membelalakkan matanya dan mencubit Adith dengan gemas. Adith hanya tertawa karena wajah malu Alisya yang membuat pipinya memerah merona dan menggemaskan. "Jadi kenapa kau membawaku kemari?" tanya Alisya setelah cukup puas menyiksa Adith dengan geram. Adith terdiam beberapa saat sampai akhirnya dia mulai memberanikan diri untuk berbicara dengan penuh kelemah lembutan. "Aku tau ini mungkin terlalu cepat bagimu, tapi aku tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi dengan terus berbuat dosa kepadamu." terang Adith menatap wajah Alisya dengan dalam dan menggeser rambut Alisya yang sedikit menutupi wajahnya ke telinga Alisya. "Berbuat dosa? maksud kamu?" Alisya mengerutkan keningnya tak mengerti apa maksud dari Adith dengan mengatakan hal tersebut kepadanya. Adith mengangguk pelan kemudian tersenyum lagi sebelum melanjutkan kata-katanya. "Aku selalu tak bisa mengendalikan diriku dengan lebih baik kepadamu. Kau selalu berhasil mematahkan jurus pengendalian ku meski kau hanya tertidur atau menatapku seperti ini." terang Adith lagi tersenyum nakal ke arah Alisya. "Jadi kemarin saat di perpustakaan aku tidak bermimpi?" ucap Alisya memegang bibirnya dengan wajah malu dan memanas. "hahahaahha, aku tau kau menyadarinya." Adith sengaja tertawa renyah untuk menggoda Alisya. "Kau... kau tuh ya.." Adith langsung memeluk Alisya saat dia terlihat mulai kesal dan jengkel. "Untuk itu, aku tak ingin membuatmu berdosa dan berbuat dosa kepadamu. Selepas pelulusan sekolah nanti, maukah kamu menikah denganku?" Adith kembali menatap wajah Alisya dengan penuh kasih. Tepat di saat itu, perlahan-lahan dari satu pohon ke pohon lain dan dari satu taman ke taman lain semua mulai menyalakan lampu-lampunya menerangi taman tersebut. Alisya memandang dengan penuh takjub semua itu. ia tak menyangka kalau Adith sudah mempersiapkan semua itu hanya untuk dirinya disaat dia masih terlalu sibuk dengan urusan kantornya. Ia melihat kesana dan kemari dengan pandangan yang penuh haru. "Apa semua ini terinspirasi dari Arka?" Alisya tersenyum mengingat bagaimana Arka yang masih SMA sudah bertunangan dengan Yumna dan berencana untuk menikah setelah lulus nanti. "aaahh.. umm, bisa dibilang seperti itu. Tapi di atas semua itu, karena aku ingin memilikimu dengan cara yang halal. Jadi, apakah kamu mau menikah denganku?" tanya Adith sekali lagi setelah menghela nafas dengan kuat. Alisya yang terdiam cukup lama membuat Adith menjadi gundah dan tak berani menatap Alisya. Ia membalikkan badannya mendekati pinggir pagar melayangkan jauh pandangannya ke langit malam kota Jakarta. "Maaf Adith... tapi Aku,,," suara Alisya yang penuh akan keraguan semakin membuat Adith menjadi gusar dan takut. Adith paham bahwa Alisya mungkin tak ingin masa mudanya di ambil begitu saja. Memang terlalu cepat bagi mereka untuk menikah dan itu mungkin akan membuat Alisya merasa masa depannya akan terhalangi karena pernikahannya dengan Adith. "Aku tau, sulit bagimu untuk mengambil keputusan ini. Kau bisa tak menjawab ku sekarang, aku akan menunggu jawabanmu sampai kapanpun kamu siap." Adith membalikkan tubuhnya menghadap Alisya dengan tersenyum manis. Ia mencoba untuk terlihat tegar dihadapan Alisya namun Alisya bisa mendengar kesedihan dari detakkan jantung Adith. "Tapi aku juga merasakan hal yang sama denganmu, rasanya setiap kali bersamamu aku terus saja kehilangan logikaku. Kau membuatku ingin terus menangkap mu dan memerangkap mu kedalam pelukan ku. Aku..." Adith langsung menarik tangan Alisya dan memegang kepalanya di bagian belakang ingin mencium bibirnya namun dengan cepat dihalangi oleh Alisya. "Kau harus mengendalikan dirimu dulu sampai kita benar-benar halal. Jika tidak akan sia-sia saja semua pengendalian yang sudah kau tanamkan selama ini. Setidaknya dengan begitu kita bisa saling menjaga satu sama lainnya." ucap Alisya lembut kepada Adith dengan menjauhkan wajahnya. "huuhhh,, kau akan mendapatkan hukuman mu nantinya karena kau sudah membuatku seperti ini. Tapi baiklah, aku akan berjanji padamu sampai saatnya nanti." Adith tersenyum nakal saat mengatakan hal tersebut dihadapan Alisya. Alisya kembali memukul dada Adith dengan sangat kuat membuat Adith harus meringis karena sakit karena pukulan Alisya yang mendarat cukup kuat di dadanya. Alisya hanya membuang muka dengan cuek karena kesal Adith selalu saja menggodanya. Alisya langsung berjalan pergi meninggalkan Adith disana dan melihat bangkuk taman yang cukup panjang tak jauh dari sana. Ia terdiam sebentar namun kemudian kembali kepada Adith dan menarik tangannya dengan lembut. Adith tertawa pelan melihat tingkah Alisya seperti itu. "Baring lah dulu sebentar disini, aku akan menjagamu saat kau sedang tertidur. Setidaknya kau butuh istirahat setelah semua pekerjaan yang sudah kau lakukan. Aku akan melihat lihat pemandangan malam dulu." Alisya yang ingin pergi langsung di tarik oleh Adith. Adith membuat Alisya terduduk di kursi pada bagian ujung lalu dengan cepat Adith berbaring diatas pangkuannya memeluk pinggang Alisya dengan erat dan menenggelamkan kepalanya di perut Alisya. "Adith, kau kan sudah berjanji untuk..." Alisya berontak dan protes langsung dihentikan oleh Adith dengan lembut. "Setidaknya untuk malam ini biarkan aku melakukan ini saja padamu. Aku takkan bisa tertidur jika kau tak berada disisi ku." ucap Adith dengan suara lembutnya Mendengar itu, Alisya pasrah dan membiarkan Adith untuk bisa terlelap dengan nyaman selama satu jam. Alisya membelai lembut rambut Adith yang lebat dan halus sembari memperhatikan wajah Adith lekat-lekat. Alisya tak bisa berhenti mengagumi setiap inci dari wajah Adith yang selalu membuatnya terpesona setiap saat. "Apa tahi lalat ini dari awal sudah ada disini? Kenapa aku tak pernah menyadarinya?" Alisya mengelus lembut tahi lalat Adith yang berada di dekat matanya. "Jika kau memandangku seperti itu terus, kau malah akan meruntuhkan pertahanan ku dengan mudah." jelas Adith tersadar dari tidurnya karena sentuhan tangan Alisya yang semakin membeku karena udara ditempat itu semakin dingin. "Ka... kau sudah bangun?" Alisya seketika menjadi gugup dan salah tingkah bingung juga tak tahu apa yang harus ia lakukan. Adith langsung terbangun dan melihat jam tangannya dengan sedikit menggosok matanya yang masih ia rasakan kantuk yang cukup berat. "Sudah jam 2 malam, sepertinya aku tertidur cukup lama. Berdirilah, aku harus mengantar pulang anak orang. Jika terlalu lama aku membawamu, mereka akan mencari ku dan membunuhku. Aku takkan bisa melawan geng Yakuza dan pasukan khusus ayahmu!" Adith segera menarik tangan Alisya pergi dari sana. Chapter 270 - Jadi Bagaimana? Setelah perjalanan yang cukup jauh, Alisya tak sadar kalau ia sudah mulai tertidur sehingga Adith harus berhenti sejenak untuk membuat posisi kursi menjadi lebih nyaman. Menutupinya dengan Jasnya agar Alisya tak merasakan dingin serta menaikkan sedikit jendela mobilnya. Setelah itu ia kembali mengendarai mobilnya dengan pelan agar tidak mengganggu tidur Alisya. "Sya¡­ kita sudah sampai, apa kamu mau aku gendong sampai ke dalam?" Bisik Adith sembari mengguncangkan tubuh Alisya dengan lembut. "Umm¡­ Tidak perlu, kenapa kau dibatasi malah semakin menjadi jadi sih." Alisya mengomeli Adith dengan setengah sadar dan berusaha bangun dari tidurnya. Adith tersenyum melepaskan sabuk pengamannya kemudian keluar membukakan pintu mobil untuk Alisya. Alisya keluar setelah melepaskan Jas Adith dan memakaikannya kepada Adith. Adith tersenyum melihat perlakuan manis dari Alisya. Alisya yang selama ini jarang bersikap manis kepadanya membuat hati Adith merasa sangat hangat dan merona bahagia. "Apakah kau sedang belajar menjadi istri yang baik sekarang?" Adith mendekatkan wajahnya kepada Alisya memandangnya dengan senyuman menggoda. Alisya sejenak membeku karena wajah tampan Adith. "Ehem¡­ bisakah kau berhenti menggodaku?" Alisya memasang kancing atas kemeja Adith yang membuat Adith sedikit kesulitan untuk bernafas. Karena kesal Alisya langsung berlalu pergi tapi Adith dengan cepat menangkap tangan Alisya kemudian mencium dahi Alisya dengan lembut. Ciuman yang ia berikan dengan penuh perasaan hingga Alisya menutup matanya merasakan perasaan yang sama dengan Adith pada hatinya. "Terima Kasih¡­" ucap Adith kemudian melepas tangan Alisya perlahan-lahan. Alisya tersenyum manis kemudian melambai cepat meninggalkan Adith masuk kedalam rumahnya. Adith membalas lambaian tangan Alisya dengan tertawa pelan kemudian masuk kedalam mobilnya begitu melihat Alisya sudah masuk kedalam rumanhya. Alisya yang pulang hampir subuh dini hari membuatnya harus merangkak perlahan masuk ke dalam rumah agar tidak membangunkan seluruh orang rumah. Saat ia masih mengendap-endap masuk, tiba-tiba saja lampu rumah menyala terang membuat Alisya menempel kuat di dinding menahan teriakannya. "Ehem¡­" Kakek nenek Alisya serta Ryu dan Akiko sudah menatap tajam ke arah Alisya dengan kedua tangan yang sudah mendekap di dada mereka masing-masing. "Hhhhhhh???" Alisya menarik nafas karena terkejut melihat mereka semua. Ia panik dan bingung tak tahu harus bagaimana. "Kakek,,, nenek¡­ A¡­ aku,, dari¡­ Dari mana yah.." Alisya yang tidak biasa berbohong kepada kakek dan neneknya menjadi bingung tak tahu harus berbicara apa. Ia menjadi salah tingkah dan merasa sangat bersalah karena ia tau akan apa yang dilakukannya saat itu adalah tidak benar. "Kau dari mana?" Ayah Alisya berdiri di dekat tombol lampu menyandarkan tubuhnya dengan melipat tangannya menatap tajam ke arah Alisya. "Bapak??? Kapan bapak ada di sini? Maafkan Alisya." Meski sempat terkejut karena melihat Ayahnya disana, Alisya langsung meminta maaf karena tak bisa memberikan alasan yang tepat. Ia takut jika menyebut nama Adith malah membuat mereka jadi membenci Adith. "Jadi bagaimana?" Nenek Alisya menaikkan keningnya beberapa kali yang membuat Alisya mengerutkan keningnya bingung tak paham apa maksud pertanyaan neneknya. Ryu dan Akiko sudah mulai tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah panik Alisya yang mulai salah tingkah. "Ba.. bagaimana apa??? Jangan-jangan kalian tahu aku pergi bersama Adith?" tanya Alisya cepat meski sedikit gagap karena takut kalau ia salah. "Tentu saja tahu! Kau pikir kami akan mengizinkanmu pergi dengan Adith di jam selarut ini?" tatap nenek Alisya menggodanya dengan menari Alisya untuk duduk disofa. Alisya hanya menurut dengan tatapan bingung. "Persekongkolan apa yang sedang terjadi dirumah ini?" batin Alisya menarik nafas dalam. "Adith sudah menghubungi Ayah dan kakekmu sebelum membawamu tadi, itulah kenapa aku dengan cepat kembali kerumah untuk bisa ikut mendengarkan apa yang sudah kalian bicarakan." Ayah Alisya duduk dihadapan anaknya dengan tatapan was-was. Ryu dan Akiko pun secepat kilat mengambil tempat tak sabar ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Alisya. "Itu artinya kalian juga sudah tahu apa maksud dan tujuan Adith saat membawaku pergi?" Alisya ingin memastikan sikap mereka yang sedang menyidangnya saat ini. "Dia menghubungi kami untuk segera berada dirumah dan meyakinkanmu jika ternyata usahanya gagal. Awalnya kami tidak mengerti apa maksudnya, tapi ia bilang kami bisa bertanya kepadamu jika kalian sudah bertemu karena ia juga masih ragu akan keberhasilan rencananya." ucap kakek Alisya duduk disamping ayah Alisya. "Jadi? apa yang sudah kalian bahas? Kenapa Adith terkesan sangat serius sekali sampai harus memohon dan meminta agar Bapak dan Kakekmu pulang ke rumah untuk malam ini." tanya nenek Alisya sudah tak sabar lagi. "Kami bahkan sampai terbangun mendengar kehebohan dari keributan dari Bapak sama Kakek" ketus Akiko yang matanya kembali segar karena kehebohan dua orang tua itu. "Aku akan memberikan rekamanmu saat mereka melihatmu dicium Adith di depan sana!" seru Ryu yang seketika mendapatkan tatapan aura membunuh dari Ayah dan kakek Alisya. Mereka semua sejenak terdiam menunggu Alisya membuka mulutnya dengan tatapan penuh antusias dan mata yang melebar tak sabar mendengarkan cerita Alisya. "A... Adith melamarku disana. Dia ingin kami segera menikah setelah lulus sekolah nanti. A.. aku tau ini terlalu cepat untuk kami berdua menikah, tapi kami punya rencana untuk kedepannya dan kami memiliki alasan untuk hal ini." Alisya mulai berbicara setelah menarik nafas dalam. Meski sedikit gugup, ai berusaha untuk mencoba menjelaskan kepada Ayah, kakek serta neneknya. "Lalu apa yang kamu katakan?" tatap mereka semua serius menanti jawaban Alisya. Alisya memirinkan kepalanya bingung mengapa neneknya bertanya seperti itu kepadanya. "Aku menjawab ya!" jawab Alisya singkat. Alisya takut karena seharusnya mungkin saat ini Adith harusnya membawa kedua orang tuanya saja tapi Alisya juga paham kalau Adith masih ingin mendengar tanggapannya sebelum membawa kedua orang tuanya bertemu langsung dengan Ayah, kakek serta neneknya. "Halo... kau mendengar itu? dia bilang Ya!" Ayah Alisya langsung berdiri dari tempat duduknya menampilkan video hologram yang terhubung langsung dengan kedua orang tua Adith. Mereka segera mengucap Alhamdulillah dengan heboh dan penuh semangat. Alisya membeku ditempatnya melihat aksi Ayahnya yang tak terduga tersebut. Ia tak menyangka kalau mereka sudah terhubung oleh panggilan Video satu sama lainnya. "Yes, aku bisa menjadi seorang kakek lagi." seru kakeknya mengepalkan kedua tangannya dengan semangat lalu melemparnya cepat ke arah kiri dan kanannya. "Akhirnya kita bisa mendengar suara tangisan bayi lagi dirumah ini setelah sekian lamanya." seru nenek Alisya memeluk Alisya dengan hangat. Bahkan Akiko pun sampai melompat-lompat heboh dengan penuh semangat. Alisya melongo membeku di tempatnya dalam diam Chapter 271 - Kau mengigau??? Dengan tatapan kebingungan, Alisya langsung naik ke atas meninggalkan mereka semua yang sudah mengheboh di bawah. Sebelum pergi, Alisya sempat mendengar kalau Ayah dan Ibu Adith akan mencari waktu dan hari yang baik untuk bisa segera datang mempertunangkan ia dengan Adith. "Hufffft... Nggak nyangka perjalanan waktu yang aku dan dia lalui sudah bisa secepat ini. Aku pikir Adith hanya bisa bersikap nakal dan nyebelin saja, ternyata dia punya keberanian sampai seperti itu." gumam Alisya merebahkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. Setiap kali ia merasa lelah dengan kehidupan, Alisya selalu saja merindukan kasurnya. Entah kenapa ketika berbaring di atas kasurnya ia bisa merasakan kenyamanan tiada tara yang dapat merontokkan segala keletihannya selama seharian. "Apa ini nyata? atau aku hanya bermimpi? Di lamar oleh seorang Radithya Azura Narendra, Si Jenius tampan nomor 1 di Indonesia dengan wajah yang tidak realistis." gumam Alisya sekali lagi mencubit pipinya sendiri karena ia merasa sedang berada di alam mimpi. "Bego!!! Ini tuh sakit banget, kenapa aku kuat sekali sih nyubitnya." keluh Alisya yang meringis kesakitan mengelus pipinya dengan kuat karena merasakan sakit dan panas secara bersamaan. Setelah ia sadar bahwa itu bukanlah mimpi, Alisya berguling ke kiri dan ke kanan merasakan bahagia yang teramat sangat. Terlebih karena setiap kali ia mengingat wajah Adith sewaktu melamarnya dan sewaktu ingin menciumnya membuat Alisya memerah dan memekik dengan keras di dalam bantal tempat tidurnya. "Alisya... Alisya... bangun, kamu ke skolah nggak?" nenek Alisya sudah menggedor-gedor pintu Alisya untuk membangunnya namun masih tidak mendapatkan jawaban. "Hari ini kami tidak ke sekolah nek, kami akan pergi berlibur bersama dengan teman-teman yang lain. Kami kan sudah meminta izin kemarin." Akiko mendatangi nenek Alisya untuk mengingatkan apa yang sudah mereka katakan lalu padanya untuk meminta izin. "Ah.. ya ampun, nenek lupa. Lalu bagaimana caranya membangunkan anak ini?" tanya nenek Alisya yang baru kali itu Alisya agak sulit dibangunkan. Biasanya hanya dengan memanggil namanya saja, Alisya sudah membukakan pintu karena sebelumnya sudah terbangun untuk sholat subuh. "Biarkan sekitar 10 menit lagi, aku dan Ryu yang akan coba untuk membangunkannya." Akiko tersenyum licik karena sudah merencanakan sesuatu. "Baiklah, kalian siap-siap saja dulu kalau begitu. Katakan pada nenek keperluan apa saja yang kalian perlukan." ucap nenek Alisya sembari pergi dari kamar Alisya. Kamar Alisya yang seharusnya berada di lantai bawah kini harus naik ke lantai atas karena kedatangan Ryu. Meski tak sekamar dengan Akiko, kamar mereka bersebelahan sehingga para wanita berada di lantai atas. "A chan... Senior Adith sudah datang bersama orang tuanya di bawah.." teriak Akiko dengan sedikit keras. "Mereka menunggumu, katanya bersiaplah dalam 10 menit." teriak Ryu lagi setelah di paksa oleh Akiko untuk membantunya. Alisya langsung tersadar dari tidurnya begitu mendengar teriakan Akiko yang menyebutkan nama Adith dan kedua orangtuanya. Alisya langsung melompat turun dari ranjangnya membuka pakaiannya dengan cepat lalu melemparnya sembarangan dan masuk kedalam kamar mandinya secepat kilat. "Nek, dimana mereka?" Alisya yang turun dari kamarnya segera bertanya kepada neneknya yang sedang memasak di dapur. "Mereka sudah pergi 5 menit yang lalu, kalau kau tak berangkat sekarang kau akan ketinggalan bis yang akan berangkat ke tempat berlibur kalian." nenek Alisya menyempatkan diri menggetok kepala Alisya yang baru bangun dari tidurnya. "Hahhh?? bukankah Ayah dan Ibu Adith kemari?" tanya Alisya dengan tatapan bingung. "Kau mengigau?? cepat lah berangkat. Akiko sudah mengambil semua keperluanmu sehingga kau tinggal berangkat kesana. Jangan lupa ambil jacket mu karena ia tak menemukan jacketmu pada pakaian bersih tadi." seru nenek Alisya mengingatkan Alisya sekali lagi. "Sial, aku dikerjai!!! awas kalian berdua!" Alisya langsung terburu-buru naik ke atas untuk mengambil beberapa keperluan yang bisa ia bawa di tas kecilnya serta jacket hitam kesayangannya. Alisya yang berlari terburu-buru tak mendapatkan taksi ataupun tukang ojek disekitar sana. Ia juga tidak pernah menginstal aplikasi ojek oneline di HP nya yang baru ia beli membuatnya semakin panik dan kebingungan. Merasa tidak cukup waktu, ia segera berlari dengan kencang. Tepat setelah ia akan menyebrang jalan, sebuah bus sudah menunggunya tidak jauh dari jalan dengan Adith yang sudah bersandar melipat kedua tangannya memandang Alisya dengan tersenyum manis. "Waaah... bahkan dalam keadaan seperti ini aku masih saja menghayal kan dirinya." gumam Alisya melambatkan larinya. "Hei kau mau kemana? kita sudah nungguin dari tadi nih!" teriak Karin dari jendela kaca mobil dengan kesal karena Alisya sudah berbelok ke arah lain. Adith tertawa melihat Alisya yang sedang terengah-engah melongo melihat dirinya dengan pakaian yang bisa dibilang terlalu anggun untuk dibawa berlari. Menutup wajahnya dengan malu, Alisya langsung naik ke atas mobil dengan meraih tangan Adith terlebih dahulu. "Aku duduk dimana?" tanya Alisya saat melihat Karin dan Ryu sudah duduk berdampingan. "Tentu saja bersamaku!" Adith langsung menarik tangan Alisya dan mengajaknya duduk ke dekat jendela mobil untuk bisa mengatasi mabuk Alisya. "Kau butuh Antimo Sya? Adora bawa tuh biar kamu nggak mabuk darat." seru Aurelia sembari menunjuk ke arah Adora. "Tidak, dia tidak perlu Antimo jika sudah berada di dekatku. Aku sudah cukup menjadi Antimo buatnya." ucap Adith dengan suara dingin yang seketika membuat mereka semua berseru dengan heboh. Ada yang berteriak karena merasa kalimat Adith romantis, ada juga yang merinding disco saat mendengar Adith sedang menggombal dengan santai saat sifat itu bukanlah kebiasaan dirinya. "Cinta dapat merubah segalanya!" Ucap Zein menyinggung keduanya. "Sebentar lagi kau akan merasakan yang sama." lirik Adith pada Adora yang langsung membuat jantung Adora berdegub dengan kencang dan merona panas. "Tapi sebelum itu, aku mau tanya. Ada acara spesial apa sampai Alisya memakai gaun secantik itu? Aku rasa bukan karena ingin berlibur kan?" tanya Riyan melihat ke arah Alisya yang sedang menggunakan gaun cantik sebetis berwarna merah yang sangat pas di tubuhnya. Alisya yang kebingungan langsung melihat ke arah bajunya yang baru ia sadar kalau ia keluar masih dengan baju yang sama yang ia pikir harus ia gunakan agar bisa tampil cantik dihadapan kedua orang tua Adith. "Hari ini aku akan memberikan pelajaran kepada 2 nyamuk nakal sekaligus!" ancam Alisya kepada Akiko dan Ryu yang berada disebelahnya. Ryu hanya menatap lurus tak berani bertatapan dengan Alisya sedang Akiko langsung membuang muka. "Kau sangat cantik hari ini." bisik Adith ke telinga Alisya dengan lembut. Chapter 272 - Sisakan satu seperti Adith "Kau mabuk?" tanya Adith melihat wajah pucat Alisya yang terlihat tak baik-baik saja. Alisya mengangguk pelan membuang wajahnya ke dekat jendela untuk bisa merasakan udara segar. "Kemarikan tanganmu" Adith langsung menarik tangan Alisya tanpa persetujuannya dan mulai memijit di antara jempol dan telunjuknya dengan lembut. Pijatan itu dia berikan agar Alisya bisa merasa lebih nyaman dari sebelumnya. Tanpa menoleh, Alisya terus membiarkan Adith untuk memberikan pijatannya di tangan serta pelipisnya. "Nona, minumlah, ini akan sedikit menetralkan asam lambung mu." terang Ryu memberikan sebotol air minum kepada Alisya dengan khawatir. "Menetralkan asam lambung? memangnya apa yang terjadi padanya?" tanya Aurelia yang berada di kursi belakang Alisya. "Setiap kali melakukan perjalanan jauh, terutama menggunakan kendaraan roda 4 smpai lebih, Alisya sengaja mengosongkan perutnya agar dia tidak memuntahkan sesuatu dari perutnya." Jelas mencoba memberikan sedikit minyak telon ke pelipis Alisya agar ia bisa merasa lebih nyaman "Itulah kenapa air putih harus diberikan untuk menetralkan asam lambungnya yang meningkat karena lapar dan juga karena rasa mabuknya." tambah Ryu lagi mengambil botol yang sudah diminum oleh Alisya. "Ohhh... Alisya, kau benar-benar sesuatu. Kau bahkan bisa melawan se ekor banteng tetapi kenapa begitu lemah soal kendaraan? kerasnya rahang mu tidak sesuai dengan tingkah mabuk mu saat ini" seru Beni menggoda Alisya yang sedang mabuk. "Berhati-hati lah, rahang ku yang keras ini bisa memecahkan batok kepala seseorang ketika dia dalam kondisi primanya." seru Alisya memegang kepalanya yang semakin terasa pusing. Mendengar ucapan Alisya, Beni yang mendapat ancaman seketika meluncur pelan kembali ke posisi duduknya dengan tenang tanpa bersuara dan bergetar hebat. Teman-temannya yang melihat reaksi Beni hanya tertawa dalam diam. "Kita sudah sampai. Periksa barang-barang kalian jangan sampai ada yang ketinggalan." Ibu Vivian segera memperingatkan mereka sebelum mereka turun dan bus. "Wwoooww... kita di pantai ancol??? tunggu sebentar ini bukannya Putri Duyung Cotage?" teriak Gani saat mereka keluar dari Bus yang mereka tumpangi. "Ibu serius kita akan bermalam disini?" tanya Adora dengan sangat antusias kepada Ibu Vivian yang mengangguk senang. Putri Duyung Cottage adalah Resort yang memiliki desain arsitektur etnis dan artistik dan interior mewah dan berkualitas tinggi dengan beragam fitur unik dengan sentuhan etnik timur Indonesia. Beragam fasilitas yang unik, termasuk salah satunya akomodasi pondok di tepi perairan dan sebuah kolam renang outdoor yang berbentuk seperti perahu. "Ini hebatttt.." teriak Beni dengan sangat senang karena bisa berada di tempat yang cukup mewah tersebut. "Adith, Bagaimana ke adaan Alisya? Kalian sudah bisa turun karena bus ini harus segera parkir di sebelah sana." Ibu Vivian segera mengingatkan Adith dan Alisya untuk turun. Adith mengangguk paham akan apa yang dikatakan oleh ibu Vivian. "Kau bisa berdiri?" tanya Adith yang sedari tadi tidak meninggalkan tempatnya dari sisi Alisya. Alisya menggeleng pelan dan belum sanggup untuk berjalan keluar. "Ehh.. Apa yang kau lakukan?" tanya Alisya saat tubuhnya sudah digendong oleh Adith turun dari Bus. Mata Alisya melebar besar memandang Adith yang sudah menggendongnya dengan santai. Semua teman-temannya segera berteriak heboh melihat kemesraan dari keduanya. Meski merasa sangat malu, Alisya tetap tak bisa menyembunyikan wajahnya yang merona terpana oleh perlakuan manis Adith. "Duduklah disini, kau akan merasa jauh lebih baikan dibanding di dalam bus." ucap Adith sembari menyapu lembut kepalanya dan pergi mengurus barang-barang mereka. "Siapa yang tak jatuh cinta jika kau memperlakukan diriku semanis ini?" Batin Alisya tersenyum-senyum sendiri. "Kapan aku bisa mendapatkan perlakuan seperti itu?" gumam Adora saat melihat Adith menggendong Alisya turun dari bus dan mendudukkannya ke rumput yang hijau dengan lembut. "Sisakan satu orang seperti Adith untukku" seru Feby dengan tatapan terpesona. "Dosa nggak yah kalau aku berharap diberikan kesempatan untuk bisa memiliki laki-laki seperti Adith?" tambah Emi lagi dengan tatapan yang sama dengan Feby. "Bersyukurlah karena kalian masih bisa meminta dengan baik. Sedang aku," Aurelia memandang Yogi dengan lenguhan yang sangat dalam. Mendengar ucapan Aurelia, Ryu dan Rinto yang melihat wajah Yogi seolah mendengar sebuah suara kambing yang sedang meremehkan dirinya. "Cih,, Aku kan sudah memperlakukan dirimu bagaikan ratu.. tapi jika kau mau aku bisa memperlakukan mu seperti seorang istri raja." terang Yogi protes dengan wajah yang penuh kebanggaan. Zein dan Riyan menatap wajah Yogi seolah mendengar suara gagak yang sedang merendahkan dirinya. "Apa bedanya Ratu dengan istri Raja?" pukul Adith ke pundak Yogi yang langsung membuat mereka semua tertawa dengan terbahak-bahak. Karin segera menghampiri Alisya untuk memastikan keadaannya setelah selesai menurunkan barang-barang miliknya. "Ekspresinya orang yang sedang jatuh cinta itu jadi terlihat seperti menjijikkan atau menakutkan. Dan kau memasuki tahap menakutkan, senyuman mu yang ku lihat bukanlah senyuman bahagia, melainkan senyuman seorang psikopat." seru Karin merinding saat mendekati Alisya yang sedang senyum senyum sendiri. "Ehemmm" mendengar ucapan Karin, Alisya dengan cepat langsung mengubah ekspresinya menjadi lebih datar. "Bagaimana keadaan mu?" Ibu Vivian segera menghampiri Alisya karena khawatir akan dirinya. "Sekarang sudah lebih mending bu, hanya masih sedikit mual dan pening." jelas Alisya yang masih belum bisa mengembalikan rasa oleng dan mualnya. "Baguslah, kita akan memasuki penginapan untuk itu kalian semua silahkan ambil barang-barang kalian dan masukkan kedalam bangunan yang berada di bagian sana." tunjuk ibu Vivian pada sebuah rumah yang terbuat dari papan dengan gaya klasik yang terlihat sangat indah dan keren. Mereka segera berlari menuju ke tempat yang sedang di tunjuk oleh ibu Vivian dengan penuh semangat karena sudah tak sabar lagi. "Kau bisa jalan?" tanya Karin kepada Alisya yang dengan cepat di anggukkan nya dengan pelan oleh Alisya. Begitu ia berdiri, ternyata rasa olengnya masih terasa sehingga dia hampir kehilangan keseimbangan yang dimanfaatkan dengan mudah oleh Adith dengan menangkapnya menggunakan punggungnya. "Adith, jika kau menggendongku lagi sekarang kau akan membuatku semakin malu." ucap Alisya karena ia sedang menggunakan gaun sehingga akan terlihat sangat aneh jika Adith membopongnya. "Benarkah? kalau begitu aku akan melakukan sesuatu yang lain." ucap Adith dengan senyuman nakalnya yang langsung mengambil tangan Alisya kemudian menempatkan tubuh Alisya di atas bahunya. "Dasar kau gila!!! turunkan aku, kau akan menyesal karena sudah melakukan ini." Alisya bisa dengan mudah mengamuk tapi itu akan memberikan dampak pada Adith sehingga dia hanya bisa meminta turun kepada Adith. "Jangan banyak bergoyang, kau akan membuat Rokmu tersingkap karenanya." Tegas Adith yang membuat Alisya hanya bisa menutup wajahnya dengan penuh rasa malu. Setelah sampai dihadapan tempat mereka akan menginap, Adith menurunkannya dengan lembut berlalu pergi dengan senyuman nakalnya. "Apa yang harus aku lakukan padanya? kenapa sikapnya semakin usil sekali padaku!" Alisya menepuk jidatnya tak mengerti dengan sikap Adith yang semakin terang-terangan memperlakukannya dengan manis dihadapan semua orang. "Sepertinya aku melihat satu karung beras mawar merah yang sedang di pikul Adith, kemana itu barang?" goda Riyan kepada Alisya yang membuat Alisya sangat malu dan masuk kedalam dengan wajah juteknya. "Uwaaahhhh,,, rumah ini sangat keren, bagaimana mereka bisa membangun rumah se mewah ini? gayanya sangat futuristik dan unik. Ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai rumah impian, benar-benar keren." gumam Alisya yang memang selalu menujukkan rasa tertariknya kepada interior rumah itu. "Alisya, naiklah. Kau akan kaget saat melihat interior rumah ini, terutama bagian kamarnya." Adora dengan cepat menarik tangan Alisya menuju lantai 2 tempat kamar para gadis. Dan hal yang sama yang membuat Alisya merasa kagum akan tatanan rumah itu yang benar-benar terlihat mewah dan berkelas. Kamar itu memiliki balkon yang langsung menembus pemandangan pantai ancol dengan sangat indah. "Kalian akan tidur berempat dengan Karin, Akiko dan Ibu Vivian sedang kami berada di kamar sebelah." tunjuk Adora yang langsung berlari ke balkon. Chapter 273 - Cafein "Dimana kamarmu?" tanya Yogi kepada Aurelia sembari memegang tangannya dengan erat. "Lantai dua." Jawab Aurelia dengan nada datar. "Oke, ayo naik!" Yogi memimpin Aurelia jalan menuju tangga untuk naik ke lantai 2. "Kau mau kemana? Disana bukan tempatmu!" Rinto dengan cepat menarik kerah baju Yogi dengan sangat kuat menghentikan aksi gilanya untuk pergi bersama Aurelia di lantai 2. "Aku¡­ aku maunya sama Aurelia¡­" teriak Yogi terus memberontak ingin pergi bersama Aurelia. Aurelia hanya melambai dengan senyuman sinis yang kemudian ia tertawa lucu melihat perubahan sikap Yogi yang semakin manis saat ia menyinggunya sebelumnya. "Jangan bersikap dramatis! Kalian hanya terpisah satu lantai saja." Rinto yang kesal langsung menjepit kepala Yogi dibawah lengannya dan terus menariknya masuk kedalam kamar mereka. "Karin, Ryu, sampaikan kepada yang lain kalau kalian bisa memanfaatkan waktu bebas kalian sekarang dan kita akan ketemu saat makan siang nanti di resto depan sana." Seru Ibu Vivian memberikan arahan kepada keduanya. "Sejak kapan aku menjadi asisten atau wakil kelasmu?" bisik Ryu yang bingung dengan sikap ibu Vivian yang selalu saja mengarahkan mereka berdua untuk menyelesaikan pekerjaan kelas. "Ikuti saja." Gumam Karin pelan kepada Ryu. "Oh iya bu, Perlombaan kemarin kan bukan hanya kelas Mia saja yang memenagkannya bukan, lalu kenapa aku hanya melihat kelas MIA saja yang mengikuti kegiatan ini? Apa kelas IIS tidak ikut kali ini?" tanya Karin yang penasaran karena tak melihat adanya kelas IIS di bus dan tempat tersebut. "Mereka akan bergabung dengan kita sebentar sore. Untuk itu, kalian perlu membeli bahan-bahan makana yang akan kita gunakan dalam barbekyu nanti." Ucap Ibu Vivian menarik kopernya dan mengangkatnya melewati tangga menuju kelantai atas. "Apa itu artinya yang dimaksud kalian adalah kita berdua?" gumam Ryu sekali lagi yang di arahkan kepada Karin. Karin hanya menatap Ryu dengan mengerutkan keningnya, tidak biasanya Ryu menjadi orang yang begitu banyak berbicara. "Sudahlah ikut aku saja. Jika kita pergi sekarang kita bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dan mengelilingi resort ini." Karin langsung menarik dan membuka tas Ransel Ryu. Ia sengaja pergi lebih awal sehingga Karin bisa lebih cepat dalam menikmati keindahan resort itu hingga sore hari tanpa terbebani pikiran akan sebuah pekerjaan yang belum selesai yang diberikan kepadanya. "Eh kalian mau kemana? Terlalu siang kalau kalian mau ngedate." Teriak Emi saat melihat Karin dan Ryu sudah berjalan keluar. "Membeli bahan-bahan untuk sebentar sore, tolong bawakan tasku di atas yah.. Gani, aku titip tas Ryu sekalian." Ucap Karin langsung pergi menjauh dari hadapan mereka. Tempat untuk membeli beberapa bahan tidak jauh dari tempat mereka menginap karena masih ada dalam satu tempat yang sama yang dikelola oleh resort. Meski sebenarnya mereka bisa saja memesan kepada pihak resort, mereka memilih untuk melakukannya sendiri. Ada beberapa bahan yang kurang saat mereka berada dalam mini market itu sedang untuk keluar mebeli di tempat lain berada di arah yang berlawanan dari mereka sehingga Karin meminta tolong kepada Alisya untuk pergi membelinya karena tempat mereka menginap cukup dekat dengan mini market yang harus di tuju oleh Karin dan Ryu. "Bailah, aku akan segera kesana setelah mengganti baju dengan baju yang lebih nyaman. Aku tak mungkin pergi dengan gaun seperti ini." Ucap Alisya dari balik telponnya. "Apa kau membawa uang? Jika tidak kau bisa¡­" ucapan Karin langsung dihentikan oleh Alisya. "Aku bawa kok, jangan khawatir!" terang Alisya kemudian menutup telpon dari Karin dan segera masuk kedalam kamar mandi untuk berganti pakaian. "Berarti kita bisa pulang ke tempat menginap saja? Tanganku sudah mulai keram karena banyaknya barang yang aku pegang." Keluh Ryu karena semua kantung dan barang belanjaan yang Karin serahkan padanya. Karin memiringkan kepalanya masih kurang nyaman dengan sikap Ryu yang sangat aktif dan ceria tersebut. Bahkan selama di dalam marketpun, Ryu tak berhenti bertanya kepada Karin pada setiap bahan yang dibeli oleh kedunya. "Oke, kita pulang! Sepertinya kepalaku sudah mulai sakit karena tak terbiasa dengan sikapmu ini." Seru Karin berjalan terburu-buru menghindari Ryu. "Hai,, apa kami bisa berfoto bersama mu?" beberapa orang segera menghentikan Ryu untuk berfoto bersama dengannya. "Ah.. maaf, tapi aku sedang sibuk sekarang. Bisa kalian lihat? Barangku sedang banyak sekali saat ini." Ucap Ryu sembari mencuri pandang kea rah Karin. "Benarkah? Kalau begitu dimana kamu menginap?" tanya mereka ingin mengobrol lama dengan Ryu. "Um¡­ Penginapan di ujung sana yang dekat dengan kolam kapal layar!" Jawab Ryu ragu-ragu menatap Karin memohon untuk pertolongan. "Apa kamu sudah punya pacar?" tanya mereka lagi tak memberi kesempatan untuk Ryu lewat dan pergi meninggalkan mereka. "Punya! Cewek yang disana adalah Pacarku, jadi maaf kalian sudah menggangguku sekarang!" tegas Ryu langsung melewati mereka dengan cepat mengejar Karin yang sudah berjalan pelan beberapa langkah dihadapannya. "Kenapa kau tidak menolongku saat aku diserbu tadi?" keluh Ryu kepada Karin yang hanya meninggalkannya disana. "Kenapa aku harus membantumu? Bukankah semua laki-laki paling suka kalau diperhatikan oleh banyak perempuan?" ucap Karin dengan nada yang terdengar sedang cemburu. "Karena aku hanya menginginkan kamu yang menjadi orang yang pertama memperhatikan aku. Aku tidak perduli dengan orang lain." Seru Ryu dengan tegas saat mereka sudah semakin dekat dengan tempat penginapan mereka. "Kenapa hari ini kau jadi banyak bicaranya sih? Biasanya juga diam dan nggak banyak koment. Ada apa dengan dirimu?" tanya Karin kepada Ryu tepat dengan datangnya Akiko yang lewat dibelakang Ryu. "Ada apa? Kalian sedang bertengkar?" tanya Akiko heran dengan apa yang baru saja dilihatnya dengan sikap dari Karin dan Ryu. "Apa kau tidak merasa ada sesuatu yang aneh dengan Ryu? Dia sedari tadi sangat aktif berbicara dan bahkan jauh lebih berani berkata-kata sekarang, itu membuatku jadi takut." Karin dengan cepat menarik Akiko dan membisikkan semua tingkah Ryu saat itu. "Apa¡­ kau melihatnya meninum atau memakan sesuatu yang mengandung Cafein?" tanya Akiko dengan tatapan khawatir. "Sepertinya yang makanan ringan dan minuman soda yang aku berikan padanya mengandung Cafein. Kuaci dan minuman bersoda itu memiliki cafein meski tak sebanyak kadar pada kopi." Jawab Karin ragu-ragu. "Gawat!!! Ryu sangat lemah terhadap Cafein. Setiap kali dia memasukkan cafein ketubuhnya meski pada kadar yang rendah, maka energi yang ada dalam tubuhnya akan meningkat drastis sehingga ia akan menjadi sangat aktif." Jawab Akiko sembari memandang Ryu dengan tatapan khawatir akan kondisinya karena efek dari Cefein. Chapter 274 - Tunangan dan Calon Istri Setelah selesai mandi, Alisya turun dari lantai dua dengan celana jeans longgar dan kaos oblong warna putih serta topi hitam yang sangat pas ditubuhnya. Kakinya yang jenjang dengan body yang cukup padat membuatnya terlihat simple namun seksi. "Kau mau kemana?" tanya Adith cepat yang sedang berbincang-bincang dengan Zein dan yang lainnya di ruang tamu milik penginapan tersebut. "Aku mau ke depan untuk membeli beberapa bahan yang akan kita gunakan untuk barbeque entar sore." ucap Alisya santai dan segera melangkah dengan pasti karena melihat mereka sedang berbicara dengan serius. "Stop! Aku ikut," Adith bangkit dari tempat duduknya meninggalkan mereka disana. "Tidak, kau bisa lanjutkan diskusi kalian. Setidaknya tempat ini juga tidak terlalu jauh." Alisya yang tidak ingin menjadi korban kejahilan versi romantis Adith ketika mereka harus berada di tempat umum langsung menolak Adith dengan cepat. "Sayang, aku takkan membiarkan tunangan juga calon istriku berjalan dengan santainya. Terlebih dengan tampilan seperti itu!" pandang Adith dari atas hingga ke bawah pada tubuh Alisya. "Hahhh? memangnya apa yang salah dengan pakaian ku? Aku rasa aku tak memakai sesuatu yang aneh ataupun terbuka" ucap Alisya bingung dengan apa yang dimaksud oleh Adith. Alisya merasa apa yang sedang dikenakannya saat itu masih tergolong sopan dan tidak begitu memperlihatkan lekuk tubuhnya. "Tak ada, tapi kau terlalu menarik perhatian jika keluar seperti itu. Dan aku tak ingin semua orang dapat melihatmu dengan mudahnya!" Adith segera membuka kemejanya yang di pasang ke tubuh Alisya dengan lembut dan ia menarik keluar baju kaos oblong yang sebelumnya ia lipat kedalam. Tampilan Alisya bukan terlihat menggoda atau terlalu ketat, namun Adith hanya ingin menjadi satu-satunya yang bisa menikmati keindahan dari setiap keindahan yang dimiliki oleh. Alisya pada akhirnya pasrah dan terpaksa membiarkan Adith karena apa yang dikatakan Adith kepada dirinya tidak sepenuhnya salah karena memang tidak baik baginya jika ingin pergi sendiri. Ia yang sebelumnya ingin mengajak Akiko namun begitu melihat wajah lelah Akiko, ia pun memutuskan untuk pergi sendiri. "Kau dengar apa yang baru saja dikatakan oleh Adith?" Riyan segera memajukan tubuhnya memulai mode gosip nya akan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Adith setelah keduanya menghilang dari sana. "Aku dengan jelas mendengar ia menyebut Alisya sebagai Tunangan atau Calon Istri, apa aku salah mendengar?" ucap Zein mengorek kedua kupingnya dengan keras. "Sepertinya aku mendengar suatu ucapan yang cukup keramat untuk seorang anak SMA" tambah Gani dengan memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan karena bingung. "Aku juga mendengar hal yang sama dengan kalian." ucap Rinto yang terdiam membelalakkan matanya tak percaya akan apa yang dia dengarkan. Rinto yang selama ini memang memiliki rasa pada Alisya meski ia tidak sadar akan hal itu, begitu mendengar ucapan Adith ada rasa pahit yang menghampiri hatinya. "Apa mereka benar-benar akan sudah bertunangan? Calon Istri? mereka mau nikah kapan? selesai pelulusan sekolah?" Beni segera bertanya tanpa henti bahkan menatap dalam kepada Yogi. Yogi yang tidak tahu apa-apa juga merasakan sesuatu yang heboh sedang terjadi tanpa sepengetahuan mereka. "Aku bahkan belum mendengar apapun dari ayahku!" ucap Yogi dengan tatapan terkejut sekaligus bingung. Ia masih terus berusaha menyerap semua yang baru saja didengarnya. Rinto, Akiko dan Ryu yang baru saja memasuki penginapan dengan cepat dihentikan oleh Beni dan Gani. Mereka yang tidak mungkin menarik Karin ataupun Akiko dengan cepat membuang semua barang yang berada di tangan Ryu dan menculiknya menuju ke sofa dengan cepat. "Woy... kalian apa-apan sih! Kalau barang-barangnya ada yang gimana?" bentak Karin jengkel dengan kelakukan Beni dan Gani. "Apa... apa yang kalian inginkan?" Ryu mencoba memberontak. "Apa yang sedang mereka ributkan sih... Sampai harus menarik Ryu sampai segitunya?" Aurelia yang baru saja turun juga kaget dengan cara mereka menarik Ryu dari sana. "Kau pasti memiliki sesuatu yang harus kau bagi bersama kami? hem hehh?" Gani dengan cepat memancing Ryu karena sangat penasaran. "Apa yang kalian maksudkan? aku tak punya hal seperti itu. Minggir aku harus menyelesaikan pekerjaan yang diberikan ibu Vivian. Jika tidak aku bisa kena marah karena kelakuan kalian." ucap Ryu dengan tegas dan panjang lebar. "Uwaaahhhh... baru kali ini aku mendengarnya berbicara selancar dan sebanyak ini" seru Beni merasa takjub dengan tingkah Ryu. "Ryu, aku mendengar Adith memanggil Alisya dengan sebutan Tunangan dan Calon Istri, apa kamu bisa menjelaskan itu kenapa?" pinta Zein dengan nada yang tenang dan dingin. "Oh, itu... Semalam Adith sudah melamar Alisya dan mereka setuju untuk menikah setelah selesai SMA atau lulus nanti." jawab Ryu dengan santai dan dengan suara yang sangat jelas. "Apaaaa????" teriak mereka secara bersamaan dari lantai 1 hingga lantai 2 karena kebetulan mereka mendengar Karin yang membentak Beni dan Gani sebelumnya. "Bagaimana mungkin, kenapa aku tak mendengar apapun tentang itu?" teriak Karin dengan suara yang lantang. Kaget sekaligus tak percaya dan kecewa karena tak mendengar hal ini secara langsung dari Alisya. "Addduhhh,, Ryu masih dalam mode mabok Cafein jadi mulutnya bisa se bocor itu. Padahal akan lebih aman kalau Adith dan Alisya sendiri yang ngomong langsung." Akiko langsung menepuk kuat jidatnya karena kecerobohan Ryu. Untuk Adith justru dia mungkin akan sangat senang jika Ryu yang sudah mengatakannya karena dengan begitu dia tidak perlu repot-repot untuk menjelaskannya lagi. Tapi akan berbeda persoalan jika dengan Alisya. "Akiko, sepertinya kau juga harus ikut bersama kami untuk menjelaskannya." Aurelia memandang Akiko dengan tatapan tajam dan senyumnya yang terlihat jahat sehingga Akiko berharap bisa menjadi bakteri hanya untuk saat itu saja. Barang-barang yang sebelumnya sempat dia buang oleh Beni dan Gani saat menculik Ryu kini dibiarkan terbengkalai tak berguna di kaki tangga sedangkan mereka dengan heboh menarik Akiko naik ke lantai 2 dan masuk kedalam kamar. "Oke, sekarang kau harus jelaskan semuanya. Kau tidak boleh menyisakan 1 huruf pun yang terlewat dari kejadian semalam." ucap Adora yang sudah mengepungnya bersama teman-temannya yang lain termasuk ibu Vivian yang sama terkejutnya. "Kami takkan mengampuni mu jika kau kedapatan berbohong atau menyembunyikan sesuatu." tegas Karin masih kesal yang membuat Akiko seolah tak bisa menelan dengan baik dan tak bisa menghirup udara dengan bebas. Ryu dan Akiko yang sudah mengalami persidangan dengan pasrah menjelaskan dan menceritakan semua hal yang sudah terjadi kepada mereka tanpa mengurangi ataupun menambahkan sedikit bumbu di dalamnya. Chapter 275 - Tampan Maksimal "Selamat da... tang,,," seorang kasir yang menjaga toko langsung terpaku saat melihat Alisya yang begitu cantik dan mempesona saat memasuki toko mini market yang berada di seberang jalan. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya nya lagi kepada Alisya masih dengan tatapan terpesona oleh kecantikan Alisya yang begitu memikat mata dan hatinya. "Oh, saya mau mencari bumbu-bumbu dapur dan beberapa peralatan untuk membakar." seru Alisya cepat sembari menoleh ke belakang melihat Adith yang belum masuk karena mendapat telpon dari pak Dimas. "Ayo mari saya antar! La... Lola, tolong jaga kasir bentar dong." teriaknya kepada temannya yang berada dibelakang. "Bentar Ya,,, aku naruh barang dulu." Ucapnya setengah berteriak lalu dengan cepat menuju ke tempat Satria berganti posisi menjada kasir. "Ayo mbak, saya antar!" ajak Satria saat kepada Alisya menuju ke tempat yang dicari oleh Alisya yang cukup jauh dari pintu masuk. "Pantesan semangat ninggalin meja kasir!" gumamnya saat melihat Alisya yang sudah berdiri didekat pintu masuk tersebut. Tepat saat mereka melangkah pergi, Adith juga masuk kedalam mini market sembari mencari-cari kesana kemari. Lola yang sebelumnya masih tersenyum saat melihat Satria bergerak cepat melihat cewek cantik membuatnya berterimakasih kepada Satria untuk kali itu. "Ma... maaf, mas cari apa yah?" tanya Lola dengan sedikit gugup kepada Adith. Meski masih terpesona, ia mencoba dengan keras mengumpulkan kesadarannya untuk segera bertanya dengan cepat. "Oh Aku mencari..." belum Adith menyelesaikan kalimatnya semua pandangan tajam dan terpesona dari seluruh pelanggan mini market yang sebagian besar ibu-ibu dan gadis tersebut berteriak heboh. "Kya a a tampan sekali, apa di Indonesia punya orang setampan dia? Dia artis bukan sih?" teriak seorang ibu-ibu yang mengira Adith adalah artis sinetron yang mungkin belum di tonton nya. "Malaikat... Dia pasti malaikat yang turun ke bumi." ucap yang lainnya lagi dengan tatapan terpesona. "Siapa dia? aku harus mencoba menanyakan namanya." perempuan itu seketika berlari kecil mendekati Adith di ikuti oleh yang lainnya karena adrenalin mereka yang terpancing. Alisya yang masih mengambil beberapa barang yang sudah Karin kirimkan listnya untuk di beli tiba-tiba kaget karena teriakan mereka yang heboh sedang berlari-lari kedepan pintu. "Inilah salah satu alasan kenapa aku tidak membawamu, karena dimanapun kau berada dan pakaian apapun yang kamu kenakan, hal itu tetap akan membuat kehebohan seperti ini. huhhh.. " gumam Alisya melenguh pelan sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi di depan sana. "Waaah... ada apa nih? kenapa dalam satu hari ada malaikat dan bidadari yang datang ke mini market ini?" ucap Satria setengah menengok ke tempat kehebohan berlangsung. Dari jauh ia bisa melihat Adith yang sedang dikerumuni oleh para Ibu-ibu dengan penuh semangat. Alisya tetap cuek dan melanjutkan pencariannya agar bisa secepatnya kembali ketempat penginapan mereka. "Wah... nak, dadamu bidang sekali." seorang ibu-ibu tanpa permisi sudah menekan dada Adith dengan lembut yang membuat Adith langsung bereaksi dengan menjauh dari sana namun dihentikan oleh ibu-ibu yang lain. "Lihat otot-ototnya. Luar biasa,, siapa namamu?" tanya nya cepat setelah memijit mijit lengan Adith. Adith yang tak bisa berbuat kasar kepada orang yang lebih tua darinya menjadi kaku dan tak tahu harus bagaimana. "Wajahnya juga tampan maksmimal" seorang ibu-ibu dengan genit mencubit dagu Adith dengan gemas. Alisya kembali ke meja kasir sudah siap dengan semua barang belanjaanya tertawa kecil melihat ekspresi takut dari Adith yang langsung memandang penuh permohonan kepada Alisya untuk diselamatkan. Lola yang masih terpaku dengan kedatangan Adith tak menyadari Alisya yang sudah memanggil manggil nya yang dengan cepat Satria beralih ke tempat Lola. "Kalau boleh tau nama mbak siapa?" tanyanya setelah dari tadi bingung bagaimana harus bertanya. Dia bertanya sembari memilah barang-barang Alisya yang sebelumnya sudah ia scan harganya. "Alisya mas!" jawab Alisya ramah dengan senyuman yang manis. "Maaf ibu-ibu tapi saya kemari bersama tunangan saya " ucap Adith sopan sambil berjalan mendekat ke arah Alisya. Perkataan Adith sontak saja membuat mereka berbalik memandang tajam ke arah Alisya. Adith dengan cepat meraih pundak Alisya dan memeluknya mendekat kearahnya. Satria hampir saja mematahkan sebuah folpen yang berada disekitar sana. "Apa???? Dia istrimu??? Kurus, pendek, jelek dan hitam ini?" suara lantang seorang ibu itu langsung membuat mereka terdiam beberapa saat. Keadaan menjadi sangat sunyi dan semilir angin yang berhembus dan suara gagak yang menjadi backsound setelah beberapa saat kemudian. "Buakakakak,,, ahahahahahaha..." Adith tertawa dengan begitu lepas sembari membawa barang belanjaan milik Alisya. "Bisakah kau berhenti tertawa? kenapa rasanya ucapan ibu tersebut terasa menyakitkan yah meski tak benar sih." ucap Alisya yang mulai kesal dengan Adith yang terus menertawakan Alisya. "Emak-emak memang hebat dalam segala hal." seru Adith menghapus air matanya dengan susah payah karena tertawa. "Aku tak tau apa yang dipikirkan oleh emak-emak itu sampai harus mengatai ku seperti itu. Aku bahkan tak bisa membalas mereka." ucap Alisya dengan desahan berat. Alisya yang kesal terus berjalan meninggalkan Adith sampai ia menemukan seorang anak kecil yang menangis karena balon udaranya yang nyangkut pada tiang lampu taman resort putri duyung yang cukup tinggi. Beberapa teman-temannya mencoba menghiburnya disekelilingnya. Alisya bisa saja melompat untuk mendapatkan bola tersebut, tapi ia takut akan reaksi yang ditimbulkannya kepada anak-anak yang berada disana. Alisya tidak ingin membuat mereka takut atau malah memberikan contoh tindakan yang kurang tepat. "Lakukan dengan cara normal, jika tidak kau akan membuat mereka pingsan karena takut kau bisa melompat setinggi itu atau mereka malah jadi ikut ikutan dengan tindakanmu!" seru Adith cepat mengingatkan Alisya akan apa yang harus dia lakukan. "Cara normal gimana?" Alisya mencari ke kiri dan ke kanan untuk mendapatkan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengaitkan balon udara tersebut namun tidak ditemukannya. Adith menaruh barang-barangnya kemudian terduduk kebawah memberikan punggungnya kepada Alisya agar ia bisa naik ke punggunya meraih bola tersebut. "Kamu mau ngapain?" tanya Alisya bingung melihat apa yang sedang dilakukan oleh Adith. "Udah naik saja ke bahuku dan raih balon itu." ucap Adith dengan tegas. "Kamu serius mau melakukan itu dihadapan anak-anak itu?" Alisya merasa kurang yakin akan apa yang harus mereka lakukan. "Apa kamu punya ide yang lebih baik dari melompat keatas pada ketinggian itu dan membuat mereka semua menangis bahkan pingsan?" Lirik Adith kepada Alisya yang sedang menatap bingung. "Huuhh,,, baiklah! Aku takkan naik ke atas bahumu. Aku naik ke atas punggungmu saja!" ucap Alisya langsung berada di punggung Adith. "Apa kau yakin bisa meraihnya dengan ketinggian itu?" tanya Adith mengingat ketinggian bola itu tidak akan cukup jika Alisya hanya naik keatas punggungnya. "Aku punya rencana!" tegas Alisya meyakinkan Adith akan apa yang bisa ia lakukan. Melihat Adith dan Alisya sedang berusaha mengambilkan balon miliknya membuat anak-anak itu menatap dengan penuh antusias. Meski sudah naik ke punggung Adith, Alisya tetap saja memiliki kesulitan untuk meraih balon tersebut sehingga dengan satu dorongan pasti, Alisya melompat keatas dan berhasil meraih balon tersebut. Alisya yang melompat ke atas membuat Adith dengan cepat menoleh dan menangkap tubuh Alisya yang terjatuh dengan gaya yang terbilang sangat romantis. Mereka terdiam beberapa saat ketika tubuh Alisya sudah berada kedua tangan Alisya. "Waaah... hebattt!" teriak para anak-anak merasa senang sekaligus kagum atas apa yang barusan terjadi. "Sayang, rencana mu itu untuk mengambil balon udara itu atau untuk menggodaku?" lirik Adith pada wajah Alisya yang memerah merona karena pandangan Adith yang tajam namun lembut kepadanya. Alisya langsung berontak turun dari dekapan Adith kemudian memberikan balon tersebut kepada anak yang sebelumnya menangis dengan kencang yang kini sudah melompat-lompat penuh kegirangan. Bahkan teman-temannya yang lain langsung menyerbu Alisya dan Adith untuk mengucapkan Terima Kasih. Chapter 276 - Pengumuman Penting Adith dan Alisya yang baru saja memasuki tempat penginapan mereka, ketika berjalan masuk menuju ke dalam langkah tiba-tiba terhenti ketika melihat semua teman-temannya sudah duduk di sofa dengan tatapan mengintimidasi. Adith dan Alisya saling berpandangan satu sama lain bingung dengan maksud dari tatapan mereka. Karin dan Yogi lah yang paling merasa di khianati sebab Karin merasa diri paling dekat dengan Alisya begitu pula dengan Yogi pada Adith. "Kenapa dengan tatapan kalian itu?" kerut Adith merasa tidak nyaman setelah beberapa saat. "Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Alisya yang juga sama bingungnya. Menghela nafas dalam, Karin langsung mencoba berbicara dengan santai namun terdengar sinis. "Apa kalian tidak merasa sudah berbuat kesalahan dengan menyembunyikan sesuatu dari kami?" Karin melipat kedua tangannya saat berbicara. "Apa kami melakukan sesuatu yang salah?" tanya Adith yang mulai paham akan apa yang dimaksud oleh teman-temannya. "Tentu saja, kalian keterlaluan sekali jika tidak menyadari itu." ketus Yogi dengan tatapan yang tak kalah tajam. "Ehem..." Adith sengaja batuk pelan dan tertunduk dengan sedikit sunggingan tipis yang kemudian bisa di pahami oleh Alisya. "Memangnya kami salah apa?" tanya Alisya mencoba mengerutkan keningnya bersikap seolah tak tahu arah akan pembicaraan teman-temannya. "Waaah.. apa kalian bisa di sebut sahabat?" seru Zein mulai kesal melihat sikap tenang keduanya yang bersikap tidak melakukan kesalahan apapun. Rinto hanya bisa terdiam menunggu jawaban dari keduanya. "Kalian kenapa sih? ini bukan saatnya main tebak-tebakan!" Suara Adith yang dingin segera memacu emosi mereka dengan sangat kuat. "Kenapa kalian tidak berterus terang saja apa yang sudah kalian lakukan sebelumnya." tegas Riyan sudah semakin kesal dengan mereka. "Kalian berdua membuatku semakin... Auhhh" Aurelia sudah tak mampu berkata apa-apa lagi. Mereka akhirnya bubar satu persatu dengan pandangan kesal karena tak bisa berkata apa-apa lagi kepada Adith dan Alisya. Sedang Adith dan Alisya hanya tertawa memandang satu sama lain melihat tingkah kesal teman-temannya. Bahkan saat makan siang pun, tak ada satupun yang mau duduk satu meja dengan mereka berdua karena masih kesal dan kecewa dengan tingkah keduanya. Hingga sore hari saat acara gabungan antara kelas IIS yang baru tiba siang hari di gedung sebelah mereka, semuanya berkumpul untuk acara makan bersama dan barbeque. "Saya ucapakan kepada kalian semua Terima Kasih banyak karena berkat kerja keras kalian sehingga kita bisa memenangkan juara 1 tingkat Nasional kali ini." pak Irhan yang baru saja datang saat itu langsung mengangkat gelasnya dan berpidato. Pak Irhan mencoba bijak di hadapan wali kelas IIS dan para siswanya. "Terima Kasih juga kepada bapak ibu guru khususnya kepada Akiko yang sudah membantu dalam mendampingi serta menyiapkan banyak hal selama kegiatan berlangsung." seru ibu dengan menunduk sopan kepada mereka semua. Serentak mereka mengangkat gelas kemudian bersulang satu sama lainnya. Adith pun berdiri tampak ingin mengatakan sesuatu dengan tatapan yang sangat serius. "Maaf semuanya, aku mau memberikan pengumuman penting. Untuk itu saya minta perhatiannya sejenak." Adith mulai memandang Alisya yang sudah mau melarikan diri namun dengan cepat dihalanginya. "Kalian mungkin bingung saat aku mengatakan Alisya sebagai Tunangan dan Calon Istri ku sebelumnya. sebagian dari kalian juga mungkin sudah tahu kalau aku sudah melamar Alisya semalam." jelas Adith yang seketika membuat mereka semua heboh dan saling berpandang-pandangan terutama para anak IIS yang baru saja bergabung. Mizan yang menaruh perasaan pada Alisya pun menatap dengan tatapan terkejut tiada tara saat mendengar Adith sudah berkata seperti itu pada usianya yang masih sangat belia. Jika saja ia katakan bahwa Alisya adalah pacarnya, mungkin ia masih memiliki kesempatan. Tapi tidak untuk sebuah pernikahan. "Aku memang sudah melamarnya namun pertunangan akan dilangsungkan beberapa hari kemudian sebelum ujian sekolah dilangsungkan. Sedang pernikahan kami rencanakan untuk dilaksanakan setelah pelulusan sekolah." terang Adith sekali lagi yang langsung memandang lurus kepada teman-temannya. Pandangan Adith ia tunjukkan untuk tidak membuat salah paham mereka karena memang kejadiannya baru semalam dan belum ada waktu yang pas untuk menceritakan kepada mereka sehingga Adith terpaksa harus menunda sampai saat acara makan bersama dimulai. "Apa susah bagimu untuk menceritakan pada kami sebelumnya?" tanya Zein dengan tatapan kesal. "Tentu saja tidak! Tapi aku suka melihat ekspresi marah kalian." terang Adith dengan sedikit tertawa pelan. Mereka semua sontak kaget melihat ekspresi Adith yang begitu hidup dan lebih baik dari pada yang selama ini mereka lihat. Melihat Adith yang tertawa seperti itu membuat mereka ikut merasakan kebahagiaan dari Adith sehingga mereka semua berteriak dan menggoda Alisya dengan heboh. Setelah selesai, mereka akhirnya mengambil posisi masing-masing menuju pantai untuk menikmati pemandangan langit sore hari. Mereka duduk secara berjejeran sembari bercanda dan tertawa renyah hingga matahari terbenam dan tak terlihat lagi. "Aku tak sangka kau akan terpikirkan untuk menikah muda Dith." ucap Zein sembari meminum minuman bersoda yang sebelumnya sudah dibeli oleh Adith dan Alisya. "Aku memilih jalan terbaik antara aku dan Alisya demi kebaikanku dan kebaikannya." seru Adith pelan menelan minuman yang sama. "Kau hebat! Butuh lebih dari sekedar keberanian untuk bisa mengambil keputusan seperti itu!" tegas Riyan menepuk pundak Adith dengan bangga. "Aku hanya tak ingin kehilangan dia. Awalnya aku juga berpikir kalau mungkin saja Alisya akan menolak ku karena ia akan merasa bahwa usia kami masih terlalu muda untuk melakukan itu dan dia masih ingin mengejar pendidikannya, namun ternyata ia memiliki pemahaman yang sama denganku." ucap Adith melihat ke arah Alisya yang sedang menggoda Karin untuk meminta maaf. "Kalian berdua mungkin sudah ditakdirkan untuk bertemu. Meski Alisya masih belum memiliki ingatannya, namun hati dan perasaannya sudah terikat kepadamu." tambah Yogi yang sudah bersahabat cukup lama dengan Adith juga Alisya. "Apa yang kau rencanakan setelah menikahinya dan lulus dari sekolah nanti?" tanya Gani penasaran akan progres yang sedang dipikirkan oleh Adith. "Benar, kau pasti sudah memiliki rencana saat menikahi Alisya bukan?" tanya Beni cepat. "Untuk saat ini aku sudah menyusun beberapa rencana penting untuk kami berdua setelah menikah nanti seperti melanjutkan pendidikan lebih tinggi lagi dan juga aku harus belajar lebih giat lagi untuk bisa memimpin perusaahan dengan baik." jelas Adith terus tersenyum setiap kali melihat Alisya yang selalu tertawa dengan begitu manisnya. Mungkin saat ini Adith sudah banyak merencanakan banyak hal yang bisa ia lakukan ketika nanti bersama dengan Alisya. Meskipun saat ini orang melihat dengan pesimis, tidak untuk Adith. Chapter 277 - Lampion Saat matahari semakin terbenam, mereka dengan cepat membakar Api unggun untuk dijadikan sebagai penghangat pada Angin laut yang cukup dingin saat malam hari. "Kau memang sesuatu Sya, aku bahkan masih belum menyangka kalau kalian akan menikah." Karin memandang langit yang sudah mulai menampakkan kelap-kelip nya. "Aku juga seperti itu, tapi banyak hal yang sudah terjadi antara aku dan Adith. Adith berperan penting dalam dua hal di hidupku, Ia bisa menjadi kekuatan sekaligus kelemahan ku. Dan karena itu memilikinya untuk terus berada disisi ku memang menaruh resiko yang besar, namun aku lebih memilih untuk bisa bersama dengan dia." terang Alisya memandang langit yang sama dengan Karin. "Apa kau sudah terpikir akan apa yang kau lakukan nanti setelah menikah dengan Adith?" Mereka yang masih muda membuat Karin berpikir bahwa keduanya mungkin masih belum memikirkan bagaimana kerasnya kehidupan berumah tangga seperti apa. "Entahlah, aku hanya berpikir bahwa seberat apapun masalah yang akan kami hadapi nanti, akan jauh lebih mudah jika kami bersama dibanding jika kami terpisah." senyum Alisya yang saat itu memang masih belum tahu akan apa yang bisa terjadi dimasa depannya, namun bagi dia selama mereka bersama maka mereka pasti akan bisa melaluinya. "Kau tau, aku akan terus mendukungmu sampai kapanpun itu selama kamu bisa menemukan kebahagiaanmu disana." tatap Karin kepada Alisya memperlihatkan ketulusannya. "Aku pun sama, aku akan terus mendukung mu melakukan hal yang kamu mau bukan terpaut apa yang aku mau!" tegas Alisya kepada Karin dengan menyuruh Karin bahwa ia juga bebas memilih kebahagiaan nya sendiri tanpa harus terus terpaku kepada Alisya seperti selama ini ia lakukan. Saat mereka sedang berbincang-bincang mengelilingi api unggun, Beni segera memegang sebuah ember plastik yang kemudian di pukul pukulannya menghasilkan tabuan yang cukup merdu. Gani serta Yogi juga ikut memainkan gitar nya ditemani oleh Gina yang bermain biola. Harmoni mereka begitu indah sampai Alisya dan Karin larut dalam alunan musik mereka. "Mau melakukan sesuatu yang seru?" tanya Karin kepada mereka semua dengan penuh antusias. "Apa itu?" tanya Adora dengan kerutan kening. Karin langsung menatap ke arah Akiko dan dengan cepat mereka kembali menuju ke penginapan yang tak jauh dari tempat mereka bersantai dan kembali dengan 1 kotak dos yang cukup besar. "Apa yang ingin kamu lakukan sebenarnya?" tanya Aurelia ikut membuka tutup dos tersebut dengan penasaran. "Lampion?" ucap Feby dengan tatapan yang sangat antusias saat melihat ada lampion disana. "Oke aku pilih yang ini." Alisya dengan cepat mengambil sebuah kembang api yang cukup besar dengan tatapan yang mengerikan. "Lepaskan itu! A... aku tak mengizinkan kau menggunakannya! tidak dengan tatapan mengerikan mu itu." terang Karin menarik cepat kembang Api tersebut dari tangan Alisya karena takut. "Tck,,, tidak menyenangkan. Dasar pelit!" ketus Alisya kembali duduk karena tak begitu tertarik dengan lampion. "Apa yang akan kita lakukan selain menerbangkan lampion ini?" tanya Gani merasa sayang jika hanya menerbangkannya saja. "Bagaimana kalau menghiasinya? atau kita juga bisa menuliskan sebuah harapan disana. Hanya untuk seru-seruan saja!" ucap Yogi cepat yang ikut merasa penasaran dengan apa yang dibawa oleh Karin dan Akiko. "Ya kau benar, sepertinya itu akan jauh lebih menarik." tegas Riyan cepat. "Oke aku punya ide yang lebih ekstrim lagi. Bagaimana jika penerbangan lampion dan penulisannya bisa kita buat dengan berpasangan ?" terang Karin penuh semangat. "Nah.. Bagaimana kalau pasangan itu kita lakukan dengan lot. Jadi mereka yang memiliki nomor yang sama adalah mereka yang akan berpasangan." tambah Emi untuk menjadikan malam itu menjadi semakin menyenangkan. "Bagaimana, apa kalian setuju?" tanya Adora kepada teman-temannya yang lain. "Anak dari IIS juga bisa ikutan!" seru Akiko kepada Mizan dan yang lainnya. Hanya Ubay saja dan Gery yang tak terlihat berada disana. Sedangkan Mizan serta yang lainnya ikut berkumpul untuk menyaksikan kegiatan mereka pada malam itu. "Kami tidak masalah!" terang Mizan dengan penuh senyuman. Karin menatap kepada Adith yang dengan malas menaikkan jempolnya untuk mencoba mengiyakan apa yang sedang mereka rencanakan saat itu. "Oke, kalau begitu silahkan Ambil lot nya dan segera berdiri di tempat yang sesuai dengan nomor." Karin langsung mengarahkan mereka setelah selesai menyiapkan semuanya. Bahkan Alisya tak menduga kalau Karin begitu antusias bisa menyelesaikan segalannya. Setelah selesai mengambil Lot, pada Akhirnya Alisya melihat nomornya berada pada Angka 3. Namun ia sengaja belum memutuskan untuk untuk melangkah maju dan masih memperhatikan keadaan sekitar. "Kamu dapat nomor berapa Sya?" tanya Adora setengah berbisik kepada Alisya dengan pandangan lurus kepada Karin agar tidak dirurigai. "3 Kau?" tanya Alisya santai tak peduli akan apa yang sedang di genggamnya. "Aku 5. Sebenarnya aku tak sengaja melihat kertas dari Zein yang berangka 3, maukah kau bertukar denganku?" terang Adora menatap Alisya dengan senyuman kaku yang bisa dipahami oleh Alisya bahwa ia dengan sekuat tenaga sedang memohon kerja sama Alisya. "Kau tidak perlu seperti itu, tentu saja aku akan memberikannya. Aku tau selama ini kau berjuang untuk terus mendapatkan perhatiannya, tapi kau harus sabar karena Zein tipe orang yang tidak begitu peka pada orang lain. Meski kadang aku sudah melihat ada sebuah signal di berikannya." terang Alisya yang tanpa disadari oleh Adora, dia sudah menukar kertas mereka. Alisya segera memberi kode pada kepada Adora untuk melihat kertas yang sudah ditukarnya kemudian maju kedepan langsung berdiri di angka 5. Karin berpasangan dengan Riyan, Alisya dengan Mizan, Gani dengan Emi, Gina dengan Erik, Yogi dan Akiko, Feby bersama Rinto, Adith bersama Aurelia, Zein bersama dengan Adora dan Ryu berpasangan dengan Beni. "Kenapa hanya kita berdua yang tidak memiliki pasangan wanita?" Beni meringis sedih melihat pasangannya si cantik Ryu. Ryu hanya bisa menatap tajam ke arah Riyan dan Karin yang sudah berpasangan memegang dan menghiasi lampion mereka dengan begitu akrab. "Apakah ini sebuah keajaiban atau kebetulan sih?" lirik Aurelia kepada Adith dengan tatapan canggung. Adith hanya tersenyum lembut sambil terus menuliskan sesuatu pada lampion mereka berdua. "Apa aku harus membakar habis saja lampion mereka berdua?" tatap Yogi kepada Aurelia yang sedang memandang Adith dengan tersenyum manis. "Ide terbaik yang harus kau lakukan adalah membakar kenangan mereka bersama dan melemparnya ke laut." seru Akiko santai sembari terus mengerjakan sesuatu pada lampionnya. Semuanya larut pada emosi masing-masing saat menghiasi lampion yang sudah disediakan oleh Karin bersama dengan Akiko sesaat sebelum berangkat. Chapter 278 - Menerbangkan Lampion Mizan yang berpasangan dengan Alisya menjadi sedikit kaku dan salah tingkah. Ia bingung tak tahu harus bagaimana bersikap dihadapan Alisya. "Apa kau serius ingin menikah di usia muda?" tanya Mizan setelah cukup lama terdiam dan hanya berfokus pada lampion mereka. Tidak menjawab, Alisya hanya tersenyum saja mendapatkan pertanyaan dari Mizan. Ia merasa hal tersebut tidak perlu ia jawab karena tanpa ia jawab pun Mizan harusnya sudah bisa menebaknya. "Ummm... apa yang membuatmu berpikiran untuk menikah di usia muda?" tanya nya lagi ingin mendapat jawaban dari Alisya. Dia yang dari awal sudah tertarik kepada Alisya merasa bahwa ia telah kehilangan kesempatannya karena hanya mengagumi Alisya dari kejauhan saja. "Ketika kau merasa bahwa suatu rasa itu akan lebih mudah untuk di wujudkan dan dibuktikan dalam satu ikatan yang halal, maka kau tak perlu alasan untuk menunda dirimu memilikinya." terang Alisya yang sudah menyelesaikan bagiannya. Tulisan tangan Alisya terlihat sangat rapi dan indah, namun itu terlihat seperti sandi yang hanya diketahui oleh Alisya. "Apa yang akan kau tulis?" tanya Adora ragu-ragu kepada Zein. "Bukan sesuatu yang penting" ucapnya datar dan santai. "Benarkah? bisa aku melihatnya?" Adora mencoba berpindah posisi ketempat Zein secara perlahan-lahan. "Tetap di tempat mu dan jangan ganggu diriku." ucap Zein dingin. Adora menjadi bingung dengan sikap dingin yang sekarang di tunjukan oleh Zein. Bukankah kemarin ia sudah terlihat lebih ramah kepada dirinya, kali ini malah ia kembali bersikap dingin kepada Adora. "Ada apa dengannya?" batin Adora kembali ke tempat duduknya dengan muka kesal. Zein sedikit menyunggingkan senyumnya melihat tingkah kesal Adora. Zein adalah orang yang tidak begitu suka menunjukkan bagaimana perasaanya kepada orang lain sehingga terkadang tanpa ia tahu kalau itu bisa menyakiti orang lain. "Apa kalian sudah selesai? saatnya menerbangkan lampion kalian." seru Karin cepat ketika sudah menyelesaikan lampion mereka dengan cepat. Karin dan Riyan yang berpasangan sedari tadi hanya diam-diaman dengan Riyan yang tak berani melakukan apapun ataupun berbicara lebih banyak kepada Karin karena Karin terlihat sangat Fokus akan apa yang sedang ditulisnya, sehingga kesempatannya lagi-lagi berlalu begitu saja. Mereka semua bersiap setelah selesai membakar lampion mereka yang kemudian setelah beberapa saat, mereka melepaskan lampion itu secara perlahan-lahan ke langit. Mizan yang melihat senyum manis Alisya yang begitu terpaku dan terpesona pada semua lampion yang mereka terbangkan tersebut membuat Mizan memberanikan diri. "Alisya, maukah kau ikut bersamaku? umm... aku hanya ingin mengucapkan terimakasih kepadamu atas kebaikanmu tempo hari" terang Mizan kepada Alisya yang mengerutkan keningnya karena bingung. Alisya tak ingat kalau ia pernah berbuat kebaikan kepada Mizan, namun setelah terdiam beberapa saat ia akhirnya ingat saat mereka berada pada perlombaan, Alisya memberikan semangat dan nasehat kepada Mizan yang sempat mengalami gugup saat ingin bertanding. "Jika untuk terimakasih, kenapa aku harus ikut bersamamu? aku rasa cukup dengan ucapan terimakasih saja." terang Alisya santai. "Bukankah kau sendiri yang bilang aku bisa mentraktir mu es krim saat aku bisa memenangkan pertandingan itu?" tegas Riyan yang pernah menawarkan Alisya es krim namun ketika ia berhasil menang saja dan pada akhirnya Mizan bisa memenangkan pertandingan tersebut. "Baiklah..." ucap Alisya mengikuti langkah Mizan menuju ke kafe yang tak jauh dari tempat mereka. "Emmm... duduklah disini, biar aku mengambil es krimnya dulu." ucap Mizan sembari pergi meninggalkan Alisya pada kursi pantai yang berada di resort tersebut. Adith menoleh kepada Mizan dan Alisya saat keduanya sudah pergi berlalu meninggalkan tempat mereka menerbangkan lampion. "Apa kau tak masalah jika Alisya pergi bersama Mizan?" tanya Aurelia yang juga melihat Alisya pergi bersama Mizan. "Tentu saja, aku percaya pada Alisya!" ucap Adith tegas dan cepat. "Benarkah? maka harusnya kau tak percaya kepada Mizan." terang Aurelia dengan suara dan nada yang terkesan sengaja ingin memancing rasa ingin tahu Adith. "Maksud kamu? Sepertinya dengan mempercayai Alisya itu sudah cukup. Untuk Mizan itu sudah tidak menjadi persoalan lagi." terang Adith lagi sembari kembali ke tempat Api unggun masih menyala meski sudah tampak kayunya mulai habis dan menyisakan bara api yang cukup panas. "Mizan menyukai Alisya. Dan dari cara ia memandang Alisya, aku bisa melihat kalau dia akan mengatakan perasaannya kepada Alisya. Yah... sudah ku bilang, kau bisa percaya kepada Alisya tapi tidak untuk Mizan." Aurelia sengaja kembali memancing Adith untuk melihat bagaimana respon Adith saat mengetahui kalau orang yang ia cintai mendapatkan penyataan perasaan dari orang lain selain dirinya. Setelah cukup puas melemparkan umpan kepada Adith yang tentu saja akan buyar fokusnya jika itu berhubungan dengan Alisya, Aurelia segera menghampiri Yogi dengan tersenyum puas. Terdiam beberapa saat, dengan melempar kayunya cukup keras ke arah api unggun, Adith berdiri dan pergi dari tempat itu menuju arah lain yang berlawanan dengan tujuan Mizan dan Alisya. "Apa yang kau katakan padanya?" tanya Yogi penasaran saat melihat ekspresi menyeramkan Adith sewaktu bangkit dari tempat duduknya. "Tidak ada, hanya sebuah kalimat yang mampu membuatnya kebakaran jenggot." terang Aurelia dengan sangat senang ketika melihat wajah Adith yang beranjak pergi dari sana. "Pa maksudnya itu?" tanya Yogi lagi dengan mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang dikatakan oleh Aurelia. "Tidak penting, tapi sepertinya jurus ini akan sangat ampuh untuk membuat seseorang menjadi lebih terus terang dalam memperlihatkan perasaanya." Aurelia menatap sinis kepada Adora dan Zein juga Ryu dan Riyan yang terlihat sedang menjaga jarak satu sama lain. "Bisakah kau berbagi denganku atas apa yang sedang kau fikirkan sekarang?" Yogi merasa ada rencana yang begitu menarik yang sedang direncanakan oleh Aurelia saat itu. Aurelia menarik nafas dalam namun kemudian memberi tanda kepada Yogi untuk mendekatkan telinganya dan membisikkan Yogi semua rencana yang ingin ia lakukan. Yogi tersenyum mendengar rencana Aurelia sembari memandangi teman-temannya yang berada tak jauh dari hadapan mereka. "Aku akan membantumu, sepertinya ini akan sangat menarik. Aku suka ide mu dan sudah tidak sabar lagi melihat bagaimana reaksi mereka." tatap Yogi penuh semangat kepada Aurelia. "Tunggu dan lihat saja sejauh apa rencana ini akan berhasil untuk mereka." senyum Aurelia dengan sunggingan yang sinis. "Kapan kau akan melaksanakan semuanya?" seru Yogi yang sudah tidak sabar ingin membantu Aurelia melaksanakan semua rencana mereka. "Ummm... sepertinya dari malam ini pun akan sengat bagus, tempat dan suasananya sangat mendukung kita untuk melaksanakan semua rencana ini" tegas Aurelia melihat sekeliling mereka yang memang mendukung. Chapter 279 - Ketahuan Selingkuh Tidak butuh waktu lama, Mizan sudah kembali dengan 2 eskrim yang ada ditangannya. Ketika mendekati Alisya yang sedang duduk memandangi laut, Mizan memperlambat jalannya dan menghampiri Alisya secara perlahan. Mizan segera memberikan es krim kepada Alisya dengan tersenyum sopan. Alisya meraihnya dengan senang hati. "Bagaimana kau tahu kalau aku suka dengan es krim coklat ini?" tanya Alisya penuh semangat melihat eskrim coklat yang diberikan kepadanya tersebut. "Anggap saja insting!" seru Mizan cepat sembari duduk disamping Alisya dan membuka bungkus eskrim miliknya. "ehemmm.. Alisya, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu." terang Mizan dengan penuh keraguan. Butuh keberanian tinggi untuknya mengatakan hal itu kepada Alisya. "Apa? katakan saja?" ucap Alisya santai sambil mengayun ayunkan kakinya tak merasakan ketegangan Mizan karena sedang terfokus dengan eskrim miliknya. "Aku tahu mungkin sebaiknya aku tak mengatakan ini padamu, meski sudah terlambat aku ingin kamu tahu kalau aku disini untukmu." terang Mizan lanjut dengan nada suara yang terkesan sangat serius. Alisya kemudian bisa mendengar detak jantung Mizan yang tidak teratur dengan ritme yang ia tahu persis tentang apa alunan jantung itu berdetak. Alisya menoleh dengan tatapan bingung karena tak mengerti mengapa Mizan bisa mengeluarkan ritme seperti itu. Alisya tak tahu kata apa yang bisa ia berikan kepada Mizan sehingga ia terdiam sejenak dengan tetap berpikir positif bahwa bisa jadi ritme jantung miliknya tak ada hubungannya dengan dirinya. "Aku sudah lama memperhatikan mu dari kejauhan, melihatmu tersenyum serasa memberikan sedikit bekas di hatiku. Aku mulai semakin tertarik saat kau dengan begitu santainya melawan Ubay dengan melompat dari gedung dengan ketinggian yang bisa saja membuat orang mati tapi kau baik-baik saja." terang Mizan menatap Alisya dengan tersenyum. "Kau begitu misterius, segala sesuatu tentangmu selalu menarik untuk diketahui dan kau membuatku semakin penasaran hingga ketika aku mendengar kau akan menikah aku rasa diriku terlalu lama berdiam diri." terang Mizan lagi yang kini sudah membalikkan tubuhnya ke arah Alisya. Alisya kemudian paham akan apa yang selanjutnya dikatakan oleh Mizan. Alisya berusaha mencari alasan yang tepat untuk segera melarikan diri dari sana karena ia tidak nyaman dengan situasi seperti itu. Tepat saat Mizan akan membuka mulutnya lagi, Alisya yang sedang menaikkan eskrim ke mulutnya karena gugup segera dikejutkan oleh Adith yang langsung ikut memajukan wajahnya menggigit es krim itu yang sekilas dapat dilihat oleh Mizan hidung mereka saling bersentuhan. "A.... Adith???" Alisya yang terkejut menjadi salah tingkah dengan kemunculan Adith dihadapannya. "Aku mencari mu sejak tadi, tak ku sangka kau berada disini." seru Adith santai sembari mengelap bekas eskrim yang melekat di bibir Alisya dengan lembut. "Oh itu karena Mizan,,, oh iya maaf.. lanjutkan kalimat mu!" Alisya sengaja bersikap sopan dengan menyuruh Mizan untuk melanjutkan kalimatnya yang sempat terhenti. Mizan hanya tersenyum simpul dan merasa bahwa sudah tak ada ruang baginya disana karena reaksi Alisya saat berhadapan dengan Adith terlihat jauh berbeda dengan ketika ia bersama dengan dirinya. "Aku ingin mengucapkan terimakasih banyak, berkat kamu aku jadi memiliki motivasi untuk bisa lebih percaya diri lagi kedepannya." terangnya menjulurkan tangan kepada Adith dan Alisya. Alisya menyalaminya dengan canggung yang kemudian tangan Mizan beralih kepada Adith setelah bersalaman dengan Alisya. "Selamat atas pertunangan kalian nanti dan saya doakan semoga niat baik kalian terus diberikan kelancaran sampai pada waktunya nanti." seru Mizan ketika Adith meraih tangan Mizan dengan santai. "Terimakasih!" tegas Adith singkat dan hangat. "Sepertinya aku harus pergi sekarang dan memberikan kalian waktu untuk bisa...." Mizan tidak bisa melanjutkan kalimatnya dan hanya tertawa pelan. Ia pun segera berpamitan pergi meninggalkan Adith dan Alisya dengan hati yang ketir dan sakit. Tapi ia tidak bisa mengalahkan Alisya karena hal tersebut karena Alisya tak tahu apapun tentangnya. Setelah kepergian Mizan, Adith memandangi Alisya dengan tajam yang membuat Alisya memundurkan langkahnya dan hampir terjungkal kebelakang karena tertahan oleh kursi. Adith dengan cepat menangkap pinggang Alisya dan memandang wajah Alisya yang sudah berwarna merah karena terkejut juga takut kepada Adith karena tatapannya tersebut. "Sayang, melihat reaksi mu seperti ini itu hanya semakin membuatku berpikir kalau kau sedang ketahuan selingkuh di belakang ku!" Adith membelai rambut Alisya dengan lembut sengaja untuk menggodanya. Alisya yang mendengar apa yang dikatakan oleh Adith dengan segera merasa kesal dan jengkel yang dengan santainya ia memutar tubuhnya mendorong Adith pelan dan pergi meninggalkan dirinya. Adith tertawa melihat tingkah kesal Alisya sehingga ia berusaha bangkit dari tempatnya mengejar Alisya. "Kau mau kemana?" tanya Adith cepat menghentikan langkah Alisya. Alisya melipat kedua tangannya dihadapan Adith dengan tersenyum licik. "Aku akan segera menikah denganmu, sepertinya punya sedikit pengalaman dekat dengan beberapa orang tidak buruk." tegas Alisya sembari berlalu ingin menghindari Adith lagi yang sedang berdiri dihadapannya. Mendengar itu, Adith segera menahan tangan Alisya lalu menariknya mendekat kearah dirinya dengan cepat yang membuat Alisya langsung menatap wajah Adith dari jarak yang cukup dekat. Dekapan Adith begitu erat dan kuat pada pinggangnya. Alisya berusaha melepaskan diri dari Adith dengan mencoba mendorong tubuh Adith dengan kuat. "Maafkan aku, tidak seharusnya aku menuduh mu seperti itu." Adith yang tak sanggup jika harus terjadi kesalahpahaman diantara mereka dengan cepat meminta maaf kepada Alisya. Adith mengecup kening Alisya dengan lembut dan hangat yang membuat rasa kesal dan marah Alisya seketika menguap ke atas udara dengan cepat. Alisya terdiam sejenak dan menyadari bahwa apa yang ia lakukan juga salah terlebih Alisya yakin kalau Adith pasti bisa mengetahui gerak gerik dari Mizan sebelumnya. "Maafkan aku juga, tidak seharusnya aku berkata seperti itu padamu!" Alisya tertunduk menyadari apa yang baru ia katakan sebelumnya adalah hal yang tak pantas bagi dirinya maupun bagi Adith mengingat akan komitmen yang sudah siap mereka berdua jalin. "Bisakah kalian berhenti melakukan itu dihadapan kami?" seru Aurelia yang mulai jengah dengan tingkah mesrah Adith dan Alisya. Aurelia sengaja ingin menemui mereka untuk mengajak keduanya bergabung dalam rencana mereka malam itu. "Sejak kapan kalian berada disitu?" Alisya dengan gugup langsung melepaskan genggaman Adith dipinggangnya sedang Adith hanya tersenyum nakal. "Tim ngontrak mau mengadakan sebuah kerja sama!" singgung Yogi kepada Alisya dan Adith yang sedang terlihat seperti bumi ini hanya milik mereka berdua saja sedang yang lainnya hanya masuk dalam hitungan ngontrak dibumi milik mereka sampai keduanya tak menyadari kehadiran Yogi dan Aurelia disana. Chapter 280 - Cemburu Setelah selesai menceritakan segala rencana mereka kepada Adith dan Alisya, mereka berdua yang awalnya menolak untuk bergabung akhirnya mau tak mau harus menuruti keduanya yang sangat gigih dalam hal memaksa. "Apa kita benar-benar harus melakukan ini? Bagaimana kalau ternyata kita salah?" tanya Alisya merasa kurang Yakin dengan apa yang sedang mereka rencanakan saat ini. "Akan lebih baik jika kita buktikan secara langsung. Ini bisa menjadi kenangan yang bagus sebelum kita lulus sekolah." terang Adith menenangkan kekhawatiran Alisya dengan memegang pipinya lembut. Alisya hanya mengangguk mencoba untuk percaya kepada apa yang dikatakan oleh Adith. Memang benar kalau akan lebih jelas jika mereka membuktikan sendiri secara langsung. "Bagaimana kalian sudah siap? Aku serahkan urusan Karin kepada kalian sedang Adora, biar kami yang mengurusnya." terang Aurelia setelah merasa sudah tidak sabar lagi untuk melaksanakan rencana mereka. "Serahkan pada kami, sebaiknya kita bergerak sekarang!" Yogi kemudian berjalan mendekati Ryu yang berlari dengan cepat di ikuti oleh Adith. Melihat Yogi yang cukup semangat, Adith jadi ingin menjahili Yogi terlebih dahulu sebelum melanjutkan rencana mereka. Adith dengan segera mengait kaki Yogi untuk membuatnya jatuh. Yogi kehilangan keseimbangan yang tak terduga ia malah tak sengaja mendorong Ryu sehingga Ryu jatuh ke dekat perapian api unggun yang mereka bakar. "Ryuu... Kau baik-baik saja?" teriak Feby dan Emi yang kaget saat Ryu jatuh tepat dihadapan mereka. "Aku baik-baik saja!" terang Ryu yang mencoba bangkit yang kemudian tidak sengaja bertumpu pada bara api yang terlempar dari tumpukan nya. Ryu meringis perih saat mengangkat tangannya cepat melepuh karena terbakar. "Tangan kamu melepuh!" seru Gani dengan suara lantang yang membuat Karin dengan cepat menghampiri mereka yang sedang berusaha membantu Ryu bangkit dari tempat duduknya yang terjatuh dekat bara api. "Bagaimana ini? rencananya jadi kacau karena kamu!" Yogi bergumam pelan kepada Adith dengan kesal. "Tidak masalah, ini justru lebih bagus!" seru Adith saat melihat reaksi panik dari Karin yang mendatangi Ryu. "Maafkan aku, aku tak sengaja!" Yogi dengan cepat pergi meminta maaf kepada Ryu karena merasa bersalah. Kejadian tersebut sedikit berada di luar rencana mereka. "Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. ini hanya luka kecil." jelas Ryu menenangkan Yogi. "Meskipun begitu, ini harus segera di obati agar tidak menjadi parah!" Karin segera menarik Ryu memimpin jalan menuju ke tempat penginapan mereka meninggalkan teman-temannya disana untuk segera mengobati tangan Ryu. Riyan melihat Karin yang begitu khawatir kepada Ryu membuatnya sadar bahwa hati Karin kini sudah terpaut pada Ryu saat ini. Diapun hanya kembali terduduk menatap kosong dan hampa ke api unggun mereka yang semakin lama semakin redup. Yogi yang melongo tak percaya akan jadi semudah itu berbalik kepada Adith dengan menaikkan jempolnya. Adith hanya tersenyum kembali melirik ke arah Alisya dan Aurelia yang sedang bersama Adora dan yang lainnya. Meskipun mereka sempat juga merasa khawatir, tapi begitu melihat Karin sudah bergerak cepat akhirnya membuat mereka kembali terduduk. Aurelia meminta Beni dan Gani untuk bermain musik sehingga mereka bisa bernyanyi bersama. "Ben, kamu juga bisa bermain gitar kan? kenapa kau tidak menghibur Adora yang sedari tadi aku perhatikan ia tampak murung." pinta Aurelia kepada Beni yang sedang memukul mukul ember plastik yang ia jadikan sebagai gendang. "Pilih lagu yang cukup romantis, untuk menghiburnya." bisik Alisya cepat ke pada Beni. Beni yang merasa sudah cukup akrab dengan Adora tak menaruh curiga apapun dengan apa yang sedang direncanakan oleh Aurelia maupun Alisya. Melihat Adora yang tak menunjukkan ekspresi apapun dan terlihat datar namun suram membuat Beni dengan segera mengambil Gitar dari tangan Gani kemudian mulai memetiknya secara perlahan-lahan. Petikan Beni serta lagu yang dibawakan olehnya memang begitu mempesona dan sangat terdengar merdu, namun lama-kelamaan petikan gitar itu berubah menjadi sebuah petikan yang terdengar konyol dengan lirik lagu yang ia ubah sehingga terdengar sangat lucu. Adora yang sebelumnya tak begitu tertarik pada akhirnya tertawa dengan lepas karena ekspresi konyol dari Beni. Bahkan Aurelia dan Alisya pun menyukai apa yang sedang di tunjukkan oleh Beni sehingga mereka berdua ikut tertawa lepas juga karenanya. "Kau sangat cantik saat tersenyum seperti itu." Bisik Adith yang langsung memakaikan kos tangan tebal kepada Alisya. Alisya hanya tersenyum sembari mengambil tangan Adith kemudian menggosokkan tangannya agar Adith juga dapat merasakan hangat. Melihat Adora yang tertawa lepas, Beni akhirnya memberikan gitarnya kepada Gani yang gantian memetik gitar tersebut dengan penuh semangat saat melihat Beni mengajak Adora untuk berdansa dengan gemulai. Zein yang melihat Adora dengan santai nya berdansa dengan Beni membuatnya kesal dan pergi dari sana. "Kau mau kemana?" tanya Riyan cepat saat melihat Zein sudah bergerak pergi. Zein tak menjawab dan hanya pergi dengan tatapan jengkel. Ia melangkah dengar terburu-buru bahkan tak menoleh sedikitpun kebelakang. "Untuk bisa melihat seseorang benar memiliki perasaan dan memacunya untuk bertindak lebih jelas adalah dengan membuatnya cemburu!" seru Aurelia sembari meraih tangan Yogi yang datang menghampiri dirinya. "Kau cukup berhasil membuat hubungan orang menjadi dekat, tapi kau memiliki kelemahan jika itu terhadap hubunganmu sendiri." bisik Yogi menggoda Aurelia dengan nakal. Aurelia langsung mencubit pinggang Yogi dengan gemas. Zein kembali dan langsung menarik tangan Adora dan melepasnya dari Beni. Tanpa berbalik Zein terus menariknya pergi dari sana. "Hei Zein, apa yang kau lakukan?" tanya Beni panik melihat Zein yang menarik Adora terlalu cepat dan sedikit terlihat kasar. Adora yang tak bisa apa-apa hanya bisa mengikuti langkah kaki Zein dengan sangat cepat dan terburu-buru meninggalkan tempat teman-temannya. "Bersiaplah pada tahap selanjutnya!" seru Alisya mengingatkan Adith untuk segera pergi melanjutkan rencana mereka berikutnya. "Bisakah Yogi saja yang melakukannya?" Adith masih tak ingin berada jauh dari Alisya. "Pergilah!" tegas Aurelia yang langsung menarik Adith dari hadapan Alisya. Alisya hanya tertawa sambil melambai memberikan semangat kepada Adith dan Yogi untuk melakukan yang terbaik. Dengan malas, Adith dan Yogi segera pergi dari sana menuju ke tempat yang sudah mereka tunjukkan sebelumnya. "Lepaskan!!! apa yang sedang kau lakukan sekarang?" Adora membanting tangannya agar bisa lepas dari genggaman Zein karena kesal. "Aku tak suka melihat mu bersikap santai dengan cowok lain." bentak Zein dengan kesal kepada Adora. "Haaaah???? ahahhahahaha! memangnya apa urusanmu jika aku bersikap seperti itu dengan mereka?" Adora merasa kalau Zein sedang bersikap non sense kepada dirinya. "Tidak, kau hanya bisa bersikap seperti itu padaku saja! Bukankah kau menyukaiku?" tanya Zein dengan suara lantang yang membuat Adora semakin kesal. "Wuaahhh... kau sangat luar biasa, kau bahkan tak perduli terhadap semua hal yang sudah aku lakukan untuk mu. Kau bahkan tak sekalipun pernah melirik ku dan terus mengabaikanku, apa kau sadar dengan apa yang sedang kau lakukan saat ini?" tanya Adora dengan tatapan kesal memajukan tubuhnya menantang Zein dengan geram. "Terserah kau mau berkata apa, aku tau kau menyukaiku untuk itu kau hanya bisa menatap kepadaku dan bersikap manis dihadapanku saja!" tegas Zein kepada Adora dengan membalik badan membelakanginya. Adora yang kesal segera berdiri kembali di hadapan Zein merasa tak Adil dengan sikapnya yang membatasi dirinya dengan begitu mudahnya sedang dia hanya terus terusan saja mengabaikan dirinya. "Oyy tuan elite, bagaimana bisa kau bersikap seperti itu padaku? jadi kau tau kalau selama ini aku menyukaimu dan kau hanya mengabaikan ku begitu saja? Apa kau tau bagaimana rasanya saat cinta mu hanya bertepuk sebelah tangan? tidak aku akan berhenti mencintai mu mulai dari sekarang. Aku capek...." Mata Adora sudah terlihat berkaca-kaca. Zein yang melihat Adora mulai menitikkan Air matanya dan ingin pergi dari sana dengan cepat dihentikannya lalu ia mencium Adora lembut tepat bersamaan dengan meletusnya kembang api. Chapter 281 - Tamparan Bibir "Kenapa kau selalu ceroboh? tidak bisakah kau menjaga dirimu sendiri?" Karin mengomel kesal dengan Ryu yang selalu saja mendapatkan luka pada tubuhnya. "Ahhh... ssshhh" Ryu meringis pelan saat Karin memberikan salep pada tangannya. "Anggap saja itu hukuman buatmu, apa kau serius merasakan sakit? Jika iya maka seharusnya kamu tidak akan dengan mudahnya terluka." ucap Karin berdiri dari hadapan Ryu untuk mengambil sesuatu. "Maafkan aku," tak tahu kenapa Ryu hanya ingin meminta maaf kepada Karin yang selalu repot merawat dirinya tiap kali mengalami luka-luka. "Kenapa perban itu berada di atas sana?" Karin melihat perban baru yang sempat ia beli berada di atas sana. Setelah di ingat, itu adalah pekerjaan Beni karena kesal saat Karin selalu saja membeli barang-barang pengobatan dimanapun dia berada meski itu pada saat mereka sedang liburan. "Biar aku yang mengambilnya." ucap Ryu berdiri dari tempat duduknya. "Duduklah, aku masih bisa mengambilnya menggunakan kursi." seru Karin masih kesal kepada Ryu. "Dasar Beni, aku membelinya hanya untuk berjaga-jaga jika terjadi hal seperti ini. Sepertinya aku harus memberikan dia suntikan gila." Ryu yang mendengar Karin sedang bergumam karena kesal akhirnya merinding dan meringkuk di tempat duduknya berusaha untuk tidak mengusik Karin lagi. Karin akhirnya menarik kursi kayu kemudian naik mengambil perban tersebut, namun karena masih sedikit jauh dan ia tak mampu meraihnya, Karin akhirnya mencoba melompat dan mendarat dengan mulus namun karena bunyi ledakkan kembang api membuat ia kehilangan keseimbangan. Ryu yang melihat Karin melompat sebelumnya sudah datang mendekati Karin sehingga tepat saat Karin kehilangan keseimbangan, ia dengan cepat ingin menangkap Karin. Karin yang berusaha berpegangan pada sesuatu tak berhasil sehingga ia jatuh menimpa tubuh Ryu dengan sangat keras. "Haaa.. Maafkan aku, kau baik... baik" Karin yang berusaha bangkit dari tubuh Ryu, tiba-tiba harus jatuh tertunduk lagi dengan bibir yang menempel kuat di pipi Ryu. Ryu bahkan sampai merasa sedang di tampar menggunakan bibir Karin. Karin terbelalak akan apa yang sedang ia lakukan pada Ryu, langit yang meledak-ledakkan kembang api menghasilkan cahaya warna-warni di wajah mereka yang seolah sedang mendukung apa yang sedang dilakukan oleh keduanya. "Pufttt" Ryu berusaha menahan tawanya karena tamparan bibir Karin. Karin langsung terbangun dan panik serta malu dalam waktu yang bersamaan. "Aku tidak keberatan jika mendapat hukuman seperti tadi." Ryu menggoda Karin yang sudah ingin melarikan diri dari sana karena malu. Saat ia sudah cukup jauh, ia kembali lagi menarik tangan Ryu dan mendudukkannya. Karin tidak bisa pergi dari sana sebelum selesai membalut tangan kanan Ryu yang melepuh karena terbakar. Ryu terus menatap Karin dengan tersenyum senyum mengingat kejadian yang sebelumnya terjadi kepada mereka. Ryu tak bisa menyembunyikan senyumnya dihadapan Karin yang terus fokus membalut dan menjadi diam. "Ikat sendiri!" ketus Karin meninggalkan Ryu yang masih terus tersenyum-senyum karena apa yang baru saja ia lakukan kepada Ryu. Karin langsung berlari menjauh dari Ryu karena sudah tak sanggup lagi berada disana lebih lama. Rasa malu menjalar ke seluruh tubuhnya yang membuat wajahnya menjadi semakin memerah. Ia bahkan sampai menampar dirinya sendiri sembari berlari untuk bisa mendapatkan fokusnya kembali. "Kau demam? kenapa pipimu merah sekali?" Emi langsung memeriksa dahi Karin untuk memastikan kondisinya. "Karin sakit?" tanya Akiko dengan wajah khawatir. "Oh tidak, aku baik-baik saja! Aku menampar pipiku sendiri karena sudah mulai mengantuk sementara aku masih ingin bersama kalian lebih lama lagi." terang Karin mencari alasan yang kemudian membuat teman-temannya tersenyum senang karena semangat Karin yang terniatkan. Tepat setelah kembang api yang meledak di langit selesai, Zein juga melepas ciumannya kepada Adora. Adora menatap dengan penuh kebingungan tak tahu apa yang harus ia lakukan. Fikirannya melayang tak tentu arah dan fokusnya tiba-tiba saja kacau. "Mulai hari ini, kau hanya milikku. Kau tak bisa melirik atau memandang orang lain selain diriku." tegas Zein kepada Adora yang masih melongo tak percaya dan sedang mencubit pipinya dengan kuat. "Ah..." Adora meringis ketika ia benar merasa bahwa itu bukan mimpi. "Hahahaha... Kau tak bermimpi, untuk itu kau tak perlu menyakiti dirimu sendiri. Kau paham akan apa yang aku katakan bukan?" tawa Zein pelan mengelus lembut pipi Adora yang ia cubit dengan cukup kuat sehingga pipinya menjadi terlihat sangat merah. Adora hanya mengangguk pelan bercampur haru dan bahagia. Ia masih tak percaya akan apa yang sudah dia dapatkan saat ini. Butuh hampir 3 tahun untuk Zein membuka hati pada dirinya, waktu yang cukup lama untuk dia terus berusaha mendapatkan Zein. Dan ketika ia menyerah, Zein menariknya kedalam pelukannya. "Kau terlihat imut!" Zein langsung kembali menarik kepala Adora dan memeluknya dengan erat. Ia merasa lega setelah jujur dengan apa yang sedang ia rasakan saat itu. Mereka kembali dengan Zein yang menggenggam erat tangan Adora menuju ke tempat teman-temannya yang membuat mereka semua langsung heboh bersahut sahutan menggoda Zein dan Adora. "Apa ini? kenapa pantai ini berubah menjadi area perjodohan?" tanya Feby merasa kesal melihat Zein dan Adora yang tampak malu-malu menuju mereka. "Mana laki-lakiku?" teriak Gina saat melihat kemesraan keduanya. "Wowww... sepertinya akan ada lagi pasangan baru nih." pancing Beni terlihat senang dengan mereka berdua. "Jadi, apa kalian sudah resmi berpacaran?" tanya Gani penuh semangat kepada Zein dan Adora. "Aku takkan merendahkan martabat Adora dengan menganggap nya sebagai pacar, karena dia harus mendapat lebih dari itu. Untuk sekarang aku hanya ingin bilang bahwa aku dan Adora sudah resmi untuk berkomitmen serius." terang Zein yang langsung membuat mata Adora terbelalak dengan apa yang dikatakan oleh Zein. Adora paham akan apa yang dimaksudkan oleh Zein, dia pasti tidak ingin mengambil langkah terlalu terburu-buru hanya karena terinspirasi dengan Adith, sehingga untuk saat ini komitmen kuat diantara mereka berdua sudah cukup untuk satu sama lain. "Entah kenapa aku merasa sakit!" terang Aurelia saat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Zein. Aurelia melirik ke arah Yogi yang sudah duduk setengah berdiri dengan melipat lutut memberikan cincin kepada Aurelia. "Apa ini? kenapa sekarang aku harus melihat sesi pelamaran? jiwa jombloku berteriak kencang." Seru Emi menekan dadanya dengan kuat untuk menenangkan dirinya sendiri. Mereka semua semakin heboh akibat aksi dari Yogi yang sedang memandang Aurelia dengan memberikan sebuah kerang yang berisi sebuah cincin putih di dalamnya. Aurelia menatap penuh haru tak menyangka akan mendapatkan kejutan spesial seperti itu dari Yogi. Chapter 282 - Ubay dan Gery menghilang "A.. apa ini?" Aurelia tak mampu berkata apa-apa melihat apa yang sedang dilakukan Yogi padanya. "Maukah kau menjadi orang yang berada disamping ku sabar menanti ku hingga cincin ini berganti menjadi cincin pernikahan untukmu?" tanya Yogi yang dia maksudkan untuk meminta Aurelia bertunangan dengannya. Aurelia hanya terdiam menatap Yogi dan masih belum bisa membuka mulutnya dengan benar. "Aku ingin kita bertunangan, aku mungkin takkan sanggup langsung menikahi mu karena aku belum memiliki keberanian yang cukup seperti Adith. Tapi aku benar ingin serius dengan mu. Untuk itu, maukah kau bersabar menungguku selama 4 tahun? Dalam 4 tahun kedepan aku akan pastikan langsung datang melamar mu dan menikahi mu setelah mendapat gelar sarjanaku." tegas Yogi dengan penuh keyakinan kepada Aurelia. "Bagaimana jika pada saat itu aku maupun kau telah berubah hatinya?" tanya Aurelia merasa tak yakin akan waktu yang bisa saja merubah segalanya. "Maka aku akan tetap mencintaimu dan membuatmu mencintaiku." tegas Yogi dengan tatapan serius berusaha untuk meyakinkan Aurelia. "Oke, Bagaimana jika sampai ke tahun berikutnya?" tanya Aurelia lagi masih merasa tak yakin ingin menunggu Yogi selama itu. "Maka perasaanku akan berubah dengan menyukai orang lain." terang Yogi berdiri dari tempatnya memandang lurus ke mata Aurelia. "Siapa???" Aurelia meradang mendengar perkataan Yogi. "Anak kita!!!" Yogi tersenyum memasukkan cincin itu ke tangan Aurelia dengan lembut. Aurelia menutup matanya tak tahan ingin menangis karena begitu terharu. Menunggu bukanlah waktu yang mudah, namun mereka yang sudah bersama sejak lama juga bukanlah hal yang mudah untuk berpaling. "Ehem, apa kau mendengar suara retakkan?" tanya Feby kepada Emi yang berada disebelahnya. "Itu hati ku, bukan karena cemburu tapi karena hatiku juga ingin merasakan hal yang sama. Kenapa sampai saat ini aku tak bisa memiliki siapapun?" Emi bertanya kepada langit seolah menunjuk kepada yang maha kuasa kenapa tak ada satupun yang menyukai dirinya. "Itu karena kau sendiri yang tak membuka pintu hatimu untuk orang lain." ledek Gani kepada Emi. "Atau memang kau sudah di takdirkan untuk menjadi jomblo." tambah Beni lagi dengan menaik turunkan keningnya meledek Feby dan Emi yang malah membuat Gina langsung menghambur menyerbu mereka. Karin dan Akiko tertawa riuh dengan sikap mereka yang terlihat seperti kekanakan. Ryu yang kembali bergabung bersamaan dengan datangnya Adith ikut tertawa dengan mata yang terus melihat ke arah Karin. Adith datang memeluk Alisya dari belakang tersenyum menyaksikan Yogi yang sudah melamar Aurelia dan mengajaknya untuk bertunangan. "Ini bisa menjadi moment terbaik bagi mereka saat nanti mereka pergi dan berpisah satu sama lainnya." gumam Alisya yang dimaksudkan karena waktu mereka bersama tinggal beberapa bulan lagi dan mereka harus berpisah untuk mencari mimpi dan cita-cita masing-masing. Adith hanya mengangguk menaruh dagunya di bahu Alisya dan memeluknya erat seolah tak ingin melepaskan Alisya. Beberapa saat kemudian, Erik dan Mizan datang kembali ke tempat mereka dengan wajah penuh khawatir serta terburu-buru. "Adith, Zein... Ubay dan Gery masih belum kembali sampai saat ini." terang Mizan dengan penuh rasa khawatir. "Maksud kamu? mungkin saja mereka berdua sedang bersenang-senang di suatu tempat. Mungkin di cafe bersama guru-guru yang lain." terang Riyan mencoba membuat mereka untuk berpikir tenang. "Tidak, kami sudah bertanya pada anak-anak yang lain dan juga pak guru tapi tak satupun dari mereka yang mengetahui dimana keberadaan Ubay dan Gery saat ini." jelas Erik yang sudah bertanya kesana kemari menanyakan keberadaan Ubay dan Gery. "Kau sudah melihat barang-barang keduanya?" tanya Adith yang dimaksudkan bahwa mereka kemungkinan kembali kerumahnya jika barang-barang mereka tidak ada. "Barang-barang mereka masih lengkap di penginapan. Tidak ada tanda-tanda mereka kembali ke rumahnya atau pergi meninggalkan kami semua disini." terang Mizan lagi karena sudah memastikan kamar Ubay dan Gery. "Kalian yakin mereka dalam kesulitan? bisa jadi mereka memang sedang bersenang-senang ditempat lain." terang Karin yang mengira bahwa keduanya hanya ingin berada pada tempat yang terpisah saja. "Aku sudah berusaha menghubungi nomor merek, tapi tidak di angkat dan malah dimatikan. Aku juga sudah melacak tempat mereka tapi setelah aku tau tempat itu bukanlah tempat yang bisa dimasuki dengan mudah." terang Erik dengan penuh rasa khawatir yang sangat tinggi. "Maksud kamu?" Zein mendekat ingin melihat tempat yang sedang di maksudkan oleh Erik. "Kau serius mereka pergi ke tempat ini?" tanya Riyan tak percaya melihat posisi terkahir dari pelacakan Erik. "Aku juga tak tahu kenapa ia bisa berakhir disini, aku curiga dia sedang terjebak oleh sesuatu." terang Erik menunduk dalam tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada Ubay. "Apakah Ubay memiliki koneksi ataupun musuh yang kemungkinan besar bisa menyeret atau memasukkan mereka ketempat itu?" terang Alisya merasa curiga dengan keberadaan Ubay pada tempat yang harusnya tidak bisa dimasuki oleh pelajar tersebut. "Ubay..." Mizan tak tahu harus berkata apa dengan pertanyaan Alisya. "Sepertinya akan lebih baik jika kita memastikan mereka disana. Kita juga butuh guru-guru yang lain untuk bisa mendapatkan akses masuk kesana karena kita masih dibawah umur." tegas Adith yang segera mengarahkan teman-temannya termasuk Riyan dan Mizan untuk segera menghubungi para guru mereka. "Kita akan bertemu di depan gerbang 10 menit lagi. Sekarang adalah jam 12 malam yang tentu saja kita akan mendapatkan masalah jika berhadapan dengan polisi." jelas Zein mengingatkan mereka bagaimana pentingnya keberadaan para guru tersebut. "Baiklah, aku akan berusaha meyakinkan mereka secepat mungkin. Ubay dan Gery yang menghilang selama 8 jam bahkan hingga larut malam belum kembali pasti bisa membuat mereka juga merasakan bahwa Ubay dan Gery bisa jadi dalam bahaya." Mizan mengangguk paham akan bagaimana mereka harus meyakinkan guru mereka akan situasi yang sedang terjadi pada mereka. Mereka langsung berpisah untuk segera menuju ke penginapan mengambil beberapa barang yang bisa diperlukan. "Bisakah kami ikut kalian? Kami juga khawatir dengan mereka." pinta Beni tak ingin ditinggalkan disana. "Ben, kita tidak mungkin berbondong bondong menuju kesana. Semakin banyak orang maka akan semakin besar bahaya yang bisa kita dapatkan." jelas Zein memberikan pengertian kepada Beni. "Kau bisa melihat semuanya dari alat komunikasi kita. Aku juga ingin kamu menjaga teman-teman yang lain disini, tidak baik jika mereka juga ikut keluar saat malam semakin larut." Adith memberikan alat komunikasi kepada Beni dan yang lainnya agar mereka juga bisa terhubung dengan apa yang sedang dilakukan oleh Adith dan yang lainnya. Bahkan ibu Vivian juga tidak Ikut. Chapter 283 - Bar Diskotik "Kalian yakin kalau Ubay dan Gery ada disana?" tanya pak Irhan ingin memastikan sekali lagi sebelum mereka pergi. "Benar, tidak mungkin bagi mereka untuk berada disana. Itu adalah area terlarang bagi mereka yang belum cukup umur." terang ibu Vivian masih tak yakin dengan apa yang dikatakan oleh siswanya. "Aku sudah mencoba melacaknya, dan benar ia berada disana selama 3 jam terakhir." pak Irhan dan ibu Vivian pada akhirnya percaya setelah mendengar perkataan Adith. Bukan berarti mereka tidak mempercayai siswa yang lainnya, namun Adith memiliki kemampuan yang cukup tinggi dalam bidang teknologi sehingga mereka tak meragukan perkataan Adith. "Ubay dan Gery meminta izin kepadaku sebelumnya, tetapi mereka hanya berjalan-jalan disekitar sini karena tidak begitu tertarik berkumpul dengan yang lainnya." terang Wali kelas IIS mendesah tak menyangka kalau mereka berdua sampai tak kembali dalam waktu yang cukup lama. "Aku ingat, sebelumnya aku lihat dia bertemu dengan seorang perempuan. Tapi aku tak tahu dia siapa." Jiza langsung berkata dengan cepat saat ia mengingat sempat melihat Ubay dan Gery berbincang-bincang dengan seorang perempuan sebelumnya. "Sepertinya memang kita harus memastikannya sendiri. Kalian bisa tunggu disini saja, kalian hanya akan merepotkan jika ikut. Aku rasa Adith sudah cukup untuk ikut bersama kami." jelas pak Irhan memberikan arahan kepada Zein dan yang lainnya. "Saya jamin bapak akan membutuhkan mereka, Karin memiliki lisensi kedokteran jika memungkinkan ada terjadi sesuatu kepada Ubay dan Gery, sedang Alisya memiliki pendengaran yang cukup tajam yang bisa membantu kita dalam melakukan pencarian nanti." Adith dengan segera menjelaskan mengapa ia datang bersama Karin dan Alisya. "Selain itu, kami juga bisa membantu Adith dalam mengoperasikan semua alat-alat yang dimilikinya. Sedang Ryu, dialah yang paling ahli jika kita harus berhadapan dengan beberapa preman." tambah Zein lagi. Adith dan Zein saling berpandangan, mereka tak menyangka kalau alat mereka bisa dibutuhkan kapanpun dan dimanapun. Mereka juga sangat berterimakasih kepada Riyan yang diam-diam mengambil semua peralatan tersebut karena iseng. "Baiklah, tapi jika mereka malah membuat kita jadi terhambat, kau harus memulangkan mereka secepatnya." seru pak Irhan tak yakin dengan apa yang dipikirkan oleh Adith dan Zein. Pak Irhan yang hanya mengizinkan laki-laki untuk ikut bersamanya mau tidak mau menuruti permintaan Adith. Mizan dan Erik yang sangat Khawatir pun ikut bersama mereka dengan memaksa kuat. "Pak Anto dan bu Vivian, kalian lebih baik disini bersama yang lainnya untuk tetap memantau mereka semua jangan sampai ada lagi yang keluar dari resort ini." tegas pak Irhan sebelum akhirnya pergi meninggalkan ibu Vivian yang sebelumnya sempat memaksa untuk ikut juga. Karena sudah larut malam, mereka tak menemukan kendaraan apapun disana. Akan terlalu mencolok jika harus menggunakan bus namun karena tak ada pilihan lain, pak Irhan terpaksa memakai bus tersebut sebagai alat kendaraan mereka. Bus tersebut juga bisa di pakai oleh Adith dan yang lainnya dalam memantau keadaan dari jarak jauh sehingga mereka tak perlu datang berbondong-bondong kedalam area tersebut. Pak Irhan turun dari bus bersama Adith dan Ryu begitu mereka sampai ke area tersebut. "Sepertinya tempat ini adalah diskotik yang berkamuflase menjadi karaoke keluarga karena apa yang terlihat dari pelacakan dari Erik, tempat ini adalah Bar Diskotik yang tidak sembarang orang bisa masuk." terang Zein sembari terus memperhatikan layar dari alat komunikasi mereka yang berada pada pak Irhan maupun Adith dan Ryu. "Aku tidak tau apakah mereka masih berada didalam atau malah handphone mereka sudah dicuri dan dibawa ke tempat itu." tambah Erik lagi dengan gusar membuka sedikit horden bus itu untuk melihat keluar. "Tutup, kau bisa membuat kita ketahuan. Jangan sampai mereka melihat cahaya dari bus ini." Riyan dengan cepat menghentikan Erik sebelum horden tersebut terbuka dengan sangat lebar. Tepat setelah itu, pak Irhan dan yang lainnya sudah sampai di depan Bar yang menjadi tempat terakhir kali handphone milik Ubay dan Gery berada. "Maaf pak, sepertinya kau membawa dua orang yang tidak seharusnya berada disini. Terlebih pada jam selarut ini." seru si penjaga menghalangi pak Irhan masuk kedalam Bar. "Aku hanya ingin masuk kedalam untuk memeriksa sesuatu jadi tidak akan lama." pak Irhan mencoba masuk tapi tak mendapat Izin dari penjaga pintu yang terlihat berbadan besar dan kekar tersebut. "Pergilah!!! kami tidak bisa mengizinkan kalian masuk." bentaknya keras menatap garang ke arah pak Irhan. "Kau bisa masuk setelah memulangkan mereka berdua kerumahnya!" tambah seorang penjaga lainnya. "Sepertinya memang mereka yang dibawah umur tidak di izinkan untuk masuk ke dalam." bisik Ryu kepada Adith sembari memperhatikan tempat tersebut dengan saksama. "Bukankah ini karaoke keluarga? seharusnya kami bisa masuk bukan?" tanya Adith yang sengaja menguak kamuflase mereka untuk membiarkan mereka masuk. Seorang penjaga yang lain akhirnya langsung memberi kode untuk membiarkan mereka kali itu. "Kalian bisa masuk tetapi disebelah sana. Kalian tidak bisa melewati pintu ini." tegasnya membuat mereka bergeser ke arah pintu yang lain. Pak Irhan dan yang lainnya mau tidak mau mengikuti arahan dari penjaga tersebut ke pintu sebelah yang terlihat lebih terang di banding dengan pintu sebelahnya. "bukk buk buk buk!!!" seseorang memukul pintu mobil dengan keras membuat Alisya dengan ragu-ragu membuka pintu tersebut. Begitu pintunya terbuka, Gery dengan cepat menghambur masuk kedalam bus dengan hanya sebagian tubuh saja yang masuk serta tubuhnya yang terlihat berdarah darah kesana kemari. "Gery..." teriak Mizan ketika mengenali wajah Gery meski dalam ke remang-remangan sinar yang terlihat dari bus tersebut. "Karin!!!" Alisya langsung memberikan tanda kepada Karin untuk segera melihat kondisi Gery saat itu. "Apa yang terjadi? Bagaimana kalian bisa berada ditempat ini?" tanya Erik cepat menghampiri Gery yang setengah sadarkan diri. "Ohookkk..." Gery memuntahkan darah segar dari mulutnya yang dengan cepat mereka menarik tubuh Gery masuk kedalam bus dan Karin mau tidak mau menyalakan lampu bus tersebut untuk bisa membuatnya melihat luka-luka yang diderita oleh Gery. Melihat gerakan Karin, Zein dengan cepat mengaktifkan invicible yang ia lempar ke atas bus agar membuat bus mereka tampak seolah tak terlihat berada disana. Posisi mereka yang berada tak jauh dari tempat itu cukup berbahaya jika diketahui. Hal ini juga akan menyulitkan pak Irhan dan yang lainnya saat terjadi sesuatu dan kembali ke bus mereka. Namun saat ini itulah yang terbaik, Riyan kemudian memindahkan bus mereka saat melihat ada beberapa pengawal yang terlihat sedang melakukan pengejaran kepada Gery. Chapter 284 - 5 Suntikan Sekaligus Setelah memarkirkan mobilnya cukup aman, Riyan dengan cepat kembali menghampiri Gery. "ohokkkk" Gery sekali lagi memuntahkan darah segar dari mulutnya dengan nafas yang tersengal-sengal. "Alisya, selamatkan Ubay! Aku juga melihat Adith dan Ryu disana, mereka bisa dalam bahaya jika bertemu dengan wanita itu. Dia, dia adalah iblis!" suara serak dan berat Gery memohon dengan penuh kepada Alisya. Karin bingung tak mengerti kenapa Gery meminta tolong kepada Alisya yang seorang perempuan dan juga mereka tak mengetahui identitas asli dari Alisya tapi Gery dengan jelas menyebut nama Alisya sewaktu meminta tolong. "Apa maksudmu? kenapa kau menyuruh Alisya untuk menolong Ubay? lagi pula apa yang terjadi pada Ubay dan dirimu? kenapa kau bisa sampai seperti ini?" Mizan menyerang Gery yang setengah sadar dengan semua pernyataan bertubi-tubi. "Pelan-pelan, kau bisa menjelaskan kepadaku secara perlahan. Tapi sebelum itu apa kau mengenal siapa wanita itu? siapa namanya?" Alisya mencoba untuk membuat Gery tidak memaksakan dirinya. Gery menggeleng pelan karena tidak mengetahui orang tersebut. "Aku tak tahu dia siapa tapi dia menyebut dirinya sebagai generasi ketiga Rafaela!" tepat setelah mendengar apa yang disebutkan oleh Gery, Alisya bangkit dari tempat duduknya menatap dengan kelam. "Ada apa Alisya? apa kau mengenalinya?" tanya Karin merasa curiga dengan reaksi Alisya yang tiba-tiba mengeluarkan auranya saat terkejut karena apa yang baru saja dikatakan oleh Gery. "Kau membawa suntikan mu?" tanya Alisya yang ia maksudkan adalah suntikan khusus dari ayah Karin yang ia berikan kepada Alisya saat ia mengalami trauma mental dan emosinya menjadi tak stabil. "Ya aku membawa 5 suntikan!" Karin langsung memperlihatkan suntikan tersebut yang dengan cepat diraih oleh Alisya dan membuka tutup kelima suntikan itu yang dengan satu bantingan semua suntikan itu ia tusukkan ke pahanya tanpa ragu-ragu. "Apa kau sudah gila??? kau bisa over dosis jika menggunakan sebanyak itu!" bentak Karin mencoba menarik semua suntikan yang sudah terlihat kosong. "Adith... Ryu... Ryu... pak Irhan,, pak Irhan???" Zein sudah mencoba menghubungi ketiganya yang masuk kedalam bar namun nihil, ketiganya sulit untuk di hubungi. "Sepertinya mereka menanamkan medan magnet yang dapat mengacaukan alat komunikasi kita." terang Riyan melihat frekuensi alat komunikasi mereka yang terlihat kacau. "Kau bisa menghadapinya kan?" tatap Alisya serius. Meski masih kesal dengan sikap berani Alisya yang menyuntik dirinya dengan 5 suntikan sekaligus, Karin tetap mengangguk pelan kepada Alisya. "Aku akan memberikan dia pertolongan pertama. Tapi sepertinya dia harus segera di bawa ke rumah sakit." jelas Karin melihat kondisi Gery yang cukup parah. Alisya yang turun dari mobil membuat Mizan dan Erik kebingungan. "Kau mau kemana?" tanya Mizan cepat menghentikan Alisya. "Jangan khawatir, dia tau apa yang harus dia lakukan." Zein langsung menahan Mizan yang mencoba menghentikan Alisya. "Riyan kalian harus bergerak sekarang. Disini terlalu berbahaya bagi kalian, untuk itu kalian lebih baik pergi ke rumah sakit untuk mengantarkan Gery dan kalian bisa memantau dari sana." pinta Alisya yang sengaja membuat mereka menjauh dari lokasi tersebut. Selain karena mereka bisa saja ditemukan, Gery juga harus secepatnya mendapatkan perawatan. "Berbahaya? kau juga akan berbahaya jika..." Riyan langsung menepuk pundak Erik cepat kemudian pergi ke kursi kemudi siap untuk membawa Gery menuju rumah sakit. "Hati-hati." terang Karin, ia mencoba percaya pada Alisya yang dengan begitu berani menyuntikkan semua suntikan tersebut agar emosinya tidak gampang meledak. "Apa kalian semua sudah gila membiarkan Alisya pergi sendiri kesana" melihat reaksi Zein dan yang lainnya yang terlihat begitu santai saat melihat Alisya yang sudah siap untuk pergi membuat Erik dan Mizan menjadi sangat bingung dan khawatir. "Dia akan baik-baik saja!" ucap Zein saat Riyan sudah menutup pintunya untuk segera pergi dari sana. Zein kembali menon aktifkan invicible yang mereka gunakan setelah cukup jauh dari sana. Mizan dan Erik yang tak mengetahui siapa Alisya sebenarnya akan sangat wajar jika mereka bersikap seperti itu karena bagi mereka Alisya hanyalah perempuan biasa yang tak mungkin bisa menangani kejadian yang ada di dalam bar tersebut, terlebih karena Gery yang kembali dalam keadaan yang mengenaskan. "Aku rasa kita sebaiknya menghubungi kantor polisi." Mizan dengan cepat membuka ponselnya untuk menghubungi kepolisian. "Jangan gegabah. Kau bisa membuat semua teman-teman kita berada dalam bahaya saat mereka tahu polisi berada disana." tegas Zein langsung menghentikan apa yang dilakukan oleh Mizan. "Lalu kita harus bagaimana? kalian membiarkan seorang perempuan masuk ke dalam bar itu untuk menyelamatkan Ubay dan yang lainnya? apa kalian pikir dia itu pahlawan?" Mizan mulai kesal dengan sikap tenang Zein dan yang lainnya yang begitu santai membiarkan Alisya pergi tapi dengan kuat menghalangi mereka untuk ikut. "Kalian lihat Gery kan? dia keluar dari sana dalam keadaan berdarah-darah. Apa kau pikir seorang perempuan bisa menangani hal tersebut?" tambah Erik juga yang tidak menyetujui apa yang dilakukan oleh Zein dan yang lainnya. "Kau harusnya berpikir akan apa yang di katakan oleh Gery tadi. Kenapa dia malah meminta Alisya untuk pergi menyelamatkan Ubay, bukannya menyuruh kita untuk menghubungi polisi?" Zein mencoba memberikan mereka berdua pemahaman akan apa yang sedang mereka lakukan. "Itu karena hanya Alisya yang mampu menyelamatkan mereka. Ini bisa jadi jebakan untuk Alisya, tapi di antara kita semua bahkan para polisi yang kamu maksudkan, Alisya lah satu-satunya orang yang sanggup dalam menangani ini semua." tambah Karin lagi sembari terus memberikan pertolongan awal kepada Gery yang sudah tak sadarkan diri. "Berdoalah semoga tidak terjadi pertumpahan darah disana. Akan cukup sulit bagi Alisya yang harus melindungi 2 orang dan menyelamatkan Ubay." jelas Riyan lagi sembari terus fokus ke jalanan. "Melindungi 2 orang? bagaimana bisa Alisya melindungi dan menyelamatkan Ubay sekaligus? siapa dia sebenarnya?" tanya Mizan makin penasaran akan maksud dari ketiganya. "Kau akan tahu saat melihat sendiri, kami tidak bisa menjelaskan semuanya secara rinci karena kalian akan paham jika menyaksikan secara langsung mengapa kami semua membiarkan Alisya yang pergi sendirian." Zein menunjuk ke arah monitor dimana kamera Alisya terlihat berfungsi dengan baik dan Alisya sudah berada pada pintu masuk. "Nona, aku sudah melihat ke dalam. Di sebelah pintu itu ternyata memang mereka gunakan sebagai tempat untuk karaoke maka aku sengaja membiarkan Pak Irhan dan Adith untuk terus mencari di setiap Room nya." Ryu keluar dari tempat tersebut tanpa ada pak Irhan dan Adith bersamanya. "Kau yakin?" tanya Alisya ingin memastikan mengingat Gery yang memperingati mereka bahwa pak Irhan dan yang lainnya mungkin saja di jebak. "Saya yakin nona, tapi nona sedari tadi saya berada di dalam, alat komunikasi kami sepertinya terputus sehingga aku keluar dan menemukan bahwa Freezer yang ada di samping kedua penjaga itu adalah pintu masuk yang lain. Selain itu saya juga menemukan pintu yang lainnya didalam gedung sebelah sini." tambah Riyan lagi menjelaskan situasi mereka sewaktu berada di dalam. "Baiklah kalau begitu sebaiknya kita menemui Adith dan pak Irhan terlebih dahulu." Alisya merasa lega kalau ternyata mereka masih baik-baik saja dan belum menemukan masalah. "Baik nona, lewat sini." seru Ryu menunjukkan jalan kepada Alisya. Melihat Ryu dan Alisya yang kembali masuk kedalam bar tersebut membuat dua penjaga tadi langsung memberikan laporan kedalam untuk memastikan semua penjaga mewaspadai dan memata-matai kedua anak tersebut. "Kenapa Ryu memanggil Alisya dengan sebutan nona?" Mizan masih belum bisa menemukan titik terang akan apa yang sedang dilakukan oleh Alisya disana. "Karena Alisya adalah atasan dari Ryu. Untuk saat ini sebaiknya kita harus lebih fokus mengamati mereka terlebih dahulu. Kau bisa bertanya apa saja begitu semua ini telah selesai." tegas Zein agar Mizan tidak memecahkan konsentrasi mereka dengan menyuruhnya untuk fokus menggerakkan drone lebih dekat dengan bar tersebut. Chapter 285 - Hime Sama "Tuan Putri" Alisya segera masuk ke dalam bar bersama dengan Ryu yang sebelumnya menjemputnya keluar. Ryu sudah menduga kalau Alisya akan segera menyusul begitu sadar kalau alat komunikasi mereka telah terputus. Begitu masuk kedalam bar, semuanya memang tampak Normal. Pak Irhan dan Adith yang ingin melakukan pemantauan pun sudah memesan Room sehingga Alisya hanya menuju ke room yang disebutkan oleh penjaga kasirnya. Alisya dengan segera memusatkan perhatiannya untuk mendeteksi energi nano lain yang ia maksudkan agar orang tersebut juga bisa terpancing olehnya dan mengeluarkan aura menekan untuk memberi peringatan kepada Alisya. "Silahkan nona, sebaiknya kita memberitahu pak Irhan dan Adith terlebih dahulu akan Gery yang sudah kembali." Ryu segera mengingatkan Alisya begitu mereka berdua sampai pada Room yang sudah di pesan oleh Pak Irhan. "Dimana mereka?" pak Irhan dan Adith tak berada disana sehingga keduanya segera keluar lagi untuk mencari pak Irhan dan Adith. Pak Irhan dan Adith mungkin saja tidak sengaja tertangkap saat sedang memantau sehingga Alisya dan Ryu harus bergerak cepat untuk menemukan mereka. Suasana bising tempat itu sedikit mengacaukan pendengaran Alisya. "Nona, aku rasa mereka pasti pergi ke tempat dimana aku menemukan sebuah jalan lain sebelumnya." terang Ryu cepat segera menunjukkan jalan kepada Alisya. "Adith bukanlah orang yang ceroboh, kenapa dia bisa dengan begitu berani masuk kedalam jika ia sudah merasakan bahaya? Apa ini perbuatan pak Irhan? atau jangan-jangan mereka tidak sengaja melihat Ubay sebagai jebakan?" Alisya terus menduga-duga karena Adith bukanlah orang yang dengan gampangnya mengambil langkah gegabah yang dapat menyulitkan dirinya maupun orang lain. "Sepertinya bukan!" seru Ryu saat melihat alat komunikasi keduanya ia temukan tak jauh berada di pintu masuk yang aneh tersebut dimana dari sana ada 2 penjaga yang sudah berdiri. "Maaf, ini bukan area yang bisa kalian masuki." seorang penjaga dengan cepat menghentikan mereka berdua. "Apa kau melihat seorang pemuda dengan yang lebih tua disekitar sini?" tanya Ryu kepada mereka berdua sedang Alisya terus mengamati mereka menemukan celah yang bisa ia gunakan. "Jadi kalian berdua adalah teman dari kedua orang tadi?" penjaga itu langsung melirik kepada teman disampingnya untuk segera menangkap Ryu dan Alisya. "Sebaiknya kalian membukakan pintu itu untuk kami karena aku adalah....." Alisya langsung menyingkap rambutnya untuk memperlihatkan tahi lalat bintang yang berada di bagian lehernya. Tahi lalat itu adalah penanda bahwa dia seorang putri sekaligus ketua geng Yakuza yang semua anggotanya sudah mengetahui hal tersebut berdasarkan rumor. "Kau ingin menipu kami?" si penjaga itu terlihat akan memegang leher Alisya namun Ryu langsung menghentikan gerakannya dengan menahan tangan dari si penjaga kemudian memperlihatkan tato miliknya. Tato yang di miliki oleh Ryu merupakan tato khusus yang bisa ia jadikan sebagai penanda bahwa ia adalah orang yang paling dekat dengan Hime "Tuan Putri" ketua geng Yakuza sebenarnya. "Hime sama,,, maafkan kami." mereka langsung duduk berlutut memohon maaf ketika mengenali tato milik Ryu. Ryu melihat ke arah Alisya dengan kagum, ia tak menyangka kalau Alisya bisa mengetahui bahwa tempat itu adalah salah satu cabang dari geng mereka dibawah kepemimpinan Alisya. Ryu yang sudah diberitahu sebelumnya bahkan tak mengira kalau tempat itu juga merupakan bagian dari mereka. Dari tato milik mereka, bisa di lihat Alisya bahwa mereka berdua hanyalah orang-orang berpangkat rendah atau hanya merupakan anggota biasa. "Tunjukkan jalannya!" perintah Alisya dingin yang dengan cepat mereka berdiri setengah tertunduk menunjukkan jalan dimana bos mereka berada. "Bos Gusta, dua pengawal itu membawa mereka masuk!" seorang anggota masuk kedalam memberi laporan kepada bos mereka. "Brengsek!!! apa yang sedang mereka lakukan? kenapa mereka dengan bodohnya langsung membawa mereka masuk kedalam." Gusta meradang saat mendengar hal tersebut. "Sayang, apa kau menangkap peliharaan yang salah lagi kali ini?" Gusta berbicara dengan sebuah video hologram yang menunjukkan seorang wanita yang terlihat sedang menyiksa seseorang. "Bukankah kau bisa mengurusnya? Jika tidak, kenapa kau tidak membawa mereka kepadaku?" ucapnya dengan penuh hasrat menggoda yang membuat Gusta bergetar tak sabar ingin melaksanakannya. "Tentu saja, aku akan memberikan mereka pelajaran karena sudah mencoba memasuki wilayah ku." tegasnya sembari berbalik menghadap pintu dengan senyuman jahat. Kedua penjaga itu tak tahu harus bagaimana namun mereka sepakat untuk segera membawa Alisya dan Ryu ke bos mereka secepatnya agar bos mereka belum melakukan sesuatu yang fatal kepada pak Irhan dan Adith. Mereka terserang rasa takut yang teramat sangat sampai kaki keduanya tak bisa berjalan dengan baik. "Kita kembali terhubung dengan mereka!" teriak Zein ketika melihat layar komunikasi Alisya dan Ryu sudah kembali terhubung. "Mereka akan kemana? kenapa dua penjaga itu terlihat sedang menunjukkan jalan kepada Alisya dan Ryu dengan tatapan takut dan gemetar?" tanya Erik mengamati layar komputer tersebut dengan saksama. "Aku juga tak tahu apa yang sudah terjadi sebelumnya, sekarang setidaknya mereka sudah masuk kedalam bar itu." seru Zein lagi sembari terus mengamati semua hal yang dilihat oleh Alisya. "Dimana Adith dan pak Irhan kenapa mereka tak ada disana?" Mizan bingung melihat hanya ada Ryu dan Alisya disana. "Mereka berdua tidak sengaja tertangkap. Sebaiknya kalian perhatikan saja dulu, hubungi ibu Vivian agar Gery segera bisa ditangani jika ternyata ia harus mendapatkan perawatan lanjutan." Alisya bergumam pelan untuk mengingatkan mereka semua. "Kau benar, jarak rumah sakit dari tempat kita berada cukup jauh. Terlalu panik kita sampai lupa akan hal penting seperti itu." Zein dengan cepat melakukan panggilan kepada ibu Vivian. Tidak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai ke rumah sakit dimana hanya Zein yang tinggal untuk memantau semua perkembangan Alisya yang sudah berhasil masuk kedalam kantor Gusta. Karin langsung bergerak cepat mengawal Gery masuk kedalam rumah sakit menujukkan lisensinya dengan cepat sehingga Gery bisa segera dimasukkan kedalam ruang ICU. "Anda adalah Karin Reynand???" tanya seorang dokter begitu melihat lisensi dari Karin dan melihat cara Karin saat melakukan penanganan pertama kepada Gery yang terhitung sangat luar biasa untuk seorang anak kelas SMA. "Ya benar" angguk Karin pelan membenarkan. "Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda, kami tak menyangka bahwa rumor tersebut adalah benar. Kami mengira bahwa semua itu hanyalah bualan semata sampai kami bisa melihatnya secara langsung." terang dokter tersebut menyalami Karin. "Sesuai dugaan untuk seorang anak dari Reynand!" tegas dokter yang lainnya. Mereka tahu betul akan kemampuan keluarga Karin yang tentu saja itu menurun dari ayah serta ibunya yang luar biasa. Chapter 286 - Tanda Elite Berwarna Hitam Setelah berjalan melewati beberapa koridor, mereka sampai pada sebuah pintu besar yang terlihat cukup berbeda dengan pintu-pintu Room lainnya yang sudah mereka lewati. "Silahkan masuk Hime... Bos Gusta belum mengetahui kedatangan Anda jadi biarkan saya memperkenalkan anda padanya." si penjaga masih belum bisa menghilangkan rasa gemetarnya setelah mengetahui identitas asli wanita muda dihadapannya tersebut. Meski Alisya terlihat muda, caranya berjalan dan memandang bukanlah sesuatu yang bisa mereka taksir dengan mudah. "Bukkkkk... Beraninya kau membawa mereka kedalam, dasar bodoh!!! Apa mata kalian berdua buta hahhh????" Gusta langsung menendang dan menghantam secara membabi buta kepada para penjaga tersebut begitu mereka masuk ke dalam kantor Gusta. "Maaf bos, sebaiknya anda lihat dulu siapa mereka." terang si penjaga dengan suara yang tercekat menahan rasa sakit akibat pukulan daro Gusta. "Aku juga bisa melihat kalau mereka berdua hanyalah anak SMA biasa. Kau taukan area ini adalah area terlarang? tangkap mereka berdua dan masukkan ke dalam ruangan yang sama dengan dua orang sebelumnya." bentak Gusta tak ingin mendengar apa yang di katakan oleh anak buahnya. "Tapi boss.." si penjaga dengan jelas sekali terlihat tidak ingin melaksanakan perintah Bosnya yang terlalu gegabah. "Maaf Bos, dia adalah Hime.. Tuan putri pemimpin asli dari geng Yakuza." terang salah seorang lagi berusaha untuk memberikan peringatan kepada Gusta. "Ha??? ahahahahah... Kalian berdua ingin mati? cihh,, Bagaimana mungkin Hime adalah dia? kau tak bisa lihat kalau dia hanyalah anak SMA biasa?" terangnya tertawa terbahak-bahak sembari mengelilingi Alisya. Alisya hanya terdiam dan bersikap tenang sedang Ryu sudah tidak sabar ingin memecahkan kepalanya saat Gusta dengan kurang ajar menatap Alisya penuh nafsu. "Nona, biarkan aku memberikan dia pelajaran!" pinta Ryu dengan posisi siap untuk menerjang Gusta tanpa ampun, namun Alisya tersenyum sinis menghentikan aksi Ryu. "Bos bisa mengecek kalau dia memiliki tanda seperti yang dirumorkan, selain itu pemuda disampingnya memiliki tanda Elite berwarna hitam yang menjadi orang yang bertaruh nyawa dan begitu dekat dengan Hime atau keturunan pemimpin geng." Si penjaga sekali lagi memberikan peringatan kepada Gusta. "Bos, kita harus melaporkan kedatang kunjungan mereka secepatnya kepada kakak Ernanda. Jika tidak kita semua bisa dalam bahaya karena telah menyinggung Hime." si penjaga tersebut dengan cepat mengambil telepon namun secara tiba-tiba Gusta langsung menendangnya hingga tersungkur dan susah untuk bangkit. "Siapa yang mengizinkanmu? lihat saja, aku bisa membuktikan kepada Ernanda kalau aku lebih baik dari pada dia." tegasnya kembali mendekati Alisya dengan tatapan sensual. "Kalian harusnya berada dirumah, bukan disini. Tapi karena kau sudah berada disini, kenapa kita tidak bermain-main sejenak dulu? biarkan pacarmu itu di urus oleh anak buah ku." Gusta langsung memberi tanda kepada para anak buahnya untuk menyerang Ryu. Ryu harus berhadapan dengan para pengawal Gusta di ruang kantornya dengan jumlah mereka yang tidak sedikit, yaitu sekitar 30 orang dan Ryu bisa mengalahkan mereka dengan mudah meski dia hampir saja kehabisan tenaga dan sedikit kelelahan. "Bagaimana kau bisa se kuat itu? Siapa kau sebenarnya?" teriak Gusta saat melihat Ryu mampu melumpuhkan hampir semua anggotanya dengan sangat mudah. "Sebaiknya kau bersikap baik sekarang." suara Alisya meliriknya dingin. "Kau pikir siapa dirimu? meskipun dia kuat, kau hanyalah seorang perempuan. Sebaiknya kau menyerah jika tidak, perempuan ini.." Gusta yang mendekatkan wajahnya ingin menjilati leher Alisya sedetik kemudian terlempar dengan sangat keras membentur dinding. Alisya yang melakukan tendangan memutar dari jarak yang cukup dekat membuat 7 tulang rusuk Gusta patah dan 3 lainnya mengalami retak parah. Ia mengeluarkan darah segar begitu banyak sampai ia mengalami kesulitan bernafas. "Kau tunjukkan dimana tempat kau menyekap dua orang yang datang sebelum kami." tunjuk Alisya dingin kepada salah seorang penjaga yang sebelumnya menunjukkan mereka jalan. Tanpa menjawab, dia secepat kilat berusaha bangkit mengarahkan Alisya ke sebuah ruangan dimana Adith dan pak Irhan disekap. "Bagaimana ini, mereka bilang akan menunjukkan jalan menuju ke tempat Ubay dan Gery, kita malah di bawa ke tempat ini. Aku sudah membayar banyak untuk menyogok mereka." Meski ia terluka parah, pak Irhan masih bisa mengomel dengan kesal didalam ruangan yang penuh dengan botol-botol bir yang menjadi salah satu room yang biasanya digunakan oleh para hidung belang berkumpul. Pak Irhan seolah mulai kehilangan kesadarannya karena mendapatkan banyak pukulan dari para penjaga yang berhasil menangkap mereka berdua, sedang Adith hanya mendapatkan sedikit lebam saja diwajahnya karena permintaan kekasih Gusta. Adith terus terdiam berusaha menutup hidungnya yang sangat peka. Adith merasakan pening yang amat kuat karena di semua sudut ruangan itu menyebar bau parfum yang sangat tajam di tambah dengan semua bau alkohol yang ada di tempat itu. "Pak, bertahanlah! Aku akan mencari cara untuk menyelamatkan bapak. Aku yakin Alisya dan Ryu akan menemukan kita secepatnya. Maka dari itu tetaplah sadar!" pinta Adith terus menggoyangkan tubuh pak Irhan agar ia terus sadarkan diri. "Cihhh... apa yang bisa kamu harapkan dari seorang perempuan dan anak SMA? mereka itu tak bisa apa-apa hhh... ha.. hahaha.." pak Irhan yang kehilangan banyak darah mulai kehilangan kesadarannya perlahan-lahan. "Berpikirlah positif!!!" Adith menampar keras pipi pak Irhan agar tetap terjaga karena Adith baru sadar kalau pak Irhan tenyata mendapatkan tusukan di bagian belakangnya. "Sial... bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini?" Adith berdiri mencari celah apa saja yang bisa ia gunakan untuk bisa meloloskan diri dari sana. Dari sudut yang satu ke sudut yang lain terus Adith cari namun jalan satu-satunya keluar adalah pintu masuk yang sebelumnya mereka di lempar kedalam. "Bahkan ruang untuk Ventilasi udara pun tak ada disini. Jika kita berada disini terus, ini akan sangat berbahaya bagi pak Irhan." Adit kembali mencek kondisi pak Irhan yang tubuhnya semakin dingin. Adith mematikan Ace ruangan tersebut dan mengangkat tubuh pak Irhan ke atas sofa kemudian membalutnya menggunakan kemeja miliknya. "Zein, Riyan... Ryu!!! Alisya ..." Adith terus saja berusaha menghubungi alat komunikasi mereka namun tetap tidak mendapatkan respon dari mereka semua. Adith semakin putus asa dengan suhu tubuh dari pak Irhan yang terus menurun. Namun dengan cepat ia menemukan kaleng bir yang tanpa pikir panjang ia membuat sebuah alat penghangat menggunakan semua barang-barang yang berada disekitar sana. Beruntunglah karena ada colokan listrik sehingga Adith bisa memanfaatkan energi listrik untuk menciptakan panas yang ia hantarkan kedalam kaleng yang kemudian sesekali ia gosokkan ke kaki serta tangan pak Irhan. Chapter 287 - Binatang??? "Kak Ernanda, sebaiknya kakak ke Bar sekarang. Gusta telah melakukan suatu kesalahan besar. Kita kedatangan Hime." seorang penjaga yang dihantam dengan keras oleh Gusta berusaha menghubungi kakak tertua mereka. "Hime??? Aku tahu dia di Indonesia, tapi bagaimana mungkin dia menampakkan dirinya sekarang?" Ernanda bangkit dari tempat duduknya terkejut tak percaya. "Sulit bagiku untuk menceritakan semuanya, tapi seorang pemuda memiliki tanda elite berwarna hitam." tambahnya lagi sesekali menarik nafas kuat. Mendengar hal tersebut, Ernanda segera berangkat menuju ke Bar milik mereka. "Kita sudah sampai, silahkan Hime." ucapnya membukakan pintu ruangan tempat di mana Adith dan pak Irhan di sekap. Alisya langsung menghambur kedalam dan menemukan Adith yang sedang merawat pak Irhan. "Kau baik-baik saja?" tanya Alisya cepat kepada Adith yang mengangguk pelan namun langsung memandang ke arah pak Irhan. "Sebaiknya kita segera membawa dia kerumah sakit, pak Irhan butuh perawatan secepatnya." seru Adith mencoba mengangkat tubuh pak Irhan di bantu oleh Ryu dan pengawal yang sebelumnya menunjukkan mereka jalan. "Adith, pergilah! Aku akan melanjutkan mencari Ubay. Aku yakin dia masih ada disini dan butuh pertolongan secepatnya." Alisya tak ingin keluar dari sana sebelum bisa menemukan dan menyelamatkan Ubay. Jika dia ikut pergi bersama Adith, maka apa yang sudah mereka lakukan dan dapatkan akan menjadi sia-sia. "Aku akan datang secepatnya setelah selesai membawa pak Irhan. Tunggu aku dan hati-hati." meski berat untuk membiarkan Alisya menangani semua itu sendirian, Adith tidak punya pilihan lain karena tidak ada waktu lagi karena pak Irhan sudah mengalami banyak kehilangan darah. "Antar mereka dan sediakan mobil secepatnya!" perintah Alisya kepada salah seorang pengawal yang berada tak jauh dari sana. Melihat itu dia dengan cepat mengangguk kemudian meluncur mendahului Adith dan yang lainnya untuk segera mengeluarkan mobil. "Nah.. sekarang mari kita lihat siapa sebenarnya dirimu." Alisya mulai menyisir satu persatu ruangan yang belum dilewatinya yang cukup sulit baginya untuk bisa memusatkan pendengarannya karena suasana bising di setiap room yang ia lewati. "Tempat ini begitu kotor! Aku tak menyangka Adith masih bisa menangani nya, sepertinya kemampuan pengendalian indra penciumannya semakin meningkat." Alisya masih terus mencari dari satu tempat ke tempat lain namun tidak menemukan apapun. "Hai sayang, kau harusnya masuk dan temani Om yah..." seorang pria tua mabuk langsung merangkul Alisya dari belakang. Alisya tak menyadari kehadirannya karena tak merasakan aura membunuh dari dirinya. "Lepaskan!" Alisya dengan kuat mendorong pria tua dengan perut buncit yang berbau alkohol tersebut. "Ah... aku akan membayar mu berapapun kau minta, kau sangat cantik!" tambahnya lagi memberikan cubitan genit pada tangan Alisya. Alisya memalingkan wajah menepis tangan pria tua tersebut dengan kesal. Ia mencoba menahan diri namun tiba-tiba saja pintu salah satu room di belakangnya terbuka. "Eitsss... kau harus melayani kami. hahahahhaah" seorang pria tua lainnya juga langsung menarik Alisya masuk kedalam room bersamaan dengan dorongan dari pria tua yang sebelumnya. Alisya terdorong masuk kedalam room tersebut yang ternyata di dalamnya di penuhi oleh banyak pria tua lainnya dengan beberapa perempuan yang sedang asik melakukan goyangan serta layanan kepada mereka. Sebagian dari mereka terlihat mengeluarkan air mata karena tak ingin melakukannya dan sebagian lainnya mendapatkan kekerasan di tampar setiap kali mereka tidak ingin melakukannya atau malah dicekoki dengan minuman keras. Bau narkoba juga menyebar di seluruh ruangan hingga Alisya mulai merasa pusing dan mual karenanya. "Tingkah kalian benar-benar biadab. Kalian tidak bisa disebut sebagai manusia, melainkan binatang!" geram Alisya merasa marah melihat tingkah mereka yang menjijikkan. "Binatang??? hahahahaha... Sini aku perlihatkan bagaimana binatang yang sebenarnya saat memberikan kamu kenikmatan yang tiada tara." ucap pria tua setengah mabuk yang menarik Alisya sebelumnya. "Benar, kami akan memberikan mu pelayanan terbaik yang akan membuat mu ketagihan atau melayang." tambah pria tua yang sebelumnya juga telah menghentikannya. Mendengar ucapan kedua pria itu yang terus tertawa dan mulai menatap Alisya dengan menjilat lidahnya membuat Alisya langsung melayangkan pukulan pada bagian leher mereka berdua. "Ohokkkk ohooookkk... Brengsek sekarang kau takkan ku biarkan lolos lagi." ucapnya sekali lagi maju untuk menyergap Alisya. Alisya dengan kuat melayangkan tendangan berputar langsung mengenai wajah dari si pria tua yang langsung saja membuatnya oleng dan menghantam dinding. Alisya kemudian melompat dan memukul kepala pria yang satu dengan menggunakan sikunya yang sontak saja membuatnya pingsan tak bergerak. "Kyyaaaaaa....!!!!" beberapa perempuan yang masih mendapatkan kesadarannya segera berteriak kencang mengambil potongan potongan pakaiannya di lantai. Alisya bahkan sampai mematahkan tangannya dengan menekan bagian siku pria tua tersebut dengan lututnya dan memutarnya dengan kuat lalu menginjak jari-jarinya hingga retak. Mata Alisya segera menatap tajam ke arah pria-pria tua lainnya yang terlihat tertawa dan mulai berdiri untuk mendapatkan Alisya namun dengan cepat Alisya memukul perutnya dengan sangat kuat hingga ia memuntahkan isi perutnya. Tidak sampai disitu saja, Alisya kemudian menendang kepalanya menggunakan lututnya. "Keluarlah!!! kalian sudah bebas sekarang." teriak Alisya dengan lantang yang membuat mereka semua berhamburan keluar dari tempat itu meski dengan tubuh setengah telanjang. Kemarahan Alisya tak berhenti sampai disitu saja, ia bahkan sampai membuat patah tangan dan kaki mereka satu persatu hingga salah satunya ia benturkan kepalanya ke tembok. Alisya sudah melumpuhkan mereka semua dengan begitu ganas sehingga ia kemudian mulai mendobrak satu persatu pintu room yang ada pada bar itu kemudian mengeluarkan semua perempuan yang ada disana. "Siapa kau??? berani sekali." seorang pria yang ingin melayangkan pukulan pada Alisya dengan cepat tangannya di perlintir keras dipatahkannya kemudian menendang lututnya dan membanting kepalanya ke atas meja hingga pecah. "Brengsek!!! wanita Ja**ng..!" maki yang lainnya yang melompat menerjang Alisya namun dengan gampangnya Alisya menendangnya disaat ia sedang dalam keadaan melayang hingga mematahkan tulang rusuknya. Alisya menghabiskan room satu persatu dan mengeluarkan mereka semua hingga tersisa satu room saja disaat semua orang sudah menghambur keluar dari tempat itu. Beberapa pengawal yang masih belum mengetahui Alisya pun mencoba untuk menghentikannya namun Alisya membenturkan mereka satu persatu ke dinding dengan meninju pelipis mereka satu persatu hingga tumbang dengan mata yang memerah karena tekanan tinju Alisya menekan kuat pembuluh darah sekitar matanya. "Hime... maafkan aku,, " Ernanda yang datang terlambat segera menghadap kepada Alisya. Ia juga tak mengetahui kalau tempat yang dikelola oleh Gusta terdapat ruangan lain seperti ini. Alisya langsung menendang dadanya dengan keras yang membuatnya sampai jatuh tersungkur dengan keras. Ia kemudian bangkit kembali dan mencoba untuk berdiri dengan tegap seolah tak mendapatkan pukulan apapun ataupun juga merasakan sakit. "Maaf..." ucapnya sekali lagi sembari menunduk sangat rendah kepada Alisya meminta maaf. "Bersihkan kesalahanmu sekarang juga!" perintah Alisya dengan suara berat dan dingin. Alisya langsung mengeluarkan aura membunuhnya dengan sangat kuat sehingga Ernanda bergetar dengan sangat hebat. Ernanda tak pernah menyangka kalau Hime yang selama ini mereka rumorkan dari atasannya jauh melebihi bayangannya. Mereka pernah mendengar bagaimana pemimpin sebelumnya yang sangat kuat dan mampu menyatukan semua geng dengan mudah. Hime yang satu ini lebih mengerikan dan bahkan bisa ia sebut sebagai Bakemono (Monster/Iblis dalam bahasa jepang). "Baik Hime, aku akan mem... bebaskan mereka semua dan mengeluarkan mereka semua dari sini." Ernanda tergagap tak bisa berbicara dengan benar karena merasa sangat takut dengan aura intimidasi yang diberikan oleh Alisya. Alisya segera menuju ke pintu terakhir yang belum dimasukinya. Dari luar ia bisa merasakan aura membunuh yang sangat kuat sehingga Alisya yakin bahwa wanita didalam adalah Rafaela. "Selamat datang di singasana ku. Tak ku sangka aku bisa bertemu denganmu secepat ini, info yang diberikan oleh Artems ternyata begitu akurat. Anak ini benar adalah kekasihmu." tunjuknya pada Ubay yang kepalanya berada di bawah kakinya. Chapter 288 - Ubay Terbunuh Alisya mengerutkan keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh Rafaela mengenai Ubay, namun melihat kakinya yang berpijak santai di kepala Ubay sedikit membakar amarah Alisya. Ia dan Ubay memang tidak terlalu akrab, tapi tetap saja Alisya tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Rafaela kepada Ubay. "Lepaskan kakimu dari kepalanya!"Ucap Alisya dingin dengan tatapan yang sangat tajam kepada Rafaela. Alisya juga mengeluarkan auranya dengan kuat untuk mengintimidasi Rafaela. "Kenapa? apa karena dia kekasihmu sehingga kau terlihat sakit saat melihat aku memperlakukannya seperti ini?" tanya Rafaela yang sengaja ingin membuat Alisya marah dan meradang. "Kau hanya memiliki urusan dengan ku. Jadi lepaskan saja dia" bentak Alisya sekali lagi dengan penuh amarah. "Pufffttt hahahahah, kau benar-benar sayang pada laki-laki yang lemah ini?" Rafaela menendang pelan kepala Ubay sembari memandang remeh kepada Alisya. "Kau, takkan ku maafkan kau jika kau berbuat sesuatu padanya melebihi dari ini lagi." Alisya terlihat berjalan kesamping mengamati apa yang akan dilakukan oleh Rafaela. Alisya sudah memutuskan untuk secepatnya menyelamatkan Rafaela ketika melihat celahnya. Melihat ekspresi khawatir Alisya, Rafaela langsung saja menarik kepala Ubay secara perlahan-lahan sedang Alisya masih tetap memasang jarak takut jika ia salah langkah maka akan membuat Ubay terbunuh. "Benarkah?? aku penasaran bagaimana rekasimu ketika aku membunuhnya?" terang Rafaela sembari mencium wajah Ubay dengan begitu genitnya yang sedetik kemudian ia memutar leher Ubay untuk membunuhnya. Kepala Ubay di plintirnya kesamping dengan darah yang mengalir segar dari mulutnya kaku tak bergerak dan tak bersuara lagi. Melihat itu seketika Alisya meradang dan segera menerjang Rafaela dengan memegang lehernya dengan kuat serta tubuhnya menindih tubuh Rafaela dengan sangat erat. "hahahahaha,,,. kau terlalu lamban dan lemah! Kau pikir dengan kekuatanmu seperti ini mampu menghentikan ku untuk membunuhmu?" Rafaela langsung memukul tangan Alisya dan menepisnya dengan memelintir tangan Alisya. Gerakan mereka untuk saling pukul dan memelintir satu sama lain begitu cepat yang kemudian dengan satu tendangan pasti Alisya bisa mendaratkan tendangan balik dari belakangnya mengenai kepala Rafaela dengan keras. "Kau akan membayar apa yang sudah kau lakukan, aku takkan membiarkanmu begitu saja." tegas Alisya mengambil ancang-ancang bersiap begitu melihat Rafaela melemparkan Alisya dengan kaca dari meja room tersebut, Alisya langsung meluncur ke bawah yang begitu tipis mengenai dirinya yang dengan cepat ia bertumpu pada lantai dengan kedua tangannya. Alisya kemudian mengambil kepala Rafaela dan membantingnya dengan keras ke lantai. Tak tinggal diam, Rafaela memegang kuat kaki Alisya kemudian menghantamkan Alisya ke tembok kemudian ke layar monitor yang lebar hingga memecahkannya. Begitu ia akan menariknya lagi, Alisya dengan cepat menarik monitor yang sudah goyah tersebut kemudian ia angkat dan lemparkan ke kepala Rafaela yang seketika membuat pegangan Rafaela lepas dan ia oleng ke belakang setengah terduduk. "Sepertinya kau memang sedikit lebih kuat dari Ophelia, tapi kau masih bukan apa-apa bagiku. Puiiuh..." Rafaela membuang ludah yang banyak berisi darah segar. Kepalanya yang harusnya bagi orang normal akan mengeluarkan banyak darah malah terlihat biasa saja dan tak terluka sama sekali. "Melihat kalian begitu berusaha untuk membunuh ku membuatku terpikir untuk memburu kalian terlebih dahulu, terlebih atas apa yang sudah kau lakukan pada temanku." Alisya menatap tajam ke arah Rafaela yang dengan seketika tekadnya berubah menjadi seorang pemburu yang sedang berhadapan dengan mangsanya. Rafaela melayangkan tendangan menengah kepada Alisya yang di balas juga dengan tendangan. Kaki mereka bermain begitu cepat hingga menghancurkan sofa, meja, fas bunga dan beberapa barang yang berada di dalam room tersebut. Sulit Alisya bertempur dengan Rafaela disaat tubuh Ubay masih berada disana dimana ia harus mendapatkan beberapa pukulan ketika ia berusaha menghindari tubuh Ubay sedang Rafaela tak perduli akan apapun. "Aku tak hanya akan membunuh kekasihmu, aku juga akan membunuh siapapun yang berada di dekatmu, dan takkan ku biarkan satupun tersisa hingga kau merasakan putus asa." terang Rafaela terus memberikan kata-kata provokasi kepada Alisya. Tekhnik ini biasa mereka gunakan untuk mengacaukan emosi seseorang yang dengan demikian seseorang akan kehilangan fokus dan mentalnya menjadi kacau sehingga pola gerakan maupun serangannya tidak lagi teratur dan dapat dibaca dengan mudah bahkan sangat kacau. "Hhahaha, kau pikir kau bisa? sehelai rambut mereka pun takkan aku biarkan kau sentuh. Hari ini aku sudah kehilangan satu orang lagi dihadapanku, tapi berikutnya tak kan pernah aku biarkan seseorang menyentuh hidupku lagi." Alisya mengeluarkan energi nano yang cukup besar sampai membuat beberapa pengawal yang berada disana mengalami kehilangan kesadaran. "Alii...Alisya..." teriak Adith berusaha masuk kedalam room tertekan dengan energi nano yang dikeluarkan oleh Alisya. Energi kali ini lebih kuat dibanding saat ia mengeluarkan nya terakhir kali kepada Arya. "Adith, kenapa kau kemari?" wajah Alisya seketika berubah serius begitu melihat Adith disana. Meski ia tahu kalau Adith akan menyusulnya, ia tetap tak menyangka kalau Adith akan datang secepat itu. "Sepertinya dia juga merupakan salah satu orang yang penting bagimu!" Hardik Rafaela langsung menerjang ke arah Adith yang dengan cepat membuat Alisya melompat tinggi melayangkan tendangan kepada Rafaela yang langsung mengenai bagian perutnya. "Sudah ku bilang takkan ku biarkan kau menyentuh mereka sehelai rambut pun!!!" Alisya melirik ke arah Rafaela yang langsung menembus dinding room disebelahnya karena kekuatan Alisya saat menendangnya. Rafaela sampai memuntahkan asam lambungnya karena tendangan Alisya tepat mengenai ulu hatinya yang di ikuti dengan aliran darah segar. Energi nano yang di keluarkan Alisya semakin besar yang membuat Rafaela menjadi takut dan gemetar karena nya. "Kenapa kau bisa sekuat itu? Organisasi tidak mengatakan kalau kau sekuat ini, ini tidak adil. Kau bukan hanya kuat, tapi kau adalah monster. Dan dia, bagaimana bisa dia masih berdiri dengan tekanan kuat energi nano yang kau keluarkan? apa-apan dia itu? ohookkk" Rafaela berusaha bangkit dari tempatnya namun terjatuh kembali tak bisa menopang tubuhnya. "Alisya, sepertinya dia sudah tidak bisa bangkit lagi. Aku sudah menghubungi kantor polisi dan mereka sudah berada dalam perjalanan sekarang." terang Adith menenangkan Alisya untuk tidak melanjutkan aksinya kepada Rafaela yang sudah terlihat tak berdaya. Alisya mengangguk pelan namun matanya sarat akan kesedihan yang tiada tara. Adith awalnya tak paham akan ekspresi wajah Alisya, namun begitu melihat tubuh Ubay yang terlihat mengenaskan membuatnya langsung memeluk Alisya dengan erat. "Aku tak bisa menyelamatkan nya lagi. Aku memiliki cukup kekuatan tapi tetap saja ini tak berguna karena aku tak bisa menyelamatkan dirinya. Aku kalah Dith." Alisya menundukkan kepalanya semakin dalam ke pelukan Adith. "Jadi orang yang aku bunuh itu bukanlah kekasihmu? sepertinya aku sudah salah paham. Kalian berdua adalah pasangan monster, aku harus membunuh salah seorang dari kalian!" Rafaela mengambil besi yang berasal dari reruntuhan bangunan tersebut dan melemparkannya ke arah Adith dan Alisya. "Alisya!!!" Adith membalikkan badan untuk melindungi Alisya ketika melihat Rafaela mengambil batang besi pendek dari reruntuhan yang kemudian ia arahkan kepada mereka berdua. Alisya tak membiarkan Adith melindunginya lagi sehingga dengan cepat ia menahan besi yang melayang tersebut menggunakan tangannya sehingga besi tersebut menembus tangan Alisya. Tepisan tangan Alisya menyebabkan besi itu hanya menggores leher Adith dan melewati rambut Alisya. Melihat leher Adith menguncurkan darah segar, Alisya langsung meledak dan dalam waktu sekejab ia mengambil pecahan kaca yang tak jauh dari sana menerjang ke arah Rafaela dan mengiris lehernya. Alisya juga mencabut besi yang ada di tangannya menusukkan ke leher Rafaela yang dengan satu hentakkan ia memutuskan kepala Rafaela dengan sangat mudah. Darah Rafaela menguncur deras membasahi tubuh dan wajah Alisya. Adith membelalakkan matanya terkejut melihat Alisya yang penuh dengan amarah yang sesaat kemudian ia jatuh dengan kaki melemas karena tak percaya kalau Alisya akan membunuh Rafaela. Chapter 289 - Alisya Melarikan Diri Adith terjatuh bukan merasa takut kepada apa yang dilakukan Alisya, melainkan menyayangkan apa yang di lakukan Alisya. Adith tidak bisa menyalahkan Alisya karena membunuh Rafaela, hanya saja Adith tak ingin Alisya kehilangan hati dan jati dirinya. "Adith, kau baik-baik saja???" Zein yang datang bersama Ryu langsung menghambur masuk kedalam room untuk memastikan keadaan Adith. Zein masih belum melihat Alisya yang sedang memegang kepala Rafaela dengan tatapan tajam yang terengah-engah karena ruangan yang sudah hancur berantakan dan cahaya yang kurang. Tidak hanya Zein, Riyan dan juga Karin berada didekat sana setelah memberikan kepengawasan dari pak Irhan dan Gery kepada Wali kelas IIS dan Ibu Vivian. "Apa kau yakin mereka akan baik-baik saja? aku tidak tenang jika harus berada di resort ini dan tak melakukan apapun." seru Adora merasa frustasi karena dirinya harus tinggal di resort saat teman-temannya sedang berjuang keras untuk menyelamatkan teman-temannya. "Kau harus tenang, kita berdoa yang terbaik bagi mereka semua. Hal yang dapat kita lakukan saat ini adalah membuat diri kita tetap aman agar tidak membebani mereka." tegas Aurelia mencoba menenangkan Adora dan yang lainnya. "Aurelia benar, saat ini kita sedang menghadapi krisis yang mengharuskan kita untuk tetap bersikap tenang dan gegabah. Jika kita berada disana, kita hanya akan menghalangi kerja mereka." tambah Beni lagi memberikan Adora air putih agar ia bisa kembali tenang. "Tapi ibu Vivian dan Wali kelas dari IIS sudah berada disana karena pak Irhan dan Gery terluka parah. Dan jika kita hanya terdiam disini sja, bukankah itu tidak mencerminkan bahwa kita teman yang baik?" Gani masih belum bisa menerima pola pikir Aurelia dan Beni. "Meski begitu,. ibu Vivian ditemani oleh Rinto dan Yogi disana. Jadi kita tidak perlu khawatir, tapi jika kalian ingin membantu meski sedikit cobalah untuk menghubungi orang tua Gery dan keluarga pak Irhan mengenai kondisi mereka." terang Beni mencoba menjadi orang yang tenang diantara mereka. "Saat ini hal yang paling benar harus kita lakukan adalah percaya pada mereka. Ingat saat orang lain mulai tak percaya kepada kita, maka ia akan semakin kehilangan. Kepercayaan dari seorang sahabat akan sangat berarti." jelas Gina ikut memberikan pengertian. "Benar, ketika kita saling mempercayai maka masalah apapun dapat kita selesaikan bersama." tegas Aurelia memeluk Adora erat agar mereka tetap memberikan kepercayaan penuh kepada teman-temannya sehingga mereka akan merasakan bangganya ketika diberikan kepercayaan penuh. Usaha seseorang akan menjadi semakin kuat ketika mereka memiliki seseorang yang mempercayai mereka. "Nona..." panggil Ryu kepada Alisya saat ia menyadari bahwa orang yang berdiri tak jauh dari mereka adalah Alisya. Beberapa lampu yang berada disana telah pecah karena pertempuran mereka namun dari percikkan dan cahaya yang minim dari gedung sebelahnya bisa dipastikan Ryu kalau itu adalah Alisya. "Alisya!!!" teriak Karin penuh rasa khawatir saat melihat tubuh Alisya yang di penuhi oleh darah sedang Riyan terdiam terpaku dan ketakutan. Alisya mengangkat kepalanya setelah cukup sadarkan diri dari emosinya, ia melihat ke arah Riyan yang langsung memundurkan langkahnya merasa ngeri dengan apa yang dilihatnya. "Aa... aku,, aku.." Alisya tergagap saat menyadari tangannya masih memegang kepala Rafaela dengan sangat erat. "Alisya, tenanglah... ini bukan salahmu!" seru Karin mencoba menenangkan Alisya dan mendekatinya secara perlahan-lahan. Melihat ekspresi teman-temannya terlebih lagi saat ia melihat ekspresi wajah Adith yang jatuh melemas membuat Alisya menjatuhkan kepala Rafaela dan secepat kita menghilang dari sana. Alisya melarikan diri karena berpikir bahwa teman-temannya akan sangat takut padanya dan membencinya atas apa yang baru saja mereka lihat. "Alisya.. tunggu!!!!" Adith berusaha bangkit dengan cepat untuk mengejar Alisya namun ia tak bisa mengejarnya. "Aaaarggghhhh!!!!" Adith memukul kepalanya dan meninju dinding dengan sangat kuat. Ia menyesal karena menunjukkan ekspresi kagetnya kepada Alisya yang membunuh Rafaela karena melindunginya. "Bagaimana? kau melihat dimana ia pergi?" tanya Karin yang terengah-engah mengejar Adith hingga ke jalan utama. Adith hanya menggelengkan kepalanya pelan terduduk di trotoar menggaruk kepalanya penuh dengan frustasi. "Adith, aku tak menyalahkan kamu jika kamu takut dan terkejut dengan apa yang baru saja Alisya lakukan, karena kami pun merasakan hal yang sama." Karin berdiri menghadap ke arah Adith untuk bisa berbicara dengannya. "Tetapi bagi Alisya kau adalah segalanya. Ia bisa melakukan apapun demi kamu namun juga bisa menjadi sangat rapuh karena mu. Apa yang kau lakukan tadi dengan jatuh terkejut di hadapan Alisya akan membuat Alisya berpikir bahwa ia adalah seorang monster pembunuh yang akan membuat penilaian mu kepadanya berubah." tambah Karin lagi. "Kau tau kan? dia membunuh Rafaela demi kita semua? jika dia tidak melakukan itu, maka akan semakin banyak dari kita yang bernasib seperti Ubay." lanjut Karin lagi terus memberikan pengertian kepada Adith. "Aku tau, aku minta maaf karena tidak bisa mengendalikan diri dengan benar. Aku..." Adith terhenti saat melihat Karan dari jauh datang menghampirinya. Karan melangkah dengan pasti lalu sedetik kemudian sebuah tinju yang cukup kuat melayang di wajah Adith dengan begitu keras sehingga Adith sedikit oleng kebelakang. "Kak Karan!!!" teriak Karin langsung menghentikan Karan untuk melakukan penyerangannya kepada Adith lagi. "Alisya harus membunuh seseorang itu karena kau, dan apa yang kau lakukan? Alisya bahkan sampai melarikan diri karena itu, apa kau tau bagaimana perasaan tertekan Alisya saat ini saat ia melihat ekspresi mu itu?" Karan terus menghujam Adith dengan kata-kata nya karena sangat marah. Karan yang selama ini bersama Alisya sangat paham bagaimana cara berpikir Alisya sehingga sekian persen juga ia bisa merasakan apa yang mungkin Alisya rasakan. Hal yang sama juga di rasakan oleh Karin. "Kak Karan, sudah lah. Adith juga sudah menyadari apa yang sudah ia lakukan." jelas Karin mencoba menenangkan Karan yang penuh amarah. "Aku takkan pernah memaafkan mu karena hal ini, jika kau tak bisa melindunginya dan mendukungnya, lepaskan saja dia dan jangan pernah lagi muncul di hadapannya." bentak Karan kemudian berlalu pergi setelah menendang angin dengan sangat kuat karena kesal. Karan kembali ke tempat dimana ambulance datang menaikkan tubuh Ubay yang sudah terbujur kaku. Karan datang setelah mendapatkan telpon dari Karin yang membutuhkan pertolongan Karan jika terjadi sesuatu kepada Alisya yang sudah menyuntik dirinya sendiri dengan 5 suntikan. "Renungilah apa yang sudah kau lakukan Dith" ucap Karin singkat kemudian berlalu pergi meninggalkan Adith sendirian untuk memikirkan semua yang sudah ia lakukan kepada Alisya. Adith terdiam terpaku di tempatnya. Chapter 290 - Kepercayaan Alisya yang terus berlari tak sadar sudah berapa jauh ia berlari sampai tak sengaja sebuah truk besar hampir menabraknya, namun secepat kilat ia menghindar dari sana. Alisya langsung jatuh terguling-guling hingga membentur trotoar jalan raya. Alisya kembali bangkit dari sana tak memperdulikan teriakan dari supir truk yang sedang memarahi dan memakinya dengan kasar. Alisya berjalan seperti zombie dengan tatapan kosong yang terus memikirkan bagaimana ekspresi Adith sebelumnya. "Alisya... Alisya...!!!" Karan terus memanggil Alisya setelah turun dari mobil sportnya. Karan yang menyusuri jalan tak sengaja melihat Alisya yang jatuh berguling saat menghindari tabrakan dari truk. Karan langsung berlari menghampiri Alisya dan memeluknya dengan sangat erat. Hatinya sangat sakit saat melihat keadaan Alisya yang tubuhnya penuh dilumuri oleh darah, ditambah ia bahkan tak merasakan sakit pada kepalanya yang terbentur di trotoar jalan saat terjatuh tadi. Alisya hanya menatap nanar tanpa ekspresi. Darah segar terus mengalir dari kepalanya membasahi tubuhnya dan tubuh Karan. Alisya mengangkat wajahnya dan mengenali siapa yang sedang memeluknya dengan erat tersebut. "Kak Karan, aku ingin pulang!" suara Alisya lirih dan serak. Ucapannya sangat pelan sampai karan hampir tak bisa mendengar karena ributnya kendaraan yang lalu lalang. "Iya, aku akan membawamu pulang kerumahmu sekarang." tegas Karan cepat mengiyakan keinginan Alisya. "umm,, tidak! Jangan rumahku!" Alisya menggeleng pelan tak ingin pulang kerumahnya. "Kalau begitu kerumah ku, aku punya apartemen sendiri. Kau mau?" Karan memegang pipi Alisya lembut bertanya dengan tatapan yang sangat khawatir. Alisya mengangguk pelan dengan wajah yang sangat dingin. Karan yang tak pernah panik ketika melihat darah dari orang lain tersebut melihat Alisya yang penuh darah membuatnya seketika tak bisa menyembunyikan ekspresinya dan langsung menggendong Alisya menuju mobilnya. Ia menurunkan Alisya dengan sangat lembut dan langsung merobek baju kemejanya untuk membalut kepala Alisya terlebih dahulu menghentikan pendarahan kepalanya. Memberikan baju Jasnya kepada Alisya yang tubuhnya di penuhi oleh darah kemudian memasang sabuk pengamannya dengan erat. Alisya hanya membuang wajah kesamping jendela masih tanpa ekspresi sembari menutup matanya dengan sangat dalam. Karan menarik nafas kuat berusaha tenang kemudian memacu mobilnya kencang. Karan segera menuju ke apartemennya dengan sangat cepat agar bisa memberikan perawatan kepada luka Alisya. Di sisi lain, Adith masih terus berlari kesana kemari mencari Alisya dengan terus meneriakkan nama Alisya dengan penuh frustasi. Karin dan yang lainnya langsung melakukan pencarian kepada Alisya karena merasa sangat khawatir, sedang pada tempat kejadian Ernanda harus memberikan keterangan kepada pihak kepolisian dengan terus menyembunyikan keadaan sebenarnya atau tak membeberkan akan Alisya dan teman-temannya. Sedangkan Ernanda, ia hanya menjelaskan bahwa itu adalah ulah dari Rafaela dan menyerahkan diri karena sudah membunuh Rafaela yang merupakan penjahat yang menghancurkan tempat mereka. "Bagaimana? kau menemukan Alisya?" tanya Karin setelah kembali berkumpul di simpang jalan. "Tidak!" jawab Ryu dengan ekspresi wajah sedih. Ryu sangat khawatir dengan keadaan Alisya. "Aku juga tidak menemukan Adith!" seru Riyan yang datang bersama Zein. "Adith pasti takkan berhenti sampai dia menemukan keberadaan Alisya. Untuk sekarang sebaiknya kita kembali dulu ke resort agar teman-teman yang lain juga tak khawatir." jelas Karin mengingat teman-temannya yang terputus dengan alat komunikasi milik mereka. "Benar, jika kita berlama-lama disini aku takut mereka akan semakin panik. Riyan ayo kita jemput mereka di penginapan kemudian kita bertemu di rumah sakit." jelasnya kepada Riyan kemudian memandang Karin agar ia bisa melanjutkan pencariannya bersama Adith. "Aku serahkan semuanya kepada kalian." terang Karin sembari berlalu pergi bersama Ryu untuk sekali lagi melakukan pencarian. "Jangan matikan alat komunikasi kalian" teriak Zein kepada Karin yang hampir menjauh. Karin hanya menjawab dengan membentuk simbol Oke di tangannya. Sedang Ryu menunduk sebagai ungkapan terimakasih atas kerja mereka berdua. "Aku harap Alisya tidak salah paham kepada kita dan juga..." Zein menatap Riyan merasa bersalah karena datang di saat yang tidak tepat sebelumnya. "Kepada Adith. Aku juga merasa bersalah sudah sempat takut kepada Alisya padahal dia sudah bertaruh nyawa sebelumnya demi keselamatan kita semua. Jika aku menjadi dia pun, aku akan melakukan hal yang sama." Riyan menunduk dalam. Selain Adith, Riyan lah yang paling merasa bersalah karena sikapnya kepada Alisya. "Sudahlah, itu sudah berlalu. Lagi pula reaksi yang kamu tunjukkan adalah reaksi orang normal pada umumnya ketika melihat kejadian mengerikan seperti tadi." terang Zein memberikan pengertian kepada Riyan yang terlihat sangat bersedih. "Tapi jika bukan karena aku juga, Alisya tentu takkan melarikan diri seperti ini." Riyan terus mengingat wajah Alisya saat mencoba menjelaskan kepada mereka akan apa yang sudah ia lakukan. "Kalau begitu, mulai saat ini kita harus belajar dari Ryu dan Karin. Mereka berdua begitu kuat dan solid kepada Alisya. Mereka benar-benar mendukung setiap hal yang dilakukan oleh Alisya karena mereka tahu seperti apa Alisya di mata mereka. Sebuah kepercayaan yang hanya bisa diberikan oleh orang-orang yang berjiwa kuat!" tegas Zein memandang ke arah Karin dan Ryu yang sudah menghilang. "Mereka berdua sungguh luar biasa. Begitu pula dengan kak Karan, sepertinya mereka sudah tahu kalau itu akan terjadi sehingga mereka sama sekali tak takut ataupun terkejut. Mereka menujukkan kesetiaan mereka dengan sangat baik." tambah Riyan lagi mengagumi tiga orang yang berada di sekitar Alisya tersebut. Zein dan Riyan berjalan menuju bus dan segera pergi dari sana ke tempat penginapan untuk menjemput teman-temannya. Mereka berdua larut dalam pikiran mereka masing-masing. Tidak butuh lama untuk Karan sampai di parkiran bawah tanah apartemennya. Setelah memarkirkan mobilnya, Karan menatap Alisya yang sudah setengah tertidur sehingga Karan turun terlebih dahulu dan membuka pintu mobil secara perlahan-lahan agar tidak membangunkan Alisya. Melepaskan sabuk pengamannya dengan sangat hati-hati kemudian membopongnya masuk kedalam lift hingga menuju ke kamarnya dan membaringkan Alisya ke tempat tidurnya dengan sangat lembut. "Halo, Alisya berada di apartemen ku." Karan menelpon Karin sembari mengambil beberapa alat dan bahan yang bisa ia gunakan untuk mengobati luka Alisya. Mendapatkan kabar dari Karan, Karin menjadi sangat lega begitupula dengan Ryu. Karin juga langsung menghubungi Adith untuk memberitahukan keberadaan Alisya agar ia berhenti mencarinya. "Maafkan Aku Alisya!!! Tidak seharusnya aku..." Adith merebahkan diri di rumput taman tepat setelah Karin selesai menelponnya. Hati Adith sakit dan campur aduk saat mendengar bahwa Alisya sedang berada di apartemen Karan saat ini. Dia yang seharusnya bisa memberikan dukungan penuh kepada Alisya malah membuat Alisya semakin jatuh dalam keterpurukan karenanya. Chapter 291 - Godaan Roti Sobek Adith terbaring cukup lama di taman sampai Yogi sendiri yang menjemput Adith setelah meminjam mobil dari keluarga Gery dan Ubay yang datang. Adith terbaring dengan tangan yang ia letakkan pada bagian matanya untuk menutupi wajahnya yang saat itu sedang menangis. Bahkan saat Yogi datang pun Adith masih larut dalam tangisnya. "Minta maaflah dengan tulus, hari ini dan seterusnya sampai kau kembali mendapatkan dirinya. Hari ini kita kalah akan kenyataan, tapi ini bisa menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga." terang Yogi memberikan dukungan kepada Adith. "Apa kau tau bagaimana marahnya aku saat aku tak berada di samping kalian tadi? Aku tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya Alisya saat ia harus melihat temannya dan orang lain mati dihadapannya." Yogi menelan ludah dengan susah payah. Hatinya sakit jika membayangkan berada di posisi Alisya. "Terlebih jika ia harus kehilanganmu, orang yang sangat dia cintai. Alisya terpaksa melakukan ini semua demi kita, tapi bukan berarti reaksi mu adalah salah. Bukan hanya kamu, Ryu dan Karin juga merasakan takut saat itu." Yogi terus mencoba untuk menenangkan Adith dengan duduk disampingnya memandang langit yang mulai menampakkan sinar mentari paginya. "Tapi karena mereka sudah terbiasa melihat pembunuhan sebelumnya sehingga mereka jadi terlatih untuk bisa menyembunyikan rasa terkejut dan takut mereka." tambahnya lagi kembali memandang Adith dalam dengan tatapan sendu. "Aku tak bisa berbuat apapun demi Alisya, setiap saat dan setiap waktu dia selalu terus melindungi ku. Bahkan saat dia harus membunuh orang lain demi melindungiku pun aku malah ..." suara Adith serak dengan air mata yang terus mengalir. "Apa kau tau kenapa setelah melihatmu Alisya pergi?" pancing Yogi kepada Adith untuk sejenak memberikan perhatian kepadanya. Adith membuka lengannya dengan sedikit melihat ke arah Yogi. Tatapannya masih dipenuhi dengan kesedihan yang sangat mendalam. "Itu karena dia tidak ingin kau melihatnya seperti itu, dia mengira kau akan takut dan membencinya karena kau sangat berarti baginya. Dan disisi lain, dia sangat membutuhkan mu saat ini. Datangi dia dan tunjukkan ketulusan dan kekuatan perasaan kalian berdua." Yogi menepuk pundak Adith pelan memberikan semangat kepada dia. Adith dengan cepat bangkit dari tempatnya terbaring. Adith baru sadar bahwa jika bagi Adith, Alisya adalah segalanya. Maka bagi Alisya juga Adith adalah segalanya. Perasaan kuat yang saling terhubung satu sama lain sehingga Adith juga merasakan keinginan yang sangat kuat untuk berada di sisi Alisya saat itu. Adith segera bangkit dari tempat duduknya menuju ke mobil. "Kau mau kemana???" Teriak Yogi yang dengan cepat Yogi harus membuang diri masuk karena hampir ketinggalan oleh Adith. "Menemui Alisya..." Jawab Adith santai langsung memutar balik kendaraan yang di pakai nya dengan satu putaran penuh. "Semangat yang bagus, tapi tolong jangan lupakan sahabatmu!" keluh Yogi dengan kaki kiri yang masih menggantung di bawah yang membuat nya harus susah payah mengangkat kaki dan tubuhnya agar bisa duduk dengan baik karena Adith yang langsung memacu kencang mobil tersebut. "Terimakasih, berkatmu aku jadi tersadar!" senyum Adith kepada Yogi yang masih berusaha memasang sabuk pengamannya dengan susah payah karena Adith terlalu laju memacu mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi. "Kau bisa membunuh ku kampret!!!" maki Yogi setelah berhasil memasang sabuk pengamannya dan berpegang erat pada pegangan mobil. Adith hanya tersenyum dan membelah jalanan pagi hari itu karena hari minggu yang membuat jalanan terlihat lengang. Dari kejauhan sang mentari mulai menampakkan kuasanya menyinari setiap sudut belahan bumi dengan tersenyum penuh bahagia. "Habislah gelap terbitlah terang!" begitulah suara radio yang terdengar dari balik radio mobil yang mereka pakai. **** Karan kembali masuk setelah mengambil beberapa peralatan yang ingin ia gunakan untuk membersihkan luka Alisya dan mengobatinya. Karan memperlakukan Alisya dengan begitu lembut agar tidak membangunkannya. "Ummhhh,,, hhh hhh hhh" Alisya yang tertidur di ranjang Karan terlihat sangat gusar dan sedang bermimpi buruk. Karan yang baru saja selesai membalut kepala Alisya dengan sangat hati-hati tak tahu harus bagaimana. Ia sudah mencoba menggenggam tangan Alisya, tapi tetap saja ia terlihat tidak tenang dan sangat gusar. Setelah dua jam berlalu, Alisya mulai terlihat sedikit tenang dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya. Karan juga tidak bisa berbuat lebih dengan mengganti pakaian Alisya sehingga ia terpaksa membiarkan Alisya seperti itu hanya dengan membuka jacket yang diberikan Adith kepada Alisya sebelumnya. Karan menatap Alisya dengan penuh rasa khawatir yang tanpa ia sadari, secara perlahan-lahan ia mendekati wajah Alisya dan ingin mencium keningnya. "Adith.. Aa.. Adith!" panggil Alisya dalam mimpinya dengan membalikkan kepalanya ke arah Karan. Karan langsung menarik kepalanya dengan cepat sebelum bibirnya menyentuh dahi Alisya begitu mendengar nama Adith disebutkan oleh bibir mungil Alisya. "Bahkan saat kau seperti ini pun, nama Adith lah yang terus kau ucapkan!" gumam Karan membelai rambut Alisya dengan hangat. Karan paham bahwa bagi Alisya saat ini dia tidak lebih dari seorang kakak saja. Tak ada lagi tempat spesial di hati Alisya untuknya selain seorang kakak. Karan keluar dari kamarnya menutup pintu secara perlahan-lahan dan membersihkan dirinya dari darah yang mengalir deras dari kepala Alisya. Karan memukul keras dinding kamar mandinya saat mengingat bagaimana Alisya terluka dan menyebut nama Adith dalam tidurnya. Setelah merasa cukup, ia keluar dari kamar mandinya melihat Alisya sedang berdiri mengambil air minum. "Kau sudah bangun? Bagaimana dengan luka di kepalamu?" tanya Karan mendekati Alisya dari belakang. "Luka?? Kepalaku terluka? hmmm... sepertinya sudah sembuh. Liat?" Alisya langsung membuka perban di kepalanya menunjukkan nya kepada Karan. "Ehhh?? secepat itu?" tanya Karan kaget dengan cepat menghampiri Alisya untuk memastikan luka di kepalanya. "Emang aku luka? kok aku nggak ingat sih kalau aku luka. Tapi iya juga sih, pakaianku sedikit ada percikan darahnya." tanya Alisya memandang Karan bingung yang sedang memperhatikan kepalanya dalam jarak yang sangat dekat. "Kau benar, lukanya sudah sembuh!" jelas Karan membuka rambutnya yang menutup sebagian dari pelipisnya. "Sudah ku bilang,, emmm... kak, aku bisa jatuh pingsan kalau kau seperti ini." Aroma tubuh Karan yang baru selesai mandi langsung menyapu hidung Alisya. Alisya baru sadar kalau karan hanya memakai handuk sepinggang saja saat ia menundukkan kepalanya melihat dadanya yang bidang dan perutnya yang dipenuhi oleh kotak-kotak. Alisya langsung mengalihkan pandangannya dengan cepat sembari menelan ludah dengan susah payah. "Ah... maaf, aku lupa kalau hanya memakai handuk." Karan langsung berlari masuk kedalam kamarnya untuk mengenakan pakaian. "Godaan Roti sobek di pagi hari." gumam Alisya saat melihat Karan yang sudah memasuki kamarnya. Alisya langsung berkeliling melihat apartemen Karan yang berada di lantai yang cukup tinggi sehingga begitu ia membuka horden, ia bisa melihat semua pemandangan Jakarta di pagi hari. Sebagian kabut masih menutupi langit-langit pada beberapa gedung yang cukup tinggi. "Kau ingin makan apa? biar aku siapkan!" Karan keluar dengan kemeja putih dan celana kain berwarna hitam yang membuatnya terlihat sangat tampan dan segar. "Bagaimana aku bisa berada di apartemen kak Karan? kak Karan menculik ku sewaktu aku tidur?" tanya Alisya dengan mengikuti Karan yang sedang menuju ke meja dapurnya. "Kau mau makan apa?" tanya Karan sekali lagi tanpa memperdulikan pertanyaan Alisya. Ia dengan cepat membuka kulkasnya untuk melihat bahan-bahan yang bisa ia gunakan untuk membuat masakan keinginan Alisya. "Aku nggak mau makan. Aku mau pulang sekarang, nenek pasti sedang mencari ku sekarang." Alisya segera berbalik badan berjalan meninggalkan Karan di dapur. "Alisya, aku tau kau mengingat semuanya. Kau tak perlu lagi menyembunyikan perasaanmu kepada kami, karena kami tau bahwa selama ini kami selalu mengingat setiap kejadian mengerikan yang selama ini kau alami." langkah Alisya langsung terhenti begitu mendengar ucapan Karan. Alisya terdiam beberapa saat tak tahu harus bagaimana. Chapter 292 - Kelemahan dan Kemampuan "Karin, tolong kirimkan aku Maps untuk apartemen Karan." pinta Adith begitu sambungan telpon mereka terhubung. "Bisakah kau tidak menelpon saat sedang mengemudikan mobil? Ini bukan mobil milikku jadi ku mohon lemah lembutlah!" ucap Yogi setengah berteriak kepada Adith begitu panggilan mereka selesai. "Maafkan aku, tapi aku tidak punya waktu lagi." terang Adith sembari menaikkan lagi kecepatannya. Tidak butuh waktu lama hingga Adith dan Yogi sampai di depan apartemen Karan dan tak disangka Adith kalau Karan sudah berada di depan gedung berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantongnya. "Uweeeekkk!!!" Yogi langsung menghambur keluar memuntahkan semua isi perutnya karena Adith membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Adith turun dari mobil menghampiri Karan dengan tatapan bingung. Ia berpikir bahwa Karin mungkin memberitahu Karan akan kedatangannya dan sedang menunggunya untuk menghalanginya. "Halo??? oh... oke, baiklah. Aku akan kembali sekarang!" Yogi kembali menutup telponnya dengan nafas yang berat. "Ada apa?" Adith bertanya kepada Karan melihat Yogi yang terburu-buru kembali masuk kedalam mobil. "Ubay akan di bawa ke rumah orang tuanya setelah di lakukan fisum dan otopsi. Kak Karan, aku serahkan pria yang sedang jatuh cinta itu padamu." ucap Yogi menutup jendela kaca mobil langsung memacu mobil tersebut pergi dari sana. "Dimana Alisya? Bagaimana keadaanya?" tanya Adith begitu melihat Yogi sudah pergi dari sana. Karan tak menjawab dan hanya menunjuk ke arah jalan tempat dimana menjadi pintu keluar parkiran bawah tanah apartemennya. Sebuah mobil sport milik Karan keluar dari sana dengan begitu kencang. Bisa Adith lihat kalau itu adalah Alisya. Alisya juga tak mengira kalau Adith akan berada disana saat keluar dari apartemen Karan. "Alisyaa... Alisya..... Dia bisa mengemudikan mobil?" tanya Adith takjub tak tahu kalau Alisya bisa mengemudikan mobil sebelumnya. Adith terengah-engah kembali ke tempat Karan setelah tak berhasil mengejar Alisya. "Dia tidak ingin aku mengantarnya, untuk itu terpaksa aku memberinya mobil." jelas Karan menatap Adith dingin dan ekspresi yang datar. "Terimakasih karena sudah menemani Alisya, aku pamit sekarang." Adith langsung berbalik badan melihat ke kiri dan ke kanan mencari taksi yang mungkin lewat disekitar sana. "Adith, masuklah!" panggil Karan memimpin jalan masuk kedalam gedung apartemennya. Awalnya ia ingin mengajaknya ngobrol di lobi apartemen, namun melihat keadaan yang ramai di hari minggu membuatnya langsung mengajak Adith naik ke atas menuju kamarnya. Adith segera masuk kedalam kamarnya mengikuti Karan kemudian ia duduk di sofa melihat bekas balutan yang terlihat sedikit ada percikan darah namun jiga terlihat sedikit bersih di sekitarnya. "Itu balutan kepala Alisya yang semalam hampir tertabrak truk namun bisa menyelamatkan diri dan kepalanya terbentur di trotoar jalan." jelas Karan sembari membawakan Adith minuman hangat. "Bagaimana keadaanya?" tanya Adith menggenggam erat balutan kepala Alisya tersebut. "Kau tentu sudah tau meski kau tak bertanya lagi." Karan merasa yakin kalau Adith mungkin sudah mengetahui banyak hal tentang tubuh Alisya sebenarnya. "Dia bisa sembuh dengan mudah dan hanya menyisakan bekas lukanya saja." jawab Adith pelan menatap Karan sendu. "Meski begitu, Alisya tetap saja masih merasakan sakit setiap kali ia mendapatkan luka." jelas Karan menyeruput minumannya. "Apa yang ingin kau katakan padaku dengan membawaku kesini? Aku harus bertemu Alisya sekarang." Adith sudah tidak tahan lagi karena sangat ingin bertemu dengan Alisya cepatnya. "Sebelum kau pergi, ada beberapa hal yang harus kau ketahui selain dari apa yang sudah kau ketahui sebelumnya." Karan meletakkan cangkirnya memulai pembicaraan dengan tatapan serius kepada Adith. "Aku takkan meminta maaf kepadamu atas apa yang aku lakukan padamu semalam karena kamu pantas mendapatkan hal tersebut. Tapi diatas semua itu, reaksi mu memang sangatlah normal. Dan aku bisa memaklumi nya." Karan menatap dalam ke arah Adith yang berikutnya ia layangkan pandangan nya ke jendela kaca apartemen miliknya. "Aku tau!" ucap Adith singkat bisa memaklumi sikap Karan yang sudah meninjunya dengan cukup keras semalam. "Tubuh dan emosi Alisya sekarang memiliki perubahan yang sangat drastis sehingga setiap kali mengalami luka, dia akan sembuh dengan mudah. Hal ini akan sangat berbahaya jika di ketahui oleh organisasi, termasuk kemampuan milikmu." Karan menunjuk kepada kemampuan hidung Adith yang sangat tajam serta ketahanannya dalam melawan tekanan energi nano. "Apa Alisya yang memberitahukan dirimu mengenai semua itu?" tanya Adith karena seingatnya hanya Alisya saja yang mengetahui akan ketajaman Indra penciumannya. Semua orang yang mengenalnya mengira kalau Adith hanya tidak suka dan bahkan membenci aroma parfum yang terlalu menyengat. Karan mengangguk pelan mengingat Alisya yang menceritakan semuanya kepada Karan sesaat sebelum ia akhirnya memaksa pulang tanpa di antar oleh Karan karena ingin sendiri. "Untuk saat ini, kemampuan kalian masih belum di ketahui karena Alisya selalu berhasil membunuh mereka sehingga beberapa informasi mengenai dirinya ataupun dirimu sampai ke organisasi." terang Karan terus memberikan penjelasan kepada Adith. "Tapi kalian harus berhati-hati sebab saat ini Organisasi sudah melakukan perburuan kepada Alisya sehingga sulit baginya untuk berada disekitar mu saat ini. Karena kau bisa saja dalam keadaan berbahaya sewaktu-waktu sehingga Alisya memutuskan untuk pergi dari kehidupanmu." tambah Karan lagi yang langsung membuat Adith berdiri dari tempat duduknya karena terkejut. "Apa??? aku harus segera menghentikannya, Alisya tidak bisa menghilang dari hadapanku lagi." Adith dengan cepat berbalik badan ingin meninggalkan apartemen Karan. "Kalau begitu jadilah kuat dan lindungi dia!!!!" bentak Karan bangkit dari tempat duduknya. "Yang aku maksudkan adalah bukan kau harus menjadi seperti Alisya, tetapi setidaknya kau bisa melalui semua nya bersama Alisya. Dia sangat membutuhkan dirimu disisinya Dith, kau berperan dalam dua hal baginya." ucapan Karan membuat Adith mengerutkan keningnya tak yakin akan apa yang di maksudkannya. "Dua hal??? apakah yang kau maksud adalah Aku bisa menjadi kelemahan dan juga menjadi kekuatan bagi Alisya?" Adith mencoba menerka setelah mengingat kembali semua hal yang sudah mereka berdua alami selama ini. "Benar! Kau tinggal memilih untuk menjadi apa baginya. Selain itu kau hanya butuh belajar dari pengalaman, aku tau kalau kau tak takut terhadap Alisya. Tapi kau masih butuh banyak pengalaman yang bisa menjadikan kalian berdua untuk semakin kuat dan bisa bekerja sama dengan baik." terang Karan lagi mengambil jacket milik Adith dari dalam kamarnya. "Untuk sekarang, sebaiknya kau pulang terlebih dahulu dan temui Alisya saat ia sudah cukup tenang." tambah Karan lagi sebelum membiarkan Adith pergi dari sana. "Terimakasih banyak!" terang Adith memegang erat jaket miliknya dengan tatapan kosong. Chapter 293 - Pemakaman Ubay Seperti yang sudah di sarankan oleh Karan, Adith tak langsung menemui Alisya dan hanya kembali kerumahnya. Fikirannya kalut dan kacau balau, ia mengingat semua yang sudah dikatakan oleh Karan kepadanya. "Adith? kau baik-baik saja kan? Bagaimana bisa teman kalian terbunuh disana?" ibu Adith segera menerjang Adith begitu mendengar anaknya memberi salam saat masuk kedalam rumah. "Adith baik-baik saja ma, bagaimana mama bisa tau kalau teman Adith ada yang terbunuh?" Adith tak menyangka kalau ibunya akan sangat cepat mendapatkan informasi mengenai kematian Ubay yang karena pembunuhan. "Mama kan tergabung dalam grub diskusi orang tua. Dan ibu Erik yang memberikan kami informasi ini. Bagaimana dengan Alisya? bukankah seharusnya kau masih bersama kelompok mu?" ibu Adith heran saat anaknya sudah pulang kerumah sedang rombongannya masih dalam perjalanan kembali ke rumah orang tua Ubay. "Alisya dan aku baik-baik saja ma... Adith hanya ingin pulang lebih awal karena bus tidak cukup mengangkut kami semua." Adith memegang bahu ibunya dengan erat dan membawanya menuju ke sofa. Adith mendudukkan ibunya dengan lembut yang kemudian ia baring ke paha ibunya dan memeluknya dengan sangat erat. Ibunya mendesah pelan memahami kegusaran Adith yang terlihat dari kerutan keningnya. "Ada apa? kamu ada masalah lain?" ibu Adith tak yakin kalau kegusaran Adith adalah karena kematian Ubay meski ia juga merasakan kepedihan karenanya. Adith hanya menggeleng pelan karena tak ingin memberikan beban pemikiran kepada ibunya. "Nggak ma, Adith hanya ingin berada di pelukan mama saja saat ini." Adith berusaha berbohong dengan membuat suaranya seolah terdengar sedang ingin di manja oleh ibunya. "Plakkk... kau pikir aku siapa?" tampar ibunya ke kening Adith yang terlihat masih mengkerut. Adith hanya tersenyum simpul dengan sikap ibunya yang begitu peka terhadap dirinya. "Kalian pasti sudah berjuang dengan sangat keras malam ini, terutama Alisya." ibu Adith memandang Adith dengan tatapan serius dan sendu. Adith langsung terbangun dari pangkuan ibunya begitu mendengar perkataan ibunya yang begitu tepat sasaran. "Aku tahu betul bagaimana situasinya setelah melihat reaksi mu yang seperti ini, kau pasti sudah melihat Alisya yang sebenarnya bukan?" tebak ibu Adith yang dengan seketika membuat Adith melongo tak percaya. "Seberapa banyak yang mama ketahui mengenai Alisya?" tanya Adith tak percaya akan apa yang sudah dikatakan oleh ibunya. Ia tak menyangka kalau ibunya bisa mengetahui banyak hal mengenai Alisya melebihi dirinya. "Sejak awal setelah mengetahui bagaimana kehidupan Alisya, mama selalu menjadi orang pertama yang selalu berkonsultasi dengan dokter pribadi Alisya. pak Hadi memberiku banyak informasi mengenai Alisya yang sudah semakin mengalami banyak perubahan pada struktur tubuhnya." jelas ibu Adith menggenggam tangan Adith erat. "Kenapa mama tak memberitahuku hal yang sepenting ini?" Adith menunduk dalam penuh kekecewaan kepada ibunya namun ia tidak bisa menunjukkan kepada ibunya. "Pak Hadi yang melarang ku. Ia bilang bahwa kau harus menghadapi nya secara langsung untuk bisa menjadi lebih kuat. Hatimu harus terbiasa melihat semua yang terjadi baik pada Alisya maupun pada setiap orang yang akan memburu Alisya nantinya." ibu Adith sebenarnya sangat takut sehingga suaranya bergetar ketika menjelaskan kepada Adith. "Tapi, jika aku tau dari awal akan semua ini. Maka seharusnya aku tak menunjukkan wajah terkejut ku kepada Alisya. Aku sudah melakukan kesalahan besar padanya ma..." terang Adith dengan suaranya yang cukup serak. "Karena kalian berdua harus bisa menghadapi semua ini dengan saling belajar dari pengalaman, selain itu pak Hadi ingin agar kau maupun Alisya bisa lebih tenang dalam menghadapi situasi yang lebih parah dari ini lagi nantinya." ibu Adith tak begitu tahu akan apa yang sudah mereka alami, tapi ia bisa menafsirkan akan apa yang sudah mereka alami kali ini. "Tapi Alisya malah menjauhiku saat ini. Dia melarikan diri begitu melihat ekspresi ku yang terkejut saat ia berhasil membunuh Rafaela dengan memisahkan kepalanya dari tubuhnya." jelas Adith menceritakan apa yang sudah mereka alami semalam. "Aku tau, kami sudah menduganya kalau Alisya pasti akan bereaksi seperti itu ketika melihatmu terkejut. Tapi percayalah, Alisya hanya tak ingin kau membencinya dan menganggapnya sebagai monster maka dari itu dia melarikan diri sebagai bentuk pertahanan dirinya." Ibu Adith memegang erat pundak Adith untuk menenangkannya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Adith dengan tatapan sendunya kepada ibunya. "Mama tau kau lebih mengetahui apa yang harus kamu lakukan, ikuti kata hatimu dan coba untuk terus meyakinkan dia." jelas ibunya mengacak pelan rambut Adith. "Bersihkan dulu dirimu dan tidur lah agar kau bisa berpikir lebih jernih nantinya. Aku akan membangunkan mu sebentar dan kita pergi bersama untuk melayat kerumah Ubay." Ibu Adith menarik tangan Adith untuk bangkit dari tempat duduknya. "Apa anak ibu sekarang adalah Alisya? kenapa ibu malah sangat peka terhadap nya dibanding diriku?" Adith kesal karena ibunya malah tak memberikan jawaban kepadanya atas pertanyaan nya tadi. "Iya, aku ingin mengganti anak kalau bisa. Kau kesana dan Alisya yang kemari. Kau bahkan tak bisa menghibur dan merawat ku sebaik Alisya." pukul ibunya ke punggung Adith yang membuatnya meringis kesakitan. Adith yang ingin protes langsung di dorong naik ke atas tangga sedang ibunya berlalu pergi dengan tersenyum senang. Ayah Adith yang baru kembali dari perjalan bisnis segera menjemput Adith dan istrinya untuk bersama-sama pergi ke tempat dimana Ubay akan dimakamkan. Pemakaman itu dihadiri oleh semua teman-teman Ubay dan Adith bersama dengan teman-temannya begitu pula dengan kepala sekolah dan beberapa guru lainnya serta kerabat dekat Ubay. Hanya Alisya saja yang tak tampak disana. Ibu Ubay menangis penuh histeris ketika melihat anaknya secara perlahan dimasukkan kedalam liang lahat. Erik dan Mizan juga tertunduk dalam kesedihan sedang Gery masih tak sadarkan diri dirumah sakit saat ini. "Ini semua karena kalian!!! Jika saja anakku tidak ikut dengan acara liburan itu, maka dia pasti tidak akan mengalami hal ini. Dia pasti masih hidup dan baik-baik saja saat ini." ibu Ubay berteriak memukul mukul tubuh kepala sekolah dengan penuh amarah. "Maaf bu, tapi ini bukanlah kesalahan dari kepala sekolah, melainkan..." Ibu Vivian yang ingin menjelaskan kepada ibu Ubay langsung di hentikan oleh pak Richard. "Kembalikan,,, kembalikan anakku!" bentak ibu Ubay sekali lagi yang membuat semua orang menatap pak Richard dengan pandangan miring. "Maafkan saya!" ucap pak Richard dengan tatapan yang sangat mendalam kepada ibu Ubay. Pak Richard bisa memahami bagaimana perasaan dari ibu Ubay saat ini. "Kau pikir kata maafmu bisa mengembalikan anakku hah??? itu tidak cukup." bentak ibu Ubay dengan memegang erat kerah baju pak Richard. "Sadarlah!!! ini semua sudah takdirnya, kita tak bisa menyalahkan siapapun atas kejadian ini." Ayah Ubay terlihat lebih tegar dibanding dengan istrinya sehingga ia tampak bisa mengendalikan diri dengan baik. "Ma,, tidak ada seorangpun yang ingin kejadian ini terjadi. Ubay pergi tanpa meminta izin kepada guru wali kelas nya, jadi..." kaka Ubay mencoba memberikan pengertian kepada ibunya namun dengan kuat dia terdorong oleh ibunya yang masih tak terima. "Tidak!!! tentu saja ini salah mereka semua. Jika mereka sadar bahwa Ubay sudah pergi sekitar hampir 8 jam maka tentu ini takkan terjadi. Mereka lalai karena mengabaikan siswanya." bentak ibu Ubay terus menatap kejam kepada pak Richard. "Ibu bisa menyalahkan semuanya kepada saya. Saya akan bertanggung jawab dengan mengurus semuanya dan melakukan penyelidikan terhadap kematian anak ibu untuk memastikan apa yang sudah terjadi sebenarnya." terang pak Richard dengan penuh ketenangan dan menunduk dengan sangat dalam sebagai tanda permintaan maaf kepada ibu Ubay. Melihat sikap dan perkataan dari pak Richard, ibu Ubay hanya terjatuh melemas dan akhirnya pingsan karena tak sanggup menahan kesedihannya harus kehilangan anak yang sangat ia banggakan dan sangat ia sayangi. Chapter 294 - Semoga Berhasil "Bapak sama mama pulang deluan saja, Adith mau menemui Alisya dulu." terang Adith meminta izin kepada kedua orang tuanya. Pemakaman Ubay yang selesai hingga sore hari membuat ayah Adith tak yakin jika ia pergi di sore hari menemui Alisya saat dia juga tak membawa kendaraan sendiri. "Ini kan sudah agak sore, kamu juga tidak membawa kendaraan bukan?" ucap ayah Adith merasa khawatir pada anaknya. "Tidak apa,, biarkan saja dia." ibu Adith mengelus bahu suaminya lembut agar memberikan izin kepada Adith. "Jangan pulang terlalu larut malam yah,, mama juga masih sedikit khawatir karena kejadian ini." pinta ibu Adith meragukan keselamatan anaknya. Ibu Adith sebenarnya tahu kalau pengawal Ayah dan kakek Alisya yang sebelumnya dibekukan karena keinginan Alisya yang tak suka di buntuti terus menerus terpaksa kembali melakukan penjagaan mereka, tetapi bukan pada Alisya melainkan orang-orang terdekat Alisya di beri 2 orang pengawal profesional. Dan Adith memiliki pengawalan khusus dari Ayah dan Kakek Alisya tanpa sepengetahuan mereka. Ayah dan Kakek Alisya merasa harus bertanggung jawab karena mereka merasa bahwa dengan keberadaan mereka disekitar Alisya, maka nyawa mereka juga akan terancam bahaya. "Mama nggak usah khawatir, Adith akan baik-baik saja!" Adith menyalami kedua orang tuanya sebelum pergi menuju Yogi yang sudah menanti Adith di samping motornya. Keduanya bahkan tak bisa saling menyapa meski itu hanya dalam bentuk senyuman karena tak ingin melukai perasaan orang-orang disekitar Ubay. Mereka hanya ingin menghormati keluarga mereka yang sedang berduka sehingga mereka hanya menatap dan menunduk satu sama lainnya memberi tanda dan dukungan. "Mari kita pergi." ajak Adith yang langsung dijawab anggukan pelan Yogi. Yogi dengan santai membunyikan motornya memboncengi Adith pergi menuju rumah Alisya. Sepanjang perjalanan keduanya hanya terlarut dalam pikiran masing-masing. Mereka masih terus memikirkan apa yang sudah mereka lalui semalam serta bagaimana sedihnya keluarga Ubay karena harus kehilangan anak yang dalam beberapa bulan lagi akan menyelesaikan Sekolah Menengah Pertamanya. Mereka tak berbicara satu sama lainnya hingga sampai di rumah Alisya. "Semoga berhasil!" Yogi memberi dukungan kepada Adith yang ia tahu akan apa tujuan dari Adith kerumah Alisya. "Terimakasih, kau tak perlu menungguku." ucap Adith sembari tersenyum kecut memandang rumah Alisya. Ia hanya tak suka membiarkan masalah berlaru-larut sehingga Adith ingin secepat mungkin menyelesaikan masalah di antara mereka berdua. Yogi mengangguk kemudian memasang kembali helem nya dan berlalu pergi meninggalkan Adith setelah kedunya saling memberikan tinju kepalan tangan. Adith menarik nafas dalam berdoa dalam hati sebelum masuk kedalam dan membuka pintu pagar rumah Alisya. "Masuklah, nenek juga baru pulang dari sana." nenek Alisya masih belum mengetahui kesalahpahaman antara Alisya dan Adith. "Alisya ada nek? Aku tidak melihatnya datang ke tempat pemakaman tadi." tanya Adith kepada nenek Alisya ingin memastikan keberadaan Alisya terlebih dahulu. "Dia belum keluar kamar seharian ini, sebentar aku panggilkan dulu. Duduklah!" nenek Alisya segera naik menuju lantai untuk memanggil Alisya. Saat nenek Alisya sedang berada di atas, Ryu dan Akiko keluar dari kamar begitu mendengar suara Adith. Mereka menatap Adith dengan sendu tak tahu kalimat apa yang harus mereka lontarkan untuk mendukung Adith. "Kak Alisya tak ingin bertemu dengan siapapun saat ini termasuk dirimu. Dia butuh waktu untuk menyendiri sehingga kedatanganmu saat ini masih belum bisa membuatnya untuk menemuimu." jelas Akiko turun dari lantai dua melewati nenek Alisya yang sedang mencoba membujuk Alisya untuk keluar dari kamarnya. "Nenek masih belum tahu akan permasalahan di antara kau dan nona maupun dengan teman-teman yang lain. Saat ini nona sangat takut jika harus bertatapan muka dengan kalian semua. Bahkan pada aku maupun Akiko." tambah Ryu menjelaskan bagaimana Alisya saat ini. "Tapi kau jangan khawatir, seiring berjalannya waktu aku yakin kak Alisya bisa mengerti dan memahami kita semua. Begitupula sebaliknya kita terhadap dia. Dia melakukan ini semua demi melindungi apa yang sudah ia anggap berharga. Tepat setelah itu, nenek Alisya turun dari lantai dua menuju Adith dengan tatapan bingung dan merasa ada yang sedang terjadi antara Adith dan Alisya. "Adith, nenek tak tahu harus bagaimana, dia tidak ingin keluar dari kamarnya saat ini. Apa sedang terjadi sesuatu di antara kalian berdua? tanya neneknya merasa khawatir akan keduanya. "Tidak nek, ini hanya masalah kecil saja yang bisa kami selesaikan berdua. Nenek tidak usah khawatir karena Adith akan mencoba menyelesaikannya dengan cepat." Adith tersenyum manis untuk menenangkan nenek Alisya. "Nenek harap kalian bisa menyelesaikannya dengan cepat. Permasalahan dan pertengkaran yang terjadi adalah progres untuk mengeratkan hubungan dan dapat membuat kalian lebih dewasa dalam berpikir. Jadi jangan terlalu merasa terbebani." terang nenek Alisya memberikan semangat kepada Adith. "Iya nek, terimakasih banyak. Kalau begitu saya pamit permisi dulu." Untuk saat ini Adith memilih untuk memberikan sedikit waktu lebih lama lagi kepada Alisya agar ia bisa berpikir dan lebih tenang tapi Adith tak kan menyerah sampai ia bisa menemui Alisya. "Tingallah lebih lama, nenek akan masakkan kalian makanan yang hangat untuk mengembalikan mood kalian." pinta nenek Alisya kepada Adith karena tak ingin ia pergi dari rumahnya dengan begitu cepat. "Terimakasih banyak nek, tapi aku harus pulang sekarang karena mama juga sudah menyiapkan Adith makan malam. Aku akan makan bersama nenek lain kali lagi." Adith dengan ceria memeluk tangan nenek Alisya untuk membuatnya tenang dan tak merasa curiga akan masalah di antara mereka. "Baiklah, kalau begitu. Sampaikan salamku kepada kedua orang tuamu. Aku akan pergi mengunjunginya sesekali nantinya." Belai nenek Alisya pada kepala Adith dengan gemas. Adith tersenyum mendapat belaian dari nenek Alisya. Hatinya terasa sedikit hangat dan merasa cukup lega karenanya. "Aku akan datang lagi, jika kau sudah tenang ku mohon berikan aku kesempatan untuk berbicara denganmu. Kau ingat bukan? kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku!" Adith mengirim pesan kepada Alisya sebelum ia pamit pergi. Alisya yang tak memakai alat peredamnya dan hanya duduk di sudut kanan ranjang tak peduli akan warna hijau tanda pesan masuk dari alat peredamnya tersebut, namun karena sistem otomatis dari alat yang di buat oleh Adith pesan itu langsung tersampaikan dalam bentuk tampilan hologram. Dari awal Alisya bisa mendengar semua percakapan mereka dibawah sana dan Alisya semakin sesak begitu mendengar suara Adith yang serak dan berat. Adith segera pamit setelah menyalami nenek Alisya. Tanpa disadari oleh Adith, Ryu terus berjalan mengikuti Adith dan mengawasinya selama dalam perjalanan. Chapter 295 - Melupakan Sesuatu Di sekolah ruang 12 MIA 2. "Alisya tidak masuk lagi?" tanya Aurelia kepada Karin yang duduk berdampingan dengan Alisya. "Ryu, apa sedang terjadi sesuatu dengannya? atau dia sedang sakit?" tanya Adora penasaran karena tidak melihat Alisya selama 3 hari terakhir. "Tidak, di baik-baik saja." Ryu menggeleng pelan. Adora dan yang lainya tidak tahu akan apa yang sedang terjadi pada malam itu karena Zein dan Karin bermaksud untuk menyembunyikan permasalahan tersebut. Hanya Yogi saja yang tidak berada di tempat yang mengetahui kejadian tersebut karena tidak sengaja mendengar percakapan mereka mengenai apa yang sudah terjadi. Yogi bisa memahami mengapa dan bagaimana sehingga ia tidak bertanya lebih lanjut. "Aku melihatnya datang ke sekolah, dia terlihat sedang menghindariku. Bahkan saat dia tidak masuk di kelas, aku melihat Alisya berada di perpustakaan." Beni datang terengah-engah menceritakan tentang Alisya yang menghindari dirinya. "Apa yang terjadi pada Alisya? di acara pemakaman Ubay pun juga dia tidak hadir." Feby merasa aneh dengan sikap Alisya. "Jika dia seperti itu terus, dia akan mengalami banyak pengurangan poin. Sudah banyak pelajaran yang ia lewati." Emi sangat mengkhawatirkan Alisya yang tak pernah kembali ke kelas. "Bahkan Adith sampai berulang kali datang hanya untuk bertemu Alisya, tapi Alisya selalu berhasil menghindarinya." ucap Gani tidak suka dengan kondisi mereka saat ini. "Kalian tidak usah khawatir, Alisya mungkin sangat shock saat melihat Ubay mati dihadapannya." Karin mencoba memberikan mereka semua pengertian. "Dia masih belum siap menerima kenyataan akan bagaimana Ubay harus terbunuh di hadapannya. Untuk itu setiap kali dia melihat kita, ke khawatiran dan bayangan akan Ubay terus menghantuinya." tambah Yogi juga memberikan penjelasan kepada mereka. "Alisya tak ingin kehilangan kalian seperti ia kehilangan Ubay di hadapannya. Sulit bagi dia menerima kenyataan itu karena Alisya yang melihat sendiri kejadiannya secara langsung." Ucapan Ryu langsung membuat mereka menunduk paham. "Berikan waktu untuk dia tenang dulu, seiring dengan berjalannya waktu dia pasti bisa menerima semua kenyataan itu." Karin memandang teman-temannya dengan penuh hangat. "Kita harusnya bisa mendukung Alisya, dia sudah mengalami hal yang sangat berat sendirian." Gina menggenggam erat tangannya tak bisa membayangkan bagaimana perasaan pedih Alisya saat melihat seseorang terbunuh dihadapannya. Mereka larut dalam fikiran masing-masing merasakan pedih yang teramat sangat kepada Alisya sehingga dengan cepat mereka berpikir untuk satu persatu mendatangi Alisya tanpa terkecuali. Saat mereka sedang berbincang-bincang dan larut dalam pikiran masing-masing, lagi-lagi Egi kembali dengan pakaian kotor dan lusuh. "Egi, apa yang terjadi denganmu? kau baik-baik saja?" Karin dengan cepat menghampiri Egi karena khawatir. "Aa... aku baik-baik saja. Terimakasih sudah khawatir padaku." senyum Egi terlihat kosong dan tak bernyawa. "Pasti sudah terjadi sesuatu denganmu kan?" Aurelia tidak percaya dengan apa yang sedang dikatakan oleh Egi. Wajahnya tampak memerah dan bibirnya terlihat pecah seperti bekas di tampar oleh seseorang. Melihat Egi yang terlihat ketakutan ketika didekati oleh Karin membuat mereka yakin kalau Egi sedang dalam perundungan. "Siapa yang melakukan ini padamu?" Adora terlihat kesal karena Egi berusaha menyembunyikannya dari mereka. "Ini bukan apa-apa!" ucap Egi langsung pergi dari sana dengan emosi. "Apa-apa''an dia itu? kita kan hanya ingin membantunya!" Feby merasa jengkel dengan sikap Egi yang kasar menepis tangan Karin dan berlalu pergi. Karin memandang teman-temannya yang lain dan terlihat mereka juga mengetahui sesuatu tapi tak berani berbicara atau melaporkan nya kepada Karin. "Apa kalian tidak menganggapku sebagai ketua kelas, atau memang aku tak pantas menjadi ketua kelas bagi kalian?" tanya Karin sengaja ingin memancing teman-temannya untuk berbicara. Mereka yang terlalu sibuk karena masalah kemarin membuat Karin jadi tidak begitu memperhatikan masalah yang sedang terjadi di dalam kelas mereka. "Bukan begitu, kau sudah cukup menjadi ketua kelas yang baik bagi kami." seorang teman sekelasnya langsung membantah dengan cepat. "Tapi ini bukanlah masalah yang bisa di selesaikan oleh kita yang hanya berasal dari kelas biasa." tambah yang lainnya dengan tatapan murung. "Apa maksud kalian? memangnya apa yang tidak bisa kita selesaikan?" tanya Aurelia merasa tersinggung dengan ucapan temannya. "Bukan maksud kami untuk menganggap remeh kalian, tapi seseorang yang memiliki kekuasaan yang cukup tinggi melakukan hal ini pada kami sehingga pihak sekolahpun tak berani melakukan penyelesaian terhadap apa yang mereka lakukan." ucap mereka cepat menjelaskan kepada Karin dan teman-temannya agar tidak salah paham. "Kita memang takkan bisa menyelesaikannya jika kita tidak mengetahui akar permasalahannya seperti apa." Rinto menatap temannya yang lain untuk memberikan mereka keberanian menceritakan semuanya. "Ku mohon, dengan kalian mengatakan yang sebenarnya padaku maka aku akan mencoba semaksimal mungkin untuk membantu kalian." tegas Karin tak rela jika teman-temannya mendapatkan perlakuan tak adil. "Kalian bisa percayakan semuanya pada kami. Kami tidak akan membawa kalian dalam masalah ini, tetapi kami akan langsung melakukan penelitian dan mencari bukti terlebih dahulu." tambah Yogi memberikan mereka keyakinan untuk menceritakan semuanya. "Ini semua adalah ulah Citra!" teriak Putri dengan sangat lantang. Ia terlihat tak tahan dengan perlakuan yang ia dapatkan sehingga tak bisa menahannya lebih lama lagi. "Putri!!!" teriak Fani mencoba menghentikan putri untuk berbicara lebih jauh lagi. "Kenapa??? apa kalian masih sanggup dengan perlakuan Citra? kenapa kita tidak mencoba percayakan ini pada Karin dan yang lainnya?" ucap Putri dengan penuh amarah. "Apa yang akan berubah jika kita mengatakan hal ini pada mereka? para guru pun tak berani untuk menyelesaikan permasalahan ini. Mereka hanya bungkam dan kau tau kan Ayah Egi bisa saja dalam bahaya karenamu." bentak Fani kepada Putri yang sudah berani membocorkan semuanya. "Jadi semua itu ulah Citra? kenapa kami lupa akan hal ini!" Karin memukul mejanya dengan sangat keras membuat semua teman-temannya menjadi kaget dan takut. "Apa yang terjadi? apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Ryu kepada Karin yang tangannya terlihat memerah dan kebas. "Ya, Egi sudah menceritakan kepada Alisya dan aku sebelumnya." ucap Karin sembari terduduk dengan lemas. Ia tak menyangka kalau sikap Citra akan semakin bertingkah banyak. "Apa??? jadi kau sudah mengetahui permasalahan ini sebelumnya dan tak melakukan apapun?" Syams terlihat marah kepada Karin. "Lihat kan? bahkan Karin saja tak bisa melakukan apapun terhadap permasalahan ini meski ia telah mengetahuinya." tambah Fani kesal. "Karena Egi yang melarang kami!!! Aku juga tak menyangka kalau dia akan berbuat sampai seperti ini. Dia harus ku beri pelajaran!" Karin terlihat penuh akan amarah yang seketika membuat semua teman-temannya diam membeku. Chapter 296 - Ancaman Karin dkk Fani dan Syams jadi terdiam begitu mendengar bahwa ia tidak bisa melakukan apapun karena dari awal Egi lah yang melarangnya. Mereka jadi tidak bisa menyelahkan Karin karena semua itu sehingga dalam beberapa saat emosi mereka berkecamuk. "Oke, jadi sekarang kita sudah tahu kalau ternyata semua ini adalah pekerjaan dari si Citra! Sekarang tinggal mengapa kalian begitu takut padanya sampai kalian juga ikut-ikutan untuk tidak memberitahu kami dan bahkan menyembunyikannya?" Gina yang ters diam sebelumnya menjadi sangat penasaran. Tak ada satupun dari mereka yang berani membuka mulut sehingga Aurelia datang menghampiri Putri secara perlahan-lahan dengan tatapan mengintimidasi agar Putri menjadi takut. "Sepertinya kamu lupa kalau Ayahku itu juga memiliki kekuasaan yang cukup tinggi sehingga aku bisa membuat kalian tidak bisa lulus dari sekolah ini" ucap Aurelia dengan tatapan sinis yang sedikit membuat Putri menjadi goyah dan memundurkan langkahnya karena takut. Melihat reaksi dari Aurelia yang sudah mulai mengancam mereka, Karin pun akhirnya melirik ke arah Rinto untuk melakukan hal yang sama. Karin sebenarnya tak tega jika harus membuat mereka menjadi katakutan dengan ancaman mereka, namun sepertinya hanya itu cara agar membuat mereka juga berbicara. Dengan membuat mereka takut pada suatu kekusaaan yang lebih tinggi dari yang sebelumnya dapat membuat mereka jadi takluk dan mengikuti yang lebih kuat. Hal inilah yang sering disalah gunakan dalam kehidupan sekarang. Mereka yang memiliki kekuasaan menjadi semakin tak terkendali dan bahkan sampai lupa diri. "Sepertinya aku sudah terlalu lembut kepada klian selama ini, apakah aku juga harus melakukannya dengan cara yang sama seperti yang selama ini aku lakukan pada kalian?" ancam Rinto kepada Syams yang membuat Syams jadi mengingat masa lalu dimana sebelum Rinto bertemu dengan Alisya dan ditaklukkan oleh Alisya, Rinto adalah penindas yang paling mereka takuti. "Tidak,,, tidak... jangan lakukan itu!" Syams segera memohon dengan sangat cepat. "Kalian mungkin lupa bahwa orang tua kami juga bukanlah sesuatu yang patut untuk di remehkan. Dan jika Alisya mengetahui sikap kalian yang seperti ini, apa kalian yakin bisa di ampuni dengan mudah?" Karin mulai mendekati Fani secara perlahan-lahan dan memegang pundaknya menatap teman-temannya yang lain dengan senyuman jahat. "Aku rasa kalian juga sudah mengetahui kekusaan Alisya mengingat bagaimana ia mengeluarkan Miska dan Miya dari sekolah ini untuk selamanya." Tambah Yogi sembari melipat kedua tangannya mengingatkan mereka akan kekuatan tersembunyi dari Alisya. "Bukankah itu semua karena Adith? Adithlah yang berhasil mengendalikan semuanya dan membuat mereka untuk keluar dari sekolah." Fani berbicara dengan suara yang bergetar. Fani bukannya tak percaya pada apa yang dikatakan oleh teman-temannya, namun ia hanya takut kalau kekuasaan mereka belum cukup untuk mengatasi permasalahan yang sedang mereka dapatkan. Jika kelas elite di penuhi oleh banyak orang-orang yang kedua orang tuanya di ketahui memiliki kekuasaan yang cukup besar, maka berbeda dengan kelas biasa. Sebagian besar dari mereka memilih untuk tidak membeberkan siapa orang tua mereka sebenarnya dan hanya akan mengungkapkannya jika itu memang di perlukan. "Benarkah? Sepertinya kalian sudah salah paham terhadap kami." Ryu juga ikut menatap mereka dengan penuh ancaman. "Kalian harusnya tidak lupa akan kejadian orang tua kami yang lalu berhasil lolos dari kritis berkat bantuan Alisya." Terang Beni mengingatkan mereka akan kejadian dimana orang tua mereka harus dikeluarkan dari perusahaan mereka namun Alisya lah yang membantu kedua orang tua mereka tanpa terkecuali. Feby dan Emi menaikkan jempolnya kepada Beni yang mewakili mereka berdua untuk menceritakan semuanya yang sebenarnya. Alisya memang sengaja menyuruh mereka untuk tak perlu berkata-kata mengenai apa yang sudah dilakukannya, namun mereka rasa kali ini adalah saat yang tepat untuk mereka membeberkannya. "Kalian sudah tidak punya pilihan lain selain menceritakannya kepada kami semuanya, kecuali kalian akan bernasib sama dengan mereka." Adora menunjuk kepada orang-orang yang pernah bermasalah dengan mereka sebelumnya. Putri yang sedari awal memang sudah berniat untuk bercerita, tampak mulai ingin kembali membuka mulutnya untuk menceritakan semuanya kepada Karin dan yang lainnya namun ternyata Syams sendiri lah yang membuka mulutnya terlebih dahulu. "Ini semua berawal dari Egi, bukan berarti kami menyalahkannya atas apa yang terjadi pada kami. Tapi kami yang tak sengaja menemukan Egi yang mendapatkan penyiksaan dari Citra membuat kami juga ingin menyelamatkannnya." Ucap Syams merasa menyesal karena tak menceritakan semuanya kepada Karin dan yang lainnya sebelumnya. "Kami yang membantu Egi sewaktu kalian pergi malah mendapatkan perlakuan yang sama dimana kami semua mendapatkan buliyan yang sangat kejam dari kawan-kawan elite Citra. Bahkan Syams harus menjadi samsak mereka setiap harinya." Tambah Fani menceritakan semuanya kepada Karin dan yang lainnya. Mereka sengaja terdiam untuk memberikan ruang bagi Syams dan Fani juga putri mewakili teman-temannya yang lainnya menjelaskan dengan nyaman tanpa ada hambatan serta tanpa adanya gangguan yang dapat membuat mereka melupakan satu hal. "Kami sudah mencoba untuk melaporkannya kepada pihak sekolah namun tanggapan mereka adakah kami sengaja menyebarkan berita hoax hanya untuk mendapatkan keuntungan. Bahkan saat pak Richard yang tak sengaja mendengarnya pun dengan cepat di putar balik oleh guru-guru yang berada disana." Ucap Putri dengan nada yang serak kesal mengingat bagaimana kecewanya ia pada guru-guru tersebut. "Kalian mungkin berpikir kenapa kami tak melaporkannya kepada guru Bimbingan Konseling bukan?" Syams mencoba menebak pikiran mereka saat melihat kerutan kening di dahi mereka. Karin dan yang lainnya saling berpandangan yang kemudian mengangguk pelan membenarkan apa yang sudah dikatakan oleh Syams. Urusan permasalahan yang di alami oleh siswa biasanya ketika sudah tidak bisa dihadapi oleh wali kelas, maka akan diserahkan oleh guru Bimbingan Konselin mengingat ibu Vivian dan Ibu Arni sedang tak berada di tempat saat itu. "Kami sudah mencobanya, tapi guru Bimbingan Konseling menganggap bahwa ini hanyalah masalah pertengkaran biasa yang dapat di selesaikan hanya oleh kami saja karena kami tak bisa memberikan mereka bukti jika kami telah mendapatkan perundungan tersebut." Ucap Fani dengan tersenyum kecut. "Mereka malah menyarankan kepada kami untuk bisa menyelesaikannya sendiri dulu dan berani menghadapi kenyataan sebelum akhirnya melaporkan semua itu kepada mereka." Tambah Putri dengan ekspresi yang sama dengan Fani dan Syams. "Apa mereka harus melihat seseorang meninggal baru mereka menyesal?" Aurelia meledak dalam amarah yang mengejutkan se isi kelas karena teriakannya. "Bisakah kau memberikan sedikit tanda-tanda jika ingin meledak? Jantung ku hampir copot karena mu!!!" Gani memegang dadanya sebelah kanan mengira bahwa bagian itu adalah tempat dimana jantungnya berada. Tingkah Gani sontak membuat mereka jadi tertawa terbahak-bahak terlebih karena mereka juga sama terkejutnya dengan Gani. Feby dan Emi bahkan sampai menutup mata dengan tubuh yang bergetar hebat karena terkejut oleh Aurelia yang mendadak meletuskan amarahnya. "Dibanding kami semua, Egi lah yang paling sering mendapatkan perundungan itu. Ia bahkan sampai mendapatkan pelecehan sesksual dimana ia pernah di kunci didalam gudan dan mereka memaksanya untuk membuak pakaian seragammnya." Ucap Fani kembali dengan suara yang cukup berat dan sarat akan kesedihan dan simpati yang sangat mendalam kepada Egi. "Apa??? Mereka bahkan sampai melakukan hal itu kepadanya?" Kali ini Adora yang kembali meledak dalam amarah. "Ya, kami bahkan sangat ingin menampar diri kami sendiri karena tidak bisa melakukan apapun terhadap hal tersebut. Egi bahkan terus terusan mendapatkan ancaman menggunakan video tersebut jika ia tidak mengikuti perintah mereka." Jelas Putri merasakan sakit ketika membayangkan jika ia berada pada posisi Egi. "Kami sangat ingin membantunya, tapi kami tak punya kekuasaan lebih untuk melakukan apapun yang bisa membantunya. " Lanjut Syams menarik nafas dalam. "Sepertinya mereka harus diberikan pelajaran yang sangat berarti. Bagaimana jika kita juga memberikan mereka pelajaran dengan melakukan hal yang sama?" senyum jahat Karin membuat mereka semua merinding hebat. Chapter 297 - Tim Egi dan Tim Alisya "Apa kau melihat senyuman iblis Alisya yang terlihat berpindah ke Karin sekarang?" tanya Adora kepada Aurelia yang tak menyangka kalau Karin juga bisa melakukan hal yang sama. "Itu karena mereka sudah lama sering bersama sehingga tanpa sadar beberapa karakter yang ada bisa ikut berpindah kepada sahabat terdekatnya." jelas Aurelia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dikatakan oleh Adora. Adora dan Aurelia saling bertatapan satu sama lain membayangkan hal yang sama dapat terjadi pada mereka lalu kemudian tubuh mereka merinding hebat yang dengan cepat mereka berjauhan. Ryu terlihat bersinar terang seolah sedang mendapatkan ide yang sama liciknya dengan Karin. Karin menaikkan keningnya sebagai tanda bertanya kepada Ryu. "Bagaimana kalau kita memancing nona Alisya dengan hal ini?" tanya Ryu mencoba mengeluarkan isi pemikirannya. "Aku masih belum terbiasa dengan Ryu yang selalu memanggil Alisya dengan nona." ucap Feby mendesah keras karena tak nyaman setiap kali mendengarnya. "Aku juga penasaran mengapa ia selalu memanggil Alisya dengan panggilan seperti itu." jawab Emi merasa tak rela entah kenapa. Karin terdiam sejenak dengan bisikkan-bisikan dan desahan dari Feby dan Emi yang nampak frustasi karena hal yang tidak jelas. Karin yang memandang tajam kepada mereka berdua membuat mereka menciut cepat. "Aku paham, Alisya selalu bersikap peduli kepada siapapun. Terakhir kali saat ia melihat Egi pun dia sangat marah dan hampir saja mematahkan kaki dan tangan Citra jika tidak di halangi oleh Egi." ucap Karin mengingat bagaimana marahnya Alisya saat mengetahui Egi yang mendapat perundungan. "Sepertinya aku juga paham, aku memiliki ide yang cukup bagus untuk itu." terang Aurelia yang juga ikut tersenyum jahat. "Sepertinya aku harus mengganti kelas secepatnya." Gina mencoba melarikan diri dari sana namun dengan cepat di tahan oleh Adora. "Kenapa wanita kita yang penuh kelemah lembutan menyimpan sifat iblis seperti ini?" suara Yogi yang terdengar begitu jelas membuat Adora dan Aurelia langsung menonjok Yogi dengan kuat. "Apakah aku bisa lulus dari sekolah ini dengan tubuh yang lengkap?" Beni meringis ketakutan melihat mereka semua. "Aku akan menjadi sangat patuh!!" Gani dengan cepat menyerahkan diri kepada Karin dan yang lainnya. Ryu hanya tersenyum simpul melihat tingkah mereka yang terlihat kembali mencair. "Jadi, apa yang akan kita lakukan?" tanya Fani merasa kalau ide dari Karin dan yang lainnya akan sangat menarik. Aurelia segera memerintahkan teman-temannya untuk tidak ada yang pergi makan dan mereka menutup ruang kelas mereka dengan sangat rapat agar orang luar tidak mendengar apa yang sedang mereka diskusikan. "Pertama kita akan membagi menjadi 2 tim yaitu tim Alisya dan Time Egi." terang Aurelia dengan menaik turunkan keningnya. "Untuk tim Egi, setiap hari kami akan memberikan pelajaran yang lebih sadis jika setiap kali Citra memperlakukan Egi dengan cara yang kasar. Kita akan melakukannya tanpa sepengetahuan Egi tentunya." tambah Karin memahami maksud dari pikiran Aurelia. "Dan untuk tim Alisya, kalian akan membuat dia tak sengaja melihat bekas luka dan lebam yang akan kita buat secara sengaja untuk menarik simpatinya." jelas Adora lagi. "Jika urusan Egi, aku tau kalau Karin, Adora dan Aurelia yang mampu melakukannya. Lalu bagaimana denganku?" tanya Syams yang selalu mendapatkan pukulan dan buliyan dari para siswa elite IIS. "Tenang saja. Aku, Ryu dan Yogi yang akan menanganinya." Rinto menepuk pundak Syams pelan. "Oke aku paham. Urusan Egi aku serahkan pada kalian, lalu bagaimana dengan Alisya? apa yang harus kami lakukan padanya?" tanya Putri tak tahu bagaimana cara menarik perhatian Alisya. "Untuk Alisya, kita butuh seorang relawan yang bersedia tubuhnya kami buat memar." pandang Karin kepada Fani dan Putri serta yang lainnya secara bergantian. "Tidak masalah! serahkan padaku. Urusan make up agar terlihat memar sih gampang." ucap Fani dengan penuh rasa bangga karena merasa ia cukup jago jika dalam soal make up karakter. "Kau pikir Alisya itu bodoh?" ucap Beni dengan tertawa pelan. "Alisya bukanlah orang yang bisa percaya dengan memar buatan yang kalian buat. Dia bisa membedakan memar yang asli dan memar yang merupakan buatan." jelas Ryu mengetahui Alisya yang sudah banyak menderita luka memar. "Jadi apa yang harus kami lakukan?" tanya Putri bingung. "Tentu saja membuat memar yang sebenarnya." ucap Karin kembali memandang keduanya dengan tatapan serius. Putri dan Fani dengan cepat mengalihkan pandangannya tak ingin tubuhnya merasakan sakit karena memar yang harus mereka dapatkan. "Apa kalian serius???" muka Fani sudah meringis seolah sudah merasakan sakit dari memar tersebut. "Kenapa kalian tidak berbicara secara langsung saja dengan Alisya?" Syams mencoba mencari solusi lain. "Kalian sudah mendengar sendiri Beni bagaimana Alisya terus berusaha menghindari kami. Sehingga kalian lebih cocok dalam hal ini." terang Yogi singkat. "Baiklah, aku akan melakukannya." Fani dengan cepat mengajukan dirinya meski ia sangat takut tapi mengetahui bahwa hanya mereka yang bisa mendekati Alisya memberikannya sedikit rasa bangga. "Biar Adil biar aku juga melakukannya." terang Putri ikut merasakan adrenalinnya yang meningkat tajam. "Tidak, aku rasa untuk membuat Alisya semakin percaya, maka kami semua akan melakukannya." ucap Syams dengan penuh keyakinan setelah mendapatkan dukungan dari teman-temannya yang lain yang juga berpikir sama. "Kau benar, semakin banyak yang berpartisipasi maka semakin Alisya tertarik untuk melihat kalian." ucap Adora penuh semangat. "Sisanya bisa kalian serahkan kepada kami. Biar kami yang mengurusnya." tegas Karin sudah tak sabar lagi. Bel berikutnya segera berbunyi dengan sangat kencang memenuhi Seluruh gedung sekolah. Mereka mengikuti kegiatan belajar mengajar sebagai mana biasanya. Namun Egi dan Alisya tidak berada disana. Sepulang sekolah bukannya mereka langsung pulang, tapi mereka malah melanjutkan pembahasan mereka yang sebelumnya. "Kapan kita bisa memulainya?" tanya Feby kepada Karin dan yang lainnya tidak sabar untuk melaksanakan rencana mereka secepatnya. "Besok!!! untuk itu, hari ini kalian sudah harus mendapatkan memar itu." Karin kemudian menyuruh para laki-laki untuk keluar yang beberapa saat kemudian suara teriakan dari beberapa temannya yang perempuan terdengar sangat kencang. "Aku mau ke toilet dulu." ucap Syams dengan tubuh gemetar namun dengan cepat di hadang oleh Beni dan Gani. "Bukankah memar saja akan lebih baik di bandingkan dengan kami mematahkan lehermu?" tatap Rinto dengan penuh ancaman. "Apakah kalian benar-benar seorang teman?" Syams mulai menitikkan keringan dingin. Rinto tak menjawab pertanyaan Syams dan hanya menariknya masuk kedalam saat teman-temannya yang perempuan keluar dengan tangisan. Mereka meringis kesakitan namun begitu teman-temannya yang laki-laki masuk, mereka kemudian tersenyum jahat. Chapter 298 - Bersenang-senang Keesokkan harinya. Tepat seperti dugaan mereka, setelah bel istirahat berbunyi dengan kencang Egi dengan sangat terburu-buru keluar dari kelas bahkan mendahului guru mata pelajaran yang sebelumnya masuk. "Ada apa dengannya?" tanya pak Bram guru Bahasa Indonesia mereka. "Egi sedang mules pak, makanya terburu-buru seperti itu." ucap Karin memberikan alasan yang dengan lirikan ia memerintahkan Adora dan Aurelia untuk mengikutinya. Karin tidak mungkin keluar untuk mengejar Egi saat guru mata pelajaran masih berada di depannya sehingga ia mengutus Adora dan Aurelia terlebih dahulu. "Maaf pak, kami akan melihat kondisinya sekarang." ucap Adora yang seolah terlihat sangat khawatir. Pak Bram jadi terdiam dan tak berburuk sangka sehingga ia keluar dengan tidak menunjukkan ekspresi kecewanya. "Dia sudah jauh!" ucap Yogi yang memantau pak Bram karena mereka tidak ingin terlihat begitu jelas. Seketika Karin berdiri dari tempat duduknya dan segera berjalan untuk menemukan Adora dan Aurelia. Untunglah alat komunikasi yang selama ini terus di berikan oleh Adith selalu saja mereka bawa kemanapun mereka pergi. "Alat ini sangat berguna. Aku mengakui mu atas semua kejeniusan mu Adith." ucap Karin memuji Adith dengan penuh semangat. "Bisakah kau tidak mengaktifkan frekuensinya secara global?" jawab Adith yang langsung mengaktifkan alat komunikasinya saat melihat tanda pengaktifan alat komunikasi miliknya. "Jadi kau mendengarnya??!?" teriak Karin dengan sangat kencang yang membuat telinga mereka memekak sakit. Bahkan teriakan itu sampai mengejutkan beberapa orang yang berada tak jauh darinya dan menatapnya dengan aneh. Karin hanya cengengesan sembari terus berjalan lurus. "Kami semua mendengarnya!!!" ucap mereka serempak yang kali ini Karin yang terkejut bukan main. Tanpa mereka sadari, setiap kali melihat alat mereka mengalami pengaktifan membuat mereka secara serempak mengambil alat tersebut dan memasangnya di telinga mereka masing-masing. Entah karena kebiasaan atau memang karena tak sengaja melihatnya. Bahkan Alisya yang juga sudah terhubung secara langsung dengan peredamnya tertawa pelan akibat tingkah teman-temannya. Alisya merasakan kerinduan yang sangat dalam. Ia terus menatap langit di balik dedaunan pepohonan rimbun yang selalu menjadi tempatnya melarikan diri. "Maaf, aku akan menonaktifkan panggilan converence nya." Karin dengan cepat mematikan panggilannya dan hanya menghubungkan antara Aurelia dan Adora serta Rinto dan Yogi. "Karin, kami berada di toilet kelas elite." ucap Aurelia langsung menginformasikan kepada Aurelia begitu melihat Egi masuk kedalam sana. "Aku rasa Citra sudah mulai melakukan aksinya kembali. Akan aku kirimkan gambarnya padamu." Adora dengan cepat mengaktifkan hologram pengambil gambar video pada alat komunikasi miliknya yang langsung terhubung dengan teman-teman nya yang lain. "Aku akan segera kesana." ucap Karin langsung memutar balik arahnya menuju ke toilet dari gedung kelas elite IIS secepat mungkin. Saat Karin menuju kesana, Egi sudah keluar dari toilet dengan baju yang kusut dan basah karena Citra yang menyiram Egi dengan air bekas cucian toilet. "hahahahah... rasanya sangat menyenangkan. Melihat dia memohon-mohon untuk diberikan ampunan. Sungguh bisa jadi pelepas stres yang sangat ampuh." ucap salah seorang dari teman Citra yang sedang memperbaiki riasannya. "Aku juga jadi merasa legah saat semua masalahku bisa terlampiaskan." tambah teman Citra yang lainnya. "Kalian bisa melakukan apapun padanya. Aku akan tetap memastikan dia diam dan tak berkutik untuk melaporkannya. Jadi kalian tenang saja." ucap Citra dengan penuh bangga memakai pelembab bibirnya dengan santai. "Bolehkah aku juga merasakan kesenangan kalian yang selama ini kalian lakukan?" tanya Karin masuk bersama dengan Adora dan Aurelia yang langsung mengunci pintu toilet tersebut dari dalam. "Apa yang kalian lakukan disini?" Citra langsung menghadap ke arah Karin dan yang lainnya dengan melipat kedua tangannya dengan sombong. "Apa lagi? bersenang-senang tentunya." ucap Aurelia yang langsung melemparkan satu ember penuh air comberan ke wajah Citra dan teman-temannya. Mereka berteriak histeris saat mendapatkan siraman tersebut. "Perempuan... " baru saja teman Citra maju dan ingin memaki Karin dan yang lainnya, Adora menambahkan satu ember lagi yang bahkan sampai ia telan. Citra dan teman-temannya berteriak-teriak histeris antara marah dan menangis karena air comberan tersebut, dan terus saja muntah-muntah karena tak sanggup dengan bau dan kotornya yang membasahi seluruh tubuh mereka. "Kau... Apa yang sedang kau lakukan ini?" Citra menatap Karin dengan penuh amarah. "Ya.. bersenang-senang, bukankah kalian juga suka melakukan ini? karena itu aku juga ingin merasakan hal yang sama. Dan ternyata tidak begitu menyenangkan, karena aku memang bukan binatang seperti kalian. Oh iya, binatang pun tak tega aku beginikan. Jadi kalian ini apa yah?" tanya Karin terus memancing emosi Citra. "Septic tank atau sampah?" ucap Aurelia tersenyum sini. "Berani sekali kalian!" Citra maju ingin menghajar Karin namun dengan cepat berhenti begitu melihat Karin sudah menaikkan penyedot WC di dekat wajahnya. "Kau pikir aku takut???" ancam teman Citra yang langsung ingin memukul Karin namun dengan cepat juga Karin memukul tangan dan kepalanya serta membuatnya berlutut ke lantai setelah menendang kakinya dengan kuat. Tidak cukup sampai disitu, Karin langsung menambahkan dengan menempelkan dengan kuat penyedot WC tersebut ke wajah teman Citra yang berontak melepaskannya. Saat temannya yang lain juga dengan cepat maju ingin menyerang Karin, Adora dan Aurelia sudah memukul perutnya dengan sapu yang panjang agar mereka tak menyentuh tubuhnya dengan badan mereka yang kotor. "Aku ingatkan pada kalian, jika kalian berani menyentuh dan mengganggu teman-temanku lagi khususnya Egi, aku akan melakukan hal yang lebih parah lagi dari ini." Karin mengeluarkan ancaman dengan tatapan yang sangat keji sehingga Citra langsung merasa ketakutan. Tatapan Karin membuatnya merinding, ia merasakan ancaman bahaya dari tatapannya tersebut sehingga mulut dan tubuhnya tak bisa bergerak dan membeku. Mereka segera keluar begitu merasa sudah cukup memberi mereka pelajaran. "Entah kenapa aku bahkan tak merasakan kesenangan dari apa yang baru saja kita lakukan. Aku bingung dengan pola pikir mereka, sepertinya mereka mengalami gangguan mental." ucap Adora seolah merasa hal tersebut adalah kesalahan bukanlah kebenaran. "Kita memang ingin memberi efek jera kepada mereka, tapi bukan berarti kita juga membenarkan apa yang sudah kita lakukan kepada mereka." jelas Karin berjalan pelan menjauh dari gedung elite tersebut. "Aku harap kali ini bisa membuat mereka tidak melakukan perbuatannya lagi." tambah Aurelia mendesah kesal. Karin hanya tersenyum santai kemudian menekan alat komunikasinya. "Bagaimana dengan kalian?" tanya Karin kepada Rinto dan Yogi yang menangani masalah Syams. "Beres!!!" ucap Rinto singkat. "Adith.." Panggil Karin kepada Adith. "Aku juga sudah selesai meretas CCTV toilet mereka." jawab Adith dengan santai. Chapter 299 - Memancing Harimau "Huuhhhh... membosankan. Sebaiknya aku pulang saja." sesaat sebelum Alisya turun dari pohon, ia bisa mendengar suara detak jantung yang sangat familiar di telinganya. "Bagaiman bisa aku lupa kalau alat peredam ini terhubung dengan GPS yang ada pada Adith?" Alisya memegang alat peredam yang ada ditangganya sedang pada telinganya ia tutup menggunakan alat yang selama ini diberikan oleh ayah Karin. Karena melihat tanda hijau, Alisya tak sadar dan langsung mengaktifkan alat peredamnya yang selama ini ia matikan hanya untuk menghindari Adith. Dan kali ini Adith bisa menemukannya, untunglah ia sengaja melepas alat peredam dari ayah Karin karena merasa panas dan sedikit gatal. "Sial" Alisya langsung melompat dari atas pohon dan berlari pergi dari arah datangnya Adith. Adith tak melihat Alisya yang sudah berbelok dengan cepat memanjat gedung kelas lain dengan santai dan berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. "Alisya... sampai kapan kau harus menghindariku terus??" Adith yang sampai disana saat Alisya sudah menghilang terlihat frustasi. Alisya yang melihatnya masih terus berusaha keras membuatnya menjadi sangat bingung dan gundah. "Kau akan membuatku kesulitan jika seperti ini terus Dith. Aku tahu kau siap menerimaku dengan kondisi apapun, tapi aku juga seorang wanita yang se enggaknya ingin terlihat cukup meski tak sempurna di matamu." gumam Alisya yang dengan cepat berlari saat Adith tak sengaja menengok ke atas gedung. Alisya yang berlari karena takut di lihat oleh Adith tanpa sengaja menabrak Fani dan Putri saat akan bereblok turun. Alisya menabrak mereka dengan sangat keras sampai mereka bertiga hampir saja jatuh dari tangga namun Alisya bergerak dengan cepat dengan memutar tubuhnya untuk menopang tubuh Fani dan Putri. "Maafkan aku, apa kalian baik-baik saja?" tanya Alisya cepat membantu mereka berdiri dengan nyaman. Alisya yang membantu mereka tak sengaja memegang lengan mereka yang sebelumnya sudah dibuat memar oleh Karin sehingga Fani dan Putri memekik perih. "Ahh!!!" Teriak mereka secara bersamaan meringis perih. Bukan mereka lebay atau dibuat-buat, tapi Karin sengaja memberikan memar yang sebenarnya agar reaksi mereka benar-benar alami. "Apa kalian terluka? kenapa kalian terlihat kesakitan seperti itu?" tanya Alisya khawatir dengan reaksi mereka. "Yang di cari-cari muncul sendiri. Aku tak menyangka kalau dewi keberuntungan berpihak pada kita." Gumam Fani melirik Putri yang masih meringis sakit. "Aku malah tidak yakin apakah ini beruntung atau sial sebenarnya." ucap Putri langsung memulai ekspresi tajam untuk memancing Alisya. "Kami baik-baik saja. Terimakasih sudah bertanya." Fani berbalik badan ingin pergi tapi Alisya tak bisa membiarkan mereka pergi begitu saja. Tidak ketika ia merasa bersalah karena sudah menabrak mereka berdua dan juga melihat reaksi mereka yang terlihat meringis kesakitan. "Aku takkan membiarkan kalian pergi sebelum memastikan keadaan kalian." tegas Alisya berdiri di hadapan Fani dengan cepat untuk menghentikannya. "Bukan urusanmu." Putri yang sudah bergerak pergi langsung di tahan oleh Alisya dan dengan cepat Alisya menaikkan lengan baju Putri untuk melihat apa yang membuatnya meringis kesakitan. "Memar? bagaimana kalian bisa mendapatkan memar ini?" Alisya merasa yakin kalau memar tersebut bukanlah berasal dari tabrakan yang ia lakukan sebelumnya. "Ini bukan memar. Biarkan kami lewat!" ucap Putri berusaha untuk menghindari Alisya. "Sudah ku bilang aku takkan membiarkan kalian pergi." ancam Alisya dengan tatapan mengintimidasi. "Kenapa sekarang kau bersikap peduli? bahkan setelah kau melihat Egi yang lebih parah dibanding kami kau hanya bersikap acuh?" pancing Fani dengan tatapan sinisnya. "Apa ini benar?" pikir Fani merasa sedikit takut dengan apa yang barusan ia katakan pada Alisya. "Egi? Jadi ini juga ada hubungannya dengan Egi? apa yang sedang terjadi sebenarnya? Kenapa kalian juga mengalami hal ini. Bukankah hanya..." Alisya mulai mengingat akan apa yang sudah dikatakan oleh Egi kepadanya lalu. "Tidak usah bersikap simpatik, kau selalu bersikap sok peduli pada orang lain tapi kau selalu melarikan diri." Putri sengaja menekan kalimatnya yang terakhir dan pergi meninggalkan Alisya yang tak bisa berkata apa-apa dengan menabrak bahu Alisya dengan kuat agar ia bisa lewat. Alisya hanya terdiam membatu memikirkan kalimat Putri yang seolah menusuknya dengan sangat tepat. Ia memang selama ini selalu saja bersikap sangat perduli dengan orang lain, namun ia juga selalu melarikan diri hanya karena terus memikirkan akan penilaian mereka yang berubah terhadap dirinya. "Kenapa aku begitu peduli dengan penilaian mereka di saat aku sendiri yang terlebih dahulu ikut campur dalam urusan mereka. Bukankah aku yang memaksa untuk ikut campur dalam setiap masalah mereka dan karena aku pula mereka dalam masalah lalu sejak kapan aku peduli akan tanggapan dan penilaian mereka kepadaku?" Alisya terus bergumam sendirian terduduk di tangga memikirkan apa yang sudah ia lakukan selama ini. Ia yang dulu tak pernah peduli dengan tanggapan orang lain membuatnya tak perlu menghindari siapapun karenanya. Dan yang ia lakukan saat ini hanya membuatnya terlihat konyol. Alisya mendesah keras dan menertawakan dirinya sendiri. "Karin, kamu yakin ini benar? bagaimana kalau Alisya makin terpukul?" Putri merasa bersalah sudah mengatakan hal yang menyakitkan tersebut kepada Alisya. "Benar, aku jadi tidak enak kepada Alisya, ekspresi wajahnya terlihat sangat sedih." tambah Fani merasakan hal yang sama kepada Alisya. "Tak perlu khawatir, kalian sudah melakukannya dengan baik melebihi perkiraanku. Kembalilah ke kelas, saat ini guru-guru sedang mengadakan rapat sehingga semua kelas dalam keadaan tidak belajar. Akan berbahaya jika kalian berada di luar kelas tanpa pengawasan. Serahkan Alisya padaku!" ucap Karin melihat Alisya dari kejauhan yang sudah berjalan turun menuju ke suatu tempat. "ehemmm..." Adith sedikit terbatuk pelan menghampiri Karin yang terlihat seperti seorang psikopat yang sedang mengintai mangsanya. "Oh... terimakasih banyak atas kerja sama mu. Maaf karena sudah menggunakanmu, tapi hanya dengan kehadiranmu lah Alisya bisa bersikap panik seperti tadi." ucap Karin dengan santai kepada Adith yang berdiri di belakangnya. Karin langsung mengikuti ke tampat dimana Alisya pergi dengan terus mengendap-endap dari kejauhan karena tak ingin berada dalam radar telinga Alisya. "Apa yang sedang kalian rencanakan sebenarnya?" Adith terus mengikuti Karin tanpa tahu pasti apa yang sedang ia rencanakan. Dari tadi ia sangat merasa penasaran sejak panggilan global yang tak sengaja Karin nyalakan. "Memancing Harimau yang sedang tidur." tegas Karin dengan senyuman iblisnya. "Tandukmu keluar!" Adith sengaja mengejek Karin yang terlihat sangat licik. Karin hanya menoleh dengan cepat namun tak bisa melakukan apapun kepada Adith sehingga ia kembali melangkah untuk terus mengikuti Alisya. "Tunggu sebentar, kenapa Ryu dibawa kedalam gudang olah raga bersama dengan Rinto dan Yogi oleh anak-anak kelas elite lainnya?" tanya Adith yang melihat rombongan kelas IIS yang cukup banyak sedang mengawal Ryu, Rinto dan juga Yogi. "Oh.. mereka, biarkan saja mereka. Mereka juga punya urusan yang harus di selesaikan dengan segera." ucap Karin santai seolah tak begitu mengkhawatirkan mereka. "Kalian sedang melakukan drama peran apa sebenarnya?" Adith merasa pusing melihat tingkah Karin yang terus merahasikan rencana mereka darinya. "Pertanyaan yang sama dari kami." ucap Zein dari belakang Adith dan Karin. Adith dan Karin hampir saja menghajar Zein karena terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba. "Apa yang kalian berdua lakukan disini dengan mengendap-endap seperti itu?" tambah Riyan merasa curiga dengan tingkah Adith dan Karin. "Susstttt diam! kau akan membuat kita ketahuan." Karin langsung menutup mulut Riyan dengan cepat karena suaranya yang lantang. "Jadi apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Zein dengan setengah berbisik. "Aku... hahhh??? dimana dia?" Karin yang terlalu terfokus pada ketiga orang elite itu harus kehilangan keberadaan Alisya. Karin dengan cepat berlari ke arah dimana ia terakhir melihat Alisya di ikuti oleh Adith dan Zein serta Riyan. Karin langsung menoleh kepada ketiga orang tersebut dengan tatapan tajam seperti singa yang sedang mengaum keras penuh amarah. Chapter 300 - Tidak Perduli Jika Harus Menjadi Monster "Brengsek. Mereka pikir dengan mengancamku bisa membuatku takut? Tentu saja aku tidak akan takut!" ucap Citra dengan tatapan penuh emosi. Mereka dengan cepat pergi membersihkan diri di ruang ganti gedung olah raga dan mengganti pakaian mereka dengan menggunakan Pakaian olah raga. "Syukurlah hari ini sedang di adakan rapat guru-guru sehingga kita tidak akan dipermasalahkan jika memakai baju olah raga." terang Nabilah sembari mengelap rambutnya yang masih basah. "Aku masih merasa ingin muntah!" tambah Davina dengan menutup mulutnya karena masih merasa mual setiap kali mengingat kejadian sebelumnya. "Aku pasti akan memberikan mereka pelajaran. Citra, kita harus memberikan mereka pembalasan." ucap Nabilah dengan sangat marah. "Tentu, tapi sebelum itu kita harus membuat mereka semakin meradang dulu dengan melakukan hal yang lebih sadis kepada Egi." tegas Citra memakai pakaian olah raganya. Citra langsung melakukan panggilan kepada Egi dan memintanya untuk datang ke gedung olah raga dimana mereka berada. Egi yang berada dalam perpustakaan pun akhirnya langsung berlari dengan sangat cepat menuju ke gedung olah raga yang letaknya cukup jauh. Citra meminta Egi untuk mendatanginya di dalam gudang penyimpanan barang. Alisya yang sedang mencari Egi tak sengaja melihatnya dari kejauhan sedang memasuki gedung olah raga dengan terburu-buru. Merasa ada yang aneh, Alisya dengan cepat pergi ke tempat Egi saat ia masih berada diruang kelas karena mencarinya. "A, ada apa lagi? bukankah aku sudah memberikan apa yang kalian minta tadi?" ucap Egi dengan wajah penuh ketakutan. "Kau! Kau tau karena dirimu Karin dan yang lainnya sudah berani mengotori tubuh kami dan bahkan membuat kami menjadi sangat marah!" ucap Citra dengan tatapan bengis yang dirasa oleh Egi cukup berbahaya. Egi langsung berniat untuk melarikan diri begitu melihat di tangan Citra ada sebuah pisau cutter yang membuatnya semakin takut namun ia dengan cepat dihentikan oleh Nabilah dan Davina. "Eits, mau kemana kamu? Mulutmu terlalu bocor dengan bercerita kemana-kemana." ucap Davina langsung mendorong tubuh Egi dengan sangat keras. Egi meringis sakit karena luka lebam dan memar yang ia terima belum sembuh dengan baik dan bahkan semakin parah dari hari ke harinya. Alisya yang kehilangan jejak Egi di dalam gedung olah raga membuatnya harus memasuki satu persatu ruang yang ada disana untuk memastikan keberadaan Egi. "Maafkan aku, tapi aku jamin aku tak menceritakan apapun kepada siapapun." terang Egi dengan suara yang bergetar ketakutan. "Lalu kenapa Karin BERANI MENGUSIK ku? Dia pikir siapa dirinya hah???" teriak Citra dengan sangat lantang membuat Egi semakin merasa ketakutan dan air matanya mengalir deras. Alisya dengan jelas mendengar suara Citra dari suatu ruangan, namun ia tidak bisa menemukan keberadaan mereka. "Kau sudah membuatku dipermalukan hari ini, maka hari ini kau juga harus merasakan yang sama." Citra langsung merobek-robek baju Egi yang tak menyisakan sedikit celah untuk menutupi tubuhnya. Citra bahkan tak segan untuk mengiris tali Bra nya yang sampai membuat tubuhnya teriris oleh pisau cutter milik Citra. Mereka terus tertawa di saat Egi memohon-mohon ampun. "Wajahmu ini membuatku muak!" teriak Citra sekali lagi yang langsung mengarahkan pisaunya ke dekat wajah Egi yang membuat Egi langsung bersujud di kaki Citra. Alisya masuk dengan menendang pintu gudang penyimpanan hingga terjatuh yang membuat Nabilah dan Davina terkejut bukan main. Alisya melihat Egi yang kacau berantakan dan mengenaskan dengan pipi yang sudah berdarah membuat Alisya sangat marah. Alisya mencoba mengendalikan dirinya dengan langsung memakai alat peredam milik Adith agar menghindari trauma mentalnya kambuh lalu bergegas menyelamatkan Egi dari kaki Citra. "Arrghhhh. Siapa lagi sih? kenapa semua orang ingin berlagak pahlawan?" Citra begitu emosi saat Alisya masuk dan memindahkan Egi dari kakinya. Alisya langsung membuka pakaiannya dan memberikan baju seragamnya ke tubuh Egi dimana Egi langsung memeluk tubuh Alisya dengan sangat erat. Tubuh Egi bergetar hebat karena takut. "Citra, bukankah dia yang menghalangi kita tempo hari?" ucap Davina begitu mengenali Alisya. "Citra, dia itu Alisya. Aku dengar dia kekasihnya Adith." tambah Nabilah cepat. "Aku tak perduli dia siapa. Hari ini akan aku lampiaskan amarahku pad siapapun yang berani menganggu ku." tatap Citra penuh akan amarah pada Alisya dan Egi. Alisya menatap Ketiganya dengan mengeluarkan aura membunuh yang sangat besar. Namun ketiga orang tak berotak itu tak peduli dan langsung melakukan penyerangan kepada Alisya. Citra yang penuh nafsu langsung mengarahkan pisaunya kepada Egi yang di tepis Alisya menggunakan tangannya. Tangan Alisya banjir akan darah segar. Alisya menyingkirkan Egi ke tempat yang aman. "Alisya, tanganmu." ucap Egi yang mengkhawatirkan Alisya. "Pergilah cari bantuan." ucap Alisya untuk membuat Egi pergi dari sana. Tanpa pikir panjang, Egi langsung terpikir akan Adith dan Karin sehingga ia berlari dengan begitu cepat keluar dari gudang penyimpanan. "Karin, kau mendengar ku bukan? selamatkan Egi sebelum keluar dari gedung olah raga." Alisya yang sudah terhubung dengan alat komunikasi mereka sebelumnya dengan cepat meminta Karin untuk menyelamatkan Egi yang pakaiannya masih belum menutupi tubuhnya karena seragam putih yang masih terlihat transparan. Tanpa menunggu jawaban dari Karin, Alisya langsung mengeluarkan aura membunuh yang sangat pekat membuat Citra dan yang lainnya bergetar ketakutan. Alisya langsung menendang mereka satu persatu dan mematahkan tangan dari Citra serta Nabilah dan Davina. Alisya bahkan tak peduli dengan teriakan mereka yang meringis kesakitan. "Kau adalah monster. Kau bukan manusia." ucap Citra dengan tatapan penuh kebencian. "Monster? hahahaha aku tak peduli jika harus menjadi monster sekalipun untuk bisa melindungi orang-orang disekitar ku." Alisya tak sadar kalau alat komunikasinya masih terhubung secara global dengan teman-temannya yang lain. Alisya berlalu pergi dari gudang penyimpanan tersebut meninggalkan Citra dan yang lainnya yang sedang meringis kesakitan. Ancaman sepertinya sudah tidak berlaku lagi pada mereka sehingga Alisya membuat mereka merasakan penderitaan yang sebenarnya. "ahhhh" Setelah berjalan cukup jauh dan tak terlihat oleh Citra dan yang lainnya Alisya hampir terjatuh namun dengan cepat Adith menangkap tubuhnya. Alisya terus berusaha melawan phobianya terhadap gudang demi menyelamatkan Egi. "Adith, kau." Alisya yang berkeringat dingin berusaha untuk menjauh namun kesadarannya semakin menghilang. "Dan aku tak perduli siapapun dirimu, aku tetap mencintaimu meski jika kau seorang monster. Kau membuatku seperti orang bodoh karena mencintaimu." ucap Adith menatap lembut Alisya. "Maafkan aku!" tambah Adith lagi sesaat sebelum kesadaran Alisya benar-benar menghilang. Alisya jatuh pingsan dan tak sadarkan diri saat terus berusaha melawan tekanan phobianya terhadap sebuah gudang penyimpanan. Chapter 301 - Taichi Mereka tak bisa membawa Alisya ke ruang UKS karena tak ingin dokter yang berada disana mengetahui apa yang terjadi pada Alisya terlebih karena tangannya yang terluka terlihat sembuh dengan begitu cepat. Dari wajahnya, Alisya terlihat gusar dan semakin berkeringat dingin yang membuat Adith terus menggenggam tangan Alisya karena khawatir. "Lepaskan... lepaskan saya! Toolong!" teriak seorang anak kecil meminta pertolongan. "Diam!!! kalau kau tak diam juga, aku akan mematahkan lehermu sekarang juga!" bentak seorang pria dengan sangat kasar. Ia memegang pipi Alisya dengan sangat kuat dan membuangnya dengan kasar sehingga anak itu merasakan kebas pada bagian pipinya. "Paman siapa? apa yang paman ingin lakukan?" anak kecil itu bertanya dengan cepat dan suara yang bergetar. "Sialan, aku pikir kau adalah seorang laki-laki tidak taunya hanya seorang anak perempuan." gumamnya dengan kesal langsung menendang perut anak kecil itu dengan kuat. "ohokkk ohookk!" anak kecil itu langsung terbatuk-batuk karena tendangan tersebut. "Kau sudah menggagalkan rencana ku. Jadi kau harus menanggung akibatnya." ucapnya santai sambil berlalu pergi. "Orang jahat. ohokkk sepertimu akan di tangkap ohokk oleh Ayahku secepatnya." ucap anak kecil tersebut dengan sangat berani meski tubuhnya sudah sangat kesakitan. Merasa sangat benci dengan apa yang di katakan oleh anak kecil tersebut, sebuah pukulan langsung mengenai keras di bagian telinganya yang membuat telinga Alisya menjadi sangat sakit. Alisya terlihat mulai sadarkan diri dengan memegang kedua telinganya yang kemudian terlihat darah segar mengalir jatuh yang membuat Adith bergerak cepat memeluk Alisya yang meronta kesakitan. Adith dengan cepat membersihkan kedua telinga Alisya dengan kain yang sudah ia gunakan untuk membersihkan luka di tangannya. "Apa yang terjadi?" tanya Adith kepada Karin yang sedang berusaha menyuntikkan Alisya cairan penenangnya untuk yang kedua kalinya. "Gudang itu membangkitkan trauma masa kecilnya. Alisya mungkin bermimpi mengenai penculikan dirinya yang secara tak sadar membawa tekanan yang sangat tinggi pada dirinya." terang Karin terus berusaha menyuntikkan cairan penenangnya. "Aaahhhhh" teriak Alisya seolah masih merasakan sakit yang teramat dalam. Tepat setelah Karin berhasil, Alisya langsung melompat keluar dari jendela dimana ia sedang berada di lantai 2 markas milik Adith dan yang lainnya. Alisya melarikan diri bukan karena trauma mentalnya, tetapi ia merasakan kalau energi nanonya akan kembali meledak sehingga dia langsung pergi dari sana untuk tidak membuat Karin dan Adith merasakan ledakan tersebut. "Alisya, kau mau kemana?" Alisya yang tak menjawab teriakan Karin membuat keduanya dengan cepat berlari kebawah untuk mengikutinya. Merasa tidak aman jika harus meledakkan energi disekitar sekolah, Alisya langsung mencoba untuk melewati gerbang sekolah yang kebetulan terbuka saat ia mengarah kesana. "Alisya!" seseorang segera memanggil Alisya begitu melihatnya akan melewati gerbang sekolah. "Bapak, kenapa bapak berada disini?" tanya Alisya masih mencoba mengendalikan diri namun ia sudah tidak kuat lagi. Melihat energi Alisya yang kacau, Ayah Alisya dengan cepat melakukan totok pengendalian dengan menyalurkan energi tersebut kembali ke alam dengan mengeluarkan energi Chi pada Alisya untuk menormalkannya, namun itu masih belum cukup. "Ikut aku!" pinta ayahnya cepat mencari tempat yang baik untuk mereka berdua. "Bapak, aku sudah.." Alisya tidak bisa menahannya lagi meski sudah mendapatkan pengendalian, energi nano dalam tubuhnya terlalu besar sehingga tubuhnya mulai terasa panas. "Bernafaslah yang dalam. Keluarkan energi Chi mu dengan memusatkan pikiranmu lalu lakukan gerakan Taichi untuk menyalurkannya bersama dengan Angin." Ayah Alisya menuntun gerakan Alisya dengan menggunakan gerakan Taichi. Gerakan Taichi yang cukup lambat namun lembut membuat Alisya secara perlahan merasakan ketenangan. Angin di sekitar mereka juga berhembus kuat setiap kali pelepasan energi itu dikembalikan ke alam. "Terus atur aliran pernafasanmu dengan begitu energi dalam tubuhmu akan secara perlahan-lahan menjadi lebih tenang. Pusatkan pikiranmu setiap kali kau melakukan gerakan itu." Ayah Alisya terus menuntun Alisya sampai ia melihat anaknya mulai menjadi lebih tenang. Begitu Alisya merasa sudah semakin tenang, ia membuka matanya dan menatap ayahnya dengan serius. "Sejak kapan kau mengalami hal ini?" tanya ayah Alisya masih dengan tatapan hangat tidak membebani anaknya. "Sebelum itu, bagaimana bapak bisa ada di sekolah?" Alisya bingung karena baru kali ini ayahnya datang berkunjung ke sekolahnya. "Jangan mengalihkan pembicaraan, kau pikir aku bisa kau kelabui ya?" ucap Ayahnya dengan tatapan tajam. Kening Alisya berkedut kesal. Ia tidak menyangka kalau ayahnya akan berpikir seperti itu kepadanya. "Lihatlah sekeliling mu, bapak sekarang lagi di sekolah." ucap Alisya menunjuk ke sekitar mereka. Ayahnya pun ikut melihat ke sekeliling dan mengetahui kalau memang benar ia berada di sekolah anaknya. "Ya aku tau ini sekolah, lalu kenapa?" tanya ayahnya dengan santai. "Untuk itulah aku bertanya! Kenapa bapak bisa ada di sekolah? Aduuhh.." Alisya menekan kepalanya yang sedikit sakit karena berbicara dengan menggertakkan giginya sebab tak ingin berteriak kepada ayahnya. "Oh Iya!" ayah Alisya langsung teringat akan tujuannya ke sekolah Alisya. "Kalau sudah ingat yah di katakan! Jangan pasang eskpresi bersinar seperti itu!" Alisya kesal karena ayahnya seolah memiliki bola lampu yang menyala pada bagian atas kepalanya saat mengingat namun tidak mengatakannya kepada Alisya. "Sepertinya aku harus memiliki cucu secepatnya." ucap ayahnya lagi santai berjalan melewati Alisya. Alisya sekali lagi melakukan gerakan Taichi bukan karena energinya yang kacau, tapi karena emosinya yang semakin kacau. "Ingat Alisya, itu bapakmu. Jangan jadi anak durhaka se kesal apapun dan se marah apapun dirimu, dia memiliki level yang sangat tinggi." Alisya mendoktrin dirinya sendiri sembari terus melakukan gerakan Taichi untuk menenangkan diri. "Ikutlah bersamaku!" ucap Ayahnya begitu Alisya selesai melakukan gerakannya. "Kenapa bapak masih ada disi... ni?!" Alisya hampir saja meledak dalam amarah namun masih berusaha menenangkan diri. "Aku dipanggil kepala sekolah karena katanya kau sudah membuat masalah besar." ucapnya dengan tatapan sangat antusias. "Lalu ada apa dengan ekspresi mu itu? bukankah harusnya bapak menujukkan ekspresi marah karena aku menyebabkan masalah?" tanya Alisya bingung dengan ekspresi bahagia ayahnya. "Sudah lama Bapak menantikan ini, bapak ingin merasakan bagaimana rasanya di panggil oleh sekolah sebagai orang tua dari siswa. Ini menandakan kalau aku memang seorang Bapak!" ucap ayah Alisya dengan senyum sumringah berjalan memimpin Alisya. Alisya hanya bisa tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan. Alisya bisa memahami bagaimana perasaan ayahnya saat ini karena selama ini ayahnya memang tak pernah merasakan bagaimana menjadi seorang ayah pada umumnya sehingga begitu mendapatkan panggilan orang tua, ayah Alisya sangat senang karena biasanya nenek Alisya yang akan pergi. Chapter 302 - Berkunjung ke Sekolah Adith dan Karin yang panik karena Alisya yang melarikan diri mencari kesana kemari menemukannya sedang beradu komentar dengan Ayahnya. Karin yang melihat Ayah Alisya berada di sekolah mereka membuatnya bingung dan segera mendekat. "Paman? Apa yang paman lakukan disini?" tanya Karin menghampiri Ayah Alisya dengan cepat di ikuti Adith. "Oh, Karin. Sepertinya kau semakin cantik." tegur Ayah Alisya tak menjawab pertanyaan Karin hanya memujinya saja. "Halo om! Apa ada sesuatu?" sapa Adith cepat menyalami tangan Ayah Alisya. "Iya, mau minta cu.." sebelum ayahnya melanjutkan kata-katanya Alisya dengan cepat memotong perkataan Ayahnya. "Cu.. Cuma mau ke ruang kepala sekolah!" Alisya memandang Ayahnya dengan tatapan perang. "Apa ada yang salah dengan Ayahmu?" bisik Karin kepada Alisya dengan bergumam pelan. "Yang salah itu adalah kau! Apa yang sudah kau lakukan sampai Ayah di panggil ke sekolah?" Ayah Karin tiba-tiba saja muncul dari belakang Karin yang membuat Karin bergetar kaget. "Ayah? kenapa ayah juga kemari?" tanya Karin bersembunyi di balik tubuh Ayah Alisya. "Jangan bersembunyi, kau kan sudah kelas 3 sekarang bagaimana bisa kau membuat masalah?" Sekali lagi Ayah Karin meradang kesal. "Ayah, sabar dulu. Ayah harusnya mendengarkan aku sebelum marah!" terang Karin terus berusaha menghindar dari sergapan Ayahnya. "Yah.. Harusnya reaksi seperti ini yang di tunjukkan oleh seorang Ayah." gumam Alisya mengangguk-angguk pelan membenarkan reaksi Ayah Karin. "Pak Hady, bukankah harusnya anda juga bersikap seperti saya? Saya sangat antusias begitu mendengar bahwa kepala sekolah memanggil saya sebagai orang tua dari siswa." terang Ayah Alisya dengan penuh semangat 45. "Ya ampun pak Lesham, seharusnya reaksi anda tidak seperti itu. Anda harus memperhatikan apa yang sudah mereka lakukan sampai kita di panggil ke sekolah." protes Ayah Karin kepada Ayah Alisya. Mereka berdua segera berdebat cukup heboh yang membuat Alisya dan Karin diam-diam ingin melarikan diri dari sana. Begitu Ayah mereka masih terfokus dengan diskusi mereka, Karin dengan cepat mengajak Alisya kabur dari sana. Alisya juga refleks menarik Adith yang masih terdiam dengan serius menyimak perdebatan Ayah Alisya dan Ayah Karin. Tanpa sadar mereka terus melarikan diri sampai menghilang dari pandangan kedua orang tua mereka. "Sepertinya kedua orang tua kita di panggil oleh kepala sekolah karena ada hubungannya dengan Citra." terang Karin terengah-engah mengejar lari Alisya yang cukup kencang sampai membuat Adith terlihat seolah-olah ia sedang di seret pergi. "Sepertinya begitu. Aku rasa hanya kedua orang tua kita saja yang di panggil." terang Alisya tanpa melepas genggaman tangannya pada Adith. "Sepertinya kau harus melepaskan genggaman mu dulu sebelum berbicara" goda Karin kepada Alisya dengan menaik turunkan keningnya. "Ah, Maaf!" Alisya dengan cepat melepaskan genggamannya kemudian berbalik ingin pergi karena merasa malu namun Adith malah berbalik menggenggam tangan Alisya dan menariknya hingga Alisya membentur ke tubuh Adith. "Oke aku tidak melihat apapun." Karin dengan cepat menutup matanya sembari berjalan berlalu pergi meninggalkan Adith dan Alisya memberikan ruang untuk mereka berbicara terlebih dahulu. "Kalian dari mana saja? kami sudah kelelahan mencari kalian." Rinto dan Yogi muncul mengangetkan Karin yang membuat Adith dan Alisya menjadi salah tingkah. "Apa kami sudah melakukan kesalahan?" tanya Yogi membalik badan ingin melarikan diri tak ingin mengganggu mereka. "Karena kau sudah mengganggu kami, bertanggung jawablah dulu." Adith menarik kerah Yogi dengan kesal. "Ueekkk, Aku hanya mencari Karin dan Alisya yang mendapat panggilan dari kepala sekolah." terang Yogi dengan leher yang tercekik. "Iya, kalian di minta untuk menghadap ke kantornya sekarang." ucap Rinto kembali mengingatkan Karin dan Alisya. "Oke, masuk ke tahap klimaks. Hanya dalam satu hari semuanya bisa di selesaikan dengan mudah." Karin dan Alisya saling berpandangan lalu dengan santai menuju ke kantor kepala sekolah. Disana sudah ada Citra dan teman-temannya yang lain bersama kedua orang tua mereka yang lengkap sehingga ruangan itu terasa penuh oleh mereka. "Oh, jadi kamu anak kurang ajar yang sudah berani mencelakai anak saya?" seorang Ibu dengan sini sudah menghampiri Alisya dengan cepat. "Sabar bu, sebaiknya kita bicarakan ini baik-baik!" Ibu Vivian dengan cepat menghalangi ibu tersebut yang sudah siap ingin menghajar Alisya. "Sabar kamu bilang? memangnya kalau saya sabar tangan anak saya Citra bisa di kembalikan? Dia sudah berani mematahkan tangan anak saya!!" bentak Ayah Citra dengan sangat kasar. "Iya benar, sabar tidak akan cukup. Karena dia sudah berani mematahkan tangan anak kami, maka tangan dia juga harus dipatahkan keduanya biar tobat. Mata di balas dengan mata." tambah seorang ibu lainnya yang sedang mendampingi Nabilah yang sedang meringis kesakitan. "Anak ini terlihat sangat kurang ajar, mereka bahkan tak meminta maaf sama sekali saat sudah melakukan kesalahan." tantang Ayah Citra dengan tatapan tajam dan angkuh. Alisya bisa melihat kalau mereka terlihat cukup memiliki status sosial tinggi jika dilihat dari penampilan mereka serta Jas mahal yang dikenakan oleh orang tua Citra. "Maaf? untuk apa, kami bahkan tak melakukan kesalahan apapun." ucap Karin mencoba membela diri. Alisya harus mengakui kemampuan acting Karin yang terbilang lumayan. "Masih nggak berani ngaku? Kau sudah melakukan hal se keji ini kepada Citra." bentak ibunya dengan sangat bengis. "Sebentar bu, kita juga harus mendengarkan penjelasan dari mereka." jelas ibu Vivian berusaha menjadi penengah mereka. "Tapi kami memang tidak melakukan apapun kepada mereka, bapak sama ibu bisa tanya saja kepada mereka." tunjuk Alisya kepada Citra. Citra langsung memperlihatkan ekspresi yang ketakutan begitu ditunjuk oleh Alisya yang membuat ibunya semakin meradang marah. "Kalian lihat? Citra sepertinya mendapatkan ancaman dari anak itu. Dia jadi tidak bisa berbicara karena merasa ketakutan." terang ibu Citra memeluk anaknya dengan erat. "Tenang lah ibu-ibu, bapak-bapak. Dokter sekolah sebentar lagi akan tiba sehingga kita bisa memastikan bagaimana kondisi tangan mereka sebenarnya." ucap pak Richard berusaha menengahi mereka. "Ibu, ini sakit sekali rasanya! Aku nggak sanggup nahan rasa sakitnya." Citra terus meringis sakit di bantu oleh Nabilah dan Davina. "Dimana kedua orang tua kalian? sepertinya kalian tidak di ajar dengan baik sampai bersikap bar-bar seperti ini." Ayah Citra semakin meradang saat melihat anaknya meringis kesakitan. "Kami sudah memanggil orang tua mereka berdua. Jangan khawatir, mereka seharusnya sudah tiba sekarang." terang pak Richard. "Maaf saya terlambat." Dokter Dirga masuk kedalam ruang kepala sekolah bersama dengan Ayah Alisya dan Ayah Karin. "Selamat datang, silahkan masuk pak!" ucap pak Richard menyalami keduanya dan mempersilakan mereka masuk. "Dokter, tolong lihat seberapa parah patah tangan anak saya." panggil ibu Nabilah dengan tatapan khawatir. "Mari kita lihat apakah kalian masih akan mengelak lagi. Sebaiknya anda mengajari anak anda dengan sangat baik sehingga ia tidak bersikap tak tahu etika seperti ini." tegas Ayah Citra yang membuat Ayah Karin dan Ayah Alisya mengerutkan kening bingung. "Maaf, tapi sepertinya tangan mereka semua baik-baik saja." ucap dokter Dirga menatap aneh dengan sikap Citra dan yang lainnya yang terlihat seolah merasakan kesakitan. "Apa maksudmu? Jangan-jangan kau juga sudah di bayar mereka untuk berkata seperti itu? anak kami dari tadi meringis kesakitan dan kau bilang tidak terjadi apa-apa? apa kau ini dokter?" serang Ayah Alisya tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dirga. "Sekali lihatpun saya bisa menyimpulkan kalau tangan anak kalian semua sama sekali tidak mengalami patah tangan." seru Ayah Karin yang sudah memperhatikan mereka dengan saksama. "Kau pikir siapa dirimu berbicara seperti itu? kau bahkan bukan seorang Dokter tapi sudah berlagak sombong dengan berkata sekali lihat. hahahaha... jangan bercanda." Ayah Citra tertawa meremehkan. "Sepertinya anda tidak tahu kalau beliau ini adalah pak Hady Reynand. Dokter senior nomor satu di Indonesia dan terbaik dunia." jelas Dokter Dirga dengan penuh kebanggaan. Ayah Citra terdiam dan membeku mendengarnya. Chapter 303 - Berkhianat Melihat sikap mereka yang terlalu angkuh membuat Ayah Alisya juga jadi ikut angkat bicara. "Meski begitu, tangan anak anda memang terlihat tidak memiliki patah tulang. Jika memang mereka mengalami patah tulang, maka seharusnya dari tadi mereka takkan mengizinkan ibu mereka memegangi lengan mereka." Jelas ayah Alisya dengan santai. "Benar, karena pada area yang patah tulang akan menghasilkan rasa nyeri yang cukup parah, bengkak pada bagian yang patah serta akan mengalami memar dan mati rasa pada area tersebut ." tambah Pak Hady sekali lagi memberikan penjelasanya. "Pak, tidakkah bapak terlalu bersikap berlebihan? Seorang Dokter punya kode etik yang tidak bisa di langgar. Jika ternyata apa yang bapak tuduhkan tadi itu tidak benar, maka bapak bisa di beri hukuman berat." terang Ayah Alisya memberikan pendapatnya. "Cih, tau apa kamu soal hukum? lagi pula melihat dari wajah kalian ini, sudah kalian inilah yang memakai kedudukan untuk membeli hukum di Indonesia? Lagi pula dia pasti lebih memilih membela anaknya sendiri." ucapnya acuh tak acuh. "Hati-hati kalau bapak berbicara. Dia adalah Tuan Lesham, menteri pertahanan negara Indonesia. Tentu saja beliau tau banyak tentang hukum di Indonesia, dan ucapan bapak tadi sudah bisa membuat bapak di copot dari jabatan bapak." tegas kepala sekolah mengingatkan Ayah Citra yang terlalu berlagak angkuh. Ayah Citra menjadi pucat pasih dan tak berdaya begitu mendengar apa yabg baru saja di katakan oleh pak Richard. Kakinya serasa melemas dan tak mampu menopang tubuhnya dengan baik. "Gara-gara kamu, Ayah sedang menggali kuburan ayah sendiri." ucap Ayah Citra menghampiri anaknya dengan geram. "Apa kau bilang??? Lalu kenapa kalau dia seorang menteri pertahanan? anaknya sudah bersalah karena mematahkan tangan anak saya. Bukan hanya itu, mereka bahkan menyiram anak kami dengan air comberan." Ibu Citra tak peduli tentang apa yang dikatakan oleh suaminya dan kepala sekolah sehingga ia tetap berani berkata dengan lantang. "Apa benar kalian melakukan hal tersebut?" tanya Ayah Alisya kepada Karin dan Alisya yang berdiri tak jauh dari dirinya. "Aku tidak mematahkan tangannya." ucap Alisya dengan mantap. Untuk hal tersebut, Alisya memang tak berbohong karena yang ia lakukan sebenarnya adalah hanya menggser persendian mereka dari tempatnya kemudian mengembalikannya ke posisi semula. Gerakkan yang dilakukan Alisya dapat menimbulkan bunyi yang terdengar seperti tulang yang retak dan menimbulkan rasa sakit yang cukup besar namun sebenarnya itu mirip seperti teknik mengurut yang biasa di lakukan oleh tenaga pijat pada umumnya. "Tidak, ada saksi yang melihat kalau Alisya sudah mematahkan tanganku dan Karin sudah menyiram kami dengan Air comberan." terang Citra dengan penuh percaya diri. "Jika memang anak saya bersalah, maka saya dengan jelas akan menghukumnya. Namun jika anak saya tidak bersalah, maka kalian yang akan menerima akibatnya." ucap pak Hady mulai tidak suka dengan cara orang tua Citra yang terlihat sekali kalau mereka sangat memanjakan anaknya. "Tentu saja! Saya percaya pada anak saya." tegas Ibu Citra dengan menaikan dagunya penuh percaya diri. "Baik, kalau begitu siapa orang yang sudah kau maksud sebagai saksi tersebut." seru pak Richard kepada Citra. "Egi, Fani dan Putri." ucap Citra mulai tidak merasakan sakit pada bagian lengannya. "Panggilkan mereka bu!" pinta pak Richard kepada Ibu Vivian selaku wali kelas dari siswa yang di sebutkan. Alisya dan Karin saling pandang tak paham mengapa teman-temannya malah menjadi saksi untuk Citra. Sepertinya Citra sudah melancarkan ancamannya lagi kepada mereka bertiga. "Jadi apa benar bahwa kalian melihat Alisya dan Karin mencelakai Citra dan teman-temannya?" tanya pak Richard begitu Egi dan yang lainnya memasuki ruang kepala sekolah. Mereka tak menjawab dan hanya menatap nanar kepada Alisya dan Karin. Keduanya hanya tersenyum hangat memberikan mereka keleluasaan untuk melakukan apapun yang tidak membebani Egi dan yang lainnya. "Emmm,, sebenarnya semua ini adalah ulah Citra pak!" terang Egi berani membuka mulutnya. Egi tak ingin terus-terusan berada di bawah tekanan Citra. "Egi, Kau tau apa yang sedang kau katakan sekarang??" bentak Ayah Citra tidak senang mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Egi. "Tidak Om, Egi memang benar. Semua itu hanya akal-akalan Citra untuk menyalahkan Alisya dan Karin atas apa yang sudah dia lakukan kepada kami." tambah Putri cepat membenarkan ucapan Egi. "Egi, kau akan menyesal karena telah mengkhianati ku seperti itu. Kau tau apa akibatnya pada kedua orang tuamu bukan?" ancam Ayah Citra dengan menggumam pelan mendekati Egi. "Pantas saja anakmu seperti itu, ternyata kau tak ada bedanya." Egi tampak mulai kehilangan sopan santun kepada mereka semua. "Dasar anak tidak tahu sopan santun." Ibu Nabilah melihatnya dengan penuh amarah tak percaya kalau Egi bisa berbicara seperti itu. "Tidak tahu sopan santun? hahahahaha... jangan bercanda tante, anak kalian bahkan lebih busuk dari pada diriku. Aku takkan pernah mengorbankan sahabatku hanya untuk keselamatan ku sendiri." ucap Egi acuh tak acuh dengan mereka semua. "Orang tua kami mengajarkan bahwa seseorang yang bisa kamu percaya di dunia adalah sesuatu yang sangat berharga dan sangat langka. Tapi begitu kamu menemukannya maka jangan pernah kamu khianati dan dustai." tambah Fani menatap penuh kasih kepada Alisya dan Karin "Meski akan selalu ada sampah dan iblis yang akan menyesatkan siapapun dan berkhianat seperti busuknya anak kalian." tambah Putri yang tak mau kalah menghina mereka. "Sebelum mengajari orang lain, kalian harusnya mengajari anak kalian sendiri." tambah Egi berusaha berkata dengan nada sopan namun tak bisa menghilangkan rasa geramnya. "Sepertinya kau perlu di beri pelajaran!!!" hardik ayah Citra karena merasa geram dengan menaikkan tangannya. "Hentikan!!!" Ayah Alisya dengan cepat menahan tangan Ayah Citra. "Cihh,, anak ku adalah anak yang baik-baik!" bentak Ibu Citra tak percaya pada Egi dan yang lainnya. "Kami punya bukti kalau semua ini adalah pekerjaan Citra dan teman-temannya!" tegas Egi dengan penuh percaya diri. Tak tanggung-tanggung, Egi langsung menyiarkan Video perbuatan mereka di monitor sekolah yang terputar hampir di seluruh monitor yang ada di sekolah baik luar gedung maupun seluruh ruang kelas. "Tidak mungkin, itu pasti hasil editan!" bentak Citra menyangkal wajah dan perbuatannya yang jelas-jelas terpampang nyata. "Kalian saya keluarkan dari sekolah!" pak Richard langsung meradang penuh amarah. "Meskipun kau memiliki koneksi dengan kepresidenan, kau sudah kehilangan jabatanmu sebagai kepala kepolisian saat ini." Ayah Alisya juga mengirimkan semua hasil rekaman tingkah Ayah Citra kepada pihak kepresidenan. Rekaman itu di saksikan langsung dalam rapat internal kepolisian. Chapter 304 - Mengambil Permintaan Maaf Mu Alisya dan Karin keluar dari ruangan setelah semuanya telah berhasil diselesaikan oleh kepala sekolah dan para orang tua. Begitu mereka keluar, Adith dan yang lainnya sedang menunggu mereka di luar. "Jika kalian seperti ini, aku seperti merasa baru saja keluar dari penjara." ucap Karin saat melihat teman-temannya tampak berhamburan di depan ruang kepala sekolah untuk menunggu mereka berdua. "Anggap saja seperti itu!" seru Aurelia cuek. "Bagaimana dengan Egi dan yang lainnya?" tanya Adora masih mengkhawatirkan mereka. "Mereka akan keluar sebentar lagi." Terang Karin sembari membalik badan melihat ke arah Alisya yang terlihat ragu-ragu untuk mendekati mereka. Tepat saat itu, Egi dan yang lainnya keluar bersama dengan Ayah Karin dan Ayah Alisya. "Kalian baik-baik saja?" tanya Feby dengan cepat menghampiri ketiganya. "Berkat kalian. Meski aku tak melakukan apapun dan hanya mengatakan semua yang aku pendam tapi rasanya sangat melegakan sekali." terang Egi menarik nafas dalam seolah bebannya terlihat mulai berkurang. "Presiden Namjoon pernah bilang, Speak Your Self. Dan itu benar-benar harus di jadikan sebagai moto bagi orang-orang seperti kami bahwa jika kita diam maka kita akan semakin direndahkan dan mengubur diri, percayalah dan katakan pada dirimu sendiri untuk menyelamatkan dirimu sendiri." terang Yogi dengan penuh percaya diri. "Presiden Namjoon? itu dari negara mana?" tanya Putri bingung dengan siapa yang di maksud oleh Yogi. "Dia bukan seorang Presiden negara, tapi dia adalah seorang Presiden dari pemuda dan pemudi Army se dunia." lanjut Yogi dengan wajah yang tersenyum dengan lesung pipit di kedua pipinya. "Aku tak tau pasti siapa yang di maksud oleh Yogi, tapi apa yang di katakan nya adalah benar. Jangan pernah biarkan orang lain menyakitimu dan sayangilah dirimu sendiri. Ketika kau berani berbicara maka semuanya bisa terselesaikan dengan mudah." terang Adith menepuk pundak Yogi dengan sangat kuat. Kata-kata Adith dan Yogi merasuk kedalam hati mereka. Meski kata-kata itu di tunjukkan untuk Egi dan yang lainnya yang selalu diam mendapatkan banyak perlakuan tak menyenangkan dari orang lain, tak secara langsung kata-kata itu juga menjadi nasehat yang sangat baik bagi Adora dan yang lainnya. "Sepertinya aku mulai menyukai Presiden Namjoon itu." Aurelia terlihat berbinar memikirkan bagaimana sosok yang sudah memberikan kata-kata penuh makna seperti itu. Yogi langsung memasang wajahnya di hadapan Aurelia yang membuat Aurelia mendesah dengan sangat dalam. "Benar, mau bagaimanapun juga kau adalah Namjoon ku nantinya." desah Aurelia yang seketika membuat teman-temannya tertawa riuh. "Kalian anak-anak yang baik, Bapak harap kalian bisa lebih perduli dengan diri sendiri dan juga orang lain." terang Ayah Alisya menatap para pemuda masa depan mereka satu persatu. "Manusia hidup saling berdampingan dan memerlukan satu sama lainnya. Memang akan ada yang menjadi positif dan juga negatif namun semua itu terikat dalam satu kehidupan." terang Ayah Karin mengelus rambut Egi dan Nabilah dengan lembut. "Untuk kedua orang tua kalian, jangan khawatir kami akan mencarikan solusi yang tepat untuk permasalahan mereka." ucap Ayah Alisya memegang pundak Davina memberikan dukungan. "Selain itu, pengobatan kalian terhadap memar-memar yang sudah di buat oleh anakku tercinta Karin, akan kami tanggung sepenuhnya berikut dengan pemeriksaan lainnya jika kalian butuhkan sampai kalian seleai kuliah." Ayah Karin menggertakkan gigi nya menatap anaknya yang sering sekali berbuat onar. "Benarkah?? terimakasih banyak om, tapi apa kami pantas mendapatkan ini?" tanya Egi yang sebelumnya begitu antusias menjadi ragu takut menjadi serakah dan merasa jika hal tersebut terlalu berlebihan. "Tentu saja. Anggap saja sebagai rasa terimakasih kami karena kalian sudah menjadi sahabat Alisya dan Karin!" ucap Ayah Alisya dengan senyuman hangatnya. "Justru kami yang berterima kasih banyak kepada Alisya, rasa peduli yang tinggi membuat kami menjadi orang yang lebih baik dan ingin menjadi seperti dirinya." Putri menatap Alisya dengan mata yang berkaca-kaca penuh rasa syukur yang mengharu biru. "Jangan mengambil contoh dari Alisya, kalian bisa menjadi orang yang se... " Karin yang belum menyelesaikan kata-katanya dengan cepat lehernya sudah dijepit oleh lengan Alisya. Tingkah mereka berdua langsung saja membuat mereka semua tertawa. Ayah Karin dan Alisya yang sudah pulang memberikan mereka waktu untuk menghabiskan waktu bersama sebelum pulang. "Teman-teman..." Alisya yang berada paling belakang dengan ragu-ragu menghentikan mereka karena ingin mengatakan sesuatu. Mereka secara serempak berbalik menatap Alisya yang membuat Alisya tertunduk tak mampu berkata apa-apa karena tenggorokannya terasa kering bahkan ia sampai kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri. Meski tau apa yang sedang diragukan oleh Alisya dan apa yang ingin dikatakannya, mereka tetap terdiam menunggu Alisya sendiri yang mengatakannya. "Maafkan aku karena sudah menghindari kalian selama beberapa hari ini, aku terus melarikan diri dan tak berani berhadapan dengan kalian hanya karena takut akan penilaian kalian berubah kepadaku." terang Alisya dengan nada yang berat. "Tapi sekarang aku tak perduli akan seperti apa penilaian kalian kepadaku karena aku tidak bisa berhenti untuk peduli pada kalian, meski jika kalian membenci atau suatu saat nanti mengaggap ku sebagai seorang monster." tambahnya lagi dengan mendesah dalam. "Kami juga tak peduli akan penilaian mu kepada kami, karena kami akan terus menempel padamu meski kau menjauh ataupun menghilang karena kami yang akan mencari mu karena kau adalah Sahabat kami." ucap Adora mewakili teman-temannya yang lain yang sudah tidak tahan ingin menyerbu Alisya. Mereka dengan cepat berhamburan memeluknya dengan sangat erat bahkan sampai membuat Karin terbuang dengan begitu menyedihkan. "Aku seolah mendengar musik yang mengiringi keperihan hatiku saat ini." gumam Karin memegang dadanya yang sesak. Aurelia tersenyum sinis lalu dengan cepat menarik Karin dan membawanya ketengah dan menjepitnya dalam pelukan mereka. "Kau tau, semuanya akan terasa ringan jika kita lakukan secara bersama-sama." ucap Feby masih memeluk Alisya dengan erat. "Jadi mulai sekarang kau jangan pernah meragukan kami lagi." ucap Gina mengeratkan pelukannya. "Panas!!" ketus Karin ingin melepaskan diri dari pelukan mereka. "Bukankah kau juga harus meminta maaf padaku?" Adith bertanya dengan tatapan nakal kepada Alisya. "Maafkan aku!" Ucap Alisya setelah terdiam sesaat menyadari kesalahannya kepada Adith. "Aku tak menerima permintaan maaf seperti itu." seru Adith cuek. "Jadi kau ingin dia meminta maaf seperti apa?" tanya Riyan bingung dengan maksud Adith. Adith segera maju mendekati Alisya yang membuat Adora menghindar memberikan ruang kepada Adith kemudian mengecup pipi Alisya dengan lembut. "Apa yang kau lakukan?" tanya Alisya kaget. "Mengambil permintaan maaf mu!" seru Adith yang langsung membuat semua teman-temannya bubar. Chapter 305 - Daun Pepaya "Alisya.." sapa Emi senang melihat Alisya berada di dalam kelas. "Pagi Alisya!" sapa Egi dengan penuh semangat. "Selamat pagi Alisya!" Gina yang baru saja masuk pun mengucapkan hal yang sama. "Pa..." Beni yang baru saja ingin menyapa Alisya, dengan cepat di hentikan oleh Aurelia. "Berisik!!!" bentaknya kesal, Aurelia merasa jenuh dengan semua orang yang terus-terusan menyapa Alisya tiada henti. "Oy, itu kekasih mu kenapa? Lagi datang bulan?" bisik Beni kepada Yogi yang menertawakannya. "Selamat, kau orang ke 100 yang mengapa Alisya hari ini." ucap Gani yang sebenarnya tidak menghitung sudah yang ke berapa kali orang-orang terus menyapa Alisya begitu mereka melihatnya berada di dalam ruangan. "Lalu apa masalahnya?" tanya Beni bingung dengan amarah Aurelia. "Kenapa kalian begitu lebay, seolah Alisya takkan pernah muncul lagi dengan menyapanya setiap saat." Aurelia bukannya tidak suka kepada mereka yang menyapa Alisya, ia hanya merasa bahwa hal seperti itu tak perlu mereka lakukan. "Benar, Alisya akan hadir setiap hari. Jadi kalian tidak perlu se lebay itu." tambah Emi membernarkan ucapan Aurelia. "Kau juga sama! Kan kau yang pertama memulainya." tembak Adora kepada Emi yang membuatnya malu dan bersembunyi. "Santai saja, aku juga senang bisa mendapatkan sapaan dari mereka semua." Alisya tersenyum manis mensyukuri sikap ramah teman-temannya yang sudah ia rindukan selama beberapa hari kemarin. "Tuh lihat, Alisya saja bilang tidak masalah. Kenapa kalian yang sewot sih?" Seru Beni setelah mendapatkan dukungan penuh dari Alisya. Aurelia yang sudah siap membuka mulutnya dengan segera di hentikan oleh Karin yang baru masuk dan berdiri di depan kelas bersama Rinto. "Oke semuanya, perhatiannya ke depan." Karin segera menarik perhatian teman-temannya karena ada sesuatu yang ingin ia katakan. "Ada apa? Apa terjadi masalah baru lagi?" Gani bingung karena biasanya Karin tidak pernah mengumumkan sesuatu. "Aku baru dapat kabar dari ibu Arni, dan katanya dia sudah melahirkan seorang anak laki-laki." ucap Karin dengan wajah penuh antusias. "Uhuyy... Ponakan Baruuu!" Teriak Syams secara tiba-tiba yang membuat mereka semua tertawa. "Benarkah? Wah, hebat. Jadi dimana ibu Arni melakukan persalinannya?" tanya Adora cepat. "Rumah sakit Reynand. Kita akan mengunjunginya sebentar setelah pengayaan selesai." Jawab Rinto yang selalu berdiri di samping Karin sebagai wakil ketua kelas selama ini. "Rumah sakit kak Karan?" seru Gina ingin memastikan yang di jawab dengan anggukan pelan oleh Karin. "Bukankah agak malam jika kita mengunjungi Ibu Arni setelah pengayaan?" Alisya yang berpikir bahwa tak baik jika mengunjungi Ibu Arni pada malam hari menganggap bahwa hal tersebut takkan baik bagi sang bayi. "Kita akan percepat jam pengayaan, aku sudah meminta izin kepada guru yang akan membimbing pengayaan nanti." Karin dengan cepat menghadap kepada guru-guru pembimbing pengayaan tepat saat ia telah mendapat kabar dari ibu Arni. Setelah selesai memberikan pengumuman kepada teman-temannya, mereka langsung mengikuti pembelajaran dengan penuh perhatian tanpa melewatkan satupun pelajaran pada hari itu. Saat jam terakhir, para siswa kelas akhir tidak langsung pulang namun mereka semakin fokus untuk melakukan kerja kelompok serta mendapatkan pembimbingan pengayaan termasuk Alisya dan teman-temannya. Emi yang melihat Putri terus mengeliat memegang perutnya membuat Emi khawatir dan mendekatinya. "Putri, kau baik-baik saja? Mukamu terlihat pucat sekali." tanya Emi yang berada di sebelah kiri Putri. "Oh iya benar, apa kau sakit?" Fani yang berada di hadapan Putri pun mengkhawatirkan kondisinya. "Aku sedang datang bulan, rasanya cukup perih dan melilit." Putri terus memegang bawah perutnya dengan sedikit memijat-mijat dengan lembut. "Apa yang terjadi?" pak Very yang baru selesai menuliskan beberapa penyelesaian matematika berbalik badan ketika mendengar suara ribut di bagian belakang. "Tidak apa-apa pak, Putri hanya sedang sedikit mengalami rasa sakit pada bagian perutnya. "Kalau begitu kau bisa pulang sekarang!" tegas pak Very kepada Putri. "Pulang lah, biar Gani yang mengantarmu." ucap Gina memberikan tawaran kepada Putri. "Tidak, sepertinya aku masih bisa bertahan. Jika aku melewatkan pelajaran kali ini, aku tak yakin bisa lolos dalam setiap ujian." Putri merasa masih bisa mengatasi rasa sakit dan keram yang di deritanya. "Apa kau yakin masih ingin berada disini?" tanya Karin memastikan kondisi Putri. Mereka yang tau betul bagaimana rasa nyeri saat mentruasi tentu paham akan apa yang sedang di rasakan putri saat itu sehingga mereka saling memberi perhatian satu sama lainnya. "Iya Kar, meski ini sedikit mengganggu tapi aku masih ingin melanjutkan ke pembelajaran selanjutnya." ucap Putri meyakinkan mereka semua. "Apa kau sudah terbiasa seperti ini? maksudku setiap kali tiba masanya kau akan merasakan sakit seperti ini." Karin ingin mulai menganalisa gejala yang di rasakan oleh Putri. "Biasanya juga tidak. Tapi akhir-akhir ini aku terlalu giat belajar dan Haid ku menjadi tidak teratur. Mungkin ini juga yang menyebabkan aku merasa keram dan perih." seru Putri dengan suara berat. "Ya sudah, Ryu tolong kau bisa mengambil beberapa helain daun pepaya di kebun lab Biologi?" pinta Alisya memikirkan sesuatu untuk meringankan rasa sakit putri. "Baik nona." Ryu dengan cepat bergerak untuk mengambil daun tersebut. "Daun pepaya? apa yang akan kau lakukan dengan daun pepaya?" Adora bingung saat Alisya menyebutkannya. "Pada daun pepaya terdapat Vitamin dan Mineral Kalsium yang yang dengan kombinasinya akan memperlancar haid secara alami." terang Karin memberikan penjelasan kepada mereka. "Lalu bagaimana cara menggunakannya?" tanya Feby penasaran. "Caranya dengan merebus daun pepaya dengan 2 gelas air, lalu tambahkan garam dan sedikit asam jawa. Setelah itu saring dan minum air rebusan tersebut." ucap Alisya pelan sembari memberikan pijatan lembut untuk sedikit meringankan rasa sakitnya. "Jika kamu melakukan dengan rutin, maka siklus mu akan kembali normal dan lancar." tambah Karin. "Oh iya, jadi kamu ingin membuat rebusan itu dimana?" Emi tak yakin jika di dalam ruang kelas mereka terdapat sebuah alat yang bisa dijadikan wadah untuk membuat rebusan daun pepaya. "Kita bisa menggunakan Hotplate yang ada di ruang UKS dan memakai Gelas Kimia yang biasanya kita pakai untuk membuat air panas. Gelas itu cukup bersih karena tidak pernah digunakan untuk membuat Air rebusan tersebut. Jelas Rinto mengingat alat-alat tersebut tersimpan di ruangan UKS. "Sepertinya itu bisa di pakai." seru Alisya cepat. Setelah mendengar apa yang dikatakan Alisya, mereka dengan cepat mengambil peralatan tersebut dan membawanya kembali ke kelas mereka. Ryu yang sudah membersihkan daun tersebut dengan cepat memberikannya kepada Alisya untuk di rebus dan diberikan kepada Putri dalam kondisi setengah hangat. Chapter 306 - Mengunjungi Ibu Arni Setelah selesai pengayaan, mereka semua sudah berkumpul dan bersiap untuk pergi ke tempat dimana ibu Arni di rawat. Mereka tampak sangat antusias bahkan mereka sampai harus memeriksa secara oneline beberapa tempat yang akan mereka kunjungi untuk membeli beberapa peralatan dan mainan bayi yang bisa mereka hadiahkan untuk ibu Arni. "Kalian juga akan ikut ke tempat ibu Arni?" tanya Karin begitu melihat Adith dan 2 Elite lainnya datang menghampiri mereka. "Tentu saja, dimana Alisya pergi maka aku akan ikut pergi kesana." ucapnya melirik ke arah Alisya yang hanya tersenyum simpul. "Oke baiklah, kita siap jadi penghuni kontrakan hari ini." Gumam Emi yang selalu tahu bahwa Adith dan Alisya seolah memiliki dunianya sendiri ketika sudah bersama. "Alisya, gimana kalau kau ke... Bukkk!!!" Belum selesai Yogi mengeluarkan ucapannya, Alisya seolah bisa memahami pikiran jail Yogi sehingga tanpa menunggu kalimat itu selesai kepalan tinjunya sudah mendarat di muka Yogi. "Aku kan belum selesai!" Yogi memegangi hidungnya yang sakit namun tak berdarah. "Sayang, kamu tau pamali nggak? Setiap kata adalah doa. Jadi jangan sembarangan ngomong okeh?" Aurelia mengeram sembari mencubit Yogi dengan suara yang ia buat lembut namun dengan tatapan yang mengerikan. "Bagaimana dengan kalian berdua?" Karin hanya ingin menggoda Zein dan Riyan dengan pertanyaannya. "A.. Aku, aku juga ingin melihat bayi ibu Arni. Ya betul bayi, aku suka sama bayi." ucap Riyan gagap karena tak memiliki alasan yang tepat untuk ikut bersama Adith dan Zein. Riyan hanya sudah terbiasa pergi bersama mereka sehingga tanpa sadar ia menjadi lebih nyaman ketika bersama mereka dibanding langsung pulang kerumahnya. "Puffttt... hahahahaha, jangan kaku seperti itu. Kami bahkan akan memanggil mu untuk ikut bersama kami jika kamu berniat untuk langsung pulang." seru Karin yang tertawa dengan wajah nya cantik. "Jadi kalian semua sudah siap? yang tidak membawa kendaraan bisa ikut bersama kami." seru Zein cepat menawarkan tumpangan. Mereka semua dengan cepat memenuhi mobil Adith dan yang lainnya. Di mobil Adith ada Alisya, Karin, Akiko serta Ryu sedang di mobil Zein Ada Adora, Emi, Feby dan Gina. Riyan harus merasa kesal dengan semua pria berdesak-desakan di mobilnya. Aurelia lebih bahagia karena Yogi membawa motor menuju ke tempat yang akan mereka tuju untuk membeli hadiah sebelum ke rumah sakit. "Anak kamu manis sekali, dia memiliki alis dan bulu mata yang lentik seperti dirimu." suara Ibu Vivian terdengar dari luar membuat mereka dengan cepat menyerbu masuk. "Ibu sudah ada disini? ibu nggak Adil." ketus Adora begitu melihat ibu Vivian tengah bercengkrama dengan anak ibu Arni yang berada di sebelah ibunya. "Kalian yang kelamaan!" ucap ibu Vivian singkat. "Selamat bu atas kelahiran anak pertamanya!" Alisya masuk bersama yang lainnya yang dengan cepat memenuhi ruangan ibu Arni yang tidak terlalu luas tersebut. Ibu Arni sampai melongo melihat semua hadiah yang menumpuk cukup tinggi bahkan sampai menutupi suaminya sehingga ibu Arni langsung tertawa dengan keras. "Ueee... Uee.. Ueee.." bayi ibu Arni menangis dengan kencang karena ibu suara tawa ibu Arni. Ibu Arni bahkan sampai mengeluarkan Air mata karena merasa sangat lucu. "Apa kalian habis mengosongkan Senayan sebelum kemari?" tanya ibu Arni sembari menggendong bayinya dan menimang-nimangnya dengan lembut. "Kami sudah berusaha setengah mati untuk mencari yang pas untuk bayi ibu, tapi karena masih ragu setiap dari kami sampai membeli dua macam." seru Karin yang merasa terlalu gembira sampai tak tahu apa yang harus mereka berikan. "Terimakasih banyak, tapi aku bahkan tak yakin kalau semua ini bisa di pakai olehnya." ucap ibu Arni dengan penuh rasa syukur. Bayi ibu Arni mulai terlihat tenang dan tak menangis lagi. "Meski tak memiliki air mata, bayi yang menangis bisa terlihat sedih juga yah?" seru Gina menghampiri bayi ibu Arni dari kejauhan. "Itu karena bayi yang baru lahir, kelenjar air matanya masih belum sempurna. Air matanya akan keluar ketika dia sudah berusia sekitar 2-3 bulan." ucap Aurelia terus memandang bayi ibu Arni dengan tatapan sayang. "Lihat, dia juga memiliki tanda lahir di lehernya, itu imut sekali." ucap Emi merasa gemas melihat bayi ibu Arni mengeliat memperlihatkan lehernya yang kecil. "Tanda lahir pada bayi baru lahir itu wajar. Hal ini karena melebarnya pembuluh darah kecil di bawah kulit sewaktu persalinan. Tapi tanda lahir ini akan hilang saat usianya mencapai 3 tahun." Ucap Karin yang meremas Akiko karena merasa sangat gemas pada bayi Ibu Arni. "Benarkah? ibu baru tahu, ibu pikir tanda ini tidak akan hilang." seru ibu Arni sembari mengelus lembut leher anaknya yang membuat ia tersenyum dengan menggemaskan. "Ahhh,, lihat dia tersenyum dengan begitu lucu. Dia seperti sudah mengenali suara ibunya." Adora ingin sekali rasanya menggendong bayi ibu Arni. "Itu karena ia sudah terbiasa mendengar suara ibunya sejak dalam kandungan. Makanya dia akan bisa merespon suara ibunya daripada suara orang lain." Zein tersenyum melihat Adora yang terlihat berusaha menahan diri. "Pufftt... Bahkan anak ibu Arni kalian bisa jadikan sebagai sumber informasi dalam belajar yah!" ibu Vivian yang terus terdiam mengamati mereka tak bisa menyembunyikan tawanya. "Benar, anak-anak ini tanpa mereka sadari dimanapun mereka berada dan semua yang mereka lakukan itu terlihat seperti orang yang sedang belajar." seru ibu Arni yang mengetahui mereka lebih dalam karena sudah lama bersama mereka. "Kalian bisa jadi jomblo loh kalau seperti itu terus, meskipun kalian sudah pada tahap ujian akhir, kalian harus tetap menikmati masa-masa kalian yang sudah tinggal sebentar ini. Jangan terlalu kaku dan santai saja." Suami ibu Arni duduk di samping istrinya begitu selesai membereskan semua barang bawaan mereka. "Dia terlihat tampan, kenapa aku tak memperhatikannya tadi." bisik Gina kepada Feby yang membuat keduanya tersenyum senyum sendiri. "Eh, ngomong-ngomong masalah jomblo, aku dengar Adith sudah melamar Alisya? Yogi juga? dan Adora, woww.. tak ku sangka cintamu akhirnya bersemi juga yah..." goda ibu Arni kepada mereka semua yang mendapatkan semua informasi tersebut dari ibu Vivian. "Benarkah? Wah hebat. Saya salut loh sama anak muda yang sudah memiliki inisiatif dan pandangan sendiri tentang masa depannya." seru suami ibu Arni merasa takjub pada Adith dan yang lainnya. "Sepertinya ibu Vivian sudah bercerita banyak yah?" ucap Karin melirik ibu Arni yang tersenyum senyum jahil. "Aku sampai bosan saat mendengar nya mengoceh tentang kalian. Aku bahkan tau apa saja yang sudah kalian lalui, dan berkat itu aku jadi merasa masih berada dekat dengan kalian." senyum ibu Arni melihat siswanya yang sudah lama tidak di temuinya tersebut. "Tapi apa anak ibu sudah diberikan nama?" tanya Riyan yang sedari tadi ingin bertanya kepada ibu Arni. "Belum, kami masih menunggu hasil diskusi antara kedua orang tua kami." ibu Arni melirik kepada suaminya dengan tertawa pelan. "Mereka terlalu antusias untuk memberi anak kami nama sampai-sampai aku bisa mendengar kalau nama anak kami lebih cocok menjadi sebuah Syair. 1 paragraf!!!" seru suami ibu Arni dengan tertawa pelan juga mengingat kehebohan kedua orang tua mereka. "Aku jadi ingat bagaimana kedua orang tuaku yang berebutan untuk memberikan nama pada anak Kakakku." ucap Akiko yang tersenyum lembut mengingat kedua orang tuanya. "Sepertinya hampir semua orang tua yang memiliki cucu akan seperti itu." tambah Rinto. "Kau bisa kehilangan matamu jika memandang nya seperti itu terus." goda Adith kepada Alisya yang tak bisa memalingkan wajahnya dari anak ibu Arni. "Aku hanya membayangkan bagaimana lucu dan bahagianya Ayah dan Kakekku jika memiliki seorang cucu." Alisya tanpa sadar mengucapkan hal tersebut dengan santai. "Kalau begitu...." pancing Karin kepada yang lain. "Segeralah menikah!!!" ucap mereka serempak yang membuat Alisya sadar dan menutup mulutnya dengan wajah yang memerah seperti udang rebus. Chapter 307 - Bangunlah "Kenapa kalian berdua baru pulang sampai selarut ini?" Nenek Alisya yang membuka pintu kaget melihat Alisya dan Ryu yang terlihat kelelahan dan masih mengenakan pakaian seragam pramukanya. "Hari ini di sekolah lagi banyak sekali materi pengayaan nek, akhirnya Alisya bisa tidur dengan tenang hari ini karena besok hari minggu." Alisya merebahkan dirinya di sofa di ikuti oleh Ryu yang tampak memiliki warna wajah yang sama dengan Alisya, yaitu kelelahan. Mereka sudah menghabiskan beberapa minggu di sekolah untuk mengikuti pembimbingan pembelajaran tambahan disore hari merasa sangat lelah dan tak bertenaga. Hari itu merupakan hari terakhir mereka pengayaan sehingga Alisya merasa sangat lega karena setidaknya mereka diberikan waktu satu Minggu untuk beristirahat sambil melakukan simulasi sederhana dalam pelaksanaan ujian berbasis komputer kedepannya. "Ya sudah, kalau begitu kalian berdua mandi dulu kemudian makan. Nenek nggak akan izinkan kalian tidur sebelum makan." Alisya tahu betul kalau perintah neneknya adalah mutlak namun matanya sudah terlihat membuka dan menutup karena rasa kantuk yang teramat dalam. "Alisya bisa baring 10 menit? ngantuk banget nih." ucap Alisya mencoba bernegosiasi dengan neneknya. Ryu hanya mampu menaikkan jempolnya mendukung apa yang di katakan oleh Alisya karena ia juga merasakan hal yang sama. "Kalau kalian mau mandi, aku sudah siapkan air panas biar tubuh kalian lebih segar." Akiko datang membantu Alisya dan Ryu yang kelelahan untuk melepaskan Tas dan kaos kaki mereka. "Umpphh,, kaos kaki kalian bau sekali." keluh Akiko jijik tapi tetap terus membantu mereka berdua. Akiko terlihat seperti seorang ibu rumah tangga yang memiliki dua orang anak yang begitu kacau dan butuh banyak perhatian darinya. "Bangunlah, ini masih maghrib. Tidak baik bagi kalian tidur dijam segini, kamu juga harus sholat kan Alisya!" nenek Alisya mengingatkan akan kewajiban Alisya sebelum ia benar-benar melewatkan waktu sholat nya. "Tapi nek, aku sangat mengantuk sekali, Alisya itu capek nek!" Alisya merengek tak ingin meninggalkan sofa itu untuk sementara. "Bangunlah!!! dan Mandi!!! jika tidak kalian akan tanggung sendiri akibatnya." Hentakkan keras dari nenek Alisya seketika membangunkan mereka berdua dengan cepat. Ryu bahkan sampai melompat lari dengan mata yang terbuka lebar sedang Alisya jatuh dari sofanya. Alisya dengan cepat mengikuti Ryu untuk melarikan diri dari sana menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya. Akiko hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka berdua yang terkejut karena suara neneknya. Bahkan dia yang berada dibelakang nenek Alisya pun langsung mengelus dadanya dengan kuat karena sama terkejutnya. "Tumben sekali Kakek sama Bapak makan di rumah? apa karena ini malam minggu?" Alisya tidak menyangka kalau kedua orang yang super sibuk tersebut bisa berada di rumah untuk makan bersama. Ryu langsung menggeser tempat duduk Alisya agar ia bisa duduk didekat ayahnya saat ia juga baru keluar dari kamarnya dan menuju ke meja makan. "Rasanya sudah lama sejak terakhir kali kita makan bersama, jadi tidak ada salahnya jika akhir pekan kita bisa berkumpul bersama disini." ucap Kakeknya sembari mengambil piring yang diberikan oleh nenek Alisya yang sudah berisi dua sendok nasi. "Benar, apa lagi besok Adith dan kedua orang tuanya akan datang kesini untuk melamar mu secara resmi." terang Ayah Alisya mengambil piring yang juga diberikan oleh nenek Alisya. Alisya yang baru saja meminum air putih langsung menyembur kaget mendengar hal tersebut. Kakek dan Ayah Alisya mengangkat tinggi-tinggi piring nasi mereka sedang Ryu dan Akiko menjauhkan beberapa lauk dari hadapan Alisya, begitu pula dengan nenek Alisya. "Jadi kalian semua sudah tahu? Hanya Alisya saja yang tidak tahu kalau besok mereka akan datang." melihat respon mereka yang sudah diam-diam menggeser piring-piring tersebut membuat Alisya kesal. "Kami juga tidak tahu, tapi melihat dua orang ini berkumpul ditempat yang sama membuat kami bisa menebak apa yang akan terjadi." seru nenek Alisya kembali meletakkan piring-piring lauk ke atas meja. "Kami berdua juga sama." ucap Ryu cepat memberikan tisu kepada Alisya yang sedang menatapnya tajam. "Jangan lihat aku." seru Akiko cepat tak ingin menjadi orang yang di tuduh. "Adith kok nggak bilang-bilang ke aku sih?" gumam Alisya dengan suara yang kesal. "Ya iyalah, kan kamu sudah terima jadi sisanya sudah urusan orang tua." seru Ayah Alisya mulai mengambil lauknya satu persatu. "Iya tapi kan.. " Alisya tidak bisa membantah lagi meski ia kesal pada Adith namun ia juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Adith karena mungkin saja apa yang ia alami saat ini akan sama dengan apa yang akan di alaminya. "Besok kamu harus siapkan diri, sekarang makanlah dan tidur lebih awal setelah selesai sholat dulu tentunya." seru neneknya memberikannya sepiring nasi penuh. "Benar, biar besok kamu bangun lebih awal dan bisa tampil dengan segar." seru Ayahnya lagi memberikannya sesendok sayur tumis kecap kangkung di atas nasi Alisya. Alisya yang melongo hanya menatap Ryu yang menaikkan tangannya dengan kepalan yang memberikan dia semangat sedang Akiko hanya tersenyum cepat melahap makanannya. Alisya kembali ke kamarnya dengan tubuh serta mental yang benar-benar kelelahan yang sesaat kemudian sebuah video hologram dari alat peredamnya memunculkan gambar Adith yang sedang berada di balkon kamarnya. "Melihat ekspresi mu sepertinya kau sudah tahu bahwa orang tuaku akan datang ke rumahmu besok." ucap Adith begitu melihat wajah terkejut Alisya. "Kenapa mendadak sekali? aku pikir entar setelah kita selesai ujian dulu." Alisya berjalan menuju balkonnya yang terlihat seolah mereka sedang bersama saat itu karena hologram milik Adith yang juga sedang berada di balkon rumahnya. "Bukankah kau ingin segera memberikan cucu kepada kedua orang tuamu?" tanya Adith dengan senyuman nakalnya. "Aku matikan!" Alisya dengan cepat ingin mematikan panggilannya karena godaan Adith. "Hey,, aku tidak salah kan?" pancing Adith lagi dan Alisya hanya memasang tatapan tajam. "Oke-oke, ini bukan mendadak. Mereka sudah merencanakan semuanya jauh hari. Mereka hanya ingin kita bisa secepatnya saling mengikat dan bersama agar nanti setelah lulus kita tinggal melangsungkan pernikahannya saja." ucap Adith menatap dengan lembut seolah Alisya sedang berada di hadapannya saat itu. "Aku malah senang dengan begitu pikiranku lebih tenang sekarang. Aku tau kau juga merasakan hal yang sama. Bahkan saat ini kau terlihat sangat cantik, kau membuatku semakin ingin memelukmu saat ini" tambah Adith lagi yang membuat Alisya mendesah dan tersenyum simpul. Alisya mendongak ke arah langit memikirkan apa yang dikatakan oleh Adith juga merupakan apa yang sebenarnya di inginkannya setelah beberapa hari tak bertemu. Chapter 308 - Ada Banteng Lepas "Alisya??? nih anak kebiasaan deh. Habis sholat tuh jangan tidur lagi, bangun! Plakkkk Plakkkkk Plak!" nenek Alisya memukul-mukul bokong Alisya dengan sangat keras untuk membangunkannya. "10 menit lagi yah nek, mereka kan datangnya entar malem" Tawar Alisya karena masih mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya. "Semua orang udah pada beres-beres rumah Sya, Akiko malah udah mulai nyuci baju. Ryu bantu Bapakmu benerin taman bagian belakang yang udah lama nggak ke pangkas dan kakek mu sementara nyusun ulang batu bata di jalan setapak yang mulai lepas. Dan kamu enak-enakan tidur disini!" terang neneknya menjelaskan mereka yang sudah mengambil pekerjaan masing-masing. "Kenapa orang mengira hari minggu itu libur sih. Kalau nyatanya di hari minggu justru pekerjaan lebih numpuk." keluh Alisya kesal dengan orang-orang yang mengatakan bahwa hari minggu adalah hari libur. "Bangun nggak, anak perempuan itu nggak boleh bangun di tindis sama matahari. Rezekinya bisa jauh. Udah jam 7 nih, kamu nyiram tanaman depan rumah!" nenek Alisya langsung menarik tangan Alisya dan membuatnya berdiri. "Aduh nek, di hari minggu yang ceria dan bahagia ini bisa kasih diskon waktu nggak?" tanya Alisya sekali lagi kembali merebahkan diri ke atas kasur. "Oke, kamu boleh kembali tidur. Tapi jangan salahkan nenek kalau..." belum selesai neneknya memberikan ancaman, Alisya langsung bangkit dari tempat tidurnya langsung menuju ke depan rumahnya. "Nenek lagi mentruasi yah? dari semalam dia sensi sekali, dikit-dikit main ancam." gumam Alisya mengambil selang untuk menyiram tanaman. "Assalamualaikum..." ucap seseorang yang berada di depan gerbang rumahnya. "Wa alaikum salam.." jawab Alisya setengah menguap dengan menutup mulutnya menoleh ke arah orang yang mengucapkan salam. Alisya langsung tertegun tak bergerak dan membatu di tempatnya begitu melihat kalau yang datang saat itu adalah Adith dan kedua orang tuanya. Mereka berpakaian dengan sangat rapi membawa beberapa bingkisan menatap Alisya dengan senyuman lebar. Alisya yang saat itu sedang berpakaian kaos pendek dengan celana pendek serta wajah yang baru saja bangun tidur dengan rambut acak-acakan nya. "Alisya, baju kamu basah." ibu Adith dengan cepat memperingatkan Alisya yang kehilangan fokusnya karena tak menyangka kalau mereka akan datang se pagi itu. "Uwaaahhhh...". teriak Alisya masuk ke dalam rumahnya yang tanpa ia sadari neneknya kembali menutup pintu karena sedang membersihkan bagian belakang pintu rumahnya. Suara gedebum saat Alisya menabrak pintu membuat seisi rumah kaget dan berlari kedepan rumah untuk melihat apa yang sedang terjadi sedang nenek Alisya yang berada di balik pintu hampir saja pingsan dan kakinya melemas. "Kau baik-baik saja?" Adith dengan cepat menghampiri Alisya yang jatuh terpantul karena tubrukan kuatnya. "Malunya yang lebih ke rasa dibanding dengan rasa sakitnya tau nggak sih." Adith yang sudah berusaha keras menahan tawanya tak bisa menyembunyikannya lagi saat mendengar ucapan Alisya tersebut. Adith segera melepas baju kemejanya untuk membalut tubuh Alisya yang basah karena siraman air dari keran yang dipegangnya sendiri. "Ada banteng lepas???" nenek Alisya menghambur untuk keluar melihat apa yang sedang terjadi. "Banteng??? dimana banteng?" Kakek Alisya yang berada di samping rumah segera menghambur kedepan. "Itu suara banteng yang menabrak rumah?" Ayah Alisya juga ikut datang ke depan rumah bersama dengan Ryu yang wajahnya terlihat panik. "Pintunya rusak yah?" Akiko yang masih memiliki banyak busa di tangannya pun ikut menghambur keluar untuk memastikan apa yang sedang terjadi. "Aisssh..." Alisya menutup wajahnya sendiri tak sanggup menahan rasa malu. "Loh, pak Narendra. Kalian sudah datang?" ayah Alisya datang dengan cangkul yang berada di tangan kanannya dan bajunya yang tampak kotor. "Maaf pak Lesham, istri saya sudah tidak sabar ingin segera kemari. Apa lagi anak ini sangat mendukungnya dengan penuh semangat sehingga tanpa sadar kami sudah berada disini." seru Ayah Adith dengan senyuman yang terlihat canggung. "Bahkan orang yang terlihat sangat berwibawa seperti ayahmu bisa terlihat konyol juga yah. Meski aku juga memiliki 3 orang yang sama." bisik Alisya kepada Adith sembari melihat keadaan keluarganya yang kacau. "Empat." seru Adith memasukkan dirinya dalam hitungan. Alisya hanya menyikutnya pelan. "Ayo masuk pak, maaf keadaan kami terlihat kacau." ucap ayah Alisya mempersilahkan mereka untuk masuk. "Kenapa bapak tidak menghubungi kami sebelumnya agar bisa lebih mempersiapkan diri sebelum kedatangan bapak." ucap kakek Alisya yang terlihat memakai baju kebun milik istrinya yang terlihat kekecilan di tubuh kekarnya. "Santai saja pak, kita sudah akan menjadi keluarga jadi tidak perlu terlalu formal." seru Ayah Adith berjalan di tengah Ayah dan Kakek Alisya. "Kamu sampai repot-repot." nenek Alisya langsung menghampiri ibu Adith dan mengambil barang yang dipegang oleh ibu Adith. Kemudian dia berikan kepada Ryu yang sedang menatap pintu rumah yang terlihat rusak. "Wow, luar biasa! Pintu ini sampai terlihat penyok dan retak. Hampir setengah pintu yang mengalami kerusakan." seru Akiko mengikuti arah pandang Ryu. Alisya yang merasa malu perlahan-lahan ingin melarikan diri dari sana namun segera dihentikan oleh Adith. "Aku takkan membiarkan kamu melarikan diri lagi." Adith menggenggam erat tangan Alisya. "Kalian datang terlalu pagi, aku bahkan sampai tidak mempersiapkan diri. Lihatlah penampilanku sekarang." Alisya sudah tidak bisa menahan rasa malunya. "Cantik kok!" ucap Adith dengan pandangan menyelidik ke arah Alisya dari atas hingga bawah. Alisya memasang ekspresi jengkelnya kepada Adith yang masih saja ingin menggodanya. "Maafkan aku, aku mungkin sudah tidak sabar ingin bersama mu sampai tak bisa menyia-nyiakan waktu atau menunggu lebih lama lagi." seru Adith mencubit lembut pipi Alisya. "Sampai kapan kalian berdua bermesraan disitu? Ayo masuk!" panggil nenek Alisya kepada dua orang yang sedang di mabuk cinta tersebut. Adith dan Alisya hanya tertawa pelan mendengar ucapan neneknya dan segera berjalan masuk. "Sepertinya aku akan memiliki seorang istri yang berkepala baja." seru Adith tepat setelah mereka melalui pintu yang ditabrak oleh Alisya dengan sangat keras. "Sepertinya aku harus membiarkan mu merasakan bagaimana kerasnya kepalaku ini?" Alisya mengeram mendengar ucapan Adith. "Ya betul. Bapak benar sebulan setelah pelulusan sekolah, kita sudah bisa menikah kan mereka." seru Ayah Alisya begitu keduanya masuk kedalam rumah. "Pembahasan mereka sudah sampai sejauh itu? Cepat sekali, sepertinya mereka tidak melakukan ritual lainnya terlebih dahulu." Alisya tak menyangka kalau mereka sudah membahas sampai ke tanggal pernikahan mereka. "Hebat! Bapak ku memang gesit." ucap Adith memuji kelugasan ayahnya yang begitu cepat mengambil keputusan. Alisya hanya menggeleng-geleng tak percaya dengan kegesitan ayahnya yang langsung menerima mereka tanpa ada syarat apapun. Chapter 309 - Gwiyoumi Alisya yang kembali duduk bersama mereka setelah membersihkan tubuh terlihat lebih banyak diam dibanding sebelumnya. Adith bahkan sampai merasa khawatir akan apa yang sedang di pikirkan Alisya saat itu. Obrolan kedua orang tua Adith dengan Ayahnya sangat lancar dan bahkan sama sekali tak ada kendala apapun. Mereka justru lebih antusias dan semangat dibanding dengan Adith dan Alisya. "Semoga niatan baik kita ini selalu di lancarkan yah pak Lesham." ucap Ayah Adith yang sudah berada di depan pintu gerbang rumah Alisya. "Aamiin pak, semoga kedepannya semua kendala apapun bisa kita selesaikan bersama." jawab Ayah Alisya sembari memeluk Alisya dengan erat karena sangat bahagia. "Benar pak. Kalau begitu kami pamit dulu yah pak Takahashi, Assalamualaikum." Ayah Adith segera berpamitan pulang kepada keluarga Alisya. "Wa alaikum salam, hati-hati di jalan pak." ucap mereka serempak mengantarkan kepulangan mereka. "Aku pulang dulu yah. Sebentar aku akan menghubungi mu, jangan tidur dulu." seru Adith kepada Alisya dan melambai lembut. Alisya tak menjawab dan hanya mengangguk pelan serta melambai melihat Adith masuk kedalam mobil ayahnya. Ayah dan Kakek Alisya segera masuk ke dalam rumah sedang Alisya masih tertegun di depan gerbang menatap kosong ke arah mobil ayah Adith yang sudah menjauh dari rumahnya. "Apa benar menikah muda seperti ini? apa aku siap menjalani semuanya kedepannya? Melepas masa lajang di waktu aku masih semuda ini. Aku jadi tiba-tiba khawatir dengan apa yang akan terjadi kedepannya." Fikiran Alisya semakin kalut terus membayangkan apa yang akan terjadi nantinya. Ia tak menyangka kalau ia akan menikah di usia yang masih sangat muda. "Kenapa? Kau menyesali keputusanmu? Jangan bilang kalau kau akan melarikan diri dari Adith lagi setelah ini. Kau akan membuatnya mati berdiri jika kau melakukan itu. Sampai kapan kau akan terus melarikan diri dari Adith." nenek Alisya yang tiba-tiba berbicara panjang lebar di sampingnya mengejutkan Alisya. Tubuh Alisya bergetar dari atas sampai kebawah karena Alisya mengira kalau sudah tak ada siapapun disana dan hanya dirinya yang sedang melamun sendirian. "Aku yang bisa mati berdiri kalau nenek sering mengagetkan ku seperti ini." seru Alisya menekan dadanya dengan lembut. "Nenek juga pernah di posisi kamu sayang. Mungkin pikiran kita kurang lebih sama saat kakek mu datang melamar nenek. Dia yang orang luar tiba-tiba berkata ingin menjadikan nenek istrinya dan demi nenek juga ia jadi masuk Islam. Nenek yang merasa masih muda saat itu meski sudah berumur 23 tahun seolah tak rela melepas masa lajangnya." terang neneknya membagikan pengalamannya lalu. "Ciyeee... nenek jadi bernostalgia nih ceritanya?" Alisya menggoda neneknya yang langsung terlihat malu-malu dan pipinya merona karena ucapan Alisya. "Saran nenek adalah jika kalian sudah memiliki niat, maka jalanilah dengan bersungguh-sungguh. Kuatkan hatimu sebab kedepannya rintangan kalian akan sangat banyak dan juga berat." ucap nenek Alisya memberikan nasehat kepada cucu kesayangannya tersebut. Alisya terdiam mendengarkan apa yang sedang diceritakan oleh neneknya. "Jika kalian ada masalah selesaikan bersama dan bicarakan baik-baik, jangan simpan sendiri." seru nenek Alisya sembari berjalan masuk dan menggenggam tangan cucunya dan menariknya untuk tidak terlalu banyak berpikir yang aneh-aneh. Setelah ber beres-beres rumah, Alisya kembali naik ke kamarnya dan merebahkan diri di atas tempat tidurnya yang empuk. Sampai sebuah panggilan masuk ke alat peredamnya membuatnya terbangun cepat dan tersenyum sendiri sebelum mengangkatnya. "Halo..." angkat Alisya cepat. "Kamu belum tidur kan?" tanya Adith sembari bersandar di balkon kamarnya. "Iya belum." jawabnya singkat. "Maaf aku baru telpon, tadi mama lagi singgah dulu di beberapa tempat. Kamu lagi ngapain sekarang?" seru Adith dengan suara yang lembut. "Iya nggak apa-apa, tadi cuman rebahan sambil nunggu telpon kamu masuk." jawabnya lagi dengan nada yang lembut. "Alisya..." panggil Adith dengan suaranya yang terdengar berat. "Ya?" jawab Alisya singkat. "Kamu baik-baik saja kan? Selama acara lamaran tadi kamu terlihat banyak diam, ada yang kamu pikirkan?" tanya Adith yang sedari tadi sudah mengkhawatirkan dirinya. Alisya terdiam beberapa saat tak yakin jika harus menceritakannya kepada Adith, ia tidak ingin membebani Adith dengan apa yang ia pikirkan. "Haruskah aku cerita? tapi sepertinya aku saja yang terlalu khawatir akan hal ini." batin Alisya masih ragu untuk bercerita. "Alisya?" panggil Adith karena tidak mendengar suara Alisya lagi. "Nggak ada apa-apa kok, tadi aku hanya terlalu gugup saja." ucapnya dengan suara ceria. "Kamu serius? Aku lihatnya tidak seperti itu. Kenapa kamu tidak cerita sama aku? Yang akan menikah nanti itu kita berdua Sya. Kau bisa menceritakan apapun yang menganggu pikiranmu saat ini." ucap Adith berbalik badan memandangi langit malam dari balkon rumahnya. "Anak ini selalu saja pekanya berlebihan. Aku jadi tidak bisa menyembunyikan apapun dari dirinya." batin Alisya yang berdiri berjalan menuju balkon kamarnya. "Aku hanya sedikit gelisah karena nggak nyangka aja bisa menikah semuda ini, tapi melihat kegigihanmu aku jadi yakin kalau kita berdua bisa melewati ini bersama. Maaf sudah membuatmu khawatir, sekarang aku sudah baik-baik saja kok." Alisya tersenyum bahagia melayangkan pandangannya menembus malam seolah sedang menatap Adith di hadapannya. "Syukurlah kalau begitu. Lain kali kalau ada yang kamu pikirkan, ceritakan padaku. Setidaknya dengan begitu aku bisa tahu apa yang kamu pikirkan juga jangan diam saja seperti tadi." Adith menarik nafas legah mendengar penjelasan Alisya. "Aku nggak janji yah, tapi apa kau se khawatir itu?" tanya Alisya penasaran. "Iya, ekspresi mu sangat suram. Aku bahkan bisa melihat aura hitam yang keluar dari tubuhmu. Ketika kau mengangkat wajahmu saja rasanya seluruh bulu kuduk ku merinding disco dibuatnya." Adith bergidik saat mengingat bagaimana ekspresi Alisya sebelumnya. "hahahahaha, Maafkan aku. Sepertinya aku terlalu larut dalam pikiranku sampai-sampai aku jadi tak menghiraukan orang di sekitarku." Alisya tertawa renyah mengingat dirinya yang tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Ya sudah, kalau begitu kamu tidur dulu. Besok itu hari senin, jangan sampai kamu telat lagi bangunnya." ucap Adith dengan suara yang langsung menusuk hati Alisya dengan kelembutannya. "Kau juga!" ucapnya sembari memberi salam menutup telpon mereka. Alisya memandang langit yang di penuhi bintang-bintang dengan bulan yang bersinar terang. Tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya dengan begitu hangat memberikan sesak yang amat mendalam dirasakan oleh Alisya. "Andai mama ada disini, apa mama akan bahagia jika melihat aku akhirnya akan menikah? Aku sangat merindukanmu ma, sangat merindukanmu." gumam Alisya menekan dadanya yang perih karena merasakan kerinduan yang sangat mendalam kepada ibunya. Alisya yang masih menangis tersedu-sedu tiba-tiba dikagetkan dengan panggilan Video dari Adith. Alisya bingung kenapa Adith kembali menelponnya saat ia sudah menyuruhnya untuk tidur sebelumnya. Dengan cepat ia menghapus air matanya sebelum mengangkat panggilan Video Adith yang tepat saat di angkatnya, Adith sudah memakai sebuah bando kelinci di kepalanya. Meski terlihat imut, Adith terlihat sangat tampan dan menggemaskan dengan bando kelinci tersebut. Entah kapan ia membelinya. "Ildeo ileun gwiyomi, Ideo ineun gwiyomi, Samdeo sameun gwiyomi, Sadeo sado gwiyomi, Odeo odo gwiyomi, Yukdeo yugeun jjok jjok jjok jjok jjok jjok gwiyomi gwiyomi!!!" Adith meniru gerakan yang populer di korea untuk menarik perhatian orang lain. Alisya tertegun dan tak bisa berkata apa-apa dari awal Adith melakukan hal tersebut. "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Alisya dengan wajah terkejut. "Lupakan, aku hanya ingin mencoba menghiburmu karena ku yakin kau sedang merindukan ibu mu saat ini." Adith langsung mematikan Videonya karena tak sanggup menahan malu. "Puftttt... hahahahhaha,,, ahahahahahahha!" Alisya ketawa dengan terbahak-bahak mengingat tingkah Adith yang sangat menggemaskan. Ia menyesal karena tidak merekamnya sebelumnya. Adith langsung melempar dirinya di kasur membanting-banting dirinya karena malu. Sampai sebuah pesan suara masuk kedalam handphonenya. "Terimakasih banyak, Aku sangat mencintaimu." Suara Alisya yang sangat lembut langsung menyegarkannya. Chapter 310 - Pemimpin Geng Sekolah Kantin Sekolah. "Jadi acara pertunangan kalian akan di lakukan malam ini bersamaan dengan ulang tahun perusahaan kakekmu?" Adora menyeruput es jeruknya yang tampak dehidrasi setelah sejam lebih mengikuti simulasi Ujian Nasional. "Kalian sudah resmi lamaran yah ternyata, ini sangat hebat. Nikah muda dan pacaran setelah nikah, membayangkannya saja sudah membuatku berbunga-bunga." ucap Emi menangkup kedua tangannya mulai berfantasi liar. "Kalian semua di undang dalam acara itu, urusan pakaian kalian sudah aku berikan pada Gani dan Gina. Kalian bisa memilih langsung di butik milik ibunya." seru Alisya dengan tersenyum manis kepada teman-temannya. "Aku tak menyangka kau bisa melepas masa lanjangmu secepat ini." Karin memandang Alisya dengan tatapan haru. "Hentikan wajah menjijikkan mu itu, aku tau kau tak se ikhlas itu." Alisya seolah sedang menebas leher Karin dengan kata-katanya sehingga mereka semua tertawa dengan lepas. Saat mereka sedang berbincang-bincang dengan lepas, Rinto dan yang lainnya datang dengan wajah lesu dan terlihat seolah separuh energi mereka sudah terkuras habis. "Ada apa dengan mereka?" tanya Feby dengan kening yang berkerut melihat ekspresi dari Rinto dan yang lainnya. "Mereka mengeluarkan segala kemampuan mereka untuk bisa menjawab semua pertanyaan yang muncul pada simulasi sebelumnya." jawab Egi dengan tertawa pelan. "Kenapa kalian sampai se serius itu? kalian sangat lucu sekali. Ini bahkan hanya simulasi mengenai sistem, jadi kalian tidak perlu begitu serius dalam menjawabnya." seru Aurelia tertawa melihat mereka yang terlalu membebani diri dalam mengisi soal simulasi tersebut. "Kami tau akan hal tersebut, tapi kami hanya ingin mengukur sudah sejauh mana kemampuan kami dan pengetahuan kami dalam menyelesaikan soal simulasi yang di berikan." ucap Rinto dengan pandangan nanar yang langsung ia rebahkan ke atas meja. "Tapi kami tak menyangka yang kalau soal simulasi bisa sampai sesulit itu saja, lalu bagaimana dengan soal Ujian Nasional yang sebenarnya?" Beni ikut merebahkan diri mengikuti Rinto. "Sepertinya kami harus berjuang lebih giat lagi dari sekarang." ucap Gani dengan tatapan terbebani yang menekan pundaknya. Alisya bisa memahami fikiran mereka. Meski itu hanyalah soal simulasi biasa saja, tapi dengan itu mereka bisa mengukur sejauh mana mereka mengetahui materi yang sudah mereka pelajari. Jika soal itu saja mereka sudah kesulitan maka kesulitan yang sesungguhnya ada pada Ujian Nasional yang sesungguhnya. "Minumlah yang manis-manis, gula akan sedikit mengembalikan energi kalian." Adora segera menyodorkan minuman dingin kepada mereka. Rinto yang baru saja memasukkan minumannya ke dalam tenggorokannya tiba-tiba di kejutkan dengan kehadiran Vino yang tampak sangat khawatir dan wajah yang terlihat lebam. "Kau Vino dari kelas 12 MIA 4 bukan? apa yang terjadi? tanya Rinto setelah mengenali wajah orang tersebut. "Ada yang harus aku katakan padamu, dan sepertinya di sini adalah tempat yang tidak tepat untuk itu." Vino terlihat berusaha menahan diri saat melihat ada Alisya dan wanita lainnya berada disana. Rinto yang tadinya ingin pergi ke tempat yang lebih sunyi, begitu melihat wajah penasaran Karin dan yang lainnya ia hanya tersenyum. Rinto tahu betul bagaimana sikap penasaran Alisya dan Karin terhadap orang lain. "Tidak masalah, kau bisa menceritakan semuanya disini." ucap Rinto dengan ramah kepada Vino. "Duduklah dan minum dulu, kau tidak perlu terburu-buru. Kau bisa santai saja dulu disini." Gani mempersilahkan Vino untuk setidaknya berbicara sambil duduk di kursi. "Tidak, jika aku berada disini lebih lama lagi. Maka semua teman-teman kita akan segera di habisi oleh sekolah SMK Merah Putih." tatap Vino tajam ke arah Rinto. "Kau yang meninggalkan geng kita membuat sekolah ini sudah tidak lagi ditakuti oleh sekolah lain. Mereka menganggap remeh kita karena kelompok yang kau bubarkan kian hari menjadi kian lemah.". tambahnya lagi yang membuat teman-temannya terkejut tak mengerti apa yang sedang di maksud oleh Vino. "Apa maksudmu? langsung saja ke intinya." Beni merasa bingung tak paham mengapa ia sampai berkata seperti itu kepada Rinto. "Apa ada sesuatu yang sedang terjadi? apa itu juga ada hubungannya dengan wajah lebam mu itu?" Yogi sedang menebak apa yang sedang terjadi pada Vino. "Benar. Semenjak Rinto tidak pernah lagi mempimpin kelompok kita, semua siswa dan beberapa adik kelas dari sekolah kita di remehkan oleh sekolah lain. Kami berusaha untuk melawan dan membuktikan bahwa meski tanpamu kami bisa bertahan dan tetap mampu seperti dulu, namun ternyata ini tidak semudah yang kami bayangkan." jelas Vino dengan wajah yang terlihat putus asa. Mendengar apa yang sedang di katakan oleh Vino, Alisya kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Rinto yang terlihat sebagai pemimpin geng di antara mereka meski saat itu ia masih berada di kelas 1 SMA. Rinto diketahui sangat kuat dan bahkan mampu menghajar 20 orang sekaligus meski ia sendirian, namun ketika beredar bahwa Rinto sudah di kalahkan oleh Alisya, kelompok lain secara perlahan mulai meremehkan kemampuan Rinto dan sekolah mereka. "Rinto bukanlah orang yang lemah, dia hanya tidak ingin terlibat lagi dalam perkelahian yang tidak ada gunanya." seru Gani merasa kesal dengan apa yang di katakan oleh Vino. "Tidak Gan, Vino memang benar. Ini juga menjadi kesalahan ku karena sudah meninggalkan mereka begitu saja tanpa penjelasan. Ini adalah urusanku, biarkan aku bertanggung jawab untuk menyelesaikannya." Rinto berdiri dari tempat mengikuti arahan Vino. "Aku ikut. Kau tau kan kalau aku selalu bersama mu selama ini." Yogi tak ingin meninggalkan Rinto sendirian menyelesaikan masalah itu. "Kalau begitu apa aku bisa ikut? Jangan khawatir, aku hanya ingin jadi penonton saja." seru Alisya karena penasaran dengan apa yang sedang terjadi. "Baiklah, tapi kau harus pegang apa yang kau katakan barusan." ucap Rinto mengizinkan mereka ikut jika dia menerima permintaan Rinto. "Tidak masalah!" jawab Alisya cepat. Alisya menatap Ryu untuk setidaknya memberikan ruang kepada Rinto menyelesaikan sendiri masalah yang sedang di hadapinya saat itu. "Tunggu dulu, jika kalian terlibat dalam perkelahian sekarang maka itu akan sangat berbahaya jika pihak sekolah ada yang mengetahuinya. Kalian bisa di keluarkan dari sekolah sedang ujian tinggal beberapa hari lagi." Aurelia mencoba untuk mengingatkan mereka. "Benar, aku takkan izinkan kalian untuk pergi. Aku tak ingin kalian di hukum karena itu." tambah Adora yang tak ingin mereka semua mendapatkan masalah karenanya. "Bukankah kita memiliki seorang teman yang tahu bagaimana cara menyelamatkan seorang teman?" pandang Karin kepada mereka semua yang menunjuk bahwa mereka lah yang akan bertugas untuk memberikan informasi akan pergerakan sekolah jika mereka sudah mengetahui sesuatu. Chapter 311 - Gomu Gomuno Tampol! Rinto dan yang lainnya dengan cepat mengarah ke tempat yang Vino maksud dengan mengikutinya sembari berlari kecil. Mereka sudah menghabiskan banyak waktu selain mendapatkan penjelasan dari Vino, mereka juga harus kerepotan saat berusaha melewati pagar sekolah yang sistem keamanannya cukup tinggi. Beruntunglah mereka Alisya memiliki kartu akses ke tempat rahasia elite yang diberikan Adith dulu kepadanya sehingga mereka bisa dengan mudah melewati jalan rahasianya. "Di bawah jembatan itu?" tanya Rinto sembari berlari menuju ke bawah jembatan yang sudah terlihat sunyi dan jarang orang berlalu lalang di sekitar sana. "Tempat yang pas untuk mereka melakukan aksinya." seru Yogi mengamati tempat tersebut. Tepat saat mereka sampai, Rinto bisa melihat bagaimana anggotanya dulu dan beberapa adik kelas mereka terbaring di bawah dengan wajah memar di bawah kaki seseorang. "Pantas saja pak Amir marah-marah karena beberapa siswa tidak hadir dalam kegiatan simulasi, ternyata kalian malah terjebak disini?" tanya Rinto berjalan mendekati mereka. "Ouhh, Akhirnya si pemimpin yang sudah di kalahkan oleh wanita muncul. Kenapa kau tidak membawa wanita itu bersama mu juga ah?? hahahahaha" tawanya dengan keras sembari menendang kepala Al dengan kasar. "Aku tidak suka melihatnya. Sepertinya dia juga hanyalah anggota biasa, bukan pimpinan mereka." ucap Yogi melihat orang itu dengan tatapan kesal. "Ayo kita lakukan seperti biasa, jangan sampai kena pukul. Jika tidak kau harus berurusan dengan ibu mu lagi." Ucap Rinto melemaskan kedua tangan, kaki serta lehernya. "Kau juga, dirimu yang jomblo itu akan semakin mengenaskan jika kau harus terluka." ucap Yogi membalas perkataan Rinto. Rinto yang merasa tersinggung dengan ucapan Yogi langsung menatap Yogi dengan tatapan jengkel yang sesaat kemudian keduanya malah saling hantam dan saling adu mulut satu sama lainnya. "Ya ampun, apa yang mereka sedang lakukan? kenapa malah mereka yang jadi bertengkar sih?" Karin memukul jidatnya melihat Rinto dan Yogi dari kejauhan. Ryu dan Beni serta Gani hanya tertawa dan langsung mengambil rekaman mereka berdua dan disiarkan secara langsung kepada Aurelia dan yang lainnya yang tak sempat ikut bersama mereka. "Dasar bodoh, kenapa malah mereka yang bertengkar sih?" maki Aurelia kesal melihat keduanya yang sedang adu mulut satu sama lainnya. "Ingin sekali aku mematahkan leher dua orang idiot itu." Adora berkomentar dengan sangat kejam. "Aku tak menyangka bisa memiliki teman-teman sekonyol mereka." Feby hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka. "Apa yang kalian berdua lakukan? kalian meremehkan kami yah? Brengsek kalian harus di beri pelajaran." ucap orang yang menendang kepala Al sebelumnya. Dia yang marah dengan cepat melangkah ingin menghajar Rinto dan Yogi di kejutkan dengan sebuah batu yang melayang bagaikan peluru menancap kuat di tiang jembatan menyisakan retakkan yang dalam disana. Rinto dan Yogi langsung membeku dengan cepat dan saling berpelukan satu sama lainnya karena mengetahui bahwa lemparan batu tersebut berasal dari Alisya yang sedang mengamati mereka dari kejauhan. "Sepertinya kita melupakan seseorang." ucap Yogi dengan suara yang bergetar. "Aku juga lupa kalau malaikat mau kita sedang menyaksikan apa yang sedang kita lakukan saat ini." ucap Rinto merasakan hawa yang mengerikan di belakang mereka. "Apa kalian baik-baik saja? dari mana arah datangnya batu itu?" Vino langsung merinding membayangkan bagaimana jika batu itu menembus kepala mereka. "Brengsek apa-apan tadi? kalian memakai senjata yah?" tanya pria itu dengan penuh amarah meski ia juga gemetar ketakutan dibuatnya. Karena kesal, dia dengan cepat ingin mengarahkan tinjunya kepada Rinto. "Plakkkk...!" tampar Rinto ke pipi pria itu dengan keras yang membuatnya seketika oleng ke belakang. "Ah.. sialan, kau... Plakkk,, Plakk Plakk!" tampar Rinto secara bertubi-tubi dengan sangat kuat sampai pria itu jatuh ke bawah dan tak sanggup berdiri karena merasakan perih di pipinya. Teman-temannya yang lain langsung ikut menyerang Rinto, namun Rinto hanya melakukan serangan yang sama yaitu menghindari tendangan dan kepalan tinju mereka sembari menampar mereka satu persatu. Satu orang yang tersisa bahkan sampai sampai lebih dahulu memegang pipinya seolah sudah merasakan pedihnya tamparan Rinto saat melihat teman-temannya yang sudah terbaring di lantai meringis sakit meski pipinya belum tersentuh tamparan dari Rinto. "Huffft, aku jadi tak tega untuk menamparmu." ucap Rinto sambil mengelus-elus lembut pipinya dan melepaskannya begitu saja. "Mantul Bosque!" Yogi menaikkan jempolnya memuji kemampuan Rinto yang sudah jauh berkembang sampai ia tidak perlu repot-repot untuk mengeluarkan kekuatan penuhnya. "Tidak buruk!" gumam Alisya kagum dengan kemampuan Rinto dari kejauhan. "Tidak ku sangka kemampuan mereka meningkat banyak sejak terakhir kali aku melihatnya bertarung." ucap Karin memuji kemampuan Rinto. "Sepertinya kalian memiliki tontonan yang menarik." Adith yang baru saja muncul segera berkomentar di belakang Alisya. "Pada akhirnya aku jadi semakin biasa dengan kemunculan mu yang tiba-tiba seperti ini, aku tau kalau kau pasti akan kemari." Ucap Alisya dengan tersenyum manis kepada Adith. "Aku melihat sebuah rekaman yang sangat menarik, dan karena itu aku jadi ikut penasaran ingin menyaksikannya secara langsung." Adith mengambil posisi di sebelah kanan Alisya. "Kalian seperti dua buah magnet abadi yang tak bisa di pisahkan." seru Karin menggoda keduanya yang selalu saling mencari satu sama lainnya. Rinto yang sudah membelakangi pria yang dilepaskan nya dan menuju teman-temannya tersebut tiba-tiba di kejutkan dengan bunyi tamparan bolak balik dari Yogi kepada pria yang di lepaskannya itu. "Kau ingin bersikap pengecut dengan memakai senjata untuk memukul orang yang sudah berbaik hati untuk melepaskan mu? Sini ku beri tamparan ku yang aku lumuri dengan kasih dan sayang nih. Gomu gomuno.. Tampool!!" Seru Yogi dengan sangat lantang sambil terus menghujamnya dengan tamparan keras. "Kalian baik-baik saja? Maaf aku terlambat datang." ucap Rinto membantu mereka bangkit. "Terimakasih, kami awalnya ingin menyalahkan dirimu atas semua yang terjadi kepada kami. Tapi melihatmu yang terlihat jauh lebih kuat dari sebelumnya membuat kami ragu kalau kau lemah seperti apa yang mereka rumorkan." ucap Al berusaha bangkit dengan tubuhnya yang penuh akan luka-luka. "Kekuatan itu bukalah sesuatu yang di tunjukkan untuk memperlihatkan sebesar apa kekuatanmu, tapi digunakan untuk melindungi orang-orang disekitar mu. Aku juga mempelajari ini dari seorang perempuan." Rinto tersenyum mengingat Alisya. "Tidak penting dari siapa kau belajar, selama itu bisa membawa kearah lebih baik maka itu sangat berharga." ucapnya seolah mengagumi sosok orang yang sedang di maksud oleh Rinto saat itu. Vino dan Yogi langsung mencoba membopong beberapa anak lainnya dan membawa mereka ke apotek terdekat untuk memberikan mereka pengobatan. Chapter 312 - Enyahlah Alisya bersama Adith dan teman-temannya yang lain sudah kembali ke sekolah tanpa di ketahui oleh pihak sekolah kalau mereka baru saja membolos berkat Aurelia dan yang lainnya yang memberikan alasan dengan begitu meyakinkan. "Loh Karin mana? Kenapa dia tidak bersama dengan kalian?" tanya Adora saat melihat Alisya yang kembali tanpa Karin. "Bagaimana dengan Rinto dan yang lainnya?" tanya Aurelia mengkhawatirkan mereka dan langsung menghambur ke sisi Alisya. "Jangan khawatir, mereka baik-baik saja. Saat ini Karin sedang memberikan perawatan kepada mereka." ucap Alisya dengan santai. "Syukurlah kalau begitu. Simulasi akan dilanjutkan lagi besok jadi hari ini kita bisa pulang lebih awal." ucap Emi merasa sangat antusias ingin pulang. "Oh iya, kita bisa pulang secepatnya untuk mencari pakaian di butik ibu mu." ucap Feby memandang kepada Gina yang sedang adu mulut dengan Gani. "Oke aku siap menemani kalian, toh aku juga akan ikut ke acara Alisya." Gina langsung melempar Handphone Gani dengan kasar untuk mengakhiri perkelahian mereka. "Kau jadi kakak jahat amat sama adik sendiri." Adora menggeleng-gelengkan kepalanya melihat mereka yang masih saja terus bertengkar karena hal sepele. "Jadi kita bisa pulang sekarang? aku sudah tidak sabar untuk segera acara pertunangan kalian." Emi semakin tak sabar lagi. "Kalian pergilah dulu, aku akan menunggu Karin. Setidaknya kita bisa menghemat waktu agar tidak banyak yang mengantri disana." Alisya tidak akan pergi sebelum Karin datang. "Ya sudah, biar kami yang pergi terlebih dahulu." ucap Adora yang tak mengajak Aurelia karena ia tahu kalau Aurelia sedang menunggu Yogi. "Sampai jumpa disana yah.." ucap Feby yang langsung menarik Gina pergi dari sana. "Duluan yah Dith..." Adora melambai berpamitan kepada Adith yang hanya terdiam menyimak percakapan mereka. "Woy, sebelum kesana kalian balik rumah dulu buat minta izin." teriak Alisya kepada mereka yang di balas dengan simbol Ok secara serempak. Alisya langsung menatap Ryu agar menemani mereka dan melindungi mereka yang langsung di sanggupi oleh Ryu. Ryu yang sudah berjalan pergi tiba-tiba kembali menarik Beni dan Gani untuk ikut bersama mereka. "Apa yang kalian lakukan di sini? Kenapa kalian tidak ikut pergi bersama mereka?" tanya Alisya kepada Syams dan Egi yang hanya duduk dan berdiam diri dengan tatapan bingung. "Jadi kami juga mendapatkan undangan mu?" ucap Putri dengan wajah yang penuh semangat. "Ha? Tentu saja. Kalian semua kan teman-teman sekelas ku, mana mungkin tidak aku undang." ucap Alisya yang heran dengan apa yang baru saja ditanyakan oleh Putri. "Aku malah ingin mengundang satu sekolah ini, tapi dilarang oleh dia." ucap Adith sengaja untuk meyakinkan mereka. "Tapi kami tidak punya baju yang pas untuk ke acara formal seperti itu, terlebih lagi karena di rangkai kan dengan acara ultah perusahaan." ucap Fani ragu-ragu karena merasa rendah diri pergi ke tempat acara formal Alisya. "Kenapa kalian mengkhawatirkan itu, kalian bisa pergi ke butik milik ibu Gani dan mencoba segala jenis pakaian yang kalian inginkan." Alisya tersenyum dengan perkataan Fani yang ia rasa dia menggemaskan. "Kalian tidak perlu terpaku akan pakaian apa yang harus kalian pakai, cukup pakai apa yang membuat kalian nyaman dengan apa yang kalian pakai tersebut." Ucapan Adith segera memberikan rasa percaya yang cukup tinggi. "Bersikaplah seperti biasa kalian bersikap, tidak perlu terlihat formal disana." tambah Aurelia cepat dengan tersenyum hangat. Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Alisya dan Adith serta Aurelia, mereka dengan cepat mengambil tas dan segera menuju ke tempat butik ibu Gina. "Rasanya cukup canggung jika hanya bertiga dengan kalian." seru Aurelia melihat Adith yang terus menatap ke arah Alisya. "Sepertinya kita ikut menyusul Karin dan yang lainnya ke apotek tadi saja. Aku akan mengambil barang-barang mereka." Alisya yang malu dengan cepat mengambil barang-barang milik Rinto dan Karin yang masih berada di dalam kelas. Mereka pun segera menyusul Karin di tempat ia mengobati luka-luka milik teman-temannya. "Aku tak menyangka kau mengetahui banyak hal mengenai medis." Al terus meringis sakit saat Karin memberikan olesan obat ke wajahnya karena perih. "Aku bahkan bisa menjahit mu sekarang jika itu memang perlu." ucap Karin dingin sembari terus mengoles pipi Al dengan kasar karena kesal. "Bisakah kau lebih ikhlas saat menangani mereka? kau bahkan bisa membuat mereka terbunuh jika marah seperti itu." Rinto bisa merasakan aura kelam Karin yang kesal karena di tinggal sendirian disana. Vino yang sedang menunggu giliran untuk mendapatkan pengobatan dari Karin seketika ingin melarikan diri karena takut. "Jadi kalian masih disini? harusnya kalian sudah melarikan diri sejauh mungkin setelah menghajar anak buah ku." seorang pria bertubuh besar dan kekar datang dengan beberapa temannya. "Kenapa orang bodoh makin bermunculan satu persatu." gumam Karin sembari terus mengobati luka-luka pada adik-adik kelasnya. "Perempuan ini berani juga, bagaimana kalau kamu ikut saya saja. Kita akan bersenang-senang bersama." Ucapnya memajukan diri ingin memegang pipi Karin namun dengan cepat Rinto berdiri di hadapannya untuk menghentikan aksinya. "Sial, sepertinya kau adalah orang yang sudah menghajar anak buah ku yah! Minggirlah selagi aku masih berbaik hati padamu." ucapnya dengan sombong dan mencoba untuk menyentuh Karin yang Rinto langsung menaikkan sebuah tusukan suntik ke arah kepalanya. "Enyahlah dari sini." tatap Rinto dengan sangat tajam. Pria itu seketika mundur dari hadapan Rinto dengan wajah yang terlihat sangat ketakutan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera pergi dari sana yang membuat semua akan buahnya bingung karena tak menduga kalau ketua geng mereka mundur begitu saja tanpa ada perlawanan yang berarti. "Ada apa bos, kenapa kau hanya pulang begitu saja?" tanya anak buahnya merasa bingung dengan pemimpin geng mereka yang langsung pergi begitu saja dengan wajah ketakutan. Dia tidak menjawab dan hanya terus melangkah tanpa menoleh sedikitpun. "Bos, kau baik-baik saja?" tanyanya sekali lagi dengan menepuk pundaknya pelan namun langsung kaget saat ia merasakan peluh yang membasahi seluruh tubuh bos nya yang masih terlihat bergetar. "Kau tidak akan tau, dia benar-benar ingin membunuhku tadi. Auranya sangat kuat dan terlihat tidak akan takut kepada siapapun. Tatapan matanya seolah siap untuk membunuhku kapan saja jika aku mengucapkan hal yang salah tadi." ucapnya dengan suara bergetar. Rinto memang berniat untuk membunuhnya jika dia berani mendaratkan tangannya ke tubuh Karin. "Kemampuan mu terus meningkat, kau bahkan sepertinya memang sudah berniat untuk membunuhnya tadi." ucap Karin setelah mereka pergi yang membuat Rinto hanya terdiam menahan amarahnya. Chapter 313 - Cukup Aku Meski sudah dikatakan oleh Alisya untuk mereka tak perlu memakai pakaian yang terlalu formal, tapi untuk pertama kali teman-teman Alisya ingin tampil maksimal dan formal untuk acara ulangtahun perusahaan tersebut. Mereka semua sepakat untuk memakai baju yang bertemakan warna hitam yang di padukan dengan warna gold sesuai dengan permintaan Adith. Satu persatu mereka berdatangan ke hotel berbintang lima jakarta yang bertaraf Internasinal dengan semua kemegahan dan kemewahannya. "Kok aku deg-degan yah, padahal bukan aku yang mau tunangan." Emi yang sudah melihat mereka sedang mengantri untuk turun menjadi semakin nervous. "Tidak perlu khawatir, kau bisa berpegang padaku." ucap Gani yang saat itu menjadi pasangan Emi. "Woow, tidak buruk. Perlakukan aku sebagai permaisurimu hari ini." Emi menaikkan keningnya untuk mereka segera turun. Mengerti akan maksud dari Emi, Gani segera turun dari mobil kemudian mengulurkan tangannya kepada Emi. "Siap tuan Putri" Gani yang memakai Jas Hitam bertepi Gold membuatnya terlihat lebih tampan yang membuat Emi merasa bangga bisa berpasangan dengannya. Tak jauh di belakang mereka, Mobil berwarna hitam berikutnya muncul dan bersiap untuk berhenti di depan pintu Hotel yang sudah melebarkan karpet merah untuk setiap tamu undangan. "Turunlah!" Pinta Beni kepada Gina yang masih berada di dalam mobil. "Aku jadi takut untuk masuk kedalam, apakah aku tidak terlihat mencolok?" tanya Gina tak percaya diri dengan penampilannya. "Kau terlihat cantik dengan apapun yang kau kenakan. Terlebih jika kau tampil percaya diri." senyum Beni mencoba untuk membuat tenang Gina. Pujian adalah senjata paling utama untuk membangkitkan kepercayaan diri seorang wanita dan itu berhasil Beni lakukan pada Gina. "Oke, jika itu yang kau katakan." Gina keluar dari mobil dan melingkarkan tangannya ke lengan Beni dengan penuh percaya diri. "Mereka terlihat sangat serasi." ucap Feby yang melihat Gina dan Beni berjalan berdampingan menuju ke dalam Hotel. "Bagaimana kalau kita juga memperlihatkan hal yang sama?" tanya Rinto turun dan mengulurkan tangannya kepada Feby. "Dengan perlakuan kalian seperti ini kepada kami, sepertinya akan membuat iri seluruh orang yang bersahabat di dunia ini jika mereka tahu." senyum Feby meraih tangan Rinto. Rinto segera menempatkan tangan Feby ke lengannya dan menuntunnya naik ke atas tangga. "Biarkan mereka mengambil contoh dari kita." ucap Rinto singkat yang membuat Feby tertawa pelan. "Kau sudah siap?" tanya Zein kepada Adora yang terlihat gugup di sampingnya. Zein tak bisa mengalihkan pandangannya dari Adora yang terlihat sangat cantik saat itu. "Berikan waktu untuk aku mengatur nafasku. Aku belum pernah memakai pakaian seperti ini sebelumnya." Adora terlihat keringat dingin karena merasa kurang percaya diri dengan tampilannya. "Kau tak perlu memikirkan penilaian orang lain tentangmu. Bukankah aku yang sangat mengagumi kecantikanmu saat ini sudah cukup?" Zein mengambil sapu tangannya dan menempelkan pelan ke wajah Adora untuk menghilangkan peluhnya. Hati Adora menjadi sangat bergetar saat Zein memperlakukannya manis seperti itu saat ia biasanya bersikap dingin dan cuek. "Dia selalu tau kapan harus bersikap manis!" batin Adora dengan pipinya yang merona karena senyuman Zein yang begitu mempesona. Mereka berdua turun bersamaan dengan Yogi dan Aurelia tepat di belakang mereka. "Semakin lama aku melihat kalian, semakin nampak chemistry diantara kalian berdua." ucap Aurelia setelah mengalungkan tangannya kepada Yogi dengan erat. "Zein, kita semua adalah pangeran berkuda putih hari ini. Jadi kenapa kau tidak meraihnya untuk semakin dekat denganmu?" goda Yogi kepada Zein dan Adora yang masih terlihat canggung satu sama lainnya. "Seperti ini?" Zein bukannya meraih tangan Adora dan menempatkannya ke lengannya, melainkan ia menarik pinggang Adora dengan lembut dan menelmpelkannya kesisinya. Perlakuan Zein segera membuat semua teman-temannya yang sudah tiba lebih awal menyoraki mereka berdua yang membuat Adora menutup wajahnya karena malu sedangkan Yogi dan Aurelia langsung melakukan tos atas keberhasilan mereka. Mereka akhirnya berjalan masuk kedalam perusahaan setelah semuanya hadir. Karin dan Akiko belum datang karena masih bersama Alisya yang menjadi highlight pada acara malam itu. Ketika mereka sedang mengobrol satu sama lainnya, seseorang tiba-tiba menyapa Zein dengan suara yang lembut. "Ternyata benar itu kamu." ucapnya sembari berjalan mendekati Zein. Dia datang bersama 3 orang temannya dan seorang pria yang terlihat cukup berkelas di sisinya. "Oh... Siska!" Zein memandanya dingin karena tak begitu menyukai mantan seniornya yang satu itu. "Aku tak menyangka kalau kau juga ikut bergaul dengan kalangan bawah. Tidakkah itu mengotori kelasmu? sejak kapan kalangan elite berpasangan dengan kalangan bawah?" Siska tertawa dengan nada merendahkan melihat Adora dan yang lainnya berada disana di sisi Zein. "Jadi dia Zein, si elite nomor 2 di sekolah mu dulu?" tanya seorang pria yang berada di sebelahnya. "Aku tidak peduli dengan kelas atau apapun itu, setidaknya mereka memiliki hati yang jauh lebih berkelas dibanding dengan dirimu." ucapan Zein seketika membuat Adora dan teman-temannya yang lain tertawa pelan dan senyum-senyum memberikan jempol kepada Zein. "Savage!!!" bisik Gani kepada Beni yang langsung membuat mereka tertawa sekali lagi. "Ukhmmm... Lagi pula, apa yang mereka lakukan disini? Kalian sedang menghadiri kondangan siapa dengan pakaian yang seperti itu? Bukankah arahnya yang sebelah sana? Aula utama hotel ini sudah di pakai untuk acara ultah perusahaan besar." Siska yang terbatuk pelan masih melanjutkan caranya yang angkuh. "Jika itu Zein, aku mungkin paham jika dia mengarah kemari karena orang tuanya juga memiliki perusahaan besar, tapi aku tak yakin dengan mereka." tambah pria yang berdiri di samping Siska. "Sepertinya mereka sedang tersesat!" ucap teman-teman Siska dengan tawa mereka yang terdengar menjijikkan di telinga Aurelia. "Kalian bahkan bisa di bilang sama. Seperti dayang-dayang yang sedang melayani tuan putrinya dengan begitu setia." ucap Aurelia dengan senyumannya yang sinis. "Kalangan bawah sepertimu tak pantas menghinaku seperti itu." hardiknya dengan sangat kesal. "Lalu atas hak apa yang kamu punya untuk bisa menghina kami? Karena wajah atau karena harta? Jika karena itu kau tak lebih kaya dari apa yang aku punya." ucap Adora dengan tatapan tajam kepada mereka bertiga. "Sudahlah, simpan keanggunanmu itu, jangan perdulikan wanita bar-bar seperti mereka." Zein langsung berbalik badan memasuki jalur khusus VIP bersama dengan teman-temannya yang lain. "Cih! sombong sekali mereka." ketus Siska kesal. Mereka segera mengikuti Zein dan yang lainnya memasuki jalur yang sama namun dengan cepat di hentikan oleh para pengawal disana. "Maaf, ini jalur khusus untuk keluarga perusahaan. Tamu undangan bisa mengambil jalur yang sebelah sana." tunjuk pengawal tersebut kepada pintu sebelah kanan. Melihat mereka yang mengikuti jalur tersebut membuat Feby dan Emi tertawa riuh sambil berlalu pergi. "Lalu kenapa mereka dibiarkan masuk?" tanya Siska dengan wajah kesal tak terima jika Adora dan yang lainnya bisa memasuki jalur khusus tersebut. Si pengawal tak menjawab dan terus mengarahkan mereka ke pintu yang berada di sebelah mereka. "Siapa yang menjadi keluarga dari orang-orang seperti mereka?" tanya pria yang bersama Siska. "Aku juga tak tau. Seingatku perusahaan ini memiliki cucu seorang anak laki-laki bernama Ali, tapi dia tidak pernah dipublikasikan didepan umum. Dan Zein atau diantara mereka semua tak memiliki seseorang yang bernama Ali karena Zein hanya sering bersama dengan Adith ataupun Riyan." Siska yang kesal belum memasuki aula. "Jika benar seperti itu, aku tak melihat orang yang kau sebut sebagai Adith dan Riyan disana. Aku mengetahui wajah seorang Narendra, tapi untuk Riyan dari ketiga orang diantara mereka bukanlah Riyan." ucap pria itu mengingat Zein yang hanya datang sendiri tanpa kedua elite lainnya. Mata Siska segera melebar mengingat ia tidak melihat kedua elite tersebut. "Kau benar, dimana..." ketika Siska sedang bergumam memikirkan keberadaan Adith dan Riyan, Riyan datang bersama Kanya tunangannya dan memasuki jalur yang sama dengan yang dimasuki Zein sebelumnya. Chapter 314 - Dasar Rubah Licik Melihat Riyan yang segera memasuki tempat itu, Siska dengan cepat menghentikan Riyan. Rasa penasarannya yang sangat tinggi membuatnya tak bisa membiarkan Riyan untuk pergi begitu saja. "Riyan! Kenapa kau pergi ke arah situ? itu jalur khusus untuk keluarga perusahaan, sedangkan tamu undangan harus berada di sebelah sini." Siska sengaja memancing Riyan untuk memberikannya informasi mengenai mengapa ia bisa menuju ke arah sana. Riyan tak menjawabnya dan hanya berlalu pergi setelah tersenyum singkat untuk sekedar menghargainya saja karena ia malas untuk meladeni Siska. Riyan tau betul dari caranya bertanya bukanlah untuk mengingatkannya namun untuk mengorek informasi darinya. "Dimana Adith? Kenapa Adith tak bersamamu?" tanya Siska sekali lagi tak ingin menyerah. Riyan yang sudah badmood dari awal karena harus ke acara tersebut bersama Kanya membuatnya semakin kesal jika harus berhadapan lagi dengan orang se licik Siska. "Kenapa kau tidak masuk untuk menikmati dan menyaksikan acara ini sampai habis? Kau akan lihat dengan siapa Adith kemari nanti." tatap Riyan dengan senyuman sinis yang kemudian berlalu pergi yang dengan cepat di ikuti oleh Kanya. Siska yang mendapat jawaban singkat dari Adith membuatnya semakin meradang dan marah. Ia semakin penasaran tentang siapa yang mendasari sehingga mereka bisa mendapatkan perlakuan khusus dari perusahaan besar tersebut. Setelah beberapa saat berlalu dan semua tamu sudah mulai berdatangan satu sama lainnya, acara malam itu segera di mulai dengan pembukaan yang diberikan oleh kakek Alisya. "Selamat malam semuanya, terimakasih karena kalian sudah hadir pada acara ulang tahun perusahaan kami yang sudah berdiri hampir 30 tahun dan 15 tahun terakhir ini sudah memasuki pasar global." Pidato kakek Alisya menggema di seluruh Aula tersebut dengan suara yang terdengar sangat berkharisma. "Tak banyak yang bisa aku sampaikan selain terimakasih kepada seluruh pegawai kantor saya yang telah bersama membangun perusahaan ini hingga menjadi lebih besar." kakek Alisya tersenyum lebar melihat ke seluruh ruangan. "Hal ini juga tak luput dari kerjasama yang terjalin dengan perusahaan besar lainnya." lanjutnya lagi bergeser dari podiumnya dan menundukkan kepalanya. Jabatannya yang tinggi dan kepribadiannya yang sangat di takuti tidak membuatnya merasa rendah diri ataupun malu untuk menunduk dalam menghormati semua pegawainya serta tamu undangan yang hadir di sana untuk mengungkapkan rasa terimakasihnya. Semua orang bertepuk tangan dengan penuh kebanggaan bisa mendapatkan ungkapan terimakasih dari pak Takahashi tidak terkecuali siapapun itu. "Kakek Alisya keren, dia sangat liar biasa! Meski usianya sudah tidak muda lagi, ketampanannya tak lekang oleh waktu." Emi bertepuk tangan sembari memuji kakek Alisya dengan tatapan kagum. "Bukan hanya itu, kharismanya begitu kuat dan luar biasa. Aku ingin menjadi seorang pemimpin seperti dirinya." tegas Gani sangat mengagumi kakek Alisya. Kakek Alisya bangkit dari penghormatannya dan kembali mengambil mikrofon dan berjalan ketengah panggung. "Aku sangat bahagia dengan kesuksesan dari perusahaan kami, tetapi juga ada kebahagiaan lain yang ingin aku bagi kepada kalian." kakek Alisya sengaja terdiam sejenak untuk membuat semua orang meresapi apa yang akan di katakan olehnya setelah itu. "Cucu kesayangan saya yang selama ini tidak pernah ingin berdiri dihadapan banyak orang kali ini pada saat yang spesial, dia Akhirnya mau menampakkan dirinya." lanjut kakeknya yang seketika membuat heboh para tamu undangan. Bagaimana tidak, selama ini mereka semua hanya mendengar bahwa pak Takahashi memiliki seorang penerus satu-satunya yang tidak pernah memperlihatkan dirinya dihadapan banyak orang. Ruangan seketika menjadi sedikit heboh dengan saling berbisik-bisik kan satu sama lainnya memulai diskusi mereka mengenai cucu seroang pak Takahashi. "Jika dia seorang pria yang cukup tampan, maka aku akan memastikan diriku untuk mengejarnya." bisik teman Siska. "Tidak, aku akan membuat diriku tidur bersamanya." ucapnya lagi merencanakan hal yang mengerikan. "Dasar rubah licik." seru salah seorang lainnya. Siska hanya tertawa pelan namun dalam hati ia juga memiliki niat untuk bisa mendapatkan perhatian dari cucu seorang penerus perusahaan besar tersebut. "Dan moment special yang merupakan kebahagiaan terbesar saya adalah acara ulang tahun malam ini akan dirangkaikan dengan pertunangan cucu saya satu-satunya Ralisya Quenby Lesham bersama dengan Radithya Azura Narendra." ucap kakek Alisya dengan suara lantang. Semua tamu undangan melongo dan terkejut begitu mendengar nama cucu pak Takahashi yang ternyata seorang perempuan. Terlebih lagi jika ruangannya itu adalah seorang CEO muda super jenius dari perusahaan besar di Indonesia yaitu Narendra. "Bagaimana mungkin? Jadi cucu dari seorang Takahashi Yamada adalah seorang perempuan?" Siska yang terkejut berdiri dari tempat duduknya tak menyangka akan apa yang sedang didengarkannya. "Dia bahkan sampai bertunangan dengan Adith." tambah seorang temannya yang sama terkejutnya dengan Siska. "Sepertinya ini menarik, aku bahkan tak pernah mengira kalau cucu dari seorang Takahashi adalah perempuan." si Pria yang bersama Siska tersenyum dengan lembut langsung memikirkan sesuatu. "Pertunangan ini sangat luar biasa ini bukan hanya pertunangan antara dua keluarga besar, tetapi juga antara dua perusahaan besar." ucap seseorang dengan begitu heboh. "Ini adalah sebuah pertunangan yang sangat spektakuler pada tahun ini, ini bahkan melebihi bayanganku." tambah seorang lainnya merasa takjub. "Tapi bukankah anak Narendra itu masih seorang pelajar SMA? Kenapa mereka melakukan ini pada anak yang masih remaja?" lanjut yang lainnya merasa curiga dengan acara pertunangan tersebut. "Apa mereka sengaja melakukan ini untuk memperbesar perusahan mereka?" bisik yang lainnya lagi. "Tidak mungkin, perusahaan mereka bergerak di bidang yang berlawanan dan mereka sama sekali tidak terlibat persaingan sebelumnya." ucap yang lainnya membantah perkataan temannya. "Ya kau benar juga, kecuali jika mereka memang sudah menjadi orang-orang yang serakah." ucapnya membenarkan apa yang di katakan oleh temannya. "Untuk itu, mari kita sambut Tunangan dari cucu saya Radithya Azura Narendra untuk naik ke atas panggung." panggil kakek Alisya sembari melebarkan tangannya ke arah datangnya Adith. Adith datang di temani oleh Zein, Riyan, Yogi dan Rinto yang bersifat sebagai pengawal pribadinya. Adith muncul dengan Jas Hitam yang bagian dalamnya ia memakai kemeja putih bersih dan dasi berwarna hitam. "Pemuda itu tampan sekali, dia terlihat begitu tegas dan berkharisma." seorang ibu-ibu terpana melihat ketampanan Adith. "Senyumannya dan lirikan matanya begitu mempesona." tambah seorang lainnya yang tidak bisa menepis pesona Adith. "Aduh mataku!" seorang wanita menutup matanya dengan cepat. "Ada apa?" temannya mengkhawatirkannya. "Aku seperti melihat seorang Kang Daniel di wajahnya." ucapnya dengan tatapan ngiler. "Somplak! Dasar Bucin!!!" pukul temannya karena kesal. Tak ada satupun dari mereka yang tak terpesona dengan aura kuat Adith. Chapter 315 - Janji Suci Adith yang sudah tampil di panggung dan sudah mencuri banyak perhatian membuat semua tamu undangan penasaran dengan siapa orang yang di maksud oleh Takahashi sebagai cucunya. Dan seperti apa juga orang yang telah berhasil mendapatkan hati seorang Jenius tampan Adith dari keluarga Narendra. "Sekarang mari kita sambut cucu kesayangan saya, Ralisya Quenby Lesham." ucapnya mengarah ke pintu masuk di mana Karin dan Akiko sudah berada disana untuk membuka pintu. "Sejak kapan mereka berada disana?" ucap Gina kaget melihat Karin dan Akiko sudah berada didalam Aula hotel yang sebelumnya ia tak melihat mereka disana. "Senyuman mereka tampak menawan. Terlihat sekali kalau mereka berdua sangat bahagia." ucap Adora merasakan hal yang sama dengan mereka. "Bersiaplah ke posisi kalian masing-masing." ucap Aurelia segera beranjak pergi dari meja mereka. Dengan semangat, sebelum Alisya masuk mereka sudah dengan semangat meninggalkan meja mereka. Alisya berjalan masuk di dampingi oleh Ayahnya yang mengaitkan tangan Alisya di lengannya dan di genggamnya dengan sangat erat. Alisya yang memakai gaun berwarna kuning gold yang bagian dalamnya berlapis kain hitam metalic yang sangat indah dengan payet bunga sederhana namun tampak mewah yang terlihat sangat pas di tubuhnya. Rambutnya yang terurai dibuat Rapi dengan kepangan dari pelipisnya hingga ke bagian belakang yang menambah kecantikannya membuat semua orang terpesona. "I... Itu si Alisya??? Bagaimana mungkin dia cucu seorang Takahashi? Dan siapa pria tua disampingnya itu? Apa dia ayahnya?" Butuh waktu untuk Siska mengenali Alisya meski Alisya tak memakai make up tebal dan bahkan terlihat sangat natural sekali dengan sedikit polesan tipis. "Itu tuan Lesham! Menteri Pertahanan Indonesia. Aku tak mengira kalau ia memiliki seorang putri karena ia sangat tertutup." Pria yang berada di sebelah Siska menganga tak percaya. "Apa??? seorang siswa biasa seperti dia? Lalu kenapa dia tidak masuk kedalam kelas Elite jika ternyata dia di kelilingi oleh orang-orang hebat?" tanya Siska tak percaya kalau Alisya bukanlah orang sembarangan. "Seperti kata pepatah, semakin berisi maka semakin merunduk. Semakin kaya orangnya semakin Rendah hatinya. Dia memiliki banyak hal yang tidak dimiliki oleh orang lain, tapi itu tidak membuatnya sombong." ucap si Pria yang menatap tajam ke arah Siska yang merupakan contoh buruk dari orang kaya. Alisya yang baru saja memasuki tempat itu semakin menambah kehebohan yang ada di dalam ruangan tersebut. "Aku tak menyangka kalau Lesham adalah menantu dari tuan Takahashi." ucap salah seorang di antara mereka. "Sepertinya keluarga ini memiliki silsilah yang cukup menakutkan." tambah yang lainnya menatap takjub. "Untunglah aku tak pernah berurusan dengan keluarga ini, jika tidak aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi." ucap yang lainnya merinding dengan melihat bersatunya dua keluarga yang ditakuti dan disegani tersebut. "Anaknya sangat cantik, pantas saja jika hati seorang Adith bisa dibuat luluh olehnya." ucap seorang gadis menatap Alisya dengan pandangan cemburu. "Bahkan aku yang seorang wanita sudah memujinya dan mengaguminya. Bagaimana tidak dengan seorang pria." temannya menatap dirinya sendiri dan mendesah pasrah. "Apa kau tidak lihat tatapan semua pria yang terlihat seperti anjing buldog yang terus mengeluarkan liurnya?" mereka langsung melirik ke kiri dan ke kanan lalu tertawa melihat ekspresi para pria tersebut. "Mereka takluk dengan ciptaan tuhan dan kesempurnaan alaminya." ucap mereka yang mulai tertawa pelan. Jarak panggung dan pintu masuk Aula yang sangat luas itu cukup jauh sehingga Alisya bahkan belum sampai pada setengah perjalanannya. Tiba-tiba lampu mati begitu saja membuat semua tempat itu menjadi sangat gelap. Semua orang panik dan kebingungan dengan ke adaan tersebut. "Bapak, kenapa tangan Alisya di lepas?" tanya Alisya bingung saat ayahnya tiba-tiba melepas tangannya dan meninggalkan Alisya sendirian. Alisya hanya bisa mendengarkan suara panik semua orang yang bertanya-tanya akan apa yang sedang terjadi. Alisya langsung memusatkan energinya untuk mendeteksi apakah ada hal yang tak beres sedang terjadi namun tiba-tiba sebuah lampu hanya menyoroti satu titik. Dan itu adalah Adith yang di sinari oleh lampu yang sangat terang. Semua orang kembali duduk dengan tenang begitu melihat Adith tersenyum manis kepada Alisya di depan sebuah piano berwarna putih. Adith menekan tuts piano itu satu persatu dan menghasilkan suara yang mengalun dengan lembut hingga sebuah lilin-lilin kecil masuk di pegang oleh semua teman-temannya. "Dengarkanlah wanita pujaanku Malam ini akan kusampaikan Hasrat suci kepadamu dewiku Dengarkanlah kesungguhan ini". Mereka masuk serempak sembari bernyanyi mengikuti irama piano yang dibawakan oleh Adith. "Aku ingin, mempersuntingmu Tuk yang pertama dan terakhir". Suara Adith memenuhi ruangan tersebut dengan begitu merdu. "Jangan kau tolak dan buatku hancur Ku tak akan mengulang tuk meminta Satu keyakinan hatiku ini Akulah yang terbaik untukmu". Karin datang bersama Akiko membawa Alisya berjalan kembali. "Dengarkanlah wanita impianku Malam ini akan kusampaikan Janji suci satu untuk selamanya Dengarkanlah kesungguhan ini". Seru Adith semakin menekan tuts itu dengan begitu lembutnya. "Aku ingin, mempersuntingmu Tuk yang pertama dan terakhir". Seru mereka serempak. "Jangan kau tolak dan buatku hancur Ku tak akan mengulang tuk meminta Satu keyakinan hatiku ini Akulah yang terbaik untukmu". Bergantian dengan Karin dan Akiko, Ryu serta seluruh pria yang lainnya berjejer satu persatu dengan posisi setengah berdiri dengan satu lutut yang terlipat memberikan Alisya tempat untuk naik ke atas panggung. "Jangan kau tolak dan buatku hancur Ku tak akan mengulang tuk meminta Satu keyakinan hatiku ini Akulah yang terbaik untukmu". Adora dan yang lainnya juga berjejeran mengajak Adith untuk segera berdiri di tengah-tengah panggung. Musik berhenti sejenak dan Adith bergantian dengan Zein yang langsung mengambil posisi Adith dengan cepat. Begitu melihat Adith sudah berada di hadapan Alisya, ia mulai menekan tutsnya dengan lembut. "Dengarkanlah wanita impianku Malam ini akan kusampaikan Janji suci satu untuk selamanya Dengarkanlah kesungguhan ini." Adith mengeluarkan sebuah kotak berwarna putih dari balik saku Jasnya. "Aku ingin, mempersuntingmu Tuk yang pertama dan terakhir" Suara lembut dan hangatnya membuat semua wanita yang berada di dalam Aula jatuh dalam ke irian yang hakiki. Adith memasang cicin kecil yang sederhana dan tak tampak mewah namun Alisya sangat menyukai nya. Melihat Alisya yang tersenyum haru, Adith mengecup keningnya lembut. "Kau tampak sangat cantik malam ini. Aku sangat bersyukur karena bisa memiliki mu menjadi makmum ku." bisik Adith yang langsung meresap hangat di hati Alisya. Semua orang langsung bertepuk tangan menyaksikan acara pertunangan yang sangat memberikan kesan romantis tersebut. Bahkan tak pelak banyak dari mereka yang hadir larut dalam pertunjukan sederhana yang mengharu biru tersebut. Alisya memandang teman-temannya dengan penuh rasa syukur. Chapter 316 - Akiko Uehara Setelah selesai acara inti, mereka saling bercengkrama satu sama lainnya sambil mencicipi hidangan serta bersilaturahmi dengan semua anggota karyawan kakeknya. Nenek Alisya sangat bahagia melihat keluarga mereka yang belasan tahun terpisah dan berantakan itu akhirnya bersatu kembali serta bisa bersama merasakan moment berharga itu kembali. Ia tanpa sadar membuat Alisya berkeliling dari satu kolega ke koleganya yang lain untuk mengenal kan Alisya. Rasa bangga karena akhirnya Alisya sudah membuka diri membuatnya sangat bahagia. "Pergilah bersama teman-teman mu. Aku akan menemani ibu Adith bersama yang lainnya disana." ucap neneknya melepas Alisya yang terlihat kelelahan. Alisya mencium neneknya cepat dan segera beranjak pergi menuju Karin dan yang lainnya tak jauh dari sana. "Maaf saya terlambat." Ayah Karin segera menyapa nenek Alisya yang terlihat duduk bersama dengan ibu Adith. "Ya ampun Hady, kau hampir saja membuat Alisya kecewa. Sapalah anak itu, kau tau kan kalau dia merajuk satu rumah yang di musuhinya." ucap nenek Alisya mengetahui betapa Hady adalah orang yang sudah menjadi pengganti sosok ayahnya selama ini. "Maaf ma, Aku harus menarik telinga mereka berdua untuk bisa sampai kesini." Ibu Karin menyalami nenek Alisya dengan mencium pipinya di kiri dan kanannya. "Tentu, kalian bisa kembali melanjutkan gosip kalian. Oh iya kalau bisa tolong panasi telinga anak badung itu sekalian." tunjuk Ayah Karin kepada Karan yang berjalan masuk menghampiri nenek Alisya. "Tentu saja, itu masalah kecil buat kami." ucap Ibu Adith dengan tatapan tajam kepada Karan paham akan maksud dari Ayah Karin. "Kau itu ada-ada saja!" pukul istrinya gemas. "Oke, aku serahkan dia pada kalian. Aku akan menemui Quenby ku tersayang." Ayah Karin segera memberikan kepalan tinjunya kepada nenek Alisya dan menyerahkan urusan Karan kepada para ibu-ibu tersebut. Untuk urusan memanas manasi, memang para ibu-ibu memiliki tekhnik tersendiri untuk mengangkat lidah mereka yang bahkan mampu mengguncangkan sebuah negara karena kelenturannya. "Kapan kalian menyediakan ini semua?" tanya kepada teman-temannya dengan pandangan takjub. "Tentu saja tadi." ucap Aurelia singkat dengan senyuman puas. "Kami melakukannya hanya mengikuti arahan dari Adith saja. Kau kan baru memberitahu kami mengenai acara pertunangan kalian, tapi tak ku sangka Adith mampu memimpin kami dengan baik." Adora memeluk Feby karena senang berhasil melakukannya. "Kami hanya melakukan satu kali latihan tepat sebelum kami kemari. Dan aku tak mengira hasilnya bisa se lumayan ini." Karin melirik ke arah Alisya yang kemudian memberinya kode untuk menoleh ke belakangnya. "Hai sayang, maaf aku telat. Terlalu banyak yang harus di urus makanya aku dan bibimu baru sempat datang sekarang." ucapnya sembari melirik ke arah istrinya di sebelah dirinya. "Kami janji, untuk acara nikahan kalian kami usahakan agar datang tepat waktu." seru ibu Karin tersenyum hangat membelai pipi Alisya lembut. "Tidak apa kok, dengan kehadiran kalian saat ini sudah sangat membuatku senang." ucap Alisya dengan tatapan berbinar binar. "Kau sudah semakin dewasa rupanya. Kapan putriku yang seorang lagi bisa seperti dirimu." singgung Ayah Karin kepada Karin yang berada disebelah Alisya. "Sepertinya diriku masih di sebut, aku pikir mereka sudah mengganti putri mereka." goda Karin kepada kedua orangtuanya. "Pulang lah lebih cepat malam ini, aku sudah menyediakan hidangan spesial yang dapat membuat mulutmu berbusa hanya dalam satu detik." senyum ibu Karin sembari mencubit pipi anaknya dengan gemas. Semua teman-temannya merinding mendengar ucapan Ibu Karin yang begitu sadis namun memasang ekspresi yang datar bahkan dengan senyuman yang sangat manis. "Kamu pasti Akiko kan?" ucap Ibu Karin saat melihat Akiko yang terlihat berbeda berada di sekitar mereka yang berwajah Indonesia. "Ah iya, nama saya Akiko Uehara. Saya cucu dari adik kakek Alisya." Akiko dengan cepat melangkah ke depan untuk memperkenalkan diri. "Ternyata benar, ikutlah bersamaku!" senyum ibunya tipis dengan cepat ingin membawa pergi Akiko dari sana. "Apa yang ingin kau lakukan dengannya?" tanya Ayah Karin bingung dengan apa yang ingin di lakukan istrinya. "Jangan merusak kepolosan anak ini ma!" ucap Karin menahan ibunya untuk membawa Karin. "Aku rasa sebaiknya dia tetap bersama kami saja." tambah Alisya lagi memasang ekspresi takut dan paniknya. Adora dan yang lainnya menjadi sangat takut melihat tingkah Alisya dan Karin yang berusaha untuk menyelamatkan Akiko. Mereka bisa menebak semenakutkan apa ibu Karin dengan suaminya yang juga berusaha menyelamatkan Karin. Ibu Karin langsung menggetok kepala Alisya dan Karin dengan gemas. "Berhentilah membuatku seperti orang jahat." bentaknya kesal dengan acting kedua putri evil nya tersebut. Alisya dan Karin hanya tertawa pelan bersama dengan ayah Karin yang segera membuat Adora dan yang lainnya bingung. Sedang Akiko tak tahu apa yang harus dilakukannya. "Kau juga sama!" pukulnya kesal kepada ayah Karin. "Ikutlah bersama Ibu ku, dia akan mengenalkan mu pada seseorang." Bisik Karin pada Akiko yang di jawab dengan anggukkan olehnya. "Bagaimana dengan Adith?" tanya Ayah Karin melihat sekitar namun seolah tak menemukan sosoknya. "Ayah dan Kakek sedang membanggakannya pada semua rekan bisnisnya. Aku sudah mengalami hal yang sama berkat nenek dan Karin serta yang lainnya yang menyelamatkan aku kemari." terang Alisya menunjuk ke arah Adith yang sedang mengobrol santai dengan Ayah dan Kakeknya serta beberapa orang lainnya tak jauh dari sana. "Baiklah, sebaiknya aku kesana untuk menyapa mereka dulu." ucapnya sembari berlalu pergi mendekati mereka. "Sepertinya Karan sedang menghadapi kesulitan terbesar dalam hidupnya." ucap Aurelia melihat ke arah Karan yang sedang di kerumuni para ibu-ibu termasuk nenek Alisya dan Ibu Adith. "Dia pantas mendapatkan nya." ucap Karin dengan tersenyum jahat. "Umm... Hai Alisya!" seorang perempuan mendekati Alisya dengan ragu-ragu. Alisya mengerutkan keningnya tak tahu siapa yang berada di hadapannya saat ini. "Aku Kanya, kita pernah bertemu dua kali di Senayan dan di acara ulang tahun Riyan." ucapnya memperkenalkan diri kepada Alisya. "Aku ingat." Alisya masih menatap dingin kepada orang dihadapannya tersebut. "Apa yang kau inginkan pada Alisya?" tanya Karin datar karena tak menyukai Kanya yang angkuh dan sombong tersebut. "Tidak ada, aku kesini hanya ingin meminta maaf padamu. Sikap ku tempo hari memang bisa di bilang sangat kasar. Aku kemari tulus karena ingin meminta maaf, melihatmu membuatku berpikir bahwa kekayaan dan jabatan memang bukanlah segalanya di dunia ini." ucapnya dengan suara lembut dan kepala yang menunduk menyesali perbuatannya. Bisa mendengar ketulusan kata-katanya dari ritme jantung Kanya, membuat Alisya jadi meluluh dan tersenyum hangat kepadanya. Mereka akhirnya berbincang-bincang dengan lebih akrab yang ternyata Kanya orang yang heboh juga. "Apa???? Jadi kalian udah tunangan?" tanya Adora kaget. "Kapan?" tanya Aurelia lagi. "Dimana?" lanjut Feby. "Kok Bisa?" tambah Emi "Hebat!!!" seru Gina singkat. "Ibu Riyan adalah orang yang keras. Kami bertunangan 3 hari setelah acara ulang tahunnya ketika ibu Riyan mengetahui bahwa.." Kanya terlihat ragu-ragu untuk berbicara. "Kenapa?" tanya Karin penasaran. "Kau tak perlu cerita jika kau tak ingin." ucap Alisya menenangkannya. "Riyan tidak menyukaiku tetapi menyukaimu, sehingga ia memaksa Riyan untuk segera bertunangan denganku." ucap Kanya dengan tersenyum kecut. Karin yang mendengar hal tersebut kaget dan merasa tak enak kepada Kanya yang berada di hadapannya. "Maafkan aku, tapi aku sama sekali..." Karin berusaha untuk menjelaskan. "Aku tau! Aku bisa melihatnya bagaimana sikapmu kepada Riyan. Aku juga tersadar saat Riyan dengan keras menolak diriku di hadapan orang tuaku dan orang tuanya. Tapi baik aku maupun Riyan tak punya pilihan lain." seru Kanya dengan suaranya yang mulai terdengar serak. "Apa kau mencintai Riyan?" tanya Aurelia yang mulai bersimpati kepada Kanya. "Ya, aku sangat mencintainya. Tapi karena itu pula aku semakin terluka. Saat kau mencintai seseorang dengan sepenuh hati tapi kau hanyalah orang yang sangat di bencinya, maka rasanya akan begitu menyakitkan." jelasnya tersenyum pahit. Chapter 317 - Rencana Ibu-Ibu "Eh, Nak Karan, mau kemana? Sini dulu." panggil ibu Adith menghentikan langkah kaki Karan yang sedang menuju ke arah Alisya. Karan tersenyum lebar dan segera mengikuti panggilan ibu Adith saat melihat nenek Alisya juga ikut memanggil dirinya. "Halo nek, hai tante. Karan masih punya banyak pasien tadi makanya telat." sapa Karan dengan begitu ramah kepada kedua wanita tersebut. "Tak apa, duduklah dulu temani dua wanita tua yang sedang menjomblo ini." ucapan ibu Adith membuat Karan tertawa pelan. "Tante bisa aja yah!" ucap Karan memandang mereka dengan penuh perhatian. "Karan, apa kamu tidak ada niat untuk nikah? umur kamu sekarang sudah sangat mapan. 25 tahun itu usia yang cukup untuk nikah." tanya nenek Alisya dengan maksud untuk mengingatkan yang bisa dipahami oleh Karan. "Ada kok nek, cuman sekarang Karan belum nemu calon yang tepat. Karan juga masih sibuk ngurusin rumah sakit jadi itu yang jadi penghambat buat Karan nemu calon." Karan mengambil segelas minuman yang di bawa pelayan untuknya. "Emang calon seperti apa yang kamu ingin temukan?" tanya ibu Adith penasaran sembari melirik ke arah ibu Karan yang sudah menari Akiko bersamanya. "Jadi ternyata belum nemu? nenek pikir kamu sukanya sama Akiko. Nenek salah tanggap rupanya?" pancing nenek Alisya yang membuat Karan tersedak dari minumannya. "Loh kalau sama Akiko saya dukung loh, dia anaknya manis. Rajin dan ceria lagi. Dia anak yang tulus dan sangat perhatian terhadap orang tua. Apalagi dia juga cantik dan cerdas, tante rasa kalian cocok." ucap Ibu Adith bukan bermaksud untuk melebih-lebihkan tapi memang itu yang ia rasakan ketika berhadapan dengan anak manis itu. "Tante sama nenek mau ngomporin saya sama Akiko nih? Berniat ngejodohin yah?" Karan tersenyum menyadari maksud dari percakapan mereka. "Iya, soalnya kami lihat kalian berdua cocok. Kalau kau suka padanya maka dia bisa menetap disini dan menemani nenek. Tapi jika tidak, maka tahun berikutnya Akiko akan kembali ke Jepang." nenek Alisya mengeluarkan informasi yang sangat penting yang bahkan Alisya tidak mengetahui hal tersebut. "Akiko akan kembali ke Jepang? Alisya dan Karin tahu tidak tentang ini? Apa Ryu juga sama?" tanya Karan dengan ekspresi kaget. Meski di hatinya terasa sedikit percikan api kepahitan, Karan lebih memikirkan bagaimana perasaan Adiknya dan Alisya ketika mendengar hal tersebut. "Mereka berdua tidak mengetahuinya, makanya tante sama nenek mau ngomongin masalah ini sama kamu. Kami harap kamu bisa nahan Akiko untuk balik ke Jepang, kami sudah terlanjur sayang sama dia." Ibu Adith menatap penuh harap kepada Karan. Karan hanya terdiam karena tak tahu apa yang harus ia katakan. Karan masih belum yakin akan apa yang ia pikirkan dan rasakan mengenai Akiko. Meski ia sedikit merasa simpati, Karan tetap masih belum bisa melepaskan perasaanya dari Alisya. Butuh waktu baginya untuk bisa membuang perasaan itu. "Kamu suka sama Akiko tidak?" Ibu Adith penasaran dengan tanggapan Karan mengenai Akiko. "Aku, Aku masih tidak yakin dengan perasaanku tante." ucap Karan gugup mendapat pertanyaan seperti itu dari Ibu Adith. "Nenek tau kamu masih menyukai Alisya, itulah kenapa kamu tidak yakin dengan perasaanmu sekarang!" nenek Alisya sengaja berkata seperti itu saat melihat Ibu Karan sudah mendekat ke arah mereka. "Aku memang masih memiliki perasaan kepada Alisya, tapi bukan karena itu aku tidak menemukan seseorang saat ini atau tidak menyukai Akiko. Aku hanya tidak memiliki perasaan lebih kepadanya." ucap Karan yang tak mengetahui kalau Akiko sudah berada dibelakangnya. Karan merasa lehernya cukup kering sehingga dengan cepat ia mengambil minumannya dan meneguknya pelan. "Karan, mama mau ngenalin seseorang sama kamu." Ibu Karan memanggil Karan cepat sehingga Karan bangkit dari duduknya saat ia menyeruput habis minumannya. Ketika karan berbalik badan, betapa kagetnya dia saat melihat kalau orang yang di bawa oleh ibunya itu adalah Akiko sehingga minuman yang belum sempat di telannya dengan baik tersebut menyembur keluar. Melihat Karan yang terlihat kaget dan ingin menyemburkan sesuatu dari mulutnya, Akiko dengan cepat bediri dihadapan ibu Karan untuk melindungi ibu Karan dari semburan tersebut. "Tante nggak apa-apa? Nggak basah kan?" tanya Akiko cepat saat semburan syahdu Karan telah habis. "Loh, kan kamu yang kena semburannya. Rambut dan belakang kamu jadi basah semua tuh." Ibu Karan terlihat panik atas perlakuan Karan kepada Akiko. "Ah.. Maafkan aku, aku tidak sengaja." Karan dengan cepat membuka Jasnya untuk diberikan kepada Akiko. Aku menolak dengan sopan sambil tersenyum pahit yang membuat Karan bingung karenanya. Nenek Alisya dan ibu Adith tertawa pelan menyaksikan ke konyolan Karan. Mereka sengaja duduk manis dan diam untuk terus melihat apa yang akan dilakukan Karan selanjutnya kepada Akiko. "Aku baik-baik saja, maaf tante aku ke tolilet dulu untuk membersihkan diri." Akiko memberi hormat cepat dan berlalu pergi dari sana tanpa menoleh sedikitpun. "Sejak kapan mama dan Akiko berada dibelakangku?" tanya Karan merasa curiga dengan Akiko yang melarikan diri darinya tersebut. "Cukup lama, sejak Kau menyukai Alisya dan tidak menyukai Akiko." ucap ibunya dengan santai dan jujur. Karan memijit kepalanya dengan kuat paham kenapa ia melihat setitik bening mengalir jatuh dari pipinya saat Akiko berlari pergi. Meski apa yang dikatakannya benar, Karan hanya tak ingin melihat seorang wanita menangis karena dirinya. "Ma, aku nyusul Akiko dulu yah." ucap Karan dengan cepat berlalu pergi dari sana mengejar Akiko. Ibu Karan langsung duduk menaik turunkan keningnya kepada nenek Alisya dan Ibu Adith yang sudah senyum-senyum ketika Karan pergi mengejar Akiko. "Agak kejam sih memang, tapi tahap keberhasilan dari Rencana ini cukup tinggi." Ibu Adith merasa kasian kepada Akiko atas rencana mereka tapi ia menganggap cara itu bisa membuat mereka jadi mengetahui isi hati satu sama lain. "Berapa persen?" tanya Ibu Karan dengan penuh antusias. "30 persen melihat dari rasa bersalah Karan." ucap ibu Adith dengan penuh keyakinan. "Rasa bersalah seseorang kadang bisa menimbulkan cinta. Meski awalnya cukup sulit, tapi mereka akan saling memberika kekuatan satu sama lainnya." terang nenek Alisya memandang Karan yang sudah menghilang dari ruangan tersebut. "Ya kau benar, untuk saat ini kita hanya bisa membantu mereka sebatas ini saja. Sampai disini biar mereka yang mengurus dan mennyelesaikannya sendiri." tambah Ibu Adith mengambil minumannya. "Aku harap Karan bisa membuka diri. Aku tidak tahan melihatnya selalu sibuk dengan pekerjaannya tanpa memikirkan diri sendiri." ucap Ibu Karan dengan desahan yang sangat kuat memikirkan Karan. Chapter 318 - Dasar Tante-tante Jomblo Mendengar cerita dari Kanya, Adora sangat memahami perasaan Kanya seperti apa sehingga dengan sedikit keraguan, ia mulai membuka mulutnya untuk berbicara kepada Kanya. "Aku mungkin tak berhak untuk memberi nasehat ataupun saran padamu, tapi aku hanya ingin bilang jika kau tulus dan dia pantas untuk mendapatkan ketulusan itu maka aku yakin itu akan sampai kepada hatinya. Butuh waktu memang tapi tak ada yang mustahil. Ucap Adora mengemukakan pendapatnya. "Yup benar, dia salah satu contohnya." tunjuk Aurelia dengan senyuman liciknya. "Dan dia salah satu contoh dari mereka." balas Adora karena Aurelia berada di posisi yang sama dengan orang-orang lainnya sebab butuh waktu untuknya menyadari ketulusan dari Yogi. "Oke, aku akui." Aurelia bukanlah orang yang mudah marah sehingga meski buruk ia akan mengakuinya dan memperbaiknya. "Jangan hiraukan mereka berdua." tembak Karin cepat seolah melempar mereka ke sisi sebelah dengan kasar. "Karin!!!" teriak Adora dan Aurelia secara bersamaan. "Puffttt hahahahaha, kalian sangat dekat sekali yah. Kalian terlihat akrab satu sama lainnya. Persahabatan kalian membuatku sangat iri, di dunia ini banyak sekali kebusukan dan kemunafika yang terjadi yang tanpa sadar akupun masuk di dalamnya." Kanya melihat mereka dengan rasa iri yang positif. Tak ada kecemburuan yang mengusik hanyalah keinginan untuk suatu hari ia juga bisa merasakan persahabatan seperti mereka. "Alisyaaaa...." tante Loly berteriak dengan sangat kencang menyebut nama ponakannya tersebut sehingga semua orang menoleh ke sumber suara. Alisya melihat ke arah tantenya dengan wajah terkejut bukan main. Bagaimana tidak, pakaiannya saat datang ke acara tersebut terlihat sangat seksi di tambah dengan dua bola berat yang dibawanya membuatnya tampak begitu menggoda. "Dasar tante-tante jomblo yang satu ini." Alisya mengeram kesal sedang Karin hanya tertawa pelan. "Maafin tante, tante harus terbang dari Amerika secara mendadak lagi. Kenapa kamu suka bikin acar mendadak sih? Tapi ngomong-ngomong selamat yah." ucapnya langsung memeluk Alisya dengan sangat erat. "Tante bilang mendadak, tapi masih sempat datang dengan penampilan glamour seperti ini." ucap Alisya berusaha melepaskan diri dari pelukan tantenya yang menaruh pipinya pada bagian dadanya yang empuk yang membuat Alisya merasa kurang nyaman. "Itu karena aku nggak mau ke acara ini dengan tampilan acak-acakan." seru tante Alisya melepaskan pelukannya. "Tante datang sendiri?" tanya Gina sembari melirik ke arah kanan dan kiri tante Alisya. Tante Loly yang tidak suka jika ia mendapat panggilan tante dari orang lain, hanya menatap sinis ke arah Gina dan melirik ke bagian dadanya yang tampak datar dan ia tersenyum licik. Gina mengikuti arah tatapan mata tante Alisya yang sedang melirik ke arah dadanya lalu melirik ke arah dada tante Alisya yang nampak lebih berisi dibanding dirinya. Gina langsung meradang marah namun mulutnya segera di bungkam oleh Karin dan dibantu oleh Feby agar ia tak mengamuk. "Tenanglah! Kau juga punya aset tersendiri." ucap Karin mencoba menenangkan Gina. Tepat saat itu, dari kejauhan ia melihat Akiko berlari dengan tatapan sedih dan berlinangan air mata. Tidak lama setelah itu Karan segera mengejar Akiko. Merasa penasaran, Karin segera mengikuti arah kepergian mereka. "Kar, kamu mau kemana?" teriak Adora melihat Karin pergi dari sana. "Toilet, bentar!" ucap Karin langsung menghilang dari sana. Alisya yang melihatnya pergi merasa kalau Karin sedang melihat sesuatu. Namun karena tidak merasakan adanya bahaya, ia hanya membiarkannya pergi. Dari kejauhan Karin melihat Karan menuju ke arah toilet. Karan langsung bersandar menunggu untuk Akiko keluar dari keluar dengan bersandar di dinding sembari melipat kedua tangannya terus memandang ke arah toilet wanita. Beberapa saat telah berlalu hingga akhirnya Karin yang ingin menghampiri Karan langsung mengurungkan niatnya karena melihat Akiko keluar dari Toilet. Akiko terkejut saat melihat Karan ada disana, tapi karena tidak ingin salah paham lagi sehingga ia hanya berjalan melalui Karan tanpa menatapnya. "Aku dengar kau akan kembali ke Jepang. Apa itu benar?" tanya Karan tepat saat Akiko sudah melewatinya beberapa langkah. Karin melotot tak percaya mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Karan. Karin tak pernah memikirkan bahwa Akiko akan kembali ke Jepang dalam waktu dekat ini. Ia langsung memikirkan Alisya yang selalu menjadi orang yang sangat sulit untuk mengatasi kepergian orang lain. "Iya, aku akan kembali ke Jepang begitu ajaran baru dimulai. Aku hanya kemari untuk mengikuti acara pertukaran pelajar selama 1 tahun saja." ucapnya lembut berbalik memasang wajah cerianya seperti biasa. "Apa sebenarnya tujuan mu kemari? Aku tidak berpikir alasanmu akan sama dengan Ryu." Karan memandang Akiko dengan tatapan serius. "Aku ingin melihat Indonesia yang sering diceritakan oleh kakek setiap kali ia kembali ke Jepang dan ingin lebih mengenal Alisya dan teman-temannya yang lain karena mereka sangat menarik. Selain itu tujuan ku berikutnya..." Akiko terlihat berpikir sejenak apakah harus melanjutkan kalimatnya atau tidak. "Lupakan, itu sudah tidak penting lagi sekarang. Aku kembali kedalam, masih banyak yang harus aku lakukan." Ucapnya ingin segera melarikan diri dari hadapan Karan. "Kenapa itu tidak penting? Apa kau tidak memikirkan perasaan Alisya dan yang lainnya yang sudah terbiasa dengan adanya dirimu disini?" Karan langsung menghentikan Akiko cepat. "Kau tidak perlu khawatir, aku bisa menyelesaikan urusanku dengan mereka. Selain itu harusnya Alisya tau kalau aku tak bisa berada disini dalam waktu lama. Terlebih jika aku memang tak punya alasan tepat untuk berada lebih lama lagi disini." Suara Akiko mulai terdengar serak. "Alasan? alasan apa yang kau butuhkan?" Karan mulai kesal karena Akiko tak berterus terang padanya. "Apa yang kau inginkan sebenarnya?" Akiko juga tak tahan dengan sikap Karan yang ambigu. "Hah??" Karan mengerutkan keningnya bingung. "Sikapmu selalu saja membuatku salah paham. Berhentilah membuat terus merasa seperti itu." Akiko langsung memutar badannya berbalik pergi kembali masuk kedalam ruangan Aula. Karan hanya terdiam membatu ditempatnya masih tak memahami apa yang dimaksudkan oleh Akiko. "Karin? kau sudah mendengar semuanya?" tanya Akiko kaget saat ia berbelok dan bertemu dengan Karin di sana. Karin mengangguk pelan menatap Akiko dengan tatapan marah. Rasanya ia masih belum bisa untuk membiarkan Akiko pergi dari mereka sehingga ia berlalu pergi. "Karin, biarkan aku menjelaskan semuanya dulu." Akiko langsung menarik tangan Karin cepat. Ia tidak ingin ada kesalah pahaman diantara mereka, tapi Karin masih belum bisa menerimanya. "Jangan sekarang!" ucap Karin dingin melepaskan tangan Akiko dengan lembut kemudian berjalan masuk ke dalam aula. Karin tak bisa menyembunyikan ekspresinya yang terlihat sangat kecewa. Chapter 319 - Pembayaran SPP Pagi hari di sekolah. Memasuki Gladi bersih persiapan ujian Nasional, para siswa diberitahukan untuk segera melunasi pembayaran Uang SPP sebelum pelaksanaan dimulai. Hal ini merupakan kewajiban yang dilakukan oleh setiap siswa yang biasanya pembayarannya di lakukan langsung oleh orang tua siswa melalui rekening. "Baiklah semuanya, hari ini ibu akan mengumumkan dua hal pada kalian." Ibu Vivian memulai kalimatnya begitu melihat mereka sudah cukup tertib. "Yang pertama adalah ibu ingin memberitahukan pengenai tenggang masa pembayaran SPP kalian. Untuk itu saya harap kalian bisa memberitahukan kepada orang tua kalian untuk segera melakukan pembayarannya." Mereka semua saling bertatapan satu sama lainnya bukan karena membicarakan masalah uang, melainkan tanda akan berakhirnya pembelajaran dan memasuki pembelajaran baru. "Dan yang kedua adalah pertemuan kita akan berakhir sebelum kalian pelulusan. Besok ibu Arni akan ke sekolah untuk mengurus kalian kembali oleh karena itu¡­" ibu Vivian yang belum selesai berbicara langsung di potong oleh Gani. "Ibu mau ninggalin kita?" teriaknya dengan keras tidak terima dengan pengumuman dari ibu Vivian. "Ninggalin gundulmu? Dengerin dulu!" bentak ibu Vivian yang seketika membuat mereka tertawa dengan keras. "Sekarang tugas ibu memang sudah selesai, tapi bukan berarti saya langsung pamit dari kalian. Hanya saja ibu Arni harus kembali melaksanakan tugasnya dan saya akan diberikan dengan tugas baru." Jelas ibu Vivian sekali lagi. "Oh¡­ Kami pikir ibu akan pergi dari sini." Terang Beni yang memikirkan hal yang sama dengan Gani. "Kalian ingin ibu pergi?" tanya ibu Vivian memancing simpati mereka. "Nggak!!!!!" teriak mereka kompak. "Loh jadi kalian tidak suka sama ibu Arni?" tanya ibu Vivian lagi. "Kami suka dengan ibu Arni, tapi kami juga sudah mulai nyaman dengan ibu Vivian sebagai wali kelas kami." Ucap Feby dengan tatapan sedih dan gundah. "Kalian ini. Ibu Vivian kan sudah bilang, ibu Arni harus kembali melaksanakan tugasnya. Masa cuti dia sudah habis sehingga ibu Vivia yang menggantikan juga sudah selesai." Terang Rinto mengingatkan sekali lagi. "Kita memang sudah mulai memasuki tahap akhir dalam perjalanan pembelajaran kita, untuk itu kita sudah mempersiapkan diri untuk adanya perpisahan." Ucap Karin yang membuat mereka semua terdiam merenungi apa yang sudah di katakana oleh Karin dengan cukup tegas. Ibu Vivian sekali lagi mengingatkan mereka mengenai Uang pembayaran SPP yang harus di segerakan karena jika tidak melakukan pembayaran maka mereka tidak di izinkan untuk mengikuti seluruh pelaksanaan ujian sekolah. "Kenapa rasanya sakit sekali saat memikirkan perpisahan itu?" gumam Emi sembari menekan dadanya dengan sangat kuat. "Aku juga, Kita bahkan belum berpisah tapi hatiku rasanya cukup sakit sekali saat memikirkan hal tersebut. Aku seolah merasakan rindu yang amat dalam." Tambah Gina dengan tatapan yang sedih. "Kita semua akan mengambil jalan masing-masing, dalam masa 3 tahun ini kita sudah melalui banyak hal bersama. Sulit rasanya membayangkan kalau akhirnya kita akan terpisah." Lanjut Egi merasakan perasaan yang cukup berat di hatinya. Tak ada satupun dari mereka yang keluar dari ruangan setelah kepergian ibu Vivian. Mereka semua tenggelam dan larut dalam pikiran masing-masing yang terus membayangkan akan perpisahan mereka yang tinggal beberapa bulan lagi. "Kita semua akan mengambil jalan masing-masing untuk mengejar cita-cita dan impian. Tapi itu bukan berarti menjadi penghalang komunikasi di antara kita." Terang Karin mencoba untuk mencairkan suasana. "Kita bisa mengadakan reuni sebulan sekali bagi yang dekat dan setahun sekali jika ada beberapa dari kita yang harus sampai keluar negri." Tambah Aurelia lagi dengan suara lembut. "Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari suatu lembaran baru." Ucap Adora lagi menatap teman-temannya dengan hangat. "Meski kita akan bertemu dengan banyak orang yang memiliki karakter berbeda, itulah hidup yang akan di jalani oleh siapapun." Yogi tersenyum kepada teman-temanya yang terlihat muram. "Harusnya kita saling mendukung satu sama lainnya demi masa depan kita. Raihlah cita-cita kalian setinggi langit an mari bertemu kembali di puncak kesuksesan." Alisya dan Karin saling berpelukan memberikan kepalan tinju mereka dengan pemikiran yang sepaham. Apa yang dikatakan oleh Alisya dan yang lainnya membuat hati mereka menjadi lebih hangat. Mereka sadar bahwa dalam setiap pertemuan tentu saja aka nada yang Namanya perpisahan. Tapi bukan berarti hal tersebut menjadi sebuah penghalang bagi mereka tau menjadi sebuah kesedihan yang mendalam bagi mereka. Pada akhirnya mereka sudah berpikir dengan lebih jernih namun kemudian Karin tiba-tiba teringat akan Akiko yang juga memutuskan untuk kembali ke Jepang tepat di hari pelulusan mereka dan setelah tahun ajaran baru dimulai. "Teman-teman, mengenai perpisahan. Ada satu hal lagi yang harus kalian ketahui." Karin yang sebelumnya tersenyum dengan ceria mendadak menjadi lebih serius. "Karin!" Ryu yang mengetahui ekspresi Karin tak yakin kalau ia harus mengatakan hal itu saat ini. Ryu tak ingin konsentrasi mereka dalam menghadapi ujian akan menjadi terganggu. "Tidak apa-apa, bagaimanapun juga mereka harus mengetahui hal ini dan menghadapinya." Tegas Karin berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Ada sebenarnya? Kenapa kalian tampak begitu serius?" tanya Beni yang merasa sedikit aneh dengan ekspresi mereka berdua. "Bisakah aku saja yang menjelaskan semuanya?" tanya Akiko yang ternyata sudah berdiri di depan ruangan pintu. Akiko sudah berusaha menghubungi Karin namun Karin selalu berusaha untuk menghindarinya. "Sejak kapan kau berada disana?" tanya Karin kaget dengan kemunculan Akiko. "Aku ingin meminta maaf pada mu dan pada kalian semua. Aku tak mengatakan ini sebelumnya karena aku juga mengira kalau ini hanyalah masalah yang sederhana." Akiko masuk secara perlahan dengan memasang wajah yang sendu. "Meminta maaf karena kenapa? Bisakah kalian langsung pada intinya saja?" tanya Aurelia mulai kesal dengan sikap serius mereka yang membuat hati mereka merasa terganggu karenanya. "Dia akan kembali ke Jepang." Karin langsung mengatakannya dengan singkat. "Apa??? Bagimana mungkin? Jadi¡­" Feby yang ingin protes tiba-tiba terdiam. Meski tak ingin mempercayainya, pada akhirnya mereka paham bahwa Akiko sudah cukup lama berada jauh dari orang tuanya di Jepang. "Aku pikir kau disini dalam waktu yang cukup lama." Gina memandang Akiko dengan tatapan nanar. "Apa Ryu juga akan seperti itu? Jika kalian masih di Indonesia maka kita tentu masih dapat bertemu. Tapi lain hal lagi dengan jika kalian berada di Jepang." Beni menatap tajam ke arah Ryu. Tak ada satupun dari mereka yang menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu dan kembali terdiam dalam waktu yang cukup lama mereka semua masih tak bisa menerima kenyataan yang memang harus mereka hadapi dengan lapang dada. Chapter 320 - Dasar Nggak Peka Melihat wajah Alisya dan teman-temannya yang lain yang tampak sedih, Akiko jadi tersenyum dengan penuh rasa syukur. Ia bisa memahami bagaimana perasaan mereka, seperti dirinya yang juga tak ingin pergi, namun ia tak bisa berbuat banyak akan hal tersebut. "Maaf aku tak mengatakan ini sebelumnya, aku disini hanya selama satu tahun dalam rangka pertukaran pelajar. Berbeda dengan Ryu, dia memang sudah memutuskan untuk tinggal di Indonesia untuk bersama Alisya dan menjaga nenek Alisya sehingga dia masih akan menetap disini." Ucap Akiko yang mulai terdengar serak suaranya. "Apa kamu sudah mengetahui ini sebelumnya Sya?" tanya Gina melihat Alisya yang hanya terdiam dan tak berakata apa-apa. "Tidak" ucap Alisya singkat. "Hanya nenek dan Ryu yang tahu mengenai hal ini. Sedangkan Karin mengetahuinya tanpa sengaja." Terang Akiko cepat agar tak menimbulkan kesalah pahaman dia antara mereka. "Meski perpisahan itu adalah kenyataan yang sulit diterima namun itu adalah kensekuensi dari perjumpaan." Ucap Alisya cepat agar mereka tak begitu terbebani dengan kepergian Akiko. "Perpisahan itu akan selalu datang, karena kita pernah berjumpa, bersama dalam setiap canda tawa dan merasakan bahagia." Jelas Rinto yang mendekati Ryu dan memeluknya dengan akrab. "Setiap air mata yang jatuh pada hari ini, akan menjadi saksi bahwa telah ada jalinan erat yang pernah kita jalani bersama." Karin menatap Akiko dengan hangat. Tak terasa, air mata mereka mulai mengalir satu persatu bukan karena menyesali akan perpisahan yang sudah di depan mata, melainkan rasa syukur akan apa yang sudah mereka lalui bersama selama ini. "Setiap perpisahan pasti meninggalkan bekas yang tidak akan sembuh dalam waktu dekat, tapi itu tidak berarti membuat kita untuk terus bersedih karenanya." Lanjut Adora memeluk Emi yang tampak mulai sesegukan karena rasa sedihnya. "Berhentilah menangis, tak perlu ada yang di tangisi. Muka kalian terlihat jelek saat menangis." Ucap Yogi yang sengaja ingin mencairkan suasana sedih mereka. "Dasar cowok nggak peka. Nggak punya empati sama sekali." Ketus Emi kesal dengan ucapan Yogi. "Loh, apa hubungannya ama nggak peka sih?" bantah Gani yang juga merasa sebagai cowok. "Kalian tuh yang terlalu berempati dengan berlebihan." Ketus Beni yang tak terima dengan tuduhan dari Emi. "Wanita memang memiliki empati yang lebih tinggi dibandig dengan laki-laki. Oleh karena itu, laki-laki biasanya tak se-peka wanita." Adith masuk kedalam ruangan melihat mereka yang tampak sedang berada dalam suasana sedih. "Kenapa bisa seperti itu? Apa karena mereka adalah perempuan yang diberikan 9 perasaan dan 1 pikiran sehingga mereka selalu terbawa perasaan?" tanya Yogi merasakan adanya diskriminasi. "Itu juga bisa jadi penyebanya." Sambung Zein yang datang bersama dengan Riyan. "Sepertinya kalian semakin nyaman berkunjung ke tempat kami." Ucap Karin yang melihat ketiga elit tersebut semakin sering berada di gedung kelas biasa. Alisya hanya tersenyum dengan kedatangan Adith dan yang lainnya. "Otak wanita memiliki aliran darah lebih banyak dari pada pria sehingga mereka diniliai lebih aktif." Terang Alisya mencoba memberikan penjelasan. "Kondisi itu yang membuat wanita lebih memiliki empati dan intuisi dibanding dengan para pria." Lanjut Adith sudah berdiri di samping Alisya memandang mereka dengan senyumannya yang menggoda. "Hal itu juga yang sepertinya menjadi latar belakang munculnya predikat cowok nggak peka." Lanjut Zein tersenyum pelan memikirkan dirinya merupan salah satu orang tersebut sebelumnya. Ucapan Zein membuat Adora dan yang lainnya langsung melirik kea rah Riyan yang sebelumnya sudah mendengar bagaimana Kanya yang terus berusaha untuk mendapatkan perhatian darinya namun tetap saja ia tak bisa berempati. "Tak bisa di harapkan!" ucap mereka secara bersamaan yang langsung membuat Riyan merasa tersinggung. "Apa maksud kalian?" bantah Riyan dengan pandangan kesal. Mereka hanya tertawa tak merespon ucapan Riyan. "Tapi sepertinya Adith adalah pengecualian dari hal tersebut." Ucap Feby yang mengingat sesuatu mengenai Adith. "Maksud kamu? Kenapa Adith menjadi pengecualian?" Ketus Riyan tak setuju jika dia menjadi yang tertuduh sedangkan Adith adalah pengecualian. "Dia selalu bisa tau apa yang harus ia lakukan kepada Alisya, masih ingat bagaimana Adith melihat tumit Alisya yang memerah karena sepatunya?" pancing Feby kepada Adora dan yang lainnya. "Kau benar, Adith langsung merobek sapu tangan lembutnya kemudian ia balutkan ke kaki Alisya dan bahkan ia juga memberikan pijatan lembut pada kakinya." Terang Gina dengan penuh semangat saat melihat mereka berdua. "Alisya sungguh beruntung, dia bisa mendapatkan Adith yang begitu super peka." Ucap Aurelia melirik ke arah Yogi yang membuatnya menjadi tertusuk keras oleh sesuatu. "Itu karena aku begitu mencintainya." Ucapnya memandang Alisya dengan tatapan yang sangat tajam. "Maksud kamu aku tak peka karena aku tak memiliki perasaan yang sama?" pancing Alisya balik menatap ke arah Adith. "Aku tak mengatakan apapun. Aku takt ahu apakah kamu seorang Fatimah yang sedang mencintai dalam diam atau seorang Khadijah yang akan datang padaku untuk menyatakan perasaanya." Adith mengalihkan pandangannya dengan mengangkat bahunya tinggi. Alisya hanya tersenyum simpul yang membuat teman-temannya meradang menyaksikan keromatisan mereka kembali. "Emi, kau di panggil ibu Vivian." Karin yang mendapat pesan dari ibu Vivian segera memberitahukan Emi yang sedang menggetarkan tubuhnya merasa ngilu dengan keromatisan Adith dan Alisya. "Sepertinya ini saat yang tepat untuk aku pergi." Ucap Emi dengan tertawa pelan seolah menemukan alasan untuk melarikan diri dari sana. "Kau mau aku temani?" tanya Feby cepat ingin pergi bersama dengan Emi. "Tidak perlu, ini bukan sesuatu yang menakutkan kok." Ucap Emi sembari tersenyum berlalu pergi. "Bagaimana kalau kita ke kantin? Rasanya lapar sekali." Ajak Akiko pada mereka seolah kehabisan energi karena tangisannya yang sebelumnya. "Benar juga, ayo kita semua ke kantin saja." Seru Gina cepat. "Aku akan mengirimkan pesan kepada Emi untuk menyusul kita disana." Feby dengan cepat mengambil Handphonenya. Mereka mulai berdiri meninggalkan ruangan kelas mereka yang tiba-tiba saja Beni terkejut saat melihat sesuatu yang berwarna merah di bagian rok Aurelia. "Aurelia, apa kamu baik-baik saja? Sepertinya kamu terluka." Ucap Beni cepat ingin memberikan peringatan kepada Aurelia. "Apa maksudmu" tanya Aurelia bingung. "Kau baik-baik saja?" Yogi langsung melirik ke tubuh Aurelia dan memutar ke kiri dan ke kanan namun tak menemukan apapun. "Bukan disitu, sepertinya kau mengalami pendarahan di bagian pan¡­" Aurelia langsung menampar Beni dengan cukup kuat yang membuat Beni melayang kea rah samping dengan begitu hebatnya. Mereka semua tercengan dengan apa yang baru saja terjadi, Beni bahkan sampai pingsan karena hal tersebut. Bahkan Alisya tak menduga kalau Aurelia bisa mengeluarkan kekuatan sampai sebesar itu. "Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa menghasilkan kekuatan sampai sebesar itu?" tanya Aurelia dengan tangan yang gemetar. "Beni¡­ Beni¡­" panggil Gani pada Beni namun tak ada jawaban. Karin yang sudah berada di luar kelas saling padang dengan Alisya merasakan ada sesuatu yang ganjal dengan apa yang terjadi pada Aurelia. Tapi dengan cepat berlari memeriksa kondisi Beni. "Dia baik-baik saja, dia hanya pingsan. Bantu aku memindahkan dia ke UKS untuk memastikan kondisinya dengan lebih baik." Terang Karin yang langsung segera dilaksanakan mereka dengan cepat. "Karin, aku tak bermaksud untuk.." Aurelia sangat merasa bersalah. "Kamu tidak usah khawatir. Kita akan mencari tahu apa yang sedang terjadi." Yogi mencoba untuk menenangkan Aurelia. "Yogi benar. Ini bukan salahmu jadi kau tak perlu khawatir. Aku akan memanggil ayahku untuk memastikan semua ini." Jelas Karin merasa kalau Ayahnya yang lebih tau akan apa yang sedang terjadi saat ini. "Dia akan baik-baik saja kan?" tanya Aurelia dengan pandangan khawatir sembari terus berjalan menuju ke ruang UKS. "Dia tidak mengalami luka yang cukup serius. Aku yakin dia hanya pingsan saja melihat taka da satupun yang terluka di tubuhnya." Jelas Karin singkat yang masih belum bisa memastikan akan apa yang baru terjadi. Chapter 321 - Beni Pingsan Karin yang belum sempat memasuki ruang UKS, tiba-tiba saja mendapat telpon dari Ayahnya. "Karin, apa kamu dan teman-temanmu bisa ke lab Ayah setelah pulang sekolah? Ada yang ingin ayah pastikan dan Ayah tidak bisa ke sekolah kalian saat ini." Terang Ayah Karin dari balik telponnya. "Loh kenapa Yah? Apa karena Ayah masih sibuk?" Tanya Karin bingung kenapa ayahnya tidak bisa ke sekolah mereka. "Sekolah kalian sudah memiliki dokter pribadi dan tidak sepantasnya untuk ayah berada disana sehingga akan lebih baik jika kalian yang datang menemui ayah." Ucapnya sembari menatap Karan dengan tatapan serius. "Karin, kau pasti sudah menyadari apa yang sedang terjadi pada mereka. Kemarilah bersama dengan yang lainnya agar aku bisa menjelaskan dengan lebih detail begitu Beni sudah sadarkan diri." Karan memberikan pendapatnya mengenai keharusan mereka untuk segera bertemu dengan Ayahnya. Karin yang mulai paham arah pembicaraan mereka sehingga segera menyanggupi dan berpikir apa yang harus ia lakukan dengan memanggil teman-teman mereka. "Bagaimana? Apa yang dikatakan oleh Ayahmu? " Tanya Alisya ketika Karin sudah mematikan panggilannya. "Ayah bilang dia tidak bisa kemari karena sedang sibuk, untuk itu dia meminta kita semua untuk pergi menemuinya." Karin menatap teman-temannya dengan senyuman kecut. "Tidak masalah, setelah Beni bangun kita bisa pergi bersama-sama kesana." Ucap Gani santai dan tak merasa curiga. Aurelia masih menatap penuh khawatir ke arah Beni yang masih belum sadarkan diri. Mereka juga tidak bisa melaporkan kepada ibu Vivian mengenai kondisi Beni, sehingga mereka sepakat untuk menyembunyikan permasalahan itu. "Kalian tunggu disini dan menjaganya. Aku harus menemui ibu Vivian sebelum ia kemari mencari tahu." Terang Karin cepat dan berdiri dari tempat duduknya. "Tunggu, Biar aku temani." Jelas Alisya segera pergi bersama dengan Karin. Merasa curiga, Adith dan Ryu berjalan mengikuti Alisya dan Karin dengan cepat. "Apa ini ada hubungannya dengan diriku?" Tanya Alisya begitu mereka sudah sampai keluar ruangan UKS. "Aku juga tak tahu pasti, tapi Ayah menyuruh kita untuk menemuinya. Lebih tepatnya ia menyuruh kita untuk menuju labnya." Jelas Karin melipat kedua tangannya dengan cemas. "Lab? Kita?" Adith muncul bersama dengan Ryu ingin terlibat dalam percakapan mereka berdua. Karin terkejut melihat Adit dan Ryu mendengar percakapan mereka berdua. Namun setelah Alisya mengangguk pelan, Karin akhirnya kembali membuka mulutnya. "Ya, ayahku meminta kita kita semua tanpa terkecuali untuk segera menemuinya di lab." Jawab Karin dengan tatapan serius. "Tapi kenapa di lab? Bukannya di rumah sakit?" Tanya Adith sekali lagi masih tak mengerti kenapa Ayah Karin meminta mereka untuk menemuinya di laboratorium pribadi milik ayah Karin. "Aku juga tak tahu pasti, tapi sepertinya ayahku punya jawaban atas apa yang terjadi pada Aurelia dan juga yang terjadi pada Beni." Tegas Karin memikirkan bagaimana kekuatan pukulan Aurelia dan daya tahan tubuh Beni. "Apa karena pukulan Aurelia yang sangat kuat namun tidak memberikan efek apapun kepada Beni selain dari kenyataan bahwa Beni tidak sadar saat inj?" Tanya Alisya ingin memastikan sekali lagi. "Entahlah, yang pasti aku juga merasakan sesuatu yang aneh kepada mereka berdua." Lanjut Karin lagi melirik ke dalam ruang UKS. "Kalau begitu, tak ada pilihan lain selain mencari tau secara langsung kepada Ayah Karin mengenai kondisi mereka berdua." Ucap Ryu yang sedari tadi hanya terdiam menyimak percakapan mereka. Disaat mereka sedang berbincang-bincang, Emi melewati mereka tanpa berbicara sepatah katapun. Alisya dan Karin bahkan sampai terheran dengan sikap Emi. "Emi¡­ Em¡­ Emi?" Panggil Karin beberapa kali yang seolah emi sedang berjalan didunia lain saat itu. *Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Tanya Alisya cepat menatap wajah Emi yang terlihat tak bersemangat. "Apa yang kau pikirkan sampai kau melewati kami begitu saja? Ucap Ryu dengan tatapan bingung. "Ah, maaf aku hanya melamun saja tadi." Ucap Emo dengan gagap. "Kenapa ibu Vivian memanggilmu?" Tanya Karin sekali lagi. "Bukan hal yang penting. Apa yang kalian lakukan disini?" Emi bingung melihat mereka sedang berada di depan UKS. "Beni pingsan, jadi kami membawanya ke UKS." Terang Ryu santai. "Apa??? Bagaimana itu bisa terjadi?" Ucap Emi kaget karena ia tahu betul bahwa Beni adalah orang yang kuat. Tepat saat Alisya ingin menjelaskannya handphone Emi berdering dengan keras. "Ya ma? Ada apa?" Jawab Emi cepat langsung memberi tanda kepada Alisya dan yang lainnya untuk ia menerima panggilan itu terlebih dahulu. Emi segera menjauh sejenak mereka yang sesaat kemudian Emi menunjukkan ekspresi terkejut dan kelamnya. Karin mengerutkan kening melihat ekspresi Emi dari kejauhan. "Karin, bisa kau memberiku izin sebentar?" Ucap Emi kembali memasang ekspresi normal. "Kau mau kemana?" Tanya Alisya penasaran. "Ibuku terkunci dari luar sewaktu ia berada di toilet. Dan kunci cadangannya berada dalam laci meja kamarku yang tak sengaja aku sebelum ke sekolah menguncinya sebab Adikku sering mengacaukan kamarku." Terang Emi memberi alasan kepada Karin. "Baiklah, kau bisa pergi sekarang." Jelas Karin cepat, meski ia seolah curiga saat melihat ekspresi Emi sebelumnya yang bukan terkejut karena hal sepele. Begitu Emi sudah berlalu pergi, Beni akhirnya mulai sadarkan diri dari tidur singkatnya. Adith dan yang lainnya segera masuk kedalam untuk melihat kondisi Beni. "Dimana aku?" Tanya Beni masih belum sepenuhnya sadarkan diri dan pandangannya yang masih terlihat buram. "Syukurlah kau sudah sadarkan diri." Ucap Aurelia merasa lega melihat Beni yang sudah sadarkan diri. "Kau sedang berada di UKS karena pingsan." Ucap Gani membantu Beni untuk duduk dengan nyaman. "Kau baik-baik saja? Apa kau merasakan sakit di sekitar tubuhmu?" Karin masuk langsung mencoba memeriksa kondisi Beni. "Tidak, aku tidak merasakan apapun selain pusing. Tapi kenapa aku berada disini? Lalu kenapa aku bisa pingsan?" Tanya Beni yang kebingungan karena tak menyangka ia bisa berada disana. "Apa kau tidak ingat apa yang baru saja terjadi?" Tanya Adora memberikan Beni air minum. "Terakhir kali aku melihat Pant¡­" belum selesai Beni berkata, Aurelia langsung kembali teringat dengan perkataan Beni sebelumnya yang membuatnya membungkam Beni dengan mencekoki Beni dengan Air minum di tangan Beni. "Apa aku harus memberikan tendangan agar ia bisa lupa ingatan?" Seru Aurelia yang kesal dengan ucapan Beni. Setelah melihat Beni sadarkan diri, Aurelia akhirnya paham apa yang dimaksudkan oleh Beni setelah melihat bagian roknya yang tampak penuhi oleh darah. Yogi dengan sigap menutupi pinggang Aurelia dengan membuat Aurelia langsung memerah malu. Ternyata ia tak sadar kalau ia sedang mengalami menstruasi hingga tembus keluar. Chapter 322 - Terpapar dan Suntikan Penenang Seperti yang diminta oleh Ayah Karin, mereka segera berkumpul di Lab Ayah Karin dengan tatapan penasaran serta kebingungan karena tak tahu apa yang akan mereka lakukan disana. Meski penasaran, mereka cukup bersemangat untuk bisa mendapatkan kesempatan melihat Laboratorium milik keluarga Karin yang diketahui akan kehebatannya dalam melakukan penelitian. "Aku tak tak tahu apa yang akan kita lakukan, tapi rasanya aku sudah tidak sabar ingin masuk." Ucap Feby dengan mata yang penuh semangat. "Wah¡­ Lab Ayahmu benar-benar luas dan sangat, Keren!" Gani melemparkan matanya ke seluruh ruangan dimana Laboratorium itu terlihat begitu mewah dengan segala jenis tekhnologinya. "Hebat sekali, aku tak pernah menyangka kalau Lab Ayahmu akan sebesar ini. Aku pikir Lab Ayahmu tak jauh beda dengan Lab sekolah." Tambah Beni merasakan hal yang sama dengan Gani. "Apa yang akan kita lakukan kemari?" Tanya Yogi masih belum mengetahui tujuan dari kedatangan mereka disana. "Masuklah, nanti juga kalian akan mengetahuinya langsung. Akan lebih baik jika ayahku yang menjelaskan semuanya kepada kalian." Terang Karin memimpin jalan masuk semakin dalam ke dalam ruang Laboratorium milik Ayahnya. Karin berdiri di hadapan sebuah pemindai yang sesaat kemudian terlihat sinar yang memindai mata dan suara Karin setelah itu Karin meletakkan tangannya ke atas tempat pemindaian yang kemudian pintu lift kecil terbuka. "Apa kita sedang berada di dunia lain?" Seru Gina masuk dengan ragu-ragu. "Pegangan yang kuat jika kalian tidak ingin muntah." Karin yang langsung menekan sebuah tombol segera membawa mereka dengan kecepatan cahaya turun ke bawah. "Ohokkkk ohooookkk¡­" semuanya terbatuk-batuk dengan sangat hebat karena tubuh mereka yang kaget dengan apa yang baru saja terjadi. "Aku merasa mual dan pusing sekali, apa yang sudah terjadi?" Akiko terlihat linglung yang dengan cepat di tangkap oleh Alisya. "Kau baik-baik saja?" Tatap Alisya kepada Adith yang tak jauh berada disisinya. Adith hanya mengangguk pelan tak paham dengan apa yang baru saja terjadi pada mereka. "Aku ingin muntah! Rasanya sesak sekali." Adora jatuh melemas kelantai yang membuat Zein segera duduk di sampingnya untuk menahan tubuh Adora. "Ada apa ini? Perasaanku tidak nyaman sekali." Tambah Emi menahan mula di peruntya. "Bagaimana dengan dirimu?" Tanya Yogi cepat kepada Aurelia. "Aku merasakan hal yang sama." Melihat Aurelia seperti itu, Yogi jadi merasa sedikit khawatir akan apa yang terjadi kepada mereka. Beni, Gina serta Gani juga terlihat tak jauh berbeda dengan Adora dan yang lainnya. Hanya Karin, Alisya, Adith, Ryu, Zein, Riyan serta Rinto dan Yogi yang tak bergeming sama sekali. "Selamat datang di Lab bawah tanah milik kami." Ayah Alisya langsung menyalami mereka satu persatu sedang yang lainnya masih dalam posisi sesak nafas karena tubuh mereka yang tak bisa menyesuaikan dengan kecepatan yang baru saja mereka alami. "Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Kenapa kami harus turun melalui tempat itu?" Karin bingung dengan apa yang baru saja di perintahakan oleh Ayahnya. "Melihat reaksi kalian, sepertinya memang sudah terjadi sesuatu pada kalian. Mereka yang normal tentu memiliki reaksi hebat seperti mereka." Tunjuk Ayah Karin pada Beni, Gani, Gina, Akiko, Feby, Emi, Aurelia serta Adora. "Apa tidak ada cara untuk turun dengan cara yang biasa saja? Rasa kami seperti berpindah tempat dalam waktu yang singkat." Tanya Aurelia dengan mata yang sudah berair. Wajah Aurelia yang tampak pucat membuat Yogi semakin mengkhawatirkan Aurelia. "Tentu saja ada, tapi kami sengaja membuat kalian harus melalui tempat itu agar kami bisa melihat perubahan tubuh kalian dalam menahan kecepatan tersebut." Karan datang dengan membawa hasil dari reaksi tubuh mereka. "Maksudnya?" Adith masih belum paham dengan apa yang sedang dikatakan oleh Ayah Karin dan Juga Karan. "Aku yakin beberapa sudah menyadari apa yang sebenarnya terjadi melihat dari perubahan yang kalian alami pada tubuh kalian." Ucap Ayah Karin memandang mereka satu persatu. "Seperti apa yang terjadi pada Adora dan Beni, beberapa dari kalian semua sudah mengalami perubahan yang disebabkan oleh paparan yang kalian terima dari energi nano yang meledak dari Alisya." Jelas Karan memeriksa kondisi Beni dan Aurelia secara bergantian. "Lalu kenapa kami memiliki reaksi yang berbeda dengan mereka? Apa itu artinya kami tidak terpapar oleh energi nano?" Zein merasa tak memiliki perubahan yang signifikan pada tubuhnya. "Justru kalian lah yang paling banyak mendapatkan energi nano dari Alisya. Aku rasa ini ada hubungannya dengan suntikan penenang yang diberikan oleh Karin kepada kalian saat kalian melakukan pertandingan basket lalu." Jelas Karan memberikan analisanya yang dengan segera ia berikan kepada Karin. "Sedangkan mereka yang tidak mendapatkan suntikan tersebut tampaknya hanya mendapatkan energi nano dalam waktu sementara yang artinya dapat hilang sewaktu-waktu." Tambah Ayah Karin memberikan penjelasan kepada mereka semua. "Lalu apa yang akan terjadi pada kami? Apakah itu artinya kami akan mendapatkan efek sampingnya?" Tanya Rinto penasaran dengan analisis yang dikemukakan oleh Ayah Karin. "Kita masih belum tahu pasti apakah kalian akan mendapatkan efek samping karena hal tersebut atau mungkin bisa jadi yang terjadi adalah sebaliknya." Karan menatap ke arah Alisya yang tampak mulai terlihat merasa bersalah. "Untuk itu kami perlu melakukan penelitian lebih lanjut kepada kalian semua. Baik mereka yang terpapar maupun kalian yang terpapar dan juga mendapatkan suntikan tersebut." Lanjut Ayah Karin menuju ke tempat alat miliknya. "Kondisi ini akan sangat berbahaya jika di ketahui oleh pihak Organisasi." Gumam Alisya tertunduk dengan fikiran yang kalut. "Jangan khawatir, mereka bukan akan menargetkan mereka yang terpapar namun kamulah yang semakin menjadi tujuan utama mereka." Jelas Karan menatap Alisya dengan tersenyum manis. "Mereka yang terpapar justru tidak akan memberikan dampak yang special karena hal tersebut belum teruji sebab kemungkinan besar yang akan terjadi adalah energi nano itu akan menghilang seiring waktu berjalan." Jelas Alisya mulai memahami apa yang sedang terjadi. "Itu artinya kondisi kami ini masih bersifat sementara?" Tanya Riyan mulai semakin merasa tertarik. "Ya benar, selain itu Adora dan yang lainnya sepertinya tidak perlu dikhawatirkan lagi. Aku rasa kalian yang harus menjadi prioritas kami saat ini." Ayah Karin memandang kepada Adith dan yang lainnya dengan tatapan serius. "Aku tak yakin apakah ini hal baik atau tidak." Gumam Alisya berpikir keras tentang teman-temannya. "Kita akan mengetahuinya jika kita sudah menyelesaikan beberapa penelitian yang perlu bagi kalian." Ucap Karan yang langsung memberikan sebuah kapsul kepada mereka yang mengalami mual. Semua perlahan-lahan kembali lebih tenang ketika obat berekasi dengan baik. Chapter 323 - Memilih Pangkuanmu Melihat Alisya yang hanya berdiri dipojokan ruangan menatap send uke arah teman-temannya yang sedang di periksa oleh Karan dan Ayah Karin membuat Alisya memisahkan diri. Bukan karena ia memikirkan untuk melarikan diri lagi, namun karena ia sangat khawatir akan apa yang sedang terjadi pada mereka. Kehidupan mereka kan sangat jauh berbeda dan mengalami banyak perubahan yang akan terjadi jika energi nano dalam tubuh mereka tak menghilang. Kehidupan normal yang selama ini mereka lalui mungkin saja bisa tak lagi mereka rasakan. "Apa yang kau pikirkan sampai kau tak menyadari aku sudah berada di dsampingmu dalam waktu yang lama?" Adith yang sedari tadi sudah berusaha mengajaknya untuk mengobrol tak dihiraukan oleh Alisya sehingga Ia langung menunjukkan wajahnya dengan karak yang sangat dekat. Alisya langsung tersenyum melihat wajah Adith dan menatapnya dengan lembtu. "Wajahmu seperti vitamin bagiku." Ucapnya sembari menempelkan kedua tangannya kepada kedua pipi Adith. "Dan kau adalah energi kehidupanku." Seru Adith sembari meraih kepala Alisya dan memeluknya dengan hangat. "Jangan terlalu merasa terbebani, semua ini memang terjadi karena kamu. Tapi bukan berarti ini adalah kesalahanmu." Seru Adith lagi mencoba untuk membuat Alisya tak berpikiran yang macam-macam dan menyalahkan dirinya kembali. "Aku takkan menyalahkan diriku seperti terakhir kali, karena kau tau mereka juga tak menginginkan aku untuk merasa seperti itu." Alisya mendongakkan wajahnya melihat kea rah Adith. "Baguslah. Jangan pernah kau simpan sendiri apa yang kau pikirkan, karena sekarang kau memiliki aku yang akan selalu ada bersamamu." Terang Adit memukul pelan jidat Alisya. "Berhentilah bermesrah-mesraan disini, sebentar lagi giliran kita yang masuk." Yogi datang untuk mengacaukan mereka berdua. Adith dan Alisya hanya tertawa pelan kembali melihat kedalam lab dimana Beni, Akiko, Gani, Gina, Emi, Febi, Adora dan Aurelia sedang dalam tahap pemeriksaan akhir untuk memastikan keadaan energi nano yang berada dalam tubuh mereka. "Minumlah, ini akan sedikit membuat kalian lebih tenang." Ryu yang melihat kekhawatiran dari Adith dan Alisya membuatnya membawakan air minum agar mereka lebih rileks dan santai. "Terimakasih." Seru Adith dan Alisya bersamaan. Melihat ALisya yang sudah menaikkan botol minumannya ke dalam mulutbya dalam keadaan berdiri membuat Adith berjalan ke belakang untuk menemukan sebuah kursi. "Duduklah. Dalam kondisi duduk air yang kita minum kan terlebih dahulu disaring melalui sfringer." Adtih meraih bahu Alisya dan mendudukkannya dengan lembut. "Sehingga kinerja ginjal akan lebih ringan. Sebaliknya jika kita minum sambil berdiri maka sfringer tadi akan terbuka sehingga air yang diminum akan langsung masuk ke kandung kemih tanpa melalui proses penyaringan." Lanjutnya sembari duduk setengah jongkok di hadapan Alisya. "Selain akan membuat penyerapan menjadi tidak maksimal. Kebiasaan minum sambil berdiri akan dapat merusak ginjal." Tambahnya lagi dengan tersenyum nakal karena ia tahu bahwa sebenarnya Alisya juga mengetahui apa yang sudah ia jelaskan, namun karena fikirannya ia jadi tak memikirkan hal tersebut. "AKu tau, tapi dibanding kursi ini aku mengharapkan kau menawarkan pangkuanmu." Tatap Alisya dalam kepada Adith. Adith langsung berdiri dan menatap geram kea rah Alisya. Alisya mengertukan keningnya melihat rekasi dari Adith. "Ada apa?" tanya Alisya bingung sembari menoleh kebelakangnya untuk menemukan apa yang membuat Adith sampai bereaksi seperti itu. "Berdirilah, aku akan menghancurkan kursi yang sudah mengambil hak ku itu." Adith menggenggam erat kursi yang di duduki oleh Alisya dengan tatapan penuh amarah. "Pufftt hahahaha. Kau mengagetkanku!" Alisya tertawa dengan sikap manis Adith yang selalu membuatnya merasa bahwa hanya dihadapannya saja Adith selalu berbuat konyol seperti itu. "Kau terlihat cantic jika tertawa seperti itu."ucap Adith kembali berjongkok untuk menatap wajah Alisya lebih dekat. "Terimakasih, maaf sudah membuatmu khawatir." Alisya tersenyum hangat kepada Adith. Adith dan Alisya bagaikan satu tubuh yang sama, diaman jika satu tubuh yang lain merasakan sakit, maka tubuh yang lainnya juga akan merasakan hal yang sama. Dan dalam hal ini keduanya sudah saling mengisi satu sama lainnya. "Bagimana perasanmu? Apa kau merasakan ada sesuatu yang sedikit berubah dalam dirimu?" tanya Karan kepada Akiko sembari terus melihat layar monitor yang memperlihatkan statistik perubahan tubuh Akiko. "Tidak, aku merasa baik-baik saja." Akiko tak tahan dengan kehadiran karan disana. Ingin rasanya ia mencabut semua alat yang menempel pada tubuhnya dan pergi dari sana. Statistik jantung Akiko terlihat mengalami perubahan yang sangat signifikan sehingga Karan langsung menatap khawatir kepada Akiko mengira sedang terjadi sesuatu padanya. "Kau yakin?"tanya Karan sekali lagi memastikan ke adaan Akiko yang dengan cepat mendekatkan wajahnya ke hadapan Akiko. Merasa kesal dengan apa yang dilakukan oleh Karan, Akiko bangkit dari tempat duduknya menatap tajam ke arah Karan. Akiko mulai melepaskan satu persatu semua alat-alat yang menempel di tubuhnya dengan kasar. "Apa yang kau lakukan? Kau bisa melukai dirimu sendiri." tanya Karan dengan wajah terkejutnya. Akiko tak perduli dengan apa yang dikatakan padanya dan terus melanjutkan mencopot semua alat-alatnya tersebut hingga pada satu alat terakhir, Karan langsung menahan tangan Akiko untuk menghentikannya. "Apa yang terjadi padamu sebenarnya?" tanya Karan sekali lagi dengan tatapan kesal. Akiko tak perduli dan hanya menepis tangan Karan dengan kuat yang membuat Akiko menyambar pinggir meja yang cukup tajam dan menggores tangannya. Tangan Akiko yang mengalirkan darah membuat Karan panik karena goresan itu ternyata cukup dalam sehingga darah Akiko mengalir dengan cukup banyak. "Kemarilah, aku akan mengobati lukamu." Tarik Karan kepada Akiko dengan lembut. "Berhentilah bersikap seperti ini. Kau mungkin hanya bersikap sopan santuan kepadaku, tapi maaf aku mengartikan lain semua yang kau lakukan saat ini dan itu membuat ku sangat sakit hati." Terang Akiko berusaha keras untuk menahan air matanya. "Aku hanya ingin mengobati lukamu, apakah hal sepele seperti ini saja tak boleh aku lakukan?" tatap Karan dengan suara yang dingin. "hahaha.. sepele. Ya benar, laki-laki akan menganggap hal seperti ini adalah hal sepele. Bodohnya aku dan semua perempuan di dunia ini yang dengan gampangnya terbuai karena hal sepele seperti ini." Akiko menertawakan dirinya yang dengan gampangnya terbawa perasaan dengan setiap hal sepele yang dilakukan oleh Karan pada dirinya. Akiko kembali memikirkan semua hal sepele yang selama ini dilakukan Karan pada dirinya yang sudah membuat perasaanya kian membesar tanpa disadarinya yang ternyata itu hanyalah sebuah hal sepele bagi Karan. "sebaiknya kau pergi dari sini sekarang." Ucap Akiko langsung mengambil tasnya yang berada di kursi dan segera bergerak menuju pintu meninggalkan Karan. "Pemeriksaanmu belum selesai, masih ada beberapa langkah lagi yang harus kau lalui." Terang Karan mencoba untuk menghentikan Akiko. "Kau tak perlu melanjutkan semua tingkah sepelemu itu, kau lebih tahu kalau aku baik-baik saja dan tidak terlalu banyak terpapar energi nano Alisya. Pemeriksaan selanjutnya pun hanya akan memperlihatkan hasil yang sama." Jelas Akiko tanpa menoleh ke arah Karan. "Meskipun begitu, kamu harus melakukan pemeriksaan tersebut." Bantah Karan cepat agar Akiko tak pergi dari sana. "Kau bisa melakukan hal sepele mu itu pada yang lainnya, karena mereka pasti takkan merasa seperti apa yang aku lakukan saat ini." Akiko pergi dengan senyuman pahit yang membuat Karan semakin bingung dengan semua perkataan Akiko. "Kau sudah selesai?" tanya Karin menghampiri Akiko yang sudah keluar dari ruang pemeriksaan Karan. Melihat ekspresi Akiko yang sedang berusaha menahan air matanya membuat Karin paham dan menatap penuh amarah kepada Karan. "Aku ingin pulang, bisakah aku pulang sekarang?" suara serak Akiko dengan cepat membuat Karin menariknya dari sana. Karin tau kalau Akiko tak ingin Karan melihatnya sedang menangis sehingga dengan cepat ia membawa Akiko pergi dari sana. Dari kejauhan, Adith dan Alisya bisa melihat apa yang sedang terjadi. Hanya melihat sekilas Akiko yang sedang tertunduk membuat mereka bisa memahami situasi yang terjadi. Chapter 324 - Emi Menyembunyikan Sesuatu Alisya langsung berjalan menghampiri Karan yang sedang menatap Karin yang sedang membawa pergi Akiko keluar dari sana. Melihat ekspresi Karan yang penuh tanya membuat Alisya tersenyum karena ia yang takt ahu apa yang sedang terjadi masih bisa menafsirkannya dari ekspresi Akiko sedang Karan terlihat seperti orang bodoh. "Sampai kapan kamu akan menjadi Secret Admirer hm?" pancing Alisya menjelaskan kondisi Karan yang terus menutup diri akan apa yang dirasakannya. "Apa sebenarnya yang terjadi padanya? Aku hanya mencoba bersikap baik padanya tapi di malah.." Karan merasa kesal karena tak paham akan sikap Akiko yang tiba-tiba marah kepadanya. "Kau memang tak tau atau sedang berpura-pura bertingkah bodoh?" singgung Alisya yang kini menatap kesal pada Karan. "Apa maksudmu?" tanya Karan tak paham dengan apa yang dikatakan oleh Alisya. "Kak Kara, aku tau kau bisa merasakan dan mengetahui apa yang sedang ditunjukkan oleh Akiko padamu sebenarnya, tapi sepertinya kau terlalu menutup diri saat ini." Jelas Alisya menepuk Pundak Karan dengan lembut. "Kenapa kalian selalu hanya memberikan kode yang bahkan mengalahkan kode morse. Kami bukanlah dukun yang bisa memahami setiap apa yang kalian lakukan." Jelas Karan mulai tak sabar terlebih karena Karin dan Alisya menunjukkan pandangan yang sama kepada dirinya. "Baiklah, kalau begitu apa yang akan kau lakukan jika kau mengetahui bahwa Akiko sebenarnya mencintaimu dan kamu adalah alasan utamanya sehingga ia berada di Indonesia meninggalkan Jepang dan jauh dari orang tuanya di Jepang meski ia seorang anak manja?" Alisya menggertakkan giginya saat mengatakan hal tersebut kepada Karan. "Kau pikir berapa banyak penderitaan yang harus ia lalui terlebih saat kau dengan gampangnya mengatakan bahwa kau mencintai orang lain dan masih menutup diri karenanya? Ia sudah kehilangan alasannya untuk berada lama di Indonesia, dan kau pikir ia masih akan bersikap lembut padamu?" kata kata yang dikontarkan oleh Alisya membuat Karan tertegun diam. Karan tak pernah mengira kalau hal sepele yang ia lakukan sudah membuat hati seorang wanita menjadi terluka dan sakit. "Aku tak pernah bermaksud untuk seperti itu." Ucap Karan mulai menyesali apa yang sudah ia lakukan. "Aku tak bisa menyalahkan dirimu sepenuhnya, tapi saat ini harusnya kau paham akan sikap Akiko pada dirimu." Alisya meninggalkan Karan untuk memberikannya ruang memikirkan semua yang sudah ia katakan sebelumnya. "Kau yakin dengan apa yang kau lakukan saat ini?" tanya Adith mendengar semua percapakan mereka. "Aku tak yakin, tapi setidaknya aku hanya ingin memancing Karan untuk bersikap jujur terhadap apa yang ia rasakan dan mengatakan semuanya." Terang Alisya singkat. Beberapa saat kemudian, Adora dan yang lainnya telah keluar dari pemeriksaan dengan wajah lesu yang sangat kelelahan. Bagaimana tidak prosedur yang harus mereka lalui sangat banyak termasuk salah satunya adalah tes fisik sehingga hal tersebut menyita energi mereka. "Bagaimana hasilnya paman?" tanya Alisya begitu Ayah Karin keluar dari ruangan pemeriksaan. "Kalian tak perlu khawatir. Berdasarkan data yang sudah aku dapatkan, aku bisa berkesimpulan bahwa energi nano yang ada dalam tubuh mereka memang hanya bersifat sementara karena paparan dari energi nano mu. Itu akan keluar dari tubuh mereka dalam kondisi tertentu." Terang ayah Karin dengan tersenyum lega. "Bagaimana dengan Aurelia? Ia sudah menunjukkan kondisi tersebut." Tanya Riyan penasaran. "Seperti yang aku katakan, itu bisa keluar dalam kondisi tertentu dan Aurelia sudah mengeluarkan semuanya sehingga ia terlihat memiliki kekuatan yang tinggi saat menampar Beni sampai pingsan." Terang Ayah Karin tertawa memikirkan bagaimana kejadian tersebut. "Hal yang sama juga terjadi pada Beni dimana dengan energi nano tersebut ia bisa menahan dampak besar yang dapat ditimbulkan oleh tamparan Aurelia. Sehingga dengan hal tersebut, keduanya sudah kehabisan energi nano yang ada dalam tubuh mereka." Lanjut Ayah Karin menjelaskan kondiri Aurelia dan Beni. "Itu artinya berbeda dengan Adora dan yang lainnya? Mereka masih memiliki energi Nano dalam tubuh mereka." Ucap Zein mencoba memberikan analisanya. "Ya, tapi sepertinya ada satu orang lagi yang sudah melepaskan energi nanonya tanpa sepengetahuan kita karena kau lihat ia sudah melakukan pelepasan tersebut." Terang Ayah Karin sembari terus menatap data dari hasil pemeriksaanya. "Siapa?" tanya Alisya bingung karena ia baru melihat Aurelia dan Beni yang melakukan pelepasan energi nano tersebut. "Emi." Ucap Karan singkat langsung menyodorkan datanya kepada Alisya. Alisya dan yang lainya langsung terkejut mendengar hal tersebut. Mereka tak menyangka kalau Emi juga sudah mengalami pelepasan tersebut tanpa sepengetahuan mereka semua. "Kapan dan dimana?" tanya Feby dengan tatapan bingung. "Kenapa kau tak memberitahu kami" tatap Adora khawatir terhadap Emi. Emi hanya terdiam menunduk tak yakin ingin menceritakan hal tersebut kepada mereka. Setelah terdiam beberapa saat, ia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap teman-temannya dengan hangat. "hahahahah, maaf aku lupa untuk mengatakannya kepada kalian. Tapi tadinya aku pikir itu hanya kebetulan saja Taunya memang sesuatu sedang terjadi pada tubuhku." Terang Emi dengan tertawa renyah. Meskipun Emi sedang tertawa dan mencoba menjelaskan kondisinya kepada mereka, Alisya merasa ada yang sedang disembunyikan oleh Emi. Alisya hanya terdiam dan tak bertanya karena tak ingin membuat Emi tak nyaman karenanya sehingga ia sengaja melewatkannya dan membiarkan emi sendiri yang menjelaskan semuanya sendiri nanti. "Benarkah? Lalu apa yang terjadi padamu?" tanya Gani penasaran dengan kondisi seperti apa yang di alami oleh Emi. "Apa kamu memiliki kekuatan super seperti Aurelia?" lanjut Gina dengan tatapan antusias. "Atau kau memiliki pertahanan tubuh seperti diriku?" tanya Beni menghampiri Emi untuk lebih jelas mendengarkan penjelasan Emi. "Umm¡­ aku pernah berlari dengan sangat cepat menangkap Adikku yang hamper jatuh dari atas pohon." Ucap Emi mencoba mengingat apa yang pernah terjadi padanya. "Benarkah? Wah hebat!!!" Seru Gina dengan penuh semangat. "Sepertinya tiap orang mengalami pengeluaran energi nano yang berbeda-beda tergantung situasi yang mereka hadapi." Jelas Zein memegang dagunya sembari berpikir. "Ya, dan tersisan Adora, Gani, Gina dan Feby yang belum mengalami pengeluaran tersebut." Terang Karan menatap mereka berempat dengan serius. "Kalian harus berhati-hati sampai saat itu terjadi, karena bisa jadi kalian malah akan membahayakan diri sendiri karena hal tersebut." Ucap Ayah Karin memberikan mereka penjelasan. "Aku rasa kami akan melakukan pemeriksaan di lain waktu. Hari sudah larut jadi lebih baik jika kami mengantar mereka makan dan pulang." Karin muncul dari belakang mereka setelah selesai mengantarkan Akiko. Mendengar apa yang dikatakan oleh Karin, Ayahnya mengangguk pelan membenarkannya melihat kondisi mereka yang cukup kelelahan dan juga lapar tentunya. Chapter 325 - Ingin Makan Panas dan Minum Dingin "Teman-teman.." panggil Alisya dengan tatapan yang bisa diterjemahkan oleh teman-temannya kalau Alisya sedang merasa tidak enak kepada mereka semua. "Alisya, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri." Tegas Gina merasa kesal seolah bisa menebak dengan apa yang akan dikatakan oleh Alisya. "Kau tau kan kami semua tak pernah menilai atau beranggapan seperti itu kepadamu?" ucap Aurelia dingin. "Berhentilah menganggap akan semua yang terjadi pada kami adalah kesalahanmu." Tambah Emi dengan menatap tajam ke arah Alisya. Melihat reaksi teman-temannya Alisya yang tadinya hanya ingin meminta maaf menjadi tertawa pelan karena merasa lucu dengan sikap mereka yang dengan gampangnya menebak akan apa yang dia ingin lakukan. Kini semakin ia yakin bahwa mereka semua tak pernah mempermasalahkan atas apa yang sudah terjadi. "Aku tak menyangka kalau kita akan menjalani pemeriksaan sampai sebanyak itu." Ucap Adora melakukan perenggangan pada tubuhnya. "Tapi aku rasa kita mungkin bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu setengah hari, dan itu akan berbeda dengan apa yang terjadi pada mereka." Tunjuk Aurelia pada Adith dan yang lainnya. "Kau benar, mereka mungkin akan melakukan semua pemeriksaan itu selama beberapa hari." Tambah Feby melirik kea rah mereka semua yang sedang berpamitan kepada Ayah Karin dan Karan. "Itu tak seperti yang kalian pikirkan, pemeriksaan kami mungkin hampir tak jauh berbeda dengan apa yang kalian lakukan." Ucap Rinto yang mendengar percakapan mereka. "Akan ada beberapa tambahan pemeriksaan tapi sebenarnya semua sama saja." Lanjut Yogi lagi dengan tersenyum membelai lembut rambut Aurelia. "Jadi kita akan makan dimana?" tanya Gani dengan suara yang lesu dan tubuh yang tak bisa berdiri dengan baik. "Iya kau sudah lapar sekali nih?" lanjut Gina lagi dengan perutnya yang semakin terasa pedis. "Kalian mau makan panas atau dingin?" tanya Adith menawarkan menu yang mereka inginkan agar bisa menujukkan tempat yang benar. "Kalian bisa pilih apa saja yang ingin kalian makan." Seru Zein memberikan mereka semangat. "Aku ingin makan panas tapi minum yang dingin." Seru Beni cepat sudah tak sabar ingin pergi. "Aku setuju." Seru Alisya dan Karin secara bersamaan yang setuju dengan pilihan yang dikatakan oleh Beni yang berlanjut dengan bunyi perut keduanya yang terang-terangan memikirkan apa yang akan masuk kedalam sana. "Sepertinya perut kalian berdua sangat antusias dengan pilihan Beni yah." Ucap Riyan tertawa mendengar bunyi perut Karin dan Alisya. Semuanya langsung pecah dalam tawa karena bunyi perut Karin dan Alisya yang sangat besar sampai bisa di dengar oleh mereka semua. Mereka semua segera menuju ke warung yang menyediakan menu mie ayam, bakso, soto dan lain sebagainya yang bisa memuaskan rasa lapar mereka. "Teman-teman, aku tak ikut masuk yah, aku harus segera pulang karena ibu dan Adiku tak ada yang menemani di rumah karena ayahku lagi keluar kota." Ucap Emi tepat setelah mereka akan memasuki warung tersebut. "Makanlah dulu, kau tak bisa pulang begitu saja jika belum makan." Beni tak bisa membiarkan Emi pulang dalam keadaan perut lapar. "Tidak apa-apa, aku bisa pulang dan makan dengan mereka sekarang. Ibuku juga sudah menyiapakan makanan untukku. Tidak baik jika aku tidak memakannya." Emi tersenyum dengan begitu ceria yang semakin membuat Alisya tak yakin dengan apa yang di katakanya. "Kalau begitu kenapa kau tak membungkusnya untuk di makan bersama mereka?" tanya Adora memberikan saran kepada Emi. "Tak perlu, ibuku sudah memasak lauk yang sangat banyak." Teriak Emi sambil berlari pergi dari sana dan terus melambai dengan semangat. "Kenapa dia terburu-buru seperti itu?" padahal aku bisa mengantarkannya pulang." Gani terus menatap Emi hingga ia menghilang dari sana. "Melihatmu menatapnya seperti itu, aku yakin kau juga merasakan hal yang sama denganku" ucap Alisya melihat Karin yang menatap curiga kepada Emi. "Jadi benar? Kamu juga merasakan ada hal yang aneh dengan sikap Emi?" tanya Karin kepada Alisya tak menyangka kalau apa yang ia pikirkan adalah suatu kebenaran. "Aku juga belum tahu pasti, tapi sepertinya ia sedang menyembunyikan sesuatu dari kita." Alisya menatap Karin dengan tatapan takjub. Mungkin karena paparan energi nano atau karena hal lainnya namun sepertinya insting Karin jadi meningkat tajam karenanya. "Apa yang harus kita lakukan?" tanya Karin meminta saran dari Alisya. "Aku rasa kalian sudah tau apa yang harus kita lakukan." Ucap Adith yang sudah berdiri tepat di samping mereka berdua. "Kenapa? Apa yang kalian tunggu lagi?" tambah Zein yang datang bersama dengan Ryu dan Riyan. "Nona.." panggil Ryu dengan senyuman yang mendukung setiap pilihan Alisya. "Ada apa? Kenapa kalian terlihat begitu semangat?" tanya Beni yang bingung melihat reaksi mereka semua. "Sepertinya aka nada sesuatu yang terjadi lagi saat ini." Seru Aurelia menepuk jidatnya pelan. "Entah kenapa aku selalu suka terlibat dalam setiap rencana mereka." Terang Rinto merasa antusias dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Adith dan yang lainnya. "Mas! Mie Ayam 3, Bakso 3, Nasi Goreng 4, Es jeruk 9 dan teh panasnya 3 terus ayam lalapannya 3 tambah soto ayamnya juga 3 yah pak." Ucap Gani memesan semua menu itu tanpa menanyakannya terlebih dahulu kepada teman-temannya yang lain. "Dan akan ada satu orang bodoh seperti dirinya yang sangat perduli terhadap isi perutnya saat ini." Tatap Aurelia kepada Gani yang sudah duduk dengan nyaman memesan semua makanan pada pelayan warung makan. "Apa yang kalian lakukan disana? Kalian bukannya ingin makan?" Panggil Gani dengan ekspresi polosnya. Alisya dan Karin hanya bisa tertawa melihat Gani yang terlihat sekali sedang kepalaran dan berusaha menelan liurnya memikirkan makanan yang sudah ia pesan. "Maaf mas, sepertinya kami tidak jadi makan. Mendadak ada yang harus kami lakukan." Gina langsung meminta maaf kepada mas yang sedang mencatat menu makanan yang sudah di pesan oleh Gani. "Loh kenapa? Aku sudah sangat lapar. Apa lagi yang akan kita lakukan?" tanya Gani dengan tatapan memelas ke arah kakaknya. "Sudahlah, Ayo ikut. Kita harus mengejar Emi sebelum terlambat." Gina langsung menarik Gani dari tempat duduknya. "Tapi aku mau makan kak!" seru Gani sekali lagi dengan perutnya yang berbunyi dengan keras. "Diamlah!" Gina langsung menutup mulut Gani yang terus meracau ingin makan. "Maaf mas, kami akan datang lain kali yah!" seru Alisya menunduk meminta maaf kepada Mas pelayan warung tersebut. "Iya dek tidak apa-apa.!" Ucap sang pelayan dengan senyuman yang ramah. Mereka memutuskan untuk mengikuti Emi untuk memastikan apa yang sedang terjadi padanya meski perut mereka sudah cukup lapar. Chapter 326 - Menyerahkan diri Dari kejauhan, Emi melihat sebuah mobil hitam yang baru saja berlalu pergi dari depan rumahnya. Mobil itu tak dikenalinya namun ia merasa pernah melihat mobil itu sebelumnya. Merasa curiga, Emi langsung berlari namun hamper saja bertabrakan dengan ibunya yang juga sedang berlari keluar. "Ibu? Ada apa?" tanya Emi kaget melihat ibunya yang keluar dengan terburu-buru. "Adikmu, mereka membawa pergi adikmu. Emi, apa yang harus kita lakukan?" Ucap ibunya sembari terus menangisi anaknya yang sudah dibawa pergi. "Bukankah sudah aku peringatkan? Malam ini adalah tenggat untuk kalian membayar utang-utang ayahmu." Ucap seorang pria yang keluar dari dalam rumahnya. "Brengsek! Bukankah sudah aku katakan kalau aku akan mendapatkan uang itu? Kenapa kalian tidak bisa bersabar sedikit saja?" hardik Emi dengan tatapan penuh amarah kepada pria tersebut. "Oh ya? Kalau begitu mana uangnya?" seorang pria lain langsung menyodorkan tangannya meminta uang kepada Emi. Emi hanya terdiam di tempatnya dan tak bisa menunjukkan uang tersebut kepada mereka. Ibu Emi menatap penuh harap kepada anaknya berharap kalau ia sudah bener-benar mendapatkan uang tersebut. "Beri aku waktu satu jam lagi. Aku akan mendapatkan uang itu untuk kalian." Tegas Emi sembari memikirkan cara yang bisa ia lakukan dalam kurun waktu satu jam tersebut. "hahahaha¡­ dari mana kau akan mendapatkan uang? Ayahmu bahkan masih terbaring sakit." Ucapnya sembari tertawa dengan penuh kesombongan menatapnya. "Oh iya, tentu saja dia bisa bang. Bagaimana kalau kita serahkan dia saja kepada Bos?" ucap yang lainnya keluar dari rumah Emi. Bisa Emi lihat kalau mereka bertiga baru saja mengobrak-abrik rumahnya untuk memberikan ancaman dan mencari sesuatu yang bisa mereka gunakan. "Kau benar juga, tapi sebelum itu aku akan memberimu tawaran padamu bagaimana?" liriknya nakal pada sekujur tubuh emi. Meski tak secantik teman-temannya yang lain, wajah tembem Emi membuatnya terlihat sangat imut dan manis. Tubuhnya yang berisi dan padat membuat mereka yang melihatnya merasa gemas. Namun tatapan pria itu terlihat dipenuhi oleh nafsu. "Kau pikir aku akan tertarik dengan tawaran kotormu itu? Puih¡­ jangan harap!" bantah Emi yang langsung membuang ludah karena jijik. Apapun itu, fikirannya saat ini masih cukup sadar untuk tak terpancing dengan tawaran bodoh itu. "hahahaha, kau hanya cukup memberikan kami tubuhmu ini, dengan begitu kau bisa menyelamatkan adikmu dan membayar utang-utang ayahmu." Terangnya memegang dagu Emi dengan kasar. "Lepaskan!!! Aku takkan membiarkan anakku melakukan hal kotor seperti itu." Tepis ibu Emi kepada tangan pria yang memegang dagu anaknya. Meski masih mengingat bagaimana kesulitan mereka saat itu, Ibu Emi tetap tak ingin menjual anaknya. "Hei bu, abang saya sudah memberikan tawaran yang pantas loh. Tawaran itu takkan datang untuk yang kedua kalinya." Ucap salah seorang dibelakang pria itu. "Apa kalian tidak ingin menyelamatkan anak tadi?" tunjuknya yang ia maksudkan kepada adik Emi yang sudah di bawa pergi. "Kemana kalian akan membawa pergi adikku?" tanya Emi dengan geram sembari memeluk ibunya menjauh dari ketiga pria itu. "Kami tak tahu, tapi jika kau tak menyelamatkan mereka sekarang, maka kau takkan pernah melihat adikmu selamanya. Karena yang selama ini dilakukan oleh bos adalah menjual mereka." Ucapnya dengan santai. "Kau benar-benar brengsek Mus. Kau orang paling bajingan yang pernah aku temui." Bentak ibunya kepada pria yang beranama Mus tersebut. "Terimakasih atas pujiannya bu, aku sangat tersanjung atas pujian ibu itu. Hahahaha" ia tertawa geli mendengar ucapan ibu Emi padanya. "Aku terima tawaranmu, tapi bebaskan adikku." Tegas Emi setelah terdiam beberapa saat. Tak ada pilihan lain lagi yang bisa ia lakukan sebelum adiknya sampai pada bos mereka. "Tidak! Emi, kau tak perlu melakukan hal itu. Ibu bisa mencari uang untuk membebaskan adikmu." Bentak ibunya tak ingin Emi menerima tawaran mereka. "Tapi bu, dimana lagi ibu akan mencari uang? Kita tak bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu satu jam." Jawab Emi beralih melihat ke arah ibunya. "Bukankah kau bilang kau memiliki teman-teman yang baik hati? Kenapa kau tak melakukan pinjaman saja kepada mereka? Oh iya, ada teman mu yang waktu itu kan?" ibu Emi mengingat Alisya yang pernah menyelamatkan mereka juga saat dalam keadaan kritis. Suara ibu Emi sangat besar dan lantang membuat tetangga mereka keluar karenanya. "Sussttt¡­ ibu ingin semua orang melihat apa yang terjadi?" ucap Emi menenangkan ibunya. Meski tetangga mereka melihat Emi dan ibunya dalam kesulitan, namun begitu melihat wajah Mus mereka langsung kembali masuk karena tak ingin terlibat dalam urusan mereka. "Mereka memang teman-teman terbaikku bu, tapi aku tak bisa terus-terusan bergantung pada mereka. Selain itu kita juga sudah banyak mendapatkan bantuan darinya. Kali ini biar Emi selesaikan sendiri." Terang Emi sudah membulatkan tekadnya. "Apa yang bisa dilakukan oleh anak SMA seperti kamu? Tinggal sebulan lagi kamu akan melaksanakan ujian, bagaimana bisa kamu melepas semua itu?" ibu Emi berusaha membujuk emi agar tak mengikuti tawaran kotor dari Mus. "Aku tau bu, tapi meski begitu kita tak bisa membayar SPP itu kan? Sama saja aku tak mengikuti ujian itu lagi. Lagi pula saat ini yang lebih penting adalah menyelamatkan Hanin terlebih dahulu." Ucap Emi mengingatkan akan keselamatan adiknya yang saat ini berada di tanganya. "Tapi nak¡­" ibu Emi masih belum menerima keputusan Emi namun Emi sudah membulatkan tekadnya. "Aku akan ikut bersama kalian, sekarang kau harus melepaskan adikku terlebih dahulu!" Emi langsung berbalik badan menatap Mus dengan tajam. "Tentu saja sayang." Ucapnya dengan tersenyum licik. "Bawa anak itu ke Gedung tertinggal, biar aku yang akan mengurus apa yang harus dikatakan pada Bos!" ucap Mus sembari menatap Emi sudah tak sabar lagi. "Bang, bagaimana dengan utang mereka?" tanya seorang yang berada di belakang Mus. "Kita bisa memikirkan itu nanti ketika dia sudah melaksanakan tugasnya dengan baik!" tatap Mus kepada Emi sembari mengusap lembut pipinya. "Bukankah aku menyuruh kalian untuk melepasnya? Kenapa kau malah membawanya ke tempat lain?" tanya Emi tak setuju dengan cara mereka. "Tentu saja kami akan melepaskannya, kenapa kau tak langsung menjemputnya saja untuk memastikan keadaanya?" Mus terlihat sedang memainkan tipu muslihatnya yang membuat Emi tak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang di katakan Mus. "Tidak,, tidak Emi. Jangan, lepaskan anakku!!!" bentak ibu Emi berusaha menlepaskan anaknya yang sudah dibawa masuk kedalam mobil. "Ibu jangan khawatir, aku akan membawa pulang Hani secepatnya. Ibu masuklah kedalam rumah." Teriak Emi dari dalam mobil. Chapter 327 - Telpon Polisi "Ah.. itu Ibu Emi, apa yang ia lakukan dengan mengejar mobil itu?" seru Feby saat melihat ibu Emi yang setengah menggantung pada mobil hitam. "Itukan berbahaya!" tambah Adora yang membuat Adith dan yang lainnya langsung berlari datang mengahmpiri ibu Emi. "aah,,," ibu Emi jatuh terhempas kebawah namun dengan cepat di tangkap oleh Alisya di susul oleh Karin. Adith dan yang lainnya kaget dengan kecepatan mereka berdua. "Ibu baik-baik saja?" tanya Alisya cepat. "Emi, mereka membawa Emi!!" teriak ibu Emi begitu mengenali wajah Alisya yang pernah datang kepadanya dulu. "Karin tahan sebentar!" Alisya langsung melepas peganganya kepada ibu Emi dan berusaha mengejar mobil tersebut. Sekuat tenaga Alisya mengejar, namun itu semakin menjauh sehingga dengan satu loncatan Alisya hanya berhasil meraih bagian belakang mobil tersebut. Alisya tidak berhasil memegang erat mobil tersebut dan sebelum tangannya terlepas, Alisya langsung melepas alat peredamnya ke mobil tersebut dan jatuh berguling ke jalanan karena mobil tersebut malju begitu kencang. "Ada apa?" tanya Mus kaget merasakan ada guncangan yang cukup kuat pada bagian belakang mobil mereka. "Sepertinya ada orang gila yang beralri menabrak mobil kita" ucap temannya sembari melirik kea rah Spion dimana Alisya sedang terguling-guling jatuh. "Ya sudah lanjutkan perjalanan." Ucap Mus tak perduli akan apa yang sudah terjadi. Emi yang mendengar ucapannya langsung menoleh kebelakang dan melihat Alisya yang sudah berdiri menatap mobil mereka pergi menjauh. "Alisya, bagaiamana bisa dia berada disini?" Emi kaget tak menyangka kalau Alisya yang sempat menabrak mobil mereka. Ia dengan cepat mencari handphonenya namun teringat kalau tasnya jatuh bersama dengan handphonenya saat ia hamper saja bertabrakan dengan ibunya tadi. "Apa kau mengenalinya?" tanya Mus dengan tatapan menyelidik. "Oh tidak, aku hanya ingin melihat siapa orang bodoh yang sudah menabrakkan dirinya pada mobil" ucap Emi sambil tersenyum canggung. "Jika Alisya mendengarku sekarang, sepertinya ia takkan melepaskanku dari jepitannya seperti yang ia lakukan pada Karin." Pikir Emi merinding mengingat nasibnya. Mengingat ia takkan lagi bertemu dengan mereka, Emi hanya tersenyum pahit melepmparkan pandangannya keluar jendela mobil. Tak terasa air matanya mengalir jatuh dan terbang bersama angina yang dihasilkan karena kencangnya mobil tersebut. Tanpa sepengetahuan Emi, semua yang dikatakannya bersama dengan orang yang berada dalam mobil tersebut terdengar jelas oleh Adith yang sedang menghubungi Alisya yang berlalu pergi mengejar mobil yang membawa Emi. "Oh, Hai, bagaimana?" tanya Feby dengan suara bergetar kaget saat melihat Alisya sudah berda dibelakang mereka dan ikut mendengarkan ucapan Emi. "Seperti yang kalian dengar, aku sudah menempelkan alat peredamku di mobil merek dan mengaktifkannya." Ucap Alisya dingin. Untuk beberapa alasan, Alisya terlihat marah meski mereka masih belum mengetahui apa yang sedang memicu kemarahan Alisya saat itu. "Dengan begitu kita bisa melacak lokasi mereka dan terus mendengarkan percakapan mereka melalui alat peredam Alisya." Ucap Adith mulai mengaktifkan GPSnya untuk melakukan pelacakan. "Apa yang terjadi? Kenapa mereka membawa Emi?" tanya Alisya menatap kepada ibu Emi. "Sebaiknya kita masuk dulu, biar ibu Emi menjelaskan semuanya dengan tenang." Karin yang melihat kondisi ibu Emi segera membawanya masuk ke dalam rumah. "Berantakan sekali, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Adora saat masuk kedalam rumah Emi yang terlihat kacau balau. Setelah Karin mendudukkan ibu Emi di kursi sofa dan Ryu yang dengan cekatan memberikan segelas air minum kepadanya yang ia ambil dari dalam kulkas rumah Emi, mereka dengan setia menunggu sampai Ibu Emi mulai Nampak tenang untuk bercerita kepada mereka. Sembari menunggu, Adora dan yang lainnya mulai membantu untuk membereskan beberapa barang yang masih utuh dan memisahkan beberapa barang yang sudah hancur kedalam tong sampah. Feby membantu Adora dengan menyapu lantai dan yang lainnya membantu mengembalikan beberapa posisi barang yang berjatuhan. "Tante sudah tenang?" tanya Alisya duduk di samping ibu Emi yang kemudian mengangguk pelan menatap mereka semua dengan tatapan haru. "Apa yang terjadi? Kenapa rumah tante sampai berantakan seperti ini?" tanya Karin dengan lembut sembari memeluk ibu Emi untuk menenangkannya. "Kenapa tante bergantung pada mobil tadi meski berbahaya?" tanya Adora juga dengan penasaran. "Apa mereka membawa emi secara paksa?" tanya Rinto mengingat reaksi ibu Emi yang terlihat ketakutan tersebut. "Apa Emi tak mengatakan apapun kepada kalian?" tanya ibu Emi yang bingung dengan kehadiran mereka disana di saat mereka tak mengetahui apapun. Mereka hanya menggeleng pelan dan menatap ibu Emi dengan tatapan bingung. "Butuh waktu banyak untuk menjelaskan semuanya kepada kalian di saat kita sudah tidak punya waktu lagi jika ingin menyelamatkan Emi. Kita harus menyelamatkan Emi sekarang juga sebelum terlambat." Ucap Ibu Emi dengan panik langsung berdiri dari tempat duduknya menuju ke sebuah meja untuk meraih telepon rumah. "Tante, tante bisa jelaskan pada kami pelan-pelan." Tarik Riyan cepat melihat ibu Emi yang sedang meraih telepon dengan tangan yang gemetar. "Telpon polisi, oh tidak jangan polisi. Itu akan membahayakan mereka. Bisakan kalian menelpon orang dewasa lain yang kalian kenal saat ini?" tanya ibu Emi masih belum bisa menenangkan diri. "Tante tenanglah. Tante bisa ceritakan semuanya pada kami." Tambah Zein mencoba menenangkan ibu Emi. "Apa yang bisa kalian lakukan jika aku bercerita kepada kalian?" tatap ibu Emi yang tak yakin jika harus bercerita mengenai masalahnya kepada sekumpulan anak SMA tersebut. "Kami akan membantu tante mencarikan solusinya secepatnya!" tegas Alisya memberikan bantuan selayaknya padangan ibu Emi kepada mereka. "Benar juga. Kalian bisa mencari bantuan secepatnya. Emi ditangkap oleh rentenir demi menyelamatkan Adiknya dia bersedia menyerahkan tubuhnya kepada mereka." Ucap ibu Emi dengan sangat cepat yang membuat Alisya dan yang lainnya langsung terkejut bukan main. "Apa? Apa di sudah gila?" teriak Aurelia marah dengan apa yang baru saja di dengarnya. "Sudah lah, tidak ada waktu lagi. Benar apa yang dikatakan oleh tante." Seru Yogi cepat "Kita harus menyelamatkannya sekarang setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya tadi." Lanjut Adith yang langsung menghubungi paman Dimas. "Kalian tunggu disini dan temani ibu Emi, biar kami yang pergi menyelamatkan Emi." Tunjuk Alisya kepada Yogi dan yang lainnya. Tanpa pikir Panjang lagi Adith, Karin, Ryu, Zein dan Riyan serta Rinto segera pergi dari sana sembari menunggu mobil yang sudah dihubungi Adith. "Tunggu, kalian tidak bisa pergi kesana dengan gegabah. Kalian harus meminta tolong kepada orang dewasa." Teriak ibu Emi menghentikan mereka bertindak bodoh. "Tante tenang saja. Mereka tau apa yang harus mereka lakukan kok. Untuk sekarang sebaiknya tante bersama kami saja disini." Adora langsung menarik ibu Emi kembali duduk dan menenangkannya sembari melirik ke arah Alisya mengangguk pelan. "Tapi mereka¡­" Ibu Emi masih tak yakin dengan apa yang sedang di pikirkan oleh anak-anak itu. "Percaya saja pada mereka tante. Mereka bukanlah anak-anak biasa yang seperti tante pikirkan." Lanjut Aurelia mencoba untuk meyakinkan ibu Emi. "Mereka bahkan lebih mampu dibanding dengan para polisi jika ingin menyelamatkan Emi dan adiknya." Ucap Beni dengan wajah yang sangat serius. "Tapi mereka itu sangat berbahaya. Mereka bahkan tak segan-segan untuk membunuh orang lain nak." Ucap Ibu Emi mencoba untuk mengingatkan mereka. "Kalau begitu mereka sudah berhadapan dengan orang yang salah. Teman-teman kami jauh dari sekedar mampu untuk melumpuhkan mereka." Ucap Gani dengan senyumannya. Melihat anak-anak itu begitu percaya dengan teman-temannya membuat ibu Emi hanya pasrah sembari terus memikirkan apa yang harus ia lakukan demi menyelamatkan keluarganya dari krisis yang sedang ia jalani. "Bisakah kita kerumah sakit sekarang? Aku harus kembali melihat ayah Emi." Ucap ibu Emi dengan tatapan khawatir. "Tentu tante, kami bisa mengantarkan tante sekarang juga!" terang Feby dengan penuh semangat. Ibu Emi segera masuk kedalam kamarnya mengambil beberapa keperluan yang bisa ia bawa ke rumah sakit. Chapter 328 - Aku Masih Mau Nikah! Tidak butuh waktu lama untuk mobil Adith tiba dengan pak Dimas yang berada di kursi kemudi. Ia datang dengan wajah yang kebingungan saat Adith dengan terburu-buru meminta pamannya untuk membawakannya mobil. "Apa yang sedang terjadi? Kenapa kau sampai menyuruhku untuk membawa mobil besar ini kemari? Biasanya kau suka menggunakan mobil sportmu jika di luar kantor!" Pak Dimas turun dari mobil dengan tatapan penuh kebingungan. "Maaf paman, nanti aku jelaskan kepada paman setelah ini selesai. Tolong paman lihat Yogi dan yang lainnya di dalam sana mereka mungkin akan sangat membutuhkan bantuan paman." Ucap Adith langsung mengambil alih mobil tersebut. "Berhati-hatilah." Ucap pak Dimas memberi mereka peringatan. "Terimakasih paman. Maaf karena sudah merepotkan paman" Ucap Adith lagi dengan tulus. "Dimana posisi mereka saat ini?" tanya Alisya sebelum mereka masuk kedalam mobil. "Mereka baru saja berhenti di sebuah lokasi yang kelihatannya cukup terpencil." Adith kembali memperhatikan handphonenya yang terhubung dengan alat peredam milik Alisya yang menunjukan lokasi dari mobil yang sebelumnya di tumpangi oleh Emi. "Sepertinya sudah tidak ada waktu lagi, kita harus segera kesana sekarang." Karin langsung menyerbu masuk kedalam mobil di ikuti Zein dan yang lainnya dengan cepat. Rinto dan Riyan serta Ryu sudah duduk di bagian kursi belakang sedangkan Karin, dan Zein sudah berada pada bagian tengah. "Adith, kita harus kesana dengan segera. Bisakah kau membiarkan aku yang mengemudi?" tanya Alisya menatap Adith dengan sangat serius berharap kalau Adith akan mengizinkannya. "Tentu saja, dengan satu syarat." Tatap Adith dengan tatapan yang sama seriusnya yang membuat Alisya jadi sedikit takut karenanya. "Apa?" tanya Alisya bingung dan ragu akan apa yang akan di katakana oleh Adith padanya. Ia takut kalau ia tak bisa melakukannya. "Kau harus menciumku setelah ini selesai." Ucap Adith sembari melemparkan kunci pada Alisya dan tertawa nakal. "Sial" gumam Alisya seolah sedang mendapatkan permintaan yang sangat berat dari Adith, tapi taka da yang bisa ia lakuakn lagi selain bergerak cepat. "Kau serius ingin mengemudikan mobil Sya?" tanya Karin begitu melihat Alisya yang sudah berada dibagian kursi kemudi. "Yup!" Senyuman Alisya langsung saja membuat Karin memasang sabuk pengamannya dan mencari pegangan secepat kilat. "Kenapa? Memanganya kenapa jika dia yang mengemudikan mobil? Tunggu sebentar. Aku ingat betul kalau Alisya mabuk kendaraan." tanya Zein penasaran dengan reaksi Karin. "Dia bisa mengendarai mobil kan?" tatap Rinto kepada Ryu yang hanya menggeleng pelan. "Apa Adith sedang bermain-main dengan nyawa kita sekarang?" tatap Riyan kepada Adith yang berada di kursi sebelah Adith. "Sebaiknnya kalian pega¡­ ngan!" belum selesai Karin berkata, Alisya sudah menginjak gas dengan cepat bahkan sampai menimbulkan bunyi decitan yang cukup keras dari ban mobil ke aspal jalan. "Aku masih mau nikah!!!" teriak Riyan dengan sangat kencang saat Alisya membuat mereka melaju membelah jalan raya. Adith hanya tertawa pelan menyaksikan Alisya yang terlihat penuh semangat saat mengemudikan mobil tersebut. Bukannya takut, ia malah menikmati cara Alisya saat membawa mobil tersebut sedang 5 orang yang berada dibelakangnya sudah menutup mata berdoa untuk keselamatan mereka. "Belok kiri!" ucap Adith cepat saat melihat maps yang harus mereka tuju. Alisya dengan lihainya berbelok ke kiri dengan tajam. "Belok kiri lagi." Ucap Adith saat melihat mereka hamper saja melewati jalan yang mereka tuju. "Belok Kanan!!!" Adith hampir saja melewatkan satu jalan saat Alisya tak sedikitpun mengurangi kecepatan mobilnya. Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai ketempat dimana mobil yang sebelumnya membawa Emi pergi. Mereka berada di dekat gedung yang terlihat tak lagi di lanjutkan pembangunannya dan terlihat dijadikan markas oleh mereka. "Uweeeekkkk!!!" Riyan langsung menghambur keluar dan memuntahkan semua isi perutnya di ikuti oleh Rinto yang langsung terbaring di tanah mencari udara segar. "Ohokkk ohoookkk" Zein dan Ryu hanya terbatuk pelan seolah mereka menahan nafas yang cukup lama didalam mobil sedang Karin hanya tertawa pelan melihat mereka semua. "Kalian terlihat lemah karena mabok hanya dengan kecepatan seperti itu." Ucap Adith menertawakan mereka yang dibalas jari tengah oleh Riyan karena kesal. Adith tak terima dengan apa yang dilakukan oleh Riyan sehingga ia menendang pantat Riyan yang membuat Riyan langsung jungkir balik karenanya. "Plakkk!!! Brangg¡­" sebuah suara keras yang terdengar membentur sebuah drum besi terdengar dari dalam membuat Alisya dan yang lainnya langsung menyerbu masuk kedalam. "Brengsek! Kamu tak ingin menyelamatkan adikmu hah??" bentak Mus kepada Emi yang terlihat masih bertahan karena belum melihat adiknya berada disana. "Kau yang sudah berjanji untuk melepaskan adikku terlebih dahulu, jadi sekarang perlihatkan adikku terlebih dahulu!" tegas Emi terus bertahan sampai ia bisa melihat Adiknya. "Sialan, kau pikir kami akan membebaskan adikmu ha? Hahahahahaha" mereka semua tertawa karena telah berhasil menipu Emi. "Tak mau buka pun tak apa sayang, karena aku bisa membantumu untuk membukanya!" Mus langsung menyobek baju Emi yang tinggal menyisakan baju dalamnya. "Kalian memang biadab!" maki Emi sembari terus berusaha menghindar dari sergapan Mus dan teman-temannya. "Mau kemana kamu ha? Hahahaha" ucap teman mus dengan tatapan penuh nafsu. "Ayolah manis, sini main sama abang!!!" tangkap seorang lagi yang langsung mendorong tubuh Emi dengan kuat menuju ke arah Mus. Mus langsung memeluknya erat dan langsung menghujani Emi dengan ciuman penuh nafsu di leher dan telinga Emi. "Puih¡­" Emi meludah ke wajah Mus yang langsung membuat mus meradang penuh amarah dengan apa yang dilakukan oleh Emi sehingga Mus menamparnya untuk yang kesekian kali. Wajah Emi langsung mengeluarkan darah segar karena kuatnya tamparan dari Mus tersebut. Mus langsung datang menghampiri Emi dan menari rambut emi dengan kuat yang sesaat kemudian tubuhnya langsung melayang menghantam dinding dengan kerasnya. "Brengsek siapa itu!" sesat sebelum ia benar-benar bisa menoleh dengan benar untuk melihat apa yang terjadi, sebuah tendangan berputar dari Adith langsung mengenai wajahnya yang langsung membuatnya berputar dengan sangat kuat. Tak berhenti disitu, Rinto dan Ryu juga melayangkan tendangan mereka ke kedua pipi seorang lainnya yang membuatnya harus merasakan sakit dari dua arah yang menekan kepalanya dengan sangat keras bahkan sepatu Rinto dan Ryu menempel keras di telinganya yang membuat telinganya berdengung keras. Karin langsung menghampiri Emi dan memeluknya dengan erat sedang Riyan dan Zein langsung melepas Pakaian mereka berdua untuk diberikan kepada Emi agar bisa menutup tubuhnya yang sudah setengah terbuka. "Kurang ajar siapa kalian sebenarnya?" melihat seorang masih sadar Alisya langsung menghantam kuat kepalanya. Chapter 329 - Waxing Emi kaget melihat semua teman-temannya berada disana. Ia tak menyangka kalau mereka semua berhasil menemukannya disana. "Bagaimana kalian bisa menemukanku disini?" Tanyanya dengan sedikit berdesis sakit karena tamparan Mus yang melukai tepi bibirnya. "Alisya meletakkan alat peredamnya di mobil yang kau tumpangi sehingga kami bisa melacaknya menggunakan handphone milik Adith." Jelas Karin sembari membersihkan darah yang mengalir di dagu Emi dengan sapu tangan milik Zein. "Aku tak menyangka kalau kalian bisa berada disini." Ucap Emi lagi bersyukur dengan kehadiran mereka. "Ryu ikat dia!" Pinta Alisya kepada Ryu yang mengarahkan kepada Mus yang tergeletak setengah sadarkan diri dan menahan sakit. "Mereka masih belum menunjukkan padamu dimana Adikmu berada?" Tanya Adith karena tak melihat tanda-tanda keberadaan orang lain selain mereka berempat. "Tidak, mereka membohongiku dengan mengatakan bahwa akan membebaskan adikku jika aku¡­." Emi tak ingin melanjutkan kata-katanya melihat ekspresi marah Alisya. "Kau tau betapa bahayanya apa yang kau lakukan saat ini?" Tatap Alisya geram ke arah Emi. Emi bisa memaklumi sikap amarah Alisya karena jika itu adalah dia, maka tentu ia akan merasakan hal yang sama. "Maafkan aku Sya, bukannya aku tak ingin bercerita pada kalian, tapi aku tidak punya keberanian untuk melakukan hal tersebut." Ucap Emi tertunduk menyesali perbuatannya. "Sudahlah, yang utama sekarang adalah menyelamatkan adikmu terlebih dahulu." Ucap Alisya cepat tak mempermasalahkan apa yang sudah dilakukan oleh Emi sebelumnya. Setelah beberapa saat kemudian, Ryu menyiram wajah Mus untuk membangunkannya dari pingsannya. Ia duduk terikat di sebuah kursi dengan dada yang sakit akibat dari tendangan Alisya yang cukup kuat. "Sial, berani sekali kalian mengikatku seperti ini. Kalian sudah menggali kuburan kalian sendiri! Aku takkan melepaskan kalian." Bentak Mus dengan geram saat melihat mereka hanyalah sekumpulan anak-anak SMA. "Sepertinya kau tidak paham dengan situasimu sendiri yah, meskipun kami masih anak SMA, berhadapan dengan para biadab seperti kalian tidak akan membuatku takut." Ucap Karin dengan tatapan dingin. "Kau, akan ku cari kau sampai ke ujung dunia dan ku buat semua keluargamu semakin menderita." Tatap Mus kepada Emi. "Dimana Adikku? Dimana kalian mengirimnya?" Tanya Emi dengan keras. "Hhahahaha, kau pikir dengan mengikatku seperti ini kau akan bisa menemui adikmu? Tidak akan pernah bisa!" Ucap Mus dengan tatapan meremehkan yang membuat Adit langsung marah dan meninju mukanya dengan keras. "Harusnya kau paham betul akan situasi mu saat ini. Kami tidak sedang bermain-main denganmu." Tatapan bengis Adith yang sedari awal sudah sangat marah kepada Mus saat melihat ia melecehkan Emi tak membuat Mus bergeming karenanya. "Apa yang bisa dilakukan oleh anak SMA seperti kalian selain dengan mengancam belaka? Hahahahaha kalian sedang bermain jadi pahlawan ha? Mus tertawa geli melihat Adith dan yang lainnya yang sedang berlagak menjadi pahlawan yang menyelamatkan teman-temannya. Mus mengira bahwa mereka hanyalah anak SMA biasa yang takkan berani melakukan hal yang lebih nekat. Berbeda dengannya, dia bahkan bisa melakukan apa saja kepada mereka semua. Mus berencana untuk meloloskan diri dari sana dan memberikan pelajaran berharga yang takkan pernah dilupakan oleh mereka semua. "Kau benar-benar sedang mengira kami bermain-main? Jangan pikir hanya kalian yang bisa berbuat kejam." Riyan mencoba memberikan ancamannya kepada Mus dengan menatap tajam. "Puffttr hahahahahha, benarkah kalau begitu aku mau lihat sampai dimana kalian bisa melakukannya." Ucapnya terus tertawa merasa lucu dengan ucapan Riyan. "Sebaiknya kalian tau apa yang kalian lakukan, karena jika aku lolos dari sini. Aku yang akan menikmati para gadis itu hingga puas dan akan aku biarkan mayat kalian membusuk di tempat ini." Tatapnya kepada Alisya dan yang lainnya. Adith dan dan yang lainnya yang mendengar ucapan Mus dengan cepat langsung meradang penuh amarah dan ingin menghajar Mus. Alisya yang tak ingin membiarkan teman-temannya dalam masalah atau mengotori tangan mereka langsung menendang salah seorang teman Mus jatuh dari gedung tersebut. Mereka berada dilantai gedung ke 10 yang tentu saja orang yang jatuh dari ketinggian itu bisa mati seketika. Mus yang melihat bagaimana temannya ditendang dengan kuat hingga terdengar jatuh dari lantai 10 tersebut membelalakkan matanya tak percaya. "Apa aku harus membuatmu merasakan hal yang sama agar kau menyadari situasimu saat ini?" Tatapan mata Alisya yang sangat tajam dan mengarah satu tujuan padanya membuat Mus bisa merasakan ancaman sesungguhnya dari Alisya. "Siapa anak ini? Aura membunuhnya sangat kuat sekali, aku belum pernah melihat tatapan mata seperti ini sebelumnya. Seolah dia sudah terbiasa dalam melakukan pembunuhan." Batin Mus yang bergetar hebat mendapatkan tatapan tajam dari Alisya. "Tck, kau takkan mendapatkan apapun dariku!" Tegasnya dengan penuh percaya diri. "Gampang, kami bisa membuatmu mengatakan semuanya!" Senyum Karin yang langsung membuat Emi merinding melihatnya. Ryu datang dengan sebuah lakban yang ia temukan disana yang biasa digunakan oleh para pekerja bangunan untuk merekatkan sementara bangunan mereka agar bisa lebih rapat dan kuat. "Lakban? Kalian memang hanyalah sekumpulan anak ingusan." Ucap Mus sembari cekikikan melihat alat yang digunakan oleh mereka untuk membuatnya berbicara. "Kau tampaknya sangat meremehkan kami yah, kalau begitu bagaimana kalau kita mulai dengan level yang rendah dulu?" Tatap Rinto kepada Ryu yang sudah bersiap untuk melakukan rencana mereka. "Buka celananya!" Ucap Adith santai yang dengan cepat Riyan dan Zein langsung membuka celana Mus hingga menyisakan boxer pendeknya. "Apa yang ingin kalian lakukan? Kalian benar-benar sudah membuatku marah!" Ucap Mus kesal dengan perlakuan mereka. "Kau tau Waxing kan? Kami akan memberikan terapi khusus untukmu!" Ucap Zein tertunduk mulai memasang lakban perekat tersebut ke kakinya yang penuh dengan bulu yang lebat dan panjang. Tanpa memperdulikan racauan dari Mus, Ryu langsung menarik perekat tersebut secara perlahan dengan sedikit demi sedikit dorongan agar terbuka yang membuat Mus harus merasakan pedih yang menjalar di sekujur tubuhnya. Akan lebih baik jika Ryu menarik dengan satu hentakkan yang dengan demikian ia bisa merasakan perih karena tarikan yang beberapa kali hentakkan tersebut. Tampak betul kalau Mus malah semakin meradang dalam penuh amarah dengan nafas yang berat serta ia menggertakkan rahangnya dengan sangat kuat yang dapat membuat wajahnya memerah padam. "Aku akan buat kalian menyesal karena sudah melakukan ini padaku!" Tatapnya dengan penuh amarah sembari terus berusaha mengguncangkan tubuhnya untuk bisa melepaskan diri dari ikatan. Alisya yang sudah tidak tahan lagi langsung mengambil sebuah besi cor yang sudah berkarat lalu ia tusukkan ke paha Mus yang menancap sangat dalam. Chapter 330 - Aktingmu Cukup Keren Mus mengeram keras merasakan sakit yang amat hebat pada bagian pahanya. Pikirannya seketika membeku dan menyesali kebodohannya karena meragukan mereka yang masih anak SMA. "Jika kau masih berkata omong kosong lagi, aku tak kan segan untuk membunuhmu." Ucap Alisya singkat yang langsung membuat semua tubuh Mus bergetar hebat. Nyalinya seketika menciut. Mus bisa merasakan perbedaan aura yang dikeluarkan dari teman-temannya yang lain. Mus tahu betul kalau instingnya ketika berhadapan dengan orang berbahaya mereka akan mengeluarkan aura yang sangat pekat, dan Alisya lebih dari sekadar bahaya. "Aku rasa anak ini tidak main-main. Dia bahkan dengan begitu santai dan tanpa ekspresi saat menancapkan besi ini kepadaku." Batinnya terus menatap ke arah Alisya. "Pandangannya kepada teman-temannya begitu hangat namun ketika ia menoleh kepadaku pandangan itu seperti ia sedang menatap ke arah mangsanya. Dia monster!" Pikirnya lagi yang terus merasakan nyawanya semakin terancam. Melihat Mus hanya duduk manis dan tak bergeming, membuat Adith kesal dan langsung mencabut tancapan besi pada pahanya dengan kasar dan tatapan dingin. Karin dan yang lainnya merasakan betul bagaimana amarah keduanya tidak terkecuali Mus. Meski niat membunuh Alisya lebih besar dibanding Adith, Mus bisa merasa kalau Adith juga tak kan segan untuk mengakhiri hidupnya. "Sial bagaimana mungkin anak zaman sekarang sudah tak punya rasa takut lagi untuk membunuh orang lain?" Ucapnya memaki dengan penuh kekesalan. Adith langsung menancapkan besi yang sebelumnya pada paha yang sebelahnya lagi yang membuat Mus berteriak dengan keras namun Emi langsung memasukkan kaos kakinya ke mulut Mus sehingga ia terbatuk-batuk hebat. Pernafasannya seketika terganggu dan hidungnya menjadi sulit untuk menarik oksigen karena kaos kaki Emi yang sudah ia pakai seharian. "Untuk orang sepertimu, kau pikir kami akan bersikap sopan satun dan segan? Jika kami tidak melakukan ini apa kau akan memberitahu kami?" Zein memutar kursi Mus agar bisa melihat salah satu temannya yang sudah mati tergantung. Mata Mus terbelalak sempurna tak mengira kalau semua anak-anak itu cukup sadis dan berbahaya. Ia akhirnya paham kalau sudah berhadapan dengan orang yang salah. "Jadi apa kamu masih mau bertahan dengan keangkuhanmu itu?" Tanya Riyan dengan menunjukkan tali yang sewaktu-waktu bisa ia lepas dan menjatuhkannya dari lantai 10. "Aku sarankan agar kau mendengarkan mereka kali ini jika masih ingin hidup." Bisik Emi pada telinganya dengan tatapan penuh kebencian pada Mus. Dia yang sudah menaruh amarah yang sangat mendalam perlahan-lahan luntur dan cukup puas setelah melihat semua teman-temannya memperlakukan Mus. Mus mengangguk pelan tanda bahwa ia sudah menyerah dan akan memberitahu dimana keberadaan adik Emi. "Baik, akan aku katakan!" ucap Mus setelah terbatuk-batuk saat Emi kembali melepaskan sumbatan mulutnya. "Bos biasa membawa mereka ke sebuah kontainer penyimpanan yang siap untuk dijual ke luar negeri. Malam ini pukul 11.30 adalah jam keberangkatan terakhir." Jelasnya sambil terus menggeram menahan sakit di kedua pahanya yang terus mengalirkan darah segar. "Katakan pada kami dimana lokasinya." ucap Rinto membalikkan kursi Mus agar bisa mengarah padanya. "Dermaga perdagangan bagian utara. Tapi aku tidak yakin apa kalian bisa berhasil untuk menyelamatkannya karena bos memiliki banyak penjaga yang tanpa takut membunuh siapapun yang melihat transaksi mereka." Mus terlihat sedang meremehkan sekaligus memberikan mereka peringatan. "Benarkah? Kalau begitu biar kami tunjukkan bahwa saat berhadapan dengan musuh aturan yang pertama adalah jangan pernah meremehkan mereka yang belum kamu ketahui kekuatan dan kemampuannya." ucap Karin yang langsung memandang ke arah Zein. "Bagus! Aktingmu cukup keren." ucap Zein yang menatap ke arah Riyan yang sudah menurunkan talinya. Tali yang menggantung temannya disimpul dengan sangat baik oleh Ryu yang dapat mengecoh penglihatan Mus yang mengira kalau temannya tersebut telah mati terbunuh dengan cara digantung. Meski begitu, ia harus terbatuk-batuk karena eratnya tali yang melilit lehernya. Namun sebenarnya dia juga terancam oleh Ryu dan tidak mengetahui mengenai simpul tersebut. Jika dia tidak melakukannya dengan baik tentu saja ia berpikir nyawanya juga terancam. "Biarkan saja mereka, paman Dimas yang akan menyerahkan mereka ke polisi. Kita harus mengutamakan penyelamatan adik Emi terlebih dahulu." Ucap Adith yang langsung membiarkan mereka begitu saja. "Sebentar, aku mendapatkan cuka di sekitar tempat ini, sepertinya ini digunakan mereka untuk makan mie rebus." Ucap Ryu yang terlihat mulai mencabut kembali besi yang menancap pada paha Mus. Mus kembali menggeram sakit akibat tarikan Ryu. Mus terlihat semakin marah karena hal tersebut sehingga ia mengatur nafasnya sembari menatapnya dengan penuh amarah. "Apa yang ingin kau lakukan dengan cuka itu?" Tanya Riyan bingung tak mengerti apa yang sedang di lakukan oleh Ryu. "Cuka bisa menghilangkan sidik jari pada benda yang di pakai atau pada barang-barang stainless steel." Zein tersenyum melihat Ryu yang selalu tau apa yang harus ia lakukan. "Dengan begitu polisi yang akan datang bersama paman Dimas akan mengira kalau mereka bukan berurusan dengan kita melainkan dengan pengawal nona Alisya." Ucap Ryu sembari melumuri besi tersebut dengan cuka. "Kalian benar-benar sekumpulan orang yang punya banyak pengalaman dalam hal ini." Emi menatap takjub kepada Alisya dan Ryu yang terlihat sudah terbiasa dalam menghadapi situasi seperti itu. Ryu selalu memikirkan agar apa yang mereka lakukan sekarang tidak menjadi masalah kedepannya yang bisa saja membuat poin mereka berkurang atau bahkan sampai di keluarkan dari sekolah karena masalah tersebut. "Hahahahah, jangan harap kalian bisa menyelamatkan adiknya!" Mus masih saja tertawa dengan angkuh yang membuat Alisya dengan sigap langsung menendangnya hingga ia terseret jatuh dari lantai 10. "Aduh, bisakah kau bersabar sedikit?" Teriak Karin yang langsung lari ke bagian tepi gedung untuk melihat apa yang terjadi. Adith dan yang lainnya pun juga bereaksi sama. Mereka mengira Alisya sudah tak punya belas kasih lagi kepada orang lain. Namun begitu mereka melihat kebawah, Mus dan seorang lainnya tersangkut pada jaring-jaring di lantai ke 5. "Bagaimana dia bisa mengetahui kalau lantai 5 terdapat jaring-jaring itu? Kami semua yang sangat terburu-buru bahkan tak sempat melihat jaring-jaring itu." Seru Zein memandang takjub pada Alisya. "Ini perasaanku saja atau memang kemampuan Alisya semakin berkembang?" Tanya Rinto yang menatap bingung kepada Karin. "Meski aku tau kemampuan Alisya dari dulu memang sudah tak diragukan lagi, tapi sepertinya kemampuan Alisya semakin meningkat tajam dari sebelumnya." Terang Karin menggeleng tak percaya. Mereka segera mengikuti Alisya turun dan keluar dari gedung tersebut untuk segera pergi secepat mungkin menyelamatkan adik Emi. Chapter 331 - Pasangan Berbahaya Begitu turun kebawah, Alisya menyadari kalau mobil yang dimiliki Mus terdapat blackbox didalamnya yang mungkin saja sudah merekam mereka sejak awal kedatangan mereka. Alisya khawatir kalau rekaman itu bisa saja jadi suatu masalah bagi mereka kedepannya. "Tidak perlu khawatir, aku sudah meretas blackbox mereka sehingga mereka takkan merekam apapun. Dan di sekitar sini juga tidak ada CCTV." ucap Adith langsung masuk kedalam mobil. "Kedua pasangan ini terlalu kuat jika mereka bekerja sama." Ucap Rinto yang takut dengan cara berpikir mereka yang cukup cepat. "Mereka bahkan bisa menghancurkan satu organisasi jika mereka benar-benar serius ingin melakukannya." Gumam Karin melihat Alisya dan Adith yang selalu bisa mengendalikan situasi dengan cepat. Tanpa basa basi lagi, mereka dengan cepat segera menuju ke tempat yang sudah ditunjukkan oleh Mus. Dari kejauhan, mereka bisa melihat bagaimana beberapa orang di sekitar sana bersenjata lengkap yang tampak sekali kalau mereka bukanlah penjahat biasa. Mereka mengamati tempat tersebut dengan menaiki salah satu tiang tinggi yang biasanya dijadikan sebagai jembatan untuk pergi dari satu kontainer menuju ke kontainer lainnya. "Tak ku sangka kalau mereka semua memiliki anggota yang bersenjata lengkap, ini akan sedikit menyulitkan kita yang tak bersenjata." Ucap Karin yang terus melihat kesana kemari menggunakan kacamata milik Adith yang dapat ia gunakan untuk melihat pada malam hari. Kacamata tersebut dilengkapi dengan infra merah dan juga lensa yang dapat berguna untuk melihat dari jarak yang cukup jauh. Sehingga mereka semua bisa melihat situasi dermaga perdagangan dari kejauhan. "Sejak kapan alat-alat seperti ini kau buat Adith?" Riyan kagum dengan Adith yang mampu menciptakan segala macam jenis alat elektronik. "Karena sering berada dalam situasi yang gawat, aku jadi menciptakan beberapa alat yang dapat membantu kita dalam menangani situasi genting seperti saat ini." Terang Adith dengan terus melakukan pengamatan pada dermaga tersebut. "Kalian berdua memang pasangan yang berbahaya!" Gumam Zein dengan tubuh yang bergidik ngeri. "Bagaimana kita bisa menemukan kontainer yang terdapat adikku di dalamnya?" Emi semakin takut saat melihat sebuah kapal besar sudah mulai dekat dan akan sandar. "Kita harus menemukannya cepat jika tidak akan sangat berbahaya lagi." ucap Ryu memindai satu persatu kontainer yang kemudian 3 kontainer di dalamnya terlihat memiliki banyak manusia. "Ada sekitar 20 orang yang sedang berjaga disana, ini akan sulit bagi kalian yang tidak biasa dalam pertempuran." Ucap Alisya melepas kacamatanya dan melihat kepada teman-temannya. "Terlebih karena mereka terlihat sangat terlatih dan tentu saja kita hanya akan membebani jika ikut bersama kalian bukan?" Tatap Adith kepada Alisya dan Ryu. "Benar, aku benci mengakuinya tapi kita tidak punya cukup pengalaman untuk bisa mengalahkan mereka. Kita bahkan bisa menempatkan mereka berdua dalam bahaya." Tambah Zein mengerti akan situasi mereka. "Itu artinya yang bisa kita lakukan disini hanyalah membantu mereka menemukan kontainer yang didalamnya terdapat adik Emi dengan cepat." Ucap Riyan lagi langsung terus melakukan pengamatan untuk membantu mereka berdua. "Karin dan Rinto akan tetap berada disini untuk melindungi kalian saat kalian melakukan pengamatan. Adith bisa membantuku dan Ryu dalam membuka jalan sedangkan kalian terus lakukan pengintaian pada 3 kontainer tersebut." Tunjuk Alisya pada Riyan, Zein dan juga Emi. "Sepertinya memang tak ada pilihan lain, baiklah. Kalian bisa percayakan pada kami." Seru Adith merasa kesal dengan dia yang hanya bisa membantu dari kejauhan. Alisya hanya tersenyum melihat semangat mereka dalam situasi ini. Alisya kembali mengingat bahwa dulu mereka hanyalah sekumpulan siswa biasa yang bahkan tak kan pernah berpikir kalau suatu hari nanti akan mendapatkan situasi seperti itu. Namun dengan kehadiran mereka disana, Alisya semakin merasa kalau ia bisa melakukan apapun demi orang-orang terdekatnya. "Pakailah ini, aku tak yakin kalau ini akan bekerja dengan cukup baik untuk meredam suara tembakan. Tapi kuharap ini bisa mengatasi trauma mu." Ucap Adit memberikan alat peredam yang baru pada Alisya. Sebelumnya Adith belum melakukan pengujian untuk peredaman suara tembakan sehingga ia tidak yakin apakah alat itu akan bekerja dengan baik. "Jangan khawatir." Alisya tersenyum sembari mendekat ke arah Adith. " Satu panggilan sayang darimu bisa membuat duniaku menjadi sunyi dan hanya suaramu yang akan terdengar." Bisik Alisya di telinga Adith yang ia sengaja untuk menghilangkan kekhawatiran Adith. Adith tertawa pelan mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Alisya sehingga tepat sebelum Alisya pergi, ia menahan langkahnya. "Hati-hati!" Pinta Adith yang tatapannya berganti dengan rasa percaya yang tinggi kepada Alisya kalau ia bisa melakukan yang terbaik. "Tentu!" Ucap Alisya yang langsung meloncat pergi dengan Alisya menuju kontainer sebelah kiri sedang Ryu menyisir kontainer yang sebelah kanan. Kontainer yang dituju Alisya memiliki lebih banyak penjagaan dibanding dengan yang dituju oleh Ryu sehingga Ryu terlihat jauh lebih lancar dibanding dengan Alisya. Alisya langsung melakukan satu kali pukulan keras pada bagian leher yang dapat menyebabkan mereka pingsan dengan sangat cepat sehingga tak menimbulkan banyak suara yang dapat membuat keberadaan mereka diketahui. Setelah itu itu Alisya akan menyembunyikan mereka yang pingsan di sekitar lorong kontainer yang cukup gelap agar mereka tak ditemukan. "Di belakangmu!" Teriak Adith pelan kepada Alisya yang sedang mengangkat satu orang bertubuh cukup besar sehingga sulit untuk ia sembunyikan. "He kau, apa yang sedang kau lakukan padanya." Ia langsung menodongkan senjata pada bagian belakang Alisya yang kemudian membuat Alisya dengan perlahan mengangkat tangannya melepaskan tubuh pria sebelumnya. "Crekkk!!" Alisya dengan cepat berbalik badan mematahkan tangannya yang tepat sebelum ia berteriak Alisya sudah meninju ulu hatinya hingga ia pingsan. "Terimakasih!" ucap Alisya yang ia tujukan kepada Adith. Adith tersenyum dengan tingkah perempuan itu yang membentuk model hati dengan menaikkan kedua tangannya di atas kepalanya. "Terus waspada!" Pinta Adith cepat kepada Alisya yang terlihat begitu santai. "Siap bos!" Ucap Alisya cepat langsung kembali mengintai area sekitarnya yang posisinya tinggal berjarak 2 kontainer dengan kontainer yang sedang ia tuju. "Saya sudah di dalam nona, disini berisi para ibu-ibu yang dijanjikan akan dikirim sebagai TKA namun mereka malah mengalami penyiksaan ketika terus bertanya di negara mana sebenarnya yang ditujukan kepada mereka." Ryu langsung melaporkan situasinya begitu masuk kedalam kontainer tersebut. "Sepertinya ini adalah kasus penyelundupan dan penjualan manusia. Ini akan sangat berbahaya jadi kau harus berhati-hati. Apa kau bisa mengeluarkan mereka dari sana?" Tanya Alisya mencoba untuk mengetahui apakah Ryu bisa melakukannya atau tidak. "Kami akan membantumu untuk membuka jalan dari sini." Ucap Riyan dan Zein secara bersamaan. "Bagus! Kita harus bergerak cepat jika tidak mereka juga bisa berada dalam bahaya." Terang Alisya yang sudah tinggal berjarak 1 kontainer lagi. Alisya sudah mengalahkan sekitar 8 orang yang menjaga kontainer pertama sehingga ia suda cukup dekat dengan tujuannya dan cukup aman. "Kalian bisa keluar tapi ku harap kalian tidak menimbulkan suara berisik." Pinta Ryu kepada mereka yang dengan cepat dianggukkan oleh mereka semua. Ryu harus mengirimkan mereka satu persatu agar tak diketahui dan Rinto sudah berada di sisi lain untuk membantu mereka meloloskan diri dengan cepat. Jalur yang mereka ambil adalah jalur yang sebelumnya mereka sudah sediakan saat masuk sehingga tempat itu langsung mengarah ke tepi pantai dimana terdapat banyak pohon kelapa yang bisa mereka jadikan tempat untuk persembunyian. Jumlah mereka yang hampir berkisar 30 an menyulitkan Ryu untuk terus melindungi mereka saat keluar dari kontainer. "Bagaimana jika mereka malah ditemukan di luar sana?" tanya Emi khawatir. "Jangan khawatir, Yogi sudah berada di ujung jalan untuk mengangkut mereka semua ke tempat yang aman. Jalur yang mereka tuju cukup terjal tapi Yogi sudah ditemani oleh pengawal Alisya." Ucap Zein yang sudah menghubungi Yogi begitu melihat banyak orang pada kontainer tersebut. Chapter 332 - Bocah Tengil "Kau?!" seorang penjaga yang berbalik karena merasa ada yang aneh dengan cepat di pukul oleh Alisya bersama dengan temannya yang berada disampingnya. Gerakan Alisya yang sangat cepat tidak sempat membuat mereka bereaksi sehingga mereka harus mendapatkan pukulan yang sangat keras dibagian tengkuk leher mereka yang langsung membuat mereka jatuh pingsan. "Hei!!!" teriak seorang bersenjata yang langsung melesatkan tembakan pada Alisya yang terdengar cukup keras dari kejauhan. Adith bahkan sampai melepas kacamatanya karena tak ingin melihat apa yang terjadi. Ia takut Alisya tak bisa menghindarinya sehingga ia menarik nafas dalam dan melihat kalau oyang yang menembak sudah dalam keadaan terkapar tak jauh dari hadapan Alisya. "Aku mendengar suara tembakan dari arah Alisya, apa dia baik-baik saja?" tanya Karin cepat langsung memasang kacamatanya mencari dimana asal suara tembakan tersebut. "Dia baik-baik saja entah bagaimana!" ucap Emi saat berhasil menemukan keberadaan Alisya yang sedang berdiri menatap jauh kea rah lain. Alisya menatap bingung kepada pria di depannya yang tiba-tiba tumbang begitu saja. Sampai sebuah berkas cahaya merah dari seorang sniper menempel di tangannya. Ia bisa melihat bahwa cahaya merah dari penembak jitu biasanya berbentuk lingkaran, sedang yang itu berbentuk bintang. "Kerja kalian cepat juga!" gumam Alisya tersenyum mengetahui kalau mereka adalah pengawal dari ayahnya. "Angkat tanganmu jika kau bisa mendengarku bocah tengil." Bentak nenek Alisya dari kejauhan yang sengaja ia keluarkan dengan ferekuensi yang cukup tinggi. "Wow, sejak kapan nenek bisa melakukan ini? Ini sudah yang kedua kalinya aku mendengar suara nenek dengan frekuensi seperti itu." Alisya melambai dengan ceria dan Bahagia mengetahui kalau neneknya sedang menjaganya dari kejauhan. "Kalau bukan pak Dimas yang memberitahu kami, apa yang akan kamu lakukan dengan melawan mereka yang bersenjata lengkap dengan tangan mungil mu itu!" marah nenek Alisya yang menarik nafas dalam untuk bisa mengeluarkan suara dengan frekuensi yang tinggi. Ia mengeluarkan energi yang cukup banyak untuk bisa mengeluarkan suara seperti itu. "Sepertinya dia sedang berbicara dengan neneknya, tapi dimana?" Ucap Adith mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. "Dia atas atap gedung!" tunjuk Karin setelah melihat ada dua orang di atas sana yang ia bisa kenali kalau salah satunya adalah nenek Alisya. "Lakukan cepat, kami sudah mengetahu semua situasinya dari Mus yang sudah di amankan oleh salah satu bawahan Ayahmu! Kami akan melindungimu." Jelas neneknya langsung mengambil posisi yang biasa ia lakukan. "Aku serahkan pada nenek!" ucap Alisya langsung membuka pintu kontainer tersebut dengan cepat. Zein dan Riyan tidak bisa mengalihkan padangan mereka dari Ryu dan Rinto mengingat mereka sedang berusaha untuk menyelamatkan para wanita yang berasal dari container yang dibuka oleh Ryu. "Cepatlah! Mereka sudah mulai menyadari kehadiran kita!" ucap Riyan saat melihat beberapa anggota mulai berlarian menuju ke tempat mereka. "Kau bisa berjalan?" tanya Ryu kepada seorang wanita yang terlihat masih muda dengan luka-luka yang cukup parah dibanding dengan yang lainnya. Wanita itu hanya terdiam melihat wajah Ryu yang tampan. Ia seolah merasa sudah berada di alam lain ketika mengangkat wajahnya dan melihat wajah Ryu dari jarak yang cukup dekat. Sudah tak ada waktu lagi, Ryu terpaksa langsung membopongnya untuk pergi dari sana. Tepat saat itu, sebuah tembakan menghentikan langkahnya yang baru saja ingin keluar namun tembakan itu mengenai pintu container yang langsung membuat beberapa wanita yang sudah mendekati Rinto berteriak keras dan Rinto juga ikut menunduk karena kaget. Seseorang langsung melayangkan tendangan kepada Ryu yang dengan cepat dapat di tangkis oleh Ryu namun ia hampir saja menjatuhkan wanita yang digendongnya. Wanita itu seolah merasa lingkungan disekitarnya bergerak sangat lambat saat Ryu sedang menangkap kepalanya. "Tunggu sebentar!" ucap Ryu menurunkannya dengan lembut lalu bergerak cepat langsung melindungi wanita tersebut dengan tetap berada di sampingnya untuk melindungi dirinya. Beberapa orang mulai bermunculan dan Rinto juga tampak sudah masuk kedalam mode tempur saat salah seorang wanita yang harus tertangkap ketika ia berlari menghampiri Rinto. Namun saat Rinto berhasil melompat tinggi untuk menendang orang tersebut, sebuah tembakan langsung melumpuhkan beberapa orang lainnya yang datang menghampirinya. "Wow, sepertinya bala bantuan sudah sampai kemari." Seru Rinto sambil menghantam leher bagian depan salah seorang yang datang menghampirinya. Ryu pun mendapat perlidungan yang sama dari kejauhan. Suasana tampak semakin kacau dengan beberapa tembakan yang dilayangka kepada Ryu yang kemudian mereka juga jatuh satu persatu karena serangan dari kejauhan. "Brengsek! Apa yang sedang terjadi sebenarnya?" Bos Mus yang berda di dalam gedung langsung keluar melihat banyaknya bunyi tembakan dari berbagai arah. "Sepertinya ada yang sudah membocorkan informasi mengenai transaksi malam ini Bos!" ucap seorang pengawal yang sudah berlari menghampiri bos nya. "Lakukan sesuatu! Jangan biarkan mereka yang menyusup itu lolos." Perintah Bos nya dengan penuh amarah. "Ini bukan sekedar penyusupan, tapi ini adalah penyergapan dari satuan khusus. Mereka sudah melumpuhkan beberapa anggota kita dan berhasil meloloskan 2 kontainer dengan cepat." Seru salah seorang lainnya yang langsung membuat bos itu memucat. Tanpa berpikir lama lagi, ia langsung mencoba untuk melarikan diri dari sana. "Emi, aku sudah membuka container kedua tapi aku masih belum menemukan seorang anak-anak. Siapa nama adikmu?" teriak Alisya sembari merebut senjata dari salah seorang yang berada tak jauh dari container berikutnya yang ia tuju. "Hani, Namanya Hani. Dia anak perempuan berusia 12 tahun." Ucap Emi dengan suara yang terburu-buru. "Oke. Kau jangan kahwatir, aku akan berusaha mencarinya!" Alisya langsung melompat dari atas kontainer mendaratkan lutunya ke leher sesorang yang sedang mencarinya. Kemudian menangkap senjata dari seorang lainnya dan menembakkan senjata tersebut ke kedua kakinya. Sedang seorang yang berada dibelakangnya sudah di amankan dengan cepat oleh neneknya dan Alisya bergerak cepat tak perduli pada titik butanya karena neneknya terus mengamati setiap Gerakan yang akan dilakukan oleh Alisya. "Mereka berdua sangat hebat!" ucap Adith terus mengamati mereka dari kejauhan. "Nenek Alisya sudah sangat lama bersama Alisya sehingga mereka sudah memiliki kepercayaan yang sangat tinggi satu sama lainnya." Jelas Karin yang melihat dari kejauhan orang yang di taksirnya sebagai Mus sudah menuju ke mobilnya untuk melarikan diri. "Sepertinya kita berdua harus melakukan hal yang lain." Ucap Adith yang terlihat memiliki pemikiran yang sama dengan Karin. "Aku serahkan pengawasan pada kalian, tetap pantau terus keadaan mereka." teriak Karin yang langsung meluncur turun tanpa menggunakan tangga yang tanpa ragu-ragu lagi langsung di ikuti oleh Adith. Chapter 333 - Jenius Kecil "Caleb" Alisya berhasil sampai pada kontainer terakhir yang ia harap bisa menemukan adik Emi disana. Begitu ia membuka kontainer tersebut, bukan main terkejutnya Alisya saat melihat isi di dalam kontainer tersebut yang di penuhi oleh banyak anak-anak kecil hingga remaja meringkuk di sudut karena takut mendengar kekacauan yang ada di luar. "Apa kalian baik-baik saja?" cahaya yang sangat minim membuatnya cukup kesulitan untuk mengenali wajah mereka satu persatu. Setelah mendengar suara lembut Alisya, salah seorang dari mereka mencoba untuk memberanikan diri mendekat ke arah Alisya. Dengan tubuh yang gemetar ia melangkah perlahan-lahan untuk memastikan keadaan. "Apa yang kamu inginkan?" tanya nya dengan suara gemetar yang ia coba ucapkan dengan suara tegas. "Menyelamatkan kalian!" ucap Alisya sembari meletakkan senjata api yang ia rebut sebelumnya secara perlahan-lahan dan kemudian menendang senjata tersebut dengan sedikit jauh darinya untuk membuat mereka percaya padanya. Melihat Alisya yang terlihat benar-benar ingin menyelamatkan mereka, membuat anak-anak itu langsung berlarian memeluk Alisya dan menangis dengan keras. Mereka dipenuhi rasa takut dan rasa syukur karena akhirnya ada yang datang untuk menyelamatkan mereka. "Terima kasih, kau laki-laki yang hebat!" ucap Alisya kepada seorang anak laki-laki yang terlihat sudah berani melindungi anak-anak yang ada di dalam sana. Anak itu berumur sekitar 10 tahun dimata Alisya, namun keberaniannya sungguh membuat Alisya kagum. Ia yang sebelumnya terlihat begitu tegar dan kuat langsung ikut menangis mendengar ucapan Alisya yang hangat kepadanya. Alisya tersenyum dan menaikkan kepalan tinjunya kepada anak itu yang di sambut dengan kepalan tinju kecilnya sembari terisak-isak. "Siapa namamu?" tanya Alisya kepada anak laki-laki tersebut. "Caleb kak!" ucapnya sembari menghapus air matanya. "Caleb berasala dari Bahasa Arab yang berarti gagah berani. Sangat cocok dengan namamu dek!" Alisya langsung mengusap kuat rambutnya karena bangga. "Apa ada yang bernama Hani disini?" Alisya duduk dan mengsejajarkan posisinya dengan mereka semua untuk bertanya kepada mereka yang dengan polosnya mereka menggeleng pelan. "Belum ada lagi yang masuk kedalam ini sejak¡­ 3 hari." Ucap Caleb sembari menghitung jari tangannya dengan yakin. "Kau bisa menghitungnya hanya berdasarkan saat terakhir kali kamu masuk?" tebak Alisya melihat dari caranya menghitung jarinya. Alisya merasa sedang melihat seorang Adith kecil dihadapannya. Caleb mengangguk pelan dengan senyuman penuh kebanggaan. Dari pakaiannya, Alisya bisa tau kalau anak ini bukanlah anak biasa saja melainkan seorang anak cerdas dari keturunan orang berada. Alisya tak yakin kenapa anak itu bisa berada disana, namun Alisya berpikir bahwa mungkin saja anak itu merupakan kasus penculikan. "Aku tak menemukan adik Emi disini, sepertinya ia masih berada di tempat yang berbeda." Ucap Alisya kepada teman-temannya. "Aku menemukannya, aku melihat masih ada seorang anak di salah satu mobil yang sedang di masuki oleh Bos mereka." Ucap Karin yang terus berlari menuju kea rah parkiran mobil Bos tersebut. "Aku dan Karin akan mencoba menghambat mereka." Adith langsung menutup salah satu jalan dengan mengarahkan beberapa Ban besar di tengah jalan sebelum mobil tersebut mengarah kepada mereka. "Oke, aku akan segera kesana. Hati-hati, mereka masih memiliki senjata lengkap." Alisya langsung mengeluarkan anak-anak itu satu persatu. "Kakak mau kemana?" tanya mereka cepat karena takut akan di tinggalkan oleh Alisya. "Kalian tenang saja, jangan khawatir. Lihat pak polisi sudah datang untuk menyelamatkan kalian." Alisya langsung memberikan tanda untuk beberapa anggota Ayahnya yang sudah datang untuk menyelamatkan anak-ank tersebut. "Tapi kak¡­" mereka masih berusaha untuk menghentikan Alisya. "Kamu percaya pada kakak kan? Mereka orang-orang yang bersama kakak. Jadi mereka takkan menyakiti kalian, kita akan bertemu lagi begitu kakak menemukan adik teman kakak yang tadi kakak tanyakan. Oke?" Alisya terus berusaha membujuk mereka sambil menatap ke arah Caleb berharap agar ia bisa mengarahkan teman-temannya yang lain. "Aku yakin kamu pasti berani menghadapi semua ini, sekarang bantu kakak untuk arahkan teman-teman mu keluar dari sini. Aku titip ini dan pegang baik-baik, karena setelah ini aku akan menemuimu." Pinta Alisya kepadanya yang dengan cepat dianggukkan oleh Caleb dengan tatapan mantap. Mendapat titipan dari Alisya semakin membuatnya yakin dan berani. "Bagus!" Alisya langsung mengangguk kepada anggota Ayahnya kemudian berlari dengan cepat menuju ke tempat Adith dan Karin. Alisya berlari dengan memanjat kontainer dengan gampangnya kemudian berlari dan melompat dari satu kontainer ke kontainer yang lainnya. Jika dia harus berlari dibawah, maka dia harus berlari memutar yang akan menghabiskan banyak waktu. "Apa semuanya sudah kau selamatkan?" tanya Rinto kepada Ryu yang datang meghampirinya bersama seorang wanita yang terluka. "Ya, kita bisa pergi ketempat persembunyian mereka untuk memastikan keselamatan mereka." Ryu dengan cepat mengangkat tubuh wanita tersebut di bantu oleh Rinto menuju ke tempat persembunyian yang sudah mereka sediakan dimana Yogi sudah menunggu mereka disana. "Kalian baik-baik saja?" tanya Yogi cepat saat melihat Ryu dan Rinto membawa seorang wanita turun dengan susah payah karena medannya yang cukup terjal. "Kami baik-baik saja. Bagaimana dengan yang lain?" tanya Rinto kepada Yogi untuk memastikan mereka semua. "Aku sudah bertanya kepada mereka apakah masih ada temannya yang tertinggal, tapi sepertinya sudah dia yang mereka maksud." Yogi langsung masuk kedalam Busnya kembali untuk melihat mereka semua. "Kalau begitu bawa mereka ke kantor polisi terdekat, mereka sudah mengetahui situasinya dari ayah Alisya sehingga sebentar lagi semuanya akan berkumpul disini." Ucap Ryu langsung mengarahkan Yogi dengan cepat. Yogi langsung mengangguk paham dan dengan cepat membunyikan bisnya segera meluncur pergi dari sana sedang Ryu dan Rinto kembali ke dalam dermaga untuk menyelamatkan beberapa dari mereka yang masih tersisa. "Dimana posisi kalian?" tanya Alisya cepat saat ia semakin dekat namun dari kejauhan ia bisa melihat sebuah mobil yang sudah memutar arah karena melihat jalan tertutupi oleh ban-ban besar yang sudah di sebar oleh Adith dan Karin sebelumnya. "Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Adith saat melihat Alisya tengah berlari dari satu tiang menuju ke tiang lainnya. "Menghentikan mereka tentunya!!!" Alisya sudah mendarat di atas mobil mereka dengan keras. "Sialan!" ucap si Bos yang langsung mengarahkan senjatanya kepada atap mobilnya. Alisya menghindar dengan berpegang erat pada tepian mobil lalu menendang dengan keras kepala si Bos dari jendela mobil dan ia berhasil masuk kedalam. Si Bos tersebut tak tinggal diam sehingga ia dengan keras memukul Alisya yang masih dapat di tangkisnya namun Alisya harus bergelantungan pada pintu mobil yang sudah setengah terbuka. "Jalan terus jangan berhenti." Perintahnya kepada anak buahnya yang sedang mengemudikan mobil dengan ugal-ugalan mencari jalan keluar. Bosnya terus berusaha menjatuhkan Alisya dengan memberikan beberapa tembakan yang bisa di hindari oleh Alisya. Tubuh Alisya yang hampir saja menabrak ujung kontainer dengan cepat ia angkat lalu dengan satu dorongan kuat, ia menendang si Bos dengan kuat yang langsung membentur pintu mobil dengan sangat kuat hingga ia pingsan. Alisya merebut pistolnya kemudian mengarahkan kepada anak buahnya yang berada di kursi kemudi setelah menghantam salah seorang temannya yang berada di sebelahnya dengan menggunakan ujung pitol tersebut ke bagial pelipisnya lalu membanting kepalanya dengan keras pada bagian depan mobil. "Jika kau ingin selamat, maka seharusnya kau tau apa yang harus kau lakukan saat ini." Perintah Alisya kepadanya dengan todongan pistol pada bagian kepalanya. Ia dengan perlahan-lahan menghentikan mobil tersebut tepat di hadapan banyak mobil polisi yang sudah berdatangan satu persatu. "Kenapa kau selalu saja mendatangi bahaya." Ayah Alisya datang menghampiri Alisya yang sudah melepaskan Adik Emi yang terikat pada kursi bagian belakang mobil. "Maafkan aku, tapi aku tak bisa membiarkan teman-temanku dalam kesulitan." Ucap Alisya yang cengengesan merasa kalau yang ia lakukan memang berbahaya. Dengan bantuan dari Ayah Alisya, mereka semua berhasil menyelamatkan semua orang-orang termasuk menangkap para penjahatnya. Chapter 334 - Liontin Kenangan Melihat Alisya yang sudah berbicara dengan Ayahnya membuat Adith dengan cepat berlari menghampiri mereka bersama dengan Karin. "Om!" sapa Adith kepada Ayah Alisya yang di jawab dengan senyuman dan anggukan pelan. "Syukurlah kau baik-baik saja. Sebaiknya kau jangan mudah terpancing untuk ikut dalam bahaya karena anak ini." Geram Ayah Alisya menatap Alisya tajam. Adith tersenyum merasa lucu dengan sikap geram Ayah Alisya. "Kau baik-baik saja?" tanya Adtih mengkhawatirkan Alisya yang baru saja terjun bebas ke atas atap mobil yang melaju kencang. "Aman!" ucapnya dengan wajah sumringah yang membuat Karin kesal karena sikap santainya itu. "Kau pikir dirimu Iron Man? Berhentilah membahayakan dirimu sendiri?" Karin berbicara dengan mengeraskan rahangnya sambil mencubit Alisya karena kesal dan gemas. "Tidak ada cara lain. Jika tidak seperti itu, mereka bisa lolos dengan mudah." Ucap Alisya membelai lembut kepala adik Emi yang terus memeluknya dengan erat karena masih takut akan situasinya. "Namamu Hani kan? Kakak mu Emi sebentar lagi akan datang." Ucap Adith tertunduk membelai lembut kepalanya yang langsung memberikannya senyum ceria karena sangat menyukai Adith yang terlihat seperti orang baik baginya. "Hati-hati, pria itu suka mematahkan hati wanita." Bisik Alisya kepada Hani dengan senyuman liciknya. Adith hanya tertawa pelan melihat ekspresi Hani yang dengan cepat berubah menjadi membencinya. "Kali ini Om akan membiarkan kalian mengingat kalian semua baik-baik saja, tapi lain kali jika kalian masih terlibat dalam hal seperti ini maka kalian akan mendapatkan hukuman dariku." Ancam Ayah Alisya yang tidak ia arahkan kepada teman-teman Alisya melainkan kepada Alisya seorang dengan tatapan yang selama ini selalu di lihat oleh Alisya setiap kali ayahnya melatih dirinya. Tubuh Alisya bergetar hebat saat melihat ayahnya mengatakan itu membuat Adith bingung dengan reaksi Alisya namun setelah menoleh kepda Karin, Karin juga menunjukkan ekspresi yang tak jauh berbeda. Barulah Adith paham bahwa mungkin saja apa yang dikatakan oleh Ayah Alisya bukanlah sebuah omong kosong. "Hani¡­ Hani,,," Emi berlari dari kejauhan menghampiri adiknya dengan air mata yang mengalir deras. Hani adiknya juga tak kalah kerasnya memanggil kakaknya. "Kakak kemana saja seharian? Ibu sampai kewalahan menghadapi mereka bertiga." Ucap Hani di sela-sela tangisnya. "Ibu baik-baik saja sekarang, dia sudah ada dirumah sakit untuk menemani ayah. Ayah juga sudah sadarkan diri." Emi mendapatkan infomasi tersebut dari Ryu dan Rinto yang telah kembali setelah bertemu dengan Yogi. "Dimana anak-anak yang aku selamatkan itu dibawa?" Alisya langsung kembali teringat kepada Caleb yang sudah ia titipkan sesuatu yang sangat penting bagi Alisya kepadanya. Ia harus mengambilnya kembali dengan menemuinya. "Mereka semua sudah di bawa ke kantor polisi terdekat untuk kembali di pertemukan dengan orang tua mereka, sedang yang para wanita akan kami pulangkan kerumah masing-masing." Jelas Ayahnya tersenyum hangat kepada Emi yang sudah menemukan adiknya. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Aku harus menemui seorang anak kecil yang jenius." Alisya tertawa pelan melihat ke arah Adith karena anak itu mengingatkan Alisya kepadanya. Mereka segera meninggalkan ayahnya yang dengan cepat mengurus semua permasalahan disana karena tak ingin anak dan teman-teman Alisya diketahui terlibat dalam operasi penyelamatan tersebut meski banyak dari pihak kepolisian sangat menyayangkan keputusan ayah Alisya. Sesampainya Alisya dan yang lainnya disana, beberapa anak-anak sudah mulai terlihat pergi bersama kedua orang tuanya sedangkan beberapa yang lainnya masih saling berpelukan dan menangis dalam pelukan kedua orang tuanya. "Mana anak yang kamu bilang mirip seperti Adith itu?" tanya Riyan penasaran dengan cerita Alisya saat mereka menuju ke tempat itu. "Dia anak laki-laki berusia 10 tahun, aku harap anak itu belum pergi dari sini." Alisya terus melempar penglihatannya ke seluruh ruangan tersebut. "Kenapa kakak lama sekali? Aku hampir berpikir kalau kakak tidak akan datang menemuiku." Caleb muncul dari belakang mereka dengan tatapan dingin karena ia sudah menunggu selama hampir 3 jam di kanto polisi tersebut. "Wow, dia benar sangat mirip seperti Adith." Zein menunduk melihat anak itu dan menatap ke arah Adith sambil tertawa pelan. "Jadi kakak berhasil menemukan anak yang bernama Hani itu." Caleb merogoh kantongnya mencari benda yang sebelumnya dititipkan oleh Alisya. "Setidaknya dia masih punya sopan santun." Ucap Rinto mengingat bagaimana Adith dulu begitu arogan dan dingin. "Syukurlah kamu belum pergi dan menyimpannya dengan baik, apa orang tuamu sudah berada disini?" tanya Alisya belum meraih benda yang sedang di pegang oleh Caleb tersebut. "Jangan pernah memberikan benda sepenting ini kepada orang lain lagi berikutnya. Dan satu hal lagi, kakak terlalu mudah percaya pada orang lain, dan itu sangat buruk." Seorang ibu tiba-tiba muncul dan menggetok pelan kepala Caleb. "Sudah Umi bilang jangan suka jalan sendiri. Maaf anak saya suka berbicara seperti orang dewasa." Ucapnya dengan tersenyum canggung kepada Alisya dan yang lainnya. "hahaha, tidak apa¡­ apa!" Alisya kaget karena ibu yang masih terlihat cukup muda berwajah arab dengan jilbabnya yang Panjang langsung memegang tangan Alisya dan memeluknya dengan erat. "Terimakasih banyak, kamu sudah menyelamatkan anak saya. Jika bukan karena kamu, aku takt ahu apa yang harus aku lakukan. Meskipun dia terlihat berani, anak ini hanya selalu bersikap kuat dihadapan orang lain." Ucap ibunya yang sudah menitikkan air matanya karena penuh syukur kepada Alisya. Alisya bisa melihat kalau Caleb sudah menceritakan semuanya kepada ibunya dan juga memperlihatkan benda yang berupa kalung liontin yang ketika liontin tersebut di pegang, sebuah gambar video akan terputar otomatis sehingga ibu Caleb mengenali wajah Alisya berdasarkan gambar tersebut. "Kau yakin memberikan liontin dari ibumu kepada anak itu?" tanya Karin kepada Alisya saat mereka sudah berada di jalan pulang. "Ya, aku hara pia juga bisa menciptakan kenangan itu bersama ibunya dan menyimpannya pada memori kalung tersebut. Kalung itu memiliki memori tak terbatas dan bisa menampung segala macam data di dalamnya." Alisya melemparkan pandangannya ke luar jendela sembari tersenyum mengingat semua kenangan bersama ibunya. "Kenangan yang kau punya bersama ibumu akan tertanam dalam ingatan dan hatimu." Adith mengenggam tangan Alisya dengan lembut yang membuat Alisya jadi semakin yakin akan keputusannya memberikan Liontin tersebut kepada Caleb. Meski begitu, malam itu mereka mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga karena berhasil menyelamatkan banyak orang. Alisya dan teman-temannya yang lain semakin merasa semakin bisa memahami satu sama lainnya berdasarkan apa yang sudah mereka jalani hari ini. Dan untuk Emi, dia tidak akan pernah lagi meragukan mereka semua. Chapter 335 - Selesai Ujian "Dua minggu yang lalu adalah ujian sekolah, dan sekarang Ujian Nasional sudah kami selesaikan juga. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat sejak kejadian menegangkan yang terakhir kali." Aurelia bergumam sendiri menatap langit sembari menunggu teman-temannya keluar dari ruang ujian yang sama dengannya. "Puhaaa¡­" Beni menarik nafas dalam seolah ia habis menahan nafas selama ujian di dalam kelas. "Uahhhh, rasanya lega sekali¡­!" Gani melemaskan tubuhnya tepat setelah ia keluar dari ruangan ujiannya. "Rasanya aku sudah ingin muntah terlalu lama menatap layar Komputer tersebut." Feby keluar dengan wajah yang sudah terlihat pucat pasih. "Aku juga merasakan hal yang sama. Bahkan tulisan itu terlihat mulai bergerak liar dimataku." Emi memijat matanya pelan untuk mengembalikan auto focus matanya yang ia rasa kacau. "Bagaimana dengan yang lainnya ya? Apa mereka sudah keluar dari ruangan ujian juga?" tanya Gina melihat semua siswa sudah mulai berhamburan di luar ruangan ujian. "Ayo kita lihat Alisya dan yang lainnya." Ajak Adora yang mendapat ruangan yang berbeda dengan Alisya dan yang lainnya. Mereka sibuk melihat ke kiri dan ke kanan di dalam ruang ujian ke dua dan begitu pula di ruang ujian ke tiga dan ke empat hingga ke lima, Adora tak menemukan Alisya dan yang lainnya berada disana. "Kalian mencari Alisya? Aku lihat dia sudah berada di kantin bersama 3 elite sekolah." Seru salah seorang siswa yang melihat gelagat dari Adora dan teman-temannya yang sedang mencari Alisya. "Di kantin? Wah.. hebat sekali mereka sudah secepat kilat berada disana tanpa menunggu kita." Aurelia berjalan dengan penuh amarah karena bukan hanya Alisya yang ikut meninggalkannya, tapi juga kekasihnya Yogi tak berada disana. "Entah kenapa aku juga kesal karenanya." Seru Gina yang langsung mengejar Aurelia dengan cepat. Adora dan yang lainnya hanya tertawa pelan melihat Aurelia yang selalu saja memiliki sifat yang gampang meledak-ledak dalam situasi apapun. Aurelia yang semula ingin marah tiba-tiba tertegun kaget saat menuju ke kantin tak satupun orang berada disana. "Aurelia, lihat disana!" tunjuk Gani pada keributan yang berada pada bagian taman kompleks tak jauh dari tempat mereka. "Apa yang mereka lakukan disana?" Adora bingung saat melihat semua siswa tengah berkumpul disana sembari memegang piring yang berisi makanan. Karena penasaran, mereka dengan cepat berlari menuju ketempat itu dan melihat Alisya serta yang lainnya tengah membawa beberapa menu makanan ke atas meja panjang yang dimana banyak guru-guru sudah duduk disana dengan nyaman termasuk pak Richard kepala sekolah mereka. Para guru kelas elite dan kelas biasa duduk di satu meja yang sama tanpa memikirkan status elite dan biasa lagi karena hari itu adalah hari terakhir para siswa ujian sehingga sekolah sengaja mengadakan acara makan bersama dengan seluruh guru yang hadir dan para peserta ujian. Ibu Vivian dan ibu Arni terlihat duduk berdampingan sembari mengobrol dengan riuh dan juga terus bertegur sapa dengan para siswa lainnya. "Hei, apa yang kalian lakukan disitu? Jangan bengong saja!" panggil Rinto cepat kepada Aurelia dan yang lainnya yang hanya menatap kebingungan. "Aku masih mencoba memproses apa yang sedang terjadi disini." Ucap Feby yang merasa otaknya masih belum bisa memahami apa yang sedang dilihatnya. Beberapa siswa lain yang datang dengan cepat menyesuaikan diri bahkan terlihat sangat bahagia dan langsung bercanda tawa dengan yang lainnya. "Kalau kalian disitu terus, kalian akan kehabisan makanan!" pancing Karin dengan memperlihatkan sepiring penuh kepiting rebus dan sebelah tangannya juga membawa sepiring penuh udang saos tiram yang terlihat sangat menggiurkan. "Kalian tidak lapar?" tanya Beni dengan mulut yang sudah menggigit cumi-cumi yang memenuhi mulutnya. "Kau akan kelaparan jika hanya terdiam disitu." Yogi langsung menarik tangan Aurelia dan membukakan kursi untuknya. Dihadapannya sudah terhidang banyak makanan mewah yang langsung spontan membuat perut Aurelia berbunyi dengan keras. Mereka semua larut dalam suasana yang belum pernah terjadi selama ini dimana siswa elite dan siswa biasa berada pada satu tempat yang sama dan meja yang sama. Kehidupan sekolah mereka yang sudah akan berakhir membuat mereka membuang status elite dan lainnya untuk saat itu. "Baiklah, kalau begitu silahkan lanjutkan makan kalian karena kami harus pergi sekarang!" seru Alisya meneguk minuman dinginnya setelah selesai berbicara. "Eh? Loh.. Kalian mau kemana?" tanya Riyan cepat dengan mulut yang terisi. "Makan jangan sambil berbicara, udara akan saat kau berbicara akan mendorong epiglotis yang menutup tenggorokanmu akan terbuka sehingga makanan akan bingung mencari jalur mana yang harus ia lewati. Ini yang biasanya menyebabkan makan akan salah masuk dan kau bisa tersedak dan sesak nafas karena makan yang masuk di jalur yang salah." Ucap Zein yang mencoba mengingatkan Riyan sebelum masalah terjadi padanya. "Kalian mau¡­ ohok ohokk ohkkkk!" Beni yang ingin berbicara segera tersedak oleh makan yang belum sempat ia telan. "Dan akan selalu ada orang bodoh yang sudah diberi peringatan tapi masih saja melakukan hal tersebut." Rinto menggeleng-geleng tak percaya kepada Beni yang dengan jelas mendengar apa yang diakatakan oleh Zein sebelumnya. "Kami harus ke clinik untuk melakukan suntik tetanus sebagai salah satu syarat dalam melakukan pernikahan." Ucap Adith tersenyum memandangi Alisya karena sudah tak sabar lagi. "AKu baru ingat kalau kalian akan segera menikah!." Seru Yogi cepat sembari menuangkan air minum ke gelasnya dan gelas Aurelia. "Jadi kalian sudah mendaftarkan pernikahan kalian? Tidak terasa watu berlal begitu cepat dan sekarang kalian sudah tampak benar-benar siap untuk menikah." Karin bersandar ke kursinya mengingat waktu yang berlalu begitu cepat selama mereka menghadapi ujian. "Aku pikir kalian akan menunggu sampai pengumuman pelulusan nanti." Ibu Arni dan Ibu Vivian datang menghampiri mereka semua. "Sepertinya Adith sudah tidak sanggup lagi menahan diri." Ucap ibu Vivian mencoba menggoda Adith yang berdiri di sebelah Alisya. "Aku memang sudah tidak bisa menahan diri lebih lama lagi." Adith yang berbicara secara terang-terangan dengan suara yang terdengar sangat jelas membuat semua orang langsung tebratu-batuk tak percaya. "Eh?" Rinto memiringkan kepalanya. "Oh?" Karin terbengong tak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Ah?" Yogi yang baru saja minum menjatuhkan air dari mulutnya dengan tatapan kosong. "Huh?" Aurelia menyemburkan minumannya yang langsung menciptkan pelangi dari hasil semburannya. "Hah?" Riyan membelalak tak percaya Adith bisa sampai se vulgar itu. "Pufttt" Ryu berusaha menahan tawanya dengan menari nafa dalam. "hahahahahaha¡­ kau memang selalu penuh kejutan Dith!" Zein orang yang pertama tertawa setelah beberapa saat terdiam karena terkejut. "Dia luar biasa!" Feby menutup wajahnya seolah merasakan rasa malu yang sedang di alami oleh Alisya. "Dia sudah menahan diri dengan cukup baik selama ini." Seru Alisya dengan nada santai yang kali ini kembali membuat kepala sekolah Pak Richard terbatuk-batuk dengan keras. "Buakakaka, Kalian berdua memang psangan hebat!" ibu Vivian langsung menaikkan jempolnya mengakui pasangan fenomenal tersebut. "Aku tak menyangka chemistry ke dua orang itu benar-benar kuat." Ucap ibu Arni yang merasa lucu dengan tingkah santai mereka berdua. "Aku harap teman-teman kalian yang lain tidak terpengaruh dengan apa yang kalian lakukan. Kalian memang contoh yang baik dalam hal ini, namun tetap saja tidak semua orang mampu untuk melakukannya." Ucap pak Richard berdiri dari tempatnya memberikan nasehat kepada semua siswanya. "Kalian sudah melakukan yang terbaik dengan menyelesaikan 3 tahun di sekolah ini, untuk itu kejarlah impian kalian sekali lagi." Tambahnya lagi sembari mendekati Adith dan Alisya. "Meski kalian sudah menikah nanti, saya harapkan impian kalian untuk mengejar cita-cita terus berlanjut dan tidak putus hanya karena status kalian sudah jadi suami dan istri. Tanggung jawab seorang suami memang berat begitu pula dengan seorang istri, tapi itu bisa jadi penyemangat bagi kalian untuk tersu maju." Lanjutnya lagi dengan suara yang penuh wibawa. Chapter 336 - Ibu-Ibu Nyinyir "Kamu kenapa Sya? Takut di suntik?" tanya Adith menggoda Alisya yang berada di sampingnya sedang terdiam menunduk. "Tidak, aku hanya nggak menyangka tinggal beberapa minggu lagi kita akhirnya menjadi suami istri. Aku bahkan tidak pernah menyangka kalau aku akan menikah semuda ini." Ucap Alisya sembari tersenyum gugup. "Aku pikir kau sedang gugup karena akan di suntik." Ucap langsung memegang tangan Alisya dengan hangat. Saat ia ingin berbicara dengan Alisya, seorang suster sudah memanggilnya masuk. "Masih mudah tapi sudah mau nikah yah?" salah seorang ibu yang berada disamping Adith tertawa riuh melihat Adith dan Alisya yang mengingatkan kepada masa mudanya. "Iya bu, Alhamdulillah¡­" jawab Adith dengan bangga namun canggung. "Alaaah¡­ paling juga kena MBA bu, anak muda zaman sekarang kan banyakan begitu." Seru salah seorang yang berada di samping ibu sebelumnya. "Hush.. jangan suka kayak gitu mbak. Kan nggak semua orang seperti itu, kali aja anak ini ingin menghindari fitnah dan zina makanya lebih memilih nikah muda." Ibu yang bertanya sebelumnya terlihat lebih berpikir positif dibanding dengan yang sebelanya. "Aduh ibu, jangan terlalu polos lah. Saya yakin kok mereka nikah karena sudah kecelakaan." Serunya lagi yang membuat merasa panas mendengarnya. Adith hanya tertawa pelan mendengar mereka berdua yang sedang berdebat. "Aku baru sadar kalau lagi di Indo, kepedulian mereka kadang suka kelewatan!" batin Adith melirik kea rah pintu menunggu Alisya selesai. "Ibu kenal sama mereka, sampai bisa tau sampai segitunya?" tanya ibu itu lagi masih terus membela Adith karena dimatanya mereka terlihat seperti anak yang baik-baik. "Aduh bu, ibu ini masa iya sih anak mereka yang keliatannya anak SMA sudah nikah. Nih ya kalau nggak percaya kita bukti''in aja, kalau mereka benar pasti mereka nggak akan takut untuk bukti''in." pancingnya kepada Adith yang bersamaan dengan keluarnya Alisya dari ruang pemeriksaan dokter. Adith yang memiliki niat untuk ikut dalam perdebatan mereka hanya menari nafas dalam. Tentu saja tak ada gunanya untuk membuktikan hal yang tak penting kepada mereka namun Adith berpikir kalau terkadang ibu-ibu nyinyir seperti dia perlu diberikan pelajaran berharga juga. "Nah liat itu dia sudah keluar." Ucapnya langsung berlari mendekati Alisya. "Dek, kamu nggak apa-apa disuntik TT pas lagi hamil?" pancingnya dengan cepat. "Hah???" Alisya menatap Adith dengan bingung namun Adith hanya menggeleng dengan ekspresi jengah. Melihat itu Alisya paham akan apa yang sedang di maksud oleh ibu itu. "Loh, kamu hamil kan makanya nikah buru-buru. Padahal ibu taksir usia kamu masih cukup muda." Tambahnya lagi merasa kesal karena mengira Alisya sedang melindungi dirinya. "Hummm¡­ Bukannya ibu-ibu biasanya bisa ngeliat yah kalau orang itu hamil atau enggak?" balas Alisya dengan senyuman datar. "Anak zaman sekarang kan pintar nyembunyi''in. entar kalau udah besar aja baru ngaku." Ucapnya dengan nada suara yang terdengar sewot. "Ibu kenal sama anak ini? Atau Ibu udah periksa kalau dia hamil?" tanya dokter yang merasa kesal mendengar cara bicara ibu tersebut yang terdengar nyolot. "Nggak sih dok¡­" ucapnya canggung. "Hati-hati bu kalau ngomong, apa lagi kalau nggak tau apa-apa. Jangan selalu menilai orang dari luar. Anak ini sama sekali tidak hamil dan saya bisa jamin dia bersih begitu pula dengan calonnya itu." Tegas sang dokter yang membuat ibu itu akhirnya malu karena perbuatannya sendiri. Ibu itu langsung pergi begitu saja dari sana dan tidak jadi untuk melanjutkan pemeriksaanya karena merasa sangat malu. Rasa gengsinya yang tinggi juga membuatnya pergi dari sana tanpa meminta maaf kepada Adith dan Alisya. "Puftttt, hahahahah aku geli melihat wajah ibu tadi yang kena batunya." Alisya tak bisa menahan tawanya mengingat ibu-ibu yang sebelumnya langsung si skak mati oleh sang dokter dengan mantap. "Ibu-ibu zaman sekarang kebanyakan nonton sinetron yang nggak mendidik, jadinya yah kayak gitu!" Adith memasangka helem ke kepala Alisya yang masih terus menikmati tawanya. "Huhh.. kamu nggak lapar Dith?" tanya Alisya setelah menarik nafas dalam. "Lapar, kamu juga pasti lapar kan setelah mengurus sana sini seharian?" Adith segera duduk dan membunyikan motornya. "Iya lapar sekali, kita sampai lupa untuk makan saking seriusnya mengurus." Alisya duduk dengan nyaman di belakang Adith yang sudah mulai melaju dengan kencang mencari tempat untuk mereka makan. "Dith, gimana kalau kita makannya dirumah kamu saja? Sudah lama aku nggak makan masakan ibumu." Ucap Alisya saat mereka sudah akan masuk ke restoran mewah yang biasanya di datangi oleh Adith dan keluarganya. "Dengan senang hati." Ucap Adith yang kembali memakaikan helem kepada Alisya dengan cepat. Sesampainya mereka dirumah, Adith tak menemukan ibunya dimanapun sehingga ia dengan segera memencet tombol 1 di hapenya yang langsung terhubung dengan ibunya. "Ma, mama kok nggak di rumah. Padahal Alisya ada dirumah mau makan masakan mama nih!" ucap Adith memanggil ibunya dengan suara lembut. "Ditya,, kenapa kamu nggak bilang dari tadi sih? Mama kan sekarang udah ikut bapak kamu keluar kota." Ibu Adith terdengar kesal saat mendengar Alisya sudah berada di rumahnya. "Halo Assalamualaikum ma?" Alisya mengambil handphone milik Adith untuk bisa berbicara dengan ibu Adith. "Halo, Wa alaikum salam Sya. Maaf yah, kamu datang pas mama nggak ada dirumah. Mama pikir kalian nggak bakal makan dirumah karena lagi asik ngurus sana sini. Belanja banyak juga kan buat persiapan nikahnya tadi?" tanya ibu Adith yang berbicara secara terus menerus tanpa henti. "Iya ma, tadi habis ngurus langsung lanjut belanja. Tadinya mau makan di luar sih, tapi karena ingat mama jadi Alisya pengen makan masakan mama. Tapi mama lanjut aja yah." Ucap Alisya tak ingin membuat ibu Adith merasa tidak enak karena dirinya. "Oh aku ingat Sya. Tadi sebelum mama pergi mama sudah siapin makan kok untuk Adith, jadi kamu bisa makan bareng dulu sama Adith." Seru ibu Adith cepat mengingat ia sudah menyiapkan makan malam untuk Adith. "Oke ma." Jawab Alisya singkat. Adith dan Alisya saling berpandangan begitu ibunya selesai menelpon. Rasanya cukup canggung karena mereka hanya berdua saja dirumah Adith yang sangat besar tersebut. "Kita langsung makan saja yah!" Adith yang mukanya Nampak memerah dengan cepat mencari alasan agar Alisya tak menyadarinya. Mereka dengan cepat memanaskan makanan yang sebelumnya sudah disediakan oleh ibu Adith dan makan dengan lahap. "Aku mandi dulu yah sebelum ngantar kamu pulang." Ucap Adith merasa gerah setelah selesai membersihkan piring yang telah mereka gunakan dan Alisya mengangguk pelan. Chapter 337 - Jurus Pengendalian Roboh "Dith.. Kamu udah selesai belum sih? Udah larut malam nih!" Alisya yang sudah terlalu lama menunggu Adith selesai mandi langsung naik ke atas mencari Adith. Di atas ranjang Alisya melihat Adith yang sudah berpakaian lengkap namun dengan nafas yang tersengal-sengal ia terbaring menutup wajahnya. "Kamu demam?" Alisya langsung menempelkan tangannya ke dahi Adith yang langsung dirasakan cukup panas oleh Alisya. Adith yang kelelahan karena banyaknya urusan kantor dan sehari penuh pergi bersama Alisya untuk mengurus berbagai kelengkapan serta berbelanja hingga ia tidak memperhatikan kesehatannya yang memburuk karena kekurangan nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya. "Halo ma, Adith tiba-tiba demam nih. Kotak P3K ada dimana yah?" tanya Alisya kepada ibu Adith. "Anak itu emang kebisaan pasti dia habis mandi kan? Dia kalau seharian kelelahan trus dari matahari tuh nggak bisa langsung mandi, pasti langsung demam. Kotaknya ada lemari paling depan dekat ruang tamu Sya." Ucap ibu Adith yang harus mengomel terlebih dahulu. Alisya hanya tersenyum merasakan kerinduan mendapat perhatian dan omelan yang biasanya hanya akan diberikan oleh seorang ibu seperti itu. "Malam ini kamu bisa temenin Adith dulu kan? Sekarang sudah terlalu larut buat mama balik lagi, jadi besok pagi mama kan ambil penerbangan awal." Pinta ibu Adith sebelum mengakhiri telponnya dengan Alisya. Alisya dengan segera mencari obat penurun demam yang sudah di beritahukan oleh ibu Adith dan juga pengukur suhu tubuh yang dengan cepat ia pasangkan pada tubuh Adith. Karena Adith baru beranjak 18 tahun, Alisya tidak yakin untuk memberinya Aspirin karena resikonya yang bisa menyebabkan pembengkakkan dan lever sehingga ia hanya memberikan ibuprofen yang dosisnya lebih aman. Melihat Adith yang berpakaian cukup tebal membuat Alisya dengan cepat melepaskan pakaian tebal tersebut dam membiarkan Adith memakai pakaian dalam tipisnya dan memberikan selimut tipis agar tubuhnya rileks dan untuk meningkatkan sirkulasi udara supaya Adith bisa tetap sejuk karena pakaian atau selimut yang tebal dapat memerangkap panas dan memperlama demam. "Jika aku tahu kalau kamu tak bisa segera mandi setelah seharian di luar, maka aku akan melarangmu dengan keras tadi." Ucap Alisya duduk di samping Adith sembari menurunkan suhu kamar Adith ke suhu 25 derajat celcius. Suhu tinggi dapat memperpanjang durasi demam dan menyebabkan keringat berlebih yang dapat mengakibatkan dehidrasi. Beberapa saat kemudian Alisya menyeka tubuh Adith dengan air hangat untuk merangsang keringat yang menyejukkan tubuh, meningkatkan sirkulasi darah, dan mengurangi penyumbatan di hidung yang disebabkan oleh flu dan pilek. "Ah.. sepertinya aku demam lagi." Adith bangun setelah tubuhnya jauh lebih segar dan merasakan haus yang membuat lehernya mengering. Setelah minum air yang sudah di sediakan oleh Alisya di meja sebelah ranjangnya, ia melihat Alisya yang sudah tertidur di bagian bawah kakinya. "Sudah jam 2 malam, sepertinya aku memang tak bisa mengantarkanmu pulang." Adith tak bisa menghubungi nenek Alisya karena sudah cukup larut sehingga ia memutuskan untuk menjelaskannya di pagi hari. "Kau sudah bangun? Bagaimana dengan demammu?" Alisya tersadar dengan Adith yang sedang berusaha untuk turun dari ranjangnya. Alisya dengan cepat memegang dahi Adith dari jarak yang sangat dekat sampai Adith harus menjauh karena jantungnya yang bedetak kencang. "Naiklah ke atas sini, lehermu pasti sakit karena tidur dengan posisi seperti itu." Ucap Adith yang membuat Alisya langsung memerah dengan ajakan Adith. "Kau ingin kita tidur satu ranjang? Kita belum muhrim Dith, tahan-tahan sedikit." Goda Alisya yang membuat Adith jadi gugup. "Dasar, aku akan berada di kamar sebelah dan kau bisa tidur dengan nyaman disini." Ucap Adith berdiri dari kasurnya. "Eh? Kau ingin meninggalkanku sendirian disini? Kau kan bisa tidur di sofa itu? Aku belum pernah tidur di tempat lain sebelumnya." terang Alisya cepat tak mengira kalau Adith akan pergi keruangan yang berbeda dengannya. Melihat pandangan Alisya yang sedang memelas kepadanya membuat Adith menuntun Alisya duduk di tepi ranjang. "Kau tau kan aku sudah berusaha menahan diri selama berada di dekatmu? Saat ini tak ada siapapun dirumah dan jika aku terus berada disini, aku bisa goyah dan aku takkan membiarkanmu tidur untuk malam ini. Apa kamu mau?" tatap Adith kepada Alisya dari jarak yang cukup dekat dengan menunduk dan kedua tangan Adith berada di kedua sisi Alisya. Alisya hanya terdiam menatap Adith tak tahu apa yang harus ia katakan yang membuat Adith mendesah kesal. "Huffftt, dengar yah! Aku sudah susah payah untuk menahan nafsuku setiap kali berduaan denganmu. Jurus pengendalianku selalu saja roboh meski aku sudah berusaha mati-matian dan sekarang kau malah membuka kesempatan dan memasang ekspresi minta di serang seperti ini?" Adith langsung menjepit kedua pipi Alisya yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan. "Akhu kyan hak minsa hiserang atau huka hesempasan unsuk isu, ahu hanya ingin hamu veraha hisini untuh menemani hu (Aku kan nggak minta di serang atau buka kesempatan itu, aku hanya ingin kamu berada disini untuk menemaniku)" ucap Alisya masih dengan pipi yang di jepit rapat oleh Adith karena kesal. "Kamu tidak usah mencari alasan. Pokoknya aku nggak mau "Itu" terjadi sebelum waktunya!" Adith semakin geram dengan tingkah Alisya yang terlihat santai. "Aku hanya masih ingin bersamamu, nggak tahu rasanya aku nggak mau berpisah darimu. Lagi pula aku juga tidak masalah kok kalau kamu¡­" Alisya melepas tangan Adith kemudian menempelkannya di kedua dadanya. "Puing¡­ puing,, puing.. puing.." Akal sehat Adith langsung melayang lepas dari tubuh Adith. Dari semua ujian pertahanan dan pengendalian yang sudah dia terima, inilah ujian yang sudah mencapai ambang batasnya. "Ya Ampun Sya!!! Is¡­ Is.. Is apa sih?? Istighfar Sya! Oke, aku akan tetap disini tapi janji jangan melakukan ini lagi." Adith dengan cepat mengangkat kedua tangannya karena kaget. "Siap Bos! Nih bantal kamu, kamu bisa tidur di sofa itu saja." Tunjuk Alisya pada sofa yang berada di sebelah ranjangnya yang biasa Adith gunakan untuk membaca sambil bersandar. "Dasar, kucing liar ini sampai kapan akan menggoda imanku sih!" batin Adith yang menerima lemparan bantal dari Alisya yang kembali memasang ekspresi polosnya dengan santai. "Dith, kamu sudah tidur?" tanya Alisya yang masih belum bisa menutup matanya. Adith hanya menjawab dengan mulut yang tertutup sembari menutup kedua matanya dengan satu lengannya. "Aku ingin tanya, sejak kapan kamu menyukaiku?" tanya Alisya penasaran karena tak tahu persis kenapa Adith begitu terang-terangan mengungkapkan perasaanya kepada Alisya. "Sejak pertama kali kita bertemu." Yang Adith maksudkan adalah saat dimana Alisya menolongnya sewaktu kecil. "Benarkah? Apa itu waktu kita sama-sama terlambat di hari senin saat upacara pertama ketika kita masuk sekolah?" tanya Alisya lagi yang sudah menoleh ke arah Adith. Meski berat dan tak ingin mengiyakan apa yang dikatakan oleh Alisya, Adith hanya mengangguk pelan dengan kembali bersuara dengan mulut tertutup. "Sudah berapa mantan yang kau punya?" tanya Alisya dengan ragu-ragu karena ia teringat akan Aurelia. "Tidak ada, aku tidak pernah berpacaran dengan orang lain sebelumnya. Untuk Aurelia, aku hanya salah mengira tentang perasaanku padanya." Ucap Adith dengan suara yang mulai terdengar pelan. "Kalau begitu, sudah berapa kali kamu berciuman?" tanya Alisya lagi dengan eskpresi wajah yang khawatir. "Belum pernah, baru kamu yang pertama." Ucap Adith dengan suara yang makin samar dan tenggelam. "Ternyata baik dia maupun aku, ini sama-sama baru yang pertama." Batin Alisya yang sudah terduduk memandang Adith. "Dith.. Sudah tidur yah?" Alisya menghampiri Adith dan duduk di sebelahnya . "Kau tahu? Kamu juga Orang yang pertama kali aku cintai." Gumam Alisya membelai pipi Adith dengan lembut dan mendaratkan ciumannya ke bibir Adith. "Sabar Dith! Sabar.. Sisa dua minggu lagi." Batin Adith sembari mengepalkan tangannya dengan sangat kuat karena jantungnya yang berdebar sangat kencang. Chapter 338 - Rencana Jahat Ibu Adith "Loh, rumah kok sunyi. Bukannya Alisya ada dirumah?" tanya Ayah Adith saat masuk kedalam rumah namun tak ada suara ribut di dalam rumah. "Ini kan baru jam 7 Pagi, mungkin Alisya masih tidur karena begadang semalaman untuk menjaga Adith yang demam." Ucap Ibu Adith langsung menaruh barang-barangnya. "Demam Adith masih belum turun? Apa kali ini dia sakit cukup parah?" tanya Ayah Adith lagi sembari mengikuti istrinya untuk menaruh jasnya terlebih dahulu. "Dari suara Alisya semalam, sepertinya demamnya cukup tinggi. Tapi Alisya tau apa yang harus dia lakukan kepada Adith." terang Ibu Adith segera menuju ke atas. Karena merasa sangat khawatir kepada kondisi Adith, keduanya dengan segera menuju ke atas dan melihat kamar Adith terbuka dengan lebar. Bukan main terkejut keduanya saat masuk menemukan Adith yang bertelanjang dada sedang terbaring berpelukan dengan Alisya yang berada di atas dadanya. "Ehem.. Ehem!" Ayahnya langsung terbatuk-batuk dengan cukup keras, sengaja untuk membangunkan keduanya. "Pa, Ma. Kalian sudah pulang?" tanya Adith menggosok matanya yang masih belum bisa melihat dengan jelas. Ia berusaha bangun dari tidurnya namun merasakan beban yang cukup berat di tubuhnya. Adith membelalakkan matanya tak percaya karena ia tidak ingat persis bagaimana ia sudah berakhir di atas ranjang bersama Alisya. "Bentar Pa, Ma! Adith bisa jelasin, i.. i.. ini tidak seperti yang kalian pikirkan." Adith berusaha keras melepas Alisya yang sedang memeluknya dengan erat. "Ummhhh¡­ Bapak sama Mama sudah pulang?" ucap Alisya berusaha bangkit dari tidurnya. "Aku nggak nyangka kalian bisa melakukan ini disaat belum waktunya!" Ayah Adith marah melihat apa yang sedang terjadi dengan keduanya. "Aku memang tidur bersama dia. Bukan maksud aku, kami memang seranjang tapi kami tak melakukan apapun semalam" ucap Adith sekali lagi berusaha untuk mencoba menjelaskan kepada kedua orang tuanya. Adith tidak ingin kedua orangtuanya berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya terlebih terhadap Alisya karena Adith sangat menghargai Alisya melebihi apapun dan tidak ingin mereka menilai buruk Alisya atas apa yang tak sengaja ia lakukan. "Adith? Aku nggak nyangka kamu bisa melakukan ini padaku!" Alisya langsung menatap Adith dengan penuh rasa kecewa. "Eh buset, nih anak malah nambah bumbu." Batin Adith yang kaget dengan reaksi Alisya. "Kalian tau apa yang sedang kalian lakukan saat ini adalah sebuah kesalahan besar?" tambah Ibu Adith yang menatap Adith dengan kecewa. "Nggak Ma, tolong dengarkan penjelasan Adith dulu. Sya, ini juga tidak seperti yang kamu pikirkan. Kita tak melakukan apapun semalam dan aku bisa jamin kalau kamu baik-baik saja. Bersih!!!" Adith dengan tegas meyakinkan Alisya atas apa yang sedang terjadi. "Kau sugguh tega Dith, aku nggak nyangka kamu bisa melakukan ini. Jika memang benar apa yang kamu katakana, maka seharusnya kamu tidak bertelanjang dada seperti ini." Terang Alisya menunjuk ke tubuh Adith yang setengah terbuka. Adith melihat ketubuhnya yang dengan terburu-buru ia langsung menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya. "Sya, percaya padaku! Aku takkan mungkin pernah melakukan hal tersebut tanpa se izinmu. Semalam mungkin karena aku kedinginan, tanpa sadar aku malah naik ke atas ranjang dan terbaring di sampingmu. Dan tanpa sadar juga aku membuka bajuku mungkin karena kepanasan." Jelas Panjang lebar berharap mereka bisa percaya kepada apa yang dikatakannya. "Se Izinku? Jadi karena semalam aku sudah memberimu izin makanya kamu melakukan ini?" suara Alisya mulai terdengar parau. "Adith!!!" Teriak ibu Alisya penuh amarah. Tak tahan lagi, ibu Adith langsung keluar dari kamar Adith di ikuti oleh Ayahnya yang tak ingin berkata apa-apa lagi. Adith tak tahu bagaimana cara menjelaskan yang sebenarnya kepada mereka semuanya. Kepalanya mulai sakit dan ia tertunduk menarik nafas dalam mencoba untuk menenangkan diri dulu. "hahahaha¡­" Adith yang baru turun dari kamarnya mendengar Alisya dan Ibunya yang sudah tertawa terbaha-bahak. "Kalian berdua memang kejam. Aku nggak menyangka kalian tega sampai membuat Adith seperti itu." Ucap Ayahnya duduk di atas meja sembari memperhatikan Alisya dan Istrinya yang tengah memasak. "Tapi sepertinya bapak juga menikmati kejadian tadi. Aku malah nggak nyangka kalau mama bisa sampai kepikiran ide seperti itu." Ucap Alisya dengan wajah manjanya. "Rasanya sudah lama aku tak tertawa sekeras ini." Ucap ibu Adith yang mengusap air matanya karena terus tertawa. Adith yang terus mendengar percakapan mereka menjadi sangat kesal dan muncul dari balik tembok. "Apa maksud dari percakapan kalian?" tatap Adith kepada mereka semua dengan ekspresi serius. Alisya tersenyum merasa bersalah kepada Adith setelah melihat wajah Adith yang terlihat letih dan lesu memikirkan bagaimana cara untuk membersihkan Namanya kepada mereka. "Jadi kejadian yang sebenarnya adalah¡­" Alisya mulai bercerita dengan memegang tangan Adith sembari tersenyum canggung. **** "Apa yang sedang mereka berdua lakukan???" ibu Adith membelalakan tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya tersebut. Terlebih karena tubuh Alisya setengah tertutupi oleh selimut sehingga ia tidak bisa melihat dengan jelas semuanya. "Aku tak percaya bisa melihat Adith dalam ke adaan seperti ini." Ayah Adith menggeleng dan mengusap matanya sekali lagi mengira bahwa ia sedang salah dalam melihat. "Ini Momen yang sangat bagus, Harus aku abadikan." Ibu Adith segera mengeluarkan Handphonenya untuk memotret Adith dan Alisya. Mendengar suara kamera dari Ibu Adith dan suara Ayah Adith yang menarik nafas dalam saat melihat mereka berdua masuk kedalam kamar Adith membuat Alisya tersadar dari tidurnya. Ia pun terkaget bukan main saat menyadari dirinya sedang terbaring berdampingan dengan Adith tepat di atas dadanya. "Ini bukan¡­" ibu Adith langsung memasang telunjuknya ke bibirnya untuk menyuruh Alisya agar tak membuat keributan. Alisya mengerutkan keningnya bingung sedang Ayah Adith hanya memukul jidatnya dengan pelan. Alisya semakin bingun saat melihat senyuman mengerikan ibu Adith yang sedang memberi isyarat untuk kembali tertidur dan mengikuti skenario yang akan ia lakukan. "Tapi itu bukannya sedikit keterlaluan?" seru Ayah Adith masih tak setuju dengan rencana jahat istrinya. "Kapan lagi bisa melihat Adith tidak sewaspada ini? Selama ini dia tidak pernah melakukan kesalahan, setidaknya kali ini aku sangat ingin melihat bagaimana reaksinya." Seru ibu Adith dengan suara pelan. "Tapi Ma.." Alisya yang tadinya tak ingin setuju juga dengan cepat berpura-pura tidur saat melihat Adith mulai sadarkan diri. "Maafkan aku Adith, ku harap kali ini kamu tidak membunuhku. Ibumu sungguh luar biasa." Batin Alisya saat Adith tengah terkejut dengan kehadiran kedua orang tuanya. "Jadi Seperti itulah yang terjadi Dith." Cerita Alisya membuat Adith langsung menarik nafas lega. Chapter 339 - 2 Minggu Kemudian Adith menatap kedua orang tuanya beberapa saat lalu ia tersenyum dan tertawa pelan. Masih tak pernah terlintas di bayangannya kalau mereka akan melakukan hal tersebut. "Jangan pernah lakukan hal itu lagi." Ucap Adith sembari memegang pipi Alisya dengan tatapan khawatir. Alisya hanya tertawa singkat kemudian mengangguk dengan cepat. Mereka akhirnya sarapan dengan heboh karena ibu Adith terus menceritakan bagaimana ekspresi Adith sebelumnya serta dengan penuh semangat menunjukkan foto hasil jepretannya kepada Adith dan Alisya. "Aku harap kalian bisa terus bahagia." Ucap Ayah Adith saat mengantar Alisya kedepan pintu gerbang. "Hati-hati di jalan!" teriak ibunya sembari terus melambai ke arah mereka berdua yang di sambut dengan lambaian penuh semangat dari Alisya. Kedua orang tua Adith sangat bersyukur melihat kebahagiaan yang terlihat jelas di wajah Adith dan Alisya saat mereka bersama. Kedua orang tuanya berharap bahwa Adith dan Alisya takkan pernah terpisah lagi dan akan terus bersama selamanya. 2 Minggu kemudian¡­ Sejak pertama kali bertemu, melalui banyak hal yang tak terduga bahkan dengan tiap kebersamaan yang begitu dramatis serta segala macam konflik yang sudah mereka lalui, akhirnya sampai juga dimana mereka mengikat janji suci. "Wow, kau terlihat tampan. Apa kau sudah siap? Sudah saatnya untuk kita berangkat." Yogi masuk tanpa mengetuk pintu melihat Adith yang tengah memasang kopiahnya dengan gagah. "Yup! Aku sudah siap." Adith terlihat sangat bersinar dengan baju kokoh berwarna putih dengan bordiran berwarna gold yang sederhana namun nampak mewah di tubuh Adith. "Aku tau kau sangat ingin untuk Alisya mengetahui tentang masa lalu kita saat bersama, tapi aku rasa seperti ini juga tak masalah selama kalian saling mencintai. Cinta yang sedari dulu sudah tumbuh pada akhirnya hari ini akan Bersatu juga." Ucap Yogi yang melihat sedikit ekspresi kesedihan dari sikap diam Adith. "Sejak kapan kau menjadi sebijak itu?" tatap Adith dengan senyuman yang terlihat licik. "Ayo berangkat! Semoga kau tidak salah dalam mengucapkan kalimat Ijab Kabulnya." Ucap Yogi beralu pergi meninggalkan Adith. "Woy, yang ada aku jadi makin gugup tau!" bentak Adith keluar dari kamarnya. "Ehem.. Tidak buruk!" komentar Zein melihat Adith yang sudah berpakaian rapi. "Kau terlihat sangat luar biasa Dith!" seru Rinto yang ikut bersama Zein dan yang lainnya untuk mengantar Adith sebagai mempelai pria. "Waah.. Aku tau kak Adith memang tampan, tapi kali ini kak Adith orang tertampan di dunia!" seorang anak kecil yang merupakan sepupu Adith Nampak memuji Adith dengan melebarkan tangannya membentuk bola yang langsung membuat semua orang jadi tertawa karenanya. "Eh Dith, kami sudah menyediakan hadiah khusus buat kamu loh. Karena ini masih pertama, jadi itu seharusnya manjur buat sebentar malam." Beni dan Gani tertawa cekikikan memikirkan hadiah yang sudah mereka siapkan untuk Adith. "Jangan memberiku hal yang macam-macam jika kalian ingin hidup kalian selamat hari ini." Ancam Adith merasa curiga terhadap apa yang akan dilakukan oleh para perusuh tersebut. "Ijab Kabulnya sudah di hafal? Kalau tiga kali salah, nikahnya batal loh¡­" goda Riyan dengan berpura-pura berbisik di telinga Adith sedangkan suaranya begitu jelas terdengar oleh semua orang. "Brengsek.. kamu lagi doain saya?" tatap Adith tajam yang semakin membuat dirinya gugup karena ucapan Riyan. "Saya Cuma ngingatin Dith!" Riyan dengan cepat menghindar takut mendapat serangan dari Adith. "Jangan khawatir, mama yakin kamu pasti bisa. Sekarang kamu Tarik nafas dalam-dalam dan positifkan pikiranmu." Ibu Adith datang menghampiri Adith dan menenangkannya, sedang ayah Adith hanya tersenyum dengan anggukan pelan. Di sisi lain¡­ "Alisya udah selesai dandan belum?" tanya Karin yang baru saja datang bersama para wanita lainnya. "Dia sudah siap kok, cuman dia sedang gugup sekarang." Jawab Akiko yang juga baru saja keluar dari kamar Alisya. Karin dan yang lainnya segera masuk menemui Alisya yang tengah dipakaikan sebuah kerudung berwarna putih yang menjuntai panjang menutup rambutnya bagian belakang. Sedangkan rambut Alisya yang terurai sebagian di depannya terlihat begitu hitam dan mempesona menambah kecantikan Alisya yang terlihat seperti Cinderella di pagi hari itu. "Wah.. tante, Alisya benar-benar terlihat sangat cantik. Hebat sekali tante memilihnya." Puji Adora kepada Tante Loly yang harus merasa jengkel setiap kali Adora memanggilnya tante namun juga merasa bangga mendengar pujiannya. "Tante memang memiliki selera yang cukup tinggi." Tambah Emi sangat kagum melihat kecantikan Alisya. "Begitu hari ini selesai, kamu harus mempraktekkan apa yang sudah kami katakana semalam." Seru Aurelia yang semalaman suntuk mengobrolkan akan apa yang dilakukan Adith dan Alisya saat mereka telah halal nanti. "Benar, buat dia menjadi laki-laki paling perkasa di dunia ini." Tambah Karin yang langsung membuat Alisya semakin panas dan berkeringat karena ucapan teman-temannya tersebut. "Astaga kalian ngomong apa sih? Nggak malu apa?" ucap Alisya kesal sembari terus menarik nafas dalam untuk menenangkan diri. "Kalian belum selesai? Rombongan Adith sudah datang. Alisya di minta untuk segera turun." Ryu yang tak perlu lagi mengetuk pintu yang sudah terbuka lebar dengan cepat mengingatkan mereka. Suara shalawatan terdengar begitu merdu mengiringi rombongan keluarga Adith yang datang. Pemandu acarapun segera mempersilahkan Adith dan keluarganya untuk memasuki rumah Alisya dan langsung duduk dihadapan para penghulu termasuk ayah Alisya yang akan menikahkan secara langsung keduanya. "Sekarang saat sudah berhadapan dengan ayah Alisya aku jadi semakin gugup." Batin Adith yang tak bisa duduk dengan tenang karena terlalu gugup. "Mempelai wanita di persilahkan untuk turun." Sang pemandu segera memanggil Alisya yang sudah bersiap untuk turun. Alisya yang mengenakan gaun panjang berwana putih dengan sentuhan Gold pada setiap kembang bordiran yang terletak di bagian pinggang hingga menjuntai luas ke lantai membuatnya terlihat sangat menawan. Adith bahkan sampai membeku terpaku melihat kecantikan Alisya yang tak membutuhkan polesan yang berlebihan. "Wajahnya terlihat gugup." Batin Alisya saat melihat Adith yang menatapnya tajam. "Bukan hanya dia, tentu saja aku juga merasakan hal yang sama, karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri dan dia menjadi seorang suami." Pikirnya lagi terus menuruni tangga secara perlahan-lahan ditemani oleh neneknya dan teman-temannya yang mengembangkan gaun Alisya dengan indah. "Dit¡­ Adith? Kenapa melamun? Ijab kabulnya sudah akan dimulai nih." Panggil pak penghulu kepada Adith yang tak bereaksi selama beberapa saat setelah ia selesai mengarahkan tahapan yang akan dilakukan. "Dia lagi mikirin entar malam tuh!" teriak Yogi yang langsung membuat semua orang disana tertawa terbahak-bahak sedangkan Adith yang sudah mengulurkan tangannya menunduk dalam menahan rasa malunya. Chapter 340 - Hari Pernikahan "Oke kita mulai Ijab Kabulnya yah¡­" ucap pak penghulu memberikan aba-abanya yang dengan cepat membuat semua orang jadi terdiam. Mereka semua dengan khusyu ingin mendengarkan dan melihat seluruh prosesi pernikahan Adith yang tidak memakai Adat apapun namun cukup dengan cara yang islami dan tampak sederhana namun megah serta dihadiri oleh sanak kerbat serta orang-orang terdekat keduanya. "Pertama kita coba latihan dulu sekali. Ayo pak silahkan." Ucap pak penghulu mengarahkan Alisya untuk berlatih terlebih dahulu. Entah karena apa, bukan hanya Adith dan Alisya saja yang gugup namun Ayah Alisya juga tampak sangat gugup. Tangannya bahkan terasa sangat basah karena keringatan serta pupil matanya yang juga tak berhenti bergetar. "Bapak ngapain ikut gemetar juga?" bisik Alisya mendekatkan diri kepada ayahnya. "Wah.. si Bapak malah ikutan grogi." Suara pak penghulu yang sedang berbicara menggunakan mik membuat hal itu jadi terlihat jelas sehingga semuanya kembali tertawa dengan riuh. Setelah cukup tenang, mereka melakukan satu kali latihan yang kemudian dilanjutkan dengan prosesi Ijab Kabul yang sesungguhnya. Baik Ayah Alisya maupun Adith sudah terlihat menarik nafas dalam secara bersamaan untuk siap melakukan prosesi tersebut. Alisya yang berusaha untuk tetap tenang pun merasakan kegugupan yang cukup mendalam. Jantungnya terus saja berdetak dengan sangat cepat bahkan ia merasa seolah tubuhnya ikut berdetak karenanya. "Bismillah¡­ Saya nikah kan kamu dengan anak saya yang bernama Ralisya Quenby Lesham Binti Arrayan Parviz Lesham, dengan seorang pria bernama Radithya Azura Narendra Bin Rei Fansyah Narendra, dengan Mas Kawin Cincin seberat 5 Gram dan seperangkat alat sholat dibayar Tuuunai!!!" suara Ayah Alisya terdengar tegas dan lantang dalam satu kalimat. "Saya terima nikahnya Ralisya Quenby Lesham Binti Arrayan Parviz Lesham, dengan Mas Kawin Cincin seberat 5 Gram dan seperangkat alat sholat dibayar Tunai!!!" tegas Adith mantap dalam satu helaan nafas dan suaranya tak bergetar sama sekali. "Bagaimana saksi?" tanya pak penghulu kepada para Saksi yang berada di kedua sisi mempelai. Para saksi sedang terlihat berdiskusi dengan saling memandang satu sama lain sedang seluruh orang yang menyaksikan seolah sedang menahan nafas mendengar apa yang di katakana oleh para saksi. "SAH!!!" Teriak mereka kompak yang si sambut oleh sahut-sahutan oleh seluruh orang yang melihat prosesi tersebut. "Selamat yah¡­ Sudah Sah loh!" teriak Zein dan yang lainnya sembari bertepuk tangan heboh. "Adith hebat¡­ Hanya sekali ucap." Tambah Adora dengan penuh rasa kagum. "Ciyeee,, yang sudah Sah!" goda Karin melihat keduanya yang Nampak menunduk malu. "Kenapa malah aku yang deg-dengan sih.." teriak Emi yang terlihat meleleh melihat Adith dan Alisya yang akhirnya sah juga. "Selamat menempuh hidup baru!" ucap Riyan dengan penuh semangat. "Akhirnya kita Bersatu juga." Batin Adith memandang Alisya. "Kali ini detakkan jantung yang kurasakan bukan karena gugup, melainkan karena rasa Bahagia yang sedang meletup hebat dan terasa sangat nyaman." Batin Alisya yang hanya melirik sekilah kepada Adith karena malu. "Debaran ini adalah perasaan lega karena sekarang kami akhirnya Resmi menjadi sepasang Suami Istri." Lanjut Adith lagi yang kini memandang Ayah Alisya yang sudah berlinangan air mata. Melihat Ayah Alisya yang menangis tanpa sadar, semua orang yang berada di ruangan dan menyaksikan prosesi tersebut ikut berlinangan air mata tak terkecuali Ayah Adith dan Kakek Alisya yang sudah tentu diketahui memiliki wibawa yang sangat tinggi. "Untuk hari ini, keluarkan saja semua." Ucap Ibu Adith yang melihat suaminya sedang memalingkan wajah berusaha menahan tangisnya. "Kau tak perlu berusaha menahannya, ini adalah tangis haru dan Bahagia yang tak perlu disembunyikan." Nenek Alisya memeluk erat suaminya yang terlihat berusaha menggertakkan giginya. "Ahh.. aku tak bisa menahan air mataku. Rasanya penuh syukur dan Bahagia sekali." Seru Feby mengusap kedua matanya yang banjir akan air mata. "Kekkon o omedetou¡­." Teriak Akiko yang juga merasakan bahagia dengan pernikahan keduanya. "Sekarang saatnya sang mempelai pria memasangkan cincin kepada mempelai wanita." Sang pemandu terdengar kembali mengarahkan jalannya proses pernikahan Adith dan Alisya. Adith dengan lembut memasangkan cicin ke tangan Alisya yang ramping dan mulus. Cincin itu melingkar dengan sempurna di jarinya yang kemudian membuat Alisya meraih tangan Adith dan menciumnya dengan hangat yang kemudian dilanjutkan dengan Adith yang mengecup lembut dahi Alisya. "Sya¡­" panggil Adith dengan lembut. "Ummm?" Alisya menaikkan keningnya sembari tersenyum manis. "Kita harus Bahagia mulai hari ini dan selama-lamanya." Ucap Adith dengan wajah yang begitu Bahagia. "Tentu saja!" Jawab Alisya singkat yang membuat Adith langsung menempelkan dahinya ked ahi Alisya dengan penuh syukur. Prosesi pernikahan mereka pada pagi itu di akhiri dengan proses penanda tanganan buku nikah yang di bimbing oleh pak penghulu. Setelah semua berakhir, mereka akhirnya melanjutkan ke acara Resepsi yang akan di adakan di hotel pada malam hari sehingga semua orang kembali sibuk untuk menyiapkan acara tersebut sehingga beberapa dari mereka terpaksa harus pulang sejenak untuk kembali mempersiapkan diri untuk menghadiri resepsi pernikahan Adith dan Alisya yang di adakan pada hotel mewah di Jakarta yang bertaraf internasional dan hanya kalangan atas saja yang mampu untuk mengadakan Resepsinya disana. Semua orang sudah bersiap-siap untuk menuju ke hotel tidak terkecuali Adith dan Alisya. Adith yang baru saja masuk kedalam kamar Alisya setelah mengurus beberapa hal melihat Alisya dihadapan cermin tengah kerepotan membuka kerudung yang menutup kepalanya. "Kau tau, hari ini kau terlihat sangat cantic!" bisik Adith dari punggung Alisya sembari membantu Alisya melepas kerudung tersebut. Adith juga kemudian mencium pipi Alisya dengan senyuman nakal. "Kau membuatku takut dengan tatapan mu itu." Alisya bangkit dari tempat duduknya ingin melarikan diri dari hadapan Adith. "Kau mau kemana? Kau sekarang sudah menjadi milikku, jadi sekarang aku tak perlu menahan diri lagi bukan?" ucap Adith menarik Alisya dan melingkarkan tangannya ke pinggang Alisya. "Terimakasih padamu yang sudah berusaha keras selama ini, tapi bisa kah kau menahannya hingga semua ini selesai?" pinta Adith dengan memegang pipi Adith dengan lembut agar Adith bisa menenangkan dirinya terlebih dahulu. Adith tak perduli dan hanya melingkarkan tangannya ke pinggang Alisya dengan erat agar ia tak melarikan diri kemudian menciumi bibir Alisya yang awalnya ia hanya biarkan menempel saja, berikutnya ia menggerakkan bibirnya dan mengisapnya dengan lembut. Tanpa sadar Alisya menutup matanya karena kecupan Adith yang terasa sangat berbeda, tanpa rasa takut ataupun khawatir karena ciuman itu telah halal baginya. "Setidaknya ini tidak masalah kan?" tanya Adith setelah melepas ciumannya dari Alisya. Alisya tersenyum malu kemudian pergi ke ruang ganti di dalam kamarnya dengan jantung yang terus berdebar kencang. Ia tahu kalau mereka sudah halal, tapi tetap saja rasa malu masih menyelimutinya dengan begitu kuat. Adithpun merasakan hal yang sama dengan bersandar di dinding sembari tersenyum malu namun Bahagia. "Inikah nikmatnya halal?" ucap keduanya secara bersaman yang hati keduanya terpaut dengan sangat erat. "Ku harap aku bisa menjadi makmum yang baik bagimu Dith." Ucap Alisya dengan mata yang berbinar-binar haru. "Aku berharap bisa menjadi imam yang bisa menuntunmu dengan baik Sya." Ucap Adith sembari menatap dirinya sendiri di depan cermin. "Kalian sudah siap? Kita harus ke hotel sekarang!" nenek Alisya masuk ke dalam kamar dan menemukan Adith yang sudah berganti pakaian namun belum mengenakan pakaian resminya karena pakaian itu sudah berada di ruang ganti hotel. "Aku sudah siap kok nek!" ucap Adith singkat menatap neneknya dengan senyuman ceria. "Alisya juga sudah siap nek!" Alisya keluar dari kamar gantinya dengan pakaian sederhana dengan alasan yang sama dengan Adith. Merekapun akhirnya segera menuju ke hotel dengan cepat setelah selesai mengambil beberapa barang yang di anggap penting yang akan mereka gunakan pada saat resepsi pernikahan. Mereka pergi bersama orang tua Adith dan yang lainnya. Chapter 341 - Busur Sabit dan Anak Panah Sesampainya mereka dihotel, Adith dengan segera mengarahkan Alisya untuk segera bersiap-siap sedang ia ingin memeriksa persiapan yang sudah dilakukan oleh paman Dimas dan juga asisten kakek Alisya yang jauh-jauh datang dari jepang, yaitu pak Yashashimura yang dibantu oleh Pak Azwar tangan kanan kakeknya. "AKhirnya kau datang juga, aku sudah menunggumu dari tadi karena sudah tak sabar untuk mendandanimu." Tante Prily sahabat dari ibu Alisya menyambut hangat Alisya yang baru saja masuk keruang ganti yang cukup luas disana. "Tante udah lama datangnya?" tanya Alisya yang begitu antusias melihat sahabat ibunya tersebut sudah berada disana. "Belum terlalu lama, aku hanya terlalu semangat!" ucapnya lagi sembari dengan cepat mengarahkan Alisya untuk duduk di kursi riasnya. "Kali ini Alisya serahkan padamu tante." Ucap Alisya tersenyum hangat menatap kearah tantenya. "Tentu saja. Aku akan buat kamu sangat cantik hingga semua orang yang melihatmu akan terpesona dengan kecantikanmu." Seru tante Prily membelai lembut kepala Alisya dengan penuh kasih sayang. Tante Prily langsung memulai mendandani Alisya dengan sangat serius dan penuh perhatian karena ia ingin Alisya terlihat sangat cantik pada hari itu. Setiap kali goresan kuas yang ia torehkan pada wajah Alisya, ia terus saja membayangkan ibu Alisya hingga ia berhenti sebentar untuk menarik nafas dalam menutupi wajah sedihnya. "Aku sangat berharap jika ibumu bisa menyaksikan hari pernikahanmu saat ini. Dia pasti akan menangis haru saat melihat anak gadisnya akhirnya dipersunting oleh orang lain dan tampil begitu mempesona di hari pernikahannya." Tante Prily memegang pipi Alisya dengan hangat yang membuat Alisya menjadi sedikit haru karenanya. "Oke, aku tak bisa berkata apa-apa lagi melihatmu seperti ini." Ucap Karin yang sengaja berkunjung untuk melihat persiapan Alisya. "Kau terlihat sangat luar biasa Alisya, aku jadi sangat iri melihatmu seperti ini." Tambah Aurelia yang ternyata mengikuti langkah Karin dari belakang. "Bisakah kami masuk? Aku tak sabar ingin melihatmu dengan lebih jelas." Pinta Adora yang berada di belakang Aurelia yang sedang mengintip. "Tentu saja! Bukan kah kalian juga sudah siap dengan gaun pesta klian kan?" tanya Alisya yang sudah menyiapkan gaun yang sama untuk mereka semua dengan warna Pink lembut yang senada dengan gaun Alisya yang memiliki train berhias brokat yang membuat Alisya tampak bak putri dari negeri dongeng. "Oke semuanya siapa yang ingin berfoto?" pancing Ryu yang datang dengan kamera DR nya yang ia gunakan untuk memotret setiap momen dari teman-temannya dengan Alisya. Alisya yang mengira hanya ada Karin, Aurelia serta Adora tiba-tiba dikejutkan dengan munculnya semua teman-temannya yang sudah siap dengan dandanan yang menawan. "hahahaha¡­ semua siap?" Alisya tertawa melihat teman-temannya yang langsung menyerbu masuk untuk bisa berfoto dengan seheboh mungkin saat mereka masih dalam ke adaan segar. "Barakallah!!!" Teriak mereka semua secara bersamaan yang langsung bercampur tawa dan kacau dimana Ryu tak membiarkan satu detik dari Gerakan mereka terlewat. Semua bergantu-gantian untuk berfoto dengan Alisya dan Akiko datang untuk merekam keseruan mereka yang berada di dalam ruangan tersebut. Satu persatu tamu udangan mulai berdatangan di hotel mewah tersebut. Semua teman-teman sekolah Adith tak terkecuali ikut hadir untuk memberikan selamat kepada mereka berdua. Kerabat dekat serta lain sebagainya sudah tampak memenuhi ruang resepsi Adith dan Alisya. "Oke semuanya, kalian harus segera ketempat resepsi untuk menyambut semua tamu undangan yang datang!" Ayah Alisya datang untuk mengingatkan mereka agar segera bersiap-siap karena terlihat tamu undangan satu-persatu sudah mulai memasuki hotel. Mendengar ucapan Ayah Alisya, mereka dengan kompak keluar dari rungan Alisya untuk memberikan mereka berdua ruang untuk setidaknya bisa berbincang-bincang terlebih dahulu. Saat hanya tersisa mereka berdua di dalam ruangan itu, kedunya jadi sedikit canggung. "Kau terlihat sangat¡­ Indah!" puji Ayahnya Alisya karena tak tahu kalimat apa yang harus ia lontarkan kepada Alisya. "Bapak juga terlihat sangat¡­. Gagah!" puji Alisya balik yang membuat keduanya jadi tertawa pelan. "Maaf bolekah aku masuk?" tanya Yogi ragu-ragu namun ia memiliki hal yang sangat penting untuk di katakana. "Ada apa? Kenapa kau terlihat panik seperti itu?" tanya Alisya bingun dengan eskpresi Yogi yang tak karuan. "Aku tak tahu bagaimana menyampaikannya, tapi sepertinya Adith sedang dalam bahaya sekarang!" ucap Yogi dengan wajah yang sangat tegang. "Apa maksudmu?" ucap Alisya yang jantungnya dengan cepat berdebar penuh rasa takut. "Aku sudah mencari Adith dimanapun di hotel ini, dan terakhir aku lihat ia sudah tengah bersiap memakai Jasnya. Namun begitu aku masuk untuk melihatnya, aku hanya melihat jasnya yang sudah tergeletak di lantai dan Adith tak berada disana." Jelas Yogi yang membuat Alisya langsung terduduk lemas. "Mungkin saja dia sedang pergi mengurus sesuatu dengan terburu-buru." Ayah Alisya mencoba untuk berpikir positif. "Tidak, aku menemukan ini tak jauh dari Jasnya yang berada dilantai." Yogi segera memberikan sebuah tablet transparan kepada Alisya. Tepat setelah Alisya memegang tablet tersebut, sebuah gambar hologram yang memperlihatkan video Adith yang sedang ingin memakai Jasnya tiba-tiba dikejutkan dengan suara ketukan dari pintu yang begitu ia dekati, Adith langung terlempar jauh dengan Animasi seekor burung hitam yang seolah sedang menyerang Adith. "Black Falcon?" ucap Yogi saat mengetahui jenis burung yang tampak sedang menyerang Adith tersebut. Selain itu, terdapat sebuah symbol Busur dan anak panah dimana pada busurnya berbentuk bulan sabit. "Apa maksud dari symbol itu?" tanya Yogi penasaran dengan symbol yang muncul tepat sebelum video itu brankhir dan meledak hangus. "Simbol itu adalah symbol dari dewi Artemis yang merupakan tanda sebagai seorang pemburu. Itu artinya Artems telah muncul dan menjadikan Adith sebagai Sandra untuk memacingku pergi menemuinya sebagai mangsa." Terang Alisya menggertakkan giginya penuh amarah. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Yogi sangat mengkhawatirkan keselamatan Adith. "Aku akan mengumpulkan pasukanku untuk.." Ayah Alisya sudah tampak mengambil handphonenya. "Tidak Pa, Artems takkan segan untuk membunuh Adith jika aku tak kesana sendirian saja. Artems sengaja menyadra Adith agar aku saja yang menyelamatkannya, karena jika tidak maka hal yang kita takutkan akan menjadi kenyataan." Ucap Alisya dengan cepat menghentikan Ayahnya untuk tidak bertindak gegabah. "Aku akan pergi kesana sendiri." Tegas Alisya mulai mencoba melepas semua riasannya. Melihat kesungguhan Alisya, Ayah Alisya bisa melihat bagaimana sikap dan jiwa ibu Alisya yang bersemayam di dalam diri Alisya membuat Ayah Alisya yakin dan mempercayai Alisya. Ia tak ragu untuk membiarkan Alisya pergi sendirian karena ia yakin kalau Alisya akan mampu untuk menyelamatkan Adith. Chapter 342 - Saatnya Bergerak Semua orang mulai kacau saat kedua mempelai yang sudah mereka tunggu-tunggu belum muncul sama sekali. Kakek Alisya serta kedua orang tua Adith yang belum mengetahui apa yang sedang terjadi, menjadi khawatir hingga kemudian tiba-tiba saja Ayah Alisya memegang mik dan memberikan pengumuman. "Saya minta maaf kepada semuanya, sang pengantin wanita sedang mengalami sedikit sakit perut karena terlalu gugup." Ucap Ayah Alisya yang langsung membuat semua tamu undangan tertawa mendengarnya. "Maklum, mereka masih muda jadi masih gampang grogi." Mereka saling berbicara satu sama lain sembari tersenyum-senyum memikirkan mereka berdua. "Memikirkan sudah menjadi suami-istri di usia muda pasti cukuplah membuat mereka gugup." Seru yang lainnya. "Terlebih karena keduanya merupakan ahli waris satu-satunya." Tambah yang lainnya dengan semangat. "Anak muda penuh dengan kejutan." Ucap yang lainnya juga merasa lucu dengan sikap mereka berdua. Tak ada satupun dari mereka yang berpikiran curiga akan apa yang sedang terjadi karena mereka seolah bisa memahami sikap polos dari keduanya. "Untuk itu, kami persilahkan semuanya untuk menyantap hidangan yang sudah kami siapkan sembari menunggu keduanya." lanjut ayah Alisya lagi untuk membuat semua tamu undangan bisa merilekskan diri sebelum Adith dan Alisya kembali. Begitu Ayah Alisya turun dari atas panggung, Ayah dan Ibu Adith secar bersamaan datang menghampiri Ayah Alisya karena penasanan. "Apa yang sedang terjadi? Kemana mereka berdua?" Tanya Ibu Adith setengah berbisik kepada Ayah Alisya untuk mencari keberadaan mereka berdua. "Bisakah kalian ikut denganku sebentar?" Ayah Alisya merasa sebaiknya tidak ingin menyembunyikan apa yang sedang terjadi pada Adith. Mereka semua langsung mengikuti langkah kaki Ayah Alisya menuju ruang ganti Alisya dengan pandangan bingung. Kakek dan nenek Alisyapun ikut serta karena melihat ada yang tak beres serang terjadi. "Dimana mereka berdua? Kita tidak bisa membuat tamu menunggu lebih lama lagi." Ucap nenek Alisya khawatir terhadap Alisya dan Adith. "Aku akan menjelaskan semuanya. Tapi sebelum itu, aku akan meminta maaf kepada kalian berdua." Tunjuk Ayah Alisya kepada orang tua Adith dan Alisya. Ayah Alisya merasa bahwa karena Alisya kehidupan Adith ikut terancam dan selalu berada dalam bahaya. Adith mungkin takkan mengalami kejadian tersebut jika ia tidak mengenal Alisya. "Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Kenapa kau harus meminta maaf?" Tanya Ayah Adith kebingungan dengan sikap ayah Alisya. "Adith mungkin sedang dalam bahaya sekarang. Dia di diculik oleh organisasi yang selama ini memburu Alisya. Nyawanya mungkin terancam, tapi Alisya sudah memutuskan untuk pergi menyelamatkannya." Jelas Ayah Alisya dengan tertunduk penuh penyesalan dan kekhawatiran yang mendalam. Ibu Adith terlihat sangat shock dengan apa yang baru saja didengarnya. "Kalian mungkin takkan percaya, tapi dalam hal ini, hanya Alisya yang mampu untuk menyelamatkan Adith." Tambah Yogi yang datang bersama dengan Karin dan Ryu yang ia temukan sudah menguping pembicaraan mereka. "Maafkan kami, tapi melihat sikap paman kami jadi curiga akan apa yang sedang terjadi." Terang Karin merasa tidak enak atas sikapnya. Ayah Adith langsung menepuk pundak ayah Alisya untuk memberikan dukungan kepada dirinya. "Kalau benar seperti itu, maka seharusnya kau tak perlu meminta maaf kepada kami. Ini semua terjadi bukan karena kesalahan dari salah satu anak kita." Tatap Ayah Adith kepada Ayah Alisya yang membuatnya terkejut. "Mereka berdua hanya korban. Dan kami juga sudah mengetahui semua hal yang bersangkutan dengan mereka berdua." Tegas ibu Adith yang berusaha untuk tegar. Ayah Alisya tak tahu kalau mereka sudah mengetahui banyak hal mengenai apa yang terjadi pada Alisya. Ayah Alisya menatap ke arah nenek Alisya yang di jawab dengan anggukan pelan yang kemudian membuat ia paham. "Mereka sudah mengetahui semuanya dari ku, kami tak pernah melewatkan satu hal pun baik dari Alisya maupun dari Adith." Tegas nenek Alisya untuk menghilangkan rasa bersalah Ayah Adith. "Kita terlalu berbahagia sampai melupakan satu hal penting dimana kenyataannya bahwa Alisya adalah orang yang paling dicari oleh organisasi." Kakek Alisya terduduk di kursi merasa telah kecolongan sesuatu. "Fakta bahwa Alisya merupakan buruan mereka tentu saja tidak akan membuat mereka berdiam diri untuk membiarkan Alisya begitu saja." Tambah nenek Alisya lagi. "Tapi mereka juga tidak tahu bahwa Alisya juga memiliki kartu lain." Jelas Yogi menatap kepada Karin dan Ryu. "Jika Alisya sedang pergi untuk menyelamatkan Adith, maka kami juga akan pergi kesana untuk membantu dan menyelamatkan Alisya." Tegas Ryu dengan geram. "Aku takkan memaafkan Alisya yang pergi meninggalkan ku lagi di belakangnya." Tambah Karin yang menggenggam erat tangannya dengan penuh amarah. "Kami akan ikut membantu" ucap pak Yashashimura dalam bahasa jepangnya yang ia maksudkan untuk mengerahkan semua anggota geng nya di kota itu. "Kalian bisa menyerahkan tempat ini pada kami." Pak Azwar dan pak Dimas masuk dengan tatapan serius. "Ini tentu akan menjadi pertempuran yang sulit untuk melawan organisasi, tapi setidaknya kita bisa memberikan tekanan kepada mereka untuk memudahkan Alisya." Ucap Ayah Alisya mulai merasa yakin akan apa yang harus mereka lakukan. "Sudah saatnya untuk kita bergerak menyelamatkan anak-anak kita. Jika kita biarkan mereka seperti ini terus, maka akan ada berapa banyak anak-anak lagi yang akan bernasib sama?" Ucap ibu Adith dengan penuh amarah. Kakek Alisya terdiam sesat lalu ia berkata mengingat ia sudah memiliki persedian senjata yang cukup hasil transaksi yang ia lakukan dengan Arthur. "Sudah saatnya untuk memperlihatkan kepada organisasi mengenai apa yang sudah kita miliki. Sudah saatnya kita menujukkan kekuatan kita yang sebenarnya." Tegas Kakek Alisya bangkit dari tempat duduknya. "Aku takkan pernah membuat cucu semata wayangku untuk menanggung semuanya sendiri lagi. Sudah cukup apa yang selama ini dia alami." Tambah nenek Alisya dengan penuh amarah. "Yashahi, kau bisa mengumpulkan semua orang-orang terhebatmu sekarang." Perintah Kakek Alisya dengan tatapan tajam yang langsung membuat Yashashimura menunduk hormat paham dan keluar dari ruangan tersebut. "Aku akan mengumpulkan pasukanku se segera mungkin untuk melumpuhkan mereka." Ayah Alisya terlihat begitu kebencian yang sangat mendalam. "Kalian berdua bisa ikut denganku, kita akan berada pada garis depan untuk membantu pergerakan Alisya." Nenek Alisya tersenyum dengan penuh keyakinan. "Yogi, tunjukkan kepada kami dimana tempat Alisya sekarang berada. Saat ini saya yakin dia belum sampai disana untuk itu kita tidak boleh membuang-buang waktu lebih lama lagi." Kakek Alisya juga tak tinggal diam menyaksikan semuanya sudah mulai bergerak. Demi orang yang sangat mereka cintai, mereka akhirnya bergerak secara bersamaan menyatukan kekuatan mereka untuk menyelamatkan orang-orang yang penting bagi mereka. Chapter 343 - Kemunculan Artems Alisya dengan penuh waspada masuk kedalam sebuah pabrik tertinggal yang pembangunan nya sudah dihentikan. Tempat itu begitu luas sehingga Alisya masih belum bisa menentukan dimana tempat Adith berada. "Tak ku sangka kau benar-benar datang sendiri, kau terlalu percaya diri." Suara seseorang pria dari kegelapan langsung menghentikan langkah kaki Alisya. Alisya seolah merasa suara itu tak asing baginya, entah kenapa ia seolah pernah mendengarkan suara itu. Namun sulit baginya untuk mengingat suara yang sedang menggema tersebut. "Aku merasa lucu dengan organisasi yang harus mengerahkan banyak orang untuk menangkap ku, kalian bahkan sampai harus memakai sandera sekarang." Alisya tersenyum sinis berdiri di tempat yang tiba-tiba tersorot oleh lampu. "Sandera? Hahahahah kau pikir cara itu untuk memancingmu? Aku hanya menganggapnya sebagai umpan kecil yang tak berguna. Ini bukan gayaku, tapi melihat kau begitu menyukainya membuatku ingin sekali menghancurkan kebahagiaan itu." Suara itu terdengar dari arah lain lagi. "Umpan kecil? Cih, sepertinya sudah menjadi kebiasaan kalian untuk meremehkan orang lain." Ucap Alisya dengan santai. "Oh Ayolah, kau tau betul akan apa yang sedang aku lakukan sekarang. Aku paling suka saat melihat dua kekasih saling berusaha untuk menyelamatkan satu sama lainnya." Jelasnya yang suaranya terdengar dari atas lantai kedua. Saat Alisya ingin mengatakan sesuatu, sebuah gambar video hologram yang memperlihatkan Adith yang terduduk di suatu tempat tersorot lampu terikat kuat dan matanya ditutup. Dari kejauhan terlihat sebuah jam pasir. Jam pasir ini terhubung dengan sebuah alat yang akan melesat jika Alisya tidak menyelamatkan Adith tepat waktu. "Oh¡­. Hohohohohoho, aku suka ekspresi marahmu itu. Ya.. ekspresi itu yang aku inginkan. Sekarang ayo kita lihat apa yang bisa kau lakukan untuk menyelamatkan dia." Ucapnya dengan tertawa keji. Suaranya terdengar begitu mengerikan menghilang bersamaan dengan nyala lampu yang memperlihatkan banyak orang yang sudah berkumpul untuk menghentikan Alisya. "Setetes darah yang keluar dari tubuhnya, maka aku akan membuatmu menyesal Artems!" Bentak Alisya dengan suara menggelegar langsung mengeluarkan aura membunuhnya. Tepat setelah itu satu persatu dari mereka menyerang Alisya secara bersamaan yang membuat Alisya tak perduli lagi yang dengan cepat ia menarik kepala salah seorang dari mereka lalu membantingnya ke tiang besi gudang tersebut dengan cukup keras. Hal itu membuat kepalanya langsung mengucur deras bersamaan dengan seorang lainnya yang Alisya patahkan lehernya. Alisya harus menghindari beberapa benda tumpul dan pedang yang diarahkan kepadanya dengan gerakan yang begitu cepat hingga mereka semua tak bisa melihat arah pergerakan Alisya. "Hummphhh hummphh,," video hologram yang sengaja terus di putarkan dimanapun Alisya berada membuat konsentrasi Alisya buyar sehingga Alisya terlempar dengan sangat keras saat tendangan mengenai dadanya. Ia yang melihat ke arah video Adith membuatnya lengah. Alisya langsung memanjat ke lantai dua dengan mudahnya tanpa melalui tangga dan kembali menyerang mereka satu persatu menggunakan pedang yang tidak sengaja ia rebut dari salah satu diantara mereka. Darah terus saja mengucur deras setiap kali Alisya melangkah memutar tubuhnya, melompat serta menghindar sembari melakukan serangannya. "Sepertinya kemampuannya lumayan." Ucap Artems yang terus menyaksikan Alisya dari kejauhan. "Plang, clang¡­ tang!" Beberapa tembakan yang di arahkan kepadanya dapat di hindari oleh Alisya dengan cepat dan mengenai besi-besi yang ada pada pabrik tersebut. Dengan satu hentakkan, Alisya melompat mendekati salah satu orang yang memegang senjata dan menebas senjata laras panjangnya hingga terbelah dua. Hal itu juga mematahkan pedang Alisya karena tak mampu menahan kekuatan Alisya saat mengayunkan pedangnya. Pedangnya yang terbelah tersebut ia tebaskan kepada pemegang senjata dan patahan yang lainnya ia lemparkan ke arah penembak yang lainnya sehingga ia jatuh kebawah membentur besi dengan keras pada bagian tulang belakangnya. Tembakan terus mengarah kepadanya sedang pedang yang ia pegang tak bisa digunakan lagi sehingga ia melempar pedang di tangannya yang menancap dalam di kepala yang lainnya. "Bertahanlah Dith!" Batin Alisya berharap agar Adith mampu bertahan sampai ia bisa tiba untuk menyelamatkannya. "Kau tetap saja terlihat lemah Alpha, kau sudah menghabiskan waktumu cukup lama." Seru Omega yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Adith dan memegang wajah Adith dengan begitu sensual. "Zy, jadi kau juga terlibat dalam hal ini?" Ucap Alisya yang tentu saja takkan didengar oleh Omega yang sedang berada di dalam video hologram tersebut. "Aku ingin lihat apa yang akan kau lakukan jika melihat ini?" Zy langsung menembak paha Adith yang langsung saja membuat Adith menjerit dengan keras karena sakitnya. "Arrghhhh Alisya, kau jangan umpphhh" Omega sengaja kembali menutup mulut Adith setelah membiarkan suara jeritan Adith terdengar oleh Alisya. "Sialan, apa yang dilakukan oleh perempuan itu disana! Bagaimana dia bisa menemukan tempat itu?" Artems yang tak menduga akan kemunculan Omega disana menjadi sangat marah. "Aku akan membunuhmu karena sudah mengambil kesenangan ku!" Artems dengan cepat menuju ke tempat ia menyekap Adith setelah melihat Omega berada disana. "Aku takkan memaafkanmu kali ini Omega!" Tatapan mata Alisya seketika berubah saat ia tertunduk karena tak ingin melihat wajah Adith saat ia berteriak meringis karena tembakan pada pahanya tersebut. Alisya yang sudah tak memiliki senjata dengan cepat kembali diserang oleh beberapa orang yang terlihat lebih kuat dibanding dengan orang-orang yang sebelumnya di hadapi olehnya. Ia yang bertarung dengan tidak tenang membuatnya beberapa kali mendapat serangan dengan mudah. Saat beberapa orang tersebut maju ingin menghajar Alisya, tiba-tiba saja dari arah kiri dan kanannya sudah melayang dua orang yang dengan cepat menghajar mereka dengan menembak membabi buta dalam jarak yang cukup dekat menggunakan pistol di kedua tangan mereka. "Nona tenangkan dirimu!" Ryu dengan cepat memberi hormat menatap kepada Alisya agar ia kembali tenang. "Kenapa kau selalu saja meninggalkan ku?" Lempar Karin kepada Alisya yang dengan cepat ditangkapnya dan itu adalah sebuah senjata pistol deagle milik Alisya. Senjata pistol tersebut memiliki daya rusak yang sangat luar biasa dengan satu peluru memiliki daya hancur yang setara dengan 3-4 peluru biasa. Pistol itu bisa memuat 7 peluru saja dengan ukuran yang cukup besar seberat 325 gram. "Aku tak berharap kalian datang kemari. Tapi berhubung kalian sudah berada disini, kenapa kita tidak mulai perburuannya?" Alisya tersenyum sembari langsung melesatkan tembakannya yang dengan akurasi tinggi, ia mampu memecahkan kepala beberapa orang dengan cepat. Ryu dan Karin terpencar ke sebelah kiri dan kanan Alisya agar ia bisa dengan lancar melangkah maju. Namun saat ia akan mengisi kembali pelurunya, sebuah tembakan dari kejauhan melesat membunuh seseorang yang akan menembak Alisya dari atas. Tembakan itu dapat dikenali Alisya bahwa itu berasal dari cara menembak neneknya. "Jangan lupakan aku bocah!" Ucap neneknya pelan sembari tersenyum puas. "Fiuuuhh,, nenek tua itu selalu saja membuatku ngery dengan cara menembaknya." Senyum Alisya yang perlahan-lahan emosinya mulai menurun. Tidak sampai disitu saja, orang-orang dari geng Yakuza yang sudah di arahkan oleh kakeknya dengan cepat menyerbu tempat itu dan melumpuhkan semua orang bersenjata yang berada pada bagian luar dan dalam pabrik tersebut menghasilkan ledakkan disana sini. Alisya keluar dari satu gedung pabrik menuju gudang pabrik berikutnya dengan cepat untuk segera menemukan Adith. "Aku sudah menduga kalau dia pasti sudah menyiapkan sesuatu untuk menghadapi kami, tapi dia akan tau bagaimana kekuatan organisasi yang sebenarnya." Artems mengangkat telponnya untuk melakukan panggilan. "Bereskan mereka semua!" Ucapnya tegas kemudian kembali berjalan dengan santai ketempat Adith. Tepat setelah itu, beberapa anggotanya terlihat berguguran satu persatu saat beberapa orang dari mereka melesat cepat merubuhkan mereka satu persatu. "Pergilah, biar kami yang menangani mereka!" Ucap Karin tegas saat mereka sudah berhadapan dengan 2 orang di antaranya. Alisya yang dapat mengukur energi nano mereka bisa melihat kemampuan mereka yang luar biasa. Namun Alisya percaya kepada mereka berdua. Chapter 344 - Wanita Trio Otot Melihat Alisya yang pergi melewati mereka dengan mudah, membuat salah seorang dari mereka mengejarnya. "Eits,, kau mau kemana?" cegat Karin kepada salah seorang dari mereka yang berusaha untuk mengejar Alisya. "Menusia biasa sepertimu punya nyali juga untuk menghadapi kami." Ucapnya dengan penuh amarah karena Karin yang sedang menghentikannya dengan memberikan tendangan atas yang masih dapat di hindarinya. "Meskipun laki-laki ini terlihat tampan dan sayang untuk membunuhnya, tapi sepertinya dia akan cukup berbahaya jika dibiarkan hidup." Ucap salah seorang lagi menatap tajam ke arah Ryu. Alisya yang meninggalkan Karin dan Ryu bersama dua orang dari Black Falcon tersebut dengan cepat menuju ke lokasi berikutnya untuk menemukan Adith sebelum terlambat. Namun begitu melewati dinding dan berbelok, Alisya kembali di hadang oleh 3 orang perempuan yang terlihat begitu kuat dengan kemampuan menyerupai Ophelia. "Sudah kuduga ini takkan mudah." Gumam Alisya melihat mereka yang sudah bersiap dengan senjata mereka masing-masing. Alisya sudah menghabiskan 5 peluru dalam senjatanya dan tersisa 2 peluru lagi yang berarti ia benar-benar harus bisa menghemat pelurunya sebaik mungkin. "Sriiinggg¡­." Sebuah senjata pisau yang mirip seperti cambuk di lempar kesana kemari dengan begitu cepat hingga menggores bahu dan paha Alisya yang membuat Alisya berguling untuk berlindung di balik tiang beton. Alisya melesatkan satu tembakan yang dapat dengan mudah di tangkis menggunakan cambuk pisau yang terhempas kesegala arah dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sulit untuk Alisya mendekat ke arah mereka atau menghadapi wanita bercambuk tersebut tanpa bersembunyi. "Akan sulit untuk menghadapi wanita yang memakai cambuk pisau ini. Tapi sepertinya ini akan sedikit berguna." Tatap Alisya pada sebuah batang besi Panjang yang berada di sampingnya. "Pufftt,,, kau pikir dengan menggunakan tongkat besi itu akan berguna?" ucapnya yang kemudian meningkatkan putaran cambuknya dengan lebih cepat lagi dari pada sebelumnya. "ini bukan tongkat bodoh, Ini Linggis. Apa kau tak pernah melihat linggis?" ucap Alisya santai sembari menangkis beberapa serangan yang datang padanya. Alisya tampak kerepotan saat harus menghadapi mereka satu persatu, saat wanita bercambuk berhenti menyerang, maka wanita pengguna nuncaku dengan cepat melakukan serangan yang langsung menyerang kaki Alisya yang dilanjutkan dengan pengguna besbol yang memukul bagian dada Alisya hingga ia terlempar cukup jauh. "Sial. Mereka sangat kuat, ku rasa tak ada waktu lagi untuk bersantai-santai." Batin Alisya melempar ludahnya yang mengeluarkan darah segar karena pukulan mereka yang cukup keras. Jika pukulan itu mengenai Karin ataupun Ryu, maka sudah dipastikan keduanya akan mengalami patah tulang atau luka yang cukup parah. Alisya berpikir bahwa sebaiknya di harus membunuh mereka bertiga sebelum mereka membunuh teman-temannya. "Oy,, Wanita Trio Otot? Serangan lemah kalian membuatku kesal. Terutama kau pengguna cambuk, kau terlihat sangat jelek saat sedang menghempaskan cambukmu." Pancing Alisya sengaja untuk membuatnya kesal. Wanita itu marah mendengar makian Alisya kepada dirinya dan langsung mengarahkan teman-temannya untuk ikut menyerang Alisya secara bersamaan. Begitu satu lemparan ujung cambuk yang begitu tajam melewati telinganya dan menggores telinganya, Alisya langsung melingkarkan linggis tersebut pada cambuk itu untuk menghentikan pergerakannya. "Sudah ku duga ini akan berguna. Rezeki anak sholeh." Ucap Alisya bersyukur mendapatkan linggis itu disana. Alisya langsung menarik perempuan pemegang cambuk tersebut bertepatan dengan melayangnya kedua wanita lainnya yang memakai nunchaku dan tongkat besbol. Serangan yang sengaja mereka arahkan kepada Alisya malah mengenai kepala rekan mereka yang memegang cambuk tersebut sehingga batok kepalanya pecah seperti bunyi sebuah kelapa yang di pecahkan dengan benda tumpul. Tanpa membuang-buang kesempatan. Alisya lanngsung melingkarkan cambuk pisau kepada salah satu leher wanita pengguna senjata tongkat besbol dan yang satunya lagi Alisya arahkan pistolnya yang tersisa satu peluru saja. Secara bersamaan, wanita bertongkat besbol kepalanya putus sedangkan yang satunya lagi kepalanya hancur berantakan karena tembakan jarak dekat Alisya. "Ohookkkk¡­" Karin terpukul mundur karena tendangan keras yang tepat mengenai dadanya dan hampir terjatuh namun dengan cepat di tangkap oleh Ryu menggunakan punggungnya. "Kau baik-baik saja?" ucap Ryu yang sedang memunggungi Karin dan berusaha membangunkannya dengan menggunakan punggugnya saat Karin hampir saja terjatuh. "Aku baik-baik saja. Mereka cukup kuat, tapi aku punya cara untuk mengalahkan mereka." Bisik Karin yang langsung menjelaskan rencana dia untuk mengalahkan mereka berdua. "Tidak buruk." Ucap Ryu terseyum puas kearah Karin. Saat serangan berikutnya datang, Ryu langsung melempar Karin kea rah sang wanita di hadapannya dengan jarak yang cukup dekat sehingga memubuatnya kaget namun Karin sudah siap dengan tendangan berputarnya yang langsung di ikuti oleh Ryu dengan mengacungkan senjatanya pada arah yang berlawanan. Strategi mereka yang mencoba untuk satu lawan satu yang tidak berguna saat melawan orang yang lebih kuat membuat mereka bekerja sama untuk mengalahkan mereka. Melihat temannya yang tertembak langsung di bagian kepala membuat yang satunya mencoba untu memisahkan serangan Karin dan Ryu. Mereka sempat terspisah untuk sesaat namun setelah itu Bersatu kembali bagaikan magnet dan terus menghadang dari berbagai arah yang jika Ryu bertahan, maka Karin akan menyerang begitu pula sebaliknya hingga satu pukulan telak Karin arahkan ke telinganya yang menganggu keseimbangannya yang dengan satu lompatan, Ryu langsung mematahkan leher wanita itu dengan lututnya di lanjutkan dengan Karin yang menacapkan besi ke bagian perutnya. "Tak ku sangka mereka sekuat ini. Kau cukup beruntung memiliki orang-orang sekuat mereka." Tatap Artems kepada Adith yang langsung menatap balik dengan penuh amarah kepada Artems yang dikenalinya. Tubuh Adith tak berhenti gemetar karena rasa takut yang amat mendalam, namun rasa takut akan kehilangan Alisya jauh menguasainya di banding dengan rasa takut yang sedang dialaminya saat ini. "Aku akan membunuhmu jika kau melakukannya lagi." Artems melayangkan pandangannya kepada Omega yang merupakan anggota organisasi yang tak pernah bisa ia kendalikan. "Sepertinya akan menyenangkan jika bisa melawanmu, tapi belum saatnya!" Omega segera keluar dari tempat itu. Begitu selesai, Karin dan Ryu langsung mengejar ke arah yang dituju oleh Alisya dan mereka menemukan Alisya sedang menatap kosong ke sebuah Gudang yang seolah sangat di kenalinya. Sekelebat ingatan mengenai Gudang tersebut segera saja mengisi kepala Alisya. "Alisya, apa yang terjadi?" tanya Karin cepat menahan tubuh Alisya yang hampir terjatuh. Jam di tangan Alisya berbunyi dengan sangat kencang yang membuat Karin dengan cepat mengambil suntikan penenang Alisya. Alisya langsung menghentikan apa yang akan dilakukan oleh Karin dengan suntikan tersebut, karena Alisya merasa sudah saatnya untuk ia menghadapi kenyataan dibalik semua kenangan yang terus menyakitinya. Chapter 345 - Akhir Perjuangan Dengan susah payah, Alisya berusaha menenangkan dirinya. Dengan menarik nafas dalam, Alisya menegakkan tubuhnya dan melangkah pasti membuka pintu gudang itu yang seketika mengingatkannya kepada sebuah kenangan saat seorang anak kecil melarikan diri dari sana. "Hah hah hah hah.. " Alisya bernafas berat saat melihat sekelebat bayangan itu hampir menabraknya ketika anak itu keluar. "Alisya, apa yang terjadi padamu?" Tanya Karin khawatir dengan kondisi Alisya yang terlihat sangat tersiksa. "Karin, sepertinya nona sedang menghadapi traumanya sekarang. Biarkan saja dia, sudah saatnya untuk dia menghadapi hal tersebut." Ryu segera menghentikan Karin untuk membiarkan Alisya mengatasi kelemahannya. Menekan dadanya dengan kuat, Alisya kembali melangkah masuk kedalam. "Selamat datang, akhirnya kita bisa reuni juga yah!" Ucap Artems yang berdiri tak jauh dari Adith yang terus menggeleng tak ingin Alisya berada disana. "Adith.." tatap Alisya kepada Adith yang masih terikat kuat. Lilin kecil yang membakar tali yang cukup besar itu sudah tak berada disana lagi. "Apa yang sedang dikatakan oleh orang itu? Kenapa ia mengatakan reuni?" Gumam Karin sembari memandang ke arah Ryu yang juga terlihat bingung. "Dulu saat usiamu masih 8 tahun, kau dengan begitu berani kau melawan puluhan anjingku untuk menyelamatkan anak ini. Dan sekarang kau juga berusaha untuk menyelamatkan dia? Sungguh dramatis sekali hahahahah" tawa Artems seketika menggetarkan tubuh Alisya lebih hebat. Adith tampak memberontak tak ingin Artems untuk melanjutkan lagi kata-katanya. "Apa maksudmu?" Tanya Alisya dengan kepala yang berat. Energi nano dalam tubuhnya mulai kacau dan tak menentu membuat tubuhnya memanas dengan cepat. "Hah? Melihat reaksimu kau sepertinya lupa akan sesuatu, bagaimana dengan ini?" Artems lalu menyeret sebuah tongkat golf secara perlahan-lahan yang setiap langkah ia hentakkan dengan keras menuju ke arah Adith. "Arrrgggghhhh" Adith menggeram keras saat Artems melayangkan tongkat tersebut ke paha Adith dengan keras yang kembali mengalirkan darah pada bekas tembakannya. "Hentikan!!!!" Teriak Alisya yang langsung melangkah ingin menghentikan Artems. Namun baru saja dua langkah, Ryu dengan cepat menarik kerah baju Alisya kebelakang yang akhirnya sebuah padang hanya menggores tipis lehernya. Jika saja Ryu tak menarik Alisya, maka tentu saja pedang tersebut berhasil menebas leher Alisya. "Kau kehilangan fokusmu, sampai kau tidak berhati-hati." Tegas Karin mengingatkan Alisya untuk tenang. "Berpikirlah tenang nona, jangan bergerak gegabah." Pinta Ryu yang langsung berdiri dihadapan Alisya untuk waspada saat melihat 5 orang termasuk Omega keluar dari sana. Dan Omegalah yang melayangkan pedang tersebut kepada Alisya dengan maksud untuk benar-benar membunuh Alisya. "Apakah kau sudah mengingatnya?" Pancing Artems sekali lagi sambil memukul-mukul tepi tiang besi menggunakan tongkat golfnya. Alisya menggenggam tangannya dengan erat lalu memukul kepalanya dengan karena sakit. Alisya menggeram keras saat semua memori menyakitkan Itu kembali merangsang otakknya dengan kuat. "Alisya¡­ Alisya¡­ Alisya!!! Sadarlah.." Karin terus berteriak kencang memanggil-manggil nama Alisya yang masih menggeram keras dengan mode shocknya. Energi nano Alisya meledak dengan keras gelombang kejut yang sangat dahsyat hingga melemparkan tubuh Karin dan Ryu dari dekat Alisya. Alisya terlihat mengalami perubahan besar dalam dirinya dengan nafsu membunuh yang sangat besar. "Jadi karena Adith semua kemalangan dalam hidupku terjadi? Penyebab kau menculikku adalah karena aku berhasil menyelamatkan Adith saat itu. Dan karena itu pula aku harus menjadi monster seperti ini dan kehilangan seorang ibu serta tak bisa merasakan hidup normal?" Setiap kata-kata yang dikeluarkan oleh Alisya seketika membuat Adith menitikkan air matanya. Adith menangis mendengar Alisya menyalahkan dirinya atas apa yang menimpanya selama ini. Adith sudah menduga kalau reaksi Alisya akan seperti itu, namun tetap saja hatinya pilu saat melihat tatapan penuh kebencian yang diarahkan kepada dirinya. ""Dia akhirnya menampakkan dirinya yang sebenarnya sekarang. Inilah yang aku tunggu-tunggu selama ini, membunuhmu dengan kemampuan mu yang sebenarnya." Omega langsung melesat menyerang Alisya namun Alisya menghilang dalam kegelapan. "Hahahahaha, rasanya aku belum puas jika tidak membunuh kalian berdua. Bagaimana kalau kita mulai dari dia dulu?" Bisik Artems kepada Adith dengan penuh kelicikan. Adith menatap Artems dengan penuh amarah. Orang yang selama ini telah membuat hidupnya dan hidup Alisya penuh akan penderitaan. "Uaahh.." salah seorang dari mereka berlima terlempar dari kegelapan dengan tubuh yang terkoyak-koyak. "Alisya.. umpphh" Ryu langsung berlari menutup mulut Karin dengan cepat. "Sussst" ucap Ryu agar Karin tetap diam. "Apa yang kau lakukan? Alisya sedang.." Ryu menghentikan Karin untuk berbicara. "Saat ini dia sudah bukanlah Alisya, melainkan mesin pembunuh yang akan membunuh siapapun yang menghalanginya." Karin yang tak setuju langsung memegang pundak Ryu karena ingin marah. "Kau?" Karin terkejut melihat ekspresi penuh waspada Ryu yang tak bisa berhenti bergetar dengan hebat karena takut. Ryu bisa merasakan bagaimana menakutkannya Alisya saat itu sehingga Karin mulai paham apa yang dimaksudkan oleh Ryu. Omega yang melihat keberadaan Alisya langsung melakukan serangan dengan cepat yang setiap tendangan dan tebasan pedangnya begitu akurat dan tajam sampai Alisya terlihat cukup kewalahan saat menghindarinya. Serangan Alisya yang penuh amarah membuat semua gerakannya dapat dibaca dengan mudah oleh Omega. Alisya langsung mendapatkan serangan dari 4 arah yang berbeda yang menghempaskan tubuhnya cukup jauh dengan semua luka-luka yang memancarkan darah segar dari tubuhnya. "Bukkkkhhh" Karin berhasil menendang salah seorang dari mereka dengan keras untuk membantu Alisya. "Meskipun kau sudah berubah aku masih tetap ingin menyelamatkan mu" tegas Karin menatap sedih pada Alisya. "Akupun berpikiran yang sama!" Ryu juga berhasil menghalangi serangan salah seorang lainnya. Omega mengayunkan pedang ke arah Karin untuk menghabisi Karin bersamaan dengan Alisya yang langsung menghempaskan tubuh Karin hingga menghempas ke tiang dinding dengan kuat. "Ohokkkk" Karin terbatuk mengeluarkan darah. Alisya langsung melanjutkan serangannya dengan kepada Omega dengan melayangkan tinju yang sangat kuat mengenai dada Omega dan terhempas jauh lalu melompat ke arah Ryu dan menindihnya keras. Alisya terlihat berkata sesuatu kepada Ryu yang langsung membuat Ryu sangat terkejut bukan main. Sebuah pukulan menghantam keras Alisya yang langsung menghempaskannya. Ia dengan cepat ingin membunuh Ryu namun Alisya kembali langsung membunuhnya dengan menikamnya dengan tangannya yang ia pertajam. Alisya kembali kepada Ryu namun serangan berikutnya datang dari seorang lainnya dengan cepat sehingga perhatian Alisya teralih kepada mereka yang kemudian setelah menghidar, Alisya langsung membanting kepalanya ke bawah hingga pecah. Serangan kuncian pada leher Alisya membuat Omega berhasil mendaratkan tebasan pedangnya ke dada Alisya lalu menedang dada Alisya dengan sangat kuat hingga ia terhempas ke belakang. Alisya memutar tubuhnya dan membanting orang mencekik dengan keras hingga ia memuntahkan darah lalu melemparkannya ke arah Omega. Omega dengan santai menebasnya yang begitu terbelah, Alisya sudah berada dihadapannya mencekiknya keras dan menikamnya dengan senjatanya sendiri. Mencabut pedang itu dan melemparkannya kepada seorang lagi menembus kepalanya. Alisya terlihat terengah-engah dan sudah kehabisan stamina saat bertarung melawan kelima orang termasuk Omega. "Sayang sekali, kau adalah produk organisasi yang terbaik. Tapi aku harus membunuhmu!" Artems dengan cepat melesat ke arah Alisya dan langsung melakukan serangannya. Pertarungannya dengan Artems tak kalah sengitnya. Meski kewalahan, Alisya masih mampu mengimbangi kekuatan dari Artems. Kecepatan mereka dalam melakukan serangan sungguh luar biasa. Bahkan beberapa serangan yang melesat sampai menghempaskan Adith hingga kursinya patah dan Adith bisa melepaskan diri dari ikatan tersebut. "Uaakkkhhh¡­" Alisya membentur ke dinding setelah mendapatkan tendangan dari Artems. "Ali¡­" Adith yang ingin menghampiri Alisya seketika bergetar hebat melihat tatapan tajam dari Alisya. Hati Adith begitu pilu melihat tatapan penuh kasih sayang itu berubah dengan penuh kebencian. Tatapan yang tak pernah ingin Adith lihat dilayangkan oleh Alisya kepadanya. "Lihatlah baik-baik bagaimana aku akan membunuhnya." Tatap Artems dengan mengeluarkan dua buah Gir tangan. Alisya yang mencoba berdiri sudah tak sanggup lagi sehingga Adith dengan cepat bergerak berdiri dihadapan Alisya untuk melindunginya dan Adith terhempas jauh karena pukulan Artems. Melihat Omega yang terlihat memberikan kuncinyya kepada Artem membuat Alisya langsung bergerak cepat yang dengan satu hentakkan kuat, Alisya berhasil menikam jantung Artems menggunakan pedang yang menancap pada kepala orang yang sebelumnya sudah dibunuh oleh Alisya. "Ohhoookkkk.." Artems terbatuk-batuk mengeluarkan darah. "Terimakasih Alisya." Ucap Omega yang kembali terjatuh karena tubuhnya yang hancur setelah mendapat serangan balik dari Artems. "Dasar bodoh! Kau harusnya menikamku dibagian kepala atau yang lainnya ketimbang jantungku, karena dengan begitu kau sudah mengaktifkan peledakkan diri yang terprogram dalam tubuhku." ucap Artems dengan tertawa jahat yang mulutnya terus mengeluarkan darah. Alisya terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Artems. Jika itu program nano, maka daya ledaknya mampu menghancurkan pabrik tersebut dan meratakannya. "Aku akan mengajak kalian semua mati disini." Seru Artems sekali lagi dengan tersenyum puas. Mendengar hal tersebut, Adith kembali bangkit dan mendekati Alisya. "Alisya¡­" panggil Adith dengan nafas berat yang di balas Alisya dengan tendangan yang sangat kuat hingga Adith terhempas keluar bersamaan dengan Ryu yang ingin kembali masuk setelah menyelamatkan Karin. Ryu yang tak sempat masuk tiba-tiba dikejutkan dengan tubuh Adith yang menabrak dirinya bersamaan dengan meledaknya gudang tersebut. END Chapter 346 - 5 Tahun Kemudian Banyak wartawan sudah hadir dan menunggu di bandara menantikan kehadiran Adith yang baru saja kembali dari Amerika setelah mendapatkan penghargaan sebagai pebisnis muda sukses dan Jenius. Penghargaan itu didapatkan oleh Adith berkat keberhasilannya dalam mengelola perusahaan Narendra dalam bidang teknologi yang mampu menciptakan berbagai macam alat teknologi mutakhir yang penjualannya langsung merajai pasar dunia. "Eh.. itu Adith datang" seru seorang wartawan yang langsung berhambur menghampiri Adith yang sedang berjalan keluar dari pintu bandara. Dengan cepat mereka segera berkumpul memadati tempat keluar Adith dengan seluruh peralatan wawancara mereka. Ratusan kilatan cahaya kamera langsung menyambut kedatangan Adith. Adith muncul dengan kemeja putih yang dibalut jas brokat abu-abu yang ia sengaja biarkan terbuka dengan kacamata bulat biru mengkilap terpasang di kantong jasnya sembari memegang sebuah tas kecil dengan branded merk ternama membuatnya terlihat begitu tampan dan menawan. Pandangan Adith yang lurus kedepan begitu tajam dan kuat. Begitu mempesona dan terlihat sangat indah di setiap langkah kakinya yang terus mendekat ke arah para wartawan tersebut. Adith berjalan dengan begitu gagah di dampingi oleh Yogi yang berada tepat di sampingnya. Yogi juga berjalan dengan Jas hitamnya yang tampak begitu elegan. Kehadiran mereka berdua memberikan Aura yang cukup kuat. "Adith, bagaimana perasaanmu setelah mendapatkan penghargaan tersebut?" tanya salah seorang wartawan. "Langkah apa yang selanjutnya akan anda lakukan setelah mendapatkan penghargaan bergengsi tersebut?" Lanjut yang lainnya. "Kau adalah seorang dokter syaraf muda ternama Indonesia, bagaimana caramu membagi waktu dengan semua kegiatan perusahaan mu?" Tanya salah seorang lagi. "Karir dan usiamu yang cukup mapan, apakah kali ini kau akan menggandeng seorang wanita untuk dijadikan istri?" Lanjut yang yang lainnya lagi. Berbagai macam pertanyaan terus saja di lontarkan kepada Adith satu persatu yang mana sebagian besar dari mereka terus saja menanyakan tentang kehidupan pribadinya ketimbang penghargaan yang baru saja di raihnya. Yogi hanya tersenyum masam dengan semua pertanyaan mereka sehingga ketika melihat wajah Adith yang begitu tegas dan tatapan mata yang tajam, Adith memasang kacamatanya siap untuk menjawab pertanyaan mereka. "Penghargaan ini adalah suatu pencapaian terbesar dalam hidup saya sebagai seorang pebisnis dengan persaingan bisnis tingkat dunia tentunya." Terang Adith dengan senyuman rupawan yang melelehkan hati setiap yang melihatnya. "Meski aku seorang dokter, ini tidak menutup kesempatan bagiku untuk terus memimpin perusahaan dengan baik. Manajemen waktu dan kerja keras adalah kunci dari keselarasannya." Jelas Adith sekali lagi dengan mantap. "Kau itu penggila kerja. Bukan karena manajemen waktumu.." Batin Yogi melihat Adith dengan tatapan iba kepadanya. "Soal gandengan saat ini aku masih belum pikirkan, tapi jika saatnya tiba kalian dengan cepat akan mengetahuinya." Adith menghormat kemudian melangkah pergi tanpa memperdulikan lagi pertanyaan pertanyaan mereka selanjutnya. "Rumor tentang dirimu yang gay sudah tersebar luas karena sikap dingin terhadap wanita dan sekarang kau bekata tentang gandengan? Truk gandeng kali yang kamu maksud!" Jawab Yogi lagi di dalam hatinya. Setelah selesai menjawab, Adith segera memasang kacamatanya menunduk hormat dan berlalu pergi dari hadapan semua wartawan yang masih mendesaknya dengan berbagai macam pertanyaan. Adith cukup mengalami kesulitan saat melangkah keluar karena banyaknya wartawan dan beberapa Fans fanatiknya yang terus mengagung-agungkan namanya bahkan sampai membawa banner bertuliskan "Selamat Atas Penghargaanmu Adith". Tepat saat ia terus melangkah menuju ke arah mobilnya seseorang dengan cepat berlari menangkap seorang anak kecil yang bukannya berhasil menangkap anak tersebut, ia malah oleng karena sepatunya yang tergelincir dan menabrak Adith dengan keras. "Aduuhh.." ucapnya saat sikunya dengan keras mengenai lantai. Mereka jatuh dengan posisi terduduk dimana Adith seharusnya terjatuh dengan keras namun anehnya ia tak merasakan apapun dan hanya menatap bingung terhadap gadis muda dihadapannya tersebut. "Siapa perempuan bodoh itu?" Teriak seorang wanita kesal. "Si jelek itu beraninya membuat Adith terluka!" Bentak yang lainnya pelan. "Tamatlah riwayatnya, Adith membenci 2 hal terhadap perempuan. Satu adalah bau parfumnya dan satu lagi adalah mysophobia terhadap sentuhan langsung dari seorang perempuan." Jelas yang lainnya dengan tatapan licik. "Kalau begitu anggap saja dia sudah mendapatkan hari yang sial hari ini" senyumnya licik menatap ke arah Adith dan perempuan itu. "Mari kita lihat apa yang akan terjadi pada anak itu." Tambah yang lainnya dengan tatapan antusias karena penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. "Ah, maafkan aku, aku tak sengaja!" Ucap gadis muda yang berkacamata dengan rambut hitam legamnya yang pendek dan terlihat cupu tersebut. Adith tak menyadari saat perempuan itu sedang memegang tangannya untuk membantunya bangkit dari duduknya. "Kamu baik-baik saja?" Tanya Yogi selain terkejut karena gadis muda yang menabrak Adith tersebut, namun juga terkejut dengan Adith yang terlihat santai dengan sentuhan gadis muda itu. "Aku baik-baik saja!" Tegas Adith berdiri dari tempatnya dengan sigap. "Raly, kamu nggak pa-pa?" Seorang remaja dengan cepat menghampiri gadis muda tersebut dengan penuh perhatian. "Aku baik-baik saja, sekali lagi maafkan saya!" Ucapnya kembali beralih kepada Adith yang berada di hadapannya dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Tidak masalah!" Ucap Adith santai yang membuat semua orang yang berada disana terkejut bukan main. "Kita pergi dari sini." Bisik Raly cepat karena tak ingin mendapatkan masalah lagi. "Tapi kak¡­" Raly dengan kikuk langsung menariknya dengan cepat pergi dari sana karena merasa tak nyaman. Melihat gadis muda yang pergi begitu saja membuat mereka merasa iri dengan apa yang baru saja di alaminya, entah keberuntungan yang serang berpihak kepadanya atau karena Adith yang sedang dalam mood yang sangat baik sehingga ia tidak mempermasalahkan hal tersebut. "Sial! Andai saja itu aku, apakah aku akan seberuntung dia?" Tatap salah seorang di antara mereka yang cemburu kepada gadis muda tersebut. "Anak SMA itu sangat beruntung sekali." Tambah yang lainnya setelah menatap gadis itu menghilang dari pandangannya. "Kau ingin kembali kerumah atau ke perusahaan sekarang?" tanya Yogi ketika mereka sudah berada di depan pintu mobil. "Adith? Apa kau mendengarku?" Tanya Yogi sekali lagi karena Adith tak bereaksi dan hanya terdiam. "Ke rumah sakit saja, masih ada yang harus aku kerjakan." Pinta Adith dengan ucapan dinginnya. "Oke" ucap Yogi santai langsung masuk ke kursi kemudi sedang Adith duduk di sampingnya. Meski Yogi telah menggantikan Ayahnya Pak Dimas untuk menjadi Asisten pribadi Adith, Adith tetap menjadikan Yogi sebagai sahabat dan orang yang paling ia percaya sehingga ia tidak membatasi diri ketika mereka sedang berada di luar kantor. "Apa kau butuh tisu?" Tanya Yogi saat melihat Adith terus saja memperhatikan tangannya dengan tatapan kaku. Adith hanya mengangguk pelan meski sebenarnya ia tidak begitu membutuhkan tisu tersebut. Yogi tak ingin bertanya banyak melihat ekspresi kaku Adith karena tak ingin merusak suasana hatinya. "Bagaimana keadaan Ayah saya dokter?" Tanya seorang gadis cantik kepada Adith yang baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan Ayahnya. "Dia baik-baik saja. melihat kondisinya yang semakin membaik, sepertinya tidak ada Masalah pada saraf mata Ayahmu sehingga dia tetap akan bisa melihat dengan jelas. Kalian tidak perlu khawatir." Jawab Adith ramah dengan tersenyum hangat kepada ibu gadis tersebut tanpa menoleh kepada si anak yang bertanya kepadanya. "Terimakasih banyak dokter, terimakasih karena sudah menyelamatkan suami saya!" Ucap sang ibu dengan penuh rasa syukur. "Itu sudah tugas kami sebagai seorang dokter bu, dan berterima kasih lah kepada allah yang sudah memberikan kesembuhan. Saya hanya sebagai perantara saja." Seru Adith menepuk pundak ibu tersebut dengan lembut. Meski Adith memiliki mysophobia yang membuatnya terlihat sangat merasa jijik ketika berhadapan dengan seorang wanita, namun ia tampaknya memiliki toleransi yang cukup jika itu tak bersentuhan kulit langsung. Adith pergi meninggalkan mereka menuju ruang kantornya dan begitu masuk, ia mendapati Zein dan Riyan yang sudah duduk dengan begitu santainya. Chapter 347 - Amnesia Psikogenik Adith masuk dan menaruh jasnya pada tiang gantung yang berada tak jauh dari pintu masuk ruangannya. Melihat kedua temannya sedang berada di ruangannya membuat Adith sedikit merasa canggung karena sudah lama tak bertemu dengan mereka sedang ekspresinya tetap saja datar. "Baru kembali dari Amerika kau sudah kembali bekerja lagi? Tidakkah kau terlalu gila bekerja? Bahkan dari sini pun kau masih mengerjakan urusan kantor?" Riyan mengangkat file-file yang terlihat berbeda dari atas mejanya yang bukan merupakan rekam medis dari para pasien. "Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Adith dingin tak peduli dengan kedatangan mereka berdua. "Ayolah Dith, kami disini karena sudah lama tak bertemu dengan dirimu. Kau bahkan tak pernah menghadiri reuni yang selalu kita adakan dalam 5 tahun terakhir ini." Zein menatap Adith dengan tatapan memohon. "Aku tak tertarik dengan hal seperti itu." Ucap Adith masih dengan ekspresinya yang sedingin gletser di kutub Utara. "Apa karena kau masih memikirkan Alisya? Bukankah kau tahu Alisya melarikan diri darimu setelah mengetahui semua kenyataan mengenai dirimu? Alisya tak-kan pernah kembali lagi Dith!" Tegas Riyan mulai kesal dengan sikap keras kepala Adith. "Kau¡­" Adith tiba-tiba terhenti dan tak bisa melanjutkan kata-katanya. "Tok tok tok.." suara pintu diketuk mengalihkan pandangan mereka. Seorang wanita dari anak pasien yang baru saja diperiksanya masuk dengan sesuatu yang cukup besar berada di kedua tangannya. Adith yang sebelumnya terlihat sedikit marah dengan apa yang dikatakan oleh Riyan menjadi kembali berusaha memasang ekspresi datar begitu melihat wanita tersebut masuk. Menarik nafas dalam untuk mengatur suasana hatinya Adith menatap wanita itu sedikit tajam "Ada yang bisa saya bantu?" "Ah.. ini dok, ibu saya ingin memberikan hadiah ini sebagai ungkapan terimakasih nya." Nada suaranya sangat lembut dan membuai. "Kalian tidak perlu melakukan hal seperti ini. Bukankah sudah aku bilang bahwa ini merupakan tugas dari seorang dokter? Aku akan merasa terbebani jika menerimanya." Tegas Adith dengan suaranya yang dingin. "Tapi dok, saya harus bilang apa ke ibu saya kalau dokter tega menolak pemberian yang sudah susah payah dia kerjakan?" Ucapnya dengan suara gugup dan sedikit parau karena kecewa. Adith menarik nafas dalam mendengar ucapannya "Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa menerimanya. Sampaikan saja ucapan terima kasihku padanya." Wanita itu akhirnya mengangguk pelan dan keluar dari tempat ruangan Adith dengan ekspresi kecewa karena tak berhasil melaksanakan rencananya untuk selangkah lebih mendekatkan diri dengan Adith. "Tidak kah kau terlalu menutup diri?" Zein berbicara setelah mendengar wanita itu melangkah pergi. "Yang dia pikirkan hanyalah Alisya yang bahkan ia tak ingat wajahnya." Riyan terus saja menyinggung nama Alisya dihadapan Adith. "Apa yang kau ingin sebenarnya dengan terus menyinggung ku seperti itu?" Adith yang terus berusaha menahan kesabarannya karena menganggap mereka berdua temannya pada akhirnya tidak mampu menahan diri lagi. "Kau tau kami peduli tentangmu bukan? Kami hanya tak ingin kau terus-terusan dalam keadaan seperti ini, terus memikirkan Alisya yang bahkan tak tahu rimbanya." Jelas Riyan yang menginginkan agar Adith bisa move on dari Alisya. "Sepertinya sudah saatnya kau tahu kejadian yang sebenarnya." Tambah Riyan lagi mulai tak sabar dengan sikap Adith. "Riyan!" Zein dengan cepat menghentikan apa yang akan dikatakan oleh Riyan kepada Adith. "Sebaiknya kita pulang saja, berikan dia waktu untuk berpikir. Seiring berjalannya waktu, aku yakin dia bisa melupakan Alisya perlahan-lahan." Zein langsung melangkah pergi memegang gagang pintu ruang kantor Adith. "Sampai kapan Zein? Ini sudah lima tahun dan dia masih saja dalam keadaan seperti ini? Tidak menerima kenyataan yang sebenarnya?" Riyan mulai tak bisa mengendalikan diri lagi. "Riyan cukup! Kau taukan ini tidak mudah baginya." Zein sekali lagi memperingati Riyan namun Adith mulai terpancing akan maksud lain yang sedang dikatakan oleh Riyan. "Apa maksudmu? Apa kalian memiliki sesuatu yang sedang kalian sembunyikan dariku?" Tanya Adith penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Riyan. "Bukan apa-apa. Riyan hanya kesal dengan sikapmu yang masih terus saja memikirkan Alisya sampai saat ini hingga menutup diri dengan semua wanita yang datang menghampiri mu." Zein dengan cepat mengubah topik pembicaraan mereka dan menarik paksa Riyan keluar dari ruang Adith. Melihat Zein dan Riyan yang pergi meninggalkan kantornya tidak membuat Adith melupakan apa yang sudah di katakan oleh Riyan. Bagi Adith, Riyan pasti memiliki maksud lain dengan peringatan yang diberikannya namun Adith tidak bisa menemukan titik temu pada ucapannya. "Apa yang kau lakukan sebenarnya?" Zein menatap Riyan dengan tatapan kesal dengan sikap Riyan terhadap Adith. "Aku hanya kesal dengan sikap dia yang masih tak bisa menerima kenyataan yang sebenarnya bahwa Alisya sudah lama meninggal dalam ledakan itu." Terang Riyan dengan menggertakkan giginya menahan rasa kesalnya. "Kau ingatkan terakhir kali dia mendengar mengenai kematian Alisya 5 tahun yang lalu? Karena terlalu shock, dia hampir kehilangan nyawanya. Butuh waktu baginya untuk bisa menerima kenyataan itu." Jelas Zein dengan tetap bersikap tenang terhadap sikap Riyan. "Aku tau, tapi ini sudah cukup lama. Dan dia sekarang bukanlah Adith yang seorang anak SMA lagi, dia bahkan sudah menjadi dokter spesialis syaraf muda ternama. Sudah matang usianya untuk bisa menerima semua kenyataan itu." Tegas Riyan kembali dengan suara berat. Riyan sebenarnya sangat peduli dengan apa yang sedang terjadi pada Adith. Dia tidak ingin Adith terus-menerus terpuruk dengan kepergian Alisya tanpa tahu kebenaran mengenai Alisya yang sudah meninggal dalam ledakkan gudang 5 tahun lalu saat mencoba menyelamatkan Adith. 5 tahun lalu. Adith yang terbaring lemas kembali tersadar setelah beberapa hari tidak sadarkan diri. Kepalanya yang masih pusing dan berkunang-kunang membuatnya kesulitan untuk mengenali keadaan di sekitarnya. "Kamu sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?" tanya ibu Adith begitu melihat Adith sudah sadarkan diri. Dengan suara berat Adith hanya memegang kepalanya yang sakit dan dadanya yang sesak. Seberkas ingatan yang memilukan tergambar jelas di kepalanya membuatnya penuh amarah juga kesedihan yang tak tertahankan. "Alisya? Bagaimana dengan Alisya? Alisya baik-baik saja kan ma? Alisya dia¡­" Adith langsung mengacau dengan terus menanyakan keberadaan Alisya. Melihat ibunya yang hanya diam dan jatuh melemas dalam pelukan Adith serta menangis dengan kencang. Dari tangisan ibunya Adith bisa paham akan apa yang sudah terjadi pada Alisya. Adith yang tak bisa menahan rasa sedihnya kembali jatuh pingsan. Karena shock yang diterimanya, Adith menjadi trauma yang menyebabkan ia mengalami Amnesia Psikogenik dengan melupakan hal yang paling ditakutinya yaitu meninggalnya Alisya. Chapter 348 - Terungkap "Apa yang kau lakukan disitu? Bukankah seharusnya kau sudah siap untuk kita pergi ke tempat itu sekarang?" ucap Karan saat memasuki kamar Karin dan melihat Karin dengan pakaian serba hitamnya duduk termenung di pinggir ranjangnya. Karan tersenyum pahit melihat adiknya "Ayo, kita tidak punya banyak waktu lagi." Ajak Karan untuk membuat Karin tetap kuat. "Aku masih belum bisa merelakan Alisya kak!" terang Karin menghentikan langkah kaki Karan yang sudah menarik tangan Karin untuk pergi. "Sudah 5 tahun sejak kejadian naas itu. Nenek Alisya yang sangat kesepian pun juga tak mampu bertahan sepeninggal Alisya bahkan diikuti oleh kakeknya beberapa bulan kemudian." Karan terduduk disamping Karin dan menatapnya dalam. "Jika kau juga terus seperti ini, apa Alisya akan bisa tenang di alam sana saat satu persatu orang yang dicintainya malah menyusulnya?" Karan ingin agar Karin harus bisa menerima semua kenyataan yang ada. Orang yang pergi untuk selamanya tentu takkan bisa kembali dan mereka tak ingin kalau orang yang mereka sayangi terus-terusan dalam kedukaan. "Andai saja waktu itu aku lebih kuat, aku mungkin bisa menyelamatkan Alisya." Suara Karin terdengar serak dan penuh sesak. "Semuanya sudah berlalu, sudah takdirnya untuk seperti ini. Semuanya takkan bisa terulang lagi. Aku yakin jika Alisya sedang melihatmu sekarang, dia mungkin akan sangat marah jika kamu masih saja tak bisa menerima semuanya. Kamu harus tabah Kar, sudah saatnya kamu bangkit dan memulai hidup baru lagi." Karan masih terus memberikan nasihat untuk membuat Karin lebih tenang dan tegar. "Tapi kak aku¡­" Karin langsung dihentikan dengan cepat oleh Karan. "Alisya pasti sudah menunggu mu untuk mengunjunginya sekarang. Habis ini kalian akan ada reuni lagi kan?" mendengar ucapan Karan, Karin akhirnya mengangguk pelan dan segera mengambil kerudung hitamnya untuk pergi mengikuti langkah kaki kakaknya. Di lain sisi¡­. "Sayang, waktunya kita juga berangkat. Kamu ingatkan hari ini hari apa?" tanya ayah Adith kepada istrinya yang berdiri termenung di dapur. Suaranya tidak mendapat respon, ia pun segera mendekat ke arah orang yang dicintainya tersebut. "Apa yang sedang kamu lamunkan?" Tanya ayah Adith dengan menepuk pundak istrinya lembut agar tidak mengejutkannya. "Ah.. Pa, bukan apa-apa" jelasnya saat tersadar dari lamunannya. "Apa karena Alisya? Kamu masih belum bisa melupakan anak itu?" Ucap Ayah Adith lembut dengan memegang pipi istrinya khawatir. Sejak sepeninggal Alisya, ibu Adith tak pernah lagi tersenyum ataupun tertawa dengan riang yang membuatnya menjadi sangat khawatir. "Aku mengkhawatirkan Adith Pa, sudah 5 tahun berlalu dia masih saja terus mencari dimana keberadaan Alisya. Apa yang akan terjadi jika dia mengetahui kebenarannya?" Mata ibu Adith terlihat begitu sendu dan tak bertenaga. Ayah Adith dengan cepat memeluk istrinya yang terlihat semakin kehilangan semangat hidupnya tersebut. "Jangan khawatir, kau tau kan anak itu kuat? Meski saat ini dia masih belum bisa menerima kenyataan yang harus kembali dia alami dengan kehilangan Alisya, aku yakin dia pasti bisa kembali bangkit." Meski suaranya terdapat kesedihan, Ayah Adith berusaha untuk menghibur istrinya. "Sudah 5 tahun anak itu meninggal, tapi kepergiannya semua penuh misteri. Nenek Alisya yang sudah kehilangan seorang putri dan harus kehilangan cucu semata wayangnya sungguh sangat memilukan." Ibu Adith menangis dalam pelukan suaminya. "Meski ledakkan itu menghanguskan gudang dan menghancurkannya, ledakkan nano yang dihasilkan sebenarnya ditujukan untuk menghancurkan setiap energi nano yang berada di sekitarnya sehingga tak tersisa satupun energi nano disana." Ibu Adith kembali mengingat bagaimana kejadian lalu. "Nenek Alisya yang berada di sana dan menyaksikan secara langsung bagaimana Alisya ikut terjebak dalam ledakan itu setelah menyelamat kan Adith." Seru ibu Adith sekali lagi yang kemudian Ayah Adith melepaskan pelukan eratnya pada istrinya. "Sampai kapan kau akan mengingat semua kejadian itu? Aku sudah mendengarmu membahas ini berulang-ulang kali. Bukan aku tak mengingatnya, tapi aku tak ingin kau terus menangis setiap kali membahas ini." Tatap Ayah Adith kepada istrinya dan menghapus air matanya dengan lembut. "Aku tau kamu masih belum ikhlas untuk melepas kepergian Alisya, tapi setiap orang yang ditinggalkan harusnya bisa lebih tegar demi orang yang pergi juga. Dia pasti takkan tenang jika semua orang yang dicintainya terpuruk seperti ini." Lanjut lagi untuk menenangkan istrinya. "Alisya meninggal karena berusaha menyelamatkan Adith, setidaknya kita harus bersyukur karena hal itu. Karena itu adalah keputusan yang diambil oleh Alisya untuk mengorbakan dirinya sendiri demi orang yang dicintainya." Ayah Adith berkata sembari mengambilkan segelas air putih untuk diberikan kepada istrinya. Tanpa mereka sadari Adith yang berniat untuk mengejutkan ibunya karena baru sempat mengunjungi mereka saat kembali dari Amerika mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Ayahnya. "A¡­ apa maksudnya semua itu?" Tubuh Adith bergetar dengan sangat hebat dan mundur beberapa langkah hingga menyenggol vas bunga yang berada di atas meja. "Adith?" Ibu Adith terkejut bukan main tak menyangka anaknya sudah berada disana. Ia dengan cepat menghapus air matanya dan menghampiri Adith. Sekelebat ingatan segera memenuhi kepala Adith membuat semua memori tentang 5 tahun lalu saat ia berada di dalam gudang dan diselamatkan oleh Alisya. "Jadi karena kau semua kemalangan yang terjadi dalam hidupku?" Suara Alisya dengan tatapan penuh kebencian segera terngiang ditelinganya. "Karena kau juga aku mengalami penculikan mengeringan itu." Suara itu kembali menuduh Adith dengan kejam. "Kau yang membuatku harus kehilangan ibuku!" Jantung Adith semakin sakit dan semua suara-suara di telinganya membuatnya tak bisa mendengar panggilan ibunya. "Dan karena kau aku harus menjadi seorang moster!" Tatapan mata kebencian Alisya langsung membuat kaki Adith melemas. "Adith¡­ Adith? Kau baik-baik saja?" Teriak ibunya terus memanggil-manggil nama Adith. Adith hanya berteriak-teriak dengan kencang tak ingin mendengar ucapan Alisya dan tatapan kebencian Alisya padanya. Adith tak sanggup mengingat semua kenyataan bagaimana tatapan Alisya saat menghempaskannya keluar dari gudang dan hilang bersama Api berwarna biru yang melahap Alisya dan seluruh gudang tersebut. "Arrrgghhhh¡­ ini semua salahku! Ini semua salahku!" Teriak Adith kencang yang membuat hati ibunya teriris sakit melihat Adith menyalahkan dirinya sendiri. "Pak Hady? Bisa kerumah saya sekarang?" Ayah Adith segera menelpon ayah Karin secepat mungkin meski ia juga memiliki dokter pribadi dalam kekuasaanya. Namun karena hal ini berhubungan dengan Adith, Ayah Adith lebih mempercayakan Adith kepada ayah Karin terlebih saat ia mengetahui kalau Adith masih memiliki energi nano dalam jumlah yang cukup besar dibandingkan dengan teman-temannya yang lain karena paparan energi dari Alisya terakhir kali. Chapter 349 - Mengunjungi Alisya Karin dan Karan yang mengira kalau hanya akan ada mereka berdua saja di tempat Alisya bersemayam cukup terkejut saat melihat beberapa orang nampak sedang berdiri memandangi foto ibu Alisya yang sedang menggendong seorang anak kecil yang juga dijadikan sebagai tempat untuk peristirahatan terakhir Alisya. Alisya sengaja ditempatkan dengan kuburan ibunya yang bernama Ayumi Yamada sesuai keinginan neneknya meski jasad Alisya tak terbaring disana. Nama Alisya pun hanya ditulis indah pada sebatang pohon cempaka yang berdiri dengan kokoh di dekat pusara ibunya. Pohon itu akan berbunga sangat lebat dengan warna kuning cerahnya di bulan yang sama dengan kepergian keduanya. "Paman¡­" panggil Karin kepada ayah Alisya yang sedang membersihkan pusara istri dan anaknya. "Ummm¡­ kalian datang juga?" Suara berat ayah Alisya masih mengisyaratkan kesedihannya. Karin dan Karan mengangguk pelan yang langsung dilanjutkan dengan keduanya yang menyalami tangan Ayah Alisya. "Kalian juga sudah lama datang? Tanya Karan Kepada Adora dan yang lainnya yang sudah tampak keringatan setelah membantu membersihkan sekitar kuburan tersebut. "Baru sekitar 15 menit yang lalu." Jawab Emi cepat duduk disamping Adora yang menghadap ke foto ibu Alisya dan Alisya yang masih kecil. "Aku menyesal tidak memiliki banyak foto kenangan bersamanya." Seru Feby langsung mengeluarkan gambar hologram saat mereka begitu heboh di pernikahan Alisya. "Benar, itu pertama kali Alisya tersenyum begitu bahagia." Sambung Gina sedikit tertawa pahit mengingat kebersamaan mereka. "Dia terlihat sangat cantik saat itu." Terang Adora mengelus lembut foto Alisya kecil yang tertawa begitu bahagia bersama Ibunya. "Aku tak pernah menyangka semuanya sudah berlalu selama 5 tahun." Gani merangkul Adiknya dengan erat. "Rasanya semua seolah baru terjadi kemarin" Beni mendesah dengan begitu keras. "Sekarang dia sudah bisa tenang, tidak perlu khawatir akan diburu ataupun takut tak mampu melindungi kita." Adora menelan ludahnya dengan susah payah. "Aku harap dia tenang disana, diberikan tempat di sisinya dan sudah saatnya untuk kita lebih ikhlas untuk melepasnya." Karin tersenyum dengan air mata yang menitik perlahan. Angin kencang berhembus kuat seolah menyetujui apa yang baru saja dikatakan oleh Karin. Yang langsung menerbangkan kerudungnya jaring-jaringnya cukup tinggi dan terbang menjauh. "Kau tak ingin mengambilnya?" Tanya Karan menatap kerudung itu terus terbang hingga tak terlihat. "Anggap saja itu sebagai tanda Alisya membutuhkan selendang itu sebagai kenangan dariku yang ikhlas melepasnya." Ucap Karin dengan berlapang dada. "Kalian semua sudah dewasa. Sudah saatnya untuk memilih kehidupan sendiri tanpa terus terikat dengan masa lalu." Ayah Alisya mengusap lembut kepala Karin dengan penuh rasa bangga. "Meski ini sulit dan tentu saja hati ini masih belum rela, sebuah perpisahan dan keikhlasan sangat perlu untuk kita bisa menjalani kehidupan ini." Ucap Zein yang datang bersama dengan Riyan. "Alisya pasti akan sangat bahagia jika ia melihat kalian semua tersenyum bukan dengan menangis seperti ini." Ryu muncul dari belakang Zein dengan selendang Karin yang tak sengaja terbang ke arahnya. Ryu langsung memasangkan kerudung itu ke kepala Karin dengan lembut sembari menatapnya dengan penuh kasih. "Maaf karena aku datang terlambat!" Ucapnya sembari memegang kedua pipi Karin yang nampak memerah dengan mata yang sembab. "Hai semuanya¡­" Sapa Akiko dengan rambut panjangnya dan penampilannya yang jauh lebih dewasa dan terlihat sangat mempesona. "Akiko chan? Kau terlihat sangat berbeda." Adora dengan sigap menghampiri Akiko yang sudah lama tak di temuinya. Setelah kejadian yang menewaskan Alisya, yang kemudian dilanjutkan dengan meninggalnya nenek Alisya setelah beberapa bulan yang di ikuti oleh kakek Alisya lagi, keduanya kembali ke Jepang karena tak memiliki tempat lagi. Namun setelah sekian lama, mereka akhirya ingin kembali ke Indonesia untuk sekedar bertemu dengan Ayah Adith dan juga melakukan ziarah kepada nenek dan kakek serta Ibu dan Alisya. "Tuan¡­" Ryu langsung menunduk hormat kepada ayah Alisya yang dengan penuh wibawa dia menepuk pundak Ryu senang dengan kedatangannya. "Paman!" Akiko juga menunduk dengan penuh hormat memberi salam kepada ayah Alisya. "Lihat, mereka semua datang untuk melihatmu. Semoga kau bisa tenang disana dan tidak kesepian seperti diriku. Aku mungkin harus bertahan beberapa waktu dulu sebelum menyusul kalian semua, karena masih ada hal yang harus aku selesaikan disini." Ucapan ayah Alisya segera membuat mereka sedih dan paham betapa kesepiannya ayah Alisya saat satu-persatu orang yang di sayanginya pergi dari sisinya selamanya. "Jangan khawatir Sya, aku akan menjaga paman selama disini dan takkan aku biarkan paman merasa kesepian." Ucap Akiko menghadap ke arah foto Alisya dan ibunya. Mendengar ucapan Akiko, Karan bisa melihat bagaimana Akiko terlihat jauh lebih dewasa dan anggun. "Aku juga akan menetap sementara disini sehingga aku bisa menjaga Tuan dengan baik." Ryu menunduk setelah selesai mengucapkan hal tersebut. "Dan kami semua akan hidup dengan lebih baik lagi, jadi kau tak perlu khawatir." Terang Riyan sembari tersenyum melihat kepada semua teman-temannya. "Aku harap kita bisa bertemu di kehidupan berikutnya." Emi memeluk Feby dengan erat. "Kami sudah memutuskan untuk datang setiap tahun mengunjungimu" Yogi yang baru saja datang bersama Aurelia langsung ikut dalam barisan mereka. "Dengan begitu kau juga takkan marah pada kami, iya kan?" Tanya Aurelia dengan tersenyum pahit. Mereka juga ikut tersenyum mendengar ucapan Aurelia yang membuat mereka mengingat bagaimana Alisya akan marah dengan garangnya. Setelah beberapa saat, Yogi dan Karan segera mendapat telepon yang berbunyi hampir secara bersamaan. "Iya Paman, aku akan segera kesana." Ucap Yogi kemudian menutup panggilannya. "Iya Ayah.. Karan paham, baik!" Ucap Karan juga sebelum menutup telponnya. "Ada apa?" Tanya Zein khawatir melihat ekspresi keduanya yang tampak begitu terkejut. "Adith, dia sudah mendengar kebenaran mengenai meninggalnya Alisya." Jelas Yogi dengan suara berat yang seketika membuat mereka semua terkejut. "Dia kembali mengalami shock mental yang membuat dia mengalami Amnesia Psikogenik lanjutan dimana ingatan dia tentang Alisya benar-benar terhapus." Tambah Karan dengan menarik nafas dalam. "Meski demikian, ingatan Adith bisa dipicu kembali jika tanpa sadar alam bawah sadarnya yang mengizinkan hal tersebut." Lanjut Karan lagi. "Kita diminta untuk tidak memberikan tekanan berlebih kepada Adith untuk beberapa saat ini sampai dia bisa lebih tenang, karena sedikit tekanan bisa membuat dia mengalami kerusakan otak parah." Ucap Yogi yang mendapat kabar dari ayah Adith. "Ini tragis, padahal dia sengaja menjadi seorang dokter saraf demi menyelamatkan penyakit mental orang-orang yang bernasib sama dengan Alisya, kini malah dia yang terjebak didalamnya." Perkataan Zein membuat mereka semua terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing. Chapter 350 - Kopi Geisha "Kau yakin dengan apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Yogi pada Adith yang terlihat sedang mengeratkan dasinya sebelum memasuki bar diskotik yang terkenal di kalangan orang berada serta para pejabat dan para artis tersebut. "Apa aku terlihat sedang bercanda?" Tantang Adith dengan tersenyum simpul. "Aku tak mengerti apa alasan mu untuk mencari Black Falcon selama 2 tahun ini, kau terlihat begitu aneh sekarang." Ucap Yogi masih tak bisa menyetujui apa yang akan di lakukan Adith saat ini. "Dulu aku hanyalah seorang anak kecil yang tak punya kekuatan apapun, dan sekarang aku punya kekuatan lebih. Aku tak ingin banyak dari mereka merasakan hal yang sama denganku." Terang Adith langsung melangkah masuk ke dalam bar dengan begitu gagah. Mereka berdua berjalan masuk langsung dengan pengawalan hingga dilepas ke dalam bar sebagai pertanda bahwa mereka adalah tamu penting dalam Bar tersebut. "Butuh 2 tahun untuk bisa menemukan informasi mengenai Black Falcon dari kasus pasien yang sudah aku dapatkan. Dan kini akhirnya aku bisa menemukan salah seorang dari mereka, kenapa aku harus melewatkan kesempatan ini?" Tatap Adith mulai duduk sembari melirik sekitarnya secara menyeluruh. Beberapa wanita mulai terlihat tertarik untuk mendekati Adith, namun karena merasakan aura dingin yang keluar dari tatapan Adith membuat mereka jadi tak berniat untuk menghampiri Adith. Yogi yang berada di sebelah Adith juga menarik perhatian mereka sehingga terlihat dari jauh mereka nampak memperlihatkan pesona mereka masing-masing dengan begitu genitnya. Yogi hanya membuang muka dan memperdulikan Adith yang membuat mereka seketika kecewa. "Tapi ini bisa sangat berbahaya untukmu, kau tidak tau seperti apa itu organisasi dari¡­ BF" Yogu segera berkata dengan setengah berbisik kepada Adith karena tak ingin menyebutkan nama Black Falcon di tempat yang cukup berbahaya itu. "Justru kita takkan tahu jika kita belum mencari tahu yang sebenarnya. Aku harap dengan adanya pertemuan ini, aku bisa mendapatkan informasi lebih darinya. Dan jika ini tidak berhasil, maka itu artinya kita butuh usaha lebih lagi." Jawab Adith dengan mantap. Yogi takkan bisa menghentikan Adith yang sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu sehingga ia tak punya pilihan lain selain menyetujui apa yang akan dilakukan oleh Adith saat ini. "Tuan Adith, tuan Calvin sudah menunggu anda di dalam. Mari saya tunjukkan jalannya." Seorang asisten berbaju serba hitam segera menemui Adith. Tatapannya yang terlihat begitu tegas dan kelam membuat Adith berpikir bahwa orang ini merupakan tangan kanan dari tuan Calvin yang akan segera bertemu dengannya. Adith segera berdiri dan berjalan diikuti oleh Yogi menuju ke suatu ruangan yang terlihat cukup mewah dan memiliki penjagaan yang super ketat. "Maaf, anda hanya bisa sampai disini saja. Hanya tuan Adith yang diberikan izin untuk masuk kedalam." Laki-laki itu segera menghentikan Yogi yang ingin masuk bersama Adith dengan tegas. "Tapi saya adalah¡­" Yogi dengan segera membantah laki-laki tersebut namun dengan cepat dihentikan oleh Adith karena tak ingin ada masalah yang terjadi. "Tak apa, aku bisa masuk sendiri. Kau tak perlu khawatir, kau bisa menunggu di tempat kita tadi saja." Adith terlihat begitu santai dan tenang membuat Yogi mau tidak mau percaya padanya. "Baiklah.. aku serahkan padamu." Yogi pasrah dan pergi dari sana dengan menatap tajam ke arah laki-laki yang tetap menatap dingin ke arahnya yang kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. "Apa yang terjadi? Kenapa mereka hanya membiarkan Adith yang masuk kedalam?" Suara Zein segera menyadarkan Yogi yang sebelumnya sudah terhubung dengan mereka tanpa sepengetahuan Adith. "Entahlah, aku juga tak tahu. Tapi aku merasa curiga dengan apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana." Jawab Yogi sembari berjalan menuju toilet bar agar bisa berbicara dengan lebih nyaman. "Dia yang tersadar kembali 2 tahun lalu dan melupakan segala hal mengenai Alisya malah mengingat segala hal tentang Black Falcon." Komentar Riyan dengan menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang terjadi pada Adith. "Itu karena alam bawah sadarnya memunculkan hal yang paling dibencinya dan menghapus hal yang paling menyakitkan baginya sehingga itulah yang terjadi. Aku yakin dia sedang mencari kebenaran mengenai semua informasi yang berada di kepalanya sekarang." Suara Karin terdengar dari kejauhan yang membuat Yogi terkejut. "Kalian bahkan melibatkan Karin dalam urusan ini?" Tanya Yogi tak menyangka kalau Karin akan ikut dalam pengintaian yang sedang dilakukan oleh Zein dan Riyan yang khawatir dengan Adith. "Memangnya kau anggap apa aku?" Suara sewot Karin langsung menurunkan nyali Yogi karena tak ingin berdebat dengannya. "Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Melihat Yogi yang keluar dari toilet membuat Zein penasaran. Dua orang yang tak meminum alkohol tersebut malah dengan santainya masuk ke Bas diskotik yang tak menyediakan jus untuk para pemula ataupun orang baik-baik seperti mereka berdua. "Untuk saat ini, aku akan mencari informasi tambahan yang mungkin bisa aku dapatkan dengan mudah." Yogi tersenyum simpul menemukan target yang bisa dia jadikan sebagai sasaran untuk mengorek informasi. "Apa kalian tau siapa yang sedang dimaksudkan oleh Yogi?" Tanya Zein bingung karena tak memahami jalan pikiran Yogi. Terdiam sejenak sembari meresapi apa yang baru saja di katakan oleh Yogi lalu dengan cepat mereka berpandangan. "Wanita" ucap Riyan dan Karin hampir bersamaan. "Hahhh?? Wanita?" Zein mengerutkan keningnya masih tak paham dengan maksud mereka. "Ya benar, wanita adalah tempat yang sangat tepat untuk bisa mendapatkan informasi. Selain karena kebiasaan mereka yang bergosip, rasa penasaran mereka yang cukup tinggi terkadang mampu membuat mereka dengan mudah mendapatkan informasi apapun." Terang Riyan tertawa pelan dengan pola pikir Yogi yang terkesan licik. "Perempuan juga sangat mudah dikelabui hanya dengan memperlihatkan mereka uang dan ketampanan. Sedang Yogi memiliki keduanya." Karin yang memuji Yogi secara terang-terangan membuat Yogi semakin penuh percaya diri duduk disamping seorang wanita dan memamerkan pesonanya. Tak butuh waktu lama, Yogi pada akhirnya bisa menemukan informasi tambahan mengenai siapa sebenarnya yang sedang di yang sedang ditemui oleh Adith dan bagaimana watak serta informasi lainnya yang ia dapatkan dengan cukup mudah. "Silahkan duduk Tuan Adith, senang bertemu denganmu." Ucap Calvin menyambut Adith yang sudah memasuki ruangannya yang memiliki sofa yang cukup luas dengan banyak asap yang berbau tajam dan alkohol di sekelilingnya. "Bagaimana bisa aku lupa akan hal ini?" Batin Adith yang menutup hidungnya singkat karena tak ingin membuat Calvin tersinggung dengan tingkahnya. "Senang bertemu denganmu tuan Calvin." Adith membalas salaman dengan tuan Calvin yang terlihat masih cukup muda meski sudah tampak berumur diatas Adith. "Bagaimana dengan minuman?" Tanyanya basa basi. "Tentu, tapi aku tidak terlalu kuat dengan alkohol." Terang Adith menghindari minuman beralkohol sebisa mungkin. "Hahahaha¡­ Seperti yang dikatakan orang-orang, anda ini sangat bersahaja. Terlihat sangat menjaga diri dari minuman beralkohol demi kesehatan." Calvin tertawa renyah dengan kepribadian Adith yang begitu kuat. "Untuk menghargai tuan Adith, kami sudah menyediakan secangkir kopi Geisha. Kami harap ini akan sesuai dengan selera anda." Asisten Calvin segera mengeluarkan secangkir kopi yang dibawa oleh seorang pelayan wanita. "Anda sangat pengertian, bagaimana mungkin Bar mewah ini bisa juga menghadirkan kopi mewah ini sebagai menu tambahan?" Puji Adith merasa kagum dengan pelayanan mereka. "Anda terlalu rendah hati tuan Adith, kami memang memiliki hobi meminum minuman beralkohol. Namun Kopi adalah salah satu kesukaan saya sehingga menu ini dihadirkan disini. Silahkan dinikmati." Tunjuknya memberikan kesempatan kepada Adith untuk mencicipi kopi tersebut. Kopi Geisha merupakan salah satu kopi termahal di dunia dengan harga fantastis untuk secangkir kopinya yaitu 1,4 juta. "Umm.. Rasanya cukup unik, cukup berbeda dengan semua kopi yang sudah saya cicipi selama ini." Terang Adith memuji rasa dan kualitas kopi yang disuguhkan kepadanya. Calvin tertawa puas mendengar pujian dari Adith. Chapter 351 - Transaksi Gagal Seorang pelayan wanita kembali masuk dengan beberapa botol bir yang terlihat cukup mahal dan bahkan terbilang sebagai termahal di dunia. Meski Adith tidak meminum minuman beralkohol, Adith tetap bisa mengetahui kalau botol bir yang sedang di bawa wanita itu terlihat sangat mewah dan mahal. "Selera anda ternyata sangat luar biasa. Bukankah itu Pasi¨®n Azteca Platinum Liquor Bottle by Tequila Ley yang harganya mencapai 3,5 juta USD?" Pancing Adith sengaja mencari minat Calvin agar bisa menjadi lebih dekat dengannya. "Anda memang jenius. Matamu cukup jeli hanya dengan melihat botol itu sekilas, seperti yang anda bilang. Selain karena tequila yang langka, minuman beralkohol ini botolnya dikelilingi oleh 6400 berlian. Itulah kenapa harganya cukup fantastis namun soal kualitas tak perlu diragukan lagi." Jawab Calvin dengan penuh kebanggaan. Melihat Calvin sudah mulai nyaman dengannya, Adith segera mengutarakan maksudnya. "Jadi bagaimana dengan transaksi yang akan kita lakukan?" Tanya Adith dengan tidak terkesan terlalu terburu-buru. "Tentu saja, aku sudah menyiapkan semuanya. Tergantung dengan kesepakatan kita nantinya." Tegas Calvin dengan tersenyum penuh makna. "Aku tidak keberatan dengan segala macam jenis kesepakatan nanti, selama itu akan menguntungkan." Jawab Adith santai sambil terus menyeruput kopinya dengan perlahan. "Saya harap kamu tidak keberatan dengan lilin terapi ini, ini akan menutupi aroma alkohol yang cukup kuat disini." Seorang wanita yang sebelumnya bertumpuk banyak di sebelah Calvin datang menghampiri Adith dengan begitu sensual. "Terimakasih, aku tidak masalah dengan lilin itu. Aku harap wanita anda tidak lebih dekat lagi dengan ini!" Adith terlihat tidak nyaman dengan kedatangan wanita tersebut disampingnya. Pelayan yang sebelumnya sudah menuangkan minuman pada gelas Calvin sekarang berpindah ke tempat Adith untuk membersihkan beberapa putung rokok yang berada tak jauh dari meja Adith. Melihat pelayan tersebut Adith sedikit merasa curiga namun lebih memilih untuk tetap fokus pada transaksi yang akan dilakukannya bersama Calvin. Seorang pengawal masuk dengan terburu-buru dan memberikan laporan kepada Asisten Calvin yang kemudian diteruskan kembali kepada Calvin. "Cih, Tuan Adith. Sepertinya anda terlalu menganggap remeh kepada kami. Apa anda berpikir dapat mengelabui kami dengan berpura-pura untuk melakukan transaksi dengan kami?" Raut wajah Calvin tiba-tiba berubah dari yang sebelumnya terlihat sombong namun masih mencoba ramah menjadi terlihat bengis dan kejam. "Apa maksudnya? Sepertinya kalian sudah salah paham." Adith mulai terlihat siaga namun kemudian dengan satu gerakan kecil dari Adith, Asisten Calvin langsung mengeluarkan senjatanya untuk memberikan tembakan kepada Adith. Tembakan tersebut tidak mengenai Adith karena Adith langsung menendang kuat senjatanya dan menghindar ke samping yang kemudian beberapa dari pengawal Calvin langsung membunuh para wanita yang sebelumnya berada di sisi Calvin yang sudah pergi dari sana dengan tenang. "Aku harap kita akan bertemu lagi nanti, itupun jika kau masih hidup!" Calvin tersenyum sinis sembari keluar dari sana. Kepergian Calvin dilanjutkan dengan rentetan tembakan yang menewaskan wanita di sebelahnya sehingga dengan cepat Adith menarik pelayan wanita yang berada di dekat meja untuk menyelamatkannya. Mereka segera bersembunyi di balik tembok agar tidak terkena tembakan dengan si pelayan masih berada di hadapannya. Adith tidak bisa membiarkan pelayan itu mati begitu saja sehingga ia terlihat begitu teguh untuk melindunginya. Tak punya pilihan lain, Adith segera merogoh senjata yang sudah ia tempatkan di bawah tumit sepatunya kemudian diarahkan ke balik tembok yang menewaskan beberapa orang Calvin dengan mudah. Ruangan itu hancur berantakan yang diikuti dengan beberapa tembakan dari arah luar yang ikut menghancurkan ruangan tersebut serta menewaskan orang-orang Calvin. "Hmmmh.." Adith kehilangan fokusnya dengan bagian dada dari pelayan itu menempel hangat di dadanya. Adith merasakan panas di tubuhnya dan semakin tak bisa mengendalikan diri karena aroma manis dari wanita itu yang membuatnya semakin merasa di aliri listrik yang cukup kuat. "Apa karena dari lilin tadi yang memiliki aroma perangsang yang sangat kuat? Rasanya tubuhku bergetar hebat dan panas dengan keberadaan wanita ini." Tatap Adith pada wanita itu dengan nafas berat yang semakin memburu. Melihat tatapan wanita itu membuat Adith sedikit bingung. Tatapan yang selalu ditunjukkan kepadanya dari setiap wanita yang selalu membuatnya jijik, namun beda dengan tatapan wanita ini. Tatapannya membuat Adith penasaran dan bingung. Sesaat kemudian, tubuh Adith kaku dan tak bergerak. Sengatan dari bibirnya yang dikecup hangat oleh wanita itu segera membanjiri seluruh tubuhnya dengan begitu hebat. Mata Adith terbelalak sempurna tak menyangka akan apa yang dilakukan wanita itu. Adith langsung menjauhkan tubuhnya dengan mundur selangkah dari wanita itu dan melepas ciumannya. "Apa yang sedang kau lakukan?" Tatap Adith dengan nafas yang semakin memburu. Ciuman itu bagaikan candu yang membuat Adith menginginkan lebih. Meski Adith tau kalau tubuhnya sedang dipengaruhi oleh obat yang cukup kuat, tapi entah kenapa hatinya terbakar sempurna dengan setiap gerik, desahan dan aroma dari wanita itu. "Siapa sebenarnya wanita ini?" Batin Adith sembari terus memperhatikan wanita itu namun kemudian dengan cepat tubuhnya kembali ditarik karena tembakan yang langsung mengikis bahu Adith karena berusaha melindungi wanita itu juga. Adith kembali melesatkan tembakan hingga peluru di pistolnya habis yang setelah itu bunyi tembakan dari arah yang berbeda terdengar menyapu habis orang-orang Calvin yang baru saja berdatangan. "Kap¡­ ehemm! Calvin berhasil lolos. Kami sudah mengamankan beberapa barang bukti." Seorang pria nampak sedang berbicara dengan wanita itu. "Tidak masalah, aku juga sudah mendapatkan sidik jarinya dan untuk sekarang.." wanita itu tampak tak bisa melanjutkan kata-katanya saat Adith sudah mengecup lehernya dengan begitu panas. Pria itu terkejut bukan main melihat wanita dihadapannya sedang mendapatkan penyerangan yang mana tidak dia hindari meski ia bisa memberikan pukulan telak pada laki-laki itu. "Jlebbbb, Uaahhhh!!!" Wanita itu yang sebelumnya terkejut dengan apa yang dilakukan Adith malah menusuk mata pria yang sedang berada di sampingnya dengan sangat kuat sampai ia berteriak histeris. "Kap¡­ ehemmm ada Ap¡­ hah??" Salah seorang yang datang juga sama terkejutnya dan langsung menutup mata untuk melindungi dirinya sendiri. "Aa.. a aku tak melihat apapun sumpah!" Ucapnya dengan tubuh bergetar hebat karena takut dan shock dengan apa yang baru saja disaksikannya. "Bisakah kau hentikan itu?" Suara lembut wanita itu segera menyadarkan Adith sehingga ia mundur beberapa langkah dan melonggarkan dasi dan membuka kancing bajunya. "Selesaikan yang lain, aku akan mengantarnya pulang!" Tegasnya kepada kedua orang pria tersebut yang kembali membuat mereka terbelalak tak percaya. Wanita itu dengan cepat menangkap tubuh Adith yang melangkah gontai. Chapter 352 - Ayumi Mendengar banyaknya tentara gabungan yang segera memasuki ruangan dimana Adith berada disana membuat Yogi cukup panik. Terlebih saat mendengar rentetan bunyi senjata dari tempat yang sama. Yogi yang ingin masuk kedalam untuk melihat keadaan Adith harus terpaksa mundur karena terhalang oleh satuan gabungan tersebut sehingga ia tak bisa berbuat banyak. "Apa yang sedang terjadi?" Tanya Zein kaget melihat situasi kacau yang ditampilkan dari alat komunikasi yang berada pada Yogi. "Aku juga tak tahu tapi sepertinya Adith sedang berada dalam bahaya saat ini" Yogi terus mencari celah untuk bisa menemukan keberadaan Adith. "Sepertinya ini tidak baik, keluarkan Adith dari sana secepatnya. Jika tidak identitasnya bisa terbongkar oleh publik yang terus berdatangan dan merekam kejadian itu." Pinta Karin cepat yang membuat Yogi semakin mencari tempat untuk ia bisa menerobos masuk kedalam Bar. Hingga beberapa saat dari kejauhan Yogi melihat Adith sedang dibawa oleh seorang wanita yang tidak begitu jelas ia lihat. "Apa yang akan dilakukan wanita itu kepada Adith?" Tanya Riyan cepat yang membuat Yogi langsung melangkah cepat menghampiri Adith. "Maaf, anda tidak bisa berada di sekitar sini." Jelas seorang penjaga menghalangi Yogi untuk menghampiri mobil hitam yang tak jauh berada di hadapan Yogi. Yogi terus memaksa untuk bisa menghampiri mobil tersebut dengan mencoba berkompromi dengan para penjaga yang menghalanginya. "Di.. dia siapa?" tanya seorang laki-laki yang berada di kursi kemudi dengan sangat penasaran namun tak berani menoleh. "Jalankan mobilnya!" Perintah wanita itu dengan tatapan dingin. "Ah¡­ Siap!" Tanpa pikir panjang ia segera membunyikan mobilnya dan pergi dari sana. Yogi yang kaget berusaha untuk menerobos untuk mengejar mobil tersebut namun tak berhasil karena ia sampai dihalau oleh 4 orang sekaligus. "Kau¡­." Adith langsung menekan bahu wanita di sebelahnya dan membuat wanita itu berada di bawahnya yang membuat orang yang mengemudikan mobil tersebut menginjak rem karena terkejut. "Apa yang sedang kau lakukan?" Tatap wanita itu dengan sangat tajam membuat pria yang ada di depan bergetar dengan hebat tak tahu apa yang harus ia lakukan. Melihat mobil itu berhenti secara mendadak membuat Yogi dengan lihainya melepaskan diri dari mereka dan melesat menghampiri mobil yang hampir saja membawa pergi Adith. "Tokkk tokkk tokkk" Yogi dengan keras mengetuk pintu mobil tersebut. Mendengar ketukan keras itu pria yang mengemudikan mobil segera membuka mobil tersebut yang dengan cepat membuat Yogi membuka pintu mobil dan menengok ke dalam. "Haaahhh???!" Bukan hanya Yogi yang terkejut dengan apa yang sedang dilakukan oleh Adith, Zein dan yang lainnya yang terus menyaksikan seluruh gambar video yang diambil oleh Yogi juga tak menyangka akan menyaksikan hal tersebut. Yogi menampar dirinya sendiri untuk menyadarkan dirinya sendiri dan membuatnya kembali sadar dari keterkejutannya. "Adith, apa yang sedang kau lakukan?" Yogi dengan cepat menarik Adith dari posisi eksotis mereka. "Apa dia temanmu?" Tanya wanita itu dengan begitu lembut. "Ah.. maaf, benar! Apa aku bisa minta tolong? Tolong antarkan dia ke tempat ini." Yogi dengan cepat menyerahkan Adith kepada wanita itu. Wanita itu mengerutkan keningnya tak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan oleh pria itu setelah mengetuk pintu dengan keras hanya untuk berbicara seperti itu. "Yog, apa yang kau lakukan? Bawa aku pergi dari sini, ini bukan saatnya untuk bercanda!" Pengaruh obat Adith semakin membuatnya tak mampu mengendalikan diri dengan baik lagi sampai kepalanya serasa berkunang-kunang karena membutuhkan pelampiasan. "Ini saat yang tepat. Aku tak tahu kenapa tapi sepertinya wanita ini bisa membuatmu melupakan Alisya dan memulai hidup baru." Yogi menaik turunkan keningnya tidak mengetahui derita Adith yang sedang dirasakannya sekarang. Yogi hanya mengira kalau Adith sedang menemukan seseorang yang terlihat begitu menarik di matanya sampai dia berani melakukan hal tersebut kepada wanita itu saat selama ini Adith terjebak dalam traumanya yang membenci setiap wanita. "Anda¡­" Yogi bingung dengan baju pelayan yang dipakai wanita itu sehingga ia tidak yakin harus memanggilnya apa mengingat mobil hitam mewah yang sedang di naikinya. "Ah, jangan salah paham. Aku hanya tidak tega meninggalkannya dengan luka di tangannya sehingga pihak Bar memberikan mobil untuk mengantarkan tuan Adith kembali." Ucap wanita itu cepat agar Yogi tak salah paham dengannya. "Oh¡­ Siapa namamu? Kau masih terlihat muda untuk menjadi pelayan di Bar itu." Tanya Yogi yang bisa menaksir umurnya yang masih terlihat muda dari wajahnya meski ia memakai kacamata bulat yang membuatnya terlihat cupu dengan gigi behelnya. "Ayumi, anda bisa memanggil saya Ayumi. Maaf tapi sepertinya saya bisa menyerahkannya pada anda sekarang." Ucap wanita itu memberikan Yogi ruang untuk segera membawa Adith bersamanya. "Oh tidak, bisakah kau tetap mengantarnya ke tempat ini?" Pinta Yogi menatap nakal ke arah Adith yang semakin membuka kancing bajunya karena merasa panas dan kurang nyaman. "Setan apa yang merasukinya?" Zein segera berpandang-pandangan dengan Riyan dan Karin karena bingung. "Maksudnya?" Wanita itu mengerutkan kening tak paham apa yang dimaksudkan oleh Yogi dengan menyerahkan Adith padanya yang orang asing. "Aku akan memberikanmu uang lebih." Tegas Yogi cepat agar wanita itu mau untuk tetap mengantar Adith ke apartemennya. "Oke siap!" Ucapnya segera masuk kedalam mobil dan beranjak pergi dari sana meninggalkan Yogi yang melambai dengan penuh makna. "Siapa wanita itu?" Ryu datang menghampiri Yogi namun tidak sempat bertemu dengan wanita yang berbicara dengan Yogi sebelumnya. "Dia pelayan Bar itu. Aku rasa perempuan itu membuat Adith tertarik padanya." Ucap Yogi melangkah dengan penuh senyuman. "Kau yakin? Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Apa kau tidak ingat dengan anggota Black Falcon yang mayoritas mereka adalah wanita? Bagaimana jika Adith malah dalam bahaya sekarang?" Karin menyesali apa yang baru saja dilakukan oleh Yogi kepada Adith. "Kalian mungkin tidak mengetahuinya, tapi aku bisa melihat dengan jelas kalau Adith sudah melayangkan kecupan di leher wanita tadi. Lehernya tampak sedikit memerah." Tebak Yogi dengan isnting prianya. "Kau yang akan menanggungnya nanti" tegas Zein tak ingin terlibat dalam urusan Yogi. Sesampainya di apartemen milik Adith, Ayumi dengan cepat membuka pintu apartemen itu dengan menaruh tangan Adith pada scaner pintu untuk membukanya. "Pulanglah sekarang, kau akan menyesal jika berada disini lebih lama lagi." Usir Adith yang dalam hati memaki Yogi karena membiarkannya pergi bersama wanita ini. "Dasar bodoh! Apa yang bisa membuatku menyesal? Bukankah kau sudah cukup menahan diri setelah terpisah lama denganku?" Makinya sembari menarik tubuh Adith masuk kedalam kamarnya. Chapter 353 - Aku Istrimu "Kapten, terlalu berbahaya jika anda masuk seorang diri ke dalam sana apa lagi dengan memakai pakaian pelayan seperti itu." Rizal segera mengingatkan Ayumi sebelum ia masuk ke dalam ruang dimana terdapat Calvin disana. "Benar, dia sangat licik dan bajingan. Hal seperti ini tidak perlu anda yang turun tangan langsung, mengingat dia bisa melakukan apa saja kepada pelayan wanita seperti yang selama ini ia lakukan kepada yang sudah-sudah." Tambah Elvian merasa bahwa orang dengan jabatan setinggi Ayumi yang merupakan kapten satuan khusus tidak perlu campur tangan langsung dalam menangani kasus tersebut. Mendengar mereka yang terus saja mendesah membuat Ayumi kesal dan mengambil beberapa barang yang bisa ia pakai untuk penyamarannya. "Apa ini cukup?" Ayumi memasang gigi palsu yang membuatnya giginya terlihat sedikit lebih maju serta kacamata bulatnya yang membuatnya terlihat lebih cupu. "Tapi¡­" mereka yang ingin memotong seketika dihentikan oleh Ayumi yang sudah menatap dengan yakin. "Kalian tidak perlu khawatir kepada ku, aku tau akan apa yang aku lakukan." Terang Ayumi yang sebenarnya merasa curiga melihat penjagaan ketat yang sedang dilakukan oleh Calvin saat itu. Setelah berhasil melakukan penyamaran yang membuatnya tak bisa dikenali, Ayumi masuk dengan mudah dan segera mengambil nampan yang akan dibawa masuk ke dalam ruang tersebut. "Sebentar!" Seorang pengawal tampak memberhentikan Ayumi yang akan masuk kedalam ruangan Calvin. Ayumi diperiksa dengan menyeluruh karena curiga kalau ia akan membawa senjata atau barang lainnya yang dapat membahayakan Calvin. "Masuklah." Ucapnya setelah merasa yakin tidak ada barang apapun yang mencurigakan di tubuh Ayumi. Ayumi masuk kedalam dan tak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang berada didalam tersebut karena banyaknya asap yang mengepul di ruangan itu dengan cahaya yang minim. "Sepertinya Calvin yang berada pada bagian tengah itu." Batin Ayumi saat melihat sosok yang terlihat begitu angkuh dengan wanita yang berada di sekelilingnya. Dengan cekatan Ayumi menaruh botol minuman yang dibawanya diberikan kepada Calvin yang tanpa disadari oleh Calvin, Ayumi berhasil mengambil gelas kosong dari meja Calvin sembari mengambil puntung rokok miliknya. Kemudian segera bergeser ke sebelah meja lagi untuk sengaja sedikit berlama-lama mendengarkan pembicaraan mereka yang setelah mendengar lebih seksama, Ayumi terkejut dengan suara berat dan hangat yang didengarnya. "Detakan jantung ini? Adith?" Batin Ayumi masih takut untuk melirik ke arah suara yang berada disampingnya karena takut bahwa apa yang dia pikirkan adalah benar. Ayumi mematung di tempatnya sehingga tak menyadari saat asisten Calvin sudah menodongkan senjatanya kepada Adith namun dengan cepat Adith bisa menghindari tembakan tersebut dan menarik Ayumi untuk berlindung. Melihat Adith berusaha melindunginya, Ayumi menatap Adith dengan sangat dalam dengan jantung yang terus berdegub kencang. Ayumi merasakan kerinduan yang teramat mendalam kepada pria di hadapannya itu. Tidak sedetikpun ia mengedipkan matanya untuk terus menatap setiap inci wajah Adith. "2 tahun lalu saat pertama kali bertemu denganmu aku sudah memutuskan jika takdir mempertemukan kita sekali lagi, maka aku takkan lari dan kembali padamu." Ayumi tanpa sadar menarik leher Adith lalu mengecup bibir Adith dengan begitu hangat. Rasa rindu serta cinta yang sudah lama ia pendam ia curahkan pada ciuman itu. Hati dan perasaanya menyatu dengan kecupan lembut yang ia berikan. Melihat Adith tak mengenalinya membuat Ayumi tak menyalahkan dia karena penyamaran yang serang ia lakukan saat itu sehingga ingin rasanya ia menjahili Adith terlebih dahulu. ***** "Aku sudah memperingatkanmu, jangan salahkan aku jika aku berbuat lebih padamu." Tegas Adith menatap Ayumi dengan begitu lekat. "Aku adalah istrimu, kenapa kau tidak mengingat ku?" Tanya Alisya membuka kebenaran mengenai dirinya dihadapan Adith. "Pufffttt istri? Aku belum pernah menikah sebelumnya. Jangan bercanda denganku, selama ini orang mengaku ingin menjadi istriku. Tapi belum pernah ada yang mengaku sebagai istriku." Adith tertawa sembari melepas Ayumi karena lelucon yang diberikannya. "Apa seperti ini kau akan mengenaliku?" Alisya melepas penyamarannya satu persatu untuk di perlihatkan kepada Adith namun reaksi Adith tetap saja sama. "Pulang lah, aku tak kan melarangmu untuk pergi sekarang juga sebelum terlambat. Jika kau melangkah lebih jauh lagi sekarang, kau tak kan bisa kembali lagi." Ucap Adith masih memberikan kesempatan kepada Ayumi untuk kembali memikirkan apa yang harus diputuskan olehnya. "Tapi aku tak punya keinginan untuk mundur meski kau tak mengingat ku saat ini." Alisya datang menghampiri Adith dengan melepas jasnya secara perlahan-lahan. "Pakkk¡­ itu adalah peringatan terakhir ku. Sekarang kau tidak bisa kembali lagi." Adith langsung menahan tangan Ayumi dan menindihnya di atas kasur empuknya yang kemudian dengan perlahan-lahan mendekat ke arah leher jenjang Ayumi. Alisya yang menatap Adith dengan penuh rasa kerinduan yang sudah lama terpendam karena waktu yang memisahkan mereka membuatnya menarik nafas dalam dan menutup mata memasrahkan dirinya sepenuhnya kepada Adith. "Bukkkkhhh" Adith terjatuh tertidur di atas tubuh Alisya karena kelelahan menahan semua hasrat yang membuncah di dalam tubuhnya. "Puuufttt.. aku seperti wanita yang sangat agresif sekarang." Alisya tertawa melihat dirinya sendiri yang begitu pasrah memberikan segalanya namun malah di tinggal tidur. Alisya langsung membenarkan posisi Adith agar bisa berbaring dengan lebih nyaman. Dia juga sengaja membuka jas Adith yang sudah setengah terbuka dan melepas sepatu yang masih melekat di kakinya. "2 tahun lalu kau tak mengenaliku karena rambut pendek dan kacamataku, dan sekarang setelah bertemu kembali kau juga masih tak mengenaliku. Apa yang terjadi padamu Dith?" Bisik Alisya sambil terus membelai lembut rambut Adith. "Maafkan aku karena butuh waktu untuk bisa kembali padamu. Aku masih ingat apa yang terakhir kali kukatakan padamu saat kau kembali disekap oleh Artems. Semua itu aku lakukan agar Artems tidak melukaimu." Terang Alisya yang mengambil posisi berbaring disebelah Adith dan masuk kedalam pelukannya. "Kau pasti mengira kalau aku sudah mati karena ledakkan itu, tapi sebenarnya aku bisa selamat berkat pengorbanan Zy yang dengan energi nano terakhirnya dia menyerap penuh energi nanoku kemudian melemparku keluar agar daya ledak dari energi nano Artems tidak mengenaiku." Alisya terus berbicara dengan menenggelamkan wajahnya di dada Adith yang bidang. "Aku bukan berarti lolos dari daya ledak Artmes, gelombang ledakkan yang dihasilkannya hampir mengambil seluruh energi hidupku namun berkat ayah Caleb yang ternyata seorang mantan peneliti dari Black Falcon menyelamatkanku." Suara Alisya terdengar lirih dan mulai mengantuk berada dekat dengan denyut jantung yang sangat dirindukannya itu. "Butuh 5 tahun hingga energi nanoku terkumpul kembali." Ucapnya tertidur dipelukan Adith. Chapter 354 - Dasar Lemot "Ummmh¡­" Adith terbangun dari tidurnya dan menemukan seorang perempuan yang terlihat sangat cantik di sampingnya. "Uwaaahahhhhh!" Teriak Adith saat menyadari dirinya sudah dalam keadaan bertelanjang dada dengan wanita yang memeluknya dengan erat. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Adith tak mengira wanita pelayan itu masih berada disana dan bahkan tidur dengannya. Mendengar teriakan Adith, Alisya dengan cepat memasang ekspresi bingungnya namun kemudian teringat akan apa yang sudah terjadi semalam. "Saatnya bermain peran!" Batin Alisya mengambil kacamata bulat dan gigi palsunya yang semalam ia letakkan di atas meja. Alisya berpikir bahwa untuk saat ini ia ingin terus berada disisi Adith dengan jati diri yang baru agar tidak banyak menarik perhatian banyak orang. "Ba.. bagaimana kamu bisa masuk kemari? Sejak kapan aku berada disini?" Adith memegang kepalanya yang masih sedikit pusing karena pengaruh kuat obat yang semalam diberikan padanya lewat lilin aroma terapi. "Kau melupakan apa yang sudah terjadi semalam?" Ayumi keluar dari kamar Adith menuju dapurnya untuk mengambil segelas air minum. "Haahh???" Adith menganga lebar mendengar ucapan Ayumi yang sedikit ambigu buatnya. "Hufffttt, yang aku maksud adalah kejadian penembakan yang kau lakukan dengan Calvin semalam yang membuat lenganmu sedikit terkena tembakan dan luka karenanya." Tunjuk Ayumi menggunakan keningnya pada lengan Adith yang sebelumnya sudah di balutnya dengan cukup rapi. "Oh¡­" tatap Adith mulai mengingat sebagian ingatan mengenai apa yang terjadi semalam setelah melihat bekas luka dilengannya. Adith juga mulai mengingat akan apa yang sudah dilakukannya pada wanita itu yang membuat pipinya seketika memerah malu. Melihat ekspresi malu Adith, Alisya seolah paham apa yang sedang dipikirkan olehnya sehingga Alisya tersenyum licik. "Kau baru pertama kali melakukannya?" tanya Ayumi bersandar dengan tatapan menggoda yang membuat Adith menjadi kaku dan kebingungan. "Kau pikir siapa dirimu berkata seperti itu?" tanya Adith dengan tatapan kesalnya kepada Ayumi. "Bukankah sudah aku katakana padamu semalam kalau aku adalah istrimu?" tantang Alisya datang menghampiri Adith secara perlahan-lahan. "Mundur! Aku paling benci pada tipe wanita sepertimu, tingkat ke haluanmu terlalu tinggi. Sebaiknya kau pergi dari sini." Bentak Adith dengan suara dingin setelah mundur beberapa langkah untuk menjauhi Ayumi. Ia tak tahu entah mengapa tatapan wanita ini dibalik kacamata bulatnya membuat nyalinya sedikit menciut dengan aura menguasai yang cukup kuat. Adith merasa kalau wanita ini telah memiliki kuasa yang cukup besar untuknya sampai hati dan tubuhnya terus bergetar. "Tidakkah kau keterlaluan? Bahkan tubuhmu dan hatimu masih mengingatku tapi sepertinya otakmu masih dalam proses loading." Ayumi tertawa pelan melihat tingkah imut Adith yang seolah belum pernah dilihanya sebelumnya. "Ke¡­ keluar dari apartemenku sekarang sebelum aku memanggil petugas." Perintah Adith dengan suara yang bergetar saat mengatakannya. "Dasar Idiot tampan!" Alisya langsung menarik kemeja Adith mendekatinya. "Aku akan membuatmu menyesal karena sudah menolakku hari ini, kau tak kan ku beri jatah meski kau sudah mengingatku nanti." Ayumi kembali tertawa sembari melepas kerah Adith dengan sensual dan berjalan pergi. "Apa yang sudah terjadi pada wanita zaman kini? Kenapa mereka begitu agresif dan liar. Drama korea memang sedikit berbahaya juga." Batin Adith sembari bernafas lega saat melihat Ayumi sudah menghilang dari balik pintunya. "Clilittt" suara pintu kembali terbuka membuat Adith terlonjak kaget minta ampun. "Kau!!!" Adith terlihat begitu marah saat Ayumi kembali masuk dengan santai. "Aku melupakan ikatan rambutku!" Ayumi mengambil ikat rambutnya yang berada di atas meja dapurnya. "Kita akan bertemu lagi nanti, bye" Ayumi sengaja mengikat rambutnya dihadapan Adith untuk menunjukkan leher jenjangnya yang terdapat 3 tahi lalat yang bisa mengingatkan Adith akan itu. "I¡­ itu?" tunjuk Adith pada leher Ayumi yang dikira Alisya bahwa ia sedang menunjuk pada 3 tahi lalatnya tersebut. "Apa aku yang melakukannya?" ucap Adith yang ia maksudkan pada bekas cupang yang berada di leher Ayumi. Alisya terkait oleh kakinya sendiri sehingga ia menabrak pintu dengan sangat keras. Bunyi gedebum segera menggetarkan orang yang baru saja lewat di depan pintu apartement Adith. "Auhhh¡­ Dasar Lemot! Nih ambil buat mu." Ayumi melempar ikatan rambutnya ke wajah Adith karena kesal dan keluar dari apartement Adith dengan ekpresi malu sembari berlari masuk ke dalam lift dengan terus menutupi lehernya dengan rambutnya yang hanya sebahu. "Apa perempuan itu sudah gila?" Adith merasakan keram pada bagian hidungnya tak menyangka lemparan Ayumi cukup kuat mengenai hidungnya. "Sepertinya aku harus memberikan pelajaran kepada seseorang dengan sangat kejam kali ini." Maki Adith yang di arahkan kepada Yogi. "Hacciiuuuhhhh. Ohokkk ohokkkk ohokkk!" karena bersin mendadak di saat nasi goreng sedang memenuhi mulutnya, nasi itu masuk ke saluran tenggorokannya yang membuat lehernya menjadi gatal sehingga ia terbatu-batuk dengan hebat. "Makan tuh pelan-pelan, udah baca bismillah belum sih?" ibu Yogi segera membawakan segelas air putih yang langsung disambar oleh Yogi dengan cepat. "Sepertinya aku sedang merasakan kemarahan seseorang saat ini." Bulu kuduk Yogi berdiri membuat tubuhnya merinding dengan sangat hebat. "Apa kau membuat Adith kesal lagi?" Ayah Yogi pak Dimas datang menghampiri anaknya di meja makan. "Dia pasti sudah melakukan dosa besar melihat dari reaksinya itu." Adik Yogi yang memakai seragam sekolah SMA Cendekia langsung bisa menebak akan apa yang kira-kira sudah dilakukan oleh Yogi. "Ah.. ha.. ha.. Aku tidak melakukan apapun!" tawa Yogi canggung sembari kembali menyeruput minumannya dengan cepat. "Sudah jelas dia melakukan sesuatu" tuduh ibunya melihat gelagat aneh Yogi yang sudah sangat dikenalinya saat ia memang sudah melakukan sesuatu yang menyimpang. "Purrfffttt!" Yogi kembali menyemburkan air melalui hidung dan mulutnya yang membuat kepalanya menjadi sangat sakit. "Kenapa malah ibu juga ikut-ikutan?" tanya Yogi meringis sakit dengan memukul-mukul kepalanya pelan. "Mari lupakan atas apa yang sudah kamu lakukan, lebih baik kita membahas sesuatu yang penting." Ucap ibunya cuek dengan sedikit memberi sikutan pelan dan tarikan kening pada suaminya untuk membuka suara kepada Yogi. "Huh?" tanya Ayah Yogi tak paham. "Bukannya kita sudah bahas semalam?" bisik ibu Yogi dengan menggertakkan giginya pada suaminya. "Mama saja, papa ragu bilangnya." Ucapnya yang membuat mereka jadi saling lempar tugas sehingga Adik Yogi menarik nafas dalam yang kemudian meminum susu putihnya dengan cepat. "Mereka ingin tanya kapan kamu akan menikah dengan Aurelia? Sudah 7 tahun berlalu sejak kamu melamarnya dulu." Ucap adik Yogi santai yang langsung membuat kedua orang tuanya terbatu-batuk hebat. "Waahh¡­ kepekaan anak ini melebihi layar sentuh android mutakhir yang sangat sensitif!" tatap ibunya Yogi kagum tak menyangka anaknya bisa terlihat seperti orang yang sudah sangat dewasa. "Apa yang sudah kamu makan sampai bisa berkata seperti itu dengan santainya?" ayah Yogi melotot melihat ke arah adik Yogi bingung. "Huhhhh... anak kalian yang satu ini bukannya tidak peka, tapi ia pura-pura bodoh!" tegasnya mengambil tas dan menyalami kedua orang tuanya dan beranjak pergi. "Aku kesekolah dulu, Assalamualaikum!" "Wa alaikum salam." jawab keduanya yang kemudian tatapan tajam mereka beralih kepada Yogi karena kesal setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh adik Yogi. "Bahkan Dyra saja sudah bisa mengetahui apa yang kami khawatirkan dan kau masih bisa makan dengan enaknya?" tatap ibu Yogi dengan sangat tajam kepada Yogi yang sudah mulai menghabiskan nasi di piringnya. "Aku tau.." Yogi terlihat serius dan menatap lembut kedua orang tuanya. "Bukannya aku tak ingin menikahi Aurelia atau terus menunda-nundanya, tapi untuk saat ini mungkin bukan saat yang tepat untuk kami bisa menikah. Tapi jangan khawatir, kami sudah memikirkan ini semua bersama. Tinggal menunggu saat yang tepat saja." ucapnya lagi dengan suara lembut untuk membuat mereka bisa memahami apa yang dimaksudkannya. Melihat tatapan Yogi yang penuh akan keyakinan, keduanya hanya bisa menarik nafas dalam dan mempercayakan semuanya kepada Yogi. Chapter 355 - Jadi Namanya Ayumi? "Apa yang sedang kau lakukan dikantor? Bukankah kau sedang memiliki jadwal operasi hari ini?" Yogi yang dihukum oleh Adith sedang melakukan posisi setengah push Up di ruang kerja Adith di kantornya. "Kau bahkan tau mengenai jadwal Operasi dirumah sakit dan sering membawakan dokumen kantor ke ruang kerjaku tapi selalu menghilang dengan cepat. Kau tau sudah berapa lama aku mencarimu?" Adith menatap Yogi dengan kesal atas apa yang sudah dilakukan oleh Yogi padanya beberapa hari lalu. "Itu karena aku penasaran." Yogi bangkit dari hukumannya namun kembali ke posisinya lagi setelah mendapat tatapan tajam dari Adith. "Bagaimana bisa kau membiarkan aku pulang dengan perempuan yang tidak aku kenali sama sekali? Dan kau tau bagaimana aku.." Adith tidak yakin akan apa yang harus ia katakana berikutnya. "Justru karena aku tau kau sangat membenci sentuhan langsung dengan wanita karena Mysophobiamu itu, aku membiarkan kamu bersama Ayumi." Terang Yogi dengan nafas berat karena mulai keram dengan posisi setengah push Upnya tersebut. "Jadi Namanya Ayumi?" gumam Adith pelan yang masih dapat di dengar oleh Yogi dengan jelas. "Apa kau tidak inga tapa yang kau lakukan pada Ayumi malam itu? Kau dengan begitu agresifnya menyerang Ayumi tanpa menimbulkan reaksi berlebihan atau jijik kepadanya." Yogi kembali bangkit karena sudah tak mampu lagi dengan keringat deras bercucuran di balik jas hitamnya tersebut. "Apa maksudmu dengan berkata seperti itu?" Adith yang tidak bisa menilai dirinya tentu saja takkan tau bagaimana reaksinya kepada Ayumi saat itu. "Kau yang menyerangnya terlebih dahulu dengan mendaratkan tanda kepemilikkanmu di lehernya. Kau bahkan tak memperdulikan seorang pria yang melihat kalian dengan terkejut juga marah di depan." Ungkap Yogi setengah tersenyum mengingat tingkah Adith pada malam itu. "Ehem¡­ pokoknya jangan pernah lakukan hal itu lagi." Wajah Adith langsung memerah begitu mengingat kejadian itu. Adith menunduk dalam membelakangi Yogi tak meyangka kalau reaksinya akan berbeda dengan apa yang ia lakukan biasanya pada wanita lain umumnya. Karena ada hal yang harus ia lakukan mengingat hari ini aka nada perekrutan pegawai baru yang sudah masuk dalam tahap wawancara, Adith dengan cepat menuju ke ruang pertemuan untuk secara langsung melakukan proses wawancara tersebut. "Yani¡­ kamu ngapain sih di dalam?" teriak Ayumi kepada Yani yang berada di dalam tolilet dalam waktu yang sudah cukup lama. "Aduh Mi... Rasanya aku mules banget nih. Aku masih gugup banget untuk masuk kedalam." Teriaknya dari dalam bilik WC sambil terus memegang perutnya. "Kamu sudah maksa aku buat temani kamu kesini tapi sampai sini kamu masih gugup juga? Keluar nggak?" Ayumi menendang pintu WC dimana Yani berada karena kesal. "5 menit lagi wawancaranya akan dimulai, kamu bisa di anggap lalai kalau nggak berada di tempat tepat waktu." Lanjutnya lagi mengingatkan temannya itu. Yani yang memiliki nama Panjang Sriyani adalah teman pertama Alisya yang tidak sengaja ia temui dirumah sakit Yani sedang mengunjungi ibunya yang sakit. Ibu Yani mengalami kecelakaan yang membuatnya menderita kelainan saraf karena kerusakan pada bagian tulang belakangnya sehingga ia harus di rawat di rumah sakit dalam waktu yang lama. Alisya yang melihatnya terus berjuang untuk membiayai semua perawatan ibunya membuat Alisya ingin mengenal Yani lebih jauh lagi mengingat kepribadiannya yang kuat namun bersahaja dan tak pernah terlihat sedih. Ia bahkan selalu datang menghibur Alisya dan ibunya dengan tingkah konyolnya yang semangat dan ceria. "Oke bentar, aku baca bismillah dulu!" ucapnya setelah keluar dari toilet dengan wajah pucatnya. "Aku tak menyangka kalau orang seheboh kamu bisa gugup juga." Goda Ayumi dengan sedikit senyuman yang licik. "Kau pikir aku bukan manusia?" tatap Yani kesal ke arah Ayumi. "Ho oh.. bener!" ucap Ayumi singkat dengan anggukan pelan. "Bangke!" maki Yani yang membuat Ayumi membelalak dan langsung mengejar Yani. "Mulutmu harus ku beri pelajaran!" Ayumi sudah siap untuk menarik bibir mungil Yani namun tepat saat Yani memundurkan langkahnya dengan lebar, ia malah menabrak Adith dengan sangat kuat. "Ah, maaf maaf, saya nggak sengaja! Maafkan saya¡­" Yani langsung menunduk meminta maaf dengan tubuh yang bergetar hebat. "Hei, kalau jalan liat-liat dong! Kamu nggak tahu siapa yang sudah kamu tabrak?" bentak salah seorang dari rombongan yang jalan bersama Adith menuju ruang wawancara. "Maafkan saya, tapi saya benar-benar tidak sengaja!" Yani sekali lagi meminta maaf dengan wajah panik. Adith dan Yogi hanya terdiam dan terpaku saat melihat Ayumi juga berada disana. "Kamu pikir maaf saja cukup?" bentaknya lagi dengan kuat membuat beberapa karyawan kantor Adith menoleh ke sumber suara. Dengan tersenyum licik, Ayumi melangkah maju mendekati mereka dengan cepat. "Maaf, tapi teman saya benar-benar tak sengaja. Jika maaf saja tidak cukup, lalu bagaimana cara kami agar bisa mendapatkan permintaan maaf dari anda?" ucap Ayumi dengan suara lembut yang bergetar takut. "Wahhh¡­ Apa-apa''an karakternya ini? Bagaimana bisa ia memperlihatkan karakter seperti kucing basah saat di hadapan orang banyak sedangkan jika padauk dia bersikap seperti singa liar!" Batin Adith merasa terkejut dengan tingkah Ayumi dihadapannya. "Cihhh,, melihat dari pakainnya, sepertinya dia akan melakukan wawancara. Dengan tidak di ikut sertakan dalam tes wawancara sepertinya cukup." Ucapnya dengan penuh keangkuhan melirik ke arah Yani dan Ayumi. "Kamu Ayumi kan? Yang pernah ketemu denganku malam itu? Yang pelayan.." Yogi tidak melanjutkan kata-katanya demi menjaga harga diri Ayumi. Mendengar Yogi memanggil wanita yang lainnya membuat beberapa dibelakang Adith menjadi bingung dan tak mengerti sedang Adith menatap kesal kea rah Yogi. "Iya benar!" jawab Ayumi dengan tatapan bingung tak mengenali siapa orang dihadapannya itu. "Aku ingin mengucapkan terimakasih padamu, berkatmu temanku bisa pulang dengan selamat. Kamu tentu paham jika aku mengatakan ini bukan?" seru Yogi sembari mengulurkan tangannya dengan cepat ke arah Ayumi. "Ah¡­ Benar, sekarang saya mengingatnya. Tidak di sangka bisa bertemu dengan anda disini, jadi.." Ayumi menatap Adith seolah-olah baru mengingat bahwa orang yang di antarnya adalah Adith. "Benar. Ehemm.. ngomong-ngomong apa kamu juga ikut pada tes wawancara ini?" tanya Yogi sembari melirik ke arah Yani yang terlihat bingung. "Ah tidak, aku hanya mengantar temanku saja. Dia terlalu gugup untuk melakukan wawancara ini." Jawab Ayumi cepat. "Aku harap kejadian tadi tidak membuat tuan Adith marah dan menghapus nama teman saya dalam peserta tes wawancara ini." Pinta Ayumi dengan suara lembut. Melihat sikap Ayumi yang terlihat Aneh dimatanya, Adith jadi menunggingkan senyum tipis memikirkan rencana licik. Chapter 356 - Tantangan Untuk Ayumi Mendengar apa yang dikatakan Ayumi, Adith langsung menyunggingkan senyum tipis. Melihat senyum tipis itu, Alisya paham akan apa yang sedang dipikirkan oleh Adith saat itu. "Tentu saja, tidak masalah bagiku. Tapi dengan syarat tentunya." Tantang Adith dengan senyum liciknya. "Sya¡­ Syarat? Harus pakai syarat juga?" tanya Yani dengan gugup tak ingin menyulitkan Ayumi karena dirinya. Adith hanya melirik sekilas pada Yani lalu kembali menatap Ayumi dengan tajam. "Kenapa? Kau tak mau? Kalau begitu temanmu tak perlu melanjutkan usahanya lagi." Terang Adith sengaja memancing Ayumi untuk menerima tantangannya. Adith teringat dengan ucapan Yogi yang berkata bahwa mungkin saja dengan kehadiran Ayumi disisinya dapat mematahkan anggapan semua orang mengenai dirinya yang disebut sebagai homo karena terlalu sering ia bersama Yogi dan tak pernah mau di dekati oleh wanita lain. "Aku pikir dia tidak peduli dengan anggapan itu!" Batin Yogi yang tersenyum secara sembunyi-sembunyi. Alisya yang merasa bersalah karena dirinyalah Yani harus sampai menabrak Adith. Selain itu Alisya memang sudah memutuskan untuk menemani Yani yang dari awal Alisya sudah menawarkan untuk ke perusahaan kakeknya tapi Yani memutuskan untuk ke perusahaan Adith, karena mengagumi Adith. "Baiklah, apa syarat nya?" Tanya Ayumi dengan nada suara yang ragu-ragu. "Kau harus ikut dalam tes wawancara kali ini. Jika kau berhasil lolos, maka aku akan meloloskannya juga. One plus one. Baguskan?" Ucapan Adith segera membuat orang-orang di belakangnya terkejut dengan cara Adith. "Tapi direktur Adith, kamu tidak bisa melakukan itu hanya karena Yogi mengenal perempuan itu." Bantah mereka karena merasa bahwa apa yang akan dilakukan oleh Adith akan menyebabkan kontroversi. "Aku tidak langsung mengangkat mereka sebagai pegawai perusahaan ini, tentu saja dia bisa masuk jika dia lolos dalam tes wawancara nanti." Tegas Adith menatap tajam ke arah mereka. Meski Adith jarang berada di perusahaannya, tapi segala hal tentang perusahaan berada di bawah wewenang dan tanggungjawab Adith sehingga mereka segera terdiam setelah mendengar ucapan Adith. "Selain itu, kalian bisa mengujinya secara langsung." Lanjut Adith lagi yang membuat Yogi bingung. "Sebenarnya kau ingin membuat Ayumi berada disisi mu atau ingin memberikannya pelajaran sih?" Bisik Yogi kepada Adith dengan menggertakkan giginya. Adith hanya menatap kesal kepada Yogi yang membuat Yogi kembali pasrah dengan apa yang sedang direncanakan oleh Adith. "Bagaimana? Sepertinya penawaran dari direktur tidak buruk." Ucap Yogi mencoba untuk membuat Ayumi masuk dalam rencana Adith. Alisya tersenyum melihat tingkah mereka berdua yang sedang menjeratnya, namun sulit baginya untuk memutuskan akan apa yang harus dilakukannya. "Bzztt Bzzt,,," sebuah panggilan dari earphone milik Alisya segera masuk. "Ummm¡­" Bagi Adith dan yang lainnya yang melihat Ayumi, dia seolah sedang dalam keadaan berpikir. Namun sebenarnya Alisya sedang menjawab panggilan itu dari bawahannya Elvian. "Kapten, kami sudah menemukan data dari salah seorang mereka yang ternyata sebagian besar dari mereka bekerja sama dengan petinggi-petinggi dari beberapa perusahaan." Ucapnya dengan nada tegas setelah sebelumnya memberikan penghormatan kepada Alisya. "Suplai dan juga investasi banyak didapatkan dari mereka yang masuk kedalam organisasi. Dan mereka mendapatkan keuntungan besar dari situ." Tambahnya lagi memberikan semua laporannya kepada Ayumi. "Oke, tidak masalah. Tapi jika saya lolos dalam tes wawancara ini, maka saya juga akan menjadi pegawai perusahaan ini tentunya." Ucap Ayumi yang langsung di dengarkan juga oleh bawahannya. "Tentu saja!" Ucap Adith sambil berlalu pergi dari hadapan Alisya dengan tersenyum puas. "Katakan pada yang lain untuk mengurus semuanya, aku akan melakukan penyamaran menjadi karyawan di salah satu perusahaan ternama dimana kita bisa menemukan para petinggi tersebut." Perintah Ayumi dengan nada dingin yang langsung disanggupi oleh Elvian meski ia tidak yakin dengan apa yang sedang dipikirkan oleh kaptennya. "Ayumi, kamu yakin mau menerima tantangannya?" Tanya Yani yang terus memandang kepergian Adith beserta rombongannya sehingga ia tidak begitu memperhatikan apa yang dibicarakan oleh Ayumi. Meski Alisya dan Yani sudah semakin berteman dengan akrab, Yani tidak mengetahui kalau Alisya adalah kapten dari satuan khusus karena kerahasiaannya. Alisya yang menjadi kapten dari satuan khusus setelah menggantikan ayahnya tidak pernah sekalipun berkesempatan untuk bertemu dengan ayahnya secara langsung selama 2 tahun terakhir. Karena kemampuan Alisya yang hebat, hanya dalam 2 Tahun dia bisa menyelesaikan misi-misi yang sulit sehingga ia bisa mendapatkan jabatan tertinggi dalam satuan khusus. "Melihat wataknya yang keras kepala, sulit jika kita tidak menerima tantangannya. Terlebih karena kamu sudah melakukan banyak hal untuk bisa masuk ke perusahaan ini." Tatap Ayumi dalam kepada Yani dengan mendesah pelan. "Apa maksudmu dengan mendesah seperti itu?" Tanya Yani kesal merasa ada sesuatu yang aneh. "Bukan apa-apa, kau harus mentraktirku jika kita lolos. Jangan jadi beban untukku dengan tidak lolos dalam tes wawancara ini." Ancam Ayumi sambil berlalu pergi dari hadapan Yani. "Apa-apaan itu?" Bentar¡­" Ayumi terus melangkah pergi tanpa memperdulikan Yani. Mereka segera menuju ke tempat pelaksanaan tes wawancara dimana beberapa peserta dari tes itu juga sudah berada disana. Melihat kedatangan Adith beserta rombongannya membuat mereka semakin gugup dan khawatir. Namun tidak sedikit juga salah beberapa dari wanita itu tampil dengan begitu sempurna seolah untuk menarik perhatian Adith. "Bukankah apa yang kau lakukan sekarang hanya akan mempersulit dia?" Yogi segera berjalan tepat di samping Adith dan berbicara dengan setengah berbisik. "Kau yang menginginkan dia berada di sisiku bukan? Maka orang yang berada di sisiku haruslah orang yang memiliki kemampuan tinggi." Tegas Adith tak sabar untuk mewawancarai mereka berdua. "Jika dia hanyalah wanita yang lemah, maka dia tidak akan sanggup untuk berada di sisiku. Kau harusnya tau bagaimana kerasnya dunia bisnis sebenarnya." Lanjut Adith lagi sembari duduk di mejanya dengan aura yang sangat kuat. "Aku tau, tapi ini masih terlalu awal untuk memperlakukannya seperti itu." Desak Yogi tak ingin Adith membuang-buang kesempatan. "Jika tak ada yang sanggup maka takkan ada juga yang pantas untuk bersamaku." Tatap Adith dengan senyuman liciknya. Yogi sekali lagi pasrah dengan apa yang sedang direncanakan oleh Adith, sehingga Yogi terpaksa berdiri di sebelah Adith untuk menyaksikan semuanya. Yogi bahkan langsung menghubungi teman-temannya yang lain untuk ikut menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Adith tanpa sepengetahuan Adith. "Sebaiknya kalian ikut menyaksikan ini juga. Kalian masih ingatkan wanita muda yang pernah aku ceritakan pada kalian? Sekarang dia akan mengikuti tes wawancara yang akan di uji langsung oleh Adith." Yogi sedikit menjauh agar Adith tak mendengarkan apa yang diucapkannya. Chapter 357 - Meretas Perusahaan Adith Setelah beberapa wawancara sudah berlangsung, nama Yani akhirnya di panggil yang berarti bahwa Ayumi akan ikut dalam tes wawancara itu juga. "Silahkan masuk, sekarang giliran kalian." Ucap pegawai wanita itu dengan ramah. Yani dan Ayumi saling berpandangan sebelum memasuki ruang ujian. Yani yang sebelumnya terlihat sangat gugup menjadi lebih tengan karena ada Ayumi di sebelahnya. Yani menarik nafas dalam dan menatap Ayumi kemudian melangkah masuk dengan penuh percaya diri. "Silahkan perkenalkan diri kalian terlebih dahulu." Ucap seseorang yang berada di sebelah kiri Adith memulai tes wawancaranya sembari melihat CV dari keduanya. Ayumi yang tidak memiliki CV akhirnya terlebih dahulu memperkenalkan dirinya sebelum Yani. "Nama saya Rali¡­ Ehem, Ralin Ayumi Bachin. Saya hanyalah lulusan SMA dan belum pernah memiliki pengalaman bekerja di sebuah perusahaan sebelumnya. Saya hanya memiliki sedikit pengalaman pekerjaan seperti paruh waktu untuk kehidupan sehari-hari." Ucap Ayumi santai yang sontak membuat semua orang yang berada di dalam itu terkejut bukan main. "Perusahaan ini adalah perusahaan yang cukup besar dan bergengsi dalam bidang elektronik. Sungguh suatu hal yang mustahil jika ada seseorang yang melamar pekerjaan sebagai pegawai di perusahaan mereka dengan hanya bermodal ijazah SMA saja." Seorang yang berada tak jauh dari Adith langsung melontarkan pendapatnya. "Lain halnya jika dia mendaftar sebagai OB, itu mungkin bisa saja baginya. Tapi tes wawancara pada hari ini akan ditempatkan pada tiga posisi, yaitu Software Developer, System Analist, dan Information security analyst." Lanjut yang lainnya lagi tak yakin apakah Ayumi cocok untuk ikut serta dalam tes wawancara tersebut. Yogi menatap Adith dengan tatapan penuh kebingungan sedangkan Adith hanya menahan tawanya tak menyangka ini malah jauh lebih sulit untuk Ayumi. Yogi tak percaya di tahun serba tekhlogi mutakhir itu masih ada juga yang berijazah minim. Yogi takut kalau Ayumi malah tak bisa melakukan banyak hal dengan ijazahnya tersebut. Melihat sekilas senyuman dari Adith, Alisya juga melakukan hal yang sama dengan sedikit menyungginkan senyum sembari menunduk paham akan ke khawatiran mereka. "Bagaimana mungkin seorang berpendidikan SMA akan masuk dalam perekrutan kali ini? Hal mustahil baginya untuk mengetahui pekerjaan yang hanya diketahui oleh mereka yang berpendidikan tinggi." Ucap seseorang yang berada di sebelah kanan Adith yang meremehkan Ayumi karena pendidikannya. "Aku pikir dia hanya terlihat sedikit lebih muda tak ku sangka benar saja kalau dia mungkin belum lama lulus dari SMA." Tambah yang lainnya dengan terus tertawa pelan. "Berapa umurmu?" tanya nya ingin memastikan. "Sekarang aku berumur 25 tahun." Seru Ayumi dengan wajah tenang yang kembali membuat Yogi dan Adith kaget karena umur mereka sama. Yani bahkan jauh lebih terkejut lagi setelah mengetahui umur Ayumi. "Sepertinya kamu sedang menipu kami dengan memalsukan umurmu. Aku yakin kalau kamu masih berumur 20 atau 21 tahun." Tegas salah seorang dari mereka tak percaya dengan ucapan Ayumi. Tanpa menjawab, Ayumi segera mengeluarkan KTP palsu yang selama ini dipakainya sebagai identitas barunya. "Bukankah kalian terlalu cepat menilai? Banyak orang hebat di luar sana yang hanya bermodal ijazah SMA, bahkan tidak bersekolah dan masih muda namun bisa meretas system pertahanan negara-negara luar dengan mudah." Jelas Adith merasa perlu untuk melihat sejauh mana kemampuan Ayumi melihat dari sikap tenang dan percaya dirinya dengan berterus terang mengatakan mengenai pendidikannya tersebut. Adith merasa tertarik terhadap Ayumi. Ia berpikir bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan Ayumi melihat semua kenyataan yang tak pernah terbayangkan oleh mereka. Tak bisa membantah, mereka segera bertanya kepada Yani yang berada disebelah Ayumi. "Bagaimana denganmu?" tanyanya meski sudah melihat CV dari Yani, namun sepertinya mereka sengaja untuk memperdengarkan hal tersebut kepada Ayumi mengenai kualifikasi Pendidikan yang harusnya masuk dalam perusahaan mereka. "Emmm¡­" Yani merasa tak enak jika harus menyebutkan mengenai pendidikannya kepada Ayumi. Namun melihat respon santai dari dia dan anggukan pelan Ayumi, Yani akhirnya menghadap kembali ke para penguji tersebut. "Saya adalah Master Manajemen Informasi Bisnis dan Sistem dari Universitas Internasional Indonesia." Jawab Yani singkat tak ingin melebih-lebihkan gelar dan pendidikannya. Mereka sontak tersenyum puas setelah mendengar kualifikasi Pendidikan Yani yang sangat mumpuni dibandingkan dengan Ayumi. "Dibanding dengan masalah Pendidikan, kenapa kalian tidak terus menguji kemampuannya saja?" Yani yang sudah melihat cara kerja Ayumi yang selama ini membantunya cukup tahu beberapa hal yang juga dirasa Yani asing namun Ayumi mampu menyelesaikannya dengan mudah. Ucapan Yani sontak membuat mereka terdiam dan menatap Yani dengan tajam. Tidak ingin terpengaruh dengan ucapan Yani, mereka kemudian berpandangan untuk kembali menanyakan mengenai posisi yang sedang mereka rekrut. "Apa yang kau ketahui mengenai 3 posisi yang sebelumnya sudah aku katakan?" ucapnya dengan memberikan pertanyaan yang dirasa tidak akan mungkin di ketahui oleh orang yang hanya bermodal ijazah SMA saja. "Seorang software developer staff IT yang bertugas untuk melakukan riset, mendesain, megimplementasikan hingga menguji software dan sistem. Sorang system analist akan mendefinisikan kebutuhan user dan menyusun solusi untuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas. Sedangkan Information security analyst bertugas untuk mengembangkan sistem keamanan untuk menjaga jaringan dan sistem perusahaan." Jelas Ayumi yang membuat Yani terbelalak puas dengan jawaban Ayumi. Yogi yang sedari tadi memperhatikan Ayumi juga tak kalah semangatnya saat melihat Ayumi berhasil membungkam mereka semua. Sedangkan Adith menatap dengan penuh kekaguman. "Dia memilki pribadi yang cukup Tangguh!" gumamnya pelan memajukan tubuhnya kedekat meja dengan tangan yang ia tangkupkan ke arah wajahnya untuk menutupi senyumnya. Baru kali ini Adith merasa begitu tertarik kepada seorang wanita setelah selama ini terus saja merasakan jijik dan jengkel dengan mereka yang tampak mewah namun tak berarti apa-apa. "Ehem!" merasa kalah dengan jawaban Ayumi, kini mereka beralih kepada Yani. "Mengapa kami harus memperkerjakan kamu? Apa kelebihan yang kamu miliki?" ucapnya singkat yang tak secara langsung pertanyaan itu berlaku untuk Ayumi yang hanya bermodal ijazah SMA saja. "Sesuai dengan pekerjaan yang saya ajukan yaitu Sistem Analyst, Seorang system analyst akan memeriksa sistem atau model bisnis yang sudah ada, kemudian menganalisis keperluan sistem tersebut. Kemudian akan mengembangkan produk, mengimplementasikan, serta menguji solusinya dalam sistem." Jelas Yani memulai ucapannya dengan penuh percaya diri. "Anda bisa lihat berdasarkan CV itu mengenai nilai tes dan praktek yang saya dapatkan." Tunjuk Yani kepada CV yang sudah diberikannya. Yani yang kuliah dengan bermodal beasiswa merupakan salah satu mahasiswi dengan kemampuan yang cukup tinggi dan berkat itulah ia ingin membuktikan kepada ibunya bahwa ia bisa mendapatakan pekerjaan yang layak dan membahagiakan ibunya setelah selama ini berjuang demi Yani untuk bisa terus menyelesaikan studinya dengan baik. Yani yang mengingat ibunya yang sedang terbaring di rumah sakit saat itu menelan ludah dengan susah payah berharap untuk bisa mendapatkan pekerjaan itu. Mendengar penjelasan Yani, mereka serentak kembali menoleh kepada Ayumi yang akan menjadi penentu diterimanya Yani atau meloloskannya dalam tes wawancara kali ini. "Sepertinya kalian tidak akan percaya jika aku hanya berkata bahwa aku bisa meretas system didalam bangunan ini." Ucap Ayumi santai yang langsung membuat mereka merasa tersinggung karena ucapannya. "Kau pikir system dalam peusahaan kami memiliki system yang lemah? Perusahaan ini memiliki system yang sangat tinggi sehingga pengguna cyber crime professional bahkan tak mampu untuk meretasnya." Ucap salah seorang dari mereka dengan penuh kebencian. "Kenapa kita tidak membuktikannya saja?" tantang Adith merasa bahwa membuktikannya lebih baik dibanding hanya sekedar berkata-kata saja. Yogi hanya terus menyaksikan tes wawancara yang dirasa sangat menarik tersebut. Ia bahkan tak berkomentar dan terus memperhatikan seluruh jalannya proses wawancara. Mereka dengan angkuh memberikan laptop kepada Ayumi berharap kalau ia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Hanya dalam waktu 5 menit setelah Ayumi memegang laptop tersebut, seluruh system dalam perusahaan itu mati total. Chapter 358 - Menyelam Sambil Minum Air Yani dan Ayumi yang merupakan peserta terakhir dalam tes wawancara tersebut segera keluar dari ruang wawancara setelah mengembalikan sistem perusahaan Adith seperti semula. "Bagaimana mungkin seorang lulusan SMA bisa melakukan pekerjaan seperti itu?" Zein yang sebelumnya hanya terus menatap layar hologram dari kamera Yogi akhirnya berkomentar takjub. "Aku tak menyangka wanita itu bisa meretas sistem perusahaan Adith yang memiliki keamanan cukup tinggi dengan mudah dalam waktu yang singkat." Tambah Riyan kagum dengan apa yang dilakukan oleh Ayumi. "Akupun masih tak menyangka kalau ia memiliki kemampuan yang cukup tinggi seperti itu. Ini bisa menjadi sebuah Aib bagi perusahaan jika tersebar keluar." Jelas Yogi mengendorkan dasinya merasakan ketegangan. "Apa kau melihat ekspresinya? Ekspresi itu mengingatkanku akan seseorang." Terang Karin yang membayangkan Alisya namun melihat dia yang memakai kacamata bulat dan gigi behelnya membuat Karin tidak yakin. Apalagi sepengetahuan Karin bahwa Alisya sudah meninggal sehingga Karin hanya berpikir bahwa mungkin itu adalah 1 dari 7 orang yang memiliki kemiripan dengan Alisya. Penyamaran Ayumi dengan kacamata bulat dan gigi behelnya sedikit merubaha banyak kontur wajahnya sehingga ia sedikit sulit untuk dikenali. "Aku juga berpikir seperti itu, entah kenapa caranya berbicara dengan tenang namun penuh percaya diri itu, mirip sekali dengan presentasi yang pernah Alisya lakukan sewaktu menjadi partner Adith." Tambah Riyan mengingat kejadian silam. "Wanita itu memiliki daya tarik yang cukup kuat." Seru Aurelia yang duduk berdampingan dengan Adora serta yang lainnya di sebuah restoran. "Aku jadi ingin bertemu dengannya secara langsung." Tatap Adora pada layar hologramnya yang sempat ia gunakan untuk menangkap gambar Ayumi. "Benar, melihat Adith bisa tertarik pada wanita itu membuatku jadi penasaran." Seru Emi sembari meminum jus alpukat nya. "Jika pada akhirnya mereka berdua diterima di perusahaan Adith, maka Rinto punya tugas untuk mencari tau siapa wanita itu." Ucap Beni dari saluran yang berbeda yang membuat mereka setuju akan apa yang sedang dikatakan Beni. "Dimana Rinto?" Tanya Riyan cepat saat tak melihat Rinto terhubung dengan panggilan mereka."Dia sedang mengurus beberapa hal penting untuk rapat dewan direksi berikutnya." Jelas Yogi masih menunggu hasil rapat dari Adith dan dewan direksi lainnya. Rinto yang bekerja sebagai salah satu Manager Hardware perusahaan Adith tak sempat untuk berada dalam panggilan yang sama dengan mereka karena sibuk menyiapkan dokumen untuk presentasinya. "Aku akan kesana!" Suara Ryu segera memecah kesenyapan yang langsung membuat mereka terkejut karena tak menyangka kalau Ryu bisa sampai sepenasaran itu pada Ayumi. "Ada apa dengannya? Baru kali ini dia begitu antusias terhadap wanita lain selain Karin." Tatap Gani kepada Beni yang membuat Beni hanya menggeleng bingung. Sambungan video telepon bersama Ryu tiba-tiba terputus seolah Ryu sudah meluncur ke perusahaan Adith tanpa menunggu lebih lama lagi. "Kau yakin membiarkan Ryu seperti itu?" Tanya Feby kepada Karin yang masih terkejut dengan reaksi Ryu. "Dia tau apa yang akan dia lakukan. Kita tinggal menunggu informasi dari Mereka berdua saja." Karin mempercayai penilaian Ryu dan Rinto. "Aku pamit, masih ada pasien yang harus aku periksa." Ucap Karin langsung memutuskan sambungan telepon Yogi. "Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Zein kepada Yogi yang masih terlihat menunggu hasil rapat Adith dengan dewan direksi. "Untuk sekarang, sebaiknya aku terus memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku masih tidak bisa mengerti seperti apa jalan pemikiran Adith. "Terang Yogi yang langsung memutuskan panggilannya dengan semua teman-temannya. Percakapan mereka berlanjut pada grub chat yang terus berbunyi tanpa henti karena penasaran dengan ketertarikan Adith kepada wanita itu. Bukan hanya teman-temannya saja, seluruh perusahaan yang sebelumnya melihat cara Adith berbicara dengan Ayumi segera menjadi buah bibir dalam perusahaan yang tidak secara langsung menciptakan haters untuk Ayumi. "Jadi dia yang sudah membuat temannya sengaja untuk menabrak direktur untuk dapat menarik perhatiannya?" Bisik salah seorang perempuan begitu melihat Ayumi dan Yani duduk diruang tunggu untuk menantikan hasil wawancara pada hari itu. "Ciiih, dia bahkan terlihat sangat biasa dan bahkan gayanya sangat kuno dan¡­ tidak cantik sama sekali. Bagaimana mungkin direktur bisa tertarik dengannya?" Lanjut yang lainnya menilai Ayumi dari atas hingga kebawah kakinya yang memang saat itu hanya memakai baju ala kadarnya saja untuk mengantar Yani. Alisyayang memakai pendek selutut yang cukup lebar dengan kemeja levis yang membalut bagian atas tubuhnya serta tas samping kecil dan rambut pendeknya yang ia biarkan terurai acak-acakan membuatnya terlihat tak menarik sama sekali. "Aku seolah merasa dia mungkin adalah anak orang kaya raya yang dengan kekuasaannya bisa membuat direktur terpedaya dengan berpura-pura seperti itu." Lanjut yang lainnya lagi dengan suara yang lebih terang-terangan dibanding sebelumnya. "Kau benar, dia tentu datang dengan penuh persiapan. Dengan menemukan informasi mengenai direktur yang membenci wanita yang terlihat mewah namun kosong tentu membuatnya berpenampilan seperti itu untuk memperdaya direktur." Tuduh yang lainnya lagi yang membuat Alisya hanya tersenyum lucu. "Jika kemampuan analisis kalian pada orang lain bisa sampai sehebat itu, kenapa tidak kalian gunakan juga dalam menganalisis sistem sesuai dengan pekerjaan yang kalian lama?" Ucap Adith dingin ketika tak sengaja mendengar percakapan mereka saat ia menuju ke ruang tunggu mereka. Merekasemua langsung terdiam dan menunduk penuh ketakutan saat Adith masuk dengan aura kuat yang sangat mendominasi. "Selamat kepada mereka yang berhasil lolos dalam tes wawancara pada hari ini. Kepada nona Ayumi, Yani dan Vindra yang masing-masing akan menempati posisi sesuai dengan bidang yang diajukan." Ucap Adith secara terang-terangan dihadapan puluhan pelamar yang ikut pada hari itu. Pengumuman itu berakhir dengan diberikannya kartu identitas kepada ketiganya sebagai tanda diterimanya mereka bekerja di perusahaan Adith. "Aku akan tunggu hasil kerja kamu di kantor saya untuk 3 bulan kedepan." Tatap Adith kepada Ayumi yang mana ia maksudkan adalah melihat progres kinerja Ayumi selama 3 bulan sebelum akhirnya Ayumi benar-benar resmi menjadi pegawai tetap mereka. "Bukan hanya 3 bulan, akan aku pastikan kamu akan memintaku untuk berada disisimu selamanya. 3 bulan adalah waktu yang cukup untuk membuatmu mengingatku dan mencari informasi mengenai orang-orang organisasi." Gumam Alisya pelan yang membuat Adith mengerutkan keningnya. "Menyelam sambil minum air nih¡­" senyum Alisya yang hanya bisa dilihat oleh Adith membuat Adith semakin penasaran kepadanya. "Selamat Ayumi, aku harap kamu betah berada diperusahaan kami." Yogi dengan penuh semangat menghampiri keduanya untuk memberi mereka selamat. Ayumi dan Yani hanya saling berpandangan satu sama lain. Chapter 359 - Bertemu Ryu Melihat Ryu yang turun dari mobil hitam tak jauh dari pintu masuk perusahaan Adith saat Alisya dan Yani baru saja keluar setelah selesai mendengarkan pengumuman dari Adith, Alisya langsung berhenti sejenak tak menyangka kalau Ryu akan berada disana. Alisya sebenarnya sudah memperhatikan gelagat Yogi selama proses wawancara berlangsung sehingga dia yang sedikit merubah suaranya menjadi lebih nyaring dan ceria tidak menyangka kalau Ryu akan sedikit curiga. "Aku rasa hari ini masih kamu yang datang hanya dengan melihatku saja dari video yang dikirim oleh Yogi, jika Karin bertemu secara langsung denganku maka dia pasti akan langsung mengenaliku juga." Batin Alisya saat melihat tatapan tajam Ryu yang di arajkam padanya. "Yum? Ayumi? Ayumi??!" Teriak Yani kencang karena Ayumi nampak mematung dan melihat ke arah lain. "Maafkan aku, kamu pulang duluan saja. Aku masih ada urusan." Ucap Ayumi saat tersadar berkat teriakan kencang Yani. "Kamu kenal sama tuan Ryu?" Yani menoleh ke arah Ayumi melihat sebelumnya yang membuatnya tiba-tiba berhenti dan disana sudah berdiri Ryu yang menatap Ayumi tajam. "Bukankah kamu segera ingin memberitahukan kabar ini kepada ibumu? Sebaiknya kamu kesana sekarang karena aku yakin dia sudah tidak sabar menunggumu." Ayumi sengaja mengalihkan perhatian Yani dengan cepat. "Oh iya benar, ya sudah sampai ketemu di rumah. Jangan pulang larut malam lagi, kita harus makan besar malam ini sama ibu. Aku akan masak yang enak-enak." Teriak Yani sembari memesan taksi dan menghilang dari pandangan Ayumi. Alisya yang selama ini tidak memiliki tempat tinggal dan tidak bisa tinggal serumah dengan Caleb yang memiliki seorang kakak cowok bernama Caden dan Ezhar membuat Alisya memilih untuk tinggal bersama Yani selama 1 minggu terakhir setelah kembali dari tempat tugasnya. Alisya segera pergi menuju suatu tempat yang mungkin saja tidak terlalu banyak orang berkeliaran di sekitar sana, dan Alisya menemukan taman perusahaan yang terlihat sunyi di bagian kanan gedung utama. Melihat Alisya yang sudah memimpin jalan Ryu akhirnya mengikuti langkah kaki Alisya. Sejak awal Ryu melihat Alisya, dia merasakan energi nano yang tidak asing baginya. "Aku tak menyangka kau bisa mengenaliku meski aku sudah merubah penampilan dan suara ku sedemikian rupa." Ucap Alisya pelan dan berhenti berjalan setelah merasa berada pada tempat yang pas. Alisya berkata sembari membelakangi Ryu yang terus berjalan mendekatinya. Mendengar suara itu jantung Ryu seketika berdetak dengan sangat cepat. Ia membeku seketika dan tak bergerak seinci pun dari tempatnya. Kakinya kaku dan mata serta telinganya melebar sempurna menerka-nerka siapa yang berada di hadapannya itu. Dengan susah payah Ryu menelan ludahnya, begitu Alisya menoleh.. "No¡­ Nona," Ryu mendesah hebat dan langsung berlutut di hadapan Alisya yang merupakan orang yang sangat dihormatinya itu. "Berdirilah Ryu, kau membuatku terbebani dengan melakukan hal itu!" Perintah Alisya dingin namun Ryu tak bisa mengangkat tubuhnya untuk berdiri. "Aku sangat ingin memeluk nona saat ini, tapi karena aku tak bisa melakukannya maka biarkan aku melakukan ini." Ryu menunduk dalam tak bisa mengangkat kepalanya. Suaranya yang serak menandakan kesedihan serta kebahagiaan yang teramat mendalam karena bisa melihat kembali Alisya. Ryu tak pernah menyangka kalau Alisya bisa baik-baik saja bahkan tidak terluka sedikitpun di hadapannya saat itu. "Kalau begitu peluklah, aku sangat membutuhkannya sekarang." Alisya yang sudah menganggap Ryu sebagai saudaranya seolah menemukan kembali sandarannya selama ini. Dia yang sudah diketahui oleh Ryu tidak bisa kembali lagi untuk merahasiakan dirinya sehingga dengan suara seraknya Alisya ingin dipeluk oleh Ryu. "Tidak mungkin.." Ryu yang kaget mendengar ucapan Alisya dengan tegas ingin menolak namun melihat matanya yang sudah mulai berkaca-kaca membuat Ryu dengan cepat meraih kepala Alisya dan menaruhnya ke dalam dadanya. Ryu memeluk Alisya layaknya Adiknya yang sudah lama tidak pernah ditemuinya. Tangisan sesegukan Alisya dalam dadanya semakin menambah rasa sakit di hati Ryu. Sesak di dadanya membuatnya semakin mengeratkan pelukannya pada kepala Alisya dengan tetap menjaga jarak dari tubuh Alisya. "Kenapa nenek pergi di saat aku belum kembali? Kenapa nenek tidak menungguku? Kenapa mereka semua pergi meninggalkan aku?" Suara Alisya serak tenggelam dalam dada Ryu. Ryu bisa merasakan bagaimana pedihnya perasaan Alisya saat harus kehilangan neneknya yang merupakan pengganti dari ibunya tersebut. Alisya tak berkata-kata lagi dan hanya terus terisak-isak dalam pelukan Ryu. Jika saja itu adalah dada Adith, Ryu yakin kalau Alisya akan menangis sekencang-kencangnya untuk menumpahkan semua kesedihannya. Mengingat Adith yang mendapatkan kesedihan yang sama karena kehilangan Alisya dan harus melupakan segala hal tentang Alisya membuat Ryu menggertakkan rahangnya tak bisa menyalahkan Adith karena hal tersebut. "Apq yang sedang mereka lakukan? Bukankah itu Ryu? Kenapa dia memeluk Ayumi?" Yogi terkejut melihat Ryu yang memeluk Ayumi dari jendela kaca lantai 2 perusahaan mereka. "Apa? Siapa?" Tanya Adith penasaran dan segera mendekati jendela untuk melihat ke arah yang sedang dilihat oleh Yogi. Merasakan adanya bahaya, Yogi dengan cepat menghalangi Adith. "Bukan apa-apa.. sebaiknya kita ke kantormu saja karena masih banyak hal yang harus ditandatangani." Ajak Yogi cepat untuk mengalihkan Adith. Melihat gelagat aneh Yogi, Adith malah semakin penasaran sehingga memaksa untuk melihat kebawah jendela. Dari atas, dengan jelas ia melihat kalau Ayumi sedang berpelukan dengan Ryu. Meski mengetahui hubungan Ryu dengan Karin, melihat Ryu yang memeluk Ayumi sedikit membuatnya bingung. Adith malah mengira bahwa Ayumi adalah perempuan yang tidak baik karena dengan mudahnya berpelukan dengan pria lain terlebih karena ia tahu bahwa Ryu belum menikah yang berarti Ryu bukanlah suami Ayumi. "Aku pikir dia akan berbeda dengan kebanyakan wanita lainnya yang mengincar harta, tapi ternyata dia sama saja!" Senyum tipis Adith yang terlihat merendahkan itu membuat Yogi jadi bergetar takut. Adith mengira kalau Ayumi tak jauh berbeda dengan perempuan lain yang hanya melihat laki-laki dari jabatan mereka dan dari apa yang mereka miliki seperti saat ini kepada Ryu yang merupakan seorang CEO di perusahaan kakek Alisya dibawah kepemimpinan Ayah Alisya. "Sepertinya kau salah paham, aku yakin dia bukan wanita seperti itu!" Tegas Yogi mencoba untuk membela Ayumi dan membuat Adith untuk tidak cepat mengambil kesimpulan. Adith yang biasanya bisa bersikap tenang, saat itu terlihat secercah kemarahan yang tidak disadarinya setelah melihat apa yang sedang dilakukan oleh Ayumi dan Ryu. Adith tidak tahu bahwa hatinya yang sakit saat itu adalah pertanda akan perasaanya yang juga sakit karena hati Alisya yang sedang meraung karena kesedihan mendalam. Chapter 360 - Kenyataan 7 Tahun Lalu Setelah cukup tenang, Alisya akhirnya mengambil posisi duduk dengan nyaman di kursi taman dan menceritakan semuanya mengenai kejadian 5 tahun lalu serta bagaimana ia bisa selamat dari ledakkan tersebut. "7 tahun lalu kami mencari kebenaran apakah nona benar sudah meninggal atau tidak, namun dari seluruh bekas ledakkan itu bahkan jasad dari Artems maupun Omega tak kami temukan." Ryu bercerita mengenai apa yang sudah mereka lakukan 7 tahun lalu. "Ayah Karin terus melakukan penyelidikan dan menemukan bahwa ada sejumlah partikel aktif dalam ledakkan tersebut yang akan memakan habis setiap benda atau senyawa yang memiliki energi nano termasuk Makhluk hidup." Lanjut Ryu lagi yang kemudian menghadap ke arah Alisya. "Yang berarti manusia atau jasad kalian juga ada di dalam rantai makanannya sehingga kami hanya menemukan sebagian DNA saja dan tanpa sengaja kami menemukan untaian DNA milikmu dan yang lainnya dari partikel aktif tersebut." Jelas Ryu yang membuat Alisya paham mengapa mereka semua mengira dirinya telah meninggal. "Aku bisa memahami itu, malam itu aku terhempas cukup jauh sampai ke jalan raya dan sebuah mobil menabrak ku. Aku jatuh pingsan bukan karena tabrakan tersebut, melainkan seluruh luka-luka yang ada pada diriku yang cukup parah." Terang Alisya kembali menceritakan kejadian yang sesungguhnya.. "Kepalaku yang terbentur cukup keras membuatku koma selama beberapa tahun. Setelah tersadar, aku baru tahu kalau yang menyelamatkanku adalah Ayah Caleb yang ternyata merupakan seorang ilmuwan pelarian dari organisasi." Tambah Alisya lagi tersenyum dengan takdir yang tak di sangka-sangkanya. "Caleb? Apa yang kau maksud adalah anak kecil yang kita pernah selamatkan saat itu? yang kau berikan liontin dari ibumu?" Tanya Ryu yang ingin memastikan. "Benar, Ayah Caleb keluar dari organisasi setelah mengetahui bahwa anaknya menjadi salah satu korban dari organisasi. Meski ia keluar secara resmi, namun dia yang mengetahui banyak hal mengenai organisasi membuat nyawanya dan keluarganya juga ikut terancam." Terang Alisya menatap Ryu dalam. "Apa malam itu Ayah Caleb mengetahui apa yang dilakukan oleh Organisasi sehingga datang menyelamatkanmu?" Tanya Ryu penasaran bagaimana bisa Ayah Caleb bisa berada disana. "Tidak, justru malam itu terjadi secara kebetulan dan takdir lah yang mengatur semuanya." Jawab Alisya singkat. "Lalu kenapa nona tidak kembali dalam 2 tahun terakhir jika nona kembali tersadar setelah 5 tahun?" Ryu tidak menemukan alasan kenapa Alisya terus bersembunyi setelah itu. "Tubuhku terlalu lemah karena Omega berhasil menyerap habis energi nano dalam tubuhku. Butuh waktu lama untuk Ayah Caleb mengembalikan energi dalam tubuhku." Alisya tidak bisa memperlihatkan bekas luka-luka pada tubuhnya meski ia ingin. "Dengan bantuan Ayah Caleb, aku berhasil pulih dalam waktu cepat namun aku tetap belum bisa kembali karena belum memiliki kekuatan dan kekuasaan yang cukup untuk bisa berhadapan dengan Black Falcon." Alisya berdiri menatap jauh ke arah langit. "Itulah kenapa selama 2 tahun terakhir aku berusaha untuk mendapatkan kekuatan lebih dan menemukan kekuasaan dengan menjadi kapten dalam satuan khusus yang memiliki misi untuk menghancurkan organisasi BF." Lanjut Alisya lagi berbalik menatap Ryu yang sedang terduduk terus menatap Alisya. "Kapten? Sa.. satuan khusus?" Ryu tak menyangka bahwa Alisya bisa mendapatkan posisi itu dalam waktu yang sangat singkat. "Yup! Dan berkat itu, kami sudah menghancurkan beberapa cabang dari organisasi." Alisya tersenyum bangga dan senang bisa mengurangi nasib orang-orang yang akan bernasib sama dengannya. Melihat senyum Alisya yang terlihat puas, Ryu yakin kalau Alisya sudah berjuang cukup keras dan merasa bahagia dengan hal tersebut. "Nona.." Ryu menatap dengan sangat serius. Melihat tatapan sendu Ryu, Alisya seolah bisa mengerti akan kekhawatiran yang sedang dipikirkan oleh Ryu. "Apakah nona sudah bertemu dengan Tuan?" Tanya Ryu dengan sangat hati-hati. Alisya hanya menggeleng pelan. Ia memiliki banyak alasan untuk belum bisa menemui Ayahnya dan terus merahasiakan identitasnya demi terus menjaga kebenaran akan dirinya yang masih hidup diketahui oleh BF. Hal ini tentu akan menjadi lebih berbahaya lagi dari sebelumnya karena Ayah Caleb tahu bahwa Ayah serta orang yang berada disekitar Alisya akan berada dalam bahaya. "Ikutlah bersamaku." Pinta Ryu cepat kepada Alisya. "Tidak sekarang Ryu, sekarang bukan saat yang tepat!" Tegas Alisya masih ragu-ragu untuk mengungkapkan identitas nya kepada ayahnya. "Sebaiknya nona ikut sekarang sebelum nona menyesalinya. Kondisi tuan semakin hari semakin memburuk karena merasakan kesepian dan kesedihan yang amat dalam." Terang Ryu dengan suara berat ketika mengingat kondisi ayah Alisya. Alisya hanya berdiam di tempat yang membuat Ryu langsung berinisial untuk menarik tangan Alisya pergi dari sana. "Maafkan saya nona, tapi mohon mengertilah." Ucap Ryu langsung membawa masuk Alisya kedalam mobilnya yang kembali membuat beberapa orang di kantor Adith kembali heboh saat melihat Alisya dibawa pergi. Dengan jantung yang berdetak sangat kencang serta rasa was-was yang menyelimuti dirinya, Alisya terus memikirkan bagaimana reaksi ayahnya ketika mereka bertemu dan mengetahui kalau anaknya baik-baik saja dan masih hidup. Saat ini hanya tersisa Ayahnya saja satu-satunya keluarganya yang masih hidup sehingga dengan menahan rindu yang sangat tinggi, Alisya tidak bisa kembali kehidupan Ayahnya terlebih karena identitas asli dirinya yang sudah diketahui oleh organisasi. "Apa kau lihat tadi? Tuan Ryu masuk ke kantor direktur bersama seorang wanita. Aku belum pernah melihat tuan Ryu jalan berdampingan dengan seorang wanita ke kantor sebelumnya." Seseorang segera bergosip ria mengenai kedatangan Ryu bersama dengan Alisya. "Aku juga melihatnya, tapi wanita itu belum pernah aku melihatnya sebelumnya." Terang yang lainnya lagi dengan penuh semangat. Begitu sampai di ruang kantor Ayahnya, Alisya berhenti sejenak dan menarik nafas dalam. Setelah melihat Alisya sudah cukup tenang, Ryu segera membukakan pintu untuk Alisya. "Masuklah, Tuan sudah menunggu kehadiran nona dalam waktu yang cukup lama. Jangan buat dirinya menunggu lebih lama lagi di usianya yang sudah semakin renta itu." Pinta Ryu kepada Alisya dengan lembut yang dengan sopan menengadahkan kedua tangannya. Alisya bingung dengan apa yang sedang dilakukan oleh Ryu, namun kemudian paham sehingga dengan cepat ia melepaskan kacamatanya, mengikat tinggi rambutnya, melepas lensa mata serta membuka gigi palsu nya yang langsung ia masukkan kembali ke dalam kantongnya. "Terimakasih" ucap Alisya dengan senyuman manisnya. Alisya perlahan-lahan masuk kedalam namun tak menemukan Ayahnya di dalam ruangan tersebut. Setelah melemparkan penglihatannya keseluruh ruangan, Alisya masih tidak menemukan Ayahnya disana. "Ba¡­ Bapak??!" Alisya segera berteriak dan menghambur ke bawah meja setelah melihat tangan Ayahnya yang tergeletak lemah di lantai. Ayah Alisya ternyata pingsan. Chapter 361 - Apa Kau Berpacaran dengan Ryu? Mendengar teriak kan Alisya, dengan cepat Ryu menerobos masuk ke dalam dan melihat Alisya sudah panik duduk di hadapan Ayahnya yang terkulai lemas. Ryu tak menunggu waktu lama lagi sehingga dengan cepat dia menelpon ambulance. Ayah Alisya segera dibawa ke rumah sakit Pondok Indah yang merupakan rumah sakit bertaraf internasional dengan kualitas tinggi serta memiliki peralatan medis yang mutakhir. Alisya yang biasanya terlihat tenang dalam menghadapi situasi kali itu tak bisa menyembunyikan ekspresinya. Menunggu ayahnya yang sedang berada di dalam ruang UGD membuat Alisya takut akan terjadi sesuatu kepada ayahnya. "Bagaimana keadaan bapak saya dok?" Alisya langsung menghambur menghampiri dokter yang baru saja selesai melakukan pemeriksaan. "Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja. Sepertinya stress dan kelelahan yang memicu rasa sakit di kepala serta jantungnya sehingga ia jatuh pingsan. Kami sudah memanggil dokter spesialis untuk memastikan kondisi Ayahmu." Terang sang dokter menenangkan Alisya. Meski dokter sudah mengatakan bahwa Ayahnya baik-baik saja, Alisya masih belum bisa menghilangkan kekhawatiran nya yang teramat besar kepada ayahnya. Ayah Alisya dikeluarkan dari ruang UGD ke ruang perawatan kelas satu VVIP yang terlihat sangat nyaman. Alisya terus memegang tangan Ayahnya dengan tertunduk lemah tak bisa mengangkat wajahnya. "Nona, Tuan pasti akan baik-baik saja. Dengan melihat nona masih hidup, saya yakin tuan akan kembali sehat lagi." Ryu yang sedari tadi diam tak tahu harus berkata apa akhirnya buka suara. Dia tak tahan melihat Alisya terus menunduk sedih dan penuh khawatir. Ingin rasanya memanggil Karin saat itu juga untuk menghibur Alisya, tapi mendengar cerita Alisya sebelumnya ia mengurungkan niatnya. "Permisi¡­" Adith yang memakai jas dokternya masuk kedalam ruangan ayah Alisya yang membuat Ryu sedikit terlonjak kaget. Terlalu panik membuat ia lupa kalau rumah sakit itu adalah tempat dimana Adith bekerja sebagai dokter sehingga tentu saja dia akan berada disini untuk memeriksa ayah Alisya. "Nona¡­" panggil Ryu yang langsung memberikan kacamata Alisya yang sebelumnya di pegangnya. Ryu berdiri dihadapan Adith untuk menghalangi pandangan Adith. "Ryu? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Adith kaget saat melihat Ryu berada disana. Mendengar suara Adith, Alisya dengan cepat mengambil kacamata ditangan Ryu dan kembali ke moden penyamarannya. "Direktur¡­" Ryu langsung menunjuk Ayah Alisya yang membuat Adith mengangguk paham. Adith yang mengingat kejadian antara Ryu dan Ayumi membuat dia lupa kalau Ryu bekerja dibawah perusahaan tuan Lesham yang sedang terbaring belum sadarkan diri. Adith dengan segera berjalan menghampiri Ayah Alisya untuk memeriksanya yang begitu melihat Ayumi dia lebih terkejut lagi. Namun prioritas utamanya adalah memeriksa kondisi direktur terlebih dahulu dan membaca hasil rekam medisnya. "Apa tuan direktur memiliki keluarga? Ada hal yang harus saya bicarakan mengenai kondisi tuan direktur." Tanya Adith yang dari rekan bisnisnya selama ini mengetahui kalau tuan Lesham sudah kehilangan istri dan anaknya serta kedua mertuanya dan kedua orangtuanya sejak lama. "Direktur memiliki seorang adik perempuan di Amerika saat ini, tapi kau bisa berbicara dengannya." Tunjuk Ryu pada Ayumi yang berada di sebelahnya. Adith terlihat tidak yakin untuk berbicara dengan seseorang yang bukan keluarganya. "Dia yang selama ini merawat Tuan, akan lebih baik jika dia juga mengetahui kondisi Tuan." Terang Ryu sekali lagi mencoba untuk meyakinkan Adith. Melihat tatapan Ryu yang terlihat tidak berbohong dan juga dari bau Ryu yang tidak mengeluarkan aroma kebohongan, Adith akhirnya percaya. Ryu memang tidak berbohong, karena seharusnya Alisya lah yang mendengar semua hal mengenai kondisi Ayahnya. "Ikutlah keruangan ku." Ajak Adith cepat dan berjalan keluar dari ruangan Ayah Alisya. "Pergilah nona, nona yang seharusnya mendengar semuanya bukan saya. Biar saya yang menjaga Tuan Besar disini." Pinta Ryu kepada Alisya yang langsung di anggukkan olehnya dengan pelan. Alisya langsung pergi menuju ke ruang Adith setelah mendapat petunjuk dari perawat yang sebelumnya bersama Adith. "Tok.. tok.. tok.." ketuk Alisya sebelum masuk. "Silahkan duduk!" Tunjuk Adith dengan sikap profesional nya sebagai seorang dokter. Ingatannya akan Ayumi yang berada dipelukan Ryu membuat hati Adith kesal dan penuh amarah. Adith menggertakkan giginya dan menggenggam erat lututnya yang tersembunyi dibawah meja. "Sebaiknya untuk saat ini dia tidak mendapatkan kabar yang mampu membuat dia shock atau stress lebih tinggi lagi karena hal ini bisa menyebabkan dia mengalami Alzheimer." Lanjutnya lagi dengan terus bersikap tenang. "Apa dia akan baik-baik saja?" Suara Alisya tercekat saat menatap Adith dengan tatapan dalam. Adith yang semula tak memperhatikan mata Ayumi tidak menyadari tatapan Ayumi padanya. Begitu pandangan mata mereka bertemu, Adith bisa melihat kesedihan yang mendalam di balik kacamata bulatnya itu. "Ehhemm.. dia akan baik-baik saja. Hal yang sangat baik jika apa yang menyebabkan dia stress dapat berkurang dan berita baik akan sangat membantu dalam proses kesembuhannya." Jawab Adith dengan suara berat nya yang terdengar hangat di telinga Alisya. Semakin memandang wajah dan tatapan Ayumi, semakin membuat Adith merasakan keanehan di balik ekspresi wajah itu. Adith bingung mengapa Ayumi menatapnya dengan ekspresi yang sangat mendalam saat sebelumnya ia malah jatuh dalam pelukan Ryu. "Kalau begitu terimakasih A¡­ dok!" Alisya hampir saja menyebut nama Adith. Melihat Ayumi yang akan pergi, Adith merasa berat untuk melepas kepergian Ayumi dari ruangannya. "Apa kau berpacaran dengan Ryu?" Entah bagaimana pertanyaan konyol itu keluar dari mulutnya saat berdiri dan menghampiri Ayumi. Alisya berbalik dan menatap Adith yang saat ini sedang berada di hadapannya. Bukannya menjawab pertanyaan Adith, Alisya tidak bisa menahannya lagi dan langsung memeluk Adith dengan sangat erat. "A¡­ apa yang kau lakukan?" Tubuh Adith kaku karena terkejut mendapat pelukan dari Alisya. Meski ia terkejut, Adith tidak memiliki niat untuk melepaskan pelukan Alisya dari tubuhnya. "Biarkan aku sejenak seperti ini, ku mohon sebentar saja!" Pinta Alisya dengan semakin mengeratkan pelukannya dan tenggelam di dada Adith yang sangat luas dan bidang. Adith merasakan tubuh Alisya yang bergetar hebat dan desahan nafasnya yang sarat akan kesedihan yang teramat mendalam. Namun begitu mengingat Ayumi berada dalam pelukan Ryu sebelumnya, Adith langsung mengambil dagu Alisya dengan kasar. "Sepertinya kau sangat terbiasa berbuat seperti ini dengan jatuh ke pelukan semua pria yah¡­" ucap Adith sembari mengangkat wajah Ayumi untuk menatap dirinya. Melihat mata Ayumi yang basah akan air mata, jantung Adith berdetak cepat dan hatinya merasakan perih yang amat dahsyat. Tak tahan menatap mata itu, Adith langsung mencium bibir Alisya dengan lembut. Ciuman lembut Adith membuat Alisya tenggelam di dalamnya. Dia yang selama ini sangat merindukan Adith akhirnya bertemu kembali dengannya membuat Alisya mendekap erat tubuh Adith. Hati dan perasaan Alisya seolah menyatu hangat pada setiap helaan nafas saat Adith terus menciumnya dengan lembut. Ciuman lembut yang tidak terdapat nafsu memburu itu membuat Alisya merasakan cinta yang amat mendalam dari Adith. Adith sangat lembut memperlakukannya dengan menarik tubuh Alisya untuk semakin mendekat ke arahnya dan melingkarkan tangannya di pinggang Alisya sedang tangan yang satunya memegang pipi Alisya dengan hangat. "Mulai saat ini kau adalah milikku, takkan ku maafkan kau jika aku melihatmu memeluk Ryu ataupun laki-laki lain lagi." Ucap Adith saat melepaskan ciumannya dari bibir Alisya dengan lembut. "Sudah ku bilang kalau aku adalah istrimu. Dasar bodoh!" Alisya tertawa menunduk mendengar ucapan konyol Adith saat itu. Meski bingung dengan apa yang dikatakan oleh Ayumi, namun Adith berkesimpulan bahwa Ayumi menyetujui ucapanya yang sebelumnya dan kembali mencium bibir Alisya dengan lembut sekali lagi. Chapter 362 - Wanita Cupu Penakluk Adith "Tok¡­ Tok¡­ Tok¡­" Suara ketukan terdengar dari luar yang membuat Adith sedikit melonggarkan pelukannya dari Ayumi dengan lembut. "Masuklah!" Ucap Adith dengan tangan masih melingkar di pinggang Ayumi. Alisya hanya terdiam saja tak bereaksi malu-malu atau kaget saat seorang perawat masuk kedalam ruangan Adith. "Ah¡­ Maafkan saya!" Perawat itu kaget melihat Adith sedang melingkarkan tangannya di pinggang Ayumi dengan begitu akrab. Alisya yang tidak menyadari tangan Adith melingkar di pinggangnya segera bereaksi dengan cepat. "Hu? Oh!" Alisya yang sebelumnya bingung akhirnya paham kalau bagi mereka Adith adalah seorang pria yang belum menikah sebelumnya dan tidak dekat dengan seorang wanita. Ayumi berusaha untuk melepaskan tangan Adith dari pingganya dengan kuat namun Adith tidak memiliki niat untuk melepaskan tangannya. Dia malah menarik Ayumi untuk semakin dengan tubuhnya. "Masuklah, ada apa?" Tanya Adith santai yang membuat si perawat yang memerah malu dengan aksi Adith. Ia yang sudah sering berada di sekitar Adith baru kali ini melihatnya begitu akrab dengan seorang wanita dan bahkan terlihat sangat alami seolah-olah kesan dirinya yang dingin terhadap perempuan menghilang begitu saja. "Siapa wanita cupu yang berhasil menaklukkan dokter Adith saat ini?" Batinnya dalam hati bertanya-tanya sebelum menjawab pertanyaan Adith. "Emmm.. itu, ada pasien yang sudah menunggu di ruang UGD! Pasien mengalami kecelakaan parah yang menyebabkan luka berat di bagian tulang belakangnya." Jelasnya dengan menunduk dalam tak berani melihat mereka berdua. "Baiklah, aku akan segera kesana!" Tegas Adith yang kembali menatap Ayumi dengan lembut. "Oke dok!" Ia kemudian keluar dari ruangan Adith dan menutupnya dengan sangat pelan. Begitu pintu itu tertutup, mata perawat itu segera membelalak sempurna. Ia seolah menemukan sebuah berita besar yang sangat luar biasa. Dengan cepat ia berlari ke arah teman-temannya. "Aku punya berita besar buat kalian!" Teriaknya dengan suara pelan dengan tubuh yang bergetar hebat karena terlalu semangat. Semenit kemudian, semua hal yang baru saja terjadi pada Adith segera menyebar dengan sangat cepat mengalahkan pemberitaan di media sosial maupun televisi. "Ayumi, kau tinggalah dulu disini sebentar. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat dan kita bisa kembali ke ruang tuan Lesham bersama-sama." Adith langsung menawarkan diri seolah tak ingin melepas Ayumi pergi dari hadapannya. "Alisya, namaku Alisya dan tuan Lesham adalah Ayahku!" Tegas Alisya dengan tatapan penuh keyakinan. Adith mengerutkan keningnya tak percaya dengan ucapannya namun dari tatapan mata Ayumi, ia yakin bahwa Ayumi tidak sedang membohonginya. "Meski seluruh dunia ini melupakanku, kau adalah satu-satunya orang yang seharusnya tidak boleh melakukan itu. Tapi untuk saat ini, aku akan memaafkan mu." Ucap Alisya sekali lagi dengan suara lembutnya. Meski Adith tetap tak bisa mengerti akan apa yang dikatakan oleh Ayumi, mendengar apa yang dikatakannya membuat Adith tersenyum puas. "Oke, Alisya tunggu sampai aku selesai dan kita pergi ke ruang ayahmu bersama-sama. Jangan kemana-mana, kau sudah berjanji untuk tidak pergi pergi dariku dan aku takkan membiarkanmu meninggalkanku lagi." Ucap Adith menutup ruangannya dan segera berlari kecil ke ruang UGD. Setelah beberapa langkah, ia tiba-tiba berhenti sejenak. Sekelebat ingatan seolah membuat dia mengingat bahwa kalimat itu pernah ia ucapkan pada seseorang sebelumnya. "Akhhh" Adith memegang jantungnya yang tiba-tiba berdebar dengan sangat kencang yang terasa sakit dan hatinya terasa begitu pedih. Adith mengingat pernah mengatakannya pada seseorang namun wajah orang yang sedang berada di hadapannya itu terlihat buram dan ia tak tahu itu siapa. "Dok, anda baik-baik saja?" Seorang perawat yang melihatnya tertunduk meringis segera mendekati Adith dengan cepat. Menarik nafas dalam dan berdiam diri untuk sesaat menenangkan dirinya membuat sakit pada jantungnya secara perlahan-lahan mulai mereka. "Aku baik-baik saja. Ayo!" Tegas Adith cepat segera menuju ke ruang UGD dengan mengabaikan apa yang diingatnya sebelumnya untuk saat ini. Setelah beberapa saat, Adith dengan tergesa-gesa kembali ke ruangannya berharap agar Alisya masih berada disana. Begitu ia membuka pintu, Adith tidak menemukan Alisya disana sehingga ia mencari kesana kemari dengan wajah panik. "Alisya¡­ Alisya?" Adith terus memanggil nama Alisya sembari menelusuri ruangannya namun tetap tak menemukan Alisya. Dia dengan putus asa berlari keluar ruangannya untuk mencari Alisya namun begitu membuka pintunya, Alisya sudah berdiri disana dengan kantung putih berisi makanan di tangannya. "Huh!!!" Adith langsung bernafas berat dan menarik Alisya langsung ke pelukannya. Ia tak tahu mengapa namun pikirkan seketika kalut saat tak menemui Alisya diruangannya. "Adith.." Alisya tidak nyaman dengan rekasi Adith yang terlihat memeluknya saat mereka sedang berada di luar ruangannya. Setidaknya Alisya ingin menjaga harga diri Adith dihadapan orang banyak sebagai seorang dokter. Mendengar Alisya memanggil namanya, Adith merasakan kehangatan yang membuat rasa khawatirnya perlahan mulai menghilang. "Jangan pernah lakukan itu lagi." Ucap Adith yang terdengar bukan seperti sebuah permintaan namun terdengar sebagai sebuah Perintah. Alisya hanya tersenyum pahit. Ia mengerti mengapa Adith sekarang tanpa sadar menjadi sangat protektif terhadap dirinya. Tanpa ia sadari, apa yang pernah dikatakannya dulu mungkin membuatnya sangat terpukul. "Aku bosan menunggumu di dalam, aku akhirnya pergi membeli beberapa makanan dan buah di kantin rumah sakit untuk bisa kita makan bersama." Alisya mengangkat kantongnya yang sudah terlihat penuh. "Tunggu disini." Adit segera masuk ke dalam untuk membuka jasnya namun kembali dengan cepat dan membuka lebar-lebar pintunya agar tetap bisa melihat Alisya disana. Dengan begitu perhatian, Adith menggenggam tangan Alisya dengan sangat erat dan sebelahnya lagi mengambil kantong yang dipegang oleh Alisya sebelumnya menuju ke ruang Ayah Alisya. Ketika mereka masuk, ibu dan Ayah Adith sudah berada disana sementara Ayah Alisya masih belum terbangun untuk waktu yang cukup lama. "Bapak, mama¡­" panggil Adith cepat begitu melihat ada Ayah dan ibunya disana bersama dengan Ryu yang berdiri tak jauh dari Ayah Alisya. "Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Adith sekali lagi dengan tidak melepaskan tangannya dari tangan Alisya. Wajah Ayah dan Ibu Adith seketika menggelap kaget. Mereka tak menyangka kalau Adith akan datang dan menggenggam tangan seorang perempuan lain dengan begitu santainya. "Siapa dia Adith?!" Tanya ibunya dengan suara tegas yang membuat Adith bisa melihat kalau Ayah dan ibunya terlihat menentang hubungan keduanya. "Dia¡­" Adith mencoba untuk mengenalkan Alisya kepada keduanya namun Alisya sudah maju selangkah ke hadapan kedua orang tuanya. "Aku istrinya!" Ucap Alisya tersenyum lucu mengingat ekspresi marah ibu Adith yang melihat Adith seolah sedang berselingkuh sehingga ia dengan seketika ingin menggoda mereka sebelum membuka identitasnya. Chapter 363 - Bapak... Ini Quenby! Melihat mereka semua hanya terbengong mendengar ucapannya membuat Alisya tertawa pelan dan kembali berkata dengan sangat tegas. "Aku Istrinya!" ucapnya sekali dengan suara yang cukup terdengar keras. "Hahhhh???" Teriak Adith, Yogi, Riyan dan Zein mereka secara bersamaan. "Ngapain kamu juga ikutan kaget, Semvak!" maki Riyan kesal saat melihat Adith juga sama terkejutnya dengan apa yang dikatakan oleh Alisya. Ayah dan ibu Adith saling berpandangan satu sama lainnya masih belum bisa menyerap situasi yang baru saja di dengarnya tersebut. Meski ia sudah sering mendengar Alisya berkata seperti itu kepadanya, Ia tidak bisa untuk tidak terkejut saat Alisya dengan santainya mengatakan hal tersebut kepada kedua orangtuanya saat itu. "Habis aku juga nggak akan mengira dia bisa sampai berkata seperti itu dengan terang-teranga. Sejak kapan kalian berada disitu?" Adith menjawab dengan gugup sembari melirik kea rah ketiga sahabatanya yang sudah menatapnya tajam. "Bolehkan aku mematahkan wajah polosnya ini?" Zein terlihat menggertakkan giginya saat melihat wajah Adith yang seolah tak mengerti apa-apa. "Aku akan setuju denganmu." Ucap Yogi cepat merasa kesal sembari menatap Ayumi bingung. Alisya kaget tak menyangka mereka semua ada di ruangan tersebut sehingga ia menatap Ryu dengan tatapan khawatir. Jika kepada orang tua Adith dan Ryu ia mungkin akan bersikap tenang, tapi akan sedikit berbeda jika 3 orang ini mengetahuinya. Medengar kegaduhan di dalam ruangan tersebut, secara perlaha-lahan Ayah Alisya membuka matanya. Melihat Ayahnya membuka matanya, Alisya dengan cepat menghampiri Ayahnya dan membuang ke khawatirannya tentang keberadaan Yogi dan yang lainnya juga tentang identitasnya. "Bapak¡­ Bapak baik-baik saja?" tanya Alisya dengan suara lembut. Untuk beberapa saat Ayah Alisya masih mengumpulkan kesadarannya untuk bisa melihat siapa yang sedang menghampirinya itu namun suara lembut itu sangat ia kenali sehingga dengan cepat ia membuka matanya dengan sangat lebar dan memegang pipi Alisya dengan tatapan penuh haru. "Benarkah ini kamu? Apa aku sudah menyusul kalian disurga saat ini?" tanya Ayah Alisya yang merasa kalau dia sudah berada di alam lain dengan anaknya karena matanya yang hanya tertuju pada Alisya sehingga dia tidak melihat sekitarnya. Mendengar ucapan dan tatapan Ayah Alisya, Ayah dan Ibu Adith kembali berpadangan. Jika sebelumnya suara Alisya yang nyaring membuat mereka lupa akan siapa pemilik suara tersebut, namun begitu mereka mendengar suara lembut Alisya dan rekasi Ayah Alisya membuat mata mereka membelalak kaget. "Ya Allah¡­" Ibu Adith langsung menutup mulutnya tak menyangka kalau itu adalah benar Alisya. Air matanya langsung berlinangan jatuh yang membuat kakinya lemas. Suaminya dengan cepat memegang bahu istrinya dengan perasaan yang sama terkejutnya dengan istrinya. Melihat ibunya yang terkulai lemas, Adith dengan cepat menghampiri ibunya sedang Yogi dan yang lainnya juga langsung berjalan mendekat. "Bapak.. ini Quenby. Putri bapak, anak kesayangan bapak. Putri bapak satu-satunya!" Suara serak Alisya yang sangat haru segera membuat Ayahnya tersadar bahwa itu bukanlah hayalan atau mimpinya. Tak berkata apa-apa lagi, Ayah Alisya langsung memeluk anaknya dengan erat dan meraung-raung bagaikan anak kecil yang baru saja mendapatkan pukulan yang sangat keras. "Alhamdulillah, Terima Kasih Ya Allah¡­ Alhamdulillah! Terimakasih karena engkau sudah mengembalikan putriku. Terimakasih!" Ayah Alisya terus mengucapkan kalimat syukur dengan suara yang serak dan air mata yang terus jatuh tak ter tahankan. Ayah Adith bahkan sampai memalingkan wajahnya melihat adengan yang menyayat hati dihadapannya saat itu. Sedang ibu Adith tenggelam dan menangis di dada Adith yang bidang. Tubuh Adith kaku karena tak memahami situasi yang terjadi, sedangkan Ryu tak bergeming dengan bola mata yang berkaca-kaca. Ketiga sahabatnya yang berada tak jauh darinya pun menatap dengan penuh keterkejutan. Mereka seolah tak mengerti akan situasi apa yang ada dihadapan mereka saat ini. Mereka menatap Alisya seolah sedang menatap seorang hantu atau yang lainnya dengan mulut yang menganga lebar. "Ada apa ini? Kenapa terlihat seolah kalian semua mengenalnya dan mengetahui sesuatu sedangkan aku tidak?" Adith yang terus kebingungan dengan reaksi mereka pada akhirnya ikut bertanya yang tanpa ia sadari air matanya juga ikut menetes jatuh. "Ehemm.. Alisya adalah anak Lesham yang sebelumnya dikira sudah meninggal dan terpisah selama 7 tahun. Sungguh suatu keajaiban bisa melihatnya masih hidup seperti ini tanpa kurang apapun." Ayah Adith yang sejak tadi berusaha untuk tenang mencoba menjelaskan situasinya kepada Adith. Setelah mendengar penjelasan singkat Ayahnya, Adith menjadi sedikit paham dengan reaksi mereka semua tapi tak begitu menyangka kalau ternyata mereka semua begitu mengenal direktur perusahaan Jepang ini dan juga anaknya. Mengetahui Ayahnya yang memiliki banyak teman dalam bisnis membuat Adith menduga kalau secara kebetulan bahwa Ayah Alisya adalah sahabat bisnis Ayahnya. "Itu semua tidak penting, sekarang yang paling utama adalah kamu sudah ada disini kembali bersama kami." Ucap Ibu Adith memeluk Alisya dengan sangat erat. Mereka yang memberikan waktu kepada semua dokter elite rumah sakit itu termasuk Adith untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh kepada Ayah Alisya membuat mereka semua dengan tenang menunggu di luar. Selama itu pula Alisya menceritakan semuanya kepada mereka semua yang membuat Ibu Adith langsung menghentikan Alisya lagi untuk meceritakan lebih jauh karena tak ingin membuat Alisya mengingat kejadian kelam tersebut. "Aku tak yakin apa kau mengetahui ini, tapi aku penasaran apakah Adith mengetahui siapa sebenarnya dirimu sehingga ia mendekatimu atau¡­" Yogi ragu dengan akan apa yang ingin di katakannya. "Alam bawah sadar Adith mengenali Alisya dengan sangat baik namun rasa takut dan traumanya saat ini masih mengendalikan ingatan Adith dengan sangat kuat. Butuh waktu baginya untuk bisa kembali mengingat semua ini, tapi aku yakin takkan lama lagi." Terang Zein yang bersandar didinding dengan tangan yang melipat kedalam. "Bahkan saat ia membenci semua wanita yang sudah pernah ia temui selama ini, ia tetap saja akan bereaksi berbeda jika itu pada Alisya." Terang Riyan tertawa pelan mengingat bagaimana selama ini Adith terus menghidari wanita hingga kesan Gay melekat pada dirinya. "Dan dengan bodohnya dia melupakan Alsiya." Maki Yogi kesal dengan kondisi Adith saat itu meski ia bisa memakluminya. "Siapa yang kau bilang bodoh?" Adith keluar dari ruang dokter dan mengagetkan Yogi yang baru saja selesai memakinya. "Itu telinga atau apa''an sih? Denger aja kalau soal makian!" gumam Yogi dengan senyum canggungnya. Dengan kesal Adith yang tadinya ingin memanggil mereka masuk malah dengan cepat menghampiri Yogi dan menendang pantatnya. Sikap akrab keduanya langsung membuat suasana kembali cair lagi dan hangat. Chapter 364 - Hari Pertama Kerja Keesokan harinya, kondisi Ayah Alisya yang sudah semakin membaik membuat Ayahnya dipulangkan dari rumah sakit dengan diantar oleh Adith. Pagi sekali mereka meninggalkan rumah sakit mengingat Alisya harus masuk ke kantor pada hari itu sebagai pertanda ia memulai hari pertamanya untuk bekerja. Alisya sudah menjelaskan semuanya kepada Ayahnya sehingga ayahnya bisa memahami keputusan Alisya untuk bekerja di perusahaan Adith dengan tetap menyembunyikan identitasnya yang seorang ketua satuan khusus. "Ibu Yul? Ibu ada disini?" Alisya yang tetap dengan penyamarannya membuat ibu Yul bingung. Mengingat wajahnya yang sudah dikenali oleh organisasi, Alisya tidak bisa dengan leluasa membuka penyamarannya terlebih saat ia berada di sekitar rumahnya tersebut. "Dia Alisya!" Tegas Ayah Alisya menunjuk ke arah Alisya yang sedang memegang erat tangan Ayahnya. "Ya Ampun, ini beneran nona Alisya?" Ibu Yul dengan tubuh yang gemetar datang menghampiri Alisya dan membelai wajahnya serta menatapnya dari atas hingga kebawah. "Iya bu, ini Alisya!" Ucap Alisya sembari tertawa pelan. "Kenapa wajahmu sangat berbeda?" Tanya Ibu Yul sekali lagi memastikan. "Oh ini bu, Alisya lagi nyamar." Jawab Alisya singkat. "Kamu pergilah mandi, biar bapak yang menjelaskannya pada ibu Yul." Ayah Alisya menepuk lembut punggung telapak tangan anaknya yang masih memegang erat tangan Ayahnya. "Jangan khawatir, saya akan bersama Tuan. Jika nona tidak muncul di hari pertama kerja, itu akan membuat tanda tanya yang cukup besar." Ucap Ryu mencoba menenangkan Alisya. "Atau kau mau menerima tawaranku sebelumnya?" Ucap Adith yang sudah berniat untuk menghubungi manager bagian tempat Alisya bekerja namun dengan cepat di hentikan oleh Alisya. "Tidak, aku tidak ingin kau menyalahgunakan kekuasaan mu." Tegas Alisya kembali menolak dengan cepat. "Baiklah, aku takkan menghentikan mu untuk pergi bekerja. Aku akan kembali kerumah sakit sekarang karena masih banyak yang harus aku lakukan. Yogi yang akan menemanimu hari ini, jika kau butuh sesuatu kau bisa menghubunginya." Jelas Adith sebelum berpamitan kepada ayah Alisya. Jika Adith mau, ingin rasanya Adith mengikat Alisya dan membungkusnya dengan sangat rapi dan terus membawanya bersama dirinya agar Alisya tak berada jauh dari dirinya. Namun karena ia masih berpikir rasional dan tak ingin memberikan tekanan kepada Alisya dengan merenggut kebebasannya, Adith mau tidak mau terpisah dari Alisya. Tanpa pikir panjang, Alisya dengan cepat naik ke atas dan menuju kamarnya. Akiko yang baru saja keluar dari kamar setelah mandi terkejut melihat Alisya saat ia akan melewati kamar Alisya yang terbuka lebar. "A¡­ A¡­ A Chan?" Dengan gagap Akiko memanggil Alisya karena mengira Alisya hantu. Alisya yang sudah membuka penyamarannya tersenyum manis ke arah Akiko yang langsung membuat Akiko mundur beberapa langkah karena takut. "Kau sudah terlihat lebih cantik sekarang." Suara lembut Alisya membuat Akiko membelalak dan dengan susah payah ia menelan ludahnya, ia mendekati Alisya secara perlahan-lahan. "Ini benar kamu?" Tatap Akiko setelah menyentuh tubuh Alisya yang bisa di rasakannya secara nyata. "Bagaimana kabarmu selama ini?" Tanya Alisya dengan membelai lembut rambut Akiko yang sudah ia anggap sebagai adiknya tersebut. Akiko langsung menghambur memeluk Alisya dengan sangat erat sembari tersedu-sedu menangis dengan hebat. Ayah Alisya dan Ryu serta ibu Yul yang berada dibawah bisa mendengar suara tangisan Akiko. Mereka pun ikut larut dalam kebahagian yang mengharu biru tersebut. "Makan dulu sebelum pergi." Panggil ayah Alisya pada meja makannya dimana disana sudah duduk Ryu serta Akiko. Alisya tersenyum hangat berjalan turun dari tangga dengan cepat dan langsung duduk makan bersama mereka. Akiko masih terus menatap Alisya yang sudah memakai kacamata bulat namun belum memakai gigi palsunya. Alisya yang pergi ke kantor menggunakan gojek dengan pakaian profesional pegawai kantoran sehari-hari dengan cepat berlari masuk ke dalam kantor. "Ayumi, kamu hampir telat! 5 menit lagi ada rapat penting." Sambut Yani yang juga sudah tampak anggun dengan pakaian profesional yang membalut tubuhnya dengan pas. "Kenapa di hari pertama harus ada rapat penting sih? Apa direktur akan ikut?" Alisya bertanya dengan gumaman yang tertahan kepada Yani. Menggeleng pelan Yani berbisik "Direktur tidak ikut, tapi sepupu direktur yang akan memimpin jalannya rapat hari ini. Kita sebaiknya berhati-hati dengan dia." "Seperti biasa, kau pasti sudah mendapatkan banyak informasi lagi kali ini." Tatap Alisya kagum kepada kemampuan Yani dalam mengumpulkan informasi. Berada satu kantor dengannya membuatnya lebih gampang untuk mengumpulkan informasi dalam menemukan direksi yang berhubungan dengan Organisasi. "Apa yang kalian lakukan disini? Apa seperti ini perilaku kalian di hari pertama kerja?" Seorang wanita yang tampak memiliki jabatan sedikit tinggi langsung memarahi Alisya dan Yani. Wanita itu dengan kasar memberikan mereka beberapa file yang harus mereka pelajari. Selain itu dia menambahkan lagi beberapa file tambahan untuk diperbanyak. "Bukannya setiap karyawan baru akan diberikan perkenalan terlebih dahulu? Diberikan meja dan yang lain sebagainya?" Tanya Yani bingung dengan perlakuan mereka terhadap pegawai baru. "Anggap saja hari ini mereka melewatkan formalitas seperti itu. Bukankah ini perlu kita selesaikan secepatnya?" Tatap Alisya pada kedua tangannya yang sudah tampak penuh begitu pula dengan Yani. "Huh.. huh¡­ huh! Apa aku terlambat?" Vindra yang datang terburu-buru dengan nafas terengah-engah membuat wajahnya terlihat memerah. Vindra memiliki postur tubuh yang tegap dan garis dagu yang lancip dengan wajah tampan juga manis. Yani yang dari awal melihatnya sudah merasakan ketertarikan pada Vindra namun dia dengan kuat bisa menyembunyikan ekspresinya itu. Yani melihat ke jam tangannya beberapa saat di tengah tumpukan ditangannya itu lalu bergumam pelan "Hummm kau hampir melayangkan kesempatanmu jika dalam 1 menit tidak muncul." "Hahaha¡­ Itu artinya hari ini keberuntungan berpihak padaku!" Vindra dengan gentle nya mengambil file-file di tangan Yani dan mengabaikan Alisya. "Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Yani bingung dengan apa yang baru saja di lakukan Vindra. "Tentu saja membantumu. Kau mau bawa ini kemana?" Tanyanya sebelum melangkah jauh. Alisya hanya tertawa melihat sikap ramah Vindra kepada Yani namun juga tidak bersikap tidak sopan kepadanya karena ia sempat menunjukkan senyuman hangat kepada Alisya. Dandanan Alisya saat menjadi Ayumi memang sangat tidak menarik namun tidak terlihat jelek. Ia hanya terlihat sangat biasa saja dan sedikit kuno karena kacamatanya yang bulat. "Bawa file-file ini ke lantai bawah." Suruh wanita tersebut dengan dingin kepada Alisya. "Ayumi, kau butuh bantuan?" Melihat Ayumi yang sudah beberapa kali datang dan pergi membuat Yani jadi sedikit khawatir. Alisya yang sudah terbiasa dengan pelatihan militer sebelumnya menghadapi hal seperti itu tentu saja bukanlah masalah besar, namun karena saat ini ia memakai rok pendek yang cukup sempit dan sepatu heels yang menggantikan sepatu larasnya membuatnya sedikit kesulitan. "Tidak, aku baik-baik saja. Sebaiknya kau juga menyelesaikan pekerjaanmu, jika tidak wanita iblis itu akan memberikan kita lebih banyak tugas lagi." Bisik Alisya kepada Yani yang membuat Yani dan Vindra tertawa pelan. "Gunakan Lift OB, itu akan membantumu turun dan naik dengan sangat cepat dan jarang yang menggunakanya sehingga bebas." Vindra memberikan jalan kepada Alisya agar ia bisa kembali tepat waktu. "Terimakasih." Ucap Alisya langsung berjalan menuju lift yang di maksudkan oleh Vindra. Seperti yang sudah di katakannya, lift itu kosong sehingga dia bisa mengggunakannya dengan lebih leluasa terlebih karena kecepatan lift itu saat turun membuat Alisya senang. "Oh jadi kamu pegawai baru yang menggoda direktur? Ibu Lian menitip ini untuk kau bawa ke atas." Mendengar ucapan wanita itu, Alisya akhirnya paham kalau ia sedang di permainkan oleh mereka. Dengan susah payah dan kakinya yang mulai kesulitan melangkah karena tumitnya yang mulai terkelupas dan sakit, Alisya dengan terseok-seok membawa naik semua tumpukkan berkas tersebut. Tepat saat ia akan memakai lift karyawan untuk membuang waktu, dari kejauhan Alisya melihat Adith berjalan menuju ke lift. Chapter 365 - Kita Memang Sudah Menikah Bodoh!!! Lift Karyawan berada di sebelah lift VVIP yang hanya digunakan oleh direktur perusahaan, dewan direksi serta tamu penting perusahaan. Lift itu sangat jarang terisi penuh, berbeda dengan lift Karyawan yang selalu terisi penuh. Melihat Adith datang Alisya bingung karena seingat dia Adith berkata bahwa mungkin saja hari ini dia tidak akan berada di kantor. "Apa semua urusan rumah sakit sudah selesai sampai dia datang ke kantor?" Gumam Alisya pelan saat Adith sudah berdiri di depan Liftnya. Adith yang melirik ke sebelahnya terkejut dengan semua barang yang sedang bertumpuk di tangan Alisya, namun Adith masih tetap menjaga ekspresinya dengan baik. "Selamat siang direktur!" Sapa Alisya lembut dengan sikap profesionalnya. Hati Adith kesal melihat sikap Alisya. Dalam hati, Adith lebih menginginkan Alisya bersikap lebih ceria ketika berhadapan dengannya. Namun masih berada di depan seluruh karyawannya, Adith berusaha untuk tetap tenang. "Fiuuuh¡­" beberapa karyawan di belakang Alisya memuji bagian belakang Alisya yang hampir saja terekspos saat ia menunduk menyalami Adith. Hati Adith panas melihatnya. "Tahanlah sedikit, jangan terlalu menunjukkan sikapmu di hadapan semua karyawan." Yogi berbisik di belakang Adith untuk menenangkannya. Dengan tetap bersikap profesional, Adith sedikit mengangguk pelan dan memasang lurus pandangannya kedepan. Alisya bersyukur dengan sikap Adith yang seperti itu sehingga ia tidak perlu merasa canggung. Ketika pintu lift Karyawan terbuka, semua karyawan berbondong-bondong masuk dan menepikan Alisya sehingga lift itu penuh dan Alisya tidak bisa naik. Tidak ada waktu lagi, Alisya tidak punya pilihan lain selain menaiki tangga darurat sehingga ia memutar tubuhnya mengarah ke tangga. "Kenapa dengan dia?" Yogi melihat ada yang aneh dengan cara jalan Alisya. Adith segera melihat ke bagian tumit Alisya dan menyadari kalau bagian itu terkelupas sehingga tampak cukup merah dan ruam. Adith menarik nafas dalam mengeluarkan tangannya dari kedua sakunya dan menghampiri Alisya. "Mau kemana kamu?" Tanya Adith menghentikan Alisya sebelum ia berbelok naik. Alisya sedikit terhuyung kebelakang karena tarikan Adith. "Ke atas tentunya!" "Dengan kaki seperti itu?" Tunjuk Adith pada kaki Alisya. "Kau akan melukai kakimu, naiklah ke lift bersama kami." Ajak Yogi mewakili Adith karena sekeliling mereka yang mulai memperhatikan tingkah Adith. "Tidak, lift itu bukan digunakan untuk karyawan sepertiku. Ini akan menciptakan kehebohan di perusahaan." Alisya dengan cepat menolak. Wajah Adith seketika menggelap dan menatap Alisya tajam di balik tumpukan barang ditangannya. "Biarkan aku membantumu!" Pinta Adith langsung mencoba mengambil semua file dari tangan Alisya namun dengan cepat Alisya menghidarinya. "Jangan buat semua orang salah paham, biarkan aku bekerja dengan baik di hari pertamaku." Perhatian Adith yang terlalu berlebihan padanya yang seorang karyawan biasa yang sedang menyamar akan membuat semua orang menjadi curiga. "Salah paham?" Urat di kening Adith berkedut dengan kesal. Sikap Alisya saat sedang tidak berdua dengannya membuatnya sedikit kesal, sebab dia akan menjadi sangat liar jika hanya berdua saja. Mesi begitu Adith tidak tahan melihat dia dengan kondisi seperti itu. "Sepertinya aku perlu mengumumkan ucapan yang selalu kau katakan padaku kepada semua orang agar mereka tak salah paham. Bukan begitu maksudmu?" Tantang Adith kepada Alisya. Alisya dengan cepat memberi semua file yang berada ditangannya kepada Adith tanpa ingin berkompromi lagi. "Keras kepala dan sikap nekatnya tak pernah berubah dari dulu." Alisya berjalan melewati Adith dengan berjalan pelan. Heels itu sedikit menyakiti kakinya. Adith tersenyum melihat sikap patuh Alisya setelah mendapatkan tantangan. Adith segera menyerahkan file-file itu ke tangan Yogi yang membuat Yogi linglung dan habir menghamburkan semua file tersebut. Adith kemudian berjalan mendekati Alisya dan menggendong Alisya dengan begitu mudahnya kemudian memasuki lift. "Apa yang kau lakukan?" Alisya membelalakkan matanya karena terkejut. "Jangan bergerak!" Adith memasang ekspresi penuh amarah karena kesal. Alisya tidak bisa memberontak karena terlalu banyak orang yang melihat. Yogi segera menyusul mereka masuk dan dengan susah payah memencet tombol lift tersebut. "Turunkan aku, kenapa kau bersikap seperti ini?" Alisya sekali lagi mencoba dan bisa terlepas dari gendongan Adith dengan mudah. Alisya langsung terjepit di sudut lift dengan tubuh yang terkurung oleh kedua tangan Adith. "Kenapa kau membawa itu semua?" Tunjuk Adith pada file yang sekarang sudah berada di tangan Yogi. "Ada beberapa file yang harus dikerjakan dan ditandatangani." Jawab Alisya singkat dengan menahan dada Adith untuk menjaga jarak. Alisya merasa tidak enak dan canggung dengan adanya Yogi saat Adith sedang mengeluarkan taringnya seperti saat ini. "Hal itu bukanlah pekerjaanmu!" Balas Adith cepat dengan nada dingin. Adith semakin memajukan tubuhnya yang membuat Yogi berdehem keras. "Buat dirimu seolah-olah tidak ada dan bernyanyilah 3 lagu kebangsaan mu!" Ucap Adith kepada Yogi tanpa sedikitpun menoleh dan memandangi wajah Alisya lekat-lekat. "Apa yang akan kalian berdua lakukan disini?" Pertanyaan Yogi segera membuat Alisya wajah memerah padam. Adith hanya menoleh dengan menatap sinis ke arah Yogi agar ia melakukannya tanpa bantahan. Dengan keras dia menyanyikan lagu Rap BTS berjudul Fire dengan tumpukan file yang ia arahkan untuk menutup penglihatannya agar tidak mendengar ataupun melihat apa yang dilakukan oleh Alisya dan Adith. "Bahkan lirik lagunya sendiri ia lupakan!!!" Suara Alisya yang mengejek Yogi membuat Yogi mendengus kesal. "Bukankah kalian terlalu kejam padaku saat ini? Apa salah dan dosaku pada kalian berdua?" Uap panas mengudara dari kepala Yogi. Dia yang marah dan kesal kepada Adith dan Alisya membuat lesung pipi di wajah Yogi terlihat semakin jelas dan dalam. Dia menggertakkan giginya saat melihat mereka berdua bermesraan di hadapannya. "Ternyata kau bisa marah juga?" Ucap Adith lagi dengan posisi yang masih mengurung Alisya di hadapannya. "Apa kau iri dengan apa yang sedang kami lakukan?" Alisya berkata dengan wajah polos untuk menggoda Yogi. "Uwaaahhh¡­ Kalian berdua luar biasa!!!" Yogi meletakkan semua file itu ke lantai dan menatap ke arah Adith dan Alisya dengan kesal. "Sepertinya besok aku harus menemui Aurelia untuk mengajaknya menikah biar kalian berdua tidak meremehkan aku lagi." Tunjuk Yogi menantang dirinya sendiri. "Kau takkan menikah sebelum aku yang menikah!" Ucap Adith tegas dengan wajah serius. "Kau memang sudah menikah bambang!!!" Emosi Yogi seketika meledak dengan kuat. "Kita memang sudah menikah bodoh!!!" Bentak Alisya juga tak kalah kesalnya kepada Adith. Pintu lift terbuka, Alisya langsung mendorong tubuh Adith dan keluar dari lift menghindari Adith. Kembali melihat kaki Alisya yang berjalan dengan susah payah membuat Adith tak bisa menahan amarahnya kemudian menghentikan Alisya. Chapter 366 - Bandit Marah Adith langsung berjalan dengan cukup cepat, melepas jas hitamnya dan mengalungkannya ke pinggang Alisya dan mengikatnya kuat. "Ada apa? Apa rok ku terlalu pendek? Atau¡­" Alisya yang kaget dengan apa yang dilakukan oleh Adith segera mendekat ke telinga Adith. Dengan suara lembut Alisya berbisik. "Apa aku tembus? Banjir yah?" Pertanyaan Alisya serta nafas hangat yang mengenai telinga Adith seketika membuat tubuh Adith memanas. Adith tak menyangka kalau Alisya bisa sampai begitu blak-blakan dihadapannya. Dengan kesal Adith menarik nafas dalam dan menggendong Alisya di bahunya. "Akhhhh" Bukan hanya Alisya saja yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Adith, bahkan Yogi serta beberapa orang yang berada disana tak bisa menutup mulut mereka dengan benar. "Adith¡­ apa yang sedang kau lakukan sekarang? Turunkan aku!" Pinta Alisya dengan suara tertahan namun Adith tetap tidak menghiraukannya. "Tidak akan aku lakukan, kau begitu tak patuh. Aku harus menghukum mu hari ini, kesabaran ku sudah mulai habis." Ucap Adith dengan geram. Dia yang seorang kapten satuan khusus tentu akan sangat malu jika ada bawahannya yang melihat dirinya diperlakukan seperti itu. Alisya bisa saja turun dengan sedikit kekuatan namun itu akan membuatnya terlihat Aneh dan mencurigakan. "Aduh.. posisi ini sangat memalukan. Aku ingin sekali masuk kedalam lumpur agar mereka tak mengenaliku sama sekali." Batin Alisya sembari memasang kembali kacamatanya yang hampir jatuh. Alisya pasrah dan menjatuhkan dirinya seperti seorang yang sedang pingsan. Adith yang menggendong Alisya persis seperti sedang menggendong putri duyung atau sekarung goni gula pasir. "Apa kau seorang bandit? Bagaimana mungkin kau menggendong Alisya seperti itu?" Yogi sedikit meninggikan suara di dekat Adith yang berjalan membawa tubuh Alisya. "Diam dan bawa semua berkas itu kembali ke tempatnya. Sebaiknya kau melakukan sesuatu terhadap itu." Ancam Adith dengan suara dinginnya. "Huuffttt" Yogi hanya mendesah pasrah dengan sikap Adith. Adith tak peduli dan hanya terus melangkah menuju ruangannya dengan wajah bengis dan penuh amarah. Ia terus membayangkan bagaimana ia bekerja dengan susah payah dengan kaki terluka seperti itu. Melihat Adith yang tampak penuh amarah dengan tubuh seorang wanita berada di bahunya membuat beberapa orang yang melihatnya dengan tertib menghindar. "Siapa dia? Kenapa bisa direktur menggendongnya seperti itu?" Seorang perempuan yang tidak pernah bisa mendapatkan kesempatan untuk mendekati Adith menampakan wajah kebenciannya. "Sejak kapan direktur begitu santai berdekatan dengan seorang wanita?" Tambah yang lainnya dengan penuh takjub. "Tidakkah kalian liat urat tangannya yang kokoh itu? Aku penasaran bagaimana dengan bagian tengahnya yang tersembunyi itu. Apakah roti sobek itu sama kokohnya?" Yang lainnya malah semakin membayangkan bagaimana kejantanan Adith saat memperlihatkan bagian perutnya. "Tapi.. tidakkah kalian merasa kalau dia sedang dalam bahaya atau sudah membuat direktur marah?" Tanya yang lainnya melihat posisi tak nyaman Alisya. Dari belakang tubuh Alisya berayun-ayun dengan sangat horor karena tangannya yang jatuh pasrah dan rambutnya yang terurai jatuh menutupi wajahnya memperlihatkan lehernya yang putih bersinar. "Uffhh.." Adith menjatuhkan tubuh Alisya ke sofa dengan lembut. Wajahnya yang memerah karena darah yang memenuhi kepalanya. Alisya menatap Adith yang sudah duduk berjongkok di depannya dan membuka sepatu heels Alisya dengan lembut agar ia tidak merasakan sakit. "Bukankah kau memiliki banyak pekerjaan di rumah sakit?" Tanya Alisya lembut ingin meredakan amarah Adith yang terlihat kesal. "Tidak ada!" Ucapnya dingin. Adith sebenarnya memiliki banyak pekerjaan serta pasien yang harus ia periksa, namun berada jauh dari Alisya membuatnya tak bisa tenang dan tak bisa fokus. Adith mampu menyelesaikan semua pekerjaannya sangat cepat serta memeriksa pasiennya lebih awal sehingga ia bisa memiliki waktu untuk datang melihat Alisya. Tak disangka apa yang dilihatnya dengan Alisya yang baru hari pertama bekerja sudah melukai dirinya sendiri. "Apa kamu marah?" Alisya memiringkan wajahnya agar bisa melihat wajah Adith lebih jelas. Mendengar suara lembut Adith sedikit melelehkan Adith namun masih saja belum mampu meredakan amarahnya. "Aku akan anggap hari ini tidak pernah terjadi, aku tau kau pasti tak ingin aku ikut campur dalam urusanmu, maka aku harap jangan pernah menyakiti dirimu atau membiarkan dirimu disakiti dengan mudah." Tegas Adith dengan nada dingin. Entah bagaimana, meski ia baru bertemu dengan Alisya dalam waktu yang singkat, Adith seolah sudah merasa sudah mengenal Alisya dalam waktu yang cukup lama. Adith berdiri dari tempat duduknya mengambil sebuah kotak P3K dari bawah lacinya kemudian kembali dan duduk di sebelah Alisya. Adith mengangkat kaki Alisya dengan cepat tanpa pemberitahuan sehingga andai saja Jas Adith tidak melingkar di pinggangnya, mungkin bagian dalam rok Alisya dapat dilihat oleh Adith dengan jelas. "Ehemm" telinga Adith memerah akibat kelakuannya sendiri sedang Alisya hanya tertawa pelan. Kondisi mereka benar-benar terbalik tapi lagi-lagi Adith harus berusaha keras untuk menenangkan dirinya dan memasang jurus pertahanannya lagi. Adith yang menggertakkan giginya membuat Alisya paham bagaimana perasaan marahnya saat melihat kakinya yang terlihat terkelupas tersebut. "Apa sakit?" Suara dingin Alisya masih terdengar penuh akan amarah. Alisya hanya menggeleng pelan dengan sentuhan Adith yang lembut mana mungkin ia merasakan sakit di kakinya. Alisya memegang pipi Adith agar ia melirik ke arahnya. " Apa kau masih marah?" Adith hanya kembali memalingkan wajahnya untuk terus melanjutkan mengolesi kedua tumit Alisya dengan salep. "Kalau seperti ini kamu masih marah?" Alisya langsung mengecup pipi Adith dengan hangat. Adith membelalakkan matanya tak menyangka Alisya akan melakukan hal itu kepadanya. Dengan satu dorongan kuat, Adith segera membaringkan tubuh Alisya dengan dia berada di atas tubuhnya. Dan tangan Alisya dikunci olehnya. "Hei tuan putri, apa kau tau resiko dari kecupan tadi?" Tatap Adith dengan begitu tajam hingga menembus hati Alisya. Jantungnya dan Jantung Adith berpacu dengan sangat kuat. Ritme yang selama ini dirindukan oleh Alisya malah semakin mengusik telinganya dengan indah sehingga Alisya tersenyum simpul. "Apa jurus pertahananmu sudah runtuh sekarang?" Tanya Alisya dengan senyuman manis. Bibir Alisya yang bergerak indah dan wajahnya yang terlihat begitu sederhana namun menyimpan keindahan terasa menggelitik hati Adith, terlebih karena ucapan Alisya tersebut. "Siapa kau sebenarnya? Apa semua yang kau katakan ini adalah benar? Kenapa mama dan bapak juga tidak menentang apa yang kau katakan tempo hari?" Semua pertanyaan itu seketika terlontar dengan begitu lancar. Melihat wajah Alisya dari dekat membuat Adith penasaran dan melepas kacamata Alisya. Mata Alisya yang hitam sedalam samudra membuat Adith bisa melihat dirinya berada disana. Adith terbuai oleh tatapan lembut Alisya. Chapter 367 - Ayumi, kamu Keren! Adith yang begitu terbuai dengan keindahan wajah Alisya yang ia sembunyikan dibalik kacamata bulatnya dan gigi behelnya tidak bisa menghilangkan rasa penasaran Adith kepada Alisya. Semakin ia melihat wajah Alisya, semakin besar rasa tertariknya kepada Alisya yang membuat kepalanya seolah ingin meledak menahan hasrat ekstasi yang ditimbulkan dari tatapan mata Alisya. "Jangan lakukan ini lagi, jika tidak aku mungkin takkan bisa menahan hasratku padamu dan semuanya akan berubah menjadi sebuah penyesalan." Nafas hangat Adith yang berbicara diatasnya menyapu lembut wajah Alisya. Adith melepas kunciannya kepada Alisya dan bangkit dari posisinya namun sebelum Adith menjauh Alisya dengan cepat menarik dasi Adith dan menempelkan bibirnya dengan sensual ke bibir Adith. Meski terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Alisya, melihat Alisya yang terlihat malu-malu menutup matanya dengan kuat dan pipi merahnya membuat Adith semakin memanas dan terbakar oleh gairah. "Kau pikir aku akan melepasmu? Aku akan membuatmu mengingat setiap inci tentang diriku. Meruntuhkan pertahanan mu adalah tujuan utamaku." Goda Alisya tanpa malu-malu. Sikap berani serta provokatif serta malu-malu Alisya membuat Adith semakin tertantang, terlebih karena hati dan tubuhnya juga tidak bisa membohonginya. Dia mencintai wanita itu dengan segenap perasaannya. Tanpa dia sadari, dalam hatinya membuat Adith siap untuk mempertaruhkan nyawanya demi Alisya. "Masya allah, Astaghfirullah, Oh My Got!" Yogi yang masuk kedalam ruang Adith tidak berpikir akan melihat Adith sedang menindih Alisya diatas sofa dengan cepat menutup matanya dan berbalik pergi. Dia yang terlalu cepat melangkah dan terburu-buru untuk keluar membuatnya harus harus menabrak pintu dengan keras. Matanya yang tertutup kembali terbuka lebar. Mendengar suara itu, Alisya dengan mudah membalikkan tubuh Adith menjadi berada di bawahnya. "Aku akan membuatmu terus mengingatmu. Jika kau tak mengingatku, jangan salahkan aku jika aku terus menyiksamu." Ucap Alisya bangkit dari posisinya lalu mengambil sepatunya namun kembali duduk karena di tarik oleh Adith. "Kalau begitu kau harusnya tidak akan menyesal jika aku melakukan ini." Adith kembali mencium Alisya dengan lembut. Sekelebat ingatan saat ia pertama kali mencium bibir Alisya di sebuah toilet segera terlintas membuat Adith kaget. "Aku akan menyesal jika menyakiti hatimu dan pergi meninggalkan mu lagi." Ucapan Alisya seketika membuat hati Adith memekik sakit. Alisya tersenyum manis memegang pipi Adith dengan lembut. "Tapi saat ini aku harus kembali bekerja, jika tidak akan sulit bagiku untuk berada disini lagi." Alisya mrndorong tubuh Adith pelan untuk melepaskannya. "Sebentar" meski saat ini pikirannya kacau, melihat kaki telanjang Alisya, Adith langsung mengambil sepatu heels yang sudah ia pasangkan kain lembut agar tumitnya tidak kembali perih. Sikap Adith seperti ini juga kembali membuka ingatan dimana dulu ia pernah melakukan hal yang sama di saat kaki Alisya mengalami hal yang sama pada acara ulang tahun Riyan. "Aku mencintaimu" bisik Alisya sebelum akhirnya benar-benar pergi dari hadapannya. Ucapan Alisya itu terus saja membuat jantungnya berdetak lebih cepat dan tak ingin melepasnya pergi jauh darinya saat itu. "Kau baik-baik saja?" Tanya Alisya pada Yogi yang masih menahan sakit kepala dan rasa pusingnya saat menabrak pintu tersebut. "Susst" Yogi menaikkan jari telunjuknya di tangannya. "Jangan tanya, sakitnya tidak seberapa. Tapi malunya luar biasa." Alisya segera tertawa pelan mendengar ucapan Yogi dan kenaasan dirinya. "Aku pergi dulu, terimakasih atas bantuanmu." Alisya lebih mengkhawatirkan Yani saat ini dibanding Yogi karena sudah cukup lama ia masih belum kembali ke tempat mereka bekerja. "Maaf, tadi saya pergi mengobati tumit saya yang terkelupas." Alisya segera menunduk kikuk sesuai kesannya yang cupu dan kaku. "Kau pikir siapa dirimu? Seenaknya meninggalkan pekerjaan dan menaruh tanggung jawab pada orang lain?" Lian manager bagian tempat Alisya bekerja menatap ke arah Alisya dengan tatapan kebencian. "Maaf, ini tidak akan terulang kembali." Lanjut Alisya lagi masih mencoba untuk menahan dirinya. Seorang wanita datang dan membisik kan sesuatu kepada Lian yang entah kenapa bisikan itu membuat tatapan mata Lian semakin menyiratkan kebencian kepada dirinya. "Baru pertama bekerja di perusahaan, kau sudah langsung menggoda direktur. Apa kau sangat ingin bekerja dengan direktur sampai berani naik ke ranjangnya?" Ungkap Lian dengan penuh kebencian menatap Alisya jijik. Jika saja Lian masih terus menganggunya maka Alisya mungkin akan membiarkan sikapnya ini namun begitu mereka seolah merendahkan Adith, kesabaran Alisya seolah tak bisa di bendung lagi. "Ibu Lian, jika kau ingin mengataiku atau menghinaku aku mungkin masih bisa menahannya. Tapi jika kau berkata seperti itu bukankah sama saja kau sedang menghina direktur?" Perkataan Alisya sedikit mengintimidasi Lian sehingga matanya bergetar dengan cepat. Tatapan mata Alisya yang begitu kuat dan tajam membuat Lian sedikit memundurkan langkahnya. Tatapan yang seolah melihat seekor tikus di depannya itu sungguh belum pernah dilihat oleh Lian sebelumnya selain dari tatapan yang diberikan oleh Adith kepadanya. "Lagi pula apa kau pikir tampilanku yang seperti ini akan membuat direktur tertarik? Bukankah kalian sendiri tau bahwa ditektur memiliki mysophobia terhadap wanita?" Lanjut Alisya lagi memukul telak di wajah Lian. "Kau.." Lian tak bisa membantah semua ucapan Alisya sehingga ia dengan kesal berkata " Aku akan terus mengawasimu, jika ternyata kau hanya bergerak menggoda orang-orang di perusahaan maka persiapkan dirimu untuk pergi dari sini." Lian segera meninggalkan Alisya dan pergi dengan wajah bersugut-sungut kesal. "Ayumi, kamu keren!" Yani menaikkan dua jempolnya kepada Ayumi kagum. Adith yang melihat situasi tersebut dari jauh tertawa pelan. Ia yang sebelumnya ingin membantu mengurungkan niatnya saat Alisya bisa mengatasinya dengan sangat mudah. Karakter kuat Alisya dari balik sikap kikuk dan penampilannya yang cupu adalah ekstasi yang sangat kuat bagi Adith. Melihat itu ia tak perlu ragu untuk meninggalkan Alisya kembali bekerja sehingga ia dengan tenang kembali keruangannya. "Sekarang waktunya jam istirahat, ayo kita cari makan di kantin perusahaan." Ajak Vindra kepada kedua wanita yang sangat serius dengan pekerjaannya. "Oke!" Jawab keduanya kompak langsung berjalan menuju ke kantin perusahaan. Perusahaan Narendra yang sudah memiliki banyak fasilitas mewah yang mereka sediakan untuk para karyawan agar mereka semua dapat bekerja dengan nyaman membuat siapapun sangat mengingikan untuk bekerja di perusahaan itu. Selain karena fasilitas yang ada, makanan yang disajikan oleh perusahaan kepada karyawannya juga membuat iri mereka yang bekerja pada perusahaan lain. "Perusahaan ini sangat memanjakan karyawannya." Seru Yani melihat makanan mewah dihadapannya tersebut. Mereka segera mencari tempat kosong untuk makan dengan nyaman dan menemukan tempat yang tak jauh dari jendela. Chapter 368 - Karena Ayumi Istriku Alisya sejak dulu memang sangat menyukai tempat yang dekat dengan jendela setiap kali berada di suatu tempat terutama untuk makan, dia pasti akan memilih tempat itu jika kosong. Yani duduk terlebih dahulu diikuti oleh Alisya dan Vindra yang langsung duduk di hadapan Yani. Beberapa saat kemudian orang-orang terlihat berbisik-bisik dan menimbulkan kegaduhan, dan ketika Alisya menoleh akan menoleh ke sumber suara, Adith sudah duduk di hadapannya. "Ehemm" Alisya langsung meminum jus jeruknya dengan cepat. Ia tidak berpikir kalau Adith akan duduk dan makan bersama mereka. "Aku boleh duduk dimana saja kan? Termasuk jika duduk bersamamu." Tatap Adith dengan licik. Alisya hanya mendesah pasrah dengan tingkahnya lalu menatap Yogi tajam. "Jangan tanya aku!" Yogi langsung duduk disebelah Alisya dengan nampan yang berisi makanan. "Apa dia biasanya makan disini?" Bisik Alisya pada pada Yogi yang langsung dijawab dengan gelengan keras. Vindra yang berada di sebelah Adith terlihat sangat tegang dan duduk begitu tegap seolah ia lupa untuk bernafas. Hal yang sama juga terjadi pada Yani yang terus tertunduk tak berani mengangkat wajahnya. "Makanlah, tidak perlu pedulikan orang lain!" Seru Adith santai dan terus makan seolah tak terjadi apapun. Saat ini yang menjadi pikiran Alisya adalah baru satu hari dia bekerja di perusahaan itu, namun sudah banyak hal heboh yang diciptakan berkat keisengan Adith. "Jika kau seperti ini terus, kau akan semakin menyulitkan ku!" Suara Alisya terdengar pelan namun mampu didengar oleh Vindra dan Yani yang menatap bingung. "Kalian mungkin takkan percaya, tapi dulunya kami adalah teman satu sekolah dan cukup akrab." Yogi membantu Alisya untuk memberikan penjelasan kepada mereka berdua yang membuat ekspresi mereka kembali memudar. Meski begitu, ekspresi keterkejutan mereka masih belum hilang. Tetap saja mereka berpikir bahwa Ayumi adalah orang yang sangat beruntung bisa menjadi teman sekolah seorang elite seperti mereka. "Tunggu dulu! jika mereka adalah teman sekolah, itu artinya Alisya juga bersekolah di sekolah Elite SMA Cendekia Indonesia?" Batin Yani langsung menatap wajah Alisya dengan penuh tanda tanya. "Nanti aku jelaskan, intinya dia hanya ingin membuat kalian untuk tidak salah paham." Alisya menatap kesal ke arah Yogi yang hampir saja membongkar identitas dirinya. Jika dia berkata mereka satu sekolah, maka bukan hal mustahil bagi Yani dan Vindra untuk sangat penasaran dan mencari tahu nama Alisya disana sedang identitas yang ia gunakan saat ini malah berbeda dan akan berakibat fatal nantinya. Tidak ingin membuat kesalahpahaman lagi, Alisya berpikir sebaiknya ia mengurangi komunikasi dan kedekatan mereka selama berada dikantor. "Direktur, kami akan pindah. Tidak baik bagi kami jika duduk makan bersama Anda." Alisya kembali menjadi pegawai yang merendah di hadapan Adith. Ekspresi wajah Adith seketika menjadi kelam setelah mendengar ucapan Alisya. Panggilan canggung Alisya saat menyebutnya sebagai direktur sungguh tak mengenakkan hatinya. Dia dengan dingin berkata " Duduklah, aku tak peduli dengan apa yang mereka katakan. Selain itu aku tau kau bisa mengatasi mereka dengan baik. Atau kau ingin agar aku berbuat lebih? " Sifat keras kepala Adith selalu saja bisa dengan mudah menguasai Alisya. Tidak ingin membuat hubungan mereka terlihat buruk, Alisya terpaksa duduk kembali. Tepat setelah itu, Rinto juga ikut duduk bersama mereka dengan Adith yang berada di tengah Rinto dan Vindra. Vindra yang mengagumi ketiga orang yang berkumpul disana membuatnya semakin merasakan tegang. "Sejak kapan kalian duduk makan di kafetaria perusahaan?" Tanya Rinto setelah meminum air putihnya. Wajah Rinto yang terlihat kokoh dan gagah dengan kesan dingin namun memiliki tatapan hangat tak pernah luntur semenjak terakhir kali mereka bertemu. Yani terpana dengan kehadiran Rinto terlebih karena dia adalah manager utama perusahaan yang selama ini juga menjadi buah bibir perusahaan. "3 Pilar perusahaan kumpul dalam satu tempat." Bisik yang lainnya menunjuk kepada Adith, Yogi dan juga Rinto. "Apa kelebihan dari wanita itu? Kenapa dia begitu beruntung?" Tatap yang lainnya yang diarahkan kepada Alisya. "Siapa mereka?" Tanya Rinto saat melihat 3 wajah asing di sekitar Yogi dan Adith. Alisya dan Yogi saling berpandangan dan baru ingat kalau hanya Yogi, Riyan dan Zein saja yang baru mengetahui identitas aslinya sedangkan Adith tak perlu di ragukan lagi, dia tak mengingat Alisya maka dia akan dengan ceroboh membocorkan identitas Alisya. Sebelum Adith membuka mulutnya, dengan cepat Yogi bersuara. "Oh.. mereka adalah karyawan baru perusahaan yang lolos perekrutan kemarin." "Nama saya Ayumi, dari bagian Information Security Analyst." Alisya tersenyum hangat melihat Rinto yang terlihat cuek namun mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan oleh Yogi. "Saya Yani dari bagian System Analiyst." ucap Yani cepat dengan penuh sopan santun. "Sa.. saya Vindra dari bagian System Developer." lanjut Vindra dengan cepat sembari menyamping untuk menghadap ke arah Rinto. Rinto mengangguk-angguk pelan lalu mengangkat wajahnya menatap Adith dan Yogi. "Kenapa kalian bisa berada di meja ini saat dia tidak bisa berada cukup dekat dengan wanita?" Tatap Rinto heran dengan perubahan sikap mendadak Adith. Alisya dan Yogi melupakan fakta tersebut mengenai bagaimana Adith begitu membenci kontak fisik atau berada dekat wanita namun sekarang terlihat baik-baik saja dengan Alisya dan Yani berada disana. Hal inilah sebenarnya yang membuat semua karyawan yang berada di tempat itu cukup kebingungan dengan perubahan mendadak sikap Adith. "Karena Ayumi adalah istriku!" Jawab Adith singkat yang langsung membuat Yogi menyembur ke wajah Rinto yang matanya terbuka lebar. Alisya merasakan sesak karena makanan yang salah masuk ke saluran tenggorokannya sedangkan Yani seolah mendengar sebuah bom yang meledak ditelinganya. Reaksi Vindra pun tak kalah parahnya dengan air minum yang jatuh dari mulutnya yang setengah menganga tak percaya akan apa yang di dengarnya. "Maafkan aku, aku tak sengaja melakukannya. Ohookkkk ohookkk!" Yogi yang memaksa berbicara saat ia masih memiliki makanan di mulutnya langsung terbatuk hebat. Ia tidak bisa berbicara dan menyuruh Alisya untuk meluruskannya cepat dengan memberi tanda mengibas-ngibaskan tangannya dengan cepat. Alisya juga tak bisa berkata apapun karena lehernya yang gatal meski sudah minum air beberapa gelas. "Apa dia sedang mabok? Atau sekarang dia sudah gila?" Wajah Rinto terlihat begitu kelam penuh amarah karena Adith dengan santainya mengatakan bahwa ia sudah memiliki istri. Kemarahan Rinto didasarkan karena rasa setianya kepada Alisya karena Adith masih belum mengingat siapa istrinya yang sebenarnya. Rinto tidak mempermasalahkan dengan siapa Adith akan menikah, tapi sebelum itu Adith harus mengingat terlebih dahulu siapa Alisya sebenarnya baginya. Chapter 369 - Membanting Rinto Melihat Rinto tidak bisa bereaksi dengan tenang, Yogi mau tidak mau langsung menarik tangan Rinto untuk pergi dari sana terlebih dahulu. Yogi takut kalau Rinto akan membuat keributan sebab ia tak pernah merasa tenang jika Adith membahas wanita lain atau mengabaikan fakta mengenai Alisya. "Tidak, aku ingin dia menjelaskan semuanya. Apa maksudmu dengan¡­" Hampir saja Rinto mengulang kembali perkataan Adith, Ayumi dengan mudahnya menarik Rinto pergi dari sana. Rinto berusaha melepaskan diri dari genggaman Alisya namun ia tidak berhasil dan malah terkejut dengan kekuatan yang dimiliki oleh seorang gadis cupu dihadapannya tersebut. Perkataan Adith yang sebelumnya mungkin hanya dapat didengar oleh mereka saja yang berada tak jauh dari sana, namun jika Rinto kembali mengulangnya dengan suara keras maka semua akan menjadi berbeda. Alisya mengakui kesalahannya jika dia selalu menyebut dirinya sebagai istri bagi Adith dihadapan Adith untuk mengingatkannya, namun tak menduga kalau Adith akan dengan mudah mengatakan hal tersebut kepada orang lain. Alisya juga tak berpikir kalau ia akan bertemu dengan Rinto diperusahaan itu. "Lepaskan aku, aku tak tahu kamu siapa, tapi aku rasa kau sudah salah paham dengan benar-benar menganggap bahwa kau sudah berhasil merayu Adith." Rinto tak memanggil Adith sebagai direktur untuk memperjelas maksud yang ia tunjukkan. Rinto memandang Alisya dengan pandangan jijik karena membenci wanita yang di anggapnya sebagai seorang penggoda. "Huuhhffttt" Alisya mendesah dalam. "Bisakah kau tenang dulu? Biarkan aku dan dia menjelaskannya padamu." Yogi datang dengan cepat mengikuti Alisya dan Rinto yang sudah mengarah ke taman yang sunyi. "Menjelaskan? Kenapa kalian yang harus menjelaskannya? Biarkan aku berbicara dengan Adith." Rinto melewati Alisya dengan acuh tak acuh. Alisya dengan cepat menghentikan langkah kaki Ryu dengan melakukan tekhnik bantingan belakang. Alisya meraih tangan Rinto dengan lembut yang dalam sedetik Rinto sudah terbaring keras di rumpu taman. "Apakah ini bisa mengembalikan kenanganmu? Aku rasa dengan ini bisa menjelaskan semuanya kepadamu." Suara Alisya yang dingin seketika membuat tubuh Rinto bergetar hebat. Rinto masih mengingat betul akan situasi dan kondisinya saat itu. Perasaan itu dan suara mengintimidasi itu dengan jelas dikenalnya dengan baik. Ia tidak mungkin melupakan siapa gadis yang begitu ia kagumi tersebut sehingga dengan cepat ia bangkit dari posisinya yang terbaring. Alisya hanya membuka kacamatanya sedagkan gigi palsu behel yang mengubah kontur wajahnya ia biarkan begitu saja. Tatapan tajam mata Alisya membuat Rinto mundur dan tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini. "Ba.. bagaimana mungkin?" tubuh Rinto bergetar hebat masih belum bisa menerima kenyataan mengenai siapa di hadapannya saat itu. "Jika kau tak percaya, itu terserah padamu!" Alisya dengan dingin berbalik pergi karena merasa capek jika harus menjelaskan semuanya dari awla lagi kepada Rinto. Saat ia melangkah menjauh, Rinto dengan reflex sudah melingkarkan tangannya ke bahu Alisya. "Terimakasih karena kamu masih hidup." Ucap Rinto dengan suara seraknya. Apa yang dilakukan Rinto segera membuat Yogi terkejut, begitu pula dengan Alisya. "Sampai kapan kau akan memeluknya seperti itu?" Adith muncul dengan tatapan dingin kepada Rinto. Dengan cepat Rinto melepas pelukannya dari Alisya. "Maafkan aku." Ucap Rinto dan mundur beberapa langkah. Alat komunikasi Alisya tiba-tiba saja berdengung yang membuat Alisya dengan cepat menekannya. Dari kejauhan dengan keadaan diam, Alisya mendengarkan laporan Elvian mengenai kehadiran salah satu anggota Black Falcon yang kembali melakukan transaksinya. Begitu mendengar nama Calvin disebutkan rahang Alisya sedikit mengeras. "Yogi, aku serahkan Rinto padamu. Aku rasa secara perlahan-lahan Karin juga harus mengetahui mengenai keberadaanku. Selain itu yang lainnya lebih baik tidak mengetahui ini karena aku akan membutuhkan kalian nanti." Alisya berkata dengan tatapan serius yang langsung membuat paham Yogi dan Rinto. "Tentu saja!" ucap keduanya kompak. Alisya tersenyum hangat karena akhirnya mereka bisa kembali berkumpul lagi seperti dulu. "Kau mau kemana? Apa maksudmu dengan semua itu?" Adith segera menghentikan lengan Alisya yang akan pergi dari sana. "Bertahap kau akan mengetahui semuanya. Aku harus kembali bekerja dulu saat ini." Alisya tau kalau Adith akan susah untuk di ajak berkompromi jika Alisya tidak memberikannya suatu penjelasan yang baik. Meski terasa mengganjal, pada akhirnya Adith terpaksa membiarkannya pergi. Menatap Rinto dengan tatapan aneh, dia tidak mengira kalau Rinto juga dengan begitu nyata mengenali Alisya. Apakah yang dikatakan Alisya padanya adalah kebenaran? Pikirannya terus melayang bahwa mungki saja semua perkataan Alisya yang di anggapnya hanya sebatas candaan adalah suatu kejujuran yang sebenarnya. Sepulang kerja, Adith dengan cepat mencari keberadaan Alisya karena ingin mengantarnya pulang namun saat memasuki ruangan mereka, Adith hanya menemukan Yani dan Vindra yang sudah siap-siap untuk beranjak pulang. "Dimana Ayumi?" tanya Adith kepada keduanya dengan tatapan bingun karena ia datang cukup cepat sebelum waktu pulang. "Dia sudah pulang 5 menit yang lalu karena ada urusan penting yang harus dia lakukan." Jawab Yani dengan tatapan terkejut. Meski tahu adalah direktur mereka yang belum menikah, ketika dia dengan begitu perhatian datang mencari Alisya membuat kecurigaan mereka akan perkataanya sewaktu di kafetaria adalah kesungguhan. Adith tidak berkata apa-apa lagi dan hanya berjalan keluar dengan wajah kecewa. Adith mengira kalau Alisya mungkin saja akan menunggunya sehingga tanpa sabar diapun segera menuju kerumah Alisya. Dirumahnya Adith juga masih tidak menemui Alisya, sehingga mau tidak mau dia akhirnya kembali ke rumah sakit. Selama berada dirumah sakit, hati Adith tidak tenang dan terus memikirkan Alisya. Dia menyesali kebodohannya karena tidak meminta no kontak Alisya yang juga tidak di ketahui oleh Akiko maupun Ryu. Adith melanjutkan shift malamnya dengan pikiran kalut dan aura hitam mengelilingi dirinya yang membuat para perawat tak berani untuk mendekatinya. "Apa kau melihat dokter Adith? Sepulang dari kantor wajahnya terlihat muram dan tak bersemangat, seperti sedang memikirkan sesuatu." Seorang perawat mulai membicarakan ekspresi Adith. "Apa terjadi sesuatu dengan kantornya?" lanjut perawat yang lainnya dengan ekspresi khawatir. "Aku rasa ini takkan berhubungan dengan perusahaan, dari dulu setiap kali ada permasalahan dengan perusahaan, dokter selalu bisa menyelesaikannya dengan performa yang luar biasa." Ucap yang lainnya membantah. "Ya kau benar. Bahkan setelah menyelesaikan pekerjaannya dan tidak tidur selama beberapa hari, dia akan tetap kembali bekerja dengan baik di rumah sakit. Selain laporan rumah sakit serta rekam medis yang sangat banyak untuk diperiksanya, dokter Adith bahkan menyisihkan waktunya disini untuk mempelajari dokumen perusahaanya." Jawab yang lainnya lagi dengan cepat. "Performa dia selalu yang terbaik dari kalangan dokter hebat yang ada dirumah sakit ini. Dia juga tak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu." Seorang perawat wanita segera menuju ke mejanya namun dengan cepat ia kembali lagi. "Apa ini karena perempuan?" tebaknya dengan mata membelalak. "Huhhh?" mereka mengernyitkan dahi dengan segala macam pemikiran yang terlintas di kepala mereka. Adith yang selama ini tidak pernah dekat dengan seorang wanita sebelumnya pernah terlihat memeluk Alisya dengan begitu erat sehingga tentu saja pemikiran mereka mengarah kepada kejadian tersebut. Suara dering ponsel transparan miliknya segera menampilkan hologram dari nomor Yogi membangunkannya dari lamunanya. Dengan malas dia mengangkat telepon Yogi yang berada di meja kerjanya lalu berjalan menjauh ke kursi ranjangnya untuk berbaring. "Ada apa?" tanya Adith dengan suara dingin. "Aku tak tahu apakah aku harus memberitahumu masalah ini atau tidak tapi aku tak punya pilihan lain selain menghubungimu terlebih dahulu karena ini ada hubungannya denganmu." Terang Yogi dengan nada suara bingung. "Langsung saja pada intinya, apa yang ingin kamu katakana." Adith membelakangi hologram Yogi dengan malas. "Lihat lah, ku rasa kau akan paham." Pinta Yogi dengan menampilkan sembuah gambar video dari panggilannya. Adith hanya menoleh tak semangat namun segera bangkit dari tempat tidurnya saat melihat Alisya yang berjalan masuk pada sebuah bar. Chapter 370 - Adith Salah Paham Meskipun Alisya masih dalam mode penyamarannya saat Adith melihatnya di dalam Video tersebut, namun itulah yang paling dikenali oleh Adith saat ini. Entah bagaimana Yogi bisa berada disana, namun dia yang sebelumnya memiliki rencana untuk bertemu dengan teman bisnis yang lain menggantikan Adith jadi tak sengaja bertemu dengannya. "Sial!" Maki Adith memikirkan segala kemungkinan kalau Alisya hanyalah mempermainkannya dan sedang menghianatinya. Dia segera bangkit menanggalkan jas dokternya dan keluar dengan terburu-buru. "Dokter, anda mau kemana? Shift anda belum selesai." Seorang perawat dengan segera mengingatkan Adith. "Aku akan keluar sebentar, jika terjadi sesuatu kamu bisa langsung menelponku." Karena Adith langsung menuliskan nomor telpon pribadinya pada perawat itu, dia akhirnya mengangguk pelan dengan kepergian Adith. "Aku¡­ aku, bolehkah aku juga melihat nomor itu?" Seorang perawat lain langsung menghambur meminta nomor yang diberikan Adith. "Aku juga, aku akan membayarmu berapapun kamu mau." Seorang yang lain juga tak ingin ketinggalan. "Kalian ingin membuat aku di pecat dari rumah sakit? Meski ia memberiku nomornya, apa kau tau berapa besar resiko yang harus aku dapatkan jika no ini tersebar?" Dia yang awalnya senang dengan Adith yang memberikan no nya pada akhirnya terpikir akan bahaya yang harus ia dapatkan jika no itu tersebar. "Dia tidak mungkin akan mengetahui hal tersebut, jangan terlalu panik." Ucap yang lainnya santai. "Benar, atau kau hanya ingin menyimpannya sendiri saja?" Tuduh mereka sinis. "Apa kalian bercanda? Kalian tidak ingat kejadian tempo hari saat salah seorang perawat dengan lancangnya mengambil handphonenya yang tak sengaja ia letakkan di mejanya dalam keadaan terkunci dan dia langsung dipecat serta tidak diterima di rumah sakit manapun karena selalu mengirimnya pesan spam?" Ucapannya langsung membuat teman-temannya terdiam. "Begitu Pula dengan kejadian handphone yang hilang dan hanya 10 menit kemudian handphonenya ditemukan saat orang tersebut berada di toilet. Dokter adalah direktur di perusahaan tekhnologi mutakhir, kalian pikir dia tidak akan mengetahuinya?" Dia langsung bertanya dengan sinis tak tahan dengan tuduhan mereka. Mereka akhirnya bubar dengan begitu tertib setelah mendengarkan penjelasan perawat yang selalu bekerja sama dengan Adith tersebut. "Kapten, apa kau benar-benar tidak masalah dengan ini? Calvin adalah orang yang paling brengsek terhadap perempuan. Dia mungkin akan melakukan sesuatu kepadamu" Elvian dengan cepat mengingatkan Alisya sebelum pergi. "Benar, bagaimana pun juga anda adalah seorang perempuan. Dia mungkin bisa melecehkanmu di dalam sana." Tambah Rifal dengan penuh rasa khawatir. Alisya memang kapten satuan khusus rahasia mereka, namun dalam beberapa kasus selama melakukan penyamaran dia menanggalkan pangkatnya dan melakukan sendiri pengintainnya. Bukan karena karena ia tidak percaya pada bawahannya, namun setaip kali harus berhubungan dengan orang brengsek mereka terus gagal jika tidak menggunakan perempuan. "Kau tak perlu khawatir, aku takkan biarkan dia melakukan hal lebih padaku. Sedikit rayuan mungkin bisa membuatnya menjauh dari para pengawalnya. Jika aku tidak melakukannya dengan maksmimal, kita bisa kehilangan dia kembali." Alisya memakai kacamata yang berwarna hitam menggantikan kaca mata bulatnya dan berpakaian seksi. Rambutnya yang ia urai jatuh dengan indah memperlihatkan kecantikannya yang elegan. Rok seksinya sengaja ia tambahkan untuk benar-benar menarik perhatian Calvin. Dengan begitu menggoda, Alisya berjalan masuk bersama Elvian untuk melakukan penyamaran. Meski canggung, Elvian mau tidak mau menempatkan tangannya ke pinggang Alisya saat akan berjalan masuk. "Elvian sudah datang, dia di arah jam 10 memakai Jas merah maroon." Rafli dengan cepat memberikan laporan agar Elvian dan Alisya segera melakukan aksi mereka. "Pakailah ini, aku tau kapten tidak meminum minuman beralkohol. Maka aku membuatkan pewangi mulut yang memancarkan aroma alkohol yang cukup kuat." Elvian memberikan Alisya pewangi mulut yang berbentuk semprotan. "Kemampuan mu semakin berkembang ternyata." Alisya tersenyum dan langsung melakukan seperti yang dikatakan oleh Elvian. Dengan bertingkah linglung seolah benar-benar mabuk, Elvian menarik pinggang Alisya untuk berjoged di lantai dansa. Gerakan Alisya yang mengalir indah dengan lekuk tubuhnya yang sempurna dan pahanya yang mulus serta wajah standarnya yang semakin lama semakin terlihat cantik membuat Calvin tertarik padanya. Terlebih saat Alisya membuka kacamatanya dan memasangkannya kepada Elvian sambil tersenyum membuat Calvin tak tahan. Calvin menjentikkan jari kepada Asistennya. "Pergi dapatkan aku wanita itu." Melihat arah yang di tunjukkan oleh Calvin, dia segera mengangguk paham. "Sepertinya kau berhasil." Bisik Elvian di telinga Alisya yang langsung membuat Alisya bertingkah seolah mendapat bisikan sensual. Tanpa disadari Alisya, setiap gerakannya saat ini sedang diperhatikan dengan begitu tajam dan dengan aura yang begitu menakutkan. "Adith, mungkin kita salah orang. Itu sangat terlihat seperti bukan Alisya. Alisya tidak akan mungkin melakukan hal seperti ini." Yogi dengan takut mencoba untuk membuat Adith untuk tenang. "Salah orang? Apa kau berpikir kalau aku sampai sebodoh itu untuk tidak mengenali orang?" Suara Adith terdengar bengis dan penuh amarah. Tidak sedetikpun matanya berkedip dan berpaling melihat Alisya yang tampak menari dan terlihat mabuk. Yogi paham betul mengenai kemampuan Adith seperti apa dengan IQ nya yang sangat tinggi sehingga kesan jenius melekat pada dirinya. Meski Adith melupakan semua hal tentang Alisya, namun bukan berarti ia tidak mengingat setiap detail orang yang sudah ditemuinya. "Aku tau, meskipun begitu aku yakin mungkin Alisya memiliki alasan untuk melakukan ini. Sebaiknya kau jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan." Ucap Yogi masih terus berusaha mengingatkan Adith. "Meskipun benar apa yang kau katakan, tapi apa yang sedang kita lihat sekarang sudah cukup untuk menjelaskan semuanya." Adith duduk bersandar di sofanya dengan rasa sakit yang amat besar tak menyangka akan melihat Alisya seperti itu. Merasa Adith sudah tak bisa diajak untuk berbicara lagi, Ia dengan segera menelpon Zein dan yang lainnya termasuk Ryu untuk membantunya. "Apa kau mau mendapatkan uang yang lebih banyak juga kesenangan yang lebih dari ini?" Asisten pribadi Calvin segera berbisik dibelakang Alisya dengan suara berat. Alisya berbalik seolah memasang pandangan tidak paham akan maksudnya. "Tuan kami yang berada disana menawarkan anda untuk pergi bersamanya, tentu saja anda bisa mendapatkan semua yang anda inginkan." Lanjutnya lagi sembari menunjuk kearah Calvin. Calvin tersenyum penuh menggoda. Pria itu memang tampan dan kaya yang tentu saja akan membuat semua wanita akan mengantri untuk dapat pergi bersamanya, namun Alisya tau bagaimana cara jitu untuk menarik perhatian Calvin. "Jual Mahal". Calvin begitu bergairah jika menemukan seorang wanita yang bisa dengan begitu berani menolaknya sehingga ia akan melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan wanita itu. Chapter 371 - Sentuhan Menjijikan Calvin Mendengar ucapan Asisten pribadi Calvin, Alisya tertawa pelan melepaskan pelukannya dari Elvian. "Puffftt, kau pikir aku adalah wanita yang tidak mendapatkan keinginannya sampai harus membutuhkan orang lain untuk mewujudkannya? Kalian sudah salah paham denganku, kesepakatan ini tentu takkan berguna padaku." Ucap Alisya dengan gaya setengah mabuknya. Suara Alisya yang begitu nyaring dan hangat menggetarkan tubuh Asisten pribadi Calvin tersebut. Dia yang biasanya bertindak profesional saat itu tiba-tiba saja goyah karena pesona Alisya. Ia menyerah dan pergi untuk menyampaikan apa yang dikatakan oleh Alisya padannya kepada calvin. "Bagaimana jika cara ini gagal?" Bisik Elvian lagi ke telinga Alisya. "Gagal? Kau pikir semua pria akan suka pada wanita gampangan?" Bisik Alisya lagi ke telinga Elvian. "Tapi bisa saja dia tersinggung dengan apa yang kamu katakan tadi." Terang Elvian lagi sembari terus sedikit mencuri-curi lihat ke arah Calvin yang sedang tertawa keras. "Jika saat ini dia sedang tertawa keras, maka yang terjadi adalah dia akan semakin berhasrat untuk mendapatkan ku dengan memberikan kesepakatan lebih besar lagi." Jelas Alisya sembari terus berakting manis. Suara lantai dansa yang begitu ribut dan keras membuat keduanya harus berbicara dengan gaya berbisik-bisikkan, sehingga Adith semakin mengepalkan tangannya dengan penuh amarah. "Dia berkata padaku bahwa dia adalah istriku, lalu istri mana yang melakukan ini dibelakang suaminya? Apa dia sedang bercanda!" Adith memecahkan meja kaca di hadapannya. Suara musik di bar tersebut sangat bising sehingga tak ada satupun yang menyadari apa yang sudah dilakukan oleh Adith, namun Yogi dengan jelas melihat sisi gelap Adith saat ini. Setelah menyampai kan apa yang telah dikatakan oleh Alisya, diluar dugaan dari Asisten Calvin, Calvin malah tertawa dengan keras menatap Alisya dengan penuh membara. "Katakan padanya bahwa dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan dan aku yang akan menjamin itu, beritahukan padanya bahwa umur, kecantikan dan kekuasaan bisa dia dapatkan." Seru Calvin semakin ingin mendapatkan Alisya. Dengan mantap ia kembali menemui Alisya dan membisik kan semuanya kepadanya yang kemudian di jawab dengan anggukkan oleh Alisya. Alisya dengan angkuh melepas Elvian yang membuatnya berkata dengan kesal. "Kau mau kemana? Tidak aku izinkan kau pergi dengan orang lain." Tahan Elvian pada tangan Alisya untuk menghentikannya. "Kau tau, aku selalu mendekat ke arah mereka yang memberiku kesepakatan yang lebih besar." Alisya melepas genggaman Elvian dengan tatapan dingin. "Tidak, aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan aku seperti ini." Bentak Elvian sekali lagi ingin menghentikan Alisya, namun dengan cepat Asisten pribadi Calvin langsung menghalanginya. "Cukup sampai disini, jika kau tak ingin kehilangan nyawa maka sebaiknya kau melakukannya." Tegasnya dengan tatapan bengis yang memperlihatkan senjatanya di balik jas nya agar Elvian tidak maju selangkah lagi. Dengan kesal Elvian melepas kepergian Alisya lalu berbalik ke arah lain dan duduk di bar dengan putus asa. Dari kejauhan, Adith ingin sekali menghajar Elvian yang sudah berani menempatkan tangannya pada pinggang Alisya namun begitu melihat Alisya melangkah ke tempat lain, wajah Adith semakin menggelap saat melihat bahwa laki-laki yang sedang didatanginya tersebut adalah Calvin. Adith yang mengetahui siapa Calvin dan bagaimana sifatnya jika pada perempuan. Dia yang suka bermain-main dengan perempuan takkan melupakan perempuan itu sampai jika dia benar-benar bosan dengannya. "Apa yang membuat tuan tertarik padaku sampai berusaha sekuat itu untuk menarik perhatianku?" Alisya sudah duduk di sofa sebelah Calvin. Calvin yang mencium bau alkohol di mulut Alisya yang bibirnya merekah bak delima terlihat tipis dan lembut dan wajah kemerahannya yang sebenarnya karena make up dikira oleh Calvin karena pengaruh mabuk membuat Calvin semakin bergairah. "Aku rasa kau tak perlu tahu kenapa, karena wanita sepertimu ini adalah hal yang langka untuk aku temui." Calvin meremas kuat paha putih Alisya yang mulus dan jenjang membuat tubuh Alisya bergetar jijik. Meski berusaha menahan emosinya, nadi di kepala Alisya sedikit berkedut tapi untunglah lampu yang remang-remang membantunya sehingga ekspresi kesalnya tak begitu nampak. "Tidak masalah bagiku selama kau bisa memberiku keuntungan." Seru Alisya melepaskan tangan Calvin di pahanya dengan terus bersikap mabuk. Calvin yang diperlakukan seperti itu bukannya marah, sikap Alisya malah semakin membuat Calvin tidak tahan untuk melumat dan menghancurkan serta menundukkan kucing liar di hadapannya tersebut. "Kita cari ruang sekarang!" Pintanya langsung mengangkat Alisya berdiri dengan memegang pingganya dengan sensual. Jika kali ini Alisya melepas genggaman Calvin, sudah tentu dia akan curiga karena Calvin bukanlah orang sembarangan sehingga Alisya membiarkan masalah itu untuk sementara. Mereka segera menuju ke tempat dimana ruangan itu merupakan ruangan yang cukup luas dan mewah. Di dalamnya terdapat sofa yang memanjang dengan beragam minuman yang ada yang dengan satu tarikan, Alisya sudah duduk diatas paha Calvin. Tangan mulai menjalar dari paha Alisya untuk memberikannya rangsangan, yang membuat Alisya mulai ketakutan. Meski dia seorang kapten khusus dan sudah menikah, dia belum memiliki pengalaman atas hal tersebut. "Sepertinya ini adalah kali pertamamu yah?" Ucap Calvin berbisik lembut di telinga Alisya dan menggigitnya dengan cukup kasar. Alisya hanya tersenyum geli dan tersirat rasa jijik yang amat mendalam. Bahkan para bawahannya yang terus melakukan monitor pada Alisya mulai memukul keras benda disekitar mereka penuh amarah. "Makanya kau harus melakukannya dengan lembut." Alisya membalas bisikan Calvin dengan suara mabuk yang membuat Calvin sudah tidak tahan lagi, tapi dia masih ingin bermain-main dulu dengan Alisya. "Tentu saja, aku akan menunjukkan kemampuanku padamu" ucapnya menarik kepala Alisya lebih dekat agar ia bisa menciumnya namun begitu dekat dan tinggal 1 cm lagi, Alisya bersikap seolah akan muntah. "Sepertinya aku harus mengeluarkan isi perutku dulu sebelum memulainya dengan benar, setidaknya dengan kesadaran penuh ku tentu dapat membuatmu semakin bergairah lagi bukan?" Kata-kata Alisya tidak membuat Calvin curiga karena bau alkohol dari mulut Alisya membuatnya percaya seberapa beratnya rasa mabuknya saat itu. Rasa mualnya tentu akan mengganggu permainan mereka sehingga ia mengizinkan Alisya pergi ke toilet. Calvin memberi tanda agar asistennya ikut bersama Alisya. "Hahahahah, kau tak perlu khawatir. Siapa yang dengan bodohnya melewatkan kesempatan besar seperti ini terutama jika pria itu adalah kau yang begitu menggairahkan? Setidaknya berikan sedikit privasi untukku." Pinta Alisya dengan linglung yang langsung di setujui oleh Calvin. Melihat tatapan mata Alisya, Calvin percaya kalau ia akan kembali. Alisya memang berencana untuk kembali namun dengan rencana yang berbeda agar setidaknya tubuhnya tetap bebas dari sentuhan menjijikan Calvin. Chapter 372 - Istri Menjijikkan Begitu keluar dari ruangan Calvin, Alisya dengan segera menuju ke toilet berjalan dengan penuh kesadaran. "Kapten, bisakah kita hentikan ini semua? Aku tak bisa melihat kapten diperlakukan seperti itu lagi." Seru Rafli dengan menggertakkan giginya. "Kapten, satu perintah darimu bisa membuatku langsung membunuh mereka semua tanpa sisa!" geram Elvian yang masih berada di dalam Bar yang terus menatap ruangan dari kejauhan. "Bersabarlah, bukan hanya kalian yang merasa seperti aku bahkan hampir saja mematahkan tangannya namun karena mengingat kita sudah mengejarnya selama hampir 1 tahun ini, akan sulit lagi untuk kita bisa mendapatkan kesempatan ini lagi." Ucap Alisya sembari terus berjalan menuju ke toilet. "Akh¡­!!!" Alisya tiba-tiba didorong ke arah dinding dengan sangat keras begitu ia memasuki toilet. "Kapten, Kapten! Apa yang terjadi?" ucap Elvian dengan penuh khawatir mendengar pekikkan Adith namun ia tidak bisa menjawabnya. Dengan begitu kasar, tubuhnya di tindih dan bibirnya dilumat dengan kasar. Andai saja Alisya tidak mengenali ritme jantung ini, maka sudah pasti dia akan menghantamnya atau mematahkan lehernya dengan mudah. Namun karena itu adalah Adith, Alisya hanya bisa berusaha untuk lepas namun Adith tetap menekannya dengan keras. Ciuman Adith begitu kasar hingga Alisya kebingungan dengan sikap Adith. Alisya terkejut melihat Adith bisa berada disana, tidak tercium bau alcohol dari mulut ataupun tubuhnya namun ciuman itu penuh akan amarah. "Energi nano? Sejak kapan dia begitu sekuat ini? Apa dia tidak menyadarinya?" batin Alisya mendorong badan Adith, namun semakin ia berusaha untuk lepas, Adith semakin menekannya kuat. "Kapten jika kau tak menjawab kami akan menerobos masuk!" ucap Rafli mulai bersiap-siap untuk segera menerobos jika dalam 5 menit Alisya masih tak memberikan jawaban. Mereka tidak ingin mengambil resiko dengan mengorbankan kapten meski mereka sangat paham akan kemampuan Alisya. Adith mulai meraba bagian paha Alisya lalu naik hingga akhirnya menuju ke bagian intim Alisya yang langsung membuat Alisya terkejut dan mendorongnya dengan keras. Desahan yang terdengar dari alat komunikasi mereka seketika membuat mereka semua bingung dan takt ahu harus bagaimana. Mereka tidak tahu apakah harus menerobos masuk atau tidak ketika medengar itu, namun yang pasti tubuh mereka seketika panas mendengar hal tersebut. "Plakkkkk" sebuah tamparan keras membekas di pipi Adith. Alisya menatap Adith dengan penuh amarah tak menyangka ia akan melakukan hal tersebut kepadanya dengan sangat kasar. "Apa yang terjadi padamu sebenarnya? Kenapa kau melakukan ini padaku?" Alisya melihat Adith setengah terengah-engah kehabisan nafas karena ciuman mereka. "Bukankah aku suamimu, kenapa tubuhmu begitu bergetar takut hanya karena ciumanku?" Adith menatap Alisya dengan tatapan bengis yang semakin membuat Alisya bingung. "Hah?! Suami?" Elvian dan Rafli berteriak secara bersamaan tak menyangka dengan apa yang baru saja mereka dengar. "Sial" Alisya sadar kalau belum mematikan alat komunikasi mereka. "Fokus! Aku akan menyambungkannya beberapa saat lagi." Ucap Alisya langsung mematikan sementara alat komunikasi mereka. Berdasarkan alat komunikasi mereka sebelumnya, Elvian dan Rafli bisa melihat jelas wajah dari orang yang sudah mengaku sebagai suami kapten mereka. Mereka yang tak pernah tahu bahwa kapten mereka sudah menikah semakin bertanya-tanya. Syukurlah alat komunikasi itu hanya di sambungkan internal oleh mereka bertiga saja. "Apa kau melihat apa yang terjadi dari tadi?" tubuh Alisya bergetar hebat saat mengingat Adith mungkin sudah melihatnya sewaktu ia mulai berdansa dengan Elvian hingga prilaku Cavin kepadanya. "Kenapa? Apa kamu takut kalau aku mengetahui kebenarannya sekarang? Aku pikir kau beda dengan wanita lainnya yang mendekatiku karena harta dan hanya ingin mempermainkanku, tapi ternyata kau sama saja." Dengan tatapan jijik yang seketika membuat hati Alisya terluka karena ucapannya. "Adith, aku bisa menjelaskannya. Tapi aku harap saat ini kau tidak mengambil kesimpulan sendiri." Pinta Alisya dengan mendekati Adith namun Adith memundurkan langkahnya tak ingin di sentuh oleh Alisya. "Jangan sentuh aku! Kau tak ada bedanya dengan para pelacur yang ada di Bar ini." Maki Adith menatap jijik kepada Alisya. Bau alkohol di mulut Alisya membuat Adith ingin muntah, terlebih jika ia mengingat bagaimana Alisya sudah menyerahkan dirinya kepada Calvin membuat Adith semakin merasa mual. Adith merasa dipermainkan dan dikhianati oleh Alisya. "Adith, aku istrimu! Meski kau tak mengingatku, tapi aku ini masih istrimu yang sah." Alisya dengan tegas mengingatkan Adith. "Tutup mulutmu!" Adith memegang pipi Alisya dengan kasar. "Aku bahkan tak pernah mengingat memiliki istri semenjijikkan kau ini. Jangan pernah tampakkan wajahmu lagi dihadapanku, lebih baik kau mati saja dan membusuk di neraka." Ucap Adith dengan membuang wajah Alisya dengan kasar. Hati Alisya begitu pedih saat mendengar ucapan tak terduga dari Adith tersebut, meski begitu Alisya masih bisa memahami kemarahan Adith saat ini yang merasa dirinya telah tekhianati. Begitu Alisya ingin membuka mulutnya untuk menjelaskan kepada Adith, pintu toilet segera diketuk. "Nona, apakah anda baik-baik saja?" suara Asisten Calvin terdengar bertanya kepadanya. "Yah, sebentar aku akan keluar" Teriak Alisya dari dalam. "Maafkan aku, aku tau ini akan menyakiti hatimu tapi aku masih belum bisa menjelaskannya sekarang. Aku akan kembali menemuimu setelah ini selesai meski kau terus menolakku." Ucap Alisya dengan suara serak langsung keluar dari toilet setelah merapikan dirinya sejenak. "Jangan harap aku mau menemuimu lagi!" bentak Adith dengan menghentakkan kakinya. Dengan memimpin jalan, Alisya berusaha kuat untuk berjalan dengan tegar dengan semua kata-kata yang terlontar dari mulut Adith sebelumnya. "Kenapa kau begitu lama?" tanya Calvin dengan tidak sabaran dan kembali menarik tubuh Alisya duduk ke atas pangkuannya. Begitu ia kembali, beberapa orang sudah berada di dalam ruangan Calvin ditemani para wanita. "Tuan, anda begitu tak sabaran. Apakah ada yang ingin anda lakukan sampai harus teburu-buru seperti ini? Aku tentu harus benar-benar membersihkan diriku agar tuan tidak ikut mual karena mencium bau tak sedap." Alisya membelainya dengan lembut agar Calvin bisa dengan ceroboh mengatakan tujuannya setelah ini. "Tentu saja, aku masih memiliki pekerjaan lain yang cukup penting di ¡­.." saat Calvin akan mengatakannya, sebuah panggilan segera menghentikannya. Alisya dibuat turun dari pangkuan Calvin. Malam ini mereka gagal lagi mendapatkan informasi dari Calvin namun Alisya masih sempat menangkap frekuensi panggilannya. "Maafkan aku sayang, kali ini aku tak bisa melayanimu. Tanggal sekian datanglah ke hotel ini, dan aku akan menunggumu disana. Jangan kahwatir, aku takkan pernah melewatkan kesempatan itu atau sedang mempermainkan kamu." Calvin memberikan ciuman singkat ke pipi Alisya dan meninggalkan kartu Namanya di tangan Alisya. Chapter 373 - Ya, dia adalah Suamiku Alisya yang semula akan mengira mereka bisa berhasil mendapatkan Calvin namun malah gagal dan harus bermasalah dengan Adith membuat ia sangat kecewa dan marah. "Sayang, bagaimana jika aku menemanimu?" Tanya seorang pria berusia sekitar 40an dengan perut buncit dan wajah yang mabuk. Alisya tentu saja menghindarinya dan merasa jijik dengan tatapannya kepada dirinya sehingga dengan tak peduli Alisya melangkah pergi. "Aku bisa memberikanmu informasi dimana dia pergi, jika kau memberikan aku satu malam mu. Bagaimana?" Pancingnya lagi menghentikan langkah kaki Alisya. Alisya yang sudah kehilangan kesempatannya untuk bisa mengetahui banyak informasi dari Calvin merasa akan sangat merugi jika ia harus kembali dengan tangan kosong. Ia berpikir bahwa orang tua ini mungkin akan memberikannya informasi yang lebih baik dibanding dengan Calvin yang sangat waspada karena dengan satu rayuan saja ia bisa membocorkan semuanya. "Oke, tapi aku tidak menyukai tempat ini sekarang. Bagaimana kalau kita keluar dan melakukannya dengan cara yang sedikit menantang, Gang sebelah misalnya?" Alisya merayu dengan gerakan sensasual dengan menaik turunkan pahanya di depan pintu. Pria yang melihat itu dengan segera merasakan panas di tubuhnya, hasratnya yang besar segera mendorong tubuh wanita yang berada di sekitarnya dan berjalan mengikuti Alisya yang terus mengajak nya dengan rayuan mematikan. "Kemarilah, kau bisa melakukan apapun disini" ajak Alisya dengan duduk di atas sebuah drum besi dengan membuka lebar pahanya. Pria itu berlari seolah melihat sebuah mangsa dan yang sudah tak tahan lagi sehingga langsung memeluk Alisya dan ingin menempatkan ciumannya di leher Alisya. Namun begitu baru sampai di hadapan Alisya, ia langsung di buat pingsan oleh Elvian dengan pukulan keras di kepalanya. "Bawa dia ke markas kita, aku harus menyelesaikan satu hal penting terlebih dahulu." "Siap Kapten. Tapi maaf kapten, apakah benar kalau dia adalah suamimu?" Tanya Rafli dengan ragu-ragu. "Ya, dia adalah suamiku!" Suara Alisya terdengar berat dan serak. Ia yang harus mengakui Adith sebagai suaminya yang tidak mengingat dirinya dan tidak mengakui dirinya tentu terdapat kepahitan dihatinya. "Huhhhfffttt, mungkin ini adalah hukuman bagiku karena pernah menyakitinya dengan kata-kataku." Alisya mendesah mengingat kejadian dimana kata-kata yang ia lontarkan saat melawan Artems akan sangat menyakiti hatinya. Dari kejauhan, Alisya bisa melihat Yogi yang tiba-tiba keluar dari Bar mengejar mobil Adith yang sudah melaju dengan sangat kencang. Dia mungkin saja akan mengalami kecelakaan karena hal tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, Alisya langsung mengambil motor hitam milik Elvian dan mengendarainya mengejar Adith. Jalan yang ramai sedikit menyulitkan Alisya mengejarnya namun begitu mendekati lampu merah, Adith berhenti secara mendadak. "Brengsek!!!" Maki Adith dengan menunduk penuh rasa kecewa hingga satu ketukan di jendela kacanya mengagetkan Adith. "Adith¡­ dengarkan aku, aku bisa menjelaskan semuanya padamu." Teriak Alisya di balik helem ninjanya. Adith sangat terkejut melihat hal tersebut, namun ia tetap tak peduli karena amarahnya masih menguasai dirinya. Dengan satu tarikan Gas, Adith melaju kencang dengan mobil sportnya meninggalkan Alisya. Tak menyerah ia dengan cepat mengejar Adith. Aksi kejar-kejaran mereka cukup berbahaya sampai beberapa mobil harus mengerem mendadak untuk menghindari keduanya. Merasa tak bisa mendapatkan Adith jika dengan jalan kompromi, Alisya akhirnya memacu motornya lebih kencang dan berhenti sekitar beberapa ratus meter di depan jalur Adith. "Mari kita lihat apakah kamu masih tidak menghindar? Dengan sedikit pijakan gas yang sangat kuat, ia mulai melaju lebih cepat seolah memiliki niat untuk menabrak Alisya. Alisya yang tak bergeming membuat Adith harus menekan Rem dengan keras dan membanting Stir dengan cepat sehingga pintu depan mobilnya segera berhenti tepat di hadapan Alisya. Alisya menunduk dan menatap ke arah Adith "Maafkan aku Adith, aku akan melakukan apapun agar kau memaafkanku." Adith keluar dari mobilnya membanting Alisya dengan keras dengan membelakangi mobilnya. Adith memegang pipi Alisya dan menjepitnya dengan kasar "Maaf? Seorang pengkhianat sepertimu tak pantas mendapatkan maaf". Cara Adith melempar wajahnya membuat pipi Alisya kebas. "Kalau begitu berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya." Pinta Alisya dengan memegang tangan Adith. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu." Tepis Adith dengan tatapannya yang tajam. "Adith, ku mohon dengarkan aku dulu!" Tarik Alisya yang dengan satu dorongan kuat, Alisya terkajuh ke aspal jalan. Hati Adith merasa pilu melihatnya, namun emosinya telah membutakan dirinya sehingga tak peduli dia kembali masuk ke dalam mobilnya pergi meninggalkan Alisya. Tangan dan lutut Alisya yang tak memiliki pengaman terkelupas dan mengeluarkan darah segar. Alisya terpaksa kembali ke Bar untuk menemui Yogi. Begitu sampai, bukan main terkejutnya Alisya saat melihat Zein dan yang lainnya juga berada disana juga termasuk Karin dan Karan. Melihat Alisya mendekat ke arah mereka, Yogi sudah setengah panik saat melihat Alisya namun Karin langsung berlari menghambur ke arah Alisya. Alisya tak menyangka kalau Karin akan langsung mengenalinya hanya dengan sekali lihat begitu pula dengan Karan. 3 orang yang sudah bersama sejak kecil itu bahkan bisa saling mengenali meski hanya dengan 1 tatapan mata saja. Karin meraung-raung dalam pelukan Alisya. Ia yang menangis sambil berbicara membuat Alisya tak paham apa yang sedang ia katakan. Setelah membuat Karin tenang, dan menatap Karan dengan tatapan kerinduan, Alisya kembali menceritakan semua hal mengenai dirinya serta alasan mengapa ia tidak bisa kembali secepatnya kepada Karin dan Karan setelah mencari tempat yang pas untuk mereka bisa bercerita. "Aku tau masih banyak hal yang ingin kalian berdua tanyakan, tapi untuk sekarang aku harus menyelesaikan kesalahpahaman ku dengan Adith." Seru Alisya menatap tajam ke atah Yogi. Yogi langsung berlutut di hadapan Alisya untuk meminta maaf. "Maafkan aku, aku tak bermaksud tidak mempercayaimu atau sedang memata-matai mu namun aku takut kamu akan berada dalam bahaya seperti tempo hari." Ucap Yogi dengan menaikkan kedua tangannya meminta maaf. "Huhhh¡­ sudahlah, itu bukan salahmu. Aku juga tidak bisa menyalahkan dirimu atas semua itu. Aku hanya tak menyangka kalau kalian akan berada disana di saat yang tidak tepat." Ucap Alisya yang langsung menyuruh Yogi untuk bangkit dari posisinya. "Nona, apa yang anda lakukan disana?" Tanya Ryu dengan tatapan bingung. "Mengapa kau berpakaian seperti ini?" Lanjut Zein lagi masih tak percaya kalau Alisya akan memakai pakaian seperti itu. "Apa sebenarnya yang membuatmu melakukan penyamaran ini?" Tanya Karin juga bingung. "Lalu mengapa kau keluar bersama pria tua dan memasuki gang?" Tambah Riyan lagi yang ternyata melihat semuanya. "Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Mengapa mulutmu juga berbau alkohol, apa kau sedang mabuk?" Karan masih belum menemukan titik terang dari penjelasan Alisya serta hubungannya dengan apa yang baru saja ia lakukan. "Aku tau kalian semua penasaran, mereka akan membantuku menjelaskan semuanya agar kalian bisa percaya." Alisya memanggil Elvian dan Rafli yang langsung membuat Yogi terkejut. "Dia? Bukankah dia pria yang berada di Bar tadi dan berjoged di lantai dansa bersamamu?" Ucap Yogi tak menyangka melihat orang itu disana. Mereka berdua langsung memperkenalkan diri terlebih dahulu dengan gaya militernya. "Pertama, nona Ayumi Yamada adalah Kapten kami dari satuan khusus yang sangat rahasia dan maaf kami tak bisa mengatakannya dengan lebih jelas." Ucap Elvian dengan suara yang tegas sembari memperlihatkan lencana mereka. "Kedua, malam ini kami sedang melakukan penyelidikan terhadap Calvin dan ini adalah metode penyamaran kami setelah setahun lebih kami bahkan tak memiliki kesempatan untuk bisa mendekatinya." Tambah Rafli lagi. Alisya dan dua bawahannya tersebut menjelaskan kepada mereka semua tentang profesi dia saat ini serta mengapa mereka mengejar Calvin dan penyamarannya. Mereka akhirnya paham, namun masalah utama adalah bagaimana membuat Adith juga bisa memahaminya saat dia bahkan tidak mengingat Alisya. Sehingga tujuan utama mereka saat itu adalah membuat Adith kembali mengingat Alisya dan menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka. Chapter 374 - Teman Kuliah Sudah beberapa hari Alisya terus mencari Adith diperusahaan, namun tetap tak pernah bertemu dengannya. Bahkan saat ia mengunjungi Adith dirumah sakit, ia pun juga tak bisa bertemu dengannya karena ia selalu berada di ruang operasi. "Suster, dokter Adith ada dimana yah?" Tanya Alisya pada suster yang sering bekerja sama dengan Adith. "Wah, dokter Adith sehabis menyelesaikan operasi dia sudah pergi meninggalkan rumah sakit mbak. Sepertinya dia benar-benar menghindari mbak, karena setiap kali selesai dia takkan pernah masuk ke kantornya lagi." Jelasnya dengan pandangan menyelidik. "Oh, begitu. Terimakasih banyak atas informasinya." Alisya pamit dan pergi dari hadapan perawat tersebut. *Dia selalu saja menghindar dariku. Baiklah sekarang apa yang akan kau lakukan jika aku berbuat sedikit lebih nekat." Alisya tersenyum licik mengingat kemarahan Adith yang begitu besar dikarenakan perasaannya pada Alisya juga sama besarnya. Semakin kau mencintai seseorang, semakin besar juga rasa sakit hati dan cemburu itu. Namun saat ini yang menjadi masalah Adith adalah dia seolah tidak mengenali Alisya sehingga kepercayaannya pada Alisya masih kurang. "Ma, mama sendirian saja dirumah?" Alisya masuk setelah ibu Adith membukakan pintu untuknya. "Iya benar, mereka belum pulang sampai sekarang mungkin masih ada yang harus dikerjakan." Jawab ibu Adith begitu semangat saat melihat Alisya kembali datang kerumahnya. Tanpa diketahui oleh Adith, Alisya selalu mendatangi ibu Adith untuk sekedar menemaninya belanja, makan bersama atau menemaninya tidur di saat Ayah Adith keluar kota dan Adith di rumah sakit. "Alisya¡­ ada apa dengan kalian sebenarnya?" Ibu Adith akhirnya curiga dengan reaksi Adith setiap kali pulang selalu larut malam dan mulai jarang berkomunikasi dengan ibunya. Alisya tersenyum dan menepuk telapak tangan ibunya dengan hangat "Tidak ada apa-apa bu, cuman salah paham kecil saja kok. Alisya akan selesaikan secepatnya biar ibu nggak khawatir lagi. Oke?" "Ya sudah, aku yakin kalian bisa menyelesaikannya dengan baik." Ucap ibunya dengan tersenyum hangat. "Ibu sudah makan? Kita masak bareng lagi yah¡­" ajak Alisya dengan berdiri menuju dapur. "Kamu mau masak banyak lagi? Sudah 2 malam Adith tidak pernah pulang, sepertinya dia lebih sering bermain di apartemennya." Ucap ibunya mengingat kan Alisya yang selalu datang masak untuk Adith dan dirinya. "Kalau begitu.." Alisya berbalik cepat dan tersenyum penuh arti. "Aku tinggal pergi ke apartemennya dan membawakan Adith makanan ini." Ibu Adith tertawa pelan melihat kegigihan Alisya yang ingin menyelesaikan sebuah kesalahpahaman kecil di antara mereka. Setelah masak dan makan bersama ibu Adith, Alisya segera keluar dari rumah Adith menuju ke apartemen Adith. Sesampainya disana, Alisya juga masih tidak menemukan Adith hingga ia tertidur di kamarnya karena menunggu Adith yang tak kunjung pulang. "Kau selalu saja tampak sibuk hingga tak menyadari aku yang sudah berdiri disini selama 15 menit, kau tak ingin makan?" Tanya seorang wanita yang berpakaian begitu mewah dan sangat menawan. "Kamu¡­ Mery? Merylin bukan?" Adith yang semula berwajah dingin akhirnya terlihat menyunggingkan sedikit senyuman. Merylin adalah satu-satunya teman wanita Adith selama ia kuliah di Oxford lalu. Dia bisa berteman dengan baik dengannya karena Merylin tidak pernah menunjukkan perasaanya kepada Adith dan berteman tulus dengannya serta memahami kepribadian Adith yang tak suka bersentuhan langsung. Meski begitu, sikap Adith tetap saja dingin terhadapnya. "Kamu masih sama seperti dulu, selalu menganggap pekerjaan nomor satu dan tak memperdulikan hal lain." Merylin masuk kedalam kantor Adith yang begitu luas dan nyaman. "Kapan kamu berada di Indonesia? Apa yang kau lakukan disini?" Adith berdiri dari kursinya untuk menyambut Mery sebagai sopan santunnya. "Aku di datang kemari untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan kalian. Bukankah harusnya kau sudah mengetahuinya?" Mery mengernyitkan keningnya tak paham dengan sikap Adith yang seolah-olah tak mengetahui kedatangan Mery. "Aku sudah memberinya dokumen itu, tapi sepertinya dia tidak membukanya dan hanya langsung menandatanganinya saja." Jawab Yogi masuk ke dalam memandang Adith tajam. "Ah.. maafkan aku, aku tidak bermaksud kasar padamu." Ucap Adith cepat. "Dia akan berada disini selama seminggu untuk melakukan pengembangan dalam proyek kali ini sehingga akan sangat baik jika direktur mulai memperkenalkan dia dengan tim kita yang akan ikut untuk bekerja sama." Terang Yogi cepat untuk mengembalikan suasana canggung mereka. "Tentu saja, mari saya antar untuk bertemu dengan mereka dan mengenalkan perusahaan ini padamu." Adith akhirnya mulai terlihat tersenyum hangat. Mereka bertiga akhirnya turun di ruang meeting untuk mengenalkan Merylin pada seluruh karyawannya yang akan ikut bekerja sama dengannya. Adith cukup terkejut saat melihat bahwa pada tim mereka ada Alisya disana. Mery dengan jelas melihat perubahan eskpresi Adith namun masih belum tahu pasti akan apa yang yang sedang dipirkannya. Sambil tersenyum Adith segera meraih pinggang Mery untuk masuk dan membukakannya kursi untuk duduk. Saat itu Mery hanya berpikir kalau dia sedang melakukan sopan santun saja. "Perkenalkan dia adalah Merylin Carrington, dia adalah orang yang akan bekerjasama dengan proyek yang akan kita buat dalam sebulan kedepan." Jelas Adith singkat dan memberikan tanda kepada Mery. "Senang bertemu dengan kalian semua, saya harap proyek ini dapat berjalan dengan lancar dan sekali lagi membawa kedua perusahaan untuk menduduki pusat tekhnologi dunia." Nada suara begitu mantap dan merdu serta tatapannya yang penuh kharisma membuat mereka berseru dengan riuh. Setelah selesai memperkenalkan Mery, Adith segera membawanya mengelilingi perusahaan dengan sesekali bersikap dingin saat ia tidak berpapasan dengan Alisya, namun akan bersikap begitu hangat saat bertemu dengan Alisya. Dari gelagat Adith akhirnya Mery paham akan apa yang sebenarnya ia lakukan, namun Mery salah mengira jika yang sedang ditatapnya saat itu adalah Yani bukannya Alisya. "Sepertinya kau sedang bermasalah dengan seorang wanita." Pancing Mery dengan gaya khas Amerikanya. "Apa yang sedang kau bicarakan?" Adith berucap cuek dan tak peduli. "Oy ayolah Dith, aku berteman denganmu tidak setahun saja, tapi 3 tahun dan aku cukup tau akan temperamenmu seperti apa!" Jelas Mery bersandar dikursi Sebuah Restoran setelah diajak makan siang oleh Adith. "Kau terlalu banyak menghayal, bukankah kau sendiri orang pertama yang menyadari Mysophobia ku? Kenapa kau sampai berpikir seperti itu?" Adith tertawa pelan mendengar perkataan Mery. "Benarkah? Sepertinya aku tersanjung. Tapi asal kau tahu, setiap kali kita berpapasan dengan wanita itu kau langsung memperlakukanku dengan hangat, namun begitu dia tidak ada, kau langsung kembali bersikap dingin." Tatap Mery dengan memajukan tubuhnya memancing Adith untuk jujur. Adith hanya tertawa pelan dan tak menjawab perkataan Mery. Chapter 375 - Teman Kuliah Sudah beberapa hari Alisya terus mencari Adith diperusahaan, namun tetap tak pernah bertemu dengannya. Bahkan saat ia mengunjungi Adith dirumah sakit, ia pun juga tak bisa bertemu dengannya karena ia selalu berada di ruang operasi. "Suster, dokter Adith ada dimana yah?" Tanya Alisya pada suster yang sering bekerja sama dengan Adith. "Wah, dokter Adith sehabis menyelesaikan operasi dia sudah pergi meninggalkan rumah sakit mbak. Sepertinya dia benar-benar menghindari mbak, karena setiap kali selesai dia takkan pernah masuk ke kantornya lagi." Jelasnya dengan pandangan menyelidik. "Oh, begitu. Terimakasih banyak atas informasinya." Alisya pamit dan pergi dari hadapan perawat tersebut. *Dia selalu saja menghindar dariku. Baiklah sekarang apa yang akan kau lakukan jika aku berbuat sedikit lebih nekat." Alisya tersenyum licik mengingat kemarahan Adith yang begitu besar dikarenakan perasaannya pada Alisya juga sama besarnya. Semakin kau mencintai seseorang, semakin besar juga rasa sakit hati dan cemburu itu. Namun saat ini yang menjadi masalah Adith adalah dia seolah tidak mengenali Alisya sehingga kepercayaannya pada Alisya masih kurang. "Ma, mama sendirian saja dirumah?" Alisya masuk setelah ibu Adith membukakan pintu untuknya. "Iya benar, mereka belum pulang sampai sekarang mungkin masih ada yang harus dikerjakan." Jawab ibu Adith begitu semangat saat melihat Alisya kembali datang kerumahnya. Tanpa diketahui oleh Adith, Alisya selalu mendatangi ibu Adith untuk sekedar menemaninya belanja, makan bersama atau menemaninya tidur di saat Ayah Adith keluar kota dan Adith di rumah sakit. "Alisya¡­ ada apa dengan kalian sebenarnya?" Ibu Adith akhirnya curiga dengan reaksi Adith setiap kali pulang selalu larut malam dan mulai jarang berkomunikasi dengan ibunya. Alisya tersenyum dan menepuk telapak tangan ibunya dengan hangat "Tidak ada apa-apa bu, cuman salah paham kecil saja kok. Alisya akan selesaikan secepatnya biar ibu nggak khawatir lagi. Oke?" "Ya sudah, aku yakin kalian bisa menyelesaikannya dengan baik." Ucap ibunya dengan tersenyum hangat. "Ibu sudah makan? Kita masak bareng lagi yah¡­" ajak Alisya dengan berdiri menuju dapur. "Kamu mau masak banyak lagi? Sudah 2 malam Adith tidak pernah pulang, sepertinya dia lebih sering bermain di apartemennya." Ucap ibunya mengingat kan Alisya yang selalu datang masak untuk Adith dan dirinya. "Kalau begitu.." Alisya berbalik cepat dan tersenyum penuh arti. "Aku tinggal pergi ke apartemennya dan membawakan Adith makanan ini." Ibu Adith tertawa pelan melihat kegigihan Alisya yang ingin menyelesaikan sebuah kesalahpahaman kecil di antara mereka. Setelah masak dan makan bersama ibu Adith, Alisya segera keluar dari rumah Adith menuju ke apartemen Adith. Sesampainya disana, Alisya juga masih tidak menemukan Adith hingga ia tertidur di kamarnya karena menunggu Adith yang tak kunjung pulang. "Kau selalu saja tampak sibuk hingga tak menyadari aku yang sudah berdiri disini selama 15 menit, kau tak ingin makan?" Tanya seorang wanita yang berpakaian begitu mewah dan sangat menawan. "Kamu¡­ Mery? Merylin bukan?" Adith yang semula berwajah dingin akhirnya terlihat menyunggingkan sedikit senyuman. Merylin adalah satu-satunya teman wanita Adith selama ia kuliah di Oxford lalu. Dia bisa berteman dengan baik dengannya karena Merylin tidak pernah menunjukkan perasaanya kepada Adith dan berteman tulus dengannya serta memahami kepribadian Adith yang tak suka bersentuhan langsung. Meski begitu, sikap Adith tetap saja dingin terhadapnya. "Kamu masih sama seperti dulu, selalu menganggap pekerjaan nomor satu dan tak memperdulikan hal lain." Merylin masuk kedalam kantor Adith yang begitu luas dan nyaman. "Kapan kamu berada di Indonesia? Apa yang kau lakukan disini?" Adith berdiri dari kursinya untuk menyambut Mery sebagai sopan santunnya. "Aku di datang kemari untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan kalian. Bukankah harusnya kau sudah mengetahuinya?" Mery mengernyitkan keningnya tak paham dengan sikap Adith yang seolah-olah tak mengetahui kedatangan Mery. "Aku sudah memberinya dokumen itu, tapi sepertinya dia tidak membukanya dan hanya langsung menandatanganinya saja." Jawab Yogi masuk ke dalam memandang Adith tajam. "Ah.. maafkan aku, aku tidak bermaksud kasar padamu." Ucap Adith cepat. "Dia akan berada disini selama seminggu untuk melakukan pengembangan dalam proyek kali ini sehingga akan sangat baik jika direktur mulai memperkenalkan dia dengan tim kita yang akan ikut untuk bekerja sama." Terang Yogi cepat untuk mengembalikan suasana canggung mereka. "Tentu saja, mari saya antar untuk bertemu dengan mereka dan mengenalkan perusahaan ini padamu." Adith akhirnya mulai terlihat tersenyum hangat. Mereka bertiga akhirnya turun di ruang meeting untuk mengenalkan Merylin pada seluruh karyawannya yang akan ikut bekerja sama dengannya. Adith cukup terkejut saat melihat bahwa pada tim mereka ada Alisya disana. Mery dengan jelas melihat perubahan eskpresi Adith namun masih belum tahu pasti akan apa yang yang sedang dipirkannya. Sambil tersenyum Adith segera meraih pinggang Mery untuk masuk dan membukakannya kursi untuk duduk. Saat itu Mery hanya berpikir kalau dia sedang melakukan sopan santun saja. "Perkenalkan dia adalah Merylin Carrington, dia adalah orang yang akan bekerjasama dengan proyek yang akan kita buat dalam sebulan kedepan." Jelas Adith singkat dan memberikan tanda kepada Mery. "Senang bertemu dengan kalian semua, saya harap proyek ini dapat berjalan dengan lancar dan sekali lagi membawa kedua perusahaan untuk menduduki pusat tekhnologi dunia." Nada suara begitu mantap dan merdu serta tatapannya yang penuh kharisma membuat mereka berseru dengan riuh. Setelah selesai memperkenalkan Mery, Adith segera membawanya mengelilingi perusahaan dengan sesekali bersikap dingin saat ia tidak berpapasan dengan Alisya, namun akan bersikap begitu hangat saat bertemu dengan Alisya. Dari gelagat Adith akhirnya Mery paham akan apa yang sebenarnya ia lakukan, namun Mery salah mengira jika yang sedang ditatapnya saat itu adalah Yani bukannya Alisya. "Sepertinya kau sedang bermasalah dengan seorang wanita." Pancing Mery dengan gaya khas Amerikanya. "Apa yang sedang kau bicarakan?" Adith berucap cuek dan tak peduli. "Oy ayolah Dith, aku berteman denganmu tidak setahun saja, tapi 3 tahun dan aku cukup tau akan temperamenmu seperti apa!" Jelas Mery bersandar dikursi Sebuah Restoran setelah diajak makan siang oleh Adith. "Kau terlalu banyak menghayal, bukankah kau sendiri orang pertama yang menyadari Mysophobia ku? Kenapa kau sampai berpikir seperti itu?" Adith tertawa pelan mendengar perkataan Mery. "Benarkah? Sepertinya aku tersanjung. Tapi asal kau tahu, setiap kali kita berpapasan dengan wanita itu kau langsung memperlakukanku dengan hangat, namun begitu dia tidak ada, kau langsung kembali bersikap dingin." Tatap Mery dengan memajukan tubuhnya memancing Adith untuk jujur. Adith hanya tertawa pelan dan tak menjawab perkataan Mery. Chapter 376 - Teman Kuliah Sudah beberapa hari Alisya terus mencari Adith diperusahaan, namun tetap tak pernah bertemu dengannya. Bahkan saat ia mengunjungi Adith dirumah sakit, ia pun juga tak bisa bertemu dengannya karena ia selalu berada di ruang operasi. "Suster, dokter Adith ada dimana yah?" Tanya Alisya pada suster yang sering bekerja sama dengan Adith. "Wah, dokter Adith sehabis menyelesaikan operasi dia sudah pergi meninggalkan rumah sakit mbak. Sepertinya dia benar-benar menghindari mbak, karena setiap kali selesai dia takkan pernah masuk ke kantornya lagi." Jelasnya dengan pandangan menyelidik. "Oh, begitu. Terimakasih banyak atas informasinya." Alisya pamit dan pergi dari hadapan perawat tersebut. *Dia selalu saja menghindar dariku. Baiklah sekarang apa yang akan kau lakukan jika aku berbuat sedikit lebih nekat." Alisya tersenyum licik mengingat kemarahan Adith yang begitu besar dikarenakan perasaannya pada Alisya juga sama besarnya. Semakin kau mencintai seseorang, semakin besar juga rasa sakit hati dan cemburu itu. Namun saat ini yang menjadi masalah Adith adalah dia seolah tidak mengenali Alisya sehingga kepercayaannya pada Alisya masih kurang. "Ma, mama sendirian saja dirumah?" Alisya masuk setelah ibu Adith membukakan pintu untuknya. "Iya benar, mereka belum pulang sampai sekarang mungkin masih ada yang harus dikerjakan." Jawab ibu Adith begitu semangat saat melihat Alisya kembali datang kerumahnya. Tanpa diketahui oleh Adith, Alisya selalu mendatangi ibu Adith untuk sekedar menemaninya belanja, makan bersama atau menemaninya tidur di saat Ayah Adith keluar kota dan Adith di rumah sakit. "Alisya¡­ ada apa dengan kalian sebenarnya?" Ibu Adith akhirnya curiga dengan reaksi Adith setiap kali pulang selalu larut malam dan mulai jarang berkomunikasi dengan ibunya. Alisya tersenyum dan menepuk telapak tangan ibunya dengan hangat "Tidak ada apa-apa bu, cuman salah paham kecil saja kok. Alisya akan selesaikan secepatnya biar ibu nggak khawatir lagi. Oke?" "Ya sudah, aku yakin kalian bisa menyelesaikannya dengan baik." Ucap ibunya dengan tersenyum hangat. "Ibu sudah makan? Kita masak bareng lagi yah¡­" ajak Alisya dengan berdiri menuju dapur. "Kamu mau masak banyak lagi? Sudah 2 malam Adith tidak pernah pulang, sepertinya dia lebih sering bermain di apartemennya." Ucap ibunya mengingat kan Alisya yang selalu datang masak untuk Adith dan dirinya. "Kalau begitu.." Alisya berbalik cepat dan tersenyum penuh arti. "Aku tinggal pergi ke apartemennya dan membawakan Adith makanan ini." Ibu Adith tertawa pelan melihat kegigihan Alisya yang ingin menyelesaikan sebuah kesalahpahaman kecil di antara mereka. Setelah masak dan makan bersama ibu Adith, Alisya segera keluar dari rumah Adith menuju ke apartemen Adith. Sesampainya disana, Alisya juga masih tidak menemukan Adith hingga ia tertidur di kamarnya karena menunggu Adith yang tak kunjung pulang. "Kau selalu saja tampak sibuk hingga tak menyadari aku yang sudah berdiri disini selama 15 menit, kau tak ingin makan?" Tanya seorang wanita yang berpakaian begitu mewah dan sangat menawan. "Kamu¡­ Mery? Merylin bukan?" Adith yang semula berwajah dingin akhirnya terlihat menyunggingkan sedikit senyuman. Merylin adalah satu-satunya teman wanita Adith selama ia kuliah di Oxford lalu. Dia bisa berteman dengan baik dengannya karena Merylin tidak pernah menunjukkan perasaanya kepada Adith dan berteman tulus dengannya serta memahami kepribadian Adith yang tak suka bersentuhan langsung. Meski begitu, sikap Adith tetap saja dingin terhadapnya. "Kamu masih sama seperti dulu, selalu menganggap pekerjaan nomor satu dan tak memperdulikan hal lain." Merylin masuk kedalam kantor Adith yang begitu luas dan nyaman. "Kapan kamu berada di Indonesia? Apa yang kau lakukan disini?" Adith berdiri dari kursinya untuk menyambut Mery sebagai sopan santunnya. "Aku di datang kemari untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan kalian. Bukankah harusnya kau sudah mengetahuinya?" Mery mengernyitkan keningnya tak paham dengan sikap Adith yang seolah-olah tak mengetahui kedatangan Mery. "Aku sudah memberinya dokumen itu, tapi sepertinya dia tidak membukanya dan hanya langsung menandatanganinya saja." Jawab Yogi masuk ke dalam memandang Adith tajam. "Ah.. maafkan aku, aku tidak bermaksud kasar padamu." Ucap Adith cepat. "Dia akan berada disini selama seminggu untuk melakukan pengembangan dalam proyek kali ini sehingga akan sangat baik jika direktur mulai memperkenalkan dia dengan tim kita yang akan ikut untuk bekerja sama." Terang Yogi cepat untuk mengembalikan suasana canggung mereka. "Tentu saja, mari saya antar untuk bertemu dengan mereka dan mengenalkan perusahaan ini padamu." Adith akhirnya mulai terlihat tersenyum hangat. Mereka bertiga akhirnya turun di ruang meeting untuk mengenalkan Merylin pada seluruh karyawannya yang akan ikut bekerja sama dengannya. Adith cukup terkejut saat melihat bahwa pada tim mereka ada Alisya disana. Mery dengan jelas melihat perubahan eskpresi Adith namun masih belum tahu pasti akan apa yang yang sedang dipirkannya. Sambil tersenyum Adith segera meraih pinggang Mery untuk masuk dan membukakannya kursi untuk duduk. Saat itu Mery hanya berpikir kalau dia sedang melakukan sopan santun saja. "Perkenalkan dia adalah Merylin Carrington, dia adalah orang yang akan bekerjasama dengan proyek yang akan kita buat dalam sebulan kedepan." Jelas Adith singkat dan memberikan tanda kepada Mery. "Senang bertemu dengan kalian semua, saya harap proyek ini dapat berjalan dengan lancar dan sekali lagi membawa kedua perusahaan untuk menduduki pusat tekhnologi dunia." Nada suara begitu mantap dan merdu serta tatapannya yang penuh kharisma membuat mereka berseru dengan riuh. Setelah selesai memperkenalkan Mery, Adith segera membawanya mengelilingi perusahaan dengan sesekali bersikap dingin saat ia tidak berpapasan dengan Alisya, namun akan bersikap begitu hangat saat bertemu dengan Alisya. Dari gelagat Adith akhirnya Mery paham akan apa yang sebenarnya ia lakukan, namun Mery salah mengira jika yang sedang ditatapnya saat itu adalah Yani bukannya Alisya. "Sepertinya kau sedang bermasalah dengan seorang wanita." Pancing Mery dengan gaya khas Amerikanya. "Apa yang sedang kau bicarakan?" Adith berucap cuek dan tak peduli. "Oy ayolah Dith, aku berteman denganmu tidak setahun saja, tapi 3 tahun dan aku cukup tau akan temperamenmu seperti apa!" Jelas Mery bersandar dikursi Sebuah Restoran setelah diajak makan siang oleh Adith. "Kau terlalu banyak menghayal, bukankah kau sendiri orang pertama yang menyadari Mysophobia ku? Kenapa kau sampai berpikir seperti itu?" Adith tertawa pelan mendengar perkataan Mery. "Benarkah? Sepertinya aku tersanjung. Tapi asal kau tahu, setiap kali kita berpapasan dengan wanita itu kau langsung memperlakukanku dengan hangat, namun begitu dia tidak ada, kau langsung kembali bersikap dingin." Tatap Mery dengan memajukan tubuhnya memancing Adith untuk jujur. Adith hanya tertawa pelan dan tak menjawab perkataan Mery. Chapter 377 - Ciuman Adith dan Mery Beberapa hari telah berlalu semenjak kejadian diruang meeting sebelumnya. Adith tak pernah ingin bertemu dengan Alisya dan ia selalu saja jalan bersama dengan Mery kemanapun ia pergi. Alisya paham bahwa semua yang terjadi karena Adith masih sibuk dengan proyek kerja sama mereka sehingga dia tidak begitu memikirkannya. "Sampai kapan kau akan terus menghindar darinya?" tanya Rinto yang berjalan beriringan bersama Adith dan Yogi masuk kedalam lift. "Aku tak menghindarinya, tapi aku memang sangat membencinya. Setiap kali melihatnya aku tak bisa mengendalikan diri untuk tak mual dan muntah memikirkan malam itu." Ucap Adith dengan suara sedingin hembusan uap Es. "Apa kau mau mendengar saranku? Bukan saran dari seorang manajer perusahaanmu, tapi dari seorang sahabatmu." Ucap Rinto dengan sangat berhati-hati. Rinto takut kalau Adith bukannya menerima baik niatnya, malah akan menjadikannya semakin buruk. "Huhhh, baiklah. Silahkan katakana padaku." Adith mendesah dalam namun tetap mengiyakan ucapan Rinto. "Tanyakan pada hatimu yang paling dalam dan renungkan, apakah benar kau membencinya? Sebelumnya kau bahkan tanpa sadar jatuh cinta padanya tak peduli dia siapa dan percaya pada perkataanya yang mengatakan bahwa dia adalah istrimu." Seru Rinto dengan penuh kehati-hatian agar tidak membuat Adith tersinggung. "Tanyakan juga pada hatimu apakah kamu mempercayai atau tidak dibanding dengan kau terus mengingat kejadian malam itu. Coba kamu pikirkan kembali, tidak kah kau berpikir bahwa apa yang terjadi pada malam itu mungkin sebenarnya memiliki sebuah alasan kuat yang tak kau ketahui?" tambah Yogi lagi ingin membuka pikiran Adith agar tak semakin berlarut-larut salah paham dan menyakiti Alisya. "Tidak kah hatimu semakin tersakiti setiap kali kau memperlakukannya dengan kasar? Tidakkah hatimu melawan semua sikapmu saat ini? Aku harap kamu mau merenungkannya lagi." Pinta Rinto dengan tulus menepuk Pundak Adith. "Sekarang belum terlambat, aku harap kamu bisa menenangkan diri terlebih dahulu. Kalian sudah benyak mengalami penderitaan dengan terpisah cukup lama, sekarang takdir ingin menyatukan kalian kembali. Aku harap kamu bisa memikirkan semuanya kembali." Lanjut Yogi tersenyum dengan hangat kepada Adith. Tidak menjawab perkataan kedua sahabatnya tersebut, Adith terus berjalan dengan linglung menuju ruangannya. Disana dia terus saja memikirkan apa yang sudah dikatakan oleh ke dua sahabatanya. Pikirannya yang kalut membuat ia tanpa sadar terus mengeluarkan energi nano yang cukup kuat. "Energi nano?" Alisya tiba-tiba bangkit dari kursinya dengan tubuh yang bergetar hebat. Ia sangat tahu betul kalau energi yang keluar itu adalah energi nano, namun untu beberapa saat ia masih tak mengetahui siapa pemilik energi tersebut. "Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba terkejut sperti itu?" tanya Yani yang juga terkejut karena Alisya yang tiba-tiba berdiri disampingnya. "Adith?! Bagaimana besar energi sebesar ini berasal dari Adith? Sejak kapan ia seperti ini?" Alisya dengan terburu-buru berlari keluar menuju kantor Adith. "Hei, kau mau kemana? Apa yang sedang terjadi?" teriak Vindra kaget dengan reaksi Alisya yang tampak sangat khawatir. "Ada apa dengannya?" tanya Vindra kepada Yani sambil terus memperhatikan Alisya yang sudah menghilang dengan sangat cepat. "Aku juga takt ahu. Baru bali ini aku melihatnya sepanik itu." Yani menjadi sangat mengkhawatirkan Alisya yang selama ini selalu bisa bersikap dengan tenang namun tiba-tiba menjadi sangat gusar tersebut. Melihat Alisya terus menekan pintu Lift dengan sangat terburu-buru membuat Rinto dan Yogi saling berpandangan kemudian berlari menghampiri Alisya. "Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat sangat panik?" tanya Yogi dengan cepat menghentikan tangan Alisya yang sudah hampir menghancurkan tombol lift karena ia menekannya dengan sangat kuat dan cepat. "Dimana Adith?" tanya Alisya dengan tatapan yang sangat khawatir. "Adith? Dia di kantornya. Ada apa?" tanya Rinto bingung dengan sikap Alisya. "Kita harus kesana secepatnya. Saat ini energi nano miliknya sangat tidak stabil. Aku takut hal ini dapat dirasakan oleh mereka yang berada dalam organisasi. Kita harus menghentikannya secepatnya." Pinta Alisya cepat yang langsung membuat Rinto menarik tangan Alisya masuk ke lift khusus. "Apa maksudmu dengan itu?" tanya Yogi begitu mereka sudah berada di dalam lift. "Energi nano yang tak terkendali bisa menyebabkan serangan shock pada orang-orang disekitarnya jika terus berlanjut, aku pikir kalian sudah cuku tau dengan hal tersebut." Jelas Alisya sambil terus menatap ke arah lampu lantai atas tak sabar ingin sampai ke ruangan Adith. "Kenapa kau masih terus termenung disini? Ikutlah bersamaku, aku akan membawamu kesuatu tempat." Mery masuk dan melihat Adith yang duduk bersandar di kursinya dengan aura hitam. Mery tak bisa merasakan energi nano yang ada pada tubuh Adith sehingga ia mengira kalau Adith hanya sedang dalam mood yang kurang baik saat ini. "Tingalkan aku sendiri, saat ini aku tak ingin kemana-mana lagi." Ucap Adith dengan desahan kuat tak bertenaga. "Ayolah, aku hanya tinggal 3 hari lagi di Indonesia dan kau belum pernah mengajak aku keluar sama sekali. Apa kau serius akan membiarkanku seperti ini?" Mery merengek dengan manja kepada Adith. "Baiklah, memang sebaiknya aku juga keluar. Jika tidak pikiranku akan semakin kalut jika berada disini terus." Adith akhirnya mengikuti keinginan Mery agar ia bisa menenangkan pikirannya. Mereka berdua segera menuju ke Lift yang dengan sekilas ia melihat Alisya baru keluar dari lift yang berada di sebelahnya. Alisya yang terlalu terburu-buru membuat ia tak memperhatikan Adith yang sedang berdiri di sebelahnya. Tak peduli dengan apa yang akan dilakukan Alisya, Adith hanya ingin menjauh darinya untuk beberapa saat untuk menenangkan diri sehingga ia acuh kemudian masuk kedalam lift bersama Mery. "Bukankah itu Ayumi? Sepertinya dia sedang terburu-buru mencarimu." Mery yang melihat Alisya menuju ruangan Adith segera mengingatkan Adith. "Tidak usah kau perdulikan dia!" ucap Adith memencet tombol turun. Begitu pintu lift akan tertutup, Adith mrlihat Alisya yang sudah berlari menghampirinya. Dia dengan refleks langsung memegang kepala Mery seolah-olah ingin mencium Mery. "Maaf menganggu!" ucap Alisya menahan pintu lift tersebut agar kembali terbuka. Alisya terkejut bukan main melihat Adith sedang mencium Mery ia tertegun dan tak tahu harus bereaksi seperti apa. Mery juga sempat bingung dan terkejut dengan apa yang sedang dilakukan Adith padanya, namun karena melihat ekspresi rumit di wajah Adith serta lirikannya kepada Alisya, Mery akhirnya paham akan apa yang sedang dilakukan oleh Adith. "Kalau kau ingin melakukannya dengan benar, maka harusnya lakukan seperti ini." Mery menempelkan bibirnya ke bibir Adith. Tubuh Alisya bergetar dengan sangat hebat melihat Mery seolah membalas ciuman Adith. Chapter 378 - Aku Harap Kau Tak Mengingatku Selamanya Adith yang mendapatkan ciuman sesungguhnya dari Mery tak menyangka kalau hal itu akan terjadi. Matanya membelalak kaget lalu dengan pelan mengatur ekspresinya begitu Mery melepaskan ciumannya. "Ah¡­. Ayumi, maaf aku tak mengira kau akan melihat ini." Ucap Mery sengaja ingin memancing Alisya. "Tidak, sepertinya aku yang harus meminta maaf pada kalian berdua. Kalian bisa melanjutkannya lagi." Alisya salah tingkah dengan apa yang baru saja dilihatnya. Hatinya pedih dan perih melihat Adith mencium Mery di hadapannya sendiri. Terlebih karena Adith tampak seolah biasa saja dan tak ingin menjelaskan apapun kepada Alisya. "Kau mau turun? Ikutlah bersama kami." Ajak Mery sekedar basa basi. "Oh tidak, aku hanya mengira direktur adalah Yogi. Aku salah orang, silahkan lanjutkan perjalanan kalian." Ucap melepaskan tangannya dari pintu lift. Hingga pintu itu tertutup, Adith sama sekali tak melihat ke arah Alisya. "Sebegitu besarkah kebencianmu padaku?" Gumam Alisya dengan suara serak yang perlahan mengeluarkan air matanya. Tak pernah terbayangkan olehnya akan mendapatkan perlakuan kasar dari Adith dan juga pengkhianatan seperti itu. Hati Alisya remuk membuat dadanya sesak dan tak berdaya. "Alisya¡­" Rinto ingin menepuk pundak Alisya namun Yogi dengan cepat menahannya. Mereka lebih memilih membiarkan Alisya sendiri, karena Yogi tau kalau Alisya tak ingin ada yang melihatnya menangis. Meski Alisya adalah seorang Kapten dari satuan khusus yang dapat membunuh orang semudah membunuh koloni semut, tapi hatinya tetaplah hati seorang perempuan yang memiliki 9 perasaan. "Mengapa kau melakukan itu?" Suara dingin Adith segera menggetarkan tubuh Mery. Mery hanya membuat praduga dan ia ternyata benar kalau Adit memiliki perasaan terhadap Alisya, namun sepertinya hubungan di antara keduanya tidak cukup baik saat ini. "Kau menyukai Ayumi dan kau ingin membuat dia cemburu bukan? Aku hanya membantumu saja" Ucap Mery dengan santai seolah tak terjadi apa-apa. "Aku menyukai siapa itu bukan urusanmu!" Tatap Adith tajam ke arah Mery. Keringat dingin mulai mengalir di seluruh tubuhnya. " Kalau begitu kenapa kau ingin memanfaatkan diriku? Aku hanya memberikan kesempatan padamu dengan memanfaatkan diriku dengan cara yang benar. Setidaknya dengan cara itu kita impas" Mery menatap balik kepada Adith dengan tegas. Adith tak bisa menyalahkan Mery sepenuhnya atas perbuatannya karena dialah yang telah terlebih dahulu memancing Mery dan memanfaatkannya. "Huhhh,,, maaf sepertinya aku tak bisa pergi bersamamu lagi." Ucap Adith begitu pintu lift terbuka. Mery melangkah keluar dan kembali menatap Adith. "Tidak masalah jika kau tak ikut, aku sudah mendapatkan hal yang lebih dari cukup untuk menggantikan kenangan indahku selama 1 bulan di Indonesia." Mery tersenyum manis dan melangkah pergi meninggalkan Adith di dalam lift. Adith kembali menutup pintu lift dengan cepat. Nafasnya memburu hebat karena ciuman yang dilakukan oleh Mery padanya. Tubuhnya bergetar hebat dan dadanya sesak serta kepalanya yang sangat berat membuat dia terus bernafas dengan berat. Dengan kaki yang linglung Adith terus berjalan menuju kantornya untuk menemukan obat penenang dan membersihkan mulutnya dengan menggunakan antiseptik. Dia bahkan sampai berkumur beberapa kali setiap kali dia mengingat bibir Mery menyentuh bibirnya. Alisya yang tak bisa pergi kemanapun hanya bisa merebahkan diri menghadap matahari di taman perusahaan. Ia menghalangi sinar matahari menggunakan tangannya dan melihat silau cahaya matahari lewat jari-jari tangannya. Ketika sekilas ia menutup matanya, bukannya bayangan matahari yang terlintas, melainkan wajah Adith. Hati Alisya penuh akan kerinduan yang sangat mendalam pada Adith. Semua kenangan di antara mereka terus mengisi kepala Alisya membuat hatinya begitu pilu. Alisya sangat merindukan Adith namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena laki-laki yang dicintainya malah melupakan dirinya. Alisya menangis dengan menutup wajahnya dengan lengannya. Tangisannya pecah dalam diam. "Hah??? Kenapa energi dia semakin besar? Jika seperti ini terus, Adith akan meledakkan energi nanonya dan menghasilkan gelombang kejut yang sangat kuat." Alisya dengan cepat terbangun dari posisinya dan langsung bangkit menuju ke ruangan Adith. Tak peduli dengan apa yang sudah Adith lakukan pada dirinya, Alisya masih tetap ingin menyelamatkan Adith dan juga orang disekitarnya. "Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Bagaimana kau dengan mudahnya mencium wanita lain dihadapan Alisya?" Yogi datang mengungkapkan kemarahannya kepada Adith atas apa yang sudah dilakukan olehnya. Adith tak menjawab dan hanya menunduk tak peduli karena pikirannya semakin kalut dan berat. Tubuhnya semakin panas dan serasa ingin meledak dengan sangat kuat. "Oke, apa yang kau lakukan hari sudah membuat Alisya kecewa. Dan aku pastikan kau akan menyesali seumur hidupmu atas apa yang sudah kau lakukan saat ini." Yogi penuh amarah dan langsung keluar dari ruangan Adith. "Aku kecewa dengan sikapmu Dith. Kau yang biasanya bisa berpikir dengan tenang kali ini sudah sangat salah. Dan ini adalah kesalahan terbesar yang sudah kau perbuat pada Alisya. Maaf pun takkan bisa menutupi semua kesalahanmu kali ini." Rinto juga mengutarakan pendapatnya kepada Adith kemudian keluar dari Adith mengikuti Yogi. Adith semakin larut dalam emosinya hingga begitu Alisya masuk, gelombang kejut dari energinya meledak begitu saja. Meski tak sebesar dirinya dan sedikit samar, salah satu anggota Balck Falcon yang berada di sana bisa merasakannya. "Adith, kau baik-baik saja? Maafkan aku karena terlambat." Alisya terlambat untuk menenangkan Adith tapi ia tetap masuk untuk melihatnya. Adith terlihat lemah dengan tubuh yang terus bergetar dan begitu melihat Alisya, dia dengan cepat mencium Alisya. Ciumannya kali ini lembut dan hangat, namun karena Alisya yang tergesa-gesa naik ke kantornya yang berada di lantai 60 dengan menaiki tangga, membuat dia belum bisa mengatur nafasnya. "Umm.. umm.." Alisya berusaha melepaskan diri. "Ohokkk ohokkk ohokkk!" Alisya hampir kehilangan nafas karena tekanan Adith. Kacamata serta gigi palsunya lepas. Baru kali itu dia memperlihatkan wajah aslinya kepada Adith. Sekali lagi Adith tertegun melihat perubahan Alisya seperti itu. Alisya yang sekarang sedang mengambil nafas di hadapannya terlihat sangat cantik dan mempesona. Tak tahu mengapa, hatinya sakit dan dengan penuh amarah dia karena merasa kalau Alisya memang sedang mempermainkan dia dengan melakukan penyamaran tersebut. "Bukkkh" Adith menekan tubuh Alisya ke dinding dengan kuat dan kembali menciuminya dengan kasar. "Uahhh¡­ apa yang sedang kau lakukan? Kau pikir apa diriku hah?" Alisya tak suka dengan perlakuan Adith. "Cih, tak usah bersikap sok suci. Dari awal kau sudah berniat ingin menggodaku bukan?" Tantang Adith yang langsung mendapatkan tamparan keras dari Adith. "Aku harap kau tak mengingatku selamanya!" Alisya pergi dari hadapan Adith dengan tangisan dan meninggalkan Adith. Chapter 379 - Perempuan Seperti Dia Pikiran Adit yang kalut membuatnya tidak bisa lagi berlama-lama di dalam kantor. Ia memutuskan pulang ke rumahnya menemui ibunya, karena pangkuan ibunya seolah menjadi tempat terakhirnya untuk bersandar. "Adith¡­ Kenapa kamu pulang secepat ini? Kamu tidak ke rumah sakit?" Tanya ibunya yang sudah tau jadwal kerja Adith. "Aku ingin pulang saja Ma, pengen menenangkan diri. Mama masa apa?" Tanya Adith dengan suaranya yang tak bersemangat. "Kamu sakit? Kenapa suara kamu terdengar parau dan wajah kamu juga pucat? Kamu belum makan seharian ini?" Ibu Adith segera memeriksa suhu tubuh Adith dengan menempatkan tangannya ke dahi Adith. "Nggak kok Ma, Adith baik-baik saja. Hanya sedikit kelelahan karena di kantor ada banyak sekali pekerjaan." Ucap Adith mengubah ekspresi nya lebih hangat untuk menghilangkan rasa khawatir ibunya. "Ya sudah, kamu mandi dulu sana. Mama akan masakkan kamu makanan kesukaanmu." Ibu Adith segera mendorong anaknya naik ke atas untuk menyegarkan diri. Setelah berselang beberapa saat, Adith segera turun setelah mandi. Ia mulai terlihat sedikit tenang dan segar setelah mandi. "Emmm¡­. Adith, bagaimana dengan kesalahpahaman di antara kamu dan Alisya? Apa sudah di selesaikan dengan baik?" Tanya ibu Adith sedikit ragu-ragu kepada Adith ketika Adith sudah mulai memasukkan beberapa suapan makanan ke dalam mulutnya. Ibunya tidak berpikir untuk ikut campur namun ia hanya merasa sedikit khawatir dengan mereka berdua. "Jangan bahas Alisya dulu yah Ma. Adith lagi nggak pengen dengar nama dia." Pinta Adith dengan meletakkan sendoknya. Ia mulai kehilangan nafsu makannya dan segera menghidari pembahasan mengenai Alisya. "Loh kenapa? Alisya itukan istri kamu, kamu seharusnya memperlakukannya dengan baik. Alisya akhirnya kembali ke sisimu sekarang dan sedikit salah paham sudah membuatmu membencinya?" Ibu Adith terdengar ngotot karena sikap cuek Adith kepada Alisya membuatnya tak suka. "Alisya lagi, Alisya lagi, Alisya lagi. Mama sudah di bohongi oleh perempuan busuk itu. Aku bahkan belum pernah menikah, bagaimana bisa Mama membiarkan dia menyebut dirinya sebagai istriku sih?" Adith mulai kesal karena semua orang terdekatnya tampak seolah berada di sisi Alisya. "Lah, memang Alisya adalah istri sahmu, istri yang kamu nikahi secara sah. Masalah apa sih sebenarnya sampai kalian bisa salah paha" Ibu Adith penasaran dengan apa yang terjadi pada mereka berdua. "Hentikan Ma, aku tidak pernah menikahi perempuan biadab seperti dia. Dia itu hanyalah seorang perempuan yang menjual tubuhnya demi sebuah kesenangan semata!" Ucap Adith Tegas dengan tatapan tajam. "Plakkkk¡­" sebuah tamparan keras langsung membekas di pipi Adith. Ayah Adith yang baru saja pulang dari kantor tak sengaja mendengar perdebatan mereka berdua dan tak menyangka kalau Adith akan berkata seperti itu mengenai Alisya. "Apa kau sadar dengan apa yang sudah kau katakan? Aku tak pernah mengajarkanmu untuk berkata-kata seperti itu kepada seorang wanita. Semarah apapun kamu, kamu seharusnya bisa berpikir dengan tenang. "Ucap Ayah Adith dengan suara menggelegar. "Sudah lah Pa, hentikan! Kau tahu kan Adith sedang hilang ingatan saat ini, dia tidak mengingat siapa Alisya." Ibu Adith dengan cepat mencoba untuk menenangkan suaminya. "Apa karena hilang ingatan bisa dijadikannya sebagai alasan untuk menyakiti Alisya? Jika seperti itu, maka sebaiknya kau harus mengingat siapa Alisya itu sebenarnya." Ayah Adith segera menarik tangan Adith dengan kuat menuju kesuatu tempat. "Pa, hentikan! Papa kan tau kalau Adith mengalami trauma yang membuat dia mengalami Amnesia Psikogenik, jika dia mengingat itu secara paksa. Maka bisa jadi nyawa Adith dalam bahaya." Ibu Adith segera mengingatkan suaminya mengenai kondisi Adith. "Ma! Mama tau apa yang Adith lakukan pada Alisya di kantor? Dia menyakiti Alisya dengan berbagai hal. Mama tau bagaimana perasaan Alisya sekarang? Kita selalu berusaha melindunginya sedang Alisya terus saja tersakiti. Anggap ini adalah hukuman baginya." Tegas Ayah Adith yang membuat ibu Adith jadi terdiam mendengar perkataan suaminya. Ayah Adith yang berada di kantor secara perlahan mengetahui permasalahan yang ditimbulkan oleh Alisya karena banyaknya rumor yang disebar oleh karyawannya. "Apa sebenarnya yang kalian maksudkan? Kenapa Papa menamparku hanya karena perempuan seperti dia?" Adith yang tadinya terdiam karena shock dengan tamparan Ayahnya yang selama ini ia kenal betul kalau Ayahnya tak pernah melayangkan tangan padanya, akhirnya bertanya dengan kesal. "Perempuan seperti dia? Mari kita lihat sampai kapan kau akan berbicara seperti itu. Jika setelah melihat semua ini kamu masih saja tak mengingat Alisya, maka ceraikan saja dia! Biarkan dia mendapatkan orang yang lebih pantas dibandingkan dengan dirimu." Ayah Adith segera melempar sebuah kunci kepada Adith. "Kunci?" Adith bertanya dengan bingung.Melihat ayahnya tak menjawab, ia segera menuju ke sebuah kamar yang selama ini terus saja ditutup dengan rapat oleh kedua orang tuanya. Adith membuka pintu kamar tersebut dan melihat kedalam ruangan tersebut. Ruangan itu terlihat memiliki hiasan seperti sebuah kamar pengantin yang sangat indah. "Kamar siapa ini?" Batin Adith mengitari ranjang yang indah tersebut. Pandangannya berhenti pada sebuah tirai besar yang terpampang di atas kepala ranjang tersebut. Dengan pelan Adith melepas kain yang sudah penuh debu kelantai. "Ohokkk ohokk " ia batuk karena debu yang berterbangan dan sedikit menghalangi padangannya. Setelah debu mulai perlahan-lahan menghilang, Adith kemudian mengangkat wajahnya untuk melihat apa yang ada di balik tirai tersebut. "A¡­ Alisya???" Adith terkejut begitu melihat wajah Alisya terpampang dengan penuh bahagia disana. Meski wajahnya tampak dari samping, Adith bisa mengenali kalau wajah yang sedang ia ciumi pada bagian dahinya itu adalah wajah Alisya. Wajah yang sebelumnya ia lihat tanpa ada kacamata dan gigi palsunya. Pada gambar terlihat kalau mereka memakai pakaian untuk acara akad nikah berwarna putih yang nampak cerah dan begitu mempesona. Jantung Adith berdetak dengan sangat cepat. Semua bayangan dan ingatan serta suara segera memenuhi kepalanya dengan sangat cepat. Otaknya seolah sedang menampilkan gambar hologram tentang mereka berdua. "Aah¡­" Adith mendesah dengan sangat kuat saat jantungnya terasa sakit setiap kali denyut nadi itu menampilkan wajah Alisya. Air mata segera membasahi pipinya dengan sangat deras. Adith mulai kehilangan pernapasannya, dadanya sesak dan hatinya perih. "Arrghh¡­ hah, hah, hah,, Arrkkggh" Adith memukul mukul dadanya yang sakit dan pilu. Ia mulai mengingat semua hal mengenai Alisya. Sebuah foto jatuh karena erangan Adith, dan di foto itu Adith melihat bagaimana ia memeluk Alisya dengan sangat erat. "Uaaaa¡­ uaaa¡­ a a a¡­" Adith menangis meraung-raung memeluk erat foto mereka berdua tersebut. Ibu Adith yang ingin masuk segera dihentikan oleh suaminya. "Tapi Pa, Mama khawatir dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Mama takut Adith tak sanggup untuk menghadapi semua kenyataan itu." Hati seorang ibu mana yang takkan terenyuh saat mendengar suara tangisan anaknya. "Tidak Ma, saat ini biarkan dia menghadapi kenyataan yang sebenarnya. Alisya sudah kembali kepadanya sekarang, dan dengan bodohnya dia terus menyakiti hati Alisya hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sangat konyol." Ayah Adith berkeras untuk setidaknya saat ini membiarkan Adith menghadapinya sendiri dan tak lari lagi. "Aku masih tak mengerti, apa yang terjadi?" ucap ibu Adith yang tak mengetahui apapun. Ayah Adith segera menjelaskan semua duduk permasalahan yang didengarnya dari mulut Yogi. Yogi yang sebelumnya tak ingin menceritakan hal tersebut kepada ayah Adith mendapatkan paksaan dengan keras sehingga mau tak mau ia akhirnya menceritakan semuanya. "Bagaimana perasaan Alisya saat ini? Dia pasti akan sangat terluka. Pa, apa yang harus kita lakukan? Putri kita saat ini sangat membutuhkan kita. Dia tidak punya lagi sandaran setelah kehilangan ibu dan neneknya." Hati ibu Adith sangat perih membayangkan bagaimana sakit dan pedihnya hati Alisya karena perlakuan Adith. Ingin rasanya ibu Adith menghukum Adith dengan sangat keras, namun karena sikapnya sendiri sekarang ia mendapatkan hukuman penyesalan terbesar dalam hidupnya akan perbuatannya terhadap Alisya. Chapter 380 - DEN HARIN Untuk beberapa saat, suara Adith tak terdengar dari dalam. Cukup lama ia berada di dalam dan tak kunjung keluar. Ibunya semakin khawatir takut terjadi sesuatu dengan anaknya, namun dia hanya terus berdoa agar Adith bisa melalui semuanya dengan lapang. "Ceklek!" Suara pintu kembali tertutup membuat ibu Adith segera bangkit dari tempat duduknya. Adith muncul dengan ekspresi wajah yang sudah lama tidak pernah dilihat oleh ibunya. Ekspresi wajah itu penuh kasih, tegar, kuat dan tegas. Ekspresi wajah yang dilihat ibunya saat Adith telah mengetahui bahwa Ali adalah Alisya. "Humph!" Ibunya menutup mulutnya menahan tangisnya melihat Adith yang sudah kembali seperti semula. Adith segera menghampiri ibunya untuk menenangkannya, memeluk ibunya dengan penuh kasih dan hangat. "Maafkan aku Ma, aku terlalu lemah sampai terus saja membuat kalian susah dan khawatir. Maafkan aku juga yang selalu melarikan diri dari kenyataan, aku terlalu lemah." Ucap Adith yang masih terus memeluk ibunya yang menangis dalam pelukannya. "Itu semua tidak penting, sekarang kau sudah ingat semuanya maka itu cukup." Ucap ibunya melepas dirinya dari pelukan Adith agar ia tidak menyalahkan dirinya sendiri. "Pa.." Adith duduk di hadapan Ayahnya yang terduduk di sofa melipat tangannya dengan penuh kewibawaan. "Maafkan Adith, Maaf karena tidak bisa menjadi contoh yang baik sebagai seorang suami dan membuat Bapak kecewa padaku." Adith paham betul bagaimana ayahnya selalu mengajarkan dan memberinya nasehat untuk menjadi laki-laki dan imam yang baik. "Syukurlah kamu sudah kembali." Pandangan ayahnya melunak mendengar ucapan Adith. Dia dengan lembut membelai kepala Adith anak satu-satunya yang ia didik dengan sepenuh hati. "Terimakasih karena Bapak sudah menamparku. Tamparan itu sudah menyadarkanku. Aku ingin agar bapak tidak ragu menamparku jika memang bisa menyadarkanku." Adith memandang ayahnya dengan tegas meminta. "Tidak, apapun itu yang namanya kekerasan tidak dibenarkan. Sekarang jemput Alisya, bawa kembali putriku kerumah ini." Pinta ayah Adith dengan tegas. Adith mengangguk sambil tersenyum hangat. Hatinya dipenuhi kebahagiaan juga kepahitan dalam waktu yang sama mengingat bagaimana dia telah memperlakukan Alisya. "Kumpulkan semuanya, bantu aku mencari keberadaan Alisya." Adith terdiam beberapa saat setelah menelpon Yogi. "Bukan, bantu aku untuk mencari istriku." Lanjut Adith lagi yang langsung membuat Yogi paham. "Kau¡­ akhirnya kau sadarkan diri. Kau sudah mengingat semuanya?" Tanya Yogi ingin memastikan ingatan Adith. "Ummm" jawab Adith dengan suara yang tertahan. " Maaf karena sudah membuat kalian semua kesulitan. Yogi tak bertanya lagi dan dengan segera menghubungi semua teman-temannya termasuk kakak Karin, Karan. Setelah 30 menit, mereka akhirnya berkumpul di rumah Alisya begitu pula dengan ayah Alisya. "Aku sudah bertanya kepada temannya Yani dan Vindra, dia tidak mengetahui keberadaan Alisya setelah melihatnya lari terburu-buru karena sesuatu." Ucap Rinto yang datang dari kantor bersama dengan Yogi. "Dia juga tidak pulang kerumah seharian ini." Jawab Akiko yang sudah seharian berada di rumah. "Elvian dan Rafli. Kenapa kita melupakan dua orang itu?" Karin teringat dengan 2 orang bawahan Alisya. "Apa kamu memiliki nomor kontaknya?" Tanya Ryu cepat. "Aku tidak punya nomor kontaknya, tapi dia memberiku kode ini dengan logo harimau hitam di bagian belakangnya." Karin mengeluarkan sesuatu chip dari dalam tasnya. "Ia pernah bilang, bahwa ini tidak seharusnya diberikan padanya namun mereka memberikan ini sebagai bentuk keberadaan mereka di dunia ini." Lanjut Karin lagi menjelaskan alasan Elvian memberikannya chip tersebut. "Ini? Harimau berwarna hitam dengan latar hijau?" Tanya Riyan terkejut tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. "Ya, Elvian yang memberiku chip ini." Tegas Karin membenarkan. "Ada apa dengan chip itu?" Tanya Karan penasaran. "Apa kamu mengetahui sesuatu?" Zein mengambil chip itu dan memperhatikannya dengan saksama namun tidak menemukan apapun. "Aku tidak mengetahui apapun tentang ini, tapi sepertinya Om pasti tau!" Riyan mengambil chip itu dan diberikan kepada ayah Alisya. "Lihatlah Om. Om pasti akan mengingat sesuatu jika menggunakan kode akses om untuk membukanya." Ucap Riyan dengan sopan namun sangat serius. "Apakah itu adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja?" Tanya Yogi mulai memahami keseriusan dari wajah Riyan. "Ini? Benarkah dia memberimu ini?" Tanya Ayah Alisya dengan ekspresi yang tak kalah kagetnya. "Ya benar." Tegas Karin sekali lagi dengan penuh keyakinan. "Jadi benar, ada sesuatu dengan chip itu?" Akiko juga tertarik mengetahui maksud dari kode tersebut. "Ini adalah kode yang dipakai oleh satuan khusus paling rahasia di Indonesia, satuan yang hanya disebut sebagai hoax karena tidak diketahui siapa anggotanya, dan keberadaan mereka." Ayah Alisya mulai menjelaskan apa yang di ketahuinya. "Pasukan ini disebut dengan Den Harin, dengan kemampuan perang dari Den Harin mungkin setingkat dengan pasukan pembunuh milik Amerika bernama Phoenix Raven." Tegas Ayahnya kembali yang mulai memasukkan chip tersebut ke dalam tabletnya dan mulai mengaksesnya. "Mengapa mereka memiliki ini? Apa itu artinya mereka adalah pasukan rahasia Den Harin tersebut?" Tanya Rinto dengan penuh takjub. "Ya benar, dan Alisya adalah kapten mereka." Terang Karin tak percaya dengan semua fakta tersebut. "Ba.. bagaimana mungkin hanya dalam 2 tahun.." Karan tergagap tak bisa berkata-kata. Ayah Alisya berhasil masuk dengan menggunakan kodenya sebagai pemimpin dari satuan khusus terdahulu. Sebuah layar hologram menampilkan gambar-gambar bagaimana pelatihan yang harus dijalani oleh Alisya. Mereka yang semula berjumlah sekitar 15 orang, pada akhirnya menyisakan 5 orang dengan Alisya berdiri di bagian tengah yang wajahnya ditutupi garis hijau dan hitam. "Mereka adalah pasukan elite yang berisikan anggota dengan kemampuan tingkat tinggi dari semua pasukan yang ada. 1 orang dari mereka bahkan mampu menghabisi satu batalion tanpa menimbulkan suara." Ayah Alisya berdiri dari tempat duduknya tak percaya dengan keberadaan pasukan tersebut yang dikiranya hanyalah sebuah kabar legenda semata. Ayah Alisya tak percaya kalau anaknya lah salah satu anggota dari pasukan hantu tersebut. Tiba-tiba sebuah rekaman video tertampil dari layar chip tersebut. Alisya yang wajahnya terlihat tak memakai coretan duduk di tengah hutan belantara dengan baju kaos putih yang nampak kusan dengan chip itu berada dilehernya. "Ummm¡­ Hai, jika kalian sudah mengakses chip ini, maka itu artinya aku mungkin sudah meninggal dan tak sempat bertemu dengan kalian lagi." Suara Alisya terdengar serak dengan keributan alami hutan. Alisya kemudian menyebutkan permohonan maafnya kepada ayahnya dengan suara parau. Begitu pula dengan kakek dan neneknya. Nama Karin dan Karan juga berada keluar dari bibir mungilnya. Semua nama teman-temannya satu persatu ia sebutkan. Nama Adith sama sekali belum disebutkan oleh Alisya. Chapter 381 - Code Name Adith merasakan kekecewaan yang amat mendalam, namun begitu hatinya menyerah dan terluka saat ayah Alisya ingin mencabut chip tersebut, tiba-tiba sebuah Video lain mulai terlihat lagi. "Adith, meski kau tak mencariku dan menemuiku, aku akan selalu ada disisimu. Aku yang akan mencari dan menemukanmu selama kau tetap di tempatmu menungguku datang menemuimu." Senyum Alisya dengan begitu manis. Tatapan mata Alisya yang sarat akan kerinduan langsung menusuk keras ke hati Adith. Ia kembali terpikir bagaimana Alisya yang harus berjuang demi kembali datang menemuinya namun ia malah berbuat kasar padanya. "Sebentar, apa itu artinya Alisya sudah meninggal?" Tanya Yogi dengan kaki yang bergetar hebat. "Pletakkkk¡­" sebuah pukulan keras mengenai kepala Yogi karena ucapannya. Ryu sudah menatapnya dengan tajam. "Akhhh,, aku hanya bilang begitu karena video yang dia ucapkan tadi." Yogi mencoba membela diri. "Tadi siang kau bertemu dengannya tidak?" Ucap Rinto mengingatkan Yogi. "Bertemu, tapi video itu¡­" Yogi mulai berpikir keras. "Chip ini diberikan padaku bukan untuk menunjukkan Video Alisya, karena Alisya berhasil kembali kepada kita dengan selamat." Karin menjelaskan mengenai keberadaan chip tersebut di tangannya. "Yokatta¡­" Akiko yang harap-harap cemas akhirnya terduduk lemas penuh syukur setelah tau kalau Alisya saat ini masih baik-baik saja, tidak seperti apa yang diungkapkan oleh video tersebut. "Jadi Elvian yang malam itu aku lihat di Bar adalah salah satu bawahannya? Dan Alkohol yang tercium dari mulutnya itu hanyalah sebuah ekstrak beraroma alkohol saja?" Adith tak bertanya kepada mereka melainkan kepada dirinya sendiri saat ia terus memikirkan kejadian tersebut. Seperti yang sudah diduga, Adith adalah seorang jenius yang bisa memahami situasi dan kondisi yang ada begitu sudah mengingat kembali semuanya. Perasaan yang kuat dan kepercayaan yang penuh tentu saja harusnya membuat dia bisa berpikir dan menganalisa situasi Alisya malam itu dengan tenang. "Den Harin adalah salah satu pasukan paling elite diantara semua pasukan yang ada di Indonesia. Ada dua kemampuan yang harus dimiliki oleh anggota Den Harin. Pertama adalah kemampuan kombatan atau bertarung dan yang kedua adalah nonkombatan." Ucap Ayah Alisya menjelaskan mengenai situasi yang mungkin membuat Adith salah paham mengenai kejadian sebelumnya. "Kemampuan nonkombatan yang harus dimiliki oleh anggota Den Harin adalah memahami permasalahan sosial, budaya, ekonomi, energi, sains, teknologi, dan bidang lain yang berhubungan dengan negara." Lanjutnya lagi dengan penuh ketakjuban. "Intinya, pasukan ini haruslah seorang yang genius dan memiliki kemampuan hebat dalam bertarung." Ayah Alisya sekali lagi menegaskan mengenai kemampuan mereka. "Itulah kenapa mereka bisa menciptakan ekstrak alkohol yang bisa nampak seolah seseorang sedang mabuk berat sedang dia tak meminum alkohol sekalipun?" Karan masih tak percaya akan ada pembuatan eskrak sepert itu. "Benar, karena malam itu aku tak menemukan rasa minuman sedikitpun dari bibirnya." Jelas Adith kembali memikirkan kejadian di toilet saat ia dengan ganas dan penuh amarah mengisap bibir Alisya. "Eh?" Ryu kaget "Huh? Bibir?" Zein bingung. "Aku merasakan hormon yang mengudara berwarna pink!" Riyan tertawa renyah. "Rasa minuman dari bibirnya?" Apa itu Artinya¡­." Yogi seolah bisa membayangkan apa yang dilakukan oleh Adith kepada Alisya. "Ehem¡­ yang terpenting sekarang adalah, bagaimana menemukan dia hanya dengan chip yang diberikan oleh Elvian?" Adith dengan cepat mengalihkan pembicaraan karena malu kepada Ayah Alisya. "Sepertinya alat ini sengaja dirancang untuk orang sepertimu." Ayah Alisya menatap penuh harap kepada Adith dengan serius. "Maksud Om bagaimana?" Rinto terus memandang ke dalam chip pada tablet Ayah Alisya namun tak menemukan apapun. "Aku rasa Adith tau apa yang harus dilakukannya saat melihat ini." Ayah Alisya segera memperlihatkan sebuah bahasa program yang dengan cepat membuat Adith terkejut. Dengan kecepatan yang sangat luar biasa, Adith terus menggerakkan jari-jemarinya dengan lincah memasukkan bahasa program yang terus menimbulkan bunyi pada meja kaca yang menampilkan keyboard hologram. "Ctek!!!" Adith selesai dengan 1 ketikan enter yang langsung memperlihatkan sebuah Maps lengkap dengan 5 titik merah. "Apa arti dari 5 titik merah tersebut?" Tanya Karin penasaran. "Bukankah itu terlihat seperti sebuah lokasi?" Ucap Riyan lebih tau betul mengenai tampilan yang sedang dilihatnya. "Ya, kau benar. Ini adalah lokasi dari 5 orang anggota elite tersebut. Aku butuh waktu untuk bisa menemukan mereka setelah meretas sistem yang berada di chip ini. Tidak mudah, tapi dengan menggunakan kode Akses Ayah Alisya, semuanya jadi mudah." Terang Adith kembali menarik layar hologram tersebut. Ia mulai menekan titip pertama dengan simbol Puma yang terlihat berada di lokasi yang sama dan tak jauh dengan Wolf. Sedangkan lokasi yang berbeda dan sangat jauh ada simbol Phyton yang berseberangan dengan Viper. Satu symbol lagi yaitu Tiger dengan warna hitam tak jauh berada dari Puma dan Wolf. "Sepertinya ini adalah code name mereka. Aku yakin nama Elvian dan Rafli yang kalian ketahui hanyalah nama samaran." Terang Adith mulai menganalisa situasi. "Lalu kenapa mereka menampakkan diri jika keberadaan mereka hanya sebuah ilusi atau kerahasiaan tingkat tinggi?" Tanya Akiko penasaran dengan kemunculan mereka. "Pada dasarnya kita tidak mengetahui siapa mereka, namun keberadaan chip ini yang membongkar semua." Terang Adith menjelaskan. "Ini juga berarti nyawa kita akan berada dalam bahaya jika keberadaan mereka kita ungkapkan ke dunia." Ucap Zein menangkupkan tangannya. "Itulah kenapa nona sekarang mengganti nama dari Alisya menjadi Ayumi." Ucap Ryu dengan memegang dagunya. "Dia juga hanya mengizinkanku memanggil namanya saat hanya kami berdua saja." Adith mengingat Alisya yang mengatakan mengenai namanya untuk membuat Adith mengingatnya. "Tidak heran kenapa dia menjadi lebih misterius dari sebelumnya." Ucap Yogi memikirkan bagaimana Alisya bisa menyembunyikan diri dengan baik untuk bisa berbaur dengan orang-orang disekitar kantornya. "Tapi kenapa Alisya harus masuk sebagai anggota Den Harin? Aku masih tak mengerti saat ia terus saja masuk kedalam bahaya." Karin semakin kesal mengingat sifat Alisya. "Itu karena dia butuh lebih dari sekedar kekuatan dengan beberapa orang elite khusus yang mampu mengimbanginya untuk melakukan misi." Ayah Alisya seolah satu pemikiran dengan anaknya. "Selain itu, dengan anggota elite dan jenius seperti itu akan sangat memudahkan dirinya menemukan Balck Falcon." Tambah Adith yang membuat ayah Alisya tersenyum karena tak mengira kalau Adith yang sudah pulih jauh lebih peka. "Karena kita sudah menemukan lokasinya, langkah selanjutnya adalah menemukan orangnya berdasarkan lokasi ini." Ryu dengan cepat menekan lokasi Tiger yang ia perkirakan bahwa itu adalah lokasi Alisya. Tanpa basa basi lagi, dengan segera mereka semua menuju ke 5 tempat yang berbeda. Chapter 382 - Menangkap Calvin Sepanjang perjalanan, Adith terus saja memikirkan Alisya. Adith sangat takut dengan respon yang akan diberikan oleh Alisya kepadanya, namun apapun yang terjadi dia tidak akan menyerah. Semakin dekat dengan tempat yang ditunjukkan pada Mapsnya, ke 5 titik merah yang sebelumnya terpisah tiba-tiba sudah berada pada satu tempat yang sama. "Cekiittttt..!" Adith tiba-tiba ngerem mendadak mobilnya. "Ada apa?" Zein terkejut dengan sikap Adith. "Ada yang salah dengan Mapsnya?" Yogi bingung dengan sikap Adith yang menatap tajam pada Mapsnya. "Sepertinya ada sesuatu yang sedang terjadi, mereka berada pada satu tempat yang sama." Tegas Adith tiba-tiba menjadi semakin khawatir. "Maksud kamu?" Zein dan Yogi bertanya secara bersamaan semakin tak paham apa yang sedang terjadi. "Riyan¡­" Adith segera menghubungi Riyan yang sedang tidak bersama dengan mereka. "Ke lima orang ini tampaknya sedang dalam sebuah misi, dan lokasi tempat mereka berada adalah markas yang sudah lama ditinggalkan yang ternyata sekarang adalah markas Calvin." Penyataan Riyan seketika membuat mereka semua tercengang. Ryu, Karin dan Karan serta Rinto yang semula terpencar segera memutar mobil mereka menuju tempat yang di tunjukkan oleh Riyan. Mereka menempatkan mobil mereka jauh dari markas yang sedang mereka datangi yang berada di dekat pesisir pantai. "Kau yakin mereka ada di dalam sana? Tanya Yogi melihat situasi tenang yang ada di dalam sana. "Untuk memastikannya, lebih baik jika kita mendekat kesana." Adith dengan penuh waspada mendekati lokasi markas Calvin. Adith maju terlebih dahulu, namun begitu ia menuju ke sebuha lorong tiba-tiba saja Elvian sudah menarik Adith ke tempat yang lebih gelap. "Kamu¡­" Adith kaget saat mengetahui kalau itu adalah Elvian bawahan Alisya. "Apa yang kalian lakukan disini? Apa karena chip itu?" Elvian terpikir akan chip yang sudah ia berikan sebelumnya. "Dimana Alisya?" Tanpa memperdulikan hal lain, Adith segera menanyakan keberadaan Alisya. "Hufft" Elvian terlihat mendesah kesal melihat Adith berada disana. "Maaf aku tidak bisa memberitahukan keberadaannya padamu." Elvian dengan santainya sudah memborgol kaki dan tangan Adith. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Adith bingung dengan apa yang dilakukan oleh Elvian kepadanya. "Sebaiknya kau tetap disini karena kau bisa menghancurkan rencana kami." Tegas Elvian dengan suara yang tertahan. "Puma.." begitu kode namanya dipanggil, Elvian segera tercengan melihat apa yang terjadi. Dari layar monitor miliknya Alisya mengalami luka dari tembakkan yang dilayangkan oleh Calvin. Ia terkena tembakan karena berusaha melindungi beberapa sandera yang ada disana. "Bagaimana kapten bisa sampai seceroboh itu?" Elvian tercengan dengan apa yang sedang dilihatnya. "Dia keluar karena sudah tak tahan lagi melihat para wanita itu dilecehkan. Meski kita sudah berhasil menghabisi semua orang-orangnya, kali ini pikiran kapten sepertinya sedang kacau." Rafli tak percaya Alisya bisa membuat sebuah kesalahan saat dia bahkan mampu menghabisi satu pulau markas musuh tanpa bersisa. "Biar aku yang pergi kesana." Adith berdiri dengan merilekskan tangannya. "Apa? Bagaimana?" Elvian ingat betul kalau sudah memborgol Adith. Begitu melihat kebawah, Borgol itu tampak hancur berkeping-keping seolah kalah dalam melawan sesuatu yang lebih kuat darinya. Adith langsung berjalan masuk kedalam markas yang sangat luas sekali. Terlihat bagaimana Adith dengan santainya memasuki markas membuat Elvian yang sudah berusaha menahannya tak bisa berbuat apa-apa. "Tuan Adith? Apa yang sedang anda lakukan disini?" Calvin yang mengenali Adith tak percaya kalau dia bisa berada di markasnya. "Tuan Calvin, bukankah masalah di antara kita belum selesai? Selain itu kau sudah membuat aku hampir mati disana." Adith mengingatkan Calvin mengenai kejadian sewaktu pertemuan mereka lalu. "Hahahaha¡­ Aku tak tahu kalau tuan ternyata seorang pendendam sampai-sampai kau mencariku di markas ini. Harus aku akui kalau kau adalah orang paling jenius yang pernah aku temui. Namun saat ini, masih ada hal yang harus aku urus." Ucapnya berbalik dari posisinya dengan beberapa orang sedang menghalangi Adith. Begitu berbalik, sebuah mesin penggilingan dan juga mesin yang beruap panas di atasnya terdapat 10 orang perempuan yang di rantai dengan kuat dengan Alisya berada di bagian tengah sedang memegang rantai mereka semua. Alisya memakai seragam khususnya yang membuatnya terlihat sangat menyeramkan dengan tatapan penuh amarah kepada Calvin. Mengetahui kalau mereka sudah dikepung, Calvin sengaja memancing Alisya keluar dengan memanfaatkan para wanita yang ia dapatkan dari berbagai Cafe. "Kau adalah laki-laki impoten yang tak berguna." Adith kembali memancing emosi Calvin. Masih tak peduli, Calvin yang sudah tak memiliki banyak bawahan lagi terus saja mengulur waktu untuk menunggu kedatangan helikopter yang akan menjemputnya. "Apakah barangmu sudah tak berguna sampai kau harus memiliki sensasi seksual dengan melihat para wanita itu? Atau kau menyiksa para wanita itu karena mereka kecewa dengan pelayanan mu?" Lanjut Adith lagi terus memecahkan perhatian Calvin. Meski kesal dengan apa yang dikatakan oleh Adith, Calvin masih berpikir bahwa saat ini yang paling bahaya adalah wanita berseragam tersebut. "Wah, sepertinya benar!" Adith yang tertawa terbahak-bahak langsung membuat Calvin kesal hingga ia menoleh ke arah Adith dan menembaknya, namun tak berhasil karena Adith bisa menghindar dengan cepat. Begitu Calvin berbalik, Alisya dan para sandera sudah tak berada disana lalu saat ia menoleh lagi kepada Adith, Alisya sudah berdiri di hadapannya. Calvin yang kaget langsung menyerang secara membabi buta. Dia tak tahu kalau Adith hanyalah sebuah pengalihan dimana para bawahan Alisya sudah berada di posisi mereka untuk menyelamatkan sandera. Gerakan mereka sangat cepat hingga satu detik Calvin menoleh, semua sandera sudah tak berada disana. "Edin¡­ Edin¡­" teriak Calvin memanggil asisten pribadinya. "Mencari ini? Dari atas seseorang dijatuhkan membuat Calvin tercengang saat melihat Asistennya sudah tak bernyawa. Pria yang menjatuhkan Edin belum pernah dilihat oleh Adith sebelumnya namun Adith tahu kalau dia adalah salah satu bawahan Alisya. "Siapa kalian sebenarnya? Bagaimana semua anggota ku yang memiliki energi nano dapat dikalahkan dengan mudah?" Calvin mundur langkah demi selangkah saat menyadari kalau musuhnya bukanlah orang biasa. Terlebih karena mereka hanya berlima, namun semua anggota elite yang memiliki energi nanonya dapat dikalahkan dengan mudah. "Karena ada seorang pemilik energi nano yang sebenarnya." Alisya langsung mengeluarkan energi nano yang menghasilkan gelombang kejut yang sangat kuat dengan frekuensi tinggi yang membuat jantung Calvin seolah tertekan dengan sangat keras dan dadanya sesak. "Kau.. bukankah organisasi sudah berhasil membunuhmu? Tidak mungkin mereka gagal." Calvin yang tahu segalanya semakin membuat Alisya ingin menangkapnya secara hidup-hidup. Calvin akan memberikan informasi lebih mengenai Black Falcon jika mereka menangkapnya hidup-hidup. Chapter 383 - Serangan Mendadak Belum sempat Alisya ingin melumpuhkan Calvin, sebuah tembakan dari senjata shotgun Saiga 12 yang langsung menghujamkan 600 tembakan dalam semenit untuk memberikan ruang bagi Calvin melarikan diri. Calvin yang mendapatkan peluang dengan cepat mengarah kepada ujung atap agar helikopter tersebut bisa datang menjemputnya. "Alisya¡­" teriak Adith ditengah hujaman tembakan, namun Alisya tak peduli dan langsung mengejar Calvin. Jika kali ini dia berhasil lolos maka keberadaannya akan membuat Black Falcon melakukan perburuan dan pembantaian secara besar-besaran. "Sial, ini harus secepatnya dilaporkan." Calvin langsung mengulurkan tangannya untuk bisa naik ke helikopter. "Selamat datang¡­ Aku datang untuk menjemputmu!" Riyan yang berpakaian lengkap sebagai seorang tentara ternyata berada di dalam helikopter tersebut membuatnya kaget dan ingin melarikan diri namun Riyan bisa menangkapnya dengan mudah dan menjatuhkannya dalam helikopter. "Brengsek!!! Ternyata kalian hanya menipuku?" Maki Calvin tak tahu kalau itu adalah helikopter dari para tentara. "Oh tentu saja kami tidak menipumu, lihat ke arah sana." Tunjuk Riyan pada sebuah helikopter yang sudah oleng berputar-putar dan meledak ketika jatuh menghantam tanah. "Jangan remehkan kami, meski kami bukan pasukan khusus, tapi kami juga bisa menghancurkan kalian dengan mudah." Ucap Riyan dengan penuh rasa bangga. "Kerja bagus Ryu!" Riyan memuji kehebatan Ryu yang langsung menjatuhkan helikopter musuh hanya dengan satu tembakan yang langsung mengenai kepala pilotnya. "Bukan masalah buatku!" Ryu tersenyum bangga karena kali ini bisa melesatkan tembakan dan berperan dalam pertarungan bersama Alisya. Alisya tertegun melihat Riyan yang memakai baju tentaranya. Meski Riyan menutupi sebagian wajahnya, Alisya masih bisa mengenali Riyan dari pancaran energinya. Meski sangat ingin menangkap Calvin, namun ia tidak bisa berkata apa-apa jika ada pasukan lain yang ikut dalam operasi kali itu. Mereka berlima berbalik dan memutuskan untuk pergi dari sana tak ingin terlibat dengan pasukan lain agar identitas mereka tetap terjaga. "Oy¡­" Riyan langsung melempar Calvin kepada Alisya. "Ini bukan perintah dari atasanku, melainkan permintaan seorang sahabat." Riyan hanya menggunakan bahasa bibirnya dan segera pergi dari sana. Alisya yang melihat Riyan pergi segera mengerutkan keningnya masih tak percaya. Laki-laki penggoda zaman SMA nya sudah tampak lebih gagah dengan seragam bela negaranya. "Bawa dia!" Perintah Alisya dengan suaranya yang dingin. "Kalian akan¡­" Calvin yang ingin mengeluarkan kata-kata ancaman dengan cepat dibuat pingsan. "Alisya berhenti!" Adith mencoba kembali menghentikan Alisya. Alisya tak peduli dan terus berjalan dengan aura dingin. "Bukankah kau bilang untuk menemukanku selama aku tetap ditempat ku menunggumu? Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkan aku lagi? Sudah berapa kali kau pergi meninggalkan aku?" Teriak Adith dengan suara yang cukup keras. 4 orang di belakang Alisya tertegun menatap kearah Adith. Mereka masih tak bisa menyerap akan kejadian yang sedang mereka lihat saat itu. "Pergilah terlebih dahulu." Perintah Alisya yang langsung membuat mereka memberi hormat dan menghilang seperti seorang ninja tak menyisakan jejas dan bau sedikitpun. Tepat setelah bawahannya pergi, Alisya dengan cepat melesat kehadapan Adith dan mencekik lehernya dan membanting tubuh Adith ke dekat dinding. "Kau sudah salah orang!" Ucap Alisya langsung melempar tubuh Adith ke arah lain. Adith bingung namun dengan cepat dia juga melayangkan pukulan dan tendangannya. "Apa yang terjadi? Kenapa mereka malah saling serang sekarang?" Karin yang melihat dari kejauhan tak menyangka keduanya saling serang satu sama lain. Alisya mendapatkan tendangan pada bagian dadanya begitupula dengan dengan Adith. Gerakan mereka seimbang satu sama lainnya yang membuat Alisya juga takjub dengan perkembangan Adith meski Alisya terlihat jauh lebih unggul. "Sepertinya Alisya sangat membenci Adith saat ini." Terang Yogi terus melihat pertarungan dua orang hebat dengan energi nano yang sangat luar biasa. "Tidak, Alisya terlihat masih berusaha menekan kekuatannya tapi setiap pukulan yang ia hujamkan itu terlihat sangat fatal." Zein bahkan tak menyangka kalau mereka akan berakhir dengan saling serang. Tepat setelah itu, tendangan berputar Alisya langsung menghantam keras Adith dan membuatnya lumpuh tak bergerak lagi. Dengan batu kerikil yang ada di atap sana, Alisya menghancurkan 5 Kamera drone dengan sangat cepat. "Ryu, tembak pada Arah jam 10 ketinggian 100 meter, gunakan sudut 45 derajat" Bisik Adith pelan. Tanpa bertanya lagi, Ryu segera melesatkan tembakan sesuai dengan arah yang diberikan kepadanya. "Pranggg" setu tembakan Ryu langsung menghancurkan 3 kamera drone sekaligus yang berada cukup jauh dari Alisya. Mereka terdiam beberapa saat, namun begitu tak mendengar dan merasakan keberadaan drone lagi, Adith bangun dan berdiri dengan tegap. "Kemarilah!" Suara Adith yang lembut dan membuka kedua tangannya dengan lebar membuat Alisya langsung menghambur jatuh kepelukan Adith. Bahu lebar Adith membuat Alisya terlihat jadi lebih mungil dalam pelukannya. Alisya menangis dengan suara tertahan dan memeluk erat tubuh Adith. "Maafkan aku, maaf karena tak bisa mengingatmu. Maaf karena melupakanmu, maaf.." Adith yang masih ingin berkata-kata lagi bibirnya sudah terkunci oleh bibir hangat Alisya. Kali ini ciuman itu terasa berbeda, penuh dengan perasaan yang membara dan juga ledakkan perasaan rindu yang meledak-ledak sehingga mereka larut dalam pagutan yang membuat hati dan perasaan mereka menyatu. "Ummmh¡­" Alisya tak bisa menahan hasrat dalam dirinya yang sudah lama merindukan Adith. Hati dan perasaan mereka terus menyatu hingga mereka sampai kehilangan nafas karena tak ingin melepaskan ciuman mereka. "Puufttt,, kau terlihat jelek dengan coretan wajahmu seperti ini" Adith tertawa pelan setelah melepas ciuman mereka yang penuh hasrat. Coretan wajah Alisya luntur karena tangisannya dan baju Adith jadi kotor karenanya. "Jangan menertawakan ku, karena kau juga sama denganku sekarang!" Ucap Alisya juga tertawa melihat wajah Adith yang ikut kotor karena coretan wajah nya yang berwarna hitam dan hijau luntur ke wajah Adith. "Aku tak peduli." Adith kembali mengulum bibir Alisya dengan lembut dan menarik pinggang Alisya menjadi lebih erat ketubuhnya. "Bisakah kalian melakukan itu setelah kalian mendapatkan kamar?" Karin datang bersama dengan teman-temannya yang lain. Adith melepaskan ciumannya dengan lembut namun masih tetap memeluk erat tubuhnya. "Cameo tolong minggi dikit, kalian sedang menganggu saat ini." Ucap Adith dengan tatapan dingin. "Thor, tolong buat scene mereka di pulangkan saja!" Pinta Alisya menghadap ke langit yang langsung membuat Karin melemparkan sepatunya ke arah mereka berdua. Adith dan Alisya tertawa pelan melihat tingkah mereka yang terlihat kesal. "Karakter kalian di buat benar-benar keterlaluan!" Maki Zein dengan kesal. Saat mereka terus saja saling lempar candaan, Adith melihat sebuah kilatan cahaya dari kejauhan yang ia rasakan di arahkan kepada Alisya. Lalu dengan cepat Adith mendorong Alisya dan mendapatkan tembakan. Mereka semua terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, namun Alisya bergerak dengan cepat. "Arah jam 4!" Ryu yang sudah pergi dari posisinya membuatnya sedikit kesusahan, namun dengan satu tarikan nafas ia bisa menghentikan peluru kedua yang diarahkan kepada Alisya lagi lalu satu tembakan berikutnya langsung melesat ke kepala si penembak tersebut. Alisya segera mengeluarkan energi nano nya hingga sejauh 1 kilometer untuk bisa merasakan keberadaan musuh lain, namun mereka sudah dilumpuhkan oleh bawahannya yang lain. Bahkan Ryu kaget dengan kemampuan Alisya yang luar biasa tersebut karena ia seolah bisa melihat mata Alisya yang bagaikan elang sedang mengawasinya. "Adith¡­ Adith¡­" Alisya langsung duduk disebelah Adith setelah merasa aman. "Lukanya tidak dalam dan pelurunya tidak mengenai titik fitalnya, tapi kita harus segera membawanya kerumah sakit." Ucap Karan cepat setelah melihat luka bekas tembakan di dada Adith. "Riyan, kau masih berada di sekitar sini bukan?" Zein dengan segera menghubungi Riyan yang memiliki helikopter. "Aku akan segera kesana!" Ucap Riyan cepat. Darah yang keluar dari dada Adith membuat Alisya menempatkan tangannya ke dada Adith untuk menutupi pembuluh darah yang pecah serta meningkatkan kerja sel nano yang ada di dalam tubuh Adith. Chapter 384 - Melepas Kangen Dengkulmu Adith segera di terbangkan ke rumah Sakit milik Karan. Rumah sakit mereka sudah dibuatkan landasan khusus bagi para elite dan pasien yang harus diterbangkan karena situasi tak terduga sehingga tak sulit bagi Riyan untuk berada di rumah sakit tepat waktu. Landasan helikopter di Rumah sakit itu cukup luas sehingga dari kejauhan bisa terlihat ada beberapa dokter yang sudah bersiap menunggu kedatangan Adith begitu pula dengan Ayah Karin. "Bagaimana keadaan vitalnya?" tanya Ayah Karin memastikan kondisi Adith terlebih dahulu. "Luka bekas tembakan tidak mengenai Jantungnya, namun memberikan luka yang cukup lebar. Tekanan dan denyut jantungnya lemah, kita harus melakukan operasi secepatnya."Ucap Karan yang langsung memindahkan tubuh Adith ke Atas Brankar (Ranjang dorong, ranjang yang digunakan untuk ranjang emergency dan transfer pasien). Dengan cepat mereka semua berlari menuju ke ruang UGD untuk melakukan operasi secepat mungkin untuk membuat Adith keluar dari masa kritisnya. Alisya sudah menunggu dengan cemas diluar ditemani oleh Karin dan Riyan serta Rinto disana. "Alisya¡­" Ibu Adith datang dengan wajah penuh kahwatir setelah di jemput oleh Ryu dan Zein. "Mama.. Maaf, Alisya¡­" Alisya langsung mendatangi ibu Adith yang dengan cepat dipeluk oleh ibu Adith. "Tidak apa-apa, Mama yakin dia pasti terluka karena menolongmu. Dan itu lebih baik, karena setidaknya sekarang dia punya alasan untuk bertahan hidup" Ibu Adith mencoba untuk bersikap tegar karena tak ingin melihat raut kesedihan lagi di wajah Alisya. Mereka terus menunggu Karan dan Ayahnya keluar dari ruang operasi dan setelah hampir satu jam lebih, keduanya keluar dengan wajah yang penuh akan kelegahan. "Dia baik-baik saja sekarang, berkat apa yang dilakukan Alisya pada Adith, dia bisa melewati masa kritisnya dan tidak kehabisan banyak darah sehingga operasi kamu juga berjalan dengan lancer." Ucap Ayah Karin menatap mereka semua dengan tersenyum hangat. Adith segera dipindahkan ke ruang perawatan dimana ia masih belum sadarkan diri. Alisya terus berasa disana dan tak pernah meninggalkan ruangan Adith. 2 hari setelah operasi, dihari ketiga Adith terlihat mulai sadarkan diri dan membelai lembut kepala Alisya yang terbaring disisinya. "Kamu sudah sadar?" Aliysa mengusap lembut matanya dan merenggangkan tubuhnya yang membuat Adith merasa gemas. "Sudah berapa lama aku dirumah sakit?" Tanya Adith sambil berusaha menyandarkan tubunya dibantu oleh Alisya. "3 hari! kamu tidak tidak sadarkan diri selama 3 hari karena kamu kelelahan secara fisik dan mental sehingga tubuh kamu butuh istirahat. Itulah kenapa kau tidak sadarkan diri selama 3 hari." Alisya memberi Adith secangkir air hangat. "Selama itu? Aku harus¡­" Adith teringat dengan proyek yang berada dibawah tanggung jawabnya. "Jangan khawatir, proyek itu sudah kami selesaikan dengan baik. Alisya membantu kami mengerjakannya dari rumah sakit dan Mery juga banyak berperan penting dalam hal ini." Yogi masuk tak mengira kalau Adith akan sadarkan diri pada saat dia datang. "Sepertinya kau sudah terlihat jauh lebih sehat sekarang." Mery juga ikut datang bersama Yogi yang membuat Alisya bergerak dengan cepat menghalangi Mery untuk lebih dekat. "Dia suamiku, takkan ku izinkan kau untuk menciuminya lagi." Ancam Alisya yang membuat Yogi memerah dan marah tak percaya. "Ohookkkk" Adith yang baru saja ingin meneguk minumannya lagi langsung terbatuk hebat dengan perkataan Alisya kepada Mery. "Ah¡­ Maaf, kamu salah paham!. Hari itu aku hanya ingin membantu Adith, tidak ada maksud lain." Jawab Mery cepat dengan menggoyangkan kedua tangannya. "Membantu Adith? Mana mungkin Adith meminta bantuanmu membersihkan bibirnya menggunakan bibirmu." Wajah polos Alisya seketika membuat Mery tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha hahh.. hahh.. bukankah dia suamimu? Harusnya kau tidak akan sepolos ini. Kecuali jika kalian belum belah duren sama sekali." Mery kelelahan dan menarik nafas dengan berat. Alisya tak memperlihatkan ekspresi apapun yang membuat Mery langsung membelalakkan matanya tak percaya. Mery tidak tahu masalah yang terjadi di antara mereka namun mengetahui Adith sudah menikah dan belum melakukannya sama sekali membuat dia seolah sedang mendengar sebuah lelucon. "Kalian¡­." Mery yang ingin melanjutkan kalimatnya segera dibawa pergi oleh Yogi setelah mendapatkan tanda dari Adith. Masih terus tertawa dengan menahan perutnya yang sakit, Mery seolah melihat sisi yang berbeda dari kedua orang tersebut. Terlebih karena selama 3 hari itu, Mery bisa melihat bahwa Alisya hampir memiliki kemampuan dan IQ yang hampir setara dengan Adith. "Apa yang terjadi sebenarnya? Apa mereka sedang bercanda?" Mery mulai bertanya kepada Yogi setelah ia merasa sudah cukup tenang. Yogi hanya menjelaskan beberapa hal penting yang bisa membuat Mery paham dengan situasi yang terjadi antara Adith dan Alisya. "Terimakasih karena sudah ikut kerja sama dengan perusahaan kami, maaf karena direktur kami tidak bisa mengucapkan secara resmi dan mengantarkan kepergianmu." Yogi kembali berprilaku profesional. "Meski aku kecewa karena dia tidak mengantarku dan tahu dia sudah memiliki istri, tapi itu tidak masalah selama¡­" Mery melirik ke arah Yogi. "Minggir, dia sudah dilabeli. Silahkan cari orang lain." Aurelia sudah menatap penuh penjagaan kepada Mery. "Apa semua orang disini selalu terang-terangan seperti ini? Mery merasa sikap ini seperti dejavu dalam waktu singkat. Yogi hanya bisa menunduk meminta maaf, dan mengantarkan kepergian Mery dengan sangat sopan. "Bisakah kau tidak menperlihatkan senyum lesungmu pada orang lain? Itu akan membuat mereka langsung mengeluarkan hormon pemikat." Aurelia menatap tajam ke arah Yogi yang tersenyum tulus kepada Aurelia. "Sayang, kita sudah lama tidak bertemu karena kau sibuk dengan pendidikanmu sebagai Jaksa. Tidak bisakah kita melepas kangen dulu sebelum marah-marah?" Yogi merayu Aurelia yang sudah tidak pernah sempat bertemu karena kesibukan keduanya. "Melepas kangen dengkulmu! Baru beberapa bulan tak bertemu kau sudah bisa dengan mudah dirayu oleh perempuan lain? Sepertinya aku harus¡­" Jari telunjuk Yogi sudah melekat di bibir Aurelia untuk menghentikannya berbicara. Yogi seolah tahu apa yang akan dikatakannya. Sehingga Yogi langsung menghentikan Aurelia sebelum ia selesai berbicara. "Minggu depan bolehkan aku datang melamarmu secara resmi? Aku akan membawa kedua orang tuaku. Untuk itu, maukah kau menikah denganku?" Yogi maju selangkah lebih dekat kepada Aurelia dan menatapnya dengan sangat dalam. Aurelia menatapnya dengan air mata yang berlinang dan mengangguk pelan lalu tanpa disadarinya, Yogi sudah memakaikan cincin di tangan Aurelia dan mengecupnya lembut. "Woyyyyy¡­ lamaran teman saya di terima!!!!" Teriak Beni dan Gani secara bersamaan. Mereka yang tadinya datang untuk menjenguk Adith malah terhenti menyaksikan momen spesial tersebut dengan Gina yang merekam serta Feby dan Emi yang terus memotret tanpa henti. Chapter 385 - Kau Membuatku Semakin Gila, Alisya! Tepat setelah Mery dan Yogi keluar dari ruangannya, Adith dengan segera menarik tangan Alisya dan menjatuhkannya ke atas tubuhnya. "Karena kau sudah menyinggung nya, kenapa kita tidak mulai saja sekarang?" Adith berbisik hangat di telinga Alisya yang langsung membuat wajah Alisya memerah padam. Meski tau kalau Adith sedang mengerjainya, namun ia kembali teringat akan apa yang dikatakan oleh Mery. "Oh tidak, jangan tunjukkan wajah seperti itu. Aku sudah sangat ingin memakanmu sekarang tak peduli kita sedang berada di rumah sakit" Adith tak bisa menahan dirinya lagi melihat wajah Alisya yang tampak malu-malu. "Kau hebat, akhirnya sekarang kau akan menikahi Aurelia setelah sekian lama. Aku pikir kau akan terus melarikan diri." Suara Beni yang terdengar mendekat membuat Alisya dan Adith saling berpandangan. "Selamat, aku sangat bahagia melihat kalian berdua akhirnya memutuskan untuk bersama." Suara Emi membuat keduanya yakin kalau teman-temannya akan ke ruangan Adith. "Tok-tok tok¡­" Yogi sengaja mengetuk pintu meski tahu bahwa Adith dan Alisya pasti sudah mendengar suara mereka di luar. Karena panik, Alisya langsung melompat kedalam selimut Adith dan dengan refleks Adith juga menutup Alisya menggunakan selimutnya. "Kau pergi mengeluarkan satu orang namun kembali membawa pasukan." Adith kesal dengan Yogi yang tak mengetahui situasi. Tak melihat keberadaan Alisya di sana namun tak melihat Alisya keluar dari ruangan dan sikap juga gelagat aneh Adith membuat Yogi terpikir bahwa Alisya yang sedang menyembunyikan identitasnya pasti akan bersembunyi. Dan tempat yang pasti bisa dijadikan Alisya untuk bersembunyi adalah di dalam selimut Adith. Yogi menyeringai licik sedang memikirkan sesuatu untuk mengerjai Adith. "Bagaimana keadaanmu? Aku tak menyangka kalau kamu akan tertembak seperti itu." Aurelia menatap Adith dengan sangat khawatir. "Sudah jauh lebih baik, mungkin hanya perlu pemeriksaan ulang saja untuk bisa lebih dipastikan." Adith berusaha untuk menekan ekspresinya. Tubuh hangat Alisya yang menindih pahanya membuatnya tak bisa berpikir denga jernih. Nafasnya mulai memburu dengan tubuhnya yang mengalirkan energi listrik hingga ke ubun-ubunnya. "Istirahatlah, aku akan membuat posisimu untuk sedikit lebih nyaman." Yogi sengaja menurunkan ranjang Adith secara tiba-tiba yang membuat wajah Alisya membentur bagian bawah Adith. "Aku akan membunuhmu Yogi." Maki Adith dengan suara tertahan. Nafas hangat Alisya membuatnya tak bisa menahan hormon kejantanannya untuk bangkit. Adith merasa malu dengan kejadian itu sedang Yogi semakin ingin menyiksa Adith. Meski Alisya adalah istrinya, mereka yang terpisah dalam waktu yang lama tentu saja membuat mereka akan sedikit canggung dengan kejadian seperti ini. Tebalnya selimut semakin membuat tubuh Alisya berkeringat dan lengket sehingga Adith bisa merasakan kehangatan tubuh Alisya yang membuatnya semakin tersiksa karena menahan diri. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Beni merasa khawatir dengan lenguhan nafas Adith yang tertahan. "Apa kau merasa sesak pada bagian dadamu? Nafasmu sampai berat seperti itu." Gani juga berpikir bahwa mungkin saja luka tembakan pada dada Adith membuatnya bertingkah seperti itu. "Oh iya, aku akan memanggil dokter kemari." Feby segera berlari keluar tanpa menunggu jawaban Adith. "Keringatmu banyak sekali, aku akan menyetel AC ny lebih dingin." Adith langsung menatap penuh Terimakasih kepada Emi. Suhu Ac yang dingin sedikit memberikan rasa tenang pada Adith. "Ada hal yang kau perlukan?" Tanya Gina memastikan keadaan Adith. "Tidak, Terimakasih banyak karena kalian sudah datang kemari." Adith berucap dengan tulus. "Oke teman-teman, mari berikan ruang agar Adith bisa beristirahat lebih dulu karena dia baru sadarkan diri. Selain itu dia juga sedang butuh waktu untuk menenangkan diri." Yogi tertawa pelan mulai mengajak teman-temannya keluar. "Ja.. jangan bergerak!!!" Adith mendesah pelan saat Alisya menggeliat karena kepanasan. "Ada apa?" Aurelia merasa aneh dengan tingkah Adith. Tepat saat itu karena mereka terlalu lama untuk keluar, Ayah Karin dan Karan datang menghampiri Adith untuk memeriksa kondisi Adith. Yogi kembali tertawa hebat sambil menyuruh teman-temannya untuk memberikan ruang bagi keduanya memeriksa kesehatan Adith. "Bagaimana perasaanmu?" Tanya Ayah Karin dengan suara berat yang hangat. Alisya yang ingin keluar tidak akan mungkin muncul dengan situasi yang tak nyaman itu sehingga Alisya menatap Adith dengan penuh permohonan. "Apa dadamu masih terasa sakit?" Saat Karan mendekat ke arah Adith yang terlihat kesulitan untuk bernafas, Adith dengan cepat menghentikan Karan. "Maaf, bisakah kalian memberiku sedikit privasi sebentar saja?" Panas di tubuh Adith seolah akan meledak melalui ubun-ubunnya. Listrik di tubuhnya tak berhenti mengalir dan menggetarkan tubuhnya membuat benda pusakanya tak bisa ia kendalikan dengan baik. "Hah?" Karan tak paham dengan apa yang dikatakan oleh Adith. Ayah Karin yang melihat selimut itu nampak lebih tebal dari biasanya dan wajah memerah semu Adith membuatnya paham akan situasi yang sedang dihadapi oleh Adith saat ini. "Apa 10 menit cukup?" Tanya Ayah Karin yang langsung dianggukkan pelan oleh Adith. "Itu lebih dari cukuphh!" Adith masih bernafas dengan berat. Ayah Karin segera memanggil Karan untuk keluar terlebih dahulu, menutup tirai pintu Adith dan menguncinya dari luar. Sikap ayahnya tentu saja membuat Karan semakin bingung dan curiga. Tepat saat itu, Alisya dengan kikuk bangkit dari posisinya. Karena malu, Alisya ingin melarikan diri dan masuk kedalam toilet namun Adith langsung menarik tangan Alisya. "Mau kemana kamu? Bukankah aku harus meminta tanggung jawabmu sekarang?" Tatap Adith yang merasakan panas ditubuhnya sudah sedikit tenang. "Tanggungjawab atas apa? Aku tak melakukan apapun, sebaiknya aku keluar sekarang sebelum mereka masuk lagi." Alisya berusaha untuk melarikan diri namun Adith membantingnya ke atas kasurnya. "Kau sudah membuat ku sangat menderita hari ini, jadi kau harus aku hukum!" Ucap Adith langsung mengulum bibir Alisya dengan hangat. Selama 8 menit mereka melakukan itu tanpa sedikitpun mengambil nafas membuat Adith semakin merasakan ekstasi yang diberikan oleh Alisya. "Huhhh¡­ Aku ingin memilikimu seutuhnya, tapi sepertinya aku harus bersabar lagi. Jika 7 tahun aku mampu, maka 7 jam bukanlah hal berat bagiku. Tunggu aku di apartemen ku." Adith membelai lembut rambut Alisya tak ingin melepaskan dirinya. "7 tahun aku menunggumu, 7 jam bukan masalah besar bagiku." Alisya terseyum dan bangkit dari kasur Adith. Tidak bisa keluar melalui pintu utama karena teman-temannya akan melihatnya, demi menjaga keselamatan mereka identitas aslinya cukuplah sebagian orang saja yang mengetahuinya terlebih dahulu sehingga ia terpaksa keluar melalui jendela. "Ahhh.. kau membuatku semakin gila, Alisya!" Desah Adith kembali terbaring diatas ranjangnya. Adith langsung memegang kepalanya yang sakit. Pesona Alisya membuat emosi dan perasaan Adith seolah ingin meledak dengan hebat. Chapter 386 - Perubahan pada Tubuh Setelah merasa cukup lama, Ayah Karin segera masuk kembali ke dalam ruang Adith di ikuti oleh Karan. Mereka berdua kembali memeriksa tubuh Adith secara menyeluruh dan kaget akan perubahan besar yang terjadi pada tubuh Adith. "Ada apa?" Adith seolah bisa menebak akan sesuatu yang berbeda dengan tubuhnya melihat ekspresi takjub Ayah Karin. "Bukankah aku pernah berkata bahwa kamu adalah orang yang paling besar mendapatkan paparan energi nano dari Alisya?" Ayah Karin mencoba membuka kembali pembahasan mereka dulu mengenai paparan energi nano yang mereka dapatkan dari Alisya. "Ya benar, apakah itu artinya ada sedikit perubahan yang terjadi pada tubuhku?" tanya Adith penasaran. "Tubuhmu menghasilkan senyawa fibrinogen yang lebih banyak. Bukan hanya itu saja, seluruh sel-sel dalam tubuhmu mengalami peningkatan yang sangat signifikan dimana tidak hanya aktif membelah, namun juga sangat akif dalam menjalankan pekerjaannya masing-masing." Jelas Karan melihat grafik perkembangan tubuh Adith yang selama ini berada di tangannya. "Lebih tepatnya tubuhmu mengalami Upgrade serta berevolusi dengan tingkat kemapuan 70 % mendekati Alisya. Meski Alisya jauh lebih besar darimu, namun jika kau bisa mengendalikannya dengan baik maka kalian memang akan menjadi ancaman besar bagi Balck Falcon." Tambah Ayah Karin merasa takjub dengan perkembangan tubuh Adith. "Entah karena apa, sepertinya struktur sel dalam tubuh kalian berbeda dengan yang lainnya sehingga kalian sangat cocok dengan energi nano tersebut terlebih karena tubuhmu menerima semua energi nano yang masuk kedalam tubuhmu." Jelas Karan yang membuka baju Adith untuk memperlihatkan bekas tembakan pada dada Adith yang bahkan tak perlu mendapatkan perban untuk membaluti lukanya. "Bekas ini?" Adith kaget tak percaya kalau ia mengalami luka itu ditubuhnya. "Ya, benar! Itu adalah luka bekas tembakan yang sembuh persis seperti luka yang diderita oleh Alisya sebelumnya. Kau pasti sudah pernah melihat bekas luka yang ada pada Alisya lalu." Jelas Karan mengenai luka di tubuh Adith. Segala hal tentang dirinya membuat Adith bingung dan tak tahu harus bagaimana. Di lain sisi, hatinya cukup bersyukur karena energi nano dalam tubuhnya menyelamatkan hidupnya. Namun di sisi lain, ia takut kalau kemampuan itu malah akan menjadi bomerang di kemudian hari. Adith duduk termenung memandangi jendela begitu Riyan dan Zein masuk kedalam ruangannya. "Apa yang sedang kau pikirkan saat ini?" tanya Riyan dengan pakaian tentaranya saat masuk. "Bukankah harusnya kegelisahan hatimu sekarang sudah menghilang dengan kamu mengingat Alisya dan Alisya telah berada disisimu kembali?" lanjut Zein menggoda Adith dengan senyuman licik. "Sepertinya dia sedang memikirkan hal lain, seperti bulan madu misalnya?" Yogi tak kalah jailnya menggoda Adith. "Kalian masih bisa mengatakan hal seperti itu pada orang yang sedang sakit?" Rinto masuk karena datang bersama dengan Yogi. "Jika nona mendengarnya, aku rasa akan ada leher seseorang yang putus dengan mudah." Kata-kata Ryu segera membuat Yogi dan Zein merasakan tatapan horor dari Alisya. "Ehem.. Dimana yang lainnya?" tanya Zein kepada Yogi yang sebelumnya bersama dengan Aurelia dan teman-temannya yang lain. Zein sengaja mengalihka n pembicaraanya untuk mencari aman. "Mereka sudah pulang karena kelelahan menunggu pemerikasaan Adith yang banyak menghabiskan waktu." Ucap Yogi yang baru saja kembali dari kantornya setelah membereskan beberapa dokumen untuk kembali dibawa ke rumah sakit agar bisa ditanda tangani oleh Adith. Adith berbalik menatap mereka dengan serius. Dia yang terdiam dan tidak menjawab perkataan mereka membuat mereka semua menjadi sangat bingung. Ryu terus saja berkeliling mencari Alisya yang hingga malam hari ia belum pulang sehingga ia kerumah sakit untuk memastikan keadaan mereka berdua. "Sejauh apa yang kalian sadari mengenai tubuh kalian?" Adith bertanya dengan tatapan serius mengingat bukan hanya dia saja yang mendapatkan paparan energi nano dari Alisya. Melihat tatapan bingung dari mereka semua, Adith segera membuka bajunya menunjukkan luka bekas tembakannya yang mengering dan sudah menutup sempurna hanya dalam waktu 3 hari dan hanya menyisakan bekas luka yang seolah sudah sembuh dalam waktu yang sangat lama. Mereka saling berpandangan satu sama lainnya seolah memiliki banyak hal yang sudah mereka sadari namun tidak berani membicarakannya karena berpikir bahwa itu semua hanyalah perasaan mereka saja. "Apa itu ada hubungannya dengan energi nano?" Raut wajah Rinto nampak gelap tak tahu harus bereaksi seperti apa dengan apa yang ditunjukkan oleh Adith. "Apakah ini akan berarti buruk atau baik? Meski sebenarnya ini akan meningkatkan kemampuan tubuh kita aku tak tahu apakah ini bisa menjadi keberuntungan atau sebuah kesialan bagi kita." Zein tak ingin menyalahkan siapapun, namun kekhawatirannya membuat dirinya tak tenang. "Aku sudah merasakan banyak perubahan pada tubuhku sebelumnya dimana mataku menjadi jauh lebih tajam dari sebelumnya sehingga keakurasianku dalam menembak juga semakin membaik." Ryu teringat dengan semua hal yang bisa menjadi pertanda dari perubahan pada tubuhnya. "Aku juga seperti itu, otakku bahkan bisa mengingat semua hal yang aku ingat dan aku baca sebanyak apapun itu. Tanpa aku sadari juga aku bisa menguasai beberapa bahasa asing." Jelas Yogi menjelaskan perubahan yang dimiliki oleh dirinya. "Begitupula denganku, kecepatanku bertambah beberapa kali lipat. Aku bisa mengerjakan banyak hal sekaligus tanpa sedikitpun merasa lelah atau kehabisan nafas." Ungkap Rinto juga merasakan perubahan pada tubuhnya. "Mungkin hanya kita yang mengalami perubahan yang cukup besar pada tubuh kita. Aku juga mengalami perubahan pada tubuhku, yaitu kekuatan dalam tubuhku seolah tak pernah ada habisnya. Aku juga sangat gampang menghancurkan beberapa barang karena genggamanku yang kuat." Terang Riyan memperlihatkan volume ototnya yang nampak lebih berisi. "Tak jauh berbeda denganku, aku seolah memiliki sebuah gelombang kejut dan listrik yang keluar dari tubuhku. Gelombang kejut yang dihasilkan membuatku seolah bisa mendeteksi lingkungan sekitarku sedang gelombang listrik membuatku dengan cepat bisa menganalisa semua kemungkinan yang akan terjadi dengan ketepatan 99%." Jelas Zein terduduk di tepi sofa dengan pandangan yakin. "Bisa dibilang semua hal itu terjadi sesuai dengan apa yang paling sering kita kerjakan. Hal itu tanpa kita sadari membuat kemampuan energi nano kita juga ikut berkembang sesuai dengan kemampuan dasar yang kita lakukan tiap harinya." Terang Adith mulai menganalisa kemampuan mereka masing-masing. Malam itu berlalu dengan mereka terus berbagi pembahasan mengenai perubahan yang terjadi pada mereka. Mereka semua merasa takjub dengan perubahan pada tubuh mereka sekaligus merasa khawatir akan berdampak pada orang lain dan bahayanya jika orang lain mengetahui kemampuan mereka. "Sebaiknya kalian tetap menekannnya dan tak memperlihatkan kemampuan ini pada orang lain." Jelas Adith mencoba mengingatkan mereka semua. Chapter 387 - 7 Tahun, 7 Jam dan 7 Hari Setelah mendapatkan hasil pemeriksaannya, Adith akhirnya pulang ke rumahnya bersama Yogi dengan ibunya serta Alisya yang sudah menyambutnya datang. Ibu Adith sengaja tak menjemput Adith karena ingin menghidang kan makanan kesukaan Adith yang sudah tertidur selama beberapa hari dan tidak makan. "Kenapa kamu berada disini? Bukankah kau harusnya menungguku di apartemen?" Adith yang berencana akan ke apartemennya setelah dari rumah kedua orang tuanya kaget melihat ada Alisya disana. "Mama ingin masak bersamaku, jadi aku segera meluncur kemari. Lagi pula kamu juga baru keluar dari rumah sakit, jadi beberapa hari ini kita dirumah Mama saja dulu." Terang Alisya dengan senyuman hangat langsung menarik tangan Adith masuk. "Apa aku akan terusir begitu saja?" Yogi merasa sakit saat dirinya tak diperhatikan. "Oh, masuklah! Kami membutuhkan orang untuk mencuci piring selepas makan nanti." Panggil Adith mempermaikan Yogi. "Apa sekarang zaman makan gratis berarti harus bekerja keras dulu?" Yogi terdengar menangis dari suaranya. "Tentu saja, zaman gini mana ada yang gratis!" Seru Alisya cepat yang membuat ibu Adith tertawa pelan. "Masuklah nak, makan bersama kami dulu!" Panggil ibu Adith setelah memukul Adith dan Alisya dengan pelan karena kejahilan keduanya. "Hanya bibi yang bisa memahami hatiku dengan baik" Yogi memeluk ibu Adith dengan manja. Meski tau keduanya hanya bercanda, hati Yogi merasa sedikit perih melihat tingkah jail keduanya. Seperti itulah persahabatan, kita v seolah tak memiliki hak untuk merasa sakit hati meski perih. Setelah selesai makan, Yogi dan Ayah Adith segera berkumpul di ruang keluarga untuk menonton pertandingan bola. Ibu Adith sedang menyiapkan makanan dan minuman ringan untuk menemani mereka sedang Alisya sedang mencuci piring. "Kau belum selesai?" Adith langsung menaruh dagunya ke bahu Alisya dengan manja. "Adith apa''an sih, malu tau. Tinggal bilas kok!" Alisya berusaha meloloskan diri karena malu dilihat oleh kedua orang tua Adith dan Yogi. "Loh kenapa? Kamu kan istriku." Adith mengatakannya dengan tegas. Alisya hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Adith yang kini terdengar lebih alami. "Sini, biar aku yang lanjutkan." Adith segera menghentikan tangan Alisya untuk melanjutkan pekerjaannya membilas piring dan menggantikan Alisya. "Nggak apa-apa, tinggal dikit lagi kok!" Seru Alisya menolak tawaran Adith. "Benarkah? Kalau begitu, bagaimana kalau kita melakukannya seperti ini." Adith langsung berdiri dibelakang Alisya. Adith mengulurkan tangannya dan menempelkannya ke kedua tangan Alisya untuk membantunya mencuci piring. Adith membuat wajah Alisya langsung memerah dan panas. Melihat Alisya masih bertingkah biasa saja, Adith tersenyum simpul lalu menunduk ke bahu Alisya dan mengecup bahunya dengan lembut kemudian menggigitnya. "Akh, A¡­ Adith? O.. oke, kamu boleh lanjutkan!" Tubuh Alisya bergetar hebat sesaat seolah asam lambungnya meletup-letup kan perasaan aneh dan kejutan listrik mengaliri tubuhnya. Alisya berbalik namun Adith masih menghalanginya dengan kedua tangannya. "Lain kali, jika kau tidak patuh maka aku akan melakukannya dengan lebih¡­" tatapan mata Adith yang bagaikan serigala lapar membuat jantung Alisya akan meledak setiap detakkannya. "Mama?" Panggil Alisya yang membuat Adith berbalik dan melonggarkan pertahanannya membuat Alisya bisa meloloskan diri. Adith tertawa cekikikan melihat sifat Alisya yang menggemaskan. Tak pernah puas dia menggoda Alisya terlebih karena mereka sudah terpisah untuk waktu yang lama. "Berhenti menggodanya dan segera buatkan aku cucu!" Suara ibunya membuat Adith menjatuhkan piringnya di atas westafel. "Mama melihat semuanya?" Adith merasa malu ketika tau ibunya melihat tingkahnya tadi. "Melihat apa? Aku hanya melihat wajah Alisya yang memerah dan mengipas-ngipas wajahnya saat berlari dari dapur. Aku pikir ada apa, melihat kau ada disini dengan menyeringai jahat membuatku paham kalau kau sudah melakukan sesuatu pada Alisya." Ibu Adith datang untuk menambahkan minuman untuk kedua orang yang sedang asik nonton. "Hahhaahhaha¡­" Adith tertawa canggung dan bernafas legah. "Apa kalian sudah melakukannya?" Ibu Adith langsung mendekati Adith dengan penuh antusias. "Ohokk.. ohokkkk!" Adith terbatuk-batuk karena salah menelan ludahnya sendiri. Kali ini piring di tangannya hampir jatuh ke lantai. "Loh kenapa sih? Kalian kan sudah suami istri. Sini biar ibu lanjutkan. Kamu naiklah ke atas. Yogi dan ayahmu biar Mama yang urus. Lagi pula suara pertandingan bola itu cukup ribut." Ibu Adith segera mendorong Adith dengan satu seggolan pinggul Adith sudah meluncur ke sisi lain. Adith masih berdiri kaku tak tahu harus bagaimana, namun mendapatkan dukungan dari ibunya membuatnya semakin malu dan tak bisa melakukan apapun. "Kamu kenapa masih berdiri disitu? Sudah sana naik. Kalau perlu buat yang banyak sampai pagi." Ucap ibu Adith dengan begitu vulgarnya. Kepala Adith meledak dengan perkataan ibunya. "Ma.. dikira kue bisa cetak banyak dan jadi dalam satu malam?" Adith mendengus kesal karena bagaimanapun juga dia masih cukup malu membahas hal seperti itu dengan orang lain. "Kalau tau bikinnya lama kenapa kamu masih menahan diri terus? Atau kamu nggak yakin sama itu?" Ibu Adith sengaja memanas manasi Adith dengan lirikan mata menunjuk ke arah bawah. "Astaghfirullah Ma¡­ istighfar!" Adith segera pergi dengan wajah merah dan kepala yang panas. Adith menyerah karena tak bisa berdebat dengan kata-kata ibunya. Melihat Adith menaiki tangga dengan ekspresi aneh, Ayah Adith datang menghampiri istrinya yang menyelesaikan bilasan piring yang tersisa beberapa saja. "Sepertinya kau sudah melakukan sesuatu pada anak itu." Ayah Adith melihat seringai istrinya yang tampak licik. "Kenapa kemari? Apa pertandingannya sudah selesai?" Ibu Adith tersenyum simpul melihat suaminya datang. "Yogi mendapatkan telpon dan terpaksa pulang, saya tidak suka nonton sendiri. Cepat selesaikan pekerjaanmu dan temani aku." Ucap Ayah Adith yang tidak terdengar sebagai perintah melainkan permintaan. "Baiklah, aku akan menemanimu setelah membersihkan tanganku." Ibu Adith mencari handuk untuk melap tangannya yang basah namun tidak ditemukannya. Ayah Adith yang melihat lap di sebelahnya datang menghampiri istrinya dan membersihkan tangannya yang basah. Saat istrinya menunduk untuk melihat tangannya, suaminya mengecup hangat dahi istrinya. "Kau selalu saja tau untuk bersikap romantis." Ibu Adith memeluk suaminya dengan sangat erat. "Karena dengan begitu rasa cintamu padaku takkan pernah pudar, iya kan?" Tanya suaminya sembari membelai lembut rambut istrinya. Ibu Adith mengangguk pelan dengan penuh syukur. Meski mereka sudah menikah selama hampir 30 tahun, keharmonisan keduanya tak pernah hilang. Ayah Adith sangat mencintai istrinya yang terus menemaninya di setiap masa sulit. Adith yang berdiri di balkon rumahnya menatap langit malam berbintang yang nampak indah dan cerah membuatnya terus mengingat perjalanan waktu yang sudah dia lalui tanpa kehadiran Alisya disisinya. "Puuffftt, hatiku terlalu lemah tanpamu Sya!" Adith berbalik badan dan menyandarkan pingganya ke balkon kamarnya. Tepat saat itu, Alisya yang tak tahu kalau Adith sedang berada disana keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk lain. Alisya yang hanya memakai sehelai handuk dengan tubuh dipenuhi dengan titik-titik air membuatnya tampak indah melebihi rembulan yang ditemani cahaya bintang. "Kau tampak sangat seksi jika seperti ini." Adith memeluk Alisya dari belakang. Mencium aroma tubuh Alisya diantara bau sabun yang sangat harum. "Kau sudah mandi?" Alisya bertanya dengan memeluk erat tangan Adith. "Sudah, tapi aku ingin mandi bersamamu setelah kita melakukannya." Adith mengangkat tubuh Alisya ke atas ranjang. Melihat ekspresi aneh Alisya saat Adith menempatkannya di atas ranjang membuat Adith khawatir. "Kenapa? Aku melukai tubuhmu?" Tanya Adith panik karena Alisya tak pernah menunjukkan ekspresi kesakitan dihadapannya. "Pe.. perutku keram." Alisya meringkuk memegang perutnya yang keram. "Lampu merah?" Tebak Adith yang langsung di anggukkan cepat oleh Alisya. "Ya ilahi robbi¡­.. aku nunggu 7 tahun, nahan 7 jam sekarang harus sabar lagi selama 7 hari." Adith menepok jidatnya dengan keras. Alisya hanya bisa tertawa di tengah sakit yang dirasakannya. Meski mengeluh, tak tahan melihat Alisya kesakitan membuat Adith dengan sabar memberikan pijatan lembut perutnya hingga pagi hari. Chapter 388 - Itu Karena Aku Bersamamu Alisya yang terbangun dengan tubuh yang sudah memakai piyama lengkap menutupi tubuhnya membuatnya bingung. Ia ingat betul kalau selamam keram diperutnya membuatnya tertidur dalam keadaan hanya memakai handuk saja. "Apa Adith yang memakaikanku pakaian ini?" Gumama Alisya yang langsung membuat wajahnya memerah saat membayangkan hal tersebut. Di atas meja Alisya sudah melihat sekotak pembalut yang cukup mahal dan secangkir teh beraroma jahe. Teh jahe bisa menjadi obat nyeri haid alami karena membantu melemaskan otot-otot yang tegang serta menghilangkan rasa nyeri selama haid. "Aromaterapi?" Alisya mencium aroma terapi di bagian bawah perutnya. Menggosokkan minyak aromaterapi mawar, lavender, cengkeh, dan kayu manis ke daerah yang sakit dapat meredakan kram menstruasi secara signifikan. "Bagaimana dia mengetahui segala hal tentang ini? Pantas saja semalam aku merasa nyaman hingga tertidur meski keram di perutku rasanya sangat melilit." Alisya merasa begitu terharu dengan perlakuan kecil Adith. Alisya dengan cepat menghabiskan teh jahenya. Sebelum turun Alisya segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan memakai pembalut wanita agar tidak bocor. Dia yang setiap kali akan mengalami menstruasi memang biasanya pada hari pertama selalu saja merasakan keram di perutnya namun dihari pertama itu selalu saja jadwalnya belum langsung lancar. "Kau sudah bangun?" Adith sudah siap dengan celemeknya sedang memasak sesuatu untuk mereka dengan ibu Adith yang menyiapkan makanan lain dan mengatur meja. Alisya mengangguk malu "Maaf Ma, Alisya bangunnya telat." "Tidak apa-apa Sya, gimana perut mu? Sudah agak mendingan?" tanya Ibu Adith dengan khawatir dan menariknya turun. "Sudah Ma, berkat Adith!" Alisya tersenyum manis. "Sudah tugas laki-laki untuk melakukan hal itu, jangan hanya mau enaknya saja!" Ayah Adith yang sedang membaca koran di meja makan ikut berkomentar. "Hah?" Adith dan Alisya seketika bingung dengan komentar Ayahnya. "Ayo duduk, Adith sedang membuatkan salmon bakar untukmu." Ibu Adith lalu menuangkan meniuman untuk suaminya. "Salmon dan ikan air dingin lainnya kaya akan jenis asam lemak yang dikenal sebagai omega-3. Salmon dapat membantu mengurangi peradangan, menghilangkan rasa sakit termasuk rasa sakit kram menstruasi." Adith segera menyediakan ikan itu kehadapan Alisya. "Selain sebagai sumber protein yang sehat, salmon kaya akan vitamin D dan B6. Vitamin D membantu memudahkanmu untuk menyerap kalsium, yang berkaitan erat dengan nyeri haid. Sedangkan vitamin B6 dapat membantu mengatasi nyeri payudara." Ayah Adith ikut menjelaskan setelah menutup korannya bersiap untuk makan. "Dan seperti inilah mereka, mereka selalu tau hal-hal kecil untuk orang yang mereka cintai." Ibu Adith duduk dengan manis. "Hal kecil? Ini bukan hal kecil lagi, tapi ini terlalu mendetail." Batin Alisya melihat ikan salmon yang dimasak dengan cara yang mewah tersebut. "Aku harap kamu menyukainya." Adith duduk di sebelah Alisya. Alisya segera menyubit ikan salmon itu dan memasukkannya kedalam mulutnya. "Ummmh?" Mata Alisya membelalak menatap kepada Adith. "Ada apa? Tidak enak? Kalau begitu jangan dimakan, aku akan berusaha untuk masak dengan baik lagi nanti." Adith segera menarik piring Alisya namun Alisya menjauhkan piringnya. "Apa kau tidak melihat ekspresinya? Itu bukan karena tidak enak, tapi karena sangat enak dan terharu. hahahahah" ibu Adith tertawa melihat sikap ekpresif Alisya. "Apa Adith memang jago masak Ma?" Tanya Alisya tak percaya dengan masakan Adith. "Pufttt¡­ jika kau suka, aku akan memasakkan makanan apa saja yang kamu mau. Kamu tinggal bilang saja." Adith membelai lembut kepala Alisya dan kembali menyuapinya. Mereka makan dengan penuh canda dan tawa. Rumah yang dulu dirasakan kedua orang tua Adith begitu hampa dan sunyi kini begitu cerah dan hangat sejak kembalinya Alisya di kehidupan mereka. "Hari ini kau mau kemana?" Tanya Adith kepada Alisya yang sedang mencuci piring. Mereka melakukan pekerjaan itu secara bersama-sama dengan Alisya yang memberi sabun pada piring juga gelas dan Adith yang membilasnya. "Aku ingin ke rumah sakit menemani Akiko pergi memeriksakan kesehatan Bapak. Hari ini apa kamu akan ke perusahaan?" Alisya mengoper piring kepada Adith dengan cepat. "Ya, tapi sebelum itu aku akan mengantarmu ke rumah sakit terlebih dahulu." Jawab Adith melanjutkan pekerjaannya membilas gelas. "Aku bisa pergi sendiri, kau tak perlu repot-repot." Ucap Alisya tidak ingin merepotkan Adith. "Aku suamimu" Adith mengambil handuk untuk mengeringkan tangan mereka berdua dengan memeluk Alisya dari belakang. Alisya hanya bisa tersenyum dengan sikap Adith yang selalu saja tau bagaimana cara untuk meluluhkan hatinya. Beberapa saat kemudian Alisya kembali naik ke atas untuk mengambil tasnya dan kacamata serta gigi palsu untuk penyamarannya. Begitu ia membuka pintu, Adith terlihat sedang memasang baju kemejanya. Tubuh indahnya yang kokoh dan bidang terpampang jelas di hadapan Alisya. Baru kali itu dia melihat Adith setelah sekian lama terpisah, dan tubuh itu semakin matang dan indah. Alisya menutup matanya untuk menyadarkan dirinya sendiri. "Ini milikmu, kenapa kau malah takut untuk menatapnya?" Adith sudah berada di hadapannya dengan cepat dan menuntun tangan Alisya untuk memegang tubuhnya. Alisya tanpa sadar mengelus setiap lekukan Adith dengan begitu terpesona. Dada bidang dan kulit yang halus licin serta otot-ototnya yang kokoh benar-benar magnet yang sangat kuat. Melihat Adith yang tersenyum membuat Alisya malu dan ingin melarikan diri. Adith dengan cepat menghentikannya dan menutup pintu lalu menindih tubuh Alisya dan mencium bibirnya dengan lembut. "Aku mencintaimu Alisya!" Adith mengecup lembut dahi Alisya setelah kembali mengendalikan dirinya mengingat kondisi Alisya. Alisya memeluk Adith dengan erat. Hangat tubuh Adith yang secara langsung menyentuh pipinya membuat Alisya sadar bahwa ini bukanlah mimpi karena akhirnya mereka bisa kembali bersama. "Aku harap kali ini kau tidak menyembunyikan apapun lagi dariku meski dalam keadaan bahaya sekalipun, aku takkan sanggup jika harus terpisah denganmu." Adith memegang dagu Alisya untuk dapat melihat wajahnya. "Aku juga, aku tak ingin terpisah denganmu lagi. Aku ingin kau percaya padaku sepenuhnya Dith. Seperti aku mempercayai mu" Ucap Alisya dengan sangat tulus. Adith mengangguk pelan kembali mengecup dahi Alisya dengan penuh perasaan. Adith segera mengantar Alisya ke rumah sakit Karan menggunakan mobil sportnya. "Sepertinya kau sudah tidak mabuk kendaraan lagi." Ucap Adith begitu sampai di depan rumah sakit. "Itu karena aku bersamamu. Cuuppp!" Adith terkejut dengan ciuman mendadak yang diberikan oleh Alisya. "Aku akan menjemputmu sebentar!!" Teriak Adith kepada Alisya yang hanya mendapatkan lambaian Alisya yang terus melarikan diri karena malu. Alisya yang mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Adith dengan ciuman sederhana segera membuat jantung Adith berdetak dengan sangat cepat. Chapter 389 - Jangan Pergi "Bruuukkkh" Akiko yang menabrak seseorang dengan cepat meminta maaf. "Ah¡­ Maaf, Maaf saya nggak senga¡­ ja!" Akiko tak menduga kalau dari sekian banyak orang dirumah sakit itu malah Karan lah yang ia tabrak. "Kau baik-baik saja?" Tanya Karan dengan khawatir. "Iya, aku baik-baik saja!" Tubuh Akiko kaku tak bisa bergerak karena Karan masih menahan pinggangnya dengan jarak yang sangat dekat. Menyadari dirinya masih memegang pinggang Akiko, Karan langsung melepaskan pinggang Akiko dengan cepat. "Jangan pergi!" Seorang anak kecil laki-laki nampak memegang erat tangan Akiko. Melirik karan sejenak, Akiko menunduk untuk menyamakan tingginya dengan anak tersebut. "Tidak bisa, aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan dan tugasku disini. Jadi aku harus pergi." Akiko bangkit dan segera berjalan melewati Karan yang terdiam menatap punggung Akiko. "Jangan pergi, aku tau kalau kau pergi lagi kali ini, kau pasti takkan kembali lagi bukan?" Ucap anak itu dengan tegas menghentikan Akiko. Karan langsung kaget mendengar ucapan anak laki-laki itu. "Jika kau pergi, bagaimana denganku?" Anak laki-laki itu berusaha keras untuk menahan tangisnya yang sudah menggenang di matanya. Akiko sudah bertekad untuk pergi sehingga dia tidak menoleh sedikitpun dan kembali melangkah dengan yakin. "Jangan pergi." Kali ini bukan suara seorang anak kecil, melainkan suara seseorang yang lebih dewasa. Suaranya berat dan serak membuat Akiko menoleh dengan wajah terkejut. "Kakak mengatakan sesuatu?" Tanya Akiko bingung takut kalau ia salah mendengar. Karan yang terdiam membuat Akiko tersenyum lucu."Lupakan, mungkin aku hanya salah dengar saja!" Akiko kembali menoleh dan melangkah pergi lalu tiba-tiba tangannya sudah di pegang oleh Karan yang menghentikan Akiko dengan tatapan tajam. "Aku mencintaimu, takkan aku biarkan kau pergi lagi dari sisiku kali ini. Aku tak ingin menyesal untuk yang kesekian kalinya karena hanya diam dengan perasaan ku saja." Ucap Karan dengan suara pelan namun bisa didengar oleh Akiko dan anak laki-laki itu dengan sangat jelas. "Kakak juga ingin bermain rumah-rumahan?" Seorang anak perempuan datang menghampiri Karan dan Akiko. "Hah???" Karan menatap bingung. "Jadi gimana nih? Masa sih pacar kak Akiko ada banyak. Kalau kakak Karan juga ikutan main aku pasti kalah dong." Ucap anak laki-laki yang sebelumnya menghentikan Akiko. "Tenang saja, kamu masih punya pesona dengan umurmu yang masih muda, beda dengan kak Karan yang sudah tua!" Seorang anak laki-laki yang lain mencoba untuk menghibur temannya. "Huuuhhh???" Karan semakin tak mengerti dengan maksud mereka. "Puhahahahhahahahaah!!!! Uwahahhaahahhaaa" Alisya tertawa dengan keras hingga semua orang yang berada di rumah sakit itu menoleh kearahnya. "Huhh,, huuh¡­ Karan! Kau lucu sekali, mereka sedang bermain rumah-rumahan dengan memperebutkan Akiko dan kau tanpa sengaja masuk kedalam drama mereka." Penjelasan Alisya segera membuat Karan malu dan wajahnya menggelap. Karan tak menyangka kalau anak-anak itu sedang bermain peran dengan Akiko sehingga tanpa sengaja ia mengatakan semuanya kepada Akiko. "Lu¡­ lupakan yang aku katakan tadi." Ucap Karan menoleh dan berjalan melewati anak-anak itu serta Alisya. Alisya dengan cepat menyuruh anak-anak itu kembali berakting dengan sangat baik. "Kakak Karan sudah mengacaukan permainan kita, padahal hari ini terakhir kita main bersama kak Akiko." Ucap seorang anak perempuan yang berteriak dengan kesal. Mendengar ucapan anak itu membuat Karan kembali menghentikan langkahnya. "Jadi habis dari sini kamu akan langsung kembali?" Tanya Alisya dengan melirik ke arah Karan. Mengerti akan maksud Alisya, Akiko langsung ikut dalam permainannya. "Iya, karena A chan sudah ada disini. Aku sekarang bisa pergi dengan perasaan tenang dan tidak mengkhawatirkan paman lagi." Ucap Akiko singkat. "Yah, Kak Akiko¡­ apa kakak tidak bisa lebih lama lagi disini?" Bujuk anak laki-laki yang menghentikan Akiko di ikuti semua anak yang lainnya. Mendengar Akiko tetap bersikeras meski dengan semua bujukan itu, Karan kembali menoleh dan meraih pundak Akiko dengan kasar. "Kau benar-benar akan pergi?" Tanya Karan dengan rahang yang mengeras. "Hentikan, kau bukan anak kecil yang ikut-ikutan bermain peran lagi." Akiko berusaha melepaskan tangan Karan dari bahunya namun Karan enggan untuk melepasnya. "Jawab pertanyaan ku, apakah kau akan benar-benar pergi?" Tanya Karan sekali lagi dengan genggamannya pada bahu Akiko semakin erat. "Aku pergi atau tidak itu bukan urusanmu. Lepaskan aku, kau bahkan tak peduli dan selalu saja berkata dengan sesuka hati lalu menelannya kembali." Akiko yang mulai kesal dengan sikap Karan akhirnya meluapkan semua perasaanya. "WoW!" Alisya bergumam takjub melihat keberanian Akiko untuk pertama kali. "Kenapa? Kau ingin berkata lagi untuk melupakannya? Apa kau tipe laki-laki bajingan seperti ini yang selalu dengan mudahnya berkata-kata lalu bertingkah seolah tak terjadi ap¡­. Ummmhhh" Karan yang tak tahu harus mengatakan apa-apa dengan cepat membungkam mulut Akiko dengan bibirnya. "Tidaaakkkkkk!!! Dokter Karan sudah melakukan pelecehan, ayo panggil polisi kemari." Alisya dengan segera menjauhkan para anak-anak. Anak-anak yang tidak tahu apa-apa itu dengan segera berhamburan berlarian mencari polisi yang dikatakan oleh Alisya. Karan yang mencium Akiko lorong tempat bermain anak-anak tentu saja tak banyak yang melihat namun beberapa orang tua yang berada disekitar sana mengawasi anak-anaknya dengan segera membelalakkan mata dan mulut terbuka lebar sedang tangannya menutup mata anaknya. "Kali ini, apa maksud dari ciumanmu? Apa kau sedang mempermainkan aku lagi?" Akiko menangis karena tak tahu harus berekasi seperti apa lagi dengan tingkah karan saat ini. Ia takut kalau ia kembali salah berharap dan hanya mendapatkan sakit hati. Namun jauh di lubuk hatinya ia harap kalau kali ini bukanlah sebuah mimpi. "Maafkan aku karena tidak jujur padamu¡­" Karan memegang dagu Akiko yang tertunduk menangis sesegukan. Mengangkat wajahnya untuk bisa menatap matanya yang sipit. "Aku mencintaimu Akiko!" Karan sekali lagi mengatakannya dengan suara lembut dan hangat. Menghapus air mata Akiko dan mencium bibir Akiko sekali lagi dengan penuh rasa cinta dan kelembutan. Merasakan tangan Karan yang semakin menarik pinggangnya untuk mendekat membuat Akiko memeluk erat tubuh Karan. "Kyaaaaaahhh" suara para ibu-ibu histeris melihat adegan romantis dokter Karan yang terkenal baik hati dan ramah serta tampan rupawan itu seketika melelehkan hati mereka. "Apa aku sedang menyaksikan drama korea secara laif? Nyata gitu?" Ucapnya berbahasa inggris dengan logat daerah. "Live mbak¡­" seseorang membenarkan. "Coba suami bisa kayak dokter Karan yah, aku gantung daster aja setiap hari. Hahahahaha" seorang ibu lainnya bercerita dengan tertawa sangat heboh. Ada yang merasa iri melihat kejadian tersebut, ada pula yang mencak-mencak bahkan mengacak-acak rambut anaknya membayangkan dirinya dan suami melakukan hal seromantis itu. Chapter 390 - Licin Amat "Ayo, ayo¡­ pak polisi pelaku pelecehannya ada disana." Anak-anak yang berlarian sebelumnya kembali membawa seseorang. "Oke, Oke! Pelan, pelan. Nanti kalian jatuh dan terluka." Ucap orang itu dengan sangat khawatir. "Nanti pelakunya melarikan diri pak polisi." Tarik yang lainnya ingin segera sampai kehadapan Akiko. Saat mereka sampai, Karan baru saja selesai melepas ciumannya kepada Akiko dan masih memeluk tubuhnya dengan erat. "Itu dia pelakunya!" Tunjuk mereka secara bersamaan kepada Karan yang masih melingkarkan erat tangannya pada pinggang Akiko. "Ayah polisinya?" Karan begitu terkejut melihat kalau yang dibawa oleh mereka adalah Ayahnya. Melihat situasi canggung diantara keduanya dan tangan Karan, Ayahnya paham akan apa yang baru saja terjadi. "Jadi kau sudah melakukannya dengan baik." Ayah Karan menghampiri anaknya dan menepuk pundaknya penuh rasa bangga. "Kenapa Ayah juga ikut-ikutan bermain peran dengan mereka?" Tanya Karan sambil meringis sakit karena pukulan keras Ayahnya. "Hah? Apa kau tidak tahu kalau hari ini adalah hari anak nasional?" Ayahnya kembali bertanya kepada Karan. "Hari anak Nasional? Jadi karena itu kalian semua terlihat menuruti semua keinginan mereka?" Tanya Karan tak percaya kalau Ayahnya juga bisa bersikap seperti kekanakkan. "Dasar bodoh, itu karena kau tak nikah-nikah dan sampai sekarang aku masih tak mendapatkan cucu." Bentak Ayahnya dengan kesal yang langsung membuat orang-orang disekitar mereka tertawa lucu. "Anak-anak tangkap dan berikan hukuman pada penjahat itu." Alisya kembali memerintahkan mereka yang langsung dengan cepat mereka menyerbu Karan hingga terjatuh ke lantai. Mereka menghujam Karan dengan semua alat yang ada di tangan mereka untuk menghukum Karan dan menindihnya hingga Karan terus tertawa geli karenanya. "Jadi, apakah kau siap untuk menerima anak saya?" Ayah Karan bertanya dengan serius kepada Akiko. Akiko yang terdiam dengan pertanyaan ayah Karan serta aura serius yang menyebar membuat anak-anak itu ikut berhenti dan terdiam mendengar jawaban dari Akiko. "Ada apa?" Tanya seorang anak tak mengerti dengan situasinya. "Sussttt¡­ jangan ribut, polisi sedang mengintogasi kak Akiko." Seorang anak lain dengan cadelnya menghentikan temannya untuk tidak bersuara. "Mengin tro gasi dek¡­" Karan mencoba untuk membenarkan. "Diam. Plakkk!" Tamparan keras mengenai pipi Karan. "Penjahat nggak boleh ngomong kalau nggak di izinin." Bentak yang lainnya dengan tatapan tajam. Karan seolah merasa dirinya benar-benar penjahat sampai harus mendapatkan tamparan dari tangan yang mungil. "Sialan ni bocah2! Masih kecil udah ganas gini, gimana besarnya?" Batin Karan sambil mengelus-elus pipinya yang terasa perih di satu titik kecil. "Baiklah, kamu tak perlu menjawabnya sekarang. Masih ada waktu banyak untuk mu berpikir." Ayah Karin tidak ingin memberikan beban kepada Akiko karena pertanyaanya. "Tidak Om¡­ Aku.." Akiko menatap Karan dan ragu-ragu. Alisya masih belum ingin terlibat karena ia ingin agar Akiko bisa lebih jujur juga dengan perasaannya kepada Karan dan membiarkan Akiko untuk memberanikan diri. "Anak-anak, aku bukannya penjahat." Karan mencoba menjelaskan kepada mereka dengan suara lembut. Tatapan mata Karan terhadap Akiko membuat mereka sedikit gundah. "Kakak mencintai kak Akiko?" Seorang anak laki-laki bertanya dengan polosnya. "Kau masih kecil tapi sudah tau hal seperti ini?" Karan merasa anak-anak ini sudah salah dalam memilih tontonan. "Aku sering liat ayah menatap ibu seperti tatapan kakak ke kak Akiko. Dan setelah aku tanya katanya itu karena ayah mencintai ibu. Itu artinya kakak juga sepeti itu kepada kak Akiko." Anak itu menerjemahkan nya dalam bentuk yang sederhana membuat Karan merasa gemas. "Bisa dibilang seperti itu." Kara bangkit dari posisinya dan dengan setengah menunduk dia segera membisikkan sesuatu kepada anak-anaknya itu. Mereka dengan ceria kembali berhamburan kekiri dan kekanan. Wajah ceria mereka membuat Alisya, Akiko dan Ayah Karin bingung. "Apa yang mereka lakukan?" Tanya Akiko kebingungan. "Ajaran sesat apa lagi yang kau lakukan pada mereka?" Tatap Ayah Karin dengan pandangan menuduh kepada Karan. Karan hanya berdiri mematung dan tersenyum menunggu anak-anak itu kembali. "Woyy¡­ kalian mau kemana?" Alisya menangkap salah seorang anak namun lepas seperti ikan lele yang sedang kegirangan. "Licin amat!" Batin Alisya takjub dengan pergerakan anak-anak itu yang sedang menggila. Dua menit kemudian mereka kembali dengan teriakan heboh khas anak-anak. Karena kehebohan mereka, semua orang jadi berkumpul untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi saat itu. Anak-anak itu segera berjejer satu persatu dengan bunga yang berbeda-beda ditangan mereka satu persatu membentuk pagar menuju ke arah Akiko. "Ehhh?" Ayah Akiko di depak dengan satu dorongan dari anak-anak itu agar tak menghalangi jalan Karan. "Dalam satu detik anak-anak itu sudah berubah pilihan. Mereka suka sekali melakukan sesuatu yang baru bagi mereka." Gumam Alisya yang membuat Ayah Karin teriris karena ia selalu jadi Favorit anak-anak itu ketika bermain. "Apa yang akan dilakukan anak bodoh itu sebenarnya?" Maki Ayah Karin melihat tingkah anaknya yang masih berdiri hingga anak-anak itu siap di posisinya masing-masing. "Calon laki-laki disyilahkan mengambil tyempat" seorang anak dengan suara nyaring dan cadel memulai perannya. Karan berjalan dengan setiap langkah berhenti untuk mengambil bunga yang disodorkan oleh para anak-anak. Akiko masih belum paham dengan peran yang sedang dimainkan oleh Karan. Secara perlahan dan pasti, tangan Karan semakin dipenuhi oleh bunga dan semakin dekat dengan Akiko. "Ehemm¡­ Nona Akiko!" Karan berkata dengan lantang. Semua orang sangat menikmati pertunjukan ini seolah mereka sedang melihat pementasan drama romantis. "Y¡­ Ya?" Jawab Akiko dengan gugup. "Maukah kau menikah denganku? Berada di dekatku dan berjalan di sisiku baik susah maupun duka dan juga bahagia? Bersama menjalani kehidupan ini hingga tua bersama-sama? Maukah kau melahirkan anak-anak manis seperti mereka dan sebanyak mereka?" Karan berkata dengan lembut penuh wibawa dan kata-kata yang lancar. Karan lalu menyodorkan bunganya kepada Akiko dengan penuh harap. Akiko terperanjat kaget tak percaya. Ia menampar pipinya sendiri karena masih berpikir kalau ia sedang mimpi dan kakinya melemas hampir jatuh. "Jangan tampar lagi, kau sedang tidak bermimpi saat ini. Bukankah aku sudah mengatakannya tadi? Aku harap kau mau menjawabnya sekarang." Bisik Karan kepada Akiko dengan tatapan penuh kasih. "Aku mau!" Akiko langsung memeluk Karan dengan erat membuat Karan tertawa bahagia dan memeluk tubuh Akiko, mengangkatnya dan berputar 360 derajat dengan penuh bahagia. Anak-anak bersorak sorai dengan penuh ceria melihat apa yang mereka lakukan berhasil. Alisya langsung bertepuk tangan dengan semangat di ikuti oleh seluruh orang yang berada dirumah sakit itu. Ayah Karan tersenyum-senyum penuh haru melihat Karan yang akhirnya bisa membuka diri setelah sekian lama menutup diri. Chapter 391 - Duo Serigala Sialan "Bagaimana hasil pemeriksaannya?" Alisya segera menghampiri Ayahnya yang baru saja menyelesaikan seluruh rangkaian pemeriksaannya. "Dia baik-baik saja, jantungnya juga sudah terlihat lebih sehat sekarang." Seorang dokter ahli radiologi memberikan hasil pemeriksaannya kepada Alisya. "Syukurlah, jadi sekarang harusnya bapak tidak banyak pemikiran lagi. Bapak harusnya menenangkan pikiran bapak dan serahkan urusan kantor kepada Ryu saja." Alisya merajuk dengan mulut bersungut-sungut yang membuat dokter dan Ayah Alisya tertawa gemas. "Benar yang dikatakan oleh nona Tuan, saya siap untuk mengerjakan semua perintah tuan dan tuan cukup duduk dengan tenang saja!" Ryu segera membenarkan ucapan Alisya karena tak ingin menyusahkan ayah Alisya. "Urusan merawat juga kan ada Akiko paman!" Akiko dengan cepat memberikan pendapatnya. "Pemikiran bapak akan tenang kalau setidaknya kamu segera memberi bapak seorang malaikat kecil. Kau yang sekarang sudah terlalu tua untuk dimanja-manja lagi, terlebih karena rahangmu terlalu keras." Ucap ayahnya dengan tertawa pelan. "Bapakk¡­ itu kan" Baru saja Alisya ingin berasalan, tiba-tiba seseorang membuka pintu dan masuk. "Tenang saja Pa, aku akan memastikan Alisya untuk segera memberikan mu cucu!" Adith tersenyum dengan lebar saat mengatakan hal tersebut. "Adith? Kenapa ada disini? Dirumah sakit gimana? Nggak ada shift?" Alisya menyerbu Adith dengan banyak pertanyaan. "Sudah aku bilang kalau aku akan menjemputmu pulang nanti." Adith membelai lembut rambut Alisya. Melihat Adith berada disana, dokter yang memeriksa Ayah Alisya sebelumya segera bangkit dengan kaget. "Dokter Adith? Wah suatu kebanggan bagi saya bisa bertemu dengan anda. Saya tak menyangka kalau Anda adalah menantu dari tuan Lesham." Ucapnya dengan tatapan penuh takjub. "Tidak usah terlalu sopan dok, saya hanyalah seorang suami sederhana dari seorang wanita yang sangat luar biasa." Adith memeluk Alisya erat. "Maafkan saya karena tidak mengatakan itu sebelumnya. Dia benar anak menantu saya, suami dari putri tercintaku Alisya." Ayah Alisya menatap anaknya penuh kasih. "Anda sangat beruntung pak, tuan Adith dikenal sangat jenius dalam melakukan setiap operasi saraf yang fatal. Kemampuannya itu membuat dia disebut sebagai si Jenius Ajaib dengan tangan Malaikat." Ucapnya seolah sangat mengagumi Adith. "Jenius Ajaib? Yang ada malah Jenius Yang Nakal. Sifat jail dan mesumnya nggak ketulungan." Batin Alisya tersenyum simpul mendengar pujian dokter tersebut. "Waaahh¡­ Kak Adith ternyata dari dulu tak banyak berubah, selalu saja menjadi orang yang luar biasa." Puji dengan sifat cerianya. "Meski begitu, dia selalu kalah selangkah dari nona." Ucap Ryu datar. Mereka semua tertawa riuh mendengar Ryu yang berkata dengan ekspresi yang sangat serius. "Kalian pasti lapar, aku memiliki satu tempat untuk makan yang terkenal dan sangat sehat." Ajak Adith cepat sebelum mereka pulang. "Memangnya kamu tidak kerumah sakit?" Ayah Alisya tak ingin merepotkan anak menantunya tersebut. "Tidak, saya masih punya beberapa jam untuk menemani mu makan Pa." Jawab Adith cepat yang langsung membuat Ayah Alisya senyum. "Ya sudah, mari kita pergi makan." Ucap Ayah Alisya yang langsung membuat Alisya dan Akiko tersenyum-senyum senang. Ketika mereka berjalan keluar, mereka bertemu dengan Ayah Karin dan Karan yang nampak bersiap akan melakukan operasi. "Maaf karena tidak bisa menemanimu dalam pemeriksaan tadi." Ucap Ayah Karin dengan penuh tulus kepada sahabat lamanya tersebut. "Tidak masalah, aku punya lebih dari sekedar orang yang bisa menemaniku lagi sekarang." Ayah Alisya melirik 2 orang wanita yang sedang memeluknya dengan erat. "Pufftt hahahahha¡­ kau benar juga, sepertinya aku tak perlu terlalu mengkhawatirkanmu sekarang!" Ucap Ayah Karan menepuk pundak Ayah Alisya dengan bahagia. Mereka segera berpamitan dengan Ayah Karin untuk segera mencari makan untuk Ayah Alisya yang mulai keroncongan. "Ah .." Akiko melepas tangannya dari pamannya saat satu lengan yang lain ditarik oleh Karan dengan lembut. "Paman, apa aku boleh membawa Akiko keluar malam ini?" Tanya Karan dengan memeluk erat Akiko. Melihat wajah Akiko yang memerah malu membuat ayah Alisya paham akan apa yang dimaksudkan oleh Karan. "Tentu, selama yang bersangkutan juga tidak keberatan." Ucap Ayah Alisya mengizinkan dengan senang hati. "Cup!" Karan mencium pipi Akiko dihadapan mereka semua. Ryu dan Adith yang masih belum tahu kejadian sebelumnya hanya bisa mengernyitkan dahinya tak percaya. "Tunggu aku menjemputmu nanti, sekarang temani pamanmu dulu karena aku juga masih harus melakukan orperasi. Selesai dari sini aku akan menjemputmu dengan segera." Bisik Karan yang kemudian melepaskan tangannya dari pinggang Akiko. Akiko langsung berlari ke Alisya dengan menutup wajahnya yang memerah malu. "Sepertinya paman ingin mendengar ceritamu saat makan nanti." Ayah Alisya membelai rambut Akiko dengan lembut. Akiko yang sudah merawat dan menjaganya selama ini membuatnya menganggap Akiko sebagai putri keduanya. Adik dari dari Alisya yang juga sangat disayanginya. Karin yang baru saja datang langsung mendekati Alisya dengan tatapan bingung. "Apa dia salah makan? Kenapa sikapnya pada Akiko tiba-tiba terlihat seromantis itu?" Perntanyaan Karin membuat Akiko senyum-senyum sendiri. Melihat senyuman Akiko, Karin membelalak tak percaya. "Yang benar? Kenapa bisa? Ada apa? Sejak Kapan? Kok aku nggak tau? Itu gimana ceritanya?" Karin segera menyerang Akiko dengan banyak pernyataan yang tak pernah ia sangka kalau kakaknya yang sudah berumur 32 tahun itu akhirnya membuka diri. "Kamu kelamaan jomblo, jadi nggak tau apa yang sudah terjadi." Alisya langsung menyindir Karin dengan kejam sambil berlalu pergi. Ia menarik Akiko untuk tidak menjawab pertanyaan Karin yang membuat Akiko tak tahu harus bagaimana. "Aku harap kamu segera menemukan jodohmu secepatnya." Lanjut Adith dengan tersenyum licik. Ryu melewati Karin dengan ragu-ragu dan hanya menunduk sopan sebelum pergi. "Dasar Duo srigala sialan! Awas yah, akan aku buktikan kalau aku juga bisa mendapatkan jodoh dalam waktu dekat." Karin memberontak emosi memaki Adith dan Alisya. Dia lalu berbalik pergi dengan membanting kakinya kesal melihat tingkah Alisya yang pergi dengan melambaikan tangannya. Ryu kembali menoleh memperhatikan punggung Karin yang semakin menjauh. "Maafkan aku Karin, saat ini mungkin aku takkan bisa jujur padamu. Aku mungkin orang yang pengecut, aku bukanlah orang yang pantas buatmu. Seorang preman yang hanya kebetulan bertemu dengan keluarga yang sangat baik hati." Gumam Ryu menunduk dengan pasrah tak bisa jujur dengan perasaanya kepada Karin. "Meski jika Karin yang mendatangimu?" Tanya Adith memancing Ryu setelah tak sengaja mendengar ucapan Ryu. "Aku.." Ryu tak tahu harus berkata apa mendengar pertanyaan Adith. "Kau sudah pasti tau jawabannya. Dengarkan kata hatimu agar kau tak menyesal nanti. Lihat aku." Adith sengaja memberikan dirinya sebagai contoh yang hampir saja membuat dirinya menyesal seumur hidup. Chapter 392 - Mencabut Tulang Belakangmu "Maaf aku tidak bisa menemani kalian lebih lama, setelah selesai dari rumah sakit aku akan menjemputmu pulang!" Adith yang mengantar mereka pulang setelah selesai makan segera meminta maaf karena tidak bisa lebih lama bersama mereka. Adith yang mendapat telpon dari rumah sakit harus segera kembali karena banyaknya pasien kecelakaan beruntun yang terjadi pada jalan tol. "Tidak apa-apa, aku bisa kembali sendiri saja kerumah." Ucap Alisya agar Adith tidak perlu mengkhawatirkannya. "Kalau begitu tunggulah aku di apartemen, pulanglah setelah kau selesai merawat Bapakmu dulu." Pinta Adith mengelus lembut rambut Alisya. "Hati-hati dijalan." Ucap Alisya mengantarkan kepergian Adith di depan gerbang. Adith dengan segera memacu kencang mobilnya menuju kerumah sakit. Sesampainya disana perawat yang selalu bekerja sama dengannya sudah datang menjemputnya dengan membawakan Jas putih milik Adith. "Jelaskan situasinya." Ucap Adith dengan berjalan cepat sembari memakai pakaiannya. "Beberapa pasien yang mengalami kecelakaan ada sekitar tiga orang yang mengalami cedera pada bagian otak dan tulang belakangnya. Terjadi kerusakan atau luka pada saraf yang terletak di saluran (kanal) tulang belakang salah seorang pasien." Perawat itu terus menjelaskan seluruh situasi pasien kepada Adith sembari mempercepat langkahnya untuk mengejar Adith. "Apa ruang operasinya sudah disiapkan?" Tanya Adith mulai memasuki pintu lift. "Beberapa ruang sudah hampir penuh, kita hanya punya ruang yang tidak cukup memiliki alat-alat yang memadai untuk melakukan operasi." Seru perawat tersebut sama-sama berhenti berjalan setelah keluar dari lift. "Jalankan Emergency Operation, kita tidak bisa menunggu sampai ruang operasi lainnya siap karena penanganan cedera pada saraf tulang belakang harus segera dilakukan. Jika tidak, akan memengaruhi lama masa pemulihan, memperburuk kondisi, dan menimbulkan komplikasi." Jelas Adith segera berjalan kembali untuk melihat kondisi pasien. Setelah bertemu dengan pasien, tanpa basa basi lagi Adith langsung melakukan pemeriksaan fisik, termasuk tes saraf, dengan menguji kekuatan otot dan kemampuan pasien merasakan rangsangan (misalnya sentuhan ringan atau tusukan benda tajam berukuran kecil seperti peniti). Setelah melakukan sejumlah prosedur yang harus ia lakukan sebagai seorang dokter, ruang yang sudah disiapkan oleh sang perawat segera membuat Adith membawanya masuk ke dalam ruang operasi dan melakukan operasi tersebut dengan cepat. "Methylprednisolone" Adith meminta suntikan kepada perawat sebelum memulai pembedahan nya. Suntikan methylprednisolone diberikan untuk menangani cedera saraf tulang belakang yang akut. Selanjutnya Adith melakukan pembedahan Pembedahan yang dilakukan untuk membuang potongan-potongan tulang, benda asing, atau retakan tulang belakang yang ada di tubuh pasien akibat kecelakaan. Pembedahan ini diperlukan untuk mencegah serta memperbaiki kelainan bentuk dan posisi tulang belakang. Hampir selama 5 jam Adith berada didalam ruang operasi dengan beberapa peralatan yang harus ia buat di tempat itu juga. Beberapa perawat yang menemaninya sampai terkagum-kagum dengan kemampuan Adith yang mampu mengobati dan menciptakan dalam waktu yang bersamaan. "Sepertinya dia belum pulang." Alisya masuk kedalam apartment Adith yang nampak sunyi. Alisya sudah mencoba menghubungi Adith sekali namun tak berani menelpon untuk yang kedua kalinya karena takut kalau Adith akan terganggu. Sembari menunggu Adith, Alisya tertidur di atas sofa setelah menyiapkan beberapa makanan yang ia masak sebelum tertidur. Di pagi hari ia terbangun, keberadaan Adith juga masih belum dirasakannya. Melihat jam sudah hampir menunjukkan pukul 7, Alisya dengan cepat segera bersiap-siap ke kantor. Tidak lupa dia menyiapkan makanan untuk Adith sebelum pergi. "Mba mencari dokter Adith?" Tanya sang perawat yang mendapati Alisya sedang mengetuk pintu ruang kerja Adith. "Dia ada?" Tanya Alisya singkat. "Dokter masih sibuk melakukan operasi, dia belum keluar sejak semalam. Apa ada yang ingin disampaikan?" Tanyanya dengan tatapan menyelidik melihat kotak makanan yang Alisya bungkus dengan rapi. "Ah tidak, tolong berikan ini kepada dokter." Alisya segera memberikan apa yang dibawanya tersebut kepada sang perawat lalu berlari keluar karena tak ingin terlambat memasuki kantor. Ia sudah tidak masuk selama beberapa hari, takut akan terjadi hal buruk pada Yani, Alisya terpaksa tak bisa menunggu hingga Adith selesai. Beberapa saat kemudian Adith kembali ke dalam kantornya untuk sekedar mengambil udara dan beristirahat sejenak sebelum kembali melakukan tugasnya lagi. "Ah.. dokter, tadi ada seorang perempuan berkaca mata menitipkan ini untuk dokter." Adith segera mengambil tas berisi kotak makanan tersebut. "Dia sudah pergi?" Tanya Adith cepat yang hampir berlari keluar untuk mencari Alisya. "Sudah, tapi dia titip pesan. Katanya kalau makanan ini tidak dihabiskan, dia¡­.dia akan mencabut tulang belakangmu untuk dijadikannya cambuk." Ucap sang perawat ragu-ragu untuk mengatakannya. "Pufttt hahahahahahha!" Adith tertawa dengan terbahak-bahak membayangkan bagaimana ekspresi Alisya saat mengucapkannya. Adith sangat bahagia dengan bentuk perhatian Alisya yang seperti itu. Dengan penuh berseri-seri, dia tak berhenti tersenyum saat menatap kotak makanan tersebut. Sang perawat yang masih berada disana cukup bingung dengan sikapnya meski ia sudah banyak mendengar tentang Adith yang sudah memiliki seseorang sebelumnya. Namun karena penasaran, ia dengan ragu-ragu bertanya pada Adith. "Dok, apa dia¡­" meski penasaran, dia tetap saja takut untuk menanyakan siapa sebenarnya wanita itu bagi Adith. "Dia istriku!" Ucap Adith dengan senyum bahagianya. Mendengar ucapan Adith, dia terkejut bukan main. Tak ingin bertanya lagi, ia memutuskan untuk meninggalkan Adith dengan senyuman bahagianya. Setidaknya perawat itu sudah melihat senyum Adith yang belum pernah ia lihat sebelumnya. "Dok, 5 menit lagi operasi berikutnya akan dimulai." Perawat yang bekerja dengan Adith berkata dengan cepat setelah mengetuk pintu. "Baiklah, aku akan kesana secepatnya." Ucap Adith cepat mulai membuka satu persatu kotak makanan yang dibawa oleh Alisya. "Ummmm¡­ sepertinya nona itu yang membawakanmu makanan yah dok!" Perawat itu yang sudah mengetahui Alisya segera tahu mengapa Adith sampai tersenyum-senyum bahagia melihat kotak makanan di atas mejanya. "Benar, baru kali ini aku akan memakan masakannya setelah sekian lama." Adith sudah tak sabar ingin merasakannya. "Ikutlah makan bersamaku, kau juga belum makan semalaman bukan? Aku rasa ini cukup banyak." Panggil Adith karena tahu mereka berdua semalaman penuh bekerja tanpa henti. "Ohh¡­ tidak, tidak! Jika itu masakan pertama kali, maka sebaiknya anda yang harus menghabiskannya sendiri. Saya tidak ingin dijadikan sebagai bahan makan selanjutnya untuk membuat pisang geprek gara2 ketahuan makan punya anda. Saya permisi dulu." Perawat itu segera menghilang secepat kilat. Dia yang seorang perempuan paham betul akan perasaan seorang wanita saat memberikan sesuatu kepada pasangannya terlebih soal makanan yang ia inginkan agar sang pria berkata puas dengan apa yang dimakannya, bukan dengan berbagi kepada orang lain meski itu ada baiknya juga. Chapter 393 - Aromamu Melekat di Panca Indraku Sesampainya di kantor, Alisya segera mencari Yani. Begitu masuk, Alisya tak menemukan Yani disana sehingga ia mencari Vindra. "Ayumi, kamu baik-baik saja? Bos keji itu tidak melakukan sesuatu lagi padamu kan? Kau membuatku khawatir karena kau tak masuk kantor selama beberapa hari." Yani yang muncul dari belakang Alisya bersama Vindra segera memanggil Alisya cepat. Raut wajahnya nampak sangat khawatir kepada Alisya. Sedang Alisya terkejut dengan tubuhnya yang basah kuyup. Yani seolah habis mendapatkan perundungan namun masih saja ia mengkhawatirkan Alisya dibanding dirinya sendiri. "Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau basah kuyup seperti ini?" tatap Alisya dengan penuh khawatir. "Ummm Itu.." Vindra ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Alisya, namun ia dihentikan oleh tatapan tajam Yani. "Bukan apa-apa, aku hanya terpleset dilantai Wc dan menghancurkan westafel yang akhirnya tersebur dengan keras oleh air." Ucap Yani langsung mengalihkan pembicaraan. "Kau pikir dirimu Hulk? Dari mana datangnya kekuatanmu dengan lengan yang lunglai seperti ini?" Alisya memarahi Yani yang mencoba membohonginya dengan menaikkan tangan Yani yang jatuh bagaikan tak memiliki tulang. "Kau meremehkanku?" Yani menatap dengan tajam seolah dia bukanlah tipe orang yang bukan penakut atau mudah untuk dirundungi. "Pletakkkk" Alisya dengan gemas memukul kepala Yani. Dia tau kalau Yani sedang bersikap kuat dihadapannya, namun dia bukanlah seorang yang juga dapat dengan mudah dirundungi oleh orang lain. Alisya mencoba untuk mempercayai apa yang dikatakan oleh Yani kali ini. Mereka kemudian segera melakukan pekerjaan yang sudah beberapa hari Alisya tinggalkan dengan bantuan Yani dan Vindra dalam menyediakan data yang sudah diberikan kepada mereka. "Ayo kita pulang." Ajak Alisya kepada Yani dan Vindra yang terbaring lelah disebelahnya setelah seharian mereka bekerja tanpa henti. "Tidak, Ibu Lian ingin kita mengumpulkan pekerjaan itu besok pagi." Jelas Yani takut tak bisa menyelesaikannya dengan segera. "Benar, kita akan dalam masalah lagi jika kita tidak menyelesaikan pekerjaan ini secepatnya." Tambah Vindra memikirkan bagaimana reaksi Ibu Lian saat mereka tak menyelesaikannya secepatnya. "Sudah selesai." Ucap Alisya santai. "Iya betul kita harus menyelesaikannya." Terang Yani cepat. "Eh?? Apa?!" Yani dan Vindra bertanya serempak kaget. Yani yang sebelumnya tak sadar akan apa yang dikatakan oleh Alisya terkejut bukan main. "Kamu sudah menyelesaikannya?" tanya Vindra ingin memastikan pendengarannya. "Kamu beneran sudah menyelesaikannya?" Yani segera melihat program yang dikerjakan oleh Alisya dan ia terkejut bukan main karena Alisya sudah menyelesaikannya dengan sangat rinci bahkan sangat rapi dan siap untuk digunakan. "Bagaimana mungkin kau bisa menyelesaikan pekerjaan yang harusnya selesai dalam waktu 1 minggu dapat dengan mudah kau selesaikan hanya dalam 6 jam saja? Aku bahkan sampai ingin memaki ibu Lian karena mengharuskan kita untuk menyelesaikannya dalam waktu 1 hari." Vindra masih tak percaya dengan kemampuan Alisya yang sangat luar biasa. "Kita hanya butuh uji coba saja sebentar, jadi kenapa kita tidak pergi makan untuk istirahat sejenak dulu?" Alisya berdiri dari kursinya mengajak Yani pergi dari kantor tersebut. "Tunggu aku!" Vindra segera mengejar mereka berdua. "Ayumi, bagaimana kau bisa menyelesaikan itu semua sendirian saja? Sampai sekarang aku masih tak percaya kalau kau hanya tamatan SMA saja." Yani bertanya dengan menyelidik. Meski ia sudah mengenal Alisya, segala hal tentang Alisya masih menjadi sebuah misteri baginya. "Apa? Tamatan SMA? Kau sedang bercanda? Mana mungkin tamatan SMA bisa menyelesaikan sebuah program dengan secepat itu. Itu hal yang mustahil bahkan untuk seorang yang jenius sekalipun, dan hanya ada satu orang diperusahaan ini yang bisa melakukannya yaitu direktur Adith." Ucap Vindra tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Yani. "Tapi itulah kenyataanya, sahabatku yang berada dihadapanmu ini bisa bahkan mungkin bisa mengalahkan direkturmu yang kau kagumi itu." Ungkap Yani dengan penuh kebanggaan. "Oke, aku akui itu. Sebab pekerjaan tadi biasanya akan dikerjakan dalam bentuk tim dengan beberapa orang akan mengerjakan beberapa bagian namun kamu bisa menyelesaikannya sendiri itu sudah sangat luar biasa. Siapa sebenarnya dirimu?" tanya Vindra penasaran dengan sosok Alisya. "Aku adalah Ayumi sahabat Yani, aku banyak mengetahui hal tersebut berkat ayahku yang kejam." Alisya hanya bisa menjawab asal dengan tertawa pelan. "Sudahlah, kau memaksanya sampai kapanpun dia tidak akan mengatakan apa-apa. Karena semua sudah selesai, sebaiknya kita pulang dan tidur dengan nyenyak." Ucap Yani yang segera melirik kea rah taksi untuk pulang. Meski masih penasaran, Vindra tak bisa berbuat apa-apa lagi dan memilih pasrah untuk pulang. Setelah melihat Alisya dan Yani pulang, dia juga segera menuju parkiran kantor untuk mengendarai motor besar miliknya. Begitu sampai di apartemen, Alisya masih juga tak menemui Adith disana. Dengan rasa khawatir, Alisya segera membersihkan diri dan pergi membuatkan makanan untuk Adith. "Bagaimana keadaanya dokter?" seorang ibu-ibu dengan cepat menghampiri para dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi. "Tidak perlu khawatir, dia sudah selamat sekarang" jawab Adith dengan tersenyum hangat. Ibu itu segera berterimakasih kepada Adith dan yang lainnya dengan tulus sebelum akhirnya ia mengikuti suaminya yang keluar dari ruang operasi menuju kamar pasien. "Anda telah bekerja keras dokter Adith, akhirnya semuanya telah selesai." Seorang dokter yang keluar bersamanya dari ruang operasi segera mengucapkan terimakasih banyak kepada Adith. "Anda juga melakukan hal yang sama dokter Rizal, berkat bantuan anda saya jadi bisa menyelesaikannya dengan cepat." Ucap Adith dengan tulus. "Meski begitu, saya sangat takjub dengan cara kerja anda. Anda bahkan tak sempat beristirahat selama 30 jam untuk melakukan operasi, tubuh anda seperti robot saja. Sebaiknya anda beristrahat sekarang, jika tidak aka nada seseorang yang akan merana." Tebak dokter Rizal mengingat Adith bekerja dengan begitu ramah dan tanpa mengeluh sedikitpun. Ia yang terbiasa menampilkan ekspresi dingin kini lebih hangat dan ceria. "hahahahah.. sepertinya anda semakin peka saja!" mereka tertawa riuh setelah saling bersalaman untuk kembali keruangan mereka masing-masing. Begitu masuk kedalam ruangannya, kamarnya yang gelap menandakan ia belum kembali untuk beberapa saat dari ruang operasi sehingga dengan malas ia berjalan menggantung pakaiannya menuju ke tiang gantungan yang tak jauh berada di dekat mejanya. Begitu akan berbaring pada kasur yang ada didalam ruangannya, Adith merasakan seseorang berada dibelakangnya sehingga dengan satu Gerakan cepat, ia membanting orang tersebut. "Meskipun aku tak melihatmu, aroma tubuhmu sudah melekat dalam panca indraku." Tatap Adith kepada Alisya yang kini sudah di tindihnya. "Aku pikir aku bisa mengejutkanmu, kalau seperti ini jadinya tidak seru." Ketus Alisya kesal karena Adith mengetahuinya. "Suami mana yang tak bisa mengenali istrinya sendiri?" bisik Adith ditelinga Alisya dengan senyuman licik. Cahaya temaram dari luar jendela memungkinkan Alisya untuk bisa melihat wajah Adith dengan senyuman licik itu membuat Alisya semakin kesal. "Cih, apa kau tidak ingat siapa orang yang pernah lu¡­ ummmphhh" Alisya tak bisa melanjutkan lagi kata-katanya karena bibir Adith telah membungkam mulut Alisya. Melihat Alisya berada disana membuat rasa lelah Adith selama 30 jam itu seolah menguap tak bersisa. Alisya adalah obat paling ampuh bagi Adith sehingga tentu saja dengan menciumnya perasaanya kepada wanita itu seolah tersampaikan. Apa lagi dia adalah istrinya yang sangat ia cintai. "Aku sangat merindukanmu sayang!" bisik Adith dengan menggigit telinga Alisya. "Akh,, Dith! Ini rumah sakit, hentikan. Kau ingat aku masih PMS" Ciuman Adith semakin panas dengan beralih ke leher Alisya membuat Alisya panik mengingat mereka sedang berada di rumah sakit. Tiba-tiba saja, Alisya tak lagi merasakan Gerakan bibir Adith dilehernya. Yang ada hanyalah suara nafas Adith yang berat dan teratur. Adith sudah jatuh tertidur didalam pelukan Alisya. "Bisa-bisanya kau tertidur saat sudah melakukan itu padaku." Meski takut, Alisya seolah menyesali keberadaan mereka serta kondisinya saat itu. Melihat Adith yang sudah tertidur pulas, Alisya tersenyum Bahagia membelai lembut Adith dan memeluknya erat. Chapter 394 - Membuat Kehebohan Terpisah lama dengan Adith membuat Alisya tak ingin menutup matanya, ia takut kalau apa yang sedang ia hadapi sekarang hanyalah sebuah khayalan semata. Alisya masih terus ingin melihat wajah Adith sehingga semalam suntuk ia tidak tidur. Dengan memberikan pijatan ringan pada lengan dan bahu Adith, Alisya sengaja menempatkan kepala Adith pada pahanya agar ia bisa terus melihat wajah Adith dari cahaya lampu temaram. Tanpa disadarinya, ia sudah jatuh tertidur di pagi hari dimana saat tangannya yang masih memijat-mijat bahu Adith dengan lembut membangunkan Adith. "Setengah 6 pagi, sepertinya kau tidak tidur semalam." Adith perlahan bangun dari posisinya dan dengan cepat merai kepala Alisya yang hampir terjatuh. Melihat dia meringis karena merasakan keram pada pahanya membuat Adith sangat merasa gemas sehingga dengan lembut dia mengecup bibir Alisya. "Ekspresi mu itu membuatku semakin ingin memakanmu!" Ucap Adith setengah berbisik sembari tertawa pelan memandang wajah Alisya lekat-lekat. Dengan menggendong Alisya di pelukannya, Adith sekali lagi membuat satu rumah sakit gempar melihatnya. Kejadian tersebut bahkan sampai banyak yang memotret dan menyebarluaskannya. Sosok Alisya seketika menjadi orang yang paling di cari dalam media sosial, mengingat Adith memeluk Alisya yang wajahnya tenggelam dalam pelukannya dan memasukkannya ke dalam mobilnya. Hanya dalam 1 menit, Alisya menjadi trending topik pagi hari itu. Kolom komentar memenuhi setiap postingan yang memuat gambar Adith yang sedang menggendong Alisya. "Siapa wanita yang beruntung itu?" Seorang wanita berkomentar dengan emoticon menangis. "Adith so sweet sekali, andai aku yang menjadi wanita itu!" Imbuh yang lainnya. "Aku nggak rela, tapi jika dia pantas dengan Adith, aku ikhlas." Emoticon menangis paling banyak mengisi dibandingkan dengan emoticon lainnya namun ada juga yang menghujat Alisya. "Apa yang kau lakukan pagi ini" suara Yogi segera mengagetkan Adith yang sedang memasak di dapur. "Memasak!" Jawab Adith santai. "Bukan itu yang aku maksud bambang! Buka handphonemu sekarang juga." Yogi seolah kehabisan kata-kata dengan sikap Adith. Setelah mematikan kompor listriknya, dengan satu gerakan di udara banyak artikel yang menampilkan gambarnya yang sedang menggendong Alisya dari berbagai sudut. "Wooow! Aku tampak sangat keren disitu, bukankah itu romantis?" Adith memuji dirinya sendiri. Mendengar ucapan Adith, Yogi seketika memanas karena kesal. Publik yang sekarang ini tidak mengetahui mengenai status Adith yang sebenarnya sudah beristri sehingga tentu saja hal ini meledak dengan sempurna. Yogi tak peduli dengan Adith karena ia selalu tahu bagaimana cara menyelesaikan permasalahan mengenai media sosial itu, namun Yogi sangat mengkhawatirkan Alisya. "Oke, Adith. Aku tau kau sangat ingin membeberkan hubungan kalian berdua saat ini terlebih karena kalian terpisah sejak lama. Tapi tidak kah harusnya kau mengingat akan Alisya?" Yogi segera mengingatkan bagaimana bahayanya semua artikel tersebut mengenai Alisya. "Kau tau apa alasan Alisya terus menyembunyikan identitasnya meski kau sudah mengingatnya? Tidakkah kau tahu kalau Alisya adalah seorang hantu saat ini untuk BF? Dia yang juga seorang satuan khusus jelas betul menjadikan dirinya sebagai sebuah ilusi yang keberadaannya harus tetap menjadi rahasia." Jelas Yogi lagi untuk membuat Adith mengerti. Adith bukanlah orang yang sangat mudah bertidak ceroboh, namun jika itu sudah berhubungan dengan Alisya, dia bahkan tak peduli akan apapun yang terjadi. Akan tetapi, kata-kata Yogi ada benarnya juga sehingga mau tak mau, meski ia sangat ingin diketahui oleh dunia, Adith harus menutupi semuanya terlebih dahulu. Hanya butuh 10 menit Adith sudah memblokir semua akun yang menyangkut pautkan dirinya. Bahkan dia dengan mudah menghapus segala hal yang baru saja menyebar bagaikan virus di pagi hari itu. "Kau tak perlu khawatir, aku sudah membereskan semuanya." Ucap Adith santai menenangkan Yogi. "Kau memang jenius Dith, dan aku mengakuimu karena hal itu. Tapi kau selalu saja menjadi seorang yang idiot jika sudah menyangkut Alisya." Terang Yogi mengutarakan pendapatnya. "Kau juga sama jablay!" Maki Adiht mengingatkan Yogi yang langsung membuat Yogi tertawa terbahak-bahak. "Ya sudah, selama semuanya sudah baik-baik saja aku bisa mengatasi hal lainnya. Oh ya, Jangan lupa untuk segera kopulasi. Musim hujan akan segera berakhir." Goda Yogi sebelum menutup telponnya. Kopulasi adalah istilah biologis yang diberikan kepada hewan saat mereka sedang melakukan hubungan seksual dimana terjadi penyatuan antara jantan dan betina begitupula pada manusia. Yogi yang mengira kalau Adith akan marah dengan cepat ingin mematikan telponnya namun melihat ekspresi Adith dari layar hologramnya membuat ia berhenti sejenak. "Terimakasih karena sudah mengingatkan ku." Adith langsung mematikan sambungan mereka dengan Yogi yang merasa geli dengan sikap lembut Adith. Seorang sahabat terkadang tidak perlu mengungkapkan kata "maaf" atau "terimakasih" karena mereka bisa saling memahami satu sama lainnya jauh melebihi mereka memahami dirinya sendiri. Namun jika memang pantas, seorang sahabat perlu mendengar hal itu dari sahabatnya. Sejam kemudian, Alisya terbangun dari tidurnya dan terkejut bukan main saat ia melihat kalau dia sudah berada di kamar apartemen Adith. Dengan lunglai ia berjalan keluar menuju dapur untuk membasuh lehernya yang kering dan menemukan Adith yang sudah siap dengan masakannya. "Pagi sayang, terima kasih karena semalaman kamu sudah menjagaku. Ayo kita sarapan, kau ingin ke kantor kan?" Adith langsung menghampiri Alisya dan mencium keningnya dengan hangat lalu menggiringnya duduk di kursi. Adith yang membuka kan kursi untuk Alisya hanya membuat Alisya masih terbingung mengapa ia sudah berada di sana pagi itu. "Kenapa? Ada yang salah?" Tanya Adith bingung dengan sikap bengong Alisya. "Apa aku mengalami sleep walking? Bagaimana bisa aku berada disini saat subuh tadi seingatku masih berada dirumah sakit?" Tanya Alisya bingung. Alisya mengira dirinya tidur sambi berjalan atau melakukan aktifitas pada pagi hari itu dalam keadaan tidur dan tak sadarkan diri. "Umphh" Adith menarik tubuh Alisya sehingga ia duduk diatas pangkuannya. "Kau tidak tidur berjalan, aku tak ingin membangunkamu sehingga kau ku gendong sampai ke rumah." Ucap Adith menjelaskan situasinya kepada Alisya. Meski hal itu juga yang terpikir olehnya, tapi ia tak menyangka kalau Adith akan melakukan hal yang dapat menarik banyak perhatian orang dan menciptakan kehebohan di rumah sakit. "Kenapa kau semakin nakal saja sih!" Alisya memasukkan makanan ke mulut Adith dengan kesal. "Nakal? Kau ingin melihat seperti apa itu nakal?" Tantang Adith yang meminum susu lalu mencium bibir Alisya dengan ganas. Manis susu bercampur dengan manisnya bibir Adith membuat Adith semakin tak mampu menahan ekstasi kuat dari Alisya. Baginya, Alisya adalah jenis narkoba yang sangat kuat dan memabukkan. Chapter 395 - Bekerja Keraslah "Kamu beneran nggak mau aku antar? Aku bisa mengantarmu sampai ke dekat kantor atau aku akan menurunkanmu dijalur khusus di dalam perusahaan atau di.." Adith yang terus mengomel ingin mengantar Alisya langsung di hentikan seketika oleh Alisya. "Aku tau kau ingin sekali mengantarku" Alisya merapikan dasi Adith. "Tapi kau tau kan apa yang habis kau lakukan tadi pagi?!" Alisya menggeram dengan mencekik leher Adith menggunakan dasinya. "Orang lain mungkin takkan mengenaliku sebagai Ayumi, tapi banyak dari kantormu yang tau siapa wanita itu dan aku paling malas berurusan dengan perempuan. Lebih baik membunuh seribu ular daripada berurusan dengan satu wanita yang sedang iri dan cemburu." Alisya mengatakannya dengan tatapan tajam dan aura kesal yang sangat besar. "O¡­. Oke, o.. oke!" Adith terbata-bata pasrah mengiyakan ucapan Alisya. Adith paham masalah apa yang sudah dimaksudkan oleh Alisya mengenai pagi tadi yang sudah ia lakukan. "Terimakasih, kau memang suamiku yang sangat pengertian!" Alisya melepaskan cekikannya dengan perlahan kepada Adith dan kembali merapikan dasinya dengan baik. "Kau mau kemana?" Tanya Adith menghentikan Alisya yang sudah akan pergi. "Tentu saja ke Ummmph" Adith menyandarkan tubuh Alisya ke mobilnya dan menciumnya dengan intens. "Tidak bisakah kau lihat situasi dulu? Ini tuh di luar Dith." Pukul Alisya pelan di bahu Adith. "Kau Istriku, dimana dan kapanpun juga aku bisa. Lagi pula, kau tidak perlu khawatir karena kompleks apartemen ini adalah daerah elite yang tak bisa sembarang orang yang masuk." Ucap Adith untuk membuat Alisya tenang. "Oke, aku pergi dulu. Sampai ketemu di kantor!" Alisya langsung mengendarai skuter yang sengaja disediakan oleh Adith untuk Alisya dengan menyesuaikan pada image penyamarannya yang cupu. Melihat punggung Alisya memasuki jalanan, Adith dengan segera mengikuti Alisya dari belakang. Bukannya mereka ber ala-ala romantis dengan sang pria yang mengikuti Alisya dari belakang tanpa sepengetahuannya, mereka malah terlibat adu kejar-kejaran. "Mereka pikir sedang syuting filem Holywood? Dua orang monster itu punya cara tersendiri untuk bersenang-senang!" Yogi harus menginjak rem dengan keras saat Alisya dan Adith melaju kencang memasuki ruang bawah tanah parkiran kantor. Alisya yang menang berlari sambil melompat-lompat dan melambai nakal ke arah Adith lalu menghilang secepat kilat. Kali ini dia merasa senang bisa mengalahkan Adith hanya dengan skuter miliknya. "Puuuftttrl" Adith tertawa pelan saat melihat Alisya pergi dengan cara yang menggemaskan. "Kalian benar-benar sesuatu!" Yogi datang menghampiri Adith dan berjalan bersama menaiki lift. "Bagaimana acara pelamaranmu?" Adith mengingat akan berita mengenai Yogi yang sudah melakukan lamaran resmi kepada Aurelia. "Semuanya berjalan dengan lancar, meski aku sempat harus bertarung hebat dengan ibunya yang kecewa padaku karena membuat anaknya menunggu lama. Tapi pada akhirnya mereka merestui kami." Jawab Yogi singkat. Terlihat jelas bagaimana Yogi nampak kelelahan dengan semua pekerjaan yang harus Adith berikan kepadanya ketika dia tidak ada serta bekas pertarungan batin dia dengan ibu Aurelia. "Kapan kalian akan melangsungkan pernikahannya?" Mereka segera keluar dari lift menuju ke ruang kerjanya. "Dua bulan kedepan, aku harap pada saat itu kita tidak mendapatkan perjalanan bisnis." Yogi mendesah mengingat pekerjaanya terkadang memiliki jadwal acak. "Apa jadwal kita hari ini?" Adith ingin memastikan beberapa hal terlebih dahulu sebelum benar-benar bisa memberikan libur kepada Yogi selama 1 bulan. "Rapat dewan direksi membahas mengenai program baru yang akan kita jalankan di perusahaan ini." Terang Yogi setelah membuka tablet agendanya. Adith dan Yogi segera masuk untuk melakukan beberapa persiapan yang diperlukan. "Ayumi, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Yani dengan ekspresi wajah sangat panik. "Ada apa sih? Kenapa sepagi ini kamu sudah terlihat sangat suram??" Alisya duduk dengan santai dikursinya. "Pagi ini direksi akan mengadakan rapat." Yani sekali lagi berbicara dengan paniknya. "Lalu apa hubungannya dengan kita??" Alisya bertanya dengan acuh tak acuh. "Itu¡­" Vindra yang ingin menjelaskannya kepada Alisya tiba-tiba saja ibu Lian segera datang menghampiri mereka. "Keruang rapat sekarang, jangan lupa sediakan dengan program yang sudah kalian buat kemarin." Ucapnya dengan tatapan sinis. Hanya menarik tablet yang ada di atas mejanya, Alisya dengan santai berjalan mengikuti langkah kaki ibu Lian menuju ke ruang rapat direksi. Yani dan Vindra yang belum sempat menjelaskan apapun kepada Alisya membuat keduanya panik dan tak tahu harus berbuat apa. "Direktur besar!" Sapa Lian kepada Ayah Adith yang sama-sama akan memasuki ruang rapat. "Bekerja keraslah." Senyum ayah Adith kepada Alisya dengan hangat. Respon Ayah Adith kepada Alisya tentu saja membuat Lian dan semua yang berada disana terkejut bukan main. Meski mereka tahu bahwa itu hanyalah bentuk perhatian dari seorang atasan kepada pegawai baru, namun mendapat dorongan dari atasan adalah suatu kebanggan tersendiri. Lian tentu saja menjadi semakin iri dan benci kepada Alisya yang baru beberapa bulan masuk sudah mendapatkan pengakuan dari Ayah Adith. Sedangkan dia yang sudah hampir 5 tahun bekerja bersama mereka belum pernah mendapatkan dorongan khusus. "Senang melihatmu kembali." Pak Dimas juga mengatakan hal yang membuat Lian semakin bingung terhadap siapa Alisya sebenarnya. Mereka yang berada disana mungkin mengira bahwa ucapan Ayah Adith berhubungan dengan pekerjaannya, namun entah kenapa wajah Alisya memerah panas karena yang ia pahami adalah hampir mirip seperti keinginan ayahnya yang tidak sabar untuk menantikan kehadiran seorang cucu. "Baiklah, segera mulai presentasenya!" Ayah Adith membuka rapat dewan direksi pada saat itu. Didalam ruang rapat itu, semua orang-orang dengan jabatan tinggi berkumpul ditempat yang sama. Adith dan Yogi serta Rinto juga berada disana, begitu pula dengan Elvian serta Ayahnya yang merupakan adik dari Ayah Adith juga mengikuti rapat tersebut. "Silahkan!" Tunjuk Lian kepada Alisya, Vindra dan Yani. Alisya segera menghubungkan tabletnya dengan layar hologram yang berada di tengah yang begitu ruangan menjadi sedikit gelap, layar hologram itu menampilkan isi tablet dengan sangat jelas. "Kosong?" Elvian mengerutkan keningnya tak paham. "Apa maksudnya ini? Apa kita membuang-buang waktu hanya untuk melihat sebuah presentasi kosong? Ini lelucon yang aneh." Tegas Ayah Elvian kesal. "Ayumi, apa yang kau lakukan? Bagaimana program itu bisa kosong? Bukankah harusnya program itu berada pada kalian?" Lian segera berkata dengan kesal saat Alisya hanya terdiam dengan santai. Yani dan Vindra terlihat sangat ketakutan dengan situasi itu, mereka menjadi semakin panik dan tak tahu harus berkata apa. Namun mereka tak ingin membuat Alisya menjadi orang yang disalahkan karena kesalahan mereka berdua. Lian tersenyum puas melihat situasi panik ketiga orang tersebut. Chapter 396 - Azura Melihat Lian seolah-olah semakin memojokkan Alisya, Yani menjadi tidak bisa menahan diri lagi sehingga dengan gugup ia mulai berbicara. "Maaf, ini semua salahku. Pagi ini aku yang mengambil tablet berisi program itu untuk melihat mengecek persiapan kami dalam melakukan uji coba, namun begitu aku menjalankan programnya ada bahasa program yang tiba-tiba muncul dan mulai menghapus semua program itu secara permanen. Aku bahkan tak sempat melakukan apapun untuk menyelamatkan program tersebut." Jelas Yani mencoba menerangkan apa yang sudah terjadi sebelumnya. "Apa? Kau tau bagaimana pentingnya program itu bagi perusahaan? Program itu hanya satu-satunya dan akan dijadikan sebagai pertahanan sistem perusahaan dan jika kau menghilangkannya, perusahaan akan mendapatkan kerugian yang sangat besar." Lian membentak dengan kesal. Ayah Adith serta Adith hanya terdiam tanpa memperlihatkan ekspresi apa-apa. Mereka hanya ingin terus melihat bagaimana Alisya akan menghadapi situasi tersebut karena mereka tidak bisa membantunya secara terang-terangan. "Maaf, saya yang seharusnya disalahkan karena tidak menjelaskan mengenai program ini sebelumnya kepada Ayumi." Terang Vindra mencoba untuk menyingkirkan Alisya dari tuduhan mengingat bagaimana kerja kerasnya membantu mereka menyelesaikan pekerjaan tersebut. "Bagaimana kau akan mengurus bawahanmu yang tidak becus?" Tatap Elvian kepada Adith dengan licik. Selama ini tak pernah ada kesalahan apapun dalam setiap presentasi yang diberikan kepada bawahan Adith sehingga Elvian selalu saja kalah dalam pemberian ide presentase atau program. "Huhhh¡­ awalnya saya tidak akan menduga kalau hal ini akan terjadi." Alisya mendesah berat melihat data program pada tabletnya kosong begitu saja. "Apa maksudmu?" Lian seolah sangat jelas sedang memojokkan Alisya. "Baiklah, izinkan saya untuk memulai prentasenya." Alisya mengambil tempat untuk memulai pembicaraannya. "Persentase dengan data kosong?" Lian tertawa licik. "Lian, beri dia kesempatan dulu." Suara Ayah Adith yang penuh wibawa membuat Lian terdiam. Adith langsung mengelus bibirnya tak sabar ingin melihat bagaimana Alisya bisa menyelesaikan masalah itu. Adith tidak bisa secara terang-terangan membantu Alisya mengingat kinerjanya sebagai seorang pegawai di perusahaannya. "Terimakasih direktur besar." Alisya menunduk sopan kepada Ayah Adith atas kesempatan yang diberikan kepadanya. "Program yang diberikan kepada kami masih berupa program mentah yang saya katakan ini sangat menjebak. Awalnya kami melihat ini hanyalah berupa program biasa, namun ternyata ini berhubungan dengan sistem keamanan perusahaan." Jelas Alisya tanpa melirik ke arah Lian sekalipun namun Lian merasa kalau itu ditunjukkan kepadanya. "Seperti yang kalian lihat sebelumnya, program itu sudah mengalami penghapusan secara permanen. Sehingga program itu menghilang sebelum kami sempat melakukan uji coba. Namun ini sudah sangat membantu kami." Jelas Alisya sekali lagi memperlihatkan layar tabletnya yang kosong. "Jadi maksud kamu adalah jika program tersebut masih ada, maka kalian tetap akan melakukan uji coba dengan penghapusan secara permanen juga?" Tanya Elvian dengan gaya menyelidik. "Mana mungkin program yang mengalami penghapusan secara permanen!" Ayah Elvian tertawa meremehkan. "Itulah mengapa saya katakan bahwa penghapusan itu sudah sangat membantu kami. Alisya memberi petunjuk kepada Yani dan Vindra untuk tetap bersikap biasa dan ikut dalam presentasi kali itu. Meski ragu dan tak tahu bagaimana cara Alisya untuk menyelesaikan masalah itu, keduanya dengan segera mengikuti arahan Alisya karena percaya padanya. "Program ini kami namakan Azura, nama yang diambil dari nama tengah Direktur utama perusahaan Narendra." Yani berdiri sebelah kanan Alisya. "Azura merupakan program khusus yang kami ciptakan dari program mentah menjadi program sistem pertahanan keamanan perusahaan dan juga bersifat sebagai komputer Activated Hologram yang dapat dihadirkan secara langsung oleh penggunanya." Tambah Vindra dengan penuh percaya diri yang sudah berada disebelah kiri Alisya. "Penghapusan program adalah salah satu menu dalam uji coba kami sebagai bentuk pemantapan apakah yang akan terjadi pada program ketika terjadi penghapusan secara permanen oleh orang luar maupun orang dalam." Lanjut Alisya lagi masih dengan ekspresi santainya. "Lalu bagaimana caramu mengaktifkan kembali program yang sudah mengalami penghapusan permanen tersebut?" Seorang dewan direksi merasa mulai tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Alisya. "Seperti yang sudah dikatakan oleh Yani, program ini mengambil nama tengah Direktur utama yaitu Azura. Maka hanya tuan Adithlah yang bisa mengaktifkannya." Tatap Alisya kepada Adith yang membuat Adith tersenyum simpul. "Azura yah?" Ucap para dewan direksi secara serempak menyebut nama program tersebut. "Azura!" Suara Adith tiba-tiba memunculkan logo bertuliskan Azura dilayar hologram yang semula kosong. Semua orang yang berada dalam ruang rapat terkejut dengan kemunculan layar berlogo dengan tulisan Azura tersebut. Namun tampak jelas kalau program itu seolah dalam keadaan blackcsreen dan tak aktif. "ehemmm.. Silahkan direktur mengucapkan kata kuncinya!" Yani yang juga ikut melongo tak percaya dengan apa yang terjadi namun ia harus tetap menjalankan presentasi tersebut. Adith menatap Alisya dengan kagum lalu paham apa maksud dari yang dikatakan oleh Yani. "Azura, Activated!" Begitu selesai Adith mengucapkan hal tersebut, proses loading yang hanya dalam waktu singkat langsung munculkan sejumlah program dan sebuah robot hologram yang tampak sangat elegan dan tampan. Hologram itu hampir mewarisi lekuk dari wajah Adith. "Azura adalah sistem keamanan perusahaan yang mencakup semua sistem keamanan yang dijalankan oleh perusahaan ini baik dalam segi akuntansi seluruh pegawai dalam perusahaan yang akan mengakses Azura maupun sistem dalam pengaturan keamanan sistem seluruh program yang ada pada perusahaan itu sendiri. Jelas Alisya kembali menerangkan program Azura tersebut. "Azura memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh Android hologram yang digunakan dengan kemungkinan besar dapat menghilangkan data penting yang banyak masuk ke dalam Android hologram atau juga karena faktor hilang, dicuri, dan juga mengalami rusak." Tambah Vindra semakin merasa semangat saat melihat program itu baik-baik saja. "Bagaimana mungkin program itu masih ada saat penghapusan permanen telah dilakukan padanya?" Tanya Lian bingung. "Itu karena program ini bukanlah program yang tersimpan permanen dalam sebuah tablet system, tetapi secara online sistem. Bukan dengan metode penghapusan melainkan dengan metode penghancuran oleh pengaktivasinya." Ucap Yani dengan rasa gugup yang mulai menghilang. "Sehingga, jika terjadi penghapusan program maka sang pengaktivasinya dapat melakukan pelacakan Id proses penghapusan dan kembali menyusun ulang program yang hilang." Tambah Alisya dengan sunggingan senyum. "Azura, Find Annulment Program!" Adith yang paham dengan cepat memberikan perintahnya. "Annulment Program going to find" ucapnya dengan cepat menjalankan program pencarian. Dalam sekejap, bukan hanya program penghapusannya, namun juga Id serta pemiliknya terpampang dengan jelas. Lian terjatuh lemas melihat Id nya serta video dirinya terlihat pada layar. Yani dan Vindra tak menduga hal tersebut terjadi pada Lian. Chapter 397 - Samudra Cintaku Adith dan Ayah Adith hanya bisa terdiam sembari melirik tajam ke arah Lian. Presentase mereka hentikan setelah memperlihatkan sejumlah keunggulan lain dari program Azura tersebut. "Demikian hasil presentasi kami mengenai Program kemananan Azura." Ucap Alisya dan 2 orang lainnya secara serempak sembari menunduk hormat mengakhiri presentasi mereka. Mereka mendapatkan tepuk tangan meriah atas hasil kerja keras mereka yang dirasa sangat luar biasa dalam pengembangan perusahaan nantinya. Bahkan Ayah Adith juga takjun dengan hasil kerja ketiganya. "Mmmmuaaachhh!" Adith melemparkan cium jauhnya dengan tatapan penuh kekaguman. Alisya membelalakkan matanya melihat ke sekitar dimana mata semua orang sedang terfokus kepada mereka bertiga. Logo Azura ditampilkan pada layar monitor ruang rapat sehingga semua mata beralih ke atas layar lagi. "Kau gila?" Tatap Alisya tajam melihat sikap Adith yang sangat santai saat melakukan hal tersebut. Alisya berkata sembari memastikan semua orang masih terfokus dengan trailer dari program Azura yang dibuat oleh Vindra. "Iya, aku tergila-gila padamu." Adith berkata dengan ekspresinya dan bahasa tubuhnya kepada Alisya yang membuat Alisya tersenyum-senyum dan langsung beralih ke sebelah untuk memfokuskan dirinya. Lampu kembali menyala dengan terang di seluruh ruangan dan Ayah Adith segera menghampiri mereka bertiga untuk mengucapkan selamat. "Kerja kalian sangat bagus. Terimakasih karena sudah masuk kedalam perusahaan kami." Ucap Ayah Adith dengan tulus kepada Alisya, Vindra dan Yani. Vindra dan Yani merasa sedang mendapatkan penghargaan dunia karena mendapatkan ungkapan terimakasih dari direktur besar mereka. "Ini sudah tugas kami pak!" Keduanya menunduk dengan sangat cepat kepada Ayah Adith. "Terimakasih atas pujiannya, kami semakin bersemangat untuk bekerja lebih baik lagi." Lanjut Alisya menyesuaikan dengan penyamarannya saat itu. "Sisanya aku serahkan pada kalian, aku tidak sabar untuk melihat bagaimana pengaplikasiannya pada perusahaan nantinya." Ucap Ayah Adith memukul pundak Vindra sebagai bentuk dukungannya. "Akan kami berikan yang terbaik pak!" Mata Vindra langsung berkaca-kaca. Hari itu adalah pencapaian terbesarnya dalam hidupnya. Hari itu sungguh menjadi hari yang paling berharga dalam hidupnya. Ayah Adith segera keluar dari ruang rapat sambil menatap ke arah Adith lalu ke arah Lian. Paham akan maksud ayahnya, Adith mengangguk pelan. Orang yang mengkhianati sesamanya maka akan di anggap sebagai sampah bagi perusahaan. Ketidak jujuran dan juga pengkhianatan adalah hal yang paling dibenci baik bagi ayah Adith maupun Adith sendiri sehingga siapapun yang tidak berlaku dengan prinsip itu, maka mereka akan dihilangkan dan dimasukkan dalam daftar hitam seluruh perusahaan Indonesia. "Habislah aku!" Lian terduduk shock tak percaya dengan apa yang sudah ia lakukan. "Kau yang sudah bekerja cukup lama dengan perusahaan harusnya paham akan apa yang kau lakukan." Tatap Yogi merasa iba namun juga kesal dengan pegawai yang sebelumnya sangat dipercayai dengan dedikasinya tersebut. "Sebaiknya kau mempersiapkan dirimu sekarang!" Tambah Rinto menatapnya dengan dingin sebagai manager utama. Karena berkat kerja kerasnya selama 5 tahun itu, ia berhasil menduduki posisi sebagai seorang manager programing. Namun karena keserakahan dan rasa irinya lah yang membuatnya berbuat sesuatu yang buruk yang kemudian menjatuhkan dirinya sendiri. "Tidak buruk!" Ucap Elvian dengan senyumnya yang mempesona. "Ayo kita pergi!" Ayah Elvian terlihat kesal karena merasa kalah dengan hasil presentasi mereka yang sangat luar biasa. Alisya hanya terdiam dan tersenyum sopan. Elvian melirik ke arah Yani yang terlihat cantik dan anggun dibanding dengan Alisya yang terlihat cupu dengan kacamata dan gigi behelnya yang terlihat sedikit mancung tersebut. Yani yang memakai hijab menjadi daya tarik tersendiri bagi Elvian saat ia menatap Yani, namun Yani hanya berusaha tersenyum sopan melihat pandangan menyelidiknya yang berlalu dengan senyuman licik. "Apa-apaan itu tatapanya itu? Dia melihatku seolah sedang menelanjangiku." Gumam Yani kesal dengan tatapan Elvian kepadanya. "Abaikan saja makhluk astral itu, tidak usah kau pedulikan." Tegas Vindra melihat mereka keluar dari ruangan itu satu persatu. "Kau terlalu cantik dengan hijabmu itu. Semua orang yang melihat seolah mengira kau itu tidak memakai hijab karena uraian hijabmu yang jatuh juga merupakan mahkotamu yang paling indah." Alisya menggoda Yani yang membuat Yani jadi memerah malu. Mereka kemudian segera keluar di ikuti oleh Lian yang berjalan dengan lunglai. Karena iba, Yani mencoba untuk menahan tubuhnya yang membuat Lian menangis berjalan terseok-seok. "Ups¡­ kau belum aku izinkan pergi." Adith menarik tubuh Alisya yang ingin keluar dari ruang rapat. "Direktur, apa yang anda sedang lakukan? Kita masih berada di kantor." Melihat masih ada seorang Ob yang sedang lewat di hadapan ruang rapat dan melihat mereka berdua membuat Alisya tetap dalam penyamarannya. Alisya yang sedang memainkan perannya membuat Adith menjadi gemas dan semakin ingin berbuat jahil. "Tidak apa, disini hanya ada kita berdua saja. Namamu Ayumi bukan? Maafkan aku yang dulu pernah menyirammu dengan segelas air." Adith mencoba mengikuti permainan Alisya. "Itu tidak masalah direktur, karena itu adalah kesalahanku!" Alisya masih tidak berani untuk berkata-kata lebih. "Sebagai permintaan maaf ku karena sudah menyirammu dengan segelas air, bagaimana kalau aku menyirammu dengan samudra cintaku?" Adith langsung mencium bibir Alisya dengan lembut dan menekannya dengan kuat kedinding. "Kau benar-benar mesum!" Pukul Alisya kesal sambil melepas pelukan Adith dan segera keluar. "Akh, maaaf!" Alisya yang kaget dengan kemunculan Elvian segera mundur dan menabrak dada Adith yang bidang. Adith segera menahan tubuh Alisya dengan lembut dan hangat. "Tak ku sangka Adith menyukai barang sejelek ini. Ternyata seleramu lebih buruk dari dugaan ku. Kau terlihat sangat rendah sekarang." Elvian berkata dengan sangat menghina baik pada Alisya dan juga pada Adith. Mendengar ucapan Elvian, Alisya segera melirik ke arah Adith. Adith hanya tersenyum tipis melihat tatapan tajam Alisya lalu mengangguk pelan. Tepat saat itu, setelah berbalik menatap Elvian, dapat dilihat oleh Elvian kalau ekspresi wajah Alisya segera berubah begitu kuat dengan aura menekan yang besar. "Kau berkata seperti itu sepertinya karena kau tak memiliki rasa percaya diri yang tinggi yah, Orang yang menghina biasanya mencari kekurangan orang lain untuk menunjukkan kelebihannya. Tapi kau¡­." Alisya membuka kacamatanya dan menatap dengan senyuman licik dari atas hingga ke bawah. "Bagian itu sepertinya tak berguna!" Ucap Alisya menatap bagian bawah Elvian sambil berlalu pergi dengan santai yang langsung membuat Adith tertawa terbahak-bahak. "Aku harap kau bisa menemukan seseorang untuk membuat bagian itu berguna secepatnya." Lanjut Adith dengan senyuman licik yang langsung membuat Elvian salah paham. Elvian mengira kalau Adith sudah melakukan hal itu dengan Alisya tanpa hubungan suami istri. Chapter 398 - Paket Liburan Perusahaan Adith segera berlari mengejar Alisya menuju ke ruang kerja Alisya. Ia datang tepat setelah Alisya sampai, disana sudah ada Rinto dan Yogi beserta Lian dan seluruh orang yang berada pada divisi yang sama dengan Alisya. "Semuanya, mohon perhatiannya sebentar." Yogi membuka suara untuk membuat mereka semua memusatkan perhatian mereka kepada Adith. "Karena kalian semua sudah berada disini, maka dengan ini saya mengumumkan 2 hal penting." Ucap Adith melempar pandangannya ke seluruh ruangan setelah tersenyum manis kepada Alisya. "Ibu Lian akan diturunkan dari jabatannya sebagai seorang manager, namun saya masih akan memberikan dia satu kesempatan untuk kembali membuktikan dirinya." Ucap Adith menatap ke arah Rinto untuk melanjutkan ucapannya. Perkataan Adith segera membuat heboh mereka yang berada di ruang tersebut dengan berbisik-bisik pelan. "Oleh karena itu, posisi berikutnya akan diberikan kepada Yani sebagai Manager divisi menggantikan posisi ibu Lian." Jelas Rinto langsung menunjuk pada Yani sebagai manager berikutnya. Yani terkejut mendengar hal tersebut dan tak percaya dia yang ditunjuk untuk menjadi seorang manager berikutnya. "Maaf, tapi kenapa saya? Bukankah masih banyak yang lebih pantas dibandingkan dengan saya yang merupakan pegawai baru?" Tanya Yani ingin memastikan. "Tentu saja melihat kinerjamu dalam beberapa bulan terakhir terhadap perusahaan dan juga terhadap sesama mu yang membuatmu pantas untuk mendapatkan posisi tersebut." Tegas Yogi yang sudah mendapatkan laporan keseluruhan dari Rinto sebelumnya. Alisya dan Vindra segera bertepuk tangan dengan sangat bahagia sedang Lian menunduk mengucapkan terimakasih karena masih diberi kesempatan. "Berikutnya karena hasil kerja keras kalian kita juga berhasil menyelesaikan projek kerja sama dan program pengembangan perusahaan sehingga kalian semua akan diberikan paket liburan dari perusahaan." Tegas Adith yang langsung disambut dengan sorakan heboh oleh seluruh pegawainya yang hampir berjumlah 20 orang dari divisi yang sama dengan Alisya. "Paket liburan perusahaan? Benarkah?" Bisik yang lain tak percaya. "Bukan kah itu akan diberikan setiap 2 tahun sekali pada pegawai yang berprestasi?" Tambah yang lainnya juga merasakan hal yang sama. "Dan itu hanya ada 1 dari 100 kesempatan yang bisa didapatkan." Bisik yang lainnya mulai merasa penasaran. "Selain itu, paket liburan perusahaan adalah sebuah paket mewah yang sangat luar biasa yang bahkan uang sakunya cukup untuk membeli sebuah motor skuter." Tegas yang lainnya dengan perasaan penuh semangat. Mereka berbisik satu sama lainnya dengan sangat heboh dan penuh semangat. "Seperti yang kalian ketahui, paket liburan perusahaan biasanya diberikan kepada mereka yang sudah lama bekerja dengan perusahaan serta memberikan kontribusi besar dalam pekerjaannya dan mendapatkan poin banyak. Tapi kali ini berkat kerja kerjasama kalian maka perusahaan akan memberikan paket liburan tersebut sebagai hadiah." Tambah Yogi memperlihatkan hologram paket liburan mewah mereka. "Semua hal baik dari akomodasi dan lain sebagainya akan di urus oleh Lian sebagai hukumannya. Aku harap kau bisa membersihkan dirimu dengan baik kali ini." Tegas Rinto menatap dingin ke arah Lian yang terdiam menunduk. Rinto yang mengenal kinerja Lian sebelumnya berharap penuh kepada Lian untuk sadarkan diri dan bisa membuktikan dirinya kembali. Meski awalnya Adith tidak mengizinkan Rinto, namun Rinto merasa setiap orang berhak mendapatkan satu kali kesempatan. "Sekian dari kami, silahkan kembali bekerja!" Ucap Adith membubarkan mereka. Melihat Adith yang akan melangkah pergi, Vindra dengan cepat menghampiri Adith. "Maaf, apa kali ini direktur akan ikut? Maaf, saya sudah mendengar kalau setiap kali liburan perusahaan direktur tidak ikut. Jadi saya ingin memastikan, sebab saya sangat berharap kalau direktur bisa ikut bersama kami." Tanya Vindra dengan sedikit gugup kepada Adith sebelum ia pergi. Rasa kekagumannya kepada Adith membuat Vindra ingin mengenal Adith lebih dekat. Dengan memastikan kedatangan Adith, maka dua orang lainnya juga akan secara otomatis ikut. "Wahh¡­ kalau direktur beneran ikut, maka kita bisa menikmati liburan bersama 3 pilar perusahaan ini." Ucap seorang pegawai berbisik kepada yang lainnya. "Kau benar, dengan begitu kita bisa lebih banyak melihat mereka. Liburan sekaligus cuci mata, direktur dengan ketampanan yang mustahil, pak Yogi dengan lesung pipinya yang manis serta pak Rinto dengan karakter dinginnya yang menggairahkan." Pegawai lain mulai membayangkan liburan mereka. "Good Job Vindra!" Suara yang lainnya mendukung Vindra dengan sepenuh hati. "Soal itu, aku harus bertanya kepada seseorang dulu. Jika dia mengizinkan ku, tentu aku akan ikut!" Lirik Adith kepada Alisya dengan senyum tipis. "Apa itu¡­" Vindra ragu sejenak namun menoleh kepada Alisya yang ia ingat direktur pernah berkata kalau Alisya adalah istrinya. Mereka yang tidak mengetahui apa-apa hanya mengira kalau Vindra sedang meminta tolong kepada Yani dan Alisya untuk membantunya bertanya lagi, namun Yani paham akan maksud dari lirikan Vindra. Yani menyenggolnya kuat agar Alisya memberi tanda kepada Adith. "Apa yang kau lakukan? Mengapa kau diam saja!" Bisik Yani tidak sabaran. "Bagaimana, apa aku bisa pergi?" Sebuah suara terdengar di kepala Alisya yang sedikit membuatnya terkejut. Alisya kemudian memegang telinganya dan menemukan sebuah alat sudah terpasang disana. Sedang telinga sebelah kanannya adalah alat komunikasi yang ia gunakan sebagai satuan khusus yang hanya ia aktifkan sewaktu-waktu saja. Alisya mengingat bagaimana Adith dengan lembut dan gerakannya yang licin memasang alat tersebut saat dia menciumnya. Meski tak bersuara, alat tersebut dapat menyalurkan gelombang energi otak dari frekuensi yang berbeda ke frekuensi yang ditujunya. "Lagi-lagi kau menciptakan alat yang mesum!" Alisya memaki Adith yang membuat Adith tertawa pelan sedangkan yang lainnya melihat dengan tatapan bingung. "Jadi apakah direktur juga akan ikut bersama kami?" Yani mencoba memastikan tawa dari Adith tersebut. Tidak menjawab, ia kemudian menatap ke arah Alisya. "Pergilah, kau juga butuh sedikit liburan setelah beberapa hari kemarin terus bekerja. "Sepertinya aku akan ikut!" Seru Adith dengan tersenyum simpul setelah mendengar Alisya yang begitu memperhatikannya. Seluruh pegawai yang mendengar Adith akan ikut segera bersorak lebih riuh dari sebelumnya. Mereka saling tos satu sama lainnya dan bahkan ada yang sampai melompat-lompat kegirangan. "Terimakasih banyak direktur!" Vindra berkata dengan sangat bahagia. "Huuufffft, petaka!" Ucap Yogi dan Rinto hampir bersamaan dengan suara yang sangat pelan. Yogi yang harus mempersiapkan pernikahannya mau tidak mau harus terpisah sementara dulu dengan Aurelia yang semakin protektif padanya, sedang Rinto tak begitu suka keluar atau liburan dengan orang banyak. Keduanya melirik kearah Alisya dengan pasrah namun kemudian setuju dengan maksud baiknya. "Tentu aku akan pergi jika itu bersama mu." Terang Adith berjalan keluar dengan berbicara kepada Alisya melalui alat komunikasi mereka yang hanya bergumam melalui pikiran masing-masing. "Sepertinya kau terlihat sangat semangat sekali untuk ikut dalam liburan kali ini." Balas Alisya yang kembali duduk di kursinya mendengarkan Yani dan Vindra yang sedang bergosip ria tentang liburan mereka. "Tentu saja, karena aku harus membuktikan padamu juga mengenai bagianku ini berguna atau tidak." Ucap Adith yang mengingatkan Alisya kepada ucapannya terhadap Vindra sebelumnya. "Dasar mesum!" Maki Alisya kesal. Wajah Alisya seketika memerah dan panas yang membuat Yani jadi khawatir melihatnya. Sedang di sudut lain, Adith tertawa dengan sangat lebar. "Kau sakit? Apa kamu demam? Wajahmu terlihat merah sekali." Yani memegang dahi Alisya yang ternyata tidak ada masalah sama sekali. "A.. aku baik-baik saja!" Jawab Alisya gugup kepada Yani. "Kau butuh sesuatu? Katakan padaku, aku akan mengambilkannya untukmu." Ucap Vindra cepat. "Tidak, aku baik-baik saja hanya sedikit merasa kepanasan." Jawab Alisya lagi dengan mengipas-ngipasi wajahnya. Ucapan Alisya membuat Vindra dan Yani saling bertatapan bingung. Keduanya melirik kearah sekitar mereka dengan AC yang menyala di segala sisi yang bahkan sudah cukup membuat mereka membeku malah masih membuat Alisya merasa panas. Merasa ucapannya seolah seperti sebuah omong kosong dengan semilir angin bertiup menghembuskan selembar daun kering serta suara gagak berbunyi, Alisya bangkit dari tempat duduknya menuju toilet. Chapter 399 - Serigala Berbulu Domba dan Psikopat Alisya yang masuk kedalam toilet bertemu dengan Lian yang sedang menangis. Alisya tak tahu harus bereaksi bagaimana, namun ia tetap masuk dengan santai. Tanpa memperdulikan Lian, dia terus melanjutkan untuk menyelesaikan urusannya dan kembali keluar. Disana masih ada Lian yang terus menghapus air matanya dan air hidungnya. Meski ia malu, air matanya tetap tak mau berhenti. Melihat itu Alisya bisa paham kalau Lian sebenarnya adalah wanita yang baik, namun terkadang berteman dengan orang yang salah juga bisa menumbuhkan sikap yang buruk. "Maafkan aku Ayumi." Ucap Lian dengan suara parau saat Alisya akan segera keluar dari toilet. Alisya berhenti sejenak dan berbalik dengan ekspresi cupunya. Alisya menarik nafas dalam mencoba untuk bersikap tenang. "Apa yang ibu lakukan memang salah, tapi lebih salah lagi adalah karena ibu telah kehilangan jati diri ibu sendiri hanya karena rasa iri. Ibu takut dan cemas oleh sesuatu yang tak perlu, karena ibu juga memiliki kemampuan yang tidak di miliki orang lain." Alisya berkata dengan sangat lembut tanpa maksud untuk menceramahi. "Ibu hanya perlu menjadi lebih percaya diri, bukankah dalam 5 tahun sebelumnya ibu selalu bersikap seperti itu?" Alisya mendekati ibu Lian dan memegang tangannya sebagai bentuk dukungan. Ibu Lian yang merasa telah melakukan hal jahat kepada Alisya yang membuat dirinya juga jatuh karena perbuatannya sendiri, langsung memeluk Alisya dan menangis di pelukannya. Alisya yang kembali bersama ibu Lian membuat ekspresi Yani dan Vindra sedikit terlihat bingung. Namun melihat tatapan Ayumi, Yani jadi tersenyum dengan tulus. "Aku minta maaf juga kepada kalian berdua. Karena perbuatanku, aku hampir saja akan merusak hidup kalian selamanya. Aku yang egois hampir tidak memperhatikan resiko yang akan kalian dapatkan. Aku hampir kehilangan hati nuraniku." Lian tertunduk malu dan merasa bersalah atas apa yang ia lakukan. "Tidak masalah selama ibu sadar itu salah!" Vindra berkata dingin. Alisya dan Yani dengan kompak langsung menendang kaki Vindra kuat. Tendangan mereka tepat mendarat di kedua kakinya yang terasa nyilu pada bagian tulang keringnya. "Auccchhh, apa sih! Aku nggak salah ngomong kan?" Vindra mengeluh dengan meringis sakit pada bagian tulang keringnya. "Dasar cowok! Nggak usah di perjelas tau!" Ketua Yani kesal dengan ucapan Vindra. "Bagaimana kalau kita pergi makan dulu, sebagai bentuk perayaan dari hasil kerja keras kita. Bukan di kantor, tapi cafe yang tak jauh dari kantor." Ucap Yani mengajak mereka semua untuk keluar. "Ide bagus, aku juga ingin minum yang dingin dingin. Hari ini rasanya panas sekali. Ibu juga ikut bersama kami kan?" Ucap Alisya cepat dengan gaya cupunya. "Maaf, seperti yang kalian sebelumnya. Aku harus mengurus semua akomodasi paket liburan perusahaan sebagai hukumanku, Dan aku akan bersungguh-sungguh membuktikan diriku kembali kepada direktur." Lian terlihat sangat bersungguh-sungguh. "Baiklah, kalau begitu. Kami akan membantumu, dengan begitu kita bisa pergi secara bersama-sama." Ucap Alisya cepat memberikan bantuannya. "Tidak, tidak tidak!" Lian menggeleng cepat. "Jika ingin menunjukkan kesungguhanku, maka aku harus melakukannya tanpa merepotkan orang lain. Kalian pergilah, aku akan pastikan liburan kali ini adalah liburan terbaik mengingat 3 pilar perusahaan juga ikut." Wajah Lian yang semula suram, berkat Alisya dan Yani ia menjadi kembali semangat dengan ekspresi wajah yang baru. "Baiklah, kami takkan mengganggumu. Semangat bekerja, kami akan membawakanmu makanan dan minuman dari sana nanti." Ucap Yani dengan senyuman tulus. Yani merasa sangat bahagia jika akhirnya mereka bisa memiliki hubungan hangat seperti itu. "Aku berharap bisa melihat ekspresi ibu Lian seperti itu terus kedepannya." Yani segera duduk begitu masuk kedalam cafe. "Ekspresi yang ia buat-buat untuk mengelabui kita?" Ucap Vindra masih tak percaya dengan ekspresi ibu Lian. Vindra adalah tipe orang yang sangat sulit untuk percaya kepada orang lain terlebih saat ia sudah mengetahui sifat buruk dan dikecewakan sebelumnya. "Jadilah orang yang bisa bersifat positif dengan memberikan energi positif kepada orang lain. Tapi tentu saja sikap waspada itu perlu namun bukan berarti kamu jadi curiga kepada setiap orang." Tegas Alisya memberinya semangat. "Yup! Benar sekali, waspada itu bagus tapi jangan curiga. Positif itu penting tapi jangan bodoh." Zein langsung datang menghampiri Alisya dan yang lainnya. Dibelakangnya ada Riyan yang melambai dengan ceria. "Hai, lama tidak ketemu!" Riyan tersenyum dengan penuh menggoda. Alisya kaget dengan kedatangan mereka berdua. Dia tak menyangka kalau mereka akan berada di sana. Vindra dan Yani juga tak kalah terkejutnya melihat Zein dan Riyan hingga Yani menutup mulutnya. "Apa yang kalian lakukan di sini?" Alisya berkata dengan acuh tak acuh. "Ayumi, kenapa kau bersikap seperti itu?" Colek Yani kepada Alisya dengan kuat. "Apa kau tidak tau siapa mereka?" Tanya Vindra setengah berbisik. Melihat reaksi keduanya, Vindra dan Riyan terlihat semakin percaya diri dan bangga. "Memangnya kalian tau siapa mereka?" Alisya balik bertanya kepada keduanya. "Ya ampun Ayumi, Bapak Hilal Zein Nandy adalah seorang gubernur Jakarta yang di bawah kepemimpinannya dia menjadi orang yang sangat tegas dan disayangi oleh semua masyarakat nya. Dedikasinya terhadap pekerjaannya membuat dia banyak mendapatkan penghargaan sebagai gubernur terbaik dunia." Jelas Yani dengan penuh semangat. "Sedangkan lettu Arika Riyan Gimnastiar adalah Letnan Satu TNI AL. Pangkatnya dibawah satu tingkat pangkat kapten. Di usianya yang masih muda dia sudah mendapatkan lambang dua balok emas. Mereka itu adalah orang luar biasa!" Jelas Vindra lagi dengan sangat antusias. "Benarkah? Kenapa aku baru mengetahui hal tersebut!" Alisya melirik dengan pandangan bingung. Selama ini ia sudah bertemu dengan keduanya beberapa kali, Riyan mungkin sudah pernah dilihatnya memakai baju tentara namun ia tidak begitu jelas melihat akan pangkatnya. Namun untuk Zein, baru kali itu diketahui olehnya. "Karena di duniamu satu-satunya yang berharga adalah Adith." Riyan dan Zein berkata dengan sangat kompak. "Humph!" Alisya mendengus kesal. "Jika benar seperti itu, mengapa kalian berdua ada disini? Bukankah kalian berdua adalah orang yang sangat sibuk?" Alisya menatap balik kepada dua orang yang sudah mengambil tempat di hadapan Alisya. "Meskipun aku tak memiliki libur, setidaknya aku masih punya waktu untuk sedikit urusan pribadiku." Zein segera mengangkat tangannya untuk memesan. "Dan aku yang akhirnya mendapat cuti libur juga bisa memiliki kesempatan untuk libur, tidak seperti terakhir kali harus kucing-kucingan membolos. Haaaahhhh" Riyan mendesah mengingat semua sahabatnya yang terus membuatnya jadi seorang yang semakin sibuk. "Jadi kau mengenal ¡­. ?" Yani hanya berani melirik, dan tak bisa menyebut nama mereka berdua dengan tidak sopan. Chapter 400 - Menguji Yani dan Vindra "Tentu saja! Mereka berdua teman sekolahku, kau harus hati-hati kepada mereka berdua. Meski kau mengetahui Riyan adalah seorang tentara yang gagah berani membela negara, namun dia adalah seorang srigala berbulu domba. Sedangkan gubernur yang kamu liat ini, dia juga tak kalah psikopatnya." Seru Alisya santai yang langsung membuat Riyan dan Zein terbatuk-batuk karena udara yang salah masuk saat mereka ingin membantah. "Puffftt hahahhahaahha¡­ kalian berdua memang pantas mendapatkannya." Yogi datang dan duduk di sebelah Riyan. Tak jauh dibelakangnya, Rinto datang dan mengambil tempat sedangkan Adith langsung memeluk hangat Alisya. Alisya hanya bisa pasrah dengan sikap Adith tersebut mengingat Yani dan Vindra juga sudah mengetahui siapa Adith baginya. "Kenapa kalian semua kumpul disini?" Alisya langsung berkomentar saat melihat Karin dan Karan datang serta Ryu dan Akiko juga masuk kemudian. Yani dan Vindra menatap takjub dengan semua orang yang berada disana. Mulut keduanya tak bisa berhenti menganga saat melihat satu persatu orang penting dan luar biasa masuk. "Nona?" Ryu menunduk hormat kepada Alisya yang membuat kepala Alisya sedikit sakit karenanya. "Ayumi siapa sebenarnya dirimu?" Tanya Vindra masih penuh takjub tak mengerti apa yang sedang terjadi saat itu. "Kau selalu saja penuh misteri, kau harus menjelaskan hal ini padaku." Seru Yani merasa sedikit kesal karena tak mengetahui siapa Alisya. Karena orang-orang semakin banyak, mereka akhirnya mengambil tempat yang jauh lebih besar dan cafe tersebut ditutup sementara sebab mereka yang telah menyewa seluruh ruangan yang ada disana. "Apa yang sedang kalian lakukan sebenarnya? Kalian belum menjawab kenapa kalian semua berkumpul disini." "Bisakah kau tidak bertanya terus? Kejutannya masih belum berhenti disini." Karin memijit pipi Alisya yang kemudian memonyongkan bibirnya. "Puhahahahah¡­ sudah lama aku tidak melihat wajah jelek mu ini!" Karin langsung menarik Kacamata Alisya untuk mempermainkannya. "Kalian masih saja seperti kucing dan anjing setiap kali bertemu." Karan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Alisya dan Karin saling bertengkar. "Biarkan saja, rasanya kita seperti kembali ke masa lalu." Adith meminum jus jeruknya. "Maaf, sepertinya kami permisi saja!" Yani merasa kurang nyaman dan tidak pantas berada disana. "Benar, masih ada beberapa pekerjaan yang harus kami lakukan." Tambah Vindra yang dengan kompak menunduk sopan sebelum melarikan diri. Keduanya yang berada disana bagaikan dua biji wijen yang tidak sengaja jatuh di atas kumpulan intar permata dan mutiara serta berlian yang sangat berharga. Merasa diri berbeda, keduanya memilih untuk melarikan diri secepatnya. "Mau kemana kalian?" Alisya yang sedang mencekik leher Karin dengan lengannya segera menghentikan langkah Yani dan Vindra. Rinto dan Ryu sudah berada di hadapan keduanya dengan tatapan dingin yang mengancam. "Maaf Ayumi, tapi sepertinya kami tidak seharusnya berada disini lebih lama." Yani tersenyum kecut dengan tubuhnya yang mulai bergetar gugup. "Benar, aura disini terlalu menekan. Orang kecil sepertiku tidak pantas berada satu meja dengan kalian." Lanjut Vindra juga merasakan kegugupan yang sangat besar. "Benarkah? Tidak pantas berada satu meja yah?" Alisya melepaskan cekikannya dan mulai melepas ikatan rambutnya serta gigi palsunya yang ia masukkan kedalam sakunya setelah dibungkus dengan tisu melangkah perlahan-lahan. "Jika kau merasa seperti itu, maka bukankah harusnya kalian juga tidak pantas untuk menggunakan matamu itu melihat kami?" Adith menoleh dengan tajam. "Kalian juga seharusnya tidak pantas untuk menghirup udara yang sama dengan kami!" Lanjut Riyan dengan suaranya yang berat. "Tidak pantas menginjak bumi yang sama dengan kami." Zein ikut menambahkan dengan mengangkat satu kaki dengan sombong. Melihat aura mereka semua tiba-tiba berubah, Yani dan Vindra segera mengambil jalan lain untuk melarikan diri menghidari Rinto. "Tidak pantas untuk dibiarkan keluar dari ruang ini dengan hidup-hidup!" Yogi segera menghentikan langkah kaki Yani dan membuatnya mundur perlahan-lahan. "Jika tidak pantas se meja dengan kami, itu artinya kalian harusnya dimusnahkan saja!" Karin yang sudah berada di hadapan Vindra membuat Yani dan Vindra gemetar ketakutan. Mereka berdua seolah sedang berada dalam bahaya karena telah membuka kotak pandora tentang kebenaran Alisya yang sebenarnya. "A¡­ aku akan melakukan apapun asal kalian bisa memaafkan dan melepaskan kami." Yani berkata dengan tubuh yang gemetar dan wajah yang pucat. "Apa yang bisa kau tawarkan dengan tubuh rapuh mu itu?" Rinto mengambil langkah mendekat dengan tatapan tajam yang membuat kaki Yani semakin lemas. "Ka¡­ kalau begitu, apa yang harus ka.. kami lakukan agar kalian bisa melepaskan kami? Lepaskan saja dia dan aku akan menyerahkan nyawaku kepada kalian. Aku akan menggantikan dia." Vindra memasang tubuh untuk melindungi Yani dari mereka semua. "Vindra, kau bodoh. Bukan begitu caranya bernegosiasi, siapa yang mengizinkan mu untuk menyerahkan nyawamu. Tidak, kita harus keluar bersama-sama." Yani yang meski katakutan begitu mendengar Vindra memberikan hal yang berbahaya membuat otaknya kembali berpikir dengan baik. "Plakk plakkk bukkkk!!!!" Sebuah pukulan keras mengenai tubuh Yogi, Rinto, Ryu dan juga Karin. "Hentikan itu, kalian sudah membuat mereka sangat ketakutan! Maafkan mereka, mereka memang suka keterlaluan jika menguji orang lain." Akiko segera meminta maaf dengan menunduk dalam. Saat wajah mereka kembali cerah dan suasana yang sebelumnya gelap menjadi lebih hangat, Yani menjatuhkan tubuhnya yang langsung ditangkap oleh Rinto. "Maafkan kami, tapi kalian akan terbiasa dengan hal seperti ini kedepannya nanti." Rinto menggunakan tubuhnya sebagai tempat Yani bersandar tanpa memegang tubuh Yani sama sekali. Vindra tak mengatakan apapun dan hanya jatuh bertekuk lutut karena tubuhnya melemas. Ia mengira kalau hidupnya sudah berakhir saat itu. Beberapa dari mereka hanya tertawa dengan pelan. Alisya segera mengangkat tubuh Yani dan memeluknya dengan erat sebagai bentuk rasa bersalahnya. "Maafkan aku, tapi aku perlu melihat sejauh mana karakter kalian sebelum aku membongkar siapa diriku yang sebenarnya." Alisya memberikan segelas air minum kepada Yani dan membuatnya tenang. Adith yang juga merasa bersalah kepada Vindra segera membantunya bangkit dan melakukan hal yang sama seperti Alisya kepada Yani. "Melihatmu tetap berusaha tenang dan tak meninggalkan temanmu adalah hal yang sangat gentle. Seorang laki-laki yang melarikan diri demi keselamatannya tentunya adalah orang yang akan dengan mudah saya hancurkan." Jelas Adith memuji sikap tangguh Vindra. "Dan karena kamu juga tak egois memikirkan keselamatan diri sendiri dan bahkan memikirkan orang lain membuat kami berpikir bahwa kalian berdua pantas untuk berada disini." Karin datang menghampiri Yani dan memeriksa denyut nadinya. "Jangan pernah meremehkan diri sendiri, karena setiap orang dimata yang maha kuasa adalah sama. Dan kami bukanlah malaikat atau dewa." Riyan tersenyum tulus. Chapter 401 - Berkumpul Kembali Setelah melihat Yani dan Vindra mulai sedikit tenang, Alisya membeberkan siapa sebenarnya dia dengan sedikit bagian penting saja, namun nama yang ia gunakan tetaplah Ayumi agar keduanya terbiasa memanggilnya Ayumi. "Kalian semua sudah kumpul?" Ayah Alisya masuk bersama dengan Ayah dan ibu Adith serta Ayah dan Ibu Karan. Adith segera membukakan kursi untuk kedua orang tuanya, begitu pula Alisya serta Karin dan Karan. "Kalian semua juga ikut datang? Apa yang sedang terjadi sebenarnya?" Alisya tak menyangka kalau mereka semua hadir disana. "Tentu saja kami akan datang!" Seru Ayah Adith memeluk istrinya dengan akrab. "Kami tidak akan ketinggalan tentunya!" Lanjut Ayah Karan. "Apa lagi hari ini hari special. Ya kan?" Tatap Ibu Karan kepada ibu Adith. "Iya dong, putri kita tercinta sampai kebingungan tuh." Ibu Adith tersenyum menatap wajah Alisya yang bingung. "Alisyaaaaa....." Tante Loly masuk dan langsung menghambur dan memeluk Alisya di dadanya dengan erat. Ia menangis tersedu-sedu tak menyangka kalau Alisya masih hidup. "Unmphhhh¡­ puhaahhh! Kebiasaan!!!" Alisya mendorong tantenya yang selalu menenggelamkan kepalanya di kedua dadanya yang besar tersebut hingga Alisya kehilangan nafas. "Sayang, kau akan membunuhnya jika seperti itu." Seorang laki-laki mengingatkan tante loly dengan seorang bayi sehat dan tampan dalam gendongannya. "Paman¡­." Seorang anak laki-laki di belakang suami tante Loly, berlari menghampiri Ayah Alisya yang langsung di sambut hangat oleh Ayahnya. "Di perjalanan kamu nggak mabuk kan?" Tanya Ayah Alisya dengan lembut. "Nggak!" Jawabnya dengan suara yang nyaring. "Tunggu sebentar, jadi tante Loly sudah nikah?" Alisya menatap takjub. "Tentu saja! Kau pikir aku akan menjomblo seumur hidupku?" Tantenya memukul Alisya yang terlihat bengong sehingga membuat semua orang tertawa riuh. Mereka semua mulai berbincang-bincang satu sama lainnya dengan begitu heboh sedang Yani dan Vindra ditemani oleh Akiko dan Karin serta Rinto. "Apa yang harus aku lakukan jika kalian semua berkumpul disini?" Alisya mulai terlihat panik mengingat dirinya masih dalam mode penyamaran. "Jangan khawatir, aku sudah mengatur semuanya." Adith memeluk Alisya untuk menenangkannya. "Kami sudah menjalankan semuanya dengan sangat rapi." Elvian datang bersama dengan Rafli. Alisya membelalak kaget dengan kehadiran keduanya. "Tenang saja kapten, kami hadir sebagai seorang teman." Bisik Rafli dengan penuh hormat. Melihat mereka berada di sana, Alisya kemudian paham akan keamanan mereka semua saat itu karena tentu saja itu artinya tempat itu sudah tersamarkan dengan sangat baik dan rahasia. Tidak terlihat mecolok dengan pakaian serba hitam milik Yakuza, dari jendela riben cafe Alisya bisa melihat kalau setiap orang yang menjadi petugas parkir serta beberapa orang yang berada diluar cafe adalah anggotanya dibawah kepemimpinan Ryu. "Aku harap ini akan menurunkan sedikit kekhawatiran mu nona. Mereka semua berada dalam pengawasan ketat dan sangat rahasia sehingga takkan ada satu pun yang menyadarinya." Ryu yang sudah terbiasa bergerak secara tersembunyi juga membuat Alisya sedikit merasa tenang. "Kami belum ketinggalan kan?" Ibu Arni masuk bersama dengan ibu Vivian. Alisya membelalakkan matanya melihat mereka semua. Terus berdatangan satu-persatu, Alisya masih tidak bisa membayangkan apa yang sedang terjadi saat itu. "Baiklah, aku akan berusaha menahan diri sekarang. Bukankah ekspresi kami sangat meyakinkan?" Ibu Vivian berkata dengan penuh keyakinan menahan kesedihannya. "Berita kematian mu kami tutupi selama ini, kami tak biarkan orang mengetahuinya karena kami tak menemukan jasadmu. Hanya orang terdekat saja yang mengetahuinya meski pada akhirnya kami hampir menyerah." Ibu Arni sudah mulai berlinang air mata. Alisya mengerutkan keningnya tak tahu mengenai hal tersebut. Namun mengingat dari awal keberadaannya hanya segelintir orang yang tahu, ia bisa memahami maksud keduanya. Alisya langsung memeluk mereka dengan sangat erat. "Kamu yakin ini tempatnya?" Aurelia masuk dengan sedikit khawatir. "Dari peta yang ditunjukkan oleh Zein sih benar! Jawab Adora terus melirik handphonenya. "Sudah lah masuk saja, kita akan tau setelah melihat kedalam." Beni segera mendorong mereka masuk. "Pelan-pelan tau, kita bisa jatuh nanti." Feby berkata dengan kesal. "Buruan panas di luar tau!" Gani juga ikut mendorong mereka meski dorongan nya lebih lembut dari pada Beni. "Teman-teman, lihat itu siapa?" Emi sudah kembali dengan wajah tercengang karena melihat Alisya saat teman-temannya sedang berdebat hebat. "Kenapa wajahmu ketakutan seperti itu?" Gina melirik ke arah yang ditunjuk oleh Emi. "Oh, ternyata benar itu mereka!" Aurelia melambai kepada Yogi tak menyadari Alisya yang sedang melihat ke arahnya. Adora dan Feby yang sudah melihat Alisya seketika terdiam tak bersuara dan hanya air mata yang terus jatuh mentes dengan deras. Sedangkan Beni dan Gani melangkah dengan kaki yang gemetar menghampiri Alisya. Begitu Aurelia melangkah ingin menghampiri Yogi, ia tak sengaja menoleh ke arah kirinya dan melihat Alisya di antara ibu Vivian dan ibu Arni. Mata Aurelia membelalak dan menutup mulutnya karena ingin berteriak. Alisya yang tersenyum kecut ke arahnya seketika membuat Aurelia shock dan berteriak hebat dalam diam dengan menutup mulutnya dengan sangat erat. Yani dan Vindra tak kuasa menahan air matanya melihat pertemuan yang mengharukan tersebut terlebih saat melihat ekspresi mereka yang begitu perih dan sakit saat melihat ke arah Alisya. Ibu Vivian dan Ibu Arni segera menyingkir memberikan tempat untuk mereka bisa melihat Alisya lebih jelas. Mereka melangkah perlahan-lahan mendekati Alisya. Adora dan Aurelia memegang tubuh Alisya, Feby mencubit pipinya dan bahkan Beni serta Gani saling tampar untuk membangun mereka dari khayalan atau mimpi. "Jadi ini benar kamu?" Tanya Adora dengan suara tercekat tak mampu keluar dari mulutnya. "Kamu Alisya kan?" Tanya Aurelia dengan suara serak. "Kamu¡­ kamu¡­" Emi dan Feby serta Gina tak bisa mengatakan apapun lagi dan langsung memeluk Alisya dengan sangat erat. Mereka menangis dalam diam agar tak begitu menarik perhatian orang luar. Butuh beberapa saat agar situasi menjadi lebih tenang. Cafe yang sangat luas itu memiliki suasana yang bermacam-macam. Mulai dari sedih, haru, ceria, bahagia dan lain sebagainya menyatu menjadi satu. "Terimakasih semuanya, jujur Alisya masih tak tahu kalau kehadiran kita semua berkumpul disini adalah untuk merayakan acara ulangtahunnya yang ke 26." Adith mulai membuka suara dengan mereka mulai tersenyum bahagia karena biasanya mereka tak sengaja berkumpul dengan situasi berbeda. "Untuk itu, tak usaha basa basi lagi." Adith segera duduk di piano yang terdapat di dalam cafe tersebut melantunkan melodi ulang tahun yang ceria namun lembut. Bersamaan dengan keluarnya kue yang sangat besar dan bertingkat. "Selamat Ulang¡­ Tahun¡­." Mereka semua serentak bernyanyi bersama-sama mengucapkan selamat kepada Alisya. Chapter 402 - Aku Yang Akan Melindungimu! Diperjalanan pulang, Alisya yang merasa kelelahan setelah menyembunyikan air mata nya seharian penuh tersentuh dan terharu atas segala persiapan yang diberikan oleh Adith, Alisya hanya bisa menatap keluar tanpa mengeluarkan sepatah katapun. "Sayang, kau baik-baik saja?" Adith menggenggam erat tangan Alisya untuk memastikan keadaannya. Alisya mengangguk pelan yang membuat Adith sedikit lega sehingga dia bisa terus fokus untuk mengendarai mobilnya. Begitu sampai di apartemen nya, tanpa diketahui Adith Alisya sudah sedikit terlelap dalam tidur. Adith mengangkat tubuh Alisya namun Alisya terbangun dengan cepat karena sadar Adith memegangi tubuhnya. "Tidurlah, aku akan mengangkat mu hingga ke atas agar kau tetap bisa tertidur." Seru Adith lalu dengan santai di masuk ke dalam lift secara perlahan dan lembut agar tidak membuat Alisya terbentur. "Adith¡­" panggil Alisya dengan wajah yang tenggelam di dada Adith. "Hummm?" Adith melihat kepada Alisya dengan tatapan penuh antisipasi ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh Alisya. "Terimakasih banyak, hari ini adalah hari yang paling bahagia bagiku. Meski aku sedikit takut, tapi aku tidak ingin terus-terusan menyembunyikan keberadaan ku kepada mereka." Alisya berkata dengan suaranya yang serak karena sakit pada lehernya yang terus berusaha tegar dengan semua ke haruan yang ia tahan seharian. "Aku tau. Aku tak ingin kau terus terbebani dengan terus menjaga dan melindungi kami. Aku tidak ingin kau menanggung semuanya sendiri. Mereka semua mendukungmu sepenuh hati dan tak perlu mengkhawatirkan mereka lagi." Ucap Adith sembari berjalan keluar dari lift. Ia berajalan dengan sangat pelan agar tetap membuat Alisya semakin merasa nyaman. "Tapi dengan mereka mengetahui keberadaan ku, maka mereka bisa saja berada dalam bahaya sekali lagi. Aku sudah kehilanhan banyak orang yang aku cintai, jadi aku tidak ingin kehilangan banyak orang lain lagi." Air mata Alisya perlahan jatuh mengingat ibu, kakek serta neneknya yang sangat ia cintai dan sudah pergi meninggalkan dia sendirian "Mereka tau apa yang harus mereka lakukan. Mereka bukanlah anak SMA lagi. Selain itu mereka semua sudah bertekad untuk melindungimu. Sekarang adalah giliran kami semua untuk melindungimu." Seru Adith masuk kedalam rumahnya masih dengan posisi menggendong Alisya. "Aku tau seberapa peduli mereka terhadapku, karena aku juga bisa merasakan hal tersebut. Tapi BF bukanlah hal yang mudah bagi mereka, mereka takkan bisa mengatasi BF hanya dengan sebuah tekad saja." Alisya ingin mengingatkan Adith bagaimana BF bertindak tanpa pandang bulu. "Sayang, siapa yang bilang kalau mereka akan berhadapan langsung dengan BF?" Adith mendudukkan Alisya di atas ranjang sedang dirinya duduk di hadapannya. Alisya mengerutkan keningnya mendengar perkataan Adith, ia cukup paham akan apa yang dimaksudkan oleh Adith namun ia tak yakin akan kebenarannya. "Mereka tak perlu berhadapan langsung dengan BF. Yang perlu perlu mereka lakukan adalah dengan tetap berpikir bahwa kau sudah benar-benar meninggal dan terus mencoba menahan diri untuk bertemu denganmu meskipun mereka sangat ingin." Adith menyisir rambut Alisya ke belakang telinganya. "Tapi hal ini hanya berlaku untuk mereka saja dan tidak pada diriku. Aku takkan pernah membiarkanmu menghilang dari hadapanku lagi hanya karena alasan untuk melindungiku. Karena saat ini aku juga bisa melindungimu!" Tegas Adith mengecup kening Alisya dengan sangat lama. "Aku mungkin bisa bertahan jika tak bertemu dengan mereka semua termasuk Ayahku jika aku tahu dia baik-baik saja. Tapi denganmu, aku tak bisa." Air mata Alisya mengalir perlahan mengingat setiap moment saat ia tak bisa berada di dekat Alisya. Adith duduk disamping Alisya dan memeluknya dengan sangat erat. Ia bisa merasakan sedalam apa kepedihan hatinya saat Alisya terpisah dengannya, karena sebesar ia tak sanggup dari Alisya maka sebesar itu pula Alisya tak sanggup terpisah darinya. Begitu Alisya terlihat mulai sedikit tenang, ia dengan perlahan membaringkan tubuh Alisya untuk mengistirahatkan tubuh, mental dan hatinya yang benar-benar lelah. Mereka tidur sembari berpelukan dengan sangat erat seolah takut kalau salah satu dari mereka akan terbangun dengan kehilangan salah satu dari mereka lagi. "Adith¡­" Alisya menyebut nama Adith dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang dalam dekapan Adith. "Ya?" Adith menaikkan wajah Alisya agar bisa melihat mata Alisya yang sedang berbicara dengannya. "Terimakasih banyak, karena mu aku bisa sejenak kembali menjadi seorang Alisya yang dulu. Seorang Alisya biasa dengan kehidupan yang normal, seorang Alisya yang memiliki sahabat, dan seorang Alisya yang mendapatkan cinta dari keluarganya dan orang-orang di sekitarnya. Termasuk dirimu!" Alisya mencium bibir Adith dengan lembut. Perasaan tulus Alisya mengalir masuk kedalam tubuh Adith melalui ciumannya yang lembut dan hangat tersebut. Menatap wajah Alisya, Adith kembali memeluknya dengan sangat erat hingga ia benar-benar tertidur dalam pelukannya. Mereka berdua sama-sama terlelap dalam pelukan erat dan hangat. Alisya yang biasanya selalu tidur dengan penuh waspada, kali itu adalah tidur paling lelap yang pernah ia rasakan selama ini. Tidur yang tanpa beban dan tanpa mimpi yang mengangganggu hingga ia tak sadarkan diri meski matahari sudah naik cukup tinggi. "Hmmm?" Alisya terbangun dari tidurnya dan tak menemukan Adith disebelahnya. Ia langsung bangkit dan duduk di atas kasurnya serta melirik sekitar, begitu akan turun dari ranjang Adith keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk pendek yang menutupi bagian bawahnya. Alisya sudah terbiasa melihat otot-otot yang kokoh selama ia menjadi seorang pasukan khusus yang mayoritas adalah laki-laki, namun otot Adith memiliki sensasi berbeda saat Alisya melihatnya. "Gulppp!" Alisya menelan liurnya dengan susaha payah. "Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa sudah lebih baik?" Adith menanyakan kondisi Alisya yang semalam terus memijit kepalanya tanpa sadar karena sakit terus-menerus menangis. Matanya bahkan sampai bengkak di pagi hari karena terus menangis. Tubuh Adith yang basah bagaikan sebuah berlian-berlian kecil menghiasi tubuh Adith terlihat sangat bersinar dengan indah. Alisya tak bisa mengendalikan dirinya dan kepalanya memanas serta wajahnya menjadi semerah kepiting rebus. "Kau demam?" Adith segera menempelkan dahinya ke dahi Alisya untuk mengecek suhu tubuh Alisya. Tubuh Alisya semakin memanas dengan Aliran listrik berkekuatan tinggi membuat seluruh tubuhnya merinding sempurna. "A.. aku baik-baik saja! Aku,, aku¡­ aku akan mandi sekarang!" Alisya dengan cepat mengalihkan pembicaraan dan menghindari Adith. Adith tersenyum-senyum dan dengan cepat menarik Alisya dan membantingnya ke atas kasur. Ia menghalangi Alisya dengan tubuhnya dan air yang menetes dari rambutnya yang berkilau membuat Adith tampak sangat tampan pagi itu. Tidak tahan melihat wajah Adith, Alisya segera meloloskan diri sekali lagi dan masuk kedalam kamar mandi. Chapter 403 - Gagal Lagi "Kau sudah siap?" Adith yang sudah berpakaian rapi tiba-tiba kembali ke kamar saat Alisya baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuknya yang pendek. Body Alisya yang terlihat putih bersinar dan mulus membuat Adith mengeraskan rahangnya. Menatap body S line milik Alisya yang begitu mempesona membuat hati dan pikirannya kosleting dengan sangat kuat. "Tu.. Tunggu sebentar, aku akan segera bersiap-siap." Alisya melempar handuk dan mengibas rambutnya yang basah. Percikan air dari rambut Alisya mengenai wajah Adith yang membuat Adith langsung mendidih panas. Terlebih aroma Alisya yang sangat khas membuat Adith langsung menghentikan Alisya dan menguncinya di dinding. "Kau sangat serius untuk menggodaku?" Adith menghirup aroma tubuh Alisya dengan bau sampo yang sangat wangi segera merasuk masuk kedalam hidungnya. "Adith, pagi ini kita ada jadwal keberangkatan. Ingatkan liburan yang sudah kamu janjikan pada semuanya?" Alisya berusaha untuk mengingatkan Adith. "Aku tau, tapi kita masih punya waktu setengah jam. Dan itu cukup untuk 1 ronde awal." Ucap Adith langsung mengangkat Alisya dan menempatkannya di atas tempat tidur. "Kita akan terlambat Dith." Bukannya tidak ingin melakukannya dengan Adith, namun rasa malu masih menyelimuti dirinya dengan sempurna. "Kita akan naik pada penerbangan selanjutnya." Adith tak peduli lagi dan mulai mencium bibir Alisya dengan lembut. Semakin lama ciuman itu semakin panas dengan nafas keduanya yang semakin memburu. "Apa kali ini kau siap untuk menjadi milikku seutuhnya?" Adith bertanya kepada Alisya sebagai permohonan izinnnya. Alisya hanya mengangguk pelan dan memalingkan wajahnya karena merasa sangat malu, namun melihat leher jenjang Alisya, Adith semakin tak bisa menahan dirinya. Dengan sangat lembut dia memperlakukan Alisya bagai seorang putri yang harus ia layani dengan sepenuh hati. "Bzzttt bzzzttt¡­ bzzztt bzzzt.." handphone milik Adith segera bergetar kuat dengan deringan yang tak kalah nyaring. Adith mengangkat handphone nya tak peduli dan hanya kembali mematikannya seolah tak terjadi apapun. Adith kembali melakukan kegiatannya dengan melepas jas miliknya dengan cepat lalu secara perlahan kembali mendekati Alisya. "Tingtong¡­ tingtong¡­ tingtong!!!" Suara bel yang ditekan dengan sangat ribut dan tanpa henti. "Bajingan dari mana yang sedang menganggangu harimau lagi bercinta?" Ketus Adith kesal dan penuh amarah. Alisya yang masih dengan balutan handuknya yang belum lepas karena Adith tak ingin terburu-buru melakukannya membuatnya hanya bisa tertawa pelan. "Buka pintunya, aku akan bersiap-siap terlebih dahulu." Alisya bangkit dari tempat tidurnya dengan senyuman manis. "Tidak, abaikan saja! Ayo kita lanjutkan kembali." Adith kembali menarik tangan Alisya dan menindihnya. "Tingtong tingtong tingtong!!!" Suara bel tersebut tak berhenti berbunyi dengan keras membuat Adith jadi tak bisa menikmati kegiatannya dengan tenang. "Tidak baik membuat seseorang tamu menunggu lama di depan pintu." Alisya mengelus pipi Adith lembut agar ia terpaksa harus bersabar. Mungkin memang saat itu bukanlah waktu yang tepat bagi mereka untuk bersatu. Alisya bangkit merapikan baju Adith serta memasang kembali jasnya. Adith melirik ke leher Alisya yang nampak ciuman kepemilikannya pada leher Alisya yang nampak merah di sana sini. "Apa kau tau cara menghilangkan bekas ini?" Adith mengingatkan Alisya mengenai lehernya sebelum keluar. "Tenang saja, aku bisa mengatasinya. Sekarang keluarlah dan lihat siapa yang datang. Yani dan yang lainnya juga pasti sudah mencari-cari diriku sekarang." Jelas Alisya segera mendorong tubuh Adith keluar dari kamarnya. Adith segera menuju ke depan pintu, dan menemukan Yogi serta Rinto sudah berada disana. "Brengsek!" Adith segera menghajar keduanya dengan kesal. "Hahaahhaha sepertinya dia sedang melakukan sesuatu yang asik namun terganggu oleh kedatangan kita." Yogi tertawa terbahak-bahak menghindari Adith. "Jadi ini kenapa kau memaksaku untuk datang kemari sepagi ini?" Rinto menatap kesal dan malu kepada Yogi. "Tentu saja, kalau bukan karena dia aku mungkin bisa menghabiskan waktu untuk mengurus pernikahanku." Seru Yogi kesal karena Adithlah yang membuat mereka harus ikut dalam kegiatan paket liburan perusahaan. Rinto yang ingin berbalik pergi segera ditarik masuk oleh Yogi kedalam apartemen Adith. "Apa yang kalian inginkan sebenarnya?" Tanya Adith kesal dengan kedatangan dua sahabat biadabnya itu. "Karena kau sudah berkata akan ikut, maka kau harus bertanggung jawab. Kami kemari untuk memastikan kau ikut dan bukannya bersenang-senang sendirian disini, kita akan berangkat sama-sama." Terang Yogi duduk di sofanya dengan santai Adith merasa geram dengan tingkah laku Yogi, namun memilih pasrah karena dia juga yang sudah mengacaukan acara yang harus dilakukan oleh Yogi kepada Aurelia. Alisya yang sudah berpakaian rapi kembali masuk kedalam kamar mandi untuk melihat secara lebih jelas pada bekas merah di lehernya. Dengan memberikan sedikit pasta gigi pada bagian yang merah dan mendiamkan nya selama beberapa saat, Alisya lalu membilasnya dengan handuk yang sudah ia basahi dengan air hangat. "Kalian sudah berada disini rupanya?" Alisya tertawa pelan melihat ekspresi tajam Adith kepada Yogi dan Rinto. Mereka akhirnya berangkat bersama-sama. Alisya yang mungkin takkan ikut bersama Adith, namun dengan kehadiran Yogi dan Rinto, Alisya pada akhirnya ikut bersama dengan mereka. "Direktur benar-benar datang!" Bisik salah seorang pegawai dengan penuh semangat. "Liburan bersama 3 pilar itu rasanya seperti berlibur bersama 3 dewa tampan." Lanjut yang lainnya saat melihat ketiganya datang. "Tapi, kenapa Ayumi datang bersama mereka? Apa memang mereka datang bersamaan?" Yang lainnya terlihat sedikit cemburu melihat Alisya yang berada di belakang ketiganya. "Mana mungkin dia datang bersama direktur. Direktur paling tidak suka dengan wanita yang suka nempel seperti dia, dan kau tau sendiri bukan kalau direktur memiliki mysophobia terhadap wanita." Tegas yang lainnya tak ingin percaya. "Aku pikir kalian tidak akan datang, ibu Lian terlihat sangat khawatir dan kecewa tadi." Yani berbisik pelan kepada Alisya. "Mana mungkin Adith bermain-main dengan kata-katanya." Alisya tersenyum simpul. Dengan datangnya Adith dan yang lainnya, mereka segera masuk ke dalam pesawat terbang dan mencari tempat duduk masing-masing. Alisya berada di sebelah Yani dan Vindra sebab Lian mengira kalau ketiganya lebih suka duduk bersama-sama. Namun begitu akan duduk, Adith yang harusnya berada pada baris VVIP ternyata sudah mengambil tiket kursi dari Vindra dan duduk bersama dengan Alisya. "Sepertinya direktur ingin mencoba duduk di kursi kelas VIP, karena lebih ramai dibanding dengan VIP yang hanya mendapatkan satu kursi saja." Yani berkata-kata dengan canggung untuk tidak membuat orang lain salah paham. "Kau benar, direktur juga terlihat ingin lebih akrab dengan yang lainnya." Vindra tersenyum canggung dan membiarkan Adith dan Alisya duduk di kursi yang sama sedangkan keduanya segera menyingkir. Chapter 404 - Resort Mulia Bali Alisya memandanga wajah Adith yang nampak kesal dan penuh amarah. Adith hanya duduk di samping Alisya tanpa menoleh dan menutup matanya untuk tidur. Alisya hanya bisa tertawa pelan melihat Adith yang sedang dalam suasana hati yang buruk. "Hei, kau marah?" tanya Alisya kepada Adith dengan sedikit menggodanya. Ia berani berkata seperti itu ia melihat yang lainnya sedang repot dalam membereskan barang-barangnya. "Tidak padamu, tapi rasanya aku ingin sekali membunuh mereka!" Adith tetap tidak tega jika harus menunjukkan wajah kesalnya kepada Alisya sehingga ia mengira kalau Adith kecewa padanya. "Akan ada waktu yang tepat untuk itu. Aku tau kau sangat ingin melakukannya bukan karena nafsu semata tapi memikirkan kedua orang tua kita. Tapia da banyak hal yang memang akan selalu berada diluar kendali kita. Yang aku maksudkan adalah aku tak ingin melihamu kecewa seperti ini saat bersamaku terlebih karena ini liburan pertama kita setelah sekian lama." Alisya masih berbicara dengan lembut menoleh ke arah Adith. Mendengar ucapan Alisya, Adith jadi merasa bersalah kepada Alisya karena hanya bersikap egois dengan memikirkan dirinya sendiri. Apa yang ia rasakan mungkin sama dengan apa yang di rasakan oleh Aisya namun ia tetap bersikap positif dan tenang. "Aku baik-baik saja, maaf karena sudah membuatmu tak nyaman." Adith segera memegang erat tangan Alisya agar ia merasa nyaman. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai, dan mereka sudah tak sabar ingin segera sampai di tempat liburan yang sudah di sediakan. Paket liburan perusahaan yang diberikan kali ini The Mulia Bali yang terletak di ujung selatan pulau Bali, dan menawarkan pemandangan Samudra Hindia, Pantai tersebut dapat dipastikan pemandangannya adalah pantai yang sangat indah. Resor itu menawarkan 3 kolam renang outdoor, spa lengkap, dan kamar-kamar luas dengan interior mewah. Kamar-kamar ber-AC di Mulia Resort dikelilingi oleh taman lanskap tropis yang indah, dan didekorasi dengan warna bernuansa coklat yang elegan. Hal itulah yang membuat Lian memilih untuk berlibur ke tempat itu. Resort yang sejuk serta nyaman membuatnya untuk memutuskan memilih tempat liburan kesana. Fasilitas super mewah pun menjadi daya tariknya mengingat Adith sang direktur ikut bersama dengan mereka. "Wuaahh¡­ tempat ini indah sekali, ini adalah hal yang paling berharga dalam hidupku!" ucap salah seorang dari mereka yang langsung menghambur keluar saat uturun dari bis. "Ini sangat luar biasa. Resort ini tergolong sangat mewah dan mahal, tapi kita bisa mendapatkan liburan disini. Ini seperti berada disurga." Tambah seorang lainnya. "Ayumi, lihat patung-patung besar yang berada di dekat kolam itu, itu terlihat sangat indah sekali." Yani dengan semangat menunjuk kepada patung-patung yang berjejeran dengan kokoh di pinggir kolam yang menghadap ke samudra hindia. "Benar, ini adalah kali pertamaku melihat yang seperti itu." Tatap Alisya penuh takjub. Dia yang selalu saja berada pada misi dalam hutan hujan dan masa lalunya yang terus bersembunyi membuatnya tak bisa menikmati hidup dengan bebas. Melihat ekspresi penuh bahagia, takjub dan senang Alisya, Adith jadi tersenyum bahagia. Untuk menebus rasa bersalahnya kepada Adith, Yogi sudah menyiapkan beberapa kegiatan yang bisa mereka lakukan disana sebagai bentuk membina keakraban antara sesama pegawai dan pegawai dengan direktur. "Oke semuanya. Sekarang kita menuju resort terlebih dahulu dan menaruh semua barang-barang kita dan bertemu di depan sana 30 menit lagi untuk memulai kegiatan pertama liburan kita." Seru Lian setelah mendapatkan arahan dari Yogi. Mereka segera pergi menuju ke kamar masing-masing dengan Yani sekamar dengan Alisya. Adith tidak mungkin memaksa Alisya untuk sekamar dengannya, namun Adith sudah memilih tempat khusus yang bisa di datangi oleh keduanya tanpa perlu merasa khawatir akan ketahuan. "Oke, karena semua sudah disini, hal pertama yang akan kita lakukan adalah melakukan pertandingan kelompok dimana yang kalah harus menyeburkan diri ke dalam kolam." Seru Yogi dengan penuh antusias. "Silahkan masukan tangan kalian pada kotak itu dan ambil satu bola berwarna yang akan menjadi identitas kelompok mu." Melihat mereka acuh tak acuh dan tak begitu peduli, Yogi langsung melirik ke arah Adith dan Rinto. "Direktur juga akan ikut bermain, dan tentu saja Rinto serta aku juga akan ikut. Kalian mungkin akan bisa berada di satu kelompok dari kami." Seketika mereka menjadi sangat heboh dan berebutan untuk berada pada satu kelompok di antara mereka. "Baiklah, kalau begitu direktur yang paling pertama untuk mengambil bola." Lian mengarahkan dengan suara gugup takut kalau Adith tidak akan melakukannya. "Bola biru!" Teriak Yogi saat melihat warna bola yang sudah berada di tangan Adith. "Dia akan menjadi pemimpin dari kelompok biru. Selanjutnya adalah Rinto untuk mengambil bola." Yogi sekali lagi mengarahkan jalannya kegiatan tersebut dengan sangat santai. "Karena Rinto mendapatkan bola merah, maka dia akan menjadi ketua kelompok merah. Selanjutnya kalian semua, untuk mengambil bola di dalam kotak agar bisa melihat mereka berada pada kelompok yang mana. Satu persatu dari mereka segera mengambil bola dengan cepat. Mereka tak masalah untuk masuk pada tim manapun sebab bagi mereka bisa nenjadi bagian dari Rinto atau Adith adalah hal yang sangat mereka nantikan. "Aku berada di kelompok biru." Ucap Yani mengangkat tangannya dari dalam kotak. Selesai Yani, Vindra dengan segera menarik bola dari dalam kotak dengan harapan agar bisa masuk kedalam kelompok Adith. Keberuntungan tidak berpihak kepada Vindra karena ia harus masuk ke dalam tim Rinto. Begitu giliran Alisya tiba, hal tal terduga terjadi dimana bola yang dipegang Alisya bukannya berwana biru, melainkan berwarna merah yang berati Alisya tidak sekelompok dengan Adith, melainkan ia sekelompok dengan Rinto. "Sepertinya ini akan menarik." Yogi menyeringai licik melihat kondisi kelompok mereka saat itu. "Jadi pertandingan tim ini adalah dengan rantai kata. Anggota kelompok akan berjejeran satu sama lain dan orang yang berapa pada bagian paling belakang akan diberikan kata kunci yang mana mereka harus menebak apa yang ditirukan dengan gerakan oleh temannya." Lian menjelaskan dengan panjang lebar mengenai rantai kata yang harus mereka tebak. "Pemenangnya akan mendapatkan satu set makanan dan minuman mewah, sedangkan yang kalah hanya akan mendapatkan sepiring nasi dengan kerupuk saja." Yogi sengaja memberikan hadiah eksklusif untuk membakar semangat mereka. Melihat Adith tetap bersikap santai membuat mereka semua jadi semakin bersemangat karena setidaknya Adith tidak menolak untuk tidak mengikuti kegiatan tersebut. Yogi menatap Adith dan Alisya bergantian sehingga ia kembali mendapatkan sesuatu yang cukup menyenangkan untuk membuat kegiatan tersebut semakin meriah. Chapter 405 - Rencana Licik Yogi "Permainan pertama yang akan kalian mainkan adalah hulahoop estafet, yaitu secara berkemlompok, kalian akan bertanding untuk memasukkan hula hoop dari satu orang ke orang berikutnya tanpa terputus. Mereka yang lebih dulu selesai adalah pemenangnya." Yogi dengan cepat mengarahkan mereka semua untuk memulai permainannya. Adith yang ragu-ragu untuk bersentuhan dengan wanita lain dengan cepat dikelilingi oleh para pria di kanan kirinya sedangkan Alisya berada ditengah Vindra dan Rinto. Melihat itu Adith masih bersikap santai dan tidak mempermasalhakannya. "Oke siap? Mulai! Priiit" Lian meniup peluitnya dengan keras lalu Rinto dengan cepat memasukkan hula hoop dari tangannya melewati tubuhnya kemudian menuju ke Alisya hingga selesai. Hal yang sama dilakukan oleh tim Adith dan pada akhirnya tim merah yang memenangkan pertandingan itu. Alisya yang terlihat sangat menikmati hal itu membuat Adith jadi sedikit termotivasi. Untuk masalah bekerja secara tim, Alisya sudah terbiasa melakukannya selama dalam pelatihan satuan khusus di militer, namun untuk benar-benar bermain bersama teman-temannya dan juga Adith, Alisya lebih mendapatkan sensasi yang lebih menyenangkan. "Sepertinya kau sangat menikmati permainan ini." Adith datang menghampiri Alisya yang sedang tersenyum-senyum senang. "Kau tau kenapa ini menyenangkan?" balas Alisya masih dengan perasaan senang. Adith hanya melirik sekilas menanti kalimat Alisya selanjutnya. "Itu karena aku ingin sekali mengalahkanmu!" Alisya menatapnya tajam dan dengan sunggingan sinis, dia berhasil menarik minat Adith untuk ikut menikmati kegiatan tersebut. "Selanjutnya aku takkan biarkan kau menang dengan mudah." Adith menjadi sangat kompetitif jika sudah mendapat tantangan. "Selanjutnya, sambung karet. Kalian akan diberikan satu stik yang nanti dijadikan sebagai tongkat dengan cara menggigit tongkat stik dan menyambungkan karet ke orang berikutnya sampai ke sisi yang lain. Mereka yang mendapat karet terbanyak dalam waktu satu menit adalah pemenangnya." Seru Yogi mulai membuat permainan itu menjadi sedikit lebih intim. Melihat ekspresi nakal Yogi, Alisya mengerutkan keningnya. Ia dengan cepat paham akan apa tujuan dari Yogi sehingga Alisya menggeleng-geleng takjub. "Kau seperti ular, persis seperti pasanganmu. Sama-sama licik." Alisya hanya menggerakkan bibirnya namun dapat dibaca oleh Yogi dengan sangat baik sehingga ia hanya tertawa pelan. "Biar kalian bisa menjadi lebih akrab. Ini hanya awalnya saja, buat dulu dia panas karena orang lain dan malamnya kau harus menenangkannya dengan panas yang lain." Yogi juga ikut-ikutan menggerakkan bibirnya yang kali ini dapat dilihat oleh Rinto. Rinto menutupi pandangan Alisya dari Yogi dan memakinya dengan kesal "Jangan kau mengajarkan hal yang sesat." Rinto yang menatap tajam kearah Yogi hanya membuatnya tertawa pelan "Carilah juga jodohmu wahai jomblo!" tatap Yogi dengan santai. Adith bisa melihat pertempuran kata antara Rinto dan Yogi namun tak tak melihat percakapan mereka dari awal. Namun dapat diketahuinya kalau Yogi suah merencanakan sesuatu yang licik lagi. "Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu." Adith tersenyum dan mengambil Handphonenya untuk menelpon seseorang. Permainan berikutnya tidak perlu diragukan lagi, tepat seperti apa yang diinginkan oleh Yogi. Adith terlihat begitu gelap saat melihat Alisya sedang memajukan wajahnya ke dekat Vindra sehingga Alisya dan Rinto bisa merasakan aura membunuh yang sangat kuat. Hasilnya adalah tim Adith berhasil memenangkan pertandingannya namun ia tetap merasa panas. "Apa yang harus kita lakukan dengan ide konyol laki-laki satu itu?" Rinto menatap geram ke arah Yogi yang terlihat menikmati permainannya tersebut. "Aku rasa dia sedang ingin Adith mengubur kita hidup-hidup sekarang." Alisya menghela nafas dengan berat. "Ada apa?" tanya Vindra melihat kecemasan di wajah Alisya dan Rinto. "Tidak apa-apa, sebaiknya kau tidak terlibat agar hidupmu selamat" ucap Rinto sambil berlalu pergi. "Apa sedang tejadi sesuatu?" suara Vindra terdengar cemas mendapat peringatan dari Rinto. "Kau tidak perlu khawatir, tidak akan ada masalah." Alisya tersenyum manis untuk menenangkan Vindra. "Oke, pertandingan selanjutnya adalah jatuhkan lawanmu. Setiap dari kalian akan diberikan satu lembar kertas dan masing-masing dari kalian harus berusaha untuk bertahan berdiri di atas kertas yang sama dan saling dorong. Mereka yang berhasil menjatuhkan lawannya adalah pemenangnya. Dan kelompok dengan pemenang terbanyak akan menjadi pemenang mutlak yang mendapatkan satu set makanan mewah." Seru Yogi berusaha untuk bersikap santai dengan idenya kali itu. "Tapi sebelum itu, kalian akan mencabut lot untuk menentukan siapa lawanmu pada permainan kali ini jadi masing-masing tim silahkan maju untuk mencabut lotnya." Lian yang tidak bermain juga ikut membantu Yogi dalam mengatur semua permainan. Setelah mencabut lot, terlihat jelas di mata Adith dan Alisya apa yang sedang dilakukan oleh Yogi karena pada akhirnya Adithlah yang akan melawan Alisya sedang Rinto sekarang sudah berhadapan dengan gadis manis berhijab dihadapannya, Yani. Vindra dan yang lainnya juga tak kalah beda harus berhadapan dengan wanita lainnya dari tim lawan masing-masing. Permainan itu tampak seperti permainan berpasangan. "Kenapa hanya kita berdua yang sedang bermain pedang-pedangan sekarang?" Yayat sedang menatap nanar ke arah lawannya Dira. "Sepertinya nasib kita sangat menyakitkan!" ucap Dira merasa iri dengan mereka yang mendapat lawan wanita. "Sayang, kalau ingin jatuh aku bisa memberikanmu dadaku yang bidang." Ucap Adith memancing Alisya yang berhadapan dengannya. "Oh ya? Itu artinya aku akan terbentur dengan sangat keras. Bagaimana jika kau menawarkanmu untuk jatuh di dadaku?"Alisya mendekat kepada Adith dan berbisik ditelinganya. "Aku punya dua tempat yang cukup empuk buatmu saat terjatuh." Alisya melirik nakal pada bagian dadanya yang langsung membuat mata Adith membelalak tak percaya. "Sepertinya kau semakin nakal yah? Aku harus menghukummu dengan sangat keras kali ini. Jangan harap kau akan lolos kali ini." Adith menggetakkan giginya kepada Alisya yang membuat Alisya tersenyum-senyum sendiri. "Oke, semuanya siap? Mulai." Teriak Yogi cepat yang langsung membuat beberapa dari mereka mulai berjatuhan. Vindra berhasil memengangkan pertandingan yang hampir sama juga dengan kelompok Adith yang berhasil mengalahkan kelompoknya. Rinto yang tak bisa mendorong Yani langsung bergerak ingin mundur namun Yani menariknya dengan kuat. "Aku tak suka dengan laki-laki yang sok bersikap gentle dengan mengalah kepada perempuan hanya karena tidak ingin melawan perempuan. Jangan kira aku tidak bisa membuatmu jatuh." Yani yang kompetitif tidak terima jika Rinto menyerah begitu saja. Sehingga dengan kesal dia menarik kerah leher baju Rinto. Rinto yang mengira kalau Yani adalah cewek yang manis dan bersikap lembut cukup kaget dengan perubahan sikapnya saat pertandingan berlangsung, ia kemudian melakukan pertandingan dengan adil. Rinto berusaha keras mendorong Yani namun dengan sekuat tenaga bertahan hingga dengan satu trik nakal dari Yani, Rinto terjatuh dengan kaget. Mereka akhirnya mendapatkan hasil yang seimbang setelah Rinto kalah. Dan penentuan hasilnya ada pada Adith dan Alisya yang terlihat masih melakukan pertarungan dengan sangat serius. Mereka yang terus melakukan pertahanan malah merusak kertas yang berada ibawah pijakan mereka sehingga tidak terlihat siapa yang akan memenangkan pertandingan. "Hebat, Ayumi yang terlihat cupu dan letoy seperti itu tidak mau kalah juga melawan direktur." Dira menatap Ayumi dengan rasa kagum. "Bukan, itu karena direktur tidak ingin bersentuhan dengan wanita!" jawab yang lain membela Adith. "Tidak ingin menyentuh? Bagian mana yang kau lihat, bukankah kau lihat direkutr sedang memegang bahu Ayumi dengan sangat erat?" Tanya yayat bingung dengan maksud dari Srie. "Ituokan bukan sentuhan kulit langsung?" bentak Srie tak suka dengan ucapan Yayat yang mengisyaratkan kalau Adith terlihat memiliki toleransi sentuhan pada Alisya. "Alisya, lihat ini." Yogi langsung menarik baju Adith dan memperlihatkan roti sobek Adith yang sangat menawan sehingga Alisya terkejut dan Adith yang kaget juga menjadi goyah. Dorongan Alisya begitu kuat sehingga Adith sampai terjatuh kebelakang sedang tangannya masih memegang lengan Alisya dengan kuat sehingga mereka jatuh secara bersama- sama. Alisya yang jatuh dengan kuat menindih tubuh Adith dengan bibir yang langsung membentur bibir Adith dengan sangat kuat. Chapter 406 - Ciuman Ganas dan Bar-bar Semua orang yang melihat kejadian itu terkejut bukan main. Ekspresi mereka mulai dari kaget, takut, takjub dan berbagai ekspesi jelek lainnya nampak di wajah mereka masing-masing. Ibu Lian terlihat kaku dan tak bergerak takut kalau Alisya akan mengalami nasib yang buruk setelah melakukan hal tersebut kepada direkturnya yang terkenal sangat dingin dan bengis kepada sentuhan langsung dengan orang lain. "Bagaimana bisa dia mendorong direktur sekuat itu?" seorang pegawai wanita berkata dengan suara yang bergetar. "Apa yang akan dilakukan oleh direktur kali ini? Terakhir kali Ayumi hanya membawakan air untuknya yang terjadi malah mendapat makian dan di siram oleh direktur." Terang yang lainnya yang tadinya tidak terlalu menyukai Alisya, namun akhirnya mengkhawatirkan nasibnya. "Apakah direktur akan memarahinya habis-habisan?" tanya yang lainnya juga mulai merasakan takut. "Bukan hanya dia, aku takut gara-gara kejadian ini kita semua akan berakhir dipecat." Tambah yang lainnya tak kalah takut. "Tidak bisakah kalian liat ekspresi takut diwajah ibu Lian? Semua ini adalah idenya maka bisa jadi dia yang akan mengalami dampak yang lebih buruk lagi." Dira menatap ekspresi pucat dari Lian yang sudah terlihat berkeringat dingin. Dari mereka semua yang terlihat sangat ketakutan, Yogi terlihat nyengir-nyengir kuda dan sangat menikmati pemandangan itu. Ia bahkan tidak lupa untuk memotret kejadian tersebut dan mengunggahnya ke grub social media mereka. Ketika satu ting masuk kedalam semua HP mereka yang dengan cepat menampilkan layar hologram bergambar kejadian tersebut dimana Alisya sedang menindih Adith, detik berikutnya grub mereka tak berhenti bergetar dan terus berbunyi. Beberapa dari mereka bahkan harus terperanjat kaget dan menyemburkan minuman serta menjatuhkan barang yang mereka pegang karena membuka gambar tersebut di tempat umum. "Apa yang sedang terjadi?" Beni adalah orang pertama yang langsung menanyakan kejadian tersebut. "Kenapa aku melewatkan kejadian seperti ini? Aku tak mengampuni kalian!" Karin menandai nama Yogi dan Rinto dalam pesannya dengan emoticon tinju serta wajah iblisnya. "Wow,,, sepertinya Alisya semakin agresif terhadap Adith yah?!" Adora masuk dengan emotikon tertawa yang sedang menutup mulutnya. "Ah¡­. Aku merasa sangat iri dengan kebahagiaan mereka berdua!" Gina juga tak kalah semangat dengan menambah emoticon mata yang bergambar cinta. "Meski begitu, bukankah ciuman itu terlihat sangat brutal?" Emi melihat dengan terus tertawa tepingkal-pingkal. "Apa bibir Adith sangat empuk sampai dia harus menciumnya dengan gaya bar-bar seperti itu?" Feby juga tak kalah gilanya saat tertawa hingga orang-orang disana menatap aneh padanya. "Tapia kau akan memberikan jiwa dan ragaku meski ciuman itu sangat bar-bar!" sambung Gani dengan penuh semangat. "Dimana ini, aku akan kesana sekarang!" Riyan segera menampilkan gambar pesawat untuk segera berangkat ketempat mereka. "Sialan!!! Kalian bersenang-senang tanpa kami, aku takkan memaafkan kalian." Zein tak kalah marah dengan moticon wajah yang merah. "Jangan pernah lewatkan satu moment pun yang terjadi pada nona!" Ryu yang masuk malah nampak sangat mendukung apa yang dilakukan oleh Yogi dengan mengirimkan gambar tersebut kepadanya. "Ouuhhh.. A chan, kakak Ipar, Kendalikan diri kalian!" Akiko masuk dengan emoticon ekspresi terkejutnya yang sangat banyak. "Apakah aku juga harus melakukan yang sama?" Karan membalas pesan dari Akiko yang seketika membuat mereka semua semakin heboh. Grub mereka membengkak dengan ratusan chat yang masuk tapa henti. Grub yang selama ini selalu sunyi sepeninggal Alisya, mendadak semakin ramai dan heboh semenjak Alisya membeberkan kebenaran mengenai dirinya yang masih hidup. Mereka yang dulunya hidup dilingkupi dengan rasa sedih serta rasa bersalah yang dalam dan kenangan buruk menyakitkan serta kerinduan yang tiada tara yang membuat hidup mereka hanya berjalan dalam kehampaan pada akhirnya menjadi lebih berwarna kembali. "A¡­ Ayumi? Apa yang kau lakukan? Sampai kapan kau akan menindih direktur?" Yani bersuara pelan memperingatkan mereka berdua yang sedang ditatap oleh banyak orang. Vidra hanya terdiam kaku dan tak berkeringat dingin tak tahu harus bagaimana. Vindra Sadar akan apa yang sedang terjadi, Alisya yang berusaha bangkit segera dihentikan oleh Adith dengan langsung mengaitkan kedua tangannya kepinggang Alisya dan menekannya lalu menciumnya dengan sangat intens dihadapan semua orang. Rinto hanya bisa memukul jidatnya dengan sangat kuat saat melihat kejadian tersebut sedang dari belakang punggung Alisya, Adith memberikan jempolnya kepada Yogi. "kali ini kau aku maafkan, tapi sudah terlambat untuk menyelamatkanmu dari terkaman harimau sebentar." Batin Adith sambil terus melanjutkan ciumannya dengan lebih panas. "Huhhh??" Apa aku tak salah lihat dengan kejadian ini?" Dira mengucek matanya dengan sangat cepat melihat Adith malah mencium Alisya bukannya memarahinya atau memberinya pelajaran. "Whattt?!" Yayat menatap takjub dan membelalakkan matanya. Puluhan pegawainya yang lainpun tak kalah terkejutnya melihat direkturnya melakukan hal seperti itu kepada Alisya. Mereka yang semula takut akan apa yang terjadi pada mereka selanjutnya, kini malah mengerutkan kening bertanya-tanya akan apa yang tejadi selajutnya. "Puhhhaahhh.. Kau ingin mebunuhku?" Alisya mengambil nafas dalam saat Adith melepaskan ciumannya pada bibir Alisya. "Tentu saja kau takkan mati hanya karena sebuah ciuman panas, jika itu terjadi judul artikelnya akan sangat Vulgar sekali." Adith tertawa pelan melihat ekspresi malu dari Alisya. "Bersyukurlah karena kita sedang berada diluar, jika tidak kau akan mendapatkan pelajaran berharga dariku." Alisya memukul dada Adith pelan lalu bangkit dari posisinya. "Bersyukurlah karena kita sedang berada diluar, karena jika tidak kau sudah akan mendapatkan pelajaran yang sangat ganas dariku." Adith berkedip nakal kepada Alisya yang membuat Alisya menganga tak percaya. Bukan hanya Alisya, namun semua yang berada disana serta lian juga menganga dengan sangat lebar melihat direkturnya yang dingin tersebut sedang mengerling nakal kearah Alisya. "Apa aku tak salah lihat?" seorang diatara bertanya setelah susah payah menutup mulutnya yang kaku. "Di¡­ di¡­ Plakkk!!!" seorang diantara mereka menapar pipinya dengan keras karena tak bisa berbicara dengan lancar. "Direktur berkedip pada Ayumi bukan?". "Bagaimana bisa aku bisa seberuntung ini melihat sebuah kejadian berharga di depan mataku saat mengetahui kalau direktur bukanlah seorang gay meski dia mencium wanita lain bukannya aku!" seorang wanita berkata dengan menaruh pipinya sangat Bahagia melihat kejadian tersebut. "Pletakkkkk" kepalanya di jitak oleh Lian dengan sangat kuat. "Pehatikan apa yang kau katakana, apa yang kau lihat hari ini sebaiknya kau simapan dalam-dalam dan jangan biarkan orang dari divisi lain atau yang berada di perusahaan mengetahuinya, jika tidak bukan hanya hidupmu saja yang tamat. Tapi kita semua akan menjadi pengemis seumur hidup!" Lian memperingatkan temannya karena tak yakin akan apa yang terjadi. Chapter 407 - Orang Bodoh Yang Mencintai Seorang Yang Hebat "Baiklah semuanya, karena direktur yang lebih dahulu menyentuh tanah, maka pemenangnya adalah kelompok Merah!" Teriak Yogi dengan penuh semangat yang langsung disambut heboh oleh kelompok Rinto. Melihat Adith yang tampak tak marah dan malah ekspresi wajahnya yang hidup membuat mereka semua jadi tak lagi khawatir dan semakin bersemangat. Terlebih saat melihat apa yang dijanjikan oleh Yogi kepada mereka semua mengenai satu set makanan mewah yang sangat menggugah selera. Semuanya serempak makan dan menyantap makanan yang datang sedang sebagian lagi segera bermain-main di kolam renang dan berofoto-foto ria dengan patung-patung raksasa yang berjejeran sepanjang kolam renang yang berada di resort mulia. Malam menjelang, mereka sudah kembali berkumpul diluar untuk mennikmati makan barbeqyu yang sudah disediakan oleh ibu Lian sebelumnya. Beberapa makanan lain juga sudah disediakan oleh para koki di atas meja dengan segala macam jenis makanan laut yang sangat mewah dan enak. Mereka yang sebelumnya hanya memakan nasi dan kerupuk karena kalah akhirnya bisa menikmati makan dengan sangat lahap. "Sepertinya kalau kita hanya makan begitu saja akan kurang seru, bagaimana jika kita melakukan permainan yang menyenangkan?" Yogi yang kembali memberikan suatu ide segera membuat Rinto menggelap wajahnya. "Bisakah kau hentikan segala tingkahmu yang ingin berbuat aneh tersebut?" Rinto segera menatapnya dengan sangat tajam, tapi Yogi tak peduli. "Oh, Ayolah.. Kau jangan terlalu kaku seperti itu. Apa kau ingin semua moment ini berlalu begitu saja tanpa ada kenangan yang berarti?" pancing Yogi mengingat Lian lah yang sudah memberikan semua agenda itu kepadanya dengan sedikit modifikasi darinya. "Aku tidak masalah, tapi sepertinya kau harus behati-hati mulai dari sekarang." Adith segera memberikannya peringatan akan apa yang dilakukan oleh Yogi. "Huhhh.. Apa lagi yang kamu pikirkan sebenarnya?" Alisya mendesah dengan semua hal yang dipikirkan oleh Yogi. "Tidak ada yang aneh, permainannya hanya dalam bentuk memberikan tantangan kepada orang lain dengan berkata aku menantangmu, katakana apa tujuanmu padanya, jika ia setuju maka dia akan memerikan syarat padamu. Namun jika dia tidak setuju maka dia harus mendapatkan hukuman. Dan bagi yang berhasil menjalakan syarat yang ditentukan oleh orang yang ditantang, tidak ada alasan baginya untuk tidak melakukan apa yang di minta oleh sang penantang." Seru Yogi menjelaskan aturan mainnya kepada mereka semua. "Sepertinya seru, oke semuanya harus ikut dalam permainannya. Bagi yang tidak ikut akan mendapatkan hukuman, bagaimana?" seru Dira dengan penuh semangat. "Oke aku tidak masalah. Kalian setuju bukan?" tanya Yayat kepada yang lainnya. Yogi segera merlirik keseluruh orang dan Adith serta Alisya hanya terdiam pasarah begitupula pada Rinto, Yani dan Vindra. Mereka berpikir tidak ada salahnya untuk melakukan hal tersebut sebelum mereka kembali keperusahaan dengan semua kebisukan yang cukup padat. "Sepertinya tidak ada masalah, itu artinya setiap orang berhak untuk ikut." Lian segera tersenyum cerah saat idenya tersebut tidak dipermasalahkan. "Baiklah, seperti biasa orang pertama yang akan melakukannya dapat kita lakukan dengan cara Lot. Jadi aku persilahkan kepada para pria untuk melakukannya." Yogi segera menyerahkan Lot kepada mereka semua tidak terkecuali Adith dan Rinto. Orang pertama yang mendapatkan kesempatan adalah Yayat sehingga dengan penuh semangat, Yayat langsung menunjuk orang yang ia inginkan. "Lian, aku menatangmu." Seru Yayat tanpa memakai imbuhan ibu pada nama Lian yang sebelumnya menjadi manager mereka. "A¡­ aku?" Lian terkejut percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Jadilah pacarku! Dan akan aku terima semua tantanganmu." Tegas Yayat dengan penuh percaya diri. Lian kaget saat dirinya menjadi objek yang ditantang oleh Yayat. Jika dia menolaknya maka permainan itu akan terkesan kurang menarik saat dirinyalah yang sudah sengaja menciptakan permainan tersebut. Ia tak percaya kalau dia akan terlibat dalam situsi tersebut. "Oke Aku setuju, dengan syarat pergilah kelaut dan ceburkan dirimu setelah itu pergilah ke restoran Resort dan katakan isi hatimu dihadapan semua orang kalau kau mencintaiku." Tantang Lian kepada Yayat. Syarat yang diajukan Lian tergolong sangat susah mengingat malam itu angin berhembus cukup kencang dengan ombak lautan yang cukup kuat. "Lian, apa kau yakin dengan syarat yang kau ajukan? Kau bisa membunuhnya hanya dengan sayaratmu itu." Seru Dira tak menyangka kalau Lian akan memberikan sebuah syarat seberat itu. "Orang yang ditantang berhak memberikan syarat apapun, jika dia tidak ingin melaksanakannya maka semuanya bisa berakhir dengan mudah." Ucap Lian santai karena baginya Yayat bukanlah seseorang yang cukup masuk dalam kriteria laki-laki idamannya. "Tidak masalah, aku akan melakukannya!" tegas Yayat bangkit dari kursinya menuju pantai. "Dia serius? Apa itu artinya dia benar-benar menyukai ibu Lian?" Yani menoleh kepada Alisya yang juga sama terkejut karena keberanian Yayat. Mereka segera mengikuti Yayat dari belakang untuk menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Yayat. "Yayat, kau tak perlu melakukan ini. Masih banyak hal yang bisa kau lakukan tanpa harus memberikan nyawamu seperti ini. Ini konyol Namanya." Seru Dira mencoba untuk mengingatkan Yayat. "Benar apa yang kau katakan, tapi aku hanya ingin membuktikan kepada Lian bahwa apa yang sedang dilakukannya untuk menantang orang lain seperti ini adalah cara yang salah. Jika ingin menguji ketulusan seorang laki-laki bukanlah dengan membuat sebuah tantangan konyol yang ia pikir tidak di dapat dilakukan oleh orang lain." Jelas Yayat dengan suara berat yang penuh wibawa. "Lalu kenapa kau masih melakukannya meski kau sudah tau?" tanya Vindra memastikan pikiran dari Yayat. "Karena aku adalah orang bodoh yang telah mencintai orang yang sangat hebat. Dan jika ini dapat membuatnya menjadi kekasihku, akan sangat mudah untuk membuatnya jatuh cinta padaku." Yayat tersenyum dengan penuh kebanggan lalu melangkah dengan penuh percaya diri kedalam laut. Untuk beberapa kali ia terhempas oleh ombak namun ia tetap melangkah pasti hingga datang gelombang berikutnya, ia tertelan oleh gelombang tersebut. Beberapa dari mereka berteriak keras sedang Lian menutup mulutnya tak percaya. Alisya langsung mengeluarkan energi nanonya untuk memastikan energi kehidupan dari Yayat, dan dapat diketahuinya kalau ia sedang berjuang keras untuk melawan gelombang tersebut. "Ba¡­ bagaimana ini?" Yani terlihat sangat khawatir. "Apa kita harus membantunya?" tanya Rinto yang bisa mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Alisya. "Tidak perlu, kau tau seseorang yang jatuh cinta punya keberanian untuk menciptakan sebuah keajaiban. Selain itu Alisya masih belum bereaksi sehingga kau tak perlu khawatir." Adith bisa melihat sikap tenang dari Alisya yang menatap kearah laut dengan tersenyum takjub. Alisya bukanlah tipe yang hanya melihat orang lain kesulitan. Chapter 408 - Game Over Setelah beberapa saat kemudian Yayat muncul dari permukaan dan berjuang kembali kedarat dengan susah payah. Mereka semua berteriak dengan sangat heboh sedang beberapa teman yang lainnya menghampiri Yayat dengan membawa sebuah kain handuk. "Dasar bodoh!!! Kenapa kau sampai segitu bodohnya hanya demi cinta?" Maki Dira kepada Yayat yang tampak menggigil kuat. "Hahahhaha, meski begitu marah, kau cukup perhatian karena dengan secepat kilat kain handuk ini sudah berada di tanganmu." Ucap Yayat dengan tertawa bergetar. Dira menuntun Yayat setelah melilit tubuh Yayat dengan kain handuk yang cukup tebal menuju ke hadapan Lian. Lian terdiam tak tahu berbuat apa-apa, ia hanya menatap dengan rasa bersalah. "Apa ini cukup? Kalau kau ingin aku untuk pergi ke resto dan berteriak dengan keras menyebutkan namamu, aku siap!" Ucap Yayat dengan tubuhnya yang menggigil hebat. Lian hanya terdiam tak bisa mengatakan apapun. Dia tak tahu kalimat apa yang harus ia ungkapkan. Melihat Lian hanya terus berdiam diri, Yayat segera kembali melangkah dengan pasti menuju resto dengan tatapan penuh keyakinan. "Ibu Lian, apa yang dia masih tidak cukup?" Dira tak tega melihat temannya masih terus melakukan apa yang menjadi syarat dari Lian meski itu hanyalah sebuah permainan saja. "Berhenti¡­ sampai kapan kau mau membuatku terus tertekan? Katakan apa yang kau inginkan sebenarnya?" Lian mulai tak sabar dengan sikap ngotot Yayat. Yayat berhenti dengan rem cakram. Tersenyum penuh kemenangan lalu dengan menarik nafas dalam, dia berbalik menatap ke arah Lian. "Bukankah sudah ku utarakan di awal, Aku ingin kau menjadi pacar ku. Karena aku sudah berhasil melakukan syaratmu, maka seharusnya kau memegang kata-kata mu saat menyetujuinya." Yayat secara perlahan datang menghampiri Lian. Mereka yang terus melihat percakapan keduanya semakin merasakan tekanan aura dan situasi yang amat menyesakkan karena penansaran terhadap apa yang akan dikatakan oleh Lian. Lian menoleh kepada Yogi untuk meminta bantuan padanya. "Aku tak tahu, kau sendiri yang sudah memutuskan dan merencanakan semua ini harusnya lebih paham." Yogi segera membuang muka tak ingin ikut campur. "Dasar ular!" Maki Rinto pada Yogi yang membuat Adith dan Alisya tertawa melihat ekspresi merengut Yogi saat mendengar ucapan Rinto. Menarik nafas dalam dan memahami konsekuensi yang harus dia terima dan demi menjaga harga dirinya dengan tidak memunafikkan apa yang sudah dia katakan, Lian menatap yakin kepada Yayat. "Karena aku sudah menyetujuinya, aku setuju menjadi pacarmu." Ucap Lian mantap. Ia berpikir bahwa tidak ada salahnya untuk mencoba membuka diri terhadap orang lain terlebih saat itu usianya yang sudah 26 tahun belum juga menikah membuat semua keluarganya khawatir pada dirinya. Meski Yayat 1 tahun lebih muda, ia hanya ingin memberikannya kesempatan. Apa yang dikatakan oleh Lian sontak membuat mereka berteriak heboh dan memberikan selamat kepada Lian dan Yayat atas resminya mereka menjadi seorang pacar. "Terimakasih! Sebagai tugas awalku, akan aku buat kau mencintaiku terlebih dahulu." Yayat yang menyisir lembut rambut Lian yang tertiup angin laut seketika membuatnya malu dan beranjak kembali ke meja makan mereka. "Oke, kita lanjut ke permainan beri¡­. kutnyah???!" Yogi terperanjat kaget saat melihat Aurelia sudah berada di belakangnya dengan melipat tangannya menatap Yogi tajam. "Game Over!" Rinto berjalan melalui Yogi yang berdiri dengan tubuh membeku. "Oke, kali ini aku nggak ikutan yah.. lapar mau makan!" Alisya berlalu melambai ke Aurelia yang dibalas dengan lambaian penuh cinta kepada Alisya lalu berbalik menatap tajam ke arah Yogi. "Lakukan seperti apa yang dilakukan oleh Yayat, semoga berhasil." Adith berlalu sembari menepuk pundak Yogi memberikan dukungannya. "Sialan, ini pasti ulahmu!" Maki Yogi dengan mengeraskan rahangnya. Adith hanya berlalu dengan senyuman penuh kepuasan sudah memberikan balasannya kepada Yogi. "Ta¡­ Tabe di? Mau lewat. Sepertinya makan lebih utama sekarang!" Yani tidak tahu sudah menggunakan logat yang aneh berlalu dengan cepat merasakan aura menekan di antara mereka di ikuti oleh Vindra. Mereka yang semula masih bertanya-tanya akan apa yang sedang terjadi segera angkat kaki dari sana begitupula dengan Yayat yang tubuhnya bergetar hebat semakin dingin melihat tatapan tajam Aurelia. "hahahaha¡­. Hahahhaha¡­ Sayang, kau kemari? Sama siapa?" Yogi berusaha membujuk Aurelia dengan tertawa canggung dan memanggil dengan suara lembut. Bukannya mendapat jawaban dari Aurelia, leher Yogi sudah di cekiknya dengan keras menggunakan lengannya. Cekikan Aurelia membuat kepala Yogi seketika terjepit dengan sangat kuat seolah memaksa otaknya untuk terlempar keluar. "Ma¡­ maafkan aku! Oke aku mengaku salah karena tidak mengatakannya padamu. Tapi aku sudah mencoba untuk menelponmu beberapa kali tapi kau selalu sibuk.. ohokk!" Yogi terbatuk pelan berusaha untuk menjelaskannya kepada Aurelia. "Kau pikir aku marah karena itu hah? Aku marah karena seharian penuh aku nungguin kamu di butik milik Gina untuk mencoba pakaian pengantin kita dan kau tidak datang tapi malah bersenang senang disini." Aurelia semakin membuat cekikannya semakin erat hingga wajah Yogi memerah sempurna. Melihat ia hampir kehabisan nafas barulah Aurelia melepas cekikannya. "Ohokkkk ohookkk.. aku harus mendapatkan hukuman yang lebih. Bagaimana mungkin aku melupakan hal itu, ini tidak bisa dibiarkan. Aku akan menghukum diriku sendiri." Yogi segera melangkah ketepi pantai untuk melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Yayat untuk menghukum dirinya. Aurelia melipat kedua tangannya penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Yogi. Dia dengan santai memasang ekspresi tak sabar melihat kesungguhan Yogi. "Ka¡­ kau tak ingin menahanku?" Tany Yogi ragu dan takut saat melihat ombak yang menggulung besar menghantam pesisir pantai dengan keras dengan busa yang tampak mendidih di permukaan setiap gelombangnya. "Bukankah kau yang ingin menghukum dirimu sendiri? Pergilaj, tunjukkan keberanian mu!" Ucap Aurelia santai. "Uwaahhh¡­ akan aku lakukan apapun yang kau inginkan tapi ku mohon jangan bersikap seperti ini. Kau sangat dingin dan kejam padaku." Yogi kembali kepada Aurelia dan merengek kepadanya. "Hentikan! Kau selalu saja bersikap santai dan tenang seperti ini, aku bahkan tak bisa membedakan bagian mana dari ucapan mu yang serius atau tidak." Aurelia menepis keras tangan Yogi. "Aku bisa memahami selama 7 tahun terakhir kau tidak bisa sering bersamaku karena sibuk dengan urusan perusahaan selain karena alasan perginya Alisya. Tapi bukan hanya kamu yang sibuk, aku saja sudah menyia-nyiakan banyak waktu hanya untuk bisa bertemu denganmu tapi apa yang kau lakukan?" Suara Aurelia mulai terdengar serak. Yogi tertegun tak percaya kalau Aurelia bisa juga menunjukkan kelemahannya dihadapannya. Yogi tak tahu kalau ternyata Aurelia sampai akan berpikir seperti itu mengenai dirinya meski ia paham bahwa selama ini sikapnya kepada Aurelia memang sudah sedikit jauh lebih berbeda dibanding sebelumnya. "Aurelia, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku¡­" Yogi mendekati Aurelia untuk menjelaskannya namun Aurelia mundur beberapa langkah dari Yogi. "Jika kau melamarku hanya untuk menepati janjimu yang dulu, sepertinya kau sudah melakukan hal salah. Kita¡­ hentikan disini saja." Nafas Aurelia tercekat saat mengatakan itu dan segera pergi dari sana meninggalkan Yogi yang terpaku kaget dengan apa yang dikatakan oleh Aurelia. Melihat punggung Aurelia semakin menjauh, dengan sekuat tenaga Yogi mengejarnya. Yogi menghentikan Aurelia dan menariknya menghadap dirinya. "Apa lagi? Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi sekarang." Melihat mata Aurelia yang berlinangan air mata, Yogi merasakan perih dihatinya. "Umpphh!" Yogi segera mencium bibir Aurelia dengan ganas. Aurelia terus menolak dengan mendorong tubuh Yogi dan memukulinya dengan keras namun ciuman Yogi serta pelukan erat yang menahan pinggang dan kepalanya membuatnya tak bisa bergerak. Aurelia lemah dan tak bisa mengeluarkan tenaga yang cukup. "Maafkan aku, aku tak pernah menyangka kalau kau akan berpikir seperti itu. Aku takkan membiarkan hal ini terjadi lagi." Yogi menghapus air mata Aurelia dengan mengecupnya lembut. Diangkatnya wajah Aurelia, lalu kembali dikecup bibirnya dengan lebih lembut dari sebelumnya. Chapter 409 - Black Mision and Level S Mereka yang kembali ke meja makan dengan segera menyantap makanan mereka dengan lahap sambil terus berbincang-bincang. Dira menemani Yayat untuk membersihkan diri sedang Lian menyediakan beberapa makanan hangat untuk menebus rasa bersalahnya kepada Yayat. "Apa wanita tadi adalah Aurelia Pranata? Seorang jaksa wanita yang terkenal sudah banyak menghadapi kasus sulit dan bisa menyelesaikannya dengan sangat baik?" Seorang bertanya dengan setengah berbisik. Yogi dan Aurelia yang belum kembali ke meja makan membuat mereka memiliki kesempatan untuk bertanya-tanya kepada satu sama lainnya karena penasaran. "Aku tidak terlalu yakin, tapi sepertinya dia adalah calon dari pak Yogi." Jawab yang lainnya karena belum terlalu jelas melihat wajah Aurelia karena remang-remang. "Jika benar dia adalah Aurelia pranata, maka mereka adalah pasangan yang sangat luar biasa. Bisa se jenius apa anaknya? Bayangkan saja, pak Yogi adalah orang yang dapat mengingat segala hal hanya dengan sekali lihat. Sedangkan Aurelia adalah wanita dengan IQ yang cukup tinggi bisa memenangkan banyak kasus sulit meski dia seorang wanita." Jelas seorang yang lain dengan penuh semangat sekaligus rasa kagum. "Kau benar, aku tidak pernah menyangka kalau pak Yogi memiliki seorang kekasih dan ternyata itu adalah seorang Jaksa terkenal." Ucap yang lainnya lagi. Pembicaraan mereka tentang Yogi terus berlanjut sedang Alisya dan Adith masih terus berbincang-bincang riuh melihat Adith menunjukkan foto mereka yang di unggah oleh Yogi serta semua chat yang masuk di dalamnya. "Bagaimana reaksi kalian jika mengetahui pasangan yang paling luar biasa adalah dua orang ini? Yang jika kalian semua tau kemampuan mereka kalian pasti akan merinding." Batin Yani dengan memberikan lirikan tajam kepada Alisya. Rinto yang berada pada jarak pandang Yani menjadi sedikit tegang. Ia tidak tahu kalau pandangan utamanya adalah Alisya, namun karena mereka duduk pada baris yang sama sehingga Rinto mengira Yani sedang menatapnya. Beberapa saat kemudian, Adith seperti bisa merasakan dengan jelas perubahan energi Alisya. Meski hanya sepersekian detik, Adith bisa melihat ekspresi Alisya sedikit berubah. "Aku ke toilet dulu sebentar." Ucap Alisya bangkit dari kursinya. "Mau aku temani?" Tatap Yani kepada Alisya ingin menemaninya pergi. "Makanlah, aku tidak akan lama. Tidak perlu kau temani." Alisya segera menepuk pundak Yani dengan lembut. Alisya segera pergi menuju ke toilet, namun bukannya ia memasuki toilet. Dia malah pergi ke tempat yang sedikit lebih gelap dan sunyi. "Keluarlah!" Seru Alisya dengan suara tegas yang di tunjukkan kepada seseorang. "Kapten¡­" ucapnya begitu keluar sembari memberi hormat kepada Alisya. "Bagaimana dengan misimu?" Tanya Alisya yang sudah mengenali siapa orang tersebut. "Kami sudah menemukan tempat dimana kemungkinan besar para elite BF akan menunjukkan dirinya." Terangnya dengan suara tegas yang begitu penuh wibawa seorang tentara elite. "Tingkat misi dan tingkat elite?" Tanya Alisya dengan suara dingin "Black dan level S!" Tegasnya singkat. "Itu artinya kita tidak bisa menunda kepergian kita lagi." Suara Alisya lirih dan terdapat kesedihan didalamnya. "Bagaimana dengan Rendy?" Alisya menanyakan satu anggota lainnya yang juga dalam misi yang sama beratnya. "Dia akan mempersiapkan semua keberangkatan kita. Semuanya akan terjadi dalam 1 minggu kedepan dan pertemuan itu akan diadakan. Rendy akan menunggu kita disuatu tempat." Jelasnya kembali sembari menatap ekspresi Alisya yang dapat dilihatnya lebih hidup. "Baiklah, maaf membuat kalian terjun dalam misi penting ini hanya berdua saja. Sebab kalian adalah orang yang sangat cocok dalam misi ini." Ucapan Alisya hanya dijawab dengan rasa hormat penuh terimakasih karena sudah diberikan kepercayaan yang tinggi. "Anda terlalu sungkan Kapten!" Ia menunduk merasa pujiannya terlalu berlebihan. "Jati, bagaimana dengan profesor?" Alisya menanyakan tentang ayah Caleb yang sudah menyelamatkannya. Belum sempat Jati menjawab pertanyaan dari Alisya, dia merasa ada sesuatu yang bergerak datang menghampiri mereka. Secepat kilat ia segera terjun untuk memberikan serangan yang dengan sangat cepat juga sudah dihentikan oleh Alisya. Alisya sudah menghentikan tangan kedua orang itu tepat sebelum sebuah pertempuran sia-sia terjadi. Sebuah benda berbentuk pena dengan mata ujung pena yang sangat tajam sudah berada pada bagian matanya dengan jarak yang sangat dekat sedangkan pisau belati miliknya masih menyisakan jarak yang cukup jauh sekitar 5 cm. "Sayang, aku akan mengira kau selingkuh jika kau tak menjelaskan situasinya padaku lagi dengan bertemu seseorang ditempat ini." Tatap Adith kepada Alisya yang sudah menghentikan tangannya pada waktu yang tepat. Alisya menatap Adith dengan tatapan bingung serta takjub. Tidak pernah disangkanya kemampuan Adith bisa sampai setajam itu hingga ia juga bisa sedikit lebih unggul dari Jati yang merupakan salah satu bawahannya yang memiliki kemampuan setara elite dari BF. "Lepaskan seranganmu." Perintah Alisya kepada Jati yang dengan kebingungan ia melepaskannya secara perlahan-lahan. Melihat tanda dari Alisya, dia sedikit memundurkan langkahnya memberikan mereka waktu untuk berbicara lalu menghilang dalam kegelapan malam. "Bagaimana caramu menemukanku?" Alisya menatap Adith dengan rasa penuh penasaran. "Apakah ini adalah respon dari orang yang terciduk?" Adith melangkah perlahan mendekati Alisya. "Huuuhh¡­ Adith, aku serius!" Alisya mempertegas perkataannya. "Baiklah, bagaimana jika aku bilang ini?" Adith menghampiri leher Alisya dan mengecupnya dengan penuh sensual serta melingkarkan tangannya ke pinggang Alisya. "Akh, Adith. Ini lagi di luar! Oke, oke, aku akan menjelaskannya padamu." Alisya sangat paham akan sifat posesif Adith saat itu. Dari cara Adith mencium lehernya, dapat dipastikan oleh Alisya bahwa Adith bisa menemukannya berdasarkan dari penciumannya yang tajam terhadap Aroma di tubuhnya. "Pertama, dia adalah bawahanku yang kemari untuk melaporkan misinya." Terang Alisya menatap Adith dengan pandangan yang sangat serius. "Apa itu artinya kau akan pergi malam ini juga?" Tanya Adith memastikan. "Maafkan aku, dalam misi kali ini aku mungkin akan pergi dalam waktu yang cukup lama." Alisya tertunduk lesu memikirkan ketika ia harus kembali terpisah dengan Adith. Meski sulit untuk berpisah, Adith bisa memahami tugas Alisya yang merupakan kapten dari pasukan khusus yang sewaktu-waktu akan dipanggil untuk menyelesaikan suatu misi. "Butuh berapa lama untukmu menyelesaikannya? Tanya Adith membelai lembut pipi Alisya. "Satu bulan!" Jawab Alisya pelan menatap Adith hangat. "Baiklah, jika kau tak kembali dalam satu bulan itu, maka aku yang akan mencarimu. Dan kau akan lihat siapa yang akan datang bersamaku." Tegas Adith memberikannya izin untuk pergi. Adith tak ingin terpisah dari Alisya, namun ia juga tak bisa menghalanginya. Berat baginya untuk melepaskan Alisya, tapi ia tidak punya pilihan lain selain melepaskannya lagi karena ia yakin kalau Alisya akan kembali padanya seperti sebelumnya. Chapter 410 - Forthnight Adith yang kembali kepada mereka tanpa kehadiran Alisya bersamanya membuat yang lainnya kebingungan. Mereka terus melihat kebelakang Adith berharap kalau Alisya akan datang namun ia tak kunjung muncul dan Adith hanya melanjutkan makannya dengan tidak berselera. Yogi yang datang bersama Aurelia pun bisa merasakan bahwa sesuatu sudah terjadi antara Adith dan Alisya sehingga ia hanya duduk makan dengan ekspresi yang kelam dan juga sedih. "Dimana Alisya?" tanya Aurelia pada Adith yang sudah menghabiskan makanannya dan sedang mengambil gelas meneguk minumannya dengan santai. "Dia balik lebih dulu, ada yang harus dia lakukan!" ucap Adith bangkit dari kursinya. Yogi takt ahu pasti apa yang dimaksudkan oleh Adith, namun melihat sarat matanya yang lebih mengisyaratkan akan kerinduan membuatnya berpikir bahwa Alisya pasti punya alasan yang sangat kuat sehingga ia pergi meninggalkan Adith. "Kau bisa tetap disini bersama dengan Aurelia, aku akan kembali ke Jakarta sekarang juga. Biar Rinto saja yang pergi bersamaku." Ucap Adith memberikan kesempatan untuk Yogi dan Aurelia berliur terlebih dahulu. "Tidak, aku akan ikut bersama dengan kalian. Aurelia juga akan ikut bersama dengan kita." Yogi segera menoleh kepada Aurelia yang langsung mendapatkan anggukan darinya karena memahami pikiran Yogi kepada Adith. Bagi mereka berdua mendapatkan kesempatan untuk berlibur adalah suatu hal yang sangat berharga, namun di atas semua itu, mereka pasti takkan bisa berlibur dengan tenang saat memikirkan orang lain masih dalam keadaan kurang nyaman. Terlebih karena rasa kepedulian mereka yang sangat tinggi terhadap satu sama lainnya. "Lian, kalian bisa lanjutkan semua liburannya tanpa terpengaruh. Aku masih harus ada yang dikerjakan sehingga aku akan berangkat mala mini juga bersama dengan yang lainnya." Seru Adith memberikan perintah kepada Lian yang dengan ragu dijawab dengan anggukan pelan. Meski kecewa dengan kepergian Adith dan yang lainnya, mereka terpaksa harus melanjutkan liburan yang sudah diberikan oleh perusahaan dengan sebaik mungkin karena kesempatan itu takkan bisa mereka dapatkan lagi dengan mudah. "A.. Ayumi? Bagaimana dengan dia? Sampai saat ini dia belum kembali dari toilet." Tanya Yani penasaran dengan menghilangnya Alisya dari tempat itu. "Tidak perlu mengkhawatirkan dia, dia sudah aku perintahkan untuk menyiapkan semua keberangkatanku." Jawab Adith seolah membuat Alisya tidak menghilang begitu saja dari sana. Jika yang lainnya akan mempercayai maksud dari perkataan Adith, berbeda dengan Yani dan Vindra yang sudah mengetahui segala hal tentang mereka berdua sehingga Yani dan Vindra hanya bisa terdiam paham meski sangat penasaran atas apa yang sedang terjadi. Adith segera berlalu pergi dengan mengambil penerbangan malam itu juga. Sepanjang perjalanan ia terus saja memikirkan Alisya hingga tak bisa tidur dengan nyaman. Begitu sampai di apartment miliknya pun, ranjang yang semula sempit kini terlihat lebih luas dan lapang. Ruangannya menjadi terlihat lebih suram dan kelam seolah ikut merindukan Alisya. "Ah¡­ sepertinya aku terlambat sekarang." Adith bangkit dari tempat tidurnya masih dengan pakaian lengkap dan tak sempat untuk melepas sepatunya. Begitu ia bangkit, ia tertegun saat melihat Alisya yang keluar dari kamar mandi mengenakan handuk putih sepaha yang terlihat seksi ditubuhnya. Adith menganga tak percaya lalu dengan cepat ia mengucek matanya dan sekejap kemudian Alisya menghilang dari hadapannya. "Ah.. Sial, baru semalam kau pergi sekarang kau menghantuiku dengan bayanganmu!" Adith kembali melempar tubuhnya di atas ranjang dengan terlentang. Beberapa saat kemudian, Adith yang berada di ruang kerjanya tak bisa memfokuskan dirinya karena terus teringat dengan kejadian tadi pagi. "Tok tok.. tok¡­" suara ketukan dari luar membangunkannya dari lamunannya. "Masuklah!" ucap Adith setelah kembali mendapatkan kesadarannya. "Maaf dok, ada pasien yang sudah menunggu untuk pemeriksaan dan dokter memiliki jadwal berikutnya untuk operasi." Seorang perawat yang bekerja dengan Adith segera mengingatkan Adith dan memberikan rekam medis yang perlu di lihatnya. "Baiklah, aku akan segera kesana!" jelas Adith sembari melihat ke rekam medis yang sudah berada di tangannya. "Apa ada sesutau yang salah dok? Dari tadi saya lihat sepertinya dokter kurang focus!" tanyanya saat melihat Adith benar-benar tak bisa focus dengan apa yang dilakukannya. Melihat orang lain bisa mengetahui kondisinya, Adith segera terbatuk pelan. "Aku baik-baik saja. Tolong ambilkan beberapa file yang kemarin aku sempat tinggalkan." Ucap Adith ingin mengambil waktu untuk mengembalikan fokusnya. Setelah perawat itu pergi, tepat saat Adith akan mengambil jasnya, sebuah pesan masuk dan menampilkan Video Alisya yang mengenakan sebuah bando berbentuk telinga kelinci. Adith menoleh dan melihat Alisya sudah menyanyikan sebuah lagu Gwiyomi tepat seperti apa yang pernah ia lakukan sebelumnya untuk menghibur Alisya. Alisya yang memakai bando tersebut terlihat sangat cantic dan menggemaskan membuat Adith tertawa pelan dan merasa sangat lega saat melihat video yang dikirim oleh Alisya tersebut. "Ehemmm¡­ Aku tau kau akan merindukanku, karena aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Kau tak perlu khawatir aku akan kembali padamu secepatnya setelah ini seleai. Aku harap kau juga melakukan semuanya sebaik mungkin agar aku bisa melakukan misiku dengan sangat baik juga. Aku mencintaimu Adith!" ucap Alisya saat akan mengakhiri videonya. Sebelum selesai, Alisya mengirimkan sebuah cium jauh dengan mengerling nakal yang membuat Adith kembali tertawa pelan. "hahahaha,,, maafkan aku karena sudah menjadi lemah." Adith seolah kembali menjadi lebih semangat setelah mendapatkan pesan dari Alisya tersebut. Ia kembali menjadi lebih focus dan semakin berapi-api untuk pegi bekerja. Adith segera pergi menuju ke ruang pasien dengan ekspresi yang lebih segar serta senyuman lebar menghiasi wajahnya. Perawat yang semula bingung melihat senyuman Adith, akhirnya memilih untuk tetap mengikuti Adith dan menemaninya dalam bekerja hingga semua pekerjaanya telah selesai. Dalam beberapa hari Adith selalu melakukan pekerjaannya dengan sangat baik, ia bahkan akan kembali ke rumah sakit saat tak ada lagi yang harus ia kerjakan sewaktu di perusahaan. Ia memilih untuk tidak pulang karena bagaimanapun juga rasa rindunya pada Alisya begitu besar. "Kau meliki satu jadwal di luar kota, dan jadwal kali ini berhubungan dengan pertemuan bisnis terbesar dunia yang hanya di adakan dalam 4 tahun sekali di sebuh kapal pesiar." Jelas Yogi saat masuk bersama dengan Adith kedalam ruang kerjanya. "Apakah yang kamu maksud adalah Forthnight?" tanya Adith memastikan apa yang dimaksudkan oleh Yogi. "Benar, ini adalah sebuah pertemuan yang hanya diberikan oleh beberapa perusahaan besar dalam mengembangkan perusahaan serta mendapatkan infestor juga kerja sama dengan beberapa perusahaan besar lainnya." Terang Yogi menjelaskan mengenai jadwal yang harus di hadiri oleh Adith tersebut. Chapter 411 - Quantum Of The Seas "Kapan pertemuan itu akan dilakukan?" tanya Adith memastikan jadwalnya yang juga bekerja sebagai seorang dokter. "3 hari kedepan, kapal pesiar itu akan berlabuh di bali sebelum melanjutkan perjalanannya menuju pemberhentian berikutnya di Jepang." Jelas Yogi setelah melihat jadwal pada undangan digital resmi yang masuk pada emailnya. "Forthnight bisa menjadi batu pijakan bagi perusahaan kita untuk bisa lebih maju lagi. Kehadiran para investor-investor dunia tentu saja akan menjadi salah satu ajang persaingan yang sangat ketat terlebih karena hal ini hanya dilakukan pada sebuah kapal pesiar yang sangat mewah didunia. Undangan ini tentu tak bisa kita sia-siakan begitu saja." Jelas Adith memikirkan bagaimana pentingnya Forthnigh bagi sebuah perusahaan. Forthnight adalah sebuah pertemuan yang hanya diadakan 4 tahun sekali yang dihadiri oleh seluruh perusahaan-perusahaan besar lainnya dalam membahas tentang kenaikan pasar global serta persaingan dalam mendapatkan kerja sama yang bernilai miliyaran dolar serta investor asing yang sangat membantu dalam mengembangkan saham perusahaan. "Tentu saja aka nada sesuatu yang menarik tentunya dalam setiap pertemuan karena kapal pesiar yang akan digunakan kali ini adalah Quantum Of The Seas yang memiliki tekhnologi super canggih. Ini tentu bisa menjadi sebuah jembatan untuk perusahaan kita dalam bidang tekhnologi mendapatkan sebuah pembelajaran yang sangat luar biasa." Tambah Yogi sembari memperlihatkan gambar dari kapal pesiar yang sangat megah tersebut. "Baiklah, persiapkan semuanya serta bawa Rinto untuk ikut bersama kita. Kita akan membutuhkannya disana dalam mengurus beberapa hal penting." Seru Adith kembali beridiri dari kursinya menuju kerumah sakit untuk mengurus beberapa hal sebelum ia pergi. Setelah mempersiapkan semuanya, Adith kembali ke apartemennya dengan tubuh yang lelah dan ingin segera tertidur lelap. Namun ia berusaha untuk bangkit dan membersihkan diri dulu dengan mandi air panas untuk menghangatkan dirinya dan melancarkan peredaran darahnya. Selama beberapa hari setelah pesan video yang dikirim oleh Alisya, Adith tetap tak bisa menghilangkan bayangan Alisya dari dirinya. Alisya seolah berada dimana saja dihadapannya yang membuat Adith menjadi semakin sering berhalusinasi tentang kehadiran Alisya. "Aku benar-benar merindukanmu!" ucap Adith saat melihat bayangan Alisya pada pancuran Air yang ada dihadapannya. 3 hari kemudian. Sebuah kapal pesiar mewah yang berlabuh di Jakarta sontak memberikan reaksi yang sangat heboh mengingat banyaknya CEO dari perusahaan dunia yang datang melalui Indonesia. Mereka semua segera berdatangan satu persatu dengan banyaknya awak media yang meliput kedatangan mereka serta karpet merah Panjang terhampar megah menanti kedatangan mereka. Saat memasuki tempat tersebut, mereka harus melalui robot scanner yang memastikan bahwa mereka benar-benar mendapatkan undangan Forthnight yang sudah diberikan sebelumnya. Setiap perwakilan perusahaan yang datang akan ditemani oleh sebuah robot mutakhir berkostum pelayan yang akan mengantarkan mereka menuju ke tempat pertemuan. Satu persatu yang datang segera membuat semua awak media heboh karena pengaruh mereka yang sangat besar terhadap pasar global dunia. Adith yang mewakili perusahaan Narendra juga mendapatkan sorotan ekslusif karena kedatangannya. Tidak lama setelah berselang kehadirannya, Ayah Alisya dan Ryu juga datang sebagai perwakilan perusahaan Yamada. Tidak ketinggalan Zein juga ikut hadir menggantikan ayahnya sekaligus menjadi moderator utama dalam pertemuan kali itu. "Bapak, aku senang bisa bertemu denganmu disini. Aku mengira bapak hanya akan mengutus Ryu mengingat kesehatanmu, tapi begitu melihat senyummu yang segar aku menjadi sangat bersyukur." Adith segera menghampiri Ayah Alisya untuk sama-sama berjalan menuju ruang pertemuan. "Awalnya aku juga tak ingin pergi, tapi mengingat anak ini yang memaksaku untuk ikut dan pada akhirnya disinilah aku." Seru Ayah Alisya tersenyum hangat melihat Adith disana. "Kau tidak perlu khawatir, ada seorang lagi yang bersama dengan kami dan dia sudah lebih dahulu sampai untuk mempersiapkan semua keperluan tuan." Ucap Ryu yang berada di belakang mereka. "Aku tak menyangka kalau kita semua akan berada di pertemuan yang sangat penting ini." Zein datang menghampiri mereka semua. "Dan dari semua orang, kenapa kau malah menjadikan Riyan sebagai asistenmu?" tatap Yogi kepada Riyan yang sudah tersenyum-senyum aneh. "Tidak perlu ditanyakan lagi, dia yang sedang libur tentu akan sangat menginginkan untuk ikut menikmati kapal pesiar super mewah ini ketimbang pertemuan yang dilakukan. Terlebih saat ini sedang terang bulan." Rinto hanya tertawa pelan mengetahui sifat Riyan yang masih saja tak berubah. Yogi dan Ryu juga ikut tertawa pelan memahami maksud dari apa yang dikatakan oleh Rinto. Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai kepada aula yang menajdi ruang pertemuan itu diadakan. "Silahkan masuk, pembukaan Forthnight akan dilakukan dalam waktu 15 menit lagi. Nikmati waktu anda selama berada di dalam dan tekan saja tombol ini jika kalian membuthkan sesuatu." Ketiga robot itu kompak berkata saat mereka sudah berada di pintu aula dan mebukakan mereka pintu tersebut. Begitu pintu itu terbuka, sebuah musik klasik langsung terdengar lembut menyambut kedatangan mereka serta beberapa orang pelayan seksi segera menyambut mereka dengan sebuah pin yang ditempelkan kepada mereka semua tanpa terkecuali sebagai pertanda bahwa mereka adalah tamu undangan pada pertemuan tersebut. "Pakailah jas ini, udara didalam sini cukup dingin untuk kesehatan paman." Karin yang sudah berada di dalam aula segera menghampiri Ayah Adith dengan sebuah Jas mantel yang sangat mewah dan cukup tebal yang langsung di pakaikan kepada Ayah Alisya. "Woooowwhhh!" Yogi dan Riyan segera tercengan melihat kemegahan interior aua dari pesiar tersebut. Bukan hanya pelayan cantic seksi dan juga tampan yang berada disana, namun ada beberapa robot yang memberikan layanan pada setiap tamu termasuk sebuah Bionicbar yang menjadi sebuah robot barteder yang melayani minuman para tamu. Bukan hanya itu, di banyak sudut interior, mereka bisa menemukan layar sentuh yang menjabarkan jadwal pentas dan denah kapal. Selain itu, di pergelangan mereka melingkar gelang elektrik yang berguna untuk membuka kunci kamar dan merekam catatan reservasi restoran. Langit-langit tempat itu juga berupa layar LED yang berukuran sangat besar yang dapat memproyeksikan secara langsung langit pada malam itu, seolah mereka sedang berada di alam terbuka yang bebas. "Oke, aku akui keputusan untuk Riyan memaksa ikut sudah tentu juga karena kemegahan dari kapal ini yang tak bisa dilewatkan!" seru Zein terus terpukau dengan semua kemegahan kapa pesiar tersebut. Ucapan dari Zein mendapat pengakuan dari mereka semua mengingat kemegahan kapal pesiar itu adalah hal yang tak boleh dilewatkan. Quantum dinobatkan sebagai "smart ship" pertama di dunia. "Menaiki Quantum tak ubahnya sebuah lompatan peradaban." Seru Ayah Alisya sembari berjalan mencari tempat duduk diikuti oleh yang lainnya. Chapter 412 - Menyingkirkan Adith Beberapa saat kemudian, pembukaan acara pertemuan segera dibuka tepat setelah bunyi sirine kapal berbunyi dan kapal mulai lepas landas meninggalkan pelabuhan Jakarta, Indonesia. Setiap perwakilan perusahaan memiliki meja masing-masing dan antara meja Adith dan Ayah Alisya terletak berselang 3 meja di sebelah kanan dan berselang 2 meja di sebelah kirinya adalah Zein. Pembukaan itu dimulai dengan pembukaan penjelasan tentang pertemuan tersebut serta jadwal yang akan dilaksanakan di tempat itu yang nampak muncul di setiap layar LED yang terdapat di ruang Aula tersebut. "Untuk itu, dalam beberapa hari kedepan silahkan nikmati perjalanan kalian dengan menikmati hiburan berikut beserta fasilitas yang sudah kami siapkan di atas kapal ini." Jelas sang pemilik kapal pesiar mengakhiri pembukaan tersebut. Beberapa wanita cantik dan seksi mulai menari-nari dengan lincahnya menghibur semua tamu undangan yang datang. Ruangan itu dapat berubah-ubah temanya sesuai dengan setiap dentuman musik yang mengalun menghiasi seluruh Aula. "Tuan Adith, senang rasanya bisa bertemu dengan anda disini." Seorang pengusaha dari Inggris segera menghampiri Adith, mereka sebelumnya sudah pernah bertemu sewaktu acara penghargaan di Amerika. "Mr. Harison! Senang bertemu dengan anda disini. Tak ku sangka anda datang bersama dengan seorang wanita yang sangat cantik." Puji Adith kepada wanita yang berada disebelahnya. "Hahahaha, tidak biasanya saya mendengar anda memuji seorang wanita. Itu artinya dia memang cantik sampai membuat anda bisa memujinya seperti itu." Seru Wilson senang yang membuat wanita disampingnya tersenyum malu dalam dekapannya. "Hahahaha, anda bisa saja. Saya juga seorang laki-laki yang tentu akan merasa tertarik terhadap kecantikan seorang wanita. Dan pujian itu tulus kepadanya, kalian berdua terlihat serasi." Terang Adith dengan nada suara hangat yang semakin membuat Mr. Harison senang mendengarnya. Mereka terus berbincang-bincang dengan sangat riuh membahas mengenai pertemuan mereka selama disana serta niat Mr. Harison yang ingin mengenalkannya dengan beberapa investor kenalannya. "Terimakasih banyak atas tawarannya Mr. Harison, saya sangat menghargainya." Ucap Adith dengan tulus kepadanya. "Tidak usah sungkan tuan Adith, mereka tentu akan sangat senang jika mengenal orang se Jenius tuan yang sangat tahu dalam pengembangan bisnis, dan yang paling penting adalah sikap jujur dan rendah hati anda ini tidak banyak yang memilikinya." Ucapnya sebelum berlalu pergi ke tempat lain. Adith segera berjabat tangan dengannya dan sebuah poin masuk kepada sebuah gelang elektrik yang berada di tangannya. Adith masih belum tahu pasti apa maksud dari poin tersebut, sehingga ia hanya mengambil minumannya kembali berbincang dengan Yogi dan Rinto. "Saat orang lain ditemani oleh seorang wanita, bagaimana bisa kau duduk bersama para pria disini. Kau sungguh suram, kupikir kau sudah memiliki seorang wanita. Tapi sepertinya dia hanyalah seseorang yang kau tiduri saja." Elvian sepupu Adith ternyata juga berada disana. Disampingnya juga telah berdiri seorang wanita yang nampak seksi bergelayut manja padanya. "Aku tidak perlu membawanya kemana-mana hanya untuk memperlihatkan kalau bagian bawahku itu berguna dengan sangat baik bukan?" Tatap Adith yang langsung membuat wanita itu memerah malu. "Kau? Cih.. Jangan mengira kali ini kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan, karena akulah yang akan mendapatkan semuanya setelah menyingkirkan dirimu tentunya." Ucap Elvian segera berlalu pergi dari hadapan Adith setelah memberikannya peringatan. Adith hanya tertawa pelan menganggap perkataan Elvian sebagai lelucon yang konyol. Saat dia memandang Elvian, dari kejauhan dapat ia lihat seorang wanita berbaju merah berdiri dengan seksi menatap kearahnya. "Alisya???" Gumam Adith namun dengan cepat dia menggelengkan kepalanya lalu menoleh ke arah lain karena ia jelas sudah berhalusinasi beberapa hari kemarin karena rasa rindunya pada wanita itu. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Rinto melihat Adith yang sedang menggeleng kuat. "Ya, tentu saja!" Seru Adith dengan penuh keyakinan. "Adith, apa kau tahu siapa wanita yang bersama dengan Elvian sebelumnya?" Tanya Yogi ingin memastikan. "Tidak, tapi aku bisa lihat kalau dia bukanlah dari kalangan bawah. Sepertinya kali ini Elvian sudah mendapatkan seorang yang cukup kuat untuk mendukungnya." Tegas Adith mengingat perawakan serta barang yang dikenakan oleh wanita tersebut. "Wanita itu kalau tidak salah namanya Claudia!" Tebak Rinto berusaha mengingat seolah pernah bertemu dengannya sebelumnya. "Ya benar. Bisa dibilang Ayah Claudia adalah seorang pebisnis terkemuka yang menguasai pasar perdagangan di China. Tak kusangka Elvian dengan cepat melebarkan sayapnya secara diam-diam." Terang Yogi menatap Elvian dari kejauhan. Beberapa saat kemudian, Adith dan yang lainnya yang ingin beranjak untuk pergi bertemu dengan para investor asing malah di datangi oleh beberapa investor secara langsung yang membuat Adith kembali berbincang dengan mereka. "Jika kau benar-benar ingin mendapatkan seorang investor, kenapa kau tidak mendekatiku?" Claudia yang bersama dengan Elvian sebelumnya datang menghampiri Adith setelah para investor tersebut pergi dari hadapan Adith. "Hummm?" Adith mengerutkan keningnya tak paham akan maksud dari Claudia untuk sesaat. "Aku dengar dari Elvian bahwa kau tak suka bersentuhan dengan seorang wanita. Tapi dari cara pandangmu padaku, aku bisa lihat betul akan tingginya rasa tertarikmu pada wanita." Ucapan Claudia segera mengingatkannya pada dia yang sebelumnya sedang menatap bayangan Alisya tepat ketika mereka berlalu dari hadapannya. Adith tertawa pelan dengan kenarsisan wanita dihadapannya ini, namun ia masih berusaha untuk tetap sopan dengan tidak menjadikannya sebagai musuh mengingat pengaruh ayahnya dalam bidang bisnis. "Sepertinya anda salah paham. Mungkin benar kalau saya memiliki rasa ketertarikan yang cukup tinggi kepada seorang wanita, tapi tidak untuk seorang yang sudah memiliki gandengan terlebih jika wanita itu adalah milik sepupu saya." Tegas Adith menolaknya dengan cara yang halus. "Hahahahaha, tidak masalah kau mengatakan itu. Caramu menghargai orang lain membuatku jadi semakin menginginkan mu. Aku berikan nomor kamarku padamu, kau bisa datang kapan saja kau mau." Ucapnya mengelilingi tubuh Adith dengan sentuhan sensual memberikannya segelas minuman dari seorang pelayan wanita seksi. Meski ia menolak untuk datang dan bahkan takkan pernah ia lakukan itu, namun saat menolak minuman yang diberikannya didepan umum adalah sebuah penghinaan yang cukup besar. Tepat ketika Adith akan meminumnya, seorang wanita seksi segera mengambil minuman itu dari tangannya dan meminumnya hingga habis. "Jauhkan Adith dari wanita itu, Elvian berniat untuk menyingkirkan Adith dengan menggunakan wanita itu." Seru Alisya yang langsung berbisik cepat kepada Yogi. Dia segera pergi setelah memberikan peringatan kepada Yogi sedang Claudia terlihat sangat marah dan kesal karena Alisya mengambil gelas tersebut. Yogi merasa curiga kepada Caludia karena Alisya tampak tak ingin menunjukkan wajahnya juga kedekatannya dengan Adith kepadanya. Chapter 413 - Somi Somia Adith masih terdiam membeku terus menatap punggung wanita yang baru saja mengambil gelasnya. Dia sempat berpikir kalau itu adalah Alisya namun mengingat dia sering berhalusinasi tentangnya membuatnya jadi sedikit ragu. "Siapa perempuan itu? Kurang ajar sekali dia mengambil gelas itu!" Maki Claudia kesal karena rencananya gagal. Tak memperdulikan Claudia, Adith ingin memastikan siapa wanita tersebut dengan mengikutinya dari belakang. "Maaf sepertinya aku harus ke toilet!" Ucap Adith segera berjalan meninggalkan mereka. Melihat Adith pergi begitu saja, Claudia berusaha untuk menghentikan Adith namun Rinto segera menghalanginya. "Maaf nona Claudia, sepertinya tuan Adith sedikit butuh sedikit privasi karena harus ke toilet." Terang Rinto meminta maaf karena sudah menghalangi jalannya. Punggung Adith yang sudah menghilang dari pandangannya segera membuat Claudia kesal dan pergi dari sana dengan penuh amarah. "Alisya mungkin sedang dalam penyamarannya saat ini sehingga dia terlihat sangat hati-hati ketika berhadapan dengan seseorang. Dia bahkan menghindari kontak secara langsung dengan Adith." Terang Yogi menjelaskan situasinya kepada Rinto. "Tapi sepertinya ada orang linglung yang tidak bisa mengenali istrinya sendiri lagi, dia seolah sedang melihat hantu." Rinto ingat betul bagaimana tatapan mata Adith saat Alisya merampas minuman di tangannya. "Anak itu, meskipun semua orang mengakuinya sebagai Si Jenius, dia akan berubah menjadi sangat Idiot ketika sudah berhadapan dengan Alisya." Yogi mendesah kuat mengingat kekonyolan tingkah Adith. Adith yang keluar dari ruang tersebut bisa bergerak bebas karena adanya gelang elektrik yang berada di tangannya. Melihat punggung wanita itu, Adith segera menghentikannya cepat. "Alisya.. kau¡­" Adith yang segera menarik bahu seorang wanita membuatnya terperanjat kaget karena ternyata wanita itu bukanlah Alisya. "A.. ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita itu dengan tatapan terpesona oleh ketampanan Adith. "Ah.. Maaf, sepertinya aku salah orang. Maafkan aku sekali lagi." Ucapnya sopan. Adith baru sadar kalau wanita itu memang memakai pakaian dengan warna yang sama namun gaya rambut dan tubuh mereka sedikit berbeda. Ia hanya berpikir kalau Alisya sedang menyamar jadi dia tak menyangka kalau orang yang ia kira Alisya ternyata benar orang lain. "Ah¡­ apa sih, sudah berapa orang yang selalu bilang salah orang. Tadi pria jepang, sekarang pria yang aku kira korea. Mana mirip Kang Daniel lagi. Ngehalu apa sih aku malam terang bulan gini." Wanita itu pergi dengan menghentakkan kakinya karena kesal. Mendengar dari ucapannya, Adith yakin kalau orang yang ia maksud adalah Ryu. Jika benar seperti itu maka sudah tentu perkiraannya benar tentang Alisya, namun karena Ryu saja bisa salah maka bisa jadi dia juga berada pada situasi yang sama. "Kapten, Sepertinya ada seseorang lagi yang sudah mengenali anda. Dan aku pernah melihat dia sebelumnya." Jati segera memberi laporan kepada Alisya ketika melihat Adith mengejar seorang wanita yang memang sudah ia siapkan untuk mengelabui orang. "Jangan khawatirkan dia, huhh.. huh.. fokus pada tujuan utama kita!" Seru Alisya dengan suara desahan yang terdengar aneh. "Kapten, anda baik-baik saja?" Tanya Rendy dari kejauhan kepada Alisya. Suara Alisya yang terlihat mendesah kesakitan membuatnya hampir saja meninggalkan posisinya untuk menemukan Alisya. "Aku baik-baik saja. Bagaimana keadaaan di atas sana?" Tanya Alisya pada Rendy yang berada di dek kapal berperan sebagai salah satu nakhoda yang bisa melihat semuanya dari monitor kapal. "Masih belum ada tanda-tanda pergerakan mereka!" Jawabnya tegas. "Posisi kami juga masih aman!" Ucap Elvian dan Rafli secara bersamaan tanpa menunggu pertanyaan dari Alisya. "Di dalam aula juga masih tidak terlihat akan kemunculan mereka." Terang Jati yang dari awal juga sudah berada dalam ruang pembukaan tersebut. "Lanjutkan misi kalian, jangan lewatkan satu hal pun. Jati, terus tempelkan permen itu ditempat tertentu pada semua sudut ruang kapal ini. Dan hati-hati, ini adalah sebuah labirin raksasa yang bisa berubah kapan saja!" Terang Alisya berusaha menjelaskan dengan suaranya yang semakin parau. Alisya langsung melepas kepangan pada rambutnya dan menguraikannya dengan acak merasakan panas yang amat dalam di seluruh tubuh dan kepalanya. "Ah.. kepalaku sakit, sepertinya aku harus ke kamarku saja untuk istirahat sebentar. Karena menyiapkan semua keberangkatan ini, aku sampai tak tidur selama 3 hari agar bisa meninggalkan pekerjaan dengan tenang." Adith mendesah memijit kepalanya yang sakit bukan karena kekurangan tidur, namun karena kelelahan memikirkan istrinya yang sangat ia cintai. Dengan tertatih dia berjalan menuju kamarnya yang ditunjukkan oleh gelang elektrik yang berada di tangannya. "Halo, kalian tidak perlu mencariku. Aku hanya ingin beristirahat sebentar di dalam kamarku!" Tegas Adith memberitahu Yogi. "Baiklah, biar kami yang mengurus semuanya disini. Kau tidak perlu khawatir dan istirahatlah dengan tenang. Jadwal berikutnya akan sangat menyibukkanmu." Terang Yogi mengingatkan Adith. "Apa yang terjadi?" Tanya Rinto penasaran. "Sepertinya anak itu sedang mengalami somi somia!" Yogi menjawab pertanyaan Rinto dengan candaan yang tidak dimengerti oleh Rinto. "Apa maksudmu? Gunakan bahasa manusia bukan bahasa makhluk astral mu." Ketus Rinto kesal dengan jawaban Yogi yang terdengar nyeleneh. "Dasar kurang gaul. Itu artinya adalah Insomnia." Ucap Yogi dengan penuh percaya diri. "Pletakkkk.." Rinto langsung menjitak kepala Yogi dengan kesal. "Apa''an sih?" Ucap Yogi kesal dengan pukulan Rinto. "Kau masih bermain-main lagi?" Rinto kembali menaikkan tinjunya tak ingin Yogi berbelit-belit dan menjelaskan situasi Adith kepadanya. "Dia hanya ingin istirahat dengan tidur sebentar, 3 hari kemarin kan dia kurang istirahat karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan nya dengan cepat. Makanya dia sekarang sedang menuju ke kamarnya." Jelas Yogi menyerah melihat wajah Rinto yang tampak sangat kesal. "Pletakkkk¡­" pukulan berikutnya dilayangkan oleh Rinto lagi. "Kenapa masih mukul sih? Aku Kan sudah menjelaskannya!" Yogi menatap tajam ke arah Rinto siap untuk melakukan pertempuran. "Ingin saja! Kau mengatakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan Insomnia. Jika dia Insomnia maka seharusnya sekarang dia tidak akan pergi ke kamarnya untuk tidur ataupun istirahat melainkan akan mendatangi Karin dan meminta obat darinya." Ucap Rinto menjelaskan mengenai kondisi Adith terhadap Insomnia. Insomnia memang seharusnya adalah salah satu penyakit yang menyebabkan seseorang akan mengalami kesulitan tidur dan bahkan ia bisa tidak tidur hingga beberapa hari dan akan tidur di pagi hari. Mirip seperti hewan nokturnal yang aktif pada malam hari namun tidur dan beristirahat pada siang hari. "Makanya aku bilang dia somi-somia, karena Adith adalah kebalikan dari itu." Jawab Yogi sekenanya seolah membuat sebuah jenis penyakit baru untuk Adith. Karena kesal, Rinto segera pergi ke meja Zein dan Riyan untuk menghindari Yogi. Chapter 414 - Suami Idiot Alisya yang berjalan sempoyongan dengan nafas tercekat dan tubuh yang panas melihat punggung Adith dari kejauhan. Melihat Adith yang berjalan sedikit lebih lambat membuatnya melempar haknya dengan kasar agar bisa berjalan dengan benar dan terus mengejar Adith. Alisya tau betul kalau saat ini kondisinya dalam keadaan kurang baik yang mana ia lebih membutuhkan Adith dibandingkan semua obat yang ada di dunia ini. "Sial,,, huh huh huh¡­ aku bisa menghilangkan sifat racunnya, tapi tak ku sangka dosisnya bisa mempengaruhiku sampai seperti ini." Alisya masih terus berusaha bernafas dengan baik. Alat komunikasi nya sengaja ia putuskan karena ia merasa malu dengan desahannya sendiri yang terdengar sedikit aneh. "Maaf, apa yang sedang anda lakukan?" Adith terperanjat kaget saat melihat seorang wanita sudah menempelkannya pada pintu kamarnya yang baru saja ia buka. Alisya yang kesulitan untuk bernafas tertunduk dengan dahi yang menempel di dada Adith. "Lakukan sesuatu, aku tidak bisa menahannya lagi." Suara Alisya yang serak dan parau membuat Adith tak mengenalinya. Rambut yang menutupi tubuh Alisya membuatnya tak bisa melihat wajah Alisya dengan baik terlebih karena bau parfum yang menyengat dari tubuhnya. Alisya memang sengaja memakai parfum yang beraroma cukup kuat untuk menyesuaikan diri dengan tempat yang sedang mereka datangi sehingga hal ini semakin membuat Adith tak mengenalinya. Adith yang takut akan salah orang untuk yang kesekian kalinya membuat dia dengan kuat mendorong tubuh Alisya. Alisya yang sudah tak kuasa menahan gejolak hatinya dengan seketika mencium bibir Adith dengan ganas. "Brakkkk!!!" Adith mendorongnya dengan kuat hingga terjatuh ke bawah dan rambut Alisya yang terurai membuat wajahnya tak terlihat oleh Adith. Adith yang panik mendapatkan ciuman dari wanita yang tak dikenalinya segera berlari pergi tanpa menghiraukan Alisya. Rasa marahnya membuatnya tak menoleh sekalipun kepada Alisya. "Arggghh sial!!! Bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan kejadian seperti ini." Adith pergi dengan marah dan kesal merasa sedang mendapatkan ciuman mendadak dari wanita yang sedang mabuk. "Suami Idiot! Bagaimana bisa suami seperti dia banyak yang menganggap Jenius sih!" Alisya menarik nafas tersengal-sengal. Ia tidak bisa masuk kedalam kamarnya karena ruangan itu akan berubah lagi sewaktu-waktu sehingga hal yang paling utama dia lakukan saat ini adalah mengembalikan fokusnya terlebih dahulu. "Liat saja, begitu ini selesai aku takkan memberimu jatah sampai 7 tahun kemudian biar tau rasa!" Alisya terus berjalan menyusuri lorong kapal mengikuti petunjuk dari alat yang sudah diberikan oleh Elvian kepadanya. Alat yang diberikan oleh Elvian terdapat cetakan biru denah kapal tersebut yang ketika labirin itu mulai berubah-ubah sewaktu-waktu, Alisya masih bisa menemukan tempat yang di inginkannya. Panas tubuhnya membuatnya terus berjalan dengan susah payah. Ruangan yang berubah dengan begitu lembutnya sampai orang tak menyadarinya tersebut cukup membantu Alisya untuk tak bertemu dengan orang lain. "Alat ini cukup membantuku juga untuk menghindari orang-orang. Air, aku butuh air saat ini." Pikiran Alisya tertuju pada kolam renang yang berada pada bagian depan buritan kapal. Dengan perasaan terbakar yang membara dan wajah yang memerah padam membuat pikiran Alisya semakin tak terkendali lagi. Meski begitu, energi nano yang berada dalam tubuhnya masih membantunya dalam mengendalikan dirinya dengan sangat baik. "Bagaimana? Apa kita bisa pergi mencari Adith saat ini?" Tanya Yogi kepada Elvian yang nampak terus mengutak-atik sesuatu pada layar hologramnya. "Ya, waktu kita hanya tinggal 3 menit sebelum hologram mu menghilang. Aku harap kau bisa mengikutiku dan jangan tertinggal di belakangku." Seru Elvian dengan tatapan serius. Keadaan mereka yang genting dengan keamanan sistem yang sangat tinggi membuat Elvian ragu harus membawa Yogi bersamanya, namun dia tidak memiliki pilihan lain. "Tentu saja!" Ucap Yogi dengan penuh keyakinan. "Oke sekarang!" Elvian segera berlari dengan sangat cepat namun berusaha untuk menyesuaikan dengan kecepatan Yogi. Dia yang takut kalau Yogi akan berada di belakangnya, dia segera menoleh namun ia terkejut saat menemukan Yogi persis berada di belakangnya. "Siapa dia? Bagaimana dia bisa mengikuti ku dengan mudah? Ini seperti terlihat kalau dia yang sedang menyesuaikan dengan kecepatanku." Batin Elvian berhenti sejenak saat melihat ada robot penjaga tak jauh dari sana. Elvian memang belum memiliki data yang cukup mengenai Yogi dan yang lainnya meski mereka sudah bertemu beberapa kali, namun saat melihat Yogi yang berada di hadapannya sekarang dia menjadi sangat penasaran. "Kalau begitu, kenapa tidak aku uji saja sampai mana batas kemampuannya dalam mengikutiku." Batin Elvian yang langsung memberi tanda kepada Yogi untuk segera mengikutinya kembali. Mereka dengan cepat berlari dengan kecepatan yang sangat luar biasa yang bahkan membuat Elvian sampai mengeluarkan kekuatannya mencapai batas maksimal namun Yogi masih mengikutinya dengan mudah. "Apa yang terjadi disana?" Tanya Yogi menunjuk ruang dihadapan mereka yang mulai merubah posisinya lagi. "Lari!!!!" Teriak Elvian kepada Yogi dan melesat kencang yang ketika sedikit lagi ruang itu akan menutup, keduanya melompat secara bersamaan dan hampir saja terjepit oleh ruangan yang berubah tersebut. "Apa itu barusan? Bagaimana itu bisa terjadi? Kapal pesiar ini seperti sebuah labirin yang berubah posisi secara tiba-tiba!" Yogi berdiri dari tempat terbaring melihat pada ruangan yang kini malah mereka pada ujung koridor kapal. Elvian yang masih kaget dengan kecepatan Yogi yang bisa menyamainya hampir saja tak memperhatikan situasi mereka yang genting. "Siapa kamu sebenarnya? Kau bukanlah orang normal yang bisa memiliki kemampuan menyamai pasukan khusus seperti kami." Elvian menatap tajam kepada Yogi merasa curiga dengan kemampuannya. "Siapa? Kau sudah mengenalku bukan? Aku adalah teman dari Kaptenmu, Alisya!" Ucap Yogi santai masih menilik dinding yang sudah tertutup tersebut. "Brukkk!!! Jangan main-main denganku." Elvian yang melihat sikap santai Yogi langsung menekan Yogi pada dinding dengan keras. "Jika benar kau hanyalah teman, kenapa kau bisa memiliki energi yang sama dengan anggota BF?" Elvian menunjukkan sebuah alat pendeteksi nano kepada Yogi yang menandakan bahwa dia merasa curiga kalau Yogi adalah salah satu anggota BF. "Ukhhh,,, hentikan! Sepertinya Alisya menyembunyikan tentang kami pada kalian. Aku tak tahu apa alasanmu bisa sampai semarah ini, tapi kau sudah salah paham padaku." Ucap Yogi berusaha untuk menjelaskan situasinya kepada Elvian. Yogi dapat melihat dengan pasti raut mata penuh kebencian yang terpancar dari tatapan Elvian kepadanya setelah mengetahui kebenaran akan adanya energi nano yang ada dalam tubuhnya. Energi nano dalam tubuhnya tidak bisa dia aktifkan dengan sesuka hati karena ia tak tahu cara mengendalikannya, namun mucul jika dalam keadaan genting. Chapter 415 - Kolam Renang!!! Setelah menjelaskan semuanya kepada Elvian, mereka kembali melanjutkan tujuan mereka yang dengan secepat kilat sudah berada di depan toilet tepat sebelum orang lain masuk. Yogi segera berdiri di depan hologram yang sudah dibuat oleh Elvian sebelumnya yang begitu hologram itu mati, dia sudah berada di posisinya. Adith yang masuk langsung mencuci wajahnya tidak menyadari keberadaan Yogi dan Elivian disana. "Bagus, kami tidak perlu repot-repot mencarimu sekarang!" Seru Yogi cepat yang membuat Adith langsung mengangkat wajahnya bingung. "Ada apa?" Tanya Adith meneruskan mencuci wajahnya dengan cepat mengingat kejadian sebelumnya. "Apa kau sudah bertemu dengan Alisya? Jika tidak kita harus mencarinya sekarang juga." Tegas Yogi menatap Adith dengan serius. "Alisya?! Jadi dia berada di kapal ini?" Adith seketika terkejut mendengar ucapan Yogi. "Sepertinya kau tak menyadari kehadiran kapten di kapal ini. Kami memang sudah menyiapkan beberapa wanita yang berpakaian mirip dengannya untuk mengecoh orang lain. Tapi tak ku sangka suaminya sendiri juga sampai tak bisa mengenalinya." Ucap Elvian mengingat laporan Jati yang sempat melihat Adith saat mengenali Alisya sebelumnya. "Sial! Jadi benar wanita yang menciumku tadi itu adalah Alisya? Aku yang mengira sedang berhalusinasi malah melemparnya dengan kasar." ucap Adith memukul westafel toilet tersebut dengan keras. "Alisya juga yang sudah merebut gelasmu yang sebelumnya sudah diberikan racun yang sangat kuat oleh Elvian. Tapi karena Alisya yang meminumnya, maka aku rasa zat yang bersifat racun mungkin dapat ia netralkan namun tidak dengan zat perangsang nya yang sangat kuat." Yogi segera menjelaskan kondisi yang mungkin dapat dialami oleh Alisya. "Pantas saja Alisya langsung bersikap begitu agresif saat bertemu denganku. Nafasnya yang tersengal-sengal dan kondisinya yang cukup lemah membuatku mengira dia sedang mabok ditambah dengan bau parfumnya yang menyengat. Jadi semua itu karena perbuatan Elvian?" Adith sekali lagi memukul westafel toilet itu dengan keras yang langsung membuat sebuah peringatan pada tempat tersebut. Mendengar warning merah disana, Adith serta yang lainnya segera pergi dari tempat itu dengan meninggalkan gelang elektrik nya disana karena gelang itu sudah merekam apa yang dilakukannya. Elvian sempat menghapus nama penggunanya tepat saat robot datang memeriksanya. "Ngomong-ngomong, aku harap kau tak tersinggung karena menyebut Elvian terus menerus." Tatap Adith kepada Elvian agar ia tak salah paham. "Pufthhh hahahah¡­ kau mungkin akan tertawa saat mengetahui kalau nama samaran yang aku gunakan terinspirasi oleh nama Elvian yang aku kira bahwa dia adalah pemilik perusahaan Narendra yang sebenarnya." Ucap Elvian tertawa renyah mendengar permintaan maaf dari Adith. Mereka yang sudah melarikan diri dari toilet dengan segera mencari keberadaan Alisya dengan menuju kamar Adith. "Aku tau kalau kau adalah Suami kapten saat acara ulang tahunnya lalu, namun aku tak pernah tahu kalau ternyata kalian juga adalah mutan seperti kapten." Elvian berkomentar kembali setelah mereka mendapatkan tempat yang cukup aman sebelum melewati koridor berikutnya untuk mencari Alisya. "Aku bahkan baru tahu kalau namanya adalah Alisya!" Ucap Rendy yang terus mendengar percakapan mereka sejak awal. "Aku sudah pernah bertemu dengan suaminya saat melaporkan misi kita, disitu terjadi sesuatu yang cukup membuatku kaget namun aku tidak sempat menanyakannya kepada kapten." Sambung Jati yang mengingat kejadian pada resort mulia seminggu yang lalu. "Tak ku sangka beberapa dari mereka mendapatkan paparan energi nano dari kapten yang membuat sel-sel dalam tubuh mereka juga ikut berevolusi." Rafli juga tidak tahan untuk tidak berkomentar. Semua percakapan itu hanya dapat didengar oleh Elvian seorang. "Kami mungkin tidak tepat jika disebut sebagai mutan karena hanya mendapatkan paparan energi dari Alisya, namun suntikan penenang yang biasanya digunakan pada Alisya memacu hormon adrenalin kami." Jelas Yogi dengan terus mengikuti Elvian yang menunjukkan jalan kepada mereka. "Suntikan penenang yang diberikan kepada kami memiliki reaksi yang berbeda dimana zatnya malah meningkatkan sistem dalam tubuh kami sehingga begitu mendapatkan paparan energi Alisya, sel-sel dalam tubuh kami juga ikut berevolusi. Itulah kenapa tubuh kami juga memiliki reaksi yang sama seperti pemilik energi nano." Jelas Adith lagi sembari terus mengikuti langkah mereka berdua menuju ke kamarnya. "Pantas saja aku merasakan sesuatu yang berbeda dengan kalian. Awalnya juga kami sangat membenci kapten karena energi nano yang dimilikinya mengingatkan kami dengan pemilik energi nano dari organisasi, sehingga kami selalu berusaha untuk membunuhnya. Namun dia melakukan hal yang sebaliknya dengan terus menyelamatkan kami dalam setiap pertempuran dan misi." Terang Elvian begitu sampai di depan kamar Adith dan tak menemukan Alisya disana. Adith yang tak menemukan Alisya disana menjadi sedikit lebih panik. Keadaannya yang kacau seperti itu dapat membuatnya menjadi sasaran yang mudah jika benar terdapat musuh di kapal ini. "Rendy, temukan keberadaan Kapten. Alat komunikasinya ia matikan." Ucap Elvian cepat karena tak menemukan Alisya disana. Elvian kesulitan untuk menemukan keberadaanya karena alat komunikasi yang sengaja ia matikan. Selain itu ruang kapal yang sewaktu-waktu dapat berubah membuat mereka tak bisa melihatnya dalam CCTV karena akan membutuhkan waktu yang banyak. "Terakhir kali aku merasakan panas pada tubuhnya yang sangat tinggi, dia pasti takkan masuk kedalam ruang kamar karena perubahan yang kamu maksud itu bisa terjadi dan akan sedikit merepotkan baginya. Dan untuk sedikit mengembalikan kesadarannya, dia membutuhkan sesuatu yang dapat menurunkan suhu tubuhnya." Adith mulai memikirkan kemungkinan yang akan dilakukan oleh Alisya saat ini. "Kolam Renang!!!" Teriak Yogi dan Elvian kompak mengejar Adith yang sudah lebih dahulu pergi menuju ke bagian depan kapal. "Binggo!" Seru Adith sambil terus berlari membenarkan ucapan keduanya. Dari kejauhan, Rendy bisa melihat Alisya yang langsung menjatuhkan dirinya dari lantai 3 langsung ke dalam kolam renang yang berada pada bagian bawah. "Pyashhhh!!!" Suara itu terdengar langsung ke telinga Adith yang dengan satu loncatan kuat, ia sampai di tepi kolam dan langsung terjun masuk kedalam kolam. Adith terus berenang mendekati tubuh Alisya yang sengaja menenggelamkan diri dan mengangkatnya dari sana berenang ke atas dan mengeluarkannya dari dalam kolam. "Ohokkk,, ohokk.. ohokk!" Alisya terbatuk karena menghirup air yang masuk melalui hidungnya karena melempar dirinya dengan kasar. "Jadi kau sudah mulai sadar kalau aku istrimu?" Alisya memandang Adith dengan tatapan nanar. "Itu karena kau sudah benar-benar menyiksaku sebelumnya, bayang-bayang dirimu selalu muncul dimana saja sampai membuatku tak bisa percaya kalau kau asli atau hanya genjutsu saja." Ucap Adith memandangi wajah Alisya yang masih tampak memerah karena pengaruh obat yang diberikan oleh Elvian sepupunya. "Acara pembukaan sudah akan mencapai puncaknya, sebaiknya Yogi harus segera kembali pada meja kalian." Ucap Elvian setelah mendapatkan peringatan dari Rafli. "Baiklah, aku akan kembali ke meja sedang kau bisa mengurus Alisya terlebih dahulu. Kau tentu tau apa yang harus di lakukan pada seseorang yang sedang mendapatkan pengaruh obat perangsang bukan?" Pertanyaan Yogi segera membuat semua bawahan Alisya terjatuh dengan keras dari posisinya mereka masing-masing. "Lakukan saja tugasmu dengan baik!" Adith menggendong Alisya dengan tubuh mereka yang basah kuyup menuju kamar mereka yang sudah Elvian buka tak jauh dari tempat mereka berada. "Tentu saja, jangan lupa perlakukan dia dengan lembut. Apa lagi ini adalah pengalaman pertama kalian selama hampir 8 tahun ini." Tambah Yogi dengan santai yang langsung membuat Rafli, Jati dan Rendy langsung tertimpa tangga yang tak kasat mata. Serang Elvian merasakan kepalanya terus berkedut-kedut sakit. "Kau tak perlu khawatir, aku sudah menunggu ini sekian lama. Kau tentu tau kami pasti akan melakukan ini semalaman penuh, jadi kau tak boleh mengangganggu kami. Apa lagi istriku ini sudah mulai terlihat agresif dan siap untuk memimpin gerakan dengan sangat ganas." Balas Adith yang langsung membuat Yogi seketika kesal karena cemburu. Untuk Elvian dan yang lainnya tak perlu di tanyankan lagi, hidung mereka langsung mimisan hebat. Chapter 416 - Malam Penyatuan Adith terus berjalan menuju ruang kamar yang sudah Elvian buka sebelumnya. Adith yang sudah meninggalkan gelang elektriknya di toilet membuatnya tak memiliki kamar lagi seperti sebelumnya sehingga Elvian harus meng hack salah satu kamar agar Adith bisa membawa Alisya ke dalam. "Terima kasih banyak!" ucap Adith sebelum masuk dan menutup pintunya. Nafas Alisya yang tersengal-sengal menunjukkan bagaimana ia sangat tersiksa dengan pengaruh obat tersebut, sehingga untuk melancarkan peredaran darahnya Adith membawa Alisya ke dalam kamar mandi dan memandikan Alisya dengan air hangat. "Aku tau kau malu, tapi aku adalah suamimu. Kau tak perlu khawatir." Adith tersenyum simpul mengetahui kenapa Alisya menahan tangannya saat ia sedang berusaha membuka bajunya untuk memandikannya. Dengan penuh rasa malu, Alisya menunduk dalam dekapan Adith saat Adith mulai menurunkan resleting gaunnya dari hadapannya lalu dengan lembut mengguyurnya dengan air panas. Setiap sentuhan lembut Adith memberikan getaran aneh di tubuhnya dan bahkan Adithpun merasakan hal yang sama. "Adith¡­" Panggil Alisya kepada Adith yang sedang membalutinya dengan handuk. "Ada apa? Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan? Katakana padaku." Ucap Adith cepat khawatir kepada Alisya. "Bodoh, sampai kapan kamu akan membuatku tersiksa dan kau terus menahan dirimu?" tanya Alisya dengan wajah yang semakin memerah bukan hanya karena malu namun karena panas dari tubuh serta air yang sudah mengguyurnya tadi. Mendengar ucapan Alisya, Adith langsung tanpa basa basi lagi menarik pinganggang Alisya, memeluknya erat serta memberikannya ciuman yang begitu panas di bibir Alisya. Alisya yang sudah berusaha menahan diri akhirnya membalas ciuman Adith. Apa yang selama ini terus mereka tahan akhirnya tumpah ruah saat itu juga. Malam dimana akhirnya mereka Bersatu setelah sekian lama terpisah jarak dan waktu membuat hati mereka seolah menyatu dengan sangat erat. Adith segera menggendong tubuh Alisya dan membawanya ke atas ranjang. "Apa kau sudah siap?" tanya Adith meminta izin kepada Alisya dengan membelainya lembut. Wajah Alisya yang terlihat lebih cantic dari selama ini yang pernah dilihat Adith membuat jantungnya tak bisa berdetak dengan pelan. Alisya hanya mengangguk pelan menyetujui apa yang akan dilakukan olehnya. Hal yang selama ini sudah di nantikan oleh keduanya tak di sangka akan mereka lakukan pada tempat yang sudah pasti akan di jadikan tempat bulan madu impian di seluruh wanita di dunia. Langit LED kamar mereka bisa mendeteksi perasaan mereka saat itu hingga menampilkan alunan music romantic serta langit berbintang yang semakin menambah indahnya penyatuan dua insan yang saling mencintai tersebut. Meski karena keadaan dan pengaruh obat lah sehingga mereka bisa Bersatu, namun keduanya tetap bersyukur karena dipertemukan di saat yang tepat dimana keduanya saling melindungi dalam setiap masalah yang menghampiri. Adith yang memperlakukan Alisya dengan lembut malam itu semakin yakin bahwa Adith sangat mencintainya sepenuh hati dan tidak mendahulukan rasa egois ataupun nafsunya. Alisya merasa dibuai oleh cinta Adith sehingga tanpa sadar ia menitikkan air mata penuh haru. Hatinya begitu Bahagia, ia takkan pernah melupakan malam indah itu dari pikirannya. Yogi yang kembali ke aula kapal pesiar tersebut segera disambut oleh tatapan tajam Rinto yang merasa di tinggalkan oleh Adith dan Yogi ke suatu tempat. "Dari mana saja dirimu? Apa kau takt ahu betapa pentingnya acara pembukaan ini? Jika Adith tak berada di tempat ini, bukan berarti kau juga harus melarika diri." Ketus Rinto kepada Yogi yang baru saja datang dengan wajah senyum mengerikannya. "Ada apa dengan senyuman mengerikanmu itu?" tanya Zein yang datang menghampiri keduanya. "Sepertinya dia habis memikirkan sesuatu yang kotor!" Riyan seolah paham betul akan cengiran kuda yang terukir jelas di wajah Yogi. "Kalian anak muda yang tidak tahu apa-apa sebaiknya diam saja. Ini urusan orang tua yang sudah berpengalaman, jadi.. siuh siuuuh!" usir Yogi kepada mereka yang langsung membuat ketiganya menajdi kesal. "Pengalaman? Seolah kau memiliki pengalaman itu. Justru aku bisa melihat betul arti dari ekspresi mengerikanmu itu." Ucap Riyan dengan kesal namun tidak di perdulikan oleh Yogi yang langsung pergi meninggalkan mereka yang sedang memaki-makinya. Yogi tersenyum penuh Bahagia dan menghampiri ayah Alisya. Dia sengaja menyembunyikan apa yang mungkin sedang dilakukan oleh Adith dan Alisya kepada teman-temannya. Tujuannya adalah mengatakan kepada Ayah Alisya yang tentu saja akan sangat membuatnya Bahagia saat ini. "Paman, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Ucap Yogi begitu sampai dihadapan Ayah Alisya. Yogi melirik kepada Ryu dan Karin yang berada disana untuk memberikannya waktu berbicara dengan ayah Alisya. "Apa sampai sepenting itu sampai kau menjauhkan kami?" tatap Karin dengan penuh selidik kepada Yogi. "Akan lebih baik jika kalian berdua tidak mendengarkan ini terlebih dahulu." Yogi sengaja karena tentu saja hal tersebut malah akan membuat keduanya canggung dan malu saat mendengarkan apa yang akan mereka bahas nantinya. "Karin,," Ryu segera mengajak Karin untuk memberikan mereka waktu. Karin melangkah pergi namun rasa penasarannya yang sangat tinggi membuatnya melemparkan sebuah alat tanpa sepengetahuan Yogi. Alat itu berupa serangga kecil seperti lalat yang digunakannya sebagai mata-mata yang ia cabut dari bros bajunya. Alat yang dibawa oleh Karin adalah ciptaan ayahnya dan juga dirinya yang sengaja mereka buat untuk mendukung kerjaan ayah Alisya saat itu. "Kau sudah mengusir mereka, jadi apa yang ingin kau bicarakan sampai mereka tak harus mendengarnya?" Ayah Alisya sedikit penasaran dengan apa yang akan dikatakan Yogi mengingat selama ini mereka tak pernah menyembunyikan sesuatu dengan teman-temannya yang lain. Setelah membuat Ayah Alisya duduk dengan nyaman, Yogi mulai menceritakan awal mulanya kepada Ayah Alisya agar ia bisa memahami kondisinya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia memberitahukan hal yang paling utama kepadanya. "Jadi, sekarang mereka pasti sedang melakukan malam pertama mereka." Ucap Yogi dengan sangat antusias kepada Ayah Alisya. "Apa???" Teriak mereka hampir bersamaan dari kejauhan. Bukan hanya Yogi, tapi beberapa tamu yang berada disekitar mereka juga sama terkejutnya. "Kenapa aku lupa kalau kalian semua adalah raja dan ratunya kepo? Meski yang satu masih aku tinggalkan di daratan!" Yogi merujuk kepada Aurelia yang tidak berada bersama dengan mereka. Yogi menepok jidatnya saat melihat teman-temannya sudah datang menghampiri mereka dengan wajah penuh penasaran. "Sialan!!! Kenapa hal seperti itu harus dia tutupi?" tanya Riyan dengan cengiran kuda mengutuk Yogi dari kejauhan. Yogi tak perlu menjelaskan kepada mereka lagi mengingat mereka sudah mendengar semuanya. Wajah Karin yang sudah memerah membuat Yogi yakin kalau mereka sudah mendengarnya dari awal. Chapter 417 - Mencurahkan Isi Hati Penyatuan dua hati yang penuh dengan cinta dan kelembutan membuat keduanya tertidur dengan pulas melupakan segala hal dan tujuan awal mereka untuk sementara untuk bisa saling berbagi dan merasakan cinta dan berbalas satu sama lainnya dengan tulus dan indah. Mereka yang tertidur dengan begitu pulas satu sama lain setelah semalam penuh menyatukan dua hati dan juga melaksanakan kewajiban mereka sebagai suami dan istri setelah sekian lama terpisah. Malam indah yang takkan pernah mereka lupakan selamanya. "Terimakasih karena sudah membuatku menjadi seorang suami bagi seorang wanita yang hebat sepertimu." Ucap Adith memandangi Alisya yang masih tertidur dengan pulas di sampingnya. Adith sengaja untuk memberikan sedikit jarak antara dengan dirinya dan Alisya agar ia bisa melihat Alisya dan memandangi terus dirinya dan tak ingin melepas padangan indah itu dari sisinya untuk sementara waktu. Subuh dini hari sebelum kembali tidur, keduanya sudah membersihkan tubuh mereka dari peluh karena kerja keras yang begitu melelahkan namun takkan terlupakan. Adith yang sudah memakai baju kaos putih yang nyaman terbaring di sebelah Alisya dan terus mengucapkan syukur atas segala waktu yang telah diberikan kepadanya. "Jam berapa sekarang?" Alisya terbangun dari tidurnya setelah merasa matanya cukup silau karena cahaya terang matahari yang masuk kedalam kamar mereka. Begitu dia menoleh ke sebelahnya, ia menemukan Adith yang sedang tertidur. Wajahnya yang tampan saat tertidur membuat Alisya kembali terbaring dan memandang wajahnya dengan lekat-lekat. Matanya yang tergaris tipis, hidungnya yang mancung serta bibirnya yang merah merekah manis membuat Alisya tersenyum menatap wajah Adith. "Kau adalah kekuatanku tapi juga kelemahanku, detak jantungmu seperti mentronom yang selalu menenangkanku, desahan nafasmu adalah simphoni indah yang selalu terus mengingatkanku untuk kembali padamu." Alisya mengelus lembut pipi Adith agar tak membangunkannya. "Sangat sulit untuk melalui semua ini jika tanpamu. Dalam duniaku, kau adalah tujuanku. Tidak adanya dirimu di sampingku sangat mengujiku. Kau adalah obsesi terbesarku untuk menyempurnakan semua kekurangan yang aku miliki. Awalnya aku takut apakah aku layak bagimu dengan semua hal yang ada padaku, tapi aku hanyalah seorang moster yang jatuh kedalam pesonamu hingga aku sulit untuk bangkit tanpamu." Ucap Alisya lagi mengecup lembut dahi Adith dengan penuh kasih lalu tak lupa mencium bibirnya dengan hangat. Kecupan yang dicurahkan oleh Alisya kepada Adith tercurah dengan begitu tulus hingga kehangatannya mampu menyadarkan Adith dari tidurnya. Adith menatap Alisya dengan begitu lekat yang membuat Alisya memerah malu karena sudah menciumnya. "Melihatmu berada di hadapanku saat ini membuat jiwa dan ragaku seperti bukan milikku lagi saat ini, kau sudah mengusai semua yang ada pada diriku sampai aku takut untuk terbangun dari kenyataan kalau semalam hingga saat ini hanyalah mimpi dan anganku saja." Mata Adith berkaca-kaca merasakan takut yang amat mendalam jika kehilangan Alisya dan apa yang terjadi hanyalah halusinasinya saja. Alisya mengerutkan keningnya mendengar ucapan Adith. Dia lalu menatap wajah Adith dengan lekat dan menyentuh pipinya dengan lembut untuk membuatnya tenang. Alisya bisa memahami rasa takut yang dirasakan oleh Adith sebab diapun merasakan hal yang sama. "Apa? Setelah penyatuan langit dan bumi yang panas semalam kau masih bilang itu hanyalah hayalanmu saja? Apa otakmu sudah memiliki lubang hitam disana sampai seluruh tubuhmu mati rasa dan tak bisa membedakan mana yang benar-benar terjadi dan mana yang bukan?" Alisya setengah terbangun saat mengatakannya untuk menggoda Adith. Adith tertawa mendengar pengandaian yang dikatakan oleh Alisya. Memang mereka adalah langit dan bumi yang terus saja terpisah akan jarak dan waktu, namun tetap saja penyatuan mereka di andaikan dengan sesimpel itu membuatnya tertawa pelan. "Ya, aku masih belum bisa membedakan dengan benar apakah kamu masih sebuah bayangan atau hanya sebuah khayalan saja. Disbanding dengan penyatuan langit dan bumi, bagaimana kalau kita lakukan penyatuan dua galaksi, penyatuan galaksi andromeda dan galaksi bima sakti dengan adegan yang jauh lebih panas dari semalam?" Adith langsung mendekati Alisya dan memeluknya dengan erat membuat Alisya tertawa renyah. Keduanya kembali melanjutkan kegiatan mereka lagi. Di atas kapal pesiar itu, untuk sesaat mereka benar-benar lupa akan apa yang sedang mereka lakukan. Setiap saat dan setia detik mereka bersama, waktu bergulir begitu cepat hingga mereka merasa kalau waktu yang berputar seolah tak cukup untuk membuat mereka merasakan dalamnya cinta pada penyatuan mereka berdua. "Kau tau, aku mencintaimu dengan begitu dalam. Bahkan jika aku tak bisa menemukanmu di bumi, maka aku akan mencarimu dilangit sekalipun." Ucap Adith saat memeluk Alisya dengan erat di tubuhnya. Alisya paham akan apa yang dikatakan oleh Adith mengingat mereka yang terus saja terpisah karena kondisi mereka saat itu. Alisya memeluk tubuh Adith dengan sangat erat. "Mungkin aku pernah kehilangan tujuan setelah lama terpisah darimu, bukannya aku miskin akan tujuan hingga tak tahu harus kemana karena aku takut jika aku kembali kepadamu aku mungkin akan membuat kejadian seperti sebelumnya terulang kembali." Alisya terus mengingat bagaimana ia terus berusaha untuk menghindari Adith dan yang lainnya. "Namun selalu saja, terlalu sulit untuk ku mengembara sendiri dan hidup tanpamu. Berada jauh darimu membuatku sadar bahwa meski kita dipisahkan, tapi kita sudah tercipta untuk Bersatu. Sekuat apapun aku mencoba untuk menjauh darimu, takdir selalu membawa langkahku untuk menghapirimu." Lanjut Alisya lagi dengan menanamkan kepalanya di dada bidang Adith. "Mulai saat ini, aku takkan pernah mengizinkanmu untuk berada jauh dalam pandanganku. Apapun yang terjadi, aku takkan menjadi lemah dengan hanya menatap kepergianmu. Meski kau sedang berada dalam misi sekalipun, aku akan datang jika kau merindukanku." Adith mengelus lembut rambut Alisya. Belum pernah mereka berbicara dengan begitu banyak satu sama lain seperti ini. Pembicaraan yang mengeluarkan isi hati mereka satu sama lain dengan lebih dalam. Alisya yang selama ini selalu menyimpan semua perasaanya kepada Adith akhirnya bisa didengar dengan jelas oleh Adith. "Apa kau masih ingin melanjutkannya lagi apa kau sudah mulai ingat akan misimu sekarang?" Adith tertawa pelan melihat ekspresi kaget diwajah Alisya saat Adith mengatakan tentang misi. "Benar, aku hampir lupa tentang semua itu. Bagaimana caraku menjelaskan semua ini kepada mereka?" Alisya bangkit dari posisinua dengan panik. "Kau tak perlu khawatir, mereka sudah mengetahui semuanya. Kau tak perlu terburu-buru, karena semalam belum ada pergerakan sama sekali." Jelas Adith kepada Alisya untuk membuatnya tenang. Malam itu memang belum terjadi pergerakan sama sekali, namun Jati dan yang lainnya masih terus melakukan pengamatan dengan ketat. Chapter 418 - Serangan Balik Adith dan Alisya "Apa kau melihat sesuatu?" Riyan segera menatap layar monitor Karin yang terus saja di jauhkannya. "Sebentar, aku sedang kesusahan mencari celah nya nih." Ketus Karin dengan kesal karena Riyan tak memberinya kesempatan untuk bekerja dengan baik. "Sudah sampai jam 10 pagi menjelang siang mereka masih belum keluar juga dari kamar ini. Apa semua ruang di kapal pesiar ini kedap suara?" Mata Yogi yang sedikit memiliki lingkaran hitam membuat Rinto hanya mendesah berat. "Apa kau disini semalaman penuh hanya untuk memastikan ruangan ini kedap suara atau tidak?" Tanya Rinto kepada Yogi dengan kesal. "Te¡­ tentu saja tidak!" Yogi menjawab dengan setengah gagap. Yogi memang tidak berada semalaman penuh di depan kamar Adith dan Alisya, namun karena memikirkan kata-kata Adith yang semalam membuat jiwa serigalanya tak bisa tidur dengan tenang. Biar bagaimanapun dia juga adalah seorang laki-laki yang memiliki darah panas terhadap sesuatu hal yang seperti percintaan antara dua insan yang sedang bersatu. "Bisakah kalian menghentikan ini? Rasanya malu sekali melihat tingkah kalian seperti ini" Ryu yang sedari tadi diam melihat tindakan mereka membuatnya semakin gugup jika ketahuan oleh Alisya. Ryu hanyalah salah satu korban dari seretan Yogi dan Karin yang sangat bersemangat untuk mengetahui apa yang sedang terjadi antara Adith dan Alisya. Meski sudah mengetahuinya, namun karena selama ini ada saja halangan dan rintangan yang menghadang keduanya membuat Karin dan yang lainnya berharap kali ini sukses. "Apa kau tidak penasaran dengan keduanya?" Tanya Zein kepada Ryu bangkit dari posisi jongkoknya pada celah pintu yang sebenarnya tak memiliki celah sama sekali. "Penasaran? Untuk apa penasaran terhadap hubungan suami istri orang lain?" Ryu menjawab dengan suara yang keras yang dengan cepat membuat mereka menutup mulutnya dengan erat. "Kamu bisa mengatakannya dengan pelan kan? Kenapa harus mengatakannya dengan berteriak seperti itu? Kamu mau membuat kita semua makin di curigai?" Zein berbisik tajam ke telinga Ryu. Beberapa orang yang lewat memang mengira kalau mereka semua sedang melakukan perbaikan pada pintu kamar dihadapan mereka melihat Karin yang sedang memegang monitor di hadapannya. Seluruh kapal yang memakai sistem teknologi tersebut membuat mereka percaya kalau perbaikan juga tentunya harus dilakukan dengan sistem tekhnologi pula. Sedang beberapa robot yang lewat tak merasakan keanehan pada sikap mereka dan juga sistem mereka karena Karin menggunakan Shield Protektor yang dapat membuat apa yang dilakukan oleh mereka tidak terdeteksi. "Aku sangat menghargai nona, mana mungkin aku melakukan hal yang tidak senonoh seperti ini." Tegas Ryu dengan mengepalkan kedua tangannya. "Sepertinya semakin lama kamu bersama Riyan, jiwamu semakin kotor. Kau harus mengingat dirimu yang seorang pemimpin masyarakat." Rinto segera mengingatkan Zein akan posisinya. "Apakah kau tidak melihat seorang pemimpin masyarakat ini hanyalah laki-laki biasa? Bukan kah akan sangat membanggakan karena aku bisa membangkitkan hasrat serigala dalam dirinya?" Riyan segera memberikan diri dengan memberikan dukungan kepada Zein. "Aku sependapat dengan dirimu mengenai membangkitkan hasrat serigalanya!" Tegas Yogi mengangkat jempolnya dengan bangga kepada Riyan. Keduanya langsung melakukan tos dengan bangga dan senyuman nyengir kuda yang menjijikkan. "Aku tak tahu bagaimana bisa Adith dan Alisya memiliki teman seperti kalian." Ucap Rinto dan Ryu hampir bersamaan. "Terimakasih!" Jawab mereka kompak sambil tertawa pelan. "Itu bukan pujian bodoh!" Ketus Rinto dan Ryu juga bersaman dengan penuh rasa kesal. "Yaiisshhh¡­ bagaimana aku bisa melakukan pekerjaanku jika kalian semua ribut disini? Kalau kalian berdua tidak penasaran, lalu apa yang kalian berdua lakukan disini?" Tatap Karin kepada mereka semua dengan tajam. "Itu karena¡­" Ryu mencoba menjawab pertanyaan Karin. "Diam dan tetap disitu!" Aku sudah berhasil masuk, sekarang tinggal menerbangkannya dengan hati-hati. Mendengar ucapan Karin, mereka serentak menunduk ke arah layar monitor milik Karin yang menampilkan hologram dari gambar video yang di tangkap oleh serangga milik Karin. Serangga ith menampilkan gambar dimana baju Adith dan Alisya berhamburan di bawah ranjang. Untuk dapat melihat dengan jelas, Karin harus menerbangkan serangganya dengan lebih tinggi. "Ada apa?" Tanya Alisya melihat gelagat aneh Adith saat keluar dari kamar mandi. "Lihatlah itu, apakah aku bisa menyebut ini sebagai keterkepoan yang haqiqi?" Adith melirik ke arah Alisya dengan tersenyum licik. Melihat apa yang di tunjukkan oleh Adith membuat Alisya seolah bisa membaca pikiran dari Adith. "Apa yang akan kau lakukan untuk serangan baliknya?" Tatap Alisya dengan tertawa pelan. "Monitor, power on." Adith memberi perintah pada layar monitor mereka untuk segera menghidupkan layar dan mulai mencari siaran tertentu untuk bisa ditampilkan pada lensa yang ditangkap oleh serangga tersebut. Dengan mengeluarkan tablet hologramnya, Adith dengan cepat melakukan hack sistem pada serangga yang masuk tersebut lalu dengan mendengar perintah yang dilakukan oleh Karin, Adith sedikit melakukan modifitkasi. "Uhhh¡­ ahhh.. uhhh¡­ ahhh¡­" suara desahan yang begitu sensual segera terdengar dari layar hologram milik Karin membuat mereka semakin mendekatkan telinga untuk bisa mendengarnya dengan sangat baik. "Se.. Sepertinya mereka masih melakukannya dengan baik!" Riyan menelan ludahnya dengan susah payah. Tangan Karin yang mulai bergetar menjadi semakin malu untuk melanjutkan hal itu namun karena penasaran dia sedikit mendekatkan serangganya lagi. Dari layar, mereka tak melihat suara itu berasal dari atas ranjang karena disana Adith maupun Alisya tidak ada. Karin yang mengira serangga itu ia arahkan kekamar mandi membuat jantung mereka seolah mau lepas dari sarangnya. "Sudah sampai mana?" Ayah Alisya yang bertanya segera membuat mereka terkejut bukan main. Mereka yang semula takut, namun melihat ayah Alisya juga sama Penasarannya membuat mereka kembali melanjutkan apa yang dilakukannya. "Ummmh¡­" suara tertahan yang keluar dari sana mau tak mau membuat Ryu dan Rinto juga ikut mendekat ke arah layar agar bisa mendengar dan melihat dengan lebih saksama apa yang sedang terjadi. Dari layar mereka bisa melihat lekuk tubuh seseorang yang sudah berkeringat hebat dan setengah telanjang bulat. Adith dan Alisya sudah tak bisa menahan tawanya lagi sehingga mereka mempercepat proses penampilan dari gambar yang di tangkap oleh serangga tersebut. "Apa Adith seperkasa itu? Alisya sampai kesulitan di buatnya!" Ucap Yogi yang semakin membuat mereka menahan nafas penasaran. Adith kemudian menaikkan serangga tersebut serta membuatnya sedikit lebih menjauh agar bisa melihat secara keseluruhan tubuh itu. Secara perlahan-lahan, serangga itu mulai mengambil gambar secara penuh lalu begitu tampil keseluruhan, ternyata itu adalah video seorang banci yang sedang olah raga. "Hoooeoeeekkkhhh" mereka semua berlarian ke kiri dan ke kanan ingin muntah. Chapter 419 - Dua Iblis "Apa yang sedang mereka lakukan di sana?" Tanya Rafli kepada Elvian yang melihat Karin dan lainnya dari kejauhan sedang berkumpul di depan ruang kamar yang semalam dimasuki oleh Adith dan Alisya. "Jangan bilang mereka sedang melakukan sesuatu." Jati yang memakai pakain santai juga ikut melihat ke arah Karin dan lainnya. "Sepertinya mereka sedang mengintip." Ucap Rendy melihat gelagat mereka dari kejauhan. "Mereka semua benar-benar sesuatu!" Elvian hanya bisa menggeleng tak percaya dengan tingkah mereka semua. "Apa kau yakin kalau mereka semua adalah orang-orang yang hebat dan memiliki energi nano sama seperti Kapten?" Rafli menatap ke arah Elvian memastikan informasi yang ia dengar semalam. "Benar, aku bahkan tak melihat ada pancaran dari energi mereka. Karena jika itu benar, seharusnya aku bisa merasakan pancaran energi tipis dari energi nano mereka." Tatap Rendy dengan penuh selidik kepada mereka semua. "Mereka juga terlihat seperti orang-orang biasa pada umumnya, tak begitu mencolok dan tak terlihat memiliki jabatan tinggi. Namun mengingat mereka bisa berada ditempat ini, itu sudah cukup untuk membantah penampilan merek saat ini." Terang Jati mengamati penampilan mereka yang terlihat sederhana. "Kalian mungkin takkan percaya, tapi itulah kenyataan yang sebenarnya. Mereka memang tak menerima energi secara langsung dengan menjadi korban penelitian organisasi, namun mereka mendapatkan paparan energi dari Kapten yang beberapa waktu sebelum bertemu dengan kita dapat meledak sewaktu-waktu." Jelas Elvian dengan ekspresi serius kepada mereka semua. "Paparan energi? Hahahaha¡­ Apa kau pikir energi nano akan semudah itu untuk masuk ke tubuh orang lain?" Rendy tertawa datar mendengar apa yang dikatakan oleh Elvian. Baginya energi nano tidak akan semudah itu bisa menulari orang lain hanya dengan sebuah paparan terlebih karena energi nano itu hanya bisa didapatkan jika menjadi objek penelitian dari organisasi BF. "Itu semua karena energi nano yang berada tubuh Kapten berbeda dengan tubuh obyek penelitian lainnya. Itulah sebabnya mengapa Kapten selalu menjadi incaran organisasi." Elvian secara perlahan-lahan menjelaskan semuanya kepada mereka. "Tapi, tetap saja itu adalah suatu hal yang mustahil." Bantah Jati dengan suara dingin. "Aku juga awalnya bereaksi yang sama seperti yang kalian lakukan ini, namun setelah mereka mengatakan suntikan serum penenang yang seharusnya diberikan kepada Kapten karena situasi tertentu malah disuntikkan kepada mereka semua." Jelas Elvian lagi. "Suntikan serum penenang? Apa maksudmu?" Tanya Rafli tak paham apa yang dimaksud oleh Elvian. Ia tak mengerti bagaimana mungkin hanya karena sebuah serum penenang saja sudah membuat tubuh mereka bisa menyerap paparan energi nano milik Alisya. "Aku tak tahu pasti apa kandungan dari serum tersebut, namun serum itu diberikan kepada Kapten yang selalu histeris kuat karena mengalami trauma. Suntikan serum itu mungkin akan memberikan efek penenang pada mereka yang memiliki energi nano, namun akan meningkatkan hormon adrenalin ketika masuk kedalam tubuh orang biasa." Elvian menjelaskan semuanya kepada mereka mengenai bagaimana hal tersebut dapat terjadi pada mereka. "Kombinasi dari paparan energi nano special milik Kapten kalian yang sangat besar dan juga serum khusus yang dibuat oleh seorang dokter ternama membuat efek yang luar biasa sehingga mereka malah menyerap energi nano disekitar mereka. Terlebih karena mereka selalu berada didekatnya." Seseorang melanjutkan penjelasan dari Elvian dari belakang mereka. "Profesor, sejak kapan anda berada disana?" Jati dan Rendy terkejut bukan main melihat profesor sudah berada di belakang mereka. "Cukup lama sampai aku merasa kalian sedang meragukan mereka." Ucap Profesor Ahmad dengan suaranya yang bas namun hangat. "Mereka yang mendapatkan energi nano dari Alisya tanpa sadar juga mengalami perubahan signifikan dalam tubuh mereka. Meski mereka sudah menyadarinya, namun mereka masih belum tau cara mengendalikan dengan baik." Tambahnya lagi dengan mengeluarkan alat pendeteksi dan memasangnya pada matanya sebagai kaca mata. Dia segera melakukan pemindaian kepada Karin dan yang lainnya untuk menguji seberapa besar energi nano yang dimiliki oleh mereka semua. Karin dan yang lainnya yang merasakan mual saat mengingat apa yang baru saja mereka dengar dan lihat. Tubuh Rinto dan yang lainnya tak berhenti bergetar, tak terkecuali Ayah Alisya. Adith dan Alisya tertawa terbahak-bahak dengan apa yang sudah mereka lakukan kepada teman-temannya. Mereka yang begitu jahil membuat Adith juga ingin membalas mereka dengan kejam. Adith segera membuka pintu untuk melihat ekspresi mereka satu persatu. Ryu dan lainnya segera menerobos masuk lalu memuntahkan semua isi hatinya di dalam toilet kamar Adith dan Alisya. "Ih.. kalian jahat! Itu yang mungkin akan dikatakan oleh banci tersebut." Ucapan Adith segera membuat mereka semakin mengeluarkan isi hati mereka hingga membentuk warna pelangi. "Kalian berdua benar-benar iblis!" Tatap Karin tajam kepada Alisya dengan penuh kesal. "Hahahahhaha¡­ siapa yang suruh kalian melakukan semua itu? Kepo sih boleh saja! Tapi nggak sampai ngintip juga kan? Mamam tuh tubuh seksi aduhai." Alisya benar-benar tertawa dengan lepas kali itu mengingat kejahilan mereka berdua. "Bapak?" Adith baru sadar saat menoleh ke sebelah kirinya ayah Alisya sudah membelakang dengan terbatuk pelan. "Bapak juga ikutan??? Waah¡­ orang tua yang satu ini bahkan sampai lupa diri." Alisya kaget bukan main melihat ayahnya juga berada disana. "Ehem¡­ aku nggak sengaja lewat. Dan aku pikir ada sesuatu yang menarik. Jadi bagaimana semalam? Apa aku sudah bisa mengharapkan cucu sekarang?" Ayah Alisya bertanya dengan terang-terangan. "Hahhh??? Bapak ih.. malu-maluin tau!" Alisya langsung memerah malu dengan pertanyaan vulgar ayahnya. "Yah wajar lah Sya, bapak kan sudah lama berharap ada cucu. Kamu mau buat bapak nunggu sampai kapan lagi?" Ayah Alisya segera membelai lembut rambut anaknya agar ia bisa memahami keinginan nya yang semakin tua renta tersebut. "Bapak nggak usah khawatir, semuanya sudah beres kok. Kita tinggal menunggu saja sekarang." Ucap Adith tersenyum puas yang langsung diberikan jempol oleh Ayah Alisya. "Kalian benar-benar keterlaluan. Bagaimana kalian bisa setega itu pada sahabat kalian sendiri." Tatap Riyan kepada Adith dengan penuh kekesalan kepada keduanya. Riyan merasakan mimpi buruk mengingat apa yang baru saja dilihatnya. Sedang Zein dan yang lainnya masih kesulitan untuk bernafas. "Bukankah seharusnya saya yang berkata seperti itu pada kalian? Bagaimana mungkin kalian dengan begitu santainya ingin melihat hal yang tak seharusnya? Masih mending aku memberikan kalian hukuman yang kecil." Adith hanya tersenyum tipis pada mereka semua. Pada akhirnya mereka juga merasa bersalah dengan apa yang sudah mereka lakukan terhadap Adith dan Alisya. Meski bagaimana pun juga, apa yang mereka lakukan pada keduanya adalah hal yang kurang baik. Chapter 420 - Kalian Semua Akan Mati Melihat profesor yang berjalan mendekati Alisya dan yang lainnya membuat Elvian kaget dan bingung. Ia tak mengira kalau profesor akan mengarah kesana. "Profesor, apa anda¡­" Elvian bertanya dengan ragu-ragu. "Ikutlah, kalian akan tahu begitu kita sudah bersama mereka." Ucapnya tanpa menoleh sedikitpun. Mereka yang bingung tak tahu pasti apa yang dimaksud oleh profesor tersebut, namun yang jelas sekali kalau profesor sudah merencanakan sesuatu dengan pergi ke hadapan mereka semua. "Apa ini ada hubungannya dengan kita yang dipanggil untuk berkumpul di depan kamar kapten?" Tanya Jati kepada mereka semua yang menatap punggung profesor dari belakang. "Aku tak tahu pasti, tapi sepertinya memang ada hubungannya dengan mereka semua." Tatap Rendy dengan sangat tajam kepada mereka semua. Melihat profesor yang datang menghampirinya, Alisya seolah tahu apa yang akan terjadi berikutnya sehingga ekspresinya yang semula sangat rileks dan santai berubah menjadi sangat serius hingga Ayahnya dan Adith merasa sesuatu yang besar sedang mendekat. "Apakah ini sudah saatnya?" Tanya Alisya yang hanya di jawab anggukkan pelan oleh profesor tersebut. Adith melihat profesor itu dengan sedikit aneh karena jika semakin ia lihat dari dekat, penampilannya tampak hanyalah sebuah penyamaran saja. Semuanya segera masuk ke dalam ruangan yang ditempati oleh Adith dan Alisya sebelumnya, begitu pula dengan ayah Alisya. Semuanya duduk dengan suasana yang sedikit kaku dan canggung. Sebelum memulai pembicaraan, Alisya sudah mengangguk pelan kepada Elvian yang langsung dipahaminya dengan baik lalu dengan satu gerakan, Elvian seolah membuat Shield pelindung di dalam ruang tersebut untuk mencegah apa yang mereka lakukan dan bicarakan dapat diketahui dari luar. "Mungkin kalian bingung dan tak tahu siapa dia. Tapi dia adalah orang yang sudah menyelamatkan ku sebelumnya. Kalian mungkin mengingat Calleb, anak kecil yang dulu pernah kita selamatkan sewaktu penculikan di pelabuhan 8 tahun yang lalu." Seru Alisya mulai membuka pembicaraan dengan tatapan serius kepada mereka semua. Dengan sedikit mengingat, mereka akhirnya paham siapa anak kecil yang dia katakan tersebut. "Perkenalkan, saya adalah ayah Calleb, nama saya adalah Muhammad Ilyas Syafar. Orang-orang memanggil saya dengan sebutan profesor Ahmad. Terima kasih banyak saya ucapkan kepada kalian semua yang sudah menyelamatkan anak saya." Ucap Profesor Ahmad sembari melepas kacamata dan cambangnya untuk membuat perkenalan itu sedikit lebih sopan. "Tidak perlu sungkan, kami hanya kebetulan saja berada dalam konflik tak terduga disana." Jawab Riyan dengan cepat, namun ia memiliki insting yang sedikit kuat terhadap orang dihadapannya tersebut. Meski sikap Riyan selalu terlihat seperti bajingan dan suka bermain-main dalam setiap situasi, namun instingnya lebih kuat dari yang lainnya berkat pelatihan militernya. "Apakah ada sesuatu yang anda sampaikan kepada kami? Sebab saya lihat ada alasan mengapa kalian semua berkumpul disini." Ayah Alisya juga bisa merasakan hal yang sama melihat dari tatapan Riyan kepada mereka semua. "Anda memang selalu tajam dan tidak pernah berubah meski sudah pensiun." Punjinya dengan ketajaman pengamatan ayah Alisya. Adith hanya terdiam dengan terus memperhatikan akan apa yang dikatakan oleh mereka selanjutnya. Sedang Zein dan yang lainnya hanya menatap 4 orang lainnya dengan waspada. "Seperti yang anda katakan, saya memang memiliki beberapa hal yang ingin saya katakan pada Adith dan juga yang lainnya. Keberadaan anda disini juga sangat membantu kami." Lanjutnya lagi dengan yang lainnya terus terdiam untuk mendengarkan hingga akhir. "Aku adalah seorang profesor yang menjadi seorang ilmuan yang bekerja dibawah organisasi Black Falcon sebelumnya. Namun banyak hal yang membuatku lepas dan melarikan diri selain karena penculikan anakku Calleb." Lanjutnya lagi yang langsung membuat mereka semua terkejut. Melihat ekspresi kaget di wajah mereka semua, Rendy bisa melihat kalau mereka juga sudah mengetahui banyak hal mengenai organisasi BF sebelumnya. "Aku tak sengaja bertemu dengan Alisya yang tubuhnya sudah terbakar hingga 80 persen dan hanya menyisakan wajahnya saja, namun sungguh luar biasa kalau Alisya bisa menyerap energi nano orang lain yang bisa membuat energi dalam tubuhnya meningkat lebih kuat dari sebelumnya." Jelas Profesor Ahmad sembari menatap Alisya mengingat kejadian dimana ia bertemu dengan Alisya sebelumnya. "Meskipun begitu, dia yang awalnya tidak bisa mengendalikan kekuatan energi nano dalam tubuhnya sekarang terlihat begitu stabil. Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya?" Tanya Adith yang membuat profesor Ahmad tersenyum senang. "Apakah itu karena kekuatan cinta atau memang karena kamu juga memiliki tubuh yang spesial seperti Alisya?" Mata profesor Ahmad bersinar dengan terang sembari melirik ke arah Alisya. "Silahkan lanjutkan!" Ucap Alisya memberi Izin kepada profesor Ahmad. "Apa yang akan saya bahas selanjutnya akan ada hubungannya dengan kemampuan pengendalian Alisya saat ini, dan hal ini yang ingin aku terapkan pada kalian semua yang memiliki energi nano tersebut." Tatap profesor kepada mereka semua. "Pengendalian energi nano?" Zein memicingkan matanya tak paham dengan apa yang dikatakan oleh profesor Ahmad. "Kami tidak pernah mengalami masalah dengan energi nano ini, kenapa kami membutuhkan pengendalian itu?" Tanya Yogi penasaran dengan apa yang dimaksudkan oleh pembicaraan mereka saat itu. "Pengendalian ini bukan hanya berfungsi untuk mengendalikan energi nano yang dapat meledak sewaktu-waktu ketika kalian dalam keadaan genting, namun juga agar kalian bisa memaksimalkan energi tersebut dalam keadaan apapun." Jelas Profesor dengan begitu serius. "Apakah itu takkan membuat mereka mengalami efek samping?" Ayah Alisya mengkhawatirkan mereka semua. "Dibanding dengan efek samping, mungkin saja ini bisa menjadi salah satu pertahanan yang kuat jika kita bisa melakukannya." Terang Karin mulai memahami maksud dari profesor tersebut mengingat perubahan drastis yang di terima oleh Alisya. "Tidak salah jika kau adalah anak dari seorang dokter ternama." Puji Profesor Ahmad kepadanya. "Lalu pengendalian seperti apakah yang anda maksudkan? Mengapa kami semua perlu untuk melakukan pengendalian ini?" Ryu merasa ada alasan mengapa mereka harus melakukan pengendalian tersebut. "Untuk pertahanan kalian dan perlindungan diri kalian. Tapi kalian hanya memiliki 30 jam saja, sebelum acara puncak dalam pertemuan Forthnigh ini di adakan." Alisya yang semula terdiam akhirnya mulai berbicara dengan tatapan tajam kepada mereka semua. "Apa yang akan terjadi jika kami semua tak bisa menyelesaikannya dalam waktu 30 jam?" Adith merasakan ini akan berhubungan dengan misi yang sedang dijalani oleh Alisya. "Kalian semua akan mati!" Jawab Rendy dan Jati kompak. Mendengar ucapan mereka berdua Adith dan Ryu langsung menatap dengan tatapan tajam pada keduanya. "Apa maksudnya?" Rahang Zein mengeras tak suka dengan jawaban mereka berdua. Situasi itu membuat semuanya menjadi lebih tegang dibanding sebelumnya. Chapter 421 - Tekhnik Pernafasan Melihat situasi yang tegang itu membuat Elvian segera menengahi mereka semua. "Jangan salah paham, mereka bermaksud jahat dengan apa yang mereka katakan pada kalian semua." Ucap Elvian dengan cepat agar tak ada perselisihan diantara mereka. "Tapi apa yang mereka katakan itu tidak salah. Jika kalian tidak bisa menguasai pengendalian itu dengan cepat, maka kemungkinan terburuk bisa terjadi pada kalian." Jelas Rafli dengan nada suara yang menyimpan kesedihan mendalam. "Langsung saja pada intinya!" Tegas Rinto kepada mereka semua. Dia yang sedari awal hanya terdiam pada akhirnya kehilangan kesabarannya. Profesor dan Alisya menarik nafas berat dan saling berpandangan dengan serius. "Misi kami sangatlah rahasia, tapi dengan kehadiran kalian disini membuat kami harus berbagi informasi ini pada kalian." Profesor Ahmad mulai lagi berbicara dengan serius. "Awalnya aku juga tak tahu kalau Forthnight akan dilakukan diatas kapal ini, kami hanya berpikir akan ada rencana lain yang akan dilakukan oleh Black Falcon. Namun ternyata semua ini mereka lakukan dengan tujuan lebih besar." Tambah Alisya lagi menggenggam tangan Adith dengan erat. "Tujuan utama mereka adalah untuk memberikan teror pada dunia dengan menghancurkan kapal pesiar ini yang memiliki persenjataan dan tekhnologi mutakhir. Dengan jatuhnya kapal ini, maka ini adalah sebuah peringatan kepada dunia yang menentang mereka." Sambung profesor yang langsung membuat mereka semua terlonjak kaget tak percaya. "Menghancurkan kapal pesiar ini sama saja menjatuhkan sebuah negara. Kapal ini layaknya sebuah pesiar dengan jumlah penduduk yang sangat banyak karena bisa menampung sekitar 5 ribu orang." Adith mengepalkan tangannya tak mempercayai apa yang baru saja di dengarnya. "Selain itu, dengan kehadiran kalian disini akan sangat berbahaya jika mereka mengetahui kekuatan kalian, sebab kalian akan menjadi ancaman terbesar bagi mereka." Jelas Rendy dengan suara yang lebih rendah. "Itulah kenapa Profesor Ahmad mengingikan kalian untuk melakukan pengendalian terhadap energi nano kalian agar kalian bisa mempertahankan diri dan juga melindungi orang lain serta membantu kami dalam menjalankan misi menggagalkan rencana mereka." Tambah Jati menatap mereka dengan hangat. "Dengan bantuan kalian, kami mungkin bisa menyelamatkan orang lebih banyak meski kami tak bisa mencegah hancurnya kapal pesiar ini." Terang Alisya dengan senyumnya yang samar. "Baiklah, Sepertinya tak ada pilihan lain selain melakukan seperti apa yang kalian maksudkan. Selain itu, pengendalian itu justru sangat menguntungkan bagi kami." Zein menatap teman-temannya secara bergantian. "Lalu pengendalian seperti apa yang kalian maksudkan?" Yogi mulai memasang ekspresi lebih serius dari biasanya. "Teknik yang harus kalian adalah dengan teknik pernafasan. Teknik ini sangat baik dalam pengendalian, karena saat kalian melakukan teknik ini tubuh kalian bereaksi lebih baik dengan setiap desahan nafas yang masuk dan keluar dari tubuh kalian." Terang profesor Ahmad menjelaskan tentang apa yang harus mereka lakukan. "Kedengarannya mungkin sederhana, tapi kita tidak tahu akan seperti apa jika belum mencobanya." Ucap Yogi merasa hal itu akan sulit bagi mereka. "Berapa waktu yang harus kami butuhkan selain dari waktu yang sudah kalian tetapkan?" Tanya Ryu memastikan berapa lama yang harus mereka lalui agar bisa menguasai teknik tersebut. "Alisya bisa menyelesaikannya dan mengendalikannya hanya dalam sekali percobaan." Tegas profesor Ahmad yang membuat mereka langsung melirik takjub kepada Alisya. "Tapi itu tergantung bakat yang kalian miliki, karena aku masih belum bisa memastikan sebesar apa energi nano dan pengendalian mental kalian terhadap tubuh kalian." Sambungnya lagi cepat. "Itu artinya kami harus berusaha dengan keras untuk bisa menyelesaikan nya dengan tepat waktu." Tatap Karin kepada Alisya yang langsung membuat Alisya mengangguk pelan. "Bagaimana mereka harus melakukannya?" Ayah Alisya sangat memperhatikan mereka semua mengingat mereka tidak memiliki pengalaman dan tubuh yang kuat seperti Alisya. "Kita akan membagi kelompok, setelah mendapatkan arahan dariku dan Alisya mengenai bagaimana cara pengendaliannya, maka yang lainnya akan berfungsi untuk mengamati pengendalian mereka agar tidak meluap. Sebab sedikit saja yang keluar, maka organisasi akan dengan sangat cepat mendeteksi kalian." Terang profesor melirik kepada Rendy dan yang lainnya. "Aku juga membutuhkan bantuan anda untuk melatih tubuh mereka." Tatap profesor Ahmad kepada Ayah Alisya. Ayah Alisya mengangguk paham dengan maksud dari profesor Ahmad. Meski latihan pengendalian dan pertahanan ini akan sangat menyulitkan mereka, ayah Alisya menaruh harapan yang cukup besar kalau mereka semua bisa melaluinya dengan baik. "Untuk kondisi spesial Adith, biar aku sendiri yang melatihnya secara terpisah. Sedangkan untuk yang lainnya akan berada dibawah pengawasan Alisya dan yang lainnya. Setiap 2 jam kalian akan mendapatkan pergantian pelatihan dan hanya bisa beristirahat 10 menit saja." Jelas profesor memulai penjelasannya mengenai apa yang harus mereka lakukan. "Aku akan mengawasi Karin juga secara terpisah mengingat perempuan butuh pelatihan yang juga harus terpisah." Tatap Alisya kepada Karin dengan penuh perhatian yang dijawab dengan anggukan pelan oleh Karin. "Ryu dan Rinto akan bersama dengan Rendy, Zein akan bersama Jati, Riyan dengan Rafli dan Yogi bisa bersama dengan Elvian." Lanjut Alisya lagi. "Kita akan melakukannya malam ini, untuk itu persiapkan mental kalian sebelum kita memulainya." Ucap Profesor menatap mereka semua dengan tatapan tajam. "Maafkan aku, karena aku¡­" Alisya yang ingin berkata maaf kepada mereka malah mendapatkan tatapan tajam dari mereka semua. "Kau tau jika kami tak suka jika kau menujukkan ekspresi seperti itu." Karin berbicara dengan suara tegas dan dingin. "Nona, semua ini bukanlah hal yang harus nona tanggung sendiri dan terus merasa tak enak pada kami." Ucap Ryu tak kalah tegas. "Meski awalnya semua ini memang terjadi karenamu, tapi tak pernah sedikitpun kami menyalahkan dirimu." Sambung Zein. "Bagi kami kau adalah sahabat yang sangat berharga. Kaulah yang mengubah pandangan kami terhadap orang lain." Tambah Riyan dengan tersenyum hangat. "Berkat dirimu pula, kami bisa menjadi orang yang lebih baik dari ini." Tambah Yogi menoleh kepada Rinto yang dulu banyak melakukan kesalahan sebelum akhirnya bertemu dengan Alisya. "Kami sempat menyalahkan diri sendiri sewaktu kepergian mu, namun dengan kembalinya dirimu sekarang. Kami akan buktikan kalau kami juga bisa melindungi diri sendiri, termasuk melindungi dirimu." Tegas Rinto tak ingin lagi merasakan kehilangan yang menyakitkan seperti yang sebelumnya. "Bukankah itu harusnya dialog yang diucapkan oleh Adith?" Tatap Yogi kepada Rinto untuk menggodanya. "Sepertinya ada yang mau mengambil tanggung jawab seseorang." Sambung Riyan dengan santai. Wajah Rinto sudah mulai memerah panas dengan godaan kedua temannya. Dengan penuh kesal Rinto segera menghajar keduanya. Ucapan Riyan dan Yogi langsung membuat suasana tegang diruangan itu menghilang. Chapter 422 - Kemampuan Perspektif Dengan arahan dari profesor Ahmad, mereka segera memulai pelatihan mereka setelah sebelumnya menyebarkan serangga milik Karin sebagai bentuk kewaspadaan mereka sebelum terjadi sesuatu. Ayah Alisya yang bertugas untuk mengamati layar monitor milik Karin yang terhubung dengan para serangganya selama 2 jam kedepan sebelum pergantian pelatihan dimulai. Mereka yang berada pada ruang berbeda segera melakukan pelatihannya sesuai dengan pasangan masing-masing. "Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah menekan udara yang ada dalam tubuhmu. Rasakan setiap udara yang berada dalam setiap tubuh mu dengan konsentrasi tinggi. Mereka yang tak memiliki energi nano tentu tak dapat melakukannya dengan mudah, tapi kamu pasti bisa!" Ucap Profesor Ahmad memulai sesi latihannya. Mendengar arahan dari profesor, Adith segera menutup matanya dan langsung berkonsentrasi dengan sangat serius hingga 1 menit kemudian, dia sudah bisa melakukannya dengan sangat baik. Kecepatannya bahkan hampir mendekati Alisya namun terlihat ada sesuatu yang berbeda dengannya. "Sepertinya benar, kalau tubuh anak ini juga sudah terlahir dengan special. Bagaimana mungkin dua orang mengerikan seperti mereka bisa bertemu. Beruntunglah mereka menjadi pasangan, jika mereka menjadi musuh maka tentu saja mereka adalah musuh yang sangat kuat dan menakutkan." Batin profesor kagum dengan pengendalian Adith yang sangat baik. Terlihat jelas di matanya kalau energi nano pada tubuh Adith dapat ia alirkan dan pusatkan keseluruh tubuhnya, seolah seluruh tubuhnya adalah sebuah senjata yang kuat baginya. Adith terus melakukan pengendalian tersebut dengan sangat bersungguh-sungguh. Tidak ada yang lebih berusaha keras selain Adith saat ini dimana sebelumnya ia sudah bertekad kuat untuk bisa melindungi Alisya dengan menjadi lebih kuat lagi. "Konsentrasi yang sangat hebat. Energi nanonya bahkan tak pecah sama sekali. Sia-sia aku mengkhawatirkannya." Batin profesor Ahmad lagi terus mengamati perkembangan Adith. "Ini¡­ apa ini? Aku bisa merasakan apapun dan orang-orang yang berada di sekitarku. Dalam jarak¡­ 50 meter? Aku bisa menentukan posisi mereka dalam jarak ini?" Adith merasa takjub dengan kemampuannya tersebut, bahkan hidungnya jauh lebih tajam 10 kali lipat dari sebelumnya. "Kemampuan ini, bukankah seperti kemampuan Persepsi? Stimulasi fisik dan kimia yang masuk dalam seluruh panca indraku membuatku bisa mengenali lingkunganku." Batin Adith terus mengeksplorasi lingkungan sekitarnya menggunakan kemampuan yang dimilikinya. Persepsi yang dimasukkan oleh Adith adalah tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris guna memberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan. Persepsi meliputi semua sinyal dalam sistem saraf, yang merupakan hasil dari stimulasi fisik atau kimia dari organ pengindra. Seperti misalnya penglihatan yang merupakan cahaya yang mengenai retina pada mata, pencium yang memakai media molekul bau (aroma), dan pendengaran yang melibatkan gelombang suara. Persepsi bukanlah penerimaan isyarat secara pasif, tetapi dibentuk oleh pembelajaran, ingatan, harapan, dan perhatian. Namun Adith yang sedari awal memiliki kepekaan terhadap lingkungannya membuat kemampuannya jauh lebih berkembang. "Dua orang ini benar-benar membuatku merinding. Jika Black Falcon mengetahui kemampuan dua orang ini, maka mereka pasti akan melakukan perburuan secara besar-besaran dengan melibatkan seluruh organisasi demi mendapatkan mereka." Gumam Profesor Ahmad mengingat bagaimana kemampuan Alisya yang juga sama mengerikannya. Saat yang lainnya terus saja gagal dalam memulai tekniknya, Ryu dan Rinto sudah mulai berhasil setelah mencoba untuk yang ketiga kalinya. Zein berhasil pada percobaan keempat begitu pula dengan karin, sedangkan Riyan dan Yogi berhasil pada percobaan ke lima. "Tak ku sangka mereka bisa melakukannya secepat ini. Rasanya memang sedikit tidak adil." Rendy yang tak memiliki energi nano bisa melakukan teknik tersebut setelah sebulan berlatih dengan sangat keras. Mereka yang bisa melakukan teknik itu hanya dengan tiga kali percobaan membuat Rendy sedikit merasakan pahit pada hatinya, namun tetap saja Rendy jauh lebih berpengalaman dibanding dengan mereka saat itu. "Akhhh¡­" Alisya segera menggetok kuat kepala Karin saat energi nanonya mulai terlihat pecah. "Ini sulit sekali, bisakah kau memukulku sedikit lebih pelan? Aku merasa kau memukulku dengan penuh kebencian." Karin memohon kepada Alisya karena merasakan sakit yang amat kuat pada kepalanya. "Kalau begitu lakukan dengan baik dan hilangkan pikiran kotormu itu." Tegas Alisya langsung menyuruh Karin untuk kembali melanjutkan latihannya. "Bukkk!!!" Pukulan kembali di daratkan di kepala Karin dengan keras namun Karin tidak merasakan sakit seperti sebelumnya. "Apa kau menaruh dendam padaku?" Ia tetap saja kesal pada Alisya yang memukulnya dengan keras. "Anggap saja ini hukuman atas apa yang kau lakukan tadi. Lagi pula kau terlihat tidak begitu merasakan pukulan ini lagi." Alisya tersenyum mengerikan dihadapan Karin yang membuatnya merinding dengan hebat seolah tau apa yang dipikirkan oleh Alisya. "Dasar Iblis!" Maki Karin kesal. "Plakkk!!!" Pukul Alisya pada bagian punggung Karin. "Asshhh.. Apa sih? Aku belum melakukan apapun juga!" Karin menatap Alisya dengan kesal kehilangan kesabarannya. "Konsentrasi, pengendalian yang harus kau lakukan adalah bukan hanya mentalmu saja, namun juga kesabaranmu." Alisya menatapnya dengan dingin membuat Karin hanya bisa mendesah pasrah. Dengan susah payah dia kembali melanjutkan konsentrasinya. Karin mulai merasakan perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Dengan terus berkonsentrasi, dia bisa merasakan energi nano dalam tubuhnya dan mengaturnya pada tahap dimana dia menjadikan kaki dan tangannya sebagai senjata andalannya dalam kecepatan pergerakan. "Meski awalnya dia kesusahan, pada akhirnya dia bisa menyelesaikannya dengan mudah." Tatap Jati kepada Zein yang terlihat mulai lebih stabil dibandingkan dengan sebelumnya. Zein yang bisa menekan auranya sampai pada titik Jati tak bisa merasakan hawa keberadaannya membuat Jati takjub tak percaya. "Apa karena semua penderitaan yang sudah mereka lalui bersama membuat mereka menjadi begitu kuat saat ini? Bukan hanya kemampuan fisiknya saja, tapi kemampuan mentalnya mungkin melebihi diriku." Jati terus menatap perkembangan dari energi nano dalam tubuh Zein. "Plakkkkk!!! Konsentrasilah dengan baik. Kau hanya perlu memusatkan pikiranmu pada satu titik, yaitu energi nano dalam tubuhmu." Rafli memukul kepala Riyan yang hampir memecahkan energi nanonya. "Dengan konsentrasi yang baik, kau bisa memunculkan energi nanomu kapan saja. Selama kau bisa mengendalikan energi dalam tubuhmu dengan baik." Jelas Rafli lagi sembari terus menatap ke arah Riyan. "Konsentrasi¡­ konsentrasi¡­ konsetrasi¡­ kontrasesi.. Kontrasepsi¡­ croottt!" Riyan membayangkan MP yang dilakukan oleh Adith dan Alisya yang langsung membuatnya mimisan dengan hebat. Jati bahkan sampai terlonjak kaget melihat darah yang meluncur deras dari hidungnya. Jati bahkan sampai kebingungan dengan apa yang dialami oleh Riyan karena belum pernah sebelumnya hanya dengan sedikit konsentrasi sudah membuat seseorang mengalami mimisan. "Brengsek!!!" Pikiran Adith buyar ketika mendengar ucapan Riyan dan semua kesadarannya kembali dengan mendadak membuatnya menarik nafas dalam. Chapter 423 - Jadilah Kuat dan Lampaui Batasmu Melihat Adith yang tiba-tiba gusar membuat profesor Ahmad jadi khawatir. "Apa yang terjadi?" Tanya profesor Ahmad kaget melihat Adith melepaskan konsentrasinya dengan secara tiba-tiba. Adith hanya menggeleng pelan dan melanjutkan latihannya setelah menarik nafas dalam. "Setelah ini aku harus memberimu pelajaran dengan sangat keras!" Batin Adith memulai lagi memusatkan pikirannya dan berkonsentrasi dengan baik. "Apa kau baik-baik saja?" Rafli merasa sangat khawatir dengan keadaan Riyan yang hidungnya terus mengalirkan darah segar. Rafli segera mengambil tisu yang berada di atas meja kamarnya dan memberikannya kepada Riyan dengan cepat. "Aku baik-baik saja!" Ucap Riyan langsung mengambil tisu itu dan menyumbat hidungnya sambil menggelengkan kepalanya dengan kuat. Setelah menenangkan diri, dia kembali melanjutkan latihannya dengan terlebih dahulu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Setelah 3 - 4 tarikan nafas, dia akhirnya masuk pada mode konsentrasi penuh. "Apa mereka semua memang sehebat ini? Aku mungkin tidak akan terlalu terkejut mengingat sebelum ini aku sudah mengetahui kemampuan Yogi yang bisa mengikuti, tapi yang lainnya pasti akan sangat terkejut." Gumam Elvian terus melakukan pengamatan pada Yogi setelah percobaan yang kelima dia sudah bisa masuk kedalam mode konsentrasi penuh. Dia yang membutuhkan waktu selama 2 bulan, membuatnya iri pada kemampuan Yogi yang hanya melakukannya sebanyak 5 kali saja. "Inilah perbedaan jelas antara mereka yang memiliki energi nano dalam tubuhnya dengan mereka yang sama sekali tak memiliki energi tersebut." Batin Elvian melihat perkembangan pesat yang sudah dialami oleh Yogi selama hampir dua jam tersebut. "Oke, sekarang kau bisa istirahat 10 menit." Profesor Ahmad menghentikan sesi latihan Adith. "Kau orang pertama yang sudah menyelesaikan latihan teknik pernafasan ini, maka berikutnya kau hanya perlu berlatih sendiri meski aku tak bersamamu. Aku harap kau bisa mengikuti latihan pertahanan lebih baik dari ini." Ucap profesor sebelum keluar bergantian dengan Ayah Alisya untuk melakukan pengawasan. Adith mengangguk pelan, namun setelah profesor Ahmad keluar dari kamar itu, Adith kembali memusatkan konsentrasinya agar ia tetap terbiasa dengan mode tersebut. "Sepertinya kau sudah mulai terbiasa dengan mode konsentrasi penuh seperti itu. Melihatmu begitu serius, aku punya cara untuk membuatmu dapat melakukan keduanya sekaligus." Ucap Ayah Alisya mendapatkan ide untuk memulai latihan pertahanan ekstrim pada Adith. Adith sudah menyadari kedatangan Ayah Alisya, namun ia tetap berada pada titik konsentrasi terdalamanya sampai Ayah Alisya mulai berbicara padanya. "Bapak¡­ Aku tak ingin tertinggal dari Aliya, jika memang ada latihan yang berat dan ekstrim sekalipun, aku akan melakukan dengan bersungguh-sungguh." Mata Adith yang menatap dengan penuh keyakinan membuat Ayah Alisya merasa sangat bersyukur. "Jadilah kuat, dan lampaui batasmu. Dengan begitu akan akan tenang menitipkan Alisya dan cucu-cucu ku padamu nantinya." Ayah Alisya tersenyum hangat kepada Adith berharap suatu saat nanti mereka dapat hidup dengan normal dan menikmati hari-hari indah mereka. Mereka segera memulai latihan pertahanan tubuh sekaligus dengan pengendalian energi nano dengan teknik pernafasan. "Kita akan mulai dengan level bawah terlebih dahulu." Ayah Alisya segera menggeser 2 kursi saling berhadapan dengan jarak tertentu. Adith lalu menaruh kedua kakinya pada kedua kursi tersebut seperti sedang melakukan split yang menggantung, awalnya ia merasakan sakit yang amat luar biasa yang setelah rasa sakit itu mulai menghilang, Ayah Alisya memberinya sebuah kursi untuk di jadikan sebagai beban bagi Adith. "Ughhhh!!!" Adith mengeram sakit di kedua pahanya yang sedang terbuka lebar dan menggantung. "Cara ini biasanya dipakai oleh para shaolin dalam sistem pertahanan, selain untuk menguatkan otot-otot dalam tubuhmu, juga dapat membuatmu untuk melatih konsentrasi kamu dengan lebih baik lagi." Seru Ayah Alisya lagi saat melihat Adith sedikit kesulitan dengan latihan yang sedang di jalaninya. Memang itu sangat sulit baginya, namun ketika ia memikirkan bagaimana penderitaan Alisya saat melakukan itu melebihi dirinya, Adith kembali membulatkan tekadnya. Melihat Adith sudah bisa kembali memusatkan konsentrasi nya, Ayah Alisya memilih untuk meninggalkan Adith disana. Ia segera memasuki kamar yang lainnya tempat dimana Ryu dan Rinto juga masih dalam posisi mempertahankan konsentrasi mereka tanpa melakukan istirahat. "Aku sudah menyarankan kepada mereka untuk setidaknya beristirahat dulu, tapi mereka memilih untuk menunggumu sambil melakukan latihan pengendalian tersebut." Ucap Rendy kepada Ayah Alisya yang sedang mengamati mereka berdua. "Tidak perlu khawatir, mereka sudah bertekad untuk melakukan semua ini dengan bersungguh-sungguh. Waktu mereka tidak banyak, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain terus bekerja dengan keras." Terang Ayah Alisya menatap keduanya yang menarik nafas dalam menghentikan latihan pengendalian energi nano dalam tubuh mereka. "Tubuh kalian terlihat sudah lebih kuat dibanding dengan yang lainnya, ini mungkin karena kebiasaan kalian sebelum ini yang selalu terlibat dalam pertempuran. Untuk itu latihan kalian aku naikkan beberapa level." Ayah Alisya segera memberikan arahan kepada keduanya. Keduanya langsung diarahkan untuk melakukan latihan dasar dalam jumlah yang banyak seperti push Up, Sit Up, Back Up, hingga Pull Up yang harus dilakukan sebanyak 1000 kali. Pertama kali mendengar hal itu sudah membuat Rendy sedikit kebingungan karena merasa kalau Ayah Alisya sedang bercanda, namun Ryu dan Rinto yang sudah mengetahui cara pelatihan Ayah Alisya terhadap Alisya membuat mereka masih bersyukur diberi kesempatan hidup. Setelah memberikan tugas pada Rinto dan Ryu, Ayah Alisya segera pergi menuju kamar Riyan dan Yogi. Alisya menjadi satu-satunya yang melatih Karin secara sekaligus. Mereka diberikan tugas yang sama sehingga dalam mereka melakukan dua kegiatan tersebut sekaligus. "Berikan ini pada mereka semua." Pinta Ayah Alisya menemukan beberapa potongan besi yang terdapat ruang olah raga kapal pesiar tersebut. "Apa dengan pemberat ini mereka harus melanjutkan latihan dasar seperti kemarin?" Tanya Elvian kaget dengan apa yang diberikan oleh Ayah Alisya. "Ya, setelah ini aku akan menguji mereka satu-persatu sudah sampai dimana ketahanan mereka dalam melewati serangkaian latihan kali ini." Jelas Ayah Alisya membawa pemberat lebih banyak masuk ke ruangan Adith. Dari pintu yang terbuka sedikit saja, Elvian bisa melihat Adith sedang dalam keadaan terbalik dengan bagian kaki di atas dan kepala di bagian bawah sedangkan bagian kakiknya terdapat satu timba air putih. "Semoga mereka semua tidak terbunuh. Jika tuan Lesham menjadi instruktur kami, sepertinya hanya Kapten seorang yang akan lolos dari bimbingannya." Gumam Elvian berbalik badan segera membagikan apa yang sudah di berikan oleh Ayah Alisya. Elvian tak bisa membayangkan bagaimana jika mereka bukannya berada di atas laut atau kapal pesiar, mereka tentu akan mendapatkan pelatihan yang lebih berat namun juga menakutkan. Chapter 424 - Tikus Kecil Adith dan yang lainnya hanya tinggal memiliki beberapa jam lagi sebelum akhirnya acara puncak dari Forthnight akan diadakan, sehingga Ayah Alisya dan profesor Ahmad mempercepat pelatihan mereka dengan sangat ekstrim dan juga berat. Adith dan yang lainnya seolah merasakan penyiksaan bagaikan neraka yang membuat mereka harus berteriak-teriak dalam diam selama melakukan pelatihan tersebut. "Kali ini mereka dikumpulkan bersama, teknik pernafasan terakhir yang diberikan oleh profesor Ahmad sangatlah berat jika mereka tidak melakukannya dengan baik maka pembuluh darah mereka bisa-bisa akan meledak." Rafli menatap pintu yang menghubungkan dengan ruangan dimana Adith dan yang lainnya mendapatkan pelatihan akhir. "Waktu mereka hanya tersisa beberapa jam lagi, jika mereka tidak bisa menyelesaikan tahap akhir teknik tersebut maka mereka semua akan mengalami kegagalan yang menyakitkan." Elvian memegang dagunya dengan tertunduk khawatir. "Kapten, bagaimana menurutmu? Apa mereka bisa menjalaninya?" Rendy menatap Alisya yang dengan santainya sedang menikmati makanannya dengan lahap. "Kalian mungkin sudah mengalami banyak pengalaman selama dalam kemiliteran, tapi mereka mengalami banyak hal yang menyakitkan dalam kehidupan mereka sebelumnya. Mental mereka sudah sangat menakutkan." Jelas Alisya sembari terus menikmati makananya. "Meski begitu, pelatihan dari profesor Ahmad bukanlah hal yang dapat diselesaikan dengan mudah." Ucap Jati mencoba mengingatkan Alisya. "Aku tidak bilang mereka dapat menyelesaikan ini dengan mudah. Memang sangat sulit, tapi mereka bukanlah orang yang akan mudah menyerah." Terang Alisya lagi dengan senyuman penuh keyakinan yang membuat mereka terdiam sembari melirik ke arah ruangan tersebut. Beberapa saat kemudian, saat mereka masih larut dalam pikiran mereka saat sedang menantikan Adith dan teman-temannya selesai dalam melakukan pelatihan akhir, alat yang dipasang oleh Elvian tiba-tiba berbunyi. "Kapten¡­" panggil Elvian dengan tampilan gugup di wajahnya. Tampak jelas apa yang dimaksudkan oleh Elvian dengan ekspresinya tersebut, sehingga Alisya dengan satu helaan nafas dia menghabiskan makanan dan minumannya. "Lakukan pengintaian terlebih dahulu, usahakan mereka tidak mendekati tempat ini." Alisya segera memberikan perintahnya kepada mereka semua. Tanpa basa basi lagi, mereka segera bergegas melihat ke arah monitor sedang Rendy segera menuju ke posisi pengintaiannya di atas buritan kapal pesiar. "Dari mana datangnya mereka? Sebelumnya mereka tidak melakukan pergerakan sama sekali, tapi kenapa mereka muncul di saat acara puncak Forthnight belum diadakan?" Rafli melirik ke arah Elvian dengan tatapan bingung. "Sepertinya mereka tidak ingin menunggu acara puncak itu lagi dan ingin segera melakukan pengintaiannya. Aku rasa mereka bisa merasakan energi nano dari Adith dan yang lainnya meskipun samar-samar." Ucap Jati dari posisi yang bersebrangan dengan Rendy. "Kapten, ada satu orang yang terlihat menoleh kesana dan kemari seolah sedang melakukan pendeteksian." Rendy segera melaporkan apa yang di lihatnya. Tepat setelah mendapatkan laporan dari Rendy, Alisya langsung bangkit dari tempat duduknya. "Pergilah dari posisi kalian, dia akan segera mengetahui apa yang kalian lakukan. Kembali ke tempat ini secepatnya." Alisya merasakan bahaya yang sangat kuat begitu merasakan energi dari orang yang dimaksudkan oleh Rendy. Mendapatkan perintah itu, mereka tak bertanya lagi lalu dengan cepat mereka segera pergi menuju ke tempat mereka sebelumnya. "Ada apa?" Profesor Ahmad keluar dari ruangannya. "Kita mendapatkan tamu tak terduga! Sepertinya mereka mulai menyadari keberadaan mereka meski dengan aura yang samar-samar." Ucap Alisya memandang tajam lurus menembus setiap ratusan ruang yang ada. Orang yang sedang melakukan pencarian tersebut juga mampu merasakan keberadaan Alisya, namun dia tidak bisa mendeteksi orang-orang yang ada disekitarnya. Sehingga ia hanya mengira kalau disana hanya ada Alisya seorang. "Pufttt.. ternyata hanya satu tikus kecil saja? Sepertinya organisasi terlalu khawatir hanya karena satu tikus kecil yang menunjukkan taringnya." Ucapnya sambil tersenyum licik menatap lurus ke arah Alisya. Alisya memang sengaja membuat Auranya sedikit lebih tajam untuk menutupi keberadaan teman-temannya yang lain dan membuatnya sedikit lebih meluas dengan samar agar hawa keberadaan teman-temannya tertutupi. "Baiklah, apa yang kau lakukan disini tikus kecil?" Ia segera menunduk rendah mencoba menganalisa keberadaan Alisya. "Apa kau menemukan sesuatu?" Dari kejauhan, seseorang yang lainnya bertanya dengan dingin. "Ya, tapi bukan satu hal yang besar. Hanya seekor tikus kecil yang sedang mencari keju." Ucapnya meremehkan Alisya. "Bereskan saja dia, jangan sampai dia menggagalkan rencana kita. Jika tidak organisasi akan membuat hidup kita jauh lebih berantakan." Serunya memberikan perintah. "Tenanglah, kau tidak perlu kejam pada satu tikus kecil. Lagi pula aku sudah cukup bosan kemarin hanya berdiam diri terus, jadi aku ingin sedikit bermain-main dengannya." Ucapnya sembari melonggarkan tubuhnya dengan santai. "Sebaiknya kau berhati-hati, dari beberapa daftar penumpang yang ada, diantara mereka ada beberapa orang yang tidak bisa kau remehkan." Ia mengingatkannya sebab identitas Riyan dan Ayah Alisya serta Ryu sudah diketahui oleh mereka serta beberapa orang lainnya. Mereka sudah mengantongi daftar penumpang kapal pesiar yang sudah menjadi target utama mereka sehingga sedikit hal yang mencurigakan segera membuat mereka akan memberekannya dengan cepat. "Kau tak perlu khawatir, tikus ini adalah seorang perempuan. Aku tak sabar ingin segera menemuinya." Ucapnya langsung mengakhiri komunikasi mereka. "Tikus kecil, mari bermain-main petak umpet denganku. Jika aku menemukanmu terlebih dahulu, aku akan membuatmu melayaniku. Tapi jika kamu yang menemukanku terlebih dahulu, aku akan memberimu kesempatan hidup dengan melepaskanmu." Ucapnya mulai bergerak dengan santai seolah tak terjadi apapun. "Kapten, apa yang harus kita lakukan padanya?" Tanya Elvian kepada Alisya setelah melihat pada layar monitor tersebut tampak sudah mengetahui keberadaan mereka. "Tidak perlu takut, dia hanya mengetahuiku saja karena aku sedikit menutupi sekitar dengan aura pekatku. Terus lakukan pengamatan padanya." Terang Alisya mengambil kacamatanya untuk keluar menghadapinya. "Kau mau kemana sayang? Bukankah sudah ku katakan bahwa kau tak boleh kemanapun saat aku masih di dalam?" Adith yang keluar dari ruangan dengan tubuh bagian atas tak tertutupi dengan keringat yang memenuhi seluruh tubuhnya membuatnya bersinar. Butiran keringat di tubuh Adith seolah membuatnya terlihat memiliki pecahan berlian yang bercahaya di seluruh tubuhnya. Ototnya terbentuk semakin padat dan kokoh serta aura Adith tampak sangat jauh berbeda dari sebelumnya. "Gulph" Alisya menelan ludahnya dengan susah payah melihat keseksian Adith tersebut. "A¡­ aku hanya ingin ke toilet!" Alisya segera pergi menuju ke toilet dengan listrik yang mengalir hebat di seluruh tubuhnya. Ia berjalan lurus tak melirik kepada Adith sedikitpun. Adith tersenyum simpul melihat Alisya yang salah tingkah saat melihat dirinya. "Bagaimana mungkin kau menyelesaikan teknik pernafasan akhir sebelum waktunya?" Tatap Rendy yang baru saja tiba kepada Adith tak percaya. Chapter 425 - Jin Milenial Bukan hanya Rendy yang kaget dengan Adith yang sudah keluar sebelum waktunya, namun yang lainnya juga sama takjubnya. Bahkan profesor yang semula keluar hanya ingin melihat keadaan saja tak mengira kalau Adith juga akan keluar bersamaan dengan dirinya. Ayah Alisya masih di dalam ruangan untuk terus melakukan pengamatan kepada yang lainnya. Adith yang keluar membuat profesor Ahmad segera masuk kedalam ruangan tak ingin melewatkan moment mereka seperti Adith yang sudah selesai tanpa ia ketahui. "Apa yang sudah kalian temukan?" Tanya Adith kepada mereka yang langsung membangunkan mereka dari lamunan mereka. "Apa kau manusia?" Elvian menatap Adith bagaikan seorang hantu dan mutan. "Apa kalian pernah melihat mutan dan hantu setampan aku?" Adith tersenyum lucu mengingat image hantu dan mutan yang mengerikan. "Bagaimana bisa? Kalian berdua sangat mengerikan." Jati teringat dengan kemampuan Alisya yang dapat dilampaui oleh Adith saat ini. "Fokuslah, apa kalian tidak tahu kenapa Alisya sampai menyuruh kalian berdua untuk kembali?" Adith mengingat kan mereka yang terpaksa ditarik mundur oleh Alisya. "Tentu saja dia ingin kami mundur untuk membahas langkah selanjutnya untuk menghadapinya." Jawab Rendy dengan cepat merasa kesal dengan pertanyaan Adith. Rendy memiliki sifat yang keras dan kurang tenang meski memikiki kekuatan yang sangat luar biasa, sehingga ia terkadang sedikit kurang tepat seperti Jati yang tenang. "Tunggu sebentar Rendy, aku tak tahu pasti apa yang membuat Kapten menyuruh kita untuk mundur, tapi sepertinya itu bukanlah alasan yang tepat." Seru Jati melihat ekspresi Adith yang berubah menjadi sangat serius setelah Alisya pergi menuju ke toilet. "Alisya menyuruh kalian mundur adalah karena orang tersebut mampu mendeteksi niat kalian terhadapnya. Entah bagaimana aku juga bisa merasakan apa niatnya terhadap Alisya. Orang ini sangat berbahaya dan kalian bisa saja ditemukan tanpa kalian sadari." Terang Adith menatap mereka satu persatu dengan serius. "Tapi kami bukanlah orang bodoh yang akan membiarkan dia bisa mengetahui posisi kami." Bantah Rendy cepat seolah mengira Adith menuduh mereka berdua tidak kompeten sehingga mudah ditemukan. "Aku tidak meremehkan kalian, begitu pula dengan Alisya. Hanya saja saat ini keberadaan kita harus tetap menjadi rahasia sampai pada acara puncak tiba dan kita bisa menggagalkan rencana mereka." Ucap Adith menepuk pelan pundak Rendy memberikan hawa persahabatan yang hangat. "Dia benar, jika kita semua ketahuan maka rencana kita akan gagal dan kita akan menyebabkan kerugian yang sangat besar." Ucap Jati dengan nada yang tenang menyetujui apa yang di katakan oleh Adith. "Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mengatasinya?" Tanya Rafli cepat. "Azura!" Panggil Adith mengeluarkan Smarthologram miliknya yang sudah ia siapkan sebelumnya. "Ya tuan, saya siap melayani anda." Seru Azura muncul di antara mereka semua. "Uaahhh¡­ apa ini? Ho¡­ hologram? Tapi kenapa sampai se nyata ini?" Elvian kaget melihat tekhnologi Adith yang sangat hebat. "Aku memodifikasi Azura selama 3 hari yang lalu agar aku bisa memantau perusahaan meski aku tak berada disana. Azura juga sudah menempatkan hologram kami berdua disana dan hanya Yani serta Vindra yang mengetahui hal tersebut." Ucap Adith sembari menunduk mengeluarkan tablet hologramnya. "Aku tak menyangka dia bahkan bisa menciptakan alatnya sendiri, dia terlalu jenius." Gumam Rafli takjub tak percaya. "Kombinasi yang mengerikan, yang satu dengan kekuatan yang mengerikan dan yang satu lagi dengan kejeniusan yang mengerikan." Ucap Rendy dengan sangat keras. "Aku akan anggap itu sebagai pujian." Seru Adith cuek. "Azura, tampilkan cetak biru seluruh kapal pesiar ini. Masuk kedalam sistemnya tanpa diketahui, dan jangan tinggalkan jejak." Ucap Adith setelah mencolok tabletnya ke gagang pintu elektrik yang terhubung ke dalam sistem kapal pesiar tersebut. "Baik tuan, siap di laksanakan." Azura segera menghilang dan memulai menampilkan seluruh cetak biru dari kapal secara bertahap. "Apa dia Jin?" Gumam Elvian masih takjub dengan Azura. "Sepertinya Adith sudah menciptakan Jin abad milenial dengan sistem teknologi yang dapat mengerjakan apapun yang diminta oleh tuannya." Komentar Rafli segera membuat yang lainnya mengangguk pelan menyetujui apa yang dikatakan oleh Rafli. Melihat pemindaian yang dilakukan oleh Azura untuk menampilkan seluruh cetak biru kapal pesiar tersebut, Adith meninggalkan mereka yang menatap dengan takjub hologram yang di tampilkan oleh tablet Adith tersebut. Adith menuju ke toilet dimana Alisya tidak keluar untuk waktu yang lama. "Plakkk!!! Bagaimana aku bisa fokus jika Adith bisa sampai se menggoda itu? Apa sekarang aku menjadi kecanduan padanya?" Alisya yang menampar dirinya sendiri terus berbicara dengan dirinya di hadapan cermin toilet tersebut. "Ahh.. sial!" Setelah mengusap wajahnya dengan kasar, Alisya menarik nafas dalam setelah mengingat orang yang sedang mencari keberadaannya tersebut. Alisya kemudian membersihkan wajahnya dengan kain handuk dan bersiap untuk keluar. Begitu pintu dibuka, Adith sudah tersenyum dengan nakal didepan pintu. "Apa yang ingin kau.. kau lakukan?" Alisya menjadi gagap dan mundur beberapa langkah sebab Adith masih setengah telanjang. "Aduh.. Roti sobeknya sangat mengganggu!" Gumam Alisya yang langsung membuat Adith tertawa pelan. Adith melangkah masuk dan mengunci pintu toilet tersebut, melangkah perlahan-lahan mendekati Alisya yang sudah mepet ke arah dinding. "Kenapa kau begitu kaku? Apa kau tak merindukanku?" Pertanyaan Adith membuat wajah Alisya sedikit memerah malu. Harus ia akui, ia tak bertemu dengan Adith hampir 2 hari sudah membuatnya merasakan kerinduan yang sangat mendalam. "Ri¡­ rindu?? Untuk apa? Kamu kan sedang berada di dekatku jadi aku¡­ umphh!" Adiht menutup bibir Alisya dengan mengecupnya lembut. "Mulutmu tak berkata rindu, tapi hati dan tubuhmu sangat merindukanku bukan?" Setelah mengatakan itu, Adith meraih tangan Alisya lalu meletakkannya ke atas tubuhnya. "Apa yang ada pada diriku adalah milikmu!" Ucap Adith menggigit telinga Alisya dengan genit. "Kau?!" Alisya yang kaget dengan apa yang dilakukan Adith tak diberi kesempatan oleh Adith untuk bereaksi. Dengan menekan tubuh Alisya semakin erat ketubuhnya, Adith semakin melancarkan ciumannya dengan panas. Alisya yang terbuai dengan ciuman Adith dan otot-otot milik Adith membuatnya menikmati moment kebersamaan mereka saat itu. Sentuhan lembut Alisya pada dada dan seluruh otot-ototnya membuat Adith tak bisa bertahan lagi namun ia tak ingin bercinta di tempat itu sehingga dengan lembut dia mengalirkan air yang semakin lama semakin hangat mengguyur tubuh mereka. "Aku tak menyangka kau akan semakin nakal seperti ini." Pukul Alisya pelan di dada Adith yang bidang dan lebar tersebut. "Cintaku padamu membuatku ingin terus menjahilimu." Senyum Adith memeluknya dengan hangat dibawah guyuran air yang membuat suasana tersebut menjadi sangat romantis. Chapter 426 - Keinginan Yang Kuat Begitu profesor Ahmad masuk kedalam ruangan, ia melihat yang lainnya masih terus berusaha untuk bisa memasuki mode terakhir mereka dengan usaha yang keras. Karin bahkan terlihat paling menderita hingga Ryu terus memegang tangannya. Ryu selesai beberapa saat setelah Adith keluar dari ruangan mereka. "Kau juga sudah sadar?" Profesor yang semula masih mengamati Rinto dan Zein tak menduga kalau Ryu akan selesai setelah Adith. "Ya profesor, tapi kenapa Karin terlihat begitu tersiksa seperti ini?" Tanya Ryu khawatir dengan keadaan fisik Karin. Nafas Karin terlihat tersengal-sengal dan terus berteriak dalam diam karena mulutnya yang harus menggigit erat kain agar suaranya tak keluar tersebut. "Itu karena fisiknya tidak terbiasa dengan pelatihan keras sebelumnya. Tapi ini sangat luar biasa mengingat dia bisa mengimbangi kalian, itu artinya dia juga sudah mengalami pelatihan yang instens sebelum ini. Bagaimanapun juga tubuhnya ini adalah tubuh seorang perempuan." Jelas Ayah Alisya kepada Ryu yang terus mengusap lembut wajah Karin yang masih belum sadarkan diri dan masih bertarung dengan dirinya sendiri. "Kau tak perlu khawatir, melihat kekuatan mentalnya aku yakin kalau dia bisa menyelesaikan ini secepat mungkin dan tepat pada waktunya." Ucap profesor Ahmad untuk menenangkan Ryu. Tepat setelah itu, saat mereka sedang berbincang-bincang Rinto langsung sadarkan diri dan bangkit dari posisinya. Ia melihat alat pendeteksi jantung menempel erat di dadanya sehingga ia sedikit kaget melihat itu. "Jangan cabut dulu, aku perlu memastikan kondisimu terlebih dahulu." Profesor Ahmad segera menghentikan Rinto yang ingin melepas pendeteksi tersebut karena risih. Mendengar ucapan dari profesor Ahmad, Rinto segera menghentikan gerakannya dan menoleh kekiri dan kanannya dimana Riyan dan yang lainnya masih tak sadarkan diri dan terlihat gusar menahan rasa sakit mereka. "Bagaimana keadaanmu?" Tanya Rinto pada Ryu yang berdiri di sebelahnya. "Aku merasa jauh lebih segar!" Seru Ryu dengan senyuman kakunya karena masih mengkhawatirkan Karin. Rinto mengangguk paham akan apa yang dikatakan oleh Ryu karena ia juga merasakan hal yang sama pada tubuhnya meski ia merasa sedikit lelah pada seluruh otot dalam tubuhnya. Rinto melihat Ryu yang terus menatap penuh khawatir pada Karin yang terlihat gusar dan gundah dalam keadaan tak sadarkan diri. Mereka memang melewati waktu yang sangat berat karena pelatihan tahap akhir yang diberikan oleh Ayah Alisya dan juga profesor Ahmad. "Bagaimana dengan yang lainnya? Kenapa mereka belum sadarkan diri juga?" Rinto melirik kepada teman-temannya yang masih belum sadarkan diri. "Tidak perlu khawatir, setiap orang memiliki ketahanan mental yang berbeda-beda sehingga tentu saja akan berbeda tiap orang dalam menjalani tahap ini." Ucap profesor Ahmad sembari memperhatikan monitor yang lainnya. "Namun kalian semua sudah sangat luar biasa karena bisa sampai pada tahap ini karena pada umumnya orang-orang bisa menyelesaikannya dalam beberapa tahun sedang kalian menyelesaikannya dalam waktu 30 jam saja." Lanjut lagi menatap ke arah Rinto dengan kagum. "Ini mungkin karena keinginan kalian yang kuat sehingga kalian bisa melewati ini semua dengan baik. Aku tak tahu apa yang membuat kalian sampai seperti ini." Ayah Alisya pada akhirnya juga mengomentari semangat mereka yang begitu tinggi. "Nona.. " Ucap Ryu dengan tertunduk menatap Karin "Alisya!" Rinto juga hampir bersamaan dengan Ryu. "Nona yang mengajarkan kepada kami untuk bersikap peduli kepada siapapun tanpa melihat siapa orang itu." Jelas Ryu yang terus mengingat bagaimana Alisya yang mempertaruhkan nyawanya demi menyelamat kan teman-temannya. "Sikap peduli Alisya sudah mengajarkan kepada kami arti dari ketulusan yang sebenarnya. Dia sudah sampai mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan orang lain meski orang itu tak dikenalinya." Ucap Rinto mengepalkan tangannya karena merasa tak bisa berbuat apa-apa. "Nona dulu terus saja berusaha melindungi kami dan tak memperdulikan dirinya sendiri. Dan saat kehilangan seseorang untuk selamanya dengan cara yang sangat menyakitkan membuat kami tak ingin hal tersebut terjadi lagi." Lanjut Ryu dengan pandangan mata yang begitu tajam. "Kali ini adalah giliran kami juga untuk melindunginya dan melindungi orang-orang yang kami sayangi. Kami tidak ingin kehilangan siapapun lagi." Tambah Rinto yang kemudian saling berpandangan dengan Ryu mengangguk memberikan dukungan satu sama lain. "Dengan kekuatan ini, kami yakin kami juga melakukan hal yang sama dengan Alisya." Tatap mereka berdua dengan penuh keyakinan menghadap ke Ayah Alisya menunduk mengucapkan rasa syukurnya kepada Ayah Alisya yang telah melahirkan Alisya. "Ayumi, andai kau melihat Alisya saat ini kau akan merasa sangat bangga. Anak kita sudah memiliki seorang suami dan sahabat-sahabat yang sangat peduli padanya." Ayah Alisya menatap haru kepada keduanya. "Meski dulu aku sering melarangnya untuk bergaul, namun tak ku sangka dia jauh lebih berarti dimata orang banyak." Batin Ayah Alisya mengingat istrinya yang sudah mengajarkan kelemahan lembutan kepada Alisya yang selalu ia ajarkan dengan penuh kekerasan. "Uaarrrrghhhhhh!!!!!" Riyan yang berteriak dengan kencang membuat mereka semua kaget dan Rinto refleks memberikan tendangan berputar yang cukup kuat dikepala Riyan. Ryu juga yang kaget melemparkan sebuah botol kaca yang malah mengenai kepala Yogi dan memantul kuat. Dia yang juga ikut teriak tepat setelah Riyan kembali jatuh pingsan membuat Ryu juga refleks melakukan hal tersebut padanya. "Apa yang terjadi?" Zein bangun dengan tenang setelah sadarkan diri. "Bagaimana mungkin mereka masuk ke mode akhir dengan cara yang konyol seperti itu?" Tatap profesor melihat mereka sudah tampak tenang seolah sudah menyelesaikan tahap akhir mereka. "Dua orang ini memang mengalami kelainan mental dan otak. Aku terlalu kaget sampai harus melakukan hal itu padanya." Ucap Ryu yang merasa bersalah kepada Yogi yang kepalanya terlihat memerah karena lemparannya. "Jangan khawatir, aku bahkan melakukan hal yang lebih parah darimu." Rinto tak mengira ia harus melakukan tendangan berputar pada seorang perwira tinggi angkatan laut tersebut. "Mengapa mereka bisa berteriak sekencang itu? Untunglah aku sudah menambah lapisan pada ruangan ini agar benar-benar kedap terhadap suara." Ucap Profesor Ahmad menggeleng tak percaya. Beberapa saat kemudian saat mereka masih menatap bingung dengan reaksi Riyan dan Yogi, keduanya terlihat mulai sadarkan diri secara perlahan-lahan. "Kepalaku rasanya sakit sekali." Riyan bangkit dengan bekas kaki Rinto yang menapak jelas di wajahnya. "Aku juga merasakan hal yang sama, sepertinya dibagian ini.. Aucchhh" Yogi menyentuh kepalanya yang terlihat lebam. "Ehem, baguslah kalian sudah sadarkan diri. Tidak ada waktu lagi, sebaiknya kalian segera bersiap-siap sekarang." Ayah Alisya segera mengalihkan perhatian mereka. Meski tak tahu apa yang terjadi, Zein hanya bisa tertawa pelan sembari menarik nafas dalam melihat wajah polos dari keduanya. Chapter 427 - Aku Bisa Melindungimu Adith keluar dari toilet dengan tubuh yang basah dan sehelai kain handuk putih yang menutupi tubuhnya. Alisya yang juga ikut basah karena perbuatan Adith terpaksa menunggu Adith untuk mengambilkannya pakaian ganti. Dengan sedikit menggoda Alisya, Adith malah membuat Alisya keluar dari toilet dengan menarik kuat tangannya saat ia akan meraih baju yang diberikan oleh Adith. "Berhentilah bersikap jahil." Alisya memukul Adith yang langsung dihindari oleh Adith. Adith seolah sedang berlatih dengan cara mencoba melepaskan handuk yang menutupi tubuh Alisya. "Apa yang membuatmu malu? Bukankah aku suamimu? Jadi aku berhak untuk melihatnya." Ucap Adith sembari terus melakukan serangannya kepada Alisya. Adith yang sudah berpakaian dengan rapi membuatnya cukup bebas untuk bergerak sedang Alisya harus memperhatikan setiap gerakan yang ia lakukan. "Kau pikir bisa mengalahkan ku dengan mudah?" Alisya terus bisa menepis tangan Adith dengan baik. Adith tak peduli dan langsung menarik handuk Alisya, namun begitu handuk itu terbuka lebar Alisya mampu berputar dengan cepat kembali melilit dirinya tepat sebelum Adith melihatnya. Alisya lalu memberikan tendangan pada bagian dada Adith yang di tangkap oleh Adith sehingga ia bisa melihat sekilas bagian bawah Alisya. "Wow!!" Ucap Adith terkejut melihat hal tersebut. Alisya yang malu langsung menekan Adith yang masih memegang kaki kanannya dengan melayang di udara lalu melesatkan tendangannya kepada Adith yang masih bisa ditepisnya dengan cepat. "Dasar mesum!" Maki Alisya kesal kepada Adith yang hanya tersenyum senyum nakal. "Kemmapuannya semakin berkembang, tak ku sangka dia mampu mengimbangi kecepatan ku. Terlebih tendangan ku yang sebelumnya seolah tak memberi dampak yang pasti padanya." Batin Alisya dengan tetap menyisakan jarak dengan Adith yang masih berniat ingin melepas handuknya. Kegaduhan yang dibuat oleh keduanya segera membuat mereka yang berada di ruang sebelah menjadi bingung. "Apa mereka sedang melakukannya dengan se ganas itu?" Rafli bertanya dengan ragu-ragu mengingat Adith dan Alisya sedang berada di ruang yang sama. "Aku rasa kapten sedang melakukan pelatihan padanya. Mengingat dari bunyinya yang terdengar seperti hantaman dan tendangan." Terang Elvian cuek masih terpesona dengan cetak biru yang tampak sudah mulai selesai. Sedang Jati dan Rendy masih terus melakukan pengamatan kepada orang yang sebelumnya di curigai oleh Adith dan Alisya. Tampak jelas kalau ia terlihat mulai bisa menemukan aura samar-samar yang dikeluarkan oleh Alisya. Melihat Alisya yang sedang membelakangi pintu, Adith segera menunduk seolah memberi hormat. "Bapak?" Alisya yang memang sempat melihat pintu itu tidak tertutup rapat segera menoleh dengan panik mengira kalau Adith sedang berbicara pada ayahnya. Namun begitu ia menoleh, Ayahnya tidak berada disana dan pintu itu masih dengan kondisi yang sama. Tepat saat ia kembali menoleh kepada Adith, Adith sudah berada di hadapannya dengan kain handuk sudah berada di tangannya. Alisya malah menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu sekaligus kesal dengan perbuatan Adith. "Kali ini aku sudah bisa buktikan kalau aku bisa melindungimu, maka mulai saat ini kau tak perlu lagi berusaha berkorban untuk melindungi ku. Percayalah pada kami semua." Ucap Adith dengan lembut di telinga Alisya sembari kembali membalutnya dengan kain handuknya. Adith sengaja mengajak Alisya untuk membuatnya menyadari kemampuannya saat itu agar ia tidak lagi berusaha sendirian, melainkan sudah bisa mempercayai mereka kalau mereka juga bisa melindungi diri mereka sendiri maupun dirinya. "Jika kau membuatku seperti ini, maka aku akan sangat mudah kalah dan gusar karena dirimu." Alisya melepas kedua tangannya dan menatap lembut kepada Adith. "Lakukan, ada aku bersamamu. Kau tak perlu takut untuk menunjukkan kelemahanmu padaku. Karena aku akan menjadi sumber kekuatanmu." Terang Adith membelai lembut rambut Alisya dengan handuk kering yang di ambilnya untuk mengeringkan rambut Alisya. "Pakailan bajumu, meski aku lebih suka melihat kulitmu tanpa sehelai kain, tapi sekarang bukanlah saat yang tepat." Ucap Adith mengecup lembut dahi Alisya. Alisya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya merasa pasrah dengan apa yang dikatakan oleh Adith. "Mesum mu tak bisa diselamatkan lagi sepertinya." Ucap Alisya mengambil kain handuk di kepalanya yang sudah dilepaskan oleh Adith. "Pada istri yang sudah lama aku tak bersamanya tidak masalah bukan?" Adith tersenyum puas kepada Alisya dengan membuka pintu lalu keluar setelah mengedipkan matanya dengan nakal kepada Alisya. Setelah menutup pintu, Alisya kembali memasang ekspresinya dengan sangat serius. Harus ia akui memang saat ini kemampuan Adith sudah meningkat banyak, namun ia tidak ingin mengambil resiko dengan mengabaikan musuh mereka yang sangat kuat saat ini. "Sepertinya kemampuan pendeteksi orang ini cukup kuat sehingga ia seolah mulai mendapatkan pola dari perubahan ruangan yang dilakukan oleh Elvian." Gumam Alisya yang dengan cepat sudah memakai baju gaun hitam mengkilapnya yang akan ia gunakan pada malam puncak itu. "Tidak ku sangka kalian sudah bersiap juga ternyata." Adith yang baru saja keluar melihat Yogi dan yang lainnya juga baru saja datang dengan pakaian yang rapi. "Sudah tidak ada waktu lagi, acaranya akan segera dimulai. Untuk itu kami sudah bersiap-siap dengan secepat mungkin." Ucap Yogi mengambil tempat untuk duduk sejenak. "Jadi apa yang harus kita lakukan?" Tanya Rinto dengan melempar pandangannya ke seluruh orang yang berada diruangan tersebut. "Azura!" Panggil Adith kepada robot hologram 3 dimensinya. "Semuanya sudah selesai tuan, kalian bisa mengakses apa saja di dalam kapal ini termasuk dengan ruang labirin kapal pesiar ini." Jelas Azura dengan menampilkan ruang labirin secara keseluruhan. Dari tampilan hologram yang diberikan oleh Azura, mereka bisa melihat secara keseluruhan ruang serta jalan dan perubahan ruang yang mungkin terjadi pada kapal tersebut sehingga dengan hal tersebut akan dapat memudahkan mereka dalam melakukan pergerakan. "Zein, apa pendapatmu tentang ini." Adith bertanya kepada Zein karena kemampuan analisanya yang sangat tinggi. Mengangguk pelan memahami maksud dari Adith, Zein segera menarik satu gambar yang menunjukkan ruang dari tempat acara tersebut akan dilaksanakan. "Bisa kalian lihat, tempat ini memiliki akses masuk dari segala penjuru ruang. Ini artinya ruangan ini sudah diatur satu persatu oleh mereka. Selain itu Elvian hanya bisa mengendalikan 3 ruangan ini yang sudah menjadi tempat kita berlatih." Jelas Zein menarik 3 ruangan lagi dimana tempat mereka berada. "Elvian yang mampu mengendalikan 3 ruangan ini tentu secara bertahap akan terbaca oleh sistem sebagai kesalahan, namun Azura tampaknya sudah berhasil menyamarkannya." Lanjutnya lagi yang langsung mendapatkan persetujuan dari Azura yang menampikan rekam penghapusan jejak sistem yang dilakukan oleh Elvian. Elvian terus menatap takjub pada robot hologram, Azura. Chapter 428 - Karin Belum Sadarkan Diri Zein terus melakukan analisis terhadap apa yang akan mereka lakukan dengan memperhatikan setiap inci dari cetak biru kapal tersebut. "Pertama, kita akan tetap pada peran kita masing-masing, sebab kita semua juga memiliki tujuan yang sama dalam acara Forthnight malam ini." Zein kembali menjelaskan rencananya. "Ya benar. Kita memiliki 3 orang CEO di dalam ruangan ini, Ayah Alisya, Adith dan dirimu Zein." Ucap Yogi menatap mereka bertiga. "Ya, beserta kalian yang sudah menjadi bagian dari asisten kami. Kita yang akan masuk kedalam pertempuran jarak dekat dengan terlebih dahulu mengamati mereka, sedang Ryu harus berperan ganda." Tatap Zein kepada Ryu yang sangat tajam jika dalam pertempuran jarak jauh maupun dekat. "Kami saja sudah cukup jika hanya untuk mengamati kalian dari jarak jauh, Ryu hanya cukup dengan menemani Ayah Kapten saja." Terang Elvian lebih mengkhawatirkan Ayah Alisya. "Kalian tentu memiliki keahlian dibidang masing-masing, namun Ryu bisa menyesuaikan terhadap keahlian apapun. Selain itu energi nano yang ada pada tubuhnya mampu meningkatkan kerja pupil matanya yang bisa melihat dengan kualitas yang sangat tinggi baik dari jarak terjauh, terdekat bahkan gelap sekalipun." Jelas Adith yang membuat Ryu takjub karena Adith bisa mengetahui kemampuannya sedang ia masih takjub dengan kemampuannya sendiri. "Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" Tanya Ryu penasaran. "Saat aku tertembak lalu, kau mengatakan bahwa penglihatanmu menjadi lebih tajam dari biasanya bahkan sangat tajam hingga kau menentukan keberadaan musuh." Adith mengingatkannya akan apa yang pernah ia katakan sebelumnya. Ryu mengangguk mengingat apa yang dikatakannya sebelumnya begitu pula dengan yang lainya. "Selain itu, saat kau menatap cetak biru hologram tersebut, aku melihat pupil mu bergerak dengan begitu cepat membesar dan mengecil menyesuaikan dengan apa yang ingin kau lihat." Lanjut Adith lagi memberikan penjelasannya. Mereka akhirnya paham mengapa Zein ingin Ryu berperan ganda bagi mereka karena ketajaman mata Ryu bisa menggantikan alat yang canggih untuk mengamati seseorang dengan lebih detail. "Untuk itu, aku meminta Ryu untuk bisa berperan ganda!" Ucap Zein lagi dengan tenang. Apa yang dikatakan oleh Zein segera membuat mereka takjub dan tak percaya. Mereka tak mengira kalau Zein bahkan sudah mampu menganalisis kemampuan mereka masing-masing hanya dengan melihat volume otot, desahan nafas serta detakan jantung mereka. "Baiklah, aku paham sekarang. Itu berarti kami bisa mengarahkan dan mengamati kalian dari kejauhan sesuai dengan rencana kami sebelumnya." Ucap Jati mengangguk paham dengan apa yang di rencanakan oleh Zein. Sebelum mereka mulai bergerak, Zein lalu melanjutkan penjelasannya kembali dengan lebih sederhana mengenai apa yang harus mereka lakukan selama didalam ruangan tempat acara puncak Forthnight dilaksanakan. Untuk Elvian dan yang lainnya mereka yang sudah menyebarkan permen berwarna yang berupa bom nano ukuran kecil untuk pencegah kebakaran pun juga sudah mereka sebarkan. Selain itu beberapa permen dengan warna hijau berfungsi sebagai beberapa tempat yang bisa mereka jadikan penanda ruang labirin yang sudah mereka lewati juga sudah disebarkan. "Dimana Karin?" Tanya Alisya kepada mereka yang berada di ruang tengah. Alisya yang kaget tak melihat adanya Karin disana menjadi sangat khawatir. Waktu yang tersisa adalah lima belas menit lagi. "Dia masih belum sadarkan diri." Ryu menatap nanar ke arah ruang dimana Karin masih berjuang sekuat tenaga. Karin yang saat itu ditemani oleh Ayahnya dan profesor Ahmad masih tak membuat Alisya dapat bersikap tenang, sehingga dia dengan cepat masuk kedalam. "Bagaimana keadaannya?" Tanya Alisya begitu masuk kedalam ruangan dan melihat Ayahnya serta profesor yang terus memantau kesadarannya. "Kekuatan mentalnya masih kurang kuat sehingga saat ini dia sedang berjuang dengan keras." Jelas Ayahnya menepuk punggung Alisya lembut yang mendekati Karin. "Tuan..!" Panggil Ryu dengan ragu-ragu kepada ayah Alisya sebagai tanda kalau mereka juga harus mengisi meja mereka saat itu. "Jadi memang sudah saatnya yah.. aku serahkan Karin padamu, bawa dia padaku dan sadarkan dia." Ayah Alisya menatap penuh percaya kepada putrinya Alisya. Ayah Alisya percaya bahwa dengan ikatan kuat diantara mereka berdua, Alisya bisa saja membuat Karin sadar diri dan kembali menemaninya. Ikatan keduanya bukanlah hal yang dapat dianggap remeh. "Jangan khawatir, aku akan pastikan dia bangun secepatnya. Jika tidak aku akan menghantamnya hingga terbangun." Alisya memandang tajam kepada Karin yang masih mengeram berjuang untuk menyelesaikan tahap akhirnya. "Alisya, kau tau kan apa yang harus kau lakukan ketika membutuhkanku?" Adith lalu mencium kening Alisya sebelum pergi dari sana yang dijawab dengan anggukan pelan oleh Alisya. Adith dan yang lainnya menyerahkan urusan Karin kepada Alisya dengan mereka segera menuju tempat ruangan acara puncak yang sebentar lagi akan di mulai. "Kami juga akan ke posisi kami masing-masing, ku harap anda bisa menyelesaikannya se segera mungkin kapten." Seru Rendy mengingatkan Alisya yang memiliki peran penting saat ini. "Jangan lupakan orang itu, Elvian mungkin sudah membuat dia terus berputar-putar dalam labirin, tapi itu tidak akan membutuhkan waktu lagi baginya untuk segera menemukan mu." Tambah Jati mengingat orang yang sebelumnya itu sudah semakin dekat dengan posisi mereka saat itu. "Akan sangat berbahaya jika dia menemukan kalian dengan kondisi Karin seperti ini, aku sangat berharap dia bisa menyelesaikannya karena jika tidak dia juga akan mengalami kerusakan saraf dan mental." Elvian menatap Karin dengan tatapan khawatir. "Aku tau kalau kami pasti akan bertemu, tapi sebelum itu aku sudah mempersiapkan segalanya dengan cepat. Bereskan saja yang ada disini dan jangan tinggalkan jejak." Perintah Alisya kepada mereka cepat dengan suara yang tegas. Dibantu oleh Azura, segala rekam jejak mereka di dalam tempat itu segera di hapusnya dengan cepat termasuk dengan CCTV ataupun sistem yang mereka gunakan dengan gelang elektrik yang diberikan. "Siap Kapten!!!" Mereka memberi hormat serentak sebelum bergegas melaksana kan perintah Alisya dan pergi ke tempat yang sudah direncanakan. "Alisya, jika kau tidak menarik Karin sekarang, sepertinya akan sangat berbahaya baginya." Profesor Ahmad yang melihat belum ada tanda-tanda perubahan kesadaran dari Karin menjadi semakin khawatir. "Apa ini karena tubuhnya yang tidak terlatih lagi? Selama ini dia hanya terus mengurung diri menyesali kepergianku. Tapi sedikit bersyukur dia masih memiliki semangat untuk bisa mengambil gelar resminya sebagai seorang dokter ahli jantung." Terang Alisnya menggenggam tangan Karin dengan sangat erat. Alisya merasa bersalah karena dirinya saat ini Karin sedang berjuang dengan sangat keras, namun jika dia kembali menyalahkan dirinya sendiri maka Karin tentu akan sangat marah. Alisya hanya bisa percaya pada Karin kalau ia bisa melewatinya. Chapter 429 - Mencari Kesadaran Karin Karin yang masih saja tak sadarkan diri saat waktu untuk tahap akhir itu sudah mencapai akhirnya membuat Profesor dan Alisya menjadi sangat khawatir. Mereka terpaksa melakukan penyadaran paksa kepada Karin dengan menghubungkan tak Alisya kepada Karin. "Ingat, kau harus membangun mentalnya saat sudah terhubung dengan Karin. kau tak boleh mengingat hal-hal yang sudah membuat kalian terpisah atau hal sedih lainnya yang dapat membuat mental Karin menjadi jatuh." seru Profesor kepada Alisya yang sudah terbaring disebelah Karin. "Tentu saja, aku takkan membiarkan hal buruk terjadi padanya." Alisya menatap dengan penuh keyakinan kepada professor. apa yang mereka lakukan saat ini memiliki resiko yang cukup tinggi dimana saraf-saraf keduanya dapat menghantarkan impuls yang saling bertabrakan sehingga dikahwatirkan sel saraf mereka akan mengalami kerusakan. "Kau tak punya waktu banyak, tapi ku harap kau bisa menyelesaikan ini secepatnya." tatap profesor Ahmad kepada Alisya, dengan menekan tombol start untuk menghubungkan sinapsis dari Alisya dan Karin. Setelah menekan tombol power tersebut, Alisya merasakan sedikit sengatan kuat di otaknya yang membuatnya masuk kedalam alam bawah sadarnya dan tenggelam semakin dalam dengan seluruh ruang tampak sangat menyilaukan. Alisya melihat banyak sekali lintasan ingatan dari Karin dimulai dari saat mereka kecil, ketika bom yang meledak dan membuat ibunya (Ayumi) meninggal, kenangan mereka saat Alisya terus saja memelintir lehernya setiap kali Karin menganggunya, gumamannya tentang Ryu yang selalu menunjukkan rasa perhatiannya kepadanya namun dia tidak berani mengungkapkan perasaanya padanya, serta hal terakhir yang membuat Alisya terhenti adalah ketika Karin menatap gudang yang meledak. "Karin, dimana kau saat ini? aku harap kenangan mu tak terhenti pada satu kenangan tadi saja." sinapsis Alisya terus saja berjalan mencari keberadaan kesadaran Karin yang tak terlihat. semakin ia melangkah, ingatan dan kenangan Karin semakin gelap dan menghitam. ia tidak melihat keberadaan sinapsis dari Karin sehingga dengan putus asa ia terus maju semakin dalam ke alam bawah sadar Karin. Cukup banyak badan sel yang sudah ia lewati, namun tak ada sedikitpun kenangan yang ia temukan selain semuanya gelap dan buram. "Dimana kau, jika kau seperti ini terus aku akan menghajarmu hingga kau kehilangan nafas dan tak bisa mengingat apapun." Sinapsis Alisya mulai semakin kesal dengan apa yang sedang ditampilkan oleh Karin saat ini di dalam alam bawah sadarnya. "Alisya? itu benarkah dia?" sebuah suara segera membuat Alisya kaget. "Ini ingatan dia sewaktu kita bertemu untuk pertama kali di Cafe dekat kantor kan?" gumamnya sembari terus memperhatikan kenangan Karin. "Apa benarkah itu dirimu? Bagaimana mungkin? i¡­ itu benar Alisya? Ralisya Quenby Lesham sahabatku tersayang?" Karin terus menatap Alisya dengan menahan kesedihannya. "Jadi kau sekaget ini saat melihatku? kenapa kau tak mengatakan segalanya dan hanya terdiam seperti itu?" Alisya merasakan kesedihan dari suara alam bawah sadar milik Karin. Kenangan itu berhenti ditempat itu lalu ketika ia berpindah ke badan sel saraf yang lainnya, Alisya kembali tak menemukan apapun disana. Sinapsis Alisya kembali mengalir dengan sangat kuat mencari kesadaran Karin yang setelah ia putus asa, ia akhirnya menemukan kesadaran Karin di sudut Sinapsisnya yang Nampak lebih kelam dari sebelumnya. "Apa yang kau lakukan disini?" Sinapsis Alisya mulai melakukan perhubungan dengan alam bawah sadar Karin namun ditolak dengan sangat kuat. "Aku takkan bisa melakukan apapun lagi, aku akan kehilangan Alisy lagi. Aku takkan bisa melindunginya hanya dengan sedikit kekuatan ini." Sinapsis Karin terlihat begitu kelam dan tak memiliki harapan untuk menyadarkan diri. "Dasar bodoh, kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Bangkitlah bodoh!" Sinapsis Alisya kembali mencoba untuk menghubungkan dirinya dengan Karin namun kembali mendapatkan penolakan yang sangat kuat yang membuat sedikit kerusakan kecil pada sinapsis miliknya. "Tidak, aku hanya akan menjadi penghambat baginya. saat ini aku tak memiliki kekuatan apapun, bahkan aku hanya akan menghambatnya lagi dan membuatnya mengorbankan dirinya kembali. aku mugkin akan kehilangan dirinya lagi, aku tak ingin kehilangan siapapun lagi, tidak¡­ aku tidak ingin." Sinapsis Karin terlihat mulai koslet dan semakin rusak yang membuat Alisya menjadi takut dengan kesadaran milik Karin. "Bahkan jika sinapsisku rusak, kau harus aku sadarkan. aku akan mengirim ratusan hingga ribuan sinapsis untuk bisa menydarkanmu. Jangan kira aku kalah hanya karena hal ini. Bangunlah Karin tolol!!!" Sinapsis Alisya kembali melakukan penghubungan dengan sinapsis milik Karin meski mendapatkan penolakan kuat, Sinapsis Alisya tak ingin kalah. "Aku¡­. takkan.. membuatmu sendirian dan aku takkan pernah mati jika memang belum saatnya, untuk itu jangan mengira aku akan pergi dengan semudah itu bodoh!" Sinapsis Alisya menjadi semakin kuat yang membuat profesor sangat takjub dengan kekuatan mental milik Alisya. "Luar biasa, baru kali ini aku melihat grafik sinapsis dari otak seseorang yang sangat kuat. Anak ini benar-benar mengerikan, bukan hanya karena energy nano dalam tubuhnya yang mengerikan, namun mentalnya ini juga sama mengerikannya. Sinapsis Alisya masih terus berjuang dengan sangat kuat untuk bisa terhubung dengan sinapsis milik Karin, sehingga dengan satu dorongan kuat berkat dari bantuan energy nano miliknya, Sinapsis Alisya akhirnya bisa terhubung dengannya. "Akhirnya aku bisa terhubung juga denganmu, sekarang bangunlah!" Sinapsis miliknya yang kuat akhirnya mulai mengembalikan kesadaran Karin secara perlahan-lahan. "Alisya, kau kah itu?" Sinapsis Karin mulai menyadari kehadran Alisya di alam bawah sadarnya. "Iya ini aku sahabat bodoh, lemah dan idiot." Maki Alisya yang langsung membuat sinapsis dari Karin kembali bersinar dengan terang. "Apa yang terjadi? kenapa kau bisa ada didalam sini?" Karin merasa sedang bermimpi karena bisa berbicara dengan lancer dengan cara yang sedikit aneh. "Sampai kapan kau akan merasa terpuruk seperti itu? Sadarlah!" Alisya menaikkan ferekuensi penghubungan sinapsis miliknya dengan milik Karin. "Bangunlah dasar bodoh, jika kau masih tak terbangun lagi aku takkan pernah memaafkanmu. satu hal lagi, aku takkan pernah membiarkan diriku terluka lagi karena orang lain karena aku tau kau juga bisa melindungiku sekarang. aku percaya padamu kalau kau juga bisa melakukannya dengan baik." Sinapsis Alisya kembali menghantarkan impuls yang sangat kuat untuk membuat kesadaran Karin perlahan-lahan bangkit. Karin menitikkan air matanya mendengar gumaman tersebut, Air matanya mengalir dengan deras yang kemudian membuat seluruh sel saraf dalam otakknay kembali bersinarterang yang mana sinapsis miliknya yang satu sama lainnya akhirnya mulai terhubung satu sama lainnya. "Aku akan menunggumu diluar." Sinapsis Alisya akhirnya keluar dari alam bawah sadar milik Karin melihat seluruh otakknya mulai bekerja dengan baik sehingga sinapsis miliknya harus segera keluar. Chapter 430 - Gembor Terus Alisya menjadi orang yang terlebih dahulu sadar dibandingkan dengan Karin. Melihat data statisti sinapsis Karin yang masih berjalan lambat dalam menghantarkan impulsnya membuat profeor Ahmad merasa sangat khawatir. "Lakukan sesuatu, jika dia masih seperti itu terus, maka akan sangat berbahaya terhadapnya. ia akan mengalami shock mental karena tekhnik yang ia gunakan saat ini berpusat pada tahap akhir dari pengendaliannya." seru Profesor Ahmad mengingatkan Alisya untuk kembali menarik kesadaran Karin. "Karin, bangunlah! Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakana sebelunya?" Alisya berteriak dengan sangat kuat di dekat telinga Karin. Melihat sedikit ada perubahan pada statistik otak Karin, profesor sekali lagi menyuruh Alisya untuk lebih keras menarik alam bawah sadar Karin untuk segera bangkit. "Karin, apa kau akan membuatku sendirian lagi? Jika aku harus kehilanganmu lagi, apa yang akan aku lakukan? semua orang sudah meninggalkanku, aku tak sanggup jika harus kehilanganmu lagi. aku¡­" Alisya berkata dengan suara yang serak yang membuat kakinya jatuh melemas. Alisya tak tahu apa lagi yang ia harus lakukan sehingga Ia hanya bisa memegang tangan Karin dan jatuh melemas. ia terduduk dibawah dengan hati yang sakit, Ia tak sanggup memikirkan jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Karin. Pikiran Alisya kalut mengingat sekarang hawa keberadaan orang yang sebelumnya mencari dirinya semakin dengan dirinya. "Jika kamu tak sadarkan diri lagi, aku takkan pernah memafkan diriku sendiri." genggaman tangan Alisya pada tangan Karin terlepas dengan pasrah. Alisya tak mampu menahan kesedihannya ketika detector pada monitor milik profesor menandakan berakhirnya waktu yang ditempuh Alisya. Tepat saat itu, Ryu masuk kedalam ruangan itu dan langsung mencium bibir Karin dengan sangat erat. Karena takut terjadi sesuatu dengan Karin dan takut tak bisa menemuinya untuk selamanya, Ryu segera kembali menemui Karin. Namun begitu melihat Karin masih tak sadarkan diri, Ryu dengan seketika langsung mencium bibir Karin. "Maafkan aku, aku tak sempat mengatakan apapun padamu. aku hanya terlalu takut dan pengecut. Aku merasa tak pantas untukmu, selain karena asal usulku yang tidak jelas, kehidupan kelamku yang sebelumnya membuatku tak yakin kalau aku baik untuk bersamamu. Tetapi di atas semua itu, aku sangat mencintaimu." Ryu mengutarakan semua perasaanya kepada Karin yang sudah tak sadarkan diri. "Sekarang semuanya sudah terlambat! Aku bahkan tak bisa menjadi sahabat yang baik untukmu karena sudah memberikanmu banyak kenangan yang menyakitkan, aku¡­." Alisya semakin jatuh dalam kesedihan memikirkan kondisi Karin saat itu. Apa yang dikatakan oleh Alisya dan Ryu pada akhirnya tersampaikan. Perasaan kuat dari keduanya akhirnya sampai kepada Karin dengan begitu kuat yang membuat sinapsi miliknya bekerja dengan sangat kuat dan luar biasa sehingga Jantung dan syaraf-syaraf otaknya yang semula terhenti karena mengalami shock kuat kembali mendapatkan harapan yang lebih kuat dari sebelumnya. "Alisya¡­" suara Krin yang serak memanggil nama Alisya yang langsung membuat Alisya mengangkat wajahnya menatap Karin dengan tak percaya. "Dasar Rubah Licik, kau membuatku terlihat konyol saat ini." Alisya menyeka matanya yang basah dan sembab karena kesedihannya. "Kau terlihat seperti kuntilanak saat ini." Karin tertawa dengan lemah karena butuh waktu lama untuk bisa menyelesaikan tahap akhirnya. Ryu yang ingin melarikan diri dari sana membuat Karin dengan cepat menangkap tangan Ryu untuk menghentikannya. "Woyyy,, kampret! Aku sudah mendengar semuanya dan sekarang kau mencoba untuk melarikan diri lagi?" Karin berusaha bangkit dari tidurnya agar bisa menatap wajah Ryu dengan lebih jelas. Ryu masih malu untuk menatap wajah Karin saat itu terus saja membelakangi Karin dan tak berani untuk mengatakan apapun. Meski apa yang dikatakannya semua itu adalah sebuah kebenaran, namun rasa takut masih saja menguasainya. "Apa kau ingin melihatku mati baru kau mau mengatakan hal itu lagi? Kau ingin menikahi arwah?" Karin sengaja menekan kata-katanya untuk membuat Ryu menoleh kepadanya dan ternyata hal itu berhasil. "Gembor terus!!!" bisik Alisya yang hamper saja membuat Karin tertawa karena mata Aliysa yang terlihat sangat mengerikan. Karin yang ingin tertawa terpaksa mengepalkan tagannya dengan erat. "Aku akan melakukan semuanya dengan benar nanti, untuk saat ini sebaiknya kita pergi dari sini." Ryu segera mengangkat tubuh Karin dari atas pembaringannya tanpa aba-aba. "Woooww, Kakkoiii.." Puji Alisya dalam bahasa Jepang yang berarti Keren. Profesor Ahmad hanya terbengong bingung dengan situasi yang sedang ia saksikan saat itu. Ia tak mengerti bagaimana mungkin mereka bisa bersikap dengan sangat santai saat sebelumnya jatuh dalam keputusasaanyang sangat dalam yang bahkan membuat keduanya terlihat sangat pasrah. "Apa anak-anak zaman sekarang semuanya memiliki sifat seperti ini?" profesor Ahmad merinding dengan sangat hebat menyaksikan para anak muda itu keluar dari sana. Karena tidak punya cukup waktu, mereka harus tetap focus dan kembali dalam mode bertarung. Karin pun tak menginginkan mereka berdua untuk bersikap lebay karena masih ada hal penting yang harus mereka hadapi saat ini. "Akhirnya aku menemukanmu, butuh waktu juga untuk menemukan tikus kecil sepertimu." Alisya sengaja menunjukkan dirinya untuk mengulur waktu bagi Ryu dan Karin tidak diketahui mengingat orang itu sudah mengetahuinya dari awal. Berkat Alisya pula, profesor Ahmad bisa membereskan beberapa hal dengan memindahkan ruangan miliknya pada tempat yang sudah ditandai oleh Azura. hal itu tentu saja harus dengan sangat hati-hati agar tidak membuat apa yang dilakukan Alisya sia-sia. "Ah¡­ sepertinya kau baru saja menangis, apa kau habis diputuskan dan dicampakkan oleh seseorang?" Alisya cukup terkejut mendengar apa yang dikatakannya. Pria yang terlihat cukup tampan dihadapannya ini tampaknya mampu membaca gelombang perasaan hatinya serta yang ia tampilkan dari ekspresi wajahnya. "Oke dia tidak salah karena perasaan ini mungkin akan terlihat seperti menangisi seorang kekasih." Batin Alisya mulai mewaspadai pria ini. "Siapa kau?" Alisya mengeluarkan suara yang serak dan terdengar mengerika. "Duh sial¡­" batinnya merasa malu karena suaranya. "Itu tidak penting, tapi saat ini kau membuatku tertarik. apa yang membuat aku sulit menemukan tikus kecil sepertimu? siapa yang ada dibelakangmu? Dia yang semula sangat melindungimu apa sudah membuangmu saat ini?" ucapnya mulai mencari informasi dengan kemunculan Alisya di hadapannya. Merasa tertarik dengan Alisya, ia tidak ingin memberikan laoran terlebih dahulu. Ia penasaran kenapa sebelumnya ia cukup sulit untuk menemukan Alisya namun sekarang malah muncul dihadapannya dengan mudah. Selain itu, Alisya yang terlihat berantakan dan rapuh itu masih terlihat menyimpan sebuah pesona mematikan yang membuatnya merasakan ada hal lain pada diri Alisya. Pesona Alisya membuatnya menjadi semakin penasaran untuk mengetahui siapa sebenarnya dirinya. Chapter 431 - Kupu-kupu Nakal Merasa tak ada yang aneh dengan Alisya, pria itu tak memperlihatkan adanya aura permusuhan. Setidaknya untuk saat itu, sehingga dengan tersenyum manis dia datang menghampiri Alisya. "Tadinya aku berpikir bahwa kau adalah tikus kecil yang akan sedikit merepotkan. Tapi melihatmu seperti ini sepertinya hanyalah seperti kupu-kupu nakal yang sedang terperangkap dalam labirin ini." gumamnya mengira kalau Alisya mungkin takkan memahami apa yang baru saja ia katakan. Penampakan Alisya saat itu memang terlihat sangat menyedihkan dan sedikit kacau. Terlebih karena wajahnya yang terlihat bengkak pada bagian matanya serta make up nya yang luntur karena air matanya. Dia lalu menarik sebuah sapu tangan putih yang lembut dari kantongnya lalu menyodorkannya kepada Alisya. Dia terlihat sedang mencoba untuk bersikap sopan. "Pria ini cukup kuat, sikap tenang namun penuh waspadanya membuatku sedikit terbuai. Meski tak terlihat, namun cara dia mengendalikan energi nanonya tampak jauh berbeda dengan mereka yang pernah aku hadapi sebelumnya termasuk Artems!" Terang Alisya terus menatapnya dalam diam. Meski merasa aneh dengan sikap baik yang bahkan terlalu baik untuk seorang anggota organisasi tersebut, Alisya tak ingin mengambil resiko untuk mengacaukan rencana mereka jika dia harus berhadapan dengan orang ini. Tidak langsung mengambil sapu tangan yang ditawarkannya, untuk terlihat seolah sedang menjaga harga dirinya sebagai seorang wanita, sehingga Alisya bertanya dengan dingin. "Apa yang kau inginkan?" Alisya sengaja bertanya dengan waspada mengingat ia tidak bisa mempercayai setiap apa yang dilakukan oleh pria itu kepadanya. Dengan sikapnya yang terlihat tenang dan santai, tetap saja Alisya bisa merasakan aura yang sangat hebat dari tubuh pria di hadapannya tersebut. "Untuk saat ini sepertinya aku akan melepaskanmu, dan aku harap kita tidak bertemu lagi. Meski aku sedikit tertarik denganmu, tapi rasanya kau hanyalah kupu-kupu yang tak akan bisa bertahan lama." Ia memandang Alisya dengan penuh selidik. Meski masih belum merasakan adanya energi nano yang sekuat dengan sebelumnya pada tubuh Alisya. Namun ia masih tidak bisa menghilangkan pikirannya mengenai sebuah energi kuat yang ia rasakan sebelumnya. Energi nano memang hanya akan dimiliki oleh mereka yang menjadi anggota organisasi dan objek penelitian organisasi, sehingga ia merasa mustahil bagi orang lain untuk memilikinya. Akan tetapi berdasarkan data yang sudah mereka terima sebelumnya, beberapa objek penelitian yang sengaja mereka sebar ternyata mampu memberikan paparan gelombang energi pada orang lain namun dengan frekuensi yang kecil. Hal itulah yang membuat pria itu menganggap Alisya mengalami hal demikian tanpa disadarinya karena tanpa disengaja sudah berhubungan dengan salah satu anggota organisasi. "Seperti daur hidup kupu-kupu yang berkisar antara satu minggu hingga satu tahun, kau juga mungkin akan mengalami waktu hidup yang singkat. Tapi itu semua tergantung kau jenis kupu-kupu seperti apa." Ucapnya kembali memasukkan sapu tangan yang tidak diterima oleh Alisya. Melihat pria itu sedikit mewaspadai dirinya meski ia sudah menekan auranya dengan sangat baik, Alisya merasa kalau orang ini memiliki rencana lain. Hawa keberadaan yang Alisya tunjukkan sedikit lebih lemah, namun pria itu seolah masih bisa merasakan hawa keberadaannya yang kuat. Akan tetapi berkat itulah dia bisa menyamarkan hawa keberadaan teman-temannya dan yang lainnya dengan sangat baik. "Meskipun kau sedikit meremehkan aku, tapi sepertinya kau masih tetap ingin mewaspadai ku." Batin Alisya berusaha untuk tetap bersikap dengan senatural mungkin. "Jika kita bertemu diwaktu yang salah, itu artinya kau mengalami ketidak beruntungan. Aku harap kau memanfaatkan kesempatan yang aku berikan dengan sebaik-baiknya." Ucapnya sembari berlalu pergi meninggalkan Alisya. Alisya sangat paham akan apa yang dimaksudkan oleh pria tersebut. Namun dengan membiarkannya pergi tentu memberikannya waktu yang cukup untuk bisa melakukan rencananya yang lain. "Oh iya, siapa namamu?" Pria itu kembali sudah berada di hadapannya yang sepersekian detik Alisya hampir lupa untuk bereaksi normal. "Se¡­ sejak kapan kau sudah berada disini? Bukankah tadi kau sudah pergi?" Akting Alisya mengalahkan kemampuan Akting Karin yang begitu alay dan lebay yang dibuat seolah itu adalah hal normal. "Namaku Niel, siapa namamu?" Pria itu kembali karena ingin mengetahui nama Alisya sebelum ia benar-benar ingin pergi. "A.. Al.. Alina!" Jawab Alisya cepat hampir menyebut nama aslinya. "Nama yang bagus, akan aku ingat namamu." Ucapnya kembali berjalan meninggalkan Alisya. Setelah benar-benar melihat pria itu pergi, barulah Alisya bisa kembali menampilkan ekspresinya yang dingin dan penuh waspada. "Kalian sudah mendengarnya bukan? Meski dia merasa kalau aku bukanlah suatu ancaman, namun ia masih tetap ingin mewaspadai ku. Dalam waktu dekat dia akan menemukan nama itu tak ada dalam daftar penumpang kapal ini." Alisya menepuk alat komunikasi milik mereka dengan keempat anggotanya. Alisya ingin memperingatkan mereka untuk setidaknya menjaga jarak dari Niel mengingat pria itu mampu membaca niat seseorang dan mendeteksi kemampuan seseorang dengan sangat baik. Alisya memang sangat ahli dalam menyembunyikan kemampuannya, tapi tidak dengan teman-temannya yang belum mengetahui tekniknya karena hal tersebut adalah hasil penyesuaian tingkat tinggi milik Alisya. "Dari caranya berbicara kepada kapten kami paham bahwa dia bukanlah orang sembarangan, tapi mengingat dia melepaskan kapten sepertinya dia sengaja ingin mengamati siapa kapten sebenarnya." Terang Rendy dengan terus melakukan pengamatan di dalam ruangan acara puncak Forthnight yang sebentar lagi akan mulai. "Sepertinya demikian, tapi aku juga akan terus mengamatinya untuk mengetahui seberapa kuat dia akan memberikan kita tekanan nantinya." Ucap Alisya mematikan komunikasi mereka untuk sementara. "Apa dia melakukan sesuatu padamu? Menyentuhmu atau membelaimu?" Suara Adith mengagetkan Alisya. Ia tidak tahu sejak kapan percakapan mereka sudah terhubung sebelumnya, namun se ingat dia saat sedang berusaha mengembalikan kesadaran Karin dia masih tidak terhubung dengan alat komunikasinya. "Se.. sejak kapan kau sudah mendengarku?" Tanya Alisya dengan sedikit panik karena malu mengetahui apa yang sudah terjadi sebelumnya. "Cukup lama!" Adith mengingat saat dimana ia menempelkan alatnya ditelinga Alisya saat ia mencium dahinya. "Kenapa setiap gerakan yang kau lakukan padaku selalu membuatku tak menyadarinya?" Alisya selalu saja tertipu dengan setiap gerakan halus yang dilakukan oleh Adith. "Benarkah? Apa kau juga tidak merasakan gerakanku saat menyentuhmu dengan sepenuh hati?" Pertanyaan Adith langsung membuat semuanya memerah panas. Alisya bahkan sampai tersandung oleh kakinya sendiri sedang Yogi menyemburkan minumannya ke wajah Rinto bagaikan siraman rohani penyejuk kalbu. "Siapapun, buat ruang komunikasi khusus untuk mereka berdua." Pinta Zein yang langsung membuat semua orang menyetujuinya. Adith tak peduli jika semua orang mendengarnya termasuk profesor dan Ayah Alisya yang hanya bisa tertawa pelan. Chapter 432 - Forthnight Dimulai Dinyalakannya kembang api yang menghiasi langit malam di kapal pesiar saat itu membuat tempat itu terlihat sangat indah dan penuh dengan warna. Kapal pesiar yang besar dan begitu megah itu tampak seperti sebuah pulau bergerak yang sangat menawan dengan kerlap-kerlipnya yang menghiasi kapal. Ruang pertemuan yang mereka datangi kali ini berbeda dengan tempat sebelumnya, dimana langitnya tidak lagi berupa LED namun langsung terhubung dengan udara luar sehingga mereka bisa menikmati nuansa kembang api yang sangat indah tersebut. "Aku cukup terkejut saat langit-langit kapal ini terbelah menjadi dua, aku pikir organisasi telah memulai recana mereka." Riyan tertawa karena kekonyolannya sendiri saat dia bereaksi berlebihan terhadap apa yang terjadi pada langit ruangan saat itu. "Kau seperti orang yang hidup pada masa primitive." Zein tidak memperdulikan tingkah konyol Riyan dan meminum minumannya dengan santai. Saat semua orang terpesona dengan pemandangan langit malam itu, secara perlahan lantai tempat mereka berdiri mulai bergerak perlahan dan terbuka yang membuat mereka dengan begitu path bergeser pada tempat yang tak memiliki garis pembukaan lantai. Zein dengan gagah mengambil tempat bagian tengah setelah melihat bahwa tempat yang sedang perlahan bergerak terbuka lebar tersebut adalah sebuah meja besar yang sangat panjang dan mewah dengan deretan puluhan kursi bernama di sekelilingnya. "Tuan-tuan semua, silahkan duduk di kursi kalian masing-masing berhubung acara puncak Fotrhnight akan segera dimulai." seru seorang berjas hitam yang tampak berfungsi sebagai pengarah dalam acara tersebut. Dari kejauhan, di meja yang berbeda Adith sudah duduk di kursi miliknya dengan Rinto dan Yogi yang berada di kiri dan kanannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ayah Alisya dengan Ryu dan Karin yang berada disisinya. Dari arah yang berlawanan dapat juga dilihat oleh Adith, kalau Elvian sepupunya itu mendapatkan sebuah kursi bersama dengan Claudia di sisinya. "Aku harap kita bisa bekerja sama secara global dalam pertemuan kali ini." seru Mr. Harison duduk tepat di sebelah Adith. "Mr. Harison, senang jika saya bisa mendapatkan kerjasama dengan anda. Aapa lagi dalam pertemuan global ini yang mendapat dukunga penuh dari seluruh perusahaan besar dunia." terang Adith sangat menghargai apa yang dikatakan oleh Mr. Harison. "Baiklah tuan-tuan, sebelum memulai acara Forthnight yang dilaksanakan setiap 4 tahun sekali dan di hadiri oleh seluruh CEO dari perusahaabn besar dunia ini, terlebih dahulu saya akan jelaskan prosedur dalam pertemuan kali ini." Pria berjas itu memulai pembicaraanya begitu semua orang sudah menempati kursinya masing-masing. "Pertama, kami akan memperkenalkan masing-masing CEO yang hadir pada pertemuan kali ini dimana semunya hadir dengan tujuan yang sama, yaitu selain ikut dalam konferensi bergengsi yang sangat langka ini juga sekaligus sebagai ajang untuk mendapatkan investor luar yang tentu saja dengan jalan promosi perusahaan." terangnya dengan penuh semangat yang membuat semua yang hadir juga merasakan hal yang sama. "Kedua, jika ada salah satu investor yang menghentikan kami sebelum kami melanjutkan ke perkenalan perusahaan berikutnya, maka itu berarti dia telah mendapatkan seorang investor yang ingin berinvestasi pada perusahaanya secara penuh." terangnya lagi dengan senyuman hangat. "Dan yang ketiga, jika ada perusahaan lain yang merasa memiliki keunggulan lebih, maka dia bisa memberikan tanggapan dengan lebih mempromosikan perusahaannya." tegasnya dengan membuka tangannya selebar-lebar mungkin yang membuat para pemimpin perusahaaan yang berada disana bertepuk tangan dengan meriah. "Tuan-tuan sekalian, saya ingatkan sekali lagi bahwa Forthnight adalah sebuah acara dimana semua pemimpin perusahaan yang ada dikumpulkan dalam satu tempat dengan tujuan untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan lain serta mendapatkan Investor asing dari seluruh manca Negara." serunya dengan suara yang sangat lantang. "Untuk itu, mari kita mulai acara ini dengan tepuk tangan yang sangat meriah!!!" serunya yang membuat langit malam itu kembali meledakkan kembang api yang sangat banyak. Pria itu segera mengangguk pelan kepada Zein sebagai pertanda bahwa ia sudah bisa maju untuk memimpin acara pertemuan tersebut. "Baiklah tuan-tuan, seperti yang sudah kalian dengarkan sebelumnya. Maka marilah kita mulai dengan perkenalan pada setia perusahaan yang ada dimulai dari sebelah kanan saya." Zein yang begitu lancar dan fasih berbahasa inggris membuat Yogi sangat kagum padanya. Setiap pemimpin perusahaan it uterus melakukan perkenalan sesuai dengan bidang perusahaan masing-masing. Adith belum melakukan pergerakan dengan memberikan mereka tawaran pekerjaan begitu pula dengan tuan Harison yang berada disebelahnya serta Ayah Alisya. Mereka tampaknya sedang menyeleksi ketat perusahaan yang akan diajak untuk bekerja sama, namun beberapa perusahaan yang sudah memperkenalkan diri dan mempromosikan perusahaanya sudah mendapatkan kerja sama dari perusahaan lain serta inverstor asing. "Oke, tidak perlu panjang lebar. Perusahaanku memiliki aset yang sangat besar dengan nilai jual yang tinggi. Perusahaanku meproduksi banyak alat tekhnologi seperti peralatan elektronik rumah, chip, semikonduktor, dan lainnya secara multinasional." Mr. Harison mulai berbicara singkat begitu mendapatkan gilirannya. "Tentu saja, perusahaan anda merupakan salah satu dari perusahaan besar yang sudah kami tunggu-tungu. Kami menawarkan kerja sama dengan anda yang tentu saja karena kami juga bergerak dalam bidang yang sama dengan anda, yaitu tekhnologi." seru Elvian membuka penawaran pada Mr. Harison dengan begitu percaya diri. "Bagaimana dengan yang lainnya?" Tanya Zein memberikan kesempatan pada perusahaan lain sebelum menanyakan tanggapan dari Mr. Harison. Mereka yang sudah tahu betul bagaimana keras dan hebatnya seorang Mr. Harioson tidak cukup berani menawarkan diri terlebih karena mereka juga bergerak pada bidang yang sama yang tentu malah harusnya mempromosikan diri agar bisa mendapatkan kerja sama dengannya. "AKu tidak tahu apakah perusahaan kami cukup baik untuk bisa di ajak kerja sama dengan perusahaan anda, namun tidak ada salahnya jika saya menawarkan perusahaan kami yang tergerak dalam bidang sekuritas, perbankan investasi serta perbankan enceran global yang berpusat di jepang." Ayah Alisya membuka suaranya setelah memberikan tanda kepada Adith untuk bergerak. "Pufffttt¡­ Anda harus berhati-hati Mr. Harison. Memang benar perusahaan Yamada merupakan salah satu perusahaan besar dunia namun perusahaan itu memiliki sisi gelap yang tergabung dalam dunia Yakuza yang sangat berbahaya. Anda tentu tak ingin perusahaan anda akan mengalami masalah dikemudian hari." seru Elvian dengan begitu sombong. Adith tertawa pelan tak menduga kalau Elvian akan menunjukkan taringnya secepat kilat. Entah karena ia takut kalau perusahaannya akan mengalami penurunan jika terus-terus saja mendapatkan penolakan serta tidak medapatkan investasi, namun apa yang dilakukannya sangat membantu Adith dan yang lainnya dalam menjalankan rencana mereka. Adith melihat salah seorang di antara mereka mulai melakukan pergerakan. Chapter 433 - Bertahan Hidup Zein bahkan tak menduga apa yang dilakukan oleh Elvian tersebut, namun sikap cerobohnya yang mengeluarkan apa yang sudah direncanakan oleh Zein dan yang lainnya sudah diambil alih oleh Elvian dengan sangat baik. "Harus aku akui dia menganggap bahwa hal itu adalah sangat baik dengan mengungkapkan apa yang melatar belakangi perusahaan Yamada, tapi entah kenapa aku merasa kasihan dengan nya." Yogi tertawa dalam diam karena tingkah dari Elvian. "Haruskah aku mengatakan kalau Elvian adalah orang yang sangat kolot? Aku tau kalau ini adalah bagian dari rencana kita yang sudah kita anggap sebagai sebuah pengorbanan, namun tak disangka malah orang bodoh itu yang menyerang." seru Rinto menatap Elvian dengan rasa kasihan. "Dia memudahkan kita, dengan begini kita tidak perlu repot-repot untuk menyerang Ayah Alisya demi memunculkan niat dari organisasi, karena aku bisa melihat salah satu dari mereka yang bereaksi dengan apa yang dikatakan oleh Elvian." gumam Adith pelan yang sudah bisa merasakan adanya pergerakan dari organisasi. "Pengetahuan anda ternyata sangat luas tuan Elvian, kami tidak menyangka kalau akhirnya ada penyerangan dari perusahaan lain setelah sebelumnya masih aman dan terkendali." Seru Zein sedikit menambahkan garam dalam pembicaraan mereka. "Tentu saja, aku juga ingin perusahaan kami mengalami perkembangan. Dan perusahaan yang bergerak dalam organisasi gelap sepertinya tidaklah pantas mendapatkan kesempatan yang baik bukan? Apa lagi perusahaan kami justru lebih menguntungkan jika harus diajak bekerja sama." ucap Elvian dengan santai dan penuh percaya diri. "Sedari tadi aku pikir akan ada sesuatu yang sangat seru dan heboh, namun sepertinya sama sekali tak ada apapun. Aku sudah mulai malas dengan semua obrolan kalian yang mempermasalahkan bisnis ini dan bisnis itu. Bagaimana kalau kita buat pertemuan ini lebih meriah lagi?" Tanya salah seorang di antara mereka yang tampak masih cukup muda dan sebaya dengan Elvian. "Apa kau punya suatu saran dalam pertemuan kali ini?" Tanya Mr. Harison penasaran dengan apa yang akan dikatakan olehnya. "Bagaimana kalau kita main game Survival? Mereka yang berhasil bertahan hidup akan pulang dari sini juga hidup-hidup. Bagaimana?" Ucap Pria itu dengan begitu santainya sembari menaikkan kedua kakinya di atas meja. Ucapan pria itu sontak membuat bingung semua orang karena tak mengetahui maksudnya, namun Adith dan yang lainnya tak mengira kalau organisasi akan secara terang-terangan melakukan penyerangan ini. "Apa maksudmu? Game bertahan hidup? Hahahaha¡­ jangan bercanda. Kau pikir ini tempat untuk bermain-main?" Seorang pria yang duduk tak jauh dengannya segera berkomentar kesal. "Blarrr Sshhh!!!" Sebuah sinar kecil meledakkan kepalanya dengan begitu dahsyat sehingga darahnya menyiprat kemana-mana. "Aaaahhhhh!!!" Teriak beberapa orang wanita yang berada disana dengan penuh ketakutan. Beberapa orang pemimpin perusahaan yang berada bersebelahan dengannya segera gemetar ketakutan karena darah segar yang membasahi wajahnya. Bunyi senjata dari beberapa asisten serta pengawal pribadi para pemimpin yang berada dalam ruangan segera membuat ruangan cukup berisik karena saling todong antara orang-orang suruhan dari pria tersebut dengan para pengawal asisten pribadi mereka. Adith dan yang lainnya yang tak memiliki senjata tentu saja hanya bisa terdiam menyaksikan kejadian tersebut. "Sebaiknya kalian tidak melakukan tindakan bodoh karena senjata yang aku gunakan ini terlihat biasa. Meski kecil, tapi seperti yang kalian lihat kepala dia meledak dengan hebat. Kalian tidak ingin bukan jika sinar kecil ini aku sorotkan pada kepala kalian?" Ucapnya lagi dengan membolak-balik senjatanya yang terlihat cukup mutakhir dengan desain yang unik. "Apa yang kau inginkan?" Seseorang pria paruh baya yang terlihat sangat berwibawa dan tegas bertanya padanya. "Apa kau menginginkan uang? Ataupun Aset? Aku bisa memberikan semuanya padamu asal lepaskan aku." Seru pria yang lainnya dengan suara bergetar. "Jika kau menginginkan hal lain juga akan aku berikan padamu berapapun itu selama aku bisa sampai dengan selamat." Terang yang lainnya tak kalah takut. Berbagai tawaran pun terus bersahut-sahutan satu sama lain membuat pria itu tertawa dengan begitu besarnya. Dengan menatap semua orang sembari mengusap air mata yang tak nampak di wajahnya karena tertawa tersebut, dia segera berdiri. "Kalian benar-benar sampah yang sesungguhnya, ini akan menjadi sangat luar biasa melihat tingkah menjijikkan dari orang seperti kalian mati satu persatu di tempat ini." Tegasnya dengan menatap tajam ke seluruh ruangan tersebut. Alisya dan yang lainnya tanpa sepengetahuan mereka sudah melakukan pergerakan dengan sangat cepat dengan membuat penyelamatan kepada ribuan penumpang di dalam kapal pesiar tersebut. Meski tentu saja mereka terkendala dengan kurangnya anggota yang cukup untuk bisa benar-benar menyelamatkan mereka secara keseluruhan. "Tckk! Sepertinya ada tikus yang sudah mulai melakukan pergerakan secara diam-diam. Langsung saja kita mulai permainan yang akan disaksikan oleh semua orang diseluruh dunia secara langsung." Tepat setelah ia membanting handphone nya dengan penuh amarah karena mendapatkan gangguan kecil dari Alisya, puluhan kamera drone berbentuk serangga berterbangan di atas langit-langit meliput mereka satu persatu. "Apa yang harus kita lakukan saat ini? Kita terjebak dengan semua kecanggihan tempat ini." Riyan yang tak bisa bergerak dari tempatnya sebab Kaki dan tangannya langsung terikat oleh sebuah sabuk yang muncul dari bawah lantai tempatnya berdiri. Hal yang sama terjadi pada semua orang yang duduk maupun berdiri tepat di samping para pemimpin perusahaan tidak terkecuali Adith dan juga Ayah Alisya. "Tenanglah, kita masih belum boleh melakukan pergerakan agar kita bisa mengetahui seluruh rencana mereka dengan pasti." Gumam Zein dengan sangat pelan namun frekuensi ucapannya dapat diteruskan olehnya dengan sangat jelas. "Untuk saat ini kita hanya bisa mengikuti permainan mereka, namun tetap waspada karena mereka semua adalah Mutan dari organisasi BF" Adith segera mengingatkan mereka dan memberi tanda kepada teman-temannya yang lain untuk melakukan pergerakan. "Yang harus kalian lakukan adalah bertahan hidup dengan menggunakan apapun yang kalian inginkan, dan untuk salam pembukanya agar lebih meriah adalah.. ini." Tepat sebelum mereka dipindahkan ke beberapa ruangan labirin yang ada, suara gedebum ledakkan di atas dan di dalam kapal segera membuat tempat itu menjadi sangat mencekam. "Kalian hanya Memiliki waktu sampai matahari terbit, jika sampai saat itu kalian masih bisa bertahan hidup maka tentu saja kalian akan dibebaskan dengan selamat." Tambahnya lagi dengan senyuman licik. "Sampai ketemu lagi." Ucapnya sambil melambai. Mereka semua segera dimasukkan ke dalam ruangan yang berbeda-beda diselingi oleh makian dan hinaan serta teriakan tak ingin melakukan hal tersebut. Sedang Adith dan yang lainnya serta beberapa pemimpin perusahaan lain hanya bisa terdiam pasrah mengikuti permainan mereka. Chapter 434 - Terpencar "Gelap sekali¡­ dimana ini?" Suara Karin terdengar sedikit menggema saat berada dalam ruangan tersebut. Ia yang ingin melangkahkan kakinya mendadak di hentikan oleh Ayah Alisya. "Tetap di tempatmu, kita tak tahu apa yang sedang kita hadapi sampai keadaan benar-benar terang. Jadi sebaiknya kita memastikan lingkungan kita terlebih dahulu." Ucap Ayah Alisya sambil terus mempertajam indranya untuk mengenali keadaaan disekitar mereka. "Dimana pria bodoh itu? Kenapa aku tak mendengarnya bersuara sama sekali?" gumam Karin mencari keberadaan Ryu yang tak terlihat sama sekali. "Sepertinya kita sedang terpisah dengan dia.!" Tepat setelah Ayah Alisya menjawab pertanyaan Karin, lampu ruangan itu menyala dengan sangat terang. "Jangan bergerak!" ucap Ayah Alisya cepat saat mengenali tempat mereka yang berada di tengah-tengah ratusan ular berbisa. "Sial, aku hampir menginjak kepalanya." Karin kaget melihat satu ular kobra yang sudah berdiri tegap menghadap ke arahnya. "Organisasi sepertinya sengaja menyiarkan ini semua sebagai bentuk teror yang terencana. Karena jika pada biasanya orang-orang akan melakukan bom bunuh diri, mereka tak ingin kehilangan amunisi dengan hal konyol itu serta dengan melakukan hal ini tentu saja menjadi teror mental yang paling menakutkan." Ucap Ayah Alisya kesal melihat ke arah dua kamera yang berfungsi untuk merekamnya dan merekam Karin. "Tapi mereka tidak tahu kalau kita juga sudah merencanakan sesuatu untuk ini." Karin tersenyum simpul di tempatnya sembari memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk menyingkirkan ratusan ular tersebut. Apa yang sedang di alami oleh Ayah Alisya dan Karin juga terjadi pada beberapa orang lainnya termasuk Adith dan teman-temannya. Mereka bahkan bergerak secara perorangan di saat yang lainnya bergerak dengan dua atau tiga orang tim utuh. "Azura, tampilkan keberadaan teman-teman yang lain." Adith hanya bisa berbicara dalam dia untuk memerintahkan Azura yang sudah terhubung dengan frekuensi otaknya mengingat kondisi dia sedang direkam saat ini. Tanpa terlihat dari luar, mata Adith menampilkan peta seluruh labirin yang ada dimana titik-titik yang berwarna hijau adalah teman-temannya, titik berwarna biru adalah orang-orang yang berada di atas kapal dan yang berwarna kuning adalah mereka yang memiliki energi nano yang tak di kenali oleh Azura. Adith yang terpisah dengan yang lainnya segera mengirimkan sinyal untuk segera memulai rencana mereka dengan sebuah teks melayang yang tertulis di udara berkat lensa elektrik yang sudah dipasang di mata mereka masing-masing. "Aku akan mengirimkan kalian semua peta lokasi keberadaan kalian serta lokasi teman kita yang berada disekitar kalian. Temukan teman-teman terlebih dahulu dan bergabunglah dalam 3 orang pada satu kelompok sebab jika kita menemukan anggota organisasi yang belum kita ketahui kekuatannya, ini akan sangat berbahaya. " Tulisan mengambang yang di sampaikan oleh Adith kepada mereka sejenak membuat mereka kaget dann tak mengira hal itu akan terjadi. "Anak itu selalu saja bisa menciptakan hal-hal yang tak pernah terduga." Zein yang sedang berhadapan dengan seekor harimau belang berusaha untuk menjaga jarak. "Tidak buruk, sepertinya Zein berada dua ruangan di depanku." Ucap Riyan telah mengalahkan seekor gorila yang cukup besar. Satu pukulan yang Riyan berikan kepadanya sudah cukup untuk membuat Gorila tersebut jatuh pingsan yang membuat semua orang yang menonton merasa takjub begitu pula dengan orang-orang organisai. "Bagaimana mungkin aku mendapatkan hal yang paling sial dengan berada di atas tempat yang di kelilingi oleh hiu seperti ini? Bagaimana mungkin aku harus keluuuuaaarrr!" Yogi yang belum selesai mengeluh jatuh dari tempat pijakannya ke dalam akuarium berisi 3 ekor hiu yang terlihat ganas. "Lalu bagaimana kami menentukan orang-orang yang akan menjadi timku?" tanya Ryu masih terus saling dorong dengan se ekor beruang kutub yang besar. "Apa kami bisa bergerak sesuai dengan orang terdekat? Sebab sepertinya seseorang yang bodoh sedang membutuhkan bantuan sekarang." Rinto yang sedang berhadapan dengan puluhan panah panas yang melayang setiap kali melangkah terlihat sangat terburu-buru menuju ke ruang dimana Yogi berada. "Elvian akan dibantu oleh Azura akan mengarahkan kalian menuju tempat yang harus kalian datangi agar kita lebih bisa memasimalkan kekuatan kita. Untuk saat ini Alisya dan yang lainnya sudah memberikan kapsul kapal selam yang tak sengaja aku bawa dalam jumlah besar untuk bisa mengefakuasi para penumpang kapal." Jelas Adith sudah berada di luar ruangan menuju ke tempat dimana Alisya berada. Adith sangat yakin dengan menunjukkan kekuatannya terlebih dahulu, orang-orang organisasi akan menargetkannya dan mengabaikan Alisya untuk sementara waktu sehingga Alisya memiliki waktu untuk melakukan rencananya. "Ada satu hal lagi yang harus aku perlihatkan." Adith kembali mengirimkan sebuah gambar hologram yang menunjukkan rute perjalan kapal tersebut yang langsung membuat mereka tercengan hebat. "Kapal ini terlihat bergerak secara otomatis dimana tujuan akhirnya adalah¡­ Gunung Yamanagi?" Ayah Alisya tersentak melihat tujuan akhir dari kapal tersebut. "Kenapa paman? Ada apa dengan kapal itu?" tanya Karin melihat wajah panik Ayah Alisya dengan dia yang terus saja melempar ular-ular berbisa tersebut ke dinding ruangan dengan keras. "Gunung Yamanagi adalah gulung dengan tebing-tebing yang menjulang tinggi. Selain itu Arus ombak disekitar gunung begitu kuat dan deras yang jika kapal ini menabrak gunung itu tentu hantaman yang cukup keras akan terjadi dan menghancurkan kapal ini berkeping-keping." Ucap Ryu yang sudah berhasil mengalahkan beruang kutub yang di lawannya. "Brengsek! Jadi jika kita tidak keluar dari kapal ini pada saat matahari terbit, maka kita kan meledak bersama dengan kapal ini?" Zein sudah membuat Harimau itu kembali terkunci di dalam kandangnya tanpa melakukan hal yang menyakitkan padanya. "Organisasi cukup hebat karena bisa membajak kapal yang memiliki pertahanan cukup tinggi di kapal ini. Aku bahkan tak mengira kalau mereka bisa mengendalikan kapal ini dengan sangat mudah." Riyan terus berbicara sembari mengalahkan satu atau dua orang yang tak sengaja berpapasan dengannya. "Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi, Aku masih belum bisa menghubungi yang lainnya karena medan magnet yang ada ditempat ini menghalangi alat komunikasiku dengan anggota Alisya. Tapi melihat Azura bisa menentukan posisi kalian dengan tepat, aku yakin Elvian tahu akan apa yang harus ia lakukan saat ini." Tegas Adith yang harus menghancurkan beberapa robot yang membawa senjata yang sedikit aneh bagi Adith. "Sepertinya kapsul yang kau berikan akan sangat berguna, aku harap satu orang tolol itu ingat untuk menggunakan kapsul tersebut mengingat ia sedang berada di dalam air saat ini." Tegas Rinto yang berusaha menuju ke tempat Yogi namun masih terhalang oleh banyaknya robot-robot yang tak berhenti menyerangnya. Chapter 435 - Jurus Tamparan Kaki "Arggghhh¡­ Kenapa ular-ular ini tak ada habisnya?" Karin mulai sedikit kelelahan karena ular-ular tersebut tak berhenti terus mendatanginya dengan sangat cepat. "Hewan-hewan ini sepertinya berasal dari Zoopark yang berada dalam kapal ini. Tak ku sangka kapal ini bisa membuat hewan-hewan ini berada di atas kapal dengan keadaan tetap segar meski berada di tengah lautan yang seharusnya dapat membuat hewan-hewan ini mabuk lautan." Ayah Alisya juga terus saja menjauhkan ular-ular tersebut dari sekitar mereka. "Sepertinya karena hewan-hewan ini diberikan semacam sebuah obat khusus yang dapat membuat mereka bisa bertahan bahkan dalam cuaca ekstrim sekalipun. Dilihat dari pupil mata ular ini saja, ular berbisa biasanya memiliki mata yang berbentuk ellips atau lonjong seperti mata pada kucing." Karin mengangkat satu ular derik yang sudah setengah pingsan karena ia menggenggam kepala ular itu dengan kuat. "Tapi ular-ular ini memiliki pupil mata yang bulat." Terang Ayah Alisya setelah melihat lebih jelas pada ular ular tersebut. "Ular berbisa memiliki ciri-ciri, bentuk kepala segitiga dan luas atau gemuk, Tubuh lebih berpola dan berwarna-warni, Ekor berderik, Ada lubang di antara hidung dan mata sebagai penginderaan panas pada moncongnya, Sisik-sisik di bawah ekor tidak terbagi dua polanya. Perilaku aneh, gerakan lambat dan tenang." Jelas Karin menunduk mengamati sejumlah ular yang berada disana. "Selain itu, Ular berbisa biasanya beraktivitas pada malam hari (nocturnal). dengan taring bisa, racun mematikan. Membunuh mangsa dengan menyuntikkan bisa. Setelah selesai menggigit mereka masih tinggal di tempat. Tetapi ada juga beberapa ular yang memiliki pengecualian terhadap ciri-ciri yang sudah saya katakan." Tambah Karin sekali lagi. "Tetapi ular-ular ini memiliki sedikit ciri yang berbeda dengan gerakan yang sangat cepat dan juga ganas serta tetap bergerak liar meski sudah menggigitku." Ayah Alisya mangkat satu ekor ular yang masih terus bergerak dengan ganas di tangannya. "Benar, sepertinya pemberian obat dengan dosis yang cukup banyak memiliki pengaruh pada tubuh mereka. Hal ini lah yang membuat ular-ular ini terlihat lebih ganas dan cepat." Jelas Karin yang sudah tidak bisa menyingkirkan ular-ular tersebut. Karin memilih untuk membunuh ular-ular tersebut agar bisa menghilangkan penderitaan mereka karena meski mereka bertahan hidup, pengaruh obat-obat tersebut sudah cukup untuk membuat mereka mati secara perlahan-lahan. "Bahkan pada hewan sekalipun mereka dengan begitu mudahnya melakukan penelitian seperti ini." Ayah Alisya mengepalkan tangannya dengan marah melihat ratusan binatang melata yang tak bersalah dan langka tersebut mati sia-sia. "Dasar orang-orang yang tidak berprikebinatangan!!!" Teriak Karin kesal yang langsung membuat telinga Adith dan yang lainnya berdengung kuat. "Sepertinya kau tidak hanya marah pada orang-orang oerganisasi, dari tadi aku melihatmu tampak gusar dan penuh amarah." Tebak ayah Alisya yang langsung membuat Karin berhenti sejenak. Tebakan Ayah Alisya tepat pada sasarannya. Karin saat itu memang sedang marah besar kepada Ryu yang kembali tak mengatakan apa-apa setelah Ia sadarkan diri sebelumnya. Karin tidak suka dengan sikap diam Ryu yang terus saja menutupi perasaanya sehingga Karin tak tahu mana yang benar dengan mana yang hanya omong kosong belaka. "Maaf Tuan saya terlambat untuk datang menghampiri anda." Ryu yang membuka pintu ruangan dengan satu tendangan kuat membuat keadaan semakin canggung. "Apa kau baik-baik saja? Kau tidak tergigit oleh ular-ular itu bukan?" tanya Ryu khawatir melihat semua uular-ular berbisa yang berada di ruangan itu. "Apa pedulimu?" Bentak Karin penuh amarah. Karin keluar dengan penuh amarah melupakan Ayah Alisya yang sebelumnya mengalami gigitan ular. "A.. Ada apa dengannya? Apa aku salah dalam bertanya? Apa karena aku datang sangat terlambat?" Gumam Ryu yang melihat punggung Karin sudah menghilang dari sana. "Wanita tidak hanya butuh perhatian, mereka juga butuh yang namanya kata-kata sebagai penguat atas tindakan yang kamu lakukan. Kamu harus banyak belajar dari Adith, meski apa yang dikatakannya kadang terlalu terbuka tapi apa yang dia katakan adalah apa yang juga ia rasakan." Ayah Alisya menepuk pundak Ryu untuk memberinya nasehat yang membuat Ryu menatap dengan bingung. Ia tak tahu seperti apa, namun pikirannya mengarah kepada dirinya yang selama ini selalu mendiamkan Karin namun tak bisa berhenti untuk tidak bersikap peduli kepadanya. Tepat setelah mereka keluar, Karin masih berhadapan dengan beberapa anggota organisasi yang tidak begitu kuat yang menghalanginya untuk menuju ke ruang berikutnya. "Dibelakangmu!" teriak Ryu cepat mengingatkan Karin. "Jurus tamparan kaki!!!" Karin berkata dengan keras dan penuh amarah dan menaikkan tendangan berputarnya yang langsung mengenai wajah penyerang itu dan membuat tubuhnya juga terbang melayang berputar menghantam dinding dengan keras. "Umph!" Ryu berpaling karena Karin melakukan tendangan saat ia masih menggunakan gaun hitam yang cukup seksi sehingga paha putih mulusnya terlihat dengan sangat jelas. Meski ia memakai celana pendek, Ryu tetap merasa tak sopan jika tetap melihatnya. "Jurus penghancur BIJI!" lanjut Karin lagi melakukan tendangan bawah yang sangat keras yang langsung mengenai dua bola masa depan si pria yang menyerangnya. "Euuuuuu!!!" Mereka semua berkata serempak dengan tubuh ngilu mendengar apa yang dikatakan oleh Karin serta teriakan seorang pria yang tertahan dengan sangat hebat. Adith dan yang lainnya bahkan sempat menyilangkan kaki mereka saat Karin meneriakkan kata-kata tersebut sedang Ryu dan Ayah Alisya yang melihat secara langsung kejadian tersebut merasakan Aliran listrik yang ngilu di sekujur tubuh mereka. "Jangan pernah membuat seorang wanita marah jika kau tak ingin 2 bola kebanggaanmu itu menjadi lepes sepertinya." Ayah Alisya melangkah dengan goyah seolah merasakan rasa nyilu yang sama. Ryu menelan ludah dengan susah payah melihat sikap penuh amarah yang dikeluarkan oleh Karin dihadapannya. "Matilah aku!" "Allrrppph Allrepphh" Suara Yogi yang sedang berusaha untuk menghindari hiu-hiu yang ada di dalam air tersebut membuat Rinto semakin mempercepat gerakannya. "Satu orang bodoh yang akan kehilangan masa depannya dan satu orang bodoh lagi yang akan kehilangan nyawanya jika aku tak menemuinya secepatnya." Ucap Rinto sudah mendekati ruang dimana Yogi berada namun masih cukup sulit baginya untuk menembus semua penghalang yang ada. "Maaf butuh waktu lama untuk bisa kembali terhubung dengan kalian, Rinto cepatlah ke ruangan Yogi. Aku akan membukakan jalan untukmu karena sepertinya Yogi sudah mulai kelelahan dan tenggelam sekarang." Seru Elvian ketika alat komunikasi mereka sudah mulai terhubung. "Karin, belok kiri dan temukan beberapa serum yang bisa kau jadikan sebagai obat untuk mengobati Ayah Kapten yang sudah tergigit oleh ular tersebut sebelum terlambat." Lanjut Elvian lagi terus memberikan mereka arahan akan tempat yang harus dilewati. Chapter 436 - Menggemparkan Dunia Karin yang mengikuti arahan dari Elvian segera mendepatkan ruangan yang dimaksud olehnya. Dengan sedikit pekerjaan yang cepat, Karin sudah bisa menciptakan serum yang adapt ia gunakan untuk menghentikan penyebaran racun yang berada di dalam tubuh Ayah Alisya. Meski memiliki ketahanan terhadap racun, namun Ayah Alisya tetap akan mengalami efek dari racun tersebut berbeda dengan Alisya yang sel-sel darah putih dalam tubuhnya bahkan bisa menghancurkan berbagai jenis racun yang masuk. "Prangg.. Bluuurrr" Rinto menendang dengan sangat kuat kaca Akuarium yang berisi hiu-hiu ganas yang hampir saja akan menggigit Yogi jika Rinto tak sampai pada waktunya. "Ohokk Ohokkk" Yogi terbatuk-batuk dengan sangat hebat setelah berhasil keluar dari akuarium tersebut dan mengambil nafas dala-dalam. "Pletakkk plettaakkk pletaaakkk" 3 ekor ikan hiu itu masih terus berusaha untuk mendekati Yogi dan Rinto dengan ganas, sehingga Rinto menendang mereka dengan sangat keras hingga menghancurkan ruangan disebelah mereka. Dari balik rungan tersebut bisa dilihat oleh Rinto beberapa orang yang terbunuh dengan begitu ganasnya karena lilitan kawat berduri yang sangat tajam. "Hebat¡­ Kalian semua hebat!" sebuah suara yang sudah mereka kenali sebelumnya menggema dengan sangat keras diseluruh ruangan kapal. "Dalam waktu yang sesingkat ini, sudah ada sekitar 200 orang yang masih bertahan hidup. Tak ku sangka masih menyisakan angka kehidupan yang cukup banyak." Lanjutnya lagi dengan suara yang begitu heboh. "Tapi kalian masih harus melewati beberapa tahap lagi. Lihatlah dunia, lihatlah kehebatan kami yang sebenarnya." Tegasnya sembari memperlihatkan beberapa orang yang berjalan dengan tegap di koridor kapal yang terlihat sangat kuat dan terlihat berbeda. Mereka semua tampak seperti mutan dengan perawakan yang tak terlihat seperti manusia lagi, melainkan gabungan dari hewan dan manusia serta tampak jelas perbedaan fisik dari tatapan mata serta volume otot mereka yang sedikit aneh. Seluruh dunia yang menyaksikan Adith dan yang lainnya menjadi orang-orang yang sangat mendapatkan dukungan yang paling banyak mengingat mereka tidak hanya berhasil bertahan hidup dengan semua bahaya yang menghadang, namun mereka juga bisa menyelamatkan banyak orang. "Berjuanglah¡­ Jangan menyerah." Ucap seseorang yang menyaksikan siaran tersebut dari sebuah Tv umum yang terpampang disebuh gedung yang menghadap ke jalan. "Lihatlah, bukankah mereka adalah orang-orang yang cukup penting?" beberapa dari masyarakat mulai meributkan semua anggota yang berada di dalam kapal pesiar tersebut, terlebih karena mereka melihat Zein yang menjadi gubernur mereka juga berada di dalam kapal yang sama dan mengalami hal yang mengerikan. Berita mengenai apa yang terjadi di dalam kapal pesiar yang begitu megah dan mewah dengan semua tekhnologi serta keamanan tingkat tinggi yang masih dapat dibajak tersebut segera menggemparkan seluruh lapisan masyarakat yang ada tidak terkecuali Aurelia dan teman-teman Alisya yang lainnya. "Gubernur sangat hebat, dia bisa mengalahkan mereka dengan sangt mudah. Aku tak pernah mengira kalau gubernur memiliki kekuatan sebesar itu." Pembicaraan mereka semakin luas baik itu mengenai Zein maupun semua orang yang berada di dalam permainan termasuk seluruh penumpang yang ada disana. "Cepat temukan lokasi kapal tersebut, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?" pemimpin kepolisian segera melakukan pertemuan mendadak untuk membahas apa yang sedang terjadi di dalam kapal pesiar megah tersebut. "Kenapa mereka bisa meretas seluruh stasiun Tv yang ada? Dari mana mereka melakukannya?" tambah yang lainnya mulai mengarahkan agar retasan siaran tersebut segera di hentikan untuk mengurangi kepanikan masyarakat. "Apa tidak ada cara lain untuk menghentikan seluruh siaran ini?" perintah yang lainnya dengan wajah kebingungan. "Ini terjadi secara global, mereka tidak hanya menyebarkan siaran ini melalui Indonesia saja, melainkan secara Global yang menyebabkan kepanikan diseluruh dunia." Ucap yang lainnya setelah menampilkan monitor siaran Tv dari berbagai negara yang membahas kejadian yang sama. "Lakukan sesuatu untuk menghentikannya. Apa tidak ada seorangpun yang bisa melakukan ini?" tanya seorang yang berpangkat lebih tinggi dengan suara yang keras. "Pak, ada seseorang yang ingin terhubung dengan Anda." Seseorang membawakan sebuah handphone hologram kepadanya. "Dari siapa?" tanyanya masih terus fokus memberikan perintah tak ingin diganggu. "Tuan Muda Narendra, katanya ini sangat penting dan hanya ingin berbicara dengan Anda secara langsung." Terangnya sembari kembali menyodorkan handphone hologram tersebut kepadanya. "Aku tak tahu siapa dia, katakan padanya kalau kita sedang dalam keadaan genting sekarang." Tegasnya mengabaikan telpon tersebut. "Jika yang dia maskud adalah Tuan Adith, Radithya Azura Narendra, maka tentu orang yang dimaksudkan adalah pria ini." Seseorang menampilkan gambar Adith pada layar utama mereka dengan sangat dekat. "Pria itu adalah seorang ahli tekhnologi yang memimpin perusahaan Narendra dan sudah banyak menciptakan alat-alat tekhnologi yang cukup canggih dan mutakhir." Ucap yang lainnya memperkenalkan siapa Adith sebenarnya. "Selain itu, sekarang dia sedang berada di dalam kapal tersebut karena menjadi salah satu tamu undnagan dalam kegiatan yang dilaksanakan di atas kapal tersebut. Saya rasa dia bisa membantu kita dengan kemampuannya sebab kita yang bahkan tak bisa mengetahui lokasi kapal tersebut malah dengan mudahnya dia bisa menghubungi kita." Seru salah seorang yang lainnya setelah memeriksa daftar oenumpang pada kapal pesiar tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, dia segera mengambil telepon tersebut dan memperbaiki suaranya agar tetap terlihat tenang dan penuh wibawa. "Halo¡­" ucapnya memberi salam kepada Adith yang berada di ujung telepon. "Anda pasti sudah tahu tujuan saya untuk menelpon Anda, salah seorang dari teman saya akan segera datang dan membantu kalian, tapi sebelum itu kami membutuhkan izin dari anda untuknya bisa mengakses secara menyeluruh. Jika tidak, anda tidak akan bisa menghentikan ini semua." Tegas Adith tanpa basi sembari terus melakukan pertempuran di atas kapal. "Ini bukan otoritas saya untuk memberikan izin, saya harus menghubungi pimpinan untuk bisa mendapatkan izin itu." Terangnya dengan nada suara ragu-ragu masih tak bisa mempercayai Adith. "Tentu saja, tapi saya tidak akan bisa menjamin jika masyarakat masih bisa terus-menerus menyaksikan apa yang terjadi di atas kapal ini akan baik-baik saja. Kepanikan global sedang terjadi disini, dan tidak ada waktu bagi anda untuk melakukan segala sesuatu dengan penuh pertimbangan. Satu detik saja terlewat, maka kita akan memberikan teror yang sangat mengerikan kepada seluruh masyarakat Indonesia." Adith terus memberikan penekan pada setiap katanya menandakan betapa gentingnya keadaan tersebut. Beberapa saat kemudian, Vindra sudah berada di tempat tersebut berdasarkan perintah dari Adith. Setelah terdiam beberapa saat, dia seolah tak punya pilihan lain selain menjatuhkan kepercayaan penuh terhadap apa yang akan dilakukan oleh Adith terhadap sistem yang ada pada mereka. Chapter 437 - Bantuan Dari Jauh Di suatu tempat di gedung kejaksaan tinggi Jakarta. "Tring¡­ ting¡­ ting¡­ ting¡­ ting¡­" Handphone transparan milik Aurelia terus saja berbunyi karena banyaknya chat yang masuk. Dia yang masih fokus dengan pekerjaannya tidak sempat membuka isi chat room grub mereka karena memilih mengutamakan pekerjaannya saat itu terlebih dahulu, sehingga dengan cepat dia mengambil Handphonenya dan mematikan nada deringnya. "Bzzztt,, Bzzzzttt,,, Bzzzttt" Terlihat sebuah panggilan dari Adora, namun saat ini ia tidak mengangkat panggilan tersebut karena harus segera menuju ke ruang sidang. "Apa yang kau lakukan disini? Apa kamu takut dan tidak berani untuk mengambil kasus ini?" Seorang pria berjas datang menghampiri Aurelia yang tengah sibuk mencari kelengkapan berkasnya. "Tckkk!" Aurelia memberikan respon dingin tak suka dengan kehadiran makhluk halus yang selalu saja mencari cara untuk menghantuinya tersebut. Kasus yang sedang dihadapi oleh Aurelia saat itu memang tergolong cukuplah berat dan susah sehingga banyak orang yang menghindari kasus tersebut namun beberapa dari mereka juga memperebutkan kasus tersebut sebagai batu loncatan untuk mereka. "Kau terlihat tidak siap, sudahlah kau tak perlu memaksakan dirimu. Kau masih terlalu muda dan baru untuk menghadapi kasus tersebut, bagaimana jika aku yang mengambil alih kasus ini?" Tanyanya dengan senyuman yang membuat perut Aurelia mual karenanya. Aurelia yang ingin menjawab apa yang dikatakan oleh pria itu tak bisa menahan lagi saat handphone nya terus bergetar. Setidaknya ia harus mengangkatnya untuk mengetahui mengapa mereka terus saja menelponnya secara bergantian. "Maaf, aku tak bisa menerima telpon seka¡­" belum selesai Aurelia berkata, suara Adora yang panik langsung menyuruh Aurelia untuk melihat siaran TV. Mendengar suara panik Adora, Aurelia memberikan sedikit waktu untuk mengikuti apa yang diarahkan oleh Adora yang langsung membuatnya tercengang dan kaget. "Jadi bagaimana apa kamu setuju untuk.. umphhhh, umpphh hummppph!!!" Dia berteriak marah kepada Aurelia yang sudah menyumpali mulutnya dengan berkas-berkas yang sebelumnya dibawah oleh Aurelia. "Kau ingin mengambil kasus ini bukan? Nih aku berikan padamu. Kamu harus bersyukur karena bertemu dengan orang sepertiku yang baik hati dan tidak sombong." Ucap Aurelia menepuk wajah pria itu dengan senyuman puas. Ia kemudian pergi meninggalkan pria itu disana yang mencak-mencak silat karena merasakan amarah yang sangat besar. "Dimana kalian sekarang? Bagaimana bisa hal itu terjadi?" Aurelia segera berlari keluar dari gedung untuk menemui mereka secepat mungkin. Berita mengenai teman-temannya yang sedang berada dalam bahaya dengan menghadapi Organisasi Black Falcon membuat mereka serentak ingin bertemu satu sama lainnya. "Gedung perusahaan Adith, Emi serta yang lainnya juga sudah berkumpul ditempat ini untuk membahas apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka dari jauh." Jawab Adora cepat sembari menatap teman-temannya yang lain yang sudah mulai terlihat sibuk menghubungi banyak orang. "Apa Akiko dan kak Karan juga berada disana? Kita pasti akan membutuhkan mereka berdua." Aurelia sudah memasuki mobilnya dan memacunya dengan sangat kencang menuju ke perusahaan Adith. "Ya, Akiko sedang terhubung dengan pak Yasashimura yang juga akan ikut dalam membantu kita. Karan dan Ayahnya serta kedua orang tua Adith juga semuanya berada disini untuk memberikan bantuan kepada mereka semua dari kejauhan." Jelas Adora lagi dengan cepat yang terpaksa harus mematikan panggilannya dan meminta Aurelia untuk segera bersama mereka. Tidak butuh waktu lama bagi Aurelia untuk sampai di gedung perusahaan Adith dimana semua orang sudah sibuk memberikan konfirmasi sana sini untuk apa yang harus mereka lakukan. "Aurelia, kamu sudah datang? Mereka semua ada di bawah." Ayah Yogi yang tak sengaja berpapasan dengan Aurelia segera mengajaknya ke ruang bawah tanah dimana tempat itu menjadi tempat khusus bagi Adith untuk menciptakan semua alat-alatnya. "Om, apa tante baik-baik saja?" Aurelia mengkhawatirkan ibu Yogi yang mungkin saja dia tidak sanggup melihat anaknya hampir mati diterkam oleh ikan Hiu. "Tidak perlu khawatir, dia baik-baik saja. Dia sangat tahu kalau mereka tak sendirian disana. Meski bukan berarti dia tidak mengkhawatirkan anaknya, tapi ada Alisya dan Adith disana. Keduanya tidak akan pernah membiarkan hal buruk terjadi pada teman-temannya." Ucap Ayah Yogi dengan penuh keyakinan. Begitu masuk kedalam ruangan, Aurelia merasa takjub dengan semua monitor hologram yang bertebangan di sana sini. Dari kejauhan dapat dilihat olehnya kalua teman-temannya sudah berada di sekitar sana. "Apa yang sedang kalian lakukan? Apa kalian punya rencana?" Aurelia masih belum paham dengan apa yang sedang dikerjakan oleh teman-temannya. "Azura!" Yani menarik sebuah hologram yang langsung membuat Aurelia terlonjak kaget saat melihatnya. "Tuan Adith memberikanku perintah untuk meretas sistem yang ada di kapal pesiar Quantum Of The Sea yang berubah tujuan yang semula akan sandar pada pelabuhan Tokyo malah menabrakkan diri pada gunung Yamanagi." Aurelia tidak memperhatikan apa yang dikatakan oleh Azura, dia hanya melambai lambaikan tangannya menembus tubuh hologram Azura yang tampak sangat nyata. "Apa Adith yang menciptakan ini?" Tanya Aurelia masih menatap takjub dan tak percaya. "Namanya adalah Azura, namun kami menyebutnya Jin Milenial." Jawab Yani singkat yang dengan gesit memberikan sebuah chip ke telinga Aurelia. "Semuanya yang sudah direncanakan oleh Adith akan muncul secara otomatis ke otakmu karena chip ini bisa memberikan informasi langsung ke dalam sistem sarafmu." Adora membantu Yani untuk memberikan penjelasan kepada Aurelia. Hanya dalam 5 menit saja, semua informasi yang ada pada chip itu sudah nasuk kedalam otak Aurelia sehingga dengan mengangguk pelan ia paham akan apa yang harus ia lakukan. "Dengan meng hack sistem kapal tersebut, kemungkinan terbesar adalah kita dapat membuat kapal itu berbelok dengan kekuatan penuh untuk setidaknya bisa menghindari tubrukan atau malah dapat membuat kapal tersebut berhenti tepat waktu?" Aurelia ingin memastikan apa yang sudah ia pahami. "Bukan hanya itu, dengan bantuan tuan Yasashimura kita bisa mengirimkan 3 unit kapal Kargo kelas A dan juga beberapa helipad untuk melakukan evakuasi terhadap penumpang kapal." Tambah Akiko memperlihatkan sebuah gambar satelit yang di berikan Azura. "Apa ini? Kenapa terlihat sangat banyak sekali memenuhi permukaan laut?" Tanya Aurelia bingung. "Itu adalah kapsul ciptaan Adith yang dapat berubah menjadi alat selam. Alisya sudah berhasil mengevakuasi sebagian besar dari mereka, namun hal ini tidak bisa berhenti sampai di situ saja sebab kapsul ini masih dalam tahap pengembangan." Jelas Ayah Adith memperlihatkan satu sampel kapsul yang dilihat oleh Aurelia. Melihat kapsul tersebut, Aurelia paham kalau kapsul-kapsul yang bertebaran di atas permukaan laut tidak akan dapat bertahan lebih lama sehingga mereka harus segera melakukan penyelamatan. Chapter 438 - Kembalilah Dengan Selamat Bersama dengan Akiko, Karan masuk langsung menghadap kepada Ayah Adith dan Ayahnya yang sedang menatap layar monitor yang sangat besar yang menunjukan lokasi kapal tersebut yang terhubung langsung dengan server yang sedang diretas oleh Vindra. "Semuanya sudah siap, kami berhasil mendapatkan 2 kapal kargo, 2 helipad dan 5 kapal penyelamatan yang akan segera menuju ke tempat kejadian. Kami akan berangkat sekarang juga." Terang Karan melaporkan semuanya kepada mereka berdua. "Bagus, kita tidak bisa menunda lebih banyak waktu. Dengan ini kita bisa meminimalisir korban yang ada, namun kalian harus tetap berjaga-jaga akan kemungkinan besar yang dapat terjadi." Ayah Adith mencoba mengingatkan mereka berdua. "Bawalah ini, aku sudah menyiapkan beberapa barang dan obat-obatan yang dapat kalian butuhkan selama disana." Ayah Karan memberikan sebuah koper yang berisi peralatan kedokteran yang cukup lengkap. "Aku akan ikut bersama kalian, bagaimanapun juga aku rasa dengan berada disini tidak akan membuatku tenang." Aurelia segera mendekati mereka dan menawarkan diri. Melihat Aurelia yang tampak bersikeras ingin pergi, Adora serta Beni pun mendekat dan menatap penuh keyakinan kepada mereka berdua. "Ku rasa semakin banyak yang membantu akan semakin baik." Terang Beni untuk diberikan kesempatan. "Aku mungkin tak bisa membantu banyak, tapi aku bisa menjadi asisten yang baik bagimu." Karan yang pergi sendirian membuat Adora menawarkan diri untuk membantunya. Selama bersama dengan Karin ia sudah melihat banyak hal dasar yang bisa ia lakukan dalam pertolongan pertama sehingga ia cukup yakin untuk bisa memberikan sedikit bantuan kepada Karan. "Tidak, ini cukup berbahaya bagi kalian. Kalian bahkan belum tentu dapat melindungi diri dengan baik." Karan menolak ketiganya karena tak ingin mereka berada dalam bahaya. "Kami sudah cukup banyak mengalami hal yang jauh lebih berbahaya dari ini. Apakah kak Karan pikir hanya karena hal ini bisa membuat kami takut?" Aurelia mengingatkan Karan akan banyak hal yang sudah mereka lalui. "Kami tidak akan terlibat dalam pertempuran, kami hanya akan membantumu." Jelas Beni terus berusaha meyakinkan Karan akan mengikutsertakan dirinya dalam misi penyelamatan. "Azura, analisis ketiganya seberapa berguna mereka jika ikut bersama dengan Karan." Pinta Yani yang langsung di tanggapi cepat oleh Azura. "40% melihat dari pengalaman tubuh serta daya analisis otak mereka serta ketenangan mereka." Jawab Azura dengan sangat rinci saat memindai ketiganya. "Setidaknya itu masih di atas nol persen bukan?" Adora menatap yakin kepada Karan. "Okeh,, aku masih tidak terbiasa dengan Azura yang selalu tiba-tiba muncul seperti itu dengan tampilan yang sangat nyata." Aurelia berjalan menembus Azura yang berupa hologram. "Ouh nona, kau bisa membuat hatiku sakit." Ucap Azura merajuk sedang Aurelia hanya menaikkan jari tengahnya. "Wanita itu semakin arogan saja. Oke baiklah, sepertinya tak ada yang bisa menahan kalian untuk ikut." Karan pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Aurelia. "Sepertinya aku akan jatuh cinta dengan tampilan Azura yang setampan itu." Bisik Feby kepada Gina menatap Azura takjub. "Meski dia hanyalah hologram tapi tampilannya yang sangat nyata membuatku tak mengira kalau dia hanyalah sebua AI ciptaan Alisya yang dimodifikasi oleh Adith." Ucap Emi masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Hapus liur kalian. Apa jadinya para laki-laki seperti kami jika pada hologram kalian sudah bisa tertarik?" Gani terlihat kesal melihat ketiganya terpesona pada Azura. "Hologram AI semakin terdepan¡­" Feby menatap dengan pupil berbentuk love. "Laki-laki buaya darat gulung tikar¡­" Gina tersenyum licik kepada Gani kemudian berbalik menatap Azura lagi. "Sialan!!!" Maki Gani kesal. "Pergilah, serahkan urusan yang ada disini kepada kami. Kalian lebih cocok untuk membantu secara langsung disana. Dan kami juga takkan kalah disini, karena kami juga pasti akan berperan penting disini." Meski Emi sangat ingin ikut bersama dengan mereka, namun dia memilih untuk mendukung mereka dari kejauhan. "Benar, kami juga akan berusaha yang terbaik menghentikan siaran ini sebelum mencapai puncaknya." Tambah Feby dengan penuh keyakinan. "Meski aku tak tahu pasti akan apa yang kami lakukan nanti, tapi kami tentu takkan tinggal diam melihat semua ini." Gani memberikan dukungan penuh kepada mereka semua. "Kembalilah dengan selamat, jika tidak kalian tidak akan pernah aku maafkan." Gina terlihat sedikit kesal kepada mereka yang terlampau berani namun ia tidak bisa menyalahkan mereka. Gina sangat paham akan besarnya resiko yang akan mereka hadapi saat berhubungan dengan organisasi, namun dengan bersama-sama mereka justru bisa lebih kuat dibanding dengan sebelumnya. "Awalnya kami sudah berpikir bagaimana caranya agar kalian tidak perlu untuk ikut terjun dalam bahaya seperti ini, namun melihat kalian seperti ini sepertinya tak kan ada pilihan lain." Karan menatap mereka dengan desahan menyerah akan keyakinan kuat mereka. "Melihat semangat kalian seperti ini, tentu akan membuat mereka juga semakin ingin berjuang dengan keras." Akiko menatap Karan dengan tersenyum senang. "Pergilah, kami akan terus membantu kalian disini." Melihat tatapan sendu Akiko yang berusaha untuk tegar melepaskan kepergiannya membuat Karan tersenyum simpul. "Tunggu aku, aku pasti akan kembali secepat mungkin." Karan langsung mengecup kening Akiko dihadapan mereka semua. "Eheemm.. aku semakin merasa sakit karena menjadi seorang jomblo." Gani terbatuk kuat melihat kemesraan keduanya. Ayah Adith dan yang lainnya hanya bisa tersenyum menatap penuh bangga kepada mereka semua yang sudah menjadi lebih dewasa dibandingkan dengan sebelumnya. Tanpa berlama-lama lagi, mereka segera berangkat dengan kecepatan penuh menuju ke tempat dimana Kapal pesiar tersebut berada. "Aurelia, bukankah harusnya kau ada sidang yang sangat penting malam ini? Aku dengar kalian sudah melaksanakan sidang itu sejak pagi tadi dan harus menyelesaikannya malam ini. Tapi kenapa kau malah berada disini sekarang?" Beni teringat dengan kasus besar yang sedang dihadapi oleh Aurelia. "Itu tidak penting, bukannya aku melalaikan pekerjaanku. Tapi tak ada yang lebih penting dibandingkan dengan itu, Lagi pula sepertinya orang itu sudah menggantikanku dengan baik saat ini." Aurelia hanya tersenyum simpul sembari terus melangkah mengikuti Karan. "Tapi dengan ini kau sudah menyia-nyiakan satu kesempatan besar dalam hidupmu. Apa kau yakin tidak masalah dengan hal tersebut?" Tanya Beni sekali lagi memastikan keputusan Aurelia. "Tentu saja tidak, karena aku punya kemampuan untuk bisa menciptakan kesempatan itu sendiri. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, tapi untuk saat ini marilah kita berjuang bersama-sama menyelamatkan orang-orang yang sangat berharga bagi kita." Terang Aurelia dengan menepuk pundak Beni. Beni menatap penuh kagum kepada Aurelia, meski wanita itu cukup bermulut tajam, namun terkadang kata-kata yang Aurelia ucapkan terdengar sangat dewasa dan menyentuh hatinya. Chapter 439 - Medan Pelindung "Brakkkk" seseorang masuk dengan terburu-buru. "Ada apa?" Tanya pria yang berada satu mejar dengan Adith dan yang lain sebelumnya. "Lihatlah diluar, sepertinya mereka sudah mulai bergerak saat ini." Ucapnya memberikan laporan. Diatas sana mereka sudah melihat banyaknya pesawat tempur yang siap untuk memberikan penyelamatan. Tak hanya helikopter dan pesawat udara, ada juga beberapa kapal viber yang sudah mengitari "Apa yang harus kita lakukan" tanya salah seorang dari mereka yang sudah berdiri di sebelahnya sedari awal memainkan peran sebagai asistennya. "Berikan salam selamat datang." Ucapnya tersenyum santai. Mereka langsung mengangguk pelan dan segera keluar dari tempat itu memberikan tembakan langsung yang dengan cepat membuat ledakkan besar di langit. Tak berhenti disitu, banyak tembakan serta ledakkan terdengar dari berbagai penjuru dari kapal selam menuju ke langit dan kapal disekitarnya begitu pula sebaliknya yang melakukan serang balik. Serangan balik yang mereka lakukan tampak tak menghasilkan apapun karena kapal tersebut memiliki pelindung yang membuat serangan mereka tak mengenai siapapun yang berada diatas kapal. Serangan yang kita lakukan tak menghasilkan apapun, kapten kami menunggu perintah selanjutnya." Seorang prajurit segera memberikan laporan terhadap kondisi mereka yang terus saja menerima serangan namun tak bisa melakukan serangan balasan. "Jelaskan lebih lanjut bagaimana hal tersebut bisa terjadi?" Perintah nya mengepalkan tangan dengan sangat marah. "Shield!" Jawab Vindra cepat sembari terus melakukan peretasan dengan layar hologram yang mengelilinginya. "Apa maksudmu?" Tanya nya dengan penasaran. "Kapal pesiar itu memiliki pertahanan yang sangat tinggi sehingga ia memiliki medan pelindung di sekitarnya untuk mencegahnya mendapatkan seragan atau benturan secara mendadak dari luar kapal." Jelasnya dengan terus terfokus pada layaranya. "Kalau seperti itu, maka harusnya kita tidak perlu mengkhawatirkan akan benturan yang terjadi. Kapal itu tentu akan baik-baik saja dengan ada medan pelindung tersebut." Terangnya merasakan adanya sedikit harapan. "Azura!" Panggil Vindra agar Azura bisa menjelaskannya kepada petinggi tersebut saat Vindea tengah sibuk dan terus melakukan peretasan dan penguncian sistem. "Medan pelindung pada kapal pesiar tersebut sudah diatur untuk menghilang ketika akan berhadapan dengan target yang sudah ditentukan yaitu tebing dari gunung yamanagi.". Terang Azura sembari menampilkan gambar hologram dari kapal pesiar dan tebing tinggi gunung Yamanagi. "Lalu apa yang harus kita lakukan? Jika kita tidak bisa menghancurkan pelindung tersebut, maka kita tidak bisa melakukan apapun terhadap seluruh serangan yang ada!." Dia membanting tangannya dengan keras karena frustasi. "Perintahkan mereka untuk menunda serangan dan berikan aku 5 menit saja!" Vindra tersenyum puas dan sangat menikmati perannya saat ini. "Apa maksudmu? Dengan membuat pasukan kita menunda serangan hanya akan membuat mereka¡­" dia belum menyelesaikan kata-katanya Vindra hanya berkata dengan santai. "Comen On Kapten, kami hanya memintamu untuk menunda bukan untuk mundur!" Senyumnya santai. "Kami?" Ia mengerutkan kepalanya mendengar ucapan Vindra saat sebelumnya ia sendirian berbicara. "Oke Tuan Adith, seperti yang sudah arahkan. Selanjutnya tinggal menunggu perintahmu.!" Vindra berkata dengan sangat semangat. "Sepertinya kau sangat menikmati moment ini, harus ku akui cara kerjamu lumayan cepat dan tidak buruk." Adith terus berjalan menuju ke bagian bawah dimana perangkat keras dari seluruh kapal terletak dan mulai menghancurkan kepingan-kepingan kecilnya. "Tentu saja, ini mudah bagiku jika mendapatkan arahan. Terutama jika itu darimu!" Tegas Vindra yang sedari awal sudah mengagumi Adith membuatnya ingin menjadi seperti dirinya. Dia menjadi sangat bersemangat jika itu sudah berhubungan dengan teknologi sehingga begitu mendapatkan kepercayaan dari Adith, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. "Apa yang sebenarnya sedang kalian rencanakan!?" Tidak mendapatkan jawaban dari Vindra membuat pemimpin tersebut menjadi semakin tak sabaran. "Menghancurkan medan pelindung tersebut." Jawab Vindra santai masih terus melakukan apa yang diarahkan oleh Adith. "Jika serangan yang dilakukan dengan beberapa misil bahkan tak mampu menghancurkan medan pelindung tersebut, bagaimana kalian bisa menghancurkannya?" Ucapnya menganggap remeh mereka. "Kami tidak memerlukan beberapa misil, karena cukup dengan satu virus saja sudah dapat menghancurkan medan pelindung tersebut." Jelas Vindra memberikan tatapan penuh keyakinan pada kapten tersebut. "Dengan virus yang di ciptakan oleh tuan Vindra menggunakan tekhnologi yang ada disini, tuan Adith dapat menyalin nya dan membuatnya serangan dari dalam dimana ia memerlukan satelit dari pemerintah untuk bisa menembusnya." Jelas Azura memberikan penekanan terhadap apa yang sedang mereka rencanakan. Tanpa memberikan bantahan lagi, dia segera melihat apa yang sedang dilakukan oleh Vindra yang dengan satu kali ketukan pada tombol enter, sebuah program terlihat sedang menyalin yang membuat secara perlahan medan pelindung yang tak terlihat tersebut mulai menghilang secara perlahan-lahan menampilkan cahaya berwarna biru yang terlihat menghilang. "Selesai" itulah yang tertulis pada layar hologram di hadapan Vindra. Tanpa basa basi lagi, dia segera memberikan perintah selanjutnya dengan melanjutkan serangan pada kapal tersebut. "Mereka sangat luar biasa!" Ucap salah seorang dari mereka yang melihat cara kerja Vindra yang sangat akurat. "Sistem melacak ada seseorang yang sedang berusaha meretas situs kapal ini. Mereka mencoba untuk menghentikan kapal ini. Sepertinya mereka berhasil menembus dan menghancurkan medan pelindungnya. " Terang salah seorang dari mereka saat dia terus saja memeriksa layar hologramnya yang menunjukkan banyak bahasa program. "Jangan khawatir, mereka tidak akan berhasil melakukannya karena rencana kita sudah hampir berhasil. Kau hanya perlu menghambat mereka, mereka hanya memiliki beberapa jam lagi sampai kapal ini benar-benar meledak dengan sangat indah." Ucapnya berdiri dari tempatnya. "Bukan hanya itu, kita punya beberapa orang penganggu yang diluar dugaan. Mereka tampak cukup membuat beberapa orang-orang kita kesulitan dan bahkan mereka berhasil membereskan serta merusak beberapa rencana kita." Si Asisten yang semula mendapatkan telepon segera memberitahu pria itu lagi. "Lanjutkan." Ia segera berjalan menuju buritan kapal untuk melihat apa yang sedang terjadi. "Mereka tidak hanya meretas kapal ini, tapi mereka juga berhasil menyelamatkan beberapa penumpang menggunakan kapsul yang terlihat banyak mengapung diatas permukaan laut." Terangnya menunjukkan gambar seluruh kapsul yang terlihat tersebar di atas permukaan laut. "Meski mereka belum berhasil meretas kapal sistem pada kapal ini, tapi mereka sudah berhasil menghentikan siaran langsung yang kita tunjukkan sehingga saat ini apa yang kita lakukan sudah tidak diketahui lagi." Tambahnya lagi menampilkan gambar saluran televisi dan media sosial di seluruh dunia. "Sepertinya kita sedang berhadapan dengan sekumpulan orang yang merepotkan." Ucapnya setelah tertawa dengan sangat besar. "Bagaimana kalau kita buat lebih seru lagi?" Tanyanya menatap kepada pria yang berdiri di sebelahnya. "Huh?" Pria di sebelahnya hanya memicingkan matanya tak memahami apa yang dikatakannya. Chapter 440 - Hewan Nokturnal Pria itu hanya tersenyum sembari terus mengamati keadaan di sekitarnya yang terlihat semakin kacau balau dengan beberapa rencananya yang tak terduga mulai sedikit mengalami gangguan. "Matikan seluruh penerangan yang ada di kapal ini dan percepat waktu tabrakannya." Ucapnya mengambil salah satu tiang besi yang berada di sebelahnya dan langsung melemparkan besi itu hingga menembus 2 helikopter yang berada tak jauh dari hadapannya. Tempat itu seketika gelap gulita dan hanya ada cahaya lampu sorot dari beberapa helikopter yang terus melakukan serangan balasan pada bagian atas kapal. Beberapa pasukan juga berhasil di turunkan untuk mengamankan bagian atas kapal tersebut. "Ka¡­ Karin?" Ryu seketika terhenti saat tempat mereka berubah menjadi sangat gelap. Ryu tak bisa melihat dan mengenali keadaan disekitarnya begitu pula dengan ayah Alisya dan Karin. "Hati-hati, kita tidak tahu apa yang akan muncul berikutnya." Ayah Alisya segera mengingat mereka agar tidak melakukan gerakan yang salah. "Apa yang sedang terjadi?" Karin menekan alat komunikasinya agar bisa lebih jelas di dengarkan oleh semua teman-temannya. "Sepertinya mereka melakukan sesuatu dengan penerangan pada kapal ini." Seru Elvian yang langsung mendapatkan bidikan senjata saat menampilkan layar hologram sewaktu ingin memeriksa apa yang sedang terjadi. "Mereka mematikan mesin penerangan kapal ini, tapi juga mempercepat laju kapal ini. Sepertinya mereka ingin mempercepat waktu tubrukan antara kapal ini dengan gunung Yamanagi." Ucap Adith terus berjalan dalam gelap mengandalkan cahaya yang ada pada handphone hologramnya. "Pranggg!!!" Sebuah tembakan menghancurkan handphonenya yang beruntung tak mengenai dirinya. "Adith!" Karin kaget mendengar apa yang terjadi kepada Adith. "Aku baik-baik saja!" Jawab Adith cepat agar tak membuat mereka khawatir. "Sial, mereka benar-benar ingin membuat kita berjalan dalam kegelapan." Seru Yogi kesal karena tak bisa melihat apapun. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Sulit bagi kita untuk bergerak dalam kegelapan seperti ini." Terang Rinto sembari terus mengamati situasi mereka. "Kami mungkin bisa mengarahkan kalian berdasarkan apa yang di tampilkan oleh Elvian, tapi kami takkan tahu siapa yang akan kalian hadapi nanti." Ucap Rafli memeriksa beberapa mesin yang mungkin masih bisa memberikan sedikit penerangan secara manual. "Tidak masalah, itu sudah cukup untuk membantu kami." Ucap Zein bersandar ke dinding dengan waspada. "Jika kita menggunakan senter ataupun penerangan lain, kita akan menjadi sasaran empuk dari para sniper. Kegelapan ini memang sangat merugikan sekali." Tambah Riyan lagi berusaha mempertajam matanya untuk bisa melihat sesuatu. "Padahal, meski tak dibuat gelap pun, hidup Riyan sudah cukup lebih gelap dari pada ini." Ucap Yogi meledek Riyan yang langsung membuat teman-temannya tertawa riuh. "Apakah kau ingin aku memasukkanmu ke tempat gelap selamanya?" Riyan mendengus kesal. "Aku akan menuju ke bagian mesin, kalian bisa urus bagian yang atas dibawah panduan Elvian. Soal penerangan, Bukan hanya sistem saja yang mereka rusaki, tetapi juga dengan mesin manualnya." Terang Adith menjelaskan situasinya kepada mereka. "Kalian semua baik-baik saja?" Suara Alisya seketika mengagetkan mereka semua. "Dari mana saja kamu? Kenapa dari tadi kami tidak mendengar suaramu!" Karin dengan cepat mengomeli Alisya yang baru saja terhubung dengan mereka. "Berhentilah marah-marah, jika kau seperti itu terus kau akan menjadi nenek tua." Seru Alisya cepat yang sedari awal sudah terhubung dengan mereka namun sengaja mematikan mikrophon miliknya dan hanya mendengarkan mereka saja. "Kapten, kami sudah menyelamatkan beberapa penumpang. Tapi sepertinya organisasi telah mengeluarkan beberapa hal yang merepotkan saat ini." Suara Jati yang tengah dalam pertempuran membuat mereka mendengarkan dengan serius. "Sial! Sepertinya kalian perlu melihat ini dan keluar dari sana secepatnya. Jika tidak ini akan menjadi sia-sia." Rendy mengirimkan sebuah gambar yang ia ambil dari atas kapal yang memperlihatkan beberapa jenis hewan yang tampak seperti mutan penyerang yang menghabisi beberapa tentara dengan sangat mudah. "Sepertinya diluar sudah menjadi medan pertempuran!" Terang Rinto melihat kondisi yang sedang terjadi. "Apa kalian bisa mendengarku?" Suara profesor Ahmad yang sedari tadi tidak terdengar akhirnya berbicara. "Profesor, dimana kau berada saat ini?" Tanya Alisya cepat mengkhawatirkan profesor. "Aku berada di satu ruangan yang tampaknya menjadi tempat bagi mereka melepaskan serum nano pada hewan-hewan itu." Jelasnya sembari memperhatikan sisa-sisa data dari penelitian yang masih ada. "Bagaimana kau menemukan ruang itu? Tempat itu sangat berbahaya, kau bisa saja¡­" Alisya yang khawatir dihentikan dengan gambar visual yang dikirimkan oleh profesor Ahmad. "Bisa kau lihat bukan, saat ini itu bukanlah hal yang penting. Berdasarkan kemampuan kalian dan data yang aku dapatkan dari tempat ini, sepertinya mata kalian bisa berfungsi dalam gelap." Terang profesor Ahmad kepada mereka semua yang membuat mereka terhenti sejenak. "Apa yang anda maksudkan adalah mereka melakukan penelitian dengan menggabungkan antara data hewan dan data manusia?" Tanya Adith menebak arah pembicaraan profesor Ahmad. "Benar, meskipun kejam. Hal ini juga bisa membantu kalian!" Terang profesor Ahmad singkat. "Apa yang harus kami lakukan?" Tanya Zein duduk berjongkok di koridor ruangan yang belum mengalami perubahan lagi. "Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa mata kalian juga bisa berfungsi dengan gelap, tapi sebelum itu kalian harus memahami beberapa hal kecil dulu sebelum melakukannya karena jika kalian salah maka resikonya akan sangat tinggi." Profesor sedang mencoba untuk memperingatkan mereka. "Meski begitu, kita juga tidak punya pilihan lain bukan?" Ucap Yogi yang mendapat persetujuan dari mereka semua. "Tidak masalah, kami sudah banyak melewati hal yang sangat beresiko. Hal ini sudah tidak akan membuat kami takut lagi." Tambah Riyan dengan penuh keyakinan. "Profesor, tentu yang yang jelas lebih tahu tentang kemampuan mereka yang sudah jauh berbeda dibanding sebelumnya." Ayah Alisya mengingatkan profesor Ahmad tentang apa yang sudah mereka lalui hingga bisa sampai seperti itu. "Baiklah, sepertinya aku sudah meragukan kalian. Pertama apa kalian tahu kenapa hewan-hewan nokturnal bisa melihat dalam gelap?" Profesor Ahmad mulai mengantar pengetahuan dasar mereka terlebih dahulu. "Hewan nokturnal atau hewan yang aktif dimalam hari bisa melihat dalam kegelapan karena ukuran mata mereka yang besar." Ucap Karin cepat. "Ukuran mata yang besar ini lah yang membuat pupil serta lensa mata juga ikut membesar yang memungkinkan untuk bisa mendapatkan cahaya meski dalam kegelapan sekalipun." Tambah Ryu masih terus meraba-raba sekitarnya dengan penuh waspada. "Benar, tapi kalian tentu tidak akan bisa memperbesar bola mata kalian hanya untuk melihat dalam gelap." Ucap profesor Ahmad yang dimaksudkan bahwa hal itu tidak mungkin untuk dilakukan. Apa yang dikatakan oleh profesor Ahmad menandakan bahwa ada jalan lain. Chapter 441 - Tapetum Lucidum Mereka terdiam sejenak tak tahu apa yang harus dilakukan dan mereka tak menemukan jalan lain yang bisa mereka lakukan saat itu untuk bisa melihat dalam keadaan gelap. "Tapetum Lucidum!" seru Zein mengingat sesuatu yang mungkin bisa mereka jadikan alternative lain. "Tapetum Lucidum? Bukankah itu adalah struktur mata yang terdapat pada mata kucing?" tanya Riyan mencoba memastikan apa yang dikatakan oleh Zein. "Benar, Tapetum lucidum terletak dibelakan saraf penerima cahaya atau fotoreseptor." Tambah Alisya yang sudah duduk ditempatnya sembari menutup erat matanya ingin melakukan sesuatu. Alisya tak ingin membuang-buang waktu sehingga begitu memahami apa yang dimaksudkan oleh professor Ahmad membuatnya untuk mencobanya terlebih dahulu agar bisa mengetahui resiko seperti apa yang bisa mereka dapatkan dan bagaimana cara untuk menghindarinya. "Struktur Tapetum Lucidum terbuat dari lapisan sel yang seperti kaca. Di dalamnya ada kandungan kristal yang dapat memantulkan cahaya yang masuk, kembali kesaraf penerima dan ke luar mata." Tambah Adith juga mulai melakukan hal yang sama setelah mulai memahami maksud dari professor Ahmad. Saat yang lainnya masih belum memahami apa yang harus mereka lakukan, Adith dan Alisya sudah bergerak satu langkah lebih dahulu untuk bisa menerapkan apa yang sudah mereka dengarkan. "Brakkk! Apa itu artinya hal tersebut yang menjadikan saraf penerima cahaya atau fotoreseptor bisa kembali mendeteksi cahaya?" ucap Elvian saat berhasil menerobos masuk kedalam ruang system yang mengatur perubahan yang terus terjadi didalam kapal tersebut hingga membentuk labirin. Dia berencana untuk mematikan system yang ada agar mereka bisa bergerak lebih bebas tanpa harus terjebak dalam satu labirin ke labirin yang lainnya yang terus saja menghambat pergerakan mereka. "Dengan begitu kita juga bisa memanfaatkan struktur yang berada dibelakang saraf penerima mata kita untuk bisa meningkatkan system kerjanya dengan membuatnya dapat menangkap dan mendeteksi cahaya!" tebak Yogi mulai memahami apa yang dimaksudkan oleh professor Ahmad. "Tapi bagaimana cara kalian melakukannya? Bukankah mata kita berbeda dengan kucing?" Rafli masih tak menemukan titik temu yang mereka maksudkan. "Untuk kalian ini tentu tidak mungkin, tapi kami memiliki energi nano yang bisa membuat kemungkinan tersebut dapat terjadi." Seru Rinto memikirkan hal yang dapat ia lakukan. "Bukan hanya itu, dengan energi nano yang ada kita tidak perlu memperbesar bola mata kita. Tetapi cukup dengan memperlebar pupil serta lensa mata agar cahaya yang masuk dapat lebih focus ke saraf penerima." Lanjut Karin juga mulai memahami akan apa yang harus dia lakukan. "Sekarang yang harus kita lakukan adalah bagaimana cara kita bisa membuat hal itu dapat dilakukan." Terang Ryu sedikit bingung. Meski paham akan apa yang harus mereka lakukan, tetap saja teori serta praktek adalah dua hal yang sangat berbeda dilakukan. "Hal yang kalian butuhkan pertama adalah memusatkan konsetrasi kalian dan meningkatkan energi nano kalian pada bagian mata." Meski tak memiliki energi nano seperti yang mereka katakan, tapi Rendy sangat paham akan apa yang dimaksudkan. Tepat saat itu, Alisya dan Adith sudah berhasil melakukannya sehingga begitu mereka membuka mata mereka, spektrum cahaya yang mata mereka tangkap memang sangat jauh berbeda dengan ketika terdapat cahaya yang mampu memantulkan warna berbeda, namun mereka bisa dengan jelas melihat apa yang ada disekitar mereka. "Benar apa yang dikatakan oleh Rendy. Setelah memusatkan energi nano pada bagian mata kalian, cobalah untuk konsentrasikan pada bagian pupil dan lensa mata serta bentuklah struktur yang mirip seperti tapetum lucidum yang bisa memungkinkan kalian untuk mendeteksi cahaya." Jelas professor Ahmad memberikan mereka pengarahan. Mendengar apa yang dikatakan oleh Rendy dan professor Ahmad, mereka semua dengan tenang mulai menutup mata dan mencoba untuk berkonsetrasi penuh dengan mengalirkan sebagian energi nano mereka kebagian mata. "Apakah hasil gambar yang akan mereka lihat akan sama dengan ketika mereka melihat dalam terang?" Jati tidak yakin dengan gambaran yang akan ditangkap oleh mata mereka hanya dengan melakukan hal tersebut karena bagaimanapun juga strukutur mata manusia berbeda dengan struktur pada mata hewan. "Ummhh.. sedikit jauh berbeda pastinya, karena yang terlihat semuanya tampak berwarna sama yaitu abu-abu. Akan tetapi kami jadi bisa melihat daerah sekitar lebih jelas dibanding menggunakan kacamata Night View." Terang Alisya bangkit dari tempat duduknya setelah berhasil melakukannya. "Sudah ku duga kau pasti akan melakukan hal yang sama. Bukan hanya itu, jika kau benar dalam meningkatkan cara kerja matamu, maka kamu bisa melakukan sensor cahaya inframerah yang bisa mendeteksi sensor panas yang dihasilkan dari tubuh seseorang." Terang Adith bangkit dari posisinya dan melemparkan pandangannya ke menembus ruang-ruang yang ada. "Jarak padangan kalian juga akan meningkat sangat tajam. Kau hebat bisa melakukan itu!" Tambah Alisya lagi yang merasa sangat takjub dengan kemampuan Adith yang meningkat pesat. "Baru mendengarkan penjelasanku kau sudah berhasil melakukannya?" tanya Adith juga tak kalah takjub dengan kemampuan Alisya dalam menyesuaikan kemampuannya. Alisya tidak menjawab dan hanya tersenyum sembari terus berjalan melewati koridor yang sudah tak mengalami perubahan lagi untuk beberapa waktu. "Kerja bagus Elvian!" puji Alisya kepada Elvian yang sudah berhasil menghentikan system yang mengubah kapal tersebut menjadi labirin. "Rafli, lindungi Elvian. Saat ini focus mereka adalah menghentikan laju kapal ini sebelum waktu tabrakan terjadi." Tegas Alisya yang langsung di anggukkan oleh Rafli yang sudah meluncur ke tempat Elvian berada. Dibantu oleh Azura dan data yang diterima dari Vindra mereka segera bekerja untuk menghentikan laju kapal tersebut dengan segala cara. Hal utama yang harus mereka lakukan adalah melakukan perang secara terbuka dengan orang yang sudah melakukan hal tersebut. Tidak mudah bagi mereka untuk meretasnya, namun bukanlah hal yang mustahil bagi mereka untuk melakukan semua itu terlebih karena Adith sudah berhasil memasukkan virus kedalam system kapal tersebut sehingga hal itu sangat memudahkan mereka untuk masuk kedalam system yang dikendalikan oleh organisasi. "Jati dan Rendy, kalian berdua segera menemui professor sekarang juga. Ada hal besar yang sedang datang meghampiri kita saat ini." Alisya yang mengeluarkan kemampuan deteksinya bisa merasakan akan adanya bahaya besar yang sedang menghampiri mereka. "Siap laksanakan kapten!" tegas keduanya yang segera masuk kedalam ruangan dan mencari keberadaan professor Ahmad. "Sepertinya pertempuran yang sebenarnya akan di mulai sekarang!" ucap Adith ketika merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Alisya. Mendengar beberapa jeritan orang disekitar mereka, Adith dan Alisya dengan segera melaju kencang menghampiri tempat sumber suara tersebut dan mendapatkan penduduk sipil yang berada dalam cengkraman beberapa mutan yang ganas. £¬ Chapter 442 - Ledakkan Besar "Meski kurang nyaman, tapi sepertinya ini bisa memudahkan kita." Zein membuka matanya bersamaan dengan Ryu dan juga Rinto. Satu persatu dari mereka berhasil melakukannya meski penglihatan mereka tidak sekuat dan setajam Adith dan Alisya, namun mereka bisa melihat lingkungan sekitar mereka dengan jelas. Persis seperti yang sudah dikatakan oleh Adith, apa yang mereka lihat tervisualisasikan dengan warna abu-abu. "ARgggghhh" Karin yang berteriak mendadak saat Ryu masih menyesuaikan matanya dengan cahaya disekitarnya membuat Ryu terlonjak kaget dan waspada. Bukan hanya Ryu saja yang kaget, tapi Zein dan yang lainnya pun tak kalah kagetnya. Bahkan Ayah Alisya yang berada tak jauh dari Karin segera memegang dadanya yang berdebar dengan sangat kencang akibat terlonjak kaget karena teriakan Karin. "Apa yang sedang terjadi?" tanya Ayah Alisya yang berada tak jauh dari mereka. Ia sangat khawatir mengingat keadaan mereka yang sangat gelap gulita dengan hanya dirinya saja yang saat ini tak bisa melihat apapun. Ayah Alisya yang tak bisa melihat apapun cukup kesulitan untuk memahami apa yang sedang terjadi namun detik berikutnya ia mendengar sebuah tamparan keras yang melontarkan seseorang di hadapannya. Angin berhembus yang melewati dirinya membuat Ayah Alisya sedikit memundurkan langkahnya dengan penuh waspada. "Tuan, tetap ditempatmu. Kita kedatangan musuh." Seru Ryu cepat mengingatkan Ayah Alisya agar tidak melangkah jauh darinya. Karin berteriak dengan sangat kencang karena ketika membuka matanya, wajah jelek yang berliur-liur menatap Karin dengan penuh nafsu terpampang jelas dihadapannya. Yang karena terkejut dia langsung melayangkan tamparan sekuat tenaga yang langsung menghempaskan sosok tersebut dengan cepat. Dihadapan mereka yang tanpa mereka sadari, beberapa orang organisasi yang tampaknya terlihat sedikit aneh dengan ciri-ciri yang diluar kewajaran membuat mereka dengan cepat bersikap waspada. Meski tidak begitu jelas, apa yang sedang mereka lihat saat ini bukanlah bisa dikatakan sebagai manusia, melainkan mutan yang menjadi gabungan antara manusia dan hewan dengan prilaku agresif. "Kau baik-baik saja?" tanya Ryu kepada Karin dengan sigap beridiri dihadapannya dan membentangkan tangan kanannya untuk melindungi Karin. "Aku tidak apa¡­ !!" Suara Karin tercekat dan tak bisa melanjutkan kata-katanya. "Ada apa? Apa ada yang terluka?" Ryu segera menoleh menatap kepada Karin yang setengah tertunduk dengan wajah menggelap. Tanpa disadari oleh Ryu, ternyata dia tidak sengaja menempatkan tangannya pada bagian dada Karin. Meski tak menyentuhnya dengan begitu erat, namun sentuhannya pada salah satu buah hangat itu sangat terasa di tubuh Karin terlebih karena tangan Ryu masuk menembus belahan dada seksinya. Entah bagaimana hal itu terjadi, karena sedang berhadapan dengan sesuatu yang mengerikan Ryu tak sadar kalau tangannya sudah masuk kedalam dimensi yang seharusnya belum disentuhnya saat itu. Hal itu sebenarnya dapat terjadi karena Karin memakai gaun yang sedikit longgar dengan belahan dada yang sedikit lebar serta posisinya yang sedikit miring dan terburu-buru membuat mereka tak sadar hal tersebut dapat terjadi. "Plakkk Plakkkk Plakkkk!!!" Tamparan bertubi-tubi membuat pipi Ryu memerah dan hidungnya mengeluarkan darah segar. "Oke, sekarang apa yang sedang terjadi? Bisakah kalian menjelaskan apa yang sedang terjadi?" tanya Ayah Alisya kebingungan karena tak bisa melihat apapun dan hanya mendengar suara tamparan sedari tadi. "Ehem¡­ tidak apa-apa tuan. Hanya sedikit gangguan saja!" Ryu berusaha membersihkan hidungnya yang tak berhenti mengeluarkan darah segar. Darah segar yang tak berhenti keluar bukan hanya karena tamparan Karin saja, namun karena gejolak jiwa mudanya yang kembali mengingat sentuhan hangat di tangannya tersebut. "Apa kalian baik-baik saja?" tanya Yogi juga sama bingungnya dengan Ayah Alisya yang mendnegar teriakan keras dari Karin dan mendengar ucapan Ryu yang mengatakan adanya musuh. "Tidak usaha khawatir, ada Ryu bersama mereka. Sebaiknya kita harus membereskan apa yang sedang ada dihadapan kita sekarang!" Rinto melihat beberapa mutan yang mungkin sama dengan apa yang sedang dihadapi oleh Karin dan yang lainnya. "Aku rasa kita sedang menghadapi situasi yang sama saat ini." Terang Zein menatap apa yang sedang mereka hadapi. "Kenapa mereka banyak sekali? Dari mana datangnya mereka ini?" tanya Riyan kaget dengan jumlah mereka yang cukup banyak. "Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk menguji kekuatan kita sudah sejauh mana kita berkembang!" ucap Zein sembari melemaskan tubuhnya bersiap untuk bertempur. "Rasanya kita sudah cukup banyak melakukan pemanasan dari tadi. Bagaimana kalau kita berlomba?" tantang Riyan kepada Zein untuk menghabisi mereka satu persatu. "Siapa takut!" ucap Rinto dan Yogi bersamaan untuk ikut dalam taruhan Zein dan Riyan. Mereka dengan penuh semangat dan dengan begitu mudahnya membereskan mutan-mutan tersebut seolah-olah bukanlah hal yang sulit dan bukanlah tandingan yang sesuai dengan kemampuan mereka yang sudah meningkat dengan pesat. "Puhhahahahahaha¡­ Tak ku sangka kalian memiliki kekuatan yang setara dengan anggota organisasi kami. Kalian bahkan mampu mengacaukan seluruh rencana kami yang sudah kami susun selama beberapa tahun ini." Suara seseorang yang sudah mereka dengan sebelumnya kembali menggema dengan sangat keras. "Tapi harus aku akui, akulah yang telah kecolongan untuk mencari identitas kalian sebelumnya. Dan sepertinya kalian tidak bergerak sendiri, melainkan ada seseorang yang sudah membantu kalin hingga bisa sampai ke tahap itu." Lanjutnya lagi yang mulai mengetahui kemampuan mereka satu-persatu. "seseorang? Apa yang dimaksud olehnya adalah Alisya?" tatap Riyan yang berkomunikasi menggunakan telepatinya kepada Zein. Sedang Zein hanya mengangkat bahunya pelan. Alat Adith sangat berguna dalam keadaan seperti itu saat mereka ingin berbicara satu sama lainnya tanpa menunjukkan gerak bibir mereka. "Jika yang dimaksudkan olehnya adalah kapten, maka tentu saja saat ini dia sedang berada dalam bahaya." Ucap Jati terhenti sejenak untuk mendengarkan. "Suara itu!" professor Ahmad terlonjak kaget begitu mendengar suara yang taka sing diteliganya. "Aku yakin dialah yang sudah mebuat kalian hingga sekuat itu. Melihat kekuatan kalian, sepertinya dia juga yang mungkin sudah menyuntikkan energi nano pada tubuh kalian serta mengajarkan kalian beberapa tekhnik pernafasan kepada kalian saat ini." Lanjutnya lagi dengan terus melakukan pelacakan untuk menemukan orang yang dimaksudkannya. "Profesor!!!" Jati dan Rendy bertatapan yang langsung melompat berlari sekuat tenaga menuju ke tempat professor berada. "Halo professor, butuh waktu juga untuk mengetahui keberadaanmu. Tak ku sangka kau benar-benar menghianati kami. Luar biasa sekali karena kamu berada ditempat ini tanpa terdeteksi, tapi sepertinya aku tidak ingin melakukan sedikit reuni denganmu." Serunya saat ia mengetahui kalau porfesor berada diruang penelitian mereka. "BOOOMMMM!!!" suara ledakkan yang langsung menggetarkan kapal serta menghancurkan sebagian badan kapal segera terdengar di segala penjuru kapal pesiar tersebut. Chapter 443 - Lanjutkan Pekerjaanmu Ledakkan itu mengguncangkan kapal yang membuat mereka sedikit terbentur di dinding kapal. Satu persatu dari mereka segera memasang wajah yang sangat serius dan tegang. "Ngiiinggg¡­" telinga Jati dan Rendy mendengung keras akibat dari ledakkan tersebut. Keduanya tinggal beberapa langkah lagi dengan ruangan dimana profesor Ahmad berada, namun dengan seketika terlempar jauh dan langsung membuat tubuh mereka menderita luka-luka yang hebat. "Rendy, Jati, apa kalian baik-baik saja?" Elvian segera berteriak kencang menanyakan keberadaan mereka. Alat yang dipasang oleh Vindra untuk mengetahui keberadan keduanya dan memastikan detak jantung keduanya tak terlihat sama sekali di monitornya. "Elvian, apa yang terjadi? Dimana ledakkan itu berasal?" Rafli segera menghampiri Elvian dengan kepala yang pening karena terbentur. "Lacak dari mana lokasi ledakkan tersebut!" Perintah Alisya yang sudah melangkah dengan penuh amarah. Ia tahu betul dari mana ledakkan itu berasal, namun Alisya memilih untuk Elvian memastikan terlebih dahulu dari mana ledakkan tersebut berasal. "Jati, Rendy? Kalian bisa mendengar ku? Apakah kalian baik-baik saja?" Tanya Elvian sekali lagi, namun karena tidak mendapat jawaban dari keduanya Elvian menatap tajam kepada Rafli. "Tidak ada pilihan lain, sebaiknya kita segera kesana." Rafli tidak bisa berada disana lebih lama lagi. Meski ia tahu kalau keduanya takkan mudah gugur begitu saja, Rafli tetap tidak bisa menyembunyikan rasa ke khawatirannya terhadap apa yang terjadi. "Azura, lanjutkan apa yang sudah aku programkan!" Pinta Elvian kepada hologram Azura di tablet miliknya. "Lanjutkan pekerjaanmu!" Suara Rendy memberikan Elvian perintah agar tetap melakukan pekerjaannya. Dia terbangun dari tumpukkan barang-barang yang hancur lebur disana. Begitu pula dengan Jati yang harus menyingkirkan satu lemari besar yang menimpa dirinya. "Kalian baik-baik saja?" Tanya Rafli kaget setelah mendengar suara Rendy. "Ya, kami baik-baik saja!" Tegas Jati setelah berhasil bangkit dari posisinya. "Bagaimana dengan profesor?" Tanya Elvian cepat memastikan keadaan Profesor Ahmad. Jati maupun Rendy tidak bisa menjawab apa yang menjadi pertanyaan Elvian. "Bagaimana dengan profesor? Kalian sampai pada waktunya bukan?" Tanya Rafli sekali lagi. "Maaf!" Jawab Rendy singkat yang langsung membuat Elvian dan Rafli jatuh terduduk. Mendengar apa yang dikatakan oleh Rendy, Alisya terhenti sejenak. Dia mengeraskan kepalan tangannya yang dengan seketika dia mengeluarkan energi yang sangat besar. "Alisya!" Tegur Adith cepat mengingatkan Alisya agar ia tetap bersikap tenang. "Maaf Dith, tapi aku tak bisa membiarkan mereka. Aku sudah berjanji kepada seseorang untuk tetap membawa profesor dalam keadaan sehat wal afiat." Seru Alisya tak bisa menekan amarahnya dengan baik. Ia teringat akan janjinya kepada Calleb sewaktu mereka akan menuju ke misi rahasia mereka, dan kali ini Alisya gagal melakukannya. "Ryu! Sebaiknya kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang, dan Karin! Bawa Ayahku keluar dari kapal ini." Ucap Alisya meminta pertolongan kepada keduanya agar ayahnya tidak terlibat dalam pertempuran kali ini. "Alisya, jangan remehkan aku. Meskipun aku sudah tua, aku masih memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dari pada dirimu." Ayah Alisya tidak suka diperlakukan sebagai orang tua yang tak bisa melakukan apa-apa. "Pertarungan ini sudah bukan lagi bagian dari pertarungan mu Pa, aku bukannya meremehkan bapak tapi ini.." "Kau pikir aku tidak bisa melakukan apapun saat ini hanya karena kalian bisa melihat dalam gelap?" Ayahnya mulai semakin jengkel dengan sikap mereka. "Aku hanya tak ingin kehilangan siapa-siapa lagi!!!" Teriak Alisya dengan sangat lantang. "Hanya dirimu keluarga yang aku punya sekarang. Ku mohon Bapak, mengertilah! Aku ingin bapak tetap hidup untuk terus melihat cucumu nanti." Alisya kembali bersuara dengan lembut membujuk Ayahnya. Mendengar apa yang dikatakan oleh Alisya, Ayah Alisya akhirnya luluh dan terdiam cukup lama di tempatnya. "Bapak tidak usah khawatir, akan aku pastikan Alisya tidak tergores sedikitpun!" Terang Adith memberikan keyakinan kepada ayah Alisya. "Tuan, kami sudah bukan lagi orang-orang yang hanya akan berdiam diri melihat nona berjuang sendirian." Tambah Ryu meyakinkan Ayah Alisya agar ia mau keluar dari kapal tersebut. "Ayolah paman, tidak ada yang meremehkanmu saat ini. Tapi apa yang dikatakan oleh Alisya benar." Karin mendekati Ayah Alisya untuk membujuk nya. "Paman tidak usah khawatir, tidak hanya Alisya, kami juga akan berusaha untuk menghentikan kapal ini." Tegas Zein juga ikut meyakinkan Ayah Alisya. Mereka semua paham betul apa yang dirasakan oleh Alisya saat ini mengingat profesor Ahmad lah yang sudah menyelamatkan hidup Alisya. Dan Alisya adalah orang yang sangat menjunjung tinggi sebuah janji yang sudah ia ucapkan. "Serahkan Alisya pada kami paman." Seru Yogi memainkan matanya kepada Rinto. "Kami akan pastikan kedua Pasutri ini mendapatkan bantuan yang sangat kuat!" Tegas Rinto tersenyum melihat ke arah Yogi. "Dulu kami hanya bisa menjadi beban saja, tapi sekarang tidak lagi. Pasukanku akan datang bersama bantuan lainnya." Tambah Riyan ketika melihat lencana miliknya berkedip-kedip aktif. "Dan kami juga tidak akan tinggal diam!" Elvian juga tak ingin kalah, meski sangat berduka karena tidak bisa menyelamatkan profesor Ahmad, mereka tak punya waktu selain terus berusaha menghentikan kapal itu untuk menyelamatkan lebih banyak orang lagi. Ayah Alisya merasa sangat terharu dengan kekompakan mereka semua. Tidak ada lagi alasan baginya untuk tidak percaya pada mereka semua sehingga ia terpaksa menyerahkan semuanya kepada mereka semua. "Baiklah! Hentikan semua ini dan buktikan pada mereka semua, bahwa kita juga memiliki kekuatan untuk bisa menekan mereka. Hentikan semua kekacauan ini dan kembalilah dengan selamat." Ayah Alisya bukan memberikan permintaan, melainkan perintah yang harus dipatuhi oleh mereka semua. Mereka semua langsung mengambil peran masing masing dengan bekerja lebih cepat. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu "Kau akan kemana?" Tanya Adith saat merasakan Alisya sudah melesat cepat menuju suatu ruangan. "Tuan Adith, Kapten sudah menganggap profesor sebagai orang tuanya juga. Meski tak bisa merasakan energi nano kapten, tapi aku tidak pernah merasakan amarah Kapten sebesar ini sebelumnya!" Rendy sedang mengingatkan Adith akan apa yang dilakukan oleh Alisya nantinya. "Maksud Rendy adalah saat ini hanyalah Tuan yang bisa menenangkan Kapten!" Tambah Jati yang mana keduanya sudah melangkah dengan tegar untuk terlebih dahulu memastikan kondisi tempat profesor berada. "Terimakasih banyak!" Ucap Adith langsung melesat cepat menuju ketampat yang sama dengan yang sedang dituju oleh Alisya. Tanpa perlu diingatkan oleh keduanya sebenarnya Adith sudah tahu akan bagaimana kondisi Alisya. Namun mendapatkan perhatian dari bawahan Alisya membuat Adith tetap ingin berterimakasih kepada keduanya. Adith juga merasakan emosi yang sangat besar sama seperti dengan apa yang dirasakan oleh Alisya. Chapter 444 - Siapa Wanita itu? "Brrakkkk" suara pintu ruang aula yang besar terbuka dengan sangat keras. "Ummm?" Tempat yang terlihat sedikit remang-remang tersebut tidak membuat mereka kesulitan untuk melihat siapa yang sedang berjalan masuk kedalam ruangan tersebut. Mereka menoleh dengan tatapan bingung karena melihat seorang wanita memakai gaun berwarna hitam dengan belahan paha yang seksi masuk kedalam ruangan tersebut. "Wowww? Kenapa ada wanita cantik dan seksi ini masuk ke tempat ini?" Ucap pria yang sudah meledakkan ruang profesor berada. "Dia terlihat sedikit berbeda, aku merasakan energi nano yang penuh amarah keluar dari tubuhnya." Asisten si pria menatap Alisya dengan tajam. "Hahahahha.. apa kau sedang bercanda? Mana mungkin seorang perempuan secantik itu memiliki energi nano yang besar. Sepertinya ada seseorang di baliknya yang memiliki energi sebesar itu." Pria itu tak percaya kalau Alisya lah yang memiliki energi nano besar tersebut. "Apa kalian yang sudah melakukan semua ini?" Alisya ingin memastikan terlebih dahulu sebelum menyerang mereka. "Huh?? Pufft.. Daripada kau menanyakan hal itu, bagaimana kalau kau bersamaku malam ini? Hibur aku. Moodku sudah cukup buruk malam ini." Pria itu memberi tanda untuk menangkap Alisya yang membuat Alisya tersenyum jengkel. "Pria seperti mu sepertinya perlu belajar banyak. Profesor Ahmad pernah menceritakan padaku kalau dia mengenal seorang anak laki-laki yang begitu ambisius dan serakah." Ucapan Alisya langsung membuat pria itu mengerutkan keningnya tak paham. "Tapi sepertinya yang aku lihat kau lebih dari itu, kau adalah sampah paling buruk dan bahkan kau harusnya produk gagal dari organisasi" tambah Alisya lagi dengan senyumnya yang menawan. "Profesor Ahmad? Hmmm.. jadi kau mengenal si tua bangka itu? Oh.. bukan tua bangka tapi bangkai.. hahahhaha puas rasanya bisa membunuh penghianat itu!" Pria itu tertawa dengan terbahak-bahak membuat Alisya mengepalkan tangannya penuh amarah. "Jadi benar kau yang melakukan semua ini?" Alisya mengambil pisau yang digunakan untuk makan di atas meja yang berada di sebelahnya. Alisya langsung melemparkan pisau menuju Pria itu yang dengan cepat ingin di lindungi oleh sang Asisten, namun pisau itu sebenarnya tidak ditujukan kepada Pria itu, melainkan pada orang yang sedang meretas sistem mereka. "Aku sudah menyelesaikan pekerja¡­ akhhh!" pisau Alisya langsung menembus mata hingga bagian kepalanya. "Kau sudah melakukan hal yang salah nona!" Pria itu mengeram penuh amarah melihat tingkah Alisya yang tanpa aba-aba melakukan serangan. Serangan itu dengan cepat membuat mereka semua menuju ke Alisya dan menyerangnya. Meski dengan gaun hitam nya, Alisya dengan lugas bisa membalas dan bahkan mematahkan leher serta menghabisi mereka satu persatu. "Tratatatattatatata¡­." Tembakan beruntun membuat Alisya harus melompat dari satu meja ke meja lain yang menghancur leburkan tempat tersebut. Alisya langsung mengambil senjata yang sudah ia sembunyikan di kedua pahanya yang dengan satu gulingan pendek, dia langsung menembak mereka satu persatu dengan bidikan tepat yang mengenai bagian fital mereka satu persatu dibagian kepala dan jantung. "Siapa wanita itu? Bagaimana dia bisa menghabisi mereka semua dengan sangat mudah?" Pria itu mengepalkan tangannya dengan keras. "Melihat dari kemampuannya, energi nano besar yang sebelumnya itu sepertinya benar berasal dari dia." Ucap Asisten nya mulai mengambil posisi bertahan. "Cihhhh¡­ Sampai kapan kau akan tidur disana? Bereskan wanita itu, aku tidak punya waktu untuk ini." Pria itu segera memberikan perintah kepada seseorang yang sedang terbaring tak jauh dari tempatnya berada. "Uggghhh,, apa yang kau lakukan hanya memerintah saja? Aku terlalu malas untuk melakukannya. Harusnya mereka bisa membereskan dia dengan mudah, apalagi kau bilang dia hanya seorang wanita." Dia hanya berbalik dan kembali tertidur di tempatnya. Alisya masih terus berhadapan dengan orang-orang organisasi yang bisa di ketahuinya kalau mereka semua masih berada pada level B. Begitu pelurunya habis pun dia masih bisa membereskan mereka yang tersisa 5 orang dari 40 orang yang sudah di habisnya. "Berapa banyak anggota organisasi yang berada di kapal ini?" Batin melihat 5 orang yang terlihat cukup kuat dengan level S. Tak disangka oleh Alisya kalau tempat itu masih memiliki banyak orang dari organisasi. Saat ia juga sudah cukup banyak melumpuhkan mereka semua. "Organisasi sudah salah mengirim orang tak berguna sepertimu dalam misi kali ini. Selama beberapa hari ini yang kau lakukan hanya bermalas-malasan saja." Ucapnya dengan tatapan menghina. "Dia sudah menyelesaikan pekerjaannya, kapal ini akan menabrak kurang lebih 1 jam lagi. Hitungan mundur sudah dimulai." Seru si Asisten telah selesai melihat apa yang dilakukan oleh anggotanya yang sudah tewas tersebut. Tepat setelah ia berbicara, lampu dari kapal pesiar tersebut kembali menyala dengan sangat terang. Wajah Alisya yang terlihat dalam cahaya temaram sebelumnya menjadi semakin jelas oleh mereka. "Sial!!! Apa lagi sekarang? Tak ku sangka tikus-tikus ini melakukannya dengan sangat baik dalam menghancurkan rencana kita." Pria itu melihat sekelilingnya dengan penuh amarah. Bersamaan dengan menyalanya lampu kapal tersebut, Alisya sudah duduk dengan anggun diatas tumpukkan tubuh 5 orang level A yang ia kalahkan dengan mudah. "Agggrhh.. jika seterang ini mana mungkin aku bisa tertidur!" Seorang pria bangkit dari posisinya karena kesal. "Huh! Aku pikir kau tidak akan terpengaruh hanya karena cahaya terang ini. Aktifkan bom nano yang sudah di sebar, kita sudah cukup bermain-main disini." Ucap si Pria kembali memberi perintah kepada Asistennya yang sedang memegang tablet anggota sebelumnya. "Kau pikir bisa pergi dari sini dengan mudah?" Alisya menyilangkan kakinya dengan begitu anggun. "Wow! Apa kau yang melakukan itu semua?" Tanya pria yang baru bangun dari tidurnya menatap Alisya dengan penuh takjub. "Pria itu..." Alisya ingat betul kalau pria itu adalah orang yang ditemuinya sebelumnya. "Aku memang sudah merasakan energi nano mu, tapi aku pikir itu adalah energi dari orang yang berbeda. Tak ku sangka kita bertemu lagi disini." Dia langsung berjalan mendekati Alisya. "Niel, Apa kau mengenal wanita jalang itu?" Tanya nya kesal melihat Alisya yang masih bersikap tenang meski nafasnya terlihat sedikit tersengal-sengal karena melawan 5 orang sebelumya. "Kenal? Ya.. sepertinya bisa di bilang kenal. Tapi tak ku sangka dia bisa menyembunyikan energi nano sebesar ini. Siapa kau sebenarnya?" Tatap Niel dengan penuh selidik. "Dia¡­ dia adalah Alpha!" Si Asiten itu menampilkan data hologram milik Alisya dan menatap ke arah Alisya dengan tak percaya. "Alpha? Wanita itu sudah lama mati, mana mungkin dia Alpha!" Ucap pria itu dengan tertawa pelan. "Ian!!!" Niel dengan cepat memperingatkan Ian untuk tidak menganggap remeh wanita dihadapan mereka saat itu. Chapter 445 - Super Hero Melihat wajah serius Niel, Iyan merasa bahwa apa yang dikatakan asistennya mungkin saja benar. "Tidak mungkin Alpha masih hidup, jika memang benar dia Alpha maka bukankah seharusnya organisasi sudah mengetahuinya lebih dahulu dibanding dengan kita." Ucap Ian masih belum yakin bahwa Alisya adalah Alpha yang mereka maksud. "Benar apa yang kau katakan, tetapi energi nano sebesar ini bahkan tidak dimiliki oleh anggota kita yang ada sekarang sudah tidak ada lagi perempuan yang memiliki energi nano di dalam organisasi." Niel yang sebelumnya merasa tertarik dengan Alisya kini memasang ekspresi tajam penuh waspada. "Hal ini disebabkan karena beberapa tahun yang lalu data mengenai penelitian itu dibawa pergi oleh Profesor Ahmad dan tidak tersisa sama sekali. Sehingga Organisasi kembali mengembangkan energi nano yang bisa dimasukkan ke dalam tubuh seorang pria." Lanjut Niel memberikan penjelasan kepada Ian. Bagi Niel, hal tersebut bukanlah hal yang mustahil mengingat tak ada satupun perempuan lagi yang memiliki energi nano dalam organisasi, terlebih dengan kekuatan energi nano sebesar itu. "Jika benar demikian, hal ini harusnya segera dilaporkan ke organisasi." Ian memandang ke Asistennya untuk melakukan pelaporan, namun alatnya seketika rusak oleh pisau kecil yang berada di tungkai heels miliknya. "Sial!" Ucap si pria melihat tablet yang di pegangnya hancur berantakan. "Tak kusangka alat ini berguna juga." Alisya melepas tungkai heelsnya yang sebelah lagi. "Kalian sudah cukup tahu banyak, sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu aku ragukan untuk menghabisi kalian." Alisya berdiri dengan menatap tajam kepada mereka bertiga. "Cih, meski apa yang kami ketahui dari organisasi bahwa kau adalah orang yang sangat menakutkan, tapi penelitian yang sudah di kembangkan oleh organisasi kepada kami jauh melebihi datamu yang sebelumnya." Ian segera melepas dan siap untuk bertempur. Dengan satu hentakkan kuat, Ian melesat dengan sangat cepat dan langsung menyerang Alisya yang dapat dengan mudah di tangkisnya lalu dengan satu pukulan kuat, Ian terpukul jatuh. Niel yang semula terdiam langsung mengeram mengeluarkan otot-ototnya yang besar layaknya gorila dan menghantam Alisya. Begitu Alisya menghindar, dari arah berlawanan Asisten Ia sudah menerjang dengan sangat kuat pula memberikan tendangan kepada Alisya. "Akhhh¡­" Alisya membentur dinding dengan kuat karena dua serangan yang sangat cepat tersebut. Dengan tertatih dia bangkit dari posisinya. Berkat memperkuat otot tubuhnya, Alisya tidak mendapatkan dampak yang kuat dari serangan mematikan keduanya. Alisya kaget melihat perubahan drastis dari ketiga orang tersebut. Asistennya terlihat memiliki sisik yang cukup keras pada bagian kaki dan tangannya yang dapat dirasakan oleh Alisya seolah kulitnya mengalami penebalan yang sangat kuat. Sedang Niel tubuhnya terlihat biasa saja namun pukulannya sangat cepat dan kuat. Otot-otot yang memadat membuat satu lesatan pukulannya mampu menghacurkan dan meremukkan benda keras dengan sangat mudah. Berbeda dengan Ian, seluruh tubuhnya berubah drastis dengan sekujur tubuh berwarna hitam legam seperti baja yang berjalan. "Kau terlihat terkejut dengan perubahan kami." Seru Ian tersenyum puas melihat wajah kaget Alisya. "Penelitian seperti apa lagi yang sudah dikembangkan oleh Organisasi? Kenapa kalian terlihat seperti super hero?" Alisya menatap mereka takjub yang langsung membuat Niel tertawa terbahak-bahak. "Kau orang pertama yang menganggap kami sebagai super hero!" Niel tak menyangka kalau respon Alisya akan se konyol itu. "Ya benar, super hero yang sedang membantai ribuan orang yang berada di atas kapal ini." Ia yang kesal mengeluarkan sesuatu dan melemparkan sesuatu ke atas tiang kapal pesiar. "Sepertinya kau sudah menyinggung orang yang salah. Sekarang akan sulit bagimu untuk keluar dalam situasi ini." Sang Asisten hanya menggeleng tak percaya kalau Ian akan mengeluarkan alat tersebut. "Apa yang sudah ia lakukan?" Tanya Alisya bingung. "Itu adalah Bom nuklir bertenaga nano yang dapat menghancurkan apapun yang diledakkannya. Bukan hanya menabrakkan kapal ini, dia bahkan berencana untuk membunuh semua orang yang ada disini termasuk mereka yang saat ini berada tak jauh dari sini." Jelas Niel yang langsung membuat mata Alisya membelalak tak percaya. "Kau tak bisa melakukan apapun lagi sekarang, karena hanya dengan membunuhku maka nuklir itu akan otomatis terhenti. Tapi itu tidak cukup karena kapal ini tetap pada tujuan awalnya." Ucap Ian dengan penuh percaya diri. "Kalau begitu aku hanya perlu menyingkirkan kalian bertiga dan menghentikan kapal ini dengan segera!" Seru Alisya mengepalkan tangannya dengan penuh amarah bersiap untuk menyerang. "Wussshhh¡­ Brakkkkk!" Alisya yang baru saja ingin maju untuk menyerang tiba-tiba sudah terpental dengan sangat kuat menembus dinding ruangan. "Kau salah satu hal tentang dirinya, dia memiliki kekuatan lain yang tidak kau ketahui." Tambah Niel yang juga melakukan serangan yang sangat mematikan kepada Alisya. Meski berusaha untuk terus menghindar, detik berikutnya pukulan kuat dia dapatkan dari Asisten Ian yang kemudian di lanjutkan dengan tendangan yang sudah diperkirakan oleh Alisya akan mengarah di hadapannya namun malah menghantam keras belakangnya. "Uhuukkkkh" Alisya kembali terpental dengan sangat kuat namun ia masih bisa berdiri dengan tegap. "Bagaimana bisa pukulan kalian kembali datang dari arah yang berlawanan?" Tanya Alisya masih bingung dengan situasi yang sedang di hadapinya. "Sudah kubilang kau tidak mengetahui kekuatan lain dari Ian. Dengan kekuatannya, kau takkan mampu mengalahkan kami dan hanya akan berakhir dengan tragis." Terang Niel berjalan ke samping melihat kesempatan untuk menyerang. "Sial, jika hanya Asistennya itu, aku masih bisa menanganinya. Tapi orang yang bernama Niel ini sangat kuat, sulit bagiku menyerang mereka dengan kerjasama mereka yang sangat bagus." Alisya terpaksa menyobek gaunnya agar bisa bergerak lebih leluasa lagi. Untunglah dia memakai celana pendek sepaha berwarna hitam sehingga ia tidak perlu ragu-ragu untuk menyobek gaun panjangnya tersebut. "Tak ada waktu lagi, cepat habisi dia!" Seru Ia cepat. Tepat setelah itu, Niel dan si Asisten segera melesat dari arah yang berbeda yang kembali dengan satu pukulan dari Asisten dan satu tendangan dari Niel yang di rasa Alisya sudah di hindarinya, malah mengenai dada dan belakangnya dengan sangat keras. Kali itu Alisya benar-benar mendapatkan dampak yang besar dari serangan keduanya yang membuat ia kembali terpental dengan sangat kuat. "Kenapa lama sekali datangnya?" Merasakan tubuhnya tidak membentur dinding dengan keras melainkan membentur dada yang bidang dan hangat, Alisya merajuk dengan manja. "Maafkan aku, tadi ada sedikit halangan yang cukup merepotkan. Maaf karena sudah membuat mu menunggu lama sayang." Adith mengucir tinggi rambut Alisya dan mengecupnya lembut. Adith datang setelah selesai menyelamatkan banyak orang dan menyingkirkan banyak monster mutan. Chapter 446 - Sadari Posisi Kalian Adith menatap kaget dengan Alisya yang terlihat sangat seksi dengan celana pendeknya. "Tutup mata kalian, ini bukan sesuatu yang bisa kalian lihat dengan gratis." Bentak Adith kepada ketiga orang mutan yang berada tak jauh di hadapannya. "Memangnya kami sengaja ingin melihatnya? Dia sendiri yang melakukan itu pada gaunnya!" Ian merasa kesal dengan tatapan Adith. Tak mendengarkan Ian, Adith segera membuka Jas hitamnya kemudian ia lilitkan pada bagian pinggangnya untuk menutupi pahanya yang putih mulus. "Siapa sebenarnya dirimu? Apa kau tidak melihat situasi yang sedang kau hadapi saat ini?" Ia segera memberikan peringatan kepada Adith. "Sayang, kamu kan harusnya tau kalau tubuh kamu itu hanya milikku seorang. Bagaimana mungkin dengan mudahnya kamu memperlihatkan ini pada orang lain ha?" Adith mencubit pipi Alisya dengan kedua tangannya. "Hanya karena kau mendapatkan satu orang tambahan tidak akan membuatmu bisa mengalahkan kami saat ini" seru Ian lagi dengan tersenyum sinis melihat kepada Adith dan Alisya. "Muaaahafkyan akhyu, tuadi akkhyu kesyulituan bergyehak. (Maafkan aku, tadi aku kesulitan bergerak)" jawab Alisya dengan pipi tembem yang menggerakkan bibir mungilnya dengan sangat maju yang membuat ia tampak begitu menggemaskan. "Apapun yang terjadi saat ini, kalian hanya akan berakhir mati ditempat ini." Lanjut Ian lagi merasakan emosi dengan kepala yang berkedut-kedut melihat keduanya masih tak memperdulikan dirinya. "Muaaachhhh!" Adith mengecup kuat bibir Alisya yang begitu imut yang langsung membuat mereka bertiga melotot tak percaya dengan tingkah keduanya. "Sadari posisi kalian brengsek!!!" Ia melompat lompat penuh emosi sedang Niel dan Asisten Ian hanya menepok jidat mereka tak paham dengan apa yang sedang di lakukan oleh kedua orang tersebut. "Hmmm? Ada apa Sepertinya kalian terlihat sangat cemburu dengan apa yang sedang kamu lakukan apa kalian tidak pernah melakukan hal seperti ini?" Adith sengaja bertanya untuk membuat membuat mereka semakin emosi. "Bagaimana mungkin mereka berdua itu bisa sesantai itu setelah melihat perubahan besar ini? Apa kita belum menunjukkan mereka keputusasaan yang sebenarnya?" Niel takjub dengan sifat Adith dan Alisya yang terlalu santai. "Sepertinya kita memang perlu memperlihatkan rasa putus asa yang sesungguhnya." Ian segera meningkatkan energi nano dalam tubuhnya yang langsung membuatnya berubah semakin menakutkan. "Sudah tidak ada jalan untuk kalian kembali sekarang." Asisten Ian juga membuat perubahan besar pada tubuhnya dengan energi nano yang meluap-luap. Perubahan ketiganya mencapai tahap maksimal yang sangat menakutkan dan mengerikan. Terlebih karena tubuh mereka ikut membesar dengan sangat drastis. "Hmmmm¡­ bagaimana kalau kita juga melakukan hal sama?" Adith melepaskan pipi Alisya dengan lembut dan menggenggam tangan Alisya dengan erat. "Tentu saja, sudah lama aku menantikan hal ini. Bertempur bersama mu sepertinya akan terasa sangat romantis." Alisya melepaskan kekangan energi pada tubuhnya yang selama ini terus saja ia tahan dan sembunyikan. "Sebentar sayang, aku juga ingin memperlihatkan hasil yang aku capai dalam 2 hari ini." Adith mengeluarkan seluruh energi yang sudah tersimpan lama di tubuhnya hanya dengan satu kali tekanan dan hembusan nafas. Tubuh keduanya tidak terlihat mengalami perubahan yang mencolok seperti ketiga orang mutan tersebut, namun tekanan udara di sekitar tubuh mereka terasa begitu kuat. "Puftttt¡­ hahahhaahahah! Kalian terlihat seperti mangsa yang sangat empuk bagiku." Suara Ian sudah tidak terdengar normal lagi. Dengan satu lesatan cepat, dia memberikan pukulan yang sangat kuat mengarah ke wajah Alisya, namun Adith menghentikannya hanya dengan menggunakan satu tangan saja. Alisya hanya menatap dengan santai dan bahkan hanya mengambil pisau yang berada di tungkai hellsnya yang sebelah lagi. "Kau, bagaimana mungkin?" Ian terkejut saat melihat pukulannya yang sudah ia keluarkan dengan sepenuh tenaga dapat dengan mudah dihentikan oleh Adith. "Woww¡­ hebatt¡­ tak ku sangka aku memiliki kekuatan sebesar ini." Adith memperlihatkan tangannya kepada Alisya yang sedang memplintir tangan Ian dengan santai. "Arrrgghhh.. brengsek, rasakan ini!" Ia kembali menaikkan tendangan dengan penuh kekuatan namun malah mendapat serangan balasan dari Adith yang membuat kakinya mengalami patah yang mengerikan. "Uaaaggghh.. " teriakan Ian membuat Asisten Ian dan Niel menyerang secara bersamaan yang membuat Adith dan Alisya mundur kebelakang untuk menghindari serangan keruanya. "Jangan terlalu gegabah, kita belum mengetahui seperti apa kekuatan mereka berdua." Niel segera menarik mundur Ian dari hadapan Alisya dan Adith. "Bahkan serangan mematikan kita berdua bisa dihindari dengan sangat baik." Seru Asisten Ian berdiri di sebelah Ian. Ian yang memegang tangan Asistennya secara perlahan mulai menyerap energi nano yang terdapat pada tubuh Asistennya tersebut yang membuat tubuh Asistennya perlahan menyusut kecil. "Sepertinya kekuatan nano ini cukup merepotkan." Ucap Adith merasa kesal dengan para mutan itu yang dapat menyembuhkan tubuh mereka hanya dengan menyerap energi lawannya. Adith dan Alisya segera melesat cepat menyerang mereka namun mereka menghindarinya dengan menyebar ke segala arah. Serangan keduanya tampak fatal karena mampu menghancurkan lantai tempat mereka berada dengan membuat retakkan yang cukup besar. "Ah¡­ ikatannya longgar!" Jas Adith yang membalut tubuh Alisya terlepas dan memperlihatkan paha putihnya yang mulus. "Dimana matamu melihat!" Adith langsung mencolok mata Asisten Ian dengan sangat cepat. "Argh, kau pikir aku sengaja melihatnya?" Bentak Asisten itu meringis sakit dan marah dengan apa yang dilakukan oleh Adith dan Alisya. "Kalau kalian masih punya kesempatan untuk melakukan hal mesrah, kenapa kalian tidak melakukannya saja di surga selamanya?" Ian kembali melesat memberikan serangan kuat kepada Adith dan Alisya. "Serangannya lebih kuat dari sebelumnya!" Ucap Alisya saat berhasil menghindari setiap serangan yang datang padanya. "Jangan lupakan aku!" Niel juga melakukan serang kuat yang langsung di arahkan kepada Alisya namun masih bisa ditangkis oleh Adith. Pergerakan mereka sangat cepat satu sama lain dan bahkan tak mampu di ikuti dengan mata normal manusia umumnya. "Sial, mereka bahkan masih terlihat sangat tenang dalam menghadapi kita. Sekarang aku sudah benar-benar marah." Ian akhirnya menunjukkan kecepatan yang sangat tinggi yang ketika dia mengarahkan kekuatannya dengan menyerap seluruh energi Asistennya. Setelah selesai tubuh Asistennya tersebut mengering dengan sempurna dan tak menyisakan nyawanya. Kemudia ia kembali melakukan serangan yang kali ini berhasil mengenai Adith dan Alisya. "Ian hati-hati!" Seru Niel dengan suara yang sangat keras memperingatkan Ian. Meski tendangan dan pukulan mengenai tepat di tubuh Adith dan Alisya, namun tampak jelas oleh Niel kalau hal tersebut tidak berdampak apa-apa kepada keduanya. "Oh.. Jadi kekuatanmu yang lain adalah teleportasi?" Seru Alisya santai yang langsung membuat Ian melotot tak percaya karena Alisya bisa mengetahui kekuatannya yang lainnya. Chapter 447 - Maaf Kami Datang Terlambat Mendengar apa yang dikatakan oleh Alisya, Ian segera mundur beberapa langkah dengan wajah paniknya. Tak menyangka hanya dengan beberapa kali pukulan cepat sudah mampu membuat Alisya mengetahui kemampuannya. "Pengamatan mu lumayan tajam yah!" Seru Adith ketika Alisya sudah kembali ke sisinya. "Berkat dirimu! Terimakasih sudah mengulur waktu untukku, melihatnya mampu melancarkan serangan dari segala arah membuatku berpikir bagaimana mungkin dua tangan itu bisa memberikan 4 pukulan dalam satu kali serangan?" Ucap Alisya saat menghindari serangan demi serangan dari Niel. "Aku juga merasa sedikit aneh dengan kecepatan tangannya yang ketika dapat aku hindari, malah berhasil mengenaiku dari arah yang lain." Ucap Adith juga terus menghindari serangan dari Ian. Setelah mengetahui kekuatan mereka berdua, tak ada satupun dari keduanya yang kesulitan dengan serangan dan pukulan yang diarahkan kepada keduanya. "Brakkkk!!!" Adith dan Alisya berhasil memukul mundur keduanya dengan membentur dinding kapal dan menghancurkan semua tempat yang ada disana. "Kalian berdua adalah monster yang sesungguhnya!" Ucap Ian yang pada akhirnya merasakan putus asa karena serangan mereka dapat dibaca dengan baik. "Ian, sebaiknya kita selesaikan ini secepatnya. Tidak ada waktu lagi." Niel segera berbisik kepada Ian untuk segera melakukan serangan akhir mereka yang mematikan. Dengan menggabungkan kekuatan mereka, Niel yang seharusnya mendapatkan tambahan kekuatan agar melancarkan serangan kepada keduanya pada akhirnya malah diserap habis oleh Ian hingga kering. "Kau¡­" Niel menatap penuh amarah kepada Ian di saat ia mulai kehilangan kesadarannya. "Kekuatan mu akan sangat berguna jika kau memberikannya kepadaku!" Seru Ian merasakan kekuatan yang meluap-luap setelah mengambil habis energi nano yang dimiliki oleh Niel. Ian mengeram keras dengan tubuh yang sudah tampak membesar 5 kali lipat dari ukuran tubuh aslinya. "Huffft¡­ sepertinya ini akan sedikit merepotkan." Adith mendesah begitu melihat perubahan mengerikan pada tubuh Ian saat berhasil mendapatkan kekuatan dari Niel. "Arrrhhhhhh¡­ Kali ini tidak ada lagi ampun bagi kalian, bom nuklir ini akan meledak dalam waktu setengah jam lagi. Dan dalam waktu itu, aku dapat pergi dari sini setelah membunuh kalian berdua." Geram Ian penuh amarah kepada Adith dan Alisya. Alisya sempat lupa dengan bom nuklir yang sudah dipasang oleh Ian sebelumnya. Setelah mendengar apa yang di katakan oleh Ian, Adith maupun Alisya sudah mencoba beberapa kali untuk mengambil bom nuklir tersebut namun selalu saja dapat di halangi oleh Ian dengan mudah. Kekuatan dan kecepatan Ian dalam melakukan setiap serangan akhirnya berhasil memberikan dampak yang cukup besar bagi keduanya. Adith dan Alisya cukup kesulitan menghadapi kondisi Ian dalam keadaan seperti itu. "Uhukkkkkk" Alisya yang melayang ketika mendapatkan pukulan telak dari Ian membuat Adith melompat dengan cepat untuk melindungi Alisya. Keduanya terhempas sangat kuat menghancurkan beberapa ruangan yang ada dan berhenti tepat setelah tubuh keduanya membentur pintu baja menuju ruang mesin. Pintu itu terlepas dan hampir menindih keduanya namun Ryu dan Rinto lainnya berhasil melepaskan tendangan agar tidak mengenai keduanya. Dibelakang Adith juga sudah terdapat Yogi dan Zein yang memberikan topangan Agar tubuh Adith tidak benar-benar mendapatkan benturan kuat. "Maaf kami datang terlambat!" Riyan menatap penuh waspada kepada Ian yang kini menghampiri mereka untuk kembali memberikan serangannya. Untuk memberikan sedikit waktu agar Adith dan Alisya memulihkan diri dari luka-lukanya, Ryu dan Rinto serta Riyan maju untuk mengalihkan perhatian dari Ian. Meski mereka tidak memberikan serangan yang berarti, namun hal itu sangat membantu Adith dan Alisya untuk bisa sejenak memulihkan kekuatan mereka. "Kapten!" Elvian datang menghampiri keduanya. "Waktu kita tinggal sedikit, kami sudah berhasil mengevakuasi seluruh penumpang kapal, tapi kami tidak bisa menghentikan jadwal tabrakan kapal ini." Seru Rendy dengan cepat menoleh kebagian depan mereka yang sudah terlihat jelas tebing dari gunung Yamanagi. "Kami hanya berhasil memperlambat laju kapal ini sehingga kita memiliki kesempatan untuk membuat para penumpang sedikit menjauh dari sini." Tambah Jati cepat melihat para tentara yang lain juga lebih memprioritaskan penyelamatan para penumpang kapal saat itu. "Melihat dari kecepatan kapal saat ini, waktu tabrakan hingga kapal ini benar-benar bersentuhan dengan tebing adalah sekitar 40 menit." Ucap Adith setelah selesai mengamati laju kapal dengan jarak dari tebing Yamanagi yang sudah terlihat oleh mata mereka. "Benar, itu artinya kita tidak punya waktu lagi untuk berhadapan dengan makhluk mengerikan itu." Ucap Rafli membenarkan apa yang dikatakan oleh Adith. "Tidak, ada hal yang tidak kalian ketahui. Meski berhasil menyelamatkan para penumpang kapal, bom nuklir yang sudah terpasang masih mampu menjangkau mereka semua." Alisya bangkit dari posisinya melihat jarak para penumpang yang belum cukup jauh. "Bom nuklir? Bagaimana cara kita menghentikan bom nuklir itu?" Elvian panik saat mendengar hal tersebut. "Jika bom itu meledak bahkan sebelum kapal ini menabrak tebing, perjuangan kita akan sia-sia." Tambah Rafli merasa kesal dengan apa yang sudah mereka lakukan dengan sekuat tenaga takkan membuahkan hasil. "Kuncinya ada pada dia. Bom itu akan berhenti jika kita berhasil mengalahkan dia." Tunjuk Adith kepada Ian yang sudah berhasil mengalahkan Riyan dan Ryu serta Rinto. Begitu ia akan melakukan serangan yang mematikan kepada ketiganya, Jati dengan segera menyelamatkan Rinto, Rendy menyelamatkan Ryu, dan Zein berhasil menyelamatkan Riyan. Sedang Alisya dan Adith berhasil memberikan serangan yang tepat mengenai wajahnya sehingga serangannya tidak berhasil mengenai ketiganya dan hanya meleset dari tempatnya. "Kalian takkan bisa pergi dari sini!" Geram Ian sudah tidak bisa mundur lagi dan semakin merasakan emosi yang semakin besar. "Kalian berempat, pergilah dari sini dan beritahukan kepada semua orang untuk segera membuat jarak yang sangat jauh dari kapal ini." Perintah Alisya kepada empat orang anggotanya. "Siap kapten!" Ucap mereka berempat dengan kompak yang kemudian dengan secepat kilat menghilang dari tempat itu. "Sudah aku katakan tidak akan ada yang bisa pergi dari sini." Ian dengan geram melempar semua benda dan besi untuk menghentikan langkah mereka semua, namun semua itu dapat ditepis dengan mudah oleh Yogi, Riyan, Ryu dan Juga Rinto. "Hal pertama yang harus kita lakukan adalah dengan membereskan makhluk mengerikan ini dulu." Tegas Zein mulai mengambil ancang-ancang untuk menyerang Ian. Dengan satu lesatan cepat dibantu oleh Ryu dan Riyan, ketiganya terus saja memberikan serangan yang mengarah ke semua titik fitalnya namun tak berhasil memberikan dampak karena kerasnya kulit miliknya. "Puhahahahahha.. serangan lemah seperti itu hanya membuatku geli!!!" Ian mampu memberikan serangan balik yang lebih fatal kepada mereka bertiga sehingga ketiganya terhempas menabrak semua benda disekitarnya. Chapter 448 - Memancing Emosi Alisya Begitu melihat teman-temannya terhempas, Alisya sudah bersiap siap untuk memberikan serangan kepada Ian. "Terimakasih sudah mengulur waktu untukku, sekarang sudah tidak ada waktu lagi. Ini mungkin sedikit berat, tapi aku membutuhkan kekuatan kalian untuk benar-benar melumpuhkan dia." Batin Alisya berbicara menggunakan pikirannya yang langsung terhubung kepada teman-temannya. "Tidak masalah, kami sangat senang bisa memberikan bantuan kepada mu!" Yogi tersenyum puas karena sudah dapat berguna dalam pertempuran kali ini. "Jika hanya dengan bantuan sekecil ini, kami bisa melakukannya seberapapun kamu inginkan." Rinto berdiri dengan tegap siap untuk pertempuran selanjutnya. Rinto dan Yogi segera melakukan tos menyetujui apa yang sudah mereka katakan satu sama lainnya. "Hanya dengan sedikit bantuan kecil dari kami seperti ini tak perlu membuatmu sungkan." Riyan sangat senang bisa memberikan bantuan berarti kepada Alisya. "Sudah lama kami ingin sekali melakukan ini, tidak membebani dirimu dan bisa bertarung bersama dengan dirimu." Tatap Zein kepada Alisya dengan penuh keyakinan. Alisya tersenyum penuh syukur mendengar apa yang dikatakan oleh Zein. "Benar, akhirnya kami bisa berada disisimu, membantumu dan bertarung bersama dengan dirimu bukannya bersembunyi dan membiarkan nona menyelesaikan semuanya sendiri." Tambah Ryu merasakan kebanggaan yang tak terkira karena bisa memberikan bantuan kepada Alisya. "Sekarang kau tak perlu lagi berusaha keras untuk melindungi kami semua, karena kami juga bisa melindungi diri sendiri bahkan melindungimu." Adith menghampiri Alisya dan membelai kepalanya dengan sangat lembut. Hati Alisya begitu hangat karena ucapan semua teman-temannya. Sekarang dia sudah tak sendiri lagi, dia tidak perlu berjuang sendiri lagi dan tak perlu takut karena tidak bisa melindungi siapapun. "Terimakasih!" Alisya merasa sangat terharu dengan semua yang dikatakan oleh teman-temannya. "Baiklah, sekarang saatnya memberikan pelajaran kepada monster ini. Belum pernah aku merasa begitu semangat untuk membunuh seseorang." Alisya akhirnya melepaskan dan meningkatkan energi yang ada dalam tubuhnya. "Jangan terlalu kejam sayang, kau sudah membuat dia kencing di celananya." Ejek Adith menatap Ian yang tampak kaget melihat aura intimidasi yang di keluarkan oleh Alisya. Adith dan yang lainnya sudah berdiri dengan tegap menatap tajam ke arah Ian dan mengelilinginya bersiap untuk melakukan serangan kuat. "Sepertinya dia benar-benar Alpha yang sudah menjadi legenda di Organisasi, tak ku sangka data yang di berikan bisa sampai salah. Dia bukan kuat, tapi mengerikan. Kekuatannya adalah kekuatan seorang monster." Ian bergumam pelan melihat perubahan drastis energi dan aura Alisya. Ryu memulai serangannya dengan melesat cepat memberikan serangan fatal pada bagian fitalnya. Meski tubuhnya dipenuhi oleh sisik yang sangat tebal dan kuat, mereka secara bergantian terus menerjang pada bagian yang sama. Teman-temannya yang lain pun juga melakukan hal yang sama untuk terus menekan posisi Ian. Meski mereka juga akhirnya mendapatkan serangan balik dari Ian, mereka masih dapat menghindari dampak yang parah. Begitu Alisya telah siap, mereka secara otomatis dan kompak memberikan jarak dan ruang untuk Adith dan Alisya untuk melancarkan serangan mematikannya. Setelah merasa cukup, Alisya langsung melancarkan satu tendangan kuat yang langsung membuat Ian terhempas jauh ditambah dengan pukulan dari Adith yang tak kalah kuatnya yang membuat Ian tak berkutik. "Sial, dari mana datangnya kekuatan dua orang ini? Aku bahkan sudah menyerap energi nano dari dua orang. Tapi masih saja tak cukup untuk membuat mereka kalah." Ian mengutuk pelan dirinya yang tetap terlihat lemah. "Membunuhku pun tidak akan menghasilkan apa-apa. Kenapa kau begitu bersikeras untuk melindungi semua orang saat yang kau lakukan ini hanyalah sia-sia? Sudah terlambat, kau tidak akan bisa melindungi siapapun lagi." Ian hanya tertawa keras meski sudah mendapatkan penekanan. Dia yang sudah mengerahkan semua tenaganya, bahkan sampai menyerap kekuatan dan energi nano teman-temannya hanya bisa memberikan sedikit tekanan saja. Alisya dan Adith bahkan tak menderita luka apapun dan teman-temannya hanya mengalami luka yang tidak begitu parah. "Jangankan 5 menit, aku bahkan masih bisa bertahan hingga 5 hari kedepan! Alpha, kau hanya akan berakhir menjadi orang yang gagal untuk kesekian kalinya.. hahahahha" Ucap Ian dengan penuh kesombongan. "O ou¡­ Kali ini kau benar-benar sudah melakukan kesalahan besar dengan membuatnya marah!" Adith yang melihat Alisya semakin kelam segera mundur secara perlahan. Bukan hanya Adith, merasakan amarah dan energi nano yang keluar dari tubuh Alisya yang mencapai batas di luar kewajaran membuat teman-temannya langsung mundur secara perlahan. "Dengan aba-abaku, sebaiknya kalian bersiap untuk melompat dari kapal ini secepat mungkin." Adith berkata dengan lantang yang membuat mereka semua langsung siaga dan penuh waspada. "Apa kita benar-benar harus membuang diri dari kapal ini?" Tanya Yogi merasa tak ingin tubuhnya basah karena air laut. "Jika kau suka, kau bisa bergabung bersama dengan mereka!" Ucap Rinto santai yang membuat teman-temannya yang lain tertawa miris akan situasi nya saat ini. "Tidak, tidak, tidak¡­ aku ikut!" Ucap Yogi cepat yang begitu Adith sudah berbalik melompat, teman-temannya pun melakukan hal yang sama secepat kilat. "Apa kalian sudah pasrah untuk¡­?" Belum selesai Ian berkata, Alisya sudah menempelkan tangannya dikepala Ian. Kebingungan dengan apa yang di lakukan oleh Alisya, Ian segera menyerap kekuatan dan energi nano milik Alisya. Dan Alisya juga malah memberikan energi nanonya kepada Ian dengan suka rela. "Hahahahahha¡­ yah.. bagus, energimu sangat luar biasa. Aku tak pernah mengira kalau energimu akan sebesar ini." Ian merasa sangat senang mendapatkan energi nano dari Alisya. Semakin lama energi nano yang ia serap tidak ada hentinya membuat tubuh Ian memperlihatkan reaksi yang berbeda. Energi nano Alisya tidak menunjukkan akan berkurang, melainkan energi yang dimasukkan kedalam tubuhnya semakin banyak. "Sudah cukup, kau bisa membuat kita berdua meledak!" Ian segera mundur ke arah tiang tepat dimana bom nuklir tersebut ia tempelkan sebelumnya. Meski sudah berusaha untuk lepas dari Alisya, dia yang sudah terlanjur untuk menyerap energi Alisya tak benar-benar bisa berhenti untuk terus menyerap energi Alisya yang membuat tubuhnya bereaksi berlawanan. Tubuh Ian semakin membesar dan telah siap untuk meledak akibat energi nano yang terlalu melupa-luap dan tak dapat ditampung oleh tubuhnya dengan baik pada akhirnya mencapai tahap maksimal. "Boooooommmmmm!" Tepat saat tubuh Ian meledak dengan sangat kuat, Adith dan yang lainnya yang berhasil melarikan diri langsung melompat dengan sangat kuat keluar dari kapal pesiar tersebut. Ledakkan tubuh Ian sangat besar hingga mampu menghancurkan bagian atas kapal dengan tekanan ledakkan dan udara yang sangat kuat yang membuat semua orang yang belum terlalu jauh dari kapal menjadi semakin panik. Chapter 449 - Jangan Bergerak Terus "Brukkk" Yogi membuka matanya dengan panik mengira kalau ia akan terjun bebas ke dalam laut, tapi yang ia dapatkan malah menabrak tubuh seseorang dengan sangat kuat. "Aurelia???!" Yogi kaget saat melihat Aurelia yang sedang menangkapnya. "Kau baik-baik saja?" Tanya Aurelia yang tidak menyadari kalau sebenarnya kakinyalah yang terkilir akibat menahan beban tubuh Yogi. "Aku baik-baik saja. Bagaimana kau bisa berada disini?" Tanya Yogi tak percaya kalau Aurelia sudah berada di hadapannya saat ini. "Setelah mendengar dan melihat apa yang sedang terjadi dengan kalian, aku dan yang lainnya segera menuju ke tempat ini." Jawab Aurelia santai. "Bagaimana bisa kau malah datang ke tempat berbahaya seperti ini? Sekarang sebaiknya kita pergi jauh dari sini sebelum bom nuklirnya meledak." Yogi melangkah menarik tangan Aurelia dan ketika ia jatuh bebas ke bawah, tangannya terlepas dan ia berteriak dengan sangat lantang. Dengan mendesah malas, Aurelia kembali menangkap Yogi yang kembali terjatuh dengan teriakan yang sangat melengking tinggi. "Apa ini? Kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau kita berada di atas panel?" Yogi yang mengenali tempat dimana mereka berpijak melihat Aurelia dengan wajah yang panik. "Bagaimana bisa seorang laki-laki berteriak dengan suara se nyaring itu? Lagi pula itu salah sendiri yang tidak melihat situasi sekitarmu." Aurelia hanya berdiri menatap ke arah kapal yang tak jauh dari mereka yang sudah mengeluarkan asap dan api yang mengepul hebat. Bukan hanya Yogi, Ryu juga yang terjun dari arah yang berlawanan dengan Yogi juga diselamatkan oleh Karin. "Kenapa kau kembali kesini? Tempat ini akan meledak sebentar lagi, sebaiknya kita pergi dari sini secepat mungkin." Ryu panik saat melihat Karin kembali untuk menyelamatkan dirinya. "Tentu saja untuk menyelamatkanmu. Tak perlu khawatir, kita akan baik-baik saja selama berada di atas panel ini." Ucap Karin memperlihatkan alat yang sedang membuat mereka terbang melayang diatas permukaan laut. "Alat apa ini? Bagaimana panel seperti ini bisa mengudara?" Ryu kaget melihat ia berada di atas panel yang cukup lebar dan bisa membuat mereka melayang di atas udara. "Alat ini adalah panel yang diciptakan oleh Adith yang dikendalikan oleh Azura. Dan kita bisa mengendalikannya sesuai dengan keinginan kita begitu kita menapakinya karena data diri kita sudah dimasukkan ke dalam panel ini." Ucap Karin kembali membuat mereka mengudara lebih tinggi. Karin ingin memastikan bagaimana keadaan Alisya sebab ia tak melihat Alisya melompat dari arah manapun. "Bukk¡­ bukk¡­." Zein yang melompat dengan sekuat tenaga membuat Adora yang datang untuk menyelamatkan dirinya malah oleng yang membuat panel yang mereka naiki oleng dan jatuh hingga hampir saja masuk ke dalam laut. "Maafkan aku, kau baik-baik saja?" Zein dengan segera mengangkat tubuh Adora begitu mereka berhenti tepat di atas permukaan laut. "Aku baik-baik saja!" Adora berusaha bangkit dari posisinya dengan dengan bantuan Zein. Meski Zein kaget dengan adanya Adora dihadapannya, namun melihat panel yang sedang mengudara itu membuatnya paham kalau alat ini merupakan salah satu ciptaan dari Adith. "Jangan bergerak terus!!! Kau akan membuat kita bertiga jatuh!" Suara Karan yang nampak marah dengan Riyan yang terus berteriak panik terdengar tidak jauh dari mereka. "Kita harus pergi dari sini, kapal itu akan meledak sebentar lagi!!!" Teriak Riyan dengan keras yang membuat Karan marah dan menggetoknya dengan sebuah kunci-kunci yang entah dari mana asalnya. Riyan yang kembali tenang membuat mereka dapat mengudara kembali dengan baik. Di sebelahnya ada Rinto yang hanya berdiri dengan tenang menatap ke arah kapal yang masih terus melaju dengan sangat kencang. "Benar apa yang dikatakan oleh Riyan, kita sebaiknya pergi dari sini sebelum bom nuklir itu meledak." Ucap Zein segera memperingatkan Adora untuk segera pergi dari sana. "Tidak perlu khawatir, panel ini sudah dilengkapi dengan medan pelindung yang akan melindungi kita ketika ia mendeteksi akan adanya ancaman." Ucap Adora yang mencoba untuk berjalan namun kakinya tiba-tiba merasakan perih. "Kakimu terkilir, sebaiknya kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu." Ucap Zein dengan segera menghentikan gerakan Adora. Mereka kembali mengudara lebih tinggi agar bisa melihat keadaan kapal dengan jelas, namun asap akibat ledakkan yang ditimbulkan oleh tubuh Ian masih membuat mereka tak bisa melihat dengan jelas. "Dimana Adith dan Alisya?" Tanya Aurelia saat tak melihat keduanya berada diatas panel di sekitar mereka. "Adith ikut melompat bersama kami meninggalkan Alisya di atas kapal, monster mutan itu hanya bisa dihadapi oleh Alisya sehingga Adith meminta kami semua untuk meninggalkan kapal." Terang Yogi memberikan penjelasan kepada Aurelia. Dengan terus memperhatikan dimana Alisya dan Adith berada, Aurelia berusaha untuk mencari keberadaan dua orang tersebut. "Azura, kau sudah menemukan keberadaan Adith dan Alisya?" Tanya Aurelia mulai panik sebab jika mendengar apa yang dikatakan oleh Yogi, maka bom itu akan meledak dalam kurun waktu 1 menit lagi. "Maaf nona, asap ini cukup membuatku kesulitan untuk melacak mereka dari sensor panas ataupun sensor yang lainnya." Jawab Azura cepat namun masih terus melacak dimana keberadaan keduanya. "Ibu¡­ ibu.. ibu¡­ " Alisya yang bisa bertahan dari ledakkan besar tubuh Ian secara perlahan mulai tersadar dan samar-samar mendengar suara anak kecil yang tertindih oleh pintu baja. Beruntunglah anak itu tidak benar-benar tertindih karena di sebelahnya ada sebuah lemari kaca pendek yang menyanggahnya dan dia duduk sembari menangis di sana. Berusaha bangkit dari posisinya, Alisya kembali menyebarkan aura deteksinya untuk memastikan apakah masih ada yang terlewat kan seperti anak kecil itu, namun yang ada mata Alisya terbelalak saat merasakan dinding tebing Yamanagi sudah siap untuk menyentuh bibir kapal pesiar tersebut. Bunyi peringatan akan bahaya mulai berdengung di seluruh kapal yang semakin membuat Alisya melesat cepat menyelamatkan anak saya itu terlebih dahulu. "Kau baik-baik saja?" Alisya yang melesat memeluk anak itu tepat saat pintu baja itu mulai menghancurkan kaca yang berjatuhan. Dengan sedikit tenaga, Alisya bisa menahan pintu baja tersebut. "Cantik.. jangan takut, ada kakak disini. Pegangan yang erat yah!" Alisya mengulurkan tangannya sebelah kiri untuk membuat anak perempuan itu tak takut sedang tangan sebelah kanan menghempas pintu baja tersebut dengan kuat. Setelah berhasil, dia lalu memeluk erat anak tersebut dan mulai berlari yang begitu bagian depan kapal sudah menyentuh tebing dengan tabrakan yang cukup keras, Alisya jatuh dan kehilangan pijakannya. "Tidak apa-apa, jangan takut!" Alisya kembali bangkit dengan dibagian belakangnya sudah mulai meledak tak bisa karuan. Sekuat tenaga Alisya berusaha berlari dan melompat dari atas kapal. Chapter 450 - Tidak Sabar Melihatmu Menjadi Seorang Ayah Alisya yang melompat bebas ke udara terus memeluk anak kecil tersebut dengan begitu erat. Pikirannya yang akan jatuh ke dalam laut yang begitu berombak membuat Alisya sedikit kebingungan, sebab jika dia hanya sendiri saja hal itu bukanlah masalah. Akan tetapi lain hal jika ia sedang bersama anak kecil yang tak berpelampung saat itu. "Tutup matamu sebentar!" Ucap Alisya memperingatkan anak itu dengan cepat yang membuat anak kecil itu segera menuruti kata-kata Alisya. Meski anak kecil itu tidak berteriak dan terus terdiam karena takut, ia tetap memeluk Alisya dengan sangat kuat dan erat. Alisya menutup matanya dengan erat mengira kalau ia akan benar-benar jatuh ke dalam air, namun tiba-tiba saja tubuhnya kembali melayang ke udara. "Maaf karena terlambat, aku sedikit ada masalah karena terikat oleh lilitan rantai kapal. Terimakasih karena kau selamat." Ucap Adith memeluk tubuh Alisya dengan erat. "Bagaimana?" Alisya kaget saat melihat mereka kembali melayang di udara, namun begitu Adith menurunkan tubuh Alisya dan ia menapak ke atas panel tersebut, Alisya akhirnya paham. "Mundurlah sejauh mungkin dan menunduk!" Perintah Alisya saat melihat sebagian dari mereka masih berada tak jauh dari kapal untuk memastikan Alisya baik-baik saja. Mendengar apa yang dikatakan oleh Alisya mereka semua dengan serentak mundur dan ketika mendengar bunyi menggelegar, mereka semua tertunduk dan bertahan dalam kuatnya ledakkan nuklir yang meledak bersama dengan kapal yang sudah membentur tebih gunung Yamanagi tersebut. Alisya mendekap penuh anak kecil itu untuk melindunginya dan Adith melakukan hal yang sama untuk melindungi Alisya. Ryu juga mendekap penuh tubuh Karin, Yogi melakukan hal yang sama pada Aurelia dan Zein juga tak ketinggalan untuk melakukannya sedangkan Karan, Riyan dan Rinto hanya menunduk melindungi diri mereka masing-masing. Tekanan dari ledakkan itu mengguncangkan mereka semua yang untungnya terlindungi oleh medan pelindung dari panel tersebut. Dan karena posisi Adith juga Alisya yang berada cukup dekat dengan ledakan tersebut, medan pelindung mereka menunjukkan adanya ciri-ciri retakkan. "Adith, bawa kita pergi dari sini!" Pinta Alisya cepat saat retakkan medan pelindung mereka mulai tampak melebar. Adith sudah berusaha untuk menggerakkan panel melayang tersebut, namun karena guncangan serta tekanan dan panas yang dihasilkan oleh retakkan sebelumnya membuat panel itu tampak tak bisa bergerak lagi. "Azura!" Panggil Adith untuk memeriksa apa yang sedang terjadi. "Ada kerusakan sistem karena panas yang diterima terlalu banyak!" Ucap Azura cepat yang membuat Alisya terpaksa memasang badan untuk melindungi mereka berdua dengan memberikan anak kecil tersebut kepada Adith. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Adith saat melihat Alisya berdiri membelakangi panel yang mulai tampak akan hancur tersebut. "Kau taukan kalau aku akan baik-baik saja, meski terkena ledakkan apapun. Aku akan mengurangi dampak ledakkan yang diterima dan kau cukup melindungi anak itu saja." Ucap Alisya dengan senyuman manisnya. "Tidak, kau tidak perlu melakukannya sendiri. Aku juga bisa melindungimu dan melindungi anak ini." Tegas Adith tak ingin Alisya melakukannya sendiri lagi. "Kau akan menjadi bapak yang sangat bertanggung jawab. Aku sepertinya tak sabar juga ingin melihatmu melindungi anak kita seperti itu nanti." Alisya merasa sangat bahagia melihat Adith begitu penuh keyakinan bisa melindungi mereka berdua. Tepat saat itu, medan pelindung panel yang melindungi mereka telah siap untuk hancur. Namun ternyata hal itu tak terjadi karena Zein dan yang lainnya sudah berada di hadapan mereka dan mengelilingi mereka agar tidak terkena dampak dari ledakkan tersebut. Jika saja mereka terlambat beberapa detik, maka semuanya tentu saja berakhir kembali bagi Alisya. Namun begitu melihat teman-temannya yang lain sudah melindungi mereka, Adith dengan segera memeluk Alisya dengan erat. "Kau lihat, kau tak perlu selalu berusaha melakukan semuanya sendiri. Dan aku juga berharap kau bisa melindungi anak kita dengan sepenuh hati tanpa harus mengorbankan dirimu sendiri." Adith membelai lembut rambut Alisya dengan tangan sebelahnya masih menggendong anak kecil tersebut. "Dan¡­" Adith menatap Alisya dengan sangat dalam. "Aku juga tak sabar ingin melihatmu menjadi seorang ibu!" Tambahnya lagi dengan suara yang sangat lembut dan penuh kasih. Alisya tersenyum dengan apa yang dikatakan oleh Adith. Kata-kata Adith menyentuh hatinya dan menghangatkan hatinya. Benar apa yang dikatakan oleh Adith, sekarang dia tidak perlu untuk selalu berjuang sendiri, karena akan ada Adith dan teman-temannya yang akan selalu bersamanya sekarang. Beberapa saat kemudian, ledakkan tersebut perlahan mereda menyisakan sedikit kepulan asap bekas dari ledakkan yang sangat dahsyat. Matahari mulai terbit dan menyinari mereka yang berada diatas permukaan laut yang menghempas kapal pesiar itu dengan sangat kuat menghilangkan bekas api yang berkobar-kobar. "Pemandangan yang sangat indah¡­" ucap Alisya saat melihat matahari yang malu-malu untuk menunjukkan kuasanya kepada mereka yang sudah berjuang sekuat tenaga untuk bisa menyelamatkan banyak orang. "Baru kali ini aku mendapatkan pengalaman yang menarik melihat matahari terbit setelah sebuah pertempuran yang sangat membahayakan nyawa." Seru Adith memeluk erat Alisya. "Kau lihat mereka? Mereka terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia." Ucap Aurelia yang sudah berdiri dan berada dalam dekapan Yogi. "Aku sangat senang bisa menyaksikan matahari terbit itu bersamamu." Bisik Yogi ditelinga Aurelia karena merasakan kelegaan setelah semua pertempuran berat yang mereka alami. "Siapa anak kecil itu?" Tanya Karin bingung melihat Adith dan Alisya memeluk seorang anak kecil perempuan. "Sepertinya kami melewatkan satu anak perempuan itu dan Alisya yang menyelamatkannya." Ucap Ryu berdiri disebelah Karin. Melihat Karin yang tersenyum memandang ke arah Adith dan Alisya, Ryu perlahan-lahan memegang tangan Karin dan menggenggamnya erat. Karin terkejut namun tersenyum dan kembali membalas menggenggam erat tangan Ryu. "Terimakasih karena kau sudah kemari." Zein langsung menjatuhkan kepalanya di belakang punggung Adora. "Aku sangat mengkhawatirkan kalian semua. Tapi setelah melihat kalian semua baik-baik saja aku sangat merasa lega sekarang." Adora tetap berdiri tegap membiarkan Zein beristirahat sejenak. Melihat mereka semua bersama dengan pasangan masing-masing membuat Riyan merasakan panas dihatinya. "Gini nih jadinya kalau bersama batangan, mau mesra-mesraan pun juga nggak bisa. Duh.. nasib ku jelek banget sih. Padahal momentnya pas banget lagi." Riyan menatap Karan dan Rinto dengan tatapan kasihan. Merasakan apa yang tidak benar dari perkataan Riyan, Rinto dan Karan saling pandang satu sama lain. "Sepertinya kita memiliki pemikiran yang sama!" Karan segera berdiri di belakang Riyan. "Kau benar!" Ucap Rinto juga berdiri di belakang Riyan. Dengan satu tendangan kuat dari keduanya, Riyan kembali terjun dengan bebas yang membuat semua orang tertawa lepas. Chapter 451 - Aura "Anak Kecil Berumur 5 Tahun" Kejadian yang menggemparkan dunia itu membuat semua negara bersatu dalam memberikan bantuan penyelamatan dengan mengirimkan kapal angkatan laut mereka menuju ke laut sekitar gunung Yamanagi. Semua penumpang kapal pesiar akhirnya dinaikkan menuju semua kapal angkatan laut yang ada untuk diberikan beberapa penanganan dan pengobatan. "Kalian semua sudah bekerja keras!" Ucap Ayah Alisya melihat Alisya dan teman-temannya kembali ke kapal angkatan laut. "Kap¡­ ehem,,, Apa yang harus kita lakukan? kalian diminta untuk segera keruangan tengah untuk melaporkan semuanya." Rendy yang hampir saja menyebut Alisya sebagai kapten membuatnya sedikit terbatuk pelan. "Biar Riyan yang menyelesaikan semuanya. Kita tidak usah terlibat dalam memberikan laporan. Ingat identitas kita tidak boleh diketahui oleh siapapun." Alisya segera berkata dengan cepat begitu melihat seorang petinggi dengan beberapa pengawalnya datang menghampiri mereka semua. Mereka langsung mencoba untuk bersikap tak berdaya dengan saling memperhatikan satu sama lainnya. "Tuan Lesham, menantu anda sangat luar biasa karena berhasil menyelamatkan banyak orang. Kami sangat membutuhkan laporan darinya mengenai apa yang sebenarnya terjadi di atas kapal." Ucapnya berjabat tangan dengan Ayah Alisya. "Terimakasih atas sanjungannya Kolonel, tapi sepertinya yang berhak mendapatkan itu adalah Letnan Riyan." Ucap Ayah Alisya menunjuk kepada Riyan yang terlihat basah kuyup. "Benar, kami hanyalah salah seorang dari para penumpang kapal yang berhasil diselamatkan olehnya." Tambah Adith meyakinkan Kolonel. "Tentu saja, kami sudah memperhitungkan hal tersebut. Tapi berkat bantuan dari menantu Tuan beserta teman-temannya sehingga Letnan Riyan mampu menyelesaikan semua ini dengan baik." Terang Kolonel tersebut mengucapkan rasa terima kasihnya. "Kenapa kalian tega sekali melakukan ini padaku?" Riyan menatap Rinto dan Karan penuh amarah kepada dua orang tersebut. "Diamlah, apa kau tidak lihat Kolonel mu sedang menatapmu sekarang?" Rinto mengingatkan Riyan begitu mereka tiba di atas kapal. Tanpa aba-aba lagi Riyan langsung memberi hormat dengan tubuh yang basah kuyup. Dia pun akhirnya segera dibawa pergi menuju ke dalam untuk melakukan perawatan lebih lanjut. "Sekarang semuanya sudah baik-baik saja!" Alisya menurunkan anak kecil tersebut dari pelukannya. "Uwaaahh¡­ uwaaaaahhh.. uwaaahhh!" Anak itu menangis dengan histeris. Alisya kebingungan dengan apa yang di lakukan oleh anak tersebut sebab sebelumnya bahkan dalam keadaan yang paling genting dan paling berbahaya sekalipun anak itu tak bersuara bahkan tak menangis sedikitpun. "Kenapa kau menangis?" Adith duduk setengah berlutut menyamakan posisi mereka agar bisa memandang anak kecil itu. Anak perempuan itu tak berhenti menangis dengan tersedu-sedu yang membuat Alisya kembali memeluknya dengan sangat khawatir. "Apa ada yang luka dengan tubuhmu?" Tanya Alisya dengan suara lembut yang di jawab dengan gelengan kepala oleh anak tersebut. "Kalau begitu kenapa kau menangis? Apa kamu merindukan ibumu? Aku akan membantumu menemukan ibumu." Ucap Adith dengan penuh kelembutan. Anak kecil itu tak menjawab dan hanya terus menangis tersedu-sedu dipelukan Alisya. Mereka kemudian memberikan waktu kepada anak perempuan itu untuk terus menangis hingga ia merasa tenang. Mereka semua menunggu dengan sangat sabar agar bisa mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh anak kecil tersebut. Tak ada satupun dari mereka yang bertanya lagi kepada anak itu. "Bagaimana, kamu sudah tenang sekarang?" Tanya Alisya ketika melihat anak itu tak lagi menangis. Anak kecil itu mengangguk pelan sembari menyapu air matanya dibantu oleh Alisya. "Sekarang kau jangan menangis lagi yah.. Oh iya, nama kamu siapa?" Tanya Adith dengan suara yang lembut kepada anak yang bisa ia taksir baru berusia sekitar 5 tahunan tersebut. "Nama aku Aura¡­ hik hik" ucapnya masih tersedu-sedu dengan suara serak. "Aura yah, nama yang cantik. Kamu masih ingat siapa nama ibu atau ayahmu?" Tanya Alisya agar dapat membantu Aura menemukan kedua orang tuanya. "Ayahku kapten kapal pesiar itu, dia mati karena berusaha melindungiku dari serangan monster. Sedangkan ibu, aku tidak melihat ibuku. Kami terpisah saat ibu masih di kamar menyusui adikku." Ucapnya dengan sangat lancar. Alisya dan yang lainnya tercengang mendengar ucapan tegar dari seorang anak kecil perempuan yang masih sangat belia tersebut. Dia begitu tegar bahkan sampai saat dia masih dalam keadaan sedih dia berusaha untuk tidak menangis dan terus berusaha untuk mencari ibunya. "Jadi kamu menangis karena kamu kehilangan ayahmu? Apa kamu benar-benar melihat ayahmu mati?" Karin akhirnya duduk disamping Aura dengan penuh simpati dan rasa takjub. "Karena aku anak pertama, aku sudah janji pada Ayah untuk tidak boleh menangis dan harus mencari ibu. Kata ayah aku tidak boleh menangis sampai bisa menemukan Ibu dan Adikku." Ucap lagi yang langsung membuat mereka semua merasakan sakit hati yang amat mendalam. "Bagaimana mungkin anak seumur ini memikul beban sebesar ini? Saat aku menemukannya dia tidak memperlihatkan ekspresi takut sekalipun dan terus berusaha tegar hingga aku merasa khawatir padanya." Pikiran Alisya tersampaikan kepada semua teman-temannya. "Dan sekarang kapalnya sudah meledak, berarti ibu dan adik sudah pergi bersama ayah." Kata-kata polos anak itu sontak membuat lutut Adora melemas jatuh dan Aurelia tertunduk dalam di pelukan Yogi. Mereka semua merasakan amarah dan sakit hati serta kepedihan yang tiada tara. Seorang anak perempuan yang begitu kuat dan luar biasa meski dengan tubuh dan usianya yang sangat belia seolah mampu memahami kejamnya dunia dengan begitu luar biasa. "Aku tidak menepati janjiku kepada ayah untuk tidak menangis dan menemukan ibuku, tapi setidaknya aku bisa menepati janjiku yang satunya lagi." Dia mulai terlihat sedikit lebih tenang meski tatapan mata polosnya masih dipenuhi dengan kesedihan. "Janji apa?" Suara Alisya semakin serak yang membuat Adith mengelusnya dengan lembut. "Untuk tidak terluka, Terimakasih kak. Kakak sudah membantuku untuk menepati janji itu." Ucapnya dengan tatapan polosnya yang membuat hati Alisya remuk. Otaknya masih tak percaya ada anak kecil yang bisa bersikap sedewasa itu. Alisya tak bisa mengerti apa yang sudah diajarkan kepadanya sampai dia memiliki sikap setegar itu. "Aura? Ya allah.. Kamu Aura kan? Alhamdulillah kamu selamat nak¡­" seorang Abk kapal pesiar itu tampak terduduk di samping Aura dan memeluknya dengan erat. "Paman.." panggil Aura kepada pria itu, meski matanya kembali berkaca-kaca ia dengan cepat menghapus air matanya. "Bu¡­ ibu Syin¡­ Bu Syin.. Aura selamat bu!!!" Pria itu berteriak dengan suka cita memanggil orang yang mungkin saja menjadi ibu dari Aura. Bukan hanya Aura saja, Alisya dan yang lainnya pun langsung terkejut melihat ke arah dimana ada seorang ibu yang tengah sibuk mencari seseorang dengan wajah paniknya. "Ibuuuuuuuu!!!!" Teriak Aura dengan suara yang sangat keras berlari menuju ibunya. Ibu Syin yang melihat Aura berlari ke arahnya dengan pasrah jatuh bertekuk lutut menunggu anaknya masuk ke dalam pelukannya. Dia mencium Aura dengan sangat banyak bahkan tak menyisakan sedikit ruang yang terlewatkan di wajah anaknya. Semua orang yang melihat hal tersebut menjadi begitu haru dan tak bisa menahan air mata mereka. Karin yang sedari tadi berusaha untuk menahan air matanya akhirnya memalingkan wajah dengan air mata yang tumpah. "Terimakasih banyak karena sudah menyelamatkan anak saya. Dia sudah menceritakan semuanya kepada saya." Ibu Aura menghampiri Alisya dan yang lainnya saat merasa sudah cukup tenang. "Tidak bu, saya sangat bersyukur bisa menyelamatkan anak sebaik dan secerdas dia. Jika saya tidak menyelamatkan dia, mungkin saja saya akan menyesal seumur hidup saya." Jawab Alisya cepat sembari menatap Aura yang sedang bermain dengan Adiknya yang masih bayi tersebut. "Aura memang anak yang cerdas, dia sangat pandai berbicara dan empatinya terhadap orang lain itu sangat tinggi." Ibu Aura tersenyum menatap anaknya yang tertawa dengan riuh. "Meski jarang bersama dengan ayahnya, sepertinya ayahnya mengajarkan Aura dengan sangat baik sampai dia menjadi seperti itu." Ibu Syin tampak bersedih saat mengingat suaminya kini tak bersama mereka lagi. Hari itu perasan Alisya dan teman-temannya yang lain bercampur aduk. Chapter 452 - Kenapa kamu menangis Zein yang sedang mengarah ke kabin lain tertegun sejenak saat melihat Adora yang sedang bersadar di tiang pagar kapal. "Ada apa?" Zein menghampiri Adora yang berdiri termenung menghadap lautan lepas. Dengan hamparan laut berwarna biru yang cerah dipagi hari, kilauan laut saat itu membuat wajah Adora terlihat cantik dan sangat mempersona. Lautan lepas itu berkilauan bagaikan hamparan berlian yang sangat luas yang menyinari wajah Adora. "Oh, tidak ada. Aku hanya menikmati angin dan pemandangan laut pagi ini." Ucap Adora dengan sedikit terbata-bata karena gugup dengan kedatangan Zein. Melihat ekpresi Adora, Zein yakin kalau apa yang sebenarnya ia rasakan bukan hanya karena pemandangan laut tersebut, melainkan ada hal lain lagi yang juga saat ini sedang menggangu pikirannya. "Apa kamu benar-benar tak ingin berbagi denganku? Sepertinya bukan itu yang saat ini kau pikirkan melihat matamu terlalu jauh menerawang jika hanya ingin menikmati pemandangan ini. Yah.. meski harus aku akui pemandangan laut pagi ini sangat indah." Zein bersandar pada tiang pagar kapal tak jauh dari Adora dan masih tetap menjaga jarak. Melihat tingkah Zein seperti itu membuat Adora tersenyum pahit. Sudah cukup lama mereka berpacaran satu sama lainnya dan membina hubungan yang serius, namun sikap mereka masih tetap saja terasa sangat canggung satu sama lainnya. "Aku memikirkan bagaimana Aura yang begitu tegar meski ia melihat Ayahnya mati dihadapannya. Bahkan membayangkannya terus membuatku sedih." Adora bernafas dengan berat mengingat anak kecil tersebut. Adora akhirnya mencoba mengatakan apa yang dia rasakan untuk mencari cara agar memiliki pembahasan yang mungkin saja dapat membuat mereka saling memahami lebih dalam lagi. "Akupun tak bisa membayangkan bagaimana tegarnya anak itu. Bahkan jika itu terjadi padaku, aku mungkin takkan bisa menghadapinya dan menanggungnya. Kita belajar banyak hal hari ini. Dari seorang anak perempuan berumur 5 tahun kita belajar untuk bisa menerima kenyataan yang ada." Zein menengadahkan kepalanya ke atas langit mengingat dirinya yang dulu pernah jatuh kedalam kesedihan dan sulit untuk bisa bersikap dewasa meski saat dia sudah berumur lebih dewasa dibanding dengan Aura. Keduanya kembali terdiam dan tak ada lagi pembahasan lebih lanjut. Baik Adora maupun Zein, keduanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Tak ada satupun dari mereka yang bersuara membuat Adora tidak bisa berada lebih lama lagi disana. "Aku masuk dulu, anginnya semakin kencang disini. Aku bisa sakit perut jika terus terkena angin, apa lagi angin laut terasa sedikit panas." Adora ingin segera melarikan diri dari keadaan canggung mereka. Melihat Adora sedang beralasan, Zein seolah bisa merasakan apa yang sebenarnya sedang di pikirkan oleh Adora. Dengan ragu-ragu dia segera menghentikan Adora dengan meraih lengannya. Adora tersentak dan menatap Zein yang sedang menunduk dalam. "Aku tau saat ini kau merasa canggung denganku. Sejauh ini hubungan kita sama sekali tak ada perkembangan karena masalah yang kita hadapi satu sama lain. Aku juga sudah terlalu lama mendiamkan dirimu." Zein mulai berkata-kata dengan sangat hati-hati. Zein takut kalau apa yang akan dia katakan saat ini mungkin saja akan membuat Adora tersinggung dan sakit hati, oleh sebab itu ia benar-benar memilah setiap kata yang dia ucapkan takkan membuat hati Adora merasa tersakiti karenanya. "Selama dalam pertempuran, aku terus melihat banyaknya orang yang satu persatu terluka parah hingga meninggal. Hal itu membuatku mengingat dirimu, aku takut kalau aku akan pergi dengan penyesalan karena sebuah janji yang sudah aku katakan padamu dulu." Zein mengangkat wajahnya menatap wajah Adora yang nampak tegang dan bingung. "Aku pernah berkata padamu bahwa aku tak ingin berpacaran dan ingin segera menikah. Saat ini aku juga sudah cukup mapan dan umur kita berdua juga sudah sama-sama matang, tapi aku bahkan tak pernah lagi menyinggung akan hal itu dan mungkin kau masih menunggu diriku." Seru Zein lagi dengan tatapan mata yang membuat Adora semakin merasakan sesak karena tak menyangka kalau Zein mengetahui semuanya. "Apa Ibumu menjodohkanmu lagi? Dan kau berbicara seperti ini karena kau ingin meminta maaf?" suara Adora terdengar lembut namun ia berusaha untuk tidak menunjukkan kepedihannya. "I¡­ Ibuku memang menjodohkanku dengan seorang putri dari perusahan lain, karena dia ingin aku secepatnya untuk menikah. Selama ini kau selalu saja membiarkanku dan tak pernah marah tiap kali ibuku mempertemukanku dengan seorang perempuan, Aku¡­." Zein yang belum menyelesaikan kata-katanya segera membuat Adora menitikkan air mata. "Kenapa kamu menangis? A¡­ Aku belum menyelesaikan kata-kataku." Ucap Zein terbata-bata saat melihat Adora sudah menangis dengan begitu deras. "Aku tidak tahu apa yang akan kau katakana, tapi sepertinya aku bisa mengerti alur dari pembicaraanmu lagi kali ini." Adora melepaskan genggaman tangan Zein dari tangannya. "Ibumu pasti inginkan yang terbaik untukmu dan juga perusahaan mu, untuk itu kau pasti ingin bilang untuk membiarkanmu lagi kali ini dan mencari cara untuk membatalkan semuanya bukan? Sampai kapan kau harus mengecewakan ibumu? Kenapa kau tak pernah berencana untuk mengatakan semuanya saja dari awal?" Adora tak ingin terlihat lemah dihadapan Zein sehingga ia dengan cepat memasang ekspresi tegarnya. "Adora, bukan itu maksudku. Dengarkan penjelasanku dulu¡­" Zein mencoba untuk membuat tenang Adora. "Sudahlah Zein, dunia kita berbeda. Aku memang takkan pernah pantas buatmu, sebaiknya kamu turuti apa yang di inginkan oleh kedua orang tuamu. Akulah yang terlalu banyak memberikanmu tekanan dengan mengharapkan banyak hal dari dirimu. Aku akan baik-baik saja." Ucap Adora berusaha menyunggingkan senyuman manis di wajahnya. Zein terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Adora, ia tak pernah mengira kalau Adora sampai berpikir seperti itu. Dia terdiam beberapa saat membuat Adora melangkah pergi dari hadapannya. Menyadari Adora yang sudah melewatinya, Zein sekali lagi datang menghampiri Adora. "Dengarkan dulu penjelasanku, aku sudah memiliki rencana lain untuk semua ini." Ucap Zein cepat menghentikan langkah Adora. "Kalau begitu katakan padaku apa rencanamu?" tatap Adora dengan tajam ke arah Zein. Adora hanya ingin agar Zein bisa melibatkan dirinya dalam setiap rencana yang berhubungan dengan dirinya karena dengan begitu ia juga tahu akan apa yang harus ia lakukan. "Aku tak bisa mengataknnya padamu sekarang, karena masih banyak yang harus aku lakukan sebelum menjalankan rencana itu. Selain itu aku benar-benar tak ingin memberikan sesuatu yang belum dapat aku pastikan kebenarannya." Jelas Zein dengan lembut berusaha agar Adora tidak salah paham terhadap dirinya. "Kalau begitu pastikan! Setelah itu aku percaya padamu." tegas Adora meninggalkan Zein sendirian di gelanggang kapal. Chapter 453 - Rencana Alisya Adora segera masuk ke dalam kapal dan tak sengaja bertemu dengan Karin dan Aurelia dengan mata yang sudah semakin memerah pedih, tapi Adora melewati keduanya begitu saja. Merasakan ada sesuatu yang aneh dengan ekspresi wajah Adora, Karin dan Aurelia saling berpandangan lalu dengan cepat mengikuti langkah kaki Adora. Mereka segera masuk ke salah satu ruang kamar yang diberikan kepada mereka untuk sejenak beristirahat, dan di dalam ada Alisya yang baru saja selesai berganti pakaian. Melihat Adora masuk dengan dikuti oleh Aurelia dan Karin yang tampak khawatir membuat Alisya mengerutkan keningnya. "Ada apa?" tanya Alisya dengan hanya menggerakkan bibirnya dan anggukan kepala ke arah Karin serta memasang ekspresi penuh tanya. Karin hanya menjawab dengan mengangkat bahu tak tahu apa-apa begitu pula dengan Aurelia yang menggeleng pelan. Mereka sengaja membiarkan Adora untuk terlebih dahulu duduk dan menenangkan diri sedang ketiga temannya tersebut sudah siap berdiri di sebelahnya sembari terus memperhatikan Adora dengan seksama. Adora hanya terdiam dan dengan pikirannya yang kalut dan penat. Ia bahkan tak menyadari Aurelia dan Karin yang mengikutinya dan Alisya yang sudah memperhatikannya. Dia terus tertunduk memikirkan semua yang sudah terjadi antara dia dengan Zein. "Uaahh.. Ommayaaaahh¡­" Adora berteriak dengan sangat kencang saat menyadari ketiga orang temannya sudah memperhatikannya dengan jarak yang sangat dekat. "Uwaaahhhh¡­" Teriak Karin dan Aurelia juga secara bersamaan sedang Alisya hanya membelalakkan matanya mendengar teriakan keras mereka. "Kalian membuatku kaget, apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Adora dengan nafas berat berusaha menemukan sisa-sisa oksigen di dalam ruangan tersebut. Adora terkejut karena tak menyangka kalau di dalam ruangan itu sudah ada ketiga orang temannya tersebut saat ia mengira sedang sendiri dalam kesunyian, terlebih karena ia berada di dalam ruangan itu dalam waktu yang cukup lama. "Apa yang sedang kau pikirkan sebenarnya sampai kau tak menyadari kehadiran kami yang sudah memperhatikanmu sejak lama?" tanya Aurelia setelah menenangkan diri dari keterkejutannya. "Kau membuat kami khawatir, ekspresimu tidak seperti biasanya." Lanjut Karin mengambil air minum yang diberikan kepada Adora. Adora tersenyum dengan perhatian Karin, karena sebenarnya dia juga sama kagetnya dengan dirinya tadi. "Tidak ada apa-apa, aku hanya memikirkan sesuatu saja." "Apa itu ada hubungannya dengan Zein?" tebak Alisya duduk di sebelah Adora dan menghadap ke arahnya. Mendengar tebakan Alisya yang tepat pada sasarannya, Adora terdiam dan menarik nafas dalam. Ia akhirnya menceritakan semua yang sudah terjadi serta apa yang baru saja mereka diskusikan dengan Zein. "Aku memang melihat hubungan canggung kalian, tapi tak ku sangka kecanggungan kalian sangat awet hingga saat ini." Ucap Aurelia duduk bersandar di lemari ruang tersebut. "Diatas semua itu, bagaimana bisa dia mengatakan hal itu padamu? Jika memang dia memiliki rencana, apa yang membuatnya tidak memngataka semua rencana itu padamu?" Karin merasa kesal setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Adora. "Aku juga tak tahu, aku sudah menanyakan hal tersebut kepadanya tapi dia bilang tak bisa memberitahuku saat ini." Jawab Adora dengan ekspresi yang penuh akan kepedihan. "Kenapa semua pria sama saja? Mereka pikir dengan mengatakan rencana mereka pada kita kita akan menghancurkan semuanya?" Karin mengomel dengan kesal mengingat Ryu juga tak jauh berbeda dengan sikap Zein. "Yah¡­ Akupun pernah mengalami hal yang sama!" terang Aurelia mengingat bagaimana hubungannya dengan Yogi juga yang hampir kandas. Alisya hanya terus terdiam mendengarkan apa yang mereka bertiga katakan sambil memikirkan hal apa yang dapat ia lakukan dan mencarikan solusi yang tepat untuk percakapan mereka tersebut. "Aku punya rencana yang bagus! Tapi rencana ini bukan hanya untuk Adora saja, melainkan juga dapat berguna untuk Karin. Setidaknya dengan rencana ini aku yakin dapat membatu kalian berdua untuk mendapatkan angin segar." Alisya mengeluarkan senyuman liciknya yang langsung membuat ketiga sahabatnya tersebut merinding disco. "Apa maksudmu?" tanya Karin merasa penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Alisya. Alisya kembali menyunggingkan senyumnya dan menarik ketiga sahabatnya tersebut untuk mendekat dan menjelaskan semua rencananya kepada mereka dengan sangat terperinci yang membuat mata Karin dan Adora membelalak tak percaya mendengar rencana Alisya tersebut. "hahahaha, sepertinya itu akan sangat menarik. Aku akan membantumu melaksanakan rencanamu tersebut." Aurelia hanya tertawa lebar mendengar semua rencana Alisya, namun baginya itu akan sangat menyenangkan dan dia sudah tidak sabar untuk segera melaksanakannya. "Apa kau yakin ini akan berhasil? Aku takut Zein akan merasa terkhianati dan malah semakin meninggalkanku." Adora bukannya tak percaya dengan apa yang direncanakan oleh Alisya, namun ia sangat ragu kalau Zein tidak menjadi salah paham terhadapnya saat mereka baru saja dalam keadaan yang kurang bagus. "Aku tidak yakin 100 persen, tapi aku yakin ini akan sangat membantu untuk kemajuan hubungan kalian. Jika dia benar-benar mencintaimu dan tidak ingin kehilangan dirimu, maka aku yakin dia akan segera bertindak cepat." Ucap Alisya meyakinkan Adora. "Hummm¡­ oke aku ikut, tapi kita butuh partner agar rencana itu berhasil. Dan aku takt ahu siapa yang tepat untuk semua ini.." Karin terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan melipat kedua tangannya dimana tangan kanannya memegang dagunya. "Aku mungkin takkan bisa membantu kalian begitu tiba di Jakarta, tapi aku bisa mengirimkan beberapa orang terpercayaku untuk membantu kalian." Terang Alisya kembali tersenyum dengan penuh arti. "Kenapa? Apa yang membuatmu tidak bisa ikut dalam rencana yang sudah kau atur sendiri. Dan siapa yang kamu maksudkan untuk itu?" tanya Aurelia bingung dengan maksud Alisya saat dia sendiri yang sudah mengatakan rencananya kepada mereka semua. "Aku harus melapor kepada atasan terhadap apa yang sudah terjadi dalam misi kami termasuk melaporkan mengenai professor." Suara Alisya sedikit terdengar sedih saat mengingat professor Ahmad. Saat itu pikirannya terus saja tertuju kepada Profesor Ahmad, namun ia tidak bisa berbuat banyak terhadap takdir tersebut. "Selain itu, Aurelia yang akan menikah dalam seminggu kedepan mungkin bisa membuat rencana lain yang lebih menjanjikan sampai pada hari pernikahannya. Aku akan menyempatkan diri pada hari itu, namun sebelum itu, 4 orang anggotaku akan membantu kalian secara maksimal." Lanjut Alisya lagi kembali tersenyum dengan senyuman khasnya. "Bagaimana, benar kan?" Alisya yang tampak sedang bertanya kepada seseorang membuat ketiga orang temannya bingung dan mengerutkan kening. Tepat setelah itu, Alisya menekan alat komunikasinya yang langsung menampilkan 4 hologram yang muncul ditengah ruang itu. 4 hologram tersebut menampilkan wajah Elvian, Rafli, Jati dan juga Rendy yang membuat Karin dan Adora langsung bersemu merah. Chapter 454 - Bukan Perintah, Melainkan Permintaan Mereka semua segera terhubung bersama dengan Alisya ketika Alisya akan menjelaskan mengenai rencananya kepada mereka semua, sehingga Alisya tak perlu menjelaskan lagi apa yang harus mereka lakukan terhadap rencana tersebut. Mendengar apa yang dikatakan oleh Alisya, mereka saling pandang dan menunjukkan ekspresi ketertarikan untuk ikut dalam rencana yang sudah dikatakan Alisya sebab Alisya juga sudah sengaja memberika mereka cuti untuk sementara waktu dalam misi. "Tentu saja, hitung-hitung buat kami belajar juga untuk bisa berkomunikasi dengan baik terhadap perempuan nantinya." Ucap Elvian dengan penuh semangat dengan sunggingan senyum yang menawan. "Sepertinya akan seru, tapi kalian harus paham jika kami bersikap kaku nantinya." Lanjut Rafli juga tak kalah semangat namun memberikan mereka peringatan sebelumnya. "Hummm¡­ tidak masalah! Selama kalian bisa mengikuti arahanku, aku bisa jamin kalian akan baik-baik saja." Seru Aurelia cepat untuk meningkatkan rasa percaya diri Rafli. "Bagaimana dengan kalian?" tanya Elvian kepada Jati dan Rendy. "Aku akan mengikut apa yang sudah diperintahkan oleh kapten!" Jawab Rendy dengan kaku. "Apa kau benar-benar tidak bisa membedakan mana sebuah perintah dan sebuah permintaan?" tanya Rafli melihat Rendy yang sangat kaku dalam bersikap kepada Alisya. "Tidak masalah apa yang kalian anggap, tapi bagiku apa yang dikatakan oleh kapten adalah Perintah Mutlak bagiku." Ucap Rendy tak peduli dengan tanggapan Rafli atas sikapnya. "Terimakasih Rendy, tapi kali ini kau tak perlu bersikap kaku. Bersenang-senanglah bersama mereka dan nikmati liburanmu. Ini bukan perintah, melainkan permintaan dari seorang teman." Ucap Alisya dengan lembut yang langsung membuat Rendy mengangguk pelan. "Jati?" Elvian menantikan jawaban dari Jati. "Bagiku tidak masalah, aku juga bisa latihan dan anggap saja ini sebagai kencan buta." Seru Jati berusaha untuk bersikap tidak kaku. "Tidak buruk!" ucap Elvian dan Rafli cepat yang langsung membuat mereka semua tertawa mengingat sifat kaku Rendy sebelumnya. Saat mereka masih berbincang-bincang sembari memikirkan apa yang harus mereka lakukan nantinya begitu sampai ke Jakarta, sebuah ketukan keras terdengar dari luar. "Ada apa?" tanya Aurelia yang membuka pintu tersebut dan melihat Riyan berdiri dihadapan pintu itu. "Keluarlah, Kalian harus melihat ini." Panggil Riyan yang diarahkan kepada Alisya dan Karin kemudia ia berlalu pergi ke tempat lain. "Apa yang terjadi?" tanya Adora bingung mentap mereka secara bergantian. "Sepertinya sedang terjadi sesuatu di luar." Ucap Alisya merapikan bajunya lalu berjalan keluar mengikuti Riyan. Begitu ia keluar, Adith dan yang lainnya juga sudah menuju ke arah mereka dengan tatapan bingung yang kemudian secara kompak mereka keluar menuju bagian depan kapal. Dari kejauhan, Alisya melihat para Angkatan laut itu sedang mengangkat sebuah kapsul selam yang tampak sedikit mengalami kerusakan dan tampak penyok di sana-sini. "Kami sudah mencoba membukanya dengan berbagai cara, tapi tidak berhasil. Mungkin kalian mengetahui sesuatu mengenai alat ini sebab kami sama sekali tidak kesulitan pada ratusan kapsul lainnya sebelum ini." Ucap salah seorang yang tampak memiliki pangkat di atas Riyan. "Aku tak yakin siapa di dalam dan apakah ia masih hidup atau tidak, tapi sepertinya kita perlu membuka kapsul ini terlebih dahulu untuk memastikan kondisi di dalam kapsul ini" ucap Riyan menatap kepada Adith dan yang lainnya. "Tuan, ada tanda-tanda kehidupan di dalam kapsul tersebut." Azura tiba-tiba keluar dari hologram yang terpancar pada Jam tangan milik Adith. Mereka semua segera terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Azura, sehingga dengan penuh antusias mereka mencoba sekali lagi untuk membuka kapsul selam milik Adith tersebut. "Apakah kau bisa melakukan analisis apa yang terjadi pada kapsul tersebut?" tanya Adith kepada Azura dengan mendekat kepada kapsul dan mengamatinya dari luar. "Tentu saja, aku juga dapat melakukan control pembukaan paksa dari dalam pada kapsul tersebut dalam waktu 5 menit." Ucap Azura yang langsung membuat Adith mengangguk paham. "Lakukan dalam 1 menit, aku tak ingin kita menghabiskan waktu terlalu banyak." Tegas Adith mengingat Azura mengatakan bahwa ada tanda-tanda kehidupan di dalam kapsul tersebut. Tanpa berkata lagi, Azura langsung melakukan pemindaian menyeluruh pada kapsul tersebut dan menganalisis apa yang sudah terjadi pada kapsul tersebut. "Bukankah waktu 5 menit itu sudah sangat cepat?" terang Karin memandang ke arah Alisya dengan kerutan kening. "Untunglah orang yang dia perintahkan adalah sebuah hologram, andai itu seorang manusia, dia tentu akan langsung muntah darah mendegar perintah Adith." Ucap Aurelia menatap tak percaya dengan sikap penuh percaya diri Adith yang tak pernah berubah. "Bhuussshhhhh" Kapsul tersebut terbuka lebar dengan sedikit asap yang keluar dari kapsul tersebut, pintunya jatuh dengan begitu keras. Yang sedetik kemudian terdengar sedikit percikan yang membuat Adith langsung waspada. "Mundur!" ucap Adith cepat untuk memperingatkan semua orang namun alat itu segera meledak dengan kuat melemparkan beberapa kepingan kapsul. Kepingan yang terhempas segera menuju ke arah Karin dan Adora yang dengan cepat dan sangat tanggap, Rendy melindungi Karin dan Jati langsung melindungi Adora. Zein dan Ryu yang berada cukup jauh dengan mereka tak bisa berbuat apa-apa meski mereka juga sudah melayang untuk melindungi keduanya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Rendy dengan tatapan khawatir yang dijawab dengan gelengan kepala Karin yang masih belum bisa menyesuaikan dengan sikap Rendy. "Terimakasih!" ucap Adora kepada Jati dengan menunduk penuh hormat. "Syukurlah jika kamu tidak terluka." Ucap Jati dengan senuman penuh syukurnya. "Apa ini tidak kelihatan terlalu jelas?" bisik Adora kepada Alisya dengan sangat kaku. "Mereka tahu moment yang pas untuk memulai rencanaku!" jawa Alisya acuh tak acuh dan tetap memandang kearah kapsul yang aasapnya terlihat mulai menghilang. "Profesor!!!" teriak Elvian begitu melihat sosok yang berada di dalam kapsul tersebut adalah Profesor Ahmad. Alisya dan yang lainnyapun terkejut tak percaya kalau ternyata professor selamat dalam ledakkan sebelumnya. "Cepat, bantu aku keluarkan dia!" tegas Adith cepat mengeluarkan professor Ahmad dari dalam kapsul tersebut. Para Angkatan Laut yang berada disana dengan sigap membawa tandu dan datang bersama dengan Karan. Karan juga datang membawa semua alat-alat medis yang sudah disiapkan sebelumnya. "Kapsul ini ternyata diaktifkan secara paksa karena mendeteksi adanya bahaya sehingga begitu ledakkan besar terjadi, professor Ahmad sudah berada dalam kapsul, namun karena ledakkan itu cukup dahsyat, kapsul ini terlontar sangat jauh dan memberikan sedikit kerusakan pada sistemnya." Azura menjelaskan analisisnya dengan menampilkan gambar video yang sempat ditangkap oleh kapsul tersebut. Setelah mendengar penjelasan dari Azura, mereka dengan segera membawa professor Ahmad kedalam ruangan untuk memberikannya perawatan terhadap luka-lukanya yang tampak parah. Chapter 455 - Dia Sudah Datang Adith dan Karan yang terpaksa menerbangkan profesor yang membutuhkan operasi secepatnya membuat mereka terlebih dahulu meninggalkan kapal. Adith dan Karan hanya mampu memberikan pertolongan pertama sebab alat yang mereka miliki kurang memamadai. Alisya dan yang lainnya juga tiba di Jakarta beberapa jam kemudian, dimana Alisya langsung pergi melaporkan diri kepada atasannya dan menyerahkan semua kepada Adith untuk bisa memberikan pengobatan kepada profesor Ahmad. 2 hari kemudian di kafe di Cendekia street "Jadi apa yang harus aku lakukan disini?" tanya Adora yang sudah berdiri di pintu sebuah kafe. Aurelia sengaja untuk menahan Adora agar tidak masuk kedalam kafe. "Tunggulah disana, cukup ikuti saja permainannya." Ucap Aurelia sembari memastikan kedatangan seseorang. Aurelia mengamati Adora dari gedung yang berhadapan dengan tempat dimana Adora saat itu. Aurelia bersama dengan Karin yang sudah siap untuk memulai rencana mereka setelah menyelesaikan beberapa hal yang untuk persiapan pernikahan Aurelia. "Bukankah harusnya perempuan datang lebih telat disbanding dengan laki-laki? Kenapa saat ini aku malah datang lebih dahulu?" tanya Adora tak mengerati cara Aurelia saat ini. "Diamlah, kalian tidak sedang berkencan jadi kau tidak membutuhkan trik jadul seperti itu." Tegas Aurelia mulai kesal dengan sikap ragu-ragu Adora. "Dia sudah datang!" Karin melihat seseorang datang menghampiri Adora. "Wow.. gaya berpakaian Jati tidak buruk. Dia sangat tampan dan mempesona, dia tau cara untuk berpakaian dihadapan seorang wanita dengan sangat baik, bahkan sekarang semua wanita tak bisa berhenti menatapnya dan memalingkan pandangannya dari Jati." Aurelia memuji Jati yang datang dengan penuh persiapan tersebut. "Oke, aku pun hampir jatuh dalam pesonanya." Kaki Adora seketika melemas takjub melihat persiapan sempurna Adith yang dirasanya sangat pas dan tidak berlebihan sama sekali. "Apa kau juga sudah melihat Mangsa kita memakan umpan tersebut?" tanya Aurelia kepada Karin yang sedang mengamati jalanan tempat mereka. "Tepat pada waktunya, dia sudah melihat Jati yang sedang menghampiri Adora saat ini. Tapi sepertinya dia tidak menaruh curiga apapun." Seru Karin saat melihat Yogi yang sedang melihat Adora dan Jati dari seberang jalan yang lain dimana ia sebenarnya akan masuk ke dalam gedung yang saat ini sedang ada Aurelia dan Karin di dalamnya. "Tidak masalah, Jati tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Kami sudah memperlajari ini semua dari Ayah Kapten, dan kami mendapatkan banyak ilmu yang sangat luar biasa dalam menunjukkan sikap gentlemen pada wanita." Ucap Elvian yang langsung terhubung kepada keduanya. "Pufffttt¡­ Nggak di sangka kalian sampai melibatkan paman. Aku senang dengan usaha kalian dalam hal ini, tak ku sangka juga kalian sampai harus belajar dengan begitu giatnya." Karin tertawa tidak mengira kalau mereka sampai seserius itu untuk membantu mereka. "Ini kami jadikan sebagai bagian dari latihan, sehingga ketika ada misi yang mengharuskan kami untuk menyamar dengan metode penyamaran seperti ini, sepertinya akan sangat berguna." Jawab Rafli cepat memandang ke arah Yogi yang masih terus melihat keseberang. "Alisya sudah meminta kalian untuk menikmati liburan ini, tapi kalian malah merasa sedang latihan. Pantas saja Jati melakukannya dengan sangat baik." Ucap Aurelia dengan tersenyum lebar ketika melihat Yogi sudah memakan umpan mereka. Aurelia memang sengaja tidak melibatkan Yogi dalam rencana mereka agar semua hal yang dapat dilaporkan oleh Yogi menjadi apa adanya dan benar-benar mengira kalau semua itu bukanlah hal yang sudah mereka rencanakan, karena dengan begitu semuanya dapat berjalan dengan baik. "Kau baik-baik saja?" Melihat Adora yang hampir terjatuh membuat Jati dengan cepat menghampirinya dan menangkap lengannya lalu membuatnya mengatur posisi berdiri dengan baik. "Ehemmm¡­ Aku baik-baik saja!" Adora segera terbatuk dan tersadar dari lamunanya saat mendengar suara berat Jati yang penuh kharisma. "Aku harus mengutuk Alisya karena mendatangkan pria setampan ini dalam permainannya." Batin Adora kesal karena telah jatuh dalam pesona Jati. "Apa kakimu sakit karena mengenakan sepatu heels ini?" tanya Jati langsung tertunduk ke kaki Adora untuk memastikan kondisi tumitnya yang mungkin saja mengalami sedikit ruam. Adora terkejut dengan sikap Jati lalu dengan cepat dia memundurkan langkahnya. "Ah¡­ apa kamu perlu sampai bersikap seperti ini?" tanya Adora kepada Jati yang sudah tertunduk dihadapannya. "Kau bisa bersikap biasa saja, biar aku yang melakukan semuanya. Selain itu, Yogi sedang melihat kita sekarang." Ucap Jati tetap memajukan langkahnya untuk memeriksa tumit dari Adora. Tanpa diketahui keduanya, namun sudah dipastikan oleh semua orang bahwa Yogi telah mengambil beberapa gambar mengenai apa yang sedang dilakukan oleh keduanya. Yogi memang selalu memotret setiap kali ia merasa ada satu adegan yang pas untuk di tampilkannya di dalam grub mereka. "Dia sudah berjalan masuk, sebaiknya kalian bersiap." Ucap Elvian memberikan Aurelia dan Karin peringatan. Tanpa terlihat kaku, keduanya terlihat sedang berbincang-bincang satu sama lain seolah tak mengetahui kalau Adora sedang berdiri bersama Jati di seberang jalan gedung sebelah yang berhadapan dengan mereka. Yogi terlihat tersenyum dengan sangat licik namun juga tampak ada sedikit keraguan dalam dirinya. "Kalian tidak bersama Adora?" tanya Yogi mencari Informasi mengenai keberadaan Adora kepada Aurelia dan Karin. "Tadi sih katanya mau ketemu sama Jati, soalnya Jati lagi butuh pertolongan Adora. Tapi aku takt ahu mereka bertemu dimana." Ucap Karin santai seolah memang mengetahui kalau Adora sedang bertemu dengan Jati. Karin memang sengaja tak ingin menyembunyikan mengenai pertemuan antara Adora dan Jati, sebab jika ia sengaja menyembunyikanya, maka Yogi akan langsung mencurigai rencan mereka. Yogi cukup pintar untuk bisa mengetahui niat mereka jika terlihat disembunyikan. "Oh.. Aku melihatnya ada di depan sana bersama Jati, aku pikir sedang terjadi sesuatu di antara mereka dan mengira kalian tidak mengetahuinya." Terang Yogi duduk di sebelah Aurelia. "Hmmm¡­ Aku pikir mereka akan bertemu di suatu tempat yang jauh dari sini. Dan kau bilang terjadi sesuatu di anatara mereka? Aku sih, tidak yakin dengan Adora, tapi sepertinya Jati memang menunjukkan ketertarikannya pada Adora." Aurelia seolah-olah bersemangat melihat kejendela untuk menunjukkan rasa penasarannya kepada mereka berdua. "Jadi Jati menyukai Adora?" tanya Yogi dengan setengah terkejut. "Entahlah¡­ Tapi dari cara dia memandang Adora setiap kali kami bertemu beberapa kali, terlihat jelas kalau dia memiliki simpatik yang berlebih ke Adora. Jati juga sering menunjukkan perhatiannya kepada Adora, tapi Adora masih terus saja bersikap biasa mengingat ia masih mengharapkan Zein." Jelas Karin sembari menatap ke gedung diamana Adora dan Jati sudah masuk ke dalam tempat tersebut. Yogi sejenak tenggelam dalam pikirannya sembari melirik handphonenya. Chapter 456 - Horor atau Romance? "Sepertinya kalian sudah menghabiskan satu tempat perbelanjaan. Habis ini kalian akan kemana lagi?" tanya Yogi kepada keduanya memastikan kemana lagi mereka akan pergi. "Sudah lama kita tidak nonton, bagaimana kalau kita nonton? Setidaknya untuk melepas penat setelah banyaknya pekerjaan yang harus kita hadapi beberapa hari ini, terlebih beberapa hari kedepan kita akan semakin sibuk." Terang Aurelia meminta dengan tulus kepada Yogi. "Tidak masalah, hari ini aku punya banyak waktu luang yang bisa aku berikan untukmu." Ucap Yogi menatap penuh kasih kepada Aurelia. Benar apa yang dikatakan olehnya, sebab karena kesibukan keduanya mereka sampai tidak pernah lagi melakukan kencan bersama di luar sehingga ketika ada kesempatan seperti itu, Yogi ingin sekali melakukannya dengan baik untuk lebih membahagiakan Aurelia. "Kau ikut bersama kami bukan? Kita juga sudah janjian dengan Adora untuk bertemu kembali beberapa saat lagi." Tanya Aurelia kepada Karin dengan menaikkan keningnya. "Tidak masalah, khusus untuk hari ini aku akan menemanimu saja." Ucap Karin memahami kedutan kening di wajah Aurelia. Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di depan pembelian tiket bioskop. Mereka terlebih dahulu melihat ke jadwal pemutaran filem sebelum melakukan pemesanan tiket. Mereka bisa saja melihat jadwal tersebut melalui internet, namun karena mereka sibuk memindahkan barang dan bercerita sehingga ketiganya tak sempat melakukan hal tersebut. "Kalian mau menonton filem apa?" tanya Yogi kepada keduanya yang belum juga memutuskan filem mana yang harus mereka tonton. "Horor atau Romance?" tanya Karin kepada Aurelia yang masih serius melihat 8 filem berbeda yang sedang berada dalam jadwal saat itu. "Kalau Romance aku suka yang Filem dari Korea atau Jepang, mereka cukup membuatku semangat." Ucap Aurelia dengan santai menolak untuk menonton filem Romance Indonesia. "Yah¡­ tentu saja kau berkata seperti itu karena kamu juga salah satu penikmat Oppa-oppa Korea. Apa yang kamu suka sih dari Plas¡­" belum selesai Yogi berkata, Aurelia sudah menekan kedua bibir Yogi dengan gemas. "hahahaha¡­ sebaiknya kau berhati-hati saat mengatakan hal itu, apa lagi kepada mak-emak yang ngehalu tingkat tinggi." Ucap Karin tertawa melihat tingkah protektif Aurelia. Tidak hanya Karin yang tertawa dengan sikap perseteruan antara Yogi dan Aurelia, namun beberapa pengunjung yang berada di sekitar sanapun ikut tertawa mengingat wajah Yogi yang bibirnya tertarik oleh Aurelia tampak sangat lucu dan konyol. "harus di akui kalau Korea terkenal dengan operasi plastiknya. Tapi tidak semua artis korea melakukan hal tersebut, karena ada beberapa dari mereka yang memiliki charisma dan ketampanan dengan ciri khas mereka sendiri. Sama seperti dengan wajah original Indonesia maupun negara luar." Jelas Aurelia melepaskan bibir Yogi dari genggamannya dengan Yogi yang mengangguk-angguk paham. "Dasar Korea Lovers Gaje." Gumam Yogi pelan sembari memegang bibirnya yang pedih. Bibirnya tampak sedikit memerah akibat tarikan cinta dari Aurelia dan tak marah karenanya. "Anime Lovers Hentai." Tatap Aurelia juga kepada Yogi. Aurelia tak ingin kalah dari apa yang dikatakan oleh Yogi. Yogi juga memang sebenarnya sangat senang menonton kartun jepang yang biasa dikenal dengan Anime, meski bukan sebagai seorang Wibu yang merupakan orang-orang yang sangat mencintai hal-hal berbau Jepang secara berlebihan, namun Yogi tetap saja sangat menyukai filem-filem Animasi tersebut khususnya One Piece. Ia bahkan memiliki Action Figure dari filem Animasi Jepang legendaris tersebut. "Oke Fix, kita nonton filem horror saja!" seru Karin penuh semangat berjalan menuju ke tempat pembelian tiket tidak memperdulikan pertengkaran dua kucing tersebut. "Ada apa?" tanya Aurelia melihat ekspresi gelap di wajah Karin. "Filem horror yang akan ditayangkan mendapatkan paket khusus bagi mereka yang memiliki pasangan, dan dipaket khusus itu ada hadiah yang sangat menggiurkan." Ucap Karin dengan mengepalkan tangannya karena kesal saat dirinya tak memiliki orang yang bisa dijadikan pasangan saat itu. Melihat ada satu boneka Anjing Serigala jenis Alaskan Malamute yang tampak imut menjadi hadiah yang akan diberikan dalam paket khusus tersebut, Aurelia akhirnya tau kenapa Karin terlihat sangat depresi saat itu. Bagi Karin, Anjing Jeni situ adalah hewan yang sangat disukainya, namun karena dia seorang muslim Karin tidak bisa memelihara Anjing tersebut dan terobsesi dengan bonekanya saja. "Apa segitu Sukanya kau pada boneka anjing itu sampai kau terlihat begitu frustasi karena tidak membawa pasangan sekarang? Apa aku perlu menghubungi Ryu?" ucap Yogi tak mengira kalau Karin juga memiliki ketertarikan tinggi terhadap suatu benda. "Apa kamu sudah menunggu lama? Maaf aku datang terlambat." Rendy tiba-tiba muncul dibelakang Karin bersikap seolah menjadi pasangan Karin. "Bagaimana kau bisa berada disini?" tanya Karin bersikap seolah-olah terkejut dengan kedatangan Rendy saat itu. "Jati sengaja menghubungiku untuk ikut bersamanya ketika kalian berencana akan menonton filem, kebetulan aku juga berada di sekitar sini bersama dengan Elvian dan yang lainnya." Jawab Rendy dengan sangat alami. Tidak jauh dari mereka, Adora dan Jati juga datang menghampiri mereka dengan tersenyum hangat. Adora berusaha untuk tetap bertingkah apa adanya dan tidak menunjukkan sikap yang kaku maupun aneh agar semuanya terlihat natural diamata Yogi. "Dimana mereka?" tanya Yogi bingung karena keduanya malah tidak bersama mereka saat ini. "Mereka punya tujuan lain sehingga memilih untuk tidak ikut kemari. Tetapi jika mereka ikut, tidak mungkin bagi mereka untuk ikut dengan paket tersebut." Seru Rendy sembari memandang tiket pasangan yang ingin mereka pesan. "hahahaha¡­ kau benar, akan sangat aneh jika mereka datang!" ucap Yogi tertawa dengan hangat. Melihat mereka sudah datang secara berpasangan, seorang Kasir yang berdiri di hadapan mereka segera memberikan pelayanan kepada mereka semua. "Berarti tiket untuk 3 pasang yah? Apakah kalian ingin hal lagi selain paket khusus pasangan ini?" tanya kasir kepada Karin yang dengan segera membuat Karin menggeleng cepat karena hanya membutuhkan paket tersebut. "Tidak terimakasih, paket pasangan itu sudah cukup untuk kami." Jawab Aurelia cepat dan ingin segera masuk kedalam bioskop untuk kembali melancarkan rencananya. "Aku hampir lupa kalau Rendy juga masuk dalam rencana ini." Bisik Aurelia cepat kepada Karin. Yogi langsung bersalaman dengan Jati dan Rendy yang sudah datang bersama dengan Adora. Untuk saat ini, Yogi belum melihat sesuatu yang mencurigakan. Namun karena dia juga seorang laki-laki, dia bisa melihat kalau sikap yang ditunjukan oleh Rendy dan juga Jati adalah rasa tertarik kepada seorang perempuan. Mereka akhirnya masuk secara berpasangan, dengan paket lengkap yang mana 3 boneka binatang tersebut diberikan kepada para perempuan sedangkan para pria memegang sekotak pop corn dan 2 buah cup minuman dingin. Chapter 457 - Serangan Pertama Secara berpasangan, mereka duduk saling bersebelahan dimana bioskop yang mereka masuki memiliki kursi yang terlihat berbentuk Love yang mana satu kursi akan di duduki oleh dua orang yang merupakan pasangan. Adora dan Karin membelalak tak mengira kalau ruang bioskop yang mereka masuki juga sudah di set khusus untuk mereka yang berpasangan. "Njirrr¡­" Karin menjatuhkan boneka anjing yang dipeluknya sedari tadi begitu melihat set ruangan bioskop tersebut. Adora bahkan sulit untuk menutup mulutnya dan menelan ludahnya melihat ruangan tersebut, keningnya bergetar dengan sangat cepat hingga ia hampir lupa untuk mengambil nafas karena tak menduga dengan apa yang sedang di lihatnya. "Pufffttttt¡­" Aurelia sedang berusaha untuk menahan tawanya terkejut dengan tata ruang yang terbilang cukup romantic tersebut. "Sial, Bagaimana ini? Aku tak menyangka kalau kursinya akan di set sampai seperti ini juga." Karin membatin melihat ruangan tersebut yang mana tampak sangat romantic. "Sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan kalian, ini adalah bantuan tak terduga-duga." Bisik Aurelia dengan senyuman yang hampir meledakkan tawanya. "Kau terlihat sangat menikmati ini semua sendirian, akan sangat canggung sekali rasanya." Tatap Karin pada tiga cowok yang masih berjalan di koridor masuk dan belum melihat tata ruang bioskop tersebut. "A.. apa yang harus kita lakukan?" Adora dengan cepat menarik lengan Aurelia dan berbisik dengan panik. "Nikmati saja dan jangan lupa untuk bersikap normal. Kita tidak mungkin mundur sekarang jadi, Having Fuuunn." Aurelia berlalu pergi menuju ke kursinya dan berbalik sebentar menatap keduanya untuk memberi semangat kepada Adora dan Karin. "Wow, sungguh tata ruang yang sangat luar biasa. Ini¡­" Yogi terkejut begitu menyadari tata ruang tersebut. "Sangat romantic, benar-benar paket khusus untuk pasangan yang sedang dalam mabuk asmara." Ucap Jati langsung menyambung apa yang akan di katakan oleh Yogi. "Eh???" Karin menatap kea rah Jati karena tak mengira ia bisa juga mengatakan hal manis seperti itu. "Huh??" Adora bereskpresi sama dengan Karin. "hahahahaha¡­ tak ku sangka kau juga bisa berkata-kata seperti itu. Sepertinya mereka berdua harus berhati-hati karena bisa saja hati mereka sudah di curi tanpa di sadari." Ucap Yogi sembari berlalu pergi memberikan lirikan licik kepada Karin dan Adora. "Sudah tidak mungkin untuk keluar sekarang, kalian tidak boleh membuat mubazir sesuatu yang sudah di beli." Lanjut Yogi lagi tanpa menoleh sedikitpun. "Kalian tidak perlu khawatir, cukup besikap apa adanya saja. Sisanya serahkan saja pada kami, karena kami yang harusnya memperlihatkan rasa simpatik kami kepada kalian." Ucap Rendy berdiri di sebelah Karin yang terlihat ragu-ragu. "Meski kami tidak yakin ini akan berhasil, tapi dapat aku pastikan kalau kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Yogi mengira bahwa Kamilah yang memang tertarik untuk merebut hati kalian berdua." Tambah Jati sedang membuat keduanya untuk tidak ragu dan mundur. "Selain itu, jika kita berhenti sekarang maka semuanya akan tampak sia-sia dan apa yang sudah direncanakan oleh kapten juga jadi kacau." Rendy masih saja mengingat dan menanamkan dalam dirinya kalau apa yang sedang dilakukannya bukan hanya sebuah permintaan saja, melainkan juga sebuah misi yang harus mendapatkan kesuksesan. "Yang perlu kalian pikirkan hanyalah membantu kami untuk menikmati libur kami yang singkat, ap aitu bisa membantu kalian untuk bersikap tengang?" tanya Jati kepada Karin dan Adora. Keduanya tersenyum sambil menampar pelan pipi mereka sendiri. Mereka sadara kalau hanya mereka berdualah yang terlalu menganggap serius semua itu dan membebani diri mereka dengan pemikiran yang tidak-tidak. "Maafkan aku. Kalian sudah berusaha dengan sangat baik untuk membantu kami, tapi yang kami lakukan hanya mengacaukan pikiran kami saja dan bersikap egois." Karin kembali menemukan kepercayaan dirinya. "Benar, maaf sudah membuat kalian berdua khawatir. Terimakasih banyak sudah mengingatkan kami." Ucap Adora tertawa pelan memikirikan ke konyolan dirinya yang terlalu terbawa perasaan dan menganggap serius semua itu. Mereka semua akhirnya tertawa dengan hangat yang membuat Yogi semakin merasa kedekatan mereka menjadi sesuatu yang berbeda terlebih saat Jati dan Rendy yang membuat Adora dan Karin untuk duduk terlebih dahulu dan membantu keduanya untuk mendapatkan minumannya. Yogi duduk di belakang kursi Adora dan Karin dapat melihat mereka berempat dengan sangat jelas, terlebih karena tata kursi yang secara berpasangan dan jarak mereka yang tidak begitu berjauhan juga tidak begitu mepet serta cukup luas membuat Yogi bisa menyaksikan semuanya dengan sangat jelas. "Bersiaplah, serangan pertama akan datang!" suara Elvian segera memberikan peringatan kepada mereka semua dan hanya dapat di dengar oleh mereka semua selain Yogi. Begitu lampu bioskop mulai dimatikan, dan beberapa pasangan juga mulai masuk dan duduk di kursi mereka masing-masing. Tepat sesaat setelah semenit berlalu filem mulai di putar, seorang pelayan sedang berjalan menuju ke deretan kursi dari Adora Karin. Belum sempat ia sampai pada kursi di sebelah mereka berdua, pelayan tersebut terjatuh dan menumpahkan semua minumannya kepada Adora dan memercik ke Karin. "Ah.. Maafkan aku. Aku tak sengaja, maafkan aku!" pelayan itu dengan cepat meminta maaf kepada Adora dengan sangat panik dan membantu Adora untuk membersihkan pakaiannya. "Sudah mbak, tidak apa-apa. Mbak baik-baik saja? Lutut mbak terbentur dengan sangat keras tadi." Ucap Adora merasa khawatir dengan lutut pelayan tersebut. "Lu¡­ lutut saya sedikit sakit tapi tidak masalah. Baju mbak jadi basah semua." Pelayan itu menatap dengan penuh rasa bersalah. "Tidak apa-apa, sebaiknya mbak pergi mengobati luka mbak dulu." Ucap Adora memperingatkan pelayan tersebut. Pelayan itu masih mengkhawatirkan Adora, namun karena Adora keras tidak merasa marah, pelayan itu akhirnya membereskan barang yang di tumpahkannya sebelum keluar. "Apa kamu ingin ke toilet dulu untuk mengeringkannya atau kamu mau aku antar pulang saja?" tanya Jati mengkhawatirkan Adora. "Tidak usah, aku baik-baik saja. Lagi pula tidak benar-benar basah kok, hanya terciprat sedikit." Ucap Adora tidak ingin membuat mereka khawatir. "Kalau begitu pakailah ini, setidaknya dengan begitu kau takkan kedinginan karena ruang berace dan bajumu yang basah." Jati segera membuka baju jaketnya lalu di berikan kepada Adora. Adora menerimanya dengan senang hati karena tak ingin berdebat lebih lama dengan Jati meski ia sudah mencoba untuk menolak sekali tawaran dari Jati tersebut. Sedang Karin, Rendy dengan begitu perhatiannya membantu Karin mengeringkan cipratan yang mengenainya dengan sapu tangan miliknya. "Ouuhhh¡­ Nice!!!" Batin Aurelia sangat suka dengan serangan yang sudah dimaksudkan oleh Elvian sebelumnya. Apa yang terjadi saat itu telah di rekam oleh Yogi dan langsung dihubungkan kepada Zein dan Ryu. £¬ Chapter 458 - Serangan Berikutnya Sejam lebih kemudian, mereka semua keluar dari ruang bioskop tersebut dengan tertawa riuh. Mereka menertawakan reaksi mereka masing-masing yang terbilang heboh dan konyol setiap kali adegan klimaks yang membuat mereka merinding dan ketakutan setengah mati. "puhahahaha.. apa kau melihat ekpresi Karin tadi? Tak ku sangka dia bisa sampai setakut itu." Aurelia benar-benar tertawa riuh karena ekspresi Karin yang sangat ketakutan. "Dia bahkan hampir membunuh Rendy yang berada di sebelahnya karena ketakutan." Yogi juga tak mengira kalau Karin bisa takut menonton filem horor. Reaksi Karin saat menonton filem memang benar-benar reaksi alaminya, bukan karena sengaja untuk dapat dilihat oleh Yogi sehingga hal itu membuat Yogi tak merasa perlu mencurigai sikap dari Karin. Namun Rendy hampir merasa kewalahan dengan cengkraman dan hantaman setiap kali adegan klimaks muncul secara tiba-tiba. "Sial, aku benar-benar sangat takut. Sudah lama aku tidak menonton filem yang memacu adrenalin tersebut." Ucap Karin sembari terus berjalan keluar dari bioskop tersebut. "Seseorang juga masih sangat takut, tapi dia terus mengeram dan menahan diri untuk tidak berteriak dan mengenggem erat tanganku." Jati menaikkan pergelangan tangannya yang masih di genggam erat oleh Adora. "Ah.. Maaf" ucap Adora yang dengan cepat segera melepaskan tangan Jati dan tertawa pelan. "Tidak masalah, kau gigit sekalipun jika itu bisa membuat rasa takutmu berkurang aku tak masalah!" tegas Jati yang langsung membuat Adora bersemu malu. "Jika seseorang mendengar ini, aku yakin ada pertempuaran darah di tempat ini sekarang!" bisik Yogi kepada Aurelia. "Seseorang? Zein maksudmu? Aku tidak yakin dia akan marah dengan Adora saat ini, dia mungkin sedang melakukan pertemuan untuk membahas perjodohan mereka." Ucap Aurelia dengan nada suara kesal. "Jadi kali ini Zein dijodohkan lagi? Sampai kapan dia terus menggantungkan Adora dengan tidak memperkenalkan Adora kepada Ibunya saja agar dia tidak terus-terusan membuat ibunya mencarikan wanita untuknya. Mungkin memang lebih baik jika Adora membuka hati untuk orang lain saat ini." Tegas Yogi merasa kesal dengan sikap Zein terhadap Adora. "Ada bagusnya kamu mengajak Adora keluar hari ini, dengan begitu dia bisa sedikit melupakan masalahnya dengan Zein dan mungkin membuatnya benar-benar lupa akan perasaanya terhadap Zein dan membuka kesempatan untuk Jati." Lanjut Yogi lagi yang langsung membuat Aurelia tersenyum senang karena sudah menduga akan reaksi Yogi tersebut. "Ehem.. sepertinya kau sedang mendukung mereka sekarang!" ucap Aurelia memacing Yogi. "Bukan hanya mendukung, tapi aku sudah membuat Zein dan Ryu melihat sebuah kesalahan karena sudah mendiamkan dua wanita cantik tersebut." Ucap Yogi dengan tersenyum licik. "Bersiaplah untuk serangan berikutnya!" suara Rafli kembali memberikan mereka semua peringatan. Mendengar apa yang dikatakan oleh Rafli, mereka semua terlihat bingung namun tetap bersikap tenang. Karin sudah berjalan terlebih dahulu di depan yang detik berikutnya sebuah teriakan terdengar dari lantai di atas. "Awas!!!" sebuah neon box tampak goyah dan terlepas jatuh. Dengan begitu sigap Rendy berlari menyelamatkan Karin dan memeluknya dengan sangat erat agar tidak terkena percikan kaca akibat dari neon box yang terjatuh tersebut. Keduanya sampai terjatuh ke lantai karena berusaha menghindar. "Karin!!!" teriak Adora dan Aurelia secara bersamaan. Mereka terlihat sangat panik melihat kejadian tersebut, dan tak mengira kalau serangan berikutnya yang dimaksudkan oleh Rafli adalah jatuhnya neon box tersebut. Elvian dan Rafli memang sengaja tidak memberitahukan serang apa saja yang akan mereka lakukan agar Adora dan Karin serta Jati dan Rendy dapat bersikap alami dan apa adanya. Semua itu sebenarnya sudah masuk dalam perhitungan Elvian sehingga dapat dipastikan kalau Karin takkan benar-benar terluka. "Kalian berdua baik-baik saja?" tanya Yogi cepat menghampiri Karin dan Rendy. "Apa kamu bisa berdiri?" Adora dan Aurelia dengan sigap membantu Karin untuk bangkit dari posisinya dan memastika keadaan Karin. "Aku baik-baik saja, tapi tangan Rendy berdarah!" ucap Karin mengkhawatirkan Rendy yang tangannya sudah mengeluarkan darah segar. "Ini hanya luka kecil, jadi tidak masalah. Aku bersyukur kau baik-baik saja." Rendy dengan segera menyembunyikan tangannya. Meski Karin paham kalau itu adalah bagian dari rencana Elvian dan Rafli, Karin tetap merasa bersalah karena Rendy harus sampai terluka demi hanya untuk membantu mereka. "Maaf sudah membuat kalian panik, tapi Target sudah ada di TKP sekarang!" ucap Rafli merasa tidak enak melihat ekspresi takut dan khawatir di wajah mereka. "Keberhasilan misi 100 persen!" ucap Elvian tersenyum simpul saat melihat raut wajah kelam pada Zein dan Ryu saat itu. Terlebih karena Zein datang ke pusat keramaian dengan pakaian dinasnya sedang Ryu dengan pakaian kantornya. "Mereka muncul di waktu yang tepat." Gumam Yogi saat melihat keduanya berjalan menghampiri mereka. "Lepaskan tanganmu darinya." Ryu dengan begitu tajam menatap kepada Rendy. "Kenapa kau bisa jalan bersamanya?" Zein menarik tangan Adora dengan begitu kuat. Dia tidak memikirkan dirinya yang seorang pemimpin di kota tersebut. "Apa urusanmu dengan hal ini? Apa kau tidak bisa lihat tangannya yang terluka karena menyelamatkanku?" Karin kesal dengan Ryu yang sudah bersikap kasar kepada Rendy. "Jaga sikapmu ini tempat umum. Lagi pula aku jalan dengan siapa itu juga bukan urusanmu." Adora menatap Zein dengan tatapan penuh rasa akan amarah. "Jadi kau masih marah padaku?" tanya Ryu dan Zein hampir bersamaan. "Bisakah kalian berdebat di tempat lain? Banyak anak-anak yang sedang melihat kita sekarang." Yogi dengan cepat mengingatkan mereka semua saat semakin banya orang-orang menatap kea rah mereka saat itu. Tanpa memperdulikan Ryu, Karin segera menarik tangan Rendy dan pergi dari sana. Karin merasa harus bertanggung jawab terhadap luka Rendy yang membuat Ryu hanya bisa mengikut keduanya dari belakang dengan sabar. Adora pun pergi tanpa sedikitpun menoleh kepada Zein. Zein yang ingin mengejar Adora segera terhenti sebab semua masyarakat yang berada disana segera mengelilingi Zein hingga Zein kerepotan untuk menghadapi mereka semua. "Meski ini semua untuk membantuku, aku tetap tak suka jika kau harus sampai terluka seperti ini." Ketus Karin sambil terus memberikan pengobatan dan perban pada tangannya yang terluka. Karin segera membawa Rendy ke dalam kliniknya untuk mengobati luka Rendy. "Luka seperti ini adalah hal biasa bagi kami, kamu jangan khawatir. Yang paling penting adalah rencana kita berhasil." Ucap Rendy dengan santai. Karin langsung mengikat perban tersebut dengan sangat keras membuat Rendy meringis kesakitan. Setelah selesai, Rendy akhirnya pamit pulang dan Karin mengantarkan dengan penuh rasa bersalah dan terimakasih. Tepat saat berada dipintu keluar, Ryu ternyata menunggu disana namun Karin menutup pintunya kembali. Chapter 459 - Sekertaris Pribadi Semenjak kejadian tersebut, baik Adora maupun Karin tak pernah lagi bertemu dengan Zein dan Ryu. Mereka semua kembali pada rutinitas masing-masing sedang Elvian dan yang lainnya melanjutkan kegiatan liburan mereka. Tidak hanya Karin dan Adora yang tidak lagi saling bertemu, Alisya dan Adith pun juga tidak bertemu selama beberapa hari terakhir. Alisya yang pergi memberikan laporan harus melalui banyak hal, sedang Adith harus kembali fokus pada perusahaan yang mengalami sedikit kerugian karena batalnya Forthnight lalu dan rumah sakit yang sudah ia tinggalkan hampir seminggu. "Kau baik-baik saja?" Tanya Yogi melihat Adith yang terlihat sedikit lemas karena kurang istirahat. "Ya, aku hanya sedikit pusing. Bagaimana dengan yang sedang kau tangani? Apakah berjalan lancar?" tanya Adith memastikan sebab ia tak ingin lagi ada kerugian terhadap perusahaan. "Kau tak perlu mengkhawatirkan itu, Aku dan Vindra sudah menanganinya dengan sangat baik. Tak ku sangka anak itu memiliki potensi yang cukup tinggi. Rasa tertariknya padamu sepertinya membuat dia menjadi begitu ambisius." Yogi memuji Vindra yang sudah berperan banyak dalam menangani proyek mereka kali ini. "Penilaianmu terhadap seseorang cukup tajam, tepat seperti apa yang dikatakan oleh Yogi. Vindra memiliki potensi yang cukup besar." Rinto masuk kedalam ruangan dan langsung ikut dalam pembahasan keduanya. "Ya, tapi aku harus bekerja keras untuk istriku yang selalu absen dalam kantor. Ketidak hadiran dia bisa menjadi sedikit masalah dikantor." Ucap Adith mengingat posisi Alisya yang merupakan seorang pegawai di perusahaannya. "Benar juga, posisi Alisya yang sering kosong membuat Vindar dan Yani sedikit kesulitan. Meski keduanya mengetahui siapa Alisya sebenarnya, tapi yang lainnya tidak mengetahui hal tersebut." Yogi membenarkan apa yang dikatakan oleh Adith. "Kita butuh jalan keluar untuk hal tersebut, mengingat Alisya juga tidak bisa selalu berada di tempat karena tugasnya sebagai seorang anggota pasukan khusus. Dia memang akan pergi hanya ketika mendapatkan misi khusus, namun karena misinya selalu datang secara tiba-tiba kita juga harus mencari solusi untuk itu." Seru Rinto memberikan pendapatnya untuk pekerjaan Alisya. "Bagaimana jika aku mengumumkan yang sebenarnya saja, mengumumkan bahwa Alisya adalah istriku?" mata Adith terlihat bersinar penuh semangat. "Dasar bambank¡­ ternyata itu niatmu dari awal. Kau pikir akan bisa selamat dari Alisya dengan memutuskan sendiri hal itu? Apa kau tidak ingat posisi dia sekarang yang masih merahasiakan identitasnya?" ucap Yogi mengingatkan Adith. "Itu ide yang bagus, tapi mungkin memang saat ini masih bukan saat yang tepat. Untuk dia yang merupakan satuan khusus tentu bisa disembunyikan karena Alisya masih memiliki identitas seorang masyarakat biasa. Tapi identitas itu juga sudah lama terkubur bersama dengan makamnya yang hingga kini masih ada." Tambah Rinto mengingatkan mereka tentang apa yang masih menjadi bagian dari diri Alisya saat ini. "Istrimu terlalu sangat misterius. Dari awal kehadirannyapun sudah sangat misterius dan kini lebih lagi. Kalian benar-benar pasangan menakutkan. Kalian bahkan bisa menghacurkan negeri ini dengan sangat mudah. Gabungan antara militer dan tekhnologi, apa lagi kalian dua orang yang tergolong jenius. Akan seperti apa anak kalian." Yogi tetap tak bisa menyembunyikan kekagumannya kepada Adith dan Alisya meski sudah cukup lama bersama mereka. "Bagimana jika kau menjadikannya sekretaris pribadimu, sehingga ketika dia tidak ada dikantor kau bisa beralasan bahwa dia sedang dalam perjalanan dinas." Rinto memberikan saran kepada Adith yang tengah memikirkan sesuatu. "Huh?? Sekertaris? Kalau begitu aku ini apa bukankah aku juga sekertarisnya?" Yogi menunjuk dirinya yang terlupakan. "Anak.. kenapa aku melupakan hal tersebut, apakah dia sekarang sudah merasakan sesuatu? Tapi ini baru berlalu beberapa hari." Gumam Adith yang ternyata memikirkan kalimat terakhir Yogi sebelumnya. "Jadi dari tadi kamu mikirin yang itu?" Yogi membelalak menatap Adith yang tak berhenti larut dalam pikirannya "Sekertaris pribadi adalah posisi yang tepat untuk Alisya, dengan begitu kau juga bisa lebih sering bersamanya dan menghabiskan waktu lebih banyak lagi." Tambah Rinto tidak memperdulikan apa yang sedang di gumamkan oleh Adith. "Semoga bulan ini siklusnya tidak datang, jika tidak aku harus gencar dalam melakukan serangan!" gumam Adith lagi seolah tidak meperhatikan apa yang dikatan oleh Yogi dan Rinto. "Kampret!!!" Yogi melempar Adith dengan bantalan kursi sofa. Adith hanya tertawa pelan melihat reaksi merajuk dari Yogi. Kali ini dia melepaskan Yogi yang sudah melemparkannya dengan bantalan kursi tersebut, karena kalimatnya membuat energi dan moodnya sedikit naik berkat ucapan dari Yogi. "Kau akan tetap menjadi asistenku, sedangkan Alisya akan menjadi Sekertaris pribadiku hanya dalam status posisi saja. Dia hanya akan membantumu dalam beberapa hal." Seru Adith menenangkan Yogi dan menaikkan jempolnya kepada Rinto atas apa yang sudah ia sarankan. "Kau mau kemana sekarang?" tanya Yogi melihat Adith yang sudah berdiri dari kursinya. "Memberikan pengumuman, apa lagi? Semakin cepat memberikan pengumuman mengenai posisi Alisya, semakin kita bisa mengendalikan gosip emak-emak berantai di perusahaan ini." Adith merapikan dasinya dan memakai Jas hitamnya dengan elegan. Adith lalu berjalan keluar di ikuti oleh Rinto dan Yogi, mereka yang berjalan secara beriringan tersebut tentu menjadi salah kejadian langka yang tidak bisa dilewatkan oleh semua wanita yang berada dalam perusahaan tersebut, sehingga bagaikan ikan teri yang diberikan makanan, mereka dengan otomatis berkumpul di ikuti para pria. "Melihat kalian yang sangat antusias, sepertinya kalian sudah mengetahui jika aku mungkin saja akan memberikan sebuah pengumuman penting." Adith sedikit menyumbingkan senyumnya yang langsung membuat semuanya terbelalak dan berteriak dalam hati. "Perusahaan mungkin memang mengalami sedikit kerugian saat kerja sama dan proyek serta investor yang mungkin saja kita dapatkan pada Forthnight sebelumnya harus batal karena adanya kejadian tak terduga, tapi kalian jangan khawatir." Adith melemparkan pandangannya kepada mereka semua. Kemudian memberikan anggukan kepada Yogi untuk memberikan penjelasan selanjutnya. "Perusahaan sudah berhasil melewati krisis tersebut berkat kerja keras kalian semua, dan kita berhasil mendapatkan sebuah tawaran yang memuaskan, bukan hanya kontrak kerja dari pihak Jepang, namun juga kontrak kerja sama dari pihak cina dan investor dari Amerika." Tegas Yogi yang langsung disambut tepukan riuh oleh mereka semua. "Untuk itu, sekali lagi saya ucapkan terimakasih atas kerja keras kalian. Kalian bisa lanjutkan pekerjaan lagi." Adith segera berlalu pergi setelah memberikan pengumuman tersebut, namun kemudian kembali lagi. "Aku hampir lupa, satu hal lagi. Ayumi sudah beralih menjadi sekertaris saya dan sekarang saya sedang mengirimnya untuk memastikan kontrak kerja sama kita sebab aku masih tidak bisa meniggalkan rumah sakit." Tepat setelah itu, diapun berlalu pergi. Chapter 460 - Tenangkan Dirimu Adith tidak kembali ke ruang kerjanya, namun pergi ke suatu tempat dimana mereka ingin makan bersama dengan Zein yang memaksanya untuk bertemu. "Apa ini ada hubungannya dengan foto yang kemarin kau kirimkan? Foto Jati yang sedang memegang kaki Adora?" tanya Rinto yang duduk di bagian depan sebelah Yogi yang sedang menyetir. "Aku bukan hanya mengirimkan dia sebuah Foto, tetapi juga sebuah Video tentang perhatian Jati kepada Adora. Hal yang sama aku lakukan kepada Ryu." Terang Yogi sambil tertawa pelan dan terus memandang jalanan yang sedikit ramai. Mereka berjanji untuk bertemu di sebuah restoran khusus yang sudah menjadi tempat mereka setiap kali akan makan dan mendiskusikan sesuatu sebab tempat itu menyediakan satu ruang khusus yang besifat private. Dan tempat itu popular dikalangan atas dengan mereka yang memiliki status social tinggi. "Kau memang orang yang paling pas untuk di jadikan sebagai kompor meleduk. Meskipun tidak bergosip, tapi caramu bahkan mengalahkan media masa Dispacth yang sangat akurat dalam memberitakan sebuah informasi." Rinto memuji Yogi dalam artian yang cukup jauh berbeda. "Aku akan anggap itu pujian sepenuh hati darimu." Yogi hanya tersenyum licik tidak menganggap hal tersebut sebagai sebuah hinaan. "Zein yang sudah menjadi seorang gubernur dengan sikapnya yang kaku seperti itu bisa saja membuat Adora merasa kalau Zein tidak menunjukkan keseriusan terhadap hubungan mereka berdua." Adith memandang ke luar jendela saat mengatakan hal tersebut. "Ya, kau benar. Untuk itu aku sengaja memperlihatkan sikap Jati terhadap Adora kepada Zein agar ia bisa sadar kalau jika ia terus bersikap seperti itu, Adora bisa saja membuka diri kepada Jati saat ini. Terlebih saat melihat Jati yang memperlakukan Adora dengan baik, aku berpikir kalau posisi Zein sekarang benar-benar terancam." Terang Yogi menjelaskan mengapa ia sengaja membakar Zein dengan gambar serta Video yang dikirimkannya kepada Zein. "Kenapa kita tidak memberikan mereka sedikit dorongan? Bukankah yang kau lakukan juga seperti itu?" pancing Adith yang langsung membuat Yogi dan Rinto tersenyum dengan ide Adith. Tidak butuh lama bagi mereka untuk sampai ke tempat restoran dimana Zein sudah duduk dengan ekspresi kelam yang membuat Adith tertawa dalam diam. "Apa kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat kelam dan mengerikan!" tanya Adith duduk di samping Zein yang terus memperhatikan handphonenya. Melihat mereka bertiga sudah datang, Zein meminum air yang ada digelasnya hingga habis dengan satu tegukan yang penuh amarah kemudian membantingnya dengan keras lalu menoleh kepada Yogi dengan tatapan yang sangat tajam. "Kau akan mengeluarkan sinar laser dengan tatapanmu seperti itu, jika ada yang ingin kamu katakan sebaiknya setelah kita makan dulu. Aku lapar." Ucap Yogi sengaja mengulur-ulur waktu agar membuat Zein semakin penasaran. "Seberapa banyak yang sudah kau ketahui tentang mereka?" tanya Zein dengan nda suara berat mengeram dalam diam dengan gertakkan gigi yang terdengar kuat. "Tenangkan dirimu, kau tidak akan bisa berpikir dengan baik jika masih dipenuhi dengan amarah seperti itu. Benar apa kata Yogi, kamu bisa membicarakan semuanya setelah kita makan dulu." Ucap Rinto menenangkan Zein yang terlihat belum bisa menenangkan diri. "Kau melebih perkiraanku, aku pikir kau takkan mampu bertahan lebih dari sehari setelah melihat gambar dan rekaman tersebut. Awalnya aku mengira kau lebih memilih untuk mengikuti keinginan orang tuamu yang ingin menjodohkanmu, tapi melihat seperti ini membuatku yakin kalau kau serius terhadap Adora." Terang Adith tersenyum simpul memandang Zein yang tak mengira kalau Adith bisa berpikir seperti itu pada dirinya. "Jadi ternyata memang kau juga berpikir seperti itu? Jika kalian semua berpikir bahwa aku akan meninggalkan Adora dengan tidak bersikap serius pada dirinya karena lebih memilih untuk menuruti keinginan kedua orangtuaku, maka Adora juga bisa berpikir demikian. Kenapa aku tak pernah memikirkannya?" Zein memegang kepalanya dengan frustasi. "Sepertinya kita memang perlu mengintropeksi diri. Kita seolah membuat mereka harapan untuk tetap bersama kita tanpa sebuah kepastian." Ryu masuk dengan diikuti oleh pelayan yang sudah membawa gerobak makanan dibelakangnya. "Tapi aku tak memiliki niat untuk meninggalkan Adora atau juga merelakan dia bersama dengan orang lain. Selama ini aku memang masih ragu, tapi aku sudah berniat melamar dia setelah pernikahan Yogi. Tapi aku terlalu pengecut untuk mengatakan semua rencanaku pada Adora." Jelas Zein dengan suara yang lebih tenang dan penuh rasa bersalah. "Jika seperti itu, kau harusnya lebih tegas dengan sikapmu sendiri. Apa kau tidak sadar sudah menahannya selama beberapa tahun?" Tanya Yogi belajar dari dirinya yang menyadari akan sikapnya sebelumnya. "Adora itu seorang anak perempuan yang mungkin saja kedua orang tuanya juga sudah mendesaknya menikah di saat usianya juga sudah cukup untuk itu, tapi dia tidak membicarakan hal itu denganmu karena tak ingin membuatmu terbebani." Tambah Adith juga mengingatkan akan posisi sulit yang mungkin saja sedang di jalani oleh Adora saat ini. "Hal yang sama dengan Karin, posisinya juga tidak jauh berbeda." Ucap Rinto yang di tunjukan kepada Ryu yang duduk di sebelahnya. "Aku memang merasa bersalah padanya, tuan sudah sering mengingatkanku untuk bersikap tegas dan lebih berani, tapi aku memiliki alasan yang cukup kompleks dalam hal ini." Jelas Ryu merasakan frustasi mendalam memikirkan Rendy yang memeluk erat Karin kemarin. "Jika kalian terus seperti ini, kalian mungkin bisa menyesal dan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan mereka lagi." Adith mulai mengambil sesendok makanannya setelah berbicara. "Yup dan dia sangat benar. Jati dan Rendy memperlihatkan rasa ketertarikan yang sangat tinggi pada Adora dan Karin, jika kalian masih terus saja mengabaikan mereka berdua maka hal tersebut mungkin saja untuk terjadi." Yogi segera membenarkan apa yang di katakan oleh Adith. "Bisakah kalian memberikan sedikit bantuan agar kami bisa mengatasi permasalahan ini secepatnya? Aku sudah beberapa kali mencoba untuk berbicara dengannya, namun karena dia masih marah padaku, dia masih tak ingin bertemu denganku." Zein menatap Adith dan Rinto juga Yogi memohon bantuan ketiganya. "Tidak masalah, tapia da hal yang harus kalian lakukan untuk itu. Tentu saja di dunia ini tidak ada yang gratis kan? Aku tak memintamu untuk membayarnya, tapi kau harus melakukan sesuatu nanti." Yogi tersenyum licik namun Zein tidak mempermasalahkan apa yang di inginkan oleh Yogi. Tepat setelah itu, berita yang menyiarkan mengenai kejadian Forthnight beberapa waktu lalu kembali muncul di layar kaca televisi dengan Riyan yang tampak berdiri dalam konverensi pers untuk melakukan laporan. Hal itulah yang membuat Riyan tidak dapat berkumpul bersama mereka. Chapter 461 - Ucapan dan Tindakan Dihari pernikahan Yogi dan Aurelia, setelah Ijab Kabul yang penuh dengan drama melow karena Yogi berhasil mengatakan Ijab dengan lancar dan tanpa halangan, semua tamu undangan mulai memenuhi hotel berkualitas Internasional yang sengaja diadakan dengan sederhana. Bukan karena tidak memiliki cukup uang, tapi Yogi dan Aurelia memang memutuskan untuk mengadakan pesta sederhana dengan maksud untuk tidak menyia-nyiakan moment tersebut dengan pesta megah yang menguras. Meski dilaksanakan di hotel mewah, Yogi dan Aurelia tak hanya mengundang saudara dan kerabat dekat serta beberapa kolega mereka. "Kau sangat cantik hari ini, setelah sekian lama akhirnya kalian menikah juga." Karin datang bersama Rendy sebagai pasangannya di pesta pernikahan Yogi dan Aurelia. Yogi sempat bingung melihat hal tersebut meski dia sudah menduganya, hanya saja ia tetap merasa sedikit pahit untuk Ryu. "Apa kalian sudah benar-benar menjalani hubungan sekarang? Aku jadi semakin sering melihat kalian bersama." Yogi memancing keduanya dengan pertanyaan bodoh. Karin tersenyum lalu menoleh ke arah Rendy. "Hmmm¡­ mungkin lebih tepatnya aku sedang berusaha untuk mendapatkan hatinya. Meski dia sangat keras kepala, tapi itu menjadi daya tarik spesial miliknya." Rendy menatap Karin dengan penuh kasih yang langsung membuat Karin tertawa hangat. "Hubungan yah? Mungkin sudah saatnya aku menjalani hubungan yang benar-benar serius, bukan dengan terus-terusan di gantung oleh seseorang." Karin melirik ke arah seseorang yang menatapnya dengan tajam dari kejauhan. Ryu tampak penuh amarah saat Karin malah datang bersama orang lain saat dirinya dengan penuh semangat menghampirinya namun ia tetap saja tak bisa menemui Karin sebab Karin sudah lebih dahulu pergi. "Apa kau sudah memutuskannya?" Tanya Yogi ragu-ragu. Yogi hanya berpikir bahwa apa yang akan dikatakan oleh Karin mungkin saja akan menghasilkan dua hal, Ryu yang akan menyerah secara teratur atau malah membuatnya semakin nekat dengan menarik tangan Karin dan mengklaimnya sebagai miliknya. "Awalnya mungkin tidak, tapi hari ini mungkin saja." Karin tersenyum licik sembari mengecup Aurelia kemudian turun setelah sebelumnya mereka berfoto terlebih dahulu. Yogi akhirnya berpikir bahwa tidak ada cara lain untuk bisa meyakinkan Karin atau Adora selain dengan melakukan rencana yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Di tempat yang sama dengan yang lainnya, Zein juga terlihat panas saat melihat Adora sedang tertawa riuh bersama dengan Jati. Disana mereka berkumpul dengan Feby serta yang lainnya. "Jadi kalian sudah jadian? Sejak kapan? Kalian keterlaluan sekali, kenapa hal ini tidak diberitahukan kepada kami?" Tanya Adora dengan mata terbelalak melihat ke arah Beni dan Emi. "Bisakah kau kecilkan suaramu? Hal ini tidak diketahui oleh banyak orang, kau ingat posisi Beni sebagai apa kan?" Emi dengan cepat menghentikan kehebohan Adora yang membelalak tak percaya. "Apa kau sudah siap dengan resikonya? Beni itu milik semua orang, dia itu publik figure yang di cintai oleh semua orang. Kamu mungkin saja akan kena hujat karena hal ini." Adora merasa khawatir terhadap keselamatan Emi mengingat ada beberapa orang yang kadang bersikap sangat nekat dan overprotektif terhadap Artis kesukaanya. "Aku juga sudah membicarakan hal tersebut dengannya, tapi Beni sudah membuatnya jatuh cinta dan meyakinkannya kalau dia akan menjaga Emi dengan sekuat tenaga. Dia bahkan rela untuk melepas kariernya jika itu perlu." Ucap Feby dengan helaan nafas merasakan kekhawatiran yang sama dengan Adora. "Laki-laki memang harus berani mengambil keputusan jika tidak ingin menyesal dan kehilangan segalanya. Apa yang dilakukan oleh Beni patut dihargai." Jati memberikan kepalan tangan kepada Beni dan mendukungnya. Mendengar hal tersebut membuat Ryu dan Zein merasakan tamparan yang sangat kuat. Menyadari akan sikap mereka yang terlalu percaya diri bahwa orang yang mereka cintai akan tetap menunggu selama apapun itu dan takkan mampu berpaling kepada yang lain. "Apa yang sudah aku lewatkan?" Tanya Karin mencoba bersikap seolah tak ada Ryu disana. "Emi sudah berpacaran dengan Beni?" Gani dan Gina ikut datang tak jauh dari Karin dan Rendy. Meski tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, namun melihat ekspresi terkejut dari Adora, Gina dan Gani bisa mengetahui apa yang sedang menjadi topik hangat mereka. "Benarkah? Wah.. itu hebat! Aku akan membunuhmu jika kau hanya ingin bermain-main dengan Emi." Karin menaikkan tinjunya kepada Beni dengan kata-kata yang dia arahkan kepada Ryu. "Wow, wow.. jangan khawatir, aku sudah memperkenalkan Emi pada orang tuaku, aku benar-benar serius kepadanya. Jika ini akan menghancurkan karierku sekalipun juga aku tak peduli. Aku masih punya banyak hal yang juga yang bisa aku kerjakan." Ucap Beni langsung mengangkat tangan menyerah. Kata-kata Beni kembali menikam kuat ke jantung Ryu dan Zein. "Lagi pula, jika terjadi sesuatu denganku aku masih punya kalian yang akan membantuku untuk keluar dari masalah." Beni tersenyum dengan licik. Benar apa yang dikatakan oleh Beni, mereka semua memang tidak akan pernah membiarkan teman-temannya dalam masalah terlebih jika apa yang dilakukannya adalah suatu kebenaran. "Sepertinya hanya aku yang menjadi jomblo sekarang. Apa kau mau menjadi pacarku?" Tatap Gani kepada Feby. "Mati saja kau!" Maki Feby dengan sangat keras yang langsung membuat mereka semua tertawa. Hanya Zein dan Ryu yang tak bisa larut dalam suasana tersebut. "Lihatkan? Kalau semua perempuan yang ingin diajak serius seperti ini malah menolak sampai kapanpun juga yang ada aku tak bisa menjalani hubungan serius dengan seseorang." Ucap Gani merajuk dengan ucapan Feby. "Itu karena mulutmu hanya asal berkata, kau tidak menujukkan dengan sikapmu kepada Feby jika kau benar-benar ingin menjalani hubungan dengannya." Terang Gina menahan tawanya. "Perempuan itu tidak hanya butuh kata-kata saja, tapi butuh tindakan pasti. Orang yang berkata manis akan akan kalah pada orang yang berani mengambil tindakan menikahi, dan orang yang hanya menunjukkan tindakan akan kalah pada orang yang mengucapkan Ijab Kabul." Terang Feby memberikan penjelasan kepada Gani. "Benarkah? Tapi tetap saja ada dari mereka yang selalu percaya hanya dengan tindakan dan perkataan saja. Contohnya Adora yang mempercayai apa yang dikatakan oleh Zein dan Karin yang mempercayai perhatian dari Ryu. Bukankah seling percaya itu sudah cukup?" Ucap Gani dengan begitu polosnya. Zein dan Ryu kembali mendapatkan serangan tak terlihat bagaikan seribu panah dan tombak menghujam ke tubuh mereka. Suara retakkan hati seseorang seolah bisa terdengar oleh semua orang yang dengan cepat membuat Gina menjitak kepala Gani. "Auh.. apa sih, apa aku salah mengatakan sesuatu?" Tanya Gani meringis kesakitan dengan jitakan Gina pada kepalanya. Melihat tatapan tajam Adora dan Karin, Gani akhirnya sadar. Chapter 462 - Papa Kamu Nakal Melihat sikap mereka tiba-tiba menjadi canggung, Karin akhirnya tersenyum kecut dan mencoba untuk berbicara dengan tenang. "Apa yang kamu katakan tidak salah, apa yang kamu katakan itu sangat benar sekali. Itulah kenapa sudah saatnya bagi kami untuk membuka diri kepada orang lain." Lirik Karin dengan tatapan tajam ke arah Ryu. Ryu bisa melihat maksud dari tatapan Karin, ingin sekali rasanya Ryu membantahnya namun ia terpikir akan rencana mereka yang sudah mereka susun dengan sangat baik. "Aku juga memang sudah bosan dengan kata-kata yang di ucapkan oleh sesorang selama hampir 8 tahun terakhir ini. Dia mungkin berpikir bahwa aku akan terus menunggunya hingga akhirnya bisa melihat dia bersama dengan orang lain." Adora juga menatap dengan tatapan yang sama tajam kepada Zein. "Jadi kau benar-benar ingin membuka diri untuk Rendy?" tanya Elvian yang datang bersama dengan Rafli. "Sepertinya kesempatanmu untuk bisa melaksanakan keinginan kedua orang tuamu untuk menikah akhirnya tercapai juga sekarang yah¡­" Rafli menyikut lengan Jati dengan nada suara memancing yang benar-benar membuat Zein dan Ryu di ambang batas. "Aap kalian sedang tidak menyadari sesuatu?" tanya Feby menatap Karin dan Adora meminta sebuah pengakuan dari keduanya. Memahami apa yang dimaksudkan oleh Feby, Emi dan yang lainnya juga menatap mereka dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. "Menyadari apa? Apa ada yang aneh?" tanya Adora bingung dengan tatapan mereka semua. Untuk sesaat pikiran mereka segera teralihkan berkat pertanyaan Feby. Jangankan Elvian dan Rafli yang baru datang, Rendy dan Jati yang sudah berada disana sejak awal tidak memahami maksud dari tatapan Feby kepada mereka semua. "Apa sebelumnya kita sudah bertemu? Aku sejak tadi sangat penasaran dengan siapa mereka berdua yang sejak awal bersama kalian, tapi aku tidak berani bertanya karena teralihkan oleh hal lain."Feby menatap kearah Adora dan Karin, kemudian beralih kepada Rendy dan yang lainnya. "Yup benar, aku memang tau kalau kau sudah mengatakan bahwa dia adalah Jati dan yang sebelah Karin adalah Rendy. Tapi aku tidak tahu siapa mereka dan dari mana mereka berasal hingga kalian bisa bersama." Emi juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Feby. "Melihat kalian yang bersikap begitu bersahabat dan akrab membuat kami sedikit bingung, apa yang sedang terjadi antara kalian?" tanya Gina juga mulai semakin penasaran dengan kehadiran Rendy dan Jati di tengah-tengah mereka. "Selain itu, ada apa dengan aura berat yang sedang terjadi di antara kalian saat ini? Melihat kalian datang dengan pasangan yang berbeda sedikit memberikan rasa curiga yang sangat tinggi." Lanjut Beni juga tak ingin ketinggalan untuk berkomentar. Mendengar keluhan mereka semua, Elvian akhirnya sadar kalau tentu saja Adora dan yang l Mendengar apa yang dikatakan oleh Feby, Elvian akhirnya paham kalau saat ulang tahun Alisya, Rendy dan Jati tidak berada disana sehingga mereka belum pernah bertemu satu sama lainnya. Hanya ada Elvian dan Rafli yang berjaga disekitar mereka saat itu, dan mengenai Alisya yang merupakan satuan khusus hanya di ketahui oleh Adith dan yang lainnya serta Karin saja. Adora dan yang lainnya tentu saja tidak akan mengetahui siapa Jati dan Rendy sebenarnya. "Um¡­ Rendy dan Jati adalah teman Alisya. Kami semua bertemu berkat Alisya dan merekalah yang selama ini bersama Alisya sebelum akhirnya kembali kepada kita." Adora menceritakannya dengan canggung yang membuat mereka semakin ragu dengan maksud keduanya. "Soal aku bisa bersama Rendy adalah karena¡­" Karin mencoba untuk menjelaskan alasan mengapa mereka bisa datang ke pesta tersebut bersama-sama. Feby dan yang lainnya tidak mengetahui rencana yang sedang mereka jalani sehingga tentu saja mereka akan merasa aneh dengan Adora dan Karin yang bukannya datang bersama Zein maupun Ryu. Zein dan Ryu yang terus terdiam membuat Emi dan yang lainnya semakin menjadi curiga. Zein yang mengira kalau perhatian mereka terhadap apa yang terjadi sudah teralihkan membuat kepalanya semakin pening. Ryu bahkan tak bisa bertahan lebih lama lagi dengan situasi tersebut, ingin sekali rasanya dia menarik lengan Karin dan membawanya pergi. "Sudah ku duga kalau kalian semua pasti akan berkumpul di satu tempat, tapi sepertinya ekspresi kalian sedang dalam pembahasan yang sangat serius." Riyan datang bersama dengan Kanya yang menggandengan di lengan Riyan. "Tante Adola¡­" seorang anak perempuan yang memakai gaun kecil terlihat berlarian menghampiri Emi dengan begitu semangat. Perhatian mereka kali ini benar-benar teralihkan dengan kedatangan Riyan dan Kanya bersama anaknya yang baru berusia 2 tahun lebih. "Wah¡­ Evelyn! Kamu sudah semakin besar sekarang!" teriak Adora dengan semangat saat melihat Evelyn memanggil Namanya dengan begitu ceria. Lidahnya yang cadel saat memanggil nama Adora semakin membuat Adora gemas dan moodnya kembali membaik. "Kau datang di saat yang tepat!" bisik Zein kepada Riyan penuh rasa akan terimaksih kepada Riyan. Meski tak paham akan apa yang dimaksudkan oleh Zein, Riyan hanya tersenyum penuh bangga. "Evelyn sangat merindukanmu, kau biasanya datang bersama dengan Zein tapi akhir-akhir ini kalian semakin tak pernah bertemu lagi." Terang Kanya menunduk kepada Adora memberitahukan perasaan Evelyn yang sangat menyukai Adora yang sangat perhatian kepadanya. "Kami ada sedikit masalah, dia akan segera dijodohkan jadi aku memilih untuk mundur sekarang!" terang Adora denga sinis. "Kau memang pria yang tak tegas dan tidak pernah bisa jujur pada diri sendiri." Ucap Riyan menghujat Zein dengan tatapannya yang membuat Zein akhirnya tak bisa menyembunyikan kekesalannya lagi. "Kau bahkan tak pantas mengatakan hal itu kepadaku di saat kau selalu saja bersikap seperti seorang yang tak beristri dimanapun kau berada ketika Kanya tak bersamamu. Kau bahkan menganggap dirimu seorang jomblo." Zein langsung mengeluarkan kartu hitamnya kepada Riyan yang langsung membuat Riyan tertawa dengan kecut kepada Kanya. "Sayang, malam ini kamu tidur di luar yah. Oke?" ucap Kanya dengan sinis yang langsung membuat Riyan menatap Zein penuh rasa kesal. "Kenapa ma?" tanya Evelyn dengan polos. "Papa kamu Nakal. Kamu nggak boleh nakal yah, kalau nggak kamu akan kena hukuman seperti Papa kamu." Ucap Kanya dengan sangat lembut kepada anaknya. "Nggak, Elyn nggak mau jadi anak nakal." Ucapnya dengan sangat polos. Mereka semua tertawa dengan riuh melihat tingkah polos Evelyn yang menggemaskan serta Riyan yang akhirnya menjadi Harimau yang sangat jinak kepada Kanya. "Apakah kita harus mati bersama saja?" tatap Riyan kepada Zein yang hanya dibalas oleh senyuman licik Zein. Suasana mereka akhirnya menjadi lebih cair dibanding dengan sebelumnya berkat Riyan dan Kanya. Chapter 463 - Kartu Hitam Dari kejauhan, Adith datang bersama kedua orang tuanya dengan menggandeng ibunya dan berjalan beriringan bersama Ayahnya. Alisya masih belum terlihat bersama dengan mereka, membuat Emi dan yang lainnya terus bertanya-tanya. "Dia sangat tampan, melihatnya menggandeng ibunya seperti itu membuat ku berhayal kalau itu adalah aku!" seorang wanita sangat terpana dengan kedatangan Adith yang bersama dengan kedua orangtuanya. "Sayangnya dia sangat dingin terhadap semua perempuan, sampai saat ini aku belum pernah mendengar kalau Adith menggandeng seorang wanita lain selain ibunya." Tambah salah seorang dari mereka lagi. Semua orang yang berada diluar kantor Adith tentu tidak mengetahui mengenai Adith yang akhir-akhir ini dekat dengan Alisya yang lebih dikenal dengan Ayumi, dan apapun yang terjadi didalam perusahaan takkan pernah mereka berani bocorkan di luar perusahaan. Oleh karena itu, tidak seorangpun diluar perusahaan yang mengetahui akan Adith yang sudah mulai bisa menyentuh wanita lain. "Kenapa Adith datang bersama orang tuanya dan tak bersama dengan Alisya?" Feby dengan cepat bertanya sembari memandang ke arah Karin penuh tanya. "Ummm dia mungkin datang bersama dengan ayahnya. Sebab Akiko bersama dengan Karan saat akan ke pesta ini." Terang Karin cepat memberikan penjelasan sekenanya kepada Feby. "Lagi pula, kalian kan tau kalau sepengetahuan orang banyak Adith belum menikah karena kejadian dimasa lalu disembunyikan oleh semuanya. Dan hanya sebagian orang yang tahu mengenai pernikahan tersebut." Zein juga ikut memberikan penjelasan kepada mereka. Karin mungkin tidak berbohong soal Karan yang akan datang bersama dengan Akiko, tapi ia tidak yakin akan Alisya yang datang bersama dengan Ayahnya, sehingga dia hanya menebak saja kemungkinan yang bisa terjadi. "Apa itu artinya dia tidak akan datang ke pesta ini?" tanya Emi ingin memastikan sekali lagi. "Dia mungkin akan datang sebagai Ayumi, bukan sebagai Alisya." Tebak Beni dengan cepat. "Tebakan yang sangat bagus, kita tinggal membuktikannya saja nanti." Gani berlagak seperti seorang yang penuh wibawa. "Apa yang dikatan oleh Beni mungkin benar, sebab Alisya yang kita ketahui berbeda dengan yang orang ketahui." Ucap Gina membenarkan apa yang dikatakan oleh temannya tersebut. Beberapa saat kemudian, Karan benar-benar datang bersama dengan Akiko. Tampilan mereka berdua begitu terlihat indah bagaikan pangeran dan putri yang begitu menawan. Semua yang melihatnya juga terpana dengan kehadiran keduanya yang cukup mencuri perhatian, terlebih karena mereka mengetahui bahwa Karan adalah dokter muda yang sangat mereka kagumi. "Jadi sekarang dia sudah memiliki pasangan?" ucap salah seorang tamu undangan yang memulai suara retakkan hati saat mereka melihat Karan dengan mesra menggandeng Akiko. "Siapa wanita itu? Sejak kapan Dokter Karan memiliki seorang wanita?" salah satu dari mereka juga bertanya dengan sinisnya. Ia seolah tak rela jika Karan sudah memiliki seorang wanita yang tidak mereka ketahui asal usulnya. "Meski aku tak rela, tapi melihat mereka berdua seperti itu dan wanita di sampingnya juga kelihatan sangat cantik dan berkelas, tak bisa ku pungkiri kalau mereka sangat cocok." Seru yang lain memuji chemistry dari Karan dan Akiko. "Sepertinya aku pernah lihat wanita itu di suatu tempat, tapi aku tidak ingat dimana." Seseorang segera berusaha mengingat siapa wanita yang sedang bersama dengan Karan saat ini. "Ahhh! Aku ingat sekarang, dia adalah seorang desainer Jepang ternama. Namanya adalah Uehara Akiko yang sudah banyak memenangkan penghargaan bergensi internasional karena bakatnya tersebut." Seru salah seorang dari mereka yang lansung mengambil handphonenya untuk di tunjukkan kepada yang lain. "Selain itu, dia adalah seorang putri dari bisnisman kaya di Jepang. Dia adalah putri tunggal yang akan mewarisi perusahaan besar di Jepang. Katanya saat ini sedang berada di Indonesia karena ingin merawat pamannya yang sedang sakit." Jelas yang lainnya lagi setelah menemukan artikel yang lainya. "Tak ku sangka kalau dia bukanlah orang biasa, aku bahkan tidak pantas untuk merasa cemburu padanya." Terang tamu undangan yang lain dengan suara putus asa. "Guys¡­ sudah ikhlas. Kita harus ikhlas, Fans yang baik tentu ingin yang terbaik untuk pujaannya selama dia Bahagia." Temannya langsung merangkul temannya untuk mengikhlaskan karan. "Benar, kita masih memiliki beberapa pujaan pria lain seperti Adtih, Zein dan juga Ryu. Semangatlah, kalian masih memiliki harapan yang tinggi untuk setidaknya sekali saja kita mungkin dapat berkomunikasi dengan mereka." Seru yang lainnya mencoba untuk memberikan semangat satu sama lain. Pandangan mereka pada akhirnya beralih kepada Zein dan Ryu yang sedang berkumpul dengan yang lainnya. Ada rasa iri saat melihat Emi dan yang laiinya bisa mendapatkan meja yang sama dengan Zein dan Ryu serta bisa berinteraksi bersama mereka dengan hangat. Pesta Yogi dan Aurelia menjadi semakin meriah dengan banyaknya kehebohan yang terjadi disana. Ditambah dengan kehadiran Adith dan yang lainnya yang sudah di nantikan oleh mereka semua. "Kau terlihat sedikit cemburu dengan mereka yang berhasil resepsi." Ucap Riyan menggoda Adith yang sedang menghampiri mereka. "Apa kau ingin aku mengeluarkan sebuah kartu hitam lagi?" tatap Adith yang langsung membungkam Riyan yang kembali membuat teman-temannya tertawa pelan. Tak lama setelah itu, Ayah Alisya hadir bersama dengan kedua orang Karan. Disampingnya tidak ada Alisya sama sekali. Melihat Ayah Alisya hanya datang sendiri, Adith sempat merasa kecewa. Akan tetapi dia dengan sopan menghampiri Ayah Alisya dan berjalan bersamanya hingga mengantarkannya kepada kedua orang tuanya. Mereka yang tidak mengetahu arti dari tindakan Adith tersebut mengira kalau Adith sedang berikap sopan santun untuk bisa mendapatkan perhatian dari tuan Lesham yang merupakan seorang direktur salah satu perusahaan besar di Indonesia. "Kenapa Alisya tidak bersamanya?" tanya Karin ketika Adith kembali ke kursi mereka. "Alisya sedikit ada halangan sehingga ia tidak bisa bersama kita saat ini." Adith memperlihatkan eskpresi kecewanya. "Melihatmu seperti ini sangat terlihat kalau kau sangat merindukannya." Ucap Adora selalu cemburu melihat Adith yang selalu saja memperlihatkan ekpresinya dengan jelas jika itu berhubungan dengan Alisya. Dia tidak pernah menahan diri dan selalu mengungkapkan perasaanya tak peduli dimanapun dia berada namun itu jika hanya dihadpan teman-temannya saja. "Kenapa kau tidak mencoba untuk menghubunginya saja?" tanya Zein kepada Adith mencoba memberikan jalan keluar. "Dia tidak mengaktifkan alat komunikasinya." Adith menyebutkan Alat komunikasi dibandingkan Handphone yang berarti bahwa ketika ia menghadap atasannya alat komunikasinya sengaja dimatikan. Adith duduk di kursinya dan menyantap makanan yang ada dengan tidak berselera, namun beberapa saat kemudian dia tiba-tiba tesenyum begitu lebar dan terlihat begitu sibuk menoleh ke kiri dan ke kanan seolah sedang mencari seseorang. Chapter 464 - Kau Cinta Pertama dan Terakhirku Melihat Adith yang menoleh ke sana ke mari membuat Karin dan Yang Lainnya sedikit bingung terhadap apa yang dilakukannya. "Ada apa apakah kamu mencari sesuatu" tanya Karin penasaran dengan sikap Adith. "Alisya, aku merasakan kehadiran Alisya." Adith bangkit dari kursinya untuk bisa melihat dengan jelas ke seluruh ruangan. Karin dan yang lainnya merasa takjub dengan apa yang katakan oleh Adith sebab hanya dengan Hawa keberadaan saja Adith sudah bisa mengetahui akan kedatangan Alisya. " Alisya? Tapi dari mana dia masuk, aku bahkan tak melihat dia masuk melalui pintu depan." Ucap Adora yang sedari awal memang juga menantikan kehadiran Alisya. "Aku tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh Adith, tapi aku yakin apa yang dikatakannya adalah benar sebab kemampuannya untuk saling merasakan keberadaan satu sama lain begitu kuat." Terang Zein yang bisa mengukur kemampuan Adith saat dia mengeluarkan energinya. "Sepertinya kalian semua sudah semakin bertambah kuat. Dari cara kalian berbicara pun banyak hal yang tidak kami ketahui." Beny bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari Adith dan yang lainnya. "Dan mereka, meskipun mereka tuh kelihatan normal karena tidak tampak memiliki energi nano, terlihat betul kalau mereka juga sangat kuat." pandang Emi kepada Rendy dan yang lainnya. Hanya dengan 1 tekanan pelan, Adith mengeluarkan kekuatan ekolokasinya untuk bisa menemukan dimana keberadaan Alisya. Rasa rindunya membuatnya ingin segera melihat Alisya secepatnya. Adith bisa mengenali seluruh orang yang berada di ruangan tersebut meskipun dari sebagian besar mereka adalah orang-orang yang tidak dikenalinya. Akan tetapi, dengan kemampuan ekolokasinya ada tidak kesulitan untuk mengenali orang-orang yang sudah ditandainya. "Disana!" Adith segera menoleh ke tepi panggung dimana ia melihat seorang perempuan berkacamata sedang memegang mic. "Wanita berkacamata itu Alisya?" Gina kaget melihat Alisya yang sedang menyamar dengan kacamata bulat tebalnya. "Apa kau yakin itu benar Aliya?" Gani juga tak menyangka bahwa wanita berkacamata bulat tebal itu adalah Alisya. "Ya benar, karena identitas nona yang dulu adalah Alisya dan sebagai seorang putri Tuan Lesham telah meninggal, maka nona sekarang memiliki identitas sebagai seorang Ayumi yang bekerja di perusahaan Adith." Jelas Ryu kepada teman-temannya yang lain. Terakhir kali pertemuan Adora dan yang lainnya adalah di cafe pada saat Adith merayakan ulang tahun Alisya. Saat itu Alisya sudah membuka penyamarannya nya ketika ia menguji Vindra dan Yani. Sehingga begitu mereka sampai, mereka tidak melihat penyamaran Alisya sebagai seorang Ayumi. Alisya melihat kearah Adith dengan tersenyum. Senyuman akan kerinduan dan juga rasa bahagia bisa melihatnya kembali. Meski ia tidak bisa bersanding dengan Adith sebagai seorang Alisya saat ini. "Apa yang dilakukan oleh Ka.. Ehem.. Apa yang dilakukan Ali,, Sya yang disana?" Elvian hampir salah memanggil Alisya, dan ketika harus menyebutkan namanya dia merasakan ada sebuah samurai yang membelah lehernya. Rafli tertawa melihat Elvian yang berusaha keras tidak memanggil Kapten dan menyebutkan nama kaptennya dengan sangat Kaku. Belum sempat dijawab oleh Adith, suara lembut Alisya mengalun dengar merdu yang memenuhi ruangan membuat semua orang merasa takjub dengan kemerduan suara Alisya. "Melihat Ayahnya datang sendirian membuatku mengira kalau Alisya tidak ada datang hari ini." Bisik Aurelia kepada Yogi yang memikirkan hal yang sama dengan Aurelia. Adith berjalan perlahan menghampiri Alisya membuat semua wanita yang hadir di pesta itu merasa bingung. Setiap kali dia berjalan, beberapa wanita yang berada disana segera menahan nafas mengira kalau mereka yang akan dihampiri oleh Adith. Alisya bernyanyi dengan sedikit tertawa pelan mengetahui apa yang akan di lakukan oleh Adith, namun ia tidak peduli dan membiarkannya datang menghampiri dirinya. "Kau cinta pertama dan terakhirku!" Suara lembut Alisya mengakhiri lagunya dengan Adith yang sudah berada di hadapannya. Dengan tersenyum senang melihat Alisya, Adith membelai lembut wajah Alisya merangkulnya dan mengecup keningnya dengan lembut. Perasaan kerinduan yang tercurah dengan satu kecupan hangat tersebut. "Aku sangat merindukanmu." Bisik Adith pada Alisya dengan tersenyum nakal. "Aku juga merindukan mu, tapi tuan Direktur. Apakah kau sadar dengan apa yang sedang kau lakukan sekarang?" Alisya mengingatkan Adith akan apa yang sedang dilakukannya saat ini. Meski mereka berdua adalah sepasang suami istri, namun dimata orang banyak Adith adalah seorang direktur perusahaan Narendra yang belum menikah sehingga tentu saja apa yang dilakukan Adith saat ini menambah retakkan hebat di hati setiap wanita yang melihat hal tersebut. Mereka semua tak menyangka kalau Adith yang memiliki mysophobia terhadap seorang wanita kini malah terlihat sangat akrab dan bahkan mengecupnya di hadapan semua orang. "Aku tak peduli, biar semua dunia tahu kalau kau adalah milikku." Tegas Adith melemparkan pandangannya dengan sangat tegas. Yogi menepuk jidatnya dengan sangat keras. Mereka yang seharusnya menjadi pusat perhatian malah teralihkan karena Adith yang sedang memeluk Alisya dengan begitu erat. "Sepertinya kita harus mengikhlaskan hari bahagia kita untuk dijadikan moment spesial oleh beberapa orang." Gumam Yogi menatap kepada Adith dan Alisya lalu mengarah kepada Zein dan Ryu. "Aku tidak masalah, karena kebahagiaan kita harusnya bisa menjadi kebahagiaan orang lain juga, apa lagi jika mereka adalah orang-orang yang kita cintai." Pandang Aurelia kepada Yogi. Mendengar apa yang dikatakan oleh Aurelia, Yogi merasa penuh syukur bisa menikahi wanita cantik dan sangat perhatian tersebut. Meski Aurelia terkadang bersikap keras, namun semua yang dilakukannya adalah dia selalu jujur akan apa yang dia rasakan. "Bagaimana wanita itu bisa meluluhkan Adith? Wanita jelek seperti dia tidak mungkin bisa membuat Adith terpesona padanya." Seorang wanita tak rela melihat Adith bisa bersama yang lainnya. "Aku mungkin bisa merelakan dokter Karan karena Akiko memang terlihat pantas untuk dokter Karan. Tapi wanita itu, dia bahkan bukan hanya tidak pantas berada disampingnya, tapi dia juga sama sekali tak pantas untuk menghirup udara yang sama dengan Adith." Ucap seseorang menghina tampilan Alisya yang memang tidak terlihat menarik. "Sepertinya dia sudah melakukan pelet terhadap Adith." Tebak salah seorang dari mereka dengan kesal. "Hush¡­ kau pikir ini tahun berapa? Zaman tekhnologi serba super mutakhir tidak mungkin menggunakan hal-hal seperti itu. Hati-hati kalau berbicara." Meski kesal, seorang wanita mengingatkan temannya untuk tidak asal berbicara. "Welcome to Indonesia, meski sekarang semua serba modren, hal tradisional seperti itu banyak orang yang belum meninggalkannya." Lanjutnya tak peduli dengan peringatan temannya. Banginya dia hanya ingin mengungkapkan kekesalannya yang dia rasa benar kalau demi mendapatkan perhatian Adith dan meluluhkan Adith, Alisya sudah melakukan cara lain yaitu dengan cara hitam. Chapter 465 - Mawar Jingga Melihat tak ada lagi tamu yang berdatangan, Yogi segera mengambil mic ingin mengatakan sesuatu. "Terimakasih banyak atas kehadiran bapak, ibu dan rekan-rekan saya yang sudah menyempatkan hadir dalam acara resepsi pernikahan saya yang cukup sederhana ini." Yogi memulai perkataannya dengan terlebih dahulu mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan. Adith dan Alisya segera berjalan menujun ke kursi dimana teman-temannya berada melewati puluhan tatapan mata yang sangat tajam seolah ingin mengoyak-ngoyak Alisya saat itu juga. "Sepertinya kau memiliki banyak Fans Garis keras yang siap untuk memakanku." Bisik Alisya yang langsung membuat Adith tersenyum pelan. "Dan mereka tidak tahu kalau mereka hanyalah mangsa yang bisa kau buru kapanpun kau mau jika mereka melakukan pergerakan yang salah." Balas Adith dengan penuh rasa bangga. Alisya hanya bisa tertawa pelan melihat Adith yang sama sekali tak peduli dengan apa pendapat orang lain terhadapnya. "Kurang adil rasanya jika hanya kami saja yang merasakan kebahagiaan ini, sebab dua orang sahabat kami juga ingin merasakan kebahagiaan yang sama bersama kita semua." Terang Yogi sekali lagi melirik ke arah Zein dan Ryu. Yogi segera memberikan tanda yang langsung membuat lampu di ruangan itu menjadi temaram. Kemudian satu buah Sinar terang tersorot kepada Karin yang membuat Karin jadi semakin bingung dan salah tingkah. "Ada apa ini?" Tanya Karin kebingungan tak memahami apa yang sedang terjadi. "Triinggg .." sebuah petikan gitar dari arah lain segera membuat semua orang menoleh, dan disana ada Ryu yang sudah berdiri memegang mic dengan begitu tampan dan menawan. "Ehem.. Terimakasih banyak kepada sahabat saya Yogi yang telah memberikan saya kesempatan untuk memanfaatkan moment yang bahagia ini untuk¡­" setelah menatap Yogi dengan penuh rasa terimakasih, Ryu akhirnya menoleh kembali kepada Karin yang tersinari oleh sorot lampu. "Melamar wanita yang paling ku cintai dalam hidupku!" Seru Ryu dengan begitu tegas yang langsung membuat ibu Karin berteriak dalam hati. Semua orang ikut heboh saat mendengar hal tersebut bahkan Karin membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang sedang ia dengar. "Pa, anak kita pa¡­" ibu Karin menatap dengan penuh haru kepada suaminya. Suaminya hanya mengangguk-angguk pelan sembari memukul lembut punggung tangan istrinya untuk membuatnya tenang. "Aku memang tak sempurna, dan bahkan mungkin tak pantas untuk menjadi seseorang yang mendampingimu hingga akhir hayatmu. Aku terlalu takut dan bahkan sangat pengecut setiap kali melihatmu." Setiap kali dia berkata, secara perlahan dia melangkah menghampiri Karin. "Harus ku sadari, aku memiliki banyak sekali kekurangan dan karena hal inilah aku juga tidak bisa memberanikan diri untuk mengatakan semuanya dengan jujur kepadamu." Kata-kata Ryu membuat Karin semakin bersalah karena sudah menekannya dengan sangat jahat. "Bagiku kau adalah segalanya. Kau bahkan terlalu berharga untuk aku miliki, tapi aku tetap tidak sanggup melihatmu bersama dengan pria lain meski aku tahu kalau saat ini kau sedang mengujiku." Lanjut Ryu lagi kembali melangkah beberapa langkah. Rendy tersenyum saat mendengar kalau Ryu mengetahui apa yang sudah mereka rencanakan. Insting dan analisa Ryu yang cukup tinggi tentu saja dapat membuatnya mengetahui semua itu. "Aku salut padanya, meski dia sudah mengetahui apa yang kita rencanakan tapi dia tetap tidak bisa menyembunyikan perasaan cemburunya setiap kali melihat Karin bersamaku." Gumam Rendy dengan senyuman kagum kepada Ryu. Elvian dan yang lainnya juga hanya bisa tertawa pelan. Meski mungkin bisa dibilang gagal karena ternyata mereka mengetahui rencana mereka, itu juga bisa dibilang berhasil karena pada akhirnya mereka mendapatkan keberanian untuk jujur seperti saat ini. Karin menunduk malu akan apa yang sudah ia lakukan kepada Ryu. "Untuk itu, pada hari ini di hadapan semua orang aku ingin memberanikan diri." Ryu sudah sampai tidak jauh dia berdiri dari hadapan Karin. Dengan setengah berlutut, dia menaikkan tangannya seolah meminta sesuatu. "Semoga berhasil." Adith memberinya satu buket bunga mawar berwarna Jingga yang sangat cantik. Mawar jingga memiliki arti pernyataan cinta sekaligus lamaran. Hati Karin menjadi semakin tersenyuh saat melihat Ryu memegang bunga mawar tersebut. Jantungnya tak bisa berdetak dengan tenang dan semakin membuatnya gusar tak menentu. "Karin¡­" Ryu mulai mengangkat bunga itu di hadapan Karin yang sudah mulai terlihat berkaca-kaca. "Ta.... Tante, Om, maukan kalian mempercayakan anak tante kepada saya?" Ryu yang tegang malah berbalik bertanya kepada kedua orang tua Karin dengan suara keras karena tak sanggup melihat mata Karin yang sangat indah. "Bukkk!!!" Sebuah pukulan keras mengenai pipinya yang membuat semua orang tertawa dengan keras. Ekspresi wajah Karin yang sangat kesal karena mengira bunga itu untuk dirinya membuat semua orang tertawa. Karin masih mengepalkan tinjunya dengan nafas yang terengah-engah menatap tajam ke arah Ryu. Setelah mengambil bunga yang diberikan oleh Ryu, ibu Karin memandang Ryu dengan penuh kasih sayang. "Apa kau benar-benar ingin menikahi Karin? Anak tante itu sangat Bar-bar, lihat saja sekarang apa yang sedang terjadi padamu!" Tanya ibu Karin kepada Ryu yang pipinya tampak lembam dan kebas. "Ibu? Kok ibu gitu sih sama anak sendiri?" Karin yang protes kembali membuat mereka tertawa dengan terbahak-bahak. "Kau hanya akan jadi samsak gratisnya jika kamu bersama dia. Selama ini tidak ada satupun laki-laki yang mau karena sifatnya itu." Tambah Ayahnya memperingatkan Ryu. "Ayah juga ngapain ikutan? Kalian ini orang tuaku atau bukan sih?" Karin semakin kesal dengan tingkah orang tuanya. "Apa kau yakin?" Tanya ibu Karin lagi memastikan keputusan Ryu. "Kau tidak sedang mengigau kan? Aku sudah lama mengetahui kalau kau menyukainya, dan aku pikir kau adalah orang yang cukup bodoh menyukai anak manja seperti dia." Tegas Ayahnya lagi seolah sedang meminta Ryu untuk memikirkan kembali keputusannya. "Tring ting ting ting!" Karin KO mendengar komentar kejam dari kedua orang tuanya sendiri. Dia akhirnya menunduk pasrah dan berjalan membelakang. Ryu menoleh kepada Karin yang sudah menunjukkan punggungnya yang putus asa. Mendengar semua komentar kedua orang tua Karin, Ryu merasakan rasa syukur yang tak terhingga karena keduanya menujukkan reaksi yang tak diduga oleh Ryu. "Meski begitu, semua itulah yang membuat aku jatuh cinta padanya." Ryu berdiri dan berjalan meraih tangan Karin dengan cepat. "Maukah kau menikah denganku? Menjadi orang yang selalu berada disisi ku selamanya hingga akhir hayatku?" Sebuah kotak cicin telah terbuka dihadapannya. Karin langsung menangis dan jatuh kedalam pelukan Ryu, dia menanggangguk pelan dalam pelukannya. Yang langsung membuat Ryu memeluknya dengan erat dan mengangkat Karin lalu berputar dengan satu putaran penuh. Chapter 466 - Maukah Kau Berjuang Bersamaku? Semua orang larut dalam moment mengharukan bahagia serta konyol tersebut. Tak ada dari mereka yang berkomentar pedis seperti yang terjadi pada Alisya sebelumnya. Lampu kembali dinyalakan dan semakin terang menyinari mereka semua. Ibu dan Ayah Karin juga semakin bahagia dengan apa yang terjadi kepada mereka berdua, sehingga ia berusaha menahan air matanya dengan menarik nafas dalam. "Jangan lupa lamaran resmi, kamu harus melamar dengan cara yang benar yaitu membawa orang tua ke rumah wanita. Karena itu cara lamaran orang muslim yang baik." Ucap ayah Karin mengingatkan Ryu. Ryu menatap ke arah Ayah Alisya yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya karena dia adalah seorang yatim, langsung mendapatkan anggukan keras darinya. Ryu menoleh dengan penuh semangat. "Sekarang juga bisa kok Om!" Ucap Ryu dengan polos yang langsung membuat semua orang di dalam kembali tertawa terbahak-bahak. "Dasar! Itu harusnya dilakukan di rumah, bukan di tempat keramaian seperti ini. Sudah pisah.. Minggu depan baru kamu kerumah." Ayah Karin langsung menarik Karin dari sisi Ryu. Meski tidak mengerti apa maksudnya, tapi Ryu bisa memahami apa yang dimaksudkan oleh ayah Karin. Karin hanya bisa tertawa pelan dan pergi dari hadapan Ryu. "Waaah¡­ selamat kepada sahabat saya Ryu yang sudah berhasil. Sekarang tinggal seorang lagi, pestanya takkan berakhir sebelum semua kebahagiaan menjadi satu di dalam ruangan ini." Aurelia segera bersuara dengan begitu heboh setelah mengetahui rencana Yogi. Kedua orang tua Yogi dan Kedua orang tua Aurelia terlihat cukup menikmati semua yang sedang terjadi sehingga ia merasa bangga kepada kedua anaknya yang tidak egois dan juga ingin menjadikan pernikahan mereka sebagai momentum yang mereka habiskan bersama dengan orang-orang yang mereka cintai. Mereka semua menebak-nebak apa yang akan terjadi, jika para tamu undangan lain mengira kalau Adith akan melamar Alisya, maka Emi dan yang lainnya menduga kalau kali ini adalah giliran Adora. Ketika mereka menduga bahwa akan ada lamaran berikutnya yang terjadi, lampu sorot tiba-tiba menyoroti kedua orangtua Zein. Keduanya tampak kaget dan tak menyangka kalau mereka yang akan mendapatkan sorotan. "Apa saya akan mendapatkan lamaran lagi?" Tanya ibu Zein menatap suaminya dengan eskpresi yang tak bisa di terjemahkan. "Siapa yang berani melamar istriku yang sudah tua renta dan chuby ini?" Tatap sang suami berlagak marah yang langsung mendapatkan pukulan dari istrinya. "Diam kau! Maki ibu Zein dengan kesal kepada suaminya. Ia kesal karena mengira kalau suaminya akan menampilkan sesuatu yang mengejutkan. Seseorang tiba-tiba menghampiri keduanya dengan tatapan penuh kasih namun ada sedikit keraguan di dalamnya. "Ayah, Ibu! Zein minta maaf karena selama ini Zein belum pernah menceritakan hal ini kepada Ibu. Ibu selalu bertanya siapa perempuan yang aku suka hingga terus menolak setiap perjodohan yang ada." Zein terduduk di bawah dan memegang erat punggung tangan ibunya. Suaranya sangat lembut dan penuh kasih. "Apa kamu mau bilang dia ada disini dan kau ingin meminta izin kepada kami untuk melamar dia?" Tanya ibunya dengan suara yang tegas. "Aku tak tahu apakah aku bisa melamarnya atau bagaimana, tapi untuk saat ini aku akan memperkenalkan dia kepada kalian. Maafkan aku karena memanfaatkan orang banyak untuk bisa menerima izin dari kalian berdua." Jelas Zein lagi yang tertunduk takut. Zein memang anak yang arogan di mata teman-temannya dulu dan sangat dingin, namun sebenarnya dia adalah anak yang sangat penurut kepada kedua orang tuanya. Dia selalu menuruti setiap keinginan kedua orang tuanya dan tak ingin membantah mereka namun kali ini untuk pertama kali Zein ingin menyatakan perasaan dan keinginannya sendiri. "Jika kau tak ingin melamarnya, untuk apa kau lakukan ini dan meminta izin kami?" Tanya Ayahnya kepada Zein karena tak memahami apa maksud dari apa yang sedang dilakukan oleh Zein saat ini. "Itu karena Zein takut kalian tidak menerimanya dan menolaknya. Makanya kak Zein sengaja memanfaatkan orang banyak kalian bisa sedikit lebih mempertimbangkan keinginan kak Zein." Ucap Zyzy dengan santai yang langsung mengena dengan telak apa yang ingin dikatakan oleh Zein. "Mulut anak ini selalu pedas! Dia mengambil siapa sih?" Ibu Zein menatap Zyzy dengan tajam sedang Zyzy hanya membuang muka tak peduli. "Siapa lagi kalau bukan dirimu!" Gumam Ayah Zein yang langsung bersiul seolah tidak terjadi apa-apa. "Oke, karena kamu sudah membicarakannya, siapa perempuan itu? Aku ingin lihat siapa dia sampai benar-benar membuatmu terus menolak perjodohan ini sama seperti terakhir kali." Tegas ibunya menjadi sangat penasaran. "Apa itu artinya dia juga ada di pesta ini?" Tanya ayahnya langsung melihat ke sekeliling ruangan itu. "Tante sama Om gimanasih? Rencana awalnya kan mau buat Zein dan Aku jadi lebih dekat biar dia bisa menerima perjodohan ini. Kenapa sekarang malah seperti ini?" Tanya seorang wanita yang mungkin kali ini menjadi wanita yang dijodohkan dengan Zein. "Sebentar Violet, kamu sebaiknya tenang dulu. Tante juga ingin memastikan siapa yang sudah membuat Zein memiliki pendirian untuk mengungkapkan keinginannya." Ucap ibu Zein menenangkan Violet. Melihat mata tegas ibu Zein, Violet akhirnya pasrah dan langsung kembali duduk di kursinya. Ibu Zein menatap kepada Zein dengan tatapan perintah kalau ia bisa menunjukkan wanita itu sekarang. Zein kemudian berdiri dari posisinya dengan sejenak menarik nafas dalam. Melihat itu semua orang juga merasakan ketegangan bahkan dengan mic terbang yang berada di sekitar mereka membuat nafas Zein terdengar sangat jelas. "Tidakkah kau lihat kalau baru kali ini Zein bersikap seperti itu?" Ayah Zein berbisik di telinga istrinya yang dijawabnya dengan anggukan pelan. Zein secara perlahan melangkah dengan pasti mendekati seseorang. "Maukah kau berjuang bersamaku?" Zein menjulurkan tangannya kepada Adora dengan tatapan penuh harap. Adora melihat kesungguhan Zein kali ini. Zein sebenarnya bukanlah orang yang gampang gugup maupun ragu-ragu terhadap sesuatu, namun kali ini Adora bisa melihat sisi lain dari Zein. "Pergilah, apa lagi yang kau tunggu?" Karin segera menyadarkan Adora yang terbengong. "Bukankah ini yang sudah membuat kita merencanakan semuanya?" Jati tersenyum kepada Adora agar ia memberanikan diri. "Kau tak perlu takut, karena sekarang kau bisa melangkah bersama dia." Feby menyikut bahu Adora dengan Emi dan Gina juga tampak ikut mendukungnya. "Pergilah!" Alisya juga ikut meyakinkan Adora yang kemudian secara perlahan dia meraih tangan Zein dan melangkah menuju ke hadapan kedua orang tua Zein. Dari kejauhan ibu dan ayah Zein bisa melihat siapa yang sedang dituju oleh Zein. Mereka berdua sudah pernah melihat Adora sebelumnya. Chapter 467 - Syarat Untuk Meyakinkan Ibu Melihat Zein terlihat begitu memperhatikan setiap langkah dari Adora membuat ibunya yakin kalau saat ini Zein benar-benar sedang dalam keadaan sangat serius terhadap apa yang dia lakukan. Belum pernah ibu Zein melihat anaknya begitu berkeinginan teguh terhadap seorang perempuan. "Ibu, Ayah.. kalian pasti sudah pernah bertemu dengannya beberapa kali sebelumnya. Dan¡­ Inilah wanita yang aku maksudkan." Zein memegang bagian belakang pinggang Adora sebagai bentuk dorongan untuk menunjukkan Adora kepada mereka berdua. "Halo Tante, Om.. Namaku Adora Camelia. Aku teman sekelas Alisya dan yang lainnya." Ucap Adora dengan suara yang terdengar sedikit bergetar. Cukup terlihat kalau ekpresi kedua orang tuanya sedikit ada rasa ragu setelah melihat siapa yang sedang di tunjukkan oleh Zein. Adora yang bukanlah dari kalangan atas segera membuat mereka ragu dan tak tahu harus bereaksi apa terhadapnya. "Karena kau sudah melakukan ini, kau tau dampak dan resiko yang bisa kau dapatkan bukan?" tanya Ayah Zein ingin memastikan keyakinan Zein terhadap apa yang sedang dilakukannya sekarang. "Aku sudah memikirkan semua ini, dan aku sudah siap untuk bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan. Aku tau apa yang akan menjadi dampak dari resiko dari apa yang aku lakukan, untuk itulah aku ingin meminta kalian untuk percaya padaku." Terang Zein melepas tangan Zein dan kembali tertunduk dihadapan ibunya. "Aku tau kalau ibu inginkan yang terbaik untukku, tapi aku harap kalian berdua percaya padaku dan terhadap keputusan yang aku ambil. Dia mungkin bukan dari kalangan atas seperti yang ibu inginkan, tapi aku hanya ingin mecarikan menantu yang terbaik buat kalian. Bagiku Adora melebihi segala harapan dan keinginanku." Jelas Zein lagi sembari tersenyum dengan tatapan tegas dan penuh keyakinan. "Kalau gitu ibu bertanya sekali lagi padamu, apa kau yakin dengan apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Ibu belum akan menyetujui kalian berdua karena ibu belum mengetahui siapa dia dan seperti apa dia, apa kamu yakin dia yang terbaik untukmu?" tanya ibu Zein kepada Zein sekali lagi dengan tatapan serius. Ibu Zein bukannya tak menyukai Adora, namun ibunya takut kalau karena cinta Zein tak bisa melihat siapa Adora sebenarnya. Ibu Zein yang seorang perempuan tahu betul dengan pengalaman hidup yang sudah dijalaninya, kalau banyak sekali wanita diluar sana yang hanya bersikap manis di hadapan laki-laki yang menjadi incaran mereka, namun bersikap sangat busuk pada orang lain. Ibu Zein tak ingin dia salah dalam mendapatkan wanita yang akan dinikahinya, namun jika wanita itu adalah wanita yang memiliki kepribadian yang baik, maka ibu Zein akan mendukung keputusan anaknya terlepas dari siapa dia dan status social yang dimilikinya. "AKu akan sering membawanya kerumah ibu, agar ibu bisa menilainya secara langsung. Aku yakin kalian akan cocok, selain itu sikap kalian juga tidak jauh berbeda. Aku yakin ibu takkan percaya jika aku sendiri yang mengatakan bagaimana Adora dan seperti apa dia, untuk itu biarlah ibu yang mengenalnya secara langsung." Zein mengambil tangan Adora dan membuatnya duduk di pahanya agar ia bisa sejajar dengan ibunya. Adora cukup malu dengan posisi mereka saat itu, masih ada kursi kosong di sampingnya tapi ia lebih memilih membuat Adora duduk di pahanya dengan ia bersikap setengah berlutut dihadapan orang tuanya. Sangat terlihat kalau Adith sangat menghargai Adora karena ia tidak benar-benar menepatkan tubuhnya dekat dengan Adora dan tak melakukan sentuhan-sentuhan yang berlebihan. "Apa yang sedang kau lakukan? Aku bisa duduk di kursi itu." Adora segera berdiri karena merasa kurang sopan melakukan hal seperti itu di hadapan kedua orang tua Zein dan di hadapan banyak orang. Zein tak peduli dan kembali menarik Adora dengan lembut. "Tidak apa-apa, aku lebih suka kau duduk disini karena aku tak ingin kau duduk berlutu di hadapan keduanya." Zein mengucapkan dengan tulus sebab tak ingin membuat harga diri Adora jatuh. "Adora, sebelum kita mengenal lebih jauh dan Zein benar-benar membawamu ke rumah, ibu ingin bertanya satu hal sebagai syarat untuk dapat meyakinkan ibu. Jika kau bisa menjawabnya dengan benar, maka ibu akan mengizinkanmu bersama dengan Zein." Ucap Ibu Zein langsung mengambil keputusan. "Kayak lagi ujian CPNS saja pake tes Esay!" gumam Zyzy dengan sangat jelas yang membuat Ayahnya tertawa pelan. Semua orang tak bisa berkata apa-apa dan hanya menatap ibu dan anak yang terlihat sangat serius tersebut. Mereka larut dalam ketagangan terhadap semua yang terjadi dan benar-benar menikmati apa yang sedang terjadi. Meski tak tahu apa yang sedang di maksudkan oleh ibu Zein, namun dia tetap mengangguk pelan menyanggupi apa yang di inginkan oleh ibu Zein. Zein terus memandang Adora dengan lembut dan tersenyum simpul karena bisa mendengar detak jantungnya dengan sangat jelas. "Apa yang kau membuatmu cinta kepada Zein dan memberanikan diri untuk melagkah bersamanya? Dan¡­. Apa juga yang kadang bisa membuatmu jengkel terhadap sikap Zein kepadamu. Kau harus mengatakannya dengan jujur dan tak melewatkan sesuatu. Semuanya tergantung dari jawabanmu." Ibu Zein bertanya dengan sangat tegas. Pertanyaan ibu Zein segera membuat semua orang bergumam pelan, mereka mulai rebut karena tak menduga kalau pertanyaan ibu Zein sangat mudah. Mereka semua terseyum sinis mendengar pertanyaan tersebut. Mereka tak tahu kalau pertanyaan ibu Zein adalah sebuah jebakan mematikan yang bisa mengakhiri hubungan keduanya saat itu juga. "Pikirkan baik-baik, perntanyaannya mungkin terdengar mudah. Akan tetapi jika kau salah dalam menjawabnya maka bahkan Zein sekalipun takkan bisa menyelamatkanmu lagi." Tegas Ayah Zein memberikan peringatan kepada Adora karena tahu maksud dari pertanyaan istrinya. "Kau sebaiknya berhati-hati dalam menjawabnya, jangan pernah berpikir kalau pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sederhana. Hanya orang-orang yang berhati dangkal yang menjawab dengan asal." Komentar pedas Zyzy segera membuat diam semua orang yang berada disana. Adora masih terdiam dan tertunduk dalam, awalnya ia juga berpikiran sama kalau pertanyaan ibu Zein cukup sederhana namun berkat peringatan dari ayah Zein, dia akhirnya tidak bertindak gegabah. "Jika aku bilang mencintainya tanpa alasan, maka itu terdengar munafik, karena alasan terbesarku mencintainya adalah semua yang ada dalam dirinya. Dia menghargaiku seperti dia menghargai ibunya." Jawab Adora singkat dengan tatapan yang sangat tulus tanpa menoleh sedikitpun kepada Zein. Zein tersenyum mendengar jawabab dari Adora. Tak disangka jawaban Adora diluar bayangan ibu Zein. Dia tidak menyebutkan banyak hal mengenai Zein ataupun menceritakan bagaimana sikap Zein terhadapnya mengingat ia tahu betul kalau anaknya itu suka bersikap dingin kepada setiap wanita. Chapter 468 - Take a Picture Ucapan Adora segera mengakhiri semua hal yang tak bisa lagi di pertanyakan kembali oleh ibu Zein, sebab jawaban yang tak disangkanya adalah jawaban yang lebih dari cukup untuk membutikan bahwa Adora memanglah wanita yang tepat untuk Zein. "Oke semuanya, saatnya sebuah hiburan dari sahabat terbaik saya Beni Kasyafani." Teriak Yogi memperkenalkan Beni yang langsung membuat mereka semua berteriak dengan histeris. Bagaimana tidak, Beni adalah seorang superstar dan artis yang sangat banyak digandrungi dan terkenal. Beni kemudian berdiri dengan gagah menuju tempat dimana terdapat seperangkat Drum disana yang dengan lancarnya dia mulai bernyanyi sembari mengetuk tiap drum yang ada dengan begitu mempesona. Pesta itu akhirnya diliputi dengan kelimpahan kebahagiaan yang tak terhingga melingkupi semua orang dan setiap sudut ruang di dalam pesta Yogi dan Aurelia tersebut. Bahkan saat ini, Ryu sudah duduk bersama dengan orang tua Karin, Adora juga mulai berbincang-bincang bersama keluarga Zein dan Alisya juga sudah bersama dengan kedua orangtuanya. Melihat Alisya yang mendapat perlakuan hangat membuat beberapa orang wanita yang menjadi tamu udangan tersebut semakin kesal. Sudah cukup bagi mereka melihat Zein dan Ryu serta Karan yang akhirnya memilih seorang wanita untuk dijadikan kekasih mereka selama-lamanya. Mereka Tak ingin orang yang sangat mereka puja dimiliki oleh wanita seperti Alisya. "Ouchhh.. Aku benar-benar muak melihat wanita itu. Bagaimana bisa dia duduk disana dan berbincang-bincang dengan mereka?" tanya seorang wanita yang berada tak jauh dengan meja Alisya. "Apakah aku harus bilang kalau dia sangat beruntung?" ucap temannya yang berada disebelahnya dengan suara yang terdengar sedikit iri pada Alisya. Bagi mereka Alisya tetap sangat jauh berbeda dengan Adith, sekali lagi tampilan Alisya selalu saja membuat orang lain salah paham. Apa lagi saat ini dia mengenakan penyamarannya yang membuatnya terlihat biasa saja dan tak menarik. Sebuah telepon tiba-tiba menyadarkan Adith dari percakapannya bersama Alisya dan orangtuanya. Adith berdiri untuk menerima panggilan telepon tersebut yang kemudian beberapa saat dia kembali lagi ke tempat duduk mereka dan menunduk kepada Alisya. "Aku harus kerumah sakit sekarang, ada pasien yang harus segera dioperasi." Bisiknya kepada Alisya lalu mengecup hangat kening Alisya kemudian menghampiri kedau orang tuanya dan Ayah Alisya untuk berpamita. Yogi yang melihat kepada Adith yang sedang melambai kepadanya paham akan apa yang dimaksudkan oleh Adith sehingga Yogi dan Aurelia segera mengangguk dan melambai dengan cepat. Adith akhirnya melambai singkat juga pada yang lain-lainnya namun Beni menghentikan Adith sebelum ia pergi. "Ada apa?" tanya Adith kebingungan dengan Beni yang menghadangnya bersama dengan Gani. "Kau boleh pergi setelah kita berfoto bersama." Ucap Beni cepat yang langsung ia arahkan kepada teman-temannya yang lain. "Kau bisa pergi setelah satu kali Take a Picture, Iya kan?" tanya Gani ingin memastikan kesiapan Adith terelbih dahulu, sebab jika ia menolak maka Gani akan membiarkan Adith untuk pergi. "Oke. 1 kali saja!" seru Adith pasrah kemudian berbalik yang langsung membuat Adith kembali menghampiri Alisya dan mengajak Alisya serta teman-temannya yang lain untuk naik. Melihat Rendy dan yang lainnya hanya terdiam ditempat mereka, membuat Alisya mengerutkan keningnya dan akhirnya Yogi memanggil mereka untuk ikut berfoto bersama dengan mereka. "Hei, apa yang kalian di bawah sana, naiklah dan berfoto bersama kami." Yogi segera memanggil mereka untuk naik. "Naiklah, kalian juga teman kami." Aurelia juga kembali memanggil mereka di ikuti dengan panggilan teman-temannya yang lain. Rendy dan yang lainnya hanya menggeleng tak berani naik karena mereka merasa belum menjadi bagian dari Alisya dan yang lainnya. Melihat mereka yang ragu-ragu membuat Alisya akhirnya hanya melambaikan tangan yang dengan seketika mereka semua naik tanpa ada keraguan lagi. Melihat Alisya yang tampak bisa mengendalikan ke empat pemuda tampan dan gagah itu dengan mudah membuat beberapa wanita lain menatap dengan takjub. Mereka semakin penasaran dengan siapa sosok Alisya sebenarnya, namun beberapa dari mereka juga malah semakin membenci Alisya. "Apa kau melihatnya tadi? Dia hanya menggunakan satu Gerakan tangan saja dan ke empat pria itu langsung mengikutinya sedang sebelumnya mereka masih terlihat ragu dan malu untuk naik." Terang salah seorang wanita yang memperhatikan Alisya. "A¡­ aku tidak melihatnya, tapi sedikit merasa kalau sepertinya wanita itu bukanlah orang biasa. Mustahil baginya untuk bisa bersikap dengan begitu berkelas jika memang dia hanyalah penghibur di acara ini hanya karena ia menyanyi sebelumnya dan penampilannya seperti itu." Ucap yang lainnya mulai ragu dengan tampilan Alisya yang mungkin saja bisa menipu. "Kau benar, terkadang kita tidak bisa menilai segala sesuatu hanya dari tampak luarnya saja." Ucap yang lainnya lagi membenarkan apa yang dikatakan oleh temannya. Beberapa dari mereka memang mulai menampakkan keraguan dan tingkat penasaran mereka semakin besar melihat semua orang Elite yang berada disana memperlakukannya dengan begitu akrab dan terlihat sangat menghargainya. Namun, haters selalu saja tetap ada dan sangat sulit untuk menghilangkan sifat gelap mereka. "Brengsek¡­ Semakin lama aku melihatnya semakin membuatku ingin menampar wajahnya untuk menyadarkan dirinya siapa dia sebenarnya." Tatap seorang perempuan kepada Alisya dengan penuh kebencian. "Tidak kah kau merasa kalau dia benar-benar bermuka tebal? Lihat saja senyuman angkuhnya itu, aku benar-benar ingin menghajarnya hingga senyuman itu berubah menjadi tangisan." Tambah yang lainnya. Mereka semakin membenci Alisya saat melihat Adith kembali mengecupnya lembut dan berlari turun dari panggung setelah selalu melakukan foto bersama dengan teman-temannya. Apa yang dilakukan Adith pada Alisya sebenarnya membuat semua tamu undangan kebingungan dan tak percaya. Mereka semua takjub melihat Adith tampak memperlakukan Alisya dengan mesra saat mereka masih mengira kalau Adith mengalami Mysophobia. Foto-foto mengenai Adith yang mencium dan memperlakukan Alisya dengan begitu intens segera meledak dengan sangat heboh di dunia maya. Seluruh wanita Indonesia yang mengagumi Adith akhirnya merasakan patah hati juga secara tak sengaja meningkatkan orang-orang yang membenci Alisya. "Lihat dia menuju ke suatu tempat, sepertinya kita punya kesempatan untuk melakukan sesuatu padanya." Ucapnya saat melihat Alisya menuju kesuatu tempat. "Mari kita buat pelajaran yang dapat membuatnya takkan berani lagi menunjukkan wajahnya kepada Adith lagi." Seru yang lainnya dengan senyuman yang sangat mengerikan. "Oke, Aku tidak sabar untuk melakukan ini padanya. Ayo kita pergi sebelum ada orang yang benar-benar memperhatikan kita." Tegas yang lainnya lagi dengan penuh semangat. Mereka benar-benar sudah di kuasai oleh rasa iri dan cemburu sehingga mereka sudah tidak memikirkan akan dampak yang bisa mereka hadapi nantinya jika menyerang Alisya. Chapter 469 - 3 Nenek Sihir Melihat Alisya yang menuju ke dalam toilet, dengan gaun mereka yang cukup sempit, mereka mempercepat langkahnya untuk menghampiri Alisya. "Jalannya cepet sekali sih, dia benar-benar sudah ingin segera buang air kecil yah?" Seorang dari mereka mendengus kesal melihat Alisya sudah menghilang ke dalam toilet. "Sudahlah, ayo cepat. Aku sangat ingin melihat wajahnya dari dekat sekarang." Tambah yang lainnya dengan setengah berlari sambil mengangkat tinggi roknya. "Puftttt¡­. Hahahaha, untuk urusan seperti ini memang selalu seru dan menarik." Ucapnya mengikuti temannya. Setelah mereka masuk, salah seorang dari mereka mengambil sebuah papan pemberitahuan bahwa toilet tersebut sedang di bersihkan agar tak ada yang mengganggu mereka. "Jangan lupa kunci pintunya, biar tak ada yang masuk kedalam toilet ini." Ucapnya dengan cepat. Alisya tak terlihat di sana karena dia sedang berada di dalam toilet. Begitu mereka masuk, Alisya bisa merasakan niat jahat mereka yang langsung membuat Alisya tertawa pelan. Mereka terdengar ribut mempermasalahkan untuk salah satu dari mereka naik dan menyiramkan air yang sudah mereka kumpulkan dari dalam kloset. "Sebentar, gaunku susah buat aku naik ke atas nih. Bisa bantuin pegangin nggak." Bisiknya pelan, namun apa yang sedang mereka bicarakan sebenarnya dapat di dengar oleh Alisya dengan sangat baik. Alisya sudah tidak memakai alat peredam yang dulu diberikan oleh Adith lagi karena sekarang ia bisa memilah mana yang ingin ia dengar dan sampai frekuensi mana yang tidak ingin ia dengar. Dengan tidak terburu-buru, setelah menyelesaikan urusannya di salah satu bilik tersebut, Alisya perlahan berdiri dan melihat mulut ember yang perlahan-lahan akan di jatuhkan kepadanya. Hanya dengan sedikit tekanan dari Alisya, perempuan itu akhirnya kehilangan keseimbangan karena ia memakai sepatu heels yang membuatnya terjatuh dan menyiram satu ember penuh air kloset ke wajahnya dan sedikit lagi terciprat ke baju gaun mahal teman-temannya. "Eh¡­ apa kalian baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Tanya Alisya bersikap seolah tak mengetahui apa yang sedang terjadi. "Sial.. apa kau sudah gila, kau pikir gaun ini berapa harganya? Ini sangat maha tau!" Makinya kepada temannya yang wajahnya telah basah kuyup. Wanita itu bahkan sampai muntah-muntah karena merasakan air itu sedikit masuk kedalam mulutnya. "Kau sengaja yah melakukan ini pada kami?" Tatap salah seorang di antara mereka kepada Alisya. "Dari mana sih sebenarnya asal dari 3 nenek sihir ini. Kenapa mereka tiba-tiba memiliki niat jahat kepadaku!" Batin Alisya melihat mereka bertiga yang sama sekali tidak dikenalinya. Alisya mendesah mendengar apa yang sedang mereka bicarakan karena sudah bertanya untuk memperlihatkan sikap pedulinya dan mereka malah kembali menyalahkan dirinya, Alisya akhirnya jadi tidak memperdulikan mereka. "Hei, apa kau tidak dengar? Kau sengajakan membuat kami basah karena air itu." Salah seorang dari mereka langsung menghentikan Alisya yang dengan kasar menarik bahunya. Tepat saat itu Alisya melihat kalau mereka benar-benar sudah sengaja mencari masalah dengan bersikap seolah-olah bahwa hal itu terjadi karena kesalahan Alisya. "Oke, jujur saja! Apa yang kalian inginkan sebenarnya? Aura tubuh kalian terlihat hitam dan busuk bahkan dengan kuat memperlihatkan niat jahat kalian." Tanya Alisya mencoba ingin mengetahui apa yang menjadi permasalahan mereka. "Humph.. puhahahaha.. ini bagus, sepertinya kita tak perlu menyembunyikannya lagi. Ini akan menjadi lebih mudah." Ucapnya menekan Alisya ke dekat westafel. "Aku peringatkan kau untuk jangan pernah menunjukkan wajahmu di hadapan Adith lagi. Hari ini aku akan berbaik hati untuk melepaskan mu, tapi ketika aku melihatmu sekali lagi aku akan membunuhmu." Ucapnya dengan begitu sinis. "Kenapa kalian melarangku untuk bertemu dengan Adith, memangnya siapa kalian?" Tanya Alisya masih terus menunjukkan sikapnya sebagai Ayumi yang cupu. "Huhhh srekkk¡­ tidak peduli siapa kami. Aku sudah memperingatkanmu dengan baik-baik." Karena kesal, wanita itu merobek atasan baju alisya dengan sangat kuat. "Hahahaha.. bagus Tia, dengan begitu dia tidak akan masuk lagi kedalam pesta dengan gaun seperti itu. Tapi ini tidak cukup untuk membuatnya takut, bagaimana kalau kita menghancurkan wajahnya saja sekalian?" Tanya seorang temannya mendekat ke arah mereka berdua. "Aku takkan puas jika dia belum mendapatkan ganjaran sudah membuatku basah dengan air itu, sobek saja semua gaunnya biar dia keluar dari tempat ini dengan tubuh telanjang." Ucap wanita yang sudah membersihkan wajahnya dengan jijik. "Hahahhaaha, kalian benar. Dari mana aku harus memulainya yah.." Wanita yang bernama Tia itu tampaknya tak menyadari perubahan ekpresi Alisya saat ini. "Apa yang kalian berdua lakukan? Kenapa kalian hanya diam saja? Bukankah akan lebih bagus jika kalian merekamnya? Jadi jika dia masih tidak mendengarkan apa yang kita katakan lagi, kita bisa mengancamnya dengan rekaman itu." Ucapnya melirik kepada kedua temannya. "Oh Iya, kau benar!" Dengan cepat mereka mengambil handphonenya. "Brakkkkkk!!!" Tia terlempar dengan cukup keras membentur pintu bilik toilet dan terduduk di atas toilet dengan begitu kerasnya. "Aa aaah¡­ padahal aku sudah cukup bersikap untuk bersabar dengan sikap kalian. Apa kalian pikir mereka yang hanya mendiamkan apa yang kalian lakukan itu adalah orang yang lemah." Alisya berkata dengan suara yang sangat dingin membuat kedua teman Tia mulai sedikit takut. "Apa yang kalian lakukan? Brengsek¡­ serang dia! Akh.." perintah Tia yang meski sedang dalam keadaan terjepit, dia masih saja memerintah kedua temannya dengan begitu kasar. Terlihat sedikit ragu-ragu, mereka akhirnya memberanikan diri untuk menyerang Alisya namun kemudian keduanya terlempar dengan sangat keras. Meski merasakan sakit di tubuh mereka berdua, keduanya tetap berusaha bangkit dan menyerang Alisya sehingga dengan menghempas keduanya membentur satu sama lainnya, Alisya melilit keduanya dengan kertas toilet yang ada disitu hingga mereka tak terlihat sama sekali. Keduanya jatuh berguling ke bawah seperti sebuah mumi dan Alisya hanya merobek di bagian hidung mereka sebagai jalan untuk mereka bernafas. Tepat saat itu, Tia keluar dari toilet dengan posisi tubuh yang setengah menunduk menahan sakit. "Sial, kau akan menyesal karena sudah melakukan ini padaku!" Ancamnya lagi masih tidak mengetahui posisinya. Merasa kalau Tia sudah terbiasa berbuat semena-mena, Alisya langsung mengeluarkan aura intimidasi yang sangat kuat seolah siap untuk membunuh Tia saat itu juga. Alisya langsung mengeluarkan energinya yang langsung membuat kaca dan tempat itu menjadi kacau balau bahkan lampu di dalam toilet itu tampak koslet dan rusak. Merasa ada sesuatu yang tidak beres dan Alisya bukan wanita biasa, dia yang semula penuh akan percaya diri akhirnya langsung terkulai lemas dan sangat ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat dan terkencing saat melihat tatapan tajam Alisya. Chapter 470 - Memberi Pelajaran Penindas Melihat perubahan ekspresi di wajah Alisya membuat Tia tahu bahwa dia benar-benar telah salah dalam mencari masalah dengan seseorang. Melihat Alisya yang memakai kaca mata dan tersenyum dengan begitu polos telah membuatnya berpikir bahwa Alisya adalah wanita yang lemah. "Si.. siapa kau sebenarnya? Kau bukanlah manusia, kau adalah monster. Tidak mungkin seorang ma.. manusia bisa melakukan ini." Ucap Tia dengan suara yang tercekat dan tak bisa mengatur kata-katanya dengan baik. "Siapapun aku juga bukan urusanmu, sebaiknya apa yang sudah kau lakukan hari ini tidak akan terjadi lagi kedepannya. Dan satu lagi, Adith bukanlah barang yang bisa kalian klaim sesuka hati seolah dia adalah milik kalian dengan begitu mudahnya." Setiap kata yang mengalir dari bibir Alisya terdengar seperti sebuah ancaman yang menakutkan. Tia tidak berani berkata-kata lagi karena lidahnya kelu dan ketakutan. Wajahnya menjadi pucat pasih dan menyesali apa yang sudah ia lakukan pada hari ini. Jika saja ia masih bisa menahan diri, dia mungkin tidak akan menjadi seperti itu. Alisya segera keluar dari toilet tersebut dengan tatapan datar. Ia masih sedikit kesal sikap Tia dan yang lainnya yang berprilaku dengan sangat tidak baik. Alisya berpikir bahwa mungkin saja ketiga orang tersebut sudah melakukan hanl yang sam akepada banyak orang sehingga Alisya benar-benar memberikan mereka pelajaran yang sangat berharga kali ini. "Nona!" Ryu segera mendekati Alisya dan melilitkannya dengan jas miliknya. "Sepertinya kau semakin peka saja sekarang! Tidak ku sangka kau bisa merasakan energi samar tadi, padahal aku pikir sudah menekannya dengan cukup baik." ucap Alisya memakai Jas milik Ryu. Ryu yang merasakan energi amarah yang keluar dari Alisya segera menuju ke tempat dimana Alisya berada dan menunggunya di luar sana. Dia bisa merasakan bahwa amarah Alisya yang meledak saat ini cukup terkendali karena masih samar dan takkan dengan mudah dirasakan oleh orang lain. "Sepertinya kau akan menghadapi banyak orang seperti mereka. Aku cukup banyak mendengar komentar tajam mereka mengenaimu" Terang Zein yang juga samar-samar merasakan amarah Alisya. "Aku pikir ada apa, tidak seperti biasanya kau jadi sedikit gampang marah seperti itu. Ternyata mereka memang sudah salah dalam mencari masalah." Karin sempat melihat Ryu yang menutupi tubuh Alisya yang sobek sebelumnya. "Aku tidak perduli jika hal ini hanya terjadi padaku, tapi mengingat cara mereka yang terlihat sudah terbiasa melakukannya kepada orang lain membuatku sangat marah. Bisa kau pikirkan bagaimana perasaan orang-orang yang sudah mereka bully." Geram Alisya mengingat sikap mereka yang terbilang cukup pro dalam menindas orang lain. "Apa kau ingin aku berbuat sesutau kepada mereka? Setidaknya dengan ini mereka bisa belajar bagaimana sakitnya jika mereka menjadi orang yang juga di bully oleh orang lain." Terang Ryu mencoba memberikan saran kepada Alisya. "Sanksi sosial sepertinya akan sangat baik untuk mereka. Cari tahu siapa dan dimana mereka bekerja dan buat mereka agar bisa benar-benar jera dengan hal ini." Tatap Alisya dengan tajam. Mereka yang sama sekali tak merasa bersalah ketika sudah melakukan penindasan kepada orang lain membuat Alisya semakin marah dan kesal dan merasa perlu memberikan mereka pelajaran setimpal yang dapat membuat mereka benar-benar sadar. "Seseorang memang takkan pernah merasakan sakit ketika mereka juga tidak diberikan luka yang sama. Orang-orang yang terbiasa membully biasanya semakin kuat untuk menindas orang lain ketika mereka mendapatkan dukungan dari orang lain." Karin terlihat tersenyum dengan begitu menakutkan. "Benar, perbuatan mereka yang di anggap seolah hal biasa membuat mereka semakin terbiasa dalam melakukan penindasan." Jelas Zein lagi memikirkan tindakan mereka. "Mendapatkan kesenangan dan kepuasan menindas orang lain adalah satu hal yang sangat salah. Banyak orang diluar sana yang bahkan tak berani lagi untuk menghirup udara luar dan bunuh diri karena rasa traumanya atas penindasan yang mereka dapatkan." Alisya mengenggam jas Ryu dengan begitu erat untuk menekan amarahnya. "Dan anehnya, orang-orang yang melakukan ini semakin banyak bermunculan dimana-mana. Seolah seperti sebuah tren yang mereka anggap keren. Hal ini juga membuatku sangat membenci orang-orang seperti mereka." Tatap Karin kepada mereka semua dengan rasa kesal yang sama besarnya dengan Alisya. "Orang-orang seperti mereka memang perlu diberi sedikit pelajaran yang tegas!" terang Zein tampak sedang memikirkan hukuman apa yang patut ia berikan kepada mereka. "Serahkan padaku, aku punya rencana yang sangat bagus untuk mereka" Jelas Elvian yang sebelumnya melihat ketiganya mengikuti Alisya. "Melihat kalian bertiga menuju ke satu tempat yang sama membuat kami berpikir kalau sepertinya ada sesuatu yang menarik sedang terjadi, tidak Taunya betul saja. Ada satu pisang molen sudah terbungkus dengan rapi." Seru Rafli setengah tertawa melihat lilitan besar yang sedang tergeletak di lantai dengan satu orang lagi yang terlihat basah dengan cairan kuning. "Kapten, apa kau tidak terlalu kejam sampai membuat satu orang wanita cantik seperti dia mengeluarkan cairan kuningnya?" protes Jati kepada Alisya yang terlihat masih memasang wajah acuh tak acuh. "Apa yang harus kita lakukan dengan ini?" Rendy menunjukkan beberapa gambar Alisya yang sudah menyebar dengan begitu cepat dimedia sosial. "Hapus semua berita mengenai hal itu dan blokir setiap akun yang menyebarkannya. Selanjutnya kalian pasti sudah tahu apa yang harus dilakukan." Seru Alisya memberi perintah kepada mereka semua. "Apa yang kalian lakukan disini? Kenapa kalian semua malah berkumpul disini?" tanya Adora saat melihat semua teman-temannya sudah bergerak menuju ke satu rah yang sama. "Sedang melakukan percobaan!" seru Alisya membawa Adora kembali masuk ke dalam dan melambai kepada mereka semua untuk menyelesaikannya. "Oke, aku serahkan pada kalian. Jangan terlalu jahat, biarkan mereka sedikit bernafas dulu." Ucap Karin berlalu pergi berjalan tepat di belakang Alisya dan Adora. "Azura, bisakah kau retas CCTV gedung ini? Aku butuh beberapa rekaman dari apa yang baru saja mereka lakukan sebelumnya." Tanya Elvian kepada Azura yang sistemnya sudah Adith tanamkan di tablet milik Elvian. Adith sengaja menanamkan system Azura pada tablet Elvian untuk memudahkan mereka ketika melakukan misi dengan begitu juga Adith bisa mengetahui apa yang terjadi pada Alisya. Kehilangan Alisya sekali sudah cukup membuat Adith menjadi sangat protektif kepada Alisya. Dengan bantuan Zein dan yang lainnya, mereka hanya butuh waktu 5 menit untuk menyelesaikan apa yang sudah mereka lakukan. Seorang cleaning service yang datang berteriak dengan sangat keras begitu melihat ada suara teriakan dari dua orang yang terlilit oleh tisu toilet serta seorang lagi yang tampak jatuh pingsan tak jauh dari sana. Chapter 471 - Jangan Lupakan Kami Pesta Yogi yang telah berakhir segera membuat para tamu undangan meninggalkan tempat tersebut satu persatu. Begitu pula dengan Alisya dan teman-temannya yang lain. Beberapa berita yang memuat mengenai Alisya telah terhapus secara permanen dan bahkan gambar wajah Alisya pun tak mereka temukan dimanapun lagi. Akan tetapi kejadian mengenai Adora dan Zein yang merupakan seorang gubernur segera menutupi artikel yang lainnya dan menjadi trending topi utama di media sosial. "Aku sangat terharu melihat mereka berdua. Terlihat betul bagaimana gubernur kita berusaha meyakinkan kedua orang tuanya untuk memberikan restu kepada wanita yang di cintainya." Salah seorang dari mereka memberikan komentar positif. "Akhirnya kita bisa melihat gubernur kita bersanding juga di pelaminan." Tambah yang lainnya lagi. "Aku sangat suka dengan jawaban wanita itu, jawaban sederhana yang diucapkannya sangat luar biasa. Tidak semua orang akan berpikir memberikan jawaba se sederhana itu." Terang yang lainnya pada postingan lain yang memperlihatkan video Adora yang sedang menjawab pertanyaan ibu Zein. "Semoga mereka diberikan kelancaran dan orang tua gubernur dapat memberikan restu kepada keduanya." Tambah yang lainnya lagi yang mendoakan hubungan Zein dan Adora. Postingan yang membuat tentang Adora dan Zein dibanjiri dengan banyak beberapa komentar positif meski adan beberapa dari mereka yang mencela Adora yang duduk di paha Zein, namun dibalik semua itu komentar itu secara perlahan tenggelam dan banyak yang mendukung penuh keputusan Zein. "Ada apa dengan bajumu?" tanya Ayah Alisya melihat Alisya sudah memakai Jas milik Ryu. "Oh¡­ aku tidak sengaja terkait oleh paku yang berada di toilet sehingga bajuku sedikit sobek karenanya. Ryu memberikan Jasnya untuk menutupi sobekan tersebut." Seru Alisya merasa tak perlu mengatakan hal sepele itu kepada Ayahnya. Ayahnya hanya mengangguk paham meski sebenarnya apa yang dikatakan oleh Alisya tidak akan sesederhana itu, namun melihat Alisya yang tak ingin membuatnya khawatir akhirnya tak ingin bertanya lebi lanjut. Beberapa saat kemudian, mereka tiba di rumahnya. Alisya dengan setia menggandeng Ayahnya masuk kedalam rumah. Disana terlihat ibu Yul yang baru saja selesai menyiapkan makan malam untuk ayah Alisya mengingat Ayah Alisya tidak memakan makanan pesta yang dipenuhi dengan banyak makan yang kurang sehat untuknya. "Kalian sudah pulang, tuan sudah saatnya anda minum obat." Ucap Ibu Yul mengingatkan Ayah Alisya untuk meminum obatnya. "Terima kasih banyak ibu Yul, Alisya akan mengambilkan obat bapak sekarang." Alisya segera masuk kedalam kamar Ayahnya dengan cepat setelah ayahnya duduk di kursi makan. "Makanlah bersama kami dulu sebelum pulang, aku sudah menyiapkan beberapa makanan yang kamu sukai." Seru ibu Yul begitu melihat Alisya kembali dari kamar Ayahnya. "Benarkah? Tentu saja aku akan ikut makan." Ucap Alisya dengan penuh semangat sudah tak sabar ingin makan. "Jangan lupakan kami.." Akiko masuk bersama Karan dan Karin. "Muncul satu orang yang membuat porsiku akan berkurang." Karin segera tersinggung dengan ucapan Alisya yang di arahkan kepadanya. "Tenang saja, kau boleh memakan semuanya termasuk piringnya. Aku sedang diet." Tegas Karin kesal mencoba membuat alasan. "hahahaha, kalian tidak perlu khawatir. Aku masak cukup banyak untuk kalian semua kok!" seru ibu Yul mulai terlihat sibuk menyediakan mereka makan. Ryu dan Karan akhirnya mengambil tempat untuk duduk di sebelah ayah Alisya. Alisya dan yang lainnya dengan begitu semangat membantu ibu Yul untuk menyiapkan makanan di atas meja. "Melihat mereka bertiga bisa berkumpul seperti ini membuatku sangat senang dan terharu. Andai saja nenek dan kakek Alisya masih hidup, keduanya mungkin akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini." Ayah Alisya terlihat sangat terharu melihat merea bertiga berebutan untuk membantu ibu Yul. "Paman¡­" Karan segera mengingatkan Ayah Alisya agar tidak larut dalam pikirannya yang dapat menganggu kesehatan jantungnya. "Maafkan aku, aku telalu terbawa suasana." Ayah Alisya segera tersadar dan segera mengambil nafas dalam dan mengatur emosinya. "Setelah ini apa yang akan kamu lakukan Karan? Kau tau keluarga Yamada cukup sulit untuk di hadapi terlebih karena Akiko adalah satu-satunya cucu perempuan mereka sehingga tentu saja kau perlu usaha lebih untuk bisa meyakinkan mereka." Ayah Alisya segera mengingatkan Karan tentang keluarga Akiko. "Iya paman, saya juga sudah memikirkan hal tersebut. Aku dan Akiko juga sudah mendiskusikan hal ini, untuk itu agar aku juga bisa memudahkan Karin dan Ryu, aku akan segera ke Jepang secepatnya." Terang Karan yang sudah memiliki rencana untuk apa yang harus ia lakukan. "Sepertinya kami berdua bisa menemanimu, aku hanya akan membantumu mengenali mereka satu persatu dan sisanya bisa kau urus sendiri." Alisya mendengar apa yang mereka bahas saat datang meletakkan makanan di atas meja. "Benar, selain itu akan lebih aman jika kami ikut bersamamu. Bukannya kami tidak percaya kalau kamu tidak bisa melakukannya, akan tetapi mereka sangat berbahaya." Tambah Ryu juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Alisya. "Paman juga setuju, apa yang sedang aku hadapi sekarang adalah satu hal yang sangat sulit. Meski pada akhirnya kau harus melakukan semua sendiri, kau butuh mereka berdua untuk melindungi Akiko saat kau harus berhadapan dengan mereka. Dengan begitu kau tidak perlu takut akan hal apapun yang terjadi, selain itu aku bisa pastikan kalau kau pasti membutuhkan bantuan." Tegas Ayah Alisya memberikan bantuan kepada Karan. "Iya kak, apa yang dikatakan oleh paman benar. Sewaktu kita ke Jepang, kita memang tidak sempat bertemu dengan mereka. Tapi aku sudah mengetahui banyak hal mengenai mereka dari Kakek Alisya dan juga Alisya." Karin yang membawa beberapa makanan lain dengan cepat membuat Ryu membukakan Kursi untuk Karin duduk. "Baiklah, sepertinya memang itu yang terbaik harus dilakukan." Ucap Karan tertunduk memikirkan hal yang harus ia lakukan kedepannya. "Kakak tidak perlu khawatir, meski mereka semua cukup tegas dan sedikit menakutkan. Aku yakin mereka pasti akan mengerti dan menghargai keputusanku." Akiko menghampiri Karan untuk meyakinkannya dan menenangkannya. "Sudah saatnya makan, semuanya sudah siap. Kalian makanlah dulu, setelah itu baru bisa kalian lanjutkan lagi pembahasannya. Kalau tidak makanannya bisa dingin dan tidak akan sedap lagi untuk di santap." Ibu Yul segera mengingatkan mereka semua. Dengan begitu semangat, mereka semua akhrinya makan bersama. Ibu Yul yang tadinya ingin memisahkan diri akhirnya ikut makan bersama mereka setelah di paksa dan di Tarik oleh Alisya. Sebelumnya, Alisya juga sudah memisahkan beberapa makanan yang akan diberikan kepada Adith. Alisya yang kembali ke apartementnya setelah mengatarkan Ayahnya pulang merasakan hawa dingin yang menandakan Adith tak berada disana. £¬ Chapter 472 - Olah Raga Malam Alisya yang berada di dalam apartement sendirian mengira Adith akan berada disana membuatnya tak tahan untuk menunggu. Dia hanya berganti pakaian dan mengambilkan beberapa pakaian ganti untuk Adith serta memakai pakaian tebal sebelum keluar rumah. Dia memakai motor hitamnya dan helem yang menutupi seluruh bagian wajahnya menuju ke rumah sakit. Ia tak lupa juga membawa kotak makanan yang sebelumnya sudah ia bawa dari rumahnya. "Maaf sus, dokter Adithnya belum keluar?" Tanya Alisya kepada perawat yang bekerja sama dengannya. Alisya ragu jika ia langsung masuk begitu saja di ruangan Adith. "Oh.. dia baru saja selesai mbak, tapi masih ada beberapa hal yang perlu dia lakukan. Mbak sudah buat janji dengan dokter?" Mendengar suara Alisya yang tak asing membuatnya bertanya dengan sopan. Meski perawat itu tak bisa melihat wajah Alisya dengan jelas karena tertutup sebagian besar oleh helem dan hanya bagian mata yang benar-benar tampak, ia bisa tau kalau ia pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya. "Emmm¡­ belum, tapi saya.." Alisya terlihat tagu sejenak apakah ia akan menunggu atau hanya menaruh barang bawaannya dan menitipkannya kepada perawat tersebut. "Mbak bisa menunggunya di dalam kok mbak, melihatmu datang di jam segini tentu penting sekali. Jika dokter sudah selesai biar dia yang memutuskan saja. Silahkan¡­" ucap perawat tersebut mengetahui cara kerja dari Adith yang tidak akan menolak seseorang yang membutuhkannya. Alisya segera masuk kedalam ruangan Adith dan menunggunya di dalam. Untuk waktu yang lama Adith masih belum juga kembali sehingga karena terlalu bosan menunggu ia pun ketiduran di atas ranjang Adith setelah membuka helemnya. Selang beberapa waktu kemudian, Adith segera masuk ke dalam ruangannya dan melepas bajunya. Dia sudah mengetahui kalau seorang perempuan yang menunggunya di dalam dari perawat yang bekerja dengannya. "Kalau kau tidur dengan se pasrah ini, kau sangat ingin membuatku memakanmu." Ucap Adith tertunduk di tepi ranjang memandang wajah Alisya yang nampak pulas tertidur. Alisya terbangun ketika Adith masuk sebelumnya, namun masih terlalu malas untuk membuka matanya. Tepat saat Adith akan mencium dirinya, Alisya dengan cepat menarik tubuh Adith dan langsung jatuh keatas ranjang. "Jika kau benar berpikir bisa memakanku, sebaiknya sediakan energi mu yang cukup terlebih dahulu." Peluk Alisya ke tubuh Adith yang hangat. Mereka terbaring di atas ranjang istrahat Adith yang hanya berukuran untuk satu badan saja, sehingga tubuh mereka begitu dekat dan tak bercela. "Sayang! Jika kau seperti ini, kau hanya akan membuatku tak bisa menahannya lagi." Adith langsung mengecup bibir Alisya dengan perlahan. Alisya menerima setiap perlakuan lembut Adith dan juga membalasnya dengan penuh kasih. Mereka hanya terpisah selama seminggu saja, namun terlalu sering mereka terpisah membuat rasa rindu keduanya terus saja meledak. "Umphhh.. kau tau kita sedang berada dimana? Ini rumah sakit.. jadi hentikan!" Alisya mengingatkan Adith tentang keberadaan mereka. "Jangan khawatir, mereka tidak akan mendengarnya." Tegas Adith kembali masuk ke leher Alisya yang langsung mendapatkan pukulan manja dari Alisya. "Kruuyyuuukkkk¡­" suara perut Adith segera memecah kesunyian dengan mereka yang berada dalam keintiman tersebut. "Sepertinya kamu harus memakan sesuatu sebelum benar-benar memakanku." Ucap Alisya tertawa pelan. Adith hanya mengangguk dengan malas namun membenarkan apa yang dikatakan oleh Alisya. Terlebih karena seharian ini ia sempat lupa untuk memasukkan sedikit makanan kedalam tubuhnya. "Jadi apa yang kamu bawa?" Tanya Adith ketika melihat Alisya dengan cekatan mulai membuka satu persatu kotak makanannya. "Aku yakin kau akan suka ini, sudah lama kan kau tidak makan masakan nenek?" Tanya Alisya yang ingat betul kalau Adith sangat menyukai masakan neneknya. "Maksud kamu?" Adith bangkit dari ranjang menghampiri Alisya dan memeluknya dari belakang dengan begitu mesrah sembari menciumnya lembut. Adtih tahu kalau yang di maksud oleh Alisya adalah neneknya, namun mengetahui nenek Alisya sudah meninggal jauh sebelumnya dengan tanpa sempat bertemu dengan Alisya membuat Adith mengira kalau yang di maksudkan oleh Alisya adalah orang lain. "Ibu Yul memasak masakan kesukaan aku dan kamu dari apa yang sudah di ajarkan nenek. Meski nenek berpikir kalau aku mungkin sudah tiada, dia masih memiliki harapan kalau suatu saat nanti aku kembali ada orang yang akan memasakkan aku ini." Jawab Alisya dengan tersenyum pahit mengingat neneknya. "Kalaupun aku tidak kembali, nenek ingin Ibu Yul selalu memasakkan makanan ini juga untukmu agar kau bisa terus mengingat akan diriku." Terang Alisya lagi menghadap kepada Adith. "Ibu Yul? Sepertinya aku sering mendapatkan makanan ini sebelumnya." Adith bisa mencium bau yang tak Asing ketika Alisya membukakan penutup termos kecil di hadapannya. "Sayur kelor? Aku ingat, aki sering mendapatkan makanan ini sebelumnya. Sayur bening ini selalu memberikanku energi yang cukup setelah aku kelelahan dalam menjalankan operasi." Adith ingat betul kalau sebelumnya beberapa kali ia mendapatkan sekotak makanan yang sama persis di hadapannya saat ini. "Makanlah¡­" ucap Alisya mempersilahkan kepada Adith. Adith segera mengambil posisi untuk duduk lalu dengan cepat menarik Alisya untuk duduk di atas pangkuannya. "Jika kau tak ingin makan, bagaimana jika kau menyuapiku saja? Ingin rasanya aku makan dari tangan istriku sendiri." Tatap Adith dengan sangat lembut kepada Alisya. "Apa kau anak kecil? Kenapa kau menjadi semakin manja seperti ini?" Alisya merasa sedikit malu dengan posisi mereka saat itu. "Loh kenapa? Tidak masalah bukan? Lagi pula aku hanya ingin mengambil waktuku dengan baik sebelum aku benar-benar terabaikan oleh seseorang." Ucap Adith menatap Alisya dengan nakal. "Terabaikan oleh seseorang? Siapa yang kamu maksud? Mana mungkin aku akan mengabaikan mu. Aku¡­" bibir Alisya kembali terhenti oleh kecupan hangat Alisya. "Yang aku maksud bukan kamu, tapi anak kita. Aku yakin suatu saat nanti perhatian mu dan perhatian ku akan sedikit teralihkan oleh anak kita." Ucap Adith setelah melepas ciumannya. "Ngomongin masalah anak, aku ingin kita melakukan olah raga malam setelah makan." Pancing Adith dengan cubitan nakal di paha Alisya yang langsung membuat Alisya terkejut. "Makan saja! Makananmu sudah akan dingin jika kau terus saja memikirkan hal itu." Alisya langsung memasukkan makanan di mulut Adith dengan cepat. Wajah Alisya tampak memerah sempurna dengan Adith yang terus saja menggoda dirinya. Adith seolah tak pernah ingin menahan kata-katanya jika sedang berhadapan dengan Alisya. Dengan disuapi oleh Alisya, Adith makan dengan begitu lahapnya. Sudah cukup lama sejak terakhir kali ia makan masakan itu, meski ada sedikit perbedaan dalam rasa Adith bisa merasakan ketulusan ibu Yul di dalamnya. Chapter 473 - Olah Raga Pagi Adith yang harus kembali bekerja terpaksa harus kembali meninggalkan Alisya. Alisya sudah kembali tertidur dalam pelukan Adith. "Terima kasih karena sudah datang untuk menemuiku. Maaf kau harus tertidur disini karenaku." Bisik Adith dengan lembut ke telinga Alisya yang sudah terlelap. Adith paham kalau tentu saja Alisya sudah melalui waktu yang sulit untuk memberikan laporan kepada atasannya dan kembali secepat mungkin. Hal inilah yang membuat Adith tak ingin mengangganggu Alisya yang tampak mulai kembali terlelap. Alisya sebenarnya bisa saja menunggu Adith di apartemen mereka, namun perasaan merindukan satu sama lain membuatnya memilih untuk pergi menemui Adith. Setelah mengecup dahi Alisya dengan lembut, Adith bangkit dari tempat duduknya dan melihat ada sebuah tas kertas yang berisi pakaian ganti. Dengan tersenyum hangat Adith segera mengganti pakaiannya yang sebelumnya tidak sempat ia ganti. Tak ingin mengganggu Alisya, Adith segera menuju ke luar kamar untuk kembali meneruskan beberapa pekerjaan serta melakukan beberapa pemeriksaan pada pasien yang baru saja ia operasi siang dan sore tadi. "Ummmmhhhh¡­." Alisya merenggangkan tubuhnya terbangun dari tidurnya. "Kau sudah bangun?" Tanya Adith kepada Alisya yang sudah menatapnya. Adith yang memakai jas berwarna putih disinari cahaya pagi dengan kaca mata terlihat sedang sibuk memeriksa beberapa file rekam medis dengan sangat serius membuat Alisya cukup terpesona sehingga ia tidak menjawab pertanyaan Adith. Merasa bingung dengan Alisya yang tak bersuara membuat Adith segera menoleh menatap Alisya yang sedang terbengong menatapnya. Adith tersenyum melihat tingkah imut Alisya. "Apa hari ini kamu akan ke kantor?" Adith mengingatkan Alisya yang masih terbengong. Alisya yang sudah cukup lama tidak pergi ke kantor akhirnya membuat Adith segera mengingatkan Alisya mengenai hal tersebut. "Oh Iya, aku hampir lupa soal kantor. Apa yang harus aku lakukan? Bukankah akan sangat aneh jika aku tiba-tiba muncul kembali setelah sekian lama menghilang? Alasan apa yang harus aku berikan nanti?" Alisya segera terbangun dengan terkejut ketika mengingat mengenai kantor yang Adith bicarakan. "Maafkan aku karena sudah memberikanmu waktu sulit. Mungkin sebaiknya saya mengajukan resign saja yah, tapi bagaimana dengan Yani." Alisya terlihat kalut dengan pikirannya sendiri. "Pufttt.. hahahha, kenapa kau jadi panik seperti itu?. Kau tidak perlu khawatir, aku sudah mengganti posisimu menjadi asisten pribadi ku sehingga ketika sewaktu-waktu kau harus pergi aku bisa memberikan alasan dinas untukmu." Ucap Adith setelah tertawa pelan melihat tingkah menggemaskan Alisya yang terlihat panik. Alisya terdiam sejenak memikirkan apa yang dikatakan oleh Adith, namun kemudian dia menyetujuinya. Sebab dengan begitu ia bisa tetap bekerja disana menemani Yani dan juga tetap bisa menyelesaikan misi ketika saatnya tiba. "Apa kau sudah cukup tidur? Melihatmu sudah bekerja sepagi ini tidakkah kau belum tidur semalaman?" Alisya mengkhawatirkan kondisi Adith yang bekerja dengan begitu keras. "Aku sempat tidur beberapa jam di sebelahmu. Dan kembali terbangun saat matahari belum naik. Kehadiranmu sudah memberikanku energi yang sangat cukup, sekarang apa kita bisa Olah Raga Pagi?" Tanya Adith dengan kedipan nakal menarik tangan Alisya jatuh kepelukannya. "Oh ya tuhan, apa yang harus aku lakukan dengan anak yang satu ini." Alisya bergumam kesal dengan kata-kata Adith yang seolah tak pakai penyaring suara. "Hahahahha.. bersiaplah, kita akan pulang dulu ke apartemen sebelum ke kantor. Kau dan aku perlu mandi manja." Bisik Adith dengan desahan kuat yang membuat tubuh Alisya merinding karenanya. Alisya langsung memberikan pukulan kuat kepada Adith yang membuatnya terus saja tertawa dengan riuh. Mereka segera menuju ke apartemen untuk membersihkan diri sebelum menuju ke kantor. Saat mandi, keduanya melakukannya bersama dengan Adith terus saja menggoda Alisya sehingga mereka sempat melakukannya sesaat sebelum pergi ke kantor. "Aku harus mandi dua kali karena kenakalanmu, dan sekarang kita benar-benar terlambat." Tatap Alisya dengan tajam kepada Adith yang masih tersenyum senyum bahagia. "Tapi kau juga sangat menikmatinya bukan?" Adith menaik turunkan keningnya dengan nakal yang langsung membuat wajah Alisya memerah seluruhnya. Tak ada yang bisa mengendalikan sifat nakal Adith ketika sudah berhadapan dengan Alisya. Ia seolah merasa sangat senang ketika mengganggu Alisya sehingga dimanapun dan kapanpun dia tidak ragu untuk melakukannya. "Selamat datang, sudah cukup lama kita tidak bertemu. Tak ku sangka direktur langsung memberikanmu pekerjaan yang sangat sulit hingga kau membutuhkan waktu hampir sampai sebulan untuk menyelesaikannya." Lian segera menyambut Alisya ketika ia melihatnya datang menuju mejanya. Alisya memandang Lian tak paham apa maksudnya, namun ia mengingat ucapan Adith yang mengatakan kalau dia sekarang adalah Asisten Adith yang dapat bertugas dinas keluar kota. Selain itu juga, selama perjalanan menuju kantor Adith juga sudah menjelaskan mengenai perjanjian kerjasama yang mereka lakukan dengan perusahaan lain. "Oh.. Ya benar, untunglah semuanya dapat terselesaikan dengan baik." Ucap Alisya denga senyuman tertahan karena mengharuskannya untuk sedikit berbohong kepada mereka. Karena dia yang harus menyamar, selama ini dia tidak perlu berbohong karena ia memainkan perannya dengan sangat baik. Namun kali ini ia terpaksa harus melakukannya. "Syukurlah kau sudah kembali, tidak ada kamu disini rasanya terasa sepi." Yani datang bersama dengan tumpukan berkas lain di tangannya. "Senang melihatmu kembali Ayumi." Ucap Vindra saat melihat Alisya sudah berada di mejanya. Alisya hanya melambai dengan menaikkan tangannya. "Oke, karena kalian sudah berada disini. Kita sudah akan masuk ke proyek kita selanjutnya, jadi saya harapkan kerja sama kalian sekali lagi." Rinto datang memberikan kata sambutan kepada mereka sebelum mulai bekerja. Ia lalu berdiri di sebelah Lian yang terlihat sedang menunjukkan sesuatu kepadanya, dan Yani terlihat sejenak memandang ke arah Rinto yang terlihat serius tersebut. "Apa kau sedang jatuh cinta padanya sekarang?" Bisik Alisya kepada Yani dengan sedikit sikutan pelan pada bahunya. "Apa kau tidak melihat tatapannya barusan? Tatapan yang seolah mengajakku untuk berumah tangga." Gumam Yani yang dapat di dengar dengan jelas oleh Alisya. "Somplak! Kau sudah menjadi bucin Rinto sekarang?" Alisya kembali terduduk saat mendengar ucapan Rinto. "Aku hanya mengagumi dalam diam, aku tidak bisa mengharapkan rembulan saat bumi tempatku berpijak saja sudah sangat membenciku." Ucap Yani mulai memilah milah beberapa lembar berkas yang dia bawa sebelumnya. Yani adalah wanita yang sangat cerdas, namun karena kehidupan keluarganya yang begitu rumit terkadang membuatnya menjadi kurang percaya diri. Selama ini Yani belum sekalipun merasa tertarik kepada orang lain selain ibunya sendiri. Ayah Yani yang pergi meninggalkan mereka karena istrinya yang sakit parah membuatnya tidak berani menjalin hubungan asmara dengan orang lain. Chapter 474 - Menculik Alisya Alisya tak bisa berkata apa-apa mendengar apa yang dikatakan oleh Yani. Menurutnya, apa yang dikatakan oleh Yani terlalu riskan dengan sedikit merendahkan dirinya padahal dia adalah wanita yang tak kalah cantik dan memiliki budi pekerti yang baik. Dia yang sangat perhatian, sopan serta santun itulah yang membuat Alisya tertarik untuk terus berada di dekat Yani. Yani adalah seorang wanit yang pekerja keras dan semangat juang yang tinggi, sehingga Alisya yang saat itu tidak mengenalinya merasa sangat ingin melihat sampai mana Yani bisa terus menapaki kehidupannya tersebut. Karena keadaan kantor yang sedikit sibuk, mereka akhirnya dengan serius melakukan pekerjaan masing-masing begitu pula dengan Adith. Konrak kerja sama yang sedang mereka jalani ternyata membutuhkan banyak hal dalam persiapan sehingga tanpa sadar mereka bekerja hingga matahari tampak semakin condong ke arah barat. "Apa masih banyak?" Adith hanya menggerakkan bibirnya tepat saat Alisya tak sengaja mengangkat wajahnya. Alisya langsung terlihat melambai dengan keningnya kepada Adith yang berada di luar kaca. "Sedikit lagi selesai." Alisya juga melakukan hal yang sama dengan tersenyum simpul. Adith akhirnya menangguk pelan dan berjalan menuju ke parkiran mobilnya menunggu Alisya disana. "Akhhh¡­ akhirnya selesai juga. Setiap kali kau dari luar, kau selalu berhadapan dengan waktu yang sibuk. Kamu selalu datang di waktu yang tepat, dengan kedatanganmu kami semua jadi merasa sedikit terbantu." Yani merasa sangat lega saat telah menghirup udara segera di luar kantor. "Apakah kau menyukai pekerjaan ini? Harus aku akui pekerjaan ini memang membuatmu jadi sedikit memiliki waktu untuk bisa bersama dengan ibumu, tapi apakah itu baik-baik saja bagimu?" tanya Alisya terhenti dari jalan mereka dan menatap Yani dengan sangat dalam. Alisya memang menginginkan Yani dapat berpijak di atas kakinya sendiri karena dari awal Yani tak ingin membuat orang lain terbebani olehnya dan tak ingin menggantungkan diri kepada orang lain. Akan tetapi, jika memang hal ini terlalu buat untuk Yani, Alisya bepikir untuk mencarikan jalan yang mudah baginya agar ia bisa bekerja sembari tetap merawat ibunya. "Kau benar, aku juga mengakui kalau pekerjaan ini sedikit membuat aku menjadi sedikit lebih jarang berinteraksi dan merawat ibuku, tapi aku sudah membicarakannya dengan ibu dan dia tetap mendukungku sepenuh hatinya. Ibu paham akan situasi ku saat ini sehingga ketika aku bekerja dia juga berusaha sekuat tenaga untuk secepatnya sembuh." Jelas Yani dengan senyuman penuh syukurnya. "Dan aku sangat menikmati pekerjaan ini karena disinilah aku mendapatkan jiwaku yang sesuai dengan apa yang aku kerjakan. Selain itu, saat aku bisa bersamamu, aku akan merasa selalu nyaman dengan tempatku." Tambahnya lagi sembari menatap Alisya dengan genangan air mata penuh syukur dengan adanya Alisya dalam hidupnya. Alisya memeluk Yani dengan sangat erat. Karena berkat Yani pula dia bisa bertahan selama beberapa tahun sebelumnya. "Tak terasa kita juga keluar sudah sampai akan segelap ini." Ucap Vindra saat melihat keluar langit yang terlingat kemerahan akan gelap sebentar lagi. Ia sengaja mengalihkan suasana agar keduanya bisa menjadi lebih cerah. "Umm.. aku permisi, jemputanku sudah datang." Yayat tampak sudah melambai ke arah Lian yang keluar bersama dengan Alisya dan yang lainnya. "Ouuhhh.. kalian ternyata udah terang-tengan nih jadinya sekarang?" kerling Alisya dengan sedikit menggoda kepada Lian. Lian yang semula tidak begitu menyukai Yayat akhirnya terlihat sedikit jauh lebih membuka diri kepadanya. "Sampai jumpa lagi." Ucap Lian sambil tersenyum-senyum malu. "Ehem, sepertinya kau juga sudah mendapat jemputan." Senggol Yani kepada Alisya menunjuk kea rah Adith yang tak jauh dari hadapan mereka sedang berdiri bersandar di mobilnya sembari menatap Alisya. Adith melipat keduanya tangannya dengan gagah membuat Alisya sedikit terpana karenanya. "YO! Mister Jenius¡­" sebuah mobil Van yang cukup besar tiba-tiba berhenti tak jauh dari hadapan Alisya tepat di depan mobil Adith. Aurelia keluar dari mobil tersebut menatap kearah Adith dengan tatapan licik yang membuat Adith sedikit bingung di buatnya. Adith yang sebelumnya masih bersandar di mobilnya merasakan ada suatu rencana licik yang sedang dilakukan oleh Aurelia. "Haiii¡­" Gina keluar dari Van dan melambai kepada Adith yang kebingungan dengan sikap mereka yang seidkit mencurigakan. "Oke, jangan kaget dengan apa yang akan kami lakukan." Emi juga mulai keluar dari Van menuju ke Alisya dan Yani. "Kami akan meminjamnya sebentar!" tunjuk Feby dan Akiko kepada Yani dan mengusir Vindra yang berada di sebelah Yani. "Apa yang sedang kalian rencanakan?" Adith tampak berdiri dengan tegak sekarang. Meski ia tahu kalau mereka takkan menyakiti Alisya, namun tatapan licik mereka jadi membuatnya khawatir. "Yo, untuk malam ini kami akan menculik permaisurimu terlebih dahulu. Kami sudah lama tidak menikmati kualiti time bersama, jadi maafkan kami." Karin yang keluar dari Van dengan cepat menari Alisya dan Yani kedalam mobil. Dengan menatap bingung, Alisya tak bisa melawan saat melihat Yani sudah terlebih dahulu masuk kedalam mobil tersebut. "Ummmm.. apa aku perlu melakukan sesuatu?" tanya Vindra kebingungan menatap Adith. Mendengar apa yang dikatakan oleh Karin membuat Adith melambai untuk menghentikan Vindra melakukan apapun. "Kita akan bertemu di acara perayaan, nikmati waktu kalian saat kami bersiap." Teriak Aurelia kepada Adith yang beberapa saat kemudian Yogi sudah datang dengan tatapan setengah tertawa kepada Adith di ikuti Rinto yang berada disebelahnya. "Apa kau bisa jelaskan apa yang sedang terjadi? Pertama mereka meminta untuk mendapatkan Quality time bersama Alisya, namun kemudian berikutnya ia berkata kalau kita akan bertemu di acara perayaan." Tatap Adith kepada Yogi yang seperti mengetahui Sesuatu akan apa yang baru saja terjadi. "Mereka ingin kita pergi ke perayaan malam. Berkumpul dan bersenang-senang setelah banyak hal yang sudah kita lalui, jadi kenapa kita tidak ikut menikmatinya juga?" terang Yogi menjelaskan situasinya kepada Adith. "Tingkah mereka semakin aneh saja!" Rinto seolah ikut terseret dengan pasrah. "Sejak kapan mereka belajar bersikap bar-bar saat usia mereka sudah bukan remaja lagi? Melihat mereka seperti tadi membuatku seperti sedang melihat kenakalan sekelompok remaja yang masih mencari jati diri." Adith hanya bisa menepuk jidatnya menggeleng tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Aurelia dan yang lainnya. "Maaf tuan, saya permisi mau pamit dulu sekarang!" Vindra yang datang mengahampiri Adith dan yang lainnya ingin berpamitan dengan sopan. "Kau ikut bersama kami." Tarik Yogi pada kerah Vindra yang membuat Vindra sedikit kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Pada akhirnya mereka segera pergi ke tempat yang sudah di tunjukkan oleh Aurelia. Chapter 475 - Perawatan Kecantikan Mobil Van hitam yang ditumpangi oleh Alisya dan yang lainnya berhenti di depan tempat Spa dan kecantikan. Alisya tampak bingung dan tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi namun tetap terseret ikut masuk kedalam. "Tunggu sebentar, kenapa kalian juga memabaku?" Yani kebingungan dan tak menyangka kalau dia pun ikut terseret karena Alisya. "Kau juga kan teman Alisya, jadi kau adalah salah satu teman kami juga." Ucap Emi dengan terus menggandeng Yani. "Karena kau adalah teman Alisya, maka mau adalah salah satu kelompok kami." Tambah Feby yang juga ikut menggandeng Yani. "O¡­ oke, tapi untuk apa kita masuk ke tempat mahal ini? A¡­ aku tidak¡­" Yani masih ingin menolak masuk melihat tempat yang mereka masuki adalah tempat perawatan kecantikan yang cukup mewah dan mahal. "Tidak usah khawatir, ini adalah tempat Gina. Jadi kau tidak perlu khawatir." Terang Karin terus masuk ke dalam tempat itu. Gina yang memimpin jalan segera menuntun para pegawainya untuk segera melakukan kepada mereka semua. "Nikmati saja dulu, aku juga sepertinya sudah lama tidak pernah memanjakan diri. Aku sudah menyuruh orang untuk memastikan ibumu terpenuhi semua kebutuhannya." Alisya akhirnya pasrah dengan mereka semua dan memberitahukan pengawal pribadinya untuk melakukan penjagaan kepada ibu Yani. Para pengawal yang sempat berhenti bekerja karena kepergian Alisya 7 tahun yang lalu akhirnya kembali bekerja dibawah perintah Ryu atas permintaan Alisya. "Kapan? Tapi.." seingat Yani, Alisya sama sekali tidak melakukan panggilan atau berbicara dengan siapapun saat bersamanya. "Barusan!" Jawab Alisya singkat yang langsung membuat Yani melotot tak percaya. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan masalah biaya, seperti yang sudah kamu dengarkan tadi, kalau tempat ini adalah milikku. Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan disini selama kau membawa ini." Gina menyodorkan sebuah black card kepada Yani yang membuat Yani merasa tak nyaman untuk menerimanya. "Jika kau menolaknya itu artinya kau tak ingin berteman dengan kami?" Aurelia sengaja memancing Yani untuk mendapatkan simpatinya. "Aku tidak tahu, tapi sepertinya aku tidak pantas untuk menerima ini. Kau pasti membutuhkan usaha yang cukup banyak untuk bisa mendirikan tempat mewah ini dan bagaimana bisa aku hanya datang untuk memanfaatkannya saja?" Yani dengan canggung mengembalikan apa yang diberikan oleh Gina. "Karena sahabat terbaik adalah satu hal yang takkan bisa tergantikan meski dengan menjual semua kemewahan yang ada." Terang Adora memahami perasaan Yani. "Kemewahan yang aku punya takkan bisa menggantikan sahabat baik yang aku miliki, selain itu kemewahan ini tidak akan berarti jika aku tidak berbaginya bersama dengan orang yang aku sayangi." Gina tersenyum begitu tulus kepada Yani. "Kalau begitu, kenapa kau tidak memberikan ini kepada orang-orang yang lebih membutuhkan dari pada aku? Aku masih tidak bisa menerima hal ini." Tegas Yani tetap menolak dengan tegas. "Huufffttt anak ini tangguh juga. Kalau aku menunjukkan ini kau takkan menolak lagikan?" Aurelia segera menunjukkan sebuah papan pengumuman yang bertuliskan "Orang berhati busuk dilarang masuk". Sebuah kalimat menjebak yang membuat Yani jadi terdiam bingung. Jika dia kembali menolak apa yang diberikan oleh mereka, itu sama saja dia mengakui dirinya sebagai orang yang tak dapat dipercaya. Mengingat dirinya sudah banyak mengetahui apa yang ada, Yani hanya bisa tertawa pelan. "Ayumi, bagaimana bisa kau bertemu dengan orang-orang licik seperti mereka?" Gumam Yani yang dengan cepat memundurkan langkahnya menuju ke Alisya. Karin dan yang lainnya bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Yani sehingga mereka tersenyum dengan mengerikan membuat Yani tidak bisa mundur lagi. "Pujian yang menyegarkan, sudah lama aku tidak mendengar pujian itu." Aurelia menyeret Yani masuk kedalam ruang ganti perawatan. "Having Fun¡­" Alisya melambai untuk memasrahkan Yani kepada Aurelia. "Sudah lama kita bersama-sama seperti ini, kenapa kita juga tidak ikut melakukan perawatan diri?" Adora masuk dengan penuh semangat diikuti oleh Emi dan Feby, sedang Gina sedang melakukan arahan kepada para pegawainya. "Kau selalu melakukan misi yang sulit bahkan sampai melupakan dirimu yang seorang wanita yang juga perlu untuk merawat diri dan melakukan perawatan terhadap tubuhmu." Karin menatap sahabatnya dengan tatapan penuh perhatian. "Terima kasih karena sudah memperhatikan aku. Kau benar, sudah saatnya memanjakan diri juga memanjakan suami. Selain itu ini juga bagus untuk Yani, aku harap dia bisa sedikit menghilangkan penatnya dengan mendapatkan perawatan disini." Ucap Alisya dengan sedikit terkikik pelan. "Aku akan menawarkan perawatan yang sangat maksimal, kau bisa menyerahkan tubuhmu kepadaku. Percayalah." Gina menaik turunkan keningnya membawa masuk Karin dan Alisya ke dalam ruang ganti. Aurelia dan yang lainnya sudah memasuki ruang perawatan, sedangkan Aurelia, Karin dan Adora sedang berbincang-bincang bersama dengan Gina. "Aku tak menyangka kalau kau malah menjalani usaha ini dibandingkan mengikuti jejak ibumu yang seorang designer ternama." Terang Alisya mengingat sewaktu sekolah mereka sering mengunjungi butik ibu Gani dan Gina. "Gina cukup memiliki kemampuan dibidang itu, tapi entah kenapa dia malah beralih pada usaha ini. Entah mungkin saja hal ini karena obsesinya terhadap kecantikan." Terang Karin mulai memakai jubah putih yang digunakan sebagai pakaian untuk perawatan. "Awalnya memang aku memikirkan untuk mengikuti jejak ibuku untuk menjadi seorang desainer ternama seperti dirinya. Akan tetapi ternyata usaha ini benar-benar menggambarkan jiwaku yang sangat mencintai akan kecantikan." Jelas Gina dengan terus membantu ketiganya untuk menuju ke ruang yang lainnya. "Kedua orangtuanya sempat tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Gina, namun ternyata kerja keras Gina benar-benar membuahkan hasil yang menakjubkan. Salon kecantikan miliknya menjadi sangat populer di kalangan para artis dan pejabat serta wanita kaya lainnya." Jelas Adora memuji kegigihan Gina yang sungguh luar biasa. "Bagaimana dengan Gani apakah dia mengikuti jejak ibumu? Aku juga melihatnya dia sangat menyukai hal-hal yang berbau desainer." Tanya Alisya mengingat Gani yang begitu sangat menyukai hasil karya ibunya dalam desainer. "Gani bahkan justru lebih luar biasa lagi. Dia mungkin memang tidak terjun dalam dunia desainer, tetapi dia menjadi seorang model ternama yang banyak mendapatkan penghargaan berkat kepiawaiannya dalam menampilkan busana-busana para designer terkenal dunia." Puji Adora terhadap Gani. "Wow.. luar biasa! Hahahahah¡­ tak ku sangka dia yang terlihat manja dan selalu tunduk pada Gina ternyata sekarang menjadi terdengar lebih keren." Ucap Alisya merasa takjub dengan mereka semua. Telah banyak waktu yang dilewati oleh Alisya sehingga ia tidak sadar akan apa yang sudah dijalani oleh teman-temannya. Hanya dalam waktu singkat, mereka semua sudah benar-benar banyak mencapai kesuksesan yang sangat luar biasa. Chapter 476 - Kumpulan Malaikat Adith dan yang lainnya, telah selesai berganti pakaian. Pakaian normal yang biasanya melekat pada tubuh mereka kini berganti dengan pakaian yang lebih kasual dan santai. Cara berpakaian mereka jauh dari kesan formal yang memperlihatkan kedudukan serta status mereka. Nama Zein yang merupakan seorang gubernur dari Jakarta, terpaksa harus sedikit melakukan penyamaran agar bisa keluar dengan lebih nyaman. Adit sebenarnya hanya memakai baju kaos dengan jubah hitam yang sedikit panjang hampir mengenai bagian lututnya, namun dia yang terlihat berpakaian biasa malah semakin seksi di mata para wanita yang melihatnya. "Kau yakin mereka menyuruh kita untuk menunggu di tempat ini? Sepertinya tidak jauh di depan sana akan ada konser sebentar lagi." ucap Rinto melihat panggung yang sudah mulai disetting dengan begitu megah dari kejauhan. "Tidak, mereka hanya ingin kita menikmati pasar malam ini dan perayaan malam ini yang menghadirkan banyak sekali permainan. Tempat ini menghadirkan banyak festival dari berbagai negara contohnya seperti kuliner dan juga pameran teknologi lainnya." Jawab Yogi yang mengetahui semua rencana yang diberikan oleh Aurelia. "Di mana mereka sekarang? bukankah mereka yang menyuruh kita untuk datang ke tempat ini. Tempat ini cukup ramai dan sangat berisik." Adith sedikit mengeluh dengan keramaian pada pasar malam tersebut. Untuk waktu yang lama, Adith tidak pernah lagi keluar ke tempat ramai seperti itu. Dia selalu berada di rumah sakit dan kantor sehingga hal ini menjadi sedikit asing baginya. "Kalau kamu mau tempat yang tidak ribut dan tenang, adanya di kuburan." Ucapin Yogi setengah bercanda kepada Adith. Zain dan Rinto tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Yogi. sedang findra lebih memilih untuk Tidak berkomentar apapun dengan ekspresi yang terlihat sangat serius. "Apa kau mau menjadi orang pertama yang menghuninya? Sepertinya kau cocok dengan tempat itu?" Tatap Adith kesal kepada jawaban Yogi. Ucapan Adith segera membuat Yogi merasa merinding. "Bisakah kita mencari tempat yang aman dulu sebelum mereka datang? Tempat ini terlalu terbuka untuk kita. semua orang tampak mengenali kita dan bahkan sekarang kita sudah menjadi pusat perhatian mereka." Zein menyarankan agar mereka segera mencari tempat yang aman. Bukan karena takut akan identitas mereka yang terungkap, namun tampilan dan ketampanan mereka saat itu telah mengalihkan banyak perhatian orang terutama para wanita. "Kau lihat kumpulan pria itu? mereka sangat tampan!" Komentar salah seorang wanita yang berjalan melewati Adith dan yang lainnya. "Pria yang memakai baju hitam dengan topi hitam tampak seperti Beni." seru wanita lain yang seolah mengenali Beni saat itu. Beni yang merupakan seorang artis terkenal saat ini, memang sudah pasti akan banyak dikenali oleh orang lain begitu pula halnya dengan Adith maupun Zein. "Hei.. Lihat.. lihat bukankah mereka itu adalah¡­." Berapa wanita yang lainnya juga mulai ikut histeris ketika mengenali Adith dan yang lainnya. "Mereka semua tampak sangat tampan dan gagah pria yang di sebelah memakai baju kotak-kotak panjang juga tak kalah tampannya. Dia sangat manis!" Puji yang lainnya juga menatap kepada Vindra. Vindra yang saat itu bersama mereka juga memang tidak kalah begitu menarik perhatian karena ketampanannya. Akan tetapi, mendapatkan pujian dari mereka dan disandingkan dengan Adit serta yang lainnya membuat Vindra sedikit merasa tidak enak. Vindra hanya merasa dia tidak pantas untuk di sama ratakan atau disandingkan dengan orang-orang yang sangat dia kagumi tersebut. "Ehem¡­ sepertinya memang kita butuh tempat yang aman sekarang, jika tidak kita bisa jadi sasaran empuk para wanita itu." Yogi merinding ketika melihat beberapa wanita mulai datang menghampiri mereka untuk memastikan kebenaran tentang tebakan mereka. pada akhirnya mereka segera menuju ke sebuah kafe untuk menanti kedatangan Alisya dan yang lainnya. "Apakah kalian sudah cukup lama berada di sini?" Gani masuk dengan begitu gagahnya yang tampak memperlihatkan dirinya yang seorang supermodel. cara berpakaian Gani memang sangat memperlihatkan bahwa dia adalah seorang supermodel yang sangat luar biasa. Tubuhnya yang cukup tinggi membuatnya tampak menjadi pusat perhatian ketika ia memasuki cafe dimana Adith dan yang lainnya sedang menunggu. "Kau bahkan masuk dengan cara yang sangat mencolok." Ucap Beni ketika melihat Gani masuk ke dalam kafe di mana mereka sedang duduk menunggu para wanita. "Aku seperti merasakan Dejavu saat ini. Sepertinya kita pernah melakukan ini, dengan duduk di cafe sembari menunggu para wanita datang." Ucap Rinto mengingat apa yang pernah mereka lakukan sebelumnya. "Yah benar, saat itu kita juga berada di tempat yang sama seperti sekarang ini." Terang Gani duduk disebelah Beni. "Apakah yang berdua tidak masalah berada di tempat ini? Bukankah akan banyak wartawan yang dapat meliput semua yang kalian lakukan?" Adith. bertanya untuk memperingatkan mereka Beni dan Gani. "Tidak perlu ada yang kami takutkan, selain itu jika memang ada berita yang melenceng dari apa yang kami lakukan, bukankah kami memiliki seorang hacker terbaik saat ini?" Tatap Beni kepada Adith dengan penuh harap. "Ya kau benar, bahkan jika dia tidak mau melakukannya, maka kita hanya perlu melakukan sesuatu kepada Elvian untuk menggerakkan Azura." Terang Gani dengan begitu penuh percaya diri. "Sepertinya kalian sudah mulai menyalahgunakan apa yang sudah aku kerjakan." Ucap Adith dengan begitu datar. "Kau tidak perlu khawatir, kami menggunakannya dengan sangat baik." Ucap Zein karena merasa melakukan hal yang sama juga dengan Beni dan Gani. Adith hanya menatap tak percaya sedang Yogi dan Rinto hanya tertawa pelan. "Maaf kami terlambat, aku sedikit kesulitan karena harus menangkap dua orang ini." Rindi datang dan segera meminta maaf karena merasa telah datang terlambat. Alfian dan Rafli tampak berada dalam genggamannya sedangkan Jati hanya menunduk memberi salam kepada mereka semua dengan begitu hormat. "Bersikap santai lah jangan terlalu begitu kaku, Kalian tidak perlu bersikap formal seperti itu di hadapan kami." pemerintah segera mengingatkan mereka untuk tetap bersikap biasa saja tanpa memikirkan status mereka. Rendy dan Jati yang tidak begitu banyak berinteraksi dengan orang lain memang terlihat sedikit kaku. Terlebih jika dia mengetahui bahwa orang-orang di hadapan mereka adalah orang-orang yang cukup penting. "Apa yang terjadi dengan mereka berdua? Kenapa kalian seolah sedang menangkap penjahat saat ini?" Tanya Beni ketika melihat Elvian dan Rafly yang berada dalam genggaman Rendy. "Kami hanya ingin menonton konser dan mereka melarangnya. Padahal kami tidak pernah menyaksikan hal-hal seperti ini." Ketus Elvian menatap dengan penuh harap kepada Rendy dan Jati. Mendengar apa yang dikatakan oleh Elvian, Yogi tersenyum licik. Chapter 477 - Kasih Ke Kucing Saja Aurelia dan Yani serta yang lainnya, telah selesai menikmati semua perawatan kecantikan yang ada. Wajah Yani tampak lebih segar dan tubuhnya terasa jauh lebih ringan daripada sebelumnya. "Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Alisya ketika keluar dari ruangan perawatan. Melihat Yani yang tersenyum dan tak bisa berkata apa-apa karena malu, Alisya juga hanya bisa tersenyum dengan begitu bahagia. "Syukurlah jika kamu menyukainya. Sekarang saatnya mendandani mu." Aurelia menaik-turunkan keningnya kepada Karin seolah merencanakan sesuatu. "Dandan? Untuk apa berdandan?" Yani yang terbiasa memakai make up dengan standar karena keperluan kantor tidak mengira aku kalau mereka harus dandan. Terlebih jika hal itu dikatakan oleh Aurelia, sebab Yani merasa bahwa dandan yang dimaksudkan adalah hal yang sedikit lebih kompleks. Tidak memberikan jawaban, mereka dengan segera berpindah ke lokasi berikutnya. Tanpa basa-basi lagi, mereka segera memakai kembali pakaian mereka sebelumnya menuju ke butik milik ibu Gani dan Gina. Mereka terlebih dahulu akan menuju ke butik Ibu Gina untuk mendapatkan beberapa gaun atau pakaian yang dapat mereka gunakan pada malam itu, sebelum akhirnya mereka menuju ke salon tante Prilly. Butik milik ibu Gani dan Gina tidak jauh berada dari tempat perawatan kecantikan milik Gina. Sehingga cukup melewati beberapa gedung saja mereka sudah sampai. "Hummm¡­ kalian tampak lebih segar sekarang, Sepertinya Gina benar-benar memanjakan kalian." Ibu Gina berada di dalam butik tersebut dan menyambut Aurelia dan yang lainnya. Mengingat ibu Gina tidak mengetahui tentang keberadaan Alisya saat ini, Alisya terpaksa harus melakukan penyamaran di hadapan Ibu Gina. Dia tetap memakai kacamata bulat nya serta gigi palsunya yang sebelumnya ia pakai. "Lama tidak jumpa tante, Iya Gina benar-benar sangat memanjakan kami." Karin dengan cepat menyapa Ibu Gina. "Apa kalian akan pergi ke suatu tempat? Melihat kalian sudah sampai secantik ini." Ibu Gina menyadari sesuatu tentang mereka yang tampak begitu sedikit jauh lebih berbeda dari sebelumnya. "Kami hanya ingin mendapatkan perawatan kecantikan pada tubuh kami tante, selain itu dengan perawatan rasanya jiwa kami sedikit lebih segar." Jawab Adora cepat kepada Ibu Gina. "Emangnya selama ini jiwa kalian tidak segar atau memang sebenarnya mental kalian yang sudah mulai mengalami sedikit masalah?" Ibu Gina tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Adora. "Tante bisa saja, perawatan kecantikan bagi seorang wanita itu seperti sekolah mengembalikan jiwanya yang kusut." Ucap Aurelia dengan tertawa pelan. "Bu, kenalkan ini teman Gina namanya Yani dan Ayumi. Ibu punya saran untuk apa yang kira-kira bisa digunakan oleh keduanya?" Pinta Gina kepada ibunya sembari mengenalkan Yani dan Ayumi. "Jadi kalian teman baru Gina? Maaf karena Kalian pasti cukup kerepotan dengan tingkah Gina." Ibu Gina sedikit membuat lelucon terhadap Gina. "Hahahahah¡­ Tidak kok tante, Gina bahkan sangat baik pada kami." Jawab Yani dengan malu-malu. "Dia memang sedikit aneh dan perusuh, tapi hatinya sangat baik. Dia memperlakukan kami dengan penuh perhatian." Ucap Alisya ikut mempermainkan Gina. "Yah kau benar, dia memang sedikit ya¡­" Ibu Gina merespon dengan sangat baik apa yang mereka katakan. "Ibu¡­ Aku anak sendiri malah dipermainkan sih." Gina protes dengan manja. "Kalau begitu menikahlah dengan cepat!" Ketus ibunya dengan tiba-tiba. "Apa hubungannya coba???!" Gina melotot tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ibunya. "Tante Hebat!!!!" Teriak Emi dan Feby memuji sikap ibu Gina yang langsung to the point. Mereka semua tertawa dengan terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan oleh ibu Gina. Pada usia mereka saat ini, perkataan dan pertanyaan mengenai pernikahan memang menjadi hal yang sangat sering terdengar. Dengan bantuan Gina dan ibu Gina, Aurelia dan yang lainnya akhirnya mulai memilah dan mencoba beberapa pakaian yang akan mereka gunakan pada malam itu. "Apakah kalian yakin ini cocok untukku? Tidakkah pakaiannya ini terlalu mahal?" Yani sekali lagi merasa tidak nyaman melihat harga pada pakaian tersebut. "Berhentilah protes, kejadian ini hanya akan terjadi se sekali saja dan tidak akan setiap hari." Emi mulai jengah dengan sikap tidak enakan Yani. "Tapi aku hanya merasa tidak enak dengan kalian." Jawab Yani dengan lemah lembut. "Kalau tidak enak bisa kamu kasih ke kucing saja." Seru Akiko yang menandakan bahwa Yani tidak perlu memikirkan hal tersebut. "Jika kamu masih terus bersikap seperti itu, itu sama saja kau berarti tidak menghargai niat baik kami." Tambah Adora berusaha untuk meyakinkan Yani. "Mereka benar, anggap ini sebagai hadiah kami kepadamu yang yang telah menjadi bagian dari kami. Selain itu, kau juga sebelumnya telah membantu kami dalam menyelamatkan teman-teman kami ketika peristiwa Forthnight lalu." Ucap Aurelia dengan memegang pundak Yani dan menghadapkannya ke sebuah cermin yang sangat besar. "Kau tak perlu heran dengan apa yang kami lakukan, hal seperti ini merupakan apa yang sering dilakukan oleh Alisya kepada kami. Bahkan apa yang kami berikan saat ini tidak sebanding dengan apa yang telah dia ajarkan kepada kami." Terang Karin ikut berdiri disebelah Yani. "Dan ini hanyalah sebuah hal sederhana yang kami bisa berikan kepadamu." Gina datang bersama dengan Alisya dan Ibunya. "Kau sangat cantik menggunakan gaun gamis itu. Aku tak mengira kalau ibu Gina juga menciptakan gamis secantik ini." Alisya memuji Yani yang benar-benar tampak cantik dengan gaun gamis yang di pakainya. "Melihat kalian berkumpul seperti ini, mengingatkanku kepada seorang Gadis teman kalian dulu. Jika anak itu masih hidup, dia tentu akan memaksamu untuk memakainya juga. Mereka adalah korban dari anak itu." Tatap ibu Gina dengan setengah tertawa melirik kepada mereka semua. "Tapi sayang, saat ini dia sudah tidak bisa ikut merasakan kebahagian seperti yang sedang kalian lakukan saat ini. Padahal dulu dia sangat menikmati saat-saat seperti ini, dan aku sangat menyukai tampilannya setiap kali memakai pakaian milikku." Ucap ibu Gina dengan nada yang sedikit sedih. "Dia ada di sini kok Tante, Dia selalu bersama kami dan tentu saja dia juga ikut merasakan apa yang sedang kami rasakan saat ini." Karin datang memeluk ibu Gina dengan hangat. "Mana mungkin kami bersenang-senang tanpa dirinya. Iya nggak Ayumi?" Lirik Gina kepada Alisya dengan nakal. "Puffft¡­ Tante jangan khawatir, kami akan terus bersama dan berbagi kebahagiaan bersama." Meski ibu Gina tidak paham akan apa yang sebenarnya Alisya katakan, namun melihat mereka tersenyum dengan begitu bahagia membuat ibu Gina sedikit merasa legah karenanya. Melihat situasi itu, Yani akhirnya paham betapa persahabatan mereka begitu akrab dan solid serta betapa mereka begitu saling menyayangi satu sama lainnya. Chapter 478 - Apa Kabar Tante? Setelah selesai memilih baju yang akan mereka pakai, mereka pun pergi ke tempat salon kecantikan tante Alisya, yaitu tante Prilly. "Ada angin apa sampai kalian semua datang kemari? tidak biasanya melihat kalian semua berkumpul di salonku ini." Mendengar kedatangan mereka semua, tante Prilly datang menghampiri mereka. "Halo tante, maaf karena sudah lama tidak pernah mengunjungi mu. Untuk menebus kesalahan itu, aku mengajak semua teman-temanku." Karin yang sudah bertemu dengan tante Prilly sebelumnya, dengan cepat mengapanya. Tante Prilly memang tidak sempat berbincang-bincang dengan mereka sewaktu acara pernikahan Alisya. Akan tetapi ia mengetahui bahwa semua yang ada di hadapannya adalah teman-teman Alisya yang ia lihat lalu. "Terima kasih, lalu apa yang bisa aku lakukan untuk kalian?" Ayo Tante Prilly senang dengan kehadiran mereka. "Buatlah kami lebih cantik dengan cara natural. Kami akan melakukan kencan ganda." Aurelia dengan cepat ikut dalam percakapan mereka. "Kencan ganda rupanya, kalau begitu serahkan padaku. Kalian tidak perlu khawatir meski bukan aku yang akan melakukan riasan kepada kalian, tapi aku memiliki beberapa orang kepercayaan yang bisa memberikan kalian kepuasan." Tante Prilly segera memanggil beberapa orang asisten pribadinya. "Itu sangat bagus sekali tante, karena aku ingin tante yang secara langsung mendandani temanku yang satu ini." Akiko langsung menggandeng Alisya dan membawanya ke hadapan tante Prilly. Melihat wanita berkaca mata bulat yang berada di hadapannya, membuat tante Prilly tertegun tak percaya. Namun dengan keras ia mencoba untuk menolak logikanya yang ia rasa hal tersebut sangatlah tidak mungkin. "A¡­ Apa dia benar temanmu? Maksud tante apakah dia tidak kelihatan mirip seseorang? Ah tidak, mungkin Tante sedang berhalusinasi saat ini. Lupakan saja!" Kerisauan tante Prilly ketika berhadapan dengan Alisya sangat jelas terlihat oleh Karin dan yang lainnya. Mereka tidak menyangka kalau hanya dengan sekali lihat, tante Prilly bisa tahu bahwa itu adalah Alisya. Dia yang merupakan sahabat dekat ibunya, dengan Alisya yang juga sangat mirip dengan ibunya, tentu saja membuatnya merasa sedikit tidak asing dengan kehadiran Alisya. Dengan bantuan asisten tante Prilly, mereka mendapatkan polesan wajah natural yang membuat mereka terlihat sederhana namun begitu cantik dan elegan. "Siapa namamu? Aku belum pernah melihatmu bersama mereka sebelumnya. Soalnya dengan wanita berhijab yang berada di sebelah sana." Tanya tante Prilly kepada Alisya dengan lembut sembari menunjuk Yani. Tante Prilly mulai mengambil sedikit rambut Alisya untuk mulai di riasnya. Sembari sesekali melirik ke arah cermin untuk melihat wajah Alisya. "Ayumi!" Jawab Alisya singkat dengan sedikit sunggingan pahit. Alisya sedikit merasa bersalah kepada tante Prilly karena tidak mengunjunginya jauh sebelumnya. Alisya menatap lekat tante Prilly dari balik cermin. Mendengar apa yang dikatakan oleh Alisya, tangan tante Prilly langsung terhenti dan mata membelalak tak percaya. Matanya tampak bergetar begitupula dengan tubuhnya. Ia memundurkan langkahnya dengan jantung yang berdegup kencang. Alisya memutar kursinya untuk bisa melihat wajah tante Prilly dengan jelas sehingga mereka bisa berhadapan satu sama lainnya. "Apa kabar tante?" Alisya berdiri dari tempat duduknya menatap tante Prilly dengan penuh kesedihan. Tante Prilly adalah satu-satunya orang yang bisa mengingatkan Alisya akan ibunya. Rambut Alisya yang sudah sempat di kucir oleh tante Prilly sebelumnya membuat leher jenjangnya yang memperlihatkan 3 tahi lalat berbentuk bintang membuat tante Prilly menutup mulutnya tak percaya. Tanpa disadarinya, air matanya jatuh berlinang dan kakinya hampir tak mampu menopang tubuhnya. Alisya langsung memeluk tante Prilly dengan sangat erat. Semua orang yang berada di sana sempat bingung melihat apa yang sedang terjadi. Bahkan para asisten yang berada di sana tidak menyangka kalau ibu Prilly akan menangis tersedu-sedu di pelukan wanita berkacamata tersebut. Setelah tante Prilly sedikit lebih tenang, Alisya akhirnya menceritakan semuanya kepada tante Prilly di ruang kantor miliknya. Tidak lama setelah itu, mereka akhirnya keluar dengan senyuman yang tampak lebih hangat. "Maaf karena aku tidak bisa mengatakan apapun pada tante sebelumnya, aku yakin kamu pasti paham sekarang." Karena sudah selesai didandani, Karin dengan cepat menghampiri tante Prilly dan meminta maaf. Tante Prilly hanya mengangguk-angguk pelan memahami situasi yang dikatakan oleh Karin. Tante Prilly akhirnya kembali melanjutkan pekerjaannya untuk mendandani Alisya dengan tampilannya yang sedikit berbeda karena penyamarannya. "Aku akan membuatmu terlihat sangat menarik, meski dengan tampilan yang seperti ini aku yakin Adith akan dapat melihat bagaimana tampilanmu yang sebenarnya." Ucap tante Prilly ketika membuat Alisya duduk di hadapan cermin besarnya. Alisya hanya tersenyum simpul mengetahui kemampuan tante Prilly dalam hal tersebut. Beberapa orang yang datang bahkan sempat merasa takjub melihat tante Prilly yang secara langsung turun tangan untuk melayani seseorang. Satu persatu dari mereka tampak mulai telah selesai melakukan riasan pada wajah mereka. Kali ini mereka benar-benar menjadi pusat perhatian banyak orang. Mereka tampak seperti kumpulan bidadari kayangan yang sedang ingin bersenang-senang dan menghabiskan sedikit waktu di bumi. "Mereka cantik sekali, padahal riasan wajah mereka terbilang cukup sederhana." Ucap seorang yang lain yang tak jauh dari mereka sedang melakukan sesuatu pada rambutnya. "Aku merasa gagal melihat pada diriku sendiri, perawatan kita justru tidak jauh lebih baik daripada mereka, tapi mereka memiliki inner beauty yang terpancar dengan begitu indah." Terang yang lainnya yang memandang wajah dan tubuhnya di depan sebuah cermin. "Siapa mereka? Aku tak percaya mereka sampai membuat ibu Prilly turun tangan secara langsung untuk melayani mereka." Terang yang lainnya penasaran dengan kehadiran mereka yang begitu kuat di tempat itu. Yani yang tidak terbiasa mendapatkan pusat perhatian seperti itu, dengan ekspresinya memperlihatkan kalau dia sedikit terusik dengan komentar mereka semua. Akan tetapi dengan berada disekitar Karin dan yang lainnya, dia tidak merasakan sesuatu yang bisa dikatakan menjadi pusat perhatian karena kemewahan sehingga ia justru merasa sedikit nyaman dengan tampilan mereka yang sederhana. "Mereka semua adalah orang-orang sukses dan luar biasa, tapi pembawaan mereka yang rendah hati membuat mereka terlihat spesial di mata orang lain." Batin Yani melihat mereka semua dengan penuh rasa takjub. Yani masih belum bisa menyembunyikan rasa kagumnya kepada mereka semua, karena baru kali ini dia benar-benar terlibat dengan mereka. Di sisi lain, karena ingin mengabulkan keinginan dari Elvian yang sangat ingin menonton konser, Yogi berhasil mengajak Adith serta yang lainnya untuk ikut serta. Riyan yang saat itu harus kembali bertugas terpaksa tidak bisa ikut bersama dengan mereka. Vindra yang semula ikut terseret bersama mereka pada akhirnya menikmati perjalanan mereka malam itu. Chapter 479 - Perayaan Malam "Terima kasih sudah kau menjemput kami." Karin keluar dari sana dengan tampak begitu sangat cantik sehingga membuat Ryu tidak sempat menjawab apa yang dikatakannya. "Apa mereka sudah berada di tempat yang kita janjikan?" Adora keluar dari salon juga dengan tampak sangat meski mereka tidak mengenakan dandanan yang yang mencolok, namun sempat berhasil menghipnotis Ryu yang masih terdiam menatap kecantikan mereka. "Oke, sepertinya semuanya sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang jangan sampai mereka sudah terlalu lama menunggu kita." Aurelia keluar bersama dengan Adora dan yang lainnya langsung semakin membuat Ryu terpana dengan kecantikan mereka. Bahkan melihat Yani yang mengenakan hijab dengan gamis panjangnya yang menutupi hampir ke seluruh tubuhnya membuat dia tampak bagaikan seorang bidadari yang begitu putih, cantik dan menyilaukan. "Ryu¡­ Ryu! Sepertinya kau memang benar-benar terpana dengan kami semua, tetapi matamu tetap saja kembali kepada Karin." komentar Adora melihat Ryu yang setelah memandang mereka, dia kembali memandang ke arah Karin dengan takjub. "Meskipun semua wanita cantik di matanya, tetapi baginya hanya satu orang wanita cantik di hatinya." Akiko yang kembali berkata membuat Ryu sadar dari lamunannya. "Ehem¡­ Mereka semua sudah berada di sana menunggu kalian. Apakah kita bisa berangkat sekarang, tapi di mana nona Alisya?" Ryu sebenarnya mendengar apa yang mereka semua katakan, akan tetapi kecantikan mereka membuatnya terdiam sesaat. "Terima kasih banyak Tante, aku usahakan untuk sering-sering menjenguk tante. Alisya pamit dulu." Alisya segera berpamitan kepada tante Prilly sebelum pergi meninggalkannya. "Hati-hati dijalan dan teruslah jaga diri. Salamku pada ayahmu, maaf karena tidak bisa mengunjunginya." Ucap Tante Prilly mengantar kepergian Alisya dan teman-temannya. "Terima kasih banyak Tante, kami pamit dulu!" Teriak mereka secara bersamaan. Ryu dengan segera m membukakan mereka semua pintu mobil. Yang kemudian dengan senang hati mereka masuk ke dalam mobil tersebut. "Anda tampak sangat luar biasa nona!" Puji Ryu kepada Alisya. "Terima kasih." Alicia tersenyum dengan manis menjawab pujian dari Ryu. Mereka akhirnya menuju ke tempat yang telah mereka janjikan. Mengetahui sebelumnya bahwa mereka sedang menunggu di tempat cafe biasa mereka bertemu, akhirnya para wanita pun kesana namun tak menemukan siapapun disana. "Di mana mereka? Bukankah kau sudah mengatakan bahwa mereka akan menunggu disini?" Tanya Aurelia kepada Ryu yang sempat dihubungi oleh Yogi sebelumnya. "Ya, mereka mengatakan padaku kalau mereka menunggu disini. Tapi aku juga tidak tahu kemana mereka sekarang." Ucap Ryu juga mulai sedikit kebingungan dengan ketidak beradaan teman-temannya disana. "Ya sudah, bagaimana kalau kita berjalan-jalan saja dulu sambil menghubungi mereka dan menanyakan dimana keberadaan mereka." Kering segera memberikan usul karena tidak sabar lagi untuk pergi berjalan-jalan ke perayaan malam tersebut. "Iya benar, aku juga sudah lapar rasanya dari tadi. Bagaimana kalau kita mencicipi makanan Korea atau Jepang dulu?" Emi yang sudah merasa lapar dengan segera menunjuk ke arah tempat di mana stan Korea dan Jepang berada. "Baiklah, aku juga memang sudah merasakan lapar dari tadi. Yani juga belum makan seharian karena pekerjaan kantor. Mungkin memang sebaiknya kita pergi mencari makan dulu." Ucapan Alisya menyetujui apa yang mereka katakan. "Kalian bisa pergi sekarang, biar saya yang menghubungi mereka dan mencari dimana keberadaan mereka." Ryu dengan segera kembali membuka pintu cafe tersebut untuk mereka keluar dari sana. Setelah itu, dia mulai membuka handphone untuk menghubungi Adit dan yang lainnya. Alisya dan yang lainnya langsung menuju ke tempat di mana mereka bisa merasakan kuliner khas Korea maupun Jepang yang tentunya dengan berlogo halal. Mereka yang berjalan bersama-sama menjadi pusat perhatian bagi para pria. Tampilan mereka yang sangat cantik dan menawan, membuat semua orang terpesona kepada mereka. Bahkan beberapa dari mereka harus sedikit bermasalah dengan pasangan mereka karena mata mereka yang tidak bisa beralih dari Alisya dan yang lainnya. "Aku ingin makan kimbab, setidaknya dengan makan berat akan sedikit menghilangkan rasa laparku." Gina dengan segera menyerang stand Korea yang berhadapan dengan stand Jepang. "Aku ikut, karena aku ingin makan kimchi dan ramyeon tentunya." Seru Feby dengan semangat menggandeng Akiko pergi bersamanya. Akiko yang merupakan orang Jepang tentu saja ingin mencoba makanan dari negara lain sehingga ia tidak menolak ketika Gina dan Feby mengajaknya untuk mencicipi makanan khas Korea. "Jangan sampai terpisah, tempat ini sangat ramai dari perkiraanku. Mungkin karena ada konser girlband di sana." Adora segera mengingatkan mereka bertiga yang memang tempat itu sangat ramai sekali. "Tenang saja tempat kita berhadapan satu sama lainnya. Besar kemungkinan untuk kita terpisah kecuali mereka tertarik dengan hal lainnya." Ucap Emi yang ikut kepada Alisya ingin makan masakan khas Jepang. "Mereka terlihat sangat excited sekali. Aku hampir lupa kalau umur mereka bukan lagi remaja." Ucap Karin dengan setengah tertawa melihat mereka yang terlalu semangat. "Melihat mereka yang bersikap seperti itu membuatku sangat senang. Orang-orang sehebat mereka masih memperlihatkan sifat yang bersahaja tidak peduli dimanapun mereka berada." Jelas Yani tersenyum melihat mereka yang begitu kompak. "Bukankah memang seperti itu biasanya para sahabat yang sedikit gila selalu bersikap?" Ucap Aurelia mulai memesan beberapa takoyaki untuk mereka. Takoyaki adalah makanan khas Jepang yang berbahan dasar gurita. Bentuknya yang bulat-bulat hampir mirip seperti sebuah bakso yang digoreng. "Ummm¡­ aku tidak punya teman. Mereka semua menjauhiku karena ayahku yang seorang kriminal. Selain itu, faktor ekonomi lah yang membuat mereka menjauhiku dan tidak ingin berteman denganku. Aku berhasil mendapatkan gelar pendidikan ku karena kegigihan ku untuk bisa menyelamatkan ibuku." Jelas Yani dengan suara yang sedikit tercekat memikirkan baru kali ini merasakan berteman dengan banyak orang. "Kalau begitu, sekarang kau sudah memiliki banyak sahabat yang akan terus bersamamu sampai akhir baik kau suka maupun tidak. Karena kami sangat mencintai sahabat kami." Terang Emi memegang erat tangan Yani. "Kau akan melihat sisi lain dari kami yang begitu gilanya ketika bersikap satu sama lain Jadi kamu tidak perlu menjaga sikap juga. Terlebih jika berurusan dengan wanita yang satu ini." Tunjukkan kepada Alisya yang sudah mulai duduk pada kursi untuk memakan mochi pesanannya. Yani tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Karin. Karin yang baru saja duduk disebelah Alisya dengan cepat langsung dicekoki mochi oleh Alisya yang membuat mereka semakin tertawa dengan hebat. Mochi adalah makanan khas Jepang yang terbuat dari beras ketan. Mochi awalnya berbentuk segitiga dan seiring perkembangan zaman, mochi berbentuk bulat berisi coklat atau es krim dan yang lainnya. Chapter 480 - Lets Kill This Love "Apakah serius ingin menonton konser ini? Rasanya berisik sekali di sini." Teriak Zein kepada Yogi yang terlihat mulai asyik menikmati konser tersebut. "Tentu saja, kapan lagi kita bisa mendapatkan konser gratis dari mereka? Mereka ini Idol papan atas." Teriak Yogi menjelaskan kepada Zein tentang girls grup yang sedang melakukan konser di atas panggung. "Tidakkah kalian takut jika ada yang melihat kita melakukan ini?" Teriak Rinto kepada Yogi yang bersikeras menemani Elvian dan Rafli untuk menonton. "Aku rasa sebenarnya dia yang ingin nonton, tetapi kita malah ikut-ikutan terseret di sini." Teriak Adith dengan kesal. "Sudahlah berhentilah bersikap kaku, kita kan belum pernah melakukan ini. Mencoba sesuatu hal yang baru seperti ini terasa sangat menyenangkan. Aku yakin para wanita butuh lebih dari beberapa jam untuk bisa menyelesaikan riasan mereka." Yogi benar-benar ingin mengajak mereka untuk bersenang-senang setelah sekian lama berkutat dengan pekerjaan yang sangat menyibukkan. "Aku hanya berharap kita baik-baik saja setelah ini." Teriak Karan yang sudah bersama mereka. Karan yang saat itu baru saja akan mendatangi cafe, tiba-tiba bertemu dengan Adit dan yang lainnya yang sudah berjalan keluar. Dengan pasrah Ia juga ikut terseret mengikuti Yogi ke arah panggung konser. "Entah apa yang merasukiku sehingga aku bisa mengikuti arahan dari orang bodoh yang satu ini." Maki Adit kesal karena ikut terbawa ke rencana Yogi. "Tenang saja, mereka pasti tidak akan marah hanya karena hal ini. Lagi pula aku yakin kalian pasti akan menikmati ini. Lihat saja nanti!" Tambah Yogi lagi dengan penuh semangat, dia mulai terlihat semakin larut dalam konser tersebut. "Maafkan aku karena tidak bisa mengendalikan Elvian dan Rafli dengan baik sehingga kalian terseret dalam hal ini." Rendy merasa tidak enak kepada Adith dan yang lainnya. "Apakah sebaiknya aku kembali saja untuk memastikan kalau mereka sudah berada di sana?" Jati dengan segera menawarkan diri untuk kembali ke cafe agar memastikan kedatangan Alisya dan yang lainnya. "Tidak perlu, sepertinya akan sulit bagimu untuk keluar sekarang. Mungkin memang lebih baik kita menikmati ini terlebih dahulu." Adith dengan segera menghentikan Jati, melihat mereka sudah terlalu jauh berada di depan panggung konser. "Yah benar juga, Tidak ada salahnya kita sekali-sekali merasakan hal seperti ini. Anggap saja kita sedang mencari pengalaman." Vindra akhirnya pasrah dan ikut larut dalam konsep tersebut. "Lets Kill This Love¡­ ya, ya, ya,!!!" teriak Elvian dan Rafli dengan lantang mengikuti nyanyian dari 4 orang wanita yang sedang menari dengan begitu seksinya. Adith dan yang lainnya tidak menyadari kalau sebenarnya sedari tadi handphone mereka terus bergetar dengan kuat karena telepon dari Ryu. Melihat mereka tidak mengangkat telepon mereka sama sekali membuat Ryu dari sedikit bingung tak tahu harus bagaimana. di akhirnya terpaksa memilih untuk mencari Alisya dan yang lainnya untuk melaporkan hal tersebut. "Nona¡­ aku tidak bisa menghubungi mereka. Mereka sepertinya tidak mengetahui telepon dariku." Ryu yang sudah bertemu dengan Alisya dan yang lainnya segera mengatakan mengenai dia yang tidak bisa menghubungi Adith dan yang lainnya. "Apakah sedang terjadi sesuatu dengan mereka semua? Tidak mungkin jika salah satu dari mereka tidak ada yang mendengar panggilan telepon dari Ryu." Aurelia menatap dengan khawatir kepada Alisya. "Sepertinya tidak, karena Rendy dan yang lainnya tidak melaporkan apapun padaku. Mungkin ada hal lain yang menghalangi mereka saat ini." Ucap Alisya karena tidak mendapatkan laporan apapun dari mereka. "Jika mereka sedang mendapatkan sesuatu hal, bukankah seharusnya mereka mengatakan kepada kita terlebih dahulu?" Karin Karin merasa kesal memikirkan mereka yang hanya pergi begitu saja tanpa memberikan informasi kepada mereka. Tidak memikirkan hal apapun yang dapat menghalangi mereka akhirnya membuat Alisya memilih untuk mengaktifkan alat komunikasi khususnya yang menghubungkan antara dia dan yang lainnya. "Ada apa apa yang sedang terjadi?" Gini langsung menghampiri mereka dengan membawa beberapa kimbab yang ada di tangannya. "Mereka tidak bisa menghubungi Adit dan yang lainnya." Jawab Emi sambil terus memandang Alisa yang sedang melakukan panggilan kepada mereka. Melihat Alisa yang kembali mematikan alat komunikasinya membuat Aurelia dan yang lainnya menatapnya dengan bingung. "Bagaimana hasilnya?" Tanya Feby langsung duduk bersama dengan Akiko di sebelah Yani. "Sepertinya tempat ini terlalu ramai sehingga membuat alat komunikasi ku tidak bekerja dengan baik. Bahkan melacaknya pun agak susah saat ini." Jawab Alisya sumber melemparkan pandangannya ke seluruh tempat yang sangat ramai tersebut. Selain karena keributan yang berada di sana sini, banyaknya pemakaian jaringan dalam satu tempat mungkin membuat sedikit gangguan pada alat komunikasi yang ada pada Alisya. "Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Yani dengan sedikit bingung mengingat mereka sudah berdandan dengan begitu cantiknya. "Oh Iya! Aku mengingat sesuatu." Karin langsung sibuk merogoh sesuatu di dalam tasnya. Mereka semua memandang Karin dengan bingung. "Aku yakin Azura bisa melacak dimana keberadaan mereka. Ini adalah chip yang berisi program tentang Azura yang diberikan oleh Adith kepadaku." Ucap Karin ketika telah menemui sesuatu yang kemudian diberikan kepada Alisya. "Ide bagus, Aku jadi penasaran Apa yang membuat mereka sampai tidak bisa dihubungi seperti ini." Ucap Aurelia ketika melihat chip tersebut. Alisya dengan cepat memasukkan chip tersebut kedalam alat komunikasinya. Tidak butuh waktu lama untuk membuat program Azura berada di dalam alat komunikasinya. "Azura, bisakah kamu melacak dimana keberadaan Adith dan yang lainnya saat ini?" Alisa dengan cepat memberikan perintah kepada Azura, ketika program Azura telah selesai dijalankan. "Perintah suara diterima. Proses pelacakan lokasi." Ucap Azura yang langsung melakukan proses pelacakan lokasi kepada Adit dan yang lainnya. "Proses selesai. Satuan Adit dan yang lainnya sedang berada di depan panggung konser yang ada di depan sana. Kalian bisa melewati akses ini untuk bisa sampai di tempat tersebut." Jelaskan cara menampilkan layar hologram yang menunjukkan jalan dan akses untuk bisa sampai ke hadapan Adith dan yang lainnya. Mendengar apa yang dilaporkan oleh Azura membuat mereka semua terbelalak kaget dan tak percaya. Aurelia langsung merasakan emosi yang sangat tinggi ketika mengetahui kalau mereka sedang menonton konser saat ini, terlebih karena pada saat itu adalah konser dari girlband Korea. "Ummm¡­ sepertinya riwayat beberapa orang akan tamat pada malam ini." Ucap Gina dengan melirik khawatir ke arah Ryu. Melihat mata mereka yang dipenuhi oleh amarah membuat Ryu dengan cepat kembali melakukan panggilan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi. Terlebih saat melihat Alisya yang langsung menghancurkan alat komunikasi yang sedang dipegangnya. Chapter 481 - Senyuman Licik Alisya Dengan dipimpin oleh Alisya yang hanya terus terdiam sambil berjalan menuju ke arah konser, mereka semua berjalan mengikuti Alisya dengan menatap dengan bengis. Ryu masih terus melakukan panggilan kepada mereka, namun tetap saja tidak ada salah satu dari mereka yang menyadari panggilan darinya. Ryu merasa sangat khawatir kepada mereka semua. "Hei, lihat.. lihat¡­ ada wanita cantik!" Seru beberapa pemuda yang sedang berdiri paling belakang menyadari kedatangan Alisya dan yang lainnya. Mereka semua terpaku menatap ke arah Karin dan Aurelia yang memang pada saat itu terlihat begitu mempesona. Alisya yang memakai kaca mata bulat tebal membuat dia tenggelam karena kecantikan mereka berdua. "Bukan hanya mereka, lihat yang di belakang mereka berdua. Mereka juga terlihat sangat cantik dan manis, terutama untuk wanita yang berhijab tersebut." Tunjuk salah seorang dari mereka lagi kepada Yani. "Mereka mau kemana? Apa mereka juga akan menonton konser ini?" Beberapa dari mereka mulai memberikan jalan dan menyingkir dari hadapan Alisya. "Mereka semua cantik-cantik, meski satu wanita itu terlihat sedikit cupu, tapi dia terlihat manis." Tambah yang lainnya yang memuji kecantikan Alisya. "Tapi sepertinya tiga orang itu dalam suasana hati yang buruk saat ini." Tunjuk mereka pada Aurelia, Akiko dan Emi. Sedang Alisya hanya memperlihatkan ekspresinya yang datar. Mendengar komentar mereka semua, Alisya tiba-tiba berhenti dan tidak melanjutkan langkahnya. Dia terdiam beberapa saat tampak sedang memikirkan sesuatu. "Ada apa?" Tanya Karin kepada Alisya dengan ragu-ragu. Melihat Alisya masih terdiam dan tidak menjawabnya membuat Karin menatap kepada Ryu. Ryu menggeleng karena tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Alisya. "Ryu Kau tidak perlu lagi memberitahukan informasi mengenai kami mengetahui dimana keberadaan mereka saat ini." Ucap Alisya yang ternyata telah mengetahui apa yang dilakukan oleh Ryu. Mendengar apa yang dikatakan oleh Alisya, jantung Ryu seolah berhenti berdetak secara tiba-tiba. Dengan menarik nafas dalam-dalam dan menelan air liurnya dengan susah payah, Ryu mengangguk-angguk dengan cepat. Aurelia menoleh kepada Ryu dengan tatapan tajam karena kesal pada Ryu yang sedang berkhianat kepada mereka. Ryu merasa serba salah saat ini. "Apa yang ingin kau lakukan sekarang, kenapa kita tidak melanjutkan lagi perjalanan kita dan hanya berhenti di belakang sini?" Tanya Aurelia penasaran kenapa Alisya malah berhenti di belakang kerumunan orang-orang tersebut. "Aku tahu cara yang pantas untuk menghukum mereka saat ini, bagaimana bisa mereka menonton konser disaat kita sudah berdandan dengan sangat baik demi mereka." Alisya berkata dengan setengah berteriak karena keributan konser tersebut. "Benarkah? Apa yang ingin kau lakukan pada mereka?" Akiko bertanya dengan begitu antusias. "Lihat saja nanti, aku yakin kurang 10 menit dari sekarang mereka akan berada di hadapan kita." Ucap Isa dengan tersenyum licik. "Sudah lama aku tidak melihat senyuman licik itu, sepertinya kali ini mereka benar-benar tamat." karena merinding melihat senyuman Alisya yang sudah lama tidak pernah ia lihat sebelumnya. "Kenapa, memangnya ada apa jika dia tersenyum seperti itu?" Yani segera mendekati Karin menanyakan maksud dari perkataannya. "Alisya biasanya tersenyum seperti itu ketika dia mendapatkan suatu rencana yang sedikit licik. Dan itu akan bisa sedikit berbahaya tergantung tingkat kekesalan dan kemarahannya saat ini." Jawab Karin mendekatkan diri keteringa Yani dan berbisik kepadanya. Ada banyak hal yang memang tidak diketahui oleh Yani mengenai Alisya. "Berikan ponselmu padaku!" Alisya segera meminta handphone milik Ryu. Dengan ragu-ragu, Ryu memberikan ponselnya dengan tangan yang bergetar. Meskipun sebenarnya dia memihak kepada Alisya, Ryu tetap tidak ingin menghancurkan Adith dan yang lainnya. "Bukankah menghubungi mereka akan percuma saja? Ryu kan sudah mencoba menghubungi mereka selama beberapa kali tadi." Tanya Emi bingung karena Alisya mengambil handphone milik Ryu. "Kalian bisa lihat dua layar besar yang ada di sebelah kiri dan kanan panggung tersebut?" Tunjuk Alisya kepada panggung yang berada dua layar yang sekarang sedang menampilkan gambar bagian atas panggung dengan sangat jelas. "Ya, jangan bilang kalau yang sekarang kau lakukan adalah meretas kedua layar tersebut." Feby seolah menyadari apa yang akan dilakukan oleh Alisya. "Tepat sekali. Aku akan mengambil rekaman layar saat mereka sedang menonton 4 orang wanita tersebut, dan menampilkan gambar kita di layar sebelahnya." Terang Alisya sambil terus melakukan peretasan menggunakan handphone milik Ryu dengan menampilkan keyboard dan monitor hologram. Hal itu sebenarnya adalah sangat gampang dilakukan oleh Azura, namun karena dia telah menghancurkan chip dan alat komunikasinya saat marah sebelumnya, akhirnya dia terpaksa melakukan peretasannya sendiri secara manual. "Bukankah sudah kukatakan padamu kalau dia akan melakukan sesuatu yang menakutkan?" Karin menyenggol Yani memberitahukan dugaannya sebelumnya. "Dan sekarang dia memang sudah melakukan sesuatu yang menakutkan." Tutup Aurelia takjub kepada Alisya. Yani memang sudah melihat performa Alisya selama di kantor, namun melihatnya melakukan hal seperti ini di luar kantor apalagi sampai meretas sistem dari acara penting seperti ini ini cukup membuat Yani sedikit takut juga takjub. "Aku ingin melihat bagaimana reaksi mereka mengetahui kalau kita sedang melihat mereka yang sedang menonton konser." Emi semakin geram mengingat kalau Beni juga berada di antara mereka. Emi tak percaya kalau Deni, malah ikut terjun dalam keramaian tersebut di saat dirinya juga yang merupakan seorang artis papan atas yang bisa saja mendapatkan masalah dengan media. Tidak butuh waktu lama bagi Alisya berhasil untuk meretas layar tersebut, tepat saat itu wajah Adith dan yang lainnya terpampang dengan sangat jelas di layar sebelah kiri serta wajah Aurelia dan yang lainnya berada di sebelah kanan. "Ummm¡­ Yog, sepertinya kita sedang dalam masalah besar saat ini." Adith segera menarik kerah Yogi untuk memperlihatkan layar besar yang sedang menampilkan wajah mereka. "Oh.. jangan khawatir! Itu hanya sorotan kamera saja yang tidak sengaja mengarah pada wajah kita." Jawab Yogi cuek dengan terus memandang ke atas panggung. "Lihat yang kananmu, aku yakin sekarang kau tidak akan bernafas lagi." Tunjuk Rinto pada bagian kanan layar yang langsung membuat Yogi terperanjat kaget. Aurelia melambai dengan senyuman menakutkan. Hal yang sama di perlihatkan oleh Akiko dan juga Emi, sedang Alisya hanya mengarahkan telunjuknya ke arah layar sebelah kiri. Mereka dengan begitu menurutnya kembali menoleh ke arah layar tersebut, dan melihat sebuah animasi tiang gantungan dengan wajah mereka serta bom waktu 30 detik. "Uwaaaahhhh...." Teriakan Yogi cukup besar mengalahkan suara empat orang wanita tersebut yang sedang berbincang-bincang untuk menampilkan lagu selanjutnya. Melihat situasi tersebut, Elvian dan Rafli langsung berwajah sangat pucat. Chapter 482 - Bom Waktu 30 Detik Adith dan yang lainnya yang sedang menatap Layar sebelah kiri awalnya terbingung melihat bom waktu tersebut, namun begitu bom waktu berangka tiga puluh detik tersebut memulai hitungan mundurnya, Adith dengan segera mulai mundur secara perlahan-lahan. "Aku akan membunuhmu setelah ini." Kata-kata tersebut Adith tunjukkan kepada Yogi karena kesal. Tepat setelah itu, Adith dengan begitu mudahnya melewati pagar penghalang dan berlari dengan sangat kencang menuju ke tempat dimana Alisya dan yang lainnya berada. Tidak hanya Adith, bahkan Zein dan yang lainnya segera berhamburan dengan panik dan mereka berebut melewati palang besi yang berada di sepanjang konser tersebut. Melihat Rendy dan Jati yang juga ikut beralir karena takut akan mendapatkan hukuman dari kaptennya di ikuti oleh Elvian dan Rafli yang terlihat sekali wajah mereka memucat pasih membuat Adith langsung naik ke atas pagar besi tersebut dan berlari diatasnya. "Woooww¡­ ada apa ini? Sepertinya sudah terjadi sesuatu yang sangat enegangkan disini." Teriak sang MC melihat sekumpulan para pria ganteng yang tampak berhamburan dan saling kejar-kejaran satu sama lain seolah sedang berlomba. "Wah.. ini menarik sekali, bagaimana bisa mereka melakukan hal tersebut di tempat seramai ini?" ucap salah seorang dari 4 wanita yang sedang konser tersebut. "Lihat, bahkan kamera drone yang mengerjar untuk merekam mereka tak bisa menyamai mereka dan tertinggal jauh." Ucap salah seorang dari mereka lagi takjub menyaksikan peristiwa tersebut. Meski awalnya mereka tidak mengerti, semua penonton yang berada disana mengira kalau itu adalah pertunjukkan special yang sudah direncanakan oleh panitia. Mereka pun ikut menikmati apa yang sedang terjadi dalam waktu singkat tersebut. Karan yang tak memiliki kemapuan apapun hanya bisa mengandalkan kaki panjangnya karena bagaimanapun juga lawannya adalah anggota khusus dan mereka yang memiliki energi nano, namun perbedaan mereka tidak begitu jauh. Bahkan Rinto yang tak memiliki masalah apapun juga seolah merasakan bahaya yang sama. Yogi melompat dari satu pagar ke pagar yang lain seperti orang yang sedang kesetanan. Sedang Vindra, Beni dan Gani yang tertinggal jauh terlihat sangat kesulitan untuk melewati setiap pagar penghalang yang ada. Mereka bertiga adalah orang yang paling bertubuh normal di antara mereka semua. Meski tak paham situasinya, adrenali Vindra ikut terpacu saat melihat teman-temannya sudah berusaha berpencar untuk meninggalkan lokasi tersebut. "Aku pengen ketawa, kalau ketawa dosa nggak yah?" bisik Gina kepada Feby yang memang kejadian itu sebenarnya cukup lucu. Melihat mereka yang berusaha keras berlari dengan begitu tergesa-gesa menuju ke tempat mereka memang terlihat sedikit konyol dan berantakan. "Kau pikir aku tidak? Tapi melihat situasi mereka seperti ini, bagaimana kita bisa tertawa? tahanlah dulu sampai ini selesai." Tegas Feby karena ia juga berusaha menahan tawanya dengan sepenuh tenaga. "Baru kali ini aku melihat direktur dan wakil direktur serta manager utama memperlihatkan ekspresi seperti itu. Apakah Ayumi memang semenakutkan itu?" tanya Yani dengan setengah berbisik kepada Karin. Yani yang selama ini bersama dengan Alisya, hanya selalu melihat sisi Alisya yang lemah lembut dan sedikit cupu sehingga Yani yang selalu berusaha untuk melindunginya meski tanpa disadarinya kalau Alisyalah yang selama ini melindungi dan menjaganya. "Kau akan lihat sebentar lagi, melihat ekspresi mereka seperti itu sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu." Jelas Karin dengan setengah berbisik kepada Yani. "Aku sarankan, sebaiknya kau tidak melihat ini." Terang Akiko mengingatkan Yani akan apa yang terjadi berikutnya. Alisya yang selalu saja melakukan pertarungan fisik dengan Adith tentu saja akan membuat situasi kali ini menjadi pertempuaran luar biasa antara dua orang yang memiliki energi nano yang sangat besar. 23 detik telah berlalu dan Adith mulai tampak dihadapan mereka dengan menarik nafas dalam serta pandangan yang penuh akan rasa bersalah berdiri di hadapan Alisya. "Maafkan aku, aku¡­" tidak mendengar penjelasan Adith, Alisya hanya berlalu pergi begitu saja. Melihat Alisya yang kesal segera membuat Adith pergi mengejar Alisya dan mengekorinya untuk membujuknya. "Kenapa kau tak memberitahu kami?!!" tatap Adith kepada Ryu yang berada disana. Ia berbicara hanya menggunakan Gerakan bibirnya saja kepada Ryu namun dapat di lihat dengan jelas oleh Karin dan Yani apa yang sedang menjadi pertanyaan Adith. Ryu memukul dahinya dengan keras dan menyuruh Adith untuk melihat ke handphonenya. Gerakan isyarat yang dilakukan oleh Ryu segera membuat Adith melihat ke ponsel yang berada dalam sakunya dan dia membanting kepalanya ke udara karena kesal. Dia memang takkan merasakan getaran dan dering ponselnya karena bisingnya tempat konser tersebut serta tanpa sadar Adith juga ikut larut dalam musik dance yang mereka tampilkan. Tepat pada detik ke dua puluh sembilan, Zein dan Yogi serta Rinto tiba bersamaan. Ketiganya menelan ludah dengan susah payah dan bahkan sampai dengan menahan nafas karena takt ahu apa yang akan terjadi. Adora tidak bisa melakukan apapun kepada Zein karena yang ia rasakan hanya sakit hati saja sehingga ia hanya terdiam dengan raut wajah yang menunjukan kekecewaanya. "Bagaimana pertunjukannya? Apakah sampai se seru itu sampai kau lupa akan rencana kita?" Aurelia berkata dengan dingin kepada Yogi. "Umm.. itu,, anu.. ini karena Elvian! Ya, Elvian yang ingin nonton konser girlband tersebut sehingga kami meluangkan waktu untuk menemaninya. I.. Iya kan?" Yogi sedang mencari alasan yang tepat dan melirik kepada Rinto untuk meminta bantuan. "I.. Iya itu benar! Kami hanya menemani mereka berdua saja." Ucap Rinto dengan terbata-bata. Ia tidak tahu kalimat mana yang benar yang bisa dia ungkapkan untuk membantu Yogi. "Aku dan Rafli yang memaksa mereka untuk ikut!" Elvian langsung berdiri dengan goyah dihadapan Karin dan yang lainnya. "Kalian tidak perlu membantunya!" tatap Aurelia tajam kepada Elvian yang langsung membuat nyali Elvian menjadi ciut karena tatapan tajamnya. "Aku tahu apa itu menamani dan yang apa itu menikmati. Dan yang aku lihat sebelumnya adalah kalian semua sangat menikmatinya." Aurelia melipat kedua tangannya seolah sedang melakukan sidang kepada Yogi. "Jika kau bisa menahannya dengan cukup menonton dari jauh, kita tidak akan mungkin membuat mereka seperti ini." Rendy mengeram kesal kepada Elvian dan Rafli. Zein hanya terdiam tak tahu harus memberikan alasan apa kepada Adora, yang ia tahu kalau apa yang ia lakukan itu memang sangat salah melihat tampilan Adora yang sangat cantik dan menawan saat itu. "Bukkkkk!!!" Yogi sudah terjatuh tersungkur karena pukulan Aurelia yang langsung membuat mereka semua terbelalak kaget. Aurelia segera meninggalkan mereka yang mematung diikuti Karin dan yang lainnya. Chapter 483 - Hanya Akiko Yang Paling Terang Akibat kesalahan mereka semua, semuanya berpencar dan pulang ke rumah mereka masing-masing dan tidak melanjutkan lagi ke inginan mereka untuk kencan bersama dengan yang lainnya. Alisya yang tidak mengatakan apapun hanya terus terdiam dengan satu kata yang terucap yaitu pulang. Hal yang sama yang terjadi pada Yogi dan Aurelia, bedanya Yogi sudah mendapatkan satu pukulan keras dari Aurelia yang terus mengomel padanya. Sebelum pulang, Yogi masih terus membujuknya untuk tetap berada disana dan menikmati perayaan malam itu, namun karena ia sudah kehilangan selera karena moodnya yang hancur membuat Aurelia memilih ingin pulang. Akiko yang tak mengatakan apapun juga pada akhirnya memilih pulang yang sepanjang perjalan ia terus terdiam membuat Karan jadi sedikit takut karenanya. "Katakan sesuatu, jika kau hanya terdiam seperti ini terus, kau akan membuatku semakin merasa bersalah." Karan yang tidak tahan dengan Akiko yang terus terdiam membuatnya menghentikan mobilnya sejenak agar mereka bisa berbicara dari hati ke hati. Tak mendapatkan jawaban dari Akiko membuat Karan langsung memegang tangannya dan meraih dagunya untuk membuat Akiko melirik ke arahnya. "Aku tahu kamu marah bukan hanya karena aku menonton konser itu, kamu marah karena kamu sudah mempersiapkan ini semua untukku tapi kau malah menemukan aku sedang menonton konser yang menampilkan wanita-wanita seksi itu." Karan terus berkata dengan lembut untuk meluluhkan hati Akiko. "Aku minta maaf, aku akui kesalah itu dan akan aku pastikan takkan terulang lagi. Kau sendiri tahu kan meski selama ini aku juga sudah berhadapan dengan ratusan wanita yang mungkin tak kalah seksi dari mereka tapi aku tak menjatuhkan hatiku pada mereka. Kenapa?" Karan mendekatkan tubuhnya dan wajahnya ke sisi Akiko menatapnya dalam-dalam dan mengelus lembut pipinya yang putih dan berisi. "Karena aku tidak bisa membohongi diriku kalau aku sudah jatuh dalam pesonamu yang dalam dan susah bagiku untuk menemukan yang lagi. Aku selalu berfikir bagaimana cara yang tepat untuk menemuimu kembali meski aku harus ke Jepang. Dan saat aku melihatmu kembali, tau kah kau betapa jantungku hampir saja meledak saat itu." Terang Karan lagi mengungkapkan isi hatinya yang selama ini memang belum pernah di katakannya kepada Akiko. Raut wajah Akiko terlihat mulai melunak melihat apa yang dikatakan oleh Karan. Akan tetapi matanya masih menunjukkan aura ketidakpercayaan yang membuat Karan sedikit gusar karenanya. "Apa kau mengatakan semua ini hanya untuk membuatku tenang saja?" tanya Akiko dengan tatapan penuh keraguan. "Harus bagaimana biar kamu percaya? Apa aku harus keluar dan berteriak?" tanya Karan yang tidak mendapatkan respon dari Akiko. "Oke akan aku buktikan." Karan keluar dari mobilnya dan berdiri di tepi jalan yang cukup ramai dengan kendaraan yang membuat Akiko sedikit ketakutan dan lansung keluar mengikuti Akiko. "Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila. Hentikan itu!" teriak Akiko menghentikan Karan yang terlalu dekat dengan bibir jalan. Semua orang yang sedang berjalan di dekat trotoar memandang khawatir terhadap apa yang sedang dilakukan oleh Karan. Dengan sangat panik, Akiko pergi ke belakang Karan dan menariknya dengan kuat agar tidak terlalu dekat dengan bibir jalan. "Biar seribu bintang dilangit, hanya Akiko yang paling terang! Biar seribu wanita di dunia hanya Akiko milikku seorang!!!" Teriak Karan dengan sangat lantang yang langsung membuat semua orang yang menyaksikan apa yang sedang terjadi tertawa dengan riuh. Mereka semua bertepuk tangan sambil bersorak sorai mendukung apa yang sedang di lakukan oleh Karan. Merasa tidak beres dengan apa yang di katakana oleh Karan, Akiko memukul mukul dada Karan dengan kesal. Karan tertawa dengan gemas dan menarik Akiko ke dalam pelukannya dan melingkari tubuh Akiko dengan begitu erat. "Apa kau sudah tidak marah lagi sekarang?" tanya Karan setelah melepaskan tubuh Akiko dan memandangnya dengan lekat-lekat. Akiko mengangguk-angguk dengan pelan sembari menghapus air matanya. Bukan air mata karena amarah yang sebelumnya, namun karena rasa takutnya dan rasa khawatirnya saat Karan bersikap terlalu nekat hanya untuk membuktikan kesungguhannya kepada Akiko. "Jangan pernah lakukan itu lagi!" ucap Akiko memadang Karan dengan sangat tajam. Pandangan yang tak terlihat sedang meminta kepada Karan, namun pandangan tegas dan memerintah. "Yang mana? yang kata biar seribu bintang di langit¡­" Karan belum menyelesaikan kata-katanya, Akiko sudah kembali memukulnya dengan kuat. Karan hanya tertawa dan langsung mengecup cepat bibir Akiko. Ia kemudian kembali menarik Akiko masuk ke dalam mobilnya dengan begitu perhatian, memasangkannya sabuk pengaman dan langsung memacu kencang mobilnya membelah keramaian jalanan malam itu. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di depan pintu gerbang rumah Alisya. Akiko terdiam sejenak dan menatap lurus ke jalan. Melihat Akiko yang terdiam, Karan langsung berinisiatif untuk membukakan sabuk pengaman yang melingkarinya. Akiko kaget dan terpaku serta langsung menutup matanya erat-erat karena wajah Karan begitu dekat bahkan ia bisa merasakan hembusan hangat nafasnya. Karan tersenyum melihat tingkah Akiko seperti itu lalu ia melepaskan sabuk pengaman Akiko. Akiko tersadar kalau ia sudah salah paham dan langsung membuka matanya lebar-lebar. "Baka!!!(bodoh)" Akiko sangat malu dan memaki dirinya sendiri karena sudah memikirkan hal-hal yang aneh. Karena malu dia yang ingin memukul dirinya sendiri sebelum keluar dari mobil membuat Karan langsung menghentikannya dan menarik Akiko. Karan langsung meraih bibir Akiko dan menciuminya dengan lembut. Ciuman itu terasa begitu hangat dan lembut membuat Akiko terbelalak kaget dan tidak menduganya. Akiko yang mengira kalau Karan hanya akan mempermainkannya sekarang ingin memberontak untuk melepaskannya namun Karan semakin mengeratkan ciumannya. Ciuman Karan yang semakin dalam perlahan-lahan membuat Akiko mabuk karenanya. Akiko menutup matanya dan tidak lagi memberikan perlawanan. Ciuman lembut itu semakin lama berubah menjadi sedikit intens hingga membuat mereka hampir kehabisan nafas. "Kau sangat cantik malam ini. Selain itu, kamu juga sangat cocok dengan rambut panjangmu itu. Membuatmu semakin cantik hingga aku tak bisa mengendalikan diriku saat ini." Ucap Karan membelai rambut Akiko dan menyisirnya menggunakan tangannya. Karan kembali mencium bibir Akiko dengan lembut sebelum benar-benar melepaskannya untuk masuk kedalam rumahnya. Karan membukakan pintu mobil untuk Akiko dan membiarkannya untuk masuk kedalam rumah. Karan melambai hingga Akiko benar-benar menghilang dari matanya. "Aku harap yang lainnya bisa menyelesaikannya dengan baik. Untunglah Ryu tidak ada bersama kami, jika tidak dia membutuhkan lebih sekedar bulan dan bintang untuk bisa meluluhkan Karin. Sedang Adith akan benar-benar menghadapi kesulitan besar." Gumam Karan bernafas lega sebelum akhirnya masuk ke mobilnya dan pulang. Chapter 484 - Gondola Beni yang terus mengejar Emi yang menarik Feby dan tak ingin pulang dengannya membuat Beni merasa tidak nyaman untuk melepas Emi dalam keadaan seperti itu. "Lakukan sesuatu!" tatap Beni kepada Feby yang terus ikut terseret oleh Emi. "Kau yang harusnya lakukan sesuatu. Kenapa malah menyuruh aku sih?" Feby balik menatap tajam kepada Beni dengan kesal. Keduanya terus bertengkar satu sama lain dengan menggunakan gerakan bibir. Feby tau betul kalau Emi saat ini benar-benar marah, sehingga ia tidak tahu harus berkata apa untuk menenangkannya. "Ayolah, bantu aku mengatakan sesuatu. Jangan biarkan dia pulang!" Beni mengangkat keduanya tangannya memohon kepada Feby untuk membantunya. Feby menarik nafas putus asa dan memikirkan cara yang tepat untuk bisa menenangkan Emi. "Em¡­ bukankah harusnya kamu membicarakan hal ini dengan Beni terlebih dahulu?" tanya Feby dengan lembut yang langsung membuat Emi sejenak berhenti dan terdiam. "Emi, maafkan aku. Tapi apa yang terjadi tidak seperti yang kau lihat tadi, semua ini terjadi karena¡­" Beni sejenak terhenti karena bagaimanapun juga dia tidak bisa mencari kesalahan orang lain hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. "Kenapa? Kau tidak bisa menjelaskannya bukan? Apakah segitu Sukanya kalian pada wanita itu sampai kalian melompat lompat dengan begitu heboh sampai kau lupa kalau kau juga seorang artis papan atas?" Emi sebenarnya marah karena selain ia merasa cemburu, namun karena ia kesal dengan sikap ceroboh Beni yang bisa saja membuatnya tersorot oleh media dengan begitu mudahnya. Emi juga sengaja menyeret Feby bersamanya karena tak ingin ada yang melihat Beni sedang mengejar dirinya. Ia membawa Feby sebagai kamuflase agar media tidak menyadari apa yang sedang terjadi dan Feby juga tahu akan hal tersebut. "Bukan begitu, tapi.. arghhh.. aku tak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskannya padamu." Beni merasa kesal karena takt ahu harus bagaimana. "Sudahlah, sebaiknya kamu pulang saja sekarang. Besok kau masih memiliki banyak jadwal yang padat bukan?" Emi yang kembali melangkah pergi membuat Beni panik dan langsung menggendong Emi di bahunya. "Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" Emi meronta kaget karena apa yang dilakukan oleh Beni segera mendapat banyak perhatian orang. Beni menggendong Emi dengan terus berusaha menutupi wajahnya agar tak di ketahui oleh orang banya. "Hei, kau mau membawanya kemana?" karena khawatir, Feby dengan segera mengejar Beni dan mengekorinya dari belakang. Beni langsung mendudukkan Emi ke dalam Gondola dan menyuruh penjaganya untuk segera menguncinya dan memutarnya. Menyadari siapa yang sedang berbicara tersebut, dengan cepat dia menuruti kata-kata Beni. "Tolong bayarkan tiketnya." Tunjuk Beni dengan Bahasa isyarat kepada Feby. Feby hanya bisa menepok jidatnya dengan keras melihat aksi nekat yang dilakukan oleh Beni. Emi yang ingin turun tapi begitu gondola itu semakin tinggi membuatnya kembali duduk dengan pasrah. Beni berhasil membuat kesempatan untuk bisa mendapatkan waktu untuk berbicara kepada Emi dengan lebih nyaman. "Ya sudahlah, yang lainnya mungkin sudah pulang juga. Sebaiknya aku berkeliling satu kali dulu sebelum pulang. Biar Beni saja yang mengantar Emi pulang, dengan begitu mereka bisa punya waktu lebih banyak untuk berdua." Feby yang masih ingin menikmati keramaian itu dengan segera berkeliing ke beberapa stand yang menarik setelah sebelumnya membayarkan tiket gondola Beni dan Emi. Disisi lain, Adora hanya terus terdiam tak mengatakan apapun sama sekali. Pikirannya terus melayang karena tidak bisa menyalahkan Zein hanya karena hal sepele tersebut terlebih karena ia tahu kalau Zein bukanlah tipe orang yang akan tertarik dengan hal-hal seperti yang baru saja ia lakukan sebelumnya. "Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu kepadaku?" tanya Zein begitu mereka sudah sampai ke depan rumah Adora. "Tidak ada, terimakasih karena sudah mengantarku pulang. Kau sudah bisa beristirahat sekarang." Ucap Adora membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil Zein. "Adora, kau baik-baik saja kan?" tanya Zein dengan tatapan sangat khawatir kepada Adora. "Ummm.. pulanglah, hati-hati dijalan. Maaf sudah membuatmu khawatir. Aku baik-baik saja kok." Adora berusaha menampilkan wajah tersenyumnya kepada Zein. Setelah mengatakan hal tersebut, Adora segera berbalik pergi namun dengan cepat Zein menghadangnya. "Tidak, aku tidak bisa membiarkanmu pergi dengan keadaan seperti itu. Aku tau kau mempercayaiku, tapi aku bisa melihat rasa sakit hatimu juga." Jelas Zein bisa memahami perasaan Adora dengan baik. "Huhhhh¡­ kenapa tidak ada yang berjalan dengan lancar? Padahal ini merupakan kencan pertama kita setelah sekian lama. Aku bahkan tidak masalah meski harus bersama dengan yang lainnya, karena aku sangat Bahagia akhirnya kita juga bisa berkumpul bersama." Adora mendesah dengan kuat dan terduduk memegang wajahnya. Adora sangat menyesali apa yang sudah terjadi malam itu, ingin sekali air matanya jatuh karena akhirnya ia tidak memiliki kesempatan untuk bisa bersama lebih lama dengan Zein. Zein yang selalu sibuk dengan pekerjaanya sebagai gubernur membuat Zein tidak memiliki waktu untuk hal lain. Apa lagi jika harus kencan dengan Adora, dia tidak bisa melakukannya di tempat umum seperti yang lainnya. Melihat Adora yang terduduk dengan kekesalah hati membuat Zein langsung menngendongnya. Adora kaget saat merasakan tubuhnya terangkat ke atas dan kembali di masukkan ke dalam mobil. Zein tidak bisa membiarkan Adora pergi dengan suasana hati yang buruk, sehingga dengan cepat dia membawa Adora ke suatu tempat. "Mau kemana kau?" Gina langsung menghentikan Gani yang mengendap-endap ingin melarikan diri. "Um.. Aku ingin pulang. Ya benar pulang, sekarang rasanya aku capek sekali. Aku ingin pulang dan beristirahat dengan tenang. Kamu bisa bersenang-senang terlebih dahulu dengan yang lainnya, biar aku pulang sendiri saja. Bye semuanya." Ucap Gani yang dengan cepat langsung ingin melarikan diri. Gina hanya tersenyum dengan licik namun tentu saja dia tidak akan membiarkan Gani untuk pergi begitu saja. Gina dengan cepat meraih kerah baju Gani dan langsung menjepit kepalanya dengan keras. "Kau pikir bisa pulang dengan begitu mudah hah?" Gina kembali menjepit kepala Gani dengan keras hingga membuat wajahnya tampak merah karena kehabisan nafas. "Puffttt¡­ hahahaha, kalian akrab sekali. Sepertinya menyenangkan memiliki seorang kembar yang bisa diajak seru-seruan bersama." Vindra tertawa melihat mereka yang terlihat begitu akrab dan sedikit konyol. "Akrab? Seru? Kau pikir aku senang memiliki kembar bar-bar seperti dia?" tunjuk Gani kesal terhadap perlakukan Gina kepadanya. "Kau pikir akum au mengurusmu? Kalau saja kau tidak menyusahkan aku setiap waktu aku juga takkan peduli padamu!" Gina semakin kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Gani sehingga dia kembali mencekik leher Gani dengan kuat. Chapter 485 - Mengantar Yani Tidak hanya Vindra, Yani juga merasa senang melihat keakraban Gani dan Gina. Yani ikut tertawa melihat tingkah mereka berdua. Rendy yang merasa karena kesalahan dari Elvian dan Rafli lah yang sudah membuat mereka semua sampai mendapat masalah tersebut, memutuskan untuk menghukum Elvian dan Rafli. "Kapten memang tidak mengatakan apapun, tapi aku yakin dia pasti sangat marah sekarang. Ini memang hak kita untuk mendapatkan liburan, tetapi kita terlalu gegabah dalam mengambil tindakan yang dapat membuat semua orang menjadi dalam masalah." Rendy menatap Elvian dan Rafli dengan tajam. Keduanya tidak mengatakan apapun karena mengakui telah melakukan kesalahan tersebut. "Kami juga sudah mengingatkan kepada kalian untuk tidak melakukan hal-hal yang sangat ceroboh. Dan sekarang lihat apa yang sedang kalian lakukan, untuk itu hukuman yang harus kalian lakukan adalah seperti biasa." tambah Rendy lagi mengingatkan mereka untuk segera melakukan hukuman mereka tanpa perlu disuruh lagi. Dengan tidak merasa keberatan Elvian dan Rafli langsung segera melakukan hukuman mereka. Karena mereka sedang berada di tempat yang sangat ramai sekarang, pada akhirnya hukuman yang harus mereka lakukan adalah melakukan aksi sosial dengan membersihkan seluruh sampah yang berada di sekitar mereka. "Apakah mereka harus mendapatkan hukuman itu? aku rasa itu tidak perlu." Yani merasa tidak enak melihat mereka mendapatkan hukuman yang memang sebenarnya tidak perlu mereka dapatkan. "Tidak masalah, itu akan mengajarkan mereka untuk lebih bertanggung jawab lagi dan tidak bersikap dengan semena-mena. Kau tidak perlu khawatir karena mereka memang sudah terbiasa melakukan hal seperti itu. 2 orang itu adalah trouble maker yang sebenarnya." Jelas Jati kepada Yani untuk tidak mengkhawatirkan mereka berdua. "Aku harus minta maaf kepadamu, kami sudah mengajakmu ke tempat ini dan bahkan menculikmu. Tetapi yang kamu dapatkan malah menyaksikan kekacauan ini." Karena merasa bersalah kepada Yani karena kejadian tersebut. "Hahahhaha.. aku baik-baik saja, kalian tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku justru menikmati apa yang sudah terjadi sebelumnya. Meskipun merasa tidak enak tetapi semuanya terlihat sangat begitu akrab." Terang Yani merasakan bagaimana kedekatan mereka satu sama lain. "Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah kalian masih ingin lanjut untuk berjalan-jalan lagi?" Tanya Rinto kepada mereka semua. "Sepertinya aku harus pulang sekarang aku masih mengkhawatirkan ibuku. terima kasih karena sudah mengajakku dan memberikan ku semua ini, hari ini benar-benar begitu spesial bagiku." Yani langsung memikirkan ibunya nya yang mungkin saja belum minum obatnya saat itu. "Kalau begitu biarkan Rinto yang mengantar mu" Karin langsung menawarkan Rinto untuk memberikan bantuan kepada Yani. Karena sebenarnya sudah bisa mengetahui dari cara pandang Yani kepada Rinto. Inilah yang membuatnya remasan rencana agar itu dapat mengantarkan Yani pulang. "Ah tidak, aku bisa pulang sendiri. Tidak perlu merepotkan manager untuk hal ini." Yani dengan segera menolak apa yang ditawarkan oleh Karin. "Kau terlalu sungkan, benar apa yang dikatakan oleh karena biar aku yang mengantar mu pulang. Kita sedang berada di luar sekarang jadi kau tidak perlu mengambil kau manager." Ucap Rinto dengan segera menyetujui apa yang dikatakan oleh Karin. Rinto memang sangat bertanggung jawab kepada ada orang lain khususnya jika itu adalah seorang perempuan. Dia tidak mungkin akan membiarkan seorang perempuan pulang sendirian. "Baiklah kalau begitu, bagaimana denganmu?" Yani akhirnya menurut namun kemudian bertanya kepada Vindra. "Aku belum mau pulang, karena sudah terlanjur ada di sini aku masih ingin berjalan-jalan dulu sebentar di sekitar sini." Jelas Vindra menolak tawaran Yani yang sebenarnya hanya dijadikannya sebagai alasan nya saja. "Kalau begitu aku ikut denganmu, aku juga belum mau pulang. Rasanya bosan sekali jika aku harus pulang pada jam segini." Gani melepaskan diri dari Gina dan langsung berdiri tepat di samping Vindra. "Apa kau bilang? Bukankah tadi kau yang ingin pulang dan beristirahat? Kenapa sekarang kau malah ingin berjalan-jalan lagi." Gina kesal dengan sikap Gani yang dengan mudahnya berubah-ubah. "Ayolah Kak, Aku hanya ingin mencari sedikit hal-hal yang bisa menyegarkan otakku. Sudah lama rasanya aku tidak berjalan-jalan dengan bebas seperti ini." Gani meminta dengan sangat tulus kepada Gina untuk mengizinkannya. "Oke kau boleh pergi, tapi aku akan ikut bersama dengan kalian. Aku khawatir kamu melakukan sesuatu sesuatu hal yang lebih ceroboh lagi daripada ini." Gina sebenarnya sangat mengkhawatirkan Gani, mengingat Dia yang berkarir sebagai seorang super model terkadang tidak terlalu memikirkan apa yang ia makan dan apa yang ia lakukan. Gani memang tidak terlalu peduli terhadap dirinya sendiri. Hal inilah yang membuat Gina menjadi sangat overprotektif kepada Gani. "Sepertinya kami juga belum mau pulang, masih ada beberapa hal yang harus kami urus sekarang. Kalian bisa menikmati tempat ini terlebih dulu sebelum pulang." Jelas Ryu yang sudah memiliki rencana lain bersama dengan Karin. "Kalau begitu berarti kita berpisah di sini. Aku masih harus menemani Rendy memantau Mereka melaksanakan hukumannya." Ucap Jati menunjuk ke arah Rendy yang sedang melakukan pemantauan kepada Elvian dan Rafli. "Oke, kalau begitu kalian juga hati-hati jangan pulang terlalu larut malam." Ucap Karin mengingatkan mereka semua. Karin dan Ryu langsung segera meninggalkan tempat itu, sendang Vindra serta Gani dan Gina pergi ke arah berlawanan menuju ke tempat stand-stand berada. Rinto pun akhirnya mengajak Yani berjalan menuju ke tempat di mana mobilnya berada. Setelah sampai tepat di mana tempat mobilnya diparkir, Rinto segera merogoh sakunya untuk mencari kunci mobilnya namun ia tidak mendapatkan apapun. "Ada apa?" tanya Yani kepada Rinto terlihat kebingungan mencari sesuatu. "Akhhh sepertinya aku melupakan kunci mobilku di kafe saat kami sedang menunggu tadi." Ucap Rinto mengingat dimana ia terakhir kali meletakkan kunci mobilnya. "Tunggu sebentar di sini dan jangan kemana-mana aku akan segera kembali. Tidak apa-apa aku tinggal di sini sebentar kan?" Tanya Rinto khawatir kepada Yani. "Yah tidak perlu khawatir, kau bisa pergi mengambilnya sekarang. Tempat itu juga tidak terlalu jauh dari sini." Ucap Yani kepada Rinto untuk segera mengambil kunci mobilnya tanpa mengkhawatirkan dirinya. "Oke tunggu sebentar, aku tidak akan lama." Rinto segera berlari menuju ke cafe tempat di mana sebelumnya mereka menunggu kedatangan Alisya dan yang lainnya. Rinto sebenarnya sangat khawatir meninggalkan Yani di tempat parkiran yang cukup sunyi dan sedikit remang-remang tersebut. Rinto berlari dengan sangat cepat untuk bisa kembali, namun begitu ia sampai di sana Yani tidak berada di tempatnya. "Kemana dia?" Rinto berusaha untuk menghubungi Yani namun tidak mendapatkan jawaban dari dia hingga beberapa kali. Chapter 486 - Apa Kau Sudah Gila! "Bapak¡­ lepasin! Bapak ngapain disini? Lepasin Yani pak." Yani terus berusaha untuk melepaskan tangannya dari Ayahnya yang tiba-tiba muncul dan langsung menyeretnya pergi. "Plakkkk.. sialan kamu! Orang tua lagi susah kamu bisa-bisanya pergi pacaran dengan pria lain." Ayah Yani menampar Yani dengan keras hingga darah segar keluar dari bibirnya. Yani jatuh tersungkur akibat pukulan telak yang mengenai wajahnya tersebut. "Kamu perempuan kurang ajar, kau sama saja seperti ibu, cuihh.. perempuan tak berguna!!" Makinya sekali lagi dan Yani tidak berekspresi apa-apa dan hanya kembali bangkit dari posisinya. "Jangan pernah menjelekkan Mama, bapak tidak berhak untuk mengatakan itu. Bapakkan sudah pergi meninggalkan kami, buat apa bapak kembali kesini? Mau minta uang lagi.. Yani sudah nggak akan memberikan bapak sepersenpun. Mama membutuhkan uang yang Yani hasilkan." Jawab Yani dengan suara datar dan sangat dingin kepada Ayahnya. "Berengsek! Apa karena kau sudah tidur dengan laki-laki itu kau jadi sombong seperti ini? Sudah berapa banyak yang kau dapatkan dari laki-laki itu?" Ayah Yani langsung memegang leher Yani dengan sangat kasar. Bau alkohol dan rokok tercium begitu menyengat dari mulut Ayah Yani. Tubuh Yani yang begitu lemah dengan gampang di kuasai oleh Ayahnya. Meski merasa kesakitan, Yani tetap tak ingin menunjukkan kelemahan dihadapan Ayahnya. "Lepaskan, jangan bapak pikir semua laki-laki itu sama brengseknya dengan dirimu. Dia adalah laki-laki terhormat bukan seperti mu!" Tatap Yani tajam dipenuhi dengan kebencian. "Apa??? Hahahhahaha¡­ apa kau tak tahu kalau semua pria itu buaya? Dan kau bilang bapakmu ini brengsek? Biar aku tunjukkan seperti apa itu berengsek yang sebenarnya." Ayah Yani dengan segera memaksa Yani untuk membuka hijabnya. "Lepaskan! Sampai matipun aku takkan memaafkan mu jika kau membuka hijabku. Lepaskan!!!" Teriak Yani mencoba untuk terus mempertahakan hijabnya. "Pel*** sepertimu berlagak sok suci dengan memakai hijab. Kau menjadikan hijabmu sebagai tameng untuk menutupi kelakuan busukmu itu." Ayah Yani terus menyeretnya masuk ke sebuah gang di sekitar Bar diskotik. Tak ada satupun dari mereka yang berani melerai ketika melihat hal tersebut mendengar isi percakapan mereka. Terlebih karena wilayah itu memang menjadi sarang para preman sehingga mereka tidak berani mengambil resiko. "Ada apa ribut-ribut?" Feby yang tak sengaja berjalan di sekitar sana melihat dari kejauhan seberang jalan ada kehebohan yang sedang terjadi. "Kenapa tidak ada yang melerai mereka. Apa zaman sekarang rasa manusiawi orang telah mulai hilang?" Gumam Feby merasa kasihan pada keributan yang sedang terjadi. Dia merasa iba terhadap apa yang didapatkan oleh perempuan itu, namun ia juga tidak bisa melakukan apapun karena dia juga hanya seorang perempuan yang lemah. Dia seolah merasa sangat marah melihat beberapa dari mereka malah hanya menonton dan merekam kejadian tersebut. "Jika Alisya dan yang lainya berada disini dan melihat kejadian itu, apa dia akan membiarkannya?" Feby tenggelam dalam pikirannya dan kemudian dia dengan berarti memalingkan wajah dan beranjak pergi dari sana. "Kau memang tak pantas menjadi seorang bapak! Aku menyesal memiliki bapak sepertimu." Yani tahu kalau semarah apapun dia, seharusnya dia tidak mengatakan hal tersebut, namun apa yang dilakukan ayahnya sudah semakin membuat kebenciannya meledak kuat. "Plakkkkkk" satu tamparan kuat kembali membuat ia jatuh tersungkur. Kali ini hidungnya pun mengeluarkan darah segar. Feby langsung terhenti dan membelalakkan matanya. Ia tahu kalau suara itu adalah suara Yani sehingga tanpa sadar kakinya melangkah secara perlahan-lahan. "Au yakin seperti ini lah perasaan marah Alisya ketika melihat orang lain di perlakukan dengan sangat tidak baik apa lagi jika itu adalah sahabatnya sendiri." Feby mengepalkan tangannya dengan sangat erat lalu berlari menyeberangi jalan yang sedikit ramai. Beberapa mobil membunyikan klaksonnya untuk memperingatkan Feby yang menyebrang dengan sangat sembrono sehingga membuatnya tersrempet mobil dengan begitu kuat. "Apa kau sudah gila!!!" Teriak seorang pengendara mobil yang sedikit menabraknya. Feby tak peduli dan terus berjalan dengan kaki yang sudah terluka. Pandangannya lurus kepada Yani yang akan mendapatkan penyiksaan lagi. Begitu sampai, Feby langsung berlari dan mendorong Ayah Yani dengan sangat keras ketika tangannya sekali lagi ia layangkan untuk kembali memukul Yani. Ayah Yani menabrak dinding dengan sangat keras akibat dorongan dari Feby. Feby yang mendorong pun ikut terjatuh dengan sangat keras yang menyebabkan tangannya tergores dengan cukup lebar karena membentur lantai yang kasar. "Feby? Kenapa kamu bisa berada disini? Apa yang kamu lakukan disini?" Yani berusaha bangkit dari posisinya setelah membersihkan hidungnya dengan cepat agar tak terlihat oleh Feby. Betapa terkejutnya dia melihat Feby yang langsung menerjang ayahnya. Terlebih dengan tubuhnya yang di penuhi oleh luka-luka yang entah dari mana ia dapatkan, Yani kebingungan melihat Feby. "Kau baik-baik saja?" Tanya Feby mengkhawatirkan Yani dan tak memikirkan dirinya. "Aku baik-baik saja, justru kau yang tidak baik-baik saja sekarang. Dari mana kau mendapatkan semua luka-luka ini?" Tanya Yani dengan tatapan sangat khawatir melihat kondisi Feby yang cukup parah. "Brengsek!!! Sialan.. dari mana asalnya perempuan kurang ajar ini." Ayah Yani kembali bangkit dengan penuh amarah yang langsung membuat tubuh Yani gemetar ketakutan. Yani takut kalau Ayahnya dapat mencelakai Feby mengingat ayahnya juga adalah seorang mantan kriminal karena membunuh seseorang sebelumnya. Yani dengan sigap langsung menyembunyikan Feby di belakangnya. "Apa kalian lihat-lihat hah??? Bubar semua!!!" Ayah Yani berteriak kepada semua orang di sekitar sana dengan mengeluarkan yang langsung membuat mereka semua pergi dengan ketakutan. "Bukankah harusnya kita melaporkan ini ke polisi?" Tanya salah seorang dari mereka saat mereka berlari dari sana. "Merepotkan, kau ingin jadi saksi? Selain itu, apa kau tidak tahu wilayah disekitar sini? Wilayah ini dikuasai oleh geng tertentu yang ditakuti oleh polisi. Jika mereka mengetahui siapa yang memberikan laporan, kau yang akan mereka bunuh." Ucapnya menghentikan temannya. "Lupakan apa yang sudah kau lihat tadi, anggap hal itu tidak pernah terjadi." Ucapnya lagi memperingatkan temannya. Yani akhirnya mundur beberapa langkah sambil terus melindungi Feby di belakangnya. "Apa kau bisa lari?" Bisik Yani kepada Feby bersiap untuk melarikan diri. "Sepertinya bisa!" Jawab Feby pelan. "Aku hitung sampai 3, pegang tanganku dengan erat dan lari dengan sekuat-kuatnya." Terang Yani lagi sembari memperhatikan ayahnya yang tampak semakin kesal. Yani mulai menghitung mundur menggunakan jarinya dan begitu ia mengangkat jari ketiga, Yani langsung memegang tangan Feby dengan erat dan menariknya untuk berlari. Kaki Feby yang sebelumnya terkena tabrakan membuat ia hanya bisa berlari beberapa langkah saja yang langsung membuat Ayah Yani tertawa. Chapter 487 - Menyelamatkan Yani Rinto yang panik terus mencari di mana keberadaan Yani. Dia terus berusaha menelepon Yani, namun tidak mendapatkan jawaban darinya. Hal tersebut ternyata karena handphone milik Yani malah jatuh tidak jauh dari mobil miliknya. Dan Rinto tidak mengetahui akan hal tersebut karena kebisingan kendaraan lain yang masuk untuk memarkir mobilnya. Rinto terus berkeliling mencari dari satu tempat ke tempat yang lain namun tidak menemukan Yani disana. Mengira kalau Yani akan kembali ketempat saat mereka berpisah sebelumnya, membuat Rinto dengan segera menuju ke sana. "Apakah kau melihat Yani?" Tanya Rinto kepada Jati yang ditemuinya saat mencari Yani. Jati terlihat sedang berdiri sembari memperhatikan Rendy dari kejauhan. "Bukankah dia bersamamu? Dia tidak kembali kesini setelah kalian pergi bersama tadi. Aku pikir kalian sudah dalam perjalanan pulang sekarang." Jati kebingungan dengan Rinto yang sedang mencari Yani. Jati bingung karena sebelumnya Rinto yang pergi bersama dengan Yani malah sekarang kembali untuk mencari Yani. "Aku memang bersamanya, tapi tadi aku meninggalkannya di tempat parkiran untuk mengambil kunci mobil ku yang ketinggalan di cafe. Tetapi begitu aku kembali ke tempat parkiran, aku tidak menemukannya di sana." Ucap Rinto menjelaskan apa yang sedang terjadi dengan suara yang terdengar sedikit khawatir. "Apa mungkin saja dia sudah pulang sendirian?" Jati memikirkan hal yang mungkin saja akan dilakukan oleh Yani. "Tidak, dia bukan orang yang akan pergi meninggalkan orang lain seperti itu tanpa berpamitan sebelumnya. Sepertinya memang sedang terjadi sesuatu dengan dirinya." Perasaan Rinto tidak baik untuk hal ini, Rinto memikirkan kalau Yani kemungkinan besar sedang berada dalam masalah. Meski Yani bersikap sangat kaku dan penuh hormat pada dirinya, dia tidak akan mungkin berbuat tidak sopan dengan pergi tanpa memberitahukan kepada Rinto sebelumnya. Yani mungkin bisa bersikap blak-blakan, tapi dia tipe orang yang sangat bertanggung jawab. "Apa kita perlu menghubungi kapten untuk hal ini? Kapten lebih mengetahui soalnya Yani. Dia juga mungkin akan tahu dimana Yani saat ini dan kenapa dia pergi begitu saja. Selain itu, Yani adalah orang yang cukup berharga bagi kapten." Ucap Jati memberikan saran agar dapat mendapatkan informasi mengenai Yani dari Alisya. "Tidak, sebelum itu kita harus memastikan dulu di mana keberadaan Yani. Jangan sampai kita bertindak gegabah, dan ternyata mungkin ini hanya pergi beberapa saat saja tadi." Rinto takut kalau dia hanya terlalu khawatir secara berlebihan. "Kalau begitu sebaiknya kita kembali ke tempat dimana mobil mu terparkir sekarang. Mungkin saja Yani sudah kembali ke sana." Ucap Jati yang kemudian Keduanya segera berlari kembali ke tempat parkir mobil Rinto. Jati tidak bisa memberitahukan kepada Rendy sebab dia masih sibuk mengamati hukuman dari Elvian dan Rafli. Sehingga setelah melambai sebentar, Dia segera bergegas menuju ke tempat parkir bersama Rinto. Sesampainya mereka di tempat parkiran, Yani masih tidak terlihat di tempat tersebut. Rinto pun akhirnya mencoba untuk menghubungi Yani sekali lagi, dan tiba-tiba saja dia mendengarkan sebuah deringan ponsel tidak jauh dari mobilnya. Pikiran Rinto mulai tidak nyaman melihat tas milik Yani yang tergeletak di lantai. "Ini adalah tas Yani, sepertinya memang telah terjadi sesuatu dengannya." Ucap Rinto mengangkat tas yang memang merupakan miliki Yani yang jatuh saat ayahnya memaksa Yani untuk pergi bersamanya. "Kalau begitu kita cari di sekitar sini dulu, kemungkinan orang itu membawa Yani tidak jauh dari sini melihat di sekitar sini tidak ada bekas kendaraan yang baru lewat." Jati segera menyalakan instingnya untuk melakukan pelacakan terhadap Yani. Dengan berlari-lari kecil mereka segera mencari kesana kemari. Rinto hampir putus asa mencari Yani. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas hilangnya Yani, sebab jika dia tidak meninggalkan Yani sendirian maka hal ini tidak akan terjadi. "Bagaimana apakah kamu melihatnya?" Tanya Rinto kepada Jati ketika mereka bertemu kembali. Jati hanya bisa menggeleng karena tidak bisa menemukan keberadaan Yani, saat mereka sedang berada di tempat yang terlalu ramai seperti itu. "Kasihan sekali perempuan tadi, ayahnya sampai menamparnya beberapa kali dan membuka hijabnya." Ucap beberapa wanita yang berjalan melewati mereka. Mendengar apa yang dikatakan oleh wanita-wanita tersebut, Rinto segera memikirkan apa yang mungkin saja terjadi. Pikirannya tidak tenang ketika mendengarkan apa yang mereka bicarakan, sehingga dengan cepat dia berlari menuju ke arah tempat mereka sebelumnya berjalan. Jati yang tidak mengerti mengapa Rinto mengarah ke sana memilih untuk tetap mengikutinya dari belakang. Dari kejauhan, Rinti dan Jati bisa melihat kalau Feby dan Yani sedang berhadapan dengan beberapa orang yang menghentikan mereka. "Kenapa lama sekali untuk membawakan aku uang? Kau sudah ingatkan bahwa hari ini adalah batas terakhirmu. Jika kau memang tidak memberikannya maka nyawamu yang akan melayang." Ucap seorang pria berjas hitam yang baru saja keluar dari bar tak jauh dari tempat mereka kepada ayah Yani. "Tenang dulu, a¡­ Aku sedang berusaha mendapatkan uangnya sekarang. Anak ini, anak ini mendapatkan banyak uang dari seseorang. Jadi aku sedang berusaha mendapatkan uang dari nya." Ayah Yani segera menunjuk-nunjuk kepada Yani sebagai alasannya. "Oh¡­ dia terlihat cantik. Tidak buruk!" Tatapnya penuh nafsu melihat Yani yang terus berusaha untuk menutupi rambutnya dengan hijabnya yang tampak sedikit sobek karena kelakuan Ayahnya. Melihat tatapan mereka, Yani semakin takut dan tak tahu harus bagaimana. Pikirannya hanya terarah untuk menemukan cara mengeluarkan Feby dari masalahnya. "Bagaimana jika kau memberikan anak ini saja padaku dan akan aku anggap lunas semua utang-utang mu. Aku bisa menambahkan 5 juta jika kamu mau, tentu itu uang yang banyak untukmu bisa berjudi." Pria itu memberikan tawaran yang sangat menggiurkan bagi ayah Yani. "Tentu saja! Kau bisa membawanya sekarang. Aku, aku terima tawaranmu itu, asal semua utang-utang ku lunas dan kau juga memberikanku uang lima juta tersebut." Terang Ayahnya langsung menyerahkan Yani tanpa perlawanan. "Kau bisa mendapatkannya!" Pria itu segera melempar se ikat uang ke belakangnya yang langsung ditangkap dengan penuh nafsu oleh Ayah Yani. Pria itu dengan segera memberitahu para pengawalnya untuk segera menangkap Yani, namun mereka juga mengamankan Feby yang langsung membuat Yani semakin panik. "Lepaskan! Kau Ayah¡­" Yani berusaha melepaskan diri namun kemudian tiba-tiba beberapa orang yang memegangnya telah melayang dengan sangat cepat. "Maafkan aku karena terlambat!" Rinto segera membuka bajunya dan menutupi kepala Yani serta berdiri di hadapannya. Mendengar suara dan punggung orang yang sangat di kenalinya tersebut membuat Yani langsung merasa begitu lega. Ia dengan segera menoleh pada Feby yang sudah berada dalam perlindungan Jati. Chapter 488 - Jangan Takut Melihat Apa yang dilakukan oleh Rinto dan Jati membuat pria berjas hitam tersebut merasa marah dengan apa yang mereka lakukan. Bukan hanya karena menghentikan anak buahnya untuk membawa Yani pergi namun juga karena telah menghajar anak buahnya. "Oy¡­ siapa mereka? Kenapa mereka menghalangi kami dan menghajar anak buahku?" Tanya Pria berjas hitam tersebut dengan sangat marah kepada Ayah Yani. "Sial, kenapa pria yang bersama Yani tadi ikut campur sekarang." Batin Ayah Yani merasa kesal dengan kedatangan Rinto dan Jati. "Apa yang kau inginkan mengapa kau ikut campur dalam urusan kami? Dia itu barang milikku jadi aku bebas melakukan apapun kepadanya. Lagipula apa hakmu untuk ikut campur dengan urusan kami?" Ayah Yani sengaja mengatakan hal yang bisa membuat Rinto berpikir lain kepada Yani. Dia sengaja untuk memprovokasi Rinto sehingga ia akan merasa telah salah dalam mencampuri urusan Yani. Rinto sedikit kesal mendengar orang tua itu menyebut Yani seolah bagaikan batang yang bebas ia kendalaikan. "Sebaiknya kau pergi dari sini anak muda, jika kau salah dalam ikut campur urusan orang lain, kau akan benar-benar dalam masalah." Ucap pria berjas hitam mengingatkan Rinto. "Tidak usah pedulikan mereka, pria itu hanyalah orang yang sudah tidur dengannya. Kalian bisa melakukan apapun pada mereka." Ucap Ayah Yani dengan santai dan acuh tak acuh. Dia tidak peduli terhadap apa yang akan terjadi kepada mereka semua. "Cih, aku pikir siapa mereka yang telah berani ikut campur dalam urusan ku. Ternyata hanya orang yang tidak puas dengan pelayanan perempuan itu." Ucap pria berjas dengan sangat menghina. "Aku adalah calon suaminya, dan karena dia adalah calon istriku maka aku berhak untuk ikut campur dalam urusan ini." Ucap Rinto dengan sangat tegas kepada ayah Yani. Meski Yani tahu bahwa kalimat itu hanyalah untuk menyelamatkannya, Yani merasakan sedikit kepedihan di dalamnya. Entah kenapa dia benar-benar sangat mengharapkan hal itu terjadi dan apa yang dikatakan oleh Rinto adalah sebuah kebenaran. "Hahhh? Puhahahaha memangnya kenapa kalau kau calon suaminya? Hanya dengan hal itu tidak akan berarti kau bisa memiliki hak padanya." Ucap Ayah Yani dengan tertawa terbahak-bahak. Rinto merasa curiga dengan orang yang berada di hadapannya tersebut, Dia terlihat seolah memiliki kekuasaan penuh terhadap Yani mengingat apa yang dikatakan olehnya sebelumnya. Karena itu Rinto sedikit berbalik ke arah Yani yang berada di belakangnya. "Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Mengapa mereka melakukan ini padamu?" Rinto sudah mendengar beberapa bagian mengenai apa yang terjadi, namun ia memilih bertanya kepada Yani agar ia bisa mendapatkan penjelasan yang lebih rinci darinya. Yani tidak bisa berkata apa-apa, meskipun sangat membenci ayahnya, dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Rinto. Yani takut kalau Rinto mengetahuinya maka dia juga akan menjauhinya sama seperti dengan pria-pria sebelumnya. "Ayahnya memiliki hutang yang sangat banyak kepada kami, dan kami akan melunasi hutangnya dengan menyerahkan tubuh anaknya itu. Bukankah itu adalah kesepakatan yang sangat memudahkan?" Jawab pria berjas tersebut sembari tertawa dengan sangat keras. Merasakan amarah yang sangat membara mendengar apa yang dikatakan oleh pria berjas hitam tersebut, Rinto langsung melakukan tendangan berputar yang membuat pria berjas itu jatuh tersungkur membentur dinding dengan sangat keras. Pria itu langsung tidak sadarkan diri dengan posisi tubuh yang terlihat mengalami patah bagian leher. Hal itu segera mengundang banyaknya preman yang berada di sekitar sana untuk menghampiri mereka. "Maaf karena sudah memperkeruh permasalahannya sekarang." ucap Rinto kepada Yani dengan penuh rasa bersalah. Dia memundurkan langkahnya beberapa langkah mendekati Jati dan Feby. "Sepertinya akan sulit bagi kita untuk melawan mereka semua sembari melindungi mereka berdua. Kita harus berpencar untuk bisa mengurangi jumlah mereka, karena jika kita terus berada di sini maka bantuan dari mereka akan semakin banyak berdatangan." Jadi segera mengamati beberapa orang yang membawa beberapa benda barang tumpul dan juga sebuah senjata pistol yang langsung melakukan penyerangan kepada mereka. "Kau benar, akan lebih baik jika sekarang kita pergi dari tempat ini terlebih dahulu." Jelas Rinto sembari terus menghindari beberapa pukulan dari orang-orang tersebut. "Kau tidak apa-apa kan? Apa kau bisa berlari?" Tanya Jati kepada Feby yang masih berusaha menegakkan dirinya untuk berdiri dengan baik. "Sepertinya bisa. Aku akan mencoba dengan sebaik mungkin." Tatap Feby dengan penuh keyakinan. Meski sebenarnya tubuhnya mulai merasakan sakit dan nyilu akibat dari tabrakan dan jatuh sebelumnya, Feby tak ingin dirinya menjadi beban bagi mereka. "Kau tidak perlu memaksakan diri, jika kau sudah tidak sanggup katakan padaku." Ucap Jati mulai memegang tangan Feby dengan erat. "Kau juga bisa berlari kan?" Tanya Rinto sembari meluruskan baju miliknya untuk benar-benar menutupi kepala Yani. Yani hanya mengangguk pelan menatap lurus ke mata Rinto yang langsung membuat Rinto tersenyum dengan sangat tampan. "Pegang baik-baik baju ini." Ucap Rinto mulai memegang tangan Yani dengan erat lalu dengan saling melirik satu sama lain, Rinto sengaja melarikan diri terlebih dahulu untuk mengalihkan perhatian mereka yang ketika mereka kaget, Jati pun kemudian melarikan diri juga. Adrenalin telah membangkitkan keberanian Feby sehingga tanpa disadarinya, dia benar-benar berlari dengan sangat kencang agar bisa benar-benar mengikuti apa yang direncanakan oleh Jati yaitu keluar dari area kekuasaan mereka. "Akhhh¡­ brukkk!" Feby tiba-tiba saja di tarik oleh Jati ke sebuah tempat yang cukup gelap dan mendarat dengan tubuh yang hampir terjatuh. Jati menahan tubuhnya yang telah memaksakan diri hingga diluar batas kemampuannya. "Hummph" Jati dengan cepat menutup mulut Feby menggunakan tangannya, namun karena rasa takut serta kelelahan desahan nafas suara Feby cukup terdengar keras sehingga untuk menenangkannya, Jati langsung menciumi bibir Feby. Feby terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Jati, namun secara perlahan dia menuntun Feby untuk bernafas lebih tenang dan menenangkan diri. Jati sengaja melakukan hal tersebut untuk membuat Feby bisa mengatur nafasnya dan memberikannya sedikit dorongan nafas bantuan. "Kau sudah berjuang dengan sangat baik, sekarang tetaplah disini dan jangan keluar sampai aku yang datang kepadamu. Jangan khawatir, aku akan menyelesaikan mereka dengan sangat cepat dan segera kembali kepadamu." Bisik Jati dengan sangat pelan memeluk Feby yang mulai sedikit tenang. "Jangan takut!" Lanjutnya lagi dengan suara yang sangat lembut. Feby mengangguk pelan dan segera bersandar kedinding dibantu oleh Jati. Mereka yang berlari cukup jauh melewati beberapa gang sempit dan bersembunyi ke tempat yang cukup gelap membuat Jati mendapatkan keuntungan yang sangat besar untuk bisa menghabisi mereka satu persatu. Chapter 489 - Tetap Berada di Belakangku Dengan mengandalkan tempat yang gelap serta sempit di sekitar gang tersebut, jati dapat dengan mudah melancarkan serangannya untuk melumpuhkan mereka satu persatu. Dia yang mengingat Feby mendapatkan perlakuan yang sangat kasar dari mereka saat ia melihatnya dari jauh, semakin menambah rasa kesal di hati Jati. Jati tak setengah-setengah dalam menghadapi mereka. Dalam satu kali lesatan cepat, jati dapat dengan mudah melumpuhkan mereka. Beberapa dari mereka ketakutan melihat teman-temannya yang jatuh satu persatu dengan teriakan di dalam kegelapan. Terlebih lagi, Jati sengaja memperlihatkan bagaimana salah satu dari teman mereka terlihat mengenaskan dengan beberapa bagian tubuh mereka yang terpelintir dengan sangat mengerikan. "Ternyata kau disini, aku pikir Ada apa sampai kau tiba-tiba menghilang begitu saja." Rendy kembali dengan beberapa orang yang telah melarikan diri dari Jati. Rendy datang bersama dengan Elvian dan Rafli setelah menyelesaikan hukuman mereka. Mereka dapat mengetahui lokasi Jati dari alat komunikasinya yang dilakukan oleh Elvian. Mengetahui kalau Jati sedang melakukan sesuatu kepada mereka, membuat Rendy segera menghambat mereka untuk tidak melarikan diri. Akan tetapi beberapa saat kemudian mereka muncul dengan sangat banyak bahkan dengan senjata laras yang menghujani mereka dengan peluru panas. "Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Kenapa kau sampai harus berhadapan dengan situasi seperti ini terlebih dengan orang-orang yang memiliki kekuasaan tinggi di daerah ini." Elvian bertanya dengan penasaran kepada Jati. "Kenapa kau berurusan dengan hal yang merepotkan saat kita sedang dalam keadaan liburan seperti ini?" Tanya Rafli sembari terus menghindari hujaman peluru panas tersebut. "Aku tahu kau bukan orang yang ceroboh, Aku akan mendengarkan penjelasan nanti tapi setelah kita membereskan mereka terlebih dahulu." Rendy tidak bisa mengeluarkan senjata mereka sebab mereka tak ingin peluru mereka menjadi hal yang dapat dilacak oleh organisasi lain dan tentu itu sangat menyusahkan. "Aku akan menjelaskan semuanya kepada kalian nanti. Dan seperti yang kau katakan, prioritas utama kita adalah mereka dengan secepatnya." Ucap Jati dengan terus mengingat Feby yang berada di balik tembok di belakangnya. Pada akhirnya mereka sengaja membiarkan hujan peluru panas tersebut selesai dengan sendirinya. Setelah itu mereka berdiam diri dalam gelap dan tak bersuara bagaikan sedang menunggu mangsanya untuk masuk ke dalam perangkap mereka. Tak merasakan adanya bunyi dari pergerakan sebagai tanda kehidupan membuat mereka semua masuk ke dalam gang sempit tersebut secara perlahan-lahan untuk memastikan mayat mereka. Dengan menyalakan handphone mereka, satu persatu dari mereka memasuki gang tersebut. Namun setelah beberapa langkah mereka masuk, tiba-tiba saja 1 orang temannya berteriak dan menghilang di dalam kegelapan. Berikutnya temannya yang lainnya pun juga ikut menghilang dalam kegelapan diikuti dengan sisi-sisi yang lainnya dengan sangat cepat. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyelesaikan dan melumpuhkan semua orang tersebut tanpa menyisakan satupun dari mereka. Begitu selesai, Jati segera kembali ke tempat dimana Feby berada. Ia sangat khawatir dan takut kalau jangan sampai Feby mendapatkan tembakan dari hujan peluru sebelumnya. "Feby, kau baik-baik saja?" Jati dengan segera menghampiri Febi yang sudah terduduk di lantai. "Ada apa dengannya?" Elvian langsung melakukan sedikit penerangan di sekitar mereka. "Dari mana dia mendapatkan luka-luka tersebut?" Rafli langsung bisa melihat seluruh luka-luka di tubuh Feby begitu cahaya mulai menerangi mereka. "Ini terlihat seperti dia telah habis mendapatkan tabrakan yang sangat keras." Ucap Rendy melihat bekas luka-luka yang ada di tubuh Feby. "Sepertinya sekarang dia mengalami demam tinggi, aku harus segera membawanya ke rumah sakit. Rafli, pergilah mengambil mobil secepatnya." Jati segera menggendong tubuh Feby yang mulai terlihat demam tinggi setelah memberikan perintah kepada Rafli. "Elvian, tolong lacak dimana keberadaan Rinto saat ini. Aku yakin dia sangat membutuhkan bantuan kalian sekarang. Dia sedang bersama dengan Yani." Ucap Jati sebelum pergi dan melirik kearah Rendy untuk meminta bantuannya. "Pergilah biar kami akan menyelesaikan secepat mungkin." Tugas Rendy langsung menghilang bersama dengan Elvian ketika dia sudah mendapatkan lokasi di mana Rinto dan Yani berada. Mereka segera berpenca. Dengan melewati bagian belakang jalan, Rafli sudah datang tepat waktu ketika Jati telah keluar dari gang sempit tersebut. Dengan satu kali pijakan gas, Rafly berhasil membelah jalan-jalan melewati setiap mobil-mobil yang berada di hadapannya. Nyawa Feby bisa saja dalam keadaan terancam jika mereka terlambat mengantar Feby ke rumah sakit. "Sreeekkkk¡­ Akhhh!" Yani terjatuh karena telah menginjak gamisnya sendiri hingga sobek. Mereka sudah tidak dapat melarikan diri lebih jauh lagi melihat kondisi Yani yang sudah terlihat sangat kelelahan. "Tetap berada di belakangku." Tegas Rinto agar ia bisa tetap melindungi Yani. Satu persatu dari mereka yang mengejar Yani dan Rinto segera mengelilingi dan mengepung mereka. Jumlah mereka yang sangat banyak dengan Yani yang berada di belakangnya membuat Rinto sedikit merasa kesulitan untuk menghadapi mereka. Orang-orang itu langsung melakukan penyerangan dengan sangat cepat kepada Rinto menggunakan senjata pisau yang cukup tajam. Rinto berusaha sebisa mungkin agar Yani tidak mendapatkan serangan dari mereka. Dengan terus melumpuhkan mereka satu persatu, Rinto tampak mulai dapat mengendalikan keadaan. Melihat jarak yang sedikit jauh dari Rinto dan Yani, seseorang melihat peluang untuk menyerang Yani. "Lepaskan!!!" Yani berusaha untuk melepaskan diri dari pria tersebut, dengan melawan semampunya. Melihat hal tersebut, Rinto segera dikembalikan secepat mungkin untuk mengajar orang yang telah menarik Yani dengan sangat kasar. Dia berhasil memukul pria tersebut, namun pria itu tanpa sengaja melukai bahwa dengan pisaunya. "Ummpph¡­" Yani berusaha menahan rasa sakit yang ada di bahunya. Goresan yang ada di bahunya terlihat cukup dalam dan besar. Melihat Yani terluka seperti itu, Rinto segera membuat Yani sedikit menjauh dari pertempurannya. Dia kemudian mendudukkan Yani tidak jauh dari sisinya ke dekat pagar. "Duduklah di sini dan jangan melangkah dari sini apapun yang terjadi. Tekan bahumu dengan sangat kuat agar darahnya tidak terus mengalir dengan deras." Perintah Rinto kepada Yani dengan mengumpulkan sebagian gamisnya yang agak panjang untuk menutupi lukanya. Yani menatap kepada Rinto dengan sangat khawatir namun kemudian mengangguk dengan pelan. "Hati-hati¡­" Rinto hanya tersenyum dan mengusap kepala Yani dengan lembut kemudian dia membelakanginya lalu menuju kepada para preman tersebut. Rinto yang sangat marah langsung mengeluarkan senjata yang telah diberikan oleh ayah Karin sebelumnya. senjata tersebut adalah senjata yang dibuat oleh ayah Karin khusus menggunakan darahnya yang memiliki energi nano di dalamnya sehingga dia bisa membuat senjata tersebut melayang dan menancap dengan sangat kuat sesuka hatinya. Begitu Rendy dan Elvian sampai, Rinto telah selesai menghabisi mereka semua tanpa tersisa. Chapter 490 - Impaks dan Komunitif "Ada apa?" Tanya Adith saat melihat Alisya yang baru berganti pakaian tiba-tiba terburu-buru keluar dari kamarnya. "Sesuatu sedang terjadi pada yang lain. Sekarang mereka sudah berada di rumah sakit milik Karan." Terang Alisya yang langsung di jawab anggukan pelan lalu mengambil jacket dan kunci mobilnya. Mereka segera keluar dari apartemen menuju ke rumah sakit dan sudah menemukan teman-temannya yang lain disana. Mereka semua sudah berkumpul di satu ruang dimana Feby masih terbaring lemah dan tak sadarkan diri. "Bagaimana kondisinya? Dimana Yani sekarang?" Tanya Alisya begitu sampai disana dengan raut wajah yang sangat khawatir. "Tidak perlu khawatir, kondisi Feby sudah jauh membaik sekarang. Berkat seseorang yang mengantarnya kemari dengan tepat waktu dan begitu heboh." Tatap Karan kepada Jati yang sedang berdiri di sudut ruangan. "Yani sedang dalam penanganan Karin sekarang, luka-lukanya tidak separah Feby dan dia baik-baik saja. Hanya sedikit luka sayatan saja pada bagian bahunya." Jelas Emi yang duduk di dekat ranjang memegang tangan Feby dengan erat. "Syukurlah kalau begitu, aku harap tidak terjadi sesuatu yang berbahaya dengan mereka." Terang Alisya menarik nafas legah. "Sejauh apa luka yang di derita oleh Feby?" Tanya Adith ingin memastikan kondisi Feby. "Dia mengalami impaks, yaitu retak tulang dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang yang lain akibat tabrakan yang di alaminya ditambah dengan komunitif, yaitu retak tulang dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen karena terjatuh dengan sangat keras." Jelas Karan sembari memberikan hasil rontgen kepada Adith. "Melihat kondisi ini, sepertinya kita perlu sedikit bersyukur karena tidak terjadi hal yang cukup parah berbahaya baginya. Entah ini karena suatu keberuntungan atau memang dia memiliki tulang yang cukup kuat." Tegas Adith melempar padangannya kembali ke Feby setelah melihat hasil rontgen milik Feby. "Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Bagaimana bisa dia mengalami semua ini?" Alisya menggenggam erat tepi ranjang begitu melihat kondisi Feby yang terbaring tak sadarkan diri. "Itu karena dia berusaha menyelamatkan aku." Ucap Yani datang bersama dengan Karin dan Rinto. Alisya memicingkan matanya saat melihat Yani yang datang dengan bahu yang terbalut dan baju yang tampak sobek di beberapa bagian. Tampak jelas bagian bawah bajunya kotor karena darah. Melihat itu Alisya berusaha menekan amarahnya. "Apa yang kamu maksud dia menyelamatkan mu dari Ayahmu?" Tatap Alisya mencoba untuk melunakkan amarahnya. Tebakan Alisya tepat pada tempatnya. Alisya memang sudah lama mengetahui mengenai apa yang dilakukan oleh ayahnya setelah mendengar cerita dari ibu Yani. "Ya¡­ Jika bukan karena Feby, aku mungkin sudah akan di jual oleh ayahku. Meski sebenarnya aku memang sudah di jualnya." Yani merasa miris menceritakan kepedihan tersebut kepada mereka semua. Suara Yani yang sebelumnya berusaha menekan rasa takut dan sedihnya mulai terdengar runtuh saat menceritakan hal tersebut kepada Alisya. Alisya dengan segera memeluk Yani dengan sangat erat karena penuh syukur akan keadaan Yani yang baik-baik saja. Baginya keadaannya seperti itu sudah cukup. "Maafkan aku! Jika bukan karena aku Feby mungkin tidak akan mengalami semua itu." Yani menangis dalam pelukan Alisya menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian tersebut. "Kau akan membuat Feby sakit hati jika dia mendengarmu mengatakan itu." Alisya melepaskan pelukannya dan menasehati Yani. "Feby melakukan semua itu karena dia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk kepadamu. Apa kamu akan berlalu begitu saja saat melihat orang yang kau sayangi mendapatkan masalah?" Aurelia menatapnya dengan penuh perhatian karena merasa kalah Yani telah salah jika menyalahkan dirinya sendiri. "Kau tentu akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Feby jika kau melihatnya sedang dalam masalah bukan?" Tanya Adora kepada Yani dengan mengusqp punggungnya dengan lembut. "Sepertinya dia adalah orang pertama yang akan melarikan diri karena bersikap pengecut." Pancing Karin kepada Yani dengan tersenyum nakal kepada Adora dan Aurelia. "Tentu saja tidak, meski aku mungkin hanya menjadi bebannya jika ikut campur, tapi aku tetap tak ingin membiarkan hal yang buruk terjadi pada orang yang ku sayangi di hadapanku." Yani membantah Karin dengan cepat dan berusaha menjelaskannya dengan setengah terbata-bata. "Haahhahaha.. kau gampang sekali terpancing oleh Karin. Kami semua tahu itu, aku yakin jika kau tidak melindungi Feby dia mungkin sudah mendapatkan masalah yang lebih besar lagi." Terang Gina tertawa pelan melihat sikap gagap dari Yani. Beberapa saat kemudian, Feby terlihat mulai sadarkan diri dan membuka matanya dengan begitu susah payah. Kepalanya sedikit pening dan pandangannya masih sedikit kabur. "Feby? Kau baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu?" Tanya Emi dengan sangat khawatir ketika menyadari Feby mulai sadarkan diri. "Tolong ambilkan aku cermin." Itulah hal yang pertama kali dikatakan oleh Feby ketika sadarkan diri. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu tiba-tiba membeku dan tak tahu apa maksud yang dikatakan oleh Feby. Mata mereka berkedip-kedip secara kompak masih memproses apa yang dikatakan oleh Feby, namun setelah 1 menit berlalu mereka masih tidak paham dan hanya suara burung gagak yang terdengar. "Apa yang kau lakukan? Tolong ambilkan aku cermin dulu." Ucap Feby sekali lagi kepada Emi yang membuat Emi dengan segera memukul Feby dengan keras. "Auccchhh¡­ apa sih Emi! Bukannya ngambilin malah mukul sekarang." Feby mengeluh kesakitan dibagian bahunya. "Kau itu sedang terluka parah, masih sempet nya kamu mikirin cermin. Emang buat apa''an sih?" Tanya Emi dengan kesal sementara yang lain hanya menarik nafas gemas dengan sikap Feby. "Aku baru pertama kali merias wajah yang langsung dilakukan oleh make up artis ternama Indonesia tau nggak sih, setidaknya aku harus menjaga hasil karyanya. Kau ingin membuatku terus menjomblo seumur hidup?" Cerocos Feby dengan kesal sembari berusaha bangkit dari pembaringannya. "Biar aku bantu¡­" Jati dengan cepat menghampiri bibir ranjang Feby untuk membantunya bangkit. Begitu Jati sudah berada tepat di sampingnya dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat segera membuat keduanya mengingat kejadian di dalam gang gelap dimana Jati menciuminya dengan begitu lembut. Keduanya langsung terkaget dan tampak memerah malu-malu. "A¡­ aku baring saja, sepertinya aku butuh banyak istirahat." Ucap Feby dengan cepat kembali merebahkan diri dan menutup wajahnya menggunakan selimut seolah ingin melarikan diri. "Ya, kau benar. Sebaiknya kau berbaring saja!" Jati langsung membelakang dan berlagak tidak terjadi sesuatu. "Apa-apan itu, apa kalian tidak merasa sikap mereka aneh?" Seru Emi dengan merinding hebat yang langsung di anggukan oleh para penonton tanpa terkecuali. Untuk beberapa saat, perseteruan atas apa yang sebelumnya terjadi antara Adith dan Alisya, serta Aurelia dan Yogi tampaknya tidak dipikirkan lagi oleh mereka. Chapter 491 - Jatah Energi Kehidupan Melihat kondisi Feby yang telah membaik, Alisya memutuskan untuk keluar dari ruangan. Dia di ikuti oleh Adith dan empat orang lainnya yang langsung membuat Alisya tak nyaman karena mereka. Semua orang melihat Alisya dengan sedikit mengerutkan kening karena tidak menyangka kalau ada lima orang tampan sedang mengikutinya dari belakang dengan begitu rapinya. "Tak!!!" Alisya tiba-tiba berhenti dan menoleh kepada mereka secara mendadak. "Sepertinya kalian tidak akan melepaskan ku sebelum aku memberikan kalian hukuman!" Tatap Alisya kepada empat orang tersebut. "Kami menunggu perintah darimu Ka... ehem, Maaf! Ayumi." Ucap Rendy dengan begitu tegas sampai ia hampir lupa kalau sedang berada di rumah sakit. "Baiklah sepertinya tidak ada jalan lain, Jati tugasmu adalah mengamati Febby dan emi. Elvian, cari lebih banyak informasi mengenai apa yang dilakukan oleh ayah Yani. Rafli, terus amati pergerakan dari orang-orang yang yang sudah melakukan penyerangan terhadap Yani. Sedang untukmu Rendy, aku tak perlu menjelaskan untukmu karena kau tahu apa yang harus dilakukan." Tegas Alisya memberikan mereka semua tugas penyelidikan. Rendy paham betul apa yang dimaksud oleh Alisya. Jika Elvian selalu mendapatkan tugas untuk mencari informasi dari luar, maka tugas Rendy lebih berat yaitu mencari informasi dari dalam. Dan resiko yang harus dihadapi lebih lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya. Alisya kembali melangkah ke depan, namun ia seolah mendengar langkah mereka yang masih mengikutinya, begitu pula dengan Adith. "Apalagi yang kalian tunggu. Kenapa kalian masih terus mengikutiku? Kerjakan!" Perintah Alisya dengan sedikit membanting suaranya dengan keras. "Siap Kapten!!!" Ucap mereka dengan sangat tegas membuat beberapa orangtua dan anak-anaknya yang berada di ruang lain terkejut dengan apa yang sedang dilakukan oleh mereka. "Aii yaiii kapten, I can''t hear you¡­" Elvian segera menyanyikan sebuah lagu dengan sedikit lantang. "Ouuuuu¡­.." seru ketiganya dengan kompak sembari berlalu pergi seolah tidak terjadi apa-apa. "Waah.. mereka lagi main sepombob sepomboban ma¡­" ucap anak itu dengan polosnya. "Ah.. hahahahha¡­ maaf yah dek, mereka itu lagi ada sedikit gangguan mental." Jelas Alisya yang langsung membuat ibu itu menutup pintunya karena takut. Ia melihat Alisya seperti seorang wanita pemimpin sebuah organisasi hitam yang menakutkan. Selain karena di dukung oleh ekspresi wajahnya saat itu yang sedang kesal, dia di dukung juga oleh sikap para lelaki yang begitu menakutinya membuat orang lain jd salah paham ketika melihatnya. Melihat Alisya, ibu itu langsung menutup pintunya dengan sangat keras membuat Alisya merasa pedih dan terbatuk pelan. Ia segera kembali berdiri dengan tegak dan berjalan keluar. "Apalagi yang kau ingin lakukan?" Alisya kembali berbalik karena kesal saat merasakan masih ada seseorang yang terus saja mengikutinya. "Umm¡­ aku belum mendapatkan hukuman ataupun perintah apapun darimu." Seru Adit saat Alisya kembali menoleh kepadanya. Adith tahu kalau Alisya mau berbicara dengannya hanya karena kondisi Feby sebelumnya. Untuk itu dia tetap mengikuti dimanapun Alisya pergi agar mendapatkan kesempatan untuk bisa memperbaiki permasalahan diantara mereka. "Ternyata kau masih cukup sadar kalau aku belum memaafkanmu?" Lirik Alisya dengan ekpresi yang sangat memancing Adith, terlebih saat ia melipat kedua tangannya di dadanya membuat satu kancing yang sedari awal sudah terlepas itu terbuka dengan sangat lebar di hadapan Adith. Satu kebiasaan Alisya yang belum hilang sejak lama adalah ketika dia berada dalam kamarnya dan ingin segera tidur, dia akan memakai baju kaos berwarna putih yang yang sangat tipis dan transparan. Darah Adith mendidih dan rahangnya mengeras saat melihat Alisya seperti itu, ia ingat kalau saat Alisya berada dalam kamarnya, ia saat itu memang sudah berganti pakaian dan ingin tidur. Namun karena dia mendapatkan panggilan dari Aurelia, dia akhirnya keluar hanya menggunakan baju jacket tebal dan panjangnya. "Sayang, aku tau kau marah. Tapi sepertinya kamu lupa kalau pakaianmu saat ini sangat tipis dan memperlihatkan lekuk tubuhmu." Jelas Adith mendekati Alisya dan membantunya untuk memperbaiki posisi jacketnya dan mengancing bajunya dengan sangat erat. Alisya hanya tersenyum dengan licik membuat Adith mengerutkan keningnya karena takut akan senyuman Alisya yang seperti itu. "Hukumanmu baru saja dimulai tuan Jenius, mari kita lihat sejauh mana kau bisa bertahan." Terang Alisya pergi meninggalkan Adith yang tertegun disana dengan mata yang melebar dan mulut yang menganga. Dia tidak menduga kalau hukuman yang akan diberikan oleh Alisya adalah jatah energi kehidupannya yang takkan diberikannya selama kurun waktu tertentu. Bagaimana dia bisa berhatan? Saat Alisya hanya tersenyum padanya saja sudah merupakan panggilan terbesar dalam hasratnya. "Arrgghhh Yogi, aku ingin membuat satu boneka Voodo untukmu!" Ucap Adith sembari memukul kepalanya memikirkan hukuman yang akan dilakukan oleh Alisya. Yogi yang sedang berada di dalam ruangan bersama dengan yang lainnya segera bergetar dengan sangat hebat seolah sedang mendengar seseorang telah mengutuknya saat itu. "Ada apa?" Tanya Rinto kebingungan saat melihat wajah pucat pasih Yogi yang langsung menempel ke dinding seolah baru saja melihat sesuatu yang menakutkan. "Aku merasakan kalau seseorang baru saja mengirim kutukan padaku. Rasanya begitu menakutkan dan mengerikan." Terang Yogi menatap pada Rinto dengan ekspresi penyesalan dan permintaan maaf. "Kau pantas mendapatkannya." Ucap Rinto acuh tak acuh kepada Yogi yang langsung membuat Yogi seolah sedang melepaskan rohnya akibat satu komentar jahat dari Rinto. "Hari sudah semakin larut, sebaiknya kalian pulang saja. Aku sudah baik-baik saja disini, lagi pula orang tuaku juga sedang bertemu dengan kak Karan sekarang." Jelas Feby memberitahukan kepada teman-temannya yang lain. Saat itu mereka memang tidak sempat mengirimkan informasi kepada orang tua mereka kalau telah terjadi sesuatu sehingga mereka sekarang masih berada dirumah sakit saat malam sudah mulai semakin larut. "Maafkan aku, aku sebenarnya tak ingin meninggalkanmu. Tapi bapak lagi keluar kota sekarang dan hanya ada Ibu dirumah." Emi terlihat tak ingin meninggalkan Feby disana. "Kau kan bisa datang lagi setelah pulang kerja, jangan khawatir, aku baik-baik saja sekarang." Ucap Feby berusaha meyakinkan Emi agar ia bisa kembali beristirahat dengan baik. "Feby benar, kalian semua bisa kembali lagi besok pagi. Eh.. sepertinya pergantian jam sudah terjadi berarti kalian bisa datang sebentar pagi ataupun siang setelah selesai bekerja." Ucap Ibu Feby masuk ruang anaknya setelah mendengar penjelasan dari Karan. "Malam ini biar kami yang bersamanya, dokter Karan juga sudah menjelaskan kalau tidak ada masalah serius yang perlu ditakutkan, jadi kalian bisa tenang malam ini. Setidaknya dengan begitu dia juga bisa tidur." Tambah Ayah Feby lagi yang langsung mendapatkan jawaban anggukan dari mereka semua. Chapter 492 - Serangan Telunjuk "Tringg.." pintu lift yang terbuka membuat 3 orang disana segera masuk ke dalam lift. Tepat sebelum pintu lift itu kembali menutup, suara langkah lari seseorang dengan segera menghampiri pintu lift agar ia bisa mendapatkan ruang untuk masuk. "Aku minta maaf, terima kasih sudah menungguku." Yani segera masuk ke dalam lift, setelah meminta maaf kepada beberapa orang yang berada di dalam lift. Begitu masuk dan mengangkat kepalanya, Yani tersadar kalau ternyata di dalam lift tersebut ada Rinto yang sudah berdiri tepat di bagian belakangnya. Karena merasa tidak enak, dan tidak ingin terlalu bersikap terlalu akrab dalam kantor, Yani menunduk rendah untuk menyapa Rito. "Selamat pagi Pak¡­" siapa Yani dengan suara yang sangat ramah. "Selamat pagi." Balas Rinto mencoba bersikap dengan profesional karena ada beberapa pegawai yang sedang berada dalam satu dengan mereka. Tempat memasuki lantai yang berikutnya, ada beberapa orang yang segera masuk ke dalam lift dengan terburu-buru. "Apa sih sebenarnya yang dipikirkan oleh direktur yang satu ini. Bagaimana bisa dia menyerahkan semua pekerjaan yang harusnya memang dikerjakan olehnya." Ucap salah seorang dari mereka sembari masuk dengan mengomel. "Dia melimpahkan semua pekerjaan kepada kita dan jika kita berhasil melakukan semua pekerjaan tersebut, kita tidak mendapatkan apapun sama sekali. Akan tetapi jika mendapatkan masalah terhadap pekerjaan tersebut, kitalah yang akan mendapatkan pinaltinya." Jawab salah seorang dari mereka diikuti dengan beberapa orang lainnya sambil terus mengomel membicarakan direktur yang mereka maksudkan adalah Elvian. Mereka yang masuk begitu banyak membuat beberapa orang yang ada di depan Yani segera memundurkan langkahnya ke belakang untuk memberikan mereka ruang. Yani yang mencoba menjaga jarak dengan Rinto yang berada di belakangnya hampir kehilangan keseimbangan. Melihat tubuh yang yang hampir kehilangan keseimbangan, Rinto ingin segera menangkap dirinya. Akan tetapi mengingat Yani adalah seorang wanita yang berhijab, dia tidak ingin benar-benar menyentuh tubuh Yani. Sehingga untuk mencegahnya jatuh, Rinto menahan nya menggunakan telunjuknya yang diarahkan ke bagian pinggang Yani. "Uwaahhhpp" Yani setengah berteriak karena terkaget saat merasakan telunjuk Rinto berada di bagian pinggangnya dengan keras. beberapa orang dari mereka segera langsung menoleh kebelakang untuk melihat apa yang sedang terjadi, namun keduanya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan Yani langsung beralasan dengan memukul tangannya seolah-olah dia baru saja digigit oleh nyamuk. "Sejak kapan di dalam kantor terdapat nyamuk?" Ucap salah seorang dari mereka yang sebelumnya masuk ke dalam lift sembari mengomel. beberapa orang orang tersebut langsung dengan seketika memperhatikan keadaan sekitar mereka. Tempat begitu pintu lift mulai terbuka, mereka semua segera keluar dari lift begitu pula dengan Yani. Yani setengah menunduk kepada Rinto sebelum kemudian berlari dengan sangat cepat meninggalkan Rinto disana. Rinto tertawa mengingat kejadian yang barusan terjadi, terlebih karena alasan tidak masuk akal dari Yani yang memukul tangannya seolah karena mendapatkan gigitan dari nyamuk. Kemudian berjalan menuju ke ruangan Adith. Dia tidak bisa menyembunyikan senyumnya mengingat kejadian saat di lift tadi. Akan tetapi begitu ia masuk, melihat aura seram dari Adith dan Yogi segera langsung membuatnya menutup senyumnya tersebut. "Sepertinya dia sedang menikmati sesuatu hari ini. Kau tampak sedang bersenang-senang di atas penderitaan kami." Tatap Yogi kepada Rinto yang baru saja masuk karena dia sempat menangkap senyum Yogi sebelumnya. "Apa yang sedang terjadi dengan kalian? Kenapa kalian terlihat begitu lesu dengan mata yang terlihat dalam dan gelap seperti itu." Rinto melihat kondisi mengenaskan dari keduanya. Adith yang selama ini selalu bekerja dengan begitu keras tidak pernah sekalipun terlihat dengan wajah kusam seperti yang saat ini ia lihat. "Berkat seseorang akan mendapatkan hukuman yang begitu berat dalam hidupku." Adit menatap geram bagaikan singa kepada Yogi. "Kau tak perlu menatapku seperti itu, oke aku mengakui kalau aku telah salah. Tetapi bukan hanya kau saja yang mendapatkan hukuman, aku pun mendapatkan hukuman yang sama yang dilakukan oleh Aulia kepadaku." Terang Yogi kepada Adith karena semalam ia dibiarkan tertidur di luar kamar dan tidak diizinkan untuk masuk sampai amarah Aurelia mereda. "Aku tak tahu sekarang bagaimana caraku untuk bisa menenangkan dia." Ucapnya lagi dengan suara yang lemas membanting diri duduk di sofa ruangan Adith. "Bagaimana jika kalian melakukan suatu hal yang dapat membuat hati mereka senang agar dapat memaafkan kalian kembali?" Ucap Rinto terduduk untuk memberikan saran kepada Yogi dan Adith. "Bukankah kau cukup jago dalam hal seperti ini? kenapa kau tidak melakukan jurus jurus khusus yang selama ini sudah kau berikan kepada Aurelia?" Pancing Rinto sekali lagi untuk membuat mereka lebih percaya diri dalam menarik perhatian istri mereka. "Aku sudah mencoba untuk melakukannya, tetapi sepertinya pertahanan dia kali ini cukup kuat dari sebelumnya." Jelas Yogi mendesah dengan begitu lemah. Mendengar jawaban Yogi, membuat Rinto menoleh kepada Adith untuk mendapatkan jawaban darinya. "Tidak perlu aku jawab lagi, kau tentu tahu seperti apa Alisya." Jawab Adith sambil memijat kepalanya yang sakit. "Apakah kehidupan berumah tangga sampai serumit ini?" Kata Rinto kepada keduanya yang hanya dijawab dengan desah nafas saja. Sebenarnya Rinto cukup paham kalau ini hanyalah sebuah kesalah pahaman saja, tetapi melihat mereka berdua begitu suram membuat Rinto sedikit khawatir. "Pagi Ayumi, pagi Vindra. Assalamualaikum." Sapa Yani pada Alisya dan Vindra yang sudah berada di dalam ruang kantor. "Waalaikumsalam.." jawab keduanya dengan hangat. "Bagaimana dengan bahumu?" Tanya vindra memastikan luka pada bahu Yani. "Masih terasa sakit, tapi aku masih bisa bekerja kok hari ini." Jawab Yani sambil mengelus bagian bahunya. "Kok bisa mengatakan kepada kami berdua jika kau membutuhkan sesuatu, Kau tidak perlu terlalu memaksakan diri hari ini." Ucap Alisya mengingatkan Yani. "Ya, tentu saja!" Senyumnya sembari meletakkan tasnya dan duduk dengan nyaman. Mereka dengan segera mengerjakan pekerjaan mereka yang sudah tersedia cukup banyak di atas meja. banyaknya bahasa program yang harus diketik nya menggunakan satu tangan yang membuatnya sedikit kesulitan, dan dengan bantuan Vindra, Yani dapat menyelesaikannya dengan cepat. "Terima kasih sudah membantuku, sebentar aku akan menguatkanmu kopi sebagai ungkapan terima kasihku." Ucap Yani berdiri dari kursinya. "Kau tidak perlu melakukan itu, aku melakukannya dengan ikhlas." Ucap Vindra namun Yani tetap ingin melakukannya. Setengah Yani membuatkan kopi untuk Vindra, begitu ia akan keluar dari pintu, Yani hampir bertabrakan dengan Rinto yang juga menuju ruang dapur untuk membuat kopi. Rinto yang kaget dengan Yani yang sudah berada di depannya, membuatnya langsung mengarahkan telunjuknya ke bagian dahi Yani agar tubuh Yani tidak benar-benar jatuh kepadanya. Chapter 493 - Kau Terlalu Sungkan Padaku "Uakkhhh" Yani merasakan sakit saat lehernya terpelintir oleh jari telunjuk Rinto yang kembali menyerangnya pada bagian dahi. "Ah.. maaf, apa kau baik-baik saja?" Tanya Rinto merasa khawatir mendengar sedikit bunyi krek pada bagian leher Yani. Dia ingin sekali memegang leher Yani namun kemudian kembali mengepalkan tangannya karena Rinto masih berusaha bersikap sopan kepadanya. "Bapak kenapa sih? Apa yang sedang bapak lakukan? Apa sampai segitunya tidak ingin menyentuh orang? Kalau iya bukan kayak gini juga caranya dong." Omel Yani karena merasakan sakit pada lehernya dan tangannya yang sedikit ketumpahan oleh air kopi yang panas. "Bukan itu maksudku, tapi aku¡­" Rinto berusaha untuk menjelaskannya kepada Yani, tapi ia tidak tahu kata apa yang pas untuk ia ucapkan kepadanya. "Sudah lah pak, mungkin aku yang salah paham. Aku hanya sudah terlalu banyak berharap dan kegeeran saja mendengar bapak yang mengatakan kalau bapak ingin menjadi suamiku." Gumam Yani sembari berlalu pergi setelah mengambil tisu untuk membersihkan dirinya. "Ya¡­ anu.. sa¡­ " Rinto terbata-bata saat melihat Yani hanya melangkah pergi meninggalkannya disana. "Arrrghhh Anggg!" Rinto mengeram dan langsung menggigit jarinya sendiri. Entah bagaimana jari telunjuknya selalu saja selangkah lebih cepat dari pada jarinya yang lain. "Ada sepuluh jari yang ada di tanganku, tapi kenapa kamu malah jadi yang paling agresif sih?" Rinto yang terlihat sedang memarahi jarinya sendiri membuat salah seorang Ob yang berada di sana memicingkan matanya dengan perasaan aneh. Rinto dengan segera kembali ke dirinya setelah terbatuk pelan dan menyembunyikan tangannya dengan malu-malu. Dia pun berjalan pergi dari sana secepat mungkin melupakan tujuannya yang sebelumnya. Rinto kembali memikirkan perkataannya yang semalam saat dia dengan gampangnya mengaku sebagai calon suami di hadapan Ayah Yani. Saat ini dia memang masih belum memiliki perasaan lebih kepada Yani. Sebenarnya yang terjadi adalah Rinto masih belum menempatkan hatinya pada seseorang. Meski ia sempat tertarik kepada Yani, ringtone takut kalau dia hanya merasakan sepihak saja seperti yang telah lalu kepada Alisya. "Sekarang apa yang harus aku lakukan untuk mempertanggungjawabkan kata-kataku tersebut." Gumam Rinto sambil terus berjalan dengan kepala tertunduk. "Kata-kata apa yang perlu kau pertanggungjawabkan?" Alisya yang mendengar apa yang dikatakan Rinto langsung bertanya kepadanya tanpa basa-basi. Rinto terkejut bukan main tak menyangka kalau Alisya akan mendengarkan apa yang sudah dikatakannya. Ekspresi Rinto tiba-tiba saja sangat rumit untuk dijelaskan oleh Alisya, sebab baru kali ini dia melihat Rinto tampak gusar dengan berjalan tertunduk. "Em¡­ Itu, bukan hal yang penting." Jawab Rinto cepat. Tidak mungkin baginya untuk memberitahu Alisya akan apa yang sudah ia katakan semalam. Dia masih malu untuk mengakuinya sebab Ia merasa kalau apa yang dikatakannya tersebut cukup menggelikan mengingat situasi yang sedang dihadapi mereka. "Ya sudah kalau begitu. Aku ingin meminta satu permohonan kepadamu jikalau kau tidak keberatan." Ucap Alisya dengan sedikit ragu kepada Rinto. Perintah sedikit tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh Alisya. Tentu saja karena Alisya selama ini tidak pernah meminta banyak hal kepada dirinya. "Tentu saja, Kau bisa mengatakannya kepadaku. Aku akan melakukannya dengan semaksimal mungkin." Ucap Rinto dengan sangat senang. Rinto yang sangat menghormati Alisya, tentu saja sangat senang ketika mendapatkan permohonan dari dirinya. "Kau tentu sudah mengetahui bagaimana perlakuan Ayah Yani kepada Yani atas kejadian semalam. Mengingat kalau Ayah Yani telah melihat kau sudah menyelamatkan Yani, maka besar kemungkinan dia akan menghindarimu." Terang Alisya yang mulai menjelaskan situasi Yani. "Untuk itu... dalam beberapa saat kedepan, aku harap kamu bisa tetap terus berada di sekitarnya agar dapat membuat Ayah Yani tidak lagi datang menghampiri Yani dalam waktu dekat ini. Terutama membuat Ayah Yani untuk tidak mendekati ibu yang sedang sakit." Jelas Alisya yang ingin menyerahkan penjagaan Yani kepada Rinto. "Baiklah jika memang seperti itu. Aku juga sudah terlanjur melibatkan diriku kepada Yani. Selain itu memikirkan apa yang telah dilakukan oleh Ayah Yani kepada Yani membuatku tidak bisa membiarkannya sendirian." Ucap Rinto menyanggupi permintaan Alisya. "Terima kasih banyak karena kau sudah mau melakukannya." Ucap Alisya merasa lega mendengar apa yang dikatakan oleh Rinto. "Kau terlalu sungkan padaku. Tapi kalau boleh tahu, apakah Yani hanya sendiri saja dan tidak memiliki seorang saudara?" Tanya Rinto ingin memastikan. "Dia memiliki seorang adik perempuan yang sekarang mungkin akan ujian sekolah. Adiknya itulah yang sering membantunya ketika Yani sibuk dengan pekerjaannya." Jelas Alisya kepada Rinto. Mereka segera menghentikan percakapan mereka, ketika melihat ada beberapa pegawai yang datang menghampiri mereka. "Terima kasih banyak Pak atas bantuannya, Saya permisi dulu." Ucap Alisya dengan begitu lugu nya langsung pergi meninggalkan Rinto di sana. Yani yang harus mengerjakan banyak hal pada hari itu, dengan tangan kanannya yang terus menghambatnya akhirnya harus sedikit terlambat hingga sore hari. "Kau seharusnya mengistirahatkan dirimu dan jangan terlalu memaksakan diri." Lian segera mengingatkan Yani agar tidak terlalu terfokus dengan pekerjaannya. "Benar, sebaiknya kita pulang sekarang." Ajak Alisya kepada Yani. "Oke, aku akan pulang setelah menyelesaikan satu bahasa program ini lagi, kalian bisa jalan terlebih dahulu. 5 menit lagi aku akan menyusul untuk pulang." Jelas Yani karena masih ingin benar-benar menyelesaikan pekerjaannya sebelum pulang. "Baiklah kalau begitu kami pulang duluan, sebaiknya kau mendengarkan perkataan kami." Ancam Lian sebelum keluar dari ruangan mereka. "Jangan khawatir¡­" ucap Yani sambil tersenyum. "Kami permisi dulu." Vindra segera berpamitan kepada Yani setelah mendapatkan tanda dari Alisya untuk pulang bersama. Yani hanya mengganggu dan kembali fokus kepada pekerjaannya. Setelah beberapa menit kemudian, dia benar-benar telah menyelesaikan pekerjaannya dan meregangkan tubuhnya karena kelelahan. "Uwaah.. mengetik dengan menggunakan satu tangan ternyata cukup pegal juga." Yani Joni memijat-mijat tangannya yang terasa kebas. "Kau masih belum pulang juga?" Rinto datang menghampiri Yani. "Yah, ada sedikit yang harus aku selesaikan tadi. Tapi sekarang aku sudah bisa pulang." Ucap Yani berdiri dari kursinya namun karena kakinya yang keram karena terus menggantung dalam beberapa jam membuatnya kesulitan untuk berdiri hingga akhirnya ia hampir terjatuh saat memegang kursinya sebelah tangan. Kursinya yang memiliki roda membuatnya kehilangan keseimbangan dan tubuhnya condong kedepan, dan lagi-lagi Rinto meletakkan telunjuknya pada kepala Yani agar ia bisa berdiri dengan tegak. Melihat telunjuk Rinto di kepalanya segera membuat Yani menjadi sangat panas dan kesal. "Jari telunjuk lagi? Kamu gak capek apa ngasih aku jari telunjuk mu terus? Kenapa tidak sekalian kasih aku aku jari manismu biar aku bantu masukkan cincin disana. Biar aku bisa mengikatmu dan menjadikanmu imamku dengan begitu kau tak perlu lagi ragu untuk menyentuh setiap inci tubuhku menggunakan sepuluh jarimu!!! Huhh huhhh huh.. " Yani benar-benar telah selesai mengatakan semuanya kepada Rinto dengan satu tarikan nafas yang langsung menyudutkan Rinto kedekat dinding. Chapter 494 - Memalukan Sekali Menyadari apa yang baru saja ia katakan membuat Yani langsung memerah malu. Dia segera melarikan diri dari hadapan Rinto setelah terlebih dahulu mengambil tasnya. Rinto yang kaget mendengarkan apa yang baru saja ia katakan, membuatnya tersenyum kemudian mengikutinya dari belakang. "Memalukan sekali, bagaimana mungkin aku bisa mengatakannya dengan selancar itu kepadanya." Yani terus berjalan sambil mengomentari dirinya sendiri hingga keluar dari kantor. "Aku seperti Khodijah, yang melakukan pelamaran kepada seorang laki-laki. Meskipun itu bisa saja terjadi, tapi rasanya sangat memalukan sekali." Yani terus berjalan sembari memikirkan apa yang baru saja ia lakukan kepada Rinto. Dia yang terus berjalan di trotoar tidak mengira kalau ternyata mobil Rinto sekarang sedang mengikutinya. Masih memilih dirinya sendiri, Rinto hanya tertawa pelan melihatnya dari dalam mobil. Hari yang sudah mulai gelap membuat Rinto dengan segera membunyikan klaksonnya. Terkejut mendengar bunyi klakson yang sangat dekat dengan dirinya. "Baiklah aku akan mengantarmu pulang." Teriak Rinto dari dalam mobil. Masih merasa malu, yang tidak mungkin akan menuruti apa yang dikatakan oleh Rinto. Dia malah mempercepat langkahnya dan berjalan dengan sepatu haknya. Klakson mobil kembali berbunyi dengan keras. "Kau tidak akan mendapatkan lagi kendaraan umum di jam segini. Lagipula kendaraan umum juga tidak akan aman buat mu. Jadi lebih baik aku yang mengantarmu pulang." bujuk Rinto sekali lagi kepada Yani dengan sedikit menancapkan gas nya agar bisa sejajar dengan langkah Yani. "Pergilah, aku terlalu malu untuk menatap wajahmu sekarang." Usir Yani dengan wajahnya yang masih memerah malu. "Kau ingin dibegal? Sekarang sudah malam, bukankah kau akan terlambat untuk shalat magrib?" Rinto masih mencari cara agar Yani mau ikut dengannya. Yani berhenti sejenak melihat jamnya yang jika Iya masih mencari kendaraan umum, maka tentu saja ia akan melewatkan satu waktu. Melihatnya sedikit mengalami keraguan, untuk segera kembali ingin membujuknya lagi. "Jadi yang kau katakan tadi hanya sebuah omong kosong? Aku pikir kau benar-benar tulus mengatakannya. Ternyata kau hanya sama saja dengan wanita-wanita lainnya mengeluarkan kata-kata manis dengan begitu gampangnya. Tadinya aku berpikir bahwa kau berbeda dengan yang lainnya, tetapi melihatmu terus menolak ku seperti ini membuatku yakin..." Rinto yang ikut menghentikan mobilnya melihat kedepan saat mengatakannya. "Brakkkk!" Yang dimaksud ke dalam mobilnya dan duduk di kursi tepat disebelahnya. "Aku yakin kalau kau benar-benar menyukaiku." jelas Rinto kembali melirik kearah Yani yang kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Rinto. "Kau sudah mempermainkanku sekarang?" Yani tak mengira kalau Rinto akan mengatakan hal tersebut. Dia yang dengan segera ingin membuka kembali pintu mobilnya, membuat Rinto menguncinya dengan cepat. "Maafkan Aku, aku tidak bermaksud untuk mempermainkanmu. Tetapi apa yang kau katakan sebelumnya, akan aku pertimbangkan." Ucap Rinto sembari tersenyum dengan begitu licik. "Kau¡­" belum sempat Yani melepaskan kekesalannya, Rinto sudah menancap gas nya dengan sangat cepat. Ringtone menemukan kesenangan baru dengan selalu mengusili Yani. reaksi Yani yang apa adanya dan bahkan terkesan blak-blakan membuat Rinto merasa sedikit menarik. Tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk sampai ke rumah sakit. Yani segera turun dari mobil Rinto kemudian dengan hormat. "Terima kasih banyak karena bapak telah mengantarku. Sebaiknya ini pertama dan terakhir kali Bapak mengantarku, karena aku tidak ingin terus-terusan salah paham terhadap sikap bapak kepadaku. Sampai jumpa lagi di kantor Pak, assalamualaikum." Ucap Yani memberi salam dan meninggalkan Rinto ketika telah mengucapkan terima kasihnya kepadanya. Rinto tersenyum mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Yani, tidak pernah ada wanita yang sangat berterus terang kepadanya. Dan cara Yani berterus terang membuatnya sangat gemas. "Aku harus menemukan cara, agar tidak berpapasan kembali dengannya di kantor. Aku seperti merasakan dia sangat menikmati permainannya saat ini. Dan itu membuatku sangat kesal." Gumam Yani sembari terus berjalan menuju ke ruang perawatan ibunya. Sesampainya di ruang perawatan ibunya, Yani melihat adiknya sedang mengupas kan buah untuk ibunya. "Kau sudah pulang dari pengayaan?" Tanya Yani begitu masuk ke dalam ruangan. "Iya kak, hari ini pengayaan nya cuma satu mata pelajaran saja. Aku jadi bisa pulang cepat untuk merawat ibu." Jawabnya sembari memberi Yani beberapa potongan buah apel yang sudah dikupasnya. "Kalian berdua sudah makan?" Tanya Yani kepada ibu dan adiknya. "Kami berdua sudah makan tadi, kalau kau belum makan sebaiknya makan lah terlebih dahulu." Jawab ibunya dengan suaranya yang serak. "Aku juga sudah makan, tapi sebaiknya aku mencari makan malam untuk kita semua. Aku akan pergi shalat dulu, setelah itu aku pergi mencari makan malam untuk kita semua." Yani hanya mengambil beberapa lembar uang di kantongnya dan menaruh tasnya di dalam ruangan tersebut. "Hati-hati di jalan Kak.." seru adiknya dengan cepat mengingatkan Yani. Yani hanya tersenyum sembari terus berjalan keluar. Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan dari luar. Ibu Yani dan adiknya segera menoleh ke arah pintu, dan menemukan seorang pria tampan yang sedang tersenyum kearah mereka. "Assalamualaikum, boleh saya masuk?" Sapa Rinto meminta izin terlebih dahulu. "Waalaikumsalam, silakan masuk." Ucap mereka berdua dengan kompak. Mereka saling pandang dengan bingung karena tidak mengenali siapa pemuda yang sedang memasuki ruangan tersebut. "Kakak sedang mencari siapa?" Tanya adik Yani kepada Rinto dengan kebingungan. "Oh maaf, nama saya Rinto. Saya adalah teman Yani, Saya kemari sengaja untuk mengunjungi ibu. saya baru tahu beberapa waktu lalu kalau ibu ternyata dirawat di rumah sakit ini. Sebenarnya saya kemari setelah mengantar Yani, tetapi sepertinya dia tidak akan mengizinkan saya untuk masuk sehingga saya harus menunggu hingga dia pergi." Jelas Rinto dengan panjang lebar yang langsung membuat keduanya tersenyum dengan begitu ceria. Rinto dengan segera menjadi sangat akrab terhadap ibu Yani dan adik Yani. Mereka bahkan sudah tertawa bersama-sama. Mendengar suara yang tak asing tersebut, Yani langsung menerobos dengan cepat. "Bapak? Bukannya tadi Bapak sudah pulang?" kenapa malah sekarang Bapak berada di sini?" Yani dengan segera menyerang Rinto dengan semua pertanyaannya karena terkejut. "Ba.. pak? Bukannya dia teman Kak Yani? Dia juga bahkan kenal dengan Ayumi." Tanya adik Yani kebingungan dengan panggilan Yani kepada Rinto. "Iya memang benar, dia teman kakak tapi dia adalah atasan kakak juga di kantor. Bukan, maksud kakak dia adalah atasan kakak bukan teman kakak." Yani malah menjelaskan dengan cara yang selalu berputar-putar membuat keduanya menjadi tertawa dengan pelan. Melihat reaksi Yani yang begitu berlebihan, membuat keduanya paham akan hubungan yang sedang terjadi di antara mereka berdua. Chapter 495 - Tidur di Luar Alisya yang baru saja selesai mandi segera keluar dari kamarnya. Dia yang sudah bersiap-siap untuk beristirahat dan tidur, tampak menggunakan lingerie berwarna hitam yang transparan. Lingerie itu memperlihatkan lekuk tubuhnya serta pakaian dalamnya dengan sangat jelas. Alisya berjalan menuju ke dapur dan tidak memperdulikan Adith yang sedang duduk bersama dengan laptopnya dan sedang memperhatikannya saat itu. Melihat tampilan Alisya yang seperti itu, darah Adit mendidih dengan begitu panas dan rahangnya mengeras. Iya dapat merasakan hasrat yang sangat tinggi untuk bisa menyentuh Alisya saat itu juga. "Apa dia sedang mengujiku sekarang? Selama ini aku tidak pernah melihatnya memakai baju seperti itu." Gumam Adith mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Dengan cuek, Alisya ingin meraih sebuah kotak yang berisi beberapa cemilan yang rencananya ingin ia makan sambil membaca komik secara online sebelum tidur. Melihat Alisya yang tampak kesusahan karena letak kotak cemilan yang berada cukup tinggi di atasnya, membuat Adith mendesah pasrah dan menghampirinya. "Tumben kau ingin makan cemilan sebelum tidur, apa karena besok tidak masuk ke kantor sehingga kau sedikit ingin bersantai-santai hingga larut malam ini?" Tanya Adith berdiri dibelakang Alisya sembari mencoba meraih toples yang berada di atas lemari tersebut. Alisya menoleh dan menghadap ke arah Adith. Jarak keduanya yang sangat dekat dan Adith yang sedang meraih kotak cemilan tersebut, membuatnya mendekatkan jaraknya agar bisa mengambilnya namun tak menyadari kalau Alisya sudah berhadapan dengannya sehingga dadanya yang bidang menyentuh dada Alisya yang hangat. "Kenapa apa kau tak suka jika aku berada di rumah agar kau bisa kembali pergi menikmati konser seperti sebelumnya?" Desahan nafas Alisya yang mengenai lehernya dengan sangat hangat membuat Adith menjatuhkan kotak cemilan tersebut dari tangannya. Alisya membiarkannya dan hanya menangkapnya menggunakan kakinya dengan sangat mudah, menendangnya ke atas dan meraihnya dengan santai. Alisya tersenyum melihat Adith menelan ludahnya dengan susah payah karena apa yang di lakukannya tersebut memanglah sengaja Alisya tujukan untuk merayu Adith dan menyiksanya. Adith meraih tangan Alisya dengan sangat cepat dan menyandarkannya ke kulkas besar dengan sangat kuat membuat kotak cemilan tersebut kembali melayang yang dengan santainya di raih oleh Adith. "Jadi kau masih memikirkan kejadian malam itu? Bagaimana caraku menjelaskan padamu kalau semua itu hanyalah kesalah pahaman saja?" Tatap Adith kepada Alisya dengan jarak yang sangat dekat, bahkan hidung keduanya hampir bersentuhan karena itu. Mata keduanya saling bertatapan satu sama lain dengan begitu dalam dan desahan nafas Adith mulai tak karuan menahan hasratnya yang sangat tinggi atas apa yang dilakukan Alisya saat dada keduanya saling bersetuhan dan desahan nafas hangatnya mengenai lehernya. "Aku tau kalau itu hanyalah sebuah kesalah pahaman, tapi melihatmu menikmati konser itu tentu saja bukanlah sebuah kesalah pahaman bukan?" Alisya berbalik menatapnya yang bersikap seolah ingin menciuminya namun malah meraih kotak cemilan yang berada di tangannya. Adith tak mau kalah dan kembali ingin merebut kotak cemilan tersebut yang dengan sibuknya mereka berdua saling melempar tendangan dan juga pukulan untuk bisa berhasil mendapatkan kotak cemilan tersebut. Jika Alisya berhasil mendapatkan kotak cemilan tersebut, maka Adith juga akan melakukan trik yang membuatnya kembali mendapatkan cemilan. Hingga ketika satu tendangan yang ingin dihindari oleh Alisya malah membuat kedua tangan yang masih sibuk bertukar posisi meraih kotak cemilan tersebut, membuat keduanya jatuh saat tak sengaja Alisya menginjak pembersih debu otomatis yang sedang bekerja. Alisya jatuh ke atas sofa dengan Adith yang berada di atasnya dan dengan kotak cemilan yang berhasil didapatkan olehnya. "Tak ku sangka kemampuan mu juga semakin berkembang sekarang." Ucap Alisya memuji kemampuan Adith yang sudah semakin mampu menandinginya dengan sangat baik. "Apa kau akan terus menghukumku meski kau tahu kalau itu adalah sebuah kesalah pahaman saja? Tidak kah kau tau kalau hukuman ini terlalu berat?" Tatap Adith yang mendekatkan wajahnya untuk menciumi Alisya. Alisya tersenyum licik dan membalikkan posisi mereka dengan Adith yang berada di bawahnya. Alisya duduk tepat di atas benda kebanggaan Adith yang langsung membuat Alisya terkejut karena hal tersebut. "Kau perlu diberikan hukuman yang dapat menimbulkan efek jera agar kau benar-benar takkan mengulanginya kembali. Malam ini kau¡­" Alisya mendekatkan dirinya dan mengigit telinga Adith dengan begitu sensual. "Tidur di luar! Pufffttt" Alisya bangkit dari posisinya dan tertawa dengan sangat puas lalu meraih kotak cemilan yang sempat terjatuh dari tangan Adith. "Alisya kau¡­" Adith tampak sangat kesal dengan apa yang baru saja Alisya lakukan kepadanya sehingga dia segera mengejar Alisya namun dengan cepat pintu kamar sudah tertutup untuk menghalanginya. "Maaf tuan Jenius, tapi hukumanmu belum habis. Aku benar-benar sangat marah saat mengetahui kau sedang menikmati mereka yang bergoyang-goyang di atas panggung untukmu di saat aku sudah susah payah merias wajah dan mempercantik diri untukmu." Ucap Alisya dari balik pintu dengan suara yang terdengar kesal. "Itu karena aku seperti sedang melihat kau yang sedang berada di atas panggung. Dancernya begitu hebat dan sangat memukau hingga aku tak sadar kalau ternyata dia sudah membuatku terpesona." Ucap Adith yang beralasan karena melihat dancer utama girlband tersebut yang bernama Lisa (BP). "Jadi maksud kamu aku juga bisa menikmati dance Kang Daniel gitu?" Alisya langsung membuka pintu menatap Adith dengan sangat tajam. "Untuk apa kamu melakukannya? Bukankah aku sudah cukup untuk menjadi Kang Daniel bagimu?" Ucap Adith menunjuk kepada dirinya sendiri dengan begitu bangga. "Cukup pantatmu!" Maki Alisya dengan kesal kemudian kembali menutup pintunya dengan keras. "Baiklah aku minta maaf, aku takkan mengulanginya lagi. Bagiku kau adalah segalanya, bukan karena sangat menginginkan mu sekarang tapi karena aku tak suka jika kau terus-terusan menatapku dengan kesal seperti itu." Suara Adith terdengar melembut berusaha untuk membujuk Alisya. Adith memang merasa bersalah malam itu terlebih karena melihat kesungguhan Alisya yang ingin terlihat cantik dan menawan di hadapannya. Namun karena keegoisannya, dia akhirnya menyakiti hati Alisya. "Mau kah kau memaafkan ku untuk kali ini saja?" Suara Adith terdengar sangat memelas membuat Alisya sedikit luluh karenanya. Alisya kembali membuka pintunya dan menatap Adith dengan tatapan yang terlihat mulai melunak. "Baiklah, aku akan memaafkan mu jika kau bisa membuat hatiku kembali senang." Adith mulai mendekati Alisya dan ingin memeluknya karena senang. "Tapi malam ini kau harus tetap tidur di luar." Dorong Alisya yang langsung membuat Adith mendesah dengan pasrah menyetujui keinginan Alisya. Setidaknya karena dia sadar kalau dia memang salah kali ini. Chapter 496 - Ace Kamar Mati Di sisi lain. "Sayang, sampai kapan kau akan terus-menerus marah seperti ini? Aku kan sudah mengaku salah sampai berkali kali padamu." Yogi yang berada di luar kamar tampak sedang berusaha untuk membujuk Aurelia dengan suara yang lembut. "Aku tau kau melakukannya karena kau sudah menjadi suami orang sehingga untuk melepaskan masa lajangmu yang sudah tidak bebas lagi, kau ingin setidaknya sekali saja untuk bisa merasakan bebasnya sendiri. Iya kan?" Tegas Aurelia dari balik pintu dengan suara yang masih kesal. "Oke, aku akui memang aku sempat berpikir seperti itu. Tapi sebenarnya dari awal aku hanya ingin mengajak mereka semua setidaknya bersenang senang satu kali saja untuk melepas penat mereka." Jelas Yogi masih tetap dengan suaranya yang lembut. "Kau tahu sendiri kan, selama ini mereka selalu terpaku terhadap pekerjaan mereka. Apalagi Rendy dan yang lainnya, sedari awal mereka bukanlah orang yang bisa mendapatkan waktu libur seperti saat itu." Lanjutnya lagi dengan terus berusaha untuk meluluhkan Aurelia. "Meskipun begitu, kau kan seharusnya ingat bahwa kami semua sudah berdandan dengan sangat lama hanya untuk kalian. Kami juga berusaha dengan sangat baik untuk bisa menarik perhatian kalian. Tapi apa yang kalian lakukan?" Aurelia membuka pintu kamarnya agar bisa memarahi Yogi tepat di depan hidungnya. "Aku tau, kau juga sudah merencanakan semuanya dengan mengorbankan waktu berharga kita berdua demi mendapatkan kebahagian dan kebersamaan bersama yang lainnya." Yogi meraih tangan Aurelia untuk bisa berbicara dari hati ke hati. "Tapi sungguh, aku sudah mengatakan hal itu kepada Elvian untuk hanya menemaninya satu lagu saja dan berencana kembali secepatnya untuk menemui kalian. Tapi kesalahan lain yang aku lakukan adalah aku tidak mendengar satupun panggilan yang masuk." Jelasnya lagi berusaha untuk terus meluluhkan hati Aurelia. "Lalu kenapa kau.." Yogi sudah menutup bibir Aurelia yang masih ingin tetap pada kemarahannya ingin melampiaskannya kepada Yogi. "Apapun yang kau inginkan sekarang aku akan mengikutinya. Besok memang hari saptu dan kau pasti libur, untuk itu manfaatkan lah waktu yang ada ini dengan banyak beristirahat dan jangan memikirkan hal-hal itu lagi." Ucap Yogi membawa Aurelia masuk dan duduk di atas ranjang. "Aku akan tidur di luar. Jika memang amarahmu sudah meredah dan kau sudah memaafkanku, barulah aku akan masuk untuk tidur bersamamu. Selamat malam sayang." Yogi langsung mengecup lembut dahi Aurelia dan membiarkannya tertidur dengan nyaman. Melihat sikap Yogi yang penuh tanggungjawab seperti itu, tentu saja akan meluluhkan hatinya. Aurelia sadar kalau dia sudah bersikap sangat keras kepada Yogi selama ini. Dengan sedikit merasa bersalah karena sudah bersikap keras padanya, Aurelia akhirnya mencoba untuk sedikit memperbaiki sikapnya kedepannya. Aurelia akhirnya tertidur dengan sangat lelap diatas tempat tidur hangatnya. Hingga tepat di tengah malam ia terbangun karena merasakan haus yang tiada tara. Lehernya sangat kering sedang air putih yang biasanya ia siapkan di atas mejanya sudah habis tak bersisa. "Sepertinya Ace kamar ini tidak berfungsi dengan baik. Rasanya panas sekali dan sekarang bajuku basah semua karena keringat." Aurelia bangkit dari ranjangnya dan mencari remote kontrol Ace nya untuk menaikkan suhu alat pendingin tersebut, namun tetap tak terasa olehnya. Dengan tubuh yang setengah lembab dan bajunya menempel pada kulitnya membuat Aurelia memilih untuk mencari air minum terlebih dahulu untuk meredakan hausnya. Dia segera mengambil minuman dingin dari dalam kulkas dan meminumnya hingga habis. Aurelia juga tidak lupa untuk menuangkan sedikit air ke dalam gelasnya sebelum kembali ke kamarnya. Begitu ia berjalan berjalan menuju kamarnya, dia melihat Yogi yang tertidur dengan beberapa berkas yang berhamburan di atas mejanya dan satu berkas lagi berada di atas tubuhnya. "Huhhhhhffft" Aurelia mendesah melihat Yogi seperti itu. Dia meletakkan gelas air minumnya dan mendekat ke arah Yogi yang sedang tertidur. Dia membereskan beberapa berkas yang tampak berhamburan diatas meja disekitar Yogi. Setelah itu, dia berusaha untuk mengambil satu berkas yang berada di atas dadanya. Dia menariknya secara perlahan-lahan, namun tiba-tiba Yogi terbangun dan langsung menindih Aurelia dengan begitu kuat. Bahu Aurelia terasa sakit akibat tangan keras Yogi yang menekan bahunya dengan sangat kuat. "Yogi, sakit.. kau kenapa?" Aurelia meringis kesakitan melihat Yogi seolah tidak sadar melakukan hal tersebut. "Apakah kau baik-baik saja? Maafkan aku, aku tidak bermaksud¡­" Yogi langsung membangunkan Aurelia dan segera meminta maaf atas apa yang sudah ia lakukan. "Apa yang sedang terjadi? Apa kau sedang bermimpi buruk?" Suara lembut Aurelia sedikit menghangatkan hati Yogi sehingga ia tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya dan mengelus kepala Aurelia. "Aku baik-baik saja, maaf sudah membuatmu takut." Terang Yogi menatap Aurelia dengan sangat lembut dan penuh kasih. Melihat tubuh Yogi yang yang dibasahi oleh keringat dan bernafas dengan berat membuat Aurelia segera mengambil minumannya yang sudah ia sediakan sebelumnya dan ia berikan kepada Yogi. "Terimakasih, maaf sudah karena sudah membuat mu khawatir." Yogi tersenyum sembari mengambil gelas yang diberikan oleh Aurelia. "Apa yang sedang kau khawatirkan? Kau tampak memiliki beban pemikiran yang sangat banyak." Aurelia duduk disebelah Yogi untuk menenangkannya. "Bukan hal yang penting, aku hanya kaget saja tadi. Apa yang membuatmu terbangun?" Tanya Yogi tidak ingin membuat Aurelia semakin khawatir padanya. "Ace di kamar mati, aku kepanasan dan kehausan sehingga keluar untuk mengambil minuman. Dan saat ingin kembali, aku melihatmu terbaring dengan berkas-berkas yang berserahkan dimana-mana." Jelas Aurelia sembari membelai rambut Yogi untuk menghilangkan peluhnya. "Ya sudah, coba aku lihat. Mungkin ada sedikit eror dengan mesinnya." Yogi bangkit dari kursinya menuju ke kamar untuk melihat Ace yang dimaksudkan oleh Aurelia. Dia segera memeriksa Ace tersebut dan menemukan permasalahannya. Tidak butuh waktu lama baginya untuk memperbaiki alat pendingin tersebut. "Sudah selesai, sekarang suhunya sudah terasa. Kau bisa kembali tidur dengan nyaman sekarang." Terang Yogi setelah memastikan suhunya menggunakan tangannya. "Hmmm? Ada apa?" Tanya Yogi saat Aurelia tertunduk sembari memegang bajunya dan menghentikannya. "Ke.. kenapa kau tidak tidur bersama ku saja? Diluarkan sangat panas, lagi pula ranjang ini cukup besar buat ku." Ucap Aurelia dengan suara setengah berbisik. "Jika aku tidur di bersamamu disini, kau mungkin tidak akan bisa tidur malam ini dan malam ini akan menjadi malam yang sangat panas meski memakai Ace. Apa kamu masih mau?" Pancing Yogi setengah menunduk kepada Aurelia. Aurelia tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Yogi namun mukanya yang memerah semua membuat Yogi terkejut. Dia akhirnya tersenyum, menutup pintu dan mengangkat Aurelia ke atas ranjang. Chapter 497 - Melakukan Pengintaian Di pagi hari, Alisya terbangun dari tidurnya dengan sudah tampak segar karena baru saja mandi dan keluar dari kamarnya menggunakan baju kemeja berwarna merah jambu milik Adith yang hanya menutupi tubuhnya hingga ke pahanya saja. Alisya tampak sangat bercahaya menggunakan kemeja tersebut, ditambah dengan dia mengikat rambutnya dengan gaya ikatan sanggul pada bagian atas dan sebagiannnya lagi ia biarkan terurai kebawah. Tampilan Alisya saat itu terlihat begitu menawan dan seksi di mata Adith. Tubuh bagian bawahnya masih tampak terlihat dengan jelas oleh Adith yang baru saja selesai mandi dan menggunakan handuk. Adith mandi di kamar mandi umum karena Alisya yang masih tak membukakannya pintu. Melihat Alisya yang keluar menggunakan pakaian seperti itu segera membuat Adith memuntahkan minumannya. "Sepertinya hasratmu masih juga belum hilang yah." Seru Alisya duduk di atas meja tepat di hadapan Adith kemudian mengambil minuman yang berada ditangan Adith dengan sangat santai. "Sepertinya kau semakin nakal akhir-akhir ini, bahkan hukumanmu ini benar-benar membuatku sudah hampir kehilangan batas kesabaranku. Pertahananku sudah tidak bisa diselamatkan lagi" Adith segera mengunci Alisya dengan kedua tangannya. "Eits.. ingat, hukumanmu belum selesai." Ucap Alisya mengingatkan Adith lalu turun dan kurungan Adith dengan memutar tubuhnya dengan lihai melepaskan kunciannya dengan sangat mudah. "Aku ada pekerjaan hari ini, kau tak perlu menungguku dan pergilah kerumah bapak dan mama untuk mengunjungi mereka. "Terang Alisya sembari mengambil beberapa lembar roti untuk membuat sarapan pagi. Alisya juga kemudian menyediakan dua piring untuk Adith mengingat kewajibannya sebagai istri, setidaknya dia harus melayani Adith dengan baik. Salah satunya adalah dengan menyiapkan makanan untuknya. "Kau mau kemana? Aku pikir tidak ada hal yang perlu kau lakukan? Kantor libur dan kaupun juga belum mendapatkan misi apapun." Adith memicingkan matanya mendengar Alisya akan pergi meninggalkannya lagi kali ini. "Rendy membutuhkan seorang partner untuk pengintaiannya kali ini. Pada wilayah dimana Ayah Yani sekarang berada ternyata memiliki hubungan dengan organisasi." Jelas Alisya mulai membakar roti tersebut kemudian menyiapkan gelas untuk teh manis. "Apakah kau harus melakukannya hari ini? Tidak bisakah kita tinggal berdua dirumah dan menikmati waktu libur kita berdua? Kau taukan kita tidak punya waktu untuk bercengkrama lebih banyak satu sama lain?" Adith menghentikan gerakan Alisya agar ia bisa memperhatikan apa yang ingin dikatakannya. "Aku tau, tapi meskipun aku berada dirumah saat ini kita tidak bisa melakukan apapun karena kau masih dalam masa hukuman. Selain itu malam ini mereka akan melakukan transaksi besar yang membuatku harus segera menyiapkan beberapa hal disana." Terang Alisya kembali melanjutkan apa yang dilakukannya. "Aku ikut, aku ikut bersamamu. Tidak, aku yang akan menggantikanmu untuk menjadi partner Rendy." Ucap Adith karena tak ingin terpisah dengan Alisya, membuatnya segera mengajukan diri untuk mengikutinya dan bahkan menggantikan posisinya. "Apa yang kau katakan ini bisa dipertanggungjawabkan? Aku tak ingin begitu sampai disana kau malah menolak untuk melakukannya." Pancing Alisya dengan senyuman licik namun Adith tak memperdulikannya. "Jika itu bisa membuat memaafkanku, kau bisa memegang kata-kataku dengan erat." Tegas Adith dengan penuh keyakinan. "Kesepakatan diterima. Kau butuh makan yang banyak dan manis-manis untuk meningkatkan energi mu yang hilang dari semalam." Ucap Alisya yang tiba-tiba saja langsung membuat Adith merasakan ada sesuatu yang berbahaya akan terjadi kedepannya. Mereka akhirnya memakan makanannya dengan segera, setelah itu keduanya bersiap-siap menuju ke tempat dimana Rendy telah menunggu mereka berdua di sebuah gang yang tidak jauh dari tempat yang akan menjadi tempat pengintaian mereka. "Kalian sudah disini?" Alisya masuk kedalam sebuah basemen yang berada dibalik tong sampah di dalam gang tersebut. Aurelia dan Yogi serta yang lainnya sudah berada di dalam basemen tersebut. Aurelia masih tidak mengetahui apa pekerjaan Rendy dan yang lainnya seperti apa sebenarnya, namun mengetahui mereka sudah sering bersama seperti terkahir kali di Forthnight membuat Aurelia semakin penasaran terhadap apa yang mereka lakukan. "Aku sudah menyediakan semua yang kau minta, tapi apa sebenarnya yang ingin kalian lakukan sampai bisa menemukan tempat ini dan menyediakan semua ini?" Tanya Aurelia sembari menatap Rendy dan yang lainnya yang tampak sibuk. "Sepertinya memang kita butuh untuk menjelaskan kepadanya, dengan begitu makin banyak orang yang mengetahui ini makin banyak pula bantuan yang bisa kita dapatkan." Terang profesor Ahmad yang muncul dari balik dinding. "Bagaimana keadaanmu profesor, senang melihatmu kembali bekerja sekarang." Sapa Adith kepada Profesor Ahmad yang sudah terlihat lebih sehat daripada sebelumnya. "Berkat bantuan anda dan dokter Karan, saya benar-benar sembuh dengan cepat. Selain itu terima kasih ke pada alat yang sudah anda berikan kepada saya. Jika bukan karena Allah itu, mungkin saat ini saya tidak akan bisa bersama kalian lagi." Terang profesor Ahmad kepada Adith mengungkapkan rasa syukurnya. "Semuanya adalah suratan takdir, Profesor tidak perlu berterima kasih padaku karena saya hanyalah manusia biasa yang memberikan sedikit bantuan. Dan semua itu adalah kehendak yang maha kuasa." Tegas Adith menyalami profesor dengan sangat hangat. "Sepertinya aku memang membutuhkan bantuanmu, untuk itu kau perlu tahu tentang siapa kami sebenarnya." Jelas Alisya mulai menjelaskan tentang siapa dirinya dan yang lainnya kepada Aurelia. Secara garis besar Aurelia akhirnya memahami semuanya dengan baik. Dia bisa menemukan benang merah terhadap apa yang sudah terjadi selama ini. "Apa aku melewatkan sesuatu?" Karin datang bersama Ryu dengan membawa beberapa peralatan yang dapat mereka gunakan. "Sepertinya Karin sudah mengetahui hal ini jauh sebelumnya aku. Iya kan?" Tanya Aurelia kepada Alisya yang dijawab dengan anggukan oleh Alisya. "Maafkan kami, bukannya kami tidak ingin melibatkanmu. Tapi kami berusaha untuk melindungi mu sebab ini adalah satu hal yang cukup berbahaya." Jelas Yogi sembari merangkul pinggang Aurelia. Aurelia paham apa yang mereka maksudkan, meski terlambat ia cukup senang bisa menjadi bagian dari mereka sekarang. Baginya itu sudah cukup untuk menutupi kekecewaannya. "Baiklah, sepertinya kita bisa mulai sekarang. Tidak ada waktu lagi, mereka akan mulai menyiapkan acara itu dan kita butuh memasukkan beberapa alat kedalam untuk bisa ikut terlibat di dalamnya." Terang Elvian melihat pergerakan di sekitar Bar di bagian belakang. "Oke, Ryu dan Adith akan masuk kedalam sebagai perwakilan dari geng Yakuza untuk ikut dalam acara pesta sekaligus transaksi mereka, sedang Rendy akan menjadi pengawal kalian sebagai tambahan." Alisya mulai menjelaskan rencananya kepada mereka semua. "Jati dan Rinto akan masuk sebagai tim mekanik yang mempersiapkan tempat yang ada di dalam Bar, Yogi dan Karin akan bersama menjadi pengunjung bar. Selebihnya biar kami yang memantau semuanya dari sini." Lanjut Alisya lagi sembari melihat cetak biru dari Bar tersebut yang berbentuk hologram hasil hacker Elvian. Chapter 498 - Kau Mau Kemana? Mendengar apa yang dikatakan oleh Alisya, mereka semua mengerutkan kening tak paham. Bukan karena tidak paham akan penjelasan rencananya, melainkan tak paham dengan Adith yang pergi bersama dengan Ryu. "Bukankah harusnya yang mendampingi Ryu adalah seorang wanita? Jika bukan kamu yang pergi maka seharusnya yang pergi adalah Karin, tapi kenapa kamu malah mengatakan kalau yang pergi adalah Adith?" Tanya Yogi bingung dengan apa yang dimaksudkan oleh Alisya. "Kita tidak punya waktu lagi untuk menjelaskannya, untuk saat ini sebaiknya kita langsung melakukan pergerakan. Jika kita terlambat satu langkah saja, maka kita akan kehilangan kesempatan." Ucap Alisya tidak bisa menjelaskan rencananya kepada mereka kenapa malah Adith yang sekarang menggantikannya. Mendengar apa yang dikatakan Alisya, Adith segera melangkah secara perlahan-lahan untuk menyembunyikan diri dari Alisya. Hanya Adith yang mengerti akan apa yang terjadi pada dirinya ketika menggantikan posisi Alisya, oleh karena itu dia segera mencari cara untuk menghidarinya. "Kau mau kemana?" Tatap Alisya sinis dan sangat tajam kepada Adith yang sudah beberapa langkah akan melarikan diri. "Bukankah kau sudah berjanji untuk melakukan pengintaian dengan menggantikanku? Lalu apa yang sedang terjadi disini?" Lanjut Alisya lagi menatap lurus kepada Adith yang tertangkap basah. "Sepertinya ada yang baru saja melakukan perjanjian darah sebelumnya." Gumam Yogi menggoda Adith dan malah mendapatkan tatapan tajam darinya. "Aku hanya ingin mencari udara segar, bagaimana mungkin aku yang seorang Radithya Azura Narendra tidak menepati janjinya terlebih jika janji itu adalah pada istriku sendiri?" Adith bersilat lidah untuk menyelamatkan dirinya. "Kau bahkan menonton pertunjukan wanita lain dihadapan istrimu tapi masih dengan bangga menyebutkan namamu seperti itu?" Gumam Aurelia yang sengaja dia tunjukan untuk menggodanya juga. Ucapan Aurelia bukan hanya membuat Adith yang menjadi tersangka, tetapi semua orang yang melakukan hal tersebut menjadi tertusuk tajam karenanya. "Plakkkk!!! Sakit tau¡­ pegang yang bener!" Tampar Elvian kepada Rafli yang menjatuhkan gulungan kabel hitam di kakinya. "Itu karena Jati, drone yang dikendalikan Jati malah menabrak kepalaku." Jelas Rafli mencoba untuk membela diri. "Kenapa kau menekan tombol enternya? Aku kan jadi harus mengulang dari awal lagi." Rendy kesal pada Elvian yang menekan tombol enter di saat bahasa program yang mereka buat belum selesai sepenuhnya. "Apa kau tidak sadar dengan kesalahan yang baru saja kau lakukan?" Tatap Jati kepada Rendy yang baru saja mematahkan stik kontrol kesayangan milik Jati. Melihat semua kekacauan yang mereka hasilkan sendiri membuat semuanya hanya bisa mendesah dengan pasrah. Bahkan Yogi sampai sedikit bergetar terhadap apa yang dikatakan oleh Aurelia. "Seperti biasa, kau selalu saja bermulut tajam dan tepat pada sasarannya." Ucap Rinto menaikkan jempolnya kepada Aurelia. "Kenapa wanita paling suka mengungkit satu kesalahan terus menerus secara berulang-ulang sih.." desah Yogi kembali merasa kalah dengan Aurelia. "Karena itu adalah senjata wanita untuk menaklukkan kalian para monster." Ucap Karin tertawa dengan riuh melihat mereka semua yang tampak suram karena hujaman kata-kata tajam Aurelia. Tepat saat Alisya dan yang lainnya masih menertawakan mereka, profesor melihat adanya pergerakan di bagian belakang Bar tersebut sehingga Jati dan Rinto segera bergerak untuk menjalankan rencana mereka. Jati dan Rinto masuk setelah sebelumnya melakukan penyamaran serta mengganti identitas mereka. Selain sebagai tenaga mekanik, kedatangan mereka ke dalam Bar tersebut adalah untuk memasukkan dan menempatkan beberapa kamera pengawas yang menjadi titik buta dari CCTV tempat tersebut. "Aku serahkan sisanya pada kalian semua, sebaiknya kalian berangkat sekarang untuk mempersiapkan semuanya. Selebihnya akan aku mengarahkan kalian ketika kalian sudah berhasil masuk ke dalam ruang bar tersebut." Jelas Alisya kepada Ryu, Adith dan Aurelia serta Yogi dan Karin. Rendy mengangguk paham dan segera keluar bersama dengan yang lainnya. Mereka semua sudah bersemangat untuk mempersiapkan semuanya. Tidak berselang, persiapan mereka yang sudah matang tepat waktu sebelum acara tersebut di mulai memberikan kemudahan bagi mereka semua sehingga dengan jelas mereka dapat memantau semua kegiatan yang sedang terjadi di dalam Bar. "Sepertinya beberapa pemimpin geng disekitar sini sudah mulai berdatangan satu sama lainnya." Seru Elvian memperlihat beberapa layar monitor yang mengambil gambar dari berbagai sudut mereka yang memasuki Bar tersebut. "Aku penasaran sebenarnya ada acara apa dengan pertemuan mereka yang seperti ini. Tidak biasanya mereka semua melakukan hal ini dengan sedikit terang-terangan." Alisya masih terus memperhatikan satu persatu orang-orang yang berada di sana dengan wanita-wanita seksi di sekeliling mereka. "Meski acara ini sedikit rahasia, tapi karena apa yang kau katakan mengenai terang-terangan memang ada benarnya juga. Tapi mereka buat seolah ini hanyalah sebuah perkumpulan biasa saja." Terang profesor Ahmad memperhatikan data orang-orang yang sedang masuk kedalam Bar tersebut. "Aku kenal pria ini, dia adalah Ardan. Salah satu anak pejabat yang terkenal playboy dan sangat kasar kepada wanita. Dia memperlakukan wanita layaknya mainan yang dapat ia pakai dan buang sesuka hatinya jika ia bosan. Salah satu anak pejabat yang harus dihindari oleh Karin pada malam ini." Tatap Elvian pada layar monitor yang menangkap wajah pemuda yang cukup tampan namun terlihat sekali wajah brengseknya di mata Alisya. "Apa yang dilakukan olehnya di tempat seperti ini? Sebenarnya transaksi apa yang akan mereka lakukan?" Alisya semakin merasa penasaran melihat segelintir orang-orang yang seharusnya takkan mungkin untuk bertemu di satu tempat yang sama. "Selain anak pejabat tersebut, beberapa bos besar yang diketahui meraup uang korupsi juga mendatangi tempat itu. Sepertinya mereka tidak ragu untuk memperlihatkan taring mereka di tempat itu karena wilayah ini berada di luar jangkauan pengawasan polisi." Terang profesor merasa takjub dengan banyaknya tamu tak terduga yang bermunculan. "Tidak bisa di pungkiri kalau negeri ini memang banyak dipenuhi oleh orang-orang kotor dan busuk seperti mereka. Mereka yang memimpin pemerintahan dengan cara yang kotor benar-benar memeras rakyat dengan begitu lihainya." Geram Alisya melihat mereka semua. "Tapi kita tidak bisa berbuat lebih. Misi kita yang berlawanan dengan apa yang sedang kita hadapi dan saksikan sekarang membuat kita tak bisa berbuat banyak. Tujuan utama kita adalah menemukan black falcon dan tidak mengambil kasus lain di luar dari misi kita. Jika tidak keberadaan kita yang tabu dapat terungkap dan bayarannya adalah eksekusi mati." Ucap profesor Ahmad memperingatkan mereka semua. Apa yang dikatakan oleh profesor Ahmad dapat dengan jelas didengar oleh Rendy dan yang lainnya yang sedang tidak bersama dengan mereka saat itu. Meski tidak menyukai fakta tersebut, mereka memang tidak bisa berbuat banyak akan hal tersebut. Chapter 499 - Surganya Malam Beberapa saat kemudian, Yogi dan Karin yang menyamar sebagai pengunjung Bar tersebut tiba dengan gaya mereka yang terlihat santai dengan Yogi yang memakai kemeja bermotif polkadot kecil berwarna putih dan ditambahkan dengan jacket levis berwarna biru dan kacamata hitam. Celana Jeans berwarna hitam dengan tali pinggang berwarna coklat serta sepatu pantofel hitam menambah kesan kalau dia adalah pengunjung setia tempat tersebut. Sedangkan untuk Karin, dia memakai mini dres yang ditambahkan dengan hotpants berwarna hitam sepaha membuatnya terlihat cukup seksi. "Mereka berdua sudah tiba." Ucap Elvian memanggil Alisya yang sedang memeriksa data yang lainnya. "Sepertinya ada sedikit kendala melihat dari cara mereka berbicara." Alisya melihat ekspresi para penjaga yang seolah mengetahui bahwa kedua orang tersebut sedikit asing bagi mereka. "Maaf, tunjukan identitas kalian ketika memasuki tempat ini. Sepertinya kami baru pertama kali melihat kalian di sekitar sini." Salah satu penjaga bersikap seolah mengetahui mereka yang bukan merupakan pelanggan tetap mereka. "Kami memang baru mengunjungi tempat ini beberapa waktu lalu dan jarang kemari karena sibuk terhadap beberapa hal, tapi itu bukan berarti kalau kau bisa menghentikanku dengan sangat tidak sopan seperti ini." Terang Yogi dengan suara tegas dan terdengar kesal. "Maaf, tapi peraturan tetaplah peraturan, kami hanya menjalankan peraturan yang ada disini. Jika kalian tidak bisa menunjukkan kartu identitas tersebut, maka kalian tidak bisa masuk ke dalam tempat ini." Bantah salah seorang penjaga yang lainnya. "Kau tau kalau apa yang kau lakukan saat ini ada sebuah kesalahan?" Tatap Yogi dengan sangat tajam. "Saya akan bersedia menanggung kesalahan tersebut." Ucap sang penjaga dengan penuh keyakinan. "Huffft sayang buat apa kamu berdebat terus, berikan kartumu padanya dan berikan pelajaran yang setimpal kepadanya. Aku sudah bosan menunggu di sini, kapan kita akan masuk?" Suara Karin yang merajuk terdengar sangat manja dan seksi. "Sabar sayang, aku akan segera buat mereka menyesal karena sudah bersikap tidak sopan padaku." Terang Yogi menatap dengan sangat tajam. Kartu identitas yang di maksudkan oleh mereka bukanlah KTP untuk mengkonfirmasi identitas mereka, melainkan kartu member yang dapat membuktikan bahwa Yogi memang benar adalah pelanggan tetap yang ada pada wilayah mereka. Kartu tersebut adalah kartu khusus yang hanya diberikan oleh beberapa orang yang bisa dikatakan sebagai tamu penting mereka dengan beberapa tingkatan kode yang diberikan pada kartu tersebut. "Apa dengan ini kalian bisa percaya?" Terang Yogi mengeluarkan kartu member Gold bergambar serigala hitam yang langsung membuat mereka semua tertunduk takut. Serigala hitam merupakan kode organisasi yang diberikan oleh Ryu sebagai bagian dari anggota elit Yakuza. "Maaf atas kelancangan kami semua, kami memang berhak mendapatkan hukuman atas keteledoran kami." Mereka segera menunduk dengan cepat meminta maaf. "Bukkkk bukkkk bukkk¡­" Yogi menghantam mereka dengan begitu bengis. "Sayang, kau sudah cukup mengotori tanganmu. Sebaiknya kita masuk saja dan tidak usah memperdulikan mereka." Panggil Karin agar mereka segera masuk ke dalam Bar. Jika mereka terus berada di sana tentu akan sangat membuat mereka berada dalam keadaan yang genting karena mungkin saja akan ada salah seorang dari tamu yang datang mengenali Yogi yang notabene nya adalah sekertaris Adith yang sangat terkenal. Akan tetapi apa yang dilakukan oleh Yogi adalah suatu keharusan. Hal tersebut dikarenakan siapapun yang memasuki tempat itu adalah orang-orang yang memiliki tempramen buruk dan jika Yogi hanya akan membiarkan mereka begitu saja tanpa melakukan sesuatu, maka mereka akan curiga. "Kartu yang diberikan oleh Ryu ternyata pada akhirnya harus mereka gunakan untuk bisa memasuki tempat tersebut. Tak ku sangka kalau kartu elite tersebut dapat diketahui oleh mereka. Itu artinya beberapa dari bawahan Ryu merupakan salah satu pengunjung tempat tersebut." Gumam Alisya sembari terus memperhatikan mereka dengan sangat serius. Yogi dan Karin segera masuk kedalam Bar dengan Yogi yang merangkul pinggang Karin dengan begitu erat. "Bbzzzttt" sebuah alat komunikasi yang terpasang di kedua telinga Yogi dan Karin tiba-tiba terputus. "Sepertinya di pintu masuk itu terdapat sebuah medan energi yang akan secara otomatis merusak alat komunikasi yang digunakan oleh para tamu." Jelas Yogi langsung ketika merasa alat komunikasi tiba-tiba terputus. Karin segera memeriksa alat komunikasi yang digunakannya dan tepat seperti yang dikatakan oleh Yogi, alat komunikasi mereka memang benar-benar terputus namun bukan berarti alat komunikasi tersebut mengalami rusak permanen. "Itu artinya tempat ini benar-benar sengaja membuat tamu-tamunya untuk tidak melakukan kontak dengan dunia luar. Ini seperti sebuah perangkap bagi kita." Ucap Karin sembari terus masuk kedalam Bar. "Tuan, silahkan ikut saya ke arah sini." Panggil salah seorang pelayan Bar menuju sebuah ruang dimana disana terdapat satu rak bir mewah yang berjejer dengan begitu rapinya. "Silahkan tuan!" Tunjuk pelayan tersebut kepada Yogi dan Karin. Yogi dan Karin tak menyangka kalau mereka akan dibawa ke tempat tersebut dimana mereka ditunjukkan sebuah rak bir yang sangat besar dan mewah. Keduanya kebingungan namun mencoba untuk bersikap santai. Yogi dengan segera melakukan pengamatan pada tempat tersebut dan tak ingin membuang-buang waktu agar tidak membuat curiga pelayan yang sedang berada di sebelahnya. "Sekarang persiapkan dirimu karena kau akan melihat syurga yang sebenarnya. Apa kau sudah siap?" Tanya Yogi memberi kode kepada Karin untuk dia segera mengulur sedikit waktu untuknya. Disaat Karin sedang mencoba menaik turunkan nafasnya, Karin terus melirik ke wajah Yogi untuk memastikan jika dia sudah mendapatkan solusinya, dan ketika melihat senyuman Yogi pada tarikan nafas kedua, dia mempercepat tarikan nafasnya yang ketiga. "Oke aku sudah siap! Aku sudah tidak sabar untuk menantikan saat ini." Terang Karin yang langsung membuat pelayan tersebut tertawa pelan. "Silahkan masuk tuan!" Ucapnya sekali lagi yang langsung menguatkan dugaan Yogi. Yogi segera memegang sebuah botol bir yang terlihat mewah dan menundukkannya serta memutarnya. Sebuah pintu segera terbuka dengan sangat lebar. Ketika mereka masuk di dalam Bar tersebut, Yogi dan Karin segera membelalakan matanya melihat semua pemandangan yang tak biasa tersebut. Dugaan Yogi mengenai surga yang sebenarnya ternyata sangat tepat untuk menggambarkan sisi gelap dari Bar yang sedang mereka masuki tersebut. Tempat itu tidak seperti yang mereka bayangkan dimana Jati dan Rinto tidak mengetahui mengenai keberadaan ruang itu sehingga tidak ada kamera pengintai yang dapat mereka letakkan disana. "Harus aku akui, apa yang kamu katakan benar-benar menggambarkan jati diri tempat ini." Karin sedikit memalingkan wajahnya ketika melihat situasi yang ada di dalam Bar tersebut. Bagi mereka yang menyukai dunia malam yang penuh dengan kegelapan dan maksiat, tempat itu adalah surganya malam. Chapter 500 - Batang Hidup Terputusnya komunikasi Yogi dan Karin dari tempat Alisya membuat Elvian sedikit panik. Dia tidak menyangka kalau hal tersebut dapat terjadi, beruntunglah Yogi memakai kamera yang ia sematkan pada bajunya. Karena berbentuk seperti kancing, maka hal tersebut tidak diketahui oleh mereka. "Bagaimana, apakah alat komunikasi mereka sudah bisa digunakan?" Tanya Alisya kepada Elvian yang masih terus mencari cara agar bisa terhubung dengan mereka. "Nihil, kita hanya bisa bergantung pada kamera yang ada pada kancing baju Yogi dan Anting milik Karin." Elvian segera memfokuskan gambar dari yang mereka dapatkan di kedua kamera yang terdapat pada Karin dan Yogi. Elvian butuh waktu untuk mendapatkan gambar yang bagus dari kamera yang mereka gunakan karena tempat itu dipenuhi dengan asap dan juga tampak gelap dan remang. Elvian berusaha mengatur fokus dari kamera tersebut agar bisa berfungsi dengan baik. "Tidak masalah, setidaknya kita masih bisa memantau keadaan mereka." Alisya kembali terduduk di sebelah Elvian dan membantunya mengendalikan monitor. "Kapten, bagaimana anda tahu kalau botol yang harus di tarik Yogi adalah botol bir yang berada di sebelah kirinya pada ral ketiga botol ke lima?" Tanya Elvian penasaran saat Alisya juga ternyata menemukan maksud tersembunyi dari pelayan tersebut saat mempersilahkan Yogi. "Benar, aku bahkan tidak menemukan sesuatu yang aneh dengan tampilan deretan botol bir tersebut." Ucap profesor Ahmad juga sama penasarannya dengan Elvian. "Itu karena orang yang datang sebelum mereka sepertinya tidak sengaja memberikan sedikit bekas goresan pada bagian dinding botolnya karena menggunakan cincin. Jika kalian lihat dengan lebih jeli, goresan pendek itu dapat terlihat pada bagian leher botol tersebut. Selain itu, jika dilihat dari posisi botolnya kalian akan melihat bagian bawah botol yang tampak sering mengalami pergeseran." Jelas Alisya sambil terus melakukan perbaikan pada fokus kamera yang ada pada Karin. Elvian dan profesor Ahmad saling berpandangan dan menatap kagum kepada Alisya. Meski dia tidak melihatnya secara langsung, hanya dengan berdasarkan pada kamera kecil pada baju Yogi sudah dapat dengan mudah membuat Alisya melihat hal sekecil itu dengan sangat sedetail. Begitu mendapatkan hasil gambar yang cukup jelas, Alisya dan Elvian tersenyum puas. Akan tetapi, ekspresi mereka tiba-tiba berubah saat menemukan fakta bahwa tempat itu dipenuhi oleh wanita-wanita yang tampak bertelanjang bulat tak memakai sehelai kain pun sedang berjoget joget dengan sakau. "Apa sebaiknya kita keluar saja dari tempat ini?" Yogi menarik Karin dan membawanya menuju sudut ruangan. "Tidak, karena kita sudah berada disini. Sebaiknya tetap kita teruskan. Aku akan berusaha menahannya sebisa mungkin, kita tidak bisa mundur lagi." Karin berusaha menarik nafas dengan kuat agar ia bisa menahan semua yang ia lihat. Setelah melihat keyakinan di mata Karin, Yogi akhirnya mengangguk paham dan menggandeng tangan Karin untuk menguatkannya. Mereka berdua melangkah sekali lagi melihat ke dalam ruangan tersebut, disana terlihat para wanita itu terus bergoyang dengan begitu seksinya dan beberapa lainnya juga menari diatas tubuh para pria. Selain itu asap yang ada di sekitar ruangan tersebut tampaknya memiliki efek candu bagi mereka yang menghirupnya. Sebuah tangan dengan hangat menutup mata Karin dan membawanya kepelukannya. Karin terkejut dengan apa yang terjadi namun ketika mendengar suara lembut dan hangatnya membuat Karin segera tenang. "Aku tau ini sangat penting untuk kita semua, tapi kau tak perlu untuk memaksakan diri seperti itu. Kau bisa pulang sekarang juga, aku bisa membuatmu keluar dari sini dengan aman." Ucap Ryu membalikkan tubuh Karin dan menempatkan dirinya tepat di hadapan Karin. Karin menggeleng pelan karena merasa dia bisa melakukan hal tersebut. Saat Ryu sedang berunding dengan Karin, Yogi sudah membelalakan matanya dengan sangat lebar serta berusaha menahan tawanya saat melihat Adith dan Rendy berpakaian seperti seorang wanita. "Hahah¡­" Yogi yang sudah ingin tertawa dengan sangat lepas tiba-tiba langsung dibungkam dengan sangat kuat oleh Adith karena kesal. Bukan hanya Yogi, Elvian dan Profesor Ahmad serta Alisya pun sudah ingin meledak karena tawa tapi mereka berusaha untuk menahannya karena tak ingin merusak rencana mereka. "Oke, sekarang apa yang sedang terjadi? Sepertinya kalian sedang bersenang-senang tanpa kami." Rinto yang masih berada di dalam ruang mesin bar tersebut merasa cukup penasaran dengan apa yang sedang terjadi. "Tak perlu khawatir, aku akan membuatkan sebuah rekaman yang dapat kalian semua lihat." Seru Alisya dengan tersenyum licik membuat Elvian dan profesor Ahmad saling berpandangan dengan heran. Yogi yang sudah setengah menangis menahan tawa karena melihat otot kekar dua orang pria yang mengenakan pakaian dress panjang tersebut serta make up tebal layaknya seorang wanita itu tidak bisa melepaskan apa yang dirasakannya karena Adith menyumpalnya dengan sangat kuat. Tepat saat itu, beberapa tamu lain masuk yang dengan sangat cepat ekspresi mereka semua berubah dengan sangat drastis. Yogi segera merangkul pinggang kedua wanita jadi-jadian di sampingnya tersebut dengan begitu sensual, sedangkan Ryu untuk menyembunyikan wajah Karin dia segera mencium bibir Karin dengan begitu kuat. Mereka bersikap seolah sedang menikmati tempat itu dengan begitu sakau sehingga tak menimbulkan curiga pada mereka semua. "Wow¡­ sepertinya selera anda tidak buruk. Meski mereka terlihat kekar dan begitu padat, keseksian mereka tidak bisa disembunyikan oleh gaun tersebut." Seru seorang lelaki yang baru saja masuk tersebut. "Ptasss¡­" tepis Adith pada tangan pria tersebut yang sudah merabanya di bagian bokongnya. "Hati-hati dengan tanganmu tuan, dia tidak seperti wanita-wanita yang selama ini berada dalam pandanganmu." Ucap Yogi mengingatkan dengan terus mengeraskan rahangnya menahan tawa. Tidak bisa di pungkiri dan harus diakui oleh Yogi, kalau Adith dan Rendy tampak sangat cantik dan mempesona malam itu. Ia memuji kerja keras istrinya untuk bisa mendandani mereka berdua dengan sangat baik. "Kau tau, laki-laki memiliki satu batang yang hidup dan sangat berbahaya. Dan kau harus hati-hati dengan tipe batang hidup milik pria yang satu ini." Suara Adith yang ia buat dengan cukup nyaring membuat tubuh Yogi bergetar dengan hebat. "Tenang saja, aku bisa melihat itu dengan sangat jelas." Rendy segera membuang wajahnya yang sekali lagi membuat Yogi mencubit dirinya sendiri dengan kuat untuk menyadarkan diri. "Pufttt hahahahahah, kalian sangat menarik. Semakin kalian menolak dan memberontak, semakin aku menginginkan kalian. Tapi sepertinya aku harus permisi, aku harap kita bisa bertemu lagi lain kali." Melihat pria itu pergi, Adith dengan segera menempelkan sebuah alat pada bagian bajunya. Alat itu menempel dengan sangat baik pada bajunya dan dapat berkamuflase mengikuti warna baju pria tersebut. Chapter 501 - Media Masa Adith dan yang lainnya telah kembali ke ruang basement dan berkumpul dengan yang lainnya. Jati dan Rinto serta Aurelia juga sudah berada di tempat tersebut. Mereka terdiam sembari terus memandang ke arah handphone mereka dimana Yogi telah berhasil mengirimkan foto Adith yang sedang berpose dengan berbagai gaya seksi saat memakai pakaian wanita yang cukup seksi. "Pufftt¡­" Yogi yang masih terlihat berusaha menahan tawanya ketika mengingat apa yang terjadi sebelumnya menjadi sakit kepala dengan wajah yang memerah kelam. "Tidak usah menahan diri, kepala dan leher kalian akan sakit jika menahannya." Ucap Adith dengan santai sembari memandang Alisya juga yang menahan senyumnya sebisa mungkin. "Ah.. Aku tidak tahan lagi, bagaimana mungkin kalian merekam hal ini. Apa yang harus aku lakukan dengan rekaman ini jika di lihat oleh perempuan lain suatu saat nanti?" keluh Rendy dengan memijit kepalanya karena tak menyangka kalau bukti penyamaran spektakuernya direkam oleh Alisya. Mendengar apa yang dikatakan oleh Rendy membuat mereka semua tertawa dengan terbahak-bahak. Aurelia dan Karin serta Alisya dan yang lainnya pun tak dapat menahan tawa mereka. Begitupula dengan professor Ahmad yang memilih untuk melepaskannya karena sudah merasakan tekanan yang cukup kuat di perutnya. "Melihat kalian sangat menikmatinya, berarti tidak sia-sia aku berarti tidak sia-sia aku menyamar seperti itu. Tadi cukup menyenangkan, tapi pada akhirnya kita tidak berhasil mendapatkan apa-apa disana." Jelas Adith merasa Bahagia ketika melihat Alisya tertawa dengan begitu lepas setelah sekian lama. Mereka berusaha menenangkan diri setelah melihat foto dan rekaman tersebut. Mereka mengingat misi mereka yang gagal kali ini namun mendapatkan cukup banyak hal untuk bersenang-senang dan mereka tidak menyesali hal tersebut. "Kami hanya menemukan kalau disana mereka melakukan perdagangan narkoba secara bebas dengan jumlah yang banyak. Jenis narkoba yang mereka gunakan juga adalah jenis yang memiliki efek sakau yang sangat tinggi dan tentu saja kalian sudah melihat apa yang di lakukan oleh wanita-wanita disana bukan?" tanya Jati kepada mereka semua yang sudah menyaksikan apa yang sudah terjadi. "Ya, wanita disana terlihat bergerak dengan tak terkendali. Pikiran mereka seolah menghilang dan hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja. Mereka berdansa dengan Gerakan yang benar-benar seolah sedang berada di dimensi yang berbeda." Ucap Karin masih merinding ketika mengingat semua hal sebelumnya. "Apa yang kalian lihat belum seberapa, karena sebenarnya selain menjadi hiburan para laki-laki hidung belang yang masuk kedalam Bar tersebut, mereka juga mengadakan pesta seks dengan berbagai gender dalam satu tempat yang sama. Entah itu berlawanan jenis, maupun sesama jenis." Jelas Rinto merasa mual ketika mengingat apa yang tidak sengaja mereka dapatkan. "Negara ini semakin busuk dan kacau saja dari dalam. Bagaimana mungkin hal ini tidak tercium oleh pemerintah dan dibiarkan bebas untuk melakukannya. Apa hukum di negara ini sudah tidak berlaku lagi sampai semua hal ini seolah di anggap biasa oleh sebagian orang." Ucap Aurelia dengan suara yang terdengar miris mengingat dirinya juga yang merupakan seorang perempuan. "Fakta yang mengejutkan adalah semua wanita yang masuk kedalam tempat itu bukanlah karena penjual belian wanita atau hal lainnya yang secara paksa, melainkan secara suka rela. Baik untuk mendapatkan uang, kesenangan, ataupun juga untuk membayar utang keluarganya." Ryu memberikan data hasil curiannya yang sempat ia dapatkan sewaktu berada dalam pertemuan mereka. "Hal tersebutlah yang membuat pekerjaan mereka tampak bersih, selain karena hal tersebut mendatangkan semua orang secara suka rela kemudian terjebak dalam kesenangan tersebut, mereka juga tidak punya pilihan lain demi menyelamatkan keluarga mereka. Pilihan berat tersebut pada akhirnya juga telah membuat mereka terlena dengan semua kesenangan itu." Jelas Alisya yang bisa melihat beberapa dari mereka masih terbilang belia namun seolah tampak menikmati kegiatan yang sedang mereka lakukan. "Bukan hanya gagal dalam mendapatkan informasi mengenai Black Falcon, kita juga tidak bisa berbuat banyak meski sudah mengetahui semua hal yang terjadi di dalam sana." Rafli mengepalkan tangannya mengingat semua hal yang terjadi disana. "Aku merasa berat menerima kenyataan kalau kita hanya terdiam saja setelah menyaksiakan semua itu. Bagaimana jika suatu saat nanti orang-orang yang kita sayangi akan terjebak didalam sana meski karena keinginan mereka sendiri dan terlihat mabuk dengan segala kesenangan itu, apa kita juga akan berdiam diri seperti ini?" Rinto menunjukkan pertanyaanya kepada mereka semua dengan menunduk dalam memikirkan banyak kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi di kemudian hari. "Untuk masalah itu, kalian tidak perlu khawatir sebab aku sudah mengirimkan data kepada kepolisian pusat mengenai semua hal yang terjadi disana, tentu saja dengan meretas system keamanan mereka. Kita bisa menyerahkan hal tersebut kepada mereka semua." Tegas Adith dengan tersenyum sembari menampilkan Azura yang sudah hampir mencapai angka 95 % untuk pemasukan data. Mereka semua tercengang dengan cara kerja Adith yang begitu cepat. Dia seolah-olah tak punya pilihan dan bersikap tenang namun tenyata dia sudah berhasil menemukan solusi dengan caranya sendiri. Tentu saja hal tersebut hanya bisa dilakukan oleh Adith sendiri, selain karena dia dapat dengan mudah untuk meretas masuk, dia juga bisa pergi dengan mudah tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. "Kau memang selalu menakutkan. Dengan sifat tenang kalian berdua itu." Tatap Yogi kepada Adith dan Alisya secara bergantian. Mendengar apa yang dikatakan oleh Yogi, membuat Karin dengan cepat menoleh kepada Alisya dengan pandangan menyelidik. Dia yakin kalau Alisya juga sudah melakukan sesuatu dengan sikap tenangnya tersebut mengingat kalau dia adalah tipe orang yang tidak akan tinggal diam melihat hal seperti itu. "Tenang saja, kita hanya perlu menunggu apa yang akan terjadi nanti. Mari berharap kalau negara ini masih memiliki hati Nurani ketika melihat semua ini dengan tak memandang siapa orang-orang yang sudah berada disana, karena jika tidak maka serangan berikutnya akan kita lancarkan kembali. Dan kalian tentu tau apa yang paling menakutkan dari hukum yang terkadang hanya diam melihat semua ini." Pancing Alisya kepada mereka semua dengan tersenyum licik. "Media masa!" jawab mereka kompak dengan mata yang membelalak. "Jadi karena itu kau menyuruhku untuk membuat sejenis virus komputer yang akan menyebar secara langsung ketika mereka semua mengakses alamat yang satu ini?" tatap Elvian kepada Alisya yang sudah menyelesaikan pekerjaannya tepat ketika mereka masih terus sibuk satu sama lain dalam berdiskusi. "Itulah kenapa aku menyukaimu, kau selalu saja membuatku takjub." Peluk Adith pada Alisya dengan mesrah. "Begitu pula dengan dirimu!" balas Alisya dengan tersenyum manja yang membuat semua orang di sana bergidik ngery dengan kemampuan yang dimiliki keduanya. Chapter 502 - Aku Hanya Takut Berkat apa yang dilakukan oleh Adith dan Alisya, mereka semua menjadi sedikit lebih tenang. Akan tetapi pikiran mereka terhadap masa depan yang akan di huni oleh keturunan mereka membuat mereka sedikit khawatir terhadap perkembangan zaman yang semakin menggila tanpa disadari oleh banyak orang. Karin membuka jendela mobilnya dan merasakan udara segar malam itu menyeruak masuk kedalam mobil dan menerpa wajahnya dengan sangat lembut. Pikirannya masih tidak tenang dan tubuhnya masih terus bergidik nyeri setiap kali dia mengingat apa yang baru saja dilihatnya. "Apa kau masih memikirkan kejadian sebelumnya?" tanya Ryu yang mengemudikan mobil dengan sedikit lebih pelan dari biasanya untuk membuat Karin nyaman. Karin membanting tubuhnya pada kursi dengan tangan masih meraba hembusan angin. Pandangannya kosong jauh menembus jalan yang ramai dengan segala kebisingan dan kerlap-kerlip lampu dimalam hari. "Aku hanya takut. Takut memikirkan bagaimana kerasnya dunia yang akan dihadapi oleh anak dan generai kita nantinya jika kehidupan saat ini saja tampak begitu kotor dan busuk. Aku takut mereka bisa terjebak pada jalan yang salah tanpa mereka sadari seperti apa yang baru saja kita saksikan tadi." Ryu bisa melihat betapa besarnya kekhawatiran Karin dari suaranya yang bergetar dan ekspresinya jelas gusar akan hal yang baru saja dikatakannya. "Sama seperti halnya kita saat ini, aku yakin jika mereka juga bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk bagi mereka selama kita tetap mendampingi mereka dan tersu menuntun mereka. Dunia memang takkan pernah lepas dengan segala jenis hitamnya kehidupan, namun bukan berarti krisis moral akan terjadi dimana-mana." Ryu mencoba untuk menenangkan Karin dengan menggenggam erat tangannya. "Manusia adalah makhluk paling cerdas yang dapat menemukan berbagai hal dan cara untuk dapat bertahan hidup. Apa yang kamu lihat memang hanyalah sebagian kecil gelapnya dunia ini, namun tak perlu khawatir karena diantara mereka semua tentu akan ada satu yang sadar dan menyelamatkannya." Ucap Karin menenangkan Karin sekali lagi. Mendengar apa yang dikatakan oleh Ryu, Karin tersenyum dengan hangat. Ia hampir lupa kalau satu dari yang dimaksudkan oleh Ryu adalah mereka sebagai contoh kecilnya. Perlahan tapi pasti, sesuatu hal baik tentu akan datang menyelamatkan beberapa orang yang memeinta untuk keluar dari kegelapan. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Karin saat ini. Bahkan aku yang tak menyaksikan secara langsung apa yang telah terjadi masih merasa tidak nyaman dan tubuhku terus saja bergidik ngery, apalagi dirinya yang melihat semua hal tersebut dengan kedua matanya." Ucap Aurelia menatap ke arah Yogi yang sedang duduk bersamanya merangkulnya dengan hangat di kursi sofa. "Kau benar, aku sempat merasa khawatir saat melihatnya begitu takut dan pucat ketika melihat semua itu. Akan tetapi dia jauh lebih kuat dari yang kau khawatirkan, karena dia mampu mengendalikan dirinya dengan sangat baik. Mereka semua sudah terlatih dengan sangat baik sehingga mereka lebih Tangguh dari yang kita bayangkan." Yogi membelai lembut rambut Aurelia untuk menenangkannya. "Aku merasa takjub pada Alisya. Dibandingkan dengan Karin, dialah yang selama ini paling menderita. Dia sudah melewati berbagai hal yang sangat mengerikan didunia ini. Alisya sangat luar biasa, tapi mengingat semua hal yang sudah dilaluinya membuat aku merasa sakit dan perih." Tak terasa air mata Aurelia mengalir mengingat seperti apa yang sudah dilalui oleh Alisya selama ini. "Kau benar, dia adalah wanita Tangguh yang belum pernah aku temui selama ini. Bahkan aku sangat menghormatinya karena hal tersebut. Tapi diatas semua itu, aku bersyukur karena sudah dipertemukan dengan orang-orang seperti mereka." Ucap Yogi sekali lagi dengan mengambilkan tisu untuk diberikan kepada Aurelia. "Dan kau tau, apa yang membuat semua orang bertahan dengan semua hal yang telah dilaluinya adalah memiliki orang-orang yang bisa terus mendukung mereka dan mencintai mereka. Seperti kamu yang saat ini menangis karena rasa cintamu kepada mereka berdua bukan?" tatap Adith ke wajah Aurelia yang terlihat memerah dan sembab. Aurelia mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Yogi dan mengangguk pelan. Karena terus memikirkan perempuan-perempuan yang terjebak di dalam Bar sebelumnya, hati Rinto tak tenang sehingga dia yang sudah berjalan menuju jalan pulang kerumahnya segera memutar balik mobilnya menuju ke tempat ibu yani di rawat. Berharap untuk dapat melihat Yani di sana dan memastikan keadaan mereka semua. "Yani¡­ kau tau kan, mama tak ingin hanya karena mama kamu jadi mengahambat dirimu untuk bisa membuka diri kepada pria yang menghampirimu. Mama tau kau suka kan dengan pria kemarin?" tanya ibunya kepada Yani yang sedang menyiapkan obat untuk ibunya. Rinto sejenak berhenti mendengar apa yang dikatakan oleh ibu Yani. Dia tidak tahu pria mana yang dimaksudkan oleh ibu Yani, tapi akan kurang nyaman baginya untuk masuk sekarang disaat mereka tampaknya sedang membicarakan sesuatu yang cukup serius. Karena sudah melihat dan mendengar suara Yani, Rinto merasa sebaiknya ia pergi dari sana dan meletakkan parsel buah yang ia bawa di depan pintu masuk. "Dia manager Yani ma, bagi dia Yani hanyalah seorang karyawannya. Perhatian yang ia berikan itu adalah perhatian seorang teman kepada temannya, tidak lebih. Jadi mama tidak usah salah paham dengan sikap dia seperti itu, sebab dia memang bersikap seperti itu kepada siapapun terlepas dia wanita atau tidak." Jawab yani dengan suara lembut yang langsung membuat Rinto kaget ketika mendengarnya. Rinto tak menyangka kalau laki-laki yang sedang mereka bicarakan adalah dirinya sendiri. Dia yang sebelumnya sudah ingin pulang dengan segera menempelkan tubuhnya kedinding dan bersembunyi. "Tapi yang mama lihat tidak seperti itu, mama lihat dia menaruh simpatik sama kamu kok. Kamu hanya sedang mencari alasan karena mama kan? Mama yang sakit seperti ini tentu membuat kamu tak ingin terikat dengan pria lain karena kamu takut kalau kita akan membebani hidup mereka bukan?" perkataan ibunya segera membuat Yani sejenak terhenti. Apa yang dikatakan ibunya mengenainya dengan sangat telak sehingga Yani seolah kehilangan kata-kata. "Mama tanya sama kamu, apa kamu tidak suka dengan manager kamu siapa sih Namanya Ri.. Rinto?" tanya ibu Yani setelah berusaha mengingat nama Rinto. Yani terdiam sejenak dan hanya tersenyum memberikan obat kepada ibunya dan membuat ibunya minum obat tersebut. "Yani¡­ Jawab dong.." desak ibunya sekali lagi. "Huffftt.. Iya ma, Yani suka sama pak Rinto. Tapi itu tidak akan mengubah apapun. Pak Rinto sudah memiliki orang yang dia sukai, dan sampai sekarang dia masih seperti itu." Jawab Yani pasrah dengan desakan ibunya padanya. Chapter 503 - Mencintai Dalam Diam Rinto terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Yani, dia tidak menyangka kalau Yani bisa memiliki perasaan padanya. Ia mengira kalau apa yang dilakukan Yani padanya selama ini hanyalah sekadar bentuk perhatian seadanya saja tanpa perasaan lebih. "Dari mana kau mendengar itu? Apa kau sudah mendengar secara langsung dari Rinto sendiri?" Tanya Ibunya memastikan apa yang dimaksudkan olehnya. "Ummm.. Yani memang tidak mendengarnya secara langsung darinya, tapi selama ini semua orang berkata seperti itu." Terang Yani kembali meletakkan gelas yang diberikan ibunya setelah meminum obat. "Kenapa kau mempercayai apa yang dikatakan orang lain? Dan bisa saja apa yang kamu dengarkan itu tidak benarkan. Selain itu, apa Rinto mengetahui perasaanmu terhadapnya?" Ibu Yani semakin penasaran dengan hubungan keduanya. "Emm¡­ sebenarnya Yani tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain." Ucap Yani singkat sembari tertawa pelan. "Sikap dia yang selalu dingin kepada semua wanita itu sudah cukup menjelaskannya kok Ma, dan soal perasaan ku padanya biarlah tetap bersamaku saja. Rasanya malu sekali jika kau harus mencintai seorang pria terlebih dahulu dengan pria yang malah mencintai wanita lain." Jelas Yani membereskan beberapa barang yang tampak berantakan di sekitarnya. "Lagi pula, mencintai dalam diam dan mendoakan yang terbaik untuknya rasanya lebih nyaman untuk ku. Mama tidak perlu khawatir soal diriku, jika Allah swt memang menakdirkan kita untuk bersama maka itu adalah satu hal yang takkan pernah bisa aku tolak bahkan jika aku mau." Senyum Yani segera membuat ibunya kembali merebahkan diri untuk beristirahat. "Tapi mama berharap kalau kalian berdua berjodoh, mama sangat suka dengan Rinto. Dia sepertinya anak yang baik dan sangat sopan juga santun. Dia sangat tau bagaimana cara memperlakukan wanita." Ibu Yani merebah dan menarik selimutnya sembari mengungkapkan pikirannya kepada Yani. "Terima kasih banyak Ma... Jika dia mendengar mama sekarang pasti kepalanya sangat besar karena pujian mama." Terang Yani membenarkan posisi selimut ibunya. "Tidurlah, jangan terlalu banyak memikirkan hal lain lagi." Lanjutnya lagi memukul ibunya dengan sedikit gemas. Setelah mematikan lampunya, Yani tampak menuju ke luar ruangan yang langsung dengan cepat membuat Rinto segera melarikan diri dengan bersembunyi di sebelah dinding yang lain. "Hufffft¡­ apa yang harus aku lakukan sekarang, kalau mama sudah tau tentang ini maka dia pasti tidak akan berhenti untuk menanyakan pak Rinto. Kenapa kau harus muncul kemarin jika hanya untuk mampir dan membuat mereka berharap." Yani menempelkan kepalanya di pintu dengan raut wajah yang sarat akan kesedihan. Dia kemudian berjalan dengan gontai dan tak melihat parsel buah yang berada di bawah kakinya. Dia menuju ke mesin penjual minuman dan membeli sekaleng minuman kopi lalu duduk meminumnya di tempat yang sedikit gelap. "Setelah mendengar ini semua, aku tak tahu bagaimana harus menghadapi mu. Rasanya semua ini tak terduga dan sulit bagiku untuk mencernanya." Tatap Rinto pada Yani yang sudah mulai berdiri di pagar rumah Sakit dan menatap jauh memandang langit malam itu. Melihat dari jauh air mata Yani yang jatuh membasahi pipinya membuat Rinto sangat ingin menghampirinya tapi langkahnya terhenti dengan cepat. "Apa yang akan kau lakukan jika sudah kesana? Apa kau ingin menghapus air matanya? Jika memang seperti itu, selanjutnya apa? Apa yang bisa kau lakukan untuknya?" Rinto terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dia yang tidak mendapatkan jawaban apapun atas pertanyaanya sendiri pada akhirnya memilih pergi dan tak melakukan apapun. Dia melangkah dengan begitu cepat dan begitu sampai pada mobilnya yang terparkir, Rinto langsung menendang ban mobilnya dengan sangat kuat. "Aku masih terlalu lemah untuk semua ini, hatiku terlalu pengecut untuk memulai yang baru. Aku tak menyangka kalau aku sampai sepengecut ini, dan¡­." Rinto tenggelam dalam pikirannya sendiri tanpa memperdulikan mobilnya yang terus berbunyi karena tendangan yang dilakukannya. Setelah cukup tenang, dia mematikan alaram mobilnya lalu kemudian bergegas pergi dan membelah malam dengan sangat kencang. Rinto menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu takut untuk menerima kenyataan. Yani kembali ke ruangan ibunya setelah selesai menghabiskan minumannya. Dia terkejut saat melihat parsel buah yang berada di depan pintu ruang tersebut. "Ini.. kenapa bisa ada disini?" Yani mengangkat parsel tersebut dengan wajah kebingungan. Tidak pernah hal tersebut terjadi sebelumnya, apalagi melihat parsel tersebut tampak sedikit hancur dan lecet dengan beberapa buah tampak berhamburan di sekitarnya. Yani memungut buah tersebut satu persatu sembari menoleh ke kiri dan ke kanan menanyakan kepada suster yang sedang berjaga tak jauh dari mejanya. "Mbak, ini punya siapa yah? Kok bisa ada di pintu masuk ruangan ibu saya?" Tanya Yani penasaran kepada suster tersebut. "Oh itu tadi saya liat ada pemuda yang kemarin datang menemui ibumu, dia hanya meletakkan parsel itu di depan pintu kemudian setelah mengikuti mu ke balkon dia pergi." Jawab suster tersebut dengan ramah. "Mbak nggak salah lihat? Parsel ini beneran dia yang meletakkannya disana?" Tanya Yani ingin memastikannya sekali lagi. Yani tak mengira kalau Rinto ternyata datang berkunjung di waktu yang sudah cukup larut tersebut. "Iya mbak, saya yakin kalau dia pria yang kemarin." Jelasnya lagi dengan penuh keyakinan. Yani larut dalam pikirannya, jika dia benar sudah berada disana sebelumnya dan mengikutinya ke balkon setelah meletakkan parsel buah di depan pintu ruangan ibunya, itu berarti Rinto telah mendengar semua percakapannya dengan ibunya. "Tapi seingat saya, parsel itu tadi baik-baik saja, kenapa sekarang terlihat sangat hancur berantakan seperti itu?" Ucap sang suster saat melihat kondisi parsel buah yang di bawa oleh Rinto terlihat kacau dan hancur. Yani membelalak matanya mengingat mana mungkin parsel itu bisa hancur berantakan jika Rinto meletakkan parsel buah tersebut dengan baik di depan pintu. "Brakkkk" Yani berlari dengan sangat kencang menuju kamar ibunya. "Mbak¡­ mbak Yani, Ada apa???!" Teriak sang suster kebingungan dan langsung mengikutinya karena khawatir. Begitu masuk kedalam kamar ibunya dan menyalakan tempat tersebut, ia melihat ranjang ibunya telah kosong dan tempat dimana adiknya juga ikut tertidur juga kosong. Tempat itu sedikit berantakan seolah baru saja terjadi penggeledahan di sana. Sang suster segera menelpon keamanan untuk memberikan laporan dan Yani yang ingin keluar kamar tiba-tiba terhenti saat ia melihat sebuah surat tertempel di pintu ruangan tersebut. "Jika kau ingin Ibu dan Adikmu selamat, sebaiknya kau datang sendiri saja di tempat ini. Jika kau berbuat macam-macam, kau hanya akan melihat mayat keduanya." Itulah yang tertulis pada kertas tersebut yang langsung membuat Yani terduduk dengan lemas di lantai. Chapter 504 - Pesan di Balik Kertas Hati Yani hancur berkeping-keping melihat catatan kertas tersebut, dia segera menyembunyikan itu di dalam genggaman tangannya agar tidak terlihat oleh suster yang berada diruangan ibunya tersebut. Yani merasakan beban yang sangat berat pada dadanya yang dipenuhi dengan ketakutan akan kehilangan adik dan Ibunya. Orang yang terpikirkan olehnya saat itu adalah ayahnya yang mungkin saja terlibat dalam apa yang sedang terjadi. Tubuhnya bergetar hebat mengingat apa yang akan terjadi pada ibunya, ia memikirkan solusia lain mengenai apa yang harus ia lakukan dan dengan segera ia berdiri dari posisinya. "Ayumi¡­" Yani yang memikirkan orang yang dapat membantunya saat itu kembali terhenti saat ia menginta catatan dari kertas itu untuk datang sendiri. "Aku tidak punya pilihan lain, maafkan aku Ayumi." Yani menarik nafa dalam dengan air mata yang kembali terus mengalir dengan deras. "Mbak¡­ mbak mau kemana jam segini? Pihak rumah sakit sudah melakukan pelaporan pada polisi, sebentar lagi mereka akan datang. Mbak jangan kemana-mana dulu, setidaknya sampai polisi datang mbak." Sang suster segera menghentikan Yani yang akan beranjak pergi entah kemana. Yani tidak mendengarkan panggilan suster tersebut dan terus berlari. Melihat apa yang sedang dilakukan oleh Yani, suster itu sekali lagi langsung melakukan panggilan untuk melaporkan mengenai perginya Yani dari sana. Melihat beberapa perawat yang terlihat sedang melakukan penjagaan dengan ekspresi yang terlihat panik dan menanti di pintu lift rumah sakit, Yani segera berlari menuju ke tangga darurat dengan membuka alas kakinya agar langkahnya tak terdengar saat ia berlari kesana. Pintu lift yang terbuka memperlihatkan orang lain dan tidak terdapat Yani di dalamnya membuat mereka segera memeriksa di tangga darurat, namun Yani sudah selangkah lebih dahulu menjauh dari sana dan keluar dari gedung rumah sakit serta mengecoh satpam penjaga dengan memecahkan jendela posnya. Yani terus berlari menuju ke tempat yang di tunjukan oleh kertas tersebut. Dia tidak bisa menaiki taksi ataupun angkot karena semua kendaraan itu akan melewati jalan umum yang mungkin memiliki CCTV, dia harus menghindari sebisa mungkin area yang dapat membuatnya terlihat oleh kamera demi keselamatan ibunya. "Welcome¡­. Selamat datang, selamat datang!" orang yang menyambutnya tak diduga adalah Pria berjas yang malam lalu sudah mendapatkan tendangan berputar yang cukup keras dari Rinto. Melihat wajahnya yang tersenyum dengan begitu licik membuat amarah Yani sangat ingin meledak dengan kuat, namun ia berusaha menahan diri. "Tapi tak ku sangka kau akan setelat ini, bukankah aku sudah menuliskan untuk datang dalam waktu satu jam? Kau sudah menyia-nyiakan waktu ku dengan datang tiga jam setelahnya." Ucapnya dengan suara yang sangat angkuh. "Huhhh?" Yani dengan segera kembali memeriksa kertas yang terus digenggamnya sejak awal dan melihat bagian itu tidak terlihat ada tulisan yang ia maksudkan, namun ketika Yani membalik bagian belakangnya ternyata apa yang dia katakan benar tertulis di sana. "Ah¡­ Aku terlalu panik dengan pesan yang tertulis pada bagian depan kertas ini sampai aku tak memperhatikan bagian belakangnya. Aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk datang kemari dengan terus berlari, dan harus berhenti beberapa saat karena harus menarik nafas." Batin Yani menarik nafas dengan berat karena merasakan keteledorannya saat tidak mengetahui tulisan kertas yang berada di sisi sebaliknya. "Tapi melihat kau sudah berada di sini dengan bertelanjang kaki seperti itu, sepertinya kau memang benar-benar menuju kemari dengan secepat mungkin. Aku harus sedikit tersanjung dengan kegigihanmu tersebut, tapi kau tetap tidak membuatku senang akan hal itu." Ucapnya dengan melipat kakinya ke atas kaki kanannya dengan menyeruput rokoknya dan membuangnya dengan santai. "Tidak usah banyak basa-basi, katakan apa yang kau ingingkan sampai kau harus menculik adik dan ibuku?" tanya Yani dengan suara dingin dan tatapan tajam kepadanya. "Aku suka tatapan tajam mu itu, meskipun aku baru pertama kali melihatmu, tapi tatapan matamu itu terus terbayang di kepalaku. Tapi bukan hanya itu alasan utamaku menculik mereka berdua, karena seharusnya aku bisa saja hanya menculikmu untuk alasanku yang sebelumnya." Terangnya mulai berdiri dari tempatnya duduknya menghampiri Yani secara perlahan-lahan. "Ayahmu yang sudah mendapatkan uang yang aku berikan padanya ternyata semakin tergila-gila untuk berjudi, dan kau tau apa yang dia lakukan hanya dalam semalam?" tatap Pria itu dengan begitu menusuk membuat tubuh Yani merasakan aura dingin menjalar ke tubuhnya karena tatapan tersebut. Yani hanya terdiam dan tak ingin menyela karena merasa tidak nyaman jika mengeluarkan suara di hadapan pria itu terlebih karena jarak mereka yang cukup dekat. "Dia menghabiskan uang seratus juta dengan jaminan adikmu yang manis dan cantik ini. Karena kau sudah terlambat dan membuatku menunggu, inilah yang terjadi padanya." Pria itu menarik kepala adik Yani dengan menjambaknya dengan kasar. Yani benar-benar membelalakkan matanya, bukan hanya karena apa yang dikatakan olehnya mengenai ayahnya yang sudah menghabiskan banyak uang, melainkan karena dia juga sudah memperlakukan adiknya dengan sangat kasar. Yani merasakan emosi yang sangat tinggi karena hal tersebut, sehingga dia dengan segera ingin menyelamatkan adiknya. "Lepaskan dia.. Akhhh" Yani terdorong dengan sangat kuat hingga terjatuh ke tanah dengan cukup keras. "Ka¡­ Kakak yani¡­ Ka.. kakk Sakit¡­" Adik Yani terlihat sangat lemas dan tak berdaya membuat Yani merasa terkejut akan hal tersebut. Melihat adiknya yang terlihat sedikit aneh dengan suara dan eskpresi lemasnya membuat Yani mengerutkan keningnya. Seingat dia, adiknya tidak sedang dalam kondisi sakit atau dalam keadaan kondisi yang kurang baik, namun melihat dan mendengar suara adiknya Yani merasakan ada yang tidak beres dengan adiknya. "Apa yang sudah kau lakukan padanya? Aku takkan membiarkanmu jika sudah melakukan sesuatu padanya. Dimana ibuku, kau akan menyesal lebih banyak lagi jika melakukan hal yang lebih dari apa yang sudah kau lakukan pada adikku." Yani terbangun dari posisinya dengan susah payah dan kembali menatapnya dengan begitu penuh amarah. "hahahahah¡­ aku tak melakukan apapun pada adikmu, dia hanya bilang ingin minum dan akupun memberinya minuman itu. Soal ibumu, kau bisa lihat di sana." Tunjuknya pada suatu ruang berkaca yang berada disebelah kirinya dimana ibunya terbaring dengan lemas. Ia sengaja berbohong mengenai apa yang dilakukannya pada adiknya. "Awalnya aku hanya ingin menculik adikmu saja, tapi ibumu yang sudah tidak bisa terbangun dari tidurnya itu masih tetap berusaha untuk menyelamatkan adikmu. Dan karena dia bisa saja membuat rencanaku kacau, aku terpaksa membawanya." Lanjutnya lagi dengan terus tertawa. Selain memperlihatkan ibunya yang tampak lemah dan terlihat membutuhkan pertolongan secepatnya, Pria itu juga memperlihatkan ayahnya yang tampak kacau dan babak belur. Chapter 505 - Hubungi Pria Itu Yani tidak merasakan apapun ketika melihat Ayahnya yang tampak babak belur dengan wajah yang sudah tidak bisa dikenali lagi karena dipenuhi darah dan memar di seluruh wajahnya. Yani hanya memikirkan bagaimana cara untuk ia dapat menyelamatkan ibunya dan adiknya secepatnya. "Aku tak peduli dengan apa yang kau lakukan pada Ayahku, tapi lepaskan ibu dan adikku. Aku bersedia untuk menggantikan mereka berdua dan melakukan apapun yang kamu inginkan." Yani mencoba untuk bernegosiasi dengan pria tersebut. "Kau pikir dirimu bisa menggantikan kerugian yang aku dapatkan?" Pria itu memegang dagu Yani dengan kasar dan menghempaskannya dengan sangat kuat hingga yani kembali terjatuh dilantai. "Uang serratus juta itu mungkin saja cukup untuk menggantikan kamu dan adikmu ini, tapi kerugianku terhadap banyaknya anak buahku yang mati tentu saja hal ini tidak cukup. Selain itu, pria yang sudah menyelamatkanmu malam itu tentu saja harus membayar semua ini dengan sangat mahal." Terangnya lagi dengan setengah tertawa sembari menghadapi Yani dengan teduduk dihadapannya. "Rinto? Apa yang kau ingin lakukan padanya? Semua ini tak ada hubungannya dengannya. Tidak usah melibatkan pria itu, dia sama sekali tak tahu apapun yang terjadi." Bentak Yani ketika mendengar pria itu menyinggung Rinto. "Plakkkk!" tampar pria itu kepada Yani dengan sangat keras hingga membuat pipi Yani memerah dan matanya berair menahan rasa sakit yang tak terkira. "Kau pikir aku akan membiarkannya begitu saja setelah semua yang sudah ia lakukan padaku? Beraninya dia mempermalukanku di hadapan semua orang hingga aku harus mendapatkan penghinaan dari mereka semua." Bentaknya dengan sangat kasar hingga membuat telinga Yani berdengun dengan sengat kuat. "Apa yang kau inginkan sebenarnya, bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan dengan seluruh keluargaku yang sudah berada di tanganmu hah?" Yani masih terus berusaha menentangnya dengan semua yang sudah di lakukannya. "Hubungi Pria itu." Perintah Pria tersebut dengan menyodorkan hanphone miliknya, meminta Yani untuk menghubungi Rinto. Yani terdiam dan tak berniat untuk menghubungi Rinto, dia tidak ingin Rinto terjebak dalam urusannya yang kemudian membuar Rinto dalam bahaya. Meski sangat ingin menyelamatkan ibu dan adiknya, dia tidak mungkin membuat orang lain dalam bahaya. Selain itu, pria dihadapannya ini hanya akan membunuh Rinto dan takkan melepaskan mereka meski apa yang di inginkannya sudah terkabulkan. "Tidak, aku tidak akan menghubunginya." Ucap Yani dengan sangat tegas dan eskpresi tajam penuh keyakinan. "Sepertinya kau sudah salah paham, aku bukannya sedang membuat permintaan padamu sekarang, tetapi aku sedang membuat sebuah perintah padamu. Kau pikir aku takkan segan padamu hanya karena aku menyukaimu? Kau salah besar." Pria itu berdiri dan menghampir mejanya lalu mengambil sebuah pistol dari atas mejanya. "Aku paling tidak suka jika apa yang aku katakana di langar dengan sangat mudah." Lanjutnya lagi lalu mengangkat senjatanya kemudian ia arahkan pada seseorang. "Dorrrrr¡­!" sebuah tembakan melesat melewati dirinya yang langsung membuatnya terkejut bukan main. Jika pria itu tak menembak Yani, maka ada dua orang yang saat ini berada di belakangnya, yaitu ibu dan Ayahnya. Dengan tubuh yang bergetar dan mata yang terbuka lebar, Yani menoleh kebelakang secara perlahan-lahan untuk memastikan siapa orang yang telah ditembak oleh pria tersebut. Meski sangat terkejut ketika melihat Ayahnya lah yang tertembak oleh pria tersebut, Hati Yani sedikit merasa legah karena ibunya masih baik-baik saja. Akan tetapi, melihat Ayahnya yang mati dengan cara seperti itu membuat Yani tidak bisa untuk tidak menitikkan air matanya. "Kau tidak akan tahu siapa orang berikutnya yang akan aku rahakan dengan senjata ini, jadi sebaiknya kamu mengambil keputusan baik-baik. Jangan sampai hanya karena ingin menyelamatkan satu orang pria, kau harus kehilangan mereka semua." Ucapnya pria itu sembari membersihkan senjata yang tidak kotor sama sekali. Yani menekan kepalanya dengan sangat kuat di lantai karena otaknya kosong dan tidak bisa menentukan pilihan dengan baik. Dia menangis dalam diam karena merasakan ketakutan yang sangat besar dalam dirinya. "Sekarang, tentukan pilihanmu. Ibumu atau pria itu, jika kau masih terus berdiam diri maka kau takkan segan melakukan hal yang sama dengan apa yang terjadi pada ayahmu." Ancam pria itu dengan menarik keluar kepala Yani yang tertunduk. "Yani, jangan pernah mengikuti apa yang dikatakan oleh pria itu. Apapun yang kau pilih saat ini tetap tidak akan bisa menyelamatkan kita semua." Ibunya yang sedikit tersadar karena suara tembakan yang memekakkan telinga sebelumnya segera memperingatkan Yani. "Diam kau!" pria itu segera berdiri dan mendekati ibunya yang kemudian menarik rambutnya dengan sangat kasar dan mendaratkan senjata pistolnya ke wajah ibu Yani. "Sepertinya kau memang sangat mencintai laki-laki itu dibandingkan dengan keluargamu sendiri. Kalau begitu, bagaimana dengan sedikit peringatan kecil lagi dariku." Dia kemudian melirik pada pengawalnya dengan memberikan kode yang tidak di mengerti oleh Yani. Pengawal tersebut ternyata bergerak menuju kepada Adiknya dan mulai mencekoki adiknya dengan obat-obatan yang bisa dipikirkan oleh Yani kalau obat tersebut adalah narkoba. "Lepaskan! Lepaskan Adikku! Lepaskan dia!!!" teriak Yani berdiri dan berusaha melawan namun dia di tahan oleh kedua pengawal pria tersebut. "Sekarang tentukan pilihamu. Jika kau tidak ingin aku menyuruh mereka untuk memperkos adikmu di hadapan matamu sendiri" Ucapnya lagi sembari melemparkan handphone miliknya kepada Yani. Yani terjatuh dan pasrah. Dia berlinangan air mata dan dadanya semakin sesak menyaksikan semua yang terjadi pada ibu dan adiknya. Dia akhirnya mengambil handphone itu secara perlahan-lahan dan mulai menatap telepon itu dengan nafas yang berat. "Yani, selamatkan dirimu. Jangan hiraukan ibu, ibu sudah tidak sanggup lagi bertahan lebih lama. Kau tidak bisa melibatkannya dengan apa yang sudah terjadi dalam keluarga kita." Ibunya yang tersenyum membuat Yani kebingungan dan tak tahu apa yang dilakukan oleh ibunya, namun kemudian ibunya berusaha bangkit dan mencoba untuk merebut senjata pintol yang berada di tangan pria itu. Dengan seluruh sisa tenaga yang ada pada dirinya, dia terus berusaha melawan membuat pria itu kesulitan karena tangan ibu Yani tak mau lepas dari tangannya. "Ma, hentikan! Aku akan menyelamatkan kita semua, hentikan itu." Teriak Yani mencoba menghentikan ibunya, namun suara tembakan kembali terdengar dengan sangat kencang. Mata Yani terbuka dengan lebar dan menyaksikan kalau ibunya lah yang perlaha-lahan terjatuh dengan tersenyum begitu Bahagia. Bagi ibunya, kepergian dirinya adalah hal terbaik untuk dapat meringankan beban Yani untuk selama-lamanya. "Hiduplah dengan Bahagia." Itulah kalimat terakhir yang sempat keluar dari bibir ibunya sebelum benar-benar menutup mata untuk selamanya. Yani berteriak dengan histeris sekencang-kencangnya melihat ibunya yang sudah tertembak tepat di bagian dadanya hingga Yani tak sadarkan diri. Chapter 506 - Mandi Saja Sendiri Adith yang sudah terbangun terlebih dahulu segera memandang wajah Alisya yang berada disebelahnya. Alisya yang semalam langsung tertidur setelah membereskan beberapa rencana yang dilakukannya bersama Elvian dan dirinya tampak sangat pulas dalam pelukannya. "Ummmhhh¡­" Alisya menggeliat di dalam pelukan Adith, membuat Adith sedikit geli karenanya. Adith akhirnya mencumbunya dengan nakal membuat Alisya terbangun dari tidurnya. "hahahaha¡­ hentikan, kau membuatku geli Dith.." cubit Alisya kepada Adith yang langsung membuat Adith meringkuk karena sakit. "Akhirnya kau bangun juga, aku terus bermain-main sendirian dari tadi." Belai Adith pada rambut Alisya dengan lembut. "Main sendiri? Memangnya kamu anak kecil?" Alisya mencolek Adith dengan gemas yang kini berganti Adith yang merasa geli dengan apa yang dilakukan oleh Alisya. "Sampai kamu benar-benar menghadirkan seorang anak kecil di dalam keluarga kita, aku akan terus menjadi seorang anak kecil bagimu. Bagaimana, aku cukup imut bukan?" tatap Adith dengan manja yang langsung membuat Alisya tertawa dengan terbahak-bahak. Mereka terus saja bercanda di atas kasur hingga Alisya bangkit dari sana dengan bekas ciuman Adith dimana-mana. Alisya menggeleng tak percaya ketika melihat Bekasi ciuman Adith tersebut hingga ia menoleh padanya dengan kesal. "Apa yang harus aku lakukan dengan ini? Kau semakin hari semakin mesum!" Alisya melempar Adith dengan bantal kea rah wajahnya yang baru saja keluar dari selimutnya. "Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh berbuat mesum pada istriku sendiri?" tatap Adith dengan nakal kepada Alisya yang hanya kembali di balas dengan lemparan bantal lagi oleh Alisya. "Ya sudah, aku ingin mandi." Alisya segera masuk ke dalam kamar mandi dengan kesal. Adith menatap Alisya yang masuk kedalam kamar mandi dengan tersenyum licik. "Kita mandi bersama!" Adith dengan semangat ingin mandi bersama dengan Alisya. "Mandi saja sendiri!" ucap Alisya dengan nada yang masih terdengar kesal. Adith segera berdiri di depan pintu kamar mandi seolah sedang menunggu Alisya keluar dari sana. Dia mulai menghitung jarinya dengan terus tersenyum mengetahui akan apa yang terjadi di dalam kamar mandi tersebut. "Adith¡­ Kenapa di dalam kamar mandi ini tidak ada handuk satu pun? Dimana semua handuk yang ada di kamar mandi ini?" Alisya berteriak dari dalam kamar mandi membuat Adith tertawa pelan mendnegar suaranya. "Bukankah sudah ku katakan untuk mandi bersama denganku? Kau selalu saja menolak untuk mandi bersamaku dan sudah menghukumku beberapa hari, setidaknya kalau kau benar ingin mandi maka kau harus menurutiku." Teriak Adith sembari memegang sebuah handuk di tangannya. Tidak mendapatkan jawaban dari dalam kamar mandi, Adith segera kembali memastikan keadaan Alisya di dalam kamar mandi dengan menempelkan telinganya ke pintu kamar mandi. Dari dalam dia mendengar suara pancuran air yang jatuh membasahi lantai. "Alisya¡­. Sya¡­ Apa sampai segitunya kamu tidak ingin mandi bersamaku? Apa yang kau takutkan dan apa juga yang membuatmu malu pada suamimu sendiri? Atau karena kau tidak¡­" Adith yang mulai kesal dengan sikap tertutup Alisya padanya seolah mulai kehilangan kesabaran, tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka dengan Alisya yang sudah menatapnya dari belakang pintu dengan sangat tajam kepada Adith. "Apa kau sampai segitunya ingin mandi bersama ku?" Alisya bertanya balik dengan suara yang ia buat dengan sangat lembut dan juga terdengar seksi di telinga Adith. "Tentu saja, aku kan suamimu. Selama ini kita jarang mendapatkan waktu bersama, dan beberapa hari kemarin kau bahkan tak ingin tidur bersamaku dengan alasan ingin menghukumku. Sampai kapan kau akan mempertahankan sifatmu yang seperti itu." Adith benar-benar telah kehilangan kesabarannya saat ini. Alisya paham betul akan apa yang dia rasakan saat ini, tentu saja menghukumnya selama beberapa harii sudah cukup membuatnya kesal dan sekarang Alisya malah kembali mengerjainya. Alisya yang kesal dengan Adith yang sudah sengaja mengosongkan semua handuk yang ada di dalam kamar mandi tersebut pada akhirnya ingin kembali membalas perbuatan Adith padanya. "Benarkah? Apa kau tidak takut dengan apa yang akan aku lakukan padamu?" Pancing Alisya masih dengan suara yang membuat darah Adith berdesir kencang. Merasa sedang di permainkan oleh Alisya lagi, Adith akhirnya memberikan handuk kepada Alisya dengan tatapan kesal. "Sudahlah, sebaiknya kau lanjutkan saja mandimu. Aku akan pergi dengan begitu kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan." Adith menyodorkan handuk itu kepada Alisya dengan memalingkan wajahnya. Alisya tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Adith, meskipun sebenarnya saat ini dia sedang kesal, Adith tetap saja masih mencoba untuk bersikap lembut kepada Alisya. "Adith¡­" Panggil Alisya kepada Adith sebelum ia benar-benar pergi dan mengambil handuk di tangannya, membukanya dan menutupi tubuhnya. "Ada apa? Kau masih membutuhkan yang lain?" tanya Adith kepada Alisya dengan suara yang pasrah. Alisya keluar dari kamar mandi berdiri dihadapan Adith dengan tubuh yang sudah setengah basah dan tersenyum dengan sangat mempesona. "Serangan Surgawai" ucap Alisya menjatuhkan handuknya di hadapan Adith dan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat indah pada Adith. Adith terkejut dengan apa yang sedang di lakukan oleh Alisya saat ini, yang tanpa sadar hidungnya telah mengeluarkan darah segar. Alisya tetawa pelan melihat Adith yang mimisan pada tubuh istrinya sendiri. "Puhahahahaha¡­ Bagaimana mungkin kau mimisan pada tubuh istrimu sendiri? Bukankah semalam kau juga sudah menikmati banyaknya tubuh wanita yang telanjang di Bar itu. Mereka bahkan menari-nari dengan gemulai di hadapanmu." Alisya tertunduk untuk kembali memakai handuknya sedang Adith dengan cepat mengambil handuk tersebut untuk membersihkan hidungnya yang berdarah. "Sayang, bukankah kau sudah membukanya di hadapanku. Untuk apa kau tutupi lagi?" Adith dengan segera menggendong tubuh Alisya dan membawanya ke atas ranjang. "Hari ini adalah hari minggu, buat apa mandi terlalu pagi kalau kita belum melakukan senam pagi?" tatap Adith dengan sangat dalam kepada Alisya lalu mulai menciuminya dengan sangat lembut. Mendengar desahan Adith, Alisya paham betul bagaimana ledakkan hasrat Adith saat ini atas dirinya. Akan tetapi, Adith tidak ingin terburu-buru dan tetap memperlakukan Alisya dengan sangat lembut. Adith benar-benar semakin jago dalam memperlakukan Alisya hingga ia terbuai dengan setiap inci sentuhan lembut Adith pada tubuhnya. "Maafkan aku, tapi kau tak perlu menahan diri lagi." Ucap Alisya memberikan izin kepada Adith untuk bisa memimpin dirinya. Memahami maksud yang dikatak oleh Alisya dengan wajahnya yang sudah semakin memerah dengan aura pink yang menyelimutinya membuat Adith tersenyum puas. "Aku mencintaimu!" peluk Adith kepada Alisya yang langsung di jawab anggukan pelan Alisya. "Aku juga mencintamu Dith, sangat mencintaimu!" ucap Alisya dengan suara parau yang terdengar sangat seksi di telinga Adith. Mereka tenggelam dalam kebersamaan yang telah lama mereka dambakan. Chapter 507 - Mencurigai Rinto? "Kau sudah laparkan?" Adith yang sudah selesai mandi terlebih dahulu dari Alisya yang sempat tertidur karena kelelahan akibat ativitas pagi keduanya sengaja menuju ke dapur untuk membuatkan sarapan untuk Alisya. "Sudah jam berapa ini?" tanya Alisya sembari menggulungkan rambutnya yang setengah basah pada bagian ujungnya karena baru selesai mandi. "Jam sepuluh pagi. Makanlah, kau pasti sangat lapar sekarang." jawab Adith sembari menyodorkan Alisya nasi goreng special buatannya. Adith yang memakai celemek berwarna pink dengan motif bunga-bunga pada bagian pinggirnya dan gambar helo kitty pada bagian tengah segera membuat Alisya tertawa melihatnya. "hahahahaha¡­ Kau terlihat sangat cocok menggunakan celemek itu. Kau mengingatkan ku pada seorang wanita yang semalam aku lihat, kalau tidak salah Namanya Adity." Seru Alisya sembari tertawa menggigit sendoknya dengan senyuman yang sangat cantik dan menawan. "Aku tidak perduli harus menjadi apa jika itu bisa membuatku melihat senyumanmu seperti ini setiap hari." Adith mencubit pipi Alisya dengan gemas merasa sangat Bahagia karena bisa menatap Alisya lebih lama hari ini. Disaat mereka masih terus bercengkrama sembari menyantap makanan di pagi hari yang sudah menjelang siang tersebut, tiba-tiba sebuah telepon berdering dengan sangat keras. "Dari siapa?" tanya Adith bingung saat melihat ekpresi Alisya yang mengerutkan keningnya. "Aku tak tahu, tapi melihat nomor ini. Aku sepertinya tahu kalau ini adalah nomor rumah sakit dimana ibu Yani di rawat." Terang Alisya sembari mengangkat telepon dari rumah sakit tersebut. Tepat saat Alisya sedang menerima telepon tersebut, Adith juga menerima panggilan lain dari Rinto. Mendapat panggilan tersebut, Adith dan Alisya segera berpandangan satu sama lainnya seolah memahami ekspresi masing-masing mengenai apa yang sudah terjadi dengan dua panggilan yang masuk tersebut. "Apa orang yang menelponmu adalah Rinto?" tanya Alisya kepada Adith begitu ia juga selesai menerima telepon dari pihak rumah sakit. Alisya mendapatkan telepon dari rumah sakit karena sebelumnya, beberapa dari suster tersebut tahu kalau selama ini Alisya lah yang selalu membantu Yani secara diam-diam tanpa sepengetahuan Yani. Mereka mengira kalau Yani ada bersamanya dan sudah sedari malam mereka menghubungi Alisya, namun karena Alisya tidak mengetahuinya karena langsung tidur, membuat mereka akhirnya bisa menghubungi Alisya di jam sepuluh tersebut. "Ya benar, dan dia juga sedang mencari keberadaan Yani sebab semalam sebelum ia pulang, Rinto sempat mengunjungi rumah sakit namun tidak bertemu secara langsung dengan Yani." Terang Adith meletakkan handphone miliknya dengan wajah gusar. Mereka berdua terdiam sejenak lalu kemudian berinisiatif untuk melakukan pertemuan dengan teman-temannya yang lain. Selain untuk mencari keberadaan Yani, mereka juga ingin memastikan kemungkinan yang terjadi dengan kejadian sebelumnya yang sudah pernah mereka alami. "Apa yang sedang terjadi sebenarnya?" Aurelia yang sebelumnya melihat Yogi bersiap-siap memaksakan diri untuk ikut. Dia tidak ingin tinggal diam dan ingin terlibat dalam semua hal yang dilakukan oleh teman-temannya saat ini. "Kata suster, Ibu Yani dan adiknya menghilang entah bagaimana tepat setelah beberapa menit dari kepulangan Rinto di rumah sakit." Alisya memberikan penjelasan singkat mengenai apa yang sudah ia dengarkan dari suster di rumah sakit tempat ibu Yani di rawat. "Jadi maksudnya mereka mencurigai Rinto?" Yogi memandangi Rinto yang masih duduk termenung kembali menyalahkan dirinya sendiri. Rinto merasa kalau dia terlalu pengecut sehingga karena keteledorannya, orang yang di sayanginya mendapatkan masalah. Terlebih saat semalam dia berada di rumah sakit tersebut, yang mana seandainya saja Rinto masih berada di sana untuk sedikit lebih lama, mungkin kejadia seperti itu takkan terjadi. "Rinto¡­ Rinto..? Rinto!!!" Yogi akhirnya berteriak dengan cukup keras dan mengguncangkan tubuh Rinto yang terpaku dan terdiam tidak bergerak tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Ah¡­ Maaf karena aku sedikit melamun tadi." Terang Rinto mencoba kembali pada kesadarannya dengan menarik nafas dalam-dalam. "Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, semua ini terjadi juga bukan atas kehendakmu." Alisya yang seolah bisa melihat ke khawatiran Rinto yang terduduk termenung mengepalkan tangannya dengan sangat keras hingga mulai menggores tangannya sendiri segera mengingatkan Rinto. Rinto paham maksud dari yang dikatakan oleh Alisya sehingga ia mengangguk dengan tegas. Tidak ada waktu untuk menyesali hal yang sudah terjadi, yang harus ia lakukan sekarang adalah bagaimana cara untuk menemukan Yani dan Ibunya secepatnya. "aku merasa kalau semua ini ada hubungannya dengan kejadian yang sebelumnya mereka alami." Elvian segera membuka suara mengingat apa yang sudah pernah terjadi pada Yani. "Para preman itu?" tanya Jati denga sedikit ragu-ragu. "Benar, bisa jadi hal ini memang berhubungan dengan mereka yang juga melibatkan ayah Yani. Ayah Yani sebelumnya adalah seorang peminum dan penjudi yang sangat candu dimana karena hal tersebut, ayahnya bermasalah dengan seorang tetangga yang juga penjudi. Karena masalah utang piutang, ayah Yani melakukan pembunuhan terhadap orang tersebut dan hanya mendapatkan hukuman sepuluh tahun penjara." Alisya mulai memberikan mereka informasi mengenai kehidupan keluarga Yani untuk bisa menarik benang merah terhadap apa yang sedang terjadi. "Dan Sepuluh tahun penjara tersebut ternyata tidak membuatnya sadar dan malah semakin menjadi-jadi dengan kembali meninggalkan Istrinya dan kedua anaknya dalam waktu yang lama. Ia akhirnya kembali pada Yani setelah tak sengaja bertemu dengannnya beberapa waktu lalu yang kemudian melakukan kesepakatan dengan tempatnya bermain." Adith juga mengeluarkan argumennya dengan sedikit menebak alur berdasarkan apa yang sudah di ceritakan oleh Rinto mengenai kejadian yang sebelumnya. "Dan kesepakatan yang telah dibuat ayahnya adalah Uang dan¡­" Rinto mulai mendapatkan hubungan di antara semua kejadian tersebut. "Yani juga adiknya." Ucap mereka serempak. "Aku sudah berhasil meretas CCTV rumah sakit tersebut, dan lihat apa yang aku temukan." Elvian segera memperlihatkan sebuah gambar hologram dimana dua orang pria berpakaian serba hitam terlihat sedang membawa seorang ibu yang duduk di kursi roda dan seorang wanita muda di kursi roda yang lainnya. "Benar, itu adalah ibu Yani dan adiknya, Yena. Mereka sepertinya sangat mengetahui posisi dari kamera CCTV yang ada dirumah sakit ini." Tunjuk Alisya mengenali siapa orang yang berada dikedua kursi tersebut. "Selain itu, aku menemukan beberapa rekaman CCTV yang lainnya telah di hapus. Tapi berkat Azura, aku berhasil menemukan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk utama kita." Elvian kembali menggerakkan tangannya dengan sangat lincah untuk memperlihatkan gambar berikutnya. Tepat saat itu, handphone milik Rinto berdering dengan sangat keras. Teman-temannya yang terfokus dengan layar hologram yang di tunjukan Elvian tidak sempat memperhatikan perubahan ekspresi mendadak dari Rinto. "Ak uke toilet sebentar." Ucapnya sembari berdiri meninggalkan mereka semua menuju ke toilet. £¬ Chapter 508 - Memancing Rinto Tiga Jam sebelumnya. "Pyasssshhhh" hantaman air yang sangat keras segera membangunkan Yani. Ia merasakan sakit yang cukup perih pada bagian wajahnya hingga sedikit kesulitan untuk menarik nafas karena hempasan air yang sebagian masuk kedalam hidungnya. "Sampai kapan kau terus tak sadarkan diri seperti itu?" pria itu memegang dagu Yani dengan sangat kasar. "Kak Yani, Kak.. Kak Yani bangun kak!" teriak adiknya melihat Yani kembali melemas ketika mengingat kenyataan yang sebelumnya. Mendengar suara adiknya, Yani segera tersadar kalau dia masih punya satu orang yang sangat di cintainya untuk ia lindungi. Dengan susah payah melawan cahaya matahari yang menusuk masuk ke dalam pupilnya, Yani berusaha untuk mencari dan melihat keadaan sekitar dari arah suara adiknya. "Kau baik-baik saja?" tanya Yani kepada adiknya yang kini ia lihat sedikit lebih segar disbanding dengan sebelumnya, namun tangan dan kakinya terikat dengan sangat erat. Begitu pula dirinya yang terikat pada sebuah dinding dengan ke adaan berdiri tegak. "Aku baik-baik saja kak, tapi mama¡­ Mama sudah¡­ Mama¡­" adiknya yang terbaring tersebut terus menatap ke tubuh ibunya yang sudah tergeletak tak berdaya. "Yena¡­ lihat kakak, kau sudah dewasa sekarang. Kau tentu sudah bisa memahami apa yang sedang terjadi pada kita saat ini. Kakak ingin kamu bersikap tegar dan kau bisa menangis jika kita sudah keluar dari tempat ini." Yani segera mengalihkan perhatian adiknya meski ia paham akan apa yang dirasakan oleh adiknya, namun saat ini yang terbaik adalah bagaimana cara mereka keluar dari tempat itu dan bisa memberikan pemakaman yang layak bagi ibunya. "Keluar dari tempat ini? Hahahahahah¡­ kau terlalu percaya diri sekali cantik!" pia itu menertawakan Yani yang berpikir bahwa mereka dapat keluar dari tempat itu dengan hidup-hidup. "cuih¡­" Yani hanya meludahi wajahnya sebagai bentuk pembalasan kepadanya yang sudah memperlakukan mereka seperti itu. Meski itu tak cukup untuk membuatnya merasakan penderitaan yang sama, Yani tetap ingin melakukannya. "Brengsek! Plakkkk" sebuah tamparan keras kembali mendarat di wajah Yani dengan sangat kuat hingga kembali membuat wajahnya kebas. Pria itu lalu melepas hijab Yani dengan penuh amarah dan merobek sebagian bajunya kemudian menyulut rokoknya ke bagian tulang belikat lehernya yang membuat Yani meringis kesakitan. Dengan terus tertawa terbahak-bahak, ia kemudian mengambil sebuah handphone yang dapat di ketahui kalau itu adalah miliknya sehingga ia tahu pasti akan apa yang dilakukan olehnya. Pria itu lalu merekam Yani dari atas hingga bawah dengan sedikit memberikan provokasi yang tentu saja akan sangat membuat orang lain marah. "Apa yang akan kau lakukan dengan itu?" tanya Yani merasa sangat khawatir dengan apa yang akan dilakukan oleh pria itu berikutnya. "Tentu saja, memberikan hasil rekaman ini kepada pria itu. Aku penasaran bagaimana reaksinya ketika melihat orang yang di cintainya di perlakukan seperti ini. Aku tidak sabar lagi melihat bagaimana aksi heroiknya saat datang kemari untuk menyelamatkan dirimu, tapi sebelum itu kenapa kita tidak bersenang-senang saja dulu?" ucapnya mulai menggerayangi tubuh Yani, yang langsung membuat Yani ketakutan setengah mati. "Lepaskan kakakku¡­ lepaskan dia!" adik Yani berusaha menghampiri pria itu dengan mendatanginya lalu menggigit bagian bawah kakinya dengan sangat kuat. Laki-laki itu menghentikan apa yang dilakukannya dan Yani langsung mengambil kesempatan untuk membanting kepalanya di wajah pria tersebut. Pria itu semakin marah dan menendang perut adik Yani dengan sangat keras hingga ia terbentur ke dinding dan mengeluarkan darah segar. Adiknya terbatuk-batuk hebat karena tak bisa menemukan ritme nafasnya saat ia menahan rasa sakit yang di terimanya. "Akan aku pastikan kau menyesali semua yang sudah kau lakukan ini, aku takkan pernah memaafkanmu dan tak akan membiarkan kau bisa mati dengan begitu mudahnya." Ucap Yani dengan penuh amarah setelah ia mengamuk dengan sangat kuat saat pria itu menyiksa adiknya. Pria itu pada akhirnya mengirimkan semua hasil rekamannya kepada Rinto yang langsung membuat Rinto bangkit dari tempat duduknya. Pesan yang dikirimkan bersamaan dengan rekaman tersebut berbunyi: "Datanglah sendiri jika kau ingin menyelamatkan mereka. Kau tentu tau dimana posisi mereka sekarang. Karena jika tidak, kau akan menemukan mereka dalam keadaan yang mengenaskan." Tulisnya dengan menampilkan sebuah gambit bagian pintu belakang Bar yang merupakan tempat dimana mereka sebelumnya masuk untuk mengintai. Setelah berhasil meloloskan diri dari teman-temannya, Rinto segera menuju ke tempat dimana Yani dan keluarganya di sekap. Rinto menginjak gas dengan sangat kuat hingga membuat mobilnya berteriak membelah jalan dengan kecepatan yang sangat tinggi seolah sedang menyeruakkan suara hati, Rinto yang penuh akan emosi saat itu. "Rinto masih belum kembali juga?" tanya Rafli ketika menyadari Rinto tidak berada bersama dengan mereka. "Kalian bisa lihat kertas yang dipegang oleh Yani?" Elvian segera memperbesar gambar kertas yang dipegang oleh Yani. Mereka semua bisa membaca dengan sangat jelas apa yang dituliskan oleh mereka pada kertas tersebut, yang dengan cepat membuat Adith merebut tablet milik Elvian. Adith kemudian memasukkan suatu kode yang selanjutnya ia perintahkan kepada Azura untuk meretas handphone milik Rinto. "Tepat seperti yang aku perkirakan, sepertinya saat ini Rinto sudah tidak berada di dalam toilet, melainkan sudah di jalan menuju ke tempat dimana Yani berada." Alisya segera mengetahui maksud dari apa yang dilakukan oleh Adith. "Orang yang melakukan penculikan kepada Ibu Yani dan adiknya sepertinya memiliki dendam kepada Rinto, mengingat dialah yang sudah menyelamatkan Yani sebelumnya." Terang Yogi tersu memikirkan semua yang sedang terjadi pada Yani. "Itulah mengapa orang tersebut menghubungi Rinto, sebagai bentuk balas dendamnya kepada Rinto?" tanya Aurelia menebak-nebak. "Benar, dan apa yang sudah di kirimkan oleh orang itu telah benar-benar memancing emosi Rinto dengan sangat baik." Adith kemudian memperlihatkan kepada mereka semua apa yang sudah terkirim di handphone milik Rinto. "Brakkkk!!!" Alisya membanting tangannya dengan sangat kuat di atas meja. "Aku sudah menyiapkan semua keperluan kita." Karin datang bersama dengan Ryu dengan senyuman penuh amarah. "Tempat yang dituju oleh Rinto adalah Bar yang semalam kita lakukan pengintaian." Ucap Ryu kepada mereka semua setelah melihat hasil yang di tunjukkan oleh Adith. "Kita sudah cukup menahan diri semalam, sepertinya kali ini sudah tidak dapat dibiarkan lagi." Tegas Jati bangkit dari kursinya. "Benar, kita sudah tidak bisa membiarkan mereka untuk terus bersenang-senang di atas penderitaan orang lain lagi sekarang." Rendy pun sudah siap dengan bangkit mengepalkan tangannya. "Tadinya aku ingin menyelesaikannya dengan cara yang halus, tapi melihat ini semua¡­" Alisya berkata dengan lirih mengingat wajah sakit Yani. "Akan puas rasanya jika tempat itu kita ratakan dengan tanah." Sambung Adith yang semakin membuat mereka semua bersemangat dan segera pergi dari tempat mereka berkumpul. Chapter 509 - Batang Tidak Berguna Rinto memilih untuk tidak memberitahu yang lainnya karena merasa takut sesuatu hal yang buruk dapat terjadi pada mereka berdua jika dia mengambil langkah yang salah. "Tak ku sangka kau berani juga datang sendirian, kau sepertinya benar-benar sedang berperan sebagai pahlawan bagi wanita ini yah?" Ucap pria itu sembari memegang Yani dengan sangat vulgar. Melihat kondisi Yani dan adiknya yang tergeletak tidak berdaya tampak begitu mengenaskan, Rinto dengan segera menyerbu ingin menghantam pria tersebut. Akan tetapi, dengan secepat kilat pistol sudah mengarah pada kepala adik Yani yang membuat Rinto menghentikan langkahnya. "Jika kau benar-benar peduli, maka sebaiknya kau jangan melakukan sesuatu yang gegabah. Kepala anak ini mungkin tidak berharga bagimu. Tapi bagaimana jika dengan dia?" Pria itu kembali mengarahkan senjatanya kepada Yani. "Apa yang kau inginkan sebenarnya?" Tatap Rinto mengepalkan tangannya dengan sangat kuat menahan emosinya yang tak bisa ia redam lagi. "Aku? Hahahahha tentu kau tau apa yang aku inginkan. Jika tidak kau mungkin takkan berani datang kemari." Ucapnya tertawa pelan. "Jika hanya karena balas dendam atas apa yang sudah aku lakukan untukmu, Sepertinya kau tidak perlu repot-repot untuk menculik mereka semua." Rinto mulai mengamati lingkungan sekitarnya untuk melihat apakah ada jalan yang bisa mereka tempuh untuk menyelamatkan Yani dan adiknya. "Benar, tapi ayahnya telah menjual mereka berdua padaku. Untuk itulah aku bebas melakukan apapun kepada mereka, termasuk seperti ini." Pria itu kembali memprovokasi Yani yang terus menangis dan berusaha untuk menghindari apa yang di lakukannya. "Bertahanlah sebentar lagi¡­" Rinto langsung menyerbu dan ingin membunuhnya, namun ternyata pria itu sudah menyewa seseorang yang merupakan pembunuh bayaran. Sebuah tembakan melesat di kaki adik Yani membuat Rinto berhenti sehingga ia yang semula akan menyerang pada akhirnya harus pasrah ketika mendapat serangan balik. Adik Yani yang semula pingsan akhirya tersadar berkat rasa sakit yang ia rasakan pada bagian kakinya. Dia berteriak dengan kencang menahan rasa sakit di kakinya tersebut. "Yena¡­" teriak Yani yang langsung menggigit telinga pria itu hingga putus. Pria itu berteriak dengan se jadi-jadinya karena merasakan sakit pada bagian telinganya. Dengan penuh amarah, pria itu langsung mendaratkan tinju pada bagian perut Yani, yang langsung membuat Yani meringkuk sakit dalam posisi terikat. Rinto yang ingin menyelamatkan mereka tak bisa berbuat banyak karena takut karena kesalahannya lah adik Yani harus mendapatkan tembakan tersebut. Tembakan sebelumnya mungkin hanyalah sebuah peringatan saja, tetapi dia berbuat lebih jauh lagi maka bisa jadi pria itu akan membunuh mereka tanpa ragu-ragu lagi. "Bukkkk bukkkk bukk" Rinto terus mendapatkan hujaman pukulan dan hantaman yang sangat kuat. Ia akhirnya harus di ikat di sebuah kursi menghadap pada pria tersebut. "Keputusan yang tepat untuk tidak melawan, karena jika kamu melawan maka kau hanya akan melihat jasad mereka saja. Hahahahahah" ia tertawa sembari meringis sakit pada bagian telinganya. "Akan tetapi, karena perempuan ini sudah membuatku marah maka aku harus memberinya hukuman. Lihat apa yang sudah kau perbuat karena berani menggigit telingaku." Ucapnya langsung menjambak rambut adiknya dan membawanya ke atas meja. Adiknya semakin meringis kesakitan akan apa yang dilakukan oleh pria tersebut. Pria itu melepas ikatan pada kaki dan tangannya lalu dengan kasar membanting Yena di atas meja seolah berniat untuk memperkosanya. "Dasar biadab, sialan, kau tidak ada bedanya dengan seorang iblis jahanam." Teriak Yani meronta ronta ingin menyelamatkan adiknya yang masih terus berusaha melawan pria itu yang mulai merobek bajunya. Rinto yang terikat dengan tubuh yang memar dipenuhi luka-luka pun pada akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa karena pembunuh bayaran itu sekali lagi memberikannya tendangan yang langsung membuat ia jungkir balik bersama dengan kursi tersebut. "Hahahahahha¡­ ternyata kau hanyalah pria lemah yang hanya mengandalkan satu batang yang sama sekali tak berguna itu. Kau pikir batang kecil pendek yang kau miliki itu bisa membuatku merasa pedih dengan apa yang kau lakukan?" Yani terus tertawa memprovokasi pria tersebut. Pria itu seketika menghentikan apa yang di lakukannya sejenak. "Kau menaruh dendam pada pria itu karena dia berhasil mendaratkan tendangan berputar di wajahmu, dan itu berhasil di rekam oleh sebagian orang. Bukankah bekas lebam di wajahmu adalah bekas tamparan dan pukulan dari orang-orang yang menganggapmu tidak berguna?" Lanjutnya lagi yang langsung membuat pria itu mengambil senjatanya dan di arahkan kepada Yani. "Jangan kau pikir aku segan untuk membunuh mu, sepertinya lidahmu untuk sudah saatnya untuk di bungkam selama-lamanya." Ia kemudian menarik pelatuk pistolnya untuk menembak Yani, namun ternyata Yena melindungi kakanya dengan tubuhnya yang lemas dan setengan telanjang. "Yenaaa!!!" Teriak Yani ketika Yena memeluknya dengan sangat erat. Pada bagian dadanya terdapat sebuah buku yang cukup tebal yang sengaja Yena tempatkan di hadapannya agar Yani tidak mendapatkan tembakan yang menembus dari dirinya. Bersamaan dengan hal tersebut, sebuah ledakkan terdengar dengan sangat keras dari luar ruangannya. "Kau, pergilah periksa apa yang sedang terjadi. Bunuh siapapun yang ingin masuk ke dalam ruangan ini." Perintah nya kepada pria pembunuh bayaran tersebut. Beberapa orang lainnya yang berada di dalam ruangan itu pun juga mengikuti si pembunuh bayaran itu, sehingga hanya menyisakan pria tersebut. Melihat Pria itu kembali mendekati Yani dan menyingkirkan tubuh adik Yani, Rinto akhirya mengeluarkan seluruh kekuatannya. Pikirannya tertuju pada Yani yang mana hanya tersisa dirinya lah dihadapannya saat ini, sehingga hal itu membuat keinginan dan mentalnya meningkat dengan sangat pesat. Ikatan rantai yang mengikat dirinya pada kursi kayu tersebut segera membuat Rinto memutuskannya dan menghancurkannya dengan sangat keras. Pria itu terkejut dan langsung berlari menuju Yani dan menempelkan kembali pistolnya ke kepala Yani. "Jangan bergerak, jika kau kembali bergerak maka aku akan menembak kepala wanita ini. Kau tentu tak ingin wanita ini mati di hadapan mu bukan?" Ucapnya dengan begitu angkuh, namun Rinto tetap berjalan menghampirinya dengan tatapan yang sangat luar biasa menakutkan. "Sudah ku bilang jangan mendekat!!!" Bentaknya dengan kuat. Tepat sebelum ia menarik pelatuknya, jari-jari tangannya telah tersayat-sayat dan memutuskan ke lima jari-jari miliknya. "Arrggghhhh¡­" teriak pria tersebut dengan sangat keras saat melihat jari tangannya berjatuhan satu persatu. Pria itu segera berjalan terseok-seok penuh ketakutan saat melihat hal yang sangat mustahil di depan matanya. Beberapa pisau tampak melayang-layang di udara dengan sangat cepat mengelilingi Rinto. Energi nano Rinto yang keluar dengan begitu dahsyatnya tanpa ia sadari, sehingga menimbulkan bunyi pisau yang saling bertabrakan satu sama lain dengan kecepatang sangat tinggi. Chapter 510 - Data Milikmu? Pria itu berusaha berjalan menghindar karena merasa sangat ketakutan. Ia tak menyangka kalau Rinto memiliki kekuatan aneh yang belum pernah di lihatnya sebelumnya. Energi nano yang terdapat di dalam pisau khusus buatan ayah Karin dan profesor Ahmad tersebut dapat dikendalikan oleh Rinto dengan begitu cepat dan tampak seolah pisau-pisau itu meronta karena amarah dan kebencian yang sangat tinggi. Yani sudah pernah melihat ini sebelumnya, namun kali ini Yani merasa kalau setangan yang diberikan oleh Rinto jauh lebih mematikan dibandingkan dengan sebelumnya. "Bunuh¡­ bunuhhh¡­ bunuhhhh bunuh¡­ bunuh¡­!!!" Teriak Yani terus terusan yang membuat Rinto mengarahkan satu persatu pisaunya kepada pria tersebut. Rinto yang juga saat ini sudah berada di luar kendali semakin merasakan amarah yang sangat tinggi seperti yang dirasakan oleh Yani, terlebih mendengar suara Yani yang terus mendukungnya membuat Rinto mengarahkan pisaunya satu persatu ke pria tersebut. Pisau Rinto yang sangat tajam yang juga berasal dari bahan-bahan khusus membuatnya dapat menyayat apapun yang ada disekitar sana. "Tidak, maafkan aku. Aku akan memberikan apapun yang kamu mau, harta, wanita ataupun jabatan yang kau inginkan dapat aku berikan jika kau mau." Pria itu berusaha untuk berunding dengan Rinto. "Maafkan aku, jangan bunuh aku disini. Kau bisa mengambil semua yang kau inginkan. Semuanya ada di mejaku." Tunjuknya pada mejanya, namun apa yang dikatakan olehnya adalah sia-sia sebab hal itu semakin meningkatkan amarah alam bawah sadar Rinto. "Bunuhh.. bunuh dia,,, hahaha bunuh!!! Bunuh, bunuh bunuuuhhhh!" Teriak Yani secara berulang-ulang dengan terus tertawa melihat pria itu ketakutan. "Bunuh dia Rinto!!" Teriak Yani sekali lagi yang langsung membuat Rinto kembali menghujamkan pisaunya mengarah ke pria tersebut. Rinto menyayat wajah, telinganya, tangannya, tubuh dan kakinya kemudian memutuskan lehernya, kaki dan tangannya serta semua yang berada di dalam tubuhnya. Pisau itu terus menghujam, menyayat dan memutuskan apa saja yang berada di tubuh pria itu hingga tak menyisakan satupun tempat kosong di tubuh pria tersebut. "Alisya¡­" panggil Adith kepada Alisya yang sedang membereskan beberapa orang yang terus berdatangan untuk menghalangi mereka. Adith merasakan energi nano yang sangat besar disekitar mereka, begitu pula pembunuh bayaran yang sedang berhadapan dengan Adith saat itu. "Sepertinya Rinto kehilangan kendalinya atas energi nano miliknya." Ucap Alisya yang kemudian dengan satu hempasan energi nano miliknya, semua orang tersebut berhamburan membentur dinding dengan sangat kuat. Pembunuh bayaran tersebut terkejut saat melihat Alisya mengeluarkan energinya. Dia sedikit memundurkan langkahnya ketika merasakan energi yang sangat besar dari keduanya. "Tak ku sangka kalau orang-orang yang memiliki energi nano bisa berkumpul ditempat ini. Tapi siapa sebenarnya kalian?" Tanya pria tersebut dengan mengerutkan keningnya. Ia baru kali ini merasakan energi nano yang sangat luar biasa hingga tubuhnya sedikit bergetar karena melihat dua orang yang memiliki energi nano yang sangat besar sedang bekerja sama saat itu. Mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu, Adith dan Alisya langsung menjadi sangat waspada. Keduanya tahu bahwa tak banyak orang yang mengetahui mengenai energi nano tersebut selain dari orang-orang di Organisasi dan mereka sendiri. "Apakah kalian adalah pembunuh bayaran yang juga di sewa oleh mereka? Tapi aku belum pernah mendengar mengenai kalian sebelumnya. Apakah kalian produk baru ciptaan organisasi lagi?" Tanya nya sekali lagi kepada Adith dan Alisya yang langsung menguatkan dugaan keduanya mengenai siapa identitas pria yang ada di hadapannya saat itu. "Sepertinya organisasi tidak pernah berhenti menciptakan pembunuh-pembunuh bayaran seperti kalian. Dan kau bilang kami produk baru? Itu artinya Organisasi terus melakukan pengembangan terhadap data milikku." Terang Alisya melangkah maju secara perlahan-lahan. "Data milikmu?" Seorang lagi di antara mereka yang merasakan energi nano milik Alisya datang menghampiri mereka. "Itu artinya kau adalah seorang Alpha?" Seorang dari mereka lagi muncul dari arah yang lainnya. "Itu tidak mungkin, Alpha sudah lama di konfirmasi mati." Tambah yang lainnya juga muncul di tempat tersebut setelah menghancurkan pintu yang ada di sebelah kanan Alisya. "Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya!" Seseorang yang lain kembali muncul dari balik tembok. "Kenapa mereka terus saja bermunculan satu persatu? Pantas saja selama ini tempat ini berdiri begitu kokoh dan tak tersentuh sama sekali, ternyata mereka di penuhi oleh orang-orang yang ada di Black Falcon." Ucap Adith saat melihat mereka semua adalah orang-orang yang juga memiliki energi nano yang cukup besar. "Sepertinya mereka mengetahui banyak hal mengenai kita, tidak perlu ragu lagi untuk membunuh mereka." Ucap salah seorang dari mereka yang kemudian memasang kuda-kuda untuk menyerang. "Emm¡­ tuan Jenius! Kalau kau tak mau membunuh mereka, kau sebaiknya bersembunyi di belakangku saja. Soalnya kau takkan bisa menang melawan mereka jika kau tak membunuh mereka." Alisya perlahan-lahan mendekati Adith dengan berdiri di sampingnya dan membelainya dengan lembut. "Sebab melumpuhkan mereka hanya akan membuatmu semakin kehilangan tenaga dan membuang energi nano mu secara percuma cuma sebab melihat energi mereka, mereka bisa beregenerasi dengan sangat cepat." Alisya menaikkan pahanya dan menempelkannya di tubuh Adith dengan begitu sensual. "Sayang, kau sedang memprovokasi siapa sebenarnya? Aku atau mereka?" Tanya Adith kembali menekan paha Alisya semakin erat ke tubuhnya. "Keduanya!" Alisya langsung menciumi bibir Adith yang sebenarnya ia tujukan untuk menyalurkan sebagian energi nano miliknya untuk menstabilkan energi nano milik Adith. Melihat keduanya yang begitu santai membuat semua orang dari organisasi tersebut merasa sangat di lecehkan dan di anggap remeh sehingga mereka langsung menyerang dengan penuh emosi. Mereka menyerang satu titik secara bersamaan hingga menimbulkan asap akibat dari serangan mereka yang begitu dahsyat. "Sayang, jangan sampai kau terluka. Karena jika kau terluka, hatiku akan pedih." Ucap Adith dari sisi yang lain dengan tersenyum begitu mempersona. "Begitu pula denganmu sayang, aku harap kau jangan kalah denganku." Pancing Alisya lagi dari sisi berlawanan dengan Adith yang langsung membuat Adith tertawa pelan. "Bagaimana bisa mereka menghindari serangan tadi?" Tanya salah seorang dari mereka dengan sangat terkejut saat mengetahui kalau mereka tak mengenai apapun disana dan senjata mereka hanya menghantam satu sama lainnya. "Akan sangat terhormat rasanya karena kali ini kita bisa melawan orang yang setimpal." Ucap salah seorang lainnya dengan sangat sombong. "Lakukan dengan baik jika kalian tidak ingin terbunuh dengan sia-sia." Adith tersenyum dingin memperingatkan mereka semua. "Jangan terlalu sombong anak muda." Tegasnya yang langsung menyerang Adith dan Alisya secara bersamaan. Pertempuran itu tentu saja membuat seluruh tempat itu bergemuruh dengan sangat dahsyatnya ditambah dengan berbagai ledakkan yang diberikan oleh Elvian dan yang lainnya membuat tempat yang berdiri kokoh hingga 5 lantai tersebut tampak tak bisa berdiri dengan baik lagi. Chapter 511 - Mereka Sangat Kejam Rinto yang penuh amarah telah dikendalikan sepenuhnya oleh energi nanonya yang menyeruak keluar. Energi yang sangat besar tersebut membuat Rinto tak bisa mengendalikan dirinya dan tenggelam dalam amarah yang sangat besar. Ia benar-benar tenggelam hingga ia berhalusinasi dalam alam bawah sadarnya sendiri. "Apa yang harus kita lakukan padanya?" Tanya Karin kepada Yogi, melihat Rinto masih dikelilingi oleh pisaunya yang melayang saling bersahut-sahutan. "Zing¡­ zingghh zinggh!" Bunyi itu terus terdengar menunjukkan tak ada celah yang dapat membuat mereka untuk menghampiri Rinto. "Rinto¡­ hentikan! Semuanya sudah berakhir sekarang." Teriak Yogi kepada Rinto, namun tidak dapat didengar olehnya. "Sudahlah, kita bisa mengurusnya belakangan. Sekarang kita harus menyelamatkan Yani terlebih dahulu." Ucap Karin ketika melihat Yani dengan baju yang sudah sobek sana sini. "Benar, kita bisa mengurus Rinto nanti. Yani sepertinya mengalami shock yang sangat hebat. Aku akan mengeluarkan jasad ibunya." Terang Ryu langsung berjalan menghampiri jasad ibu Yani. "Mereka sangat kejam. Bahkan mereka hampir memperkosa dan membunuh gadis yang masih belia ini." Rendy menutup matanya ketika menghampiri tubuh adik Yani. "Ayahnya pun tak luput dari pembunuhan ini. Ini tampak seperti sebuah pembantaian satu keluarga." Jati dan Rafli segera mengangkat jasad tubuh Ayah Yani dan segera mengeluarkannya dari sana. Mereka segera membawa keluar membawa ketiga jasad tersebut, sedang Karin dan Ryu sedang berusaha untuk melepaskan rantai yang mengikat Yani. "Di tubuhnya penuh dengan luka-luka, sepertinya dia diperlakukan dengan benar benar sangat kasar." Ucap Ryu sembari mencoba untuk membuka bajunya, ia berniat untuk menutup tubuh Yani yang sedang pingsan tersebut. "Jllebb!" Tangan Karin segera mencolok kedua mata Ryu, karena kesal pada Ryu yang sudah melihat tubuh Yani. Meski Yani masih memiliki beberapa helai yang menutup sebagian tubuhnya, beberapa bagian tubuh yang sobek juga memperlihatkan sedikit bagian tubuhnya yang memang di penuhi oleh luka-luka. "Siapa yang suruh kamu bisa lihat tubuh wanita dengan se enak hati seperti itu?" Bentak Karin dengan kesal kepada Ryu. Ryu yang kedua tangannya masih tertahan karena sedang ingin membuka bajunya pada akhirnya berguling-guling karena merasakan sakit. "Kenapa kau kejam sekali padaku. Kau taukan kalau mata itu adalah salah satu indra yang sangat sensitif." Ryu bangkit dengan mata berair yang pedih dan tak bisa membuka matanya dengan benar. "Itu salah mu sendiri, lagi pula matamu akan kembali membaik jika kau bisa memusatkan energi nanomu untuk memperbaiki sel-sel pada bagian matamu. Beruntunglah matamu tidak aku congkel." Ucap Karin menarik baju Ryu dengan kasar dan menutupnya pada tubuh Yani. "Sampai kapan kalian akan disitu? Bukan saatnya berdebat disini." Teriak Yogi mengingat mereka sebab tangannya mulai lelah menutupi mereka dari serangan pisau Rinto yang cukup dekat dengan mereka. "Lain kali kau melihat tubuh wanita dengan seenaknya, aku akan mencongkel matamu dengan sangat kuat. Sekarang angkat dia!" Perintah Karin menyuruh Ryu untuk mengangkat tubuh Yani dengan bantuannya. "Bagaimana aku bisa mengalihkan pandangan? Apa ini yah namanya kalau di lihat dosa, tidak di lihat juga barang bagus!" Gumam Ryu yang langsung kembali mendapatkan cubitan maut dari Karin yang sekali lagi membuat Ryu menggelinding kesakitan. "Bisa kalian hentikan itu?!" Yogi semakin marah dengan mereka berdua yang tampaknya sedang bermesraan di belakangnya sedang dia masih berusaha untuk melindungi mereka dengan sebuah meja yang ia angkat sehingga tangannya mulai pegal. "Aku tak bisa mengangkat nya jika mataku masih belum aku buka, butuh waktu untuk mataku bisa menyembuhkan diri." Tegas Ryu setelah kembali bangkit dari rasa sakitnya. "Angkat saja, biar aku yang akan menunjukkan jalan untukmu." Ketus Karin kesal dengannya yang terus saja berbicara. Dengan sedikit meraba-raba menggunakan bantuan Karin, Ryu akhirnya mengangkat tubuh Yani dan berusaha untuk membawanya keluar. Tepat saat ia melangkah, meja yang di angkat oleh Yogi pada akhirnya mencapai batasnya dan langsung terbelah sedang Yogi belum siap untuk menghindar. "Brakkk!" Yogi dan Karin menutup mata mereka dengan rapat karena mengira kalau semua pisau yang melayang dengan kecepatan tinggi itu akhirnya mengenai mereka saat mereka tidak bersiap, akan tetapi hal tersebut tidak terjadi. "Kalian baik-baik saja? Cepat lah menjauh darinya." Ucap Zein yang melindungi mereka dengan pintu besi yang ia angkat dengan susah payah. "Uwaahh¡­ kalian memiliki otot yang sangat berguna juga ternyata. Shangkyuh¡­" Karin menaikkan satu tangannya dengan tersenyum licik yang cukup membuat Yogi kesal. "Apa yang sedang terjadi?" Tanya Ryu khawatir dengan matanya yang masih belum bisa terbuka dengan baik karena perih. "Tidak usah pedulikan itu, sebaiknya kita keluar sebelum gedung ini benar-benar runtuh dengan tanah." Ucap Karin langsung menarik Ryu pergi dari sana. Mereka segera keluar dari ruang tersebut, akan tetapi pada saat mereka sedang mencari jalan, tempat mereka masuk tempat itu tiba-tiba runtuh dan menutup jalan keluar mereka. "Ah.. apa Elvian sudah berniat menghancurkan seluruh gedung ini disaat kita semua masih berada di dalamnya?" Karin segera menarik Ryu dan melindungi kepala Yani dan Ryu secara bersamaan dari runtuhan yang jatuh. "Tidak usah khawatir, di sebelah sana masih ada jalan yang bisa kita lalui." Ucap Ryu segera mengarahkan Karin menuju ke jalan lain yang sedikit memutar jauh. Mereka berdua pun segera berjalan kesana dengan terus melindungi Yani. Dengan kemampuan ekolokasi yang dimiliki oleh Ryu, mereka bisa menentukan jalan yang bisa mereka lalui. "Apa yang harus kita lakukan dengannya?" Tanya Zein setelah berhasil menjauh dari Rinto yang masih terus mengamuk di dalam ruangan tersebut. "Aku juga tak tahu bagaimana, sepertinya melihat tubuh Yani di perlakukan dengan sangat keji dan melihat orang lain juga di bunuh di hadapannya membuatnya sangat marah." Jelas Yogi yang tampak tak bisa menemukan jalan untuk bisa menenangkan amarah Rinto yang masih terus meluap. "Tapi jika dia seperti itu terus, dia bisa saja berubah menjadi mutan seperti Alisya sewaktu dulu melihat Karin disakiti. Alisya mungkin kembali ke tubuhnya semula berkat Adith, tapi hal ini belum tentu berhasil pada Rinto." Terang Zein mengingat kejadian tempo hari sewaktu Alisya pernah hampir berubah menjadi mutan. "Kau benar, kita harus menemukan cara untuk bisa menenangkannya. Aku harap dia bisa mendengar suaraku, jika tidak kita semua akan berada dalam bahaya jika terus berada disini." Ucap Yogi yang kemudian berusaha untuk meraih kesadaran Rinto. Yogi terus saja meneriakkan namanya dengan susah payah sembari terus menghindari pisau yang terus berterbangan di sekelilingnya dengan semakin tak terkendali. Akan tetapi, apa yang ia lakukan tetap tidak mampu meraih kesadaran Rinto. Chapter 512 - Siapa Yang Butuh Izin Darimu! Ryu dan Karin yang terus berjalan tiba-tiba berhenti ketika mendengar suara pertempuran yang terjadi tak jauh dihadapan mereka. Ketika melihat Adith dan Alisya sedang bertempur di sana, Karin segera melambai dengan santai kepada keduanya. "Apa kalian berdua butuh bantuan? Sepertinya kalian sedang kesulitan menghadapi mereka yang berjumlah cukup banyak dan sepertinya mereka juga kuat." Tanya Karin dengan nada yang mengejek Alisya dan Adith. "Huffttt¡­ silahkan lewat tuan putri, maaf mengganggu perjalananmu. Kami tidak butuh bantuan apapun." Desah Alisya memundurkan langkahnya sejenak untuk menjauh dari musuhnya agar bisa berbicara dengan nyaman. "Benarkah? Kalian terlihat kesulitan bagiku. Jika kalian butuh bantuan aku akan dengan senang hati membantu kalian." Karin hanya berbasa-basi menawarkan diri kepada Alisya. "Tidak perlu, kami sudah cukup dengan pemanasannya sekarang. Kalian bisa lewat sekarang, dan segera berikan pengobatan pada Yani." Tegas Adith juga memasang jarak dan merenggangkan tubuhnya dengan santai. "Baiklah kalau begitu, jangan lupa segera ke tempat Rinto. Sepertinya hanya kalian berdua yang bisa menghentikannya saat ini." Terang Karin menarik Ryu untuk kembali berjalan. Ryu cukup kesulitan meski ia berusaha untuk membuka matanya, namun ia samar-samar bisa melihat apa yang sedang terjadi di tempat tersebut. "Sepertinya kita sudah membuat mereka semua semakin marah." Gumam Ryu ketika merasakan perubahan energi mereka semua yang semakin membesar. "Tidak masalah, itu bukanlah hal yang besar bagi dua orang monster itu." Jawab Karin dengan terus menuntun Ryu untuk berjalan. "Kau cukup fokus dengan Yani, dia tidak boleh mendapatkan serangan dari mereka. Selebihnya biar aku yang akan melindungi mu jika mereka melakukan sesuatu." Tegas Karin dengan terus berjalan melewati mereka semua. "Kalian benar-benar telah salah dalam meremehkan kami, sebaiknya bersiap-siaplah karena kami tidak akan membiarkan kalian mati dengan begitu mudahnya." Ucap salah seorang dari mereka dengan tatapan tajam dan dingin yang langsung membuat mereka semua berubah menjadi mutan. "Siapa yang mengizinkan kalian lewat hah???" Salah seorang dari mereka dengan cepat menyerang Karin dan Ryu ketika dia telah selesai berubah menjadi mutan dengan sempurna. "Siapa yang butuh izin darimu! Plakkkk" sebuah tamparan keras segera mengenainya dengan sangat kuat hingga membuatnya tumbang ke bawah dan merusak lantai tempat mereka berpijak. Semua orang dari organisasi terkejut bukan main melihat hal tersebut, bahkan Adith dan Alisya mengaga saat melihat emosi Karin yang meluap cukup besar tersebut. "Em.. sebaiknya aku sarankan kalian tidak mendatangi seorang perempuan yang sedang datang bulan saat ini." Ucap Ryu mengingatkan mereka dan menghantam jatuh salah seorang dari mereka lagi yang berusaha untuk menyerang mereka. "Matamu sudah terbuka lebar lagi rupanya, sekarang jalanlah. Kita tidak ada waktu untuk melawan mereka." Ucap Karin segera memperingatkan Ryu yang membawa tubuh Yani untuk segera pergi dari sana. "Fiuuuhhhh¡­ wanita kalau lagi masa Bulan berdarah memang selalu mengerikan yah." Ucap Adith sembari menatap Karin pergi dari sana. "Wanita itu kejam sekali, tanpa peringatan tamparan itu sudah cukup untuk membunuh seekor harimau dengan sangat mudah." Tambah Alisya tak menyangka bisa melihat Karin sampai semarah itu. "Sama-sama!" Karin melambai dan pergi dari sana bersama dengan Ryu. "Siapa yang minta terima kasih woy? Ah¡­ aku baru saja mengucapkannya." Desah Alisya setelah menyadari ia baru saja mengatakan hal tersebut kepada Karin tidak secara langsung. "Siapa sebenarnya mereka semua ini? Bagaimana mungkin mereka bisa mengalahkan mereka berdua dengan sangat mudah meski mereka sudah mencapai perubahan sempurna?" Salah seorang dari mereka sangat terkejut dengan semua hal yang terjadi tersebut. "Mereka hanyalah level rendah, mereka berdua memang belum cukup kuat sehingga bisa saja dikalahkan dengan mudah. Mari kita tunjukkan kekuatan kita yang sebenarnya." Tegas salah seorang dari mereka dengan penuh percaya diri. "Jangan lengah, jumlah energi keduanya lebih besar dibandingkan dengan dua orang sebelumnya. Tapi kita juga tidak akan kalah dengan mereka, karena kita harus melaporkan hal ini dengan secepatnya kepada Organisasi." Tegas salah seorang dari mereka yang dapat dilihat oleh Adith dan Alisya berperan sebagai seorang pemimpin diantara mereka. "Tidak jauh dari sini, sepertinya terdapat seseorang yang memiliki energi lebih besar. Ini adalah hal yang besar yang perlu segera kita laporkan." Tambah salah seorang dari mereka juga yang merasakan energi nano yang sangat besar keluar dari tubuh Rinto. "Kau dengar bukan? Sepertinya kita harus menyelesaikan ini secepatnya dan tidak membiarkan salah satu dari mereka lolos karena hal itu akan merepotkan kita di kemudian hari nanti." Terang Alisya mulai memasang kuda-kuda untuk segera menyerang mereka semua. "Ya benar, saat ini energi Rinto juga sudah terasa semakin tak terkendali. Mari selesaikan semua ini dalam 5 menit, karena jika tidak Rinto akan masuk dalam mode perubahan mutan." Ucap Adith membenarkan apa yang dikatakan oleh Alisya. "Tentu saja, aku hanya butuh dua menit untuk semua ini." Alisya tersenyum dengan sangat licik. "Kau¡­" salah seorang dari mereka yang ingin menyerang Alisya karena merasa marah di remehkan olehnya tiba-tiba saja salah seorang dari mereka sudah terbelah menjadi beberapa bagian. Mereka terbelalak tak menyangka apa yang baru saja terjadi, sebab mereka tidak melihat Alisya memakai sebuah senjata yang dapat membelah tubuh mereka hingga hancur menjadi beberapa bagian. "Brakkkk!" Hal yang sama dengan salah seorang temannya lagi yang kepalanya telah hancur remuk di kedua tangan Adith. Mereka semua mati satu persatu tanpa bisa melakukan perlawanan sedikitpun. "Ba¡­ bagaimana mungkin bisa, kami sudah berada dalam mode perubahan sempurna. Sepertinya aku takkan bisa menang melawan mereka berdua, aku harus pergi dari sini dan melaporkan semuanya kepada organisasi." Batin ketua pemimpin tersebut yang langsung melarikan diri dari sana. "Yah.. dia kabur!" Ucap Alisya melihat pria tersebut melarikan diri. "Kau mau mencoba jurus yang kita nonton dari anime jepang sebelumnya?" Tanya Adith dengan santai kepada Alisya. "Jurus yang waktu Killer Be dan Raikage saat memutuskan kepala kisame yang memiliki pedang hiu itu?" Tanya Alisya memastikan apa yang dikatakan oleh Adith. Adith mengangguk pelan membenarkan tebakan Alisya, yang langsung membuat Alisya tersenyum dan mengangguk juga. Adith dan Alisya segera berlari dengan kecepatan tinggi menghalangi pria tersebut. "Kalian berdua adalah monster yang sebenarnya." Ucapnya kaget saat ia merasa telah cukup jauh meninggalkan mereka berdua, namun ternyata mereka berdua malah sudah menghalanginya sekarang. Tepat setelah ucapannya tersebut, Adith dan Alisya segera memutuskan leher pria tersebut dengan siku mereka dari arah yang berlawanan. Kekuatan keduanya yang sangat besar membuat leher pria itu putus dengan mudahnya. Chapter 513 - Menyelamatkan Rinto "Rinto.. Hentikan, Kau bisa mendengar suaraku bukan? Semuanya sudah baik-baik saja sekarang. Kau tak perlu khawatir, karena Yani juga baik-baik saja. Dia hanya pingsan, jadi sadarlah!" Teriak Yogi kepada Rinto yang tampaknya telah mulai mengalami sedikit perubahan pada bagian kakinya. "Sepertinya dengan apapun yang kamu lakukan, saat ini jika hanya suara saja tidak akan mampu mencapai Rinto. Dia benar-benar tenggelam sepenuhnya dalam amarah." Ucap Zein mengingatkan Yogi tentang kondisi Rinto saat ini. "Tapi aku takkan menyerah, aku takkan mungkin membiarkan dia berubah menjadi seorang mutan. Baru kali ini aku melihatnya sampai semarah itu, sepertinya apa yang telah mereka lakukan pada yang memang benar-benar sangat kejam." Yogi mengepalkan tangannya membayangkan apa yang sudah dilihat oleh Rinto, sampai ia semarah itu. "Melihat kondisi Yani yang seperti tadi, aku juga mungkin akan merasa sangat marah jika hal tersebut terjadi pada Adora. Tapi bagaimana cara kita untuk bisa menyadarkannya?" Tanya Zein merasa tak ada cara yang bisa mereka lakukan untuk bisa mencapai Rinto. "Aku tak yakin ini akan berhasil, tapi sepertinya satu-satunya cara adalah dengan mendekatinya secara langsung." Terang Yogi membulatkan tekadnya untuk menerobos pisau yang mengelilingi Rinto. "Tidak, itu terlalu berbahaya untukmu. Pisau yang sedang dipakai Rinto adalah pisau khusus yang dibuat menggunakan energi nano nya sendiri. Sehingga dia mampu menembus apapun yang datang menghampirinya." Terang Zein tak ingin hal buruk menimpa Yogi karena keinginannya untuk menyelamatkan Rinto. "Tapi kita tidak akan mungkin membiarkan dia seperti itu terus, Apa kau memiliki cara yang lebih baik?" Tatap Yogi kepada Zein untuk meminta solusi. Zein seketika terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Yogi, sebab Ia pun tidak memiliki solusi yang tepat untuk bisa menyelamatkan Rinto saat ini. Jika mereka melakukan hal yang sangat gagah, tentu saja hal ini akan sangat menyakiti Rinto kemudian hari ketika ia sadarkan diri. "Rinto akan menyalahkan dirinya sendiri jika hal yang buruk terjadi lagi padamu karenanya. Tentu saat ini dia sedang melawan energi yang sangat besar, oleh karena itu kita berharap Alisya dan Adith akan segera datang secepatnya." Pinta Zein segera menghentikan Yogi untuk sementara. "Tidak, kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kau lihat perubahan yang semakin cepat? Jika kita menunggu Adith dan Alisya datang, maka bisa jadi dia sudah dalam keadaan perubahan sepenuhnya." tegas Yogi sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi melihat Rinto terus menderita seperti itu. Zein pasrah mendengar apa yang diucapkan oleh Yogi, memang benar melihat apa yang sedang terjadi pada Rinto saat ini, jika menunggu kedatangan Adith dan Alisya sepertinya sudah tidak akan cukup lagi. Rinto sudah mengalami setengah perubahan menjadi mutan, sehingga sangat dikhawatirkan jika Rinto sudah tidak bisa mengendalikan dirinya sepenuhnya lagi. Yogi akhirnya berjalan secara perlahan mendekati Rinto. Dia berharap, Rinto mampu mendengarkan ketulusannya saat akan menghampiri kilatan kecepatan pisaunya yang menebas sekitarnya. "Rinto, Apa kamu masih bisa mengenali suaraku?" Ucap Yogi yang secara perlahan sudah mendekati pusaran pisaunya yang seolah dilihat oleh Zein bagaikan putaran angin puting beliung yang tajam yang dapat menebas apapun yang ingin menghampirinya. Meski merasakan bahaya yang sangat besar, Yogi sudah tidak memperdulikannya lagi dan lebih memilih untuk tetap terus berjalan hingga tepat saat ia sudah benar-benar akan memasuki pusaran tersebut, seseorang dengan segera menghentikannya. Begitu sadar, ternyata Adith dan Alisya berada di kedua sisinya untuk menghentikannya dengan menepuk pundaknya. Alisya memegang pundaknya yang sebelah kanan sedang Adith memegang pundaknya yang sebelah kiri. "Sepertinya kau sudah berencana untuk mati konyol sekarang yah? Apa Aurelia tidak melayanimu dengan baik?" Tatap Adith kepada Yogi yang terlihat sangat khawatir dan gusar. "Jika aku membiarkan kamu masuk dalam pusaran ini, maka kekasihmu yang berada di dalam pesan dalam sana akan mengutukku dengan sangat keras." Terang Alisya dengan tersenyum hangat. "Kenapa kalian baru datang sekarang? Apa kalian tahu bagaimana khawatir nya aku terhadap apa yang akan terjadi pada Rinto?" Yogi tampaknya merasa kesal dengan kedatangan mereka yang sedikit terlambat. "Maaf karena kami terlambat, tapi sepertinya kami datang di saat yang tepat." Tegas Adith mulai menarik mundur Yogi dari dekat pusaran pisau Rinto yang mulai semakin melebar. "Bangunan ini sepertinya akan runtuh sebentar lagi, sebaiknya aku menyelesaikan ini dengan cepat agar kita bisa keluar bersama." Terang Alisya melihat tempat sekitar mereka yang mulai semakin retak dan melebar. "Apakah aku ikut membantumu?" Adith merasa kekuatan Rinto terlalu keluar dengan sangat besar. Alisya mungkin harus membutuhkan seseorang untuk dapat membantunya. "Tidak, biar aku yang masuk ke dalam. Energi dari Rinto adalah pecahan dari energiku. Aku yakin bisa melakukan sesuatu pada besaran energi ini. Melihat energi ini seolah sedikit bereaksi terhadap kehadiranku." Terang Alisya saat melihat pusaran pisau tersebut tampaknya sedikit terkacaukan ketika Alisya menghampirinya. "Maksud kamu?" Tanya Zein tak paham dengan apa yang dikatakan oleh Alisya. "Ummm¡­ bagaimana cara aku mengatakannya yah, sepertinya salah satu cara membuktikannya adalah dengan memperlihatkannya secara langsung." Ucap Alisya mendekati pusaran tersebut. "Hei, apa yang kau lakukan? Jika kau hanya masuk tanpa ada pertahanan seperti itu, kau malah akan mengalami¡­?" Yogi dengan segera ingin menghentikan Alisya tiba-tiba menganga melihat apa yang dilakukan olehnya. "Seperti ini!!!" Alisya memasukkan tangannya kedalam pusara dan menoleh dengan wajah polos dan santai seolah-olah sedang menembus dinding yang tak memiliki lapisan sama sekali. "Lihat ini¡­ Oy¡­ Oy¡­ Oy¡­ Oke berhasil!" Alisya yang melompat lompat dengan santainya terlihat sedang menangkap pisau milik Rinto yang melayang dengan kecepatan tinggi seolah sedang memetik buah yang ranum. "Apa yang sedang aku khawatirkan sebenarnya?" Yogi memukul jidatnya dengan sangat keras melihat sikap santai Alisya tersebut. "Buakakakakkaka¡­ Kau memang yang terbaik Sayang!" Adith hanya tertawa dengan terbahak-bahak karena mengkhawatirkan sesuatu yang tak perlu. "Ternyata Rinto hanya anjing setia yang takkan menggigit tuannya sendiri." Ucap Zein juga menampar dirinya sendiri melihat sikap Alisya yang sangat santai seolah-olah pisau itu adalah benda hidup yang mengenali tuannya. Alisya pun akhirnya melangkah perlahan-lahan menghampiri Rinto yang setengah bertekuk lutut masih dalam keadaan berteriak histeris dalam diam karena shock. "Plakkkkk! Sampai kapan kau akan begitu terus? Ayo kita pulang, semuanya sudah selesai." Alisya menampar kepala bagian belakang Rinto dengan sangat keras. Tidak ada reaksi membuat Alisya mendesah dan segera meninju bagian perutnya langsung membuatnya pingsan dan menghentikan pusara tersebut dengan begitu mudahnya. Alisya mengangkat Rinto layaknya anak kecil berumur 5 tahun berbentuk karung beras di pinggangnya. Chapter 514 - Mati Konyol Alisya yang mengangkat Rinto seperti karung beras ukuran 5 kilogram segera melemparkan Rinto kepada Yogi dengan santai. "Woy¡­ ini manusia, kau anggap apa sih sahabatmu sendiri." Yogi kesal saat Alisya melempar Rinto kepadanya. "Kau memang yang terbaik, aku bahkan tak mengira kalau akan segampang ini." Adith masih terus tertawa pelan mengingat apa yang baru saja terjadi. "Aku bahkan tak menduga kalau dia bisa menerobos pusaran pisau yang bisa menghancurkan apapun yang di kenainya tersebut. Apa karena energi nano dari Rinto sejatinya adalah energi nano dari Alisya?" Terang Zein masih menggeleng takjub dengan apa yang baru ia saksikan sebelumnya. "Dan aku hampir dengan bodohnya mempertaruhkan nyawa hanya untuk dapat menyelamatkan pria bodoh yang satu ini. Jika mereka benar-benar terlambat datang dan aku sudah berusaha menerobos masuk, aku benar-benar mati konyol." Ucap Yogi sembari membopong Rinto dengan susah payah. "Bagaimana bisa kau sampai terlihat se susah payah itu saat Alisya mengangkatnya dengan santai? Apa kau tidak malu dengan otot mu yang keras itu?" Adith mengejek Yogi yang tampak kesusahan. "Apa kau ingin aku menyebarkan gambarmu yang memakai dress itu di dunia maya!" Ancam Yogi dengan kesal yang malah mendapat tendangan kuat dari Adith hingga Yogi jatuh tersungkur sedang Zein hanya menyelematkan tubuh Rinto saja. "Ayo kita keluar dari sini, tidak ada waktu la.. ?" Belum selesai Alisya berkata, gedung itu tampaknya telah mulai roboh sedang mereka masih berada di lantai 5. Tanpa pikir panjang lagi, mereka berempat segera melompat dari gedung lantai 5 tersebut bersamaan dengan runtuhnya bangunan itu. Bangunan itu runtuh dan hanya menyisakan serpihan gedung setinggi lantai 1 gedung sebelahnya. "Kalian baik-baik saja?" Aurelia dan Adora segera menghampiri mereka yang melompat di daerah yang tidak berkumpul banyak orang. "Kalian sebaiknya pergi dari sini, biar aku yang mengurus semuanya. Kalian tidak perlu khawatir dan segera berikan perawatan kepadanya secepatnya." Terang Zein kepada Adith dan yang lainnya untuk lebih dahulu mengurus Rinto. "Terima kasih banyak, kami serahkan semuanya kepadamu." Tegas Adith yang langsung beradu kepalan tinju dan segera meninggalkan lokasi sebelum keberadaan mereka diketahui. Alisya hanya bisa melambai kepada Adora yang berada di samping Zein. Adora tidak ikut bersama mereka karena memilih untuk menemani Zein dan akan membantunya jika memang itu diperlukan. Berita mengenai apa yang sudah terjadi di tempat tersebut segera menggemparkan Indonesia, khususnya mereka yang berada dalam organisasi gelap. Mereka merasa terancam mengingat keberadaan mereka yang sekarang telah banyak diketahui oleh masyarakat. "Apa kau sudah membaca berita hari ini?" Suara seseorang dari ujung telepon terdengar sedang mengingatkan seseorang yang lainnya. "Ya, lakukan sesuatu terhadap itu dan bungkam mereka semua yang terlibat. Kita tidak bisa membahayakan posisi kita karena semua kejadian itu." Ucapnya memberi perintah dengan suara yang berat dan dingin. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Polisi sudah menemukan banyak informasi mengenai kita dan mereka juga sudah mulai bergerak." Ucap yang lainnya gusar memikirkan dampak dari kejadian yang terjadi pada Bar tersebut. "Tidak perlu khawatir, para pejabat atas tentu sedang melakukan banyak hal sekarang. Karena jika kita terekspos maka mereka juga akan berada dalam bahaya." Jawabnya dengan penuh percaya diri. Di tempat yang paling menjadi perkumpulan organisasi gelap. "Sepertinya sudah ada hal yang memicu pertempuran tersebut, sebab jika dilihat dari bekas reruntuhan yang ada. Pertempuran yang terjadi bukanlah sebuah pertempuran biasa." Seorang pria tertunduk memberikan laporan. "Apa maksudmu? Jelaskan dengan lebih rinci." Tegasnya dengan tidak sabaran. "Bar Demian memiliki beberapa pembunuh bayaran yang mereka dapatkan dari Balck Falcon, organisasi gelap terbesar dunia yang sangat di takuti. Akan tetapi tak ada satupun dari mereka yang berhasil kembali dari gedung tersebut dengan hidup-hidup." Lanjutnya lagi memberikan laporan. "Itu artinya telah muncul orang yang memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan kekuatan nano ciptaan Black Falcon tersebut?" Tanyanya dengan suara dingin menakutkan yang merasakan sedikit ketertarikan kepada apa yang sedang terjadi. "Benar!" Jawabnya singkat membenarkan apa yang dikatakan oleh tuannya. "Temukan mereka bagaimanapun caranya, mari kita lihat apakah mereka dapat dijadikan sekutu atau musuh. Jika mereka tidak bisa di ajak untuk bekerja sama, maka tidak ada cara lain selain memusnahkan mereka agar tidak menjadi kesulitan kita di kemudian hari." Perintahnya kepada bawahannya tersebut. "Baik tuan, akan kami laksanakan!" Terangnya sembari mengundurkan diri dari sana. Bukan hanya organisasi gelap saja yang mengalami banyak pergolakan yang begitu heboh, namun juga para petinggi dan pejabat yang juga ikut terlibat dalam keadaan tersebut. "Brakkkk!!!" Seorang pejabat tinggi negara membanting tangannya di atas meja ketika mendapati berita mengenai Bar Demian yang berentet panjang hingga berujung pada keterkaitan mereka dengan Bar tersebut. "Apa-apan ini? Bagaimana mungkin semua ini terjadi? Brengsek! Aku tak menyangka kalau semua data mengenai keterkaitan kami juga bisa mereka bocorkan dengan sangat mudah. Siapa dalang dari semua ini!!!" Ia terus memaki dengan kasar di dalam ruang kerjanya. "Maaf pak, ada beberapa polisi yang menerobos masuk ke dalam kantor." Asisten pribadi dari pejabat penting tersebut masuk secara tiba-tiba untuk memperingatkan tuannya. "Anda di tangkap atas pelanggaran pasal berlapis mengenai korupsi dan penyelewengan dana pemerintah lainnya serta penjualan dan pengkonsumsi narkoba. Anda berhak memanggil pengacara dan memberikan penjelasan di meja pengadilan." Ucapnya sembari menunjukkan surat perintah penangkapan kepada pejabat tersebut. "Tidak, lepaskan saya. Apa kalian tidak tau siapa saya? Itu semua bukan kesalahan saya. Lepaskan saya, saya bisa menuntut kalian sebagai pencemaran nama baik. Lepaskan saya!" Pejabat itu terus meronta ketika digiring keluar saat mengalami penangkapan tersebut. Bukan hanya dirinya, pejabat yang lainnya pun mengalami hal yang sama. Bahkan tepat saat mereka keluar, semua wartawan segera mengerubungi pejabat-pejabat yang mengalami penangkapan tersebut. "Pak, bisakah anda jelaskan mengenai keterkaitan anda dengan Bar tersebut?" Tanya seorang wartawan dengan sangat cepat. "Kami dengar kalau anda juga merupakan seorang member tetap yang telah lama menjadi pelanggan setia tempat tersebut." Tanya yang lainnya lagi tak kalah cepat. "Benarkah kalau anda juga pengkonsumsi narkoba serta pengguna wanita-wanita yang telah disediakan dalam Bar tersebut?" Ucap yang lainnya lagi dengan semangat menerobos. "Bagaimana cara anda dalam mengunjungi tempat tersebut tanpa diketahui oleh keluarga anda?" Tanya yang lainnya yang langsung mengaitkan keluarga para pejabat tersebut. Tak satupun dari mereka yang menjawab semua pertanyaan dari para wartawan tersebut. Mereka semua hanya bungkam dan terus menunduk menyembunyikan wajah mereka karena malu. Chapter 515 - Afasia "Bagaimana dengan keadaannya?" Adith dan Alisya datang mengunjungi Rinto, Yogi yang sudah berada di dalam tampak tertunduk mengkhawatirkan Rinto. "Entahlah, dia sudah tidak bangun selama hampir seminggu ini. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya, tapi ayah Karin berkata kalau Rinto terlalu banyak kehilangan energi nanonya yang menyebabkan dia membutuhkan waktu untuk bisa sadar kembali." Terang Yogi dengan suara yang terdengar lesu dan khawatir. "Kau tidak perlu khawatir, aku yakin dalam beberapa hari lagi dia pasti akan terbangun. Kau ingatkan bagaimana aku juga sampai tidak bisa terbangun hingga beberapa hari karena kehilangan banyak energi nano?. Mungkin itulah kondisi yang sedang dialami oleh Rinto saat ini." Jelas Alisya mengingatkan Yogi, mengenai dirinya yang sebelumnya juga mendapatkan kondisi yang sama. "Ya kau benar, aku hanya berharap dia segera bangun dan bisa kembali bekerja dengan baik." Ucap Yogi berdiri dari tempat duduknya untuk membersihkan keringat yang bercucuran dari pelipis Rinto. "Bagaimana dengan Yani? Apa sekarang dia masih terus diam dan berkata apa-apa?" Yogi ingat dengan kondisi Yani yang sebelumnya terlihat cukup parah. Dalam beberapa hari terakhir, Yani terus terdiam dan mengurung diri karena terus tenggelam dan kesedihan mengingat apa yang terjadi di depan kedua matanya sendiri. "Seperti yang kau dengar, Yani saat ini sedang mengalami Afasia. Dan lepbih tepatnya dia mengalami dua afasia sekaligus, yaitu Afasia ekspresif dan Afasia anomik." Terang Adith menjelaskan kepada Yogi, mengenai kondisi yang di alami oleh Yani saat ini. "Afasia? Bukankah itu adalah penyakit kelainan otak yang biasanya penyebab utamanya adalah tumor, kecelakaan yang membuat kerusakan pada tau atau demensia?" Yogi tertegun belum memahami secara pasti mengenai Afasia yang dimaksudkan oleh Adith. "Benar, tapi yang di alami oleh Yani sedikit berbeda dengan apa yang kamu pahami. Yeni mengalami trauma yang sangat kuat sehingga menyebabkan beberapa kerusakan sistem saraf yang ada pada bagian otaknya." Jelaskan Alisya membenarkan apa yang dikatakan oleh Yogi mengenai afasia. "Afasia ekspresif adalah penyakit di mana seseorang sebenarnya tahu apa yang akan dia katakan namun sulit untuk dapat mengutarakannya. Sedang afasia anomik, di mana seseorang kesulitan dalam memilih dan menemukan kata-kata yang tepat ketika menulis dan berbicara. Dan itulah kondisi yang dialami oleh Yani di saat ini." Jelas Adith lagi secara rinci. Adith yang merupakan seorang dokter saraf tentu saja tahu mengenai apa yang sedang dialami oleh Yani saat ini. "Lalu, apa yang akan kalian lakukan untuk menanganinya?" Tanya Yogi kepada Adith dan Alisya. "Untuk saat ini kami sedang melakukan terapi terhadapnya, serta menggunakan alat peraga sebagai penyampaian pesan baginya. Hal ini cukup dapat digunakan untuk dia dapat berkomunikasi dengan baik dengan orang lain." Jelas Adith duduk di sebelah ranjang Rinto dan memandangi nya dengan penuh khawatir. "Kondisi yang dialami Ani saat ini membuat dia semakin tidak ingin berkomunikasi dengan siapapun. Dia hanya akan menjawab dengan ya atau tidak, jika pertanyaan yang diajukan padanya pun juga cukup mudah." Alisya terduduk ke sofa memikirkan Yani. "Dia yang kehilangan semua harapannya untuk bertahan hidup di dunia ini, tentu saja akan merasa sangat sulit untuk bisa bertahan menghadapi kenyataan mengenai meninggalnya dua orang yang sangat ia cintai, terlebih mereka meninggal dengan cara yang cukup mengenaskan di hadapan kedua matanya secara langsung." Alisya tanpa sadar mengeluarkan energi nanonya dengan sangat dahsyat karena marah. "Dan kita tidak bisa berbuat apa-apa mengenai hal tersebut. Apa yang bisa kita lakukan saat ini adalah terus memberikannya dukungan agar ia benar-benar bisa kembali pada kondisinya semula. Karena jika dibiarkan terus berlanjut, hal itu mungkin akan semakin mempengaruhi sistem kerja otaknya." Jelas Adith menenangkan Alisya untuk menahan diri. "Kita juga harus melakukan sesuatu pada pria bodoh satu ini, jika orang yang mengajak Yani untuk berkomunikasi adalah Rinto, mungkin saja Rinto bisa mencapai hati Yani." Ucap Yogi menunjuk Rinto dengan matanya sedang ia setengah bersandar di dekat jendela. "Ya, kau mungkin benar. Saat ini yang dibutuhkan oleh Yani adalah perhatian serta dukungan orang-orang sekitarnya untuk bisa memahami apa yang sedang ia alami saat ini." Karin masuk dengan tersenyum hangat kepada mereka semua. "Ayah sudah bekerja keras untuk meningkatkan daya kerja serum ini, semoga saja ini bisa mengembalikan dan mengendalikan energinya yang kacau di dalam tubuhnya sehingga sistem dalam tubuhnya dapat bekerja dengan baik dan mengembalikan kesadarannya dengan cepat." Lanjut Karin sekali lagi sembari memperlihatkan sebuah serum yang sudah di pegangnya. "Apa kau yakin dengan hal ini? Apa kau sudah mencobanya sebelumnya?" Tanya Alisya khawatir kalau Rinto akan menjadi kelinci percobaan dua orang yaitu anak dan bapak yang sangat gila dalam melakukan percobaan tersebut. "Te¡­ tentu saja!" Ucap Karin dengan ekspresi yang cukup aneh. "Kau tidak yakin ternyata!" Ketus Yogi kesal kepada Karin. "Bagaimana mungkin kau akan memberikan serum itu di saat kau tak mengetahui kalau serum itu belum teruji dengan baik." Ucap Alisya mengingatkan Karin dengan tidak membiarkannya mendekat. "Apa Rinto tidak akan mendapatkan efek dari penggunaan serum tersebut?" Tanya Adith khawatir dengan apa yang akan dilakukan oleh Karin. "Kalian tidak perlu khawatir, bukankah kalian sudah tahu sendiri bagaimana aku dan ayahku menciptakan berbagai bahan dan alat-alat yang mampu membuat kalian bisa menjadi lebih kuat?" Terang Karin sembari membuang mukanya tak ingin bertatapan mata dengan mereka. "Kau sedang berbicara dengan siapa?" Tanya Alisya dengan sinis. Alisya yang telah mengetahui dan merasakan selama ini dengan semua yang mereka lakukan cukup tau kalau adakalanya ia yang selalu menjadi objek percobaan mengalami hal yang cukup mengerikan. "Ah.. intinya adalah setidaknya kita harus mencobanya terlebih dahulu. Bagaimana kita akan tahu kalau ini berhasil atau tidaknya jika kita belum mencobanya terlebih dahulu. Percayalah padaku, kami sudah melakukan yang terbaik." Jelas Karin dengan penuh keyakinan. "Baiklah, benar apa yang di katakan oleh Karin. Kita tidak akan tahu sampai kita mencobanya dan melihatnya sendiri." Adith pada akhirnya menyetujui apa yang dikatakan oleh Karin. "Jika memang tak ada cara lain, mungkin sebaiknya cara itu harus di lakukan" Alisya juga tidak bisa berbuat banyak selain percaya pada kemampuan ayah Karin dan Karin. Setelah mendapatkan dukungan dari ketiganya, Karin segera memberikan Serum tersebut kepada Rinto. "Sekarang kita tinggal menunggu serum itu bereaksi pada tubuhhnya¡­" Karin yang belum selesai menjelaskan dikejutkan dengan Rinto yang sudah terduduk di atas ranjangnya. "Yani¡­!" Teriak Rinto dengan Keras. "Plakkkkk!" Tampar Karin karena kaget. Chapter 516 - Kalian Berdua, Ikut Bersamaku! "Kau sudah gila yah? Main hantam saja pada pasien yang baru bangun?" Yogi tak menyangka kalau Karin langsung mengeplak Rinto dengan begitu kerasnya. "Kau pikir aku tidak kaget? Aku jadi mendadak tua 10 tahun gara-gara dia tau!" ucap Karin kesal karena dia memang benar-benar sangat terkejut. Selain karena Rinto yang bangun secara tiba-tiba, melainkan juga karena dia berteriak dengan sangat kencang. "Aduh, sakit sekali!" ucap Rinto sembai memegang kepalanya yang sakit. "Kau baik-baik saja? Itu salahmu sendiri karena berteriak mendadak seperti itu." Pukul Yogi pelan pada bahu Rinto. "Aku bisa merasakan energi nano yang ada dalam tubuhmu perlahan-lahan mulai stabil. Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, kau sudah baik-baik saja sekarang." Alisya seolah bisa melihat pergerakan ion-ion nano dalam tubuh Rinto yang memang sudah jauh lebih stabil dibanding dengan sebelumnya. "Sepertinya serum yang diberikan oleh Karin bekerja dengan sangat cepat sehingga hanya dalam hitungan detik semua sudah baik-baik saja sekarang. Tapi apa dia perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahu sebatas mana energi nano yang dalam tubuhnya berkembang?" tanya Adith kepada Alisya mengenai kondisi Rinto. "Sepertinya tidak perlu, tapi aku masih tak menyangka kalau Rinto juga bisa mengalami perubahan seperti itu. Itu artinya kita semua yang memiliki energi nano juga bisa mengalami hal yang sama dengan Rinto." Tatap Karin juga kepada Alisya mengenai perkembangan yang mungkin hanya diketahui oleh Alisya dan professor Ahmad saja. "Benar, kalian mungkin akan mengalami hal yang sama dengan Rinto jika kalian tidak bisa mengendalikan amarah kalian dan mengeluarkan energi nano tersebut dengan skala besar, maka perubahan kalian menjadi mutan tentu saja bukanlah hal yang mustahi." Terang professor Ahmad masuk bersama dengan Ayah Karin. "itu semua dapat terjadi karena Alisya adalah orang pertama yang mampu mengembangkan energi nano tersebut dengan cara yang berbeda, dan kalian yang terpapar secara langsung oleh orang yang memilikinya, bukan berdasarkan data ataupun serum percobaan sehingga energi nano yang kalian dapatkan layaknya apa yang ada pada tubuh Alisya meski hanya dengan level kekuatan tertentu." Terang Ayah Karin menjelaskan mengenai kondisi mereka semua. "Setiap orang memiliki system pertahanan tubuh yang berbeda-beda serta daya kekebalan tubuh yang berbeda pula dan kondisi yang juga berbeda membuat kalian memiliki adaptasi energi nano yang berbeda. Hal itulah yang menyebabkan mengapa Adith juga mengalami penyesuaian energi nano yang berbeda, dimana energi nano yang ada dalam tubuhnya menyatu dengan sangat baik dan terkendali dengan sangat baik pula." Tambah professor lagi menyodorkan data tubuh mereka kepada Adith. "Dan karena tubuhku juga mengalami pekermbangan dengan bisa beradaptasi membuat energi nano dalam tubuhku juga ikut stabil?" Reinto merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan dirinya. "Sepertinya ini karena kali pertama kau menggunakannya dengan sangat besar sehingga kita membutuhkan serum khsusus yang di buat oleh dokter Hady untuk bisa menetralkan ion nano yang ada dalam tubuhmu." Jawab professor Ahmad berdasarkan data Analisa yang dilihat olehnya sebelumnya. "Apa kami juga akan membutuhkan serum itu nantinya?" tanya Yogi ingin memastikan karena ia bepikir bahwa mungkin saja mereka juga harus menggunakan serum tersebut. "Tentu, tapi tidak dalam kondisi normal seperti ini. Hanya mereka yang sudah sempat mengalami perubahan lah yang dapat menggunakan serum tersebut. Untuk saat ini sebaiknya biarkan Rinto beristirahat dulu agar kita bisa melihat perkembangan dari efek yang mungkin dapat ditimbulkan oleh pemberian serum itu." Ucap Ayah Karin memberikan tanda kepada Karin untuk segera melakukan pengamatan lebih lanjut terhadap tubuh Rinto. "Kalian berdua, ikutlah bersamaku. Ada beberapa hal yang ingin aku bahas kepada kalian berdua." Ajak professor Ahmad kepada Adith dan Alisya. Saling berpandangan, keduanya langsung mengiyakan ajakan professor Ahmad dan mengikutinya dari belakang setelah berpamitan dengan Rinto. "Bagaimana dengan kondisi Yani saat ini?" tanya Rinto kepada Yogi, begitu semua orang sudah tidak berada disekitar mereka dan hanya menyisakan mereka berdua. "untuk tubuh, dia tidak terluka cukup parah dan masih dapat di obati, tapi tidak dengan mentalnya. Yani mengalami trauma yang cukup mendalam akibat dari meninggalnya Ibu dan Adiknya secara mengenaskan di hadapan matanya." Yogi akhirnya menceritakan semua yang di derita dan di alami oleh Yani secara rinci. Mendengar semua yang dikatakan oleh Yogi, Rinto segera pergi ke tempat dimana Yani di rawat. Dari kejauhan, Rinto bisa melihat Yani yang duduk termenung memandangi langit. Cahaya matahari yang masuk menerpa wajahnya yang tanpa ekspresi dengan mata yang menatap kosong tak berujung membuat Rinto merasakan perih yang amat dahsyat. Yani perlahan-lahan menangis dalam kesendirian membuat Rinto ingin berada disisinya, memberikannya wadah agar ia bisa menangis sepuasnya, memberikan pundaknya agar ia bisa bersadar jika lelah menangis, serta menemaninya agar ia tak merasa sendiri. Akan tetapi, Rinto tak berani melangkah dan terus berdiri menatap dari kejauhan. Yani yang sudah tertidur setelah kelelahan menangis, sehingga Rinto memberanikan diri untuk masuk dan mendekatinya. Dari keterangan Yogi, Rinto mengetahui kalau ia tersadar setelah sebulan terbaring di rumah sakit milik ayah Karin. Dan dalam masa waktu itu pula, Yani tak pernah sekalipun mengeluarkan dan mengucapkan sepatah katapun. "Maafkan aku, andai saja malam itu aku tetap bersamamu dan tidak bersikap dengan begitu pengecut dan bodohnya hingga meninggalkanmu sendirian di rumah sakit, hal ini mungkin saja tidak akan terjadi." Ucap Rinto terduduk di sebelah Yani sembari terus memandangnya dengan lembut. "Karena kebodohan diriku yang pengecut ini, kau akhirnya harus kehilangan semua orang yang kau cintai. Aku sangat menyesali diriku yang pulang pada malam itu, padahal aku sudah mendengar semuanya tapi karena takut kalau itu hanyalah sebuah perasaan sementara, pada akhirnya aku melarikan diri dengan begitu bodohnya." Rinto terus saja menyalahkan dirinya atas apa yang sudah terjadi. "Tapi mulai saat ini, aku takkan pernah membiarkanmu sendiri lagi. Aku akan terus berada disampingmu, melindungimu serta menepati janjiku pada ibumu yang telah menitipkan dirimu padaku. Meski kau akan menolakku atau membenciku, aku takkan pernah pergi dari sisimu. Aku akan melindungimu dengan nyawaku karena aku mencintaimu, Yani." Rinto mengecup lembut kening Yani yang tampak mengekerut karena sedang memimpikan sesuatu yang buruk. Kata-kata Rinto saat itu merasuk kedalam hati Yani, sehingga untuk sesaat dimana Rinto terus berada disisinya tersebut membuat Yani menjadi sedikit lebih tenang dan dapat tidur dengan nyaman. Semenjak kejadian yang mengerikan itu, tak pernah sedetikpun Yani bisa tidur dengan tenang karena wajah Adik dan Ibunya terus terbayang dalam mimpinya. Chapter 517 - Aku Akan Ikut Membantumu Selama beberapa minggu setelah tersadarnya Rinto, semua teman-temannya terus saja mengunjungi Yani untuk memberikan dukungan dan terus mengajaknya untuk berkomunikasi, namun Yani tetap tak menunjukkan adanya perubahan. Tak ada satupun dari mereka yang dapat berkomunikasi dengan Yani, tak terkecuali Rinto dan Alisya. Yani benar-benar tenggelam dalam kegelapan kesedihannya yang membuat mental maupun fisiknya semakin kurang membaik. "Kita tidak bisa membiarkan dia seperti itu terus, kita harus melakukan seuatu dengannya." Adora menatap Yani yang duduk diam membisu tak memperdulikannya yang datang untuk menghiburnya. "Benar, jika dia seperti ini terus maka dia bisa saja akan memperparah penyakit Afasia yang di deritanya saat ini." Terang Karin menyetujui apa yang dikatakan oleh Adora. "Apa tidak ada yang bisa kita lakukan?" Emi menatap Yani dengan hati yang pedih karena merasa tak bisa melakukan apapun untuk bisa membuat Yani kembali ceria seperti semula. "Dia memang kurang percaya diri, tapi dia bukanlah anak yang gampang putus asa dan selalu saja bersikap ceria sehingga tak ada satupun dari kami yang menyangka kalau anak itu memiliki tanggung jawab dan beban yang berat." Sambung Feby mendekap Emi karena merasakan kesedihan yang sama. "Andai kita bisa melakukan sesuatu untuknya dan membuatnya kembali tersenyum." Gina bersandar dengan pasrah memikirkan hal yang dapat mereka lakukan untuk Yani. "Aku sudah mencoba untuk mengajaknya keluar dari tempat ini, tapi dia menolak dengan sangat keras bahkan sampai memukul dirinya sendiri sehingga kamipun tidak punya pilihan lain selain membiarkannya sendiri." Terang Alisya yang sebelumnya pernah mengajaknya keluar bersama dengan Rinto. "Akupun sudah mencoba menghiburnya dengan musik dan bernyanyi untuknya, tapi tak ku sangka dia malah terus menangis tanpa henti karena hal tersebut." Ucap Beni mengingat ia juga mencari cara untuk bisa menghibur Yani. "Aku juga sudah membawakan banyak makanan yang aku tahu sangat disukainya, tapi taka da satupun makanan yang dimakannya." Tambah Akiko yang pernah mendengar kalau Yani sangat menyukai makanan khas jepang seperti sushi. "Bahkan hal-hal indah sepeti bunga sekalipun juga tidak di perdulikannya." Tambah Gani yang sudah bersusah payah mengisi ruang kamar Yani dengan berbagai macam bunga dan boneka. "Kalian jangan menyerah seperti itu, Yani mungkin memang membutuhkan waktu untuk dia benar-benar bisa menerima kenyataan mengenai adik dan ibunya. Kita juga tak bisa memaksakan kehendak kita kepadanya, oleh karena itu jangan pernah bosan untuk terus memberikannya dukungan." Ucap Adith memberikan mereka dukungan agar mereka tetap semangat untuk terus memberikan dukungan dan menghibur Yani. "Traumanya membuatnya sangat membenci dunianya, sehingga yang perlu kita lakukan adalah terus berusaha untuk menyentuh hatinya secara perlahan-lahan." Tambah Karan lagi menyemangati mereka semua. "Sepertinya aku punya ide yang cukup baik untuk Yani, aku yakin ini akan sedikit memberikan perubahan pada Yani nantinya." Ucap Alisya dengan wajah yang sangat Bahagia memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk Yani. "Aku harap dia tidak memikirkan sesuatu yang cukup aneh dengan senyuman seperti itu." Gumam Yogi merasa kurang Yakin dengan senyuman yang di perlihatkan oleh Alisya. "Tidak perlu khawatir, senyuma itu adalah senyuman tulus yang tidak perlu kau takutkan." Ucap Ryu menenangkan Yogi dari pikiran negatifnya terhadap Alisya. "Selain itu, Yani adalah orang yang sangat berharga bagi dirinya sehingga tentu saja kau tak perlu mengkhawatirkan hal tersebut." Tambah Karin sangat mempercayai Alisya dengan sepenuhnya. "Aku harap dia akan baik-baik saja secepatnya agar kami bisa kembali bekerja seperti dulu lagi. Dia sangat suka dan cinta dengan pekerjaannya saat ini." Terang Vindra yang sedari tadi hanya terdiam menatap Yani. "Kita serahkan saja semuanya kepada Alisya, karena lebih tau banyak hal tentang Yani." Jelas Zein yang langsung di jawab anggukan oleh mereka semua. "Aku akan ikut membantumu!" Rinto dengan cepat menawarkan diri untuk membantu Alisya. "Tentu saja, karena keberadaan dirimu juga sangat penting." Ucap Alisya cepat. Alisya segera mengambil handphonenya dan melakukan panggilan serta berbicara dengan seseorang. Tepat setelah mendapat panggilan tersebut, Ryu pun juga mendapat panggilan yang kemudian ia menatap Alisya. Alisya memberinya tanda yang kemudian di jawab dengan anggukan oleh Ryu dengan cepat. "Apa yang terjadi?" tanya Karin tak paham dengan Bahasa tubuh keduanya. "Nona sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat matang, sehingga sekarang kita tinggal mengikuti rencananya saja." Terang Ryu memberitahukannya kepada Karin yang langsung membuat semuanya takjub dengan cara kerja Alisya yang selalu saja cepat dan tepat. Mereka yang sudah mulai tenang akhirnya kembali ke rutinitas mereka masing-masing dan hanya menyiksakan beberapa orang saja di rumah sakit. "Kap.. ehemm¡­" Rendy yang sudah terbiasa memanggil Alisya dengan sebutan kapten harus selalu mengalami kesulitan ketika dia bertemu dengannya setiap saat di tempat umum. "Kami sudah melakukan semua yang di perintahkan, kita tinggal masuk pada rencana selanjutnya." Ucap Rendy langsung memberika laporan kepada Alisya. "Apa maksudnya? Kenapa Rendy dan yang lainnya juga ikut terlibat saat ini?" tanya Karin bingung tak memahami maksud dari apa yang dikatakan oleh Rendy. "Kejadian terakhir kali menimbulkan kehebohan di dunia kegelapan, dimana keberadaan kita semua termasuk orang-orang yang terlibat di dalamnya menjadi hal yang paling dicari-cari oleh mereka." Terang Alisya menjelaskan maksud dari kedatangan Rendy saat itu. "Profesor Ahmad telah memperingatkan kami sebelumnya, bahwa organisasi telah mencurigai akan adanya kekuatan lain yang telah membuat beberapa anggota mereka menghilang sehingga mereka menciptakan alat pendeteksi tertentu yang dapat mengetahui keberadaan seseorang yang memiliki ion nano." Tambah Adith menjelaskan situasi mereka saat ini. "Untuk itulah hari ini aku sengaja mengumpulkan kalian semua untuk secara diam-diam memasang medan pelindung yang sudah Adith masukkan kedalam Pil yang sebelumnya sudah Adith campurkan kedalam minuman mereka semua." Lanjut Alisya lagi dengan ekpresi wajah yang sangat serius. "Mereka yang meminumnya untuk sementara takkan bisa menggunakan atau mengaktifkan energi nano mereka sampai Alisya kembali ke tempat ini lagi." Adith kemudian memperlihatkan sebuah data hologram yang memperlihatkan energi nano dalam tubuh mereka yang tampak berwarna hijau. "Tapi kenapa mereka yang tak memiliki energi nano juga masuk dalam pengamatan kalian?" tanya Ryu ketika melihat Adora dan yang lainnya juga ikut masuk dalam data yang di tunjukkan oleh Adith. "Karena mereka terlalu sering bersama dengan pengguna energi nano." Jawab Alisya singkat. "Untuk itulah kami semua ditugaskan untuk melindungi mereka untuk sementara sebab Kapten akan pergi ke Jepang untuk sementara waktu. Dan sampai keadaan menjadi sedikit lebih tenang, maka semua dapat kembali dengan normal." Jelas Rendy memberitahukan alasan keterlibatan dirinya. Chapter 518 - Aku Serius "Kamu sudah bangun?" tanya Alisya kepada Yani yang tampak terbangun dari tidurnya. Yani hanya mengangguk pelan dan tak menjawab, dia melihat kepada Alisya dengan wajah penuh pertanyaan sebab tempat sesaat sebelum ia tertidur kini sangat jauh berbeda dengan tempat setelah ia terbangun dari tidurnya. "Kita di pesawat!" ucap Alisya dengan nada lembut kemudian terduduk di sebelah Yani. Mendengar apa yang dikatakan oleh Alisya, Yani dengan seketika meronta melopmpat dari atas kasurnya. Yani menggeleng dengan sangat kencang seolah ia tak ingin pergi. Dia tidak ingin meninggalkan ibu dan adiknya sehingga ia tampak sangat marah kepada Alisya, yang kemudian tampak melarikan diri mencari tempat untuk keluar. "Yani, dengarkan aku dulu!" Tarik Alisya yang hanya di tepis oleh Yani dengan penuh amarah. "Yani! Hentikan, apa yang kau lakukan?" Alisya terus berusaha menghentikan Yani yang tampak meronta dalam diam terus menyusuri kabin pesawat pribadinya yang sedikit membuat Alisya panik dengan tingkahnya. Rinto dan yang lainnya segera mendatangi sumber suara keributan, dan menemukan Alisya yang sudah mendekap Yani yang akan membuka pintu itu dengan terburu-buru. Alisya bisa saja membuatnya terdiam, tapi dia sengaja membiarkan Yani melampiaskan amarahnya karena sudah membawa dirinya pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu. "Apa yang terjadi? Mengapa dia sampai semarah ini?" tanya Rinto melihat Yani yang memberontak dalam diam. Tatapan matanya hanya tertuju pada pintu pesawat tersebut, yang kemudian membuat Alisya memeluknya dengan erat. "Maafkan aku! Aku minta maaf karena sudah membawamu tanpa Izin, Maafkan aku!" suara lembut Alisya yang terdengar begitu tulus membuat ia sejenak melemah dan luluh. Meski ia sangat marah saat ini, tak ada hal yang bisa ia lakukan selain memukul Alisya dan mendorongnya hingga jatuh. Tatapan Yani yang penuh kebencian membuat hati Alisya sedikit pedih, namun ia berusaha untuk memaklumi dirinya. Karena dialah yang salah dan memang seharusnya meminta izin darinya terlebih dahulu sebelum membawanya, namun jika ia melakukan hal tersebut pun, tentu saja ia takkan mendapatkan izin dari Yani. Yani yang terdiam membatu tak menyangka kalau ia sudah mendorong Alisya dengan cukup keras akhirnya kembali ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya. Rinto hanya melihat dengan tatapan sedih apa yang sedang terjadi. "Kau baik-baik saja?" Karin datang menghampiri Alisya yang terjatuh di bawah. "Aku baik-baik saja. Setidaknya amarah yang dia keluarkan memang semua karena salahku!" ucap Alisya tersenyum dengan kecut. Bukan karena merasa sedih dengan apa yang dilakukan oleh Yani padanya, namun karena melihat Yani begitu marah ketika mengetahui mereka sedang berada di atas pesawat saat ini. "Tidak apa-apa, ini hanya masalah waktu sampai ia benar-benar tenang dan bisa menerima semua ini. Kedepannya kalian akan sedikit kesulitan saat menanganinya, tapi aku harap kalian tidak akan menyerah karena saat ini ia akan sangat rentan terhadap beberapa hal." Terang Karan menyemangati mereka semua agar menjadi lebih bersabar dalam menghadapi Yani. "Sebentar lagi kita akan sampai, aku tak yakin dia akan membukakan kita pintunya atau tidak. Tapi sebaiknya untuk berjaga-jaga aku akan menyediakan kunci akses agar kita bisa masuk meski ia telah menguncinya dari dalam." Ucap Ryu segera mencari kunci akses kamar yang sedang di tempati oleh Yani. "Aku ingin mencoba untuk membujuknya, tapi sepertinya akan susah jika dia masih dalam keadaan marah seperti ini." Ucap Rinto dengan wajah yang terlihat begitu khawatir kepada Yani. "Untuk saat ini sebaiknya kita biarkan dia sendiri saja dulu. Berikan dia waktu untuk berpikir dan menenangkannya, dan saat kita sudah sampai aku akan sangat berharap kau pergi membujuknya." Tepuk Alisya pada Pundak Rinto dengan penuh rasa kepercayaan padanya. Beberapa jam kemudian, mereka sudah sampai sekitar lima belas menit yang lalu. Karena tak ingin mengganggu Yani, mereka terpaksa menunggu sedikit lebih lama agar Yani bisa lebih tenang dan nyaman terlebih dahulu. "tok.. tok¡­ tok¡­" Yani mendengar suara ketukan dari pintu kamarnya, namun Ia masih tak ingin membuka pintu kamarnya. "Ummm Yani, maukah kau membuka pintu kamarmu?" ucap Rinto dengan suara yang lembut membuat Yani hanya menoleh sebentar, namun masih belum bergeming dari tempatnya. "Aku tau saat ini kamu marah kepada Alisya karena sudah membawamu ke Jepang tanpa se izin darimu, tapi setidaknya kau mau mendengarkan penjelasannya dulu. Dia hanya ingin agar kau tidak terus tenggelam dalam kesedihanmu seperti itu." Lanjut Rinto lagi tak menunggu jawaban dari Yani, karena ia yakin Yani saat ini sedang mendengar dirinya. "Selain itu, aku punya sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu. Tapi sebelum itu, maukah kau membuka pintumu?" tanya Rinto sekali lagi dengan mengetuk dua kali pintu kamarnya. Di tangannya dia sudah memiliki kunci akses ruang kamar Yani, namun ia memilih untuk membujuknya terlebih dahulu karena tak ingin ia semakin marah dan memberontak kepada mereka semua. Rinto hanya ingin menyelesaikannya dengan baik-baik agar baik dirinya maupun Yani bisa saling memahami satu sama lainnya. "Apakah kau akan tetap tak ingin berbicara denganku meski ini ada hubungannya dengan ibumu? Aku ingin menunjukan pesan yang dulu ibumu sampaikan padaku sewaktu aku mengunjunginya. Maukah kau melihat dan mendengarnya?" Rinto yang menyebutkan ibunya membuat Yani langsung terkejut tak percaya. Dia dengan ragu-ragu karena mengira kalau Rinto mungkin saja membohonginya hanya agar dia membukakan pintu kamarnya tersebut, pada akhirnya tetap membuka pintu kamarnya karena merasa sangat penasaran. "Aku serius, aku takkan mungkin membohongimu untuk hal seperti ini." Melihat Yani yang memadanginya dengan penuh ancaman saat membuka pintu membuat Rinto paham akan maksud dari ekspresi tajam yang di lemparkan Yani ke arahnya. Melihat Rinto tak terlihat berbohong, Yani akhirnya membuka pintunya dengan sedikit lebih lebar dan membiarkan Rinto masuk. Tepat saat Rinto akan membuka mulutnya, Yani kembali menatapnya dengan tajam seolah menyuruhnya untuk tidak berbasa-basi lagi. "Baiklah, aku takkan mengatakan apapun lagi, tapi tolong lihatlah rekaman ini terlebih dahulu." Rinto segera mengeluarkan sebuah alat yang langsung memperlihatkan gambar hologram yang memperlihatkan wajah ibu Yani disana. Melihat itu Yani langsung menekan dadanya dengan sangat kuat. Tampak jelas kalau gambar itu di ambil tanpa sepengetahuan ibunya. "Maaf aku merekamnya tanpa sepengetahuan dirinya, namun karena melihatnya sangat ingin menyampaikan hal ini kepadamu membuatku lebih memilih untuk merekamnya secara langsung. Ini pun adalah ide dari adikmu, dia yang berbisik padaku untuk merekam apa yang akan di katakan oleh ibumu karena merasa hal tersebut akan menarik." Terang Rinto menjelaskan mengapa ia bisa memiliki rekaman ibunya tersebut. Chapter 519 - Pesan Ibu Yani "Nak Rinto, Yani itu anaknya pekerja keras sekali. Dia juga tidak akan memperlihatkan kesedihannya kepada siapapun, sebab dia yang merasa sebagai anak pertama yang menjadi tulang punggung keluarga menjadikan dirinya lebih bersikap kuat dan tegar." Suara ibu Yani segera membuat Yani menangis dalam diam. Suara yang sangat di rindukannya itu dengan segera membuat air matanya jatuh tak tertahankan. Melihat Yani yang terus menahan air matanya dengan tidak membiarkan air mat aitu terlihat oleh Rinto, membuat Rinto segera berpaling dan ingin pergi meninggalkan Yani untuk sementara waktu. "Huh?" Rinto yang sudah berjalan keluar segera di hentikan oleh Yani sehingga Rinto mau tidak mau tetap berada di dalam ruang tersebut namun dengan posisi membelakangi Yani. "Yani selalu menyembunyikan kesedihannya di balik senyumnya yang ceria, dia juga tidak pernah menunjukkan ekspresi marah kepada kami. Tapi ketika bersamamu, aku bisa melihat berbagai ekspresi yang ia tunjukan padamu." Ucap ibu Yani dengan senyumnya yang telihat sudah mulai mengkriput tersebut. ""Saya tidak yakin apakah saya masih akan bisa melihatnya nanti, tapi rasanya saya sudah tidak memiliki waktu yang cukup untuk bisa terus menemaninya hingga ia menikah di saat kondisiku semakin tak menentu. Saya mungkin tidak seharusnya mengatakan ini padamu, tapi kau adalah laki-laki pertama yang pernah menemuiku meski kau mengaku sebagai teman ataupun atasannya saat ini." Ibu Yani menepuk punggung tangan Rinto dengan senyuman hangat. Setiap kata yang ia ucapkan dengan nafas yang berat membuat Yani merasakan sesak dihatinya. Dadanya seolah tak sanggup untuk menahan semua beban kesedihannya saat ini, tapi ia masih terus ingin mendengar apa yang akan di katakan oleh ibunya. "Sekarang mungkin ia sedang memilihku sebagai prioritas hidupnya, tapi tidak menutup kemungkinan kalau suatu saat nanti dia akan memilih seorang pria sepertimu. Tempat dia kembali juga mungkin masih kepadaku, namun suatu saat nanti tempatnya kembali dan rumahnya adalah dimanapun ia bisa bersamamu." Ucapnya lagi sembari terus memperhatikan ekspresi Rinto yang kebingungan. "Tapi tante, kenapa tante mengatakan semua ini padaku? Aku bukanlah¡­" Rinto yang ingin menjelaskan mengenai dirinya kepada ibu Yani segera di cegatnya dengan cepat. "Yani mungkin bukanlah orang yang kau pilih saat ini, tapi saya sangat berharap kalau suatu saat nanti wanita yang dapat menyentuh hatimu adalah Yani. Atau.. kau sudah memiliki wanita lain saat ini di dalam hatimu?" tanya ibu Yani ingin memastikan. Rinto hanya terdiam tak bisa menjawab apa yang menjadi pertanyaan ibu Yani. Rinto bingung dan tak tahu apa yang harus ia katakan saat ini, di saat dia juga tidak bisa mengatakan kalau hatinya memang pernah di isi oleh seseorang. "Melihatmu tak menjawab dan terdiam, sepertinya memang benar. Saya mungkin akan sedikit egois jika meminta hal ini padamu, tapi saya tidak tahu kepada siapa lagi saya bisa menitipkan Yani dan Yena. Mereka semua tidak memiliki sanak saudara lagi karena semuanya membenci kami dan memusuhi kami." Ibu Yani tampak memandangi Rinto dengan sangat serius. "Jika kamu tidak bisa memilih Yani sebagai istrimu, maukah kau menjaga mereka sebagai saudaramu? Maksud saya adalah kau bisa memperlakukan Yani dan Yena layaknya sanak saudara dan keluargamu, agar keduanya bisa memiliki orang lain untuk tempat berbagi selain bersamaku." Lanjutnya lagi dengan sedikit terbatuk-batuk pelan. "Kenapa tante berbicara seperti itu? Yani sudah menjadi bagian dari kami sekarang, jadi tante tidak perlu berkata seperti itu." Ucap Rinto sembari mengambilkannya air minum. "Saya tau, tapi saya merasa akan lebih melegahkan jika saya juga mengatakan hal ini kepadamu. Saya sangat berharap kalau kamu bisa melindunginya, terus bersamanya dan menjadi temannya dalam suka dan duka. Dan tentu saja saya berharap kalau kau juga mau menikahinya." Ucapnya sembari tertawa pelan seolah sedang ngotot meminta kepada Rinto. "Saya berharap kalau Yani juga bisa menemukan kebahagiannya sendiri tanpa harus merasa terbebani dengan kondisi kami. Saya sangat ingin dia bisa menjalani hidup yang dipenuhi dengan kebahagiaan, tidak seperti apa yang dia hadapi saat ini. Dengan begitu, aku bisa pergi dengan tenang meninggalkannya suatu saat nanti." Ucapnya lagi dengan senyuman penuh kebahagiaan seolah sedang membayangkannya. Melihat senyuman itu, Yani akhirnya tersadar kalau apa yang dia lakukan saat ini adalah sepenuhnya salah. Dia mungkin sudah membuat ibunya merasa tak tenang saat ini akibat apa yang sudah ia lakukan selama lebih sebulan ini dengan terus meratapi kepergian keduanya. "Terima kasih banyak!" suara Yani dalam serak segera mengejutkan Rinto. Meski dia sangat ingin membalikkan badannya, ia berusaha untuk mengendalikan diri takut kalau Yani mungkin akan merasa tersinggung dan tak nyaman jika ia melihatnya menangis. "Kau sudah tidak marah lagi padaku kan? Maafkan aku karena aku¡­" Alisya yang sudah menantinya di bawah berharap-harap cemas dengan keluarnya Yani. Sehingga begitu ia keluar, dia dengan segera menghampiri Yani. Yani segera menggeleng pelan menghentikan Alisya yang meminta maaf padanya. "Maaf karena sudah membuat kalian semua khawatir, aku sudah merasa lebih baik sekarang!" tegas Yani dengan tersenyum hangat yang langsung membuat mereka semua terkejut dan terharu melihat senyuman Yani tersebut. "Kau berbicara? Aku tak salah dengarkan kalau dia tadi baru saja berbicara dan menjawab perkataanku?" Alisya menoleh kepada yang lainnya karena merasa kalau ia mungkin saja salah mendengar, namun melihat mereka semua yang sama terkejutnya membuat Alisya yakin kalau ia memang tak salah dalam mendengar. "Akhirnya kau berbicara juga, aku sampai menyiapkan seribu satu cara bahkan menghubungi dokter terkenal yang ada di Jepang agar kau bisa berkomunikasi dengan baik." Akiko tak bisa menahan air matanya ketika melihat Yani yang tersenyum meski sedikit kaku. "Sepertinya kekuatan cinta memang memberikan pengaruh yang sangat besar." Karin menoleh kepada Rinto yang langsung membuat laki-laki itu merona karena malu. "Syukurlah kalau semua baik-baik saja, aku harap selama kau berada disini, kau bisa meningkatkan kondisimu dengan berjalan-jalan dan menikmati waktu yang ada disini." Terang Karan merasa sedikit legah dengan perkembangan yang terjadi pada Yani. "Aku akan mengajakmu menikmati indahnya Jepang, aku harap kau mau lebih banyak berbicara sekarang, dan soal ibu dan adikmu.." Alisya ragu untuk mengatakannya. "Aku tau, aku mungkin masih merasa sedih dan takkan melupakan mereka! Tapi bukan berarti aku harus tenggelam dalam kesedihan bukan?" tatap Yani kepada Alisya yang langsung membuat Alisya memeluknya dengan hangat. "Akhhh!!!" tiba-tiba saja seseorang menarik tangan Akiko dengan kasar sehingga membuat semua orang yang ada di sana terkejut. "Cotto, Onii Chan! (Tunggu, Kakak!)" ucap Akiko dalam Bahasa Jepangnya mencoba melepaskan diri dari tangan kakaknya. Chapter 520 - Singkirkan Tanganmu Melihat seseorang membawa Akiko dengan begitu kasar membuat Karin dan yang lainnya menarik nafas dengan pasrah. "Demi apa lagi ini, kita baru saja selesai dari satu masalah, dengan hati serta pundak kita juga baru saja nyaman. Kenapa masalah berikutnya datang begitu cepat tanpa ada peringatan terlebih dahulu?" Karin mengerutkan keningnya ketika melihat Akiko dibawah pergi begitu saja dari hadapan mereka. "Apa dia kakaknya Akiko?" Tanya Rinto dengan tatapan khawatir pada Akiko. "Mendengar Akiko memanggilnya seperti itu, sudah jelas kalau pria itu adalah kakak dari Akiko." Ucap Karin melihat Akiko tampak sedikit kesulitan saat tangannya di tarik paksa. "Tapi kenapa dia terlihat sangat marah seperti itu pada Akiko?" Tanya Yani masih belum bisa memahami apa yang sedang terjadi di hadapannya saat itu. "Jadi pria itu yang menjemput Akiko? Yah¡­ setidaknya dia adalah kakak Akiko satu-satunya yang masih memiliki perasaan kasih sayang padanya." Gumam Alisya menatap kepergian mereka berdua. "Oni chan, lepaskan. Kau menyakiti tangan ku." Akiko berusaha untuk berbicara dengan kakaknya. "Aku sangat kaget mendengar kau akan pulang, tapi tak kusangka kau tak pulang sendirian." Terang Aoki masih tak melepaskan tangan Akiko. "Dengarkan penjelasanku dulu, jangan menarikku dengan kasar seperti ini. Oni chan, hanya kau yang bisa mendengarkanku saat ini jadi ku mohon lepaskan dulu sebentar saja." Ucap Akiko memelas kepada Aoki untuk dilepaskan. "Kau tau apa yang telah kau lakukan saat ini? Apa kau sadar kalau kau telah melupakan tujuan awalmu? Aku tak menyangka kalau akan pulang hanya untuk menunjukkan seorang pria pada kami." Ucap kakaknya terus menarik Akiko pergi dengan genggaman yang lebih kuat. "Akkh.." Akiko semakin merasakan sakit di bagian tangannya yang dipegang oleh kakaknya. "Lepaskan dia, Maaf aku mungkin tak seharusnya untuk ikut campur dengan urusan kalian, tapi aku tidak bisa tinggal diam ketika kamu sudah menyakitinya." Ucap Karan memegang tangan kakak Akiko dengan sangat kuat sehingga ia tidak bisa menarik kakiku lagi. "Singkirkan tanganmu, Kau pikir siapa dirimu berani menghentikanku? Sebaiknya kau tidak ikut campur dalam urusan kami. Tidak perduli siapapun dirimu, kau hanya akan mendapatkan kerugian karena melakukan ini." Kakak Akiko terlihat sangat marah ketika Karan menghentikannya. "Aku tak bermaksud apa-apa, Tapi aku harap kau bisa membawanya dengan cara yang baik-baik. Apa yang kau lakukan saat ini sangat menyakiti dirinya, dan aku takkan menghentikan mu untuk membawa nya tapi setidaknya lakukanlah dengan cara yang sopan." Ucap Karan dengan terus menggenggam erat tangan kakak Akiko agar ia bisa menghentikan aksinya dalam menarik Akiko secara kasar. "Akiko, ikutlah bersama kakakmu dan pulanglah ke rumahmu. Aku akan datang menjemputmu nanti, tunggu aku di sana. Aku janji dan akan aku pastikan untuk menjemputmu dan membawamu dengan cara yang baik-baik." Karan memandang Akiko agar ia mau mendengarkan apa yang di inginkan oleh kakaknya. Akiko mengangguk pelan mendengar apa yang dikatakan oleh Karan. Akiko paham betul mengapa kakak keduanya datang menemuinya saat itu, sebab dia sudah memberitahu mereka akan kedatangannya yang tak sendiri melainkan bersama dengan seorang pria. "Brengsek, kau¡­" Kakak Akiko tampaknya ingin melakukan sesuatu kepada Karan, namun dia dengan segera dihentikan oleh Ryu. "Aoki san, sebaiknya kau menjaga sikap mu. Kita sedang berada di bandara yang sangat ramai. Jika kau melakukan hal yang lebih dari ini, maka kau sedang mempermalukan dirimu sekarang." Tegas Ryu memperingatkan kakak Akiko. "Diam kau, kau bahkan tak pantas untuk menyebut namaku dengan mudahnya kau berani menasehatiku dengan mulut kotormu itu?" Aoki yang masih ingin melanjutkan kata-katanya pada akhirnya memilih untuk menarik nafas dalam dan menyerah karena semua orang memang sedang melihat ke arahnya saat ini. "Sebaiknya kau mengikuti ku selagi aku masih berbuat baik padamu." Ucap Aoki sembari berjalan pergi meninggalkan mereka. "Maafkan aku, aku akan pergi bersama kakakku dan kita berpisah disini, tapi aku akan menunggumu di sana. Jemput aku!" Tatap Akiko kepada Karan kemudian memberikannya ciuman yang cepat dan berlalu pergi dengan tatapan sendunya. "Tidak usah khawatir Kak, kita akan pastikan untuk menjemputnya nanti. Kau hanya perlu sedikit berjuang lebih keras untuk bisa mendapatkannya." Karin datang untuk menenangkan Karan atas kejadian yang baru saja ia alami. "Berita mengenai aku yang masih hidup itu belum di ketahui oleh mereka sampai saat ini bukan?" Tanya Alisya kepada Ryu melihat Aoki tak menyadari kehadirannya di sana. "Benar nona, tuan menyuruh saya untuk sebaiknya tetap merahasiakan keberadaan nona terhadap mereka." Tegas Ryu kaget saat Alisya sudah berada di samping mereka. "Ada apa? Kenapa paman harus merahasiakannya dari mereka? Bukankah harusnya mereka tahu akan keberadaan Alisya sehingga dengan begitu mereka tidak bisa berbuat banyak untuk terus menjatuhkan dirimu?" Karin tahu betul kesulitan Ryu yang selama ini berjuang untuk terus mendirikan perusahaan yang di pegang oleh kakeknya karena tidak ingin ia berikan kepada keturunannya dari Jepang. "Sepertinya aku tau kenapa kakek dan ayah melakukan itu semua. Pertama kenapa kakek tidak memberikan bisnis ini kepada mereka, selain karena kakek tidak suka dengan cara mereka memimpin, tapi juga karena keserakahan mereka dalam dunia bisnis tentu membuat kakek khawatir." Ucap Alisya dengan terus berjalan di ikuti oleh yang lainnya. "Sedang ayah yang merasahasiakan kedatanganku kembali ke Jepang dan mengenai keberadaanku adalah karena dari awal aku memang belum cukup kuat untuk bisa melawan mereka semua." Mereka telah sampai di depan pintu keluar bandara dengan puluhan mobil hitam parkir menjemput mereka. Satu mobil panjang Great Wall Hover Pi Limousine yang tampak mewah itu terparkir di bagian tengahnya di ikuti dengan puluhan pria berjas serba hitam dengan kaca mata hitam berjejeran di sampingnya membukakan jalan untuk kedatangan Alisya. "Tapi dengan kedatangan ku saat ini, aku sepertinya sangat siap untuk bisa menantang mereka. Mari kita menjemput permaisuri sekaligus merebut kembali apa yang memang menjadi milikku." Alisya memasang kaca matanya berjalan dengan begitu percaya diri. Yani sangat takjub melihat semua yang terjadi saat itu, ia tidak menduga kalau semua itu bisa terjadi di hadapannya, namun mengingat mereka bisa menaiki sebuah pesawat pribadi sebelumnya, Yani perlahan mulai memahami situasinya. "Itu adalah reaksi yang normal, karena pertama kali kami melihatnya juga kami memasang wajah seperti yang kamu lakukan saat ini." Terang Karin berjalan berdampingan dengan Yani karena masih mengkhawatirkan kondisinya yang lemah. "Selamat datang kembali nona!" Ucap mereka semua tertunduk menghormat mengikuti apa yang dilakukan oleh paman Yasashimura. "Terima kasih banyak Paman!" Alisya tersenyum hangat pada pamannya yang sudah tampak tua tersebut. Chapter 521 - Memeras Kekayaanmu Alisya dan yang lainnya segera pergi ke tempat dimana rumah kakek dan neneknya masih terawat dengan sangat baik berkat Ryu dan juga pamannya Yasashimura. Yasashimura adalah satu-satunya orang kepercayaan kakek Alisya yang dipercayakan untuk bisa mengelola perusahaan Yamada Grub yang ada di Jepang. Perusahaan itu masih berada di bawah kendali Alisya sepenuhnya terlebih karena saat ini adalah umur yang pas untuk Alisya mengambil haknya sebagai pemimpin perusahaan. "Aku harap kalian bisa beristirahat dengan nyaman di sini, untuk saat ini ini Ryu dan Karan juga Rinto akan ikut bersamaku. Kami perlu menyusun rencana untuk keperluan kami merebut kembali hak kepemimpinanku di perusahaan." Terang Alisya kepada Karin dan Yani. "Mungkin kalian akan sedikit bosan, untuk itu anak pak Yashashimura yang akan menemani kalian jalan-jalan dan mengurus keperluan kalian selama kami tak ada." Tambah Ryu setelah mendapat konfirmasi dari paman Yasashimura. "Kami akan menyelesaikan ini semua secepatnya agar kita bisa pergi bersama untuk menjemput Akiko, setelah itu kita juga bisa bersenang-senang bersama." Ucap Karan merasa bersalah kepada mereka karena harus menunggu lebih lama di saat mereka harus menyiapkan beberapa hal. "Kalian tidak perlu mengkhawatirkan kami, kami akan baik-baik saja. Selain itu, Yani masih butuh istrahat penuh dulu hingga benar-benar pulih agar kita bisa mengajaknya keliling Jepang." Karin menatap Yani dengan semangat. "Oke, aku serahkan dia padamu. Lakukan apapun yang ingin kalian lakukan, kalian tidak perlu khawatir karena aku akan menyiapkan beberapa orang yang akan melindungi kalian dari jarak jauh dan tentu saja mereka tidak akan mengganggu privasi kalian." Terang Alisya memberikan kode akses serta kartu platinum khusus miliknya kepada Karin. "Apa kau tidak takut aku bisa memeras kekayaanmu?" tanya Karin melihat Alisya dengan begitu gampangnya memberikan kode akses rumah mewahnya serta kartu platinum miliknya. "Sepertinya idemu bagus juga, aku jadi memiliki niat yang sangat besar untuk menguras kekayaannya." Yani mengambil kartu platinum dari tangan Karin untuk memastikan kartu tersebut. "Aku akan sangat senang jika kalian bisa menghabiskan isi kartu itu, setidaknya akhirnya barang itu benar-benar bisa berguna sekarang. Apa lagi melihat kalian yang senang seperti itu, sepertinya aku perlu memeriksakan otakku yang tidak begitu suka dengan kartu platinum itu." Alisya yang berkata dengan santai segera membuat Karin dan Yani merasa kesal mendengarnya. "Dasar anak tajir melintir sok miskin! Aku mengutuk dirimu yang tak pernah menggunakan uangmu dengan benar. Sepertinya aku tidak perlu merasa ragu untuk benar-benar menggunakan kartu ini." Maki Karin dengan kesal kepada Alisya. "Sepertinya aku sudah semakin sembuh melihat kartu ini, terlebih kita sedang berada di Jepang saat ini. Ibuku berpesan untuk hidup bahagia, bagaimana kalau kita bersenang-senang kali ini. Biarkan mereka dengan urusannya." Terang Yani merasakan semangatnya bangkit jika mengingat ibunya. "Oke, itu yang aku suka kalian berdua. Itulah kenapa kalian sebenarnya dua orang yang cocok, terlebih dengan orang yang akan menemani kalian nanti." Jelas Alisya yang menoleh ke arah pamannya. "Aku merasa tak perlu mengkhawatirkan mereka lagi." Rinto tersenyum melihat Yani yang memperlihatkan ekspresi wajahnya yang ceria lagi. "Benar, kalian akan sangat cocok dengan anak saya yang satu itu. Saya yakin kalian bisa menikmati semua yang ada dengan bantuan darinya. Mobil sudah kami siapkan untuk kepergian kalian." Terang pak Yasashimura dengan penuh wibawa. "Ano.. sumimasen¡­ (Ummm.. Maaf¡­)" putri dari paman Yasashimura akhirnya datang beberapa saat kemudian. "Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu muncul juga. Itu artinya kita bisa berangkat sekarang." Tatap Alisya pada Karan dan yang lainnya. "Mari saya perkenalkan, ini adalah Yuriko Yasashimura. Dia adalah anak saya yang pertama yang akan membantu kalian selama berada di Jepang." Pak Yasashimura segera memperkenalkan Yuriko kepada mereka semua. "Hajimemashite, saya Yuriko. Senang bertemu dengan kalian." Yuriko dengan segera menunduk memberi hormat kepada mereka semua dengan sopan. "Yuriko chan, maaf merepotkan mu. Tapi bisakah kamu menemani mereka selama beberapa hari ini?" Pinta Ryu dengan sangat sopan kepada anak pak Yasashimura. Yuriko terlihat sedikit lebih muda dari mereka, namun terlihat sekali kalau dia adalah anak yang cukup kompeten dan aktif. Sedikit berbeda dengan Akiko, Yuriko terlihat begitu kuat dan tangguh dengan rambut hitamnya yang panjang dan tatapannya yang tajam. "Dengan senang hati Ryu san, saya harap saya bisa membuat mereka berdua nyaman dan senang dengan apa yang saya lakukan nantinya." Terang Yuriko dengan begitu elegan hingga merasa kalau Yuriko sedikit terlihat kuat dan tenang. "Saya serahkan mereka berdua kepadamu!" Seru Alisya kepada Yuriko yang terlihat bersinar cerah ketika Alisya berbicara padanya. "Ehem.. apa tadi kita sempat berpikiran yang aneh tentangnya?" Bisik Karin dengan tertawa pelan merasa lucu karena melihat Yuriko dengan cepat berubah ekspresi ketika Alisya berbicara padanya. "Kau benar, aku bahkan sempat merasa khawatir tadi. Terlebih karena penampilannya yang terlihat sangat kuat itu." Gumam Alisya kepada Karin yang langsung membuat Ryu tersenyum melihat apa yang dikatakan oleh keduanya. "Kalau begitu kami permisi dulu, selamat bersenang-senang." Ucap Alisya melambai kepada Yani dan Karin. "Kalau terjadi apa-apa kamu bisa menghubungi ku secara langsung, oke?" Tatap Ryu kepada Karin karena mengkhawatirkan dirinya yang di jawab oleh Karin dengan kedua jempolnya. "Jangan hubungi aku!" Ucap kemudian berlalu pergi. "Kau mau aku sumpahi?" Ancam Karin kepada Karan yang hanya membuat Karan tertawa meninggalkan mereka. "Maafkan aku, aku sebenarnya enggan untuk meninggalkan dirimu. Tapi kepergianku bersama dengan kalian saat ini selain untuk menemanimu, aku juga harus terlibat dalam urusan kantor." Rinto tampak tak ingin pergi meninggalkan Yani, sehingga Yani merasa tidak enak terhadap dirinya. "Kau tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja." Yani segera memberikan alasan kepada Rinto agar ia bisa pergi dengan tenang. "Adith memintaku untuk mengurus kerja sama yang sudah kita lakukan sebelumnya dengan pihak Jepang. Dan perusahaan yang dimaksudkan adalah perusahaan milik Alisya, oleh karena itu¡­" Rinto masih berusaha untuk menjelaskan kepada Yani, namun Yani segera menghentikannya dengan menarik sedikit bajunya. "Aku tau, lakukanlah dengan baik agar kau bisa kembali secepatnya kepadaku." Yani yang tersenyum dengan wajah lemahnya membuat Rinto merasa sedikit tenang. "Tuh, sudah di izinkan. Pergilah, cari uang yang banyak buat nikah nanti." Goda Karin kepada Yani dan Rinto yang langsung membuat keduanya memerah malu. Rinto akhirnya pergi menyusul Alisya dan yang lainnya dengan perasaan yang sedikit lebih tenang meski sudah meninggalkan Yani. "Yuriko chan, bagaimana kalau kita ke permandian air panas dan spa untuk bisa membuat tubuh wanita yang satu ini lebih segar?" Karin segera mendekati Yuriko yang langsung dijawab dengan senyuman penuh cuka cita. Chapter 522 - Menggulirkan Ryu "Kedatangan anda pada hari ini benar-benar sangat tepat pada waktunya, hari ini tuan Takeda dan tuan Toshiro sedang melakukan rapat direksi mengenai penarikan kepemimpinan Ryu sebagai CEO perusahaan Yamada sementara." Terang paman Yasashimura sembari terus berjalan memimpin langkah kaki Ryu dan Alisya. "Jadi mereka lupa kalau perusahaan ini adalah milikku dan mereka ingin menggulingkan Ryu yang merupakan perwakilan dari perusahaan sementara?" Alisya yang berjalan dengan kaca matanya membuat semua orang bertanya-tanya dengan apa yang mereka lihat saat itu. Aura keberadaan Alisya begitu kuat sehingga semua orang merasa kalau Alisya adalah tamu yang sangat penting bagi perusahaan mereka. "Mengira aku sudah meninggal, mereka akhirnya mulai bergerak ketika saat yang ditentukan sudah tiba. Tapi sayang, mereka tidak tahu kebenaran yang akan terjadi pada hari ini." Tegas Alisya masuk ke dalam lift dengan tersenyum licik. "Apa mereka mengetahui kedatangan kita hari ini?" Tanya Rinto penasaran mengingat ia datang mewakili Adith yang tidak bisa ikut karena harus mengurus beberapa hal di perusahaan serta rumah sakit. Adith selalu bisa memimpin perusahaan dengan baik dan juga menjadi dokter yang sangat kompeten berkat kerja kerasnya, dan untuk urusan keluar negeri dia memang selalu mengirim Rinto dan Yogi sebagai perwakilannya. Akan tetapi jika memungkinkan, maka tentu saja Adith yang akan secara langsung menangani kerjasama maupun permasalahan perusahaan. "Sepertinya mereka mengetahui kedatanganmu sebagai perwakilan dari perusahaan Narendra, tapi tidak untuk kedatangan Alisya di perusahaan ini." Jawab Ryu dengan sedikit tersenyum simpul membayangkan kehebohan yang akan terjadi. Mereka akhirnya terus berjalan masuk kedalam rapat direksi, namun yang benar-benar masuk ke dalam rapat adalah paman Yasashimura dan Ryu. "Baguslah, dengan kehadiran mu disini kami jadi tidak perlu ragu lagi untuk memulai rapat ini." Takeda segera memimpin rapat kali itu. "Tidak usah basa-basi lagi, kita sudah cukup menunggu lama di sini." Sambung Toshiro melihat Ryu dengan tatapan kesal. "Kau lihat yang sana? Dia adalah kakek Akiko. Takeda Yamada, anak kedua keluarga Yamada. Adik kakekku yang sangat baik hati namun sangat gampang terpengaruh oleh orang-orang yang berada disekitarnya. Sedang yang terakhir berbicara itu adalah Toshiro Yamada, anak ketiga keluarga Yamada. Dan yang satu lagi adalah Masayuki Yamada, si bungsu yang paling dekat dengan kakekku." Alisya menjelaskan siapa mereka satu persatu kepada Karan. Melihat semua orang tampaknya sudah sangat ingin menggulirkan Ryu dan tak peduli dengan kehadiran Yasashimura yang merupakan tangan kanan Takahashi Yamada. "Aku sarankan agar kalian semua tenang dan tidak bertindak gegabah." Ucap Yasashimura mencoba untuk mengingatkan mereka. "Apa maksudmu? Jangan mengira kalau kau berdiri disamping Ryu dapat membuat kami menggulirkan dirinya. Ryu bukanlah orang yang pantas untuk menduduki jabatan CEO dalam perusahaan Yamada." Pak Toshiro tampak tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh pak Yasashimura. "Ryu bukanlah pewaris sah perusahaan ini, sehingga dia sudah sewajarnya digulirkan. Selain itu, dia yang meninggalkan posisinya disini dan hanya mengurus anak perusahaan yang berada di Indonesia sudah cukup membuat kami kesulitan mengurus perusahaan." Tambah Takeda setuju dengan apa yang dikatakan oleh adiknya tersebut. "Apa kalian semua lupa kalau kalian tidak bisa menggulirkan saya? Bukan hanya tidak bisa, tapi kalian memang takkan pernah bisa melakukannya." Ucap Ryu dengan sangat tenang namun sudah mampu membakar emosi semua orang yang berada di ruangan tersebut. "Kau pikir siapa dirimu sehingga kami tidak bisa melakukannya? Hanya karena kau seorang yang dekat dengan cucunya sebelumnya, kau sudah berpikir kalau perusahaan ini adalah milikmu? Hahahahaha kau seharusnya bangun dari tidurmu." Toshiro tertawa dengan terbahak-bahak karena perkataan Ryu. "Sepertinya kalian sudah salah paham terhadap Ryu, apa kalian lupa kalau Ryu hanyalah pengganti sementara dari pemilik perusahaan yang sebenarnya?" Tanya pak Yasashimura masih dengan gaya tenangnya. "Oh.. Jadi kau juga lupa kalau Alisya sudah meninggal? Sepertinya kau sudah cukup tua sampai kau lupa akan kenyataan kalau Alisya yang kau katakan sebagai pemilik perusahaan ini telah meninggal mengikuti ibunya." Ucapan Kakek Takeda segera membuat Alisya merasa sedikit pedih mendengarnya. "Apa yang sudah membuat kakek yang baik hati dan tidak sombong itu menjadi begitu angkuh dan serakah saat ini?" Gumam Alisya menyayangkan kakek Takeda yang sempat ia hormati sebelumnya. Meski mereka tidak dekat karena kakek Alisya tak ingin Alisya terlibat jauh dengan mereka, namun karena Alisya pernah menjemput Akiko dan tak sengaja bertemu dengannya membuat Alisya tau kalau dia adalah orang yang dalamnya baik hati dan lemah lembut. "Selain itu, Lesham bahkan tak tertarik dengan perusahaan ini lalu kenapa kita membiarkan perusahaan ini jatuh ke tangan orang lain yang bukan merupakan keturunan dari Yamada?" Ucap Toshiro dengan begitu angkuhnya. "Huhhh¡­ tadinya saya mau diam saja dan tidak banyak bertindak karena masih menghargai kalian, tapi sepertinya tua bangka seperti kalian berdua dan semua orang yang ada disini perlu di perlihatkan kenyataan yang sebenarnya yah." Alisya masuk dengan melepas kacamatanya dengan begitu anggun yang langsung membuat kedua kakek itu kaget dan kebingungan. Para petinggi perusahaan yang tahu betul siapa wanita itu mengingat wajahnya sangat mirip dengan Alisya juga langsung berdiri karena terkejut, sedang beberapa dari mereka yang lainnya hanya menatap dengan bingung. "Ba¡­ bagaimana mungkin? Bukankah kau sudah dinyatakan meninggal?" Kakek Takeda menatap Alisya dengan mata yang membelalak tak percaya. Reaksi yang kurang lebih sama terjadi pada kakeknya yang satu, yaitu Toshiro. Dia bahkan melirik Alisya dengan tatapan tak percaya, karena merasa kalau ada sesuatu yang aneh. "Bukan, dia bukan Alisya! Dia pasti hanyalah orang lain yang menyamar menjadi Alisya hanya demi menghentikan rapat hari ini." Tegas Toshiro tidak mengakui kehadiran Alisya. "Sudah aku duga kau akan mengatakan itu, jadi kau ingin melihat ini sebagai buktinya?" Alisya akhirnya mengangkat tanda yang ada di lehernya sebagai bukti kalau dia adalah anak Ayumi. "Dan karena mengingat kalau kalian tidak akan mempercayai anak ku, maka aku juga akhirnya memilih untuk datang ke Jepang setelah mendengar kalau kalian melaksanakan rapat direksi ini tanpa sepengetahuan ku." Ayah Alisya masuk dengan begitu gagahnya yang langsung membuat mereka semua tak berkutik. "Tuan Lesham!" Semua orang yang ada disana segera menunduk memberikan hormat kepada ayah Alisya. Sepeninggal kakek Alisya, Ayah Alisya menjadi orang yang sangat mereka segani karena memiliki kekuasaan penuh terhadap perusahaan dan juga Organisasi. Bahkan semasa ibu Alisya hidup, ayah Alisya sudah memiliki kekuasaan yang sangat besar disana sehingga kehadirannya di tempat itu segera membuat mereka semua tak bisa berkata apa-apa lagi. Chapter 523 - Merebut Kembali Perusahaan "Tok¡­ tok¡­ tok¡­" Takeda yang terlihat masih pusing dengan kejadian sebelumnya tampak begitu malas untuk melihat ke arah pintu. Ia hanya mengira kalau yang masuk adalah Asistennya saja atau mungkin saja itu adalah adiknya Toshiro. Apa yang baru saja terjadi telah menurunkan minat dan semangatnya hari itu. "Apa kehadiran kami sudah membuat mu terpukul? Yah.. saya paham kalau direksi mungkin saja tak menduga kedatangan kami, tapi dibandingkan dengan mereka sepertinya kalian lebih terkejut." Ayah Alisya yang masuk ketika tidak mendapat jawaban dari Takeda dengan seketika membuat mata orang tua itu membelalak kaget. "Apa lagi yang kau inginkan? Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau harapkan dengan merebut perusahaan ini?" Takeda terlihat tidak cukup senang dengan kehadiran ayah Alisya. "Merebut? Hahahahahaha.. sepertinya kau benar-benar salah paham mengenai perusahaan ini. Apa karena tuan Takahashi tidak mengatakan yang sebenarnya pada kalian?" Tanya Ayah Alisya merasa lucu ketika mendengar pernyataan Takeda yang menganggap seolah mereka adalah orang luar yang merebut kekuasaan yang tidak seharusnya. "Kau yang bukan keluarga dari Yamada sudah dengan begitu liciknya mengambil perusahaan ini. Kau seharusnya malu kepada mendiang istrimu karena sedang menghancurkan keluarganya dengan begitu licik dan busuknya." Tatap Takeda dengan begitu tajam dan penuh kebencian kepada ayah Alisya. "Jadi itu yang kalian pahami tentangku yah.. humm, sepertinya hal ini memang perlu di luruskan terlebih dahulu. Terlalu banyak kebenaran yang tidak terungkapkan dan disembunyikan disini. Yah, meski aku meminta dari awal kepada orang tua itu untuk tidak perlu menyebutkannya." Jelas Ayah Alisya kepada Takeda dengan duduk termenung memikirkan perkataannya. "Apa maksudmu? Bukankan memang seperti itu kenyataan yang sesungguhnya? Keluarga Yamada dengan susah payah mendirikan perusahaan ini sejak awal dan kau bilang ini adalah perusahaan milik kalian. Hahahaha¡­ jangan bercanda, kembalilah ke negaramu. Akan aku pastikan kau takkan mendapatkan apapun dariku." Takeda masih terlihat tak melunak sedikit pun kepada ayah Alisya. "Jangan begitu tuan, kau akan merasa sangat malu jika mengetahui kenyataan yang ada. Selain itu, apa yang kau harapkan di umurmu yang sudah tidak lama lagi itu?" Ayah Alisya tetap bersikap santai terhadap Takeda yang penuh amarah. "Karena anak-anak ku bahkan lebih berhak dari pada seorang cucu yang sama sekali tidak di ketahui keberadaannya tersebut. Bagaimana kami bisa mempercayai jika dia adalah cucu dari Takahashi di saat berita mengenai kelahiran dan kematian juga kembalinya semua seolah terencana dengan sangat baik?" Takeda tersenyum sinis seolah memiliki argumen yang sangat kuat akan hal tersebut. "Itu karena Orang tua yang sangat itu sengaja menjauhkan cucunya dari kebusukan kalian. Ibu Alisya bahkan tak bisa mendapatkan ketenangan ketika perusahaan ini telah semakin berdiri dengan kokoh karena keserakahan kalian. Aku penasaran mengetahui apa yang akan terjadi jika kalian mengetahui yang sebenarnya." Ayah Alisya tersenyum dan terlihat sedang melakukan panggilan dengan seseorang. "Masuklah!" Perintah Ayah Alisya dengan tatapan tajam kepada Takeda. Begitu ia melihat ke arah pintu ruangannya, terlihat jelas kalau Masayuki yang merupakan adik bungsunya itu masuk dengan begitu anggunnya. Di sebelahnya juga hadir Yasashimura serta beberapa orang pengacara yang sudah lama bekerja bersama mereka. Mereka semua masuk satu persatu membuat Takeda tampak kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Bahkan beberapa saat kemudian terlihat Toshiro masuk bersama dengan kedua anak mereka yang tergabung dalam perusahaan tersebut. "Aku tak tahu kelicikan apa yang sedang kau lakukan lagi sekarang. Tapi aku takkan pernah mengizinkan kau untuk merebut perusahaan ini. Dan tak ku sangka kalau adikku sendiri sedang melakukan pengkhianatan sekarang." Tatapnya kepada Masayuki yang tampak sedang memihak kepada ayah Alisya saat itu. "Hufffttt, ternyata memang benar kata kakak! Kekayaan dan kekuasaan kadang telah membuat seseorang kehilangan jati dirinya dan bahkan kehilangan kemanusiaan dalam dirinya. Kau seharusnya bersyukur karena Lesham sampai sekarang masih membiarkan kalian untuk menduduki perusahaan ini tanpa mengambil sepersenpun keuntungan untuk dirinya." Masayuki tampak kehilangan hormatnya kepada kakaknya Takeda. "Sial, apa yang sudah kau katakan? Bukankah kau adalah adik kami? Keluarga kami? Kenapa kau malah membela mereka yang berasal dari luar serta mendukung mereka seperti itu? Kau tampaknya sudah di racuni oleh mereka." Toshiro semakin memaki Masayuki karena perkataannya tersebut. "Sadarlah, kalau kalian yang sudah teracuni oleh keserakahan atas apa yang bukan kalian miliki. Tidak sadarkah kalau perusahaan yang kau katakan milik Yamada ini bukanlah milik Yamada yang sesungguhnya?" Tatap Masayuki seolah mengetahui apa yang tidak di ketahui oleh keduanya. "Apa maksudmu? Kau mau mengatakan kalau perusahaan Yamada Group bukanlah perusahaan milik Yamada? Hahahaha sebuah lelucon yang sedang kau katakan ini? Kau benar-benar bodoh sekali karena sudah mau dibohongi oleh mereka." Takeda semakin jengah dengan apa yang ingin di ungkapkan oleh Masayuki kepada mereka. Tidak menjawab apa yang dikatakan oleh kedua kakaknya tersebut, Masayuki pada akhirnya hanya mengeluarkan sebuah dokumen-dokumen yang selama ini sudah ia simpan atas keinginan dan perintah mendiang kakaknya. "Bagaimana mungkin, apa maksudnya semua ini? Aku tak mengerti, kenapa bisa perusahaan yang ada yang seharusnya adalah milik keluarga dari Yamada. Ternyata merupakan perusahaan dari lesham?" Tatap Toshiro tak memahami dokumen-dokumen tersebut. "Kalian tentu tidak akan tahu, perusahaan ini semula telah jatuh dan di ambang kebangkrutan. Disaat kakak dalam keadaan terpuruk dan diambang kehancuran, kakak datang kepada kalian untuk meminta bantuan namun karena kalian tidak pernah menganggap dia sebagai kakak, kalian akhirnya hanya mengusirnya saja." Terang Masayuki mengenang kejadian yang telah lama. "Perusahaan ini bisa kembali berdiri dengan megah, itu semua adalah berkat keberadaan Ayumi dan Lesham yang bekerja sama untuk membangun kembali perusahaan ini." Masayuki memberikan tanda kepada pengacara yang datang bersamanya. "Perusahaan ini telah menjadi milik dari tuang Lesham dibawah kepemimpinan nona Ayumi dan di dukung oleh tuan Takahashi tentunya. Tuan Takahashi yang hanya memiliki seorang anak perempuan dan tak secara sengaja jatuh cinta dengan tuan Lesham membuat tuan Takahashi menyerahkan kekuasaan sepenuhnya atas nama cucunya sendiri." Terang salah seorang pengacara dengan menunjukan dokumen kepemilikan yang sedari awal ternyata sudah berpindah namun masih dalam kepengawasan Takahashi. "Tuan Takahashi sengaja menyuruh kami untuk menyembunyikan kebenaran ini karena mengetahui keserakahan kalian dalam menginginkan perusahaan ini sampai cucu Tuan benar-benar kuat dan mampu untuk memimpin perusahaan ini." "Itu semua ia lakukan karena kalian datang setelah melihat perusahaan yang hampir hancur itu kembali menguasai pasar dan bangkit menjadi perusahaan nomor satu di Jepang." Terang Ayumi kepada mereka semua. Takeda dan Toshiro yang baru mengetahui akan kenyataan tersebut pada akhirnya hanya terduduk dengan lemas di sofanya yang mewah. Chapter 524 - Terungkapnya Kebenaran Mengetahui semua kenyataan itu membuat Takeda dan Toshiro tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan kedua anaknya yang berada di sana hanya bisa menatap dengan kebingungan. Terlihat jelas kalau mereka sangat menentang apa yang sedang terjadi, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan hukum yang menyatakan bahwa kepemilikan perusahaan itu sebenarnya atas nama Alisya. "Jika memang benar seperti itu, bagaimana bisa aku percaya kalau itu adalah cucu dari Takahashi. Kalian tentu bisa saja menipu kami dengan menghadirkan orang lain yang bukan merupakan cucu dari Takahashi." Ucap Toshiro masih belum menerima kenyataan yang sedang dihadapi saat itu. "Kalian tentu saja tidak akan mengetahui siapa dia sebenarnya, sebab dari awal dia memang telah di jauhkan dari hadapan kalian. Kakak sangat menyayangi cucunya, Alisya. Oleh karena itu, dia tidak ingin kalian mengetahui mengenai keberadaannya. Akan tetapi, sejak awal kakak sudah memperkenalkannya padaku." Masayuki akhirnya mengeluarkan beberapa foto yang memperlihatkan dirinya sedang bersama Alisya. Tidak hanya foto yang ada pada lembaran-lembaran yang ia tunjukkan, namun sebuah video hologram juga dikeluarkan oleh sang pengacara yang memperlihatkan antara Masayuki, Ayumi serta anaknya Alisya yang sedang bersama-sama. Dan dari situ juga, terlihat tanda lahir yang merupakan tanda bahwa, Alisya adalah benar anak dari Ayumi adalah tiga titik tahi lalat yang ada pada bagian lehernya. Melihat itu semua, Takeda maupun Toushiro akhirnya bungkam. Mereka sudah tidak memiliki hal lain lagi yang bisa mereka bantah mengenai kenyataan bahwa Alisya yang saat ini berada dan telah hadir di perusahaan mereka adalah benar cucu dari Takahashi. Melihat mereka sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa, Ayah Alisya memberikan tanda kepada seluruh pengacara yang datang pada saat itu untuk meninggalkan tempat itu. "Sekarang karena kalian sudah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, Aku akan kembali mengatakan bahwa kehadiran kami di sini bukanlah untuk merebut perusahaan ini melainkan mengambil apa yang memang menjadi hak dari Alisya." Ucap Ayah Alisya ketika di ruangan tersebut hanya tersisa mereka saja. Tepat setelah apa yang dikatakan oleh ayah Alisya, seseorang mengetuk pintu dan masuk setelah Ayah Alisya mempersilahkannya masuk. "Maaf, saya belum memperkenalkan diri saya dengan baik. Halo semuanya, nama saya adalah Ralisya Quenby Lesham. Kalian bisa memanggil saya Alisya." Ucapnya sambil menunduk dengan penuh hormat. Melihat Alisya yang memiliki rambut panjang dengan wajah yang benar-benar sangat mirip dengan anak dari Takahashi yaitu Ayumi. "Kalian mungkin mengira kalau kedatangan mereka saat ini adalah untuk mengeluarkan kelebihan dari perusahaan ini, namun yang terjadi mungkin adalah sebaliknya." Ucap Masayuki melihat ke arah Lesham dan Alisya dengan menarik nafas pasrah. "Lalu, apa yang kalian inginkan sebenarnya?" Tanya anak Toshiro tampak mulai tak sabaran karena posisi mereka yang semakin terancam. Ayah Alisya melirik kepada Alisya untuk mulai menjelaskan kehadirannya di sana. Alisya tersenyum dan berusaha untuk semakin mendekat dan berdiri dihadapan mereka semua. "Aku akan tetap membiarkan kalian untuk terus berada di perusahaan ini, tapi tentu saja Ryu akan menjadi orang yang akan memimpin perusahaan ini. Ryu yang akan menjalani semua pekerjaan yang terjadi pada ada perusahaan ini, aku akan mendukungnya dari belakang." Terang Alisya memulai penjelasannya. "Aku tahu betul kalau selama Ryu berada di Indonesia, perusahaan ini berjalan tanpa ada yang memimpin tapi itu tidak menjadikan Ryu mengalami kesulitan karena dia bisa menyelesaikan seluruh permasalahan perusahaan dengan bolak-balik ke dua negara dalam kurun waktu tertentu. Hal inilah yang menyebabkan perusahaan ini dapat bertahan." Lanjut Alisya lagi dengan tersenyum sinis. "Namun ternyata dibalik semua itu, kalian sengaja bekerja sama dengan perusahaan Sengoku Group untuk menghancurkan Ryu dan merebut perusahaan ini. Hal inilah yang membuat aku terpaksa untuk menunjukkan diri." Ucapan Alisya seketika membuat wajah mereka terkejut karena tak menduga kalau Alisya akan mengetahui hal tersebut. "Meski sebenarnya aku memiliki urusan lain, namun mengetahui tentang hal ini membuatku merasa tak tenang. Aku tak menyangka kalian bahkan bekerja sama dengan geng Yakuza untuk menbunuh Ryu dan juga Paman Yasashimura." Alisya tersenyum dengan sinis dan menaruh tangannya di atas meja dan menatap sinis kepada mereka semua. "Apakah kalian lupa siapa pemimpin Yakuza yang sudah sejak lama mendukung perusahaan ini? Kalian mungkin mengira paman Yasashimura adalah pemimpin dari geng tersebut, tapi pemimpin yang sebenarnya adalah ibuku, Ayumi. Yang beberapa tahun lalu telah beralih padaku." Suara dingin Alisya dan aura kuat yang menekan ruangan tersebut membuat mereka seolah sedang melihat Ayumi di dalam diri Alisya. Kedua orang tua itu seketika bergetar dan sangat takut menyaksikan hal tersebut, sedang Masayuki dan ayah Alisya tersenyum melihat Alisya yang begitu mirip dengan ibunya yang penuh akan kharisma yang sangat kuat. Mereka semua dibuat takjub oleh Alisya yang berbicara dengan bahasa Jepang yang sangat mirip juga dengan gaya berbicara ibunya, Ayumi. "Aku akan mengampuni kalian dan memberikan kalian kesempatan. Aku juga akan membuat kesepakatan dengan kalian semua. Tentu saja kesepakatan ini tidak akan merugikan kalian semua dan kalian tidak perlu takut mengenai permasalahan yang sedang terjadi pada perusahaan saat ini." Alisya bangkit dari posisinya mulai berjalan mengelilingi mereka. "Kesepakatan? Kesepakatan apa yang bisa kami dapatkan? Aku tak mengira kalau kami akan mendapatkan kesepakatan pada saat ini." Takeda merasa curiga dengan apa yang dikatakan oleh Alisya. "Kesepakatan untuk tetap berada di perusahaan ini dan menjalankan perusahaan ini. Meski sebenarnya aku juga mengetahui kalau kalian ingin menjual perusahaan ini pada Sengoku Group." Sekali lagi ucapan Alisya membuat mereka semakin takut. "Perusahaan ini sudah mengalami banyak kerugian yang cukup besar, kita sudah tidak bisa menyelamatkan perusahaan ini. Hal ini memang belum di ketahui oleh orang luar, tapi saat ini sudah tak ada lagi yang bisa menyelamatkan perusahaan meskipun kau memiliki cukup uang sebab perusahaan ini sudah benar-benar bangkrut." Jelas Takeda dengan tatapan merendahkan. "Apa yang harus aku lakukan pada dua orang tua bangka yang sangat begitu bangga mengatakan kalau perusahaan ini sudah tidak bisa diselamatkan lagi?" Alisya memijat kepalanya seolah itu sakit. "Bersikaplah sopan, mereka masih merupakan adik dari kakekmu!" Anak Takeda yang merupakan Ayah Akiko tampak tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh Alisya. "Oy Jiji... (panggilan kakek dengan nada yang sedikit membuat kesal) tidak bisakah kalian bersikap baik saat aku juga masih bersikap sopan pada kalian? Saat ini aku masih terus berusaha menahan diri meski sudah mengetahui semua kebusukan kalian karena masih menghormati kalian yang merupakan adik dari kakekku." Tatap Alisya kepada mereka berdua yang langsung membuat mereka terdiam tak bisa berkata apa-apa. Chapter 525 - Konferensi Kerja Sama "Kami akan menyelamatkan perusahaan ini, dan tentu saja aku bahkan ingin menghancurkan Sengoku Group yang sudah berani mencari masalah dengan perusahaan ini. Mereka yang beberapa geng Yakuza tampaknya menjadi sangat berani sehingga aku merasa sedikit gemas dengan mereka." Terang Alisya lagi duduk di kursi yang menjadi kebanggan Takeda. "Apa kau pikir hanya dengan anak perusahaan yang berada di Indonesia itu akan cukup untuk bisa menyelamatkan perusahaan ini?" Toshiro meremehkan perkataan Alisya. "Sepertinya kau perlu belajar lebih banyak lagi dalam hal bisnis. Orang yang belum pernah terjun dalam dunia bisnis mana mungkin tahu mengenai segala hal tentang perusahaan?" Tambah Takeda lagi dengan tersenyum sinis. Alisya hanya bisa tertawa pelan mendengar perkataan mereka berdua. Ia sengaja membuat mereka berkomentar sesuka hati agar Alisya bisa kembali memberikan mereka pukulan yang cukup keras untuk benar-benar bisa menjinakkan mereka. "Hanya dengan satu anak perusahaan tetap tidak akan mampu membuat perusahaan ini bisa bangkit, selain itu kau memerlukan dukungan yang lebih besar untuk bisa mengalahkan Sengoku Group." Ayah Akiko merasa kalau apa yang dikatakan oleh Alisya adalah hal yang sangat mustahil. Ayah Akiko yang merupakan anak pertama dari Takeda memimpin anak perusahaan di perfektur Saitama. "Sengoku Group adalah salah satu perusahaan besar yang memiliki banyak koneksi dan dukungan dari perusahaan besar, sehingga aku tidak yakin apakah kamu bisa mengalahkan mereka." Tambah anak Tishiro yang di ketahui Alisya merupakan anak pertamanya yang memimpin cabang perusahaan di perfektur Nagoya. "Siapa yang bilang saya hanya mendapatkan dukungan dari satu anak perusahaan saja?" Alisya bangkit dari kursinya memberi tanda kepada Ryu yang langsung mempersilahkan Rinto dan Karan untuk masuk kedalam ruangan tersebut. "Selamat siang, perkenalkan nama saya adalah Rinto. Saya adalah perwakilan dari perusahaan Narendra Tekhnologi Group." Rinto segera memperkenalkan diri kepada mereka dan memberi hormat seperti kebiasaan orang Jepang. "Selamat siang, perkenalkan nama saya adalah Karan Reynand. Dan saya adalah CEO dari perusahaan Reynad Isurance Group." Ucap Karan begitu Rinto telah selesai memperkenalkan dirinya. "Ba.... Bagaimana mungkin kedua perusahaan besar itu berada disini?" Ayah Akiko tampak terkejut mengetahui dua perusahaan besar tersebut berada di tempat mereka saat ini. "Kenapa Reynand Isurance Group bisa bekerja sama dengan kalian? Bukankah perusahaan itu adalah salah satu perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar yang cukup tinggi?" Anak Toshiro menatap kepada ayah Akiko meminta penguatan. "Benar, kapitalisasi pasar mereka mencapai USD 220,2 milyar!" Tegas Ayah Akiko yang langsung membuat wajah Takeda dan Toshiro kaget. Keduanya belum mengetahu mengenai perusahaan milik Karan karena perusahaan tersebut baru berdiri sekitar 3 tahun belakangan ini dan sudah memiliki nilai kapitalisasi pasar yang sangat tinggi. "Sebentar, kalau perusahaan Narendra Technologi Group. Bukankah itu adalah perusahaan yang menjadi perusahaan milik dari suami Alisya?" Tanya Takeda mencoba mengingat akan nama perusahaan tersebut. "Iya benar, ternyata kalian masih mengingat akan hal itu meski kalian tidak datang ke pesta pernikahan kami." Terang Alisya dengan tatapan tajam. "Kami tidak hanya menghadirkan dua perusahaan ini saja, tapi ada beberapa perusahaan yang juga akan bekerja sama dengan kami." Ucap Ryu yang langsung menampilkan layar hologram kehadapan mereka. "Halo, selamat siang. Saya adalah Harrison Moynihan. CEO dari perusahaan Bank Of Amerika." Ucap Mr. Harrison memperkenalkan dirinya. "Halo, selamat siang. Saya adalah Zein. CEO dari perusahaan Royal Bright Indonesia." Ucap Zein dengan begitu berwibawa. "Halo, senang bertemu dengan kalian. Saya adalah Riyan. CEO dari General Electrik Indonesia." Ucap Riyan juga dengan sedikit memberi hormat. "Apa kabar, nama saya adalah Song Wei Long. Saya adalah CEO dari Petrachina." Ucapnya dengan logat china yang sangat khas ketika berbicara dalam bahasa inggris. "Dan kalian tentu sudah mengenalku, Saya adalah Radithya Azura Narendra. CEO dari perusahaan Narendra Isurance Group." Adith tersenyum dengan hangat kepada mereka. "Kami semua siap untuk memberikan dukungan kepada perusahaan Yamada selama perusahaan tersebut berada di bawah kepemimpinan nona Alisya." Ucap Mr. Harrison begitu yang lainnya telah selesai memperkenalkan diri mereka masing-masing. "Dukungan yang kami berikan tentu saja dalam bentuk kerja sama terhadap semua perusahaan yang saling terkait satu sama lainnya." Ucap Riyan menambahkan. "Hal ini juga disebabkan karena dukungan yang kami berikan tidak terlepas dari kerja sama yang sudah kami jalani dengan tuan Takahashi sebelumnya." Tambah Song Wei Long juga. "Meski saya memang seorang suami dari Alisya, tapi hal ini juga bukan terpengaruh terhadap huhungan pribadi di antara kami berdua, melainkan karena kerja sama perusahaan Narendra dengan perusahaan Yamada." Terang Adith yang tampak duduk di mejanya dengan gagah. "Hal yang sama juga yang diberikan oleh perusahaan kami. Oleh sebab itu, kami semua sudah tergabung dalam kontrak kerjasama dengan perusahaan Yamada saat ini." Terang Zein menampilkan kontrak kerja sama mereka semua dalam bentuk hologram. "Tidak terkecuali dengan perusahaan kami. Untuk itu posisi Alisya dalam perusahaan ini sangatlah kuat sehingga kami bahkan bisa dengan mudah menghancurkan perusahaan kalian jika terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan." Ucapan Karan segera mempertegas tentang kemampuan Alisya yang sebenarnya. Tak ada satupun dari mereka yang bisa menampikkan lagi apa yang sudah mereka lihat saat ini, mereka tak menyangka kalau Alisya datang dengan penuh persiapan sehingga mereka sudah tak punya pilihan selain mengikuti kesepakatan yang akan dibuat oleh Alisya. "Ja.. jadi kalian tetap membiarkan kami untuk mengatur dan memimpin perusahaan?" Ucap Ayah Akiko setelah mengetahui keseluruhan kesepakatan yang telah di jelaskan oleh Ryu kepada mereka. "Tentu saja, selama kalian mengikuti semua aturan yang sudah tercantum dalam kontrak tersebut. Bukankah kalian tidak mengalami kerugian sama sekali?" Alisya menatap mereka dengan begitu tajam. "Aku rasa sebaiknya kalian sadar akan posisi kalian saat ini, jika kalian masih menolak dan tetap bertahan lebih dari ini. Maka dapat saya pastikan kalau kalian akan kehilangan segalanya." Ucap Masayuki mengingatkan mereka semua. "Kontrak yang diberikan oleh nona Alisya juga sudah di tunjukkan kepada kami semua, dan kami juga tidak keberatan dengan hal tersebut. Tapi kembali lagi, jika kalian merasa hal tersebut tidak memungkinkan, maka kami bisa menarik semua hal yang berkaitan dengan kerjasama yang di berikan pada perusahaan yang kalian pimpin." Tegas Mr Harrison yang terdengar bagaikan ultimatum bagi mereka semua. "Pada akhirnya, aku takkan segan-segan untuk menjatuhkan kalian semua bersamaan dengan perusahaan Sengoku Group ke dalam kehancuran." Alisya tersenyum dengan tajam yang langsung membuat mereka benar-benar jatuh dalam keputusasaan. Tak ada lagi kesempatan bagi mereka untuk dapat memikirkan hal licik lain yang ingin mereka lakukan pada perusahaan tersebut. Chapter 526 - Mulut Paruh Bebek Alisya dan yang lainnya masih terus berada di perusahaan karena banyak hal yang harus mereka lakukan. Segala macam persiapan dan penyelesaian permasalahan kantor mereka kerjakan dengan sangat cepat. Hanya dengan tim yang beranggotakan Alisya, Ryu, Rinto dan Karan serta beberapa orang yang lainnya yang bekerja dalam kantor tersebut membuat semua orang takjub dengan cara kerja mereka. "Apa benar direktur utama perusahaan ini telah kembali?" Tanya salah satu dari mereka yang tampaknya mulai mengetahui kesibukan yang sedang terjadi di dalam perusahaan. "Benar, direktur utama perusahaan ini yang berasal dari Indonesia datang bersama dengan CEO pemilik perusahaan yang sebenarnya." Ucap yang lainnya dengan setengah berbisik-bisik. Semua orang yang berada dalam kantor mulai membicarakan mengenai kedatangan Ayah Alisya dan Alisya di dalam perusahaan tersebut. "Itu artinya tuan Ryu tidak akan menjabat lagi menjadi CEO sementara di perusahaan ini?" Tanya salah seorang dari mereka yang tanpa di sengaja di dengar langsung oleh Ryu yang kebetulan sedang keluar untuk mengambil air minum. "Bisa jadi, jabatannya akan di cabut dan akan diberikan kembali pada pemilik yang sebenarnya. Yah.. meskipun dia sudah menjabat CEO sementara, rasanya pasti tidak nyaman sekali karena jabatan mu sudah di copot." Ucap yang lainnya lagi yang hanya membuat Ryu tersenyum karena merasa lucu dengan pola pikir mereka. "Bukankah memang sudah seharusnya seperti itu? Dia tidak memiliki hak maupun kewajiban untuk bisa menjadi bagian dari perusahaan ini. Dengan kata lain dia bukan hanya dilepaskan dari jabatannya, tapi juga akan di keluarkan dari segala hal yang berhubungan dengan perusahaan." Seseorang dari mereka tampaknya berbicara dengan penuh semangat. "Sayang sekali, padahal dia sudah berkerja keras untuk tetap mempertahankan perusahaan ini. Sesuai rumor, dia hanya seorang anggota geng yang.." mata Ryu membelalak saat mendengar ucapan mereka. "Oy¡­ tidak di Jepang, tidak di Indonesia, mulut perempuan itu selalu sama saja yah? Seperti ember bocor. Gimana neraka nggak penuh kalau mulut mereka ngalahin paruh bebek." Alisya yang muncul secara tiba-tiba segera membuat mereka kebingungan. "Huhhh?" Mereka tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Alisya. "Bukankah kau juga seorang perempuan? Berani sekali kau mengatakan kami seperti pada saat baru pertama kali bertemu." Ucap salah seorang dari mereka dengan kesal. "Sayangnya aku bukanlah perempuan dengan model seperti kalian ini. Selain itu, se tahu saya Jepang adalah tempat yang mayoritas orangnya sangat gila dalam bekerja. Saking sibuknya, aku pikir kalian tidak punya tempat untuk berbicara seperti ini. Atau¡­ Kalian adalah pengecualian? Sepertinya itu bisa di atur." Alisya segera memandang mereka dengan tajam dan aura istimidasi yang cukup kuat. "Eh, dia adalah CEO baru yang diperkenalkan kemarin." Bisik mereka satu persatu yang langsung membuat suasana menjadi sangat tegang. Beberapa yang lainnya langsung menyadari hal tersebut akhirnya dengan segera menunduk hormat untuk meminta maaf. Rumor mengenai dirinya yang juga merupakan pemimpin Yakuza segera membuat tubuh mereka bergetar dengan sangat hebat. "Maafkan kami, kami berhak mendapatkan hukuman apapun." Ucapnya dengan tegas karena menyadari dirinya telah melakukan kesalahan. "Karena aku baru kali ini kembali ke Jepang dan masuk ke perusahaan, aku akan memaafkan kalian. Tapi aku harap hal ini tidak terjadi ke dua kali, karena kalian tentu takkan sanggup untuk menanggung akibatnya." Suara dingin Alisya benar-benar menusuk hingga ke jatung mereka yang perlahan bergerak lambat seolah kehilangan kekuatannya untuk berdetak. Mereka dengan segera menunduk dalam kemudian berlalu pergi dari hadapan Alisya sesegera mungkin. Mereka bahkan hampir kehilangan nafas karena apa yang baru saja terjadi. "Terima kasih nona, tapi saya sama sekali baik-baik saja dan tidak masalah dengan apa yang sudah mereka bicarakan." Ucap Ryu untuk membuat Alisya tenang dan tidak mempermasalahkan percakapan mereka sebelumnya. "Tapi bagi aku masalah." Ucap Alisya sambil berlalu pergi dengan ekspresi kesalnya yang menggemaskan. Ryu tersenyum melihat tingkah Alisya yang seperti itu. Meski selama ini dia selalu saja bertingkah seperti itu hanya pada Adith, tak di sangkanya kalau hari ini Alisya bisa memperlihatkan ekspresi seperti itu padanya. "Pekerjaan kita disini sudah selesai, kalian berdua bisa kembali untuk istirahat di rumah. Terima kasih banyak atas kerja sama kalian semua selama 3 hari ini." Alisya yang membuka dokumen-dokumen yang telah rampung tersebut segera membubarkan tim mereka. Mendapatkan perintah dari Alisya membuat sebagian besar yang berada di tempat tersebut tersenyum dengan cerah karena akhirya mereka bisa merenggangkan tubuh dan setidaknya memiliki beberapa jam untuk istrahat sebelum akhirnya esok hari mereka kembali bekerja. "Bapak juga bisa istrahat, bukankah sudah ku bilang untuk menyerahkan semuanya padaku? Kenapa kalian tidak mendengarkanku sih?" Alisya memperlihatkan ekspresi kesalnya pada Ayahnya dan Masayuki karena khawatir kepada keduanya yang ikut dalam menyelesaikan permasalahan perusahaan sampai 3 hari berada di sana. "Kami tau, tapi ini adalah pekerjaan perdana kalian setelah kembali ke perusahaan setelah sekian bulan purnama." Ucap Ayah Alisya dengan nada meledek. "Hahahaha¡­ tidak apa-apa, kami hanya ingin melihat dan memantau kalian saja. Karna bagaimana pun juga kami tahu banyak tentang perusahaan ini sehingga kami bisa membantu kalian dengan baik bukan?" Masayuki menatap Alisya dengan lembut. "Uaahh¡­ akhirnya aku bisa punya nenek lagi." Alisya langsung memeluk Masayuki dengan begitu erat. "Kau baru sadar untuk memanggilku nenek sekarang hum?" Masayuki tampak protes dengan Alisya yang baru menyadari keberadaan dirinya. "Maaf, tapi lain kali aku akan menjadi lebih perhatian lagi. Apa aku bisa terus memanggil mu nenek?" Tanya Alisya dengan sedikit ragu-ragu. "Tentu saja!" Ucap Masayuki memeluk balik Alisya yang langsung membuat ruangan pengap itu terasa sedikit lebih hangat. "Baiklah, saya pulang dulu. Ingat kalian harus datang untuk berkunjung ke rumahku sebelum kembali ke Indonesia. Jika tidak kalian akan mematahkan hati seorang nenek tua ini." Ancam Masayuki kepada Alisya dan yang lainnya. "Tentu saja nek, jangan khawatir." Ucap Alisya dengan semangat sambil memeluk neneknya untuk memberi salam perpisahan sedang yang lainnya hanya terdiam sembari menunduk dalam menghormati Masayuki. "Kalau begitu bapak juga akan kembali, kalian juga sebaiknya beristirahat lah cepat." Ucap Ayah Alisya juga mengkhawatirkan mereka semua. Alisya mengangguk cepat lalu memberikan kode kepada Ryu untuk menemani Ayahnya. "Tidak perlu mengantar, seseorang sudah bersamaku sekarang." Tepat setelah itu, tuan Yasashimura kembali untuk menjemput Ayah Alisya. "Terima kasih paman, bapak hati-hati di jalan yah." Alisya mencium telapak tangan Ayahnya dan Yasashimura yang langsung memerah malu. Begitu keduanya pergi dari perusahaan itu, Alisya segera menatap kepada Ryu dan yang lainnya dengan serius. "Aku tahu kalian lelah, tapi kita harus menghancurkan satu markas yang sudah lama tidak aku kunjungi ini." Alisya yang tersenyum licik segera tahu kalau ia akan menyerang markas Yakuza yang telah mengkhianati paman Yasashimura. Chapter 527 - Pemimpin Perfektur Setelah Ayah Alisya pergi, mereka segera bergegas turun ke bawah dan pergi dari kantor tersebut dengan ke adaan luar yang sudah mulai cukup gelap. "Kau yakin mau pergi seperti ini?" Tanya Karan kepada Alisya melihat Alisya dalam keadaan sedikit lelah. "Kenapa? Apa aku terlihat tua? Apa kita perlu melakukan perawatan dulu sebelum pergi?" Tanya Alisya sembari memperhatikan wajahnya di kaca mobil. "Sudahlah lupakan saja, sia-sia aku bertanya." Karan langsung membuat Ryu dan Rinto tertawa pelan karena respon Alisya yang tidak terlihat meyakinkan. "Apa kau tak ingin makan dulu? Sepertinya akan sangat baik jika kita makan terlebih dahulu sebelum berangkat menuju ketempat itu." Ryu segera memberi saran kepada Alisya karena tau kalau beberapa hari ini mereka kurang mendapatkan nutrisi dengan baik. "Benar, kesehatanmu adalah yang utama saat ini. Tiga hari ini kau bekerja dengan sangat keras sampai Adith mengkhawatirkan dirimu. Dia bahkan ingin menyelesaikan pekerjaannya dan ingin menemanimu di Jepang." Tambah Karan juga merasa khawatir dengan kondisi Alisya. "Tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Hal seperti ini tentu takkan membuatku sedikit merasa kesulitan, selain itu bukankah kita harus sedikit bergerak lebih cepat demi menjemput permasurimu?" Ucap Alisya dengan sedikit kerlingan kepada Karan untuk mengingat Akiko yang sedang menunggunya saat ini. "Meski saya tidak ingin nona pergi dalam keadaan seperti ini, tapi sepertinya kita memang tak punya pilihan lain selain menyelesaikan permasalahan ini secepatnya. Jika tidak Akiko saat ini mungkin akan menangis di pojokan menunggu kedatangan dirimu." Terang Ryu ikut mengingatkan Karan yang tidak bisa membuang waktu lebih banyak lagi. "Maaf sudah membuatmu menunggu lama, tapi aku harap kau mau bersabar sedikit lebih lama lagi. Karena aku pasti akan menjemputmu dengan segera. Aku akan pastikan itu." Batin Karan memandang bintang, berharap harapannya dapat sampai kepada Akiko yang mungkin sedang menatap langit saat itu. "Ryu, markas yang akan kita datangi saat ini apakah markas yang berbeda dengan yang dipimpin oleh Yasashimura? Bukankah biasanya dalam satu tempat akan ada pemimpinnya?" Tanya Rinto penasaran saat mobil semakin melaju dengan kencang membelah jalan yang begitu ramai meski di malam hari. "Ya, benar. Tiap daerah memiliki markas dan pemimpin masing-masing. Hanya beberapa pemimpin saja yang masih berada dalam pengawasan tuan Yasashimura, dan mereka yang mengira kalau tuan yang sudah semakin tua dan tidak adanya nona sebagai pemimpin yang sebenarnya membutuhkan pemimpin yang baru." Jelas Ryu sembari terus mengemudikan mobilnya. "Apakah karena hal itu sehingga membuat mereka semakin ingin melengserkan posisi tuan Yasashimura?" Tanya Karan yang ternyata juga sama Penasarannya dengan Rinto. Meski mereka sudah sering bertemu dan mengetahui tentang keadaan organisasi tersebut, masih banyak hal yang masih belum di ketahui oleh mereka. "Mereka yang mengira kalau aku yang sudah mati dan paman Yasashimura yang sudah saatnya turun jabatan karena usianya yang semakin tua semakin membuat beberapa pemimpin dari perfektur tertentu mulai melakukan pembelokan." Jelas Alisya yang mulai grasak grusuk di kursi belakang untuk berganti pakaian. "Dan beberapa dari mereka inilah yang sebenarnya bekerja sama dengan Sengoku Group?" Tanya Karan memastikan apa yang sudah mereka dengarkan pada rapat sebelumnya. "Beberapa pemimpin perfektur memang sudah melakukan pembelokan dan kerja sama dengan Sengoku Group. Bahkan bukan hanya itu, mereka sekarang sudah berani melakukan pekerjaan gelap yang mulai bertentangan dengan prinsip awal Yakuza yang sudah di tetapkan oleh nona Ayumi." Terang Ryu berusaha untuk tetap fokus mengemudikan mobilnya. "Oleh karena itu, kita perlu kembali menyadarkan mereka mengenai apa yang mereka dapatkan jika telah berani melakukan hal tersebut. Se¡­ lama inih, aku cukup lunak kepada me...reka karena berada lama di Indonesia. Jadi sudah saatnya merombak kembali organisasi ini agar suatu saat nanti bisa berguna bagi Kita!!!" Alisya yang mendesah kiri dan kanan karena memakai celana kulit hitam yang sudah di sediakan Ryu membuat mereka mulai sedikit kesal. "Oke aku paham, tapi apa kalian yakin kalau masih ada beberapa pemimpin yang memihak pada tuan Yasashimura? Pada kalian?" Tanya Karan sedikit ragu karena adanya permasalahan internal tersebut. "Kami memiliki beberapa orang yang masih sangat setia kepada nona Ayumi dan mengharapkan kembalinya kepemimpinan dengan hadirnya nona Alisya." Jawab Ryu masih mencoba menahan diri dengan tingkah Alisya di belakang kursi mereka. "Jika benar seperti itu, apa yang akan kita lakukan saat sampai di sana nanti? Jangan bilang kita akan menyerang beberapa markas untuk¡­?" Rinto sebenarnya sudah bisa menebak apa yang akan mereka lakukan pada markas yang sedang mereka datangi, namun ia bertanya juga ingin memastikan rencana Alisya dan Ryu. Rinto mulai merasakan sakit di kepalanya bahkan sampai mencopot kaca yang terpasang pada bagian depan tersebut demi privasi Alisya. "Bukankah sudah ku bilang, a¡­ umhhh aku akan memberikan mereka pe¡­ lajaranh!! Berhasil juga!" Ucap Alisya saat telah selesai mengganti semua pakaiannya. "Bisakah kau hentikan apa yang sedang kau lakukan? Apa yang akan terjadi jika Adith mengetahui apa yang baru saja kau lakukan saat ini di hadapan 3 orang pria dengan begitu santainya?" Karan mulai terlihat kesal dengan tingkah Alisya yang mendesah dan mengganggu konsentrasi mereka. "Tentu saja, dia akan membunuh kalian. Entah bagian mana dulu yang jadi targetnya, bola bagian atas, atau mungkin bola bagian bawah." Ucap Alisya kembali ke tempat duduknya bersama Karan. "Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu dengan ekpresi mu yang sangat santai? Jika kami tidak mengenalimu, mungkin saja kami akan berpikir kalau kau adalah seorang psikopat yang mengerikan." Terang Karan lagi dengan tubuh yang merinding hebat. "Tapi aku tetap akan mendukung semua yang dilakukan oleh Adith pada kalian." Lanjut Alisya dengan santai sambil tertawa pelan. Perkataan Alisya segera membuat mereka ngilu dan sedikit menutup kedua paha mereka membayangkan bagaimana murkanya Adith kepada mereka sekarang. Ryu bahkan sampai gemetar saat memegang kemudi mobil. "Huhhhh,, aku tak bisa membayangkan aku bisa menyukai sifatmu yang blak-blakan seperti ini dulu." Karan memukul jidatnya karena tingkah laku Alisya tersebut. Di sudut lain, Rinto juga mengangguk dengan sangat kuat untuk menyetujui apa yang sudah dikatakan oleh Karan. Meski dulu perasaan mereka sama kepada Alisya, saat ini perasaan itu lebih tulus untuk menghormati Alisya dengan sangat tinggi sebagai seorang adik maupun teman. "Akan aku anggap itu sebagai pujian!" Ucap Alisya sembari menggulung lengan baju jacket kulit berwarna hitamnya dengan seyuman santai. "Ki¡­ kita sudah sampai." Ucap Ryu pada ketika sudah memarkir kan mobilnya. Chapter 528 - Pengkhianatan Gin Mereka telah tiba di sebuah tempat yang terlihat sebagai tempat untuk hotel sekaligus ruang karaoke. Tempat hiburan malam yang paling sering di jumpai di Jepang. "Tungggg.." Alisya membanting pemukul besbol di bawah kakinya dengan senyuman penuh kesiapan untuk bertempur. "Apa kalian sudah siap? Berikan pukulan yang cukup kuat dan keras!" Tegas Alisya mengingatkan mereka sebelum masuk. "Tentu saja! Kami siap kapanpun juga." Mereka dengan kompak bediri di belakang Alisya dengan melepas jam tangan dan menggulung lengan mereka untuk bersiap agar tidak mengotori pakaian mereka. "Tapi tolong sisakan nyawanya saja!" Ucap Alisya sekali lagi sembari mengangkat tongkat besbolnya ke atas bahunya dan berjalan dengan aura menekan yang sangat kuat. "Apa yang¡­ Brakkkk!" Salah seorang dari mereka yang berbadan besar berdiri di depan pintu markas tersebut seketika terbang membentur pintu dan membuat pintu itu terbuka dengan sangat lebar. Alisya terus berjalan di depan dan melayangkan pemukul besbolnya dengan sangat kuat serta menghancurkan beberapa barang yang berada di sekitar sana. "Ada apa ribut-ribut di luar?" Tanya seseorang yang menjadi pemimpin di tempat tersebut. "Aniki, ada empat orang dengan tiga laki-laki dan satu wanita yang datang menerobos tempat ini." Seseorang masuk kedalam ruang pria itu untuk memberikan laporannya. "Huhhh? Apa maksudmu? Memangnya siapa mereka sampai dengan bodohnya mau menyerang tempat ini secara terang-terangan hanya dengan empat orang. Apa mereka tidak tahu siapa kita?" Dia segera membanting tangannya dengan sangat kesal ke atas meja. "Maaf, tapi itu.. aku mengenali salah satu dari mereka. Dan pria itu adalah Ryu, salah satu anggota elite yang memiliki posisi paling dekat dengan Hime dan juga CEO sementara Yamada Group." Suara bergetar karena ketakutan terhadap pemimpin nya yang tampak tidak senang tersebut. "Nani??? (Apa??)" Ia kembali berdiri dari tempat duduknya karena terkejut bukan main. Ia tak menyangka kalau seorang elite Tokyo akan berada di daerahnya. Terlebih dengan menciptakan kekacauan seperti itu. "Ehemm.. kita tidak perlu khawatir, akan sangat bangus jika pria yang sudah menjadi salah satu incaran kita berada di sini. Jika kita benar-benar ingin menyingkirkan si tua bangka yang tidak mau pensiun itu, maka kita bisa memulainya dari orang kepercayaannya." Ia terlihat penuh percaya diri setelah sebelumnya sempat panik. "Hubungi semua anggota elite yang ada dan kirim mereka untuk segera menangkap mereka. Bunuh yang tiga orangnya dan cukup sisakan satu orang saja, yaitu Ryu." Perintahnya kepada bawahnya tersebut yang langsung membuatnya menunduk dengan cepat. "Aku sedikit mencurigai seorang wanita yang katanya datang bersama mereka." Suara seseorang yang berada di sofa di sudut kegelapan membuat pria itu menoleh dengan malas. "Apa yang perlu di khawatirkan dari seorang wanita? Jangan katakan kau akan takut hanya dengan satu orang wanita saja Gin." Ucapnya dengan terdengar meremehkan. "Huffttt, sebaiknya kau berhati-hati aniki. Aku hanya takut jika orang yang paling dekat dengan Hime bisa berada di sini dengan seorang perempuan, kemungkinan besar kalau wanita itu adalah Hime." Terangnya sekali lagi mencoba untuk mengingatkannya. "Puhahahahaha¡­ Hime sudah lama meninggal, sudah 8 tahun sejak dia benar-benar pergi tanpa sekalipun memperdulikan organisasi kita yang semakin melemah karena kepemimpinan si tua bangka itu." Ia tertawa dengan keras mendengar apa yang dikatakan oleh Gin. "Brakkkk!" Tepat setelah itu, pintu ruangannya terbuka dengan sangat lebar. Menghamburkan 7 orang elite pilihannya terkapar dengan mudah di hadapannya. "Oyy Eji, harusnya kau menghadirkan mereka yang memiliki jabatan elite tingkat 1 untuk bisa menghadapi kami, karena jika tidak kau hanya akan merangkak dengan hina di hadapan kami." Ryu masuk dengan santai melangkahi mereka yang meringis kesakitan di bawah kakinya. Alisya segera melempar tongkat besbolnya kemudian duduk di Sofa dengan malas sedangkan Gin yang tampak terlihat kuatpun akhirnya berdiri dari sofa dan memasang jarak dengan Alisya. "Cihhh¡­ sepertinya aku sudah meremehkan mu, tapi jangan harap kau bisa keluar dari sini dengan mudah" Eiji langsung melayangkan tinjunya namun bisa di hindari oleh Ryu dengan sangat mudah. Tendangan yang menuju padanya pun masih bisa di tepisnya dengan tendangan yang sama kuatnya hingga menimbulkan suara gedebuk yang cukup kuat. Ryu terlihat sangat santai sedangkan Eiji yang terus melayangkan pukulan dan tendangan terlihat cukup kesulitan. Melihat Alisya hanya terdiam dan tak bergeming duduk di sofanya tersebut, Gin merasa setidaknya dia harus membunuh Ryu saat itu sehingga dengan segera dia mengeluarkan senjata pistolnya. "Dooorrr" suara tembakan yang terdengar segera membuat Eiji menghindar, namun tempat dimana seharusnya Ryu berdiri malah tidak terlihat sama sekali. "Gin, kau adalah orang yang paling tenang selama bersamaku. Tapi kenapa kau sangat mudah terpengaruh hingga menjadi pengkhianat dalam organisasi." Ryu sudah berada di atas meja tepat di samping Gin sedang memegang senjata dengan ujung telunjuknya. "Ba¡­ bagaimana bisa kau sudah berada disana dalam waktu singkat?" Gin terkejut melihat Ryu sudah berada di sebelahnya tanpa ia sadari sama sekali. "Aku pikir kau sebaiknya menghentikan ini, sebab kau tentu sudah pernah melihat wajah wanita yang ada disana bukan?" Ryu tampaknya sedang memberikan peringatan dan juga kesempatan kepada Gin. Alisya hanya duduk sembari memangku wajahnya menatap ke arah mereka dengan sedikit menahan diri. Sedang Rinto dan Karan hanya berdiri bersandar di pintu sembari memperhatikan semua itu sembari melipat tangan. "Gin, uteeehhh (Tembak!!!)" Perintah Eiji dengan sangat tegas, namun Gin yang melihat wajah Alisya setelah semakin lama semakin jelas ingatan yang terlintas sehingga dengan cepat Gin tertunduk membungkuk di lantai. "Maafkan saya Hime Sama, tapi saya tidak punya pilihan selain tunduk pada perintah mereka. Semenjak Ryu san meninggalkan kami, organisasi menjadi semakin kacau dan Toese-kai kembali memberikan tekanannya pada kami." Jelas Gin dengan wajah tertunduk tidak berani menatap ke wajah Alisya. "Sialan kau Gin! jika kau ingin melakukan pengkhianatan, seharusnya kau lakukan dengan benar dan sampai akhir." Eiji yang tidak terima dengan apa yang di lakukan oleh Gin saat ini segera membuatnya menarik senjata pistolnya yang di arahkan ke arah Gin. "Beberapa manusia bodoh memang tak pernah belajar dari pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain." Ucap Karan merasa kasihan, yang tepat dengan selesainya ia berbicara wajah Eiji sudah berada tepat di telapak kaki Rinto. "Huuuffft Ryu, kenapa kau tidak mengarahkan sampah ini ke hadapan Alisya saja? Bukan malah bersujud di hadapanku." Rinto merasa menginjak kepala pria itu dengan kesal. "Karena dia tidak pantas untuk berada di bawah kaki nona, aku tidak ingin membuat kaki nona kotor." Jawab Ryu santai sembari membersihkan kotoran di kakinya. Chapter 529 - Sebuah Kepercayaan Kepada Sahabat Mendengar apa yang dikatakan oleh Ryu, membuat Rinto sedikit kesal. "Jadi kau pikir tidak masalah jika berada di bawah kakiku?" Rinto datang memegang kerah Ryu dengan kesal, namun Ryu hanya membuang wajah sambil bersiul tak ingin mengatakan apapun. "hahaha sudahlah, lagi pula tidak masalah bukan? malam ini kita sudah menyelesaikan satu markas, selanjutnya kita akan kemana?" tanya Karan sekaligus pengalihan perdebatan Rinto dan Ryu. "Kita tidak perlu kemana-mana, aku memang hanya ingin menargetkan satu markas saja yang sudah cukup untuk membuat markas yang lain menjadi sangat gempar. Tentu saja ini akan terjadi jika kamu yang membantu kami untuk menyebarkan berita mengenai kepulangan kami." Alisya berjalan mendekati Gin dengan mengeluarkan aura intimidasi yang sangat pekat sehingga tanpa sadar, Gin terlihat cukup ketakutan karenanya. "Aku akan melakukan apapun jika itu bisa membantu Hime, bahkan dengan nyawaku jika itu bisa membuat aku kembali mendapatkan kepercayaan dari Hime. Cukup berikan saja perintahmu, aku akan melakukan semuanya." tegas Gin dengan terus tertunduk karena tidak berani mengangkat wajahnya. "Tentu saja. Karena jika tidak, kau akan menghadapi kenyataan yang menyakitkan!" gumam Alisya kembali mengelilingi Gin untuk membuat posisi Gin semakin terpojok. "Nona, apakah yang anda maksudkan adalah menyuruh Gin untuk membuat isu mengenai kepulangan nona serta menyebarkannya kepada para pemimpin perfektur?" tanya Ryu ingin memastikan apa yang dimaksudkan oleh Alisya. "Bukan hanya menyebarkan isu saja, aku ingin memancing mereka untuk segera menemui kita satu persatu, sehingga dengan begitu kita tidak perlu berkeliling Jepang hanya untuk membuat kerusakan dan ancaman kepada mereka." Terang Alisya kembali duduk di sofa yang sedikit berbau rokok tersebut. "Itu artinya kau sengaja memancing mereka untuk menemui kita, dan kita hanya cukup menunggu kedatangan mereka saja. Apakah itu akan memberikan keuntungan bagi kita? Bukankah kita malah akan menimbulkan sedikit kekacauan?" tanya Karan tidak yakin apakah itu adalah rencana yang tepat. "Itulah yang aku inginkan, mereka akan terjebak dengan mengira kalau kita sudah melakukan kesalahan dan kecerobohan dengan membuat salah seorang perfektur dalam kondisi seperti ini. Gin yang akan menjadi jembatan untuk mengadu domba mereka." Terang Alisya menjelaskan maksud dan tujuan dari rencananya. "Dengan begitu, mereka mungkin akan bertindak ceroboh karena telah terpancing sedari awal untuk segera menghabisi Ryu dan tuan Yasashimura, sehingga hal ini membuat kita lebih mudah untuk mengumpulkan mereka semua dalam satu tempat untuk dapat mengetahui siapa saja yang sudah menjadi pengkhianat dalam organisasi." Tebak Rinto mulai memahami apa yang dimaksudkan oleh Alisya. "Sepertinya itu ide yang sangat bagus, tapi kita butuh kerja sama dari pria yang satu ini. Sebab tentu saja hal itu takkan dapat berjalan jika dia tidak bekerja dengan baik." Ryu terduduk menunduk di hadapan Gin. "Bagaimana?" tanya Ryu kepada Gin, yang memang sebenarnya Ryu masih sedikit memiliki kepercayaan kepada Gin karena dia adalah teman seperjuangannya selama berada di organisasi. "Aku takt ahu kalimat apa yang bisa aku berikan padamu, tapi aku¡­" Gin yang tak bisa berkata-kata dengan segera membuat Ryu mengangkat bahu Gin dan membuatnya berdiri dengan tegak. "Kau tau kenapa aku mengarahkan nona ke tempat ini?" tanya Ryu kepada Gin dengan tatapan penuh harapan. Tak berani menduga-duga, Gin hanya bisa menggeleng dengan kuat. Ia takut kalau jika dia berspekulasi, maka hal yang tidak sengaja ia katakan malah akan menjadi boomerang untuknya. Untuk itulah, diam memilih diam dari pada mengeluarkan spekulasi yang salah. "Karena kau tau kau pasti akan berada di tempat ini. Aku tau kalau kau masih terus menungguku dan maafkan aku karena telah meninggalkanmu dalam waktu yang lama." Ryu segera memeluk Gin dengan hangat hingga membuat kaki Gin melemas karenanya. "Kau membuatku takut, aku sampai berada dalam keadaan tak ingin mengkhianatimu. Tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa sembari terus berharap untuk kau kembali, tapi kau kembali pada waktu yang salah, aku tak bisa menjelaskan menganai apa yang sedang terjadi di sini." Jelas Gin dengan suara serak yang menahan kesedihannya. "Aku akan mempercayaimu seperti apa yang dilakukan oleh Ryu, maka aku harap kau tidak mengecewakanku." Ucap Alisya dengan tersenyum dengan hangat yang langsung membuat Gin segera menunduk memberi hormat. Setelah semua pembahasan yang mereka lakukan bersama dengan Gin, Alisya dan yang lainnya segera keluar dari tempat tersebut menuju ke mobil Ryu yang sebelumnya sudah diparkir oleh Ryu. "Akhirnya, kita benar-benar bisa tidur dengan nyaman untuk malam ini." Alisya meluruskan punggungnya sebelum memasuki mobil dan duduk dengan manis kedalam mobil. "Aku harap kita bisa melanjutkan rencana kita yang lain kepada Akiko, dengan begitu kita bisa menjalani hari dengan nyaman juga. Aku sudah sangat merindukannya." Terang Karan ikut masuk kedalam mobil. "Sepertinya bukan hanya kau pria yang sedang merindukan kekasihnya, tapi dua pria yang berada di hadapanmu juga bisa merasakan hal yang sama. Oleh karena itu mari kita pulang dan pikirkan rencana selanjutnya serta menyanyikan lagu nina bobo untuk putri cantik kalian." Goda Alisya kepada mereka semua yang langsung membuat Ryu dan Rinto terbatuk-batuk kuat dan memerah malu. Karan hanya tertawa melihat rekasi kedua orang pemuda di hadapannya tersebut, karena sebenarnya ia menyetujui apa yang dikatakan oleh Alisya. Ryu segera membelah jalan untuk kembali ke tempat dimana Karin sudah menunggu dirinya selama beberapa hari. Pikiran mereka melayang jauh memikirkan apa yang mungkin sedang di lakukan oleh para wanitanya, begitu pula dengan Rinto yang akhir-akhir masih dalam keadaaan panas yang membara pada Yani. Ia bahkan tersenyu memikirkan bagaimana reaksinya ketika akan berhadapan dengan Yani lagi saat ini. "Luruskan punggungmu dan pandanganmu. Konsentrasikan pikiranmu pada apa yang sedang kau genggam kemudian kerahkan semua kekuatanmu pada tanganmu." Yani terus berusaha mendengarkan arahan dari Yuriko sembari menutup matanya dengan sangat erat. "Karin¡­" Panggil Ryu pada Karin yang langsung membuat Karin menoleh dengan cepat dan berpindah pada posisinya menghampiri Ryu. "Kalian sudah balik? Kalian terlihat sangat lelah. Apa kalian membuatuhkan sesuatu?" tanya Karin mengkhawatirkan mereka semua, namun Ryu hanya menggeleng pelan dan menatap Karin dengan lembut. Melihat Yani hanya terdiam dan membelakangi mereka, Rinto akhirnya datang dan menghampiri Yani. "Apa yang kau¡­" belum selesai Rinto berbicara, sebuah pedang kayu yang biasanya digunakan untuk berlatih kendo sudah menyentuh lehernya dengan satu kali ayunan cepat dari Yani. "Ah, maafkan aku. Aku tak mengira kalau kau yang aka nada di sana, harusnya Karin yang menghentikanku." Yani langsung gagap melihat Rinto yang sedang berdiri di hadapannya. Chapter 530 - Bergantunglah Padaku! Rinto bukannya kaget dengan apa yang sedang dilakukan oleh Yani, namun ia merasa takjub dan tak percaya. Hanya dalam 3 hari saja, insting Yani meningkat begitu pesat. Ia bahkan sempat menghentikan ayunan pedang kayunya ketika merasa kalau orang yang sedang berada di hadapannya itu bukanlah Karin. "Kalian tidak pergi jalan-jalan dan malah berlatih Kendo saat ini?" Tanya Alisya kepada Karin dan Yani yang terlihat sedang berlatih kendo di sekitar taman halaman rumah. "Iya, kami rasa kurang seru tidak nyaman jika kalian sedang berjuang dan bekerja keras sedang kami malah bersenang-senang menggunakan uangmu." Terang Karin dengan tersenyum tipis. "Akan lebih baik jika kita pergi bersenang-senang bersama dengan kalian dan juga Akiko tentunya. Maka dari itu, untuk mengisi waktu dan kekosongan kami akhirnya memutuskan untuk tetap di rumah menunggu kalian pulang dan berlatih Kendo." Jelas Yani sembari memperlihatkan pedang kayu nya. "Terima kasih padamu Yuriko, aku tau mereka berdua pasti akan merepotkan mu dengan hal lain." Alisya menatap haru kepada Yuriko yang langsung membuat Karin kesal. "Tidak nona, saya sangat senang bisa bersama dengan mereka. Nona Yani juga belajar dengan sangat cepat, setidaknya dia sudah memahami dasar-dasar dari penggunaan Kendo dengan sangat baik." Yuriko segera menjawab dengan canggung dan terlihat sangat kaku. Alisya dan Karin serta Yani saling berpandangan satu sama lainnya melihat ekspresi Yuriko yang sangat menggemaskan, sehingga beberapa saat kemudian mereka tertawa dengan terbahak-bahak. "A¡­ apa saya melakukan suatu kesalahan?" Tanya Yuriko memerah malu karena tak menduga reqksi ketiganya akan sampai seheboh itu ketika ia selesai berbicara. "Tidak apa-apa, kau tidak melakukan kesalahan sama sekali. Tapi nono Alisya dan yang lainnya memang tidak terbiasa mendapatkan panggilan hormat seperti itu." Ryu dengan cepat menjelaskan kepada Yuriko melihat dia sudah mulai terlihat berbinar-binar. "Bukankah aku sudah menyuruh mu untuk tidak memanggil kami nona? Selain itu, apa-apaan itu sikap canggung mu? Seolah kami adalah orang penting se jagad dunia." Ucap Karin masih cekikikan melihat ekspresi penuh hormat dari Yuriko yang berakhir dengan tatapan konyol dan bodoh. "Tapi Ryu masih tetap memanggil Alisya nona, kenapa saya malah ditertawakan?" Tanya Yuriko karena mendengar ucapan Ryu ketika memanggil Alisya sebagai nona. "Tidak usah kau pedulikan dia, lidah Ryu memang sudah melekat dengan panggilan nona kepada Alisya. Dan karena lelah memprotesnya, akhirnya Alisya jadi tidak mempermasalahkannya lagi." Jelas Rinto menjawab pertanyaan dari Yuriko. "Itu sudah menjadi ciri khas dia ke Alisya, tapi jika orang lain yang mengatakan seperti itu, maka begitulah reaksi mereka." Tunjuk Karan kepada tiga orang yang terlihat sangat kompak cekikikan. Karan berjalan dengan lesu dan terduduk di teras rumah sambil memperhatikan mereka dengan tersenyum hangat. "Bahkan satu orangnya lagi akan memanggil Alisya dengan nama Ayumi." Tunjuk Rinto kepada Yani yang langsung memerah malu. Ia baru mengetahui kalau nama Ayumi adalah nama ibu Alisya. Pernah sekali saat ia tidak sengaja menyebut nama Ayumi, yang ia maksudkan untuk Alisya dengan santainya, Yani membuat se isi rumah menjadi sangat shock dan kaget. "Kalian akan tertawa jika melihat ekspresi se isi rumah saat dia menyebut nama Alisya dengan menggunakan nama ibunya." Karin kembali cekikikan gara-gara Rinto. "Maaf, aku kan tidak sengaja. Lagi pula Ayum¡­ah Alisya menggunakan nama itu sewaktu bertemu dengan saya pertama kali. Jadi aku sudah terbiasa menggunakan nama itu." Terang Yani mencoba menjelaskan situasinya. "Pufft¡­" Yuriko terlihat tertawa sendiri sehingga Alisya dan yang lainnya nampak bingung karena hal tersebut. "Ah maaf¡­ aku hanya merasa kalian begitu akrab dan hangat, sampai tanpa sadar aku juga jadi ikutan tertawa melihat kebahagiaan kalian." Yuriko dengan cepat menjelaskan reaksinya kepada Alisya dan yang lainnya. "Mulai dari sekarang, kamu tidak perlu bersikap canggung kepada kami. Karena kami juga ingin akrab denganmu, terlepas dari sikap Ryu kepadaku." Pinta Alisya karena merasa senang dengan pembawaan Yuriko. Dulu sewaktu Alisya datang ke Jepang, mereka tidak sempat bertemu karena Yuriko yang menjadi anak yang sangat pemalu dan takut untuk bertemu dengan Alisya meski dia sangat ingin bertemu dengannya. Kali ini dia mendapatkan tugas dari ayahnya, sehingga dia tidak punya pilihan lain selain pergi menghadap. Selain itu, pembawaan Yuriko saat ini terlihat lebih kuat karena ia terinspirasi dari Alisya yang masih muda namun sangat memiliki aura kepemimpinan untuk memimpin Yakuza. Dan itu ia lihat saat dia memakai motor milik NCR Machia milik ibunya. "Kau dengar bukan? Jadi, mulai dari sekarang kau bisa bersikap santai saja." Tambah Karin sembari menghampiri Yuriko dan memeluk pundaknya. "Aku lapar nih.. kita ma¡­ kan.. Huummph.. Yuk? Humpph.." Alisya tiba-tiba merasa sedikit mual pada bagian perutnya sehingga tanpa sadar dia segera berlari ke bagian semak. "Kau baik-baik saja?" Karin langsung berlari menghampiri Alisya karena khawatir. Bahkan Yani dan Yuriko pun dengan otomatis juga ikut menghampiri Alisya. "Aku baik-baik saja, mungkin asam lambungku sedang meningkat karena beberapa hari ini kami makan kurang teratur. Rasanya membuatku juga sedikit pusing karena kurang tidur." Ucap Alisya bangkit dari posisinya yang ingin muntah. Karin melihat wajah pucat Alisya dan segera mengelus bagian punggung tangannya untuk membuatnya sedikit merasa nyaman. "Ya sudah, kita masuk ke dalam saja yuk. Kalian bisa sekalian membersihkan diri, setelah itu kita akan makan sama-sama." Terang Karin langsung membawa mereka masuk. "Nona baik-baik saja?" Tanya Ryu khawatir kepada Alisya. "Dia baik-baik saja. Hanya sedikit merasa pusing saja." Ucap Yani cepat dengan senyuman tipis. Karan dan yang lainnya pun ikut masuk kedalam rumah dengan Yuriko yang langsung mengarahkan para pembantu rumah untuk segera menyiapkan makanan serta permandian air panas untuk para pria. Ryu pun tak ketinggalan bekerja dengan sangat cepat untuk menyediakan beberapa keperluan untuk Alisya dan yang lainnya. "Ummm.. apa kau tak ingin aku lindungi sampai kau harus berlatih Kendo?" Tanya Rinto di sela-sela Yani yang sedang membereskan alat berlatih kendonya. "Tentu saja tidak, jangan salah paham dengan apa yang sedang aku lakukan sekarang. Aku sangat senang ketika kau ingin melindungiku, tapi aku hanya ingin memiliki dasar perlindungan diri agar tidak terus-menerus membuatmu khawatir." Ucap Yani dengan begitu lembut. "Sehingga dengan begitu, jika terjadi sesuatu aku juga mungkin bisa sedikit membantumu. Setidaknya dengan begitu aku tidak terlalu bergantung padamu." Lanjutnya lagi setelah selesai meletakkan pedang kayunya dengan baik. "Bergantunglah padaku! Aku ingin kamu melakukan itu." Yani langsung terhenti ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Rinto padanya dengan tatapan tajam yang sangat serius dengan ucapannya. Chapter 531 - Berita Bahagia "Kau sudah bangun?" Karin masuk ke dalam kamar Alisya yang terlihat sudah membuka matanya secara perlahan-lahan. "Bagaimana aku bisa ada disini?" Alisya tidak ingat bagaimana semalam ia bisa berada di atas tempat tidur tersebut. "Kau membuat satu rumah panik. Semalam kau tertidur di kamar mandi bahkan terlihat seperti orang yang sedang pingsan, karena berapa kali aku mencoba untuk membangunkanmu, kau tetap tidak terbangun dan hanya tertidur saja." Ucap Karin memeriksa denyut nadi Alisya dengan begitu teliti. "Huhhh? Bagaimana mungkin, tidak pernah aku seperti ini sebelumnya. Bagaimana mungkin aku bisa tertidur dengan begitu mudahnya? Lalu, siapa yang memindahkan aku ke atas ranjang ini?" tanya Alisya ragu-ragu, takut kalau yang mengangkatnya adalah para pria yang sedang berada dalam rumah ini. "Siapa lagi? Tentu saja para pria yang ada di rumah ini, kau kira aku akan sanggup untuk menggendongmu?" tatap Karin dengan sangat serius. "Auuuuhhh!" Alisya mencubit pinggang Karin dengan ekpresi datar yang langsung membuat Karin menggelinding sakit dan kesal. "hahahaha¡­ Kau pikir Alisya akan percaya dengan apa yang kau katakan?" ucap Yani datang dengan segelas Teh Susu yang kemudian diberikan kepada Alisya. "Sialan, kau benar-benar kejam. Kau ingin membunuhku dengan cubitan mautmu itu?" Karin muncul dari bawah ranjang dengan tatapan kesal kepada Alisya. "Itu salahmu sendiri, siapa yang suruh kau bercanda untuk hal yang seperti itu!" ucap Alisya tak memperdulikan ucapan Karin dan mengaduk teh susu miliknya. "Aku dan Karin serta di bantu oleh Yuriko yang mengangkatmu ke atas ranjang. Kami sangat khawatir sekali melihat kondisimu saat kami temukan kamu di dalam kamar mandi sedang tertidur pulas di bathup. Untunglah kau tidak mengunci kamar mandimu, jika tidak kami tidak tahu apa yang akan terjadi padamu." Jelas Yani merasa khawatir pada Alisya karena kejadian semalam. "Sebaiknya kamu tidak meminum teh dan susu secara bersamaan, kebiasaan minum seperti itu ternyata tidak baik karena hanya akan mengurangi manfaat dari teh maupun susu itu sendiri." Ucap Karin mengambil gelas dari tangan Alisya dengan lembut dan menjauhkannya. "Loh kenapa?" tanya Alisya bingung karena tak tahu apa yang dimaksudkan oleh Karin. "Apa ada masalah? Apa itu berkaitan dengan kondisi dia saat ini?" tanya Yani juga sama dengan Alisya karena tak mengetahui maksud dari Karin. "Kandungan antara teh dan susu itu berbeda, sehingga tidak baik kalau di campur. Protein pada susu akan mengikat anti oksidan pada teh. Selain itu, kandungan pada teh dapat menurunkan daya serap terhadap kalsium dalam tubuh. Jadi akan lebih baik jika teh dan susu di konsumsi secara terpisah, bukan dicampur seperti ini." Jelas Karin kepada keduanya yang langsung mengangguk tak percaya dengan fakta yang sederhana tersebut. "Teh dan susu memang jadi favorit banya orang, tapi siapa sangka kalau minuman ini malah dapat menyebakan gangguan pada kesehatan." Yani merasa sayang untuk membuangnya sehingga untuk sekali ini saja dia terpaksa meminumnya dan tidak akan melakukan hal yang sama di lain waktu. "Tapi, apa yang dimaksud oleh Yani dengan kondisiku? Apa terjadi sesuatu denganku?" tanya Alisya bingung mengingat Yani sempat berbicara mengenai kondisinya tadi. Karin dan Yani saling memandang satu sama lainnya dengan nakal kepada Alisya sehingga dibuat bingung oelh keduanya. "Oke, hentikan tatapan menjijikkan kalian itu dan langsung saja katakan apa yang ingin kalian katakana!" tegas Alisya kesal dengan tatapan nakal kedua sahabatnya itu. "Kenapa aku harus mempunyai dua orang sahabat yang memiliki sifat tidak beda jauh seperti ini sih!" batin Alisya sembari memijat kepalanya yang masih terasa sedikit pusing. "Kapan terakhir kali kamu menstruasi?" tanya Karin dan Yani secara bersamaan. Alisya yang menatap dengan bingung ingin menjawab keduanya, namun kemudian terhenti karena Ayahnya masuk kedalam kamarnya bersama dengan Masayuki dan yang lainnya. "Pagi sayang, kamu sudah bangun?" tanya Ayah Alisya melangkah masuk dan duduk di sebelah Alisya. "Pagi pa, Ohayo Oba Sama! (Selamat pagi nenek)" ucap Alisya dengan suara yang dibuat terdengar imut. "Selamat Alisya, nenek turut berbahagia mendengar berita Bahagia ini." Ucap Masayuki dengan tatapan penuh kasih mengelus pipi Alisya dengan lembut. "Berita Bahagia apa?" tanya Alisya bingung dengan ucapan neneknya. "Ehemm¡­ Si Calon Ibu ternyata sudah bangun rupanya!" Karan juga ikut masuk kedalam ruangan Alisya bersama Rinto, Ryu, dan Yuriko. Alisya langsung menatap kepada Ayahnya dengan tatapan bingung tak tahu harus berkata apa, tapi saat ini ketika mendengar ucapan Karan, dia sudah bisa menebak apa yang dimaksudkan olehnya, namun ia memandang ke arah Ayahnya untuk mendapatkan pengakuan. "Benar sayang, kamu hamil sekarang. Kamu adalah calon ibu dan bapak akhirnya menjadi seorang kakek!" Air mata ayah Alisya mulai tergenang di pelupuk matanya memegang pipi Alisya dengan sangat gemas. "Benarkah? Apa benar apa yang bapak katakan? Bapak tidak bohong kan?" Alisya tampak meneteskan air mata kebahagiaan ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Ayahnya. "Selamat nona, akhirnya anda menjadi seorang ibu sekarang. Seorang wanita sejati!" tekan Ryu sekali lagi yang terlihat betul bagaimana dia sangat berbahagia dengan kehamilan Alisya. "Aku¡­ Aku juga ingin mengucapkan yang sama. Selamat untukmu nona, dan biarkan aku juga memanggilmu seperti apa yang dilakukan oleh Ryu San, karena itu sangat nyaman untukku. Pokoknya selamat atas kehamilannya." Ucap Yuriko yang tak kalah semangat dengan kata-katanya yang canggung dan gagap. "Dalam satu malam kau membuat semua orang menjadi gempar karena merasa sangat khawatir, dan hanya dalam satu menit kemudian kamu buat se isi rumah ini menjadi gempar lagi dengan penuh suka cita larut dalam kebahagiaan." Ucap Rinto tersenyum dengan hangat sembari menaikkan kedua jempolnya kepada Alisya. "A¡­ Alisya jadi ibu?" Alisya memegang perutnya dengan padangan penuh haru. Pikirannya langsung terlintas kepada Adith dan membayangkan apa yang akan dia lakukan saat ini jika mendengarnya hamil. "Akhirnya kami juga jadi bibi, setelah sekian lama tidak ada anak kecil, rasanya begitu semangat sekali mendengar mu hamil seperti ini." Karin memeluk Yani karena ikut larut dalam kebahagiaan. "Habis gelap terbitlah terang. Belum lama kita sangat berduka karena kehilangan, tapi sekarang kita penuh dengan kebahagiaan. Mereka yang pergi membawa luka yang dalam, tapi dengan kehadiran rezeki seperti sungguh seperti sebuah semangat baru untuk kita terus menghargai kehidupan." Ucap Yani yang langsung banjir akan air mata merasa sangat Bahagia. Dia yang tak punya keluarga lagi tentu saja akan sangat Bahagia dengan hadirnya keluarga baru dalam hidupnya, terlebih jika itu adalah dari sahabatnya yang sangat dia sayangi. Chapter 532 - Bau Naga Di ruang kamar Alisya, tinggallah para wanita yang menemani Alisya. Sedang para pria sedang menyusun rencana untuk bagaimana cara menghadapi ayah Akiko dan menjemput Akiko. "Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Karin kepada Alisya melihat dia terus memegang perutnya dengan tatapan penuh kebahagiaan. "Aku ingin memberitahunya secepatnya, tapi rasanya kita berada di tempat yang jauh seperti ini aku jadi kurang merasa nyaman untuk memberitahukan hal ini padanya. Aku benar-benar ingin bertemu dan memberi tahunya secara langsung saja." Ucap Alisya membenarkan posisinya tampak seperti orang yang sangat kelelahan. "Bagaimana kalau kau menghubunginya saja dulu? Coba lihat apa yang sedang ia lakukan saat ini. Setidaknya itu akan sedikit memberikan kamu keringanan untuk bisa melepas kerinduanmu." Yani yang tahu mereka sudah tidak saling komunikasi beberapa hari membuatnya memberikan saran tersebut. "Benar juga, kemarin kami memang saling terhubung. Tapi itu karena pekerjaan saja, bukan saling tegur sapa satu sama lainnya." Alisya segera mengambil alat yang selalu menjadi teman setia telinganya. "Aku penasaran akan seperti apa reaksi dia ketika mengetahui kalau kamu sedang hamil saat ini. Bagaimana kalau kamu coba memberikan dia sedikit pancingan dengan membahas mengenai hal ini?" Ucap Karin tidak sabar untuk melihat reaksi Adith. "Kita lihat, apakah dia cukup peka untuk menyadari maksud dari pancingan yang kamu berikan." Yani juga merasa sangat excited mendengar ide Karin. "Aku berani bertaruh kalau dia akan bisa mengetahuinya hanya dengan satu kalimat saja." Ucap Alisya dengan penuh percaya diri. Adith yang selama ini selalu saja peka dan bahkan sangat peka terhadap dirinya tentu membuat Alisya sedikit percaya diri kalau Adith akan bisa dengan cepat memahami apa yang akan dia katakan nantinya. Yuriko yang sedari tadi diam saja terlihat sangat antusias untuk melihat wajah Adith, sehingga melihat dia yang berusaha menahan diri membuat Alisya tersenyum tipis. "Kau belum pernah melihat wajah Adith bukan?" Tanya Alisya kepada Yuriko yang langsung membuat Yuriko memerah malu karena ekspresi wajahnya dapat dibaca dengan mudah oleh Alisya. "Ummm.. A¡­ aku sudah pernah melihatnya beberapa kali dari media masa dan beberapa berita yang menampilkan dirinya, jadi aku tidak begitu penasaran. Tapi mengetahui dia adalah suami dan nona Alisya, saya jadi sedikit ingin tahu seperti apa jika dia menjadi seorang suami nona." Terang Yuriko dengan sedikit malu-malu. "Jangan kaget saat melihatnya, kau akan tahu sikapnya yang berbanding 180 derajat dibandingkan dengan apa yang terlihat di media sosial ataupun berita jika itu sudah berhubungan dengan Alisya." Ucap Karin dengan sedikit tertawa pelan mengingat sikap nakal Adith jika sudah berhadapan dengan Alisya. "Benar, aku saja yang menjadi karyawan di perusahaan dia awalnya sangat takut dengan pembawaan dia yang tenang dan sangat tegas. Aku bahkan sangat takut berada di dekatnya karena aura nya yang sangat kuat, namun setelah melihat dia bersama dengan Alisya, sifatnya sangat hangat dan juga bersahabat." Lanjut Yani juga menjelaskan tentang kepribadian Adith yang berbeda jika di hadapan Alisya. "Mungkin rasanya tidak bisa di percaya, tapi akan lebih baik jika di buktikan secara langsung." Alisya sudah melakukan panggilan kepada Adith namun butuh sedikit waktu baginya untuk mengangkat panggilan Alisya. "Halo, Assalamualaikum. Apa kabarmu sayang¡­" Adith yang mengangkat panggilan Video Alisya segera membuat Alisya tahu kalau Adith saat itu sedang tidak berada dirumah, kantor ataupun rumah sakit, melainkan sebuah restoran. "Loh? Kamu lagi sibuk? Maaf kalau aku ganggu." Ucap Alisya cepat. Yang di pikirkan oleh Alisya adalah kalau Adith saat ini sedang mengadakan makan bersama siang bersama dengan orang lain yang menjadi rekan kerjanya. "Nggak apa-apa kok, kebetulan juga aku masih menunggu untuk pertemuan rapat sambil makan siang dengan seseorang. Kamu kenapa? Suara dan wajah kamu pucat seperti itu?" Tanya Adith khawatir dengan keadaan Alisya yang mungkin saja dia sedang sakit. "Oh, aku baik-baik saja. Um¡­ Dith, kira-kira kalau aku ke rumah sakit dan cek up nih. Terus kata dokter aku Ha¡­" baru saja Alisya ingin memancing Adith, Adith segera mematikan telepon mereka. Tepat sebelum telepon tersebut mati Alisya sempat mendengar suara seorang wanita yang masuk dan memanggil nama Adith. "Loh? Kenapa di mati''in?" Tanya Alisya bingung dengan apa yang dilakukan oleh Adith saat dia masih belum menyelesaikan perkataanya. "Coba kamu telpon ulang lagi, mungkin dia tidak sengaja mematikannya." Karin juga merasa aneh dengan sikap Adith yang seperti tadi. Alisya menelpon Adith kembali hingga beberapa kali, namun tak ada jawaban darinya. Alisya menggenggam alat di telinganya dengan sangat kuat hingga alat itu sampai hampir hancur. "Apa mungkin Adith sedang berada di tempat yang susah jaringan?" Yani mencari alasan lain untuk membuat Alisya tenang. "Hah? Aduh Yani, kamu pikir ini tahun berapa sih? Jaringan Indonesia sekarang kan sudah Ten Ji tau nggak. (10G)" Karin menyebut jaringan itu dengan nada seolah sedang menyebut nama seseorang yang berasal dari Jepang. Alisya memandang Yuriko yang terlihat kebingungan dengan kejadian tersebut sehingga Alisya sedikit malu dibuatnya karena tadi dia sudah bersikap sedikit narsis. "Kar, apa mukaku jelek yah? Keliatan mata panda, keriputan atau nafas aku bau? Aku baru mau bilang Ha dia udah mati''in loh?" Tanya Alisya dengan ekpresi yang terlihat sangat kecewa. "Coba ulang?" Ucap Karin dengan sedikit memajukan wajanya kepada Alisya. "Ha¡­" Alisya mendesah dengan ragu-ragu. "Njir¡­ Bau Naga Sya! Pantesan saja mati, kosleting langsung tuh alat kayaknya gara-gara bau mulut kamu." Respon tak terduga Karin membuat Alisya menendang pantatnya dengan sangat kuat. "Kampret kamu Kar!" Maki Alisya kesal. "Kamu tidak usah khawatir, mungkin tadi tamunya tiba-tiba saja datang. Makanya dia tanpa sadar langsung mematikan panggilanmu." Yani mencarikan alasan untuk membuat Alisya tidak berpikiran yang macam-macam. Alisya ingin saja mempercayai apa yang dikatakan oleh Yani, namun suara seorang wanita sedikit mengganggu pikirannya. Akan tetapi Alisya sangat mempercayai Adith, sehingga dia masih berusaha untuk tetap tenang dan tidak mengambil kesimpulan sendiri. "Ah.. sudahlah, aku ngantuk. Mending aku tidur saja. Rasanya enegiku terkuras habis, soal Adith biar aku berikan pelajaran ketika aku sudah sampai di Indonesia nanti." Alisya segera menarik kembali selimutnya untuk tidur dan tidak butuh waktu lama, Alisya sudah benar-benar jatuh dalam tidur yang pulas. "Kenapa?" Tanya Yani melihat ekspresi Karin yang sedikit aneh. "Apa nona biasanya gampang untuk jatih tertidur seperti itu?" Karin menoleh kepada Yuriko yang ternyata merasakan hal yang sama terhadap kondisi Alisya saat ini. Chapter 533 - Ojama Shimasu "Selamat siang pak Adith. Senang bertemu dengan anda, sungguh suatu kebanggaan tersendiri bagi saya bisa bertemu dengan anda yang tampan, jenius, serta pebisinis muda yang sangat berbakat" ucap wanita itu ketika masuk dalam ruangan yang sudah di reservasi oleh Adith sebelumnya. "Selamat siang nona Soraya, maaf tapi sepertinya saya tidak bisa melanjutkan pertemuan kita kali ini. Istri saya sedang dalam keadaan sakit saat ini, untuk itu saya harus segera menemuinya segera. Asisten saya yang akan menjadi pengganti saya." Ucap Adith berdiri dan meninggalkan wanita yang di panggilnya sebagai Soraya tersebut. "Hahhh? Bagaimana bisa anda meninggalkan saya di saat kita masih belum melakukan kontrak kerja sama. Anda ingin mempermaikan saya? Anda kan belum menikah sama sekali, bagaimana kau sudah mengatakan kalau anda sudah memiliki istri?" Soraya tampak sangat kecewa dengan sikap Adith yang seolah sedang bersikap tidak sopan karena sudah meninggalkannya sendirian di ruangan itu dengan alasan yang tidak masuk akal baginya. "Maaf, asisten saya yang akan menjelaskan semuanya." Tegas Adith keluar dan tak memperdulikannya lagi. "Loh??? Woy! Kamu mau kemana?" tanya Yogi panik melihat Adith yang pergi meninggalkan tempat tersebut di saat tamu yang sangat penting itu sudah datang. "Alisya sakit, kamu urus semua yang ada disini." Ucap Adith terus berjalan dengan tatapan yang sangat khawatir. "Vindra, tolong siapkan pesawat Jet pribadi untukku, aku harus ke Jepang sekarang juga." Ucap Adith sekali lagi dengan nada memerintah. Awalnya Vindra kebingungan dan tak paham apa yang dimaksudkan oleh Adith, namun mendengar suaranya yang begitu dingin segera membuat Vindra tidak bertanya lagi dan langsung mempersiapkan apa yang di inginkan oleh Adith. "Alisya sakit? Sejak kapan anak itu bisa sakit? Ternyata dia juga seorang manusia dan wanita biasa. Aku pikir dia tidak akan pernah sakit, kecuali sakit yang di maksud adalah sakit enak. Gosip besar nih." Yogi yang tersenyum dengan sangat licik segera mengirim kabar mengenai hal tersebut. "Tapi tunggu, kenapa ekpresinya sangat panik dan khawatir seperti tadi kalau itu memang sakit enak? Atau dia memang benar-benar sakit saat ini? Send!" Yogi yang masih sibuk berperang dengan sisi gelapnya yang suka bergosip tak menyadari jempolnya sudah mendahuluinya mengirim pesan tersebut. "Uwaaaahhhh¡­ terkirim¡­. Sial, sial, sial." Yogi mode panik terlihat seperti sebuah gambar horror yang membuat seorang pelayan langsung kabur ketika melihat wajah Yogi. "Brengsek! Dia pikir dirinya siapa, bisa memperlakukan aku seperti ini?" Soraya keluar dengan wajah kesal yang terlihat sangat murka. "Ah.. aku hampir lupa. Maaf nona Soraya, tapi sepertinya anda sudah salah paham pada Adith. Hal ini tidak seperti yang anda pikirkan, bagaimana kalau kita duduk terlebih dahulu biar saya bisa menjelaskan semuanya." Bujuk Yogi kepada Soraya yang keluar bersama dengan asistennya. "Penjelasan? Kau pikir dengan dia beralasan kalau istrinya sedang sakit akan membuatku tidak tersinggung. Alasan ap aitu? Dia yang tidak pernah menikah sudah berani-beraninya memberikan alasan konyol seperti itu padaku." Soraya tidak bisa menerima alasan yang diberikan oleh Adith kepadanya. "Akan menjadi sangat bijak jika anda mau mendengarkan penjelasan saya, sebab apa yang dikatakan oleh Adith sepenuhnya benar." Ucap Yogi dengan ekspresi yang terlihat sangat meyakinkan. Soraya yang awalnya masih terlihat sangat emosi, akhirnya ikut bersama Yogi bukan karena sudah memaafkan apa yang di lakukan oleh Adith sebelumnya, namun karena rasa penasarannya yang sangat tinggi mengenai apa yang dikatakan oleh Adith. Disisi lain, Tokyo. Jepang. "Konnichiwa! (Selamat Siang)." Karan yang berada di depan pintu rumah Akiko segera memberi salam dengan gaya orang Jepang pada umumnya sebelum masuk kedalam rumah Akiko. "Maaf, saya ingin bertemu dengan tuan Haruma Takeda." Ucap Karan kepada seorang yang terlihat sekali kalau dia adalah pelayan di rumah Akiko. "Ah¡­ Douzo! (Silahkan)." Ucapnya segera mempersilahkan Karan masuk dengan sangat ramah. Karan yang baru saja masuk langsung melepas sepatunya dan memakai sendal rumah yang sudah di sediakan oleh tuan rumah. Berbeda dengan Indoensia yang cukup dengan bertelanjang kaki saja, Jepang memiliki sendal rumah yang biasanya digunakan sebagai alas kaki ketika masuk kedalam rumah. "Ojama Shimasu!" ucap Karan ketika masuk ke dalam rumah dimana sang pelayan segera mempersilahkan Karan untuk duduk terlebih dahulu. "Dare? (Siapa)" tanya Akiko yang kebetulan turun dari kamarnya. "Tidak tahu, tapi sepertinya dia sedang mencari tuan." Ucapnya kemudian segera pergi dari hadapan Akiko untuk segera memanggil ayah Akiko. Karena penasaran dengan siapa yang datang, Akiko langsung mendatangi ruang tamu dan mengintip. Tak di sangkanya kalau orang yang datang tersebut adalah Karan yang sudah lama di tungguinya hingga berhari-hari. "Kak Karan?" Akiko segera berlari dengan sangat kencang langsung jatuh ke pelukan Karan. Akiko menangis dalam pelukannya dan memeluknya dengan sangat erat. Terasa betul kerinduan yang dirasakan oleh Akiko kepada Karan. "Maafkan aku, aku datang terlalu terlambat yah?" tanya Karan sembari menghapus air mata Akiko dengan lembut. "Tidak, aku sangat bersyukur karena kau sudah datang sekarang. Aku sangat kahwatir dan takut kalau kamu tidak akan datang, aku tidak bisa tertidur karena terus memikirkan dirimu. Tapi untunglah kau sudah datang sekarang." Akiko menggeleng dengan kuat dan tersenyum di tengah tangisnya karena begitu bahagia begitu melihat kedatangan Karan. "Tuan, anda dipersilahkan untuk keruangannya." Ucap sang pelayan mempersilahkan Karan untuk ikut dengannya. "Nona Akiko juga ikut bersamanya." Ucapnya sekali lagi yang langsung membuat Karan paham kalau ayah Akiko sudah mengetahui akan tujuan dan kedatangannya. "Apakah ayahmu sudah mengetahui siapa aku?" tanya Karan memastikan kondisi musuhnya sebelum benar-benar pergi menemuinya. "Ayah belum tahu hal apapun tentang dirimu, tapi aku sudah memberitahunya kalau aku sudah memiliki seorang pria yang aku pilih. Hal ini yang mungkin membuat ayahku mengira kalau kau memang sudah datang." Jelas Akiko dengan terus mengusap air matanya agar tidak terlihat oleh ayahnya. Setelah mendengar perkataan Akiko, Karan menarik nafas dalam dan segera mengikuti pelayan tersebut dari belakangnya. Pikirannya terus berharap dan berdoa agar sekiranya niat baiknya hari ini bisa dimudahkan dan diberikan kelancaran. Masih banyak hal yang harus ia persiapkan, namun Karan sudah membulatkan tekadnya untuk pergi menemui ayah Akiko hari ini. "Tuan, mereka sudah berada disini." Ucap pelayan tersebut kepada Ayah Akiko yang berada di dalam ruangan. "Masuklah" ucapnya singkat. "Maaf telah mengganggu waktu Anda. Saya adalah Karan Reynand, kekasih dari anak anda, Akiko." Ucap Karan langsung tertunduk memberi hormat kepada Ayah Akiko dengan tertunduk sangat dalam. "Kau?" Ayah Akiko sangat terkejut melihat orang yang sudah pernah di temuinya sebelumnya. Chapter 534 - Karan Jadi Takut Nanti Rumah Akiko sangat mewah dan cukup luas, setelah melewati lorong rumah yang cukup Panjang, sampailah Karan pasa satu ruangan keluarga yang juga tak kalah luasnya. Di dalam sudah ada Ayah dan Ibu Akiko, yang pertama terkejut melihat kedatangan Karan adalah Ayah Akiko. Setelah terkejut sebelumnya, Ayah Akiko masih terus memasang wajah yang kaku dan terlihat kejam. Tatapan matanya tajam serta keningnya berkerut dengan terus menatap lurus ke arah Karan. Merasa belum cukup untuk memperkenalkan dirinya, Karan melihat kepada ibu Akiko dan mengulang kembali untuk kedua kalinya. "Perkenalkan, nama saya Karan Reynand." Ucap Karan dengan tertunduk sopan. "Oh Iya, selamat datang. Aku panggil Karan saja boleh?" ucap ibu Akiko dengan tersenyum ramah kepada Karan. Senyuman ibu Akiko sedikit membuat hati Karan menjadi lebih hangat dan nyaman. "Tentu saja!" jawab Karan dengan sangat cepat dengan senyuman ramahnya yang sangat mempesona. "Terima kasih. Saya adalah ibu dari Akiko. Kamu panggil tante juga boleh, tapi aku lebih suka kau memanggiku ibu Yurie, karena itu akan lebih asik." Ibu Akiko terus tersenyum hangat kepada Karan mencoba untuk terus bersikap ramah padanya. "Nah yang muka seram ini adalah Ayahnya. Kalau dia tidak perlu sungkan, panggil saja Om juga boleh kok." Tunjuk Ibu Akiko kepada Ayah Akiko. "Tak ku sangka sikap Ayah Akiko sangat tegas. Apa yang harus aku lakukan pada tatapan matanya yang tajam, rasanya jantungku sudah di tembus oleh sinar matanya tersebut." Batin Karan dengan tersenyum canggung kepada Ayah Akiko. "Tidak usah sungkan, duduk saja dulu." Tegasnya dengan suara dingin. "Terima kasih." Ucap Karan cepat dan langsung terduduk di lantai dengan menghadap keduanya dengan tegap. Karan duduk dengan kaki yang terlipat kebawah dan kedua tangan yang berada di bagian kedua pahanya sebagai adab seorang tamu yang sedang berhadapan dengan kedua orang tua. "Jangan begitu dong Yah. Kalau cara bicaranya kayak gitu, Karan jadi takut nanti." Ibu Akiko segera membuat sedikit saran kepada Ayah Akiko yang memang terlihat sedang memasang tameng yang sangat tebal di antara mereka. "Begitu yah¡­" ucapnya masih dengan ekspresi dinginnya. "Kelihatan sekali kalau dia tidak senang. Apa karena aku adalah kekasih Akiko atau karena hal lain?" Karan sedikit bingung menerjemahkan ekspresi Ayah Akiko terhadapnya. Meski sebenarnya ia sudah tahu kalau Ayahnya mungkin saja akan memperlihatkan ekspresi itu karena kejadian sebelumnya, Karan tetap saja tak menyangka kalau ia akan menunjukkannya secara terang-terangan di hadapan Akiko. "Apalah itu, aku akan berusaha untuk tetap bersikap dengan sangat sopan." Batin Karan memantapkan tekadnya. "Maaf, mungkin ini tidak seberapa. Tapi silahkan di nikmati¡­" Karan segera memberikan sebuah bingkisan yang sudah jauh hari ia persiapkan sebelum datang ke Jepang. Bingkisan itu tidak hanya berupa makanan ringan khas dari Indonesia seperti gorengan jambu mete, Karan juga menyimpan sepasang baju batik yang sangat mewah di dalam bingkisan yang dibawanya tersebut. "Wah, Terima kasih. Aduh Karan, pakai bawa oleh-oleh segala. Baik deh!" ucap ibu Akiko mengambil bingkisan dari tangan Karan dengan tersenyum lebar karena senang. "Aku langsung buka, Ya. Akiko! Bisa bantu siapkan teh?" pintu ibunya kepada Akiko yang sedari tadi berdiam diri dibelakang Karan. "Baik! Kak Karan santai saja yah." Ucap Akiko dengan hangat kepada Karan. Melihat perlakuan Akiko kepada Karan membuat kerutan di kening Ayah Akiko semakin jelas terlihat. "Kalian sudah se dekat itu?" suara dingin dan berat Ayah Akiko segera membuat Karan dan Akiko kaget dan memerah malu. "Te¡­ Tentu saja!" ucap Akiko dengan sedikit gugup. Akiko dan ibunya segera pergi menuju ke dapur. Melihat keduanya berlalu pergi, mereka terlihat seperti adik dan kakak dibandingkan dengan ibu dan anak. Ayah Akiko dan Karan hanya terus terdiam karena takt ahu apa yang harus mereka katakan, hingga membuat Karan semakin gugup dan bingung dibuatnya. "Pilihan Akiko ternyata mantap juga nih. Selain tampan, dia juga sangat sopan." Ucap ibu Akiko datang membawa sepiring kue bersama Akiko yang membawa dua cangkir teh. "Ah ibu, kalau ibu berbicara dengan sekeras itu Karan jadi dengar." Akiko langsung memerah malu karena pujian ibunya yang secara terang-terangan. "Yah, nggak masalah kan? Toh ibu tidak bohong kok!" ucap ibunya terus menggoda Akiko. "Tuh.. kamu di puji-puji." Ucap Akiko dengan sedikit lirikan nakal kepada Karan. "..." Karan hanya bisa terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Akiko. "Bagaimana aku harus berekasi dengan hal itu?" Batin Karan bingung. Akiko yang duduk di sebelah Karan tampak ingin mengerjai Karan. "Ngomong-ngomong Karan¡­" Ayah Akiko mencoba untuk memulai percakapan dengan Karan. "Iya, ada apa?" tanya Karan cepat. "Aku dengar kau dan Akiko menjalin hubungan¡­" ucap Ayah Akiko masih dengan suaranya yang dingin dan ekspresinya yang tak melunak sedikitpun. "Iya benar, dan tahun ini saya berniat untuk menikahi Akiko jika kalian berdua mengizinkannya." Karan tidak lagi berbasa-basi ketika mendengar pernyataan ayah Akiko. "Ayah, aku kan sudah menceritakan hal itu kemarin." Akiko terlihat sedikit protes dengan sikap ayahnya kepada Karan. "Tidak masalah kan? Lagi pula ayah rasa akan lebih baik jika mendengarnya langsung dari orangnya." Tegas Ayah Akiko melipat kedua tangannya. "Sepertinya Ayah Akiko tidak terlalu pandai berkomunikasi dengan orang lain, khususnya jika itu adalah orang yang sedang meminta anaknya saat ini." Batin Karan sembari terus memperhatikan Ayah Akiko. "Karan, sebaiknya kamu yang mengajaknya berbicara lebih dahulu. Ayah Akiko pada dasarnya adalah orang yang cukup pendiam, jadi orang mengira dia agak susah untuk di ajak berbicara." Terang ibu Akiko mencoba untuk mencairkan suasana. Saat Karan melirik ke arah Ayah Akiko, terlihat betul ekpresi yang kerepotan akibat pernyataan ibu Akiko. Karan merasa ada sedikit kemiripan di antara mereka berdua, meski Karan orang yang hangat. Dia kadang bisa bersikap kaku. "Kalau begitu, silahkan diminum tehnya, biar kalian tidak terlihat gugup seperti ini. Ini teh hijau, kamu tidak masalah kan?" Ucap ibu Akiko dengan tertawa pelan melihat Karan dan Suaminya yang terlihat gugup. "Nggak apa-apa kok. Ryu suka dengan teh hijau." Jawab Akiko dengan ceria. "Ibu tahu kamu senang, tapi ibu bertanya pada Karan." Goda ibunya kepada Akiko. "Apa terlihat jelas?" tanya Akiko dengan memegang kedua pipinya yang langsung membuat keduanya tertawa dengan riuh. "Oh iya. Karan, kalau ibu bertanya tidak masalah kan?" tanya ibu Akiko dengan tatapan serius. "Iya, silahkan." Seru Karan dengan ramah. "Antara kamu dan Akiko, siapa yang menembak lebih dahulu?" pertanyaan ibu Akiko segera membuat Akiko terkejut, begitu pula dengan ayahnya. Chapter 535 - Pisang Ambon Campur Durian "Wut wutt wutt wuuut" suara bising terdengar dari balik jendela kamar milik Alisya, sehingga dengan malas dia terbangun dan menghampiri jendela untuk melihat apa yang menyebabkan suara bising yang disertai dengan angin kencang tersebut. "Ah¡­ ada apa sih? Kenapa rebut sekali?" gumam Alisya sedikit kesal dengan suara bising tersebut. Alisya yang mengucek matanya pelan-pelan langsung membuka jendela dan hembusan angin menyeruak masuk ke dalam kamarnya menerbangkan horden putih yang menutup jendela kaca bening yang sangat besar tersebut. Samar-samar Alisya melihat Adith yang turun dari helicopter dengan begitu bersinar dan menawan . Adith seolah dipenuhi dengan sinar cerah beserta bunga-bunga ketika ia melangkahkan kakinya sehingga Alisya harus mengucek matanya beberapa kali karena merasa ada sesuatu yang salah dengan penglihatannya. "Puhahahaha, sepertinya aku sangat merindukan dirinya hingga tanpa sadar aku seperti sedang berhalusinasi melihat dirinya sekarang. Aku harus mencari Karin atau Karan untuk memberikanku Vitamin penambah energi otak." Gumam Alisya sembari menutup kembali jendela tersebut dengan menertawakan dirinya sendiri. Dia tidak percaya akan apa yang baru saja dilihatnya sampai ia merasa konyol atas pikirannya sendiri. Dengan mendesah kuat, Alisya berusaha untuk mengumpulkan kembali kesadarannya yang berterbangan mengelilingi kepalanya yang bergambarkan pesona Adith. "Mana mungkin dia berada disini!" ucapnya menarik nafas dalam sembari memijat kepalanya yang sedikit pening. "Ada apa? Apa yang sedang terjadi? Kau baik-baik saja Sya?" tanya Karin yang datang terburu-buru karena mengkhawatirkan Alisya sebab suara keributan itu terdengar sangat dekat dengan kamar miliknya. "Entahlah, kau perlu memeriksa tubuhku sekarang. Rasanya aku jadi mulai sering berhalusinasi dan kepala ku rasanya berat dan pening sekali, sampai aku seolah merasa melihat Adith yang berada di luar sana. Hahahaha" Alisya tertawa dengan suara lemah yang membuat Karin mengernyitkan keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh Alisya. Dia yang ingin menghampiri Alisya untuk memastikan keadaaanya tiba-tiba terhenti saat melihat sosok yang sudah menghampiri Alisya dari belakang. "Bagaimana jika aku yang melakukan itu padamu?" Adith masuk setelah membuka jendela dan langsung memeluk Alisya dari belakang. "Alisya.. kau baik-baik saja?" Yani datang dengan setengah berteriak mencari Alisya. "Huh???" Yani yang baru masuk tiba-tiba bingung dengan matanya yang sudah tertutup oleh tangan Karin. "Apa sih Karin, tangan kamu bau tau! Kamu habis megang kaki kamu yah?" Yani berusaha melepaskan tangan Karin, namun karena kesal Karin malah semakin memakai dua tangannya untuk benar-benar menutup mata Yani. "Nih makan aroma Pisang Ambon campur Durian!" serang Karin bertubi-tubi hingga membuat Yani menjadi sedikit sesak memikirkan apa yang baru saja di katakan oleh Karin. "Kamu ngapain nutupin mataku sih?" tanya Yani mulai sedikit kesal dengan apa yang dilakukan oleh Karin kepadanya. "Sebaiknya kita keluar dari sini, para wanita yang masih menanti untuk di halalkan diwajibkan untuk menjauhkan pemandangan romantic ini dari pandangan mata mereka jika tidak ingin hatimu merusak kehidupanmu." Ucap Karin langsung menarik pergi Yani untuk keluar dari kamar Alisya. Yani sebenarnya tak paham dengan apa yang dikatakan oleh Karin, namun saat keluar dari kamar Alisya ia sekilas dapat melihat Alisya yang sedang berada dalam pelukan seseorang. Memikirkan siapa yang memeluk Alisya saat itu membuat Yani paham dan tersenyum simpul. "Oke, naku tahu siapa yang sanggup dan mampu melakukan hal seheboh itu, tak perlu dipertanyakan lagi. Orang yang sedang memeluk Alisya saat ini pastilah Adith." Batin Yani terus berjalan mengikuti langkah kaki Karin yang tampak tenang. Mereka dengan segera menenangkan orang-orang yang berada dalam rumah, termasuk Yuriko. Sedangkan Ayah Alisya hanya bisa tertawa mengetahui kehebohan yang sudah di lakukan oleh Adith untuk bisa sampai di Jepang. Dengan waktu yang ditempuh oleh Adith, tidak hanya Jet pribadi saja yang sudah ia gunakan untuk sampai ke bandara, namun dari bandara dia juga langsung menggunakan helikopter untuk bisa sampai di rumah tersebut. "Bagaimana mungkin kau bisa tertawa dengan sesantai itu saat ada sebuah helikopter yang mendarat di halam rumah ini?" tanya Masayuki kepada Ayah Alisya dengan wajah yang kebingunga. "hahahaha¡­ tidak perlu khawatir, hanya satu orang yang berani melakukan hal itu di tempat ini." Ucap Ayah Alisya mengetahu kalau hal itu hanya akan dilakukan oleh Adith. Meski tempat mereka tidak mewah dengan rumah bergaya tradisional, rumah tempat dimana ibu Alisya dilahirkan sangat diketahui oleh masyarakat dan menjadi rumah yang orang-orangnya sangat mereka hargai. Kedatangan Adith yang langsung menerobos menggunakan helikopter tersebut tentu saja membuat semua warga sekitar juga ikut heboh, untunglah halam rumah nenek Alisya yang cukup luas memungkinkan untuk satu helicopter kecil dapat mendarat dengan aman. "Anak itu, selalu saja menciptakan kehebohan jika sudah berhubungan soal Alisya. Tapi melihat dari kehebohan yang masih belum seberapa ini, sepertinya dia belum mengetahui mengenai kehamilan Alisya." Gumam Ayah Alisya sembari terus membuka lembaran berkas yang ada di mejanya. "Aku penasaran orang seperti apa pemuda itu sampai kau terlihat begitu percaya padanya" ucap Masayuki penasaran dengan sosok Adith yang telah membuat Ayah Alisya begitu santai meski Adith sudah menciptakan kehebohan seperti itu. "Kau tidak perlu khawatir, setelah dia selesai mengurus Alisya. Dia akan datang untuk menemui kita secepatnya." Ayah Alisya tersenyum memikirkan sikap Adith kepada Alisya. Alisya masih terdiam dalam pelukan Adith, ia bahkan menoleh ke belakang agar bisa memeluknya dengan benar. Alisya merasa seolah energinya telah perlahan mulai terisi karena ia sangat mengetahui ritme jantung orang yang sedang dipeluknya tersebut. Detak jantung yang sangat ia rindukan dalam tidur dan bangunnya. "Bagaimana kondisimu sekarang? Aku lihat wajahmu sangat pucat sekali. Apa kau demam?" Adith menempelkan dahinya pada dahi Alisya untuk memastikan kondisinya. "Hmmmm, aku baik-baik saja. Tapi ada satu hal yang ingin aku katakana padamu." Ucap Alisya dengan suaranya yang sedikit lemah. "Kita akan bahas itu nanti, sekarang yang utama adalah kesehatanmu. Aku harus memastikan kondisimu dulu saat ini. Kau sangat membuatku khawatir!" Adith langsung menggendong Alisya dengan lembut dan membaringkannya secara perlahan-lahan di atas ranjang. "Aku rasa kau akan menyesal jika tidak mendengar hal ini, sebab kau akan kecewa karena menjadi orang kesekian yang terlambat mengetahui ini." Alisya menatap Adith dengan senyuman penuh syukur di saat Adith tidak memperdulikannya dan terus sibuk memeriksa denyut nadinya. "Oke, kamu bisa katakan padaku sekarang. Tapi biarkan aku untuk tetap memeriksa kondisimu juga, karena bagiku tak ada yang lebih penting di dunia ini selain dirimu." Tegas Adith sembari memegang pipi Alisya dengan hangat. Chapter 536 - Rahasia Kami Berdua Disisi lain, di rumah Akiko. Karan yang mendapatkan pernyataan dari ibu Akiko menjadi terlihat sangat bingung dan tak tahu apa yang harus ia katakan, sehingga ia melirik ke arah Akiko yang tampak memerah karena malu. "Ah¡­ kalau soal itu, A.." Karan yang sudah siap menjawab tiba-tiba terhenti. "Akiko yang menyukai Karan lebih dahulu!" ucap Akiko cepat dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus. Karan tersenyum puas melihat tingkah Akiko yang sangat menggemaskan. "Loh, kenapa kamu lagi sih yang jawab. Ibu kan ingin bicara dengan Karan." Protes ibunya kepada Akiko yang selalu menjawab pertanyaan yang ia berikan kepada Karan. "Aku yang lebih dahulu menyukainya, dan aku juga yang sudah menembaknya lebih dulu." Ucap Karan sembari mengusap kepala Akiko dengan lembut untuk menenangkannya. "Eh? Bukankah aku yang lebih dahulu menyukaimu bahkan lebih dahulu menyatakan persaanku padamu?" tatap Akiko dengan ekspresi kebingungan pada Karan. "Puffttt hahahaha.. Maaf kau tidak mengetahuinya, tapi sejak pertama kali bertemu denganmu ketika berada di Jet pribadi milik Alisya, aku sudah merasa tertarik padamu. Itu tepat sebelum kau melihatku secara terus menerus." Ucap Karan yang langsung membuat Akiko malu karena ternyata Karan mengetahui apa yang sudah ia lakukan. "Ternyata kalian memang saling mencintai satu sama lain yah? Aku iri dengan jiwa muda membara ini." Ucap Ibu Akiko mamandang mereka berdua dengan tersenyum lebar. Karan dan Akiko akhirnya tersadar kalau mereka berdua masih berhadapan dengan kedua orang tua Akiko. Ayah Akiko masih terlihat tidak menunjukkan reaksi untuk melunak sedikit pun. "Ah¡­ Maafkan kami, sepertinya kami malah jadi heboh berdua saja!" ucap Karan sembari menggaruk kepalanya karena malu. "Tidak apa-apa, Ayah Akiko juga seperti itu jika sudah berhadapan denganku. Dia jadi tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya dan menjadi sangat bergairah. Sama seperti saat dia melamarku." Ucap Ibu Yani lagi melirik kea rah Ayah Akiko dengan tersenyum-senyum sendiri. "Ehemmm" Ayah Akiko batuk untuk menghentikan istrinya. "Aduh, maaf. Ini adalah rahasia kami berdua. pufft!" ibu Akiko menaikkan telunjuknya pada bibirnya dengan kerlingan mata kepada Karan. "Hahh???" Ayah Akiko terlihat menarik nafas yang cukup dalam setelah kelabakan mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya tersebut. Akiko dan ibunya tertawa pelan melihat ekspresi pasrah Ayahnya. Karan jadi sedikit bingung dengan sikap Ayahnya tersebut, mengingat dia yang sudah di temui oleh Karan sebelumnya tampak sangat dingin hingga membuat Karan merasa akan sangat sulit untuk memenangkan hatinya. Suasana mereka yang sedikit hangat membuat Karan berpikir bahwa keluarga mereka hampir sama dengan keluarga harmonis pada umumnya tanpa ada masalah yang cukup besar di antara mereka. Akan tetapi, Karan kembali mengingat bagaimana kakak Akiko, menarik tangan Akiko dengan kasar hingga membuat Karan berkesimpulan kalau mereka benar-benar tidak di restui. "Karan, maaf kalau saya sedikit lancang. Tapi apa tujuanmu untuk datang ke rumah ini? Saya yakin kamu datang tidak hanya untuk memperkenal diri sebagai kekasih Akiko saja kan?" suara dingin ayah Akiko seketika membuat suasana diruangan tersebut kembali menjadi sangat dingin dan berat. Seperti yang sudah diperkirakan oleh Karan, ayah Akiko tentu saja bisa tahu akan tujuan Karan yang saat ini sudah menemuinya. Dia yang dari Indonesia dan menjadi orang yang bekerja sama dengan Alisya membuatnya berpikir bahwa Karan tentu memiliki alasan lain untuk datang menemuinya saat ini. "Sayang, maukah kau mengajari ibumu bagaimana cara memakai baju batik yang sudah aku berikan?" Karan sengaja ingin berbicara berdua saja dengan ayah Akiko, agar keduanya bisa lebih nyaman berbicara satu sama lainnya dengan bebas. Akiko paham maksud dari Karan, sehingga dia dengan tersenyum dengan ceria mengajak ibunya untuk segera pergi meninggalkan mereka berdua saja di dalam ruangan tersebut. Ibu Akiko yang sudah bangkit dari tempat duduknya, setengah menunduk dan membisikkan sesuatu kepada ayah Akiko. "Jangan terlalu keras padanya, jika tidak kau akan menyesal dan kehilangan putri kesayanganmu. Karan anak yang baik kok." Ucapnya dengan senyuman hangat yang langsung membuat ayah Akiko jadi sedikit menghela nafas yang memperlihatkan ekpresi yang sedikit melunak. Setelah mereka sudah tidak terlihat di ruangan tersebut, Karan akhirnya menarik nafas yang sangat dalam dan mengumpulkan keberaniannya untuk bisa berbicara dengan ayah Akiko. "Seperti yang anda katakan, saya kemari bukan hanya untuk mengenalkan diri sebagai kekasih Akiko saja. Saya kemari untuk meminta anda dapat merestui hubungan saya dengan Akiko, sebab saya berniat untuk serius dan menikahi Akiko." Ucap Rinto dengan sangat tegas yang langsung membuat ayah Akiko tampak terkejut. "Hahhh???!" seru ayah Akiko dengan mata yang membelalak. Ekspresi ayah Akiko membuat Karan sedikit bingung, karena ia tidak menduga kalau ayah Akiko akan sampai se kaget itu mengingat ia seolah sudah mengetahui maksud kedatangannya tersebut. "Ada apa? Apa saya sudah mengatakan sesuatu yang salah?" tanya Karan bingung. "Aku pikir kau datang kemari selain mengatakan bahwa kau adalah kekasih Akiko, kau ingin membahas mengenai kontrak kerja sama yang sudah kita lakukan kemarin atas perintah dari Alisya dan Lesham." Ucap Ayah Akiko dengan suara yang cukup keras dan terdengengar sedikit panik karena ia sudah salah tebak. "Huh?? Te¡­ tentu saja bukan. Kami sangat professional dalam bekerja, sehingga kami tidak pernah membuat urusan pribadi dan urusan kantor saling berkaitan satu sama lainnya." Ucap Karan dengan setengah gagap tak menyangka kalau ayahnya akan berpikiran seperti itu. "wahahahaha¡­" Akiko dan ibunya yang ternyata sedang menguping langsung jatuh dalam tawa ketika mendengar tebakan ayahnya yang begitu konyol. "Sudah aku bilang kan bu? Ayah dan Karan itu sebenarnya sangat mirip. Karan dan Ayah juga sama-sama suka kurang peka dan selalu saja membuat orang jadi salah paham." Terang Akiko dengan berusaha menahan tawanya dan menghapus air matanya. "Too san¡­ (Ayah¡­)" istrinya terlihat protes dengan apa yang baru saja dipikirkan oleh Ayah Akiko. Beberapa saat kemudian setelah semua itu, Karan akhirnya pulang dengan di antar oleh Akiko hingga ke depan rumahnya. Wajah Akiko yang terlihat suram membuat Karan tersenyum getir dan langsung mengusap lembut kepala, Akiko. "Jangan khawatir, aku bisa memahami ke khawatiran ayahmu terhadapmu mengingat kamu adalah putri satu-satunya. Tapi bukan berarti aku akan menyerah." Karan memegang pipi Akiko dengan gemas dan menariknya agar ia memperlihatkan senyumnya. "Tapi ayah sudah¡­" Akiko berkata dengan suaranya yang serak hingga membuat Karan kembali menarik pipi Akiko dengan kuat. "Ayahmu tidak akan membuatku menyerah hanya karena dia menolakku satu kali saja. Akan aku buktikan padanya kalau aku juga bisa membuatnya menyetujui aku untuk menjadi suami mu. Tunggu saja!" ucap Karan terus berusaha menenangkan Akiko. Chapter 537 - Menciptakan Kehebohan Melihat Adith yang sangat mengkhawatirkan dirinya membuat Alisya perlahan bangkit dari tidurnya dan menatap Adith dengan sangat dalam. Dia memandang wajah Adith yang sangat tampan dan menawan itu, membayangkan kalau wajahnya akan memiliki wajah yang mirip dengan anaknya nanti. "Aku sangat merindukanmu Dith." ucap Alisya singkat dengan tersenyum nakal ingin menjahilinya terlebih dahulu. "Iya, aku juga sangat merindukanmu." Jawab Adith terus sibuk memeriksa kesehatan Alisya. "Aku mencintaimu Dith" ucapnya lagi masih tersenyum-senyum sendiri tanpa di sadari oleh Adith "Iya, aku juga mencintaimu." Ucapnya sembari terus melanjutkan pemeriksaanya. "Aku hamil Dith!" ucap Alisya mulai memandanganya dengan serius. "Iya, aku yang menghamilimu!" jawabnya tegas sembari melihat ke mata Alisya menggunakan senter khusus miliknya. "Kau harus berbaring agar aku bisa memeriksamu dengan benar." Ucap Adith tidak menyadari apa yang baru saja dikatakannya. Namun saat ia ingin kembali membaringkan Alisya, dia tiba-tiba terhenti dan menatap Alisya dengan tajam. "A¡­ apa yang kau katakan tadi? Bisakah kau mengulanginya sekali lagi?" Adith kembali mendudukkan Alisya dan menatapnya dengan sangat serius. "Aku merindukanmu?" ucap Alisya berpura-pura bodoh. "Bukan, setelah itu!" Pinta Adith dengan berharap-harap cemas. "Aku mencintaimu?" tanya Alisya lagi masih ingin mengerjainya. "Alisya¡­ Aku mohon!" Adith terlihat memelas kepada Alisya agar dia mengatakannya. "Aku hamil Dith, Aku akan jadi ibu dan kamu akan jadi Ayah." Ucap Alisya memegang kedua pipi Adith dengan gemas. "Ka¡­ kamu yakin?" tanya Adith ingin memastikan apa yang dikatakan oleh Alisya sekali lagi. "Iya, disini sudah ada benih dari Adith Junior!" tegas Alisya sekali lagi mengambil tangan Adith dan meletakkannya di perutnya. Adith tertegun dengan wajah yang terlihat kosong. Dia sangat terkejut mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Alisya, sehingga secara perlahan dia keluar dari kamar Alisya dan berdiri dihadapan Yani dan Karin yang sedang asik menguping pembicaraan mereka berdua. "Eh buseett!" Karin kaget saat menyadari Adith sudah berada di hadapan mereka. "Alisya beneran hamil???" tanya Adith kepada mereka berdua dengan suara yang keras dan menggucang tubuh keduanya secara bergantian dengan kuat. "Woyyy! Biasa aja, kamu nggak percaya sama istri kamu?" Karin yang kesal segera memukul kepala Adith yang langsung membuat otak Adith seolah terkumpuk kembali. "Pufffttt Iya pak, Alisya beneran hamil. Selamat, bapak sudah menjadi seorang ayah sekarang." Yani yang memberi selamat padanya langsung membuatnya benar-benar sadar. "Uwaaahhhhh¡­. ALISYA HAMIL!!! Aku seorang BAPAK sekarang!!!" Adith yang berteriak kencang hingga menggemparkan seisi rumah kembali membuat semuanya tertawa dengan sangat heboh begitu pula dengan Ayah Alisya yang sudah berjalan keluar menghampiri Adith. "Kar¡­ Kamu nggak apa-apa sudah menggeplak kepala pak Adith seperti itu?" tanya Yani mengkhawatirkan Karin atas apa yang sudah ia lakukan sebelumnya. "Tidak apa-apa, hari ini dia lagi Bahagia, jadi dia pasti akan melupakan apa yang baru saja aku lakukan padanya!" ucap Karin memandang tangannya yang bergetar hebat karena menyadari apa yang baru saja ia lakukan pada Adith. Alisya keluar dari kamarnya, memandang Adith dengan penuh kebahagiaan. Dia bisa merasakan bagaimana terkejut dan bahagianya Adith saat mendengar berita mengenai kehamilannya saat ini, terlebih karena mereka memang sudah sangat menantikan kehadiran dari seorang anak. "Bapak¡­ Aku jadi seorang bapak sekarang!" Adith segera menghampiri Ayah Alisya dengan wajah yang sangat Bahagia. "Aku.. Aku.. Aku juga jadi seorang kakek!" balas Ayah Alisya dengan tak kalah heboh hingga membuat keduanya saling berpelukan dan melompat-lompat dengan penuh Bahagia. "Aku jadi Bapak!" ucap Adith sekali lagi. "Aku jadi Kakek!" tambah Ayah Alisya. "Apa memang sikap Ayah dan suami, nona Alisya seperti ini?" Yuriko menatap heran kepada Ayah Alisya dan Adith yang sangat berbeda dengan ekspetasinya yang sudah ia bayangkan selama ini. "Tidak, tapi kali ini sepertinya mereka merupakan jati diri mereka untuk sesaat karena kebahagiaan yang meluap-luap." Ucap Rinto datang dari belakang Yuriko. "Apa kita perlu menghentikan mereka berdua?" tanya Ryu dengan sedikit ragu-ragu melihat keduanya terus saja melompat-lompat Bahagia dengan heboh. "hahahaha, untuk hari ini kita biarkan saja mereka seperti itu. Mereka pasti sangat merasa Bahagia sekali mendengar hal ini." Ucap Alisya dengan tertawa pelan melihat reaksi mereka yang kekanak-kanakan. "Baru kali ini saya melihat Lesham tertawa dan melompat-lompat seperti seorang anak kecil. Dia benar-benar terlihat sangat Bahagia." Masayuki segera menghampiri Alisya dan yang lainnya. "Iya, nenek benar. Aku juga baru kali ini melihat senyuman dan tawa mereka yang benar-benar lepas." Ucap Alisya terus memperhatikan mereka dengan senyuman yang lebar. "Image Paman yang tegas, sangar dan sangat disiplin sekarang terlihat runtuh hanya karena satu berita saja." Karin yang mengetahui seperti apa Ayah Alisya dimasa lalu tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah ayah Alisya saat ini. A Few Moments Later¡­.! "Sampai kapan mereka akan terus mengulang kata-kata yang sama?" Yani mulai mengerutkan keningnya melihat tingkah Ayah Alisya dan Adith yang masih belum berhenti. "Sepertinya kita memang benar-benar harus menghantikan mereka sekarang." Yuriko merasa khawatir dengan keadaan mereka berdua yang terlalu semangat. "Jantung Ayahmu bisa kumat Sya kalau dai tidak menghentikan tingkah mereka." Ucap Karin mengingatkan Alisya. "Aku jadi seorang BAAAPAAAAKKK!" teriak Adith dengan lebih kencang kali ini. "Aku jadi seorang KAAAKKEEEEKKK¡­. Ohokkkk!" Ayah Alisya yang ikut teriak langsung terbatuk karena nafasnya tidak cukup banyak. "Tu.. tuan, sebaiknya anda hentikan sekarang. Sakit jantung anda bisa kembali jika anda terlalu semangat seperti itu." Ryu mendekati mereka untuk memperingatkan Ayah Alisya. "Ryu, kau tahu. Aku akhirnya jadi seorang Bapak sekarang!" Adith langsung menarik Ryu untuk memberitahu hal yang sudah lebih dahulu diketahuinya. "Dan aku sekarang menjadi seorang Kakek!" guncang ayah Alisya juga kepada tubuh Ryu. Ryu hanya menatap dengan kosong kepada Ayah Alisya, tak disangka dia menyimpan kebahagiaanya sebelumnya untuk bisa sama-sama melompat dengan Adith seperti saat ini. "Istriku HAMIIIILLL" teriak Adith sekali lagi yang mulai membuat telinga, Alisya sakit. "Anakku HAAMIIIILLL" teriak Ayah Alisya juga tak kalah semangatnya yang langsung membuat Alisya semakin kesal mendengar teriakan mereka berdua. "HENTIKAN!!!!" Alisya yang sudah berdiri di tengah mereka berdua segera berteriak kepada mereka dengan penuh kekesalan. "Aku tau kalian Bahagia, tapi bisakah kalian menghentikannya? Aku sudah tidak sanggup mendengar teriakan kalian yang tidak hanya membuat teligaku sakit, tapi juga membuatku sangat malu. Jadi bi¡­ umppphhh" mulut Alisya segera terbungkam oleh Adith yang sedang menciuminya dengan lembut. "Uwwaaahhh¡­ Adegan 21++ menjadi penutup!!!" ucap mereka semua hampir bersamaan melihat apa yang sedang terjadi dihadapan mereka semua. Chapter 538 - Suara Hewan Buas "Kenapa aku bisa ada di atas ini?" Batin Alisya berusaha bangkit dari tidurnya. Ia tampak sangat bingung dengan dirinya yang sudah kembali berada di atas Kasur tampa ia ketahui, sehingga hal ini sedikit membuatnya takut. "Kau sudah bangun sayang¡­" Adith datang dengan satu mangkuk yang terlihat mengepulkan asap di atasnya. "Bagaimana aku berada di atas tempat tidur lagi kali ini?" tanya Alisya dengan tatapan bingung kepada Adith. Seingat dia, terakhir kali ia masih memiliki kesadaran adalah saat dimana Adith sedang menciumnya di hadapan semua orang. "Kau sempat membuatku takut, aku pikir kau pingsan. Tidak Taunya kau hanya ketiduran di pelukanku dalam ke adaan tersenyumu." Adith memperlihatkan wajahnya yang sedang tersenyum di pelukannya hingga membuat Alisya tertawa pelan karenanya. "Aku rasa sebaiknya kau memeriksakan diri mengenai kehamilanmu tersebut, sepertinya kondisimu saat ini ada hubungannya dengan kehamilanmu." Karan juga masuk dengan membawakan sepiring salad untuknya. "Ya, aku juga menduganya seperti itu. Kondisi ini mungkin ada hubungannya dengan energiku yang terasa mudah terkuras habis sehingga aku bisa memulihkan kebutuhan energiku dengan tertidur, tapi kali ini rasanya jauh lebih segar dibanding sebelumnya saat aku bangun." Terang Alisya sembari memandang Adith dengan begitu dalam. "Ini mungkin karena kehadiran dirimu, aku jadi bisa mendapatkan energi yang cukup darimu. Sehingga aku rasa kali ini aku bisa bertahan lebih lama. Tapi untuk pemeriksaan kehamilan ini, orang yang lenih tepat kita datangi adalah professor Ahmad. Dia mungkin mengetahui sesuatu tentang kondisiku dan kehamilanku." Alisya tersenyu melihat wajah Adith yang memperlihatkan ke khawatirannya. "Kruuuyyyuuukkkk!" perut Alisya berbunyi dengan hingga membuatnya sangat malu. "Sepertinya aku baru saja mendengar suara binatang buas." Ucap Adith menggoda Alisya dengan melihat ke sekeliling ruangan tersebut. Alisya yang malu langsung melemparnya dengan bantal Kasur yang tak jauh darinya hingga membuat Adith dan Karan tertawa karenanya. "Tentu saja kau akan lapar, aku dengar dari Karin dan yang lainnya kalau seharian ini kamu belum makan dan hanya tertidur terus-terusan. Memangnya kamu beruang? Nih makan dulu, tinggal pilih kira-kira mana yang cocok dengan seleramu saat ini." Karan akhirnya meletakkan piringnya tak jauh dari sisi Alisya. "Aku juga membawakan beberapa buah yang mungkin bisa membuatmu segar setelah memakan ini. Lemon, mangga dan jeruk akan sangat bagus untukmu menghilangkan mual, sakit di pagi hari serta menghilangkan racun. Apel kayak akan vitamin dan anti oksidan serta dapat mengontrol berat badan kamu, serta jus Alpukat ini sangat baik untuk membantu perkembangan otak dan tulang belakang Janin karena mengandung asam folat." Rinto masuk dan langsung menjelaskan semua hal tersebut dengan begitu semangat hingga membuat Alisya tertawa dengan keras melihat ekspresinya. "Terimakasih banya Rinto, kau membuatku tidak sabar untuk mengetahui perkembangan Janin ini." Ucap Alisya di sela-sela tawanya yang membuat Rinto sedikit memerah karena malu. Alisya akhirnya memilih memakan buah yang dibawah oleh Rinto terlebih dahulu, sebelum akhirnya memakan bubur ayam yang di bawakan oleh Adith dan salad yang di bawakan oleh Karan. "Oh iya Kak, jadi bagaimana dengan di rumah Akiko hari ini? Apakah semua lancar-lancar saja?" tanya Alisya sembari terus menelan beberapa buah yang sudah di kupas sebelumnya. "Aku juga penasaran mengenai hal itu." Ucap Adith membersihkan mulut Alisya menggunakan tisu karena jeruk yang memercik di sekitar mulutnya. "Seperti yang sudah kau katakan sebelumnya, ini akan sedikit sulit. Ayah akiko masih belum menerimaku, tapi aku takkan menyerah dan berhenti begitu saja. Aku akan terus datang ke sana sampai aku benar-benar bisa mendapatkan restunya. Tapi soal ibu Akiko, dia sepertinya sangat mendukung kami berdua." Jelas Karan sembari duduk menghadap ke arah Alisya dan Adith. "itu artinya kau sudah punya rencana lain untuk bisa memenangkan hatinya?" tanya Rinto yang bersandar di dinding ikut dalam pembicaraan mereka. "Tentu saja aku sudah memikirkan beberapa rencana. Aku tidak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak sampai aku benar-benar mencobanya, tapi aku punya masalah utama yang benar-benar membuatku akan sedikit kerepotan untuk melaksankan rencana ini." Ucap Karan dengan tatapan yang penuh ke khawatiran. Alisya dan Adith ternyum melihat mata Karan yang membara dan penuh semangat. Keduanya yakin kalau Karan pasti bisa menyelesaikan hal tersebut sendiri, sehingga dibandingkan dengan langsung turut ikut campur, mereka lebih memilih untuk mengamati terlebih dahulu. "Jika kau membutuhkan bantuan, kau bisa mengatakannya kepadaku kapanpun kau mau." Ucap Alisya dengan tersenyum lebar yang tanpa ia sadari, ia sudah menghabiskan semua makanan yang dibawakan untuknya. "Tentu saja, aku akan sangat berterima kasih untuk hal itu. Tapi sepertinya kau harus memperhatikan dirimu dulu, para wanita sudah jauh-jauh datang ke Jepang dan mereka belum pernah keluar selama beberapa hari ini." Ucap Karan berdiri dari tempat duduknya. "Istrahatlah yang banyak, panggil kami jika kau membutuhkan sesuatu!" tambah Rinto yang kemudian berjalan keluar bersama dengan Karan sembari membawa piring yang sudah ludes habis di makan. "Apa kau tidak sadar kalau kau baru saja menghabiskan semua makananmu dengan sangat cepat?" Adith mengucir rambut Alisya ke belakang telinganya agar ia bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas. "Mungkin karena kau sangat lapar sekali. Kau bertanya seperti itu karena takut aku jadi berat?" tanya Alisya dengan sedikit cemberut karena kesal dengan perkataannya. "Tentu saja tidak. Kau mau menjadi seperti apapun yang kau suka, aku takkan peduli selama kau senang dan yang di dalam sini tumbuh dengan sehat." Tegas Adith cepat sambil memegang perut Alisya dengan gemas. "Bohong!" Alisya berdiri dengan kesal membuat Adith kebingungan. "Kau mau kemana?" Adith terlihat sangat khawatir kepada Alisya yang sudah pergi begitu saja dengan wajah cemberutnya. "Mandi, kau mau ikut?" tanya Alisya dengan tatapan menantang. "Tentu saja, dengan senang hati tuan putri." Adith dengan segera menggendongnya dan membawanya menuju ke kamar mandi. Alisya yang tadinya ingin menggodanya saja malah terlihat panik dengan apa yang akan dilakukan oleh Adith padanya. "A¡­ Adith, maksudku hanyalah mandi. Aku hanya ingin mandi saja, kau tau kan aku masih hamil muda. Kita harus konsultasikan mengenai kehamilanku lebih dulu sebe.. sebelum¡­" Adith tertawa pelan melihat Alisya yang panik di gendongannya. "Tentu saja kita hanya mandi, memangnya apa yang sedang kamu pikirkan? Oh.. jangan.. jangan¡­" Adith terlihat memicingkan matanya. "Ahhh.. hahahaha ba.. baguslah kalau kau mengerti maksudku. Ya benar, sudah lama kita tidak mandi bersama-sa¡­" Adith mencium kening Alisya dengan lembut karena merasa sangat gemas dengannya. "Kau tidak perlu khawatir, aku akan berusaha untuk menekannya meskipun melihatmu saat ini sudah cukup membuatku panas dingin." Ucap Adith yang kemudian langsung memandikan Alisya dengan air hangat yang membasahi keduanya. Chapter 539 - Raja "Ratu Sejagad" Ke esokan harinya "Apa tidak masalah bagimu jika meninggalkan perusahaan dan rumah sakit seperti ini?" Alisya yang berada di lengan Adith segera mengingatkan dia yang sudah meninggalkan pekerjaannya. "Kau sudah bangun rupanya. Aku berniat akan kembali ke Indonesia ketika sudah bangun, tapi sebelum itu aku ingin memastikan apakah kau tak akan ada masalah jika aku meninggalkanmu disini?" Adith memeluk Alisya dengan sangat erat karena tak ingin pergi darinya. "Aku sebenarnya tak ingin pergi. Aku ingin membawamu pulang bersamaku saat ini, tapi aku tau kalau kau juga masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus kau urus. Apa aku biarkan Yogi saja yang melakukan semuanya?" tatap Adith kepada Alisya yang hanya di balas oleh tawa kecil dari Alisya. "Kau ingin membunuh Yogi? Lagi pula, Yogi kan hanya bisa mengurus sebagian urusan kantor saja. Disana hanya ada Vindra saja yang bisa membantunya, karena kau dan Rinto malah berada di sini sekarang." Alisya menarik pipi Adith dengan gemas karena sangat terlihat dari wajahnya kalau ia tak ingin pisah darinya. "Kau kan masih memiliki pekerjaan rumah sakit yang harus kau urus dan banyak pasien yang mungkin saja sudah menunggumu sekarang. Lagi pula, kami akan usahakan untuk menyelesaikan pekerjaan kami secepatnya di sini dan segera kembali ke Indonesia. Jadi kau tidak perlu khawatir. Aku juga tidak sendiri di sini, aku bersama Yani, Kari, dan juga Yuriko." Alisya berusaha untuk meyakinkan Adith agar ia tidak perlu mengkahwatirkan dirinya. "Tapi bagaimana jika kau mengidamkan sesuatu? Aku sangat ingin melihatmu saat kau sedang mengidam. Aku ingin merasakan juga bagaimana repotnya jika seorang istri meminta sesuatu kepada suaminya saat mengidam." Adith merengek karena masih ingin terus melihat perubahan hormon yang terjadi pada Alisya di saat-saat hamilnya. "Kalau begitu, tunggu aku di Indoensia dan kerjakan semua hal yang bisa kau kerjakan agar ketika saatnya tiba nanti. Aku bisa menggunakanmu dalam waktu yang lama, bagaimana?" Alisya sengaja membuat kesepakatan dengannya agar Adith juga bisa memikirkan pekerjaanya dengan tenang. "Oke, Manfaatkan aku dengan sesuka hatimu RAJA ku!" tegas Adith sembari mengecup bibir Alisya dengan lembut. "Puhaaa¡­ kenapa kau menyebutku Raja? Bukankah aku seharusnya menjadi Ratu mu?" tanya Alisya ketika Adith melepas ciumannya yang sangat agresif. "Karena kau adalah Ratu Sejagad ku!" ucapnya lagi kembali mencium Alisya dengan intens. Sedang Alisya merasa hangat dengan perlakuan Adith yang entah kenapa dia semakin terlihat manja saat ini. Adith akhirnya pulang menggunakan helicopter yang semalam ia daratkan di halaman rumah milik kakek Alisya. Alisya yang melambai dengan rambutnya yang Panjang dan terurai indah serta tertiup angin kencang membuat Adith sedikit takut untuk meninggalkannya, namun melihat orang-orang yang berada disekitarnya membuat Adith jadi sedikit lebih tenang. "Kau tak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja!" ucap Ayah Alisya memegang Pundak Adith. Ayah Alisya harus kembali lebih cepat karena ia harus mengurus perusahaan yang sudah ia tinggalkan selama seminggu. Ryu yang tidak ikut bersamanya membuat Alisya sedikit khawatir, namun Adith yang menenangkannya karena ia yang akan menjaga dan membantu ayahnya selama di sana. Alisya yang baru saja selesai mandi dan sudah merasa cukup segar segera keluar mencari Karin dan yang lainnya, namun dia tidak menemukan mereka dan hanya mendapati para pelayan rumah yang tampak asik berkumpul sambil bergosip. "Budaya Gosip ternyata nggak hanya dilakukan oleh tante-tante lambe turah di Indonesia saja rupanya!" ucap Alisya sambil berjalan menuju dapur mencari air minum. "Apa kau lihat wajah tampan mereka saat bangun tidur tadi?" tanya salah seorang dari mereka dengan berbisik heboh. "Iya, aku melihatnya. Mereka semua sangat tampan sekali, begitu pula dengan tuan Adith. Ah¡­ rasanya aku sedang berada di surga hari ini saat melihat mereka semua berada di rumah ini." Ucap yang laiinya dengan penuh suka cita. "Cowok kalau yang ada di nopel-nopel pas baru bangun tidur, kok tampan rupawan badash gila gitu. Bikin hati menggelepar-gelepar nggak karuan kayak gini. Tapi kalau di dunia nyata, muka bangun tidur mereka kayak gembel." Lanjut yang lainnya lagi yang langsung membuat Karan, Rinto, Ryu dan bahkan Adith yang sudah berada di pesawat ikut bersin karenanya. "Puffrrttttt¡­" Alisya sampai menumpahkan air di mulutnya karena tertawa mendengar komentar mereka yang terdengar konyol. "Ah¡­ nona¡­ nona baik-baik saja?" mereka yang akhirnya menyadari kehadiran Alisya dengan cepat menemuinya karena khawatir. "Aku baik-baik saja. Apa kalian melihat Karin dan yang lainnya?" tanya Alisya penasaran karena tak melihat mereka di sekitar rumah. "Mereka ada di bagian halaman selatan nona, mereka sedang melihat tuan Ryu dan tuan-tuan yang lainnya sedang latihan." Ucap salah satu dari mereka dengan cepat. "Oh begitu, siapkan beberapa buah dan minuman untuk mereka." Ucap Alisya sebelum pergi menuju ke tempat dimana Karin dan yang lainnya berada. "Pantas saja di dalam rumah tampak tenang dan damai, tak ku sangka kalian semua berkumpul di sini." Ucap Alisya langsung terduduk di sebelah Yani dan Karin. Mereka duduk di teras rumah sambil melihat Ryu dan yang lainnya sedang latihan bersama dengan Rinto dan Karan. "Kau tau, kemampuan mereka sangat berkembang cukup pesat. Melihat mereka sedang latihan seperti ini dapat membuatku memiliki data yang cukup mengenai perkembangan kemampuan mereka di banding dengan terakhir kali. Dengan begitu aku bisa memberikan alat yang sesuai berdasarkan dengan data mereka." Terang Karin terus memperhatikan mereka dengan begitu serius. "Sepertinya Adith memberikanmu lagi pekerjaan yang baru." Gumam Alisya melihat apa yang sedang di kerjakan oleh Karin. "Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Yani kepada Alisya dengan tatapan yang jauh lebih ceriah. "Sudah jauh lebih baik sekarang. Tapi dibandingkan dengan aku, sepertinya kau sangat menikmati pemandangan ini, sampai wajahmu terlihat sangat semangat seperti itu." Alisya sengaja menggoda Yani. "Pufft, Dibandikan aku, justru para pelayan yang ada dirumahmu ini yang sangat menikmati pemadangan mereka saat ini." Ucap Yani sambil menahan tawanya. "Mereka bahkan sampai memuji Ryu dengan berkata "Kyaaa.. lihat kotak-kotak di tubuh mereka. Rasanya aku ingin tidur di roti sobek mereka itu." Cihhh" Karin menirukan gaya mereka dengan sangat apik sehingga Alisya kembali tertawa karena ia bisa membayangkan apa yang mereka lakukan berdasarkan apa yang sudah ia dengarkan sebelumnya. "Buakakakaka¡­ biarkan saja mereka, kapan lagi kita bisa memanjakan mata mereka. Atau kau cemburu karena hal itu?" Alisya menyenggol Karin dengan genit. "Haaahhh??? Tentu saja tidak!" bantah Karin dengan sangat berlebihan hingga membuat Alisya dan Yani tertawa terbahak-bahak. Chapter 540 - Informasi Mengenai Yakuza "Permisi Nona, ada yang ingin bertemu dengan anda." Yuriko datang menghampiri Alisya dengan seorang pria yang tampak mengenakan pakaian serba hitam dan topi berwarna senada yang tampak jelas kalau ia sedang menyembunyikan identitasnya. "Kau tidak apa-apa jika muncul di rumah ini, Gin?" Alisya yang langsung mengetahui siapa orang di belakang Yuriko, langsung merasa takjub. Tidak terkecuali dengan Gin, sebab ia sangat memperhatikan Alisya yang belum menoleh ke arah dirinya. "Bagaimana kau tahu kalau dia adalah Gin?" tanya Yani kepada Alisya dengan kagum. Yani tidak tahu siapa yang dimaksud dengan Gin, namun dia tetap bertanya karena Alisya seolah sudah mengetahui siapa yang datang tersebut. Yuriko kembali melirik orang yang berada di belakangnya tersebut, namun ia tetap merasa mustahil kalau Alisya bisa mengetahui siapa sosok yang ada di belakangnya tanpa di lihat secara langsung. "Aku bisa mengenali setiap orang dari ritme jantung mereka. Cukup sekali bertemu, aku sudah bisa mengenali ritme jantungnya. Hal itu karena selama ini aku sudah tidak memakai alat pemberian Adith padaku, dan aku sudah bisa mengatasi traumaku dengan baik sehingga tentu saja aku bisa mengetahui siapa dia tanpa melihat dan cukup dengan mendengar suaranya saja." Jelas Alisya Panjang lebar sembari memperlihatkan telinganya yang sudah tidak memakai alat peredam pemberian Adith. "Aku hampir lupa dengan kau yang dulu sempat memiliki trauma dan sangat sensitive terhadap suara-suara bising. Tak ku sangka kau sudah lebih baik sekarang, apa semua ini karena kau sudah bisa menerima dan menghadapinya?" Karin memandang wajah Alisya dan mengenang kembali masa lalu dimana Alisya adalah orang yang sangat pendiam dan tidak suka dengan suara bising. "Anggap saja seperti itu." Ucap Alisya tersenyum manis dan bangkit dari tempat duduknya. Kedatangan Gin segera menghentikan Karan dan yang lainnya yang sedang latihan. Dengan satu tatapan mata dan anggukan pelan dari Alisya, mereka bertiga paham dan segera menuju ke tempat dimana mereka bisa berdiskusi dengan baik dan nyaman. "Jadi, apa yang bisa kamu laporkan kali ini?" tanya Alisya yang sudah duduk dengan nyaman di atas sofa. "Himes ama, soal itu¡­" Gin tampak ragu-ragu untuk memberikan laporannya kepada Alisya. "Duduklah, kau tak perlu sungkan seperti itu." Pinta Alisya dengan ramah. Gin tidak langsung melakukan apa yang di suruh oleh Alisya, sampai ia melihat anggukan pelan dari Ryu, barulan ia duduk dengan santai. Sungguh perlakuan sederhana yang baru saja ia dapatkan dari seorang pemimpin, namun rasanya Gin menjadi sangat menghormati Alisya karena hal tersebut. Gin sudah tidak lagi merasakan keraguan terhadap Alisya sehingga dengan atu tarikan nafas yang dalam dia sudah yakin akan apa yang ia lakukan. "Pemipin Yakuza di berbagai daerah lain sudah mulai bergerak. Dan ada beberapa hal yang perlu anda ketahui sebelum nona benar-benar mulai berhadapan dengan mereka" ungkap Gin dengan suara dan mimic wajah yang terlihat sangat serius. "Lanjutkan!" ucap Alisya dengan tegas agar Gin melanjutkan apa yang ingin di laporkannya. "Selama ini geng Yakuza semakin berkembang pesat dan sangat sulit untuk di tangani adalah karena mereka juga memiliki orang yang mendukung semua kegiatan mereka, dan itu ada hubungannya dengan dunia politik. Menteri, penjabat tinggi maupun politikus Jepanglah yang menjadi pendukung mereka." Jelas Gin yang langsung membuat Alisya tersenyum getir mengetahu jaringan mereka yang cukup luas. "Setiap anggota Yakuza adalah orang-orang yang direkrut dengan sangat ketat dimana mereka juga menjalani beberapa tes Fisik dan juga tes Tertulis, sehingga mereka tidak hanya kuat dan hebat, melainkan mereka semua juga sangat cerdas dan kompeten." Lanjutnya lagi dengan tidak ingin menyisakan satu informasi apapun. "Mereka yang berhasil masuk ke dalam Yakuza akan mengikuti beberapa ritual sebagai di resmikannya seseorang menjadi anggota Yakuza. Dimulai dengan meminum sake, hingga pembuatan tato yang menjadi lambing resmi seorang disebut anggota Yakuza. Seperti yang anda ketahui, tato pada Yakuza terdiri atas tiga tingkatan, yaitu Naga, Pegunungan dan perempuan." Terang Gin sambil melirik kepada Ryu dan Yuriko yang berada disana. "Tato dengan lambang Naga menandakan bahwa mereka adalah anggota yang sangat dekat dengan Hime, atau menjadi orang-orang kepercayaan Hime. Sedangkan Tato dengan lambang Pegunungan berarti mereka yang menjadi pemimpin di setiap Perfektur di Jepang, dan Tato dengan lambang Perempuan merupakan seluruh anggota yang tergabung dalam geng Yakuza." Ucap Alisya menjabarkan apa yang ia ketahui mengenai tato tersebut. "Benar, dan karena sekarang andalah yang menjadi Hime. Maka semua yang memiliki tato Naga akan kembali kepada Anda sesuai dengan sumpah setia mereka." Tegas Gin dengan tatapan penuh keyakinan. "Dan yang memiliki tato Naga tersebut selain tuan Yasashimura. Saat ini yang mungkin bisa anda ketahui adalah Saya, Yuriko, dan Gin." Ucap Ryu yang langsung memperlihatkan tato Naga di bagian tangannya di ikuti oleh Yuriko yang ada bagian bahunya dan Gin pada bagian dadanya. Mereka bertiga segera memperlihatkan tato tersebut sebagai bukti kalau mereka adalah orang kepercayaan Alisya yang tidak perlu di ragukan lagi, dan Alisya sangat tahu betul akan hal tersebut. Sehingga ia hanya mengangguk pelan memahami semua informasi yang sudah ia dapatkan tersebut. "Lalu bagaimana dengan perusahaan Yamada yang bisa masuk dalam jaringan Yakuza tersebut?" tanya Rinto penasaran. "Benar, sepengatahuan saya kalau perusahaan itu tidak ada hubungannya dengan geng Yakuza. Sebab pemimpin perusahaan tersebut adalah Tuan Takahashi Yamada, sedang pemimpin geng Yakuza dulu di pimpin oleh ibu Alisya, Ayumi Yamada. Keduanya tidak saling terhubung satu sama lainnya." Tambah Karan juga mengingat beberapa informasi yang sudah ia dengar dari Alisya dan Ryu sebelumnya. "Mereka melakukan Sokaiya!" ucap Gin yang langsung menangkupkan kedua tangannya. Alisya yang tidak memperhatikan kedua tangan dari Gin sebelumnya langsung mengerutkan keningnya ketika melihat ada yang aneh dengan kedua tangannya tersebut. "Sokaiya? Ap aitu?" tanya Karin yang sedari tadi hanya menyimak bersama dengan Yani. Mereka berdua memang tidak ingin ikut campur, namun mereka juga tidak ingin menjadi orang yang tak mengetahui apapun. "Sokaiya merupakan nama dari satu bentuk suap dalam skala besar yang selama ini dijalankan oleh Yakuza. Modusnya, Yakuza akan membeli saham satu perusahaan yang membuatnya mendapatkan kursi dan mengikuti pertemuan yang dihadiri oleh para pemilik saham. Setelah itu, mereka akan melakukan segala cara untuk mempengaruhi kepemimpinan perusahaan. Kemudian mereka akan meminta uang atau mereka mengancam akan mempermalukan pimpinan perusahaan itu di dalam pertemuan. Dan biasanya taktik Yakuza ini membuahkan hasil." Terang Gin dengan sangat jelas. Mereka akhirnya bisa menemukan benang merah antara keterkaitan perusahaan Yamada saat ini dengan geng Yakuza yang sudah sangat terlibat dalam perusahaan mereka. Chapter 541 - Berita Tentang Hime Mendengar apa yang dikatakan oleh Gin, membuat Alisya bangkit dari kursinya dan mendekati Gin. Hal ini tentu membuat Karan dan yang lainnya sedikit bingung. "Apa Alisya masih meragukan Gin?" bisik Karan kepada Ryu yang berada di sebelahnya. "Sepertinya bukan, aku yakin nona bisa mengetahui kalau semua yang dikatakan oleh Gin. Tidak ada satupun kebohongan di dalamnya. Mungkin ada hal lain yang menjadi perhatian nona." Jelas Ryu sangat yakin kalau Alisya juga bisa mengetahui akan kejujuran Gin dalam setiap perkataannya. Alisya yang dengan segera mengangkat tangan Gin membuat mereka semua kaget. "Maaf Hime, apa saya sudah melakukan suatu kesalahan? Saya pantas dihukum jika memang benar seperti itu." Gin langsung tertunduk hormat dengan tangannya yang masih berada pada genggaman Alisya. "Kenapa Sya?" tanya Yani bingung melihat tatapan tajam Alisya yang penuh amarah. "Apa yang sudah terjadi pada tanganmu ini? Sepertinya terakhir kali kita bertemu tanganmu masih baik-baik saja." Alisya yang membuka kepalan tangan Gin, langsung membuat Ryu bangkit dan menghampirinya. "Ini adalah Yubitsume!" terang Ryu dengan tatapan yang juga terlihat penuh amarah ketika melihat jari kelingking milik Gin yang hilang atau terpotong. "Hah??? Yubitsume apa lagi?" Karin dan Karan yang melihat tangan Gin, segera ikut menghampirinya untuk memastikan keadaan tangan Gin. "Tangannya belum sembuh dengan baik, jika di biarkan seperti ini terus maka dia bisa mengalami luka yang lebih parah. Aku harus segera mengobatinya." Karan memberi tanda kepada Karin, untuk segera menyiapkan alat dan obat-obatannya. "Anggota-anggota Yakuza yang tidak menjalankan kerja yang seharusnya mereka lakukan akan di paksa memotong jarinya. Pemotongan bagian tubuh yang umumnya adalah jari, sehinga hal ini disebut dengan Yubitsume. Biasanya pemotongan pertama bagian badan adalah jari kelingking bagian kiri. Makanya, banyak anggota Yakuza dikenal dari jari mereka yang hilang bekas dipotong." Jelas Yuriko menjelaskan mengenai arti dari pemotongan tersebut kepada Karan dan yang lainnya. "Apakah hal ini juga yang menyebabkan jari kelingking pada tanganmu yang lain ikut hilang? Mereka berani melakukan ini padamu yang memiliki tato Naga?" tatap Alisya pada tangan Gin yang lain. Gin dengan segera menyembunyikan tangannya, namun tetap tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa hal tersebut benar terjadi padanya. Gin sangat senang dan begitu terharu mendengar perkataan Alisya yang tampak marah dan perhatian pada dirinya, namun ia tidak ingin Alisya akan berbuat ceroboh jika dia memberitahukan semua itu kepadanya. "Tidak masalah, kau bisa menjelaskannya kepada Nona. Kau tidak perlu khawatir, karena Nona tahu apa yang harus ia lakukan untuk hal ini." Ryu yang melihat Gin yang ragu-ragu dengan segera menenangkannya agar ia tetap memberikan informasi kepada Alisya. Dengan tangan yang sudah berada pada penanganan Karan dan Karin, Gin akhirnya menceritakan segalanya kepada Alisya. "Berita mengenai meninggalnya Hime dan di ikuti dengan kepergian tuan Takahashi Yamada beberapa bulan berikutnya membuat kehebohan besar di dalam organisasi. Gejolak kehilangan seorang pemimpin membuat beberapa orang yang memiliki tato Naga menjadi incaran para pemimpin perfektur, tidak terkecuali saya. Akan tetapi, tuan Yasashimura.dan Ryu yang memiliki posisi yang cukup dekat sengaja mereka biarkan untuk sementara waktu." Terang Gin yang mengisyaratkan sesuatu dari penjelasannya. "Itulah kenapa, kehadiran Nona kembali seolah membuat pemimpin perfektur semakin marah dan kesal karena mengira bahwa anda hanyalah sebuah batu loncatan dari Ayahku dan Ryu untuk bisa kembali mengambil kepemimpinan dalam organisasi tersebut." Yuriko juga mulai menceritakan beberapa fakta mengenai kondisi yang saat ini terjadi pada Yakuza. "Berita mengenai kembalinya Hime, sudah sangat membuat mereka resah sehingga mereka dengan terang-terangan mengeluarkan ancaman kepada seluruh anak perusahaan Yamada yang di pimpin oleh para kepala Keluarga." Lanjut Gin lagi yang membuat Karan terhenti sejenak. "Itu artinya Ayah Akiko akan mendapat imbas dari ancaman mereka." Ucap Karan menatap tajam ke arah Gin yang langsung mendapat anggukan darinya mengetahui siapa yang di maksud olehnya. Alisya yang terus terdiam semenjak mendengar semua informasi yang diberikan oleh Gin, membuatnya memikirkan satu rencana yang bisa ia lakukan secara perlahan-lahan. Bukan hanya untuk menyelamatkan perusahaan, tapi bagaimana mengembalikan citra dari Yakuza yang selama ini di impikan oleh ibunya. "Baiklah, mulai saat ini kau akan berada dalam pengawasan Ryu. Apa yang sudah kau lakukan untuk sekarang sudah cukup sampai disini, dan kau bisa kembali menampakkan diri keluar jika aku sudah memberimu izin. Untuk sementara kau akan bersama kami dan menjadikan rumah ini sebagai markas." Terang Alisya memadangan kepada Ryu untuk melaksanakan apa yang sudah di katakannya. "Yuriko akan pergi bersama dengan Rinto untuk melakukan pengamatan mengenai siapa saja yang memiliki tato Naga, dan berikan mereka foto ini sebagai bukti untuk pertemuan kita selanjutnya." Perintah Alisya memulai pergerakannya secara diam-diam. Alisya sengaja menempatkan Rinto bersama dengan Yuriko, agar Rinto bisa melindunginya dan memberikan bantuan jika terdapat beberapa kendala yang akan di alami oleh Yuriko. "Karin dan Ryu yang akan melakukan pengamatan lebih lanjut kepada para pemilik Tato Pegunungan. Kalian berdua akan memfokuskan dalam pencarian informasi mengenai apa yang akan dilakukan oleh mereka lebih lanjut, sebab hal itu akan menjadi tahap untuk langkah kita selanjutnya menentukan apa yang harus kita lakukan." Lanjut Alisya lagi yang segera di anggukan oleh mereka berempat. "Bagaimana denganku? Apakah aku akan berdiam diri lagi?" Yani tahu bahwa apa yang sedang mereka lakukan saat ini sebenarnya memiliki resiko yang sangat tinggi, namun ia tidak ingin menjadi orang yang hanya terus berdiam diri melihat semua teman-temannya terjun dalam hal berbahaya. "Ummm.. Maaf, aku tahu kalau aku mungkin hanya akan menjadi beban buat kalian. Tapi aku¡­" Yani terlihat penuh keyakinan untuk ikut terlibat dengan apa yang dilakukan oleh mereka. "Kau tidak perlu kahwatir, bukannya aku tidak ingin melibatkanmu dalam apa yang sedang kami lakukan, tapi aku sangat membutuhkanmu disisiku, mengingat kondisiku yang kurang maksimal dengan terus saja tiba-tiba tertidur. Maka dari itu, kau akan terus bersamaku untuk menjagaku, kau mau kan?" Alisya yang tidka mungkin membiarkan Yani masuk dalam bahaya tentu saja harus memikirkan cara lain untuk ia bisa terlibat namun tetap berada dalam jangkaunnya. "Benar apa yang dikatakan oleh Alisya, dan jika dia berada di sekitarmu. Rasanya aku akan menjadi sangat tenang, karena sekarang kau sudah cukup mampu untuk melindungi dia dan dirimu sendiri." Ucap Karin menambahkan dengan penuh keyakinan. Yuriko juga mengangguk dengan keras mengingat latihan dasar yang sudah ia lakukan selamam beberapa hari ini sudah cukup untuk membuat dia memahami bagaimana cara untuk melindungi dirinya sendiri. "Kalau begitu, aku akan terus berusaha meyakinkan Ayah Akiko dan memberikan solusi untuk masalah yang sedang dia hadapi saat ini." Alisya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Karan, dan dia memberikan dukungan penuh kepadanya. Chapter 542 - Tantangan Untuk Karan "Buat apa kau datang kemari lagi?" Ayah Akiko terlihat sangat gahar ketika melihat Karan yang sudah berada di rumah mereka lagi. Akiko memandang Karan dengan kesedihan dan kerinduang yang teramat mendalam, hingga membuat hati Karan sangat sakit melihatnya. Tampak jelas di mata Akiko. Akan kesedihannya hingga wajahnya pun tidak menunjukkan semangat dan keceriaan sama sekali. "Saya akan terus datang sampai saya bisa mendapatkan restu dari tuan. Saya akan melakukan apapun jika hal itu bisa membuat anda merestui hubungan kami." Suara Karan terdengar sangat tegas dan penuh keyakinan serta taka da kebohongan dan keraguan di dalamnya. "Sepertinya hanya dengan menolakmu saja tidak akan membuatmu menyerah." Ayah Akiko tampak mendesah pasrah karena tidak bisa melakukan sesuatu kepada tekad Karan. "Baiklah, kalau begitu aku akan merestuimu bersama Akiko jika kau bisa mengalahkan mereka. Orang yang di nikahi Akiko bukan hanya harus memiliki jabatan yang tinggi saja, tetapi juga memiliki kemampuan bela diri yang cukup agar ia bisa melindunginya." Ayah Akiko terlihat tersenyum dengan licik karena memandang Karan dengan sebelah mata. Ayah Akiko menunjuk kepada ketiga orang kakak Akiko yang tentu saja ketiganya memiliki kemampuan yang sangat tinggi sehingga hal itu membuat Akiko sedikit rakut karenanya. Akiko memang tahu kemampuan Karan, tapi jika harus melawan mereka sekaligus tentu saja tidak akan mudah baginya. "Ayah, bagaimana mungkin bisa kakak Karan, melawan mereka semua?" Akiko dengan segera memprotes apa yang ingin di lakukan oleh ayahnya kepada Karan. "Jika kau benar-benar ingin mendapatkan pengakuan kami, sebaiknya kamu bisa mengalahkan kami semua. Akiko adalah adik perempuan kami satu-satunya, tentu saja kami tidak ingin dia di nikahi oleh sembarang orang" kakak pertama Akiko juga menyetujui apa yang di pikirkan oleh Ayahnya. "Bukankah seharusnya kita bisa memberikan dukungan kepada Akiko? Kita sudah tahu siapa identitas pria ini sebenarnya, dan menurutku dia cukup layak untuk menjadi pendamping Akiko. Terlebih jika Akiko juga sangat mencintainya." Kakak kedua Akiko memang sedari dulu selalu mendukung semua hal yang di lakukan oleh adiknya tersebut, karena ia sangat mempercayai Akiko, seperti kepercayaan Akiko padanya. "Justru karena itu kakak kedua! Jika pria itu benar-benar mencintai Akiko, maka dia seharusnya tidak ragu atau menolak permintaan sederhana dari Ayah bukan? Selain itu dengan ini dia bisa membutikan dirinya bisa melidungi Akiko dan memperlihatkan tekadanya kepada Ayah." Ucap kakak ketiga Akiko dengan sikapnya yang cuek dan acuh tak acuh. Mendengar perkataan mereka membuat Karan hanya bisa mendesah pasrah dan tersenyum dengan cerah. Meski ia belum mengetahui pasti mengenai kekuatan ketiga orang tersebut, melihat Akiko yang sedikit khawatir membuat Karan yakin, kalau kemampuan mereka tentu tak bisa di anggap remeh. "Mereka bertiga tentu saja memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Jika Karin bersamaku, dia tentu bisa sedikit mengukur kemampuan mereka bertiga dengan melihat bentuk tubuh mereka. Tapi sepertinya tidak ad acara lain selain mengujinya secara langsung saja." Batin Karan terus mengamati mereka bertiga dengan begitu serius. "Jadi bagaimana? Jika kau merasa takut dan tak berani sebaiknya kamu menyerah saja dan jangan pernah kembali lagi ke rumah ini atau berhubungan lagi dengan Akiko." Tegas Ayah Akiko yang terlihat seolah telah berhasil memukul mundur Karan. "Siapa yang bilang aku akan menyerah? Terimakasih atas sarannya, tapi aku takkan membuat kekasihku terus menunggu dan merindukanku. Baiklah, aku akan terima tantangan kalian. Tapi jika aku bisa mengalahkan mereka bertiga, maka kalian harus menepati janji kalian semua." Tegas Karan dengan penuh percaya diri hingga membuat ibu Akiko tertawa pelan mendengarnya. "Wahhh¡­ Akiko, kau sangat beruntung bertemu dengan pria seperti ini. Sepertinya kau benar-benar memilih pria yang tepat." Ucap ibunya yang langsung membuat Akiko memerah malu, tapi tidak bisa menghilangkan rasa khawatirnya. "Berjuanglah¡­. Ibu mendukungmu!" teriak ibu Akiko lagi dengan penuh semangat, sedang Akiko tampak ingin berderai air mata melihat wajah Karan. "Kentaro yang akan menjadi lawan pertamamu, sebaiknya kau bisa bertahan hingga akhir." Tunjuk ayah Akiko kepada kakak ketiga Akiko, saat mereka sudah berada di salah satu ruang latihan yang biasanya di pakai oleh keluarga Akiko untuk berlatih ilmu bela diri dan yang lainnya. "Aku akan berikan sedikit informasi untukmu. Aku adalah seorang Atlet Judo tingkat internasional yang sudah banyak memenangkan banyak pertandingan, yang sudah pasti aku takkan segan-segan padamu. Sebaiknya kau mengeluarkan kemampuanmu dengan baik, karena jika tidak kau akan terluka parah." Ucap Kentaro dengan bersikap sedikit sombong dan arogan. Setelah aba-aba dari Ayah Akiko, Kentara langsung melakukan serangan kepada Karan dengan sangat cepat. Karan sulit menghindari sebagian besar serangannya, sehingga tanpa sadar tubuhnya terangkat ke atas dan dibantingnya dengan sangat keras. "Uakhhhh!" Karan sengaja menahan suara dan ekspresinya agar tidak membuat Akiko khawatir, namun tetap saja Akiko terus memegang erat kedua tangannya dan menutup matanya ketika melihat Karan jatuh tersungkur di bawah. "Sepertinya kau juga tidak boleh segan padanya, aku tak ingin calon istriku khawatir padaku dan ketakutan sampai ia harus menutup mata seperti itu." Terang Karan berusaha bangkit dari tempatnya. Melihat Karan yang tampak baik-baik saja membuat Akiko, kembali bernafas lega. Akiko tidak berhenti berharap kalau Karan akan baik-baik saja dan bisa memberikan perlawanan yang berarti hingga ia benar-benar bisa menyentuh hati Ayahnya. Stelah saling berpandangan, Kentaro kembali dengan segera memberikan sebuah serangan tipuan yang dengan cepat Karan berusaha menghindari tendangan tersebut, namun ternyata Kentaro sudah berhasil mendapatkan tubuhnya dan melemparnya serta membantingnya dengan sangat keras. "Ohookk¡­ Ohoookkkk" Karan terbatuk-batuk dengan keras akibat bantingan tersebut, sehingga membuat Akiko dengan segera bangkit dari tempat duduknya menghampiri Karan. "Kak Karan!!! Kau baik-baik saja?" Akiko berteriak dan berlari dengan tatapan mata yang bergetar karena sangat mengkhawatirkan Karan. Karan tidak menjawabnya, dan hanya terbatuk-batuk kuat sembari berusaha untuk menarik nafa dengan dalam. Karan yang memegang dadanya yang sesak membuat Akiko mulai berderai air mata, dia tidak tahan melihat Karan tampak kesakitan seperti itu. "Sudah cukup! Hentikan saja semua ini. Aku tidak ingin kamu terluka. Aku tak tahan melihatmu seperti ini. A.. Aku¡­ Umpppphhh" Akiko tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena bibir Karan telah mengunci bibirnya dengan sangat erat. "Kyaaaa¡­. Jiwa muda yang sangat membara! Saya suka, saya sukaaaaaa¡­." Ibu Akiko berteriak dengan heboh sembari membuka dan menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya, sedangkan Ayah Akiko dan ketiga kakaknya memerah malu serta marah dan bingung. "Brengsek, kau bahkan berani melakukan itu di hadapan kami semua!" maki Kentaro pada Karan yang mencium adiknya tepat di depan matanya. Chapter 543 - Provokasi Karan "Puhaaahhhh" Akiko mendesah dengan keras ketika Karan melepas pagutannya kepada bibir Akiko, sedangkan beberapa orang yang melihatnya tampak sangat marah dengan apa yang sedang di lakukan oleh Karan. Hanya satu orang yang tampak tertawa pelan melihat situasi tersebut dan terlihat jelas kalau ia bisa mengerti maksud dari Karan melakukan itu di hadapan mereka semua. "Maaf sudah membuatmu khawatir, aku tak akan membuatmu menangis lagi. Jadi hapus air mata mu itu, atau kau ingin aku menghapusnya dengan bibirku lagi?" ucap Karan kepada Akiko yang langsung membuat Akiko semakin memerah karena ucapan nakalnya. "Kau¡­ Kau menipuku!" pukul Akiko di dada Karan dengan kuat. "Auchhhh¡­ Sakit sayang! Kau ingin membunuhku?" Karan kembali beracting dengan begitu lebay nya. "Oh.. jadi kau bisa mati dengan pukulan itu ternyata. Sini biar aku pukul sekali lagi supaya kamu sadar akan apa yang sudah terjadi padamu barusan." Tarik Akiko dengan kesal yang langsung membuat Karan tertawa terbahak-bahak melihat ekpresi gemas Akiko. "hahahaha¡­ Maafkan aku! Jika aku tidak melakukan itu, kau mungkin takkan beralri menghampiriku. Apa kau tidak tau betapa kau sangat merindukanmu? Atau kau tidak merindukan aku? Wah¡­ tuan putri, kau membuatku kecewa." Ucap Karan dengan nada suara yang kesal saat mendekap Akiko dalam pelukannya. "Te¡­ ten.. tentu saja aku merindukanmu." Akiko yang malu semakin tenggelam masuk kedalam pelukan Karan, membuat keduanya saling melepas kerinduan satu sama lainnya. Mereka berdua yang sedang menciptakan aura merah jambu di sekitar mereka di pinggir lapangan pertandingan semakin membuat Kentaro panas dan kesal karena tingkah Karan. Kentaro mengepalkan kedua tangannya dengan penuh amarah ingin menghajar Karan habis-habisan. "Sampai kapan kalian akan seperti itu terus? Apa kau sudah lupa dengan apa yang sedang kau lakukan sekarang!" suara dingin dari Kentaro segera menyadarkan Karan. "Sebaiknya kau melakukan ini dengan serius jika ingin mendapatkan pengakuan dari kami." Tegas Ayah Akiko dengan suara yang sangat dingin. "Aku sudah tidak tahan ingin mematahkan tangan dan kakinya serta menghancurkan wajahnya yang sudah berani menyentuh Akiko." Geram Ichiro yang merupakan kakak pertama Akiko. Dia terlihat sangat marah dan tak menyukai apa yang sedang dilakukan oleh Karan. Kenji yang merupakan kakak kedua dari Akiko hanya bisa tersenyum menyaksikan kejadian tersebut, terlebih karena ekpresi wajah Akiko yang begitu khawatir dan Bahagia mendapat perlakuan dari Karan. "Dia cukup licik. Dia menggunakan taktik mengacaukan emosi Kentaro dengan memanfaatkan Akiko. Melihat Kentaro yang penuh emosi saat ini, sepertinya akan sangat mudah mengalahkannya. Terlebih karena Karan belum mengeluarkan kemampuannya yang sesungguhnya." Batin Yousuke menatap Karan dengan tatapan tertarik. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda darinya semenjak pertemuan mereka sebelumnya di bandara. "Hufft¡­ sepertinya aku sudah cukup pemanasan. Kamu duduklah dengan manis, aku akan pastikan kau tidak melihat kedua kalinya lagi kejadian barusan." Ucap Karan dengan lembut memegang pipi Akiko agar ia mau kembali pada tempat duduknya. Akiko mengangguk pelan dan segera bangkit kembali menuju ke tempat duduknya. Meski sangat khawatir, dia tidak punya pilihan lain selain mempercayai kemapuan Karan dan mendukungnya. "Aku tak akan memaafkanmu jika kau terluka!" ucap Akiko dengan tegas sembari berjalan dengan begitu penuh percaya diri. Melihat Akiko yang seperti itu, semangat Karan semakin membara dan kepercayaan dirinya juga semakin meningkat. "Kau akan aku buat menyesal karena sudah meremehkan aku!" geram Kentaro yang dengan satu tolakan kuat, dia segera menyerang Karan dengan kekuatan penuh tanpa ragu-ragu lagi. Karan masih bisa menghindarinya, memutar di belakang tubuh Kentaro dan kemudian meraih bajunya dan membantingnya dengan satu ayunan yang cukup kuat. Kentaro terbanting dengan sangat keras hingga tubuhnya sedikit terpental ke atas. Dia berusaha bangkit, namun ternyata satu bantingan kuat tadi membuat tubuhnya tak mampu berdiri dengan baik. "Ohokkkk!" Kentaro terbatuk dengan kuat mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya. "Jika kau berusaha bergerak banyak, maka lukamu akan semakin parah. Aku sudah menekan kekuatanku agar tidak membuatmu dalam bahaya, tapi jika kau memaksakan diri maka hal yang lebih buruk dapat menimpamu." Karan segera memperingatkan Kentaro agar ia sebaiknya menyerah saja dan tidak bergerak lebih. "Kau pikir.. ohokkkk" Kentaro yang masih ingin bangkit ternyata tetap tidak bisa bangkit dengan mudah. "Hentikan, kau sudah tidak bisa melawannya lagi. Maaf Yousuke, tapi sepertinya aku akan maju lebih dahulu untuk memberikannya pelajaran yang sangat berarti." Ucap Ichiro dengan tatapan tajam ke arah Karan. "Tidak masalah, tapi sebaiknya kau tidak boleh meremehkan dia. Dia bukan pemuda biasa, tidak seperti yang kita duga, melihat kemampuannya dia tentu bukanlah orang biasa. Tapi sepertinya kau lebih mengetahui hal itu di banding dengan pengamatanku." Terang Yousuke memperingatkan kakak pertamanya. Yousuke segera berjalan menghampiri Kentaro dan membantunya untuk bangkit, sementara Ayah Akiko terus menatap Karan dengan penuh selidik. Kentaro segera duduk dan mendapatkan perawatan ibunya, yang terlihat sangat terampil dalam melakukan pertolongan dan pengobatan awal kepada Kentaro. "Anak ini, tak ku sangka kemampuannya cukup luar biasa. Sepertinya dia sudah cukup terlatih dalam pertarungan, dan dia juga sudah memiliki banyak pengalaman dalam hal itu. Aku tak percaya orang-orang yang berada di sekitar Lesham ada orang-orang seperti ini." Ayah Akiko tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya kepada Karan. Selain kemapuan, Teknik dan pengendalian serta kecepatan Karan terlihat lebih unggul di bandingkan dengan Kentaro, tapi Ayah Akiko memiliki keyakinan kalau anak pertamanya Ichiro sedikit lebih unggul dibandingkan dengan Karan. "Jangan khawatir, meskipun kakakmu itu kuat dan mendapatkan sabuk hitam untuk karate, dia tidak akan membunuh Karan." Ucap ibu Akiko menenangkan Akiko yang terlihat sedikit takut karena kakak pertamanya yang langsung datang untuk melawan Karan. "Harus ku akui kalau aku sudah sedikit meremehkanmu sebelumnya, tetapi aku tak akan bertindak ceroboh seperti Kentaro." Tatap Ichiro dengan sangat tajam. "Itu artinya aku harus bertarung dengan serius sekarang." Senyum Karan dengan santai namun tatapan dan ekspresi wajahnya menjadi jauh berubah dari sebelumnya. Keduanya tampak terdiam dan saling memperhatikan satu sama lain, yang dengan satu Gerakan kecil membuat Ichiro langsung melompat memberikan serangan kuat pada bagian kepala Karan. Tendangan demi tendangan dan pukulan terus menghujam ke arahnya, namun Karan mampu menghindari dan menahannya dengan sangat baik. "Sampai kapan kau akan terus menghindar, kau tak akan bisa menang dariku jika terus menghindar seperti itu." Ucap Ichiro yang berhasil melayangkan tendangan cukup kuat pada bagian dada Karan, yang bisa di tahannya dengan kedua tangannya namun Karan harus sedikit terpental ke belakang. Chapter 544 - Alisya Ngidam Di saat Karan sedang dalam pertarungan dengan kakak pertama Akiko, Ichiro. Alisya yang tampak malas karena baru saja keluar dari kamar mandi, duduk termenung di tepi ranjang memikirkan Adith. Dia tidak bisa menahan godaan untuk ingin sekali melihat Adith. "Aduh.. dari semalam aku terus memikirkan Adith, rasanya bayi diperutku ini sedang membuatku mengidamkan sesuatu yang cukup aneh." Alisya melirik ke perutnya dengan pikiran yang melayang dan merebahkan diri ke atas Kasur dengan pasrah. "Tapi apa yang harus aku lakukan, Adith terlalu jauh saat ini. Aku jadi tidak bisa melihatnya secara langsung ketika dia akan melakukannya, tapi aku sangat ingin melihatnya." Alisya tampak berguling-guling di atas ranjang dengan frustasi. "Arrghhh.. tidak ada jalan lain, sepertinya aku harus menghubungi Adith. Aku harap dia mau melakukannya, jika tidak aku akan pulang ke Indonesia dan memberikan pelajaran kepadanya." Alisya akhirnya segera mengambil handphone yang sudah di berikan oleh Adith sebelumnya, agar Alisya bisa menghubunginya kapanpun dia merindukan Adith. "tuuutttt¡­ tuutttt.." sebuah deringan segera bergetar di sakunya saat Adith sedang dalam ruang rapat. Saat itu Adith sedang mendengarkan proposal proyek yang di ajukan oleh tiap Tim sehingga ruangan rapat tampak cukup padat dengan banyak orang. "Sebentar¡­" Adith segera mengangkat teleponnya di hadapan mereka semua yang langsung membuat semua orang yang ada di sana kebingungan. Bahkan ayah Adith serta Elvian dan Ayahnya, yang ikut dalam rapat dan beberapa petinggi perusahaan yang hadir pun juga sedikit kebingungan dengan apa yang di lakukannya saat ini. Rapat tersebut banyak di hadiri oleh petinggi perusahaan karena untuk melihat penilaian akhir dari proposal tiap tim pada proyek yang cukup penting. "Siapa yang menelpon direktur di saat seperti ini, sampai dia mengangkatnya meski kita sedang di tengah rapat?" bisik salah seorang dari mereka merasa begitu takjub karena Adith, mau mengangkat telpon dari orang tersebut. "Sepertinya bukan orang sembarangan, dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Itu berarti orang yang sedang telpon tersebut adalah orang yang sangat penting bagi direktur." Tambah yang lainnya lagi dengan begitu penasaran. Adith memang bukan orang yang sembarangan menjawab panggilan telepon orang lain, namun hadphone yang berada di sakunya adalah alat komunikasi khusus yang sengaja ia siapkan untuk Alisya sehingga dia membawanya kemanapun dia pergi. Hanya terdapat satu kontak saja di handphone tersebut, dan itu adalah Alisya. "Arogan sekali, kenapa dia bisa mengangkat telpon di saat rapat penting seperti ini." Ucap Elvian dengan kesal saat melihat Adith yang dengan santai mengangkat telponnya. "Halo sayang, ada yang kamu butuhkan?" seru Adith dengan lembut yang langsung membuat gempar tempat tersebut. "Apahhh Sayang?" semua orang terkejut dengan satu pemikiran yang tak terduga. Mendengar apa yang dikatakan oleh Adith segera membuat Ayah Adith tertawa terbahak-bahak. Mata ayah Adith berbinar-binar saat mengetahui kalau orang yang menelponnya adalah Alisya. Dia sangat tidak sabar ingin bertemu dengan Alisya secepatnya mengingat berita Bahagia yang di sampaikan oleh Ayah Alisya dan Adith lalu. "Sepertinya dia sudah tidak ingin menyembunyikan apapun lagi. Bahkan dia yang biasanya bisa bertindak tenang bisa dengan heboh menyebarkan mengenai kehamilan Alisya pada yang lain. Aku jadi tidak heran lagi sekarang." Gumam Yogi yang langsung membuat Vindra tertawa pelan mendengarnya. "Tuan Adith memang sangat mencintai Ayumi. Jadi hal ini sudah tidak mengherankan lagi bagi saya." Komentar Vindra merasa hal ini bukanlah sesuatu yang perlu di kejutkan lagi, namun semua orang yang berada di sana tampak kebingungan dan memandang satu sama lainnya. "Huuhhh?? Apa? Kau serius mengidamkan itu? Tapi sayang, aku sedang di kantor saat ini." teriak Adith tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Alisya. "Eh?" "Whatt?" "Haahhh?" Semua orang menanggapi perkataan Adith dengan ekpresi terkejut yang berbeda-beda, tidak terkecuali Elvian dan ayahnya beserta seluruh orang yang hadir dalam rapat tersebut. "Ngidam???" tatap mereka lagi satu sama lain semakin tak mengerti apa yang sedang terjadi. "Kenapa? Kau tak ingin melakukannya? Ya sudah¡­ apa sebaiknya aku ke tempat permandian saja? Atau aku bisa memanggil Karan atau¡­" Alisya tampak berdalih dengan menggunakan orang lain agar Adith mau melakukannya. "Oke¡­ oke,, akan aku lakukan untukmu. Jika memang itu adalah keinginan bayi kita, kenapa aku harus ragu dengan hal sepele seperti itu." Tegas Adith dengan penuh keyakinan lalu mematikan panggilan telepon tersebut. "Apa yang terjadi?" tanya Ayah Adith dengan wajah bingung kepada Adith. "Alisya lagi ngidam Pah, saya butuh waktu lima menit." Adith segera berdiri dari tempat duduknya dan menyerahkan handphone miliknya kepada Yogi. "Ya sudah, kenapa tidak kau kabulkan saja permintaannya!" tegas Ayah Adith, mendukung permintaan Alisya. "Nyalakan lampunya dan buka jendelanya." Pinta Adith kepada Vindra, yang detik kemudian Adith sudah terhubung oleh Video Call. "Apakah sudut ini sudah pas?" tanya Adith kepada Alisya, di saat ia sudah setengah berdiri di pinggir jendela menghadap langit. "Yuppp! Pas¡­" suara riang Alisya semakin membuat satu ruangan heboh dan semakin penasaran. "Apa yang sedang kau inginkan sebenarnya?" suara Yogi yang bertanya saat sedang memegang handphone Adith, dan mengarahkan kameranya pada Adith segera membuat Alisya tertawa. "Yogi, sebaiknya kau merekam kejadian ini menggunakan handphone lain jika tidak ingin menyesal." Ucap Alisya dengan menahan tawa, namun Yogi masih tak paham dengan apa yang sedang di minta oleh Alisya dan apa yang akan di lakukan oleh Adith. "Vindra, tolong ambilkan aku sebotol air minum itu dan siramkan kepadaku setelah aku memberimu aba-aba." Pinta Adith kepada Vindra lagi. Meski ia sedikit bingung dan tak mengerti, Vindra dengan segera melaksanakan apa yang dikatan oleh Adith. "Ready??? Action!!!" ucap Alisya dengan lantang yang dengan satu Gerakan cepat, Adith membuka Jasnya dan melepas kancing kemejanya dengan sangat cepat. Adith memperlihatkan otot perutnya yang kotak-kotak dan tampak bersinar serta bertindak bak seorang model yang langsung membuat semua orang melongo tak percaya. Bahkan Ayah Adith pun tak menduga akan apa yang di lakukan oleh Adith. "Vindra!" panggil Adith kepada Vindra, agar ia melemparkan air ke tubuhnya. Sempat shock dan masih belu mengerti situasi, namun suara Adith seolah hipnotis yang langsung membuat Vindra melakukan apa yang di inginkan oleh Adith. Air putih yang membasahi perut kotak-kotaknya tersebut langsung membuat Adith semakin bersinar karena pantulan cahaya dan hasil pembiasan dari air yang ada pada tubuhnya. Tubuhnya seolah di taburi oleh ratusan bahkan ribuan berlian yang berkerlap-kerlip dengan indah. "ccrrooott¡­." Beberapa wanita yang ada di dalam ruangan tersebut langsung mimisan parah dan sebagian lagi pingsan. Chapter 545 - Ayah dan Anak Sama Saja Apa yang sudah di lakukan oleh Adith seketika menjadi pembicaraan hangat di seluruh kantor. Akan tetapi, tidak satupun dari mereka yang berani menyebarkan berita tersebut keluar dari kantor. Mereka yang tidak ingin dikeluarkan atau dihancurkan oleh Adith, tentu saja dengan taat mengikuti peraturan yang berlaku pada perusahaan. Peraturan itu menjadi hal mutlak yang tidak akan bisa di sepelekan oleh mereka semua. Hanya satu orang yang merasakan bahwa apa yang baru saja terjadi merupakan suatu peluang yang sangat besar baginya. "Berita ini akan menjadi sangat bagus untuk menghancurkan Adith, kita bisa gunakan rekaman ini dan mengirimkannya kepada wartawan." Seru Elvian sembari memandang hasil rekaman percakapan Adith dengan Alisya. "Kau benar, kita tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini. Dewi keberuntungan sangat memihak kepada kita sekarang, banyak sekali wartawan yang ingin menulis berita tentang Adith. Siapa yang sangka kalau berita yang muncul adalah prilaku tak bermoral seperti ini" terang Ayah Elvian dengan penuh semangat. "Tidak hanya itu, petinggi perusahaan pun mulai menyangsikan sikap Adith hari ini. Rasa aku sangat puas sekali dengan apa yang sedang terjadi hari ini, aku sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana Adith hancur secara perlahan-lahan." Mata Elvian terlihat sangat membara. Elvian yang sudah mengirim semua berita itu kepada semua wartawan yang di kenalinya, sehingga tanpa di sadari oleh Adith, berita mengenai dirinya yang sudah menghamili anak orang lain segera tersebar dengan sangat cepat. "Buakakakkaka,,, aku tak menyangka kalau Alisya bisa juga mengidam se aneh itu. Dia memang benar-benar unik, selalu saja penuh dengan kejutan." Yogi yang masuk bersama Adith ke ruang kerjanya, segera tertawa terbahak-bahak mengingat apa yang baru saja di lakukan oleh sahabat sekaligus atasannya tersebut. "Sepertinya ini akan sedikit sulit karena aku jauh darinya, jika dia berada di dekatku maka akan sangat mudah bagiku untuk melakukan semua hal yang di inginkannya." Adith benar-benar tak kuasa berada jauh dari istri yang sangat di cintanya. "Aku tidak bisa membayangkan ada seorang ibu hamil yang bisa mengidam sampai se aneh itu." Yogi masih terus tertawa dengan tidak memperdulikan Adith yang terlihat murung dan kesal karena tawanya. "Kau tidak perlu khawatir, itu adalah hal biasa yang di alami oleh setiap ibu yang sedang hamil. Aku akan mendukung setiap apa yang diminta oleh Alisya. Karena sebenarnya mama mu pun juga pernah mengidam dengan cara yang lebih aneh darimu." Terang ayah Adith masuk ke dalam ruang kerja Adith. "Benarkah paman? Lalu tante mengidam apa sewaktu melahirkan Adith? Aku juga penasaran sampai Adith bisa se tampan dan se jenius itu. Barangkali ada beberapa tips yang bisa aku terapkan pada Aurelia nanti." Tanya Yogi dengan penuh semangat karena penasaran. "Dia mengidamkan melihat aku memakai baju bikini." Ucap Ayah Adith dengan santai yang langsung membuat Yogi membeku tak percaya. Tubuh Yogi kaku dan tak bergerak sama sekali. Pikiran horor tiba-tiba saja menghantui nya dan membuatnya mengingat banyak hal-hal yang ia sangat tidak sukai dan salah satunya termasuk hal-hal yang baru saja di katakan oleh Ayah Adith. "Kau bisa mengikuti salah satu tips itu, tapi aku tidak yakin kalau itu yang sudah membuat Adith menjadi seperti sekarang." Lanjut ayah Adith lagi dengan senyuman hangat dan penuh wibawanya. "Puhahahahaha¡­ Derita Bucin Istri." Adith bangkit dari kursinya dan tertawa terbahak-bahak melihat Ayahnya yang berkata dengan wajah yang santai dan bahagia. "Sebaiknya kamu bersiap-siap juga, karena melihat dari perangai Aurelia. Dia mungkin akan mengidamkan sesuatu yang sangat aneh bahkan ekstrim." Terang Ayah Adith menepuk pundak Yogi yang membeku dan tak bergerak. "Semoga kau berhasil dalam melakukannya sobat. Panggil aku jika kau butuh kameramen, karena aku siap kapanpun kau butuhkan." Adith juga menepuk pundak Yogi yang seketika bukannya ia merasakan sebuah dukungan, namun ia sedang merasakan sebuah kutukan sedang menghampirinya. "Aaaahh.. Ayah dan anak sama saja. Apa ini yang di namakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya?" Gumam Yogi dengan desahan yang penuh dengan asap hitam. Yogi terlihat suram dan mengeluarkan aura gelap. Dia terlihat tak bisa berkutik dan mengalami shock berat berkat apa yang dikatakan oleh ayah dan anak tersebut. "Permisi pak, sepertinya saya perlu melaporkan ini sebelum menindaklanjutinya." Vindra datang ke ruang kerja Adith sembari membawa sebuah tablet yang menampilkan beberapa artikel yang berisi tentang dirinya yang sudah menghamili seorang wanita. Berita mengenai dia yang belum menikah dan dia yang seorang guy serta beberapa berita negatif lainnya membuat Adith menjadi highlight dan trending topik di Indonesia. Namanya menduduki pencarian nomor satu di dunia maya. "Sepertinya aku tahu siapa yang sudah melakukan ini, tidak usah pedulikan berita itu. Cukup cegah agar berita ini tidak sampai hingga ke telinga Alisya dan membuat nya terganggu dengan kemunculan ini." Jelas Adith hanya tersenyum sinis melihat semua berita tersebut. "Saham perusahaan akan merosot jatuh jika kau tidak mengkonfirmasi kebenarannya saat ini, akan lebih baik jika kau mengatakan kebenarannya dan mengumumkan kebenaran mengenai Alisya." Ayah Adith merasa khawatir dengan penyebaran berita tersebut. "Tidak perlu khawatir Pah, aku ingin melihat sejauh mana ini berkembang dan respon seperti apa yang akan di tunjukkan oleh semua orang. Apakah mereka mempercayai berita negatifnya dan berniat menghancurkan aku, atau mempercayai aku dengan sangat penuh." Adith tampak tenang menghadapi hal tersebut. "Cepat atau lambat, keberadaan Alisya yang merupakan istrimu memang tidak akan bisa di sembunyikan lagi, agar kalian bisa hidup dengan nyaman." Yogi kembali menjadi serius saat memegang tablet milik Vindra. "Akan ada saatnya untuk aku dan Alisya melakukan resepsi yang dulu sempat terhenti, tapi untuk saat ini aku masih ingin fokus pada masa kehamilannya dulu. Terlebih karena kondisinya saat ini yang kurang normal." Adith tampak kembali merapikan jasnya sebelum keluar. "Apapun yang akan kau lakukan nanti, aku akan mendukung mu. Tapi aku harap hal ini adalah yang terbaik bagi kau maupun Alisya. Sebab ada hal yang sulit untuk kita ungkapkan jika kita mengingat apa yang sudah terjadi pada Alisya lalu." Terang Ayah Adith memperingatkan Adith, mengenai fakta bahwa Alisya sedang hamil dan tidak bisa mendatangkan bahaya dengan pengumuman mereka. "Tentu saja Pah, Aku sudah memikirkan beberapa rencana yang cukup bagus. Untuk saat ini, biarkan saja berita itu terus berkembang dan pantau setiap perkembangan yang ada. Jangan lupa untuk melaporkannya pada ku jika terjadi sesuatu." Terang Adith yang kemudian ia tunjukkan kepada Vindra dan Yogi. Chapter 546 - Siap Komandan! "Kau akan kemana? Masih ada beberapa hal yang perlu kau tanda tangani dan beberapa pertemuan yang harus kamu hadiri juga. "Aku serahkan padamu, aku harus kembali ke rumah sakit dan pergi mencari profesor Ahmad. Ada beberapa hal yang harus aku tanyakan padanya." Jelas Adith langsung melemparkan stempel khusus miliknya kepada Yogi. Adith melambaikan tangannya dan menghilang dari hadapan mereka setelah sebelumnya menyalami Ayahnya dan pergi dari sana. "Anak itu, bagaimana bisa dia Sampai sepercaya ini melemparkan stempel berharganya seperti ini. Apa dia tidak takut kalau aku menyalah gunakan stempel ini?" Oceh Yogi kesal dengan sikap Adith, yang terlalu ceroboh dan terbuka. "Itu artinya dia sangat mempercayaimu dengan 100 persen. Apa kamu pernah meragukannya dan tidak percaya padanya?" Tanya Ayah Adith kepada Yogi, dengan tatapan serius. "Tentu saja tidak paman, aku tidak pernah meragukannya ataupun tidak percaya padanya. Tidak pernah sekalipun." Jawab Yogi cepat yang langsung membuat Ayah Adith tersenyum. Dia segera menepuk pundak Yogi dan berlalu pergi meninggalkan dia di ruangan tersebut, sedang Vindra dengan segera juga pergi melaksanakan perintah yang di berikan oleh Adith kepadanya. Di sisi lain "Bua kakkaakakak¡­ Adith, kau memang sangat hebat! Aku benar-benar puas melihatnya seperti itu." Alisya tertawa dengan sangat lepas di kamarnya sembari berguling-guling memegang perutnya. "Apa yang terjadi? Baru kali ini aku mendengar mu tertawa terbahak-bahak seperti itu." Yani masuk kedalam kamar Alisya karena penasaran dengan Alisya, yang terdengar heboh sedari tadi. "Aku baru saja menyaksikan suatu gebrakan sejarah dari seseorang pria tampan dan jenius nomor satu di Indonesia. Rasanya mood ku sekarang sangat bagus sekali." Ucap Alisya sambil menarik nafas dalam untuk bisa menghentikan tawanya. "Rasanya aku juga ikut senang melihat mu bahagia seperti ini, selama ini aku selalu melihat wajah datar dan senyuman yang terlihat sangat kaku terukir dari wajahmu." Yani tidak bisa menyembunyikan fakta kalau dia memang bahagia melihat, Alisya. Yang bisa memperlihatkan ekspresi wajah yang belum pernah di lihatnya selama ini. "Kau benar, selama ini saat aku terpisah dari dia. Aku selalu hidup dalam kesedihan dan kegelapan. Rasanya sakit ketika kau ingin bersama dengan orang yang kau cintai namun banyak hal yang harus kau pertimbangkan." Gumam Alisya tertunduk mengingat dirinya sebelum bertemu dengan Adith. "Aku harap kau mau tetap menjaga senyummu yang seperti itu, karena kau terlihat sangat Indah saat tersenyum." Yani memegang tangan Alisya dengan hangat. Mereka seolah sudah semakin dekat dan mengerti perasaan satu sama lainnya dengan apa yang sudah mereka jalani selama ini. Bagi Yani, Alisya adalah seorang kakak perempuan sekaligus bidadari tak bersayap yang datang memberikan cahaya kehidupan padanya. "Oh Iya, kau pasti sudah mulai bosan karena seminggu lebih ini terus berada dalam rumah. Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu malam ini? Aku ingin berbelanja ke beberapa tempat dan menikmati waktu libur ini untuk beberapa saat." Alisya segera mengajak Yani untuk keluar, sebab semenjak mereka tiba di Jepang, Yani hanya berada di rumah untuk memulihkan kesehatan dan juga berlatih kendo. "Ummm.. aku sih tidak masalah. Tapi kalau cuma berdua saja rasanya kurang seru, aku ingin kita bisa pergi bersama dengan yang lainnya. Tapi saat ini mereka semua sedang keluar menjalankan misi yang kamu berikan." Terang Yani merasa tidak nyaman meninggalkan Karin dan yang lainnya. "Kau tak perlu khawatir, aku bisa menyuruh mereka untuk menyusul ke tempat dimana kita pergi. Kita bisa berkumpul di sana, selain itu Karan juga pasti akan membawa Akiko bersamanya." Terang Alisya meyakinkan Yani untuk ikut bersamanya. "Oke-oke aku ikut, tapi kau harus hati-hati. Kau sedang hamil muda sekarang, dan Karan mengatakan padaku kalau kehamilanmu sepertinya baru mencapai usia dua bulan dan kondisimu kurang memungkinkan sehingga aku harus ekstra memperhatikan kamu." Tegas Yani memperingatkan Alisya, agar dia tidak bertindak terlalu berlebihan. "Aku akan pastikan, kalau aku akan mendengarkan setiap perkataan dan perintah yang keluar darimu. Jadi kita bisa berangkat sekarang bukan?" Alisya memandangnya dengan tatapan penuh pengharapan. "Sejak kapan kau menjalankan trik licik seperti ini? Kau membuat ku takut." Yani segera melarikan diri dari Alisya, dia tidak menduga kalau Alisya juga bisa melakukan hal seperti itu. "Jangan lupa pakai pakain yang sedikit tebal, udara malam hari di luar cukup dingin." Teriak Alisya memperingatkan Yani. "Hei, itu harusnya jadi kata-kata ku. Jangan memakai pakaian yang tipis dan jangan keluar sebelum aku selesai berganti pakaian." Tegas Yani yang membuat Alisya tertawa pelan. "Siap Komandan!!" Hormat Alisya dengan cepat. Yani tertawa pelan melihat tingkah Alisya seperti itu, sehingga dengan segera dia berlari menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah selesai bersiap-siap, Alisya dan Yani keluar dengan di antar oleh supir dari keluarga yang sudah melayani mereka untuk waktu yang cukup lama. Mereka segera mengunjungi beberapa tempat yang menarik, dimulai dari tempat yang menjual alat kosmetik, sepatu, tas hingga pakaian membuat sang supir sedikit ke walahan menemani mereka yang sedang berbelanja. "Brakkkkk!" Sang supir terjatuh karena tak mampu lagi memegang barang yang di beli oleh keduanya. Sang supir tampak sangat panik dengan apa yang baru saja ia lakukan, sehingga dengan segera dia menunduk meminta maaf kepada Alisya. "Maaf¡­ maafkan saya, maafkan saya. Saya tidak sengaja." Ucapnya dengan gerakan menunduk naik turun yang sangat cepat. "Ah¡­ maafkan kami paman Miura. Kami sudah membuat mu sedikit kesulitan. Paman bisa istrahat dan menunggu kami di tempat lain saja." Alisya menyadari kesulitan supirnya tersebut ketika dia terjatuh. "Eh??? Nona tidak marah?" Pak Miura tampak bingung dengan reaksi Alisya yang malah mengkhawatirkan dirinya. "Marah? Kenapa harus marah saat kami yang sudah bersikap egois kepada paman." Yani dengan segera membantunya bangkit dan membereskan barang-barang yang berjatuhan tersebut. "Sebaiknya paman kembali saja ke mobil dan istrahat, kami masih ingin melanjutkan perjalanan kami." Alisya juga dengan segera mempersilahkan pak Miura untuk tidak mengikuti mereka lagi. "Tapi Nona¡­" pak Miura tampak ragu-ragu dengan apa yang dikatakan oleh Alisya kepadanya. "Tidak apa-apa paman, ada aku bersamanya. Aku akan menjaga Alisya, jadi paman bisa beristirahat dengan tenang." Ucap Yani meyakinkan pak Miura. "Terima kasih banyak, kalian sangat baik." Ucap pak Miura dengan penuh semangat. "Bagaimana? Apa mereka akan datang kemari? Kita sudah berada disini cukup lama." Yani segera bertanya-tanya mengenai Karin dan yang lainnya yang tak kunjung datang. "Mereka akan sampai beberapa menit lagi. Sambil menunggu mereka, bagaimana kalau kita pergi makan dulu." Ajak Alisya kepada Yani cepat. Chapter 547 - Bodo Amat! Di saat mereka akan masuk ke dalam sebuah tempat makan, ada beberapa orang yang tampaknya sedang memperhatikan Alisya dan Yani. Dengan tersenyum penuh arti, mereka semua dengan segera menghampiri Alisya dan Yani untuk menghadang mereka. "Hai, kalian sangat cantik. Aku suka sama kalian, bagaimana kalau kalian ikut kami dan kita bisa bersenang-senang." Ajak salah seorang dari mereka menghentikan langkah kaki Alisya dan Yani. "Kami akan berikan apa yang kalian mau, atau berapapun yang kalian mau jika kalian berdua mau ikut bersama kami." Ucap salah seorang dari mereka lagi dengan tatapan genit. "Dan tentu saja, kalian pasti tidak akan menyesal jika bersama dengan kami. Kami sangat pandai memuaskan seorang wanita, terutama jika wanita itu secantik kalian." Tambah yang lainnya memandangi tubuh Alisya dari atas hingga ke bawah. "Kalau kami tidak mau, apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Yani dengan tegas dan dingin kepada mereka. "Puhahahaha, kami sudah berusaha mengajakmu dengan cara yang baik-baik. Jika kau masih menolak, maka kami akan melakukannya dengan cara kami." Orang yang berdiri di hadapan Yani, sengaja mendekatkan wajahnya kepada Yani, untuk mengintimidasinya. "Sepertinya menarik. Jika mereka bertemu dengan Yani yang sebelumnya, mereka mungkin akan melihat ekspresi Yani, yang takut pada mereka. Tapi sekarang tatapan Yani tampak tenang dan tegas. Dia bisa bersikap tenang menghadapi situasi seperti ini." Alisya ternyum melihat sikap Yani, yang sudah jauh berubah dan jauh lebih berani di bandingkan dengan sebelumnya. "Huuuhhh¡­ Dimana-mana akan selalu ada para biadab yang menilai wanita dari kecantikan saja. Mereka dengan bodohnya akan menghampiri bunga mawar dan dengan ceroboh memetiknya menggunakan tangan." Gumam Yani dengan menggunakan bahasa Indonesia, sehingga mereka yang sedang menghadang tak mengerti apa yang di maksudkan oleh apa yang di ucapkan Yani. "Cihhh,, aku suka dengan cewek cantik yang tidak murahan. Mereka yang menolak membuat hormonku jadi semakin menggila." Salah seorang dari mereka menatap Alisya dan Yani dengan penuh nafsu. "Melihat kalian begitu berani meski di tempat yang seramai ini, sepertinya kalian sangat berkuasa di tempat ini yah? Apa kalian dari geng Yakuza?" Pancing Alisya kepada mereka semua. Beberapa orang yang datang menghadang mereka memang terlihat sedikit berani dan tidak merasa ragu sama sekali untuk menghentikan mereka, sehingga Alisya sangat yakin kalau mereka memiliki orang di belakang mereka yang memiliki pengaruh yang cukup kuat. "Ummm.. bu, aku harap kau tidak melakukan sesuatu yang berbahaya sekarang. Kau tau kan kalau aku yang sedang bertanggung jawab padamu sekarang." Ucap Yani memperingatkan Alisya agar tidak berbuat hal-hal yang bisa membahayakan dirinya. "Tak usah khawatir, aku hanya ingin menarik sedikit info saja dari mereka. Lagi pula ini untuk mengulur waktu agar yang lainnya bisa datang tepat waktu." Alisya menaikkan kedua jarinya membentuk huruf V dan mengerling nakal kepada Yani. "Ohhh¡­ sepertinya nona ini mengetahui sedikit tentang organisasi kita. Ini jadi tidak sulit, karena kita tidak perlu membuat mereka takut." Salah seorang dari mereka segera memegang rambut Alisya dengan lembut. Berdasarkan apa yang di katakan olehnya, Alisya bisa mengambil kesimpulan bahwa mereka sudah sangat terbiasa melakukan hal ini dan tak ada satupun di sekitar mereka yang berani menghentikan tindakan mereka. "Kami adalah anggota bunga mawar, jadi sebaiknya kalian harus berhati-hati jika tidak ingin berurusan dengan kami lagi." tambah seseorang yang lain mulai mengelilingi Alisya dan Yani. Alisya tertawa pelan mendengar apa yang dikatakan oleh mereka. Sungguh sebuah nama geng yang cukup melankolis. "Ehem¡­ sebaiknya kau menjauhkan tanganmu. Jika suamiku melihat apa yang kau lakukan sekarang, maka jangankan tanganmu. Seluruh tubuhmu akan di mutilasi olehnya dan di lemparkan ke laut sekarang. Yah¡­ itupun kalau dia ingin membuatmu mati dengan cepat." Alisya dengan segera mengingatkan pria tersebut untuk tidak menyentuh dirinya. "Hah?? Hahahahahaha¡­ wanita galak sepertimu membuatku gemas. Mumpung suamimu tidak berada dengan mu sekarang, biarkan aku memuaskanmu." Ucapnya memegang dagu Alisya dengan kasar. "O.. o¡­ ou.. kau sudah salah besar. Meskipun sekarang suaminya tidak disini, sebentar lagi tangan itu akan lepas dari tubuh tuannya." Ucap Yani menyayangkan apa yang di lakukan oleh pria tersebut kepada Alisya. "Tenang sayang, kau juga akan mendapatkan hal yang sama." Terang salah satu dari mereka ingin meraih wajah Yani, namun sedetik kemudian seseorang telah menangkap tangan pria itu. "Berani sekali kau ingin menyentuh tubuh wanita ku!" Rinto menggenggam erat tangan pria tersebut hingga membuat pria itu tak berkutik dan tak bisa bergerak untuk melepaskan genggaman tangan Rinto. "Siapa kau berani ikut campur dalam urusan kami. Apa kau tidak tau siapa kami?" Ancamnya dengan sangat kejam. "Bodo Amat!!! Aku hanya tidak suka jika tangan kotormu berani menyentuh wanitaku." Marah Rinto yang langsung memutar tanganya dan menginjaknya ke lantai hingga patah. "Sya.. apa aku ngga salah dengar? Dia menyebutku sebagai wanitanya. Aku boleh pingsan dulu nggak? Entar kalau ini bukan mimpi bangunin aku yah." Bisik Yani kepada Alisya dengan mata yang tetap memandang lurus ke arah Rinto. "Umm¡­ bang, bro, ses, cuy¡­ dia belum di sentuh, tapi sampai kapan dagu saya di pegangnya?" Tanya Alisya kepada Rinto yang langsung membuat Rinto menatap dengan tajam. "Kreekkkkk!!!" Suara retakkan tulang membuat Alisya sadar dagunya sudah di lepaskan. "Aaaargggggggggg!!!" Teriak orang yang memegang dagu Alisya sebelumnya dengan sangat keras. "Jangan khawatir Nona, masih ada aku yang akan membuat semua tulang di tubuhnya osteoporosis mendadak." Tegas Ryu masih terus memegang tangan si pria yang sudah berani memegang dagu Alisya. Sedangkan beberapa orang yang lainnya sudah di buat babak belur oleh Karin dan Yuriko. "Sepertinya kita sudah cukup mengulur waktu, jika kalian terlambat mungkin sang pemilik dari Ratu Sejagad di sebelahku ini, akan menghadirkan sebuah legenda pada kalian." Gumam Yani pada Rinto dan yang lainnya yang langsung membuat mereka merinding takut. "Apa aku perlu memutuskan masa depannya yang bergantung pada satu burung pipit miliknya?" Tanya Yuriko dengan tatapan tajam kepada mereka semua yang langsungembuat mereka bergetar. "Atau lebih bagus jika telor mereka aku lepas dan aku gantungkan di telinga mereka." Tambah Karin dengan melemaskan kedua tangannya menghasilkan bunyi tulang yang khas. Para pria itu langsung menutup selangkangan mereka dengan cepat dan berlutut meminta maaf karena melihat tatapan mata mereka yang tidak ragu-ragu sama sekali. "Maafkan kami, tolong lepaskan kami kali ini. Kami berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi." Ucap salah seorang dari mereka yang sebelumnya ingin memegang Yani. Chapter 548 - Aku Siap Kapanpun itu! Kembali ke rumah Akiko. "Tak ku sangka kau bisa bertahan lebih lama menghadapi ku." Ucap Ichiro setelah menendang Karan, namun bisa di hentikan dengan tendangan juga oleh Karan. "Aku juga harus mengakui kalau kau cukup tangguh hingga membuat aku sedikit kewalahan menghadapimu." Karan memang mau tidak mau mengakui ketangguhan dan kemampuan kakak pertama dari Akiko. Kemampuannya sangat jauh berbeda dari Kentaro, namun Karan menjadi lebih bersemangat saat menghadapinya. Dia yang selama ini selalu tertinggal di bandingkan dengan Karin dan Alisya membuatnya terus berlatih mati-matian seolah tak ada hari esok lagi. Baginya jika dia tidak berusaha untuk mengejar, maka akan ada hari dimana dia mungkin tidak akan bisa melindungi keduanya karena kemampuannya yang lemah. "Tapi sampai kapan kau akan terus menghindar!" Ichiro kembali melancarkan serangan yang langsung ia arahkan menuju pelipisnya. "Aku selalu menyesali diriku yang lemah!" Karan berhasil menghindari tendangan yang di arahkan ke pelipisnya dengan mudah. Karan kembali memgingat apa yang sudah dia lewati selama ini, termasuk penyesalannya yang terakhir saat dia tidak bisa melindungi orang yang di sayanginya, Alisya. Bersama Karin mereka tenggelam dalam penyesalan, tapi tak di sangka kalau kali ini mereka mendapatkan kesempatan yang tidak akan pernah mereksa sia-siakan lagi. "Tapi kali ini, akan aku buktikan di hadapan kalian semua. Bahwa aku, Karan Reynand mampu melindungi siapapun yang aku cintai." Tatapan Karan berubah drastis hingga mengeluarkan aura menekan yang belum pernah di lihat oleh mereka semua sebelumnya. "Kalau begitu buktikan!!!" Teriak Ichiro sambil mempercepat daya serangnya kepada Karan. Tendangan atas, pukulan bawah, tendangan bawah, pukulan atas, dan banyak serangan lainnnya yang terus di arahkan kepada Karan hingga sesekali mereka bertukar posisi memperlihatkan sebuah pertarungan yang sangat mengesankan bagi ayah Akiko. "Ichiro dalam hal kekuatan dan kecepatan tampak lebih unggul dibandingkan dengan Karan, namun melihat dia yang bisa mengimbangi kemampuan Ichiro sepanjang pertandingan ini cukup luar biasa." Gumam Ayah Akiko terus mengamati pertarungan mereka. "Bukan hanya bisa mengimbangi kemampuan kak Ichiro saja, tapi jika ayah perhatikan lagi. Kemampuannya terus berkembang sepanjang pertandingan ini." Ucap Yousuke saat mendengar apa yang di katakan oleh Ayahnya. Yousuke merasa takjub dengan kemampuan Karan yang bisa bertahan lama dalam pertarungannya dengan kakak pertamanya, Ichiro. Selama ini memang Ichiro selalu jauh lebih unggul di banding dengan lawan-lawannya, dan dia selalu bisa menyelesaikan pertarungannya dalam waktu singkat. "Dia jauh lebih licik dari pada yang kalian duga. Entah karena pengalaman yang sudah mengajarinya, atau karena pelatihan keras yang sudah di hadapinya. Tapi dia sedang mencari celah saat Ichiro ceroboh karena kepercayaan dirinya." Terang Ayah Akiko lagi mulai tersenyum lebar dengan pertarungan mereka yang sangat menegangkan tersebut. Tepat seperti apa yang sudah dikatakan oleh Ayah Akiko, Ichiro akhirnya melihat peluang yang sengaja di ciptakan oleh Karan sehingga membuatnya besar kepala dan ceroboh karena mengiria kalau Karan, dapat dia jatuhkan dan bisa menyelesaikan pertarungan mereka. "Krekkk¡­ Sial, aku ceroboh." Saat satu tendangan yang di layangkan oleh Ichiro sengaja di terima oleh Karan, namun menghasilkan celah yang sangat besar membuat Karan dengan mudah menangkap tubuh Ichiro. Karan yang bisa mempersempit jarak di antara mereka membuatnya mendapatkan peluang untuk menyerangnya, sehingga hanya dengan 3 serangan yang ia arahkan pada bagin titik vitalnya langsung membuat Ichiro, bertekuk lutut di hadapan Karan. "Proookkk proookkk prokkkk!" Ayah Akiko dan yang lainnya yang menyaksikan pertarungan tersebut langsung bertepuk tangan mengakui kemenangan Karan. "Kak Karan, kau berhasil. Kau berhasil memenangkan pertarungan ini dan mendapatkan pengakuan Ayah." Akiko berlari menghampiri Karan dan jatuh ke dalam pelukannya yang di penuhi oleh peluh dari pertandingan. "Tidak Akiko, aku masih harus menyelesaikan satu pertandingan lagi dengan Yousuke. Jadi ini masih belum selesai." Tegas Karan tetap memeluk Akiko dengan hangat, namun pandangannya tegas mengarah kepada Ayah Akiko. "Humpph.. hahahaha kau sudah mendapatkan pengakuan ku. Tak ku sangka kau bisa mengalahkan anak pertamaku dengan mudah" ayah Akiko yang tertawa dengan hangat membuat Karan sedikit kebingungan. "Ichiro yang ingin maju terlebih dahulu melewati Yousuke, itu artinya dia sengaja ingin langsung mengujimu tanpa harus bertanding melawan Yousuke lagi." Jelas ibu Akiko yang membuat wajah Karan langsung menjadi lebih cerah. Dia mengangkat wajah Akiko, dan menghapus air matanya kemudian menarik pipinya dengan gemas. "Aku sudah menang dan mendapatkan pengakuan dari ayahmu, tapi kenapa kau malah menangis huh?" Karan dan Akiko yang terlihat begitu akrab dan mesrah membuat hati ibu Akiko dan ayah Akiko menjadi sedikit legah. "Aku mengakui kemmapuan mu. Tapi aku masih tak suka dengan kekalahan, aku akan menantangmu kembali." Tatap Ichiro dengan menepuk pundak Karan. "Aku menyerah, aku sudah cukup lelah jika harus melawanmu lagi." Wajah Karan seketika suram membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak. "Sediakan sake!!! Kita akan minum-minum malam ini. Kita akan merayakan kemenangan dari calon menantuku." Teriak Ayah Akiko dengan keras kepada semua orang. "Kita akan minum sepuasnya malam ini." Ucap Ichiro lagi membawa Karan pergi dengan dipeluk oleh Ayah Akiko di sebelah kanan, dan Ichiro di sebelah kiri. "Bakaaaa! Karan tidak meminum minuman seperti sake, dia itu beragama Islam." Teriak Akiko memperingatkan mereka yang tampak semangat berlebihan. "Kalau begitu sediakan saja wine, biar kita tetap berpesta malam ini. Malam ini harus kita rayakan." Teriak Yosouke ikut bergabung bersama mereka. "Ya benar, pokoknya kita harus mabuk sampai pagi." Tambah Kentaro di sisi yang lain, ia terlihat sudah kembali sehat dan berjalan beriringan bersama dengan Karan dan yang lainnya dengan tangan yang saling merangkul satu sama lainnya. "Itu sama saja minuman beralkohol! Dia juga tidak bisa meminumnya." Teriak Akiko, namun mereka tidak mendengarnya dan hanya larut dalam kegembiraan mereka. "Oy¡­. Aho Oyaji!!!" (Oy, ayah Idiot) Akiko yang berteriak sekali lagi hanya di sambut oleh tawa mereka semua, begitu pula dengan Karan yang tertawa terbahak-bahak bersama mereka. "Brrararkkkkkk!!! Dor¡­ dorr¡­ dor¡­ dor.." suara tembakan dan beberapa pintu yang di dorong dengan keras membuat mereka semua seketika berubah menjadi sangat serius dan terdiam. "Sepertinya kita kedatangan tamu yang tak di undang." Ucap Ayah Akiko yang terlihat sangat marah. "Kau masih bisa bertarung kan adik Ipar?" Tanya Ichiro kepada Karan dengan suara yang sangat tegas. "Sepertinya tidak ada waktu untuk istrahat bagimu kakak Ipar." Ucap Yousuke sambil tersenyum licik. "Kau tidak boleh kalah dari mereka setelah menang dariku." Tembah Kentaro yang tampaknya sudah memberikan tanda kepada Akiko dan Ibunya. "Aku siap kapanpun itu!" Tegas Karan dengan tatapan yang kembali bersemangat. Chapter 549 - Ikutlah Bersama Kami "Sialan, ternyata jumlah mereka banyak sekali." Ichiro segera bersembunyi di balik tembok sembari melihat beberapa orang berpakaian serba hitam yang berada di luar rumah mereka. "Peluruku juga hampir habis kak, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Yousuke melihat senjatanya yang hanya memiliki beberapa peluru yang tersisa. "Apa kalian tidak memiliki senjata lagi?" tanya Karan mengkhawatirkan Akiko dan ibunya yang berada tak jauh dari mereka terus menunduk untuk bersembunyi dari hujaman peluru yang menembus tempat mereka berada. "Tentu saja ada, tapi itu semua tersimpan di gedung utama. Dan sepertinya kita takkan bisa mendapatkan senjata itu lagi karena gedung utama telah mereka ledakkan." Tunjuk Ichiro pada gedung rumah mereka yang sudah meledak dan terbakar. Untunglah mereka berada di gedung yang lain saat peledakkan rumah tersebut terjadi, sebab ruang pelatihan berada sedikit lebih jauh dari gedung utama rumah Akiko. "Kalau begitu, kenapa kita tidak menghasilkan senjata kita sendiri saja?" tatap Karan kepada mereka dengan tersenyum licik. "Sepertinya aku semakin suka padamu." Ucap Yousuke dengan penuh semangat kembali memasang senjatanya dan bersiap. "Tinggal berapa peluru yang kau punya?" tanya Karan sebelum memberikan aba-aba kepada Yousuke. "Tidak banyak, hanya 3 saja. Tapi jangan khawatir, aku akan melindungimu dengan tiga peluru yang tersisa ini." Tegas Yousuke dengan tatapan tajam dan penuh keyakinan. "Kami takkan membiarkan calon suami adikku terluka, karena jika hal itu terjadi. Aku takkan bisa menunjukkan wajahku dihadapan Akiko. Jadi sebaiknya kau jangan sampai terluka." Pinta Ichiro kepada Karan yang sudah mulai bersiap-siap. "Terima kasih, aku bergantung pada kalian." Ucap Karan menunggu waktu yang tepat setelah hujaman senjata tersebut berhenti sejenak. Ayah Akiko dan Kentaro tampak berada di belakang ketiganya untuk bisa melakukan perlindungan kepada Ibu Akiko dan Akiko, sehingga mereka tetap berada di tempat yang cukup aman. Ayah Akiko bukannya tak pandai menggunakan senjata, akan tetapi empat orang pemuda yang berada di tempat tersebut melarangnya untuk ikut dalam pertempuran. "Brengsek! Kenapa geng dari perfektur Iwate dan Akita ada di sini? Apa alasan mereka menyerang ke rumah ini." Gumam Ayah Akiko memikirkan kedatangan mereka di rumahnya. "Geng dari perfektur itu bukannya geng dari Bunga mawar? Sepertinya ini ada hubungannya dengan perusahaan ayah." Ucap Kentaro menebak mengenai penyerangan terhadap mereka. "Sepertinya mereka sengaja melakukan penyerangan secara langsung ke setiap anggota keluarga sebagai bentuk peringatan kepada Alisya, tapi mereka telah salah karena sudah datang ke tempat ini." Geram Ayah Akiko yang mulai memikirkan pemberontakan dari geng Yakuza. "Ayah, apa yang harus kita lakukan? Handphone milik Akiko dan kakak yang lainnya berada di rumah utama, sedangkan handphone milik kak Karan hancur terkena tembakan." Akiko terlihat sangat khawatir dengan kondisi mereka yang sudah semakin terdesak. "Jangan khawatir, aku harus mengeluarkan kalian dari sini dulu. Jika kalian terus berada disini, kalian hanya akan membuat pergerakan kami jadi sedikit terbatas." Ucap Kentaro menenangkan Akiko sembari terus memikirkan bagaimana solusi untuk mengeluarkan mereka dari tempat tersebut. "Kalian lihat pintu samping itu, kita bisa keluar dari sana ketika Ichiro dan yang lainnya memancing mereka masuk, dengan begitu kalian bisa keluar dari sini menggunakan pintu rahasia yang berada di belakang air mancur di sampig halaman rumah." Terang Ayah Akiko mengarahkan istrinya dan Akiko untuk bisa keluar dari ruangan tersebut. "Ikutlah bersama kami. Meskipun Ichiro berhasil memancing mereka masuk ke dalam rumah ini, bukan berate mereka tidak berada di luar rumah bukan?" Ibu Akiko tampak tak ingin pergi tanpa suaminya. "Ayah, ibu benar. Ayah bisa ikut bersama mereka dan aku akan melindungi kalian dari belakang. Aku akan¡­." Tepat saat itu, suara tembakan yang masuk ke dalam tempat mereka perlahan mulai terhenti, sehingga Kentaro berhenti sejenak dan menjadi lebih waspada. "Kita harus keluar sekarang, aku merasakan hal buruk akan terjadi." Ucap Ayah Akiko yang instingnya merasakan akan ada sesuatu yang terjadi. Karan dan yang lainnya yang berada di hadapan mereka dengan mengangguk pelan ketika melihat tanda dari Kentaro yang akan mengarahkan Akiko dan Ibunya menuju pintu samping. Ichiro dan Yousuke tampak telah bersiap untuk melakukan serangan kejutan kepada mereka semua. "Prang¡­. Brukk¡­ bruk.. bruk¡­" sebuah granat menggelinding masuk ke dalam tempat itu membuat mereka semua terkejut. "Kentaro¡­." Teriak Karan kepada Kentaro untuk segera berlindung. "BLarrrrrrr!!!" sebuah ledakkan terjadi di dalam ruang tempat mereka berlindung tersebut. Karan dan yang lainnya tak sempat melakukan pergerakan untuk melindungi Akiko dan Ibu serta Ayah Akiko. "Okaa saaan¡­ Akiko chan.." teriak Ichiro memanggil nama ibu dan adiknya. "Oto sama¡­ Kentaroooo" Yousuke juga berteriak memanggil ayahnya dengan sangat khawatir dan takut. "Kami baik-baik saja!" teriak Kentaro bangkit dari reruntuhan gedung yang menimpa mereka. Berkat peringatan dari Karan. Kentaro dapat melindugi Akiko dan Ayahnya bisa melindungi istrinya. Ketika terbangun, pelipis Akiko sudah sedikit mengeluarkan darah dan Ibu Akiko juga mengalami sedikit luka pada bagian lengannya. Sedangkan Ayah Akiko tampak mengalami patah tulang pada bagian kakinya karena berusaha melindungi istrinya. "Anata¡­.." (Panggilan sayang kepada suami dalam Bahasa Jepang). Ibu Akiko tampak sangat mengkhawatirkan ayah Akiko. Karan dan kedua kakak Akiko, memutuskan untuk menghampiri mereka dan mengecek ke adaan mereka lebih lanjut. Karan bahkan sampai mengepalkan tangannya saat melihat darah yang mengalir di pelipis Akiko. "dor.. dor¡­ dor¡­" tembak Yousuke pada mereka yang mencoba menerobos masuk, dengan sisa peluru yang ada pada senjata Ichiro dan Kentaro. "Kita harus keluar dari sini dulu. Yousuke, bantu aku mengeluarkan Ayah." Ucap Ichiro cepat yang langsung membopong Ayahnya untuk bangkit. Kentaro langsung menarik lengan ibunya untuk segera bangkit sedang Akiko berada pada gendongan Karan. Meski tak parah, Akiko sedikit mengalami shock akibat dari ledakkan yang sangat memekakkan telinganya tersebut. "Kentaro, bahumu¡­" tunjuk Karan pada bahu Kentaro yang terdapat kaca menancap di bahunya saat melindungi Akiko. "Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Luka seperti ini tidak masalah bagiku." Ucap Kentaro mencabut pecahan kaca tersebut dari bahunya. "Tetaplah di sini, aku tak akan membiarkan mereka menyakitimu lebih dari ini." Karan membersihkan wajah Akiko dari rembesan darah dan mengikatnya dengan kain untuk mengurangi pendarahan. "Tetaplah bersama dengan Ayah. Mereka harus membayar apa yang sudah mereka lakukan kepada kalian." Ichiro tampak dipenuhi akan amarah karena kejadian tersebut. Setelah mengikat kaki Ayahnya menggunakan gips buatan, mereka segera bersiap-siap untuk melakukan serangan balik. Namun sebelum mereka bergerak, sebuah tabrakan menembus dinding pagar rumahnya tak jauh dari tempat mereka berada. "Apa yang terjadi?" tanya Ichiro kebingungan dengan apa lagi yang sedang terjadi pada mereka.